Belajar Tentang Syi’ah Pada Wahabi Bagaikan Belajar Islam Pada Yahudi Nasrani !!

Wahabi berteriak : “Syi’ah kafirkan sahabat”

Wahabi berteriak :  “Syi’ah tidak ada beda dengan Yahudi”

Belajar Tentang Syi’ah Pada Wahabi Bagaikan Belajar Islam Pada Yahudi Nasrani !!

cita-cita AS / Israel yaitu , ‘menjauhkan umat Islam dari al-Quran’, dan dia berhasil melaksanakannya. Hasilnya, kaum muslimin mundur dan mengalami kekalahan di seluruh dunia, ilmu pengetahuannya mengalami kemunduran, dan tingkah lakunya jauh dari etika islami. Anehnya Wahabi mau saja menjadi kaki tangan Yahudi Israel untuk menghancurkan Islam melalui tak tik adu domba

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, Imam-Imam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah

“Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Tujuan musuh-musuh Islam adalah menjauhkan umat Islam dari al-Quran. Sebab, saat manusia dijajah, al-Quran mengajak manusia untuk merdeka; saat manusia hidup dalam kebodohan, al-Quran mengajak pada ilmu pengetahuan; saat manusia membunuh anak perempuan, al-Quran mengajak menghormati para perempuan; saat manusia berbuat kezaliman, al-Quran mengajak menegakkan keadilan; saat orang-orang kaya menindas orang-orang miskin, al-Quran mengajak orang miskin mengambil bagian mereka dari orang-orang kaya; saat orang menjual belikan budak, al-Quran memerintahkan membebaskan budak. Saat manusia sibuk mencari kenikmatan dunia, al-Quran menyatakan agar umat Islam berdoa ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kehidupan baik di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu ilmu kenabian menyebutkan keutamaan membaca al-Quran sebagai berikut :
“Ketahuilah bahwa al-Quran ini adalah pemberi nasehat yang tidak akan memperbayai, pemberi petunjuk yang tidak akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak akan pernah berbohong. Siapa saja yang menekuni al-Quran, maka akan terjadi hal pada dirinya, yaitu penambahan dan pengurangan. Yakni, bertambahnya hidayah dan berkurangnya kebodohan pada dirinya. Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang setelah mempelajari al-Quran akan mengalami kesulitan, dan tidak seorangpun sebelum mempelajari al-Quran akan merasa berkecukupan. Jadikanlah al-Quran sebagai penawar sakit bagimu, dan mintalah pertolongan kepadanya. Sesungguhnya dalam al-Quran terdapat penawar penyakit bagi sakit yang paling parah sekalipun, seperti kufur, nifak, dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah swt dan menghadaplah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta.”

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan.

Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya. Amin

Menurut kamus, kata syiah berarti para pengikut, partisan, sekelompok orang yang memperlihatkan kesamaan sikap atas suatu masalah atau suatu keyakinan yang mereka dukung dan bela. Akan tetapi, istilah itu kemudian sinonim dengan pengikut atau pendukung Imam Ali ibn Abi Thalib.[1] Selanjutnya, kata syiah dalam istilah teknis sehari-hari lebih banyak digunakan sebagai nama untuk menyebut kelompok Islam yang menjadi pengikut setia Ali bin Abi Thalib.

Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi menyatakan bahwa kata syiah berarti pengikut dan pembela. al-Fairuzabadi di dalam al-Qamus menyebutkan kata sya’a dalam, ‘syia’atur rajul’ berarti para pengikut dan pembela seseorang, dan dalam konteks tertentu berarti kelompok. Hal ini berlaku untuk satu orang, sekelompok orang, laki-laki dan perempuan. Namun, pada umumnya kata ini digunakan dalam arti setiap orang yang setia kepada Ali dan Ahlul Baitnya sehingga menjadi julukan khusus bagi mereka. Bentuk jamaknya adalah asyya’ dan syiya’.[2]

Memang, persoalan krusial antara Syi’ah dan aliran lainnya adalah debat soal suksesi pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw pada 632 M. Sebagai Nabi, Muhammad tidak dapat digantikan. Beliau dipandang oleh kaum Muslimin sebagai “Penutup Para Nabi” (khatam al-nabiyin), Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt, yang membawa risalah sempurna yang berlaku secara universal bagi semua umat manusia.

Muhammad bukan saja Nabi, namun juga negarawan, dia menjadi kepala negara Islam yang didirikan di kota Madinah, dan pemimpin seluruh Muslim di muka bumi. Ketika wafat, mayoritas pengikutnya berpendapat bahwa Nabi tidak menunjuk pengganti, karena itu umat bebas menunjuk penggantinya. Namun sebagian sahabat tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa penggantinya haruslah Ahlu al-Bait (keluarga Nabi), yaitu Ali, sepupu Muhammad dan suami Fatimah sehingga mereka disebut syiah Ali.[3]

Perkataan syiah di dalam al-Quran disebut sebanyak empat kali dalam arti golongan atau kelompok. Satu kali dalam Q.S. Maryam: 69; dua kali dalam Q.S. al-Qasas: 15; dan satu kali dalam Q.S. As-Saffat: 83, sebabagi berikut :

Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan (syiiatin) siapa diantara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah” (Q.S. Maryam: 69).

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum firaun). Maka orang yang dari golongannya (syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (Q.S. al-Qasas: 15).

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syiatihi) Nuh. (Q.S. as-Saffat: 83).

Begitu pula di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad saaw. istilah syiah telah digunakan untuk menegaskan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, diantaranya adalah, “Syiah Ali adalah orang-orang yang beroleh kemenangan. hadis ini dan hadis-hadis semisalnya diriwayatkan oleh para ulama Ahlu al-Sunnah dalam kitab-kitab mereka.[4] Hadis lainnya dengan sanad dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat yang mulia ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98: 7), Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai”.[5]

Salah satu ulama terkemuka Ahl al-Sunnah, Jalaluddin al-Suyuti dalam tafsir al-Durr al-Mantsur meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa ia berkata; kami berada bersama Rasulullah Saaw, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang. Maka Nabi Saw bersabda, “Demi diriku dalam kekuasaanNya, orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat.” Kemudian turun ayat ‘sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98:7)”.[6] Zakariya Barkat Darwisy, telah mengumpulkan 40 riwayat tentang syiah dalam kitabnya yang berjudul “Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah”.

Dalam Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun memberikan definisi berikut:

Menurut para ahli hukum (faqih) dan teolog spekulatif (mutakallimin), baik pada masa kini maupun pada masa lalu, syiah adalah istilah yang menggambarkan para pengikut Ali, anak keturunannya (semoga Allah melimpahkan keselamatan atas mereka) dan mazhab pemikiran mereka. Mereka (para pengikut Imam Ali), dalam hal ini, sepakat bahwa imamah bukan jabatan publik yang dapat diserahkan kepada umat (komunitas Muslim). Memilih siapa yang bakal menjadi imam bukanlah wewenang mereka. Ini adalah tiang agama dan pondasi Islam. bukan hak preogratif seorang rasul untuk melalaikannya atau mendelegasikan (tanggung jawab) memilih Imam kepada umat. Adalah suatu keharusan bahwa ia (Nabi) menunjuk Imam, yang maksum dan berakhlak sempurna.[7]

Kemunculan syiah, dalam studi para ahli ataupun sejarawan aliran-aliran dalam Islam tidaklah satu pandangan. Sebagian mengatakan bahwa syiah lahir sesaat setelah Nabi Muhammad Saaw berpulang ke rahmatullah, tepatnya ketika terjadi perebutan kekuasaan antara kaum Muhajirin dan Ansar di balai pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Akan tetapi, sejarawan yang lain berpendapat bahwa syiah lahir pada masa kekhalifahan Usman bin Affan berakhir (35 H/656 M), atau pada awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain lagi menyatakan bahwa syiah lahir bersamaan dengan Khawarij, yakni setelah kekalahan diplomatik Ali dari Mu‘awiyah.[8] Selain itu ada juga yang berpendapat, bahwa syiah muncul setelah peristiwa Karbala yang mengakibatkan syahidnya cucu kesayangan Rasul, Imam Husain as.[9] Namun, terdapat pula penegasan bahwa syiah telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah saaw. Para pemikir syiah, ittifaq pada pendapat yang terakhir ini sesuai dengan hadits-hadits yang disebutkan di atas.

Muhammad Baqir as-Sadr, ulama besar syiah, menegaskan bahwa, golongan syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasul yang beranggotakan orang-orang Muslim yang secara praktis telah mematuhi dengan mutlak konsep ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelah Rasul. Kelompok ini muncul kepermukan setelah sikap protes dan menolak keputusan sidang darurat Saqifah Bani Saidah yang juga berarti membekukan kepemimpinan Ali dan memberikannya pada orang lain.[10]

Lepas dari perbedaan pendapat itu, sepeninggal Nabi Muhammad Saaw. telah tampak keretakan dalam tubuh kaum Muslim dalam melihat siapa yang lebih pantas menjadi khalifah. Satu kelompok cenderung memandang kaum Anshar yang berhak atas kepemimpinan umat, sedangkan kaum muhajirin menegaskan hak itu ada pada mereka. Dari kalangan muhajirin ini, ada yang menganggap khalifah mesti dari Bani Quraisy, atau lebih sempit lagi dari Bani Hasym. Dari Bani Hasym ini yang berhak adalah Ali bin Abi Thalib untuk menjadi khalifah dari pada yang lainnya. Dari sahabat yang mendukung Ali terdapat nama-nama Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Zar  al-Giffari, Salman al-Farisi, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Zubair, serta lainnya. Para sahabat yang mendukung Ali inilah yang dipandang sebagai pelopor gerakan syiah.[11] Jadi, keyakinan mendasar seluruh kaum syiah adalah bahwa yang berhak penuh melanjutkan kedudukan Nabi Muhammad saaw. sebagai pemimpin seluruh umat Islam adalah sepupu sekaligus menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib.

Sebagaimana diketahui secara luas, Ali bin Abi Thalib, seperti halnya Nabi, berasal dari suku Arab Quraisy dan termasuk anggota Bani Hasyim. Ali terkait dengan Islam sejak awal mulanya, dalam sejarah, dia dianggap sebagai remaja Islam yang pertama, kalau tidak dapat dikatakan sebagai muallaf pertama. Seorang pria yang sigap bertindak dengan keberanian yang luar biasa, selalu siap untuk bertarung dalam duel sebelum perang yang sesungguhnya dimulai, namun pada saat yang sama, dia adalah orang beriman yang rendah hati dan selalu mengedepankan akal sehat. Tak diragukan lagi, Ali benar-benar mendekati gambaran ideal manusia sempurna (al-insan al-kamil).[12]

Namun, pada faktanya, pelanjut efektif Nabi Muhammad saaw pada 632 M dengan gelar khalifah[13] (pengganti atau wakil) adalah Abu Bakar, kemudian disusul dua khalifah lainnya, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Akhirnya,  Ali menjadi khalifah keempat pada 656 M dan memerintah hingga terbunuh pada 21 ramadhan 661 M.

Syiah memandang bahwa yang berhak penuh melanjutkan kepemimpinan Imam Ali adalah anaknya, Imam Hasan, namun dikarenakan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya Imam Hasan pensiun dari kegiatan politik melalui penandatanganan perjanjian dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sepuluh tahun kemudian, Muawiyah melanggar perjanjian yang dibuatnya, karena secara otoriter mengangkat anaknya, Yazid menjadi khalifah. Yazid yang dikenal memiliki temperamen jauh dari sosok pemimpin, mendatangkan reaksi keras dari Imam Husain.

Muawiyah yang pernah melakukan manipulasi politik pada peristiwa perang Shiffin dengan Imam Ali bin Abi Thalib, dan memaksa Imam Hasan untuk berdamai dengan menyerahkan kekhalifahan kepadanya, kini mengulangi manipulasi politiknya dengan melakukan pelanggaran lagi saat menobatkan Yazid anaknya sebagai putera mahkota untuk menggantikan dirinya sebagai khalifah. Inilah awal pergeseran paradigma politik Islam, dari jabatan yang berkualitas keilahian-kemanusiaan menjadi jatah yang turun temurun hanya berdasarkan hubungan ke-darahan tanpa memandang kualitas kemanusiaan (monarki).

Hal ini mengindikasikan akan kepiawaian Muawiyah terhadap kondisi sosial dan politik yang sedang berkembang, yang mana demi mempertahankan bergulirnya kekuasaan di tangan keluarganya, maka Muawiyah melakukan pem-baiat-an secara paksa dan lobi-lobi politik yang licik untuk menyematkan jabatan khalifah kepada Yazid.

Yazid yang terkenal keburukan watak dan perilakunya, jelas tidak memiliki kelayakan untuk menduduki jabatan khalifah, dan Muawiyah menyadari hal itu. Ia tahu betul, jika menyerahkan pemilihan khalifah kepada rakyat, jelas Yazid tidak memiliki peluang untuk merebutnya. Sebab itu, Muawiyah melakukan manuver politik dengan mendahului pengangkatan Yazid selagi ia masih berkuasa sehingga dapat menekan siapa pun yang tidak menyetujuinya. Dan hal itu memang terjadi.

Kepemimpinan Yazid mendapat tantangan dari berbagai kalangan, namun berhasil diredam dengan berbagai tekanan, ancaman, penyiksaan, pembunuhan atau bayaran. Sebagai taktik awalnya ia mengangkat dan memerintahkan para gubernurnya untuk meminta bai’at (sumpah setia) di setiap daerah kekuasaannya.  Meminta bai’at kepada para sahabat-sahabat Nabi, seperti Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair, Ibnu Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar dan terutama Husain bin Ali, cucunda Rasulullah saww. Akan tetapi, ia mendapat hambatan dari Husain bin Ali yang tidak mau membai’atnya. Bagi Yazid, bai’at yang diberikan oleh kaum muslimin kepadanya tidaklah berarti tanpa restu cucu Nabi saaw tersebut. Terlebih lagi ada indikasi bahwa Imam Husain akan melakukan propaganda politik dan pemberontakan untuk menumbangkan kekuasaan Yazid.

Menyikapi kondisi ini, Yazid mengambil jalan ekstrim dengan mengutus tentaranya untuk memaksa Imam Husain ber-bai’at dan jika tidak mau juga, agar ia dibunuh. Akhirnya, tragedi yang pernah diramalkan Nabi Muhammad saaw, benar-benar terjadi. Di sebuah padang sahara yang bernama Karbala di Irak, Imam Husain dan keluarganya serta sekelompok kecil sahabatnya (sekitar 72 orang) dalam keadaan lapar dan dahaga diserang dan dipenggal kepalanya untuk dihadiahkan kepada Yazid. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 muharram 61 H (680 M), sehingga disebut dengan yaum al-asyura (hari kesepuluh).

Peristiwa syahidnya Imam Husein ini, sebagaimana diyakini, hingga kini masih tetap diperingati setiap tahun oleh pengikut syiah dan menjadi sebuah peringatan besar di seluruh dunia dengan mengobarkan emosi-emosi keagamaan di kalangan masyarakat syiah. Dengan demikian, peristiwa tragis ini telah diimplementasikan syiah menjadi sebuah dasar ideologis yang disebut dengan syahadah.[14]

Menurut Hamid Enayat, ditinjau dari segi politik, mengenang drama kesyahidan tersebut penting karena dua alasan :

Pertama, Husein adalah satu-satunya imam syiah dua belas Imam (syiah itsna asy’ariah) yang tewas sebagai konsekuensi penggabungan gugatannya atas Kekhalifahan dengan pemberontakan bersenjata. Kesebelas imam lainnya, ada yang memperoleh kedudukan politik melalui prosedur konstitusional yang lazim, ada yang membuat perjanjian perdamaian dengan penguasa zamannya dan ada yang menutup diri dalam kehidupan kesalehan. Sementara imam terakhir (Imam Mahdi), mengalami kegaiban tanpa terlebih dahulu memperlihatkan pilihan dari berbagai alternatif tindakan yang ditempuh oleh para pendahulunya tersebut.

Kedua, unsur kesyahidan dalam drama tersebut jelas memiliki daya tarik yang kuat bagi semua gerakan syiah yang menentang tatanan yang telah mapan. Jadi, Husein adalah satu-satunya imam yang tragedinya bisa menjadi unsur positif dalam mitologi setiap kelompok syiah yang militan dan tertindas dalam mazhab dua belas imam (itsna ‘asyariyah).[15]

Pemikir kontemporer syiah, Sayid Husain Muhammad Jafri, mengemukakan suatu paparan mengesankan, di mana ia memandang penunjukan Abu Bakar pada 632 untuk menduduki tempat Ali sebagai suatu pilihan atas calon yang semata-mata manusia yang lebih disukai dari pada calon yang kepadanya orang dapat menyandarkan dirinya pada ilham Ilahi yang telah diberikan kepada keluarga besar Muhammad saaw. Senada dengan itu, ia melihat kekhalifahan Bani Umayyah, khususnya saat Yazid sebagai khalifah sebagai suatu penegasan kembali konservatisme Arab menentang aksi ‘Islam Muhammad yang progresif’. Tidak masuk akal bagi seorang cucu Nabi untuk mengakui Yazid yang sekuler itu sebagai khalifah. Dalam rangka menjawab reaksi ini terhadap aksi Islam, Husein menyiapkan strateginya. Dalam pandangannya ia memiliki hak, berdasarkan keturunan dan kedudukannya, untuk membimbing masyarakatnya dan membangkitkan kehormatan mereka. Namun jika hak ini ditentang, ia rela dan sadar bahwa kekuatan senjata semata tidak akan menyelamatkan aksi dan kesadaran Islam. Maka, ia memutuskan bahwa hal ini hanya dapat dicapai melalui pengorbanan dan penderitaan. Jadi kematian (syahadah) Husein  merupakan kematian seorang yang rela berkorban demi tujuan yang lebih tinggi, tanpa peduli kepada segala risiko.[16]

Terbukti, pasca syahidnya Imam Husain, terjadi pergolakan besar kaum muslimin, yang ingin meruntuhkan kekhalifahan Yazid, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Gerakan at-Tawwabun (orang-orang yang bertaubat) yang dikomandoi oleh sahabat-sahabat Imam Ali seperti Sulaiman bin Shurad al-Khuzai, al-Musayab bin Najabah al-Fazari, Abdullah bin Sa’ad bin Nufail al-Azdi, Abdullah bin Walin at-Taimi, dan Rifaah bin Syaddad al-Bajali, telah memberikan warna baru bagi gerakan syiah di Kufah dan memberikan inspirasi besar bagi aktivitas politik syiah selanjutnya.[17]

Begitulah, akhirnya dalam sejarahnya, komunitas syiah menjadi komunitas pinggiran yang senantiasa ditindas dalam setiap pergantian rezim kekuasaan. Karenanya, menyikapi perkembangan politik yang tiranis dan tidak menguntungkan ini, umat syiah itsna ‘asyariyah, selain menekankan ideologi syahadah, juga mengembangkan doktrin gaybah (kegaiban)[18] dan secara khusus taqiyah (menyembunyikan kebenaran demi kewaspadaan dan demi mencegah kesia-siaan)[19]. Ketiga prinsip ini terbukti berhasil dimainkan oleh penganut Syi’ah Itsna Asyariyah dalam perjalanannya sebagai salah satu mazhab dalam Islam.

Taqiyah merupakan prinsip pemeliharaan diri dan keimanan dari tindakan kejam para penguasa. Secara teoritis, sebenarnya taqiyah ini diakui keberadaanya oleh kaum sunni,[20] namun dalam bentuk praktisnya lebih banyak dilakukan oleh kaum syiah. Pendirian syiah mengenai perlunya taqi’yyah ini didasarkan pada pertimbangan akal sehat, yakni saran untuk berhati-hati di pihak minoritas yang tertindas.

Dalam sebagian besar sejarahnya kaum syiah merupakan minoritas di tengah-tengah masyarakat Islam dunia, dan hampir selamanya hidup di bawah rezim yang memusuhi mereka, maka satu-satunya jalan bijaksana yang mesti mereka tempuh adalah menghindar dari tindakan-tindakan yang akan menghadapkan diri mereka pada resiko pemusnahan dikarenakan mempertahankan keyakinan-keyakinan mereka secara terang-terangan, meskipun mereka tidak pernah meninggalkan misi untuk menggenjot kesadaran kaum Muslim dengan jalan memberontak terhadap penguasa-penguasa yang tidak saleh (zalim).

Pengabsahan sikap taqiyah mendapat legitimasi dari al-Quran dan hadits dan sebagian sahabat telah melakukannya di zaman Nabi saw seperti Ammar bin Yasir. Ada tiga ayat al-Quran di bawah ini yang meligitimasi taqiyah :

  1. ”Janganlah hendaknya orang-orang yang beriman mengutamakan orang-orang kafir dari pada orang-orang yang beriman untuk dijadikan teman dan pelindung; barang siapa yang berbuat demikian, mereka tidak akan memperoleh pertolongan dari Allah, kecuali (jika hal itu dilakukan) untuk melindungi diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Tetapi Allah memperingatkan kamu, karena kepada-Nya-lah kamu akan kembali. (Q.S. Ali Imran: 28).

Ayat ini merupakan peringatan umum kepada kaum beriman untuk tidak mengutamakan orang-orang kafir daripada orang-orang beriman sebagai teman dan pelindung. Namun, jika ada keterpaksaan dan penindasan, kaum muslimin diperkenankan melakukan hal itu sebagai siasat dan pemeliharaan diri.

  1. “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman, maka ia akan mendapat murka Tuhan dan azab yang besar, kecuali jika dia dipaksa, sedangkan hatinya tetap beriman dengan mantap” (Q.S. An-Nahl: 106). Ayat ini mengecualikan dari hukuman Tuhan, orang-orang yang menampakkan kekafiran setalah menyatakan beriman, karena ancaman atau paksaan.
  2. “Ketika Fir’aun, Haman dan Qarun memerintahkan untuk membunuh para pengikut Musa, “seorang Mukmin dari kalangan keluarga Fir’aun yang merahasiakan keimanannya” mempertanyakan bijaksananya membunuh seseorang hanya karena keyakinannya” (Q.S.al-Mukmin: 28). Ayat terakhir ini, adalah bagian dari kisah Nabi Musa dengan Fir’aun, yang mana dalam keluarga Fir’aun—yaitu istrinya—ternyata adalah orang yang beriman. Namun istrinya tersebut menyembunyikan keimanannya dari Fir’aun untuk menjaga diri dan keluarganya.

Selain ayat di atas, banyak hadits-hadits atau ucapan para imam, yang menguatkan keharusan ber-taqi’yyah, bahkan sampai-sampai mengidentikkannya dengan esensi agama. Imam Ja’far Shadiq berkata: “Barang siapa yang tidak melakukan taqi’yyah, berarti tidak beragama”. Dan ia juga berkata : “Taqi’yyah adalah ciri agamaku dan agama nenek moyangku”.[21]

Dengan menggunakan sikap taqiyah disamping syahadah dan ghaibah ini, komunitas dapat bertahan dari segala ancaman dan tindak kekerasan dari berbagai pemerintahan tirani yang mewarnai sejarah kekhilafahan Islam. Bahkan dalam beberapa babakan sejarah, komunitas syiah berhasil pula mendirikan kekhalifahan yang besar dan berpengaruh seperti kekhalifahan Fatimiyah di Mesir, dan Safawi di Persia hingga Republik Islam di Iran sekarang ini yang secara formal berhasil menjadikan syiah dan wilayah al-faqih sebagai dasar negaranya.

Menariknya, dengan, ragam suka dukanya, maju mundurnya, maka perkembangan syiah lebih mengarah pada aktivitas intelektual sehingga dapat mengurangi tekanan politis dari para penguasa. Ini terlihat melalui peranan Imam kelima syiah, Muhammad al-Baqir dan Imam keenam, Ja’far Shadiq, yang secara peluang memiliki kesempatan besar mengukuhkan dasar-dasar syiah, sehingga sampai saat ini selain dengan sebutan mazhab syiah, komunitas pengikut ahlul bait ini dikenal juga sebagai Mazhab Ja’fari. Sederetan intelektual Islam dunia, sepanjang sejarahnya, didominasi oleh non-Arab dan sebahagian besarnya juga bermazhab syiah. Pengakuan akan karya besar kaum syiah terhadap dimensi intelektual ini disepakati oleh para peneliti dengan menyatakan secara tegas bahwa dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi kevakuman tradisi keilmuan, jika di wilayah sunni pernah ada masa suram intelektualisme maka hal itu tidak terjadi di wilayah syiah.

SEKTE-SEKTE TERBESAR DALAM SYIAH

Dalam sejarah teologi Islam (ilmu kalam), dikenal banyak mazhab kalam diantaranya Qadariyah, Jabariyah, Muktazilah, Khawarij, Murjiah, Maturudiyah, Asy’ariyah, ahl al-sunnah, dan syiah. Namun, pada saat ini, semuanya nyaris hilang kecuali ahl al-sunnah dan syiah, sehingga disebutkan, jika pada saat ini, jika seseorang bukan kelompok syiah maka ia adalah kelompok ahl al-sunnah.

Meskipun begitu, bukan berarti legitimasi ini menunjukkan persoalan sekte dalam Islam telah selesai. Jika kita telusuri, jejak-jejak peninggal kekayaan khazanah Islam yang terpolarisasi dalam beragam mazhab masih meninggalkan bekas dalam kehidupan kaum muslimin saat ini, baik disadari maupun tidak. Ahl al-sunnah misalnya, menurut sejarahnya merupakan jejak baru dari sekte asy’ariyah dan maturudiyah.

Syiah, sebagai salah satu sekte dalam Islam, juga tidak lepas dari hukum ini. Dalam perjalanan karirnya ia terbag-bagi menjadi beragam sub mazhab. Dalam hal ini, para ahli sejarah tidak sependapat dalam menghitung jumlahnya. Tetapi, pada umumnya, syi’ah dapat dibagi atas beberapa golongan besar, yaitu Ismailiyah, Zaidiyyah, dan Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah). [22]

Syiah Ismailiyah

Syi’ah Ismailiyah, merupakan komunitas yang memisahkan diri dari mayoritas Syi’ah karena perbedaan di sekitar identitas imam ketujuh. Sebahagian kaum Syi’ah mempercayai bahwa imam keenam, Ja`far al-Shadiq, telah memilih puteranya, Ismail berdasarkan ilham dari Tuhan menjadi Imam ketujuh. Akan tetapi, Ismail meninggal ketika bapaknya masih hidup. Berikutnya, Imam Musa al-Kazim dipilih sebagai Imam ketujuh, tetapi sejumlah orang di dalam masyarakat Syi’ah menolak untuk menerima penganugerahan itu dan tetap berpandangan bahwa Ismail adalah Imam ketujuh bagi mereka sehingga mereka dinamakan kelompok Ismailiyah.

Selama beberapa waktu, Imam-Imam mereka tidak muncul secara terbuka sampai tiba-tiba pada abad ke-10, penganut Ismailiyah muncul di Tunisia dan menyatakan diri mereka sebagai penguasa dan mereka terus memperluas kekuasaannya sampai ke Mesir dan hampir ke seluruh Negara Afrika Utara lainnya, bahkan sampai ke Suriah. Mereka bahkan mampu mendirikan Kekhalifahan Fathimiyyah yang menyaingi dan menentang Kekhalifahan Sunni, Abbasiyyah, yang beribukota di Baghdad. Kekhalifahan Fathimiyyah menjadikan Kairo sebagai ibu kota dan membangun kota itu sehingga menjadi pusat ilmu dan seni. Universitas Al-Azhar, yang telah berumur ratusan tahun dan sekarang menjadi institusi pendidikan paling penting bagi kaum Sunni di seluruh dunia, didirikan oleh Kekhalifahan Fathimiyah yang pemimpinnya merupakan para Imam kaum Syi’ah Ismailiyah.[23]

Ismailiyah Fathimiyah menggambarkan bentuk paling moderat dari kaum Ismailiyah, tetapi setelah itu muncul gerakan-gerakan Ismailiyah yang lebih radikal. Pada awalnya, khalifah Fathimiyah, Mustanshir Billah, memindahkan mahkota Imamah dari puteranya yang lebih tua, Nizar, kepada puteranya yang lebih muda, Musta`li. Sesaat setelah kematiannya pada 1094 M, sebagian kaum Ismailiyah mengikuti Nizar dan sebagian yang lain mengikuti Musta`li. Pengikut Musta`li atau Musta`liyah, melanjutkan ajaran moderat Imam Fathimiyah sebelumnya, sedangkan pengikut Nizar menjadi kelompok radikal.

Di Iran, kaum Nizariyah membangun berbagai kota pertahanan atau benteng di atas gunung-gunung dan yang paling terkenal di antaranya adalah Alamut. Seorang Ismailiyah Persia, Hasan Shabbah, memegang peranan penting dalam pembangunan benteng-benteng itu dan dalam penyebaran tujuan-tujuan kaum Nizariyah. Pada 1164 M, Imam Ismailiyah saat itu, Hasan, memproklamasikan suatu “kebangkitan besar” dan menegaskan bahwa mulai saat itu kaum Ismailiyah hanya mementingkan aspek spiritual dan esoteris dari Islam dan mengesampingkan masalah-masalah yang bersifat legal-formal. Golongan Ismailiyah Nizariyah kemudian menjadi suatu kekuatan radikal dan revolusioner sampai akhirnya mereka dikalahkan oleh tentara Mongol.

Diberitakan bahwa penganut Ismailiyah, yang bertekad mengorbankan hidup mereka sebagai syahid atau dikenal dengan fada`iyan, selalu membunuh kaum Sunni penentang mereka yang melakukan penekanan terhadap mereka. Kata-kata bahasa Inggris assassin ternyata kemungkinan besar berasal dari Hasan, tetapi sebagian sarjana Barat berpendapat berasal dari hasyis, sesuatu yang diperintahkan oleh musuh harus dilakukan calon korban sebelum musuh tersebut melakukan aksi pembunuhan.[24]

Karakter revolusioner Ismailiyah padam setelah invasi Mongol abad ke-13 M, dan di Persia sendiri, kebanyakan kaum Ismailiyah melakukan gerakan bawah tanah. Dalam pada itu, kaum Musta’aliyah berkembang di Yaman. Selain kedua golongan tersebut, terdapat golongan ketiga Ismailiyah, yang telah bermukim di Sindh dan Gujarat, India, sejak awal sejarah Islam dan telah banyak memasukkan penganut Hindu ke dalam Ismailiyah. Kelompok tersebut belakangan terpecah dan kelompok mayoritasnya kemudian dinamakan dengan Sat Panth atau jalan yang benar. Cabang Ismailiyah ini terlihat sangat eklektif dalam mempraktikkan ajarannya dan memasukkan banyak ajaran-ajaran Hindu. Syair keagamaan mereka, disebut Ginan, memiliki bait-bait yang di dalamnya figur-figur utama dalam Islam, seperti Ali, dibandingkan dan bahkan digelari dengan berbagai nama para dewa Hindu.

Mulai abad ke-19 M, cabang Ismailiyah Persia dan Yaman atau di sebut Tayyibiyah juga berkembang di India, terutama disebabkan oleh migrasi yang dilakukan Aga Khan terbagi dua, Aga Khaniyyah dan Bohras, di mana pengikut dari kedua cabang tersebut terpusat di India dan sebagian kecil lainnya di Pakistan. Masyarakat Isma’iliyah juga dapat ditemukan di Asia Tengah, Persia, Suriah, Sudan, Afrika Timur, dan di Kanada, di mana  mereka merupakan pindahan dari Afrika Timur setelah terjadinya tragedi politik pada kurun waktu 1960-an dan 1970-an.[25]

Seyyed Hossein Nasr berpendapat bahwa tidak ada orang luar Ismailiyah yang mengetahui persis jumlah kaum Syi’ah Ismailiyah, walaupun, disebabkan Imam mereka tidak gaib dan berfungsi sebagai pemimpin di tengah-tengah masyarakat, mereka terorganisasi dengan baik dan memiliki jaringan global yang kuat yang merangkul seluruh anggotanya. Walaupun jumlah mereka jelas lebih kecil dibanding pengikut Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, Syi’ah Ismailiyah telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam keseluruhan sejarah Islam secara intelektual, seni, dan politik dan terlepas dari jumlah mereka yang kecil, mereka telah mengambil tempat yang sangat penting dalam spektrum Islam.[26]

Syiah Zaidiyah

Syi’ah Zaidiyah adalah pengikut Zaid bin Ali bin Husein bin Ali. Menurut kelompok ini, yang berhak menjadi khalifah sesudah Ali Zainal Abidin al-Sajjad (imam keempat) ialah puteranya yang bernama Zaid, yang kemudian menjadi imam kelima.

Zaid bin Ali berencana ingin melakukan penyerangan dan pemberontakan pada dinasti Umayyah. Imam Muhammad al-Baqir (imam kelima mazhab syiah itsna asyariyah) yang juga anak dari Imam Ali Zanal Abidin tidak menyetujui pergerakan Zaid, karena hanya akan mendatangkan celaka dan kerugian, serta mengorbankan masyarakat dengan sia-sia.

Namun, tanpa menghiraukan nasehat Imam Muhamad al-Baqir, pada tahun 121 H, Zaid melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Bani Umaiyah, Hisyam bin Abdul Malik. Ketika terjadi peperangan di Kufah, pasukannya mengalami kekalahan dan ia sendiri syahid di dalam peperangan tersebut. Kemudian anaknya yang bernama Yahya menggantikan keududukannya, dan melakukan pemberontakan juga terhadap Walid bin Yazid. Selanjutnya kepemimpinan syiah zaidiyah terus berlanjut di bawah kepemimpinan Muhammad bin Abdullah dan Ibrahim bin Abdullah.

Setelah mereka terbunuh, Zaidiyah menjalani masa-masa kritis yang hampir menyebabkan kelompok ini punah. Pada tahun 250-320 H., Nashir Uthrush, salah seorang anak cucu saudara Zaid bin Ali, mengadakan pemberontakan terhadap penguasa Khurasan. Karena dikejar-kejar oleh pihak penguasa yang berusaha untuk membunuhnya, ia melarikan diri ke Mazandaran yang hingga saat itu penduduknya belum memeluk agama Islam. Setelah 13 tahun bertabligh, ia akhirnya dapat mengislamkan mayoritas penduduk Mazandaran dan menjadikan mereka penganut mazhab Syi’ah Zaidiyah. Dengan bantuan mereka, ia dapat menaklukkan Thabaristan dan daerah itu menjadi pusat bagi kegiatan Syi’ah Zaidiyah.

Kelompok ini menghadirkan bentuk moderat Syi’ah dan berbeda dengan Ismailiyah. Mereka tidak semata-mata mementingkan dimensi esoteris agama dan meninggalkan aspek eksoterisnya. Pada abad ke-10 M, kelompok Zaidiyah memiliki banyak pengikut di Persia dan Arab bagian timur, tetapi berangsur-angsur mereka pindah ke Yaman, yang akhirnya mereka mengisi setengah dari jumlah penduduk negara tersebut dan menjadi penguasa selama ribuan tahun sampai pada 1962 menyusul penyerangan Mesir ke Yaman. Kaum Zaidiyah memiliki mazhab fiqih dan teologi sendiri, begitu juga teori politik, yang menyebutkan bahwa siapa saja yang taat beragama, berilmu pengetahuan, dapat mempertahankan negara dan memelihara perdamaian dan keagamaan, dapat diangkat menjadi Imam dan pemimpin.[27] Syi’ah Zaidiyah menggabungkan dua ajaran dalam mazhabnya. Dalam bidang ushuluddin ia menganut paham Mu’tazilah dan dalam bidang furu’uddin ia menganut paham Hanafiah.

Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam)

Adapun Syi’ah Isna ‘Asyariyah atau Imamiyah meyakini bahwa imam ada dua belas orang dan silsilah Imam tersebut berlanjut dari keturunan Imam Husain. Secara berurutan, Imam-Imam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin bin Husein (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).[28]

Imam kedua belas, Muhammad al-Mahdi, dipercaya oleh kalangan syiah diberikan Tuhan kehidupan panjang sampai akhir dunia, tapi mengalami kegaiban. Akan tetapi, ia tetap menjadi pemimpin dan dapat muncul atau memperlihatkan diri kepada orang-orang yang memiliki kondisi spiritual tertentu. Imam Mahdi akan muncul secara terbuka sebelum akhir dunia (kiamat), yaitu ketika dunia dipenuhi dengan kezaliman dan penindasan, sehingga kemunculannya untuk membangun kembali keadilan dan perdamaian di muka bumi serta menegakkan janji-janji ilahi.

Persoalan kemunculan Imam Mahdi ini, sebenarnya bukanlah khas dan milik syiah saja. Golongan Sunni juga memiliki ajaran tersebut. Bedanya, kaum syiah mengklaim telah mengetahui siapa Imam Mahdi itu, yakni keturunan dari Imam Hasan al-Askari, yang telah dilahirkan ke dunia, hanya saja mengalami kegaiban dalam waktu yang tidak diketahui.  Sedangkan kaum Sunni hanya membayangkan suatu figur dengan nama Mahdi akan muncul pada masa yang mereka tidak tahu kapan terjadi, dan keturunan siapa?

Karena merupakan sekte terbesar dan sekaligus yang memiliki kesistematisan sebuah mazhab, maka uraian tentang syiah di dalam duku ini semua merujuk pada syiah itsna asyariah (syiah dua belas imam).

PRINSIP-PRINSIP AJARAN SYIAH

Pokok-pokok ajaran Syi’ah disamping berbeda dengan sunni, juga banyak memiliki kesamaan. Dalam akidah misalnya, syiah meyakini keesaan Tuhan, kenabian, dan hari akhir. Sebahagian peneliti memandang bahwa dalam bidang teologi kaum Syi’ah banyak sepaham bahkan meniru Mu’tazilah.[29] Namun, ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa dan tidak akurat, karena bagaimanapun, seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa syiah merupakan mazhab yang tertua dan lahir sebelum muktazilah.

Seperti mazhab lainnya, Syiah meyakini prinsip-prinsip dasar (ushuluddin) dalam Islam yakni ketuhanan (Tauhid), kenabian (al-Nubuwah), dan hari akhir (al-Maad). Sebagai tambahannya yang khas syiah memasukkan keadilan (al-Adl) dan kapemimpinan (al-imamah) sebagai bagian dari prinsip-prinsip ajarannya.

Dalam tauhid syiah meyakini bahwa Allah tidak merupakan jism, substansi, atau tubuh, tidak berbentuk, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dia adalah esa dari segala sisinya baik dari sisi zat, sifat maupun perbuatannya (tauhid zat, tauhid sifat, dan af’al) serta tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakan, Dia memiliki sifat-sifat yang sempurna, seperti Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Hayat (Maha Hidup), Alim (Maha Berilmu), Sami’ (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), serta sifat-sifat sempurna lainnya. Dan terhadap semua sifat-sifat tersebut diyakini oleh syiah bukanlah sesuatu yang lain yang ditambahkan kepada zat-Nya, melainkan identik dengan zat-Nya itu sendiri.

Syiah juga meyakini bahwa Allah Maha Adil, karenanya, Dia akan menghukum siapa yang berdosa dan mengganjar siapa yang berpahala. Dengan prinsip keadilan ini, syiah meyakini bahwa Allah tidak akan menzalimi makhluk-Nya, merampas hak seseorang, bahkan Allah senantiasa mencurahkan karunia-Nya kepada setiap makhluk sesuai dengan ketentuan alam yang berpijak di atas kebijaksanaan-Nya. Keadilan juga menjadi prinsip kebertanggungjawaban manusia di hadapan Allah swt. Artinya, melalui takdir Allah, manusia diberikan kebebasan oleh Allah, sehingga harus bertanggung jawab atas segala tindakannya, dan akan mendapatkan pahala atau dosa atas tindakannya tersebut.

Dalam hal kenabian syiah memegang teguh keyakinan bahwa Allah swt telah mengirim utusan-Nya sebagai Nabi dan Rasul untuk menyampaikan dan menjelaskan syariat Allah swt. Para Nabi itu seluruhnya bersifat maksum (terpelihara dari dosa) dan memiliki berbagai mukjizat. Nabi pertama yang di utus oleh Allah swt. adalah Nabi Adam as. dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad saaw. Syiah meyakini secara bulat, bahwa pintu kenabian telah tetutup setelah Nabi Muhammad saaw, karenanya beliau disebut dengan khatam al-nabiyin (penutup para nabi) dan membawa agama Islam yang sempurna. Pengakuan kenabian dalam syiah juga memberikan konsekuensi bahwa Nabi telah menerima berbagai wahyu dari Allah swt. melalui malaikat-Nya, dan wahyu-wahyu tersebut dihimpun dalam sebuah kitab yang bernama al-Quran. Kitab al-Quran merupakan kitab paling sempurna yang diturunkan Allah serta Allah akan menjaganya dari segala jenis perubahan. Ini berarti syiah meyakini bahwa al-Quran yang ada di hadapan kita, sama persis dengan yang ada di hadapan Rasulullah saaw, tanpa ada pengurangan ataupun penambahan di dalamnya.

Hanya saja syiah meyakini bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad saaw. kepemimpinan berlanjut dengan diangkatnya Imam Ali bin Abi Thalib as. oleh nabi sebagai penggantinya. Bukan hanya Imam Ali bin Abi Thalib, syiah juga meyakini sebelas Imam keturunan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin atau imam yang telah digariskan Allah melalui rasul-Nya. Inilah yang disebut dengan prinsip imamah. Para imam tersebut mendapatkan kemuliaan dari Allah dan merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman yang harus ditaati sebagaimana kaum muslimin menaati Nabi Muhammad saaw.

Terakhir, syiah meyakini bahwa setelah akhir dunia (kiamat), manusia akan dikumpulkan dan dibangkitkan oleh Allah di alam akhirat untuk bertanggungjawab atas segala tindakannya di dunia semasa hidupnya. Jika manusia memiliki amal ibadah yang baik maka Allah akan mengganjarnya dengan surga, dan sebaliknya, jika amalnya buruk, maka Allah akan menghukumnya dengan neraka. Syiah mengakui segala prosesi ke alam akhirat seperti kematian, alam kubur atau alam barzakh, shirat, mizan, penerimaan buku catatan,  dan prosesi lainnya, yang semuanya di bawah kekuasaan Allah.

Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Baitullah di Mekah. Hanya saja ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah.[30] Dalam bidang fiqh merujuk pada Mazhab Ja’fari yang dibangsakan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, Imam keenam Syiah.[31]


[1] Seyyed Hossein Nasr. et. al. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. (Bandung: Mizan, 2003), h. 146 .

[2] Sayyid Muhammad al-Musawi. Mazhab Syi’ah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 53.

[3] Khalid Ibrahim Jindan. Teori-Teori Politik Islam. (Surabaya; Risalah Gusti, 1999), h. 8.

[4] Lihat Zakariya Barakat Darwisy. Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah (Kul al-Huquq Mahfuzhah, 2006), h.9-39.

[5] Zakaria Barakat Darwisy. Syiah, h. 10.

[6] Sayid Muhammad al-Musawi. Mazhab, h. 56-57.

[7] Sayid Muhammad al-Musawi. Mazhab, h. 57.

[8] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 344 dan lihat Muhammad Abu Zahrah. Tarikh al-Mazahib al-Fiqhiyah. (Kairo; Ma’had al-Dirasah al-Islamiyah, tt), h. 53.

[9] Lihat Philip K. Hitti. History of the Arabs (Jakarta: Serambi, 2003), h. 237.

[10] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut Kepemimpinan Setelah Rasul. (Jakarta: Yayasan as-Sajjad, 1990), h. 62.

[11] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut, h. 62.

[12] Murad W. Hofmann. Menengok Kembali Islam Kita.(Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 136.

[13] Kata khalifah, yang bentuk pluralnya khulafa` dan khala`if, yang berasal dari kata khalafa berarti pengganti, yaitu seseorang yang menggantikan tempat orang lain dalam beberapa persoalan. Belakangan dimaknai sebagai kepala negara atau pemimpin tertinggi umat Islam sebagai pengganti Rasulullah Saw. Lihat Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 204-206.

[14] Syahadah diilhami oleh perjuangan Imam Husain di Karbala yang memperjuangkan keadilan dan tegaknya aturan agama. Dalam perspektif syiah, peristiwa syahidnya Imam Husein di Karbala pada 10 Muharram 61 H/680 M, menempati posisi historis yang sangat penting seperti halnya pelantikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai penerus kepemimpinan Nabi di Ghadir Khum. Bahkan, kebangkitan Imam Husain melawan tirani ini menjadi basis ideologi syiah lainnya yaitu amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fi sabilillah.

[15] Hamid Enayat. Reaksi Politik Sunni-Syi’ah.(Bandung: Pustaka, 1988), h. 280-281.

[16] William Montgomery Watt. Fundamentalisme Islam dan Modernitas. Terj. Taufiq Adnan Amal. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 260-261.

[17] Lihat Sayid Husain Muhammad  Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah. (Bandung: Mizan, 1995), h. 301-316.

[18] Gaibah maksudnya adalah keyakinan tentang gaibnya Imam ke-12 (Imam Muhammad al-Mahdi afs.) dan akan muncul kembali ke dunia untuk menegakkan kepemimpinan yang adil. Inspirasi konsep ini mengukuhkan semangat umat syiah untuk senantiasa dinamis dan progressif dalam perjuangan meniti kehidupan dan membentuk peradaban Islam sembari menunggu kemunculan Imam Mahdi.

[19] Secara etimologi, taqiyah berasal dari akar kata waqa, yaqi dalam bahasa Arab, yang berarti melindungi atau menjaga diri. Dari akar kata yang sama ini juga berasal kata taqwa (kesalehan atau takut kepada Allah). Dari sini maka taqiyah yang dianut syiah adalah  menyembunyikan atau menutupi keimanan, keyakinan, pemikiran, perasaan, pendapat, dan strategi, ketika terancam bahaya demi menyelamatkan diri dari penganiayaan. Keyakinan taqi’yyah ini didasarkan dalil aqli dan naqli. Akal sehat menyarankan untuk berhati-hati jika terjadi bahaya dan penindasan. Secara naqliyah ayat Alquran telah menyetujui prinsip taqiyah seperti Q.S. Ali Imran: 28; An-Nahl: 106; al-Mukmin: 28. Lihat Hamid Enayat. Reaksi, h. 271-272. Ja’far Subhani. Ma’a al-Syi’ah al-Imamiyah fi ‘Aqa’idihim. (Mu’awiniyatu Syu’uni al-Ta’lim wa al-Buhuts al-Islamiyah, 1413 H),, h. 76-96 .

[20] Misalnya, Jalaluddin al-Suyuti dalam kitab tafsirnya al-Dur al-Mantsur meriwayatkan pendapat Ibnu Abbas tentang Q.S. Ali Imran: 28 sebagai berikut : “Taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja: orang yang telah dipaksa menyatakan sesuatu yang membuat murka Allah swt, tetapi hatinya tetap beriman, maka (ucapannya itu) tidak akan merugikannya; karena taqiyah hanya diucapkan dengan lidah saja.” Begitu juga Abu Bakar al-Razi dalam Ahkam al-Quran membenarkan tindakan taqiyah apabila seseorang takut jika hidup atau anggota tubuhnya terancam bahaya. Qatadah juga mengatakan seseorang boleh mengucapkan kata-kata ketidakberiman saat taqiyah wajib dilakukan. Banyak lagi pendapat-pendapat lain yang senada dan menyatakan taqiyah sebagai bagian dari ajaran Islam yang penting. Lihat Tim Penerbit al-Huda. Peny. Antologi Islam. (Jakarta: al-Huda, 2005), h.758-764.

[21] Hamid Enayat. Reaksi, h. 271-272, dan lihat; Ja’far Syubhani. Ma’a al-Syi’ah, h. 76-96; Tim al-Huda. Antologi, h. 774.

[22] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 345-346. Informasi lebih lengkap tentang sekte-sekte dalam Syi’ah baca; Abu Hasan Isma’il al-Asy’ari, Prinsip-prinsip Dasar Aliran Teologi Islam. (Bandung: Pustaka Setia, 1998); al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal (Kairo, 1961); Syeikh Ja’far Subhani, Buhuts fi al-Milal wa an-Nihal (Beirut: Dar al-Islamiyah, 1991).

[23] Seyyed Hossein Nasr. The Heart of Islam: Pesan-pesan Universal Islam Untuk Kemanusiaan. (Bandung; Mizan, 2003), h. 88-89.

[24] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 89-90.

[25] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 90-91.

[26] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 90-91.

[27] Seyyed Hossein Nasr. The Heart, h. 91.

[28] Lihat riwayat hidup mereka masing-masing dalam Syaikh al-Mufid. Sejarah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Para Imam Ahlul Bait Nabi Saw. (Jakarta: Lentera, 2007)

[29] Misalnya, menurut Harun Nasution, ada tiga hal yang melatarbelakangi adanya persamaan itu. Pertama, muktazilah dan syi’ah pernah bekerja sama melawan Ahl al-Sunnah. Kedua, aliran syiah yang lebih bersifat gerakan politik pada waktu itu belum memiliki paham teologi yang mandiri. Ketiga, pemikiran kaum syi’ah berhubungan erat dengan pemikiran filsafat yang melatih berpikir rasional; demikian pula halnya dengan kalam Muktazilah. Taufik Abdullah, et. al, Ensiklopedi, jilid III, h. 344-345. Pandangan ini kurang tepat seperti dijelaskan di atas.

[30] Ali Miskini. Sunnah Dalam Pandangan Syi’ah dan Sunni. dalam Jurnal Studi-Studi Islam Al-‘Ibrah, Vol. 1 No. 2, h. 81.

[31] Mazhab di sini tidak sama dengan pemakaian istilah mazhab dalam fiqih Sunni. Mazhab dalam pandangan Sunni menunjuk pada kumpulan ijtihad imam-imam mazhab. Namun, istilah mazhab Ja’fari bukanlah mencerminkan kumpulan pendapat atau hasil ijtihad Imam Ja’far al-Shadiq. Sebab dalam pandangan syiah, Imam Ja’far al-Shadiq, dan kesebelas Imam lainnya, bukan seorang mujtahid, tapi imam maksum yang memiliki otoritas penetapan atau pembuatan hukum. Lihat Umar Shahab. Sebuah Pengantar. dalam Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Ja’fari. (Jakarta: Lentera, 1995), h. vii.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s