Imam Kaum Syi’ah vs Imam Kaum Sunni.. Siapa yang benar ??

Imam Ali Abul Hasan Al Asy’ari: Sang Pencari Kebenaran

Abu al-Hasan al-Asy’ari

Abu al-Hasan bin Isma’il al-Asy’ari (Bahasa Arab ابو الحسن بن إسماعيل اﻷشعري) (lahir: 873- wafat: 935), adalah seorang pemikir muslim pendiri paham Asy’ari.

 Latar Belakang

namanya Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Al-Asy’ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M [1] Al-Asy’ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad. pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 dia mengumumkan keluar dari paham Mu’tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy’ariah

.

Ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah). Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya”. [1]

.

Walaupun banyak juga ulama yang menentang pamikirannya,tetapi banyak masyarakat muslim yang mengikuti pemikirannya. Orang-orang yang mengikuti/mendukung pendapat/faham imam ini dinamakan kaum/pengikut “Asyariyyah”, dinisbatkan kepada nama imamnya. DiIndonesia yang mayoritas penduduknya muslim banyak yang mengikuti paham imam ini, yang dipadukan dengan paham ilmu Tauhid yang dikembangkan oleh Imam Abu Manshur Al-Maturidi.

Karya-karyanya

Ia meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih berjumlah 90 buah dalam berbagai lapangan.[1] Kitabnya yang terkenal ada tiga : 1. Maqalat al-Islamiyyin 2. Al-Ibanah ‘an Ushulid Diniyah 3. Al-Luma[1]

Mazhab Ahlusunnah Wal Jama’ah (sunni) mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi dalam hal tauhid, Mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan tasawuf nya mengikuti Al Ghazali ?? Adakah yang menyuruh anda anda berimam pada mereka ?? Dasarnya apa ?? Dalilnya mana ???

Karya Abu Hasan Al Asy’ari yang paling termasyhur adalah kitab Maqalat Al Islamiyyin . Ini merupakan sebuah karya yang sangat kacau dan berantakan. Karya lainnya yang terbit adalah kitab Al Luma’  dan kitab Al Ibanah

Dibidang akidah kaum sunni terpecah menjadi dua kelompok yakni ahlulhadis dan ahlulkalam

  1. Ahlulhadis yang mengharamkan ilmu kalam. Pada abad abad pertama kalam sunni dianggap bertentangan dengan sunnah dan hadis. Bukankah para pemimpin ahlulhadis seperti Malik bin Anas dan Ahmad bin Hambal memandang perdebatan, telaah atau argumen (ilmu kalam) yang ada kaitannya  dengan masalah iman sebagai sesuatu yang diharamkan ??
  2. Asy’ariyyah selaku ahlulkalam (pengikut Abu Hasan Al Asy’ari) yang menganggap ilmu kalam boleh boleh saja. Abu Hasan Al Asy’ari menentang pandangan tokoh tokoh  ahlulhadis  pendahulunya seperti Ahmad bin Hambal, menganggap perdebatan dan argumen  serta penggunaan alat logika dalam masalah akidah boleh boleh saja. Asy’ari menulis kitab berjudul “Risalah fi Istihsan al Khawd fi ‘ilm al Kalam” (sebuah risalah tentang kelayakan telaah dalam ilmu kalam)

Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa membuktikan kesalahan banyak pikiran Asy’ari meskipun tanpa menyebutkan nama secara langsung

Akal saya sulit menerima kontradiksi ini ! Inilah gaya mazhab sunni, dua hal yang saling bertentangan dianggap sama sama benar !!

Anehnya, sebagian pengikutnya seperti Baqillaini,  Al Juwaini, Al Ghazali dan Fakhruddin Ar Razi  merevisi dan memodifikasi pandangan pandangan Asy’ari sehingga kaum Asy’ariyyah masa kini tidak mampu lagi membedakan yang mana pikiran Asy’ari yang asli dan mana pikiran pengikut pengikut Asy’ari..

Ini sangatlah menggelikan karena MAZHAB ASY’Ari telah mengalami perubahan perubahan gradual. Dan khususnya ditangan Imam Al Ghazali maka ilmu kalam sedikit banyak  kehilangan warna khasnya dan jadi berwarna irfan (sufisme). Al Ghazali adalah seorang Asy’ariyyah, dia telah banyak berbuat untuk memperkuat akidah akidah Asy’ariyyah , dia telah memberikan fondasi yang lain pada akidah akidah Asy’ariyyah . Berkat Al Ghazali maka kalam jadi lebih dekat dengan irfan dan sufisme

Dapat disebutkan bahwa  sesungguhnya semakin jauh dari masa Asy’ari maka pengikutnya semakin jauh dari ajaran asli Abu Hasan Al Asy’ari. Misalnya : Al Ghazali, kecenderungan sufinya yang kuat maka topik topik kalam jadi lain warnanya. Fakhruddin Ar Razi yang akrab dengan pemikiran filosofis mengubah bentuk kalam Asy’ari dan selanjutnya memperkuatnya

Kemenangan Asy’ariyyah atas Syi’ah Imamiyah pada masa lalu sangat merugikan dunia Islam karena Asy’arisme melemahkan semangat berpikir. Kemenangan kekuatan stagnasi atas kemerdekaan berpikir.

Syi’ah imamiyah meletakkan pendekatan rasional. Islam sebagai agama yang begitu kaya dan penuh inisiatif serta dapat memecahkan masalah membutuhkan kalam yang tak tergoyahkan keyakinannya pada kemerdekaan akal.

Kemenangan Asy’ariyyah terjadi karena adanya faktor faktor sejarah dan sosial tertentu. Dan peristiwa peristiwa politik tertentu memberikan andil yang efektif untuk kemenangan itu. Asy’ariyyah mendapat fondasi dialektiknya setelah seratus tahun dari Asy’ari

Pada umumnya ilmu tauhid yang dikenal dan diajarkan di Indonesia dan Malaysia adalah ilmu tauhid aliran Asy’ariyyah yang mana pembahasannya hanya bersifat sepihak !!

KALAM  SYI’AH

Sekarang tiba saatnya untuk membahas kalam syi’ah, meski tentu saja secara ringkas. Kalam dalam pengertian argumen logis dan rasional tentang akidah akidah pokok Islam. Di satu pihak, kalam syi’ah muncul dari bagian terpenting dari hadis syi’ah, dan dilain pihak mampu berpadu  dengan  filsafat syi’ah.

Kalam syi’ah bukan saja tidak bertentangan dengan sunnah dan hadis, kalam syi’ah berakar pada sunnah dan hadis.  Hadis Syi’ah berbeda dengan koleksi hadis sunni, terdiri atas banyak hadis atau riwayat yang membahas dengan logis masalah masalah metafisika dan sosial, dan yang menganalisis masalah masalah itu dengan rasional. Namun dalam koleksi hadis sunni tidak ada analsis seperti itu.

Sebagai contoh, banyak masalah masalah yang diangkat tidak ada argumen atau penjelasan rasionalnya  seperti qadha dan qadar , kehhendak Allah yang Maha Meliputi, sifat sifat Allah, atau topik topik seperti roh, akhirat, pengadilan akhirat, shirath, neraca atau topik topik seperti imamah, khilafah dan sebagainya

Dalam koleksi hadis syi’ah semua topik seperti itu dibahas dengan rasional dan logis. Karena itu, kalam dalam pengertian  analisis rasional atas berbagai masalah ada `dalam hadis syi’ah

Catatan kaki

  1. ^abcd Hanafi Ahmad: “Teologi Islam (Ilmu Kalam)”, hal 65-77,2001, Penerbit Bulan Bintang, ISBN : 979-418-074-2

Abu Mansur Al Maturidi

Abu Mansyur Almaturiddi

Nama lengkap beliau Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al samarqandi Al Maturidi Al Hanafi.Beliau lahir di Maturrid sebuah kota kecil di Samarkand.Nama Almaturridi nisbatkan dari dari tempat kelahirannya Maturrid. Wafat tahun 333H,9 tahun setelah Wafatnya AL Imam Asy’ari.Tidak ada data yang menerangkan bahwa kedua imam ini pernah bertemu walaupun hidup dalam satu zaman,Imam Asy’ari di bashrah- Irak,Imam maturridi di Maturrid-samarkand –Rusia.Imam Maturridi lebih dekat kepada imam Hanafi dan Asy’ari kepada Imam syafi,i,maka dalam masalah fiqih kedua imam tersebut terdapat perbedaan dalam beberapa segi walaupun tidak mendasar.

Kedua Imam ini terdapat banyak persamaan yang mendasar dalam masalah Aqidah,dan tersebut dalam kitab “Ihtihaf sadatul Muttaqin” karya “Sayid murtadha alhusaini az zabidi” yaitu kitab syarah dari “Ihya
ulumudin” karya Imam Ghozali, pada zilid II hal 6 yaitu :

إذَا أطلق أهلُ السنة والجَماعة فالمراد بِهِم الأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ
Apabila di sebut kaum Ahlu sunnah Wal’jama’ah,maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti Rumusan faham Al Asy’ari dan Al Maturidi.

Pokok-pokok pemikiran Imam Al Maturridi :

1.Masalah Iman :

Iman adalah ikrar dengan lisan dan tashdiq di dalam hati,serta ikrar itu adalah bagian dari iman.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:

Kemauan manusia itu sebenarnya adalah kemauan Allah,akan tetapi perbuatan manusia itu tidak selamanya sesuai dengan kehendak Tuhan,sebab dia selalu menghendaki yang baik,bukan yang tidak baik.dan ini adalah prosedur akal saja sebab baik buruk adalah semua dari Qudrat dan iradatnya Allah Ta’ala

3.tentang sifat tuhan :
Sifat tuhan adalah sifatnya tidak perlu di permasalahkan lagi.

Pokok –pokok pikiran Imam Al Asy’ari :
1.Masalah Iman :

Tashdiq di dalam hati di ikuti dengan perkataan dan di buktikan dengan perbuatan.

2.qodlo dan qodhar dalam hubungannya dengan perbuatan manusia:
Di rumuskan dalam bentuk pertanyaan :
Apakah perbuatan manusia di ujudkan oleh Tuhan atau oleh Manusia itu sendiri :
Yaitu qodlo sifatnya qodim yaitu kehendak yang Azali,sedangkan Qodhar sifatnya adalah hudus/baru yaitu ,wujud pekerjaan manusia itu,Dengan kata lain terwujudnya perbuatan manusia adalah atas Qudrat dan Iradatnya Allah Ta,ala.

3.Sifat dan dzat Allah Ta’ala
Imam Asy’ari menetapkan adanya sifat Allah Ta’ala sebagaimana yang tercantum dalam Alqur’an dan Sifat Allah bukan dzat Allah.Dzat Allah adalah tidak butuh kepada Dzat lain dan tidak butuh kepada yang menjadikan,sifat Allah adalah sifat yang qodim.

dalam kancah sejarah Abu Hasan Al-Asy’ari lebih di kenal daripada Abu Mansur Al Maturridi. Padahal hakikatnya baik Al-Asy’ari maupun Al-Maturidi merupakan dua pembesar Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Ketidak populeran Al Maturidi dibanding dengan Al Asy’ari dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya :

1.Para Sejarawan tidak mencantumkan pada tarajum-tarajum karangannya. Diantaranya yaitu Ibnu Al Nadim (379 H/987M) yang wafat 50 tahun setelah wafatnya Al Maturidy. Padahal ia mencantum Imam Attahawi dan Imam Al Asy’ari. Demikian pula sejarawan yang lain seperti Ibnu Kholikan, Ibnu Al ‘Amad, Assyafadi, Ibnu Khaldun pun tidak mencantumkannya dalam muqoddimahnya dalam ilmu kalam. Begitu pula Jalaludin Assuyuti tidak mencantumkanya dalam tobaqot al mufassirin, padahal Al Maturridi disamping seorang mutakalim dia juga seorang mufasir.

2.Faktor geografis.Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Al Maturridi hidup di Samarkan yang jauh dari Irak yang saat itu merupakan pusat perkembangan Islam dan disaat yang sama Al Asy’ari mulai memperkenalkan ajaran-ajarannya disana.
Asya’irah dan Maturidiyah merupakan du teologi Islam yang legendaris yang masih eksis hingga saat ini, yang kita kenal dengan Ahlu Sunnah Wal Jamaah. Aliran Maturridiah banyak dianut umat Islam yang bermadzhab Hanafi sedangkan Asy’ariyah banyak dipakai oleh umat Islam bermadzhaf syafi’i . Oleh karena itu tidak heran jika kita mendengar ormas islam terbesar di  indonesia bahkan di dunia yaitu Nahdatul Ulama-N U. berfaham dalam aqidah  ASYTUR (Asy’ariyah Maturidiyah).dan di dalam fiqih berpegang kepada madzhabun arba’ah yaitu Hanafi-maliki-syafi’i &Hambali.
 

Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Abu Mansur al-Samarqandi al-Maturidi al-Hanafi (Bahasa Arab: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور الماتريدي السمرقندي الحنفي) (wafat 333 AH / 944 ) adalah seorang cendekiawan muslim dan ahli di bidang ilmu kalam.

Maturidi dilahirkan di Maturid, dekat Samarqand. Di bidang ilmu agama, beliau berguru pada Abu Nasr al-`Ayadi and Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang Mu’tazilahQarmati, dan Syiah.

Karya

  • Kitab Al Tawhid
  • Kitab Radd Awa’il al-Adilla, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Radd al-Tahdhib fi al-Jadal, sanggahan terhadap Mu’tazilah
  • Kitab Bayan Awham al-Mu’tazila (‘Kitab Pemaparan Kesalahan Mu’tazilah
  • Kitab Ta’wilat al-Qur’an.
  • Kitab al-Maqalat
  • Ma’akhidh al-Shara’i` dalam Usul al-Fiqh
  • Al-Jadal fi Usul al-Fiqh
  • Radd al-Usul al-Khamsa, sanggahan terhadap pemaparan Abu Muhammad al-Bahili’ tentang lima prinsip Mu’tazilah
  • Radd al-Imama, sanggahan terhadap konsepsi keimaman syiah
  • Al-Radd `ala Usul al-Qaramita
  • Radd Wa`id al-Fussaq

Muhammad Abu Mansur al-Maturidi (853 AD – 333 AH / 944 AD) (Persian: محمد بن محمد بن محمود أبو منصور ماتریدی سمرقندی حنفی‎) was an Iranian[1] Muslim theologian, and a scholar of Islamic jurisprudenceand Qur’anic exegesis. Al Maturidi is one of the pioneers[2] of Islamic Jurisprudence scholars and his two works are considered to be authoritative on the subject.[3] He had a “high standing” among the scholars of his time and region.[4]

Early life and education

He was born in Maturid near Samarkand, (possibly) in 853.[5] He was educated in Islamic theologyQur’anic exegesis, and Islamic jurisprudence. He was a Muslim theologian and his background is claimed as Tajik.[1] The area of Samarkand was at his time under theSamanid and its urban population were predominately Tajik while the surrounding steppes was largely populated by Turkic-speaking people.[6]

His Teachers were Abu Nasr Ahmed b. Abbas b. Husayin al-Iyazi, Abu Bakr Ahmed b. Ishak b. Salih el-Juzjani (writer from Al-Farq wat Tamyiz),Nusayr b. Yahya al-Balkhi and Qadilqudat Muhammad b. Mukatil ar-Razi. Abu Nasr al-Iyazi was his teacher and friend. Abu Bakr al-Juzjani was the pupil of Abu Sulayman Musa b. Sulayman el-Juzjani, who was the pupil of Imam Abu Yusuf and Imam Muhammad Ash-Shaybani. Muhammad b. Mukatil did learn from Imam Muhammad as-Shaybani too.

Works

When al-Maturidi was growing up there was an emerging reaction[7] against some schools within Islam, notably Mu’tazilisQarmati, and Shi’a. The Sunni scholars who were following Abu Hanifa. Al-Maturidi with other two preeminent scholars()[8] wrote especially on the creed of Islam and elaborated Abu Hanifa‘s doctrine, the other two being Abu al-Hasan al-Ash’ari in Iraq, and Ahmad ibn Muhammad al-Tahawi in Egypt.[9]

While Al-Ash’ari and Al-Tahawi were Sunni together with Al-Maturidi, they constructed their own theologies diverging slightly from Abu Hanifa‘s school. Al-Ash’ari, enunciated that God creates the individual’s power (qudra), will, and the actual act[10] giving way to a fatalist school of theology, which was later put in a consolidated form by Al Ghazali.[11] Al Maturidi, followed in Abu Hanifa‘s footsteps, and presented the “notion that God was the creator of man’s acts, although man possessed his own capacity and will to act”.[12] Al Maturidi and Al-Ash’ari also separated from each other in the issue of the attributes of God,[13] as well as some other minor issues.

Later, with the impact of Persianate states such as Great Seljuq Empire[14] and Ottoman Empire,[15] Hanafi-Maturidi school spread to greater areas where the Hanafi school of law is prevalent, such as AfghanistanCentral AsiaSouth AsiaBalkanRussiaChinaCaucasus andTurkey.

Maturidi had immense knowledge of dualist beliefs (Sanawiyya) and of other old Persian religions. His “Kitäb al-tawhld” in this way has become a primary source for modern researchers with its rich materials about Iranian Manicheanism (Mâniyya), a group of Brahmans (Barähima), and some controversial personalities such as Ibn al-RawandiMuhammad al Warraq, and Muhammad b. Shabib.[16][17]

References

  1. ab S. H. Nasr(1975), “The religious sciences”, in R.N.Frye, the Cambridge History of Iran, Cambridge University Press
  2. ^Katip Çelebi. (1943). Keşfü’z-Zünûn an Esâmi’l-Kütüb vel-Fünûn, (Vol. I), (pp. 110‑11). Istanbul:Maarif Matbaası.
  3. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, M. M. (Ed.), A history of Muslim philosophy: With short accounts of other disciplines and the modern renaissance in the Muslim lands (Vol. 1), (p. 261). Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  4. ^ Mwakimako, H. (2004). Al Maturidi. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 443). New York: Macmillan Reference USA
  5. ^ Pessagno, J. M. (1984). The uses of evil in Maturidian thought. Studia Islamica, 60. p. 59.
  6. ^ Adeeb Khalid “Islam in contemporary Central Asia” in R. Michael Feener, “Islam in World Cultures: Comparative Perspectives”, Published by ABC-CLIO, 2004. pg 135, excerpt: Central Asia has long been an integral part of the Muslim world. Arab armies conquered the cities of Transoxiana in the early eight century, turning the region into the frontier of the Muslim world. Over the next two centuries, the urban population, mostly Tajiks converted to Islam, and the cities very soon became connected to the networks of Muslim culture and of Islami learning…. This position was cemented by the emergence, at the end of the tenth century, of Bukhara as the seat of the independent Samanid Persian dynasty, which patronized the development of “new Persian” (e.g. Persian as fully Islamized language) as a literary language. The surrendering steppe, with its largely Turkic-speaking population, remained a borderland.
  7. ^ Williams, J. A. (1994). The word of Islam. London: Thames and Hudson. p. 145.
  8. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 260. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  9. ^ Ali, A. (1963). Maturidism. In Sharif, p. 259. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  10. ^ Gimaret, D. (1980). The´ories de L’Acte Humain en The´ologie Musulmane. Paris: J. Vrin.
  11. ^ Hye, M. A. (1963). Ash’arism. In Sharif, p. 226. Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
  12. ^ Shah, M. (2006). Later Developments. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 640). New York:Routledge.
  13. ^ Lucas, S. C.(2006). Sunni Theological Schools. In Meri, J. W. (Ed.),Medieval Islamic civilization: an encyclopedia, (Vol. 1), (p. 809). New York:Routledge.
  14. ^ Hughes, A. (2004). Ash’arites, Ash’aria. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (pp. 83-84). New York: Macmillan Reference USA
  15. ^ DeWeese, D. (2004). Central Asian Culture and Islam. In Martin, R. C. et al. (Eds.), Encyclopedia of Islam and the Muslim World, (Vol. 1), (p. 139). New York: Macmillan Reference USA
  16. ^ See G. Vajda, “Le Témoignage d’al-Maturidi sur la doctrine des manichéens, des daysanites et des rnarcionites”, Arabica, 13 (1966), pp. 1-38; Guy Mannot, “Matoridi et le manichéisme”, Melanges de l’Institut Dominicain d’Etudes Orientales de Caire, 13 (1977), pp. 39-66; Sarah Stroumsa, “The Barahima in Early Kalam”, Jarusalem Studies In Arable and Islam, 6 (1985), pp. 229-241; Josef van Ess, “al-Farabi and Ibn al-Rewandi”, Hamdard Islamicus, 3/4 (Winter 1980), pp. 3-15; J. Meric Pessagno, “The Reconstruction of the Thought of Muhammad Ibn Shabib”, Journal of American Oriental Society, 104/3 (1984), pp. 445-453.
  17. ^The Authenticity of the Manuscript of Maturidi’s Kitäb al-Tawhid, by M. Sait Özervarli, 1997. (Retrieved on: 23 December 2008)

Al GHAZALi

Dalam sebuah kajian yang ke sekian, ketika itu tema yang diangkat adalah seputar biografi dan mantik Imam Al-Ghazali. Presentator biografi adalah saya sendiri dan logika, orang lain. Dalam sesi tanya jawab, makalah yang saya presentasikan tidak banyak pertanyaan, hanya beberapa pertanyaan dan tambahan dari beberapa kekurangan dalam makalah yang saya tulis. Wajar saja, biografi kan masalah sejarah dan perjalanan hidup, peluang analisa lebih sempit dibanding yang lain. Sepertinya kurang menarik menurut beberapa orang, tapi menurut saya sangat penting karena banyak yang dapat diteladani dari Imam Al-Ghazali terutama perjuangannya dalam menuntut ilmu.

Salah satunya adalah ketika beliau kembali pulang setelah berguru pada Syaikh Isma’ily selama lima tahun. Beliau mencatat seluruh yang dipelajarinya bersama gurunya. Dalam perjalanan, Imam Al-Ghazali dirampok dan seluruh buku catatannya diambil. Ketika itu terjadi perdebatan sengit:

“Ambillah semua hartaku, tapi jangan kau ambil buku catatanku karena tidak gunanya bagimu”

Perampok itu menjawab, “Ilmu itu bukan dibuku, tapi otak”

Akhirnya buku catatannya pun dikembalikan lagi. Kejadian itu ternyata membuat Imam Al-Ghazali semakin semangat belajar. Akhirnya semua buku dan catatannya hasil belajar selama lima tahun itu, dihafalnya semua dalam waktu tiga tahun. Setelah itu berangkat lagi menuntut ilmu pada guru yang lain.

Seputar logika, ini yang seru. Presentator menjelaskan penggagas pertama logika dalam Islam dan asal mula logika yang berasal dari ilmu kedokteran. Jadi ulama dulu yang ahli dalam bidang mantiq juga mempunyai kapabelitas dalam bidang kedokteran. Dikatakan juga bahwa, Imam Al-Ghazali dalam hal ini mengikuti Imam Syafi’i sebagaimana dalam bidang yang lain. Kemudian masalah hukum mempelajari disiplin ilmu ini, Imam Al-Ghazali dalam kondisi tertentu mewajibkan untuk mempelajari ilmu ini.

“Man lâ yuhithu bihi ilmuhu falâ tsiqata lahu”

(Siapa yang ilmunya tidak didukung dengan mantik, maka keilmuannya diragukan)

Akan tetapi dalam waktu yang lain beliau melarang mempelajarinya.

“Man tamantaqa faqad tazandaqa”

(Barangsiapa bermain-main dangan mantik, maka dia zindik)

Tentu saja kata-kata tersebut dilontarkan kepada orang yang berbeda, bahkan berlawanan juga kondisinya.

Akan tetapi, ada salah satu diskusan yang tampaknya sangat getol meneliti pemikiran Imam Al-Ghazali, hal itu terlihat dengan gaya bicaranya yang mantap dan penuh keyakinan serta didukung dengan beberapa literatur yang pernah dibacanya. Dia mengungkapkan beberapa kekurangan Imam Al-Ghazali mulai dari filsafatnya, dengan mengatakan bahwa, “Filsafat Al-Ghazali hanya sesuai pesanan, karena ia mempelajari filsafat hanya untuk memberantas filsafat yang berkembang pada saat itu.” Selain poin filsafat, literatur punya Imam Al-Ghazali juga menurutnya banyak kelemahan. Ia juga tidak setuju sikap Imam Al-Ghazali yang mengkafirkan tiga poin dalam filsafat dalam bukunya ‘Tahafut al-Falasifah’. Terakhir ia menyimpulkan bahwa, “Al-Ghazali, tidak jelas…!”

Brek, hatiku kecewa. Kenapa kata itu terlontar kepada ulama sekaliber Imam Al-Ghazali. Mungkin ia hanya memandang dari satu segi saja. Jasa beliua dalam meng-Islamkan filsafat itu dianggap hanya sesuai pesanan dan perlu diragukan keilmuannya dalam bidang filsafat. Terlihat jelas bahwa disini ada indikasi penolakan terhadap filsafat islam yang sudah digagas oleh ulama pendahulu. Setinggi apakah keilmuan kita sehingga menganggap Imam Al-Ghazali demikian? Kalau anda tidak setuju, mana konsep yang Anda tawarkan sebagai pengganti konsep yang sudah ada? Ternyata ilmu kita tidak ada apa-apanya. Kalau mencari kesalahan tanpa memberikan solusi, banyak yang bisa Mas. Hatiku hanya berkata demikian, perasaan itu tidak ingin berpindah ke mulut karena jelas argumen saya sangat mudah dipatahkan dan saya tidak punya modal bukti ilmiah.

Sesunggunya telinga, mata, dan hati semuanya akan dipertanggungjawabkan.

wAllâhu A’lam bi ash-Shawâb

 
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Muslim Syi’ah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama (Abu Bakar As-Shiddiq, Umar ibn Khattab, dan Utsman ibn ‘Affan) seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Shī`ī (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.
Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah NabiMuhammad, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah
.
Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah
.
Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenaiSahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan
.
Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini
.
Doktrin
Dalam Syi’ah terdapat apa yang namanya ushuluddin (pokok-pokok agama) danfuru’uddin {masalah penerapan agama). Syi’ah memiliki Lima Ushuluddin:
  1. Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
  2. Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
  3. An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah meyakini keberadaan para nabi sebagai pembawa berita dari Tuhan kepada umat manusia
  4. Al-Imamah, bahwa Syiah meyakini adanya imam-imam yang senantiasa memimpin umat sebagai penerus risalah kenabian.
  5. Al-Ma’ad, bahwa akan terjadinya hari kebangkitan.
Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).Dimensi ketuhanan ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al-Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir
.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang). Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2) Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70) Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al-Maa’idah / QS. 5:17) Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149) Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96) Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat. nabi sama seperti muslimin lain. I’tikadnya tentang kenabian ialah:
  1. Jumlah nabi dan rasul Allah ada 124.000.
  2. Nabi dan rasul terakhir ialah Nabi Muhammad SAW.
  3. Nabi Muhammad SAW suci dari segala aib dan tiada cacat apa pun. Ialah nabi paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
  4. Ahlul Baitnya, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan 9 Imam dari keturunan Husain adalah manusia-manusia suci.
  5. Al-Qur’an ialah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
Sekte dalam Syi’ah
Dua Belas Imam
Disebut juga Imamiah atau Itsna ‘Asyariah (Dua Belas Imam); dinamakan demikian sebab mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan mereka yakin ada dua belas imam. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan imam mereka yaitu:
  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja’far (745–799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846–874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi
.

Lebih Dekat Dengan Syiah Ali As

Syaikh Sulaiman al-Balkhi (Ahli Sunnah) :

“Hadis imam dua belas tidak sesuai jika dimaksudkan dengan Khalifah al-Rasyidin karena jumlah mereka kurang dari 12. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah Bani Umayyah karena jumlah mereka lebih dari 12. Kesemuanya zalim kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan mereka juga bukan dari Bani Hashim karena Nabi bersabda: Semua Pemimpin ISLAM haruslah dari Bani Hashyim. Dan ia juga tidak sesuai dengan khalifah-khalifah dari Bani ‘Abbas karena mereka lebih dari 12. Mereka juga menindas anak cucu Rasulullah dan melanggar perintah al-Qur’an. Oleh karenanya itu satu satunya cara untuk mentafsirkan hadis itu ialah menerima 12 imam dari Ahl Bait Rasulullah Saw. Karena mereka yang paling alim, paling takwa, mempunyai sifat-sifat yang paling baik, paling tinggi nasab-nya dan lebih mulia dari sisi Allah, dan ilmu-ilmu mereka diambil dari ayah ayah mereka yang berhubung langsung dengan kakek mereka Muhammad Saw.”

(Yanabi al-Mawaddah, him. -447).

SYIAH

Saya menyimpulkan bahwa sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam”.

Dalam melihat suatu istilah, maka hendaknya kita tidak melihat dari arti leksikalnya saja. Karena ada istilah-istilah yang juga memuat makna khusus. Misalnya ijtihad, secara leksikal kata tersebut berarti “usaha keras, bersungguh-sungguh, bersusah-payah”. Namun kita tidak bisa dengan serta merta menyebut orang yang berusaha keras dengan sebutan “Mujtahid”, karena sebutan “Mujtahid” adalah istilah khas bagi mereka yang memiliki wewenang untuk melakukan istinbat hukum syar’i.

Begitu juga dengan dengan istilah “syi’ah”, secara leksikal maka itu berarti “pengikut”, sehingga pengikut Mu’awiyyah bisa disebut syi’ah Mu’awiyyah, pengikut Abubakar juga bisa disebut syi’ah Abubakar. Namun istilah “syi’ah” tersebut juga memiliki makna khas, yaitu sebutan untuk para pengikut Ali, yang tidak bisa ditempelkan begitu saja pada semua orang, sehingga pengikut selain Ali tidak bisa disebut sebagai “syi’ah”.

Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
[ Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319, Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62, Muttaqi Al-Hindi, dalam "Kanzul Ummal", jilid 15, hal. 15, Haikal, dalam "Hayat Muhammad"]

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :
“Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul saww. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul saww menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul saww dengan pengkhianat amanat Rasul saww. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

Rasul saww sendiri menggunakan istilah “syi’ah” ketika menyebut “pengikut Ali”, hal ini bisa dilihat pada hadits beliau saww.

Rasul saww bersabda :
“Cinta pada Ali menghindarkan dari neraka, Cinta pada Ali menghindarkan dari kemunafikan, syi’atu Ali (pengikut Ali) adalah orang-orang yang beruntung”.

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, dan juga oleh Dailami sebagaimana termaktub dalam kitab “Kunuuzul Haqa’iq” (Al-Manawi).

Rasul saww juga bersabda : “Wahai Ali, engkau dan syi’ah-mu berada dalam syurga”.

[Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam "Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah", jilid 3, hal. 107-108, 162, 167]

Sehingga jelas sekali, istilah “syi’ah” dipergunakan oleh Rasul saww untuk menyebut para pengikut Ali. Oleh karena itulah, semakin jelas terlihat bahwa “syi’ah” adalah istilah khas untuk menyebut para pengikut Ali (syi’ah Ali).

Ali adalah hujjah Allah, Kholifah Rasul saww, penerus misi Rasul saww, sehingga apa yang telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya, maka itu berarti ketetapan Ali as juga.

Kita semua tahu bahwa Rasul saww memerintahkan kita untuk mentaati para Imam Ahlul Bait as atau yang dikenal dengan “Dua belas Imam”. Sehingga ketetapan Rasul saww tersebut pastilah menjadi ketetapan Imam Ali as juga. Hal ini juga dapat dilihat pada khutbah beliau tentang Ahlul Bait as di Nahjul Balaghah.
[Nahjul Balaghah, khutbah No. 144 dan 154, tentang Ahlul Bait as]

Sehingga “syi’ah Ali” pastilah juga “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah (syi’ah Dua Belas Imam)”.

Kesimpulan:

Sebutan “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, TIDAK ADA yang lain. Berikut sekedar tambahan keterangan bahwa kata “syi’ah” adalah sebutan khas bagi “Syi’ah Ali” dan “Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah”, berdasarkan pengakuan ulama ahlusunnah :

Abul Hasan Al-Asy’ari :
“Sesungguhnya mereka dikatakan syi’ah, karena mereka mengikuti (syaaya’u) Ali, dan mereka mengutamakan beliau dari seluruh sahabat Rasulullah”.
["Maqaalaat Islamiyyin", jilid 1, hal. 65, terbitan Mesir. Yang dikutip dalam kitab "Asy-Syi'ah Fi Maukibi At-Tarikh", dikeluarkan oleh "Mu'awaniyyah Syu'un At-Ta'lim Wa Al-Bahuts"]

Syahrastani, berkata :
“Syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaaya’u) Ali secara khusus. Dan mereka berkeyakinan bahwa Imamah dan Khilafah beliau ditetapkan dengan nash dan wasiat, baik secara jelas maupun tersamar. Mereka juga berkeyakinan bahwa Imamah berlanjut pada putera-putera beliau”.
[Syahrastani, dalam "Milal Wan Nihal", hal. 118]

Ibn Hazm, berkata :
“Syi’ah meyakini bahwa Ali adalah manusia yang paling utama setelah Rasulullah, dan berhak atas Imamah atas mereka (manusia), begitu juga dengan putera-putera beliau sepeninggal beliau. Dan yang mengikuti ketentuan ini disebut syi’i. Apabila ada seseorang yang berbeda dengan ketentuan yang kami sebutkan tersebut, maka ia bukanlah syi’i”
[Ibn Hazm, dalam "Al-Fishal Fil Milal Wan Nihal", jilid 2, hal 113. ]

Siapa saja yang tidak taat kepada “Dua belas Imam Ahlul Bait” adalah bukan syi’ah. Termasuk siapa saja yang pada awalnya taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” namun setelah itu membangkang atau berkhianat kepada mereka as, maka orang tersebut juga bukan syi’ah. Termasuk madzhab Zaidiyah, yang tidak bisa dikatakan sebagai syi’ah, karena madzhab ini mengakui kepemimpinan Abubakar dan Umar, dan mereka tidak berpegang kepada hukum-hukum fiqih “Dua Belas Imam Ahlul Bait as”. Hanya mereka yang selalu taat kepada “Dua Belas Imam Ahlul Bait” yang disebut sebagai syi’ah.

Dengan kesimpulan tersebut, maka orang yang telah berkhianat kepada Imam Hasan as seperti Ubaidallah bin Abbas— sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Mufid dalam kitab “Al-Irsyad”— tidak bisa lagi disebut sebagai syi’ah, karena pengkhianatannya kepada Imam Hasan as dengan bergabung kepada Mua’awiyyah.

Oleh karena itu, tidak ada istilah “pengkhianatan oleh syi’ah”— sebagaimana secara implisit dituduhkan oleh sebagian orang— karena mereka yang berkhianat kepada para Imam as tidak lagi berstatus sebagai syi’ah.

Hadith-hadith Sahih Yang Mewajibkan Ikut Ahlul Bayt AS

Banyak sekali hadith-hadith shahih yang membuktikan wajibnya kita mengikuti Ahlul Bayt Nabi, beberapa diantaranya adalah hadith-hadith di bawah ini . . .

1. Hadith al-Thaqalain (Dua Pusaka Berat)

Bersabda Rasulullah SAWA:”Wahai manusia, aku tinggakan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah dan Itrahku, Ahlul Baytku.”

Sabdanya lagi:”Utusan Tuhanku tidak lama lagi akan datang, dan aku segera menyahutinya. Sungguh, aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka berat (thaqalain): pertama Kitab Allah. Di dalamnya, ada petunjuk dan cahaya. Kedua: Ahlul Baytku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baytku ini” [90].

Jika kita renungkan makna hadith yang mulia ini, yang diriwayatkan oleh buku-buku hadith sahih Ahlul Sunnah Wal Jamaah, maka kita dapati bahawa hanya Syiah sahaja yang mengikuti Thaqalain ini: Kitab Allah  dan keluarga Nabi yang suci. Sementara Ahlul Sunnah ikut kata-kata Umar:”Cukuplah untuk kami Kitab Allah sahaja.”

Oh, alangkah bahagianya jika mereka benar-benar ikut Kitab Allah, tanpa menakwilkannya mengikut hawa nafsu mereka. Jika Umar sendiri tidak faham apa makna kalalah, tidak tahu ayat tayammum dan berbagai hukum-hukum yang lain, maka bagaimana mereka yang datang kemudian lalu mentaklidnya (mengikutnya) tanpa berijtihad, atau berijtihad dengan pandangannya semata-mata di dalam nas-nas Qurani.

Mereka tentu akan menjawabku dengan suatu hadith yang diriwayatkan di sisi mereka:”Aku tinggalkan kepada kalian  Kitab Allah dan Sunnahku”[91].

Hadith ini kalaulah sohih dari segi sanadnya, maka ia benar di dalam maknanya meingatkan makna Itrah di dalam sabda Nabi SAWA di dalam Hadith as-Thaqalain di atas adalah merujuk kepada Ahlul Bayt agar mereka mengajarkan kepada kalian pertamanya – Sunnahku, atau mereka akan meriwayatkan kepada kalian hadith-hadith yang sahih. Mengingat mereka adalah orang-orang suci dari segala sifat dusta dan Allah telah mensucikan mereka dengan ayat Tathirnya. Kedua; agar mereka menafsirkan kepada kalian makna-makna ayat dan maksud-maksudnya, mengingat Kitab Allah semata-mata tidak cukup sebagai bimbingan. Betapa banyak golongan-golongan yang sesat berhujah dengan Kitab Allah. Sebagaimana juga sabda Nabi SAWA:”Betapa banyak pembaca al-Qur’an sementara al-Qur’an sendiri melaknatnya”. Kitab Allah bersifat diam dan membawa berbagai tafsiran. Di dalamnya ada yang mutasyabih dan ada juga yang muhkamat. Untuk memahaminya mesti merujuk kepada orang-orang yang rusukh di daam ilmunya – ikut istilah al-Qur’an – dan ikut bimbingan Ahlul Bayt Nabi seperti yang ada di dalam hadith-hadith Nabi SAWA.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA. Dan mereka tidak berijtihad melainkan jika memang tidak ada nas berkenaan dengannya. Sementara kita merujuk segala sesuatu kepada sahabat, sama ada di dalam tafsir al-Qur’an atau Sunnah Nabawi. Kita telah tahu sikap-sikap sahabat, apa yang mereka lakukan dan ijtihad dengan menggunakan pandangan mereka semata-mata yang bertentangan dengan nas-nas yang jelas. Jumlahnya ratusan. Dan kita tidak boleh berpegang kepada seumpama itu setelah diketahui apa yang mereka lakukan.

Jika kita tanyakan ulama-ulama kita sunnah apa yang mereka ikuti? Mereka akan menjawab: Sunnah Rasulullah SAWA. Sementara fakta sejarah mengingkari kenyataan itu. Mereka meriwayatkan bahawa Rasul bersabda:”Berpeganglah kalian kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa Rasyidin selepasku. Peganglah ia demikian kuat bagaikan mengigit dengan gigi geraham kalian.”Dengan demikian sunnah yang diikuti kebanyakannya adalah sunnah para Khulafa Rasyidin hatta sunnah Rasul sendiri yang mereka katakan itu adalah riwayat dari jalur mereka.

Kita juga meriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis sahih bahawa Rasul pernah melarang mereka menuliskan sunnahnya agar kelak tidak bercampur dengna ayat-ayat al-Qur’an. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar semasa pemerintahannya. Dengan demikian ucapan kita “Aku tinggalkan kepada kalian Sunnahku…”[92] tidak mempunyai hujah yang kuat lagi.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Berikut adalah nas yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya:”Dalam peperangan Khaibar. Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali bendera (kepimpinan). Ali bertanya kepada baginda: Ya Rasulullah, berdasarkan apa aku perangi mereka? Baginda menjawab:”Perangi mereka sehingga mereka mengucapkan kalimah Asyadu An Lailaha illa-Allah wa-Asyadu Anna Muhammadar Rasulullah. Jika mereka ucapkan ini maka nyawa dan harta mereka terselamat kecuali benar-benar kerana haknya. Dan hisab mereka ada pada sisi Allah”[93]. Tetapi Abu Bakar enggan menerima hadith ini. Beliau berkata:”Demi Allah, aku akan perangi orang yang memisahkan solat dengan zakat, kerana zakat adalah haknya harta”. Atau beliau berkata:”Demi Allah, jika mereka menolak memberikan kepadaku tali, sedangkan dahulunya mereka memberikannya kepada Rasulullah maka aku akan perangi mereka kerana sikap penolakannya itu”. Kemudian Umar bin Khattab merasa puas dengan hujah Abu Bakar, dan berkata:”Setelah aku ketahui bahawa Abu Bakar bersungguh-sungguh di dalam rancangannya itu, maka hatiku pun terasa gembira sekali”.

Aku tidak mengerti bagaimana hati seseorang merasa gembira melihat sunnah Nabinya diengkari? Takwil mereka ini tidak lebih dari sekadar mencari alasan untuk memerangi kaum Muslimin yang Allah sendiri telah mengharamkannya. Firman Allah di dalam Surah an-Nisa’:94:”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepadaa orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:”Kamu bukan seorang Mukmin “(lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia ini, keana di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmatNya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.Maha Benar Allah Yang Maha Tinggi Dan Maha Agung.

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih Ali sebagai khalifah. Itulah kenapa Umar sangat gembira sekali untuk memerangi mereka kerana beliau sendirilah yang pernah mengancam untuk membunuh orang-orang yang enggan memberikan bai’ah di rumah Fatimah dan membakar mereka.

Insiden ketiga yang berlaku di zaman pertama khalifah Abu Bakar adalah perselisihannya dengan Umar bin Khattab, ketika beliau mentakwilkan nas-nas al-Qur’an dn hadith-hadith Nabawi. Ringkasan ceritanya, Khalid bin Walid membunuh Malik bin Nuwairah dan meniduri isterinya di malam itu juga. Umar berkata kepada Khalid:”Wahai musuh Allah, engkau telah bunuh seorang Muslim dan meniduri isterinya. Demi Allah, aku akan rejam engkau dengan batu” [94]. Tetapi Abu Bakar membela Khalid dan berkata:”Biarkanlah hai, Umar. Khalid telah mentakwil tetapi tersalah. Tutup mulutmu Khalid”.

Ini adalah musibah dan aib lain yang telah dilakukan oleh seorang sahabat besar yang  telah dirakam oleh sejarah. Orang ini jika kita sebut, sentiasa menyebutnya dengan penuh horma dan kesucian. Bahkan kita memberikannya gelaran “Pedang Allah Yang Terhunus!!!”

Apa yang harus aku katakan tentang sahabat yang melakukan tindakan keji seperti ini: membunuh Malik bin Nuwairah seorang sahabat agung, pemimpin Bani Tamim dan Bani Yarbu’; seorang yang dijadikan perumpamaan di dalam kemurahan dan keberanian. Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Khalid membunuh Malik dan sahabat-sahabatnya setelah mereka meletakkan senjata dan bersolat berjamaah. Sebelum itu mereka diikat dengan tali. Ada bersama mereka Laila bin Minhal, isteri Malik, seorang wanita yang sangat terkenal dengan kecantikannya. Khalid sangat terpikat dengan kecantikannya ini. Malik berkata kepada Khalid: Hai Khalid, bawa kami kepada Abu Bakar, biar dia yang memutuskan perkara kita ini. Abdullah bin Umar dan Abu Qatadah al-Ansari mendesak Khalid agar membawa mereka berjumpa dengan Abu Bakar tetapi ditolak oleh Khalid. Katanya: Allah tidak akan mengampuniku jika aku tidak membunuhnya. Kemudian Khalid melihat isterinya Laila dan berkata kepada Khalid: kerana dia engkau akan bunuhku? Lalu Khalid menyuruh untuk dipancung lehernya, dan menawan isterinya Laila. Kemudian di waktu malam, Khalid menidurinya [95].

Biarlah di dalam melihat peristiwa yang terkenal ini kita nukilkan pengakuan Ustaz Haikal di dalam bukunya as-Sidiq Abu Bakar. Di dalam bab Pendapat Umar  Dan Hujjahnya Dalam Suatu Perkara, Haikal menulis:”Adapun Umar, beliau adalah model atau perumpamaan di dalam keadilan dan ketegasan. Beliau melihat bahawa Khalid telah melakukan kezaliman terhadap seorang Muslim dan tidur dengan isterinya pula sebelum habis masa edahnya. Dengan demikian ia tidak layak kekal di dalam kepimpinan ketenteraan, agar perkara itu tidak berulang lagi dan merosak kehidupan kaum Muslimin serta merosak kedudukan mereka di mata orang-orang Arab. Katanya lagi: Khalid tidak boleh dibiarkan tanpa pengajaran atas apa yang dilakukannya terhadap Laila.

Seandainya dia telah mentakwil di dalam perkara Malik dan tersilap – alasan yang tidak dapat diterima oleh Umar – namun biarlah hukum hudud itu berjalan atas apa yang dilakukannya terhadap isterinya Laila. Sebagai “Pedang Allah” dan sebagai pemimpin pasukan yang menentukan kemenangan, sangatlah tidak layak sekali melakukan apa yang dia telah lakukan itu. Kalau tidak maka orang-orang seperti Khalid nantinya akan menyalahgunakan semua peraturan. Dan ini akan menjadi perumpamaan yang sangat buruk terhadap kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah. Itulah kenapa Umar terus mendesak Abu Bakar sehingg Khalid dipanggil dan dimarahi [96].

Bolehkah kita bertanya kepaa Ustaz Haikal dan ulama-ulama seumpamanya yang berusaha menjaga “kemuliaan” sahabat, kenapa Abu Bakar tidak melaksanakan hukum hudud terhadap Khalid? Seandainya Umar seperti yang dikatakan oleh Haikal – adalah model keadilan dan ketegasan, kenapa beliau puas hati dengan sekadar menyingkirkan Khalid dan kepimpinan ketenteraan dan tidak melaksanakan hukum hudud syarie terhadapnya, agar ianya tidak menjadi contoh yang buruk yang akan dilemparkan kepada kaum Muslimin di dalam menghormati Kitab Allah, seperti yang disebutkannya? Apakah mereka telah menghormati Kitab Allah dan melaksanakan hudud-hududNya? Tidak, sama sekali. Inilah mangsa politik dan korban permainan yang licik.Ianya telah menciptakan berbagai keanehan dan memutar-belitkan berbagai kebenaran. Sebagaimana ia juga telah membuang nas-nas Qur’an jauh sekali.

Bolehkah kita bertanya kepada sebahagian ulama kita yang menuliskan di dalam berbagai kitab mereka tentang bagaimana Rasulullah SAWA sangat marah sekali kepada Usamah yang datang untuk menjamin seorang perempuan bangsawan yang telah melakukan jenayah mencuri. Nabi SAWA berkata:”Celaka engkau, apakah engkau akan memberikan jaminan di dalam hukum hudud Allah. Demi Allah, seandainya Fatima mencuri maka aku akan potong tangannya. Orang-orang sebelum kamu celaka lantaran jika kaum bangsawannya mencuri dari golongan yang lemah maka mereka lakukan  kepadanya hukum hudud “.

Bagaimana mereka diam pada seseorang yang telah membunuh kaum Muslimin yang tidak berdosa, lalu meniduri isterinya di malam itu juga sementara ia masih menderita kerana kematian sang suami. Baik kalau mereka diam. Bahkan mereka berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakan Khalid ini dengan  menciptakan berbagai kebohongan dan keutamaan-keutamaannya sehingga menggelarkannya dengan sebutan “Pedang Allah Yang Terhunus”.

Seorang sahabatku yang terkenal dengan gelagatnya yang lucu dan pandai bermain bahasa, pada suatu hari hadir di majlisku yang pada waktu itu aku sedang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan Khalid bin Walid. Aku katakan bahawa Khalid bin Walid adalah Pedang Allah Yang Terhunus. Sahabatku menjawab: Dia adalah Pedang Syaitan Yang Berlumuran (Darah). Aku terkejut sekali waktu itu. Namun setelah mengkaji, akhirnya Allah bukakan pandanganku dan dikenalkannya aku pada nilai mereka yang pernah memegang kekuasaan dan merubah hukum-hukum Allah, meliburkannya serta melampaui batas-batasnya.

Khalid bin Walid juga menyimpan cerita yang terkenal di zaman Nabi SAWA. Suatu hari baginda mengutusnya pergi ke Bani Juzaimah menyeru mereka kepada agama Islam dan tidak memerangi mereka.  Kabilah ini tidak fasih di dalam menyebutkan Aslamna (kami telah masuk Islam). Mereka menyebutnya: Saba’na, saba’na.Lalu Khalid membunuh mereka dan menawan mereka. Sebahagian tawanan diserahkannya kepada sahabat pasukannya dan menyuruh mereka membunuhnya. Tetapi mereka enggan kerana tahu yang mereka telah menganut Islam. Ketika kembali dan diceritakan kepada Nabi, beliau berdoa kepada Allah:”Ya Allah, aku bermohon perlindunganMu dari apa yang telah dilakukan oleh Khalid bin Walid”, dibacanya dua kali [97]. Kemudian baginda mengutus Ali bin Abi Talib pergi menemui kabilah Bani Juzaimah sambil membawa harta untuk membayar gantirugi nyawa dan harta yang telah terkorban, hatta tempat jilatan anjing sekalipun. Rasulullah.berdiri menghadap Kiblat sambil mengangkat kedua tangannya ke langit sehingga nampak bahagian ketiaknya. Baginda berdoa: Ya Allah, aku memohon perlindunganMu dari apa yang telah dibuat oleh Khalid bin Walid”.Dibacanya sehingga tiga kali [98].

Bolehkah kita bertanya, maka letakknya keadilan sahabat yang disangkakan itu? Seandainya Khalid bin Walid, seorang yang dianggap sebagai tokoh agung kita sehingga kita memberinya gelaran sebagai  Pedang Allah, apakah Tuhan kita telah menghunuskan pedangnya dan membenarkannya menguasai kaum Muslimin, orang-orang yang tidak berdosa dan kaum wanita sehingga dia bebas memperlakukan apa sahaja? Ini bercanggah sama sekali. Mengingatkan bahawa Allah melarang tindakan membunuh suatu nyawa dan mencegah perlakuan munkar, keji dan kezaliman.Tetapi Khalid telah menghunuskan pedang kezalimannya untuk menceroboh kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta mereka serta menawan wanita dan anak-anak mereka. Ini adalah suatu ucapan yang zalim dan rekaan yang sangat dahsyat. Maha Suci Engkau hai Tuhan kami. Kau lebih Mulia dan lebih Tinggi dari itu semua. Maha Suci Engkau, tiada Engkau ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya dengan sia-sia. Demikianlah dugaan orang-orang kafir. Dan neraka Waillah tempat mereka kembali.

Bagaimana Abu Bakar, khalifah Muslimin boleh berdiam diri setelah mendengar perlakuan-perlakuan jenayah tersebut. Bahkan menyuruh Umar bin Khattab menutup mulutnya tentang perkara Khalid, dan marah kepada Abi Qatadah kerana sikapnya yang mencemuh kelakuan Khalid. Apakah beliau benar-benar yakin yang Khalid melakukan takwil dan tersilap? Hujah apa kelak akan dikatakan kepada orang-orang penjenayah dan fasik jika mereka melanggar hukum-hukum dan mengatakan telah tersalah takwil?

Aku secara peribadi tidak percaya bahawa Abu Bakar melakukan takwil terhadap kes Khalid ini, yang dikatakan oleh Umar bin Khattab sebagai “musuh Allah”. Umar berpendapat bahawa Khalid mestilah dihukum bunuh kerana dia telah membunuh seorang Muslim, atau merejamnya dengan batu kerana dia telah berzina dengan Laila, isteri Malik. Namun tidak satupun tuntutan Umar tersebut terlaksana. Bahkan Khalid keluar sebagai pemenang atas dakwaan Umar tersebut. Mengingatkan bahawa Abu Bakar berdiri membelanya, padahal beliau sangat mengetahui Khalid lebih dari orang lain.

Ahli-ahli sejarah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar telah mengutus Khalid setelah insiden yang memalukan itu ke Yamamah di mana dia kembali dengan kemenangan. Di sana Khalid juga telah meniduri seorang perempuan sama seperti yang dia lakukan terhadap Laila sebelumnya, sedangkan darah kaum Muslimin dan darah pengikut-pengikut Musailamah belum lagi kering. Abu Bakar sangat marah sekali pada Khalid lebih dari waktu dia melakukan skandal yang sama terhadap Laila [99].

Tidak syak lagi bahawa perempuan ini juga mempunyai suami. Kemudian dibunuhnya oleh Khalid dan isterinya diperlakukan seperti Laila isteri Malik. Kalau tidak maka Abu Bakar tidak akan memarahinya lebih keras dari waktu dia melakukannya terhadap Laila. Para ahli sejarah mencatat teks surat yang diutus Abu Bakar kepada Khalid waktu itu:”Demi nyawaku hai putra ibunya Khalid. Sungguh engkau tidak melakukan apa-apa melainkan menikahi perempuan sahaja, sedangkan di halaman rumahmu darah seribu dua ratus kaum Muslimin masih belum kering lagi [100]. Ketika Khalid membaca kandungan surat ini, dia berkata:”Ini mesti ulah si A’saar”, yang dimaksudkan adalah Umar bin Khattab.

Inilah di antara sebab yang kuat kenapa aku tidak begitu memberikan penghormatan kepada sahabat-sahabat seumpama ini, pengikut-pengikut mereka rela atas perbuatan mereka dan yang membela mereka dengan begitu gigih sekali sehingga mereka mentakwilkan nas-nas yang jelas dan menciptakan berbagai riwayat yang khurafaat. Semua ini untuk membenarkan tindakan-tindakan Abu Bakar, Umar, Uthman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash dan saudara-saudaranya.

Ya Allah, aku bermohon ampun dariMu dan bertaubat kepadaMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari segala perbuatan dan ucapan mereka yang meyalahi hukum-hukumMu, menghalalkan hukum-hukum haramMu dan melampaui batas-batasMu. Ya Allah aku bermohon lindunganMu dari pengikut-pengikut mereka, syiah-syiah mereka dan orang-orang yang membantu mereka dengan penuh pengetahun dan kesadaran. Ampunkanlah aku kerana dahulunya aku mewila’ mereka sedangkan aku masih dalam keadaan jahil. Sementara RasulMu telah bersabda:”Orang jahil tidak akan dimaafkan kerana kejahilannya”.

Ya Allah, pemuka-pemuka kami telah menyesatkan jalan kami dan telah menutupkan kami tabir kebenaran. Meeka telah menggambarkan kepada kami para sahabat yang berpaling dari kebenaran sebagai makhluk yang paling mulia setelah NabiMu. Dan para leluhur kami juga adalah mangsa penipuan Bani Umaiyyah dan Bani Abbasiyyah. Ya Allah, ampunkanlah mereka ampunkanlah kami. Engkau Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan apa yang tersirat di sebalik dada. Cinta mereka dan penghormatan mereka kepada sahabat-sahabat seumpama itu tidak lain kecuali bertolak dari sangka baik yang mereka adalah pembela-pembela serta pencinta-pencinta RasulMu Muhammad SAWA. Dan Kau juga Maha Mengetahui wahai Tuhanku,  aku rasa cinta mereka dan kami atas Itrah keluarga Nabi yang suci, para imam yang telah Kau bersihkan mereka dari segala nista dan mensucikan mereka sesuci-sucinya. Terutamanya pemuka kaum Muslimin, Amirul Mukminin, Pemimpin Ghur al-Muhajjalin dan Imam Para Muttaqin, Sayyidina Ali bin Abi Talib.

Jadikanlah aku, wahai Allah di antara syiah-syiahnya dan di antara orang-orang yang berpegang-teguh kepada tali wila’ mereka dan yang berjalan di atas jalan mereka. Jadikanlah aku ya Allah di antara orang-orang yang bernaung di bawah naungan mereka, dan di antara orang-orang yang masuk dari pintu-pintu mereka, sentiasa mencintai mereka, mengamalkan ucapan dan teladan mereka serta bersyukur atas kemurahan dan anugerah mereka. Ya Allah, bangkitkanlah aku di dalam gologan mereka. kerana NabiMu SAWA telah bersabda:”Seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dia cintai”.

2. Hadith Bahtera

Bersabda Nabi SAWA:”Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian adalah umpama bahtera Nabi Nuh di sisi kaumnya. Siapa yang menaikinya akan selamat dan yang tertinggal akan tenggelam” [101].

“Dan sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baytku di sisi kalian bagaikan Pintu Pengampunan bagi Bani Israel. Siapa yang memasukinya maka dia akan diampuni”[102].

Ibnu Hajar telah meriwayatkan hadith ini di dalam kitabnya al-Sawaiq al-Muhriqah dan berkata:”Dasar keserupaan mereka dengan bahtera (Nabi Nuh) bermakna bahawa sesiapa yang mencintai mereka dan mengagung-agungkan mereka sebagai tanda terima kasih atas nikmat kemuliaan mereka, serta sebagai ikut bimbingan ulama mereka maka akan selamat dari kegelapan perselisihan, sementara mereka yang tidak ikut akan tenggelam di dalam lautan kekufuran nikmat dan akan celaka di bawa arus kezaliman. Adapun alasan keserupaan mereka dengan pintu pengampunan – pintu Ariha atau pintu Bayt al-Muqaddis – dengan sikap rendah hati dan memohon ampunan sebagai sebab pengampunanNya. Dan Dia juga telah menentukan untuk umat ini bahawa mencintai Ahlul Bayt Nabi SAWA sebagai sebab diampuninya mereka.”

Ingin aku tanyakan Ibnu Hajar, apakah beliau di antara mereka yang ikut bahtera itu dan masuk pintu ampunan serta ikut bimbingan para ulama mereka? Atau apakah beliau di antara mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengamalkannya, bahkan mengingkari apa yang dipercayainya. Banyak sekali mereka yang kabur ketika aku tanyakan dan berhujah dengan mereka tentang Ahlul Bayt, mereka menjawabku:”Kami adalah orang yang lebih utama terhadap Ahlul Bayt dan Imam Ali daripada orang-orang lain, Kami menghormati mereka dan menjunjung tinggi kedudukan mereka. Tiada siapa pun yang mengingkari keutamaan-keutamaan mereka”.

Ya, mereka mengatakan sesuatu yang tidak sama dengan isi hati mereka, atau menghormati dan menjujung tinggi Ahlul Bayt namun dalam amalannya tetap ikut dan taklid kepada musuh-musuh mereka serta orang-orang yang memusuhi dan menentang mereka. Atau seringkali mereka tidak kenal siapa itu Ahlul Bayt. Dan jika aku tanyakan mereka menjawab secara spontan: Ahlul Bayt adalah isteri-isteri Nabi yang telah Allah bersihkan mereka dari nestapa dan disucikanNya sesuci-sucnya.

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih  sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah  ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

3. Hadith: Siapa Yang Ingin Hidup Seperti Hidupku

Bersabda Nabi SAWA:”Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku, tinggal di syurga Ad’n yang ditanam oleh Tuhanku maka jadikanlah Ali sebagai walinya selepasku dan mewila’ walinya serta ikut Ahlul Baytku yang datang selepasku. Mereka adalah Itrah keluargaku, diciptakan dari bahagian tanahku dan dilimpahkan kefahaman serta ilmuku. Maka celakalah orang-orang yang mendustakan keutamaan mereka dari umatku yang memutuskan tali perhubungan kasih sayang dengan mereka. Kelak Allah tidak akan memberikan syafaatku kepadanya” [103].

Hadith ini seperti yang kita perhatikan tergolong di antara sejumlah hadith yang tegas yang tidak dapat ditakwilkan. Ia juga tidak memberikan hak untuk  memilih kepada seorang Muslim, bahkan menafikan sebarang alasan. Jika ia tidak mewila’ Ali dan ikut Itrah keluarga Nabi maka dia akan diharamkan dari mendapat syafaat datuk mereka Nabi SAWA.

Perlu aku katakan di sini bahawa pada mula kajianku dahuku aku meragukan tentang kebenaran hadith ini. Aku merasa berat untuk menerimanya lantaran ia menyirat suatu ancaman kepada mereka yang bertentangan dengan Ali dan keluarga Nabi khasnya hadith ini juga tidak dapat ditakwilkan. Kemudian aku rasakan agak ringan ketika aku baca pendapat Ibnu Hajaral al-Asqalani di dalam kitabnya al-Isabah. Antara lain beliau berkata:”Di dalam sanadnya ada Yahya bin Ya’la al-Muharibi, seorang yang lemah”. Pendapat Ibnu Hajar ini telah menghilangkan  sbahagian keberatan yang ada dalam benakku kerana aku fikir Yahya bin Ya’la al-Muharibilah yang membuat hadith ini dan kerananya ia tidak dapat dipercaya. Tetapi Allah SWT ingin menunjukkanku pada kebenaran dengan sempurnanya.

Suatu hari aku terbacaa sebuah yang berjudul Munaqasat Aqaidiyah Fi Maqalat Ibrahim al-Jabhan [104]. Buku ini telah menyingkap kebenaran dengan begitu jelasnya. Dikatakan bahawa Yahya bin Ya’la al-Muharibi adalah di antara perawi-perawi hadith yang thiqah (dipercayai) yang dipegang oleh Bukhari dan Muslim.Kemudian aku jejaki dan aku dapati bahawa Bukhari telah meriwayatkan  hadithnya di dalam Bab Ghazwah al-Hudaibiyah Jilid Ketiga di halaman 31. Muslim juga telah meriwayatkan hadithnya di dalam Bab al-Hudud Jilid Kelima di halaman 119. Az-Zahabi sendiri betapapun ketatnya menganggapnya sebagai perawi  yang thiqah. Para imam al-Jarh wa at-Ta’dil menganggapnya sebagai thiqah, bahkan Bukhari dan Muslim sendiri berhujah dengan riwayatnya.

Nah, lalu kenapa pendustaan, pembalikan fakta, dan menuduh orang yang thiqah yang dipercayai oleh ahli-ahli hadith berlaku? Apakah kerana ia telah menyingkap kebenaran tentang wajibnya ikut Ahlul Bayt, lalu Ibn Hajar mengecapnya sebagai lemah dan tidak dipercayai? Ibnu Hajar telah lalai bahawa di belakangnya ada sejumlah ulama yang pakar yang akan menilai setiap karyanya, kecil ataupun besar. Mereka akan menyingkap segala taksub dan kejahilannya kerana mereka ikut cahaya Nubuwwah dan berjalan  di bawah bimbingan Ahlul Bayt AS.

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan  orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga [105].

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah [106]. Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya [107], dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Persamaan dan Perbedaan Di antara Ahlul Sunnah dan Syi’ah

 Seringkali kita membaca di akhbar-akhbar atau mendengar orang membicarakan mengenai Syiah, tetapi kebanyakan gambaran yang diberikan kurang jelas, kabur, dan negatif. Malah, ada yang mengatakan dengan sewenang-wenangnya bahawa syiah itu kafir kerana terkeluar dari madzhab empat ahlul sunnah tanpa membezakan antara Syiah yang diakui dan Syiah yang ghulat (menyeleweng).

Mereka menyatakan Syiah mempercayai saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Justeru itu mereka membuat kesimpulan bahawa Syiah itu kafir. Mereka menegaskan bahawa memerangi Syiah itu mesti diutamakan daripada memerangi Yahudi. Padahal Yahudi tidak pernah membezakanya musuhnya sama ada Sunnah atau Syiah.

Sikap ini lahirnya dari sifat fanatik, pengetahuan yang tidak mendalam, membuat rujukan hanya kepada orang tertentu yang fanatik atau kitab-kitab tertentu yang ditulis khas untuk melahirkan permusuhan di kalangan umat Islam.

Perkataan Syiah (mufrad) disebut sebanyak empat kali dalam al-Qur’an dan ia memberi erti golongan atau kumpulan;pertama dalam Surah as-Saffat: 83-84, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiahnya (golongannya), ingatlah ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci”.

Kedua,dalam Surah Maryam: 69, firman Tuhan yang bermaksud,”Kemudian pasti Kami tarik dari tiap-tiap golongan (Syiatihi) siapa antara mereka yang sangat derhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah”.

Ketiga dan keempat dalah Surah al-Qasas: 15, firman Tuhan yang bermaksud,”Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (Syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (Syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya”.

Sementara itu, ada perkataan Syiah dalam Hadith Nabi SAWA lebih dari tiga kali, antaranya disebut oleh Imam as-Suyuti dalam tafsirnya Durr al-Manthur, Beirut, Jilid 6, hal.379 – Surah al-Bayyinah, Nabi SAWA bersabda:”Wahai Ali, engkau dan Syiah engkau (golongan engkau) di Hari Kiamat nanti keadaannya dalam redha dan diredhai”, dan sabdanya lagi:”Ini (Ali) dan Syiahnya (golongannya) (bagi) mereka itulah yang mendapat kemenangan di Hari Kiamat nanti”.

Dengan ini kita dapati bahawa perkataan Syiah itu telah disebutkan dalam al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Yang dimaksudkan dengan Syiah yang menyeleweng ialah Syiah yang selain daripada Imamiyyah/Ja’fariyyah

Imam al-Ghazali dalam bukunya Mustazhiri menentang keras Syiah ghulat kerana ia mengandungi pengajaran Batiniah. Imam Ja’far as-Sadiq AS pula menyatakan Syiah ghulat tidak boleh dikahwini dan diadakan sebarang urusan keagamaan kerana aqidah mereka bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadith.

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Di segi teologi, ia dihimpunkan kepada dua madzhab yang diketuai oleh A-Asy’ari yang dilahirkan tahun 227 Hijrah dan meninggal setelah tahun 330 Hijrah dan al-Maturidi yang lahir 225 Hijrah dan meninggal 331 Hijrah?

Adalah suatu kenyataan bahawa orang di tiga abad pertama (di permulaan sejarah Islam) secara mutlak tidak pernah berpegang kepada mana-mana madzhab itu. Dan madzhab-madzhab itu tidak wujud pada tiga abad pertama, padahal itu adalah masa-masaa yang terbaik.

Hampir dua abad selepas lahirnya madzhab-madzhab empat, kedudukan pengikut-pengikut mereka dilanda perpecahan dan masing-masing mendakwa madzhab merekalah yang terbaik.

Az-Zamakshari yang lahir 467 Hijrah bersamaan 1075 Masehi dan meninggal 537 Hijrah bersamaan 114 Masehi, seorang Hanafi, telah menggambarkan kedudukan madzhab Empat/Ahlul Sunnah pada masa itu seperti berikut:

Jika mereka bertanya tentang madzhabku,

Aku berdiam diri lebih selamat,

Jika aku mengakui sebagai seorang Hanafi,

Nescaya mereka akan mengatakan aku mengharuskan minuman arak,

Jika aku mengakui bermadzhab Syafie, mereka akan berkata: aku menghalalkan ‘berkahwin dengan anak perempuan (zina)ku sedangkan berkahwin dengan anak sendiri itu diharamkan.

Jika aku seorang Maliki, mereka berkata: aku menharuskan memakan daging anjing,

Jika aku seorang Hanbali, mereka akan berkata: aku meyerupai Tuhan dengan makhluk.

Dan jika aku seorang ahli al-Hadith, mereka akan berkata: aku adalah seekor kambing jantan yang tidak boleh memahami sesuatu (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Jilid, II, hal.494).

Ini adalah sebahagian daripada gambaran fanatik yang berlaku di kalangan madzhab-madzhab itu sendiri.

Dan di abad kemudiannya dihadkan madzhab kepada empat sahaja oleh pemerintah sekular pada masa itu. Dan tidak sekali-kali ‘penentuan’ itu berdasarkan kepada Hadith-Hadith Nabi SAWA. Malah ‘penentuan’ kepada empat itu adalah penentuan politik bagi menentang pergerakan Syiah Imamiyyah atau dalam erti kata yang khusus ialah pergerakan Ahlul Bayt.

Hanya di abad ketiga belas tiap-tiap pengikut madzhab menyenaraikan nama-nama pengikutnya seperti as-Subki menulis senarai nama-nama pengikut as-Syafie dalam bukunya Tabaqat as-Syafiiyyah al-Kubra.

Tidak ada perbezaan antara Syiah Imamiyyah dan madzhab Empat/Ahlul Sunnah mengenai asas-asas agama yang utama, iaitu Tauhid, Kenabian, dan Maad (Hari Kebangkitan).

Semua pihak percaya sekiranya seorang mengingkari salah satu daripada asas-asas itu, maka dia adalah kafir. Mereka percaya al-Qur’an adalah Kitab Allah yang diturunkan kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAWA, tidak boleh dikurang atau ditambah, berdasarkan kepada Mushaf Uthman yang digunakan oleh seluruh umat Islam, manakala mushaf-mushaf lain seperti Mushaf Ali telah dibakar atas arahan Khalifah Uthman.

Sekiranya ada penafsiran yang berbeza antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai ayat al-Qur’an, maka ia adalah perkara biasa yang juga berlaku di kalangan Ahlul Sunnah itu sendiri antara Syafie dan Hanafi dan seterusnya.

Ahlul Sunnah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara iaitu (1)Mengucap Dua Kalimah Syahadat, (2) Sembahyang, (3) Puasa, (4) Zakat, (5)Haji.

Sementara Syiah Imamiyyah berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang merangkumi lima perkara juga iaitu sembahyang, puasa, zakat, haji dan jihad.

Ahlul Sunnah berpendapat bahawa Nabi tidak meninggalkan sebarang wasiat kepada sesiapa untuk menjadi khalifah. Persoalan yang timbul, mungkinkah Nabi yang menyuruh umatnya supaya meninggalkan wasiat tetapi beliau sendiri tidak melakukannya!

Syiah Imamiyyah percaya bahawa Imamah/Khalifah adalah jawatan yang dianugerahkan Tuhan kepada Ahlul Bayt khususnya Ali AS sebagai orang yang diwasiatkan untuk menjadi Imam/Khalifah berdasarkan kepada Hadith Ghadir Khum, Hadith AS-Safinah, dan lain-lain (Hakim Nisaburi;al-Mustadrak , bab kelebihan Ali).

Selepas Ali, ia diganti oleh anak-anak cucunya dari Fatimah; Hasan, Husayn, Ali Zainal Abidin, al-Baqir, As-Sadiq, al-Kazim,al-Rida sehingga Mahdi al-Muntazar (Imam ke-12).

Mereka dipanggil Imamah kerana mereka berpegang kepada Hadith Imamah/Khalifah dua belas yang bermaksud:”Urusan dunia selepasku tidak akan selesai melainkan berlalunya dua belas Imam”.(Sahih Muslim, Sahih Bukhari, Bab al-Imarah).

Mereka juga dikenali dengan madzhab Ja’fariyyah iaitu dinisbahkan dengan Imam keenam Ja’far as-Sadiq AS yang bersambung keturunannya di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar as-Siddiq ibunya bernama Ummu Farwah bt. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.

Sementara disebelah bapanya pula al-Baqir bin Ali Zainal Abidin (as-Sajjad) b. Husayn b. Ali dari ibunya Fatimah as-Siddiqah az-Zahra bt Muhammad Rasulullah. Dan beliau juga guru kepada Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah percaya bahawa manusia adalah lebih mulia dari para malaikat, meskipun makhluk itu adalah yang hampir (al-Muqarrabun) kepada Tuhan.Manusia dianugerahkan dengan hawa nafsu dan keilmuan berlainan dengan malaikat yang dijadikan tanpa hawa nafsu dan para malaikat disuruh sujud kepada bapa manusia, Adam.

Hanya Muktazilah yang mempercaya bahawa malaikat itu lebih mulia dari manusia, kerana sifatnya yang sentiasa taat kepad Allah SWT dan baginya sujud malaikat kepada Nabi Adam adalah sujud hormatm bukan sujud yang bererti kehinaan.

Oleh itu Ahlul Sunnah dn Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa Nabi Muhammad adalah lebih mulia dari semua makhluk Allah, termasuk malaikat.

Ahlul Sunnah juga bersetuju bahawa Ahlul Bayt Nabi SAWA adalah lebih mulia dari orang lain, sebagaimana firman Tuhan dalam Surah al-Ahzab: 33,”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya”.

Mengikut Muslim dalam Sahihnya, dan al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzulnya, apa yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt ialah Fatimah, Hasan, Husayn dan Ali.

Berdasarkan kepada ayat itu, Syiah Imamiyyah percaya bahawa para Imam dua belas adalah maksum. Pengertian maksum, mengikut mereka ialah suatu kekuatan yang menegah seseorang daripada melakukan kesalahan/dosa. Dan ia tidak boleh menyalahi nas.

Perkara semacam ini memang juga berlaku dalam hidup seseorang. Contohnya seorang yang ingin melakukan maksiat tertentu,kemudian ada sahaja perkara yang menegahnya daripada melakukan maksiat itu. Dan bukanlah pengertian maksum itu sebagaimana kebanyakan yang difahami umum, iaitu seseorang itu boleh melakukan maksiat kerana dia itu maksum.

Selain dari ayat itu, Syiah Imamiyyah berpegang kepada beberapa Hadith Nabi yang antaranya menerangkan kedudukan keluarga Rasulullah SAWA.

Rasulullah bersabda:”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang berharga:Kitab Allah dan keluargaku (al-Itrah)” (Sahih Muslim, Hadith Thaqalain).

Rasulullah SAWA bersabda:”Ahlul Baytku samalah seperti kapal Nabi Nuh; siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan binasa/tenggelam”, (Al-Hakim Nisaburi, al-Mustadrak, Bab Kelebihan Keluarga Nabi).

Bagi Ahlul Sunnah, mereka mengatakan Ahlul al-Bayt itu lebih umum. Bagaimanapun keistimewaan diberi kepada mereka itu secara khusus.

Tidak wujud perbezaan yang besar antara Syiah Imamiyyah dan Ahlul Sunnah mengenai wuduk. Mereka bersetuju kebersihan mestilah dilakukan sebelum wuduk diambil.

Bagaimanapun mereka berbeza mengenai basuh/sapu dalam Surah al-Maidah: 6, yang bermaksud:”Sapulah (Imsahu) kepada kamu dan kaki kamu”.

Jika ditinjau pengertian ayat itu bahawa bukan sahaja kepala yang wajib disapu, malah kaki pun sama, kerana perkataaan Imsahu memberi pengertian sapu,dan huruf ataf di situ mestilah dikembalikan kepada yang lebih hampir sekali.

Lantaran itu Syiah Imamiyyah mengatakan kaki hendaklah disapu bukan dibasuh. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan basuh; mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi yang bermaksud:”Neraka wail bagi mata kaki yang tidak dibasahi air”.

Bagi Syiah Imamiyyah, mereka mengatakan Hadith itu ditujukan kepada orang yang tidak membersihkan anggota-anggotanya, termasuk kaki sebelum mengambil wuduk. Di samping itu, mereka berpegang kepada Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sabda Nabi SAWA:”Wuduk itu dua basuh dan dua sapu”, iaitu basuh muka dan tangan, adapun sapu ialah kepala dan kaki [Nota: Imam Baqir as bertanya di hadapan khalayak ramai:'Apakah kalian ingin saya nyatakan tentang wuduk Rasulullah SAWA ? Mereka menjawab,'Ya'. Kemudian beliau meminta suatu bekas yang berisikan air. Setelah air itu berada di hadapan beliau, beliau AS menyingkap lengan bajunya dan memasukkan telapak tangan kanannya pada bekas yang berisikan air itu sambil berkata:'Begini caranya bila tangan dalam keadaan suci'. Kemudian beliau mengambil air dengan tangan kanannya dan diletakkan pada dahinya sambil membaca'Bismillah' dan menurunkan tangannya sampai ke hujung janggut, beliau meratakan usapan untuk kedua kalinya pada dahi beliau, kemudian beliau mengambil air dengan memasukkan tangan kirinya dari bekas itu dan beliau letakkan pada siku kanan beliau sambil meratakannya sampai ke hujung jari. Setelah itu beliau mengambil air dengan tangan kanan dan diletakkan pada siku kirinya sambil beliau ratakan sampai ke hujung jari. Kemudian dilanjutkan dengan mengusap ubun-ubun beliau dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan beliau sampai ke hujung dahi (tempat tumbuh rambut). Kemudian beliau usap kaki (bahagian atas) kanannya dengan sisa air yang terdapat pada telapak tangan kanan, sedangkan kaki kiri beliau usap dengan sisa air yang terdapat pada telapak kaki kiri (keduanya diusap sampai ke pergelangan kaki beliau - Al-Wasail Syiah, Juz. 1, bab 15, hal.387].

Ahlul Sunnah membuang perkataan Haiya ‘ala khayr al-’amal (marilah melakukan sebaik-baik amalan) dari azan asal dan menambah perkataan as-solatu khairun minam-naum (solat lebih baik dari tidur) dalam azan subuh.

Kedua-dua perkataan itu dilakukan ketika pemerintahan khalifah Umar.

Mengenai yang pertama, beliau berpendapat jika seruan itu diteruskan,orang Islam akan mengutamakan sembahyang dari berjihad.

Tentang yang kedua, beliau dikejutkan dari tidurnya oleh muazzin dengan berkata:”Sembahyang itu lebih baik dari tidur”, maka beliau lantas tersedar dan menyuruh muazzin itu menggunakan perkataan itu untuk azan Subuh.

Oleh Syiah Imamiyyah diteruskan azan asal sebagaimana dilakukan di zaman Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar RA.

Ahlul Sunnah tidak mensyaratkan sujud di atas tanah dalam sembahyang: Syiah Imamiyyah menyatakan sujud di atas tanah itu lebih afdhal kerana manusia akan lebih terasa rendah dirinya kepada Tuhan. Mereka berpegang kepada sebuah Hadith Nabi SAWA yang bermaksud”dijadikan untukku tanah itu suci dan tempat sujud” (Sahih Muslim, Bab Mawdi’ as-Salah).

Semua pihak bersetuju sembahyang boleh dijamak/dihimpun apabila seseorang itu musafir. Ahlul Sunnah pada keseluruhannya tidak menggalakkan jamak sembahyang selain dari musafir.

Meskipun begitu, mereka tidak menyatakan sembahyang jamak itu tidak sah bagi orang yang bermukim.

Imam Malik mengharuskan jamak sembahyang Zohor dengan Asar, Maghrib dan Isya’ di hari hujan, Kebanyakan pengikut Imam Syafie berpendapat jamak sembahyang boleh dilakukan jika ada sebab yang diharuskan oleh syarak dan adalah menjadi makruh jika dilakukan secara kebiasaan.

Syiah Imamiyyah menyatakan, sembahyang jamak boleh dilakukan tanpa sebab musafir, sakit atau ketakutan kerana Nabi SAWA bersembahyang jamak tanpa sebab dan musafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa “Rasulullah SAWA sembahyang berjamaah dengan menjamakkan Zohor dengan Asar, Maghrib dengan Isya’ tanpa musafir dan tanpa sebab takut”,(Sahih Muslim, Bab Jawaz Jam’ as-Salah fil-Hadr).

Ahlul Sunnah dan Syiah Imamiyyah bersetuju bahawa sembahyang tarawih tidak dilakukan pada masa Rasulullah dan khalifah Abu Bakar. Ia dilakukan atas arahan khalifah Umar RA kerana beliau melihat orang ramai sembahyang sunat bertaburan, di masjid, lantas beliau berkata:”Alangkah baiknya jika dilantik seorang lelaki untuk menjadi Imam bagi kaum lelaki dan seorang perempuan untuk menjadi Imam kaum wanita”.

Kemudian melantik Ubay bin Ka’ab mengimamkan pada malam berikutnya. Dan beliau berkata:”Ini adalah bidaah yang baik”. Selepas itu beliau menghantar surat kepada gabenor-gabenor di seluruh negara supaya menjalankan sembahyang sunat secara berjamaah dan dinamakan Sembahyang Terawih kerana setiap empat rakaat diadakan istirahat (Bukhari, Bab Sembahyang Terawih, Muslim, Bab Sembahyang Malam).

Syiah Imamiyyah tidak melakukan sembahyang terawih atas alasan itu. Saidina Ali ketika menjadi khalifah melarang orang ramai sembahyang terawih dan menyuruh anaknya Hasan memukul dengan tongkat tetapi orang ramai berkeras terus melakukannya kerana ia sudah menjadi amalan tradisi.

Meskipun begitu Syiah Imamiyyah sebagai contoh melakukan sembahyang sunat lima puluh rakaat pada tiap-tiap malam Ramadhan (Nota: terdapat sembahyang sunat khusus dan umum pada setiap malam Ramadhan – sila lihat Mafatihul Jinan) secara bersendirian di samping sembahyang sunat biasa; mereka sembahyang tiga puluh empat rakaat.

Ahlul Sunnah menyatakan bilangan takbir Sembahyang Mayat ialah empat, sementara Syiah Imamiyyah mengatakan lima takbir. Di samping itu, Ahlul Sunnah sendiri tidak sependapat cara-cara mayat dihadapkan ke Kiblat. Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat mayat hendaklah diletakkan ke atas lambung kanannya dan mukanya menghadap Kiblat sebagaimana dilakukan ketika menanam mayat. Sementara Syiah Imamiyyah dan Syafie berpendapat mayat hendaklah ditelentangkan dan dijadikan kedua tapak kakinya ke arah Kiblat, jika ia duduk, dia menghadap Kiblat (M. Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Madzhab, Jilid I, Penerbitan Ikhwan, Kota Bharu, 1985, hal.47)

Sebenarnya kita yang bermadzhab Syafie tidak sedar bahawa cara pengebumian mayat yang kita lakukan adalah tidak mengikut Syafie, dan Syafie pula sependapat dengan madzhab Syiah Imamiyyah dalam masalah itu dan berlainan dengan Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Begitu juga ‘Undang-undang 99 Perak’, dan ‘bersalam’ lelaki-perempuan dengan melapikkan kain di tengah tangan adalah dari madzhab Ja’fari sedangkan Imam Syafie tidak membenarkan berjabat tangan dengan bukan muhrim sekalipun secara berlapik atau beralas.

Semua pihak bersetuju bahawa nikah mut’ah diharuskan pada zaman Nabi SAWA tetapi mereka tidak sependapat tentang pembatalannya atau pemansuhannya selepas kewafatan Nabi SAWA. Imam Malik mengatakan ia adalah harus kerana firman Tuhan dalam Surah an-Nisa: 24, yang bermaksud:”Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati antara mereka, maka berilah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajipan” sehingga terbukti pembatalannya.

Imam Zulfar,anak murid Imam Abu Hanifah berpendapat ia harus kerana ‘menghadkan waktu’ dalam akad nikah itu tidak membatalkan akad. Beliau menamakan Nikah Mu’aqqat.

Manakala Imam Muhammad Syaibani menyatakan ia makruh (lihat Zarkhasi, Kitab al-Mabsud, Cairo, 1954, Vol.5, hal.158).

Az-Zamakhshari, seorang pengikut madzhab Hanafi, menyatakan ayat itu muhkamah, iaitu jelas tidak ada ayat yang memansuhkannya (Tafsir al-Kasysyaf, Cairo, Vol.I, hal. 189)

Sementara Imam Syafie pula menyatakan ia telah dimansuhkan oleh sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Juhany, bahawa Rasulullah SAWA telah melarang dari melakukan mut’ah.

Tetapi mengikut kaedah fiqiah bahawa Imam Syafie, Hanafi dn Hanbali bersepakat bahawa al-Qur’an tidak boleh dimansuhkan dengan Hadith yang mutawatir (yang diriwayatkan oleh bilangan ramai: Lawannya Hadith Ahad) kerana mereka berpegang dengan Surah al-Baqarah: 106, yang bermaksud:”Kami, tidak memansuhkan satu ayat atau melupakannya melainkan Kami gantikannya dengan ayat yang lebih baik daripadanya atau seumpamanya”.

Jelas sekali bahawa Hadith Nabi tidak setanding dengan al-Qur’an. Ini bererti Hadith yang melarang dilakukan mut’ah itu adalah Hadith Ahad dan mengikut kaedah itu ia tidak sekali-kali dapat memansuhkan ayat 24, dari Surah an-Nisa’ (Nota: Pada hakikatnya Nabi SAWA tidak mungkin bercanggah dengan al-Qur’an kerana apa yang dinyatakan oleh Nabi SAWA adalah dari Allah SWT sebagaimana yang dinyatakan dalam Surah an-Najm: 4-5, bermaksud:”Dan tidak ia (Nabi SAWA) bercakap mengikut hawa nafsunya, melainkan ia adalah wahyu yang diwahyukan (dari Allah)”.

Mengikut kaedah itu, Imam Syafie sepatutnya mengatakan nikah mut’ah itu harus. Lebih menghairankan, Imam Syafie yang mengatakan nikah mut’ah itu dimansuhkan masih percaya kepada Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Jurayh (w.150H) seorang tabi’in yang menjadi Imam di Masjid Makkah pada masa itu, dan beliau telah berkahwin secara mut’ah dengan lebih sembilan puluh perempuan di Makkah. Sehingga beliau berkata kepada anak-anaknya:”Wahai anak-anakku, jangan kamu mengahwini perempuan-perempuan itu kerana mereka itu adalah ibu-ibumu”.

Bukan sahaja Imam Syafie yang menerima dan mempercayai Hadith-Hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Jurayh malah Imam Muslim dan Imam Bukhari menerimanya dalam Sahih-Sahih mereka.

Berdasarkan kepada bukti-bukti di atas nampaknya Imam Syafie tidak begitu yakin tentang pemansuhannya. Jikalau tidak, Ibnu Jurayh adalah penzina, dan tidak boleh menjadi Imam Masjid Makkah ketika itu dan riwayatnya mestilah ditolak.

Pihak Syiah Imamiyyah merujuk kepada beberapa Hadith Nabi SAWA, antaranya Hadith yang diriwayatkan oleh Imran bin Hasin yang berkata:”Ayat mengenai mut’ah telah diturunkan dalam al-Qur’an dan kami melakukannya di masa Rasulullah SAWA dan tidak diturunkan ayat yang memansuhkan/membatalkannya dan Nabi pula tidak melarangnya sehingga beliau wafat (Imam Hanbali, Musnad, Jilid 4,hal.363).

Mereka juga memetik Saidina Ali AS sebagai berkata:”Jikalaulah Umar tidak melarang nikah muta’ah, nescaya tidak ada orang yang berzina melainkan orang-orang yang benar-benar jahat” (Tafsir al-Tabari, Bab Nikah Mut’ah).

Mereka juga merujuk kepada sahabat Zubayr bin Awwam yang mengahwini Asma’ binti Abu Bakar secara mut’ah dan mendapat dua cahaya mata yang masyhur dalam sejarah Islam iaitu Abdullah bin Zubayr dan adiknya Urwah bin Zubayr (Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Bab Nikah Mut’ah)”.

Imam Ja’far as-Sadiq AS (Imam Keenam) Ahlul Bayt berkata:”Tiga perkara yang aku tidak akan menggunakan taqiyah: Haji Tamattuk, Nikah Mut’ah, dan ‘hayya ala khairil amal’ dan ditanya Imam Ja’far as-Sadiq AS mengenai nikah mut’ah, beliau menjawab, ia halal sehingga Hari Kiamat, (Al-Kulaini, Usul al-Kafi, Bab Mut’ah).

Inilah sebahagian kecil dari hujah-hujah yang dipegang oleh Syiah Imamiyyah dalam masalah itu.

Imam Bukhari dalam Sahihnya memberi definisi sahabat sebagai orang yang bersahabat dengan Nabi SAWA dan mati sebagai seorang Muslim atau orang yang pernah melihat Nabi dan mati sebagai seorang Muslim. Ahlul Sunnah mengatakan semua sahabat Nabi itu adil dan amanah sehingga tidak boleh dipertikaikan peribadi mereka.

Sementara Syiah Imamiyyah berpendapat sahabat Nabi itu adalah manusia biasa, ada yang baik dan ada yang kurang baik. Dalam akidah Islam, sahabat bukanlah maksum; dengan itu mereka terdedah kepada sebarang kesalahan/dosa seperti manusia biasa.

Mereka menyatakan ada ayat-ayt al-Qur’an yang memang ditujukan kepada sahabat-sahabat Nabi; ada sahabat-sahabat yang lari ketika peperangan, melakukan perkara yang tidak diingini oleh Islam. Dan jika diperhatikan secara rasional tanpa Asabiyyah, tidaklah semestinya semua sahabat Nabi yang ‘ratusan ribu’ itu adil dan amanah, kerana celaan al-Qur’an itu ditujukan juga kepada mereka.

Memang ada dari kalangan yang dinamakan sahabat, seramai lima belas orang, yang telah cuba membunuh Nabi sendiri selepas peperangan Tabuk di Aqabah (lihat Musnad ibn Hanbal, Beirut, 1943, Jilid 5, hal.428-9).

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah tidak menafikan wujudnya sahabat-sahabat Nabi yang setia.

Mengenai Hadith “sahabat-sahabatku seperti bintang-bintang di langit”, maka sanad Hadith ini adalah lemah dan ditolak oleh Ahlul Sunnah sendiri seperti Imam Abu Bakar as-Syafii dan lain-lain.

Bagaimanapun ia tidaklah menafikan sebahagian dari sahabat-sahabat Nabi itu boleh menjadi ikutan. Imam Bukhari dalam Sahihnya, Vol.16, Kitab ar-Riqaq, Bab al-Hawd, mencatatkan sebuah Hadith yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syukbah, bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: Sahabat-sahabat kamu telah berubah selepas kamu (meninggal)”.

Oleh itu Hadith ini menjadi asas yang kukuh untuk Ahlul Sunnah berfikir dengan rasional tanpa semata-mata taksub kepada madzhab kita. Apa yang menjadi asas ialah al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.

Bagaimanapun Syiah Imamiyyah menghormati khalifah Abu Bakar, khalifah Umar dan jauh sekali dari mengkafirkan mereka berdua. Dan sekiranya ada Syiah yang mengkafirkan mereka, ini adalah Syiah yang ghulat, atau pandangan individu. Apatah lagi Imam Keenam Syiah ialah Imam Ja’far as-Sadiq AS yang bertemu di sebelah ibunya dengan khalifah Abu Bakar.

Ahlul Sunnah bersetuju pintu ijtihad telah ditutup. Penutupan pintu ijtihad bererti ‘jemputan’ kepada zaman taqlid. Dan juga bererti tidak wujud lagi mujtahid yang baru; memadai dengan mujtahid-mujtahid yang telah mati. Lantaran itu persoalan-persoalan yang baru kurang dapat diatasi.

Syiah Imamiyyah berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka dan mereka tidak membenarkan ia ditutup, kerana penutupan pintu ijtihad memberi implikasi penyerahan kepada kelemahan dan kebodohan sendiri dan ia bercanggah dengan al-Qur’an yang menuntut sebahagian umat Islam menjadi alim mujtahid di setiap masa.

Sayang sekali Ahlul Sunnah dari madzhab Syafie, Hanafi, Hanbali dan Maliki telah menyerah diri kepada penutupan pintu ijtihad. Persoalan yang timbul, siapakah yang memerintahkan supaya ia ditutup? Mungkinkah pemerintahan sekular sebelum Imam al-Juwayni atau Imam Ghazali mengiystiharkan penutupan itu?

Imam al-Juwayni, guru kepada Imam al-Ghazali menyatakan”Sekiranya pintu ijtihad masih terbuka, maka aku adalah seorang mujtahid”. Imam al-Juwayni sendiri mengakui penutupan itu dan dalam andaiannya, beliau juyga mujtahid sekiranya pintu itu dibuka. Dan di masa itu timbulnya perasaan fanatik kepada madzhab tertentu yang dikuti, dan masing-masing menakwil Hadith-Hadith mengikut pandangan madzhab mereka.

Nabi SAWA bersadba:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan, yang berjaya hanyalah ’satu’ (al-Wahidah). Muktazilah mengatakan yang satu itulah mereka. Murji’ah pula mengatakan merekalah yang berjaya dan bukan Muktazilah. Sementara Ahlul Sunnah mengatakan, mereka sahaja yang berjaya.

Imam al-Ghazali mengatakan, apa yang dimaksudkan dengan umat itu adalah secara umum, dan golongan yang benar-benar berjaya ialah golongan yang tidak dibentangkan kepada neraka. Lantaran itu mengikut Imam al-Ghazali, sesiapa yang dimasukkan ke syurga dengan syafa’at, dia tidaklah benar-benar berjaya (At-Tafriqah bayn al-Islam wa Zandaqah, Mesir, 1942, hal.75).

Mengenai khurafat pula, semua pihak bersepakat bahawa khurafat mestilah diperangi habis-habisan. Namun begitu masih ada khurafat-khurafat dalam madzhab Syiah dan Sunnah. Jika ada mana-mana pengikut melakukan perkara itu maka ia menggambarkan kejahilan pengikut itu sendiri.

Semua pihak bersepakat menerima Hadith-Hadith Nabi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah. Tetapi Syiah Imamiyyah mengutamakan Hadith-Hadith yang diriwayatkan olah Ahlul Bayt, kerana mereka lebih mengetahui mengenai Nabi daripada orang lain, terutamanya Saidina Ali AS yang disifatkan oleh Nabi SAWA sebagai “Pintu Ilmu”.

Dalam sebuah Hadith Nabi SAWA, bersabda:”Aku adalah gedung ilmu, Ali adalah pintunya, dan sesiapa yang ingin memasukinya, mestilah menerusi pintunya” (Nisaburi, Mustadrak, Bab Kelebihan Ali).

Adapun Hadith-Hadith yang menjadi rujukan Ahlul Sunnah terkumpul dalam Sahih-Sahih Bukhari, Muslim, Nasa’I, Ibn Majah, Abu Daud, Tirmidzi, Muwatta, Mustadrak, Musnad Ibn Hanbal dan lain-lain.

Sementara Syiah Imamiyyah mengumpulnya dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini, Man La Yahduruhul Faqih olah al-Saduq, Al-Istibsar fi al-Din, dan Tahdhib al-Ahkam, kedua-keduanya oleh al-Tusi, Bihar al-Anwar olehMajlisi dan lain-lain.

Sepatutnya semua buku-buku Hadith itu dikaji dan menjadi rujukan kepada umat Islam, khususnya sarjana-sarjana Islam tanpa fanatik kepada mana-mana madzhab.

Para Imam Madzhab Empat/Ahlul Sunnah telah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Imam-Imam Syiah Imamiyyah kerana mereka adalah anak-cucu Rasulullah. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berguru kepada Imam Ja’far as-Sadiq AS.

Apabila mereka mengemukakan persoalan, mereka menggunakan lafaz”Wahai anak Rasulullah” kemudian barulah dikemukakan persoalan itu.

Imam Malik dan Imam Abu Hanifah pernah mengeluarkan fatwa secara rahsia supaya umat Islam keluar berperang bersama Zaid bin Ali Zainal Abidin (Ahlul Bayt) menentang pemerintah Bani Umaiyyah pada masa itu. Justeru itu mereka dipenjarakan.

Imam Abu Hanifah berkata:”Jikalau tidak wujud dua Sunnah nescaya binasalah Nu’man” iaitu jikalau tidak wujudnya Sunnah Nabi dan Sunnah Ja’far as-Sadiq, nescaya binasalah beliau.

Imam Syafie pula telah membuktikan kasih beliau kepada Ahlul Bayt dan Syiah dalam syairnya yang masyhur seperti berikut:

Aku adalah Syiah dalam agamaku,

Aku berasal dari Makkah,

Dan rumahku di Asqaliyah (Fakhruddin ar-Razi, Manaqib al-Imam as-Syafie, Cairo, 1930, hal.149 dan seterusnya).

Bagaimanapun Imam Syafie bukanlah seorang Syiah dalam ertikata yang sebenar tetapi sikapnya yang begitu kasih dan luhur terhadap Syiah Imamiyyah patut dicontohi.

Apatah lagi Imam-Imam mereka dari keturunan Rasulullah SAWA yang kita tidak pernah lupa dalam sembahyang kita setiap kali kita berdoa”Wahai Tuhanku, salawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad (Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa alihi Muhammad)

Begitulah sikap dan pendirian para Imam Madzhab Empat terhadap Syiah Imamiyyah dan para Imam dari Ahlul Bayt.

Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh Imamul Akbar al-Marhum as-Syaikh Mahmud Shaltut ketika beliau masih memangku Jabatan Rektor al-Azhar; dan disiarkan pada tahun 1959 Masehi di Majalah Risalatul Islam yang diterbitkan oleh Darul Taqrib bainal Madzahibil Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan Antara Madzhab-Madzhab Dalam Islam, yang berpusat di Kaherah, Mesir, nombor 3 tahun ke-11, halaman 227 berbunyi seperti berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu madzhab tertentu atas siapapun antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu madzhab yang manapun juga yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan meyakinkan.

Dan yang perincian tentang hukum-hukum yang berlaku dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab madzhab yang bersangkutan yang memang dikhususkan untuk itu.

Begitu pula setiap orang yang mengikuti salah satu antara madzhab-madzhab itu, diperbolehkan pula untuk berpindah ke madzhab lainnya – yang manapun juga dan tiada ia berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Katanya lagi,”Sesungguhnya Madzhab Ja’fariyyah yang dikenal dengan sebutan Madzhab Syiah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah adalah suatu madzhab yang peraturan-peraturannya seperti juga dalam madzhab-madzhab lainnya….”(Lihat juga Dialog Sunnah Syiah, Bandung, 1984, hal.32)

Walaupun di Malaysia misalnya bermadzhab Syafie, namun perkara yang penting ialah asalkan pengikut madzhab itu tidak berfahaman Asabiyyah, atau mengkafirkan madzhab-madzhab lain yang muktabar.

One comment

  1. Ikhwan & Akhwat, bagiku sebagai Sarjana Mesin dan Tenaga Panasbumi yang tidak ada kaitannya dengan Pelajaran ad-Din, hany akan berpegang kepada kaidah, firmanNya “Selamatkan Keluarga dari Api Neraka”, maka saya percaya bahwa Rosul akan mengoptimalkan dulu Ilmunya kepada Keluarganya yang paling dekat dulu, yaitu Ali, Fatimah dan cucunya (Hasan & Husein) ditambah lagi merujuk kepada Al Baqarah 124 dan Luqman 13, ditambah lagi Shahih Buchori dan Muslim yang telah menuliskan tentang 12 Amir dan Khalifah dan ternyata jawaban itu yang Ilmiah dan sangat argumentative adalah hanya Syiah 12 Imam. Itu sudah cukup tinggal pendalamannya, lainnya bagiku hanya hasil DOGMATIS alias ga ILMIAH. Salam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s