Hadits Israiliyah dan Hadis Menghina Nabi SAW bukti tidak semua hadis sunni berlabel shahih adalah shahih

Giliran Syiah bertanya

كل شيء تطور الا الكتابة عن الشيعة و لكل يد اية الا الاقتراء على الشيعة و لكل حكم مصدره و دليله الا الاحكام على الشيعة

Segala sesuatu berubah, kecuali tulisan menyerang Syiah

Setiap awal tentu berakhir, kecuali tuduhan terhadap Syiah

Setiap vonis berdasarkan dalil, kecuali vonis terhadap Syiah

Ulama-ulama Islam sepakat apapun mazhabnya bahwa siapapun yang menganggap Al-Qur’an mengalami perubahan, maka berarti telah mengingkari Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Sungguh, Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sungguh Kamilah yang menjaganya.” (Qs. Al-Hijr : 9) Keberadaan riwayat-riwayat yang menunjukkan keraguan terhadap keaslian Al-Qur’an terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah dan Syiah. Ulama-ulama Syiah telah berkali-kali melakukan bantahan dan menyatakan penolakan terhadap keberadaan riwayat-riwayat tersebut. Misalnya Syaikh Rasul Ja’farian telah menulis kitab, “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an baina as-Sunnah wa Asy-Syiah (Kedustaan Adanya Perubahan Al-Qur’an di Kalangan Sunnah dan Syiah) 1414 H, buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul, Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an. Atau kitab, Shiyanah al-Qur’an min Ta’arif (Keterjagaan Al-Qur’an dari Perubahan) yang ditulis Al-Ustadz Al Allamah Muhammad Hadi Ma’rifah, penerbit Dar Al-Qur’an Al-Karim, Qom, cetakan 1, 1410 H.

Kehadiran dua kitab ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menjawab tuduhan yang senantiasa dilontarkan kepada Syiah, bahwa orang-orang Syiah meyakini adanya tahrif dalam Al-Qur’an atau tuduhan yang lebih keji lainnya, kaum Syiah memiliki Mushaf lain yang berbeda dengan yang dimiliki kaum muslimin lainnya. Namun sayangnya, tuduhan-tuduhan tersebut tetap ada, yang bagi saya sangat deceptif, menyesatkan dan merupakan kejahatan intelektual, sebab menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak diyakininya sangat tidak adil. Pada tulisan ini saya menyertakan riwayat-riwayat dari kitab Ahlus Sunnah yang mengindikasikan bahwa terjadi perubahan dalam Al-Qur’an atau adanya perbedaan antara bacaan beberapa sahabat dengan apa yang kita baca saat ini. Saya menukilnya dari kitab Shahih Bukhari, yang diterima kesahihannya oleh Ahlussunah

Hadits pertama :

Dari Qabishah bin Uqbah yang berasal dari Ibrahim bin Alqamah ra ia berkata kepada kami, “Saya dalam safar (perjalanan) bersama beberapa sahabat Abdullah (bin Ubay) datang ke Syam. Kedatangan kami didengar oleh Abu Darda dan berkata, “Adakah diantara kalian yang membaca (maksudnya membaca Al-Qur’an)?” Kami menjawab, “Na’am”. Kemudian orang-orang memberi isyarat kepada saya. Abu Darda berkata, “Bacalah !”. Maka sayapun membaca : “Wallaeli dst.. (bisa dibaca langsung pada teks hadits pada gambar yang bergaris bawah merah, Shahih Bukhari kitab Tafsir jilid 6 hal 210)”

Mendengar demikian dia bertanya, “Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu (maksudnya Abdullah bin Ubay)?” Aku menjawab, “ya”. Ia melanjutkan, “Saya sendiri mendengarnya dari nabi saww dan mereka menolak untuk menerimanya.” Afwan kalau ada yang salah dari cara saya menerjemah, pembaca bisa membaca sendiri pada teks hadits tersebut. Yang bisa saya pahami dari hadits ini, ada perbedaan bacaan Al-Qur’an antara sahabat. Sebab yang dibaca sahabat-sahabat Abdullah bin Ubay ra berbeda dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an saat ini, bisa dibaca perbedaannya pada Qs. Al-Lail : 1-3. Bacaan sahabat-sahabat tersebut kurang wa ma khalaka (demi penciptaan). Lalu bagaimana penghukuman kita terhadap sahabat-sahabat yang dikatakan Abu Darda ra, mereka menolak menerimanya? Apakah Ahlus Sunnah bersedia mengkafirkan mereka, sebagaimana mereka mengkafirkan Syiah?

Jangan berpendapat itu hanya salah penulisan, sebab juga tertulis pada Fathul Ba’ari, Syarah Shahih Bukhari. Kesalahan penulisan akan meruntuhkan doktrin keshahihan kitab Shahih Bukhari, sebab jika pada penulisan saja terdapat kesalahan bagaimana pada penukilan yang membutuhkan tingkat ketelitian yang lebih ekstra?.

Saya ajukan lagi hadits berikutnya. 

Pada Shahih Bukhari Jilid 5 hal 132 bab Ghaswah Ar-Raji’i wa ri’li wa dzakwan. Riwayat ini diceritakan oleh Anas bin Malik bahwa Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan meminta bantuan Rasulullah saww untuk membantu mereka menghadapi musuh. Rasulullah saww mengirimkan 70 sahabat terbaik dari kalangan Anshar yang terkenal sebagai Al-Qurra’ (pembaca Al-Qur’an). Namun ketika mereka sampai pada sumber mata air yang bernama Bi-ir Ma’unah, dengan licik 70 sahabat Anshar tersebut mereka bunuh. Rasulullah sangat berduka atas peristiwa ini, dan selama satu bulan beliau membaca qunut melaknat pembunuh sahabat-sahabatnya. Sebelum melanjutkan, saya ingin mencoba membandingkan sikap ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap Yazid bin Muawiyah dengan apa yang dilakukan Rasulullah saww kalau memang mereka mengaku sebagai pengikut dan pembela Sunnah. Rasulullah saww melaknat pembunuh 70 sahabatnya, ulama-ulama Ahlus Sunnah, diantaranya diwakili oleh Adz-Dzahabi yang berkata, “Kita tidak mencela Yazid namun tidak juga melaknatnya”. Merekapun berpendapat, bahwa sikap diamlah yang lebih sesuai dengan sunnah nabi. Padahal mereka sendiri meyakini, bahwa Yazid telah melakukan kedzaliman besar dalam 3 tahun masa kekuasaannya, Ibnu Katsir berkata, “Yazid telah bersalah besar dalam peristiwa Al Harrah dengan berpesan kepada pemimpin pasukannya, Muslim bin Uqbah untuk membolehkan pasukannya memanfaatkan semua harta benda, kendaraan, senjata, ataupun makanan penduduk Madinah selama tiga hari.” Dalam tragedi tersebut terbunuh sejumlah sahabat nabi yang mengantongi curicullum vitae keagungan berjihad bersama Rasulullah pada perang Badar, perempuan-perempuan Madinah diinjak-injak kehormatannya dan anak-anak mereka dibunuh. (baca diantaranya kitab Hiqbah minat-Tarikh, karya Syaikh Utsman bin Muhammad Alu Khamis at-Tamimi). Mana yang lebih mendekati sunnah, Adz-Dzahabi yang memilih mendiamkan Yazid, tidak melaknat dan juga tidak mencintai, atau orang-orang Syiah yang melaknat Yazid bin Muawiyah sebagaimana Rasulullah saww melaknat Bani Raji’i, Dzakwan, Ushayyah dan Bani Hayan yang membunuh 70 sahabatnya?.

Kita lanjutkan pembahasan hadits, sampailah kita pada ucapan Anas bin Malik ra selanjutnya, “Kami pernah membaca sebuah ayat tentang mereka, tetapi kemudian ayat tersebut diangkat kembali.” Ayat yang dimaksud lihat pada gambar yang bergaris merah. Pemahaman kita selama ini terhadap ayat-ayat Al-Qur’an adalah adanya ayat-ayat mansukh. Yakni ayat yang mengganti (atau membatalkan hukum) ayat yang lainnya. Kita tidak pernah mendengar ada ayat yang diangkat kembali. Yakni ayat yang sebelumnya tertulis dalam Al-Qur’an lalu kemudian diangkat dan tidak terdapat lagi dalam Al-Qur’an yang kita baca saat ini. Bukankah keberadaan riwayat ini mengajak kita berpikir, bahwa ada perubahan terhadap Al-Qur’an. Kita bisa jadi meragukan keaslian Al-Quran saat ini, sebab bisa saja, ada ayat yang diangkat kembali, tetapi karena kita tidak mendapatkan riwayatnya maka ayat tersebut masih tertulis dalam Al-Qur’an saat ini, ataupun sebaliknya. Sebagaimana yang kita pahami pada hadits pertama. Kita wajar mengajukan pertanyaan, mengapa riwayat-riwayat yang menimbulkan keraguan atas keutuhan dan keaslian Al-Qur’an terdapat pada kitab Shahih Bukhari, yang diterima mutawatir, textus receptus?. Dalam kitab Al-Itqan fi ulumul Qur’an karya Jalaluddin Suyuti, pada jilid 1 hlm 50, disitu tertulis riwayat dari Umar bin Khattab ra yang mengatakan, “Al-Qur’an memiliki 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) kata (ahruf).” Sedang yang ada pada Al-Qur’an tidak sampai sepertiganya. Bukankah menurut Umar terjadi pengurangan pada Al-Qur’an ?.

Saya yakin ulama Ahlus Sunnah pun akan mengatakan, menolak keshahihan riwayat-riwayat tersebut. Bedanya, ulama-ulama Syiah telah banyak menulis kitab bantahan terhadap riwayat-riwayat yang meragukan keaslian Al-Qur’an baik dalam kitab-kitab Syiah maupun Ahlus Sunnah, sementara ulama-ulama Ahlus Sunnah tidak (atau tepatnya belum) melakukannya, sementara mereka selalu melontarkan tuduhan dan fatwa kekafiran Syiah hanya karena riwayat-riwayat yang meragukan keutuhan Al-Qur’an terdapat dalam literatur Syiah.

Ya jelas, bisa jadi mereka takut untuk disebut keluar dari barisan kaum muslimin dengan melakukan kritik terhadap Shahih Bukhari. Sebab mereka sendiri telah membuat dogma Shahih Bukhari sederajat dengan Al-Qur’an yang tidak bisa dibantah, dikritisi, diragukan, siapa yang melakukannya, keluar dari Islam atau diragukan keislamannya. Sementara bagi Syiah, hanya satu kitab Shahih di dunia ini, Al-Qur’anul Karim.

Tanggapan atas Hadits Israiliyah

Dan Hujjah ALLAH AWJ pun membungkan mereka…

“Sulaiman mempunyai mukjizat tidur dengan wanita 100x semalam.”

Demikian ia mengawali paparannya

Demi mendukung Hujjah ia ajukan hadits Dari Bukhari sanad Abu Hurairah begini hadithnya :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

sejuta dalil mereka bawakan – saya menyebutnya berqiyas, namun hal itu tidak lain malah menambah keroposnya hujjah.

Jawaban Radhi :

Harus sama sama sepakat bahwa yang sedang dibahas adalah Nabi ALLAH yang Mulia dan bukan tukang sapu jadi harus di sematkan ‘Nabi’ diawal penyebutan Nama Beliau As.

Sama sama sepakat Al Karim Surah As Shaad ayat 30 : Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)

Pertama, Abu Hurairah mendapat gelar Mudhalist dari Aisyah dan di Ancam Umar tuk dicambuk karena terlalu seringnya berbohong. Barometer selanjutnya adalah Para Tabi’in yang sejatinya adalah mercu suar para pengikut Salaf mengakui tidak memakai hadits hadits periwayatan Abu Hurairah. (ref to ibn Quthaibah mushaf)

Kedua, Hadist harus diuji dengan Al Quran. Landasannya Aisyah berkata Rasulullah Saww adalah Al Quran berjalan [ Bukhari ]

Ketika disajikan Sebuah Hadits harus di perhatikan Sanad dan Matannya. Lalu gunakan barometer aqli dan Al Quran sebagai Jawaban finalnya.

Saya akan ajukan metode reverse logic bagi kaum ortodoks karena mereka kerap hanya bertumpu pada literature semata. Alasan lainnya, Metode sederhana ini cukup memberi gambaran secara gamblang bagaimana Ke ‘rusakan’ Hadits tersebut.

Al Quran Surah As Shaad ayat 30 :

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).

Ayat diatas jelas menggambarkan bagaimana Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah para pribadi Agung yang toat dan sebaik hamba

Perhatikan redaksi hadits :

Abu Hurai­rah telah berkata, “Nabi Muhammad bersabda, `Sulaiman ibn Daud berkata, ‘Aku akan tidur bersama dengan seratus perempuan malam ini. Setiap perempuan akan melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan berjihad untuk Allah.’ Malaikat berkata padanya, ‘Ucapkanlah ‘insya Allah’. Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. Tak seorang pun yang melahirkan melainkan se­orang, yang melahirkan setengah wujud manusia. Bila ia ucapkan insya Allah, dia tidak akan membatalkan sumpahnya dan hasratnya akan terpenuhi.’”

Ia tidak mengatakannya dan pergi ke tempat tidur dengan mereka. (berpaling /cuek/mengabaikan Malaykat ALLAH)

Dalam Hadits ini jelas sekali diperlihatkan bagaimana Nabi Sulaiman As sebagai pribadi pembangkang..

Kedua, redaksi ini berubah ubah, pertama abu hurairah menyatakan 100 wanita, lalu kemudian 70 wanita, lalu di tempat lain 80 wanita, dst.

Hal ini menandakan bahwa ia –Abu Hurairah – hanyalah mengarang Hadits dan ia tidak pernah mendengar langsung dari Lisan Suci Rasulullah Saww.

Ketiga, Hubungan Suami Istri adalah Hubungan yang dilandasi oleh manusiawi, artinya dalam aspek apapun hatta seorang nabi sekalipun tidaklah mungkin dapat berhubungan sebanyak 100x semalaman.

Apakah ini bentuk keraguan pada Nabi ALLAH?
Sederhana menjawabnya, Saya meragui kebohongan pembawa Hadis yang pandai berbohong. Sederhananya pembawa hadis tidak pintar berkreatifitas.
Dan tidak ada hubungannya dengan Nabi ALLAH.

Sebagai manusia yang zohirnya sama seperti manusia pada umumnya, tidaklah ada yang mampu berhubungan 100x semalam..!

Pembahasan :
Saya memaknai hadist ini adalah hadist Israiliyat (Hadist yang di inspirasi dari pemikiran Yahudi lampau) dengan tujuan menjatuhkan martabat Nabi ALLAH dan juga merendahkan Utusan ALLAH.

Dalam makna luas ia akan berakibat fatal, seperti tercerabutnya iman dari dada tanpa ia sadari.

Mengapa ada di kitab Shahih bukhari ?

Shahih menurut Bukhari bukan berarti shahih menurut Al Quran.

Ada banyak factor yang menyebabkan hadis ini masuk dikitab bukhari, tekanan penguasa misalnya. Karena muktabar dikalangan pengkaji rijal bahwa syaikh bukhari sering pingsan karena mengkaji hadist.

Saya katakan, tidak pernah ada orang pingsan karena mengumpulkan hadis, karena ia adalah pekerjaan yang menyenangkan lagi menggembirakan. Pastilah ada factor lain yang mengakibatkan Bukhari pingsan. Stress karena tekanan mungkin, tenggat waktu dari penguasa kala itu. Dan lain sebagainya.

Sesungguhnya keberhati hatian dan sikap kritis amatlah sangat diperlukan dalam pengkajian agama, sesuai dengan Titah Suci Baginda Agung Rasulillah Saww :

“Terimalah apa yang sesuai dengan al Quran, dan tolaklah apa yang bertentangan dengannya”

Salam ya Sulaiman ibn Daud alaihissalam..
Salam sejahtera atasmu duhai Nabi Agung…

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS.Shad:30)

Sebaik baik Hamba tidak mungkin lupa berkata Insya ALLAH dan tidak mungkin berpaling dari Jibril Utusan ALLAH yang terpercaya.

Sayyid Qutub dalam Fii dhilal Al Quran Juz 23 hal 99 setelah mengkaji Hadits Hadist Israiliyah tersebut, Beliau berkata : “Semua hanyalah rekaan dan dugaan (bualan) Abu Hurairah semata”

………..

Berikut adalah beberapa Bagian Hadits yang mendeskreditkan Baginda Suci Saww yang dimuat oleh Kitab Bukhari

Rasulullah Cemas Akan Turunnya Wahyu

Shahih Bukhari Hadits No. 3

Dari ‘Aisyah, katanya: “Wahyu yang mula-mula turun kepada Rasulullah SAW, ialah berupa mimpi-baik waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Hingga pada suatu ketika datang kepada beliau Al Haq (kebenaran atau wahyu), sewaktu beliau masih di Gua Hira. Malaikat Jibril datang kepadanya dan memeluk beliau sambil berkata, “Bacalah!” Sampai beliau dapat “membaca”, “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram.

Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah, lalu beliau berkata,”Selimuti aku! Selimuti aku!” Lantas diselimuti oleh Khadijah hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi SAW kepada Khadijah (setelah dikabarkannya semua kejadian yang baru dialaminya itu), ”Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”

Kata Khadijah, “Jangan takut, Demi Allah, Tuhan sekali-kali tidak akan membinasakan Anda. Anda selalu menghubungkan tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.”

Setelah itu Khadijah (bersama Nabi SAWW) pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah yang telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliyah itu. Usianya sudah lanjut dan matanya buta. Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Waraqah.

Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Semoga saya masih hidup ketika itu, yaitu ketika Anda diusir oleh kaum Anda.” Maka bertanya Rasulullah, “Apakah mereka akan mengusirku?” Jawab Waraqah, “Ya, betul! Belum pernah seorang jua pun yang diberi wahyu seperti Anda yang tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari itu, niscaya saya akan menolong Anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus sementara waktu.

Kajian:

Hadits ini jika diamati sekilas tidak mengandung keraguan. Tetapi marilah kita pahami baik-baik bahwa pada saat turunnya wahyu pertama kali tersebut,Nabi Muhammad Saww telah diangkat menjadi Rasul sehingga dapat kita ambil beberapa hal:

• Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini. Ia seakan-akan melihat dan mendengar sendiri. Ia melihat nabi pergi ke gua, pulang kepada Khadijah, mendengar percakapan khadijah dan Waraqah bin naufal. Kita boleh saja mengatakan bahwa Aisyah mendengarnya dari Rasulullah Saww; tetapi dalam ilmu Hadist, ia harus mengatakan : Aku mendengar Rasulullah Saww bersabda… dan seterusnya. Dengan begitu, kita harus menolak hadist ini sebagaimana kita menolak hadis yang mencerikan bahwa Abu hurairah berjumpa dengan Ruqayyah, istri Utsman, padahal Ruqayyah meninggal dunia ketika Abu Hurairah masih kafir dan tinggal di negeri Daws.

• Dalam peristiwa ini digambarkan kedatangan wahyu yang sangat berat. Malaikat jibril memuluk Nabi dengan keras, sampai kepayahan dan ketakutan. Nabi Saww dipaksa untuk membaca, padahal ia tidak bisa membaca. Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang “menggerikan” seperti ketika ia datang kepada Nabi Saww. Padahal ia adalah kekasih Rabbil Alamin; yang tanpa dia tidak akan diciptakan seluruh alam semesta. Dampaknya kepada Nabi Saw juga sangat menyedihkan. Ia pulang ke rumah dengan diliputi ketakutan, kebingungan, dan kesedihan.

Bukankah ini sangat bertentangan dengan ayat Al-Quran yang disebutkan (QS.An-nisa:125) bahwa bila orang yang mendapat petunjuk, ia akan mengalami kelapangan dada, kelegaan hati, ketentraman jiwa. Jadi karena data rasulullah Saw, setelah menerima wahyu, sempit dan sesak, maka ia sedang dikehendaki untuk disesatkan, dan bukan diberi petunjuk.

• Rasulullah saw tidak paham dengan pengalaman ruhani yang ia alami, karena itu kemudian ia dibawa menemui Waraqah bin Naufal dan ternyata seorang nasrani yang lebih tahu tentang kenabiannya, ketimbang rasulullah sendiri. Waraqahlah yang meyakinkan Nabi bahwa ia itu utusan Allah, bahwa yang dating itu malaikat Jibril. Ia sendiri tidak yakin bahwa dirinya adalah Rasulullah. Kita tidak paham bagaimanan nabi yang mulia tidak menyadari kenabiannya, sedangkan orang lain – seperti Adas dan Waraqah- mengetahuinya. Bukankah Bahira pernah mengingatkan Abu thalib bahwa Muhammad itu adalah nabi Akhir zaman?, bukankah menurut banyak hadist, sebelum diangkat manjadi Nabi, kepadanya pepohonan dan bebatuan mengucapkan salam?

• Dilukiskan pula bahwa Ibunda Khadijah menasihati Rasulullah bahwa Allah tidak akan membinasakan Rasulullah. Hal ini menunjukkan seolah-olah Rasulullah kurang ilmu akan perjalanan spiritualnya ini sehingga beliau minta nasihat kepada Ibunda Khadijah.

Rujukan dari beberapa ayat Al-Qur’an:

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Ahzab: 40).

Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Q.S. Al An’aam: 125).

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang dikendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak laggi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS.An-Nisa:125)

Dari kedua ayat ini, jelaslah bahwa dada Rasulullah sangat lapang dalam menerima wahyu, apalagi beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ditimpa kecemasan dan ketakutan. Dan beliau juga sangat mengetahui pengalaman spiritualnya ini karena beliau adalah Rasulullah, sehingga tidak akan mungkin ada orang lain yang lebih mengetahui dari beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s