NU dan Muhammadiyah Dukung Fatwa Sesat Syiah ?

Rabu, 07 Maret 2012 16:18 Redaksi
E-mail Cetak PDF

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur bernomor; Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang kesesatan aliran Syiah yang telah dikeluarkan pada Sabtu, tanggal 21 Januari 2012 mendapat respon   para alim-ulama di Jawa Timur.

Dalam pertemuan bertajuk “Silaturrahmi Ulama-Umara, Menyikapi Berbagai Faham Keagamaan di Jawa Timur” yang dihadiri sekitar 50 ulama Jawa Timur, Selasa (06/03/2012), kemarin, para ulama (termasuk wakil PWNU dan PW Muhammadiyah)  ada perbedaan pendapat tentang kesesatan Syiah.

Dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Wilayah Depag Jawa Timur, Jl. Raya Juanda Surabaya tersebut, dua organisasi Islam yang cukup besar di Jawa Timur, NU dan Muhammadiyah bahkan mendesak Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo segera menindak-lanjuti rekomendasi para ulama.

“Akhir-akhir ini di Jawa Timur terjadi keresahan sosial. Jika ini tidak dicegah, akan berimplikasi timbulnya perbuatan-perbuatan anarkis, yang pada gilirannya mengancam stabilitas nasional. Untuk itu, kami dari Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur mendukung keputusan MUI Jatim tentang berbagai aliran sesat di Jatim dan mendorong pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah dan bersinergi dengan pemerintah pusat dan mengambil langkah-langkah lanjutan sebagai fungsi mencegah terjadinya anarkis,” ujar Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur, Prof Dr Tohir Luth.

Menurut KH Agoes Ali Masyhuri, yang mewakili PWNU, Jawa Timur adalah barometer nasional. Jika stabilitasnya terganggu dampaknya juga akan merembet ke wilayah lain.

“Saya atas nama PWNU Jawa Timur merespon positif langkah-langkah cerdas yang diambil oleh MUI Jawa Timur untuk mensikapi berbagai aliran sesat yang ada di Jawa Timur, karena Jatim adalah barometer nasional,” ujar pria yang juga pengasuh PP Bumi Shalawat Tulangan, Sidoarjo ini.

Sebelum ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura akhirnya mengeluarkan fatwa sesat ajaran Syiah. Fatwa MUI Kabupaten Sampang, Provinsi Jawa Timur bernomor: A-035/MUI/spg/2012 tentang kesesatan ajaran Syiah yang telah disebarluaskan oleh saudara Tajul Muluk di Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang itu menegaskan, bahwa aliran yang dibawa Tajul Muluk itu sudah dikenal sejak 2004-2005 di daerah tersebut,  dinilai sudah menyimpang dari ajaran Islam.

Fatwa yang ditandatangani KH Imam Bukhori Maksum, sebagai Ketua MUI Kabupaten Sampang ini dikeluarkan Senin (02/01/2012) menegaskan, ajaran Syiah yang bawah oleh Tajul Muluk di masyarakat di daerah itu telah menyimpang dari ajaran al-Quran dan Sunnah Nabi. Fatwa ini juga didukung oleh PWNU Jawa Timur.*

Said Aqil (ketua umum PBNU) menyebut Syi’ah Tidak Sesat, Dalam kurikulum “Al Firqoh Al Islamiyah” ajaran Khawarij, Jabbariyah, Muktazilah, dan Syiah masih dinilai sebagai Islam. “Ulama Sunni seberi Ibnu Khazm menilai Syiah itu Islam,” lanjutnya masih ditulis Tempo.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni.

Menanggapi desakan para ulama itu, gubernur yang lebih akrab dipanggil Pakde Karwo tak banyak menjawab dan membantah. Menurutnya, meski pelarangan itu adalah kewenangan pemerintah pusat, ia akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait menyusul masukan para ulama dan kiai asal Jawa Timur ini.

“Saya akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat, baik Menteri Dalam Negeri, Deparemen Agama, Kejakasaan Agung atau Kapolri.”

Prof. Umar Shihab Sepakat dengan Prof. Din, Syiah Bukan Ajaran Sesat

.
Ketua Majelis Ulama Indonesia Prof. Umar Shihab sepakat dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin bahwa Syiah bukan ajaran sesat. Baik Sunni maupun Syiah, tetap diakui Konferensi Internasional Ulama Islam di Mekkah dua tahun lalu, sebagai bagian dari Islam.

Hal itu dikatakan Prof. Umar Shihab. Karena itu, kakak kandung mantan Menteri Agama M. Quraish Shihab meminta umat Islam kembali mengartikan Islam sebagai rahmahlil’alamiin. Terkait perbedaan, dia mengutip Sabda Rasulullah Muhammad SAW, bahwa perbedaan itu adalah rahmat. Karena itu, ungkapnya, MUI Pusat akan melakukan pertemuan dengan MUI Sampang, Jawa Timur, yang memfatwakan Syiah itu ajaran sesat.

“Kita belum ada rencana untuk evaluasi MUI daerah, terutama Sampang. Tapi Insya Allah kita akan ikuti perkembangan. Selasa besok kita ketemu,” ungkap Gurubesar Ilmu Hukum Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

MUI Sampang, menurutnya, kurang memahami bagaimana kedudukan dan pemikiran Islam Sunni dan Syiah. Atau mungkin dia menduga, ada kelompok-kelompok atau oknum tertentu yang tidak ingin umat Islam bersatu. “Ada yang tidak ingin Islam ini menyatu. Sehingga (umat Islam) ditunggangi, bahkan dihasut, yang malah jauh dari ajaran Islam seperti membakar rumah,” tandasnya.

Sunni-Syiah tak Ubahnya Seperti NU-Muhammadiyah

JAKARTA -

Eksistensi Sunni-Syiah di Indonesia tidak harus dipertentangkan. Jika, keduanya terus dipertentang, maka tidak akan menemukan kata akhir. Sebab, Sunni-Syiah tak ubahnya seperti NU dan Muhammadiyah.

“Karena itu kita melihat sisi yang tidak mempertentangkan, diluar sisi keyakinan Ahlul Bait, Imamah dan bagaimana cara beribadah,” ujar Peneliti dan Pakar Syiah Indonesia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Zulkifli, Rabu (25/1).
Menurut dia, masyarakat Indonesia harus melihat sisi lain dari Syiah yang lebih menjawab problematika Islam kekinian. Salah satunya adalah menentang penindasan hegemoni yang ingin menghancurkan Islam, seperti Amerika, Barat dan Zionisme Israel.[republika]

Soal Islam Syiah, Muhammadiyah Minta Umat Berdialog

Muhammadiyah : “Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah”

 Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin, mengatakan tak ada perbedaan besar antara dua mazhab besar dalam Islam Sunni dan Syiah, sebuah pernyataan sejuk yang menutup pintu perpecahan dan adu domba yang bisa menghancurkan harmoni Muslimin Indonesia. Din berkata baik Sunni dan Syiah mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam
.
Muhammadiyah mengimbau umat Islam mengedepankan dialog dalam menyikapi perbedaan sesama muslim. Khususnya, antara Islam Sunni-dan Islam Syiah.Hal ini penting agar tidak terulang seperti kasus penyerangan dan pembakaran pesantren milik jemaah Syiah di Sampang, Madura.”Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim,” kata Wakil Rektor bidang Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Zamahsari di kampus Uhamka, Senin (2/1).Menurut Zamahsari, Muhammadiyah dan Uhamka mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Warga yang mengaku Suni menyerang dan membakar madrasah dan rumah pimpinan Syiah di Sampang.
.

Presiden SBY, sejauh ini, belum bisa bertindak terhadap pelaku-pelaku yang terlibat aksi-aksi kekerasan-kekerasan di negara ini, terutama yang dialami oleh kaum minoritas.

Demikian yang disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, Umar Shihab

Tetapi Umar tidak berani mengatakan jika kekerasan yang terjadi karena ada pembiaran dari pemerintah.

“Memang banyak yang menilai bahwa SBY tidak bisa bertindak tegas dan kurang berani memberikan satu tindakan konkret, terbukti masih banyak minoritas yang mengalami dikriminasi bahkan kekerasan seperti Ahmadiyah,” pungkas Umar

Dia menduga ada motif di balik kerapnya aksi kekerasan di negeri ini. Oleh sebab itu, MUI meminta Presiden SBY untuk mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku tindak kekerasan termasuk yang melakukan provokasi.

Pemerintah juga diminta untuk memberikan penerangan dan informasi yang bisa membuat minoritas aman yang artinya tidak akan terjadi perpecahan baik sesama agama maupun bangsa.

.

Pemuda Muhammadiyah: Penganut Syiah Harus Dikawal!
Senin, 02 Januari 2012 , 10:39:00 WIB

SALEH DAULAY


Pemahaman para pelaku aksi pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terhadap makna toleransi dipertanyakan.

Pasalnya, selama ini, kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan tersebut sangat toleran terhadap agama lain. Namun kali ini, toleransi itu seakan-akan tumpul hanya karena perbedaan mazhab dan pemikiran.

“Toleransi terhadap penganut agama lain memang sangat diperlukan dan wajib dilaksanakan,” jelas Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, saat dihubungiRakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 2/1)

.

“Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah toleransi antara sesama penganut agama yang sama. Mengapa kita mampu mentoleransi agama lain tetapi tidak mampu mentoleransi umat Islam lain yang berbeda mazhab?” sambung Saleh mempertanyakan.

Karena itu, Saleh menegaskan, kelompok yang selama ini cukup keras membela kaum minoritas dari pemeluk agama lain seharusnya juga melakukan pembelaan yang sama terhadap penganut mazhab minoritas, seperti Syiah di negeri ini.

“Hal ini sangat penting agar pluralitas dan kebhinnekaan Indonesia semakin mantap tertanam di tengah-tengah masyarakat.  Apa pun jenis mazhab yang meraka anut, haruslah tetap dihormati dan diperlakukan seperti saudara, setidaknya saudara sebangsa,” jelasnya.

Dia menekankan, toleransi antar umat beragama haruslah dilaksanakan beriringan dengan toleransi internal umat beragama. Malah tentu sangat disayangkan bila toleransi pada agama lain dianggap lebih mulia daripada toleransi di tingkat internal agamanya sendiri.

“Jangan sampai terkesan hanya peduli agama lain, tetapi lupa membina umat di tingkat internal penganut agama sendiri,” demikian Saleh.

Pembakaran rumah ibadah dan rumah warga Syiah di Sampang Madura terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Kali ini, kecaman datang dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, menegaskan, apa pun motifnya, tindakan anarkis itu tetap tidak dapat ditolerir karena jelas-jelas melanggar hak asasi manusia.  Apalagi, tindakan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Islam dari Mazhab Sunni.

“Tindakan ini jelas-jelas merusak nilai-nilai persaudaraan di antara sesama kaum Muslimin,” tegas Saleh saat dihubungi Rakyat Merdeka Onlinepagi ini (Senin, 2/1).

“Sudah sepatutnya, para ulama dan pemuka masyarakat di daerah itu berupaya keras mencegah terjadinya tindakan anarkis seperti itu. Selain melanggar hukum, tindakan itu jelas-jelas mencoreng umat Islam yang selama ini dikenal sangat toleran terhadap penganut agama lain,” tandasnya

.

.

Buya Syafii: Kebenaran Bukan Milik Individu

Senin, 2 Januari 2012 07:31 wib
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan
.
Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Buya ini, hal semacam itu harus dihentikan. Sebab kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. “Saya rasa sikap yang tidak baik, ada monopoli kebenaran,” ujar Buya kepada okezone, Minggu (1/1/2012).Buya pun heran terhadap tindakan anarkistis sebagian masyarakat lantaran menganggap Syiah bertentangan dengan Islam. Padahal kata dia, Syiah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. “Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima,” jelasnya
.
Dia pun menyatakan bahwa setiap orang sekalipun atheis berhak hidup. Hal yang terpenting kata dia, bisa hidup rukun dan toleran. “Jadi perbuatan-perbuatan semacam itu harus dihentikkan, apalagi di Sampang itu bersaudara, masak agama memecah belah,” paparnya.Dia meyakini para pemeluk agama yang melakukan tindakan anarkistis bukanlah penganut agama yang diridhai. “Menurut saya semacam itu bukan agama yang autentik,” pugkasnya.
IlustrasiPeringatan Asyura atau memperingati wafatnya cucu nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husain di Indonesia berlokasi di kediaman  Abdurahman Wahid atau Gus Dur oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)
Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Menurut Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” ujarnya

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) menyesalkan aksi pembakaran area pondok pesantren milik kelompok Syiah di Sampang, Madura.

Organisasi pengikut aliran Syiah di Indonesia ini membandingkan jaminan keamanan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan masa kepemimpinan Abdurahman Wahid alias Gus Dur saat menjadi Presiden RI keempat.

Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaludin Rakhmat mengatakan, semasa pemerintahan Gus Dur, kelompok Sunni dan Syiah tidak pernah terlibat konflik.

“Pada jaman Gus Dur, dia  menetapkan A, maka seluruh warga Nahdlatul Ulama mengikutinya. Itu yang tidak terjadi pada pimpinan NU sekarang,” kata Jalaludin dalam jumpa pers menyikapi pembakaran Ponpes milik kelompok Syiah, Sabtu (31/12/2011).

Bahkan Gus Dur menerapkan garis kebijakan pemerintah untuk melindungi kaum minoritas. Khusus menyangkut kelompok Syiah, Gus Dur, kata Jalaludin siap mengerahkan pengikutnya untuk melakukan penghadangan bagi kelompok yang akan melakukan penyerangan.

Menyoal hal lain, Jalaludin mengungkapkan informasi mengenai kepindahan ulama NU ke kelompok Syiah. “Banyak latar belakang ulama NU yang  pindah ke Syiah, contohnya Kiai Lumajang dulunya dia  pimpinan NU di Lumajang,” sebutnya.

.

Ketua Umum Muhammadiyah : Persatuan Sunni-Syiah Untuk Kejayaan Islam

 MAY 5, 2008 

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyatakan persatuan umat Islam, khususnya antara kaum Sunni dan Kaum Syiah, mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan umat agama itu.

“Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut,” kata Din dalam siaran persnya yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin.

Din Syamsuddin mengikuti Konperensi Islam Sedunia yang sedang berlangsung di Teheran, 4-6 Mei. Konperensi dihadiri sekitar 400 ulama, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah dari berbagai belahan dunia.

Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

“Seluruh elemen umat Islam, dalam kemajemukannya, perlu menemukan ‘kalimat sama’ dalam merealisasikan misi kekhalifahan di

muka bumi,” katanya.

Kemudian dalam menghadapi tantangan dewasa ini, kata Din, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya “musuh bersama”. “Dua hal ini, ‘kalimatun swa’ (kalimat sama) dan ‘aduwwun sawa’ (musuh bersama) adalah faktor kemajuan umat,” kata Din.

“Musuh bersama” itu, kata Din, terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Republika 5 Mei 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s