Siti Aisyah mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal: اقتلوا نَعْثَلافقد كفر “Bunuhlah si Na’tsal (Usman bin Affan) itu sesungguhnya ia telah KAFIR! “

Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun. 

Hubungan yang terjalin antara Aisyah; istri Nabi saw. dan Utsman; Khalifah ketiga berjalan wajar-wajar saja, tidak ada ketegangan! Bahkan tampak harmonis, akrab dan saling mendukung! Terpilihnya Utsman sebagai Khalifah ketiga dalam sebuah sandiwara Syûrâ Sudâsi [1] dilihat oleh banyak kelompok sahabat Quraisy dan suku-suku yang berkualisi dengannya sebagai kelanjutan dari kekhalifahan dua Khalifah sebelumnya. Pandangan Siti Aisyah tidak jauh dari pandangan umum partai Quraisy!

Tetapi kemudian sejarah mencatat terjadinya ketegangan hubungan antara Siti Aisyah dan Khalifah Utsman bahkan lebih dari itu ketegangan merembet kepada retaknya hubungan antara keluarga Utsman dan keluarga besar Abu Bakar! Tidak diketahui persis sejak kapan keretakan hubungan itu terjadi. Tapi sangat kuat dugaan bahwa ia mulai terjadi di paroh kedua masa kekhalifahan Utsman yaitu setelah enam tahun Utsman berkuasa!

Utsman yang tadinya banyak dipuji Aisyah dengan seperti “Utsman sebagai seorang yang malaikat saja malu, mengapa aku –kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Siti Aisyah- tidak harus malu kepadanya”[2], dan banyak pujian lainnya yang dapat kita temukan dalam riwayat-riwayat yang ditebar oleh Siti Aisyah ra.

Awal Keretakan Hubungan Antara Siti Aisyah ra Dan Khalifah Utsman!

Data-data sejarah melaporkan bahwa ketegangan antara kedua tokoh ini dipicu oleh dikuranginya gaji atau uang negara yang biasanya diberikan untuk Aisyah di masa kedua Khalifah sebelum Utsman yaitu Abu Bakar; ayah Aisyah sendiri dan Umar sebagai penggantinya yang mengistimewakan Aisyah dan Hafshah putri Umar lebih dari istri-istri Nabi lainnya!

Al Ya’qubi dan Ibnu A’tsum melaporkan: “Antara Utsman dan Aisyah terjadi ketegangan. Hal itu disebabkan Utsman mengurangi jatah santunan negara dari jumlah yang dahulu diberikan oleh Umar bin Khaththab. Utsman menyamakan santunan yang diberikan untuk Aisyah sama dengan yang diberikan kepada istri-istri Nabi lainnya.”[3]

Setelah itu ketegangan terus memanas. Siti Aisyah menjadi tempat mengadu dan berlindung para sahabat dan tabi’in yang beroposisi dengan Utsman hingga pada akhirnya Utsman terbunuh! Sejarah mencatat bahwa tidak ada keluarga yang paling keras penentangannya terhadap Khalifah Utsman melebihi bani Taim; keluarga Abu Bakar!

 Puncak Ketegangan dan Perseteruan antara Utsman Dan Aisyah!

Banyak ketidak-puasan terhadap pemerintahan Utsman yang mengarah kepada ketegangan antara para penuntut keadilan dan Khalifah Utsman. Di antaranya adalah tuntutan pendukuk Mesir! Setelah terjadi tarik ulur antara para Penuntut dan Khalifah Utsman, beliau menyetujui tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad putra Khalifah Abu Bakar; adik Siti Aisyah ra sebagai Gubernur negeri Mesir.

Utsman mengutus Muhammad bin Abu Bakar bersama penduduk Mesir pulang ke negeri mereka sebagai Gubernur. Tetapi mereka segera dikejutkan dengan temuan seorang kurir yang berjalan menuju Mesir dengan mengendarai kuda sang Khalifah! Setelah mereka pergoki dan mereka geledah, terjanya ia membawa sepucuk surat perintah dengan setelpel Kekahlifahan milik Khalifah Utsman yang berisikan agar Gubernur yang masih menjabat di Mesir itu segera memenggal kepada Muhammad bin Abu Bakar dan rombongannya!

Muhammmad bin Abu Bakkar dan rombongan segera kembali menuju kota Madinah. Setelah mengetahui hal, para pembesar sahabat seperti Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqâsh dan lainnya menjadi mengecam tindakan Utsman itu! Utsman mengelak dan menolak jika itu perbuatannya!

Kaum Muslimin mulai mengepung rumah Khalifah Utsman. Muhammad bin Abu Bakar melibatkan keluarga besar bani Taim dan juga selainnya. Thalhah dan Siti Aisyah mendukung tindakan Muhammad adiknya!

Dalam kitab al Bad’u wa at Târîkh disebutkan bahwa: Orang yang paling keras permusuhannya terhadap Utsman adalah Thalhah, Zubair, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah. Kaum Muhajirin dan Anshar menelantarkan Utsman dan tidak memberikan pembelaan yang berarti!

Dalam banyak kali, Siti Aisyah memprovokasi kaum Muslimin dengan melantangkan suara kerasnya dari dalam rumahnya seraya mengeluarkan beberapa benda peninggalan Rasulullah saw. seperti potongan rambut suci beliau, sepasang terompa dan baju milik Nabi saw. Aisyah berkata, “Perhatikan! Alangkah cepatnya kalian melupakan sunnah nabi kalian.” Ustman pun marah hingga tidak menyadari apa yang ia katakan![4]

Siti Aisyah memotong Khutbah Khalifah Utsman!

Para ulama banyak menyebutkan insiden ketegangan terjadi antara Siti Aisyah ra dengan Khalifah Utsman dan juga antara Khalifah Utsman sahabat-sabahat dan tokoh-tokoh lain seperti Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar!

Al Ya’qûbi dan al Balâdzuri melaporkan: “Ketika Utsman sedang berpidato di atas Mimbar di masjid Nabi swaw. Tiba-tiba Aisyah mengeluarkan baju Rasulullah saw. dan berkata dengan suara lantang, ‘Hai kaum Muslimin! Perhatikan ini adalah baju Rasulullah masih utuh belum lapuk, tetapi Utsman sudah melapukkan Sunnah beliau!’

Utsman terkejut dan kemudia berkata, ‘Wahai Tuhan palingkan dariku makar jahat wanita-wanita itu, sesungguhnya tipu daya mereka itu dahsyat.’[5]

Ibnu A’tsum berkata, “Aisyah berkata kepada Utsman, ‘Hai Utsman, engkau memonopoli Baitul Mâl hanya untuk dirimu. Engkau bebaskan tangan-tangan bani Umayyah menguasai harta kaum Muslimin dan engkau jadikan mereka sebagai penguasa atas urusan kaum Muslimin, sementara engkau biarkan umat (Nabi) Muhammad dalam kesengsaran dan kesusahan hidup. Semoga Allah memutus darimu keberkahan langit dan menghalangimu dari kebaikan bumi. Andai bukan karena engkau masih shalat pasti mereka menyenbelihmu hidup-hidup seperti onta-onta disembelih!

Mendengar kecaman pedas itu dari Aisyah; istri Nabi saw., Utsman marah dan kemudian membacakan ayat 10 surah at Tahrim untuk Aisyah:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَ امْرَأَتَ لُوطٍ كانَتا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبادِنا صالِحَيْنِ فَخانَتاهُما فَلَمْ يُغْنِيا عَنْهُما مِنَ اللَّهِ شَيْئاً وَ قيلَ ادْخُلاَ النَّارَ مَعَ الدَّاخِلينَ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Lut perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya);” Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.[6]

Penyikapan yang sangat pedas dan keras dari Khalifah Utsman terhadap Aisyah di atas dengan menyerupakan aisyah dengan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang kafir dan khianat terhadap suami mereka membuat Siti Aisyah tak terkendalikan murkanya atas Utsman. Siti Aisyah yang melihat Utsman telah jauh menyimpang dari tanggung jawab sebagai Khliafah suaminya; Nabi Muhammad saw. dan telah berbuat kejam terhadap keluarganya dengan memerintah membunuh Muhammad putra Khalifah Abu Bakar.

Karenanya Siti Aisyah ra segera mengeluarkan fatwa tegas yang sangat terkenal:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR![7]

Segera setelah diucapkannya oleh Ummul Mukmini Aisyah ra., kalimat itu menyebar dengan luas di kalangan masyarakat dan menjadi penghias bibir kaum Muslimin! Kini kaum Muslimin tidak takuk menyebut Khalifah Utsman derngan sebutan Na’tsal!

Na’tsal adalah seorang yahudi tua bangka yang tinggal di kota Madinah. Aisyah menyerupakan Utsman dengan si Yahudi tua bangka itu!

 

Kematian Mengerikan Usman .!

Pemberontakan makin mengganas dan tuntutan agar Utsman segera mundur dari jabatannya dan/atau menyerahkan para aparat yang bejat seperti Marwan putra Hakam yang dikutuk Nabi saw. untuk segera diadili! Semua usaha menengahi yang di antaranya dilakukan oleh Imam Ali as., antara pihak Utsman dan pihak  Thalhah, Muhammad bin Abu Bakar dan Aisyah serta para pemberontak menemui jalan buntu. Utsman tetap bersikeras tidak akan menaggalkan baju kekhalifahan yang ia katakan tekah dianugerahkannya oleh Allah! Maka kini para pemberontak pun segera akan menjalankan fatwa Siti Aisyah janda sang Nabi mulia.

Di tengah-tengah berkecamukkan kemurkaan atas Khalifah Utsman atas sikapnya dan berbagai penyimpangannya dalam menjalankan tugas kekhalifahan tidak ada pilihan di hadapan para sahabat besar kecuali:

A)    Menjauhkan diri dari kekacauan ini.

B)    Mengangkat senjata.

Dan Thalhah, Muhammad bin Abu Bakat dan Abdurrahman bin Udais (seorang sahabat Nabi saw. yang berbaiat kepada beliau di Bai’at Ridhwân) serta beberapa sahabat lainnya termasuk mereka yang memilih sikap kedua. Mereka meghunuskan pedang di wajah Utsman; Khalifah kaum Muslimini!

Pada awalnya mereka yang dipimpin oleh Thalhah dkk mengepung rumah tempat tingga Khalifah Utsman. Pengepungan diperketat sehingga tidak setetes pun pasokan air dan logistik lainnya dapat masuk ke rumah Utsman! Di masa-masa pengepungan itu Thalhah dan Zubair yang menguasai dan mengendalikan urusan manusia.[8]

Ath Thabari melaporkan, “Ketika pengepungan Utsman semakin ketat dan ia pun dicegah dari air, Utsman mengutus utusan untuk menemui Ali meminta air. Ali datang menemui Thalhah dan berbicara kepadanya agar ia mengizinkan air masuk ke rumah Utsman. Ali marah keras kepada Thalhah dan akhirnya pasokan air pun dikirim Ali ke rumah Utsman.

Ketika Ali mengetahui keseriusan mereka untuk menghabisi nyawa Utsman, ia segera mengirim kedua putra kesayangannya; al Hasan dan al Husain dengan senjata lengkap untuk menjaga pintu rumah Utsman   agar tidak seorang pun berani memaksa masuk! Terjadilah ketegangan di depan pintu rumah Utsman, Al Hasan sempat terluka.

Muhammad bin Abu Bakar pun khawatir bani Hasyim bangkit membela al Hasan dan al Husain dan gagallah niatan  mereka untuk membunuh Utsman! Karenanya Muhammad mulai mencari jalan untuk masuk ke rumah Utsman tidak melewati pintu depan. Ketika melihat bahwa mereka takut masuk ke rumah Utsman lewat pintu depan, Thalhah pun mengajak mereka menyerang rumah Utsman dari atap rumah sebagian orang Anshar. Thalhah mempersilahkan mereka melompat masuk ke rumah Utsman melalui rumah itu dan akhirnya mereka pun membunuh Utsman!

Rumah itu adalah milik ‘Amr bin Hazm.[9]

Al Balâdzuri mewlaporkan bahwa Thalhah mengepung Utsman dan tidak mengizinkan setettas air pun masuk ke rumah Utsman dan membiarkannya akan mati kehausan. Mengetahui hal itu, Ali yang berada di tempat peristirahatannya di luar kota Madinah segera mengutus utusan menemui Thalhah agar membiarkan Utsman menikmati air segar dari sumur miliknya di luar rumahnya, dan jangan kalian biarkan ia mati kehausan. Tetapi Thalhah bersikeras menolak![10]

Utsman pun terbunuh di tangan para pemberontak yang dipimpin oleh Thalhah, Muhammad binn Abu Bakar dan beberapa sahabat senior yang pernah membaiat  Nabi saw. pada Bai’atu Ridhwan! Mendengar berita itu, Ali marah kepada kedua putranya dan berkata, “Bagaimana ini bisa terjadi sementara kalian aku tugaskan menjaga Utsman di depan pintu rumahnya?!” Thalhah memergokoi Ali dan berkata, ‘Hai Ali, mengapakah engkau?’ Ali berkata, ‘Atasmu laknat Allah, apakah seorang dari sahabat Rasulullah dibunuh…?! Thalhah menjawab, ‘Andai ia (Utsman) mau menyerahkan Marwan pasti ia tidak akan dibunuh…. Ali meninggalkannya dan pulang menuju rumahnya… “[11]

 

Jasad Utsman Dibiarkan Tiga Hari tak Dikuburkan!

Setelah Khalifah Utman terbunuh dengan tragis, jasadnya pun dibiarkan tergeletak. Para pemberontak  yang dipimpin Thalhah dan para sahabat itu tidak mengizinkan jasad Utsman yang berlumuran darah itu dikebumikan! Setelah Imam Ali turun tangan dan menekan para pemberontak, barulah mereka mengizinkan jasad Utsman untuk dikebumikan. Utsman dikebumikan setelah tiga hari. Tetapi ketika keluarganya memikul keranda jenazah Utsman keluar dari rumah untuk dibawa ke pemakaman, para pemberontak bersama sebagian penduduk kota suci Madinah menghadang dan melemparinya dengan batu, sehingga hampir-hampir keranda itu mereka tinggalkan.Ali kembali turun untuk mencegah mereka. Akhirnya keluarga Utsman berhasil membawa lari jenazah Utsman dan mengebumikannya di sebuah tempat bernama Husysyu Kaukab, tempat di mana orang-orang Yahudi biasa menguburkan orang-orang mati mereka. Ketika dikemudian hari Mu’awiyah berkuasa, ia menyambungkan tanah pemakaman yahudi (yang Utsman dikebumikan di sana) dengan memerintahkan merobohkan tembok pemisah dan memerintahkan kaum Muslimin dikebumikan di sekirtarnya sehingga bersambubnglah tempat dengan taman pemakaman Baqi’! Utsman berhasil di kebumikan di antara maghrib dan Isyâ’ dan tidak mengahdiri pemakamannya melainkan Marwan dan beberapa gelintir keluarga dekat Utsman termasuk putri kelima Utsman. Ia mengantar kepergian ayahnya dengan tangisan dan ratapan. Mendengarnya, kaum pemberontak melempari keranda ayahnya dengan batu! Demikian dilaporkan para ahli sejarah![12]

Dan dengan demikian berakhirlah seri permusuhan antara istri Nabi dan Usman !

Utsman terbunuh dengan pedang yang dihunuskan oleh Siti Aisyah (dengan fatwanya) dan diasah sehingga menjadi tajam oleh Thalhah dan dilaksanakan oleh  dan  Abdurrahman bin Udais Cs.

Innâ Lillahi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.

 

Ustad Husain Ardilla :

Ketika mensyarahi hadis bahwa Nabi berpidato sambil menunjuk rumah ke Aisyah,“Dari situlah fitnah akan keluar ….” para pensyarah sunni berusaha mempermainkan akal-akal kita dengan mempelintir hadis itu lalu mengatakan yang dimaksud adalah arah timur. Yaitu Irak maksudnya. Negeri itulah sarang fitnah dan tempat munculnya tanduk setan. Peperangan demi peperangan terjadi di negeri itu. Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubair serta sisa-sasa rezim Utsman seperti Marwan bin Hakam dengn alasan untuk menuntut balas atas kematian Utsman dan agar Khalifah Ali as. (yang terpilih secara aklamasi) segera menyerahkan para pembunuh Utsman untuk diadili!

Setelah para pemberontak yang dipimpin Aisyah dan Thalhal Cs. berhasil ditumpas oleh Ali as. Mu’awiyah bangkit memberontak juga dengan alasan yang sama; menunutu diserahkannya para pembunuh Khalifah Utsman! Setelahnya, kaum Khawarij memberontak melawan Ali di Nahrawan… kata pensyarah itu semua itu terjadi berawal dari terbunuhnya Utsman; Khalifah kaum Muslimin secara tragis!

Tidak sedikit dari mereka yang lugu -atau lebih tepatnya mereka yang senang dan bangga dibuat lugu dan dipermainkan akal warasnya oleh tukang syarah hadis itu- menelan mentah-mentah apa yang mereka katakan tentang maksud sabda Nabi suci itu!

Tetapi sangatlah memprihatikan apa yang mereka katakan itu?! Apakah mereka tidak menyadari bahwa terbunuhnya Utsman  itu adalah akibat dari fatwa Siti Aisyah, istri Nabi saw.?! Mungkinkah semua itu terjadi andai Siti Aisyah tidak menfatwakan:

اقتلوا نَعْثَلافقد كفر

Bunuhlah si Na’tsal itu sesungguhnya ia telah KAFIR?!

Akankah terjadi peperangan Jamal jika Siti Asiyah, janda Nabi itu ta’at kepada Allah dan meneruti perintah-Nya agar tetap tinggal di daalam rumahnya?

وَ قَرْنَ في‏ بُيُوتِكُنَّ وَ لا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجاهِلِيَّةِ الْأُولى‏

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu… .” (QS. Al Ahzâb [33];33)

Mengapakah mereka menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah Utsman, sementara mereka semualah orang-orang paling bertanggung jawab atas kematian Utsman?! Tidak ada yang layak dimintai pertanggung-jawaban atas kematian Utsman lebih dari mereka yang justru setelah kematiannya menuntut agar Ali menyerahkan para pembunuh itu?!

Tidak ada pribadi yang paling bersih dalam kasus terbunuhnya Utsman lebih dari Ali as.! Menuntut balas atas kematian Utsman hanya alasan palsu dan penipuan publik yang tak termaafkan! Semua hanya karena kebencian kepada Ali as. dan ketidak-sukaan mereka menyaksikan Ali sebagai Khalifah, sebab itu artinya: Ucapkan selamat tinggal bagi kepentingan-kepentingan dunia murahan yang menjadi incaran mereka!

Setelah kematian Utsman  atas fatwa Siti Aisyah; istri Nabi saw., apakah Siti Aisyah akan juga melakukan provokasi umat agar melawan Ali menantu sang  Nabi?!

Kebijakan pertama yang dilakukan Ali setelah jadi khalifah adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal.

Perang Jamal

Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib.

Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.

Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.

Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.

Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.

Untuk mengetahui hal itu bacalah sejarah berbagai peristiwa setelah kematian Khalifah Utsman yang berujung pemberontakan yang dipimpin Aisyah, Thalhah dan Zubairyang dinamai dengan nama perang Jamal (perang onta) yang menelan korban tidak kurang dari 20 ribu jiwa umat Islam, umat suami Siti Aisyah, umat Nabi Muhammad saw.!


[1] Syura yang beranggotakan enam anggota yang dibentuk Khalifah Umar menjelang wafat beliau yang diatur dengan syarat-syarat tertentu yang hingga kini masih menjadi bahan kajian dan ketidak puasan sebagai peneliti sejarah.

[2] Baca selengkapnya dongeng pujian untuk Utsman itu dalam Shahih Muslim,7/116, Musnad Ahmad,6/62, Kanzul ‘Ummâl,6/376 hadis noo. 5845 dan Muntakhab Kanzul ‘Ummâl,5/2 dan 17 dan buku-buku lainnya.

[3] Târîkh al Wa’qûbi,2/132 dan Târîkh Ibn A’tsum:155.

[4] Ansâb al Asyrâf,5/205.

[5] Ibid.2/175.

[6] Kitab al Futûh; Ibnu A’tsum:115. Sangat kuat kemungkinan bahwa kecaman Aisyah atas Utsman di atas beliau sampaikan sebelum perintiwa ditemukannya surat perintah rahasia Khalifah Utsman agar Muhammad bin Abu Bakar segera dipenggal kepalanya sesampainya di negeri Mesir, seperti telah disinggung sebelumnya!

[7] Târîkh ath Thabari,4/477, Târîkh Ibn A’tsum:155, al Kâmil; Ibnu al Atsîr,3/87, an Nihâyah, Ibnu al Atsîr,4/156 dan sumber-sumber lain.

[8] Ansâb al Asyrâf,5/81 dan 90.

[9] Târîkh ath Thabari,5/122.

[10] Ansâb al Asyrâf,5/ 90.

[11] Târîkh ath Thabari,5/122.

[12] Ibnu Jarîr ath Thabari,5/143-144, Ibnu al Atsîr,3/76 dan Ibnu A’tsum:159. Baca juga ar Riyâdh an Hadhirah; Muhibbudîn ath Thabari,2/131-132.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s