KH Athian Ali Tidak Kenal Syiah Sehingga Salahkan pengurus MUI Pusat Umar Shihab

 8 Des 2011 ; Dr.Marwan Khaleefat, seorang Intelektual dari Jordan, menjadi Syiah setelah melakukan kajian mendalam terhadap Mazhab ini, dan meyakini bahwa kebenaran adalah bersama Mazhab ini.

Memang ada fatwa dari MUI untuk berhati-hati terhadap Syi’ah. Tetapi untuk melarang Syi’ah tidak ada. Karena pada waktu MUI mengeluarkan fatwa itu (melarang) beberapa tokoh cendekiawan Islam di MUI keberatan. Sehingga akhirnya kata-katanya diperlunak: tidak lagi melarang, tetapi pokoknya harus mewaspadai aliran Syi’ah. Sekiranya nanti ada kecurigaan dari pihak pemerintah terhadap Syi’ah, saya menduga kecurigaan itu hanyalah akibat dari lobbying yang dilakukan oleh orang-orang yang anti Syi’ah. Jadi orang-orang yang anti Syi’ah itu berusaha memberikan gambaran tertentu kepada pemerintah, sehingga mereka kemudian mencurigai Syi’ah

.

Saya melihat ada toleransi dari pemerintah terhadap orang-orang Syi’ah. Sebab mereka melihat bahwa Syi’ah di Indonesia ini hanyalah Syi’ah intelektual. Jadi, mereka tidak merasa harus khawatir terhadap Syi’ah sebagai sebuah gerakan revolusioner.

 

Terkait pernyataan pengurus MUI Pusat Umar Shihab di beberapa media yang menyebutkan bahwa ajaran Syiah tidak sesat, kepada reporter RDS FM Solo, Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) ustadz Athian Ali menanggapi kalau Umar Shihab itu tidak faham Islam.

Justru sebaliknya bung !!

KH Athian Ali Tidak Kenal Syiah Sehingga Salahkan pengurus MUI Pusat Umar Shihab

Seperti dilansir MetroTV hari Ahad 1 Januari 2012, “Saya katakan, MUI berprinsip pertama, Mazhab Syiah tidak sesat. Karena ada yang mengatakan Syiah sesat. kedua, mazhab Ahl As-sunnah wal Jamaah (Sunni) dan Syiah adalah mazhab besar dalam dunia Islam. Bahkan, dalam pertemuan internasional yang dihadiri ulama Sunni juga dihadiri ulama Syiah,” kata Ketua MUI Umar Shihab di Jakarta, Ahad (1/1)

Karena itu, Umar mengimbau umat Islam tidak terpecah belah dan menjaga ukhuwah Islamiyah, serta tidak melakukan tindak kekerasan terhadap golongan berbeda.

KH Athian Ali: Umar Shihab Tidak Faham Islam

KH Athian Ali: di Tubuh MUI Pusat Ada Orang yang Tidak Faham Islam

Justru sebaliknya bung !!

KH Athian Ali Tidak Kenal Syiah Sehingga Salahkan pengurus MUI Pusat Umar Shihab

KH Athian Ali Tidak Kenal Islam Sehingga Salahkan pengurus MUI Pusat Umar Shihab

.

Prof . Dr. Habib Umar Shihab: Rendahnya Kesadaran Umat PDF Print E-mail
Dia merasa prihatin dengan minimnya pemahaman umat Islam terhadap agamanya sehingga banyak melakukan penyimpangan dalam merespons kehidupan. Apa syarat minimal yang harus dipenuhi umat Islam?Di usianya yang sudah kepala tujuh, pemikirannya masih tetap bernas. Suaranya masih tetap tegas menyangkut hal-hal yang prinsip. Itulah Prof. Dr. Habib Umar bin Abdurrahman Shihab, salah satu pakar hukum Islam, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, ketua MUI Pusat. Ditemui di rumahnya yang asri di Kompleks Puspa Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Prof. Umar mengungkapkan keprihatinannya menyangkut umat Islam di negeri ini.“Umat Islam saat ini tidak satu pendapat dalam banyak hal, mereka tidak bisa menyatukan pendapat, terutama dalam bidang politik. Bidang politik ini sangat menentukan untuk agenda umat dan juga arah berbangsa. Di DPR suara umat Islam tidak terwakili walau yang masuk beragama Islam. Mereka tidak berhasrat memenangkan Islam,” ujar alumnus Universitas Al-Azhar ini prihatin.Menurut kakak kandung Prof. Quraish Shihab ini, banyak orang yang salah dalam menilai Islam, mereka itu adalah orang yang tidak mengerti Islam. Di samping juga orang Islam tidak lagi memperhatikan agamanya. Akhlaq dan nilai Islam sudah luntur.Menurutnya, kalau dulu murid-murid begitu patuh kepada guru karena pelajaran akhlaq sangat diresapi, sekarang sebaliknya, guru yang takut kepada murid, mungkin karena pengaruh orangtuanya yang pejabat atau kaya raya. Dulu kalau murid dimarahi guru, orangtua akan ikut memarahi anaknya, karena hormatnya mereka kepada guru. Kini kalau murid dimarahi guru, orangtua akan mencari guru itu, untuk memarahinya. Jadi nilai akhlaq sudah luntur.“Lingkungan dan orangtua tidak lagi mengakomodir anak sesuai dengan tuntunan agama. Kita tidak bisa menyalahkan teknologi atau televisi, karena itu bukan akar masalahnya, tapi kita yang kurang serius mendidik anak-anak dan generasi muda sehingga mereka menyimpang jauh dari ruh Islam,” katanya.

Prof. Umar prihatin, karena umat Islam masih bodoh dalam memahami agama mereka, sehingga banyak terjadi penyimpangan. “Belum lagi tantangan eksternal yang luar biasa, seperti pengaruh kehidupan materialistis dan hedonistis. Gerakan dan konspirasi yang ingin agar umat Islam tidak berislam secara sungguh-sungguh, berusaha keras menjauhi umat Islam dari ajaran agama mereka,” ujar guru besar hukum Islam ini.

Menurutnya, ada pula kaum liberal yang mengaku beragama Islam tapi pikiran mereka sesat dan menyesatkan. Kaum liberal ini menafsirkan kitab suci Al-Quran sesuai dengan nafsu mereka, mereka mengakal-akali Al-Quran. Dan ini adalah kebodohan. “Mereka menafsirkan Al-Quran tanpa ilmu. Ada yang mereka sebut tidak sesuai dengan zaman, ada yang perlu diperbaharui dalam Al-Quran, seolah-olah mereka lebih pintar dari Allah SWT.”

Lebih lanjut Prof. Umar mencontohkan munculnya pemikiran agar kaum pria juga punya masa iddah. Alasan mereka, kalau wanita ada iddahnya, mengapa pria tidak? Atau, agar adil, pria dan wanita sama-sama tidak punya masa iddah. “Ini jelas pemikiran yang bodoh, mereka tidak tahu apa alasan adanya iddah,” katanya.

Begitu juga mereka menolak diaturnya hukum waris, karena menurut mereka sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman.

Tapi yang lebih memprihatinkan lagi, menurut kakek lima cucu ini, adalah mereka yang menolak shalat karena merasa dirinya sudah baik. Alasan mereka, shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Lha, kalau sudah baik, untuk apa lagi shalat? Itu alasan mereka.”

Lalu Prof. Umar menguraikan ihwal firman Allah yang menyatakan bahwa sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar. Tapi, menurutnya, tidak semua orang yang shalat tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Ada pula orang yang shalat tapi mereka mendapatkan neraka, yaitu orang yang lalai dan riya’.

“Pertanyaan kita, apakah umat Islam sudah shalat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul, dikerjakan tepat waktu, lengkap lima waktu. Karena ada juga yang shalat hanya empat waktu. Shalat Subuh tidak pernah.”

Dia melanjutkan, “Kita tidak dapat menyangkal bahwa sebagai mayoritas di negeri ini kita paling banyak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai agama. Korupsi marak, perzinaan merajalela, khamar ada di setiap sudut, makanan haram bertebaran. Itulah konsekeunsi dari jumlah yang banyak tapi minus kesadaran.

Kesadaran itu lahir dari ilmu pengetahuan. Lalu pertanyaannya, kenapa umat Islam tidak tersadarkan dengan ajaran Islam? Karena mayoritas umat Islam tidak mempunyai fundamen yang kukuh. Mereka Islam karena keturunan, padahal umat Islam wajib tahu fundamen agamanya: aqidah, syari’ah, tauhid, dan ibadah.”

Prof. Umar mencontohkan, banyak sekali tanda-tanda di tengah masyarakat yang memperlihatkan bahwa umat Islam tidak mengenal agamanya. Fenomena syirik mudah ditemui. “Masa, orang percaya kepada anak kecil yang memberikan air selokan untuk penyembuhan? Ini kan mereka tidak punya aqidah,” katanya mengungkapkan kasus dukun cilik Ponari beberapa waktu yang lalu.

Dia juga menyinggung minimnya umat Islam yang membayar zakat. “Kalau umat Islam taat membayar zakat, tidak akan terdengar kasus busung lapar, gizi buruk, dan kemiskinan akut,” ujarnya mantap.

Krisis Keteladanan

Prof. Umar mengakui, sekarang umat Islam mengalami krisis keteladanan. Banyak orang pintar tapi tidak bisa diteladani. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa orang Islam tidak berperilaku sesuai dengan agamanya. “Banyak orang pintar yang saat di mimbar begitu memukau hadirin, tapi bermasalah dalam hidup kesehariannya. Shalat Subuh-nya saja sudah lewat jam enam. Ini kan bukan teladan yang baik.

Lalu ajaran Islam melarang riya’. Tapi setiap saat kita ingin dipuji.

Lalu ghibah menjadi budaya, yang dimasyarakatkan lewat koran dan televisi. Ini pulalah yang mendasari MUI mengeluarkan fatwa haram infotainment yang berisi ghibah dan fitnah.”

Ketika ditanya tentang beberapa fatwa MUI yang sering dianggap kontroversial, Prof. Umar menjawab, itu lumrah saja. Tidak semuanya harus satu pendapat. “Bahwa setiap fatwa MUI dikritisi, itu adalah hal yang wajar, karena tidak semua fatwa itu harus dilaksanakan. Misalnya saja fatwa haram merokok, kan itu ada syaratnya. Misalnya di depan anak-anak, pada wanita hamil, pada tempat-tempat tertentu. Kenapa tidak total? Karena memang ada pertimbangan-pertimbangan,” ujarnya menjelaskan.

“Begitu juga soal bunga bank konvensional. Ada yang beralasan bahwa bank syari’ah masih jauh dari harapan umat Islam, sehingga bank konvensional masih berstatus darurat. Tidak apa-apa pendapat seperti itu, yang namanya ijtihad wajar ada perbedaan pendapat.”

Menurut Prof. Umar, berdakwah di Indonesia memang memerlukan seni tersendiri, dan pegangannya adalah surah An-Nahl ayat 125, “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Dia mencontohkan, “Banyak pengusaha muslim yang punya hotel masih menjual barang haram di hotelnya seperti khamar, daging babi, dan sejenisnya. Nah, bagaimana dakwah kepada mereka ini? Tentu harus dengan hikmah, dan bijaksana. Misalnya ketika minta zakat kepadanya bilang, ‘Kami minta zakat dari uang yang halal.’ Tentu dia akan merasa bahwa uangnya ada yang haram. Tapi kalau kita bilang ‘Tidak bisa menerima, karena semua uangnya haram’, tentu akan mengecewakannya.”

Nah, kalau dia naik haji, bagaimana dengan hajinya? Kewajiban hajinya gugur, tapi pahala haji tidak dapat.

Begitu juga ketika seorang koruptor bersedekah dari uang hasil korupsinya, menurut pendapat As-Sha’rawi, yang menyatakan seseorang yang mendapat uang dari cara bathil lalu menggunakan untuk sedekah atau membantu pembangunan masjid, ia telah melakukan perbuatan baik dari sisi sedekah, karena itu jangan ditolak. Sedangkan ulama lain berpendapat tidak boleh menerimanya. Jadi ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

“Kalau saya berpendapat, dari sisi sedekah ia sudah punya kesadaran, soal pahala itu urusan Allah.”

Tentang Maulid

Sebagai pakar hukum Islam, Prof. Umar Shihab berpendapat bahwa acara Maulid cukup kuat dasarnya, yaitu bid’ah hasanah. Perbuatan bid’ah yang baik. Ada yang berpendapat, tidak ada dasar hukumnya yang namanya bid’ah hasanah itu. Tapi kita harus lihat definisi dari kata bid’ah, yaitu sesuatu yang terjadi sesudah Rasulullah SAW .

Maulid itu diawali oleh Shalahuddin Al-Ayubi, untuk membangkitkan semangat tempur pasukan Islam. Tidak ada yang salah dalam Maulid, karena isinya puji-pujian untuk Rasulullah SAW. Hanya kita harus hati-hati, jangan sampai kitab Maulid, disetarakan dengan Al-Quran. Al-Quran itu wahyu Allah SWT, yang membacanya dapat pahala, walau tidak paham artinya. Jangan sampai kitab Maulid didahulukan dari Al-Quran. Kitab Maulid itu karangan manusia. Jadi kita harus menempatkan sesuatu pada tempatnya.

“Tapi saya juga perlu mengingatkan kepada para penentang Maulid. Apa yang harus ditolak? Maulid itu bagus, membangkitkan kecintaan kepada Rasulullah SAW,” katanya tegas.

Berbicara tentang cinta, menurut Prof. Umar, cinta yang paling utama haruslah kepada Allah SWT, setelah itu kepada Rasulullah SAW. Kepada Allah SWT haruslah cinta, bukan takut, karena yang harus kita takuti itu adzab Allah. Orang yang cinta kepada Allah itu ditandai dengan rindu kepada-Nya, selalu menyebut nama-Nya, dan ingin sekali berjumpa dengan-Nya. Itulah tujuan akhir seorang beriman.

Prof. Umar berpesan agar umat Islam bekerja keras untuk meraih cinta Allah, dan jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah. Dia mengajak untuk istiqamah shalat Tahajjud dan membaca rutin surah Al-Isra, ayat 79-80.

4 comments

  1. Negara INI BUKAN NEGARANYA ORANG SUNNI MAUPUN WAHABI semua berhak hidup diNegeri ini, hanya Ulama2 Laknatullahlah yg masih arogan dan tak mau toleransi , mereka wajib pindah ke Saud Arabia, biar bebas melaknat saudaranya Seiman!!!

  2. Kalau Syi’ah itu bukan Islam mengapa negara Arab tidak melarang mereka menunaikan Haji, mengapa Tohari Alkaff sewot, padahal mazhab anda terbesar dinegeri ini, Kalau saya nggak mau memandang anda Ustad kek, Habib kek yg saya tahu anda provokator Umat, ingat Balasan diakhirat , dibanding Anda dengan Bpk Umar Shihab dari nada bicara sudah kelihatan keilmuannya,sedang anda bicara dgn kebencian, umur anda tinggal berapa , carilah jalan terang biar hidup tentram , tidak kena strook karena sering memikirkan gimana menghadang perkembangan MAZHAB SYI”AH DI NEGERI ini.

  3. Mereka yang bersemangat dan benci sangat kepada Syiah, tidak lebih adalah Manusia yang dzulman dzahula dan sudah terdoktrin mati dengan hadist-hadist yang diciptakan oleh Bani Umayyah sebagai Kelompok Khalifah yang menciptakan Kerajaan setelah Rontoknya Chulafaur Rasyidin dan mereka itu adalah Kelompok Pendengki kepada Rosul maupun Kleuarganya terkhusus kepada Imam Ali, sementara mereka pun berguru kepada Awalun Shohibain dan inilah adu – renyom antara anak Abubakar yang berpihak kepada Imam Ali dengan Muawiyah, yaitu :
    Surat Muhammad bin Abu Bakar kepada Mu’awiyah:
    Bismillahirrahmanirrahim.
    Dari Muhammad bin Abu Bakar.
    Kepada si tersesat Mu’awiyah bin Shakhr.
    Salam kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah!
    Amma ba’du, sesungguhnya Allah SWT, dengan keagungan dan kekuasaan-Nya, mencipta makhluk¬Nya tanpa main¬main. Tiada celah kelemahan dalam kekuatan¬Nya. Tidak berhajat Ia terhadap hamba¬Nya. Ia mencipta mereka untuk mengabdi kepada¬Nya
    Ia menjadikan mereka orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan orang
    yang beruntung.

    Kemudian, dari antara mereka, Ia Yang Mahatahu memilih dan mengkhususkan Muhammad saw dengan pengetahuan ¬Nya. Ia jualah yang memilih Muhammad saw berdasarkan ilmu¬Nya sendiri untuk menyampaikan risalah¬Nya dan mengemban wahyu¬Nya. Ia mengutusnya sebagai Rasul dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan
    Dan orang pertama yang menjawab dan mewakilinya, menaatinya, mengimaninya, membenarkannya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai agamanya ¬adalah saudaranya dan misannya Ali bin Abi Thalib¬ yang membenarkan yang ghaib. Ali mengutamakannya dari semua kesayangannya, menjaganya pada setiap ketakutan, membantunya dengan dirinya sendiri pada saat¬saat mengerikan, memerangi perangnya, berdamai demi perdamaiannya, melindungi Rasul dengan jiwa raganya siang maupun malam, menemaninya pada saat¬saat yang menggetarkan, kelaparan serta dihinakan. Jelas tiada yang setara dengannya dalam berjihad, tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang mendekatinya dalam amal perbuatannya
    Dan saya heran melihat engkau hendak menandinginya! Engkau adalah engkau! Sejak awal Ali unggul dalam setiap kebajikan, paling tulus dalam niat, keturunannya paling bagus, isterinya adalah wanita utama, dan pamannya (Ja’far) syahid di Perang Mu ’tah. Dan seorang pamannya lagi (Hamzah) adalah penghulu para syuhada perang Uhud, ayahnya adalah penyokong Rasul Allah saw dan isterinya
    Dan engkau adalah orang terlaknat, anak orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan ayahmu menghalangi jalan Rasul Allah saw. Kamu berdua berjihad untuk memadamkan nur Ilahi, dan kamu berdua melakukannya dengan menghasut dan menghimpun manusia, menggunakan kekayaan dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam keadaan demikian ayahmu mati. Dan
    engkau melanjutkan perbuatannya seperti itu pula.

    Dan saksi¬-saksi perbuatan Anda adalah orang-¬orang yang meminta-¬minta perlindungan Anda, yaitu dari kelompok musuh Rasul yang pemberontak, kelompok pemimpin¬-pemimpin yang munafik dan pemecah belah dalam melawan Rasul Allah saw
    Sebaliknya sebagai saksi bagi Ali dengan keutamaannya yang terang dan keterdahuluannya (dalam Islam) adalah penolong¬-penolongnya yang keutamaan mereka telah disebut dalam Al¬ Qur’an, yaitu kaum Muhajirin dan Anshar. Dan mereka itu merupakan pasukan yang berada di sekitarnya dengan pedang-¬pedang mereka dan siap menumpahkan darah mereka untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya yang patut ditaati, dan malapetaka bila mengingkarinya
    Maka mengapa, hai ahli neraka, engkau menyamakan dirimu dengan Ali, sedang dia adalah pewaris (warits) dan pelaksana wasiat (Washi) Rasul Allah saw, ayah anak¬-anak (Rasul), pengikut pertama dan yang terakhir menyaksikan Rasul, teman berbincang, penyimpan rahasia dan serikat Rasul dalam urusannya. Dan Rasul memberitahukan pekerjaan beliau kepadanya,
    sedang engkau adalah musuh dan anak dari musuh beliau (Rosul), Abu Sofyan peny..

    Tiada peduli keuntungan apa pun yang kau peroleh dari kefasikanmu di dunia ini dan bahkan Ibnu ’Ash menghanyutkan engkau dalam kesesatanmu, akan tampak bahwa waktumu berakhir sudah dan kelicikanmu tidak akan ampuh lagi. Maka akan jadi jelas bagimu siapa yang akan memiliki masa depan yang mulia. Engkau tidak mempunyai harapan akan pertolongan Allah,
    yang tidak engkau pikirkan.

    Kepada¬Nya engkau berbuat licik. Allah menunggu untuk menghadangmu, tetapi kesombonganmu membuat engkau jauh dari Dia.
    Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar
    Jawaban Mu’awiyah kepada Muhammad bin Abu Bakar:
    Dari Mu ’awiyah bin Abu Sufyan.
    Kepada Pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar .
    Salam kepada yang taat kepada Allah.

    Telah sampai kepadaku suratmu, yang menyebut Allah Yang Mahakuasa dan Nabi pilihan¬Nya dengan kata¬kata yang engkau rangkaikan. Pandanganmu lemah. Engkau mencerca ayahmu. Engkau menyebut hak Ibnu Abi Thalib dan keterdahuluan serta kekerabatannya dengan Nabi Allah saw dan bantuan serta pertolongannya kepada Nabi pada tiap keadaan genting.
    Engkau juga berhujah dengan keutamaan orang lain dan bukan dengan keutamaanmu. Aneh,
    engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada orang lain.

    Di zaman Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak memungkiri hak Ibnu Abi Thalib.
    Keutamaannya jauh di atas kami.

    Dan Allah SWT memilih dan mengutamakan Nabi sesuai janji¬Nya. Dan melalui Nabi Ia menyampaikan dakwah¬Nya dan memperoleh hujah¬Nya. Kemudian Allah mengambil Nabi ke sisi¬Nya
    Ayahmu dan Faruq¬nya (Umar) adalah orang¬-orang pertama yang merampas haknya (ibtazza). Hal ini diketahui umum.
    Kemudian mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar tetapi Ali menunda dan memperlambatnya. Mereka marah sekali dan bertindak kasar. Hasrat mereka bertambah besar. Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai dengan mereka berdua.
    Mereka berdua (Abubakar & Umar) tidak mengajak Ali dalam pemerintahan mereka. Tidak juga mereka menyampaikan kepadanya rahasia mereka, sampai mereka berdua meninggal dan berakhirlah kekuasaan mereka.
    Kemudian bangkitlah orang ketiga, yaitu Utsman yang menuruti tuntunan mereka. Kau dan temanmu berbicara tentang kerusakan ¬kerusakan yang dilakukan Utsman agar orang¬-orang yang berdosa di propinsi ¬propinsi mengembangkan maksud¬ maksud buruk terhadapnya dan engkau bangkit melawannya. Engkau menunjukkan permusuhanmu kepadanya untuk mencapai keinginan-¬keinginanmu sendiri.
    Hai putra Abu Bakar, berhati¬hatilah atas apa yang engkau lakukan. Jangan menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat engkau urusi. Engkau tidak akan dapat menemukan seseorang yang mempunyai kesabaran yang lebih besar dari gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tak ada yang dapat menyamainya
    Ayahmu bekerja sama dengan dia (Umarlah yang dimaksud, peny.) dan mengukuhkan kekuasaannya. Bila kamu katakan bahwa tindakanmu benar, (maka ketahuilah) ayahmulah yang mengambil alih kekuasaan ini dan kami menjadi sekutunya. Apabila ayahmu tidak melakukan hal ini, maka kami tidak akan sampai menentang anak Abu Thalib dan kami akan sudah menyerah kepadanya
    Tetapi kami melihat bahwa ayahmu memperlakukan dia seperti ini di hadapan kami, dan kami pun mengikutinya; maka cacat apa pun yang akan kau dapatkan, arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri, atau berhentilah dari turut campur. (Nah!, ketahuanlah akhirnya, siapa malingnya?. Serapih-rapihnya, manusia menyimpan bangkai, toch akhirnya ketahuan juga – ketangkap tangan basah – MALINGNYA – Coup ‘de tat)
    Salam bagi dia yang kembali.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s