Apakah Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah ??

Apakah Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah ??

itu cuma fitnahan Salafi yang mengutip hadis hadis dha’if syiah, tidak semua hadis syiah adalah shahih dan tidak semua ucapan ulama syiah zaman dulu adalah benar !!

Syi’ah ikut ijtihad TERBARU karena dalam syi’ah pintu ijtihad selalu terbuka

Ngomong sama orang-orang Wahabi kok benar2 tak ada nyambung ya? Mungkin dasar keilmuan yg berbeda, kalau Wahabi itu ilmunya dari syetan makanya hawanya panas karena memancarkan api. Lihat dan buktikan sendiri muka-muka/wajah orang Wahabi tak ada yg menyejukkan kalau dipandang, maklum hawanya panas memancarkan api di raut wajahnya

.
wahabi slogannya kembali ke Al Qur’an dan Sunnah tapi dalil dan sunnah diputarbalikkan supaya sesuai dengan paham menyimpang wahabi serta untuk menghantam dan mengkafirkan fihak2 yang tidak sefaham dengan mereka, syaik2nya lebih diikuti dan dimuliyakan ketimbang Nabi Muhammad SAW. apa itu yang dinamakan Salafy yang mengikuti salafus shalih dan me-ngaku2 ASWAJA

.

Memang para pengikut Wahabi itu seperti kerbau dicucuk hidungnya, terlalu taqlid buta kepada Syaikh Albani dan kroco-kroconya. Seharusnya yg diikuti itu adalah AlQur’an dan AlSunnah, tetapi kalau Wahabi yg diikuti Syaikh-syaikhnya yg rata-rata jahil masalah agama. Makanya para pngikutnya juga rata-rata jahil, ngomong asal ngomong sehingga saya p[un ikut-ikutan gaya jahil Wahabi. Yah, buat ngimbangi kejahilan mereka , kwk kwk kwk kwk …

wahabi adalah mazhab resmi diarab saudi, orang2 wahabi di indonesia pun sangat taqlid buta terhadap arab saudi, orang goblok pun tau bahwa arab saudi adalah sahabat terdekat dari amerika yang dikendalikan yahudi, sudah jelaslah disini bahwa dibelakang wahabi/salafi bercokol yahudi

.

Semula, masyarakat dunia mengenal istilah Salafi (Salafism) sebagai nama untuk satu gerakan reformasi pemikiran keislaman yang digerakkan oleh Jamaluddin Al-Afghani dan kemudian dikembangkan sekaligus diteruskan oleh Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M. Masing-masing mereka menyerukan gagasan untuk kembali kepada Islam sebenarnya yang lepas dari segala macam tradisi, penafsiran dan ketertutupan dalam ber-ijtihad

.

Meski mengampanyekan kembali-ke-Islam-yang-murni dan bebas dari segala bentuk bid’ah dan sikap taklid, mereka bertiga mengajak kaum muslimin waktu itu untuk menerima kemajuan-kemajuan yang datang dari Barat. Untuk mengangkat kembali Islam ke pusat peradaban dunia, menurut Al-Afghani dan Abduh, rasionalitas gaya Barat adalah sesuatu yang menjadi syarat dan mereka pun yakin bahwa rasionalitas seperti itu ada dalam Islam yang murni. Gerakan reformasi mereka ini dikenal luas sebagai gerakan Salafisme Abduh

.

Salafisme Abduh, Salafiyah, dan Wahhabisme

Berbeda dengan asosiasi yang hidup di tengah masyarakat kita beberapa puluh tahun lalu. Menyinggung kata salaf, akan segera terbentuk di benak mereka sebuah lukisan tentang pesantren tradisional yang betul-betul sederhana. Dalam lukisan itu, pesantren yang dimaksud hanya terdiri dari sebuah masjid sebagai pusat kegiatan, rumah seorang kiai-yang menjadi figur utama pesantren, dan bangunan-bangunan ala kadarnya sebagai asrama atau tempat inap santri-santri pesantren.

Dalam kata-kata Gus Dur dulu ketika menulis “Pesantren sebagai Subkultur,” pesantren salaf yang dimaksud adalah

“[S]ebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan sekitarnya. Dalam kompleks itu berdiri beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh; sebuah surau atau masjid; tempat pengajaran diberikan; dan asrama tempat tinggal para siswa pesantren.Tidak ada suatu pola tertentu yang diikuti dalam pembinaan fisik sebuah pesantren, sehingga dapatlah dikatakan penambahan bangunan demi bangunan dalam lingkungannya seringkali mengambil bentuk improvisasi sekenanya belaka. Faktor-faktor kesehatan dan kesegaran jasmani, kalaupun ada juga difikirkan, seringkali hanya pada pengertiannya yang esensiil belaka. Pada tahun-tahun belakangan ini memang sering dilakukan usaha untuk menciptakan lingkungan fisik yang lebih baik, tetapi acapkali usaha itu sukar dapat disesuaikan dengan situasi keletakan tempat yang memang semula digarap secara serampangan.”

Sejak istilah Salafisme Abduh dikenal luas pertama kali di negeri-negeri kaum muslimin, tidak terpikirkan sama sekali untuk menyamakan istilah itu dengan Wahhabisme. Meski sebagian masyarakat kita telah mengenal istilah Wahhabisme atau Wahhabi sejak awal abad ke-20 M, Wahhabi tetap diartikan sebagai paham dan gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703—1792 M) yang sangat keras menentang keyakinan atau praktek yang bersifat khurafat dan syirik, seperti ziarah ke tempat-tempat keramat, meminta perantaraan orang-orang yang dianggap wali untuk berhubungan dengan Allah, meminta syafaat kepada ulama, dan seterusnya.

Sejumlah penulis acapkali mengartikan Wahhabi sebagai gerakan penghidupan kembali mazhab Ibnu Taimiyah (1263 – 1328 M) tetapi mengamalkan apa yang telah dikemukakan Ibnu Taimiyah itu dalam bentuk yang lebih keras bila dibandingkan dengan apa yang telah diamalkan oleh Ibnu Taimiyah, bahkan tidak segan-segan menggunakan senjata terhadap orang-orang yang telah dianggap kafir karena menyimpang dari ajaran Islam. Karena itulah, bagi sebagian kalangan masyarakat, Wahhabi akhirnya menjadi istilah lain untuk kelompok Khawarij pada masa kini.

Pergeseran Makna Salafi

Menariknya, istilah Salafi mengalami pergeseran makna di tengah masyarakat luas—terutama di tengah masyarakat kita—sejak dua puluh lima tahun belakangan ini. Sebagian peneliti sosial, bahkan, berani menegaskan bahwa pergeseran makna itu telah dimulai sejak 1960-an, ketika muncul Jamaah Salafiyyah Al-Muhtasibah, sebuah jamaah yang didirikan oleh murid-murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz di Madinah, Arab Saudi.

Pendirian tersebut, menurut beberapa peneliti sosial, didorong oleh keprihatinan murid-murid Syaikh Abdul Aziz yang dimaksud terhadap praktek keislaman yang berkembang waktu itu di Arab Saudi. Selain banyak tercampur dengan kesyirikan dan kebidahan, Islam yang mereka lihat telah banyak terpengaruh oleh berbagai pemikiran yang datang dari Barat.

Karena itu, mendakwahkan ulang pemahaman dan praktek keislaman yang murni menjadi titik tekan jamaah tersebut. Dalam NII sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia, Solahudin, salah seorang researcher di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, menulis,

“Selain berdakwah dan mencegah kemungkaran (hisbah), gerakan baru ini melakukan semacam revisi terhadap praktek-praktek ibadah versi Wahhabi, dengan menyeleksi ulang secara ketat hadis-hadis Nabi yang dijadikan rujukan dalam tata peribadatan. Selain Bin Baz, kelompok baru ini sangat terpengaruh oleh pemikiran Syaikh Nasruddin Al Albani (1914 – 1999), ahli hadis dari Syiria. Albani menganggap bahwa ajaran Wahhabi kurang selektif dalam memilih hadis-hadis yang dijadikan dalil untuk ibadah. Dia melihat masih banyak hadis-hadis tidak sahih dijadikan dalil, di antaranya dalam soal shalat. Ia menulis buku Sifat Salat Al Nabi (Sifat-sifat Shalat Nabi) yang berisi tata cara shalat versi hadis-hadis sahih.”

Dari situlah kemudian Noorhaidi Hasan, dalam Laskar Jihad: Islam, Militansi, dan Pencarian Identitas di Indonesia Pasca-Orde Baru (LP3ES, Jakarta, 2008), tegas-tegas menyimpulkan bahwa istilah Salafi yang berkembang belakangan ini tidak lebih dari bentuk Wahhabisme yang dikemas ulang.

Tiga Kelompok Pengaku Salafi

Dalam kenyataan, mereka yang mengaku Salafi sekarang ini, sebagaimana yang dimaksud Noorhaidi itu, dapat kita golongkan menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok memiliki kecenderungan utama yang sangat mencolok dan dapat kita amati bersama.

Pertama, kelompok yang sering disebut sebagai Salafi Jihadi, mereka terkenal karena komitmen mereka untuk menentang pemerintah-pemerintah kaum muslimin yang telah mereka anggap menyimpang dari syariat Islam.

Kedua, kelompok yang sering disebut sebagai Salafi Haraki, mereka terkenal karena sikap toleransi mereka terhadap (a) partai-partai politik dan (b) kelompok-kelompok pergerakan Islam serta organisasi-organisasi filantropis semisal Ihya’ At-Turats dan Ash-Shafwah atau juga Al-Haramain.

Ketiga, kelompok yang sering disebut sebagai Salafi Yamani, mereka terkenal karena sikap keras kepala mereka untuk (a) tidak memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin seburuk apa pun perlakuan pemerintah itu terhadap mereka dan (b) tidak bergaul dengan partai-partai politik atau kelompok-kelompok pergerakan Islam atau bahkan organisasi-organisasi filantropis semisal Ihya’ At-Turats, Ash-Shafwah, Al-Haramain dan yang sejenis

.

Kelompok Salafi Wahabi ini dalam memahami Al Qur’an sepotong-sepotong tanpa memakai akal dan juga pendapat para Salaf seperti Imam Madzhab (Bukan Ibnu Taimiyyah yg lahir di tahun 728 H).

“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. ” [Luqman 19]

“Ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” [Maryam 3]

Tidak pantas juga bagi seorang Muslim untuk mudah menganggap sesat atau mengkafirkan sesama Muslim yang masih sholat dan mengucapkan 2 kalimat syahadah. Jika begitu, maka mereka itu lemah imannya atau mungkin justru tidak punya iman:

Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah, ” Nabi menyalahkannya dengan sabdanya, “Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah.” Usamah lalu berkata, “Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?” [HR Bukhari dan Muslim]

Kaum Salafi Wahabi ini begitu bengis terhadap sesama Muslim. Namun terhadap kaum kafir seperti Yahudi dan Nasrani (AS dan Israel) mereka amat bersahabat. Orang yang benar-benar beriman dan ingin memurnikan ajaran Islam tidak akan begitu.

Kaum Syi’ah mereka kafirkan.

Di Timur Tengah, mereka saling bunuh dan bom masjid dengan kaum Syi’ah. Di Indonesia, kelompok Aswaja/NU sudah kenyang dibid’ah-bid’ahkan oleh mereka terkait hal di atas.

Demo Hizbut Tahrir mereka anggap Bid’ah. Bahkan terhadap sesama Salafi pun mereka pecah dan saling caci sehingga kata-kata yang tidak pantas seperti “KECOAK” dilontarkan kepada sesama mereka:

Abdul Mu’thi:
Khususnya yang berkenaan tentang Abu Nida’, Aunur Rafiq, Ahmad Faiz serta kecoak-kecoak yang ada di bawah mereka. Mereka ternyata tidak berubah seperti sedia kala, dalam mempertahankan hizbiyyah yang ada pada mereka (www.salafy.or.id, manhaj: “Bahaya jaringan JI dari Kuwait dan At Turots”, Abdul Mu’thi, Abu Ubaidah Syafrudin dan Abdurahman Wonosari).

http://myquran.org/forum/index.php?action=profile;area=showposts;u=27174

http://salafytobat.wordpress.com/2008/09/11/salafy-haraky-vs-salafy-yamani-vs-salafy-sururi/

Kata-kata Ular dilontarkan terhadap sesama Muslim:

Nah liciknya, ketika salafi dan jihadi sedang bertempur membela manhajnya masing-masing, kelompok bid’ah hasanah menyelusup ke dalam barisan jihadi seperti ular berbisa lalu menebar racunnya secara membabi buta, entah kepada jihadi atau kepada salafi.

http://muhibbulislam.wordpress.com/2011/04/30/salafi-antara-jihad-dan-bencana-bid%E2%80%99ah-hasanah/

Bagaimana mungkin seorang ulama kata-katanya penuh dengan “Kebun Binatang”? Kata-kata seperti “Kecoak”, “Ular Berbisa” dilabelkan kepada manusia. Jangankan ulama/dai, bagi orang awam pun itu tidak pantas. Allah benci dengan orang yang seperti itu:

Sesungguhnya Allah membenci orang yang keji, yang berkata kotor dan membenci orang yang meminta-minta dengan memaksa. (AR. Ath-Thahawi)

Orang yang paling dibenci Allah ialah yang bermusuh-musuhan dengan keji dan kejam. (HR. Bukhari)

Nabi Muhammad itu diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia:

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Al Bazzaar)

Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Ar-Ridha)

Dalam Surat Al Hujuraat 11-12 Allah melarang orang-orang yang beriman mengolok-olok dan memaki satu kaum dan menggunjing (ghibah) orang lain. Orang yang melakukan itu di akhirat kelak akan memakan bangkai yang busuk.

Bagaimana mungkin kita mengaku “MENGHIDUPKAN SUNNAH” jika kita ‘MEMATIKAN AL QUR’AN”? Melanggar ayat-ayat Al Qur’an di atas seperti memaki manusia sebagai Kecoak dan Ular?

Nabi Muhammad dan orang Islam yang benar itu kasih sayang dengan sesama dan keras terhadap orang-orang kafir.

Bukan seperti Salafi Wahabi di atas:

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” [Al Fath 29]

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah 54]

Orang-orang yang beriman tidak akan mengambil kaum Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al Maa-idah 51]

Hanya orang munafik yang dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang saat ini tengah memusuhi Islam dan membantai ummat Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [Al Maa-idah 52]

Tidak jarang kaum Salafi Wahabi memperdebatkan hadits-hadits meski “lawannya” juga punya argumen dari Hadits Bukhari seperti Abu Bakar yang Isbal tapi tidak dihukum haram oleh Nabi. Akibatnya timbul fitnah dan perpecahan. Padahal jangankan hadits, Al Qur’an saja jika isinya tidak jelas (Mutasyabihat) Allah melarang kita untuk memperdebatkannya karena khawatir timbul perpecahan:

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. : [Ali 'Imran 7]

Dakwah Nabi adalah menyeru manusia kepada kalimat Tauhid. Masuk ke dalam Islam. Untuk itu Nabi mengirim berbagai surat ajakan masuk Islam ke Kaisar Romawi Heraklius, Kisra Persia, Raja Mesir Muqowqis, dsb. Nah kalau Wahabi bukan menyeru orang-orang kafir ke dalam Islam atau pun mengajarkan pokok2 ajaran Islam tapi justru meributkan hal-hal furu’iyah/khilafiyyah dsb yang akhirnya mengeluarkan vonis bahwa kelompok Muslim ini bid’ah, kelompok Muslim itu sesat. Merusak Persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah:

“Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar Ruum:32]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” [Al An’aam:159]

Jadi bukannya memurnikan ajaran Islam, justru melanggar banyak ayat-ayat Al Qur’an dan menimbulkan perpecahan ummat Islam

.

Ternyata, Muhammad bin Abdul Wahab lahir di Najd (Nejed), tempat yang dikatakan Nabi sebagai tempat kegoncangan, fitnah-fitnah, dan tanduk setan:

Ibnu Umar berkata, “Nabi berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, Terhadap Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah Syam dan Yaman kami.’ Mereka berkata, ‘Dan Najd kami.’ Beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Syam. Ya Allah, berkahilah kami pada negeri Yaman.’ Maka, saya mengira beliau bersabda pada kali yang ketiga, ‘Di sana terdapat kegoncangan-kegoncangan (gempa bumi), fitnah-fitnah, dan di sana pula munculnya tanduk setan.’” [HR Bukhari]

Inilah peta Najd:

Walau pun kaum Salafi berdalih bahwa Najd yang dimaksud bukan Najd di dekat Riyadh yang terkenal itu, tapi di Iraq, namun pendapat itu keliru. Pertama saat Hadits itu muncul ada orang Najd asli (bukan dari Iraq). Jika bukan Najd itu yang dimaksud, tentu Nabi akan menjelaskan bahwa Najd di Iraq lah agar mereka tidak tersinggung dan tidak timbul FITNAH.

Kedua, di hadits lain disebut bahwa Najd yang dimaksud di sebelah timur Madinah. Jelas itu Najd di dekat Riyadh karena posisinya pas di timur. Sedang Iraq posisi di peta agak disebelah utara:

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda sambil menghadap ke arah timur: Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana! Ketahuilah, sesungguhnya fitnah akan terjadi di sana. Yaitu tempat muncul tanduk setan. (Shahih Muslim No.5167)

.

Saat Mu’awiyah berontak kepada Khalifah Ali, Islam terbagi 3: Sunni (Pendukung Mu’awiyah), Syi’ah Ali (Pendukung Ali), dan Khawarij. Pada dasarnya Khawarij itu aqidah dan amalnya adalah Islam. Namun karena mereka mengkafirkan orang Islam di luar kelompoknya bahkan membunuh Sayidina Ali, maka jumhur ulama menganggap Khawarij keluar dari Islam. Bukan Islam.

Jadi meski mengaku “Menghidupkan Sunnah”, namun jika mengkafirkan orang yang membaca Syahadah dan Sholat (meyakini 6 rukun Iman dan melaksanakan 5 rukun Islam) apalagi sampai membunuhnya, mereka adalah Khawarij. Bukan Islam.

Dari Abu Huroiroh ra bahwasanya Nabi SAW bersabda:

إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء به أحدهما

“Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya: Wahai orang kafir, maka perkataan itu akan menimpa salah satu dari keduanya.” [HR Bukhari]

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengangkat senjata melawan kita, bukanlah termasuk golongan kita.” Muttafaq Alaihi.  

Pada ayat-ayat Al Qur’an di atas juga dijelaskan jika orang Islam itu lemah-lembut terhadap sesama dan keras terhadap orang-orang kafir. Jadi jika terhadap sesama Muslim begitu keras seperti mengkafirkan bahkan membunuh, dia bukan Islam.

Waspadailah kaum Khawarij meski mengaku Muslim dan begitu fasih membaca Al Qur’an, namun mereka justru mengkafirkan dan memerangi ummat Islam sedang penyembah berhala dan oramg-oramg kafir seperti Yahudi dan Nasrani justru aman dari tangan mereka:

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:
Ali ra. yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah saw., kemudian Rasulullah saw. membagikannya kepada beberapa orang, Aqra` bin Habis Al-Hanzhali, Uyainah bin Badr Al-Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al-Amiri, seorang dari Bani Kilab, Zaidul Khair At-Thaiy, seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata: Apakah baginda memberi para pemimpin Najed, dan tidak memberikan kepada kami? Rasulullah saw. bersabda: Aku melakukan itu adalah untuk mengikat hati mereka. Kemudian datang seorang lelaki yang berjenggot lebat, kedua tulang pipinya menonjol, kedua matanya cekung, jidatnya jenong dan kepalanya botak. Ia berkata: Takutlah kepada Allah, ya Muhammad! Rasulullah saw. bersabda: Siapa lagi yang taat kepada Allah jika aku mendurhakai-Nya? Apakah Dia mempercayai aku atas penduduk bumi, sedangkan kamu tidak mempercayai aku? Lalu laki-laki itu pergi. Seseorang di antara para sahabat minta izin untuk membunuh laki-laki itu (diriwayatkan bahwa orang yang ingin membunuh itu adalah Khalid bin Walid), tetapi Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara bangsaku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

.

Anjuran untuk membunuh orang-orang Khawarij

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.1771)

Golongan Khawarij adalah seburuk-buruk manusia

Hadis riwayat Sahal bin Hunaif ra.:
Dari Yusair bin Amru, ia berkata: Saya berkata kepada Sahal: Apakah engkau pernah mendengar Nabi saw. menyebut-nyebut Khawarij? Sahal menjawab: Aku mendengarnya, ia menunjuk dengan tangannya ke arah Timur, mereka adalah kaum yang membaca Alquran dengan lisan mereka, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1776)

.

Ibnu Taimiyah Dalam Karyanya Mengatakan Bahwa Dari Arah Timur Akan Muncul FITNAH BESAR Dan PANGKAL KEKUFURAN

يقول المجسم ابن تيمية في كتابه المسمى (بيان تلبيس الجهمية) ج1 /ص 17 : و قد (تواتر) عن النبي صلى الله عليه و سلم إخباره بأن الفتنة و رأس الكفر من المشرق , الذي هو (مشرق مدينته كنجد) . انتهى. ابن تيمية مرجع الوهابية يسمي بلد محمد بن عبد الوهاب مطلعا للفتنة و رأسا للكفر قبل أن يأتي أذنابه بمئات من السنين

Terjemah “Bebas” :

al Mujassim Ibnu Taimiyah dalam kitab karyanya berjudul Bayan Talbis al Jahmiyyah, j. 1, h. 17 menuliskan sebagai berikut:

“Dan telah datang berita secara mutawatir dari Rasulullah yang memberitahukan bahwa  FITNAH BESAR dan PANGKAL KEKUFURAN akan muncul dari arah timur”.

Arah timur yang dimaksud oleh Rasulullah adalah arah timur dari tempat tinggal Rasulullah sendiri, yaitu arah timur kota Madinah. Dan yang dimaksud adalah Nejd. Lihat peta di atas ——————–>> Nejd adalah wilayah timur dari Kota Madinah.

Ibnu Taimiyah adalah “imam besar” dan “referensi yang tidak dapat diganggu gugat” bagi kaum Wahabi. Ibnu Taimiyah  menamakan Nejd; –wilayah tempat munculnya ajaran sesat wahabi yang dirintis oleh Muhammad bin Abdil Wahhab– sebagai tempat kedatangan FITNAH BESAR dan tempat PANGKAL KEKUFURAN. Ibnu Taimiyah telah menuliskan hal itu dalam karyanya di atas ratusan tahun sebelum kedatangan gerakan sesat Wahabi itu sendiri. Ironisnya, aqidah tasybih dan tajsim Ibnu Taimiyah kini menjadi “primadona tanpa tanding yang dipeluk erat” oleh kaum Wahabi.

catatan:

Ahmad ibn Taimiyah meninggal tahun 728 H.

Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal tahun 1206 H

.

Mereka Menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar kaum Muslim terputus dari sejarah Islam

Penghancuran di pemakaman Baqi’
Dengan alasan pemurnian tauhid dari bentuk kesyirikan, pemakaman Baqi’ menjadi korban penghancuran oleh kaum wahhabi salafi. Dengan alasan dangkal dan tidak masuk akal tersebut, mereka dengan bangga membongkar dan merusak peninggalan-peninggalan Nabi Muhammad Saw, rumahnya, kamarnya bahkan berencana ingin memindahkan makam dan menghancurkan kubahnya (Inna lillahi, kebodohan yang memuncak). Pemakaman para sahabat Nabi Saw di Baqi’ pun juga ikut diratakan dan dihancurkan kubah-kubahnya oleh mereka
.
Rabu 8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum (kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud. Di tahun yang sama pula Raja Ibnu Saud yang Wahabi itu menghancurkan makam orang-orang yang disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di Jannat al-Ma’la (Mekah). Meskipun ada bantahan keras dari ulama-ulama di seluruh dunia waktu itu, mereka tetap tidak mengindahkannya
.
Penghancuran situs bersejarah dan mulia itu oleh Keluarga al-Saud yang Wahabi itu terus berlanjut hingga sekarang. Menurut beberapa ulama apa yang terjadi di tanah Arabia itu adalah bentuk nyata konspirasi Yahudi melawan Islam, di bawah kedok Tauhid. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah secara sistematis ingin menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar Kaum Muslim terputus dari sejarah Islam.
.
Generasi yang akan datang tidak akan mendapatkan bukti sejarah. Anak cucu kita, generasi mendatang tidak akan pernah dapat menyaksikan prasasti-prasasti, bukti-bukti, dan saksi-saksi bisu perjuangan para sahabat ra. Bahkan generasi sekarang (termasuk penulis) sudah tidak dapat menyaksikannya, kecuali dari buku-buku. Sedangkan buku-buku sejarah mudah sekali dimanipulasi. Jika buku-buku pun sudah ada yang dimanipulasi.. maka musnahlah sudah bukti sejarah semuanya.
.
Wahaby sudah melakukannya untuk kitab-kitab klasik.
Alasan dan argumentasi mereka meratakan dan menghancurkan pemakaman di Baqi’ adalah bahwa sebagian orang menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai lokasi perayaan dan mempersekutukan Allah dengan menyembahnya, mengelilinginya, mengikat tali, menaburkan dedaunan atau menyembelih binatang sebagai persembahan kepadanya
.
Maka kita jawab ; bahwa semua tindakan tersebut tidak kami restui dan tidak kami setujui. Justru kami melarang aktivitas tersebut dan memperingatkan orang agar menjauhi hal tersebut. Praktek-praktek tersebut adalah termasuk kebodohan yang wajib diperangi. Sebab mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, mengakui keesaan-Nya, dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Hanya saja mereka melakukan perbuatan yang salah dan tidak mengetahuai cara yang benar. Maka adalah sebuah kewajiban mengajarkan dan membimbing mereka. Hanya saja semua praktek-praktek keliru tersebut tidak membuat tempat-tempat itu ditelantarkan, dilenyapkan dan dihapus eksistensinya.
Berargumentasi dengan praktek-praktek menyimpang di atas adalah argumentasi tabu dan alasan yang lemah yang tidak bisa diterima di mata kalangan ulama dan cendikiawan. Karena hal itu bisa dihilangkan dengan larangan, pengawasan, amar ma`ruf nahi munkar, dan dakwah karena Allah dengan cara yang bijak, tutur kata yang baik dan perilaku terpuji dengan tetap mempertahankan jejak-jejak peninggalan kita, melestarikannya, dan memberikan perhatian kepadanya semata-mata untuk menjaga orisinalitas ummat, menunaikan hak sejarah dan melaksanakan amanah yang dibebankan kepada kita dan yang tidak lain adalah bagian orisinil dari sejarah kita yang agung dan sejaran Nabi Muhammad Saw
.
PERHATIAN AL-QURAN TERHADAP PENINGGALAN-PENINGGALAN PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHOLIH

Dalam Al-Quran Allah menyebutkan kisah tabut bani Israil yang Dia jadikan pertanda
akan keabsahan Thalut sebagai raja mereka :
وَقَالَ لَهُمْ نِبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ
الْمَلآئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun ; tabut itu dibawa oleh malaikat….”
Tabut ini memiliki kedudukan yang tinggi dan status yang mulia. Ia berada di tangan mereka dan ditempatkan di depan saat mereka mengadakan peperangan. Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya mereka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh manapun
.
Baqiyyah ini adalah harta peninggalan Nabi Harun yaitu tongkat Nabi Musa, tongkat dan pakaian Nabi Harun, sepasang sandal dan dua papan Taurat. Demikian informasi yang bersumber dari tafsir Ibnu Katsir jilid I hlm. 313. Dalam tabut itu juga terdapat mangkok emas yang fungsinya untuk membasuh dada para nabi sebagaimana dikutip dari Al-Bidayah wan-Nihayah jilid 2 hlm. 8
.
Berkat peninggalan-peninggalan agung yang dinisbatkan kepada para hamba Allah terpilih ini, Allah meninggikan status tabut, meluhurkan derajatnya, menjaga dan merawatnya secara khusus saat bani Israil kalah akibat kemaksiatan dan pelanggaran yang mereka lakukan. Kekalahan ini karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut.
Maka Allah menghukum mereka dengan mencabut tabut dari tangan mereka lalu Dia menjaga dan mengembalikan kembali kepada mereka agar menjadi bukti keabsahan Thalut sebagai raja mereka. Allah telah mengembalikan tabut kepada mereka dengan penuh kemuliaan dan penghargaan saat ia datan dibawa para malaikat. Adakah perhatian yang lebih besar melebihi perhatian terhadap peninggalan tersebut, pelestarian terhadapnya dan mengingatkan akal terhadap urgensi perkara tersebut, keagungan dan nilai kesejarahan, keagamaan dan peradabannya
.
Allah Swt berfirman :
وَكَذَلِكَ أعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أنَّ وَعْدَ اللّهِ حَقٌّ وَأنَّ السّاعَةَ لاَ رَيبَ فيها إذْ يَتنازَعُونَ بَيْنَهُم أمْرَهُم فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَبُّهُم أعْلَمُ بِهِم قَالَ الّذينَ غَلَبُوا عَلَى أمْرِهِم لَنَتَّخِذَنّ عَلَيْهِم مَسْجداً
“ Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata “ Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka “. Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata “ Kami pasti akan mendirikan masjid di atas kuburan mereka “. (Al-Kahfi : 21)
Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai makam ashabul kahfi. Kaum pertama berpendapat agar menjadikan sebuah rumah di atas kuburan mereka. Sedangkan kaum kedua berpendapat agar menjadikan masjid di atas kuburan mereka.
Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt
.
Lihat bagaimana Allah Swt mengabadikan tindakan para pecinta Ashabul Kahfi dan menjaga sejarah tersebut dengan membangunkan masjid di goa Kahfi tersebut ??
.

Allah tidak menegor atau mencelanya dan menjelaskan larangan tindakan tersebut padahal al-Quran adalah sebagai petunjuk dan penjelas kebenaran dari kebatilan, itu artinya Allah merekomendasikan tindakan mereka yang pertama membangun masjid di atas goa ashabul akhfi dan kedua tindakan mereka di dalam melestaraikan dan menjaga sejarah penting dan mulia tersebut agar menjadi pelajaran bagi umat muslim dan bukti akan kekuasaan Allah Swt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s