Tokoh NU yaitu Habib Husen Al-Habsyi mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur karena memang NU-Syi’ah dekat

Pada awalnya cara dakwah syiah dilakukan secara individu-individu, kemudian, sejak kemerdekaan beberapa tokoh dari mereka membentuk pesantren, salah satunya adalah Husen Al-Habsyi, mendirikan Pesantren YAPI di Bangil, Jawa Timur.

Strategi dakwah Syi’ah politik pada awalnya menggunakan pendekatan kampus. Beberapa kampus yang menjadi basisnya adalah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

syiah mengembangkan dakwahnya langsung ke tengah masyarakat melalui pendirian sejumlah yayasan dan membentuk ormas bernama IJABI (Iakatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Yayasan-yayasan itu sebagian mengkhususkan pada kegiatan penerbitan buku, sebagian lainnya membangun kelompok-kelompok intelektual dengan program beasiswa ke luar negeri (ke Qum, Iran) dan sebagian lagi mengembangkan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Sejauh yang dapat diketahui, generasi program beasiswa ke Qum, Iran, yang pertama adalah Umar Shahab dan Husein Shahab. Keduanya berasal dari YAPI, Bangil, dan pulang ke Indonesia tahun 1970-an. Kedua tokoh inilah yang mengembangkan Syi’ah dikalangan kampus pada awal 1980-an.

seiring berhasilnya revolusi Islam di Iran, sejak 1981 gelombang pengiriman mahasiswa ke Qum mulai semakin intensif. Generasi alumni Qum kedua inilah yang sekarang banyak memimpin yayasan-yayasan Syi’ah dan menjadi pelopor gerakan Syi’ah di Indonesia.

Kini, gerakan Syiah di Indonesia diorganisir olehl Islamic Cultural Center (ICC), dipimpin Syaikh Mohsen Hakimollah, yang datang langsung dari Iran. Secara formal organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. ICC Jakarta dibawah kendali dan pengawasan langsung Supreme Cultural Revolution Council (SCRC) Iran.

Di bidang pendidikan ICC mengorganisir lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan penerbitan yang jumlahnya sangat banyak dan bertebaran diberbagai daerah. Sedangkan dibidang dakwah, ICC bergerak di dua sektor, pertama, gerakan kemasyarakatan, yang dijalankan oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), kedua, gerakan politik, yang dijalankan oleh yayasan OASE. Yayasan ini mengkhusukan bergerak dibidang mobilisasi opini publik. Sedangkan untuk bidang gerakan politik dan parlemen dikomandani oleh sejumlah tokoh. Strategi politik parlementer yang mereka tempuh ini dilakukan dengan cara menyebarkan kader ke sejumlah partai politik.

Mengenai IJABI sebagai motor gerakan kemasyarakatan, hingga sekarang strukturnya telah meluas secara nasional hingga di Daerah Tingkat II. Tentu format yang demikian dapat menjadi kekuatan efektif untuk memobilisasi pengaruh dan kepentingan politik. Kader-kader IJABI selain telah banyak yang aktif di dunia kampus, kelompok-kelompok pengajian, lembaga-lembaga sosial dan media, di daerah-daerah juga telah banyak yang menjadi anggota parlemen. Di level daerah inilah IJABI memiliki peranan penting sebagai simpul gerakan dakwah dan politik di masing-masing daerah.

Marja Al Taqlid

Dewasa ini Syiah Indonesia sedang berupaya membuat lembaga yang disebut Marja al-Taqlid, sebuah institusi kepemimpinan agama yang sangat terpusat, diisi oleh ulama-ulama Syiah terkemuka dan memiliki otoritas penuh untuk pembentukan pemerintah dan konstitusi Islam. Di beberapa negara yang masuk dalam kaukus Persia lembaga itu telah berdiri kokoh dan memainkan peran yang efektif dengan kepemimpinan yang sangat kuat. Di Irak misalnya, lembaga Marja Al Taqlid dipimpin oleh Ayatollah Agung Ali al-Sistani.

Syaikh Idahram Penulis Buku Hujat Salafi Wahabi

Tentu kita penasaran, siapakah sesungguhnya Syaikh Idahram, penulis buku Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Salafi Wahabi (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, dan Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi) yang kata pengatarnya ditulis oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, MA.

Saat kami  menanyakan jatidiri Syaikh Idahram kepada KH. Said Agil Siraj yang ditemui usai Wokshop Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren yang digelar oleh Muslimat NU di Park Hotel, Jakarta, tidak mau menjawab secara jelas, siapa sesungguhnya Syaikh Idahram.  Kiai NU itu hanya menjawab ringkas, “Yang jelas, dia adalah bimbingan saya. Saya lah yang membimbing penulis buku itu,” kata Said Agil.

Di dalam biodata penulis buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, Syaikh Idahram adalah sosok pemerhati gerakan-gerakan Islam, lahir di Tanah Jawa, pada tahun 1970-an. Ketertarikannya terhadap fenomena Salafi Wahabi terpupuk sejak ia melanglang buana dan belajar ke Timur Tengah, bertalaqqi kepada para masyayikh di sana dan berdiskusi dengan para ustadz.

Dalam upaya pencariannya itu, Syaikh Idahram pernah menjadi anggota organisasi Muhammadiyah beberapa tahun, aktif dalam liqa’ PKS (Partai Keadilan Sejahtera) selama 4 tahun, pengurus kajian Hizbut Tahrir selama 2 tahun, pejabat teras ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), hingga akhirnya berlabuh dan basah kuyub dalam tasawuf dengan berba’iat kepada seorang syaikh.

Maraknya gerakan Islam garis keras di Indonesia, serta dorongan dari berbagai pihak, membuat Idahram memutuskan untuk menuliskan apa yang diamatinya selama ini tentang Salafi Wahabi. Ia sempat ragu ketika beberapa kawan mengingatkannya tentang terror yang kerap kali terjadi terhadap para pengkritik faham ini. Akan tetapi atas rekomendasi dari para masyayikh, penulis akhirnya memutuskan utnuk tetap menuliskan penelitiannya dengan menyiasati penggunaan nama pena, yaitu Syaikh Idahram.

Menurut pengakuannya, buku Trilogi data dan Fakta Penyimpangan sekte Salafi Wahabi ini lahir sebagai titik kulminasi dari rasa prihatin penulis terhadap persatuan dan ukhuwah umat Islam yang saat ini sangat meradang dan hanya tinggal wacana. Hingga akhirnya, pencarian dan penelitian yang dilakukannya selama 9 tahun, mulai 2001-2010, membuahkan hasil ketiga buku trilogi penyimpangan salafi wahabi tersebut. Sang Penulis, Syaikh Idahram secara terbuka membuka ruang dialog melaui e-mail: salafiasli@yahoo.com.

Tiada hubungan buku tsb dengan Syiah dan Sepilis

Yang menarik, Abu Muhammad Waskito, penulis buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi: Bantahan Kritis dan Fundamental Terhadap Buku Propaganda Karya Syaikh Idahram” (Penerbit : Pustaka Al-Kautsar), menduga Syaikh Idahram adalah sosok Abu Salafy yang sering nongol di dunia maya di Tanah Air. Jika di online memakai nama Abu Salafy, sedangkan di buku memakai nama Syaikh Idahram.

Abu Salafy ini punya sebuah blog propaganda yang mayoritas isinya menghujat dakwah Salafiyah, menghina ulama-ulama Ahlu Sunnah, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim; menghina ulama wahabi, seperti Syaikh Muhammad At-Tamimi, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Albani dan sebagainya.

Mengapa AM Waskito menganggap Abu Salafy adalah sosok Idahram? “Karena  keduanya memiliki banyak kesamaan, yakni sama-sama menghujat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Belakangan beredar informasi di internet bahwa sosok Syaikh Idahram bernama asli Marhadi Muhayyar, namun info ini belum mendapat kepastian, mengingat yang bersangkutan tak pernah secara gentle tampil ke public.

AM Waskito dalam bukunya “Bersikap Adil kepada Wahabi” (Pustaka Al Kautsar), juga mencurigai, sosok Syaikh Idahram, penulis buku Trilogi Penyimpangan Salafi Wahabi tersebut adalah seorang penganut akidah Syiah atau minimal pendukung Syiah. Meskipun dia tidak mengucapkan pengakuan atas akidahnya, tetapi hal itu bisa dibuktikan dari perkataan-perkataan dia sendiri dalam bukunya. Bukan hanya itu, Waskito mencium aroma, ketiga buku tulisan Syaikh Idahram ditunggangi oleh kepentingan kaum Syiah dan Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Bukti kesyiahan Syaikh Idahram, menurut pengamatan Waskito diantaraya: Si penulis menyebut Kota Najaf di Irak sebagai Najaf Al-Asyraf. Sebutan semacam ini hanya dikenal di kalangan Syiah, bukan Ahlu Sunnah.

Kemudian, Syaikh Idahram juga menyebutkan bahwa dalam Islam setidaknya ada tujuh madzhab, yaitu: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali; ditambah dua madzhab: Syiah, Ja’fari dan Imamiyah; ditambah 1 madzhab Zhahiri. Perkataan seperti ini tidak dikenal dikalangan Ahlu Sunnah. Yang jelas, tidak sedikit, Syaikh Idahram menggunakan referensi dari kaum Syiah.

Sejak awal, AM Waskito menduga posisi Said Agil Siraj bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. “Bisa jadi, dia terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda itu,” ungkapnya curiga.

Dan benar saja, KH. Said Agil Siraj kepada voa-Islam mengakui, bahwa buku yang ditulis Syaikh Idahram adalah atas bimbingannya. “Saya lah yang membimbing penulisnya,” kata Said Agil terus terang.

3 comments

  1. buku itu bagus mengungkap kesesatan wahabi, dan memang jika dikomparasikan dengan buku-buku barat dan lain sebagainya memang wahabi itu teroris yang mengaku Islam. dukung Syeikh Idarham

  2. hati-hati…. webnya orang Wahabi . orang wahabi banyak duitnya… hampir seluruh web mereka kuasai… maklum yg kuliah di saudi dikasih duit banyak jadi buta mata buta hati…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s