Salafi Wahabi Musuh Abadi Nahdlatul Ulama (NU)

zwani.com myspace graphic comments

Ustad Husain Ardilla, pakar Syiah ternama di Indonesia, mengingatkan agar umat Islam menjadikan wahabi sebagai musuh bersama. Hal ini karena agenda wahabinisasi di Indonesia sudah digerakkan secara sistematis.

Menurut ia, wahabi di Indonesia bergerak seperti rayap menggerogoti rumah. Tampilan rumah itu dari luar terlihat indah dan kokoh, namun secara diam-diam kayu-kayu, pondasi, dan tiang rumah (baca: umat Islam) sudah kropos digerogoti (baca: digembosi) oleh rayap wahabi

“Gerakan wahabi seperti ini bukan hasil (kerja) sehari dua hari. Ini hasil kerja lebih dari 25 tahun. Dan (gerakan wahabi) itu rancangan yang rapi, bertahap dengan dana cukup besar,” Jelas Ustad Husain Ardilla, Kamis (30/08).

Pekerjaan menyelesaikan agenda wahabinisasi di Indonesia harus dihadapi dengan massiv. Semua elemen umat harus terlibat. Umat juga harus diedukasi mengenai kesesatan wahabi dari kitab-kitab asli wahabi

“Umat Islam tidak akan pernah tahu wahabi itu sesat kalau mereka tidak disosialisasikan ajaran wahabi dari kitab-kitab asli wahabi,” katanya.

“Jangan main-main, wahabi itu ingin menggulingkan semua negara yang tidak berdasarkan wahabi. Ini dijelaskan di kitab-kitab asli mereka. Bahkan di buku   mereka menjelaskan secara vulgar untuk melakukan penggulingan kekuasaan terhadap negara yang tidak berdasarkan manhaj salaf versi wahabi,” tambah beliau lagi.

Karena itu, kata ia, menghadapi wahabi harus sistematis dan melibatkan semua kalangan Ahlussunnah wal jamaah. Semua elemen harus diedukasi mengenai kesesatan semua kelompok wahabi. Dari situ umat harus kompak menjadikan wahabi  sebagai musuh bersama.

“Inilah kunci penting untuk menyelamatkan akidah umat dari wahabinisasi, di mana sebenarnya semua kepentingan itu mengarah pada aliran setan nejed,” ucapnya.*

Wahabi berhasil mendekati  NU dengan cara menjadikan syi’ah sebagai musuh bersama…Akibatnya NU tidak menyadari bahwa propaganda anti syi’ah yang dilancarkan wahabi memiliki tujuan penghancuran NU

.

Konflik antara salafy dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman salafy, atau yang biasa mereka sebut sebagai “wahabi”.  Meskipun saya tidak mengatakan semuanya, masih ada ulama NU yang open mind dan tidak mau menelan mentah-mentah informasi yang berkembang
.
Paham Anti-wahabi menyebabkan warga NU sangat anti dengan ajaran-ajaran seperti haramnya bid’ah, haramnya tawassul, haramnya isbal, dll. Bahkan menyentuh pada ranah furu’iyyah, seperti jenggot, jumlah azan jum’at, jumlah raakaat shalat tarawih, qunut, dll. Hal ini terlihat sekali di akar rumput NU

takut ketahuan belangnya kali ya konspirasi politik Wahhabi ini?. Awas dan hati2 dengan fitnah dan kebohongan “The Phantom of Opera” ini !!!. Sekarang H. Mahrus Ali sedang dilanda ketakutan karena merasa bersalah. Dia juga suka nongkrong di warung kopi di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW 01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

.

Itupun beraninya kalau keadaannya sedang sepi. Hidupnya pun semakin susah saja bahkan sudah terasing dari masyarakatnya. Tak seorangpun masyarakat di kampungnya mau bergabung dan ikut serta denga ajarannya. Dia itu ibarat cacing tanah kepanasan yang menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil.

KH Mutawakkil: Wahabi Menjalar di Indonesia, Ini Berbahaya ! (07/06/2009 18:21 )

Tugas Nahdlatul Ulama (NU) ke depan semakin berat, seiring kian mengglobalnya jaringan komunikasi. Jika NU tidak menata diri dengan solid, atau apalagi hanya sibuk dengan urusan politik, maka hampir bisa dipastikan NU akan kehilangan tajinya.

Demikian diungkapkan Ketua PWNU Jawa Timur, KH Mutawakkil Alallah saat memberikan pengarahan dalam Konferensi Cabang (Konercab) NU Jember di gedung Baladika NU Jember, Ahad pagi (7/6/2009).

Aliran yang lebih patut diwaspadahi adalah Wahabi yang berasal dari Saudi Arabia. “Wahaby, yang dulu pusatnya di Arab, sekarang sudah menjalar ke Indonesia. Ini berbahaya!” kata Kiai Mutawakkil.

Wahabi Salafi adalah aktor intelektual gerakan Anti Syi’ah di Indonesia karena dibayar USA, Israel dan Syaikh Syaikh mereka..Wahabi menghujat syi’ah untuk mendekati NU dan agar diakui NU

NU: Nahdliyin Tak Boleh Ikut  Wahabi

“Jangan sampai,” tegas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj

KH. Said Agil Siraj dan KH. Slamet Effendi Yusuf
.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj, meminta kepada warga Nahdliyin agar tidak terseret gerakan Negara Islam Indonesia dan paham Wahabi.“Anak-anak Muslimat NU jangan sampai terlibat NII dan doktrin Wahabi yang antitahlil, antikubur (memegahkan kuburan). Jangan sampai. Jaga anak-anak, ya,” kata Said Aqil saat memberikan sambutan pada Kongres ke-16 Muslimat NU di Bandar Lampung, Kamis, 14 Juli 2011
.

NU VS SALAFI WAHABI

 Konflik antara salafy dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman salafy, atau yang biasa mereka sebut sebagai “wahabi”.  Meskipun saya tidak mengatakan semuanya, masih ada ulama NU yang open mind dan tidak mau menelan mentah-mentah informasi yang berkembang
.
Paham Anti-wahabi menyebabkan warga NU sangat anti dengan ajaran-ajaran seperti haramnya bid’ah, haramnya tawassul, haramnya isbal, dll. Bahkan menyentuh pada ranah furu’iyyah, seperti jenggot, jumlah azan jum’at, jumlah raakaat shalat tarawih, qunut, dll. Hal ini terlihat sekali di akar rumput NU, yaitu jika mendapati hal yang berbeda, maka dianggap sudah beda aliran, disebut terpengaruh wahabi, terkadang disebut juga disebut muhammadiyah.

Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi

Judul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011 
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm 
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan

.

Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu

.

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan

.

Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya

.

Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90)

.

Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti  KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya

.

Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan

.

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120)

.

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam

.

Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif

.

Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia

.

Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010.

Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.

Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi :

tapi sayang sai baba sudah mampus
.

PBNU : Syiah, Hanya Perbedaan Cara Pandang

- Slamet Effendy Yusuf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang
.
“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (2/1).Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah.“Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.Slamet yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)

MUI: Ada Kesalahan Memahami Syiah

 Ketua Majelis Ulama Indonesia Umar Shihab menilai konflik di Sampang, Madura, Jawa Timur, disebabkan adanya kesalahpahaman tentang mazhab Syiah. Umar menegaskan mazhab Syiah bukan aliran sesat. Ditegaskan pula MUI tak pernah menetapkan Syiah sesat. “Saya perlu nyatakan di sini bahwa mazhab Syiah bukan mazhab yang sesat tapi benar menurut dunia Islam,” di Jakarta, Ahad (1/1)
.
MUI menyayangkan kekerasan yang terjadi di Sampang, terlebih mengatasnamakan agama [baca: MUI Sampang: Pembakaran Dipicu Penistaan Agama]. Padahal sesuai konferensi internasional Ulama Islam di Mekkah, dua tahun silam, Syiah diakui sebagai bagian dari Islam. “Keberadaan mazhab Syiah sebenarnya sejak awal Islam. Sama juga dengan keberadaan mazhab ahlussunnah wal jamaah,” jelas Umar Shihab.

Dalam persoalan ini MUI lantas mengimbau agar masyarakat tak terpancing melakukan kekerasan

Kementerian Agama: Syiah Kelompok Sah

SUNDAY, 01 JANUARY 2012 

Kementerian Agama memastikan Syiah merupakan kelompok yang sah di Indonesia.

Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar mengatakan Syiah tidak menyimpang dalam ajaran Islam. Lagi pula di negara-negara Islam lain, Syiah diakui dan tidak mendapatkan penolakan.”Bagi kita Syiah dan Sunni di Indonesia sesungguhnya tidak ada masalah. Karena sebelum masuk ke Indonesia, keduanya bahkan aliran dan semua agama sudah melalui proses peng-Indonesia-an. Jadi bingkai ke-Indonesia-an inilah yang menyatukan aspek-aspek. Seharusnya sudah tidak ada lagi (pertentangan-red) karena sudah disatukan karena ke-Indonesia-an itu,” jelas  Nazaruddin Umar

.

Dia mengatakan kementeriannya sudah menugaskan kantor Kementerian Agama di Sampang, Jawa Timur turun ke daerah konflik untuk memberikan pembinaan kepada kelompok yang bertikai Syiah dan Sunni. Soal rencana relokasi Syiah, kementerian  tidak akan mencampuri keputusan itu. Alasannya itu  wilayah pemerintah daerah setempat. Sebelumnya, terjadi aksi pembakaran terhadap permukiman dan sekolah madrasah milik jemaat Syiah terjadi di Dusun Nangkernang, Kabupaten Sampang, Madura. Aksi itu diduga dilakukan kelompok Islam aliran Sunni. Peristiwa itu merupakan kali kedua yang terjadi dalam bulan ini. Polisi sudah menangkap 1 pelaku, sementara 2 pelaku lainnya masih buron

Polemik Syiah

Ketua MUI: Jangan Sampai Menimbulkan Perpecahan

JAKARTA -

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Umar Shihab meminta para ulama untuk tidak sembarangan menghakimi suatu ajaran sebagai aliran sesat.

Pernyataan Umar ini disampaikan menanggapi sejumlah pendapat majelis ulama daerah yang langsung memvonis Syiah sebagai ajaran sesat. Seyogyanya, kata dia, para ulama bisa berembuk terlebih dahulu sekaligus mengkaji ajaran tersebut.

“Tidak bisa seseorang atau salah satu pengurus MUI yang menyatakan sesuatu tanpa tidak ada pembicaraan dan tak ada pembahasan. Ini menyalahi aturan. Yang berhak menyatakan sesat atau tidak sesat adalah komisi Fatwa MUI pusat,” katanya kepada okezone di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Minggu (1/1/2012).

Perbedaan antara Sunni dan Syiah, kata Umar, hanya terletak pada perbedaan enterpretasi pemaknaan AlQuran dan sunnah. “Di dalam Sunni juga ada perbedaan misalkan tentang penetapan hari raya,” tambahnya.

Dan hal itu, kata dia, tidak perlu diperbesar apalagi berpotensi menimbulkan perpecahan di antara umat Islam. “Dan jangan perbedaan itu membuat kita saling menyesatkan, perbedaaan itu rahmah,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang, Madura, KH Bukhori Maksum, meminta agar aliran Syiah dibekukan karena dianggap sesat.

Imbauan pembekuan ini, menurut Bukhori sudah disampaikan sejak pertama kali munculnya konflik kecil di tengah masyarakat. Sayangnya, hal tersebut tidak ditindaklanjuti oleh pihak Pemkab Sampang maupun pihak keamanan terkait.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s