Bulan: Desember 2011

Syi’ah melaknat dan mengkafirkan Sahabat ?? Bila Sunni menganggap membuka fakta sejarah para sahabat sebagai kufur, maka tidak akan ada lagi ahli sejarah dan ahli hadits yang tidak kafir.

Baru-baru ini, kes laknat menjadi isu besar semula akibat perbuatan Syeikh Yasser Al Habib

Syeikh Yasser Al Habib bukan  ulama syi’ah muktabarah ! dia cuma preman jalanan yang dilatih CIA ! CIA adalah kawanan pendukung wahabi.. Wahabi dan CIA tukang adu domba !
.
inilah video hasil kerjasama Wahabi dan CIA :

Syeikh Yasser Al Habib bukan  ulama syi’ah muktabarah ! dia cuma preman jalanan yang dilatih CIA ! CIA adalah kawanan pendukung wahabi.. Wahabi dan CIA tukang adu domba !

Sayid Hasan Nasrallah Menanggapi Yaser Habib

Syeikh Yasser Al Habib membuat penghinaan bersifat peribadi ke atas simbol-simbol AhlulSunnah. Bagaimanapun keributan itu akhirnya dipadamkan atau berjaya diredakan dengan pengeluaran fatwa menghina peribadi-peribadi ini oleh Ayatollah Ali Khamenei.

Imam Khamenei
.
Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah
.
Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Spiritual dari Iran, menerbitkan sebuah fatwayang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummulmukminin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah.Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa, Arab Saudi, menyusul penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri nabi, Aisyah
.
Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul saw., Aisyah.”Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “…diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri nabi saw. dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh (seseorang bernama) Yasir al-Habib terhadap Siti Aisyah ra. Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Konspirasi Anti-Syiah dan Adu Domba CIA

Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS. Buku ini berisi wawancara detail dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA. Dalam wawancara ini diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dollar untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Dr. Michael Brant sendiri telah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi ia kemudian dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Tampaknya dalam rangka balas dendam, ia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kebebasan, politik, pendidikan, dan budaya mereka, terutama sistem politik dan ekonomi mereka. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, mereka masih banyak terikat kepada Barat.

Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.

Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Tehran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh Revolusi Islam Iran di kalangan Syiah di berbagai negara–terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan—akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. Inggris dikenal telah memiliki pengalaman luas dalam berurusan dengan negara-negara ini.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa Revolusi Islam Iran bukan sekadar reaksi alami dari politik Syah Iran. Tetapi, terdapat berbagai faktor dan hakikat lain, di mana faktor terkuatnya adalah adanya kepemimpinan politik marja’iyah (kepemimpinan agama) dan syahidnya Husain, cucu Rasulullah, 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah melalui upacara-upacara kesedihan secara luas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding muslimin lainnya.

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program:

  1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.
  2. Program-program jangka pendek: propaganda anti-Syiah, mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni dalam rangka membenturkan Syiah dengan suni yang merupakan mayoritas muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.
  3. Program-program jangka panjang: demi merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, di mana enam orang dari mereka telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram.

Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut:

  • Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapa jumlah mereka?
  • Bagaimanakah status sosial-ekonomi kaum Syiah, dan apa perbedaan-perbedaan di antara mereka?
  • Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?
  • Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan suni?
  • Mengapa mereka kuatir terhadap Syiah?

Dr. Michael Brant berkata bahwa setelah melalui berbagai polling tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapat poin-poin yang disepakati, sebagai berikut:

Para marja’ Syiah adalah sumber utama kekuatan mazhab ini, yang di setiap zaman selalu melindungi mazhab Syiah dan menjaga sendi-sendinya. Dalam sejarah panjang Syiah, kaum ulama (para marja’) tidak pernah menyatakan baiat (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Akibat fatwa Ayatullah Syirazi, marja’ Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran.

Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya, ia terpaksa mengakhiri usahanya itu. Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syah. Di Lebanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis, dan Israel melarikan diri. Keberadaan Israel juga terancam oleh sang Ayatullah dalam bentuk Hizbullah.

Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil. Oleh sebab itu, kami mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris: “Pecah-belah dan Kuasai” (Divide and Rule), kami memiliki slogan baru: “Pecah-belah dan Musnahkan” (Divide and Annihilate).

Rencana mereka sebagai berikut:

  1. Mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti-Syiah.
  2. Memanfaatkan propaganda negatif terhadap Syiah, untuk mengisolasi mereka dari masyarakat muslim lainnya.
  3. Mencetak buku-buku yang menghasut Syiah.
  4. Ketika kuantitas kelompok anti-Syiah meningkat, gunakan mereka sebagai senjata melawan Syiah (contohnya: Taliban di Afghanistan dan Sipah-e Sahabah di Pakistan).
  5. Menyebarkan propaganda palsu tentang para marjak dan ulama Syiah.

Orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu, seorang akan berceramah dan menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan hadirin pun mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul dada dan melakukan “upacara kesedihan” (azadari). Penceramah dan para pendengar ini sangat penting bagi kita. Karena, azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran. Untuk itu:

  1. Kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang materialistis dan memiliki akidah lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Karena, melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari (wafat para imam ahlulbait).
  2. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak mengetahui akidah Syiah.
  3. Mencari sejumlah orang Syiah yang butuh duit, lalu memanfaatkan mereka untuk kampanye anti-Syiah. Sehingga, melalui tulisan-tulisan, mereka akan melemahkan fondasi-fondasi Syiah dan melemparkan kesalahan kepada para marjak dan ulama Syiah.
  4. Memunculkan praktik-praktik azadari yang tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Syiah yang sebenarnya.
  5. Tampilkan praktik azadari (seburuk mungkin), sehingga muncul kesan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain.
  6. Untuk menyukseskan semua rencana itu harus disediakan dana besar, termasuk mencetak penceramah-penceram ah yang dapat menistakan praktik azadari. Sehingga, mazhab Syiah yang berbasis logika itu dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak logis dan palsu. Hal ini akan memunculkan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.
  7. Jika sudah demikian, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.
  8. Kucurkan dana besar untuk mempropagandakan informasi palsu.
  9. Berbagai topik anti-marja’iah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Marja‘iah, yang merupakan pusat kekuatan Syiah, harus dimusnahkan. Akibatnya, para pengikut Syiah akan bertebaran tanpa arah, sehingga mudah untuk menghancurkan mereka.

Lalu, Siapa Yasser al-Habib?

Pernah, seorang pengunjung blog berkomentar mengenai tidak mungkinnya persatuan Syiah dan suni karena masih adanya caci-maki terhadap sahabat dan istri Nabi. Dalam komentarnya, dia juga memberi link sebuah video di YouTube untuk “membuktikan” klaim tersebut. Saya buka video tersebut dan tulisan di awal video adalah “YASIR AL-HABIB, di antara ulama Syiah yang terkemuka di abad 20.”

Saya membalas komentarnya begini, “Yasir Al-Habib? Ulama terkemuka abad 20? Terlalu berlebihan. Saya kasih contoh yang terkemuka: Ayatullah Khamenei, Ayatullah Sistani, Syekh Subhani, Husein Fadhlullah, dll.” Jadi, siapa Yasir Al-Habib?

Yasser al-Habib, begitu transliterasi dalam bahasa Inggrisnya, dilahirkan di Kuwait pada tahun 1979—masih muda untuk jadi ukuran ulama “terkemuka”. Dia adalah lulusan Ilmu Politik Universitas Kuwait. Pandangannya dalam agama sangat ekstrim, termasuk mengenai sejarah wafatnya Fatimah putri Nabi saw. yang kerap kali kecaman dialamatkan kepada Khalifah Abu Bakar, Umar serta Ummulmukminin Aisyah ra. Makiannya yang dilakukan dalam sebuah ceramah tertutup ternyata tersebar dan membuatnya dipenjarakan oleh pemerintah Kuwait pada tahun 2003. Belum setahun, ia dibebaskan di bawah pengampunan Amir Kuwait (menurut pengakuannya dia bertawasul kepada Abul Fadhl Abbas), namun beberapa hari kemudian ditangkap lagi. Sebelum dijatuhi hukuman selama 25 tahun, ia pergi meninggalkan Kuwait.

Karena tidak mendapat izin dari pemerintah untuk tinggal di Irak dan Iran, ia mendapat suaka dari pemerintah Inggris. Sejak berada di Kuwait, ia sudah memimpin Organisasi Khaddam Al-Mahdi. Setelah mendapat suaka dari pemerintah Inggris, entah bagaimana organisasinya semakin “makmur”. Punya kantor, koran, hauzah, majelis, yayasan dan juga website sendiri. Karena perkembangannya yang cepat inilah muncul kecurigaan bantuan dana dari pemerintah Inggris. Kita semakin curiga, karena pemerintah Kuwait berulang kali meminta agar Yasser Al-Habib ditangkap namun ditolak oleh Interpol.

Hubungannya dengan Mesir, Iran, dan sebagian besar ulama Syiah nampaknya tidak harmonis. Dalam situsnya, ia kerap kali mengecam ulama rujukan sekelas, Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei, bahkan tidak menganggapnya sebagai mujtahid dan marja’. Jadi bisa dikatakan bahwa Yasser Al-Habib sangat tidak merepresentasikan mayoritas ulama Syiah yang menghendaki persatuan dan perbaikan umat muslim. Tidak adil jika Anda mengutip pendapatnya dan menuliskan bahwa itu adalah pandangan (mayoritas) pengikut Syiah, padahal hanyalah pandangan pribadinya. Artikel lain yang patut dibaca mengenai rancangan CIA dalam menciptakan “ulama-ulama” palsu,

Buku Sunni berjudul : “Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?” karya Al-Imam Al-Hafidz Ahmad Bin Muhammad mempropagandakan bahwa Rasulullah boleh menikah tanpa adanya wali dan saksi

Mencari Calon Istri yang Cocok

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Pada suatu hari saya membaca buku Ahlusunnah Wal  Jama’ah  berjudul   ” Rasul saja boleh masa kita nggak ?” karya Al Imam  Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani dengan tahqiq M. Nuruddin Marbu Banjar Al Makki 

Penerbit Qultummedia

Depok 2006

Halaman : 70 lembar

ISBN : 979376239X

Pada halaman  54 buku  tersebut  menulis sbb :

” Begitu juga dibolehkan bagi Nabi SAW menikah tanpa wali dan saksi. Nawawi mengatakan pendapat yang benar dan masyhur dikalangan ulama ulama kami ialah sahnya pernikahan Nabi tanpa wali dan saksi karena  hal itu tidak dibutuhkan lagi pada haknya SAW. Perbedaan pendapat ini pada selain Zainab. Sebab hal itu telah ditentukan dalam nash Al Quran. Para ulama mengatakan , wali itu diperlukan untuk menjaga kesetaraan (kufu), sedangkan Nabi ada diatas semua itu. Saksi dibutuhkan untuk menghindari adanya pengingkaran, sedangkan Nabi mustahil untuk itu. Kalau saja pada pihak istrinya mengingkari, maka perkataannya itu tidak dapat dijadikan rujukan hukum. Bahkan menurut Al Iraqi dalam buku Syarhul Muhadzdzab, wanita itu dengan pengingkarannya menjadi kafir”

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Mencari Calon Istri yang Cocok

=================================================================================================

Para pembaca sekalian, tulisan diatas dan  dibawah ini hanyalah copy paste dari buku dan web internet sunni, bukan tulisan Ustad Husain Ardilla  dari Pihak  Syi’ah ya….

———————————————————————————————————————————————————–

Rasulullah Boleh Menikah Tanpa Mahar, Wali dan Saksi

Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah pembahasan ‘Maa Ukhtushsha Bihi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Min al-Ahkaam at-Takliifiyyah’ disebutkan:

مما اختص به رسول الله صلى الله عليه وسلم فأبيح له دون أمته أن يتزوج أكثر من أربع نساء، وأن يتزوج بغير مهر، وأن يتزوج المرأة بغير إذن وليها

Artinya: “Termasuk kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dibolehkan bagi beliau sedangkan bagi umatnya tidak dibolehkan, adalah beliau boleh menikahi lebih dari empat orang perempuan, boleh menikah tanpa mahar, dan boleh menikahi perempuan tanpa izin wali si perempuan tersebut.”

Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsir beliau Fath al-Qadir, ketika menafsirkan surah al-Ahzab ayat 50, mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa ulama bersepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menikahi perempuan –yang menghibahkan dirinya kepada beliau– tanpa mahar. Berikut pernyataan Imam asy-Syaukani tersebut:

وأما بدون مهر فلا خلاف في أن ذلك خاص بالنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Dan adapun jika pernikahan tersebut tanpa mahar, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal tersebut khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.”

Senada dengan imam asy-Syaukani, Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah di kitab tafsir beliau at-Tafsir al-Munir pada tafsir ayat yang sama, mengeluarkan pernyataan:

والزواج بلفظ الهبة من خصوصيات النبي صلّى الله عليه وسلّم دون سائر المؤمنين، فله الزواج بها من غير مهر ولا ولي ولا شهود

Artinya: “Pernikahan, dengan lafazh hibah, merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak untuk kaum mukmin yang lain. Dan pernikahan tersebut dilakukan tanpa mahar, tanpa wali dan tanpa saksi.”

Pernyataan ini juga cukup tegas disampaikan oleh Imam al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau yang sangat masyhur, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Ketika menafsirkan ayat yang sama, beliau mengeluarkan pernyataan:

فأما هو، عليه السلام، فإنه لا يجب عليه للمفوضة شيء ولو دخل بها؛ لأن له أن يتزوج بغير صداق ولا ولي ولا شهود، كما في قصة زينب بنت جحش، رضي الله عنها. ولهذا قال قتادة في قوله: {خالصة لك من دون المؤمنين} ، يقول: ليس لامرأة تهب نفسها لرجل بغير ولي ولا مهر إلا للنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Adapun terhadap Nabi ‘alaihis salam, beliau tidak wajib memberikan sesuatu apapun kepada perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, walaupun beliau sudah menyetubuhinya. Karena beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi. Hal ini sebagaimana cerita Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Terkait hal ini, Qatadah berkomentar tentang ayat { خالصة لك من دون المؤمنين }: Tidak boleh seorang perempuan menghibahkan dirinya kepada seorang laki-laki tanpa wali dan mahar, kecuali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tentang peristiwa pernikahan Zainab binti Jahsy dengan Rasulullah, Imam Muslim an-Naisaburi rahimahullah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

لما انقضت عدة زينب، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لزيد: «فاذكرها علي» ، قال: فانطلق زيد حتى أتاها وهي تخمر عجينها، قال: فلما رأيتها عظمت في صدري، حتى ما أستطيع أن أنظر إليها، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكرها، فوليتها ظهري، ونكصت على عقبي، فقلت: يا زينب: أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكرك، قالت: ما أنا بصانعة شيئا حتى أوامر ربي، فقامت إلى مسجدها، ونزل القرآن، وجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم، فدخل عليها بغير إذن

Artinya: “Tatkala masa ‘iddah Zainab berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, ‘ingatkan Zainab terhadapku’. Kemudian Zaid pergi menemui Zainab yang saat itu sedang memberi ragi adonan rotinya. Zaid berkata, ‘Ketika aku menemuinya, terasa agungnya dia dalam dadaku, hingga aku tidak mampu memandangnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dirinya (ingin menikahinya), aku pun membelakanginya dengan punggungku dan mundur ke belakang, kemudian aku berkata, ‘Wahai Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk menyebut dirimu (melamarmu)’. ‘Zainab berkata, ‘Aku tidak akan berbuat apa-apa sampai aku diperintahkan oleh Tuhanku.’ Zainab kemudian masuk menuju ke masjidnya (tempat shalatnya), lalu turunlah ayat al-Qur’an. Kemudian Rasulullah datang dan masuk ke ruangan Zainab tanpa meminta izin.” [Hadits no. 1428 (versi al-Maktabah asy-Syamilah yang sesuai dengan terbitan dari Daar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut), potongan dari hadits yang cukup panjang].

Imam Muhyiddin al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah ketika melakukan syarh terhadap hadits ini menyatakan bahwa ayat al-Qur’an yang turun (yang disebutkan dalam hadits di atas) adalah ayat:

فلما قضى زيد منها وطرا زوجناكها

Artinya: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), kami nikahkan engkau (Muhammad) dengan mantan istri Zaid tersebut (Zainab).” [al-Ahzab ayat 37].

Imam an-Nawawi melanjutkan penjelasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke ruangan Zainab tanpa izin adalah karena Allah ta’ala telah menikahkan beliau dengan Zainab melalui ayat yang disebutkan di atas. Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab melalui wahyu, tanpa wali dan saksi. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang shahih dan masyhur di madzhab beliau (madzhab Syafi’i) menyatakan sahnya pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa wali dan saksi.

Wallahu a’lam. 

===============================================================

Studi Analisis Pendapat Ibnu Mundzir Tentang Nikah Tanpa Saksi

dikutip dari : http://222.124.207.202/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptiain-gdl-fatkhudin2-3956

Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2011-10-31 14:29:21
Oleh : Fatkhudin (2102179), Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Dibuat : 2008-01-14, dengan 1 fileKeyword : Ibnu Mundzir, Nikah Tanpa Saksi
.
Pernikahan dianggap sah apabila memenuhi rukun dan syarat pernikahan. Di antara rukun pernikahan adalah menghadirkan dua orang saksi. Dalam masalah saksi jumhur ulama berpendapat saksi sebagai syarat sah pernikahan. Mereka bersandar kepada hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sementara ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan.
Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

Deskripsi Alternatif :

 ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan. Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

=============================================================

Pertanyaan Terselesaikan

Siapa Wanita pertama yang menikah tanpa wali dan saksi?

Jawaban Terbaik – Dipilih oleh Penanya

Zainab
binti Jahsy. Dia istri Nabi, puteri
dari bibi beliau (Umaimah).
Sebelumnya dinikahi oleh Zaid
bin Haritsah, lalu diceraikan.
Kemudian Nabi menikahinya
berdasarkan nash Al Quran (QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.(QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.

Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Rasulullah adalah beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi ???

Mencari Calon Istri yang Cocok

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Pada suatu hari saya membaca buku Ahlusunnah Wal  Jama’ah  berjudul   ” Rasul saja boleh masa kita nggak ?” karya Al Imam  Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani dengan tahqiq M. Nuruddin Marbu Banjar Al Makki 

Penerbit Qultummedia

Depok 2006

Halaman : 70 lembar

ISBN : 979376239X

Pada halaman  54 buku  tersebut  menulis sbb :

” Begitu juga dibolehkan bagi Nabi SAW menikah tanpa wali dan saksi. Nawawi mengatakan pendapat yang benar dan masyhur dikalangan ulama ulama kami ialah sahnya pernikahan Nabi tanpa wali dan saksi karena  hal itu tidak dibutuhkan lagi pada haknya SAW. Perbedaan pendapat ini pada selain Zainab. Sebab hal itu telah ditentukan dalam nash Al Quran. Para ulama mengatakan , wali itu diperlukan untuk menjaga kesetaraan (kufu), sedangkan Nabi ada diatas semua itu. Saksi dibutuhkan untuk menghindari adanya pengingkaran, sedangkan Nabi mustahil untuk itu. Kalau saja pada pihak istrinya mengingkari, maka perkataannya itu tidak dapat dijadikan rujukan hukum. Bahkan menurut Al Iraqi dalam buku Syarhul Muhadzdzab, wanita itu dengan pengingkarannya menjadi kafir”

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Mencari Calon Istri yang Cocok

=================================================================================================

Para pembaca sekalian, tulisan diatas dan  dibawah ini hanyalah copy paste dari buku dan web internet sunni, bukan tulisan Ustad Husain Ardilla  dari Pihak  Syi’ah ya….

———————————————————————————————————————————————————–

Rasulullah Boleh Menikah Tanpa Mahar, Wali dan Saksi

Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah pembahasan ‘Maa Ukhtushsha Bihi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Min al-Ahkaam at-Takliifiyyah’ disebutkan:

مما اختص به رسول الله صلى الله عليه وسلم فأبيح له دون أمته أن يتزوج أكثر من أربع نساء، وأن يتزوج بغير مهر، وأن يتزوج المرأة بغير إذن وليها

Artinya: “Termasuk kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dibolehkan bagi beliau sedangkan bagi umatnya tidak dibolehkan, adalah beliau boleh menikahi lebih dari empat orang perempuan, boleh menikah tanpa mahar, dan boleh menikahi perempuan tanpa izin wali si perempuan tersebut.”

Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsir beliau Fath al-Qadir, ketika menafsirkan surah al-Ahzab ayat 50, mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa ulama bersepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menikahi perempuan –yang menghibahkan dirinya kepada beliau– tanpa mahar. Berikut pernyataan Imam asy-Syaukani tersebut:

وأما بدون مهر فلا خلاف في أن ذلك خاص بالنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Dan adapun jika pernikahan tersebut tanpa mahar, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal tersebut khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.”

Senada dengan imam asy-Syaukani, Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah di kitab tafsir beliau at-Tafsir al-Munir pada tafsir ayat yang sama, mengeluarkan pernyataan:

والزواج بلفظ الهبة من خصوصيات النبي صلّى الله عليه وسلّم دون سائر المؤمنين، فله الزواج بها من غير مهر ولا ولي ولا شهود

Artinya: “Pernikahan, dengan lafazh hibah, merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak untuk kaum mukmin yang lain. Dan pernikahan tersebut dilakukan tanpa mahar, tanpa wali dan tanpa saksi.”

Pernyataan ini juga cukup tegas disampaikan oleh Imam al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau yang sangat masyhur, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Ketika menafsirkan ayat yang sama, beliau mengeluarkan pernyataan:

فأما هو، عليه السلام، فإنه لا يجب عليه للمفوضة شيء ولو دخل بها؛ لأن له أن يتزوج بغير صداق ولا ولي ولا شهود، كما في قصة زينب بنت جحش، رضي الله عنها. ولهذا قال قتادة في قوله: {خالصة لك من دون المؤمنين} ، يقول: ليس لامرأة تهب نفسها لرجل بغير ولي ولا مهر إلا للنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Adapun terhadap Nabi ‘alaihis salam, beliau tidak wajib memberikan sesuatu apapun kepada perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, walaupun beliau sudah menyetubuhinya. Karena beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi. Hal ini sebagaimana cerita Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Terkait hal ini, Qatadah berkomentar tentang ayat { خالصة لك من دون المؤمنين }: Tidak boleh seorang perempuan menghibahkan dirinya kepada seorang laki-laki tanpa wali dan mahar, kecuali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tentang peristiwa pernikahan Zainab binti Jahsy dengan Rasulullah, Imam Muslim an-Naisaburi rahimahullah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

لما انقضت عدة زينب، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لزيد: «فاذكرها علي» ، قال: فانطلق زيد حتى أتاها وهي تخمر عجينها، قال: فلما رأيتها عظمت في صدري، حتى ما أستطيع أن أنظر إليها، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكرها، فوليتها ظهري، ونكصت على عقبي، فقلت: يا زينب: أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكرك، قالت: ما أنا بصانعة شيئا حتى أوامر ربي، فقامت إلى مسجدها، ونزل القرآن، وجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم، فدخل عليها بغير إذن

Artinya: “Tatkala masa ‘iddah Zainab berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, ‘ingatkan Zainab terhadapku’. Kemudian Zaid pergi menemui Zainab yang saat itu sedang memberi ragi adonan rotinya. Zaid berkata, ‘Ketika aku menemuinya, terasa agungnya dia dalam dadaku, hingga aku tidak mampu memandangnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dirinya (ingin menikahinya), aku pun membelakanginya dengan punggungku dan mundur ke belakang, kemudian aku berkata, ‘Wahai Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk menyebut dirimu (melamarmu)’. ‘Zainab berkata, ‘Aku tidak akan berbuat apa-apa sampai aku diperintahkan oleh Tuhanku.’ Zainab kemudian masuk menuju ke masjidnya (tempat shalatnya), lalu turunlah ayat al-Qur’an. Kemudian Rasulullah datang dan masuk ke ruangan Zainab tanpa meminta izin.” [Hadits no. 1428 (versi al-Maktabah asy-Syamilah yang sesuai dengan terbitan dari Daar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut), potongan dari hadits yang cukup panjang].

Imam Muhyiddin al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah ketika melakukan syarh terhadap hadits ini menyatakan bahwa ayat al-Qur’an yang turun (yang disebutkan dalam hadits di atas) adalah ayat:

فلما قضى زيد منها وطرا زوجناكها

Artinya: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), kami nikahkan engkau (Muhammad) dengan mantan istri Zaid tersebut (Zainab).” [al-Ahzab ayat 37].

Imam an-Nawawi melanjutkan penjelasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke ruangan Zainab tanpa izin adalah karena Allah ta’ala telah menikahkan beliau dengan Zainab melalui ayat yang disebutkan di atas. Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab melalui wahyu, tanpa wali dan saksi. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang shahih dan masyhur di madzhab beliau (madzhab Syafi’i) menyatakan sahnya pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa wali dan saksi.

Wallahu a’lam. 

===============================================================

Studi Analisis Pendapat Ibnu Mundzir Tentang Nikah Tanpa Saksi

dikutip dari : http://222.124.207.202/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptiain-gdl-fatkhudin2-3956

Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2011-10-31 14:29:21
Oleh : Fatkhudin (2102179), Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Dibuat : 2008-01-14, dengan 1 fileKeyword : Ibnu Mundzir, Nikah Tanpa Saksi
.
Pernikahan dianggap sah apabila memenuhi rukun dan syarat pernikahan. Di antara rukun pernikahan adalah menghadirkan dua orang saksi. Dalam masalah saksi jumhur ulama berpendapat saksi sebagai syarat sah pernikahan. Mereka bersandar kepada hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sementara ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan.
Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

Deskripsi Alternatif :

 ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan. Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

=============================================================

Pertanyaan Terselesaikan

Siapa Wanita pertama yang menikah tanpa wali dan saksi?

Jawaban Terbaik – Dipilih oleh Penanya

Zainab
binti Jahsy. Dia istri Nabi, puteri
dari bibi beliau (Umaimah).
Sebelumnya dinikahi oleh Zaid
bin Haritsah, lalu diceraikan.
Kemudian Nabi menikahinya
berdasarkan nash Al Quran (QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.(QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.

Membantah Buku “Perzinaan Agama Syi’ah” karya Abdul Hakim bin Amir Abdat LAKNATULLAH Al Wahabi Nejed

Katanya Nikah Ternyata Zina

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

=====================================================

Jawaban  Pihak  Syi’ah ::

Membaca paragraf pertama saja saya sudah tersenyum bahkan sampai-sampai ingin tertawa. Betapa tidak, pada paragraf pertama tersebut dikatakan bahwa nikah mut’ah itu disejajarkan dengan perzinahan atau dalam artian lain bahwa nikah mut’ah sama dengan perzinahan, tidak ada beda di antara keduanya.

Sayyed Husain Khomeini cucu Imam Imam Khomeini) menyampaikan kepada Al-Arabiyya.net bahwa Ketika ditanya tentang pendapat pribadinya tentang kawin mut`ah, putra Mustafa Khomeini ini menjawab, “Sebagai keyakinan keagamaan, saya menganggapnya memang ada dalam Islam dan Al-Qur’an, meskipun ditolak oleh kalangan Ahlus-Sunnah. Akan tetapi, kawin mut`ah telah disalahgunakan. Sebetulnya ia dibolehkan demi menghalangi manusia daripada prostitusi dan perbuatan zina, namun adakalanya ia sama saja seperti zina, bahkan lebih jahat daripada zina. Walaupun demikian, memang dalam buku2 fiqih yang ditulis oleh para fuqaha Syi`ah, terdapat dua jenis perkawinan, satu yang disebut perkawinan permanen dan yang lainnya disebut perkawinan sementara. Begitulah yang disepakati oleh semua ahli fiqih Syi`ah.

Saya yakin orang yang berpikir jernih dan tidak mendahulukan hawa nafsunya akan menganggap bahwa pernyataan seperti itu adalah keliru. Nikah mut’ah adalah ikatan tali pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita dengan mahar yang telah disepakati dalam akad, sampai pada batas waktu tertentu. Sedangkan perzinahan adalah hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim dan merupakan perbuatan dosa besar. Pernah ada teman saya yang bertanya apakah nikah mut’ah itu bisa tanpa wali, saksi, dan pemberian nafkah? Mendengar pertanyaan seperti itu, saya teringat dengan perkataan seorang ustadz yang mengatakan bahwa tidak wajib adanya wali dan saksi, tetapi alangkah baiknya jika ada wali dan saksi. Mengenai pemberian nafkah – masih menurut ustadz itu – tergantung perjanjian ketika akad.

Hukum Nikah Mut’ah dalam Al-Qur’an

Allah berfirman, “…Maka istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (mas kawin) dengan sempurna…” (Q.S. An-Nisa: 24)

Al-Qurthubi, Al-Syaukani dan orang-orang yang sependapat dengan mereka mengatakan bahwa hampir semua ulama menafsirkan ayat tersebut dengan nikah mut’ah yang sudah ditetapkan sejak permulaan Islam. (Tafsir Qurthubi, juz 5, hlm. 130; Ma’a Al-Qur’an karangan Baquri, hlm. 167; Al-Ghadir, juz 6, saduran dari tafsir Syaukani, juz 1, hlm. 144).

Dalam Mustadrak Al-Hakim dan kitab-kitab yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas bersumpah bahwa Allah menurunkan ayat tersebut untuk pembatasan waktu dalam mut’ah. (Mustadrak Al-Hakim, juz 2, hlm. 305 berikut keterangan Al-Dzahabi yang terdapat di tepi kitab tersebut pada hlm. Yang sama).

Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Said bin Zubair, dan Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan menyisipkan tafsirnya dengan bacaan sebagai berikut: “Barangsiapa di antara kalian melakukan perkawinan dengan menggunakan batas waktu maka bayarlah maharnya.”

Al-Razi dan Al-Naisaburi setelah meriwayatkan bacaan tesrebut dari Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab berkata, bahwa seluruh sahabat tidak ada yang menyalahkan bacaan kedua sahabat itu sehingga dapat dikatakan bahwa bacaan tersebut telah disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. (Tafsir Al-Naisaburi yang terdapat di tepi kitab Tafsir Al-Thabari juz 5, hlm. 18 dan dalam Kitab Tafsir Al-Razi, juz 10, hlm. 51, cet. Th. 1357 H).

Berdasarkan ayat al-Qur’an di atas dan beberapa tafsirnya diketahui bahwa Islam telah mensyariatkan nikah mut’ah. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh oleh ayat al-Qur’an yang lain.

Untuk menjawab pernyataan seperti itu, cukuplah saya mengutip perkataan Al-Zamakhsyari dalam buku tafsirnya A-Kasysyaf “Kalau kalian bertanya kepadaku apakah ayat mut’ah sudah dihapus, maka akan kujawab ‘tidak’, karena seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah dapat disebut sebagai istrinya.” (Al-Kasysyaf juz 3, hlm. 177, cet. Beirut).Anehnya lagi, ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh (dihapus) oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wassalam. Tetapi pendapat kebanyakan sahabat dan pengikut Al-Zhahiri, Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa hadits tidak dapat menasakh Al-Qur’an. (Al-Mustashfa juz 1, hlm. 124).

Hadits-hadits yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan – menurut saya – tidak dapat kita ikuti, karena terjadi kontradiksi antara hadits yang satu dengan yang lain mengenai waktu pengharamannya, diantaranya sebagai berikut:

Ø Nikah mut’ah halal pada permulaan Islam, diharamkan pada saat perang Khaibar. (Zad Al-Ma’ad, hlm. 183)

Ø Dihalalkan pada permulaan Islam, diharamkan pada Fath Mekkah.Diharamkan pada hari Haji Wada’ (Al-Sirah Al-Halabiyah, juz 3, hlm. 104)

Ø Diharamkan pada saat perang Tabuk, dll.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah dibolehkan sebanyak 7 kali dan dilarang 7 kali, yakni pada saat perang Khaibar, Perang Hunain, saat Rasulullah melakukan Umrah Qadha’, Fath Mekkah, Perang Authas, Perang Tabuk, dan Haji Wada’.

Untuk anggapan yang seperti ini cukuplah kita kutip perkataan Ibnu Qoyyim, “Tidak pernah terjadi dalam syariat penghapusan dua kali dalam satu masalah, dan tidak pernah terjadi penghapusan tentang mut’ah.” (Zad Al-Ma’ad, juz 2, hlm. 183).

Siapa yang Mengharamkan Nikah Mutah?

“Kita, para sahabat di zaman Nabi Sawaw dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan tepung sebagai mas kawinnya, kemudian Umar mengharamkannya karena ulah Amr bin Khuraits.” (Shahih Muslim, juz 4, hlm. 131, cet. Masykul Th. 1334 H).

Al-Hakam, Ibnu Juraij dan sesamanya meriwayatkan bahwa Imam Ali kw berkata, “kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang berzina kecuali orang-orang yang benar-benar celaka.”

Dalam riwayat lain Imam Ali berkata, “Kalau pendapatku tentang nikah mut’ah tidak kedahuluan Umar, aku akan perintahkan nikah mut’ah. Setelah itu, jika masih ada orang yang berzina dia memang benar-benar celaka.” (Tafsir Thabari, juz 5, hlm. 9) SANADNYA SHAHIH.

Umar adalah yang pertama kali melarang nikah mut’ah. (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Bab II, hlm. 158).

Dari riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal di zaman Nabi Sawaw dan zaman Abu Bakar, tetapi ketika Umar menjadi khalifah, ia mengharamkan nikah mut’ah hanya karena ulah seseorang. Tentunya pendapat Umar ini tidak pantas kita ikuti, apalagi pengharaman atas nikah mut’ah hanya karena adanya penyelewengan yang dilakukan perorangan. Apakah jika ada orang yang menyalahgunakan nikah da’im kita akan mengharamkan nikah da’im (nikah permanen)?

Ada beberapa kawan kita yang ”shaleh” sering kali mengatakan bahwa bukan Umar yang mengharamkan nikah mut’ah. Umar hanya mempertegas apa yang telah diharamkan oleh Rasulullah.

Marilah kita menyimak secara seksama apa yang diucapkan oleh Umar, ”Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, iaitu mut’ah perempuan dan mut’ah haji.””

Silakan Anda cermati, disitu Umar dalam mengharamkan nikah mut’ah tidak mengatasnamakan Rasulullah, tetapi mengatasnamakan dirinya sendiri (ra’yu), terlihat dalam kalimat, “Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya.

Umar sendiri dalam suatu riwayat mengakui bahwa ia yakin betul Allah telah mensyariatkan nikah mut’ah di dalam Al-Qur’an.

“Saya melarang nikah mut’ah walaupun nikah itu disebut dalam al-Qur’an dan juga haji tamattu’ walaupun haji itu dikerjakan oleh Nabi Sawaw.” (Sunan An-Nasai juz 5, hlm. 153; Al-Ghadir, juz 6, hlm. 205, di situ disebutkan bahwa keseluruhannya hasil ijtihad Umar).

Bahkan, Ibnu Umar ketika di tanya, “Bukankah ayahandamu mengharamkannya (nikah mut’ah)? Ia menjawab, “Benar! Tetapi itu pendapatnya sendiri. (Dalail Al-Shidq, juz 3, hlm. 97)

Hadits-hadits Ahlulbayt Tentang Nikah Mut’ah

Imam Ja’far Shadiq meriwayatkan dari ayah-ayahnya bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Farji-farji wanita bisa menjadi halal dengan tiga cara, yaitu nikah da’im, nikah mut’ah, dan dengan memilikinya sebagai budak.”Diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah melakukan mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di kota Kufah. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah)

Abi Bashir berkata dalam shahihnya: Aku bertanya kepada Imam Baqir tentang halalnya nikah mut’ah. Beliau menjawab: Halalnya nikah mut’ah tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 24. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah).

Dan masih banyak lagi hadits dari keluarga Rasulullah yang suci mengenai halalnya nikah mut’ah. Untuk mengakhiri tulisan saya kali ini, saya akan mengutip tulisan Prof. Sachiko Murata, “Nikah mut’ah adalah cara yang paling tepat dalam menyelesaikan krisis seksual generasi muda Amerika, saya cukup heran dengan bangsa muslim yang menolak cara paling sehat, aman, dan melindungi hak perempuan. Jika bangsa Islam menolak maka saya menyerukan kepada bangsa eropa dan amerika mengadopsi mut’ah sebagai alternatif paling solusif dan sehat.

Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan Firman Allah SWT :“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisa [4] : 24}Tetapi kedua golongan Islam (Suni dan Shiah) tetap berbeda pendapat tentang PENGHARAMAN Nikah Mut’ah.Golongan Suni mempunyai tiga pendapat sehubungan dengan pengharaman Nikah Mut’ah, yaitu :1. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah telah diharamkan, kemudian dihalalkan, kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan akhirnya di haramkan, berdasarkan Hadist Nabi SAW.Bantahan Shiah :a. Hadist Nabi SAW tidak biasa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWTpada Al Qur’an. Karena hanya Allah SWT yang berhak memanzukhkan ayat Al Qur’an.b. Hadist2 telah pengharaman yang berulang-ulang itu semuanya merupakan Hadist Ahad yang tidak berkuataan sahih.c. Tidak mungkin Rasulullah SAW mengharamkan nikah mut’ah karena alasan perzinahan, kemudian menghalalkan lagi, kemudian pengharamkan lagi, kemudian menghalalkan lagi dan akhirnya mengharamkan. Bukankah selama penghalalan kembali itu berarti juga Rasulullah SAW menghalalkan perzinaan?2. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah dihalalkan pada masa Nabi SAW, masa Abu Bakar dan dua tahun pertama masa Umar bin Khattab, kemudian diharamkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab bersamaan dengan pengharaman Mut’ah Haji (Haji Tamattu).Bantahan Shiah :

a. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWT pada Al Qur’an, maka apalagi Umar bin Khattab.

b. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah (Nikah Mut’ah – QS. An Nisa [4]: 24) , maka apalagi Umar Bin Khattab.

3. Pendapat yang mengatakan Nikah Mut’ah yang tercantum pada QS. An Nisa [4] :24 telah dibatalkan (di naskhkan) oleh Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

(QS. Al Mukminun [23] : 1-6 dan Al Ma’arij [70] : 29-30).

Bantahan Shiah :

Meskipun Surat Al Mukminun (Surat ke-23) dan Surat Al Ma’arij (Surat ke-70) sedangkan Surat An Nisa merupakan Surat ke-4, dalam Mushaf Al Qur’an. Namun berdasarkan turunnya Surat Al Qur’an, maka Surat Al Mukminun merupakan Surat Makkiyah ke- 74 dan Surat Al Ma’arij merupakan Surat Makkiyah ke-79, sedangkan Surat An Nisaa merupakan Surat Madaniyah ke-6.
Tidak Ada Satu Ayat Quran pun Turun Mengharamkan Nikah Bertempoh ini atau Nikah Mutaah

Sehingga tidaklah mungkin Surat Al Mukminun dan Surat Al Ma’arij dikatakan telah membatalkan ayat tentang Nikah Mut’ah pada Surat An Nisaa yang diturunkan belakangan daripada kedua Surat terdahulu. Suatu ayat hanya dapat dibatalkankan oleh ayat lainnya yang diturunkan kemudian, berdasarkan firman Allah SWT :

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

(QS. Al Baqarah [2] : 106)

Berdasarkan penjelasan di atas maka Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan QS. An Nisaa [4] : 24. Dan segala sesuatu yang di-HALAL-kan oleh Allah tidak bisa di-HARAM-kan oleh manusia. Dan apa yang Halal menurut Allah SWT pastinya didalamnya hanya mengandung kebaikan serta terbebas dari keburukan. Namun ada diantara manuasia yang merasa dirinya lebih hebat dari Allah SWT, sehingga menilai di dalam Nikah Mut’ah semata-mata hanya terdapat keburukan (seperti diartikan sebagai penghalalan pelacuran, dsb).

Dewasa ini banyak dari kalangan Ulama Suni di Indonesia yang berpendapat bahwa Nikah Mut’ah adalah Halal berdasarkan nash Al Qur’an, dan bahkan tidak sedikit diantaranya yang melakukannya, bukan semata-mata karena kebutuhan seksual, tetapi guna menunjukan ke-halalan Nikah Mut’ah itu sendiri.

Halalnya Nikah Mut’ah bukanlah berarti wajib atau di sunnahkan untuk dilakukan, melainkan siapapun diperbolehkan memilih untuk melakukan ataupun meninggal-kannya (tidak melakukannya). Tetapi ia menjadi wajib bagi sepasang pria wanita yang tidak terikat pada Nikah Daim (Nikah Permanen) yang melakukan hubungan seksual. Karena tanpa Nikah Mut’ah maka hubungan seksual tersebut menjadi tergolongan perbuatan zina yang mendatangkan dosa.

Seseorang boleh saja mengatakan, “Aku tidak memerlukan Nikah Mut’ah, karena aku tidak akan mungkin terjerumus pada perbuatan zina”, meskipun sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya (syahwatnya). Nah Nikah Mut’ah adalah rahmat Allah Ta’ala kepada Umat Muhammad SAW untuk menyelamatkannya dari jurang perzinaan. Nikah Mut’ah adalah solusi Islam sebagai agama terakhir terhadap praktek perzinaan, yang menjangkiti keturunan Adam as sejak generasi awal serta tidak kunjung berhasil dihapuskan semata-mata melalui ancaman dosa dan larangan oleh syariat2 yang diturunkan sebelumnya.

Bagi setiap mukmin tersedia dua alternatif (dalam hal tidak dapat menahan hawa nafsu seksualnya yang tidak tertampung oleh isteri2nya atau yang belum mempunyai isteri tetapi telah cukup umur), yaitu 1). melakukan hubungan seksual dengan Nikah Mut’ah, atau 2). melakukan hubungan seksual tanpa Nikah Mut’ah.

Sementara itu dikalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat tentang halal dan haramnya Nikah Mut’ah. Sebagai seorang yang berakal, bagaimanakah anda menentukan pilihan atas kedua alternatif di atas?

Kebenaran hakiki adalah sisi Allah SWT.

Jika Nikah Mut’ah adalah haram di sisi Allah, maka sekalipun anda melaksananya, tetap tergolong sebagai zina.

Jika Nikah Mut’ah adalah Halal di sisi Allah, maka sungguh merugi jika tidak melaksanakannya, karena seharusnya bisa terhindar dari perbuatan zina, tetapi karena kekerasan kepala, malah terjerumus pada perbuatan zina.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa pembicaraan tentang Nikah Mut’ah sangat tidak disenangi oleh sebagian umat Islam sendiri terutama dari kalangan wanita. Seperti halnya juga berbicara tentang Poligami yang sampai sekarang belum bisa diterima oleh kebanyakan kaum muslimah.

Tetapi berbicara tentang aqidah dan syariat agama bukanlah tergantung pada senang atau tidak senangnya pihak2 tertentu. Slogan ISLAM YANG KAFFAH (Menyeluruh) adalah termasuk dalam hal pembicaraan seperti ini. (Apa yang engkau anggap buruk belum tentu hal itu buruk disisi Allah)Sebagai penutup, saya kutip ucapan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as: “Bilamana saja Umar tidak melarang Nikah Mut’ah, niscaya tidak ada lagi seorang mukminpun yang akan terjerumus kedalam zina, kecuali mereka yang benar2 celaka”.Sesungguhnya perkara nikah mut’ah ini menjadi polemic yang cukup tajam di kalangan Muslimin,hal ini semata karena mereka hanya melihat dari satu sisi saja.Mereka lalai bahwa asal hukum wanita adalah harta,maka daripada itu membutuhkan adanya mahar & akad.Ketika terjadi perangpun Istri dimasukkan pada kelompok yang boleh dijadikan harta rampasan perang,maka bila memandang wanita secara harta,nikah mut’ah tidak akan menjadi masalah.Dari Ruwaifi’ bin Tsabit al-Anshari bahwa ia berkhutbah di hadapan kami dan berkata, “Sungguh aku tidak berbicara kepada kalian melainkan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasulullah saw, beliau berkata pada hari peperangan Hunain, ‘Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menyiramkan airnya ke tanaman orang lain, yakni menyetubuhi wanita hamil (dari orang lain). Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menggauli tawanan wanita hingga ia memastikan ketidak hamilannya. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menjual ghanimah (harta rampasan perang) sehingga dibagikan’,” (Hasan, HR Abu Dawud [2158], Ahmad [IV/108 dan 108-109], al-Baihaqi [VII/449]).Dari ‘AbduLLAAH bin ‘Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang menjual harta rampasan perang (ghanimah) sehingga dibagikan, melarang menggauli tawanan wanita yang hamil hingga melahirkan kandungannya dan melarang memakan daging binatang buas yang bertaring,” (Shahih, HR an-Nasa’i [VII/301], ad-Daraquthni [III/68-69], al-Hakim [II/137], Abu Ya’la [2414]).Sudah menjadi kesepakatan segenap kaum muslimin bahwa nikah mut’ah pernah ada pada zaman Rasul sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab standar Sunni maupun Syiah. Disebutkan bahwa Rasul pernah membolehkan pernikahan jenis tersebut, akan tetapi lantas terjadi perbedaan pendapat diantara para pengikut Islam adakah Rasul sampai akhir hayat beliau tetap membolehkan pernikahan itu ataukah tidak? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebelum pulangnya Rasul ke rahmatuLLAAH Beliau telah melarang pernikahan tersebut atau dengan istilah yang sering dipakai hukum dibolehkannya nikah mut’ah telah mansukh (terhapus). Sebagian lagi mengatakan bahwa sampai akhir hayat beliaupun beliau tidak pernah melarangnya, akan tetapi seorang yang bernama Umar bin Khatab lah yang kemudian melarangnya sewaktu ia menjabat kekhalifahan.Definisi Nikah Mut’ah , dalam Terminologi Bahasa Arab Asal kata mut’ah dalam bahasa arab adalah dari akar kata mata’a, yang mengarah pada makna bersenang-senang dan memanfaatkan. Al Munjid menerangkan arti kata mata’ sebagai berikut :Al Mata’, bentuk pruralnya adalah al amti’ah, sedang bentuk jam’ul jama’nya adalah amati’ dan amatii’. Seluruh yang dimanfaatkan dari perhiasan dunia baik sedikit maupun banyak. … tamatta’a atau istamta’a : memanfaatkan sesuatu dalam waktu yang lama. AlMunjid hal 7462) Definisi IstilahSedangkan yang dimaksud dengan nikah mut’ah dalam pembahasan kali ini adalah pernikahan yang ditentukan sampai waktu tertentu, yang mana setelah waktu yang ditentukan habis selesailah pernikahan itu. Imam Syafi’i berkata :Nikah mut’ah yang dilarang adalah seluruh bentuk pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu, baik waktu itu sebentar maupun lama. [43].Abu Laits Assamarqondi berkata: Nikah mut’ah hukumnya haram, bentuknya adalah : aku nikahkan anakku untuk waktu sehari atau sebulan[44]Imam Nawawi dalam al majmu’ syarah muhazzab berkata : Nikah Mut’ah adalah seperti bentuk demikian : Aku nikahkan kamu dengan anakku selama sehari atau sebulan, yaitu pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu. Jika waktu yang ditentukan telah selesai maka selesailah pernikahan itu.

Ibnu Dhawayyan berkata :

yaitu menikahkan anaknya hingga batas waktu tertentu, dan mensyaratkan bahwa setelah jangka waktu selesai maka tercerailah suami istri itu.[45]

Dari penjelasan tentang arti nikah mut’ah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk pernikahan yang selesai bila waktu yang disepakati telah tiba. Setelah waktunya tiba, kedua suami istri akan terpisah tanpa ada proses perceraian sebagaimana pernikahan yang dikenal dalam Islam.

Syi’ah Imamiyah berpendapat bahwa hukum nikah mut’ah adalah tetap diperbolehkan dan tidak pernah mansukh. Jadi masih diperbolehkan hingga kelak hari kiamat. Syiah Imamiyah berdalil dengan ucapan Imam mereka yaitu Abu Ja’far, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali Al Baqir :

1- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ أَبِي نَجْرَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيما تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ .[64] ك ج 5 ص 448

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Ja’far Alaihissalam tentang mut’ah. Lalu dia menjawab :  ALLAAH telah mewahyukan dalam Al Qur’an Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya,[65] (footnote : syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَقُولُ كَانَ عَلِيٌّ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ بَنِي الْخَطَّابِ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ .[66]

Dari Abdullah bin Sulaiman dia berkata : Aku mendengar Abu Ja’far berkata : Ali bin Abi Thalib berkata : jika anak Khottob tidak mendahului aku, maka tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَمَّنْ ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّمَا نَزَلَتْ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً .[67]

Dari Ibnu Abi Umair dari seseorang yang telah memberitahunya, dari Abu AbduLLAAH dia berkata : Ayat yang sebenarnya turun dari ALLAAH adalah ” Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka hingga waktu tertentu, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban,

عَلِيٌّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ اللَّيْثِيُّ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) فَقَالَ لَهُ مَا تَقُولُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ أَحَلَّهَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهِيَ حَلَالٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَقَالَ يَا أَبَا جَعْفَرٍ مِثْلُكَ يَقُولُ هَذَا وَ قَدْ حَرَّمَهَا عُمَرُ وَ نَهَى عَنْهَا فَقَالَ وَ إِنْ كَانَ فَعَلَ قَالَ إِنِّي أُعِيذُكَ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ أَنْ تُحِلَّ شَيْئاً حَرَّمَهُ عُمَرُ قَالَ فَقَالَ لَهُ فَأَنْتَ عَلَى قَوْلِ صَاحِبِكَ وَ أَنَا عَلَى قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهَلُمَّ أُلَاعِنْكَ أَنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وَ أَنَّ الْبَاطِلَ مَا قَالَ صَاحِبُكَ قَالَ فَأَقْبَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ فَقَالَ يَسُرُّكَ أَنَّ نِسَاءَكَ وَ بَنَاتِكَ وَ أَخَوَاتِكَ وَ بَنَاتِ عَمِّكَ يَفْعَلْنَ قَالَ فَأَعْرَضَ عَنْهُ أَبُو جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) حِينَ ذَكَرَ نِسَاءَهُ وَ بَنَاتِ عَمِّهِ . [68]

Dari Zurarah dia berkata : Ibnu Umair Allaithy pada Abu Ja’far, lalu dia bertanya : apa pendapat anda tentang nikah mut’ah? Lalu Abu Ja’far menjawab : telah dihalalkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan melalui lisan RasulNya, maka hukumnya tetap halal hingga hari kiamat. Lalu dia bertanya : Wahai Abu Ja’far apakah orang seperti anda mengatakan hal ini sedangkan umar telah melarang dan mengharamkan mut’ah? Lalu Abu Ja’far mengatakan : walaupun telah dilarang oleh Umar. Dia berkata : Aku memohon pada Allah agar anda dijauhkan dari menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Umar. Lalu Abu Ja”far berkata : engkau memegang pendapat kawanmu, dan aku memegang hadits Nabi, mari kita memohon laknat dari ALLAAH bahwa yang benar adalah apa yang diucapkan RasuluLLAAH dan omongan kawanmu adalah batil. Lalu Abu Umair mengatakan pada Abu Ja’far : Apakah anda suka jika istri anda, anak wanita anda, saudara wanita anda dan anak wanita paman anda dinikahi secara mut’ah? Lalu Abu Ja’far berpaling ketika disebut istrinya dan anak pamannya.

Nikah mut’ah adalah halal tapi Imam Abu Ja’far sendiri tidak senang jika ada orang yang menikahi anaknya atau anak pamannya dengan nikah mut’ah. Yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar, yang berani-beraninya mengharamkan perbuatan yang dihalalkan oleh Nabi. Sampai Imam Abu Ja’far berani bermula’anah, memohon laknat dari Allah jika pendapatnya salah.

Ahlussunnah sepakat bahwa nikah mut’ah haram hukumnya, maka tidak akan anda temukan dalam kitab fiqih ulama ahlussunnah mana pun penjelasan tentang cara-cara mut’ah dan pekara-perkara yang berkaitan dengan mut’ah. Karena keyakinan syi’ah Imamiyah atas dibolehkannya mut’ah, maka dalam kitab-kitab mereka tercantum penjelasan mengenai nikah mut’ah. Berikut ini kami paparkan sebagian penjelasan yang ada dalam kitab-kitab ulama syiah megenai mut’ah.

1. Nikah Mut’ah adalah bukan pernikahan yang membatasi istri hanya empat.

الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَزْدِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ لَا[69].
Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata :aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut’ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi 4 istri? Dia menjawab tidak.

Wanita yang dinikahi secara mut’ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut’ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan 4 istri.

7- الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ سَعْدَانَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ ذَكَرْتُ لَهُ الْمُتْعَةَ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ تَزَوَّجْ مِنْهُنَّ أَلْفاً فَإِنَّهُنَّ مُسْتَأْجَرَاتٌ [70].
Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, aku bertanya tentang mut’ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri? Jawabnya : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan

2. Syarat Utama Nikah Mut’ah

Dalam nikah mut’ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut’ah mereka berdua. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa hubungan pernikahan mut’ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika waktu tidak disepakati maka tidak akan memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam

- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ جَمِيلِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَا تَكُونُ مُتْعَةٌ إِلَّا بِأَمْرَيْنِ أَجَلٍ مُسَمًّى وَ أَجْرٍ مُسَمًّى [71].

Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu.

3. Batas minimal mahar mut’ah

Di atas disebutkan bahwa rukun akad mut’ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut’ah?

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنْ أَدْنَى مَهْرِ الْمُتْعَةِ مَا هُوَ قَالَ كَفٌّ مِنْ طَعَامٍ دَقِيقٍ أَوْ سَوِيقٍ أَوْ تَمْرٍ .[72]

الكافي ج 5 ص 457

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut’ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut’ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum atau korma.

4. Tidak ada talak dalam mut’ah

dalam nikah mut’ah tidak dikenal istilah talak, karena seperti di atas telah diterangkan bahwa nikah mut’ah bukanlah pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam selesai dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak, maka hubungan nikah mut’ah selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti diketahui dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut’ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut’ah selain kesepakatan atas mahar.

3- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ فَضَّالٍ عَنِ ابْنِ بُكَيْرٍ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَعْقِدُ بِيَدِهِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ فَإِذَا جَازَ الْأَجَلُ كَانَتْ فُرْقَةٌ بِغَيْرِ طَلَاقٍ[73]

Dari Zurarah dia berkata masa iddah bagi wanita yang mut’ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45, jika selesai waktu yang disepakati maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak.

5. Jangka waktu minimal mut’ah.

Dalam nikah mut’ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut’ah. Jadi boleh saja bersepakat nikah mut’ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekali hubungan suami istri.

عَنْ خَلَفِ بْنِ حَمَّادٍ قَالَ أَرْسَلْتُ إِلَى أَبِي الْحَسَنِ ( عليه السلام ) كَمْ أَدْنَى أَجَلِ الْمُتْعَةِ هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَتَّعَ الرَّجُلُ بِشَرْطِ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ قَالَ نَعَمْ .[74]

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut’ah? Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri? Jawabnya : ya

Orang yang melakukan nikah mut’ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram dipandang, disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan mut’ah atas sekali hubungan suami istri? Yang mana setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah sebelum keduanya pergi.

ع أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنِ الرَّجُلِ يَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ عَلَى عَرْدٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لَا بَأْسَ وَ لَكِنْ إِذَا فَرَغَ فَلْيُحَوِّلْ وَجْهَهُ وَ لَا يَنْظُرْ [75]

Dari Abu AbdiLLAAH, ditanya tentang orang nikah mut’ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : ” tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya”.

6. Nikah mut’ah berkali-kali tanpa batas.

Diperbolehkan nikah mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja’far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut’ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Disini dipergunakan analogi sewaan, yang mana seseorang diperbolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.

1- عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ جُعِلْتُ فِدَاكَ الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ وَ يَنْقَضِي شَرْطُهَا ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا رَجُلٌ آخَرُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا الْأَوَّلُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثَلَاثاً وَ تَزَوَّجَتْ ثَلَاثَةَ أَزْوَاجٍ يَحِلُّ لِلْأَوَّلِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا قَالَ نَعَمْ كَمْ شَاءَ لَيْسَ هَذِهِ مِثْلَ الْحُرَّةِ هَذِهِ مُسْتَأْجَرَةٌ وَ هِيَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ [76].

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja’far : ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya.

7. Wanita mut’ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati.

Wanita yang dinikah mut’ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.

292

3- عَنْ عُمَرَ بْنِ حَنْظَلَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ أَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ شَهْراً فَأَحْبِسُ عَنْهَا شَيْئاً قَالَ نَعَمْ خُذْ مِنْهَا بِقَدْرِ مَا تُخْلِفُكَ إِنْ كَانَ نِصْفَ شَهْرٍ فَالنِّصْفَ وَ إِنْ كَانَ ثُلُثاً فَالثُّلُثَ[77] . ك ج 5 ص 461

Dari Umar bin Handholah dia bertanya pada Abu AbduLLAAH : aku nikah mut’ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya

8. Jika ternyata wanita yang dimut’ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut’ah tidak terputus dengan sendirinya.

Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut’ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.

1- عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِنِّي أَكُونُ فِي بَعْضِ الطُّرُقَاتِ فَأَرَى الْمَرْأَةَ الْحَسْنَاءَ وَ لَا آمَنُ أَنْ تَكُونَ ذَاتَ بَعْلٍ أَوْ مِنَ الْعَوَاهِرِ قَالَ لَيْسَ هَذَا عَلَيْكَ إِنَّمَا عَلَيْكَ أَنْ تُصَدِّقَهَا فِي نَفْسِهَا [78].

Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu AbduLLAAH, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya.

Ayatollah Ali Al Sistani berkata :

Masalah 260 : dianjurkan nikah mut’ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut’ah bukanlah syarat sahnya nikah mut’ah[79]

9. Nikah mut’ah dengan gadis

2- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ وَ عَبْدِ اللَّهِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي الْحَلَّالِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَا بَأْسَ بِأَنْ يَتَمَتَّعَ بِالْبِكْرِ مَا لَمْ يُفْضِ إِلَيْهَا مَخَافَةَ كَرَاهِيَةِ الْعَيْبِ عَلَى أَهْلِهَا[80] ك ج 5 ص 462

Dari ziyad bin abil halal berkata : aku mendengar Abu AbduLLAAH berkata tidak mengapa bermut’ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya.

10. Nikah mut’ah dengan pelacur

Diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut’ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.

AyatoLLAAH Udhma Ali Al Sistani mengatakan :

Masalah 261 : diperbolehkan menikah mut’ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut’ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.[81]

11. Pahala yang dijanjikan bagi nikah mut’ah

عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ ع قال: قُلْتُ لَهُ: (لِلْمُتَمَتِّعِ ثَوَابٌ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ تَعَالىَ وَخِلاَفًا عَلىَ مَنْ أَنْكَرَهَا لَمْ يُكَلِّمْهَا كَلِمَةً إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالىَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَلَمْ يَمُدْ يَدَهُ إِلَيْهَا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لهُ حَسَنَةً، فَإِذَا دَنَا مِنْهَا غَفَرَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِذَلِكَ ذَنْبًا، فَإِذَا اغْتَسَلَ غَفَرَ اللهُ لَهُ بِقَدْرِ مَا مَرََََََََََََََّ مِنَ الْمَاءِ عَلىَ شَعْرِهِ، قُلْتُ: بِعَدَدِ الشَّعْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ بِعَدَدِ الشَّعْرِ))[82]. فقيه ج 3 ص 464

Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu AbduLLAAH apakah orang yang bermut’ah mendapat pahala? Jawabnya : jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki itu berbicara padanya pasti ALLAAH menuliskan kebaikan sebagai balasannya, setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya pasti ALLAAH mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya, jika dia mandi maka ALLAAH akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi. Aku bertanya : sebanyak jumlah rambut? Jawabnya : Ya, sebanyak jumlah rambut.

4601 – وَقَالَ أَبُوْجَعْفَرٍ ع: (إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ لَمَّا اُسْرِيَ بِهِ إِلىَ السَّمَاءِ قَالَ: لَحِقَنِيْ جِبْرِئِيْل عليه السلام فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ: إِنِّي قََََََََدْ غَفَرْتُ لِلْمُتَمَتِّعِيْنَ مِنَ أُمَّتِكَ مِنَ النِّسَاءِ)[83].

Abu Ja’far berkata “ketika Nabi sedang isra’ ke langit berkata : Jibril menyusulku dan berkata : wahai Muhammad, ALLAAH berfirman : Sungguh AKU telah mengampuni wanita ummatmu yang mut’ah

11. hubungan warisan

Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 : Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini[84].

12. Nafkah

Wanita yang dinikah mut’ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.

Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat[85]

Dari dua pendapat diatas dalam tulisan ini akan di bahas manakah dari pendapat tersebut yang lebih dekat pada kenyataan? Apakah nikah mut’ah telah dimansukh oleh Rasul atau tidak? Kalaulah tidak lantas apakah wewenang dan dasar yang dipakai oleh Umar untuk mengharamkannya? Adakah ia melakukan berdasarkan konsep ijtihad?

Sedang Imam Ali  sebagai khalifah keempat ahlissunnah- tidak pernah mengharamkannya? Bolehkah dalam Islam melakukan ijtihad walau bertentangan dengan ayat atau riwayat yang sebagai sumber utama syariat Islam? Kalaulah kita terima bahwa nikah jenis itu haram karena ijtihad Umar kenapa mut’ah haji (haji tamattu’) yang juga diharamkan oleh Umar tetap dianggap halal oleh seluruh kaum muslimin? Bukankah kalau kita menerima ijtihad Umar tentang pelarangan nikah mut’ah berarti juga harus menerima pelarangannya atas mut’ah haji?

Yang perlu diingat oleh pembaca yang budiman adalah bahwa kita disini dalam rangka mencari kebenaran akan konsep hukum mut’ah dan lepas dari permasalahan praktis dari hal tersebut, oleh karenanya dalam membahas haruslah didasari oleh argumen dari teks agama ataupun akal dan bukan bersandar pada emosional maupun fanatisme golongan.

Argumentasi dari Kitab-kitab Standar Ahlissunnah akan Pembolehan Nikah Mut’ah.

Sebagaimana yang telah singgung diatas bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan oleh ALLAAH sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh ulama’ kaum muslimin, hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi: “dan (diharamkan atas kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki,   sebagai ketetapanNYA atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina, maka (istri-istri) yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu,   Qs; An-Nisaa’:24).

Jelas sekali bahwa ayat tersebut berkenaan denga nikah mut’ah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para perawi hadis dari sahabat-sahabat Rasul seperti: Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Habib bin Abi Tsabit, Said bin Jubair, Jabir bin Abullah al-Anshari (ra) dst.

Pendapat beberapa ulama’ tafsir dan hadis ahlussunnah.

Adapun dari para penulis hadis dan penafsir dari ahlussunnah kita sebutkan saja secara ringkas:

1. Imam Ahmad bin Hambal dalam “Musnad Ahmad” jilid:4 hal:436.
2. Abu Ja’far Thabari dalam “Tafsir at-Thabari” jilid:5 hal:9.
3. Abu Bakar Jasshas dalam “Ahkamul-Qur’an” jilid:2 hal:178.
4. Abu bakar Baihaqi dalam “as-Sunan-al-Qubra” jilid:7 hal:205.
5. Mahmud bin Umar Zamakhsari dalam “Tafsir al-Kassyaf” jil:1 hal:360.
6. Fakhruddin ar-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib” jil:3 hal:267.
7. dst.

Pendapat beberapa Sahabat (Salaf Saleh) dan Tabi’in.

Beberapa ungkapan para sahabat Rasul dan para tabi’in (yang hidup setelah zaman para sahabat) sebagai contoh pribadi-pribadi yang mengingkari akan pelarangan (pengharaman) mut’ah: Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapakan oleh Thabari dalam kitab tafsirnya (lihat: jil:5 hal:9) dimana Imam Ali bersabda: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benarbenar celaka saja”.

Riwayat ini sebagai bukti bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar bin Khatab, lantas setelah banyaknya kasus perzinaan dan pemerkosaan sekarang ini –berdasarkan riwayat diatas- siapakah yang termasuk bertanggungjawab atas semua peristiwa itu?

Abdullah bin Umar bin Khatab (putera khalifah kedua), sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya (lihat: jil:2 hal:95) dimana Abdullah berkata ketika ditanya tentang nikah mut’ah: “Demi ALLAAH, sewaktu kita dizaman Rasul tidak kita dapati orang berzina ataupun serong”. Kemudian berkata, aku pernah mendengar Rasul bersabda: “sebelum datangnya hari kiamat akan muncul masihud-dajjal dan pembohong besar sebanyak tiga puluh orang atau lebih”. Lantas siapakah yang layak disebut pembohong dalam riwayat diatas tadi? Adakah orang yang memutar balikkan syariat Rasul layak untuk dibilang pembohong?

AbduLLAAH bin Masud, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya (lihat: jil:7 hal:4 kitab nikah bab:8 hadis ke:3), dimana Abdullah berkata: “sewaktu kita berperang bersama Rasulullah sedang kita tidak membawa apa-apa, lantas kita bertanya kepada beliau: bolehkah kita lakukan pengebirian? Lantas beliau melarang kita untuk melakukannya kemudian beliau memberi izin kita untuk menikahi wanita dengan mahar baju untuk jangka waktu tertentu. Saat itu beliau membacakan kepada kami ayat yang berbunyi: “wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah ALLAAH halalkan bagi kalian dan janganlah kalian melampaui batas…”(Qs Al-Ma’idah:87).

Cobalah renungkan makna ayat dan riwayat diatas lantas hubungkanlah antara penghalalan ataupun pengharaman nikah mut’ah! Manakah dari dua hukum tersebut yang sesuai dengan syariat Allah yang dibawa oleh Rasul?

Imran bin Hashin, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya, (lihat: jil:6 hal:27 kitab tafsir; dalam menafsirkan ayat: faman tamatta’a bilumrati ilal-hajji (Qs Al-Baqarah)), dimana Imran berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam kitabullah (Al-Qur’an) kemudian kita melakukannya di zaman Rasul, sedang tidak ada ayat lagi yang turun dan mengharamkannya, juga Rasul tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat”.

Riwayat seperti diatas juga dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya. Dua riwayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ayat yang menghapus (nasikh) penghalalan mut’ah dan juga sebagai bukti mahwa mut’ah sampai akhir hayat Rasul beliau tidak mengharamkannya.

Ibn Abi Nadhrah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya (lihat: jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8), dimana Ibn abi nadhrah berkata: “Dahulu Ibn abbas memerintahkan (baca:menghalalkan) nikah mut’ah sedang Ibn zubair melarangnya kemudia peristiwa tersebut sampai pada telinga Jabir bin Abdullah al-Anshori (ra) lantas dia berkata: “Akulah orang yang mendapatkan hadis tersebut, dahulu kita melakukan mut’ah bersama Rasulullah akan tetapi setelah Umar berkuasa lantas ia mengumumkan bahwa; “Dahulu ALLAAH menghalalkan buat Rasul-Nya sesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka umat pun menyempurnakan haji dan umrah mereka, juga melakukan pernikahan dengan wanita-wanita tersebut, jika terdapat seseorang menikahi seorang wanita untuk jangka wanita tertentu niscaya akan kurajam ia dengan batu”.

Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya (lihat: jil:1 hal:52). Dikatakan bahwa Abi Nadhrah berkata: “Aku berkata kepada Jabir bin Abdullah Anshari (ra), sesungguhnya Ibn zubair melarang nikah mut’ah sedangkan Ibn Abbas membolehkannya”. Kemudian ia (Jabir) mengatakan: “Melalui diriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama RasuluLLAAH (saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) pun mengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetap posisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada dua jenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah dan nikah mut’ah”.

Dua riwayat diatas dengan jelas sekali menyebutkan bahwa pertama orang yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bukan Rasul ataupun turun ayat yang berfungsi sebagai penghapus hukum mut’ah sebagaimana yang dikatakan sebagian orang yang tidak mengetahui tentang isi kandungan yang terdapat dalam buku-buku standar mereka sendiri.

Sebagai tambahan kami nukilkan pendapat Fakhrur Razi dalam tafsir al-Kabir, ketika menafsirkan ayat 24 surat an-Nisa. Ar-Razi mengutip ucapan Umar (“ Dua jenis mut’ah yang berlaku di masa rasulullah, yang kini ku larang dan pelakunya akan kuhukum, adalah mutah haji dan mut’ah wanita” ) dalam menetapkan pengharaman nikah mut’ah. Begitu juga tokoh besar dari kamu Asy,ariyah, Imam al-Qausyaji dalam kitab Syarh At-Tajrid, dalam pengharamannya mut’ah adalah ucapan Umar (ucapan Umar: Tiga perkara yang pernah berlaku di zaman Rasulullah, kini kularang, kuharamkan dan kuhukum pelakuknya adalah mut’ah wanita dan mutah haji serta seruan (azan): hayya ‘ala khayr al-‘amal (marilah mengerjakan sebaik-baik amal)). Qusyaji membela tindakan Umar ini, menyatakan bahwa semata-mata takwil atau ijtihad Umar.

AbduLLAAH ibn Abbas, sebagaimana yang dinukil oleh al-Jasshas dalam Ahkamul-Qu’an (jil:2 hal:179), Ibn Rusyd dalam bidayatul mujtahid (jil:2 hal:58), Ibn Atsir dalam an-Nihayah (jil:2 hal:249), al-Qurtubi dalam tafsirnya (jil:5 hal:130), suyuti dalam tafsirnya (jil:2 hal:140) dikatakan bahwa Ibn Abbas berkata: “semoga ALLAAH merahmati Umar, bukanlah mut’ah kecuali merupakan rahmat dari ALLAAH bagi umat Muhammad (SAW) jikalau ia (Umar) tidak melarang mut’ah tersebut niscaya tiada orang yang menghendaki berbuat zina kecuali ia bisa terobati”.

Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Khalqan dalam kitab Wafayaatul-A’yaan jil:6 hal:149-150, durrul mantsur jil:2 hal:140, kanzul ummal jil:8 hal:293, tarikh tabari jil:5 hal:32, tarikh Ibn khalkan jil:2 hal:359, tajul-arus jil:10 hal:200. Dan masih banyak lagi riwayat dalam kitab-kitab lainnya.

Untuk mempersingkat tulisan singkat ini kita cukupkan hanya dengan menyebutkan riwayat-riwayat diatas. Untuk melengkapinya akan kita sebutkan beberapa permasalahan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham akan maksud dari hikmah Ilahi tentang penghalalan nikah mut’ah dan kita berusaha untuk menjawabnya secara ringkas.

Soal: Salah satu fungsi pernikahan adalah untuk membina keluarga dan menghasilkan keturunan dan itu hanya bisa terwujud dalam nikah da’im (baca:nikah biasa), sedang nikah mut’ah tujuannya hanya sekedar sebagai pelampiasan nafsu belaka.

Jawab: Jelas sekali bahwa pertanyaan diatas menunjukkan akan adanya percampuran paham antara hukum obyek dengan fungsi/hikmah pernikahan. Yang ia sampaikan tadi adalah berkisar tentang hikmah pernikahan bukan hukum pernikahan. Karena kita tahu bahwa Islam mengatakan bahwa sah saja orang menikah walaupun dengan tidak memiliki tujuan untuk hal yang telah disebutkan diatas, sebagaimana orang lelaki yang sengaja mengawini wanita yang mandul atau wanita tua sehingga tidak terlintas sama sekali dibenaknya untuk mendapat anak dari wanita tersebut ataupun lelaki yang mengawini seorang wanita dengan nikah daim akan tetapi hanya untuk beberapa saat saja-taruhlah dua bulan saja- setelah itu ia talak wanita tersebut. Dua contoh pernikahan tersebut jelas tidak seorang ulama pun yang mengatakan bahwa itu batil hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh penulis tafsir “Al-Manaar” dimana ia mengatakan: “pelarangan para ulama’ terdahulu maupun yang sekarang akan nikah mut’ah mengharuskan juga pelarangan akan nikah dengan niat mentalak (istrinya setelah beberapa saat) walaupun para ahli fiqih sepakat bahwa akad nikah dikatakan sah walaupun ada niatan suami untuk menikahinya hanya untuk saat tertentu saja sedang niat tersebut tidak diungkapkannya saat akat nikah, sedang penyembunyian niat tersebut merupakan salah satu jenis penipuan sehingga hal itu lebih layak untuk dihukumi batil jika syarat niat tadi diungkapkan sewaktu akad dilangsungkan” (Tafsir al-Manaar jil:5 hal:17).

Dari sini kita akan heran melihat orang yang menganggap bahwa mut’ah hanya berfungsi sebagai sarana pelampiasan nafsu belaka dan bukankah dalam nikah da’im pun bisa saja orang berniat untuk pelampiasan nafsu saja, niatan itu semua kembali kepada pribadi masing-masing bukan dari jenis pernikahannya.

Soal: Nikah mut’ah menjadikan wanita tidak dapat menjaga kehormatan dirinya karena ia bisa berganti-ganti pasangan kapanpun ia mau, padahal Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan terkhusus bagi para wanita.

Jawab: Justru dalam nikah mut’ah sama seperti nikah da’im dimana bukan hanya wanita yang ditekankan untuk menjaga kehormatannya tapi bagi silelaki pun diharuskan untuk menjaga hal tersebut, karena legalitas pernikahan tersebut sudah ditetapkan dalam syariat maka dengan cara inilah mereka menjaga kehormatan mereka dan tidak menjerumuskan diri mereka keperzinaan. Dalam Islam ada tiga alternatif dalam menangani gejolak nafsu birahi:Nikah da’im, Nikah mut’ah dengan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan meredam nafsu dengan puasa misalnya.

Sekarang jika seseorang tidak mampu melaksanakan nikah da’im dengan berbagai alasan seperti karena masalah ekonomi, studi ataupun yang lainnya, dan untuk meredam nafsu dengan puasa misalnya iapun tidak mampu atau gejolaknya muncul diwaktu malam yang tidak memungkinkan untuk puasa, maka alternatif terakhir dengan nikah mut’ah tadi.

Inilah yang diajarkan Islam kepada pengikutnya karena kita tahu bahwa Islam adalah agama terakhir, syariatnya pun adalah syariat terakhir yang dibawa oleh Nabi terakhir maka ia harus selalu up to date dan universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia yang mampu menjawab apapun kemungkinan yang bakal terjadi, dan ia merupakan agama yang bijaksana dimana salah satu ciri hal yang bijak adalah disaat ia melarang sesuatu maka ia harus memberi jalan keluarnya. Lantas jika seseorang tidak dapat melakukan nikah da’im ataupun meredam nafsunya lantas apa yang harus ia lakukan, sementara Islam melarang penyimpangan seksual jenis apapun? Atau jika ada seorang pemuda ingin mengenal seorang wanita lebih dekat untuk nanti menjadikannya seorang istri dalam masa pendekatan itu – karena boleh jadi gagal karena tidak ada kecocokan- hubungan apakah yang harus ia lakukan sehingga ia dapat berbicara dengan wanita tersebut berdua-duaan sedang Islam melarang berpacaran tanpa ada ikatan pernikahan?

Dan banyak lagi contoh lain yang Islam sebagai agama terakhir dan sebagai agama yang bijak dituntut untuk mampu menjawab tantangan tersebut, jika mut’ah diharamkan lantas kira-kira jalan keluar manakah yang akan diberikan oleh si pengharam mut’ah tadi? Oleh karenanya jangan heran jika Imam Ali (AS) mengeluarkan statemen seperti diatas ( Imam Ali: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”).

Kesalahan besar yang selama ini banyak terdapat pada benak kaum muslimin adalah mereka sering mengidentikkan nikah mut’ah dengan hubungan seksual padahal tidak mesti semacam itu –sebagaimana nikah da’im dengan anak dibawah usia yang diperbolehkan oleh para ahli fiqih semuanya- bisa saja siwanita mensyarati untuk tidak melakukan hal tersebut dalam akad nya sehingga mut’ah hanya sebagai sarana untuk menghilangkan dosa -semasa berkenalan untuk nantinya menikah daim- dengan adanya ikatan pernikahan diantara mereka.

Soal: Adanya beberapa sumber dari ahlussunnah yang menunjukkan adanya pelarangan mut’ah walaupun dari sisi waktu dan tempat pelarangannya berbeda-beda sehingga menjadi argumen bahwa ayat mut’ah (an-Nisaa:23) sudah terhapus dengan riwayatriwayat itu, seperti:
1. Dibolehkannya mut’ah lantas dilarang pada seusai perang Khaibar.
2. Dibolehkannya nikah mut’ah lantas dilarang pada saat Fathul-Makkah.
3. Hanya dibolehkan pada saat peristiwa Awthas saja.
4. Diperbolehkan pada saat umrah qadha’ saja.

Jawab: Kita bisa katakan bahwa:
1. Ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda itu menunjukkan tidak adanya kesepakatan akan pelarangannya karena perbedaan riwayat menunjukkan bahwa riwayat itu tunggal sifatnya (khabar wahid) dan riwayat jenis itu tidak bisa dijadikan sandaran sebagai penghapus hukum yang ada dalam Al-Qur’an, oleh karenanya Imran bin Hashin mengatakan tidak ada riwayat ataupun ayat yang menghapus hukum mut’ah (lihat kembali riwayat Imran diatas).

2. Khalifah kedua sebagai pengharam mut’ah pun tidak menyandaran ijtihadnya – kalaulah itu bisa disebut ijtihad- kepada ayat ataupun riwayat karena memang tidak ada riwayat yang menghapus hukum mut’ah tersebut sehingga dari sinilah menyebabkan banyak sahabat yang menentang keputusan Umar dalam pengharaman mut’ah. Kalau ada ayat atau riwayat yang mengharamkan nikah Mut’ah, kenapa Umar menyandarkan pelarangannya pada diri sendiri? Bukankah dengan menyandarkan pada ayat dan riwayat dari Rasul maka pendapatnya akan lebih kuat?

Soal: Diperbolehkannya melakukan nikah mut’ah adalah sebagaimana diperbolehkannya memakan daging babi yaitu pada saat-saat tertentu saja (dharurat) karena mut’ah sama hukumnya seperti zina yaitu haram, maka sebagaimana haramnya babi dalam saatsaat tertentu halal maka pada saat-saat tertentupun mut’ah halal juga hukumnya.

Jawab: Jelas penyamaan antara diperbolehkannya makan daging babi disaat dharurat berbeda dengan mut’ah, salah satu perbedaannya adalah:

Hukum dharurat hanya pada hal-hal yang mengakibatkan kelangsungan hidup (jiwa) terancam oleh karenanya diperbolehkan makan daging babi sebatas untuk menyambung hidup saja sehingga dilarang untuk makan secara berlebihan, adapun mut’ah apakah ia sama seperti daging babi sehingga jika seseorang tidak mut’ah lantas ia terancam kelangsungan hidupnya?

Kalaupun –walaupun alasan ini tidak dapat diterima- mut’ah bisa disamakan sama seperti daging babi yaitu terkenai hukum dharurat, lantas kenapa banyak sahabat yang melakukan mut’ah saat itu padahal gairah seksual tidak mesti muncul bersamaan sebagaimana rasa lapar?

Kalau dikatakan hukum dharurat itu ada, seharusnya hukum setelah hilang nya dharurat, kembali ke hukum awal nya (haram), akan tetapi yang kita dapati bahwa rasulullah tidak mengharamkan sampai akhir hayatnya. Sehingga tidak benar penghalalan hukum mutah itu dikarenakan dharurat.

Penutup.

Dari sini jelaslah bahwa nikah mut’ah diperbolehkan oleh syariat Islam –yang bersumber dari ayat dan hadis shohih- dimana sepakat kaum muslimin bahwa sumber syariat hanyalah ALLAAH semata sebagaimana ayat yang berbunyi: “keputusan menetapkan suatu hukum hanyalah hak ALLAAH”(Qs Yusuf:67). Sedang Rasul diutus untuk menjelaskannya oleh karenanya apa yang diungkapkan oleh beliau merupakan apa yang sudah disetujui oleh ALLAAH. Rasul bersabda:“dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”(Qs An-Najm:3-4). Oleh karenanya:“apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”(Qs Al-Hasyr:7).

Adapun ucapan para sahabat jika sesuai dengan firman ALLAAH atau ungkapan Rasul maka bisa juga dikategorikan sebagai teks agama, akan tetapi jika tidak maka hal itu telah keluar dari apa yang telah tercantum dari ayat-ayat diatas tadi karena mereka manusia biasa seperti kita yang juga bisa salah sehingga tidak bisa dijadikan rujukan dalam menangani masalah syariat secara independen (mustaqil) tanpa tolok ukur kebenaran yang lain. Karena jika tidak, apa mungkin akan kita jadikan tolok ukur sedang kita dapati banyak pendapat mereka yang saling paradoksal sebagaimana yang kita saksikan tadi, bukankah dalam situasi perbedaan pendapat semacam itu kita diperintahkan untuk kembali kepada ALLAAH & Rasuln : kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada ALLAAH dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada  ALLAAH dan hari akhir”(Qs An-Nisaa’:59).

Bukanlah ALLAAH dan RasulNYA tetap menghalalkan nikah mut’ah? Sewaktu sumber syariat adalah Al-Qur’an dan Hadis shohih lantas apakah diperbolehkan orang berijtihad –yang lantas hasilnya-hasilnya dianggap sebagai syariat- akan tetapi bertentangan dengan kehendak ALLAAH dan Rasul yang sebagai sumber syariat?, bukankah dalam Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa; “dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAAH dan RasulNYA telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa yang mendurhakai ALLAAH dan Rasul-NYA maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”(Qs al-Ahzab:36).

Apakah pemberian ketetapan lain yang tidak sesuai dengan ketetapan ALLAAH dan Rasul tersebut tidak dikategorikan sebagai bid’ah -yang berarti mengada-adakan hukum syariat- dimana dalam riwayat disebutkan bahwa semua jenis bid’ah adalah sesat – “kullu bid’atin dholalah” -sehingga tidak ada lagi lubang untuk membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan yang buruk? Lantas apakah konsekwensi bagi orang ahli bid’ah yang berarti ahli kesesatan yang dalam riwayat tentang bid’ah juga telah disebutkan “wakullu dhalalatin finnaar”? Kemudian apakah kita akan terus mengikuti ahli bid’ah dengan mengharamkan nikah mut’ah?

Kalaupun nikah mut’ah haram lantas kenapa kita juga tidak mengharamkan mut’ah haji yang sampai detik ini masih dilakukan oleh semua kaum muslimin dunia padahal ia termasuk yang diharamkan oleh khalifah kedua?

Dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab oleh saudara saudara ahlussunnah yang berkisar tentang mut’ah. Renungkanlah dan bacalah saudara-saudaraku.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya ALLAAH tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS; Al-Maaidah:87).


[43] Asysyafi’i. Muhammad bin Idris. Al Umm. Darul Kutub Al Ilmiyyah, . Tanpa Tahun, Dari CD Maktabatul Fiqh, Jilid 5, Hal. 10

[44] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi . Tanpa Tahun. jilid 2 hal 54. Dari CD Maktabatul Fiqh

[45] Ibnu Dhawayyan. Manarussabil. Al Maktab Al Islami. Dari CD Maktabatul Fiqh, Tanpa Tahun.

[46] AnNisa’. 4 : 25

[47] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahanya, Tanpa Tahun, Cetakan Saudi Arabia. Hal. 121

[48] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 1 hal 588

[49] Al Mu’minun. 23 : 5, 6

[50] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 526

[51] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 3 hal 294

[52] AnNur. 24 : 33

[53] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 549

[54] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. Jilid 1 hal 588

[55] Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Bari bisyarhi Sohihil Bukhori. Jilid 9 .Hal 166 Kitab Nikah. Bab Naha Rasulullah An Nikahil Mut’ati Akhiiron.. Darul Ma’rifah Beirut. Tanpa Tahun . 9 : 166 hadits No. 5115

[56] AnNawawi. Muhyiddin.. Sohih Muslim Bisyarhin Nawawi. Jilid 9 Hal 184 . Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiihaTsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 187. Hadits no. 3404

[57] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit. Jilid 9 : 187. Hadits no. 3404

[58] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid Jilid 9 hal 184

[59] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid… Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiiha y Tsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 186. Hadits no. 3402

[60] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit Jilid 9 hal 183

[61] AnNawawi. Muhyiddin.. Loc. Cit.

[62] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi. Tanpa Tahun . Dari CD Maktabatul Fiqh Jilid 2 hal 54

[63] Al Sarkhasi, Syamsuddin.. Al Mabsut. Beirut. Darul Kutub Al Ilmiyyah. 1993 . jilid 5. hal. 153 Dari CD Maktabatul Fiqh

[64] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Al Kafi.. http://www.islam4u.com Tanpa Tahun. Jilid 5 hal. 448

[65] Syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah

[66] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No2

[67] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid 5 hal. 448 . Riwayat. No. 3

[68] [68] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No. 4

[69] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit . Jilid 5 hal. 451 .

[70] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 452

[71] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 455

[72] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 457

[73] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 458

[74] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 460

[75] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[76] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[77] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 452

[78] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid t. Jilid. 5 Hal. 462

[79] Al Sistani. Ali. Minhajusholihin. http://www.al-shia.com. Tanpa Tahun Jilid 3 hal 82

[80] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[81] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Jilid 3 hal. 8

[82] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih.. Man La yahdhuruhul faqih.www.al-shia.com Tanpa Tahun. Jilid 3. Hal 464

[83] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih..Loc. Cit

[84] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Hal. 80

[85] Al Sistani. Ali. Loc. Cit.

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Salah satu masalah fikih yang diperselisihkan antara pengikut Ahlulbait (Syiah) dan Ahlusunnah adalah hukum nikah Mut’ah. Tentang masalah ini ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, berikut ini akan kita bahas bersama. Pertama: Defenisi NikahMut’ah.

Kedua: Tentang ditetapkannya mut’ah dalam syari’at Islam. Ketiga: Tidak adanya hukum baru yang me-mansukh-kannya. Keempat:

Hadis-hadis yang menegaskan disyari’atkannya. Kelima: Bukti-bukti bahwa Khalifah Umar-lah yang mengharamkannya.

Difinisi Nikah Mut’ah:

Ketika menafsirkan ayat 24 surah al-Nisa’-seperti akan disebutkan di bawah nanti, Al-Khazin (salah seorang Mufasir Sunni) menjelaskan difinisi nikah mut’ah sebagai berikut, “Dan menurut sebagian kaum (ulama) yang dimaksud dengan hukum yang terkandung dalam ayat ini ialah nikah mut’ah yaitu seorang pria menikahi seorang wanita sampai jangka waktu tertentu dengan memberikan mahar sesuatu tertentu, dan jika waktunya telah habis maka wanita itu terpisah dari pria itu dengan tanpa talaq (cerai), dan ia (wanita itu) harus beristibrâ’ (menanti masa iddahnya selasai dengan memastikan kesuciaannya dan tidak adanya janin dalam kandungannya_pen), dan tidak ada hak waris antara keduannya. Nikah ini boleh/halal di awal masa Islam kemudian diharamkan oleh Rasulullah saw.”[1] Dan nikah Mut’ah dalam pandangan para pengikut Ahlulbait as. adalah seperti difinisi di atas. NikahMut’ah Telah Disyari’atkan

Dalam masalah ini telah disepakati bahwa nikah mut’ah telah disyari’atkan dalam Islam, seperti juga halnya dengan nikah daa’im (permanen). Semua kaum Muslim dari berbagai mazhab dan aliran tanpa terkecuali telah sepakat bahwa nikah Mut’ah telah ditetapkan dan disyari’atkan dalam Islam. Bahkan hal itu dapat digolongkan hal dharuruyyat minaddin (yang gamblang dalam agama). Alqur’an dan sunah telah menegaskan disyari’atkannya nikah Mut’ah. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat tentang apakah ia kemudian dimansukhkan atau tidak?

Al-Maziri seperti dikutip al-Nawawi mengatakan, “Telah tetap (terbukti) bahwa nikah Mut’ah adalah boleh hukumnya di awal Islam… .” [2] Ketika menjelaskan sub bab yang ditulis Imam Bukhari: Bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (Bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

Ibnu Hajar mendifinisikan nikah mut’ah, “Nikah mut’ah ialah menikahi wanita sampai waktu tertentu, maka jika waktu itu habis terjadilah perpisahan, dan difahami dari kata-kata Bukhari akhiran (pada akhirnya) bahwa ia sebelumnya mubaah, boleh dan sesungguhnya larangan itu terjadi pada akhir urusan.” [3]

Al-Syaukani juga menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah pernah diperbolehkan dan disyari’atkan dalam Islam, sebelum kemudian, katanya dilarang oleh Nabi saw., ia berkata, “Jumhur ulama berpendapat sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat ini ialah nikah mut’ah yang berlaku di awal masa Islam. Pendapat ini dikuatkan oleh qira’at Ubai ibn Ka’ab, Ibnu Abbas dan Said ibn Jubair dengan tambahan إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى .” [4]

Ibnu Katsir menegaskan, “Dan keumuman ayat ini dijadikan dalil nikah mut’ah, dan tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya nikah mut’ah itu ditetapkan dalam syari’at pada awal Islam, kemudian setelah itu dimansukhkan… .” [5]

Ayat Tantang Disyari’atkannya Nikah Mut’ah

Salah satu ayat yang tegas menyebut nikah bentuk itu seperti telah disinggung di atas ialah firman Allah SWT.

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوْهُنَّأُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً … (النساء:24)

“Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka upah (mahar)nya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…” (QS:4;24)

Ayat di atas mengatakan bahwa wanita-wanita yang telah kamu nikahi dengan nikah mut’ah dan telah kamu gauli maka berikanlah kepada mereka itu mahar secara sempurna. Kata اسْتَمْتَعْتُمْ berartikan nikahmut’ah yaitu nikah berjangka waktu tertentu sesuai kesepakatan antara kedua pasangan calon suami istri. Dan dipilihnya kata tersebut disebabkan nikah mut’ah memberikan kesenangan, kenikmatan dan manfaat.

Dalam bahasa Arab kata mut’ah juga diartikan setiap sesuatu yang bermanfaat, kata kerja istamta’a artinya mengambil manfaat[6].

Para sahabat telah memahami ayat di atas sebagai ayat yang menegaskan disyari’atkannya nikahtersebut, sebagian sahabat dan ulama tabi’in seperti Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Said ibn Jubari, Mujahid dan as Suddi membacanya:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ – إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى- فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

dengan memberi tambahan kata إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى (sampai jangka waktu tertentu). Bacaan tesebut tentunya sebagai sekedar penjelasan dan tafsir, bukan dengan maksud bahwa ia dari firman Allah SWT. Bacaan mereka tersebut dinukil oleh para ulama besar Ahlusunah seperti Ibnu Jarir al-Thabari, Al-Razi, al-Zamakhsyari, Al-Syaukani dan lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu persatu nama-nama mereka. Qadhi Iyaadh seperti dikutip al-Maziri, sebagaimana disebutkan Al Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, awal Bab Nikah Mut’ah bahwa Ibnu Mas’ud membacanya dengan tambahan tersebut. Jumhur para ulama pun, seperti telah Anda baca dari keterangan Al-Syaukani, memehami ayat tersebut sebagai yang menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah.

Catatan:

Perlu Anda cermati di sini bahwa dalam ayat di atas Allah SWT berfirman menerangkan apa yang dipraktikkan kaum Muslim dari kalangan sahabat-sabahat Nabi suci saw. dan membimbing mereka akan apa yang harus mereka lakukan dalam praktik yang sedang mereka kerjakan. Allah SWT menggunakan kata kerja bentuk lampau untuk menunjuk apa yang telah mereka kerjakan: اسْتَمْتَعْتُمْ, dan ia bukti kuat bahwa para sahabat itu telah mempraktikan nikah mut’ah. Ayat di atas sebenarnya tidak sedang menetapkan sebuah hukum baru, akan tetapi ia sedang membenarkan dan memberikan bimbingan tentang apa yang harus mereka lakukan dalam bermut’ah. Bukti lain bahwa ayat di atas sedang menerangkan hukum nikah mut’ah ialah bahwa para ulama Sunni mengatakan bahwa hukum dalam ayat tersebut telah dimansukhkan oleh beberapa ayat, seperti akan disinggung nanti. Itu artintya mereka mengakui bahwa ayat di atas tegas-tegas menerangkan hukum nikah Mut’ah!

Klaim Pe-mansukh-an Hukum Nikah Mut’ah Dalam Al qur’an

Ketegasan ayat diatas adalah hal yang tidak disangsikan oleh para ulama dan ahli tafsir. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa hukum itu walaupun telah disyari’atkan dalam ayat tersebut di atas, akan tetapi ia telah dimansukhkan oleh beberapa ayat. Para ulama’ Sunni telah menyebutkan beberapa ayat yang dalam hemat mereka sebagai ayat naasikhah (yang memasukhkan) ayat Mut’ah. Di bawah ini akan saya sebutkan ayat-ayat tersebut.

Ayat Pertama:

Firman Allah SWT:

و الذين هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حافِظُونَ إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ، فَإِنَّهُمْ غيرُ مَلُوْمِيْنَ. (المؤمنون:5-6)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal yang tiada tercela.” (QS:23;5-6) Keterangan Ayat:

Dalam pandangan mereka ayat di atas menerangkan bahwa dibolehkan/ dihalalkanya menggauli seorang wanita karena dua sebab; pertama, hubungan pernikahan (permanen).Kedua, kepemilikan budak.

Sementara itu kata mereka wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah, bukan bukan seorang istri.

Tanggapan:

Pertama-tama yang perlu difahami ialah bahwa mut’ah adalah sebuah ikatan pernikahan dan perkawinan, baik dari sudut pandang bahasa, tafsir ayat maupun syari’at, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Jadi ia sebenarnya dalam keumuman ayat di atas yang diasumsikan sebagai pemansukh, tidak ada alasan yang membenarkan dikeluarkannya dari keumuman tersebut. Kata Azwaajihim dalam ayat di atas mencakup istri yang dinikahi baik dengan akad nikah daim (permanent) maupun akadnikah Mut’ah.

Kedua, selain itu ayat 5-6 Surah Mu’minun (sebagai pemansukh) berstatus Makkiyah (turun sebelum Hijrah) sementara ayat hukum Mut’ah (ayat 24 surah al-Nisa’) berstatus Madaniyah (turun setelah Hijrah). Lalu bagaimana mungkin ayat Makkiyah yang turun sebelum ayat Madaniyah dapat memansukhkannya?! Ayat yang memansukh turun lebih dahulu dari ayat yang sedang dimansukhkan hukumnya. Mungkinkah itu?!

Ketiga, Tetap diberlakukannya hukum nikah Mut’ah adalah hal pasti, seperti telah ditegaskan oleh para ulama Sunni sendiri. Az- zamakhsyari menukil Ibnu Abbas ra.sebagai mengatakan, “Sesungguhnya ayat Mut’ah itu muhkam (tidak mansukh)”. Pernyataan yang sama juga datang dari Ibnu Uyainah.

Keempat, Para imam Ahlubait as. menegaskan bahwa hukum yang terkandung dalam ayat tersebut tetap berlaku, tidak mansukh.

Kelima, Ayat 5-6 Surah Mu’minun sedang berbicara tentang hukum nikah permanen dibanding tindakan-tindakan yang diharamkan dalam Syari’at Islam, seperti perzinahan, liwath (homo) atau kekejian lain. Ia tidak sedang berbicara tentang nikah Mut’ah, sehingga diasumsikan adanya saling bertentangan antara keduanya.

Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan nikah Mut’ah itu bukan berstatus sebagai isrti, zawjah, maka anggapan itu tidak benar. Sebab:

1. Mereka mengatakan bahwa nikah ini telah dimansukhkan dengan ayat إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ … atau ayat-ayat lain atau dengan riwayat-riwayat yang mereka riwayatkan bahwa Nabi saw. telah memansukhnya setelah sebelumnya pernah menghalalkannya. Bukankah ini semua bukti kuat bahwa Mut’ah itu adalah sebuah akad nikah?! Bukankah itu pengakuan bahwa wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah itu adalahh seorang isrti, zawjah?! Sekali lagi, terjadinya pemansukhan -dalam pandangan mereka- adalah bukti nyata bahwa yang dimansukh itu adalah nikah!

2. Tafsiran para ulama dan para mufassir Sunni terhadap ayat surah An Nisaa’ bahwa yang dimaksud adalah nikah Mut’ah adalah bukti nyata bahwa akad Mut’ah adalah akad nikah dalam Islam.

3. Nikah Mut’ah telah dibenarkan adanya di masa hidup Nabi saw. oleh para muhaddis terpercaya Sunni, seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud dll.

4. Ada ketetapan emas kawin, mahar dalam nikah Mut’ah adalah bukti bahwa ia adalah sebuah akadnikah. Kata أُجُوْرَهُنَّ (Ujuurahunna=mahar mereka). Seperti juga pada ayat-ayat lain yang berbicara tentang pernikahan.

Perhatikan ayat 25 surah An Nisaa’, ayat 50 surah Al Ahzaab(33) dan ayat 10 surah Al Mumtahanah (60). Pada ayat-ayat di atas kata أُجُوْرَهُنَّ diartikan mahar.

Ayat Kedua dan Ketiga:

Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ نِصْفُ ما تَرَكَ أَزْواجُكُمْ. (النساء:12)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS:3;12)

Dan

وَ إِذا طَلَّقْتُمُ النِساءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ. (الطلاق:1)

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaknya kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi)iddahnya (yang wajar).” (QS65;1)

Keterangan:

Ringkas syubhat mereka dalam masalah ini ialah bahwa seorang istri itu dapat mewarisi suaminya, dan dapat diceraikan dan baginya hak mendapatkan nafkah dari suami. Semua ini adalah konsekuensi ikatan tali pernikahan. Sementara itu, dalam kawin Mut’ah hal itu tidak ada, seorang istri tidak mewarisi suaminya, dan hubungan itu berakhir dengan tanpa talak/tidak melalui proses penceraian, dan tiada atas suami kewajiban nafkah. Maka dengan memperhatikan ini semua Mut’ah tidak dapat disebut sebagai akad nikah, dan wanita itu bukanlah seorang istri! Tanggapan Atas Syubhat di Atas

1. Syarat yang diberlakukan dalam akad Mut’ah sama dengan yang diberlakukan dalam nikah daim (permanen), sebagimana dalam nikah daim disyaratkan beberapa syarat, seperti, harus baligh, berakal (waras jiwanya), bukan berstatus sebagai hamba sahaya, harus ada saling rela, dan …demikian pula dalam nikah Mut’ah tanpa ada sedikitpun perbedaan. Adapun masalah talak, dan saling mewarisi, misalnya, ia bukan syarat sahnya akad pernikahan… ia adalah rentetan yang terkait dengannya dan tetap dengan tetap/sahnya akad itu sendiri. Oleh sebab itu hal-hal di atas tidak disebutkan dalam akad. Ia berlaku setelah terjadi kematian atau penceraian. Seandainya seorang istri mati tanpa meninggalkan sedikitpun harta waris, atau ia tidak diceraikan oleh suaminya hingga ia mati, atau suami menelantarkan sebagian kewajibannya, maka semua itu tidak merusak kebashan akad nikahnya. Demikian pula tentang nafkah dan iddah.

2. Redaksi akad yang dipergunakan dalam nikah daim tidak berbeda dengan yang dipergunakan dalam nikah Mut’ah, hanya saja pada Mut’ah disebutkan jangka waktu tertentu.

3. Antara dua ayat yang disebutkan dengan ayat Mut’ah tidak ada sedikit pertentangan. Anggapan itu hanya muncul karena ketidak fahaman semata akan batasan Muthlaq (yang mutlak tanpa ikatan) dan Muqayyad (yang diikat), yang umum dan yang khusus. Karena sesungguhnya ayat Mut’ah itu mengkhususkan ayat tentang pewarisan dan talak.

4. Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan akad nikah Mut’ah itu bukan seorang istri, maka anggapan itu tidak benar karena:

A. Sebab pewarisan itu bukanlah konsekuensi yang berkalu selamanya dalam pernikahan, yang tidak dapat berpisah sama sekali. Di sana ada pengecualian- pengecualian. Seorang wanita ditetapkan sebagai sitri namun demikian ia tidak mewairisi suaminya, seperti seorang istri yang berbeda agama (Kristen misalnya) dengan suaminya (Muslim), atau istri yang membunuh suaminya, atau seorang wanita yang dinikahi seorang laki-laki dalam keadaan sakit kemudian suami tersebut mati sebelum sempat berhubungan badan dengannya, atau apabila istri tersebut berstatus sebagai budak sahaya… bukankan dalam contoh kasus di atas wanita itu berstaus sebagai isri, namun demikian -dalam syari’at Islam- ia tidak mewarisi suaminya.

B. Ayat tentang warisan (ayat 12 surah An Nisaa’) adalah ayat Makkiyah sementara ayat Mut’ah adalah madaniyah. Maka bagaimana mungkin yang menasakh turun lebih dahulu dari yang dimansukh?!

5. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab tidak ada keharusan atas suami untuk memberi nafkah, maka anggapan ini juga tidak tepat, sebab:

A. Nafkah, seperti telah disinggung bukan konsekusensi pasti/tetap berlaku selamanya atas seorang suami terhadap istrinya. Dalam syari’at Islam, seorang istri yang nasyizah (memberontak kepada suaminya, tidak mau lagi berumah tangga), tiada kewajiban atas suami memberinya nafkah. Demikian disepakati para ulama dari seluruh mazhab.

B. Dalam akad Mut’ah sekali pun, kewajiban nafkah tidak selamanya gugur. Hal itu dapat ditetapkan berdasarkan syarat yang disepakati antara keduannya. Demikian diterangkan para fuqaha’ Syi’ah.

6. Adapun anggapan karena ia tidak harus melakukan iddah (menanti janggak waktu tertentu sehingga dipastikan ia tidak sedang hamil dari suami sebelumnya = tiga kali masa haidh) maka ia bukan seoarng istri. anggapan ini adalah salah, dan sekedar isu palsu, sebab seorang wanita yang telah berakhir janggka waktu nikah Mut’ah yang telah ditentukan dan disepakati oleh keduanya, ia tetap wajib menjalani proses iddah. Dalam fikih Syi’ah para fuqaha’ Syi’ah menfatwakan bahwa masa iddah atasnya adalah dua kali masa haidh.

7. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab ia berpisah dengan suaminya tanpa melalui proses perceraian, sementara dalam Al qur’an ditetapkan hukum perceraian bagi suami istri yang hendak berpisah. Maka hal itu tidak benar, sebab:

A. Perceraian bukan satu-satunya yang merusak akad penikahan. Seorang istri dapat saja berpisah dengan suaminya dengan tanpa perceraian, seperti pada kasus, apabila istri tersebut murtad, atau apabila ia seorang hamba sahaya kemudian ia dijual oleh tuannya, atau istri yang masih kanak-kanak, kemudian istri suami tersebut menyusuinya (sehingga ia menjadi anak susunya), atau ketika ibu suami itu menyusui anak istrinya… Atau istri seorang laki-laki yang murtad, atau istri yang terbukti terdapat padanya cacat, ‘uyuub yang menyebabkan gugurnya akad nikah, seperti apabila istri itu ternyata seorang wanita gila dan …. Bukankah dalam semua kasus di atas istri itu berpisah dari suaminya tanpa melalui proses talak?!

B. Seorang wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah tidak berarti selamanya menjadi monopoli suami itu yang tidak akan pernah bisa berpisah. Dalam nikah Mut’ah ketetapan tentang waktu berada di tangan si wanita dan pri itu. Merekalah yang menetukan jangka waktu bagi pernikahan tersebut.

C. Kedua ayat itu tidak mungkin dapat menasikhkan hukum nikah Mut’ah yang disepakati kaum Muslim (Sunni-Syi’ah) akan adanya di awal masa Islam.

Dan saya cukupkan dengan memaparkan contoh-contoh ayat yang diasumsikan sebagai penasakh hukum nikah Mut’ah yang telah ditetapkan dalam Ayat Mut’ah (ayat 24 surah An Nisaa’). Dalil Sunnah

Adapun bukti dari sunnah Nabi saw. bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan dalam Islam dan tidak pernah dimansukhkan oleh sesuatu apapun adalah banyak sekali, di antaranya ialah apa yang diriwayatkan “Imraan ibn Hushain” yang menegaskan bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan hukum nikah mut’ah dan ia tetap, muhkam (berlaku) tidak dimansukhkan oleh sesuatu apapun sampai Umar mengharamkannya. Selain riwayat dari “Imraan ibn Hushain”, sahabat-sabahat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Salamah ibn al-Akwa’, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Akwa’ ibn Abdullah, seperti diriwayatkan hadis-hadis mereka oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga Imam Muslim dalam Shahihnya juga menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah. Al-hasil, hadis tentang pernah disyari’atkannya bahkan masih tetap dihalalkannya nikah mut’ah banyak sekali dalam buku-buku hadis andalan Ahlusunah.

Hukum Nikah Mut’ah Tidak Pernah Dimansukhkan

Para Imam suci Ahlubait as., dan tentunya juga para pengikut setia mereka (Syi’ah Imamiyah) meyakini bahwa nikah mut’ah masih tetap disyari’atkan oleh Islam dan ia halal sampai hari kiamat tiba, tidak ada sesuatu apapun yang menggugurkan hukum dihalalkannya.

Dan seperti telah Anda baca sebelumnya bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan Islam; Alqur’an turun untuk membenarkan praktik nikah tersebut, Nabi saw. mengizinkan para sahabat beliau melakukannya, dan beliau juga memerintahkan juru penyampai untuk mengumandangkan dibelohkannya praktik nikah mut’ah. Jadi atas yang mengaku bahwa hukum nikah mut’ah yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya itu sekarang dilarang, maka ia harus mengajukan bukti.

Sementara itu, seperti akan Anda saksikan nanti, bahwa klaim adanya pengguguran (pe-mansuk-han) hukum tersebut adalah tidak berdasar dan tidak benar, ayat-ayat Alqur’an yang kata mereka sebagai pemansukh ayat mut’ah tidak tepat sasaran dan hanya sekedar salah tafsir dari mereka, sedangkan hadis-hadis yang mereka ajukan sebagai bukti adanya larangan juga centang perentang, saling kontradiksi, di samping banyak darinya yang tidak sahih. Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis yang tegas-tegas mengatakan bahwa nikah mut’ah adalah halal dan tidak pernah ada hukum Allah SWT yang mengharamannya.

Hadis Pertama: Hadis Abdullah ibn Mas’ud

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Qais ibn Abi Hazim ia mendengar Abdullah ibn Mas’ud ra. berkata:

“Kami berperang keluar kota bersama Rasulullah saw., ketika itu kami tidak bersama wanita-wanita, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri?”, maka beliau melarang kami melakukannya lalu beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) bitstsaub, sebuah baju. Setelah itu Abdullah membacakan ayat:

يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَ لاَ تَعْتَدُوا، إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ المعْتَدِيِنَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS:5;87)“

Hadis di atas dapat Anda temukan dalam:

1. Shahih Bukhari:

· Kitabut tafsir, bab Qauluhu Ta’ala يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ .[7]

·Kitabun Nikah, bab Ma Yukrahu minat Tabattul wal Khashbaa’.[8]

2. Shahih Muslim:

· Kitabun Nikah, bab Ma Ja’a fi Nikah al-Mut’ah[9]

Ketika menerangkan hadis di atas, Ibnu Hajar dan al-Nawawi mengatakan:

“kata-kata ‘beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) sebuah baju’ sampai jangka waktu tertentu dalam nikah mut’ah… .” Ia juga mengatakan bahwa pembacaan ayat tersebut oleh Ibnu Mas’ud adalah isyarat kuat bahwa beliau meyakni dibolehkannya nikah mut’ah, seperti juga Ibnu Abbas. Hadis Kedua: Hadis Jabir Ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’ ra.

A. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan ibn Muhammad dari Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn Al-Akwa’ keduanya berkata:

“Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah rasul (utusan) Rasulullah sa., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.”

Hadis di atas dapat Anda baca dalam:

1. Shahih Bukhari: Kitabun Nikah, bab Nahyu Rasulillah saw ‘An-Nikah al-Mut’ah ‘Akhiran.[10] 2. Shahih Muslim: Kitabun Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.[11]

B. Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’: Sesungguhnya Rasulullah saw. datang menemui kami dan mengizinkan kami untuk bermut’ah.[12]

Hadis Ketiga: Hadis Jabir ibnAbdillah:

A. Muslim meriwayatkan dari Atha’, ia berkata:

“Jabir ibn Abdillah datang untuk umrah, lalu kami mendatanginya di tempat tinggalnya dan orang-orang bertanya kepadanya banyak masalah, kemudian mereka menyebut-nyebut mut’ah, maka Jabir berkata, “Kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[13]

B. Dari Abu Bashrah, ia berkata:

“Aku berada di sisi Jabir lalu datanglah seseorang dan berkata, ” Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih tentang dua jenis mut’ah”. Jabir berkata,” Kami melakukannya bersama Rasululah saw., kemudian Umar melarang melaksanakan keduanya, maka kami tidak kembali (melakukannya) lagi.”[14]

C. Abu Zubair berkata, “Aku mendengar Jabir ibn Abdillah berkata:

“Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[15] Ibnu Jakfari berkata:

Jelaslah bahwa maksud Jabir dengan ucapannya bahwa “Kami bermut’ah di masa Rasulullah…”, “Kami melakukannya bersama Rasululah saw” bukanlah bahwa saya sendirian melakukannya hanya sekali saja, akan tetapi ia hendak menjelaskan bahwa kami (saya dan rekan-rekan sahabat Nabi saw.) melakukannya banyak kali, dan dengan sepengetahuan Nabi saw., beliau membenarkannya dan tidak melarangnya sampai beliau dipanggil Allah SWT ke alam baqa’. Dan ini adalah bukti kuat bahwa tidak pernah ada pengharaman dari Allah dan Rasul-Nya, nikah mut’ah tetap halal hingga hari kiamat, sebab “halalnya Muhammad saw. adalah halal hingga hari kiamat dan haramnya Muhammad adalah haram hingga hari kiamat”, kecuali jika kita meyakini bahwa ada nabi baru setelah Nabi Muhammad saww dan ada wahyu baru yang diturunkan Jibril as. setelah sempurnanya agama Islam.

Adapun arahan sebagian ulama, seperti al-Nawawi yang mengatakan bahwa para sahabat mulia itu mempraktikan nikah mut’ah di masa hidup Nabi saw. dan juga di masa kekhalifahan Abu Bakar dan beberapa tahun masa kekhalifahan Umar itu dikarenakan mereka belum mengetahui pemansukhan hukum tersebut, adalah ucapan tidak berdasar, sebab bagainama mungkin pemansukhan itu samar atas para sahabat itu -dan tidak jarang dari mereka yang dekat persahabatannya dengan Nabi saw.-, sementara pemansukhan itu diketahui oleh sahabat-sabahat “cilik” seperti Abdullah ibn Zubair atau yang lainnya?!

Bagaimana mungkin juga hukum pengharaman mut’ah itu juga tidak diketahui oleh Khalifah Umar, sehingga ia membiarkan praktik nikah mut’ah para sabahat, dan baru sampai kepadanya berita pemansukhan itu di masa akhir kekhalifahannya?! Ketika menerangkan ucapan Jabir, “sampai Umar melarangnya”, Al-Nawawi berkata, “Yaitu ketika sampai kepadanya berita pemansukhan.”[16]

Selain itu jelas sekali dari ucapan Jabir bahwa ia menisbatkan pengharaman/ larangan itu kepada Umar “sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits”. Jadi larangan itu bukan datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, ia datang dari Khalifah Umar dalam kasus Amr ibn Huraits. Umar sendiri seperti telah Anda baca dalam pidatonya menegakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada di masa Rasululah saww. dan beliau menghalalkannya, namun ia (Umar) melarangnya!

Coba Anda perhatikan hadis di bawah ini: Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubranya dari Abu Nadhrah dari Jabir ra.:

saya (Abu Nadhrah) berkata, ” Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya”. Maka jabir berkata, “Di tangan sayalah hadis ini berputar, kami bermut’ah bersama Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. dan ketika Umar menjabat sebagai Khalifah ia berpidato di hadapan orang-orang, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah saw. adalah Rasul utusan Allah, dan Alqur’an adalah Alqur’an ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah saw., tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya, salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.”[17]

Dan selain hadis yang telah disebutkan di atas masih banyak hadis-hadis lain yang sengaja saya tinggalkan, sebab apa yang telah disebut sudah cukup mewakili.

Dan kini mari kita meyimak hadis-hadis yang mengharamkan nikah Mut’ah.

Riwayat-riwayat Pengharaman Nikah Mut’ah

Setelah kita simak sekelumit hadis yang menerangkan tetap berlakunya hukum kehalalan nikah mut’ah, maka sekarang kami akan mencoba menyajikan beberapa hadis terkuat yang dijadikan hujjah oleh mereka yang meyaniki bahwa hukum halalnya nikah mut’ah telah dimansukhkan.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa kasus pengharaman nikah mut’ah -dalam pandangan yang mengharamnkan- adalah terbilang kasus aneh yang tidak pernah dialami oleh satu hukum Islam lainnya, yaitu dihalalkan kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan kemudian diharamkan lagi. Dan sebagiannya hanya berlangsung beberapa hari saja.[18]

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya menulis sebuah judul, “Bab Nikah-ul Mut’ah wa Bayaanu ‘Annahu Ubiiha Tsumma Nusikha Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha wa istaqarra Tahriimuhu Ila yaumil Qiyamah (Bab tentang Nikah mut’ah dan keterangan bahwa ia dibolehkan kemudian dimansukkan kemudian dibolehkan kemudian di mansukhkan dan tetaplah pengharaman hingga hari kiamat)”.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan, “Imam Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat bahwanikah mut’ah dibolehkan kemudian dimansukhkan kemudian dibolehkan kemudian dimansukhkan, dua kali.” [19]

Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:

“Masalah kesepuluh: para ulama berselisih pendapat berapa kali ia dibolehkan dan mansukhkan… ia mengatakan bahwa mut’ah pada awalnya dilarang kemudian dibolehkan kemudian Nabi melarang pada perang Khaibar kemudian mengizinkan lagi pada fathu Makkah kemudian mengharamkannya setelah tiga hari berlaku dan ia haram hingga hari kiamat. Ibnu al-Arabi berkata: “Adapun nikah mut’ah ia termasuk hukum syari’at yang aneh sebab ia dibolehkan pada awal masa Islam kemudian diharamkan pada perang Khaibar kemudian dibolehkan pada perang Awthas kemudian di haramkan setelah itu dan tetaplah pengharaman, dan tidak ada yang menyamainya kecuali masalah kiblat… ulama lain yang telah merangkum hadis-hadis masalah ini mengatakan ia meniscayakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak tujuh kali…”.[20]

Kemudian ia menyebutkan tujuh peristiwa dan kesempatan penghalalan dan pengharaman nikahmut’ah tersebut yang terbilang aneh yang tetuntunya mengundang kecurigaan akan kebenarnnya itu. Sebab kesimpulan ini diambil sebenarnya karena mereka menerima sekelompok hadis yang mengharamkan nikah tersebut, sementara hadis-hadis itu tidak sepakat dalam menyebutkan waktu ditetapkannya pengharaman, akaibatnya harus dikatakan bahwa ia terjadi bebarapa kali. Hadis-hadis tentangnya dapat kita kelompokkan dalam dua klasifikasi global,

pertama, hadis-hadis yang dipandang lemah dan cacat baik sanad maupun matannya oleh para pakar dan ulama Ahlusunnah sendiri. Hadis-hadis kelompok ini tidak akan saya sebutkan dalam kajian kali ini, sebab pencacatan para pakar itu sudah cukup dan tidak perlu lagi tambahan apapun dari saya, dan sekaligus sebagai penghematan ruang dan pikiran serta beban penelitian yang harus dipikul.

Kedua, hadis-hadis yang disahihkan oleh para ulama Ahlusunnah, namun pada dasarnya ia tidak sahih, ia lemah bahkan sangat kuat kemungkinan ia diproduksi belakangan oleh para sukarelawan demi mencari “keridhaan Allah SWT”, hasbatan, untuk mendukung dan membenarkan kebijakan para khulafa’.

Dan untuk membuktikan hal itu saya perlu melakukan uji kualitas kesahihan hadis sesuai dengan kaidah-kaidah yang dirancang para pakar dan ulama.

Hadis Pertama:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Nasa’i, al-Baihaqi dan Mushannaf Abdir Razzaq, (dan teks yang saya sebutkan dari Mushannaf) dari Ibnu Syihab al-Zuhri, dari Abdullah dan Hasan keduanya putra Muhammad ibn Ali (Hanafiyah) dari ayah mereka, bahwa ia mendengar Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya kamu benar-benar seorang yang taaih (bingung dan menyimpang dari jalan mustaqiim), sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarangnya (nikah mut’ah) pada hari peperangan Khaibar dan juga mengharamkan daging keledai jinak.” [21]

Hadis di atas dengan sanad yang sama dan sedikit perbedaan dalam redaksinya dapat Anda jumpai dalam Shahih Bukhari, Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, al-Turmudzi, al-Darimi, Muwaththa’ Imam Malik, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan al-Thayalisi dll.[22] Hadis kedua:

Para muhaddis meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghiffari ra. bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya nikah mut’ah itu hanya dihalalkan khusus untuk kami para sahabat Rasulullah saw. untuk jangka waktu tiga hari saja kemudian setelahnya Rasulullah saw. melarangnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Itu dibolehkan karena rasa takut kita dan karena kita sedang berperang.” [23]

Hadis Ketiga:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Darimi, Ibnu Majah, Abu Daud, dan lainnya (redaksi yang saya sebutkan in dari Muslim) dari Saburah al-Juhani, sesungguhnya ia berperang bersama Rasulullah saw. menaklukkan kota Mekkah. Ia berkata,

“Kami tinggal selama lima belas hari (tiga puluh malam dan siang), maka Rasulullah saw. mengizinkan kami menikahi wanita dengan nikah mut’ah. Lalu saya dan seseorang dari kaumku keluar, dan aku memiliki kelebihan ketampanan di banding dia, ia sedikit jelek, masing-masing kami membawa selimut, selimutku agak jelek adapun selimut miliknya baru, sampailah kami dibawah lembah Mekkah atau di atasnya, kami berjumpa dengan seorang wanita tinggi semanpai dan lincah, kami berkata kepadanya, “Apakah Anda sudi menikah mut’ah dengan salah seeoarng dari kami?” wanita itu bertanya, “Apa yang akan kalian berikan sebagai mahar?”. Maka masing-masing dari kami membeberkan selimutnya, wanita itu memperhatikan kami, dan ia melihat bahwa temanku memperhatikan dirinya dari kaki hingga ujung kepala, temanku berkata, “Selimut orang ini jelek sedangkan selimutku baru”. Kemudian wanita itu megatakan, “Selimut orang itu lumayan. Ia ucapkan dua atau tiga kali. Kemudian saya menikahinya dengan nikah mut’ah, dan aku belum menyelesaikan jangka waktuku melainkan Rasululah saw. telah mengharamkannya. [24]

Dalam riwayat lain: Rasulullah saw. bersabda, “Hai manusia! Sesungguhnya aku telah mengizinkan kalian bermut’ah dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sekarang hingga hari kiamat.” [25]

Dalam riwayat lain: “Aku menyaksikan Rasulullah berdiri diantara rukun dan maqam (dua sudut ka’bah) sambil bersabda…. (seperti sabda di atas)”. [26]

Dalam riwayat lain: “Rasululah memerintah kami bermut’ah pada tahun penaklukan kota Mekkah ketika kami memasuki kota tersebut, kemudian kami tidak keluar darinya melainkan beliau telah melarangnya”. [27]

Dalam riwayat lain: “Aku benar-benar telah bermut’ah di masa Rasulullah saw. dengan seorang wanita dari suku bani ‘Amir dengan mahar dua helai selimut berwarna merah kemudian Rasulullah saw. melarang kami bermut’ah”. [28]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada Fathu Makkah”.[29]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang mut’ah, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia haram sejak hari ini hingga hari kiamat”. [30]

Dalam Sunan Abu Daud, al-Baihaqi dan lainnya diriwayatkan dari Rabi’ ibn Saburah, ia berkata, “Aku bersaksi atas ayahku bahwa ia menyampaikan hadis bahwa Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada haji wada“. [31]

Dalam riwayat lain: “Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada fathu Mekkah”. [32] Hadis Keempat:

Dalam Shahih Muslim, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan lainya (dan redaksi yang saya kutip adalah dari Muslim) diriwayatkan dari Salamah ibn al-Akwa’, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan pada tahun perang Awthas untuk bermut’ah selama tiga hari kemudian beliau melarangnya.” [33] Awthas adalah lembah di kota Thaif. Dan perlu Anda ketahui bahwa peristiwa Awthas terjadi beberapa bulan setelah fathu Mekkah, walaupun dalam tahun yang sama.[34]

Inilah beberapa hadis yang menjadi andalah dan sandaran terkuat pengharaman nikah mut’ah oleh Nabi saw. dan saya berusaha meriwayatkannya dari sumber-sumber terpercaya. Dan kini mari kita telaah hadis-hadis di atas tersebut.

Tentang hadis Imam Ali as. Ada pun tentang hadis Imam Ali as. yang diriwayatkan Zuhri melalui dua cucu Imam Ali as.; Abdullah dan Hasan putra Muhammad ibn Ali as. yang mendapat sambutan luar biasa sehingga hampir semua kitab [35] hadis berebut “hak paten” dalam meriwayatkannya, -tidak seperti biasanya dimana kitab- kitab itu kurang antusias dalam meriwayatkan hadis-hadis dari beliau as. dan tidak memberikan porsi layak bagi hadis-adis Imam Ali as. seperti porsi yang diberikan kepada riwayat-riwayat para sahabat yang berseberangan dengan beliau dan yang diandalkan oleh para penentang Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw.-.

Adapun tentang hadis Imam Ali di atas maka ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentangnya.

Pertama,

ia dari riwayat Zuhri, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az Zuhri lahir pada tahun 58 H dan wafat tahun 124H. Ia dekat sekali dengan Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik dan pernah dijadikan qodhi (jaksa) oleh Yazid bin Abdul Malik. Ia dipercaya Hisyam menjadi guru privat putra-putra istana. Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzib-nya[36]menyebutkan, “Hisyam memerintahnya untuk mengajarkan kepada putra-putranya hadis, lalu ia mendektekan empat ratus hadis”.

Tampaknya Zuhri sangat diandalkan untuk meramu riwayat demi mendukung kepentingan rezim bani Umayyah yang berkuasa saat itu dengan menyajikan riwayat-riwayat yang berseberangan dengan ajaran Ahlulbait as. namun justru dia sajikan dengan menyebut nama para pemuka Ahlulbait as. sendiri, atau riwayat-riwayat yang justru melecehkan keagungan Ahlulbait as., namun sekali lagi ia sajikan dengan mengatas-namakan pribadi-pribadi agung Ahlulbait as., seperti tuduhannya melalui riwayat yang ia produksi bahwa Imam Ali dan Fatimah as. melakukan tindakan kekafiran dengan menentang Nabi saw. Zuhri tampaknya memilih spesialisasi dalam bidang ini. Dan adalah aneh seorang Zuhri yang dikenal benci kepada Imam Ali as. tiba-tiba sekarang tampil sebagai seorang muhaddis yang sangat peduli dalam menyampaikan riwayat-riwayat dari Ali as.

Ibnu Abi al-Hadid, ketika menyebut nama-nama para perawi yang membenci Imam Ali as, ia menyebut, “Dan Zuhri adalah termasuk yang menyimpang dari Ali as”.[37]

Sufyan bin Wakii’ menyebutkan bahwa Zuhri memalsukan banyak hadis untuk kepentingan Bani Marwan. Ia bersama Abdul Malik melaknat Ali as. Asy-Syadzkuni meriwayatkan dari dua jalur sebuah berita yang menyebutkan bahwa Zuhri pernah membunuh seorang budaknya tanpa alasan yang dibenarkan.[38] Kedua,

terlepas dari penilaian kita terhadap kualitas salah satu mata rantai perawi dalam hadis tersebut yang telah Anda baca, maka di sini ada beberapa catatan yang perlu Anda perhatikan. Pertama: Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa Imam Ali as. menegur dan menyebut Ibnu Abbas ra. sebagai seorang yang menyimpang karena ia masih menghalalkan nikah mut’ah padahal nikah tersebut telah diharamkan pada peristiwa peperangan Khaibar. Selain nikah mut’ah, daging keledai jinak juga diharamkan saat itu. Jadi menurut Imam Ali as. keduanya diharamkan pada peristiwa tersebut.

Di sini kita perlu meneliti kedua masalah ini, akan tetapi karena yang terkait dengan masalah kita sekarang adalah nikah mut’ah maka telaah saya akan saya batasi pada pengharaman nikah mut’ah pada hari Khaibar.

Pengharaman nikah Mut’ah pada hari Khaibar

Pengharaman Nabi saw. atas nikah mut’ah pada peristiwa Khaibar, seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah sendiri, seperti Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar dkk. tidak sesuai dengan kanyataan sejarah, sebab beberapa tahun setelah itu nikah mut’ah masih dibolehkan oleh Nabi saw., seperti contoh pada tahun penaklukan kota Mekkah. Oleh karenanya sebagian menuduh Imam Ali as. bodoh dan tidak mengetahui hal itu, sehingga beliau menegur Ibnu Abbas dengan teguran yang kurang tepat, sebab, kata mereka semestinya Imam Ali as. berhujjah atas Ibnu Abbas dengan pengharaman terakhir yaitu pada penaklukan kota Mekkah agar hujjah sempurna, dan kalau tidak maka hujjah itu tidak mengena[39].

Selain itu, dalam peristiwa penyerangan ke kota Khaibar, tidak seorangpun dari sahabat Nabi saw. yang bermut’ah dengan wanita-wanita yahudi, dan mereka tidak juga memohon izin kepada Nabi saw. untuk melakukannya. Tidak seorangpun menyebut-nyebut praktik sabahat dan tidak ada sebutan apapun tentang mut’ah. Di kota Khaibar tidak ada seorang wanita muslimahpun sehingga sah untuk dinikahi secara mut’ah, sementara dihalalkannya menikah dengan wanita yahudi itu belum disyari’atkan, ia baru disyari’atkan setelah haji wada’ dengan firman Allah ayat 5 surah al-Maidah. Demikian ditegaskan Ibnu Qayyim dalam Zaad al-Ma’aad.[40]

Ketika menerangkan hadis Imam Ali as. dalam kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, Ibnu Hajar al-Asqallani menegaskan, “Dan kata pada hari Khaibar bukan menunjukkan tempat bagi diharamkannyanikah mut’ah, sebab dalam ghazwah (peperangan) itu tidak terjadi praktik nikah mut’ah”.[41]

Ibn Hajar juga menukil al-Suhaili sebagai mengatakan, “Dan terkait dengan hadis ini ada peringatan akan kemusykilan, yaitu sebab dalam hadis itu ditegaskan bahwa larangan nikah mut’ah terjadi pada peperangan Khaibar, dan ini sesuatu yang tidak dikenal oleh seorangpun dari ulama pakar sejarah dan perawi atsar/data sejarah.[42]

Al-hasil, hadis tersebut di atas tegas-tegas mengatakan bahwa pada peristiwa Khaibar Nabi mengharamkan nikah mut’ah dan juga keledai, Ibnu Hajar berkomentar, “Yang dzahir dari kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar adalah menunjuk waktu pengharaman keduanya (mut’ah dan daging keledai)”[43], sementara sejarah membuktikan bahwa pada peristiwa itu sebenarnya tidak terjadi pengharaman, sehingga untuk menyelamatkan wibawa hadis para muhadis agung itu, mereka meramu sebuah solusi yang mengatakan bahwa hadis Imam Ali as. itu hanya menujukkan pengharaman keledai saja, adapun pengharaman nikah mut’ah sebenarnya hadis itu tidak menyebut-nyebutnya barang sedikitpun!

Penafsiran nyeleneh ini disampaikan oleh Sufyaan ibnu Uyainah, ia berkata, “Kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar hanya terkait dengan waktu pengharaman keledai jinak bukan terkait dengannikah mut’ah.”[44]

Dan upaya untuk mengatakan bahwa hadis itu tidak menunjukkan pengharaman nikah mut’ah pada zaman Khaibar yang dilakukan sebagian ulama hanya karena mereka terlanjur mensahihkan hadis-hadis yang mengatakan bahwa sebenarnya nikah mut’ah itu masih dibolehkan setelah zaman Khaibar. Demikian diungkap oleh Ibnu Hajar.[45]

Akan tetapi arahan itu sama sekali tidak benar, ia menyalahi kaidah bahasa Arab dan lebih mirip lelucon, sebab;

A. Dalam dialek orang-orang Arab dan juga bahasa apapun, jika Anda mengatakan, misalnya

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid dan ‘Amr pada hari jum’at”

maka semua orang yang mendengarnya akan memahami bahwa penghormatan kepada keduanya itu terjadi dan dilakukan pada hari jum’at.

Bukan bahwa dengan kata-kata itu Anda hanya bermaksud menghormati ‘Amr saja, sementara terkait dengan pak Zaid Anda tidak maksudkan, penghormatan itu mungkin Anda berikan pada hari lain. Sebab jika itu maksud Anda semestinya Anda mengatakan

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و أَكْرَمْتُ عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid , dan saya menghormati ‘Amr pada hari jum’at”.

Dalam riwayat itu kata kerja nahaa itu hanya disebut sekali, oleh karena itu ia mesti terkait dengan kedua obyek yang disebutkan setelahnya. Dan saya tidak yakin bawa para ulama itu tidak mengerti kaidah dasar bahasa Arab ini.

B. Anggapan itu bertentangan dengan banyak riwayat hadis Imam Ali as. dan juga dari Ibnu Umar yang diriwayatkan para tokoh muhadis, seperti Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad yang tegas-tegas menyebutkan bahwa waktu pengharaman nikah mut’ah adalah zaman Khaibar. Merka meriwayatkan:

نَهَى رسولُ اللهِ (ص) عن مُتْعَةِ النساءيَومَ خيْبَر، و عن لُحُومِ الحمرِ الإنْسِيَّةِ.

“Rasulullah saw. melarang nikah kmut’ah pada hari Khaibar, dan juga daging keledai”. [46]

Ibnu Jakfari berkata:

Bagaimana kita dapat benarkan riwayat-riwayat kisah pengharaman itu baik di hari Khaibar maupun hari dan kesempatan lainnya, sementara telah datang berita pasti dan mutawatir bahwa Khalifah Umar ra. berpidato mengatakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada dan berlaku di masa hidup Nabi saw. akan tetapi saya (Umar) melarang, mengharamkan dan merajam yang melakukan nikahnya:

مُتْعَتانِ كانَتَا على عَهْدِ رَسُول ِاللهِ أنا أَنْهَى عَنْهُما وَ أُعاقِبُ عليهِما : مُتْعَةُ الحج و متعة النِّسَاءِ.

“Ada dua bentuk mut’ah yang keduanya berlaku di sama Rasulullah saw., aku melarang keduannya dan menetepkan sanksi atas (yang melaksanakan) keduanya: haji tamattu’ dan nikah mut’ah.[47]

Bagaiamana dapat kita benarkan riwayat-riwayat itu sementara kita membaca bahwa Jabir ibn Abdillah ra. berkata dengan tegas, “kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[48]

Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[49]

Bagaimana kita dapat menerima riwayat hadis-hadis yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan di masa Nabi saw. oleh beliau sendiri, sementara itu Khalifah Umar tidak pernah mengetahuinya, tidak juga Khalifah Abu Bakar dan tidak juga para sahabat dan tabi’in mengetahuinya, bahkan sampai zaman kekuasaan Abdullah ibn Zubair -setelah kematian Yazid ibn Mu’awiyah- dan tidak juga seorang dari kaum Muslim mengetahui riwayat-riwayat sepeti itu. Andai mereka mengetahuinya pasti ia sangat berharga dan sangat mereka butuhkan dalam mendukung pendapat mereka tentang pengharaman nikah mut’ah tersebut.

Dan pastilah para pendukung kekhalifahan akan meresa mendapat nyawa baru untuk membela diri dalam pengharaman sebagai tandingan bukti-bukti sunah yuang selalu di bawakan sahabat-sabahat lain yang menhalalkan nikah mut’ah seperti Ibnu Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Jabir, misalnya.

Dalam perdebatan yang terjadi antara pihak yang mengharamkan dan pihak yang menhalalkan mereka yang mengharamkan tidak pernah berdalil bahwa Rasulullah saw. telah mengharamkannya di Khaibar… atau pada peristiwa penaklukan kota Mekkah dan lain sebaigainya. Bagaimana mungkin hadis Imam Ali as. dapat kita terima sementara kita menyaksikan bahwa beliau bersabda:

,لَوْ لاَ أَنَّ عُمر نَهَى الناسَ عَنِ المُتْعَةِ ما زَنَى إلاَّ شَقِيٌّ.

“Andai bukan karena Umar melarang manusia melakukan nikah mut’ah pastilah tidak akan berzina kecuali orang yang celaka”.Demikian disebutkan ar Razi dari al-Thabari. [50]

Dan Muttaqi al-Hindi meriwayatkan dari Imam Ali as. beliau bersabda:

لَوْ لا ما سَبَقَ مِنْ نَهْيِ عُمر بن الخطاب لأَمَرْتُ بالمُنْعَةِ، ثُمَّ ما زنى إلا شقي

“Andai bukan karena Umar ibn Khaththab sudah melarang nikah mut’ah pastilah akan aku perintahkan dengannya dan kemudian tidaklah menlakukan zina kecuali orang yang celaka”. [51]

Bagaimana mungkin kita menerima riwayat para ulama itu dari Imam Ali as. yang menegur Ibnu Abbas ra. sementara kita menyaksikan Ibnu Abbas adalah salah satu sahabat yang begitu getol menyuarakan hukum halalnya nikah mut’ah, beliau siap menerima berbagai resiko dan teror dari Abdullah ibn Zubair pembrontak yang berhasil berkuasa setelah kematian Yazid?

Apakah kita menuduh bahwa Ibnu Abbas ra. degil, angkuh menerima kebenaran yang disampaikan maha gurunya; Imam Ali as. sehingga ia terus saja dalam kesesatan pandangannya tentang halalnyanikah mut’ah? Adapun dongeng-dengeng yang dirajut para sukarelawan bahwa Ibnu Abbas bertaubat dan mencabut fatwanya tentang halalnya nikah mut’ah, adalah hal mengelikan setelah bukti-bukti tegak dengan sempurna bahwa ia tetap hingga akhir hayatnya meyakni kehalalan nikah mut’ah dan mengatakannya sebagai rahmat dan kasih sayang Allah SWT untuk hamb-hamba-Nya:

ما كانَتْ المُتْعَةُ إلاَّ رَحْمَةً رَحِمَ اللهُ بِها أُمَّةَ محمد (ص)، لَوْ لاَ نَهْيُهُ (عمر) ما احْتاجَ إلى الزنا إلاَّ شقِي

Tiada lain mut’ah itu adalah rahmat, dengannya Allah merahmati umat Muhammad saw., andai bukan karena larangan Umar maka tiada membutuhkan zina kecuali seorang yang celaka. [52].

Bagaimana dongeng rujuknya Ibnu Abbas ra. dapat dibenarkan sementara seluruh ahli fikih kota Mekkah dan ulama dari murid-muridnya meyakini kehalalan nikah mut’ah dan mengatakan bahwa itu adalah pendapat guru besar mereka?!

Telaah terhadap Hadis Rabi’ ibn Saburah

Adapun tentang riwayat-riwayat Rabi’ ibn saburah, Anda perlu memperhatikan poin-poin di bawah ini.

Pertama,

seperti Anda saksikan bahwa banyak atau kebanyakan dari riwayat-riwayat para muhadis Ahlusunnah tentang pengharaman nikah mut’ah adalah dari riwayat Rabii’ -putra Saburah al-Juhani- dari ayahnya; Saburah al-Juhani. Hadis-hadis riwayat Saburah al-Juhani tentang masalah ini berjumlah tujuh belas, Imam Muslim meriwayatkan dua belas darinya, Imam Ahmad meiwayatkan enam, Ibnu Majah meriwayatkan satu hadis. Dan di dalamnya terdapat banyak berbeda-beda dan ketidak akuran antara satu riwayat dengan lainnya.

Di antara kontradiksi yang ada di dalamnya ialah:

A. Dalam satu riwayat ia menyebutkan bahwa yang bermut’ah dengan wanita yang ditemui adalah ayahnya, sementara dalam riwayat lain adalah temannya.

B. Dalam sebuah riwayat ia menyebutkan bahwa bersama ayahnya adalah temannya dari suku bani Sulaim, sementara dalam riwayat lain adalah anak pamannya.

C. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa mahar yang diberikan kepada wanita itu adalah sehelai kain selimut, sementara dalam riwayat lainnya ia mengatakan dua selimut berwarna merah.

D. Sebagian riwayatnya mengatakan bahwa wanita itu memilih ayahnya karena ketampanan dan ayahnya masih muda sementara yang lain mengatakan karena selimut ayahnya masih baru.

E. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sempat bersama wanita itu selama tiga hari sebelum akhirnya dilarang Nabi saw. sementara yang lainnya mengatakan bahwa hanya semalam, dan keesokan harinya telah dilarang.

F. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sejak hari pertama kedatangan di kota Mekkah telah keluar mencari wanita yang mau dinikahi secara mut’ah, sementara yang lainnya mengatakan bahwa itu setelah lima belas hari, setelah Nabi saw. mendapat laporan bahwa wanita-wanita di Mekkah tidak mau kecuali nikah dengan jangka waktu, kemudian Nabi saw. mengizinkan dan Saburah pun keluar mencari wanita yang mau dinikahi. Dan masih banyak pertentangan lain yang dapat disaksikan dalam riwayat-riwayat yang dikutip dari Rabi’ ibn Saburah, seperti apakah ayahnya sebelumnya telah mengetahui konsep nikah mut’ah, atau belum, ia baru tahu dan diizinkan Nabi saw. setelah wanita-wanita kota Mekkah enggan kecuali nikah dengan jangka waktu.

Kedua,

disamping itu kita menyaksikan bahwa Saburah ayah Rabi’ -sang perawi- mendapat izin langsung dari Rasulullah saw. untuk bermut’ah, atau dalam riwayat lain Nabi-lah yang memerintah para sahabat beliau untuk bermut’ah dihari-hari penaklukan (fathu) kota Mekkah, dan setelah ia langusng merespon perintah atau izin itu, dan ia mendapatkan pada hari itu juga wanita yang ia nikahi secara mut’ah tiba-tiba keesokan harinya ketika ia salat subuh bersama Nabi saw. beliau berpidato mengharamkan nikahmut’ah yang baru saja beliau perintahkan para sahabat beliau untuk melakukannya, logiskah itu?! Dalam sekejap mata, sebuah hukum Allah SWT berubah-ubah, hari ini memerintahkan keesokan harinya mengharamkan dengan tanpa sebab yang jelas!Tidakkah para pakar kita perlu merenungkan kenyataan ini?!

Ketiga,

terbatasnya periwayatan kisah Saburah hanya pada Rabi’ putranya mengundang kecurigaan, sebab kalau benar ada pe-mansuk-han kehalalan nikah mut’ah pastilah para sahabat besar mengetahuinya, seperti tentang penghalalan yang diriwayatkan oleh para sahabat besar dan dekat.

Keempat,

riwayat Rabi’ ibn Saburah itu bertentangan dengan riwayat para sahabat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, ‘Imraan ibn Hushain, Salamah ibn al-Akwa’ dan kawan-kawan.

Dan riwayat-riwayat mereka tidak mengahadapi masalah-masalah seperti yang menghadangf riwayat-riwayat Rabi’ ibn Saburah.

Catatan Penting!

Sebenarnya dalam peristiwa itu tidak ada pengharaman yang ada hanya Nabi saw. memerintah para sahabat yang bermut’ah dan jangka waktunya belum habis agar meninggalkan wanita-wanita itu sebab Rasulullah saw. bersama rombongan akan segera meninggalkan kota Mekkah. Akan tetapi para sukarelawan itu memanfaatkan hal ini dan memplesetkannya dengan menambahkan bahwa Nabi berpidato mengharamkannya. Sekali lagi, Nabi saw. hanya memerintahkan para sahabat beliau yang bermut’ah agar menghibahkan sisa waktu nikah mut’ah mereka kepada wanita-wanita itu sebab rombongan segera meninggalkan kota suci Mekkah.

Hal ini dapat Anda temukan dalam riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, dan al-Baihaqi dalam Sunannya, juga dari Sabrah. Dari Rabi’ ibn sabrah al-Juhani dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan kami bermut’ah, lalu aku bersama seorang berangkat menuju seeorang wanita dari suku bani ‘Amir, wanita itu muda, tinggi semampai berleher panjang, kami menawarkan diri kami, lalu ia bertanya, “Apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Selimutku”. Dan temanku berkata, “Selimutku”. Selimut temanku itu lebih bagus dari selimutku tapi aku lebih muda darinya. Apabila wanita itu memperhatikan selimut temanku, ia tertarik, tapi ketika ia memandangku ia tertarik denganku. Lalu ia berkata, “Kamu dan selimutmu cukup buatku! Maka aku bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa di sisinya ada seorang wanita yang ia nikahi dengan mut’ah hendaknya ia biarkan ia pergi/tinggalkan”.[53]

Dalam pernyataan itu tidak ada pengharaman dari Nabi saw. Ada pun hadis Abu Dzar, adalah aneh rasanya hukum itu tidak diketahui oleh semua sahabat sepanjang masa hidup mereka sepeninggal Nabi saw. termasuk Abu Bakar dan Umar, hingga sampai dipenghujung masa kekhalifahan Umar, ia baru terbangun dari tidur panjangnya dan mengumandangkan suara pengharaman itu. Jika benar ada hadis dari Nabi saw., dimanakah hadis selama kurun waktu itu.Yang pasti para sukarelawan telah berbaik hati dengan membantu Khalifah Umar ra. jauh setelah wafat beliau dalam memproduksi hadis yang dinisbatkan kepada Nabi saw., agar kebijakan pengharaman itu tidak berbenturan dengan sunah dan ajaran Nabi saw. dan agar Khalifah Umar tampil sebagai penyegar sunah setelah sekian belas tahun terpasung.

Dan kebaikan hati sebagian ulama dan muhadis berhati luhur dengan memalsu hadis bukan hal aneh, dan saya harap anda tidak kaget. Karena memang demikian adanya di dunia hadis kita; kaum Muslim. Tidak semua para sukarelawan yang memalsu hadis orang bejat dan jahat, berniat merusak agama, tidak jarang dari mereka berhati luhur, rajin dan tekun beribadah, hanya saja mereka memiliki sebuah kegemaran memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Dan para sukarelawan model ini adalah paling berbahaya dan mengancam kemurnian agama, sebab kebanyakan orang akan terpesona dan kemudian tertipu dengan tampilan lahiriah yang khusu’ dan simpatik mereka. Demikian ditegaskan ulama seperti Al Nawawi dan Al Suyuthi. (bersambung)————–***————–

CATATAN KAKI

[1] Tafsir Khazin (Lubab al-Ta’wiil).1,506

[2] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9179, bab Nikah al-Mut’ah.

[3] Fathu al-Baari.19,200, Ktaabun- Nikah, bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

[4] Tafsir Fathu al-Qadir.1,449.

[5] Tafsir Ibnu Katsir.1,474.

[6] Ibid.

[7] Fathu al-Baari.17,146, hadis no.4615.

[8] Ibid.19,142-143, hadis no.5075.

[9] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182.

[10] Fathu al-Baari.19,206-207, hadis no.5117-5118.

[11] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182. hanya saja kata rasul (utusan) diganti dengan kata munaadi (pengumandang pengumuman).

[12] Ibdi.183.

[13] Ibid.183.

[14] Ibdi.184.

[15] Ibid.183-184.

[16] Ibid.183.

[17] Al-Sunan al-Kubra, Kitab al-Mut’ah, Bab Nikah-ul Mut’ah.7,206 dan ia mengatakan bahwa hadis ini juga diriwayatkan Muslim dari jalur lain dari Hummam.

[18] Keterangan lebih lanjut baca Fath al-Baari.19,201 203 dan Syarah al-Nawawi atas Shahih Muslim,9179-180.

[19] Tafsir Ibnu Katsir.1,484, pada tafsir ayat 24 surah al-Nisaa’.

[20] Al-Jaami’ Li Ahkaami Alqur’an.5130-131.

[21] Shahih Muslim (dengan syarah al-Nawawi), Kitab al-Nikah, bab Nikah-ul Mut’ah.9,189-190, dua hadis terakhir dalam bab tersebut, Sunan al-Nasa’i, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan al-Baihaqi, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.7,201, Mushannaf Abdur Razzaq.7,36 dan Majma’ al-Zawaid.4,265.

[22] Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, dan bab Nahyu Rasulillah ‘an nikah al-mut’ah akhiran, bab al-hiilah fi al-nikah, Sunan Abu Daud.2,90, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan Ibnu Majah.1,630, Kitab-un Nikah, bab an-nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah, hadis no.1961, Sunan al-Turmudzi (dengan syarah al-Mubarakfuuri).4,267-268, bab Ma ja’a fi Nikah al-Mut’ah(27), hadis no.1130 Muwaththa’, bab Nikah mut’ah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.4,292 Sunan al-Darimi.2,140 bab al-Nahyu ‘an Mut’ah al-Nisa’, Musnad al-Thayalisi hadis no.111 dan Musnad Imam Ahmad.1,79,130 dan142, dan Anda dapat jumpai dalam Fathu al-Baari dalam baba-baba tersebut di atas.

[23] Baca Sunan al-Baihaqi.7,207.

[24] Shahih Muslim.9,185.

[25] Ibid.186.

[26] Ibdi.

[27] Ibid.187.

[28] Ibdi.188-189.

[29] Ibid.187.

[30] Ibid.189.

[31] Abu Daud.2,227, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah dan Sunan al-Baihaqi.7,204.

[32] Sunan al-Baihaqi.7,204.

[33] Shahih Muslim.9,184, Mushannaf.4,292, Musnad Ahmad.4,55, Sunan al-Baihaqi.7,204 dan Fath al-Baari.11,73.

[34] Baca Sunan al-Baihaqi.7,204.

[35] Seperti Anda saksikan bahwa hadis tersebut telah saya kutipkan dari empat belas sumber terpercaya.

[36] 9,449.

[37]Syarh Nahjul Balaghah 1, 371-372.

[38] Ash-Shirath al-Mustaqim.3,245.

[39] Fathu al-Baari.19,202 menukil pernyataan al-Baihaqi.

[40] Zaad al-Ma’aad.2,204, pasal Fi Ibaahati Mut’ati al-Nisaa’i tsumma Tahriimuha (tentang dibolehkannya nikah mut’ah kemudian pengharamannya). Dan keterangan panjang Ibnu qayyim juga dimuat Ibnu Hajar.

[41] Fath al-Baari.16,62. hadis no.4216.

[42] Ibid.19,202.

[43] Ibid.201.

[44] Ibdi.202.

[45] Ibid.

[46] Bukhari Bab Ghazwah Khaibar, hadis no.4216, Kitab al-Dzabaaih, bab Luhuum al-Humur al-Insiyyah, hadis no.5523, Shahih Muslim, bab Ma Ja’a Fi Nikahi al-Mut’ah (dengan syarah a-Nawawi).9,190, Sunan Ibnu Majah.1, bab al-Nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah (44) hadis no1961 dan Sunan Al-Baihaqi.7,201, dan meriwayatkan hadis serupa dari Ibnu Umar. Dan di sini sebagian ulama melakukan penipuan terhadap diri sendiri dengn mengatakan bahwa sebenarnya dalam hadis itu ada pemajuan dan pemunduran, maksudnya semestinya yang disebut duluan adalah Luhum Humur insiyah bukan Mut’ah al-Nisaa’. (Fath al-baari.16,62) Mengapa? Sekali lagi agar riwayat Bukhari dkk. di atas tetap terjaga wibawanya dan agar tidak tampak bertentang dengan kenyataan sejarah.

[47] Ucapan pengharaman ini begitu masyhur dari Umar dan dinukil banyak ulama dalam buku-buku mereka, di antaranya: Tafsir al-Razi.10,50, Al-Jashshash. Ahkam Alqur’an.2,152, Al-Qurthubi. Jami’ Ahkam Alqur’an.2,270, Ibnu Qayyim. Zaad al-Ma’ad.1,444 dan ia megatakan” dan telah tetap dari Umar…, Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah.1,182 dan 12,251 dan 252, Al-Sarakhsi al-Hanafi. Al-Mabsuuth, kitab al-Haj, bab Alqur’an dan ia mensahihkannya, Ibnu Qudamah. Al-Mughni.7,527, Ibnu Hazam. Al-Muhalla.7,107, Al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-Ummal.8,293 dan294, al-Thahawi. Syarh Ma’ani al-Akhbaar.374 dan Sunan al-Baihaqi.7,206.

[48] Ibid.183.

[49] Ibid.183-184.

[50] Mafaatiih al-Ghaib (tafsir al-Razi).10,51

[51] Kanz al-Ummal.8,294.

[52] Dan dalam sebagian riwayat إلاَّ شفي dengan huruf faa’ sebagai ganti huruf qaaf, dan artinay ialah jarang/sedikit sekali. Pernyataan Ibnu Abbas diriwayatkan banyak ulama, seperti Ibnu al-Atsir dalam Nihayahnya, kata kerja syafa.

[53] Shahih Muslim.9,184-185, Sunan al-Baihaqi.7,202, dan Musnad Ahmad.3,405.

.

menjawab fitnahan Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) bahwa nikah mut’ah menularkan penyakit, menghina dan merugikan wanita

oleh Ustad Husain Ardilla

Malam minggu lalu HP saya berdering, seseorang bertanya pada saya : “Acara Pemilihan Da’i Muda ANTEVE” menghujat syi’ah, peserta ada yang menghujat nikah mut’ah disusul komentar  Khofifah…

Saya langsung menggebrak meja menghadapi tuduhan ini..

=============================

KHOFIFUL (KHOFIFAH & GUS IPUL)

.………………

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

Dan Ulama2 di Iran tdk ada yg mengharamkan nikah mut’ah itu…

Jadi kalau ada wanita tidak tidak mau melakukan mut’ah itu tidak menjadi masalah, tetapi yg jadi masalah ketika dia mengharamkan apa yg dihalalkan Allah…
Di iran yang mayoritas adalah syiah, Wanita2nya menolak dinikahi secara mut’ah. (boleh survey)
Bahkan menurut Murtadha Muthhari tentang argumentasi boleh/tidaknya mut’ah yaitu : “Menghidupkan kembali sunnah yang telah terlupakan/terabaikan” , Ini menunjukkan bahwa mut’ah tidak populer lagi.

Kalau Ibu Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) tidak setuju dengan Mut’ah tidak menjadi masalah, yang penting tidak mengharamkan apa yg dihalalkan Allah.. Masih lebih baik dari pada Khalifah Umar bin Khatab yg berani mengharamkan apa yg di halalkan Allah..

sebaiknya jika ingin mut’ah hendaknya meminta izin kepada orangtua sehingga tidak menjadi aib bagi ajaran Rasulullah Saw, jangan seperti ahlussunah yang bahkan sebagian ustadnya senang jika anak – anaknya berpacaran gaya barat dengan zinah yang sembunyi – sembunyi, mereka mengetahui anaknya berzinah dengan berpacaran tapi mereka membiarkan.. malah mendukung.. innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. bahkan ada istilah ustad cinta yang di tayangkan di televisi nasional..

Ibu juga bisa menyuruh anak laki ibu untuk mut’ah dgn anak perempuan saya.. Tapi saya akan bertanya kepada anak saya yg perempuan bahwa apakah dia mau di nikahi mutah dgn anaknya ibu? kalau dia tidak mau berarti pernikahan itu tidak akan terjadi…

Dan juga apabila anak saya mau dinikahi mut’ah dengan anak laki ibu, dia akan melihat ke taqwaan anak ibu kepada Allah seberapa jauh, dan anak perempuan saya akan meminta maharnya 1 buah pesawat private jet beserta crew nya + 1 Apartemen mewah, jangka waktu mut’ahnya hanya 1 hari, dan anak perempuan saya mensyaratkan tidak boleh melakukan hubungan sex… Kalau anak ibu sanggup atas yg disyaratkan oleh anak perempuan saya maka pernikahan itu akan terjadi… Tapi kalau tidak sanggup maka tidak akan terjadi… Jadi anak saya tidak rugi kan?? dia menerima mahar tapi tidak ada hubungan sex sebelum nikah daim..

Pertanyaan saya dimana kerugian anak saya seandainya nikah mut’ah itu terjadi???

anda mengharamkan mutáh,…lalu bagaimana komentar anda ttg seorang anggota dewan dari partai “kemunafikan sekali” yang bermodalkan sunnah rasul dgn jenggot, tapi ketangkap di panti pijat lalu menangis malu karena menyesal telah mempermalukan partai…bukan karena malu kepada ALLAH…
berarti dia lebih taat pada UMAR yg melarang mutáh dari pada ALLAH ketika masuk panti pijat…atau mungkin karena UMAR tdk melarang ke panti pijat.

Apapun yg di Halalkan Allah bukan berarti wajib dilakukan… Misalnya, daging kambing itu jelas Halal, akan tetapi tidak di wajibkan utk dimakan oleh setiap muslim, bahkan kalau membahayakan dirinya krn suatu penyakit maka bisa jadi haram dimakan bgi penderita penyakit tertentu… Begitu pulah dgn Nikah Muta’ah, hal itu Halal, namun tidak wajib dilakukan oleh setiap muslim.. Yang terpenting siapapun yg mau melakukannya harus mengetahui persis syarat2 Nikah mut’ah itu agar tidak melakukan pelanggaran hukum Allah…

.
Perlu anda ketahui bahwa Nikah apapun bentuknya harus ada akadnya sedangkan dalam akad ini terdapat Ijab dan Kabul, status wanita adalah berada dalam wilayah ijab sebagai kunci dimulainya akad, bagimana anda katakan wanita sebagi objek kalau pada prinsip pernikahan akadnya adalah kepasrahan diri wanita trelebih dahulu baru berikutnya ada kata kabul (terima) dari pihak lelaki, dalam hal ini wanita harus bijaksana mempertimbangkan sebelum memasrahkan dirinya kepada lelaki bagimana konsekwensi yang terbangun setelah memasrahkan dirinya ….

Sepintas itu adalah pembelaan terhadap wanita, tapi itulah sebenarnya perkataan yang mungkar dan dusta menyamakan wanita dengan ibu. Itu bukan kata saya tapi kata quran sbb :

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun (Al-Mujaadila-2)

Dibawanya pula nama Syiah dan non Syiah. Padahal semua golongan yang membolehkan atau tidak ini merujuk pada quran dan hadist. Artinya mutah itu bukan ciptaan syiah atau non syiah. bagi saya ini menunjukkan kedangkalan pengetahuan dan pengkajian.

Biar bisa dilihat siapa yang membela wanita itu. kita yang tidak setuju dengan mutah atau ALlah yang membolehkan mutah ? …

Hukum dan perintah tuhan itu mutlak. Sekiranya semua wanita didunia ini menolaknya,…………. apa mungkin Tuhan membatalkan sebuah hukum gara gara diprotes ? … apa tuhan itu Bodoh sehingga membolehkan mutah ? …

Bagi saya, mut’ah itulah yang sesungguhnya membela para wanita. Faktanya berpa banyak PELACUR yang bertebaran saat ini ? .. baik yang terbuka atau tertutup ? …. bagaimana para wanita pelacur itu dihinahkan dan disepelekan ? dianggap kelas dua dan dimarjinalisasi ? ….. mana pembelaan terhadap kaum ini atas nama sesama wanita ? …. Bagaimana pula pembelaan kita terhadap wanita yang dijadikan simpanan para bos ?

santapan malam oknum DPR ? ….

benarlah kata Imam Ali : sekiranya mutah itu tidak dilarang tidak ada yang akan berbuat zina kecuali orang yang keterlaluan ……..

jangan sampai kita ingin mengugurkan sebuah kebenaran cuma dengan prasangka dan perasaan saja saya kira berbicara tentang kebenaran suatu hukum ato konsep manusia tidak perlu di minta pendapatnya karena yang aku pahami konsep nikah mut’ah telah di ajarkan dalam islam tinggal bagaimana hal ini di perjelas akan kebenaran dalam menjalankan dalam konteks sosialnya…serta hal ini aku ragukan kalo kita langsung melibatkan untuk menilai tanpa mengkaji terlebih dahulu karena para ibu dan wanita sangat sensitif dan mengunakan persaannya apa lagi yang belum paham, sementara mereka paham bagimana kedudukan dalam ajaran islam seperti hukum poligami bayak para ibu menolak sementara apa yang mereka tolak adalah hukum Tuhan telah ditentukan…saya sepakat kepada abang yang menyarankan untuk mengkaji bagaimana nikah Mut’ah dalam islam

Anda benar2 tidak ingin mencari kebenaran, tetapi anda mencari pendukung utk meyatakan bahwa hukum Allah itu bisa di amandemen oleh manusia dalam kasus nikah mut’ah sehingga anda ingin menanyakan kepada ibu2 dan wanita di grup ini tentang nikah mut’ah menurut pandangan mereka… Apakah kalau ibu dan wanita2 mengatakan bahwa nikah mutah itu banyak mudaratnya, lalu hukum Allah bisa di amandemen oleh para ibu2 dan wanita?

Anda sdh mengetahui bahwa nikah mut’ah itu adalah HALAL, dan yg MENGHARAMKAN adalah Khalifah ke dua Umar bin Khatab.. Dan sudah dibuktikan berdasarkan dalilnya secara jelas ke Halalan nikah Mut’ah…

Allah lebih mengetahui yg terbaik buat umat manusia… Apapun yg di halalkan itu pasti banyak manfaatnya bagi manusia itu sendiri…

Betul kita harus mengikuti ajara Rasul tanpa dikurangi dan ditambah… yang Halal tetap halal dan yg haram tetap haram…Begitu pula dgn hukum nikah mut’ah itu jelas Halal… Namun tidak wajib dilakukan setiap manusia…

Mengenai untung dan ruginya itu tergantung dari sudut mana kita memandang… Misalnya anda mengatakan dengan nikah mut’ah itu yg menjadi korban dari Buaya Darat adalah wanita.. Betul namanyanya juga Buaya darat.. tanpa ada ikatan apapun pasti yg jadi korban wanita…

Kalau wanita mendapatkan pria soleh bukan buaya darat… maka wanita itu akan selamat dari buaya darat…Sebab, Nikah mut’ah itu adalah nikah yg disepakati antara wanita dan pria… Dan Wanita yg mengucapkan ijab dan prianya yg mengabulkan… kalau wanitanya tidak mau nikah mut’ah ya tidak akan terjadi perkawinan itu.. Jadi semuanya tergantung keinginan wanitanya bukan keinginan pria…. Pria hanya menyetujui /mengabulkan permintaan wanitanya .. Dimana letak kerugian wanitanya??? Apakah wanita akan lebih beruntung kalau tidak ada ikatan perkawinan??? artinya suka sama suka???

Saya pikir konsep mut’ah itu salah satu solusi bagi yg sangat membutuhkan, baik laki2 maupun wanita. Karena saya penasaran saya pinjam pada teman buku karya Murtadha muthahhari ttg nikah mut’ah. Itu sangat bagus, khususnya bagi para mahasiswa dan mahasiswi, sebagai pengganti pacaran yg dlm Islam diharamkan. Tentu dg sarat2 tertentu yakni tdk berhubungan badan.

Jadi, saya kira nikah mut’ah itu bagus tergantung pada pelakunya. Yg harus dibina itu mental pelakunya.
Kita harus berprasangka baik bahwa tidak semua kaum ibu dirugikan oleh konsep nikah mut’ah, bahkan mungkin ada yg diuntungkan. Karena saya punya teman gadis, ketika ia tunangan ia nikahkan mut’ah oleh kedua orang tuanya dan dapat restu oleh ortu kedua belah, ia nikah mut’ah dg calonnya selama 1 tahun sampai dilangsung nikah permanen & resepsi pernikahan. Ini jelas positif. Jadi, nikah mut’ah itu, dampak negatif dan positifnya, bergantung pada pelakunya. Sama halnya nikah permanen

JANGAN MENILAI HUKUM ALLAH itu dengan SENTIMEN dan protes, apalagi dalam kasus mutah yang dinyatakan halal. Karena hukum tuhan itu pasti BERSIFAT ADIL, BAIK, dan BERMANTAAT. Bagaimanapun akan mentah Hukum Halanya mutah ini jika dikaikankan dengan ego, sentimen .. bagaimana jika itu anak saya ?? .

Nikah mutah adalah salah satu hukum Ilahi. Dari segi rukun dan syarat syahnya nikah mutah tidak jauh berbeda dg hukum nikah daim, yang membedakan adalah masalah jangka waktunya.

Mungkin bagi sebagian orang nikah mutah itu selalu identik dg pelampiasan seks. Jika tujuanya hanya untuk itu, maka nikah mutah sperti itu tidaklah dibenarkan

Betul sekali bahwa mahar itu sebaiknya sesuai kemampuan… Akan tetapi Anda mempersalahkan hukum Allah bahwa wanita disini dirugikan dalam perkawinan Mut’ah… Dan saya sdh menjawabnya… Dan pertanyaan saya dimana kerugian atas perkawinan Mut’ah itu? Anda tidak menjawabnya…

Perkawinan Imam Ali dan Fatimah itu bukan nikah mut’ah, jadi disini anda jangan mengambil contoh yg tidak sesuai… Masah anda mengambil perbandingan antara buah apel dan jeruk.. tentu berbedah..

Kan anda ingin mengawinkan putra anda dgn anak perempuan saya dgn perkawinan nikah mut’ah… Makanya saya memberikan ilustrasi demikian sesuai aturan nikah Mut’ah…. DIMANA KERUGIAN ANAK PEREMPUAN SAYA?

Jadi Nikah Mut’ah pun tidak se enaknya kaum lelaki bisa melakukan atas dasar kemauan lelaki itu… makanya disinilah kita harus membekali umat itu dgn aturan hukum yg jelas, sehingga tidak dipermainkan oleh manusia2 lelaki buaya atau lelaki hidung belang…

Anda tidak mengetahui hukum nikah mut’ah, tetapi anda langsung mengatakan bahwa nikah mut’ah merugikan kaum wanita… Apakah Allah tidak paham hukum yg DIA buat?… Dan saya bertanya tentang kerugian wanita akibat nikah mut’ah, anda tidak menjawabnya keruguian tersebut…

Sekarang ini kan sdh jelas bahwa Nikah Mut’ah itu Halal, dan yg mengharamkan Umar bin Khatab…

Sekali lgi sayakatakan bahwa hukum nikah mut’ah itu Halal, namun tidak diwajibkan utk dilakukan setiap manusia…
Setuju sekali bahwa kaum wanita diberikan kesempatan utk menyampaikan pendapat… Tetapi ketika masuk kepada Halal dan Haram maka otoritas tertinggi itu adalah Allah… Bukan manusia… Manusia hanya mentaati dan patuh, atau Menolak dan membangkang kepada Allah.. Hukum Allah tidak boleh dirubah yg Halal menjadi Haram begitupula sebaliknya atas kesepakatan manusia… Emangnya manusia lebih mengetahui hukum2 Allah atas kemudaratan dan kebaikan suatu hukum yg Allah buat???

Putri saya tidak akan laku buat pria yg hidung belang, karena putri saya, saya bekali dgn ilmu agama yg benar… Dan kalau anak ibu itu pria yg bertaqwa maka saya akan nikahkan dgn putri saya dengan pernikahan mut’ah, dgn mahar hanya quraan saja tidak menjadi masalah, tetapi anak putri saya mensyaratkan dlm pernikahan mut’ah itu tidak boleh melakukan hubungan sex selama jangkah waktu yg disepakati bersama… Kalau anak ibu yg taat beragama maka dia tidak akan melanggar perjanjian itu… Maka pertanyaannya adalah DIMANA KERUGIAN ANAK SAYA DALAM NIKAH MUT’AH SEPERTI INI? Yang jelas mereka sdh menjadi muhrim dan terhindar dari perzinaan kalau mereka pegangan tangan… karena pegangan tangan pun dgn bukan muhrimnya itu adalah perbuatan zinah..
Menurut anda siapa otoritas tertinggi yg bisa menentukan Halal dan Haram nya hukum Allah selain Allah? apa rujukannya? pasti jawabnya merujuk kepada kitab suci kitab kebenaran yakni Alquraan… Kalau kita merujuk ke Alquraan, apanya yg bahaya… krn jika kita umat berselisi dalam hadis maka kembali ke Alquraan…

Menurt Dalil2 yg ada baik sunni maupun syiah mengatakan bahwa surat an nisa 24 itu berkenaan tentang hukum Mut’ah… dan hadis yg mendukungnya pun sdh dijelaskan melalui jalur sunni dan syiah…

Ibu, Adakah ayat yg bisa membatalkan surat anisa 24? sehingga ayat itu telah dibatalkan oleh Allah dgn firman Nya? Tolong tunjukkan dengan dalil dan nash yg kuat dari jalur sunni dan syiah…

Ibu, coba anda sebutkan referensi hadis yg mengharamkan nikah Mut’ah? dan inipun sdh terjawab oleh Pa Shodiq…

Mengenai manfaat dan mudarat suatu hukum Allah itu bergantung kepada masing2 menilai dari sudut pandang mana dia melihat… Namun hukum Allah itu dapat dipastikan manfaatnya untuk manusia.. tidak ada kemudaratannya… Tapi manusianya yg melanggar hukum itu yg membuat menjadi mudarat… Dan kalau manusia yg melanggar berarti manusianya yg harus dihukum bukan hukum Allah yg di haramkan oleh manusia…

Misalnya, anda melanggar lampu merah dijalan, apakah lampuh merahnya dicabut, atau yg melanggar kena tilang? Jelas yg melanggar pasti dihukum…

Ilustrasi yg pertama saya buat bagi lelaki hidung belang yg kaya raya dgn mahar yg sangat berat dan wkatu yg singkat atas perkawinan mut’ah..

Jadi intinya, saya ingin menyampaikan kepada ibu bahwa pernikahan mut’ah itu tidak ada yg dirugikan selama masing pihak pria dan wanita nya mengetahui hukum mut’ah yg benar sesuai hukum Allah…

Terima kasih ya bu.. Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… Ini semua saya sampaikan hanya utk menegakkan hukum Allah… Bahwa hukum Allah itu pasti bermaanfaat buat manusia itu sendiri… Tetapi kebanyakan manusia tdk memahaminya….

Halal dan haram dalam satu subjek hukum mustahil inklud menjadi suatu predikat, karena bernilai kontradiktif, Mut’ah sebagai subjek hukum niscaya hanya memiliki satu predikat kalau tidak haram berarti halal, nah sekarang dalam diskusi tema ini dan tema sebelumnya, forum berusaha mencari objektifitas hukumnya berdasarkan argumentasi2 yang sudah terbangun dari rujukan berbagai pihak yang berkompeten, demikian ini mustahil bila pada akhirnya tidak tercapai titik temunya.
Perlu diketahui disini bahwa hukum nikah apapun bentuknya Temporary ( Mut’ah ) atau Permanent ( Da’im ) tentu berlaku positif dengan latar belakang dan tujuannya dengan seluruh tuntunannya, hanya saja perlu juga difahami bahwa hukumnya mempunyai dinamika bergantung pada situasi dan kondisi yang berlaku sehingga statusnya bisa berubah menjadi hukum yang beragam, Mubah Wajib, sunnah bahkan haram, yang demikian ini adalah realistis dan bukan merupakan alibi yang dibuat-buat…!

“Nikah Mut’ah sama dengan “Prostitusi Sah” mohon anda pertanggung jawabkan gimana anologi ini di jabarkan secara logis dan realistis, Nikah Mut’ah pastinya subjek berbeda dengan Prostitusi ..?!

Dalam pernikahan apapun bentuknya Wanita harus siap dengan segala kedewasaannya, apalagi dari pihak wanita yang memulai perkawinan melalui Ijab yang disampaiukan kepada lelaki, hukum tidak bisa dinegasikan karena oknum pelakunya yang tidak konsekwen terhadap tuntunannya. Apakah kalau bernikah sirri (sebagimana yang anda sarankan) tidak menutup adanya kasus penyimpangan juga..?

aku tidak mau menyelewengkan hukum Allah hanya karena hati yang diliputi hawa nafsu.Janganlah mengharamkan apa yang sudah dihalalkan.Bukankah imam Ali sudah mengatakan andai saja Umar tidak mengharamkan mutah maka tidak akan ada zina dimuka bumi ini kecuali dia sudah benar2 kufur.Islam ini rahmat,jadi Allah telah mempermudah kita,kenapa mempersulit diri sendiri.Mencari2 pembenaran terhadap pikiran2 manusia yg selalu dipermainkan syetan.
Mengikuti hadis tsaqalain mengenai Pesan Rasul saw untk bpegang pd al-Qur’an dan ahlulbaitnya agar tdk terSESAT, so… Klo mutah aja msh diperselisihkan hukumnya yg jelas sdh ada ptunjuknya dr al-Quran & ahlulbait, sama aj nyesatin diri sendiri ^_^
Nikah mut’ah ADA dalam Islam, dan hukumnya halal SEJAK ZAMAN NABI saw HINGGA HARI KIAMAT, karena ayat tersebut (An-Nisa’: 24) hukumnya tidak pernah dimansukh. Pendapat ini disepakati oleh SEMUA ULAMA dari kalangan mazhab Ahlul bait (as), dan SEBAGIAN ULAMA Ahlussunnah juga berpendapat seperti ini.

maka
halal nya nikah mut’ah akan tetap seperti itu, mulai dibolehkannya oleh Allah swt, para RasulNya yg maksum & para ImamNya yg maksum, hingga kiamat, asalkan “benar” caranya, namun sesuatu yg halal akan menjadi haram jika “salah” caranya.

Contoh praktis sbb:
Minum madu itu adalah halal, bahkan dianjurkan. Namun jika “caranya” salah, mis: minum 1 tong@50 liter sekaligus, maka akan jadi “haram”. Penyebab haramnya bukan karena madunya an-sich, namun karena cara minum madunya, bukan karena madunya itu sendiri.

Nah, kini “madu” disini adalah “nikah”, baik itu mut’ah (temporarry) atau da’im (permanent).

Seseorang dapat menikmati “madu” secara permanen atau temporary asal minumnya tak sekaligus 1 tong@50 liter, sebab pencernaannya tak akan mampu (salah caranya)

.
Jika dia mengambil 1 tong madu sekaligus diminum, atau,
Sebagian kecil diminum, smentara sebagian besar didiamkan saja, maka ada sebagian besar madu yang terlantar, akibatnya madu itu akan rusak/mubazir.

Seorang pria dapat mengkabul ijab “nikah” wanita secara permanen atau temporary, asalkan tak mengkabul ijabnya 1000 wanita sekaligus, sebab kapasitas lahir/batin pria tsb tak akan mampu (salah caranya), atau,

Mengkabul sebagin kecil saja, sementara sebagian besar istri2nya didiamkan saja, sehingga banyak istrinya yg terlantar, akibatnya rusak lahir/batin istri2nya itu, sehingga terjadi mubazir.

Jadi yang lebih penting adalah berlakunya prinsip “kewajaran/keadilan, saling setuju antar pihak, dan tidak melebihi kapasitas” sehingga tak terjadi kemubaziran dalam hal apa saja yang halal (contoh: minum madu, atau mengabulkan ijabnya para wanita).

Mudah2an dapat dipahami oleh akal sehat, tanpa prasangka buruk.
Protokoler (cara) nikah mut’ah maupun da’im sudah banyak dibahas, namun yang lebih penting adalah “implementasi”nya, jangan sampai NIKAH hanya ada di KERTAS, namun tak ada di REALITAS kehidupan manusia

.
Secara ringkas nikah mut’ah adalah sbb:
1. LAMARAN (boleh oleh calon mempelai pria atau wanita).
Jika hal-hal yg dilamar (dipropose) telah disepakati oleh kedua belah pihak, maka
2. IJAB (oleh pihak wanita, dengan menyebutkan jangka waktu, syarat2 yg jika dilanggar dengan sendirinya nikah menjadi batal / tidak berlaku lagi, walau belum jatuh temponya)
3. QABUL (oleh pihak pria, yang menegaskan bahwa jangka waktu dan syarat2 yg diajukan pihak wanita seluruhnya dapat dikabulkan)
4. MAHAR (wajib diberikan jika kedua belah pihak telah bercampur)

.
Anda asal ikutan saja… kenapa.. Jelas2 Umar sendiri yg mengatakan bahwa dialah yg mengharamkan hukum Mut’ah… sekarang anda menanyakan bahwa kenapa Imam Ali tidak melarangnya… Wong Nabi Muhammad saja dikhianati oleh umar apalagi mau mendengar perkataan Imam Ali…
Makanya Imam Ali jelas mengatakan bahwa kalau Umar tidak melarang nikah mut’ah maka tidak ada manusia yg melakukan perzinaan kecuali manusia yg celaka…. Ini Jelas Hadisnya penentangan terhadap keputusan/ijtihad umar…

Anak yg lahir dari nikah mut’ah tidak hanya mewarisi nasab ayahnya (paternal), atau ibunya saja (maternal); melainkan mewarisi nasab kedua orang-tuanya (parental).

Anak itu juga (dapat) mewarisi harta, ilmu, tradisi kedua orang tuanya, asalkan memenuhi syarat2 tertentu.
Sedangkan Allah SWT Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum. Jika hukum halal itu berdampak negatif, maka bisa jatuh haram bagi org2 tertentu. Ini banyak sekali contohnya, sehingga tak perlu dituangkan di sini.

Sekali lagi nikah Mut’ah itu adalah pernikahan yg di HALAL KAN Allah… Namun tidak wajib dilakukan…. JELAS… Tergantung dari masing2 individu… Sama halnya dengan daging kambing itu Halal, namun tidak wajib harus makan daging kambing… tergantung individu masing2… JELAS… Anda ini memaksa org syiah itu wajib melakukan mut’ah…. Dan saya sudah katakan dari awal bahwa mut’ah itu bukan kewajiban tetapi perbuatan yg di halalkan Allah… Dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab… Anda baca baik2 lgi ya.. Bahwa NIKAH MUT’AH ITU ADALAH PERNIKAHAN YG DIHALALKAN, TETAPI TIDAK WAJIB DILAKUKAN… TERGANTUNG DARI INDIVIDU MASING2..

YANG MENJADI MASALAH BESAR ADALAH MENGHARAMKAN APA YG DIHALALKAN ALLAH, DAN MENGHALALKAN APA YG DIHARAMKAN ALLAH…

Hukum Mut’ah itu jelas di HALAL kan oleh Allah, namun bukan sesuatu yg diwajibkan utk dilakukan, sama halnya seperti daging kambing itu halal utk dimakan tetapi tidak wajib utk dimakan oleh setiap muslim… Untuk itu kalau ditanyakan bahwa Nabi Saww, Imam Ali, Imam Khomeni, Imam Sistani.. mereka tidak melakukannya, namun mereka semua tidak berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah… Karena itu mereka adalah hambah Allah yg TAAT kepada Allah… Lain halnya dengan Umar bin Kahtab, dia berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan oleh Allah…

Jadi jelas sekali hukum Allah itu… Namun kebanyakan manusia tidak beriman… inilah firman Allah…

HALAL nya nikah mut’ah bukan berarti harus di lakukan oleh setiap muslim… Tapi jangan juga berani mengharamkan hukum Allah, kecuali mau mengikuti jejak Umar bin Khatab yg menjadi pemipin kaum perzinaan.. karn Imam Ali mengatakan bahwa kalau saja Umar tidak mengharamkan pernikahan mut’ah maka tidak ada manusia yg berzina, kecuali orang jahil/bodoh…

Namun pada faktanya kebanyakan orang mengikuti ijtihad Umar… Nah, apa ibu kepingin menjadi bagian manusia yang kebanyakan itu??? Tanyakan Ali Reza apa sindiran Allah dalam firman Nya mengenai kebanyakan manusia itu??? Ali Reza lebih paham… dia itu sobatnya Umar Surabaya, Usman, dan Umar bin Khotob…

Ini tulisan Ali Reza yg dia kutip dari Alquraan tentang kebanyakan manusia itu bagaimana???:

Allah swt berfirman dalam Alquran :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati bicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 6:111)

Allah berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka LEBIH SESAT lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Juga dalam firmanNya:

44. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:44)

Lihatlah sudara Usman dengan bangganya mengatakan bahwa org syiah tidak menjawabnya… sudah terjawab semuanya tentang Hukum mut’ah itu..

Anda tau bahwa anda bagian dari kebanyakan umat yg tidak beriman yg disindir oleh Allah itu..
Hukum Allah mengenai HALAL dan HARAM itu tidak bergantung kepada pendapat umum manusia… Manusia itu adlah ciptaan Allah dan Allahlah yg lebih mengetahui mana yg terbaik buat umatnya…

Semua ulama ahli tafsir sunni dan syiah sepakat bahwa surat an nisa 24 itu mengenai HALAL nya pernikahan mut’ah, dan tidak ada ayat yg membatalkan surat an nisa 24 itu, dan tidak ada hadis yg bisa membatalkan ayat quraan…. Ini sangat jelas sekali..

Namun yg mengharamkan itu adalah Umar bin Khatab… Apakah dia bisa membatalkan hukum Allah??? Apakah dia lebih mengetahui daripada Allah yg menciptakan alam semesta ini? Apakah para wanita lebih mengetahui daripada Allah tentang hukum2 Nya? Apakah Allah tidak mengetahui hukum Nya sehingga DIA tidak membatalkan Nya???

Sekali lagi saya katakan bahwa:
NIKAH MUT’AH ITU HALAL DAN BUKAN SUATU KEWAJIBAN UMAT ISLAM UTK DILAKUKAN… KALAU PARA IBU DAN BAPAK TIDAK MAU MELAKUKAN DAN MENGHARAMKAN UTK DIRINYA SENDIRI ITU BISA DITERIMA, TETAPI KALAU KITA MENGHARAMKAN UTK UMAT ISLAM MAKA ANDA TELAH MEMBANGKAN DENGA HUKUM ALLAH… INI JELAS SEKALI…

hukum nikah mut’ah itu menyangkut pria juga.. agar pria mengetahui bahwa tidak bisa juga sembarangan melakukan nikah mut’ah…. kalau melakukan mut’ah tidak sesuai syariah juga akan menjadi penyelewengan hukum Allah… Sama halnya nikah daim/permanen kalau dilakukan tanpa mengetahui syariahnya maka akan terjadi penyelewengan dan akan mudarat juga… sama halnya kalau mau makan kambing tapi tidak mengetahui secara syariahnya akan menjadi haram dimakan…

Hukum Allah itu sangat jelas kalau kita kembali mengambil ilmu Allah dari sumbernya yakni Nabi Muhammad melalui pintunya Imam Ali dan 11 imam berikutnya… Namun kebanyakan manusia itu mengambil ilmu Allah dari para sahabat Nabi bukan melalui pintunya, jadi beginilah akibatnya…

Disinilah kembali lagi ke Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu tidak beriman…Jadi jelas, pengikut ahlussuna wal jamaah dan kaum wahabi itulah kebanyak dari umat Islam, yg dianjurkan Allah agar jangan mengikutinya… Karena mereka akan membawa kearah kesesatan… Tanyakan  tentang kebanyakan manusia itu bagimana dalam sindiran Allah di dalam kitab Alquraan…

pertanyaannya adalah, Apakah hadis dapat membatalkan ayat quraan??? semua ulama akan sepakat mengatakan TIDAK BOLEH…

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada ayat quraan yg membatalkan surat an nisa 24 tentang hukum mut’ah? kalau ada silahkan ibu sebutkan…

Jadi jelas sekali, hukum nikah mut’ah itu jelas HALAL, dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab atas pengakuannya sendiri bahwa mutah masih berlaku di zaman Nabi Saww dan mulai saat ini saya meng haramkan nya… Jadi apa otoritas Umar berani meng Haramkan apa yg dihalalkan Allah…

Mabk, Afifa, sekarang jelas tidak mengenai HAlal dan Haramnya nikah Mut’ah??? kalau belum jelas tolong dimana ketidak jelasan HALAL dan HARAM nya nikah mut’ah… Setelah itu baru kita masuk bab berikutnya mengenai syarat2 mut’ah itu dan bagaimana melakukannya agar sesuai dgn syariah.. TIDAK SEPERTI YG DIPUNCAK ITU….

Apapun sesuatu yg Halal kalau dikerjakan tidak sesuai dgn syariah maka akan menjadi haram… Untuk itu saya mengajak untuk mengetahui dulu dan memahami HALAL dan HARAM nya pernikahan mut’ah… Termasuk nikah Daim/permanen kalau tidak sesuai dgn syariah maka akan terjadi ke zoliman…

Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… semua ini krn saya ingin menjelaskan hukum pernikahan Mut’ah ini sebatas pengetahuan saya…
Kalau ada yg mengakui pengikut Syiah lalu mengharamkan apa yg dihalalkan Allah maka dia bukan dari golongan syiah, dalam hal ini ulama2 syiah sepakat bahwa Hukum Nikah mut’ah itu adalah HALAL…. dan sebagian Ulama2 sunni dan syiah meng Halalkan Nikah Mut’ah itu…

Kalau ada yg membaca tulisan dan komentar anda hanya org2 kebanyakan yg akan membenarkannya… karn saya paham sepaham-pahamnya Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu mengambil jalan kesesatan…

Nikah Mut’ah itu adalah HALAL, dan anda lebih mulia dimata Allag ketiban Umar bin Kahatb dan pengikutnya yg berani meng HARAM kan hukum Allah yg jelas2 HALAL…

Mengenai org2 mulia tidak melakukan pernikahan mut’ah itu bukan berarti mereka harus meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah, krn kita tau mereka itu adalah Hambah2 yag Taat dan sangat mulia di hadapan Allah sehingga mereka tidak berani meng Haramkan apa saja yg di Halalkan oleh Allah…. Berbeda dgn si Umar bin Khatab dia lebih pandai dari Allah…

saya juga sepakat anda bahaw segala sesuatuyan HALAL kalau dilakukan tidak sesuai syariah Allah termasuk dan tidak terbatas pada hukum perkawinan mut’ah maka akan menjadi mudarat dan haram dilakukan… Karena itu pasti dilakukan dgn hawa nafsu kebinatangan…

Nikah permanen / Daim kalau dilakukan tidak sesuai syariah maka akan menjadi mudarat.

Makan daging kambing yg halal akan menjadi haram kalau didapatkan dari hasil yg tidak halal dan dipotong tidak sesuai syariah akan menjadi Haram..

Sedekah juga demikian, kalau anda memberikan sedekah dari uang haram maka sedekah anda tidak diterima…

Jadi, apapun yg kita lakukan harus sesuai dgn syariah termasuk nikah mut’ah… Kalau ada umat yg melanggar syariah termasuk nikah mut’ah itu maka kita tidak boleh mengharamkan hukum Allah… Namun para pelanggar lah yg harus di hukum… dan kalau dia lolos dari hukum dunia, dia tidak akan lolos dari hukum akherat… karna Allah mencatat setiap perbuatan umat Nya Zolim….
Mereka no-syiah itu sebenarnya paham bahwa Nikah mut’ah itu Halal… Namun mereka salah pengertian bahwa meskipun Halal bukan berarti wajib di lakukan utk setiap muslim…

Sama halnya dgn halalnya daging kambing, tapi tidak semua umat islam diwajibkan makan daging kambing…

Mereka juga, sering mengatakan Nikah Mut’ah itu adalah bentuk perzinaan yg dilegalkan…. Disinilah kebodohan mereka yg mengharamkan hukum Allah… Karena jelas beda antara zina dan nikah… Zina itu melakukan hubungan pria dan wanita tanpa ijab dan kabul… sementara nikah mut’ah melakukan hubungan antara pria dan wanita dgn di awali ijab kabul terlebih dahulu… Perzinaan tidak ada masa iddah, sementara mut’ah ada masa iddha..

Nikah mut’ah itu di HALAL kan Allah, sementara perzinaan di HARAM kan Allah..

Nikah Mut’ah di dalam Al-Qur’an

Ummat Islam sepakat tentang dasar syariat nikah mut’ah, hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat, adalah apakah hukum nikah mut’ah itu dimansukh (dihapus) atau tidak? Umumnya ulama Ahlussunnah berpendapat dimansukh, sedangkan ulama mazhab Ahlul bait sepakat bahwa hukum nikah mut’ah tidak dimansukh.

Dalil disyariatkannya nikah mut’ah terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Di dalam Al-Qu’an terdapat dalam Surat An-Nisa’: 24. Ayat ini diturunkan untuk menetapkan syariat nikah mut’ah. Keterangan lebih rinci silahkan merujuk pada kitab-kitab berikut:

1. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.
2. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 474.
3. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 200 dan 201, cetakan Al-Amirah, Mesir.
4. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5, halaman 9, cetakan lama.
5. Tafsir Abi Sa`udah, catatan pinggir tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 251.
6. Tafsir An-Naisaburi, catatan pinggir Ath-Thabari, jilid V, halaman 18.
7. Tafsir Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari, jilid 1, halaman 498, cet Bairut.
8. Tafsir Al-Khazi, jilid 1, halaman 357.
9. Tafsir Al-Alusi, jilid V, halaman 5.
10. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 1, halaman 259.
11. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid 3, halaman 218.
12. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 140.
13. Tafsir Nailul Awthar, jilid VI, halaman 270 dan 275.
14. Tafsir Al-Baidhawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin jilid 1, halaman 423.
15. Syarah Shahih Muslim, oleh An-Nawawi, bab Nikah Muth’ah, jilid 9, halaman 140.
16. Sunan Al-Baihaqi, jilid VII, halaman 205.
17. Mustadrak Al-Hakim, jilid 2, halaman 305.
18. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 346, cetakan lama.
19. Bidayatul Mujtahid, jilid 2, halaman 178.
20. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 497 dan 498.
21. Al-Idhah oleh Ibnu Syadzan, halaman 440.
22. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 2, halaman 178.
23. Az-Zuwaj Al-Muwaqqat fil Islam, halaman 32 dan 33.
24. Al-Bayan, oleh Al-Khu’i, halaman 313.
25. Ath-Tharaif, Ibnu Thawus, halaman 459.
26. At-Tashil, jilid 1, halaman137.
27. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 148, cetakan Najef.
28. Kanzul Irfan, jilid 2, halaman 2, halaman151.
29. Al-Mut’ah, Al-Fukaiki.
30. Dalailul Shidqi, Al-Mudhaffar, jilid 3.
31. Al-Fushulul Muhimmah wal Masailul Fiqhiyyah, Syarafuddin Al-Musawi.
32. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 229-235.
33. Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Al-Andalusi Al-Qadhi, jilid 1, halaman 162.

Umar bin Khaththab yg Menghapus Nikah Mut’ah

Alasan Umar bin Khatab melarang nikah mut’ah tertera dalam riwayat dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Kami melakukan nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma dan tepung selama beberapa hari pada zaman Rasulullah SAW dan zaman Abu Bakar, sehingga Umar melarang selubungan dengan prsoalan ‘Amir bin Huraits.” Silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah, jilid 4, halaman 131,cet Al-Amirah.
2. Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi,jilid 9,halaman 183.
3. Al-Mushanaf, Abdurazzaq,jilid 7,halaman 500.
4. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7,halaman 304.
5. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 304.
6. Za’dul Ma’ad, Ibnu Qayyum, jilid 1, halaman 205.
7. Fathul Bari,jilid 11,halaman 76.
8. Kanzul Ummal,jlid 8,halaman 293.

PARA SAHABAT DAN TABI’IN
Yang Menghalalakan Nikah Mut’ah

Para sahabat dan Tabi’in yang menhalalkan nikah mut’ah, antara lain:
1. Imran bin Hushain, silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab haji,jilid 1,halaman 474.
2. Shahih Bukhari, kitab tafsir Surat Al-Baqarah, jilid 7,halaman 24,cet tahun
1277H.
3. Tafsir Al-Quthubi,jilid 2,halaman 265;jilid 5,halaman 33.
4. Tafsir Ar-Razi,jilid 3,halaman 200 dan 202, cet. Pertama.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi 3/200.
6. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid , halaman 218.
7. Sunan Al-Kubra,Al-Baihaqi,jilid 5,halaman 20.
8. Sunan An-Nasa’i,jilid 5, halaman 155.
9. Musnad Ahmad,jilid 4, halaman 436,cet.pertama, dengan sanad yang shahih.
10. Fathul Bari,jilid 3,halaman 338.
11. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 198-201.
12. Al-Mihbar,Ibnu Habib,halaman 289.
13. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 64.
14. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.

2. Jabir bin Abdullah Al-Anshari.Silahakan rujuk:

1. Umdatul Qari,Al-’aini’,jilid 8,halaman 310.
2. Bidayatul Mujatahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 58.
3. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 1,halaman 39.
4. Musnad Ahmad,jilid 3,halaman 380.
5. Tibyanul Haqaiq,syara Kanzud Daqaiq.
6. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
7. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 205,206,208,dan209-211.
8. Jami’ul Ushul,Ibnu Atsir.
9. Taysirul Wushul,Ibnu Daiba,jilid4,halaman 262.
10. Za’dul Ma’ad,Ibnu Qayyum,jilid1,halaman 144.
11. Fathul Bari,Ibnu hajar,jilid 9,halaman 141dan 150;jilid 9,halaman
172 dan174, cet. Darul Ma’rifah.
12. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294,cet.pertama.
13. Catatan pinggir Al-Muntaqa,Al-Faqi,jilid 2, halaman 520.
14. Al-Muhalla,Ibnu hazm,jilid 9,halaman 519.
15. Nailul Awthar,jilid 6,halaman 270.
16. As-Sarair,halaman 311.
17. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
18. Mustadrakul Wasail,jilid 2,halaman 595.
19. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.
20. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 44.
21. Al-Mushannaf,abdurrazzaq,jilid 7,halaman 497.
22, Ajwibah Masail Musa Jarullah,Syarafuddin Al-Musawi,halaman 111.

Pendapat yang mengatakan bahwa Jabir bin Abdullah Al-Anshari mengeluarkan pengharaman nikah mut’ah, itu tidak benar,Silahkan rujuk: Muqaddimah Mir’atul ‘Uqul, jilid 1,halaman 299.

3. Abdullah bin Mas’ud, Silahkan rujuk:

1. Shahih Bukhari, kitab nikah mut’ah; Shahih Muslim,jilid 4,halaman 130.
2. Ahkamul Qur’an,Al-Jashshash,jilid 2,halaman 184.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 200.
4. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5, halaman 130.
5. Tafsir Ibnu Karsir, jilid 2, halaman 87.
6. Ad-Durul Mantsur,jilid 2, halaman 207, menukil darai 9 Huffazh.
7. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 220.
8. Al-Muhalla, Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
9. Al-Bayan,Al-Khu’i,halaman 320.
10. Za’dul Ma’ad,jilid 4, halaman 6; jilid 2,halaman 184.
11. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani, catatan pinggir Al-Munraqa, jilid 2,halaman
520.
12. Syarhul Lum’ah,jilid 5,halaman 282.
13. Fathul Bari,jilid 9,halaman 102 dan 150; jilid 9, halaman 174,cet. Darul
Ma’rifah
14. Syarhun Nahji, Al-Mu’tazili, jilid 12,halaman 254.
15. As-Sarair, halaman 311.
16. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 150.
17. Mustadrakul Wasail ,jilid 2,halaman 595.

4. Abdullah bin Umar.

At-Tirmidzi meriwatyatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Umar,ia ditanya
oleh seorang laki – laki dari penduduk Syam tentang Nikah mut’ah maka ia menjawab: “Nikah mut’ah itu hal.”Kemudian laki-laki itu berkata,:”Tetapi ayahmu telah melarangnya.” Maka ia berkata :”Bila kamu telah mengetahui,ayahku melarangnya, sedangkan Rasulullah SAW membolehkannya, apakah kamu akan menunggalkan sunnah Rasul lalu mengekitu ayahku.”

Riwayat ini juga diriwatyatkan oleh :

1. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 460,cet.Qum.
2. Syarhul Lum’ah,Asy-Syahid Tsani,jilid 5,halaman 283.
3. Jawahirul Kalam,An-Najafi,jilid 30,halaman 145.
4. Dalailush Shidqi,jilid 3,halaman 97.
5. Al-Bihar, Al-Majlisi,jilid 8,halaman 286,cet.lama, mengutip dari Shahih
At-Tirmidzi.

Tetapi,kami tidak mendapati riwayat ini dalam Shahih Tirmidzi dalam makna ini, yang kami dapati riwayat yang mendekati maknanya tentang Mut’ah haji, yakni ia ditanyai tentang mut’ah haji. Rujuklah kitab tersebut,jilid i,halaman 157; dan cet.yang lain jilid 3, halaman 184.
Bisa jadi riwayat tersebut dibuang atau diselewengkan,Allah Maha Mengetahui.

Al-Araji meriwayatkan,ada seorang k\laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang nikah mut’ah,ketika itu aku berada disisinya,maka ia berkata: “Demi Allah,
pada zaman Rasulullah kami bukan orang – orang yang berzina dan berbuat keji.”

Tentang riwayat ini silahkan rujuk:
1. Musnad Ahmad,jilid 2,halaman 95,hadis 5694; jilid 2,halaman104, hadis 5808.
2. Majma’uz Zawaid,jilid 7, halaman 332 – 333.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1, halaman 295.

Riwayat bahwa Ibnu Umar mengharamkan nikah mut’ah silahakan rujuk:
1. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 265, ia mendhaifkan riwayat ini.
2. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 502.
3. Mushannaf Ibni Abi Syaiba, jilid 4,halaman 293.
4. Tafsir As-Syuthi, jilid 2,halaman 140.
5. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7, halaman 206.
6. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1,halaman 295.

5. Muawiyah bin Abi sofyan, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Umdatul Qari, al-’Aini,jilid 8, halaman 310.
3.Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2, halaman 520.
4. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 314.
5. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 458.
6. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
7. Jawahirul Kalam, jilid 30,halaman 150.
8. Syarhul Muwaththa’,Az-Zarqani.
9. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496 – 499.
10. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174,cet.Darul ma’rifah.

6. Abu Said Al-Khudri,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9, halaman 519.
2. Umdatul Qari,jilid 8, halaman 310.
3. Catatan pinggir Al-Munraqa,jilid 2,halaman 520.
4. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abl Hadid,jilid 12/254.
5. Fathul Bari,jilid 9, halaman 174.
6. As-Sarair, Ibnu Idris,halaman 311.
7. Al-Bayan,Al-Khu’i, halaman 514.
8. Al-Ghadir, jilid 6, halaman208 dan 221.
9. Jawahirul Kalam,jilid 30, halaman 150.
10. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam, halaman 125.
11. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 22.
12. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 264.
13. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 571.
14. Al-Mughni, Ibnu Qudamah,jilid 7, halaman 571.

7. Salamah bin Umayah bin Khalf, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani.
3. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 63.
4. Catatan pinggir, Al-Muntaqa, jilid 2, halaman 520.
5. Al-Bayan, halaman 314.
6. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 221.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 314.
9. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.
10. Nailul Awthar.
11. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 61; jilid 4,halaman 324.
12. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 499.

8. Ma’bad bin Muawiyah, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwatha’, Az-Zarqani.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 137.
7. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq,jilid 7,halaman 499.Dan dalam diterangkan bahwa
Ma’bad dilahirkan dari nikah mut’ah.
8. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.

9. Zubair bin Awwam,ia melakukan nikah mut’ah dengan Asma’ puteri Abu Bakar,dan melahirkan anak bernama Abdullah.Silahkan rujuk:

1. Al-Muhadharat,Al-Raghib Al-Isfahani,jilid 2,hal.94.
2. Al-Iqdu Al-Farid,jilid 2,halaman 139.
3. Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 208 dan 209.
5. Murujudz Dzahabi,jilid 3, halaman 81.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 101 dan 127.
7. Syarah Najul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

10. Khalid bin Muhajir bin Khalid Al-Makhzumi,rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah ,jilid 4,halaman 133,cet. Al-
Amirah.
2. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 205.

11. Amer bin Huraits, silahkan rujuk:

1. Fathu Bari,jilid 9,halaman 141; jilid 11/76.
2. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 293.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Bayan,halaman 314.
5. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
6. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 4,halaman 131.
7. Al-Mushanaf,jilid 7,halaman 500.Dan dalam kitap ini tertulis Amer bin
Hausyab,penyimpan dari Aner bin Hiraits.

12. Ubay bin Ka’b,silahakan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9, tentang bacaan Ubay”Ila ajalin
Musamma”
(dalam ayat mut’ah).
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
3. Al-Jawahir,jilid 30,halaman150.
4. Ahkamul Qur’an,,Al-Jshshash, jilid 2, halaman 147.

13. Rabi’ah bin Umayah,silahkam rujuk:

1. Al-Muwaththa’, Al-Maliki,jilid 2,halaman 30.
2. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
3. Al-Umm,Asy-Syafi’i,jilid 7,halaman 219.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Musnad Asy-Syafi’i, halaman 132.
6. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 503.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Al-Ishaba,jilid 1,halaman 514.
9. Tafsir As-Suyuthi,jilid 2,halaman 141.
10. Ajwiba Masail Musa Jarullah, Syarafuddin Al-Musawi, halaman 116.

14. Sumair,dan bisa jadi Sammarah bin Jundab, silahkan rujuk:

1. Al-Ishabah,Ibnu Hajar, jilid 2,halaman 519.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.

15. Said bin Jubair,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Tafsir Ibnu Katsir.
5. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496.
6. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Habil Hadid,jilid 12/254.

16. Thawus Al-Yamani, silahkan rujuk:

1.Al-Muhalla, jilid 9,halaman 915.
2. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
4. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 7,halaman 571.

17. ‘Atha’ Abu Muhammad Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 497.
2. Bidayatul Mujtahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 63.
3. Al-Muhalla,jilid 9, halaman 519.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
5. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
6. Mukhtashar Jami’Bayan Al-Ilmi,halaman 196, sebagaimana dikutip di dalam
Ajwibah masail Musa Jarullah,halaman 105. Silahkan rujuk: Dirasat wal
Buhuts fit Tarikh wal Islam jilid 1/14,tetapi Sa’udi membuang riwayat ini
dari kitab Jami’
Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi ketika dicetak pada tahun 1388.H.

18. As-Sudi, Silahkan rujuk:

1. Tafsir As-Sudi.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.

19. Mujahid,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jild 5,halaman 9.
2. Al-Ghadir, jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.
4. Syarah Nahjul Bajaghah, Ibnu Hadid, jilid 12/254.

20. Zufar bin Aus Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Bahrur Raiq,Ibnu Najim,jilid 3, halaman 115.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.

21. Abdullah bin Abbas,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5, halaman 9.
2. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash,jilid 2,halaman 147.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
4. Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari,jilid 1,halaman 519.
5. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 130 dan 133.
6. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
7. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 9,halaman 571.
8. Fathul Bari,jilid 9,halaman 172, cet. Darul Ma’rifah.

22. Asma’ puteri Abu Bakar,silahkan rujuk:

1. Musnad Ath-Thayalisi, hadis 1637.
2. Al-Muhalla,Ibnu Hazm, jilid 9,halaman 519.
3. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

Ibnu Hazm, dalam kitabnya Al-Muhalla 9/519, setelah manetapakan jumlah sahabat yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Ini diriwayatkan dari Jabir dan seluruh sahabat sejak masa Rasulullah SAW,Abu Bakar, dan sampai pertengahan masa kekhalifahan Umar. Kemudian ia berkata: Dari tabi’in adalah Thawus, Said bin Jubair dan seluruh fuqaha Mekkah.

Abu Umar, penulis kitab I-Isti’ab berkata, bahwa sahabat – sahabat Ibnu Abbas dari penduduk Mekkah dan Yaman, semuanya memandang nikah mut’ah adlah halal menurut mazhab Ibnu Abbas, sementara semua manusia mengharamkan. Silahkan rujuk:

1. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 133.
2. Fathul Bari,jilid 9,halaman 142,cet. Darul Ma’rifah.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya 5/132 berkata : penduduk Mekah banyak mempraktekan nikah mut’ah.

Ar-Razi dalam tafsirnya 3/200, tentang ayat mut’ah berkata: mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat itu dimanskh atau tidak ? Para tokoh Ummat mayoritas mengatakan dimansukh dan sebagian mereka mengatakan tidak dimansukh,hukumnya tetap berlaku sebagaimana adanya.

Ibnu Hiyan dalam tafsirnya,setalah mengutip hadisnya yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Atas dasar inilah seluruh ahlul bait dan pengikutnya menghalalkan nikah mut’ah.

Ibnu Juraij Abdul Mulk bin Abdul Aziz Al-Makki, wafat tahun 15 H., ia membolehkan nikah mut’ah. Asy-Syafi’i berkata: Ibnu Juraij memut’ahi 70 wanita.
Adz-Dzahabi mengatakan : Ibnu Juraij memur’ahi 90 wanita. Silahkan rujuk:

1. Tahdzibut Tahdzib,jilid 6,halaman 406.
2. Mizanul I’tidal,jilid 2, halaman 151.

Iman Malik bin Annas adalah salah seorang Fuqaha Ahlus sunnah yang membolehkan nikah mut’ah . Silahkan rujuk kitab – kitab berikut: Al-Mabsuth,As-sarkhasi; Syarah Kanzud Daqaiq; Fatawa Al-Faraghi;Khizatur Riwayat, Al-Ghadi,Al-Kafi fil furu’ Al-Hanafiyah;’Inayah Syarhul Hidayah; Syarah Al-Muwaththa’, Az-Zarqani; Al-Ghadir 6/222-223;dan tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.

Dan siapa yang ingin mempelajari lebih mendalam tentang ketidakberdasarkan pendapat yang menasikh dan mengharamkan nikah mut’ah, dan ketidakberdasarkan dua hal ini secara syar’i, silahkan rujuk kepada kitab – kitab:

1. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 223-240.
2. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 315.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul,jilid 1,halaman 273-325.

Adapun Mazhab Ahlul bait, yang dipimpin oleh Imam Ali (a.s), mereka membolehkan nikah mut’ah. Ini berdasarkan riwayat yang masyhur dan mutawatir dari Imam Ali (a.s) bahwa beliau berkata:

“Seandainya Umar tidak melarang nikah mut’ah,niscaya tidak ada orang berzina kecuali orang yang celaka.” Silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5,halaman 6, dengan sanad yang shahih.
2. Tafsir Ar-Razi,jilid3,halaman 200.
3. Tafsir Ibnu Hiyan,jilid 3,halaman 218.
4. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi,jilid 3.
6. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294.
7. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid, jilid 12,halaman 253 dan 254.

Adapun hadis – hadis mereka dari jalur mazhab Ahlul Bait, hiasannya bagaikan matahari di siang hari pada musim bunga. Untuk itu silahkan rujuk: Wasailu Asy-Syi’ah, jilid 14,halaman 436 dan selanjutnya.

Kajian tentang nikah mu`ah ada tiga macam: Kajian teologis, kajian fiqhiyah (tentang halal dan haramnya), kajian tafsir dan hadis (apakah surat An-Nisa’: 24 sebagai ayat penetapan syariat nikah mut`ah?).

Pendapat-pendapat tentang nikah mu`ah:

1. Nikah mut`ah tidak pernah disyariatkan di dalam Islam.
2. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam kemudian dimansukh
3. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam dan tidak pernah dimansukh

Pendapat Pertama: Mut`ah sebagai perbuatan zina dan keji. Berarti Nabi saw pernah membolehkan sahabatnya melakukan perbuatan zina dan keji. Apa alasannya? Dharurat atau rukhshah?

Pendapat kedua: Kapan dimansukh oleh Nabi saw? Ayat apa yang memansukhnya?
Dalam kelompok ini ada beberapa pendapat.
1. Dimansukh oleh Surat Al-Mu’minun: 5-7
2. Dimansukh oleh ayat tentang iddah yaitu Surat Ath-Thalaq: 1
3. Dimansukh oleh ayat tentang waris yaitu Surat An-Nisa’: 12
4. Dimnsukh oleh ayat tentang muhrim (orang-orang yang haram dinikahi) yaitu Surat An-Nisa’: 23
5. Dimansukh oleh ayat tentang batasan jumlah istri yaitu Surat An-Nisa’: 3
6. Dimansukh oleh hadis Nabi saw.

Jawaban
Terhadap pendapat yang pertama: Tidak sesuai dengan hukum nasikh-mansukh, karena Surat An-Nisa’: 24 (tentang nikah mut`ah) ayat Madaniyah sedangkan Surat Al-Mu’minun: 5-7 ayat Makkiyah. Tidak ayat Makkiyah menasikh ayat Madaniyah.

Terhadap pendapat ke 2, 3, 4, dan ke 5: Hubungan Surat An-Nisa’: 24 dengan ayat-ayat tersebut bukan hubungan Nasikh-Mansukh, tetapi hubungan umum dan khusus, muthlaq dan muqayyad (mutlak dan terbatas). Memang sebagian ulama Ushul figh mengatakan bahwa jika yang khusus diikuti oleh yang umum dan berlawanan dalam penetapan dan penafian, maka yang umum menasikh yang khusus. Tetapi menggunakan kaidah dalam masalah ini sangat lemah dan tidak sesuai dengan pokoh persoalannya.

Misalnya ayat tentang Iddah sifat umum dan terdapat di dalam Surat Al-Baqarah sebagai awal surat Madaniyah, diturunkan sebelum surat An-Nisa’ yang di dalam terdapat ayat tentang nikah mu`ah. Demikian juga ayat tentang batasan jumlah istri, dan muhrim terdapat di dalam Surat An-Nisa’ sebagai pengantar ayat tentang nikah mut`ah saling berkaitan satu sama lain. Semua ayat itu bersifat umum, dan ayat tentang nikah mut`ah sebagai ayat yang bersifat khusus diakhir dari yang umum. Bagaimana mungkin pengantar menasikh penutup pembicaraan.

Wabil khusus, pendapat yang mengatakan ayat tentang Iddah menasikh ayat nikah mut`ah sama sekali tidak berdasar, karena hukum iddah itu berlaku juga dalam nikah mut’ah selain di dalam nikah permanen. Demikian juga pendapat yang mengatakan ayat tentang muhrim menasikh ayat nikah mu`ah, semuan perempuan yang haram dinikahi saling berkaitan dan tak terpisahkan dengan segala bentuk pernikahan baik permanen maupun mut`ah. Bagaimana mungkin pengantar pembicaraan menasikh penutupnya. Lagi pula ayat tersebut tidak menunjukkan larangan hanya terhadap nikah permanen.

Pendapat yang keenam: Ayat nikah mut’ah dimasukh oleh hadis Nabi saw. Pendapat ini sama sekali tidak berdalil, karena secara mendasar ia bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir yang menjelaskan Al-Qur’an, dan riwayat-riwayat yang merujuk kepada Al-Qur`an.

Riwayat-Riwayat Penasikhan (Penghapusan hukum) nikah mut`ah

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Abdurrazzaq, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Al-Juhani, ia berkata: “Pada tahun Fathu Mekkah Rasulullah saw mengizinkan kami melakukan nikah mut`ah. Lalu kami bersama seorang laki-laki dari kaumku melakukan bepergian. Aku lebih tampan darinya; masing-masing kami membawa kain berwarna. Kain warna kainku sudah lapuk, warna kain dia masih baru dan bagus. Ketika sampai di Mekkah kami berjumpa dengan seorang perempuan jalanan. Lalu kami berkata kepadanya: Maukah kamu nikah mu`ah dengan salah seorang dari kami? Ia menjawab: Apa yang akan kamu berikan? Kemudian masing-masing kami menunjukkan kain-warna kami, ia pun melihatnya. Temanku melihat perempuan itu sambil berkata: Kain warna ini sudah lapuk, sedangkan kain-warnaku masih bagus. Perempuan itu berkata: Dengan kain yang ini aku mau. Kemudian aku melangsungkan nikah mu`ah dengannya. Dan kami tetap melakukan nikah ini sehingga Rasulullah saw mengharamkannya.

Dalam kitab yang sama: Malik, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada hari Khaibar, dan melarang makan daging keledai yang jinak.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Syaibah, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Salamah bin Akwa’, ia berkata: “Rasulullah saw memberi rukhshah (kemudahan) kepada kami untuk melakukan nikah mut`ah tiga hari pada tahun terjadinya perang Authas, setelah itu beliau melarangnya.”

Dalam Syarah Shahih At-Tirmizi oleh Ibnul Arabi: dari Ismail, dari ayahnya, dari Az-Zuhri, ia berkata, Saburah meriwayatkan: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji wada’”. Dalam redaksi yang hampir sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, ia berkata: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji qada’ setelah beliau membolehkannya dalam waktu yang tertentu. Sementara Al-Hasan mengatakan bahwa nikah dilarang pada Umrah qadha’.

Dalam kitab yang sama: Az-Zuhri mengatakan, sesungguhnya Nabi saw melarang nikah mut`ah pada perang Tabuk.

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah saw membolehkan para sahabatnya melakukan nikah mut`ah hanya tiga hari, kemudian beliau mengharamkannya.
Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim meriwayatkan dari Saburah, ia berkata: Aku melihat Rasulullah saw berdiri di antara tiang dan pintu sambil berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menghalalkan nikah mut`ah. Dan ingatlah, sekarang aku melarangnya hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mempunyai isteri mut`ah hendaknya dicerai, dan jangan mengambil sedikit pun mahar yang telah diberikan kepada mereka.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: “Demi Allah, tidak ada nikah mut`ah kecuali hanya tiga hari yang diizinkan oleh Rasulullah saw, kemudian sebelum dan sesudahnya tidak ada nikah mut`ah.”

Riwayat-riwayat yang membolehkan

Dalam Shahih Bukhari: meriwayatkan dari Abu Jumarah, ia berkata: “Pada suatu ketika Ibnu Abbas ditanyai tentang nikah mut`ah, kemudian ia menjawab, nikah mut`ah itu rukhshah (kemudahan). Lalu budaknya berkata kepadanya, bukankah nikah mut`ah itu hanya sebagai rukhshah dalam keadaan dharurah, dan perempuan itu sendiri jarang sekali yang bersedia melakukannya, kemudian Ibnu Abbas menjawab, memang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari: meriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah swt Surat An-Nisa’:24 adalah ayat tentang nikah mut`ah.

Dalam kitab yang sama: meriwayatkan dari As-Sudi tentang ayat ini, ia berkata: “Ayat ini adalah ayat tentang nikah mut`ah. Seorang laki-laki boleh menikahi perempuan dengan syarat waktu yang ditentukan (nikah mut`ah). Jika masanya sudah habis, sang suami tidak mempunyai apapun dari perempuan itu, dan ia suci darinya. Ia harus mensucikan diri dari kasih sayangnya, antara keduanya tidak waris, dan tidak saling mewarisi.

Dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ad-Durrul Mantsur meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam suatu peperangan, dan kami tidak membawa isteri-isteri. Kemudian kami bertanya kepada Rasulullah saw, apakah sebaiknya kami berkebiri? Beliau melarang kami melakukan hal itu, dan mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut`ah dengan mahar sehelai baju untuk waktu tertentu. Kemudian beliau membacakan firman Allah swt:

ياايها الذين آمنوا لاتحـرموا طيبات مااحل الله لكم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” (Al-Maidah: 87).

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Nafi` bahwa Ibnu Umar pernah ditanyai tentang nikah mut`ah, lalu ia menjawab: haram. Kemudian dikatakan kepadanya, Ibnu Abbas membolehkan nikah mut`ah. Ia berkata: Mengapa dia tidak membolehkannya pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Dalam kitab yang sama: Ibnu Mundzir, Ath-Thabari dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Said bin Jubair, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, tahukah Anda akibat fatwa Anda tentang pembolehan nikah mut`ah? Fatwa Anda tersebar di seluruh penjuru negeri, dan disebut-sebut oleh para penyair. Apa yang mereka katakan? Tanya Ibnu Abbas. Mereka berkata:

Kukatakan kepada kawanku yang lama berada dalam perantauan
Tidakkah kamu ingin melaksanakan fatwa Ibnu Abbas?
Serumah dengan si cantik, penghibur
Sambil menunggu teman dalam perjalanan.
Mendengar itu Ibnu Abbas terkejut dan berkata: Inna lillâhi wa inna ilayhi raji`ûn. Demi Allah, bukan demikian yang kumaksudkan dalam fatwaku. Aku tidak menghalalkannya kecuali Allah menghalalkan bangkai, darah dan daging bagi orang yang dalam keadaan darurat. Demikian juga nikah mut`ah, seperti memakan bangkai, darah dan daging babi.

Kementar
Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut nikah mut’ah dilarang oleh Nabi saw pada waktu yang bebeda-beda, dan dimansukh oleh ayat yang berbeda-beda pula. Dalam riwayat-riwayat tersebut nampaknya Nabi saw dengan alasan dharurat atau rukhshah, membolehkannya, kemudian melarangnya lagi, kemudian membolehkan lagi, kemudian melarang hingga hari kiamat.

Ada pendapat yang mengatan: Hadis-hadis Nabi dan pernyataan-pernyataan sahabat yang meriwayatkan nikah mut`ah, semuanya menunjukkan bahwa Nabi saw memberi rukhshan (kemudahan) kepada sahabat-sahabatnya untuk melakukannya dalam sebagian peperangan, kemudian beliau melarang mereka, kemudian memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian melarang mereka lagi dengan larangan untuk selamanya.

Sesungguhnya rukhshah itu ada karena adanya kesulitan untuk menghindari zina dan jauh dari isteri-isteri mereka. Jadi rukhshah itu bertujuan untuk meringankan dua kondisi yang sangat berbahaya tersebut. Sehingga, jika seorang laki-laki melakukan nikah mut`ah dengan seorang perempuan dan tinggal bersamanya dalam waktu tertentu, hal ini merupakan langkah yang lebih mudah daripada mengekang diri untuk tidak berzina dengan perempuan yang memungkinkan untuk melakukannya.

Sanggahan Penulis: Apa yang dikatakan oleh pendapat tadi bahwa semua riwayat menunjukkan pemberian rukhshah dalam sebagian peperangan, kemudian Nabi saw melarangnya, kemudian beliau memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian beliau melarang lagi untuk selamanya. Pendapat ini sama sekali tidak sesuai dengan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Hendaknya Anda mengkaji kembali riwayat-riwayat tersebut sehingga Anda tahu bahwa riwayat-riwayat itu mendustakan pendapat ini.

Pendapat tersebut juga mengatakan: Ahlussunnah memandang rukhshah dalam nikah mut`ah satu kali atau dua kali dengan tujuan sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, seperti tahapan dalam mengharamkan khomer, keduanya adalah perbuatan keji yang tersebar pada zaman jahiliah, hanya saja perbuatan zian hanya tersebar di kalangan budak-budak perempuan bukan di kalangan perempuan-perempuan yang merdeka.

Sanggahan Penulis: Pernyataan bahwa rukhshah dalam nikah mut`ah sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, mengharuskan pendapat tadi berkesimpulan bahwa nikah mut`ah adalah salah satu bentuk perzinaan, nikah mut`ah sama seperti perzinaan yang tersebar pada zaman jahiliah, kemudian untuk melarang perzinaan tersebut Nabi saw mengambil langkah tahapan yang halus dan lembut dengan membolehkan mut`ah agar para sahabatnya mau menerimanya, kemudian beliau melarang segala bentuk perzinaan kecuali mut`ah. Sehingga saat itu tinggal perzinaan dalam bentuk mut`ah, kemudian Nabi saw memberi rukhshah untuk melakukan zina dalam bentuk mut`ah, kemudian beliau melarangnya, kemudian memberi rukhshah lagi sampai waktu tertentu yang memungkinkan untuk melarangnya secara pasti, lalu beliau melarangnya untuk selamanya.

Demi Allah, sungguh pendapat tersebut telah mempermainkan syariat agama yang suci, yang Allah tidak menghendakinya kecuali untuk mensucikan ummat Rasulullah saw dan melengkapi nikmat atas mereka.

Kajilah dengan teliti pernyataan pendapat tadi:
Pertama: Ia telah menisbatkan kepada Nabi yang suci saw pelarangan nikah mut`ah, kemudian memberi rukhshah, kemudian melarang, kemudian memberi rukhshah lagi. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil untuk mengharankan nikah mut`ah adalah ayat-ayat Makkiyah yaitu: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7).
Jadi, pendapat yang bersikeras itu telah menisbatkan kepada Nabi saw menasikh ayat-ayat tersebut. Denagan kata lain, menganggap Nabi saw memberi rukhshah, kemudian menghapus rukhshah tersebut dan menetapkan hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian menghapus kembali, kemudian menetapkan kembali. Coba Anda pikirkan, bukankah hal yang demikian itu berarti menisbatkan kepada Nabi yang suci sikap pelecehan terhadap kitab Allah?

Kedua: Ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang perbuatan zina: Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya perbuatan zina adalah perbuatan keji, dan sesuatu yang buruk. (Al-Isra’: 32). Coba Anda bayangkan, adalah bahasa yang lebih jelas dari bahasa ayat ini, sementara ayat ini adalah ayat Makkiyah dan terdapat dalam rentetan ayat-ayat yang melarang perbuatan zina.

Katakan, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu … dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-An`am: 151). Kata Fawâhisya bentuk jamak dari Fâhisya dan didahului ole Al, dan terletak dalam kontek kalimat larangan. Ini berarti bahwa larangan itu mencakup seluruh perbuatan yang keji dan segala bentuk perzinaan, sementara ayat ini juga ayat Makkiyah.

Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji , baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-A`raf: 33). Demikian juga ayat telah kami sebutkan yaitu:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7). Dua surat ini adalah surat Makkiyah, juga ayat-ayat (yang oleh pendapat tadi) dijadikan dasar untuk mengharamkan nikah mut`ah, dan juga ayat-ayat yang mengharamkan segala bentuk perzinaan adalah ayat Makkiyah.

Inilah ayat-ayat yang terpokoh yang melarang perbuatan zina dan segala bentuk perbuatan keji, yang semuanya adalah ayat Makkiyah. Maka ayat yang mana lagi yang akan dijadikan dasar oleh pendapat tersebut untuk mengharamkan nikah mut`ah. Atau sebagaimana yang nampak dalam pendapatnya ia akan menggunakan Surat Al-Mu’minun: 5-7 untuk mengharamkan nikah mu`ah? Dengan asumsi Allah swt secara tegas mengharamkan nikah mu`ah, kemudian Nabi saw mengharamkannya secara bertahap dari rukhshah ke rukhshah dengan tujuan merayu manusia agar mau menerimanya. Sementara Allah swt menegaskan kecintaan-Nya kepada Nabi saw dengan cinta yang sebenarnya di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka menjadikan kamu sebagai sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir sedikit cenderung kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati … (Al-Isra’: 73-75).

Ketiga: Pemberian rukhshah yang dinisbatkan kepada Nabi saw. Dari rukhshah ke rukhshah yang lain. Jika pemberian rukhshah itu bukan ketentuan syariat yang membolehkan, dan yang semestinya nikah mut`ah termasuk perbuatan zina dan perbuatan keji, maka jelas pemberian rukhshah itu adalah sikap penentangan Nabi saw terhadap Tuhannya, padahal beliau ma`shum dengan pemeliharaan Allah swt. Dan jika rukhshah itu datang dari Tuhannya, berarti Allah telah memerintahkan untuk melakukan perbuatan keji. Sementara Allah swt dengan tegas menolak perbuatan keji:

Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh melakukan perbuatan keji. (Al-A`raf: 28).

Jika pemberian rukhshah itu dengan ketentuan syariat yang menghalalkan, berarti mut`ah itu bukan perbuatan zina dan keji, dan merupakan ketentuan syariat yang dibatasi dengan batasan-batasan tertentu, tidak tergolong pada peringkat-peringkat yang diharamkan.

Siapa sebenarnya yang melarang nikah mut’ah?

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Abdurrazzaq dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari `Atha`, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Semoga Allah merahmati Umar bin Khattab, tidak ada mut`ah kecuali rahmat dari Allah untuk ummat Muhammad. Sekiranya Umar tidak melarangnya, niscaya ummat tidak melakukan perzinaan kecuali orang yang celaka. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Mut`ah itu adalah suatu pernikahan yang ditetapkan di dalam firman Allah Surat An-Nisa’:24 sehingga demikian dan demikian, dari waktu demikian dan demikian. Kemudian Ia berkata: Dalam nikah mut`ah antara suami-isteri tidak ada waris, jika kedua saling merelakan setelah waktunya berakhir, itu suatu kenikmatan; jika keduanya berpisah, maka itu pun suatu kenikmatan dan antara keduanya tidak ada ikatan pernikahan. Ada juga riwayat yang bersumber dari `Atha` bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata: Nikah mut`ah itu halal hingga sekarang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari dan Ad-Durrul Mantsur menyebutkan riwayat dari Abdurrazzaq dan Abu Dawud tentang ayat yang menasikh(menghapus) hukum nikah mut`ah. Ia ditanyai tentang ayat ini: Benarkah ayat ini dimansukh? Ia menjawab: Tidak. Ali bin Abi Thalib berkata: Kalau sekiranya Umar tidak melarang nikah mut`ah, niscaya tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

Dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Kami melakukan nikah mut`ah dengan mahar segenggam kurma dan gandum, beberapa hari pada zaman Rasulullah saw dan khalifah Abu Bakar, sehingga Umar melarangnya karena kasus Amer bin Huraits.

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Malik dan Abdurrahman meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa pada suatu hari Khawlah binti Hakim datang dan melapor kepada Umar bin Khattab: Sesungguhnya Rabi`ah bin Umayyah melakukan mut`ah dengan seorang perempuan hingga ia hamil. Kemudian Umar keluar dari rumahnya sambil menarik-narik bajunya dan berkata: Inilah akibat mut`ah, kalau sekiranya aku sudah membuat keputusan tentangnya sebelumnya, niscaya aku rajam ia.

Dalam Kanzul Ummal, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ummu Abdillah binti Abi Khaitsamah, ia berkata: Pada suatu ketika ada seorang laki-laki datang ke negeri Syam, dan ia tinggal di rumahku. Ia berkata, aku tidak tahan hidup sendirian, carikan aku perempuan untuk mut`ahi. Ummu Abdillah berkata: Aku tunjukkan padanya seorang perempuan, dan ia memenuhi persyaratannya dan berjanji untuk berlaku adil; kemudian ia tinggal bersama perempuan itu dan melakukan apa yang ia inginkan. Setelah ia pergi aku memberitakan kejadian itu kepada Umar bin Khattab, lalu ia mengirim utusan kepadaku dan bertanya: Benarkah kejadian itu? Ya, jawabku. Utusan itu berkata: Jika laki-laki itu benar-benar melakukannya, bawalah perempuan itu ke sini; jika laki-laki benar melakukannya, aku akan menceriterakan hal itu kepada Umar bin Khattab. Selajutnya Umar bin Khattab memanggilnya dan bertanya: Mengapa kamu melakukan hal itu? Laki-laki itu menjawab: Aku melakukan hal ini pada zaman Nabi saw dan beliau tidak melarangnya hingga beliau wafat. Dan hal yang sama juga aku lakukan pada zaman Abu Bakar dan ia tidak melarangnya sampai ia meninggal; kemudian aku lakukan pada zaman Anda, dan Anda pun belum pernah menceriterakan kepada kami dasar pelarangan melakukan hal ini. Kemudian Umar berkata: Demi Zat yang menguasai diriku, sekiranya kamu melakukan hal ini, niscaya aku rajam kamu. Kemudian laki-laki itu berkata: Jelaskan kepadaku sehingga jelas bagiku perbedaan antara nikah dan zina.

Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad meriwayatkan dari `Atha`, ia berkata: Setelah Jabir bin Abdullah selesai melakukan umrah, kami berkunjung ke rumahnya, ketika itu ada sekelompok orang bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian mereka menyebutkan mut`ah. Jabir berkata: Kami melakukan mut`ah pada masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Menurut riwayat dari Ahmad, sehingga akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Dalam Sunan Al-Baihaqi, dari Nafi`, dari Abdullah bin Umar, ketika ia ditanya tentang nikah mut`ah, ia berkata: Nikah mut`ah itu haram menurut Umar, dan sekiranya ada orang yang melakukannya, ia pasti merajamnya dengan batu.

Dalam Sunan Al-Baihaqi: Jabir berkata, Umar berdiri kemudian berkata: sesungguhnya Allah menghalalkan kepada Rasul-Nya apa yang diinginkan dengan apa yang diinginkan, maka hendaknya kamu menyempurnakan haji dan umrah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan hentikan melakukan nikah ini, tidak ada seorang pun laki-laki yang menikahi perempuan dengan waktu yang ditentukan kecuali aku rajam dia.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dari Umar bin Khattab, dalam khutbahnya ia berkata: Dua mut`ah ada pada zaman Rasulullah saw, akulah yang melarang keduanya dan memberikan sangsi atas keduanya: mut`ah haji dan nikah mut`ah.
Hmm.. mari saya terangkan silsilah Imam kami..

Imam Muhammad al Mahdi bin Hassan al Askarri bin Ali al Hadi bin Muhammad al Jawad bin Ali al Ridha bin Musa al Kazhim bin Ja’far al Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin al Sajjad bin Hussain Sayyid al Syuhada wa Hassan al Mujtaba bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah az Zahra binti Rasulullah Muhammad Saww..

Kami mendapat dan mengamalkan ajaran Islam kami dari Rasulullah dan Ahlul baitnya…

Imam Ali bin Abi Thalib as (1)
Nama : Ali bin Abi Thalib as
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan : Abu AL-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Paman Rasululullah saww)
Ibu : Fatirnah binti Asad
Tempat/Tgl Lahir : Mekkah, Jum’at 13 Rajab
Hari/Tgl Syahadah : Malam Jum’ at, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Sebab Syahadah : Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam
Makam : Najaf Al-Syarif
Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan

Anak laki-laki :

1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja?far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ?Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja?far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar

Anak Perempuan :

1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

Imam Hasan Al-Mujtaba as (2)

Nama : Hasan
Gelar : al-Mujtaba
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali bin Abi Thalib
Ibu : Fathimah az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.
Hari/Tgl Syahadah : Kamis, 7 Shafar Tahun 49 H.
Umur : 47 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Istrinya, Ja’dah binti As-Ath
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan
Anak Laki-laki : Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah
Anak Perempuan : Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fathimah, Ummu Abdullah, Fathimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

Imam Husain bin Ali as (3)

Nama : Husain
Gelar : Sayyidu Syuhada’, As-Syahid bi Karbala
Julukan : Aba Abdillah
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
lbu : Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum ‘at 10 Muharram 61 H.
Umur : 58 Tahun
Sebab Syahadah : Dibantai di Padang Karbala
Makam : Padang Karbala
Jumlah anak : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja?far
Anak Perempuan ; Sakinah dan Fathimah

Imam Ali Zainal Abidin as (4)

Nama : Ali
Gelar : Zainal Abidin, As-Sajjad
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Husein bin Ali bin Abi Thalib
Ibu : Syahar Banu
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Muharram 95 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik, di Zaman al-Walid
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 11 Laki-Laki dan 4 Perempuan
Anak Laki-laki : Muhammad Al-Baqir, Abdullah, Hasan, Husein, Zaid, ‘Amr Husein Al-Asghor, Abdurrahman, Sulaiman, Ali, Muhammad al-Asghor
Anak perempuan : Hadijah, Fatimah, Aliyah, Ummu Kaltsum

Imam Muhammad Al-Baqir as (5)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Baqir
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Zainal Abidin
lbu : Fatimah binti Hasan
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 7 Dzulhijjah 114 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik
Makam : Baqi?, Madinah
Jumlah Anak : 8 orang; 6 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ja?far Shodiq, Abdullah, Ibrahi, Ubaidillah, Reza, Ali
Anak Perempuan : Zainab, Ummu Salamah

Imam Ja?far Ash-Shadiq as (6)

Nama : Ja’far
Gelar : Ash-Shadiq
Jlillikan : Abu Abdillah
Ayah : Muhammad al-Baqir
lbu : Fatimah
Tcmpat/Tgl Lahir : Madinah, Senin 17 Rabiul Awal 83 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Syawal 148 H.
Umur : 65 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Manshur al-Dawaliki
Makam : Baqi’, Madinah
Jumlah Anak : 10 orang; 7 laki-laki, 3 perempuan
Anak Laki-laki : Ismail, Abdullah, al-Afthah, Musa al-Kadzim, Ishaq, Muhammad al-Dhibbaja, Abbas, Ali
Anak Perempuan : Fatimah, Asma, Ummu Farwah

Imam Musa Al-Kadzim as (7)
Nama : Musa
Gelar : Al-Kadzim
Julukan : Abu Hasan Al-Tsani
Ayah : Ja’far Shodiq
Ibu : Hamidah AL-Andalusia
Tempat/Tgl Lahir : Abwa’ Malam Ahad 7 Shofar 128 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at 25 Rajab 183 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Harun Ar-Rasyid
Makam : Al-Kadzimiah

Imam Ali Ar-Ridha as (8)

Nama : Ali
Gelar : Ar-Ridha
Julukan : Abu al-Hasan
Ayah : Musa al-Kadzim
Ibu : Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis, 11 Dzulqo’dah 148 H
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, 17 Shafar 203 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Makinun al-Abbasi
Makam : Masyhad, Iran
Jumlah Anak : 6 orang; 5 Laki-laki dan 1 Perempuan
Anak laki-laki : Muhmmad Al-Qani’, Hasan, Ja’far, Ibrahim, Husein
Anak perempuan : Aisyah

Imam Muhammad Al-Jawad as (9)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Ar-Ridha
Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.
Umur : 25 Tahun
Sebab Syahadah : diracun istrinya
Makam : Al-Kadzimiah
Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ali, Musa
Anak Perempuan : Fatimah, Umamah

Imam Ali Al-Hadi An-Naqi as (10)

Nama : Ali
Gelar : al-Hadi, al-Naqi
Julukan : Abu al-Hasan al-Tsaalits
Ayah : Muhammad Al-Jawad
lbu : al-Maghrabiah
Tempat/Tgl : Madinah, 15 Dzul-Hijjah/ 5 Rajab 212 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 3 Rajab 254 H
Umur : 41Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Al-Mu’tamad al-Abbasi
Makam : Samara
Jumlah Anak : 5 orang; 4 Laki-Laki dan Perempuan
Anak Laki-laki : Abu Muhammad al-Hasan, al Husein, Muhammad, Ja?far
Anak Perempuan : Aisyah

Imam Hasan Al-Askari as (11)

Nama : Hasan
Gelar : Al-Askari
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali Al-Hadi
Ibu : Haditsah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rabiul Tsani 232 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at, 8 Rabiul Awal 260 H
Umur : 28 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Khalifah Abbasiah
Makanan : Samara’
Jumlah Anak : 1 orang ; Muhammad Al-Mahdi

Imam Muhammad Al-Mahdi as (12)

Narna : Muhammad
Gelar : Al-Mahdi, Al-Qoim, Al-Hujjah, AL-Muntadzar,
Shohib Al-Zaman, Hujjatullah
Julukan : Abul Qosim
Ayah : Hasan AL-Askari
Ibu : Narjis Khotun
Tempal/Tgl Lahir : Samara’, Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 H.
Ghaib Sughra : Selama 74 Tahun, di mulai sejak kelahirannya hingga tahun 329
Ghaib Kubra : Sejak Tahun 329 hingga saat ini

Sekarang coba tolong jelaskan dari mana ibu khofifah mendapatkan sumber ajaran Islam yang ibu yakini ?
Kami juga menghormati Para sahabat Pak.. contohnya : Salman al Farisi, Abu Dzar al Ghifari, Miqdad al Kindi, Ammar ibn Yasir dan lainnya yang Shaleh dan tetap setia pada amanat Rasulullah Saww..

Salman al-Farisi r.a. berkata:”Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: “Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi.” (al-Ganduzi, Yanabi? al Mawaddah)

Berkata Jabir bin Samurrah : “Saya ikut bersama ayah menemui Nabi saww, lalu saya mendengar beliau hersabda: “Persoalan lima ini belum akan tuntas sebelum berjalan pemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka”. Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya dengar. Karena itu, beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: “Apa yang beliau katakan?”. Nabi mengatakan: “Semua khalifah itu berasal dan kalangan Quraisy”. Jawab ayahku. (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi dan Abu Daud)

Bukankah Rasulullah saww tidak meminta upah apapun kecuali agar umatnya mencintai keluarganya. Sebagaimana firman Allah (as-Syura 23). “Dan bukti kecintaan kita kepada keluarganya adalah dengan mengikuti mereka.”

Sekarang anda lebih mencintai mana? dari saya mendengar anda lebih gesit membela Umar dari pada Ahlul bait Nabi?

ibu khofifah berada dalam posisi mana? Membela Ahlul Bait Atau Bani Umayyah dan para Sufyani ?

dan kembali ke Nikah Mut’ah lalu mengapa ayat – ayat al Quran tentang halalnya nikah mut’ah masih ada sedangkan nikah mut’ah nya dilarang oleh Umar? Kalau ibu yang terhormat masih saja beranggapan Rasulullah Saww mengharamkan/melarang nikah mut’ah berarti ibu  tidak menyimak semua penjelasan saya tadi..
APA YANG DIKATAKAN RASUL SAW HARAM, YA HARAM SAMPAI AKHIR JAMAN
DAN YANG DIKATAKAN HALAL…..YA.HALAL SAMPAI AKHIR JAMAN…..
MUT’AH YA HALLLALLLL……..

Membantah Buku “Katanya Nikah Ternyata Zina” karya M.Malullah LAKNATULLAH Al Wahabi Nejed

Katanya Nikah Ternyata Zina

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

=====================================================

Jawaban  Pihak  Syi’ah ::

Membaca paragraf pertama saja saya sudah tersenyum bahkan sampai-sampai ingin tertawa. Betapa tidak, pada paragraf pertama tersebut dikatakan bahwa nikah mut’ah itu disejajarkan dengan perzinahan atau dalam artian lain bahwa nikah mut’ah sama dengan perzinahan, tidak ada beda di antara keduanya.

Sayyed Husain Khomeini cucu Imam Imam Khomeini) menyampaikan kepada Al-Arabiyya.net bahwa Ketika ditanya tentang pendapat pribadinya tentang kawin mut`ah, putra Mustafa Khomeini ini menjawab, “Sebagai keyakinan keagamaan, saya menganggapnya memang ada dalam Islam dan Al-Qur’an, meskipun ditolak oleh kalangan Ahlus-Sunnah. Akan tetapi, kawin mut`ah telah disalahgunakan. Sebetulnya ia dibolehkan demi menghalangi manusia daripada prostitusi dan perbuatan zina, namun adakalanya ia sama saja seperti zina, bahkan lebih jahat daripada zina. Walaupun demikian, memang dalam buku2 fiqih yang ditulis oleh para fuqaha Syi`ah, terdapat dua jenis perkawinan, satu yang disebut perkawinan permanen dan yang lainnya disebut perkawinan sementara. Begitulah yang disepakati oleh semua ahli fiqih Syi`ah.

Saya yakin orang yang berpikir jernih dan tidak mendahulukan hawa nafsunya akan menganggap bahwa pernyataan seperti itu adalah keliru. Nikah mut’ah adalah ikatan tali pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita dengan mahar yang telah disepakati dalam akad, sampai pada batas waktu tertentu. Sedangkan perzinahan adalah hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim dan merupakan perbuatan dosa besar. Pernah ada teman saya yang bertanya apakah nikah mut’ah itu bisa tanpa wali, saksi, dan pemberian nafkah? Mendengar pertanyaan seperti itu, saya teringat dengan perkataan seorang ustadz yang mengatakan bahwa tidak wajib adanya wali dan saksi, tetapi alangkah baiknya jika ada wali dan saksi. Mengenai pemberian nafkah – masih menurut ustadz itu – tergantung perjanjian ketika akad.

Hukum Nikah Mut’ah dalam Al-Qur’an

Allah berfirman, “…Maka istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (mas kawin) dengan sempurna…” (Q.S. An-Nisa: 24)

Al-Qurthubi, Al-Syaukani dan orang-orang yang sependapat dengan mereka mengatakan bahwa hampir semua ulama menafsirkan ayat tersebut dengan nikah mut’ah yang sudah ditetapkan sejak permulaan Islam. (Tafsir Qurthubi, juz 5, hlm. 130; Ma’a Al-Qur’an karangan Baquri, hlm. 167; Al-Ghadir, juz 6, saduran dari tafsir Syaukani, juz 1, hlm. 144).

Dalam Mustadrak Al-Hakim dan kitab-kitab yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas bersumpah bahwa Allah menurunkan ayat tersebut untuk pembatasan waktu dalam mut’ah. (Mustadrak Al-Hakim, juz 2, hlm. 305 berikut keterangan Al-Dzahabi yang terdapat di tepi kitab tersebut pada hlm. Yang sama).

Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Said bin Zubair, dan Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan menyisipkan tafsirnya dengan bacaan sebagai berikut: “Barangsiapa di antara kalian melakukan perkawinan dengan menggunakan batas waktu maka bayarlah maharnya.”

Al-Razi dan Al-Naisaburi setelah meriwayatkan bacaan tesrebut dari Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab berkata, bahwa seluruh sahabat tidak ada yang menyalahkan bacaan kedua sahabat itu sehingga dapat dikatakan bahwa bacaan tersebut telah disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. (Tafsir Al-Naisaburi yang terdapat di tepi kitab Tafsir Al-Thabari juz 5, hlm. 18 dan dalam Kitab Tafsir Al-Razi, juz 10, hlm. 51, cet. Th. 1357 H).

Berdasarkan ayat al-Qur’an di atas dan beberapa tafsirnya diketahui bahwa Islam telah mensyariatkan nikah mut’ah. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh oleh ayat al-Qur’an yang lain.

Untuk menjawab pernyataan seperti itu, cukuplah saya mengutip perkataan Al-Zamakhsyari dalam buku tafsirnya A-Kasysyaf “Kalau kalian bertanya kepadaku apakah ayat mut’ah sudah dihapus, maka akan kujawab ‘tidak’, karena seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah dapat disebut sebagai istrinya.” (Al-Kasysyaf juz 3, hlm. 177, cet. Beirut).Anehnya lagi, ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh (dihapus) oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wassalam. Tetapi pendapat kebanyakan sahabat dan pengikut Al-Zhahiri, Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa hadits tidak dapat menasakh Al-Qur’an. (Al-Mustashfa juz 1, hlm. 124).

Hadits-hadits yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan – menurut saya – tidak dapat kita ikuti, karena terjadi kontradiksi antara hadits yang satu dengan yang lain mengenai waktu pengharamannya, diantaranya sebagai berikut:

Ø Nikah mut’ah halal pada permulaan Islam, diharamkan pada saat perang Khaibar. (Zad Al-Ma’ad, hlm. 183)

Ø Dihalalkan pada permulaan Islam, diharamkan pada Fath Mekkah.Diharamkan pada hari Haji Wada’ (Al-Sirah Al-Halabiyah, juz 3, hlm. 104)

Ø Diharamkan pada saat perang Tabuk, dll.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah dibolehkan sebanyak 7 kali dan dilarang 7 kali, yakni pada saat perang Khaibar, Perang Hunain, saat Rasulullah melakukan Umrah Qadha’, Fath Mekkah, Perang Authas, Perang Tabuk, dan Haji Wada’.

Untuk anggapan yang seperti ini cukuplah kita kutip perkataan Ibnu Qoyyim, “Tidak pernah terjadi dalam syariat penghapusan dua kali dalam satu masalah, dan tidak pernah terjadi penghapusan tentang mut’ah.” (Zad Al-Ma’ad, juz 2, hlm. 183).

Siapa yang Mengharamkan Nikah Mutah?

“Kita, para sahabat di zaman Nabi Sawaw dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan tepung sebagai mas kawinnya, kemudian Umar mengharamkannya karena ulah Amr bin Khuraits.” (Shahih Muslim, juz 4, hlm. 131, cet. Masykul Th. 1334 H).

Al-Hakam, Ibnu Juraij dan sesamanya meriwayatkan bahwa Imam Ali kw berkata, “kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang berzina kecuali orang-orang yang benar-benar celaka.”

Dalam riwayat lain Imam Ali berkata, “Kalau pendapatku tentang nikah mut’ah tidak kedahuluan Umar, aku akan perintahkan nikah mut’ah. Setelah itu, jika masih ada orang yang berzina dia memang benar-benar celaka.” (Tafsir Thabari, juz 5, hlm. 9) SANADNYA SHAHIH.

Umar adalah yang pertama kali melarang nikah mut’ah. (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Bab II, hlm. 158).

Dari riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal di zaman Nabi Sawaw dan zaman Abu Bakar, tetapi ketika Umar menjadi khalifah, ia mengharamkan nikah mut’ah hanya karena ulah seseorang. Tentunya pendapat Umar ini tidak pantas kita ikuti, apalagi pengharaman atas nikah mut’ah hanya karena adanya penyelewengan yang dilakukan perorangan. Apakah jika ada orang yang menyalahgunakan nikah da’im kita akan mengharamkan nikah da’im (nikah permanen)?

Ada beberapa kawan kita yang ”shaleh” sering kali mengatakan bahwa bukan Umar yang mengharamkan nikah mut’ah. Umar hanya mempertegas apa yang telah diharamkan oleh Rasulullah.

Marilah kita menyimak secara seksama apa yang diucapkan oleh Umar, ”Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, iaitu mut’ah perempuan dan mut’ah haji.””

Silakan Anda cermati, disitu Umar dalam mengharamkan nikah mut’ah tidak mengatasnamakan Rasulullah, tetapi mengatasnamakan dirinya sendiri (ra’yu), terlihat dalam kalimat, “Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya.

Umar sendiri dalam suatu riwayat mengakui bahwa ia yakin betul Allah telah mensyariatkan nikah mut’ah di dalam Al-Qur’an.

“Saya melarang nikah mut’ah walaupun nikah itu disebut dalam al-Qur’an dan juga haji tamattu’ walaupun haji itu dikerjakan oleh Nabi Sawaw.” (Sunan An-Nasai juz 5, hlm. 153; Al-Ghadir, juz 6, hlm. 205, di situ disebutkan bahwa keseluruhannya hasil ijtihad Umar).

Bahkan, Ibnu Umar ketika di tanya, “Bukankah ayahandamu mengharamkannya (nikah mut’ah)? Ia menjawab, “Benar! Tetapi itu pendapatnya sendiri. (Dalail Al-Shidq, juz 3, hlm. 97)

Hadits-hadits Ahlulbayt Tentang Nikah Mut’ah

Imam Ja’far Shadiq meriwayatkan dari ayah-ayahnya bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Farji-farji wanita bisa menjadi halal dengan tiga cara, yaitu nikah da’im, nikah mut’ah, dan dengan memilikinya sebagai budak.”Diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah melakukan mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di kota Kufah. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah)

Abi Bashir berkata dalam shahihnya: Aku bertanya kepada Imam Baqir tentang halalnya nikah mut’ah. Beliau menjawab: Halalnya nikah mut’ah tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 24. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah).

Dan masih banyak lagi hadits dari keluarga Rasulullah yang suci mengenai halalnya nikah mut’ah. Untuk mengakhiri tulisan saya kali ini, saya akan mengutip tulisan Prof. Sachiko Murata, “Nikah mut’ah adalah cara yang paling tepat dalam menyelesaikan krisis seksual generasi muda Amerika, saya cukup heran dengan bangsa muslim yang menolak cara paling sehat, aman, dan melindungi hak perempuan. Jika bangsa Islam menolak maka saya menyerukan kepada bangsa eropa dan amerika mengadopsi mut’ah sebagai alternatif paling solusif dan sehat.

Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan Firman Allah SWT :“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisa [4] : 24}Tetapi kedua golongan Islam (Suni dan Shiah) tetap berbeda pendapat tentang PENGHARAMAN Nikah Mut’ah.Golongan Suni mempunyai tiga pendapat sehubungan dengan pengharaman Nikah Mut’ah, yaitu :1. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah telah diharamkan, kemudian dihalalkan, kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan akhirnya di haramkan, berdasarkan Hadist Nabi SAW.Bantahan Shiah :a. Hadist Nabi SAW tidak biasa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWTpada Al Qur’an. Karena hanya Allah SWT yang berhak memanzukhkan ayat Al Qur’an.b. Hadist2 telah pengharaman yang berulang-ulang itu semuanya merupakan Hadist Ahad yang tidak berkuataan sahih.c. Tidak mungkin Rasulullah SAW mengharamkan nikah mut’ah karena alasan perzinahan, kemudian menghalalkan lagi, kemudian pengharamkan lagi, kemudian menghalalkan lagi dan akhirnya mengharamkan. Bukankah selama penghalalan kembali itu berarti juga Rasulullah SAW menghalalkan perzinaan?2. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah dihalalkan pada masa Nabi SAW, masa Abu Bakar dan dua tahun pertama masa Umar bin Khattab, kemudian diharamkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab bersamaan dengan pengharaman Mut’ah Haji (Haji Tamattu).

Bantahan Shiah :

a. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWT pada Al Qur’an, maka apalagi Umar bin Khattab.

b. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah (Nikah Mut’ah – QS. An Nisa [4]: 24) , maka apalagi Umar Bin Khattab.

3. Pendapat yang mengatakan Nikah Mut’ah yang tercantum pada QS. An Nisa [4] :24 telah dibatalkan (di naskhkan) oleh Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

(QS. Al Mukminun [23] : 1-6 dan Al Ma’arij [70] : 29-30).

Bantahan Shiah :

Meskipun Surat Al Mukminun (Surat ke-23) dan Surat Al Ma’arij (Surat ke-70) sedangkan Surat An Nisa merupakan Surat ke-4, dalam Mushaf Al Qur’an. Namun berdasarkan turunnya Surat Al Qur’an, maka Surat Al Mukminun merupakan Surat Makkiyah ke- 74 dan Surat Al Ma’arij merupakan Surat Makkiyah ke-79, sedangkan Surat An Nisaa merupakan Surat Madaniyah ke-6.
Tidak Ada Satu Ayat Quran pun Turun Mengharamkan Nikah Bertempoh ini atau Nikah Mutaah

Sehingga tidaklah mungkin Surat Al Mukminun dan Surat Al Ma’arij dikatakan telah membatalkan ayat tentang Nikah Mut’ah pada Surat An Nisaa yang diturunkan belakangan daripada kedua Surat terdahulu. Suatu ayat hanya dapat dibatalkankan oleh ayat lainnya yang diturunkan kemudian, berdasarkan firman Allah SWT :

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

(QS. Al Baqarah [2] : 106)

Berdasarkan penjelasan di atas maka Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan QS. An Nisaa [4] : 24. Dan segala sesuatu yang di-HALAL-kan oleh Allah tidak bisa di-HARAM-kan oleh manusia. Dan apa yang Halal menurut Allah SWT pastinya didalamnya hanya mengandung kebaikan serta terbebas dari keburukan. Namun ada diantara manuasia yang merasa dirinya lebih hebat dari Allah SWT, sehingga menilai di dalam Nikah Mut’ah semata-mata hanya terdapat keburukan (seperti diartikan sebagai penghalalan pelacuran, dsb).

Dewasa ini banyak dari kalangan Ulama Suni di Indonesia yang berpendapat bahwa Nikah Mut’ah adalah Halal berdasarkan nash Al Qur’an, dan bahkan tidak sedikit diantaranya yang melakukannya, bukan semata-mata karena kebutuhan seksual, tetapi guna menunjukan ke-halalan Nikah Mut’ah itu sendiri.

Halalnya Nikah Mut’ah bukanlah berarti wajib atau di sunnahkan untuk dilakukan, melainkan siapapun diperbolehkan memilih untuk melakukan ataupun meninggal-kannya (tidak melakukannya). Tetapi ia menjadi wajib bagi sepasang pria wanita yang tidak terikat pada Nikah Daim (Nikah Permanen) yang melakukan hubungan seksual. Karena tanpa Nikah Mut’ah maka hubungan seksual tersebut menjadi tergolongan perbuatan zina yang mendatangkan dosa.

Seseorang boleh saja mengatakan, “Aku tidak memerlukan Nikah Mut’ah, karena aku tidak akan mungkin terjerumus pada perbuatan zina”, meskipun sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya (syahwatnya). Nah Nikah Mut’ah adalah rahmat Allah Ta’ala kepada Umat Muhammad SAW untuk menyelamatkannya dari jurang perzinaan. Nikah Mut’ah adalah solusi Islam sebagai agama terakhir terhadap praktek perzinaan, yang menjangkiti keturunan Adam as sejak generasi awal serta tidak kunjung berhasil dihapuskan semata-mata melalui ancaman dosa dan larangan oleh syariat2 yang diturunkan sebelumnya.

Bagi setiap mukmin tersedia dua alternatif (dalam hal tidak dapat menahan hawa nafsu seksualnya yang tidak tertampung oleh isteri2nya atau yang belum mempunyai isteri tetapi telah cukup umur), yaitu 1). melakukan hubungan seksual dengan Nikah Mut’ah, atau 2). melakukan hubungan seksual tanpa Nikah Mut’ah.

Sementara itu dikalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat tentang halal dan haramnya Nikah Mut’ah. Sebagai seorang yang berakal, bagaimanakah anda menentukan pilihan atas kedua alternatif di atas?

Kebenaran hakiki adalah sisi Allah SWT.

Jika Nikah Mut’ah adalah haram di sisi Allah, maka sekalipun anda melaksananya, tetap tergolong sebagai zina.

Jika Nikah Mut’ah adalah Halal di sisi Allah, maka sungguh merugi jika tidak melaksanakannya, karena seharusnya bisa terhindar dari perbuatan zina, tetapi karena kekerasan kepala, malah terjerumus pada perbuatan zina.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa pembicaraan tentang Nikah Mut’ah sangat tidak disenangi oleh sebagian umat Islam sendiri terutama dari kalangan wanita. Seperti halnya juga berbicara tentang Poligami yang sampai sekarang belum bisa diterima oleh kebanyakan kaum muslimah.

Tetapi berbicara tentang aqidah dan syariat agama bukanlah tergantung pada senang atau tidak senangnya pihak2 tertentu. Slogan ISLAM YANG KAFFAH (Menyeluruh) adalah termasuk dalam hal pembicaraan seperti ini. (Apa yang engkau anggap buruk belum tentu hal itu buruk disisi Allah)Sebagai penutup, saya kutip ucapan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as: “Bilamana saja Umar tidak melarang Nikah Mut’ah, niscaya tidak ada lagi seorang mukminpun yang akan terjerumus kedalam zina, kecuali mereka yang benar2 celaka”.Sesungguhnya perkara nikah mut’ah ini menjadi polemic yang cukup tajam di kalangan Muslimin,hal ini semata karena mereka hanya melihat dari satu sisi saja.Mereka lalai bahwa asal hukum wanita adalah harta,maka daripada itu membutuhkan adanya mahar & akad.Ketika terjadi perangpun Istri dimasukkan pada kelompok yang boleh dijadikan harta rampasan perang,maka bila memandang wanita secara harta,nikah mut’ah tidak akan menjadi masalah.Dari Ruwaifi’ bin Tsabit al-Anshari bahwa ia berkhutbah di hadapan kami dan berkata, “Sungguh aku tidak berbicara kepada kalian melainkan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasulullah saw, beliau berkata pada hari peperangan Hunain, ‘Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menyiramkan airnya ke tanaman orang lain, yakni menyetubuhi wanita hamil (dari orang lain). Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menggauli tawanan wanita hingga ia memastikan ketidak hamilannya. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menjual ghanimah (harta rampasan perang) sehingga dibagikan’,” (Hasan, HR Abu Dawud [2158], Ahmad [IV/108 dan 108-109], al-Baihaqi [VII/449]).Dari ‘AbduLLAAH bin ‘Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang menjual harta rampasan perang (ghanimah) sehingga dibagikan, melarang menggauli tawanan wanita yang hamil hingga melahirkan kandungannya dan melarang memakan daging binatang buas yang bertaring,” (Shahih, HR an-Nasa’i [VII/301], ad-Daraquthni [III/68-69], al-Hakim [II/137], Abu Ya’la [2414]).Sudah menjadi kesepakatan segenap kaum muslimin bahwa nikah mut’ah pernah ada pada zaman Rasul sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab standar Sunni maupun Syiah. Disebutkan bahwa Rasul pernah membolehkan pernikahan jenis tersebut, akan tetapi lantas terjadi perbedaan pendapat diantara para pengikut Islam adakah Rasul sampai akhir hayat beliau tetap membolehkan pernikahan itu ataukah tidak? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebelum pulangnya Rasul ke rahmatuLLAAH Beliau telah melarang pernikahan tersebut atau dengan istilah yang sering dipakai hukum dibolehkannya nikah mut’ah telah mansukh (terhapus). Sebagian lagi mengatakan bahwa sampai akhir hayat beliaupun beliau tidak pernah melarangnya, akan tetapi seorang yang bernama Umar bin Khatab lah yang kemudian melarangnya sewaktu ia menjabat kekhalifahan.Definisi Nikah Mut’ah , dalam Terminologi Bahasa Arab Asal kata mut’ah dalam bahasa arab adalah dari akar kata mata’a, yang mengarah pada makna bersenang-senang dan memanfaatkan. Al Munjid menerangkan arti kata mata’ sebagai berikut :Al Mata’, bentuk pruralnya adalah al amti’ah, sedang bentuk jam’ul jama’nya adalah amati’ dan amatii’. Seluruh yang dimanfaatkan dari perhiasan dunia baik sedikit maupun banyak. … tamatta’a atau istamta’a : memanfaatkan sesuatu dalam waktu yang lama. AlMunjid hal 7462) Definisi IstilahSedangkan yang dimaksud dengan nikah mut’ah dalam pembahasan kali ini adalah pernikahan yang ditentukan sampai waktu tertentu, yang mana setelah waktu yang ditentukan habis selesailah pernikahan itu. Imam Syafi’i berkata :Nikah mut’ah yang dilarang adalah seluruh bentuk pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu, baik waktu itu sebentar maupun lama. [43].Abu Laits Assamarqondi berkata: Nikah mut’ah hukumnya haram, bentuknya adalah : aku nikahkan anakku untuk waktu sehari atau sebulan[44]

Imam Nawawi dalam al majmu’ syarah muhazzab berkata : Nikah Mut’ah adalah seperti bentuk demikian : Aku nikahkan kamu dengan anakku selama sehari atau sebulan, yaitu pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu. Jika waktu yang ditentukan telah selesai maka selesailah pernikahan itu.

Ibnu Dhawayyan berkata :

yaitu menikahkan anaknya hingga batas waktu tertentu, dan mensyaratkan bahwa setelah jangka waktu selesai maka tercerailah suami istri itu.[45]

Dari penjelasan tentang arti nikah mut’ah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk pernikahan yang selesai bila waktu yang disepakati telah tiba. Setelah waktunya tiba, kedua suami istri akan terpisah tanpa ada proses perceraian sebagaimana pernikahan yang dikenal dalam Islam.

Syi’ah Imamiyah berpendapat bahwa hukum nikah mut’ah adalah tetap diperbolehkan dan tidak pernah mansukh. Jadi masih diperbolehkan hingga kelak hari kiamat. Syiah Imamiyah berdalil dengan ucapan Imam mereka yaitu Abu Ja’far, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali Al Baqir :

1- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ أَبِي نَجْرَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيما تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ .[64] ك ج 5 ص 448

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Ja’far Alaihissalam tentang mut’ah. Lalu dia menjawab :  ALLAAH telah mewahyukan dalam Al Qur’an Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya,[65] (footnote : syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَقُولُ كَانَ عَلِيٌّ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ بَنِي الْخَطَّابِ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ .[66]

Dari Abdullah bin Sulaiman dia berkata : Aku mendengar Abu Ja’far berkata : Ali bin Abi Thalib berkata : jika anak Khottob tidak mendahului aku, maka tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَمَّنْ ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّمَا نَزَلَتْ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً .[67]

Dari Ibnu Abi Umair dari seseorang yang telah memberitahunya, dari Abu AbduLLAAH dia berkata : Ayat yang sebenarnya turun dari ALLAAH adalah ” Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka hingga waktu tertentu, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban,

عَلِيٌّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ اللَّيْثِيُّ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) فَقَالَ لَهُ مَا تَقُولُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ أَحَلَّهَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهِيَ حَلَالٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَقَالَ يَا أَبَا جَعْفَرٍ مِثْلُكَ يَقُولُ هَذَا وَ قَدْ حَرَّمَهَا عُمَرُ وَ نَهَى عَنْهَا فَقَالَ وَ إِنْ كَانَ فَعَلَ قَالَ إِنِّي أُعِيذُكَ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ أَنْ تُحِلَّ شَيْئاً حَرَّمَهُ عُمَرُ قَالَ فَقَالَ لَهُ فَأَنْتَ عَلَى قَوْلِ صَاحِبِكَ وَ أَنَا عَلَى قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهَلُمَّ أُلَاعِنْكَ أَنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وَ أَنَّ الْبَاطِلَ مَا قَالَ صَاحِبُكَ قَالَ فَأَقْبَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ فَقَالَ يَسُرُّكَ أَنَّ نِسَاءَكَ وَ بَنَاتِكَ وَ أَخَوَاتِكَ وَ بَنَاتِ عَمِّكَ يَفْعَلْنَ قَالَ فَأَعْرَضَ عَنْهُ أَبُو جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) حِينَ ذَكَرَ نِسَاءَهُ وَ بَنَاتِ عَمِّهِ . [68]

Dari Zurarah dia berkata : Ibnu Umair Allaithy pada Abu Ja’far, lalu dia bertanya : apa pendapat anda tentang nikah mut’ah? Lalu Abu Ja’far menjawab : telah dihalalkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan melalui lisan RasulNya, maka hukumnya tetap halal hingga hari kiamat. Lalu dia bertanya : Wahai Abu Ja’far apakah orang seperti anda mengatakan hal ini sedangkan umar telah melarang dan mengharamkan mut’ah? Lalu Abu Ja’far mengatakan : walaupun telah dilarang oleh Umar. Dia berkata : Aku memohon pada Allah agar anda dijauhkan dari menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Umar. Lalu Abu Ja”far berkata : engkau memegang pendapat kawanmu, dan aku memegang hadits Nabi, mari kita memohon laknat dari ALLAAH bahwa yang benar adalah apa yang diucapkan RasuluLLAAH dan omongan kawanmu adalah batil. Lalu Abu Umair mengatakan pada Abu Ja’far : Apakah anda suka jika istri anda, anak wanita anda, saudara wanita anda dan anak wanita paman anda dinikahi secara mut’ah? Lalu Abu Ja’far berpaling ketika disebut istrinya dan anak pamannya.

Nikah mut’ah adalah halal tapi Imam Abu Ja’far sendiri tidak senang jika ada orang yang menikahi anaknya atau anak pamannya dengan nikah mut’ah. Yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar, yang berani-beraninya mengharamkan perbuatan yang dihalalkan oleh Nabi. Sampai Imam Abu Ja’far berani bermula’anah, memohon laknat dari Allah jika pendapatnya salah.

Ahlussunnah sepakat bahwa nikah mut’ah haram hukumnya, maka tidak akan anda temukan dalam kitab fiqih ulama ahlussunnah mana pun penjelasan tentang cara-cara mut’ah dan pekara-perkara yang berkaitan dengan mut’ah. Karena keyakinan syi’ah Imamiyah atas dibolehkannya mut’ah, maka dalam kitab-kitab mereka tercantum penjelasan mengenai nikah mut’ah. Berikut ini kami paparkan sebagian penjelasan yang ada dalam kitab-kitab ulama syiah megenai mut’ah.

1. Nikah Mut’ah adalah bukan pernikahan yang membatasi istri hanya empat.

الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَزْدِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ لَا[69].
Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata :aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut’ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi 4 istri? Dia menjawab tidak.

Wanita yang dinikahi secara mut’ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut’ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan 4 istri.

7- الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ سَعْدَانَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ ذَكَرْتُ لَهُ الْمُتْعَةَ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ تَزَوَّجْ مِنْهُنَّ أَلْفاً فَإِنَّهُنَّ مُسْتَأْجَرَاتٌ [70].
Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, aku bertanya tentang mut’ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri? Jawabnya : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan

2. Syarat Utama Nikah Mut’ah

Dalam nikah mut’ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut’ah mereka berdua. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa hubungan pernikahan mut’ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika waktu tidak disepakati maka tidak akan memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam

- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ جَمِيلِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَا تَكُونُ مُتْعَةٌ إِلَّا بِأَمْرَيْنِ أَجَلٍ مُسَمًّى وَ أَجْرٍ مُسَمًّى [71].

Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu.

3. Batas minimal mahar mut’ah

Di atas disebutkan bahwa rukun akad mut’ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut’ah?

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنْ أَدْنَى مَهْرِ الْمُتْعَةِ مَا هُوَ قَالَ كَفٌّ مِنْ طَعَامٍ دَقِيقٍ أَوْ سَوِيقٍ أَوْ تَمْرٍ .[72]

الكافي ج 5 ص 457

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut’ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut’ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum atau korma.

4. Tidak ada talak dalam mut’ah

dalam nikah mut’ah tidak dikenal istilah talak, karena seperti di atas telah diterangkan bahwa nikah mut’ah bukanlah pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam selesai dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak, maka hubungan nikah mut’ah selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti diketahui dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut’ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut’ah selain kesepakatan atas mahar.

3- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ فَضَّالٍ عَنِ ابْنِ بُكَيْرٍ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَعْقِدُ بِيَدِهِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ فَإِذَا جَازَ الْأَجَلُ كَانَتْ فُرْقَةٌ بِغَيْرِ طَلَاقٍ[73]

Dari Zurarah dia berkata masa iddah bagi wanita yang mut’ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45, jika selesai waktu yang disepakati maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak.

5. Jangka waktu minimal mut’ah.

Dalam nikah mut’ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut’ah. Jadi boleh saja bersepakat nikah mut’ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekali hubungan suami istri.

عَنْ خَلَفِ بْنِ حَمَّادٍ قَالَ أَرْسَلْتُ إِلَى أَبِي الْحَسَنِ ( عليه السلام ) كَمْ أَدْنَى أَجَلِ الْمُتْعَةِ هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَتَّعَ الرَّجُلُ بِشَرْطِ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ قَالَ نَعَمْ .[74]

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut’ah? Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri? Jawabnya : ya

Orang yang melakukan nikah mut’ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram dipandang, disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan mut’ah atas sekali hubungan suami istri? Yang mana setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah sebelum keduanya pergi.

ع أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنِ الرَّجُلِ يَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ عَلَى عَرْدٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لَا بَأْسَ وَ لَكِنْ إِذَا فَرَغَ فَلْيُحَوِّلْ وَجْهَهُ وَ لَا يَنْظُرْ [75]

Dari Abu AbdiLLAAH, ditanya tentang orang nikah mut’ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : ” tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya”.

6. Nikah mut’ah berkali-kali tanpa batas.

Diperbolehkan nikah mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja’far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut’ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Disini dipergunakan analogi sewaan, yang mana seseorang diperbolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.

1- عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ جُعِلْتُ فِدَاكَ الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ وَ يَنْقَضِي شَرْطُهَا ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا رَجُلٌ آخَرُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا الْأَوَّلُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثَلَاثاً وَ تَزَوَّجَتْ ثَلَاثَةَ أَزْوَاجٍ يَحِلُّ لِلْأَوَّلِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا قَالَ نَعَمْ كَمْ شَاءَ لَيْسَ هَذِهِ مِثْلَ الْحُرَّةِ هَذِهِ مُسْتَأْجَرَةٌ وَ هِيَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ [76].

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja’far : ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya.

7. Wanita mut’ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati.

Wanita yang dinikah mut’ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.

292

3- عَنْ عُمَرَ بْنِ حَنْظَلَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ أَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ شَهْراً فَأَحْبِسُ عَنْهَا شَيْئاً قَالَ نَعَمْ خُذْ مِنْهَا بِقَدْرِ مَا تُخْلِفُكَ إِنْ كَانَ نِصْفَ شَهْرٍ فَالنِّصْفَ وَ إِنْ كَانَ ثُلُثاً فَالثُّلُثَ[77] . ك ج 5 ص 461

Dari Umar bin Handholah dia bertanya pada Abu AbduLLAAH : aku nikah mut’ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya

8. Jika ternyata wanita yang dimut’ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut’ah tidak terputus dengan sendirinya.

Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut’ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.

1- عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِنِّي أَكُونُ فِي بَعْضِ الطُّرُقَاتِ فَأَرَى الْمَرْأَةَ الْحَسْنَاءَ وَ لَا آمَنُ أَنْ تَكُونَ ذَاتَ بَعْلٍ أَوْ مِنَ الْعَوَاهِرِ قَالَ لَيْسَ هَذَا عَلَيْكَ إِنَّمَا عَلَيْكَ أَنْ تُصَدِّقَهَا فِي نَفْسِهَا [78].

Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu AbduLLAAH, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya.

Ayatollah Ali Al Sistani berkata :

Masalah 260 : dianjurkan nikah mut’ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut’ah bukanlah syarat sahnya nikah mut’ah[79]

9. Nikah mut’ah dengan gadis

2- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ وَ عَبْدِ اللَّهِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي الْحَلَّالِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَا بَأْسَ بِأَنْ يَتَمَتَّعَ بِالْبِكْرِ مَا لَمْ يُفْضِ إِلَيْهَا مَخَافَةَ كَرَاهِيَةِ الْعَيْبِ عَلَى أَهْلِهَا[80] ك ج 5 ص 462

Dari ziyad bin abil halal berkata : aku mendengar Abu AbduLLAAH berkata tidak mengapa bermut’ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya.

10. Nikah mut’ah dengan pelacur

Diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut’ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.

AyatoLLAAH Udhma Ali Al Sistani mengatakan :

Masalah 261 : diperbolehkan menikah mut’ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut’ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.[81]

11. Pahala yang dijanjikan bagi nikah mut’ah

عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ ع قال: قُلْتُ لَهُ: (لِلْمُتَمَتِّعِ ثَوَابٌ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ تَعَالىَ وَخِلاَفًا عَلىَ مَنْ أَنْكَرَهَا لَمْ يُكَلِّمْهَا كَلِمَةً إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالىَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَلَمْ يَمُدْ يَدَهُ إِلَيْهَا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لهُ حَسَنَةً، فَإِذَا دَنَا مِنْهَا غَفَرَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِذَلِكَ ذَنْبًا، فَإِذَا اغْتَسَلَ غَفَرَ اللهُ لَهُ بِقَدْرِ مَا مَرََََََََََََََّ مِنَ الْمَاءِ عَلىَ شَعْرِهِ، قُلْتُ: بِعَدَدِ الشَّعْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ بِعَدَدِ الشَّعْرِ))[82]. فقيه ج 3 ص 464

Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu AbduLLAAH apakah orang yang bermut’ah mendapat pahala? Jawabnya : jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki itu berbicara padanya pasti ALLAAH menuliskan kebaikan sebagai balasannya, setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya pasti ALLAAH mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya, jika dia mandi maka ALLAAH akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi. Aku bertanya : sebanyak jumlah rambut? Jawabnya : Ya, sebanyak jumlah rambut.

4601 – وَقَالَ أَبُوْجَعْفَرٍ ع: (إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ لَمَّا اُسْرِيَ بِهِ إِلىَ السَّمَاءِ قَالَ: لَحِقَنِيْ جِبْرِئِيْل عليه السلام فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ: إِنِّي قََََََََدْ غَفَرْتُ لِلْمُتَمَتِّعِيْنَ مِنَ أُمَّتِكَ مِنَ النِّسَاءِ)[83].

Abu Ja’far berkata “ketika Nabi sedang isra’ ke langit berkata : Jibril menyusulku dan berkata : wahai Muhammad, ALLAAH berfirman : Sungguh AKU telah mengampuni wanita ummatmu yang mut’ah

11. hubungan warisan

Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 : Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini[84].

12. Nafkah

Wanita yang dinikah mut’ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.

Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat[85]

Dari dua pendapat diatas dalam tulisan ini akan di bahas manakah dari pendapat tersebut yang lebih dekat pada kenyataan? Apakah nikah mut’ah telah dimansukh oleh Rasul atau tidak? Kalaulah tidak lantas apakah wewenang dan dasar yang dipakai oleh Umar untuk mengharamkannya? Adakah ia melakukan berdasarkan konsep ijtihad?

Sedang Imam Ali  sebagai khalifah keempat ahlissunnah- tidak pernah mengharamkannya? Bolehkah dalam Islam melakukan ijtihad walau bertentangan dengan ayat atau riwayat yang sebagai sumber utama syariat Islam? Kalaulah kita terima bahwa nikah jenis itu haram karena ijtihad Umar kenapa mut’ah haji (haji tamattu’) yang juga diharamkan oleh Umar tetap dianggap halal oleh seluruh kaum muslimin? Bukankah kalau kita menerima ijtihad Umar tentang pelarangan nikah mut’ah berarti juga harus menerima pelarangannya atas mut’ah haji?

Yang perlu diingat oleh pembaca yang budiman adalah bahwa kita disini dalam rangka mencari kebenaran akan konsep hukum mut’ah dan lepas dari permasalahan praktis dari hal tersebut, oleh karenanya dalam membahas haruslah didasari oleh argumen dari teks agama ataupun akal dan bukan bersandar pada emosional maupun fanatisme golongan.

Argumentasi dari Kitab-kitab Standar Ahlissunnah akan Pembolehan Nikah Mut’ah.

Sebagaimana yang telah singgung diatas bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan oleh ALLAAH sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh ulama’ kaum muslimin, hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi: “dan (diharamkan atas kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki,   sebagai ketetapanNYA atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina, maka (istri-istri) yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu,   Qs; An-Nisaa’:24).

Jelas sekali bahwa ayat tersebut berkenaan denga nikah mut’ah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para perawi hadis dari sahabat-sahabat Rasul seperti: Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Habib bin Abi Tsabit, Said bin Jubair, Jabir bin Abullah al-Anshari (ra) dst.

Pendapat beberapa ulama’ tafsir dan hadis ahlussunnah.

Adapun dari para penulis hadis dan penafsir dari ahlussunnah kita sebutkan saja secara ringkas:

1. Imam Ahmad bin Hambal dalam “Musnad Ahmad” jilid:4 hal:436.
2. Abu Ja’far Thabari dalam “Tafsir at-Thabari” jilid:5 hal:9.
3. Abu Bakar Jasshas dalam “Ahkamul-Qur’an” jilid:2 hal:178.
4. Abu bakar Baihaqi dalam “as-Sunan-al-Qubra” jilid:7 hal:205.
5. Mahmud bin Umar Zamakhsari dalam “Tafsir al-Kassyaf” jil:1 hal:360.
6. Fakhruddin ar-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib” jil:3 hal:267.
7. dst.

Pendapat beberapa Sahabat (Salaf Saleh) dan Tabi’in.

Beberapa ungkapan para sahabat Rasul dan para tabi’in (yang hidup setelah zaman para sahabat) sebagai contoh pribadi-pribadi yang mengingkari akan pelarangan (pengharaman) mut’ah: Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapakan oleh Thabari dalam kitab tafsirnya (lihat: jil:5 hal:9) dimana Imam Ali bersabda: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benarbenar celaka saja”.

Riwayat ini sebagai bukti bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar bin Khatab, lantas setelah banyaknya kasus perzinaan dan pemerkosaan sekarang ini –berdasarkan riwayat diatas- siapakah yang termasuk bertanggungjawab atas semua peristiwa itu?

Abdullah bin Umar bin Khatab (putera khalifah kedua), sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya (lihat: jil:2 hal:95) dimana Abdullah berkata ketika ditanya tentang nikah mut’ah: “Demi ALLAAH, sewaktu kita dizaman Rasul tidak kita dapati orang berzina ataupun serong”. Kemudian berkata, aku pernah mendengar Rasul bersabda: “sebelum datangnya hari kiamat akan muncul masihud-dajjal dan pembohong besar sebanyak tiga puluh orang atau lebih”. Lantas siapakah yang layak disebut pembohong dalam riwayat diatas tadi? Adakah orang yang memutar balikkan syariat Rasul layak untuk dibilang pembohong?

AbduLLAAH bin Masud, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya (lihat: jil:7 hal:4 kitab nikah bab:8 hadis ke:3), dimana Abdullah berkata: “sewaktu kita berperang bersama Rasulullah sedang kita tidak membawa apa-apa, lantas kita bertanya kepada beliau: bolehkah kita lakukan pengebirian? Lantas beliau melarang kita untuk melakukannya kemudian beliau memberi izin kita untuk menikahi wanita dengan mahar baju untuk jangka waktu tertentu. Saat itu beliau membacakan kepada kami ayat yang berbunyi: “wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah ALLAAH halalkan bagi kalian dan janganlah kalian melampaui batas…”(Qs Al-Ma’idah:87).

Cobalah renungkan makna ayat dan riwayat diatas lantas hubungkanlah antara penghalalan ataupun pengharaman nikah mut’ah! Manakah dari dua hukum tersebut yang sesuai dengan syariat Allah yang dibawa oleh Rasul?

Imran bin Hashin, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya, (lihat: jil:6 hal:27 kitab tafsir; dalam menafsirkan ayat: faman tamatta’a bilumrati ilal-hajji (Qs Al-Baqarah)), dimana Imran berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam kitabullah (Al-Qur’an) kemudian kita melakukannya di zaman Rasul, sedang tidak ada ayat lagi yang turun dan mengharamkannya, juga Rasul tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat”.

Riwayat seperti diatas juga dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya. Dua riwayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ayat yang menghapus (nasikh) penghalalan mut’ah dan juga sebagai bukti mahwa mut’ah sampai akhir hayat Rasul beliau tidak mengharamkannya.

Ibn Abi Nadhrah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya (lihat: jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8), dimana Ibn abi nadhrah berkata: “Dahulu Ibn abbas memerintahkan (baca:menghalalkan) nikah mut’ah sedang Ibn zubair melarangnya kemudia peristiwa tersebut sampai pada telinga Jabir bin Abdullah al-Anshori (ra) lantas dia berkata: “Akulah orang yang mendapatkan hadis tersebut, dahulu kita melakukan mut’ah bersama Rasulullah akan tetapi setelah Umar berkuasa lantas ia mengumumkan bahwa; “Dahulu ALLAAH menghalalkan buat Rasul-Nya sesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka umat pun menyempurnakan haji dan umrah mereka, juga melakukan pernikahan dengan wanita-wanita tersebut, jika terdapat seseorang menikahi seorang wanita untuk jangka wanita tertentu niscaya akan kurajam ia dengan batu”.

Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya (lihat: jil:1 hal:52). Dikatakan bahwa Abi Nadhrah berkata: “Aku berkata kepada Jabir bin Abdullah Anshari (ra), sesungguhnya Ibn zubair melarang nikah mut’ah sedangkan Ibn Abbas membolehkannya”. Kemudian ia (Jabir) mengatakan: “Melalui diriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama RasuluLLAAH (saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) pun mengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetap posisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada dua jenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah dan nikah mut’ah”.

Dua riwayat diatas dengan jelas sekali menyebutkan bahwa pertama orang yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bukan Rasul ataupun turun ayat yang berfungsi sebagai penghapus hukum mut’ah sebagaimana yang dikatakan sebagian orang yang tidak mengetahui tentang isi kandungan yang terdapat dalam buku-buku standar mereka sendiri.

Sebagai tambahan kami nukilkan pendapat Fakhrur Razi dalam tafsir al-Kabir, ketika menafsirkan ayat 24 surat an-Nisa. Ar-Razi mengutip ucapan Umar (“ Dua jenis mut’ah yang berlaku di masa rasulullah, yang kini ku larang dan pelakunya akan kuhukum, adalah mutah haji dan mut’ah wanita” ) dalam menetapkan pengharaman nikah mut’ah. Begitu juga tokoh besar dari kamu Asy,ariyah, Imam al-Qausyaji dalam kitab Syarh At-Tajrid, dalam pengharamannya mut’ah adalah ucapan Umar (ucapan Umar: Tiga perkara yang pernah berlaku di zaman Rasulullah, kini kularang, kuharamkan dan kuhukum pelakuknya adalah mut’ah wanita dan mutah haji serta seruan (azan): hayya ‘ala khayr al-‘amal (marilah mengerjakan sebaik-baik amal)). Qusyaji membela tindakan Umar ini, menyatakan bahwa semata-mata takwil atau ijtihad Umar.

AbduLLAAH ibn Abbas, sebagaimana yang dinukil oleh al-Jasshas dalam Ahkamul-Qu’an (jil:2 hal:179), Ibn Rusyd dalam bidayatul mujtahid (jil:2 hal:58), Ibn Atsir dalam an-Nihayah (jil:2 hal:249), al-Qurtubi dalam tafsirnya (jil:5 hal:130), suyuti dalam tafsirnya (jil:2 hal:140) dikatakan bahwa Ibn Abbas berkata: “semoga ALLAAH merahmati Umar, bukanlah mut’ah kecuali merupakan rahmat dari ALLAAH bagi umat Muhammad (SAW) jikalau ia (Umar) tidak melarang mut’ah tersebut niscaya tiada orang yang menghendaki berbuat zina kecuali ia bisa terobati”.

Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Khalqan dalam kitab Wafayaatul-A’yaan jil:6 hal:149-150, durrul mantsur jil:2 hal:140, kanzul ummal jil:8 hal:293, tarikh tabari jil:5 hal:32, tarikh Ibn khalkan jil:2 hal:359, tajul-arus jil:10 hal:200. Dan masih banyak lagi riwayat dalam kitab-kitab lainnya.

Untuk mempersingkat tulisan singkat ini kita cukupkan hanya dengan menyebutkan riwayat-riwayat diatas. Untuk melengkapinya akan kita sebutkan beberapa permasalahan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham akan maksud dari hikmah Ilahi tentang penghalalan nikah mut’ah dan kita berusaha untuk menjawabnya secara ringkas.

Soal: Salah satu fungsi pernikahan adalah untuk membina keluarga dan menghasilkan keturunan dan itu hanya bisa terwujud dalam nikah da’im (baca:nikah biasa), sedang nikah mut’ah tujuannya hanya sekedar sebagai pelampiasan nafsu belaka.

Jawab: Jelas sekali bahwa pertanyaan diatas menunjukkan akan adanya percampuran paham antara hukum obyek dengan fungsi/hikmah pernikahan. Yang ia sampaikan tadi adalah berkisar tentang hikmah pernikahan bukan hukum pernikahan. Karena kita tahu bahwa Islam mengatakan bahwa sah saja orang menikah walaupun dengan tidak memiliki tujuan untuk hal yang telah disebutkan diatas, sebagaimana orang lelaki yang sengaja mengawini wanita yang mandul atau wanita tua sehingga tidak terlintas sama sekali dibenaknya untuk mendapat anak dari wanita tersebut ataupun lelaki yang mengawini seorang wanita dengan nikah daim akan tetapi hanya untuk beberapa saat saja-taruhlah dua bulan saja- setelah itu ia talak wanita tersebut. Dua contoh pernikahan tersebut jelas tidak seorang ulama pun yang mengatakan bahwa itu batil hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh penulis tafsir “Al-Manaar” dimana ia mengatakan: “pelarangan para ulama’ terdahulu maupun yang sekarang akan nikah mut’ah mengharuskan juga pelarangan akan nikah dengan niat mentalak (istrinya setelah beberapa saat) walaupun para ahli fiqih sepakat bahwa akad nikah dikatakan sah walaupun ada niatan suami untuk menikahinya hanya untuk saat tertentu saja sedang niat tersebut tidak diungkapkannya saat akat nikah, sedang penyembunyian niat tersebut merupakan salah satu jenis penipuan sehingga hal itu lebih layak untuk dihukumi batil jika syarat niat tadi diungkapkan sewaktu akad dilangsungkan” (Tafsir al-Manaar jil:5 hal:17).

Dari sini kita akan heran melihat orang yang menganggap bahwa mut’ah hanya berfungsi sebagai sarana pelampiasan nafsu belaka dan bukankah dalam nikah da’im pun bisa saja orang berniat untuk pelampiasan nafsu saja, niatan itu semua kembali kepada pribadi masing-masing bukan dari jenis pernikahannya.

Soal: Nikah mut’ah menjadikan wanita tidak dapat menjaga kehormatan dirinya karena ia bisa berganti-ganti pasangan kapanpun ia mau, padahal Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan terkhusus bagi para wanita.

Jawab: Justru dalam nikah mut’ah sama seperti nikah da’im dimana bukan hanya wanita yang ditekankan untuk menjaga kehormatannya tapi bagi silelaki pun diharuskan untuk menjaga hal tersebut, karena legalitas pernikahan tersebut sudah ditetapkan dalam syariat maka dengan cara inilah mereka menjaga kehormatan mereka dan tidak menjerumuskan diri mereka keperzinaan. Dalam Islam ada tiga alternatif dalam menangani gejolak nafsu birahi:Nikah da’im, Nikah mut’ah dengan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan meredam nafsu dengan puasa misalnya.

Sekarang jika seseorang tidak mampu melaksanakan nikah da’im dengan berbagai alasan seperti karena masalah ekonomi, studi ataupun yang lainnya, dan untuk meredam nafsu dengan puasa misalnya iapun tidak mampu atau gejolaknya muncul diwaktu malam yang tidak memungkinkan untuk puasa, maka alternatif terakhir dengan nikah mut’ah tadi.

Inilah yang diajarkan Islam kepada pengikutnya karena kita tahu bahwa Islam adalah agama terakhir, syariatnya pun adalah syariat terakhir yang dibawa oleh Nabi terakhir maka ia harus selalu up to date dan universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia yang mampu menjawab apapun kemungkinan yang bakal terjadi, dan ia merupakan agama yang bijaksana dimana salah satu ciri hal yang bijak adalah disaat ia melarang sesuatu maka ia harus memberi jalan keluarnya. Lantas jika seseorang tidak dapat melakukan nikah da’im ataupun meredam nafsunya lantas apa yang harus ia lakukan, sementara Islam melarang penyimpangan seksual jenis apapun? Atau jika ada seorang pemuda ingin mengenal seorang wanita lebih dekat untuk nanti menjadikannya seorang istri dalam masa pendekatan itu – karena boleh jadi gagal karena tidak ada kecocokan- hubungan apakah yang harus ia lakukan sehingga ia dapat berbicara dengan wanita tersebut berdua-duaan sedang Islam melarang berpacaran tanpa ada ikatan pernikahan?

Dan banyak lagi contoh lain yang Islam sebagai agama terakhir dan sebagai agama yang bijak dituntut untuk mampu menjawab tantangan tersebut, jika mut’ah diharamkan lantas kira-kira jalan keluar manakah yang akan diberikan oleh si pengharam mut’ah tadi? Oleh karenanya jangan heran jika Imam Ali (AS) mengeluarkan statemen seperti diatas ( Imam Ali: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”).

Kesalahan besar yang selama ini banyak terdapat pada benak kaum muslimin adalah mereka sering mengidentikkan nikah mut’ah dengan hubungan seksual padahal tidak mesti semacam itu –sebagaimana nikah da’im dengan anak dibawah usia yang diperbolehkan oleh para ahli fiqih semuanya- bisa saja siwanita mensyarati untuk tidak melakukan hal tersebut dalam akad nya sehingga mut’ah hanya sebagai sarana untuk menghilangkan dosa -semasa berkenalan untuk nantinya menikah daim- dengan adanya ikatan pernikahan diantara mereka.

Soal: Adanya beberapa sumber dari ahlussunnah yang menunjukkan adanya pelarangan mut’ah walaupun dari sisi waktu dan tempat pelarangannya berbeda-beda sehingga menjadi argumen bahwa ayat mut’ah (an-Nisaa:23) sudah terhapus dengan riwayatriwayat itu, seperti:
1. Dibolehkannya mut’ah lantas dilarang pada seusai perang Khaibar.
2. Dibolehkannya nikah mut’ah lantas dilarang pada saat Fathul-Makkah.
3. Hanya dibolehkan pada saat peristiwa Awthas saja.
4. Diperbolehkan pada saat umrah qadha’ saja.

Jawab: Kita bisa katakan bahwa:
1. Ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda itu menunjukkan tidak adanya kesepakatan akan pelarangannya karena perbedaan riwayat menunjukkan bahwa riwayat itu tunggal sifatnya (khabar wahid) dan riwayat jenis itu tidak bisa dijadikan sandaran sebagai penghapus hukum yang ada dalam Al-Qur’an, oleh karenanya Imran bin Hashin mengatakan tidak ada riwayat ataupun ayat yang menghapus hukum mut’ah (lihat kembali riwayat Imran diatas).

2. Khalifah kedua sebagai pengharam mut’ah pun tidak menyandaran ijtihadnya – kalaulah itu bisa disebut ijtihad- kepada ayat ataupun riwayat karena memang tidak ada riwayat yang menghapus hukum mut’ah tersebut sehingga dari sinilah menyebabkan banyak sahabat yang menentang keputusan Umar dalam pengharaman mut’ah. Kalau ada ayat atau riwayat yang mengharamkan nikah Mut’ah, kenapa Umar menyandarkan pelarangannya pada diri sendiri? Bukankah dengan menyandarkan pada ayat dan riwayat dari Rasul maka pendapatnya akan lebih kuat?

Soal: Diperbolehkannya melakukan nikah mut’ah adalah sebagaimana diperbolehkannya memakan daging babi yaitu pada saat-saat tertentu saja (dharurat) karena mut’ah sama hukumnya seperti zina yaitu haram, maka sebagaimana haramnya babi dalam saatsaat tertentu halal maka pada saat-saat tertentupun mut’ah halal juga hukumnya.

Jawab: Jelas penyamaan antara diperbolehkannya makan daging babi disaat dharurat berbeda dengan mut’ah, salah satu perbedaannya adalah:

Hukum dharurat hanya pada hal-hal yang mengakibatkan kelangsungan hidup (jiwa) terancam oleh karenanya diperbolehkan makan daging babi sebatas untuk menyambung hidup saja sehingga dilarang untuk makan secara berlebihan, adapun mut’ah apakah ia sama seperti daging babi sehingga jika seseorang tidak mut’ah lantas ia terancam kelangsungan hidupnya?

Kalaupun –walaupun alasan ini tidak dapat diterima- mut’ah bisa disamakan sama seperti daging babi yaitu terkenai hukum dharurat, lantas kenapa banyak sahabat yang melakukan mut’ah saat itu padahal gairah seksual tidak mesti muncul bersamaan sebagaimana rasa lapar?

Kalau dikatakan hukum dharurat itu ada, seharusnya hukum setelah hilang nya dharurat, kembali ke hukum awal nya (haram), akan tetapi yang kita dapati bahwa rasulullah tidak mengharamkan sampai akhir hayatnya. Sehingga tidak benar penghalalan hukum mutah itu dikarenakan dharurat.

Penutup.

Dari sini jelaslah bahwa nikah mut’ah diperbolehkan oleh syariat Islam –yang bersumber dari ayat dan hadis shohih- dimana sepakat kaum muslimin bahwa sumber syariat hanyalah ALLAAH semata sebagaimana ayat yang berbunyi: “keputusan menetapkan suatu hukum hanyalah hak ALLAAH”(Qs Yusuf:67). Sedang Rasul diutus untuk menjelaskannya oleh karenanya apa yang diungkapkan oleh beliau merupakan apa yang sudah disetujui oleh ALLAAH. Rasul bersabda:“dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”(Qs An-Najm:3-4). Oleh karenanya:“apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”(Qs Al-Hasyr:7).

Adapun ucapan para sahabat jika sesuai dengan firman ALLAAH atau ungkapan Rasul maka bisa juga dikategorikan sebagai teks agama, akan tetapi jika tidak maka hal itu telah keluar dari apa yang telah tercantum dari ayat-ayat diatas tadi karena mereka manusia biasa seperti kita yang juga bisa salah sehingga tidak bisa dijadikan rujukan dalam menangani masalah syariat secara independen (mustaqil) tanpa tolok ukur kebenaran yang lain. Karena jika tidak, apa mungkin akan kita jadikan tolok ukur sedang kita dapati banyak pendapat mereka yang saling paradoksal sebagaimana yang kita saksikan tadi, bukankah dalam situasi perbedaan pendapat semacam itu kita diperintahkan untuk kembali kepada ALLAAH & Rasuln : kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada ALLAAH dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada  ALLAAH dan hari akhir”(Qs An-Nisaa’:59).

Bukanlah ALLAAH dan RasulNYA tetap menghalalkan nikah mut’ah? Sewaktu sumber syariat adalah Al-Qur’an dan Hadis shohih lantas apakah diperbolehkan orang berijtihad –yang lantas hasilnya-hasilnya dianggap sebagai syariat- akan tetapi bertentangan dengan kehendak ALLAAH dan Rasul yang sebagai sumber syariat?, bukankah dalam Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa; “dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAAH dan RasulNYA telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa yang mendurhakai ALLAAH dan Rasul-NYA maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”(Qs al-Ahzab:36).

Apakah pemberian ketetapan lain yang tidak sesuai dengan ketetapan ALLAAH dan Rasul tersebut tidak dikategorikan sebagai bid’ah -yang berarti mengada-adakan hukum syariat- dimana dalam riwayat disebutkan bahwa semua jenis bid’ah adalah sesat – “kullu bid’atin dholalah” -sehingga tidak ada lagi lubang untuk membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan yang buruk? Lantas apakah konsekwensi bagi orang ahli bid’ah yang berarti ahli kesesatan yang dalam riwayat tentang bid’ah juga telah disebutkan “wakullu dhalalatin finnaar”? Kemudian apakah kita akan terus mengikuti ahli bid’ah dengan mengharamkan nikah mut’ah?

Kalaupun nikah mut’ah haram lantas kenapa kita juga tidak mengharamkan mut’ah haji yang sampai detik ini masih dilakukan oleh semua kaum muslimin dunia padahal ia termasuk yang diharamkan oleh khalifah kedua?

Dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab oleh saudara saudara ahlussunnah yang berkisar tentang mut’ah. Renungkanlah dan bacalah saudara-saudaraku.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya ALLAAH tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS; Al-Maaidah:87).


[43] Asysyafi’i. Muhammad bin Idris. Al Umm. Darul Kutub Al Ilmiyyah, . Tanpa Tahun, Dari CD Maktabatul Fiqh, Jilid 5, Hal. 10

[44] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi . Tanpa Tahun. jilid 2 hal 54. Dari CD Maktabatul Fiqh

[45] Ibnu Dhawayyan. Manarussabil. Al Maktab Al Islami. Dari CD Maktabatul Fiqh, Tanpa Tahun.

[46] AnNisa’. 4 : 25

[47] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahanya, Tanpa Tahun, Cetakan Saudi Arabia. Hal. 121

[48] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 1 hal 588

[49] Al Mu’minun. 23 : 5, 6

[50] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 526

[51] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 3 hal 294

[52] AnNur. 24 : 33

[53] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 549

[54] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. Jilid 1 hal 588

[55] Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Bari bisyarhi Sohihil Bukhori. Jilid 9 .Hal 166 Kitab Nikah. Bab Naha Rasulullah An Nikahil Mut’ati Akhiiron.. Darul Ma’rifah Beirut. Tanpa Tahun . 9 : 166 hadits No. 5115

[56] AnNawawi. Muhyiddin.. Sohih Muslim Bisyarhin Nawawi. Jilid 9 Hal 184 . Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiihaTsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 187. Hadits no. 3404

[57] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit. Jilid 9 : 187. Hadits no. 3404

[58] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid Jilid 9 hal 184

[59] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid… Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiiha y Tsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 186. Hadits no. 3402

[60] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit Jilid 9 hal 183

[61] AnNawawi. Muhyiddin.. Loc. Cit.

[62] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi. Tanpa Tahun . Dari CD Maktabatul Fiqh Jilid 2 hal 54

[63] Al Sarkhasi, Syamsuddin.. Al Mabsut. Beirut. Darul Kutub Al Ilmiyyah. 1993 . jilid 5. hal. 153 Dari CD Maktabatul Fiqh

[64] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Al Kafi.. http://www.islam4u.com Tanpa Tahun. Jilid 5 hal. 448

[65] Syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah

[66] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No2

[67] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid 5 hal. 448 . Riwayat. No. 3

[68] [68] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No. 4

[69] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit . Jilid 5 hal. 451 .

[70] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 452

[71] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 455

[72] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 457

[73] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 458

[74] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 460

[75] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[76] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[77] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 452

[78] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid t. Jilid. 5 Hal. 462

[79] Al Sistani. Ali. Minhajusholihin. http://www.al-shia.com. Tanpa Tahun Jilid 3 hal 82

[80] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[81] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Jilid 3 hal. 8

[82] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih.. Man La yahdhuruhul faqih.www.al-shia.com Tanpa Tahun. Jilid 3. Hal 464

[83] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih..Loc. Cit

[84] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Hal. 80

[85] Al Sistani. Ali. Loc. Cit.

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Salah satu masalah fikih yang diperselisihkan antara pengikut Ahlulbait (Syiah) dan Ahlusunnah adalah hukum nikah Mut’ah. Tentang masalah ini ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, berikut ini akan kita bahas bersama. Pertama: Defenisi NikahMut’ah.

Kedua: Tentang ditetapkannya mut’ah dalam syari’at Islam. Ketiga: Tidak adanya hukum baru yang me-mansukh-kannya. Keempat:

Hadis-hadis yang menegaskan disyari’atkannya. Kelima: Bukti-bukti bahwa Khalifah Umar-lah yang mengharamkannya.

Difinisi Nikah Mut’ah:

Ketika menafsirkan ayat 24 surah al-Nisa’-seperti akan disebutkan di bawah nanti, Al-Khazin (salah seorang Mufasir Sunni) menjelaskan difinisi nikah mut’ah sebagai berikut, “Dan menurut sebagian kaum (ulama) yang dimaksud dengan hukum yang terkandung dalam ayat ini ialah nikah mut’ah yaitu seorang pria menikahi seorang wanita sampai jangka waktu tertentu dengan memberikan mahar sesuatu tertentu, dan jika waktunya telah habis maka wanita itu terpisah dari pria itu dengan tanpa talaq (cerai), dan ia (wanita itu) harus beristibrâ’ (menanti masa iddahnya selasai dengan memastikan kesuciaannya dan tidak adanya janin dalam kandungannya_pen), dan tidak ada hak waris antara keduannya. Nikah ini boleh/halal di awal masa Islam kemudian diharamkan oleh Rasulullah saw.”[1] Dan nikah Mut’ah dalam pandangan para pengikut Ahlulbait as. adalah seperti difinisi di atas. NikahMut’ah Telah Disyari’atkan

Dalam masalah ini telah disepakati bahwa nikah mut’ah telah disyari’atkan dalam Islam, seperti juga halnya dengan nikah daa’im (permanen). Semua kaum Muslim dari berbagai mazhab dan aliran tanpa terkecuali telah sepakat bahwa nikah Mut’ah telah ditetapkan dan disyari’atkan dalam Islam. Bahkan hal itu dapat digolongkan hal dharuruyyat minaddin (yang gamblang dalam agama). Alqur’an dan sunah telah menegaskan disyari’atkannya nikah Mut’ah. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat tentang apakah ia kemudian dimansukhkan atau tidak?

Al-Maziri seperti dikutip al-Nawawi mengatakan, “Telah tetap (terbukti) bahwa nikah Mut’ah adalah boleh hukumnya di awal Islam… .” [2] Ketika menjelaskan sub bab yang ditulis Imam Bukhari: Bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (Bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

Ibnu Hajar mendifinisikan nikah mut’ah, “Nikah mut’ah ialah menikahi wanita sampai waktu tertentu, maka jika waktu itu habis terjadilah perpisahan, dan difahami dari kata-kata Bukhari akhiran (pada akhirnya) bahwa ia sebelumnya mubaah, boleh dan sesungguhnya larangan itu terjadi pada akhir urusan.” [3]

Al-Syaukani juga menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah pernah diperbolehkan dan disyari’atkan dalam Islam, sebelum kemudian, katanya dilarang oleh Nabi saw., ia berkata, “Jumhur ulama berpendapat sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat ini ialah nikah mut’ah yang berlaku di awal masa Islam. Pendapat ini dikuatkan oleh qira’at Ubai ibn Ka’ab, Ibnu Abbas dan Said ibn Jubair dengan tambahan إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى .” [4]

Ibnu Katsir menegaskan, “Dan keumuman ayat ini dijadikan dalil nikah mut’ah, dan tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya nikah mut’ah itu ditetapkan dalam syari’at pada awal Islam, kemudian setelah itu dimansukhkan… .” [5]

Ayat Tantang Disyari’atkannya Nikah Mut’ah

Salah satu ayat yang tegas menyebut nikah bentuk itu seperti telah disinggung di atas ialah firman Allah SWT.

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوْهُنَّأُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً … (النساء:24)

“Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka upah (mahar)nya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…” (QS:4;24)

Ayat di atas mengatakan bahwa wanita-wanita yang telah kamu nikahi dengan nikah mut’ah dan telah kamu gauli maka berikanlah kepada mereka itu mahar secara sempurna. Kata اسْتَمْتَعْتُمْ berartikan nikahmut’ah yaitu nikah berjangka waktu tertentu sesuai kesepakatan antara kedua pasangan calon suami istri. Dan dipilihnya kata tersebut disebabkan nikah mut’ah memberikan kesenangan, kenikmatan dan manfaat.

Dalam bahasa Arab kata mut’ah juga diartikan setiap sesuatu yang bermanfaat, kata kerja istamta’a artinya mengambil manfaat[6].

Para sahabat telah memahami ayat di atas sebagai ayat yang menegaskan disyari’atkannya nikahtersebut, sebagian sahabat dan ulama tabi’in seperti Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Said ibn Jubari, Mujahid dan as Suddi membacanya:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ – إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى- فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

dengan memberi tambahan kata إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى (sampai jangka waktu tertentu). Bacaan tesebut tentunya sebagai sekedar penjelasan dan tafsir, bukan dengan maksud bahwa ia dari firman Allah SWT. Bacaan mereka tersebut dinukil oleh para ulama besar Ahlusunah seperti Ibnu Jarir al-Thabari, Al-Razi, al-Zamakhsyari, Al-Syaukani dan lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu persatu nama-nama mereka. Qadhi Iyaadh seperti dikutip al-Maziri, sebagaimana disebutkan Al Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, awal Bab Nikah Mut’ah bahwa Ibnu Mas’ud membacanya dengan tambahan tersebut. Jumhur para ulama pun, seperti telah Anda baca dari keterangan Al-Syaukani, memehami ayat tersebut sebagai yang menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah.

Catatan:

Perlu Anda cermati di sini bahwa dalam ayat di atas Allah SWT berfirman menerangkan apa yang dipraktikkan kaum Muslim dari kalangan sahabat-sabahat Nabi suci saw. dan membimbing mereka akan apa yang harus mereka lakukan dalam praktik yang sedang mereka kerjakan. Allah SWT menggunakan kata kerja bentuk lampau untuk menunjuk apa yang telah mereka kerjakan: اسْتَمْتَعْتُمْ, dan ia bukti kuat bahwa para sahabat itu telah mempraktikan nikah mut’ah. Ayat di atas sebenarnya tidak sedang menetapkan sebuah hukum baru, akan tetapi ia sedang membenarkan dan memberikan bimbingan tentang apa yang harus mereka lakukan dalam bermut’ah. Bukti lain bahwa ayat di atas sedang menerangkan hukum nikah mut’ah ialah bahwa para ulama Sunni mengatakan bahwa hukum dalam ayat tersebut telah dimansukhkan oleh beberapa ayat, seperti akan disinggung nanti. Itu artintya mereka mengakui bahwa ayat di atas tegas-tegas menerangkan hukum nikah Mut’ah!

Klaim Pe-mansukh-an Hukum Nikah Mut’ah Dalam Al qur’an

Ketegasan ayat diatas adalah hal yang tidak disangsikan oleh para ulama dan ahli tafsir. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa hukum itu walaupun telah disyari’atkan dalam ayat tersebut di atas, akan tetapi ia telah dimansukhkan oleh beberapa ayat. Para ulama’ Sunni telah menyebutkan beberapa ayat yang dalam hemat mereka sebagai ayat naasikhah (yang memasukhkan) ayat Mut’ah. Di bawah ini akan saya sebutkan ayat-ayat tersebut.

Ayat Pertama:

Firman Allah SWT:

و الذين هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حافِظُونَ إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ، فَإِنَّهُمْ غيرُ مَلُوْمِيْنَ. (المؤمنون:5-6)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal yang tiada tercela.” (QS:23;5-6) Keterangan Ayat:

Dalam pandangan mereka ayat di atas menerangkan bahwa dibolehkan/ dihalalkanya menggauli seorang wanita karena dua sebab; pertama, hubungan pernikahan (permanen).Kedua, kepemilikan budak.

Sementara itu kata mereka wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah, bukan bukan seorang istri.

Tanggapan:

Pertama-tama yang perlu difahami ialah bahwa mut’ah adalah sebuah ikatan pernikahan dan perkawinan, baik dari sudut pandang bahasa, tafsir ayat maupun syari’at, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Jadi ia sebenarnya dalam keumuman ayat di atas yang diasumsikan sebagai pemansukh, tidak ada alasan yang membenarkan dikeluarkannya dari keumuman tersebut. Kata Azwaajihim dalam ayat di atas mencakup istri yang dinikahi baik dengan akad nikah daim (permanent) maupun akadnikah Mut’ah.

Kedua, selain itu ayat 5-6 Surah Mu’minun (sebagai pemansukh) berstatus Makkiyah (turun sebelum Hijrah) sementara ayat hukum Mut’ah (ayat 24 surah al-Nisa’) berstatus Madaniyah (turun setelah Hijrah). Lalu bagaimana mungkin ayat Makkiyah yang turun sebelum ayat Madaniyah dapat memansukhkannya?! Ayat yang memansukh turun lebih dahulu dari ayat yang sedang dimansukhkan hukumnya. Mungkinkah itu?!

Ketiga, Tetap diberlakukannya hukum nikah Mut’ah adalah hal pasti, seperti telah ditegaskan oleh para ulama Sunni sendiri. Az- zamakhsyari menukil Ibnu Abbas ra.sebagai mengatakan, “Sesungguhnya ayat Mut’ah itu muhkam (tidak mansukh)”. Pernyataan yang sama juga datang dari Ibnu Uyainah.

Keempat, Para imam Ahlubait as. menegaskan bahwa hukum yang terkandung dalam ayat tersebut tetap berlaku, tidak mansukh.

Kelima, Ayat 5-6 Surah Mu’minun sedang berbicara tentang hukum nikah permanen dibanding tindakan-tindakan yang diharamkan dalam Syari’at Islam, seperti perzinahan, liwath (homo) atau kekejian lain. Ia tidak sedang berbicara tentang nikah Mut’ah, sehingga diasumsikan adanya saling bertentangan antara keduanya.

Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan nikah Mut’ah itu bukan berstatus sebagai isrti, zawjah, maka anggapan itu tidak benar. Sebab:

1. Mereka mengatakan bahwa nikah ini telah dimansukhkan dengan ayat إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ … atau ayat-ayat lain atau dengan riwayat-riwayat yang mereka riwayatkan bahwa Nabi saw. telah memansukhnya setelah sebelumnya pernah menghalalkannya. Bukankah ini semua bukti kuat bahwa Mut’ah itu adalah sebuah akad nikah?! Bukankah itu pengakuan bahwa wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah itu adalahh seorang isrti, zawjah?! Sekali lagi, terjadinya pemansukhan -dalam pandangan mereka- adalah bukti nyata bahwa yang dimansukh itu adalah nikah!

2. Tafsiran para ulama dan para mufassir Sunni terhadap ayat surah An Nisaa’ bahwa yang dimaksud adalah nikah Mut’ah adalah bukti nyata bahwa akad Mut’ah adalah akad nikah dalam Islam.

3. Nikah Mut’ah telah dibenarkan adanya di masa hidup Nabi saw. oleh para muhaddis terpercaya Sunni, seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud dll.

4. Ada ketetapan emas kawin, mahar dalam nikah Mut’ah adalah bukti bahwa ia adalah sebuah akadnikah. Kata أُجُوْرَهُنَّ (Ujuurahunna=mahar mereka). Seperti juga pada ayat-ayat lain yang berbicara tentang pernikahan.

Perhatikan ayat 25 surah An Nisaa’, ayat 50 surah Al Ahzaab(33) dan ayat 10 surah Al Mumtahanah (60). Pada ayat-ayat di atas kata أُجُوْرَهُنَّ diartikan mahar.

Ayat Kedua dan Ketiga:

Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ نِصْفُ ما تَرَكَ أَزْواجُكُمْ. (النساء:12)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS:3;12)

Dan

وَ إِذا طَلَّقْتُمُ النِساءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ. (الطلاق:1)

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaknya kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi)iddahnya (yang wajar).” (QS65;1)

Keterangan:

Ringkas syubhat mereka dalam masalah ini ialah bahwa seorang istri itu dapat mewarisi suaminya, dan dapat diceraikan dan baginya hak mendapatkan nafkah dari suami. Semua ini adalah konsekuensi ikatan tali pernikahan. Sementara itu, dalam kawin Mut’ah hal itu tidak ada, seorang istri tidak mewarisi suaminya, dan hubungan itu berakhir dengan tanpa talak/tidak melalui proses penceraian, dan tiada atas suami kewajiban nafkah. Maka dengan memperhatikan ini semua Mut’ah tidak dapat disebut sebagai akad nikah, dan wanita itu bukanlah seorang istri! Tanggapan Atas Syubhat di Atas

1. Syarat yang diberlakukan dalam akad Mut’ah sama dengan yang diberlakukan dalam nikah daim (permanen), sebagimana dalam nikah daim disyaratkan beberapa syarat, seperti, harus baligh, berakal (waras jiwanya), bukan berstatus sebagai hamba sahaya, harus ada saling rela, dan …demikian pula dalam nikah Mut’ah tanpa ada sedikitpun perbedaan. Adapun masalah talak, dan saling mewarisi, misalnya, ia bukan syarat sahnya akad pernikahan… ia adalah rentetan yang terkait dengannya dan tetap dengan tetap/sahnya akad itu sendiri. Oleh sebab itu hal-hal di atas tidak disebutkan dalam akad. Ia berlaku setelah terjadi kematian atau penceraian. Seandainya seorang istri mati tanpa meninggalkan sedikitpun harta waris, atau ia tidak diceraikan oleh suaminya hingga ia mati, atau suami menelantarkan sebagian kewajibannya, maka semua itu tidak merusak kebashan akad nikahnya. Demikian pula tentang nafkah dan iddah.

2. Redaksi akad yang dipergunakan dalam nikah daim tidak berbeda dengan yang dipergunakan dalam nikah Mut’ah, hanya saja pada Mut’ah disebutkan jangka waktu tertentu.

3. Antara dua ayat yang disebutkan dengan ayat Mut’ah tidak ada sedikit pertentangan. Anggapan itu hanya muncul karena ketidak fahaman semata akan batasan Muthlaq (yang mutlak tanpa ikatan) dan Muqayyad (yang diikat), yang umum dan yang khusus. Karena sesungguhnya ayat Mut’ah itu mengkhususkan ayat tentang pewarisan dan talak.

4. Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan akad nikah Mut’ah itu bukan seorang istri, maka anggapan itu tidak benar karena:

A. Sebab pewarisan itu bukanlah konsekuensi yang berkalu selamanya dalam pernikahan, yang tidak dapat berpisah sama sekali. Di sana ada pengecualian- pengecualian. Seorang wanita ditetapkan sebagai sitri namun demikian ia tidak mewairisi suaminya, seperti seorang istri yang berbeda agama (Kristen misalnya) dengan suaminya (Muslim), atau istri yang membunuh suaminya, atau seorang wanita yang dinikahi seorang laki-laki dalam keadaan sakit kemudian suami tersebut mati sebelum sempat berhubungan badan dengannya, atau apabila istri tersebut berstatus sebagai budak sahaya… bukankan dalam contoh kasus di atas wanita itu berstaus sebagai isri, namun demikian -dalam syari’at Islam- ia tidak mewarisi suaminya.

B. Ayat tentang warisan (ayat 12 surah An Nisaa’) adalah ayat Makkiyah sementara ayat Mut’ah adalah madaniyah. Maka bagaimana mungkin yang menasakh turun lebih dahulu dari yang dimansukh?!

5. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab tidak ada keharusan atas suami untuk memberi nafkah, maka anggapan ini juga tidak tepat, sebab:

A. Nafkah, seperti telah disinggung bukan konsekusensi pasti/tetap berlaku selamanya atas seorang suami terhadap istrinya. Dalam syari’at Islam, seorang istri yang nasyizah (memberontak kepada suaminya, tidak mau lagi berumah tangga), tiada kewajiban atas suami memberinya nafkah. Demikian disepakati para ulama dari seluruh mazhab.

B. Dalam akad Mut’ah sekali pun, kewajiban nafkah tidak selamanya gugur. Hal itu dapat ditetapkan berdasarkan syarat yang disepakati antara keduannya. Demikian diterangkan para fuqaha’ Syi’ah.

6. Adapun anggapan karena ia tidak harus melakukan iddah (menanti janggak waktu tertentu sehingga dipastikan ia tidak sedang hamil dari suami sebelumnya = tiga kali masa haidh) maka ia bukan seoarng istri. anggapan ini adalah salah, dan sekedar isu palsu, sebab seorang wanita yang telah berakhir janggka waktu nikah Mut’ah yang telah ditentukan dan disepakati oleh keduanya, ia tetap wajib menjalani proses iddah. Dalam fikih Syi’ah para fuqaha’ Syi’ah menfatwakan bahwa masa iddah atasnya adalah dua kali masa haidh.

7. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab ia berpisah dengan suaminya tanpa melalui proses perceraian, sementara dalam Al qur’an ditetapkan hukum perceraian bagi suami istri yang hendak berpisah. Maka hal itu tidak benar, sebab:

A. Perceraian bukan satu-satunya yang merusak akad penikahan. Seorang istri dapat saja berpisah dengan suaminya dengan tanpa perceraian, seperti pada kasus, apabila istri tersebut murtad, atau apabila ia seorang hamba sahaya kemudian ia dijual oleh tuannya, atau istri yang masih kanak-kanak, kemudian istri suami tersebut menyusuinya (sehingga ia menjadi anak susunya), atau ketika ibu suami itu menyusui anak istrinya… Atau istri seorang laki-laki yang murtad, atau istri yang terbukti terdapat padanya cacat, ‘uyuub yang menyebabkan gugurnya akad nikah, seperti apabila istri itu ternyata seorang wanita gila dan …. Bukankah dalam semua kasus di atas istri itu berpisah dari suaminya tanpa melalui proses talak?!

B. Seorang wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah tidak berarti selamanya menjadi monopoli suami itu yang tidak akan pernah bisa berpisah. Dalam nikah Mut’ah ketetapan tentang waktu berada di tangan si wanita dan pri itu. Merekalah yang menetukan jangka waktu bagi pernikahan tersebut.

C. Kedua ayat itu tidak mungkin dapat menasikhkan hukum nikah Mut’ah yang disepakati kaum Muslim (Sunni-Syi’ah) akan adanya di awal masa Islam.

Dan saya cukupkan dengan memaparkan contoh-contoh ayat yang diasumsikan sebagai penasakh hukum nikah Mut’ah yang telah ditetapkan dalam Ayat Mut’ah (ayat 24 surah An Nisaa’). Dalil Sunnah

Adapun bukti dari sunnah Nabi saw. bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan dalam Islam dan tidak pernah dimansukhkan oleh sesuatu apapun adalah banyak sekali, di antaranya ialah apa yang diriwayatkan “Imraan ibn Hushain” yang menegaskan bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan hukum nikah mut’ah dan ia tetap, muhkam (berlaku) tidak dimansukhkan oleh sesuatu apapun sampai Umar mengharamkannya. Selain riwayat dari “Imraan ibn Hushain”, sahabat-sabahat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Salamah ibn al-Akwa’, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Akwa’ ibn Abdullah, seperti diriwayatkan hadis-hadis mereka oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga Imam Muslim dalam Shahihnya juga menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah. Al-hasil, hadis tentang pernah disyari’atkannya bahkan masih tetap dihalalkannya nikah mut’ah banyak sekali dalam buku-buku hadis andalan Ahlusunah.

Hukum Nikah Mut’ah Tidak Pernah Dimansukhkan

Para Imam suci Ahlubait as., dan tentunya juga para pengikut setia mereka (Syi’ah Imamiyah) meyakini bahwa nikah mut’ah masih tetap disyari’atkan oleh Islam dan ia halal sampai hari kiamat tiba, tidak ada sesuatu apapun yang menggugurkan hukum dihalalkannya.

Dan seperti telah Anda baca sebelumnya bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan Islam; Alqur’an turun untuk membenarkan praktik nikah tersebut, Nabi saw. mengizinkan para sahabat beliau melakukannya, dan beliau juga memerintahkan juru penyampai untuk mengumandangkan dibelohkannya praktik nikah mut’ah. Jadi atas yang mengaku bahwa hukum nikah mut’ah yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya itu sekarang dilarang, maka ia harus mengajukan bukti.

Sementara itu, seperti akan Anda saksikan nanti, bahwa klaim adanya pengguguran (pe-mansuk-han) hukum tersebut adalah tidak berdasar dan tidak benar, ayat-ayat Alqur’an yang kata mereka sebagai pemansukh ayat mut’ah tidak tepat sasaran dan hanya sekedar salah tafsir dari mereka, sedangkan hadis-hadis yang mereka ajukan sebagai bukti adanya larangan juga centang perentang, saling kontradiksi, di samping banyak darinya yang tidak sahih. Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis yang tegas-tegas mengatakan bahwa nikah mut’ah adalah halal dan tidak pernah ada hukum Allah SWT yang mengharamannya.

Hadis Pertama: Hadis Abdullah ibn Mas’ud

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Qais ibn Abi Hazim ia mendengar Abdullah ibn Mas’ud ra. berkata:

“Kami berperang keluar kota bersama Rasulullah saw., ketika itu kami tidak bersama wanita-wanita, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri?”, maka beliau melarang kami melakukannya lalu beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) bitstsaub, sebuah baju. Setelah itu Abdullah membacakan ayat:

يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَ لاَ تَعْتَدُوا، إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ المعْتَدِيِنَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS:5;87)“

Hadis di atas dapat Anda temukan dalam:

1. Shahih Bukhari:

· Kitabut tafsir, bab Qauluhu Ta’ala يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ .[7]

·Kitabun Nikah, bab Ma Yukrahu minat Tabattul wal Khashbaa’.[8]

2. Shahih Muslim:

· Kitabun Nikah, bab Ma Ja’a fi Nikah al-Mut’ah[9]

Ketika menerangkan hadis di atas, Ibnu Hajar dan al-Nawawi mengatakan:

“kata-kata ‘beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) sebuah baju’ sampai jangka waktu tertentu dalam nikah mut’ah… .” Ia juga mengatakan bahwa pembacaan ayat tersebut oleh Ibnu Mas’ud adalah isyarat kuat bahwa beliau meyakni dibolehkannya nikah mut’ah, seperti juga Ibnu Abbas. Hadis Kedua: Hadis Jabir Ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’ ra.

A. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan ibn Muhammad dari Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn Al-Akwa’ keduanya berkata:

“Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah rasul (utusan) Rasulullah sa., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.”

Hadis di atas dapat Anda baca dalam:

1. Shahih Bukhari: Kitabun Nikah, bab Nahyu Rasulillah saw ‘An-Nikah al-Mut’ah ‘Akhiran.[10] 2. Shahih Muslim: Kitabun Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.[11]

B. Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’: Sesungguhnya Rasulullah saw. datang menemui kami dan mengizinkan kami untuk bermut’ah.[12]

Hadis Ketiga: Hadis Jabir ibnAbdillah:

A. Muslim meriwayatkan dari Atha’, ia berkata:

“Jabir ibn Abdillah datang untuk umrah, lalu kami mendatanginya di tempat tinggalnya dan orang-orang bertanya kepadanya banyak masalah, kemudian mereka menyebut-nyebut mut’ah, maka Jabir berkata, “Kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[13]

B. Dari Abu Bashrah, ia berkata:

“Aku berada di sisi Jabir lalu datanglah seseorang dan berkata, ” Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih tentang dua jenis mut’ah”. Jabir berkata,” Kami melakukannya bersama Rasululah saw., kemudian Umar melarang melaksanakan keduanya, maka kami tidak kembali (melakukannya) lagi.”[14]

C. Abu Zubair berkata, “Aku mendengar Jabir ibn Abdillah berkata:

“Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[15] Ibnu Jakfari berkata:

Jelaslah bahwa maksud Jabir dengan ucapannya bahwa “Kami bermut’ah di masa Rasulullah…”, “Kami melakukannya bersama Rasululah saw” bukanlah bahwa saya sendirian melakukannya hanya sekali saja, akan tetapi ia hendak menjelaskan bahwa kami (saya dan rekan-rekan sahabat Nabi saw.) melakukannya banyak kali, dan dengan sepengetahuan Nabi saw., beliau membenarkannya dan tidak melarangnya sampai beliau dipanggil Allah SWT ke alam baqa’. Dan ini adalah bukti kuat bahwa tidak pernah ada pengharaman dari Allah dan Rasul-Nya, nikah mut’ah tetap halal hingga hari kiamat, sebab “halalnya Muhammad saw. adalah halal hingga hari kiamat dan haramnya Muhammad adalah haram hingga hari kiamat”, kecuali jika kita meyakini bahwa ada nabi baru setelah Nabi Muhammad saww dan ada wahyu baru yang diturunkan Jibril as. setelah sempurnanya agama Islam.

Adapun arahan sebagian ulama, seperti al-Nawawi yang mengatakan bahwa para sahabat mulia itu mempraktikan nikah mut’ah di masa hidup Nabi saw. dan juga di masa kekhalifahan Abu Bakar dan beberapa tahun masa kekhalifahan Umar itu dikarenakan mereka belum mengetahui pemansukhan hukum tersebut, adalah ucapan tidak berdasar, sebab bagainama mungkin pemansukhan itu samar atas para sahabat itu -dan tidak jarang dari mereka yang dekat persahabatannya dengan Nabi saw.-, sementara pemansukhan itu diketahui oleh sahabat-sabahat “cilik” seperti Abdullah ibn Zubair atau yang lainnya?!

Bagaimana mungkin juga hukum pengharaman mut’ah itu juga tidak diketahui oleh Khalifah Umar, sehingga ia membiarkan praktik nikah mut’ah para sabahat, dan baru sampai kepadanya berita pemansukhan itu di masa akhir kekhalifahannya?! Ketika menerangkan ucapan Jabir, “sampai Umar melarangnya”, Al-Nawawi berkata, “Yaitu ketika sampai kepadanya berita pemansukhan.”[16]

Selain itu jelas sekali dari ucapan Jabir bahwa ia menisbatkan pengharaman/ larangan itu kepada Umar “sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits”. Jadi larangan itu bukan datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, ia datang dari Khalifah Umar dalam kasus Amr ibn Huraits. Umar sendiri seperti telah Anda baca dalam pidatonya menegakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada di masa Rasululah saww. dan beliau menghalalkannya, namun ia (Umar) melarangnya!

Coba Anda perhatikan hadis di bawah ini: Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubranya dari Abu Nadhrah dari Jabir ra.:

saya (Abu Nadhrah) berkata, ” Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya”. Maka jabir berkata, “Di tangan sayalah hadis ini berputar, kami bermut’ah bersama Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. dan ketika Umar menjabat sebagai Khalifah ia berpidato di hadapan orang-orang, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah saw. adalah Rasul utusan Allah, dan Alqur’an adalah Alqur’an ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah saw., tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya, salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.”[17]

Dan selain hadis yang telah disebutkan di atas masih banyak hadis-hadis lain yang sengaja saya tinggalkan, sebab apa yang telah disebut sudah cukup mewakili.

Dan kini mari kita meyimak hadis-hadis yang mengharamkan nikah Mut’ah.

Riwayat-riwayat Pengharaman Nikah Mut’ah

Setelah kita simak sekelumit hadis yang menerangkan tetap berlakunya hukum kehalalan nikah mut’ah, maka sekarang kami akan mencoba menyajikan beberapa hadis terkuat yang dijadikan hujjah oleh mereka yang meyaniki bahwa hukum halalnya nikah mut’ah telah dimansukhkan.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa kasus pengharaman nikah mut’ah -dalam pandangan yang mengharamnkan- adalah terbilang kasus aneh yang tidak pernah dialami oleh satu hukum Islam lainnya, yaitu dihalalkan kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan kemudian diharamkan lagi. Dan sebagiannya hanya berlangsung beberapa hari saja.[18]

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya menulis sebuah judul, “Bab Nikah-ul Mut’ah wa Bayaanu ‘Annahu Ubiiha Tsumma Nusikha Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha wa istaqarra Tahriimuhu Ila yaumil Qiyamah (Bab tentang Nikah mut’ah dan keterangan bahwa ia dibolehkan kemudian dimansukkan kemudian dibolehkan kemudian di mansukhkan dan tetaplah pengharaman hingga hari kiamat)”.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan, “Imam Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat bahwanikah mut’ah dibolehkan kemudian dimansukhkan kemudian dibolehkan kemudian dimansukhkan, dua kali.” [19]

Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:

“Masalah kesepuluh: para ulama berselisih pendapat berapa kali ia dibolehkan dan mansukhkan… ia mengatakan bahwa mut’ah pada awalnya dilarang kemudian dibolehkan kemudian Nabi melarang pada perang Khaibar kemudian mengizinkan lagi pada fathu Makkah kemudian mengharamkannya setelah tiga hari berlaku dan ia haram hingga hari kiamat. Ibnu al-Arabi berkata: “Adapun nikah mut’ah ia termasuk hukum syari’at yang aneh sebab ia dibolehkan pada awal masa Islam kemudian diharamkan pada perang Khaibar kemudian dibolehkan pada perang Awthas kemudian di haramkan setelah itu dan tetaplah pengharaman, dan tidak ada yang menyamainya kecuali masalah kiblat… ulama lain yang telah merangkum hadis-hadis masalah ini mengatakan ia meniscayakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak tujuh kali…”.[20]

Kemudian ia menyebutkan tujuh peristiwa dan kesempatan penghalalan dan pengharaman nikahmut’ah tersebut yang terbilang aneh yang tetuntunya mengundang kecurigaan akan kebenarnnya itu. Sebab kesimpulan ini diambil sebenarnya karena mereka menerima sekelompok hadis yang mengharamkan nikah tersebut, sementara hadis-hadis itu tidak sepakat dalam menyebutkan waktu ditetapkannya pengharaman, akaibatnya harus dikatakan bahwa ia terjadi bebarapa kali. Hadis-hadis tentangnya dapat kita kelompokkan dalam dua klasifikasi global,

pertama, hadis-hadis yang dipandang lemah dan cacat baik sanad maupun matannya oleh para pakar dan ulama Ahlusunnah sendiri. Hadis-hadis kelompok ini tidak akan saya sebutkan dalam kajian kali ini, sebab pencacatan para pakar itu sudah cukup dan tidak perlu lagi tambahan apapun dari saya, dan sekaligus sebagai penghematan ruang dan pikiran serta beban penelitian yang harus dipikul.

Kedua, hadis-hadis yang disahihkan oleh para ulama Ahlusunnah, namun pada dasarnya ia tidak sahih, ia lemah bahkan sangat kuat kemungkinan ia diproduksi belakangan oleh para sukarelawan demi mencari “keridhaan Allah SWT”, hasbatan, untuk mendukung dan membenarkan kebijakan para khulafa’.

Dan untuk membuktikan hal itu saya perlu melakukan uji kualitas kesahihan hadis sesuai dengan kaidah-kaidah yang dirancang para pakar dan ulama.

Hadis Pertama:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Nasa’i, al-Baihaqi dan Mushannaf Abdir Razzaq, (dan teks yang saya sebutkan dari Mushannaf) dari Ibnu Syihab al-Zuhri, dari Abdullah dan Hasan keduanya putra Muhammad ibn Ali (Hanafiyah) dari ayah mereka, bahwa ia mendengar Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya kamu benar-benar seorang yang taaih (bingung dan menyimpang dari jalan mustaqiim), sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarangnya (nikah mut’ah) pada hari peperangan Khaibar dan juga mengharamkan daging keledai jinak.” [21]

Hadis di atas dengan sanad yang sama dan sedikit perbedaan dalam redaksinya dapat Anda jumpai dalam Shahih Bukhari, Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, al-Turmudzi, al-Darimi, Muwaththa’ Imam Malik, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan al-Thayalisi dll.[22] Hadis kedua:

Para muhaddis meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghiffari ra. bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya nikah mut’ah itu hanya dihalalkan khusus untuk kami para sahabat Rasulullah saw. untuk jangka waktu tiga hari saja kemudian setelahnya Rasulullah saw. melarangnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Itu dibolehkan karena rasa takut kita dan karena kita sedang berperang.” [23]

Hadis Ketiga:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Darimi, Ibnu Majah, Abu Daud, dan lainnya (redaksi yang saya sebutkan in dari Muslim) dari Saburah al-Juhani, sesungguhnya ia berperang bersama Rasulullah saw. menaklukkan kota Mekkah. Ia berkata,

“Kami tinggal selama lima belas hari (tiga puluh malam dan siang), maka Rasulullah saw. mengizinkan kami menikahi wanita dengan nikah mut’ah. Lalu saya dan seseorang dari kaumku keluar, dan aku memiliki kelebihan ketampanan di banding dia, ia sedikit jelek, masing-masing kami membawa selimut, selimutku agak jelek adapun selimut miliknya baru, sampailah kami dibawah lembah Mekkah atau di atasnya, kami berjumpa dengan seorang wanita tinggi semanpai dan lincah, kami berkata kepadanya, “Apakah Anda sudi menikah mut’ah dengan salah seeoarng dari kami?” wanita itu bertanya, “Apa yang akan kalian berikan sebagai mahar?”. Maka masing-masing dari kami membeberkan selimutnya, wanita itu memperhatikan kami, dan ia melihat bahwa temanku memperhatikan dirinya dari kaki hingga ujung kepala, temanku berkata, “Selimut orang ini jelek sedangkan selimutku baru”. Kemudian wanita itu megatakan, “Selimut orang itu lumayan. Ia ucapkan dua atau tiga kali. Kemudian saya menikahinya dengan nikah mut’ah, dan aku belum menyelesaikan jangka waktuku melainkan Rasululah saw. telah mengharamkannya. [24]

Dalam riwayat lain: Rasulullah saw. bersabda, “Hai manusia! Sesungguhnya aku telah mengizinkan kalian bermut’ah dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sekarang hingga hari kiamat.” [25]

Dalam riwayat lain: “Aku menyaksikan Rasulullah berdiri diantara rukun dan maqam (dua sudut ka’bah) sambil bersabda…. (seperti sabda di atas)”. [26]

Dalam riwayat lain: “Rasululah memerintah kami bermut’ah pada tahun penaklukan kota Mekkah ketika kami memasuki kota tersebut, kemudian kami tidak keluar darinya melainkan beliau telah melarangnya”. [27]

Dalam riwayat lain: “Aku benar-benar telah bermut’ah di masa Rasulullah saw. dengan seorang wanita dari suku bani ‘Amir dengan mahar dua helai selimut berwarna merah kemudian Rasulullah saw. melarang kami bermut’ah”. [28]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada Fathu Makkah”.[29]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang mut’ah, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia haram sejak hari ini hingga hari kiamat”. [30]

Dalam Sunan Abu Daud, al-Baihaqi dan lainnya diriwayatkan dari Rabi’ ibn Saburah, ia berkata, “Aku bersaksi atas ayahku bahwa ia menyampaikan hadis bahwa Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada haji wada“. [31]

Dalam riwayat lain: “Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada fathu Mekkah”. [32] Hadis Keempat:

Dalam Shahih Muslim, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan lainya (dan redaksi yang saya kutip adalah dari Muslim) diriwayatkan dari Salamah ibn al-Akwa’, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan pada tahun perang Awthas untuk bermut’ah selama tiga hari kemudian beliau melarangnya.” [33] Awthas adalah lembah di kota Thaif. Dan perlu Anda ketahui bahwa peristiwa Awthas terjadi beberapa bulan setelah fathu Mekkah, walaupun dalam tahun yang sama.[34]

Inilah beberapa hadis yang menjadi andalah dan sandaran terkuat pengharaman nikah mut’ah oleh Nabi saw. dan saya berusaha meriwayatkannya dari sumber-sumber terpercaya. Dan kini mari kita telaah hadis-hadis di atas tersebut.

Tentang hadis Imam Ali as. Ada pun tentang hadis Imam Ali as. yang diriwayatkan Zuhri melalui dua cucu Imam Ali as.; Abdullah dan Hasan putra Muhammad ibn Ali as. yang mendapat sambutan luar biasa sehingga hampir semua kitab [35] hadis berebut “hak paten” dalam meriwayatkannya, -tidak seperti biasanya dimana kitab- kitab itu kurang antusias dalam meriwayatkan hadis-hadis dari beliau as. dan tidak memberikan porsi layak bagi hadis-adis Imam Ali as. seperti porsi yang diberikan kepada riwayat-riwayat para sahabat yang berseberangan dengan beliau dan yang diandalkan oleh para penentang Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw.-.

Adapun tentang hadis Imam Ali di atas maka ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentangnya.

Pertama,

ia dari riwayat Zuhri, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az Zuhri lahir pada tahun 58 H dan wafat tahun 124H. Ia dekat sekali dengan Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik dan pernah dijadikan qodhi (jaksa) oleh Yazid bin Abdul Malik. Ia dipercaya Hisyam menjadi guru privat putra-putra istana. Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzib-nya[36]menyebutkan, “Hisyam memerintahnya untuk mengajarkan kepada putra-putranya hadis, lalu ia mendektekan empat ratus hadis”.

Tampaknya Zuhri sangat diandalkan untuk meramu riwayat demi mendukung kepentingan rezim bani Umayyah yang berkuasa saat itu dengan menyajikan riwayat-riwayat yang berseberangan dengan ajaran Ahlulbait as. namun justru dia sajikan dengan menyebut nama para pemuka Ahlulbait as. sendiri, atau riwayat-riwayat yang justru melecehkan keagungan Ahlulbait as., namun sekali lagi ia sajikan dengan mengatas-namakan pribadi-pribadi agung Ahlulbait as., seperti tuduhannya melalui riwayat yang ia produksi bahwa Imam Ali dan Fatimah as. melakukan tindakan kekafiran dengan menentang Nabi saw. Zuhri tampaknya memilih spesialisasi dalam bidang ini. Dan adalah aneh seorang Zuhri yang dikenal benci kepada Imam Ali as. tiba-tiba sekarang tampil sebagai seorang muhaddis yang sangat peduli dalam menyampaikan riwayat-riwayat dari Ali as.

Ibnu Abi al-Hadid, ketika menyebut nama-nama para perawi yang membenci Imam Ali as, ia menyebut, “Dan Zuhri adalah termasuk yang menyimpang dari Ali as”.[37]

Sufyan bin Wakii’ menyebutkan bahwa Zuhri memalsukan banyak hadis untuk kepentingan Bani Marwan. Ia bersama Abdul Malik melaknat Ali as. Asy-Syadzkuni meriwayatkan dari dua jalur sebuah berita yang menyebutkan bahwa Zuhri pernah membunuh seorang budaknya tanpa alasan yang dibenarkan.[38] Kedua,

terlepas dari penilaian kita terhadap kualitas salah satu mata rantai perawi dalam hadis tersebut yang telah Anda baca, maka di sini ada beberapa catatan yang perlu Anda perhatikan. Pertama: Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa Imam Ali as. menegur dan menyebut Ibnu Abbas ra. sebagai seorang yang menyimpang karena ia masih menghalalkan nikah mut’ah padahal nikah tersebut telah diharamkan pada peristiwa peperangan Khaibar. Selain nikah mut’ah, daging keledai jinak juga diharamkan saat itu. Jadi menurut Imam Ali as. keduanya diharamkan pada peristiwa tersebut.

Di sini kita perlu meneliti kedua masalah ini, akan tetapi karena yang terkait dengan masalah kita sekarang adalah nikah mut’ah maka telaah saya akan saya batasi pada pengharaman nikah mut’ah pada hari Khaibar.

Pengharaman nikah Mut’ah pada hari Khaibar

Pengharaman Nabi saw. atas nikah mut’ah pada peristiwa Khaibar, seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah sendiri, seperti Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar dkk. tidak sesuai dengan kanyataan sejarah, sebab beberapa tahun setelah itu nikah mut’ah masih dibolehkan oleh Nabi saw., seperti contoh pada tahun penaklukan kota Mekkah. Oleh karenanya sebagian menuduh Imam Ali as. bodoh dan tidak mengetahui hal itu, sehingga beliau menegur Ibnu Abbas dengan teguran yang kurang tepat, sebab, kata mereka semestinya Imam Ali as. berhujjah atas Ibnu Abbas dengan pengharaman terakhir yaitu pada penaklukan kota Mekkah agar hujjah sempurna, dan kalau tidak maka hujjah itu tidak mengena[39].

Selain itu, dalam peristiwa penyerangan ke kota Khaibar, tidak seorangpun dari sahabat Nabi saw. yang bermut’ah dengan wanita-wanita yahudi, dan mereka tidak juga memohon izin kepada Nabi saw. untuk melakukannya. Tidak seorangpun menyebut-nyebut praktik sabahat dan tidak ada sebutan apapun tentang mut’ah. Di kota Khaibar tidak ada seorang wanita muslimahpun sehingga sah untuk dinikahi secara mut’ah, sementara dihalalkannya menikah dengan wanita yahudi itu belum disyari’atkan, ia baru disyari’atkan setelah haji wada’ dengan firman Allah ayat 5 surah al-Maidah. Demikian ditegaskan Ibnu Qayyim dalam Zaad al-Ma’aad.[40]

Ketika menerangkan hadis Imam Ali as. dalam kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, Ibnu Hajar al-Asqallani menegaskan, “Dan kata pada hari Khaibar bukan menunjukkan tempat bagi diharamkannyanikah mut’ah, sebab dalam ghazwah (peperangan) itu tidak terjadi praktik nikah mut’ah”.[41]

Ibn Hajar juga menukil al-Suhaili sebagai mengatakan, “Dan terkait dengan hadis ini ada peringatan akan kemusykilan, yaitu sebab dalam hadis itu ditegaskan bahwa larangan nikah mut’ah terjadi pada peperangan Khaibar, dan ini sesuatu yang tidak dikenal oleh seorangpun dari ulama pakar sejarah dan perawi atsar/data sejarah.[42]

Al-hasil, hadis tersebut di atas tegas-tegas mengatakan bahwa pada peristiwa Khaibar Nabi mengharamkan nikah mut’ah dan juga keledai, Ibnu Hajar berkomentar, “Yang dzahir dari kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar adalah menunjuk waktu pengharaman keduanya (mut’ah dan daging keledai)”[43], sementara sejarah membuktikan bahwa pada peristiwa itu sebenarnya tidak terjadi pengharaman, sehingga untuk menyelamatkan wibawa hadis para muhadis agung itu, mereka meramu sebuah solusi yang mengatakan bahwa hadis Imam Ali as. itu hanya menujukkan pengharaman keledai saja, adapun pengharaman nikah mut’ah sebenarnya hadis itu tidak menyebut-nyebutnya barang sedikitpun!

Penafsiran nyeleneh ini disampaikan oleh Sufyaan ibnu Uyainah, ia berkata, “Kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar hanya terkait dengan waktu pengharaman keledai jinak bukan terkait dengannikah mut’ah.”[44]

Dan upaya untuk mengatakan bahwa hadis itu tidak menunjukkan pengharaman nikah mut’ah pada zaman Khaibar yang dilakukan sebagian ulama hanya karena mereka terlanjur mensahihkan hadis-hadis yang mengatakan bahwa sebenarnya nikah mut’ah itu masih dibolehkan setelah zaman Khaibar. Demikian diungkap oleh Ibnu Hajar.[45]

Akan tetapi arahan itu sama sekali tidak benar, ia menyalahi kaidah bahasa Arab dan lebih mirip lelucon, sebab;

A. Dalam dialek orang-orang Arab dan juga bahasa apapun, jika Anda mengatakan, misalnya

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid dan ‘Amr pada hari jum’at”

maka semua orang yang mendengarnya akan memahami bahwa penghormatan kepada keduanya itu terjadi dan dilakukan pada hari jum’at.

Bukan bahwa dengan kata-kata itu Anda hanya bermaksud menghormati ‘Amr saja, sementara terkait dengan pak Zaid Anda tidak maksudkan, penghormatan itu mungkin Anda berikan pada hari lain. Sebab jika itu maksud Anda semestinya Anda mengatakan

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و أَكْرَمْتُ عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid , dan saya menghormati ‘Amr pada hari jum’at”.

Dalam riwayat itu kata kerja nahaa itu hanya disebut sekali, oleh karena itu ia mesti terkait dengan kedua obyek yang disebutkan setelahnya. Dan saya tidak yakin bawa para ulama itu tidak mengerti kaidah dasar bahasa Arab ini.

B. Anggapan itu bertentangan dengan banyak riwayat hadis Imam Ali as. dan juga dari Ibnu Umar yang diriwayatkan para tokoh muhadis, seperti Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad yang tegas-tegas menyebutkan bahwa waktu pengharaman nikah mut’ah adalah zaman Khaibar. Merka meriwayatkan:

نَهَى رسولُ اللهِ (ص) عن مُتْعَةِ النساءيَومَ خيْبَر، و عن لُحُومِ الحمرِ الإنْسِيَّةِ.

“Rasulullah saw. melarang nikah kmut’ah pada hari Khaibar, dan juga daging keledai”. [46]

Ibnu Jakfari berkata:

Bagaimana kita dapat benarkan riwayat-riwayat kisah pengharaman itu baik di hari Khaibar maupun hari dan kesempatan lainnya, sementara telah datang berita pasti dan mutawatir bahwa Khalifah Umar ra. berpidato mengatakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada dan berlaku di masa hidup Nabi saw. akan tetapi saya (Umar) melarang, mengharamkan dan merajam yang melakukan nikahnya:

مُتْعَتانِ كانَتَا على عَهْدِ رَسُول ِاللهِ أنا أَنْهَى عَنْهُما وَ أُعاقِبُ عليهِما : مُتْعَةُ الحج و متعة النِّسَاءِ.

“Ada dua bentuk mut’ah yang keduanya berlaku di sama Rasulullah saw., aku melarang keduannya dan menetepkan sanksi atas (yang melaksanakan) keduanya: haji tamattu’ dan nikah mut’ah.[47]

Bagaiamana dapat kita benarkan riwayat-riwayat itu sementara kita membaca bahwa Jabir ibn Abdillah ra. berkata dengan tegas, “kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[48]

Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[49]

Bagaimana kita dapat menerima riwayat hadis-hadis yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan di masa Nabi saw. oleh beliau sendiri, sementara itu Khalifah Umar tidak pernah mengetahuinya, tidak juga Khalifah Abu Bakar dan tidak juga para sahabat dan tabi’in mengetahuinya, bahkan sampai zaman kekuasaan Abdullah ibn Zubair -setelah kematian Yazid ibn Mu’awiyah- dan tidak juga seorang dari kaum Muslim mengetahui riwayat-riwayat sepeti itu. Andai mereka mengetahuinya pasti ia sangat berharga dan sangat mereka butuhkan dalam mendukung pendapat mereka tentang pengharaman nikah mut’ah tersebut.

Dan pastilah para pendukung kekhalifahan akan meresa mendapat nyawa baru untuk membela diri dalam pengharaman sebagai tandingan bukti-bukti sunah yuang selalu di bawakan sahabat-sabahat lain yang menhalalkan nikah mut’ah seperti Ibnu Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Jabir, misalnya.

Dalam perdebatan yang terjadi antara pihak yang mengharamkan dan pihak yang menhalalkan mereka yang mengharamkan tidak pernah berdalil bahwa Rasulullah saw. telah mengharamkannya di Khaibar… atau pada peristiwa penaklukan kota Mekkah dan lain sebaigainya. Bagaimana mungkin hadis Imam Ali as. dapat kita terima sementara kita menyaksikan bahwa beliau bersabda:

,لَوْ لاَ أَنَّ عُمر نَهَى الناسَ عَنِ المُتْعَةِ ما زَنَى إلاَّ شَقِيٌّ.

“Andai bukan karena Umar melarang manusia melakukan nikah mut’ah pastilah tidak akan berzina kecuali orang yang celaka”.Demikian disebutkan ar Razi dari al-Thabari. [50]

Dan Muttaqi al-Hindi meriwayatkan dari Imam Ali as. beliau bersabda:

لَوْ لا ما سَبَقَ مِنْ نَهْيِ عُمر بن الخطاب لأَمَرْتُ بالمُنْعَةِ، ثُمَّ ما زنى إلا شقي

“Andai bukan karena Umar ibn Khaththab sudah melarang nikah mut’ah pastilah akan aku perintahkan dengannya dan kemudian tidaklah menlakukan zina kecuali orang yang celaka”. [51]

Bagaimana mungkin kita menerima riwayat para ulama itu dari Imam Ali as. yang menegur Ibnu Abbas ra. sementara kita menyaksikan Ibnu Abbas adalah salah satu sahabat yang begitu getol menyuarakan hukum halalnya nikah mut’ah, beliau siap menerima berbagai resiko dan teror dari Abdullah ibn Zubair pembrontak yang berhasil berkuasa setelah kematian Yazid?

Apakah kita menuduh bahwa Ibnu Abbas ra. degil, angkuh menerima kebenaran yang disampaikan maha gurunya; Imam Ali as. sehingga ia terus saja dalam kesesatan pandangannya tentang halalnyanikah mut’ah? Adapun dongeng-dengeng yang dirajut para sukarelawan bahwa Ibnu Abbas bertaubat dan mencabut fatwanya tentang halalnya nikah mut’ah, adalah hal mengelikan setelah bukti-bukti tegak dengan sempurna bahwa ia tetap hingga akhir hayatnya meyakni kehalalan nikah mut’ah dan mengatakannya sebagai rahmat dan kasih sayang Allah SWT untuk hamb-hamba-Nya:

ما كانَتْ المُتْعَةُ إلاَّ رَحْمَةً رَحِمَ اللهُ بِها أُمَّةَ محمد (ص)، لَوْ لاَ نَهْيُهُ (عمر) ما احْتاجَ إلى الزنا إلاَّ شقِي

Tiada lain mut’ah itu adalah rahmat, dengannya Allah merahmati umat Muhammad saw., andai bukan karena larangan Umar maka tiada membutuhkan zina kecuali seorang yang celaka. [52].

Bagaimana dongeng rujuknya Ibnu Abbas ra. dapat dibenarkan sementara seluruh ahli fikih kota Mekkah dan ulama dari murid-muridnya meyakini kehalalan nikah mut’ah dan mengatakan bahwa itu adalah pendapat guru besar mereka?!

Telaah terhadap Hadis Rabi’ ibn Saburah

Adapun tentang riwayat-riwayat Rabi’ ibn saburah, Anda perlu memperhatikan poin-poin di bawah ini.

Pertama,

seperti Anda saksikan bahwa banyak atau kebanyakan dari riwayat-riwayat para muhadis Ahlusunnah tentang pengharaman nikah mut’ah adalah dari riwayat Rabii’ -putra Saburah al-Juhani- dari ayahnya; Saburah al-Juhani. Hadis-hadis riwayat Saburah al-Juhani tentang masalah ini berjumlah tujuh belas, Imam Muslim meriwayatkan dua belas darinya, Imam Ahmad meiwayatkan enam, Ibnu Majah meriwayatkan satu hadis. Dan di dalamnya terdapat banyak berbeda-beda dan ketidak akuran antara satu riwayat dengan lainnya.

Di antara kontradiksi yang ada di dalamnya ialah:

A. Dalam satu riwayat ia menyebutkan bahwa yang bermut’ah dengan wanita yang ditemui adalah ayahnya, sementara dalam riwayat lain adalah temannya.

B. Dalam sebuah riwayat ia menyebutkan bahwa bersama ayahnya adalah temannya dari suku bani Sulaim, sementara dalam riwayat lain adalah anak pamannya.

C. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa mahar yang diberikan kepada wanita itu adalah sehelai kain selimut, sementara dalam riwayat lainnya ia mengatakan dua selimut berwarna merah.

D. Sebagian riwayatnya mengatakan bahwa wanita itu memilih ayahnya karena ketampanan dan ayahnya masih muda sementara yang lain mengatakan karena selimut ayahnya masih baru.

E. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sempat bersama wanita itu selama tiga hari sebelum akhirnya dilarang Nabi saw. sementara yang lainnya mengatakan bahwa hanya semalam, dan keesokan harinya telah dilarang.

F. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sejak hari pertama kedatangan di kota Mekkah telah keluar mencari wanita yang mau dinikahi secara mut’ah, sementara yang lainnya mengatakan bahwa itu setelah lima belas hari, setelah Nabi saw. mendapat laporan bahwa wanita-wanita di Mekkah tidak mau kecuali nikah dengan jangka waktu, kemudian Nabi saw. mengizinkan dan Saburah pun keluar mencari wanita yang mau dinikahi. Dan masih banyak pertentangan lain yang dapat disaksikan dalam riwayat-riwayat yang dikutip dari Rabi’ ibn Saburah, seperti apakah ayahnya sebelumnya telah mengetahui konsep nikah mut’ah, atau belum, ia baru tahu dan diizinkan Nabi saw. setelah wanita-wanita kota Mekkah enggan kecuali nikah dengan jangka waktu.

Kedua,

disamping itu kita menyaksikan bahwa Saburah ayah Rabi’ -sang perawi- mendapat izin langsung dari Rasulullah saw. untuk bermut’ah, atau dalam riwayat lain Nabi-lah yang memerintah para sahabat beliau untuk bermut’ah dihari-hari penaklukan (fathu) kota Mekkah, dan setelah ia langusng merespon perintah atau izin itu, dan ia mendapatkan pada hari itu juga wanita yang ia nikahi secara mut’ah tiba-tiba keesokan harinya ketika ia salat subuh bersama Nabi saw. beliau berpidato mengharamkan nikahmut’ah yang baru saja beliau perintahkan para sahabat beliau untuk melakukannya, logiskah itu?! Dalam sekejap mata, sebuah hukum Allah SWT berubah-ubah, hari ini memerintahkan keesokan harinya mengharamkan dengan tanpa sebab yang jelas!Tidakkah para pakar kita perlu merenungkan kenyataan ini?!

Ketiga,

terbatasnya periwayatan kisah Saburah hanya pada Rabi’ putranya mengundang kecurigaan, sebab kalau benar ada pe-mansuk-han kehalalan nikah mut’ah pastilah para sahabat besar mengetahuinya, seperti tentang penghalalan yang diriwayatkan oleh para sahabat besar dan dekat.

Keempat,

riwayat Rabi’ ibn Saburah itu bertentangan dengan riwayat para sahabat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, ‘Imraan ibn Hushain, Salamah ibn al-Akwa’ dan kawan-kawan.

Dan riwayat-riwayat mereka tidak mengahadapi masalah-masalah seperti yang menghadangf riwayat-riwayat Rabi’ ibn Saburah.

Catatan Penting!

Sebenarnya dalam peristiwa itu tidak ada pengharaman yang ada hanya Nabi saw. memerintah para sahabat yang bermut’ah dan jangka waktunya belum habis agar meninggalkan wanita-wanita itu sebab Rasulullah saw. bersama rombongan akan segera meninggalkan kota Mekkah. Akan tetapi para sukarelawan itu memanfaatkan hal ini dan memplesetkannya dengan menambahkan bahwa Nabi berpidato mengharamkannya. Sekali lagi, Nabi saw. hanya memerintahkan para sahabat beliau yang bermut’ah agar menghibahkan sisa waktu nikah mut’ah mereka kepada wanita-wanita itu sebab rombongan segera meninggalkan kota suci Mekkah.

Hal ini dapat Anda temukan dalam riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, dan al-Baihaqi dalam Sunannya, juga dari Sabrah. Dari Rabi’ ibn sabrah al-Juhani dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan kami bermut’ah, lalu aku bersama seorang berangkat menuju seeorang wanita dari suku bani ‘Amir, wanita itu muda, tinggi semampai berleher panjang, kami menawarkan diri kami, lalu ia bertanya, “Apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Selimutku”. Dan temanku berkata, “Selimutku”. Selimut temanku itu lebih bagus dari selimutku tapi aku lebih muda darinya. Apabila wanita itu memperhatikan selimut temanku, ia tertarik, tapi ketika ia memandangku ia tertarik denganku. Lalu ia berkata, “Kamu dan selimutmu cukup buatku! Maka aku bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa di sisinya ada seorang wanita yang ia nikahi dengan mut’ah hendaknya ia biarkan ia pergi/tinggalkan”.[53]

Dalam pernyataan itu tidak ada pengharaman dari Nabi saw. Ada pun hadis Abu Dzar, adalah aneh rasanya hukum itu tidak diketahui oleh semua sahabat sepanjang masa hidup mereka sepeninggal Nabi saw. termasuk Abu Bakar dan Umar, hingga sampai dipenghujung masa kekhalifahan Umar, ia baru terbangun dari tidur panjangnya dan mengumandangkan suara pengharaman itu. Jika benar ada hadis dari Nabi saw., dimanakah hadis selama kurun waktu itu.Yang pasti para sukarelawan telah berbaik hati dengan membantu Khalifah Umar ra. jauh setelah wafat beliau dalam memproduksi hadis yang dinisbatkan kepada Nabi saw., agar kebijakan pengharaman itu tidak berbenturan dengan sunah dan ajaran Nabi saw. dan agar Khalifah Umar tampil sebagai penyegar sunah setelah sekian belas tahun terpasung.

Dan kebaikan hati sebagian ulama dan muhadis berhati luhur dengan memalsu hadis bukan hal aneh, dan saya harap anda tidak kaget. Karena memang demikian adanya di dunia hadis kita; kaum Muslim. Tidak semua para sukarelawan yang memalsu hadis orang bejat dan jahat, berniat merusak agama, tidak jarang dari mereka berhati luhur, rajin dan tekun beribadah, hanya saja mereka memiliki sebuah kegemaran memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Dan para sukarelawan model ini adalah paling berbahaya dan mengancam kemurnian agama, sebab kebanyakan orang akan terpesona dan kemudian tertipu dengan tampilan lahiriah yang khusu’ dan simpatik mereka. Demikian ditegaskan ulama seperti Al Nawawi dan Al Suyuthi. (bersambung)————–***————–

CATATAN KAKI

[1] Tafsir Khazin (Lubab al-Ta’wiil).1,506

[2] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9179, bab Nikah al-Mut’ah.

[3] Fathu al-Baari.19,200, Ktaabun- Nikah, bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

[4] Tafsir Fathu al-Qadir.1,449.

[5] Tafsir Ibnu Katsir.1,474.

[6] Ibid.

[7] Fathu al-Baari.17,146, hadis no.4615.

[8] Ibid.19,142-143, hadis no.5075.

[9] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182.

[10] Fathu al-Baari.19,206-207, hadis no.5117-5118.

[11] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182. hanya saja kata rasul (utusan) diganti dengan kata munaadi (pengumandang pengumuman).

[12] Ibdi.183.

[13] Ibid.183.

[14] Ibdi.184.

[15] Ibid.183-184.

[16] Ibid.183.

[17] Al-Sunan al-Kubra, Kitab al-Mut’ah, Bab Nikah-ul Mut’ah.7,206 dan ia mengatakan bahwa hadis ini juga diriwayatkan Muslim dari jalur lain dari Hummam.

[18] Keterangan lebih lanjut baca Fath al-Baari.19,201 203 dan Syarah al-Nawawi atas Shahih Muslim,9179-180.

[19] Tafsir Ibnu Katsir.1,484, pada tafsir ayat 24 surah al-Nisaa’.

[20] Al-Jaami’ Li Ahkaami Alqur’an.5130-131.

[21] Shahih Muslim (dengan syarah al-Nawawi), Kitab al-Nikah, bab Nikah-ul Mut’ah.9,189-190, dua hadis terakhir dalam bab tersebut, Sunan al-Nasa’i, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan al-Baihaqi, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.7,201, Mushannaf Abdur Razzaq.7,36 dan Majma’ al-Zawaid.4,265.

[22] Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, dan bab Nahyu Rasulillah ‘an nikah al-mut’ah akhiran, bab al-hiilah fi al-nikah, Sunan Abu Daud.2,90, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan Ibnu Majah.1,630, Kitab-un Nikah, bab an-nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah, hadis no.1961, Sunan al-Turmudzi (dengan syarah al-Mubarakfuuri).4,267-268, bab Ma ja’a fi Nikah al-Mut’ah(27), hadis no.1130 Muwaththa’, bab Nikah mut’ah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.4,292 Sunan al-Darimi.2,140 bab al-Nahyu ‘an Mut’ah al-Nisa’, Musnad al-Thayalisi hadis no.111 dan Musnad Imam Ahmad.1,79,130 dan142, dan Anda dapat jumpai dalam Fathu al-Baari dalam baba-baba tersebut di atas.

[23] Baca Sunan al-Baihaqi.7,207.

[24] Shahih Muslim.9,185.

[25] Ibid.186.

[26] Ibdi.

[27] Ibid.187.

[28] Ibdi.188-189.

[29] Ibid.187.

[30] Ibid.189.

[31] Abu Daud.2,227, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah dan Sunan al-Baihaqi.7,204.

[32] Sunan al-Baihaqi.7,204.

[33] Shahih Muslim.9,184, Mushannaf.4,292, Musnad Ahmad.4,55, Sunan al-Baihaqi.7,204 dan Fath al-Baari.11,73.

[34] Baca Sunan al-Baihaqi.7,204.

[35] Seperti Anda saksikan bahwa hadis tersebut telah saya kutipkan dari empat belas sumber terpercaya.

[36] 9,449.

[37]Syarh Nahjul Balaghah 1, 371-372.

[38] Ash-Shirath al-Mustaqim.3,245.

[39] Fathu al-Baari.19,202 menukil pernyataan al-Baihaqi.

[40] Zaad al-Ma’aad.2,204, pasal Fi Ibaahati Mut’ati al-Nisaa’i tsumma Tahriimuha (tentang dibolehkannya nikah mut’ah kemudian pengharamannya). Dan keterangan panjang Ibnu qayyim juga dimuat Ibnu Hajar.

[41] Fath al-Baari.16,62. hadis no.4216.

[42] Ibid.19,202.

[43] Ibid.201.

[44] Ibdi.202.

[45] Ibid.

[46] Bukhari Bab Ghazwah Khaibar, hadis no.4216, Kitab al-Dzabaaih, bab Luhuum al-Humur al-Insiyyah, hadis no.5523, Shahih Muslim, bab Ma Ja’a Fi Nikahi al-Mut’ah (dengan syarah a-Nawawi).9,190, Sunan Ibnu Majah.1, bab al-Nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah (44) hadis no1961 dan Sunan Al-Baihaqi.7,201, dan meriwayatkan hadis serupa dari Ibnu Umar. Dan di sini sebagian ulama melakukan penipuan terhadap diri sendiri dengn mengatakan bahwa sebenarnya dalam hadis itu ada pemajuan dan pemunduran, maksudnya semestinya yang disebut duluan adalah Luhum Humur insiyah bukan Mut’ah al-Nisaa’. (Fath al-baari.16,62) Mengapa? Sekali lagi agar riwayat Bukhari dkk. di atas tetap terjaga wibawanya dan agar tidak tampak bertentang dengan kenyataan sejarah.

[47] Ucapan pengharaman ini begitu masyhur dari Umar dan dinukil banyak ulama dalam buku-buku mereka, di antaranya: Tafsir al-Razi.10,50, Al-Jashshash. Ahkam Alqur’an.2,152, Al-Qurthubi. Jami’ Ahkam Alqur’an.2,270, Ibnu Qayyim. Zaad al-Ma’ad.1,444 dan ia megatakan” dan telah tetap dari Umar…, Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah.1,182 dan 12,251 dan 252, Al-Sarakhsi al-Hanafi. Al-Mabsuuth, kitab al-Haj, bab Alqur’an dan ia mensahihkannya, Ibnu Qudamah. Al-Mughni.7,527, Ibnu Hazam. Al-Muhalla.7,107, Al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-Ummal.8,293 dan294, al-Thahawi. Syarh Ma’ani al-Akhbaar.374 dan Sunan al-Baihaqi.7,206.

[48] Ibid.183.

[49] Ibid.183-184.

[50] Mafaatiih al-Ghaib (tafsir al-Razi).10,51

[51] Kanz al-Ummal.8,294.

[52] Dan dalam sebagian riwayat إلاَّ شفي dengan huruf faa’ sebagai ganti huruf qaaf, dan artinay ialah jarang/sedikit sekali. Pernyataan Ibnu Abbas diriwayatkan banyak ulama, seperti Ibnu al-Atsir dalam Nihayahnya, kata kerja syafa.

[53] Shahih Muslim.9,184-185, Sunan al-Baihaqi.7,202, dan Musnad Ahmad.3,405.

.

menjawab fitnahan Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) bahwa nikah mut’ah menularkan penyakit, menghina dan merugikan wanita

oleh Ustad Husain Ardilla

Malam minggu lalu HP saya berdering, seseorang bertanya pada saya : “Acara Pemilihan Da’i Muda ANTEVE” menghujat syi’ah, peserta ada yang menghujat nikah mut’ah disusul komentar  Khofifah…

Saya langsung menggebrak meja menghadapi tuduhan ini..

=============================

KHOFIFUL (KHOFIFAH & GUS IPUL)

.………………

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

Dan Ulama2 di Iran tdk ada yg mengharamkan nikah mut’ah itu…

Jadi kalau ada wanita tidak tidak mau melakukan mut’ah itu tidak menjadi masalah, tetapi yg jadi masalah ketika dia mengharamkan apa yg dihalalkan Allah…
Di iran yang mayoritas adalah syiah, Wanita2nya menolak dinikahi secara mut’ah. (boleh survey)
Bahkan menurut Murtadha Muthhari tentang argumentasi boleh/tidaknya mut’ah yaitu : “Menghidupkan kembali sunnah yang telah terlupakan/terabaikan” , Ini menunjukkan bahwa mut’ah tidak populer lagi.

Kalau Ibu Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) tidak setuju dengan Mut’ah tidak menjadi masalah, yang penting tidak mengharamkan apa yg dihalalkan Allah.. Masih lebih baik dari pada Khalifah Umar bin Khatab yg berani mengharamkan apa yg di halalkan Allah..

sebaiknya jika ingin mut’ah hendaknya meminta izin kepada orangtua sehingga tidak menjadi aib bagi ajaran Rasulullah Saw, jangan seperti ahlussunah yang bahkan sebagian ustadnya senang jika anak – anaknya berpacaran gaya barat dengan zinah yang sembunyi – sembunyi, mereka mengetahui anaknya berzinah dengan berpacaran tapi mereka membiarkan.. malah mendukung.. innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. bahkan ada istilah ustad cinta yang di tayangkan di televisi nasional..

Ibu juga bisa menyuruh anak laki ibu untuk mut’ah dgn anak perempuan saya.. Tapi saya akan bertanya kepada anak saya yg perempuan bahwa apakah dia mau di nikahi mutah dgn anaknya ibu? kalau dia tidak mau berarti pernikahan itu tidak akan terjadi…

Dan juga apabila anak saya mau dinikahi mut’ah dengan anak laki ibu, dia akan melihat ke taqwaan anak ibu kepada Allah seberapa jauh, dan anak perempuan saya akan meminta maharnya 1 buah pesawat private jet beserta crew nya + 1 Apartemen mewah, jangka waktu mut’ahnya hanya 1 hari, dan anak perempuan saya mensyaratkan tidak boleh melakukan hubungan sex… Kalau anak ibu sanggup atas yg disyaratkan oleh anak perempuan saya maka pernikahan itu akan terjadi… Tapi kalau tidak sanggup maka tidak akan terjadi… Jadi anak saya tidak rugi kan?? dia menerima mahar tapi tidak ada hubungan sex sebelum nikah daim..

Pertanyaan saya dimana kerugian anak saya seandainya nikah mut’ah itu terjadi???

anda mengharamkan mutáh,…lalu bagaimana komentar anda ttg seorang anggota dewan dari partai “kemunafikan sekali” yang bermodalkan sunnah rasul dgn jenggot, tapi ketangkap di panti pijat lalu menangis malu karena menyesal telah mempermalukan partai…bukan karena malu kepada ALLAH…
berarti dia lebih taat pada UMAR yg melarang mutáh dari pada ALLAH ketika masuk panti pijat…atau mungkin karena UMAR tdk melarang ke panti pijat.

Apapun yg di Halalkan Allah bukan berarti wajib dilakukan… Misalnya, daging kambing itu jelas Halal, akan tetapi tidak di wajibkan utk dimakan oleh setiap muslim, bahkan kalau membahayakan dirinya krn suatu penyakit maka bisa jadi haram dimakan bgi penderita penyakit tertentu… Begitu pulah dgn Nikah Muta’ah, hal itu Halal, namun tidak wajib dilakukan oleh setiap muslim.. Yang terpenting siapapun yg mau melakukannya harus mengetahui persis syarat2 Nikah mut’ah itu agar tidak melakukan pelanggaran hukum Allah…

.
Perlu anda ketahui bahwa Nikah apapun bentuknya harus ada akadnya sedangkan dalam akad ini terdapat Ijab dan Kabul, status wanita adalah berada dalam wilayah ijab sebagai kunci dimulainya akad, bagimana anda katakan wanita sebagi objek kalau pada prinsip pernikahan akadnya adalah kepasrahan diri wanita trelebih dahulu baru berikutnya ada kata kabul (terima) dari pihak lelaki, dalam hal ini wanita harus bijaksana mempertimbangkan sebelum memasrahkan dirinya kepada lelaki bagimana konsekwensi yang terbangun setelah memasrahkan dirinya ….

Sepintas itu adalah pembelaan terhadap wanita, tapi itulah sebenarnya perkataan yang mungkar dan dusta menyamakan wanita dengan ibu. Itu bukan kata saya tapi kata quran sbb :

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun (Al-Mujaadila-2)

Dibawanya pula nama Syiah dan non Syiah. Padahal semua golongan yang membolehkan atau tidak ini merujuk pada quran dan hadist. Artinya mutah itu bukan ciptaan syiah atau non syiah. bagi saya ini menunjukkan kedangkalan pengetahuan dan pengkajian.

Biar bisa dilihat siapa yang membela wanita itu. kita yang tidak setuju dengan mutah atau ALlah yang membolehkan mutah ? …

Hukum dan perintah tuhan itu mutlak. Sekiranya semua wanita didunia ini menolaknya,…………. apa mungkin Tuhan membatalkan sebuah hukum gara gara diprotes ? … apa tuhan itu Bodoh sehingga membolehkan mutah ? …

Bagi saya, mut’ah itulah yang sesungguhnya membela para wanita. Faktanya berpa banyak PELACUR yang bertebaran saat ini ? .. baik yang terbuka atau tertutup ? …. bagaimana para wanita pelacur itu dihinahkan dan disepelekan ? dianggap kelas dua dan dimarjinalisasi ? ….. mana pembelaan terhadap kaum ini atas nama sesama wanita ? …. Bagaimana pula pembelaan kita terhadap wanita yang dijadikan simpanan para bos ?

santapan malam oknum DPR ? ….

benarlah kata Imam Ali : sekiranya mutah itu tidak dilarang tidak ada yang akan berbuat zina kecuali orang yang keterlaluan ……..

jangan sampai kita ingin mengugurkan sebuah kebenaran cuma dengan prasangka dan perasaan saja saya kira berbicara tentang kebenaran suatu hukum ato konsep manusia tidak perlu di minta pendapatnya karena yang aku pahami konsep nikah mut’ah telah di ajarkan dalam islam tinggal bagaimana hal ini di perjelas akan kebenaran dalam menjalankan dalam konteks sosialnya…serta hal ini aku ragukan kalo kita langsung melibatkan untuk menilai tanpa mengkaji terlebih dahulu karena para ibu dan wanita sangat sensitif dan mengunakan persaannya apa lagi yang belum paham, sementara mereka paham bagimana kedudukan dalam ajaran islam seperti hukum poligami bayak para ibu menolak sementara apa yang mereka tolak adalah hukum Tuhan telah ditentukan…saya sepakat kepada abang yang menyarankan untuk mengkaji bagaimana nikah Mut’ah dalam islam

Anda benar2 tidak ingin mencari kebenaran, tetapi anda mencari pendukung utk meyatakan bahwa hukum Allah itu bisa di amandemen oleh manusia dalam kasus nikah mut’ah sehingga anda ingin menanyakan kepada ibu2 dan wanita di grup ini tentang nikah mut’ah menurut pandangan mereka… Apakah kalau ibu dan wanita2 mengatakan bahwa nikah mutah itu banyak mudaratnya, lalu hukum Allah bisa di amandemen oleh para ibu2 dan wanita?

Anda sdh mengetahui bahwa nikah mut’ah itu adalah HALAL, dan yg MENGHARAMKAN adalah Khalifah ke dua Umar bin Khatab.. Dan sudah dibuktikan berdasarkan dalilnya secara jelas ke Halalan nikah Mut’ah…

Allah lebih mengetahui yg terbaik buat umat manusia… Apapun yg di halalkan itu pasti banyak manfaatnya bagi manusia itu sendiri…

Betul kita harus mengikuti ajara Rasul tanpa dikurangi dan ditambah… yang Halal tetap halal dan yg haram tetap haram…Begitu pula dgn hukum nikah mut’ah itu jelas Halal… Namun tidak wajib dilakukan setiap manusia…

Mengenai untung dan ruginya itu tergantung dari sudut mana kita memandang… Misalnya anda mengatakan dengan nikah mut’ah itu yg menjadi korban dari Buaya Darat adalah wanita.. Betul namanyanya juga Buaya darat.. tanpa ada ikatan apapun pasti yg jadi korban wanita…

Kalau wanita mendapatkan pria soleh bukan buaya darat… maka wanita itu akan selamat dari buaya darat…Sebab, Nikah mut’ah itu adalah nikah yg disepakati antara wanita dan pria… Dan Wanita yg mengucapkan ijab dan prianya yg mengabulkan… kalau wanitanya tidak mau nikah mut’ah ya tidak akan terjadi perkawinan itu.. Jadi semuanya tergantung keinginan wanitanya bukan keinginan pria…. Pria hanya menyetujui /mengabulkan permintaan wanitanya .. Dimana letak kerugian wanitanya??? Apakah wanita akan lebih beruntung kalau tidak ada ikatan perkawinan??? artinya suka sama suka???

Saya pikir konsep mut’ah itu salah satu solusi bagi yg sangat membutuhkan, baik laki2 maupun wanita. Karena saya penasaran saya pinjam pada teman buku karya Murtadha muthahhari ttg nikah mut’ah. Itu sangat bagus, khususnya bagi para mahasiswa dan mahasiswi, sebagai pengganti pacaran yg dlm Islam diharamkan. Tentu dg sarat2 tertentu yakni tdk berhubungan badan.

Jadi, saya kira nikah mut’ah itu bagus tergantung pada pelakunya. Yg harus dibina itu mental pelakunya.
Kita harus berprasangka baik bahwa tidak semua kaum ibu dirugikan oleh konsep nikah mut’ah, bahkan mungkin ada yg diuntungkan. Karena saya punya teman gadis, ketika ia tunangan ia nikahkan mut’ah oleh kedua orang tuanya dan dapat restu oleh ortu kedua belah, ia nikah mut’ah dg calonnya selama 1 tahun sampai dilangsung nikah permanen & resepsi pernikahan. Ini jelas positif. Jadi, nikah mut’ah itu, dampak negatif dan positifnya, bergantung pada pelakunya. Sama halnya nikah permanen

JANGAN MENILAI HUKUM ALLAH itu dengan SENTIMEN dan protes, apalagi dalam kasus mutah yang dinyatakan halal. Karena hukum tuhan itu pasti BERSIFAT ADIL, BAIK, dan BERMANTAAT. Bagaimanapun akan mentah Hukum Halanya mutah ini jika dikaikankan dengan ego, sentimen .. bagaimana jika itu anak saya ?? .

Nikah mutah adalah salah satu hukum Ilahi. Dari segi rukun dan syarat syahnya nikah mutah tidak jauh berbeda dg hukum nikah daim, yang membedakan adalah masalah jangka waktunya.

Mungkin bagi sebagian orang nikah mutah itu selalu identik dg pelampiasan seks. Jika tujuanya hanya untuk itu, maka nikah mutah sperti itu tidaklah dibenarkan

Betul sekali bahwa mahar itu sebaiknya sesuai kemampuan… Akan tetapi Anda mempersalahkan hukum Allah bahwa wanita disini dirugikan dalam perkawinan Mut’ah… Dan saya sdh menjawabnya… Dan pertanyaan saya dimana kerugian atas perkawinan Mut’ah itu? Anda tidak menjawabnya…

Perkawinan Imam Ali dan Fatimah itu bukan nikah mut’ah, jadi disini anda jangan mengambil contoh yg tidak sesuai… Masah anda mengambil perbandingan antara buah apel dan jeruk.. tentu berbedah..

Kan anda ingin mengawinkan putra anda dgn anak perempuan saya dgn perkawinan nikah mut’ah… Makanya saya memberikan ilustrasi demikian sesuai aturan nikah Mut’ah…. DIMANA KERUGIAN ANAK PEREMPUAN SAYA?

Jadi Nikah Mut’ah pun tidak se enaknya kaum lelaki bisa melakukan atas dasar kemauan lelaki itu… makanya disinilah kita harus membekali umat itu dgn aturan hukum yg jelas, sehingga tidak dipermainkan oleh manusia2 lelaki buaya atau lelaki hidung belang…

Anda tidak mengetahui hukum nikah mut’ah, tetapi anda langsung mengatakan bahwa nikah mut’ah merugikan kaum wanita… Apakah Allah tidak paham hukum yg DIA buat?… Dan saya bertanya tentang kerugian wanita akibat nikah mut’ah, anda tidak menjawabnya keruguian tersebut…

Sekarang ini kan sdh jelas bahwa Nikah Mut’ah itu Halal, dan yg mengharamkan Umar bin Khatab…

Sekali lgi sayakatakan bahwa hukum nikah mut’ah itu Halal, namun tidak diwajibkan utk dilakukan setiap manusia…
Setuju sekali bahwa kaum wanita diberikan kesempatan utk menyampaikan pendapat… Tetapi ketika masuk kepada Halal dan Haram maka otoritas tertinggi itu adalah Allah… Bukan manusia… Manusia hanya mentaati dan patuh, atau Menolak dan membangkang kepada Allah.. Hukum Allah tidak boleh dirubah yg Halal menjadi Haram begitupula sebaliknya atas kesepakatan manusia… Emangnya manusia lebih mengetahui hukum2 Allah atas kemudaratan dan kebaikan suatu hukum yg Allah buat???

Putri saya tidak akan laku buat pria yg hidung belang, karena putri saya, saya bekali dgn ilmu agama yg benar… Dan kalau anak ibu itu pria yg bertaqwa maka saya akan nikahkan dgn putri saya dengan pernikahan mut’ah, dgn mahar hanya quraan saja tidak menjadi masalah, tetapi anak putri saya mensyaratkan dlm pernikahan mut’ah itu tidak boleh melakukan hubungan sex selama jangkah waktu yg disepakati bersama… Kalau anak ibu yg taat beragama maka dia tidak akan melanggar perjanjian itu… Maka pertanyaannya adalah DIMANA KERUGIAN ANAK SAYA DALAM NIKAH MUT’AH SEPERTI INI? Yang jelas mereka sdh menjadi muhrim dan terhindar dari perzinaan kalau mereka pegangan tangan… karena pegangan tangan pun dgn bukan muhrimnya itu adalah perbuatan zinah..
Menurut anda siapa otoritas tertinggi yg bisa menentukan Halal dan Haram nya hukum Allah selain Allah? apa rujukannya? pasti jawabnya merujuk kepada kitab suci kitab kebenaran yakni Alquraan… Kalau kita merujuk ke Alquraan, apanya yg bahaya… krn jika kita umat berselisi dalam hadis maka kembali ke Alquraan…

Menurt Dalil2 yg ada baik sunni maupun syiah mengatakan bahwa surat an nisa 24 itu berkenaan tentang hukum Mut’ah… dan hadis yg mendukungnya pun sdh dijelaskan melalui jalur sunni dan syiah…

Ibu, Adakah ayat yg bisa membatalkan surat anisa 24? sehingga ayat itu telah dibatalkan oleh Allah dgn firman Nya? Tolong tunjukkan dengan dalil dan nash yg kuat dari jalur sunni dan syiah…

Ibu, coba anda sebutkan referensi hadis yg mengharamkan nikah Mut’ah? dan inipun sdh terjawab oleh Pa Shodiq…

Mengenai manfaat dan mudarat suatu hukum Allah itu bergantung kepada masing2 menilai dari sudut pandang mana dia melihat… Namun hukum Allah itu dapat dipastikan manfaatnya untuk manusia.. tidak ada kemudaratannya… Tapi manusianya yg melanggar hukum itu yg membuat menjadi mudarat… Dan kalau manusia yg melanggar berarti manusianya yg harus dihukum bukan hukum Allah yg di haramkan oleh manusia…

Misalnya, anda melanggar lampu merah dijalan, apakah lampuh merahnya dicabut, atau yg melanggar kena tilang? Jelas yg melanggar pasti dihukum…

Ilustrasi yg pertama saya buat bagi lelaki hidung belang yg kaya raya dgn mahar yg sangat berat dan wkatu yg singkat atas perkawinan mut’ah..

Jadi intinya, saya ingin menyampaikan kepada ibu bahwa pernikahan mut’ah itu tidak ada yg dirugikan selama masing pihak pria dan wanita nya mengetahui hukum mut’ah yg benar sesuai hukum Allah…

Terima kasih ya bu.. Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… Ini semua saya sampaikan hanya utk menegakkan hukum Allah… Bahwa hukum Allah itu pasti bermaanfaat buat manusia itu sendiri… Tetapi kebanyakan manusia tdk memahaminya….

Halal dan haram dalam satu subjek hukum mustahil inklud menjadi suatu predikat, karena bernilai kontradiktif, Mut’ah sebagai subjek hukum niscaya hanya memiliki satu predikat kalau tidak haram berarti halal, nah sekarang dalam diskusi tema ini dan tema sebelumnya, forum berusaha mencari objektifitas hukumnya berdasarkan argumentasi2 yang sudah terbangun dari rujukan berbagai pihak yang berkompeten, demikian ini mustahil bila pada akhirnya tidak tercapai titik temunya.
Perlu diketahui disini bahwa hukum nikah apapun bentuknya Temporary ( Mut’ah ) atau Permanent ( Da’im ) tentu berlaku positif dengan latar belakang dan tujuannya dengan seluruh tuntunannya, hanya saja perlu juga difahami bahwa hukumnya mempunyai dinamika bergantung pada situasi dan kondisi yang berlaku sehingga statusnya bisa berubah menjadi hukum yang beragam, Mubah Wajib, sunnah bahkan haram, yang demikian ini adalah realistis dan bukan merupakan alibi yang dibuat-buat…!

“Nikah Mut’ah sama dengan “Prostitusi Sah” mohon anda pertanggung jawabkan gimana anologi ini di jabarkan secara logis dan realistis, Nikah Mut’ah pastinya subjek berbeda dengan Prostitusi ..?!

Dalam pernikahan apapun bentuknya Wanita harus siap dengan segala kedewasaannya, apalagi dari pihak wanita yang memulai perkawinan melalui Ijab yang disampaiukan kepada lelaki, hukum tidak bisa dinegasikan karena oknum pelakunya yang tidak konsekwen terhadap tuntunannya. Apakah kalau bernikah sirri (sebagimana yang anda sarankan) tidak menutup adanya kasus penyimpangan juga..?

aku tidak mau menyelewengkan hukum Allah hanya karena hati yang diliputi hawa nafsu.Janganlah mengharamkan apa yang sudah dihalalkan.Bukankah imam Ali sudah mengatakan andai saja Umar tidak mengharamkan mutah maka tidak akan ada zina dimuka bumi ini kecuali dia sudah benar2 kufur.Islam ini rahmat,jadi Allah telah mempermudah kita,kenapa mempersulit diri sendiri.Mencari2 pembenaran terhadap pikiran2 manusia yg selalu dipermainkan syetan.
Mengikuti hadis tsaqalain mengenai Pesan Rasul saw untk bpegang pd al-Qur’an dan ahlulbaitnya agar tdk terSESAT, so… Klo mutah aja msh diperselisihkan hukumnya yg jelas sdh ada ptunjuknya dr al-Quran & ahlulbait, sama aj nyesatin diri sendiri ^_^
Nikah mut’ah ADA dalam Islam, dan hukumnya halal SEJAK ZAMAN NABI saw HINGGA HARI KIAMAT, karena ayat tersebut (An-Nisa’: 24) hukumnya tidak pernah dimansukh. Pendapat ini disepakati oleh SEMUA ULAMA dari kalangan mazhab Ahlul bait (as), dan SEBAGIAN ULAMA Ahlussunnah juga berpendapat seperti ini.

maka
halal nya nikah mut’ah akan tetap seperti itu, mulai dibolehkannya oleh Allah swt, para RasulNya yg maksum & para ImamNya yg maksum, hingga kiamat, asalkan “benar” caranya, namun sesuatu yg halal akan menjadi haram jika “salah” caranya.

Contoh praktis sbb:
Minum madu itu adalah halal, bahkan dianjurkan. Namun jika “caranya” salah, mis: minum 1 tong@50 liter sekaligus, maka akan jadi “haram”. Penyebab haramnya bukan karena madunya an-sich, namun karena cara minum madunya, bukan karena madunya itu sendiri.

Nah, kini “madu” disini adalah “nikah”, baik itu mut’ah (temporarry) atau da’im (permanent).

Seseorang dapat menikmati “madu” secara permanen atau temporary asal minumnya tak sekaligus 1 tong@50 liter, sebab pencernaannya tak akan mampu (salah caranya)

.
Jika dia mengambil 1 tong madu sekaligus diminum, atau,
Sebagian kecil diminum, smentara sebagian besar didiamkan saja, maka ada sebagian besar madu yang terlantar, akibatnya madu itu akan rusak/mubazir.

Seorang pria dapat mengkabul ijab “nikah” wanita secara permanen atau temporary, asalkan tak mengkabul ijabnya 1000 wanita sekaligus, sebab kapasitas lahir/batin pria tsb tak akan mampu (salah caranya), atau,

Mengkabul sebagin kecil saja, sementara sebagian besar istri2nya didiamkan saja, sehingga banyak istrinya yg terlantar, akibatnya rusak lahir/batin istri2nya itu, sehingga terjadi mubazir.

Jadi yang lebih penting adalah berlakunya prinsip “kewajaran/keadilan, saling setuju antar pihak, dan tidak melebihi kapasitas” sehingga tak terjadi kemubaziran dalam hal apa saja yang halal (contoh: minum madu, atau mengabulkan ijabnya para wanita).

Mudah2an dapat dipahami oleh akal sehat, tanpa prasangka buruk.
Protokoler (cara) nikah mut’ah maupun da’im sudah banyak dibahas, namun yang lebih penting adalah “implementasi”nya, jangan sampai NIKAH hanya ada di KERTAS, namun tak ada di REALITAS kehidupan manusia

.
Secara ringkas nikah mut’ah adalah sbb:
1. LAMARAN (boleh oleh calon mempelai pria atau wanita).
Jika hal-hal yg dilamar (dipropose) telah disepakati oleh kedua belah pihak, maka
2. IJAB (oleh pihak wanita, dengan menyebutkan jangka waktu, syarat2 yg jika dilanggar dengan sendirinya nikah menjadi batal / tidak berlaku lagi, walau belum jatuh temponya)
3. QABUL (oleh pihak pria, yang menegaskan bahwa jangka waktu dan syarat2 yg diajukan pihak wanita seluruhnya dapat dikabulkan)
4. MAHAR (wajib diberikan jika kedua belah pihak telah bercampur)

.
Anda asal ikutan saja… kenapa.. Jelas2 Umar sendiri yg mengatakan bahwa dialah yg mengharamkan hukum Mut’ah… sekarang anda menanyakan bahwa kenapa Imam Ali tidak melarangnya… Wong Nabi Muhammad saja dikhianati oleh umar apalagi mau mendengar perkataan Imam Ali…
Makanya Imam Ali jelas mengatakan bahwa kalau Umar tidak melarang nikah mut’ah maka tidak ada manusia yg melakukan perzinaan kecuali manusia yg celaka…. Ini Jelas Hadisnya penentangan terhadap keputusan/ijtihad umar…

Anak yg lahir dari nikah mut’ah tidak hanya mewarisi nasab ayahnya (paternal), atau ibunya saja (maternal); melainkan mewarisi nasab kedua orang-tuanya (parental).

Anak itu juga (dapat) mewarisi harta, ilmu, tradisi kedua orang tuanya, asalkan memenuhi syarat2 tertentu.
Sedangkan Allah SWT Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum. Jika hukum halal itu berdampak negatif, maka bisa jatuh haram bagi org2 tertentu. Ini banyak sekali contohnya, sehingga tak perlu dituangkan di sini.

Sekali lagi nikah Mut’ah itu adalah pernikahan yg di HALAL KAN Allah… Namun tidak wajib dilakukan…. JELAS… Tergantung dari masing2 individu… Sama halnya dengan daging kambing itu Halal, namun tidak wajib harus makan daging kambing… tergantung individu masing2… JELAS… Anda ini memaksa org syiah itu wajib melakukan mut’ah…. Dan saya sudah katakan dari awal bahwa mut’ah itu bukan kewajiban tetapi perbuatan yg di halalkan Allah… Dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab… Anda baca baik2 lgi ya.. Bahwa NIKAH MUT’AH ITU ADALAH PERNIKAHAN YG DIHALALKAN, TETAPI TIDAK WAJIB DILAKUKAN… TERGANTUNG DARI INDIVIDU MASING2..

YANG MENJADI MASALAH BESAR ADALAH MENGHARAMKAN APA YG DIHALALKAN ALLAH, DAN MENGHALALKAN APA YG DIHARAMKAN ALLAH…

Hukum Mut’ah itu jelas di HALAL kan oleh Allah, namun bukan sesuatu yg diwajibkan utk dilakukan, sama halnya seperti daging kambing itu halal utk dimakan tetapi tidak wajib utk dimakan oleh setiap muslim… Untuk itu kalau ditanyakan bahwa Nabi Saww, Imam Ali, Imam Khomeni, Imam Sistani.. mereka tidak melakukannya, namun mereka semua tidak berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah… Karena itu mereka adalah hambah Allah yg TAAT kepada Allah… Lain halnya dengan Umar bin Kahtab, dia berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan oleh Allah…

Jadi jelas sekali hukum Allah itu… Namun kebanyakan manusia tidak beriman… inilah firman Allah…

HALAL nya nikah mut’ah bukan berarti harus di lakukan oleh setiap muslim… Tapi jangan juga berani mengharamkan hukum Allah, kecuali mau mengikuti jejak Umar bin Khatab yg menjadi pemipin kaum perzinaan.. karn Imam Ali mengatakan bahwa kalau saja Umar tidak mengharamkan pernikahan mut’ah maka tidak ada manusia yg berzina, kecuali orang jahil/bodoh…

Namun pada faktanya kebanyakan orang mengikuti ijtihad Umar… Nah, apa ibu kepingin menjadi bagian manusia yang kebanyakan itu??? Tanyakan Ali Reza apa sindiran Allah dalam firman Nya mengenai kebanyakan manusia itu??? Ali Reza lebih paham… dia itu sobatnya Umar Surabaya, Usman, dan Umar bin Khotob…

Ini tulisan Ali Reza yg dia kutip dari Alquraan tentang kebanyakan manusia itu bagaimana???:

Allah swt berfirman dalam Alquran :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati bicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 6:111)

Allah berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka LEBIH SESAT lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Juga dalam firmanNya:

44. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:44)

Lihatlah sudara Usman dengan bangganya mengatakan bahwa org syiah tidak menjawabnya… sudah terjawab semuanya tentang Hukum mut’ah itu..

Anda tau bahwa anda bagian dari kebanyakan umat yg tidak beriman yg disindir oleh Allah itu..
Hukum Allah mengenai HALAL dan HARAM itu tidak bergantung kepada pendapat umum manusia… Manusia itu adlah ciptaan Allah dan Allahlah yg lebih mengetahui mana yg terbaik buat umatnya…

Semua ulama ahli tafsir sunni dan syiah sepakat bahwa surat an nisa 24 itu mengenai HALAL nya pernikahan mut’ah, dan tidak ada ayat yg membatalkan surat an nisa 24 itu, dan tidak ada hadis yg bisa membatalkan ayat quraan…. Ini sangat jelas sekali..

Namun yg mengharamkan itu adalah Umar bin Khatab… Apakah dia bisa membatalkan hukum Allah??? Apakah dia lebih mengetahui daripada Allah yg menciptakan alam semesta ini? Apakah para wanita lebih mengetahui daripada Allah tentang hukum2 Nya? Apakah Allah tidak mengetahui hukum Nya sehingga DIA tidak membatalkan Nya???

Sekali lagi saya katakan bahwa:
NIKAH MUT’AH ITU HALAL DAN BUKAN SUATU KEWAJIBAN UMAT ISLAM UTK DILAKUKAN… KALAU PARA IBU DAN BAPAK TIDAK MAU MELAKUKAN DAN MENGHARAMKAN UTK DIRINYA SENDIRI ITU BISA DITERIMA, TETAPI KALAU KITA MENGHARAMKAN UTK UMAT ISLAM MAKA ANDA TELAH MEMBANGKAN DENGA HUKUM ALLAH… INI JELAS SEKALI…

hukum nikah mut’ah itu menyangkut pria juga.. agar pria mengetahui bahwa tidak bisa juga sembarangan melakukan nikah mut’ah…. kalau melakukan mut’ah tidak sesuai syariah juga akan menjadi penyelewengan hukum Allah… Sama halnya nikah daim/permanen kalau dilakukan tanpa mengetahui syariahnya maka akan terjadi penyelewengan dan akan mudarat juga… sama halnya kalau mau makan kambing tapi tidak mengetahui secara syariahnya akan menjadi haram dimakan…

Hukum Allah itu sangat jelas kalau kita kembali mengambil ilmu Allah dari sumbernya yakni Nabi Muhammad melalui pintunya Imam Ali dan 11 imam berikutnya… Namun kebanyakan manusia itu mengambil ilmu Allah dari para sahabat Nabi bukan melalui pintunya, jadi beginilah akibatnya…

Disinilah kembali lagi ke Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu tidak beriman…Jadi jelas, pengikut ahlussuna wal jamaah dan kaum wahabi itulah kebanyak dari umat Islam, yg dianjurkan Allah agar jangan mengikutinya… Karena mereka akan membawa kearah kesesatan… Tanyakan  tentang kebanyakan manusia itu bagimana dalam sindiran Allah di dalam kitab Alquraan…

pertanyaannya adalah, Apakah hadis dapat membatalkan ayat quraan??? semua ulama akan sepakat mengatakan TIDAK BOLEH…

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada ayat quraan yg membatalkan surat an nisa 24 tentang hukum mut’ah? kalau ada silahkan ibu sebutkan…

Jadi jelas sekali, hukum nikah mut’ah itu jelas HALAL, dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab atas pengakuannya sendiri bahwa mutah masih berlaku di zaman Nabi Saww dan mulai saat ini saya meng haramkan nya… Jadi apa otoritas Umar berani meng Haramkan apa yg dihalalkan Allah…

Mabk, Afifa, sekarang jelas tidak mengenai HAlal dan Haramnya nikah Mut’ah??? kalau belum jelas tolong dimana ketidak jelasan HALAL dan HARAM nya nikah mut’ah… Setelah itu baru kita masuk bab berikutnya mengenai syarat2 mut’ah itu dan bagaimana melakukannya agar sesuai dgn syariah.. TIDAK SEPERTI YG DIPUNCAK ITU….

Apapun sesuatu yg Halal kalau dikerjakan tidak sesuai dgn syariah maka akan menjadi haram… Untuk itu saya mengajak untuk mengetahui dulu dan memahami HALAL dan HARAM nya pernikahan mut’ah… Termasuk nikah Daim/permanen kalau tidak sesuai dgn syariah maka akan terjadi ke zoliman…

Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… semua ini krn saya ingin menjelaskan hukum pernikahan Mut’ah ini sebatas pengetahuan saya…
Kalau ada yg mengakui pengikut Syiah lalu mengharamkan apa yg dihalalkan Allah maka dia bukan dari golongan syiah, dalam hal ini ulama2 syiah sepakat bahwa Hukum Nikah mut’ah itu adalah HALAL…. dan sebagian Ulama2 sunni dan syiah meng Halalkan Nikah Mut’ah itu…

Kalau ada yg membaca tulisan dan komentar anda hanya org2 kebanyakan yg akan membenarkannya… karn saya paham sepaham-pahamnya Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu mengambil jalan kesesatan…

Nikah Mut’ah itu adalah HALAL, dan anda lebih mulia dimata Allag ketiban Umar bin Kahatb dan pengikutnya yg berani meng HARAM kan hukum Allah yg jelas2 HALAL…

Mengenai org2 mulia tidak melakukan pernikahan mut’ah itu bukan berarti mereka harus meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah, krn kita tau mereka itu adalah Hambah2 yag Taat dan sangat mulia di hadapan Allah sehingga mereka tidak berani meng Haramkan apa saja yg di Halalkan oleh Allah…. Berbeda dgn si Umar bin Khatab dia lebih pandai dari Allah…

saya juga sepakat anda bahaw segala sesuatuyan HALAL kalau dilakukan tidak sesuai syariah Allah termasuk dan tidak terbatas pada hukum perkawinan mut’ah maka akan menjadi mudarat dan haram dilakukan… Karena itu pasti dilakukan dgn hawa nafsu kebinatangan…

Nikah permanen / Daim kalau dilakukan tidak sesuai syariah maka akan menjadi mudarat.

Makan daging kambing yg halal akan menjadi haram kalau didapatkan dari hasil yg tidak halal dan dipotong tidak sesuai syariah akan menjadi Haram..

Sedekah juga demikian, kalau anda memberikan sedekah dari uang haram maka sedekah anda tidak diterima…

Jadi, apapun yg kita lakukan harus sesuai dgn syariah termasuk nikah mut’ah… Kalau ada umat yg melanggar syariah termasuk nikah mut’ah itu maka kita tidak boleh mengharamkan hukum Allah… Namun para pelanggar lah yg harus di hukum… dan kalau dia lolos dari hukum dunia, dia tidak akan lolos dari hukum akherat… karna Allah mencatat setiap perbuatan umat Nya Zolim….
Mereka no-syiah itu sebenarnya paham bahwa Nikah mut’ah itu Halal… Namun mereka salah pengertian bahwa meskipun Halal bukan berarti wajib di lakukan utk setiap muslim…

Sama halnya dgn halalnya daging kambing, tapi tidak semua umat islam diwajibkan makan daging kambing…

Mereka juga, sering mengatakan Nikah Mut’ah itu adalah bentuk perzinaan yg dilegalkan…. Disinilah kebodohan mereka yg mengharamkan hukum Allah… Karena jelas beda antara zina dan nikah… Zina itu melakukan hubungan pria dan wanita tanpa ijab dan kabul… sementara nikah mut’ah melakukan hubungan antara pria dan wanita dgn di awali ijab kabul terlebih dahulu… Perzinaan tidak ada masa iddah, sementara mut’ah ada masa iddha..

Nikah mut’ah itu di HALAL kan Allah, sementara perzinaan di HARAM kan Allah..

Nikah Mut’ah di dalam Al-Qur’an

Ummat Islam sepakat tentang dasar syariat nikah mut’ah, hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat, adalah apakah hukum nikah mut’ah itu dimansukh (dihapus) atau tidak? Umumnya ulama Ahlussunnah berpendapat dimansukh, sedangkan ulama mazhab Ahlul bait sepakat bahwa hukum nikah mut’ah tidak dimansukh.

Dalil disyariatkannya nikah mut’ah terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Di dalam Al-Qu’an terdapat dalam Surat An-Nisa’: 24. Ayat ini diturunkan untuk menetapkan syariat nikah mut’ah. Keterangan lebih rinci silahkan merujuk pada kitab-kitab berikut:

1. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.
2. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 474.
3. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 200 dan 201, cetakan Al-Amirah, Mesir.
4. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5, halaman 9, cetakan lama.
5. Tafsir Abi Sa`udah, catatan pinggir tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 251.
6. Tafsir An-Naisaburi, catatan pinggir Ath-Thabari, jilid V, halaman 18.
7. Tafsir Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari, jilid 1, halaman 498, cet Bairut.
8. Tafsir Al-Khazi, jilid 1, halaman 357.
9. Tafsir Al-Alusi, jilid V, halaman 5.
10. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 1, halaman 259.
11. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid 3, halaman 218.
12. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 140.
13. Tafsir Nailul Awthar, jilid VI, halaman 270 dan 275.
14. Tafsir Al-Baidhawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin jilid 1, halaman 423.
15. Syarah Shahih Muslim, oleh An-Nawawi, bab Nikah Muth’ah, jilid 9, halaman 140.
16. Sunan Al-Baihaqi, jilid VII, halaman 205.
17. Mustadrak Al-Hakim, jilid 2, halaman 305.
18. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 346, cetakan lama.
19. Bidayatul Mujtahid, jilid 2, halaman 178.
20. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 497 dan 498.
21. Al-Idhah oleh Ibnu Syadzan, halaman 440.
22. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 2, halaman 178.
23. Az-Zuwaj Al-Muwaqqat fil Islam, halaman 32 dan 33.
24. Al-Bayan, oleh Al-Khu’i, halaman 313.
25. Ath-Tharaif, Ibnu Thawus, halaman 459.
26. At-Tashil, jilid 1, halaman137.
27. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 148, cetakan Najef.
28. Kanzul Irfan, jilid 2, halaman 2, halaman151.
29. Al-Mut’ah, Al-Fukaiki.
30. Dalailul Shidqi, Al-Mudhaffar, jilid 3.
31. Al-Fushulul Muhimmah wal Masailul Fiqhiyyah, Syarafuddin Al-Musawi.
32. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 229-235.
33. Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Al-Andalusi Al-Qadhi, jilid 1, halaman 162.

Umar bin Khaththab yg Menghapus Nikah Mut’ah

Alasan Umar bin Khatab melarang nikah mut’ah tertera dalam riwayat dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Kami melakukan nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma dan tepung selama beberapa hari pada zaman Rasulullah SAW dan zaman Abu Bakar, sehingga Umar melarang selubungan dengan prsoalan ‘Amir bin Huraits.” Silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah, jilid 4, halaman 131,cet Al-Amirah.
2. Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi,jilid 9,halaman 183.
3. Al-Mushanaf, Abdurazzaq,jilid 7,halaman 500.
4. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7,halaman 304.
5. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 304.
6. Za’dul Ma’ad, Ibnu Qayyum, jilid 1, halaman 205.
7. Fathul Bari,jilid 11,halaman 76.
8. Kanzul Ummal,jlid 8,halaman 293.

PARA SAHABAT DAN TABI’IN
Yang Menghalalakan Nikah Mut’ah

Para sahabat dan Tabi’in yang menhalalkan nikah mut’ah, antara lain:
1. Imran bin Hushain, silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab haji,jilid 1,halaman 474.
2. Shahih Bukhari, kitab tafsir Surat Al-Baqarah, jilid 7,halaman 24,cet tahun
1277H.
3. Tafsir Al-Quthubi,jilid 2,halaman 265;jilid 5,halaman 33.
4. Tafsir Ar-Razi,jilid 3,halaman 200 dan 202, cet. Pertama.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi 3/200.
6. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid , halaman 218.
7. Sunan Al-Kubra,Al-Baihaqi,jilid 5,halaman 20.
8. Sunan An-Nasa’i,jilid 5, halaman 155.
9. Musnad Ahmad,jilid 4, halaman 436,cet.pertama, dengan sanad yang shahih.
10. Fathul Bari,jilid 3,halaman 338.
11. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 198-201.
12. Al-Mihbar,Ibnu Habib,halaman 289.
13. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 64.
14. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.

2. Jabir bin Abdullah Al-Anshari.Silahakan rujuk:

1. Umdatul Qari,Al-’aini’,jilid 8,halaman 310.
2. Bidayatul Mujatahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 58.
3. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 1,halaman 39.
4. Musnad Ahmad,jilid 3,halaman 380.
5. Tibyanul Haqaiq,syara Kanzud Daqaiq.
6. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
7. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 205,206,208,dan209-211.
8. Jami’ul Ushul,Ibnu Atsir.
9. Taysirul Wushul,Ibnu Daiba,jilid4,halaman 262.
10. Za’dul Ma’ad,Ibnu Qayyum,jilid1,halaman 144.
11. Fathul Bari,Ibnu hajar,jilid 9,halaman 141dan 150;jilid 9,halaman
172 dan174, cet. Darul Ma’rifah.
12. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294,cet.pertama.
13. Catatan pinggir Al-Muntaqa,Al-Faqi,jilid 2, halaman 520.
14. Al-Muhalla,Ibnu hazm,jilid 9,halaman 519.
15. Nailul Awthar,jilid 6,halaman 270.
16. As-Sarair,halaman 311.
17. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
18. Mustadrakul Wasail,jilid 2,halaman 595.
19. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.
20. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 44.
21. Al-Mushannaf,abdurrazzaq,jilid 7,halaman 497.
22, Ajwibah Masail Musa Jarullah,Syarafuddin Al-Musawi,halaman 111.

Pendapat yang mengatakan bahwa Jabir bin Abdullah Al-Anshari mengeluarkan pengharaman nikah mut’ah, itu tidak benar,Silahkan rujuk: Muqaddimah Mir’atul ‘Uqul, jilid 1,halaman 299.

3. Abdullah bin Mas’ud, Silahkan rujuk:

1. Shahih Bukhari, kitab nikah mut’ah; Shahih Muslim,jilid 4,halaman 130.
2. Ahkamul Qur’an,Al-Jashshash,jilid 2,halaman 184.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 200.
4. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5, halaman 130.
5. Tafsir Ibnu Karsir, jilid 2, halaman 87.
6. Ad-Durul Mantsur,jilid 2, halaman 207, menukil darai 9 Huffazh.
7. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 220.
8. Al-Muhalla, Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
9. Al-Bayan,Al-Khu’i,halaman 320.
10. Za’dul Ma’ad,jilid 4, halaman 6; jilid 2,halaman 184.
11. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani, catatan pinggir Al-Munraqa, jilid 2,halaman
520.
12. Syarhul Lum’ah,jilid 5,halaman 282.
13. Fathul Bari,jilid 9,halaman 102 dan 150; jilid 9, halaman 174,cet. Darul
Ma’rifah
14. Syarhun Nahji, Al-Mu’tazili, jilid 12,halaman 254.
15. As-Sarair, halaman 311.
16. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 150.
17. Mustadrakul Wasail ,jilid 2,halaman 595.

4. Abdullah bin Umar.

At-Tirmidzi meriwatyatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Umar,ia ditanya
oleh seorang laki – laki dari penduduk Syam tentang Nikah mut’ah maka ia menjawab: “Nikah mut’ah itu hal.”Kemudian laki-laki itu berkata,:”Tetapi ayahmu telah melarangnya.” Maka ia berkata :”Bila kamu telah mengetahui,ayahku melarangnya, sedangkan Rasulullah SAW membolehkannya, apakah kamu akan menunggalkan sunnah Rasul lalu mengekitu ayahku.”

Riwayat ini juga diriwatyatkan oleh :

1. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 460,cet.Qum.
2. Syarhul Lum’ah,Asy-Syahid Tsani,jilid 5,halaman 283.
3. Jawahirul Kalam,An-Najafi,jilid 30,halaman 145.
4. Dalailush Shidqi,jilid 3,halaman 97.
5. Al-Bihar, Al-Majlisi,jilid 8,halaman 286,cet.lama, mengutip dari Shahih
At-Tirmidzi.

Tetapi,kami tidak mendapati riwayat ini dalam Shahih Tirmidzi dalam makna ini, yang kami dapati riwayat yang mendekati maknanya tentang Mut’ah haji, yakni ia ditanyai tentang mut’ah haji. Rujuklah kitab tersebut,jilid i,halaman 157; dan cet.yang lain jilid 3, halaman 184.
Bisa jadi riwayat tersebut dibuang atau diselewengkan,Allah Maha Mengetahui.

Al-Araji meriwayatkan,ada seorang k\laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang nikah mut’ah,ketika itu aku berada disisinya,maka ia berkata: “Demi Allah,
pada zaman Rasulullah kami bukan orang – orang yang berzina dan berbuat keji.”

Tentang riwayat ini silahkan rujuk:
1. Musnad Ahmad,jilid 2,halaman 95,hadis 5694; jilid 2,halaman104, hadis 5808.
2. Majma’uz Zawaid,jilid 7, halaman 332 – 333.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1, halaman 295.

Riwayat bahwa Ibnu Umar mengharamkan nikah mut’ah silahakan rujuk:
1. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 265, ia mendhaifkan riwayat ini.
2. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 502.
3. Mushannaf Ibni Abi Syaiba, jilid 4,halaman 293.
4. Tafsir As-Syuthi, jilid 2,halaman 140.
5. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7, halaman 206.
6. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1,halaman 295.

5. Muawiyah bin Abi sofyan, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Umdatul Qari, al-’Aini,jilid 8, halaman 310.
3.Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2, halaman 520.
4. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 314.
5. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 458.
6. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
7. Jawahirul Kalam, jilid 30,halaman 150.
8. Syarhul Muwaththa’,Az-Zarqani.
9. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496 – 499.
10. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174,cet.Darul ma’rifah.

6. Abu Said Al-Khudri,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9, halaman 519.
2. Umdatul Qari,jilid 8, halaman 310.
3. Catatan pinggir Al-Munraqa,jilid 2,halaman 520.
4. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abl Hadid,jilid 12/254.
5. Fathul Bari,jilid 9, halaman 174.
6. As-Sarair, Ibnu Idris,halaman 311.
7. Al-Bayan,Al-Khu’i, halaman 514.
8. Al-Ghadir, jilid 6, halaman208 dan 221.
9. Jawahirul Kalam,jilid 30, halaman 150.
10. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam, halaman 125.
11. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 22.
12. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 264.
13. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 571.
14. Al-Mughni, Ibnu Qudamah,jilid 7, halaman 571.

7. Salamah bin Umayah bin Khalf, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani.
3. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 63.
4. Catatan pinggir, Al-Muntaqa, jilid 2, halaman 520.
5. Al-Bayan, halaman 314.
6. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 221.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 314.
9. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.
10. Nailul Awthar.
11. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 61; jilid 4,halaman 324.
12. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 499.

8. Ma’bad bin Muawiyah, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwatha’, Az-Zarqani.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 137.
7. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq,jilid 7,halaman 499.Dan dalam diterangkan bahwa
Ma’bad dilahirkan dari nikah mut’ah.
8. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.

9. Zubair bin Awwam,ia melakukan nikah mut’ah dengan Asma’ puteri Abu Bakar,dan melahirkan anak bernama Abdullah.Silahkan rujuk:

1. Al-Muhadharat,Al-Raghib Al-Isfahani,jilid 2,hal.94.
2. Al-Iqdu Al-Farid,jilid 2,halaman 139.
3. Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 208 dan 209.
5. Murujudz Dzahabi,jilid 3, halaman 81.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 101 dan 127.
7. Syarah Najul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

10. Khalid bin Muhajir bin Khalid Al-Makhzumi,rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah ,jilid 4,halaman 133,cet. Al-
Amirah.
2. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 205.

11. Amer bin Huraits, silahkan rujuk:

1. Fathu Bari,jilid 9,halaman 141; jilid 11/76.
2. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 293.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Bayan,halaman 314.
5. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
6. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 4,halaman 131.
7. Al-Mushanaf,jilid 7,halaman 500.Dan dalam kitap ini tertulis Amer bin
Hausyab,penyimpan dari Aner bin Hiraits.

12. Ubay bin Ka’b,silahakan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9, tentang bacaan Ubay”Ila ajalin
Musamma”
(dalam ayat mut’ah).
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
3. Al-Jawahir,jilid 30,halaman150.
4. Ahkamul Qur’an,,Al-Jshshash, jilid 2, halaman 147.

13. Rabi’ah bin Umayah,silahkam rujuk:

1. Al-Muwaththa’, Al-Maliki,jilid 2,halaman 30.
2. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
3. Al-Umm,Asy-Syafi’i,jilid 7,halaman 219.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Musnad Asy-Syafi’i, halaman 132.
6. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 503.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Al-Ishaba,jilid 1,halaman 514.
9. Tafsir As-Suyuthi,jilid 2,halaman 141.
10. Ajwiba Masail Musa Jarullah, Syarafuddin Al-Musawi, halaman 116.

14. Sumair,dan bisa jadi Sammarah bin Jundab, silahkan rujuk:

1. Al-Ishabah,Ibnu Hajar, jilid 2,halaman 519.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.

15. Said bin Jubair,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Tafsir Ibnu Katsir.
5. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496.
6. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Habil Hadid,jilid 12/254.

16. Thawus Al-Yamani, silahkan rujuk:

1.Al-Muhalla, jilid 9,halaman 915.
2. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
4. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 7,halaman 571.

17. ‘Atha’ Abu Muhammad Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 497.
2. Bidayatul Mujtahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 63.
3. Al-Muhalla,jilid 9, halaman 519.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
5. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
6. Mukhtashar Jami’Bayan Al-Ilmi,halaman 196, sebagaimana dikutip di dalam
Ajwibah masail Musa Jarullah,halaman 105. Silahkan rujuk: Dirasat wal
Buhuts fit Tarikh wal Islam jilid 1/14,tetapi Sa’udi membuang riwayat ini
dari kitab Jami’
Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi ketika dicetak pada tahun 1388.H.

18. As-Sudi, Silahkan rujuk:

1. Tafsir As-Sudi.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.

19. Mujahid,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jild 5,halaman 9.
2. Al-Ghadir, jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.
4. Syarah Nahjul Bajaghah, Ibnu Hadid, jilid 12/254.

20. Zufar bin Aus Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Bahrur Raiq,Ibnu Najim,jilid 3, halaman 115.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.

21. Abdullah bin Abbas,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5, halaman 9.
2. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash,jilid 2,halaman 147.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
4. Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari,jilid 1,halaman 519.
5. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 130 dan 133.
6. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
7. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 9,halaman 571.
8. Fathul Bari,jilid 9,halaman 172, cet. Darul Ma’rifah.

22. Asma’ puteri Abu Bakar,silahkan rujuk:

1. Musnad Ath-Thayalisi, hadis 1637.
2. Al-Muhalla,Ibnu Hazm, jilid 9,halaman 519.
3. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

Ibnu Hazm, dalam kitabnya Al-Muhalla 9/519, setelah manetapakan jumlah sahabat yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Ini diriwayatkan dari Jabir dan seluruh sahabat sejak masa Rasulullah SAW,Abu Bakar, dan sampai pertengahan masa kekhalifahan Umar. Kemudian ia berkata: Dari tabi’in adalah Thawus, Said bin Jubair dan seluruh fuqaha Mekkah.

Abu Umar, penulis kitab I-Isti’ab berkata, bahwa sahabat – sahabat Ibnu Abbas dari penduduk Mekkah dan Yaman, semuanya memandang nikah mut’ah adlah halal menurut mazhab Ibnu Abbas, sementara semua manusia mengharamkan. Silahkan rujuk:

1. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 133.
2. Fathul Bari,jilid 9,halaman 142,cet. Darul Ma’rifah.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya 5/132 berkata : penduduk Mekah banyak mempraktekan nikah mut’ah.

Ar-Razi dalam tafsirnya 3/200, tentang ayat mut’ah berkata: mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat itu dimanskh atau tidak ? Para tokoh Ummat mayoritas mengatakan dimansukh dan sebagian mereka mengatakan tidak dimansukh,hukumnya tetap berlaku sebagaimana adanya.

Ibnu Hiyan dalam tafsirnya,setalah mengutip hadisnya yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Atas dasar inilah seluruh ahlul bait dan pengikutnya menghalalkan nikah mut’ah.

Ibnu Juraij Abdul Mulk bin Abdul Aziz Al-Makki, wafat tahun 15 H., ia membolehkan nikah mut’ah. Asy-Syafi’i berkata: Ibnu Juraij memut’ahi 70 wanita.
Adz-Dzahabi mengatakan : Ibnu Juraij memur’ahi 90 wanita. Silahkan rujuk:

1. Tahdzibut Tahdzib,jilid 6,halaman 406.
2. Mizanul I’tidal,jilid 2, halaman 151.

Iman Malik bin Annas adalah salah seorang Fuqaha Ahlus sunnah yang membolehkan nikah mut’ah . Silahkan rujuk kitab – kitab berikut: Al-Mabsuth,As-sarkhasi; Syarah Kanzud Daqaiq; Fatawa Al-Faraghi;Khizatur Riwayat, Al-Ghadi,Al-Kafi fil furu’ Al-Hanafiyah;’Inayah Syarhul Hidayah; Syarah Al-Muwaththa’, Az-Zarqani; Al-Ghadir 6/222-223;dan tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.

Dan siapa yang ingin mempelajari lebih mendalam tentang ketidakberdasarkan pendapat yang menasikh dan mengharamkan nikah mut’ah, dan ketidakberdasarkan dua hal ini secara syar’i, silahkan rujuk kepada kitab – kitab:

1. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 223-240.
2. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 315.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul,jilid 1,halaman 273-325.

Adapun Mazhab Ahlul bait, yang dipimpin oleh Imam Ali (a.s), mereka membolehkan nikah mut’ah. Ini berdasarkan riwayat yang masyhur dan mutawatir dari Imam Ali (a.s) bahwa beliau berkata:

“Seandainya Umar tidak melarang nikah mut’ah,niscaya tidak ada orang berzina kecuali orang yang celaka.” Silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5,halaman 6, dengan sanad yang shahih.
2. Tafsir Ar-Razi,jilid3,halaman 200.
3. Tafsir Ibnu Hiyan,jilid 3,halaman 218.
4. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi,jilid 3.
6. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294.
7. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid, jilid 12,halaman 253 dan 254.

Adapun hadis – hadis mereka dari jalur mazhab Ahlul Bait, hiasannya bagaikan matahari di siang hari pada musim bunga. Untuk itu silahkan rujuk: Wasailu Asy-Syi’ah, jilid 14,halaman 436 dan selanjutnya.

Kajian tentang nikah mu`ah ada tiga macam: Kajian teologis, kajian fiqhiyah (tentang halal dan haramnya), kajian tafsir dan hadis (apakah surat An-Nisa’: 24 sebagai ayat penetapan syariat nikah mut`ah?).

Pendapat-pendapat tentang nikah mu`ah:

1. Nikah mut`ah tidak pernah disyariatkan di dalam Islam.
2. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam kemudian dimansukh
3. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam dan tidak pernah dimansukh

Pendapat Pertama: Mut`ah sebagai perbuatan zina dan keji. Berarti Nabi saw pernah membolehkan sahabatnya melakukan perbuatan zina dan keji. Apa alasannya? Dharurat atau rukhshah?

Pendapat kedua: Kapan dimansukh oleh Nabi saw? Ayat apa yang memansukhnya?
Dalam kelompok ini ada beberapa pendapat.
1. Dimansukh oleh Surat Al-Mu’minun: 5-7
2. Dimansukh oleh ayat tentang iddah yaitu Surat Ath-Thalaq: 1
3. Dimansukh oleh ayat tentang waris yaitu Surat An-Nisa’: 12
4. Dimnsukh oleh ayat tentang muhrim (orang-orang yang haram dinikahi) yaitu Surat An-Nisa’: 23
5. Dimansukh oleh ayat tentang batasan jumlah istri yaitu Surat An-Nisa’: 3
6. Dimansukh oleh hadis Nabi saw.

Jawaban
Terhadap pendapat yang pertama: Tidak sesuai dengan hukum nasikh-mansukh, karena Surat An-Nisa’: 24 (tentang nikah mut`ah) ayat Madaniyah sedangkan Surat Al-Mu’minun: 5-7 ayat Makkiyah. Tidak ayat Makkiyah menasikh ayat Madaniyah.

Terhadap pendapat ke 2, 3, 4, dan ke 5: Hubungan Surat An-Nisa’: 24 dengan ayat-ayat tersebut bukan hubungan Nasikh-Mansukh, tetapi hubungan umum dan khusus, muthlaq dan muqayyad (mutlak dan terbatas). Memang sebagian ulama Ushul figh mengatakan bahwa jika yang khusus diikuti oleh yang umum dan berlawanan dalam penetapan dan penafian, maka yang umum menasikh yang khusus. Tetapi menggunakan kaidah dalam masalah ini sangat lemah dan tidak sesuai dengan pokoh persoalannya.

Misalnya ayat tentang Iddah sifat umum dan terdapat di dalam Surat Al-Baqarah sebagai awal surat Madaniyah, diturunkan sebelum surat An-Nisa’ yang di dalam terdapat ayat tentang nikah mu`ah. Demikian juga ayat tentang batasan jumlah istri, dan muhrim terdapat di dalam Surat An-Nisa’ sebagai pengantar ayat tentang nikah mut`ah saling berkaitan satu sama lain. Semua ayat itu bersifat umum, dan ayat tentang nikah mut`ah sebagai ayat yang bersifat khusus diakhir dari yang umum. Bagaimana mungkin pengantar menasikh penutup pembicaraan.

Wabil khusus, pendapat yang mengatakan ayat tentang Iddah menasikh ayat nikah mut`ah sama sekali tidak berdasar, karena hukum iddah itu berlaku juga dalam nikah mut’ah selain di dalam nikah permanen. Demikian juga pendapat yang mengatakan ayat tentang muhrim menasikh ayat nikah mu`ah, semuan perempuan yang haram dinikahi saling berkaitan dan tak terpisahkan dengan segala bentuk pernikahan baik permanen maupun mut`ah. Bagaimana mungkin pengantar pembicaraan menasikh penutupnya. Lagi pula ayat tersebut tidak menunjukkan larangan hanya terhadap nikah permanen.

Pendapat yang keenam: Ayat nikah mut’ah dimasukh oleh hadis Nabi saw. Pendapat ini sama sekali tidak berdalil, karena secara mendasar ia bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir yang menjelaskan Al-Qur’an, dan riwayat-riwayat yang merujuk kepada Al-Qur`an.

Riwayat-Riwayat Penasikhan (Penghapusan hukum) nikah mut`ah

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Abdurrazzaq, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Al-Juhani, ia berkata: “Pada tahun Fathu Mekkah Rasulullah saw mengizinkan kami melakukan nikah mut`ah. Lalu kami bersama seorang laki-laki dari kaumku melakukan bepergian. Aku lebih tampan darinya; masing-masing kami membawa kain berwarna. Kain warna kainku sudah lapuk, warna kain dia masih baru dan bagus. Ketika sampai di Mekkah kami berjumpa dengan seorang perempuan jalanan. Lalu kami berkata kepadanya: Maukah kamu nikah mu`ah dengan salah seorang dari kami? Ia menjawab: Apa yang akan kamu berikan? Kemudian masing-masing kami menunjukkan kain-warna kami, ia pun melihatnya. Temanku melihat perempuan itu sambil berkata: Kain warna ini sudah lapuk, sedangkan kain-warnaku masih bagus. Perempuan itu berkata: Dengan kain yang ini aku mau. Kemudian aku melangsungkan nikah mu`ah dengannya. Dan kami tetap melakukan nikah ini sehingga Rasulullah saw mengharamkannya.

Dalam kitab yang sama: Malik, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada hari Khaibar, dan melarang makan daging keledai yang jinak.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Syaibah, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Salamah bin Akwa’, ia berkata: “Rasulullah saw memberi rukhshah (kemudahan) kepada kami untuk melakukan nikah mut`ah tiga hari pada tahun terjadinya perang Authas, setelah itu beliau melarangnya.”

Dalam Syarah Shahih At-Tirmizi oleh Ibnul Arabi: dari Ismail, dari ayahnya, dari Az-Zuhri, ia berkata, Saburah meriwayatkan: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji wada’”. Dalam redaksi yang hampir sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, ia berkata: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji qada’ setelah beliau membolehkannya dalam waktu yang tertentu. Sementara Al-Hasan mengatakan bahwa nikah dilarang pada Umrah qadha’.

Dalam kitab yang sama: Az-Zuhri mengatakan, sesungguhnya Nabi saw melarang nikah mut`ah pada perang Tabuk.

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah saw membolehkan para sahabatnya melakukan nikah mut`ah hanya tiga hari, kemudian beliau mengharamkannya.
Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim meriwayatkan dari Saburah, ia berkata: Aku melihat Rasulullah saw berdiri di antara tiang dan pintu sambil berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menghalalkan nikah mut`ah. Dan ingatlah, sekarang aku melarangnya hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mempunyai isteri mut`ah hendaknya dicerai, dan jangan mengambil sedikit pun mahar yang telah diberikan kepada mereka.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: “Demi Allah, tidak ada nikah mut`ah kecuali hanya tiga hari yang diizinkan oleh Rasulullah saw, kemudian sebelum dan sesudahnya tidak ada nikah mut`ah.”

Riwayat-riwayat yang membolehkan

Dalam Shahih Bukhari: meriwayatkan dari Abu Jumarah, ia berkata: “Pada suatu ketika Ibnu Abbas ditanyai tentang nikah mut`ah, kemudian ia menjawab, nikah mut`ah itu rukhshah (kemudahan). Lalu budaknya berkata kepadanya, bukankah nikah mut`ah itu hanya sebagai rukhshah dalam keadaan dharurah, dan perempuan itu sendiri jarang sekali yang bersedia melakukannya, kemudian Ibnu Abbas menjawab, memang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari: meriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah swt Surat An-Nisa’:24 adalah ayat tentang nikah mut`ah.

Dalam kitab yang sama: meriwayatkan dari As-Sudi tentang ayat ini, ia berkata: “Ayat ini adalah ayat tentang nikah mut`ah. Seorang laki-laki boleh menikahi perempuan dengan syarat waktu yang ditentukan (nikah mut`ah). Jika masanya sudah habis, sang suami tidak mempunyai apapun dari perempuan itu, dan ia suci darinya. Ia harus mensucikan diri dari kasih sayangnya, antara keduanya tidak waris, dan tidak saling mewarisi.

Dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ad-Durrul Mantsur meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam suatu peperangan, dan kami tidak membawa isteri-isteri. Kemudian kami bertanya kepada Rasulullah saw, apakah sebaiknya kami berkebiri? Beliau melarang kami melakukan hal itu, dan mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut`ah dengan mahar sehelai baju untuk waktu tertentu. Kemudian beliau membacakan firman Allah swt:

ياايها الذين آمنوا لاتحـرموا طيبات مااحل الله لكم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” (Al-Maidah: 87).

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Nafi` bahwa Ibnu Umar pernah ditanyai tentang nikah mut`ah, lalu ia menjawab: haram. Kemudian dikatakan kepadanya, Ibnu Abbas membolehkan nikah mut`ah. Ia berkata: Mengapa dia tidak membolehkannya pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Dalam kitab yang sama: Ibnu Mundzir, Ath-Thabari dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Said bin Jubair, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, tahukah Anda akibat fatwa Anda tentang pembolehan nikah mut`ah? Fatwa Anda tersebar di seluruh penjuru negeri, dan disebut-sebut oleh para penyair. Apa yang mereka katakan? Tanya Ibnu Abbas. Mereka berkata:

Kukatakan kepada kawanku yang lama berada dalam perantauan
Tidakkah kamu ingin melaksanakan fatwa Ibnu Abbas?
Serumah dengan si cantik, penghibur
Sambil menunggu teman dalam perjalanan.
Mendengar itu Ibnu Abbas terkejut dan berkata: Inna lillâhi wa inna ilayhi raji`ûn. Demi Allah, bukan demikian yang kumaksudkan dalam fatwaku. Aku tidak menghalalkannya kecuali Allah menghalalkan bangkai, darah dan daging bagi orang yang dalam keadaan darurat. Demikian juga nikah mut`ah, seperti memakan bangkai, darah dan daging babi.

Kementar
Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut nikah mut’ah dilarang oleh Nabi saw pada waktu yang bebeda-beda, dan dimansukh oleh ayat yang berbeda-beda pula. Dalam riwayat-riwayat tersebut nampaknya Nabi saw dengan alasan dharurat atau rukhshah, membolehkannya, kemudian melarangnya lagi, kemudian membolehkan lagi, kemudian melarang hingga hari kiamat.

Ada pendapat yang mengatan: Hadis-hadis Nabi dan pernyataan-pernyataan sahabat yang meriwayatkan nikah mut`ah, semuanya menunjukkan bahwa Nabi saw memberi rukhshan (kemudahan) kepada sahabat-sahabatnya untuk melakukannya dalam sebagian peperangan, kemudian beliau melarang mereka, kemudian memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian melarang mereka lagi dengan larangan untuk selamanya.

Sesungguhnya rukhshah itu ada karena adanya kesulitan untuk menghindari zina dan jauh dari isteri-isteri mereka. Jadi rukhshah itu bertujuan untuk meringankan dua kondisi yang sangat berbahaya tersebut. Sehingga, jika seorang laki-laki melakukan nikah mut`ah dengan seorang perempuan dan tinggal bersamanya dalam waktu tertentu, hal ini merupakan langkah yang lebih mudah daripada mengekang diri untuk tidak berzina dengan perempuan yang memungkinkan untuk melakukannya.

Sanggahan Penulis: Apa yang dikatakan oleh pendapat tadi bahwa semua riwayat menunjukkan pemberian rukhshah dalam sebagian peperangan, kemudian Nabi saw melarangnya, kemudian beliau memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian beliau melarang lagi untuk selamanya. Pendapat ini sama sekali tidak sesuai dengan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Hendaknya Anda mengkaji kembali riwayat-riwayat tersebut sehingga Anda tahu bahwa riwayat-riwayat itu mendustakan pendapat ini.

Pendapat tersebut juga mengatakan: Ahlussunnah memandang rukhshah dalam nikah mut`ah satu kali atau dua kali dengan tujuan sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, seperti tahapan dalam mengharamkan khomer, keduanya adalah perbuatan keji yang tersebar pada zaman jahiliah, hanya saja perbuatan zian hanya tersebar di kalangan budak-budak perempuan bukan di kalangan perempuan-perempuan yang merdeka.

Sanggahan Penulis: Pernyataan bahwa rukhshah dalam nikah mut`ah sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, mengharuskan pendapat tadi berkesimpulan bahwa nikah mut`ah adalah salah satu bentuk perzinaan, nikah mut`ah sama seperti perzinaan yang tersebar pada zaman jahiliah, kemudian untuk melarang perzinaan tersebut Nabi saw mengambil langkah tahapan yang halus dan lembut dengan membolehkan mut`ah agar para sahabatnya mau menerimanya, kemudian beliau melarang segala bentuk perzinaan kecuali mut`ah. Sehingga saat itu tinggal perzinaan dalam bentuk mut`ah, kemudian Nabi saw memberi rukhshah untuk melakukan zina dalam bentuk mut`ah, kemudian beliau melarangnya, kemudian memberi rukhshah lagi sampai waktu tertentu yang memungkinkan untuk melarangnya secara pasti, lalu beliau melarangnya untuk selamanya.

Demi Allah, sungguh pendapat tersebut telah mempermainkan syariat agama yang suci, yang Allah tidak menghendakinya kecuali untuk mensucikan ummat Rasulullah saw dan melengkapi nikmat atas mereka.

Kajilah dengan teliti pernyataan pendapat tadi:
Pertama: Ia telah menisbatkan kepada Nabi yang suci saw pelarangan nikah mut`ah, kemudian memberi rukhshah, kemudian melarang, kemudian memberi rukhshah lagi. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil untuk mengharankan nikah mut`ah adalah ayat-ayat Makkiyah yaitu: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7).
Jadi, pendapat yang bersikeras itu telah menisbatkan kepada Nabi saw menasikh ayat-ayat tersebut. Denagan kata lain, menganggap Nabi saw memberi rukhshah, kemudian menghapus rukhshah tersebut dan menetapkan hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian menghapus kembali, kemudian menetapkan kembali. Coba Anda pikirkan, bukankah hal yang demikian itu berarti menisbatkan kepada Nabi yang suci sikap pelecehan terhadap kitab Allah?

Kedua: Ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang perbuatan zina: Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya perbuatan zina adalah perbuatan keji, dan sesuatu yang buruk. (Al-Isra’: 32). Coba Anda bayangkan, adalah bahasa yang lebih jelas dari bahasa ayat ini, sementara ayat ini adalah ayat Makkiyah dan terdapat dalam rentetan ayat-ayat yang melarang perbuatan zina.

Katakan, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu … dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-An`am: 151). Kata Fawâhisya bentuk jamak dari Fâhisya dan didahului ole Al, dan terletak dalam kontek kalimat larangan. Ini berarti bahwa larangan itu mencakup seluruh perbuatan yang keji dan segala bentuk perzinaan, sementara ayat ini juga ayat Makkiyah.

Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji , baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-A`raf: 33). Demikian juga ayat telah kami sebutkan yaitu:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7). Dua surat ini adalah surat Makkiyah, juga ayat-ayat (yang oleh pendapat tadi) dijadikan dasar untuk mengharamkan nikah mut`ah, dan juga ayat-ayat yang mengharamkan segala bentuk perzinaan adalah ayat Makkiyah.

Inilah ayat-ayat yang terpokoh yang melarang perbuatan zina dan segala bentuk perbuatan keji, yang semuanya adalah ayat Makkiyah. Maka ayat yang mana lagi yang akan dijadikan dasar oleh pendapat tersebut untuk mengharamkan nikah mut`ah. Atau sebagaimana yang nampak dalam pendapatnya ia akan menggunakan Surat Al-Mu’minun: 5-7 untuk mengharamkan nikah mu`ah? Dengan asumsi Allah swt secara tegas mengharamkan nikah mu`ah, kemudian Nabi saw mengharamkannya secara bertahap dari rukhshah ke rukhshah dengan tujuan merayu manusia agar mau menerimanya. Sementara Allah swt menegaskan kecintaan-Nya kepada Nabi saw dengan cinta yang sebenarnya di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka menjadikan kamu sebagai sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir sedikit cenderung kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati … (Al-Isra’: 73-75).

Ketiga: Pemberian rukhshah yang dinisbatkan kepada Nabi saw. Dari rukhshah ke rukhshah yang lain. Jika pemberian rukhshah itu bukan ketentuan syariat yang membolehkan, dan yang semestinya nikah mut`ah termasuk perbuatan zina dan perbuatan keji, maka jelas pemberian rukhshah itu adalah sikap penentangan Nabi saw terhadap Tuhannya, padahal beliau ma`shum dengan pemeliharaan Allah swt. Dan jika rukhshah itu datang dari Tuhannya, berarti Allah telah memerintahkan untuk melakukan perbuatan keji. Sementara Allah swt dengan tegas menolak perbuatan keji:

Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh melakukan perbuatan keji. (Al-A`raf: 28).

Jika pemberian rukhshah itu dengan ketentuan syariat yang menghalalkan, berarti mut`ah itu bukan perbuatan zina dan keji, dan merupakan ketentuan syariat yang dibatasi dengan batasan-batasan tertentu, tidak tergolong pada peringkat-peringkat yang diharamkan.

Siapa sebenarnya yang melarang nikah mut’ah?

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Abdurrazzaq dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari `Atha`, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Semoga Allah merahmati Umar bin Khattab, tidak ada mut`ah kecuali rahmat dari Allah untuk ummat Muhammad. Sekiranya Umar tidak melarangnya, niscaya ummat tidak melakukan perzinaan kecuali orang yang celaka. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Mut`ah itu adalah suatu pernikahan yang ditetapkan di dalam firman Allah Surat An-Nisa’:24 sehingga demikian dan demikian, dari waktu demikian dan demikian. Kemudian Ia berkata: Dalam nikah mut`ah antara suami-isteri tidak ada waris, jika kedua saling merelakan setelah waktunya berakhir, itu suatu kenikmatan; jika keduanya berpisah, maka itu pun suatu kenikmatan dan antara keduanya tidak ada ikatan pernikahan. Ada juga riwayat yang bersumber dari `Atha` bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata: Nikah mut`ah itu halal hingga sekarang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari dan Ad-Durrul Mantsur menyebutkan riwayat dari Abdurrazzaq dan Abu Dawud tentang ayat yang menasikh(menghapus) hukum nikah mut`ah. Ia ditanyai tentang ayat ini: Benarkah ayat ini dimansukh? Ia menjawab: Tidak. Ali bin Abi Thalib berkata: Kalau sekiranya Umar tidak melarang nikah mut`ah, niscaya tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

Dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Kami melakukan nikah mut`ah dengan mahar segenggam kurma dan gandum, beberapa hari pada zaman Rasulullah saw dan khalifah Abu Bakar, sehingga Umar melarangnya karena kasus Amer bin Huraits.

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Malik dan Abdurrahman meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa pada suatu hari Khawlah binti Hakim datang dan melapor kepada Umar bin Khattab: Sesungguhnya Rabi`ah bin Umayyah melakukan mut`ah dengan seorang perempuan hingga ia hamil. Kemudian Umar keluar dari rumahnya sambil menarik-narik bajunya dan berkata: Inilah akibat mut`ah, kalau sekiranya aku sudah membuat keputusan tentangnya sebelumnya, niscaya aku rajam ia.

Dalam Kanzul Ummal, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ummu Abdillah binti Abi Khaitsamah, ia berkata: Pada suatu ketika ada seorang laki-laki datang ke negeri Syam, dan ia tinggal di rumahku. Ia berkata, aku tidak tahan hidup sendirian, carikan aku perempuan untuk mut`ahi. Ummu Abdillah berkata: Aku tunjukkan padanya seorang perempuan, dan ia memenuhi persyaratannya dan berjanji untuk berlaku adil; kemudian ia tinggal bersama perempuan itu dan melakukan apa yang ia inginkan. Setelah ia pergi aku memberitakan kejadian itu kepada Umar bin Khattab, lalu ia mengirim utusan kepadaku dan bertanya: Benarkah kejadian itu? Ya, jawabku. Utusan itu berkata: Jika laki-laki itu benar-benar melakukannya, bawalah perempuan itu ke sini; jika laki-laki benar melakukannya, aku akan menceriterakan hal itu kepada Umar bin Khattab. Selajutnya Umar bin Khattab memanggilnya dan bertanya: Mengapa kamu melakukan hal itu? Laki-laki itu menjawab: Aku melakukan hal ini pada zaman Nabi saw dan beliau tidak melarangnya hingga beliau wafat. Dan hal yang sama juga aku lakukan pada zaman Abu Bakar dan ia tidak melarangnya sampai ia meninggal; kemudian aku lakukan pada zaman Anda, dan Anda pun belum pernah menceriterakan kepada kami dasar pelarangan melakukan hal ini. Kemudian Umar berkata: Demi Zat yang menguasai diriku, sekiranya kamu melakukan hal ini, niscaya aku rajam kamu. Kemudian laki-laki itu berkata: Jelaskan kepadaku sehingga jelas bagiku perbedaan antara nikah dan zina.

Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad meriwayatkan dari `Atha`, ia berkata: Setelah Jabir bin Abdullah selesai melakukan umrah, kami berkunjung ke rumahnya, ketika itu ada sekelompok orang bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian mereka menyebutkan mut`ah. Jabir berkata: Kami melakukan mut`ah pada masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Menurut riwayat dari Ahmad, sehingga akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Dalam Sunan Al-Baihaqi, dari Nafi`, dari Abdullah bin Umar, ketika ia ditanya tentang nikah mut`ah, ia berkata: Nikah mut`ah itu haram menurut Umar, dan sekiranya ada orang yang melakukannya, ia pasti merajamnya dengan batu.

Dalam Sunan Al-Baihaqi: Jabir berkata, Umar berdiri kemudian berkata: sesungguhnya Allah menghalalkan kepada Rasul-Nya apa yang diinginkan dengan apa yang diinginkan, maka hendaknya kamu menyempurnakan haji dan umrah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan hentikan melakukan nikah ini, tidak ada seorang pun laki-laki yang menikahi perempuan dengan waktu yang ditentukan kecuali aku rajam dia.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dari Umar bin Khattab, dalam khutbahnya ia berkata: Dua mut`ah ada pada zaman Rasulullah saw, akulah yang melarang keduanya dan memberikan sangsi atas keduanya: mut`ah haji dan nikah mut`ah.
Hmm.. mari saya terangkan silsilah Imam kami..

Imam Muhammad al Mahdi bin Hassan al Askarri bin Ali al Hadi bin Muhammad al Jawad bin Ali al Ridha bin Musa al Kazhim bin Ja’far al Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin al Sajjad bin Hussain Sayyid al Syuhada wa Hassan al Mujtaba bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah az Zahra binti Rasulullah Muhammad Saww..

Kami mendapat dan mengamalkan ajaran Islam kami dari Rasulullah dan Ahlul baitnya…

Imam Ali bin Abi Thalib as (1)
Nama : Ali bin Abi Thalib as
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan : Abu AL-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Paman Rasululullah saww)
Ibu : Fatirnah binti Asad
Tempat/Tgl Lahir : Mekkah, Jum’at 13 Rajab
Hari/Tgl Syahadah : Malam Jum’ at, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Sebab Syahadah : Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam
Makam : Najaf Al-Syarif
Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan

Anak laki-laki :

1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja?far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ?Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja?far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar

Anak Perempuan :

1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

Imam Hasan Al-Mujtaba as (2)

Nama : Hasan
Gelar : al-Mujtaba
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali bin Abi Thalib
Ibu : Fathimah az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.
Hari/Tgl Syahadah : Kamis, 7 Shafar Tahun 49 H.
Umur : 47 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Istrinya, Ja’dah binti As-Ath
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan
Anak Laki-laki : Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah
Anak Perempuan : Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fathimah, Ummu Abdullah, Fathimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

Imam Husain bin Ali as (3)

Nama : Husain
Gelar : Sayyidu Syuhada’, As-Syahid bi Karbala
Julukan : Aba Abdillah
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
lbu : Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum ‘at 10 Muharram 61 H.
Umur : 58 Tahun
Sebab Syahadah : Dibantai di Padang Karbala
Makam : Padang Karbala
Jumlah anak : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja?far
Anak Perempuan ; Sakinah dan Fathimah

Imam Ali Zainal Abidin as (4)

Nama : Ali
Gelar : Zainal Abidin, As-Sajjad
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Husein bin Ali bin Abi Thalib
Ibu : Syahar Banu
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Muharram 95 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik, di Zaman al-Walid
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 11 Laki-Laki dan 4 Perempuan
Anak Laki-laki : Muhammad Al-Baqir, Abdullah, Hasan, Husein, Zaid, ‘Amr Husein Al-Asghor, Abdurrahman, Sulaiman, Ali, Muhammad al-Asghor
Anak perempuan : Hadijah, Fatimah, Aliyah, Ummu Kaltsum

Imam Muhammad Al-Baqir as (5)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Baqir
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Zainal Abidin
lbu : Fatimah binti Hasan
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 7 Dzulhijjah 114 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik
Makam : Baqi?, Madinah
Jumlah Anak : 8 orang; 6 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ja?far Shodiq, Abdullah, Ibrahi, Ubaidillah, Reza, Ali
Anak Perempuan : Zainab, Ummu Salamah

Imam Ja?far Ash-Shadiq as (6)

Nama : Ja’far
Gelar : Ash-Shadiq
Jlillikan : Abu Abdillah
Ayah : Muhammad al-Baqir
lbu : Fatimah
Tcmpat/Tgl Lahir : Madinah, Senin 17 Rabiul Awal 83 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Syawal 148 H.
Umur : 65 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Manshur al-Dawaliki
Makam : Baqi’, Madinah
Jumlah Anak : 10 orang; 7 laki-laki, 3 perempuan
Anak Laki-laki : Ismail, Abdullah, al-Afthah, Musa al-Kadzim, Ishaq, Muhammad al-Dhibbaja, Abbas, Ali
Anak Perempuan : Fatimah, Asma, Ummu Farwah

Imam Musa Al-Kadzim as (7)
Nama : Musa
Gelar : Al-Kadzim
Julukan : Abu Hasan Al-Tsani
Ayah : Ja’far Shodiq
Ibu : Hamidah AL-Andalusia
Tempat/Tgl Lahir : Abwa’ Malam Ahad 7 Shofar 128 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at 25 Rajab 183 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Harun Ar-Rasyid
Makam : Al-Kadzimiah

Imam Ali Ar-Ridha as (8)

Nama : Ali
Gelar : Ar-Ridha
Julukan : Abu al-Hasan
Ayah : Musa al-Kadzim
Ibu : Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis, 11 Dzulqo’dah 148 H
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, 17 Shafar 203 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Makinun al-Abbasi
Makam : Masyhad, Iran
Jumlah Anak : 6 orang; 5 Laki-laki dan 1 Perempuan
Anak laki-laki : Muhmmad Al-Qani’, Hasan, Ja’far, Ibrahim, Husein
Anak perempuan : Aisyah

Imam Muhammad Al-Jawad as (9)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Ar-Ridha
Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.
Umur : 25 Tahun
Sebab Syahadah : diracun istrinya
Makam : Al-Kadzimiah
Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ali, Musa
Anak Perempuan : Fatimah, Umamah

Imam Ali Al-Hadi An-Naqi as (10)

Nama : Ali
Gelar : al-Hadi, al-Naqi
Julukan : Abu al-Hasan al-Tsaalits
Ayah : Muhammad Al-Jawad
lbu : al-Maghrabiah
Tempat/Tgl : Madinah, 15 Dzul-Hijjah/ 5 Rajab 212 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 3 Rajab 254 H
Umur : 41Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Al-Mu’tamad al-Abbasi
Makam : Samara
Jumlah Anak : 5 orang; 4 Laki-Laki dan Perempuan
Anak Laki-laki : Abu Muhammad al-Hasan, al Husein, Muhammad, Ja?far
Anak Perempuan : Aisyah

Imam Hasan Al-Askari as (11)

Nama : Hasan
Gelar : Al-Askari
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali Al-Hadi
Ibu : Haditsah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rabiul Tsani 232 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at, 8 Rabiul Awal 260 H
Umur : 28 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Khalifah Abbasiah
Makanan : Samara’
Jumlah Anak : 1 orang ; Muhammad Al-Mahdi

Imam Muhammad Al-Mahdi as (12)

Narna : Muhammad
Gelar : Al-Mahdi, Al-Qoim, Al-Hujjah, AL-Muntadzar,
Shohib Al-Zaman, Hujjatullah
Julukan : Abul Qosim
Ayah : Hasan AL-Askari
Ibu : Narjis Khotun
Tempal/Tgl Lahir : Samara’, Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 H.
Ghaib Sughra : Selama 74 Tahun, di mulai sejak kelahirannya hingga tahun 329
Ghaib Kubra : Sejak Tahun 329 hingga saat ini

Sekarang coba tolong jelaskan dari mana ibu khofifah mendapatkan sumber ajaran Islam yang ibu yakini ?
Kami juga menghormati Para sahabat Pak.. contohnya : Salman al Farisi, Abu Dzar al Ghifari, Miqdad al Kindi, Ammar ibn Yasir dan lainnya yang Shaleh dan tetap setia pada amanat Rasulullah Saww..

Salman al-Farisi r.a. berkata:”Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: “Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi.” (al-Ganduzi, Yanabi? al Mawaddah)

Berkata Jabir bin Samurrah : “Saya ikut bersama ayah menemui Nabi saww, lalu saya mendengar beliau hersabda: “Persoalan lima ini belum akan tuntas sebelum berjalan pemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka”. Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya dengar. Karena itu, beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: “Apa yang beliau katakan?”. Nabi mengatakan: “Semua khalifah itu berasal dan kalangan Quraisy”. Jawab ayahku. (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi dan Abu Daud)

Bukankah Rasulullah saww tidak meminta upah apapun kecuali agar umatnya mencintai keluarganya. Sebagaimana firman Allah (as-Syura 23). “Dan bukti kecintaan kita kepada keluarganya adalah dengan mengikuti mereka.”

Sekarang anda lebih mencintai mana? dari saya mendengar anda lebih gesit membela Umar dari pada Ahlul bait Nabi?

ibu khofifah berada dalam posisi mana? Membela Ahlul Bait Atau Bani Umayyah dan para Sufyani ?

dan kembali ke Nikah Mut’ah lalu mengapa ayat – ayat al Quran tentang halalnya nikah mut’ah masih ada sedangkan nikah mut’ah nya dilarang oleh Umar? Kalau ibu yang terhormat masih saja beranggapan Rasulullah Saww mengharamkan/melarang nikah mut’ah berarti ibu  tidak menyimak semua penjelasan saya tadi..
APA YANG DIKATAKAN RASUL SAW HARAM, YA HARAM SAMPAI AKHIR JAMAN
DAN YANG DIKATAKAN HALAL…..YA.HALAL SAMPAI AKHIR JAMAN…..
MUT’AH YA HALLLALLLL……..

menjawab fitnahan Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) bahwa nikah mut’ah menularkan penyakit, menghina dan merugikan wanita

oleh Ustad Husain Ardilla

Malam minggu lalu HP saya berdering, seseorang bertanya pada saya : “Acara Pemilihan Da’i Muda ANTEVE” menghujat syi’ah, peserta ada yang menghujat nikah mut’ah disusul komentar  Khofifah…

Saya langsung menggebrak meja menghadapi tuduhan ini..

=============================

KHOFIFUL (KHOFIFAH & GUS IPUL)

.………………

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

Dan Ulama2 di Iran tdk ada yg mengharamkan nikah mut’ah itu…

Jadi kalau ada wanita tidak tidak mau melakukan mut’ah itu tidak menjadi masalah, tetapi yg jadi masalah ketika dia mengharamkan apa yg dihalalkan Allah…
Di iran yang mayoritas adalah syiah, Wanita2nya menolak dinikahi secara mut’ah. (boleh survey)
Bahkan menurut Murtadha Muthhari tentang argumentasi boleh/tidaknya mut’ah yaitu : “Menghidupkan kembali sunnah yang telah terlupakan/terabaikan” , Ini menunjukkan bahwa mut’ah tidak populer lagi.

Kalau Ibu Khofifah Indar Parawansa (juri Pemilihan Da’i Muda ANTEVE) tidak setuju dengan Mut’ah tidak menjadi masalah, yang penting tidak mengharamkan apa yg dihalalkan Allah.. Masih lebih baik dari pada Khalifah Umar bin Khatab yg berani mengharamkan apa yg di halalkan Allah..

sebaiknya jika ingin mut’ah hendaknya meminta izin kepada orangtua sehingga tidak menjadi aib bagi ajaran Rasulullah Saw, jangan seperti ahlussunah yang bahkan sebagian ustadnya senang jika anak – anaknya berpacaran gaya barat dengan zinah yang sembunyi – sembunyi, mereka mengetahui anaknya berzinah dengan berpacaran tapi mereka membiarkan.. malah mendukung.. innalillahi wa inna ilaihi raji’un.. bahkan ada istilah ustad cinta yang di tayangkan di televisi nasional..

Ibu juga bisa menyuruh anak laki ibu untuk mut’ah dgn anak perempuan saya.. Tapi saya akan bertanya kepada anak saya yg perempuan bahwa apakah dia mau di nikahi mutah dgn anaknya ibu? kalau dia tidak mau berarti pernikahan itu tidak akan terjadi…

Dan juga apabila anak saya mau dinikahi mut’ah dengan anak laki ibu, dia akan melihat ke taqwaan anak ibu kepada Allah seberapa jauh, dan anak perempuan saya akan meminta maharnya 1 buah pesawat private jet beserta crew nya + 1 Apartemen mewah, jangka waktu mut’ahnya hanya 1 hari, dan anak perempuan saya mensyaratkan tidak boleh melakukan hubungan sex… Kalau anak ibu sanggup atas yg disyaratkan oleh anak perempuan saya maka pernikahan itu akan terjadi… Tapi kalau tidak sanggup maka tidak akan terjadi… Jadi anak saya tidak rugi kan?? dia menerima mahar tapi tidak ada hubungan sex sebelum nikah daim..

Pertanyaan saya dimana kerugian anak saya seandainya nikah mut’ah itu terjadi???

anda mengharamkan mutáh,…lalu bagaimana komentar anda ttg seorang anggota dewan dari partai “kemunafikan sekali” yang bermodalkan sunnah rasul dgn jenggot, tapi ketangkap di panti pijat lalu menangis malu karena menyesal telah mempermalukan partai…bukan karena malu kepada ALLAH…
berarti dia lebih taat pada UMAR yg melarang mutáh dari pada ALLAH ketika masuk panti pijat…atau mungkin karena UMAR tdk melarang ke panti pijat.

Apapun yg di Halalkan Allah bukan berarti wajib dilakukan… Misalnya, daging kambing itu jelas Halal, akan tetapi tidak di wajibkan utk dimakan oleh setiap muslim, bahkan kalau membahayakan dirinya krn suatu penyakit maka bisa jadi haram dimakan bgi penderita penyakit tertentu… Begitu pulah dgn Nikah Muta’ah, hal itu Halal, namun tidak wajib dilakukan oleh setiap muslim.. Yang terpenting siapapun yg mau melakukannya harus mengetahui persis syarat2 Nikah mut’ah itu agar tidak melakukan pelanggaran hukum Allah…

.
Perlu anda ketahui bahwa Nikah apapun bentuknya harus ada akadnya sedangkan dalam akad ini terdapat Ijab dan Kabul, status wanita adalah berada dalam wilayah ijab sebagai kunci dimulainya akad, bagimana anda katakan wanita sebagi objek kalau pada prinsip pernikahan akadnya adalah kepasrahan diri wanita trelebih dahulu baru berikutnya ada kata kabul (terima) dari pihak lelaki, dalam hal ini wanita harus bijaksana mempertimbangkan sebelum memasrahkan dirinya kepada lelaki bagimana konsekwensi yang terbangun setelah memasrahkan dirinya ….

Sepintas itu adalah pembelaan terhadap wanita, tapi itulah sebenarnya perkataan yang mungkar dan dusta menyamakan wanita dengan ibu. Itu bukan kata saya tapi kata quran sbb :

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun (Al-Mujaadila-2)

Dibawanya pula nama Syiah dan non Syiah. Padahal semua golongan yang membolehkan atau tidak ini merujuk pada quran dan hadist. Artinya mutah itu bukan ciptaan syiah atau non syiah. bagi saya ini menunjukkan kedangkalan pengetahuan dan pengkajian.

Biar bisa dilihat siapa yang membela wanita itu. kita yang tidak setuju dengan mutah atau ALlah yang membolehkan mutah ? …

Hukum dan perintah tuhan itu mutlak. Sekiranya semua wanita didunia ini menolaknya,…………. apa mungkin Tuhan membatalkan sebuah hukum gara gara diprotes ? … apa tuhan itu Bodoh sehingga membolehkan mutah ? …

Bagi saya, mut’ah itulah yang sesungguhnya membela para wanita. Faktanya berpa banyak PELACUR yang bertebaran saat ini ? .. baik yang terbuka atau tertutup ? …. bagaimana para wanita pelacur itu dihinahkan dan disepelekan ? dianggap kelas dua dan dimarjinalisasi ? ….. mana pembelaan terhadap kaum ini atas nama sesama wanita ? …. Bagaimana pula pembelaan kita terhadap wanita yang dijadikan simpanan para bos ?

santapan malam oknum DPR ? ….

benarlah kata Imam Ali : sekiranya mutah itu tidak dilarang tidak ada yang akan berbuat zina kecuali orang yang keterlaluan ……..

jangan sampai kita ingin mengugurkan sebuah kebenaran cuma dengan prasangka dan perasaan saja saya kira berbicara tentang kebenaran suatu hukum ato konsep manusia tidak perlu di minta pendapatnya karena yang aku pahami konsep nikah mut’ah telah di ajarkan dalam islam tinggal bagaimana hal ini di perjelas akan kebenaran dalam menjalankan dalam konteks sosialnya…serta hal ini aku ragukan kalo kita langsung melibatkan untuk menilai tanpa mengkaji terlebih dahulu karena para ibu dan wanita sangat sensitif dan mengunakan persaannya apa lagi yang belum paham, sementara mereka paham bagimana kedudukan dalam ajaran islam seperti hukum poligami bayak para ibu menolak sementara apa yang mereka tolak adalah hukum Tuhan telah ditentukan…saya sepakat kepada abang yang menyarankan untuk mengkaji bagaimana nikah Mut’ah dalam islam

Anda benar2 tidak ingin mencari kebenaran, tetapi anda mencari pendukung utk meyatakan bahwa hukum Allah itu bisa di amandemen oleh manusia dalam kasus nikah mut’ah sehingga anda ingin menanyakan kepada ibu2 dan wanita di grup ini tentang nikah mut’ah menurut pandangan mereka… Apakah kalau ibu dan wanita2 mengatakan bahwa nikah mutah itu banyak mudaratnya, lalu hukum Allah bisa di amandemen oleh para ibu2 dan wanita?

Anda sdh mengetahui bahwa nikah mut’ah itu adalah HALAL, dan yg MENGHARAMKAN adalah Khalifah ke dua Umar bin Khatab.. Dan sudah dibuktikan berdasarkan dalilnya secara jelas ke Halalan nikah Mut’ah…

Allah lebih mengetahui yg terbaik buat umat manusia… Apapun yg di halalkan itu pasti banyak manfaatnya bagi manusia itu sendiri…

Betul kita harus mengikuti ajara Rasul tanpa dikurangi dan ditambah… yang Halal tetap halal dan yg haram tetap haram…Begitu pula dgn hukum nikah mut’ah itu jelas Halal… Namun tidak wajib dilakukan setiap manusia…

Mengenai untung dan ruginya itu tergantung dari sudut mana kita memandang… Misalnya anda mengatakan dengan nikah mut’ah itu yg menjadi korban dari Buaya Darat adalah wanita.. Betul namanyanya juga Buaya darat.. tanpa ada ikatan apapun pasti yg jadi korban wanita…

Kalau wanita mendapatkan pria soleh bukan buaya darat… maka wanita itu akan selamat dari buaya darat…Sebab, Nikah mut’ah itu adalah nikah yg disepakati antara wanita dan pria… Dan Wanita yg mengucapkan ijab dan prianya yg mengabulkan… kalau wanitanya tidak mau nikah mut’ah ya tidak akan terjadi perkawinan itu.. Jadi semuanya tergantung keinginan wanitanya bukan keinginan pria…. Pria hanya menyetujui /mengabulkan permintaan wanitanya .. Dimana letak kerugian wanitanya??? Apakah wanita akan lebih beruntung kalau tidak ada ikatan perkawinan??? artinya suka sama suka???

Saya pikir konsep mut’ah itu salah satu solusi bagi yg sangat membutuhkan, baik laki2 maupun wanita. Karena saya penasaran saya pinjam pada teman buku karya Murtadha muthahhari ttg nikah mut’ah. Itu sangat bagus, khususnya bagi para mahasiswa dan mahasiswi, sebagai pengganti pacaran yg dlm Islam diharamkan. Tentu dg sarat2 tertentu yakni tdk berhubungan badan.

Jadi, saya kira nikah mut’ah itu bagus tergantung pada pelakunya. Yg harus dibina itu mental pelakunya.
Kita harus berprasangka baik bahwa tidak semua kaum ibu dirugikan oleh konsep nikah mut’ah, bahkan mungkin ada yg diuntungkan. Karena saya punya teman gadis, ketika ia tunangan ia nikahkan mut’ah oleh kedua orang tuanya dan dapat restu oleh ortu kedua belah, ia nikah mut’ah dg calonnya selama 1 tahun sampai dilangsung nikah permanen & resepsi pernikahan. Ini jelas positif. Jadi, nikah mut’ah itu, dampak negatif dan positifnya, bergantung pada pelakunya. Sama halnya nikah permanen

JANGAN MENILAI HUKUM ALLAH itu dengan SENTIMEN dan protes, apalagi dalam kasus mutah yang dinyatakan halal. Karena hukum tuhan itu pasti BERSIFAT ADIL, BAIK, dan BERMANTAAT. Bagaimanapun akan mentah Hukum Halanya mutah ini jika dikaikankan dengan ego, sentimen .. bagaimana jika itu anak saya ?? .

Nikah mutah adalah salah satu hukum Ilahi. Dari segi rukun dan syarat syahnya nikah mutah tidak jauh berbeda dg hukum nikah daim, yang membedakan adalah masalah jangka waktunya.

Mungkin bagi sebagian orang nikah mutah itu selalu identik dg pelampiasan seks. Jika tujuanya hanya untuk itu, maka nikah mutah sperti itu tidaklah dibenarkan

Betul sekali bahwa mahar itu sebaiknya sesuai kemampuan… Akan tetapi Anda mempersalahkan hukum Allah bahwa wanita disini dirugikan dalam perkawinan Mut’ah… Dan saya sdh menjawabnya… Dan pertanyaan saya dimana kerugian atas perkawinan Mut’ah itu? Anda tidak menjawabnya…

Perkawinan Imam Ali dan Fatimah itu bukan nikah mut’ah, jadi disini anda jangan mengambil contoh yg tidak sesuai… Masah anda mengambil perbandingan antara buah apel dan jeruk.. tentu berbedah..

Kan anda ingin mengawinkan putra anda dgn anak perempuan saya dgn perkawinan nikah mut’ah… Makanya saya memberikan ilustrasi demikian sesuai aturan nikah Mut’ah…. DIMANA KERUGIAN ANAK PEREMPUAN SAYA?

Jadi Nikah Mut’ah pun tidak se enaknya kaum lelaki bisa melakukan atas dasar kemauan lelaki itu… makanya disinilah kita harus membekali umat itu dgn aturan hukum yg jelas, sehingga tidak dipermainkan oleh manusia2 lelaki buaya atau lelaki hidung belang…

Anda tidak mengetahui hukum nikah mut’ah, tetapi anda langsung mengatakan bahwa nikah mut’ah merugikan kaum wanita… Apakah Allah tidak paham hukum yg DIA buat?… Dan saya bertanya tentang kerugian wanita akibat nikah mut’ah, anda tidak menjawabnya keruguian tersebut…

Sekarang ini kan sdh jelas bahwa Nikah Mut’ah itu Halal, dan yg mengharamkan Umar bin Khatab…

Sekali lgi sayakatakan bahwa hukum nikah mut’ah itu Halal, namun tidak diwajibkan utk dilakukan setiap manusia…
Setuju sekali bahwa kaum wanita diberikan kesempatan utk menyampaikan pendapat… Tetapi ketika masuk kepada Halal dan Haram maka otoritas tertinggi itu adalah Allah… Bukan manusia… Manusia hanya mentaati dan patuh, atau Menolak dan membangkang kepada Allah.. Hukum Allah tidak boleh dirubah yg Halal menjadi Haram begitupula sebaliknya atas kesepakatan manusia… Emangnya manusia lebih mengetahui hukum2 Allah atas kemudaratan dan kebaikan suatu hukum yg Allah buat???

Putri saya tidak akan laku buat pria yg hidung belang, karena putri saya, saya bekali dgn ilmu agama yg benar… Dan kalau anak ibu itu pria yg bertaqwa maka saya akan nikahkan dgn putri saya dengan pernikahan mut’ah, dgn mahar hanya quraan saja tidak menjadi masalah, tetapi anak putri saya mensyaratkan dlm pernikahan mut’ah itu tidak boleh melakukan hubungan sex selama jangkah waktu yg disepakati bersama… Kalau anak ibu yg taat beragama maka dia tidak akan melanggar perjanjian itu… Maka pertanyaannya adalah DIMANA KERUGIAN ANAK SAYA DALAM NIKAH MUT’AH SEPERTI INI? Yang jelas mereka sdh menjadi muhrim dan terhindar dari perzinaan kalau mereka pegangan tangan… karena pegangan tangan pun dgn bukan muhrimnya itu adalah perbuatan zinah..
Menurut anda siapa otoritas tertinggi yg bisa menentukan Halal dan Haram nya hukum Allah selain Allah? apa rujukannya? pasti jawabnya merujuk kepada kitab suci kitab kebenaran yakni Alquraan… Kalau kita merujuk ke Alquraan, apanya yg bahaya… krn jika kita umat berselisi dalam hadis maka kembali ke Alquraan…

Menurt Dalil2 yg ada baik sunni maupun syiah mengatakan bahwa surat an nisa 24 itu berkenaan tentang hukum Mut’ah… dan hadis yg mendukungnya pun sdh dijelaskan melalui jalur sunni dan syiah…

Ibu, Adakah ayat yg bisa membatalkan surat anisa 24? sehingga ayat itu telah dibatalkan oleh Allah dgn firman Nya? Tolong tunjukkan dengan dalil dan nash yg kuat dari jalur sunni dan syiah…

Ibu, coba anda sebutkan referensi hadis yg mengharamkan nikah Mut’ah? dan inipun sdh terjawab oleh Pa Shodiq…

Mengenai manfaat dan mudarat suatu hukum Allah itu bergantung kepada masing2 menilai dari sudut pandang mana dia melihat… Namun hukum Allah itu dapat dipastikan manfaatnya untuk manusia.. tidak ada kemudaratannya… Tapi manusianya yg melanggar hukum itu yg membuat menjadi mudarat… Dan kalau manusia yg melanggar berarti manusianya yg harus dihukum bukan hukum Allah yg di haramkan oleh manusia…

Misalnya, anda melanggar lampu merah dijalan, apakah lampuh merahnya dicabut, atau yg melanggar kena tilang? Jelas yg melanggar pasti dihukum…

Ilustrasi yg pertama saya buat bagi lelaki hidung belang yg kaya raya dgn mahar yg sangat berat dan wkatu yg singkat atas perkawinan mut’ah..

Jadi intinya, saya ingin menyampaikan kepada ibu bahwa pernikahan mut’ah itu tidak ada yg dirugikan selama masing pihak pria dan wanita nya mengetahui hukum mut’ah yg benar sesuai hukum Allah…

Terima kasih ya bu.. Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… Ini semua saya sampaikan hanya utk menegakkan hukum Allah… Bahwa hukum Allah itu pasti bermaanfaat buat manusia itu sendiri… Tetapi kebanyakan manusia tdk memahaminya….

Halal dan haram dalam satu subjek hukum mustahil inklud menjadi suatu predikat, karena bernilai kontradiktif, Mut’ah sebagai subjek hukum niscaya hanya memiliki satu predikat kalau tidak haram berarti halal, nah sekarang dalam diskusi tema ini dan tema sebelumnya, forum berusaha mencari objektifitas hukumnya berdasarkan argumentasi2 yang sudah terbangun dari rujukan berbagai pihak yang berkompeten, demikian ini mustahil bila pada akhirnya tidak tercapai titik temunya.
Perlu diketahui disini bahwa hukum nikah apapun bentuknya Temporary ( Mut’ah ) atau Permanent ( Da’im ) tentu berlaku positif dengan latar belakang dan tujuannya dengan seluruh tuntunannya, hanya saja perlu juga difahami bahwa hukumnya mempunyai dinamika bergantung pada situasi dan kondisi yang berlaku sehingga statusnya bisa berubah menjadi hukum yang beragam, Mubah Wajib, sunnah bahkan haram, yang demikian ini adalah realistis dan bukan merupakan alibi yang dibuat-buat…!

“Nikah Mut’ah sama dengan “Prostitusi Sah” mohon anda pertanggung jawabkan gimana anologi ini di jabarkan secara logis dan realistis, Nikah Mut’ah pastinya subjek berbeda dengan Prostitusi ..?!

Dalam pernikahan apapun bentuknya Wanita harus siap dengan segala kedewasaannya, apalagi dari pihak wanita yang memulai perkawinan melalui Ijab yang disampaiukan kepada lelaki, hukum tidak bisa dinegasikan karena oknum pelakunya yang tidak konsekwen terhadap tuntunannya. Apakah kalau bernikah sirri (sebagimana yang anda sarankan) tidak menutup adanya kasus penyimpangan juga..?

aku tidak mau menyelewengkan hukum Allah hanya karena hati yang diliputi hawa nafsu.Janganlah mengharamkan apa yang sudah dihalalkan.Bukankah imam Ali sudah mengatakan andai saja Umar tidak mengharamkan mutah maka tidak akan ada zina dimuka bumi ini kecuali dia sudah benar2 kufur.Islam ini rahmat,jadi Allah telah mempermudah kita,kenapa mempersulit diri sendiri.Mencari2 pembenaran terhadap pikiran2 manusia yg selalu dipermainkan syetan.
Mengikuti hadis tsaqalain mengenai Pesan Rasul saw untk bpegang pd al-Qur’an dan ahlulbaitnya agar tdk terSESAT, so… Klo mutah aja msh diperselisihkan hukumnya yg jelas sdh ada ptunjuknya dr al-Quran & ahlulbait, sama aj nyesatin diri sendiri ^_^
Nikah mut’ah ADA dalam Islam, dan hukumnya halal SEJAK ZAMAN NABI saw HINGGA HARI KIAMAT, karena ayat tersebut (An-Nisa': 24) hukumnya tidak pernah dimansukh. Pendapat ini disepakati oleh SEMUA ULAMA dari kalangan mazhab Ahlul bait (as), dan SEBAGIAN ULAMA Ahlussunnah juga berpendapat seperti ini.

maka
halal nya nikah mut’ah akan tetap seperti itu, mulai dibolehkannya oleh Allah swt, para RasulNya yg maksum & para ImamNya yg maksum, hingga kiamat, asalkan “benar” caranya, namun sesuatu yg halal akan menjadi haram jika “salah” caranya.

Contoh praktis sbb:
Minum madu itu adalah halal, bahkan dianjurkan. Namun jika “caranya” salah, mis: minum 1 tong@50 liter sekaligus, maka akan jadi “haram”. Penyebab haramnya bukan karena madunya an-sich, namun karena cara minum madunya, bukan karena madunya itu sendiri.

Nah, kini “madu” disini adalah “nikah”, baik itu mut’ah (temporarry) atau da’im (permanent).

Seseorang dapat menikmati “madu” secara permanen atau temporary asal minumnya tak sekaligus 1 tong@50 liter, sebab pencernaannya tak akan mampu (salah caranya)

.
Jika dia mengambil 1 tong madu sekaligus diminum, atau,
Sebagian kecil diminum, smentara sebagian besar didiamkan saja, maka ada sebagian besar madu yang terlantar, akibatnya madu itu akan rusak/mubazir.

Seorang pria dapat mengkabul ijab “nikah” wanita secara permanen atau temporary, asalkan tak mengkabul ijabnya 1000 wanita sekaligus, sebab kapasitas lahir/batin pria tsb tak akan mampu (salah caranya), atau,

Mengkabul sebagin kecil saja, sementara sebagian besar istri2nya didiamkan saja, sehingga banyak istrinya yg terlantar, akibatnya rusak lahir/batin istri2nya itu, sehingga terjadi mubazir.

Jadi yang lebih penting adalah berlakunya prinsip “kewajaran/keadilan, saling setuju antar pihak, dan tidak melebihi kapasitas” sehingga tak terjadi kemubaziran dalam hal apa saja yang halal (contoh: minum madu, atau mengabulkan ijabnya para wanita).

Mudah2an dapat dipahami oleh akal sehat, tanpa prasangka buruk.
Protokoler (cara) nikah mut’ah maupun da’im sudah banyak dibahas, namun yang lebih penting adalah “implementasi”nya, jangan sampai NIKAH hanya ada di KERTAS, namun tak ada di REALITAS kehidupan manusia

.
Secara ringkas nikah mut’ah adalah sbb:
1. LAMARAN (boleh oleh calon mempelai pria atau wanita).
Jika hal-hal yg dilamar (dipropose) telah disepakati oleh kedua belah pihak, maka
2. IJAB (oleh pihak wanita, dengan menyebutkan jangka waktu, syarat2 yg jika dilanggar dengan sendirinya nikah menjadi batal / tidak berlaku lagi, walau belum jatuh temponya)
3. QABUL (oleh pihak pria, yang menegaskan bahwa jangka waktu dan syarat2 yg diajukan pihak wanita seluruhnya dapat dikabulkan)
4. MAHAR (wajib diberikan jika kedua belah pihak telah bercampur)

.
Anda asal ikutan saja… kenapa.. Jelas2 Umar sendiri yg mengatakan bahwa dialah yg mengharamkan hukum Mut’ah… sekarang anda menanyakan bahwa kenapa Imam Ali tidak melarangnya… Wong Nabi Muhammad saja dikhianati oleh umar apalagi mau mendengar perkataan Imam Ali…
Makanya Imam Ali jelas mengatakan bahwa kalau Umar tidak melarang nikah mut’ah maka tidak ada manusia yg melakukan perzinaan kecuali manusia yg celaka…. Ini Jelas Hadisnya penentangan terhadap keputusan/ijtihad umar…

Anak yg lahir dari nikah mut’ah tidak hanya mewarisi nasab ayahnya (paternal), atau ibunya saja (maternal); melainkan mewarisi nasab kedua orang-tuanya (parental).

Anak itu juga (dapat) mewarisi harta, ilmu, tradisi kedua orang tuanya, asalkan memenuhi syarat2 tertentu.
Sedangkan Allah SWT Maha Bijaksana dalam menetapkan hukum. Jika hukum halal itu berdampak negatif, maka bisa jatuh haram bagi org2 tertentu. Ini banyak sekali contohnya, sehingga tak perlu dituangkan di sini.

Sekali lagi nikah Mut’ah itu adalah pernikahan yg di HALAL KAN Allah… Namun tidak wajib dilakukan…. JELAS… Tergantung dari masing2 individu… Sama halnya dengan daging kambing itu Halal, namun tidak wajib harus makan daging kambing… tergantung individu masing2… JELAS… Anda ini memaksa org syiah itu wajib melakukan mut’ah…. Dan saya sudah katakan dari awal bahwa mut’ah itu bukan kewajiban tetapi perbuatan yg di halalkan Allah… Dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab… Anda baca baik2 lgi ya.. Bahwa NIKAH MUT’AH ITU ADALAH PERNIKAHAN YG DIHALALKAN, TETAPI TIDAK WAJIB DILAKUKAN… TERGANTUNG DARI INDIVIDU MASING2..

YANG MENJADI MASALAH BESAR ADALAH MENGHARAMKAN APA YG DIHALALKAN ALLAH, DAN MENGHALALKAN APA YG DIHARAMKAN ALLAH…

Hukum Mut’ah itu jelas di HALAL kan oleh Allah, namun bukan sesuatu yg diwajibkan utk dilakukan, sama halnya seperti daging kambing itu halal utk dimakan tetapi tidak wajib utk dimakan oleh setiap muslim… Untuk itu kalau ditanyakan bahwa Nabi Saww, Imam Ali, Imam Khomeni, Imam Sistani.. mereka tidak melakukannya, namun mereka semua tidak berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah… Karena itu mereka adalah hambah Allah yg TAAT kepada Allah… Lain halnya dengan Umar bin Kahtab, dia berani meng HARAM kan apa yg di HALAL kan oleh Allah…

Jadi jelas sekali hukum Allah itu… Namun kebanyakan manusia tidak beriman… inilah firman Allah…

HALAL nya nikah mut’ah bukan berarti harus di lakukan oleh setiap muslim… Tapi jangan juga berani mengharamkan hukum Allah, kecuali mau mengikuti jejak Umar bin Khatab yg menjadi pemipin kaum perzinaan.. karn Imam Ali mengatakan bahwa kalau saja Umar tidak mengharamkan pernikahan mut’ah maka tidak ada manusia yg berzina, kecuali orang jahil/bodoh…

Namun pada faktanya kebanyakan orang mengikuti ijtihad Umar… Nah, apa ibu kepingin menjadi bagian manusia yang kebanyakan itu??? Tanyakan Ali Reza apa sindiran Allah dalam firman Nya mengenai kebanyakan manusia itu??? Ali Reza lebih paham… dia itu sobatnya Umar Surabaya, Usman, dan Umar bin Khotob…

Ini tulisan Ali Reza yg dia kutip dari Alquraan tentang kebanyakan manusia itu bagaimana???:

Allah swt berfirman dalam Alquran :

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati bicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu kehadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. 6:111)

Allah berfirman :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka LEBIH SESAT lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Juga dalam firmanNya:

44. atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu). (QS. 25:44)

Lihatlah sudara Usman dengan bangganya mengatakan bahwa org syiah tidak menjawabnya… sudah terjawab semuanya tentang Hukum mut’ah itu..

Anda tau bahwa anda bagian dari kebanyakan umat yg tidak beriman yg disindir oleh Allah itu..
Hukum Allah mengenai HALAL dan HARAM itu tidak bergantung kepada pendapat umum manusia… Manusia itu adlah ciptaan Allah dan Allahlah yg lebih mengetahui mana yg terbaik buat umatnya…

Semua ulama ahli tafsir sunni dan syiah sepakat bahwa surat an nisa 24 itu mengenai HALAL nya pernikahan mut’ah, dan tidak ada ayat yg membatalkan surat an nisa 24 itu, dan tidak ada hadis yg bisa membatalkan ayat quraan…. Ini sangat jelas sekali..

Namun yg mengharamkan itu adalah Umar bin Khatab… Apakah dia bisa membatalkan hukum Allah??? Apakah dia lebih mengetahui daripada Allah yg menciptakan alam semesta ini? Apakah para wanita lebih mengetahui daripada Allah tentang hukum2 Nya? Apakah Allah tidak mengetahui hukum Nya sehingga DIA tidak membatalkan Nya???

Sekali lagi saya katakan bahwa:
NIKAH MUT’AH ITU HALAL DAN BUKAN SUATU KEWAJIBAN UMAT ISLAM UTK DILAKUKAN… KALAU PARA IBU DAN BAPAK TIDAK MAU MELAKUKAN DAN MENGHARAMKAN UTK DIRINYA SENDIRI ITU BISA DITERIMA, TETAPI KALAU KITA MENGHARAMKAN UTK UMAT ISLAM MAKA ANDA TELAH MEMBANGKAN DENGA HUKUM ALLAH… INI JELAS SEKALI…

hukum nikah mut’ah itu menyangkut pria juga.. agar pria mengetahui bahwa tidak bisa juga sembarangan melakukan nikah mut’ah…. kalau melakukan mut’ah tidak sesuai syariah juga akan menjadi penyelewengan hukum Allah… Sama halnya nikah daim/permanen kalau dilakukan tanpa mengetahui syariahnya maka akan terjadi penyelewengan dan akan mudarat juga… sama halnya kalau mau makan kambing tapi tidak mengetahui secara syariahnya akan menjadi haram dimakan…

Hukum Allah itu sangat jelas kalau kita kembali mengambil ilmu Allah dari sumbernya yakni Nabi Muhammad melalui pintunya Imam Ali dan 11 imam berikutnya… Namun kebanyakan manusia itu mengambil ilmu Allah dari para sahabat Nabi bukan melalui pintunya, jadi beginilah akibatnya…

Disinilah kembali lagi ke Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu tidak beriman…Jadi jelas, pengikut ahlussuna wal jamaah dan kaum wahabi itulah kebanyak dari umat Islam, yg dianjurkan Allah agar jangan mengikutinya… Karena mereka akan membawa kearah kesesatan… Tanyakan  tentang kebanyakan manusia itu bagimana dalam sindiran Allah di dalam kitab Alquraan…

pertanyaannya adalah, Apakah hadis dapat membatalkan ayat quraan??? semua ulama akan sepakat mengatakan TIDAK BOLEH…

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada ayat quraan yg membatalkan surat an nisa 24 tentang hukum mut’ah? kalau ada silahkan ibu sebutkan…

Jadi jelas sekali, hukum nikah mut’ah itu jelas HALAL, dan yg mengharamkan adalah Umar bin Khatab atas pengakuannya sendiri bahwa mutah masih berlaku di zaman Nabi Saww dan mulai saat ini saya meng haramkan nya… Jadi apa otoritas Umar berani meng Haramkan apa yg dihalalkan Allah…

Mabk, Afifa, sekarang jelas tidak mengenai HAlal dan Haramnya nikah Mut’ah??? kalau belum jelas tolong dimana ketidak jelasan HALAL dan HARAM nya nikah mut’ah… Setelah itu baru kita masuk bab berikutnya mengenai syarat2 mut’ah itu dan bagaimana melakukannya agar sesuai dgn syariah.. TIDAK SEPERTI YG DIPUNCAK ITU….

Apapun sesuatu yg Halal kalau dikerjakan tidak sesuai dgn syariah maka akan menjadi haram… Untuk itu saya mengajak untuk mengetahui dulu dan memahami HALAL dan HARAM nya pernikahan mut’ah… Termasuk nikah Daim/permanen kalau tidak sesuai dgn syariah maka akan terjadi ke zoliman…

Maaf kalau ada kata2 yg menyinggung… semua ini krn saya ingin menjelaskan hukum pernikahan Mut’ah ini sebatas pengetahuan saya…
Kalau ada yg mengakui pengikut Syiah lalu mengharamkan apa yg dihalalkan Allah maka dia bukan dari golongan syiah, dalam hal ini ulama2 syiah sepakat bahwa Hukum Nikah mut’ah itu adalah HALAL…. dan sebagian Ulama2 sunni dan syiah meng Halalkan Nikah Mut’ah itu…

Kalau ada yg membaca tulisan dan komentar anda hanya org2 kebanyakan yg akan membenarkannya… karn saya paham sepaham-pahamnya Firman Allah bahwa kebanyakan manusia itu mengambil jalan kesesatan…

Nikah Mut’ah itu adalah HALAL, dan anda lebih mulia dimata Allag ketiban Umar bin Kahatb dan pengikutnya yg berani meng HARAM kan hukum Allah yg jelas2 HALAL…

Mengenai org2 mulia tidak melakukan pernikahan mut’ah itu bukan berarti mereka harus meng HARAM kan apa yg di HALAL kan Allah, krn kita tau mereka itu adalah Hambah2 yag Taat dan sangat mulia di hadapan Allah sehingga mereka tidak berani meng Haramkan apa saja yg di Halalkan oleh Allah…. Berbeda dgn si Umar bin Khatab dia lebih pandai dari Allah…

saya juga sepakat anda bahaw segala sesuatuyan HALAL kalau dilakukan tidak sesuai syariah Allah termasuk dan tidak terbatas pada hukum perkawinan mut’ah maka akan menjadi mudarat dan haram dilakukan… Karena itu pasti dilakukan dgn hawa nafsu kebinatangan…

Nikah permanen / Daim kalau dilakukan tidak sesuai syariah maka akan menjadi mudarat.

Makan daging kambing yg halal akan menjadi haram kalau didapatkan dari hasil yg tidak halal dan dipotong tidak sesuai syariah akan menjadi Haram..

Sedekah juga demikian, kalau anda memberikan sedekah dari uang haram maka sedekah anda tidak diterima…

Jadi, apapun yg kita lakukan harus sesuai dgn syariah termasuk nikah mut’ah… Kalau ada umat yg melanggar syariah termasuk nikah mut’ah itu maka kita tidak boleh mengharamkan hukum Allah… Namun para pelanggar lah yg harus di hukum… dan kalau dia lolos dari hukum dunia, dia tidak akan lolos dari hukum akherat… karna Allah mencatat setiap perbuatan umat Nya Zolim….
Mereka no-syiah itu sebenarnya paham bahwa Nikah mut’ah itu Halal… Namun mereka salah pengertian bahwa meskipun Halal bukan berarti wajib di lakukan utk setiap muslim…

Sama halnya dgn halalnya daging kambing, tapi tidak semua umat islam diwajibkan makan daging kambing…

Mereka juga, sering mengatakan Nikah Mut’ah itu adalah bentuk perzinaan yg dilegalkan…. Disinilah kebodohan mereka yg mengharamkan hukum Allah… Karena jelas beda antara zina dan nikah… Zina itu melakukan hubungan pria dan wanita tanpa ijab dan kabul… sementara nikah mut’ah melakukan hubungan antara pria dan wanita dgn di awali ijab kabul terlebih dahulu… Perzinaan tidak ada masa iddah, sementara mut’ah ada masa iddha..

Nikah mut’ah itu di HALAL kan Allah, sementara perzinaan di HARAM kan Allah..

Nikah Mut’ah di dalam Al-Qur’an

Ummat Islam sepakat tentang dasar syariat nikah mut’ah, hanya saja yang menjadi perbedaan pendapat, adalah apakah hukum nikah mut’ah itu dimansukh (dihapus) atau tidak? Umumnya ulama Ahlussunnah berpendapat dimansukh, sedangkan ulama mazhab Ahlul bait sepakat bahwa hukum nikah mut’ah tidak dimansukh.

Dalil disyariatkannya nikah mut’ah terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Di dalam Al-Qu’an terdapat dalam Surat An-Nisa’: 24. Ayat ini diturunkan untuk menetapkan syariat nikah mut’ah. Keterangan lebih rinci silahkan merujuk pada kitab-kitab berikut:

1. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.
2. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 474.
3. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 200 dan 201, cetakan Al-Amirah, Mesir.
4. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5, halaman 9, cetakan lama.
5. Tafsir Abi Sa`udah, catatan pinggir tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 251.
6. Tafsir An-Naisaburi, catatan pinggir Ath-Thabari, jilid V, halaman 18.
7. Tafsir Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari, jilid 1, halaman 498, cet Bairut.
8. Tafsir Al-Khazi, jilid 1, halaman 357.
9. Tafsir Al-Alusi, jilid V, halaman 5.
10. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 1, halaman 259.
11. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid 3, halaman 218.
12. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 140.
13. Tafsir Nailul Awthar, jilid VI, halaman 270 dan 275.
14. Tafsir Al-Baidhawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin jilid 1, halaman 423.
15. Syarah Shahih Muslim, oleh An-Nawawi, bab Nikah Muth’ah, jilid 9, halaman 140.
16. Sunan Al-Baihaqi, jilid VII, halaman 205.
17. Mustadrak Al-Hakim, jilid 2, halaman 305.
18. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 346, cetakan lama.
19. Bidayatul Mujtahid, jilid 2, halaman 178.
20. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 497 dan 498.
21. Al-Idhah oleh Ibnu Syadzan, halaman 440.
22. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 2, halaman 178.
23. Az-Zuwaj Al-Muwaqqat fil Islam, halaman 32 dan 33.
24. Al-Bayan, oleh Al-Khu’i, halaman 313.
25. Ath-Tharaif, Ibnu Thawus, halaman 459.
26. At-Tashil, jilid 1, halaman137.
27. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 148, cetakan Najef.
28. Kanzul Irfan, jilid 2, halaman 2, halaman151.
29. Al-Mut’ah, Al-Fukaiki.
30. Dalailul Shidqi, Al-Mudhaffar, jilid 3.
31. Al-Fushulul Muhimmah wal Masailul Fiqhiyyah, Syarafuddin Al-Musawi.
32. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 229-235.
33. Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Al-Andalusi Al-Qadhi, jilid 1, halaman 162.

Umar bin Khaththab yg Menghapus Nikah Mut’ah

Alasan Umar bin Khatab melarang nikah mut’ah tertera dalam riwayat dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “Kami melakukan nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma dan tepung selama beberapa hari pada zaman Rasulullah SAW dan zaman Abu Bakar, sehingga Umar melarang selubungan dengan prsoalan ‘Amir bin Huraits.” Silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah, jilid 4, halaman 131,cet Al-Amirah.
2. Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi,jilid 9,halaman 183.
3. Al-Mushanaf, Abdurazzaq,jilid 7,halaman 500.
4. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7,halaman 304.
5. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 304.
6. Za’dul Ma’ad, Ibnu Qayyum, jilid 1, halaman 205.
7. Fathul Bari,jilid 11,halaman 76.
8. Kanzul Ummal,jlid 8,halaman 293.

PARA SAHABAT DAN TABI’IN
Yang Menghalalakan Nikah Mut’ah

Para sahabat dan Tabi’in yang menhalalkan nikah mut’ah, antara lain:
1. Imran bin Hushain, silahkan rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab haji,jilid 1,halaman 474.
2. Shahih Bukhari, kitab tafsir Surat Al-Baqarah, jilid 7,halaman 24,cet tahun
1277H.
3. Tafsir Al-Quthubi,jilid 2,halaman 265;jilid 5,halaman 33.
4. Tafsir Ar-Razi,jilid 3,halaman 200 dan 202, cet. Pertama.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi 3/200.
6. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid , halaman 218.
7. Sunan Al-Kubra,Al-Baihaqi,jilid 5,halaman 20.
8. Sunan An-Nasa’i,jilid 5, halaman 155.
9. Musnad Ahmad,jilid 4, halaman 436,cet.pertama, dengan sanad yang shahih.
10. Fathul Bari,jilid 3,halaman 338.
11. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 198-201.
12. Al-Mihbar,Ibnu Habib,halaman 289.
13. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 64.
14. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.

2. Jabir bin Abdullah Al-Anshari.Silahakan rujuk:

1. Umdatul Qari,Al-’aini’,jilid 8,halaman 310.
2. Bidayatul Mujatahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 58.
3. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 1,halaman 39.
4. Musnad Ahmad,jilid 3,halaman 380.
5. Tibyanul Haqaiq,syara Kanzud Daqaiq.
6. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
7. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 205,206,208,dan209-211.
8. Jami’ul Ushul,Ibnu Atsir.
9. Taysirul Wushul,Ibnu Daiba,jilid4,halaman 262.
10. Za’dul Ma’ad,Ibnu Qayyum,jilid1,halaman 144.
11. Fathul Bari,Ibnu hajar,jilid 9,halaman 141dan 150;jilid 9,halaman
172 dan174, cet. Darul Ma’rifah.
12. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294,cet.pertama.
13. Catatan pinggir Al-Muntaqa,Al-Faqi,jilid 2, halaman 520.
14. Al-Muhalla,Ibnu hazm,jilid 9,halaman 519.
15. Nailul Awthar,jilid 6,halaman 270.
16. As-Sarair,halaman 311.
17. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
18. Mustadrakul Wasail,jilid 2,halaman 595.
19. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.
20. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 44.
21. Al-Mushannaf,abdurrazzaq,jilid 7,halaman 497.
22, Ajwibah Masail Musa Jarullah,Syarafuddin Al-Musawi,halaman 111.

Pendapat yang mengatakan bahwa Jabir bin Abdullah Al-Anshari mengeluarkan pengharaman nikah mut’ah, itu tidak benar,Silahkan rujuk: Muqaddimah Mir’atul ‘Uqul, jilid 1,halaman 299.

3. Abdullah bin Mas’ud, Silahkan rujuk:

1. Shahih Bukhari, kitab nikah mut’ah; Shahih Muslim,jilid 4,halaman 130.
2. Ahkamul Qur’an,Al-Jashshash,jilid 2,halaman 184.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 200.
4. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5, halaman 130.
5. Tafsir Ibnu Karsir, jilid 2, halaman 87.
6. Ad-Durul Mantsur,jilid 2, halaman 207, menukil darai 9 Huffazh.
7. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 220.
8. Al-Muhalla, Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
9. Al-Bayan,Al-Khu’i,halaman 320.
10. Za’dul Ma’ad,jilid 4, halaman 6; jilid 2,halaman 184.
11. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani, catatan pinggir Al-Munraqa, jilid 2,halaman
520.
12. Syarhul Lum’ah,jilid 5,halaman 282.
13. Fathul Bari,jilid 9,halaman 102 dan 150; jilid 9, halaman 174,cet. Darul
Ma’rifah
14. Syarhun Nahji, Al-Mu’tazili, jilid 12,halaman 254.
15. As-Sarair, halaman 311.
16. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 150.
17. Mustadrakul Wasail ,jilid 2,halaman 595.

4. Abdullah bin Umar.

At-Tirmidzi meriwatyatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Umar,ia ditanya
oleh seorang laki – laki dari penduduk Syam tentang Nikah mut’ah maka ia menjawab: “Nikah mut’ah itu hal.”Kemudian laki-laki itu berkata,:”Tetapi ayahmu telah melarangnya.” Maka ia berkata :”Bila kamu telah mengetahui,ayahku melarangnya, sedangkan Rasulullah SAW membolehkannya, apakah kamu akan menunggalkan sunnah Rasul lalu mengekitu ayahku.”

Riwayat ini juga diriwatyatkan oleh :

1. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 460,cet.Qum.
2. Syarhul Lum’ah,Asy-Syahid Tsani,jilid 5,halaman 283.
3. Jawahirul Kalam,An-Najafi,jilid 30,halaman 145.
4. Dalailush Shidqi,jilid 3,halaman 97.
5. Al-Bihar, Al-Majlisi,jilid 8,halaman 286,cet.lama, mengutip dari Shahih
At-Tirmidzi.

Tetapi,kami tidak mendapati riwayat ini dalam Shahih Tirmidzi dalam makna ini, yang kami dapati riwayat yang mendekati maknanya tentang Mut’ah haji, yakni ia ditanyai tentang mut’ah haji. Rujuklah kitab tersebut,jilid i,halaman 157; dan cet.yang lain jilid 3, halaman 184.
Bisa jadi riwayat tersebut dibuang atau diselewengkan,Allah Maha Mengetahui.

Al-Araji meriwayatkan,ada seorang k\laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar tentang nikah mut’ah,ketika itu aku berada disisinya,maka ia berkata: “Demi Allah,
pada zaman Rasulullah kami bukan orang – orang yang berzina dan berbuat keji.”

Tentang riwayat ini silahkan rujuk:
1. Musnad Ahmad,jilid 2,halaman 95,hadis 5694; jilid 2,halaman104, hadis 5808.
2. Majma’uz Zawaid,jilid 7, halaman 332 – 333.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1, halaman 295.

Riwayat bahwa Ibnu Umar mengharamkan nikah mut’ah silahakan rujuk:
1. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 265, ia mendhaifkan riwayat ini.
2. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 502.
3. Mushannaf Ibni Abi Syaiba, jilid 4,halaman 293.
4. Tafsir As-Syuthi, jilid 2,halaman 140.
5. Sunan Al-Baihaqi, jilid 7, halaman 206.
6. Muqaddimah Mir’atul’Uqul, jilid 1,halaman 295.

5. Muawiyah bin Abi sofyan, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Umdatul Qari, al-’Aini,jilid 8, halaman 310.
3.Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2, halaman 520.
4. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 314.
5. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 458.
6. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
7. Jawahirul Kalam, jilid 30,halaman 150.
8. Syarhul Muwaththa’,Az-Zarqani.
9. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496 – 499.
10. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174,cet.Darul ma’rifah.

6. Abu Said Al-Khudri,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9, halaman 519.
2. Umdatul Qari,jilid 8, halaman 310.
3. Catatan pinggir Al-Munraqa,jilid 2,halaman 520.
4. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abl Hadid,jilid 12/254.
5. Fathul Bari,jilid 9, halaman 174.
6. As-Sarair, Ibnu Idris,halaman 311.
7. Al-Bayan,Al-Khu’i, halaman 514.
8. Al-Ghadir, jilid 6, halaman208 dan 221.
9. Jawahirul Kalam,jilid 30, halaman 150.
10. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam, halaman 125.
11. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 22.
12. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 264.
13. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 571.
14. Al-Mughni, Ibnu Qudamah,jilid 7, halaman 571.

7. Salamah bin Umayah bin Khalf, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla, jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani.
3. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 63.
4. Catatan pinggir, Al-Muntaqa, jilid 2, halaman 520.
5. Al-Bayan, halaman 314.
6. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 221.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 314.
9. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.
10. Nailul Awthar.
11. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 61; jilid 4,halaman 324.
12. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 499.

8. Ma’bad bin Muawiyah, silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwatha’, Az-Zarqani.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 137.
7. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq,jilid 7,halaman 499.Dan dalam diterangkan bahwa
Ma’bad dilahirkan dari nikah mut’ah.
8. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.

9. Zubair bin Awwam,ia melakukan nikah mut’ah dengan Asma’ puteri Abu Bakar,dan melahirkan anak bernama Abdullah.Silahkan rujuk:

1. Al-Muhadharat,Al-Raghib Al-Isfahani,jilid 2,hal.94.
2. Al-Iqdu Al-Farid,jilid 2,halaman 139.
3. Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 208 dan 209.
5. Murujudz Dzahabi,jilid 3, halaman 81.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 101 dan 127.
7. Syarah Najul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

10. Khalid bin Muhajir bin Khalid Al-Makhzumi,rujuk:

1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah ,jilid 4,halaman 133,cet. Al-
Amirah.
2. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 205.

11. Amer bin Huraits, silahkan rujuk:

1. Fathu Bari,jilid 9,halaman 141; jilid 11/76.
2. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 293.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Bayan,halaman 314.
5. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
6. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 4,halaman 131.
7. Al-Mushanaf,jilid 7,halaman 500.Dan dalam kitap ini tertulis Amer bin
Hausyab,penyimpan dari Aner bin Hiraits.

12. Ubay bin Ka’b,silahakan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9, tentang bacaan Ubay”Ila ajalin
Musamma”
(dalam ayat mut’ah).
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
3. Al-Jawahir,jilid 30,halaman150.
4. Ahkamul Qur’an,,Al-Jshshash, jilid 2, halaman 147.

13. Rabi’ah bin Umayah,silahkam rujuk:

1. Al-Muwaththa’, Al-Maliki,jilid 2,halaman 30.
2. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
3. Al-Umm,Asy-Syafi’i,jilid 7,halaman 219.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Musnad Asy-Syafi’i, halaman 132.
6. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 503.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Al-Ishaba,jilid 1,halaman 514.
9. Tafsir As-Suyuthi,jilid 2,halaman 141.
10. Ajwiba Masail Musa Jarullah, Syarafuddin Al-Musawi, halaman 116.

14. Sumair,dan bisa jadi Sammarah bin Jundab, silahkan rujuk:

1. Al-Ishabah,Ibnu Hajar, jilid 2,halaman 519.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.

15. Said bin Jubair,silahkan rujuk:

1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Tafsir Ibnu Katsir.
5. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496.
6. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Habil Hadid,jilid 12/254.

16. Thawus Al-Yamani, silahkan rujuk:

1.Al-Muhalla, jilid 9,halaman 915.
2. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
4. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 7,halaman 571.

17. ‘Atha’ Abu Muhammad Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 497.
2. Bidayatul Mujtahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 63.
3. Al-Muhalla,jilid 9, halaman 519.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
5. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
6. Mukhtashar Jami’Bayan Al-Ilmi,halaman 196, sebagaimana dikutip di dalam
Ajwibah masail Musa Jarullah,halaman 105. Silahkan rujuk: Dirasat wal
Buhuts fit Tarikh wal Islam jilid 1/14,tetapi Sa’udi membuang riwayat ini
dari kitab Jami’
Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi ketika dicetak pada tahun 1388.H.

18. As-Sudi, Silahkan rujuk:

1. Tafsir As-Sudi.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.

19. Mujahid,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jild 5,halaman 9.
2. Al-Ghadir, jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.
4. Syarah Nahjul Bajaghah, Ibnu Hadid, jilid 12/254.

20. Zufar bin Aus Al-Madani,silahkan rujuk:

1. Bahrur Raiq,Ibnu Najim,jilid 3, halaman 115.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.

21. Abdullah bin Abbas,silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5, halaman 9.
2. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash,jilid 2,halaman 147.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
4. Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari,jilid 1,halaman 519.
5. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 130 dan 133.
6. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
7. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 9,halaman 571.
8. Fathul Bari,jilid 9,halaman 172, cet. Darul Ma’rifah.

22. Asma’ puteri Abu Bakar,silahkan rujuk:

1. Musnad Ath-Thayalisi, hadis 1637.
2. Al-Muhalla,Ibnu Hazm, jilid 9,halaman 519.
3. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

Ibnu Hazm, dalam kitabnya Al-Muhalla 9/519, setelah manetapakan jumlah sahabat yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Ini diriwayatkan dari Jabir dan seluruh sahabat sejak masa Rasulullah SAW,Abu Bakar, dan sampai pertengahan masa kekhalifahan Umar. Kemudian ia berkata: Dari tabi’in adalah Thawus, Said bin Jubair dan seluruh fuqaha Mekkah.

Abu Umar, penulis kitab I-Isti’ab berkata, bahwa sahabat – sahabat Ibnu Abbas dari penduduk Mekkah dan Yaman, semuanya memandang nikah mut’ah adlah halal menurut mazhab Ibnu Abbas, sementara semua manusia mengharamkan. Silahkan rujuk:

1. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 133.
2. Fathul Bari,jilid 9,halaman 142,cet. Darul Ma’rifah.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya 5/132 berkata : penduduk Mekah banyak mempraktekan nikah mut’ah.

Ar-Razi dalam tafsirnya 3/200, tentang ayat mut’ah berkata: mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat itu dimanskh atau tidak ? Para tokoh Ummat mayoritas mengatakan dimansukh dan sebagian mereka mengatakan tidak dimansukh,hukumnya tetap berlaku sebagaimana adanya.

Ibnu Hiyan dalam tafsirnya,setalah mengutip hadisnya yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Atas dasar inilah seluruh ahlul bait dan pengikutnya menghalalkan nikah mut’ah.

Ibnu Juraij Abdul Mulk bin Abdul Aziz Al-Makki, wafat tahun 15 H., ia membolehkan nikah mut’ah. Asy-Syafi’i berkata: Ibnu Juraij memut’ahi 70 wanita.
Adz-Dzahabi mengatakan : Ibnu Juraij memur’ahi 90 wanita. Silahkan rujuk:

1. Tahdzibut Tahdzib,jilid 6,halaman 406.
2. Mizanul I’tidal,jilid 2, halaman 151.

Iman Malik bin Annas adalah salah seorang Fuqaha Ahlus sunnah yang membolehkan nikah mut’ah . Silahkan rujuk kitab – kitab berikut: Al-Mabsuth,As-sarkhasi; Syarah Kanzud Daqaiq; Fatawa Al-Faraghi;Khizatur Riwayat, Al-Ghadi,Al-Kafi fil furu’ Al-Hanafiyah;’Inayah Syarhul Hidayah; Syarah Al-Muwaththa’, Az-Zarqani; Al-Ghadir 6/222-223;dan tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.

Dan siapa yang ingin mempelajari lebih mendalam tentang ketidakberdasarkan pendapat yang menasikh dan mengharamkan nikah mut’ah, dan ketidakberdasarkan dua hal ini secara syar’i, silahkan rujuk kepada kitab – kitab:

1. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 223-240.
2. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 315.
3. Muqaddimah Mir’atul’Uqul,jilid 1,halaman 273-325.

Adapun Mazhab Ahlul bait, yang dipimpin oleh Imam Ali (a.s), mereka membolehkan nikah mut’ah. Ini berdasarkan riwayat yang masyhur dan mutawatir dari Imam Ali (a.s) bahwa beliau berkata:

“Seandainya Umar tidak melarang nikah mut’ah,niscaya tidak ada orang berzina kecuali orang yang celaka.” Silahkan rujuk:

1. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5,halaman 6, dengan sanad yang shahih.
2. Tafsir Ar-Razi,jilid3,halaman 200.
3. Tafsir Ibnu Hiyan,jilid 3,halaman 218.
4. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi,jilid 3.
6. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294.
7. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid, jilid 12,halaman 253 dan 254.

Adapun hadis – hadis mereka dari jalur mazhab Ahlul Bait, hiasannya bagaikan matahari di siang hari pada musim bunga. Untuk itu silahkan rujuk: Wasailu Asy-Syi’ah, jilid 14,halaman 436 dan selanjutnya.

Kajian tentang nikah mu`ah ada tiga macam: Kajian teologis, kajian fiqhiyah (tentang halal dan haramnya), kajian tafsir dan hadis (apakah surat An-Nisa’: 24 sebagai ayat penetapan syariat nikah mut`ah?).

Pendapat-pendapat tentang nikah mu`ah:

1. Nikah mut`ah tidak pernah disyariatkan di dalam Islam.
2. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam kemudian dimansukh
3. Nikah mut`ah disyariatkan di dalam Islam dan tidak pernah dimansukh

Pendapat Pertama: Mut`ah sebagai perbuatan zina dan keji. Berarti Nabi saw pernah membolehkan sahabatnya melakukan perbuatan zina dan keji. Apa alasannya? Dharurat atau rukhshah?

Pendapat kedua: Kapan dimansukh oleh Nabi saw? Ayat apa yang memansukhnya?
Dalam kelompok ini ada beberapa pendapat.
1. Dimansukh oleh Surat Al-Mu’minun: 5-7
2. Dimansukh oleh ayat tentang iddah yaitu Surat Ath-Thalaq: 1
3. Dimansukh oleh ayat tentang waris yaitu Surat An-Nisa’: 12
4. Dimnsukh oleh ayat tentang muhrim (orang-orang yang haram dinikahi) yaitu Surat An-Nisa’: 23
5. Dimansukh oleh ayat tentang batasan jumlah istri yaitu Surat An-Nisa’: 3
6. Dimansukh oleh hadis Nabi saw.

Jawaban
Terhadap pendapat yang pertama: Tidak sesuai dengan hukum nasikh-mansukh, karena Surat An-Nisa’: 24 (tentang nikah mut`ah) ayat Madaniyah sedangkan Surat Al-Mu’minun: 5-7 ayat Makkiyah. Tidak ayat Makkiyah menasikh ayat Madaniyah.

Terhadap pendapat ke 2, 3, 4, dan ke 5: Hubungan Surat An-Nisa’: 24 dengan ayat-ayat tersebut bukan hubungan Nasikh-Mansukh, tetapi hubungan umum dan khusus, muthlaq dan muqayyad (mutlak dan terbatas). Memang sebagian ulama Ushul figh mengatakan bahwa jika yang khusus diikuti oleh yang umum dan berlawanan dalam penetapan dan penafian, maka yang umum menasikh yang khusus. Tetapi menggunakan kaidah dalam masalah ini sangat lemah dan tidak sesuai dengan pokoh persoalannya.

Misalnya ayat tentang Iddah sifat umum dan terdapat di dalam Surat Al-Baqarah sebagai awal surat Madaniyah, diturunkan sebelum surat An-Nisa’ yang di dalam terdapat ayat tentang nikah mu`ah. Demikian juga ayat tentang batasan jumlah istri, dan muhrim terdapat di dalam Surat An-Nisa’ sebagai pengantar ayat tentang nikah mut`ah saling berkaitan satu sama lain. Semua ayat itu bersifat umum, dan ayat tentang nikah mut`ah sebagai ayat yang bersifat khusus diakhir dari yang umum. Bagaimana mungkin pengantar menasikh penutup pembicaraan.

Wabil khusus, pendapat yang mengatakan ayat tentang Iddah menasikh ayat nikah mut`ah sama sekali tidak berdasar, karena hukum iddah itu berlaku juga dalam nikah mut’ah selain di dalam nikah permanen. Demikian juga pendapat yang mengatakan ayat tentang muhrim menasikh ayat nikah mu`ah, semuan perempuan yang haram dinikahi saling berkaitan dan tak terpisahkan dengan segala bentuk pernikahan baik permanen maupun mut`ah. Bagaimana mungkin pengantar pembicaraan menasikh penutupnya. Lagi pula ayat tersebut tidak menunjukkan larangan hanya terhadap nikah permanen.

Pendapat yang keenam: Ayat nikah mut’ah dimasukh oleh hadis Nabi saw. Pendapat ini sama sekali tidak berdalil, karena secara mendasar ia bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir yang menjelaskan Al-Qur’an, dan riwayat-riwayat yang merujuk kepada Al-Qur`an.

Riwayat-Riwayat Penasikhan (Penghapusan hukum) nikah mut`ah

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Abdurrazzaq, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Al-Juhani, ia berkata: “Pada tahun Fathu Mekkah Rasulullah saw mengizinkan kami melakukan nikah mut`ah. Lalu kami bersama seorang laki-laki dari kaumku melakukan bepergian. Aku lebih tampan darinya; masing-masing kami membawa kain berwarna. Kain warna kainku sudah lapuk, warna kain dia masih baru dan bagus. Ketika sampai di Mekkah kami berjumpa dengan seorang perempuan jalanan. Lalu kami berkata kepadanya: Maukah kamu nikah mu`ah dengan salah seorang dari kami? Ia menjawab: Apa yang akan kamu berikan? Kemudian masing-masing kami menunjukkan kain-warna kami, ia pun melihatnya. Temanku melihat perempuan itu sambil berkata: Kain warna ini sudah lapuk, sedangkan kain-warnaku masih bagus. Perempuan itu berkata: Dengan kain yang ini aku mau. Kemudian aku melangsungkan nikah mu`ah dengannya. Dan kami tetap melakukan nikah ini sehingga Rasulullah saw mengharamkannya.

Dalam kitab yang sama: Malik, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada hari Khaibar, dan melarang makan daging keledai yang jinak.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Syaibah, Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Salamah bin Akwa’, ia berkata: “Rasulullah saw memberi rukhshah (kemudahan) kepada kami untuk melakukan nikah mut`ah tiga hari pada tahun terjadinya perang Authas, setelah itu beliau melarangnya.”

Dalam Syarah Shahih At-Tirmizi oleh Ibnul Arabi: dari Ismail, dari ayahnya, dari Az-Zuhri, ia berkata, Saburah meriwayatkan: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji wada’”. Dalam redaksi yang hampir sama juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, ia berkata: “Rasulullah saw melarang nikah mut`ah pada haji qada’ setelah beliau membolehkannya dalam waktu yang tertentu. Sementara Al-Hasan mengatakan bahwa nikah dilarang pada Umrah qadha’.

Dalam kitab yang sama: Az-Zuhri mengatakan, sesungguhnya Nabi saw melarang nikah mut`ah pada perang Tabuk.

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah saw membolehkan para sahabatnya melakukan nikah mut`ah hanya tiga hari, kemudian beliau mengharamkannya.
Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, dan Muslim meriwayatkan dari Saburah, ia berkata: Aku melihat Rasulullah saw berdiri di antara tiang dan pintu sambil berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menghalalkan nikah mut`ah. Dan ingatlah, sekarang aku melarangnya hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mempunyai isteri mut`ah hendaknya dicerai, dan jangan mengambil sedikit pun mahar yang telah diberikan kepada mereka.”

Dalam kitab yang sama: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Al-Hasan, ia berkata: “Demi Allah, tidak ada nikah mut`ah kecuali hanya tiga hari yang diizinkan oleh Rasulullah saw, kemudian sebelum dan sesudahnya tidak ada nikah mut`ah.”

Riwayat-riwayat yang membolehkan

Dalam Shahih Bukhari: meriwayatkan dari Abu Jumarah, ia berkata: “Pada suatu ketika Ibnu Abbas ditanyai tentang nikah mut`ah, kemudian ia menjawab, nikah mut`ah itu rukhshah (kemudahan). Lalu budaknya berkata kepadanya, bukankah nikah mut`ah itu hanya sebagai rukhshah dalam keadaan dharurah, dan perempuan itu sendiri jarang sekali yang bersedia melakukannya, kemudian Ibnu Abbas menjawab, memang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari: meriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah swt Surat An-Nisa’:24 adalah ayat tentang nikah mut`ah.

Dalam kitab yang sama: meriwayatkan dari As-Sudi tentang ayat ini, ia berkata: “Ayat ini adalah ayat tentang nikah mut`ah. Seorang laki-laki boleh menikahi perempuan dengan syarat waktu yang ditentukan (nikah mut`ah). Jika masanya sudah habis, sang suami tidak mempunyai apapun dari perempuan itu, dan ia suci darinya. Ia harus mensucikan diri dari kasih sayangnya, antara keduanya tidak waris, dan tidak saling mewarisi.

Dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ad-Durrul Mantsur meriwayatkan dari Abdurrazzaq dan Ibnu Abi Syaibah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Kami pernah bersama Rasulullah saw dalam suatu peperangan, dan kami tidak membawa isteri-isteri. Kemudian kami bertanya kepada Rasulullah saw, apakah sebaiknya kami berkebiri? Beliau melarang kami melakukan hal itu, dan mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut`ah dengan mahar sehelai baju untuk waktu tertentu. Kemudian beliau membacakan firman Allah swt:

ياايها الذين آمنوا لاتحـرموا طيبات مااحل الله لكم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu.” (Al-Maidah: 87).

Dalam Ad-Durrul Mantsur: Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Nafi` bahwa Ibnu Umar pernah ditanyai tentang nikah mut`ah, lalu ia menjawab: haram. Kemudian dikatakan kepadanya, Ibnu Abbas membolehkan nikah mut`ah. Ia berkata: Mengapa dia tidak membolehkannya pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab.

Dalam kitab yang sama: Ibnu Mundzir, Ath-Thabari dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Said bin Jubair, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, tahukah Anda akibat fatwa Anda tentang pembolehan nikah mut`ah? Fatwa Anda tersebar di seluruh penjuru negeri, dan disebut-sebut oleh para penyair. Apa yang mereka katakan? Tanya Ibnu Abbas. Mereka berkata:

Kukatakan kepada kawanku yang lama berada dalam perantauan
Tidakkah kamu ingin melaksanakan fatwa Ibnu Abbas?
Serumah dengan si cantik, penghibur
Sambil menunggu teman dalam perjalanan.
Mendengar itu Ibnu Abbas terkejut dan berkata: Inna lillâhi wa inna ilayhi raji`ûn. Demi Allah, bukan demikian yang kumaksudkan dalam fatwaku. Aku tidak menghalalkannya kecuali Allah menghalalkan bangkai, darah dan daging bagi orang yang dalam keadaan darurat. Demikian juga nikah mut`ah, seperti memakan bangkai, darah dan daging babi.

Kementar
Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut nikah mut’ah dilarang oleh Nabi saw pada waktu yang bebeda-beda, dan dimansukh oleh ayat yang berbeda-beda pula. Dalam riwayat-riwayat tersebut nampaknya Nabi saw dengan alasan dharurat atau rukhshah, membolehkannya, kemudian melarangnya lagi, kemudian membolehkan lagi, kemudian melarang hingga hari kiamat.

Ada pendapat yang mengatan: Hadis-hadis Nabi dan pernyataan-pernyataan sahabat yang meriwayatkan nikah mut`ah, semuanya menunjukkan bahwa Nabi saw memberi rukhshan (kemudahan) kepada sahabat-sahabatnya untuk melakukannya dalam sebagian peperangan, kemudian beliau melarang mereka, kemudian memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian melarang mereka lagi dengan larangan untuk selamanya.

Sesungguhnya rukhshah itu ada karena adanya kesulitan untuk menghindari zina dan jauh dari isteri-isteri mereka. Jadi rukhshah itu bertujuan untuk meringankan dua kondisi yang sangat berbahaya tersebut. Sehingga, jika seorang laki-laki melakukan nikah mut`ah dengan seorang perempuan dan tinggal bersamanya dalam waktu tertentu, hal ini merupakan langkah yang lebih mudah daripada mengekang diri untuk tidak berzina dengan perempuan yang memungkinkan untuk melakukannya.

Sanggahan Penulis: Apa yang dikatakan oleh pendapat tadi bahwa semua riwayat menunjukkan pemberian rukhshah dalam sebagian peperangan, kemudian Nabi saw melarangnya, kemudian beliau memberi rukhshah lagi sekali atau dua kali, kemudian beliau melarang lagi untuk selamanya. Pendapat ini sama sekali tidak sesuai dengan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan sebelumnya. Hendaknya Anda mengkaji kembali riwayat-riwayat tersebut sehingga Anda tahu bahwa riwayat-riwayat itu mendustakan pendapat ini.

Pendapat tersebut juga mengatakan: Ahlussunnah memandang rukhshah dalam nikah mut`ah satu kali atau dua kali dengan tujuan sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, seperti tahapan dalam mengharamkan khomer, keduanya adalah perbuatan keji yang tersebar pada zaman jahiliah, hanya saja perbuatan zian hanya tersebar di kalangan budak-budak perempuan bukan di kalangan perempuan-perempuan yang merdeka.

Sanggahan Penulis: Pernyataan bahwa rukhshah dalam nikah mut`ah sebagai tahapan untuk melarang perbuatan zina, mengharuskan pendapat tadi berkesimpulan bahwa nikah mut`ah adalah salah satu bentuk perzinaan, nikah mut`ah sama seperti perzinaan yang tersebar pada zaman jahiliah, kemudian untuk melarang perzinaan tersebut Nabi saw mengambil langkah tahapan yang halus dan lembut dengan membolehkan mut`ah agar para sahabatnya mau menerimanya, kemudian beliau melarang segala bentuk perzinaan kecuali mut`ah. Sehingga saat itu tinggal perzinaan dalam bentuk mut`ah, kemudian Nabi saw memberi rukhshah untuk melakukan zina dalam bentuk mut`ah, kemudian beliau melarangnya, kemudian memberi rukhshah lagi sampai waktu tertentu yang memungkinkan untuk melarangnya secara pasti, lalu beliau melarangnya untuk selamanya.

Demi Allah, sungguh pendapat tersebut telah mempermainkan syariat agama yang suci, yang Allah tidak menghendakinya kecuali untuk mensucikan ummat Rasulullah saw dan melengkapi nikmat atas mereka.

Kajilah dengan teliti pernyataan pendapat tadi:
Pertama: Ia telah menisbatkan kepada Nabi yang suci saw pelarangan nikah mut`ah, kemudian memberi rukhshah, kemudian melarang, kemudian memberi rukhshah lagi. Sementara ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil untuk mengharankan nikah mut`ah adalah ayat-ayat Makkiyah yaitu: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7).
Jadi, pendapat yang bersikeras itu telah menisbatkan kepada Nabi saw menasikh ayat-ayat tersebut. Denagan kata lain, menganggap Nabi saw memberi rukhshah, kemudian menghapus rukhshah tersebut dan menetapkan hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat tersebut, kemudian menghapus kembali, kemudian menetapkan kembali. Coba Anda pikirkan, bukankah hal yang demikian itu berarti menisbatkan kepada Nabi yang suci sikap pelecehan terhadap kitab Allah?

Kedua: Ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang perbuatan zina: Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya perbuatan zina adalah perbuatan keji, dan sesuatu yang buruk. (Al-Isra’: 32). Coba Anda bayangkan, adalah bahasa yang lebih jelas dari bahasa ayat ini, sementara ayat ini adalah ayat Makkiyah dan terdapat dalam rentetan ayat-ayat yang melarang perbuatan zina.

Katakan, marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu … dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-An`am: 151). Kata Fawâhisya bentuk jamak dari Fâhisya dan didahului ole Al, dan terletak dalam kontek kalimat larangan. Ini berarti bahwa larangan itu mencakup seluruh perbuatan yang keji dan segala bentuk perzinaan, sementara ayat ini juga ayat Makkiyah.

Katakanlah, Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan yang keji , baik yang tampak maupun yang tersembunyi. (Al-A`raf: 33). Demikian juga ayat telah kami sebutkan yaitu:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mu’minun: 4-7). Dua surat ini adalah surat Makkiyah, juga ayat-ayat (yang oleh pendapat tadi) dijadikan dasar untuk mengharamkan nikah mut`ah, dan juga ayat-ayat yang mengharamkan segala bentuk perzinaan adalah ayat Makkiyah.

Inilah ayat-ayat yang terpokoh yang melarang perbuatan zina dan segala bentuk perbuatan keji, yang semuanya adalah ayat Makkiyah. Maka ayat yang mana lagi yang akan dijadikan dasar oleh pendapat tersebut untuk mengharamkan nikah mut`ah. Atau sebagaimana yang nampak dalam pendapatnya ia akan menggunakan Surat Al-Mu’minun: 5-7 untuk mengharamkan nikah mu`ah? Dengan asumsi Allah swt secara tegas mengharamkan nikah mu`ah, kemudian Nabi saw mengharamkannya secara bertahap dari rukhshah ke rukhshah dengan tujuan merayu manusia agar mau menerimanya. Sementara Allah swt menegaskan kecintaan-Nya kepada Nabi saw dengan cinta yang sebenarnya di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka menjadikan kamu sebagai sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir sedikit cenderung kepada mereka. Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati … (Al-Isra’: 73-75).

Ketiga: Pemberian rukhshah yang dinisbatkan kepada Nabi saw. Dari rukhshah ke rukhshah yang lain. Jika pemberian rukhshah itu bukan ketentuan syariat yang membolehkan, dan yang semestinya nikah mut`ah termasuk perbuatan zina dan perbuatan keji, maka jelas pemberian rukhshah itu adalah sikap penentangan Nabi saw terhadap Tuhannya, padahal beliau ma`shum dengan pemeliharaan Allah swt. Dan jika rukhshah itu datang dari Tuhannya, berarti Allah telah memerintahkan untuk melakukan perbuatan keji. Sementara Allah swt dengan tegas menolak perbuatan keji:

Katakanlah, sesungguhnya Allah tidak menyuruh melakukan perbuatan keji. (Al-A`raf: 28).

Jika pemberian rukhshah itu dengan ketentuan syariat yang menghalalkan, berarti mut`ah itu bukan perbuatan zina dan keji, dan merupakan ketentuan syariat yang dibatasi dengan batasan-batasan tertentu, tidak tergolong pada peringkat-peringkat yang diharamkan.

Siapa sebenarnya yang melarang nikah mut’ah?

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Abdurrazzaq dan Ibnu Mundzir meriwayatkan dari `Atha`, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Semoga Allah merahmati Umar bin Khattab, tidak ada mut`ah kecuali rahmat dari Allah untuk ummat Muhammad. Sekiranya Umar tidak melarangnya, niscaya ummat tidak melakukan perzinaan kecuali orang yang celaka. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Mut`ah itu adalah suatu pernikahan yang ditetapkan di dalam firman Allah Surat An-Nisa’:24 sehingga demikian dan demikian, dari waktu demikian dan demikian. Kemudian Ia berkata: Dalam nikah mut`ah antara suami-isteri tidak ada waris, jika kedua saling merelakan setelah waktunya berakhir, itu suatu kenikmatan; jika keduanya berpisah, maka itu pun suatu kenikmatan dan antara keduanya tidak ada ikatan pernikahan. Ada juga riwayat yang bersumber dari `Atha` bahwa ia mendengar Ibnu Abbas berkata: Nikah mut`ah itu halal hingga sekarang.

Dalam Tafsir Ath-Thabari dan Ad-Durrul Mantsur menyebutkan riwayat dari Abdurrazzaq dan Abu Dawud tentang ayat yang menasikh(menghapus) hukum nikah mut`ah. Ia ditanyai tentang ayat ini: Benarkah ayat ini dimansukh? Ia menjawab: Tidak. Ali bin Abi Thalib berkata: Kalau sekiranya Umar tidak melarang nikah mut`ah, niscaya tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

Dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Kami melakukan nikah mut`ah dengan mahar segenggam kurma dan gandum, beberapa hari pada zaman Rasulullah saw dan khalifah Abu Bakar, sehingga Umar melarangnya karena kasus Amer bin Huraits.

Dalam Ad-Durrul Mantsur, Malik dan Abdurrahman meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa pada suatu hari Khawlah binti Hakim datang dan melapor kepada Umar bin Khattab: Sesungguhnya Rabi`ah bin Umayyah melakukan mut`ah dengan seorang perempuan hingga ia hamil. Kemudian Umar keluar dari rumahnya sambil menarik-narik bajunya dan berkata: Inilah akibat mut`ah, kalau sekiranya aku sudah membuat keputusan tentangnya sebelumnya, niscaya aku rajam ia.

Dalam Kanzul Ummal, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ummu Abdillah binti Abi Khaitsamah, ia berkata: Pada suatu ketika ada seorang laki-laki datang ke negeri Syam, dan ia tinggal di rumahku. Ia berkata, aku tidak tahan hidup sendirian, carikan aku perempuan untuk mut`ahi. Ummu Abdillah berkata: Aku tunjukkan padanya seorang perempuan, dan ia memenuhi persyaratannya dan berjanji untuk berlaku adil; kemudian ia tinggal bersama perempuan itu dan melakukan apa yang ia inginkan. Setelah ia pergi aku memberitakan kejadian itu kepada Umar bin Khattab, lalu ia mengirim utusan kepadaku dan bertanya: Benarkah kejadian itu? Ya, jawabku. Utusan itu berkata: Jika laki-laki itu benar-benar melakukannya, bawalah perempuan itu ke sini; jika laki-laki benar melakukannya, aku akan menceriterakan hal itu kepada Umar bin Khattab. Selajutnya Umar bin Khattab memanggilnya dan bertanya: Mengapa kamu melakukan hal itu? Laki-laki itu menjawab: Aku melakukan hal ini pada zaman Nabi saw dan beliau tidak melarangnya hingga beliau wafat. Dan hal yang sama juga aku lakukan pada zaman Abu Bakar dan ia tidak melarangnya sampai ia meninggal; kemudian aku lakukan pada zaman Anda, dan Anda pun belum pernah menceriterakan kepada kami dasar pelarangan melakukan hal ini. Kemudian Umar berkata: Demi Zat yang menguasai diriku, sekiranya kamu melakukan hal ini, niscaya aku rajam kamu. Kemudian laki-laki itu berkata: Jelaskan kepadaku sehingga jelas bagiku perbedaan antara nikah dan zina.

Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad meriwayatkan dari `Atha`, ia berkata: Setelah Jabir bin Abdullah selesai melakukan umrah, kami berkunjung ke rumahnya, ketika itu ada sekelompok orang bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian mereka menyebutkan mut`ah. Jabir berkata: Kami melakukan mut`ah pada masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Menurut riwayat dari Ahmad, sehingga akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Dalam Sunan Al-Baihaqi, dari Nafi`, dari Abdullah bin Umar, ketika ia ditanya tentang nikah mut`ah, ia berkata: Nikah mut`ah itu haram menurut Umar, dan sekiranya ada orang yang melakukannya, ia pasti merajamnya dengan batu.

Dalam Sunan Al-Baihaqi: Jabir berkata, Umar berdiri kemudian berkata: sesungguhnya Allah menghalalkan kepada Rasul-Nya apa yang diinginkan dengan apa yang diinginkan, maka hendaknya kamu menyempurnakan haji dan umrah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan hentikan melakukan nikah ini, tidak ada seorang pun laki-laki yang menikahi perempuan dengan waktu yang ditentukan kecuali aku rajam dia.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dari Umar bin Khattab, dalam khutbahnya ia berkata: Dua mut`ah ada pada zaman Rasulullah saw, akulah yang melarang keduanya dan memberikan sangsi atas keduanya: mut`ah haji dan nikah mut`ah.
Hmm.. mari saya terangkan silsilah Imam kami..

Imam Muhammad al Mahdi bin Hassan al Askarri bin Ali al Hadi bin Muhammad al Jawad bin Ali al Ridha bin Musa al Kazhim bin Ja’far al Shadiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin al Sajjad bin Hussain Sayyid al Syuhada wa Hassan al Mujtaba bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah az Zahra binti Rasulullah Muhammad Saww..

Kami mendapat dan mengamalkan ajaran Islam kami dari Rasulullah dan Ahlul baitnya…

Imam Ali bin Abi Thalib as (1)
Nama : Ali bin Abi Thalib as
Gelar : Amirul Mukminin
Julukan : Abu AL-Hasan, Abu Turab
Ayah : Abu Thalib (Paman Rasululullah saww)
Ibu : Fatirnah binti Asad
Tempat/Tgl Lahir : Mekkah, Jum’at 13 Rajab
Hari/Tgl Syahadah : Malam Jum’ at, 21 Ramadhan 40 H.
Umur : 63 Tahun
Sebab Syahadah : Ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam
Makam : Najaf Al-Syarif
Jumlah Anak : 36 Orang, 18 laki-laki dan 18 perempuan

Anak laki-laki :

1. Hasan Mujtaba, 2. Husein, 3. Muhammad Hanafiah, 4. Abbas al-Akbar, yang dijuluki Abu Fadl, 5. Abdullah al-Akbar, 6. Ja?far al-Akbar, 7. Utsman al- Akbar, 8. Muhammad al-Ashghar, 9. Abdullah al-Ashghar, 10. Abdullah, yang dijuluki Abu Ali, 11. ?Aun, 12. Yahya, 13. Muhammad al Ausath, 14. Utsman al Ashghar 15.Abbas al-Ashghar, 16. Ja?far al-Ashghar, 17. Umar al-Ashghar, 18. Umar al-Akbar

Anak Perempuan :

1. Zainab al-Kubra, 2. Zainab al-Sughra, 3.Ummu al-Hasan, 4. Ramlah al-Kubra, 4. Ramlah al-Sughra, 5. Ummu al-Hasan, 6. Nafisah, 7. Ruqoiyah al-Sughra, 8. Ruqoiyah al-Kubra, 9. Maimunah, 10. Zainab al-Sughra, 11. Ummu Hani, 12. Fathimah al-Sughra, 13.Umamah, 14.Khodijah al-Sughra, 15 Ummu Kaltsum, 16. Ummu Salamah, 17. Hamamah, 18. Ummu Kiram

Imam Hasan Al-Mujtaba as (2)

Nama : Hasan
Gelar : al-Mujtaba
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali bin Abi Thalib
Ibu : Fathimah az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Selasa 15 Ramadhan 2 H.
Hari/Tgl Syahadah : Kamis, 7 Shafar Tahun 49 H.
Umur : 47 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Istrinya, Ja’dah binti As-Ath
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 8 laki-laki dan 7 perempuan
Anak Laki-laki : Zaid, Hasan, Umar, Qosim, Abdullah, Abdurrahman, Husein, Thalhah
Anak Perempuan : Ummu al-Hasan, Ummu al-Husein, Fathimah, Ummu Abdullah, Fathimah, Ummu Salamah, Ruqoiyah

Imam Husain bin Ali as (3)

Nama : Husain
Gelar : Sayyidu Syuhada’, As-Syahid bi Karbala
Julukan : Aba Abdillah
Ayah : Ali bin Abi Thalib.
lbu : Fatimah Az-Zahra
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis 3 Sya’ban 3 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum ‘at 10 Muharram 61 H.
Umur : 58 Tahun
Sebab Syahadah : Dibantai di Padang Karbala
Makam : Padang Karbala
Jumlah anak : 6 orang; 4 laki-laki dan 2 perempuan
Anak laki-laki : Ali Akbar, Ali al-Autsat, Ali al-Asghar, dan Ja?far
Anak Perempuan ; Sakinah dan Fathimah

Imam Ali Zainal Abidin as (4)

Nama : Ali
Gelar : Zainal Abidin, As-Sajjad
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Husein bin Ali bin Abi Thalib
Ibu : Syahar Banu
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 15 Jumadil Ula 36 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Muharram 95 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik, di Zaman al-Walid
Makam : Baqi’ Madinah
Jumlah Anak : 15 orang; 11 Laki-Laki dan 4 Perempuan
Anak Laki-laki : Muhammad Al-Baqir, Abdullah, Hasan, Husein, Zaid, ‘Amr Husein Al-Asghor, Abdurrahman, Sulaiman, Ali, Muhammad al-Asghor
Anak perempuan : Hadijah, Fatimah, Aliyah, Ummu Kaltsum

Imam Muhammad Al-Baqir as (5)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Baqir
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Zainal Abidin
lbu : Fatimah binti Hasan
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 7 Dzulhijjah 114 H.
Umur : 57 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Hisyam bin Abdul Malik
Makam : Baqi?, Madinah
Jumlah Anak : 8 orang; 6 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ja?far Shodiq, Abdullah, Ibrahi, Ubaidillah, Reza, Ali
Anak Perempuan : Zainab, Ummu Salamah

Imam Ja?far Ash-Shadiq as (6)

Nama : Ja’far
Gelar : Ash-Shadiq
Jlillikan : Abu Abdillah
Ayah : Muhammad al-Baqir
lbu : Fatimah
Tcmpat/Tgl Lahir : Madinah, Senin 17 Rabiul Awal 83 H.
Hari/Tgl Syahadah : 25 Syawal 148 H.
Umur : 65 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Manshur al-Dawaliki
Makam : Baqi’, Madinah
Jumlah Anak : 10 orang; 7 laki-laki, 3 perempuan
Anak Laki-laki : Ismail, Abdullah, al-Afthah, Musa al-Kadzim, Ishaq, Muhammad al-Dhibbaja, Abbas, Ali
Anak Perempuan : Fatimah, Asma, Ummu Farwah

Imam Musa Al-Kadzim as (7)
Nama : Musa
Gelar : Al-Kadzim
Julukan : Abu Hasan Al-Tsani
Ayah : Ja’far Shodiq
Ibu : Hamidah AL-Andalusia
Tempat/Tgl Lahir : Abwa’ Malam Ahad 7 Shofar 128 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at 25 Rajab 183 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Harun Ar-Rasyid
Makam : Al-Kadzimiah

Imam Ali Ar-Ridha as (8)

Nama : Ali
Gelar : Ar-Ridha
Julukan : Abu al-Hasan
Ayah : Musa al-Kadzim
Ibu : Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, Kamis, 11 Dzulqo’dah 148 H
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, 17 Shafar 203 H.
Umur : 55 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Makinun al-Abbasi
Makam : Masyhad, Iran
Jumlah Anak : 6 orang; 5 Laki-laki dan 1 Perempuan
Anak laki-laki : Muhmmad Al-Qani’, Hasan, Ja’far, Ibrahim, Husein
Anak perempuan : Aisyah

Imam Muhammad Al-Jawad as (9)

Nama : Muhammad
Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi
Julukan : Abu Ja’far
Ayah : Ali Ar-Ridha
Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.
Hari/Tgl Syahadah : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.
Umur : 25 Tahun
Sebab Syahadah : diracun istrinya
Makam : Al-Kadzimiah
Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Anak Laki-laki : Ali, Musa
Anak Perempuan : Fatimah, Umamah

Imam Ali Al-Hadi An-Naqi as (10)

Nama : Ali
Gelar : al-Hadi, al-Naqi
Julukan : Abu al-Hasan al-Tsaalits
Ayah : Muhammad Al-Jawad
lbu : al-Maghrabiah
Tempat/Tgl : Madinah, 15 Dzul-Hijjah/ 5 Rajab 212 H.
Hari/Tgl Syahadah : Senin, 3 Rajab 254 H
Umur : 41Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Al-Mu’tamad al-Abbasi
Makam : Samara
Jumlah Anak : 5 orang; 4 Laki-Laki dan Perempuan
Anak Laki-laki : Abu Muhammad al-Hasan, al Husein, Muhammad, Ja?far
Anak Perempuan : Aisyah

Imam Hasan Al-Askari as (11)

Nama : Hasan
Gelar : Al-Askari
Julukan : Abu Muhammad
Ayah : Ali Al-Hadi
Ibu : Haditsah
Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rabiul Tsani 232 H.
Hari/Tgl Syahadah : Jum’at, 8 Rabiul Awal 260 H
Umur : 28 Tahun
Sebab Syahadah : Diracun Khalifah Abbasiah
Makanan : Samara’
Jumlah Anak : 1 orang ; Muhammad Al-Mahdi

Imam Muhammad Al-Mahdi as (12)

Narna : Muhammad
Gelar : Al-Mahdi, Al-Qoim, Al-Hujjah, AL-Muntadzar,
Shohib Al-Zaman, Hujjatullah
Julukan : Abul Qosim
Ayah : Hasan AL-Askari
Ibu : Narjis Khotun
Tempal/Tgl Lahir : Samara’, Malam Jum’at 15 Sya’ban 255 H.
Ghaib Sughra : Selama 74 Tahun, di mulai sejak kelahirannya hingga tahun 329
Ghaib Kubra : Sejak Tahun 329 hingga saat ini

Sekarang coba tolong jelaskan dari mana ibu khofifah mendapatkan sumber ajaran Islam yang ibu yakini ?
Kami juga menghormati Para sahabat Pak.. contohnya : Salman al Farisi, Abu Dzar al Ghifari, Miqdad al Kindi, Ammar ibn Yasir dan lainnya yang Shaleh dan tetap setia pada amanat Rasulullah Saww..

Salman al-Farisi r.a. berkata:”Aku menemui Rasulullah saww, dan kulihat al-Husein sedang berada di pangkuan beliau. Nabi mencium pipinya dan mengecupi mulutnya, lalu bersabda: “Engkau seorang junjungan, putra seorang junjungan dan saudara seorang junjungan; engkau seorang Imam putra seorang Imam, dan saudara seorang Imam; engkau seorang hujjah, putra seorang hujah, dan ayah dari sembilan hujjah. Hujjah yang ke sembilan Qoim mereka yakni Al-Mahdi.” (al-Ganduzi, Yanabi? al Mawaddah)

Berkata Jabir bin Samurrah : “Saya ikut bersama ayah menemui Nabi saww, lalu saya mendengar beliau hersabda: “Persoalan lima ini belum akan tuntas sebelum berjalan pemerintahan 12 (dua belas) khalifah di tengah-tengah mereka”. Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya dengar. Karena itu, beberapa waktu kemudian saya bertanya kepada ayah: “Apa yang beliau katakan?”. Nabi mengatakan: “Semua khalifah itu berasal dan kalangan Quraisy”. Jawab ayahku. (Shahih Muslim Jilid 3, Bukhari, Al-Tirmizi dan Abu Daud)

Bukankah Rasulullah saww tidak meminta upah apapun kecuali agar umatnya mencintai keluarganya. Sebagaimana firman Allah (as-Syura 23). “Dan bukti kecintaan kita kepada keluarganya adalah dengan mengikuti mereka.”

Sekarang anda lebih mencintai mana? dari saya mendengar anda lebih gesit membela Umar dari pada Ahlul bait Nabi?

ibu khofifah berada dalam posisi mana? Membela Ahlul Bait Atau Bani Umayyah dan para Sufyani ?

dan kembali ke Nikah Mut’ah lalu mengapa ayat – ayat al Quran tentang halalnya nikah mut’ah masih ada sedangkan nikah mut’ah nya dilarang oleh Umar? Kalau ibu yang terhormat masih saja beranggapan Rasulullah Saww mengharamkan/melarang nikah mut’ah berarti ibu  tidak menyimak semua penjelasan saya tadi..
APA YANG DIKATAKAN RASUL SAW HARAM, YA HARAM SAMPAI AKHIR JAMAN
DAN YANG DIKATAKAN HALAL…..YA.HALAL SAMPAI AKHIR JAMAN…..
MUT’AH YA HALLLALLLL……..

Katanya Nikah Ternyata Zina

Katanya Nikah Ternyata Zina

Penulis: Muhammad Malullah

Tebal: 228 halaman.

Harga: Rp. 33.500, -

BUKU ISLAM ” Katanya Nikah Ternyata Zina “

Nikah Siri, Mut'ah dan Kontrak

=====================================================

Jawaban  Pihak  Syi’ah ::

Membaca paragraf pertama saja saya sudah tersenyum bahkan sampai-sampai ingin tertawa. Betapa tidak, pada paragraf pertama tersebut dikatakan bahwa nikah mut’ah itu disejajarkan dengan perzinahan atau dalam artian lain bahwa nikah mut’ah sama dengan perzinahan, tidak ada beda di antara keduanya.

Sayyed Husain Khomeini cucu Imam Imam Khomeini) menyampaikan kepada Al-Arabiyya.net bahwa Ketika ditanya tentang pendapat pribadinya tentang kawin mut`ah, putra Mustafa Khomeini ini menjawab, “Sebagai keyakinan keagamaan, saya menganggapnya memang ada dalam Islam dan Al-Qur’an, meskipun ditolak oleh kalangan Ahlus-Sunnah. Akan tetapi, kawin mut`ah telah disalahgunakan. Sebetulnya ia dibolehkan demi menghalangi manusia daripada prostitusi dan perbuatan zina, namun adakalanya ia sama saja seperti zina, bahkan lebih jahat daripada zina. Walaupun demikian, memang dalam buku2 fiqih yang ditulis oleh para fuqaha Syi`ah, terdapat dua jenis perkawinan, satu yang disebut perkawinan permanen dan yang lainnya disebut perkawinan sementara. Begitulah yang disepakati oleh semua ahli fiqih Syi`ah.

Saya yakin orang yang berpikir jernih dan tidak mendahulukan hawa nafsunya akan menganggap bahwa pernyataan seperti itu adalah keliru. Nikah mut’ah adalah ikatan tali pernikahan antara seorang laki-laki dan wanita dengan mahar yang telah disepakati dalam akad, sampai pada batas waktu tertentu. Sedangkan perzinahan adalah hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan muhrim dan merupakan perbuatan dosa besar. Pernah ada teman saya yang bertanya apakah nikah mut’ah itu bisa tanpa wali, saksi, dan pemberian nafkah? Mendengar pertanyaan seperti itu, saya teringat dengan perkataan seorang ustadz yang mengatakan bahwa tidak wajib adanya wali dan saksi, tetapi alangkah baiknya jika ada wali dan saksi. Mengenai pemberian nafkah – masih menurut ustadz itu – tergantung perjanjian ketika akad.

Hukum Nikah Mut’ah dalam Al-Qur’an

Allah berfirman, “…Maka istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (mas kawin) dengan sempurna…” (Q.S. An-Nisa: 24)

Al-Qurthubi, Al-Syaukani dan orang-orang yang sependapat dengan mereka mengatakan bahwa hampir semua ulama menafsirkan ayat tersebut dengan nikah mut’ah yang sudah ditetapkan sejak permulaan Islam. (Tafsir Qurthubi, juz 5, hlm. 130; Ma’a Al-Qur’an karangan Baquri, hlm. 167; Al-Ghadir, juz 6, saduran dari tafsir Syaukani, juz 1, hlm. 144).

Dalam Mustadrak Al-Hakim dan kitab-kitab yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas bersumpah bahwa Allah menurunkan ayat tersebut untuk pembatasan waktu dalam mut’ah. (Mustadrak Al-Hakim, juz 2, hlm. 305 berikut keterangan Al-Dzahabi yang terdapat di tepi kitab tersebut pada hlm. Yang sama).

Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Said bin Zubair, dan Ibnu Mas’ud membaca ayat tersebut dengan menyisipkan tafsirnya dengan bacaan sebagai berikut: “Barangsiapa di antara kalian melakukan perkawinan dengan menggunakan batas waktu maka bayarlah maharnya.”

Al-Razi dan Al-Naisaburi setelah meriwayatkan bacaan tesrebut dari Ibnu Abbas dan Ubai bin Ka’ab berkata, bahwa seluruh sahabat tidak ada yang menyalahkan bacaan kedua sahabat itu sehingga dapat dikatakan bahwa bacaan tersebut telah disepakati kebenarannya oleh seluruh umat. (Tafsir Al-Naisaburi yang terdapat di tepi kitab Tafsir Al-Thabari juz 5, hlm. 18 dan dalam Kitab Tafsir Al-Razi, juz 10, hlm. 51, cet. Th. 1357 H).

Berdasarkan ayat al-Qur’an di atas dan beberapa tafsirnya diketahui bahwa Islam telah mensyariatkan nikah mut’ah. Namun, ada sebagian orang yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh oleh ayat al-Qur’an yang lain.

Untuk menjawab pernyataan seperti itu, cukuplah saya mengutip perkataan Al-Zamakhsyari dalam buku tafsirnya A-Kasysyaf “Kalau kalian bertanya kepadaku apakah ayat mut’ah sudah dihapus, maka akan kujawab ‘tidak’, karena seorang wanita yang dinikahi secara mut’ah dapat disebut sebagai istrinya.” (Al-Kasysyaf juz 3, hlm. 177, cet. Beirut).Anehnya lagi, ada beberapa kalangan yang menganggap bahwa nikah mut’ah telah dinasakh (dihapus) oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Aalihi wassalam. Tetapi pendapat kebanyakan sahabat dan pengikut Al-Zhahiri, Syafi’I, dan Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa hadits tidak dapat menasakh Al-Qur’an. (Al-Mustashfa juz 1, hlm. 124).

Hadits-hadits yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan – menurut saya – tidak dapat kita ikuti, karena terjadi kontradiksi antara hadits yang satu dengan yang lain mengenai waktu pengharamannya, diantaranya sebagai berikut:

Ø Nikah mut’ah halal pada permulaan Islam, diharamkan pada saat perang Khaibar. (Zad Al-Ma’ad, hlm. 183)

Ø Dihalalkan pada permulaan Islam, diharamkan pada Fath Mekkah.Diharamkan pada hari Haji Wada’ (Al-Sirah Al-Halabiyah, juz 3, hlm. 104)

Ø Diharamkan pada saat perang Tabuk, dll.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa nikah mut’ah dibolehkan sebanyak 7 kali dan dilarang 7 kali, yakni pada saat perang Khaibar, Perang Hunain, saat Rasulullah melakukan Umrah Qadha’, Fath Mekkah, Perang Authas, Perang Tabuk, dan Haji Wada’.

Untuk anggapan yang seperti ini cukuplah kita kutip perkataan Ibnu Qoyyim, “Tidak pernah terjadi dalam syariat penghapusan dua kali dalam satu masalah, dan tidak pernah terjadi penghapusan tentang mut’ah.” (Zad Al-Ma’ad, juz 2, hlm. 183).

Siapa yang Mengharamkan Nikah Mutah?

“Kita, para sahabat di zaman Nabi Sawaw dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam kurma dan tepung sebagai mas kawinnya, kemudian Umar mengharamkannya karena ulah Amr bin Khuraits.” (Shahih Muslim, juz 4, hlm. 131, cet. Masykul Th. 1334 H).

Al-Hakam, Ibnu Juraij dan sesamanya meriwayatkan bahwa Imam Ali kw berkata, “kalau bukan karena Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang berzina kecuali orang-orang yang benar-benar celaka.”

Dalam riwayat lain Imam Ali berkata, “Kalau pendapatku tentang nikah mut’ah tidak kedahuluan Umar, aku akan perintahkan nikah mut’ah. Setelah itu, jika masih ada orang yang berzina dia memang benar-benar celaka.” (Tafsir Thabari, juz 5, hlm. 9) SANADNYA SHAHIH.

Umar adalah yang pertama kali melarang nikah mut’ah. (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Bab II, hlm. 158).

Dari riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa nikah mut’ah halal di zaman Nabi Sawaw dan zaman Abu Bakar, tetapi ketika Umar menjadi khalifah, ia mengharamkan nikah mut’ah hanya karena ulah seseorang. Tentunya pendapat Umar ini tidak pantas kita ikuti, apalagi pengharaman atas nikah mut’ah hanya karena adanya penyelewengan yang dilakukan perorangan. Apakah jika ada orang yang menyalahgunakan nikah da’im kita akan mengharamkan nikah da’im (nikah permanen)?

Ada beberapa kawan kita yang ”shaleh” sering kali mengatakan bahwa bukan Umar yang mengharamkan nikah mut’ah. Umar hanya mempertegas apa yang telah diharamkan oleh Rasulullah.

Marilah kita menyimak secara seksama apa yang diucapkan oleh Umar, ”Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, iaitu mut’ah perempuan dan mut’ah haji.””

Silakan Anda cermati, disitu Umar dalam mengharamkan nikah mut’ah tidak mengatasnamakan Rasulullah, tetapi mengatasnamakan dirinya sendiri (ra’yu), terlihat dalam kalimat, “Dua mut’ah yang dilakukan pada masa Rasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya.

Umar sendiri dalam suatu riwayat mengakui bahwa ia yakin betul Allah telah mensyariatkan nikah mut’ah di dalam Al-Qur’an.

“Saya melarang nikah mut’ah walaupun nikah itu disebut dalam al-Qur’an dan juga haji tamattu’ walaupun haji itu dikerjakan oleh Nabi Sawaw.” (Sunan An-Nasai juz 5, hlm. 153; Al-Ghadir, juz 6, hlm. 205, di situ disebutkan bahwa keseluruhannya hasil ijtihad Umar).

Bahkan, Ibnu Umar ketika di tanya, “Bukankah ayahandamu mengharamkannya (nikah mut’ah)? Ia menjawab, “Benar! Tetapi itu pendapatnya sendiri. (Dalail Al-Shidq, juz 3, hlm. 97)

Hadits-hadits Ahlulbayt Tentang Nikah Mut’ah

Imam Ja’far Shadiq meriwayatkan dari ayah-ayahnya bahwa Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Farji-farji wanita bisa menjadi halal dengan tiga cara, yaitu nikah da’im, nikah mut’ah, dan dengan memilikinya sebagai budak.”Diriwayatkan bahwa Imam Ali pernah melakukan mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di kota Kufah. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah)

Abi Bashir berkata dalam shahihnya: Aku bertanya kepada Imam Baqir tentang halalnya nikah mut’ah. Beliau menjawab: Halalnya nikah mut’ah tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 24. (Al-Wasa’il bab Nikah Mut’ah).

Dan masih banyak lagi hadits dari keluarga Rasulullah yang suci mengenai halalnya nikah mut’ah. Untuk mengakhiri tulisan saya kali ini, saya akan mengutip tulisan Prof. Sachiko Murata, “Nikah mut’ah adalah cara yang paling tepat dalam menyelesaikan krisis seksual generasi muda Amerika, saya cukup heran dengan bangsa muslim yang menolak cara paling sehat, aman, dan melindungi hak perempuan. Jika bangsa Islam menolak maka saya menyerukan kepada bangsa eropa dan amerika mengadopsi mut’ah sebagai alternatif paling solusif dan sehat.

Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan Firman Allah SWT :“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. An Nisa [4] : 24}Tetapi kedua golongan Islam (Suni dan Shiah) tetap berbeda pendapat tentang PENGHARAMAN Nikah Mut’ah.Golongan Suni mempunyai tiga pendapat sehubungan dengan pengharaman Nikah Mut’ah, yaitu :1. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah telah diharamkan, kemudian dihalalkan, kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan akhirnya di haramkan, berdasarkan Hadist Nabi SAW.Bantahan Shiah :a. Hadist Nabi SAW tidak biasa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWTpada Al Qur’an. Karena hanya Allah SWT yang berhak memanzukhkan ayat Al Qur’an.b. Hadist2 telah pengharaman yang berulang-ulang itu semuanya merupakan Hadist Ahad yang tidak berkuataan sahih.c. Tidak mungkin Rasulullah SAW mengharamkan nikah mut’ah karena alasan perzinahan, kemudian menghalalkan lagi, kemudian pengharamkan lagi, kemudian menghalalkan lagi dan akhirnya mengharamkan. Bukankah selama penghalalan kembali itu berarti juga Rasulullah SAW menghalalkan perzinaan?2. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah dihalalkan pada masa Nabi SAW, masa Abu Bakar dan dua tahun pertama masa Umar bin Khattab, kemudian diharamkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab bersamaan dengan pengharaman Mut’ah Haji (Haji Tamattu).Bantahan Shiah :

a. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWT pada Al Qur’an, maka apalagi Umar bin Khattab.

b. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah (Nikah Mut’ah – QS. An Nisa [4]: 24) , maka apalagi Umar Bin Khattab.

3. Pendapat yang mengatakan Nikah Mut’ah yang tercantum pada QS. An Nisa [4] :24 telah dibatalkan (di naskhkan) oleh Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

(QS. Al Mukminun [23] : 1-6 dan Al Ma’arij [70] : 29-30).

Bantahan Shiah :

Meskipun Surat Al Mukminun (Surat ke-23) dan Surat Al Ma’arij (Surat ke-70) sedangkan Surat An Nisa merupakan Surat ke-4, dalam Mushaf Al Qur’an. Namun berdasarkan turunnya Surat Al Qur’an, maka Surat Al Mukminun merupakan Surat Makkiyah ke- 74 dan Surat Al Ma’arij merupakan Surat Makkiyah ke-79, sedangkan Surat An Nisaa merupakan Surat Madaniyah ke-6.
Tidak Ada Satu Ayat Quran pun Turun Mengharamkan Nikah Bertempoh ini atau Nikah Mutaah

Sehingga tidaklah mungkin Surat Al Mukminun dan Surat Al Ma’arij dikatakan telah membatalkan ayat tentang Nikah Mut’ah pada Surat An Nisaa yang diturunkan belakangan daripada kedua Surat terdahulu. Suatu ayat hanya dapat dibatalkankan oleh ayat lainnya yang diturunkan kemudian, berdasarkan firman Allah SWT :

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

(QS. Al Baqarah [2] : 106)

Berdasarkan penjelasan di atas maka Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan QS. An Nisaa [4] : 24. Dan segala sesuatu yang di-HALAL-kan oleh Allah tidak bisa di-HARAM-kan oleh manusia. Dan apa yang Halal menurut Allah SWT pastinya didalamnya hanya mengandung kebaikan serta terbebas dari keburukan. Namun ada diantara manuasia yang merasa dirinya lebih hebat dari Allah SWT, sehingga menilai di dalam Nikah Mut’ah semata-mata hanya terdapat keburukan (seperti diartikan sebagai penghalalan pelacuran, dsb).

Dewasa ini banyak dari kalangan Ulama Suni di Indonesia yang berpendapat bahwa Nikah Mut’ah adalah Halal berdasarkan nash Al Qur’an, dan bahkan tidak sedikit diantaranya yang melakukannya, bukan semata-mata karena kebutuhan seksual, tetapi guna menunjukan ke-halalan Nikah Mut’ah itu sendiri.

Halalnya Nikah Mut’ah bukanlah berarti wajib atau di sunnahkan untuk dilakukan, melainkan siapapun diperbolehkan memilih untuk melakukan ataupun meninggal-kannya (tidak melakukannya). Tetapi ia menjadi wajib bagi sepasang pria wanita yang tidak terikat pada Nikah Daim (Nikah Permanen) yang melakukan hubungan seksual. Karena tanpa Nikah Mut’ah maka hubungan seksual tersebut menjadi tergolongan perbuatan zina yang mendatangkan dosa.

Seseorang boleh saja mengatakan, “Aku tidak memerlukan Nikah Mut’ah, karena aku tidak akan mungkin terjerumus pada perbuatan zina”, meskipun sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mengetahui bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya (syahwatnya). Nah Nikah Mut’ah adalah rahmat Allah Ta’ala kepada Umat Muhammad SAW untuk menyelamatkannya dari jurang perzinaan. Nikah Mut’ah adalah solusi Islam sebagai agama terakhir terhadap praktek perzinaan, yang menjangkiti keturunan Adam as sejak generasi awal serta tidak kunjung berhasil dihapuskan semata-mata melalui ancaman dosa dan larangan oleh syariat2 yang diturunkan sebelumnya.

Bagi setiap mukmin tersedia dua alternatif (dalam hal tidak dapat menahan hawa nafsu seksualnya yang tidak tertampung oleh isteri2nya atau yang belum mempunyai isteri tetapi telah cukup umur), yaitu 1). melakukan hubungan seksual dengan Nikah Mut’ah, atau 2). melakukan hubungan seksual tanpa Nikah Mut’ah.

Sementara itu dikalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat tentang halal dan haramnya Nikah Mut’ah. Sebagai seorang yang berakal, bagaimanakah anda menentukan pilihan atas kedua alternatif di atas?

Kebenaran hakiki adalah sisi Allah SWT.

Jika Nikah Mut’ah adalah haram di sisi Allah, maka sekalipun anda melaksananya, tetap tergolong sebagai zina.

Jika Nikah Mut’ah adalah Halal di sisi Allah, maka sungguh merugi jika tidak melaksanakannya, karena seharusnya bisa terhindar dari perbuatan zina, tetapi karena kekerasan kepala, malah terjerumus pada perbuatan zina.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa pembicaraan tentang Nikah Mut’ah sangat tidak disenangi oleh sebagian umat Islam sendiri terutama dari kalangan wanita. Seperti halnya juga berbicara tentang Poligami yang sampai sekarang belum bisa diterima oleh kebanyakan kaum muslimah.

Tetapi berbicara tentang aqidah dan syariat agama bukanlah tergantung pada senang atau tidak senangnya pihak2 tertentu. Slogan ISLAM YANG KAFFAH (Menyeluruh) adalah termasuk dalam hal pembicaraan seperti ini. (Apa yang engkau anggap buruk belum tentu hal itu buruk disisi Allah)Sebagai penutup, saya kutip ucapan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as: “Bilamana saja Umar tidak melarang Nikah Mut’ah, niscaya tidak ada lagi seorang mukminpun yang akan terjerumus kedalam zina, kecuali mereka yang benar2 celaka”.Sesungguhnya perkara nikah mut’ah ini menjadi polemic yang cukup tajam di kalangan Muslimin,hal ini semata karena mereka hanya melihat dari satu sisi saja.Mereka lalai bahwa asal hukum wanita adalah harta,maka daripada itu membutuhkan adanya mahar & akad.Ketika terjadi perangpun Istri dimasukkan pada kelompok yang boleh dijadikan harta rampasan perang,maka bila memandang wanita secara harta,nikah mut’ah tidak akan menjadi masalah.Dari Ruwaifi’ bin Tsabit al-Anshari bahwa ia berkhutbah di hadapan kami dan berkata, “Sungguh aku tidak berbicara kepada kalian melainkan sesuatu yang telah aku dengar dari Rasulullah saw, beliau berkata pada hari peperangan Hunain, ‘Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menyiramkan airnya ke tanaman orang lain, yakni menyetubuhi wanita hamil (dari orang lain). Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menggauli tawanan wanita hingga ia memastikan ketidak hamilannya. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir menjual ghanimah (harta rampasan perang) sehingga dibagikan’,” (Hasan, HR Abu Dawud [2158], Ahmad [IV/108 dan 108-109], al-Baihaqi [VII/449]).Dari ‘AbduLLAAH bin ‘Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang menjual harta rampasan perang (ghanimah) sehingga dibagikan, melarang menggauli tawanan wanita yang hamil hingga melahirkan kandungannya dan melarang memakan daging binatang buas yang bertaring,” (Shahih, HR an-Nasa’i [VII/301], ad-Daraquthni [III/68-69], al-Hakim [II/137], Abu Ya’la [2414]).Sudah menjadi kesepakatan segenap kaum muslimin bahwa nikah mut’ah pernah ada pada zaman Rasul sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab standar Sunni maupun Syiah. Disebutkan bahwa Rasul pernah membolehkan pernikahan jenis tersebut, akan tetapi lantas terjadi perbedaan pendapat diantara para pengikut Islam adakah Rasul sampai akhir hayat beliau tetap membolehkan pernikahan itu ataukah tidak? Sebagian dari mereka mengatakan bahwa sebelum pulangnya Rasul ke rahmatuLLAAH Beliau telah melarang pernikahan tersebut atau dengan istilah yang sering dipakai hukum dibolehkannya nikah mut’ah telah mansukh (terhapus). Sebagian lagi mengatakan bahwa sampai akhir hayat beliaupun beliau tidak pernah melarangnya, akan tetapi seorang yang bernama Umar bin Khatab lah yang kemudian melarangnya sewaktu ia menjabat kekhalifahan.Definisi Nikah Mut’ah , dalam Terminologi Bahasa Arab Asal kata mut’ah dalam bahasa arab adalah dari akar kata mata’a, yang mengarah pada makna bersenang-senang dan memanfaatkan. Al Munjid menerangkan arti kata mata’ sebagai berikut :Al Mata’, bentuk pruralnya adalah al amti’ah, sedang bentuk jam’ul jama’nya adalah amati’ dan amatii’. Seluruh yang dimanfaatkan dari perhiasan dunia baik sedikit maupun banyak. … tamatta’a atau istamta’a : memanfaatkan sesuatu dalam waktu yang lama. AlMunjid hal 7462) Definisi IstilahSedangkan yang dimaksud dengan nikah mut’ah dalam pembahasan kali ini adalah pernikahan yang ditentukan sampai waktu tertentu, yang mana setelah waktu yang ditentukan habis selesailah pernikahan itu. Imam Syafi’i berkata :Nikah mut’ah yang dilarang adalah seluruh bentuk pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu, baik waktu itu sebentar maupun lama. [43].Abu Laits Assamarqondi berkata: Nikah mut’ah hukumnya haram, bentuknya adalah : aku nikahkan anakku untuk waktu sehari atau sebulan[44]Imam Nawawi dalam al majmu’ syarah muhazzab berkata : Nikah Mut’ah adalah seperti bentuk demikian : Aku nikahkan kamu dengan anakku selama sehari atau sebulan, yaitu pernikahan yang ditentukan hingga waktu tertentu. Jika waktu yang ditentukan telah selesai maka selesailah pernikahan itu.

Ibnu Dhawayyan berkata :

yaitu menikahkan anaknya hingga batas waktu tertentu, dan mensyaratkan bahwa setelah jangka waktu selesai maka tercerailah suami istri itu.[45]

Dari penjelasan tentang arti nikah mut’ah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk pernikahan yang selesai bila waktu yang disepakati telah tiba. Setelah waktunya tiba, kedua suami istri akan terpisah tanpa ada proses perceraian sebagaimana pernikahan yang dikenal dalam Islam.

Syi’ah Imamiyah berpendapat bahwa hukum nikah mut’ah adalah tetap diperbolehkan dan tidak pernah mansukh. Jadi masih diperbolehkan hingga kelak hari kiamat. Syiah Imamiyah berdalil dengan ucapan Imam mereka yaitu Abu Ja’far, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali Al Baqir :

1- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ أَبِي نَجْرَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِي الْقُرْآنِ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَ لا جُناحَ عَلَيْكُمْ فِيما تَراضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ .[64] ك ج 5 ص 448

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Ja’far Alaihissalam tentang mut’ah. Lalu dia menjawab :  ALLAAH telah mewahyukan dalam Al Qur’an Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya,[65] (footnote : syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَقُولُ كَانَ عَلِيٌّ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَوْ لَا مَا سَبَقَنِي بِهِ بَنِي الْخَطَّابِ مَا زَنَى إِلَّا شَقِيٌّ .[66]

Dari Abdullah bin Sulaiman dia berkata : Aku mendengar Abu Ja’far berkata : Ali bin Abi Thalib berkata : jika anak Khottob tidak mendahului aku, maka tidak ada yang berzina kecuali orang yang celaka.

عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَمَّنْ ذَكَرَهُ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّمَا نَزَلَتْ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً .[67]

Dari Ibnu Abi Umair dari seseorang yang telah memberitahunya, dari Abu AbduLLAAH dia berkata : Ayat yang sebenarnya turun dari ALLAAH adalah ” Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka hingga waktu tertentu, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban,

عَلِيٌّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ أُذَيْنَةَ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ اللَّيْثِيُّ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) فَقَالَ لَهُ مَا تَقُولُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ أَحَلَّهَا اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهِيَ حَلَالٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَقَالَ يَا أَبَا جَعْفَرٍ مِثْلُكَ يَقُولُ هَذَا وَ قَدْ حَرَّمَهَا عُمَرُ وَ نَهَى عَنْهَا فَقَالَ وَ إِنْ كَانَ فَعَلَ قَالَ إِنِّي أُعِيذُكَ بِاللَّهِ مِنْ ذَلِكَ أَنْ تُحِلَّ شَيْئاً حَرَّمَهُ عُمَرُ قَالَ فَقَالَ لَهُ فَأَنْتَ عَلَى قَوْلِ صَاحِبِكَ وَ أَنَا عَلَى قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَهَلُمَّ أُلَاعِنْكَ أَنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وَ أَنَّ الْبَاطِلَ مَا قَالَ صَاحِبُكَ قَالَ فَأَقْبَلَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَيْرٍ فَقَالَ يَسُرُّكَ أَنَّ نِسَاءَكَ وَ بَنَاتِكَ وَ أَخَوَاتِكَ وَ بَنَاتِ عَمِّكَ يَفْعَلْنَ قَالَ فَأَعْرَضَ عَنْهُ أَبُو جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) حِينَ ذَكَرَ نِسَاءَهُ وَ بَنَاتِ عَمِّهِ . [68]

Dari Zurarah dia berkata : Ibnu Umair Allaithy pada Abu Ja’far, lalu dia bertanya : apa pendapat anda tentang nikah mut’ah? Lalu Abu Ja’far menjawab : telah dihalalkan oleh Allah dalam Al Qur’an dan melalui lisan RasulNya, maka hukumnya tetap halal hingga hari kiamat. Lalu dia bertanya : Wahai Abu Ja’far apakah orang seperti anda mengatakan hal ini sedangkan umar telah melarang dan mengharamkan mut’ah? Lalu Abu Ja’far mengatakan : walaupun telah dilarang oleh Umar. Dia berkata : Aku memohon pada Allah agar anda dijauhkan dari menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Umar. Lalu Abu Ja”far berkata : engkau memegang pendapat kawanmu, dan aku memegang hadits Nabi, mari kita memohon laknat dari ALLAAH bahwa yang benar adalah apa yang diucapkan RasuluLLAAH dan omongan kawanmu adalah batil. Lalu Abu Umair mengatakan pada Abu Ja’far : Apakah anda suka jika istri anda, anak wanita anda, saudara wanita anda dan anak wanita paman anda dinikahi secara mut’ah? Lalu Abu Ja’far berpaling ketika disebut istrinya dan anak pamannya.

Nikah mut’ah adalah halal tapi Imam Abu Ja’far sendiri tidak senang jika ada orang yang menikahi anaknya atau anak pamannya dengan nikah mut’ah. Yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar, yang berani-beraninya mengharamkan perbuatan yang dihalalkan oleh Nabi. Sampai Imam Abu Ja’far berani bermula’anah, memohon laknat dari Allah jika pendapatnya salah.

Ahlussunnah sepakat bahwa nikah mut’ah haram hukumnya, maka tidak akan anda temukan dalam kitab fiqih ulama ahlussunnah mana pun penjelasan tentang cara-cara mut’ah dan pekara-perkara yang berkaitan dengan mut’ah. Karena keyakinan syi’ah Imamiyah atas dibolehkannya mut’ah, maka dalam kitab-kitab mereka tercantum penjelasan mengenai nikah mut’ah. Berikut ini kami paparkan sebagian penjelasan yang ada dalam kitab-kitab ulama syiah megenai mut’ah.

1. Nikah Mut’ah adalah bukan pernikahan yang membatasi istri hanya empat.

الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَزْدِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا الْحَسَنِ ( عليه السلام ) عَنِ الْمُتْعَةِ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ لَا[69].
Dari Abubakar bin Muhammad Al Azdi dia berkata :aku bertanya kepada Abu Hasan tentang mut’ah, apakah termasuk dalam pernikahan yang membatasi 4 istri? Dia menjawab tidak.

Wanita yang dinikahi secara mut’ah adalah wanita sewaan, jadi diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan 1000 wanita sekaligus, karena akad mut’ah bukanlah pernikahan. Jika memang pernikahan maka dibatasi hanya dengan 4 istri.

7- الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ سَعْدَانَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ زُرَارَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ ذَكَرْتُ لَهُ الْمُتْعَةَ أَ هِيَ مِنَ الْأَرْبَعِ فَقَالَ تَزَوَّجْ مِنْهُنَّ أَلْفاً فَإِنَّهُنَّ مُسْتَأْجَرَاتٌ [70].
Dari Zurarah dari Ayahnya dari Abu Abdullah, aku bertanya tentang mut’ah pada beliau apakah merupakan bagian dari pernikahan yang membatasi 4 istri? Jawabnya : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan

2. Syarat Utama Nikah Mut’ah

Dalam nikah mut’ah yang terpenting adalah waktu dan mahar. Jika keduanya telah disebutkan dalam akad, maka sahlah akad mut’ah mereka berdua. Karena seperti yang akan dijelaskan kemudian bahwa hubungan pernikahan mut’ah berakhir dengan selesainya waktu yang disepakati. Jika waktu tidak disepakati maka tidak akan memiliki perbedaan dengan pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam

- عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ وَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ جَمِيعاً عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ جَمِيلِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ لَا تَكُونُ مُتْعَةٌ إِلَّا بِأَمْرَيْنِ أَجَلٍ مُسَمًّى وَ أَجْرٍ مُسَمًّى [71].

Dari Zurarah bahwa Abu Abdullah berkata : Nikah mut’ah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu.

3. Batas minimal mahar mut’ah

Di atas disebutkan bahwa rukun akad mut’ah adalah adanya kesepakatan atas waktu dan mahar. Berapa batas minimal mahar nikah mut’ah?

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنْ أَدْنَى مَهْرِ الْمُتْعَةِ مَا هُوَ قَالَ كَفٌّ مِنْ طَعَامٍ دَقِيقٍ أَوْ سَوِيقٍ أَوْ تَمْرٍ .[72]

الكافي ج 5 ص 457

Dari Abu Bashir dia berkata : aku bertanya pada Abu Abdullah tentang batas minimal mahar mut’ah, lalu beliau menjawab bahwa minimal mahar mut’ah adalah segenggam makanan, tepung, gandum atau korma.

4. Tidak ada talak dalam mut’ah

dalam nikah mut’ah tidak dikenal istilah talak, karena seperti di atas telah diterangkan bahwa nikah mut’ah bukanlah pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam. Jika hubungan pernikahan yang lazim dilakukan dalam Islam selesai dengan beberapa hal dan salah satunya adalah talak, maka hubungan nikah mut’ah selesai dengan berlalunya waktu yang telah disepakati bersama. Seperti diketahui dalam riwayat di atas, kesepakatan atas jangka waktu mut’ah adalah salah satu rukun/elemen penting dalam mut’ah selain kesepakatan atas mahar.

3- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ فَضَّالٍ عَنِ ابْنِ بُكَيْرٍ عَنْ زُرَارَةَ قَالَ عِدَّةُ الْمُتْعَةِ خَمْسَةٌ وَ أَرْبَعُونَ يَوْماً كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) يَعْقِدُ بِيَدِهِ خَمْسَةً وَ أَرْبَعِينَ فَإِذَا جَازَ الْأَجَلُ كَانَتْ فُرْقَةٌ بِغَيْرِ طَلَاقٍ[73]

Dari Zurarah dia berkata masa iddah bagi wanita yang mut’ah adalah 45 hari. Seakan saya melihat Abu Abdullah menunjukkan tangannya tanda 45, jika selesai waktu yang disepakati maka mereka berdua terpisah tanpa adanya talak.

5. Jangka waktu minimal mut’ah.

Dalam nikah mut’ah tidak ada batas minimal mengenai kesepakatan waktu berlangsungnya mut’ah. Jadi boleh saja bersepakat nikah mut’ah dalam jangka waktu satu hari, satu minggu, satu bulan bahkan untuk sekali hubungan suami istri.

عَنْ خَلَفِ بْنِ حَمَّادٍ قَالَ أَرْسَلْتُ إِلَى أَبِي الْحَسَنِ ( عليه السلام ) كَمْ أَدْنَى أَجَلِ الْمُتْعَةِ هَلْ يَجُوزُ أَنْ يَتَمَتَّعَ الرَّجُلُ بِشَرْطِ مَرَّةٍ وَاحِدَةٍ قَالَ نَعَمْ .[74]

Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mut’ah? Apakah diperbolehkan mut’ah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan suami istri? Jawabnya : ya

Orang yang melakukan nikah mut’ah diperbolehkan melakukan apa saja layaknya suami istri dalam pernikahan yang lazim dikenal dalam Islam, sampai habis waktu yang disepakati. Jika waktu yang disepakati telah habis, mereka berdua tidak menjadi suami istri lagi, alias bukan mahram yang haram dipandang, disentuh dan lain sebagainya. Bagaimana jika terjadi kesepakatan mut’ah atas sekali hubungan suami istri? Yang mana setelah berhubungan layaknya suami istri mereka sudah bukan suami istri lagi, yang mana berlaku hukum hubungan pria wanita yang bukan mahram? Tentunya diperlukan waktu untuk berbenah sebelum keduanya pergi.

ع أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) عَنِ الرَّجُلِ يَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ عَلَى عَرْدٍ وَاحِدٍ فَقَالَ لَا بَأْسَ وَ لَكِنْ إِذَا فَرَغَ فَلْيُحَوِّلْ وَجْهَهُ وَ لَا يَنْظُرْ [75]

Dari Abu AbdiLLAAH, ditanya tentang orang nikah mut’ah dengan jangka waktu sekali hubungan suami istri. Jawabnya : ” tidak mengapa, tetapi jika selesai berhubungan hendaknya memalingkan wajahnya dan tidak melihat pasangannya”.

6. Nikah mut’ah berkali-kali tanpa batas.

Diperbolehkan nikah mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali tanpa batas, tidak seperti pernikahan yang lazim, yang mana jika seorang wanita telah ditalak tiga maka harus menikah dengan laki-laki lain dulu sebelum dibolehkan menikah kembali dengan suami pertama. Hal ini seperti diterangkan oleh Abu Ja’far, Imam Syiah yang ke empat, karena wanita mut’ah bukannya istri, tapi wanita sewaan. Disini dipergunakan analogi sewaan, yang mana seseorang diperbolehkan menyewa sesuatu dan mengembalikannya lalu menyewa lagi dan mengembalikannya berulang kali tanpa batas.

1- عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا عَنْ زُرَارَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ جُعِلْتُ فِدَاكَ الرَّجُلُ يَتَزَوَّجُ الْمُتْعَةَ وَ يَنْقَضِي شَرْطُهَا ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا رَجُلٌ آخَرُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثُمَّ يَتَزَوَّجُهَا الْأَوَّلُ حَتَّى بَانَتْ مِنْهُ ثَلَاثاً وَ تَزَوَّجَتْ ثَلَاثَةَ أَزْوَاجٍ يَحِلُّ لِلْأَوَّلِ أَنْ يَتَزَوَّجَهَا قَالَ نَعَمْ كَمْ شَاءَ لَيْسَ هَذِهِ مِثْلَ الْحُرَّةِ هَذِهِ مُسْتَأْجَرَةٌ وَ هِيَ بِمَنْزِلَةِ الْإِمَاءِ [76].

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Ja’far : ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya.

7. Wanita mut’ah diberi mahar sesuai jumlah hari yang disepakati.

Wanita yang dinikah mut’ah mendapatkan bagian maharnya sesuai dengan hari yang disepakati. Jika ternyata wanita itu pergi maka boleh menahan maharnya.

292

3- عَنْ عُمَرَ بْنِ حَنْظَلَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ أَتَزَوَّجُ الْمَرْأَةَ شَهْراً فَأَحْبِسُ عَنْهَا شَيْئاً قَالَ نَعَمْ خُذْ مِنْهَا بِقَدْرِ مَا تُخْلِفُكَ إِنْ كَانَ نِصْفَ شَهْرٍ فَالنِّصْفَ وَ إِنْ كَانَ ثُلُثاً فَالثُّلُثَ[77] . ك ج 5 ص 461

Dari Umar bin Handholah dia bertanya pada Abu AbduLLAAH : aku nikah mut’ah dengan seorang wanita selama sebulan lalu aku tidak memberinya sebagian dari mahar, jawabnya : ya, ambillah mahar bagian yang dia tidak datang, jika setengah bulan maka ambillah setengah mahar, jika sepertiga bulan maka ambillah sepertiga maharnya

8. Jika ternyata wanita yang dimut’ah telah bersuami ataupun seorang pelacur, maka mut’ah tidak terputus dengan sendirinya.

Jika seorang pria hendak melamar seorang wanita untuk menikah mut’ah dan bertanya tentang statusnya, maka harus percaya pada pengakuan wanita itu. Jika ternyata wanita itu berbohong, dengan mengatakan bahwa dia adalah gadis tapi ternyata telah bersuami maka menjadi tanggung jawab wanita tadi.

1- عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِنِّي أَكُونُ فِي بَعْضِ الطُّرُقَاتِ فَأَرَى الْمَرْأَةَ الْحَسْنَاءَ وَ لَا آمَنُ أَنْ تَكُونَ ذَاتَ بَعْلٍ أَوْ مِنَ الْعَوَاهِرِ قَالَ لَيْسَ هَذَا عَلَيْكَ إِنَّمَا عَلَيْكَ أَنْ تُصَدِّقَهَا فِي نَفْسِهَا [78].

Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu AbduLLAAH, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya.

Ayatollah Ali Al Sistani berkata :

Masalah 260 : dianjurkan nikah mut’ah dengan wanita beriman yang baik-baik dan bertanya tentang statusnya, apakah dia bersuami ataukah tidak. Tapi setelah menikah maka tidak dianjurkan bertanya tentang statusnya. Mengetahui status seorang wanita dalam nikah mut’ah bukanlah syarat sahnya nikah mut’ah[79]

9. Nikah mut’ah dengan gadis

2- مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ وَ عَبْدِ اللَّهِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي الْحَلَّالِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَقُولُ لَا بَأْسَ بِأَنْ يَتَمَتَّعَ بِالْبِكْرِ مَا لَمْ يُفْضِ إِلَيْهَا مَخَافَةَ كَرَاهِيَةِ الْعَيْبِ عَلَى أَهْلِهَا[80] ك ج 5 ص 462

Dari ziyad bin abil halal berkata : aku mendengar Abu AbduLLAAH berkata tidak mengapa bermut’ah dengan seorang gadis selama tidak menggaulinya di qubulnya, supaya tidak mendatangkan aib bagi keluarganya.

10. Nikah mut’ah dengan pelacur

Diperbolehkan nikah mut’ah walaupun dengan wanita pelacur. Sedangkan kita telah mengetahui di atas bahwa wanita yang dinikah mut’ah adalah wanita sewaan. Jika boleh menyewa wanita baik-baik tentunya diperbolehkan juga menyewa wanita yang memang pekerjaannya adalah menyewakan dirinya.

AyatoLLAAH Udhma Ali Al Sistani mengatakan :

Masalah 261 : diperbolehkan menikah mut’ah dengan pelacur walaupun tidak dianjurkan, ya jika wanita itu dikenal sebagai pezina maka sebaiknya tidak menikah mut’ah dengan wanita itu sampai dia bertaubat.[81]

11. Pahala yang dijanjikan bagi nikah mut’ah

عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ ع قال: قُلْتُ لَهُ: (لِلْمُتَمَتِّعِ ثَوَابٌ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ تَعَالىَ وَخِلاَفًا عَلىَ مَنْ أَنْكَرَهَا لَمْ يُكَلِّمْهَا كَلِمَةً إِلاَّ كَتَبَ اللهُ تَعَالىَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَلَمْ يَمُدْ يَدَهُ إِلَيْهَا إِلاَّ كَتَبَ اللهُ لهُ حَسَنَةً، فَإِذَا دَنَا مِنْهَا غَفَرَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِذَلِكَ ذَنْبًا، فَإِذَا اغْتَسَلَ غَفَرَ اللهُ لَهُ بِقَدْرِ مَا مَرََََََََََََََّ مِنَ الْمَاءِ عَلىَ شَعْرِهِ، قُلْتُ: بِعَدَدِ الشَّعْرِ؟ قَالَ: نَعَمْ بِعَدَدِ الشَّعْرِ))[82]. فقيه ج 3 ص 464

Dari Sholeh bin Uqbah, dari ayahnya, aku bertanya pada Abu AbduLLAAH apakah orang yang bermut’ah mendapat pahala? Jawabnya : jika karena mengharap pahala Allah dan tidak menyelisihi wanita itu, maka setiap lelaki itu berbicara padanya pasti ALLAAH menuliskan kebaikan sebagai balasannya, setiap dia mengulurkan tangannya pada wanita itu pasti diberi pahala sebagai balasannya. Jika menggaulinya pasti ALLAAH mengampuni sebuah dosa sebagai balasannya, jika dia mandi maka ALLAAH akan mengampuni dosanya sebanyak jumlah rambut yang dilewati oleh air ketika sedang mandi. Aku bertanya : sebanyak jumlah rambut? Jawabnya : Ya, sebanyak jumlah rambut.

4601 – وَقَالَ أَبُوْجَعْفَرٍ ع: (إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ لَمَّا اُسْرِيَ بِهِ إِلىَ السَّمَاءِ قَالَ: لَحِقَنِيْ جِبْرِئِيْل عليه السلام فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ: إِنِّي قََََََََدْ غَفَرْتُ لِلْمُتَمَتِّعِيْنَ مِنَ أُمَّتِكَ مِنَ النِّسَاءِ)[83].

Abu Ja’far berkata “ketika Nabi sedang isra’ ke langit berkata : Jibril menyusulku dan berkata : wahai Muhammad, ALLAAH berfirman : Sungguh AKU telah mengampuni wanita ummatmu yang mut’ah

11. hubungan warisan

Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 : Nikah mut’ah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini[84].

12. Nafkah

Wanita yang dinikah mut’ah tidak berhak mendapatkan nafkah dari suami.

Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mut’ah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mut’ahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mut’ah atau akad lain yang mengikat[85]

Dari dua pendapat diatas dalam tulisan ini akan di bahas manakah dari pendapat tersebut yang lebih dekat pada kenyataan? Apakah nikah mut’ah telah dimansukh oleh Rasul atau tidak? Kalaulah tidak lantas apakah wewenang dan dasar yang dipakai oleh Umar untuk mengharamkannya? Adakah ia melakukan berdasarkan konsep ijtihad?

Sedang Imam Ali  sebagai khalifah keempat ahlissunnah- tidak pernah mengharamkannya? Bolehkah dalam Islam melakukan ijtihad walau bertentangan dengan ayat atau riwayat yang sebagai sumber utama syariat Islam? Kalaulah kita terima bahwa nikah jenis itu haram karena ijtihad Umar kenapa mut’ah haji (haji tamattu’) yang juga diharamkan oleh Umar tetap dianggap halal oleh seluruh kaum muslimin? Bukankah kalau kita menerima ijtihad Umar tentang pelarangan nikah mut’ah berarti juga harus menerima pelarangannya atas mut’ah haji?

Yang perlu diingat oleh pembaca yang budiman adalah bahwa kita disini dalam rangka mencari kebenaran akan konsep hukum mut’ah dan lepas dari permasalahan praktis dari hal tersebut, oleh karenanya dalam membahas haruslah didasari oleh argumen dari teks agama ataupun akal dan bukan bersandar pada emosional maupun fanatisme golongan.

Argumentasi dari Kitab-kitab Standar Ahlissunnah akan Pembolehan Nikah Mut’ah.

Sebagaimana yang telah singgung diatas bahwa nikah mut’ah pernah disyariatkan oleh ALLAAH sebagaimana yang telah disepakati oleh seluruh ulama’ kaum muslimin, hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi: “dan (diharamkan atas kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki,   sebagai ketetapanNYA atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina, maka (istri-istri) yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu,   Qs; An-Nisaa’:24).

Jelas sekali bahwa ayat tersebut berkenaan denga nikah mut’ah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh para perawi hadis dari sahabat-sahabat Rasul seperti: Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Habib bin Abi Tsabit, Said bin Jubair, Jabir bin Abullah al-Anshari (ra) dst.

Pendapat beberapa ulama’ tafsir dan hadis ahlussunnah.

Adapun dari para penulis hadis dan penafsir dari ahlussunnah kita sebutkan saja secara ringkas:

1. Imam Ahmad bin Hambal dalam “Musnad Ahmad” jilid:4 hal:436.
2. Abu Ja’far Thabari dalam “Tafsir at-Thabari” jilid:5 hal:9.
3. Abu Bakar Jasshas dalam “Ahkamul-Qur’an” jilid:2 hal:178.
4. Abu bakar Baihaqi dalam “as-Sunan-al-Qubra” jilid:7 hal:205.
5. Mahmud bin Umar Zamakhsari dalam “Tafsir al-Kassyaf” jil:1 hal:360.
6. Fakhruddin ar-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib” jil:3 hal:267.
7. dst.

Pendapat beberapa Sahabat (Salaf Saleh) dan Tabi’in.

Beberapa ungkapan para sahabat Rasul dan para tabi’in (yang hidup setelah zaman para sahabat) sebagai contoh pribadi-pribadi yang mengingkari akan pelarangan (pengharaman) mut’ah: Imam Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diungkapakan oleh Thabari dalam kitab tafsirnya (lihat: jil:5 hal:9) dimana Imam Ali bersabda: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benarbenar celaka saja”.

Riwayat ini sebagai bukti bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Umar bin Khatab, lantas setelah banyaknya kasus perzinaan dan pemerkosaan sekarang ini –berdasarkan riwayat diatas- siapakah yang termasuk bertanggungjawab atas semua peristiwa itu?

Abdullah bin Umar bin Khatab (putera khalifah kedua), sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya (lihat: jil:2 hal:95) dimana Abdullah berkata ketika ditanya tentang nikah mut’ah: “Demi ALLAAH, sewaktu kita dizaman Rasul tidak kita dapati orang berzina ataupun serong”. Kemudian berkata, aku pernah mendengar Rasul bersabda: “sebelum datangnya hari kiamat akan muncul masihud-dajjal dan pembohong besar sebanyak tiga puluh orang atau lebih”. Lantas siapakah yang layak disebut pembohong dalam riwayat diatas tadi? Adakah orang yang memutar balikkan syariat Rasul layak untuk dibilang pembohong?

AbduLLAAH bin Masud, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya (lihat: jil:7 hal:4 kitab nikah bab:8 hadis ke:3), dimana Abdullah berkata: “sewaktu kita berperang bersama Rasulullah sedang kita tidak membawa apa-apa, lantas kita bertanya kepada beliau: bolehkah kita lakukan pengebirian? Lantas beliau melarang kita untuk melakukannya kemudian beliau memberi izin kita untuk menikahi wanita dengan mahar baju untuk jangka waktu tertentu. Saat itu beliau membacakan kepada kami ayat yang berbunyi: “wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengharamkan apa-apa yang baik yang telah ALLAAH halalkan bagi kalian dan janganlah kalian melampaui batas…”(Qs Al-Ma’idah:87).

Cobalah renungkan makna ayat dan riwayat diatas lantas hubungkanlah antara penghalalan ataupun pengharaman nikah mut’ah! Manakah dari dua hukum tersebut yang sesuai dengan syariat Allah yang dibawa oleh Rasul?

Imran bin Hashin, sebagaimana yang dinukil oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya, (lihat: jil:6 hal:27 kitab tafsir; dalam menafsirkan ayat: faman tamatta’a bilumrati ilal-hajji (Qs Al-Baqarah)), dimana Imran berkata: “Diturunkan ayat mut’ah dalam kitabullah (Al-Qur’an) kemudian kita melakukannya di zaman Rasul, sedang tidak ada ayat lagi yang turun dan mengharamkannya, juga Rasul tidak pernah melarangnya sampai beliau wafat”.

Riwayat seperti diatas juga dinukil oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kitab musnadnya. Dua riwayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ayat yang menghapus (nasikh) penghalalan mut’ah dan juga sebagai bukti mahwa mut’ah sampai akhir hayat Rasul beliau tidak mengharamkannya.

Ibn Abi Nadhrah, sebagaimana yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya (lihat: jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8), dimana Ibn abi nadhrah berkata: “Dahulu Ibn abbas memerintahkan (baca:menghalalkan) nikah mut’ah sedang Ibn zubair melarangnya kemudia peristiwa tersebut sampai pada telinga Jabir bin Abdullah al-Anshori (ra) lantas dia berkata: “Akulah orang yang mendapatkan hadis tersebut, dahulu kita melakukan mut’ah bersama Rasulullah akan tetapi setelah Umar berkuasa lantas ia mengumumkan bahwa; “Dahulu ALLAAH menghalalkan buat Rasul-Nya sesuai dengan apa yang dikehendakinya, maka umat pun menyempurnakan haji dan umrah mereka, juga melakukan pernikahan dengan wanita-wanita tersebut, jika terdapat seseorang menikahi seorang wanita untuk jangka wanita tertentu niscaya akan kurajam ia dengan batu”.

Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam musnadnya (lihat: jil:1 hal:52). Dikatakan bahwa Abi Nadhrah berkata: “Aku berkata kepada Jabir bin Abdullah Anshari (ra), sesungguhnya Ibn zubair melarang nikah mut’ah sedangkan Ibn Abbas membolehkannya”. Kemudian ia (Jabir) mengatakan: “Melalui diriku hadis tersebut didapat, kita telah melakukan mut’ah bersama RasuluLLAAH (saww) juga bersama Abu bakar, akan tetapi setelah berkuasanya Umar, ia (Umar) pun mengumumkannya pada masyarakat dengan ucapan: “Sesungguhnya Al-Qur’an tetap posisinya sebagai Al-Qur’an sedang Rasulullah (saww) tetap sebagai Rasul, ada dua jenis mut’ah yang ada pada zaman Rasul; haji mut’ah dan nikah mut’ah”.

Dua riwayat diatas dengan jelas sekali menyebutkan bahwa pertama orang yang mengharamkan nikah mut’ah adalah Umar bukan Rasul ataupun turun ayat yang berfungsi sebagai penghapus hukum mut’ah sebagaimana yang dikatakan sebagian orang yang tidak mengetahui tentang isi kandungan yang terdapat dalam buku-buku standar mereka sendiri.

Sebagai tambahan kami nukilkan pendapat Fakhrur Razi dalam tafsir al-Kabir, ketika menafsirkan ayat 24 surat an-Nisa. Ar-Razi mengutip ucapan Umar (“ Dua jenis mut’ah yang berlaku di masa rasulullah, yang kini ku larang dan pelakunya akan kuhukum, adalah mutah haji dan mut’ah wanita” ) dalam menetapkan pengharaman nikah mut’ah. Begitu juga tokoh besar dari kamu Asy,ariyah, Imam al-Qausyaji dalam kitab Syarh At-Tajrid, dalam pengharamannya mut’ah adalah ucapan Umar (ucapan Umar: Tiga perkara yang pernah berlaku di zaman Rasulullah, kini kularang, kuharamkan dan kuhukum pelakuknya adalah mut’ah wanita dan mutah haji serta seruan (azan): hayya ‘ala khayr al-‘amal (marilah mengerjakan sebaik-baik amal)). Qusyaji membela tindakan Umar ini, menyatakan bahwa semata-mata takwil atau ijtihad Umar.

AbduLLAAH ibn Abbas, sebagaimana yang dinukil oleh al-Jasshas dalam Ahkamul-Qu’an (jil:2 hal:179), Ibn Rusyd dalam bidayatul mujtahid (jil:2 hal:58), Ibn Atsir dalam an-Nihayah (jil:2 hal:249), al-Qurtubi dalam tafsirnya (jil:5 hal:130), suyuti dalam tafsirnya (jil:2 hal:140) dikatakan bahwa Ibn Abbas berkata: “semoga ALLAAH merahmati Umar, bukanlah mut’ah kecuali merupakan rahmat dari ALLAAH bagi umat Muhammad (SAW) jikalau ia (Umar) tidak melarang mut’ah tersebut niscaya tiada orang yang menghendaki berbuat zina kecuali ia bisa terobati”.

Riwayat yang dikemukakan oleh Ibn Khalqan dalam kitab Wafayaatul-A’yaan jil:6 hal:149-150, durrul mantsur jil:2 hal:140, kanzul ummal jil:8 hal:293, tarikh tabari jil:5 hal:32, tarikh Ibn khalkan jil:2 hal:359, tajul-arus jil:10 hal:200. Dan masih banyak lagi riwayat dalam kitab-kitab lainnya.

Untuk mempersingkat tulisan singkat ini kita cukupkan hanya dengan menyebutkan riwayat-riwayat diatas. Untuk melengkapinya akan kita sebutkan beberapa permasalahan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang tidak paham akan maksud dari hikmah Ilahi tentang penghalalan nikah mut’ah dan kita berusaha untuk menjawabnya secara ringkas.

Soal: Salah satu fungsi pernikahan adalah untuk membina keluarga dan menghasilkan keturunan dan itu hanya bisa terwujud dalam nikah da’im (baca:nikah biasa), sedang nikah mut’ah tujuannya hanya sekedar sebagai pelampiasan nafsu belaka.

Jawab: Jelas sekali bahwa pertanyaan diatas menunjukkan akan adanya percampuran paham antara hukum obyek dengan fungsi/hikmah pernikahan. Yang ia sampaikan tadi adalah berkisar tentang hikmah pernikahan bukan hukum pernikahan. Karena kita tahu bahwa Islam mengatakan bahwa sah saja orang menikah walaupun dengan tidak memiliki tujuan untuk hal yang telah disebutkan diatas, sebagaimana orang lelaki yang sengaja mengawini wanita yang mandul atau wanita tua sehingga tidak terlintas sama sekali dibenaknya untuk mendapat anak dari wanita tersebut ataupun lelaki yang mengawini seorang wanita dengan nikah daim akan tetapi hanya untuk beberapa saat saja-taruhlah dua bulan saja- setelah itu ia talak wanita tersebut. Dua contoh pernikahan tersebut jelas tidak seorang ulama pun yang mengatakan bahwa itu batil hukumnya sebagaimana yang disampaikan oleh penulis tafsir “Al-Manaar” dimana ia mengatakan: “pelarangan para ulama’ terdahulu maupun yang sekarang akan nikah mut’ah mengharuskan juga pelarangan akan nikah dengan niat mentalak (istrinya setelah beberapa saat) walaupun para ahli fiqih sepakat bahwa akad nikah dikatakan sah walaupun ada niatan suami untuk menikahinya hanya untuk saat tertentu saja sedang niat tersebut tidak diungkapkannya saat akat nikah, sedang penyembunyian niat tersebut merupakan salah satu jenis penipuan sehingga hal itu lebih layak untuk dihukumi batil jika syarat niat tadi diungkapkan sewaktu akad dilangsungkan” (Tafsir al-Manaar jil:5 hal:17).

Dari sini kita akan heran melihat orang yang menganggap bahwa mut’ah hanya berfungsi sebagai sarana pelampiasan nafsu belaka dan bukankah dalam nikah da’im pun bisa saja orang berniat untuk pelampiasan nafsu saja, niatan itu semua kembali kepada pribadi masing-masing bukan dari jenis pernikahannya.

Soal: Nikah mut’ah menjadikan wanita tidak dapat menjaga kehormatan dirinya karena ia bisa berganti-ganti pasangan kapanpun ia mau, padahal Islam sangat menekankan penjagaan kehormatan terkhusus bagi para wanita.

Jawab: Justru dalam nikah mut’ah sama seperti nikah da’im dimana bukan hanya wanita yang ditekankan untuk menjaga kehormatannya tapi bagi silelaki pun diharuskan untuk menjaga hal tersebut, karena legalitas pernikahan tersebut sudah ditetapkan dalam syariat maka dengan cara inilah mereka menjaga kehormatan mereka dan tidak menjerumuskan diri mereka keperzinaan. Dalam Islam ada tiga alternatif dalam menangani gejolak nafsu birahi:Nikah da’im, Nikah mut’ah dengan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan meredam nafsu dengan puasa misalnya.

Sekarang jika seseorang tidak mampu melaksanakan nikah da’im dengan berbagai alasan seperti karena masalah ekonomi, studi ataupun yang lainnya, dan untuk meredam nafsu dengan puasa misalnya iapun tidak mampu atau gejolaknya muncul diwaktu malam yang tidak memungkinkan untuk puasa, maka alternatif terakhir dengan nikah mut’ah tadi.

Inilah yang diajarkan Islam kepada pengikutnya karena kita tahu bahwa Islam adalah agama terakhir, syariatnya pun adalah syariat terakhir yang dibawa oleh Nabi terakhir maka ia harus selalu up to date dan universal yang mencakup segala aspek kehidupan manusia yang mampu menjawab apapun kemungkinan yang bakal terjadi, dan ia merupakan agama yang bijaksana dimana salah satu ciri hal yang bijak adalah disaat ia melarang sesuatu maka ia harus memberi jalan keluarnya. Lantas jika seseorang tidak dapat melakukan nikah da’im ataupun meredam nafsunya lantas apa yang harus ia lakukan, sementara Islam melarang penyimpangan seksual jenis apapun? Atau jika ada seorang pemuda ingin mengenal seorang wanita lebih dekat untuk nanti menjadikannya seorang istri dalam masa pendekatan itu – karena boleh jadi gagal karena tidak ada kecocokan- hubungan apakah yang harus ia lakukan sehingga ia dapat berbicara dengan wanita tersebut berdua-duaan sedang Islam melarang berpacaran tanpa ada ikatan pernikahan?

Dan banyak lagi contoh lain yang Islam sebagai agama terakhir dan sebagai agama yang bijak dituntut untuk mampu menjawab tantangan tersebut, jika mut’ah diharamkan lantas kira-kira jalan keluar manakah yang akan diberikan oleh si pengharam mut’ah tadi? Oleh karenanya jangan heran jika Imam Ali (AS) mengeluarkan statemen seperti diatas ( Imam Ali: “jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”).

Kesalahan besar yang selama ini banyak terdapat pada benak kaum muslimin adalah mereka sering mengidentikkan nikah mut’ah dengan hubungan seksual padahal tidak mesti semacam itu –sebagaimana nikah da’im dengan anak dibawah usia yang diperbolehkan oleh para ahli fiqih semuanya- bisa saja siwanita mensyarati untuk tidak melakukan hal tersebut dalam akad nya sehingga mut’ah hanya sebagai sarana untuk menghilangkan dosa -semasa berkenalan untuk nantinya menikah daim- dengan adanya ikatan pernikahan diantara mereka.

Soal: Adanya beberapa sumber dari ahlussunnah yang menunjukkan adanya pelarangan mut’ah walaupun dari sisi waktu dan tempat pelarangannya berbeda-beda sehingga menjadi argumen bahwa ayat mut’ah (an-Nisaa:23) sudah terhapus dengan riwayatriwayat itu, seperti:
1. Dibolehkannya mut’ah lantas dilarang pada seusai perang Khaibar.
2. Dibolehkannya nikah mut’ah lantas dilarang pada saat Fathul-Makkah.
3. Hanya dibolehkan pada saat peristiwa Awthas saja.
4. Diperbolehkan pada saat umrah qadha’ saja.

Jawab: Kita bisa katakan bahwa:
1. Ungkapan-ungkapan yang berbeda-beda itu menunjukkan tidak adanya kesepakatan akan pelarangannya karena perbedaan riwayat menunjukkan bahwa riwayat itu tunggal sifatnya (khabar wahid) dan riwayat jenis itu tidak bisa dijadikan sandaran sebagai penghapus hukum yang ada dalam Al-Qur’an, oleh karenanya Imran bin Hashin mengatakan tidak ada riwayat ataupun ayat yang menghapus hukum mut’ah (lihat kembali riwayat Imran diatas).

2. Khalifah kedua sebagai pengharam mut’ah pun tidak menyandaran ijtihadnya – kalaulah itu bisa disebut ijtihad- kepada ayat ataupun riwayat karena memang tidak ada riwayat yang menghapus hukum mut’ah tersebut sehingga dari sinilah menyebabkan banyak sahabat yang menentang keputusan Umar dalam pengharaman mut’ah. Kalau ada ayat atau riwayat yang mengharamkan nikah Mut’ah, kenapa Umar menyandarkan pelarangannya pada diri sendiri? Bukankah dengan menyandarkan pada ayat dan riwayat dari Rasul maka pendapatnya akan lebih kuat?

Soal: Diperbolehkannya melakukan nikah mut’ah adalah sebagaimana diperbolehkannya memakan daging babi yaitu pada saat-saat tertentu saja (dharurat) karena mut’ah sama hukumnya seperti zina yaitu haram, maka sebagaimana haramnya babi dalam saatsaat tertentu halal maka pada saat-saat tertentupun mut’ah halal juga hukumnya.

Jawab: Jelas penyamaan antara diperbolehkannya makan daging babi disaat dharurat berbeda dengan mut’ah, salah satu perbedaannya adalah:

Hukum dharurat hanya pada hal-hal yang mengakibatkan kelangsungan hidup (jiwa) terancam oleh karenanya diperbolehkan makan daging babi sebatas untuk menyambung hidup saja sehingga dilarang untuk makan secara berlebihan, adapun mut’ah apakah ia sama seperti daging babi sehingga jika seseorang tidak mut’ah lantas ia terancam kelangsungan hidupnya?

Kalaupun –walaupun alasan ini tidak dapat diterima- mut’ah bisa disamakan sama seperti daging babi yaitu terkenai hukum dharurat, lantas kenapa banyak sahabat yang melakukan mut’ah saat itu padahal gairah seksual tidak mesti muncul bersamaan sebagaimana rasa lapar?

Kalau dikatakan hukum dharurat itu ada, seharusnya hukum setelah hilang nya dharurat, kembali ke hukum awal nya (haram), akan tetapi yang kita dapati bahwa rasulullah tidak mengharamkan sampai akhir hayatnya. Sehingga tidak benar penghalalan hukum mutah itu dikarenakan dharurat.

Penutup.

Dari sini jelaslah bahwa nikah mut’ah diperbolehkan oleh syariat Islam –yang bersumber dari ayat dan hadis shohih- dimana sepakat kaum muslimin bahwa sumber syariat hanyalah ALLAAH semata sebagaimana ayat yang berbunyi: “keputusan menetapkan suatu hukum hanyalah hak ALLAAH”(Qs Yusuf:67). Sedang Rasul diutus untuk menjelaskannya oleh karenanya apa yang diungkapkan oleh beliau merupakan apa yang sudah disetujui oleh ALLAAH. Rasul bersabda:“dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan”(Qs An-Najm:3-4). Oleh karenanya:“apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”(Qs Al-Hasyr:7).

Adapun ucapan para sahabat jika sesuai dengan firman ALLAAH atau ungkapan Rasul maka bisa juga dikategorikan sebagai teks agama, akan tetapi jika tidak maka hal itu telah keluar dari apa yang telah tercantum dari ayat-ayat diatas tadi karena mereka manusia biasa seperti kita yang juga bisa salah sehingga tidak bisa dijadikan rujukan dalam menangani masalah syariat secara independen (mustaqil) tanpa tolok ukur kebenaran yang lain. Karena jika tidak, apa mungkin akan kita jadikan tolok ukur sedang kita dapati banyak pendapat mereka yang saling paradoksal sebagaimana yang kita saksikan tadi, bukankah dalam situasi perbedaan pendapat semacam itu kita diperintahkan untuk kembali kepada ALLAAH & Rasuln : kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada ALLAAH dan Rasul jika kamu benar-benar beriman kepada  ALLAAH dan hari akhir”(Qs An-Nisaa’:59).

Bukanlah ALLAAH dan RasulNYA tetap menghalalkan nikah mut’ah? Sewaktu sumber syariat adalah Al-Qur’an dan Hadis shohih lantas apakah diperbolehkan orang berijtihad –yang lantas hasilnya-hasilnya dianggap sebagai syariat- akan tetapi bertentangan dengan kehendak ALLAAH dan Rasul yang sebagai sumber syariat?, bukankah dalam Al-Qur’an telah ditetapkan bahwa; “dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAAH dan RasulNYA telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa yang mendurhakai ALLAAH dan Rasul-NYA maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”(Qs al-Ahzab:36).

Apakah pemberian ketetapan lain yang tidak sesuai dengan ketetapan ALLAAH dan Rasul tersebut tidak dikategorikan sebagai bid’ah -yang berarti mengada-adakan hukum syariat- dimana dalam riwayat disebutkan bahwa semua jenis bid’ah adalah sesat – “kullu bid’atin dholalah” -sehingga tidak ada lagi lubang untuk membagi bid’ah kepada bid’ah yang baik dan yang buruk? Lantas apakah konsekwensi bagi orang ahli bid’ah yang berarti ahli kesesatan yang dalam riwayat tentang bid’ah juga telah disebutkan “wakullu dhalalatin finnaar”? Kemudian apakah kita akan terus mengikuti ahli bid’ah dengan mengharamkan nikah mut’ah?

Kalaupun nikah mut’ah haram lantas kenapa kita juga tidak mengharamkan mut’ah haji yang sampai detik ini masih dilakukan oleh semua kaum muslimin dunia padahal ia termasuk yang diharamkan oleh khalifah kedua?

Dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab oleh saudara saudara ahlussunnah yang berkisar tentang mut’ah. Renungkanlah dan bacalah saudara-saudaraku.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya ALLAAH tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS; Al-Maaidah:87).


[43] Asysyafi’i. Muhammad bin Idris. Al Umm. Darul Kutub Al Ilmiyyah, . Tanpa Tahun, Dari CD Maktabatul Fiqh, Jilid 5, Hal. 10

[44] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi . Tanpa Tahun. jilid 2 hal 54. Dari CD Maktabatul Fiqh

[45] Ibnu Dhawayyan. Manarussabil. Al Maktab Al Islami. Dari CD Maktabatul Fiqh, Tanpa Tahun.

[46] AnNisa’. 4 : 25

[47] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahanya, Tanpa Tahun, Cetakan Saudi Arabia. Hal. 121

[48] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 1 hal 588

[49] Al Mu’minun. 23 : 5, 6

[50] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 526

[51] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. jilid 3 hal 294

[52] AnNur. 24 : 33

[53] Departemen Agama RI, Op. Cit. Hal 549

[54] Ibnu Katsir. Tafsir Al Qur’an Al Adzim. 1992. Darul Fikr. Beirut. Jilid 1 hal 588

[55] Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Bari bisyarhi Sohihil Bukhori. Jilid 9 .Hal 166 Kitab Nikah. Bab Naha Rasulullah An Nikahil Mut’ati Akhiiron.. Darul Ma’rifah Beirut. Tanpa Tahun . 9 : 166 hadits No. 5115

[56] AnNawawi. Muhyiddin.. Sohih Muslim Bisyarhin Nawawi. Jilid 9 Hal 184 . Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiihaTsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 187. Hadits no. 3404

[57] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit. Jilid 9 : 187. Hadits no. 3404

[58] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid Jilid 9 hal 184

[59] AnNawawi. Muhyiddin.. Ibid… Kitab Nikah Bab Nikahul Mut’ah, wa bayan annahu ubiiha y Tsumma Nusikh Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha Da rul Ma�rifah. Beirut Tanpa Tahun : 9 : 186. Hadits no. 3402

[60] AnNawawi. Muhyiddin.. Op. Cit Jilid 9 hal 183

[61] AnNawawi. Muhyiddin.. Loc. Cit.

[62] Assamarqondi. Abu Laits. Al Muhazzab.. Beirut. Dar Ihya’ Turats Al Arabi. Tanpa Tahun . Dari CD Maktabatul Fiqh Jilid 2 hal 54

[63] Al Sarkhasi, Syamsuddin.. Al Mabsut. Beirut. Darul Kutub Al Ilmiyyah. 1993 . jilid 5. hal. 153 Dari CD Maktabatul Fiqh

[64] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Al Kafi.. http://www.islam4u.com Tanpa Tahun. Jilid 5 hal. 448

[65] Syiah memahami ayat ini bukan dalam kontek istri, jika ayat ini difahami dengan kontek istri tentu tidak dapat dijadikan dalil bagi diperbolehkannya nikah mut’ah

[66] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No2

[67] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid 5 hal. 448 . Riwayat. No. 3

[68] [68] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit. Riwayat. No. 4

[69] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit . Jilid 5 hal. 451 .

[70] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 452

[71] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Op. Cit. Jilid. 5 Hal. 455

[72] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 457

[73] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 458

[74] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 460

[75] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[76] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[77] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid . Jilid. 5 Hal. 452

[78] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Ibid t. Jilid. 5 Hal. 462

[79] Al Sistani. Ali. Minhajusholihin. http://www.al-shia.com. Tanpa Tahun Jilid 3 hal 82

[80] Al Kulaini. Muhammad bin Ya’qub. Loc. Cit

[81] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Jilid 3 hal. 8

[82] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih.. Man La yahdhuruhul faqih.www.al-shia.com Tanpa Tahun. Jilid 3. Hal 464

[83] Al Qummi. Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih..Loc. Cit

[84] Al Sistani. Ali. Op. Cit. Hal. 80

[85] Al Sistani. Ali. Loc. Cit.

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Nikah Mut’ah, Halal atau Haram?

Salah satu masalah fikih yang diperselisihkan antara pengikut Ahlulbait (Syiah) dan Ahlusunnah adalah hukum nikah Mut’ah. Tentang masalah ini ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, berikut ini akan kita bahas bersama. Pertama: Defenisi NikahMut’ah.

Kedua: Tentang ditetapkannya mut’ah dalam syari’at Islam. Ketiga: Tidak adanya hukum baru yang me-mansukh-kannya. Keempat:

Hadis-hadis yang menegaskan disyari’atkannya. Kelima: Bukti-bukti bahwa Khalifah Umar-lah yang mengharamkannya.

Difinisi Nikah Mut’ah:

Ketika menafsirkan ayat 24 surah al-Nisa’-seperti akan disebutkan di bawah nanti, Al-Khazin (salah seorang Mufasir Sunni) menjelaskan difinisi nikah mut’ah sebagai berikut, “Dan menurut sebagian kaum (ulama) yang dimaksud dengan hukum yang terkandung dalam ayat ini ialah nikah mut’ah yaitu seorang pria menikahi seorang wanita sampai jangka waktu tertentu dengan memberikan mahar sesuatu tertentu, dan jika waktunya telah habis maka wanita itu terpisah dari pria itu dengan tanpa talaq (cerai), dan ia (wanita itu) harus beristibrâ’ (menanti masa iddahnya selasai dengan memastikan kesuciaannya dan tidak adanya janin dalam kandungannya_pen), dan tidak ada hak waris antara keduannya. Nikah ini boleh/halal di awal masa Islam kemudian diharamkan oleh Rasulullah saw.”[1] Dan nikah Mut’ah dalam pandangan para pengikut Ahlulbait as. adalah seperti difinisi di atas. NikahMut’ah Telah Disyari’atkan

Dalam masalah ini telah disepakati bahwa nikah mut’ah telah disyari’atkan dalam Islam, seperti juga halnya dengan nikah daa’im (permanen). Semua kaum Muslim dari berbagai mazhab dan aliran tanpa terkecuali telah sepakat bahwa nikah Mut’ah telah ditetapkan dan disyari’atkan dalam Islam. Bahkan hal itu dapat digolongkan hal dharuruyyat minaddin (yang gamblang dalam agama). Alqur’an dan sunah telah menegaskan disyari’atkannya nikah Mut’ah. Hanya saja terjadi perbedaan pendapat tentang apakah ia kemudian dimansukhkan atau tidak?

Al-Maziri seperti dikutip al-Nawawi mengatakan, “Telah tetap (terbukti) bahwa nikah Mut’ah adalah boleh hukumnya di awal Islam… .” [2] Ketika menjelaskan sub bab yang ditulis Imam Bukhari: Bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (Bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

Ibnu Hajar mendifinisikan nikah mut’ah, “Nikah mut’ah ialah menikahi wanita sampai waktu tertentu, maka jika waktu itu habis terjadilah perpisahan, dan difahami dari kata-kata Bukhari akhiran (pada akhirnya) bahwa ia sebelumnya mubaah, boleh dan sesungguhnya larangan itu terjadi pada akhir urusan.” [3]

Al-Syaukani juga menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah pernah diperbolehkan dan disyari’atkan dalam Islam, sebelum kemudian, katanya dilarang oleh Nabi saw., ia berkata, “Jumhur ulama berpendapat sesungguhnya yang dimaksud dengan ayat ini ialah nikah mut’ah yang berlaku di awal masa Islam. Pendapat ini dikuatkan oleh qira’at Ubai ibn Ka’ab, Ibnu Abbas dan Said ibn Jubair dengan tambahan إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى .” [4]

Ibnu Katsir menegaskan, “Dan keumuman ayat ini dijadikan dalil nikah mut’ah, dan tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya nikah mut’ah itu ditetapkan dalam syari’at pada awal Islam, kemudian setelah itu dimansukhkan… .” [5]

Ayat Tantang Disyari’atkannya Nikah Mut’ah

Salah satu ayat yang tegas menyebut nikah bentuk itu seperti telah disinggung di atas ialah firman Allah SWT.

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوْهُنَّأُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً … (النساء:24)

“Maka wanita-wanita yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka upah (mahar)nya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…” (QS:4;24)

Ayat di atas mengatakan bahwa wanita-wanita yang telah kamu nikahi dengan nikah mut’ah dan telah kamu gauli maka berikanlah kepada mereka itu mahar secara sempurna. Kata اسْتَمْتَعْتُمْ berartikan nikahmut’ah yaitu nikah berjangka waktu tertentu sesuai kesepakatan antara kedua pasangan calon suami istri. Dan dipilihnya kata tersebut disebabkan nikah mut’ah memberikan kesenangan, kenikmatan dan manfaat.

Dalam bahasa Arab kata mut’ah juga diartikan setiap sesuatu yang bermanfaat, kata kerja istamta’a artinya mengambil manfaat[6].

Para sahabat telah memahami ayat di atas sebagai ayat yang menegaskan disyari’atkannya nikahtersebut, sebagian sahabat dan ulama tabi’in seperti Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Said ibn Jubari, Mujahid dan as Suddi membacanya:

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ – إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى- فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

dengan memberi tambahan kata إلَى أَجَلٍ مُسَمَّى (sampai jangka waktu tertentu). Bacaan tesebut tentunya sebagai sekedar penjelasan dan tafsir, bukan dengan maksud bahwa ia dari firman Allah SWT. Bacaan mereka tersebut dinukil oleh para ulama besar Ahlusunah seperti Ibnu Jarir al-Thabari, Al-Razi, al-Zamakhsyari, Al-Syaukani dan lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu persatu nama-nama mereka. Qadhi Iyaadh seperti dikutip al-Maziri, sebagaimana disebutkan Al Nawawi dalam syarah Shahih Muslim, awal Bab Nikah Mut’ah bahwa Ibnu Mas’ud membacanya dengan tambahan tersebut. Jumhur para ulama pun, seperti telah Anda baca dari keterangan Al-Syaukani, memehami ayat tersebut sebagai yang menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah.

Catatan:

Perlu Anda cermati di sini bahwa dalam ayat di atas Allah SWT berfirman menerangkan apa yang dipraktikkan kaum Muslim dari kalangan sahabat-sabahat Nabi suci saw. dan membimbing mereka akan apa yang harus mereka lakukan dalam praktik yang sedang mereka kerjakan. Allah SWT menggunakan kata kerja bentuk lampau untuk menunjuk apa yang telah mereka kerjakan: اسْتَمْتَعْتُمْ, dan ia bukti kuat bahwa para sahabat itu telah mempraktikan nikah mut’ah. Ayat di atas sebenarnya tidak sedang menetapkan sebuah hukum baru, akan tetapi ia sedang membenarkan dan memberikan bimbingan tentang apa yang harus mereka lakukan dalam bermut’ah. Bukti lain bahwa ayat di atas sedang menerangkan hukum nikah mut’ah ialah bahwa para ulama Sunni mengatakan bahwa hukum dalam ayat tersebut telah dimansukhkan oleh beberapa ayat, seperti akan disinggung nanti. Itu artintya mereka mengakui bahwa ayat di atas tegas-tegas menerangkan hukum nikah Mut’ah!

Klaim Pe-mansukh-an Hukum Nikah Mut’ah Dalam Al qur’an

Ketegasan ayat diatas adalah hal yang tidak disangsikan oleh para ulama dan ahli tafsir. Oleh sebab itu mereka mengatakan bahwa hukum itu walaupun telah disyari’atkan dalam ayat tersebut di atas, akan tetapi ia telah dimansukhkan oleh beberapa ayat. Para ulama’ Sunni telah menyebutkan beberapa ayat yang dalam hemat mereka sebagai ayat naasikhah (yang memasukhkan) ayat Mut’ah. Di bawah ini akan saya sebutkan ayat-ayat tersebut.

Ayat Pertama:

Firman Allah SWT:

و الذين هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حافِظُونَ إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ أَوْ ما مَلَكَتْ أَيْمانُهُمْ، فَإِنَّهُمْ غيرُ مَلُوْمِيْنَ. (المؤمنون:5-6)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal yang tiada tercela.” (QS:23;5-6) Keterangan Ayat:

Dalam pandangan mereka ayat di atas menerangkan bahwa dibolehkan/ dihalalkanya menggauli seorang wanita karena dua sebab; pertama, hubungan pernikahan (permanen).Kedua, kepemilikan budak.

Sementara itu kata mereka wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah, bukan bukan seorang istri.

Tanggapan:

Pertama-tama yang perlu difahami ialah bahwa mut’ah adalah sebuah ikatan pernikahan dan perkawinan, baik dari sudut pandang bahasa, tafsir ayat maupun syari’at, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Jadi ia sebenarnya dalam keumuman ayat di atas yang diasumsikan sebagai pemansukh, tidak ada alasan yang membenarkan dikeluarkannya dari keumuman tersebut. Kata Azwaajihim dalam ayat di atas mencakup istri yang dinikahi baik dengan akad nikah daim (permanent) maupun akadnikah Mut’ah.

Kedua, selain itu ayat 5-6 Surah Mu’minun (sebagai pemansukh) berstatus Makkiyah (turun sebelum Hijrah) sementara ayat hukum Mut’ah (ayat 24 surah al-Nisa’) berstatus Madaniyah (turun setelah Hijrah). Lalu bagaimana mungkin ayat Makkiyah yang turun sebelum ayat Madaniyah dapat memansukhkannya?! Ayat yang memansukh turun lebih dahulu dari ayat yang sedang dimansukhkan hukumnya. Mungkinkah itu?!

Ketiga, Tetap diberlakukannya hukum nikah Mut’ah adalah hal pasti, seperti telah ditegaskan oleh para ulama Sunni sendiri. Az- zamakhsyari menukil Ibnu Abbas ra.sebagai mengatakan, “Sesungguhnya ayat Mut’ah itu muhkam (tidak mansukh)”. Pernyataan yang sama juga datang dari Ibnu Uyainah.

Keempat, Para imam Ahlubait as. menegaskan bahwa hukum yang terkandung dalam ayat tersebut tetap berlaku, tidak mansukh.

Kelima, Ayat 5-6 Surah Mu’minun sedang berbicara tentang hukum nikah permanen dibanding tindakan-tindakan yang diharamkan dalam Syari’at Islam, seperti perzinahan, liwath (homo) atau kekejian lain. Ia tidak sedang berbicara tentang nikah Mut’ah, sehingga diasumsikan adanya saling bertentangan antara keduanya.

Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan nikah Mut’ah itu bukan berstatus sebagai isrti, zawjah, maka anggapan itu tidak benar. Sebab:

1. Mereka mengatakan bahwa nikah ini telah dimansukhkan dengan ayat إلاَّ علىَ أَزْواجِهِمْ … atau ayat-ayat lain atau dengan riwayat-riwayat yang mereka riwayatkan bahwa Nabi saw. telah memansukhnya setelah sebelumnya pernah menghalalkannya. Bukankah ini semua bukti kuat bahwa Mut’ah itu adalah sebuah akad nikah?! Bukankah itu pengakuan bahwa wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah itu adalahh seorang isrti, zawjah?! Sekali lagi, terjadinya pemansukhan -dalam pandangan mereka- adalah bukti nyata bahwa yang dimansukh itu adalah nikah!

2. Tafsiran para ulama dan para mufassir Sunni terhadap ayat surah An Nisaa’ bahwa yang dimaksud adalah nikah Mut’ah adalah bukti nyata bahwa akad Mut’ah adalah akad nikah dalam Islam.

3. Nikah Mut’ah telah dibenarkan adanya di masa hidup Nabi saw. oleh para muhaddis terpercaya Sunni, seperti Bukhari, Muslim, Abu Daud dll.

4. Ada ketetapan emas kawin, mahar dalam nikah Mut’ah adalah bukti bahwa ia adalah sebuah akadnikah. Kata أُجُوْرَهُنَّ (Ujuurahunna=mahar mereka). Seperti juga pada ayat-ayat lain yang berbicara tentang pernikahan.

Perhatikan ayat 25 surah An Nisaa’, ayat 50 surah Al Ahzaab(33) dan ayat 10 surah Al Mumtahanah (60). Pada ayat-ayat di atas kata أُجُوْرَهُنَّ diartikan mahar.

Ayat Kedua dan Ketiga:

Allah SWT berfirman:

وَلَكُمْ نِصْفُ ما تَرَكَ أَزْواجُكُمْ. (النساء:12)

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS:3;12)

Dan

وَ إِذا طَلَّقْتُمُ النِساءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ. (الطلاق:1)

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaknya kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi)iddahnya (yang wajar).” (QS65;1)

Keterangan:

Ringkas syubhat mereka dalam masalah ini ialah bahwa seorang istri itu dapat mewarisi suaminya, dan dapat diceraikan dan baginya hak mendapatkan nafkah dari suami. Semua ini adalah konsekuensi ikatan tali pernikahan. Sementara itu, dalam kawin Mut’ah hal itu tidak ada, seorang istri tidak mewarisi suaminya, dan hubungan itu berakhir dengan tanpa talak/tidak melalui proses penceraian, dan tiada atas suami kewajiban nafkah. Maka dengan memperhatikan ini semua Mut’ah tidak dapat disebut sebagai akad nikah, dan wanita itu bukanlah seorang istri! Tanggapan Atas Syubhat di Atas

1. Syarat yang diberlakukan dalam akad Mut’ah sama dengan yang diberlakukan dalam nikah daim (permanen), sebagimana dalam nikah daim disyaratkan beberapa syarat, seperti, harus baligh, berakal (waras jiwanya), bukan berstatus sebagai hamba sahaya, harus ada saling rela, dan …demikian pula dalam nikah Mut’ah tanpa ada sedikitpun perbedaan. Adapun masalah talak, dan saling mewarisi, misalnya, ia bukan syarat sahnya akad pernikahan… ia adalah rentetan yang terkait dengannya dan tetap dengan tetap/sahnya akad itu sendiri. Oleh sebab itu hal-hal di atas tidak disebutkan dalam akad. Ia berlaku setelah terjadi kematian atau penceraian. Seandainya seorang istri mati tanpa meninggalkan sedikitpun harta waris, atau ia tidak diceraikan oleh suaminya hingga ia mati, atau suami menelantarkan sebagian kewajibannya, maka semua itu tidak merusak kebashan akad nikahnya. Demikian pula tentang nafkah dan iddah.

2. Redaksi akad yang dipergunakan dalam nikah daim tidak berbeda dengan yang dipergunakan dalam nikah Mut’ah, hanya saja pada Mut’ah disebutkan jangka waktu tertentu.

3. Antara dua ayat yang disebutkan dengan ayat Mut’ah tidak ada sedikit pertentangan. Anggapan itu hanya muncul karena ketidak fahaman semata akan batasan Muthlaq (yang mutlak tanpa ikatan) dan Muqayyad (yang diikat), yang umum dan yang khusus. Karena sesungguhnya ayat Mut’ah itu mengkhususkan ayat tentang pewarisan dan talak.

4. Adapun anggapan bahwa seorang wanita yang dinikahi dengan akad nikah Mut’ah itu bukan seorang istri, maka anggapan itu tidak benar karena:

A. Sebab pewarisan itu bukanlah konsekuensi yang berkalu selamanya dalam pernikahan, yang tidak dapat berpisah sama sekali. Di sana ada pengecualian- pengecualian. Seorang wanita ditetapkan sebagai sitri namun demikian ia tidak mewairisi suaminya, seperti seorang istri yang berbeda agama (Kristen misalnya) dengan suaminya (Muslim), atau istri yang membunuh suaminya, atau seorang wanita yang dinikahi seorang laki-laki dalam keadaan sakit kemudian suami tersebut mati sebelum sempat berhubungan badan dengannya, atau apabila istri tersebut berstatus sebagai budak sahaya… bukankan dalam contoh kasus di atas wanita itu berstaus sebagai isri, namun demikian -dalam syari’at Islam- ia tidak mewarisi suaminya.

B. Ayat tentang warisan (ayat 12 surah An Nisaa’) adalah ayat Makkiyah sementara ayat Mut’ah adalah madaniyah. Maka bagaimana mungkin yang menasakh turun lebih dahulu dari yang dimansukh?!

5. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab tidak ada keharusan atas suami untuk memberi nafkah, maka anggapan ini juga tidak tepat, sebab:

A. Nafkah, seperti telah disinggung bukan konsekusensi pasti/tetap berlaku selamanya atas seorang suami terhadap istrinya. Dalam syari’at Islam, seorang istri yang nasyizah (memberontak kepada suaminya, tidak mau lagi berumah tangga), tiada kewajiban atas suami memberinya nafkah. Demikian disepakati para ulama dari seluruh mazhab.

B. Dalam akad Mut’ah sekali pun, kewajiban nafkah tidak selamanya gugur. Hal itu dapat ditetapkan berdasarkan syarat yang disepakati antara keduannya. Demikian diterangkan para fuqaha’ Syi’ah.

6. Adapun anggapan karena ia tidak harus melakukan iddah (menanti janggak waktu tertentu sehingga dipastikan ia tidak sedang hamil dari suami sebelumnya = tiga kali masa haidh) maka ia bukan seoarng istri. anggapan ini adalah salah, dan sekedar isu palsu, sebab seorang wanita yang telah berakhir janggka waktu nikah Mut’ah yang telah ditentukan dan disepakati oleh keduanya, ia tetap wajib menjalani proses iddah. Dalam fikih Syi’ah para fuqaha’ Syi’ah menfatwakan bahwa masa iddah atasnya adalah dua kali masa haidh.

7. Adapun anggapan bahwa ia bukan seorang istri sebab ia berpisah dengan suaminya tanpa melalui proses perceraian, sementara dalam Al qur’an ditetapkan hukum perceraian bagi suami istri yang hendak berpisah. Maka hal itu tidak benar, sebab:

A. Perceraian bukan satu-satunya yang merusak akad penikahan. Seorang istri dapat saja berpisah dengan suaminya dengan tanpa perceraian, seperti pada kasus, apabila istri tersebut murtad, atau apabila ia seorang hamba sahaya kemudian ia dijual oleh tuannya, atau istri yang masih kanak-kanak, kemudian istri suami tersebut menyusuinya (sehingga ia menjadi anak susunya), atau ketika ibu suami itu menyusui anak istrinya… Atau istri seorang laki-laki yang murtad, atau istri yang terbukti terdapat padanya cacat, ‘uyuub yang menyebabkan gugurnya akad nikah, seperti apabila istri itu ternyata seorang wanita gila dan …. Bukankah dalam semua kasus di atas istri itu berpisah dari suaminya tanpa melalui proses talak?!

B. Seorang wanita yang dinikahi dengan akad Mut’ah tidak berarti selamanya menjadi monopoli suami itu yang tidak akan pernah bisa berpisah. Dalam nikah Mut’ah ketetapan tentang waktu berada di tangan si wanita dan pri itu. Merekalah yang menetukan jangka waktu bagi pernikahan tersebut.

C. Kedua ayat itu tidak mungkin dapat menasikhkan hukum nikah Mut’ah yang disepakati kaum Muslim (Sunni-Syi’ah) akan adanya di awal masa Islam.

Dan saya cukupkan dengan memaparkan contoh-contoh ayat yang diasumsikan sebagai penasakh hukum nikah Mut’ah yang telah ditetapkan dalam Ayat Mut’ah (ayat 24 surah An Nisaa’). Dalil Sunnah

Adapun bukti dari sunnah Nabi saw. bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan dalam Islam dan tidak pernah dimansukhkan oleh sesuatu apapun adalah banyak sekali, di antaranya ialah apa yang diriwayatkan “Imraan ibn Hushain” yang menegaskan bahwa ayat di atas turun berkaitan dengan hukum nikah mut’ah dan ia tetap, muhkam (berlaku) tidak dimansukhkan oleh sesuatu apapun sampai Umar mengharamkannya. Selain riwayat dari “Imraan ibn Hushain”, sahabat-sabahat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Salamah ibn al-Akwa’, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Akwa’ ibn Abdullah, seperti diriwayatkan hadis-hadis mereka oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan juga Imam Muslim dalam Shahihnya juga menegaskan disyari’atkannya nikah mut’ah. Al-hasil, hadis tentang pernah disyari’atkannya bahkan masih tetap dihalalkannya nikah mut’ah banyak sekali dalam buku-buku hadis andalan Ahlusunah.

Hukum Nikah Mut’ah Tidak Pernah Dimansukhkan

Para Imam suci Ahlubait as., dan tentunya juga para pengikut setia mereka (Syi’ah Imamiyah) meyakini bahwa nikah mut’ah masih tetap disyari’atkan oleh Islam dan ia halal sampai hari kiamat tiba, tidak ada sesuatu apapun yang menggugurkan hukum dihalalkannya.

Dan seperti telah Anda baca sebelumnya bahwa nikah mut’ah pernah disyari’atkan Islam; Alqur’an turun untuk membenarkan praktik nikah tersebut, Nabi saw. mengizinkan para sahabat beliau melakukannya, dan beliau juga memerintahkan juru penyampai untuk mengumandangkan dibelohkannya praktik nikah mut’ah. Jadi atas yang mengaku bahwa hukum nikah mut’ah yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya itu sekarang dilarang, maka ia harus mengajukan bukti.

Sementara itu, seperti akan Anda saksikan nanti, bahwa klaim adanya pengguguran (pe-mansuk-han) hukum tersebut adalah tidak berdasar dan tidak benar, ayat-ayat Alqur’an yang kata mereka sebagai pemansukh ayat mut’ah tidak tepat sasaran dan hanya sekedar salah tafsir dari mereka, sedangkan hadis-hadis yang mereka ajukan sebagai bukti adanya larangan juga centang perentang, saling kontradiksi, di samping banyak darinya yang tidak sahih. Di bawah ini akan saya sebutkan beberapa hadis yang tegas-tegas mengatakan bahwa nikah mut’ah adalah halal dan tidak pernah ada hukum Allah SWT yang mengharamannya.

Hadis Pertama: Hadis Abdullah ibn Mas’ud

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Qais ibn Abi Hazim ia mendengar Abdullah ibn Mas’ud ra. berkata:

“Kami berperang keluar kota bersama Rasulullah saw., ketika itu kami tidak bersama wanita-wanita, lalu kami berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami mengebiri diri?”, maka beliau melarang kami melakukannya lalu beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) bitstsaub, sebuah baju. Setelah itu Abdullah membacakan ayat:

يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ وَ لاَ تَعْتَدُوا، إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ المعْتَدِيِنَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS:5;87)“

Hadis di atas dapat Anda temukan dalam:

1. Shahih Bukhari:

· Kitabut tafsir, bab Qauluhu Ta’ala يَا أَيُّها الذِيْنَ آمَنُوا لاَ تُحَرِّمُوا طَيِّباتِ ما أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ .[7]

·Kitabun Nikah, bab Ma Yukrahu minat Tabattul wal Khashbaa’.[8]

2. Shahih Muslim:

· Kitabun Nikah, bab Ma Ja’a fi Nikah al-Mut’ah[9]

Ketika menerangkan hadis di atas, Ibnu Hajar dan al-Nawawi mengatakan:

“kata-kata ‘beliau mengizinkan kami mengawini seorang wanita dengan mahar (emas kawin) sebuah baju’ sampai jangka waktu tertentu dalam nikah mut’ah… .” Ia juga mengatakan bahwa pembacaan ayat tersebut oleh Ibnu Mas’ud adalah isyarat kuat bahwa beliau meyakni dibolehkannya nikah mut’ah, seperti juga Ibnu Abbas. Hadis Kedua: Hadis Jabir Ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’ ra.

A. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Hasan ibn Muhammad dari Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn Al-Akwa’ keduanya berkata:

“Kami bergabung dalam sebuah pasukan, lalu datanglah rasul (utusan) Rasulullah sa., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengizinkan kalian untuk menikah mut’ah, maka bermut’ahlah kalian.”

Hadis di atas dapat Anda baca dalam:

1. Shahih Bukhari: Kitabun Nikah, bab Nahyu Rasulillah saw ‘An-Nikah al-Mut’ah ‘Akhiran.[10] 2. Shahih Muslim: Kitabun Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.[11]

B. Jabir ibn Abdillah dan Salamah ibn al-Akwa’: Sesungguhnya Rasulullah saw. datang menemui kami dan mengizinkan kami untuk bermut’ah.[12]

Hadis Ketiga: Hadis Jabir ibnAbdillah:

A. Muslim meriwayatkan dari Atha’, ia berkata:

“Jabir ibn Abdillah datang untuk umrah, lalu kami mendatanginya di tempat tinggalnya dan orang-orang bertanya kepadanya banyak masalah, kemudian mereka menyebut-nyebut mut’ah, maka Jabir berkata, “Kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[13]

B. Dari Abu Bashrah, ia berkata:

“Aku berada di sisi Jabir lalu datanglah seseorang dan berkata, ” Ibnu Abbas dan Ibnu Zubair berselisih tentang dua jenis mut’ah”. Jabir berkata,” Kami melakukannya bersama Rasululah saw., kemudian Umar melarang melaksanakan keduanya, maka kami tidak kembali (melakukannya) lagi.”[14]

C. Abu Zubair berkata, “Aku mendengar Jabir ibn Abdillah berkata:

“Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[15] Ibnu Jakfari berkata:

Jelaslah bahwa maksud Jabir dengan ucapannya bahwa “Kami bermut’ah di masa Rasulullah…”, “Kami melakukannya bersama Rasululah saw” bukanlah bahwa saya sendirian melakukannya hanya sekali saja, akan tetapi ia hendak menjelaskan bahwa kami (saya dan rekan-rekan sahabat Nabi saw.) melakukannya banyak kali, dan dengan sepengetahuan Nabi saw., beliau membenarkannya dan tidak melarangnya sampai beliau dipanggil Allah SWT ke alam baqa’. Dan ini adalah bukti kuat bahwa tidak pernah ada pengharaman dari Allah dan Rasul-Nya, nikah mut’ah tetap halal hingga hari kiamat, sebab “halalnya Muhammad saw. adalah halal hingga hari kiamat dan haramnya Muhammad adalah haram hingga hari kiamat”, kecuali jika kita meyakini bahwa ada nabi baru setelah Nabi Muhammad saww dan ada wahyu baru yang diturunkan Jibril as. setelah sempurnanya agama Islam.

Adapun arahan sebagian ulama, seperti al-Nawawi yang mengatakan bahwa para sahabat mulia itu mempraktikan nikah mut’ah di masa hidup Nabi saw. dan juga di masa kekhalifahan Abu Bakar dan beberapa tahun masa kekhalifahan Umar itu dikarenakan mereka belum mengetahui pemansukhan hukum tersebut, adalah ucapan tidak berdasar, sebab bagainama mungkin pemansukhan itu samar atas para sahabat itu -dan tidak jarang dari mereka yang dekat persahabatannya dengan Nabi saw.-, sementara pemansukhan itu diketahui oleh sahabat-sabahat “cilik” seperti Abdullah ibn Zubair atau yang lainnya?!

Bagaimana mungkin juga hukum pengharaman mut’ah itu juga tidak diketahui oleh Khalifah Umar, sehingga ia membiarkan praktik nikah mut’ah para sabahat, dan baru sampai kepadanya berita pemansukhan itu di masa akhir kekhalifahannya?! Ketika menerangkan ucapan Jabir, “sampai Umar melarangnya”, Al-Nawawi berkata, “Yaitu ketika sampai kepadanya berita pemansukhan.”[16]

Selain itu jelas sekali dari ucapan Jabir bahwa ia menisbatkan pengharaman/ larangan itu kepada Umar “sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits”. Jadi larangan itu bukan datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, ia datang dari Khalifah Umar dalam kasus Amr ibn Huraits. Umar sendiri seperti telah Anda baca dalam pidatonya menegakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada di masa Rasululah saww. dan beliau menghalalkannya, namun ia (Umar) melarangnya!

Coba Anda perhatikan hadis di bawah ini: Al-Baihaqi meriwayatkan dalam as-Sunan al-Kubranya dari Abu Nadhrah dari Jabir ra.:

saya (Abu Nadhrah) berkata, ” Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya”. Maka jabir berkata, “Di tangan sayalah hadis ini berputar, kami bermut’ah bersama Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. dan ketika Umar menjabat sebagai Khalifah ia berpidato di hadapan orang-orang, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah saw. adalah Rasul utusan Allah, dan Alqur’an adalah Alqur’an ini. Dan sesungguhnya ada dua jenis mut’ah yang berlaku di masa Rasulullah saw., tapi aku melarang keduanya dan memberlakukan sanksi atas keduanya, salah satunya adalah nikah mut’ah, dan saya tidak menemukan seseorang yang menikahi wanita dengan jangka tertentu kecuali saya lenyapkan dengan bebatuan. Dan kedua adalah haji tamattu’, maka pisahkan pelaksanaan haji dari umrah kamu karena sesungguhnya itu lebih sempurna buat haji dan umrah kamu.”[17]

Dan selain hadis yang telah disebutkan di atas masih banyak hadis-hadis lain yang sengaja saya tinggalkan, sebab apa yang telah disebut sudah cukup mewakili.

Dan kini mari kita meyimak hadis-hadis yang mengharamkan nikah Mut’ah.

Riwayat-riwayat Pengharaman Nikah Mut’ah

Setelah kita simak sekelumit hadis yang menerangkan tetap berlakunya hukum kehalalan nikah mut’ah, maka sekarang kami akan mencoba menyajikan beberapa hadis terkuat yang dijadikan hujjah oleh mereka yang meyaniki bahwa hukum halalnya nikah mut’ah telah dimansukhkan.

Sebelumnya perlu diketahui bahwa kasus pengharaman nikah mut’ah -dalam pandangan yang mengharamnkan- adalah terbilang kasus aneh yang tidak pernah dialami oleh satu hukum Islam lainnya, yaitu dihalalkan kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan kemudian diharamkan lagi. Dan sebagiannya hanya berlangsung beberapa hari saja.[18]

Imam Muslim dalam kitab Shahihnya menulis sebuah judul, “Bab Nikah-ul Mut’ah wa Bayaanu ‘Annahu Ubiiha Tsumma Nusikha Tsumma Ubiiha Tsumma Nusikha wa istaqarra Tahriimuhu Ila yaumil Qiyamah (Bab tentang Nikah mut’ah dan keterangan bahwa ia dibolehkan kemudian dimansukkan kemudian dibolehkan kemudian di mansukhkan dan tetaplah pengharaman hingga hari kiamat)”.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengatakan, “Imam Syafi’i dan sekelompok ulama berpendapat bahwanikah mut’ah dibolehkan kemudian dimansukhkan kemudian dibolehkan kemudian dimansukhkan, dua kali.” [19]

Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan:

“Masalah kesepuluh: para ulama berselisih pendapat berapa kali ia dibolehkan dan mansukhkan… ia mengatakan bahwa mut’ah pada awalnya dilarang kemudian dibolehkan kemudian Nabi melarang pada perang Khaibar kemudian mengizinkan lagi pada fathu Makkah kemudian mengharamkannya setelah tiga hari berlaku dan ia haram hingga hari kiamat. Ibnu al-Arabi berkata: “Adapun nikah mut’ah ia termasuk hukum syari’at yang aneh sebab ia dibolehkan pada awal masa Islam kemudian diharamkan pada perang Khaibar kemudian dibolehkan pada perang Awthas kemudian di haramkan setelah itu dan tetaplah pengharaman, dan tidak ada yang menyamainya kecuali masalah kiblat… ulama lain yang telah merangkum hadis-hadis masalah ini mengatakan ia meniscayakan adanya penghalalan dan pengharaman sebanyak tujuh kali…”.[20]

Kemudian ia menyebutkan tujuh peristiwa dan kesempatan penghalalan dan pengharaman nikahmut’ah tersebut yang terbilang aneh yang tetuntunya mengundang kecurigaan akan kebenarnnya itu. Sebab kesimpulan ini diambil sebenarnya karena mereka menerima sekelompok hadis yang mengharamkan nikah tersebut, sementara hadis-hadis itu tidak sepakat dalam menyebutkan waktu ditetapkannya pengharaman, akaibatnya harus dikatakan bahwa ia terjadi bebarapa kali. Hadis-hadis tentangnya dapat kita kelompokkan dalam dua klasifikasi global,

pertama, hadis-hadis yang dipandang lemah dan cacat baik sanad maupun matannya oleh para pakar dan ulama Ahlusunnah sendiri. Hadis-hadis kelompok ini tidak akan saya sebutkan dalam kajian kali ini, sebab pencacatan para pakar itu sudah cukup dan tidak perlu lagi tambahan apapun dari saya, dan sekaligus sebagai penghematan ruang dan pikiran serta beban penelitian yang harus dipikul.

Kedua, hadis-hadis yang disahihkan oleh para ulama Ahlusunnah, namun pada dasarnya ia tidak sahih, ia lemah bahkan sangat kuat kemungkinan ia diproduksi belakangan oleh para sukarelawan demi mencari “keridhaan Allah SWT”, hasbatan, untuk mendukung dan membenarkan kebijakan para khulafa’.

Dan untuk membuktikan hal itu saya perlu melakukan uji kualitas kesahihan hadis sesuai dengan kaidah-kaidah yang dirancang para pakar dan ulama.

Hadis Pertama:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Nasa’i, al-Baihaqi dan Mushannaf Abdir Razzaq, (dan teks yang saya sebutkan dari Mushannaf) dari Ibnu Syihab al-Zuhri, dari Abdullah dan Hasan keduanya putra Muhammad ibn Ali (Hanafiyah) dari ayah mereka, bahwa ia mendengar Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya kamu benar-benar seorang yang taaih (bingung dan menyimpang dari jalan mustaqiim), sesungguhnya Rasulullah saw. telah melarangnya (nikah mut’ah) pada hari peperangan Khaibar dan juga mengharamkan daging keledai jinak.” [21]

Hadis di atas dengan sanad yang sama dan sedikit perbedaan dalam redaksinya dapat Anda jumpai dalam Shahih Bukhari, Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, al-Turmudzi, al-Darimi, Muwaththa’ Imam Malik, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan al-Thayalisi dll.[22] Hadis kedua:

Para muhaddis meriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghiffari ra. bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya nikah mut’ah itu hanya dihalalkan khusus untuk kami para sahabat Rasulullah saw. untuk jangka waktu tiga hari saja kemudian setelahnya Rasulullah saw. melarangnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Itu dibolehkan karena rasa takut kita dan karena kita sedang berperang.” [23]

Hadis Ketiga:

Dalam Shahih Muslim, Sunan al-Darimi, Ibnu Majah, Abu Daud, dan lainnya (redaksi yang saya sebutkan in dari Muslim) dari Saburah al-Juhani, sesungguhnya ia berperang bersama Rasulullah saw. menaklukkan kota Mekkah. Ia berkata,

“Kami tinggal selama lima belas hari (tiga puluh malam dan siang), maka Rasulullah saw. mengizinkan kami menikahi wanita dengan nikah mut’ah. Lalu saya dan seseorang dari kaumku keluar, dan aku memiliki kelebihan ketampanan di banding dia, ia sedikit jelek, masing-masing kami membawa selimut, selimutku agak jelek adapun selimut miliknya baru, sampailah kami dibawah lembah Mekkah atau di atasnya, kami berjumpa dengan seorang wanita tinggi semanpai dan lincah, kami berkata kepadanya, “Apakah Anda sudi menikah mut’ah dengan salah seeoarng dari kami?” wanita itu bertanya, “Apa yang akan kalian berikan sebagai mahar?”. Maka masing-masing dari kami membeberkan selimutnya, wanita itu memperhatikan kami, dan ia melihat bahwa temanku memperhatikan dirinya dari kaki hingga ujung kepala, temanku berkata, “Selimut orang ini jelek sedangkan selimutku baru”. Kemudian wanita itu megatakan, “Selimut orang itu lumayan. Ia ucapkan dua atau tiga kali. Kemudian saya menikahinya dengan nikah mut’ah, dan aku belum menyelesaikan jangka waktuku melainkan Rasululah saw. telah mengharamkannya. [24]

Dalam riwayat lain: Rasulullah saw. bersabda, “Hai manusia! Sesungguhnya aku telah mengizinkan kalian bermut’ah dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sekarang hingga hari kiamat.” [25]

Dalam riwayat lain: “Aku menyaksikan Rasulullah berdiri diantara rukun dan maqam (dua sudut ka’bah) sambil bersabda…. (seperti sabda di atas)”. [26]

Dalam riwayat lain: “Rasululah memerintah kami bermut’ah pada tahun penaklukan kota Mekkah ketika kami memasuki kota tersebut, kemudian kami tidak keluar darinya melainkan beliau telah melarangnya”. [27]

Dalam riwayat lain: “Aku benar-benar telah bermut’ah di masa Rasulullah saw. dengan seorang wanita dari suku bani ‘Amir dengan mahar dua helai selimut berwarna merah kemudian Rasulullah saw. melarang kami bermut’ah”. [28]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada Fathu Makkah”.[29]

Dalam riwayat lain: “Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang mut’ah, beliau bersabda, “Sesungguhnya ia haram sejak hari ini hingga hari kiamat”. [30]

Dalam Sunan Abu Daud, al-Baihaqi dan lainnya diriwayatkan dari Rabi’ ibn Saburah, ia berkata, “Aku bersaksi atas ayahku bahwa ia menyampaikan hadis bahwa Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada haji wada“. [31]

Dalam riwayat lain: “Rasulullah saw. melarang nikah mut’ah pada fathu Mekkah”. [32] Hadis Keempat:

Dalam Shahih Muslim, Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Musnad Ahmad dan lainya (dan redaksi yang saya kutip adalah dari Muslim) diriwayatkan dari Salamah ibn al-Akwa’, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan pada tahun perang Awthas untuk bermut’ah selama tiga hari kemudian beliau melarangnya.” [33] Awthas adalah lembah di kota Thaif. Dan perlu Anda ketahui bahwa peristiwa Awthas terjadi beberapa bulan setelah fathu Mekkah, walaupun dalam tahun yang sama.[34]

Inilah beberapa hadis yang menjadi andalah dan sandaran terkuat pengharaman nikah mut’ah oleh Nabi saw. dan saya berusaha meriwayatkannya dari sumber-sumber terpercaya. Dan kini mari kita telaah hadis-hadis di atas tersebut.

Tentang hadis Imam Ali as. Ada pun tentang hadis Imam Ali as. yang diriwayatkan Zuhri melalui dua cucu Imam Ali as.; Abdullah dan Hasan putra Muhammad ibn Ali as. yang mendapat sambutan luar biasa sehingga hampir semua kitab [35] hadis berebut “hak paten” dalam meriwayatkannya, -tidak seperti biasanya dimana kitab- kitab itu kurang antusias dalam meriwayatkan hadis-hadis dari beliau as. dan tidak memberikan porsi layak bagi hadis-adis Imam Ali as. seperti porsi yang diberikan kepada riwayat-riwayat para sahabat yang berseberangan dengan beliau dan yang diandalkan oleh para penentang Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw.-.

Adapun tentang hadis Imam Ali di atas maka ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentangnya.

Pertama,

ia dari riwayat Zuhri, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az Zuhri lahir pada tahun 58 H dan wafat tahun 124H. Ia dekat sekali dengan Abdul Malik bin Marwan dan Hisyam bin Abdul Malik dan pernah dijadikan qodhi (jaksa) oleh Yazid bin Abdul Malik. Ia dipercaya Hisyam menjadi guru privat putra-putra istana. Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzib-nya[36]menyebutkan, “Hisyam memerintahnya untuk mengajarkan kepada putra-putranya hadis, lalu ia mendektekan empat ratus hadis”.

Tampaknya Zuhri sangat diandalkan untuk meramu riwayat demi mendukung kepentingan rezim bani Umayyah yang berkuasa saat itu dengan menyajikan riwayat-riwayat yang berseberangan dengan ajaran Ahlulbait as. namun justru dia sajikan dengan menyebut nama para pemuka Ahlulbait as. sendiri, atau riwayat-riwayat yang justru melecehkan keagungan Ahlulbait as., namun sekali lagi ia sajikan dengan mengatas-namakan pribadi-pribadi agung Ahlulbait as., seperti tuduhannya melalui riwayat yang ia produksi bahwa Imam Ali dan Fatimah as. melakukan tindakan kekafiran dengan menentang Nabi saw. Zuhri tampaknya memilih spesialisasi dalam bidang ini. Dan adalah aneh seorang Zuhri yang dikenal benci kepada Imam Ali as. tiba-tiba sekarang tampil sebagai seorang muhaddis yang sangat peduli dalam menyampaikan riwayat-riwayat dari Ali as.

Ibnu Abi al-Hadid, ketika menyebut nama-nama para perawi yang membenci Imam Ali as, ia menyebut, “Dan Zuhri adalah termasuk yang menyimpang dari Ali as”.[37]

Sufyan bin Wakii’ menyebutkan bahwa Zuhri memalsukan banyak hadis untuk kepentingan Bani Marwan. Ia bersama Abdul Malik melaknat Ali as. Asy-Syadzkuni meriwayatkan dari dua jalur sebuah berita yang menyebutkan bahwa Zuhri pernah membunuh seorang budaknya tanpa alasan yang dibenarkan.[38] Kedua,

terlepas dari penilaian kita terhadap kualitas salah satu mata rantai perawi dalam hadis tersebut yang telah Anda baca, maka di sini ada beberapa catatan yang perlu Anda perhatikan. Pertama: Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa Imam Ali as. menegur dan menyebut Ibnu Abbas ra. sebagai seorang yang menyimpang karena ia masih menghalalkan nikah mut’ah padahal nikah tersebut telah diharamkan pada peristiwa peperangan Khaibar. Selain nikah mut’ah, daging keledai jinak juga diharamkan saat itu. Jadi menurut Imam Ali as. keduanya diharamkan pada peristiwa tersebut.

Di sini kita perlu meneliti kedua masalah ini, akan tetapi karena yang terkait dengan masalah kita sekarang adalah nikah mut’ah maka telaah saya akan saya batasi pada pengharaman nikah mut’ah pada hari Khaibar.

Pengharaman nikah Mut’ah pada hari Khaibar

Pengharaman Nabi saw. atas nikah mut’ah pada peristiwa Khaibar, seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah sendiri, seperti Ibnu Qayyim, Ibnu Hajar dkk. tidak sesuai dengan kanyataan sejarah, sebab beberapa tahun setelah itu nikah mut’ah masih dibolehkan oleh Nabi saw., seperti contoh pada tahun penaklukan kota Mekkah. Oleh karenanya sebagian menuduh Imam Ali as. bodoh dan tidak mengetahui hal itu, sehingga beliau menegur Ibnu Abbas dengan teguran yang kurang tepat, sebab, kata mereka semestinya Imam Ali as. berhujjah atas Ibnu Abbas dengan pengharaman terakhir yaitu pada penaklukan kota Mekkah agar hujjah sempurna, dan kalau tidak maka hujjah itu tidak mengena[39].

Selain itu, dalam peristiwa penyerangan ke kota Khaibar, tidak seorangpun dari sahabat Nabi saw. yang bermut’ah dengan wanita-wanita yahudi, dan mereka tidak juga memohon izin kepada Nabi saw. untuk melakukannya. Tidak seorangpun menyebut-nyebut praktik sabahat dan tidak ada sebutan apapun tentang mut’ah. Di kota Khaibar tidak ada seorang wanita muslimahpun sehingga sah untuk dinikahi secara mut’ah, sementara dihalalkannya menikah dengan wanita yahudi itu belum disyari’atkan, ia baru disyari’atkan setelah haji wada’ dengan firman Allah ayat 5 surah al-Maidah. Demikian ditegaskan Ibnu Qayyim dalam Zaad al-Ma’aad.[40]

Ketika menerangkan hadis Imam Ali as. dalam kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, Ibnu Hajar al-Asqallani menegaskan, “Dan kata pada hari Khaibar bukan menunjukkan tempat bagi diharamkannyanikah mut’ah, sebab dalam ghazwah (peperangan) itu tidak terjadi praktik nikah mut’ah”.[41]

Ibn Hajar juga menukil al-Suhaili sebagai mengatakan, “Dan terkait dengan hadis ini ada peringatan akan kemusykilan, yaitu sebab dalam hadis itu ditegaskan bahwa larangan nikah mut’ah terjadi pada peperangan Khaibar, dan ini sesuatu yang tidak dikenal oleh seorangpun dari ulama pakar sejarah dan perawi atsar/data sejarah.[42]

Al-hasil, hadis tersebut di atas tegas-tegas mengatakan bahwa pada peristiwa Khaibar Nabi mengharamkan nikah mut’ah dan juga keledai, Ibnu Hajar berkomentar, “Yang dzahir dari kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar adalah menunjuk waktu pengharaman keduanya (mut’ah dan daging keledai)”[43], sementara sejarah membuktikan bahwa pada peristiwa itu sebenarnya tidak terjadi pengharaman, sehingga untuk menyelamatkan wibawa hadis para muhadis agung itu, mereka meramu sebuah solusi yang mengatakan bahwa hadis Imam Ali as. itu hanya menujukkan pengharaman keledai saja, adapun pengharaman nikah mut’ah sebenarnya hadis itu tidak menyebut-nyebutnya barang sedikitpun!

Penafsiran nyeleneh ini disampaikan oleh Sufyaan ibnu Uyainah, ia berkata, “Kata-kata (dalam hadis itu) pada zaman Khaibar hanya terkait dengan waktu pengharaman keledai jinak bukan terkait dengannikah mut’ah.”[44]

Dan upaya untuk mengatakan bahwa hadis itu tidak menunjukkan pengharaman nikah mut’ah pada zaman Khaibar yang dilakukan sebagian ulama hanya karena mereka terlanjur mensahihkan hadis-hadis yang mengatakan bahwa sebenarnya nikah mut’ah itu masih dibolehkan setelah zaman Khaibar. Demikian diungkap oleh Ibnu Hajar.[45]

Akan tetapi arahan itu sama sekali tidak benar, ia menyalahi kaidah bahasa Arab dan lebih mirip lelucon, sebab;

A. Dalam dialek orang-orang Arab dan juga bahasa apapun, jika Anda mengatakan, misalnya

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid dan ‘Amr pada hari jum’at”

maka semua orang yang mendengarnya akan memahami bahwa penghormatan kepada keduanya itu terjadi dan dilakukan pada hari jum’at.

Bukan bahwa dengan kata-kata itu Anda hanya bermaksud menghormati ‘Amr saja, sementara terkait dengan pak Zaid Anda tidak maksudkan, penghormatan itu mungkin Anda berikan pada hari lain. Sebab jika itu maksud Anda semestinya Anda mengatakan

أَكْرَمْتُ زَيْدًا و أَكْرَمْتُ عَمْروًا يَوْمَ الجمعةِ

“Saya menghormati Zaid , dan saya menghormati ‘Amr pada hari jum’at”.

Dalam riwayat itu kata kerja nahaa itu hanya disebut sekali, oleh karena itu ia mesti terkait dengan kedua obyek yang disebutkan setelahnya. Dan saya tidak yakin bawa para ulama itu tidak mengerti kaidah dasar bahasa Arab ini.

B. Anggapan itu bertentangan dengan banyak riwayat hadis Imam Ali as. dan juga dari Ibnu Umar yang diriwayatkan para tokoh muhadis, seperti Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad yang tegas-tegas menyebutkan bahwa waktu pengharaman nikah mut’ah adalah zaman Khaibar. Merka meriwayatkan:

نَهَى رسولُ اللهِ (ص) عن مُتْعَةِ النساءيَومَ خيْبَر، و عن لُحُومِ الحمرِ الإنْسِيَّةِ.

“Rasulullah saw. melarang nikah kmut’ah pada hari Khaibar, dan juga daging keledai”. [46]

Ibnu Jakfari berkata:

Bagaimana kita dapat benarkan riwayat-riwayat kisah pengharaman itu baik di hari Khaibar maupun hari dan kesempatan lainnya, sementara telah datang berita pasti dan mutawatir bahwa Khalifah Umar ra. berpidato mengatakan bahwa dua jenis mut’ah itu ada dan berlaku di masa hidup Nabi saw. akan tetapi saya (Umar) melarang, mengharamkan dan merajam yang melakukan nikahnya:

مُتْعَتانِ كانَتَا على عَهْدِ رَسُول ِاللهِ أنا أَنْهَى عَنْهُما وَ أُعاقِبُ عليهِما : مُتْعَةُ الحج و متعة النِّسَاءِ.

“Ada dua bentuk mut’ah yang keduanya berlaku di sama Rasulullah saw., aku melarang keduannya dan menetepkan sanksi atas (yang melaksanakan) keduanya: haji tamattu’ dan nikah mut’ah.[47]

Bagaiamana dapat kita benarkan riwayat-riwayat itu sementara kita membaca bahwa Jabir ibn Abdillah ra. berkata dengan tegas, “kami bermut’ah di masa Rasulullah saw., masa Abu Bakar dan masa Umar.”[48]

Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Kami bermut’ah dengan emas kawin (mahar) segenggam kurma dan tepung untuk jangka waktu beberapa hari di masa Rasulullah saw. dan masa Abu Bakar, sampai Umar melarangnya kerena kasus Amr ibn Huraits.”[49]

Bagaimana kita dapat menerima riwayat hadis-hadis yang mengatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan di masa Nabi saw. oleh beliau sendiri, sementara itu Khalifah Umar tidak pernah mengetahuinya, tidak juga Khalifah Abu Bakar dan tidak juga para sahabat dan tabi’in mengetahuinya, bahkan sampai zaman kekuasaan Abdullah ibn Zubair -setelah kematian Yazid ibn Mu’awiyah- dan tidak juga seorang dari kaum Muslim mengetahui riwayat-riwayat sepeti itu. Andai mereka mengetahuinya pasti ia sangat berharga dan sangat mereka butuhkan dalam mendukung pendapat mereka tentang pengharaman nikah mut’ah tersebut.

Dan pastilah para pendukung kekhalifahan akan meresa mendapat nyawa baru untuk membela diri dalam pengharaman sebagai tandingan bukti-bukti sunah yuang selalu di bawakan sahabat-sabahat lain yang menhalalkan nikah mut’ah seperti Ibnu Abbas, Abdullah ibn Mas’ud dan Jabir, misalnya.

Dalam perdebatan yang terjadi antara pihak yang mengharamkan dan pihak yang menhalalkan mereka yang mengharamkan tidak pernah berdalil bahwa Rasulullah saw. telah mengharamkannya di Khaibar… atau pada peristiwa penaklukan kota Mekkah dan lain sebaigainya. Bagaimana mungkin hadis Imam Ali as. dapat kita terima sementara kita menyaksikan bahwa beliau bersabda:

,لَوْ لاَ أَنَّ عُمر نَهَى الناسَ عَنِ المُتْعَةِ ما زَنَى إلاَّ شَقِيٌّ.

“Andai bukan karena Umar melarang manusia melakukan nikah mut’ah pastilah tidak akan berzina kecuali orang yang celaka”.Demikian disebutkan ar Razi dari al-Thabari. [50]

Dan Muttaqi al-Hindi meriwayatkan dari Imam Ali as. beliau bersabda:

لَوْ لا ما سَبَقَ مِنْ نَهْيِ عُمر بن الخطاب لأَمَرْتُ بالمُنْعَةِ، ثُمَّ ما زنى إلا شقي

“Andai bukan karena Umar ibn Khaththab sudah melarang nikah mut’ah pastilah akan aku perintahkan dengannya dan kemudian tidaklah menlakukan zina kecuali orang yang celaka”. [51]

Bagaimana mungkin kita menerima riwayat para ulama itu dari Imam Ali as. yang menegur Ibnu Abbas ra. sementara kita menyaksikan Ibnu Abbas adalah salah satu sahabat yang begitu getol menyuarakan hukum halalnya nikah mut’ah, beliau siap menerima berbagai resiko dan teror dari Abdullah ibn Zubair pembrontak yang berhasil berkuasa setelah kematian Yazid?

Apakah kita menuduh bahwa Ibnu Abbas ra. degil, angkuh menerima kebenaran yang disampaikan maha gurunya; Imam Ali as. sehingga ia terus saja dalam kesesatan pandangannya tentang halalnyanikah mut’ah? Adapun dongeng-dengeng yang dirajut para sukarelawan bahwa Ibnu Abbas bertaubat dan mencabut fatwanya tentang halalnya nikah mut’ah, adalah hal mengelikan setelah bukti-bukti tegak dengan sempurna bahwa ia tetap hingga akhir hayatnya meyakni kehalalan nikah mut’ah dan mengatakannya sebagai rahmat dan kasih sayang Allah SWT untuk hamb-hamba-Nya:

ما كانَتْ المُتْعَةُ إلاَّ رَحْمَةً رَحِمَ اللهُ بِها أُمَّةَ محمد (ص)، لَوْ لاَ نَهْيُهُ (عمر) ما احْتاجَ إلى الزنا إلاَّ شقِي

Tiada lain mut’ah itu adalah rahmat, dengannya Allah merahmati umat Muhammad saw., andai bukan karena larangan Umar maka tiada membutuhkan zina kecuali seorang yang celaka. [52].

Bagaimana dongeng rujuknya Ibnu Abbas ra. dapat dibenarkan sementara seluruh ahli fikih kota Mekkah dan ulama dari murid-muridnya meyakini kehalalan nikah mut’ah dan mengatakan bahwa itu adalah pendapat guru besar mereka?!

Telaah terhadap Hadis Rabi’ ibn Saburah

Adapun tentang riwayat-riwayat Rabi’ ibn saburah, Anda perlu memperhatikan poin-poin di bawah ini.

Pertama,

seperti Anda saksikan bahwa banyak atau kebanyakan dari riwayat-riwayat para muhadis Ahlusunnah tentang pengharaman nikah mut’ah adalah dari riwayat Rabii’ -putra Saburah al-Juhani- dari ayahnya; Saburah al-Juhani. Hadis-hadis riwayat Saburah al-Juhani tentang masalah ini berjumlah tujuh belas, Imam Muslim meriwayatkan dua belas darinya, Imam Ahmad meiwayatkan enam, Ibnu Majah meriwayatkan satu hadis. Dan di dalamnya terdapat banyak berbeda-beda dan ketidak akuran antara satu riwayat dengan lainnya.

Di antara kontradiksi yang ada di dalamnya ialah:

A. Dalam satu riwayat ia menyebutkan bahwa yang bermut’ah dengan wanita yang ditemui adalah ayahnya, sementara dalam riwayat lain adalah temannya.

B. Dalam sebuah riwayat ia menyebutkan bahwa bersama ayahnya adalah temannya dari suku bani Sulaim, sementara dalam riwayat lain adalah anak pamannya.

C. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa mahar yang diberikan kepada wanita itu adalah sehelai kain selimut, sementara dalam riwayat lainnya ia mengatakan dua selimut berwarna merah.

D. Sebagian riwayatnya mengatakan bahwa wanita itu memilih ayahnya karena ketampanan dan ayahnya masih muda sementara yang lain mengatakan karena selimut ayahnya masih baru.

E. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sempat bersama wanita itu selama tiga hari sebelum akhirnya dilarang Nabi saw. sementara yang lainnya mengatakan bahwa hanya semalam, dan keesokan harinya telah dilarang.

F. Dalam beberapa riwayat ia mengatakan bahwa ayahnya sejak hari pertama kedatangan di kota Mekkah telah keluar mencari wanita yang mau dinikahi secara mut’ah, sementara yang lainnya mengatakan bahwa itu setelah lima belas hari, setelah Nabi saw. mendapat laporan bahwa wanita-wanita di Mekkah tidak mau kecuali nikah dengan jangka waktu, kemudian Nabi saw. mengizinkan dan Saburah pun keluar mencari wanita yang mau dinikahi. Dan masih banyak pertentangan lain yang dapat disaksikan dalam riwayat-riwayat yang dikutip dari Rabi’ ibn Saburah, seperti apakah ayahnya sebelumnya telah mengetahui konsep nikah mut’ah, atau belum, ia baru tahu dan diizinkan Nabi saw. setelah wanita-wanita kota Mekkah enggan kecuali nikah dengan jangka waktu.

Kedua,

disamping itu kita menyaksikan bahwa Saburah ayah Rabi’ -sang perawi- mendapat izin langsung dari Rasulullah saw. untuk bermut’ah, atau dalam riwayat lain Nabi-lah yang memerintah para sahabat beliau untuk bermut’ah dihari-hari penaklukan (fathu) kota Mekkah, dan setelah ia langusng merespon perintah atau izin itu, dan ia mendapatkan pada hari itu juga wanita yang ia nikahi secara mut’ah tiba-tiba keesokan harinya ketika ia salat subuh bersama Nabi saw. beliau berpidato mengharamkan nikahmut’ah yang baru saja beliau perintahkan para sahabat beliau untuk melakukannya, logiskah itu?! Dalam sekejap mata, sebuah hukum Allah SWT berubah-ubah, hari ini memerintahkan keesokan harinya mengharamkan dengan tanpa sebab yang jelas!Tidakkah para pakar kita perlu merenungkan kenyataan ini?!

Ketiga,

terbatasnya periwayatan kisah Saburah hanya pada Rabi’ putranya mengundang kecurigaan, sebab kalau benar ada pe-mansuk-han kehalalan nikah mut’ah pastilah para sahabat besar mengetahuinya, seperti tentang penghalalan yang diriwayatkan oleh para sahabat besar dan dekat.

Keempat,

riwayat Rabi’ ibn Saburah itu bertentangan dengan riwayat para sahabat lain seperti Jabir ibn Abdillah, Abdullah ibn Mas’ud, Ibnu Abbas, ‘Imraan ibn Hushain, Salamah ibn al-Akwa’ dan kawan-kawan.

Dan riwayat-riwayat mereka tidak mengahadapi masalah-masalah seperti yang menghadangf riwayat-riwayat Rabi’ ibn Saburah.

Catatan Penting!

Sebenarnya dalam peristiwa itu tidak ada pengharaman yang ada hanya Nabi saw. memerintah para sahabat yang bermut’ah dan jangka waktunya belum habis agar meninggalkan wanita-wanita itu sebab Rasulullah saw. bersama rombongan akan segera meninggalkan kota Mekkah. Akan tetapi para sukarelawan itu memanfaatkan hal ini dan memplesetkannya dengan menambahkan bahwa Nabi berpidato mengharamkannya. Sekali lagi, Nabi saw. hanya memerintahkan para sahabat beliau yang bermut’ah agar menghibahkan sisa waktu nikah mut’ah mereka kepada wanita-wanita itu sebab rombongan segera meninggalkan kota suci Mekkah.

Hal ini dapat Anda temukan dalam riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, dan al-Baihaqi dalam Sunannya, juga dari Sabrah. Dari Rabi’ ibn sabrah al-Juhani dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah saw. mengizinkan kami bermut’ah, lalu aku bersama seorang berangkat menuju seeorang wanita dari suku bani ‘Amir, wanita itu muda, tinggi semampai berleher panjang, kami menawarkan diri kami, lalu ia bertanya, “Apa yang akan kalian berikan?” Aku menjawab, “Selimutku”. Dan temanku berkata, “Selimutku”. Selimut temanku itu lebih bagus dari selimutku tapi aku lebih muda darinya. Apabila wanita itu memperhatikan selimut temanku, ia tertarik, tapi ketika ia memandangku ia tertarik denganku. Lalu ia berkata, “Kamu dan selimutmu cukup buatku! Maka aku bersamanya selama tiga hari, kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa di sisinya ada seorang wanita yang ia nikahi dengan mut’ah hendaknya ia biarkan ia pergi/tinggalkan”.[53]

Dalam pernyataan itu tidak ada pengharaman dari Nabi saw. Ada pun hadis Abu Dzar, adalah aneh rasanya hukum itu tidak diketahui oleh semua sahabat sepanjang masa hidup mereka sepeninggal Nabi saw. termasuk Abu Bakar dan Umar, hingga sampai dipenghujung masa kekhalifahan Umar, ia baru terbangun dari tidur panjangnya dan mengumandangkan suara pengharaman itu. Jika benar ada hadis dari Nabi saw., dimanakah hadis selama kurun waktu itu.Yang pasti para sukarelawan telah berbaik hati dengan membantu Khalifah Umar ra. jauh setelah wafat beliau dalam memproduksi hadis yang dinisbatkan kepada Nabi saw., agar kebijakan pengharaman itu tidak berbenturan dengan sunah dan ajaran Nabi saw. dan agar Khalifah Umar tampil sebagai penyegar sunah setelah sekian belas tahun terpasung.

Dan kebaikan hati sebagian ulama dan muhadis berhati luhur dengan memalsu hadis bukan hal aneh, dan saya harap anda tidak kaget. Karena memang demikian adanya di dunia hadis kita; kaum Muslim. Tidak semua para sukarelawan yang memalsu hadis orang bejat dan jahat, berniat merusak agama, tidak jarang dari mereka berhati luhur, rajin dan tekun beribadah, hanya saja mereka memiliki sebuah kegemaran memalsu hadis atas nama Rasulullah saw. Dan para sukarelawan model ini adalah paling berbahaya dan mengancam kemurnian agama, sebab kebanyakan orang akan terpesona dan kemudian tertipu dengan tampilan lahiriah yang khusu’ dan simpatik mereka. Demikian ditegaskan ulama seperti Al Nawawi dan Al Suyuthi. (bersambung)————–***————–

CATATAN KAKI

[1] Tafsir Khazin (Lubab al-Ta’wiil).1,506

[2] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9179, bab Nikah al-Mut’ah.

[3] Fathu al-Baari.19,200, Ktaabun- Nikah, bab Nahyu an-Nabi saw. ‘an Nikah al-Mut’ah Akhiran (bab tentang larangan Nabi saw. akan nikah mut’ah pada akhirnya).

[4] Tafsir Fathu al-Qadir.1,449.

[5] Tafsir Ibnu Katsir.1,474.

[6] Ibid.

[7] Fathu al-Baari.17,146, hadis no.4615.

[8] Ibid.19,142-143, hadis no.5075.

[9] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182.

[10] Fathu al-Baari.19,206-207, hadis no.5117-5118.

[11] Shahih Muslim dengan syarah al-Nawawi.9,182. hanya saja kata rasul (utusan) diganti dengan kata munaadi (pengumandang pengumuman).

[12] Ibdi.183.

[13] Ibid.183.

[14] Ibdi.184.

[15] Ibid.183-184.

[16] Ibid.183.

[17] Al-Sunan al-Kubra, Kitab al-Mut’ah, Bab Nikah-ul Mut’ah.7,206 dan ia mengatakan bahwa hadis ini juga diriwayatkan Muslim dari jalur lain dari Hummam.

[18] Keterangan lebih lanjut baca Fath al-Baari.19,201 203 dan Syarah al-Nawawi atas Shahih Muslim,9179-180.

[19] Tafsir Ibnu Katsir.1,484, pada tafsir ayat 24 surah al-Nisaa’.

[20] Al-Jaami’ Li Ahkaami Alqur’an.5130-131.

[21] Shahih Muslim (dengan syarah al-Nawawi), Kitab al-Nikah, bab Nikah-ul Mut’ah.9,189-190, dua hadis terakhir dalam bab tersebut, Sunan al-Nasa’i, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan al-Baihaqi, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah.7,201, Mushannaf Abdur Razzaq.7,36 dan Majma’ al-Zawaid.4,265.

[22] Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, dan bab Nahyu Rasulillah ‘an nikah al-mut’ah akhiran, bab al-hiilah fi al-nikah, Sunan Abu Daud.2,90, bab Tahriim al-Mut’ah, Sunan Ibnu Majah.1,630, Kitab-un Nikah, bab an-nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah, hadis no.1961, Sunan al-Turmudzi (dengan syarah al-Mubarakfuuri).4,267-268, bab Ma ja’a fi Nikah al-Mut’ah(27), hadis no.1130 Muwaththa’, bab Nikah mut’ah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.4,292 Sunan al-Darimi.2,140 bab al-Nahyu ‘an Mut’ah al-Nisa’, Musnad al-Thayalisi hadis no.111 dan Musnad Imam Ahmad.1,79,130 dan142, dan Anda dapat jumpai dalam Fathu al-Baari dalam baba-baba tersebut di atas.

[23] Baca Sunan al-Baihaqi.7,207.

[24] Shahih Muslim.9,185.

[25] Ibid.186.

[26] Ibdi.

[27] Ibid.187.

[28] Ibdi.188-189.

[29] Ibid.187.

[30] Ibid.189.

[31] Abu Daud.2,227, Kitab al-Nikah, bab Nikah al-Mut’ah dan Sunan al-Baihaqi.7,204.

[32] Sunan al-Baihaqi.7,204.

[33] Shahih Muslim.9,184, Mushannaf.4,292, Musnad Ahmad.4,55, Sunan al-Baihaqi.7,204 dan Fath al-Baari.11,73.

[34] Baca Sunan al-Baihaqi.7,204.

[35] Seperti Anda saksikan bahwa hadis tersebut telah saya kutipkan dari empat belas sumber terpercaya.

[36] 9,449.

[37]Syarh Nahjul Balaghah 1, 371-372.

[38] Ash-Shirath al-Mustaqim.3,245.

[39] Fathu al-Baari.19,202 menukil pernyataan al-Baihaqi.

[40] Zaad al-Ma’aad.2,204, pasal Fi Ibaahati Mut’ati al-Nisaa’i tsumma Tahriimuha (tentang dibolehkannya nikah mut’ah kemudian pengharamannya). Dan keterangan panjang Ibnu qayyim juga dimuat Ibnu Hajar.

[41] Fath al-Baari.16,62. hadis no.4216.

[42] Ibid.19,202.

[43] Ibid.201.

[44] Ibdi.202.

[45] Ibid.

[46] Bukhari Bab Ghazwah Khaibar, hadis no.4216, Kitab al-Dzabaaih, bab Luhuum al-Humur al-Insiyyah, hadis no.5523, Shahih Muslim, bab Ma Ja’a Fi Nikahi al-Mut’ah (dengan syarah a-Nawawi).9,190, Sunan Ibnu Majah.1, bab al-Nahyu ‘an Nikah al-Mut’ah (44) hadis no1961 dan Sunan Al-Baihaqi.7,201, dan meriwayatkan hadis serupa dari Ibnu Umar. Dan di sini sebagian ulama melakukan penipuan terhadap diri sendiri dengn mengatakan bahwa sebenarnya dalam hadis itu ada pemajuan dan pemunduran, maksudnya semestinya yang disebut duluan adalah Luhum Humur insiyah bukan Mut’ah al-Nisaa’. (Fath al-baari.16,62) Mengapa? Sekali lagi agar riwayat Bukhari dkk. di atas tetap terjaga wibawanya dan agar tidak tampak bertentang dengan kenyataan sejarah.

[47] Ucapan pengharaman ini begitu masyhur dari Umar dan dinukil banyak ulama dalam buku-buku mereka, di antaranya: Tafsir al-Razi.10,50, Al-Jashshash. Ahkam Alqur’an.2,152, Al-Qurthubi. Jami’ Ahkam Alqur’an.2,270, Ibnu Qayyim. Zaad al-Ma’ad.1,444 dan ia megatakan” dan telah tetap dari Umar…, Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahj al-Balaghah.1,182 dan 12,251 dan 252, Al-Sarakhsi al-Hanafi. Al-Mabsuuth, kitab al-Haj, bab Alqur’an dan ia mensahihkannya, Ibnu Qudamah. Al-Mughni.7,527, Ibnu Hazam. Al-Muhalla.7,107, Al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-Ummal.8,293 dan294, al-Thahawi. Syarh Ma’ani al-Akhbaar.374 dan Sunan al-Baihaqi.7,206.

[48] Ibid.183.

[49] Ibid.183-184.

[50] Mafaatiih al-Ghaib (tafsir al-Razi).10,51

[51] Kanz al-Ummal.8,294.

[52] Dan dalam sebagian riwayat إلاَّ شفي dengan huruf faa’ sebagai ganti huruf qaaf, dan artinay ialah jarang/sedikit sekali. Pernyataan Ibnu Abbas diriwayatkan banyak ulama, seperti Ibnu al-Atsir dalam Nihayahnya, kata kerja syafa.

[53] Shahih Muslim.9,184-185, Sunan al-Baihaqi.7,202, dan Musnad Ahmad.3,405.

Mengapa Aku Meninggalkan Sunni ??

Pihak Sunni yang ekstrim dan golongan Wahabi kerap mewar-warkan kesesatan Syiah, tanpa sebarang kajian dan dialog, hanya kerana pegangan Syiah terhadap sesuatu perkara berbeza dengan apa yang mereka pagang. Sepatutnya perbezaan pendapat harus diterima dengan hati terbuka dan berlapang dada, bukan dengan menyesatkan pihak lain, yang jelas, Syiah mempunyai dasar dan asas dari Quran dan Sunnah atas setiap pegangan akidahnya. Bukanhlah kami mereka-reka sendiri kepercayaan kami, melainkan ia datang dari Allah melalui Rasulnya, seterusnya melalui para Aimmah Ahlulbait
.
Namun apa yang akan terjadi jika kami Syiah menggunakan prinsip yang sama dengan kalian? Artikel berikut adalah apa yang kami gelarkan sebagai “penyelewengan” Sunni, jika kami menghakimi perbezaan kalian dengan kami.

Pengenalan

Perkataan “penyelewengan” bererti perbuatan menyeleweng, penyimpangan dari dasar, memisahkan seseorang dari hakikat pengajaran agama. Sementara perkataan “ kesesatan” bererti perihal sesat. Dan “sesat” adalah tidak mengikuti jalan yang betul, tersalah jalan, terkeliru, menyimpan dari jalan yang benar ( dk, hlm. 1191)

.

Perkataan Dhalal (kesesatan) di dalam al-Qur’an dikaitkan kepada penderhakaan terhadap Allah (swt) dan Rasul-Nya, kerana menyalahi, menolak, mengubah, dan menangguhkan hukum-Nya. Firman-Nya “ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (wa man ya ‘si Llaha wa Rasula-hu), maka ianya telah sesat (Dhalla) dengan  kesesatan yang nyata (Dhalalan)” (Al-Ahzab (33):35) dan ikutan (Taqlid) kepada orang yang mulia dan pembesar-pembesar yang melakukan perkara yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.)  Firman-Nya “Mereka berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati orang yang mulia kami dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan Engkau ( fa-adhallu-na s-Sabila)” (Al-Ahzab(33): 67)

.

Ini bererti sesiapa yang menyalahi, membelakangi, mengganti, membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya sama ada secara sukarela atau ikutan (taqlid) kepada orang yang mulia dan pembesar-pembesar mereka yang melakukan perkara tersebut dahulu dan sekarang (salaf dan khalaf) adalah termasuk golongan yang sesat atau menyeleweng dari Islam yang sebenar. Dan maksud “Islam yang sebenar” adalah Islam yang bertepatan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan bukan sebaliknya

.

A. Penyelewengan dari sudut Akidah

Dikemukakan dibawah ini sebahagian dari penyelewengan Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari segi Akidah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) seperti berikut.

1. Imam tidak maksum. Siapa sahaja boleh menjadi Imam sama ada orang yang zalim, fasiq, si jahil, pembohong, penipu, perampas, pembunuh, penzina, peliwat dan lain-lain. Ianya  menyeleweng daripada firman Tuhan “ Sesungguhnya aku menjadikan engkau Imam bagi manusia. Dia (Ibrahim) berkata: Semua zuriyatku? Dia berfirman: Janjiku tidak termasuk orang-orang yang zalim” (al-Baqarah(2):124). Lantaran itu orang yang zalim tidak boleh menjadi Imam. Tetapi Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah menyokong orang-orang yang zalim menjadi pemimpin dan kemaksuman mereka tidak perlu. Kemudian mereka mewajibkan orang ramai supaya mentaati pemimpin-pemimpin tersebut. Justeru itu mereka telah menyeleweng dari ajaran Islam yang sebenar:al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Lantaran itu mereka telah memisahkan agama dengan politik. Mereka percaya bahawa Rasulullah (Saw.) kurang tahu urusan dunia kerana beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui urusan duniamu” (antum a‘lamu bi-umuri dunya-kum) (Muslim, Sahih , ii, hlm. 875).

2. Menolak ayat al-Qur’an mengenai pengumpulan  semula setiap umat satu kumpulan (Raj‘ah). Firman-Nya “Pada hari itu kami kumpulkan daripada setiap umat satu kumpulan (faujan) di kalangan mereka yang mendustakan ayat ayat kami, mereka akan dikumpulkan” (Al-Naml (27:83) Ayat ini jelas menunjukkan kebangkitan semula satu kumpulan pada setiap umat di kalangan mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah (swt), tetapi Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah menolaknya. Justeru itu mereka yang menolak ayat inilah yang sesat atau menyeleweng dan bukan sebaliknya.

3. Berterus terang menyokong pemimpin-pemimpin yang zalim, tanpa berpura-pura. Dan menentang Mustadh‘afin, tanpa berpura-pura. Lantaran itu akidah mereka menyeleweng dari Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah ,kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud (11):113).

4. Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Allah(swt) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka mempraktikkan sunnah Abu Bakr dan Umar yang berlawanan  dengan hukum Allah. Dan barangsiapa yang menyalahi sunnah mereka berdua dikira menyeleweng atau sesat dari Islam sebenar. Mereka maksudkan dengan Islam yang sebenar itu adalah Islam yang mematuhi sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar sekalipun ianya bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

Ini bererti orang yang percaya dan mengamal keseluruhan hukum al-Qur’an adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam sebenar, kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar. Kemudian mereka mengadakan program pemulihan atau  kemurnian akidah bagi memaksa orang ramai mentaati sunnah mereka berdua. Mereka jadikan Masa’il al-Mursalah, Maslahah, Ihsan Sadd dh-Dhara‘i‘, ijmak, ijtihad, dan Qiyas bagi membatal atau menukar atau mengubah hukum Allah (swt).

Kemudian mereka memberitahu orang-ramai perlakuan sedemikian adalah kerana menjagamaqasid asy-Syari‘ah, bukan menentang hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang ramai adalah jahil, lalu menerima fatwa mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka menyakinkan orang ramai bahawa perbuatan mereka tidak terkeluar dari roh Syari‘ah, pada hakikatnya terkeluar dari Syari‘ah Allah. Orang ramai menerimanya. Perkataan Syari‘ah yang digunakan oleh mereka pula bukan bererti al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja.

Malah menggunakan istilah-istilah lain untuk mengkaburkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dari diamalkan. Umpamanya mereka mengatakan khalifah Umar tidak memberi saham Muallaf adalah untuk menjaga Maqasid asy Syari‘ah. Sepatutnya Maqasid asy-Syari‘ah adalah penerusan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi khalifah Umar telah menahan pemberian tersebut dengan alasan Muallaf tidak memerlukanya lagi. Mereka menyokong tindakan khalifah Umar yamg menyalahi al-Qur’an itu sebagai tindakan yang bijak dan memujinya pula. Sepatutnya mereka menjaga Maqasidu l-Qur’an yang meneruskan pemberian zakat kepada Muallaf, tetapi disebabkan mereka lebih meredhai sunnah Umar daripada hukum Allah, maka mereka mencari jalan bagi menutup kesalahannya.Dan kesalahannya pula menjadi sunnah atau hukum yang menangguh atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Sehingga sekarang mereka mempertahankan perbuatan atau sunnah Abu Bakr dan Umar meskipun ia bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Malah mereka memaksa orang ramai mengamalkan sunnah tersebut di dalam peribadatan mereka.

Justeru itu sesiapa yang percaya dan mengamalkan hukum al-Qur’an 100% akan dikira sesat atau menyeleweng  dari ajaran Islam yang sebenar kerana mereka  menolak sunnah khalifah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an. Jika sesiapa yang tidak menerima sunnah tersebut mereka  menganggapnya  terkeluar daripada agama Islam sebenar; menyeleweng  atau sesat, dan perlu kepada pemulihan atau pemurnian akidah kerana ia mengancam keselamatan negara. Sepatutnya mereka yang mengamalkan sunnah Abu Bakr dan Umar  yang bertentangan  dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) lebih perlu dipulihkan akidah mereka kepada  akidah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan meninggalkan sunnah mereka berdua. Tetapi percayalah bahawa mereka akan meneruskan sunnah Abu Bakr dan Umar yang menyalahi al-Qur’an.

Mereka tidak akan menyerah kepada hukum Allah sepenuhnya sebagaimana firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah,dan taatlah kepada Rasul dan Uli l-Amri min-kum.Jika kamu bertelagah di dalam sesuatu perkara,maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Demikian itu lebih baik dan sebaik-baik jalan” (al-Nisa’ (4):59). Dan firman-Nya “Tidakkah kamu mengetahui bahawa mereka yang mendakwa bahawa mereka beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepada engkau dan (kitab-kitab) yang diturunkan sebelum engkau; mereka hendak meminta hukum kepada Thaghut (berhala),sedangkan mereka diperintahkan supaya menentang thaghut.Syaitan menghendaki supaya ia menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh” (al-Nisa’ (4): 60). Justeru itu ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah menyeleweng dari ajaran al-Qur’an.

5. Melebihkan taraf Abu Bakr dan Umar  daripada Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan hukum. Mereka lebih mentaati sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar daripada sunnah Rasulullah (Saw.) Sebaliknya mereka menyesatkan orang yang tidak mentaati sunnah mereka berdua sekalipun bertentangan dengan sunnah Rasulullah (Saw.). Jika sesiapa mengamalkan Sunnah Rasulullah 100% adalah dikira sesat, dan menyeleweng dari Islam yang sebenar, oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah kerana menolak sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar yang menyalahi sunnah Rasulullah (Saw.). Mereka percaya bahawa khalifah Abu Bakr dan Umar lebih mengetahui daripada Rasulullah (Saw.).

Lantaran itu mereka menggunakan istilah-istilah Masalih Mursalah, Maslahah, Ihsan, Maqasidu sy-Syari‘ah, ijtihad dan lain-lain bagi membatalkan atau menangguh atau menggantikan sebahagian Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka menyalahi Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah(hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab (33):35)

Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka,kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau, dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4):65) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (al-Ma ‘idah (5):44)

Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul,sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam. Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (Al-Nisa ‘(4);115)

6. Mengharamkan nikah Mut‘ah yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kerana Umar mengharamkannya. Dengan pengharaman tersebut banyak gejala masyarakat timbul dan tidak dapat di atasi. Lantaran itu kita dapati di dalam masyarakat Ahlu s-Sunnah wa l–Jama‘ah perzinayan, perogolan banyak berlaku. Terdapat bapa berzina dengan anak perempuannya, iparnya, ibu saudaranya, adik perempuannya, datuk pula merogol cucu perempuannya serta cicitnya dan lain-lain. Bayi luar nikah dibuang begitu sahaja. Oleh itu tidak hairanlah jika Imam Ali a.s berkata: “perzinayan yang berlaku, adalah ekoran pengharaman nikah Mut‘ah”.  Mereka mentaati Umar lebih dari mentaati Allah (swt) dan Rasul-Nya dari segi pelaksanaan hukum. Al-Suyuti berkata: Umarlah orang pertama yang mengharamkan nikah Mut‘ah (Tarikh al-Khulafa’, hlm.137)  Kenyataan al-Suyuti bererti:

a)  Nikah mut’ah adalah halal menurut Islam.

b) Khalifah Umarlah yang mengharamkan nikah mut’ah yang telah dihalalkan pada masa Rasulullah (Saw.), khalifah Abu Bakar dan pada masa permulaan zaman khalifah Umar.

c) Umar mempunyai kuasa veto yang boleh memansuhkan atau membatalkan hukum nikah mut’ah sekalipun ianya halal di sisi Allah dan Rasul-Nya. Al-Suyuti seorang Mujaddid Ahlil Sunnah abad ke-6 Hijrah mempercayai bahawa nikah mut’ah adalah halal, kerana pengharamannya adalah dilakukan oleh Umar dan bukan oleh Allah dan RasulNya.Kenyataan al-Suyuti adalah berdasarkan kepada al-Qur’an dan kata-kata Umar sendiri.

Al-Suyuti seorang Mujaddid Ahlil Sunnah abad ke-6 Hijrah mempercayai bahawa nikah mut’ah adalah halal, kerana pengharamannya adalah dilakukan oleh Umar dan bukan oleh Allah dan RasulNya.Kenyataan al-Suyuti adalah berdasarkan kepada al-Qur’an dan kata-kata Umar sendiri.

7. Khalifah tidak diwasiatkan oleh Rasulullah saw,tetapi khalifah Abu Bakr telah berwasiat kepada Umar, dan Umar telah berwasiat kepada Uthman  secara tersusun. Lantaran itu Abu Bakr tidak mentaati Rasulullah saw kerana  meninggalkan wasiat, begitu juga Umar. Sebenarnya Rasulullah saw telah berwasiat kepada Ali a.s. “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya , maka Ali adalah maulanya” Lantaran itu Ali dan sebelas para imam Ahlu l-Bait Rasulullah saw menuntutnya.

Lantaran itu, jika mereka mendakwa Rasulullah tidak meninggalkan wasiat, tetapi mereka berdua telah berwasiat, bererti mereka telah menyalahi Sunnah Rasulullah saw yang tidak berwasiat menurut pendapat mereka.Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Rasulullah saw.Dan jika Rasulullah saw telah berwasiat-tentu beliau berwasiat-Mereka juga telah menyalahi Sunnah Rasulullah saw, kerana beliau telah berwasiatkan kepada Ali, Hasan, Husain sehinggalah kepada Imam al-Mahdi a.s. dan bukan kepada mereka berdua. (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm.124-5) Justeru itu Ahlu s-Sunnah yang menolak hadis Imam Dua Belas sepatutnya  meneleweng,  bukan Syi‘ah yang mempercayainya.

8. Tidak memahami  konsep ilmu Allah tentang al-Bada’ di dalam konteks “Dia menghapuskan apa  yang dikehendaki dan menetapkan(yamhu Llahu ma yasya‘ wa yuthbit) dan di sisi-Nya Ummu l-Kitab’ (al-Ra‘d (13):39) Dan firman-Nya “ Kami tidak mengubah mana mana ayat ( ma nansakhu min ayatin) atau kami lupakan(kepada kamu) kami datangkan (gantiannya) dengan lebih baik daripadanya (na’ti bi-kharin min-ha) atau yang seumpamanya ( au mithli-ha)” (Al-Baqarah(2):106) Oleh itu, Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah tidak memahami konsep al- Bada’, nasikh dan mansukh sehingga mereka mempercayai  bahawa Abu Bakr dan Umar  boleh membatalkan atau mengubah hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan alasan maslahah, lalu memtaati mereka berdua.

9. Tidak mempercayai Muhammad bin Hasan al-Askari sebagai imam al-Mahdi al-Muntazar. Sikap penentangan ini semata-mata penentangan mereka terhadap  hadis  Dua Belas Imam (al-Qunduzi l-Hanafi, Yanabi ‘ al-Mawaddah, hlm.148-9)

10. Memartabatkan majoriti para sahabat Nabi (Saw.) yang telah menjadi kafir-murtad dengan sendiri. Sedangkan Rasulullah (Saw.) mengatakan bahawa majoriti mereka  telah menjadi kafir murtad selepas kewafatannya, kerana mereka telah mengubah  atau membatalkan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Hanya sedikit sahaja bilangan mereka terselamat. Syi‘ah tidak mengkafirkan mereka tetapi al-Bukhari dan Muslim telah mencatat di dalam Sahih Sahih mereka mengenai perkara tersebut.

Definisi kekafiran

Perkataan “kekafiran” adalah pecahan daripada perkataan “kafir”. Menurut Kamus Dewan, perkataan “kekafiran” memberi pengertian sifat-sifat kafir.Dan kafir adalah orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Sementara perkataan “mengkafir atau mengafir” bererti menganggap kafir atau mengatakan kafir . Perkataan “murtad” bererti seorang keluar daripada agamanya, tidak setia kepada agamanya (Kamus Dewan, hlm. 846) Justeru itu orang Islam yang menjadi kafir atau murtad adalah orang yang keluar agama Islam.

Kajian mengenai para sahabat yang telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatan Nabi (Saw.) amat mencemaskan, tetapi ianya suatu hakikat yang tidak dapat dinafikan oleh sesiapapun kerana ia telah dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka di mana kedua dua kitab tersebut dinilai sebagai kitab yang paling Sahih selepas al-Qur’an oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sendiri. Di samping itu ia juga telah dicatat oleh pengumpul-pengumpul Hadis daripada mazhab Ahlu l-Bait(a.s) di dalam buku-buku mereka.

Amatlah dikesali bahawa kaum Wahabi yang menyamar sebagai Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sentiasa menyamarakkan sentimen anti Syi‘ah dengan slogan “Syi‘ah mengkafirkan para sahabat” bagi mendapatkan sokongan orang ramai kepada gerakan mereka.Walau bagaimanapun rencana ringkas ini sekadar mendedahkan hakikat sebenar  bagi menjawab tuduhan tersebut, dan tidak sekali-kali bertujuan meresahkan kaum Muslimin di rantau ini.

Sekiranya al-Bukhari dan Muslim telah mencatat kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) di dalam Sahih-Sahih mereka, kenapa kita menolaknya dan melemparkan kemarahan kepada orang lain pula? Dan jika mereka berdua berbohong, merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt) Dan jika kita Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), nescaya kita menerimanya. Jika tidak, kitalah Ahli anti Sunnah atau Hadis Nabi (Saw.)

Definisi sahabat

Berbagai pendapat mengenai definisi sahabat telah dikemukakan. Ada pendapat yang mengatakan: “Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya daripada orang-orang Islam, maka ia adalah daripada para sahabatnya.”

Definisi inilah yang dipegang oleh al-Bukhari di dalam Sahihnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm.1). Sementara gurunya Ali bin al-Madini berpendapat: Sesiapa yang bersahabat dengan Nabi (Saw.) atau melihatnya, sekalipun satu jam di siang hari, adalah sahabatnya (Ibid). Manakala al-Zain al-Iraqi berkata: “Sahabat adalah sesiapa yang berjumpa dengan Nabi sebagai seorang Muslim, kemudian mati di dalam Islam.” Said bin Musayyab berpendapat: “Sesiapa yang tinggal bersama Nabi selama satu tahun atau berperang bersamanya satu peperangan.”

Pendapat ini tidak boleh dilaksanakan kerana ianya mengeluarkan sahabat-sahabat yang tinggal kurang daripada satu tahun bersama Nabi (Saw.) dan sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang bersamanya.Ibn Hajar berkata: “Definisi tersebut tidak boleh diterima (Ibn Hajr, Fath al-Bari, viii, hlm.1)

Ibn al-Hajib menceritakan pendapat ‘Umru bin Yahya yang mensyaratkan seorang itu tinggal bersama Nabi (Saw.) dalam masa yang lama dan “mengambil (hadith) daripadanya (Syarh al-Fiqh al-‘Iraqi, hlm.4-3) Ada juga pendapat yang mengatakan: “Sahabat adalah orang Muslim yang melihat Nabi (Saw.) dalam masa yang pendek(Ibid).

Kedudukan para sahabat

Kedudukan para sahabat di bahagikan kepada tiga:

1. Sahabat semuanya adil dan mereka adalah para mujtahid. Ini adalah pendapat Ahlu s- Sunnah wa l-Jama‘ah.

2. Sahabat seperti orang lain, ada yang adil dan ada yang fasiq kerana mereka dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Justeru itu yang baik diberi ganjaran kerana kebaikannya. Sebaliknya yang jahat dibalas dengan kejahatannya. Ini adalah pendapat mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) atau Syi‘ah atau Imam Dua belas.

3. Semua sahabat adalah kafir-semoga dijauhi Allah-Ini adalah pendapat Khawarij yang terkeluar daripada Islam.

II

Dikemukan dibawah ini lima hadis daripada Sahih al-Bukhari (Al-Bukhari, Sahih, (Arabic-English), by Dr.Muhammad Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Medina al-Munawwara, Kazi Publications, Chicago, USA1987, jilid viii, hlm.378-384 (Kitab ar-Riqaq,bab fi l-Haudh)dan enam hadis dari Sahih Muslim Muslim, Sahih, edisi Muhammad Fuad  ‘Abdu l-Baqi, Cairo, 1339H,

Terjemahan hadis-hadis dari Sahih al-Bukhari

1. Hadis no. 578. Daripada Abdullah bahawa Nabi(Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh dan sebahagian daripada kamu akan dibawa di hadapanku.Kemudian mereka akan dipisahkan jauh daripadaku.Aku akan bersabda: wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)

2. Hadis no. 584. Daripada Anas daripada Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada sahabatku akan datang kepadaku di Haudh (Sungai atau Kolam Susu) sehingga aku mengenali mereka, lantas mereka dibawa jauh daripadaku. Kemudian aku akan bersabda:Para sahabatku (ashabi)! Maka dia (Malaikat) berkata: Anda tidak mengetahui apa yang lakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la adri ma ahdathu ba‘da-ka)

3. Hadis no. 585. Abu Hazim daripada Sahl bin Sa‘d daripada Nabi (Saw.) Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan siapa yang akan melaluinya akan miminumnya. Dan siapa yang meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenali,dan mereka juga mengenaliku.Kemudian dihalang di antaraku dan mereka. Abu Hazim berkata : Nu‘man bin Abi  ‘Iyasy berkata selepas mendengarku: Adakah anda telah  mendengar  sedemikian daripada Sahl? Aku menjawab: Aku naik saksi bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri berkata perkara yang sama, malah dia menambah: Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan bersabda: mereka itu adalah daripadaku (ashabi). Maka dijawab: “Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka Aku akan bersabda:Jauh!Jauh! (daripada rahmat Allah)  atau ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Allah dan Sunnahku) selepasku (suhqan suhqan li-man ghayyara ba‘di)

Abu Hurairah berkata bahawa Rasulullah (Saw.) bersabda: Sekumpulan daripada para sahabatku akan datang kepadaku di Hari Kiamat. Kemudian mereka akan diusir jauh dari Haudh.Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku!mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa  yang mereka lakukan selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la  ‘ilma la-ka bima ahdathu ba‘da-ka) Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang (irtaddu  ‘ala a‘qabi-bi-himu l-Qahqariyy)

4. Hadis no. 586. Daripada Ibn Musayyab bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Sebahagian daripada para sahabatku akan mendatangiku

di Haudh, dan mereka akan dipisahkan dari Haudh.Maka aku berkata:Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku (ashabi), maka akan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka.Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad ke belakang selepas anda meninggalkan mereka (inna-hum irtaddu ba ‘da-ka  ‘ala Adbari-ka l-Qahqariyy)

5.Hadis no.587. Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi (Saw.)bersabda: Manakala aku sedang tidur, tiba-tiba sekumpulan (para sahabatku) datang kepadaku. Apabila aku mengenali mereka,tiba-tiba seorang lelaki (Malaikat) keluar di antara aku dan mereka. Dia berkata kepada mereka : Datang kemari.Aku bertanya kepadanya: Ke mana? Dia menjawab: Ke Neraka,demi Allah. Aku pun bertanya lagi: Apakah kesalahan mereka? Dia menjawab: Mereka telah menjadi kafir-murtad selepas kamu meninggalkan mereka( inna-hum irtaddu ba‘da-ka  ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Justeru itu aku tidak melihat mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (fala ara-hu yakhlusu min-hum illa mithlu hamali n-Na‘ am).

Terjemahan hadis-hadis dari Sahih Muslim

1. Hadis no.26. (2290) Daripada Abi Hazim berkata: Aku telah mendengar Sahlan berkata:Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh.Siapa yang melaluinya, dia akan meminumnya. Dan siapa yang meminumnya, dia tidak akan dahaga selama-lamanya.Akan datang kepadaku beberapa orang yang aku mengenali mereka dan mereka mengenaliku (para sahabatku). Kemudian dipisahkan di antaraku dan mereka.Abu Hazim berkata: Nu‘man bin Abi ‘Iyasy telah mendengarnya dan aku telah memberitahu mereka tentang Hadis ini. Maka dia berkata:Adakah anda telah mendengar Sahlan berkata sedemikian? Dia berkata: Ya.

(2291) Dia berkata: Aku naik saksi  bahawa aku telah mendengar Abu Sa‘id al-Khudri menambah: Dia berkata: Sesungguhnya mereka itu adalah daripadaku (inna-hum min-ni). Dan dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka). Maka aku (Nabi (Saw.) bersabda: Jauh !Jauh! (daripada rahmat Allah)/ke Neraka mereka yang telah mengubah atau menukarkan (hukum Tuhanku dan Sunnahku) selepasku (Suhqan suhqan li-man baddala ba‘di)

2. Hadis no.27 (2293) Dia berkata:Asma‘ binti Abu Bakr berkata: Rasulullah (Saw.) bersabda:Sesungguhnya aku akan berada di Haudh sehingga aku melihat mereka yang datang kepadaku dikalangan kamu (man yaridu  ‘alayya min-kum). Dan mereka akan ditarik dengan pantas (daripadaku), maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu daripada (para sahabat)ku dan daripada umatku. Dijawab: Tidakkah anda merasai atau menyedari apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (amma sya‘arta ma ‘amilu ba‘da-ka)? Demi Allah, mereka sentiasa mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) selepas anda meninggalkan mereka (Wa Llahi!Ma barihu ba‘da-ka yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him)Dia berkata:Ibn Abi Mulaikah berkata: “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kami memohon perlindungan daripadaMu supaya kami tidak mengundur ke belakang (kembali kepada kekafiran) atau kami difitnahkan tentang agama kami”

3. Hadis no. 28. (2294) Daripada  ‘Aisyah berkata: Aku telah mendengar Nabi (Saw.) bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya (ashabi-hi): Aku akan menunggu mereka di kalangan kamu yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik dengan pantas dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah daripada (para sahabat) ku dan daripada umatku. Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma  ‘amilu ba‘da-ka). Mereka sentiasa mengundur ke belakang(kembali kepada kekafiran) (Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him)

4. Hadis no.29 (2295) Daripada Abdullah bin Rafi‘; Maula Ummi Salmah; isteri Nabi (Saw.)Rasulullah (Saw.) bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak seorang daripada kamu(para sahabatku) akan datang kepadaku sehingga dia akan dihalau/diusir daripadaku(fa-yudhabbu ‘anni) sebagaimana  dihalau/diusir unta yang tersesat (ka-ma yudhabbu l-Ba‘iru dh-Dhallu). Aku akan bersabda: Apakah salahnya?  Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)Maka aku bersabda:Jauh! (daripada  rahmat Allah) (suhqan).

5. Hadis no.32 (2297) Daripada Abdillah, Rasulullah (Saw.) bersabda: Aku akan mendahului kamu di Haudh. Dan aku akan bertelagah dengan mereka (aqwaman). Kemudian aku akan menguasai mereka.Maka aku bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku.Mereka itu adalah para sahabatku (Ya Rabb! Ashabi, ashabi). Lantas dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka)

6. Hadis no.40. (2304) Daripada Anas bin Malik bahawa Nabi (Saw.) bersabda: Akan datang kepadaku di Haudh beberapa lelaki (rijalun) daripada mereka yang telah bersahabat denganku (mimman sahabani) sehingga aku melihat mereka diangkat kepadaku.Kemudian mereka dipisahkan daripadaku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah para sahabatku. Mereka adalah para sahabatku (Usaihabi) Akan dijawab kepadaku: Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka).

Perkataan-perkataan yang penting di dalam hadis-hadis tersebut.

Daripada hadis-hadis di atas kita dapati al-Bukhari telah menyebut perkataan:

a. Ashabi (para sahabatku) secara literal sebanyak empat kali

b. Inna-ka la tadri atau la  ‘ilma la-ka ma ahdathu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) sebanyak tiga kali. Perkataan ahdathu bererti mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah atau inovasi yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah nabi (Saw.).

c. Inna-hum  Irtaddu (Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad) sebanyak empat kali.

d. Suhqan suhqan li-man gyayara ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau ke Nerakalah mereka yang telah mengubah atau menukarkan-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Ghayyara” bererti mengubah atau menukarkan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

e. Fala arahu yakhlusu minhum mithlu hamali n-Na‘am (Aku tidak fikir mereka terselamat melainkan (beberapa orang sahaja) sepertilah unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya) satu kali.

Sementara Muslim telah menyebut perkataan:

a. Ashabi (para sahabatku) secara literal satu kali.

b. Ashabi-hi (para sahabatnya) satu kali,

c. Sahaba-ni ( bersahabat denganku) satu kali

d. Usaihabi (para sahabatku) dua kali.

e. Innaka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka (sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan(ahdathu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali.

f. Inna-ka la tadri atau sya‘arta ma  ‘amilu ba‘da-ka (Sesungguhnya anda tidak mengetahui atau menyedari apa yang dilakukan (ma ‘amilu) oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka) tiga kali . Perkataan “Ma ‘amilu” (Apa yang dilakukan oleh mereka) adalah amalan-amalan yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

g. Ma barihu atau Ma zalu Yarji‘un  ‘ala a‘qabi-him (mereka sentiasa kembali kepada kekafiran) dua kali

h. Suhqan suhqan li-man baddala  ba‘di (Jauh! Jauh! (daripada rahmat Allah) atau  ke Nerakalah mereka yang telah mengganti atau  mengubah atau  menukar-hukum Tuhanku dan Sunnahku- selepasku) satu kali. Perkataan “Baddala” bererti mengganti atau mengubah atau menukar hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

Justeru itu sebab-sebab  mereka menjadi kafir-murtad menurut al-Bukhari dan Muslim adalah kerana mereka:

(1) Ahdathu=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him

(2) ‘Amilu   =Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him

(3) Ghayyaru=Irtaddu atau  yarji‘un ‘ala a‘qabi-him

(4) Baddalu=Irtaddu atau yarji‘un ‘ala a‘qabi-him

III

Ini bererti mereka yang telah mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya dilaknati(mal‘unin). Lantaran itu sebarang justifikasi (tabrirat) seperti Maslahah, Masalihu l-Mursalah, Saddu dh-Dhara’i‘, Maqasidu sy-Syari‘ah‘, dan sebagainya bagi mengubah atau menukar atau menangguh atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Jika mereka terus melakukan sedemikian, maka mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahli anti Sunnah nabi (Saw.)

Sebab utama yang membawa mereka menjadi kafir-murtad (Irtaddu atau La yazalun yarji‘un ‘ala  a‘qabi-him) di dalan hadis-hadis tersebut adalah kerana mereka telah mengubah sebahagian hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya (baddalu wa ghayyaru) dengan melakukan berbagai bid‘ah (ahdathu)  dan amalan-amalan (‘amilu) yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.). Perkara yang sama akan berlaku kepada kita di abad ini jika kita melakukan perkara yang sama. Menurut al-Bukhari dan Muslim,hanya sebilangan kecil daripada mereka terselamat seperti bilangan unta yang tersesat atau terbiar (mithlu hamali n-Na‘am). Justeru itu konsep keadilan semua para sahabat yang diciptakan oleh Abu l-Hasan al-Asy‘ari (al-Asy‘ari, al-Ibanah, cairo, 1958, hlm.12) dan dijadikan akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah bertentangan dengan hadis-hadis tersebut.

Walau bagaimanapun hadis-hadis tersebut adalah bertepatan dengan firma-Nya di dalam Surah al-Saba’ (34):131 “Dan sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur”, firman-Nya di dalam Surah Yusuf (12):103 “Dan kebanyakan manusia bukanlah orang-orang yang beriman, meskipun engkau harapkan”, dan firman-Nya di dalam Surah Sad (38):24 “Melainkan orang-orang yang beriman,dan beramal salih, tetapi sedikit (bilangan) mereka” Dia berfirman kepada Nuh di dalam Surah hud (11):40 “ Dan tiadalah beriman bersamanya melainkan sedikit sahaja.” Mukminun adalah sedikit.Justeru itu tidak hairanlah jika di kalangan Para sahabat ada yang telah mengubah Sunnah Nabi (Saw.), tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Nabi (Saw.) Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah (swt).

Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr ‘Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A’masy telah memberitahu kami bahawa dia berkata: “Aku mendengar Syaqiq berkata: “Abdullah berkata: Suatu hari Nabi (Saw.) telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata: “Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah (swt).Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahu Nabi (Saw.) mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:”Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar.”

Perhatikanlah bagaimana perlakuan (ma ‘amilu) sahabat terhadap Nabi (Saw.)! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Nabi (Saw.)  itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Nabi (Saw.)  itu harus ditaati? Tetapi mereka tidak mentaatinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.).

Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-’Itabberkata: “Aisyah berkata: Nabi (Saw.)  pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian para sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi (Saw.), maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda: “Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka.”

Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak(senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata: “Aku berjalan bersama Rasulullah (Saw.) di waktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Nabi (Saw.) dengan kuat.” Anas berkata: “Aku melihat kulit leher Nabi (Saw.) menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata: Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi (Saw.) berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya.”

Di kalangan mereka ada yang telah menghina Nabi (Saw.)dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) “ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ Mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar. “[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida”, Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II, hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku , dia menyakiti Allah” “Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku, dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah”  “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 129-131 dan lain-lain).

Mereka telah membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V , hlm. 140), “ menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) ” [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111],  mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’ hlm.136)

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (Saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukari, Sahih, v, hlm.343 (Hadis no.488 )

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.” Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

Kesimpulan

Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi (Saw.) sebagaimana dicatat oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam Sahih-Sahih mereka amat menakutkan  sekali. Dan ianya menyalahi akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menegaskan bahawa semua para sahabat adalah adil (kebal). Lantaran itu mana-mana Muslim sama ada dia seorang yang bergelar sahabat, tabi‘i, mufti, kadi  dan kita sendiri, tidak boleh mengubah atau  menangguhkan atau melanggar atau  membatalkan mana-mana hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya dengan alasan Maqasidu sy-Syari‘ah, Maslahah, dan sebagainya. Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak akan meridhai perbuatan tersebut. Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35)

Firman-Nya “Tidak ,demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4): 65) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir” (al-Ma ‘idah(5):44)

Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”(al-Ma ‘idah(5):45) Firman-Nya “Barang siapa yang tidak menghukum menurut hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq”(al-Ma‘idah(5):47)

Dan firman-Nya “Barang siapa yang menentang Rasul,sesudah nyata petunjuk baginya dan mengikut bukan jalan orang-orang Mukmin,maka kami biarkan dia memimpin dan kami memasukkan dia ke dalam nereka Jahannam.Itulah sejahat-jahat tempat kembali” (Al-Nisa ‘(4);115)

Semoga semua orang Islam sama ada sahabat atau tidak, dahulu dan sekarang, akan diampun dosa mereka dan dimasukkan ke dalam Syurga-Nya. Amin.

11. Membuang perkataan “Hayya  ‘ala khairi l ‘amal ” di dalam azan dan iqamah, dan menambah “al-Salatu kharun mina-n-Naum” di dalam azan subuh. (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm.137 dll.). Mereka melakukan Dua Syahadat bukan di dalam ertikata yang sebenar, kerana mereka menjadikan sunnah Abu Bakr dan sunnah Umar lebih tinggi dari hukum Allah dan Sunnah Muhammah (Saw.). Sementara Syi‘ah Ja‘fariyyah atau Imam Dua Belas atau Mazhab Ahlu l-Bait (a.s) Dua Syahadat di dalam ertikata yang sebenar. Mereka tidak menjadikan sunnah Abu Bakr dan Umar lebih tinggi dari hukum Allah dan Rasul-Nya dari segi pelaksanaan.

Sementara ungkapan “penyaksian mereka bahawa Ali adalah wali Allah” disebutkan di dalam azan dan iqamah oleh sebahagian Syi‘ah,  tetapi mereka tidak menjadikannya  sebahagian dari azan dan iqamah. Mereka menyebutnya kerana mengisytiharkan bahawa Ali adalah wali Allah”. Umpamanya Ayatullah al-Khoei tidak  menyebutnya di dalam azan dan iqamah. Sementara Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mempercayai azan dan iqamah yang mereka lakukan sekarang adalah azan dan iqamah Rasulullah (Saw.). Mereka  tidak mengetahui bahawa  azan atau iqamah tersebut telah dibuang perkataan “Hayya  ‘ala khairi l ‘amal” dan ditambah perkataan “As-Salatu kharun mina n-Naum” oleh khalifah Umar. Sebenarnya syahadah boleh dilakukan diluar azan dan iqamat lebih daripada tiga kali, umpamanya,  aku naik saksi (asyhadu) bahawa hari Kiamat itu adalah benar (haqqun), aku naik saksi bahawa al-Sirat itu adalah benar, aku naik saksi bahawa syurga dan neraka itu adalah benar dan lain-lain. Meskipun begitu syahadat yang dilakukan oleh Syi‘ah adalah dua syahadat di dalam sembahyang mereka. Hanya Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang tidak mengetahuinya.

12. Membuang  atau memperkecilkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlu l-Bait sekalipun Mutawatir dan bertepatan dengan al-Qur’an. Dan menerima atau memperbesarkan hadis hadis yang diriwayatkan oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sekalipun menyalahi al-Qur’an.

13. Menolak hukum-hukum al-Qur’an yang menyalahi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah.

14. Menolak Sunnah Rasulullah yang menyalahi sunnah Abu Bakr , Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah.

15. Menjadikan sunnah Abu Bakr, sunnah Umar, sunnah Uthman, dan sunnah Mu‘awiyah lebih tinggi dari al-Qur’an dari segi pelaksanaan .

16. Menjadikan sunnah Abu Bakr, sunnah Umar, sunnah Uthman,dan sunnah Mu‘awiyah lebih tinggi dari Sunnah Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan.

17. Memulih atau memurnikan akidah mereka yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah yang berlawanan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sehingga mereka menolak hukum atau ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) dengan alasan maslahah, keselamatan negara,perpaduan dan sebagainya. Sepatutnya mereka yang menolak sebahagian hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya patut dipulih atau dimurnikan akidah mereka sehingga mereka menolak sunnah Abu Bakr , Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang bertentangan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

18. Menjadikan berbagai-bagai istilah seperti Maslahah, Istihsan, masalihu l-Mursalah, Maqasidu sy-Syari‘ah, Saddu dh-Dhari‘ah, Ijtihad, Ijmak, Qiyas, dan lain-lain biasanya bagi membatal atau menangguh atau mengilak atau  mengubah atau  mengeliru atau menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Orang ramai menerimanya,kerana kejahilan mereka. Sepatutnya istilah-istilah tersebut digunakan 100% bagi mentaati hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi apa yang berlaku adalah sebaliknya.

19. Mereka memusuhi orang yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Sebaliknya mencintai orang yang menolak hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi menerima sunnah-sunnah mereka tersebut.

20. Mereka menjadikan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sebagai amal ibadat harian, bulanan, dan tahunan mereka bagi bertaqarrub kepada Allah (swt). Mereka meninggi diri dan berkata : Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah; kumpulan yang berjaya (firqah Najiyah). Sementara kumpulan yang menolak sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) ke Neraka.

21. Mereka menggunakan perkataan al-Sunnah atau Sunnah bagi menggambarkakan Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja, tetapi pada hakikatnya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah. Begitu juga mereka mengguna perkataan “Ahlu s-Sunnah” bagi mempamirkan kepada orang ramai bahawa apa yang mereka maksudkan dengan perkataan tersebut adalah “Ahlu s-Sunnah Rasulullah (Saw.) sahaja”; merekalah yang menjaga, dan pengamal Sunnah Rasulullah (Saw.) yang sebenarnya, tetapi pada hakikatmya ia meliputi sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiyah yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan merekalah pengamalnya. Orang ramai disebabkan kejahilan dan kefanatikan mereka, tidak dapat membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah-sunnah mereka berempat. Lalu mereka mentaati sunnah-sunnah tersebut, dan menjadikanya ibadat bagi menghampiri diri kepada Allah (swt).

22. Mereka membenci atau memulau atau memisahkan orang yang yang ingin membezakan di antara Sunnah Rasulullah (Saw.) dan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah. Kerana mereka khuatir orang ramai akan mengetahuinya, dan mungkin akan mentaati hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Justeru itu mereka akan menolak sunnah-sunnah mereka. Lantaran itu mereka popularkan hadis “Ikutlah Sunnahku dan sunnah khulafa’ Rasyidin selepasku” Mereka menjadi kesamaran,lalu mereka mengikuti sunnah-sunnah khalifah yang menyalahi hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasul-Nya. Kemudian mereka meredhainya dan beramal ibadat dengannya dan menjadikannya sebagai penilai kebenaran yang mengatasi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Orang ramai menerimanya, kerana kejahilan dan kefanatikan mereka. Mereka berkata:Inilah akidah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah. Dan siapa yang menyalahi Akidah  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah adalah sesat dan menyeleweng. Dengan mengguna pola pemikiran tersebut bahawa  mereka yang mengamalkan 100% hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya  dikira sesat dan menyeleweng oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah.

23. Mereka membenci terhadap orang yang berselawat secara terus kepada Rasulullah (Saw.) dan keluarganya dengan lafaz “Allahumma Salli ‘ala Muhammad wa  ali Muhammad”. Kerana selawat mereka terputus setakat Muhammad sahaja. Mereka berselawat: “SallaLlahu ‘ala Muhammad” tanpa “ ali-hi ” keluarganya. Mereka tidak menyebut “ali-hi” tanpa “ wa sahbi-hi ”. Mereka khuatir orang ramai akan mencintai keluarga Rasulullah  lebih daripada sahabatnya. Mereka mengadakan upacara keagamaan mereka hanya dengan lafaz “SallaLlahu “ala Muhammad” secara beramai-ramai. Siapa yang mengaitkan lafaz  “wa ali-hi” kepada Muhammad dianggap seorang Syi‘ah. Sedangkan Rasulullah (Saw.) ketika ditanya bagaimana berselawat ke atas beliau?  Beliau bersabda: “Janganlah kalian berselawat ke atasku dengan selawat yang terputus”. Lalu mereka bertanya: Apakah selawat yang terputus? Beliau menjawab: Kalian berkata: Allahuma salli ‘ala Muhammad, kemudian kalian berhenti.Justeru iti katalah : Allahumma salli ‘ala muhammad wa ali Muhammad (Ibn Hajr, al-Sawa‘iqu l-Muhriqah, hlm.144). Justeru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

24. Mereka memuji dan memuja orang yang melebih-lebihkan sunnah Abu Bakr, Umar, Uthman, dan Mu‘awiah ke atas hukum Allah (swt) dan Sunnah Rasul-Nya. Mereka melantik mereka kejawatan yang tinggi bagi menangguh atau mengkabur atau membatalkan sebahagian hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Penyelewengan Dari Sudut Syari‘at (al-Qur’an dan Sunnah   Rasulullah (Saw.).

1. Menerima ijmak ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sahaja walau pun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Umpamanya mereka berijmak menyalahi firman-Nya “ Talak (yang dapat dirujukkan) dua kali” dengan menghukum bahawa talak tiga sekali gus jatuh tiga. Sedangkan di dalam al-Qur’an ia jatuh satu. Di dalam hadis juga ia jatuh satu.Khalifah Umar telah bertanya Rasulullah (Saw.) tentang talak tiga sekali gus:Jika ia menceraikan isterinya tiga kali sekali gus? Beliau bersabda: Anda telah mendurhakai Tuhan anda” (A‘lamu l-Muwaqqa‘in, iv, hlm. 349) Justeru itu mereka telah menggunakan Ijmak (ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah) bagi membatalkan hukum al-Qur’an dan Sunnah Rasul- Dan bukan untuk mentaati hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) sepenuhnya.Orang ramai menerimanya kerana kejahilan dan kefanatikan mereka.

2. Menerima Qiyas sekalipun menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Bagaimana dikiaskan saksi kepada “pembunuhan” yang memerlukan dua saksi sementara saksi kepada “perzinayan” memerlukan kepada empat saksi. Manakah yang lebih berat pembunuhan atau perzinayan? Justeru itu Qiyas tidak boleh dijadikan sumber hukum. Dan sumber hukum pula tidak boleh menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) Kerana Allah dan Rasul-Nya tidak meredhainya. Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab (33): 35)

Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya”(Al-Nisa’(4): 65)

3. Membiarkan perzinayan berlaku dengan memperketatkan syarat nikah yang tidak disyaratkan oleh Rasulullah (Saw.) firman-Nya “ Maka kahwinilah olehmu perempuan-perempuan yang baik hati, berdua, bertiga atau berempat orang” (Al-Nisa’(4):3). Kemudian mepermudahkan pencerian tanpa saksi sedangkan ia adalah syarat  di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) . Firman-Nya “ Dan persaksikanlah dengan dua saksi yang adil di antara kamu” ((al-Talaq (65):2), dan mengharamkan nikah Mut‘ah yang dihalalkan dan pernah dilakukan oleh Rasulullah (Saw.), Umar, Umran bin Hasin, Ibn Juraij dan lain-lain. Ali (a.s) berkata: Jika Umar tidak melarangnya, nescaya tidak akan berzina melainkan orang yang celaka”. “Mereka memaafkan penzina-penzina mereka, tetapi mereka membunuh orang yang melakukan nikah mut‘ah”.

4. Menerima ‘Aul yang tidak dilakukan oleh Rasulullah (Saw.) Umarlah orang yang pertama mengenakan ‘Aul di dalam pesaka (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, 137). Lantaran itu, mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Rasulullah saw, malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Umar. Kerana mereka menghukum sesat atau menyeleweng orang yang menolak ‘Aul yang tidak dilakukan oleh Rasulullah (Saw.).

5. Menjadikan pendapat Abu Bakr, Umar, Uthman dan Mu‘awiyah lebih tinggi daripada hukum Allah (swt) dan mentaati mereka pula sekalipun mereka menyalahi hukum Allah.Justeru itu, tidak hairanlah jika Imam Ali mengatakan “mereka” adalah berhala Quraisy. Kerana Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mentaati sunnah mereka lebih dari mentaati hukum Allah. (al-Majlisi, Biharu l-Anwar, Bairut 1991, xxx , hlm.393).

6. Menjadikan pendapat Abu Bakr Umar, Uthman dan Mu‘awiyah lebih tinggi daripada Sunnah Rasulullah (Saw.). Bererti mereka adalah seperti berhala Quraisy yang disembah. Kerana mereka mentaati mereka berempat lebih daripada Allah (swt) di dalam pelaksanaan hukum.Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah sanggup menolak hukum Allah daripada hukum “mereka” . Ini bererti orang yang menolak hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya adalah musuh Allah dan Rasul-Nya. (al-Majlisi, Biharu l-Anwar, Bairut 1991, xxx, hlm. 393). Firman-Nya“ Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu.Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya,maka ianya telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35)

Firman-Nya “Tidak, demi Tuhan, mereka tidak juga beriman sehingga mereka mengangkat engkau menjadi hakim untuk mengurus perselisihan di kalangan mereka, kemudian mereka tiada keberatan di dalam hati mereka menerima keputusan engkau,dan mereka menerima dengan sebenar-benarnya” (Al-Nisa’(4):65)

7. Mereka mendakwa  bahawa Rasulullah (Saw.) tidak mengumpul al-Qur’an. Hanya Abu Bakr, Umar dan Uthman yang mengumpul al-Qur’an yang ada sekarang. Uthman telah mnegambil mushaf Umar dan Umar mengambilnya daripada Abu Bakr. Penafian tersebut memberi implikasi bahawa Rasulullah (Saw.) adalah seorang yang cuai,tidak mementingkan umatnya sedangkan tiga khalifah selepas beliau telah mengumpulkan al-Qur’an. Apakah peranan Rasulullah (Saw.) sendiri tentang al-Qur’an? Mereka menganggap taraf tiga khalifah tersebut melebihi Rasulullah (Saw.) di dalam pengumpulan al-Qur’an sekalipun mereka telah menghalang penyibaran Sunnah Rasulullah (Saw.) dan membakarnya. (al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I, hlm.3 dll.) Lalu mereka mengamalkan sunnah-sunnah mereka serndiri. Kemudian mereka berkata : Rasulullah (Saw.) tidak meninggalkan wasiat.Lantarn itu,apa yang beliau tinggal? Justeru itu mereka menganggap  tiga khalifah lebih tinggi  daripada Rasulullah (Saw.) dari segi pelaksanaan hukum. Lalu mereka mengamalkan sunnah-sunnah mereka yang berlawanan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya .

C. Pelbagai Penyelewengan Umum.

1. Menziarah kubur Rasulullah  (Saw.) bukan sahaja tidak dapat pahala, malah ia adalah perbuatan syirik (suni wahabi). Ianya bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang mengharuskannya (al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, iii, hlm.78). Dan ia juga bertentangan dengan naluri manusia yang mencintai seseorang berterusan hingga ke kuburnya.

2. Bergembira atau berpesta kerana keshahidan Husain bin Ali di Karbala’, malah menghina orang yang memperingati kesyahidannya. Kerana  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ahlah yang telah membunuhnya. Justeru itu mereka turut membenci mereka yang bersimpati dengannya. Sedangkan Rasulullah (Saw.) bersabda “ Husain adalah daripadaku dan aku adalah daripada Husain” (Muslim, Sahih, iv, hlm 1800)Ini bererti pembunuh Husain bin Ali (a.s) adalah pembunuh Rasulullah (Saw.)  Pembeci kepada Husain bin Ali (a.s) adalah pembenci kepada Rasulullah (Saw.). Jika mereka berkata  bahawa mereka mencintai Husain bin Ali (a.s), kenapa mereka berada bersama musuhnya, membantu musuhnya dan mementang Syi‘ah Husain bin Ali (a.s)?

3. Menghormati Abu Bakr, Umar, ‘Aisyah dan Hafsah sekalipun mereka menghina atau mempersenda atau menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau”  di hadapan Nabi (Saw.) sendiri“ Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” . ( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) “Sunnah nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]” “ mereka telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.) Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar.”[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida” ,Tarikh, I, hlm. 156]  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya(Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II , hlm.14; Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’, III, hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain,kerana Rasulullah (Saw.) bersabda“Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku ,dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dll).

4. Tidak mengharuskan jamak sembahyang di dalam semua keadaan Sekalipun al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) membenarkannya. Firman-Nya “Dirilah sembahyang dari gelincir matahari sehingga gelap malam” (al-Isra’(17):78) Ibn Abbas berkata: Rasulullah (Saw.) telah menjamak sembahyang Zuhr dan ‘Asr, maghrib dan  ‘Isya’ secara berjama‘ah tanpa sakit atau musafir” (Muslim, Sahih, iii, hlm.254). Mereka memusuhi orang yang menjamak sembahyang, tetapi mereka memaafkan orang yang meninggalkan sembahyang dikalangan mereka.

5. Melakukan sembahyang Dhuha yang telah diharamkan oleh Rasulullah (Saw.). ‘Aisyah berkata: Sesungguhnya Nabi (Saw.) tidak pernah sembahyang Dhuha.Abdullah bin Umar berkata:Sembahyang Dhuha adalah bid‘ah dari segala bid‘ah (Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, ii, hlm. 129, al-Musnad, vi, hlm.30, Malik, al-Muwatta’, I,hlm. 167) . Justeru itu,mereka yang menyeleweng  atau sesat adalah mereka melakukan sembahyang Dhuha dan bukan sebaliknya.

6. Membuang atau membatalkan prinsip Khums untuk Ahlu l-Bait Rasulullah (Saw.) yang diwajibkan di dalam al-Qur’an,  tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberiankhums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Kemudian sunnahnya diikuti oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah . Sunnahnya  itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah, apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah, Rasul-Nya, Kerabat, anak-anak yatim,orang miskin, dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, II , hlm.127]. Lantaran itu mengamal ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang bertentangan dengan sunnnah Abu Bakr dan Umar dikira sesat dan menyeleweng oleh Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah dari Islam yang sebenar. Sepatutnya mereka yang  yang membuang atau membatalkan hukum Khums yang menyeleweng atau sesat, bukan mereka yang mengamalkannya. Inilah ajaran Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah yang menyesatkan mereka yang menolak sunnah Abu Bakr dengan mematuhi al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.).

7. Menjadikan Imamah dan khilafah soal yang kecil,dan tidak penting. Tetapi dari segi kenyataan mereka  telah menjadikan jawatan khalifah seperti barangan yang perlu direbut. Siapa yang cepat, maka dialah yang dapat sekalipun dengan menggunakan kekerasan penipuan dan kezaliman. Mereka sanggup membunuh, berbohong kerana merebut jawatan tersebut. Hukum Allah dan Sunnah Rasulullah (Saw.) bukan menjadi pengukuranya.Justeru itu ianya menyalahi firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka.Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah,kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

8. Menafikan taklif sembahyang ke atas orang kafir. Ini bererti mereka menolak firman-Nya “Apakah yang membuat kalian memasuki Saqar? Mereka menjawab: Kami tidak termasuk mereka yang mengerjakan sembahyang” Itulah ucapan orang-orang kafir kepada Tuhan. Mereka tidak berkata:Kami kafir, kenapa bertanya kepada kami?. Ahlu s-Sunnah wa l-Jama‘ah mengingkari orang kafir ditaklifkan sembahyang, begitu juga dengan Haji. Justeru itu mereka bukan Ahlu s-Sunnah Rasulullah (Saw.), malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakr atau Umar atau Uthman  atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.

9. Wajib membasuhi dua kaki dan tidak memadai menyapu kedua –dua kaki tersebut. Justeru itu mereka kurang mengetahui firman-Nya “…dan sapulah kepala kamu dan kaki kamu (Wa msa-hu bi-Ru’usi-kum wa arjula-kum/arjuli-kum)…” (al-Ma’idah(5):6) Huruf “al-Wau” dikaitkan dengan perkataan yang paling hampir kepadanya.Imam Ali Ridha berkata: Bukti dua basuh dan dua sapu adalah jelas di dalam Tayammum. Kerana Tayammum dilakukan ditempat basuh.Dan tidak dilakukan di tempat sapu(Wasa’il al-Syi‘ahii, hlm.127dll).

Sunni menyembunyikan Wasiat Fatimah Az Zahra demi melegendakan nama Abubakar

Wasiat Fatimah kepada Ali a.s. ketika hampir wafat

       Manakala keadaannya bertambah serius, beliau memanggil Ali (a.s.) dan berkata: Wahai anak bapa saudaraku! Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi. Aku berwasiat kepada anda supaya mengawini anak perempuan saudaraku, Zainab. Anak-anakku menganggapnya sepertiku. Biarkanlah aku berehat sejenak kerana aku telah melihat malaikat menceritakan kematianku. Janganlah seorangpun daripada musuh-musuh Allah menyaksikan jenazahku, pengkafananku dan solat ke atasku.
       Ibn Abbas- iaitu kata-kata Amir al-Mukminin a.s.- berkata: Banyak perkara yang aku tidak dapat meninggalkannya kerana al-Qur’an yang dengannya diturunkan ke atas hati Muhammad (Saw.). Memerangi al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin yang beliau telah berwasiat kepadaku. Khalilku Rasulullah telah berjanji kepadaku supaya aku memerangi mereka.[1] Dan Fatimah berwasiat kepadaku supaya aku mengahwini Umamah Binti Zainab.

Kewafatan Fatimah a.s. dan kegemparan Madinah dengan tangisan

       Ibn Abbas berkata: Apabila Fatimah wafat, Madinah menjadi gempar dengan tangisan daripada lelaki dan perempuan. Orang ramai terharu sebagaimana pada hari wafatnya Rasulullah (Saw.). Abu Bakr dan Umar datang memberi takziah kepada Ali (a.s.) dan berkata: Wahai Abu al-Hasan! Janganlah anda mendahului kami mengerjakan solat ke atas anak perempuan Rasulullah.
       Apabila tiba waktu malam, Ali (a.s.) memamggil al-Abbas, al Fadhl, al-Miqdad, Salman, Abu Dhar dan Ammar. Maka beliau telah mendahulukan al-Abbas, lalu beliau mengerjakan solat ke atasnya. Kemudian mereka mengebumikannya.
       Pada keesokan pagi, Abu Bakr dan Umar datang, dan orang ramai mahu mengerjakan solat ke atas Fatimah (a.s.). Maka al-Miqdad berkata: Kami telah mengebumikan Fatimah semalam.[2] Lalu Umar berpaling kepada Abu Bakr dan berkata: Tidakkah aku telah memberitahu anda bahawa mereka akan melakukannya? Al-Abbas berkata: Beliau telah berwasiat supaya kalian berdua tidak mengerjakan solat ke atasnya.
       Lantas Umar berkata: Kalian masih tidak meninggalkan wahai Bani Hasyim, hasad kalian yang lama selama-lamanya. Sesungguhnya segala hasad di dada kalian tidak akan hilang. Demi Tuhan! Aku berasa mahu menggalinya semula sehingga aku mengerjakan solat ke atasnya. Ali (a.s.) berkata: Demi Tuhan! Sekiranya anda melakukannya wahai Ibn Sahhak! Nescaya aku akan mengembalikan sumpah anda. Sekiranya aku menghunuskan pedangku, aku tidak akan menyarungkannya kembali tanpa membunuh anda.[3]
       Akhirnya Umar diam kerana dia mengetahui bahawa apabila Ali bersumpah, beliau membenarkannya. Kemudian Ali (a.s.) berkata: Wahai Umar! Tidakkah Rasulullah ingin membunuh anda, lalu beliau mengutusku. Lantas aku mengangkat pedangku, kemudian aku menuju kepada anda untuk membunuh anda. Maka Allah telah menurunkan firman-Nya di dalam Surah Maryam (19): 84, “Janganlah engkau menyegerakan siksaan untuk mereka. Sesungguhnya Kami hanya menghitung (hari) mereka dengan bilangan”. Ibn Abbas berkata: Kemudian mereka melakukan konspirasi dan berkata: Urusan kita tidak akan kukuh selama lelaki ini masih hidup.

[1] Al-Haithami, Majma‘ al-Zawa’id, ix, hlm. 111. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 154.
[2] Al-Bukhari, Sahih, vi, hlm. 177. Ibn ‘Abd al-Birr, al-Isti‘ab, ii, hlm. 751.
[3] Muhibb al-Din al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, ii, hlm. 190.

.

Abu Bakar Membuat Fatimah Murka


Polemik dalam garis besar sejarah Islam, adalah suatu catatan kelam yang telah memilih umat menjadi dua kelompok besar.

Kelompok pertama, adalah mereka yang telah didoktrinisasikan bahawa semua sahabat adalah jujur dan adil serta Allah dan RasuNya meridhai mereka semua. Kelompok ini, dalam rangka mengsucikankan seluruh sahabat, telah terjebak dengan tafsiran-tafsiran cetek al-Quran yang disajikan oleh ulama-ulama mereka, selain dari sajian ratusan jika tidak ribuan, hadis-hadis palsu keutamaan para sahabat yang semuanya saling bertentangan dengan al Quran, hadis-hadis sahih yang disepakati, maupun mantik yang sihat.

Manakala kelompok kedua adalah mereka yang menggolongkan para sahabat berdasarkan ciri-ciri mereka:

a. Sahabat yang jujur dan bertakwa

b. Sahabat yang munafik

c. Sahabat yang menyakiti Nabi saaw dan selalu membangkang

Dalam tulisan ini, perbahasan yang dibawakan adalah mengenai polemik yang berlaku sesudah wafatnya Nabi Muhammad saaw, di antara puteri Baginda saaw yang tercinta, Penghulu Wanita Semesta Alam, Sayyidah Fatimah az-Zahra (as) dengan Abu Bakar bin Abi Quhafah mengenai persoalan perwarisanTanah Fadak dan kemarahan Sayyidah Fatimah az Zahra (as).

Para pembela sahabat kebingungan menghadapi kemelut ini, kerana ia membabitkan dua pihak, yang menurut mereka berstatus besar dalam pandangan Islam.

Di satu pihak, berdirinya Sayyidah Fatimah az-Zahra (as), yang bangkit menuntut haknya ke atas tanah Fadak. Kedudukan tinggi dan mulia Sayyidah Fatimah az-Zahra (as) telah disabdakan oleh Baginda Rasul (saw), antaranya:

1. Nabi saaw bersabda: “Yang paling aku cintai dari Ahlul Baitku adalah Fatimah”

(Al-Jami’ al-Sagheer, jilid 1, #203, hlm. 37; Al-Sawaiq Al-Muhariqa, hlm. 191; Yanabi’ Al-Mawadda, jilid. 2, bab. 59, hlm. 479; Kanzul Ummal, jilid. 13, hlm. 93).

2. Nabi saaw bersabda: “Empat wanita pemuka alam adalah ‘Asiah, Maryam, Khadijah dan Fatimah”

(Al-Jami’ Al-Sagheer, jilid 1, #4112, hlm 469; Al-Isaba fi Tamayyuz Al-Sahaba, jilid 4, hlm 378; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 60; Dakha’ir Al-Uqba, hlm 44).

3. Nabi saaw bersabda: ” Fatimah adalah Penghulu wanita syurga”

(Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 94; Sahih Al-Bukhari, Kitab Al-Fadha’il, Bab kelebihan Fatimah; Al-Bidaya wa Al-Nihaya, jilid 2, hlm 61).

4. Nabi saaw bersabda: “Fatimah adalah sebagian dariku, yang membuatnya marah, membuatku marah”

(Sahih Muslim, jilid 5, hlm 54; Khasa’is Al-Imam Ali oleh Nisa’i, hlm 121-122; Masabih Al-Sunnah, jilid 4, hlm 185; Al-Isabah, jilid 4, hlm 378; Siar Alam Al-Nubala’, jilid 2, hlm 119; Kanzul Ummal, jilid 13, hlm 97; perkataan sama diguna dalam Al-Tirmidhi, jilid 3, bab kelebihan Fatimah, hlm 241; Haliyat Al-Awliya’, jilid 2, hlm 40; Muntakhab Kanzul Ummal, catatan pinggir Al-Musnad, jilid 5, hlm 96; Maarifat Ma Yajib Li Aal Al-Bait Al-Nabawi Min Al-Haqq Alaa Men Adahum, hlm 58; Dhakha’ir Al-Uqba, hlm 38; Tadhkirat Al-Khawass, hlm 279; Yanabi^ Al-Mawadda, jilid 2, bab 59, hlm 478).

Dan di satu pihak lagi, berdirinya Abu Bakar, tokoh yang mereka pandang kanan sesudah Rasulullah saaw.

Polemik bermula, saat Abu Bakar dilantik menjawat jabatan Khalifah, selepas pertelingkahan di Saqifah Bani Sa’idah, antaranya, Umar dan Abu Ubaidah di satu pihak dan kaum Ansar, di pihak yang lain.

Sayyidatina Fatimah az-Zahra (as), telah menuntut haknya ke atas tanah Fadak, yang menurut beliau adalah hadiah pemberian dari bapanya Rasulullah (saw), hal yang mana dinafikan oleh Abu Bakar.

Benarkah Fadak adalah pemberian Rsulullah (saw) kepada puteri Baginda (saw)? Mari kita perhatikan riwayat berikut:

Telah diriwayatkan dengan sanad yang Hasan bahwa Rasulullah saaw di masa hidup Beliau telah memberikan Fadak kepada Sayyidatina Fathimah as. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad Abu Ya’la 2/334 hadis no. 1075 dan 2/534 hadis no. 1409

قرأت على الحسين بن يزيد الطحان حدثنا سعيد بن خثيم عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد الخدري قال : لما نزلت هذه الآية { وآت ذا القربى حقه } [ الاسراء : 26 ] دعا النبي صلى الله عليه و سلم فاطمة وأعطاها فدك

Qara’tu ‘ala Husain bin Yazid Ath Thahan yang berkata telah

menceritakan kepada kami Sa’id bin Khutsaim dari Fudhail bin Marzuq dari Athiyyah dari Abi Said Al Khudri yang berkata “ketika turun ayat “dan berikanlah kepada keluarga yang dekat akan haknya “[Al Israyat 26]. Rasulullah saaw memanggil Fathimah dan memberikan Fadak kepadanya”

Lalu, saat Abu Bakar menjawat jabatan Khalifah, dia telah merampas Fadak dari Sayyidatina Fatimah az Zahra as dan memilik negarakan Fadak.

Hadis tentang Fadak

Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Namun, di sini, kita lihat hadis tersebut dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345

Dari Aisyah, Ummul Mukminah (ra), ia berkata “Sesungguhnya Fatimah (as) binti Rasulullah (saw) meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah (saw) supaya membahagikan kepadanya harta warisan bahagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah (saw) dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain: kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain: Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah (saw), saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah (saw) bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.

Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali (ra) yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian ia menshalatinya.

Hadis ini dan yang serupa dengannya, benar benar membuat para pencinta Abu Bakar tidak senang duduk, jika mereka menerima perilaku Abu Bakar ini ke atas Sayyidatina Fatimah az-Zahra (as), berarti mereka juga harus membenarkan kesan dari perbuatan Abu Bakar itu dengan hadis Nabi saaw berikut:

Sesungguhnya Rasulullah Saaw berkata: “Fatimah sebagian diriku, barang siapa memarahinya bererti memarahiku.” (HR Bukhori, Fadhoilu Shahabat, Fathul Bari 7/78 H. 3714)

Kelemahan riwayat Ali bin Abi Talib melamar Puteri Abu Jahal

Namun, Iblis senantiasa mempunyai tentera tenteranya dari kalangan jin dan manusia, yang bekerja tanpa kenal lelah dan tidak malu pada Tuhan serta tidak takut pada Hari Pembalasan. Mereka harus mencari kambing hitam untuk dikorbankan untuk menyelamatkan Abu Bakar. Hasil dari kesungguhan mereka itu, terhasillah hadis palsu berikut yang diangkat sebagai sabda Nabi saaw dan disucikan:

Diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari hadis al-Miswar bin Makhromah berkata: Sesungguhnya Ali telah melamar putri Abu Jahal, Fatimah mendengarnya lantas ia menemui Rasul (saw) berkatalah Fatimah: “Kaummu menyangka bahwa engkau tidak pernah marah membela anak putrimu dan sekarang Ali akan menikahi putri Abu Jahal,” maka berdirilah Rasulullah Saw mendengar kesaksian dan berkata: “Setelah selesai menikahkan beritahu saya, sesunggunhya Fatimah itu bagian dari saya, dan saya sangat membenci orang yang menyakitinya. Demi Allah, putri Rasulullah dan putri musuh Allah tidak pernah akan berkumpul dalam pangkuan seorang laki-laki.” Maka kemudian Ali tidak jadi melamar putri Abu Jahal (khitbah itu) (diriwayatkan Bukhori dalam kitab Fadhailu Shahabat)

“Hadis” ini membuatkan para pencinta Abu Bakar tenang, kerana mereka akhirnya mendapatkan kambing hitam terbesar, iaitu suami kepada puteri Nabi saaw sendiri Imam Ali (as). Dengan “hadis” ini, mereka berkata…”Jika ada yang membuat puteri Nabi (saw) marah, maka Ali adalah orang pertama yang membuatnya marah”

Dengan cara ini, mereka bermaksud membungkam mulut sesiapapun yang cuba mendiskredit Abu Bakar dalam persoalan Fadak yang membuatkan Sayyidatina Fatimah az Zahra as marah. Namun benarlah firman Allah berikut:

وَمَكَرُوا وَ مَكَرَ اللهُ وَ اللهُ خَيْرُ الْماكِرينَ

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS Aali Imran:54.)

Hadis ini hakikatnya bermasalah dari banyak sisi, jika kita benar-benar teliti, inilah hadis yang dikutip daripada perawi yang sering bershalawat ke atas Muawiyah. Kemarahan Fathimah adalah kemarahan Rasulullah, didapati bahawa ianya tidak ada kaitan langsung dengan kisah dongeng tersebut.

فاطمة بضعة من فمن أغضبها أغضبني

صحيح البخاري: ج‏4 ص‏210 (ص‏710، ح‏3714)، كتاب فضائل الصحابة، باب 12، باب مناقب قرابة رسول الله و ج 7 ص 219 (ص‏717 ح‏3767)، كتاب فضائل الصحابة، باب 29، باب مناقب فاطمة

“Fathimah adalah sebahagian daripadaku, barangsiapa membuatkannya marah, maka dia membuatkan aku marah”. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan tidak disebut tentang Ali melamar puteri Abu Jahal. Muslim juga meriwayatkan hadis ini:

إنما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما آذاها

صحيح مسلم: ج‏7 ص‏141 ح‏6202، كتاب فضائل الصحابة، باب 15 باب فضائل فاطمة بنت النبي

“Hanyalah Fathimah sebahagian daripada diriku, Aku merasa disakiti atas apa yang dia disakiti”. Namun tetap sahaja tidak disebut kisah dongeng tersebut. Hakim Nisyaburi juga menulis hadis ini:

إن الله يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك

المستدرك: 3 / 153

“Sesungguhnya Allah turut murka dengan kemurkaanmu, dan meridhai dengan keridhaanmu” tetap saja tidak ada menyebut kisah dongeng tersebut.

Seluruh pengriwayatan Ahlusunnah tentang hadis Ali melamar puteri Abu Jahal yang meragukan itu telah diriwayatkan oleh Miswar bin Mukhramah. Zahabi dalam Sirul A’lam al-Nubala berkata: “Beliau adalah pendukung kuat Muawiyah” Urwah bin Zubair berkata:

وكان يثني ويصلي على معاوية، قال عروة: فلم أسمع المسور ذكر معاوية إلاّ صلّى عليه.

“Tidak sekali-kali aku mendengar Miswar menyebut Muawiyah melainkan dengan iringan shalawat ke atasnya (Muawiyah)” Sirul A’lam al-Nubala jilid 3 halaman 392.

Bershalawat ke atas Nabi menyebabkan kegembiraan Ahlul Bait namun sekarang apakah yang akan terjadi jikalau bershalawat ke atas Muawiyah? Bahkan dalam kitab Ahlusunnah menerangkan kriteria ini adalah tanda-tanda seorang Nashibi. Ibnu Hajar ‘Asqalani menulis:

والنصب، بغض علي وتقديم غيره عليه .

Nashibi adalah Baghdh (membenci) ‘Ali dan mengutamakan selainnya (Muawiyah) ke atasnya. -Muqaddimah Fath al-Bari, halaman 460

Saat semua upaya untuk menyandingkan musuh-musuh Ahlul Bait (as) sejajar dengan kedudukan dan keutamaan mereka telah menemukan jalan buntu, maka, para penyembah Bani Umayyah berusaha keras menciptakan hadis-hadis palsu yang bisa mendiskreditkan kemuliaan Ahlul Bayt (as).

Untuk itu, watak-watak yang tidak malu pada Tuhan dan tidak takut pada hari pembalasan amat diperlukan. Dengan menawarkan ganjaran duniawi dan nama yang harum di kalangan manusia, maka beraturlah sekelompok syaitan dalam tubuh-tubuh manusia, di halaman istana Bani Umayyah bagi mempersembahkan bakti mereka dan menjual imannya.

Antara tokoh andalan dalam kelompok ini, yang benar-benar berani adalah Miswar bin Makhramah, yang tidak punya sekelumit iman menciptakan hadis “Niat pernikahan Imam Ali (as) dengan puteri Abu Jahal”, bagi mendapatkan syafaat daripada tuannya Bani Umayyah.

Hadis tentang niat pernikahan Imam Ali as dengan puteri Abu Jahal itu, diangkat menjadi kisah suci dan disahihkan oleh ulama-ulama hadis Sunni, yang berlumba-lumba meriwayatkannya di lembaran-lembaran kitab hadis mereka.

Kita lihat sekilas lalu riwayat tersebut:

Disebutkan bahwa Imam Ali (as). berminat melamar dan dalam sebagaian riwayat telah meminang putri Abu Jahal untuk dijadikan isteri kedua disamping sayyidah Fatimah (as). kemudian berita tersebut terdengar oleh Fatimah (as). dan beliaupun marah dan melaporkan perlakuan Imam Ali (as). kepada Nabi; ayah Fatimah (as), seraya berkata: Orang-orang berkata bahwa Anda tidak marah untuk membela putri Anda, Ini Ali ia akan mengwini putri Abu Jahal. Mendengan berita itu nabi marah kemudian mengumpulkan para sahabat beliau di masjid dan berpidato: Sesungguhnya Fatimah adalah dariku, dan saya khawatir ia terfitnah dalam agamanya…Saya tidak mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, akan tetapi –demi Allah- tidak akan berkumpul putri seorang rasulullah dan putri musuh Allah pada seorang suami…. Saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kemudian saya tidak akan mengizinkan… kecuali jika Ali akan menceraikan putri saya dan mengawini putri mereka… Fatimah adalah penggalan dariku menyikitiku apa yang menyakitinya dan menggangguku apa yang mengganggunya”

Riwayat ini bisa anda temukan didalam Sahih Bukhari pada beberapa bab, antaranya:

1. Kitab al Khums ( dengan Syarah Ibnu Hajar:6\161-162).

2. Kitab an Nikah (dengan Syarah Ibnu Hajar 9\268-270)

3. Kitab al-Manaqib, bab Dzikr Ash-haar an-Nabi (tentang menantu-menatu Nabi) (dengan Syarah Ibnu Hajar 7\67)

4. Kitab ath-Thalaq, bab asy-Syiqaq ( Kitab perceraian, bab, pertengkaran suami-isteri (dengan Syarah Ibnu Hajar 8/152)

Bukhari telah memilih jalur Miswar saat meriwayatkan kisah ini, maka, marilah kita imbas, siapakah Miswar bin Makhramah, yang menjadi perawi hadis ini.

1. Ia lahir tahun kedua Hijrah. Jadi usianya ketika penyampaian pidato Nabi saww. bisa kita bayangkan, ia masih kanak-kanak. Lalu bagaimna ia mengatakan bahwa ketika itu ia sudah baligh? (Sahih Bukhari dengan Syarah Ibnu Hajar 6/161-162)

ولد بمكّة بعد الهجرة بسنتين فقدم به المدينة في عقب ذي الحجة سنة ثمان ومات سنة أربع وستين

تهذيب التهذيب: ج‏10 ص‏137 . وانظر: المزي، تهذيب الكمال: ج‏27 ص‏581 . الذهبي، سير أعلام النبلاء: ج‏3 ص 394

2. Padahal usianya ketika wafat Nabi saww. hanya delapan tahun. (Fath al-Bari:9\270. Kisah itu terjadi- kalau benar- enam atau tujuh tahun setelah kelahirannya)

وكان مولده بعد الهجرة بسنتين، وقدم المدينة في ذي الحجة بعد الفتح سنة ثمان، وهو غلام أيفع ابن ست سنين

ابن حجر، الإصابة: ج‏6ص 94

Ustaz Taufiq Abu ‘Ilm pembantu kanan Keadilan Mesir mempunyai kitab berjudul Fathimah Azzahra yang diterjemah oleh Dr Sadiqi. Inilah kitab yang cukup cantik, paling tepat, sungguh berilmiah dan penulisnya berdalil tentang Fathimah Zahra. Hingga kini susah ditemui buku sebagus ini. Dalam halaman 146 beliau berkata pinangan Ali terhadap puteri Abu Jahal berlaku dalam tahun kedua Hijrah.

Menurut pengkisahan yang ada pada Ustaz Abu Ilm, Miswar ini baru masuk ke Madinah setelah empat tahun peristiwa lamaran tersebut. Namun entah dari mana pula Ibnu Hajar Asqalani mendapat tahu bahawa peristiwa lamaran ini berlaku dalam tahun ke delapan Hijrah. Mungkin Ibnu Hajar boleh mengetahui peristiwa ghaib, atau melalui malaikat atau juga melalui perantara jin yang mengirim wahyu kepadanya. Beliau berkata Imam Ali melamar puteri Abu Jahal setelah tahun kedelapan Hijrah iaitu Miswar masih berusia enam tahun. Ketika itu Miswar sendiri berkata:

وانا محتلم…

“Saya telah bermimpi” -Tahzib al-Tahzib jilid 10 halaman 138.

Iaitu saya telah baligh. Ini juga bermaksud seseorang itu telah membesar dan mendapat mimpi; atau pun ia sudah siap untuk berkahwin. Apakah anak seusia enam tahun boleh berkata ‘Ana Muhtalam’?

Ibnu Hajar menyedari hal ini dan berkata: Muhtalam ini bukanlah bermaksud seseorang itu telah sampai ke usia baligh, akan tetapi dari sudut bahasa menyatakan ia telah berakal. Namun di dalam dunia apakah ada ribuan anak kecil sepintar ini?

Perkataan Muhtalam ini jauh bezanya dengan berakal dari sudut bahasa seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar.

Apakah Miswar di usia begitu dapat duduk di tepian minbar dan menukilkan hadis? Marilah kita lihat dalam sahih Muslim meriwayatkan bahawa Miswar bin Mukhramah hanya memakai cawat dan hadir mengangkut batu untuk membina masjid, ikatan cawat tersebut terbuka dan mendedahkan bagian tubuhnya itu. Rasulullah bersabda:

ارجع إلى ثوبك فخذه ولا تمشوا عراة

صحيح مسلم، باب الاعتناء بحفظ العورة، ج 1 ص 268

Pulanglah memakai pakaianmu, dan janganlah berjalan bertelanjangan. – Sahih Muslim Bab I’tina bi hifz ‘aurat, jilid 1 hal 268.

Pertanyaan kita kepada Ibnu Hajar, apakah ini dikatakan pintar? Di usia enam tahun itu, ke manakah akalnya ketika ia bertelanjangan, berjalan di depan orang ramai dan Rasulullah, sehingga ditegur dan disuruh pulang memakai pakaian?

Hadis Miswar ternyata masih diragui di sudut lain kerana dia seorang sahaja yang meriwayatkan nabi datang ke masjid dan duduk di atas minbar sedangkan ramai lagi di kalangan ansar dan muhajirin tidak meriwayatkan hadis ini. Hendaklah kita katakan bahawa Miswar sahaja yang berada di dalam masjid ketika itu.

Kembali kepada persoalan Fadak. Apabila pencinta-pencinta Abu Bakar tidak dapat mematikan kisah marahnya Sayyidatina Fatimah az Zahra as terhadap Abu Bakar, mereka lalu membuat hadis tandingan, bahawa sebelum Sayyidatina Fatimah az Zahra as wafat, Abu Bakar telah memohon maaf darinya dan beliau as telah memaafkan Abu Bakar.

Benarkah kisah ini. Mari kita periksa riwayat tersebut:

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bait.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)

Di sini Wahabi juga turut mengakui Fathimah marah terhadap Abu Bakar pada awalnya. Namun mereka mengatakan kedua Abu Bakar dan Umar mendapat keridhaan Fathimah di akhir hayat hidupnya seperti yang dinukilkan oleh Baihaqi.

Hakikatnya ketiadaan ridhanya Sayyidah Fathimah adalah asli dan berasas serta tidak dapat ditolak. Kemarahan Fathimah ini mencetuskan pertanyaan apakah sah kekhalifahan mereka berdua? Mengapa Sayyidah Fathimah penghulu wanita syurga ini tidak meridhai dan marah kepada mereka? Sedangkan menurut riwayat yang sahih sanadnya dalam kitab paling sahih Ahlusunnah mengatakan keridhaan Fathimah adalah keridhaan Rasulullah, kemarahan beliau adalah kemurkaan Allah.

Kerana itu pendukung Muawiyah telah gigih bekerja dan mengarang cerita untuk membuktikan bahawasanya kedua syaikh ini telah menemui beliau di akhir riwayat hidupnya memohon keridhaan dan Fathimah juga telah meridhai mereka!

Pertamanya: Sanad riwayat tersebut adalah Mursal; Sya’bi adalah daripada kalangan tabi’in dan dia sendiri tidak menyaksikan peristiwa yang berlaku. Riwayat ini sendiri mempunyai masalah.

Kedua: Jikalaulah kita anggap hadis daripada tabi’in ini dapat diterima sekalipun namun Riwayat daripada Sya’bi juga tidak dapat dipegang kerana Sya’bi adalah memusuhi Amirul mukminin dan seorang Nashibi. Kerana itu Bilazari dan Abu Hamid Ghazali menulis tentang Sya’bi seperti berikut:

عن مجالد عن الشعبي قال: قدمنا على الحجاج البصرة، وقدم عليه قراء من المدينة من أبناء المهاجرين والأنصار، فيهم أبو سلمة بن عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه… وجعل الحجاج يذاكرهم ويسألهم إذ ذكر علي بن أبي طالب فنال منه ونلنا مقاربة له وفرقاً منه ومن شره….

البلاذري، أحمد بن يحيى بن جابر (متوفاي279هـ) أنساب الأشراف، ج 4، ص 315؛

الغزالي، محمد بن محمد أبو حامد (متوفاي505هـ)، إحياء علوم الدين، ج 2، ص 346، ناشر: دار االمعرفة – بيروت.

Daripada Mujalid, daripada Sya’bi berkata: Kami telah memasuki kumpulan haji Bashrah. Ada sekumpulan Qari Madinah dari kalangan anak-anak Muhajirin dan Anshar yang disertai oleh Abu Salamah bin ‘Abdul Rahman bin ‘Auf… Kumpulan haji sibuk berbual-bual tentang Ali bin Abi Talib dan mencercanya, kami pun turut mencerca Ali…Ansab al-Asyraf, jilid 4 halaman 315, Ihya ‘Ulumuddin, jilid 2 halaman 346

Apakah kita dapat berhujjah dengan riwayat seorang Nashibi? Seterusnya mari kita lihat kesilapan yang semakin parah dilakukan oleh Hakekat.com yang cuba-cuba menukilkan hadis dari kitab Syiah untuk menafikan hak Fathimah yang menuntut tanah Fadak. Demi membela Syeikh mereka, mereka membawa bawa hadis-hadis Syiah, namun usaha mereka terkesan sia sia.

“Dari Ali dari ayahnya, dari Jamil dari kerabatnya dan Muhammad bin Muslim dari Abi Jafar berkata: “Wanita-wanita itu tidak dapat mewarisi sedikitpun dari tempat tingal di muka bumi ini.” (Al Kaafi juz 7 hal 128)

Pertanyaan untuk kaum Syi’ah:

- Bagaimana Fatimah menuntut sesuatu yang diharamkan terhadap kaum wanita berdasarkan mazhab Syi’ah Rafidhah ?

- Kenapa Abu Bakar dituntut untuk melakukan hal yang diharamkan ?

- Kenapa Fatimah tidak mengikuti perintah-perintah Rasul setelah tuntutannya terhadap warisan ?”

Golongan Nashibi menzahirkan diri mereka sebagai pendusta. Seakan-akan tidak ada orang yang akan meneliti kitab Syiah untuk melihat dakwaan mereka. Hadis tersebut telah kami temui dalam kitab al-Kafi jilid 7 halaman 175:

علي بن إبراهيم، عن محمد بن عيسى، عن يونس، عن محمد بن حمران، عن زرارة عن محمد بن مسلم، عن أبي جعفر عليه السلام قال: النساء لا يرثن من الارض ولا من العقار شيئا

Mengapa golongan Nashibi tidak mengeluarkan hadis di halaman seterusnya? Perawi yang sama Muhammad bin Muslim meriwayatkan:

أن المرأة لا ترث من تركة زوجها من تربة دار أو أرض

“Sesungguhnya perempuan tidak mewarisi apa yang ditinggalkan suaminya daripada tanah rumah atau tanah”. al-Kafi jilid 7 halaman 176

Maka telah terang kebenaran bagaikan pancaran matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, perempuan yang dimaksudkan dalam hadis tersebut adalah isteri, bukannya seorang puteri tidak mewarisi harta seorang ayah.

Wahai Nashibi, apakah anda membaca keseluruhan kitab Syiah lalu hanya mengambil sebahagian hujjah semata-mata untuk memangkas kebenaran? Tidakkah kedatangan hak akan menyirnakan kebathilan? Anda memutar belit kenyataan namun hakikatnya pembaca sekarang akan menghukum anda sebagai pendusta.

Nashibi sekali lagi mengambil hadis Syiah:

“Ternyata riwayat di atas ada dalam kitab Syi’ah, diriwayatkan Al Kulaini dalam kitab-kitab Al Kaafi dari Albukthtari dari Abi Abdillah Jafar Asshadiq Ra sesungguhnya ia berkata: “Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi dan para Nabi tidak mewariskan dirham atau dinar melainkan mewariskan beberapa hadist, barang siapa telah mengambil sebagiannya berarti telah mengambil bagian yang sempurna.” Warisan yang benar adalah warisan ilmu dan kenabian dan kesempurnaan kepribadian bukan mewariskan harta benda dan keuangan.”

Hadis ini ditemui dalam kitab al-Kafi bab sifat ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama dan inilah matan Arabnya:

محمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد بن عيسى، عن محمد بن خالد، عن أبي البختري، عن أبي عبدالله عليه السلام قال: إن العلماء ورثة الانبياء وذاك أن الانبياء لم يورثوا درهما ولا دينارا، وانما اورثوا أحاديث من أحاديثهم، فمن أخذ بشئ منها فقد أخذ حظا وافرا، فانظروا علمكم هذا عمن تأخذونه؟ فإن فينا أهل البيت في كل خلف عدولا ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين

Pengriwayatan ini tidak sedikitpun menceritakan tentang warisan seorang bapa kepada anak, akan tetapi warisan ilmu kenabian kepada ulama. Kerana itulah al-Kulaini meletakkan hadis ini dalam bab ilmu, kelebihannya dan kelebihan ulama. Riwayat ini menumpukan perhatian kepada urusan kenabian bukanlah mengumpulkan harta dunia seperti tamakkan dirham atau dinar. Jelas sekali ia juga tidaklah bermaksud nabi Muhammad tidak meninggalkan warisan harta untuk puterinya namun para ulama mewarisi ilmu nabi, bukan keduniaan.

Tidak ada keridhaan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar menurut kitab yang paling sahih di kalangan Ahlusunnah

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar lebih terang dari sinaran matahari dan tidak seorangpun boleh mengingkarinya. Dalam kitab paling sahih di kalangan Ahlusunnah tercatat kata-kata Fathimah yang marah terhadap Abu Bakar.

Dalam kitab Abwab al-Khumus:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فلم تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حتى تُوُفِّيَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 3،‌ ص 1126، ح2926، باب فَرْضِ الْخُمُسِ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Maka telah marah Fathimah puteri Rasulullah (saw) dan meninggalkan Abu Bakar, marahnya berlanjutan sehingga baginda wafat.

Dalam kitab al-Maghazi, bab Ghurwah Khabir, Hadis 3998:

فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ على أبي بَكْرٍ في ذلك فَهَجَرَتْهُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى تُوُفِّيَتْ

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987

Fathimah marah pada Abu Bakar dan beliau tidak berbicara lagi dengannya sehingga wafat – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis ke 3998

Dalam kitab al-Faraidh hadis 6346:

فَهَجَرَتْهُ فَاطِمَةُ فلم تُكَلِّمْهُ حتى مَاتَتْ.

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 6، ص 2474، ح6346، كتاب الفرائض، بَاب قَوْلِ النبي (ص) لا نُورَثُ ما تَرَكْنَا صَدَقَةٌ، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Maka Fathimah meninggalkannya (Abu Bakar) dan tidak lagi berbicara dengannya sehingga meninggal dunia – Sahih Bukhari, jilid 6 halaman 2474, hadis ke 6346

Dalam riwayat ibnu Quthaibah, Fathimah tidak mengizinkan mereka masuk sewaktu Abu Bakar dan Umar datang untuk berziarah. Mereka terpaksa memohon Imam Ali (as) menjadi perantara namun gagal. Bahkan Fathimah memberikan maklum balas seperti berikut:

نشدتكما الله ألم تسمعا رسول الله يقول «رضا فاطمة من رضاي وسخط فاطمة من سخطي فمن أحب فاطمة ابنتي فقد أحبني ومن أ رضى فاطمة فقد أرضاني ومن أسخط فاطمة فقد أسخطني

Kami bersumpah demi Allah atas anda berdua, apakah kalian tidak dengar apa yang Rasulullah katakan: Ridha Fathimah adalah ridhanya aku, marahnya Fathimah adalah marahnya aku, maka barangsiapa yang menyebabkan keridhaan anakku Fathimah maka ia pun membuatkan aku ridha, barangsiapa yang menyebabkan kemarahan Fathimah maka ia membuatkan aku marah

نعم سمعناه من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Kedua mereka menjawab: Iya kami telah dengari ia daripada Rasulullah (saw).

Setelah itu Fathimah berkata:

فإني أشهد الله وملائكته أنكما أسخطتماني وما أرضيتماني ولئن لقيت النبي لأشكونكما إليه.

Maka sesungguhnya saya bersaksi demi Allah dan malaikatnya, sesungguhnya kalian berdua menyebabkan saya marah dan membuatkan saya tidak ridha, saya akan mengadu tentang kalian berdua ketika pertemuan saya dengan nabi.

Tidak cukup dengan ini Fathimah menambah lagi:

والله لأدعون الله عليك في كل صلاة أصليها.

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، الإمامة والسياسة، ج 1،‌ ص 17، باب كيف كانت بيعة علي رضي الله عنه، تحقيق: خليل المنصور، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت – 1418هـ – 1997م.

Demi Allah, akan saya mengutuk anda setiap kali selesai shalat. – Al-Imamah wa siyasah, jilid 1 halaman 17

Dengan kenyataan ini bagaimanakah dapat kita percaya bahawa Sayyidah Fathimah meredhai mereka berdua? Apakah riwayat Bukhari yang diutamakan atau riwayat Baihaqi? apakah ia juga diriwayatkan oleh seorang musuh Ali bin Abi Talib yang menyaksikan sendiri peristiwa itu?

Jikalau Fathimah az-Zahra meridhai mereka berdua, mengapa beliau meninggalkan wasiat agar ia dikebumikan di waktu malam serta jangan di kasi khabar kepada orang yang menzaliminya untuk mengiringi dan menshalati jenazahnya?

Muhammad bin Ismail al-Bukhari menulis:

وَعَاشَتْ بَعْدَ النبي صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ فلما تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلًا ولم يُؤْذِنْ بها أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عليها

البخاري الجعفي، محمد بن إسماعيل أبو عبدالله (متوفاي256هـ)، صحيح البخاري، ج 4، ص 1549، ح3998، كتاب المغازي، باب غزوة خيبر، تحقيق د. مصطفى ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Fathimah hidup setelah wafatnya nabi (saw) selama enam bulan. Maka ketika ia wafat, suaminya Ali bin Abi Talib mengkebumikannya di waktu malam dan tidak diizinkan Abu Bakar menshalatinya. – Sahih Bukhari, jilid 4 halaman 1549, hadis 3998, pencetak Dar Ibn Kathir – Beirut

Ibu Qutaibah al-Dainuri menulis dalam Takwil Mukhtalif al-Hadis:

Fathimah (ra) telah meminta harta pusaka ayahnya daripada Abu Bakar. Apabila ia tidak memberikan pusaka kepadanya, Fathimah bersumpah tidak akan berbicara lagi dengannya buat selama-lamanya, dan mewasiatkan agar ia dikebumikan di waktu malam supaya tidak dihadiri Abu Bakar. Maka beliau dikebumikan di waktu malam. Takwil Mukhtalaf al-Hadis, jilid 1 halaman 300

وقد طالبت فاطمة رضي الله عنها أبا بكر رضي الله عنه بميراث أبيها رسول الله صلى الله عليه وسلم فلما لم يعطها إياه حلفت لا تكلمه أبدا وأوصت أن تدفن ليلا لئلا يحضرها فدفنت ليلا

الدينوري، أبو محمد عبد الله بن مسلم ابن قتيبة (متوفاي276هـ)، تأويل مختلف الحديث، ج 1،‌ ص 300، تحقيق: محمد زهري النجار، ناشر: دار الجيل، بيروت، 1393، 1972.

Abdul Razak Shan’ani menulis:

عن بن جريج وعمرو بن دينار أن حسن بن محمد أخبره أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه وسلم دفنت بالليل قال فر بها علي من أبي بكر أن يصلي عليها كان بينهما شيء

Daripada Hasan bin Muhammad berkata: bahawa Fathimah binti Nabi (saw) telah dikebumikan di waktu malam supaya Abu Bakar tidak menshalatinya. Di antara mereka berdua ada sesuatu.

Dia menambah:

عن بن عيينة عن عمرو بن دينار عن حسن بن محمد مثله الا أنه قال اوصته بذلك.

الصنعاني، أبو بكر عبد الرزاق بن همام (متوفاي211هـ)، المصنف، ج 3،‌ ص 521، ح 6554 و ح 6555، تحقيق حبيب الرحمن الأعظمي، ناشر: المكتب الإسلامي – بيروت، الطبعة: الثانية، 1403هـ.

Daripada Hasan bin Muhammad meriwayatkan seperti ini dengan mengatakan beliau (Fathimah) mewasiatkan seperti itu (dimakamkan di waktu malam). – Al-Mushannaf al-Maktabah al-Islamiyah – Beirut, jilid 3 halaman 521, hadis 6554 dan 6555, cetakan kedua 1403 H

Namun ada juga orang berkata: Abu Bakar setelah itu menyesal dan bertaubat, dalam menjawab perkara ini hendaklah kita katakan: Taubat itu ada waktu yang bermanfaat dan berharga, diiringi dengan penyesalan mendalam dalam keinginan insani. Jikalau sudah berlalu ia hendaklah membayar ganti rugi sebagai tanda sesal seorang yang bertaubat dan hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Pertanyaan kami ialah apakah Abu Bakar mengembalikan tanah Fadak kepada Sayyidah Fathimah sehingga taubatnya menjadi taubat Nasuha yang diterima tuhan?

Kesimpulan

Kemarahan Fathimah terhadap Abu Bakar dan Umar ini berlarutan sehingga akhir hayatnya dan beliau tidak sekali-kali meridhai mereka. Permasalahan ini dalam kitab paling sahih Ahlusunnah setelah al-Quran telah cuba dipintas oleh riwayat Baihaqi yang mengatakan mereka berdua telah mendapat keridhaan Fathimah. Namun pengriwayatan ini tidak dapat dipegang kerana wujudnya seorang Nashibi dalam silsilah sanadnya

.


kenapa syi’ah mengambil sebagian hadis sunni ???

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta.

Bukhari lebih banyak meninggalkan riwayat yang berasal dari Imam-imam Ahlulbait. Bukhari lebih mengandal kan Abu Hurairah, Marwan bin Hakam, Amr bin Ash dalam meriwayatkan Hadis Nabi. Padahal kredibilitas periwayatan mereka perlu dipertanyakan.

Penolakan Syi’ah terhadap sebagian riwayat Bukhari karena banyak menyembunyikan riwayat yang menerangkan keistimewaan Ahlulbait. Penolakan ini bukan berarti mengingkari hadis Nabi Saw, tetapi hanya menolak rijal (orang-orang) andalan Imam Bukhari.

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

Dalam Sahih Bukhari hadis no. 3 umpamanya kita dapat baca peristiwa ketika Rasulullah menerima wahyu yang digambarkan spt orang yg ketakutan dan tdk mengenal siapa yg mendatanginya. Hadis ini diriwayatkan dari Aisyah. Ada keganjilan dalam hadis ini, baik dari sanad maupun matan :
1. Pada sanad riwayat disebutkan seorang bernama Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yg berkhidmat kepada Hisyam bin Abd Malik. Ia sangat terkenal membenci Imam Ali.

2. Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini seolah-olah Aisyah mendengar sendiri. Dalam ilmu hadis seharusnya ia mengatakan :’ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda….dst.

3. Rasulullah digambarkan tidak faham dengan pengalaman ruhani yang dia alami. Padahal beliau adalah Insan Kamil.

Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik.

Hadits masa Umayyah, dengan titik sentral bahasan pada peran ibn Syihab al-Zuhri.

William Muir, orientalis asal Inggris, dalam literatur hadits, nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities). Oleh sebab itu, katanya lebih lanjut, dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak.

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta.

Bukhari lebih banyak meninggalkan riwayat yang berasal dari Imam-imam Ahlulbait. Bukhari lebih mengandal kan Abu Hurairah, Marwan bin Hakam, Amr bin Ash dalam meriwayatkan Hadis Nabi. Padahal kredibilitas periwayatan mereka perlu dipertanyakan.

Penolakan Syi’ah terhadap sebagian riwayat Bukhari karena banyak menyembunyikan riwayat yang menerangkan keistimewaan Ahlulbait. Penolakan ini bukan berarti mengingkari hadis Nabi Saw, tetapi hanya menolak rijal (orang-orang) andalan Imam Bukhari.

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

Dalam Sahih Bukhari hadis no. 3 umpamanya kita dapat baca peristiwa ketika Rasulullah menerima wahyu yang digambarkan spt orang yg ketakutan dan tdk mengenal siapa yg mendatanginya. Hadis ini diriwayatkan dari Aisyah. Ada keganjilan dalam hadis ini, baik dari sanad maupun matan :
1. Pada sanad riwayat disebutkan seorang bernama Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yg berkhidmat kepada Hisyam bin Abd Malik. Ia sangat terkenal membenci Imam Ali.

2. Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dalam riwayat ini seolah-olah Aisyah mendengar sendiri. Dalam ilmu hadis seharusnya ia mengatakan :’ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda….dst.

3. Rasulullah digambarkan tidak faham dengan pengalaman ruhani yang dia alami. Padahal beliau adalah Insan Kamil.

Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik.

 

Hadits masa Umayyah, dengan titik sentral bahasan pada peran ibn Syihab al-Zuhri.

William Muir, orientalis asal Inggris, dalam literatur hadits, nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities). Oleh sebab itu, katanya lebih lanjut, dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak.

Doktrin Aswaja ikut dibentuk oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah dengan cara :

  1. Menyetir perawi perawi hadis agar membuang hadis yang merugikan mereka dan membuat hadis hadis palsu untuk kepentingan mereka
  2. Membungkam perawi perawi yang tidak memihak mereka dengan segala cara
  3. Mereka secara turun temurun membantai anak cucu Nabi SAW , menteror  dan menyiksa  pengikut/pendukung  mereka (syi’ah)
  4. Mereka mempropagandakan  dan menanamkan dalam benak umat bahwa syi’ah itu rafidhah sesat berbahaya dan agar umat menjauhi anak cucu ahlul bait

Berikut salah satu contoh hadis shahih yang tidak shahih

ABU   HURAiRAH hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah.

Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148)

Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?

Penelitian Hadits yang dilakukan oleh ulama klasik (terutama Imam Bukhari) tidak semua  dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu menurut  saya  karena para ulama sunni lebih banyak menggunakan metode Kritik Sanad, dan kurang menggunakan metode Kritik Matan.

Karenanya, saya kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu Kritik Matan  yang  Mencakup  Berbagai aspek seperti tekanan politik penguasa, sains, sosio  kultural, akhlak  sahabat  dan  lain – lain

Imam Bukhari ternyata menetapkan Hadits-hadits yang tidak shahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiyah, karena penelitian beliau hanya terbatas pada kritik sanad saja

Ada Hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dimana menurut  kami  :  Bukhari hanya melakukan Kritik Sanad dan tidak melakukan Kritik Matan. Sehingga setelah dilakukan Kritik matan, Hadits itu ternyata palsu.

Kritik Matan Hadis Sunni  Belum  Mencakup  Berbagai aspek seperti tekanan politik penguasa, sains, sosio  kultural, akhlak  sahabat  Nabi  SAW  dan  lain – lain.. Contoh : Kita harus memposisikan sahabat Nabi SAW  sebagaimana layaknya para perawi yang lain..

Seorang sahabat bisa saja melakukan perbuatan sesuai dengan karakter manusia biasa.. Diantara para sahabat Nabi  SAW mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dalam menjaga moralitas dan integritasnya..

Kalau sahabat yang mempunyai moralitas tinggi, bagi  saya tidak menjadi masalah, tapi bagi para sahabat yang moralitasnya rendah, maka tidak layak untuk menjadi  perawi hadis  atau  setidaknya  hadisnya  perlu disaring  ketat

”Telitilah kembali setiap hadis yang dinisbatkan pada Rasulullah SAW. Jangan asal riwayat Bukhari, lalu dikatakan sahih.”

Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan itu pula, sebagian besar ulama pun turut meyakini dan menempatkannya pada urutan pertama kitab hadis sahih.

Benarkah demikian? ”Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu benar-benar sahih. Terdapat beberapa hadis yang termasuk kategori lemah dan palsu, terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab sunni”

.
”Hadis palsu  berlabel  shahih   bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,”
Benarkah hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari itu semuanya masuk kategori hadis sahih?

Tidak. Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab itu masuk dalam kategori sahih. Terdapat beberapa hadis palsu dan lemah (dlaif).

Perlu diketahui, sebelumnya pengungkapan hadis palsu dan lemah dalam karya Imam Bukhari itu juga sudah pernah diungkapkan para pemikir dan peneliti hadis lainnya. Misalnya, Fazlurrahman (1919-1988 M), Abu Hasan al-Daruquthni (306-385 H), al-Sarkhasi (w 493 H/1098 M), Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935 M), Ahmad Amin (w 1373 H/1945 M), dan Muhammad Ghazali (w 1416 H/1996 M).

Bisa dicontohkan, beberapa hadis palsu yang Anda temukan dalam kitab tersebut?
Misalnya, hadis palsu yang terdapat dalam kitab itu, setelah diteliti, ternyata ada yang tidak sesuai dengan fakta sejarah. Misalnya, tentang Isra Mi’raj. Di dalam kitab itu, disebutkan bahwa terjadinya Isra Mi’raj itu sebelum jadi Nabi. Faktanya, Isra Mi’raj itu setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi.

Apa kriterianya sehingga ungkapan itu dikatakan benar-benar hadis Nabi, padahal menurut Anda, itu bukan hadis sahih?

Dalam penelitian yang kami lakukan, ada beberapa kriteria dalam menilai sebuah hadis itu dikatakan sahih atau tidak, mutawatir atau tidak, ahad, atau lainnya.
Dalam kitab Bukhari, beliau sendiri tidak memberikan keterangan perinci mengenai kriteria kesahihan hadis. Bukhari hanya mengatakan bahwa semua hadis yang ditulisnya dalam al-Jami’ al-Shahih itu sebagai hadis, dari seleksi sekitar 300 ribu hadis. Dan, satu-satunya yang dapat ditemukan dari Al-Bukhari adalah kriteria keharusan adanya pertemuan (al-Liqa`) antara satu perawi dengan perawi terdekatnya.

Menurut beberapa ahli hadis, seperti al-Naysaburi (w 405 H/1014 M), al-Maqdisi (w 507 H), al-Hazimi (w 584 H), dan lainnya, kriteria hadis sahih yang dipakai Bukhari adalah kesahihah yang disepakati, diriwayatkan oleh orang yang masyhur sebagai perawi hadis dan minimal dua orang perawi di kalangan sahabat yang tsiqah (adil dan kuat hafalan), serta lainnya.

Padahal, para ulama hadis lainnya menyusun sejumlah kriteria dalam menilai hadis sebuah dapat dikatakan sahih dan tidak, mulai dari segi sanad (tersambungnya para perawi hadis), matan (isi hadis), serta kualitas dan kuantitas para perawi hadis. Bagaimana tingkat hafalannya, keadilannya, suka berbohong atau tidak, dan lain sebagainya.

Karena itu, kami menilai, kriteria yang dirumuskan oleh al-Bukhari mengandung beberapa kelemahan, terutama bila diverifikasi terhadap kitab al-Jami’ al-Shahih itu sendiri.

Kelemahan itu, antara lain, tentang minimal jumlah perawi hadis yang harus meriwayatkan hadis. Di dalam kitab tersebut, ditemukan cukup banyak hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.

Begitu juga, dalam hal persambungan sanad hadis juga terdapat kelemahan. Di antaranya, seperti diakui sendiri oleh al-Bukhari, di dalamnya ada hadis yang muallaq, mursal, bahkan munqathi` (terputus).

Juga, ada perawi hadis yang tidak tsiqah, bahkan dituduh majhul (tidak diketahui identitasnya), dianggap kadzab (berbohong), dan lainnya.

Bisa disebutkan beberapa contoh perawi hadis yang diketahui tidak tsiqah atau lemah dalam Shahih Bukhari itu?

Misalnya, Asbath Abu al-Yasa` al-Bashri. Ia tidak diketahui identitasnya atau majhul, dan menyalahi riwayat orang-orang tsiqah.

Lalu, ada Ismal bin Mujalad, seorang perawi yang dlaif (lemah) dan tidak termasuk orang yang kuat hafalannya.

Kemudian, ada Hisyam bin Hajir, Ahmad bin Yazid bin Ibrahim Abu al-Hasan al-Harani, dan Salamah bin Raja’ sebagai perawi dlaif. Begitu juga, dengan Ubay bin Abbas, dikenal sebagai perawi yang tidak kuat hafalannya dan munkir al-Hadits.

Secara spesifik, saya tidak menyebutkan berapa jumlah hadis palsu atau lemah di dalam kitab tersebut. Namun, al-Daruquthni menyatakan, terdapat sekitar 110 hadis palsu di dalam kitab tersebut dari sejumlah 6.000-an hadis. Muhammad al-Ghazali menyebutkan lebih banyak lagi.
Beberapa di antara hadis yang kami nilai lemah dan palsu, yakni tentang hadis masalah poligami, tentang kehidupan dalam rumah tangga, tentang pernikahan. Misalnya, di dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan, Rasulullah SAW menikahi Maimunah pada saat berihram.

Ini bertentangan dengan hadis Nabi sendiri yang melarang melakukan pernikahan selama masa haji atau berihram. Kemudian, pernyataan Rasulullah menikahi Maimunah pada waktu ihram itu juga bertentangan dengan hadis yang ditulis al-Bukhari di dalamnya kitabnya itu, yang menyatakan Rasulullah menikahi Maimunah ketika usai bertahalul.

Dari hasil penelitian Anda, bisa ditarik kesimpulan bahwa tidak semua hadis dalam Shahih Bukhari benar-benar sahih ?
Ya.. Tidak semuanya bisa dikatakan sahih. Sebab, Bukhari sendiri ada yang disebutkannya hadis mursal, hasan, dan lain sebagainya.
Ketidaklayakan disebut sebagai hadis sahih itu meliputi adanya pertentangan atau ketidaksesuaian dengan nas Alquran,  fakta  sejarah dan  akal sehat… Materi hadis bertentangan dengan keadaan dan Sirah Nabawiyah (sejarah hidup Nabi), bertentangan dengan fakta sejarah, adanya materi hadis yang mengandung prediksi atau ramalan dan bersifat politis, serta mengandung fanatisme kesukuan.

Lalu, bagaimana sikap umat untuk menggunakan hadis-hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari itu?

Saran saya, umat Islam hendaknya berhati-hati setiap akan menggunakan atau mengamalkan sebuah hadis Nabi. Sebab, sahih menurut perawi hadis A, belum tentu sahih menurut perawi hadis B. Demikian pula yang lainnya. Telitilah kembali sebelum menggunakan dan mengamalkannya.

Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. Man Kadzdzaba alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar.

Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam Shahih Bukhari, lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis.

KELOMPOK MUHADDIS

Ketika Anda melihat berbagai persekongkolan yang telah dilakukan terhadap hadis, dan penggantian hakikat-hakikatnya, niscaya Anda akan merasa pentingnya pandangan Syi’ah. Yaitu pandangan yang mengatakan, mau tidak mau harus ada seorang pemimpin yang maksum yang menjaga syariat Allah dan mengokohkan pilar-pilarnya. Jika dia tidak maksum dan tidak terbebas dari dosa maka dia akan memanfaatkan agama untuk melayani tujuan dan kepentingan-kepentingan politiknya, dan memutar-balikan hadis untuk kepentingannya.

Ini pun jika penulisan dan penyebaran hadis tidak dilarang dan diperangi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh ketiga orang khalifah —yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman— yang mana mereka telah melarang periwayatan hadis, dan bahkan membakar hadis-hadis yang dimiliki kaum Muslimin, serta menahan para sahabat untuk tetap berada di kota Madinah, sehingga mereka tidak menyebarkan hadis di tempat lain. Imam Ali berkata tentang hal itu, “Para penguasa sebelumku telah melakukan perbuatan yang menentang Rasulullah saw. Mereka secara sengaja menentangnya, melanggar janjinya dan merubah sunahnya.”

Saya tidak akan membahas periode ini di dalam pasal ini. Saya akan mencukupkan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan sebelumnya. Melainkan di sini saya akan membahas masa pembukuan hadis yang di kalangan Ahlus Sunnah dianggap sebagai masa keemasan hadis, dengan disertai isyarat-isyarat yang menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah di dalam membuat hadis-hadis palsu dan menyembunyikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.

Hadis Pada Masa Muawiyah

Kita dapat menelusuri periode Muawiyah seperti yang telah dinukil oleh al-Mada’ini di dalam kitab al-Ahdats. Al-Mada’ini berkata, “Muawiyah menulis satu naskah dan mengirimkannya kepada para gubernurnya sesudah “Tahun Jamaah”, untuk memakzulkan siapa saja yang meriwayatkan sesuatu tentang keutamaan Abu Turab —yaitu imam Ali as— dan Ahlul Baitnya. Maka berdirilah para khatib diseluruh pelosok desa dan diseluruh mimbar melaknat Ali dan memakzulkannya, serta mencaci maki dia dan keluarganya. Masyarakat yang paling keras tertimpa bencana pada saat itu adalah para penduduk kota Kufah, disebabkan banyaknya Syi’ah Ali di kota tersebut. Muawiyah menempatkan Ziyad bin Sumayyah atas mereka, dan juga menyerahkan kota Basrah kepadanya. Ziyad mencari dan menangkapi orang-orang Syi’ah, karena dia mengenal mereka, disebabkan dia pernah menjadi bagian dari mereka pada masa Imam Ali. Ziyad membunuhi mereka di mana saja ditemukan. Dia memotong tangan dan kaki mereka, dan mencungkil mata mereka serta menyalib mereka di batang-batang pohon kurma. Dia mengusir mereka dari bumi Irak, sehingga tidak tersisa yang dikenal dari mereka.

Muawiyah menulis surat kepada para gubernurnya di seluruh negeri, supaya mereka tidak memperkenankan kesaksian seorang pun dari pengikut Ali dan Ahlul Baitnya. Serta Muawiyah menulis kepada mereka supaya memperhatikan para pengikut dan pecinta Usman, dan orang-orang yang meriwayatkan keutamaan-keutamaannya. Muawiyah memerintahkan kepada para anteknya untuk mendatangi majlis-majlisnya dan memuliakan mereka. Muawiyah berkata kepada antek-anteknya, ‘Tulislah segala sesuatu yang diriwayatkan oleh salah seorang dari mereka, dan juga tulislah nama orang tersebut beserta nama ayahnya dan nama keluarganya.’ Maka orang-orang pun berlomba-lomba menulis dan memperbanyak keutamaan-keutamaan Usman, disebabkan berbagai hadiah yang diberikan Muawiyah kepada mereka.”

Al-Mada’ini melanjutkan, “Kemudian Muawiyah menulis surat kepada para gubernurnya, ‘Sesungguhnya hadis tentang Usman telah begitu banyak dan telah begitu tersebar di seluruh pelosok negeri. Oleh karena itu, manakala suratku ini sampai kepadamu maka serulah manusia untuk meriwayatkan keutamaan-keutamaan para sahabat dan keutamaan-keutamaan dua khalifah yang pertama. Dan jangan biarkan ada seorang pun dari kaum Muslimin yang meriwayatkan keutamaan Abu Turab, karena yang demikian itu berarti menentang sahabat. Dan lumpuhkan hujjah dan argumentasi Abu Turab serta Syi’ahnya, dan kuatkan pujian-pujian akan keutamaan Usman.”

Al-Mada’ini melanjutkan, “Kemudian Muawiyah menulis sepucuk surat kepada para gubernurnya di seluruh pelosok negeri, “Perhatikanlah, siapa saja yang terbukti mencintai Ali dan Ahlul Baitnya, maka hapuslah dia dari diwan, dan putuslah rezeki dan pemberian untuknya.’ Muawiyah menambahkan, ‘Siapa saja yang kamu duga mengikuti mereka maka timpakanlah bencana kepadanya, dan han-curkanlah rumahnya.’”

Tampak jelas bagi Anda begitu kerasnya persekongkolan yang dilakukan untuk menyelewengkan dan memalsukan kebenaran, hingga sampai tarap mereka menghalalkan berbohong atas nama Rasulullah saw. Semua ini disebabkan rasa pemusuhan yang begitu besar yang dimiliki Muawayiyah terhadap Ali dan para Syi’ahnya. Oleh karena itu, Muawiyah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menghadapi Ali dan Syi’ahnya. Adapun langkah pertama yang dilakukan oleh Muawiyah ialah dengan melucuti Imam Ali as dari segala keutamaan, dan tidak hanya cukup sampai di situ, melainkan dia juga melaknatnya di atas mimbar selama delapan tahun. Adapun langkah yang kedua ialah dengan membangun pagar yang indah yang mengelilingi sekelompok sahabat, sehingga mereka menjadi simbol dan panutan, sebagai ganti dari Imam Ali as. Berbagai ancaman dan bujukan Muawiyah telah menjadikan sekelompok orang munafik berkhidmat kepadanya dengan cara membuat hadis-hadis palsu, dengan menyebut diri mereka sebagai sahabat Rasulullah saw.

Abu Ja’far al-Iskafi berkata, “Muawiyah memerintahkan sekelompok orang dari para sahabat dan tabi’in untuk membuat riwayat-riwayat yang menjelekkan dan memakzulkan Ali. Muawiyah mengiming-imingi mereka dengan hadiah dan pemberian yang mereka sukai. Maka mereka pun melakukan apa yang diinginkannya. Di antara para sahabat yang demikian ialah Abu Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, Mughirah bin Syu’bah, sementara di antara para tabi’in ialah ‘Urwah bin Zubar…”

Demikianlah, mereka telah menjual akhirat mereka dengan dunia Muawiyah. Inilah Abu Hurairah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-A’masy, “Ketika Abu Hurairah datang ke Irak bersama Muawiyah pada “Tahun Jamaah”, dia datang ke mesjid Kufah. Tatkala dia melihat banyaknya manusia yang menyambut kedatangannya, dia berlutut di atas kedua lututnya sambil memukul bagian botak kepalanya berkali-kali sambil berkata, ‘Wahai penduduk Irak, apakah kamu mengira saya berdusta atas Rasulullah saw, dan membakar diri saya dengan api neraka? Demi Allah, saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya tiap-tiap nabi mempunyai haram (tempat yang disucikan), dan sesungguhnya haram-ku ialah di antara ‘Air dan Tsawr.Barangsiapa yang ber-hadats di dalamnya, maka Allah, para malaikat dan seluruh manusia akan melaknatnya.’ Dan aku bersaksi kepada Allah bahwa sesungguhnya Ali telah ber-hadats di dalamnya.’ Ketika ucapan Abu Hurairah itu terdengar oleh Muawiyah, maka Muawiyah pun memberinya hadiah, menghormatinya dan mengangkatnya sebagai penguasa Madinah.

Berikut ini adalah Samurah bin Jundub, contoh lain dari antek Muawiyah di dalam membuat hadis palsu. Di dalam kitab Syarh Nahj al-Balaghah Ibnu Abil Hadid disebutkan bahwa Muawiyah memberikan seratus ribu dirham kepada Samurah bin Jundub supaya dia mau meriwayatkan bahwa ayat ini turun pada Ali, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehdiupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, pada-hal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. al-Baqarah: 204), dan ayat yang kedua turun pada Ibnu Muljam —pembunuh Ali bin Abi Thalib, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. al-Baqarah: 207)

Samurah bin Jundub tidak mau menerima. Muawiyah menambah pemberiannya menjadi dua ratus ribu dirham, namun Samurah bin Jundub tetap tidak mau menerima. Tetapi, tatkala Muawiyah menambahnya lagi menjadi empat ratus ribu dirham, Samurah bin Jundub menerimanya.

Thabari meriwayatkan, “Ibnu Sirin ditanya, ‘Apakah pernah Samurah membunuh seseorang?’ Ibnu Sirin menjawab, ‘Tidak terhitung orang yang telah dibunuh oleh Samurah bin Jundub. Dia mengganti Ziyad di Basrah, dan kemudian Kufah, dia telah membunuh delapan ribu orang.’” Juga diriwayatkan bahwa Samurah bin Jundub pernah membunuh sebanyak empat puluh tujuh orang hanya dalam satu pagi, yang kesemuanya adalah orang yang telah mengumpulkan Al-Qur’an.

Thabari berkata, “Ziyad meninggal dunia sementara Samurah sedang memegang kendali atas Basrah. Muawiyah memperdayakannya selama berbulan-bulan, dan kemudian menurunkannya. Samurah berkata, ‘Semoga Allah melaknat Muawiyah. Demi Allah, seandainya aku taat kepada Allah sebagaimana aku taat kepada Muawiyah, niscaya Dia tidak akan mengazabku selama-lamanya.”‘

Adapun Mughirah bin Syu’bah, dia terang-terangan mengakui berbagai tekanan yang diberikan oleh Muawiyah kepada dirinya. Thabari meriwayatkan tentang Mughirah bin Syu’bah, “Mughirah berkata kepada Sha’sha’ah bin Shuhan al-’Abdi —ketika itu Mughirah tengah menjadi penguasa Kufah yang diangkat oleh Muawiyah— ‘Jangan sampai engkau mencela Usman di hadapan siapa pun; dan begitu juga jangan sampai engkau menyebut sebuah keutamaan Ali secara terang-terangan, karena tidak ada satu pun keutamaan Ali yang engkau sebutkan yang tidak aku ketahui. Bahkan aku lebih tahu dari kamu tentang itu, namun sultan ini —yang dia maksud adalah Muawiyah— telah memerintahkan kepada kami untuk menampakkan kekurangan-kekurangannya —yaitu Ali— ke hadapan manusia. Kami banyak meninggalkan apa yang telah diperintahkan kepada kami, namun kami terpaksa menyebutkan sesuatu yang kami tidak menemukan jalan untuk lepas darinya, untuk membela diri kami dari mereka. Jika engkau ingin jika menyebutkan keutamaannya (Ali) maka sebutkanlah di tengah-tengah sahabatmu, dan di dalam rumah-mu secara rahasia. Adapun menyebutkannya secara terang-terangan di mesjid adalah sesuatu yang tidak bisa diterima dan dimaafkan oleh khalifah…’”

Begitulah sekelompok para sahabat dan tabi’in memenuhi permintaan Muawiyah. Barangsiapa yang menolak maka dia dibunuh. Seperti Syahid Hujur bin ‘Adi, Maitsam at-Tammar dan yang lainnya.

Oleh karena itu, pada periode tersebut muncul beribu-ribu hadis palsu yang merangkai keutamaan-keutamaan dan kepahlawanan para sahabat, terutama para khalifah yang tiga, yaitu Abu Bakar, Umar dan Usman. Kemudian hadis-hadis palsu tersebut dinukil generasi demi generasi, hingga kemudian dibukukan di dalam kitab-kitab referensi yang dijadikan pegangan.

Di beberapa media, Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, menyatakan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairah, sedang hadits Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

.

Ringkasan Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima sebagian hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang nota bene tidak sesuai dengan keyakinan mereka dan menolak sebagian lainnya?
.
Pertanyaan
Kenapa Syiah menerima beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari tetapi menolak sebagian lainnya? Sekiranya benar Syiah mnolak keIslaman Bukhari sebagai perawi Adakah Syiah sekadar mengambil sesuatu Ilmu Islam yang bersesuaian dengan ajaran Syiah saja dan menolak sebagian yang lain walau pun diriwayatkan oleh perawi yang sama?
.
Jawaban Global
Salah satu kumpulan hadis kaum Muslimin adalah al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri” yang berasal dari mazhab Ahlusunnah
.
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhari sebagai kitab paling shahih Bukhari setelah al-Quran, terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini; seperti kritikan banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini, di samping itu kelemahan rijalinya dan kandungannya
.
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (kutub al-Arba’ah) – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini yang dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Jawaban Detil
Mengenal dan memperkenalkan kumpulan-kumpulan hadis (jawâmi’ hadis)[1] Syiah dan Sunni sebagai cabang dari sejarah hadis, secara umum kitab-kitab dan karya-karya yang merekonstruksi studi-studi tentang hadis, sebagai satu kepentingan mendesak y ang tidak dapat dihindari
.
Salah satu dari kumpulan hadis kaum Muslimin dari kalangan Ahlusunnah adalah al- al-Jâmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillâh Shallallahu ‘alaihi Wasallam wa Sunanihi wa Ayyamihi yang lebih dikenal sebagai “Shahih Bukhâri.” Pada kesempatan ini, kita akan meninjau secara ringkas terhadap biografi penulisnya yaitu Bukhari dan kitab hadisnya sehingga menjadi jelas dimana dan mengapa ulama Syiah terkadang tidak menerima sebuah riwayat dari kitab Shahih Bukhari. Hanya bersandar pada dalil-dalil hadis  dan semata-mata status sebagai Muslim tidak akan menjadi dalil bagi kita untuk menerima seluruh pemikiran dan tulisannya
.
Memperkenalkan Muhammad bin Ismail Bukhari
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari lahir pada tahun 194 H di kota Bukhara.[2]
.
Ia melewati sebagian dari usianya dengan belajar di kotanya sendiri dan untuk melanjutkan pelajarannya dan belajar dari guru-guru (masyaikh) hadis ia melakukan perjalanan ke beberapa kota terkenal seperti Khurasan (Iran), Irak (Bashrah), Hijaz (Mekah dan Madinah) dan Syam (Suriah).[3]
.
Ia juga sering pergi ke kota Baghdad dan disebabkan ia banyak memiliki hadis dan mahir dalam bidang ilmu hadis, ia mendapatkan penghormatan ulama semasanya.[4] Bukhari belajar hadis dari ulama masyhur seperti Makki bin Ibrahim Balkhi, Ali bin Al Madini, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Abu Ashim al-Syaibani,[5] Ishaq bin Rahwahi,[6] dan Ahmad bin Hanbal.[7]
.
Bukhari wafat pada tahun 256 H[8] di desa Khartand salah satu desa di Samarkand.[9]
.
Motivasi Bukhari dalam menulis kitab Shahih
Bukhari sendiri ketika berbicara tentang alasannya menulis Shahih berkata, “Suatu hari saya berada di sisi guru saya Ishak bin Rahwahi yang berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kita menyediakan kitab ringkasan tentang sunnah Nabi!”  Hal ini menarik hatiku dan mulai menghimpun kumpulan riwayat sahih dan kitab sahih saya kumpulkan dari enam ratus riwayat.”[10]
.
Ia berkata, “Saya menghapal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis non-sahih.”[11] dan hal ini menunjukkan banyaknya riwayat dan juga lemah dan palsunya kebanyakan hadis lainnya dari riwayat-riwayat pada masa Bukhari.[12]
Bukhari memilih riwayat-riwayat berdasarkan syarat-syarat periwayatannya yang antara lain, “Bersambungnya sanad hingga level sahabat, keadilan (‘adâlah), kredibilitas para perawi (baca:dhabit).[13]  Meski Bukhari tidak menyatakan metode periwayatannya ini secara lugas, namun syarat-syarat ini sebagai metode periwayatannya dapat disimpulkan dari kitabnya.[14]
.
Kedudukan Shahih Bukhari di kalangan Ahlusunnah
Shahih Bukhâri memiliki kedudukan sangat istimewa di kalangan ulama Ahlusunnah, sedemikian sehingga Shahih Bukhâri dipandang laksana al-Quran dan kitab paling sahih setelah Kitabullah
.
Syafi’i berkata, “Kitab hadis pertama adalah Shahih Bukhâri dan setelah itu adalah Shahih Muslim dan kedua kitab ini merupakan kitab paling sahih setelah a-Quran.”[15]
.
Nawawi berkata, “Ulama dengan suara bulat meyakini bahwa kitab paling sahih setelah al-Quran adalah Shahih Bukhâri dan Shahih Muslim. Umat seluruhnya menerima dua kitab ini. Kitab Bukhari dibandingkan dengan Shahih Muslim lebih sahih dan lebih banyak manfaatnya.”[16]
.
Dua pernyataan yang disampaikan oleh ulama dan ahli hadis paling terkenal Ahlusunnah sehingga dapat disimpulkan bahwa semuanya memandang Shahih Bukhâri merupakan kitab paling standar setelah al-Quran dan menyebut Shahih Muslim pada level ketiga.”[17]
.
Akan tetapi terdapat beberapa faktor yang membuat Shahih Bukhâri menyandang kedudukan tinggi di kalangan ulama Ahlusunah; faktor-faktor seperti kepribadian penyusun, sebagai kitab senior, ketelitian dan kehati-hatian dalam penulisan kitab ini.[18]
.
Shahih Bukhâri dan beberapa kritikan
Meski ada pembelaan Bukhari terkait dengan keabsahan riwayat-riwayat dalam kitabnya dan juga penegasan banyak ulama Ahlusunnah yang memandang Shahih Bukhâri sebagai kitab paling sahih setelah al-Quran, namun terdapat kritikan yang patut mendapat perhatian dari sebagian ulama Sunni dan ulama Syiah atas kitab hadis ini.
Berikut ini kami akan sampaikan beberapa kritikan yang dilontarkan oleh sebagian ulama Sunni dan Syiah sebagai contoh:
  1. Tidak sempurnanya kitab ini ditulis pada masa hidup Bukhari: Abu al-Walid Baji dalam mukadimmah kitabnya “Fi Asma Rijâl al-Bukhâri” menulis, “Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Mustamili berkata, “Saya mengopi kitab Bukhari dari naskah asli yang berada di tangan Muhammad bin Yusuf Faryabi dan menjumpai beberapa hal yang belum tuntas, masih belum memiliki halaman, sebagian nama perawi yang tidak memiliki riwayat hidup atau hadis-hadis yang kondisinya tidak jelas.”[19]
  2. Banyaknya nukilan secara makna dalam kitab ini: Meski menukil secara makna dengan menjaga seluruh pakem dipandang boleh oleh para pemimpin agama namun hal ini tidak bermakna keungulan riwayat-riwayat yang mengandung nukilan secara makna atas riwayat-riwayat yang didalamnya menyebutkan nash redaksi-redaksi maksum;  karena boleh jadi dalam nukilan secara makna telah menghilangkan pelbagai indikasi-indikasi lafzi atau secara dasar disebabkan kesalahapahaman periwayat menukil riwayat secara keliru. Karena itulah mengapa nukilan secara makna dinilai sebagai sebuah kekurangan dan memiliki cela.[20] Apa yang dikatakan tentang Bukhari menunjukkan klaim ini bahwa ia menulis riwayat-riwayat tanpa bersandar pada tulisan-tulisan dan semata-mata bersandar pada hafalannya serta mengandalkan metode nukilan secara makna.[21]

.

Khatib Baghdad dalam hal ini mengutip sendiri dari Bukhari, “Boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Bashrah dan saya menulisnya di Syam. Dan boleh jadi saya mendengar sebuah riwayat di Syam kemudian menulisnya di Bashrah! Dikatakan kepadanya, “Apakah engkau menulisnya secara utuh? Ia tidak menjawab dan hanya diam.”[22]
.
Muhammad bin Azhar Sajistani berkata, “Saya hadir di majelis pelajaran Sulaiman bin Harb dan Bukhari bersama kami mendengarkan pelajarannya namun ia tidak menulis (pelajaran itu). Sebagian hadirin bertanya, “Mengapa Bukhari tidak menulis?” “Tatkala saya pulang ke Bukhara saya akan menulisnya berdasarkan hafalanku.”[23] Jawab Bukhari
.
Diamnya Bukhari bermakna ia sendiri menerima bahwa meski ia memiliki hafalan kuat namun tidak mampu merefleksikan seluruh lafaz riwayat yang ia dengarkan dan terkadang sebagian besar riwayat itu ia tulis berdasarkan nukilan secara makna. Metode seperti ini tentu saja akan mengurangi bobot pekerjaan, bahkan hal ini tidak dapat diterima bagi orang-orang yang menyertai Bukhari.
  1. Riwayat-riwayat yang bersanad lemah: Meski terkait dengan riwayat yang yang dikumpulkan Bukhari dalam Shahih disebutkan, “Kullu man ruwiya ‘anhu al-Bukhari faqad jawaza al-qanthara;[24] (Siapa saja yang dinukil oleh Bukhari maka ia telah melewati jembatan (jarh dan ta’dil ahli Rijal).”[25] Namun fakta menunjukkan bahwa ia banyak meriwayatkan hadis-hadis dari orang-orang fasik, fajir, khawârij dan nashibi, dan dari orang-orang yang menjual agama untuk dunianya; orang-orang seperti Amru bin Ash, Marwan bin Hakam, Abu Sufyan, Muawiyah, Mughirah bin Syu’bah dan lain sebagainya. Namun Bukhari sama sekali tidak menukil hadis dari orang-orang lurus dan merupakan sumber mata air pengetahuan Islam serta guru-guru budaya Islam dan hadis, atau apabila ia menukilnya maka hadis-hadis tersebut berjumlah sangat minim dibanding dengan yang lain.[26]
Salah satu kritikan utama Syiah terhadap Shahih Bukhâri adalah bahwa nukilan riwayat melalui jalur para Imam Syiah dan anak-anak mereka sangat kurang. Meski Bukhari semasa dengan minimal dua orang dari Imam Syiah yaitu Imam Hadi As dan Imam Askari As namun ia hanya meriwayatkan beberapa gelintir hadis dari Amirul Mukminin Ali As, Imam Hasan Mujtaba As dan Imam Baqir As. Sebagai bandingannya, riwayat-riwayat dari orang-orang Khawarij dan Nashibi seperti Ikrimah dan Imran bin Hatthan yang bahkan kebanyakan ahli hadis Sunni melemahkan mereka, disebutkan dalam sanad-sanad hadis-hadis Bukhari
.
Terlepas dari ulama Syiah, Shahih Bukhâri juga mendapatkan kritikan dari pembesar Ahlusunnah karena lemah dalam menyebutkan perawi-perawi. Dalam hal ini kami hanya akan mencukupkan diri dengan menyebutkan dua contoh sebagai berikut
:
Ibnu Hajar Askalani berkata, “Para penghafal meragukan 110 hadis Bukhari dan memandangnya tidak sahih serta delapan puluh orang dari empat ratus periwayat yang secara eksklusif disebutkan dalam Bukhari telah dilemahkan.”[27]
Ibnu Shalah berkata, “Bukhari berargumentasi dengan bersandar pada orang-orang seperti Ikrimah, Musa bin Abbas, Ismail bin Abi Uwais, Ashim bin Ali, Amru bin Marzuq dan lainnya dimana orang lain sebelum Bukhari telah mencela (jarh) mereka.”[28]
.
3.Lemahnya kandungan riwayat Bukhari: Terlepas dari beberapa kritikan yang telah disebutkan di atas kritikan terpenting yang dapat dilontarkan atas Shahih Bukhari adalah nukilan riwayat-riwayat yang dari sisi mana pun bertentangan dengan budaya dan ajaran al-Quran, Rasulullah Saw dan Ahlulbait As bahkan pandangan sebagian ulama besar Ahlusunnah. Tanpa ragu apabila kita mengklaim bahwa Shahih Bukhâri sangat memainkan peran penting dalam proses pembentukan pemikiran-pemikiran keliru teologis, fikih dan menjauhkan umat Islam dari budaya murni Islam dan al-Quran sebagai literatur riwayat terpenting maka klaim ini bukanlah pepesan kosong.[29] Sebagai contoh, Shahih Bukhâri pada sisi tauhid, menyebut sosok Tuhan yang memiliki jasad, anggota badan, dapat dilihat dan seperti makhluk-makhluk biasa, memiliki tempat dan mempunyai sifat-sifat yang dapat binasa.”[30]
.
Kriteria Syiah dalam menerima dan menolak riwayat
Orang-orang Syiah memilliki satu prinsip dan kriteria rasional (aqli) dan referensial (naqli)[31] dalam menerima atau menolak satu riwayat dan bagi Syiah dalam prinsip dan kriteria-kriteria ini; tidak bersandar hanya pada status mazhab “Syiah” atau Sunni seorang perawi dalam menerima atau menolak sebuah riwayat
.
Setiap orang harus bersikap fair, jujur dan harus diketahui bahwa dari pandangan ahli Rijal Sunni, kecendrungan kepada Syiah dan wilayah Ahlulbait As sebagai penghalang serius periwayat untuk dikutip riwayatnya dan riwayat perawi seperti ini tidak dapat dijadikan sandaran; namun dalam Syiah tidaklah demikian. Pakar Rijal Syiah memandang riwayat Sunni apabila memiliki witsâqat (dapat diandalkan dan dipercaya), pada derajat setelah shahih, hasan, sebagai hadis muattsaq dan dapat dijadikan sebagai sandaran.[32]
.
Karena itu, ulama Rijal dan hadis Syiah; seluruh kitab – bahkan kitab-kitab empat (Kutub al-Arba’ah)[33] – tetap dikaji dan dianalisa serta tidak memberikan label sahih pada empat kitab induk ini.  Kitab Bukhari juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Di samping itu, terdapat banyak riwayat dari kitab ini dinukil dan diterima dalam karya-karya ulama terdahulu dan terkemudian Syiah
.
Namun demikian, sudah merupakan suatu hal yang natural dalam tataran pembahasan dan dialog, manusia harus bersandar pada sumber-sumber yang boleh jadi bukan merupakan hujjah bagi dirinya namun menjadi hujjah bagi pihak lainnya dan demikianlah salah satu contoh jadâl ahsan. Karena itu, pihak Syiah semenjak dulu hingga kini sama sekali tidak bermaksud mencari keuntungan dalam masalah keyakinan. Apabila Syiah tidak menerima sebuah riwayat maka hal itu berdasarkan dalil-dalil rasional dan referensial tidak menerima riwayat tersebut.

[1]Jawâmi’ Hadits adalah kumpulan kitab hadis yang tidak terbatas pada satu bidang dan domain riwayat tertentu serta mencakup seluruh atau bagian pokok bab-bab hadis. Ali Nashiri, Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syi’ah wa Ahlusunnah, hal. 17, Intisyarat Jami’at al-Mustafa Saw al-‘Alamiyah, Qum, Cetakan Kedua, 1388 S.
[2]. Abu al-Fida Islami bin Umar Ibnu Katsir Dimasyqi, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal.25, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H; Ibnu Jauzi, Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali, al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Mulûk, Riset oleh Muhammmad Abdul Qadir ‘Atha, Mustafa Abdul Qadir, jil. 12, ha. 113, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1412 H.
[3]. Abdul Hayyi bin Ahmad Ibnu Imad Hanbali, Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, Riset oleh al-Arnauut, jil. 1, hal. 24, Dar Ibnu Katsir, Damaskus, Beirut, Cetakan Pertama, 1406 H; Ibnu Asakir Abu al-Qasim bin Hasan, Târikh Madinat Dimasyq, jil. 52, hal. 54, Dar al-Fikr, Beirut, 1415 H.
[4]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 117; , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[5]. , Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 24.
[6]Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 11, hal. 26.
[7]Al-Muntazham fi Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, hal. 113.
[8].  Syadzarât al-Dzahab fi Akhbâr min Dzahab, jil. 1, hal. 25.
[9]Al-Muntazham fi Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 12, ha. 119.
[10]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 401-402, Muassasah al-Risalah, Beirut, Cetakan Kesembilan, 1413 H.
[11]. Syamsuddin Dzahabi Dimasyqi, Tadzkirat al-Huffâzh, jil. 2, hal. 556, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.
[12]. Ali Nashiri, Hadits Syinâsi, jil. 1, hal 137, Intisyarat Sanabil, Qum, Cetakan Pertama, 1383 S.
[13]Dhabit adalah mempunyai kesempurnaan berpikir, tidak pelupa dan cerdas serta tangkas. Hafalannya kuat dan mudah mengerti apa yang diterima.
[14]Ibid.
[15]. Sesuai nukilan dari Abu Abdillah Hakim Naisaburi, Ma’rifat ‘Ulûm al-Hadits, hal. 20, Dar al-Afaq al-Jadidah, Beirut, 1400 H.
[16]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 12, hal. 567.
[17]Hadits Syinâsi, jil. 1, ha. 138.
[18]. Silahkan lihat, ibid, hal. 138 dan 139.
[19]. Sesuai nukilan dari Siyar A’lâm al-Nubalâ, jil. 14, hal. 488, Catatan Kaki
[20]. Silahkan lihat, Muhammad Ridha Husaini Jalali, Tadwin al-Sunnah al-Syarifah, hal. 508-516, Maktab al-I’lam al-Islami, Qum, 1413 H.
[21]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 140.
[22]. Sesuai nukilan dari Mahmud Abu Rayyah, Adhwâ ‘ala Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 315, Ansariyan, Qum, 1416 H.
[23]Ibid.
[24]. Burhanuddin Halabi, al-Kasy al-Hatsits, hal. 112, Maktabat al-Nahdha al-‘Arabiyah, Cetakan Pertama, 1407 H.
[25].  Jarh wa al-ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang cacat dan adilnya rawi dengan lafaz-lafaz khusus dan tingkatan-tingkatan  lafaz tertentu. Ilmu ini termasuk bagian cabang ilmu rijalil hadis.
[26]. Silahkan lihat Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 141-143.
[27]. Sesuai nukilan dari Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 318; sesuai nukilan dari Fath al-Bâri, jil. 1, hal. 81.
[28]. Untuk keterangan lebih jauh silahkan lihat, Adhwâ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 324-326.
[29]Hadits Syinâsi, jil. 1, hal. 144.
[30]. Dalam hal ini silahkan lihat Kitab al-Tauhid Shahih Bukhâri.
[31]. Silahkan lihat, Identifikasi dan Seleksi Hadis-hadis Shahih, Pertanyan 1937.
[32]Âsynâi bâ Jawâmi’ Haditsi Syiah wa Sunni, hal. 239.
[33]. Silahkan lihat, Indeks: Hadis-hadis Standar dalam Pandangan Kulaini, Pertanyaan 1933; Hadis-hadis Kitab al-Kafi, Pertanyaan 1528

Isteri Nabi SAW Ada Yang Bersikeras Dirinya Bukan Ahlulbait, tetapi kok sunni membantah ?

MENGENAL AHLUL BAIT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

.
Di antara bukti keimanan seseorang muslim adalah mencintai ahlul bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencintai ahlul bait merupakan pilar kesempurnaan iman seorang muslim. Pernyataan cinta kepada ahlul bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekarang tidak hanya datang dari kalangan ahlulbait / syi’ah semata, akan tetapi juga didengungkan oleh beberapa kelompok Ahlul bid’ah seperti wahabi setan nejed dan yang sealiran dengan mereka, mereka lakukan hal itu dalam rangka mengelabui dan menipu umat Islam sehingga mereka bingung dan tidak mengenal kebejatan dan kebencian mereka terhadap Ahulul bait

wahabi beranggapan bahwa konflik suni-Syiah disebabkan perebutan tahta ahlulbait. Dia juga mengatakan bahwa ahlulbait (dan keturunan nabi) sudah tidak ada, sehingga sepantasnya tidak perlu ada lagi konflik suni-Syiah.

Dia mungkin mencoba untuk menyederhanakan masalah. Sangat mungkin dia akan kembali lagi ke blog ini dan mengulang hipotesisnya. Saya jadi berpikir, kalau ahlulbait sudah tidak ada, mengapa nabi saw  mewasiatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Alquran dan ahlulbait (HR. Muslim)?

Kalau Alquran suci, bagaimana mungkin dipadankan dengan yang tidak suci? Kalau Alquran kekal dan menjadi petunjuk hingga saat ini, bagaimana pantas dipadankan dengan sesuatu yang sudah tidak ada?

Siapakah Ahlul Bait as yang dimaksud dalam al-Quran Surat al-Ahzab 33

Ummu Salamah mengakui kalau dirinya sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagai ahlul bait yang dimaksud maka kali ini Ummu Salamah mengakui kalau ahlul bait dalam Al Ahzab 33 ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alihi wasallam], Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain.

وأنبأنا أبو محمد عبد الله بن صالح البخاري قال حدثنا الحسن بن علي الحلواني قال حدثنا يزيد بن هارون قال حدثنا عبد الملك بن أبي سليمان عن عطاء عن أم سلمة وعن داود بن أبي عوف عن شهر بن حوشب عن أم سلمة وعن أبي ليلى الكندي عن أم سلمة رحمها الله بينما النبي صلى الله عليه وسلم في بيتي على منامة له عليها كساء خيبري إذ جاءته فاطمة رضي الله عنها ببرمة فيها خزيرة فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم ادعي زوجك وابنيك قالت : فدعتهم فاجتمعوا على تلك البرمة يأكلون منها ، فنزلت الآية : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا فأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فضل الكساء فغشاهم مهيمه إياه ، ثم أخرج يده فقال بها نحو السماء ، فقال اللهم هؤلاء أهل بيتي وحامتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت : فأدخلت رأسي في الثوب ، فقلت : رسول الله أنا معكم ؟ قال إنك إلى خير إنك إلى خير قالت : وهم خمسة : رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha’ dari Ummu Salamah dan dari Dawud bin Abi ‘Auf dari Syahr bin Hawsyaab dari Ummu Salamah dan dari Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berada di rumahku di atas tempat tidur yang beralaskan kain buatan Khaibar. Kemudian datanglah Fathimah dengan membawa bubur, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “panggillah suamimu dan kedua putramu”. [Ummu Salamah] berkata “kemudian ia memanggil mereka dan ketika mereka berkumpul makan bubur tersebut turunlah ayat Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil sisa kain tersebut dan menutupi mereka dengannya, kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengulurkan tangannya dan berkata sembari menghadap langit “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah sesuci-sucinya. [Ummu Salamah] berkata “aku memasukkan kepalaku kedalam kain dan berkata “Rasulullah, apakah aku bersama kalian?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kamu menuju kebaikan kamu menuju kebaikan. [Ummu Salamah] berkata “mereka adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husein raidallahu ‘anhum” [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/383 no 1650]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syahr bin Hausab, ia perawi yang hadisnya hasan dengan penguat dari yang lain. Disini ia telah dikuatkan oleh riwayat Atha’ dari Ummu Salamah dan riwayat Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah.

Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari adalah ulama Baghdad yang tsiqat. Abu Ali Al Hafizh berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Bakar Al Ismailiy berkata “tsiqat tsabit” [Tarikh Baghdad 11/159 no 5064]. Adz Dzahabi berkata “Imam shaduq” [As Siyar 14/243 no 145].

Hasan bin Ali Al Hulwaaniy adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat tsabit”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Al Khatib berkata “tsiqat hafizh”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 530]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/207].

Yazid bin Harun bin Waadiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang klebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]

Abdul Malik bin Abi Sulaiman adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Ammar, Yaqub bin Sufyan, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Tirmidzi menyatakan ia tsiqat. Al Ijli berkata ”tsabit dalam hadis”. Abu Zur’ah berkata ”tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 6 no 751]. Ibnu Hajar berkata ”shaduq lahu awham” [At Taqrib 1/616] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Abdul Malik bin Abi Sulaiman seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4184].

Atha’ bin Abi Rabah adalah perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “dia seorang yang tsiqat faqih alim dan banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 385]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat memiliki keutamaan dan banyak melakukan irsal” [At Taqrib 1/674]. Riwayat Atha’ dari Ummu Salamah dikatakan mursal tetapi hal ini tidak memudharatakan hadisnya karena ia dikuatkan oleh riwayat Syahr dan Abu laila Al Kindiy. Selain itu dalam riwayat lain disebutkan kalau Atha’ meriwayatkan hadis kisa’ dari Umar bin Abu Salamah.

Dawud bin Abi ‘Auf adalah perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Sufyan menyatakan ia tsiqat. Ahmad dan Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Adiy berkata ia berlebihan dalam tasyayyu’ kebanyakan hadisnya tentang ahlul bait di sisiku ia tidak kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah [At Tahdzib juz 3 no 375] Ibnu Hajar berkata “shaduq syiah pernah salah” [At Taqrib 1/281].

Syahr bin Hausab perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ia seorang yang diperbincangkan sebagian melemahkannya dan sebagian menguatkannya. Musa bin Harun berkata “dhaif”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ahmad berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat sebagian mencelanya”. As Saji berkata “dhaif tidak hafizh”.Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata “tidak bisa dijadikan hujjah”. Ibnu Adiy berkata “tidak kuat dalam hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah”. Ibnu Hibban berkata “ia sering meriwayatkan dari perawi tsiqat hadis-hadis mu’dhal dan sering meriwayatkan dari perawi tsabit hadis yang terbolak-balik. Al Baihaqi berkata “dhaif” [At Tahdzib juz 4 no 635]. Ibnu Hajar berkata “shaduq banyak melakukan irsal dan wahm” [At Taqrib 1/423]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 162.

Abu Laila Al Kindiy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata tabiin kufah yang tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 995]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 2/460]. Terdapat dua nukilan dari Ibnu Ma’in yaitu riwayat Ahmad bin Sa’d bin Abi Maryam dari Ibnu Ma’in bahwa ia tsiqat dan riwayat dari Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dari Ibnu Ma’in bahwa ia dhaif, yang rajih adalah riwayat Ibnu Abi Maryam karena ia seorang yang tsiqat sedangkan Ibnu Abi Syaibah diperbincangkan ia telah dilemahkan oleh sebagian ulama.

Hadis di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Ahlul Bait yang dimaksudkan dalam Al Ahzab 33 adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Syahr bin Hausab berikut:

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَفْصٍ الْمَالِينِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ رَشِيقٍ بِمِصْرَ ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ الرَّازِيُّ ، حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الأُمَوِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمِّي عُبَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ ، عَنِ الثَّوْرِيِّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ ، عَنْ زُبَيْدٍ ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، : أَنَّ رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” دَعَا عَلِيًّا ، وَفَاطِمَةَ ، وَحَسَنًا ، وَحُسَيْنًا ، فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ، ثُمَّ تَلا : إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا قَالَ وَفِيهِمْ أُنْزِلَتْ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’d Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Hafsh Al Maaliiniy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Hasan bin Rasyiiq di Mesir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id bin Basyiir Ar Raaziy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Umayyah ‘Amru bin Yahya bin Sa’id Al Umawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku ‘Ubaid bin Sa’id dari Ats Tsawriy dari ‘Amru bin Qais dari Zubaid dari Syahr bin Hausab dari Ummu Salamah radiallahu ‘anha bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein kemudian menyelimutinya dengan kain kemudian membaca “Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” dan berkata “untuk merekalah turunnya ayat” [Muudhih Awham Jami’ Wal Tafriq Al Khatib Baghdad 2/281]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Syahr bin Hausab. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya.

Abu Sa’d Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Hafsh Al Maaliniy adalah seorang yang tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat shaduq mutqin baik dan shalih” [Tarikh Baghdad 6/24 no 2511].

Abu Muhammad Hasan bin Rasyiiq adalah Imam Muhadis shaduq musnad Mesir sebagaimana yang disebutkan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 16/280 no 197].

Ali bin Sa’id bin Basyiir Ar Raziiy adalah seorang yang tsiqat pernah melakukan kesalahan dan dibicarakan dalam sirahnya [Irshad Al Qadiy no 679].

‘Amru bin Yahya bin Sa’id Al Umawiy dengan kuniyah Abu Umayah adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/749].

Ubaid bin Sa’id Al Umawiy adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/644]
Sufyan Ats Tsawriy adalah seorang yang disepakati tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh, faqih, ahli ibadah imam dan hujjah” [At Taqrib 1/371].

‘Amru bin Qais Al Mala’iy seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat mutqin ahli ibadah” [At Taqrib 1/744].

Zubaid bin Harits Al Yaamiy adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit ahli ibadah” [At Taqrib 1/308].

Riwayat Syahr bin Hausab di atas menyebutkan kalau ayat tathiir tersebut memang turun untuk Ahlul Kisa’ yang dipanggil oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini senada dengan riwayat berikut:

أخبرنا أبو القاسم علي بن إبراهيم أنا أبو الحسين محمد بن عبد الرحمن بن أبي نصر أنا يوسف بن القاسم نا علي بن الحسن بن سالم نا أحمد بن يحيى الصوفي نا يوسف بن يعقوب الصفار نا عبيد بن سعيد القرشي عن عمرو بن قيس عن زبيد عن شهر عن أم سلمة عن النبي (صلى الله عليه وسلم) في قول الله عز وجل ” إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ” قال الحسن والحسين وفاطمة وعلي عليهم السلام فقالت أم سلمة يا رسول الله وأنا قال أنت إلى خير

Telah mengabarkan kepada kami Abu Qasim ‘Ali bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Qaasim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Saalim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya Ash Shufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Sa’id Al Qurasiy dari ‘Amru bin Qais dari Zubaid dari Syahr bin Hausab dari Ummu Salamah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang firman Allah ‘azza wa jalla “Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” Beliau berkata “Hasan, Husain, Fathimah dan Ali [‘alaihimus salam]”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah, dan aku?” Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau menuju kebaikan” [Tarikh Ibnu Asakir 14/139]

Abul Qasim ‘Ali bin Ibrahim adalah Syaikh Al Imam muhaddis yang tsiqat dan terhormat. Ibnu Asakir berkata “tsiqat” [As Siyar 19/359 no 212]. Abu Husain Muhammad bin Abi Nashr An Nursiy adalah Syaikh Al Alim Al Muqri dimana Al Khatib berkata “tsiqat” [As Siyar 18/84 no 37]. Yusuf bin Qasim Al Qadhiy adalah Al Imam Al Hafizh Al Muhaddis, Abdul Aziz bin Ahmad Al Kattaniy menyatakan ia tsiqat [As Siyar 16/361 no 258]. ‘Ali bin Hasan bin Salim disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 3 no 14514]. Ahmad bin Yahya bin Zakaria Al Audiy Ash Shufiy adalah ahli ibadah yang tsiqat [At Taqrib 1/48]. Yusuf bin Ya’qub Ash Shaffar seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/348]. Ubaid bin Sa’di dan ‘Amru bin Qais telah disebutkan bahwa mereka tsiqat. Riwayat ini menjadi penguat bagi riwayat sebelumnya dan sangat jelas menyatakan kalau Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tathiir adalah Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain.

حدثني إسحاق بن الحسن بن ميمون الحربي ، ثنا أبو غسان ، ثنا فضيل ، عن عطية ، عن أبي سعيد الخدري عن أم سلمة ، قالت : نزلت هذه الآية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال : إنك إلى خير ، إنك من أزواج رسول الله قالت : وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين عليهم السلام

Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Hasan bin Maimun Al Harbiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail dari Athiyah dari Abu Sa’id Al Khudri dari Ummu Salamah yang berkata ayat ini turun di rumahku ““Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Ummu Salamah] berkata “wahai Rasulullah bukankah aku adalah ahlul baitmu?”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “kamu menuju kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah” [Ummu Salamah] berkata “dan ahlul bait adalah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain” [Al Ghailaniyat Abu Bakar Asy Syafi’i no 237]

Abu Bakar Asy Syafi’i adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Ibrahim seorang Imam muhaddis mutqin hujjah faqih musnad Irak. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit banyak meriwayatkan hadis”. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyar 16/40-42 no 27]. Ishaq bin Hasan bin Maimun Al Harbi seorang yang tsiqat. Ibrahim Al Harbi menyatakan “tsiqat”. Abdullah bin Ahmad berkata “tsiqat”. Daruquthni juga menyatakan tsiqat [Tarikh Baghdad 7/413 no 3369]. Malik bin Ismail Abu Ghassan adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Abu Hatim dan Yaqub bin Syaibah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 2]. Fudhail bin Marzuq termasuk perawi Bukhari [dalam Juz Raf’ul Yadain], Muslim dan Ashabus Sunan. Ats Tsawriy menyatakan ia tsiqat. Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shalih shaduq banyak melakukan kesalahan dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nasa’i berkata “dhaif”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Tahdzib juz 8 no 546]. Pendapat yang rajih Fudhail seorang yang hadisnya hasan pembicaraan terhadapnya tidak menurunkan derajatnya dari derajat hasan. Ibnu Ady berkata “Fudhail hadisnya hasan kukira tidak ada masalah padanya” [Al Kamil Ibnu Adiy 6/19].

Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al Aufiy adalah tabiin yang hadisnya hasan. Ibnu Sa’ad berkata ”seorang yang tsiqat, insya Allah memiliki hadis-hadis yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/304]. Al Ijli berkata ”tsiqat dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1255]. Ibnu Syahin memasukkannya sebagai perawi tsiqat dan mengutip Yahya bin Ma’in yang berkata ”tidak ada masalah padanya” [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1023]. At Tirmidzi telah menghasankan banyak hadis Athiyyah Al Aufiy dalam kitab Sunan-nya. Sebagian ulama mendhaifkannya seperti Sufyan, Ahmad dan Ibnu Hibban serta yang lainnya dengan alasan tadlis syuyukh. Telah kami buktikan kalau tuduhan ini tidaklah tsabit sehingga yang rajih adalah penta’dilan terhadap Athiyyah. Satu-satunya kelemahan pada Athiyah bukan terletak pada ‘adalah-nya tetapi pada dhabit-nya. Abu Zur’ah berkata “layyin”. Abu Hatim berkata “dhaif ditulis hadisnya dan Abu Nadhrah lebih aku sukai daripadanya” [At Tahdzib juz 7 no 414].

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat ini turun untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain yaitu Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat kecuali Ja’far bin ‘Abdurrahman Al Bajaliy, ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.

Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang tsiqat dan tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635].

Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 299].

Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116].

Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386].

Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387]. Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip Al A’masy yang berkata “telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Abdurrahman Abu Abdurrahman Al Anshari Syaikh yang aku temui di Wasith” [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. Ibnu Hibban berkata “Syaikh” [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]. Lafaz “Syaikh” dalam ilmu hadis adalah salah satu lafaz ta’dil walaupun merupakan lafaz ta’dil yang ringan.

Hakim bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun [yang berarti tsiqah]. Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787].

Semua riwayat di atas dengan jelas menyatakan kalau Ummu Salamah mengakui bahwa ayat tathiir al ahzab 33 turun khusus untuk Ahlul Kisa’ atau lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hadis ini juga menunjukkan kalau lafaz “kamu menuju kebaikan” atau lafaz “kamu termasuk istri Rasulullah” adalah lafaz penolakan yang halus dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Ummu Salamah adalah istri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang menuju kepada kebaikan tetapi bukan Ahlul Bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 karena mereka adalah lima orang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan yang diselimuti oleh Beliau : Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hal ini senada dengan lafaz perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku” yang menunjukkan kalau itu adalah keutamaan khusus bagi mereka.

Yang meriwayatkan dari Ummu Salamah adalah Abu Laila Al Kindiy, Syahr bin Hausab, Atha’ bin Abi Rabah, Hakim bin Sa’ad dan riwayat Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah. Walaupun terdapat kelemahan dalam sebagian riwayat tetapi kedudukan riwayat-riwayat tersebut saling menguatkan sehingga tidak diragukan lagi kalau riwayat Ummu Salamah tersebut shahih.

Berikut ini sekelumit penjelasan tentang kata “ahlulbait” dalam Alquran yang saya kutip dari A Shi’ite Encyclopedia.

Keluarga Ibrahim

Alquran bersaksi bahwa Sarah, istri nabi Ibrahim a.s., diberkahi oleh para malaikat dan diberi kabar gembira bahwa dia akan melahirkan dua nabi Allah:

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir) Yakub. Istrinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua dan suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran dengan ketetapan Allah? Rahmat dan keberkahan Allah dicurahkan kepada kalian wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (11: 71-73)

Karena keberkahan dan rahmat Allah diberikan kepada keluarga Ibrahim, ayat di atas menjadi alat tendensius bagi beberapa komentator untuk mencari argumen dan memasukkan istri-istri nabi saw. ke dalam istilah ahlulbait. Mereka beranggapan karena Sarah istri nabi Ibrahim termasuk ke dalam istilah ahlulbait dalam ayat di atas, maka seluruh istri nabi saw. juga termasuk ke dalam surah Al-Ahzab ayat 33 yang berkaitan dengan kemurnian dan keutamaan ahlulbait Nabi Muhammad saw.

Namun, sengaja atau tidak, para komentator itu mengabaikan pentingnya ucapan malaikat. Jika Sarah, istri Ibrahim, dimasukkan ke dalam istilah ahlulbait yang digunakan dalam ayat di atas, hal itu bukan karena dia istri Ibrahim, tapi karena dia akan menjadi ibu dari dua nabi (Ishak dan Yakub). Sarah disebut oleh malaikat dalam ayat di atas sebagai anggota ahlulbait, setelah dia menerima anugerah bahwa dia mengandung Nabi Ishak a.s.

Hubungan pernikahan antara pria dan wanita merupakan kondisi sementara dan bisa berhenti kapan saja. Istri tidak bisa menjadi pasangan yang kekal bagi suami dan masuk ke dalam amanat surgawi yang diberkahi dengan keunggulan, kecuali dia membawa putra yang menjadi seorang nabi atau imam. Dengan demikian, jika kita menganggap Sarah sebagai anggota keluarga, hal itu hanya karena dia akan menjadi ibu dari Ishak, bukan istri Ibrahim. Ayat 71-73 yang dikutip di atas menunjukkan bahwa Sarah disapa di antara ahlulbait setelah dia tahu bahwa dia memiliki Ishak a.s.

Keluarga Imran

Demikian juga, Alquran menyebut ibu nabi Musa di antara ahlulbait Imran. Lagi-lagi, sebagaimana yang bisa kita lihat di ayat berikut, penekanan di sini adalah ibu dari nabi Musa dan bukan istri Imran:

Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui sebelum itu; maka berkatalah saudari Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlulbait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” Maka kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (28: 12-13)

Ibu nabi Musa disebut sebagai ahlulbait bukan sebagai istri Imran, tapi karena menjadi ibu dari Musa, karena para istri tunduk terhadap perceraian dan bisa digantikan dengan wanita yang lebih baik (Quran 66: 5) sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid bin Arqam. Hal ini diilustrasikan oleh istri nabi Nuh dan Luth; meskipun mereka adalah istri dari hamba-hamba Allah, mereka tidak dianggap  sebagai ahlulbait. Mereka binasa bersama umat tersisa. Zaid bin Arqam berkata: “Ahlulbait nabi adalah garis silsilah dan keturunan (yang berasal dari darah dagingnya) yang diharamkan menerima zakat.”

Istri Imran berada di garis Musa, sebagaimana istri Ibrahim berada di garis Ishak dan Yakub. Demikian pula, jika Fatimah berada di antara ahlulbait nabi saw., hal ini bukan hanya karena dia putri dari nabi saw., tapi juga ibu dari dua imam.

Keluarga Nuh

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh perbuatannya tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (11: 45-46)

Abul Ala Maududi menulis dalam komentarnya terkait ayat di atas:

Jika bagian dari tubuh seseorang membusuk dan ahli bedah memutuskan untuk memotongnya, ia tidak akan mematuhi permintaan pasien yang berkata, “Jangan potong, karena itu bagian dari tubuhku!”. Ahli bedah akan menjawab, “Ia bukan lagi bagian dari tubuhmu karena ia membusuk.” Begitu juga ketika seorang ayah yang baik diberi tahu bahwa putranya berlaku tidak baik, itu berarti untuk mengimplikasikan bahwa usaha yang dilakukan untuk membawa dia sebagai anak yang baik telah sia-sia dan berakhir dengan kegagalan.

Referensi suni:

Komentar Quran oleh Abul Ala Maududi (diterbitkan oleh the Islamic Publications (Pvt) Limited), h. 367, tentang ayat 11:45-46

Nabi Nuh a.s. memohon untuk putranya dan jawabannya adalah putra itu tidak pantas menjadi anaknya. Melalui ayat tersebut, hal ini menjadi jelas bahwa meskipun seseorang berasal dari darah dan daging yang sama, lahir melalui orang tua yang sama, tapi jika ia tidak memiliki kualitas yang baik yang dimiliki orang tuanya maka dia tidak memiliki saham dari orang tuanya (sebagaimana disebut dalam ayat kedua di atas). Nuh memiliki tiga putra, Ham, Sam, dan Yafet yang beriman dan bersama istri mereka memasuki bahtera dan selamat, sedangkan Kan’an adalah putra Nuh dari istri yang berbeda yang tidak beriman dan musnah bersama putranya.

Dapat disimpulkan bahwa jika seseorang tidak memiliki kebaikan iman yang benar pada Allah, meskipun dia putra rasul, dia tidak berada dalam saham orang tua; lahirnya dia yang berasal dari orang tua tertolak, bahkan hak untuk berada di bumi Allah juga ditarik darinya, dan musnahlah dia.

Oleh karena itu, meskipun seseorang itu putra dari nabi Allah, kurangnya kebajikan membuatnya tidak diakui sebagai bagian dari ‘itrah keluarga kerasulan. Karena alasan inilah istilah ahlulbait terbatas pada anggota keluarga nabi yang layak dan tidak meliputi semua orang yang lahir dari darahnya. Ahlulbait hanyalah pribadi-pribadi di antara keturunan nabi yang juga memiliki kedekatan karakter dan pencapaian spiritual sepenuhnya bersama nabi saw.

Siapa Ahlul Bait Itu?

Pembahasan ini termasuk sejelas-jelasnya pembahasan. Karena tidak ada seorang pun yang pura-pura tidak mengenal Ahlul Bait kecuali para penentang yang tidak menemukan jalan keluar dari dalil-dalil yang pasti tentang wajibnya mengikuti mereka, lalu mereka pun berlindung kepada keragu-raguan tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Inilah yang dapat saya saksikan dari berbagai diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman. Ketika salah seorang mereka tidak menemukan jalan untuk menghindar dari keharusan mengikuti Ahlul Bait, dengan serta-merta dia melontarkan berbagai pertanyaan dengan tujuan mewujudkan meragukan,

Siapa Ahlul Bait itu?

Bukankah istri-istri Rasulullah SAWW termasuk Ahlul Baitnya?! Bukankah Rasulullah SAWW telah bersabda, “Salman dari kalangan kami Ahlul Bait”?!

Bahkan, bukankah Abu Jahal juga termasuk keluarga Rasulullah SAWW?!

Tidak ada yang mereka inginkan dari seluruh pertanyaan ini kecuali keinginan untuk mengingkari kenyataan hadis Tsaqalain, yang merupakan salah satu hadis yang mengindikasikan keimamahan Ahlul Bait. Mereka menduga bahwa dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan ini, mereka dapat membungkam akal dan seruan nuraninya. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan perkiraan mereka, dan hujjah tetap tegak berdiri meskipun ia mengingkari atau pun tidak mengingkari.

Saya pernah mengatakan kepada sebagian mereka manakala mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, “Kenapa Anda menginginkan segala sesuatunya tersedia dengan tanpa susah-payah?! Sesungguhnya pikiran-pikiran yang sudah dikemas tidak memberikan faedah. Saya mampu memberikan jawaban, namun Anda pun mampu menolak dan mengingkari jawaban saya, karena Anda tidak merasakan pahitnya melakukan pembahasan dan tidak menanggung kesulitan untuk bisa memberikan jawaban. Apakah hanya saya yang diwajibkan untuk menjawab? Apakah Rasulullah SAWW telah memerintahkan kepada saya secara khusus untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait?! Tidak, kita semua diwajibkan untuk menjawab pertanyaan ini. Karena telah tegak hujjah atas kita akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari mereka, sehingga kita wajib mengenal mereka dan untuk kemudian mengikuti mereka.”

Pada kesempatan ini pun saya tidak akan memperluas argumentasi dan dalil, melainkan saya cukup mengemukakan beberapa petunjuk yang jelas, dan bagi siapa yang menginginkan keterangan yang lebih, maka ia sendiri yang harus memperdalamnya.

Ahlul Bait Di Dalam Ayat Tathhîr

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab: 33)

Sesungguhnya turunnya ayat ini kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as adalah termasuk perkara yang amat jelas bagi mereka yang mengkaji kitab-kitab hadis dan tafsir. Dalam hal ini, Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.”[1] Ayat ini, disebabkan penunjukkannya yang jelas terhadap kemaksuman Ahlul Bait, tidak sejalan kecuali dengan mereka. Ini dikarenakan apa yang telah kita jelaskan, yaitu bahwa mereka itu adalah pusaka umat ini dan para pemimpin sepeninggal Rasulullah SAWW. Oleh karena itu, Rasulullah SAWW memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Arti kemaksuman juga dengan jelas dapat disaksikan dari ayat ini, bagi mereka yang mempunyai hati dan mau mendengarkan. Hal itu dikarenakan mustahil tidak terlaksananya maksud jika yang mempunyai maksud itu adalah Allah SWT; dan huruf al-hashr (pembatasan), yaitu kata “innama”, menunjukkan kepada arti ini. Yang menjadi fokus perhatian kita di dalam pembahasan ini ialah membuktikan bahwa ayat ini khusus turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Hadis Al-Kisa` Menentukan Siapa Yang Dimaksud Dengan Ahlul Bait

Argumentasi terdekat dan terjelas yang berkenaan dengan penafsiran ayat ini ialah sebuah hadis yang dikenal di kalangan para ahli hadis dengan sebutan hadis al-Kisâ`, yang tingkat kesahihan dan kemutawatirannya tidak kalah dari hadis Tsaqalain.

1. Al-Hakim telah meriwayatkan di dalam kitabnya al-Mustadrak ‘alâ
ash-Shahihain fi al-Hadis:

“Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang berkata, ‘Ketika Rasulullah SAWW memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah SAWW berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya, ‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah SAWW meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah SAWW mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku (maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).’ Lalu Allah SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.'”[2]

Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.”

2.    Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah SAWW mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.'”[3] Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.” Di tempat lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.”

3.  Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Aisyah yang berkata, “Rasulullah SAWW pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah SAWW pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah SAWW memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah SAWW berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”[4]

Berita ini dapat ditemukan di dalam banyak riwayat yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih, kitab-kitab hadis dan kitab-kitab tafsir.[5]Hadis al-Kisâ` termasuk hadis yang sahih dan mutawatir, yang tidak ada seorang pun yang mendhaifkannya, baik dari kalangan terdahulu maupun kalangan terkemudian. Sungguh akan banyak memakan waktu jika kita menyebutkan seluruh riwayat ini. Saya menghitung ada dua puluh tujuh riwayat yang kesemuanya sahih.

Di antara riwayat yang paling jelas di dalam bab ini —di dalam menentukan siapa Ahlul Bait— ialah riwayat yang dinukil oleh as-Suyuthi di dalam kitab tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, yang berasal dari Ibnu Mardawaih, dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah SAWW menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah SAWW.'”[6]

Pada riwayat al-Hakim di dalam kitab Mustadraknya disebutkan, Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah SAWW menjawab, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku. Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.”[7]

Pada riwayat Ahmad disebutkan, “Saya mengangkat pakaian penutup untuk masuk bersama mereka namun Rasulullah SAWW menarik tangan saya sambil berkata, ‘Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan.'”[8] Ini cukup membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait ialah mereka Ashabul Kisa, sehingga dengan demikian mereka itu adalah padanan al-Qur’an, yang kita telah diperintahkan oleh Rasulullah SAWW — di dalam hadis Tsaqalain — untuk berpegang teguh kepada mereka.

Orang yang mengatakan bahwa ‘Itrah itu artinya keluarga, sehingga mengubah makna, perkataannya itu tidak dapat diterima. Karena tidak ada seorang pun dari para pakar bahasa yang mengatakan demikian. Ibnu Manzhur menukil di dalam kitabnya Lisan al-‘Arab, “Sesungguhnya ‘Itrah Rasulullah SAWW adalah keturunan Fatimah ra. Ini adalah perkataan Ibnu Sayyidah. Al-Azhari berkata, ‘Di dalam hadis Zaid bin Tsabit yang berkata, ‘Rasulullah SAWW bersabda, ‘… lalu dia menyebut hadis Tsaqalain’ . Maka di sini Rasulullah menjadikan ‘Itrahnya sebagai Ahlul Bait.’ Abu ‘Ubaid dan yang lainnya berkata, “‘Itrah seorang laki-laki adalah kerabatnya.’ Ibnu Atsir berkata, “Itrah seorang laki-laki lebih khusus dari kaum kerabatnya.’ Ibnu A’rabi berkata, “Itrah seorang laki-laki ialah anak dan keturunannya yang berasal dari tulang sulbinya.’ Ibnu A’rabi melanjutkan perkataannya, ‘Maka ‘Itrah Rasulullah SAWW adalah keturunan Fatimah.”[9] Dari makna-makna ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud Ahlul Bait bukan mutlak kaum kerabat, melainkan kaum kerabat yang paling khusus. Oleh karena itu, di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa tatkala Zaid bin Arqam ditanya, siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait Rasulullah? Apakah istri-istrinya?

Zaid bin Arqam menjawab, “Tidak, demi Allah. Sesungguhnya seorang wanita tidak selamanya bersama suaminya, karena jika dia ditalak maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun yang dimaksud Ahlul Bait Rasulullah SAWW ialah keluarga nasabnya, yang diharamkan sedekah atas mereka sepeninggalnya (Rasulullah SAWW).”

Menjadi anggota Ahlul Bait tidak pernah diklaim oleh seorang pun dari kaum kerabat Rasulullah SAWW, dan begitu juga oleh istri-istrinya. Karena jika tidak, maka tentunya sejarah akan menceritakan hal itu kepada kita. Tidak ada di dalam sejarah dan juga di dalam hadis yang menyebutkan bahwa istri Rasulullah SAWW berhujjah dengan ayat ini. Sebaliknya dengan Ahlul Bait. Inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mengutamakan kami, Ahlul Bait. Bagaimana tidak demikian, padahal Allah SWT telah berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Allah SWT telah mensucikan kami dari berbagai kotoran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Maka kami berada di atas jalan kebenaran.”

Putranya, al-Hasan as berkata, “Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku, maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku, maka inilah aku, Hasan putra Ali. Akulah anak seorang laki-laki pemberi kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan pelita yang bercahaya. Saya termasuk Ahlul Bait yang mana Jibril turun naik kepada mereka. Saya termasuk Ahlul Bait yang telah Allah hilangkan dosa dari mereka dan telah Allah sucikan mereka sesuci-sucinya.” Pada kesempatan yang lain al-Hasan berkata, “Wahai manusia, dengarkanlah. Kamu mempunyai hati dan telinga, maka perhatikanlah. Sesungguhnya kami ini adalah Ahlul Bait yang telah Allah muliakan dengan Islam, dan Allah telah memilih kami, maka Dia pun menghilangkan dosa dari kami dan mensucikan kami sesuci-sucinya.”

Adapun argumentasi Ibnu Katsir tentang keharusan memasukkan istri-istri Rasulullah SAWW tidaklah dapat diterima, karena kehujjahan zhuhur bersandar kepada kesatuan ucapan. Sebagaimana di ketahui bahwa ucapan telah berubah dari bentuk ta’nits (seruan kepada wanita dengan menggunakan kata ganti yang bermuatan wanita – Penerj.) pada ayat-ayat sebelumnya kepada bentuk tadzkir (seruan kepada wanita dengan menggunakan kata ganti yang bermuatan lelaki – Penerj.) pada ayat ini. Jika yang di maksud dari ayat ini adalah istri-istri Rasulullah SAWW maka tentunya ucapan ayat berbunyi “Innama Yuridullah Liyudzhiba ‘Ankunnar Rijsa Ahlal Bait wa Yuthahhirakunna Tathhira “, karena ayat-ayat tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah SAWW. Oleh karena itu, Allah SWT memulai firmannya setelah ayat ini, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah….” (QS. al-Ahzab: 34)

Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ayat Tathhir turun kepada istri-istri Rasulullah SAWW selain dari Ikrimah dan Muqatil. Ikrimah mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan keluarganya maka sesungguhnya ayat ini turun kepada istri-istri Nabi SAWW.”[10] Perkataan Ikrimah ini tidak dapat diterima, disebabkan bertentangan dengan riwayat-riwayat sahih yang dengan jelas mengatakan bahwa Ahlul Bait itu ialah para ashabul kisa, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Kedua, apa yang telah memicu emosi Ikrimah sehingga dia berteriak-teriak di pasar menantang mubâhalah?

Apakah karena kecintaan kepada istri-istri Nabi SAWW atau karena kebencian kepada para Ashabul Kisa`?! Dan kenapa dia mengajak ber-mubahalah jika ayat itu tidak diragukan turun kepada istri-istri Nabi SAWW?! Atau apakah karena pendapat umum yang berkembang mengatakan bahwa ayat itu turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain?! Dan memang demikian. Ini dapat dilihat dari perkataannya, “Yang benar bukanlah sebagaimana pendapat Anda semua, melainkan ayat ini turun hanya kepada istri-istri Nabi SAWW.”[11] Ini artinya bahwa di kalangan para tabi’in ayat ini jelas turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as.

Kita juga tidak mungkin bisa menerima Ikrimah sebagai saksi dan penengah dalam masalah ini, disebabkan dia sudah sangat dikenal amat memusuhi Ali. Dia termasuk kelompok Khawarij yang memerangi Ali, maka tentunya dia akan mengatakan bahwa ayat ini turun kepada istri-istri Nabi SAWW. Karena jika dia mengakui bahwa ayat ini turun kepada Ali maka berarti dia telah menghancurkan mazhabnya sendiri dan telah merobohkan pilar-pilar keyakinan yang mendorong dirinya dan para sahabatnya untuk keluar memerangi Ali as. Di samping sudah sangat terkenalnya kebohongan Ikrimah atas Ibnu Abbas, sehingga Ibnu al-Musayyab sampai mengatakan kepada budaknya, “Jangan kamu berbohong atasku sebagaimana Ikrimah telah berbohong atas Ibnu Abbas.” Di dalam kitab Mîzân al-I’tidâl disebutkan bahwa Ibnu Ummar pun mengatakan yang sama kepada budaknya yang bernama Nâfi’.

Ali bin Abdullah bin Abbas telah berusaha mencegah Ikrimah dari perbuatan berdusta kepada ayahnya. Salah satu cara yang dilakukannya ialah dengan cara menggantung Ikrimah ke atas dinding supaya dia tidak berdusta lagi atas ayahnya. Abdullah bin Abi Harits berkata, “Saya menemui Ibnu Abdullah bin Abbas, dan saya mendapati Ikrimah tengah diikat di atas pintu dinding. Kemudian saya berkata kepadanya, ‘Beginikah kamu memperlakukan budakmu?’ Ibnu Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Dia telah berdusta atas ayahku.'”[12]

Adapun Muqatil, dia tidak kalah dari Ikrimah di dalam permusuhannya terhadap Amirul Mukminin dan reputasi kebohongannya, sehingga an-Nasa’i memasukkannya ke dalam kelompok pembohong terkenal pembuat hadis.[13]

Al-Juzajani di dalam kitab Mîzân adz-Dzahab berkata di dalam biografi Muqatil, “Muqatil adalah seorang pembohong yang berani.”[14]

Muqatil pernah berkata kepada Mahdi al-‘Abbasi, “Jika Anda mau, saya bisa membuat hadis-hadis tentang keutamaan Abbas.” Namun Mahdi al-‘Abbasi menjawab, “Saya tidak perlu itu.”[15]

Kita tidak mungkin mengambil perkataan dari orang-orang seperti mereka. Karena perbuatan yang demikian adalah tidak lain bersumber dari kesombongan dan kebodohan. Karena hadis-hadis sahih yang mutawatir bertentangan dengannya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Dan ini selain dari riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa setelah turunnya ayat ini Rasulullah SAWW mendatangi pintu Ali bin Abi Thalib setiap waktu shalat selama sembilan bulan berturut-turut dengan mengatakan, “Salam, rahmat Allah dan keberkahan atasmu, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hal Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”‘ Itu dilakukan oleh Rasulullah SAWW sebanyak lima kali dalam sehari.[16]

Di dalam Sahih Turmudzi, Musnad Ahmad, Musnad ath-Thayalisi, Mustadrak al-Hakim ‘ala ash-Shahihain, Usud al-Ghabah, tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir dan as-Suyuthi disebutkan bahwa Rasulullah SAWW mendatangi pintu rumah Fatimah selama enam bulan setiap kali keluar hendak melaksanakan shalat Shubuh dengan berseru, “Shalat, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.'”[17]Dan riwayat-riwayat lainnya yang serupa yang berkenaan dengan bab ini.

Dengan keterangan-keterangan ini menjadi jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait ialah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Dan tidak ada tempat bagi siapa pun untuk mengingkarinya. Karena orang yang meragukan hal ini adalah tidak ubahnya seperti orang yang meragukan matahari di siang hari yang cerah.

Ahlul Bait as dalam Ayat Mubâhalah

Sesungguhnya pertarungan antara front kebenaraan dengan front kebatilan di medan peperangan adalah perkara yang sulit, namun jauh lebih sulit lagi jika dilakukan di medan mihrab. Yaitu manakala masing-masing orang membuka dirinya di hadapan Dzat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, dan menjadikan-Nya sebagai hakim di antara mereka. Pada keadaan ini tidak akan menang orang yang di dalam hatinya terdapat keraguan.

Mungkin saja seseorang merupakan petempur yang gagah di medan peperangan, dan oleh karena itu kita mendapati Rasulullah SAWW menyeru kepada setiap orang yang mampu memanggul senjata, meski pun dia seorang munafik, untuk berjihad menghadapi orang-orang kafir. Namun, ketika bentuk pertarungan telah berubah dari bentuk peperangan ke dalam bentuk mubahalah dengan orang-orang Nasrani, Rasulullah SAWW tidak memanggil seorang pun dari para sahabatnya untuk ikut terjun ke dalam bentuk pertarungan yang baru ini. Karena pada pertarungan yang semacam ini tidak akan ada yang bisa maju kecuali orang yang mempunyai hati yang lurus dan telah disucikan dari segala macam dosa dan kotoran. Mereka itulah manusia-manusia pilihan. Orang-orang yang semacam itu tidak banyak jumlahnya di tengah-tengah manusia. Jumlah mereka sedikit, namun mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi.

Siapakah orang-orang yang terpilih itu?

Ketika Rasulullah SAWW berdebat dengan cara yang paling baik dengan para pendeta Nasrani, Rasulullah SAWW tidak mendapati dari mereka kecuali kekufuran, pengingkaran dan pembangkangan, dan tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain dari bermubahalah. Yaitu dengan cara masing-masing dari mereka memanggil orang-orang mereka, dan kemudian menjadikan laknat Allah menimpa orang-orang yang dusta. Pada saat itulah datang perintah dari Allah SWT,

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah kepadanya, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.'” (QS. Ali ‘lmran: 61)

Ketika para pendeta menerima tantangan Rasulullah SAWW ini, sehingga akan menjadi peperangan penentu di antara mereka, maka para pendeta mengumpulkan orang-orang khusus mereka untuk bersiap-siap menghadapi hari yang telah ditentukan. Ketika telah tiba hari yang ditentukan maka berkumpullah sekelompok besar dari kalangan kaum Nasrani. Mereka maju dengan keyakinan bahwa Rasulullah SAWW akan keluar menghadapi mereka dengan sekumpulan besar para sahabatnya, sementara istri-istrinya di belakang dia. Namun, Rasulullah SAWW maju dengan langkah pasti bersama bintang kecil dari Ahlul Bait, yaitu Hasan di sebelah kanannya dan Husain di sebelah kirinya, sementara Ali dan Fatimah di belakangnya. Ketika orang-orang Nasrani melihat wajah-wajah yang bercahaya ini, mereka gemetar ketakutan. Maka mereka semua pun menoleh ke arah Uskup, pemimpin mereka seraya bertanya,

“Wahai Abu Harits, bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?”

Uskup itu menjawab, “Saya melihat wajah-wajah yang jika salah seorang dari mereka memohon kepada Allah supaya gunung dihilangkan dari tempatnya, maka Allah akan menghilangkan gunung itu.”

Bertambahlah ketercengangan mereka. Ketika Uskup merasakan yang demikian itu dari mereka, maka dia pun berkata, “Tidakkah engkau melihat Muhammad sedang mengangkat kedua tangannya sambil menunggu terkabulnya doanya. Demi al-Masih, jika dia menggerakkan mulutnya dengan satu kata saja, maka kita tidak akan bisa kembali kepada keluarga dan harta kita.”[18]

Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang dan meninggalkan arena mubâhalah. Mereka rela walau pun harus menanggung kehinaan dan memberikan jizyah (denda).

Dengan lima orang itu Rasulullah SAWW mampu mengalahkan orang-orang Nasrani dan menjadikan mereka kecil. Rasulullah SAWW bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya azab tengah bergantung di atas kepala para penduduk Najran. Kalaulah tidak ada ampunan-Nya, niscaya mereka telah diubah menjadi kera dan babi, dan dinyalakan atas mereka lembah menjadi lautan api, serta Allah binasakan perkampungan Najran dan seluruh para penghuninya, bahkan burung-burung yang berada di pepohonan sekali pun.”

Namun, kenapa Rasulullah SAWW menghadirkan mereka yang lima saja, dan tidak menghadirkan para sahabat dan istri-istrinya?

Pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu kalimat, yaitu bahwa Ahlul Bait adalah seutama-utamanya makhluk setelah Rasulullah, dan manusia-manusia yang paling suci. Sifat-sifat yang telah Allah SWT tetapkan bagi Ahlul Bait di dalam ayat Tathhîr ini tidak diberikan kepada selain mereka. Oleh karena itu, di dalam menerapkan ayat ini kita mendapati bagaimana Rasulullah menarik perhatian umat kepada kedudukan Ahlul Bait. Rasulullah menafsirkan firman Allah yang berbunyi “abnâ’anâ” (anak-anak kami) dengan Hasan dan Husain, “nisâ’anâ” (istri-istri kami) dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra as, dan “anfusanâ” (diri-diri kami) dengan Ali as. Itu dikarenakan imam Ali tidak masuk ke dalam kategori istri-istri dan tidak termasuk ke dalam kategori anak-anak, melainkan hanya masuk ke dalam kata “diri-diri kami”. Karena ungkapan “anfusanâ” (diri-diri kami) akan menjadi buruk jika seruan itu hanya ditujukan kepada diri Rasulullah SAWW saja.

Bagaimana mungkin Rasulullah SAWW memanggil dirinya?! Ini diperkuat dengan hadis Rasulullah SAWW yang berbunyi, “Aku dan Ali berasal dari pohon yang sama, sedangkan seluruh manusia yang lain berasal dari pohon yang bermacam-macam.”

Jika Imam Ali adalah diri Rasulullah SAWW sendiri, maka Imam Ali memiliki apa yang dimiliki oleh Rasulullah SAWW, berupa kepemimpinan atas kaum Muslimin, kecuali satu kedudukan yaitu kedudukan kenabian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah SAWW di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, “Wahai Ali, kedudukan engkau di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.”[19]

Sesungguhnya argumentasi kita dengan ayat ini bukan untuk menjelaskan peristiwa mubâhalah, melainkan semata-mata dalam rangka menjelaskan siapakah Ahlul Bait itu. Dan alhamdulillah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ayat ini turun kepada Ashabul Kisâ`. Terdapat banyak riwayat dan hadis di dalam masalah ini. Muslim dan Turmudzi telah meriwayatkan di dalam bab keutamaan-keutamaan Ali:

Dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Katakanlah, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu…’ Rasulullah SAWW memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu Rasulullah SAWW berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.”‘[20]


[1] Ash-Shawâ’iq, hal 143.

[2] Mustadrak al-Hâkim, jld 3, hal 197 – 198.

[3] Mustadrak al-Hâkim, jld 3, hal 197 – 198.

[4] Sahih Muslim, bab keutamaan-keutmaan Ahlul Bait.

[5] Baihaqi, di dalam Sunan al-Kubra, bab keterangan Ahlul Baitnya (Rasulullah saw); Tafsir ath-Thabari, jld 22, hal 5; Tafsir Ibnu Katsir, jld 3, hal 485; afsir ad-Durr al-Mantsûr, jld 5, hal 198 – 199; Sahih Turmudzi, bab keutamaan-keutamaan Fatimah; Musnad Ahmad, jld 6, hal 292 – 323.

[6] Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, jld 5, hal 198.

[7] Mustadrak al-Hakim, jld 2, hal 416.

[8] Musnad Ahmad, jld 3, hal 292 – 323.

[9] Lisân al-Arab, jld 9, hal 34.

[10] Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, jld 5, hal 198.

[11] Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, jld 5, hal 198.

[12] Wafayât al-A’yân, jld 1, hal 320.

[13] Dalâ’il ash-Shidq, jld 2, hal 95.

[14] Al-Kalimah al-Gharrâ`, Syarafuddin, hal 217.

[15] Al-Ghadîr, jld 5, hal 266.

[16] Penafsiran ayat dari Ibnu Abbas, di dalam kitab tafsir ad-Durr al-Mantsûr, jld
5, hal 199.

[17] Mustadrak ‘ala ash-Shahîhain, jld 3, hal 158.

[18] Tafsir ad-Durr al-Mantsûr, jld 2, pembahasan tafsir surat Ali ‘lmran ayat 61.

[19] Sahih Bukhari, kitab Manaqib; Sahih Muslim, kitab keutamaan-keutamaan sahabat; dan Musnad Ahmad, riwayat nomer 1463.

[20] Sahih Muslim, jld 2, hal 360; Isa al-Halabi, jld 15, hal 176; Sahih Turmudzi, jld 4, hal 293, hadir nomer 3085; al-Mustadrak ‘ala ash-Shahîhain, jld 3, hal 150.

Ahlulbait dalam Al-Quran

Al-Quran adalah sumber pemikiran, sumber hukum dan sumber segala kebajikan yang esensinya adalah kalam ilahi yang suci. Al-Quran adalah pola bagi hidup dan kehidupan seluruh umat manusia. Maka setiap muslim atau muslimah wajib mengetahui dan memahami bahwa Kitabullah itu adalah syari’ah dan risalah-Nya yang umat manusia harus merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya serta berjalan di atas petunjuk-Nya.
Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan Ahlulbait atau keluarga Nabi yang disucikan yang antara lain seperti di bawah ini:

1.Surah Al-Ahzab: 33

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Yang artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS 33/33).

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab:
“Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)”. (Ma’ani l`Akhbar).

Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).

Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlul`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”.

Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnya mu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya): “Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl 44).

“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl 64).

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS 59/7).

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4/59).

Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : “Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata: ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda :

‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335;
Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).

Anas bin Malik telah berkata : “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’”. (HR Al-Turmudzi 2 : 29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayat madaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.

2. Surah Al-Syura:23

Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).

Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya:
Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)”.

Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya :
“Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut: “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).

3. Surah Ali ‘Imran:61

Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu
dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.

Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sesungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.

Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !”. Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat”.

Akhirnya mereka berkata : “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda : “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”

Kemudian Al-Zamakhsyari–rahimahu l`llah–menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : “Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam”. Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.

Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. “…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta.”

Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai “anak-aknak kami”, Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami” dan Ali sebagai “diri-diri kami”. Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.

Sesungguhnya Rasulullah -shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam-hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra` -‘alayha l`salam- perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn -‘alayhima l`salam- adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Imam Ali -‘alayhi l`salam- adalah dianggap diri Nabi sendiri.

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw 

Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.

Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.

Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan yang demikian.”

Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali.”

Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.

Bahtera Keselamatan

Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan
selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.

Padanan Al-Quran

Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.

Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).

Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu

Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka. Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”. (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : “fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya. Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema.

Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam–yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.

Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): “Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya”.

Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

Pengakuan Ummu Salamah: Beliau Bukan Ahlulbait

Salam wa rahmatollah. Bismillah
.
Diriwayatkan dengan sanad yang sahih, bahawa Ummu Salamah sendiri mengakui bahawa Ayatul tathir turun dirumah beliau, dan diriya bukan dari kalangan Ahlulbait(as).

وحدثنا ابن أبي داود أيضا قال حدثنا سليمان بن داود المهري قال حدثنا عبد الله بن وهب قال حدثنا أبو صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعيد بن جبير عن أبي الصهباء عن عمرة الهمدانية قالت قالت لي أم سلمة أنت عمرة ؟ قالت : قلت نعم يا أمتاه ألا تخبريني عن هذا الرجل الذي أصيب بين ظهرانينا ، فمحب وغير محب ؟ فقالت أم سلمة أنزل الله عز وجل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا وما في البيت إلا جبريل ورسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهما وأنا فقلت : يا رسول الله أنا من أهل البيت ؟ قال أنت من صالحي نسائي قالت أم سلمة : يا عمرة فلو قال نعم كان أحب إلي مما تطلع عليه الشمس وتغرب

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku:

“Engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “Ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebahagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata Wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau  berkata “Engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “Wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya][Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya, ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita di kufah yang tsiqat dikenal meriwayatkan dari Ummu Salamah.

  • Ibnu Abi Dawud adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani putra dari Abu Dawud, kuniyahnya Abu Bakar sehingga lebih dikenal dengan sebutan Abu Bakar bin Abi Dawud. Al Khalili menyebutnya Al Hafizh Al Imam Baghdad seorang alim yang muttafaq ‘alaihi [Al Irshad Al Khalili 2/6]. Ia termasuk Syaikh [guru] Ath Thabrani, seorang yang hafiz tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576]
  • Sulaiman bin Dawud Al Mahriy adalah perawi Abu Dawud dan Nasa’i. Nasa’i menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 317]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/384]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat faqih [Al Kasyf no 2083]
  • ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ahmad menyatakan shahih hadisnya. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli juga menyatakan tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaihi” [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat faqih hafizh dan ahli ibadah [At Taqrib 1/545]
  • Abu Shakhr adalah Humaid bin Ziyad perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah meriwayatkan darinya itu berarti Humaid tsiqat dalam pandangannya. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 69]. Al Ijli menyatakan Humaid bin Ziyad tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 362]. Terdapat perselisihan mengenai pendapat Ibnu Ma’in terhadapnya. Dalam riwayat Ad Darimi dari Ibnu Ma’in menyatakan “tsiqat tidak ada masalah” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Junaid dari Ibnu Ma’in menyatakan “tidak ada masalah padanya” [Sualat Ibnu Junaid no 835]. Dalam riwayat Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Abi Maryam dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Kamil Ibnu Adiy 2/236]. An Nasa’i memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan berkata “tidak kuat” [Adh Dhu’afa An Nasa’i no 143]. Yang rajih disini Humaid bin Ziyad adalah seorang yang tsiqat, Ibnu Ma’in telah mengalami tanaqudh dimana ia melemahkannya tetapi juga menguatkannya sedangkan pernyataan Nasa’i “tidak kuat” berarti ia seorang yang hadisnya hasan dalam pandangan An Nasa’i [tidak mencapai derajat shahih].
  • Abu Muawiyah Al Bajaliy adalah ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan “shaduq” tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ‘Ammar Ad Duhniy seorang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Sa’id bin Jubair adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Qasim Ath Thabari berkata tsiqat imam hujjah kaum muslimin. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan faqih ahli ibadah memiliki keutamaan dan wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 578]
  • Abu Shahba’ Al Bakriy namanya adalah Shuhaib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Abu Zur’ah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan “dhaif” [At Tahdzib juz 4 no 771]. Al Ijli berkata “Shuhaib mawla Ibnu Abbas tabiin Makkah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 770]. Ibnu Khalfun menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [Al Ikmal Mughlathai 2/198]. Yang rajih dia seorang yang tsiqat, sedangkan pernyataan Nasa’i tidak memiliki asal penukilan yang shahih, namanya tidak tercantum dalam kitab Adh Dhu’afa milik Nasa’i.
  • ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita kufah yang tsiqat. Dalam riwayat lain disebutkan kalau ia adalah ‘Amrah binti Af’a atau ‘Amrah binti Syafi’ [menurut Ibnu Hibban]. Al Ijli berkata “tabiin wanita kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 2345]. Ibnu Hibban menyebutkan dalam Ats Tsiqat, ‘Amrah binti Asy Syaafi’ meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya ‘Ammar Ad Duhniy [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4880]
Bantahan oleh para Nasibi
Kesimpulannya adalah hadis diatas adalah Sahih kerana diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah. Percubaan untuk melemahkan perawinya adalah cubaan sia-sia kerana ia telah terbukti dari perbahasan di atas. Bantahan yang layak ditanggapi hanyalah ‘Ammar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair jadi riwayat itu terputus.
Disebutkan dari Al Qawaririy dari Abu Bakar bin ‘Ayasy bahwa ‘Ammar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair [Ilal Ma’rifat Ar Rijal no 3033]. Pernyataan ini tidak benar karena Ammar Ad Duhny telah mendengar dari Sa’id bin Jubair. Buktinya adalah

Al Bukhari sendiri telah menyebutkan biografi ‘Ammar bin Mu’awiyah Ad Duhniy dan berkata “mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair” [Tarikh Al Kabir juz 7 no 120] kemudian Imam Muslim berkata

أبو معاوية عمار بن أبي معاوية الدهني سمع أبا الطفيل وسعيد بن جبير روى عنه الثوري أبو مودود وأبو صخر


Abu Mu’awiyah ‘Ammar bin Abi Muawiyah Ad Duhniy telah mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair, telah meriwayatkan darinya Ats Tsawriy, Abu Mawdudi dan Abu Shakhr [Al Asma’ Wal Kuna Muslim 1/758 no 3803]
Selain itu ‘Ammar Ad Duhniy sendiri menyatakan yang dia pernah bertemu Sa’id bin Jubair dan bertanya kepadanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdurrazaq

أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا بن عيينة عن عمار الدهني قال سألت سعيد بن جبير

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Uyainah dari ‘Ammar Ad Duhniy yang berkata aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair [Mushannaf Abdurrazaq 8/26 no 14160]

Jadi pernyataan Abu Bakar bin ‘Ayasy yang menyatakan bahawa ‘Ammar tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair itu tidak shahih. Abu Bakar bin ‘Ayasy sendiri memang seorang yang tsiqat atau shaduq tetapi disebutkan yang ia banyak melakukan kesalahannya karena hafalan yang buruk atau mengalami ikhtilaf di akhir umurnya. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”[At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].

Boleh jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy ini sebahagian dari keburukan hafalannya atau dari ikhtilathnya di mana tidak diketahui apakah Al Qawaririy meriwayatkan sebelum atau sesudah ia mengalami ikhtilath. Jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy tidak dapat dijadikan hujjah apabila bertentangan dengan pendapat ulama lain dan riwayat shahih lain yakni bahawa ‘Ammar bertemu dengan Sa’id bin Jubair.
Kesimpulan dari hadis di atas.
  • Al Ahzab 33 ayat tathiir turun di rumah Ummu Salamah di mana saat itu berkumpul Rasulullah(sawa), Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein
  • Ayat tathiir turun untuk Ahlul kisa’ dan hal ini menjadi keutamaan bagi mereka, sehingga ketika ‘Amrah bertanya kepada Ummu Salamah tentang Ali maka Ummu Salamah menyebutkan keutamaan ini.
  • Ummu Salamah bukan sebahagian dari Ahlul Kisa, ini dapat dilihat dari harapan beliau yang menginginkan Rasul(sawa) mengiyakan soalan beliau, dan menganggapnya lebih baik dari dunia dan sekalian isinya.
  • Rasulullah(sawa) dengan akhlak yang penu mulia, menolak dengan halus pertanyaan Ummu Salamah, dan menggolongkan beliau sebagai termasuk dalam golongan para isterinya yang solehah.(secara peribadi, saya mengambil maksud tersirat kata-kata ini akan wujudnya isteri baginda yang tidak solehah)

Catatan :

Berikut ini adalah tambahan riwayat yang semakna dengan hadis di atas. Riwayat ini menjadi penguat bagi riwayat di atas bahwa Ummu Salamah bukanlah ahlul bait bersama ahlul kisa’

حدثنا محمد بن إسماعيل بن أبي سمينة حدثنا عبد الله بن داود عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد عن أم سلمة أن النبي – صلى الله عليه و سلم – غطى على علي و فاطمة و حسن و حسين كساء ثم قال هؤلاء أهل بيتي إليك لا إلى النار قالت أم سلمة : فقلت : يا رسول الله وأنا منهم ؟ قال : لا وأنت على خير

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Abi Samiinah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah bahwa Nabi(sawa) menutupi Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain kemudian berkata “Mereka adalah ahlul baitku, kepadamu [ya Allah] jangan masukkan ke dalam neraka”. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah, apakah aku bersama mereka?. Baginda(sawa) menjawab “Tidak dan engkau di atas kebaikan”[Musnad Abu Ya’la 12/313 no 6888]

Riwayat di atas diriwayatkan para perawi tsiqat dan shaduq kecuali Athiyah. Athiyah bin Sa’ad bin Junadah Al ‘Aufiy adalah perawi yang shaduq tetapi ia dituduh melakukan tadlis syuyukh dari Al Kalbi. Tuduhan tadlis syuyukh ini adalah dusta karena itu berasal dari Al Kalbi sendiri seorang yang pendusta tetapi aneh sekali tuduhan ini malah diikuti oleh para ulama seperti Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban.

  • Muhammad bin Isma’il bin Abi Saminah adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Shalih bin Muhammad berkata “tsiqat dan ia lebih terpercaya dari Muhammad bin Yahya bin Abi Samiinah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 59].
  • ‘Abdullah bin Dawud bin ‘Aamir Al Hamdhaniy adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat shaduq ma’mun”. Abu Zur’ah dan Nasa’i berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Daruquthni dan Ibnu Qani’ menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 5 no 346]
  • Fudhail bin Marzuq termasuk perawi Bukhari [dalam Juz Raf’ul Yadain], Muslim dan Ashabus Sunan. Ats Tsawriy menyatakan ia tsiqat. Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shalih shaduq banyak melakukan kesalahan dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nasa’i berkata “dhaif”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Tahdzib juz 8 no 546]. Pendapat yang rajih Fudhail seorang yang hadisnya hasan pembicaraan terhadapnya tidak menurunkan derajatnya dari derajat hasan. Ibnu Ady berkata “Fudhail hadisnya hasan kukira tidak ada masalah padanya” [Al Kamil Ibnu Adiy 6/19].
  • Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al ‘Aufiy adalah tabiin yang hadisnya hasan. Ibnu Sa’ad berkata ”seorang yang tsiqat, insya Allah memiliki hadis-hadis yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/304]. Al Ijli berkata ”tsiqat dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1255]. Ibnu Syahin memasukkannya sebagai perawi tsiqat dan mengutip Yahya bin Ma’in yang berkata ”tidak ada masalah padanya” [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1023]. At Tirmidzi telah menghasankan banyak hadis Athiyyah Al Aufiy dalam kitab Sunan-nya. Sebahagian ulama mendhaifkannya seperti Sufyan, Ahmad dan Ibnu Hibban serta yang lainnya dengan alasan tadlis syuyukh.  Satu-satunya kelemahan pada Athiyah bukan terletak pada ‘adalah-nya tetapi pada dhabit-nya. Abu Zur’ah berkata “layyin”. Abu Hatim berkata “dhaif ditulis hadisnya dan Abu Nadhrah lebih aku sukai daripadanya” [At Tahdzib juz 7 no 414]

Di sisi kami, Athiyah bin Sa’ad Al Aufiy adalah seorang yang hadisnya hasan. Kelemahan terhadap dhabit-nya tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan. Dan walaupun salafy bersikap keras untuk mendhaifkannya maka dengan penta’dilan terhadapnya dan kelemahan pada dhabit-nya maka Athiyah adalah perawi yang hadisnya dapat dijadikan i’tibar dan syawahid. Hadis ini menjadi penguat bagi hadis riwayat ‘Amrah Al Hamdaniyah karena keduanya berada dalam satu makna yaitu Ummu Salamah mengakui bahwa dirinya tidak bersama mereka [ahlul kisa’] sebagai ahlul bait

.

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33


Salam wa rahmatollah

Di dalam Al Quran, terdapat sebuah ayat yang cukup fenomenal dan menjadi kontroversi di antara pengikut Wahabi dan Pengikut Syiah. Syiah meyakini bahawa Ayatul Tahthir, surah Al Ahzab, ayat 33, yang diturunkan kepada Ahlulbait(as) bukannya turun untuk ister-isteri Nabi, manakala para Wahabi pula memegang pendapat bahawa ayat ini adalah untuk isteri-ister Nabi. Mengikut perkembangan zaman, kerana mereka tidak dapat mempertahankan hujah mereka, kini mereka datang membawa penafsiran baru, iaitu, Ayatul Tathir sebenarnya diturunkan untuk isteri Nabi, tetapi Rasulullah(sawa) memperluaskan maksudnya Ahlulbait(as) agar ia meliputi Imam Ali, Fatimah, Imam Hassan dan Imam Hussain(Solawat ke atas mereka semua)

Di dalam perbahasan ini, saya akan membuktikan bahawa hujah dan penafsiran mereka ini adalah keliru, dan kebenarannya adalah Ayatul Tathir hanya diturunkan kepada Ahlulbait(as) yang tidak termasuk isteri-isteri Nabi. Tentu sahaja, untuk membuktikan kebenaran ini, saya akan bawakan dalil dan hujah sahih dari sumber Sunni, untuk membuktikan kejahilan mereka.

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah aku bersama mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205].

Hujjah mereka ini batal dengan alasan berikut Para Wahabi Nasibi berdalil bahawa hadis di atas adalah menunjukkan ayat itu tidak turun kepada Ahlul Kisa semata-mata, tetapi diturunkan khas untuk para isteri Nabi. Namun atas dasar kecintaannya kepada ahli keluarganya, maka Rasulullah memasukkan Ahlul Kisa ke dalam Ahlulbait(as). Sayangnya, berikut adalah kenyataan yang membatalkan dalil mereka:

  • Hadis dari At Tarmizi di atas menunjukkan bahawa, ketika ayat ini turun, Rasulullah lantas memanggil Ahlul Kisa, dan bukanlah isteri-isteri baginda yang seterusnya. Jika benar ayat ini untuk ister-isteri Nabi, maka sudah tentu baginda akan memanggil isteri baginda yang selebihnya.
  • Ummu Salamah sendiri tidak merasakan bahawa diri beliau adalah termasuk dengan Ahlulbait, ini terbukti dengan pertanyaan beliau: [“Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”] bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya [“Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”].
  • Secara logiknya, jika ayat Quran itu diturunkan oleh Allah swt kepada para isteri Nabi, iaitu Ahlulbait(as) itu hanya khusus untuk isteri Nabi pada asalnya, maka apakah hak Rasulullah(sawa), atas dasar kecintaan peribadi beliau, dengan sengaja meluaskan Ahlulbait kepada ahlul Kisa, sedangkan sudah jelas, Ahlulbait di dalam surah itu untuk isteri Nabi?

Nasibi kemudiannya terpaksa membela diri mereka dengan hujah bahawa, Ummu Salamah ketika itu masih belum mengetahui bahawa ayat itu diturunkan kepada beliau, oleh kerana itu barulah beliau bertanya kepada Rasulullah(sawa) dan mengetahui bahawa yat itu turun untuk beliau. Hujah ini terbatal di atas sebab-sebab berikut:

  • Di awal tadi, hujah Nasibi mengatakan bahawa ayat ini diturunkan untuk isteri Nabi, dan kemudiannya, Rasulullah meluaskan Ahlulbait(as) kepada Ahlul Kisa. Jika benar apa yang mereka ucapkan, maka sepatutnya Rasulullah(sawa) apabila turun sahaja ayat itu, perkara pertama yang dibuat baginda adalah semestinya memberitahukan hal itu kepada Ummu Salamah(tambahan pula ayat ini turun di rumah beliau, logik la sikit) dan seterusnya memanggil isteri-isteri baginda yang lain untuk menerangkan bahawa ayat itu turun kepada mereka. Dan seterusnya, oleh kerana baginda mahu memasukkan Ahlul Kisa ke dalam Ahlulbait(as), barulah baginda memanggil keseluruhan Ahlul Kisa ke rumahnya Ummu Salamah. Mustahil untuk Seorang Rasul, mendahulukan kemahuannya dari kemahuan Allah, iaitu menyatakan ayat tersebut kepada orang yang di tuju
  • Jika sekiranya benar seperti apa yang dikatakan oleh Wahabi, iaitu  Ummu Salamah bertanya di dalam keadaan tidak mengetahui akan maksudnya Ahlulbait, lalu selepas beliau bertanya, Rasulullah memberi jawabannya. Maka apabila beliau meriwayatkan kepada tabi’in akan hadis ini, sudah pasti beliau sudah menjelaskan kepada tabi’in akan salah faham beliau berkaitan hal ini, iaitu tentang soalan yang beliau tanyakan, dan penjelasan Rasulullah(sawa).  Atau, mungkin beliau akan terus menerangkan Ahlulbait(as) itu adalah para isteri Rasulullah(sawa). Tetapi malangnya, kita dapati tidak wujud riwayat tentang penjelasan Rasulullah atau dari Ummu Salamah berkaitan hal ini, membuktikan hujah Wahabi itu kosong dan dipaksakan.

Ayatul Tahhir sememangnya diturunkan untuk Ahlulbait(as) iaitu di zaman Rasulullah(sawa) hanya Imam Ali, Fatimah Zahra, Imam Hassan dan Imam Hussain(sa), dan bukanlah seperti yang dihujahkan oleh Wahabi, iaitu konteks ayat ini adalah untuk isteri Nabi, dan kemasukan Ahlul Kisa hanyalah atas dasar kecintaan peribadi Nabi. Perhatikan riwayat Ummu Salamah berikut

عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui datuknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemudian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]

Riwayat Hakim bin Sa’ad di atas dikuatkan oleh riwayat dengan matan yang lebih singkat dari Ummu Salamah iaitu

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata : Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain[Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Fahd, Beliau adalah Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan kuat (tsabit) sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi  dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635]
  • Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq(jujur)” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7  no 299]
  • Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116]
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]
  • Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387].  Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip bahawa dia seorang Syaikh Wasith tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]
  • Hakim bin Sa’ad, sebagaimana disebutkan bahwa beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun(yang berarti tsiqah). Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787]

Riwayat Ummu Salamah ini dikuatkan oleh riwayat Abu Sa’id Al Khudri sebagai berikut

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang iaitu Rasulullah SAW ,Ali, Fathimah ,Hasan dan Husain radiallahuanhum[Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

Riwayat Abu Sa’id ini sanadnya hasan karena Athiyyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan dan Hasan Al Kirmani adalah seorang yang shaduq la ba’sa bihi.

  • Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani dia seorang yang shaduq seperti yang disebutkan Adz Dzahabi [Al Kasyf no 1008]. Ibnu Hajar menyatakan ia la ba’sa bihi [tidak ada masalah] kecuali hadisnya dari Musaddad [At Taqrib 1/199]
  • Abu Rabi’ Az Zahrani yaitu Sulaiman bin Daud seorang Al Hafizh [Al Kasyf no 2088] dan Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/385]
  • Umar bin Muhammad Ats Tsawri seorang yang tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Hujr, Abu Ma’mar Al Qathi’I, Ibnu Saad dan Ibnu Syahin. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4832].
  • Sufyan Ats Tsawri seorang Imam Al Hafizh yang dikenal tsiqah. Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam [Al Kasyf no 1996] dan Ibnu Hajar menyatakan ia Al hafizh tsiqah faqih ahli ibadah dan hujjah [At Taqrib 1/371]
  • Daud bin Abi Auf Abu Jahhaf, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. [At Tahdzib juz 3 no 375] dan Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah [Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347].

Athiyyah Al Aufy adalah seorang yang hadisnya hasan

Ummu Salamah sendiri tidak memahami kejadian itu seperti yang di fahami oleh Wahabi. Malah Ummu Salamah mengakui bahawa beliau bukanlah dari Ahlulbait(as), dan turut menguatkan kenyataan ini adalah sabda Nabi(sawa) kepada beliau: “kamu dalam kebaikan”.

عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi].

حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام  وما قال : إنك من أهل البيت

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah, apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]

Riwayat Ummu Salamah ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi adalah seorang yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 90] telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dan hafiz seperti Ali bin Abdurrahman bin Isa, Abu Ja’far Ath Thahawi dan Khaitsamah bin Sulaiman.
  • Mukhawwal adalah Mukhawwal bin Ibrahim bin Mukhawwal bin Rasyd disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 1