KENAPA IMAM ALI AS DIBENCI KEBANYAKAN “SAHABAT” RASULULLAH SAW ??

saya mulai bertanya-tanya kenapa Imam Ali dikucilkan dan banyak para sahabat yang tidak senang kepadanya, sementara realitanya yang saya ketahui Imam Ali benar dan paling setia kepada Rasulullah saww. Sejak itulah saya mulai tertarik untuk mempelajari lebih mendalam sejarah Imam Ali kenapa dibenci oleh kebanyakan para sahabat. Saya mulai mengumpulkan litteratur mengenai Imam Ali termasuk sejarah Fatimah az Zahara, Imam Hassan, Imam Hussein dan juga sejarah pencintai Ahlulbayt yang utama yaitu Abu Dzar Ghifari, Salman al Farisi dan Al Miqdad (sejarah Ahlulbayt dan pencintanya)
.
(Ingatlah) pada hari di mana setiap orang dipanggil bersama imamnya 
(Quran 17:71)
Pada hari kebangkitan, nasib “para pengikut” dari setiap kelompok tergantung dari pada nasib dari para imamnya (bukti bahwa mereka mengikuti imamnya). Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa ada dua tipe dari Imam :

 .
Dan Kami jadikan mereka imam-imam yang menyeru ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan di tolong. Dan Kami ikutkan untuk mereka laknat di dunia ini, sedang di hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dihinakan.
(Quran 28:41-42)
Al Quran juga mengingatkan kita bahwa ada para imam yang di tunjuk oleh Allah sebagai petunjuk manusia :

Dan Kami jadikan di antara mereka imam-imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami tatkala mereka bersabar dan adalah mereka yakin kepada ayat-ayat Kami.
(Quran 32:24)

.

Pastilah, pengikut sejati (Syiah) dari imam-imam tersebut yang akan menjadi orang paling beruntung pada hari kiamat
.
Saya ulang untuk sekian kalinya, bahwa sahabat adalah teman, dimana teman Rasulullah saww itu ada yang dapat dipercaya dan banyak juga yang hypocrite. Disebabkan banyaknya sahabat yang hypocrite itulah, Rasulullah saww menangguhkan pengumuman Pengangkatan Imam Ali sebagai perpanjangan keimamahannya atau penerus kepemimpinannya sampai Allah swt menegur Nabi bahwa andaikata Nabi tidak mengumumkan penunjukan penerus kepemimpinan atau penggantinya, bermakna Nabi belum menyampaikan risalahnya. Jus teru itulah Nabi mengumpulkan para sahabat dan ummahnya di Ghadirkhum. Dalam khutbahnya Nabi berka ta: “Sesungguhnya Allah adalah mawlaku, dan aku adalah maula setiap mu’min dan mukminat. Kemudian Nabi memegang tangan ‘Ali seraya berkata: “Barangsiapa (mengakui) aku sebagai walinya, maka ia (‘Ali) adalah walinya. Ya Allah, kasihilah orang yang memperwalikan ‘Ali, dan musuhilah orang yang memusuhinya!”.
 .
Khutbah Rasulullah saww tentunya panjang dan semuanya penting, tidak ada yang sia-sia. Hal ini cukup jelas pernyataan Allah dalam Qur-an bahwa apa saja yang di ucapkan Nabi berasal dari Allah sendiri. Sungguhpun panjang kita singkatkan saja dalam kesempatan ini. Di Ghadirkhumlah turun ayat : ” … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa’idah: 3]. Namun orang-orang Sunni membantahnya sebagaimana kebiasaan orang yang suka membantah, yang haqpun tetap dibantah. Argumen ini perlu untuk orang yang lapang dada dan tidak termasuk orang fanatik buta yang terjauh dari hidayah Allah swt.
 .
Kalau fenomena ini mampu kita analisa kita juga tidak sebengong sebahagian orang ketika membaca tulisan  tentang berpatah baliknya ummah Muhammad saww, tidak mengikuti Imam yang di tunjuk Allah dan Ra sul Nya (baca Imam Ali serta 11 Imam lanjutannya) setelah peresmiannya Imam Ali as di Ghadirkhum
.
Sehubungan dengan pengangkatan Imam Ali as di Ghadirkhum, semua para jamaah yang baru saja menyelesaikan Haji Wada’, berbaiat kepada Imam ‘Ali, kecuali Umar bin Kattab, dimana bukan hanya menjabat tangan Imam Ali tapi juga berkata: “Tah niah ya Abbal Hasan, anda sudah menjadi pemimpin kaum Muslimin dan Muslimah”. Ironisnya setelah itu Umar membuat rapat gelap dibe lakang Ka’bah bersama Abu bakar, Usman dan kawan setia lainnya. Perjanjian apa yang mereka buat dibelakang Ka’bah? Menjauhkan Imam Ali dari kedudu kannya sebagai Khalifah yang sah. Inilah sebabnya mereka yang sering menen tang Rasulullah itu berakibat sangat fatal ketika sakratul maut (baca kitab Su laim bin Qais Al Hilaly atau kitab Akhirnya Kutemukan Kebenaran).
.
Paska pengangkatan Imam Ali di Ghadirkhum, tiga orang sahabat yang anda puji itu, membuat rapat gelap di belakang Kakbah untuk menjauhkan Imam Ali dari kedudukannya sebagai Khalifah yang sah disisi Allah dan Rasul Nya. Padahal sahabat tersebut di depan Rasulullah saww turut membai’at Imam Ali. Malah Umar ketika membai’at Imam Ali juga berkata: “Tahniah ya Abbal Hasan, anda telah menjadi maula kaum Muslimin dan Muslimah”. Tidakkah karakter seperti ini hypocrite namanya? Tidakkah perbuatan yang demikian mem buat sirna ‘Aqidahnya?
.
Kemudian Abubakar, Umar dan Usman cs pernah membantah perintah Rasulullah saww ketika disuruh berperang dibawah kepemimpinan perang, Usamah bin Zaid bin Harisah. Mereka cs juga menyakiti hati putri kesayangan Rasulullah saww, Fatimah az Zahara. Hal ini berarti membantah Hadist Nabi: “Fahtimah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti orang tersebut telah membuatku marah. “(Shahihu l`Bukha ri 2/308). Dan lagi Hadist: “Dia (Fathimah) adalah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku”. (Shahihul` Bukhari 3/265)
.
Bukti lainnya dalam hal ini, amanah Fatimah az Zahara agar kuburannya tidak diketahui oleh Abubakar dan Umar cs. Realitanya memang Abubakar dan Umar cs tidak tau dimana kuburan Fatimah disebabkan tidak melihat ketika dikuburkan pada waktu malam oleh Imam Ali. Ketika Umar hendak menggali 3 buah kuburan yang sengaja dibuat Imam agar Abubakar dan Umar cs tidak mengetahuinya, Imam bersumpah untuk membunuhnya siapa saja yang berani membongkar kuburan tersebut. Kalau Imam telah bersumpah tidak ada seorangpun yang berani menghadapinya
.
Bukti sahabat yang hypocrite lebih banyak dari sahabat yang setia dan brillian dapat dianalisa ketika Imam Ali mendatangi semua rumah orang Muhajirin dan Anshar untuk menjelaskan persioalan yang sebenarnya sesuai arahan Nabi. Semua mereka berjanji untuk mendatangi Imam Ali diwaktu pagi-pagi benar sebelum Subueh, masing-masing dilengkapi dengan sebilah pedang dengan rambut dalam keadaan tercukur. Realitanya tidak seorangpun yanbg menepati janjinya kecuali hanya 4 orang yang brillian dan setia kepada Rasulullah dan Ahlulbaytnya. Mereka itu adalah Abu Dzar Ghifari, Salman al Farisi, Al Miqdad dan Zubeir bin Awwam. (Hanya mereka inilah sahabt yang tidak pernah membantah Nabi dan Ahlulbaytnya tetapi sayang banyak orang terkecoh dengan hadist palsu yang mengatakan sahabat nabi semuanya umpama bintang-bintang. Ini hadist palsu produksi Muawiyah melalui alim palsu yang bersedia disogok Muawiyah, termasuk Abu Hurairah yang membuat lebih terkecoh orang Sunni lagi)
.
Sesuai arahan Nabi, Imam tidak boleh melawan sahabat yang hypocrite serta ummahnya yang telah berpatah balik demi untuk menjaga darah keluarganya, kecuali Imam memiliki pengikut minimal 40 orang (baca kitab MALAM-MALAM DI PESHAWAR (Dialog Agama Di Peshawar) by Sultanu’l-Wa’izin Shirazi. I dan II.dan juga kitab KITAB MUKTAMAR ULAMA – ULAMA BAGDHAD. Kalau anda tidak memiliki kitab ter sebut, alhamdulillah saya memilikinya
.
Setelah Syahidnya Imam Ali, Muawiyah meracuni Imam Hassan melalui isterinya yang durhaka. Setelah Mua wiyah mati, penguasa kaum muslimin yang Sunni terus-menerus dipegang oleh keturunan Muawiyah (baca Bani Umayyah). Ketika Muawiyah berkuasa memerintahkan alim palsu untuk memalsukan hadist. Yang namanya alim palsu itu bersedia disogok, sedangkan alim benaran yang teguh mempertahankan kemurnian Hadist Nabi hanya sedikit kala itu, hingga mereka terpaksa lari keluar negeri agar tidak dibunuh oleh tentara Muawiyah. Justru itulah kaum muslimin terpecah belah akibat pemalsuan Hadist yang demikian banyak.
Hadist yang pertama dipalsukan adalah hadist Tsaqalain yang berfungsi sebagai “filter”. Disebabkan kata “ah lulbaytku” diganti dengan kata “Sunnahku”, semua orang bisa memalsukan hadist, sebab kata “ahlulbaytku” yang ber fungsi sebagai “Filter” sudah diganti dengan kata “sunnahku”
.
Ketika Yazid berkuasa membantai seluruh keluarga Rasulullah di Karbala kecuali bibi Zainab al Kubra dan Imam Ali Zainal Abidin bin Hussein. Hal itu dsisebabkan beliau dalam keadaan sakit di dalam tenda dan lagipun beliau masih kanak-kanak ketika itu. Ketika penguasa Bani Abbaisiah menggulingkan system Bani Umayyah, keturunan Rasulullah dan pengikutnya (baca Syiah Imamiah 12) juga tetap diburu untuk dihilangkan agar kebathilan agama Sunni mereka tidak terbongkar
.
Sebagian pengikut Ahlulbayt lari ke Acheh dan mendirikan kerajaan Acheh di Perlak pertama, teta pi sampai ke Achehpun di kejar oleh orang Sunni hingga terjadi perang. Kenapa orang Sunni tidak mendirikan kerajaan di kawasan lainnya, dimana Sumatra begitu luas? Dapat dipastikan itu perintah dari Timur Tengah agar Syiah dapat dilenyapkan.
.
Selanjutnya lihatlah Imam Ali bin Abi Thalib sebagai Imam pertama, perpanjangan keimamahan Rasulullah saww. Mulai sejak pertama kemunculannya tidak disenangi oleh kebanyakan manusia. Secara demokrasi dapat melenceng kebenaran menjadi kesalahan. Justeru itu untuk mencari kenenaran yang pasti tidak boleh dinilai dengan “kaca mata” orang ramai tetapi harus dengan “kaca mata” Allah dan Rasulnya atau “kaca mata” para Imam yang diutus paska kenabian. Ketika Nabi suci, Muhammad saww diperintahkan Allah pertama sekali untuk menyampaikan risalahnya, Rasul dan calon Imam membuat kenduri daging kambing sebagai sarana dakwahnya. Setelah mereka yang diundang menghabiskan makanannya, Rasulullah saww menanyakan kepada khalayak ramnai siapa yang mau membantu dalam penyampain risalahnya. Kala itu tidak seorangpun yang menjawab seruan Nabi kecuali Imam Ali kecil walaupun Rasulullah telah mengulangi sampai 3 kiali, tetap saja Imam Ali yang menyambutnya: “Saya ya Rasulullah yang akan membantumu”. Ironisnya kebanyakan partisipan undangan mencemoohan Imam Ali dan menyindir kepada Abu Thalib bahwa beliau harus patuh kepada anaknya. (menurut kaca mata orang ramai, Imam Ali tidak benar)
.
Apabila kita pelajari sejarah Imam Ali, kita akan menemukan bahwa sepanjang sejarah hidupnya tidak disenangi oleh kebanyakan orang, mulai hari pertama dakwah Rasulullah sampai akhir hayatnya yang syahid melalui pedang Burak bin Muljam saat Imam melakukan shalat subueh di mesjid Kofah, Irak sekarang. Ketika Rasulullah disaksikan orang ramai mengutamakan Imam, orang ramai menuduh Rasulullah berpihak kepada Imam disebabkan anak sepupunya. Hal inilah yang membuat Rasulullah lama tidak mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa Imam Ali beliau angkat sebagai penerus keimamahannya, khawatir dicemoohi para “sahabatnya”. Akhirnya Allah menegurnya di hari Ghadirkhum bahwa apa bila Nabi Muhammad tidak mengumumkan ke khalayak ramai bahwa Imam Ali as sebagai penggantinya sama dengan Nabi belum menyampaikan risalahnya
.
Saat itu juga paska “Haji Wada'”, Rasulullah mengumumkan pengangkatan Imam Ali sebagi penerus keima mahannya. Begitu Rasulullah mengangkat tangan Imam Ali dihari yang demikian terik, hujanpun segera turun dan ayat terakhir “alyauma akmaltu lakum” pun diturunkan Allah sebagai pengakuan Nya kesempurnaan risa lah Nabi suci
.
Semua yang hadir, realitanya tidak ada yang membantah pengangkatan Imam Ali tetapi secara hypocrite ba nyak yang tidak setuju. Bayangkan bagaimana persoalan keimamahan Nabi suci sampai hari ini dibantah oleh kebanyakan orang yang mengaku beragama Muhammad saww. Para hypocrite itu membuat rapat gelap pas ka “Ghadirkhum” di “Baitun Nas
“.
Suatu hari Rasulullah saww berpatroli ke medan tempur, meninggalkan Imam Ali sebagai gantinya di Madi nah. Para “sahabat” kebanyakan memfitnah Rasulullah: “Ali! Rasulullah tidak senang kepada kamu, makanya dia pergi dan meninggalkan kamu disini”. Disebabkan terlalu banyak “sahabat” yang berfitnah, Imam menyusul Rasulullah dengan kuda putihnya. Saat Rasulullah melihat Imam Ali, beliau berkata:”………Tidak senangkah kamu Ali bahwa hubungan kita seperti hubungan Musa dan Harun, ketika Musa pergi harun tinggal di tempat sebagai ganti?” Imam menjawab: “Senang ya Rasulullah tetapi terlalu banyak mereka yang mencomoohanku”. Lalu rasulullah berkata:”Ali! tidak ada oarng yang senang kepadamu kecuali mu’min dan tidak ada orang yang membencimu kecuali kafir”.
.
Kali pertama Nabi suci memfungsikan Imam Ali sebagai gantinya adalah saat beliau hijrah ke Madinah dimana Imam Ali dimintakan Rasulullah supaya tidur di katilnya. Orang Quraish mengira Nabi suci masih tidur hingga tidak diganggu. Saat mereka sudah penat menunggu dan mataharipun sudah naik di ufuk Timur, mereka mene robos pintu rumah Rasulullah dan menyaksikan hanya Imam Ali yang tidur di ranjang
.
Mereka membangukan secara paksa dan menanyakan dimana Rasulullah berada. Imam mengatakan tidak tau menahu, :”Bukankah kalian yang menjaganya?” Mereka hampir saja membunuh Imam tetapi Imam memberitahukan kepada sahabatnya paska kematian Usman bahwa beliau tidak takut sedikitpun saat itu. Hal ini terkenal dalam sejarah saat orang ramai menanyakan kelebihannya
.
Imam menjawab diantaranya: “Ketika ibunda Nabi Isa melahir kannya, Allah mengeluarkan dari Mesjid tetapi ketika Ibu melahirkan saya, Allah memasukkan ibu ke dalam Mesjid (Ka’bah). Ketika Nabi Musa membunuh orang Kubti, beliau merasa takut sekali tetapi ketika saya dipaksakan kaum Quraish untuk memberitahukan dimana Rasulullah dan mengancam untuk membunuhku, aku tidak takut sedikitpun
.
Menurut pengamatan Ali Syari’ati, selama 7 abad sampai masa Dinasti Safavi, Syi’isme (Alavi) merupakan gerakan revolusioner dalam sejarah, yang menentang seluruh rezim otokratik yang mempunyai kesadaran kelas seperti Dinasti Ummayah, Abbasiyah, Ghaznawiyah, Saljuk, Mongol, dan lain-lain. Dengan legitimasi ulama rezim-rezim ini menciptakan Islam Sunni versi mereka sendiri. Pada pihak lain, Islam Syi’ah Merah, seperti sebuah kelompok revolusioner, berjuang untuk membebaskan kaum yang tertindas dan pencari keadilan.Syari’ati melihat rezim dan lembaga keulamaan, yang bisa jadi terkadang ditunggangi pihak luar, sebagai manipulator masa lampau Iran dan arsitek yang menjadikan tradisi menjadi penjara
.Rezim Syah Iran tidak membangkitkan agama, tetapi mempertahankan kerajaan yang mandek, sementara para ulama mempertahankan kemandekan Islam. Menurut Syari’ati, apa yang terjadi di Iran adalah, bahwa di satu sisi, para ulama yang menjadi pemimpin agama selama dua abad terakhir telah mentransformasikannya menjadi bentuk agama yang kian mandek, sementara di sisi lain orang-orang yang tercerahkan yang memahami kekinian dan kebutuhan generasi dan zaman, tidak memahami agama. Akhirnya, kata Syari’ati, “Islam sejati tetap tak diketahui dan tersembunyi dalam relung-relung sejarah”
.Bagi Syari’ati, Islam sejati bersifat revolusioner, dan Syi’ah sejati adalah jenis khusus Islam revolusioner. Tetapi entah mengapa dalam perjalanan waktu kemudian Islam telah berubah menjadi seperangkap doa-doa dan ritual yang tak bermakna sama sekali dalam kehidupan. Islam hanya sebatas agama yang mengurus bagaimana orang mati, tetapi tidak peduli bagaimana orang bisa survive dalam kehidupan di tengah gelombang diskriminasi, eksploitasi, dan aneka penindasan dari para penguasa zalim. Agama model seperti ini yang sangat disukai para penguasa untuk menjaga kekuasaannya tetap aman, tanpa ada gangguan dari orang-orang yang ingin mengamalkan Islam sejati
.

 Rangkuman Riwayat Kebenaran 12 Imam Ahlilbait as

Kedudukan Hadis “Imam Ali Pemimpin Bagi Setiap Mukmin Sepeninggal Nabi SAW”

Diriwayatkan dengan berbagai jalan yang shahih dan hasan bahwa Rasulullah SAW bersabda kalau Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Beliau SAW. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imran bin Hushain RA, Buraidah RA, Ibnu Abbas RA dan Wahab bin Hamzah RA. Rasulullah SAW bersabda

إن عليا مني وأنا منه وهو ولي كل مؤمن بعدي

Ali dari Ku dan Aku darinya dan Ia adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu.

.

Takhrij Hadis

Hadis di atas adalah lafaz riwayat Imran bin Hushain RA. Disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/111 no 829, Sunan Tirmidzi 5/296, Sunan An Nasa’i 5/132 no 8474, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 7/504, Musnad Abu Ya’la 1/293 no 355, Shahih Ibnu Hibban 15/373 no 6929, Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 18/128, dan As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1187. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Ja’far bin Sulaiman dari Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir Al Harasy dari Imran bin Hushain RA. Berikut sanad Abu Dawud

حدثنا جعفر بن سليمان الضبعي ، حدثنا يزيد الرشك ، عن مطرف بن عبد الله بن الشخير ، عن عمران بن حصين

Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’iy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir dari Imran bin Hushain-alhadis- [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 829]

Hadis Imran bin Hushain ini sanadnya shahih karena para perawinya tsiqat

  • Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’iy adalah seorang yang tsiqat. Ja’far adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Ibnu Madini dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Ahmad mengatakan kalau Ja’far hadisnya baik, ia memiliki banyak riwayat dan hadisnya hasan [At Tahdzib juz 2 no 145]. Al Ajli menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 221]. Ibnu Syahin juga memasukkannya sebagai perawi tsiqat [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 166]. Kelemahan yang dinisbatkan kepada Ja’far adalah ia bertasayyyu’ tetapi telah ma’ruf diketahui bahwa tasyayyu’ Ja’far dikarenakan ia banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/162]. Adz Dzahabi menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat [Al Kasyf no 729]
  • Yazid Ar Risyk adalah Yazid bin Abi Yazid Adh Dhuba’iy seorang yang tsiqat perawi kutubus sittah. Tirmidzi, Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia “shalih al hadis”.[At Tahdzib juz 11 no 616]. Disebutkan kalau Ibnu Ma’in mendhaifkannya tetapi hal ini keliru karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ibnu Ma’in justru menta’dilkannya. Ibnu Abi Hatim menukil Ad Dawri dari Ibnu Ma’in yang menyatakan Yazid “shalih” dan menukil Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dari Ibnu Main yang menyatakan Yazid “laisa bihi ba’sun”. perkataan ini berarti perawi tersebut tsiqah menurut Ibnu Ma’in. [Al Jarh Wat Ta’dil 9/298 no 1268].
  • Mutharrif bin Abdullah adalah tabiin tsiqah perawi kutubus sittah. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. Al Ajli mengatakan ia tsiqah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqah. [At Tahdzib juz 10 no 326]. Ibnu Hajar menyatakan Mutharrif bin Abdullah tsiqah [At Taqrib 2/188].

Hadis Imran bin Hushain di atas jelas sekali diriwayatkan oleh perawi tsiqah dan shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. Ja’far bin Sulaiman adalah perawi Muslim dan yang lainnya adalah perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menyatakan sanad hadis ini kuat dalam kitabnya Al Ishabah 4/569. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini shahih [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187]. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan hadis ini sanadnya kuat [Shahih Ibnu Hibban no 6929]. Syaikh Husain Salim Asad menyatakan hadis ini para perawinya perawi shahih [Musnad Abu Ya’la no 355]

Selain riwayat Imran bin Hushain, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Buraidah RA. Hadis Buraidah disebutkan dalam Musnad Ahmad 5/356 no 22908[tahqiq Ahmad Syakir dan Hamzah Zain], Sunan Nasa’i 5/132 no 8475, Tarikh Ibnu Asakir 42/189 dengan jalan sanad yang berujung pada Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Berikut sanad riwayat Ahmad

ثنا بن نمير حدثني أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya Buraidah yang berkata-hadis marfu’-[Musnad Ahmad 5/356 no 22908]

Hadis Buraidah ini sanadnya hasan karena diriwayatkan oleh perawi yang tsiqah yaitu Ibnu Numair dan Abdullah bin Buraidah dan perawi yang hasan yaitu Ajlah Al Kindi.

  • Ibnu Numair adalah Abdullah bin Numair Al Hamdani adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Ajli dan Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqah. [At Tahdzib juz 6 no 110]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/542]. Adz Dzahabi menyatakan ia hujjah [Al Kasyf no 3024]
  • Ajlah Al Kindi adalah seorang yang shaduq. Ibnu Main dan Al Ajli menyatakan ia tsiqat. Amru bin Ali menyatakan ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus. Ibnu Ady berkata “ia memiliki hadis-hadis yang shalih, telah meriwayatkan darinya penduduk  kufah dan yang lainnya, tidak memiliki riwayat mungkar baik dari segi sanad maupun matan tetapi dia seorang syiah kufah, disisiku ia seorang yang shaduq dan hadisnya lurus”. Yaqub bin Sufyan menyatakan ia tsiqat tetapi ada kelemahan dalam hadisnya. Diantara yang melemahkannya adalah Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Abu Dawud dan An Nasa’i. [At Tahdzib juz 1 no 353]. Abu Hatim dan An Nasa’i menyatakan ia “tidak kuat” dimana perkataan ini bisa berarti seorang yang hadisnya hasan apalagi dikenal kalau Abu Hatim dan Nasa’i termasuk ulama yang ketat dalam menjarh. Ibnu Sa’ad dan Abu Dawud menyatakan ia dhaif tanpa menyebutkan alasannya sehingga jarhnya adalah jarh mubham. Tentu saja jarh mubham tidak berpengaruh pada mereka yang telah mendapat predikat tsiqat dari ulama yang mu’tabar. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [At Taqrib 1/72]. Adz Dzahabi juga menyatakan Ajlah seorang yang shaduq [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 13]. Bagi kami ia seorang yang tsiqah atau shaduq, Bukhari telah menyebutkan biografinya tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 1711]. Hal ini menunjukkan kalau jarh terhadap Ajlah tidaklah benar dan hanya dikarenakan sikap tasyayyu’ yang ada padanya.
  • Abdullah bin Buraidah adalah seorang tabiin yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Al Ajli dan Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Ibnu Kharasy menyatakan ia shaduq [At Tahdzib juz 5 no 270]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/480] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 2644].

Sudah jelas hadis Buraidah ini adalah hadis hasan yang naik derajatnya menjadi shahih dengan penguat hadis-hadis yang lain. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadis Buraidah ini sanadnya jayyid [Zhilal Al Jannah Takhrij As Sunnah no 1187].

Selain Imran bin Hushain dan Buraidah, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dengan sanad yang shahih. Riwayat Ibnu Abbas disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752, Tarikh Ibnu Asakir 42/199, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/201, Musnad Ahmad 1/330 no 3062, Al Mustadrak 3/143 no 4652, As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188, dan Mu’jam Al Kabir 12/77. Berikut sanad riwayat Abu Dawud

حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم

Telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abi Balj dari Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi no 2752]

Hadis Ibnu Abbas ini sanadnya shahih dan diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat.

  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Hatim, Abu Zar’ah, Ahmad, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 11 no 204]. Al Ajli menyatakan ia tsiqah [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1937].Ibnu Hajar menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283] dan Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 6049].
  • Abu Balj adalah Yahya bin Sulaim seorang perawi Ashabus Sunan yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Abu Fath Al Azdi menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih laba’sa bihi”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Bukhari berkata “fihi nazhar” atau perlu diteliti lagi hadisnya. [At Tahdzib juz 12 no 184]. Perkataan Bukhari ini tidaklah tsabit karena ia sendiri telah menuliskan biografi Abu Balj tanpa menyebutkan cacatnya bahkan dia menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan dari Abu Balj [Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996]. Hal ini berarti Syu’bah menyatakan Abu Balj tsiqat karena ia tidak meriwayatkan kecuali dari perawi yang tsiqat. Ibnu Abdil Barr dan Ibnu Jauzi menyatakan bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj [At Tahdzib juz 12 no 184]. Tentu saja perkataan ini tidak benar karena telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ishaq bin Mansur kalau Ibnu Ma’in justru menyatakan Abu Balj tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 9/153 no 634]. Kesimpulannya pendapat yang rajih adalah ia seorang yang tsiqat.
  • Amru bin Maimun adalah perawi kutubus sittah yang tsiqah. Al Ajli, Ibnu Ma’in, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 181]. Ibnu Hajar menyatakan Amru bin Maimun tsiqat [At Taqrib 1/747].

Hadis Ibnu Abbas ini adalah hadis yang shahih dan merupakan sanad yang paling baik dalam perkara ini. Hadis ini juga menjadi bukti bahwa tasyayyu’ atau tidaknya seorang perawi tidak membuat suatu hadis lantas menjadi cacat karena sanad Ibnu Abbas ini termasuk sanad yang bebas dari perawi tasyayyu’. Hadis Ibnu Abbas ini telah dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi [Talkhis Al Mustadrak no 4652] dan Syaikh Ahmad Syakir [Musnad Ahmad no 3062].

Hadis dengan jalan yang terakhir adalah riwayat Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 22/135, Tarikh Ibnu Asakir 42/199 dan Al Bidayah Wan Nihayah 7/381. Berikut jalan sanad yang disebutkan Ath Thabrani

حدثنا أحمد بن عمرو البزار وأحمد بن زهير التستري قالا ثنا محمد بن عثمان بن كرامة ثنا عبيد الله بن موسى ثنا يوسف بن صهيب عن دكين عن وهب بن حمزة قال

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Amru Al Bazzar dan Ahmad bin Zuhair Al Tusturi yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Shuhaib dari Dukain dari Wahab bin Hamzah yang berkata [Mu’jam Al Kabir 22/135]

Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Dukain, ia seorang tabiin yang tidak mendapat predikat ta’dil dan tidak pula dicacatkan oleh para ulama.

  • Ahmad bin Amru Al Bazzar adalah penulis Musnad yang dikenal tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Al Khatib dan Daruquthni, Ibnu Qattan berkata “ia seorang yang hafizh dalam hadis [Lisan Al Mizan juz 1 no 750]
  • Ahmad bin Zuhair Al Tusturi adalah Ahmad bin Yahya bin Zuhair, Abu Ja’far Al Tusturi. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Hujjah Al Muhaddis, Syaikh Islam. [As Siyar 14/362]. Dalam Kitab Tarajum Syuyukh Thabrani no 246 ia disebut sebagai seorang Hafizh yang tsiqat.
  • Muhammad bin Ustman bin Karamah seorang perawi yang tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Maslamah dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman dan Daud bin Yahya berkata “ia shaduq”. [At Tahdzib juz 9 no 563]. Ibnu Hajar menyatakan Muhammad bin Utsman bin Karamah tsiqat [At Taqrib 2/112]
  • Ubaidillah bin Musa adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqah. Ibnu Ma’in, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Ajli, Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Ady menyatakan ia tsiqah.[At Tahdzib juz 7 no 97]. Ibnu Hajar menyatakan Ubaidillah tsiqat tasyayyu’ [At Taqrib 1/640]. Adz Dzahabi juga menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 3593].
  • Yusuf bin Shuhaib adalah seorang perawi tsiqat. Ibnu Ma’in, Abu Dawud, Ibnu Hibban, Utsman bin Abi Syaibah, Abu Nu’aim menyatakan ia tsiqat. Abu Hatim dan An Nasa’i berkata ‘tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 11 no 710]. Ibnu Hajar menyatakan Yusuf bin Shubaih tsiqat [At Taqrib 2/344] dan Adz Dzahabi juga menyatakan Yusuf tsiqat [Al Kasyf no 6437]
  • Dukain adalah seorang tabiin. Hanya Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan biografinya dalam Al Jarh Wat Ta’dil dan mengatakan kalau ia meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan telah meriwayatkan darinya Yusuf bin Shuhaib tanpa menyebutkan jarh maupun ta’dil terhadapnya. [Al Jarh Wat Ta’dil 3/439 no 1955]. Dukain seorang tabiin yang meriwayatkan hadis dari Wahab bin Hamzah dan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Sakan kalau Wahab bin Hamzah adalah seorang sahabat Nabi [Al Ishabah 6/623 no 9123]

Hadis Wahab bin Hamzah ini dapat dijadikan syawahid dan kedudukannya hasan dengan penguat dari hadis-hadis lain. Al Haitsami berkata mengenai hadis Wahab ini “Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya terdapat Dukain yang disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim, tidak ada ulama yang mendhaifkannya dan sisanya adalah perawi yang dipercaya “ [Majma’ Az Zawaid 9/109].

.

.

Ibnu Taimiyyah Mendustakan Hadis Shahih

Jika kita mengumpulkan semua hadis tersebut maka didapatkan

  • Hadis Imran bin Hushain adalah hadis shahih [riwayat Ja’far bin Sulaiman]
  • Hadis Buraidah adalah hadis hasan [riwayatAjlah Al Kindi]
  • Hadis Ibnu Abbas adalah hadis shahih [riwayat Abu Balj]
  • Hadis Wahab bin Hamzah adalah hadis hasan [riwayat Dukain]

Tentu saja dengan mengumpulkan sanad-sanad hadis ini maka tidak diragukan lagi kalau hadis ini adalah hadis yang shahih. Dan dengan fakta ini ada baiknya kita melihat apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah tentang hadis ini, ia berkata

” أنت ولي كل مؤمن بعدي ” فهذا موضوع باتفاق أهل المعرفة بالحديث

“kamu adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggalKu” ini adalah maudhu’ (palsu) menurut kesepakatan ahli hadis [Minhaj As Sunnah 5/35]

قوله : هو ولي كل مؤمن بعدي كذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم

Perkataannya ; “Ia pemimpin setiap mukmin sepeninggalku” adalah dusta atas Rasulullah SAW [Minhaj As Sunnah 7/278]

Cukuplah kiranya pembaca melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang berdusta atau sedang mendustakan hadis shahih hanya karena hadis tersebut dijadikan hujjah oleh orang syiah. Penyakit seperti ini yang dari dulu kami sebut sebagai “Syiahpobhia”.

.

.

Singkat Tentang Matan Hadis

Setelah membicarakan hadis ini ada baiknya kami membicarakan secara singkat mengenai matan hadis tersebut. Salafy nashibi biasanya akan berkelit dan berdalih kalau hadis tersebut tidak menggunakan lafaz khalifah tetapi lafaz waliy dan ini bermakna bukan sebagai pemimpin atau khalifah. Kami tidak perlu berkomentar banyak mengenai dalih ini, cukuplah kiranya kami bawakan dalil shahih kalau kata Waliy sering digunakan untuk menunjukkan kepemimpinan atau khalifah

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir [dan beliau menshahihkannya] dalam Al Bidayah wan Nihayah bahwa ketika Abu Bakar dipilih sebagai khalifah, ia berkhutbah

قال أما بعد أيها الناس فأني قد وليت عليكم ولست بخيركم

Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih menjadi pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian. [Al Bidayah wan Nihayah 5/269]

Diriwayatkan pula oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal bahwa Jabir bin Abdullah RA menyebutkan kepemimpinan Umar dengan kata Waliy

ثنا بهز قال وثنا عفان قالا ثنا همام ثنا قتادة عن عن أبي نضرة قال قلت لجابر بن عبد الله ان بن الزبير رضي الله عنه ينهى عن المتعة وان بن عباس يأمر بها قال فقال لي على يدي جرى الحديث تمتعنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم قال عفان ومع أبي بكر فلما ولي عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال ان القرآن هو القرآن وان رسول الله صلى الله عليه و سلم هو الرسول وأنهما كانتا متعتان على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم إحداهما متعة الحج والأخرى متعة النساء

Telah menceritakan kepada kami Bahz dan telah menceritakan kepada kami Affan , keduanya [Bahz dan Affan] berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abi Nadhrah  yang berkata “aku berkata kepada Jabir bin Abdullah RA ‘sesungguhnya Ibnu Zubair telah melarang mut’ah dan Ibnu Abbas memerintahkannya’. Abu Nadhrah berkata ‘Jabir kemudian berkata kepadaku ‘kami pernah bermut’ah bersama Rasulullah’. [Affan berkata] “ dan bersama Abu Bakar. Ketika Umar menjadi pemimpin orang-orang, dia berkata ‘sesungguhnya Al Qur’an adalah Al Qur’an dan Rasulullah SAW adalah Rasul dan sesungguhnya ada dua mut’ah pada masa Rasulullah SAW, salah satunya adalah mut’ah haji dan yang satunya adalah mut’ah wanita’. [Musnad Ahmad 1/52 no 369 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ahmad Syakir]

Kedua riwayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa kata Waliy digunakan untuk menyatakan kepemimpinan para Khalifah seperti Abu Bakar dan Umar. Oleh karena itu tidak diragukan lagi bahwa hadis di atas bermakna Imam Ali adalah Pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.


1). Perumpamaan ahlilbaitku seperti perahu nuh, yang menaikinya selamat dan yang meninggalkannya tenggelam. (Al-Hakim, al-Mustadrak, ii, hlm. 343. Al-Dhahabi, al-Talkhis, ii, 345. al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah , i, hlm. 27. al-Tabrani, al-Ausat, hlm. 216
.
2). Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 384-385. ‘‘Sesungguhnya mereka (para sahabat) telah menjadi murtad selepasmu (irtaddu ba‘da-ka). Hanya sedikit daripada mereka yang terselamat seperti unta yang tersesat daripada pengembalanya”. Ia sejajar dengan firman-Nya Surah al-Saba’ (34):13 ‘‘Dan sedikit sekali daripada hamba-hamba-Ku yang bersyukur”
.
3). Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah memandang ke Bumi, lalu Dia memilihku di kalangan mereka dan menjadikan aku seorang Nabi. Kemudian Dia memandang ke Bumi kali kedua, lalu Dia telah memilih suamimu dan Dia telah memerintahkanku supaya menikahkanmu dengannya. Dia telah memerintahkanku mengambilnya sebagai saudara, wazirwasi dan menjadikanya khalifahku pada umatku setelahku. Justeru itu, ayahmu ini adalah sebaik-baik Nabi Allah dan Rasul-Nya. Sementara suamimu adalah sebaik-baik wasi dan wazir. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 153. al-Hakim, al-Mustadrak, iii, 159. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 491
.
4). Dan engkau adalah orang pertama yang akan mengikutiku (wafat) di kalangan keluargaku. Kemudian Dia telah merenung ke Bumi kali ketiga, lalu Dia memilihmu dan sebelas lelaki daripada anak cucumu dan suamimu. Lantaran itu, engkau adalah penghulu wanita Syurga. Sementara dua anak lelakimu adalah penghulu pemuda Syurga. Aku, saudaraku dan sebelas para imam dan para wasiku sehingga Hari Kiamat semuanya menjadi pembimbing dan mendapat petunjuk. Wasi pertama selepas saudaraku, adalah al-Hasan kemudian al-Husain, kemudian sembilan daripada anak anak al-Husain berada dalam satu martabat di Syurga.       Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 447
.
5). Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 378-385, (Bab fi al-Haudh), hadis no. 578, 584, 585, 586, 587 dan 590, telah meriwayatkan bahawa para sahabat Nabi Saw. telah menjadi kafir-murtad selepas kewafatannya. Hadis no. 585. ‘‘Aku akan mendahului kalian di Haudh. Sesiapa yang melalui di hadapanku akan meminumnya dan siapa yang telah meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak sebilangan orang yang aku kenali dan mereka pula mengenaliku akan dikemukakan di hadapanku. Kemudian mereka (para sahabatku) dipisahkan daripadaku. Ketika itu aku akan berkata: Mereka itu adalah daripadaku (para sahabatku). Dijawab: Sesungguhnya mereka telah melakukan bid‘ah-bid‘ah (ahdathu ba‘da-ka) selepas anda meninggalkan mereka. Maka aku bersabda: Terjauh, terjauh (daripada rahmat) mereka yang telah mengubahkan (ghayyara) Sunnahku selepasku. Di dalam riwayat yang lain, Nabi saw bersabda: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka adalah para sahabatku (ashabi)! Dijawab: Sesungguhnya anda tidak mengetahui bid‘ah- bid‘ah (ahdathu) yang telah dilakukan oleh mereka selepas anda. Sesungguhnya mereka telah menjadi kafir-murtad kebelakang”. Hadis no.587“Hanya sedikit daripada mereka terselamat seperti unta yang terpisah daripada pengembalanya.” Lihat juga Muslim, Sahih, iv, hlm.1793-6 (Kitab al-Fadha’il), hadis no. 26, 28, 29, 31 dan 32. Hadis no. 26.‘‘Kerana kamu tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka. Maka aku bersabda: Terjauhlah, terjauhlah (daripada rahmat) mereka yang telah mengubah (baddala) sunnahku selepasku”
.
6). al-Turmudhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Durriyy, hlm. 143, meriwayatkan sebuah hadis: ‘‘Ali adalah saudaraku, khalifahku dan pewaris ilmuku”.
6). Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 441, meriwayatkan bahawa Nabi Saw. telah menetapkan para imam dua belas. al-Bukhari, Sahih, iv, hlm. 120. Muslim, Sahih, ii, hlm. 81, meriwayatkan berkenaan dengan dua belas amir/khalifah/lelaki
.
7). Kemudian Umar memerintahkan orang ramai supaya membawa kayu api. Merekapun membawa kayu api, begitu juga dengan Umar. Kemudian kayu api itu diletakkan di sekeliling rumah Ali, Fatimah dan dua anak lelakinya. Kemudian Umar telah menyeru Ali. dan Fatimah. Demi Allah! kami akan mengeluarkan kalian wahai Ali! Oleh itu, hendaklah anda membai‘ah Khalifah Rasulullah
.
       Jika tidak, aku akan menyalakan api ke atas anda. Maka Fatimah a.s. berkata: Wahai Umar! Apakah pertalian kami dengan anda? Umar berkata: Bukakan pintu, jika tidak kami akan membakar rumah kalian. Fatimah berkata: Wahai Umar! Tidakkah anda bertakwa kepada Allah, anda ingin memasuki rumahku? Namun Umar enggan pulang. Kemudian dia menyeru untuk mendapatkan api lantas menyalakannya di pintu lantas menolaknya dan terus memasuki rumah. Diapun berhadapan dengan Fatimah a.s Abu al-Fida’, Tarikh, i, hlm. 156. al-Tabari, Tarikh, iii, hlm.156-7.
Fatimah a.s. menjerit dan berkata: Wahai bapaku! Wahai Rasulullah!. Tetapi Umar telah mengangkat pedang yang masih tersarung dan meletakkannya di bahu Fatimah a.s. Fatimah melaung: Wahai bapaku! Maka Umarpun mengangkat cemetinya dan terus memukul bahu Fatimah. Fatimah a.s. menyeru lagi: Wahai Rasulullah! Sejahat-jahat manusia selepas anda wafat adalah Abu Bakr dan Umar
.
            Dalam pada itu, Ali a.s. telah melompat lalu memegang hidung dan tengkuk Umar. Hampir-hampir beliau membunuhnya, namun beliau mengingati kata-kata dan wasiat Rasulullah Saw. Beliaupun berkata: Demi orang yang memuliakan Muhammad dengan kenabian, wahai Ibn Sahhak (Umar)! Sekiranya tidak ada kitab daripada Allah terdahulu dan janji yang dijanjikan oleh Rasulullah Saw. kepadaku, nescaya anda mengetahui bahawa anda tidak akan memasuki rumahku
.
           Umar pun meminta orang ramai supaya memasuki rumah Ali manakala Ali a.s. pula telah menerkam ke arah pedangnya, lantas Qunfudh pulang menemui Abu Bakr kerana takut Ali a.s. akan keluar dengan pedangnya. Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, i, hlm. 14-15. al-Tabari, Tarikh, iii, hlm. 198.
8). Dia mengetahui akan kehebatan Ali a.s. Abu Bakr berkata kepada Qunfudh: Kembalilah kepada Ali dan jika dia tidak keluar, cerobohilah rumahnya. Jika dia enggan, nyalakan api ke atas mereka dan rumah mereka sekali
.
            Lalu Qunfudh al-Mal‘un datang semula. Dia dan para sahabatnya telah memasuki rumah Ali a.s. tanpa izin. Ali a.s. telah menerkam kepada pedangnya tetapi mereka mendahuluinya. Mereka datang berpusu-pusu kepadanya dalam jumlah yang ramai. Meskipun begitu Ali a.s. sempat merampas sebahagian daripada pedang mereka.            Akhirnya mereka mencampakkan tali ke leher Ali a.s. Fatimah a.s. pada masa itu yang berada di sebalik pintu dipukul oleh Qunfudh dengan cemeti lalu jatuh pengsan. Terdapat kesan di bahunya seperti warna hitam akibat daripada pukulan tersebut, la‘natullahi ‘alaihi. Kemudian Qunfudh melalui Ali a.s. yang sedang ‘digari’ dan membawanya ke hadapan Abu Bakr dan Umar yang sedang berdiri sambil memegang pedang di atas kepalanya
.
            Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Salim maula Abi Hudhaifah, Mu‘adh bin Jabal, al-Mughirah bin Syu‘bah, Usyad bin Hudhair, Basyir bin S‘ad dan semua orang di sekitar Abu Bakr lengkap dengan senjata
.
            Akupun bertanya kepada Salman: Mereka telah memasuki rumah Fatimah tanpa izinnya? Salman menjawab: Ya. Demi Tuhan! Tidak ada di atasnya penutup (khimar), lalu Fatimah a.s. menyeru bapanya wahai bapaku! wahai Rasulullah! Sejahat-jahat manusia selepas anda meninggal adalah Abu Bakr dan Umar. Kedua-dua mata anda belum memejam dengan rapat dalam kuburan anda. Fatimah a.s. telah menyeru dengan suara yang tinggi. Akupun melihat Abu Bakr dan orang di sekelilingnya menangis melainkan Umar, Khalid dan al-Mughirah bin Syu‘bah. Umar berkata: Kami bukan perempuan kerana fikiran mereka tertumpu kepada perkara tertentu
.
            Salman berkata lagi: Mereka menyerahkan Ali a.s. kepada  Abu Bakr. Ali a.s. berkata: Demi Allah! jika terhunus pedang ditanganku maka kalian mengetahui bahawa kalian tidak akan sampai ke sini selama-lamanya. Demi Tuhan! aku tidak mencela diriku di dalam perjuangan kalian. Sekiranya aku dapat mengumpulkan empat puluh orang lelaki, nescaya aku dapat memecahkan kumpulan kalian. Tetapi Allah melaknati orang yang telah memberi bai‘ah kepadaku kemudian mereka tidak mematuhinya pula.
            Manakala Abu Bakr merenung kepadanya dia melaungkan suaranya: Berikan laluan untuknya. Ali a.s. membalas: Alangkah cepatnya kalian menghina Rasulullah Saw.! Di atas hak dan kedudukan manakah anda menyeru orang ramai supaya memberi bai‘ah kepada anda? Tidakkah anda telah memberi bai‘ah kepadaku kemarin dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Qunfudh la‘natullah, telah memukul Fatimah a.s. dengan cemeti apabila terpisah antaranya dan suaminya. Kemudian menolaknya sambil memukul bahunya. Maka gugurlah janinnya daripada perutnya. Fatimah a.s. sentiasa berada di atas hamparannya sehingga beliau mati syahid.
       Salman berkata: Manakala Ali a.s. dibawa kepada Abu Bakr, Umar memekik: Berilah bai‘ah dan tinggalkan kebatilan-kebatilan ini. Ali a.s berkata kepadanya: Sekiranya aku tidak melakukannya, apakah yang akan kalian lakukan kepadaku? Mereka berkata: Kami akan membunuh anda (naqtulu-ka) dengan penuh kehinaan. Beliau berkata: Jika begitu kalian membunuh seorang hamba Allah dan saudara Rasulullah? Abu Bakr menjawab: Adapun seorang hamba Allah, itu benar namun saudara Rasulullah, kami tidak mengakuinya. Ali berkata: Adakah kalian mengingkari bahawa Rasulullah Saw. telah mempersaudarakanku dengannya
Ibn Hanbal, Fadha’il al-Sahabah, ii, hlm. 617
.
9). Ali a.s. telah tampil di hadapan mereka seraya berkata: Wahai Muslimin, Muhajirin dan Ansar! Aku menyeru kalian dengan nama Allah, adakah kalian telah mendengar Rasulullah Saw. berkata pada Hari Ghadir Khum. Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma‘arif, hlm. 251-2. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, ii, hlm. 298
.
10). QS: AN_NISA, AYAT : 54. Maka sesungguhnya Kami telah mengurniakan keluarga Ibrahim akan al-Kitab dan al-Hikmah dan Kami kurniakan kepada mereka kerajaan yang besar”. Maka Al-Kitab adalah al-Nubuwwah(kenabian), al-Hikmah adalah al-Sunnah dan
Al-Mulk adalah al-khilafah. Dan kamilah keluarga Ibrahim. Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 120-1
.

Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah

Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan.
Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini : Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan,al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.”(1)
.
Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khusususnya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidak pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.  Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.”(QS.Fathir:32) Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat…?”
.
Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju. Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah, (2)
.
bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan? Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.  Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya…? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya: “Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.”(3)
.
Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.(4)
.
Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.” Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu. Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,” itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah: Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan. (5)
.
Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah…? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan: Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu. (6).
Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan, sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .” (QS. al-Ahzab:21)
dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.” (QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.” (QS. al-Haj :78)
Apakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.” Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya. Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.” (Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat. Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.” Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu. Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,” Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh. Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya. Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah. Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.” (7))
.
Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang
.
Foot note
  1. Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.
  2. Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu  telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal.  143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.
  3. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan ia menyatakan shahih menurut syarat Bukhari Muslim.
  4. Diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi saww melarang shalat tarawih dalam bulan Ramadhan secara jama’ah dengan sabdanya, “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya seutama-seutama shalat seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardu.” Tetapi Ahlussunnah mengabaikan larangan Nabi saww dan mereka mengikuti bid’ah Umar bin Khathab.
  5. Tadzkirat al-Huffadz oleh Dzahabi, I, hal. 3.
  6. Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, I, hal. 4
  7. Muqaddaimah Ibnu Khaldun, hal. 494 dalam fasal Ilmu Fiqih
  8. .

uLAMA SUNNI MERIWAYATKAN “RASUL SAWW BERKATA: WAHAI ALI ENGKAU AKAN DIKHIANATI (ALASAN IMAM ALI MEMBA’IAT ABU BAKAR)

Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.
Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk mengatakannya! Sebagaimana orang lain juga boleh mengutarakan analisanya dalam masalah tersebut. Akan tetapi Imam Ali as. menerangkan kepada kita sebab mengapa beliau pada akhirnya memberikan baiat untuk Abu Bakar dan tidak terus mengambil sikap oposisi, apalagi perlawanan bersenjata!
.
Dalam keterangan-keterangan yang dinukil dari Imam Ali as. ada beberapa sebab:
Pertama, tidak adanya pembela yang cukup untuk mengambil alih kembali hak kewalian beliau.
Sikap Imam Ali as. itu telah beliau abadikan dalam benyak kesempatan, di antara dalam pidato beliau yang terkenal dengan nama khuthbah Syiqsyiqiyyah
.
Imam Ali as. berpidato:
أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا  وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا . وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ  فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ !
فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, و فِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْ نَهْبًا.                                                           
“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya. 
Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang dengan tangan terputus atau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!
.
Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. Aku menyaksikan warisanku dirampok … “ [1]
Kedua, sikap enggan memberikan baiat itu sudah cukup membuktikan hak kewalian beliau yang mereka bekukan.
Dan ketiga, mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengorbankan hak beliau demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistenti kaum Muslimin dan Dawlah Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!
Dalam sebuah pernyataannya, Imam Ali as. menjelaskan sebab mengapa beliau sudi memberikan baiat untuk Abu Bakar:
فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.
“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para  pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.”[2]
.
Inilah sebabh hkiki dalam maalah ini, bukan seperti yang diasumsikan sebagian orang.
Adapaun tuduhan Syeikh bahwa dengan demikian kaum Syi’ah menuduh Imam mereka bersikap pengecut, maka kesimpulan miring itu sama sekali tidak berdasar, sebab pada diri Nabi Harun as. terdapat uswah, teladah baik bagi Imam Ali as. ketika beliau berkata, seperti diabadikan dalam Al Qur’an:
وَ لَمَّا رَجَعَ مُوسى‏ إِلى‏ قَوْمِهِ غَضْبانَ أَسِفاً قالَ بِئْسَما خَلَفْتُمُوني‏ مِنْ بَعْدي أَ عَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَ أَلْقَى الْأَلْواحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوني‏ وَ كادُوا يَقْتُلُونَني‏ فَلا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْداءَ وَ لا تَجْعَلْني‏ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمينَ 
“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150) 
.
Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri
.
Ketertindasan dan ketidak-berdayaan Imam Ali as. itu telah diberitakan Nabi saw. dalam banyak sabda beliau, di antaranya adalah hadis yang sangat terkenal yang berbunyi:
أنتم المستَضْغَفٌون بَعدي
“Sepeninggalku, kalian akan ditindas.”[3]
.Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Mengkhianati Imam Ali as. 
Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. telah memberitakan dari balik tirai ghaib, bahwa umat ini akan menelantarkan Ali as. dan tidak memberikan kesetian pembelaan untuknya. Mereka akan mengkhianatinya!
.
Imam Ali as. berulang kali mengatakan:
إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.
 “Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.” 
Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:
صحيح الاسناد
“Hadis ini sahih sanadnya.”
Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:
صحيح
“Hadis ini shahih.” [4]
Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.
.
Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.
Demikian juga, sebagian orang yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw
.
Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini
:
Imam Ali as. berkata:
بينا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) آخذ بيدي ونحن نمشي في بعض سكك المدينة، إذ أتينا على حديقة، فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! فقال: إنّ لك في الجنّة أحسن منها، ثمّ مررنا بأُخرى فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! قال: لك في الجنّة أحسن منها، حتّى مررنا بسبع حدائق، كلّ ذلك أقول ما أحسنها ويقول: لك في الجنّة أحسن منها، فلمّا خلا لي الطريق اعتنقني ثمّ أجهش باكياً، قلت: يا رسول الله ما يبكيك ؟ قال: ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك إلاّ من بعدي، قال: قلت يا رسول الله في سلامة من ديني ؟ قال: في سلامة من دينك.
“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al Bazzâr dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,[5] Ibnu Hibbân dkk. [6]
Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88
.
Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!
.Imam Ali as. Mengeluhkan Pengkhiatanan Suku Quraisy!
Dalam banyak pernyataannya, Imam Ali as. telah mengeluhkan kedengkian, kejahatan dan sikap arogan suku Quraisy terhadap Nabi saw. yang kemudian, ketika mereka tidak mendapatkan jalan untuk meluapkannya kepada beliau saw., mereka meluapkan dendanm kusumat kekafiran dan kemunafikan kepadanya as
.
Di bawah ini akan saya sebutkan sebuah kutipan pernyataan beliau as. tersebut.
اللهمّ إنّي أستعديك على قريش، فإنّهم أضمروا لرسولك (صلى الله عليه وآله وسلم) ضروباً من الشر والغدر، فعجزوا عنها، وحُلت بينهم وبينها، فكانت الوجبة بي والدائرة عليّ، اللهمّ احفظ حسناًوحسيناً، ولا تمكّن فجرة قريش منهما ما دمت حيّاً، فإذا توفّيتني فأنت الرقيب عليهم وأنت على كلّ شيء شهيد.
“Ya Allah, aku memohon dari Mu agar melawan Quraisy, karena mereka telah memendam bermacam sikpa jahat dan pengkhianatan kepada Rasul-Mu saw., lalu mereka lemah dari meluapkannya, dan Engkau menghalang-halangi mereka darinya, maka dicicipkannya kepadaku dan dialamatkannya ke atasku. Ya Allah peliharalah Hasan dan Husain, jangan Engkau beri kesempatan orang-orang durjana dari Quraisy itu membinasakan keduanya selagi aku masih hidup. Dan jika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkau-lah yang mengontrol mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[7]
Coba Anda perhatikan pernyataan Imam Ali as. di atas, bagaimana dendam dan pengkhianatan Quraisy terhadap Nabi saw. akan mereka luapkan kepadanya! Dan di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa mereka tidak segan-segan akan menghabisi nyawa bocah-bocah mungil kesayangan Rasulullah saw.; Hasan dan Husain as. yang akan meneruskan garis keturunan kebanian sebagai melampiasan dendam mereka kepada Nabi saw.![1]Nahjul Balaghah, pidato ke3.
[2] Ibid. pidato ke74.
[3] Musnad Ahmad,6/339.
[4] Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142.
[5] Al Mustadrak,3/139 hanya saja bagian akhir radaksi hadis ini terpotong, sepertinya ada “tangan-tangan terampil” yang sengaja menyensor hadis di atas.
[6]Teks hadis di atas sesuai dengan yang terdapat Majma’ az Zawâid,9/118.
[7] Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298

Kembali Kepada Al Quran dan Ahlul Bait

Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia.
Sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, polemik dan perbedaan pendapat telah menjadi keniscayaan tersendiri yang tak terelakkan. Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah SWT dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10)
.
Oleh karenanya, keberadaan tolok ukur kebenaran yang menjadi rujukan semua pihak adalah suatu keniscayaan pula, yang eksistensinya bagian dari hikmah Ilahi. Allah SWT telah menurunkan kitab pedoman yang merupakan tolok ukur kebenaran dan menjadi penengah untuk menyelesaikan berbagai hal yang diperselisihkan umat manusia
.
Allah SWT berfirman: “Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para Nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Qs. Al-Baqarah : 213)
.
Ayat ini menjelaskan bahwa manusia tanpa bimbingan dan petunjuk Ilahi akan berpecah belah dan bergolong-golongan. Penggalan selanjutnya pada ayat yang sama menjelaskan pula, bahwa kedengkian dan memperturutkan hawa nafsulah yang menyebabkan manusia terlibat dalam perselisihan dan perpecahan
.
Kebijaksanaan Ilahilah yang kemudian menurunkan sang Penengah (para nabi as) yang membawa kitab-kitab yang menerangi. Kitab-kitab Ilahiah terutama Al Quran memberikan petunjuk dan arahan yang jelas tentang kebenaran yang seharusnya ditempuh umat manusia.
Namun hawa nafsu, kedengkian, kedurhakaan dan juga kebodohan telah menjerumuskan manusia jauh berpaling dari mata air jernih kebenaran
.
Puluhan ribu nabi telah diutus sepanjang sejarah hidup manusia di segala penjuru dunia. Umat Islam meyakini mata rantai kenabian bermula dari Nabi Adam as dan berakhir di tangan Muhammad SAW dan tidak ada lagi nabi sesudahnya
.
Ditutupnya kenabian hanya bisa sesuai dengan hikmah dan falsafah diutusnya para nabi bila syariat samawi yang terakhir tersebut memenuhi seluruh kebutuhan umat manusia, di setiap masa dan di setiap tempat. Al Quran sebagai kitab samawi terakhir telah dijamin oleh Allah SWT keabadian dan keutuhannya dari berbagai penyimpangan hingga akhir masa
.
Akan tetapi secara zahir Al Quran tidak menjelaskan hukum-hukum dan ajaran Islam secara mendetail. Oleh karenanya penjelasan perincian hukum menjadi tanggung jawab nabi untuk menerangkannya kepada seluruh umatnya.Sewaktu Nabi Muhammad SAW masih hidup tanggung jawab itu berada dipundaknya. Karena itu hadits-hadits Nabi Muhammad SAW menjadi hujah dan sumber autentik ajaran Islam. Namun apakah semasa hidupnya, Rasulullah SAW telah menjelaskan seluruh hukum dan syariat Islam kepada seluruh umat?
.
Kalau tidak semua, siapa yang bertanggung jawab untuk menjelaskannya? Siapa pula yang bertanggung jawab menengahi silang sengketa sekiranya terjadi penafsiran yang berbeda tentang ayat-ayat Al Quran dalam tubuh umat Islam?
Saya sulit menerima jika dikatakan tanggung jawab penjelasan syariat Islam pasca Rasul jatuh ke tangan para sahabat. Sementara untuk contoh sederhana sahabat sendiri berbeda pendapat bagaimana cara Rasululullah melakukan wudhu dan salat yang benar, padahal Rasul mempraktikkan wudhu dan salat bertahun-tahun di hadapan mereka
.
Untuk persoalan wudhu saja mereka menukilkan pendapat yang berbeda-beda, karenanya pada masalah yang lebih rumit sangat mungkin terjadi penukilan yang keliru. Ataupun tanggung jawab penafsiran Al Quran jatuh kepada keempat imam mazhab yang untuk sekadar menafsirkan apa yang dimaksud debu pada surah Al-Maidah ayat 6 saja sulit menemukan kesepakatan
.
Kata mazhab Syafi’i debu meliputi pasir dan tanah, tanah saja kata Hanbali; tanah, pasir, batuan, salju dan logam kata Maliki; tanah, pasir dan batuan kata Hanafi (al-Mughniyah, 1960; Al-Jaziri, 1986)
.
Petunjuk Umat
Islam hanya dapat ditawarkan sebagai agama yang sempurna, yang dapat memenuhi segala kebutuhan manusia jika di dalam agama itu sendiri tidak terdapat perselisihan dan perpecahan. Karenanya, hikmah Ilahi meniscayakan adanya orang-orang yang memiliki kriteria seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia di setiap masa tentunya selain syariat
.
Ilmu yang mereka miliki tidak terbatas dengan apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad SAW (sebagaimana maklum Nabi tidak sempat menjelaskan semua tentang syariat Islam) namun juga memiliki potensi mendapatkan ilmu langsung dari Allah SWT ataupun melalui perantara sebagaimana ilham yang diterima Siti Maryam dan ibu nabi Musa as (Lihat Qs. Ali-Imran : 42, Thaha:38)
.
Mereka menguasai ilmu Al Quran sebagaimana penguasaan nabi Muhammad SAW sehingga ucapan-ucapan merekapun merupakan hujjah dan sumber autentik ajaran Islam. Masalah ini berkaitan dengan Al Quran sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al Quran, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas
.
Al Quran adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al Quran) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf :52)
.
Pada ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64)
.
Dengan pemahaman seperti ini maka jelaslah maksud dari penggalan hadits Rasulullah, Kutinggalkan bagi kalian dua hal yang berharga, Al Quran dan Ahlul Baitku. (HR Muslim). Bahwa keduanya Al Quran dan Ahlul Bait adalah dua hal yang tak terpisahkan hingga hari kiamat, memisahkan satu sama lain akibatnya adalah kesesatan dan di luar dari koridor ajaran Islam itu sendiri
.
Penyimpangan
Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT
.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini
.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia
.
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s