Day: 25 Desember 2011

kehidupan Ahlul Bait sangat sulit khususnya di era pemerintahan dinasti Umawiyah dan Abbasiyah. Kedua pemerintahan yang mengaku sebagai wakil umat Islam ini sangat keras memperlakukan Ahlul Bait sehingga keluarga Rasulullah ini kian terbatas geraknya untuk menyebarkan Islam dan membimbing umat.

baca juga artikel kami sbb : Khilafah Tidak Mesti Pada Ahlul Bait ?? menjawab Muhammad Umar As-Sewed (majalah http://asysyariah.com)

Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: .
Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)
.
Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam
.
Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa
  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam
Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:
Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)
.
Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

Imam Hasan Askari dilahirkan tahun 232 Hijriah di kota Suci Madinah. Beliau banyak menghabiskan hidupnya di kota Samara, Irak selama 28 tahun. Samara saat itu menjadi pusat pemerintahan Khalifah Abbasiyah. Sepanjang hidupnya beliau giat membimbing umat dan menghidupkan serta menjaga ajaran suci Islam. Di hari kelahiran Imam Hasan Askari, kita akan mengkaji bersama aktivitas beliau dalam menjaga ajaran suci Islam

.

Salah satu dimensi penting kehidupan keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) adalah menjaga akidah dan ajaran Islam. Mereka siap menderita guna menjaga Islam, karena setelah wafatnya Rasulullah, kehidupan Ahlul Bait sangat sulit khususnya di era pemerintahan dinasti Umawiyah dan Abbasiyah. Kedua pemerintahan yang mengaku sebagai wakil umat Islam ini sangat keras memperlakukan Ahlul Bait sehingga keluarga Rasulullah ini kian terbatas geraknya untuk menyebarkan Islam dan membimbing umat. Kondisi ini wajar mengingat para pemimpin saat itu memiliki kebijakan yang tidak sejalan dengan apa yang digariskan Rasulullah dan keluarga beliau, bahkan cenderung memusuhi keluarga suci ini

.
Dalam kondisi inilah, Ahlul Bait berjuang mati-matian mempertahankan ajaran Rasulullah yang dihadiahkan kepada umat manusia. Kedudukan tinggi mereka sebagai penjaga ajaran Islam disabdakan Imam Baqir as sebagai berikut, “Ulama pengikut Ahlul Bait seperti penjaga yang berbaris menghadapi syaitan dan tentaranya. Ulama ini mencegah serangan syaitan dan sekutunya terhadap pengikut kami yang tidak mampu menghadapi serangan tersebut. Ingatlah bahwa kedudukan para ulama seperti ini lebih tinggi ribuan kali dari tentara yang berperang menghadapi musuh Islam. Hal ini disebabkan karena ulama penjaga akidah dan ajaran Islam.”

.
Imam Hasan Askari hidup di era khalifah Abbasiyah dan di saat maraknya penyebaran mazhab sesat. Saat itu dapat dikatakan sebagai era paling berbahaya bagi keselamatan ajaran suci Islam, karena bid’ah dan ajaran sesat ramai bermunculan. Imam Hasan dalam sebuah sabdanya berkata,” Allah swt Yang Maha Pemurah telah memberikan rahmat dan mengirim manusia agung Rasulullah kepada umat manusia. Allah swt memberi kalian hidayah hingga memeluk Islam. Allah swt juga meletakkan kecintaan di hati kalian terhadap keluarga Rasulullah.”

.
Program utama perjuangan Imam Hasan Askari adalah mengokohkan dasar-dasar keagamaan dalam masyarakat Islam. Ini adalah langkah paling logis di era maraknya penyimpangan agama dan politik, khususnya menghadapi kebijakan pemerintah arogan yang menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaan mereka. Dengan strateginya ini, Imam Hasan Askari berhasil menyelamatkan umat Islam dari lingkaran kebodohan dan ancaman penyimpangan beragama

.
Dalam sebuah kesempatan Imam Hasan Askari memprediksikan nasib bid’ah agama kepada salah satu sahabatnya. Beliau berkata,” Wahai Abu Hasyim ! Akan datang suatu masa di mana wajah seseorang tersenyum namun hatinya dipenuhi kegelapan. Mereka menyebut sunnah Rasulullah sebagai bid’ah dan bid’ah mereka sebagai sunnah. Mereka memandang hina orang mukmin. Ketahuilah orang-orang seperti ini telah menyimpang dari kebenaran.”

.
Di sisi lain, pengawasan ketat dari pemerintah dan pembatasan terhadap Imam Hasan Askari membuat beliau tidak dapat berhubungan langsung dengan pengikutnya. Namun beliau tidak putus asa dalam menyebarkan dakwahnya dan membimbing umat. Dalam hal ini beliau menulis dan menyebarkan surat yang ditujukan kepada pengikutnya secara rahasia. Sebaliknya, para sahabat dan pengikut Imam Askari juga melakukan hal serupa dalam menanyakan berbagai persoalan baik agama maupun lainnya kepada imam mereka melalui surat

.
Imam Hasan Askari meninggalkan banyak tulisan dan surat yang berisi bimbingan dan jawaban dari pertanyaan umat Islam. Salah satu contohnya adalah surat Imam Askari kepada Ishaq bin Ismail Nisyaburi. Di surat ini Imam menjawab pertanyaan Ishaq bin Ismail terkait sejumlah kewajiban muslim soal khumus dan zakat. Imam berkata,” Sesungguhnya Allah swt menetapkan kewajiban kepada kalian dengan rahmatNya dan bukannya karena kebutuhan-Nya kepada kalian. Kewajiban ini ditetapkan karena kecintaan-Nya kepada kalian supaya keburukan terpisah dari kebaikan. Oleh karena itu, Allah menetapkan kewajiban haji, umrah, shalat, zakat, puasa serta patuh kepada pemimpin (wilayah) kepada kalian. Untuk memahami kewajiban ini, Allah membuka pintu lebar-lebar dan memberikan kalian kuncinya. Jika tidak ada Rasulullah dan Ahlul Baitnya, kalian pasti tersesat dan tidak akan memahami satu pun kewajiban tersebut. Apakah untuk memasuki kota selain pintu ada jalan lain ? Oleh karena itu, Allah swt telah berbuat baik kepada kalian dengan menetapkan para Imam sesudah Rasulullah.”

.
Imam Hasan Askari memerangi kelompok sesat yang mengatasnamakan Islam. Beliau berulangkali memperingatkan para sahabat dan pengikutnya akan bahaya kelompok-kelompok sesat yang berkedok Islam. Hal ini beliau lakukan karena pemikiran sesat merupakan penghalang utama upaya untuk mendalami ajaran Islam dan penyebarannya. Suatu hari Imam Hasan Askari mendapat berita bahwa Ahmad bin Hilal memiliki kecenderungan sufisme dan menipu umat Islam dengan kata-kata manisnya. Ahmad bin Hilal puluhan kali bepergian ke Makkah dengan berjalan kaki. Tingkah laku Ahmad bin Hilal ini dipandang masyarakat sebagai bentuk spiritualnya

.
Imam Hasan Askari tanpa memandang kedudukan Ahmad bin Hilal di tengah masyarakat menulis surat dan meminta umat Islam menjauhi orang seperti ini. Beliau berkata,” Waspadahlah kalian ! Orang-orang yang berkedok sufi adalah perampok orang mukmin. Mereka mengajak manusia ke jalan kemungkaran. Bagi umat Islam yang berhadapan dengan orang seperti ini harus menjaga dengan betul agama dan keimanannya.”

.
Imam Hasan Askari ketika membimbing berbagai lapisan masyarakat menggunakan metode yang berbeda dan disesuaikan dengan kondisi setiap lapisan. Terkadang beliau cukup menulis surat, namun terkadang juga beliau memberi peringatan serta wejangan. Ibn Shahrashub, sejarawan kawakan Islam menulis, Ishaq Kendi, filosof muslim dan tinggal di Irak sejak beberapa waktu memilih memencilkan diri dan menjauhi masyarakat. Seluruh waktunya dihabiskan untuk menulis buku anti al-Qur’an. Ia menganggap bukunya memuat berbagai kontradiksi al-Qur’an. Salah satu murid Ishaq Kindi mendatangi Imam Hasan Askari dan dengan sedih menyatakan kepada Imam bahwa kami tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi gurunya secara keilmuan. Kemudian beliau mengajari orang tersebut ilmu untuk menghadapi Ishaq Kendi. Beberapa hari kemudian, sang murid pun mendatangi gurunya dan berdiskusi tentang ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Perlahan namun pasti Kendi akhirnya memahami kebenaran dan mengetahui bahwa perkataan muridnya tersebut bukan berasal dari dirinya sendiri tapi dari pribadi suci seperti Imam Hasan Askari. Setelah diskusi tersebut Kendi akhirnya bertobat dan membakar bukunya.”

.
Imam Hasan Askari mendidik dengan tekun sahabat dan pengikutnya serta menekankan kepada mereka untuk jujur, membersihkan diri dan beramal saleh. Hal ini beliau lakukan demi menjaga ajaran suci Islam. Imam menyadari sepenuhnya usaha memperdalam dan menyebarkan ajaran Islam terletak pada penerapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Karena ketika iman dan amal saling berhubungan dengan kokoh maka pengaruhnya pun semakin kuat. Oleh karena itu, beliau menekankan kepada pengikutnya untuk mengoreksi diri dan tidak memandang remeh dosa.
Salah satu ajaran akhlak dan bimbingan Imam Hasan Askari dapat kita temukan dalam sebuah jawaban beliau kepada Abu Hasyim. Abu Hasyim berkata,” Suatu hari saya tengah bermunajat kepada Allah swt dan meminta untuk digolongkan ke dalam hamba-hambaNya yang ikhlas. Saat itu Imam mengetahui keadaanku dan langsung bersabda, Wahai Abu Hasyim ! kamu berada dalam kelompok Nya karena kamu mengimaniNya dan utusanNya. Kamu mengenal dengan baik para kekasih Allah dan mengikutinya. Maka kabar gembira bagi kamu wahai Abu Hasyim. Ketika itu, Imam Hasan Askari berargumentasi dengan ayat 56 surat al-Maidah dan berkata, mereka yang menerima kepemimpinan dan wilayah Allah serta RasulNya telah digolongkan ke dalam kelompokNya. Sejatinya Imam menekankan bahwa secara praktis manusia harus patuh terhadap Allah dan rasulNya serta mendahulukan perintahNya dari kepentingan pribadi.”

.

AhlulBayt Sentiasa Bersama Kebenaran

Ahlul Bait adalah Pribadi-pribadi yang selalu berada dalam kebenaran
Mereka mendapat kemuliaan yang begitu besar yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadis. Banyak sekali isu-isu seputar masalah ini yang membuat orang enggan membahasnya. Yang saya maksud itu adalah Bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam Islam. Ada sebagian kelompok yang sangat memuliakan Ahlul Bait, berpedoman kepada Mereka dan Mengambil Ilmu dari Mereka. Ada juga kelompok yang lain yang juga memuliakan Ahlul Bait dan mendudukkan mereka layaknya seperti Sahabat Nabi SAW yang juga memiliki keutamaan yang besar. Ada perbedaan yang besar diantara kedua kelompok ini.
  • Kelompok yang pertama memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam agar tidak sesat sehingga Mereka adalah Pribadi-pribadi yang ma’sum dan terbebas dari kesalahan. Kelompok yang pertama ini adalah Islam Syiah
  • Kelompok yang kedua memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait tidak ma’sum walaupun memiliki banyak keutamaan sehingga Mereka juga tidak terbebas dari kesalahan. Kelompok yang kedua ini adalah Islam Sunni.
Tulisan ini adalah Analisis tentang bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait dalam Islam. Sumber-sumber yang saya pakai sepenuhnya adalah hadis-hadis dalam Kitab Hadis Sunni. Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tulisan ini berusaha untuk menelaah pandangan manakah yang benar dan sesuai dengan dalil perihal kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Sebaiknya perlu juga dijelaskan bahwa pembahasan seputar kemuliaan Ahlul Bait ini tidak perlu selalu dikaitkan dengan Sunni atau Syiah. Maksudnya bagaimanapun nantinya pandangan saya tidak perlu dikaitkan dengan apakah saya Sunni atau Syiah karena memang bukan itu inti masalahnya. Cukup lihat dalil atau argumen yang dipakai dan nilailah sendiri benar atau tidak.
.
.
Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Al Quran
Al Quran dalam Surah Al Ahzab 33 telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahwaMereka adalah Pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT.
Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.
Jika kita melihat ayat sebelum dan sesudah ayat ini maka dengan sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlul Bait yang dimaksud itu adalah istri-istri Nabi SAW karena memang ayat sebelumnya ditujukan pada istri-istri Nabi SAW. Pemahaman seperti ini dapat dibenarkan jika tidak ada dalil shahih yang menjelaskan tentang ayat ini. Mari kita bahas.
Kita sepakat bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, artinya tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh melainkan diturunkan sebagian-sebagian. Untuk mengetahui kapan ayat-ayat Al Quran diturunkan kita harus merujuk kepada Asbabun Nuzulnya. Tapi sayangnya tidak semua ayat Al Quran terdapat asbabun nuzul yang shahih menjelaskan sebab turunnya. Berdasarkan hal ini maka ayat-ayat dalam al Quran dibagi menjadi
  1. Ayat Al Quran yang memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya. Maksudnya ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa atau tujuan tertentu. Hal ini diketahui dengan hadis asbabun nuzul yang shahih.
  2. Ayat Al Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya karena memang tidak ada asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan sebab turunnya
Lalu apa kaitannya dengan pembahasan ini?.  Ternyata terdapat asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan turunnya penggalan terakhir surah Al Ahzab 33 yang lebih dikenal dengan sebutan Ayat Tathhir(ayat penyucian) yaitu penggalan
Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)
Yang arti atau terjemahannya adalah
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.
Ternyata banyak Hadis-hadis shahih dan jelas yang menyatakan bahwa ayatInnamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Artinya ayat tersebut tidak terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnyayang ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Ayat tersebut justru ditujukan untuk Pribadi-pribadi yang lain dan bukan istri-istri Nabi SAW. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa yang seperti ini sama halnya dengan Mutilasi ayat, hal ini jelas tidak benar karena ayat yang dimaksud memang ditujukan untuk pribadi tertentu sesuai dengan asbabun nuzulnya.
Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.
  • Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
  • Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.
Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut. Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.
Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.
Jadi ini bukan mutilasi ayat tapi memang ayatnya turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya dan ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu. Hal ini berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.
Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).
Dari hadis ini dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut
  1. Bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah ra, dan terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hadis itu menjelaskan bahwa yang turun itu hanya penggalan ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.
  2. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW melalui kata-kata Beliau SAW “Ya Allah, mereka adalah Ahlul BaitKu” Pernyataan ini ditujukan pada mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
  3. Ayat ini tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah Pertanyaan Ummu Salamah. Pertanyaan Ummu Salamah mengisyaratkan bahwa ayat itu tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW, karena jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra selaku istri Nabi SAW juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW. Sekali lagi ditekankan kalau memang ayat itu jelas untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah ra tidak perlu bertanya lagi “Dan apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”.
  4. Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri dan bukanlah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini.
Kesimpulan dari hadis-hadis Asbabun nuzul ayat tathhir adalah Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 itu adalah
  1. Rasulullah SAW sendiri karena ayat itu turun untuk Beliau berdasarkan kata-kata Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW
  2. Mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW dan dinyatakan bahwa mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW yang dimaksud yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
Terdapat beberapa ulama ahlus sunnah yang menyatakan bahwa ayat tathiir adalah khusus untuk Ahlul Kisa’ (Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as) yaitu
  1. Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitab Tafsir Ath Thabary juz I hal 50 ketika menafsirkan ayat ini beliau membatasi cakupan Ahlul Bait itu hanya pada diri Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan menyatakan bahwa ayat tersebut hanya untuk Mereka berlima (merujuk pada berbagai riwayat yang dikutip Thabari).
  2. Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitab Musykil Al Atsar juz I hal 332-339 setelah meriwayatkan berbagai hadis tentang ayat ini beliau menyatakan bahwa ayat tathiir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain Mereka. Beliau juga menolak anggapan bahwa Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini adalah istri-istri Nabi SAW. Beliau menulisMaka kita mengerti bahwa pernyataan Allah dalam Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. (Al-Ahzab :33) ditujukan pada orang-orang yang khusus dituju olehNya untuk mengingatkan akan derajat Mereka yang tinggi dan para istri Rasulullah SAW hanyalah yang dituju pada bagian yang sebelumnya dari ayat itu yaitu sebelum ditujukan pada orang-orang tersebut”.
Mungkin terdapat keraguan sehubungan dengan urutan ayat Al Ahzab 33, kalau memang ayat tersebut hanya ditujukan untuk Ahlul Kisa’ kenapa ayat ini terletak diantara ayat-ayat yang membicarakan tentang istri-istri Nabi. Perlu ditekankan bahwa peletakan susunan ayat-ayat dalam Al Quran adalah dari Nabi SAW dan juga diketahui bahwa ayat ayat Al Quran diturunkan berangsur-angsur, pada dasarnya kita tidak akan menyelisihi urutan ayat kecuali terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sendiri dan tidak berkaitan dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Berikut akan diberikan contoh lain tentang ini, yaitu penggalan Al Maidah ayat 3
“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”.
Ayat di atas adalah penggalan Al Maidah ayat 3 yang turun sendiri di arafahberdasarkan Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari no 4606 , Muslim dalam Shahih Muslim, no 3017 tidak terkait dengan ayat sebelum maupun sesudahnya yang berbicara tentang makanan yang halal dan haram.
Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)
.
.
Makna Ayat Tathir
Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)
Innama
Setelah mengetahui bahwa ayat ini ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS) sekarang akan dibahas makna dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kataInnama, dalam bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk menghilangkan ar rijs dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as
.
Yuridullah
Setelah kata Innama diikuti kata yuridullah yang berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah Allah SWT terbagi dua yaitu iradah takwiniyyah dan iradah tasyri’iyyahIradah takwiniyyah adalah iradah Allah yang bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat berikut
“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS Yasin :82)
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS An Nahl :40)
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS Hud:107)
Sedangkan yang dimaksud Iradah tasyri’iyah adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah ini dapat dilihat pada ayat berikut
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).
“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih) sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)

Iradah dalam Al Baqarah 185 adalah berkaitan dengan syariat Allah tentang puasadimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana Allah hendak membersihkan manusia dan menyempurnakan nikmatnya bagi manusia supaya manusia bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi orang yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum. Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam hal ini Ahlul Bait as
.
Iradah dalam Ayat tathhiir adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyahartinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan, tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut
  1. Penggunaan lafal Innama yang bermakna hashr atau pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk menghilangkan rijsdengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.
  2. Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan.
  3. Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerjaliyudzhiba(menghilangkan) dengan firmannya wa yuthahhirakum tathiira. Dan kata kerja kedua ini wa yuthahhirakum(menyucikanmu) dikuatkan denganmashdar tathiira(sesuci-sucinya)yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah iradah takwiniyah.
Li yudzhiba ‘An kumurrijsa Ahlal bait 
Kemudian kalimat selanjutnya adalah li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal bait . Kalimat tersebut menggunakan kata ‘an bukan min. Dalam bahasa Arab, kata ’an digunakan untuk sesuatu yang belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk menghilangkan rijs dari Ahlul Bait (sebelum rijs tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan Ahlul Bait dari rijs. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari rijs. Lagipula adalah tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki rijs kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih kecil dan belum memiliki rijs.
Ar Rijs
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata rijs, diantaranya adalah sebagai berikut.
“Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji (rijs) termasuk perbuatan setan” (QS Al Maidah: 90).
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).
“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS At Taubah: 125).
“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis (rijs)” (QS At Taubah: 95).
“Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).
Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
Asy Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir jilid 4 hal 278 menulis,
“… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak ada keridhaan Allah SWT”.
Kemudian ia melanjutkan,
“Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah: `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.
Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada akhirnya beliau mengatakan “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang lain)
Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam kitab Ash Shawaiq hal 144-145 berkata,
“Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”
Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al lklil hal 178 menyebutkan bahwa
kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.
Semua penjelasan diatas menyimpulkan bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam Hasan as dan Imam Husain as
.
Penyucian ini menetapkan bahwa Mereka Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.
.
.
Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW
Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).
Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)
Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.
Selain itu ada juga hadis
Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).
Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.
(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).
Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggalJadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait
.
 Sekali lagi, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasuk sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait
.

Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain (Musnad Ahmad)

Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Musnad Ahmad
Ali As Salus dalam kitabnya Imamah dan Khilafah telah membicarakan tentang hadis Tsaqalain dan akhir kesimpulannya beliau menyatakan hadis ini adalah dhaif. Beliau mengkritik hadis Tsaqalain yang terdapat dalam Musnad Ahmad dan Sunan Tarmidzi, berikut akan dibahas hadis riwayat Ahmad yang beliau kritik.
Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Athiyyah dari Abu Said
  1. Abdullah bercerita kepada kami dari ayahnya dari Aswad bin Amir dari Israil yaitu Ismail bin Abu Ishaq al Mulai dari Athiyyah dari Abu Said, Ia berkata”Nabi SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar dari yang lainnya,yaitu Kitab Allah,tali yang merentang dari langit sampai bumi,dan Ahlul BaitKu. Keduanya itu tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 14)
  2. Abdullah bercerita kepada kami dari Ayahnya dari Abu Nadar dari Muhammad bin Thalhah dari A’masyi dari Athiyyah al ‘ufa dari Abu Said Al Khudri ra dari Nabi SAW bahwa Beliau SAW bersabda”Sesungguhnya Saya hampir mendapat panggilan lalu saya menjawabnya.Sungguh Aku meninggalkan dua hal bagimu yaitu Kitabullah dan ItrahKu. Kitabullah adalah tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi,dan ItrahKu adalah Ahlul BaitKu. Dan bahwa Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Bijaksana memberi tahu kepadaKu bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang di atas telaga(hari kiamat).Maka perhatikanlah Aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaKu dalam Keduanya.” (Musnad Ahmad jilid III hal 17).
  3. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Ibnu Namin dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Athiyyah dari Abu Said Al Khudri ra, Ia berkata”Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar daripada yang lain yaitu Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi ,dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah keduanya itu tidak akan berpisah hingga sampai ke telaga(hari kiamat).”(Musnad Ahmad jilid III hal 26).
  4. Riwayat dari Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Namir dari Abdul Malik Ibnu Sulaiman dari Athiyah dari Abu Sa’id al Khudri ra,ia berkata,’Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan bagimu sesuatu yang jika kamu berpedoman dengannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya setelahKu yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit ke bumi, dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah bahwa keduanya itu tidak akan berpisah hingga datang ke telaga(hari kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 59).
Tanggapan Kami
Mengenai semua hadis riwayat Athiyyah dari Abu Said ra diatas Ali As Salus menyatakan bahwa semua riwayat di atas dhaif karena Athiyyah telah dinyatakan dhaif oleh banyak ulama. Dalam penjelasan sebelumnya kami telah membahas riwayat Athiyyah dari Abu Said, dan kami menyatakan bahwa riwayat ini hanyalah pendukung riwayat lain yang shahih bahkan justru riwayat-riwayat lain hadis Tsaqalain selain dari Athiyyah dapat menguatkan hadis riwayat Athiyyah dari dhaif menjadi Hasan Lighairihi. Ali As Salus juga mendhaifkan hadis riwayat Ahmad yang lain yaitu
Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit
  1. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Aswad bin ‘Amir,dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan, dari Said bin Tsabit, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu Kitabullah, tali panjang yang terentang antara langit dan bumi atau diantara langit dan bumi dan Itrati Ahlul BaitKu. Dan Keduanya tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(hari kiamat)”. (Musnad Ahmad jilid V hal 181-182)
  2. Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya, dari Ahmad Zubairi dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit ra, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu, Kitabullah dan Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang ke telaga(hari kiamat)”.
Hadis ini dinyatakan dhaif oleh Ali As Salus karena dalam sanadnya terdapat Qasim bin Hishan al Amiri al Kufi. Setelah mengutip pendapat yang menyatakan Qasim sebagai perawi tsiqat, beliau menyatakan tidak sependapat dan memandang bahwa Qasim adalah perawi yang tidak tsiqat berdasarkan alasan berikut
• Dalam Mizan al Itidal Adz Dzahabi menukil dari Bukhari bahwa hadis Qasim bin Hishan itu mungkar
• Dalam Al Jarh Wat Ta’dil 
Ibnu Abu Hatim menukil dari Al Munziri bahwa Bukhari berkata ”Qasim bin Hishan mendengar dari Zaid bin Tsabit dari pamannya Abdurrahman bin Harmalah sementara Rakin bin Rabi’ meriwayatkan darinya dan dia termasuk ulama kufah yang tidak shahih hadisnya”.
Tanggapan kami adalah bahwa pendapat Ali As Salus dan komentarnya tentang Qasim adalah kurang tepat karena beberapa alasan dan bahkan hal itu juga dikutip oleh Ali As Salus dalam kitabnya. Alasan-alasan itu adalah
  1. Qasim bin Hishan adalah perawi yang tsiqah. Ahmad bin Saleh menyatakan Qasim tsiqah. Ibnu Hibban menyatakan bahwa Qasim termasuk dalam kelompok tabiin yang tsiqah. Syaikh Ahmad Syakir menguatkannya sebagaiseorang yang tsiqah(Musnad Ahmad syarh Syaikh Ahmad Syakir). Dalam Majma Az Zawaid ,Al Haitsami menyatakan tsiqah kepada Qasim bin Hishan. Ibnu Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil menulis biografi Qasim tanpa menyebutkan cacatnya, beliau hanya menukil pernyataan Al Munziri tentang Qasim diatas.
  2. Pernyataan Bukhari tentang Qasim tidak dapat dijadikan hujjah disini karena pernyataan itu baru sekedar kemungkinan dan tidak jelas apa sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri dalam masalah ini. Adz Dzahabi dan al Munziri tidaklah sezaman dengan Bukhari oleh karena itu mereka menukil pernyataan itu kemungkinan dari salah satu karya al Bukhari. Tetapi kenyataannya dalam karya Bukhari perihal rijal hadis seperti Tarikh Al Kabir dan kitab Adh Dhu’afa tidak terdapat penukilan ini bahkan Bukhari hanya menyebutkan namanya dan tidak mencela atau menjarhkan Qasim seperti yang didakwa oleh Adz Dzahabi dan Al Munziri. Hal ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Musnad Ahmad jilid V komentar riwayat no 3605, beliau berkata ”Saya tidak mengerti apa sumber penukilan Al Munziri dari Bukhari tentang Qasim bin Hishan itu. Sebab dalam Tarikh Al Kabir Bukhari tidak menjelaskan biografi Qasim demikian juga dalam kitab Adh Dhu’afa. Saya khawatir bahwa Al Munziri berkhayal dengan menisbatkan hal itu kepada Al Bukhari”.
Dengan demikian Jarh yang ditetapkan kepada Qasim bin Hishan adalah tidak jelas apakah benar atau tidak bersumber dari Bukhari, karena bisa jadi hal ini merupakan kekeliruan dari Adz Dzahabi dan Al Munziri. Tentu saja dugaan ini(kekeliruan) dilandasi dari tidak terdapatnya sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri.
Disinilah letak kerancuan Ali As Salus
Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah berkata
”Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujuk. Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti )bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari”
Tanggapan Kami: Pernyataan ini sangat jelas kerancuannya karena semuanya hanya didasarkan atas dugaan saja. Bukankah pernyataan Ali As Salus Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujukadalah suatu bentuk prasangka juga, apa buktinya pernyataan itu? apa sumber yang tidak mudah dirujuk itu? bukankah bisa juga diduga jangan jangan tidak ada sumber yang dimaksud atau dengan kata lain adalah kekeliruan dari kedua ulama tersebut.
Kemudian pernyataan Ali As Salus Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti) bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari” juga tidak jelas, kalau memang ada di kitab Adh Dhu’afa kenapa pula harus menggunakan kata praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti). Bukankah ini menyiratkan Ali As Salus sendiri belum membaca Adh Dhu’afa, lalu bukankah Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa penukilan tersebut tidak ada dalam Tarikh Al Kabir dan Adh Dhu’afa . Dan dengan semua keraguan ini Ali As Salus menyatakan bahwa Qasim adalah tidak tsiqat hadis riwayatnya tidak shahih(dhaif). Memang dalam Ilmu hadis jika ada perbedaan pandangan terhadap seorang perawi antara jarh dan ta’dil maka jarh mesti didahulukan tetapi hal ini dengan syarat jarh itu harus benar-benar jelas dan ada buktinya. Tetapi kalau jarh tersebut meragukan maka yang terbaik dalam hal ini adalah menetapkan ta’dilnya. Oleh karena itulah dalam hal ini dinyatakan bahwa kesimpulan Ali As Salus bahwa Qasim bin Hishan tidak tsiqah adalah tidak tepat dan yang benar Qasim adalah seorang yang tsiqah
.
Hadis yang dimaksud yaitu hadis Tsaqalain riwayat Qasim bin Hishan ini telah dinyatakan shahih oleh beberapa ulama. Di antaranya Jalaludin As Suyuthi telah menshahihkannya dalam Al Jami’ash Shaghir. Al Hafiz Al Manawi juga menyatakan shahih dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir. Pernyataan kedua ulama ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albani yang menyatakan hadis ini shahih dan memasukkannya dalam Shahih Al Jami’Ash Shaghir. Selain itu Abu Ya’la meriwayatkan hadis ini dalam Musnad Abu Ya’la dan menyatakan bahwa sanad hadis ini termasuk dalam kategori tidak mengapa. Al Haitsami dalam Majma’Az Zawaid menyatakan bahwa semua perawi hadis ini adalah tsiqat. Berdasarkan semua keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pendapat Ali As Salus itu tidak tepat dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah bahwa hadis riwayat Qasim dalam Musnad Ahmad tersebut adalah shahih
.
Perhatikan gambar silsilah 12 Imam Syiah, kalau imam-imam ke-1 s.d. ke-11 mempunyai tahun wafat sedangkan imam ke-12 yaitu Muhamad Al-Mahdi Al-Muntazar hanya memiliki tahun lahir saja karena menurut kepercayaan syiah, imam ke-12 hilang secara gaib pada umur 5 tahun (untuk menghindari dari kejaran penguasa pada waktu itu) dan akan muncul kembali sebagai Imam Mahdi.

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Imamiah merupakan kelompok mayoritas dalam Syi’ah, disebut juga Itsna Asyariah, berikut ini merupakan daftar Imam yang merupakan pengganti Nabi Muhammad dalam hal kepemimpinan umat (bukan sebagai Nabi, karena Imamiah berpendapat Nabi terakhir adalah Muhammad). Setiap Imam merupakan anak dari Imam sebelumnya kecuali Husain bin Ali, yang merupakan saudara dari Hasan bin Ali.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  6. Ja’far bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
  7. Musa bin Jafar (745799), juga dikenal dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765818), juga dikenal dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810835), juga dikenal dengan Muhammad al-Jawadatau Muhammad at-Taqi
  10. Ali bin Muhamad (827868), juga dikenal dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846874), juga dikenal dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868—), juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

PANDANGAN ISMAILIYAH


Ismailiyah percaya bahwa lima pertama dari enam Imam di atas adalah Imam sebenarnya pengganti Muhammad, tetapi Ismailiyah berpendapat bahwaIsmail bin Jafar adalah Imam pengganti ayahnya Jafar as-Sadiq, bukan saudaranya Musa al-Kazim. Dari Ismail bin Jafar, garis Imam Ismailiyah sampai ke Aga Khan yang mengklaim sebagai keturunannya. Lihat [1].

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Husain bin Ali (626680), juga dikenal dengan Husain as Syahid
  3. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  4. Muhammad bin Ali (676743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
  5. Jafar bin Muhammad (703765), juga dikenal dengan Jafar as-Sadiq
  6. Ismail bin Jafar

Hal penting untuk dicatat adalah Hasan bin Ali tidak termasuk dalam Imam yang diakui oleh Ismailiyah.

PANDANGAN ZAIDIYAH

Zaidiyah percaya bahwa empat Imam pertama seperti dalam daftar Imamiah adalah Imam yang sebenarnya, tetapi berbeda dengan yang kelima. Zaidiyah menyatakan bahwa Zaid bin Ali dan bukan saudaranya Muhammad al-Baqirsebagai Imam penerus. Untuk Zaidiyah, Keimaman dipindahkan dari Zaid bin Ali ke Imam yang menjadi pengikutnya; sering mereka menggunakan gelarKhalifah.

  1. Ali bin Abi Thalib (600661)
  2. Hasan bin Ali (625669)
  3. Husain bin Ali (626680)
  4. Ali bin Husain (658713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Zaid bin Ali (meninggal 740)

Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Dua Belas Imam

Dua belas Imam (Bahasa Arab: اثنا عشرية – Ithnāˤashariyya) adalah cabang dari ajaran Syiah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul pada tahun 868 dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam

dalam aspek keyakinan kaum Syi’ah Itsna Asyariyyah, para Imam bukanlah nabi atau rasul. Para Imam hanyalah membawakan pesan Nabi Muhammad saw. Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak menganggap Imam lebih berkuasa daripada nabi. Kebanyakan muslim salah melihat Syi’ah dalam hal tersebut. Bahkan, di ajaran Syi’ah, jika ada seseorang yang menganggap adanya nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad saw. akan langsung diberi status bid’ah atau kafir.

.

Keyakinan Itsna Asyariyyah

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw

.

Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih oleh manusia secara demokrasi (pemilu). Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah. Berikut ini adalah perbedaan lain dalam masalah Syari’ah antara Syi’ah dan Sunni:

  1. Mengambil hadits dari Nabi Muhammad saw. dan para Ahlul Bait
  2. Tidak mengambil hadits dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar dan Usman (Mereka bertiga adalah khulafaur rasyidin sebelum Ali ra.)
  3. Memberikan status ma’shum (bebas dari kesalahan) kepada para Imam dan mengikuti contoh dan ajaran mereka.

.

Doktrin utama

Berikut ini adalah keyakinan-keyakinan para pengikut Itsna Asyariyyah dalam dua hal yaitu Ushuluddin (prinsip keyakinan) dan Furu’ ad-Din (prinsip keagamaan) :

Prinsip keimanan Itsna Asyariyyah

Seorang mullah sedang berada di sebuah Imamzadeh di TabrizIran

Aliran Itsna Asyariyyah tidak membolehkan taklid (keyakinan yang buta), tapi setiap mereka yang sudah mukallaf harus mengetahui keyakinan yang sudah ditentukan:

  • Masalah ketauhidan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah-lah pencipta, menciptakan Adam langsung dengan tangan-Nya, kemudian menghidupkannya, memberinya rizki dan mematikannya. Juga memberi manusia sakit dan ujian, semua atas kekuasaan-Nya (QS Yasin:82). Mereka juga percaya bahwa Allah Maha Kuasa, Allah Maha Esa, Allah tidak terlihat dan tidak tergambar secara lahiriah oleh manusia. Secara tauhid, mereka sama dengan umat Islam pada umumnya.[3] [4]
  • Masalah keadilan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah tidak menganiaya satupun dari hamba-Nya, dan setiap hamba-Nya diberikan rizki sesuai yang dibutuhkannya.
  • Masalah kenabian: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa rasul terakhir umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. adalah wajib, seperti yang tercantum di Al-Qur’an (QS Ali ‘Imran:85)
  • Masalah imamah: Pengikut islam Syi’ah termasuk cabang Itsna Asyariyyah (Syiah Imamiyah) mempercayai bahwa ada sistem kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad. Imam sendiri bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah swt. Dan dalam prinsip ajaran Syi’ah disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Mereka mempercayai bahwa Imam ma’shum (bebas dari dosa) dan jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah. Setiap Imam akan berwasiat kepada Imam selanjutnya.
  • Masalah Kebangkitan: Bahwa Allah menghidupkan manusia untuk beramal. Mereka yang beramal baik akan diberikan ganjaran untuk masuk ke surga selamanya, sedangkan yang beramal buruk akan dimasukkan ke neraka selamanya.

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan olehAs Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam.Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

Hadits dalam Itsna Asyariyyah

  • Hadits dalam Syi’ah: dimana hadits adalah perkataan dan tindakan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits ini akan diteliti dengan shahih atau dengan interview dengan sang perawi. Hadits ini akan melewati banyak perawi yang di antaranya adalah sahabat dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) dan sampai akhirnya akan tiba di al-Ma’shum tersebut (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam)[38] .
  • Ilmu dariyah dalam Itsna Asyariyyah: yaitu ilmu untuk mencari gejala hadits dalam kondisi darurat dalam hal bagaimana matan dan sanad menyampaikan hadits[39].
  • Hadits dalam satu jalur: karena hadits merupakan hasil adaptasi untuk mempertahankan dan menyampaikan sebuah cerita atau perkataan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam), maka ada satu orang yang akan menyampaikan banyak hadist dalam satu jalur dan kemudian akan diteruskan ke setiap orang, seperti yang telah ditulis dan diikuti dalam ilmu Ushul Fiqih, bahwa kebenaran hadist dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) belum tentu benar adanya jika disampaikan dalam banyak jalur.
  • Ilmu rijal : Ilmu yang ditujukan untuk menguji ilmu dan keadaan para perawi saat menyampaikan hadits untuk mengetahui dan mengidentifikasi sebuah hadits sebagai shahih atau tidak shahih.
  • Sifat perawi yang riwayatnya dan kualifikasinya diterima:
  1. Beragama Islam: Tidak akan diterima riwayat hadits dari perawi kafir, sebelum sang perawi kafir tersebut mengucapkan syahadat secara sungguh-sungguh.
  2. Mempunyai akal yang logis (tidak gila): Tidak diterima hadits yang disampaikan oleh orang gila
  3. Baligh (cukup umur untuk menyampaikan hadits): Tidak diterima hadits dari seorang anak kecil sebelum dia mumayyiz (dewasa)
  4. Beriman
  5. Adil: Sang perawi harus bisa mempertahankan haditsnya dalam kebenaran dan tidak berlebihan dalam meriwayatkan hadits

Salam dan Solawat. Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih

Sejak kita di bangku sekolah lagi, di dalam pendidikan sejarah Islam, nama Khalifah Ar Rasyidin adalah sesuatu yang kerap kita dengar, dan kita telah dididik untuk menyanjung dan mencontohi mereka dalam segala hal. Kita kerap mendengar guru-guru kita memberikan hadis ini kepada kita.

“Aku wasiatkan kepada kamu agar bertaqwa kepada Allah dengar serta taat, meskipun kamu dipimpin oleh seorang hamba. Sesungguhnya barangsiapa diantara kamu yang masih hidup sesudah pemergianku, ia akan melihat banyak perselisihan yang akan berlaku. Maka ketika itu pastikan kamu berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa Ar Rasyidin. Gigitlah ia dengan gerahammu, dan berhatilah dengan perkara-perkara baru dalam agama, kerana setiap bidaah itu ialah kesesatan.”

Hadis di atas adalah antara sandaran utama AhlulSunnah, dan antara sebab mereka mengagungkan para khalifah ini. Walaubagaimanapun, hadis ini dhaif, dan akan saya bincangkan nanti tentang kedhaifannya. Anyway, saya berpendapat, matan hadis ini boleh di pakai, hanya jika kita menakwilkannya terhadap para Imam dari Ahlulbait(as), seperti yang saya telah bahaskan dalam artikel yang lepas. Sunnah para Aimmah(as) tidak pernah bercanggah dengan Sunnah Nabi(sawa), juga tidak pernah bercanggah sesama mereka. Ini ialah satu fakta dan mengapa saya memilih untuk menggigit sunnah mereka dengan gigi geraham saya.

Ada beberapa masalah tentang hadis di atas, jika katakan kita mahu mengguna pakai hadis ini:

  1. Rasulullah(sawa) tidak pernah menyebutkan siapa “Khalifah Ar Rasyidin” ini secara jelas(kecuali untuk Imam Ali(as) dan Ahlulbait baginda) di dalam hadisnya, jadi mengapa kalian AhlulSunnah menamakan Abu Bakr, Umar dan Usman sebagai khalifah ar rasyidin?
  2. Jika pun benar mereka ialah para khalifah yang disebutkan oleh Rasul Akram(sawa), apakah hujah kalian untuk hanya menetapkan mereka kepada 4 orang sahaja?

Inilah antara kemusykilan saya, kerana kita suka-suka hati sahaja menetapkan siapa khulafa ar rasyidin, sedangkan perlantikan ini seharusnya daripada Allah swt melalui mulut Rasul yang suci, bukan oleh kita manusia biasa penuh dosa. Saudara Sunni jelas telah tersilap, kerana sepatutnya hadis ini perlu digandingkan dengan hadis-hadis dalam artikel Imamah bahagian 2 yang lepas, dan juga, dengan hadis ini-:

1. Di keluarkan dari Bukhari, Ahmad dan Baihaqi, dari Jabir bin Samurah, berkata,

“Akan wujud 12 orang amir”.

Jabir berkata: Setelah itu baginda(sawa) mengatakan sesuatu yang tidak dapat aku mendengarnya.    Lantas bapaku berkata bahawa baginda bersabda:

“Semuanya dari Quraish.”

2. Di keluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku masuk bersama bapaku ke hadhrat Nabi lalu aku mendengar baginda(sawa) bersabda:

‘Urusan agama ini tidak akan selesai hingga sempurna 12 orang Khalifah.”

Jabir berkata: Kemudian baginda mengatakan sesuatu yang kabur dari pendengaran ku, maka aku bertanya kepada bapaku. Bapaku menjawab:

Semuanya daripada Quraish”

3.  Dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad dari Jabir bin Samurah: Aku telah mendengar bahawa Rasulullah bersabda:

“Urusan agama akan tetap berjalan lancar selagi mereka dipimpin oleh 12 orang lelaki.”

4. Di keluarkan oleh Muslim, Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban, al Khatib al Tabrizi, dari Jabir bin Samurah, Rasulullah(sawa) bersabda:

“Islam akan tetap mulia(selagi mereka dipimpin oleh) dengan 12 orang khalifah”

5. Dikeluarkan oleh Muslim dari Jabir bin Samurah berkata: Aku telah mendengar Nabi bersabda pada petang Jumaat ketika al Aslani di rejam:

“Agama ini akan tetap teguh berdiri hingga hari kiamat kerana kamu dipimpin oleh 12 orang khalifah.”

6. Di keluarkan oleh Ahmad, Al Hakim, al Haithami di dalam Majma’ uz Zawaid dinukil dari Thabrani dan al Bazzar, dari Jabir bin Samurah, Nabi bersabda:

“Urusan umatku akan berada dalam keadaan baik sehinggalah cukup 12 orang khalifah.”

7. Di keluarkan oleh Ahmad, al Haithami di dalam Majma uz Zawaid, Ibnu Hajar di dalam al Mathalibul ‘Aliyah, al Busairi di dalam Mukhtasar al Ithaf dari Masruq berkata: Telah datang seorang lelaki kepada Abdullah Ibnu Mas’ud lalu berkata:

Apakah Nabimu pernah mengkhabarkan bilangan khalifah setelah pemergiannya?

Ibnu Mas’ud menjawab:

“Ya, tetapi tiada orang pun selain kamu yang bertanyakan perkara ini. Sesungguhnya kamu masih muda. Bilangan khalidah adalah seperti bilangan majlis Musa(as), iaitu 12 orang.”

Inilah antara hadis yang menunjukkan bilangan khalifah/amir sepeninggalan Rasululla(sawa), iaitu 12 orang, yang mana selagi di bawah pimpinan mereka:-

  1. Islam akan tetap mulia.
  2. Agama ini akan tetap teguh.
  3. Urusan umat akan tetap dalam keadaan baik.

Syeikh Sulaiman al Qunduzi al Hanafi menerusi kitabnya Yanabi al Mawaddah telah mengkhususkan satu bab hanya untuk himpunan hadis 12 orang khalifah ini. Beliau menyatakan bahawa Yahya bin Hassan menerusi kitabnya, al Umdah menyenaraikan 20 jalan sanad bahawa khalifah sepeninggalan Nabi(sawa) ialah 12 orang. Manakala Bukhari menyenaraikan 3 jalan, Muslim 9 jalan, Abu Daud 3 jalan, dan Tarmizi 1 jalan.

Dengan adanya hadis-hadis ini, bagaimanakah saudara-saudara Sunni sekalian boleh menghadkan Khalifah sesudah Nabi hanya 4 orang, dan apakah dalil-dalil atau nas yang mengatakan khalifah-khalifah ini ialah Abu Bakr, Umar, atau Usman(Ali sudah tentu ada, hehe)? Setakat ini dan selama sejarah ini,yang diketahui mengenali dan mengikut 12 orang khalifah secara tepat hanyalah Syiah Imamiah. Mereka menjadikan mereka sebagai sumber kepimpinan mereka.

Lihat sahaja betapa Rasulullah(sawa) begitu menekankan tentang 12 orang khalifah ini, yang dari semua hadis ini, kita dapat rumuskan mereka sebagai penjaga agama dan urusan umat sepeninggalan baginda. Kalau kita match kan hadis-hadis ini dengan hadis wilayah Ahlulbait(as), tidakkah kita mendapati mereka(Ahlulbaiy) ialah gandingan yang sesuai untuk 12 orang ini? Dan sememangnya, hanya 12 orang sahaja yang dengan sebenar-benarnya layak memimpin umat Islam.

Siapakah Mereka?

Sewaktu saya masih dalam tempoh kajian, saya begitu teruja dan ingin tahu tentang 12 orang amir ini. Saya sentiasa membayangkan mereka sebagai pelindung Islam dan pengikutnya. Malangnya saya tidak mengenali mereka yang lain, selain dari empat yang telah diketahui umum. Saya tertanya-tanya, siapakah 8 orang yang selebihnya? Ulama-ulama Sunni, menemui jalan buntu dalam percubaan mereka untuk menakwil dan memahami hadis ini. Apa kata mereka?

Qadi Abu Bakr Ibn Al Arabi

Setelah mengira bilangan Amir selepas Rasulullah sebagai 12 kita mendapati mereka terdiri daripada : Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, Ali, Hasan, Mu’awiyah, Yazid, Mu’awiyah ibn Yazid, Marwan, ‘Abd al-Malik ibn Marwan, Yazid bin ‘Abd al-Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah… Selepas dari mereka ini ada 27 orang lagi khalifah dari Bani Abbasiyyah.

Kalau kita hanya mengambil 12 orang khalifah dari mereka itu kita akan sampai kepada Sulayman.  Kalau kita mengambil maksud hadith ini secara literal, kita hanya boleh mengambil 5 orang daripada mereka dan ditambah dengan 4 orang Khulafa’ ar-Rasyidun dan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz…

Saya tidak boleh memahami maksud Hadith ini.

[Qadi Abu Bakr Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69]

Qadi ‘Iyad al-Yahsubi:

Bilangan Khalifah adalah lebih dari itu. Untuk menghadkan bilangan mereka kepada dua belas adalah tidak tepat. Rasulullah (s.a.w.s.) tidak pernah mengatakan bahawa hanya ada dua belas orang dan tidak lebih dari itu. Oleh itu bilangan mungkin ada lebih.

[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339]

Jalal al-Din al-Suyuti:

Hanya ada duabelas orang khalifah sehingga hari kebangkitan. Dan mereka akan tetap bertindak mengikut haq (kebenaran) walaupun mereka tidak berturutan.

Daripada 12 itu, empat adalah khulafa ar-Rasyidun, kemudian Hasan, kemudian Mu’awiyah, kemudian Ibn Zubayr, dan diakhiri dengan ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz. Bilangan mereka baru lapan. Tinggal lagi empat. Mungkin Mahdi, si-Abbasiyyah boleh dimasukkan kerana beliau dikalangan Bani Abbasiyyah adalah seperti  ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz dikalangan Bani Umayyah. Tahir ‘Abbasi akan juga dimasukkan kedalam bilangan ini kerana beliau merupakan seorang sultan yang adil. Dua lagi akan datang pada masa hadapan. Salah seorang daripada mereka adalahMahdi, kerana beliau adalah dari Ahlul Bayt (a.s.).

[Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Page 12;Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa’iq al-Muhriqa Page 19

Ibn Hajar al-‘Asqalani:

Tidak ada seorangpun yang mempunyai ilmu yang cukup untuk memahami hadith dari sahih Bukhari ini.Adalah tidak tepat untuk mengatakan bahawa imam-imam ini akan hadir pada satu ketika/masa yang sama.

[Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341]

Ibn al-Jawzi:

Khalifah pertama dari Bani Umayyah adalah Yazid ibn Mu’awiyah dan yang terakhir adalah, Marwan Al-Himar. Bilangan mereka adalah tiga belas. ‘Uthman, Mu’awiyah dan ibn Zubayr tidak dimasukkan didalam bilangan ini kerana mereka adalah dikalangan para sahabat Rasulullah(s).

Kalau kita mengecualikan Marwan bin al-Hakam kerana kontorversi samada beliau dikira sebagai sahabat ataupun tidak kerana walaupun beliau berkuasa  Abdullah ibn Zubayr mendapat sokongan daripada rakyat. Baharulah kita akan mendapat angka dua belas. … Setelah kekhilafahan Bani Umayyah, suatu kekacauan yang hebat berlaku. Sehingga Bani Abbasiyyah berjaya untuk menstabilkan pemerintahan mereka. Oleh itu suasana asal telah bertukar seluruhnya.

[Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana yang telah dicatatkan dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi]

Al Baihaqi:

Bilangan ini (duabelas) akan dijumpai hingga ke zaman Walid ibn ‘Abd al-Malik. Selepas daripada ini timbul kekacauan dan gangguan. Kemudian datang pula Bani Abbasiyyah. Riwayat ini telah meningkatkan bilangan Imam. Sekiranya kita ketepikan sebahagian daripada perilaku mereka yang datang selepas kekacauan tersebut, bilangan mereka akan meningkat.”

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Page 11]

Ibnu Katsir:

Barangsiapa yang mengikut dan bersetuju dengan  pandangan Bayhaqi bahawa Jama’ah bermaksud khalifah-khalifah yang datang turut menurut sehingga pada masa Walid ibn Yazid ibn ‘Abd al-Malik si-pengganas adalah mereka yang dikritik dan dihina oleh kami dengan berhujah kepada beberapa hadith.

Dan sekiranya kita menerima Kekhalifahan Ibn Zubayr sebelum ‘Abd al-Malik bilangannya akan menjadi enam belas. Padahal bilangannya sepatutnya duabelas sebelum dari ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Dengan kaedah ini Yazid ibn Mu’awiyah akan dimasukkan dan tidak  ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz. Walaubagaimanapun, adalah telah diterima oleh junhur ulema bahawa ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz adalah seorang khalifah yang benar dan adil.

[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250]

Lihat sahaja kekeliruan mereka. Ini mungkin disebabkan oleh kejahilan mereka kerana hanya memberi tumpuan terhadap orang yang memegang kuasa bukan yang di lantik Rasulullah(sawa). Ini juga disebabkan oleh prejudis terhadap Syiah sehingga mereka terlepas pandang terhadap hadis keutamaan Ahlulbait(as).

Demi membuka kebuntuan ini, biarlah saya meriwayatkan hadis ini sebagai permulaan:-

Al-Dhahabi yang merupakan seorang ulamak yang terkenal, berkata di dalam Tadhkirat al-Huffaz, Jilid. 4, ms. 298, dan Ibn Hajar al-’Asqalani berkata didalam al-Durar al-Kaminah, Jilid. 1, ms. 67 bahawa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi’i merupakan seorang ulamak hadith yang terkenal. Beliau (Al-Juwayni) melaporkan dari Abdullah ibn Abbas (r) yang melaporkan dari Rasulullah (s) yang bersabda,

Aku adalah penghulu bagi para Nabi dan Ali ibn Abi Talib adalah penghulu bagi penggantiku, dan selepas daripada aku, penggantiku adalah 12, yang pertama merupakan Ali ibn Abi Talib dan yang terakhir merupakan Al Mahdi.

Al-Juwayni juga meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas (r) yang meriwayatkan daripada Rasulullah (s):

“Sesungguhnya Khalifahku dan pewarisku dan Hujjah Allah keatas makhlukNya selepas dari ku adalah 12. Yang pertama daripada mereka adalah saudaraku dan yang terakhir daripada mereka adalah anakku (cucu).“  Baginda ditanya: “Ya Rasulullah, Siapakah saudaramu?”  Beliau menjawab, “Ali ibn Abi Talib” Kemudian mereka bertanya lagi, “Dan siapakah anakmu?”  Rasulullah (s) menjawab, “Al Mahdi, beliau yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan seperti mana pada ketika itu ia dipenuhi oleh ketidakadilan dan kekejaman. Dengan Dia yang telah mengangkatku sebagai pemberi khabar buruk dan khabar baik, biarpun hanya sehari tinggal untuk kehidupan dunia ini, Allah Maha Kuasa akan memanjangkan hari itu sehingga beliau menghantar anakku Mahdi, kemudian Beliau akan menyuruh Ruhullah ‘Isa ibn Maryam (a) untuk turun dan solat dibelakang beliau (Mahdi). Dan dunia akan disinari oleh cahaya kehebatannya. Dan kekuasaannya akan mencapai timur dan barat.”

Al-Juwayni juga meriwayatkan bahawa Rasulullah(s) juga memberitahu: “Aku, Ali, Hasan, Husayn dan sembilan orang daripada zuriat Husayn adalah mereka yang disucikan dan yang tidak melakukan kesalahan.

[Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]

Pendapat inilah yang selari dengan pendapat kami, Syiah Ahlulbait(as). Jelas sekali di sini, Khalifah ar Rasyidin bukanlah ditujukan kepada Abu Bakr, Umar atau Usman. Gelaran ini juga tidak muncul di zaman pemerintahan mereka. Ia hanya diberikan oleh ulama-ulama dari golongan Tabiin dan seterusnya, yang memandang zaman itu sebagai zaman kegemilangan Islam.

Untuk lebih detail, inilah mereka.

Dalam Ikmal al-Din terdapat sebuah hadis melalui Jabir al-Jufri yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah yang berkata: “Ya Rasulullah kami telah mengetahui Allah dan Rasul-Nya, lalu siapakah ulil amri yang Allah jadikan ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepadamu?”

Lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai Jabir, mereka adalah penerusku dan para pemimpin muslimin. Yang pertama dari mereka adalah ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian (Imam) Hasan dan (Imam) Husain, kemudian ‘Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin ‘Ali, yang dikenal dalam taurat dengan nama al-Baqir, yang engkau akan jumpai kelak. Wahai Jabir! Apabila engkau menjumpainya, sampaikanlah salamku padanya. Setelahnya adalah ash-Shadiq, Ja’far bin Muhammad; kemudian Musa bin Ja’far, kemudian ‘Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin ‘Ali, kemudian ‘Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin ‘Ali, setelahnya adalah al-Qa’im yang nama asli dan gelarnya sama denganku. Dia adalah hujjah Allah di bumi dan pengingat hamba-hamba-Nya. Dia anak (Imam) Hasan bin ‘Ali (al-’Askari). Peribadi inilah yang menyebabkan tangan Allah akan membukakan arah Timur dan Barat dunia dan peribadi ini jugalah yang akan digaibkan dari para pengikut dan pencintanya. karena inilah (kegaiban -penerj) keimamahannya tidak dapat dibuktikan oleh pernyataan siapapun kecuali oleh orang yang keimanannya telah Allah uji.”

Jabir berkata: “Aku bertanya padanya: ‘Wahai Rasulullah! Apakah para pengikut (syi’ah)-nya akan mendapatkan manfaat dari kegaibannya?’ Dia menjawab: ‘Ya. Demi Zat yang mengutusku dengan kenabian, mereka akan mencari cahaya dan taat kepadanya pada masa gaibnya sebagaimana manusia mendapat manfaat dari (cahaya) matahari ketika awan menutupnya’ …”
(Ikmal al-Din, jilid 1, hal. 253, dengan makna yang hampir sama dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hal.117)

  • Yanabi al Mawaddah : hal 134 dan 137
  • Syawahidul Tanzil:1/48  hadis 202-204
  • Tafsir Razi:3/375

Telah diriwayatkan oleh al Hamwini, di dalam Fara’id al-Simtayn dan dinukilkan darinya di dalam Yanabi al Mawaddah, dengan sanad dari Ibnu Abbas berkata:

Seorang Yahudi yang bergelar Nat’sal datang bertemu Rasulullah(sawa) lalu berkata;

Wahai Muhammad(sawa) aku berhajat untuk bertanya kepadamu sesuatu yang aku pendamkan di dalam diriku. Jika kamu menjawabnya, maka aku akan mengisytiharkan keislamanku di hadapan mu.” Rasulullah(sawa) menjawab, “Tanyalah wahai Abu Imarah.” Dia lalu menyoal baginda sehingga beliau merasa puas dan mengakui kebenaran baginda(sawa).

Kemudian dia berkata, “ Beritahu aku tentang pengganti kamu, siapakah mereka? Sesungguhnya tiada Rasul yang tidak mempunyai wasi(pengganti).Rasul kami Musa melantik Yusha bin Nuun sebagai pengganti dirinya. Baginda menjawab: “Wasi ku ialah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua cucuku, Hassan dan Hussain, seterusnya diikuti pula oleh 9 orang keturunan Hussain.

Dia bertanya lagi: “Sebutkan nama-nama mereka kepada ku waha Muhammad(sawa).” Rasul menjawab, “Apabila Hussain pergi, beliau akan diganti oleh anaknya, Ali, apabila Ali pergi, Muhammad akan menggantikannya. Apabila Muhammad pergi, Ja’afar akan menggantikannya. Apabila Ja’afar pergi, beliau akan digantikan oleh anaknya Musa. Apabila Musa pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Setelah Ali pergi anaknya Muhammad akan menggantikannya. Setelah Muhammad pergi, anaknya Ali akan menggantikannya. Apabila Ali pergi, anaknya Hassan akan menggantikannya. Apabila Hassan pergi, anaknya Muhammad al Mahdi akan menggantikannya. Inilah mereka yang 12 orang.Dengan jawapan tersebut yahudi itu memuji Allah dan menyatakan keislamannya.

Setakat ini, bolehlah saya simpulkan bahawa nama para Imam/Khalifah/Amir ini ialah:

  1. Imam Ali Ibnu Abi Thalib Al Murtadha
  2. Imam Hassan ibn Ali al Mujtaba
  3. Imam Hussain ibn Ali asy-Syahid
  4. Imam Ali ibn Hussain Zain al Abidin
  5. Imam Muhammad ibn Ali al Baqir
  6. Imam Ja’afar ibn Muhammad as Sadiq
  7. Imam Musa ibn Ja’afar al Kazim
  8. Imam Ali ibn Musa ar Redha
  9. Imam Muhammad ibn Ali al Jawad
  10. Imam Ali Ibn Muhammad al Hadi
  11. Imam Hassan ibn Ali al Askari
  12. Imam Muhammad ibn Hassan al Mahdi

Demi Allah, para Imam-imam inilah tempat kami, orang-orang Syiah, meletakkan kesetiaan kami, rujukkan ilmu agama kami, dan sebagai hakim kami. Mereka ialah lantikan Allah swt, menerusi lidah suci Imam ar Rahmah, Rasulullah(sawa). Ada sesetengah pihak menuduh kami, sesuka hati meletakkan siapa Imam-imam ini, seolah-olah kami memilih Imam kami. Kalian silap, Allah swt lah yang menetapkan mereka, bukan kami, kami hanya “Sami’na wa atho’na.“(Kami dengar dan kami taat)

Apa yang boleh saya simpulkan di sini ialah:-

  • Khalifa ar Rasyidin bukan sekadar 4 orang, tetapi 12 orang.
  • Mereka semuanya ialah Ahlulbait(as), bukan Abu Bakr, Umar dan Usman.
  • Rasulullah sendiri telah menyebut mereka, dan bukan ciptaan kami.
  • Di bawah Imamah mereka, Islam itu aman, terurus dan terlindung, begitu jugalah dengan umatnya yang mengikuti mereka.

Kalau nak diikutkan, perbahasan ini masih boleh dipanjangkan, tetapi saya merasakan cukup setakat ini. Tidak mengapa jika ada yang tidak bersetuju dengan apa yang saya utarakan di sini, tetapi hormatilah pendapat kami, kerana kami mengeluarkan pendapat berdasarkan dalil dan nas, bukan sekadar suka-suka.

Wallahu’alam. Salam alaikum dan solawat.

.
DR. Majdi Wahbe as Syafi’i (Khatib al Azhar) berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran
 Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur’an
Salah seorang pemerhati Agama Mesir dan Khatib Universitas al Azhar berhasil menetapkan jumlah para imam Ahlul Bait (as) melalui Al Quran. Berdasarkan laporan ini disebutkan bahwa beliau mampu membuktikan kebenaran 12 imam yang dimulai dari Imam Ali sampai Imam terakhir, yaitu Imam Mahdi (as).
Nama 12 Imam Ahlul Bait Ada Dalam Al Qur

Kemudian laporan itu melanjukan: Kata yang merupakan derivasi (pecahan) dari “al imamah” (imam/kepemimpinan) juga berulang sebanyak 12 kali dalam Al Qur’an yang bermakna 12 imam dimana berdasarkan riwayat yang dinukil dari Nabi saw urutannya adalah dari Imam Ali (as), Imam Hasan (as) dan Imam Husain serta mencakup 9 Imam dari keturunan Imam Ketiga.

Dua belas (12) Ayat Al Quran yang mencakup kata “imam dan imamah”, yaitu:

- سورة البقرة، الآية 124: {وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَاماً قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِين}.

2- سورة التوبة، الآية 12: {وَإِن نَّكَثُواْ أَيْمَانَهُم مِّن بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُواْ فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُواْ أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لاَ أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنتَهُونَ}.

3- سورة هود، الآية17: {أَفَمَن كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِّنْهُ وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إَمَاماً وَرَحْمَةً أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ }.

4- سورة الاسراء، الآية70: {يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُوْلَـئِكَ يَقْرَؤُونَ كِتَابَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلا}.

5- سورة الانبياء، الآية 72: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاةِ وَإِيتَاء الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِين}.

6- سورة القصص، الآية 5: {وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الاَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِين}.

7- سورة الحجر، الآية 79: {فَانتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُّبِينٍ }.

8- سورة السجدة، الآية 24: {وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُون}.

9- سورة يس، الآية 12: {إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ }.

10- سورة القصص، الآية 41: {وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنصَرُون}.

11- سورة الفرقان، الآية 74: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً}.

12- سورة الأحقاف، الآية 12: {وَمِن قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَاماً وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُّصَدِّقٌ لِّسَاناً عَرَبِيّاً لِّيُنذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ}.

Yang menarik Khatib Masjid al Azhar ini juga membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait –sebagaimana yang termaktub dalam surah al Ahzab, ayat 33 itu hanya 5 orang (yaitu Rasul saw, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan sama sekali tidak mencakup istri-istri Nabi saw, sebagaimana diriwayatkan sendiri oleh Ummu Salamah. Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw dalam hadisnya yang terkenal dengan “hadis kisa”. (Kisa berarti kain penutup). Beliau menyatakan bahwa kata kisa’ pun lima kali disebutkan dalam al Quran, yaitu:

1- سورة البقرة، الآية 233: {وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّا آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير}.

2- سورة البقرة، الآية 259: {أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىَ يُحْيِـي هَـَذِهِ اللّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْماً أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَل لَّبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ فَانظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِّلنَّاسِ وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْماً فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير}.

3- سورة المائدة، الآية 89: {لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون}.

4- سورة المؤمنون، الآية 14: {ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِين}.

5- سورة النساء، الآية 5: {وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفا}.

.

Hadis Tsaqalain Sunni bermakna 12 imam Ahlul bait beserta Fatimah Az Zahra

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya [1], “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.‘ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’

Kemudian Zaid bin Arqam berkata, ‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata, ‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’

Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepeninggal beliau. “

———————-

Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka.

Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya (tsaqalain)niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya.

Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu.

Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka.

Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’”

Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.‘”[2]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya.[3]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

1.  Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

2, Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 118, terbitan Muassasah al-A ‘lami Beirut – Lebanon.

3. Ash-hawa’iq, hal. 151.

.

Pesan Terakhir Rasulullah saww di Ghadir Khum


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji bagi Allah yang tinggi dalam keesaan¬-Nya, dekat dalam ketunggalan-Nya, perkasa dalam kekuatan-Nya, agung dalam keberadaan pembantu¬-pembantu utama-Nya, Maha Tahu akan segala sesuatu, sementara Dia tetap ditempat-Nya; rnenundukkan seluruh makhluk dengan kekuasaan¬Nya dan (kekuatan) bukti-bukti-Nya.

Dialah Tuhan yang kesucian-Nya abadi dan pujian bagi-Nya tak pernah terhenti. Pencipta langit-langit yang menjulang dan lapisan bumi yang membentang. Penguasa bumi dan langit, Maha Kudus dan Maha Suci. Tuhan para Malaikat dan al-Ruh yang kepada seluruh ciptaan-Nya bersifat sangat pemurah, dan kepada seluruh makhluk-Nya bersifat Maha Derma.
Dia melihat setiap pandangan, tanpa pandangan¬-pandangan itu rnelihat-Nya, Dialah Maha Pemurah, Maha Tabah dan Maha Kasih.

(Dialah) Penabur rahmat yang meliputi segala sesuatu, Pelimpah nikmat yang memberkati seluruh rnakhluk, tidak mempercepat siksa-Nya dan tidak segera menimpakan azab kcpada mereka yang berhak rnendapatkannya. Dia tahu setiap rahasia yang tersembunyi dan segala apa yang tersimpan dalarn hati. Tiada rahasia yang luput dari-Nya. dan tiada misteri yang rnengelirukan-Nya.

Dia Maha Tahu akan segala sesuatu, menundukkan segala sesuatu, perkasa atas segala sesuatu, berkuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang rnenyerupai-Nya.

Dialah yang menciptakan sesuatu ketika belum ada yang disebut sesuatu. Dialab yang Maha Abadi, yang berkuasa atas dasar keadilan. Tiada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana, Maha Suci Tuhan dan dilihat oleh pandangan mata, dan Dialah yang meliputi pandangan mata. Dia yang Maha Kasih dan Maha Mengetahui.

Tiada siapa yang menceritakan Sifat-Nya lantaran (pernah) melihat-Nya, tiada siapa yang mengetahui bagaimana Dia secara lahir dan batin, melainkan apa yang dikatakan oleh Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung itu sendri.

Aku bersaksi bahwa Dia Allah yang kudus-Nya memenuhi masa, cahaya-Nya meliputi alpha dan omega, perintah-Nya terlaksana tanpa musyawarah, takdir-Nya ditentukan tanpa bersama-Nya mitra.

Tiada cela dalam pengaturan-Nya, tiada contoh dan ciptaan yang dibentuk-Nya, tiada bantuan dari setiap apapun, tiada kerja keras dan tiada tipuan atas apa yang diciptakan-Nya, Dia ciptakan makhluk-Nya dan jadilah ia, dan karena cahaya wujud-Nya maka tampaklah semua.

Dialah Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Rapi dan Maha lndah dalam mencipta, maha Adil yang tidak menganiaya, dan Maha Pemurah yang kepada-Nya kembali seluruh hajat dan perkara.

Aku bersaksi bahwa Dialah Tuhan yang kepada kekuasaan-Nya segala sesuatu tunduk, dan kepada keagungan-Nya segala sesuatu membungkuk. Dialah Empunya seluruh kekayaan, Raja dari seluruh kerajaan, Pencipta planet-planet senta bintang gemintang di langit, pengendali matahari dan bulan, di mana kesemuanya mengorbit untuk batas waktu yang telah ditentukan. Dialah yang menggilirkan malam setelah siang, dan siang setelah malam saling berganti. Dialah penghancur para tiran yang membangkang dan pemusnah setan-setan yang terkutuk yang menentang.

Tiada bersama-Nya lawan dan kawan, Dia Maha Esa, Tunggal. Satu dan tempat bertumpu segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Dialah Tuhan yang Satu, Pemelihara yang Agung dan Pemurah. (Bila) berkehendak ia akan terlaksana, (bila) berkeinginan ia akan terwujud. Dia mengetahui segala sesuatu dengan rinci. Dia yang mematikan dan menghidupkan, membuat orang menjadi fakir dan kaya, tertawa dan menangis, menyimpan dan memberi.

Di tangan-Nyalah kerajaan; bagi-Nya segala pujian, di tangan-Nya semua kebaikan dan Dia-lah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Malam dimasukkan-Nya ke dalarn siang, dan siang ke malarn. Tiada Tuhan melainkan Dia. Maha Perkasa dan Maha Pengampun, Pengijabah do’a, Pemberi yang tulus, Maha Tahu secara rinci segala hembusan nafas, Tuhan seluruh makhluk, baik dan golongan jin maupun golongan nas (manusia). Tiada perkara sulit di hadapan-Nya; tiada gemuruh suara orang-orang yang berteriak mengganggu-Nya atau desakan orang-orang yang mendesak rnencemaskan¬Nya. Dialah Pemelihara orang-orang yang saleh, Penyebab berjayanya orang-orang yang sukses, Pelindung penghuni alam semesta, dan Yang paling berhak untuk disyukuri dan dipuji oleh setiap makhluk ciptaan-Nya. Aku memuji-Nya pada saat suka dan duka, juga pada saat sempit dan lapang. Aku beriman kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab¬Nya dan Rasul-rasul-Nya. Aku mendengar perintah¬Nya, patuh dan segera bangkit melaksanakan segala yang diridhai-Nya, menerima total ketentuan-Nya, semangat dalam mematuhi-Nya dan takut akan siksa¬Nya. Sebab Dialah Tuhan yang tiada seorangpun akan merasa aman dari makar-Nya atau khawatir dan kezaliman-Nya. Aku ikrarkan pada diriku akan kehambaanku dihadapan-Nya, dan juga bersaksi akan ketuhanan-Nya (untuk diriku). Kini akan aku sampaikan (kepada kalian) apa yang Tuhan wahyukan kepadaku, sebab bila tidak kulakukan itu, niscaya azab-Nya akan mengenaiku, sedemikian sehingga tiada siapapun yang akan dapat menolak¬Nya dariku, (sebesar apapun kekuatannya). Tiada Tuhan melainkan Dia. Dia telah memberitahuku, apabila tidak kusampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku, itu berarti sama dengan aku tidak menyarnpaikan seluruh risalah (pesan)-Nya; dan Dia juga telah menjamin untuk memeliharaku (dan upaya orang-orang yang menentang). Bagiku cukuplah Allah Yang Maha Pemurah sebagal penjamin.

Firman-Nya untukku:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
“Wahai Rasul (Muhammad), sainpaikan apa yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu. Apabila tidak kau lakukan itu, berarti sama dengan engkau tidak menyampaikan s eluruh risalah (pesan) -Nya, dan Allah (akan) memeliharamu dari (gangguan) manusia-manusia lain.” (Q.S. 5:67)

Wahai umat manusia! aku tidak pernah salah, alpa atau lalai dalam menyampaikan segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadaku. Kini aku jelaskan kepada anda semua sebab turunnya ayat ini: Malaikat Jibril (as) turun menjumpaiku sebanyak tiga kali, memerintah aku–berdasarkan perintah Tuhanku— untuk berdiri di tempat keramaian ini dan menyatakan kepada (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib (as) adalah saudaraku, Washi-ku (penerima wasiatku) penggantiku dan imam setelahku, yang kedudukannya di sisiku sama dengan kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tiada nabi selepasku. Dia adalah wali (pemimpin) kamu setelah Allah dan Rasul-Nya. Allah (SWT) juga telah menurunkan kepadaku sebuah ayat dalam kitab-Nya berkenaan dengan itu:

“Sungguh wali (pemimpin) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat, dan menunaikan zakat sementara mereka dalam keadaan ruku” (Q.S. 5:55)

Ali bin Abi Thalib (as) adalah orang yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakatnya dalain keadaan ruku’ seperti yang dirnaksud oleh Allah (SWT) itu.

(Pada rnulanya) Aku mernohon kepada Malaikat Jibnil agar dia mernintakan kepada Allah untuk membehaskan aku dan menyampaikan penintah mi kepada kamu, kanena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa, dan hetapa banyaknya orang yang niunafik, penebar fitnah dan mengolok¬olok agama Islam sebagaimana yang disifatkan oleh Allah karakten-kanakter mereka dalarn Al-Qur’an, “… kamu katakan dengan multi/mu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga. clan kamu menganggapnya sesua/u yang ningan, padaha/ di sisi A//a/i ia ada/a/i besan. “ (24:15)

Masih segar dalam ingatanku bagaimana mereka menyebutku sebagal udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Mereka mendugaku demikian lantaran seringnya mereka mendapati dia (Ali) duduk bersamaku dan besarnya penghormatanku kepadanya sehingga untuk itu Allah ‘Azza wa jalla menurunkan firman-Nya:
Di antara mereka (orang-orang munafìk) ada yang menyakiti nabi dan mengatakan: “Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.” Kalakanlah: “Ia mempercayai semua yang balk bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan mempercayai orang-orang mukmin.” (Q.S. 9:61)

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan kusebutkan, atau seandainya aku mau tunjuk wajah-wajah mereka niscaya akan kutunjukkan. Namun —demi Allah— aku telah dan terus akan bersikap sangat bersahabat dan dewasa terhadap mereka. Bagaimanapun, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya padaku tentang maksud ayat: “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, apabila kamu tidak mengerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalahmu. Allah akan memelihara kamu dan gangguan manusia” (Q.S. 5:67)

Ketahuilah —wahai umat manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, Ajam (Non Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar. putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (All) adalalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang rnengikutinya akan mernperoleh rahmat, dan yang mernpercayainya adalah orang beriman. Allah telah mengampuni orang yang mendengarnya dan yang mematuhinya.

Wahai umat manusia ini adalah kali terakhir aku berdiri di tempat keramaian ini.
Dengarlah, patuhilah dan ikutilah perintah Tuhan kamu, karena Allah ‘Azza wa Jalla adalah Tuan, Pelindung, dan Tuhan kamu. Berikutnya adalah Muhammad (saw), yang sekarang tengah berdiri dan berbicara dihadapan kamu sebagai wali dan pemimpin kamu. Setelah aku, Ali adalah Wali dan imam kamu berdasarkan perintah Tuhanmu. Kemudian imamah dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada zuriat keturunanku dari putra-putranya sehinggalah tiba suatu hari di mana kamu akan berjumpa dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sungguh tiada suatu yang halal melainkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan tiada yang haram melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya. Dialah yang telah mengajariku mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian aku mengajarkannya kepada Ali apa yang diajarkan oleh Tuhanku padaku dari kitab-Nya dan hukum halal dan haram-Nya.

Wahai umat manusia! seluruh ilmu yang diajarkan-Nya kepadaku adalah ilmu-ilmu yang rinci.

Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung.

Wahai umat manusia! Jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur dan enggan untuk menerima kepemimpinannya. Karena dia akan mem bawa kepada kebenaran dan mengamalkannya, serta menghancurkan kebatilan dan mencegahnya, tanpa dia peduli pada celaan para pencela dalam menjalankan perintah Tuhannya. Dialah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya; dialah orang yang mengorbankan jiwanya demi Rasul-Nya; dialah satu-satunya dari kaum lelaki yang pertama kali menyembah Allah bersama Rasul utusan-Nya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah dia. Karena Allah telah mengutamakannya.

Terimalah dia, karena Allah yang telah mengangkatnya.

Wahai umat manusia! Dialah Imam yang ditunjuk oleh Allah. Allah tidak akan mengampuni orang¬-orang yang ingkar terhadap wilayah dan kepemimpinannya dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang
pedih, maha dahsyat dan selama-lamanya. Awas! jangan kalian mengingkarinya karena itu akan menghantar kalian ke dalam api neraka, yang bara apinya terdiri dan manusia dan batu-batuan yang telah disiapkan bagi orang-orang kafir.

Wahai umat manusia! Demi Allah, para nabi dan rasul terdahulu telah memberitakan kepada kaumnya akan kedatanganku. Aku adalah akhir dan penutup seluruh nabi dan rasul. Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya. di langit dan di bumi.

Barangsiapa ragu-ragu tentang itu, maka dia adalah orang kafir sekafirnya orang jahiliyah terdahulu. Barangsiapa meragukan sebagian ucapanku, itu berarti meragukan keseluruhannya. Orang yang ragu-ragu seperti itu baginya adalah api neraka.
Wahai umat manusia! Anugerah Allah kepadaku akan keutamaan-keutamaan ini adalah karena kasih sayang-Nya dan ihsan-Nya yang agung kepadaku. Tiada tuhan melainkan Dia. BagiNya pujian dariku pada setiap keadaan sepanjang masa dan selama¬-lamanya.

Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan. Karena kamilah kemudian Allah menurunkan rezeki-Nya (kepada kalian) dan (karena kami jugalah maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Terkutuk dan sungguh terkutuk; dimurkai dan sungguh dimurkailah mereka yang menolak ucapanku ini dan merasa tidak berkenan di dalam hatinya. Ketahuilah bahwa Jibril telah memberitahuku tentang itu berdasarkan firman Allah (SWT) kepadanya:

“Barangsiapa memusuhi .4li dan tidak mewila’nya (menjadikannya sebagai wali) niscaya dia akan memperoleh laknat-Ku dan murka-Ku “. Karena itu hendaklah setiap jiwa melihat apa yang akan disiapkannya untuk hari esok. Takutlah kamu kepada Allah, dan hindarilah dari menentang-Nya. karena akibatnya kalian akan tergelincir, padahal sebelumnya kalian berada pada jalan yang lurus. Sungguh Allah Maha Tahu atas apa yang kamu kerjakan.
Wahai umat manusia! Sungguh Alilah yang dimaksudkan sebagai hak Allah (yang harus dipenuhi haknya) seperti yang disebutkan dalarn kitab suci¬Nya. Allah berfirman: (kelak di hari kiamat) setiap jiwa berkata : “amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan hak-hak Allah…”
(Q.S. 39:56)

Wahai umat manusia! Tadabburlah (renungkanlah) kitab suci AlQuran, pahamilah ayat-ayatnya. perhatikanlah ayat-ayat muhkamatnya dan jangan kalian ikuti (secara lahiriah) makna ayat-ayat Mutasyabihat-nya. Demi Allah, tidak ada yang bisa menjelaskan batas-batasnya atau menerangkan tafsirnya kepada kalian melainkan orang yang kupegang tangannya ini; yang kunaikkan dia ke sisiku ini dan yang kuangkat lengannya ini. Kini aku umumkan kepada kalian, barangsiapa menjadikan aku sebagai maula atau pemimpin, maka inilah Ali sehagai maula dan pemimpinnya. Dia—Ali bin .Abii Thalib— adalah saudaraku dan washiku. Perintah untuk mengangkatnya sebagai maula inl turun dari Allah ‘azza wa jalla kepadaku.

Wahai umat manusia! Sungguh Ali dan putra-putraku yang suci adalah peninggalan beratku yang besar. Masing-masing mereka akan memberitakan satu sama lain dan saling membenarkan. Keduanya (AlQuran dan keluarga Nabi) tidak akan pernah berpisah sehingga mereka menjumpaiku di telaga (syurga) kelak. Mereka (para Imam, penerj.) ini adalah orang-orang kepercayaan Allah yang ada di antara makhlukNya dan para pemimpin bijaksana yang ada di bumiNya. Sungguh telah kutunaikan (perintah ini). Sungguh telah kusampaikan; sungguh telah kuperdengarkan; sungguh telah kujelaskan.

Ketahuilah bahwa Allah ‘azza wa jalla telah memfirmankannya dan aku telah mengucapkannya dari sisiNya. Ketahuilah, sungguh tidak ada orang yang disebut sebagai Amir alMukminin (Pemimpin orang-orang yang beriman) melainkan saudaraku ini. Siapapun tidak diperkenankan untuk menyandang gelar dan status ini melainkan dia semata-mata.

(Kemudian Nabi saw mengambil lengan Ali yang sejak tadi berdiri bersama Nabi di atas mimbar dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu dekatnya sehingga kakinya sejajar persis dengan lutul Rasulullah saw. Nabi kemudian berkata:)
Wahai umat manusia! Ini adalah Ali, saudaraku dan washiku, pemelihara ilmuku, khilafahku bagi umatku dan wakilku dalam menafsirkan kitab Allah ‘azza wa jalla.

Dialah penyeru kepada Allah, melaksanakan segala apa yang diridhoiNya, memerangi musuh-musuhNya, penganjur pada ketaatan, pencegah maksiat, khalifah Nabi utusan Allah, Amir alMukminin, Imam yang memberi petunjuk, yang memerangi—berdasarkan perintah Allah—kelompok Nakitsin, Qosithin dan Mariqin.

Kini kusampaikan pada kalian—berdasarkan perintah Tuhanku, sesuatu yang tidak dapat kuubah. Aku nyatakan, “Allahumma, ya Allah berilah dukungan dan wila’Mu kepada orang yang mewila’ Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengabaikan haknya. Ya Allah, Engkaulah yang telah menurunkan firmanMu kepadaku bahwa imamah setelahku adalah milik Ali kekasihMu, di saat kujelaskan perkara itu(kepada mereka) dan kuangkat dia (sebagai pemimpin) yang dengannya Engkau sempurnakan untuk hamba-hambaMu agama mereka dan Engkau sempurnakan untuk mereka nikmatMu, dan Engkau ridhoi bagi mereka Islam sebagai agamanya. Engkau telah berfirman : “Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agamanya, niscaya ia tidak akan diterima dan kelak di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. 3:89). Ya Allah, kumohon kesaksianMu dan cukup bagiku Engkau sebagai saksi—bahwa aku telah sampaikan (perintahMu ini).

Wahai umat manusia! Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama kalian ini dengan imamah Ali. Barangsiapa tidak mengikutinya atau tidak mengikuti pengganti-penggantinya—putra-putraku yang datang dari slbinya yang tetap ada sampai hari kiamat dan hari perjumpaan dengan Allah swt, niscaya amal-amal baik mereka akan gugur dan mereka akan kekal dalam api neraka, tanpa keringanan dan tanpa harapan (untuk bebas darinya).

Wahai umat manusia! Inilah Ali, seorang yang paling banyak membelaku di antara kalian, yang paling berhak atasku, yang paling dekat denganku dan yang paling mulia di sisiku. Allah swt dan aku ridho padanya. Tiada ayat tentang ridho Allah yang turun melainkan ia berkaitan dengan Ali, tiada ayat di mana Allah berbicara dengan orang-orang beriman melainkan Dia memulainya dengan Ali; tiada ayat pujian dalam AlQuran yang turun melainkan berkaitan dengan Ali; tiada kesaksian akan surga (seperti) dalam ayat “hal ata’alal insani” melainkan Alilah yang dimaksudkannya; ayat tersebut tidak turun untuk selain Ali.
Wahai umat manusia! Ali adalah pembela agama Allah dan pelindung Rasul utusan Allah. Dialah orang bertakwa, suci, petunjuk jalan Allah dan memperoleh petunjuk dariNya. (Aku) Nabi kalian adalah sebaik-baik nabi, dan (Ali) washi kalian adalah sebaik-baik washi, sementara putra-putranya juga adalah sebaik-baik washi.

Wahai umat manusia! Sungguh zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi Ali.

Wahai umat manusia! Sungguh karena dengkilah maka Iblis mengeluarkan Adam dari surga. Oleh karena itu hindarilah dari mendengki Ali, karena ia akan menyebabkan amal-amal kalian gugur dan kaki-kaki kalian tergelincir. Ingat bahwa Nabi Adam telah diturunkan (oleh Allah) ke bumi ini hanya lantaran satu kesalahan, padahal ia adalah manusia pilihanNya. Apalagi kalian, manusia biasa, di mana di antara kalian ada juga musuh-musuh Allah. (Wahai umat manusia!) Hanya orang-orang yang durhaka sajalah yang membenci Ali, sementara orang-orang yang takwa akan mendukungnya dan menjadikannya sebagai wali dan orang-orang yang beriman yang tulus akan beriman kepadanya.

Demi Allah! Berkenaan dengan Alilah surat al¬‘Asr berikut turun “Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keaduan rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

Wahai umat manusia! Biarlah Allah sebagai saksiku bahwa aku telah sampaikan tugas risalahini. Sungguh tugas Rasul hanya menyampaikan firman Tuhan semata-mata.

Wahai umat manusia! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan (sampai) kamu mati melainkan kamu benar-benar sebagai orang muslim.

Wahai umat manusia! Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya dan cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya, sebelum kami mengubah mukamu lalu kami putarkan ke belakang (yakni mati).

Wahai umat manusia! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian (ia mengalir juga) ke dalam (tanah) Ali, dan berikutnya ke dalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (lmam) al-Qoim al-Mahdi, yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hak-hak kami ke tempatnya sernula. Sebab Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan kamu sebagai hujjah dan bukti-Nya terhadap orang-orang yang ingkar, penentang, pembangkang, pengkhianat, pendosa dan penzalim dari seluruh makhluk jagad raya ini.

Wahai umat manusia! Kuingatkan kalian bahwa aku ini adalah Rasul utusan Allah. Sebelumku telah ada rasul-rasul yang lain. Apakah kalian akan berpaling dariku (dan tidak bersabar) setelah aku mati atau terbunuh? Sungguh barangsiapa berpaling, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikitpun; dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Ketahuilah bahwa yang dimaksudkan dengan mereka yang menyandang sifat sabar dan syukur di atas adalah Ali dan putra-putranya yang datang dari sulbinya.

Wahai umat manusia! Janganlah kalian rnengungkit-ungkit dan membusungkan dada di hadapan Allah akan keislaman kalian, sebab itu akan mendatangkan murka Allah dan azab-Nya. Sungguh Dia benar-benar mengawasi kamu.
Wahai umat manusia! Akan datang setelahku para pemimpin yang menyeru kepada api neraka, dan mereka tidak akan memperoleh pembelaan kelak pada hari kiamat.

Wahai urnat manusia! Sungguh Allah (SWT) dan aku tidak bertanggung jawab atas nasib mereka dan tidak akan sekali-kali melindungi mereka.

Wahai umat manusia! Sungguh mereka dan pembela-pembelanya serta para pengikutnya akan berada di tingkat terendah dari api neraka, sebuah tempat yang paling hina bagi orang-orang yang takabur (akan kebenaran). Sungguh rnerekalah Ashabus Shahifah. Dengan demikian, hendaklah kalian melihat buku amalnya masing-masing meskipun yang benar-benar peduli terhadapnya hanya segelintir orang saja.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku serahkan masalah imamah (umat ini) dan pewarisan (nya) dalam zuriat keturunanku sampai hari kiamat. Sungguh telah kusampaikan kepada kalian kewajiban yang diperintahkan kepadaku ini, menjadi hujjah atau bukti Tuhan bagi setiap orang, baik yang hadir ataupun yang gaib (tidak hadir), yang menyaksikan perhelatan ini ataupun yang tidak menyaksikannya, yang sudah lahir atau yang belum lahir. Hendaklah mereka yang hadir menyampaikan pesanku ini kepada yang tidak hadir, si ayah menyampaikannya kepada anaknya, demikian seterusnya sampai hari kiamat, meskipun—tidak lama berselang——sejumlah orang akan merampasnya dan menjadikannya sebagai dinasti kerajaan. Ketahuilah bahwa laknat Allah pasti ditimpakan kepada perampas itu. Di saat itu “Karni akari perhatikan sepenuhnya terhadap kamu wahai makhluk manusia dan jin…, di mana (akan) dilepaskan nyala api dun cairan tembaga (kepadu kalian) sedemikian sehingga kamu tidak dapal ,menyelamatkan diri darinya (Q.S. 55:31,35)

Wahai umat manusia! Sungguh Allah ‘ala wa jalla tidak akan membiarkan kamu berada dalam keadaan seperti ini sampai dia akan membedakan (untuk kamu) mana yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin) dan Allah sekali-kali tidak memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.

Wahai umat manusia! Tiada desa yang selamat dan murka Allah dan penduduknya dibinasakan kecuali karena pendustaan mereka terhadap kebenaran. Demikianlah Tuhan yang membinasakan penduduk sebuah tempat lantaran perlakuan mereka yang zalim, seperti yang disebut-sebut oleh Allah (SWT). lnilah Ali, imam kalian dan wali kalian.

Dialah orang di mana seluruh janji atau ancaman Allah turun karenanya; dan Allah pasti menepati seluruh janjiNya.
Wahai umat manusia! Telah banyak orang-orang terdahulu sebelum kamu jatuh sesat. Allahlah yang membinasakan orang-orang terdahulu itu sebagaimana Dia jugalah yang akan membinasakan orang-orang yang akan datang kemudian. Allah berfirman : “Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu, lalu Kami sertakan (juga) mereka yang datang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa, dan celakalah pada hari itu bagi orang-orang pendusta.” (Q.S. 77:16-19).

Wahai umat manusia! Allah telah menurunkan perintahNya dan laranganNya untukku; dan aku (kemudian) menyampaikan perintah dan larangan itu kepada Ali. Dengan demikian dia mengetahui perintah dan larangan (Allah) dari Tuhannya yang Maha Suci dan Maha Perkasa. Oleh karena itu hendaklah kalian mendengar perintahnya niscaya kalian akan selamat; patuhilah dia niscaya kalian akan memperoleh petunjuk; ikutilah apa yang dilarangnya, niscaya kalian akan memperoleh bimbingan; bersikaplah seperti yang diinginkannya, dan jangan kalian berpisah dari jalannya lantaran banyaknya jalan lain.
Wahai umat manusia! Aku adalah Shiratal Mustaqim (jalan lurus) yang kalian diperintahkan untuk mengikutinya. Setelahku adalah Ali, kemudian dilanjutkan oleh putra-putraku yang datang dari sulbinya. Mereka adalah para imam yang membimbing kepada kebenaran dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.

(Kemudian Nabi membaca surat AlFatihah sampai akhir, dan melanjutkan khotbahnya berikut).

Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah berkenaan denganku dan mereka (Ali dan putra-putranya). Ia meliputi seluruh mereka dan khusus untuk mereka. Merekalah kekasih-kekasih Allah yang tidak pernah merasa takut dan sedih. Sungguh mereka yang berada dalam partai Allahlah yang menang. Dan sungguh, musuh-musuh Alilah sebagai kelompok pendurhaka, munafik, licik, pelampau batas, dan saudara-saudara setan yang saling membisikkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Sungguh, para kekasih dan pendukung Ali dan putra-putranya adalah mereka yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya berikut : “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling kasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya…” (Q.S. 58:22). Sungguh, mereka juga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah swt : “orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. 6:82). Sungguh, mereka juaga adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah berikut : Yang masuk ke dalam surga dengan penuh keamanan, dan disambut oleh para malaikat dengan salam sambil berkata, kalian adalah orang-orang suci, maka masuklah ke dalam surga untuk selama-lamanya.
Sungguh, para kekasih dan pendukung mereka adalah orang-orang yang difirmankan oleh Allah ‘azza wa jalla berikut, mereka masuk ke dalam surga tanpa hisab…

Dan sungguh, musuh-musuh mereka akan masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang mendengar suara neraka yang mengerikan; (suara) api yang menggelegak dan yang dikelilingi oleh algojo-algojonya. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang disifatkan oleh Allah sebagai umat yang saling mengutuk saudaranya ketika masuk ke dalam api neraka. Sungguh musuh-musuh mereka adalah orang-orang yang seperti difirmankan oleh Allah berikut : “Setiap kali dilemparkan ke dalam api neraka satu kumpulan, maka penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan. Mereka menjawab : “benar ada”, telah datang kepada kami seorang yang memberikan peringatan, namun kami telah mendustakannya dan kami katakan : “Allah tidak menurunkan suatu apapun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (Q.S. 67:8,9).

Sungguh para kekasih mereka adalah orang-orang yang takut akan Tuhannya secara ghaib; bagi mereka ampunan dan ganjaran yang besar.

Wahai umat manusia! Sungguh jauh perbedaan antara neraka dan surga. Musuh kami adalah orang-orang yang dicela dan dikutuk oleh Allah; dan kekasih kami adalah orang-orang yang dipuji dan dicintai oleh Allah.

Wahai umat manusia! Sungguh, aku adalah (Nabi) yang memberi peringatan, sementara Ali adalah pembimbing.

Wahai umat manusia! Sungguh aku adalah Nabi dan Ali adalah washi (penerima wasiat)ku. Sungguh, penutup para imam adalah dari kami, (bergelar) alQoim alMahdi, yang akan menegakkan keadilan dan memperoleh petunjuk Allah swt.

Sungguh, dia adalah pembela agama. Sungguh, dialah yang akan membalas kezaliman orang-orag yang zalim. Sungguh dialah yang akan membebaskan benteng-benteng yang kuat dan akan menghancurkannya. Sungguh, dialahpenghancur kelompok-kelompok kemusyrikan. Sungguh dialah yang akan membalas darah-darah kekasih Allah yang tumpah. Sungguh, dialah pembela agama Allah. Sungguh dialah penegak air lautan (makrifat dan hakikat) yang dalam.

Sungguh, dialah yang menunjukkan keutamaan orang-orang yang mempunyai keutamaan dan kebodohan orang-orang yang bodoh. Sungguh dialah manusia pilihan Allah dan kekasihNya. Sungguh, dialah pewaris semua ilmu dan menguasai segala ilmu.
Sungguh, dia adalah pembawa berita dari Tuhan ‘azza wa jalla, dan yang memberi tahu tentang perkara iman. Sungguh, dia adalah manusia yang senantiasa memperoleh petunjuk (Allah) dan selalu dijayakanNya.

Sungguh, dialah manusia yang diserahkan oleh Allah urusan makhluk ciptaanNya. Sungguh dia adalah manusia yang kedatangannya telah diberitakan oleh para imam sebelumnya. Sungguh, dia adalah hujjah Allah terakhir yang masih hidup, di mana tiada hujjah lain setelahnya; tiada kebenaran melainkan bersamanya dan tiada cahaya melainkan ada di sisinya.

Sungguh, dia adalah wali Allah yang ada di bumiNya, penguasa yang haq dan benar di sekitar makhluk ciptaanNya, dan manusia kepercayaanNya (pada martabat) zahir dan batinNya.

Wahai umat manusia! Aku telah jelaskan kepada kalian sejelas-jelasnya (tentang perkara ini), dan inilah Ali yang akan menjelaskan kepada kalian setelahku.

Usai khotbahku ini, aku menyeru kalian untuk pertama-tama mengulurkan tangannya kepadaku, kemudian kepada Ali sebagai tanda bai’at dan pernyataan setia.

Ketahuilah bahwa aku telah memberikan bai’atku kepada Allah, dan Ali telah memberikan bai’atnya kepadaku. Kini berdasarkan perintah dari Allah ‘azza wa jalla, aku mengajak kalian untuk membai’at. Barangsiapa mengingkari bai’atnya, berarti dia telah membinasakan dirinya sendiri.

Wahai umat manusia! Sungguh haji, shafa, marwah dan umroh adalah bagian dari syi’ar Allah. “Barangsiapa menunaikan ibadah haji atau umrah ke rumah Allah, maka hendaklah ia mengerjakan sai’ di antara keduanya.” (Q.S. 2:158).

Wahai umat manusia! Tunaikan ibadah haji ke rumah Allah. Tiada suatu keluarga yang datang ke rumah Allah ini melainkan ia akan dicukupkan olehNya; dan tiada suatu keluarga yang berpaling meninggalkannya melainkan ia akan mengalami kefakiran.
Wahai umat manusia! Tiada seorang yang mukmin yang wukuf atau berdiri di tempat-tempat mulia tersebut melainkan Allah akan ampunkan seluruh dosa-dosanya yang lalu maupun yang baru. Demikianlah sehingga apabila ibadah hajinya selesai maka (perhitungan) amalnya dimulai lagi dari awal.

Wahai umat manusia! Para jamaah haji memperoleh bantuan dari Allah, dan ongkos perjalanan mereka terhitung sebagai simpanan (untuk hari akhirat kelak). Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan ganjaranNya bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
Wahai umat manusia! Tunaikanlah ibadah haji ke rumah Allah dengan pemahaman yang sempurna akan ajaran-ajaran agama ini. Jangan kalian meninggalkan tempat-tempat mulia itu melainkan setelah kalian benar-benar taubat dan menyesali dosa-dosa kalian.

Wahai umat manusia! Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, seperti diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla atas kalian. Apabila dikarenakan lamanya waktu berlalu kemudian kalian menjadi jahil atau lupa, maka Alilah—sebagai pemimpin kalian yang telah ditunjuk oleh Allah setelahku, yang akan menjelaskan (seluruh hukum-hukum itu) kepada kalian. Dia adalah orang yang dijadikan oleh Allah sebagai penggantiku; menjawab pertanyaan-¬pertanyaan kalian dan menjelaskan kepada kalian segala apa yang kalian tidak ketahui.

Sungguh, perkara-perkara yang halal dan yang haram adalah lebih banyak dan yang dapat kuhitung satu per satu dan kuberitahukan (kepada kalian). Untuk itu secara singkat kukatakan bahwa apa yang kuperintahkan pasti adalah perkara yang halal, dan yang kularang pasti adalah sesuatu yang haram. Kemudian aku diperintahkan untuk niengambil bai’ai dan janji setia dari kalian agar menerima segala apa yang kubawa dari Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan Ali selaku Amirul Mukminin dan para Imam yang datang setelahriya. Mereka adalah putra-putraku dan putra-putra Ali; para imam yang menegakkan kebenaran sampai hari kiamat, yang di antaranya adalah al-Mahdi, yang akan memerintah (dunia ini) dengan kebenaran.

Wahai umat manusia! setiap perkara halal yang kuajarkan kepada kalian, atau perkara haram yang kucegah kalian darinya, adalah sesuatu yang tidak mungkin kuubah atau kucabut. Karena itu hendaknya kalian mengingatnya, memeliharanya dan saling mengajarkannya. Jangan sekali-kali kalian mengubahnya atau menggantinya.

Kini kuulangi lagi perkataanku: hendaklah kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh yang ma’ruf (dan mencegah yang mungkar. Ketahuilah balwa pangkal amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penerimaan kalian akan kata-kataku sebagai sesuatu yang final, di mana kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir serta memerintahkan mereka untuk menerimanya dan mencegah mereka dari menentangnya. Sebab ini adalah perintah dan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung, dan dariku. (Ketahuilah) bahwa upaya melakukan yang ma’ruf dan rnencegah yang mungkar tidak akan berarti melainkan sepengetahuan atau bersama Imam yang maksum (terpelihara dari dosa).

Wahai umat manusia kitab suci Alqur’an telah menyatakan bahwa para imam setelah Ali adalah putra-putranya. Aku juga telah mengatakan kepada kalian bahwa Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam kitab Nya: “(bahwa Ibrahim) telah menjadikan kalimat tauhid sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya.. “, (Q.S. 43:28). Aku juga berkata: “Selagi kalian berpegang teguh pada keduanya: (Alqur ‘an dan itrah keluanga Nabi), niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.

Wahai umat manusia Bentakwalah, sekali lagi bertakwalah kalian kepada Allah, lngatlah akan dahsyatnya hari kiamat, sepenti yang ditafsirkan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh gempa hari kiamat adalah sesuatu yang maha dahsyat “lngatlah saat-saat mati, hisab, timbangan dan pengadilan Allah terhadap kalian;(demikian juga) pahala dan dosa. Barangsiapa melakukan amal kebajikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya, sementara mereka yang melakukan perbuatan buruk maka sedikitpun dia tidak akan memperoleh syurga.

Wahai umat nianusia! Jumlah kalian sedemikian banyaknya sehingga tidak mungkin kalian bisa mengulurkan tangan bai’atnya kepadaku satu persatu. Namun demikian, Allah ‘Azza wa jalla telah memerintahkan aku untuk mengambil ikrar dan lisan kalian tentang pengangkatan Ali sebagai Amirul Mukminin, dan para imam dari keturunanku dan keturunannya yang datang setelahnya, seperti yang pernah kuberitahukan kepada kalian bahwa Zuriat keturunanku adalah berasal dan sulbinya (Ali).

Katakan secara serentak: “Karni telah mendengar, akan patuh, rela dan ikut secara penuh atas apa yang telah engkau sampaikan dari Tuhan kami dan Tuhanmu berkaitan dengan kepemimpinan Ali dan kepemimpinan putra-putranya yang datang dari sulbinya. Untuk itu kami membai’atmu dengan hati, jiwa, lisan dan tangan kami. Berdasarkan itu pula kami hidup, mati dan dibangkitkan tanpa kami mengubah, mengganti, ragu mencabut janji atau membatalkan ikrar dan pernyataan kami. Kami mematuhi Allah dan mematuhi engkau (nabi, serta mematuhi Ali sebagai Amirul Mukminin). Demikian juga putra-putranya, para imam yang kau katakan berasal dan zuriat keturunanmu, yang datang dari sulbi Ali, Hasan dan Husain.”

Tentang Hasan dan Husain ini, telah kukenalkan kepada kalian kedudukan mereka di sisiku, tempat mereka dihadapanku dan martabat mereka di haribaan Tuhanku yang Maha Mulia dan Maha Agung. Semua itu telah kusampaikan kepada kalian.
Sungguh, mereka berdua adalah penghulu pemuda-pemuda surga, imam-imam pasca ayahnya, Ali; dan aku adalah ayah mereka sebelum Ali menjadi ayahnya.

Katakan secara serentak:”Kami mematuhi perintah Allah, mematuhimu, Ali, Hasan dan Husain serta para irnarn setelahnya. Mereka adalah orang¬-orang yang kau ikat hati, jiwa dan lisan kami untuk berjanji setia, berikrar dan berbai’at lewat tangan Amirul Mukminin (Ali). Sebagian dari kami membai’atnya dengan tangannya dan sebagian yang lain dengan pernyataan lisannya. Sungguh kami tidak ingin berpaling darinya selama-lamanya. Kami jadikan Allah sebagai saksi dan cukuplah Allah sebagai saksi. Demikian juga engkau (Nabi), semua orang yang patuh pada Allah, yang hadir dan yang tidak hadir, para malaikat Allah, tentara-tentara-Nya dan hamba-hamba-Nya, semua adalah saksi-saksi kami. Namun Allah adalah lebih besar dari semua saksi.”

Wahai umat manusia! Apa yang kalian katakan? Sungguh Allah Maha Mendengar setiap suara dan Maha Tahu akan setiap jiwa yang tersembunyi. Barangsiapa memperoleh petunjuk, maka itu adalah keberuntungan bagi dirinya, dan barangsiapa yang tersesat, maka itu adalah kemalangan bagi dirinya. Mereka yang berbai ‘at, sebenarnya telah memberikan bai’atnya kepada Allah; dan tangan Allah berada di atas tangan mereka semua. (48:10)

Wahal umat manusia! Bertakwalah kalian kepada Allah. Berbai’atlah kalian kepada Ali Amirul Mukminin, kepada Hasan dan Husain serta para Imam (keturunannya). Mereka adalah kalimat Thayyibah yang masih sisa di atas muka bumi ini. Kelak Allah akan membinasakan orang-orang yang mengkhianati mereka, dan merahmati orang-orang yang setia kepada mereka. “Barangsiapa melanggar janji dan bai ‘atnya, niscaya itu akan menimpa dirinya sendiri.” (48:10)

Wahai umat manusia! Ucapkanlah apa yang telah kukatakan kepada kalian. Salamilah Ali selaku Arnirul Mukminin. Katakanlah: “(Tuhan kami)! Kami ielah dengar dan akan patuh (pada perintah-Mu). Ampunilah karni wahai Tuhan karni. Sungguh kepada-Mulah segala sesuatu akan kernbali. Katakanlah:” Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kalian ke jalan ini. Sungguh, karni tidak akan memperoleh bimbingan tanpa bimbingan dari Allah.” (7:43)

Wahai umat manusia! Sungguh keutamaan Ali bin Abi Thalib (a.s) di sisi Allah dan yang ada dalarn Al-
Qur’an adalah lebih banyak dari pada yang bisa kusebutkan secara rinci di tempat ini. Siapapun yang meriwayatkannya dan memberitahukannya kepada kalian, maka percayailah dan terimalah ia.

Wahai umat manusia! barangsiapa patuh pada Allah, Rasul-Nya, Ali dan para Imam yang telah kusebutkan itu niscaya dia akan lulus dengan hasil yang amat sangat gemilang.

Wahai umat manusia! Mereka yang segera berangkat memberikan bai’at kepadanya dan menjadikannya sebagai walinya serta menerirnanya sebagai Amirul Mukminin, mereka adalah orang-¬orang yang selamat, dan kelak akan berada di dalam syurga yang penuh nikmat.

Wahai umat manusia! Ucapkanlah kata-kata yang menyebabkan Allah rela tenhadap kalian. Seandainya kalian dan semua penghuni bumi ini kufur kepadaNya, niscaya itu tidak akan merugikan-Nya sedikitpun. (3:144)
Yaa Allah! Berikanlah ampunan-Mu kepada orang-orang mukmin, dan murka-Mu kepada orang–orang kafir. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian khalayak menyahut seruan Nabi dan berkata:”Kami telah dengar dan akan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati, lidah dan kekuatan kami.”

Mereka kemudian berhimpit-himpitan mengelilingi Nabi dan Ali untuk bersalaman dan mengulurkan tangan bai ‘atnya kepada Rasulullah (SAW). Abubakar, kemudian Umar, lalu Usman. Berikutnya adalah orang-orang Muhajirin, Anshar dan seterusnya sesuai dengan tingkatan martabat mereka sehinggalah tiba waktu Maghrib. Setelah shalat Maghrib dan lsya’ yang di jamak dalam satu waktu, mereka kemudian meneruskan ikrar bai’atnya. Setiap kali orang datang berbai’at, Nabi kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mengutamakan kami di atas seluruh penghuni alam semesta.”

——————————————————————————–
Di sini kami petik nama-nama perawi hadits al-Ghadir di kalangan para sahabat tentang perlantikan ‘Ali AS sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWW. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.’ Dan semua nama-nama perawi tersebut telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka seperti berikut:
1. Abu Hurairah al-Dausi (w.57/58H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VII, hlm. 290. Al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 130. Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tahdhib, VII, hlm. 327.
2. Abu Laila al-Ansari (w. 37H). Diriwayatkan oleh al-Hawarizmi, di dalam Manaqibnya, hlm. 35. Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 14.
3. Abu Zainab bin ‘Auf al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Ibn Hajr di dalam al-Isabah, III, hlm. 408.
4. Abu Fadhalah al-Ansari, sahabat Nabi SAWAW di dalam peperangan Badr. Di antara orang yang memberi penyaksian kepada ‘Ali AS dengan hadith al-Ghadir di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
5. Abu Qudamah al-Ansari. Di antara orang yang menyahut seruan ‘Ali AS di hari Rahbah. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V, hlm. 276.
6. Abu ‘Umrah bin ‘Umru bin Muhsin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307. Di antara yang menjadi saksi kepada ‘Ali AS di hari Rahbah dengan hadith al-Ghadir.
7. Abu l-Haitham bin al-Taihan meninggal dunia di dalam peperangan al-Siffin tahun 37H. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di dalam Tarikh Ali Muhammad, hlm. 62.
8. Abu Rafi’ al-Qibti, hamba Rasulullah SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Maqtal dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhbnya.
9. Abu Dhuwaib Khuwalid atau Khalid bin Khalid bin Muhrith al-Hazali wafat di dalam pemerintahan Khalifah ‘Uthman. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah, al-Khawarizmi di dalam Maqtal.
10. Abu Bakr bin Abi Qahafah al-Taimi (w.13H). Diriwayatkan oleh Ibn Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah, Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb, al-Mansur al-Razi di dalam kitabnya Hadith al-Ghadir, Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 di antara perawi-perawi hadith al-Ghadir.
11. Usamah bin Zaid bin al-Harithah al-Kalbi (w.54H). Diriwayatkan di dalam Hadith al-Wilayah dan Nakhb al-Manaqib.
12. Ubayy bin Ka’ab al-Ansari al-Khazraji (w. 30/32H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi dengan sanad-sanadnya di dalam Nakhb al-Manaqib.
13. As’ad bin Zararah al-Ansari. Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari di dalam Asna al-Matalib, hlm. 4.
14. Asma’ binti Umais al-Khath’amiyyah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
15. Umm Salmah isteri Nabi SAWAW. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi al-Mawaddah, hlm. 40.
16. Umm Hani’ binti Abi Talib. Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 40 dan Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dengan sanad-sanadnya.
17. Abu Hamzah Anas bin Malik al-Ansari al-Khazraji hamba Rasulullah SAWAW (w. 93H). Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya, VII, hlm. 377; Ibn Qutaibah di dalam al-Ma’arif, hlm. 291; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
18. Al-Barra’ bin ‘Azib al-Ansari al-Ausi (w. 72H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, IV, hlm. 281; Ibn Majah di dalam Sunan, I, hlm. 28-29.
19. Baridah bin al-Hasib Abu Sahl al-Aslami (w. 63H). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 110; al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 114.
20. Abu Sa’id Thabit bin Wadi’ah al-Ansari al-Khazraji al-Madani. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307.
21. Jabir bin Samurah bin Janadah Abu Sulaiman al-Sawa’i (w. 70H). Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 398.
22. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 73/74H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab, II, hlm. 473; Ibn Hajr di dalam Tahdhib al-Tadhib, V, hlm. 337.
23. Jabalah bin ‘Umru al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
24. Jubair bin Mut’am bin ‘Adi al-Qurasyi al-Naufali (w. 57/58/59 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi l-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 31, 336.
25. Jarir bin ‘Abdullah bin Jabir al-Bajali (w. 51/54 H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 106.
26. Abu Dhar Janadah al-Ghaffari (w.31 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah; Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4.
27. Abu Junaidah Janda’ bin ‘Umru bin Mazin al-Ansari. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 308.
28. Hubbah bin Juwain Abu Qadamah al-’Arani (w. 76-79H). Diriwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX, hlm. 103; al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 276.
29. Hubsyi bin Janadah al-Jaluli. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hlm. 307, V, hlm. 203; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa Nihayah, VI, hlm. 211.
30. Habib bin Badil bin Waraqa’ al-Khaza’i. Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hlm. 368; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, I, hlm. 304.
31. Huzaifah bin Usyad Abu Sarihah al-Ghaffari. (w.40/42 H). Diriwayatkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38.
32. Huzaifah al-Yamani (w.36 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 40.
33. Hasan bin Tsabit. Salah seorang penyair al-Ghadir pada abad pertama Hijrah.
34. Imam Mujtaba Hasan bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
35. Imam Husain bin ‘Ali AS. Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, IX, hlm.9.
36. Abu Ayyub Khalid bin Zaid al-Ansari (w.50/51H). Diriwayatkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah, I, hlm. 169; Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabbah, V, hlm. 6 dan lain-lain.
37. Abu Sulaiman Khalid bin al-Walid al-Mughirah al-Makhzumi (w. 21/22H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam al-Nakhb.
38. Khuzaimah bin Thabit al-Ansari Dhu al-Syahadataini (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,III, him. 307 dan lain-lain.
39. Abu Syuraih Khuwailid Ibn Umru al-Khaza’i (w. 68 H). Di antara orang yang menyaksikan Amiru l-Mukminin dengan hadith alGhadir.
40. Rifalah bin Abd aI-Mundhir al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
41. Zubair bin al-Awwam al-Qurasyi (w. 36 H). Diriwayatkan oieh Syamsuddln al-Jazari ai-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib. him.3.
42. Zaid bin Arqam al-Ansari al-Khazraji (w. 66/68 H). Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya. IV. hIm. 368 dan lain-lain.
43. Abu Sa’ld Zaid bin Thabit (w. 45/48 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib him. 4 dan lain-lain.
44. Zaid Yazid bin Syarahil al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah,, II. hIm. 233; Ibn Hajr di dalam al-Isabah. I. him. 567 dan lain-lain.
45. Zaid bin Abdullah al-Ansari. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya di dalam Hadith al-Wilayah.
46. Abu Ishak Sa’d bin Abi Waqqas (w. 54/56/58 h). Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, III, hlm. 116 dan lain-lain.
47. Sa’d bin Janadah al-’Aufi bapa kepada ‘Atiyyah al-’Aufi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
48. Sad bin Ubadah al-Ansari al-Khazraji (w. 14/15 H). Diriwayatkan oleh Abu Bakr al-Ja’abi di dalam Nakhb.
49. Abu Sa’id Sad bin Malik al-Ansari al-Khudri (w. 63/64/65 H). Diriwayatkan oleh al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 8; Ibn Kathir di dalam Tafsirnya, II, hlm. 14 dan lain-lain.
50. Sa’id bin Zald al-Qurasyi ‘Adwi (w. 50/5 1 H). Diriwayatkan oleh Ibn al-Maghazili di dalam Manaqibnya.
51. Sa’id bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari. Dlriwayatkan oleh Ibn‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
52. Abu ‘Abdullah Salman al-Farisi (w. 36/37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddln al-Jazari al-Syafl’i di dalam Asna l-Matallb, hlm. 4 dan lain-lain.
53. Abu Muslim Salmah bin ‘Umru bin al-Akwa’ al-Aslami (w.74 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dengan sanad-sanadnya dl dalam Hadith aI-Wilayah.
54. Abu Sulaiman Samurah bin Jundab al-Fazari (w. 58/59/60 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
55. Sahal bin Hanifal-Ansari al-Awsi (w. 38 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna l-Matalib, him. 4 dan lain-lain.
56. Abu ‘Abbas Sahal bin Sa’d al-Ansari al-Khazraji al-Sa’idi (w.
91 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi 1-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 38 dan lain-lain.
57. Abu Imamah al-Sadiq Ibn ‘Ajalan al-Bahili (w. 86 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalain Hadith al-Wilayah.
58. Dhamirah al-Asadi. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di daiam Hadith al-Wilayah.
59. Talhah bin ‘Ubaidillah al-Tamimi wafat pada tahun 35 Hijrah di dalam Perang Jamal. Dirlwayatkan oleh al-Mas’udi di dalam Muruj al-Dhahab, II, hlm. 11; al-Hakim didalam al-Mustadrak,III, hlm. 171 dan lain-lain.
60. Amlr bin ‘Umair al-Namiri Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah II, hlm. 255.
61. AmIr bin Laila bin Dhumrah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, III, hln. 92, dan lain-lain.
62. ‘Amir bin Laila a1-Gbaffari Diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, hIm. 257 dan lain-lain.
63. Abu Tupail ‘Amir bin Wathilah. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I. hlm. 118; al-Turmudhi di dalam Sahihnya, II, hlm. 298 dan lain-lain.
64. ‘Alsyah binti Abu Bakr bin Abi Qahafah, Isteri Nabi Sawaw Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
65. ‘Abbas bin ‘Abdu l-Muttallib bin Hasyim bapa saudara Nabi Sawaw. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
66. ‘Abdu r-Ráhman bin ‘Abd Rabb al-Ansari. Dirlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ai-Ghabah, III, hIm. 307; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II, him. 408 dan lain-lain.
67. Abu Muhammad bin ‘Abdu r-Rahman bin Auf al-Qurasyi al-Zuhri (w. 31 H), Diriwayatkan oieh Syamsuddin al-Jazari a!Syafi’i di dalam Asna al-Matalib, hlm. 3 dan lain-lain.
68. ‘Abdu r-Rahman bin Ya’mur al-Daili Diriwayatkan oleb Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
69. ‘Abdullah bin Abi ‘Abd al-Asad al-Makhzumi. Di riwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
70. ‘Abdullah bin Badil bin Warqa’ Sayyid Khuza’ah. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
71. ‘Abdullah bin Basyir al-Mazini. Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
72, ‘Abduilah bin Thabit al-Ansari. Dlriwayatkan oleh al-Qadhi didalam Tarikh Ali Muhammad, him. 67.
73. ‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Talib al-Hasyimi (w, 80 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah
74. ‘Abdullah bin Hantab al-Qurasyi al-Makhzumi. Dlrlwayatkanoleh al-Suyuti di dalam Ihya’ al-Mayyit.
75. ‘Abdullah bin Rabi’ah. Dlrlwayatkan oleh al-Khawarizmi didalam Maqtalnya.
76. ‘Abdullah bin ‘Abbas (w. 68 H). Diriwayatkan oleh al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7 dan lain-lain.
77. ‘Abdullah bin Ubayy Aufa ‘Alqamah al-Aslami (w. 86/87 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah hal.78. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khattab al-’Adawi (w. 72/73 H), Dlrlwayatkan oleh al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’ld, IX, hIm. 106 dan lain-lain,
79. Abu ‘Abdu r-Rahman ‘Abdullah bin Mas’ud al-Hazali (w. 32 /
33 H). Dlriwayatkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298 dan lain-lain.
80. ‘Abdullah bin Yamil. Dlriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd ol-Ghabah,III, him. 274; Ibn Hajr di dalam al-Isabah, II,hlm. 382 dan lain-lain.
81. ‘Uthman bin ‘Affan (w. 35 H). Dirilwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
82. ‘Ubaid bin ‘Azib al-Ansari, saudara al-Bara’ bin ‘Azib. Di antara orang yang membuat penyaksian kepada ‘Ali A.S. di Rahbah. Dirlwayatkan oleh Ibn al-AthIr di dalam Usd al-Ghabah, III, him.
307.
83. Abu Tarif Adi bin Hatim (w. 68 H). Diriwayatkan oieh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, him. 38
dan lain-lain.
84. ‘Atiyyah bin Basr al-Mazini. Diriwayatkan oleh lbn ‘Uqdah di dalam Had ith al-Wilayah.
85. ‘Uqbah bin Amir al-Jauhani. Diriwayatkan al-Qadh di dalam
Tarikh Ali Muhammad, him. 68.
86. Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib A.S. Diriwayatkan oieh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 152: al-Haithami di dalam Majma’ al-Zawa’id, IX. him. 107; al-Suyuti di dalam Tarlkh al-Khulafa’ , him. 114; Ibn Hajr di dalam Tahdhlb al-Tahdhlb, VII, him. 337; Ibn Kathir dl dalain al-Bidayah wa al-Nihayah. V. him. 211 dan lain-lain.
87. Abu Yaqzan ‘Ammar bin Yasir (w. 37 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin al-Jazari al-Syafi’i di dalain Asna al-Matalib, hlm. 4 dan lain-lain.
88. ‘Ammarah al-Khazraji al-Ansari. Dlrlwayatkan oieh al-Halthami dl dalam MaJma’ al-Zawa’ld, IX, him. 107 dan lain-lain.
89. ‘Umar bin Abi Salmah bin ‘Abd al-Asad al-Makhzumi (w. 83 H).
Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
90. ‘Umar bin al-Khattab (w. 23 H). Diriwayatkan oleh Muhibbuddin al-Tabari dl dalam al-Rlyadh aI-Nadhirah, H, him. 161; Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. VII. Mm. 349 dan lain-lain.
91. Abu Najid ‘Umran bin Hasin al-Khuza’i (w. 52 H). Diriwayatkan oleh Syamsuddin ai-Jazari al-Syafi’i di dalam Asna al-Matalib. him. 4 dan lain-lain.
92. Umru bin al-Humq al-Khuza’i al-Kufi (w. 50 H). Diriwayatkan oieh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
93. ‘Umru bin Syarhabil. Dlrlwayatkan oleh aI-Khawarizmi di dalain Maqtalnya.
94. ‘Umru bin al-Asi Diriwayatkan oleh Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Slyasah, him. 93 dan lain-lain.
95. ‘Umru bin Murrah al-Juhani Abu Talhah atau Abu Maryam. Diriwayatkan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal, VI, him. 154 dan lain-lain.
96. Al.Siddiqah Fatimah binti Nabi Sawaw. Dlriwayatkan oieh Ibn
‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
97. Fatimah binti Hamzah bin ‘Abdu l-Muttalib. Dlriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
98. Qais bin Thabit bin Syamas al-Ansari Diriwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, I, hIm. 368; lbn Hajr di dalam al-Isabah, I. him. 305 dan lain-lain.
99. Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari al-Khazraji. Dlrlwayatkan oleh Ibn Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
100. Abu Muhammad Ka’ab bin ‘Ajrah al-Ansari al-Madani (w.5 1 H). Dlrlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
101. Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairath al-Laithi (w. 84 H) Dirtwayatkan oleh al-Suyutl di dalam Tarikh al -Khulafa’ , hlm. 114 dan lain-lain.
102. A1-Miqdad bin ‘Umry al-Kindi al-Zuhrl (w. 33 H). Dirlwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah dan lain-lain.
103. Najiah bin ‘Umru al-Khuzai. Dlrlwayatkan oleh Ibn al-Athir di dalam Usd al-Ghabah, V. him. 6; Ibn Hajr di dalain al-Isabah,III, hlm. 542 dan lain-lain.
104. Abu Barzah Fadhiah bin ‘Utbah al-Aslami (w. 65 H). Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
105. Na’mar bin ‘Ajalan al-Ansari. Diriwayatkan oleh al-Qadhi di
daiam Tarikh Ali Muhammad, him. 68 dan lain-lain.
106. Hasyim al-Mirqal Ibn ‘Utbah bin Abi Waqqas al-Zuhrl (w. 37 H). Dlrlwayatkan oieh Ibn al-Athir dl dalam Usd al-Ghabah, I, him. 366; Ibn Hajr di dalam aI-Isabah, 1, hlm. 305.
107. Abu Wasmah Wahsyiy bin Harb al-Habsyl al-Hamsi. Diriwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah dl dalam Hadith al-Wilayah.
108. Wahab bin Hamzah. Diriwayatkan oieh al-Khawarizmi pada Fasal Keempat di dalam Maqtalnya.
109. Abu Juhallah Wahab bin Abdullah al-Suwa’i(w. 74 H). Dinwayatkan oleh Ibn ‘Uqdah di dalam Hadith al-Wilayah.
110. Abu Murazim Ya’li bin Murrah bin Wahab al-Thaqali. Diniwayatkan oleh Ibn al-Athir dl dalam Usd aI-Ghabah. II. him. 233; Ibn Hair di dalam aI-Isabah, Ill, him. 542

.
Demikian dikemukakan kepada kalian 110 perawi-perawl hadits al-Ghadir dikalangan para sahabat mengenal perlantikan ‘Ali A.S. sebagai khalifah secara langsung selepas Rasulullah Saww, oleh ularna-ulama Ahlus-Sunnah di dalam buku-buku mereka. Oleh karena Itu hadits ini sudah mencapai ke peringkat mutawatir. Kemudian diikuti pula oleh 84 perawl-perawi dari golongan para Tabi’in yang merlwayatkan hadits al-Ghadir serta 360 perawl-perawi di kalangan para ulama Sunnah yang meriwayatkan hadits tersebut di dalam buku-buku mereka. Malah terdapat 26 pengarang dari kalangan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengarang buku-buku tentang hadis al-Ghadir. Untuk keterangan lebih lanjut silakan rujuk al-Amini, al-Ghadlr, I. hlm. 14 – 158.

Ulama Sunni Syaikh Sulayman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi dan Nama 12 Imam Yang Disebutkan Oleh Rasulullah (saww)

BAGIAN I

Selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Syaikh Sulaiman Al-Qunduzi Al-Balkhi Al-Hanafi, yang merupakan salah satu Ulama Sunni yang banyak mencatat riwayat-riwayat mengenai keutamaan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as). Dan anehnya, oleh kaum Nawashib, Syaikh Sulaiman Al-Hanafi dituduh sebagai Syiah, apa motif dibalik semua itu..? apakah kebiasaan kaum Naswahib yang suka menuduh seseorang yang banyak menulis keagungan Rasulullah (saww) dan Ahlul Bait (as) pada khususnya langsung mereka vonis sebagai Syiah!? hal ini tak jauh beda dengan Ibn Abil Hadid seorang bermazhab Mu’tazilah yang mereka katakan Syiah!

Nawashib harusnya sadar bahwa kedekilan otak mereka sampai detik ini bukanlah suatu yang asing, apakah mereka tidak malu dengan cara mereka yang suka menyembunyikan keterangan yang jelas bahkan terkadang memelintir sebuah riwayat atau membuangnya jika tidak sesuai dengan nafsu mereka..!?

Sayikh Sulaiman Al Hanafi adalah salah satu Mufti Agung Konstantinopel dan Ketua Kekhalifahan Utsmani, pusat islam Sunni pada masanya. Sangat tidak masuk akal jika dikatakan beliau sebagai Syiah dan apakah logis orang syiah menjadi mufti agung dalam kekahlifahan Ustmani tersebut? Sedangkan Ottoman sangat tidak suka dengan Syiah atau siapapun yang cenderung kepada Syiah!

Bahkan sejarah tidak mencatat adanya pengusiran atau tuduhan kepada Syaikh Sulaiman al Hanafi pada saat penulisan kitab beliau yang agung yaitu Yanabiul Mawaddah, jika memang beliau syiah maka pemerintahan Ottoman pasti akan menyingkirkannya.

Pandangan Sunni tentang Syaikh Sulaiman Al Qunduzi Al Balkhi Al Hanafi

Dalam Kitab الأعلام :

“(Al Qunduzi) (1220-1270H) (1805-1863 M) Sualyman putra dari Khuwajah Ibrahim Qubalan Al Husaini Al Hanafi Al Naqshbandi al Qunduzi : Seorang yang shaleh, berasal dari Balakh, wafat di kota Qustantinya, ia memiliki kitab “Yanabiul Mawaddah” yang berisi tentang keutamaan Rasulullah dan Ahlul Baitnya” (الأعلام, j.3, h.125)

.

Umar Ridha Kahalah mencatat dalam معجم المؤلفين :

Sulaiman Al Qunduzi (1220-1294 H) (1805-1877)

Sulaiman bin Ibrahim al Qunduzi al Balkhi al Husaini al Hasymi, seorang Sufi, kitabnya (karyanya) : Ajma al Fawaid, Musyriq al Akwan, Yanabiul Mawaddah….” (Muajam al Mualfiin, oleh Umar Ridha Kahalah, j. 4)

Ulama Sunni Ismail Basya Al Baghdadi (اسماعيل باشا البغدادي) dalam هدية العارفين

Mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman ibn Khuwajah Qalan Ibrahim ibn Baba Khawajah al Qunduzi al Balkhi al Sufi Al Husaini, tinggal di Qustantinya, lahir pada tahun 1220 H dan wafat 1294″ (Hidyat al Arifin, j.1, h. 408)

.

Dalam ايضاح المكنون في الذيل على كشف الظنون Ismail Basya Al Baghdadi juga mencatat :

“Al Qunduzi – Sulayman bin Khawaja Qalan Ibrahim bin baba Khuwaja Al Qunduzi al Balkhi al Sufi al Husaini. Dia tinggal di Qustantiya, lahir pada 1220 H dan wafat tahun 1294 H. Karyanya : Jama’ Al Fawa’id, Masyriq al Akwan, Yanabiul Mawadah mengenai karakteristik Rasulullah (saww) dan hadis dari Ahlul Bait”

.

Yusuf Alyan Sarkys mencatat dalam معجم المطبوعات العربية, j.1 h.586 :

“Sulayman bin Khujah Qublan al Qunduzi al Balkhi. (kitabnya) Yanabiul Mawadah berisi Keutamaan Amirul Mu’minin Ali”

.

Sangat aneh jika dikatakan bahwa Syaikh Sulayman yang bermazhab Hanafi ini di tuduh sebagai Syiah..! Kenyataannya beberapa ulama Sunni (Mazhab Hanafi) seperti :

1. Saim Khisthi al Hanafi dalam Musykil Kushah mengutip banyak Hadis dari Yanabiul Mawaddah yang disusun oleh Syaikh Sulaiman al Hanafi.

2. Dr. Muhamad Tahir ul Qadri (“Hub Ali” hal.28) mengacu pada Yanabiul Mawaddah ketika mengutip Hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait (as).

3. Mufti Ghulam Rasul (Hasab aur Nasab, j.1 h.191, London) juga mengacu pada Yanabiul Mawadah ketika mengutip hadis keutamaan Ahlul Bait (as).

Jika memang Syaikh Sulayman Al Hanafi dikatakan Syiah oleh kaum Nawashib lalu apakah beberapa ulama terkemuka Mazhab Hanafi yang disebutkan diatas begitu bodoh atau buta huruf hingga mereka mengutip catatan ulama Syi’ah (yg kata mereka jgn percaya sama syiah) bagi para pembaca Sunni ?

Alasan paling dasar dibalik “pengecapan” dengan menyatakan figur yang sebenarnya Sunni sebagai Syiah oleh kaum Nawashib adalah karena ulama sejati seperti Syaikh Sulayman Al Hanafi dianggap berpihak kepada Syiah hanya karena banyak mencatat hadis Rasulullah (saww) yang mana riwayatnya banyak dianggap sesuai dengan keyakinan Syiah..!

BAGIAN II

Syaikh Sulayman Al Qunduzi Al Hanafi Mencatat Nama-Nama Para Imam Yang Harus Di ikuti Setelah Rasulullah Saww Dalam Kitabnya Yanabiul Mawaddah

Yanabiul Mawaddah (j.3, h.100-101) dan Yanabiul Mawaddah (j.3 h.284, Tahqiq oleh Sayyid Ali Jamali Asyraf Al Husayni), riwayat dari Jabir al-Anshari (ra) berkata :

Jundal bin Janadah berjumpa Rasulullah (saww) dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata :

Riwayat seperti diatas tidak hanya satu dalam kitab Yanabiul Mawaddah, namun ini sudah cukup sebagai bukti bahwa nama para Imam Ahlul Bait telah dijelaskan oleh Rasulullah (saww) dan tercatat dalam Kitab Sunni sendiri.

Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang para washi anda setelah anda supaya aku berpegang kepada mereka.

Beliau (saww) menjawab : “Washiku dua belas orang.”

Lalu Jundal berkata : “Begitulah kami dapati di dalam Taurat.”

Kemudian dia berkata : “Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah.”

Maka Beliau (saww) menjawab :

Pertama adalah penghulu dan ayah para washi adalah Ali. Kemudian dua anak lelakinya Hasan dan Husain. Berpeganglah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil itu memperdayakanmu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin, Allah akan mewafatkan (Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai minuman terakhir di dunia ini.”

Jundal berkata :

“Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam kitab-kitab para Nabi (as) seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama Ali, Hasan dan Husain, lalu siapa setelah Husain..? siapa nama mereka..?”

Berkata (Rasulullah) saww :

Setelah wafatnya Husain, imam setelahnya adalah putranya Ali dipanggil Zainal Abidin setelahnya adalah anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Setelahnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Shadiq. Setelahnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kadzim. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Ridha. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al Taqy Az Zaky. Setelahnya anak lelakinya Ali dipanggil al-Naqiy al-Hadi. Setelahnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Setelahnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana itu dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya “Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.”(1) Kemudian beliau membaca “Maka sesungguhnya partai Allah itulah yang pasti menang.”(2) Beliau bersabda : Mereka adalah dari partai Allah (hizbullah).”

[1]. Surah al-Baqarah (2) : 2-3

[2]. Surah al-Mai’dah (5) :56

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.



Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
2.
….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
3.
….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
4.
Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
5.
….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
6.
….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
7.
(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
8.
….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.
Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.
…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.
Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

Nasihat Para Imam Ahlilbait as Untuk Syiah Mereka


Para Imam Ahlulbait as. adalah pewaris kepemimpinan kenabian mereka adalah hujjah-hujjah Allah di atas bumi…. Mereka adalah adillâ’u Ilal Khair/penunjuk jalan menuju kebaikan dunia dan akhirat mengkuti bimbingan para Imam Ahlulbait as. akan menjamin kebahagian umat manusia dalam berbagai kesempatan, para Imam as. mencurahkan perhatian mereka terhadap umat Rasulullah saw. secara umum dan kepada para pecinta dan pengkut secara khusus

Adalah sebuah realita yang tak terbantahkan bahwa ternyata di tengah-tengah umat Islam, ada sekelompok yang berkiblat, meyakini imamah para imam Ahlulbait as. dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam segala urusan agama , mereka itu adalah Syi’ah Ahlulbait/para pengikut Ahlulbait as. eksistenti mereka selalu digandengakan dengan nama Ahlulbait as.

Untuk mereka, para imam suci Ahlulbait as. memberikan perhatian khusus mereka dalam membimbing mereka untuk merealisasikan Islam dengan segenap ajarannya yang paripurna dan kâffah, baik dalam ibadah maupun akhlak dan etika pergaulan.

Dalam artikel ini saya mencoba menyajikan untuk Anda irsyâd dan didikan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka, agar dapat diketahui batapa agung dan mulianya bimbingan mereka as.

Jadilah Kalian Sebagai Penghias Kami

Dalam sabda-sabda mereka, para Imam suci Ahlulbait as. meminta dengan sangat dari Syi’ah agar menjadi penghias bagi para imam dan tidak mencoreng nama harus mereka. Apabila mereka menyandang akhlak islami, beradab dengan didikan para imam pasti manusia akan memunji para imam Ahlulbait sebagai pembimbing yang telah mampu mencetak para pengikut yang berkualitas, mareka pasti akan mengatakan alangkah mulianya didikan para imam Ahlulbait itu terhadap Syi’ah mereka! Begitu juga sebailnya, apabila manusia menyaksikan keburukan sifat dan sikap serta perlakuan, maka mereka akan menyalahkan Ahlulbait as. dan mungkin akan menuduh para imam telah gagal dalam membina para Syi’ah mereka.

Sulaiman ibn Mahrân berkata, “Aku masuik menjumpai Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., ketika itu di sisi beliau ada beberapa orang Syi’ah, beliau as. bersabda:

معاشِرَ الشيعَةِ! كونُوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا، و احفَظُوا أَلْسِنَتَكُمْ و كُفُّها عن الفُضُولِ و قُبْحِ القولِ.

“Wahai sekalian Syi’ah! Jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik keada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dia dari kelebihan berbicara dan omongan yang jelak.” [1]

Dalam sabda beliau di atas, Imam Ja’far menekankan pentingnya menjadi penghias bagi Ahlulbait as., hal demikian tidak berarti bahwa Ahlulbait as. akan menyandang kemulian disebabkan kebaikan Syi’ah mereka, akan tetapi lebih terkait dengan penilaian manusia tentang mereka yang biasa menilai seorang pemimpin melalui penilaian terhadap para pengikutnya. Imam Ja’far as. menekankan pentinghnya bertutur kata yang baik dan manjaga lisan dari berbicara jelak.

Dalam hadis lain, Imam Ja’far as. bersabda:

يا معشرَ الشيعَةِ! إِنَّكُمْ نُسِبْتُمْ إلينَا، كونوا لنا زينًا وَ لاَ تكونوا علينا شَيْنًا

“Hai sekalian Syi’ah! Sesungguhnya kalian telah dinisbatkan kepada kami, jadilah penghias bagi kami dan jangan menjadi pencorang!” [2]

Dalam sabda lain beliau berkata:

رَحِمَ اللهُ عَبْدًا حَبَبَنَا إلى الناسِ لا يُبَغِّضُنا إليهِمْ. وايمُ اللهِ لَوْ يرْوونَ مَحاسِنَ كلامِنا لَكانوا أَعَزَّ، و ما استَطاعَ أَحدٌ أَنْ يَتَعَلَّقَ عليهِمْ بشيْئٍ.

“Semoga Allah merahmati seorang yang mencintakan kami kepada manusia dan tidak membencikan kami kepada mereka. Demi Allah andai mereka menyampaikn keindahan ucapan-ucapan kami pastilah mereka lebih berjaya dan tiada seorangpun yang dapt bergantung atas (menyalahkan) mereka dengan sesuatu apapun.”[3]

Dalam salah satu pesannya melalui sahabat beliau bernama Abdul A’lâ, Imam Ja’far bersabda:

يَا عبدَ الأعلى … فَأَقْرَأْهُمْ السلام و رحمة الله و قل: قال لكم: رَحِمَ اللهُ عبْدًا اسْتَجَرَّ مَوَدَّةَ الناسِ إلى نفسِهِ و إلينا بِأَنْ يُظْهِرَ ما يَعْرِفُونَ و يَكُفَّ عنهُم ما يُنْكِرُونَ.

“Hai Abdul A’lâ… sampaikan salam kepada mereka (syi’ahku) dan katakana kepada mereka bahwa Ja’far berkata keada kalian, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menarik kecintaan manusia kepada dirnya dan keada kami dengan menampakkan apa-apa yang mereka kenal dan menahan dari menyampaikan apa-apa yang tidak mereka kenal.”[4]

Wara’ dan Ketaqwaan

Tidak kita temukan wasiat yang paling ditekankan para imam suci Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka seperti ketaqwaan dan wara’. Syi’ah adalah mereka yang mengikuti dan bermusyâya’ah kepada Ahlulbait as.. Dan mereka yang paling berpegang teguh dengan ketaqwaan dan wara’lah yang paling dekat dan paling istimewa kedudukannya di sisi Ahlulbait as., sebab inti kesyi’ahan adalah mengikuti, beruswah dan meneladani. Maka barang siapa hendak mengikuti dan meneladani Ahlulibat as. tidak ada jalan untuk itu selain ketaatan kepada Allah SWT. bersikap wara’ dan bertaqwa.

Abu Shabâh al Kinani berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. ‘Di kota Kufah kami diperolok-olokkan karena (mengikuti tuan), kami diolok-olok ‘Ja’fariyah’. Maka Imam murka dan bersabda:

إنَّ أصحابَ جعفر مِنكُم لَقليلٌ، إنما أصحابُ جَعْفَر مَنْ اشْتَدَّ وَرَعُهُ و عَمِلَ لِخالِقِهِ.

“Sesungguhnya pengikut Ja’far di antara kalian itu sedikit. Sesungguhnya pengikut ja’fa itu adalah oran yang besar kehait-hatiannya dan berbuat untuk akhiratnya.’”[5]

Syi’ah adalah mereka yang telah menjadikan manusia-manusia suci pilihan Allah SWT sebagai panutan mereka. Para imam itu adalah hamba-hamba Allah yang telah mencapai derajat yang sangat tinggi di sisi Allah disebabkan ketaqwaan mereka, maka dari mereka yang mengikuti para imam Ahlulbait as. itu adalah yang paling berhak menghias diri mereka dengan ketaqwaan dan wara’.

Bassâm berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah as. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ الناسِ بالورعِ آلُ محمدٍ و شِيْعَتُهُم

“Yang paling berhak bersikap wara’ adalah keluarga Muhammad dan Syi’ah mereka.”[6]

Dan berkat didikan para imamsuci Ahlulbait as., maka sudah seharusnyaSyi’ah Ahlulbait adalah seperti yang disabdakan Imam Ja’far as.:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ، و أهلُ الوقارِ و الأمانَةِ، أهلُ الزهدِ و العبادَةِ. أصحابُ إحدَى و خمسونَ رَكْعَةً في اليومِ و الليلَةِ، القائمونَ بالليلِ، الصائمونَ بالنهار، يَحِجُّونَ البيتَ… و يَجْتَنِبونَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli/penyandang wara’ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, pemilik ketenangan/keanggunan dan amanat, penyandang zuhud dan getol beribadah. Pelaksana shalat lima puluh satu rakaat dalam sehari sealam. Berdiri (mengisi malam dengan shalat) puasa di siang hari dan berangkat haji ke tanah suci… dan mereka menjauhkan dri dari setiap yang haram.”[7]

Imam Ja’far as. bersabda:

و اللهِ ما شيعَةُ علي (عليه السلام) إلاَّ مَنْ عَفَّ بطنُهُ و فرْجُهُ، و عمل لِخالقِهِ، و رجَا ثوابَهُ، و خافَ عقابَهُ.

“Demi Allah, tiada Syi’ah Ali as. kecuali orang yang menjaga perutnya dan kemaluannya, berbuat demi Tuhannya, mengharap pahala-Nya dan takut dari siksa-Nya.”[8]

Dalam sabda lain Imam Ja’far as. bersabda mengarahkan Syi’ah beliau:

يا شِيْعَةَ آلِ محمَّدٍ، إنَهُ ليسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَملكْ نفسَهُ عندَ الغضَبِ، و لَمْ يُحسِنْ صُحْبَةَ مَن صحِبَهُ، و مرافَقَةَ مَن رافقَهُ، و مصالَحَةَ مَن صالَحَهُ.

“Wahai Syi’ah Âli (keluarga) Muhammad, sesungguhnya bukan dari kami orang yang tidak menguasai nafsunya disaat merah, tidak berbaik persahabatan dengan orang yang ia temani, dan tidak berbaik kebersamaan dengan orang yang bermasa dengannya serta tidak berbaik shulh dengan oranf yang berdamai dengannya.” [9]

Para Imam Ahlubait as. tidak puas dari Syi’ah mereka apabila di sebuah kota masih ada orang selain mereka yang lebih berkualitas. Syi’ah Ahlulbait as. harus menjadi anggota masyarakat paling unggul dalam berbagai kebaikan. Imam Ja’far as. bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَنْ يكونُ فِيْ مِصْرَ، يكونُ فيْهِ آلآف و يكون في المصرِ أورَعُ منهُ.

“Tidak termasuk dari Syi’ah kami seorang yang betinggal di sebuah kota yang terdiri dari beribu-ribu masyarakat, sementara di kota itu ada seorang yang lebih wara’ darinya.” [10]

Dengan berwilayah, mengakui imamah Ahlulbait as. dan mengikuti ajaran mereka, Syi’ah benar-benar berada di atas jalan yang mustaqîm dan di atas agama Allah SWT. Jadi dari sisi keyakinan dan I’tiqâd mereka sudah berasa di atas kebenaran, sehingga yang petning sekarang bagi mereka adalah memperbaikit kualitas amal dan akhak mereka. Kulaib ibn Mu’awiyah al Asadi berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Imam Ja’far) as. bersabda:

و اللهِ إنَّكُمْ لَعلَى دينِ اللهِ و دينِ ملآئكَتِهِ فَأَعِيْنُونِيْ بورَعٍ و اجتهادٍ. عليكُمْ بصلاةِ الليلِ و اعبادَةِ، عليكم بالورعِ.

“Demi Allah kalian benar-benar berada di atas agama Allah dan agama para malaikat-Nya, maka bantulah aku dengan wara’ dan kesungguh-sungguhan dalam ibadah. Hendaknya kalian konsisten shalat malam, beribadah. Hendaknya kalian konsisten berpegang dengan wara’.” [11]

Memelihara hati agar selalu ingat kepada Allah SWT.; perintah dan larangan-Nya juga menjadi sorotan perhatian parta imam suci Ahlulbait as.

Penulis kitab Bashâir ad Darâjât meriwayatkan dari Murâzim bahwa Imam Zainal Abidin as. bersabda kepadanya:

يا مرازِم! ليسَ مِن شيعَتِنا مَنْ خَلاَ ثُمَّ لَمْ يَرْعَ قَلْبَهُِ

“Hai Murâzim, bukan dari Syi’ah kami seorang yang menyendiri kemudian ia tidak menjaga hatinya.”[12]

Diriwayatkan ada seseorang berkata kepada Imam Hsain as., “Wahai putra Rasulullah, aku dari Syi’ah kamu.” Maka Imam bersabda:

إنَّ شِيْعَتَنا مَنْ سَلِمَتْ قلوبُهُم من كُلِّ غِشٍّ و غِلِّ و دَغْلٍ.ُ

“Syi’ah kami, adalah orang-oarng yang hati-hati mereka selamat/bersih dari segala bentuk pengkhianatan, kedengkian dan makar.”[13]

Imam Ja’far as. juga bersabda:

ليسَ مِنْ شيعَتِنا مَن قال بلسانِهِ و خالفَنا في أعمالِنا و آثارِنا، لَكِنْ شيعتُنا مَنْ وافقَنا بلسانِهِ و قلبِهِ و تَب~عَ أثارَنا وَ عمِلَ بِأَعمالِنا. أولئكَ شيعتُنا.

“Bukan termasuk Syi’ah kami orang yang berkata dengan lisannya namun ia menyalahgi kami dalam amal-amal dan tindakan kami. Tetapi Syi’ah kami adalah orang yang menyesuai kami dengan lisan dan hatinya dan mengikuti tindakan-tindakan kami serta beamal dengan amal kami. Mereka itulah Syi’ah kami.”

Hadis di atas adalah pendefenisian yang sempurna siapa sejatinya Syi’ah Ahlulbiat itu, dan sekaligus membubarkan angan-angan dan klaim-klaim sebagian yang mengaku-ngaku sebagai Syiah sementara dari sisi ajaran tidak mengambil dari Ahlulbait as. dan dalam beramal tidak menteladani Ahlulbait as. Semoga kita digolongkan dari Syi’ah Ahlulbait yang sejati. Amin.

Semangat Beribadah

Ciri lain yang seharusnya terpenuhi dapa Syi’ah Ahlulbait as. adalah bergeloranya semangat beribadah kepada Allah SWT. mengisi hari-hari mereka dengan mendekatkan diri kepada Allah, drengan bersujud, menangisi kesahalan dan dosa-dosa yang dikerjakannya dan kekurangan serta keteledorannya, membaca Alqu’an al Karim.

Dalam sebuah sabdanya, Imam al baqir as. bersabda kepada Abu al Miqdâm:

… إِذا جَنَّهُمُ الليلُ اتَّخَذُوا الأرْضَ فِراشًا، و استقلُُّوا الأرضَ بِجِباهِهِمْ ، كثيرٌ سجودُهُم ، كثيرَةٌ دموعُهُمْ، كثيرٌدعاؤُهُم ، كثيرٌ بكاؤُهُمْ ، يَفْرَحُ الناسُ و هُمْ يَحْزَنونَ.

“…jika malam menyelimuti mereka, mereka menjadikan tanah sebagai hamparannya, dan meletakkan dahi-dahi mereka ke bumi. Banyak sujudnya, deras air matanya, banyak doanya dan banyak tangisnya. Orang-orang bergembira sementara mereka bersedih.”[14]

Imam Ja’far as. bersabda:

شيعتُنا أهلُ الورعِ و الإجتهادِ ، و اهلُ الوفاء و الأمانةِ، و أهل الزهدِ و العبادةِ، أصحابُ إحدِىَ و خمسينَ ركعَةً في اليومِ و الليلَةِ، و القَائِمُونَ باللَّيلِ، الصائِمونَ بالنهارِ ،يُزَكُّوْنَ أَموالَهُمْ ، و يَحِجُّوْنَ البيتَ و يَجْتَنِبُوْنَ كُلَّ مُحَرَّمٍ.

“Syi’ah kami adalah ahli (penyandang) wara’, dan kesungguh-sungguhaa dalam ibadah, ahli menepati janji dan amanat, ahli zuhud dan ibadah, ahli (pelaknasa) salat lima puluh sau raka’at dalam sehari, bangun di malam hari, puasa di siang hari, menzakati hartanya, melaksanakan haji, dan menjauhkan diri dari setiap yang diharamkan.”[15]

Rahib Di Malam Hari Dan Singa Di Siang Hari

Nauf, -seorang sahabat Imam Ali as.- mensifati kenangan indahnya bersama Imam Ali as. ketika menghidupkan malamnya di atas atap rumah dengan shalat… Imam Ali as. menatap bintang- gemintang di langit seakan sedih, kemudian beliau bertanya kepada Nauf, “Hai Nauf, apakah engkap tidur atau bangun?” Aku terjaga. Jawab Nauf. Lalu beliau bersabda:

أَ تَدْرِيْ مَنْ شيعتِيْ؟ شيعتِيْ الذُبْلُ الشِفاهِ، الخُمْصٌ البُطُونِ، الذي تُعْرَفُ الرَّهْبانِيَّةُ و الربانية في وُجُوهِهِمْ، رهبانٌ بالليلِ ، أسَدٌ بالنهارِ، إذا جّنَّهُم الليلُ اتَّزَرُوا على أوساطِهِمْ و ارْتَدَوْا على أطرافِهِمْ، و صَفُّوا أقدامَهُمْ و افترشُوا جناهَهُمْ، تَجْرِي الدموعُ على خدودِهِم، يَجْأَرونَ إلى اللهِ فكتكِ رقَبَتِهِمْ مِنَ ، أمَّا الليلُ فَحُلماءُ علماؤ أبرارٌ أتقِياءُ.

“Hai Nauf, tahukan engkau siapa Syi’ahku? Syi’ahku adalah yang layu bibir-bibr mereka, cekung perut-perut mereka, penghambaan dan rabbaniyah dikenal dari wajah-wajah mereka. Mereka adalah para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Jika malam telah menyelimuti mereka, mereka mengencangkan kain ikatan (baju) mereka, mereka berkain di atas pundak mereka, mereka merapatkan kaki-kaki mereka, mereka meletakkan dahi-dahi mereka. Air mata mereka mengalir di atas pipi-pipi mereka, mereka meraung-raung memohon kepada Allah agar dibebaskan dari siksa neraka. Adapun di siang hari mereka adalah orang-orang yang dingin hatinya, pandai, baik-baik dan bertaqwa.”[16]

Sungguh indah gambaran yang dilukiskan Imam Ali as. bagi Syi’ah beliau as. para rahib di malam hari, dan singa di siang hari. Ia adalah ungkapan yang sangat tepat yang menggambarkan kondisi serasi dalam mengombinasikan aktifitas kehidupan mereka. Mereka menguasa mala-malam taktaka kegelapan telah menyelimuti angkasa. Kamu saksikan mereka meletakkan dahi-dahi kerendahan di hadapan Sang Khaliq dalam keadaan khusyu’ dan penuh penghambaan. Mereka meraung-raung menangis mengharap ampunan Allah dan kebebasan dari belenggu ap neraka.

Dan ketika siang datang menyinari bumi, berubalah mereka menjadi para pendekar di ddalam arena perjuangan kehidupan… mereka adalah ulama yang meresap ilmu dan ma’rifahnya tentang Allah SWT…. mereka adalah berhati dingin, pemaaf, bertaqwa dan penyabar serta berjuang tak kenal lelah.

Dzikir dim ala hari, ketaqwaan dan perjuangan dim ala hari… kebuah komposisi seimbang bagi kepribadian seorang Muslim Mukmin yang ideal. Itulah Syi’ah Ali as.!

[1] Amâli ath Thûsi,2/55 dan Bihar al Anwâr,68/151.

[2] Misykât al Anwâr:67.

[3] Ibid.180.

[4] Bihal al Anwâr,2/77.

[5] Al Bihar,68/166.

[6] Bisyâratul Mushthafa:17.

[7] Al Bihâr,68/167.

[8] Ibid.168.

[9] Ibid.266.

[10] Ibid.164.

[11] Bisyâratul Mushthafa:55 dan 174, dan Al Bihâr,68/87.

[12] Bashâir ad Darajât:247 darinya al Bihâr,68/153.

[13] Al Bihâr,68/164.

[14] Al Khishâl,2/58 darinya al Bihâr,68/1490-150.

[15] Shifâtusy Syi’ah:2 dari al Bihâr,68/167 hadis 33.

[16] Al Bihâr,68/191

Khalifah Rasulullah Yang WAJIB di ikuti sesuai Hadist Rasulullah saww.



Berdasarkan hadith Nabi saaw dalam kitab Ahlul Sunnah antaranya ialah :

Daripada Said bin Jubair daripada Ibn Abbas berkata: Bersabda Rasulullah SAWAW: “Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhlukNya selepasku ialah 12 orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku al-Mahdi; (Yanabi al-Mawaddah, hlm. 447)

.

Hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAWAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit (Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berputar di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Ya

nabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sila teliti dengan sebaik-baiknya hadis-hadis di bawah yang telah diriwayatkan oleh ulama-ulama sunni:

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti Nabi SAW kepada dua belas orang.

Hadith-hadith yang menghadkan pengganti-pengganti Nabi SAWW kepada dua belas orang, telah diriwayatkan oleh jumhur ulama Muslimin Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka.

.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya (al-Musnad, I, hlm 398) meriwayatkan hadith ini daripada Sya’bi daripada Masruq berkata:”Kami berada di sisi ‘Abdullah bin Mas’ud yang sedang memperdengarkan bacaan al-Qur’an kepada kami. Tiba-tiba seorang lelaki bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Abdu r-Rahman! Adakah anda telah bertanya Rasulullah SAWAW berapakah ummat ini memiliki khalifah?” Abdullah bin Mas’ud menjawab:”Tiada seorangpun bertanya kepadaku mengenainya semenjak aku datang ke Iraq sebelum anda.” Kemudian dia berkata:”Ya! Sesungguhnya kami telah bertanya kepada Rasulullah SAWAW mengenainya. Maka beliau menjawab:”Dua belas (khalifah) seperti bilangan naqib Bani Israil.”

.

Di dalam riwayat yang lain Ahmad bin Hanbal meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah, sesungguhnya dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda semasa Haji Wida’:”Urusan agama ini masih pada zahirnya di tangan penentangannya dan tidak akan dihancurkan oleh orang-orang yang menyalahinya sehingga berlalunya dua belas Amir, semuanya daripada Quraisy.” (al-Musnad, I, hlm 406, dan V, hlm 89)

.

Muslim di dalam Sahihnya ( Sahih, II, hlm 79 )meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku berjumpa Nabi SAWAW, Maka aku mendengar Nabi SAWAW bersabda:”Urusan ‘ini’ tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: Kemudian beliau bercakap dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya bapaku apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab:”Semuanya daripada Quraisy.”

.
Muslim juga meriwayatkan di dalam Sahihnya daripada Nabi SAWAW beliau bersabda:”Agama sentiasa teguh sehingga hari kiamat dan dua belas khalifah memimpin mereka, semuanya daripada Quraisy. Di dalam riwayat yang lain “Urusan manusia berlalu dengan perlantikan dua belas lelaki dari Quraisy, ” “Sentiasa Islam itu kuat sehingga kepada dua belas khalifah daripada Quraisy” dan “Sentiasa ugama ini kuat dan kukuh sehingga dua belas khalifah daripada Quraisy”
Al-Turmudzi di dalam al-Sunannya (al-sunan, II, hlm 110 ) mencatat hadith tersebut dengan lafaz amir bukan khalifah.

Sementara al-Bukhari di dalam Sahihnya ( Sahih, IV, hlm 120 (Kitab al-Ahkam ) meriwayatkannya daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku ialah dua belas amir.” Maka beliau berucap dengan perkataan yang aku tidak mendengarnya. Bapaku memberitahuku bahawa beliau bersabda:”Semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal ( Kanz al-Ummal, VI, hlm 160 ), meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (diikuti) oleh dua belas khalifah.”

.

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah ( al-Sawa’iq al-Muhriqah, bab XI ) meriwayatkan daripada Jabir bin Samurah bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Selepasku akan (dikuti) dua belas amair semuanya daripada Quraisy.”

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 444 (bab 7) mencatat riwayat daripada Jabir bin Samurah sesungguhnya dia berkata:”Aku bersama bapaku di sisi Nabi SAWAW beliau bersabda:”Selepasku dua belas khalifah.” Kemudian beliau merendahkan suaranya. Maka akupun bertanya bapaku mengenainya. Dia menjawab: Beliau bersabda: “Semuanya daripada Bani Hasyim.”

Samak bin Harb juga meriwayatkannya dengan lafaz yang sama. Diriwayatkan daripada al-Sya’bi daripada Masruq daripada Ibn Mas’ud bahawa sesungguhnya Nabi SAWAW telah menjanjikan kita bahawa selepasnya dua belas khalifah sama dengan bilangan naqib Bani Isra’il. Dan dia berkata di dalam bab yang sama bahawa Yahya bin al-Hasan telah menyebutkannya di dalam Kitab al-Umdah dengan dua puluh riwayat bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW adalah dua belas orang. Semuanya daripada Quraisy. Al-Bukhari telah menyebutkannya dengan tiga riwayat, Muslim sembilan riwayat. Abu Daud tiga riwayat, al-Turmudhi satu riwayat dan al-Humaidi tiga riwayat

..

Pengkaji-pengkaji menegaskan bahawa hadith-hadith tersebut menunjukkan bahawa khalifah-khalifah selepas Nabi SAWAW ialah dua belas orang. Dan maksud hadith Nabi SAWAW ialah dua belas orang daripada Ahlu l-Baitnya. Kerana tidak mungkin dikaitkan hadith ini kepada khalifah-khalifah yang terdiri daripada bilangan mereka kurang daripada dua belas orang. Dan tidak mungkin dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani Umaiyyah kerana bilangan mereka melebihi dua belas orang dan kezaliman mereka yang ketara selain daripada ‘Umar bin Abdu l-Aziz. Tambahan pula mereka bukan daripada Bani Hasyim. Di dalam riwayat yang lain beliau memilih Bani Hasyim di kalangan Quraisy dan memilih Ahlu l-Baitnya di kalangan Bani Hasyim (Muslim, Sahih, II, hlm 81 (Fadhl Ahlu l-Bait)
.

Di dalam riwayat ‘Abdu l-Malik daripada Jabir bahawa Nabi SAWAW telah merendahkan suaranya ketika menyebutkan Bani Hasyim kerana ‘mereka’ tidak menyukai Bani Hasyim. Hadith ini juga tidak boleh dikaitkan dengan khalifah-khalifah Bani ‘Abbas kerana bilangan mereka melebihi bilangan tersebut. Dan mereka tidak mengambil berat tentang firmanNya “Katakan!” Aku tidak meminta upah daripada kamu kecuali mencintai keluargaku, ” sebagaimana juga mereka tidak menghormati hadith al-Kisa’. Justeru itu, hadith tersebut mestilah dikaitkan dengan dua belas Ahlu l-Baitnya kerana merekalah orang yang paling alim, warak, takwa, paling tinggi keturunan dan ilmu-ilmu mereka adalah daripada datuk-datuk mereka yang berhubungan dengan datuk mereka Rasulullah SAWAW dari segi “warisan” dan hikmah. Mereka pula dikenali oleh para ilmuan. Oleh itu apa yang dimaksudkan oleh hadith tersebut ialah dua belas Ahlu l-Bait Rasulullah Saww (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445)

.
Ini juga diperkuatkan oleh hadith thaqalain, hadith al-Safinah, hadith al-Manzilah dan lain-lain.

Al-Qunduzi al-Hanafi (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 445) juga telah meriwayatkan hadith daripada Jabir dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:”Akulah penghulu para Nabi dan ‘Ali adalah penghulu para wasi. Dan sesungguhnya para wasi selepasku ialah dua belas orang, pertama ‘Ali dan yang akhirnya Qaim al-Mahdi.”

.

Hadith-hadith yang menerangkan bahawa merekalah para wasi Rasulullah SAWAW di dalam buku-buku Ahlu l-Sunnah adalah banyak, dan ianya melebihi had mutawatir. Ini tidak termasuk hadith-hadith riwayat Syi’ah. Umpamanya hadith daripada Salman RD berkata: Aku berjumpa Nabi SAWAW dan Husain berada di atas dua pahanya. Nabi SAWAW sedang mengucup dahinya sambil berkata:’Anda adalah Sayyid bin Sayyid dan adik Sayyid. Anda adalah imam bin imam dan adik imam. Anda adalah Hujjah bin Hujjah dan adik Hujjah dan bapa hujjah-hujjah yang sembilan. Dan yang kesembilan mereka ialah Mahdi al-Muntazar.”

.

Al-Hamawaini al-Syafi’i di dalam Fara’id al-Simtin (Fara’id al-Simtin, II, hlm 26), meriwayatkan daripada ‘Ibn Abbas berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Aku , Ali, Hasan, Husain dan sembilan daripada anak-anak Husain adalah disuci dan dimaksumkan.”

.

Ibn ‘Abbas juga meriwayatkan bahawa Nabi SAWAW bersabda:”Wasi-wasiku, hujjah-hujjah Allah ke atas makhlukNya dua belas orang, pertamanya saudaraku dan akhirnya ialah anak lelakiku (waladi).” Lalu ditanya Rasulullah siapakah saudara anda wahai Rasulullah? Beliau menjawab:’Ali. Dan ditanya lagi siapakah anak lelaki anda? Beliau menjawab: al-Mahdi yang akan memenuhi bumi ini dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kerosakan dan kezaliman. Demi Tuhan yang mengutusku dengan kebenaran sebagai kegembiraan dan peringatan, sekiranya dunia ini tinggal hanya satu hari lagi nescaya Allah akan memanjangkannya sehingga keluar anak lelakiku al-Mahdi. Kemudian diikuti oleh ‘Isa bin Maryam. Beliau akan mengerjakan solat di belakang anak lelakiku. Dunia pada ketika itu berseri dengan cahaya Tuhannya dan pemerintahannya meliputi Timur dan Barat.

.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95) meriwayatkan bahawa Jabir bin ‘Abdullah berkata: Rasulullah saww bersabda : Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya anda mendapatinya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian al-Qa’im namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan membuka seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah SWT. Jabir berkata: Wahai Rasulullah! Apakah orang2 dapat mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya ? Beliau menjawab :”Ya..! Demi yang mengutusku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya dari wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil manfaat dari matahari sekalipun ia ditutupi awan.” Ini adalah di antara rahsia-rahsia ilmu Allah yang tersembunyi. Maka rahsiakanlah mengenainya melain kepada orang yang ahli. (Yanabi’ al Mawaddah, hlm 494)

.

daripada Jabir al-Ansari berkata: Junda; bin Janadah berjumpa Rasulullah SAWAW dan bertanya kepada beliau beberapa masalah. Kemudian dia berkata: Beritahukan kepadaku wahai Rasulullah tentang wasi-wasi anda selepas anda supaya aku berpegang kepada mereka. Beliau menjawab: Wasi-wasiku dua belas orang. Lalu Jundal berkata: Begitulah kami dapati di dalam Taurat. Kemudian dia berkata: Namakan mereka kepadaku wahai Rasulullah. Maka beliau menjawab: “Pertama penghulu dan ayah para wasi adalah Ali. Kemudian dua anak laki2nya Hasan dan Husain. Berpegang teguhlah kepada mereka dan janganlah kejahilan orang-orang yang jahil memperdayaimu. Kemudian Ali bin Husain Zainal Abidin Allah akan mematikan anda (‘Ali bin Husain) dan menjadikan air susu sebagai bekalan terakhir di dunia ini.” (Yanabi’ al-Mawaddah Bb 76 hlm 441 – 444 )

.

Jundal berkata: Kami telah mendapatinya di dalam Taurat dan di dalam buku-buku para Nabi AS seperti Iliya, Syibra dan Syabir. Maka ini adalah nama ‘Ali, Hasan dan Husain, maka imam selepasnya dipanggil Zaina l-Abidin selepasnya anak lelakinya Muhammad, dipanggil al-Baqir. Selepasnya anak lelakinya Ja’far dipanggil al-Sadiq. Selepasnya anak lelakinya Musa dipanggil al-Kazim. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Ridha. Selepasnya anak lelakinya ‘Ali dipanggil al-Naqiyy al-Hadi. Selepasnya anak lelakinya Hasan dipanggil al-Askari. Selepasnya anak lelakinya Muhammad dipanggil al-Mahdi al-Qa’im dan al-Hujjah. Beliau ghaib dan akan keluar memenuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana ianya dipenuhi dengan kefasadan dan kezaliman. Alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bersabar semasa ghaibnya. Dan alangkah beruntungnya bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap Hujjah mereka. Dan mereka itulah orang yang disifatkan oleh Allah di dalam firmanNya (Surah al-Baqarah(2): 2-3″Petunjuk bagi mereka yang bertaqwa iaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib.” Kemudian beliau membaca (Surah al-Mai’dah(5):56)”Sesungguhnya parti Allahlah yang pasti menang.”Beliau bersabda: Mereka itu adalah daripada parti Allah (hizbullah)

.

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin (Yanabi’ al-Mawaddah, hlm 446 – 447) telah meriwayatkan hadith ini dan dinukilkan oleh al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 76 dengan sanad daripada Ibn ‘Abbas dia berkata: Seorang Yahudi bernama Na’thal datang kepada Rasulullah SAWAW dan berkata: Wahai Muhammad! Aku akan bertanya anda beberapa perkara yang tidak menyenangkan hatiku seketika. Sekiranya anda dapat memberi jawapan kepadaku nescaya aku akan memeluk Islam di tangan anda. Beliau SAWAW bersabda:”Tanyalah wahai Abu ‘Ammarah.’ Dia bertanya beberapa perkara sehingga dia berkata: Beritahukan kepadaku tentang wasi anda siapa dia? Tidak ada seorang Nabi melainkan ada baginya seorang wasi. Dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin ‘Imran telah berwasiatkan kepada Yusyu’ bin Nun. Maka Nabi SAWAW menjawab”Sesungguhnya wasiku ialah ‘Ali bin Abi Talib, selepasnya dua anak lelakinya Hasan dan Husain kemudian diikuti oleh sembilan imam daripada keturunan Husain.’ Dia berkata: Namakan mereka kepadaku. Beliau menjawab:’Apabila wafatnya Husain, maka anaknya ‘Ali apabila wafatnya ‘Ali, anaknya Muhammad, Dan apabila wafatnya Muhammad, anaknya Ja’far. Apabila wafatnya Ja’far anaknya Musa. Apabila wafatnya Musa, anaknya Ali. Apabila wafatnya Ali, anaknya Muhammad. Apabila wafatnya Muhammad, anaknya ‘Ali. Apabila wafatnya ‘Ali anaknya Hasan. Apabila wafatnya Hasan, anaknya Muhammad al-Mahdi. Mereka semua dua belas orang…..”Akhirnya lelaki Yahudi tadi memeluk Islam dan menceritakan bahawa nama-nama para imam dua belas telah tertulis di dalam buku-buku para Nabi yang terdahulu, dan ia termasuk di antara apa yang telah dijanjikan oleh Musa AS.
Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin meriwayatkan sanadnya kepada Abu Sulaiman penjaga unta Rasulullah SAWAW, dia berkata:”Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda:”Di malam aku diperjalankan atau dibawa ke langit, Allah SWT berfirman:”Rasul mempercayai apa yang telah diturunkan kepadanya oleh TuhanNya.”Aku bersabda: Mukminun. Dia menjawab: Benar. Allah SWT berfirman lagi: Wahai Muhammad! Kali pertama Aku memerhatikan ahli bumi, Aku memilih anda. Aku menamakan anda dengan salah satu daripada nama-namaku. Oleh itu dimana sahaja Aku diingati, anda diingati bersama. Akulah al-Mahmud dan andalah Muhammad. Kemudian Aku memerhatikannya kali kedua, maka Aku memilih ‘Ali. Maka Aku menamakannya dengan namaku. Wahai Muhammad! Aku telah menjadikan anda dari Aku dan menjadikan ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan imam-imam daripada keturunan Husain daripada cahayaKu. Akupun membentangkan wilayah mereka kepada seluruh ahli langit dan bumi. Sesiapa yang menerimanya akan berada di sisiKu sebagai Mukminin. Dan sesiapa yang mengingkarinya akan berada di sisiKu sebagai kafirin. Wahai Muhammad! Sekiranya seorang daripada hamba-hambaKu beribadat kepadaKu tanpa terhenti-henti kemudian mendatangiKu dalam keadaan mengingkari wilayah kalian, nescaya Aku tidak mengampuninya. Allah SWT berfirman lagi kepada Nabi SAWAW: Adakah anda ingin melihat mereka? Beliau menjawab: Ya! Wahai Tuhanku. Dia berfirman: Lihatlah di kanan ‘Arasy, maka aku dapati ‘Ali, Fatimah, Hasan, Husain, ‘Ali bin Husain, Muhammad bin ‘Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, ‘Ali bin Musa, Muhammad bin ‘Ali, ‘Ali bin Muhammad, Hasan bin ‘Ali dan Muhammad al-Mahdi bin Hasan. Mereka diibaratkan bintang-bintang yang bersinar di kalangan mereka. Kemudian Dia berfirman lagi: Mereka itulah hujjah-hujjah ke atas hamba-hambaKu, mereka itulah wasi-wasi anda. Dan al-Mahdi adalah daripada ‘itrah anda. Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dia akan membalas dendam terhadap musuh-musuhKu.”

.

Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi di dalam Manaqibnya meriwayatkan daripada Salman daripada Nabi SAWAW, sesungguhnya beliau bersabda kepada Husain:”Andalah imam anak lelaki seorang imam, saudara kepada imam, bapa kepada sembilan imam. Dan yang kesembilan daripada mereka ialah Qaim mereka (al-Mahdi AS)

.
Begitulah juga Syahabuddin al-Hindi di dalam Manaqibnya telah menerangkan sanadnya daripada Nabi SAWAW bahawa beliau bersabda:”Sembilan imam adalah daripada anak cucu (keturunan) Husain bin ‘Ali dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi al-Muntazar AS)

.

Al-Hamawaini al-Syafi’e meriwayatkan di dalam Fara’id al-Simtin bahawa Nabi SAWAW bersabda:” Siapa yang suka berpegang kepada ugamaku dan menaiki bahtera kejayaan selepasku, maka hendaklah dia mengikuti ‘Ali bin Abi Talib, memusuhi seterunya dan mewalikan walinya kerana beliau adalah wasiku, dan khalifahku ke atas ummatku semasa hidupku dan selepas kewafatanku. Beliau adalah imam setiap muslim dan amir setiap mukmin, perkataannya adalah perkataanku, perintahnya adalah perintahku. Larangannya adalah laranganku. Pengikutnya adalah pengikutku. Penolongnya adalah penolongku. Orang yang menjauhinya adalah menjauhiku.”

.
Kemudian Nabi SAWAW bersabda lagi: Sesiapa yang menjauhi ‘Ali selepasku, dia tidak akan ‘melihatku.’ Dan aku tidak melihatnya di hari kiamat. Dan siapa yang menentang ‘Ali, Allah haramkan ke atasnya syurga dan menjadikan tempat tinggalnya di neraka. Siapa yang menjauhi ‘Ali, Allah akan menjauhinya di hari kiamat. Di hari itu akan didedahkan segala-galanya dan sesiapa yang menolong ‘Ali, nescaya Allah akan menolongnya.
Kemudian beliau bersabda lagi: Hasan dan Husain kedua-duanya adalah imam ummatku selepas bapa mereka berdua adalah penghulu-penghulu pemuda syurga. Ibu kedua-duanya adalah penghulu para wasi. Dan sembilan imam adalah daripada anak cucu Husain. Dan yang kesembilan mereka adalah Qaim mereka (imam al-Mahdi). Mentaati mereka adalah ketaatan kepadaku. Mendurhakakan mereka adalah mendurhakaiku. Kepada Allah aku mengadu bagi orang yang menentang kelebihan mereka, dan menghilangkan kehormatan mereka selepasku. Cukuplah bagi Allah sebagai wali dan penghulu kepada ‘itrahku, para imam ummatku. Pasti Allah akan menyiksa orang yang menentang hak mereka.”Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”(Al-Syuara’(26): 227)

.

Ayatullah al-’Uzma al-Hulli di dalam bukunya Kasyf al-Haq (Kasyf al-Haq, I, hlm 108) telah menerangkan sebahagian daripada hadith dua belas khalifah dengan riwayat yang bermacam-macam. Seorang musuh ketatnya bernama Fadhl bin Ruzbahan al-Nasibi adalah orang yang paling kuat menentang Ahlu l-Bait AS, di dalam jawapan kepadanya mengakui bahawa apa yang disebutkan oleh Allamah al-Hulli mengenai dua belas khalifah adalah Sahih dan telah dicatat di dalam buku-buku Sahih Ahlu s-Sunnah

.

Aku berkata: Riwayat hadith dua belas imam daripada Nabi SAWAW adalah terlalu banyak. Kami hanya menyebutkan sebahagian kecil daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah yang mencatatkan hadith tersebut. Seperti al-Bayan karangan al-Hafiz al-Khanji, Fasl al-Khittab karangan Khawajah Faris al-Hanafi, Arba’in karangan Syeikh As’ad bin Ibrahim al-Hanbali, Arba’in karangan Ibn Abi l-Fawarith dan lain-lain buku Ahlu s-Sunnah. Adapun riwayat Syi’ah mengenainya adalah tidak terhitung banyaknya

.

Sayyid Hasyim al-Bahrani di dalam bukunya Ghayah al-Maram (Ghayah al-Maram, I, hlm 309) telah menjelaskan hadith dua belas imam sebanyak enam puluh riwayat dengan sanad-sanadnya menurut metod Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Tujuh riwayat daripada buku Manaqib Amiru l-Mukminin AS karangan Maghazali al-Syafi’i, dua puluh tiga riwayat daripada Fara’id al-Simtin karangan al-Hamawaini, satu riwayat daripada Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki dan satu riwayat daripada Syarh Nahj al-Balaghah karangan Ibn Abi l-Hadid

.

Aku berkata: Sesungguhnya aku telah mengkaji risalah karangan Syaikh Kazim ‘Ali Nuh RH berjudul Turuq Hadith al-A’immah min Quraisy, hlm. 14. Dia berkata bahawa ‘Allamah Sayyid Hasan Sadr al-Din di dalam bukunya al-Durar al-Musawiyyah Fi Syarh al-’Aqa’id al-Ja’fariyyah telah mengeluarkan hadith dua belas khalifah daripada Ahmad bin Hanbal sebanyak tiga puluh empat riwayat. Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh al-Bukhari, Muslim, al-Humaidi, beberapa riwayat Razin di dalam Sahih Sittah, riwayat al-Tha’labi, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Bardah, Ibn Umar, Abdu r-Rahman Ibn Samurah, Jabir, Anas, Abu Hurairah, Ibn ‘Abbas, ‘Umar bin al-Khattab, ‘Aisyah, Wa’ilah dan Abi Salma al-Ra’i

.

Adapun riwayat Umar bin al-Khattab yang telah dikaitkan kepadanya oleh ‘Ali bin al-Musayyab mengenai sabda Nabi SAWAW ialah: Para imam selepasku di antaranya Mahdi ummat ini. Siapa yang berpegang kepada mereka selepasku, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada tali Allah. Hadith ini juga telah dikaitkan dengan al-Durasti dengan Ibn al-Muthanna yang bertanya kepada ‘Aisyah:”Berapakah khalifah Rasulullah SAWAW. ‘Aisyah menjawab:’Beliau (Rasulullah SAW) memberitahuku bahawa selepasnya dua belas khalifah.’ Aku bertanya: Siapakah mereka? Maka ‘Aisyah menjawab:’Nama-nama mereka tertulis di sisiku dengan imla Rasulullah SAWAW.’ Maka aku bertanya kepadanya: Apakah nama-nama mereka? Maka dia enggan memperkenalkannya kepadaku.’

Sayyid al-Bahrani juga mencatat sebahagian daripada buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menyebutkan dua belas khalifah. Di antaranya Manaqib Ahmad bin Hanbal, Tanzil al-Qur’an fi Manaqib Ahlu l-Bait karangan Ibn Nu’aim al-Isfahani, Faraid al-Simtin karangan al-Hamawaini, Matalib al-Su’ul karangan Muhammad bin Talhah al-Syafi’i, Kitab al-Bayan karangan al-Kanji al-Syafi’i, Musnad al-Fatimah karangan al-Dar al-Qutni, Fadhail Ahlu l-Bait karangan al-Khawarizmi al-Hanafi, al-Manaqib karangan Ibn al-Maghazali al-Syafi’i, al-Fusul al-Muhimmah karangan Ibn al-Sibagh al-Maliki, Jawahir al-’Aqdain karangan al-Samhudi, Dhakha’ir al-’Uqba karangan Muhibbuddin al-Tabari, Mawaddah al-Qurba karangan Syihab al-Hamdani al-Syafi’i, al-Sawa’iq al-Muhriqah karangan Ibn Hajr al-Haithami, al-Isabah karangan Ibn Hajr al-’Asqalani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abi Ya’la al-Mausuli, Musnad Abi Bakr al-Bazzar, Mu’jam al-Tabrani, Jam’ al-Saghir karangan al-Suyuti, Kunuz al-Daqa’iq karangan al-Munawi dan lain-lain

.

Aku berkata: Sesungguhnya riwayat-riwayat yang berbilang-bilang yang datang kepada kita menurut metod Ahlu s-Sunnah adalah sekuat dalil, dan hujjah yang paling terang bahawa sesungguhnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan selepasnya ialah anak-anaknya sebelas imam yang maksum, pengganti Rasul dan para imam Muslimin satu selepas satu sehingga manusia ‘berhadapan’ dengan Tuhan mereka. Tiada seorangpun yang dapat mengingkari hadith-hadith yang sabit yang diriwayatkan menurut riwayat para ulama besar Ahlu s-Sunnah dan pakar-pakar hadith mereka, lebih-lebih lagi menurut riwayat Syi’ah. Kecuali cahaya pemikirannya telah dipadamkan dan dijadikan di hatinya penutup. Justeru itu ia adalah termasuk di dalam firmanNya di dalam (Surah al-Baqarah (2): 171)”Mereka itu bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.”Dan firmanNya (Surah al-Zukhruf(43): 36) “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”Dan firmanNya (Surah al-Kahf(18):57)”Kami jadikan di hati mereka tutupan (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinga mereka, sekalipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, nescaya tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”

.

Ini adalah disebabkan penentangan mereka kepada dalil yang terang dan nas yang zahir kerana fanatik, kufur, dan kedegilan mereka.

Muhammad bin Idris al-Syafi’i memperakui kesahihan apa yang kami telah menyebutkannya dengan syairnya yang masyhur:

Manakala aku melihat manusia telah berpegang
kepada mazhab yang bermacam-macam
di lautan kebodohan dan kejahilan
Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan
mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustaffa
penamat segala Rasul.

Pengiktirafan Syafi’i bahawa ‘Ali adalah imam dan selepasnya sebelas imam merupakan pengiktirafan yang besar daripada seorang imam mazhab empat. Dan ianya menjadi hujjah keimamahan dua belas imam maksum dari keluarga Rasulullah SAWW.

Banyak Negara Muslim Sunni Tidak Berperilaku Islami Termasuk Indonesia

Ke-Islaman Indonesia

Oleh Komaruddin Hidayat,

Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

……….
Komaruddin Hidayat
.
Apakah mazhab sunni hanya mengajarkan teori
dan wacana diatas  meja akademisi  UIN ?

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are

Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di

urutan pertama negara yang paling islami di antara

208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua

.

Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya

Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari

dari The George Washington University yang

melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan

dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic

Press, 2010)

.

Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran

Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat

Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud

diambil dari Al Quran dan Hadis, dikelompokkan menjadi

lima aspek

.

Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang

dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia.

Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam

politik serta kehidupan sosial.

Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan.

Keempat, hak asasi manusia dan hak politik.

Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan

internasional dan masyarakat non-Muslim

.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan

untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara

Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama

Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139

dari sebanyak 208 negara yang disurvei

.

Pengalaman UIN Jakarta
Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari

pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai

sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua

minggu di Negeri Sakura.

Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja

sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah,

Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta

.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari

dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah

tokoh.

Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa

kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-

nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di

Indonesia maupun di Timur Tengah.

Masyarakat terbiasa antre teratur, sabar, menjaga

kebersihan, kejujuran, kesadaran tinggi, suka menolong,

disiplin, tanggungjawab dan lain-lainnya yang benar-

benar dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul

.

Syi’ah bukan mazhab teori belaka..

Syi’ah tidak cuma asyik dengan syarah syarah kitab dan buku..

Syi’ah mazhab pro sains dan jago iptek

Salafi wahabi mazhab dungu primitif kuno !

Zohal, Piring Terbang Pertama

di Dunia Buatan Iran

Setelah tahun lalu Iran mengumumkan keberhasilan mereka
mengirim tikus, kura-kura dan cacing ke luar angkasa, kali ini
ilmuwan Iran mengklaim telah berhasil menciptakan sebuah
piring terbang yang mirip UFO.Ilmuwan Iran mengklaim
menciptakan piring terbang pertama
di dunia, meskipun belum jelas seberapa tinggi objek itu
mampu terbang
.
Piring terbang bernama Zohal yang berarti
Saturnus itu merupakan
pesawat ruang angkasa tak berawak yang dirancang
untuk pencitraan udara.
Zohal telah digunakan untuk pencitraan udara dan
diklasifikasikan sebagai pesawat ruang angkasa tak berawak.
Berdasarkan keterangan Daily Mail, objek itu bisa dimanfaatkan
untuk berbagai misi yang tidak disebutkan terperinci
.
Kantor media Fars menggambarkan piring terbang itu mirip
UFO di film Hollywood pada1950-an.
“Alat transportasi yang mudah diluncurkan dan terbang, sedikit
bunyi dan memiliki keuntungan yang sama dengan pesawat lain,”
demikian kutipan dari ISNA (Iran’s Student’s News Agency)
.
Pesawat ‘UFO’ tersebut dilengkapi autopilot, pengatur stabilitas
gambar, GPS dan alat perekam kualitas HD. Program luar angkasa
Iran yang ambisius tampaknya menjadi peringatan bagi dunia
Barat, karena pada waktu yang sama, teknologi misil yang digunakan
untuk program luar angkasa sama dengan teknologi membangun
rudal balistik antarbenua
.

Fosil dan Arkeologi ilmiah terkait kebenaran mazhab syi’ah imamiyah

Ayatullah (Bahasa Arab: آية الله; Bahasa Persia: آيت‌الله) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada ulama Syi’ah. Kata ini berarti “Tanda dari Allah” dan mereka yang memiliki gelar tersebut ahli dalam studi tentang Islam, seperti Syari’ah (Hukum Islam), filsafat, etika, mistik dan biasanya mengajar di sekolah pengetahuan tentang Islam (hauzah) atau pesantren kalau di Indonesia. Gelar di bawah Ayatullah adalah Hojætol-Islam (“Ahli tentang Islam”). baca selanjutnya Gelar ini diberikan secara konsensus: seorang pelajar relijius yang mendapatkan kehormatan dan kekaguman dari guru-gurunya untuk pengetahuan dan tingkah laku setelah menyelesaikan sekolah hauzah. Setelah itu ia dapat mengeluarkan fatwa tersendiri dengan bersumber pada : Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Aql/akal (ekuivalen dengan prinsip Sunni, Qiyas).

Ayatullah kemudian dapat mengajar di hauzah sesuai dengan keahliannya dan dapat berlaku sebagai referensi bagi pertanyaan relijius dan sebagai hakim dalam bidang agama. Hanya sedikit dari dari para Ayatullah yang penting yang diberikan gelar Ayatullah Utama / Grand Ayatollah (Ayætollah-e Ozme, “Tanda terbesar dari Allah”) atau Mærjæ’e Tæqlid (“Reference for Emulation”). Hal ini terjadi bila pengikut dari seorang Ayatullah mengikuti pedoman dari dia dalam berbagai situasi dan memintanya untuk mempublikasikan fatwa-fatwanya yang merupakan jawabannya dalam berbagai pertanyaan dalam kehidupan keseharian seorang Muslim. Buku ini disebut Risalah.

——————————————————

ilustrasi kapal  Nabi Nuh :

safeena2.jpg

bahtera-nabi-nuh.jpg

Rekor Dunia Yang Dipegang Oleh Kapal Nabi Nuh

Tolong Anda sebutkan berapa lama jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi?

Tiada penjelasan akurat dokumen-dokumen sejarah terkait dengan berapa jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi. Namun dalam sebagian literatur disebutkan beberapa hal yang berbeda-beda yang dari kesemua itu dapat ditarik kesimpulan sebagaimana berikut ini:

Jarak Nabi Adam As hingga Nabi Nuh As adalah lebih dari 1200 tahun lamanya. Jarak antara Nabi Nuh As hingga Nabi Ibrahim As adalah 2240 tahun. Jarak antara Nabi Ibrahim As hingga Nabi Musa As adalah 900 tahun. Jarak antara Nabi Musa As hingga Nabi Isa As adalah 1900 tahun. Dan jarak antara Nabi Isa As hingga Nabi Muhammad Saw adalah 620 tahun lamanya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Shadiq As bersabda, “Antara Nabi Nuh As dan Nabi Ibrahim As terbentang jarak seribu tahun lamanya.”

9a6f0  situs foto perahu nabi nuh di turki Rekor Dunia Yang Dipegang Oleh Kapal Nabi Nuh
Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun. Melalui wahyu-Nya, Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Berikut rekor dunia yang dipegang oleh Bahtera Nuh :
1. Bahtera Nuh Dipimpin Oleh Nahkoda Tertua Di Dunia (berusia 600 th).
Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.

2. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Terbesar Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.

Ibnu Abbas menceritakan Bahwa Suatu ketika Nabi Isa menghidupkan Ham bin Nuh dan bertanya kepadanya kenapa rambutnya beruban, ia menjawab dia meninggal di saat usia muda karena ketakutannya ketika banjir. Ia berkata bahwa panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan.

3. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia.

Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Bahtera Nuh dianggap merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.

4. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.

Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.

5. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Angkut Bertingkat Pertama Di Dunia (3 tingkat).

Panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan. Tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan, tingkat kedua ditempatkan manusiaingkat ketiga untuk burung-burung.

6. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Yang Belayar Tertinggi Dari Dasar Laut.

Menurut Al Quran, bahtera Nuh telah mendarat di Bukit Judi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, Timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah).

7. Bahtera Nuh Adalah Kapal Anti Topan Dan Banjir Pertama Di Dunia.

Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. bootingskoBlog

8. Bahtera Nuh Adalah Kapal Pertama Yang Berlayar Tanpa Kompas.

Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut.

9. Bahtera Nuh Dinahkodai Bukan Ahli Ilmu Kelautan Dan Perbintangan.

Nuh adalah seorang nabi yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.

10. Bahtera Nuh Adalah Satu-Satunya Kapal Angkut Dengan Penumpang Paling Sedikit Pertama Di Dunia.

Ibnu Thabari menceritakan setelah kapal berlabuh di pegunungan Ararat, ia kemudian membangun suatukota di daerah Ararat (Qarda) disuatu areal yang termasuk Mesopotamia dan menamakan kota tersebut Themanon (Kota delapan Puluh) karena kota tersebut dibangun oleh orang yang beriman yang berjumlah 80 orang.

11. Bahtera Nuh Adalah Kapal Angkut Yang Mengangkut Jenis Binatang Berpasangan Terbanyak Di Dunia.

Nuh memiliki 4 anak laki-laki: Kan�an, Sem, Ham, dan Yafet. Menurut kitab Kejadian, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut.

12. Bahtera Nuh Satu-Satunya Kapal Yang Mendarat Di Gunung.

Berdasarkan foto yang dihasilkan dari gunung Ararat, menunjukkan sebuah perahu yang sangat besar diperkirakan memilik luas 7.546 kaki dengan panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki dan masih ada tiga tingkat lagi diatasnya.

13. Bahtera Nuh Adalah Kapal Yang Mengarungi Banjir Terlama Di Dunia.

Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera.

penemuan kapal nabi nuh, hmmmm… percaya gak???


KAPAL NABI NUH
.
Kapal Nabi Nuh
Sebuah tim petualang dari Kristen Evangelis mengklaim bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa bahtera Nuh di bawah salju dan puing-puing vulkanis di Turki
.

Misteri Penemuan Kapal Nabi Nuh dan Sejarah Peradaban Manusia

Banjir besar dunia (Bencana Nuh), berdasarkan temuan-temuan geologi diperkirakan terjadi pada sekitar tahun 11.000 SM atau 13.000 tahun yang lalu. Selain temuan geologi, Peristiwa Bencana Nuh, juga meninggalkan Jejak Arkeologis

Kapal ini bisa memuat ribuan bahkan mungkin ratusan ribu pasang hewan, yang kelak menjadi nenek moyang hewan masa kini….
Masing-masing hewan harus ditempatkan sesuai dengan habitatnya. Unta harus di tempat yang panas. Pinguin harus di daerah dingin. Belum lagi buat binatang-binatang kecil seperti semut, kutu, jangkrik, dll. Semuanya harus disiapkan tempat khusus. Kalau tidak, wah, jelas binatang-binatang kecil itu bisa terinjak-injak oleh binatang-binatang lainnya.
Untuk pelayaran berminggu-minggu jelas diperlukan gudang makanan yang besar dan canggih. Kalau tidak, bisa-bisa semua tikus dimakan ular, akibatnya tikus menjadi punah. Belum lagi makanan buat harimau, singa dan buaya. Untuk sapi, kambing dan kuda juga harus disiapkan rumput segar.
Tempat makanan juga harus steril, sebab kalau sampai hewan itu sakit lalu mati, hewan tersebut akan menjadi punah. Mungkin kita tidak akan pernah melihat lagi di masa sekarang kalau saja di masa itu telah punah.
Kapal tersebut juga dirancang agar tahan terhadap terjangan ombak dan air bah, yang mungkin 1000x lebih hebat dari tsunami. Dan harus menahan beban ribuan hewan.
Di dalam Al Qur’an diceritakan, gelombang air ketika itu laksana gunung, sebagaimana firman-Nya :
”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung…” (QS. Hud (11) ayat 42-43)

.
Bahkan berdasarkan pendapat, salah seorang cendikiawan Muslim, Ustadz Nazwar Syamsu, dalam Buku Serial “Tauhid dan Logika“, bencana Nuh ini, telah mengakibatkan bergesernya kutub utara bumi, dari Makkah kepada posisinya yang sekarang.
Kapal Nabi Nuh AS ini dibuat di atas bukit yang tinggi. Diperlukan peralatan yang canggih untuk mengangkut bahan bangunannya. Belum lagi perhitungan struktur kapal yang harus teliti, tentunya untuk proyek raksasa perjalanan Nabi Nuh AS dan pengikutnya, tidak mungkin dibuat secara asal-asalan.

.


Nabi Nuh AS. Bershalawat kepada Rasulullah SAW

Tawassul Nabi Nuh AS dgn Nabi Muhammad SAW:

Bhw ditengah2 dari pelat kayu di bahtera/kapal Nabi Nuh AS >ada sebuah gambar yg berbentuk telapak tangan dimana juga terukirbeberapa kata dari bahasa Saamaani.Bhw Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno,dari Mancester,Inggris telahmenerjemahkan kalimat yg tertera di pelat tsbt mjd…:”Ya Allah,penolongku! Jagalah tanganku dgn kebaikan & bimbingan dari dzat-Mu Yg Suci,yaitu Muhammad,Ali,Fatimah,Shabbar&Shabbir.Karena mereka adalah yg Teragung dan Termulia.http://www.facebook.com/group.php?gid=116166121744954

Di sebuah gunung yg sentiasa diselimuti salju yg terletak di Timur Turki, tersembunyi sebuah misteri “berharga” yang berusia lebih dari 5000 tahun.

Peninggalan sejarah yg maha berharga itu bukan saja menarik minat para pengkaji Sejarah saja, namun pihak penyelidik US seperti CIA/KGB pun mencoba untuk melakukan penelitian disana. Sejauh ini CIA telah menggunakan satelite dan pesawat ‘Stealth’ utk mengambil gambar objek yg terdampar di puncak gunung tersebut. Gambar2 itu telah menjadi “rahasia besar” dan tersimpan rapi dengan kawalan yg ketat bersama dengan “rahasia2″ penting yg lain di Pentagon. Sudah beratus2 orang mencoba untuk mendaki Gunung Aghi-Dahl yg kerap dijuluki juga sebagai “Gunung Kesengsaraan” atau dengan nama peta-nya yaitu Mount Ararat, namun hanya beberapa2 orang saja yang berhasil menaklukannya.Sebagian lagi selebihnya hanyalah menambah deretan panjang pendaki-pendaki yang menjadi korban keganasannya. Hingga hari ini, hanya ada beberapa orang pendaki yg dapat sampai ke puncak Mt.Ararat sekaligus dapat menyaksikan dgn mata kepala sendiri sebuah artifak yg ‘mahaberharga’ tersimpan abadi dipuncaknya.

Lalu apakah sebenarnya artifak “mahaberharga” yang terkubur selama ribuan tahun di puncak Ararat itu?

Menurut para ahli kepurbakalaan, mereka menafsirkan bahwa artifak dengan dimensi yang sangat besar tersebut tak lain adalah The Great Noah Ark (Perahu/Bahtera Nabi Nuh)!

Seperti yang kita ketahui bahwa The Great Pyramid of Giza, Mesir telah terkubur didalam tanah selama kurang lebih 2000 tahun lamanya sebelum ditemukan dan dilakukan penggalian terhadapnya. Begitu pula halnya dengan The Great Noah Ark ,sebelum terjadinya sebuah gempa bumi hebat yang melanda daerah itu pada 2 Mei 1988 silam ,artifak tersebut tertimbun di bawah salju hampir selama 5000 tahun lamanya tanpa ada yang mengetahui bahwa sebenarnya tersimpan sebuah rahasia besar didalamnya.

Sebenarnya, zaman Nabi Noah AS dulu tidaklah seprimitif yg kita semua bayangkan. Pada hakikatnya pengetahuan Sains dan teknologi mereka sudah maju pada masa itu.

Contohnya dari beberapa hasil temuan di kaki Mount Ararat, Para Pengkaji dan Scientist Russia telah menemui lebih kurang 500 kesan artifak batu baterai elektrik purba yg digunakan utk menyadurkan logam.Tentunya temuan tersebut bisa membuktikan bahwa masyarakat zaman Nabi Noah/Nuh telah mengenal listrik.

Mengikut perkiraan para ahli ,Nabi Noah AS kira-kira memulai membangun bahteranya pada tahun 2465 B.C dan hujan lebat baru turun dan mengguyur bumi selama bertahun- tahun sehingga mengakibatkan munculnya air bah maha dasyat yang rata-rata dapat mengahiri sebagian populasi manusia dimuka bumi diperkirakan terjadi pada 2345 B.C.

Rupa bentuk dari The Great Noah Ark itu sendiri sebenarnya tidak sama dengan bentuk kapal laut masa kini pada umumnya. Menurut para peneliti dan pendaki yg pernah melihat langsung “Noah Ark” di puncak Mt.Ararat serta beberapa image yang diambil dari pemotretan udara,The Great Noah Ark memang merupakan sebuah bahtera yang berdimensi sangat besar dan kokoh.

Kontruksi utamanya tersusun oleh susunan kayu dari species pohon purba yg memang sudah tidak bisa ditemui lagi didunia ini alias sudah punah.Pengukuran obyek yang ditandai mempunyai altitude 7.546 kaki dengan panjang dari bahtera kurang lebih 500 kaki,83 kaki lebar,dan 50 kaki tinggi. Ada juga Para Pengkaji berpendapat,”Noah Ark” berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola.

Luas pada bagian dalamnnya cukup utk menampung ratusan ribu manusia.Jarak dari satu tingkat ke satu tingkat lainnya ialah 12 hingga ke 13 kaki. Sebanyak kurang lebih ribuan sampai pulahan ribu balak kayu digunakan untuk membangunnya.

Totalnya,terdapat kurang lebih ratusan ribu manusia dan hewan dari berbagai species yang ikut menaiki bahtera ini,Mengikuti kajian dari Dr.Whitcomb, kira2 terdiri 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung,6300 jenis reptilia,2500 jenis amfibia yg menaiki The Great Noah Ark tersebut,sisanya adalah para kaum Nabi Nuh yang percaya akan ajaran yang dibawanya.Total berat kargo/muatan bahtera itu keseluruhan mungkin mencapai kurang lebih 24,300 ton.

Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah “drogue-stones”, di mana pada zaman dahulu biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu. Radar dan peralatan mereka menemukan sesuatu yang tidak lazim pada level “iron oxide” atau seperti molekul baja. Struktur baja tersebut setelah dilakukan penelitian bahwa jenis “vessel” ini telah berumur lebih dari 100.000 tahun, dan terbukti bahwa struktur dibuat oleh tangan manusia. Mereka percaya bahwa itu adalah jejak pendaratan perahu Nuh.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa kemungkinan besar ‘Noah Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak, yaitu sebuah kawasan yg terletak di selatan Iraq.

Jika ia dibangun di selatan Iraq dan akhirnya terdampar di Utara Turkey,kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus air sejauh kurang lebih 520 Km. Mount Ararat Mt.Ararat itu sendiri bukanlah sembarang gunung,ia adalah sebuah gunung yg unik. Diantara salah satu keunikan yg terdapat pada gunung ini ialah, pada setiap hari akan muncul pelangi pada sebelah utara puncak gunung itu.
Mt.Ararat ini ialah salah satu gunung yg mempunyai puncak yg terluas di muka bumi ini. Statusnya juga merupakan puncak tertinggi di Turki yaitu setinggi 16,984 kaki dari permukaan air laut.Sedangkan puncak kecilnya setinggi 12,806 kaki .Jika kita berhasil menaklukkan puncak besarnya ,kita dapat melihat 3 wilayah negara dari atasnya, yaitu “Russia,Iran, dan Turkey”.

Sebuah “batu nisan” yg didakwa kepunyaan nabi Nuh AS telah dijumpai di Mt.Lebanon di Syria. Batu nisan itu berukuran 120 kaki panjang.

Pada tahun 1917,Maharaja Russia Tsar Nicholas II mengirim sejumlah 150 org pakar dari berbagai bidang yg terdiri dari saintis,arkeolog dan tentara untuk melakukan penyelidikan terhadap The Great Noah Ark tersebut.

Setelah sebulan, tim ekspedisi itu baru sampai ke puncak Ararat. Segala kesukaran telah berhasil mereka lewati, dan akhirnya menemukan perahu Nuh tersebut. Dalam keadaan terkagum, mereka mengambil gambar sebanyak mungkin

mengukur panjang perahu Noah dan didapati berukuran panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki, sebagian lainnya tenggelam di dalam salju. Hasil dari perjalanan itu dibawa pulang dan mau diserahkan kepada Tsar, malangnya sebelum sempat melaporkan temuan itu ke tangan kaisar, Revolusi Bolshevik Komunis (1917) meletus. Laporan itu akhirnya jatuh ke tangan Jenderal Leon Trotsky. Sehingga sampai sekarang masih belum diketahui, apakah laporan itu masih disimpan atau dimusnahkan.

Mari kita melihat lebih mendalam tengang awal penemuan bahtera Nabi Nuh As.

Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.
Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain.
Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut.

Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:

1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:

“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.

Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.

Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, sang kekasih Allah, keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Rasulullah SAW dengan shalawat yang membuat dada menjadi lapang, berbagai urusan menjadi lapang, berbagai urusan menjadi mudah, berbagai penghalang menjadi terbuka dan sampaikan kepadanya salam yang banyak, berkesinambungan hingga Hari Kiamat. Seruan mereka di sana adalah “Mahasuci Engkau Ya Allah,” Penghormatan mereka di sana adalah “Salam.” Dan akhir ucapan mereka adalah “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Yunus : 10)

.

Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.
Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.
Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.
Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Manchester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”
Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.
Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969
Cat : Shabbar da Shabbir adl bhsa Sarmani yg artinya Hasan dan Husain (Putra2 Imam Ali as dan Fathimah as ),kelima nama tersebut dlm islam srg disbt dg “Ahlul Kisa”

Ahlulbait dalam Al-Quran

Al-Quran adalah sumber pemikiran, sumber hukum dan sumber segala kebajikan yang esensinya adalah kalam ilahi yang suci. Al-Quran adalah pola bagi hidup dan kehidupan seluruh umat manusia. Maka setiap muslim atau muslimah wajib mengetahui dan memahami bahwa Kitabullah itu adalah syari’ah dan risalah-Nya yang umat manusia harus merealisasikannya dalam hidup dan kehidupannya serta berjalan di atas petunjuk-Nya. Banyak ayat Al-Quran yang menceritakan Ahlulbait atau keluarga Nabi yang disucikan yang antara lain seperti di bawah ini:

1. Surah Al-Ahzab:33

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka Ahlulbait. Dia berfirman: “Innamâ yuridu l`llâhu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhirâ”. Yang artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan al-rijs dari kamu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.” (QS 33/33).

Imam Ja’far Al-Shadiq ditanya mengenai makna al-rijs yang terdapat pada ayat diatas. Beliau menjawab: “Al-Rijsu itu adalah al-syakk (keraguan)”. (Ma’ani l`Akhbar).

Jika kita tidak taat kepada Allah dalam satu perkara, maka hal itu telah menunjukan kepada keraguan kita terhadap-Nya, semakin banyak ketidaktaatan kita kepadanya, maka semakin besar pula keraguan kita kepada-Nya. Ahlulbait yang disucikan itu sedikit pun tidak pernah ragu kepada-Nya, oleh karena itu tidak ada satu pun keburukan atau kemaksiatan yang mereka lakukan. Dan tidak adanya keraguan dari mereka, dikuatkan dengan pensucian sesuci-sucinya, yang demikian itu menunjukan bahwa mereka memiliki sifat ‘ishmah yang sangat kuat, mereka adalah orang-orang ma’shum (tidak melakukan dosa dan kesalahan).

Sebagian kaum muslim beranggapan bahwa tafsir ahlu l`bayt yang terdapat pada ayat di atas adalah istri-istri Rasulullah saw, mereka menafsirkan demikian barangkali dikarenakan awal ayat tersebut ditujukan kepada istri-istri Nabi yaitu : “Dan hendaklah kamu (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kamu, dan janganlah kamu bersolek seperti kaum jahiliah yang pertama, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah serta Rasul-Nya…”.

Tafsir seperti itu rasanya tidak benar karena kata ganti (personal pronoun, dhamir) bagi istri-istri Nabi dan untuk ahlulbait berbeda; untuk istri-istri Nabi dhamirnya mu`annats (feminine) sedangkan untuk Ahlulbait dhamirnya mudzakkar (masculine). Kedua mereka tidak memakai tafsir atau penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya, padahal orang yang paling mengetahui tafsirnya adalah Nabi saw, dan Al-Quran telah memerintahkan kita untuk mengikuti beliau sebagaimana dalam firman-Nya berikut ini (yang artinya):

“Dan telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu jelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir”. (Al-Nahl 44).

“Dan tidak Kami turunkan Al-Kitab melainkan agar kamu jelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-Nahl 64).

“Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakan dan apa-apa yang dia larang maka tinggalkanlah, dan ber-taqwa-lah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat keras siksa-Nya”. (QS 59/7).

“Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Uli l`amri (para khalifah Rasulullah yang dua belas) dari kamu…”. (QS 4/59).

Kemudian siapakah Ahlulbait yang disebutkan dalam Al-Ahzab 33 menurut Nabi dan sebagian sahabatnya itu? Marilah kita perhatikan beberapa riwayat berikut ini :

Ummu l`mu`minin Aisyah mengatakan : “Pada suatu pagi Rasulullah saw keluar dari rumah) dengan membawa kain berbulu yang berwarna hitam. Kemudian datang (kepada beliau) Hasan putra Ali, lalu beliau memasukkannya (ke bawah kain); lalu datang Husayn lantas dia masuk bersamanya; kemudian datang Fathimah,lantas beliau memasukannya; kemudian datang Ali, lalu beliau memasukannya. Kemudian beliau membaca ayat : ‘Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan dari kalian wahai Ahlulbait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya’”. (Lihat Shahih Muslim bab fadha`il Ahli bayti l`Nabiyy; Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/147; Sunan Al-Bayhaqi 2/149 dan Tafsir Ibnu Jarir Al-Thabari 22/5).

Amer putra Abu Salamah – anak tiri Rasulullah – mengatakan : “Ketika ayat ini (innama yuridu l`llahu liyudzhiba ‘ankumu l`rijsa ahla l`bayt wa yuthahhirakum tathhira) diturunkan di rumah Ummu Salamah, beliau memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn sedangkan Ali as. berada di belakang beliau. Kemudian beliu mengerudungi mereka dengan kain seraya beliau berdoa : ‘Ya Allah mereka ini ahlulbaitku maka hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya’. Ummu Salamah berkata:‘Dan aku bersama mereka wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda : ‘Engkau tetap di tempatmu, engkau dalam kebaikan’”. (Al-Turmudzi 2:209, 308 ; Musykilu l`Atsar 1:335; Usudu l`Ghabah 2:12; Tafsir Ibni Jarir Al-Thabari 22: 6-7).

Dari Ummu Salamah bahwa Nabi saw. telah mengerudungkan sehelai kain ke atas Hasan, Husayn, Ali, Fatimah lalu beliau berkata, “Ya Allah, mereka ini Ahlulbaitku dan orang-orang terdekatku, hilangkanlah dari mereka keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya,”. Kemudian Ummu Salamah berkata: “Aku ini bersama mereka wahai Rasulullah ?”. Beliau bersabda,“Sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan”. (HR Al-Turmudzi 2:319).

Anas bin Malik telah berkata : “Rasulullah saw pernah melewati pintu rumah Fatimah ‘alayha l`salam selama enam bulan, apabila beliau hendak keluar untuk shalat subuh, beliau berkata, ‘Salat wahai Ahlulbait! Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan keraguan darimu wahai Ahlulbait dan mensucikanmu sesuci-sucinya’”. (HR Al-Turmudzi 2 : 29).

Itulah beberapa kesaksian dari beberapa kitab rujukan bahwa Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab itu bukan istri-istri Nabi saw melainkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn sekalipun ayat tersebut digabungkan penulisannya dengan ayat yang menceriterakan istri-istri Nabi saw sebab di dalam Al-Quran mushhaf ‘utsmani ini terkadang dalam surah makkiyyah terselip di dalamnya beberapa ayatmadaniyyah atau sebaliknya atau satu ayat mengandung dua cerita seperti pada ayat diatas dan tentu para ulama telah maklum adanya.

2. Surah Al-Syura:23

Ketika orang-orang musyrik berkumpul di satu tempat pertemuan mereka, tiba-tiba berkatalah sebagian dari mereka kepada yang lainnya : Apakan kalian melihat Muhammad meminta upah atas apa yang dia berikan ? Kemudian turunlah ayat : “Katakanlah aku tidak meminta upah dari kalian selain kecintaan (mawaddah) kepada al-qurba”. (Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf).

Kemudian beliau berkata: Telah diriwayatkan ketika ayat tersebut turun bahawa ada orang yang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang telah diwajibkan atas kami mencintai mereka? Beliau menjawab: “Mereka itu adalah Ali, Fathimah dan kedua putranya (Hasan dan Husayn)”.

Ayat tersebut di atas telah mewajibkan seluruh manusia untuk mencintai (mengikuti) keluarga Nabi atau Ahlulbait dan mencintai mereka merupakan dasar di dalam ajaran Islam. Rasulullah saw bersabda (yang artinya): “Segala sesuatu ada asasnya dan asas Islam adalah mencintai Ahlulbaitku”. (Hadits yang mulia). Dan jika kita membenci mereka maka amal baik kita akan menjadi sia-sia dan kita masuk neraka. Sabdanya : “Maka seandainya seseorang berdiri (beribadah) lalu dia salat dan saum kemudian dia berjumpa dengan Allah (mati) sedangkan dia benci kepada Ahlulbait Muhammad, niscaya dia masuk neraka.” Al-Hakim memberikan komentar terhadap sabda Nabi ini sebagai berikut : “Ini hadits yang baik lagi sah atas syarat Muslim”. ( Kitab Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/148).

3. Surah Ali ‘Imran:61

Ayat ini disebut sebagai ayat mubahalah karena di dalamnya ada ajakan untuk ber-mubahalah dengan para pendeta nasrani. Adapun terjemahannya: “Siapa yang menbantahmu tentang dia (Al-Masih) setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah (kepada mereka): Marilah, kami memanggil anak-anak lelaki kami dan (kamu memanggil) anak-anak lelaki kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu dan diri-diri kami serta diri-diri kamu, kita bermubahalah dan kita tetapkan laknat Allah atas mereka yang berdusta”.

Saksi sejarah yang hidup dan kekal yang diriwayatkan ahli-ahli tarikh dan tafsir telah memberikan kejelasan kepada khalayak akan kesucian keluarga Nabi saw yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Ayat tersebut menunjukan betapa agungnya kadar dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Diantara kasus yang disampaikan para muarrikh, mufassir dan muhaddits ialah peristiwa mubahalah, yaitu ketika datang utusan dari masyarakat keristen Najran untuk membantah Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam—kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat di atas agar beliau memanggil Ali, Fathimah. Hasan dan Husain. Beliau keluar membawa mereka ke lembah yang telah ditentukan dan para pemimpin keristen pun membawa anak-anak dan perempuan-perempuan mereka.

Al-Zamakhsyari dalam tafsirnya Al-Kasysyaf berkata : “Sersungguhnya ketika mereka diseru untuk bermubahalah mereka mengataakan : ‘Nanti akan kami pertimbangkan terlebih dahulu’. Tatkala mereka berpaling (dari mubahalah) berkatalah mereka kepada Al-Aqib—yang menjadi juru bicara mereka : ‘Wahai hamba Al-Masih, bagaimanakah menurutmu?’ Dia berkata: Demi Allah, kalian juga tentu mengetahui wahai umat nasrani bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Dia datang kepadamu membawa penjelasan mengenai Isa (Yesus). Demi Allah tidak ada satu kaum pun yang mengadakan mubahalah dengan seorang Nabi lalu mereka hidup. Dan jika kalian melakukan mubahalah dengannya niscaya kalian semua pasti binasa, dan apabila kalian ingin tetap berpegang kepada ajaran kalian maka tinggalkan orang tersebut dan pulanglah ke kampung halaman kalian”.

Keesokan harinya Nabi saw datang dengan menggendong Husayn dan menuntun Hasan dan Fathimah berjalah di belakang beliau sedang Ali berjalan di belakang Fathimah. Nabi bersabda : “Bila aku menyeru kalian maka berimanlah !”. Melihat Nabi dan Ahlulbaitnya, berkatalah uskup Najran : “Wahai umat keristen, sungguh aku melihat wajah-wajah yang sendainya mereka berdoa kepada Allah agar Dia (Allah) menghilangkan sebuah gunung dari tempatnya pasti doa mereka akan dikabulkan, oleh karena itu tinggalkan mubahalah sebab kalian akan celaka yang nantinya tidak akan tersisa seorang keristen pun sampai hari kiamat”.

Akhirnya mereka berkata : “Wahai Abul Qasim, kami telah mengambil keputusan bahwa kami tidak jadi bermubahalah, namun kami ingin tetap memeluk agama kami.” Rasul bersabda : “Jika kalian enggan mubahalah maka terimalah Islam bagi kalian dan akan berlaku hukum atas kalian sebagai mana berlaku atas mereka (muslimin yang lain).”

Kemudian Al-Zamakhsyari–rahimahu l`llah–menjelaskan kedudukan Ahlulbait ketika menafsirkan ayat mubahalah, setelah dia menjelaskan keutamaan mereka melalui riwayat dari Aisyah dengan mengatakan : “Diantara mereka ada yang diungkapkan dengan anfusana (diri-diri kami); ini adalah untuk mengingatkan akan tingginya kedudukan mereka dan ayat ini adalah dalil yang sangat kuat dari-Nya atas keutamaan ashhabu l`kisa` (Ahlulbait)—‘alayhimu l`salam”.

Pertunjukan mubahalah yang tidak terjadi itu telah menampilkan dua kekuatan yaitu iman versus syirik, dan manusia-manusia mukmin yang tampil waktu itu (Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn) adalah para tokoh petunjuk, umat terkemuka dan orang-orang suci. Seruan mereka tidak boleh dibantah dan kalimat mereka tidak boleh didustakan. Dari sini kita dapat memahami bahwa apa-apa yang datang dari mereka baik pemikiran, syari’ah, tafsiran, petunjuk maupun pengarahan adalah berlaku; mereka adalah orang-orang yang benar dalam ucapannya, perjalanan hidupnya dan tingkah lakunya.

Al-Quran telah menganggap setiap yang berlawanan dengan mereka adalah musuh-musuh, dan menjadikan musu-musuh mereka sebagai orang-orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran yang sepantasnya mendapat laknat dan azab. “…maka kami jadikan laknat Allah atas mereka yang berdusta.”

Dan juga dari segi bahasa yang sangat dalam pada ayat tersebut yang harus kita perhatikan, yakni ketika mereka disandarkan kepada Nabi. Hasan dan Husayn disebut sebagai “anak-aknak kami”, Fathimah sebagai perempuan-perempuan kami” dan Ali sebagai “diri-diri kami”. Di sini Imam Ali disandarkan kepada diri Nabi yang suci.

Sesungguhnya Rasulullah—shalla l`llahu ‘alayhi wa alihi wa sallam–hanya mengeluarkan empat orang ke arena mubahalah, ini berarti memberikan penjelasan kepada kita bahwa Fathimah Al-Zahra`–‘alayha l`salam–perempuan pilihan yang harus diteladani umat manusia; Imam Hasan dan Imam Husayn—‘alayhima l`salam–adalah anak-anak umat yang wajib kita taati sedangkan Iamam Ali–‘alayhi l`salam–adalah dianggap diri Nabi sendiri.

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw

Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah ‘azza wa jalla.

Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.

Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan yang demikian.”

Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn. Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci. Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini yakni Ali.”

Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.

Bahtera Keselamatan

Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal bahtera Nuh—‘alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 2/343. Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan selamat jika mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.

Padanan Al-Quran

Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan takhayyul.

Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia! Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).

Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu

Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka.

Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”. (Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla : “fatalaqqa ‘Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37), baca juga kitab Kanzu l`‘Ummal 1:234.

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya.

Mohammad, Ali, Hassan, Hossain, Fatema

In july 1951 a team of Russian expert search of mines in the vicinity of Mt. Jude on the border of Soviet Union and Tukey came a cross some buried dilapidated wooden planks, etc.,of unusual disposition. Amog the planks was a wooded plate about 14 inches long and ten iches wide. On the plate was engraved some words in old unknown language. In 1953 the Government of Soviet Union appointed an Investigation Commission seven specialits who concluded that these planks were part of the famous Arc of Noah and the wording engraved on the plate belong to a very old language known as Samani. These wordings were transformed into Russian and also translated into English by Professor N.F. Thomas, expert of old language from Manchester, England. There was a small figure of a palm of a hand and five fingers the wording were Mohammed, Alia, Shabber, Shabbir Fatema. “O my God, my helper I keef my hand with mercy with your holy bodies. They are all beggest and honorable. The world was established for them. Help me by their name, you can reform light.”

This plate is savely preserved in the Museum of Archeology and Research, moscow, Soviet Union.

Muhammad, Ali, Hasan, Husayn dan Fathimah

Pada bulan Juli tahun 1951, sebuah team riset Rusia di sekitar gunung Judi di perbatasan Uni Soviet dan Turki secara tidak sengaja, mereka menemukan beberapa kuburan tumpukan kayu-kayu yang telah bobrok yang terssusun secara luar biasa. Di antara tumpukan kayu tersebut ditemukan satu plat kayu yang berukuran sekitar 10 x 14 inci. Pada palat kayu tersebut terukir beberapa kalimat dalam bahasa kuno yang sudah tidak dikenal. Pada tahun 1953 pemerintah Uni Soviet menunjuk sebuah komisi peneliti yang terdiri dari tujuh orang ahli (untuk meneliti penemuan tersebut), mereka menyimpulkan bahwa tumpukan kayu itu adalah bagian bahtera Nabi Nuh—‘alayhi l`salam–yang terkenal itu. Dan kata-kata yang terukir pada plat kayu adalah kata-kata dari bahasa Samani, yaitu suatu bahasa yang sudah sangat tua. Kata-kata tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Inggris oleh Prof. N.F. Thomas, seorang ahli bahasa-bahasa kuno dari Manchester, Inggris.

Pada plat kayu itu terdapat ukiran telapak tangan dengan lima jari. Pada kelima jari tersebut terdapat tulisan masing-masing: Muhammad, Ali, Hasan (syabar), Husayn (Syubayr), dan Fathimah. (Di bawahnya terdapat doa tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mereka): “Wahai Tuhanku, wahai penolongku, aku berdoa dengan kemurahan-Mu melalui tubuh-tubuh suci yang Engkau ciptakan, mereka terbesar dan termulia, tolonglah aku melalui nama mereka, engkaulah yang mendatangkan cahaya”.

Plat kayu itu sekarang terpelihara dengan aman pada Museum Arkeologi dan Riset, Moscow, Uni Soviet. (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

Pada zaman Nabi Musa ‘alayhi l`salam, ketika Bani Isra`il diperintahkan Allah untuk mencari lembu betina dan mereka sangat rewel menerima perintah tersebut hingga akhirnya mereka merasa kesulitan dalam pencariannya sebab sapi betina itu sifat-sifatnya harus kuning langsat yang elok dipandang mata, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua, tidak ada belangnya sedikit pun dan belum pernah digunakan untuk membajak tanah. Kemudian sapi tersebut mereka temukan namun harganya sangat mahal karena memang sapi betina tersebut tidak akan dijual. Akhirnya mereka kumpulkan harta untuk membayarnya. Setelah itu Bani Isra`il jatuh miskin dikarenakan hartanya habis dipakai membayar lembu betina, lantas mereka protes kepada Nabi Musa as. Kemudian Nabi Musa—‘alayhi l`salam—berkata kepada mereka : “Jahil kamu, alangkah butanya hati-hati kamu tidakkah kamu dengar doa pemuda yang punya lembu betina itu dan kekayaan yang diwarirkan Allah ta’ala kepadanya ? Tidakkah kamu dengar doa orang yang dibunuh yang digergaji yang dikaruniai usia panjang dan kebahagiaan serta kenikmatan dengan inderanya ? Mengapa kamu tidak berdoa semisal doa tawassul mereka agar Dia menutup kemiskinan kamu ?”. Kemudian mereka mengatakan (dalam doanya) : “Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung dan kepada karunia-Mu kami bersandar, maka hilangkanlah kemiskinan kami dan tutuplah kebutuhan kami dengan keagungan Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn dan orang-orang yang baik dari keluarga mereka.” Kemudian tidak lama setelah mereka berdoa, Allah ta’ala mengembalikan kekayaan mereka. (Qashashu l`Anbiya` Hal 326).

Adapun arti dari doa tawassul tersebut adalah sebagai berikut : “Ya Allah, sesungguhnya kami menghadap kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari kesulitan dan kemiskinan dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan dan Husayn”. (Qashashu l`Anbiya`).

Sabda Nabi tentang Mereka

“Fahtimah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang membuatnya marah berarti dia telah membuatku marah.” (Shahihu l`Bukhari 2/308).

“Dia (Fathimah) adalah belahan nyawaku, maka barangsiapa yang mencemaskannya berarti dia telah mencemaskan diriku, dan barangsiapa yang manyakitinya berarti dia telah menyakiti diriku”. (Shahihu l`Bukhari 3/265).

“Wahai Ali engkau adalah penghulu di dunia dan penghulu di akhirat. Yang mencintaimu berarti mencintaiku, dan yang mencintaiku berarti mencintai Allah. Musuhmu berarti musuhku, dan musuhku adalah musuh Allah. Dan celakalah orang yang membencimu setelahku”. (Al-Mustadrak ‘ala l`Shahihayn 3/127).

“Barangsiapa mencintai Hasan dan Husayn berarti dia telah mencintaiku, dan barangsiapa yang membenci mereka maka sesungguhnya dia telah membenciku”. (HR. Ibnu Majah, Musnad Al-Imam Ahmad Ibn Hanbal 2/288).

Penutup

Ahlulbait dalam surah Al-Ahzab 33 tidak berkenaan dengan istri-istri Rasulullah saw baik dilihat dari segi bahasa, asbabu l`nuzul, bayan dari Nabi saw, riwayat dari sebagian istri Nabi maupun secara faktual, karena disucikan sesuci-sucinya itu berarti tidak melakukan dosa-dosa dan kesalahan, sedangkan sebagian dari istri Nabi keadaannya tidaklah demikian.

Ahlulbait dalam Al-Ahzab 33 adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husayn. Pada waktu ayat tersebut turun, mereka itulah Ahlulbait Nabi saw yang dihilangkan keraguannya dan disucikan (muthahharun). Ahlulbait Nabi yang disucikan masih ada sembilan orang lagi dari keturunan Imam Husayn as, mereka itu adalah : ‘Ali Zaynu l`’Abidin, Muhammad Al-Baqir. Ja’far Al-Shadiq, Musa Al-Kadzim, ‘Ali Al-Ridha, Muhammad Al-Jawad, ‘Ali Al-Hadi, Hasan Al-‘Askari dan Muhammad Al-Mahdi (Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kehadirannya) –salam atas mereka semuanya. Salman Al-Farisi—semoga Allah merahmatinya—telah mengatakan : “Saya datang kepada Nabi saw dan Husayn sedang berada pada pangkuan beliau, beliau mencium kedua matanya dan mengecup lidahnya seraya beliau mengatakan : ‘Engkau sayyid putra sayyid, engkau imam putra imam ayah para imam, engkau hujjah putra hujjah ayah para hujjah, sembilan orang lagi dari shulbimu dan yang kesembilannya adalah penegaknya (qa`imnya)’”.

Jadi Ahlulbait Nabi saw itu tiga belas (13) orang (Fathimah Al-Zahra` dan para khalifah Rasulullah yang dua belas (12). Umat Islam tidak boleh membenci mereka, sebab membenci mereka berarti membenci Nabi sedangkan membenci Nabi berarti membenci Allah‘azza wa jalla, dan akhirnya ibadah kita kepada-Nya menjadi sia-sia.

Semoga Allah ta’ala memberi hidayah dan taufiq kepada kita dan kaum muslim yang lain hingga kita dapat menerima apa yang telah dipesankan Rasulullah : “Wahai manusia telah kutinggalkan padamu yang jika kamu berpegang dengannya niscaya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah dan ‘itrahku Ahlulbaitku”.[]

Adakah Orang yang Pernah Melihat Kapal Nabi Nuh?

Selama lebih dari dua dekade terakhir pencarian kapal Nabi Nuh telah memperoleh perhatian internasional. Lusinan ekspedisi ke daerah Ararat di sebelah timur Turki, kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kristen Amerika, telah menuntun kepada banyak klaim – tetapi tidak ada bukti.

Menurut Kitab Suci, kapal Nabi Nuh merupakan suatu perahu besar yang dibuat dari kayu gofir dan ditutup dengan pakal. Ukuran keseluruhannya adalah panjang 450 kaki, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah “jendela” dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Sepintas, ukuran keseluruhan kapal ini menjadikannya kendaraan laut terbesar yang ada sebelum abad ke-20, dan proporsinya secara menakjubkan mirip dengan kapal laut besar yang ada sekarang.Kitab Suci mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh kandas di “pegunungan Ararat” (Kejadian 8:4). “Ararat” mungkin menerangkan suatu daerah (kerajaan kuno Urartu) dan bukan puncak gunung secara khusus. Setelah Nabi Nuh dan keluarganya meninggalkan kapal di atas gunung, kapal tersebut tidak pernah disebut-sebut lagi dalam Kitab Suci. Kemudian penulis-penulis Kitab Suci tidak pernah menyatakan bahwa mereka tahu bahwa kapal tersebut masih dapat dilihat.

Pegunungan yang disebut Ararat sekarang lebih nampak seperti daerah pegunungan dengan dua puncak. Yang menarik, ada banyak laporan sepanjang sejarah mengenai perahu besar di pegunungan di daerah ini. Keterangan yang paling awal (bermula pada abad ke-3 S.M.) menyatakan bahwa sudah diketahui secara umum bahwa kapal Nabi Nuh itu masih dapat dilihat di pegunungan Ararat.

Laporan-laporan selama lebih dari seabad terakhir ini berkisar dari kunjungan ke kapal tersebut, sampai penemuan kayu, sampai foto pemandangannya. Secara umum dipercaya bahwa sekurang-kurangnya sebagian besar dari kapal itu masih utuh, tidak di atas puncak yang tertinggi, tetapi di suatu tempat di atas 10.000 kaki. Terperangkap dalam salju dan es hampir sepanjang satu tahun, hanya pada musim panas yang hangat saja struktur kapal tersebut dapat dilihat atau didekati. Beberapa orang mengatakan telah memanjat atapnya, yang lainnya mengatakan mereka telah berjalan-jalan di dalamnya.

Pada tahun 1980-an, “ark-eology” mendapat kehormatan dengan berpartisipasinya mantan astronot NASA James Irwin dalam ekspedisi ke pegunungan. Sebagai tambahan, investigasi kapal Nabi Nuh diuntungkan dengan pecahnya Uni Soviet, karena pegunungan tersebut tepat berada di perbatasan Turki-Soviet. Ekspedisi ke atas pegunungan selalu dianggap sebagai ancaman keamanan oleh pemerintah Soviet.

Sayangnya, kunjungan-kunjungan ke situs yang diusulkan tidak menghasilkan bukti lebih lanjut, tempat beradanya foto-foto tidak diketahui lagi, dan peninjauan yang berbeda tidak menuju ke lokasi yang sama di pegunungan. Lebih dari itu, astronot James Irwin telah meninggal, seorang saksi mata inti telah menarik diri dari hadapan publik, dan sudah ada beberapa ekspedisi baru ke pegunungan di tahun 1990-an.

Tetapi usaha-usaha masih tetap berjalan. Sementara Asosiasi untuk Penelitian Kitab Suci (Associates for Biblical Research) tidak terlibat dalam usaha-usaha ini, kami melanjutkan penelitian tentang laporan-laporan kuno, pengakuan lebih lanjut dari saksi mata dan memperbaharui usaha untuk menentukan tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Masih banyak ekspedisi yang menunggu. Jika kapal tersebut memang ada di atas sana, kita akan mendengar beritanya.

REFERENCES

  • Crouse, Bill. 1992. “Noah’s Ark: Its Final Birth,” Bible and Spade 5:3, pp. 66-77.
  • Livingston, David. 1993. “The Date of Noah’s Flood: Literary and Archaeological Evidence,” Bible and Spade 6/1: 13-17.
  • Shea, William. 1988. “Noah’s Ark?” Bible and Spade 1/1: 6-14.
  • translated by : jasinta
  • Mybagir-peperonity.com

Adapun tentang bahtera Nabi Nuh as ini sesungguhnya Allah swt telah meninggalkannya sebagai salah satu dari tanda kebesaran-Nya dan agar orang-orang yang datang setelahnya dapat mengambil pelajaran dari kejadian yang dialami oleh Nuh dan orang-orang yang bersamanya yang kemudian diselamatkan dengan bahtera itu sementara orang-orang yang kafir terhadapnya ditenggelamkaan oleh Allah swt, sebagaimana firman-Nya :

وَلَقَد تَّرَكْنَاهَا آيَةً فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿١٥﴾
فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ ﴿١٦﴾

Artinya : “Dan Sesungguhnya telah kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.” (QS. Al Qomar : 15 – 16)

Sedangkan keberadaan bahteranya setelah Allah swt menyelamatkannya serta orang-orang yang bersamanya juga telah disebutkan didalam firman-Nya :

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءكِ وَيَا سَمَاء أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاء وَقُضِيَ الأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْداً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim .” (QS. Huud : 44)


Ararat; Tempat Kapal Nabi Nuh Berlabuh
Ararat; Tempat Kapal Nabi Nuh Berlabuh

Banyak website yang ramai membicarakan klaim bantera Nabi Nuh telah ditemukan di Gunung Ararat, Turki.Penemu yang dipimpin oleh kelompok evangelis, mengatakan yakin 99,9% struktur kayu yang ditemukan di sisi gunung itu merupakan bagian dari kapal yang disebutkan dalam kitab suci.

Kapal itu dikatakan yang menampung keluarga Nabi Nuh serta berbagai hewan selama kejadian banjir besar pada 4800 tahun lalu.

Penelitian Arkeologi : Di Pelat Kapal Nabi Nuh tertulis “Nabi Nuh minta tolong kepada Allah dgn washilah Nabi Muhammad

Penelitian Arkeologi : Di Pelat Kapal Nabi Nuh tertulis “Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan. Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya. Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi.

Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy).

Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut. Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953. Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut: 1. Prof. Solomon, Universitas Moskow 2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China 3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil 4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College 5. Prof. De Pakan, Institut Lenin 6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen 7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi. Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani. Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi: “Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.” Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun. Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia. Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s. Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di: 1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953 2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954 3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954 4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954 5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954 6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954 7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969 (Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

.
The Ark Of Noah atau bahtera noah, sebuah kapal yang di buat oleh Nabi Nuh (Noah) yang begitu melekat di hati dan iman kaum Muslim dan Nasrani dan sangat melegenda yang penemuan nya membuat Arkeolog dari seluruh dunia merasa sangat perlu untuk melakukan investigasi di lokasi terdamparnya yaitu di sebuah gunung di wilayah turki yang bernama mount Arafat (Gunung Aghi-Dahl).Pegunungan ini merupakan puncak tertinggi di Turki dan merupakan gunung dengan puncak terlebar di dunia. Banyak investigasi dilakukan namun selalu berakhir tragis, banyak yang tak mampu mencapai puncaknya dan meminta nyawa seolah ingin menyimpan perjalanan sejarah itu dalam selimut dingin nya misteri. Situs penemuannya pun berhasil ditemukan setelah kurang lebih 5000 tahun terpendam dalam salju.Perahu Nuh yang menurut hikayat telah membawa ribuan makhluk hidup bersama pelayaran nya ( terdiri dari hewan dan beberapa pengikut setia yang mempercayai ajaran kenabian Nuh ) itu di temukan meskipun bukan dalam utuh sebuah kapal, namun peninggalan berupa artefak yang berbentuk kapal besar dengan panjang 500 kaki,83 kaki lebar,dan 50 kaki tingginya.Diperkirakan, Nabi Nuh AS memulai membangun kapalnya itu pada tahun 2465 B.C dan hujan deras turun mengguyur bumi bertahun- tahun yang mengakibatkan munculnya air bah mahadasyat yang dapat menghilangkan sebagian populasi manusia dimuka bumi yang diperkirakan terjadi pada 2345 B.C,Bentuk dan rupa kapal Nuh sendiri tidaklah seperti kapal kapal yang ada sekarang, paling tidak itulah penuturan dari orang orang yang berhasil mencapai puncaknya dan menyaksikan betapa besar kapal itu, begitu juga hasil foto satelit dari NASA yang berhasil didapatkan. mungkin lebih tepat disebut seperti benteng. Konstruksi nya menggunakan kayu purba yang kokoh dan sudah tidak ada lagi populasi nya sekarang. Punya tinggi lantai sekitar 12 kaki antara deck nya.seorang profesor memperkirakan kapal itu mampu memuat 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung, 6300 jenis reptilia, 2500 jenis amfibi dan total berat yang di pikul kapal tersebut mencapai 24.300 Ton.Beberapa peneliti berpendapat bahwa kemungkinan besar ‘Noah Ark’ ini dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak di wilayah selatan Irak sekarang, dan dengan begitu lokasi terdamparnya yang berada di TurkiAllah SWT. sekedar tambahan Nabi Nuh dilantik menjadi Rasul ketika berusia 480 tahun dan wai’at pada usia 950 tahun. Namun demikian tetap saja terjadi perdebatan mengenai lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh tersebut.ada yang mengatakan berada di sebuah puncak gunung setinggi 4000 meter di Jazirah Ibnu Omar di Pulau Butan dan ada juga di lokasi yang saya bahas ini yaitu di di puncak pegunungan Arafat setinggi 5165 M ini, dan semua pihak tersebut mengajukan argumen nya masing2, Waalahuallam bishowab kurang lebih berjarak 520 Kilometer dan konon Nabi Nuh dan semua penumpang nya terombang ambing di belantara badai angin topan selama 5 bulan sebelum akhirnya berhenti di lokasi penemuan nya sekarang.Menurut riwayat, ketika bahtera Nuh mendarat makanan telah habis. Mereka memasak sisa makanan seperti biji rin untuk beberapa keperluan. Mereka kemudian membuka perkampungan, bercocok tanam dan berternak sambil tidak lupa beribadah kepada ALLAH.
.
Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu berserakan di daerah tersebut.
Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan–setelah meneliti beberapa lapisanya–bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan  diperkirakan juga menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.
Mereka meng-ekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.
Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil

4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College
Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho dan pertolongan Illahi.
Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”
gambar tangan: “Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan……….”
Lihatlah karakter tulisan yang masih bisa kita baca: ada MUHAMMAD, ada ALI, kemudian SYABAR dan SYUBAIR (nama lain dari Hasan dan Husein, kedua cucu Rasulullah putera dari ALI dan FATHIMAH; kemudian ada FATHIMAH)
Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah mengapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapi di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.
Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.
Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969
(Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)
.

DES29




Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.

Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.

Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.

Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.

Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:

1. Prof. Solomon, Universitas Moskow

2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China

3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil

4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College

5. Prof. De Pakan, Institut Lenin

6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen

7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.

Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:

“Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari TubuhMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka.”

Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.

Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.

Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Ahlul Bayt a.s.

Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:

1. Weekly – Mirror, Inggris 28 Desember 1953

2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954

3. Manchester Sunlight, 23 Januari 1954

4. London Weekly Mirror, 1 Februari 1954

5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954

6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954

7. Ellia – Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

(Sumber : The Bulletin of The Islamic Center “UNDER SIEGE” P.O. BOX 32343 Wahington D.C. N.W. 20007 Vol. 7 No. 10 Rabi al-Awwal 6, 1408/Oktober 30,1987)

.

Klaim mengejutkan dikeluarkan peneliti ‘Noah’s Ark Ministries International’ dari China dan Turki.Mereka mengaku menemukan bahtera atau kapal Nabi Nuh yang digunakan untuk menyelamatkan umat manusia dan mahluk Bumi lainnya dari bencana banjir bah yang diyakini menenggelamkan separuh dari daratan Bumi, 4.800 tahun silam.Sisa-sisa bahtera Nuh Nuh ditemukan berada di ketinggian 4.000 meter di Gunung Agri atau Gunung Ararat, di Turki Timur.Tak hanya mengajukan klaim, kelompok peneliti ini juga menampilkan foto dan membawa specimen dari kapal sebagai bukti penguat.Mereka juga membuat rekaman dokumentasi di dalam benda mirip kapal, ukurannya besar, sebagian besar permukaannya tertutup salju — yang diyakini bahtera Nuh yang legendaris.Video itu membawa kita masuk ke dalam bahtera Nuh. Seperti dilansir YouTube, para peneliti memukul-mukul papan-papan coklat, untuk membuktikan itu terbuat dari kayu.Untuk masuk ke lambung kapal, peneliti harus menggunakan tambang.Silakan klik ini untuk menengok lebih jauh video penemuan Perahu Nuh versi layar lebar.***Kisah Nabi Nuh diceritakan dalam ajaran tiga agama besar, Islam, Kristen, dan Yahudi — memicu misi pencarian sisa-sisa kapal legendaris tersebut.Klaim penemuan di lokasi Gunung Ararat ini bukan kali pertamanya. Namun, klaim itu tak ada yang disertai bukti kuat.Pada 1970, seorang pria Armenia Georgie Hagopian, mengklaim telah mengunjungi bahtera Nuh dua kali sekitar tahun 1908 /1910 dan 1906Hagopian mengklaim dia menaiki kapal Nuh dan berjalan di atapnya.Lalu ada, Ed Davis, prajurit AS berpangkat sersan yang bertugas dalam Perang Dunia II di Hamadan, Iran. Dia dilaporkan telah mendaki Gunung Ararat pada  1943. Dia mengaku bisa mengintip bagian dalam bahtera itu, namun tak berani untuk mendekat..

Seperti diketahui oleh kita semua bahwa sekitar bulan April 2010 yang lalu telah diadakan survey penelitian dan penemuan oleh “Noah’s Ark Ministries International” akan adanya sisa perahu Nabi Nuh As disalah satu lereng gunung Ararat di Turki. Kita tidak mengetahui secara pasti kapan perahu tersebut berada disana, namun beberapa prediksi dapat ditarik dari sejarah dalam Kitab Injil dan Al-Qur’an. Data yang ditemukan pada waktu ini adalah bahwa lokasi ex perahu tersebut berada pada ketinggian lebih dari 3.250 m diatas permukaan laut. Hal itu saja telah dapat menggugah nalar kita untuk berpikir dan membayangkan bahwa kalau posisinya sekarang setinggi lebih dari 3.250 m, maka seberapa tingginya banjir besar yang terjadi dijaman Nabi Nuh AS tersebut

.

Dari mana datangnya air banjir (laut banjir) sampai setinggi itu? Kalau disimak dari riwayat dalam Al-Qur’an, maka datangnya banjir tersebut juga secara tiba-tiba dan serentak, jadi semacam aliran air yang sangat besar sekali, bahkan bukit-bukit yang adapun semuanya tenggelam. Selanjutnya kemanakah semua air banjir tesebut ahirnya mengalir, sehingga perahu Nabi Nuh ahirnya terdampar diposisi lereng gunung pada ketinggian sekarang lebih dari 3.250 m

.

Menurut para ahli peneliti bahwa keberadaan sosok benda tersebut sebenarnya sudah dicurigai sejak awal tahun 1940-an, kira-kira setelah ditemukannya pesawat terbang. Dari pantauan dengan menggunakan pesawat terbang, sosok benda tersebut telah banyak menarik perhatian para pengamat sebagai sosok benda misterius. Ada beberapa faktor alam yang mendukung terjaganya keberadaan sosok benda tersebut yaitu adanya lapisan salju yang permanen pada ketinggian tersebut. Dengan demikian maka fosil ex perahu Nabi Nuh seolah diawetkan selama puluhan abad (atau puluhan millennium), sampai ahirnya ditemukan secara pasti oleh para ahli pada bulan April 2010 yang lalu.

Sebagai data hasil penemuan secara teknis dan teknologis sebenarnya sudah finish, bahkan di Negeri Belanda telah ada replikanya sama dengan ukuran aslinya. Replika tersebut dibangun oleh seorang penggemarnya dengan bahan kayu, dengan mengikuti data temuan yang ada, besarnya kira-kira sama dengan lapangan sepak-bola. Bagi yang ingin melihatnya dapat disaksikan di Negeri Belanda sebagai obyek wisata yang menarik.

Namun bagi nalar manusia yang mempercayai adanya “Kehendak Tuhan” dibalik semua itu tentunya kenyataan itu menimbulkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya rahasia yang ada dibalik penemuan itu.

Pada waktu sekarang melalui kecanggihan citra satellit dan sarana “Google-Earth”, orang dapat mendeteksi posisi dan kondisi ex perahu Nabi Nuh tersebut, ukurannya sekitar 150 x 50 m2. Dengan ukuran sebesar itu maka adalah wajar bahwa didalam perahu tersebut juga telah diangkut hewan-hewan besar dan kecil secara lengkap. Dari riwayat dan kenyataan sekarang maka pada waktu itu telah terjadi kemusnahan kehidupan didaratan yang sangat luas. Disamping semua itu dalam riwayat juga dijelaskan bahwa usia Nabi Nuh As mencapai seribu tahun, ini merupakan segi lain yang juga patut dijadikan bahan kajian para ahli sejarah. Dengan beberapa keterangan tersebut dapat ditarik perkiraan kapan peristiwa tersebut terjadinya, yang pasti kemungkinannya bisa lebih dari 10.000 tahun sebelum masehi, silahkan diteliti oleh para ahlinya. Namun yang tetap menimbulkan pertanyaan adalah ada rahasia apa yang tersembunyi dibalik semua itu, sehingga kepastiannya baru ditemukan oleh para ahli pada tahun 2010 ini.Baiklah itu semua masalah yang berkaitan dengan ex perahu Nabi Nuh AS. Sekarang perhatian kita coba dialihkan kepada kaitan-kaitan lainnya.

Saya menggemari kecanggihan citra satellit pada sarana komputer “Google-Earth” yang sangat akurat. Dengan sarana tersebut kita dapat menjelajah permukaan bumi kemana saja bahkan dapat mendeteksinya sampai detail pada level 250 m diatas muka daratan atau obyek. Dengan pendeteksian demikian detail, maka kita dapat melihat benda-benda dipermukaan bumi secara jelas dengan akurasi yang tinggi bahkan dapat juga dengan penampilan perspektip, tiga dimensional. Kita dapat membaca data ketinggian suatu permukaan daratan atau juga kedalaman lautan secara tepat, cepat dan mudah sekali. Kecanggihan “Google-Earth” tersebut telah banyak membantu saya mendeteksi arah qiblat masjid-masjid besar didunia, apakah arah qiblatnya tepat / presisi atau tidak, semua hasilnya dapat langsung dilihat dan disimpan datanya, berupa dokumen foto-JPG. Salah satu contoh bisa diambil yaitu, masjid Raja Hassan II di Marokko Cassablanka ditepi laut, ternyata mempunyai arah qiblat yang tepat menuju Ka’bah di Makkah.

Selain meneliti arah qiblat masjid, saya juga pernah mencoba menarik garis “ruler” dari pusat bangunan Ka’bah kearah dan sampai pada bangunan Piramyd di Giza Mesir. Dari hasilnya saya menjadi sangat kagum sekali karena ternyata ketiga arah axis-diagonal Pyramid (yang kearah tenggara) adalah persis sama yaitu semuanya menuju bangunan Ka’bah di Masjid Al-Harom. Dalam hal itu saya berfikir apakah arah axis-diagonal ini yang menuju Ka’bah adalah suatu kebetulan saja? Mungkin untuk sementara waktu, kita dapat menganggap bahwa arah axis-diagonal tersebut memang suatu kebetulan, apalagi bila kita meneliti dari sejarah bahwa Pyramid tersebut dibangun sekitar 3.000-4.000 tahun sebelum Masehi, dan dibangun dengan teknologi masa itu yang masih sangat lokal. Apalagi waktu itu para Fir’aun disamping belum mengenal Tuhan, tentunya tidak mengetahui secara persis letak kota Makkah, begitupun kehidupan disana sama sekali tidak ada hubungannya dengan Makkah. Bahkan sampai jaman modern inipun masyarakat dunia tidak pernah memperhatikan dan apalagi memperdulikan kemanakah arah dari axis-diagonal Pyramid tersebut. Namun demikian dari hasil pendeteksian citra satellit telah secara pasti dan akurat bahwa arah axis-diagonal 3 Pyramid yang ke tenggara adalah tepat / persis menuju bangunan Ka’bah. Hasil pencitraan “Google-Earth” sangat presisi / akurat sampai pada ketinggian 300 m diatas obyek Pyramid dan Ka’bah (pengukuran itu tidak dapat dilakukan dengan pesawat terbang atau teknologi lainnya).

Selanjutnya saya kembali teringat akan hasil penemuan terahir di abad 21 ini yaitu fosil ex Perahu Nabi Nuh di Turki. Saya mempunyai data satelit “Google-Earth” keberadaanya secara tepat yaitu dilereng gunung Ararat pada ketinggian lebih dari 3.250 m diatas muka laut. Dari data tersebut tergerak hati saya untuk mencoba-coba menarik garis “ruler” dari posisi ex Perahu Nabi Nuh langsung kearah Pyramid di Giza Mesir. Sebagai hasilnya menyebabkan saya sangat terperanjat, karena garis tersebut persis sama dengan arah axis-diagonal Pyramid yang ke timur-laut. Dalam pada itu juga saya berpendapat bahwa para Fir’aun tentunya tidak pernah mengetahui letak ex Perahu Nabi Nuh, dan mereka tidak punya kepentingan sedikitpun dengannya. Kurun waktu antara pembangunan Pyramid dengan Perahu Nabi Nuh adalah sangat lama sekali, ribuan tahun, jadi pasti arah axis-diagonal Pyramid sama sekali bukanlah atas pengetahuan dan kemauan Fir’aun serta rakyatnya pada waktu itu, yang jelas adalah bahwa axis-axis diagonal ketiga Pyramid itu semuanya sejajar.

Semua itu adalah invention-besar abad-21. Baiklah semua riwayat itu kita cukupkan sekian dulu dan kita kembali kepada hasil pendeteksian citra satelit dengan “Google-Earth”. Dengan adanya dua percobaan tarikan garis “ruler” tersebut diatas, kemudian saya menghubungkan ketiga monumen bersejarah tersebut, menjadi satu segitiga yang sangat besar dengan total panjang sisinya 4.962,5 km, sebuah segitiga keajaiban berskala dunia.

Dari gambaran segitiga besar itu secara pasti dan akurat / mathematis terbukti bahwa axis-diagonal tiga Pyramid di Giza Mesir masing-masing menuju ke ex Perahu Nabi Nuh As di Turki dan juga menuju ke Ka’bah di Makkah Arab Saudi.

Sebagai kesimpulannya, bahwa bangunan Pyramid adalah sebuah monumen dunia yang tidak diragukan lagi keberadaannya, secara fisik memberikan petunjuk kepada keberadaan dua monumen dunia lainnya yaitu ex Perahu Nabi Nuh dan Ka’bah di Masjid Al Harom di Makkah. Inilah satu fenomena berskala dunia sepanjang sejarah kemanusiaan dari jaman Nabi Nuh As, jaman Nabi Musa As sampai sekarang, dan fenomena itu tidak akan hilang dari muka bumi sampai ahir zaman (kiyamat).

Dibalik kenyataan fenomena tersebut maka sudah barang tentu mempunyai kaitan dan pasti ada manfaatnya untuk seluruh kemanusiaan didunia ini. Sebagai manusia yang berakal cerdas tentunya kita semua menyadari dari lubuk hati yang paling dalam bahwa fenomena besar itu adalah terjadi atas Kehendak Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa yaitu Allah Swt. Mengapa Allah berkehendak demikian, tiada lain karena dunia dan segala isinya ini adalah Ciptaan-NYA juga, jadi adalah wajar bahwa fenomena berskala dunia yang sudah puluhan ribu tahun itu adalah juga Kehendak-NYA, demi untuk kepentingan kemanusiaan seluruhnya. Baru sekaranglah keberadaan fenomena besar itu terkuak secara jelas dengan bantuan teknologi moderen, semua itu dapat dibuktikan secara actual. Selanjutnya tentunya kita berfikir, dengan adanya satu fenomena besar itu, apakah juga berarti ada “pesan-tersembunyi” didalamnya? Marilah kita merenunginya dan mentafakurinya secara mendalam, karena fenomena besar itu disamping mengkaitkan tiga monument dunia, juga mengkaitkan tiga kurun zaman yang sangat berbeda selama ribuan tahun. Marilah kita merenungi makna dari “pesan- tersembunyi” dibalik tiga kepastian bukti yang sudah ada dan sangat nyata itu.

Untuk bisa menyelami maknanya, sebaiknya kita secara imaginer masuk ke era zaman para Fir’aun dan berdiri diantara Pyramid, setelah (monumen) tiga buah Pyramid itu selesai dibangun, kemudian kita secara imaginer mengikuti arah axis-diagonal ketiga Pyramid tersebut.

Satu arah yang menuju (timur-laut) ke ex Perahu Nabi Nuh, seolah memberikan pesan: “Lihatlah kemenangan dizaman yang sudah lampau yaitu keselamatan bagi kemanusiaan, dimana Nabi Nuh As dan kaumnya telah selamat dari banjir besar, semuanya berkat Petunjuk dari Tuhan”.

Kemudian satu arah lagi yang menuju (tenggara) ke Ka’bah, seolah juga memberikan pesan: “Dan lihatlah juga kemenangan dizaman yang akan datang yaitu keselamatan bagi kemanusiaan atas Petunjuk Tuhan melalui Nabi Muhammad Saw, Al-Qur’an dan Ahlul-Bayt, sebagai penyelamat seluruh kemanusiaan sampai datangnya hari kiyamat”. Seluruh bukti yang disebutkan diatas adalah nyata, maka “pesan tersembunyi” itupun adalah satu keniscayaan yang nyata pula dan tidak akan pernah terbantahkan, seperti jugamatahari diwaktu siang.

Pada waktu ini kita semuanya dapat menyaksikan semua bukti-bukti tersebut terkuak secara jelas dan pasti, karena kita sudah dan sedang berada dizaman terahir yang menuju ke Hari Kiyamat yang sudah di janjikan-NYA. Yang terpenting untuk kita adalah menentukan sikap dan keputusan apakah kita ingin menjadi manusia yang terselamatkan dengan mengikuti Petunjuk-NYA atau kita ingin mengabaikan semuanya itu, artinya tidak ingin selamat? Semua itu terserah kepada kita masing-masing untuk menentukan pilihan, keputusan dan tanggungjawab pribadi di akhirat kelak. Masih ada cukup waktu untuk berfikir dan memilih serta mengambil keputusan terahir bagi masing-masing secara pribadi. Saya tidak bermaksud mempengaruhi siapapun, hanyalah sebatas memberikan bukti-bukti ilmiyah yang sangat nyata dalam dimensi ruang dan waktu yang tidak terbantahkan sampai datangnya hari-