Ummu Salamah isteri Nabi SAW idola syi’ah

“Hind”–anak dari Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi dan Atikah bin Amir–lebih dikenal dengan sebutan Ummu Salamah (atau Umme Salama, Umme Salma, Umm-e-Salama). Dia adalah isteri dari Rasulullah setelah Khadijah (as.), yang memiliki kualitas keimanan dan kebaikan yang paling utama diantara para isteri-isteri Nabi. Keluarga Ummu Salamah mewarisi kebesaran dan kemuliaan dari pihak ayahnya yaitu Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi yang seringkali disebut dengan nama panggilan “Zad-ar-Rakib” yang artinya “Orang yang sering mendapatkan hadiah dari sahabatnya dan dari para pengelana”.
Ummu Salamah adalah salah seorang pemeluk Islam pertama yang menerima Islam dan kemudian ikut hijrah ke Abyssinia atau Ethiopia. Beliau juga ikut hijrah ke Medinah dengan tujuan mulia yaitu untuk turut menjaga tujuan atau misi suci Islam. Ayat pensucian (yaitu ayat Al-Ahzab: 33) diturunkan di rumah Ummu Salamah. Beliau dikenal sebagai seorang isteri yang baik hati, penuh perhatian, penuh kasih sayang, dan penuh ketaatan. Para ulama menyebut dirinya sebagai seseorang yang mewakili kebesaran jiwa, juga penuh intelektualitas dan penuh wawasan dan itu terlihat dari sepak terjangnya pada masa-masa sulit ketika Islam mendapatkan beberapa masalah yang sangat besar pada jamannya.
Suami pertama dari Ummu Salamah ialah sepupunya sendiri yaitu Abu Salamah bin Abdul-Asad yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk berhijrah ke Abyssinia untuk menghindari perlakuan dzalim dari para musyrikin kota Mekah. Di tempat mereka berhijrah itulah puteri mereka yang bernama Salamah lahir dan setelah itu lahir juga Umar. Umar kelak dikenal sebagai orang yang bijaksana dan penuh pertimbangan. Karena Umar dibesarkan di bawah pengawasan ibunya, maka sejak kecil ia telah ikut dalam berbagai pertempuran dan ikut beserta pasukan Imam Ali (as) dan setelah itu ia pernah ditunjuk untuk menjadi gubernur Bahrain.
Abu Salamah bin Abdul-Asad sendiri ikut serta dalam peperangan Uhud dan ia terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Abu Salamah adalah seorang Muslim yang memiliki pandangan jernih dan cerdas. Ia tidak ingin mengikuti tradisi buruk yang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat Mekah. Tradisi yang dimaksud ialah tradisi dimana seorang isteri yang ditinggalkan mati oleh suaminya maka ia tidak bisa menikah kembali.
Suami dari Ummu Salamah ini berpendirian tidak akan mengikuti tradisi ini. Untuk menegaskan sikapnya ini ia merentangkan kedua tangannya dan mendongakan wajahnya ke langit seraya berkata: “Ya, Allah! Berikanlah untuk Ummu Salamah seorang suami yang jauh lebih baik daripada aku setelah kematianku!”
Setelah Abu Salamah bin Abdul-Asad meninggal dunia, Rasulullah pergi ke rumah Abu Salamah dan menyampaikan rasa duka citanya kepada isteri dari Abu Salamah. Rasulullah mencoba menghibur isteri dari sahabatnya yang setia itu. Rasulullah bersabda: “Ya, Allah! Hapuskanlah kesedihannya, kurangilah penderitaannya, anugerahilah ia seorang suami yang lebih baik untuk menggantikan suaminya yang telah meninggalkannya!”
Ummu Salamah unggul dalam hal kecantikan dan kesempurnaan akhlak oleh karena itu banyak sekali tokoh ternama dalam Islam baik karena kekayaannya maupun terkenal di masyarakat karena keturunannya berbondong-bondong ingin menikahinya. Contoh yang terkenal ialah Abu Bakar yang nantinya menjadi khalifah pertama, serta Umar bin Khatab, sebagai khalifah yang kedua mengutarakan maksudnya untuk menikahi Ummu Salamah akan tetapi Ummu Salamah menolak keduanya dan ia lebih memilih untuk bersuamikan Nabi Muhammad meskipun mas kawin yang diterimanya sangatlah kecil dibandingkan dengan yang ditawarkan oleh Abu Bakar dan Umar. Karena Ummu Salamah berpandangan jernih dan penuh pertimbangan selain juga memang cerdas, maka pilihannya tentu saja pilihan yang cerdas. Hati Rasulullah akhirnya terbuka dan bisa menerima kehadiran Ummu Salamah setelah sebelumnya hati beliau terkunci karena kecintaan beliau yang tinggi kepada isterinya yang telah lama meninggal yaitu Khadijah (as.). Hati Rasulullah terbuka terhadap Ummu Salamah karena keutamaan akhlak yang dimiliki oleh Ummu Salamah.
Ummu Salamah adalah seorang isteri yang sangat saleh dan cerdas; ia memiliki kemampuan bahasa yang baik dan pandai berpidato di depan khalayak. Ia memiliki ketaatan dan kasih sayang yang ia bisa berikan kepada Rasulullah sebagai suaminya. Ummu Salamah senantiasa siap untuk melakukan apapun untuk membuat suaminya, Rasulullah, senang. Ia sanggup untuuk meredakan kepedihan Rasulullah dan juga sanggup untuk memberikan pemecahan terhadap beberapa masalah yang dihadapi oleh mereka. Ummu Salamah selalu menjadi isteri yang terdepan dalam memberikan simpati dan penghiburan kepada Rasulullah–suami yang ia sangat ia cintai. Oleh karena itu, Ummu Salamah juga seringkali ikut dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh suaminya. Ia ikut dalam peperangan Khandak. Ia juga turut dalam peristiwa penaklukan kota Mekah atauFutuh Makah. Ia ikut dalam pengepungan Taif, perang Hawazin, Saghif, dan kemudian ikut juga dalam peristiwa Haji Wada atau Haji Perpisahan. Ummu Salamah sudah melek huruf semenjak masa Jahiliyyah walau saat itu yang namanya wanita masih dianggap sepele dan dipandang sebelah mata.
Dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, ketika Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk memotong rambut, kemudian memotong kurban dan kembali dari kota Mekah menuju kota Madinah, kebanyakan dari para sahabat itu tidak mematuhi apa yang diperintahankan oleh Rasulullah. Mereka menolak untuk mengikuti perintah Nabinya sendiri! Ketika Ummu Salamah melihat Rasulullah sedih dan kecewa, ia menawarkan sebuah saran yang sangat bijaksana. Ummu Salamah berkata:
“Ya, Rasulullah! Kulihat mereka terlalu sulit untuk menerima kebijakanmu. Mereka ingin menduduki kota Mekah dan mendeklarasikan kemenangan (mereka tidak ingin kembali ke kota Madinah tanpa menyandangan gelar sebagai seorang penakluk). Sebaiknya engkau berdiri dan menunjukkan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan tanpa usah berkata apapun (cukup diberi contoh saja). Anda cukur rambut anda sendiri saja, kemudian anda juga potong hewan kurban anda sendiri saja. Saya yakin mereka akan mengikuti perbuatan engkau nantinya!”
Rasulullah melakukan apa yang disarankan oleh isterinya yang tercinta. Setelah Rasulullah melakukan hal itu seluruh kaum Muslimin serentak berdiri dan mengikuti apa-apa yang diperbuat oleh Rasulullah.
Pada suatu ketika Ummu Salamah mengutarakan pikirannya kepada Rasulullah. Pikiran ini sudah membebani benaknya selama beberapa waktu lamanya. Ummu Salamah berkata: “Ya, Rasulullah! Aki lihat kaum laki-laki itu berjuang mengangkat senjata dan bertempur dalam peperangan, mengapa perempuan tidak diijinkan untuk itu. Padahal kalau laki-laki itu gugur dalam pertempuran mereka akan mendapatkan pahala kesyahidan sedangkan kaum perempuan tidak. Sungguh membahagiakan mereka seandainyapun mereka kalah dalam peperangan”.
Rasulullah menerangkan kepada Ummu Salamah sebagai berikut:
“Wanita itu memiliki perjuangannya sendiri yaitu di keluarganya ketika melayani suaminya”
Dan setelah itu, malaikat Jibril (as.) dikirimkan oleh Allah untuk menurunkan firman Allah dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An-Nisa: 32)
Dan setelah itu ayat berikut juga turun:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang musllim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab: 35).
UMMU SALAMAH: CINTANYA DAN KESABARANNYA BERJUANG BERSAMA NABI
Setelah masuk Islam, Ummu Salamah sebenarnya secara langsung maupun tak langsung telah melepaskan dahaga yang mencekik yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun. Islam itu laksana air mancur yang segar yang memberikan pelepas dahaga yang berisi kumpulan hikmah dan ilmu yang selama ini dicari oleh Ummu Salamah. Ia senantiasa berjuang untuk mendapatkan ketinggian akhlak seiring denga berjalannya waktu yang ia habiskan bersama-sama dengan suaminya yang tercinta. Ummu Salamah melihat dengan matanya sendiri ketinggian akhlak yang diperagakan oleh suaminya; keluasan dan kedalaman ilmu yang dimiliki suaminya; ketangguhan dan kesabaran yang memperkuat daya juang suaminya. Kesemuanya itu membuat Ummu Salamah menjadi seorang isteri yang penurut senantiasa mengikuti perintah Rasulullah yang dilihatnya sebagai seorang suami yang paling sempurna di dunia ini. Dengan ketinggian akhlak yang dimilikinya, Ummu Salamah bisa mengikuti semua ajaran suci dari Nabi.
Setelah menikah dengan Rasulullah (karena sebelumnya Ummu Salamah sudah memiliki ketinggian akhlak yang baik), maka segera ia memiliki kedudukan yang tinggi–lebih tinggi dari kedudukan isteri-isteri Rasulullah yang lainnya. Ummu Salamah senantiasa menjaga dirinya dan membuat dirinya sedemikian rupa sehingga ia tidak pernah menyakiti perasaan Nabi dan selalu memberikan Nabi pelayanan terbaik yang bisa diberikan oleh seorang isteri.  Ia selalu berusaha untuk menyukai apa yang disukai oleh Nabi. Ia juga selalu menjauhi sesuatu atau seseorang yang memang pernah dibenci oleh Nabi. Ia juga seringkali berkata tentang ketinggian akhlak dan kemuliaan Khadijah (as) isteri pertama dari Nabi yang paling dicintai oleh Nabi. Ia juga menghormati Imam Ali (as) dengan sepenuh penghormatan; ia menunjukan sikap hormat dan sayang sekaligus kepada Fathimah (as) dan ia juga selalu memasakan makanan kesukaan Nabi. Alasan-alasan itulah yang membuat orang merasa bahwa Ummu Salamah memang layak mendapatkan perhatian lebih dari Nabi dan menempatkan Ummu Salamah di tempat yang sangat spesial dalam hatinya.
Ummu Salamah seringkali dilihat orang sangat memperhatikan Nabi dan setiap kegiatan dakwahnya. Ia akan segera meninggalkan pekerjaannya, walau pekerjaan itu hampir selesai, untuk mendengarkan apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah. Itulah gambaran tingkah laku dan prilaku dari Ummu Salamah yang disampaikan kepada kita oleh para ahli sejarah dan para ahli hadits yang terpercaya. Para ahli sejarah mempercayai bahwa ia telah meriwayatkan sekitar 378 hadits Nabi dan beberapa dari mereka juga bahkan mengatakan bahwa Ummu Salamah telah meriwayatkan sekitar 518 hadits yang kesemuanya langsung ia dapatkan dari Rasulullah atau langsung dari keluarga suci Rasulullah.
Kecakapan dan kecerdasan Ummu Salamah serta kejujurannya yang terkenal luas yang bisa ditiru oleh setiap orang membuat dirinya dipercaya oleh kelima orang anggota keluarga suci Nabi (yaitu Rasulullah (saaw) sendiri; Ali (as), Fathimah (as), Hasan (as), dan Husein (as)). Ummu Salama juga dipercayai oleh para Imam suci dari keluarga Nabi. Mereka tidak segan-segan, misalnya, menitipkan harta benda atau milik mereka kepada Ummu Salamah dan bahkan juga menceritakan rahasia-rahasia kepadanya karena yakin akan kejujuran yang dimilikinya. Pada suatu ketika Rasulullah menceritakan peristiwa yang bakal terjadi di Karbala kepada Ummu Salamah dan Rasulullah menggambarkan kesyahidan yang akan didapatkan oleh cucunya yang sangat ia sayangi yaitu Husein bin Ali (as). Rasulullah menitipkan segenggam tanah Karbala dalam sebuah botol kaca seraya berkata kepada Ummu Salamah: “Apabila nanti kau lihat tanah ini berubah menjadi darah, maka ketahuilah bahwa cucuku, Husein bin Ali (as) telah syahid”.
Pada tanggal 10 Muharram tahun 61H, Ummu Salamah sedang tidur di Madinah pada sore hari. Dalam mimpinya ia melihat Rasulullah. Wajah Rasulullah tampak jelas sekali dipenuhi dengan kesedihan dan kepedihan yang tidak terkira: baju yang dikenakannya itu koyak-koyak di sana-sini. Rasulullah berkata: “Aku baru datang dari Karbala; aku baru datang dari kuburan para syuhada”. Tiba-tiba Ummu Salamah terbangun dan ia segera melihat ke botol kaca yang pernah dititipkan kepadanya. Ia menyadari bahwa Imam Husein (as) telah menemui kesyahidannya; Ummu Salamah menjerit dan larut dalam tangisannya yang menyayat hati. Orang lain tahu tentang kejadian ini dan Ummu Salamah menggambarkan kejadian ini dengan lebih jelas lagi. Kejadian ini dikenal orang lewat hadits yang disebut dengan “Hadits Gharoureh”.
UMMU SALAMAH MENCINTAI IMAM ALI DAN FATHIMAH
Ketika Fathimah binti Asad (ibunda dari Imam Ali as.) meninggal, Rasulullah memilih Ummu Salamah untuk menjaga dan mengasuh Fathimah (as). Pada suatu ketika wanita yang sederhana dan penuh kasih sayang ini berkata: “Aku lihat Fathimah (as) itu melebihiku dalam setiap hal kebaikan”. Pada suatu kesempatan Ummu Salamah pernah juga berbicara, “Aku tidak pernah mendapati orang lain yang mirip sekali dengan Rasulullah kecuali Fathimah (as)”.
Ketika Ummu Ayman ditanya untuk menentukan tanggal pernikahan Fathimah (as), Rasulullah bertanya: “Siapakah itu. Siapa yang ada di dalam?”
Ummu Salamah menjawab: “Aku di sini, ya Rasulullah. Ini Zainab dan itu dan itu”
Rasulullah berkata: “Tolong siapkan sebuah ruangan untuk puteriku dan sepupuku di rumahku!”
Ummu Salamah bertanya: “Ruangan mana yang engkau maksud, ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Di ruangan engkau, wahai isteriku”. Kemudian Rasulullah meminta para sahabatnya untuk pergi dan bersiap-siap. Ummu Salamah yang ramah berkata: “Aku bertanya kepada Fathimah apakah ia telah mempersiapkan parfum untuk dirinya. Ia kemudian menjawab: ‘Ya’. Fathimah (as) kemudian membawa sebuah gelas berisi parfum dan menyiramkan sedikit parfum ke tangannya. Parfum itu harum sekali dan baunya memenuhi ruangan. Aku belum pernah mencium bebauan seperti itu sebelumnya. Aku bertanya darimanakah gerangan ia mendapatkan parfum itu. Fathimah menjawab bahwa parfum itu ia dapatkan dari sayap-sayap malaikat Jibril.
Pada malam hari pernikahan, Rasulullah (saaw) meminta beberapa buah mangkuk dan piring. Kemudian beliau mengisi mangkuk-mangkuk dan piring-piring itu dengan makanan dan kemudian menyuruh orang untuk mengirimkan mangkuk-mangkuk dan piring itu ke rumah para isteri Rasulullah. Kemudian beliau meminta sebuah mangkuk lagi dan mengisi mangkuk itu dengan makanan dan kemudian beliau berkata: “Makanan ini untuk Fathimah dan suaminya”. Ketika matahari sudah tenggelam, Rasulullah (saaw) meminta Ummu Salamah untuk membawa Fathimah ke hadapannya. Ummu Salamah: “Aku pergi menjemput Fathimah. Aku kemudian membawa Fathimah. Kami berdua berjalan berdampingan; aku menggenggam tangannya dengan erat. Pakaiannya terjuntai ke tanah menyapu tanah sekitar ketika ia berjalan”. Keringat bercucuran deras ke wajahnya karena rasa gugup dan rasa malunya. Ketika Fathimah sampai kepada ayahnya, ia menyelinap ke balik punggung ayahnya karena ia merasa sangat malu. Rasulullah berkata: “Semoga Allah menghilangkan rasa kebosanan dan kepenatan dari dirimu dan semoga engkau terlindungi dari marabahaya dunia!” Ketika ia sudah berhadap-hadapan dengan ayahnya, ayahnya menyibakkan kerudung yang menutup wajahnya supaya Ali (as) bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan setelah hari pernikahan itu, Ummu Salamah tetap seperti sedia kala. Ia tetap menjadi seorang ibu pengganti yang penuh kasih sayang kepada anak asuhnya yaitu Fathimah az-Zahra. Ummu Salamah tetap memberikan pelayanan terbaik kepada Fathimah dan kedua puteranya yaitu Hasan (as) dan Husein (as) ketika keduanya lahir. Rasulullah mempercayakan Fathimah dan Ali kepada Ummu Salamah dan itu bisa dilihat dengan jelas lewat beberapa pernyataan dan tingkah laku dari Rasulullah (saaw) selama beliau masih hidup. Imam Hasan (as) dan Imam Husein (as) juga  memberikan kepercayaan yang sama kepada nenek tirinya itu. Ini menunjukkan bahwa Ummu Salamah telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari seluruh anggota Ahlul Bayt karena dirinya memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang tinggi di antara seluruh isteri Rasulullah yang masih hidup pada waktu itu.
Pada suatu waktu Rasulullah memanggil Ummu Salamah dan mempercayakan kepadanya selembar kulit domba yang diatasnya tertulis beberapa rahasia pengetahuan. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya: “Siapapun yang meminta kulit ini darimu setelah diriku tiada, maka ia adalah Imam dari umat ini dan akan menjadi pemimpin sesudahku”.
Ummu Salamah meninggal di kota Madinah pada tahun 62 selama pemerintahan tirani Yazid ketika beliau berusia 84 tahun. Beliau dikebumikan di kompleks pemakaman Baqi di kota Madinah (Jannatul Baqi). Ummu Salamah adalah isteri Rasulullah yang paling terakhir meninggal diantara semua isteri-isteri Rasulullah.
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu. Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab: 6)

One comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s