Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Rasulullah adalah beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi ???

Mencari Calon Istri yang Cocok

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Pada suatu hari saya membaca buku Ahlusunnah Wal  Jama’ah  berjudul   ” Rasul saja boleh masa kita nggak ?” karya Al Imam  Al Hafidz Ahmad bin Muhammad Al Qasthalani dengan tahqiq M. Nuruddin Marbu Banjar Al Makki 

Penerbit Qultummedia

Depok 2006

Halaman : 70 lembar

ISBN : 979376239X

Pada halaman  54 buku  tersebut  menulis sbb :

” Begitu juga dibolehkan bagi Nabi SAW menikah tanpa wali dan saksi. Nawawi mengatakan pendapat yang benar dan masyhur dikalangan ulama ulama kami ialah sahnya pernikahan Nabi tanpa wali dan saksi karena  hal itu tidak dibutuhkan lagi pada haknya SAW. Perbedaan pendapat ini pada selain Zainab. Sebab hal itu telah ditentukan dalam nash Al Quran. Para ulama mengatakan , wali itu diperlukan untuk menjaga kesetaraan (kufu), sedangkan Nabi ada diatas semua itu. Saksi dibutuhkan untuk menghindari adanya pengingkaran, sedangkan Nabi mustahil untuk itu. Kalau saja pada pihak istrinya mengingkari, maka perkataannya itu tidak dapat dijadikan rujukan hukum. Bahkan menurut Al Iraqi dalam buku Syarhul Muhadzdzab, wanita itu dengan pengingkarannya menjadi kafir”

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Rasul Saja Boleh, Masa Kita Nggak?

Mencari Calon Istri yang Cocok

=================================================================================================

Para pembaca sekalian, tulisan diatas dan  dibawah ini hanyalah copy paste dari buku dan web internet sunni, bukan tulisan Ustad Husain Ardilla  dari Pihak  Syi’ah ya….

———————————————————————————————————————————————————–

Rasulullah Boleh Menikah Tanpa Mahar, Wali dan Saksi

Salah satu kekhususan yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah pembahasan ‘Maa Ukhtushsha Bihi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Min al-Ahkaam at-Takliifiyyah’ disebutkan:

مما اختص به رسول الله صلى الله عليه وسلم فأبيح له دون أمته أن يتزوج أكثر من أربع نساء، وأن يتزوج بغير مهر، وأن يتزوج المرأة بغير إذن وليها

Artinya: “Termasuk kekhususan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dibolehkan bagi beliau sedangkan bagi umatnya tidak dibolehkan, adalah beliau boleh menikahi lebih dari empat orang perempuan, boleh menikah tanpa mahar, dan boleh menikahi perempuan tanpa izin wali si perempuan tersebut.”

Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsir beliau Fath al-Qadir, ketika menafsirkan surah al-Ahzab ayat 50, mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan bahwa ulama bersepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh menikahi perempuan –yang menghibahkan dirinya kepada beliau– tanpa mahar. Berikut pernyataan Imam asy-Syaukani tersebut:

وأما بدون مهر فلا خلاف في أن ذلك خاص بالنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Dan adapun jika pernikahan tersebut tanpa mahar, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa hal tersebut khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja.”

Senada dengan imam asy-Syaukani, Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah di kitab tafsir beliau at-Tafsir al-Munir pada tafsir ayat yang sama, mengeluarkan pernyataan:

والزواج بلفظ الهبة من خصوصيات النبي صلّى الله عليه وسلّم دون سائر المؤمنين، فله الزواج بها من غير مهر ولا ولي ولا شهود

Artinya: “Pernikahan, dengan lafazh hibah, merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak untuk kaum mukmin yang lain. Dan pernikahan tersebut dilakukan tanpa mahar, tanpa wali dan tanpa saksi.”

Pernyataan ini juga cukup tegas disampaikan oleh Imam al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau yang sangat masyhur, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Ketika menafsirkan ayat yang sama, beliau mengeluarkan pernyataan:

فأما هو، عليه السلام، فإنه لا يجب عليه للمفوضة شيء ولو دخل بها؛ لأن له أن يتزوج بغير صداق ولا ولي ولا شهود، كما في قصة زينب بنت جحش، رضي الله عنها. ولهذا قال قتادة في قوله: {خالصة لك من دون المؤمنين} ، يقول: ليس لامرأة تهب نفسها لرجل بغير ولي ولا مهر إلا للنبي صلى الله عليه وسلم

Artinya: “Adapun terhadap Nabi ‘alaihis salam, beliau tidak wajib memberikan sesuatu apapun kepada perempuan yang menyerahkan dirinya kepada beliau, walaupun beliau sudah menyetubuhinya. Karena beliau boleh menikah tanpa mahar, wali dan saksi. Hal ini sebagaimana cerita Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha. Terkait hal ini, Qatadah berkomentar tentang ayat { خالصة لك من دون المؤمنين }: Tidak boleh seorang perempuan menghibahkan dirinya kepada seorang laki-laki tanpa wali dan mahar, kecuali kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tentang peristiwa pernikahan Zainab binti Jahsy dengan Rasulullah, Imam Muslim an-Naisaburi rahimahullah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

لما انقضت عدة زينب، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لزيد: «فاذكرها علي» ، قال: فانطلق زيد حتى أتاها وهي تخمر عجينها، قال: فلما رأيتها عظمت في صدري، حتى ما أستطيع أن أنظر إليها، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكرها، فوليتها ظهري، ونكصت على عقبي، فقلت: يا زينب: أرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكرك، قالت: ما أنا بصانعة شيئا حتى أوامر ربي، فقامت إلى مسجدها، ونزل القرآن، وجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم، فدخل عليها بغير إذن

Artinya: “Tatkala masa ‘iddah Zainab berakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Zaid, ‘ingatkan Zainab terhadapku’. Kemudian Zaid pergi menemui Zainab yang saat itu sedang memberi ragi adonan rotinya. Zaid berkata, ‘Ketika aku menemuinya, terasa agungnya dia dalam dadaku, hingga aku tidak mampu memandangnya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dirinya (ingin menikahinya), aku pun membelakanginya dengan punggungku dan mundur ke belakang, kemudian aku berkata, ‘Wahai Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku untuk menyebut dirimu (melamarmu)’. ‘Zainab berkata, ‘Aku tidak akan berbuat apa-apa sampai aku diperintahkan oleh Tuhanku.’ Zainab kemudian masuk menuju ke masjidnya (tempat shalatnya), lalu turunlah ayat al-Qur’an. Kemudian Rasulullah datang dan masuk ke ruangan Zainab tanpa meminta izin.” [Hadits no. 1428 (versi al-Maktabah asy-Syamilah yang sesuai dengan terbitan dari Daar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut), potongan dari hadits yang cukup panjang].

Imam Muhyiddin al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah ketika melakukan syarh terhadap hadits ini menyatakan bahwa ayat al-Qur’an yang turun (yang disebutkan dalam hadits di atas) adalah ayat:

فلما قضى زيد منها وطرا زوجناكها

Artinya: “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), kami nikahkan engkau (Muhammad) dengan mantan istri Zaid tersebut (Zainab).” [al-Ahzab ayat 37].

Imam an-Nawawi melanjutkan penjelasan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke ruangan Zainab tanpa izin adalah karena Allah ta’ala telah menikahkan beliau dengan Zainab melalui ayat yang disebutkan di atas. Imam an-Nawawi kemudian menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah menikahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Zainab melalui wahyu, tanpa wali dan saksi. Menurut Imam an-Nawawi, pendapat yang shahih dan masyhur di madzhab beliau (madzhab Syafi’i) menyatakan sahnya pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa wali dan saksi.

Wallahu a’lam. 

===============================================================

Studi Analisis Pendapat Ibnu Mundzir Tentang Nikah Tanpa Saksi

dikutip dari : http://222.124.207.202/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jtptiain-gdl-fatkhudin2-3956

Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2011-10-31 14:29:21
Oleh : Fatkhudin (2102179), Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Dibuat : 2008-01-14, dengan 1 fileKeyword : Ibnu Mundzir, Nikah Tanpa Saksi
.
Pernikahan dianggap sah apabila memenuhi rukun dan syarat pernikahan. Di antara rukun pernikahan adalah menghadirkan dua orang saksi. Dalam masalah saksi jumhur ulama berpendapat saksi sebagai syarat sah pernikahan. Mereka bersandar kepada hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Sementara ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan.
Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

Deskripsi Alternatif :

 ada yang berpendapat saksi bukan merupakan syarat sah pernikahan, maka nikah tanpa saksi hukumnya sah. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Mundzir yang tertuang dalam karyanya al-Isyraf ala’ Madzahib ahli al-Ilmi menurutnya tidak ada ketetapan dari nabi tentang adanya dua orang saksi dalam pernikahan. Selain itu nabi juga pernah melakukan nikah tanpa saksi dan juga Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Hasan ibn Ali melakukan hal yang sama seperti nabi.berdasarkan keterangan tersebut penulis mencoba menganalisis pendapat dan istinbathnya tentang nikah tanpa saksi.

Adapun dalam pengumpulan data pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan obnyek yang penulis peneiti dalam masalah ini adalah karya Ibnu Mundzir yaitu kitab al Isyraf ala’ Madzahib ahli al Ilmi sebagai sumber primernya.

Hasil analisis penulis bahwa nikah tanpa saksi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Dalam hal ini Ibnu Mundzir lebih melihat pada sosok nabi yang pernah melakukannya sehingga ia berpendapat nikah tanpa saksi hukumnya sah. Menurut penulis saksi sangat penting adanya dalam pernikahan sebagai alat bukti jika suatu saat terjadi kemungkinan-kemungkinan di luar pernikahan seperti pengingkaran yang dilakukan suami istri terhadap nasab anak hasil pernikahannya.oleh karenanya saksi sangat penting adanya dalam pernikahan.

=============================================================

Pertanyaan Terselesaikan

Siapa Wanita pertama yang menikah tanpa wali dan saksi?

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Penanya

Zainab
binti Jahsy. Dia istri Nabi, puteri
dari bibi beliau (Umaimah).
Sebelumnya dinikahi oleh Zaid
bin Haritsah, lalu diceraikan.
Kemudian Nabi menikahinya
berdasarkan nash Al Quran (QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.(QS
Al Ahzab [33] :37) tanpa saksi
dan wali. Zainab sangat bangga,
”Aku dinikahkan oleh Allah di
atas Arsy-Nya”. Dengan
pernkahan Rasul ini sekaligus
ditiadakannya adopsi anak
dalam Islam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s