perkembangan syiah makin pesat di indonesia

MUI Pusat memandang akar masalah menjamurnya syiah di Indonesia adalah karena adanya perhatian yang besar dari pemerintah Iran melalui jalur pendidikan kebudayaan dan keagamaan

Ke Indonesia, Menlu Iran Singgung masalah Syiah

Marty Natalegawa dan Javad Zarif:

Ke Indonesia, Menlu Iran Singgung masalah Syiah

Indonesia dan Iran telah menjalin hubungan sejarah, budaya, dan agama yang sangat panjang dan saling terkait selama lebih dari seribu tahun. Antara RI dan Iran  telah memiliki lebih dari 50 perjanjian kerja sama di segala bidang. Javad Zarif sempat mengajak mengatasi radikalisme dalam kasus yang menimpa Syiah

 

perkembangan syiah makin pesat di indonesia

perkembangan syiah makin pesat di indonesia

Propaganda anti syi’ah menyebabkan Syi’ah di Indonesia justru tumbuh pesat

Pertumbuhan Kaum Syi’ah Indonesia Semakin Pesat ! Perkembangan Syi’ah Indonesia kian subur

syiah semakin berkembang

Ketua Dewan Syariah Surakarta: Syiah Berkembang karena Ideologi Iran

Berkembangnya ajaran Syiah di Indonesia khususnya dan di Negara lain tidak semerta-merta karena paham Syiah sendiri, tapi  didorong kekuatan ideologi Iran. “Syiah didorong karena Ideologi,” demikian yang disampaikan Dr Muinudinillah Basri, MA, Ketua Dewan Syariah Surakarta

Menurut Muin, saat ini pergerakkan dan paham Syiah telah masuk di beberapa institusi strategis di Indonesia.

“Di dalam tubuh Polri, TNI, DPR, bahkan MUI ada Syiah,” ujarnya.

Pergolakan ideologi pada abad 21 ini sangat dahsyat. Berbagai aliran terus memperjuangkan ideologinya masing-masing. Termasuk Komunis dan Syiah, yang diprediksi akan terus ingin berkuasa di Indonesia.

Demikian menurut Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat Hidayatullah Dr Abdul Mannan.

“Kita akan berkompetisi yang sangat dahsyat, di tengah pertarungan ideologi yang sangat besar. Dan maaf, lima tahun lagi, Syiah di Indonesia ini bisa makin berkembangakan,” ujar Mannan di Cilodong, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini.

Keyakinan Mannan didasari perkembangan Syiah di berbagai Negara, sebagaimana ia memantau perkembangan Syiah di berbagai televisi siaran internasional, seperti di Iraq, Libanon, dan Aljazair.

Mannan mengatakan itu saat menutup acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Hidayatullah, Sabtu, 16 Rabiul Awal 1435 H (18/1/2014).

Kepada ratusan pengurus Hidayatullah se-Indonesia, dia mewanti-wanti untuk terus memantau perkembangan berbagai ideologi dan aliran di negeri ini.

“Oleh karena itu saudara-saudara, jangan sampai nggak ikut berita, ikutilah berita. Seorang pejuang nggak ngerti dinamika ideologi yang lain, bahaya,” serunya.

Revolusi Syiah di Iran yang dipimpin Imam Khomeini dan berhasil melahirkan berdirinya Negara Syiah, merupakan titik awal penyebaran aqidah dan ajaran syiah ke seluruh pelosok dunia. Berbagai cara dilakukan oleh tokoh-tokoh syiah untuk masuk mengekspor revolusi syi’ah ke berbagai Negara, khususnya yang berpenduduk muslim. Indonesia tentu saja menjadi salah satu Negara sasaran utama, karena berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Ditanah air muncul tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok yang berbau syiah atau mengatasnamakan madzhab ahlul bait. Kemudian mereka mendirikan sebuah organisasi bernama IJABI (Ikatan Ahlus Bait Indonesia), sebuah organisasi yang menyandarkan dirinya pada ahli bait (keluarga) Rasulullah Saw. Di samping itu, kedutaan besar Iran banyak berperan membantu perkembangan faham syiah di Indonesia dengan membangun gedung Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta. Di gedung itu sering dilaksanakan berbagai ritual kepercayaan syiah.

Syiah di Indonesia berkembang di antaranya lewat buku-buku yang diterbitkan oleh beberapa penerbit terkemuka di Indonesia. Di samping buku, mereka juga mencetak majalah-majalah dan bulletin.

Untuk mendapat legitimasi dan pengakuan eksistensi mereka di Indonesia, lembaga-lembaga syiah pun didirikan dan tersebar di banyak kota di Indonesia. Sehingga secara sistematis dan alamiah membentuk jaringannya sendiri.

Perjalanan Iran khususnya pasca revolusi khomeini 1979 benar-benar merupakan praktek dari madzhab Syi’ah yang dianutnya. Ini tercantum dalam undang-undang dasar negara Iran pasal 12 yang berbunyi:

“Agama resmi negara Iran adalah Islam dengan madzhab ja’fariyah 12 imam. Pasal ini tidak boleh diubah selamanya.”

Nampak jelas negara Iran berdasar atas ideologi sektarian, yaitu berdasar madzhab ja’fari 12 imam yang tak lain hanyalah nama lain dari Syi’ah imamiyah. Ini diperkuat lagi dengan pasal 72 yang berbunyi:

“Majlis syura Islami tidak berhak membuat undang-undang yang menyelisihi prinsip-prinsip madzhab resmi negara.”

Hal ini juga tercantum pada pasal 85. Begitu juga pasal 144 berbunyi:

“Tentara republik Islam Iran haruslah berbentuk tentara Islam, yaitu berdasarkan kepada akidah dan terdiri dari pasukan yang meyakini visi dan misi revolusi Islam.” Sumpah presiden Iran yang tercantum pada pasal 121 berbunyi sebagai berikut:

“Saya sebagai presiden bersumpah demi Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, di depan Al Qur’an dan di depan seluruh rakyat Iran, saya akan menjaga madzhab resmi negara….”

Selain berdasarkan pada madzhab syi’ah imamiyah, negara Iran adalah negara kesukuan persia. Bahasa dan tulisan persia dijadikan bahasa resmi negara. Hal ini termaktub dalam pasal 15.

Maka memahami madzhab Syi’ah adalah kunci untuk memahami sepak terjang dan arah politik negara Iran.

“afala ta’qilun , afala tatafakkaruun” itulah yg diajarkan allah swt pada ummatNya. sudah menjadi agama fitrah yakni islam dikenal dan dilaksanakan melalui pikiran yg rasional tidak melalui dktrin2 yg susah diterima dengan akal. usaha apapun yg dilakukan untuk membendung ajaran fitrah (syiah) ini tidak akan berhasil. selama orang masih menggunakan akalnya.

Walaupun tidak semua; tetapi banyak Ulama Sunnah yang rajin mengakafirkan Kaum Syiah; berdasarkan buruk sangka dan kebohongan2 tentang madhab Ahlul Bait (Syi’ah) yang sengaja dikarang oleh Ulama Sunni sendiri.

ALLAH akan mengadili semua manusia di hari Qiyammah nanti; dan ALLAH akan menentukan siapa saja yang sesat dan siapa saja yang tidak sesat; tetapi Ulama Sunni tertentu telah mendahului ALLAH; sehingga Ulama Sunni tertentu main hakim sendiri dan mengkafirkan Kaum Syiah.

Kaum Syiah berusaha mencerdaskan ummat Islam dengan cara menerangkan AlQuran dan Hadith; karena Kaum Syiah tidak suka melihat penyebaran agama Kristen yang cepat di dalam negara2 muslim.

Ulama Sunni yang tidak bertangung-jawab sengaja mengarang kebohongan2 tentang Kaum Syiah untuk menghancurkan persatuan ummat Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri.

di Indonesia, perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah justru menerima dengan welcome terhadap referensi dari Iran, bahkan Iran telah memiliki 12 Iranian Corner di perguruan-perguruan tinggi Islam (negeri) dan Muhammadiyah di Indonesia.

mereka menerima Iranian Corner di berbagai Universitas Muhammadiyah itu. Cara berfikirnya model mantan rector UMS Malang, Malik Fajar, apalagi hanya buku-buku dari Iran

Di antara perguruan Tinggi Islam yang memiliki Iranian Corner, menurut Majalah Hidayatullah April 2009 adalah: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Muhammadiyah Jakarta (alhamdulillah Iranian Corner di UMJ ini telah musnah terkena banjir Situ Gintung, red) Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah

saat sudah kalap, karena melihat kemajuan lawan maka wahabi ngomongnya sudah srudak sruduk. ilmiahnya gk lagi dipake. ini adalah sindrom inferior. penyakit ini biasanya dimiliki oleh orang 2 kalah dan terima!

setahu saya penyakit ini banyak melanda kalangan wahabiah. kerjanya hanya marah2 tapi gak punya karya intelektual.

Tidak kurang dari 7.000-an mahasiswa Indonesia diperkirakan sedang dan telah belajar ke Iran, sebuah negara yang notabene pusat cuci otak untuk menjadi pendukung Syiah. Kabar ini dikemukakan oleh salah seorang anggota DPR Komisi VIII, Ali Maschan Musa, termuat di http://www.republika.co.id dengan link http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/11/03/03/167288-ribuan-pemuda-belajar-di-iran-polri-diminta-waspadai-syiah.

Padahal sewaktu kemarin ada evakuasi besar-besaran mahasiswa Indonesia di Mesir, ternyata jumlah mereka hanya sekitar 4.000-5.000 orang saja. Kalau yang kuliah ke Iran sampai angka 7.000, berarti ini bukan angka yang main-main.

“Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri dan sebagainya,” kata Ali dalam rapat dengan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen (Pol) Ito Sumardi, di ruang rapat Komisi VIII DPR, Jakarta, Kamis (3/3).

Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan diramaikan oleh demam paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang nota bene ahli sunnah wal jamaah.

Perkembangan Syiah di Indonesia

Sebenarnya untuk melihat hasil dari `kaderissasi` pemeluk syi`ah di Indonesia, tidak perlu menunggu beberapa tahun ke depan. Sebab data yang bisa kita kumpulkan hari ini saja sudah biki kita tercengang dengan mulut menganga.

Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di negeri kita ini diam-diam terus bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya, ada begitu banyak agen-agen ajaran syi`ah yang siap merenggut umat Islam Indonesia untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran ini.

Iranian Corner di Perguruan Tinggi Islam

Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi cukup marak. Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Jogjakarta sebagai kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada 3 Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di Universitas Muhammadiyah Malang.

Islamic Cultural Center (ICC)

Di Indonesia Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu.

Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

Beasiswa Pelajar ke Iran

Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya.

Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren.

Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Yayasan, Pengajian dan Ikatan Penyebar Aqidah Syi`ah

Pada tahun 2001 saja sudah terdapat 36 yayasan Syi`ah di Indonesia. Dan tidak kurang dari 43 kelompok pengajian yang intensif menanamkan aqidah syi`ah sudah berdiri

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s