Imam Ali bin Abi Thalib di masa Usman bin Affan

 

Imam Ali bin Abi Thalib di masa Usman bin Affan

Ali bin Abi Thalib menjelaskan masa pemerintahan Usman bin Affan dengan ucapannya:

‘Sehingga orang ketiga dari khalifah itu memegang tampuk pemerintahan. Orang yang perutnya buncit karena banyak makan. Pekerjaannya antara ruang makan dan tempat buang air. Bersama-sama saudara-saudara seayahnya dari Bani Umayyah menguras Baitul Mal. Kerakusan mereka bagaikan unta kelaparan di musim semi memakan rerumputan. Kehidupan royalnya dilanjutkan sampai sabuk yang dipakainya putus (tidak mampu menahan perut yang semakin membesar) Perilaku dan kerakusannya membuat masyarakat bangkit membunuhnya’.

Usman bin Affan tidak seperti pendahulunya yang cerdik dalam masalah politik dan mampu mengatur pemerintahnya lebih baik. Setelah Abdurrahman bin Auf menyerahkan suaranya kepada Usman bin Affan dan ia terpilih sebagai khalifah, Usman bin Affan diarak menuju masjid Rasulullah saw untuk mengumumkan kebijakan politiknya untuk memperbaiki kondisi yang ada. Usman bin Affan naik ke atas mimbar dan duduk di atas tempat yang bisa dipakai oleh Nabi semasa hidupnya, padahal Abu Bakar dan Umar bin Khatthab bin Khatthab tidak berani melakukannya ketika mereka menjabat sebagai khalifah. Mereka berdua hanya berani duduk di undakan yang menuju tempat duduk Nabi. Usman bin Affan kemudian di atas tempat duduk Nabi berpidato. Sebagian sahabat berkata, ‘Hari ini kejahatan telah lahir’.

Usman bin Affan bukan seorang yang ahli pidato. Ia tidak mampu berkata banyak di atas mimbar Nabi. Ia berkata, ‘Amma Ba’du (selanjutnya), sesungguhnya pertama kali akan mengendarai sesuatu adalah sangat sulit. Di sisi lain, aku bukanlah seorang orator. Allah Maha Mengetahui. Sesungguhnya seseorang yang di antaranya dan Adam ada seorang ayah yang telah meninggal perlu dinasehati’.

Al-Ya’qubi menulis, ‘Usman bin Affan berdiri dan untuk sementara waktu ia terdiam tidak berkata apapun. Kemudian ia membuka mulutnya dan berkata, ‘Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar bin Khatthab telah menyiapkan posisi ini sebelumnya. Kalian lebih membutuhkan seorang khalifah yang adil dari pada seorang khalifah yang hanya bisa berpidato. Bila kalian masih hidup maka ucapan dan pidatoku akan mendatangi kalian’. Kemudian Usman bin Affan turun dari mimbar’.

Usman bin Affan mulai menjalankan pemerintahannya dan melakukan kebijakan-kebijakan yang membuat mayoritas kaum muslimin marah dan membencinya kecuali keluarganya, Bani Umayyah. Ia dengan transparan menunjukkan sikap fanatisme kesukuannya dan menunjukkan kecondongannya kepada keluarga dan sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah bagian dari keluarga besar Umayyah. Ia mulai mengangkat dan menokohkan anggota keluarga Umayyah di atas masyarakat yang lain. Posisi penting mulai diisi oleh Bani Umayyah tanpa mampu ditolak oleh kaum muslimin.

Usman bin Affan bin Affan telah melampaui batas dalam kebijakan rasisnya melebihi apa yang telah ditanamkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khatthab bin Khatthab. Quraisy tidak lagi yang memegang kendali pemerintahan namun dibatasi oleh Usman bin Affan pada Bani Umayyah saja.

Usman bin Affan tidak lagi menaruh perhatian kepada nasihat dan peringatan-peringatan para sahabat dan di atas semuanya ada Ali bin Abi Thalib. Benar, Usman bin Affan telah menguasai kekuasaan namun ia lupa untuk berkaca kepada pendahulunya dalam menjalankan pemerintahan atas dasar metode yang sah berdasarkan pemerintahan Islam. Elemen-elemen penting dan baik semakin lemah untuk dapat mengubah kebijakan pemerintah secara langsung. Kebijakan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab pada masa pemerintahan mereka cukup berhasil menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari kekuasaan dan kepercayaan rakyat atas pandangan dan tuntunannya. Akibatnya penyelewengan dan penyimpangan dari pemerintahan islami dan munculnya arus kebencian dan permusuhan terhadap Ahli Bayt semakin menjadi. Kondisi ini sangat menyulitkan usaha Ali bin Abi Thalib agar khalifah baru mau mendengarkan nasihat. Kondisi dipersulit dengan arus kaum munafik dan Quraisy yang memeluk Islam secara terpaksa ketika pembebasan kota Mekkah serta orang-orang yang punya kepentingan yang berada di sekelilingnya.

Sikap Abu Sufyan setelah pembaiatan Usman bin Affan bin Affan

Setelah selesai pembaiatan Usman bin Affan, Abu Sufyan berjalan mendekati rumah Usman bin Affan dan dengan berdesak-desakan dengan keluarga dan teman-teman Usman bin Affan ia maju dan menyampaikan awal kemenangan menguasai kekuasaan. Tampak wajahnya berbinar-binar menerima kemenangan ini dengan terpilihnya Usman bin Affan sebagai khalifah kaum muslimin. Mulutnya terbuka lebar dengan menandakan kebenciannya. Tampak kegeramannya mengingat bagaimana Islam telah menghina tokoh-tokoh mereka. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan kemudian berkata kepada segenap yang hadir di rumah Usman bin Affan, ‘Apakah ada orang lain selain keluarga dan teman-teman Bani Umayyah? Mereka serentak menjawab, ‘Tidak’. Abu Sufyan kemudian melanjutkan, ‘Wahai Bani Umayyah! Dengan cepat kalian telah meraih dan menguasai kekuasaan seperti menangkap bola. Demi Zat Abu Sufyan bersumpah atasnya! Tidak ada yang namanya surga dan neraka. Tidak pula ada perhitungan di hari kiamat dan tidak ada juga yang namanya pembalasan. Sejak dahulu aku selalu mengharap kekuasaan ini untuk kalian. Jadikan ini sebagai warisan untuk anak cucu kalian’.

Ia kemudian berjalan menuju kuburan pemimpin para syahid, Hamzah bin Abdul Mutthalib. Ia berhenti di samping kuburan sambil menendang kuburan Hamzah dengan kakinya sambil berkata, ‘Wahai Abu ‘Imarah! Apa yang selam ini engkau perjuangkan dengan pedangmu sekarang telah berada di tangan anak keturunan kami. Mereka menjadikannya sebagai barang mainan’.

Dampak negatif kebijakan pemerintahan Usman bin Affan

Ali bin Abi Thalib AS. selama hidup dengan Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak pernah secara terbuka menunjukkan ketidaksetujuannya. Sebabnya tidak lain karena penyimpangan yang terjadi juga tidak terang-terangan. Bahkan dalam banyak kesempatan Ali bin Abi Thalib ikut campur tangan dalam usaha memperbaiki sikap dan posisi khalifah bila terjadi kesalahan dan itu diiakan oleh keduanya. Abu Bakar dan Umar bin Khatthab tidak khawatir karena Ali bin Abi Thalib memainkan peranannya hanya sebatas tokoh agama terhadap umatnya dan sebagai pemilik yang sah kekhalifahan dan pemimpin oposan bersama sebagian sahabat besar lainnya. Ali bin Abi Thalib siap untuk tidak melakukan kudeta terhadap pemerintah yang ada dan memberikan rasa aman kepada masyarakat sekalipun ia tidak akan mundur dari prinsip yang diwarisinya dari Rasulullah saw sebagai penjaga dan pelindung akidah Islam.

Sikap yang diambil oleh Ali bin Abi Thalib berbeda ketika Usman bin Affan mengambil alih pemerintahan sebagai khalifah baru. Pada pemerintahan Usman bin Affan, kefasadan telah menyebar luas dan secara perlahan-lahan kerusakan itu masuk pada struktur pemerintahan secara terang-terangan. Kerusakan moral ini akhirnya berpindah dan diadopsi oleh masyarakat Islam. Di sini, Ali bin Abi Thalib kemudian mengambil sikap secara terang-terangan menentang dan mengingkari kepemimpinan Usman bin Affan. Para sahabat besar banyak yang berdiri dan mendukung sikap Ali bin Abi Thalib seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lain, bahkan dukungan juga mengalir dari mereka yang sebelumnya tidak setuju dengan hak Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Mereka tidak setuju dengan kebijakan Usman bin Affan dalam mengatur negara dan kerusakan moral pemerintahannya. Di sini dapat dilihat secara global pemerintahan Usman bin Affan dan dampak buruknya:

Usman bin Affan menerima tampuk pimpinan ketika ia telah berumur tujuh puluh tahun. Batasan umur di mana seseorang sangat mencintai keluarga dan mau berkorban untuk mereka. Diriwayatkan ucapan Usman bin Affan, ‘Seandainya aku memiliki kunci-kunci pintu surga niscaya aku akan memberikannya kepada Bani Umayyah sehingga mereka semua memasukinya’. Begitu juga, sebelum Islam, Usman bin Affan hidup dalam kondisi yang serba berkecukupan dan kondisi itu berlangsung setelah memeluk Islam. Oleh karenanya,ia tidak dapat merasakan betapa sulitnya orang-orang fakir miskin menjalani kehidupannya. Kepribadiannya betul-betul teruji ketika harus bersikap dengan sekelompok besar orang-orang miskin yang meminta keadilan dan persamaan darinya. Ia memperlakukan mereka dengan keras dan kasar sebagaimana perlakuannya kepada Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, Abu Dzar dan lain-lainnya.

Dari sisi keluarga ia sangat dekat dan bahkan menjadikan dan mengangkat mereka pada posisi-posisi penting. Ia mengangkat Al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith sebagai gubernur Kufah padahal ia termasuk orang yang diberitakan oleh Rasulullah sebagai ahli dan penghuni neraka. Usman bin Affan juga mengangkat Abdullah bin Abi Sarh sebagai gubernur Mesir, Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur Syam dan Abdullah bin ‘Amir sebagai gubernur Bashrah. Usman bin Affan juga telah mencopot Al-Walid bin ‘Uqbah dari jabatannya sebagai gubernur Kufah dan menggantikannya dengan Said bin Al-Ash.

Usman bin Affan adalah orang yang lemah terutama bila berhadapan dengan Marwan bin Al-Hakam. Usman bin Affan senantiasa mendengar ucapan dan menuruti keinginan Marwan. Hal itu terus berlangsung bahkan ketika terjadi konspirasi untuk menggulingkannya dan kondisi yang betul-betul telah kritis. Ketika keadaan telah kritis, Ali bin Abi Thalib masuk dan ikut campur tangan untuk meredakan ketegangan yang ada sampai berhasil memulangkan orang-orang yang melakukan demonstrasi menuntut perubahan dan perbaikan kebijakan pemerintahan terkait dengan kolusi dan korupsi yang telah menggerogoti pemerintah bahkan permintaan untuk menggantikan sebagian gubernur di sebagian tempat. Ali bin Abi Thalib berhasil mendapatkan janji Usman bin Affan untuk tidak lagi mendengar dan mengikuti ucapan Marwan bin Al-Hakam dan Said bin Al-Ash.

Sayangnya, setelah kondisi kembali menjadi tenang Marwan dan Said kembali mendekati Usman bin Affan dan memaksanya keluar dari rumah dengan disertai pengawal pribadi. Melihat hal itu, Imam Ali bin Abi Thalib AS. menuju Usman bin Affan dengan penuh kemarahan sambil berkata, ‘Kau setuju dengan perkataan Marwan namun ia tidak pernah rela denganmu. Yang diinginkan dari mu adalah agar engkau menyimpang dari agama dan akalmu seperti unta yang dicocok hidungnya ikut ke mana saja pemiliknya pergi. Demi Allah! Marwan bukan orang yang agama dan jiwanya baik’.

Pada kesempatan lain, Usman bin Affan sangat marah kepada para saksi yang menyaksikan Al-Walid bin ‘Uqbah yang ditengarai meminum khamar dan Usman bin Affan mengusir mereka. Mengetahui kejadian tersebut, Ali bin Abi Thalib mengancam Usman bin Affan dengan akibat yang bakal terjadi dengan perbuatannya ini. Ali bin Abi Thalib memerintahkan Usman bin Affan untuk menghadirkan Al-Walid untuk diadili dan bila terbukti benar untuk kemudian dihukum. Ketika Al-Walid dihadirkan dipersidangkan dan terbukti melakukan itu dengan kesaksian para saksi, Imam Ali bin Abi Thalib sendiri yang melaksanakan hukumannya yang membuat Usman bin Affan semakin bertambah marah. Ia berkata kepada Ali bin Abi Thalib, ‘Engkau tidak punya hak untuk melaksanakan hukum tersebut kepada Al-Walid’. Ali bin Abi Thalib menjawab dengan logika yang kuat berlandaskan syariat Islam, ‘Bahkan yang lebih buruk dari ini adalah bila seseorang berbuat kefasikan dan mencegah hak-hak Allah berlaku kepada orang yang berbuat fasik’.

Kebijakan Usman bin Affan dalam bidang keuangan adalah kepanjangan tangan kebijakan yang diberlakukan sebelumnya oleh Umar bin Khatthab yang memunculkan sistem kasta. Umar bin Khatthab membagikan dengan tidak adil kepada sebagian kelompok dan tidak kepada sebagian lainnya. Ketimpangan itu yang kemudian dilanjutkan dengan bentuk yang lebih ekstrim di zaman Usman bin Affan. Ia memberikan perhatian yang lebih kepada Bani Umayyah. Suatu waktu penjaga khazanah Baitul Mal mengajukan keberatannya kepada Usman bin Affan terkait dengan kebijakan keuangannya. Mendengar itu Usman bin Affan menjawab, ‘Engkau adalah penjaga Baitu Mal kami. Bila kami memberikan sesuatu kepadamu maka ambillah dan bila kami diam maka engkau juga harus diam. Penjaga Baitul Mal kemudian menjawab, ‘Demi Allah! Aku bukan penjaga Baitul Mal khalifah dan keluarganya melainkan penjaga harta kaum muslimin’. Pada hari Jumat ketika Usman bin Affan berkhotbah penjaga Baitul Mal berkata, ‘Wahai kaum muslimin, Usman bin Affan menganggap bahwa aku adalah penjaga Baitul Malnya dan keluarganya. Aku ingin mengatakan di sini bahwa aku adalah penjaga Baitul Mal kaum muslimin. Ini adalah kunci-kunci Baitul Mal punya kalian’. Ia kemudian melemparkan kunci-kunci tersebut ke hadapan Usman bin Affan.

Sikap Ali bin Abi Thalib terhadap Usman bin Affan

Kaum muslimin semakin membenci Usman bin Affan karena perilakunya. Sahabat-sahabat terbaik Rasulullah saw semakin bersatu berhadapan dengan penyimpangan khalifah dan pejabat yang berada di bawahnya. Di seberang sana, Usman bin Affan mengerti dan mulai menyiksa para oposan terhadap kebijakannya yang menyimpang. Penyiksaan yang dilakukan sudah tidak lagi memandang para sahabat Rasulullah saw. Dari situ, ia kemudian menyiksa Abu Dzar salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw karena seringnya melakukan protes terhadap kebijakan Usman bin Affan yang buruk. Usman bin Affan membuangnya ke Syam. Muawiyah sebagai gubernur Syam juga tidak mampu menahan protes Abu Dzar sehingga ia kemudian mengirimkan Abu Dzar kembali ke Madinah. Di kota Madinah, Abu Dzar kembali melakukan perjuangan dengan memprotes kebijakan buruk Bani Umayyah. Usman bin Affan semakin terpojok dengan manuver-manuver yang dilakukan oleh Abu Dzar sehingga ia akhirnya mengambil keputusan untuk mengasingkan Abu Dzar ke daerah bernama Rabadzah (sebuah tempat di Lebanon sekarang ini) dan melarang siapa pun untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya.

Ali bin Abi Thalib dengan ringan mengantarkan Abu Dzar untuk mengucapkan selamat tinggal. Ali ditemani kedua anaknya Hasan dan Husein, Aqil, dan Abdullah bin Ja’far. Marwan bin Al-Hakam tidak setuju dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib. Ia melakukan protes kepada Usman bin Affan agar mengembalikan mereka untuk tidak memberi ucapan selamat sekaligus mengantarkan Abu Dzar. Ali bin Abi Thalib bangkit dan kemudian menyerang Marwan. Ali bin Abi Thalib berhasil memotong kedua telinga binatang tunggangan Marwan. Setelah itu Ali bin Abi Thalib berteriak kepadanya, ‘Coba halangi! Semoga Allah mengirimmu ke Neraka’. Ali bin Abi Thalib tetap bersikeras untuk mengucapkan perpisahan dan mengantarkan Abu Dzar sambil berkata kepada Abu Dzar, ‘Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya engkau bila marah karena Allah, maka aku berharap kemarahanmu ditujukan kepada mereka. Orang-orang pada takut padamu karena urusan dunia dan harta mereka sementara engkau takut pada mereka karena masalah agama mereka. Tinggalkanlah kepada mereka apa yang membuat mereka takut padamu kepada mereka (harta dan dunia). Pergilah engkau kepada ketakutanmu pada mereka (agama). Mereka lebih butuh dengan apa yang engkau larang (cinta dunia). Apa yang mereka larang kepadamu lebih berharga (agama). Engkau akan tahu siapa yang lebih beruntung di hari kiamat dan siapa yang lebih dengki!

Ketika Ali bin Abi Thalib kembali setelah mengantar Abu Dzar untuk mengucapkan salam perpisahan, orang-orang menyambutnya sambil berkata, ‘Usman bin Affan sangat marah denganmu’. Ali menjawab, ‘Biarkan kuda marah karena kekangannya’.

Dampak negatif pemerintahan Usman bin Affan terhadap umat Islam

Pemerintahan Usman bin Affan merupakan kelangsungan dari garis politik pemerintah yang tidak sadar dengan kandungan risalah Islam baik dalam perilaku maupun akidah. Kondisi ini meninggalkan efek-efek negatif dalam perjalanan pemerintahan Islam dan umat sebagai kesatuan. Hal itu ditambah dengan kerusakan dan tuduhan keji terhadap transparansi pemerintahan Islam di hadapan umat Islam yang tidak pernah hidup dengan seorang pemimpin yang maksum (Nabi Muhammad saw) kecuali selama satu dekade. Pada sepuluh tahun itulah umat melihat pemimpinnya sekaligus penguasa dan pendidik. Sementara api fitnah semakin berkobar luas di pinggiran negara Islam yang akan membawa malapetaka kepada umat Islam. Dengan memeriksa data-data sejarah dapat ditemukan beberapa kesimpulan seperti di bawah ini:

1. Kebijakan pemerintahan Usman bin Affan tidak sesuai dengan cara dan metode syariat Islam. Hukum-hukum tidak dijalankan secara baik, kefasadan dan kebobrokan semakin meluas sehingga para pejabat pemerintahan tidak mampu memperkecil dan memperbaiki kondisi yang telah buruk itu. Ini semua menjadikan keonaran dalam kehidupan bermasyarakat yang pada akhirnya memunculkan semangat untuk tidak lagi taat kepada hukum. Dampak buruk akibat munculnya kebusukan ini adalah kesembronoan dan tidak lagi memperhatikan nilai-nilai moral dan hukum-hukum Islam. Dengan mudah di rumah-rumah gubernur dan pejabat-pejabat tinggi dapat ditemukan pesta pora yang diisi dengan acara musik dan nyanyian yang disela-sela itu disuguhi khamar, minuman keras.

2. Pemerintah Usman bin Affan memfokuskan kebijakannya lewat semangat kesukuan yang sejak awal telah ditanamkan oleh Abu Bakar dalam kebijakan politiknya. Semakin jelas kekuasaan yang di dasari oleh kesukuan dengan lebih transparan dalam kekuasaan Bani Umayyah. Mereka bagaikan sebuah keluarga besar menguasai semua jabatan-jabatan penting. Hal itu dikarenakan mereka menganggap bahwa mereka adalah pemimpin mutlak di mana Islam mengambil dari mereka dan sekarang telah kembali kepada pemilik aslinya. Di sini sudah tidak ada lagi prinsip-prinsip berdasarkan syariat Islam. Bani Umayyah muncul sebagai kekuatan politik yang kuat. Kekuatan yang memusuhi Islam dan pada khususnya kepada Ahli Bayt Nabi. Bani Umayyah telah menjelma menjadi penghalang terbesar yang dapat menahan Ali bin Abi Thalib untuk dapat mengambil kembali haknya yang terampas. Bani Umayyah kemudian membentuk front di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menghadapi Ali bin Abi Thalib AS.

3. Pemerintahan Usman bin Affan menganggap bahwa kekuasaan adalah hak dan sebuah pemberian kepada mereka dan tidak seorang pun berhak untuk merampasnya dari mereka. Kekuasaan dijadikan alat untuk memenuhi keinginan dan kerakusan mereka yang dipenuhi oleh hawa nafsu yang sesat. Menurut mereka kekuasaan bukan untuk memperbaiki masyarakat dan menyebarkan Islam di muka bumi. Pandangan seperti ini sedikit banyaknya mempengaruhi banyak orang untuk berlomba-lomba berusaha menguasai pemerintahan. Karena kekuasaan akan memberikan kenikmatan, kekuatan dan derajat. Amr bin Al-Ash, Muawiyah, Thalhah dan Zubeir termasuk dalam kelompok ini. Mereka tidak lagi berusaha meraih kekuasaan dengan alasan mewujudkan tujuan kemanusiaan atau sosial yang manfaatnya kembali kepada umat Islam.

4. Pemerintahan Usman bin Affan berhasil menciptakan masyarakat kelas kaya yang cukup besar. Masyarakat ini selalu terancam kepentingannya bila pemerintahan yang ada menginginkan pemraktekan kebenaran dan hukum Islam. Permintaan yang muncul dari gerakan kaum miskin muslimin yang menuntut perubahan sistem keuangan dan lajunya kehidupan ekonomi serta pengaturan campur tangan ke dalam kehidupan pribadi. Gerakan Abu Dzar menentang pemerintah karena kebusukan kebijakan moneter merupakan sebuah bukti betapa dalamnya kegusaran masyarakat miskin di tengah umat.

5. Penggunaan kekerasan untuk meredam kritik bahkan penghinaan yang dilakukan menimbulkan reaksi yang tersumbat dan pada waktunya muncul sebagai kudeta militer. Pembunuhan Usman bin Affan adalah titik geser dalam konflik yang melingkar di antara pandangan yang ada di kaum muslimin. Masyarakat menjadikan tindakan kekerasan sebagai jalan keluar dari kebuntuan yang ada selam ini. Hal ini ditambah dengan sikap keras kepala dari Bani Umayyah dan pejabat-pejabat mereka yang senantiasa menantang kebenaran dan keinginan serta tuntutan masyarakat banyak untuk munculnya sebuah perubahan dan perbaikan.

Kondisi ini sekali lagi membuka kesempatan kepada mereka yang ingin mencari untung agar dapat sampai kepada kekuasaan dengan kekerasan dan kekuatan bersenjata setelah umat Islam tercerai berai pandangan hidup mereka satu dengan yang lainnya. Setiap kelompok yang ada menginginkan kekuasaan untuknya.

6. Pembunuhan Usman bin Affan meninggalkan pekerjaan rumah yang besar. Fitnah yang setiap saat dapat memanas dan membakar siapa saja setiap saat. Fitnah yang akan dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai kepentingan dan mereka yang keluar dari baiat sebagai semboyan untuk menyulut peperangan dan pertumpahan darah menghadapi pemerintahan sah yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib lewat pemilihan oleh masyarakat Islam. Fitnah ini kemudian dikemas sedemikian rupa dan menjadi sempurna di tangan Muawiyah setelah itu. Ia memerangi Ali bin Abi Thalib dan terjadilah pertumpahan darah yang mengakibatkan banyak kaum muslimin yang mati. Tidak itu saja, dengan fitnah yang terjadi mereka memanfaatkannya untuk menyesatkan perhatian kaum muslimin kepada agama yang benar dengan budaya yang digerakkan oleh sebuah masyarakat dengan tujuan melanjutkan kekuasaan kerajaan. Luasnya wilayah pemerintahan Islam sangat membantu mereka dikarenakan itu berarti banyaknya jumlah kelompok dalam masyarakat Islam yang tidak memahami akidah Islam dengan benar dan dengan kesadaran.

7. Salah satu hasil dari kudeta yang dilakukan terhadap Usman bin Affan adalah munculnya kelompok-kelompok bersenjata di sekitar kota-kota Islam yang kemudian mengepung Madinah. Mereka menunggu pemerintahan Islam pada akhirnya akan ke mana. Kejadian-kejadian yang ada memberikan ruang kepada masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan bersenjata untuk mengubah pemerintahan yang ada. Semua ini menjadi kartu as yang memiliki kekuatan untuk menekan pemerintah yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s