Dalam konsep syi’ah PiNTU iJTiHAD selalu terbuka, jadi kitab kitab syi’ah dan pemikiran ulama syi’ah tempo dulu bisa dikritisi jika pada perkara SEKUNDER (FURU’)…

Syi’ah menakwilkan ( interpretasi secara metaforis / majazi ) semua kata kata yang bersifat  jasmani berkaitan sifat sifat Allah, semua kata kata yang bersifat jasmani ditakwilkan kepada kata kata yang bersifat  rohani

Lalu bagaimana dengan ahlul hadis sunni ???

IMAM AHMAD BIN HANBAL

Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. Dilahirkan pada tahun 164 Hijrah, di kota Baghdad, menurut pendapat yang lebih masyhur, atau di kota Marwa, menurut pendapat yang lebih lemah. Ahmad tumbuh sebagai yatim di bawah asuhan ibunya. Dia sudah mempunyai perhatian kepada ilmu ketika dia berumur lima belas tahun, yaitu pada tahun 179 Hijrah. Dia belajar ilmu hadis, setelah belajar membaca Al-Qur’an dan bahasa. Guru pertama tempat dia menimba ilmu ialah Hisyam bin Basyir as-Silmi, yang wafat pada tahun 183 Hijrah. Ahmad bin Hanbal menyertainya selama tiga tahun atau lebih. Dia telah melakukan perjalanan ke Mekkah, Kufah, Basrah, Madinah, Yaman, Syam dan Irak untuk mencari hadis. Di kota-kota tersebut dia berguru kepada sekumpulan para ulama, yang tidak perlu kita sebutkan di sini, namun yang terpenting dari mereka adalah Syafi’i; sehingga aneh sekali apabila orang-orang Hanbali mengatakan Syafi’i sebagai murid Ahmad bin Hanbal.

Ahmad bin Hanbal mempunyai murid yang banyak sekali, namun yang paling terkenal dari mereka ialah Ahmad bin Muhammad bin Hani, yang terkenal dengan panggilan al-Atsram, yang wafat pada tahun 261 Hijrah, kemudian Shalih bin Ahmad bin Hanbal, putra tertua Ahmad bin Hanbal, dan kemudian Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, yang wafat pada tahun 290 Hijrah, dia meriwayatkan hadis dari ayahnya.

Kitab-Kitab Peninggalan Ahmad

Ahmad tidak pernah menulis sebuah kitab di dalam bidang fikih yang terhitung sebagai kitab induk, yang menjadi tempat pengambilan mazhab fikihnya. Dia hanya mempunyai kitab-kitab yang terhitung sebagai kitab-kitab fikih tematik, seperti kitab al-Manasik al-Kabirah, al-Manasik ash-Shaghirah, dan Risalah Shaghirah fi ash-Shalah. Namun, kitab-kitab tersebut tidak lebih hanya merupakan kitab-kitab hadis, meski pun terhadap beberapa temanya dilakukan penjelasan dan pembahasan.[206]

Dia terkenal tidak mau menulis kitab yang memuat tafri’ (pencabangan) dan ra’yu. Pada suatu hari dia pernah berkata kepada Usman bin Sa’id, “Janganlah kamu melihat kepada isi kitab Abi ‘Ubaid, juga kepada kitab yang ditulis oleh Ishaq, Sufyan, Syafi’i dan Malik. Kamu harus berpegang kepada pokok.”

Yang paling termasyhur dari karyanya di dalam bidang hadis adalah kitab musnadnya, yang mencakup empat puluh ribu hadis, di mana sepuluh ribu hadis darinya disebut berulang. Ahmad bin Hanbal amat percaya dengan kitab musnadnya. Ketika dia ditanya tentang sebuah hadis, dia berkata, “Lihatlah, jika terdapat di dalam musnad maka itu hujjah, namun jika maka itu bukan hujjah.” Banyak dari para huffazh yang meragukannya, dan mereka tidak mempercayai semua yang ada di dalamnya; bahkan dengan lantang mereka mengatakan akan adanya riwayat-riwayat palsu. Namun di sini bukan tempatnya kita membahas masalah ini.

Malapetaka Yang Menimpa Ahmad bin Hanbal

Sesungguhnya tikungan yang paling tampak dalam sejarah kehidupan Ahmad bin Hanbal ialah malapetaka yang menimpanya disebabkan perkataannya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk. Malapetaka yang menimpa dia dimulai pada zaman Makmun yang memerintahkan manusia dengan kekerasan untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Makmun adalah seorang mutakallim yang alim. Dia mengirimkan surat edaran kepada seluruh gubernurnya, dan memerintahkan kepada mereka untuk menguji manusia akan keyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Di dalam surat edarannya itu dia mengatakan, “Sesungguhnya wajib atas khalifah kaum Muslimin untuk menjaga dan menegakkan agama, serta melaksanakan kebenaran pada rakyat. Amirul Mukminin telah mengetahui bahwa sebagian besar dari kalangan masyarakat umum, yang tidak mempunyai pandangan dan perenungan, tidak mempunyai argumentasi yang berdasarkan petunjuk dan hidayah Allah, dan tidak diterangi oleh cahaya ilmu dan argumentasi, mereka itu orang-orang yang bodoh akan Allah SWT, buta terhadap-Nya, tersesat dari hakikat agama-Nya, tauhid-Nya dan iman kepada-Nya, menyimpang dari tanda-tanda-Nya yang amat jelas, tidak mampu menghargai Allah sesuai dengan kadar-Nya, dan tidak mampu mengetahui hakikat pengenalan-Nya; disebabkan karena lemahnya pandangan-pandangan mereka, kurangnya akal mereka, dan kelalaian mereka dari bertafakkur dan mengambil pelajaran. Oleh karena itu, mereka menyamakan antara Allah dengan apa yang telah diturunkan-Nya, yaitu Al-Qur’an. Lalu mereka sepakat menerapkan bahwa Al-Qur’an itu qadim dan azali, serta tidak diciptakan oleh Allah SWT..”[207]

Dari sinilah dimulai malapetaka “makhluknya Al-Qur’an”. Ibnu Hanbal tidak masuk ke dalam perangkap ujian kecuali pada masa Mu’tashim, disebabkan Makmun meninggal dunia sebelum sempat mengujinya. Mu’tashim sangat keras di dalam menguji orang. Ketika datang giliran Ahmad bin Hanbal, Mu’tashim bersumpah tidak akan membunuhnya dengan pedang, melainkan dia akan memukulinya dengan pukulan demi pukulan, dan kemudian melemparkannya ke dalam ruangan yang gelap gulita yang tidak ada cahaya sama sekali. Ahmad bin Hanbal menjalani ujian selama tiga hari. Setiap hari dia didatangi untuk diajak dialog. Hampir saja dia tunduk kepada pandangan penguasa, namun dengan segera dia berpegang kepada keyakinannya dan menolak pandangan penguasa. Ketika Mu’tashim telah merasa putus asa darinya, maka dia pun memerintahkan supaya Ahmad bin Hanbal dipukul dengan cambuk. Ahmad bin Hanbal dipukul sebanyak 38 cambukkan. Namun, siksaan yang ditimpakan kepada Ahmad bin Hanbal tidak terus berlanjut, bahkan Mu’tashim melepaskannya. Hal ini menimbulkan keheranan. Apakah kejadian ini cukup untuk menjadikan Ahmad sebagai pahlawan sejarah, padahal sejarah telah menyaksikan orang-orang yang mengalami penyiksaan yang lebih kejam dari Ahmad dan mereka sabar?! Kemudian, kenapa siksaan yang ditimpakan kepadanya tidak berlanjut?! Apakah dia telah tunduk kepada perkataan sultan?!

Sebagian dari mereka menyebutkan, bahwa masyarakat umum telah berkumpul mengepung rumah sultan, dan mereka telah bertekad untuk menyerangnya, maka akhirnya Mu’atshim memerintahkan untuk melepaskannya. Perkataan ini tidak sesuai dengan kenyataan. Karena sejarah mencatat Mu’tashim sebagai orang yang kuat dan memiliki kemauan yang keras, di samping besarnya daerah kekuasaan yang dimilikinya, sehingga penolakan masyarakat umum tidak akan berpengaruh kepadanya. Lantas, masyarakat umum yang mana? Apakah mereka itu pengikut Ahmad?! Padahal Ahmad belum dikenal sebelum peristiwa malapetaka itu, sehingga dia mempunyai masyarakat umum. Jika memang mereka itu pengikut Ahmad, Ahmad telah melarang mereka untuk memberontak kepada sultan..! Sehingga dengan demikian, alasan yang dikemukakan di atas tidak memuaskan.

Tampak jelas bahwa yang menjadi sebab kenapa Ahmad dibebaskan adalah karena Ahmad memenuhi keinginan khalifah dan mengatakan apa yang dikatakannya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh al-Jahidz di dalam suratnya yang ditujukan kepada Ahlul Hadis, setelah dia menyebutkan malapetaka dan ujian,

“Sahabat kalian ini —yaitu Ahmad bin Hanbal— mengatakan bahwa tidak ada taqiyyah kecuali di negara syirik. Jika pengakuannya yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk hanyalah merupakan upaya tagiyyah darinya, maka berarti dia telah melakukan taqiyyah di negeri Islam, dan ini berarti dia telah membohongi dirinya. Dan jika pengakuannya itu disertai dengan keyakinan akan kebenaran apa yang diakuinya itu, maka berarti dia bukan lagi dari kamu dan kamu juga bukan lagi dari dia. Padahal dia tidak melihat pedang yang terhunus, dan tidak mendapat pukulan yang banyak. Dia hanya dipukul sebanyak tiga puluh cambukan, sehingga dengan lancar dia mengatakan apa yang diminta oleh sultan. Padahal dia tidak ditempatkan di ruang-an yang sempit, dan tidak diberati dengan besi.”[208]

Juga turut memperkuat apa yang dikatakan oleh al-Jahidz tentang pengakuan Ahmad bin Hanbal bahwa Al-Qur’an itu makhluk, apa yang disebutkan oleh Ya’qubi di dalam kitab tarikhnya. Ya’qubi berkata, “Mu’tashim menguji Ahmad bin Hanbal di dalam masalah kemakhlukan Al-Qur’an. Ahmad berkata, ‘Saya adalah seorang laki-laki yang mengetahui suatu ilmu, namun tidak mengatakan demikian dalam masalah ini.’ Maka Mu’tashim pun menghadirkan beberapa orang fukaha untuknya, maka Abdurrahman bin Ishaq dan yang lainnya pun berdialog dengannya. Ahmad bin Hanbal tetap tidak mau mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, sehingga akhirnya dia dipukul dengan beberapa kali cambukan. Ibnu Ishaq berkata, ‘Biar saya, ya Amirul Mukminin, yang berdialog dengannya.’ Mu’tashim berkata, ‘Aku serahkan urusan dia kepadamu.’ Maka Ibnu Ishaq berkata, ‘llmu yang kamu ketahui ini, apakah diturunkan oleh malaikat kepadamu atau kamu mengetahuinya dari beberapa orang?!’

Ahmad menjawab, ‘Tentu, saya mengetahuinya dari beberapa orang.’

Ibnu Ishaq bertanya lagi, ‘Apakah kamu ketahui sedikit demi sedikit atau secara sekaligus?’

Ahmad bin Hanbal menjawab, ‘Saya mengetahuinya sedikit demi sedikit.’

Ibnu Ishaq bertanya, ‘Maka berarti masih ada sesuatu yang tidak kamu ketahui.’

Ahmad bin Hanbal menjawab, ‘Masih ada sesuatu yang saya tidak ketahui.’”

Ibnu Ishaq berkata, “Dan ini termasuk salah satu perkara yang tidak kamu ketahui; yang Amirul Mukminin ajarkan kepadamu.”

Ahmad bin Hanbal menjawab, “Saya akan mengatakan apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin.”

Ibnu Ishaq berkata, “Berkenaan dengan kemakhlukan Al-Qur’an?”

Ahmad menjawab, “Ya, berkenaan dengan kemakhlukan Al-Qur’an.”

Lalu Ahmad bin Hanbal pun memberikan kesaksian tentang kemakhlukan Al-Qur’an, dan Oleh karena itu, mereka membebaskannya kembali ke rumahnya.[209]

Pahlawan-Pahlawan sunni

1. Ahmad bin Nashr al-Khaza’i, yang terbunuh pada tahun 231 Hijrah. Dia adalah salah seorang murid Malik bin Anas. Ibnu Mu’in dan Muhammad bin Yusuf menceritakan bahwa dia termasuk salah seorang ahli ilmu. Al-Watsiq telah mengujinya dengan pertanyaan, apa pendapatmu tentang Al-Qur’an?

Ahmad bin Nashr al-Khaza’i berkata, “Kalam Allah, dan bukan makhluk.”

Maka al-Watsiq pun memaksanya untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, namun Ahmad bin Nashr al-Khaza’i tetap menolaknya. Kemudian al-Watsiq bertanya lagi kepadanya tentang melihat Allah pada hari kiamat. Ahmad bin Nashr menjawab, “Ya, Allah SWT dapat dilihat pada hari kiamat.” Lalu dia mengutip hadis-hadis yang berbicara tentang hal itu.

Al-Watsiq berkata, “Celaka kamu. Apakah Dia dapat dilihat sebagaimana dapat dilihatnya jisim yang terbatas dan menempati ruang. Sungguh, Anda telah kafir dengan mengatakan Tuhan yang memiliki sifat-sifat ini.”

Manakala Ahmad bin Nashr al-Khaza’I tetap bersikeras dengan pandangannya, maka Khalifah pun mendatangkan sebilah pedang yang dijuluki shamshamah (pedang sekali tebas, karena sangat tajamnya). Khalifah berkata, “Saya akan membuat perhitungan dengan orang kafir ini, yang tidak menyembah Tuhan yang kita sembah, dan mensifati-Nya dengan sifat yang tidak kita akui. Kemudian Khalifah berjalan menghampirinya, dan lalu memenggal lehernya. Selanjutnya Khalifah memerintahkan supaya kepala Ahmad bin Nashr dibawa ke kota Baghdad. Di sana, kepala Ahmad bin Nashr ditancapkan di sebelah timur kota selama berhari-hari, dan kemudian di sebelah barat kota beberapa hari. Ketika tubuh Ahmad bin Nashr disalib, al-Watsiq menulis di atas secarik kertas, dan kemudian menggantungnya pada kepala Ahmad bin Nashr. Bunyi tulisan itu sebagai berikut, “Ini adalah kepala Ahmad bin Nashr bin Malik. Abdullah al-Imam Harun —yaitu al-Watsiq— telah menyerunya kepada keyakinan kemakhlukan Al-Qur’an dan penafian tasybih, namun dia bersikeras menolaknya, maka Allah SWT pun mensegerakan dia ke dalam neraka.”[210]

2. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa dia adalah salah seorang murid Imam Syafi’i, dan merupakan penggantinya yang meneruskan majlis pelajarannya. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi dibawa dari Mesir ke Baghdad dalam keadaan tubuhnya diberati dengan empat puluh potongan besi. Dia diminta untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, namun dia menolaknya. Dia tetap bersikeras menolak bahwa Al-Qur’an itu makhluk sehingga dia meninggal dunia di dalam penjara pada tahun 232 Hijrah.

Dan banyak lagi pahlwan-pahlawan lain, yang tidak mungkin dapat disebutkan di sini secara satu persatu, yang mana mereka lebih teguh dan lebih keras di dalam memegang keyakinannya dibandingkan Ahmad bin Hanbal. Sungguh merupakan kezaliman manakala disebutkan bahwa hanya Ahmad bin Hanbal saja yang mendapat ujian, dan itu dihitung sebagai kepahlawanannya yang terbesar. Padahal -sebagaimana Anda ketahui- Ahmad bin Hanbal sama sekali tidak demikian.

Dia justru tunduk dan mau menerima apa yang dikatakan oleh Mu’tashim.

Ahmad Pada Masa Mutawakkil

Ketika Mutawakkil menduduki puncak kekuasaan, dia mendekati kelompok Ahlul Hadis dan mengintimidasi kelompok Mu’tazilah. Persis kebalikan pada masa Ma’mun, Mu’tashim dan al-Watsiq. Mutawakkil menguji masyarakat tentang kemakhlukan Al-Qur’an. Siapa saja yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk, maka dia akan disiksa dan dibunuh. Maka kelompok Ahlul Hadis pun menemukan sasaran mereka, dan gaung mereka pun menjadi besar. Mereka menempati kedudukan yang tinggi, dan menuntut balas dendam dari kalangan Mu’tazilah dengan sekejam-kejamnya.

Ahmad Amin berkata, “Khalifah Mutawakkil ingin merangkul pendapat umum dan mendapatkan dukungan mereka. Oleh karena itu, dia pun membatalkan perkataannya tentang kemakhlukan Al-Qur’an, membatalkan ujian dan pengadilan, dan menolong para ahli hadis.”[211]

Merupakan keuntungan terbesar bagi Ahmad bin Hanbal manakala dia dekat dengan Mutawakkil. Karena dia adalah orang yang masih tersisa dari malapetka “kemakhlukan Al-Qur’an”, setelah pahlawan-pahlawannya dibunuh. Mutawakkil berpesan kepada para gubernurnya untuk menghormati dan menghargai Ahmad bin Hanbal. Dia juga bersimpati kepadanya dan memberikan empat ribu dirham kepadanya setiap bulan.[212] Maka bersinarlah bintang Ahmad, dan masyarakatpun berbondong-bondong mendatangi pintu rumahnya, begitu juga dengan para pejabat pemerintah. Sebagai gantinya Ahmad mengakui keabsahan kekhilafahan dan kepemimpinan Mutawakkil serta mewajibkan ketaatan kepadanya. Pemerintah sangat mendukung Ahmad dan menguatkan posisinya. Ini tidaklah heran karena Ahmad berpendapat seseorang wajib taat kepada pemimpin, baik itu pemimpin yang baik maupun pemimpin yang jahat.

Ahmad berkata di dalam salah satu risalahnya, “Wajib hukumnya mendengar dan taat kepada para pemimpin dan Amirul Mukminin, baik yang baik maupun yang jahat. Baik yang menduduki kekhilafahan karena kesepakatan manusia dan keridaan mereka kepadanya maupun orang yang mendudukinya melalui ketazaman pedang dan kemudian disebut sebagai Amirul Mukminin. Tidak boleh seorang pun menjelek-jelekan mereka atau menentangnya. Begitu juga sah hukum-nya membayar zakat kepada mereka, baik pemimpin yang baik maupun pemimpin yang jahat. Demikian juga sah hukumnya salat di belakang mereka. Barangsiapa yang mengulangi salatnya maka dia itu pembuat bid’ah dan penentang sunah.

Barangsiapa yang memberontak kepada seoarang pemimpin dari para pemimpin kaum Muslimin, sementara manusia telah sepakat atasnya dan telah mengakui kekhilafahannya, baik karena rida maupun karena terpaksa, maka orang yang memberontak kepadanya berarti telah mematahkan tongkat kaum Muslimin dan telah menentang peninggalan Rasulullah saw. Jika orang yang memberontak itu mati maka dia mati sebagai matinya orang jahiliyyah.”[213]

Abu Zuhrah mengatakan di dalam kitab yang sama, halaman 321, “Ahmad mempunyai pandangan yang sama dengan seluruh para fukaha tentang sahnya kepemimpinan orang yang menguasai kepemimpinan dan kemudian manusia meridainya serta memberlakukan hukum yang sesuai di antara mereka. Bahkan, Ahmad berpendapat lebih jauh dari itu. Dia mengatakan bahwa barangsiapa yang menguasai kepemimpinan, meskipun dia seorang yang suka berbuat maksiat, maka wajib taat kepadanya, supaya tidak timbul fitnah.”

Oleh karena itu, kita mendapati para pengikutnya dari kalangan salafi dan Wahabi, mereka menetapkan Husain bin Ali as sebagai seorang yang durhaka dan wajib dibunuh oleh Yazid, dikarenakan dia telah memberontak kepada pemimpin zamannya. Saya telah mende-ngar sendiri dengan telinga saya bagaimana salah seorang dari mereka mendebat saya dan membela Yazid dengan keras. Dia berkata, “Husain telah memberontak kepada pemimpin zamannya, maka Oleh karena itu, dia wajib dibunuh.” Lihatlah, betapa orang ini telah bertaklid secara buta kepada orang-orang sebelumnya. Apa nilai Ahmad bin Hanbal dihadapan Husain bin Ali as, sehingga saya harus mengatakan apa yang dikatakannya, melakukan apa yang difatwakannya, dan menuduh Husain bin Ali telah berbuat zalim dan durhaka?!

Jika kita melepaskan diri kita dari taklid buta yang semacam ini, lalu kemudian kita merenungi ayat-ayat Al-Qur’an, niscaya yang demikian akan lebih baik dan lebih dekat kepada kebenaran. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. al-Kahfi: 28)

Allah SWT juga berfirman, “Makajanganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).” (QS. al-Qalam: 8)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman, “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas.” (QS. asy-Syu’ara: 151)

Namun mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, dan berhujjah dengan riwayat-riwayat yang dibuat oleh para penguasa Bani Umayyah, supaya manusia tunduk kepada kekuasaan mereka. Ahlul Bait telah menolak hadis-hadis ini dengan hadis-hadis yang benar dan sejalan dengan Al-Qur’an serta selaras dengan ruh Islam.

Imam Ja’far ash-Shadiq as berkata, “Barangsiapa yang suka kelangsungan hidup orang-orang yang zalim maka berarti dia suka Allah didurhakai.” Di samping perkataan ini merupakan hadis, dia juga merupakan dalil akal yang kokoh. Karena hadis ini melihat bahwa barangsiapa yang tunduk dan taat kepada orang yang zalim serta tidak melakukan penentangan terhadapnya maka berarti dia suka tetap berlangsungnya kedurhakaan kepada Allah. Allah SWT berfirman,

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah: 44)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Maidah: 45)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasih. ” (QS. al-Maidah: 47)

Di samping ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang memerintahkan kepada amar makruf dan nahi munkar. Oleh karena itu, tatkala Husain bin Ali as hendak melakukan perlawanan terhadap thagut pada zamannya dia berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang melihat seorang penguasa zalim yang menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, melanggar perjanjian Allah, menentang sunah Rasulullah, dan berbuat dosa dan permusuhan terhadap hamba-hamba Allah, lalu dia tidak berusaha untuk merubahnya dengan perkataan dan perbuatan, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke dalam tempat masuk penguasa zalim tersebut. Ingatlah, sesungguhnya mereka itu telah mendawamkan ketaatan kepada setan, meninggalkan ketaatan kepada Tuhan, menimbulkan kerusakan, membekukan hukum, memonopoli pampasan perang, serta menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, padahal aku lebih berhak dari selainku.”[214]

Namun, apa yang harus kita katakan kepada orang yang telah meninggalkan para Imam Ahlul Bait dan menggantinya dengan para imam buatan yang tidak Allah SWT perintahkan kepada kita untuk mentaatinya. Allah SWt berfirman,

“Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.’” (al-Ahzab: 67 – 68)

Sungguh besar kejahatan terhadap umat Islam yang telah dilakukan oleh para penguasa Bani Umayyah, dengan membuat hadis-hadis palsu ini. Begitu juga, betapa besar dosa dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal ini. Betapa fatwa ini telah mengecewakan generasi revolusioner Islam yang menolak kezaliman dan kediktatoran pada abad yang digambarkan sebagai abad kebangkitan dan pencerahan ini. Jika di sana terdapat kejahatan yang telah dilakukan oleh sekelompok pemuda yang bergabung di bawah bendera ajaran komunis, maka kejahatan terbesar justru dilakukan oleh para ulama jahat.

Masalah inilah yang telah menjadi penyebab perselisihan kaum Muslimin dan terkotak-kotaknya mereka ke dalam berbagai mazhab.

Kelompok Ahlul Hadis sunni, mereka kaku di dalam memahami zhahir nas. Sementara kelompok Mu’tazilah, mereka bersandar kepada takwil. Adapun kelompok Asy’ariyyah, mereka berusaha menggabungkan antara ta’wil dan sikap kaku di dalam menyikapi nas. Sementara kalangan filosof, mereka membangun jalan yang bertentangan dengan jalan Allah bagi diri mereka, dan mengklaim bahwa mereka telah sampai kepada hakikat.

Oleh karena pembicaraan kita sekarang berkenaan dengan kelompok Hanbali, kita perlu kemukakan, bahwa pengingkaran mereka terhadap akal tidak ada dasarnya. Orang yang membaca kitab-kitab Hanbali, niscaya akan menemukan keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan, atau keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan akal dan fitrah manusia. Mereka mempercayai riwayat-riwayat yang menetapkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) dan tajsim (penjisiman Allah) bagi Allah SWT. Anda dapat melihat keyakinan-keyakinan mereka tidak banyak berbeda dengan keyakinan-keyakinan Yahudi, Nasrani dan Majusi. Oleh karena itu, muncullah di tengah-tengah mereka mazhab-mazhab yang mengakui paham tajsim, tasybih, ru’yah (Allah dapat dilihat dengan mata), jabr (manusia terpaksa di dalam perbuatannya), dan keyakinan-keyakinan lain yang berasal dari keyakinan-keyakinan Ahlul Kitab.

Ini semua disebabkan perlakuan mereka yang sewenang-wenang terhadap hadis. Mereka tidak membahas hadis dengan teliti dari segi arti dan maksudnya, dan juga tidak memperhatikan sanad-sanadnya, serta tidak membandingkannya dengan Al-Qur’an dan akal, melainkan mereka mempercayainya secara bulat-bulat.

“Taklid mereka sampai tingkat sedemikian rupa sehingga mereka mengambil makna zahir dari semua hadis mawguf, marfu’ dan mawdhu’ yang diriwayatkan oleh para perawi. Meski pun hadis-hadis itu aneh, janggal dan berasal dari riwayat-riwayat Israiliyyat, seperti yang di-riwayatkan oleh Ka’ab, Wahab dan lainnya, atau bertentangan dengan hal-hal yang sudah pasti (gath’iyyat), yang terhitung sebagai nas-nas agama, pemahaman inderawi, dan perkara-perkara yang sangat jelas menurut akal (yaqiniyyat). Dan mereka mengkafirkan orang-orang yang mengingkarinya, dan memfasikkan orang-orang yang menyalahinya….”[357]

Jika kita memperlakukan hadis dengan cara yang seperti ini, tentu tidaklah mustahil akidah Islam akan menjadi tawanan beribu-ribu hadis mawdhu’ (palsu) dan hadis-hadis Israiliyyah, yang disisipkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam akidah Islam.

Klaim kelompok Hanbali yang mengatakan bahawa mereka berpegang kepada al-Kitab dan Sunah, serta tuduhan sesat dan kafir yang mereka lontarkan kepada kelompok di luar mereka, adalah sebuah klaim yang kosong yang tidak mempunyai dalil. Seluruh kelompok mengakui kehujjahan sunnah dan beramal dengannya, akan tetapi kelompok Hanbali, mereka meyakini seluruh yang diriwayatkan sebagai sesuatu yang berasal dari Rasulallah saw, dengan tanpa melakukan pengecekan, dengan tanpa melakukan usaha untuk memahami dan mengerti akan maksud dan artinya. Zamakhsyari berkata tentang kelompok Hanbali di dalam syairnya,

“Jika kamu bertanya tentang Ahlul Hadis

niscaya mereka menjawab, kambing jantan yang tidak memahami dan mengetahui.”

Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah dia untuk menempati tempatnya di neraka.” Di dalam hadis ini, dengan jelas Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa musuh-musuh agama akan menisbahkan segala sesuatu yang mendiskreditkan dirinya dan menyelewengkan akidahnya kepada dirinya. Oleh karena itu, mau tidak mau kajian ilmu hadis harus tunduk kepada metoda-metoda ilmiah dan mantiqiyyah, dan bukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok Hanbali, yang mengimani seluruh yang mereka temukan di dalam kitab-kitab hadis, baik yang logis maupun yang tidak logis, baik yang sejalan dengan Al-Qura’an maupun yang tidak sejalan.

Ahmad bin Hanbal berkata di dalam risalahnya, “Kami meriwayatkan hadis sebagaimana dia diriwayatkan, dan kami membenarkannya serta meyakini bahwa dia sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw.”[358]

Seseorang berkata, “Ali bin Isa telah memberitahukan aku bahwa seorang Hanbali telah berkata, ‘Saya bertanya kepada Abu Abdillah tentang hadis-hadis yang mengatakan bahwa Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam, Allah dapat dilihat, Allah meletakkan kaki-Nya, dan hadis-hadis lain yang seperti itu. Abu Abdillah menjawab, ‘Kami meyakininya dan membenarkannya, serta tidak memberinya bentuk dan arti. Artinya, kami tidak menyimpangkannya dengan takwil, lalu kami mengatakan maknanya demikian. Kami tidak menolak sedikit pun darinya.’”[359]

Inilah jalan mereka di dalam memperlakukan hadis. Mereka tidak menolak sedikit pun darinya, dan membenarkan segala sesuatu yang disebutkannya. Adapun alasan yang mereka ajukan atas apa yang mereka lakukan itu amatlah lucu. Membenarkan hadis-hadis yang seperti ini adalah sama dengan membenarkan paham tajsim dan tasybih. Sebagian dari mereka telah bertindak ekstrim, yaitu dari kelompok Hasyawiyyah, di mana mereka menetapkan perbuatan fisik bagi Allah SWT.

Syahrestani berkata, “Adapun penyerupaan yang dilakukan oleh kelompok Hasyawiyyah telah sampai kepada batas di mana mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka dapat disentuh dan diajak berjabat tangan, dan bahwa kaum Muslimin yang mukhlis akan dapat memeluk-Nya di dunia dan di akhirat, ketika mereka telah sampai ke tingkatan ikhlas di dalam riyadhah (latihan spiritual) dan ijtihad.”[360]

Contoh-Contoh Hadis Tajsim

Berikut ini beberapa contoh dari riwayat-riwayat tajsim, yang kami pilih dari kitab as-Sunnah, yang telah diriwayatkan oleh Abdullah dari ayahnya Ahmad bin Hanbal, dan juga dari kitab at-Tauhid, karya Ibnu Khuzaimah.

1. Abdullah bin Ahmad meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Dia berkata, “Rasulullah saw telah bersabda, Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata, ‘Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Ya.’ Saya berkata, ‘Kita tidak kehilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan.”‘[361]

2. Abdullah berkata, “Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa’id bin Jubair yang berkata, ‘Sesungguhnya mereka berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?’ Saya berkata kepada Sa’id bin Jubair, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan tangan-Nya, sehingga para penduduk langit dapat mendengar suara gerak pena-Nya.”[362]

3. Abdullah berkata, “Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi ‘Ithaq yang berkata, ‘Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan tangan-Nya, dalam keadaan menyandarkan punggungnya ke batu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar bunyi suara pena Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali sebuah tirai.’”[363]

Apakah Anda dapat memahami sesuatu selain tajsim dan tasybih dari riwayat-riwayat ini? Sungguh dusta orang yang mempercayai hadis-hadis ini namun mengatakan bahwa dirinya tidak membayangkan Tuhannya. Tidak, mereka pasti membayangkannya.

Telah berlangsung sebuah diskusi di antara saudara saya dengan salah seorang tokoh Wahabi, yang merupakan kepanjangandari keyakinan Hanbali. Diskusi mereka mengenai seputar sifat-sifat Allah. Saudara saya mensucikan Allah dari sifat-sifat yang seperti ini, dan dengan berbagai jalan berusaha membuktikan keburukan keyakinan-keyakinan tersebut. Namun, semuanya itu tidak mendatangkan manfaat, hingga akhimya saudara saya mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya,

“Jika memang SWT mempunyai sifat-sifat ini, yaitu Dia mempunyai wajah, mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dan sifat-sifat lainnya yang mereka alamatkan kepada Tuhan mereka, apakah tidak mungkin kemudian seorang manusia membayangkan dan mengkhayalkann-Nya? Dan dia pasti akan membayangkan-Nya. Karena jiwa manusia tercipta sedemikian rupa, sehingga dia akan membayangkan sesuatu yang telah diberi sifat-sifat yang seperti ini.” Jawaban yang diberikan oleh tokoh Wahabi tersebut benar-benar menjelaskan keyakinannya tentang tajsim. Dia berkata, “Ya, seseorang dapat membayangkan-Nya, namun dia tidak diperkenankan memberitahukannya..!!”

……………………………………..

Dalam konsep syi’ah PiNTU iJTiHAD selalu terbuka, jadi kitab kitab syi’ah dan pemikiran ulama syi’ah tempo dulu  bisa dikritisi jika pada perkara SEKUNDER (FURU’)…


Syi’ah meyakini bahwa pintu ijtihad terbuka lebar untuk semua persoalan agama. Para fuqaha yang kompeten dapat melakukan istinbath atau yurisprudensi hukum dari empat sumber hukum di atas dan menyajikannya kepada pihak yang belum memiliki kemampuan istinbath, meskipun pandangan mereka mungkin berbeda dengan pandangan fuqaha sebelumnya.
Syi’ah juga meyakini bahwa seseorang yang belum mencapai otoritas istinbath hukum hendaknya merujuk atau bertaqlid kepada para fuqaha hidup yang menguasai persoalan zaman dan masyarakat. Bagi Syi’ah, persoalan merujuk kepada para ahli oleh orang-orang awam dalam masalah fiqih atau taqlid merupakan persoalan yang amat jelas dan disadari oleh semua orang awam.Akan tetapi taqlid harus dilakukan terhadap orang yang masih hidup, tidak boleh kepada orang yang telah meninggal dunia, kecuali jika sebelumnya memang ia telah bertaqlid kepadanya. Hal ini supaya fiqih terus berkembang di diriainis. Maka para fuqaha yang dijadikan tempat rujukan oleh orang-orang awam disebut marja’ taqlid, atau tempat rujukan dalam taqlid.

Mengapa Abu Hasan Asy’asri  Sunni Keluar dari Mu’tazilah?

Pada permulaan abad keempat hijriyah di kota Basrah, Abul Hasan Al-Asy’ari bangkit mempertahankan akidah Ahlu Hadis. Ia menolak keyakinan mazhab Mu’tazilah. Dan aliran mazhabnya meluas serta menjadi populer di kalangan Ahlu Sunnah.

1. Kepribadian dan karya ilmiah Abul Hasan Al-Asy’ari

Abul Hasan Ali bin Ismail Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260H (permulaan Ghaibah Sugra’). Ia wafat di Bagdad pada tahun 324 atau 330H. Ayahnya, Ismail bin Ishak yang terkenal dengan sebutan Abi Basyar, merupakan pengikut Ahlu Hadis. Oleh karenanya, Asy’ari sejak kecil terdidik dengan akidah Ahlu Hadis. Saat menginjak remaja, ia cenderung menganut aliran Mu’tazilah. Ia menganut aliran ini sampai berumur empat puluh tahun. Namun setelah itu, ia kembali bangkit untuk mempertahankan akidah Ahlu Hadis. Asypi mengenai Asy’ari berkata: “Asy’ari saat kanak-kanak adalah seorang yang saleh dan alim. Dan ketika menjelang remaja, ia menjadi pengikut Mu’tazilah. Kehidupannya mewujudkan cerminan kesempurnaan seorang insan yang mudah dilukiskan dengan kata-kata.[1]

Pengikut Asy’ari terlalu membesar-besarkan dalam memuji kezuhudan dan ibadahnya. Bahkan mereka menukil cerita-cerita buatan tentangnya.[2] Dari hasil karyanya dapat kita simpulkan bahwa Asy’ari adalah seorang pemikir yang cemerlang, berbakat dan peneliti ulung. Ia juga seorang yang jenius. Ia berusaha dengan sangat sungguh-sungguh dalam menyelesaikan perbedaan pendapat antara Mu’tazilah yang rasionalis dan Ahlu Hadis yang mementingkan teks lahiriah (dhohir nash). Henry Curbon, seorang ilmuwan Perancis, mengenai hal ini berkata: “Kalaupun usaha Asy’ari bisa dianggap usaha yang cukup berhasil, tetapi dikarenakan kurangnya kemampuan dalam menyelesaikan masalah metafisik, tetap saja usahanya dianggap mengalami kegagalan. Ia telah berusaha keras menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai Al-Qur’an dari sisi huduts (baru/makhluk) dan qadim (dahulu/azali).[3]

Asy’ari adalah seorang ahli pidato dan ahli debat. Kedua keahlian tersebut mempunyai peranan dalam keberhasilan dan ketenarannya. Pertama, debatnya yang paling terkenal dengan Abu Ali Jubba’i. Dan yang kedua, pidato-pidatonya setiap hari Jumat di masjid Jami’ Basrah. Di samping itu, ia adalah seorang penulis andal. Ia juga menyebarkan akidah dan pendapatnya. Ibnu Asakir menyebutkan bahwa ada 98 judul buku yang ditulis oleh Asy’ari sampai tahun 320H. Di antara karyanya tersebut, ada empat buku yang terkenal. Adapun judul empat buku tersebut adalah:

1. Maqalat Islamiyin, merupakan hasil karya tulisnya yang paling terkenal. Buku ini tergolong buku rujukan dalam ilmu Milal wa Nihal (studi agama dan mazhab)Berbeda dengan pendapat yang terdapat di buku Tarikh Falsafah dar Jahan e Islami[4]buku Maqalat Islamiyin ini bukanlah hasil karya pertama dalam bidang ilmu tersebut. Hal ini dikarenakan sebelumnya telah ada yang menulis buku semacam itu. Mereka adalah Sa’ad bin Abdullah Asy’ari (wafat 301H) dengan bukunya yang berjudul Al-Maqalat wa Al-Firaq dan Nubakhti dengan bukunya yang berjudul Al-Ara wa Diyanat.

2. Istihsan Al-Khaudh fi Ilmi Al-Kalam. Dari judulnya tak dapat disangkal lagi bahwa buku ini ditulis untuk menolak ajaran aliran yang menganut zahir nas saja. Argumen-argumen teologinya dianggap bid’ah dan haram. Buku ini berulang kali dicetak secara terpisah dari Al-Luma’. Terkadang juga dicetak bersamaan dengan Al-Luma’.

3. Al-Luma’ fi Al-Radi ala Ahli Al-Zig wa Al-Bada’.

4. Al-Ibanah ‘an Ushuli Al-Diyanah. Kedua buku tersebut mempunyai perbedaan. Adapun perbedaan yang terpenting adalah: pertama, dalam buku Al-Luma’ menggunakan metode argumen aqli (rasional). Tetapi dalam buku Al-Ibanah menggunakan metode argumen naqli (riwayat). Perbedaan kedua, Al-Ibanah ditulis berdasarkan akidah dan pendapat Hanbali dan Ahlu Hadis, bahkan membelanya. Tetapi Al-Luma’ ditulis untuk membuktikan akidah Asy’ari itu sendiri, tanpa memberikan simpatik pada pendapat dan akidahnya Ahlu Hadis.

2. Penyebab Keluarnya Asy’ari dari mazhab Mu’tazilah

Ada banyak pendapat mengenai alasan kenapa Asy’ari keluar dari mazhab Mu’tazilah. Salah satunya adalah pendapat Syahrestani yang mengatakan bahwa hal itu dikarenakan debat Asy’ari dengan gurunya Abu Ali Jubba’i. Adapun alasan lainnya, dikarenakan ketidakmampuan gurunya dalam menjawab kritikan-kritikannya. Seperti dikatakan bahwa: “Mu’tazilah dan Salafi di sepanjang masa selalu berbeda pendapat mengenai sifat Allah. Salafi yang terkenal dengan Sifatiyah-nya, tidak menggunakan metode kalam (teologi) dalam menolak pendapat Mu’tazilah. Mereka cukup dengan meyakini dari perkataannya saja dan berpegang dengan zahir Al-Qur’an dan riwayat. Sampai terjadilah perdebatan antara Abul Hasan Al-Asy’ari dengan gurunya Abu Ali Jubba’i tentang masalah husn wa qubh (kebaikan dan keburukan). Asy’ari meyakinkan pendapatnya di hadapan sang guru. Dan pada akhirnya, Asy’ari memisahkan diri darinya. Ia menggunakan metode salaf dan juga metode kalam untuk mempertahankan akidahnya.”[5]

Henry Curbon berpendapat bahwa ada dua penyebab perubahan arah pandang Asy’ari ini, yaitu:

1. Cara berpikir Mu’tazilah yang berlandaskan akal murni ini berujung kepada ketidakbermaknaan agama. Hal ini dikarenakan, akal tanpa batasan apapun menjadi pengganti iman. Di saat akal lebih luas cakupannya dari musalamat din (hal-hal yang sudah sangat jelas dan disepakati oleh semua mazhab dan agama), lalu apa faidahnya iman kepada Tuhan dan sesuatu yang turun dari-Nya?

2. Menurut pandangan Al-Qur’an, iman kepada gaib termasuk prinsip penting agama itu sendiri. Iman kepada gaib lebih luas cakupannya dari pada argumen-argumen akal. Oleh karenanya, kepercayaan ini tidak sesuai dengan akal sebagai argumen mutlak dalam wewenang agama terkait prinsip iman kepada gaib. Tetapi dalam mazhab Asy’ari, di samping cakupan argumen yang harus digunakan untuk akidah dokmatis serta usuluddin, argumen akal juga mempunyai kedudukan penting. Berbeda dengan aliran penganut zahir nas, mereka tidak menganggap bid’ah maupun ateis dalam penggunaan dalil akal, meskipun akal tidak dikenal sebagai hujah mutlak bila dihadapkan pada iman serta musalamat din.[6]

Tetapi tidak satupun dari dua cara berpikir Mu’tazilah tersebut yang benar. Karena mereka mengedepankan akal daripada penampakan maupun fenomena agama, bukannya musalamat din. Mereka juga menganggap bahwa akal sebagai hujjah lazim (bukti yang penting), bukannya hujjah kofi (bukti yang cukup). Yang paling utama dari mazhab Mu’tazilah ini adalah ashlu husn wa qubh akli (Prinsip kebaikan dan keburukan secara akal). Pernyataan mereka dalam masalah ini adalah ijabe juz’i (penegasan secara parsial), bukannya ijabe kuli (penegasan secara umum).

Berkaitan dengan penyebab kedua di atas, Curbon masih rancu membedakan antara prinsip iman kepada gaib dan pengetahuan hakiki. Sesuatu yang harus diimani adalah waqiiyat gaib (realitas alam gaib). Sebagian dari realitas, dapat dibuktikan melalui akal secara murni. Namun sebagian lagi dibuktikan melalui syari’ah, dan ini lebih luas cakupannya daripada akal. Pengetahuan hakiki adalah gaib. Oleh karenanya, kemampuan akal biasa untuk memahami pengetahuan tauhid yang tinggi tersebut adalah terbatas. Untuk itu, masih dibutuhkan wahyu sebagai “akal unggul” atau “akal superior” untuk dapat memahaminya.

Oleh sebab itu, keyakinan bahwa akal mampu secara independen untuk memahami lautan pengetahuan, meskipun dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya, tidak berarti kontradiksi dengan kebutuhan kita akan hidayah wahyu. Tidak mudahnya menangkap realita yang sudah sangat jelas ini membuat takjub para peneliti yang berpikir realistis, seperti Curbon.

3. Alasan lain yang sempat diperbincangkan mengenai masalah ini, adalah Asy’ari bangkit untuk memperbaiki akidah Ahlu Hadis dan menolak pendapat Mu’tazilah yang pada waktu itu menjadi pola pikir mayoritas kaum Muslim. Akidah Mu’tazilah telah menyebar dalam pola pikir masyarakat Muslim pada zaman itu. Di samping itu, akidah ini juga sudah bercampur dengan pemikiran sesat dan kesyirikan, seperti keyakinan tajsim (akidah yang meyakini Tuhan itu seperti benda/materi), penyamaan Allah dengan sesuatu dan faham Jabariyah (determinisme). Menurut Asy’ari, perbaikan akidah tersebut tidak mungkin dilakukan, kecuali dengan jalan secara terang-terangan keluar dari mazhab Mu’tazilah dan secara terang-terangan pula setia kepada akidah Ahlu Hadis.[7]

Dari penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Asy’ari sebenarnya tidak menentang akidah Mu’tazilah dan metode pemikiran mereka. Keluarnya ia dari mazhab ini semata-mata hanyalah sebuah penerapan ilmu kalam dan bertujuan demi kemaslahatan umat Islam. Ia berharap dengan cara inilah, kiranya ia bisa membebaskan mereka dari bahaya tajsim dan tasybih (penyerupaan Tuhan dengan sesuatu). Tetapi hal ini tidak sesuai dengan kenyataan sejarah yang ada, karena:

1. Pertama, mujasemeh (kelompok yang berkeyakinan bahwa Tuhan berjasad) dan mutasyabeh (kelompok yang berkeyakinan bahwa Tuhan mirip dengan sesuatu) adalah dua kelompok Ahlu Hadis yang sering disebut juga dengan Husywiyah (kelompok tradisional). Akidah kelompok ini tidak diterima oleh kelompok-kelompok Ahlu Hadis yang lainnya. Ibnu Khazimah berkata: “Sesungguhnya kami menyifati Allah seperti apa yang Allah sifati terhadap diri-Nya sendiri. Dan kami mengakui dengan lisan kami. Kami membenarkankannya dengan sepenuh hati kami tanpa harus kami menyerupakan dengan salah satu makhluk-Nya. Karena sesungguhnya, Dia Maha Mulia dan Agung dari semua penyerupaan kita terhadap para makhluk-Nya.”[8]

Kami menyifati Allah sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri. Dan kami juga mengimani serta mengucapkannya dengan lisan, meski kami tidak menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.

2. Kedua, hasil penelitian dari karya-karya Asy’ari yang ada menunjukkan bahwa ia secara hakikat menentang akidah dan prinsip Mu’tazilah. Dan penentangan ini tidak secara zahir saja.

4. Mengenai hal ini, Para penulis buku sejarah filsafat Islam mengatakan bahwa: “Kemungkinan alasan yang lain adalah adanya perpecahan dan ketidakbersatuan umat Islam. Dan hal ini dapat menimbulkan bahaya sehingga dapat menghancurkan agama itu sendiri. Di satu sisi Asy’ari adalah seorang yang saleh dan berbudi luhur. Ia tidak rela jikalau agama Allah dan sunah Rasul-Nya menjadi korban akidah Mu’tazilah yang hanya berdasarkan akal murni saja. Oleh karenanya, ia terpaksa menunjukkan akidahnya bahwa Islam yang sahih tidak seperti itu. Ia juga tidak rela kalau agama Allah menjadi korban Ahlu Hadis dan penyebar faham tasybih. Karena mereka hanya melihat zahir nas saja, bukan memandang ruh dan hakikat sebenarnya. Hal ini membuat agama menjadi terkesan kaku, karena tidak menerima akal, juga tidak memuaskan rasa keagamaan itu sendiri. Asy’ari memilih metode keduanya, yaitu metode tengah-tengah antara akal dan nas. Ia berkeyakinan bahwa metode itulah yang dapat membebaskan Islam dan kam Muslimin.”[9]

3. Penelitian dan Kajian

Dalam hal ini, penting kiranya kita memisahkan dua permasalahan yang ada secara jelas. Pertama, mengapa Asy’ari memisahkan diri dari aliran Mu’tazilah. Kedua, alas an apa yang membuatnya menentang akidah Mu’tazilah dan bahkan membentuk aliran baru?

Untuk jawaban pertanyaan pertama, ia berkeyakinan bahwa akidah dan pendapat Mu’tazilah mengenai masalah-masalah kalam yang beragam tidaklah benar, terutama masalah tentang tauhid dan keadilan. Adapun alasan tersebut, tertuang dalam hasil-hasil karya kalam-nya. Hal ini dapat kita lihat dalam buku Milal wa Nihal. Begitu juga perdebatan dengan gurunya, Abu Ali Jubba’i, seputar masalah ashlah (yang paling baik) yang populer.

Adapun mengenai alasan ia menentang Mu’tazilah secara terang-terangan, masih belum jelas. Tetapi apabila kita tinjau dari pendapat-pendapatnya mengenai masalah kalam yang menjadi perdebatan antara Mu’tazilah dan Ahlu Hadis, serta alasan ia menentang keduanya, dapat dirasakan bahwa Asy’ari menawarkan akidah tersebut untuk memperbaiki akidah agama dari kritikan-kritikan yang tertuju pada Mu’tazilah dan juga Ahlu Hadis. Oleh karenanya, ia memilih jalan tengah-tengah. Tetapi pemikiran Asy’ari dalam menentang Mu’tazilah lebih kuat daripada yang lainnya. Lalu apakah Asy’ari bisa sukses dalam mengemban misi ini atau tidak, maka hal ini akan menjadi jelas pada pembahasan berikutnya.

Mungkin dikarenakan kecenderungan untuk mereformasi keadaan yang ada, maka ia dalam masalah mazhab fikih Ahlu Sunnah, lebih memilih posisi netral. Oleh karenanya, sebagian orang menganggapnya bahwa ia adalah seorang pengikut Syafi’i. Sebagian lain juga menganggapnya ia seorang penganut Maliki maupun Hanbali. Nampaknya ia berpikiran bahwa ia dapat menarik simpatik dan perhatian dari berbagai mazhab serta aliran dalam Ahlu Sunnah dengan cara tersebut. Seperti Ibnu Asakir menukilnya bahwa ia berkata: “Semua adalah mujtahid, dan semuanya ada dalam kebenaran. Dalam masalahusul (prinsip) tidak ada perbedaan. Perbedaan di antara mereka terletak pada masalah furu’ (cabang) saja.”[10]


[1] Seir Falsafah dar Iran, Iqbal Lahuri, hal. 57.

[2] Silakan merujuk ke: Buhuts fi Al-Milal wa Al-Nihal, jld.2, hal. 16-17.

[3] Tarikh Falsafah Islami, Henry Curbon, penerjemah Asadullah Mubasyiri, hal. 161-162.

[4] Silakan merujuk ke: Tarikh Falsafah dar Jahan e Islami, Hana Alfa Khuri, Khalil Al-Jar, penerjemah Abdul Muhammad Ayati, jld.1, hal. 147.

[5] Milal wa Nihal, Syahrestani, jld. 1, hal. 32.

[6] Tarikh Falsafah Islami, hal. 158.

[7] Buhuts fi Al-Milal wa Al-Nihal, jld. 2, hlm. 23.

[8] At-Tauhid wa Itsbati Sifat e Rabb, hal.11.

[9] Tarikh Falsafah dar Jahan e Islami, jld.1, hal 146-147.

[10] Ibid, hal. 147.

.

APAKAH AJARAN KHOMEiNi WAJiB DiPATUHi ????????????????????????

PERTANYAAN :

Pertanyaan dari wahabi salafi :
salafi wahabi membaca buku khomeini lalu memotong kalimat sehingga mereka mengklaim khomeini membuat ajaran aneh aneh….

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

tidak pernah ada dalam ajaran syi’ah untuk bertaklid buta pada ulama tertentu, bertaklid hanya berlaku bilamana yang ditaklid itu benar !!! dalam syi’ah pintu ijtihad terbuka sampai kiamat.. Sementara ijtihad dan ijma’ nya hanya berlaku pada periode ijtihad itu disepakati sampai sejauh mana ijtihad itu benar, bila ijtihad tersebut dikemudian hari ternyata keliru atau tidak “up to date” lagi maka yang berlaku adalah ijtihad baru yang lebih benar dst…dst..

Anda pelajari dulu konstitusi Iran tentang “”””Majelis Ahli”””

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.

Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya. Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.

Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.

Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.

Jadi jelaslah bagaiman fungsi khomeini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1. Syi’ah tidak pernah menyatakan wajib taat ( TAKLiD) pada Khomeini … Hanya saja aturan Imam Khomeini dan majelis ulama pada zaman beliau dalam kapasitas sebagai RAHBAR wajib ditaati karena ATURAN iTU MERUPAKAN ATURAN RESMi DAN BERSiFAT “KONTEMPORER”.. Khomeini hanya wajib ditaati PADA MASANYA…Hasil pemahaman Khomeini terhadap nash HANYA BERLAKU DALAM KONTEKS YANG SESUAi DENGAN KEBUTUHAN HUKUM SAAT iTU ( KONTEMPORER )

2. Sementara zaman sekarang (tahun 2010) Aturan Ayatullah Ali Khamenei dan Majelis Ulama Sekarang adalah aturan resmi KONTEMPORER..

Logikanya begini : Hal ini sama halnya dengan aturan Presiden dalam satu negara seperti Indonesia, semasa Presiden memerintah maka aturannya wajib diikuti jika tidak melanggar NASH..Kalau tidak wajib diikuti maka AKAN MERUSAK TATANAN MASYARAKAT DAN KETERATURAN NEGARA AKAN KACAU KARENA TiDAK ADA UNDANG UNDANG RESMi

AYATULLAH Ruhollah Khomeini pada 1979 memproklamasikan Republik Islam Iran (RII). Ia menggerakkan revolusi yang menggetarkan, sehingga tahta Syah Reza Pahlevi runtuh

Khomeini meninggal , Maka, naiklah Hojatolislam Ali Khamenei sebagai pengganti mandataris wilayat al-faqih atau kekuasaan hukum. Wewenangnya lebih hebat dari presiden yang juga sekarang dijabatnya. Sejak proklamasi RII berdengung, harapan dunia Islam bangkit, karena ajarannya menjadi rujukan kepemimpinan dan kenegaraan — terutama dalam konsep wilayat al-faqih.

pemimpin wilayat al-faqih setelah Khomeini dipilih Dewan Ahli Agama yang beranggota 36 orang. Khamenei dapat suara terbanyak. Ia seorang tokoh penengah dan fakih — mirip kiai di Indonesia yang otomatis diakui. Tapi Khamenei selaku mandataris wilayat al-faqih yang baru belum terdengar mengguncang-guncang meniru pendahulunya. Cuma, ia masih memberlakukan vonis mati dari Khomeini untuk Novelis Salman Rushdie. Sebab, The Satanic Verses yang ditulis Salman menghujat Islam.

————————————————————-

PERTANYAAN :

Bukankah pemikiran Khomeini ada beda dengan pemikiran KHAMENEi padahal keduanya adalah sama sama RAHBAR ????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

- Pasti ada perbedaan secara detil dalam ijtihad

- Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya belum diketahui

- Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

- Fungsi rahbar adalah sebagaimana fungsi pemimpin dalam suatu organisasi

- apakah ajaran syafi’i , hambali, hanafi dan maliki wajib ditaati ??? padahal ajaran mereka beda dalam fikih
———————–

PERTANYAAN :
Sebutkan contoh ijtihad ulama syi’ah zaman dulu yang dibatalkan ulama zaman sekarang !!!!!!!!!!!!!

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :
Minoritas ulama syi’ah meyakini Nabi Isa akan turun kebumi diakhir zaman.. Ulama syi’ah zaman dulu juga ada yang mengakuinya …

Mereka mengakuinya karena BELUM ADA PENELiTiAN TENTANG iTU..Tapi setelah penelitian memberikan jawaban ilmiah MAKA KEBANYAKAN MEREKA TiDAK MENGAKUi LAGi imam Nabi Isa turun di akhir zaman karena ayat Quran menyatakan semua manusia sebelum Muhammad SAW sudah wafat

—————————–

PERTANYAAN :

1.Kata anda YANG KITA PEGANG ADALAH PENDAPAT TERAKHIR YANG SUDAH DITELITI ?????

2.ARTiNYA BiSA SAJA ULAMA BESAR SYi’AH ZAMAN DULU SEPERTi AL MAJLiSi dan SYAiKH SHADUQ MENGELUARKAN PENDAPAT YANG SALAH LALU ULAMA ZAMAN SEKARANG MENGELUARKAN PENDAPAT YANG BENAR ?????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

1.Ya, karena dalam semua kasus penelitian, penelitian terakhirlah yang kesimpulannya paling baik….Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

2. yA, FAKTANYA MEMANG demikian
contoh sederhana Perbedaan ijtihadi ULAMA MASA LAMPAU DAN ULAMA MASA kini karena samarnya istinbath hukum pada masa lampau tapi TERANG PADA MASA KiNi, contoh : Ulama zaman dulu bilang merokok makruh karena mereka tidak tau mudharat rokok, tiba tiba dikemudian hari setelah dilakukan penelitian ternyata rokok membawa mudharat, maka ULAMA ZAMAN SEKARANG mengharamkan rokok

Jadi kesimpulan ???????????????????????????????????:
Khomeini sebagai RAHBAR hanya wajib ditaati pada masanya dan tidak wajib pada masa berikutnya !!!!!!!!!!!!! Itupun dengan catatan apa yang disampaikan Khomeini sesuai dengan nash dan tidak menyimpang dari nash!!!!!!!!!!!!!!!! Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya belum diketahui

contoh lain :ulama ulama klasik syi’ah seperti Al khawarizmi, Ibnu sina, Nashiruddin Ath thusi pakar fikih dan tatanegara, Asy syaukani, Sufyan bin Uyainah guru fikih/ hadis imam syafi’i, juga Jabir bin Hayyan pakar matematika : mereka semua adalah ulama legendaris syi’ah klasik yang menghasilkan banyak karya untuk Islam !!!!!!!!!!!! Mereka semua merupakan pemikir intelektual islam yang karya nya banyak diminati !!!!!!! Mereka ulama yang cerdas !!!!!!! Nah, dizaman sekarang jika anda menemukan sedikit kesalahan pada karya karya mereka ????? Ya wajar namanya juga manusia… Demikian juga halnya dengan Khomeini, kalaupun khomeini berbuat salah maka itu wajar….

Masa sekarang RAHBAR yang wajib diikuti adalah YANG BERWENANG DAN KEWENANGANNYA SAH SECARA HUKUM DAN SYARi’AT !!!!! yaitu Ayatullah Ali Khamenei

————————
PERTANYAAN : Jadi intinya syi’ah tidak fanatik taklid buta pada pendapat ulama syi’ah tempo dulu ???

Jawaban :
Ya, tidak pernah ada dalam syi’ah untuk bertaklid buta pada ulama tertentu, bertaklid hanya berlaku bilamana yang ditaklid itu benar !!!

————————-

PERTANYAAN : Artinya pintu ijtihad untuk mencari hakikat kebenaran masih terbuka ???

Jawaban :
Selalu terbuka, dalam syi’ah pintu ijtihad terbuka sampai kiamat.. Sementara ijtihad dan ijma’ nya hanya berlaku pada periode ijtihad itu disepakati sampai sejauh mana ijtihad itu benar, bila ijtihad tersebut dikemudian hari ternyata keliru atau tidak “up to date” lagi maka yang berlaku adalah ijtihad baru yang lebih benar dst…dst..

Yang dikatakan “up to date” adalah ajaran yang memiliki dalil yang kokoh, sehingga dengan melakukan ijtihad yang berlandaskan dalil tersebut ditemukan istinbath hukum ( syari’at ) yang dapat dipakai disetiap zaman ketika ia dibutuhkan…

————————-

PERTANYAAN : Kenapa ulama syi’ah pada masa Presiden Ahmadinejad dan Rahbar Khameini sangat unggul ????

Jawaban :
Ulama syi’ah modern sangat unggul karena terbimbing dengan baik oleh ajaran ahlul bait.. Ulama syi’ah memahami agama sangat detil karena mereka memang memahami ilmu mulai dari ilmu tafsir Al Quran, ilmu hadis, fikih hingga ilmu alam

Biasanya ulama syi’ah memahami hadis dan sumber sumbernya baik hadis syi’ah maupun hadis sunni sehingga mereka mampu menggali hukum yang dapat diterapkan di segala situasi dan didukung lagi oleh kehandalan mereka dalam ilmu sains dan logika

Pengantar
23/07/2008
Benar atau tidaknya amalan seseorang bergantung pada pengetahuannya akan masalah-masalah agama (syar’i) dan mengamalkannya. Salah satu cara untuk mengetahui hukum agama adalah dengan mengikuti fatwa atau taqlid kepada mujtahid yang memenuhi seluruh persyaratan ijtihad.Untuk memperoleh informasi tentang fatwa seorang marja’ taqlid (mujtahid yang fatwanya diikuti) kita bisa merujuk ke buku Risalah Amaliyah (Kumpulan Fatwa) yang diyakini mewakili fatwanya.Berdasarkan realitas, dimana banyak para mukallaf setelah wafatnya Ayatullah Al-Udhma Syaikh Ali Arakiy ingin bertaqlid kepada Ayatollah Al-Udhma Khamenei, pada saat yang sama hingga saat ini kumpulan fatwa beliau sedang dalam penyusunan dan belum diterbitkan, sementara buku ‘Ajwibah Al-Istifaat’ (Jawaban atas Pertanyaan Fatwa) tidak mnecakup semua masalah keseharian, maka kami memandang perlu untuk menyusun perbedaan yang ada antara fatwa beliau dan fatwa Imam Khomeini dengan berpijak pada buku Ajwibah Al-Istifaat dan beberapa sumber lainnya, sehingga setiap mukallaf dapat dengan mudah mengetahui masalah ini.
CATATAN:

  1. Para mukallid Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa melaksanakan fatwa beliau dengan memperhatikan perbedaan yang ada. Jika masih ada yang tidak jelas bisa menyampaikan pertanyaan guna memperjelas hal itu.
  2. Dalam sebagian kasus, tidak terdapat perbedaan, tetapi yang ada adalah penjelasan atau penambahan keterangan.
  3. Fatwa Imam Khomeini diambil dari kitab Tahrir Al Wasilah, Taudhih Al Masail dan Al ‘Urwatul Wutsqa.
  4. Untuk mempersingkat pembahasan kami sengaja tidak mencantumkan referensi fatwa, bagi yang menginginkannya bisa merujuk ke edisi cetak yang telah diterbitkan.
  5. Fatwa Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa Anda bisa dapatkan di kolom sebelah kanan sementara fatwa Imam Khomeini dicantumkan di sebelah kiri.
Imam Khomeini Imam Ali Khamenei
Mujtahid yang bisa dijadikan rujukan dalam fatwa haruslah seorang laki-laki yang sudah baligh, berakal sehat, penganut Syiah 12 Imam, anak halal, hidup dan adil. Sebagaimana sesuai dengan prinsip ihtiyat wajib, bertaqlid harus pada seorang yang tidak rakus pada dunia dan paling tinggi ilmunya (a’lam) di antara para mujtahid di zamannya. 1. Jika para mujtahid yang memenuhi syarat untuk diikuti berjumlah banyak dan fatwa mereka berbeda-beda, maka sesuai dengan prinsip ihtiyat seorang mukallaf wajib mengikuti (bertaqlid) kepada yang paling unggul dalam keilmuan (a’lam), kecuali jika fatwanya bertentangan dengan ihtiyat sementara fatwa mujtahid yang tidak a’lam sesuai dengan prinsip ihtiyat,  maka dalam hal ini tidak wajib untuk mengikuti fatwa mujtahid yang a’lam.
2. A’lam adalah orang yang lebih baik dalam memahami kaidah ijtihad dan sumber pijakan permasalahan syar’i serta memiliki wawasan yang lebih luas pada masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Begitu juga lebih baik dalam memahami (kandungan) teks hadis. Secara ringkas a’lam adalah orang yang lebih jeli dan cermat dalam menyimpulkan hukum. 2. A’lam adalah seorang mujtahid yang lebih bisa dari pada yang lainnya dalam hal menyimpulkan hukum Allah dari dalil-dalilnya. Begitu juga ia memiliki pengetahuan yang cukup akan situasi dan kondisi zamannya yang berpengaruh pada proses identifikasi obyek hukum dan tugas syar’i.
3. Tidak boleh memulai taqlid kepada mujtahid yang sudah meninggal. 3. Memulai taqlid kepada mujtahid yang sudah meninggal tidak boleh berdasarkan prinsip ihtiyat wajib.Soal:Seorang remaja yang baru mencapai usia baligh dan bertaqlid kepada Anda (Ayatollah Al-Udhma Khamenei), namun karena di awal taklif dia perlu membaca dan mengenal seluruh masalah fikih, bolehkan ia menelaah kumpulan fatwa Imam Khomeini r.a?Jawab:Dalam masalah-masalah umum yang dibutuhkan oleh para remaja tercinta, silahkan merujuk kumpulan fatwa Imam Khomeini. Dan jika mereka tidak mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dihadapi dalam buku tersebut silahkan mengajukan pertanyaan!
1. Ukuran air Kur kurang lebih 377/419 kilogram 1. Kurang lebih 384 liter.
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang-orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: Semua non muslim dari agama dan aliran apapun dihukumi najis. 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan bahwa mereka najis dzatiy. Menurut pandangan kami mereka dihukumi suci.Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-orang yang beragama Kristen, Yahudi, Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, hukumnya najis. 3. Kotoran burung yang haram dimakan, tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila diaduk dengan kuningnya hingga merahnya menghilang (melebur) maka tidak ada larangan untuk mengkonsumsinya. 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi suci namun haram untuk dikonsumsi.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar (negeri) untuk membuat sepatu dan sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi suci, kecuali jika dipastikan bahwa sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun kulit yang diimpor dari negeri-negeri non muslim dihukumi najis, kecuali jika dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, atau ada kemungkinan pengimpornya adalah seorang muslim yang telah memastikan (keabsahan) proses penyembelihannya secara syar’i dan dengan itu dia memasarkannya di tengah umat Islam. 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda tentang daging, kulit dan anggota badan binatang lainnya yang diimpor dari negara-negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak disembelih secara sya’i maka hukumnya najis.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan yang dari asalnya berbentuk cair, najis hukumnya. 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyat, najis.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia bersentuhan dengan barang lain maka ia membuatnya najis. Begitu juga jika bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat dan seterusnya). 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi dengan sesuatu yang lain dalam keadaan basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi najis. Namun benda najis yang ke tiga ini tidak lagi membuat najis benda lain berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, bejana, karpet atau barang lain yang ada pada seorang muslim, kemudian orang muslim tersebut menghilang dari kita, jika ada prediksi dan sangkaan bahwa dia telah mensucikannya dengan air atau masuk ke aliran air dan menjadi suci karenanya, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghindarinya. 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang muslim najis atau suatu barang yang ia miliki najis, kemudian untuk beberapa waktu kita tidak menjumpainya, maka di saat kita berjumpa lagi dengannya dan kita menyaksikannya memperlakukan barang-barang najis tersebut layaknya barang yang suci, maka kita (bisa) memperlakukannya layaknya barang yang suci dengan syarat orang tersebut mengetahui kondisi awal bahwa barang-barang tersebut najis dan kita mengetahui, bahwa orang tersebut memahami hukum-hukum najis dan kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa suci kecuali dengan air. Orang laki-laki cukup membasuhnya dengan air satu kali. Sedangkan perempuan dan orang yang keluar kencing bukan dari tempatnya yang wajar, berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya membasuhnya dua kali. 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa kali harus dituangkan air kepadanya hingga bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi suci dengan dua kali dibasuh.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran (dubur) dengan selain air masih dipertimbangkan. Namun setelah najisnya hilang, diperbolehkan melakukan shalat (walaupun tanpa membasuhnya dengan air terlebih dahulu) 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1) dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika dengan tiga batu belum hilang, maka wajib diulang hingga bersih. Boleh juga dengan satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap (dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang berbeda.
1. Ukuran air Kur kurang lebih 377/419 kilogram 1. Kurang lebih 384 liter.
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang-orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: Semua non muslim dari agama dan aliran apapun dihukumi najis. 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan bahwa mereka najis dzatiy. Menurut pandangan kami mereka dihukumi suci.Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-orang yang beragama Kristen, Yahudi, Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, hukumnya najis. 3. Kotoran burung yang haram dimakan, tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila diaduk dengan kuningnya hingga merahnya menghilang (melebur) maka tidak ada larangan untuk mengkonsumsinya. 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi suci namun haram untuk dikonsumsi.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar (negeri) untuk membuat sepatu dan sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi suci, kecuali jika dipastikan bahwa sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun kulit yang diimpor dari negeri-negeri non muslim dihukumi najis, kecuali jika dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, atau ada kemungkinan pengimpornya adalah seorang muslim yang telah memastikan (keabsahan) proses penyembelihannya secara syar’i dan dengan itu dia memasarkannya di tengah umat Islam. 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda tentang daging, kulit dan anggota badan binatang lainnya yang diimpor dari negara-negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak disembelih secara sya’i maka hukumnya najis.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan yang dari asalnya berbentuk cair, najis hukumnya. 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyat, najis.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia bersentuhan dengan barang lain maka ia membuatnya najis. Begitu juga jika bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat dan seterusnya). 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi dengan sesuatu yang lain dalam keadaan basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi najis. Namun benda najis yang ke tiga ini tidak lagi membuat najis benda lain berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, bejana, karpet atau barang lain yang ada pada seorang muslim, kemudian orang muslim tersebut menghilang dari kita, jika ada prediksi dan sangkaan bahwa dia telah mensucikannya dengan air atau masuk ke aliran air dan menjadi suci karenanya, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghindarinya. 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang muslim najis atau suatu barang yang ia miliki najis, kemudian untuk beberapa waktu kita tidak menjumpainya, maka di saat kita berjumpa lagi dengannya dan kita menyaksikannya memperlakukan barang-barang najis tersebut layaknya barang yang suci, maka kita (bisa) memperlakukannya layaknya barang yang suci dengan syarat orang tersebut mengetahui kondisi awal bahwa barang-barang tersebut najis dan kita mengetahui, bahwa orang tersebut memahami hukum-hukum najis dan kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa suci kecuali dengan air. Orang laki-laki cukup membasuhnya dengan air satu kali. Sedangkan perempuan dan orang yang keluar kencing bukan dari tempatnya yang wajar, berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya membasuhnya dua kali. 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa kali harus dituangkan air kepadanya hingga bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi suci dengan dua kali dibasuh.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran (dubur) dengan selain air masih dipertimbangkan. Namun setelah najisnya hilang, diperbolehkan melakukan shalat (walaupun tanpa membasuhnya dengan air terlebih dahulu) 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1) dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika dengan tiga batu belum hilang, maka wajib diulang hingga bersih. Boleh juga dengan satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap (dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang berbeda.

=================================================================================================================================================================

—————————————————————

AJARAN Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ( pengganti ayatullah Khomeini )

Kelahiran hingga sekolah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei

Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan, “Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis”.

“Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran 60 – 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar”.
Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di sekolah Islam yang saat itu baru dibangun “Daar At-Ta’lim Diyanati”.

Di Hauzah Ilmiah

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. “Faktor dan alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang selalu mendukung saya.”
Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku Ma’alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai’ Al Islam dan Syarh Lum’ah dari sang ayah dan sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.

Di Hauzah Ilmiah Najaf

Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji’ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah. Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini. Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.

Di Hauzah Ilmiah Qom

Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba’tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964), Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak. Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad. Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang ayah.

Di Masyhad

Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, “Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya”.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat. Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian… Namun fakta di masa depan membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan. Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini, yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Perjuangan Politik

Ayatullah Khamenei menurut keterangan beliau sendiri adalah termasuk salah satu murid Imam Khomeini dalam pelajaran fiqih, ushul, politik, dan revolusi. Namun percikan pertama aktivitas politik dan perjuangan beliau terhadap pemerintahan dzalim, dipantik oleh seorang pejuang besar yang gugur syahid di jalan Islam, Sayyid Mujtaba Navvab Safavi. Ketika itu, Navvab Safavi dan sejumlah pejuang Islam lainnya dari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun 1331 Hijriah Syamsiah (1952) pergi ke kota kota Mashad untuk menyampaikan pidatonya yang berapi-api di madrasah Sulaiman Khan soal kebangkitan Islam dan penerapan hukum Allah, serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris terhadap bangsa Iran. Pada masa itu, Ayatullah Khamenei termasuk pelajar madrasah Sulaiman Khan dan beliau benar-benar terkesan oleh pidato Navvab. Dalam hal ini beliau mengatakan, “Saat itu juga percikan semangat revolusi Islam dibangkitkan pada jiwa saya oleh Navvab dan saya tidak ragu lagi bahwa saat itulah Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya”.

Bersama Gerakan Imam Khomeini r.a

Ayatullah Khamenai pada tahun 1341 Hijriah Syamsiah (1962), tinggal di kota suci Qom dan saat itu beliau masuk di medan perjuangan politik Imam Khomeini melawan politik anti-Islam ala Amerika Serikat (AS) yang digulirkan oleh Rezim Syah Pahlevi. Selama 16 tahun beliau berjuang dan harus melalui berbagai kondisi termasuk penjara dan pengasingan. Selama itu pula beliau tidak gentar menghadapi segala bentuk ancaman bahaya. Untuk pertama kalinya pada tahun 1338 Hijirah Syamsiah (1959), beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para ulama lainnya di Propinsi Khorasan soal mekanisme program dakwah para ulama dan ruhaniwan di bulan Muharram dan penyingkapan kebobrokan politik Rezim Syah dan AS, serta menyangkut kondisi Iran dan kota suci Qom. Misi itu dijalankannya dengan baik dan beliau melaksanakan tugas dakwah bulan Muharram di kota Birjand. Dalam dakwahnya, seperti yang telah dimandatkan oleh Imam Khomeini, Ayatollah Khamenei mengungkap kebobrokan Rezim Syah dan politik AS. Oleh sebab itu, pada tanggal 9 Muharram bertepatan dengan tanggal 12 Khordad 1342 (2 Juni 1963), beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.

Penahanan Kedua

Pada bulan Bahman tahun 1342 Hijriah Syamsiah (Februari 1963) atau Ramadhan 1383 Hijriah, Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Syah- mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pada tanggal 15 Ramadhan yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Hasan as, ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap politik setan dan ala AS Rezim Syah Pahlevi, sampai pada puncaknya. Sebab itu, para agen intelejen Rezim Syah atau SAVAK, menangkap beliau pada malam hari dan mengirim beliau ke Tehran dengan menggunakan pesawat. Beliau dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara Qezel Qal’eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala macam penyiksaan.

Penahanan Ketiga dan Keempat

Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi, pada tahun 1345 Hijriah Syamsiah (1966) Ayatollah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1349 Hijriah Syamsiah (1970), untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah dan perjuangan beliau terhadap Rezim Syah.

Penangkapan Kelima

Mengenai penangkapan kelimanya, Ayatullah Khamenei menulis, “Pada tahun 1348 Hijriah Syamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran. Sensitifitas dan kekerasan agen-agen Rezim Syah saat itu terhadap pribadi saya juga semakin meningkat mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak mungkin terlepas dari orang-orang seperti saya. Pada tahun 1350 Hijriah Syamsiah (1971), saya kembali dipenjara. Tindakan kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap menyatunya gerakan perlawanan bersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Dan mereka tidak dapat menerima fakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan Tehran tak ada kaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara, pelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin meluas.”

Penangkapan Keenam

Antara tahun 1350 hingga 1353 Hijriah Syamsiah (1971-1974), pelajaran tafsir dan ideologi Ayatullah Khamenei digelar di tiga masjid yaitu masjid Karamat, masjid Imam Hasan as, dan masjid Mirza Ja’far, di kota Mashad. Ribuan warga khususnya para pemuda revolusioner memenuhi ketiga masjid tersebut untuk mendengarkan pemikiran dan pelajaran Ayatullah Khamenei. Pelajaran Nahjul Balaghah beliau juga sangat diminati. Penjelasan Nahjul Balaghah beliau yang ditulis dalam bentuk diktat berjudul “Partuee az Nahjul Balaghah” (Seberkas cahaya dari Nahjul Balaghah) diperbanyak dan disebar luas oleh para pemuda revolusioner. Mereka yang menimba pelajaran tentang hakikat dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei, lantas menyebar ke seluruh penjuru di Iran dan menjelaskan tentang hakikat serta mempersiapkan mental warga bagi membela gerakan revolusi besar Islam.

Pada bulan Dey 1353 Hijriah Syamsiah (Januari 1975), SAVAK menyerbu rumah Ayatullah Khamenei. Selain menangkap beliau, para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun catatan beliau. Ini merupakan penangkapan keenam dan masa penahanan yang paling sulit. Ayatollah Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan Kepolisian hingga musim gugur tahun 1354 Hijriah Syamsiah (mendekati bulan-bulan akhir tahun 1975). Selama masa penahanan, beliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi yang sama. Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota Mashad dan tetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau tidak dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.

Di Pengasingan

Rezim Syah Pahalevi pada akhir tahun 1356 Hijriah Syamsiah (1978), menangkap dan mengasingkan Ayatullah Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Pada pertengahan tahun 1357 (akhir 1978), menyusul semakin tajamnya perjuangan warga muslim revolusioner Iran, Ayatullah Khamenei dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke kota Mashad. Beliau berada di barisan terdepan perjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi dan SAVAK. Setelah 15 tahun berjuang di jalan Allah swt secara ksatria serta ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan, akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan dan perlawanan tersebut yaitu kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim despotik Syah Pahlevi, serta terbentuknya kedaulatan Islam di negeri ini.

Detik Menjelang Kemenangan

Menjelang kemenangan Revolusi Islam, sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke Tehran, sesuai instruksi Imam, dibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh sejumlah tokoh pejuang seperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain. Imam Khomeini juga merekomendasikan Ayatullah Khamenei untuk menjadi anggota dewan. Pesan Imam Khomeini r.a itu disampaikan kepada Ayatullah Khamenei oleh Syahid Muthahhari, dan setelah itu Ayatullah Khamenei berangkat dari Mashad menuju Tehran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran

Ayatullah Khamenei tetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita revolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika dilihat dengan memandang kondisi saat itu. Berikut ini adalah ringkasan aktivitas penting beliau:

Ikut mendirikan Partai Republik Islam pada bulan Esfand tahun 1357 Hijriah Syamsiah (Maret 1979) dengan kerjasama sejumlah ulama pejuang seperti Syahid Beheshti, Syahid Bahonar, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain.

Menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Imam Jum’at Tehran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Wakil Imam Khomeini r.a di Dewan Tinggi Pertahanan, tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980).

Wakil warga Tehran di Majles Shura Islami (Parlemen Iran), tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Partisipasi aktif beliau dengan mengenakan seragam militer di medan perang ‘pertahanan suci’ melawan Irak pada tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980), menyusul invasi pasukan Irak terhadap wilayah Iran. Dalam perang ini Irak diprovokasi dan dipersenjatai oleh kekuatan arogan dunia termasuk AS dan Uni Soviet.

Gagalnya percobaan teror terhadap beliau oleh kelompok munafiqin di masjid Abu Dzar Tehran, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali Rajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan Mehr tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981), Ayatullah Khamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai Presiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini r.a. Beliau juga terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1364 hingga 1368 Hijriah Syamsiah (1985).

Ketua Dewan Revolusi Kebudayaan, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara, tahun 1366 Hijriah Syamsiah (1987).

Ketua Dewan Revisi Konstitusi, tahun 1368 Hijriah Syamsiah (1989).

Ditunjuk oleh Dewan Ahli untuk menjadi Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, yang dimulai sejak 14 Khordad, sepeninggal Imam Khomeini r.a. Pilihan ini sangat tepat, karena beliau memiliki kelayakan sepenuhnya untuk bukan saja membimbing warga Muslim Iran, melainkan umat Islam di seluruh dunia (1989).

Karya Tulis

Tarh-e Kulli-e Andishe-e Eslami dar Qor’an (Program Komprehensif Pemikiran Islami Dalam AlQuran).

Az Jarfha-ye Namaz (Dari Kedalaman Shalat)

Goftari dar Bab-e Sabr (Pembahasan tentang Kesabaran)

Chahar Ketab-e Asli-e Elm-e Rejal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal)

Wilayat (Kepemimpinan).

Gozaresh az Sabeqe-e Tarikhi va Auza-e Konouni-e Hauze-e Elmiye-e Mashhad (Laporan Mengenai Sejarah dan Kondisi Terkini Hauzah Ilmiah Mashad).

Zendeginame-e Aimme-e Tashayyo’ (Riwayat Hidup Para Imam Syiah) -belum dicetak.

Pishvaye Sadeq (Pemimpin yang Jujur)

Vahdat va Tahazzob (Persatuan dan Kepartaian)

Honar az Didgah-e Ayatollah Khamenei (Seni Menurut Ayatullah Khamenei)

Dorost Fahmidan-e Din (Pemahaman Benar Tentang Agama)

Onsor-e Mobarezeh dar Zendegiy-e Aimmeh (Unsur Perjuangan Dalam Kehidupan Para Imam a.s

Ruh-e Tauhid, Nafy-e Obudiyyate Gheire Khoda (Ruh Ketauhidan, Penafian Penghambaan Selain Allah swt)

Zarurat-e Bazgasht be Qor’an (Urgensi Kembali Kepada AlQuran)

Sire-ye Emam-e Sajjad (Sejarah Imam Sajjad a.s)

Imam Ridha as va Velayatahdi (Imam Ridha a.s dan Posisi Putra Mahkota)

Tahajom-e Farhangi (Serangan Budaya), disusun dari kumpulan pidato dan pesan Rahbar.

Hadis-e Velayat (Hadis Kepemimpinan), kumpulan pidato dan pesan Rahbar yang hingga kini telah dicetak sebanyak sembilan jilid.

================================================================================================================================================================

PROFIL NEGARA REPUBLIK ISLAM IRAN TAHUN 2010

UMUM

Nama Resmi: Islamic Republic of Iran (Jomhori-e Islami-e Iran)
Ibukota: Tehran

Berdiri Tahun: 1 April 1979

Hari Nasional: 10 Februari (Hari Revolusi Islam Iran tahun 1979)

Lagu Kebangsaan: Sorud-e Melli-e Iran

Bendera: Hijau-Putih-Merah dengan tulisan Allah berwarna merah dan berbentuk tulip ditengah-tengah. Tulisan Allahu Akbar berwarna putih, masing-masing sebanyak 11 kali di bagian bawah sepanjang warna hijau dan di bagian atas sepanjang warna merah

Kepala Negara/Pemimpin Tertinggi Agama (Supreme Leader): Ayatollah Seyed Ali Khamenei

Kepala Pemerintahan: Presiden Mahmoud Ahmadinejad (sejak 2005); terpilih kembali melalui pemilu 12 Juni 2009

Ketua Parlemen: Ali Larijani

Menteri Luar Negeri: Manouchehr Mottaki

Bahasa Nasional: Farsi

Agama: Islam 98% (Shiah 91%, Sunni 7%), Yahudi 0,7%, Kristen 0,7%, Zoroaster 0,1% serta Armenian dan Assyria

Penduduk: 70,4 juta (sensus Maret 2007 dengan pertumbuhan 0.86%)

Etnis/Suku: Persia 51%, Azeri 24%, Kurdi 7%, Mazandarani 8% dan 10% etnis lainnya

Ekonomi
Sumber daya alam: Minyak bumi, gas alam, batu bara, timah hitam, tembaga, biji besi, bahan baku semen, chrom, seng, marmer

Ekspor Utama: Minyak mentah dan gas alam
Mata Uang: Rials (US$ 1 = Rls. 9960) (Juli 2009)
GDP (PPP): US$ 824 miliar (perkiraan 2008)
GDP (Real Growth Rate): 6,5% (perkiraan 2008)
GDP Per Kapita: US$ 12.800 (2008)

Laju Inflasi: 28% (consumer price)

Hutang luar negeri: US$. 21,77 milyar (2008)

Mitra Dagang Utama: Ekspor: Cina 15%, Jepang 14,3%, Turki 7.4%, Korea Selatan 7,3%, Italia 6,4%. Impor: Cina 14,2%, Jerman 9,6%, UAE 9,1%, Korea Selatan 6.3%, Rusia 5,7%, Italia 5% , (2007)

Geografi
Luas Wilayah: 1.648.195 Km²

Topografi: Sebagian besar pegunungan/dataran tinggi Tehran terletak pada ketinggian 1100-1700 m

Koordinat geografis: 25°-40° LU dan 44°-46° BT

Iklim: 4 musim, perbedaan suhu sangat ekstrim. Musim panas 46°C, musim dingin – 5°C

Kota Besar / Wisata: Isfahan (Ibukota lama, arsitektur Islam), Mashad (Makam Imam Reza, Imam ke-8 Shiah), Shiraz (Persepolis, sebelum Masehi)

SEJARAH SINGKAT
Bangsa Iran berasal dari Ras Arya yang merupakan salah satu ras Indo-European. Migrasi bangsa Arya ke berbagai belahan bumi seperti ke Asia kecil dan India dimulai pada 2.500 Sebelum Masehi (SM). Peradaban di dataran tinggi Iran dimulai 600 tahun SM di mana saat itu terdapat 2 kerajaan yakni Parsa di sebelah Selatan dan Medes di Timur Laut Iran.

Pada tahun 550 SM, Cyrus the Great berhasil merebut 2 kerajaan Persia tersebut, namun tidak berhasil memperpanjang kekuasaannya. Pada 521 SM Raja Darius mendirikan Dinasti Achaemenid hingga Darius III. Pada 323 SM, Alexander the Great berhasil menaklukan Dinasti Achaemenid. Di masa Dinasti Parthian (Raja Mirthridates II) berhasil menjalin hubungan dengan Cina dan Roma yang dikenal dengan perdagangan sutranya (Silk Road). Pada 220 SM, Dinasti Sassanid mengakhiri kejayaan Dinasti Parthian.

Setelah peperangan selama 4 abad, seiring memudarnya Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia hancur dan diinvasi oleh Kerajaan Mesir dan Arab lainnya dan berhasil menyebarkan agama Islam.

Dari abad 7 hingga abad 16 Masehi, berbagai Dinasti keturunan Arab, Turki dan Mongol saling berkuasa yakni Dinasti Abbasid, Dinasti Saffarian, Dinasti Samanid. Pada abad ke 16 khususnya pada masa Kerajaan Savafid, tercapai masa kejayaan dalam bidang kerajinan dan pembuatan karpet. Pada abad 17 Dinasti Afshar berkuasa, namun kemudian digantikan oleh Karim Khan Zand yang mendirikan Dinasti Zand di Selatan. Di sebelah Utara Suku Qajar berhasil mematahkan Dinasti Zand dan mendirikan Dinasti Qajar hingga abad 19 dengan Rajanya yang terakhir bernama Ahmad Shah.

Pada tahun 1921, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Reza Shah Pahlevi yang kemudian menjatuhkan Ahmad Shah dan mengangkat dirinya sebagai Raja Iran. Pada 1941, anaknya bernama Mohammad Reza Shah naik tahta hingga terjadi Revolusi Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Imam Khomeini pada 1979. Berbagai peristiwa menonjol sejak itu adalah pendudukan Kedubes Amerika Serikat, 1979-1981, Invasi Irak terhadap Iran pada 1980 yang menimbulkan perang selama 8 tahun (1980-1988) dan sanksi ekonomi (energi) Amerika sejak 1996.

SISTEM PEMERINTAHAN

Ideologi
Ideologi negara berdasarkan kepada Agama Islam Madzhab Shiah Imam 12 (Ja’fari). Untuk melaksanakan prinsip ini maka diciptakan sistem Velayat-e Faqih (Supremasi kaum ulama) di mana seorang pemimpin agama memiliki hak untuk memberikan fatwa keagamaan dan sekaligus memegang kekuasaan tertinggi dalam masalah ketatanegaraan.

Marja-e Taqlid (ulama senior) memiliki wewenang untuk memberikan fatwa hukum kepada masa penganut ajarannya yang tersebar di berbagai wilayah. Jumlah Marja-e Taqlid di Iran sebanyak 8 orang. Tetapi Imam Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi Islam Iran 1979 kemudian dikukuhkan dalam Konstitusi sebagai Ayatollah Uzma yang berkedudukan sebagai Rahbar yang berkuasa di bidang politik sekaligus bidang keagamaan (sebagai Marja-e Taqlid).

Agama resmi Negara adalah Islam beraliran Ja’fari (Shiah Imam ke 12). Aliran Islam lainnya yang bermadzhab Syafi’I, Hambali, Hanafi dan Maliki serta Shiah Zaidiyah diakui dan pelaksanaan syariat-syariatnya dilindungi oleh UU.

Konstitusi
Hukum tertinggi adalah Konstitusi Republik Islam Iran yang disahkan pertama kali oleh Majelis Ahli tanggal 15 November 1979 dan diamandemen pada Juli 1989.

Lembaga Eksekutif
Kepala pemerintahan dijabat seorang Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat untuk masa jabatan 4 tahun, dapat dapat dipilih kembali maksimal satu kali. Presiden dibantu oleh 9 orang wakil presiden yang membidangi tugas masing-masing serta 21 menteri anggota kabinet. Sistem pemerintahan Iran menganut sistem presidensiil dan parlementer, di mana anggota kabinet ditunjuk/diangkat oleh Presiden tetapi harus mendapat persetujuan dari Majelis serta bertanggungjawab kepada Presiden dan Majelis.

Presiden harus bertanggungjawab kepada rakyat, Leader dan Parlemen (Majelis). Jika Presiden berhalangan selama dua bulan lebih, maka Wakil Presiden I akan menjalankan fungsi pemerintahan atas persetujuan Leader. Secara administratif, Iran terbagi menjadi 28 Propinsi dan 114 tingkat kabupaten. Setiap Propinsi dipimpin seorang Gubernur Jenderal sedangkan kabupaten/kotamadya dipimpin Gubernur. Sejak terbentuknya Islamic Council tingkat Daerah (DPRD) hasil Pemilu Februari 1999 pengangkatan para Gubernur Jenderal dan Gubernur didilakukan oleh DPRD.

Lembaga Legislatif
Parlemen Iran (Majelis-e Syura-e Islami) merupakan lembaga legislatif yang beranggotakan 290 orang. Anggota Majelis dipilih melalui Pemilu setiap 4 tahun sekali dengan sistem distrik. Setiap 10 tahun rasio anggota Majelis ditinjau kembali sesuai dengan jumlah penduduk. Parlemen saat ini merupakan hasil pemilu tahun 2008. Ketua Parlemen saat ini adalah Ali Larijani.

Majelis secara tidak langsung dapat menjatuhkan Presiden dan menteri-menteri Kabinet melalui mosi tidak percaya. Hearing terhadap menteri diajukan sekurangnya oleh 10 anggota dan menteri yang bersangkutan mengeluarkan mosi tidak percaya kepada Presiden, hasil sidang disampaikan kepada Leader untuk memecat Presiden.

Lembaga Judikatif
Kekuasaan tertinggi lembaga peradilan dijabat oleh Ketua Justisi yang diangkat langsung oleh Leader untuk masa jabatan 5 tahun. Ia haruslah seorang Ulama Ahli Fiqih (Mujtahid).

Ketua Lembaga Judikatif (Chief of Judiciary) saat ini adalah Ayatollah Hashemi Shahroudi. Fungsi utamanya adalah mengangkat dan memberhentikan ketua dan anggota Mahkamah Agung dan Jaksa Agung serta menyusun RUU. Ia juga mengusulkan calon Menteri Kehakiman kepada Presiden. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan lembaga-lembaga Judikatif, sementara Kementerian Kehakiman mengatur koordinasi antara lembaga judikatif dan lembaga-lembaga Eksekutif dan Legislatif serta bertugas di bidang organisasi pemerintahan dan anggaran.

Sistem peradilan Iran mempunyai dua bentuk yaitu peradilan umum dan khusus. Peradilan umum meliputi Pengadilan Tinggi Pidana, Pengadilan Rendah Pidana, Pengadilan Tinggi Perdata, Pengadilan Rendah Perdata dan Pengadilan Perdata Khusus. Sedangkan Pengadilan Khusus terdiri dari Pengadilan Revolusi Islam, Pengadilan Khusus Ulama dan Pengadilan Pers.

Sesuai dengan Konstitusi terdapat beberapa institusi lain yang berada di bawah Lembaga Judikatif seperti Peradilan Militer yang merupakan bagian dari Lembaga Peradilan yang menangani kasus-kasus pidana yang melibatkan anggota Angkatan Bersenjata, Polisi dan Pasdaran; Peradilan Tinggi Administrasi yang menangani kasus-kasus yang terkait dengan administrasi pemerintah; dan Kepala Inspektur Negara yang bertugas mengawasi kinerja kementerian.

Lembaga Tinggi Negara Lainnya

Majelis Ahli

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.

Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya. Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.
Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.
Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.

Dewan Pengawas Konstitusi

Guna menjamin kesesuaian setiap RUU dengan Konstitusi (Shura-e Negahban-e Qanun-e Assassi) yang beranggotakan 12 orang (6 ahli hukum agama yang ditunjuk oleh Leader dan 6 ahli dari berbagai disiplin ilmu hukum umum yang dipilih oleh Majelis). Masa jabatan 6 tahun dan setiap 3 tahun diadakan pemilihan bagi 6 orang anggotanya.

Kekuasaan Dewan Pengawas Konstitusi meliputi mengesahkan UU yang dibuat Majelis, menafsirkan Konstitusi dan bertindak sebagai badan yang melitsus semua calon anggota Majelis Ahli, Presiden, Majelis, dan referendum.

Dewan Kebijaksanaan Nasional

Dewan Kebijaksanaan Nasional (Majma-e Mashlahat-e Nezam) merupakan Dewan yang bertugas untuk menengahi perbedaan antara Majelis dengan Dewan Pengawasan. Namun dalam prakteknya, Dewan ini telah diberi tugas oleh Leader untuk membahas isu lainnya yang penting seperti RAPBN,Repelita dan Kawasan Perdagangan Bebas. Jumlah anggota Dewan ini sebanyak 25 orang yang dipilih oleh Leader.

Dewan Keamanan Nasional

Sesuai dengan Konstitusi, Presiden juga merangkap sebagai Ketua Dewan Keamanan Nasional. Dewan ini berwenang membuat kebijakan pertahanan nasional sesuai dengan yang telah digariskan oleh Leader, mengkoordinasikan kegiatan politik, intelijen, sosial budaya dan ekonomi yang terkait dengan kebijakan keamanan nasional, serta mengkaji sumber-sumber materi dan non materi dalam menghadapi ancaman dari dalam maupun luar negeri. Anggota Dewan terdiri dari para pimpinan Legislatif, Eksekutif dan Judikatif, Kepala Staf AB, Pejabat Badan Perencanaan dan Anggaran Negara, dua Wakil yang ditunjuk Leader, Menlu, Mendagri, Menteri Intelijen dan sejumlah menteri terkait.

Partai Politik dan Interest Groups
Konstitusi Iran memberikan kebebasan adanya partai-partai politik, namun dalam kenyataannya pernah dihapuskan pada masa Imam Khomeini pada 1989 dengan alasan telah menyebabkan perpecahan di kalangan keluarga besar Revolusi.

Orsospol terbagi kedalam koalisi parpol right wing (garis keras), left wing (konservatif/reformis) dan independen. Adapun orsospol yang dikenal secara umum, yakni:

The Coalition of Harmonious Croup yang dimotori Jame-e Ruhaniat-e Mubarez/JRM (the Society of Combatant Clergy), sebuah kelompok mullah garis keras (right wing) didirikan pada 1979.
The Coordinating Council of the May 23 Front (tanggal kemenangan Khatami pada Pemilu Presiden 23 Mei 1997) yang dimotori Majma Ruhaniyat-e Mobarez/MRM (the Assembly of Combatant Clerics), sebuah kelompok mullah konservatif (left wing) yang didirikan pada 1988.

Independence Group yang tidak mempunyai persamaan pandangan terhadap dua kelompok di atas yakni the Moderation & Development Front (MDF), Green Party (GP) dan perorangan.
Selain kelompok-kelompok di atas, terdapat pula kelompok yang dikenal sebagai Ansar-e Hizbullah yang merupakan pembela setia Republik Islam.

Sebaliknya, kelompok oposisi bersenjata yang pernah ada, seperti “Mojahedin-e Khalq Organization” (MKO), People’s Fedayeen, dan Democratic Party of Iranian Kurdistan, kini sudah sangat lemah dan tidak lagi mempunyai kemampuan untuk “mengganggu” pemerintah.

==================================================================================================================================================================

APAKAH AJARAN KHOMEiNi WAJiB DiPATUHi ????????????????????????

TANYA JAWAB : TANYA JAWAB : TANYA JAWAB :

Pertanyaan dari wahabi salafi :
salafi wahabi membaca buku khomeini lalu memotong kalimat sehingga mereka mengklaim khomeini membuat ajaran aneh aneh….

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Anda pelajari dulu konstitusi Iran tentang “”””Majelis Ahli”””

Kedudukan Majelis Ahli diatur dalam Konstitusi dan keanggotaannya ditetapkan melalui Pemilu setiap 8 tahun. Majelis Ahli saat ini adalah hasil pemilihan pada bulan Desember 2006 dan diketuai oleh Hashemi Rafsanjani dengan 86 orang anggota.

Fungsi Majelis Ahli adalah memilih Rahbar (Leader), mengawasi dan memberhentikannya. Leader berfungsi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama yang memang konsep Imam Khomeini. Di Iran masalah agama tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan politik.

Sekalipun kewenangan Leader nampak absolut, namun sesuai Konstitusi, kedudukan Leader sama dengan warga negara biasa lainnya (tidak kebal hukum). Leader juga senantiasa menerima kunjungan semua kepala negara atau perdana menteri asing yang sedang berkunjung ke Tehran.

Leader pertama adalah Ayatollah Khomeini yang merupakan Pemimpin Revolusi dan Pendiri Negara Republik Islam Iran dan konseptor Velayat-e Faqih. Setelah meninggalnya Khomeini pada 1989, Majelis Ahli memilih Ayatollah Seyyed Ali Khomenei.

Jadi jelaslah bagaiman fungsi khomeini !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

1. Syi’ah tidak pernah menyatakan wajib taat ( TAKLiD) pada Khomeini … Hanya saja aturan Imam Khomeini dan majelis ulama pada zaman beliau dalam kapasitas sebagai RAHBAR wajib ditaati karena ATURAN iTU MERUPAKAN ATURAN RESMi DAN BERSiFAT “KONTEMPORER”.. Khomeini hanya wajib ditaati PADA MASANYA…Hasil pemahaman Khomeini terhadap nash HANYA BERLAKU DALAM KONTEKS YANG SESUAi DENGAN KEBUTUHAN HUKUM SAAT iTU ( KONTEMPORER )

2. Sementara zaman sekarang (tahun 2010) Aturan Ayatullah Ali Khamenei dan Majelis Ulama Sekarang adalah aturan resmi KONTEMPORER..

Logikanya begini : Hal ini sama halnya dengan aturan Presiden dalam satu negara seperti Indonesia, semasa Presiden memerintah maka aturannya wajib diikuti jika tidak melanggar NASH..Kalau tidak wajib diikuti maka AKAN MERUSAK TATANAN MASYARAKAT DAN KETERATURAN NEGARA AKAN KACAU KARENA TiDAK ADA UNDANG UNDANG RESMi

AYATULLAH Ruhollah Khomeini pada 1979 memproklamasikan Republik Islam Iran (RII). Ia menggerakkan revolusi yang menggetarkan, sehingga tahta Syah Reza Pahlevi runtuh (lihat Selingan).

Khomeini meninggal , Maka, naiklah Hojatolislam Ali Khamenei sebagai pengganti mandataris wilayat al-faqih atau kekuasaan hukum. Wewenangnya lebih hebat dari presiden yang juga sekarang dijabatnya. Sejak proklamasi RII berdengung, harapan dunia Islam bangkit, karena ajarannya menjadi rujukan kepemimpinan dan kenegaraan — terutama dalam konsep wilayat al-faqih.

pemimpin wilayat al-faqih setelah Khomeini dipilih Dewan Ahli Agama yang beranggota 36 orang. Khamenei dapat suara terbanyak. Ia seorang tokoh penengah dan fakih — mirip kiai di Indonesia yang otomatis diakui. Tapi Khamenei selaku mandataris wilayat al-faqih yang baru belum terdengar mengguncang-guncang meniru pendahulunya. Cuma, ia masih memberlakukan vonis mati dari Khomeini untuk Novelis Salman Rushdie. Sebab, The Satanic Verses yang ditulis Salman menghujat Islam.

—————————————————————

AJARAN Ayatullah Sayyid Ali Khamenei ( pengganti ayatullah Khomeini )

Kelahiran hingga sekolah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei

Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, putra almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dilahirkan pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriah Syamsiah (16 Juli 1939) atau bertepatan dengan tanggal 28 Shafar 1357 Hijriah di kota suci Mashad. Beliau adalah putra kedua. Kehidupan Sayyid Javad Khamenei sangat sederhana sama seperti kebanyakan ulama dan pengajar agama lainnya. Istri dan anak-anaknya memahami secara mendalam makna zuhud dan kesederhanaan dengan baik berkat bimbingannya. Ketika menjelaskan kondisi kehidupan keluarganya, Rahbar mengatakan, “Ayah saya adalah ulama yang terkemuka, namun sangat zuhud dan pendiam. Kehidupan kami cukup sulit. Saya teringat, sering di malam hari kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Ibu saya dengan susah payah menyiapkan makan malam… hidangan makan malam itu adalah roti dan kismis”.

“Rumah ayah tempat saya dilahirkan -hingga saya berusia empat sampai lima tahun- berukuran 60 – 70 meter persegi di kawasan miskin Mashad. Rumah ini hanya memiliki satu kamar dan sebuah ruang bawah tanah yang gelap dan sempit. Ketika ayah saya kedatangan tamu (karena ayah saya adalah seorang ulama dan menjadi rujukan masyarakat, beliau sering kedatangan tamu) kami pergi ke ruang bawah tanah sampai tamu itu pergi. Kemudian beberapa orang yang menyukai ayah saya membeli tanah di samping rumah dan menggabungkannya dengan rumah kami sehingga rumah kami memiliki tiga kamar”.
Seperti inilah beliau dibimbing dan sejak usia empat tahun Rahbar bersama kakak beliau yang bernama Sayyid Mohammad diserahkan ke maktab untuk mengenal alpabet dan belajar membaca AlQuran. Setelah itu, kedua bersaudara ini melalui jenjang pendidikan dasar mereka di sekolah Islam yang saat itu baru dibangun “Daar At-Ta’lim Diyanati”.

Di Hauzah Ilmiah

Setelah mempelajari Jamiul Maqaddimat, ilmu sharf dan nahwu, beliau masuk ke hauzah ilmiah serta belajar ilmu-ilmu dasar dan sastra dari ayah beliau dan para guru lainnya. “Faktor dan alasan utama saya memilih jalan bercahaya keruhanian ini adalah ayah saya dan ibu saya yang selalu mendukung saya.”
Beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Jamiul Muqaddimat, Suyuthi dan Mughni dari para guru di madrasah Sulaiman Khan dan Navvab. Sang ayah mengawasi terus dan memantau perkembangan pendidikan anaknya. Pada masa itu Sayyid Ali Khamenei juga mempelajari buku Ma’alim. Kemudian beliau belajar kitab Syarai’ Al Islam dan Syarh Lum’ah dari sang ayah dan sebagiannya dari almarhum Agha Mirza Modarris Yazdi. Untuk kitab Rasail dan Makasib, beliau menimba ilmu dari almarhum Haj Syeikh Hashim Qazveini, dan pelajaran lainnya di jenjang fiqih dan ushul, beliau dibimbing langsung oleh sang ayah. Beliau melalui tingkat dasar itu sangat cepat hanya dalam kurun waktu lima setengah tahun. Ayah beliau pada masa itu berperan sangat besar dalam perkembangan anaknya. Sayid Ali Khamenei berguru pada almarhum Ayatullah Mirza Javad Agha Tehrani di bidang ilmu logika, filsafat, kitab Mandzumah Sabzavari, dan kemudian beliau juga belajar dari almarhum Syeikh Reza Eisi.

Di Hauzah Ilmiah Najaf

Sejak usia 18 tahun Ayatullah Khamenei mulai belajar tingkat darsul kharij (tingkat tinggi) ilmu fiqih dan ushul di kota Mashad dari seorang marji’ almarhum Ayatullah Al Udzma Milani. Pada tahun 1336 hijriah syamsiah (1957) beliau pergi menuju kota Najaf di Irak untuk berziarah. Setelah menyaksikan dan ikut dalam kelas darsul kharij dari para mujtahid di hauzah Najaf termasuk almarhum Sayyid Muhsin Hakim, Sayyid Mahmoud Shahroudi, Mirza Bagher Zanjani, Sayyid Yahya Yazdi, dan Mirza Bojnourdi, Sayid Ali Khamenei sangat menyukai kondisi belajar, mengajar, dan penelaahan di hauzah ilmiah Najaf. Beliau pun lantas memberitahukan niatnya untuk belajar di Najaf kepada sang ayah, namun ayah beliau tidak menyetujui hal ini. Setelah beberapa waktu, beliau kembali ke Mashad.

Di Hauzah Ilmiah Qom

Pada tahun 1337 hingga 1343 Hijriah Syamsiah (1958-1964), Ayatullah Khamenei belajar ilmu tingkat tinggi di bidang fiqih, ushul, dan filsafat, di hauzah ilmiah Qom dari para guru besar termasuk di antaranya almarhum Ayatullah Al-Udzma Boroujerdi, Imam Khomeini, Syeikh Murtadha Hairi Yazdi, dan Allamah Taba’tabai. Pada tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964), Sayid Ali Khamenei sangat sedih karena dalam surat menyurat dengan ayahnya, beliau mengetahui bahwa satu mata ayahnya tidak dapat melihat lagi akibat terserang penyakit katarak. Saat itu beliau bimbang antara tinggal di Qom untuk melanjutkan studi atau pulang ke Mashad. Akhirnya demi keridhoan Allah swt, beliau memutuskan pulang ke Mashad dan merawat sang ayah.

Di Masyhad

Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, “Saya pulang ke Mashad dan Allah swt telah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya”.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei memutuskan pilihan yang tepat. Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika beliau tinggal sedikit lebih lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian… Namun fakta di masa depan membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang ditetapkan oleh Allah swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan. Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini, yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Perjuangan Politik

Ayatullah Khamenei menurut keterangan beliau sendiri adalah termasuk salah satu murid Imam Khomeini dalam pelajaran fiqih, ushul, politik, dan revolusi. Namun percikan pertama aktivitas politik dan perjuangan beliau terhadap pemerintahan dzalim, dipantik oleh seorang pejuang besar yang gugur syahid di jalan Islam, Sayyid Mujtaba Navvab Safavi. Ketika itu, Navvab Safavi dan sejumlah pejuang Islam lainnya dari kelompok Fedaiyan-e Islam (Pembela Islam) pada tahun 1331 Hijriah Syamsiah (1952) pergi ke kota kota Mashad untuk menyampaikan pidatonya yang berapi-api di madrasah Sulaiman Khan soal kebangkitan Islam dan penerapan hukum Allah, serta membongkar tipu daya Rezim Syah dan Inggris terhadap bangsa Iran. Pada masa itu, Ayatullah Khamenei termasuk pelajar madrasah Sulaiman Khan dan beliau benar-benar terkesan oleh pidato Navvab. Dalam hal ini beliau mengatakan, “Saat itu juga percikan semangat revolusi Islam dibangkitkan pada jiwa saya oleh Navvab dan saya tidak ragu lagi bahwa saat itulah Navvab telah menyalakan api perjuangan dalam hati saya”.

Bersama Gerakan Imam Khomeini r.a

Ayatullah Khamenai pada tahun 1341 Hijriah Syamsiah (1962), tinggal di kota suci Qom dan saat itu beliau masuk di medan perjuangan politik Imam Khomeini melawan politik anti-Islam ala Amerika Serikat (AS) yang digulirkan oleh Rezim Syah Pahlevi. Selama 16 tahun beliau berjuang dan harus melalui berbagai kondisi termasuk penjara dan pengasingan. Selama itu pula beliau tidak gentar menghadapi segala bentuk ancaman bahaya. Untuk pertama kalinya pada tahun 1338 Hijirah Syamsiah (1959), beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk menyampaikan pesannya kepada Ayatullah Milani dan para ulama lainnya di Propinsi Khorasan soal mekanisme program dakwah para ulama dan ruhaniwan di bulan Muharram dan penyingkapan kebobrokan politik Rezim Syah dan AS, serta menyangkut kondisi Iran dan kota suci Qom. Misi itu dijalankannya dengan baik dan beliau melaksanakan tugas dakwah bulan Muharram di kota Birjand. Dalam dakwahnya, seperti yang telah dimandatkan oleh Imam Khomeini, Ayatollah Khamenei mengungkap kebobrokan Rezim Syah dan politik AS. Oleh sebab itu, pada tanggal 9 Muharram bertepatan dengan tanggal 12 Khordad 1342 (2 Juni 1963), beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.

Penahanan Kedua

Pada bulan Bahman tahun 1342 Hijriah Syamsiah (Februari 1963) atau Ramadhan 1383 Hijriah, Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Syah- mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Pada tanggal 15 Ramadhan yang bertepatan dengan hari kelahiran Imam Hasan as, ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap politik setan dan ala AS Rezim Syah Pahlevi, sampai pada puncaknya. Sebab itu, para agen intelejen Rezim Syah atau SAVAK, menangkap beliau pada malam hari dan mengirim beliau ke Tehran dengan menggunakan pesawat. Beliau dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara Qezel Qal’eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala macam penyiksaan.

Penahanan Ketiga dan Keempat

Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi, pada tahun 1345 Hijriah Syamsiah (1966) Ayatollah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1349 Hijriah Syamsiah (1970), untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah dan perjuangan beliau terhadap Rezim Syah.

Penangkapan Kelima

Mengenai penangkapan kelimanya, Ayatullah Khamenei menulis, “Pada tahun 1348 Hijriah Syamsiah (1969), terbuka peluang untuk melakukan perlawanan bersenjata di Iran. Sensitifitas dan kekerasan agen-agen Rezim Syah saat itu terhadap pribadi saya juga semakin meningkat mengingat gerakan perlawanan bersenjata tersebut tidak mungkin terlepas dari orang-orang seperti saya. Pada tahun 1350 Hijriah Syamsiah (1971), saya kembali dipenjara. Tindakan kekerasan yang dilakukan SAVAK di penjara secara jelas menunjukkan kekhawatiran mereka terhadap menyatunya gerakan perlawanan bersenjata dengan pusat-pusat pemikiran Islam. Dan mereka tidak dapat menerima fakta bahwa aktivitas ilmiah dan dakwah saya di Mashad dan Tehran tak ada kaitannya dengan gerakan perlawanan bersenjata itu. Setelah bebas dari penjara, pelajaran tafsir untuk umum dan kelas-kelas ideologi dan lain-lain, semakin meluas.”

Penangkapan Keenam

Antara tahun 1350 hingga 1353 Hijriah Syamsiah (1971-1974), pelajaran tafsir dan ideologi Ayatullah Khamenei digelar di tiga masjid yaitu masjid Karamat, masjid Imam Hasan as, dan masjid Mirza Ja’far, di kota Mashad. Ribuan warga khususnya para pemuda revolusioner memenuhi ketiga masjid tersebut untuk mendengarkan pemikiran dan pelajaran Ayatullah Khamenei. Pelajaran Nahjul Balaghah beliau juga sangat diminati. Penjelasan Nahjul Balaghah beliau yang ditulis dalam bentuk diktat berjudul “Partuee az Nahjul Balaghah” (Seberkas cahaya dari Nahjul Balaghah) diperbanyak dan disebar luas oleh para pemuda revolusioner. Mereka yang menimba pelajaran tentang hakikat dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei, lantas menyebar ke seluruh penjuru di Iran dan menjelaskan tentang hakikat serta mempersiapkan mental warga bagi membela gerakan revolusi besar Islam.

Pada bulan Dey 1353 Hijriah Syamsiah (Januari 1975), SAVAK menyerbu rumah Ayatullah Khamenei. Selain menangkap beliau, para agen SAVAK juga merampas seluruh artikel maupun catatan beliau. Ini merupakan penangkapan keenam dan masa penahanan yang paling sulit. Ayatollah Khamenei disekap dalam penjara Komite Gabungan Kepolisian hingga musim gugur tahun 1354 Hijriah Syamsiah (mendekati bulan-bulan akhir tahun 1975). Selama masa penahanan, beliau diperlakukan dengan sangat keji. Kepedihan yang dialami Ayatullah Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi yang sama. Setelah bebas, Ayatullah Khamenei kembali ke kota Mashad dan tetap melanjutkan aktivitas ilmiah dan revolusionernya. Namun kali ini beliau tidak dapat membuka kelas-kelas terbuka seperti sebelumnya.

Di Pengasingan

Rezim Syah Pahalevi pada akhir tahun 1356 Hijriah Syamsiah (1978), menangkap dan mengasingkan Ayatullah Khamenei ke kota Iranshahr selama tiga tahun. Pada pertengahan tahun 1357 (akhir 1978), menyusul semakin tajamnya perjuangan warga muslim revolusioner Iran, Ayatullah Khamenei dibebaskan dari pengasingan dan kembali ke kota Mashad. Beliau berada di barisan terdepan perjuangan rakyat Iran melawan Rezim Pahlevi dan SAVAK. Setelah 15 tahun berjuang di jalan Allah swt secara ksatria serta ketabahan dalam menghadapi segala kesulitan, akhirnya beliau dapat merasakan hasil dari perjuangan dan perlawanan tersebut yaitu kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim despotik Syah Pahlevi, serta terbentuknya kedaulatan Islam di negeri ini.

Detik Menjelang Kemenangan

Menjelang kemenangan Revolusi Islam, sebelum kepulangan Imam Khomeini r.a dari Paris ke Tehran, sesuai instruksi Imam, dibentuklah Dewan Revolusi Islam yang dianggotai oleh sejumlah tokoh pejuang seperti Ayatullah (Syahid) Mutahhari, Ayatullah (Syahid) Beheshti, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain. Imam Khomeini juga merekomendasikan Ayatullah Khamenei untuk menjadi anggota dewan. Pesan Imam Khomeini r.a itu disampaikan kepada Ayatullah Khamenei oleh Syahid Muthahhari, dan setelah itu Ayatullah Khamenei berangkat dari Mashad menuju Tehran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran

Ayatullah Khamenei tetap melanjutkan aktivitas dan kerja keras untuk merealisasikan cita-cita revolusi. Aktivitas dan jabatan yang beliau emban sangat penting khususnya jika dilihat dengan memandang kondisi saat itu. Berikut ini adalah ringkasan aktivitas penting beliau:

Ikut mendirikan Partai Republik Islam pada bulan Esfand tahun 1357 Hijriah Syamsiah (Maret 1979) dengan kerjasama sejumlah ulama pejuang seperti Syahid Beheshti, Syahid Bahonar, Hashemi Rafsanjani, dan lain-lain.

Menjabat sebagai Deputi Menteri Pertahanan Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Pemimpin Pasukan Garda Revolusi Islam Iran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Imam Jum’at Tehran, tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Wakil Imam Khomeini r.a di Dewan Tinggi Pertahanan, tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980).

Wakil warga Tehran di Majles Shura Islami (Parlemen Iran), tahun 1358 Hijriah Syamsiah (1979).

Partisipasi aktif beliau dengan mengenakan seragam militer di medan perang ‘pertahanan suci’ melawan Irak pada tahun 1359 Hijriah Syamsiah (1980), menyusul invasi pasukan Irak terhadap wilayah Iran. Dalam perang ini Irak diprovokasi dan dipersenjatai oleh kekuatan arogan dunia termasuk AS dan Uni Soviet.

Gagalnya percobaan teror terhadap beliau oleh kelompok munafiqin di masjid Abu Dzar Tehran, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Menjabat sebagai Presiden Republik Islam Iran, menyusul gugur syahidnya Muhammad Ali Rajaee, Presiden kedua Republik Islam Iran. Pada bulan Mehr tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981), Ayatullah Khamenei memperoleh lebih dari 16 juta suara warga, dan dilantik sebagai Presiden Republik Islam Iran setelah mendapat pengukuhan dari Imam Khomeini r.a. Beliau juga terpilih untuk kedua kalinya pada tahun 1364 hingga 1368 Hijriah Syamsiah (1985).

Ketua Dewan Revolusi Kebudayaan, tahun 1360 Hijriah Syamsiah (1981).

Ketua Dewan Penentu Kebijakan Negara, tahun 1366 Hijriah Syamsiah (1987).

Ketua Dewan Revisi Konstitusi, tahun 1368 Hijriah Syamsiah (1989).

Ditunjuk oleh Dewan Ahli untuk menjadi Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, yang dimulai sejak 14 Khordad, sepeninggal Imam Khomeini r.a. Pilihan ini sangat tepat, karena beliau memiliki kelayakan sepenuhnya untuk bukan saja membimbing warga Muslim Iran, melainkan umat Islam di seluruh dunia (1989).

Karya Tulis

Tarh-e Kulli-e Andishe-e Eslami dar Qor’an (Program Komprehensif Pemikiran Islami Dalam AlQuran).

Az Jarfha-ye Namaz (Dari Kedalaman Shalat)

Goftari dar Bab-e Sabr (Pembahasan tentang Kesabaran)

Chahar Ketab-e Asli-e Elm-e Rejal (Empat Buku Utama Ilmu Rijal)

Wilayat (Kepemimpinan).

Gozaresh az Sabeqe-e Tarikhi va Auza-e Konouni-e Hauze-e Elmiye-e Mashhad (Laporan Mengenai Sejarah dan Kondisi Terkini Hauzah Ilmiah Mashad).

Zendeginame-e Aimme-e Tashayyo’ (Riwayat Hidup Para Imam Syiah) -belum dicetak.

Pishvaye Sadeq (Pemimpin yang Jujur)

Vahdat va Tahazzob (Persatuan dan Kepartaian)

Honar az Didgah-e Ayatollah Khamenei (Seni Menurut Ayatullah Khamenei)

Dorost Fahmidan-e Din (Pemahaman Benar Tentang Agama)

Onsor-e Mobarezeh dar Zendegiy-e Aimmeh (Unsur Perjuangan Dalam Kehidupan Para Imam a.s

Ruh-e Tauhid, Nafy-e Obudiyyate Gheire Khoda (Ruh Ketauhidan, Penafian Penghambaan Selain Allah swt)

Zarurat-e Bazgasht be Qor’an (Urgensi Kembali Kepada AlQuran)

Sire-ye Emam-e Sajjad (Sejarah Imam Sajjad a.s)

Imam Ridha as va Velayatahdi (Imam Ridha a.s dan Posisi Putra Mahkota)

Tahajom-e Farhangi (Serangan Budaya), disusun dari kumpulan pidato dan pesan Rahbar.

Hadis-e Velayat (Hadis Kepemimpinan), kumpulan pidato dan pesan Rahbar yang hingga kini telah dicetak sebanyak sembilan jilid.

————————————————————-

PERTANYAAN :

Bukankah pemikiran Khomeini ada beda dengan pemikiran KHAMENEi padahal keduanya adalah sama sama RAHBAR ????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

- Pasti ada perbedaan secara detil dalam ijtihad

- Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya belum diketahui

- Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

- Fungsi rahbar adalah sebagaimana fungsi pemimpin dalam suatu organisasi

- apakah ajaran syafi’i , hambali, hanafi dan maliki wajib ditaati ??? padahal ajaran mereka beda dalam fikih
———————–

PERTANYAAN :
Sebutkan contoh ijtihad ulama syi’ah zaman dulu yang dibatalkan ulama zaman sekarang !!!!!!!!!!!!!

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :
Minoritas ulama syi’ah meyakini Nabi Isa akan turun kebumi diakhir zaman.. Ulama syi’ah zaman dulu juga ada yang mengakuinya …

Mereka mengakuinya karena BELUM ADA PENELiTiAN TENTANG iTU..Tapi setelah penelitian memberikan jawaban ilmiah MAKA KEBANYAKAN MEREKA TiDAK MENGAKUi LAGi imam Nabi Isa turun di akhir zaman karena ayat Quran menyatakan semua manusia sebelum Muhammad SAW sudah wafat
—————————–

PERTANYAAN :

1.Kata anda YANG KITA PEGANG ADALAH PENDAPAT TERAKHIR YANG SUDAH DITELITI ?????

2.ARTiNYA BiSA SAJA ULAMA BESAR SYi’AH ZAMAN DULU SEPERTi AL MAJLiSi dan SYAiKH SHADUQ MENGELUARKAN PENDAPAT YANG SALAH LALU ULAMA ZAMAN SEKARANG MENGELUARKAN PENDAPAT YANG BENAR ?????

Jawab :Jawab :Jawab :Jawab :

1.Ya, karena dalam semua kasus penelitian, penelitian terakhirlah yang kesimpulannya paling baik….Yang diikuti adalah PENDAPAT YANG TERAKHiR ( yang hakekat nya sudah diketahui )

2. yA, FAKTANYA MEMANG demikian
contoh sederhana Perbedaan ijtihadi ULAMA MASA LAMPAU DAN ULAMA MASA kini karena samarnya istinbath hukum pada masa lampau tapi TERANG PADA MASA KiNi, contoh : Ulama zaman dulu bilang merokok makruh karena mereka tidak tau mudharat rokok, tiba tiba dikemudian hari setelah dilakukan penelitian ternyata rokok membawa mudharat, maka ULAMA ZAMAN SEKARANG mengharamkan rokok

Jadi kesimpulan ???????????????????????????????????:
Ajaran Khomeini wajib ditaati hanya pada masanya dan tidak wajib pada masa berikutnya !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!Zaman Khomeini persoalan yang muncul pada masa khamenei belum ada, atau hakikatnya belum diketahui

Masa sekarang yang wajib diikuti adalah YANG BERWENANG DAN KEWENANGANNYA SAH SECARA HUKUM DAN SYARi’AT !!!!! yaitu Ayatullah Ali Khamenei

———————————————————————————————————————————————————–
——————————————————————————————————-

Taqlid dalam Ajaran Syiah Imamiah

Agama Islam – sebagaimana maklum – meliputi masalah-masalah aqidah, fiqih dan akhlak. Di dalam masalah akidah ( ushuluddin ), khususnya menurut ajaran madzhab Ahlul Bait as tidak dibenarkan bertaqlid buta dan mengikuti akidah orang lain tanpa memahami dalil-dalil dan argumen-argumennya. Misalnya dalam masalah menetapkan dan meyakini adanya Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini, adanya hari pembalasan, mengenai keesan Tuhan dan lain-lain, dalam hal ini kita tidak boleh ikut-ikutan dan bertaqlid buta kepada orang lain, sekali pun kepada guru atau orang tua kita sendiri, artinya kita harus mencari atau memahami dengan baik dan benar akan dalil-dalil dan argumen-argumen yang berhubungan dengan masalah tersebut. Sehingga ketika kita ditanya orang; Apakah Tuhan itu ada? Kalau Tuhan itu ada, apakah Dia itu esa, satu ataukah ada tiga? Apakah hari kiamat itu pasti terjadi? Dan pertanyaan-pertanyaan akidah lainnya, kita dapat menjawabnya sekali pun dengan argumen-argumen yang sangat sederhana sekali; seperti bahwa Tuhan Pencipta itu ada, dalilnya adalah adanya kita dan alam semesta ini.

Berbeda halnya dengan masalah fiqih atau furu’uddin (cabang-cabang agama). Sehubungan dengan masalah ini, khususnya dalam hal-hal yang sifatnya bukan “darûriyyatuddin” seperti kewajiban shalat dll, kaum muslimin secara umum dan apa pun madzhab dan alirannya dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok ‘Ulama Mujtahid, kelompok muqallid dan kelompok muhtath.baca selanjutnya

Sebelum kami menjelaskan masing-masing definisi Mujtahid, Muqallid dan Muhtât, dan demi memperjelas pengertian “darûriyyatuddin“, baiklah akan kami jelaskan pembagian “Ahkam Syari’ah“.

Hukum-hukum syari’at (ajaran Islam) ditinjau dari sudut pandang upaya mengenal dan mengetahuinya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

Ahkam Daruriah, yaitu hukum-hukum darûriyah yang biasa juga disebut darûriyy atuddîn artinya adalah hukum-hukum yang sudah jelas, gamblang dan ma’ruf serta telah menjadi keyakinan seluruh kaum musliminin. Karena untuk menget ahuinya tidak perlu menguras tenaga dan kemampuan untuk mengkaji, meneliti dan menggunakan kaidah-kaidah ushul, dengan kata lain untuk mengetahui hukum-hukum darûriah itu tidak memerlukan ijtihad, contohnya seperti wajibnya salat, zakat, haji dan lain-lain atau seperti haramnya berzina, membunuh dan lain-lain yang mana seluruh kaum musliminin telah meyakini dan mengetahui dengan jelas tanpa berijtihad atau berlajar lama di Hawzah (pesantren).
Hukum-hukum syari’at yang bukan dlaruri, artinya hukum-hukum yang tidak gamblang bagi setiap muslim yang biasa juga disebut “Ahkam Ghairu Daruriyyah“ yaitu selain hukum-hukum daruriyyah. Ahkam ghairu darûriyah ini menuntut segenap kemampuan dan kerja keras untuk dapat mengetahuinya, yaitu dengan cara menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqih dan ilmu-ilmu alat lainnya (seperti, tata bahasa arab, ilmu hadits, tafsir, dll) agaar dapat menentukan hukum-hukum tersebut, seperti perincian hukum-hukum ibadat dan muamalat pada umumnya. Sudah tentu tidak setiap muslim mampu melakukan pekerjaan berat semacam ini, bahkan tidak juga setiap ‘Ulama mampu melakukannya. Pekerjaan seperti ini dinamakan ijtihad yang hanya dapat dilakukan oleh para Mujtahid. Untuk dapat mencapai tingkat ijtihad ini diperlukan keseriusan dalam belajar di tingkat Bahtsul Kharij, yaitu peringkat tinggi dalam pelajaran fiqih dan ushul.

Tingkat Bahtsul Kharij ini dapat dimasuki oleh seorang santri/thalabeh setelah melewati peringkat suthuh. Setidaknya Menurut hemat kami, mereka yang duduk dalam tingkat Bahtsul Kharij ini menghabiskan waktu kurang lebih selama lima belas tahun untuk dapat melakukan ijtihad. Sedang peringkat suthuh itu dapat ditempuh secara normal selama delapan tahun, setelah itu barulah ia dapat memasuki pelajaran fiqih dan ushul pada tingkat Bahtsul Kharij.
Seorang Mujtahid Mutlak untuk dapat mencapai tingkat marja’iah (menjadi marja’ dan nara sumber hukum bagi masyarakat umum) biasanya ada syarat-syarat khusus yang ia harus ia tempuh, seperti adanya kesaksian dari beberapa orang ulama dan telah menulis Risâlah ‘Amaliah. Seorang ‘Ulama Syi’ah Imamiyah yang merupakan seorang mujtahid dan telah mencapai tingkat marja’ berkata : ” Mengingat ijtihad itu memerlukan ilmu yang “canggih”, keseriusan dan kerja keras yang istiqomah, oleh karena itu sedikit sekali orang-orang yang mampu mencapai peringkat mulia dan terpuji ini. Keadaan seperti inilah yang menyebabkan mayoritas kaum muslimin harus merujuk kepada seorang mujtahid sebagai nara sumber dalam masalah-masalah fiqih. Dan inilah yang disebut dengan “taqlid “.

Definisi Mujtahid, Muqallid dan Muhtât

Mujtahid ialah : Orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur’an dan Hadits. Mujtahid inilah yang menjadi rujukan (marja’) bagi orang-orang awam dan kelompok muqallid.

Muqallid ialah : orang-orang awam yang belum atau tidak sampai kepada derajat ijtihad. Mereka ini diwajibkan ber-taqlid kepada seorang Mujtahid atau Marja’ yang telah memenuhi syarat. Pendeknya bahwa muqallid adalah orang yang ber-taqlid atau mengikuti seorang Mujtahid. Sedang arti taqlid itu sendiri adalah beramal ibadah, ber-mu’amalah, bermasyarakat dan bertingkah laku sesuai dengan fatwa-fatwa seorang Mujtahid atau marja’.

Muhtât ialah : Orang yang juga belum mencapai peringkat ijtihad, tetapi lebih tinggi derajatnya dari mukallid karena ia telah mampu mengkaji dan membandingkan antara fatwa-fawa seorang Marja’ dengan fawa-fatwa Marja’ lainnya, sehingga ia dapat memilih fatwa yang lebih hati-hati dan lebih berat untuk diamalkan. Singkatnya definisi muhtât adalah orang yang berhati-hati dalam segala amal ibadah dan perbuatannya. Kelompok muhtât jumlahnya sangat sedikit sekali, karena ber-ihtiyât adalah termasuk pekerjaan yang berat. Oleh karena itu, kelompok ini pun dibolehkan ber-taqlid kepada seorang marja’.

Kewajiban Bertaqlid Bagi Setiap Muslim

Apabila Anda ditanya orang; Mengapa dalam agama Islam dan khususnya dalam madzhab Syi’ah Imamiah (Ahlul Bait As) setiap muslim dilarang bertaqlid -dalam masalah ushuluddin- kepada orang lain sekali pun kepada ‘Ulama dan para mujtahid, tetapi dalam masalah-masalah fiqih yang bukan “daruriyyatuddin” -setiap muslim yang awam- diwajibkan bertaqlid kepada salah seorang mujtahid atau marja’ ?

Jawabnya adalah : Karena setiap muslim yang berakal sehat pasti mampu untuk mencari atau memahami argumen-argumen ushuluddin/aqidah dengan menggunakan akal pikirannya, sehingga dalam masalah-masalah aqidah tidak perlu dan tidak dibolehkan bertaqlid kepada orang lain, tetapi dalam masalah-masalah fiqih /furu’uddin tidaklah demikian, artinya tidak semua orang -bahkan sedikit sekali- yang mampu menggali hukum dari sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan hadits. Hanya para Mujtahidlah yang mampu melakukan pekerjaan (ijtihad) ini. Oleh karena itu, dalam masalah fiqih orang awam (yang belum mencapai peringkat ijtihad) diwajibkan bertaqlid kepada seorang marja’.

Dalam masalah pengetahuan umum saja, kalau kita perhatikan kehidupan dan kemajuan zaman sekarang ini, diperlukan adanya spesialisasi-spesialisasi dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya kedokteran, filsafat, ekonomi, politik, tehnik dan lain-lain. Bahkan ilmu kedokteran saja bercabang-cabang lagi, nah apalagi dalam masalah agama dan hukum-hukum dalam Islam, sudah tentu sangat diperlukan adanya para mujtahid dan marja’ agar orang-orang awam tidak tersesat dan tidak berani menyimpulkan dan mengeluarkan hukum sendiri. Sebagaimana dalam masalah penyakit dan pengobatannya orang-orang awam diharuskan merujuk kepada dokter spesialisasi, maka begitu pula dalam masalah-masalah fiqih dan ahkam, yaitu orang-orang awam diharuskan merujuk kepada para mujtahid dan marja’ yang telah memenuhi syarat. Tentu saja taqlid semacam ini jauh berbeda dengan taqlid kepada orang-orang asing dalam masalah budaya dan adat istiadat, karena bertaqlid kepada mereka dalam masalah ini akan menyebabkan hancurnya akidah, iman dan akhlak Islami seorang muslim. Seorang muslim haruslah senantiasa menjaga akhlak, iman dan adat istiadat atau budayanya yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Dalil-Dalil Keharusan Bertaqlid

Paling tidak ada lima argumen yang bisa dijadikan sebagai dasar kebolehan dan keharusan bertaqlid bagi orang-orang awam – dalam masalah-masalah fiqih – kepada seorang mujtahid atau marja’. Lima buah argumen itu ialah :

1. Sirah al-’uqala (Tingkah laku orang-orang yang berakal)

Argumen terpenting sehubungan dengan masalah ini adalah argumen prilaku ‘uqala sepanjang sejarah kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari kita saksikan bahwa mayoritas masyarakat umum senantiasa mengikuti, bertaqlid dan merujuk kepada para ahli di bidangnya masing-masing. Misalnya mereka yang bukan ahli dalam bidang elektronik ketika TV mereka rusak, mereka akan merujuk tempat-tempat servis TV dimana tenaga ahli terdapat disitu dan bahkan mereka siap mengikuti dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh para ahli tersebut.

Janganlah coba-coba apabila Anda bukan ahli dibidangnya untuk memperbaiki TV, membongkar mesin mobil atau pun menservis komputer, karena pasti Anda tidak akan berhasil dan mayarakat umum pun akan mencaci maki Anda. Tetapi, rujuklah para ahli di bidangnya masing-masing. Kalau dalam urusan materi dan dunia saja harus demikian, apalagi dalam hal-hal yang berhubungan erat dengan kehidupan alam akhirat yang kekal dan abadi. Logiskah apabila Anda menanyakan apa hukumnya bekerja di bank, bagaimana cara melakukan ibadah haji dan lain-lain kepada penjual sayuran di pasar ? atau kepada ahli bangunan ?

2. Al-Qur’an,

Artinya: ” Hendaklah ada sekelompok dari orang-orang yang beriman yang mendalami masalah-masalah agama untuk memberikan peringatan kepada kaumnya”.(Qs. at-Taubah: 122)

Penjelasan :

Ayat tersebut menunjukkan wajibnya melakukan “indzar” (memberikan dan menyampaikan peringatan kepada umat manusia akan adanya siksa Allah Swt ketika mereka tidak mentaati dan melanggar hukum-hukum-Nya). Sudah barang tentu tidak semua orang mampu menentukan, menetapkan dan menjelaskan hukum-hukum Allah Swt tersebut selain para ‘ulama dan mujtahid yang telah mengkaji masalah-masalah agama puluhan tahun. Dengan demikian, ayat tersebut tidak secara langsung mewajibkan orang-orang muslim yang awam untuk bertaqlid kepada para ‘ulama, maraji’ dan mujtahidin yang telah memenuhi syarat. Sehubungan dengan ayat tersebut sebagian ‘Ulama Ahli Sunnah berkata: “Maka dengan demikian Allah Swt telah mewjibkan kaum muslimin untuk menerima “indzar” dan peringatan yang disampaikan oleh para ‘Ulama, dan hal itu berarti “taqlid” kepada mereka”.

3. Al-Qur’an.

Artinya: “Maka hendaklah kalian bertanya kepada “Ahli Dzikir” ( para ‘Ulama ) jika memang kalian tidak tahu”. (Qs.an-Nahl : 43)

Penjelasan:

Sangat jelas, bahwa ayat tersebut menunjukkan kewajiban bertaqlid bagi orang-orang awam yang belum mencapai peringkat mujtahid. Nampaknya ayat ini lebih jelas tekanannya dibandingkan dengan ayat sebelumnya, karena ayat ini menjelaskan tugas si mukallid, hanya saja yang menjadi masalah adalah siapakah ahli dzikir yang dimaksud oleh ayat tersebut?

Sehubungan dengan pengertian ahli dzikir, ada beberapa jawaban dan pandangan yang perlu diperhatikan baik-baik

1. Ahli ilmu dan ahli Al-Qur’anul al- Karim

2. Ibnu Qayyim al-Jauzi berpendapat ” bahwa yang dimaksud dengan ahli dzikir ialah ahli tafsir dan ahli hadits” .

3. Ibn Hazm berkata ” ahli dzikir adalah para perawi hadits Nabi dan para ‘ulama tentang hukum-hukum al-Qur’an ” .

Dari beberapa jawaban dan pandangan tersebut dapat kita simpulkan bahwa seluruh umat Islam yang awam yaitu yang belum mencapai derajat ijtihad, diwajibkan untuk bertanya, mengikuti dan bertaqlid kepada Ahli Dzikir, yaitu para ‘Ulama yang betul-betul telah mendalam pengetahuannya tentang al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi. Hal ini sesuai dengan penafsiran secara umum dan sesuai pula dengan kondisi sekarang ini, dimana kita hidup pada masa “ghaibah kubra“nya Imam Zaman As. Sedang “ahli dzikir” menurut pandangan yang lebih dalam, lebih luas dan khusus yang ditopang oleh ayat-ayat lainnya dan berbagai riwayat adalah: para Imam Ma’shum yang jumlahnya ada dua belas orang. Ma’af, kami tidak dapat menyinggung masalah yang luas ini dalam risalah yang sederhana ini.

4. Al-Qur’an

Artinya: “Katakanlah pada mereka: ‘Taatilah Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri dari kalian’“. (Qs.an-Nisa ayat : 59)

Penjelasan:

Sebagian ‘Ulama Ahli Sunnah menjadikan ayat ini sebagai dalil atas wajibnya bertaqlid, mereka mengatakan : ” Sesungguhnya Allah Swt -dalam ayat ini- telah memerintahkan hamba-Nya agar mentaati-Nya, mentaati Rasul-Nya dan ‘Ulil Amri’ yaitu para ‘Ulama atau para ‘Ulama dan Umara. Dan taat kepada mereka berarti mentaqlidi mereka atas segala apa yang mereka fatwakan, karena sesungguhnya jika tidak ada taqlid, tidak akan ada ketaatan yang khusus kepada mereka”.

Para ‘Ulama Syi’ah Imamiah – berdasarkan riwayat-riwayat yang juga bersumber dari kitab-kitab Ahli Sunnah – mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Ulil Amri” dalam ayat tersebut adalah : “Para Imam Dua Belas” setelah wafatnya Rasulullâh saw dari mulai Imâm ‘Alî bin Abî Tâlib As sampai kepada Imâm Zaman al-Mahdi As. Dengan demikian ayat tersebut berarti : ” Hendaknya kalian senantiasa mentaati Allah Swt, Rasul-Nya dan para Imam Ma’sum yang 12 orang”. Sedang pada masa ghaibah kubra Imam yang ke 12 sekarang ini, kalian wajib mentaati “Wali Faqih“ yaitu Imam Ali Khamene’i Hf dan marja’ kalian masing-masing yang telah memenuhi syarat.

5. Riwayat Imam Hasan al-Askari As

Artinya: “Adapun terhadap seorang faqih yang senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan dosa, selalu menjaga agamanya, melawan hawa nafsunya dan selalu mentaati perintah-perintah “Maula“nya, maka diwajibkan bagi semua orang awam untuk bertaqlid kepadanya”.

Penjelasan

Telah jelas dan masyhur bahwa riwayat ini menunjukkan dan menjelaskan kewajiban bertaqlid bagi semua orang awam -pada masa sekarang ini- kepada seorang marja’ dan mujtahid yang sebagian syarat-syaratnya telah disebutkan dalam riwayat tersebut.

Kalau kita perhatikan para pengikut madzhab Ahli Sunnah di seluruh dunia pada masa sekarang ini – di dalam masalah fiqih – sebagian mereka bertaqlid kepada Imam Syafi’i, sebagian lainnya bertaqlid kepada Imam Maliki, Hanafi dan Hanbali. Terlepas mereka itu paham atau pun tidak akan masalah taqlid, mereka sadari atau pun tidak, yang jelas mereka itu -dalam masalah furu’uddin- bertaqlid dan mengamalkan fatwa-fatwa salah seorang dari para mujtahid dan marja’ tersebut.

Sedang para pengikut madzhab Syi’ah Imamiah diwajibkan untuk bertaqlid – dalam masalah furu’uddin yang bukan daruriyyatuddîn dan pada masa ghaib kubra sekarang ini – kepada seorang mujtahid dan marja’ yang telah memenuhi syarat. Dan mayoritas mujtahidin itu kini berada di Negara Republik Islam Iran, khususnya di kota Qum al-Muqaddasah.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid dan marja’ yang bisa ditaqlidi, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ‘Ulama di dalam kitab-kitab fiqih mereka ialah:.

1. Telah mencapai peringkat mujtahid.

2. Adil.

3. Laki-laki.

4. Beriman ( Syi’i Imami ).

5. Bukan anak hasil zina.

6. Wara’.

7. Lebih alim dari mujtahid lainnya.

8. Dll.

Apabila terdapat beberapa orang yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut, sebagaimana kenyataan sekarang ini, maka si muqallid -untuk dapat memilih dan mentaqlidi salah seorang dari mereka- haruslah dengan bantuan dan perantara “Ahli Khibrah “. Ahli Khibrah ialah: Orang-orang yang telah lama (kira-kira lebih dari 20 tahun) mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu agama sehingga mereka telah mampu menilai, menentukan dan membedakan antara Mujtahid dengan yang bukan/belum Mujtahid dan antara yang a’lam dengan yang tidak.

Menurut Imâm Khomeini Ra, Sayyid al-Qâid Hf, dll. Minimalnya harus melalui perantara dua orang Ahli Khibrah untuk dapat memilih, menentukan dan mentaqlidi seorang mujtahid atau marja’. Dengan demikian si mukallaf atau mukallid yang awam tidak dibenarkan memilih dan menentukan marja’nya dengan penilaiannya sendiri, apalagi jika penilaian dan pemilihannya atas seorang marja’ itu didasari oleh sifat rakus dan tamaknya terhadap materi dan dunia, seperti -misalnya- jika marja’ yang ia pilih itu lebih dekat dan lebih banyak memberikan bantuan kepadanya daripada marja’ lainnya. Nah, dasar penilaian dan pemilihan seperti ini jelas kebatilannya, karena satu-satunya tolok ukur a’lamiah seorang marja’ adalah: kelebih pandaiannya dalam beristinbat dan menetapkan suatu hukum dari sumber-sumbernya, dan sama sekali bukan yang lebih pandai dalam masalah-masalah sosial, politik apalagi materinya.

Pembagian Taqlid

Taqlid seseorang kepada orang lain -dalam hal apa pun dan secara rasional- tidak keluar dari empat macam,yaitu:

Taqlid seorang alim kepada alim lainnya.
Taqlid seorang jahil kepada jahil lainnya.
Taqlid seorang alim kepada orang yang jahil.
Taqlid seorang yang jahil kepada orang alim.
Bagian pertama, yaitu taqlid seorang yang alim kepada orang alim lainnya, menurut penilaian akal sehat adalah suatu perbuatan yang jelek dan tidak terpuji, karena tidak ada alasan bagi orang yang telah mengetahui ( alim ) tentang suatu masalah bertaqlid kepada orang lain yang juga mengetahui permasalahan yang sama. Oleh karena itu, seorang mujtahid tidak dibenarkan dan tidak dibolehkan bertaqlid kepada mujtahid lainnya.

Bagian kedua, yaitu taqlid seorang jahil, bodoh dan tidak mempunyai ilmu pengetahuan kepada orang jahil yang sama. Sudah tentu akal sehat menilai perbuatan semacam ini sangat buruk dan tidak logis. Bagaimana mungkin orang yang bodoh bertaqlid kepada orang yang bodoh pula. Hal ini tidak ada bedanya dengan orang buta yang berkata kepada kawannya yang juga buta pula: “peganglah tanganku dan tuntunlah aku menuju ke suatu tempat di sana”.

Bagian ketiga, yaitu taqlid seorang ‘alim kepada orang jahil. Taqlid semacam ini adalah paling buruk dan hinanya perbuatan di mata masyarakat umum dan bahkan menurut penilaian anak kecil sekali pun. Mana mungkin orang yang dapat melihat dengan baik minta bantuan untuk dituntun ke suatu tempat kepada orang yang buta matanya.

Bagian keempat adalah: taqlid seorang jahil kepada orang alim dan pandai (ahli ilmu). Hal ini sangatlah wajar dan logis. Bahkan menurut akal sehat memang begitulah seharusnya, yaitu orang yang awam dan bodoh diharuskan bertaqlid dan mengikuti saran-saran, nasihat-nasihat, fatwa-fatwa dan jejak langkah ahli ilmu. Dalam hal ini, agama pun -terutama madzhab Ahlul Bait As- sangat menekankan dan mewajibkannya. Taqlid semacam ini tidaklah dikategorikan sebagai “taqlid buta” yang memang sangat dicela oleh akal sehat dan Al-Qur’an al-Karim. Contoh taqlid keempat ini tidak ada bedanya dengan seorang awam yang terkena penyakit tertentu berkonsultasi dan berobat kepada seorang dokter spesialisasi di bidangnya.

”Taqlid buta” adalah satu sifat yang sangat buruk, rendah dan tercela, yaitu ketika seseorang mengikuti orang lain tanpa dalil dan argumen yang jelas, kuat dan logis, baik dalam hal ibadat, maupun dalam hal adat istiadat. Baik yang diikuti itu masih hidup, atau pun sudah mati. Baik kepada orang tua dan nenek moyang, maupun kepada bangsa lain. Sifat inilah yang disandang oleh orang-orang kafir dan dungu, dari dahulu kala hingga pada zaman kita sekarang ini, dimana mereka menjalankan ibadah mereka sehari-hari berdasarkan taqlid buta dan mengikuti lampah dan perbuatan nenek-nenek moyang mereka yang tidak mempunyai dalil dan argumen sama sekali. Allah Swt berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka ( orang-orang kafir dan yang menyekutukan Allah ): “ikutilah semua ajaran dan petunjuk yang telah Allah turunkan”. Mereka menjawab: “Kami hanya mengikuti segala apa yang telah dilakukan oleh nenek-nenek moyang kami”. Padahal nenek-nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa-apa dan tidak juga mendapat hidayah ( dari Allah Swt )” (Qs.Al-Baqarah : 170).

Dengan kata lain, bahwa nenek-nenek moyang mereka itu adalah orang-orang yang bodoh dan tersesat, tetapi walau pun demikian mereka tetap mengikuti dan mentaqlidinya. Mereka menolak bertaqlid kepada orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah Swt, ma’sum (terjaga) dari segala kesalahan dan dosa dan ahli ilmu pengetahuan, yang sifat-sifatnya telah jelas disebutkan oleh Allah Swt di dalam Al-Qur’an al-Karim, yaitu para Nabi, Rasul, Imam-Imam suci dan para ‘ulama yang telah memenuhi syarat-syarat yang telah kami singgung di atas.

Para pembaca yang budiman, mengingat risalah ini sengaja dibuat seringkas mungkin, maka kami kira bukan pada tempatnya untuk menjelaskan masalah taqlid yang lebih luas lagi, terutama yang berhubungan dengan masalah “marja’iah” dan “a’lamiah“.

Secara singkat kami katakan, bagi Anda yang baru baligh atau baru masuk/pindah ke madzhab Syi’ah Imamiah pada masa sekarang ini, dimana tidak ada kata sepakat dari para Ahli Khibrah tentang a’lamiah seorang mujtahid atau marja’, jika ingin bertaqlid kepada seorang mujtahid atau marja’, maka carilah dua orang Ahli Khibrah yang menyaksikan dan menyatakan a’lamiahnya. Di samping itu pula, tentunya Anda dituntut untuk mengenal dan memeperhatikan Ahli Khibrah tersebut, baik dari sisi akhlak, pengetahuan, zuhud, dll. Baik melalui cerita-cerita orang-orang yang mengenalnya, membaca biografi dan karangan-karangannya, atau dengan cara-cara lainnya. Karena Ahli Khibrah itulah yang menyampaikan Anda kepada seorang mujtahid atau Marja’ Taqlid. Sedang Marja’ Taqlid itu menyampaikan dan menyambung tali hubungan Anda dengan Imam Zaman Ajf. Dan Imam Zaman Ajf adalah sebagai tali penghubung dan “Al-Urwah al-Wustqa” kepada Allah Swt bagi setiap mukallid, bahkan secara umum bagi setiap insan dan jin yang berusaha mencari dan menelusuri jalan menuju al-Haq. Bahkan lebih dari itu, Imam Zaman Ajf yang berperan sebagai “al-Hujjah” di muka bumi pana ini, adalah sebagai tonggak dan poros utama bagi keteraturan alam semesta ini dengan segala aktivitasnya, “Lawlal Hujjah Lasaakhatil ardlu biahlihaa”, tanpa adanya “al-Hujjah” (Imam Zaman Ajf sebagai Imam Maksum yang ke 12), akan hancur luluhlah bumi ini dengan segenap penduduk dan isinya. Pembahasan tentang Imam Zaman ajf sebagai ‘al-Hujjah“, “Wasilah” dan “Al-’Urwah al-Wutsqa” ini, berhubungan erat dengan pembahasan “hukum kausalitas, sebab akibat dan “Sunnatullah” di dalam pelajaran dan kajian filsafat. Hal ini tidak dapat kami bahas dalam risalah sederahana ini. Namun Anda dapat menanyakannya kepada seorang Ustadz yang telah mempelajari dan mengkaji akidah Syi’ah Imamiyah dengan baik dan mendalam.

Dengan ungkapan lain yang lebih jelas sehubungan dengan peran penting kehadiran seorang marja’ dan Imam Zaman Ajf dalam kehidupan kita sehari-hari, kami katakan bahwa kita tidak akan dapat mencapai makam “mardlatillah” yang murni dan sempurna tanpa mengenal Imam Zaman Ajf dan menapaki jalan-jalan syari’at dan bimbingan beliau. Sebagaimana pula kita yang awam ini tidak mungkin akan dapat mentaati dan melaksanakan segala perintah, syari’at dan bimbingan beliau tanpa menjalankan berbagai aturan dan tata cara beribadah, bermu’amalah, bermasyarakat dst yang telah dirangkum dalam “Risâlah ‘Amaliah” seorang mujtahid/marja’.

Dengan demikian, betapa urgen dan pentinganya kehadiran sebuah “Risâlah ‘Amaliah” Marja’ Taqlid Anda di sisi Anda. Bila hal ini dapat Anda pahami dengan baik dan benar, sehubungan dengan “Hablumminallah” dan “Hablumminannas“, maka tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk mengabaikan dan membiarkan “Risâlah ‘Amaliah” jauh keberadaannya dari sisi Anda, dan tidak mungkin pula Anda akan lebih mengutamakan membaca koran-koran, majalah-majalah dan media lainnya hanya sekedar untuk mengorek-ngorek informnasi dan berita-berita dunia yang tidak ada hubungannya dengan peningkatan keimanan Anda dan tidak ada kaitannya pula dengan nasib Anda di alam akhirat yang kekal abadi.

Tidaklah mengherankan apabila terdengar adanya satu dua orang yang dengan sengaja mengabaikan dan tidak mempedulikan kehadiran sebuah “Risâlah ‘Amaliah” dalam peraktek kehidupannya sehari-hari, dan mereka itu lebih mengutamakan sisi afkar (pemikiran) dan aqidah global dalam madzhab Syi’ah Imamiah, lantaran mereka belum dapat memahami dengan baik bagaimana menggapai keridlaan Imam Zaman Ajf sebagai langkah “wasilah” menuju titik sasaran utama dan terakhir “Mardlatillah Swt“.

Harapan dan do’a kami, semoga kini tidak terdengar lagi ungkapan-ungkapan seperti: “Yang penting kan pemikiran, fiqih itu tidak perlu”, atau “Untuk memjadi Syi’ah cukup dengan mempercayai dua belas Imam, dan tidak perlu mempraktikkan fiqih Syi’ah sebelum akidah kita mantap”. Padahal, sekedar mengkaji dan meyakini adanya dua belas Imam tidaklah ada artinya sama sekali, apabila dalam beramal ibadah masih meyakini dan mengikuti aturan-aturan yang datang dari selain meraka.

Demi untuk mempermudah para pecinta dan pengikut setia ajaran Ahlul Bait As di Tanah Air tercinta yang ingin bertaqlid kepada Imam Khamene’i Hf (?yatullâh al-’Uzma Sayyid Ali al-Khamene’i Hf), maka kini kami tunjukkan dua orang Ahli Khibrah yang telah menyaksikan dan menyatakan a’lamiah beliau. Dua orang Ahli Khibrah itu ialah: 1.?yatullâh Syaîkh Muhammad Yazdi Hf. 2.?yatullâh Sayyid Ja’far al-Karimi Hf. Informasi tentang dua orang Ahli Khibrah ini kami peroleh langsung dari kantor Sayyid al-Qa’id Hf pada tanggal 21 Rabi’ul Awwal Th. 1421 H. Isi surat yang kami ajukan dengan bahasa arab tersebut kurang lebih demikian isinya:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismihi Ta’ala

Dengan ini kami kabarkan kepada Antum (Petugas istiftaat) yang mulia – sesuai dengan pengetahuan kami yang dangkal – bahwa mayoritas mutasyayyi’in di negeri kami (Indonesia) bertaqlid kepada yang mulia ?yatullâh al-’Uzma Sayyid Ali Khamene’i Hf.. Hal itu demi menghimpun pada pribadi beliau yang mulia antara Marja’iah dan Qiyadah atau Wilayah, dan nyatanya memang maslahat menuntut demikian. Disamping itu pula bahwa beliau telah masyhur dengan predikat a’lam dari sisi politik, bahkan lebih dari itu, Imam Khomeini ra yang agung telah memberikan isyarat tentang kelayakan beliau dalam hal tersebut. Dan para mutasyayyi’in tersebut bertaqlid kepada beliau yang mulia tanpa muroja’ah terlebih dahulu kepada Ahli Khibrah . Dan apabila Antum berpendapat bahwa taqlid semacam ini tidak dianggap sah, artinya: mereka itu harus muroja’ah terlebih dahulu kepada Ahli Khibrah untuk mengokohkan a’lamiah beliau, maka hal itu merupakan tugas yang sulit buat mereka dan taklif yang tidak mampu untuk dipikul ( Lâ Yukallifullâhu nafsan illâ wus’ahaa ).

Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kepada Antum yang terhormat agar kiranya dapat menunjukkan kami atau menyebutkan nama-nama Ahli Khibrah yang mendukung a’lamiah ?yatullâh al-’Uzma Sayyid Ali Khamene’i Hf. Karena terus terang, kami sendiri tidak mampu untuk meneliti dan mohon penjelasan tentang a’lamiah beliau secara langsung dari Ahli Khibrah . Oleh karena itulah kami bertawassul kepada Antum untuk dapat bertaqlid kepada beliau yang mulia. Semoga Antum mendapatkan ganjaran yang besar dari sisi Allah Swt. Amin……

——————————————————————————————————
—————————————————————————————————–
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.”
(Al-Quran Surah Al-Qalam ayat 10-11)

Di antara propaganda busuk yang selama ini disebarkan melalui mulut dan situs-situs kotor kaum Wahabi adalah tuduhan bahwa akidah 12 Imam (pemimpin) yang dianut Muslim Syiah berasal dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Dengan panjang lebar mereka memfitnah bahwa keyakinan 12 imam yang dianut Muslim Syiah diambil dari keyakinan Yahudi dan Nasrani. Benarkah? Jika Anda membaca tulisan dan tuduhan-tuduhan mereka itu, Anda akan segera melihat kedangkalan pemikiran kaum Wahabi. Argumen-argumen yang mereka gunakan untuk menyebar fitnah keji tersebut terlihat sedemikian naif dan rapuh. Saya akan bertanya kepada mereka: Apakah jika kaum Yahudi meyakini bahwa khitan itu wajib lalu dengan serta merta Anda menuduh bahwa keyakinan Islam atas kewajiban khitan (atas laki-laki) juga merupakan peniruan dari keyakinan kaum Yahudi dan Nasrani?Baca selanjutnya

Apakah jika kaum Nasrani mengajarkan agar mengasihi orang-orang miskin dan kaum Muslim juga melakukan hal yang sama, maka berarti kaum Muslim mengambil ajaran seperti ini dari kaum Nasrani? Tentu saja tidak! Dan cara berpikir seperti ini makin memperjelas kebodohan dan kedunguan kaum Wahabi. Lalu darimanakah sebenarnya ajaran berimam dengan 12 imam itu berasal?

HADIS HADIS TENTANG 12 IMAM
Walaupun Muslim Syiah tidak menggunakan dasar-dasar keyakinan mereka dengan hadis-hadis yang biasa digunakan saudara mereka Muslim Sunni, namun ternyata hal itu pun tercatat pada banyak hadis-hadis Sunni. Yang sering saya herankan adalah tingkah “ustadz-ustadz” Wahabi yang sok tahu tentang keyakinan Muslim Syiah tanpa mempelajari terlebih dahulu apa yang mendasari keyakinan Muslim Syiah. Begitu pun terhadap muslim lainnya, dengan gegabah dan serampangan mereka melancarkan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Seperti keyakinan atas 12 imam yang dianut Muslim Syiah, seharusnya mereka mengetahui bahwa hadis-hadis tentang 12 imam atau khalifah itu ternyata juga terdapat di dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah yang diyakini berasal dari Rasulullah saw. Hadis-hadis ini terdapat diriwayatkan di dalam berbagai kitab Sunni seperti : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Tirmidzi, Sunan Abu Dawud dan Musnad Ahmad bin Hanbal.
Jika mereka tidak mengetahui hal ini, mengapa begitu cepat dan mudahnya tuduhan-tuduhan keji dilemparkan kepada saudara Muslim mereka sendiri? Jika mereka mengetahui hal ini, bukankah berarti mereka telah menyebarkan kebohongan di antara umat Muslim lainnya? Kami berlindung kepada Allah Swt dari perbuatan-perbuatan semacam ini!

Sekarang kita lihat dari mana sebenarnya sumber pemikiran Muslim Syiah tentang 12 Imam berasal?

1. Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, ia berkata: Aku bersama ayahku menemui Rasulullah Saw, lalu aku mendengar beliau bersabda: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan berakhir sebelum 12 orang khalifah (pemimpin) memerintah mereka.” Kemudian beliau berbicara dengan suara perlahan sehingga aku tidak dapat mendengarnya. Lalu aku bertanya kepada ayahku: Apakah yang beliau katakan? Ayahku menjawab: Semua khalifah itu berasal dari kaum Quraisy. 1]
Memang ada perbedaan kata imam dan khalifah di sini, namun jika kita teliti ternyata kedua-duanya bermakna : pemimpin. 2]

2. Dengan teks yang berbeda Muslim meriwayatkan di dalam Shahih-nya yang juga dari Jabir bin Samurah, yang mengatakan : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Islam akan tetap jaya sampai ada 12 khalifah.” Kemudian Rasulullah Saw mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Lalu aku bertanya kepada ayahku : Apa yang beliau katakan? Ayahku mengatakan : mereka (ke-12 khalifah) itu berasal dari kaum Quraisy. 3]
3. Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqas yang mengatakan : Aku menulis (sebuah surat) untuk Jabir bin Samurah dan mengirimkannya melalui pelayanku, Nafi’, untuk meminta kepadanya (Jabir bin Samurah) agar memberitahu kepadaku sesuatu yang pernah ia dengar dari Rasulullah Saw. Dia (Jabir) menulis (surat jawaban) kepadaku : Aku telah mendengar Rasulullah Saw, pada Jumat malam, pada hari al-Aslami dihukum rajam sampai mati (karena berzina): (Rasulullah Saw bersabda) : Islam akan tetap tegak sampai Hari Kiamat, atau kalian akan diperintah oleh 12 khalifah, mereka semua berasal dari Quraisy…” 4]
4. Juga diriwayatkan dari Jabir bin Samurah yang mengatakan : Aku pergi bersama ayahku menemui Rasulullah Saw dan kudengar beliau bersabda: Agama ini akan tetap bertahan, kokoh dan jaya sampai berlangsung 12 khalifah. Kemudian beliau menambahkan kata-kata yang tak dapat kutangkap karena suara berisik banyak orang. Lalu kutanyakan kepada ayahku: Apa yang beliau katakan? Ayahku menjawab: Beliau mengatakan semua khalifah itu berasal dari Quraisy. 5]
5. Dengan teks yang hampir sama. 6]
6. Idem 7]
Hadis-hadis yang diungkapkan di atas belumlah seluruhnya. Masih banyak hadis lainnya yang bernada serupa namun karena keterbnatasan waktu dan ruang di sini maka saya kira semua informasi itu sudah lebih dari cukup. Lalu pertanyaan saya : Apakah hadis-hadsi yang sedemikian banyak dan shahih ini tidak pernah dibaca oleh “ustadz-ustadz” Wahabi itu? Jika belum, maka saya sarankan mereka untuk lebih banyak memperdalam terlebih dahulu ketimbang berfatwa serampangan dan melakukan adu domba antar umat Islam. Ingatlah hadis Nabi Saw yang dirwayatkan oleh syaikhan : “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (al-Nammâm)” 8]
Seperti sudah kita yakini bersama bahwa jika seseorang benar-benar memperdalam pengetahuan agamanya dengan cara yang benar, mestinya dia akan menjadi semakin arif dan semakin toleran terhadap pemikiran dan keyakinan orang lain. Namun jika seseorang “memperdalam” agamanya lalu dia menjadi sedemikian fanatik dan tidak toleran maka bisa dipastikan telah terjadi penyimpangan di dalam penanaman “pengetahuan”. Seperti yang saya ketahui, bahwa umumnya penyimpangan terjadi karena pengetahuan agama yag diajarkan tidak secara alami, yaitu dengan cara indoktrinasi atau brain-washing; atau dengan kata lain doktrin-doktrin “agama” dijejalkan secara paksa dan sistematis. 9]
Akhirnya dari sebagian hadis shahih yang saya ungkapkan di atas dapat kita ketahui bahwa keyakinan 12 imam yang dianut oleh Muslim Syiah bukanlah berasal dari Yahudi maupun Nasrani seperti yang disebarkan oleh kaum Wahabi yang kita yakini adalah antek-antek AS dan Zionis Israel. Mereka inilah cikal bakal kaum teroris al-Qaeda yang tersebar di seluruh dunia. Mereka didoktrin, dicuci otak dan pikiran mereka dimanipulasi untuk menyebarkan teror dan adu domba antar kaum Muslim di dunia. Kita melihat sendiri bahwa hadis-hadis yang diungkapkan di atas adalah sabda-sabda Rasul Saw yang memang benar-benar terdapat di dalam literatur Islam. Akhirnya tulisan ini saya tutup dengan doa: semoga mereka, kaum Wahabi yang membaca tulisan ini segera merekonstruksi pemikiran mereka.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Tiada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah jua!

Catatan kaki :
1. Hadis ini sudah tidak asing lagi bagi mereka yang sering mengkaji hadis-hadis Bukhari Muslim, namun anehnya para “ustadz” Wahabi seolah-olah tidak pernah mendengar hadis ini sehingga dengan nekadnya mencerca Muslim Syiah bahwa mereka (Muslim Syiah) mengambil akidah 12 imam dari Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu saya persilahkan pembaca membuka kitab hadis :
- Shahih Bukhari, hadis no. 6682.
- Shahih Muslim, Bab Imarah, hadis no. 3393
- Al-Tirmidzi, hadis no. 2149
- Abu Dawud, Bab al-Mahdi, hadis no. 3731
- Ahmad bin Hanbal, Bab 5, hlm. 87, 90, 92, 95, 97, 99, 100, 101, 106, 107, 108.
Hadis di atas saya kutip dari situs Kerajaan Saudi yang bermazhab Wahabi dan insya Allah Anda bisa langsung mengkliknya :

http://hadith.al-islam.com/bayan/display.asp?Lang=ind&ID=1060

2. Kata al-khilafah bermakna al-niyabah ‘an al-ghayr atau pengggantian juga berarti : al-imamah al-‘uzhma atau kekhalifahan atau kepemimpinan yang agung. Lihat Kamus al-Munawwir hlm. 393, Catakan th. 1984. Contoh faktualnya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai khalifah. Dan di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Inilah dia saudaraku, penerima wasiatku (al-washî) dan khalifahku (khalîfatî)…” Rujukan :
- Târikh al-Thabarî Jil. 2, hlm. 319, dan
- al-Kâmil fî al-Târikh li Ibni al-Atsîr Jil. 2 hlm. 63.
Sementara itu dikalangan Muslim Syiah, Sayyidina Ali juga dianggap sebagai salah seorang dari 12 imam mereka.
3. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4480
4. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4483
5. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4482
6. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4481
7. Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 4477
8. Shahih Bukhari, Muslim, Abu dawud dan Tirmidzi dari sahabat Hudzaifah al-Yamani. Al-Dzahabi memasukkan dosa nammâm atau namîmah (mengadu domba) sebagai salah satu dari dosa-dosa besar. Lihat kitab al-Kabâir karangan Muhammad bin ‘Utsman al-Dzhaby.
9. Metode inilah yang digunakan CIA di dalam menyuci otak para teroris al-Qaeda di kamp-kamp mereka yang tersebar di seluruh dunia termasuk di Guantanamo. Begitulah yang terjadi di Afghanistan, Pakistan, dan di Philipina. Yang sangat aneh, ketika tempat-tempat pelatihan senjata para teroris sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, namun AS justru menyerang ke tempat-tempat lain yang bukan tempat latihan perang para teroris. Terakhir terungkap bahwa pihak Australia mengakui bahwa motif Amerika Serikat menyerang Irak bukanlah teroris atau Saddam tetapi minyak. Inilah bukti kebusukkan dan kejahatan AS dan sekutu-sekutunya

===================================================

====================================================

Imam Khomeini
23/07/2008
Imam Khomeini; dari Lahir hingga Wafat
Ruhullah Musavi Khomeini lahir pada tanggal 20 Jumadis-Tsani 1320 H (24 September 1902) di kota Khomein, provinsi Markazi, Iran tengah. Ia terlahir di tengah keluarga agamis, ahli ilmu, dan pejuang, keluarga terhormat yang masih menyimpan darah keturunan Sayidah Fatimah Az-Zahra as, putri Rasulullah saw. Ruhullah adalah pribadi agung yang menjadi pewaris kemuliaan para bapak dan datuknya yang selalu mengabdikan diri untuk membimbing umat dan menuntut makrifat ilahi dari suatu generasi ke generasi lainnya.
Ayah Imam Khomeini adalah Al-Marhum Ayatollah Sayid Mostafa Musavi. Beliau hiudp sezaman dengan Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Mirza-e Shirazi. Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu agama di kota suci Najaf dan berhasil meraih gelar mujtahid, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi kembali ke Iran dan menetap di Khomein. Di kota kecil inilah beliau mendermakan umurnya untuk mengabdi kepada masyarakat dan menjadi pembimbing mereka dalam urusan agama.
Hanya selang 5 bulan setelah kelahiran Ruhullah, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi, gugur syahid akibat serangan teror pembunuh bayaran para tuan tanah Khomein di waktu itu. Beliau meneguk manisnya madu syahadah setelah peluruh panas bersarang ke tubuhnya saat menempuh perjalanan dari kota Khomein menuju Arak. Di masa itu, ayah Ruhullah memang dikenal sebagai seorang pejuang yang senantiasa menentang kezaliman para penguasa. Tak lama kemudian, sanak famili Ayatollah Musavi bertandang ke pemerintah pusat Tehran, guna menuntut diterapkannya hukum Qishash terhadap para pelaku teror.
Sejak kecil Ruhullah memang sudah terbiasa dengan derita anak yatim dan mengenal arti syahid. Di masa kecil dan remajanya, Ruhullah berada di bawah asuhan ibunya, bernama Hajar. Ibunya sendiri adalah putri keluarga ulama. Ia adalah cucu Al-Marhum Ayatollah Khounsari, penulis kitab Zubdah Al-Tasanif. Bersama ibunya, Ruhullah juga diasuh oleh bibinya yang dikenal sebagai seorang perempuan pejuang, bernama Sahebah. Namun menginjak usia 15 tahun, Ruhullah pun kehilangan belaian kasih ibu dan bibinya.
Hijrah ke Qom
Tak lama setelah kepindahan Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi, ke Qom pada Rajab 1340 H (Sekitar bulan Maret 1921), Imam Khomeini pun akhirnya turut hijrah ke Hauzah Ilmiah Qom dan dengan segera ia menyelesaikan pendidikan tingkat akhirnya di sana. Imam Khomeini mempelajari bagian akhir kitab Al-Muthawwal di bidang ilmu ma’ani dan bayan (sastra Arab) di bawah bimbingan Agha Mirza Muhammad Ali Adib Tehrani. Sebagian besar pelajaran tingkat menengah hauzahnya ia tamatkan di bawah asuhan Ayatollah Sayid Ali Yatsribi Kashani, dan juga Ayatollah Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Sementara pelajaran Fiqih dan Ushul Fiqih beliau pelajari dari Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi, pendiri Hauzah Ilmiah Qom.
Setelah wafatnya Ayatollah Hairi Yazdi, berkat upaya Imam Khomeini dan para ulama besar Hauzah Ilmiah Qom lainnya, Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi akhirnya dikukuhkan sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Di masa itu, Imam Khomeini terpilih sebagai salah satu pengajar Hauzah dan dikenal sebagai mujtahid di bidang Fiqih, Ushul Fiqih, Filsafat, Irfan, dan Akhlak. Selama bertahun-tahun menjadi pengajar di Hauzah, Imam Khomeini mengajar di madrasah Faiziyah, masjid A’zam, masjid Muhammadiyah, madrasah Haj Molla Shadiq, masjid Salmasi dan beberapa tempat lainnya.
Sementara itu, selama 14 tahun di Hauzah Ilmiah Najaf, Irak, Imam Khomeini mengajar ilmu-ilmu Ahlul Bait as dan fiqih pada peringkat tertinggi Hauzah, di masjid Syeikh A’zam Ansari. Di kota Najaf inilah, Imam Khomeini untuk pertama kalinya mengungkapkan dasar-dasar teori pemerintahan Islam dalam rangkaian pelajaran wilayatul-faqihnya.
Perjuangan dan Kebangkitan Imam Khomeini
Semangat perjuangan dan jihad Imam Khomeini, berakar pada pandangan akidah, pendidikan, lingkungan keluarga, dan situasi politik dan sosial di sepanjang masa hidupnya. Perjuangan beliau dimulai sejak masa remajanya, lantas berkembang kian matang seiring dengan perkembangan psikologis dan ilmiah Imam Khomeini di satu sisi, dan transformasi politik dan sosial di Iran dan dunia Islam di sisi lain.
Pada tahun 1340 hingga 1341 HS (1961-1962), rezim Pahlevi mengesahkan aturan yang dikenal dengan nama Anjomanha-ye Eyalati va Velayati (Lembaga Lokal dan Federasi). Peristiwa ini merupakan kesempatan bagi Imam Khomeini untuk memimpin kebangkitan para ulama. Sehingga kebangkitan massal para ulama dan rakyat Iran pada tanggal 15 Khordad 1342 HS (5 Juni 1963) meletus. Kebangkitan 15 Khordad memiliki dua ciri utama: kepemimpinan tunggal Imam Khomeini dan keIslaman motif, tujuan, dan slogan kebangkitan. Kebangkitan ini merupakan babak baru perjuangan bangsa Iran yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Islam.
Saat Perang Dunia I berlangsung, Imam Khomeini masih berusia 12 tahun. Terkait hal ini, Imam Khomeini menuturkan, “Saya masih ingat terjadinya dua perang dunia. Kala itu saya masih kecil tapi tetap pergi sekolah. Saya melihat para tentara Uni Soviet yang saat itu tengah berada di Khomein. Kami pun menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka di era Perang Dunia I”.
Di bagian lain kenangannya, Imam Khomeini pernah menyebut nama-nama sejumlah penjahat bayaran yang berlindung di bawah penguasa wilayah Markazi, Iran. Mereka adalah para pengganas yang kerap merampas harta dan harga diri warga Markazi. Mengenai hal ini, Imam Khomeini mengungkapkan, “Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan perang. Kami menjadi sasaran kejahatan kelompok Zalaqi dan Rajab Ali. Namun kami punya senjata sendiri. Pernah di suatu hari, saat saya masih anak-anak atau kira-kira di masa-masa awal baligh, saya mengawasi kantong-kantong perlindungan di kampung kami dan turut menjaga benteng pertahanan. Sementara para penjahat bayaran hendak menyerang dan merampok”.
Pada tanggal 3 Esfand tahun 1299 HS (22 Februari 1921), Reza Khan menggelar aksi kudeta. Berdasarkan data-data dan bukti sejarah yang valid, kudeta tersebut didalangi dan diorganisir oleh Inggris. Meski kudeta Reza Khan berhasil mengakhiri era kekuasaan dinasti Qajar, dan mampu meminimalisir gerak para penguasa lokal yang zalim, namun kudeta tersebut memunculkan diktator baru. Diktator baru ini lantas mendirikan dinasti Pahlevi sebagai penguasa tunggal Iran.
Pasca meletusnya Revolusi Konstitusional dan tekanan bertubi-tubi pemerintah dan konspirasi Inggris di satu sisi, serta perselisihan kaum elite dan intelektual kebarat-baratan di sisi lain, mendorong kalangan ulama yang ditekan untuk bangkit berjuang membela Islam. Atas permintaan para ulama Qom, Ayatollah Al-Udzma Haj Syeikh Abdul Karim Hairi Yazdi dari Arak hijrah ke Qom. Tak lama setelah itu, Imam Khomeini pun dengan segera menyelesaikan pelajaran tingkat dasar dan menengah Hauzahnya di Khomein dan Arak, lantas menyusul ke Qom. Beliau juga turut aktif dalam memperkuat posisi Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja berdiri. Dalam waktu yang relatif singkat, Imam Khomeini pun lantas dikenal sebagai ulama terkemuka di bidang irfan, filsafat, fiqih, dan ushul fiqih.
Dengan wafatnya Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi, pada tanggal 10 Bahman 1315 (30 Januari 1937), Hauzah Ilmiah Qom yang baru saja didirikan terancam bubar. Namun demikian, para ulama Hauzah pun segera mencari solusi. Selama delapan tahun, Hauzah Ilmiah Qom diasuh oleh Ayatollah Al-Udzma Sayid Mohammad Hojjat, Ayatollah Al-Udzma Sadruddin Sadr, dan Ayatollah Al-Udzma Sayid Muhammad Taqi Khounsari. Selang masa itu, khususnya setelah tumbangnya Reza Khan, situasi untuk memunculkan marjaiyat yang besar mulai terbuka.
Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi, merupakan figur ulama besar, yang layak untuk menggantikan posisi Al-Marhum Ayatollah Al-Udzma Hairi Yazdi. Karena itu para murid Ayatollah Hairi Yazdi termasuk Imam Khomeini segera mengusulkan untuk memilih Ayatollah Boroujerdi sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah Qom. Dengan penuh kesungguhan, Imam Khomeini mengundang Ayatollah Boroujerdi untuk berhijrah ke Qom dan menerima tanggung jawab besar sebagai pengasuh Hauzah Ilmiah di kota ini.
Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini selalu memantau situasi politik Iran dan kondisi Hauzah. Pelbagai informasi dan data beliau peroleh lewat telaah tak kenal lelah buku-buku sejarah kontemporer, beragam majalah, dan koran. Imam Khomeini juga kerap pergi ke Tehran dan berhubungan dengan para tokoh politik Islam, seperti Ayatollah Modarres. Imam Khomeini melihat bahwa satu-satunya harapan untuk melepaskan bangsa Iran dari jeratan penguasa dikatotar dan konspirasi asing, pasca kegagalan Revolusi Konstitusional dan berkuasanya Reza Khan adalah kebangkitan para ulama Hauzah. Tentu saja sebelum kebangkitan itu dilancarkan, upaya menjamin keberadaan Hauzah Ilmiah dan hubungan spritual masyarakat dengan ulama harus terealisasikan terlebih dahulu.
Guna mencapai tujuan luhurnya, pada tahun 1328 HS (1949), Imam Khomeini bersama Ayatollah Morteza Hairi merancang program reformasi mendasar struktur Hauzah Ilmiah dan mengusulkannya kepada Ayatollah Al-Udzma Boroujerdi. Usulan tersebut mendapat sambutan positif dan dukungan para ulama dan pelajar Hauzah yang berpikiran reformis.
Di sisi lain, politik rezim Syah mengalami kegagalan. Rancangan Anjomanha-ye Eyalati va Velayati yang mencabut syarat status keislaman, sumpah dengan Al-Quran, dan berjenis kelamin pria bagi para pemilih dan kandidat pemilihan umum, disahkan oleh kabinet PM Amir Asadollah Alam pada tanggal 16 Mehr 1341 HS (8 Oktober 1962). Kebebasan memilih bagi perempuan, sejatinya merupakan kedok untuk menyembunyikan agenda tersembunyi rezim Syah. Penghapusan dan perubahan dua syarat pertama di atas merupakan upaya untuk melegalkan kehadiran oknum-oknum Bahaism di pemerintahan.
Sebelum itu, AS mengumumkan bahwa pihaknya akan membela Syah jika rezim ini mendukung rezim zionis Israel dan meningkatkan hubungan kerjasama Tehran-Tel Aviv. Pengaruh kubu Bahai yang didukung kekuatan penjajah Inggris, baik di kalangan pemerintah, parlemen, maupun yudikatif Iran berhasil merealisasikan syarat yang diinginkan oleh AS.
Segera setelah disahkannya rancangan tersebut, Imam Khomeini bersama para ulama besar Qom dan Tehran mengadakan pertemuan, lantas diteruskan dengan menggelar aksi protes massal. Peran pencerahan Imam Khomeini dalam mengungkap agenda gelap rezim Syah dan mengingatkan tugas berat para ulama dan Hauzah Ilmiah amat berperan penting dalam situasi kritis saat itu. Pelbagai telegram dan surat protes terbuka para ulama kepada Syah dan Perdana Menteri Asadollah Alam memantik dukungan luas rakyat Iran. Nada bicara surat protes Imam Khomeini kepada Syah dan Perdana Menteri begitu pedas dan keras. Dalam salah satu surat protes ini dinyatakan, “Saya kembali menesehati Anda untuk taat kepada Allah swt dan konsititusi. Takutlah kalian pada akibat buruk dari melanggar Al-Quran, hukum para ulama dan pemimpin kaum muslimin, serta undang-undang dasar. Janganlah kalian sengaja dan tanpa sebab menyeret negara ke dalam kondisi bahaya. Karena jika tidak, para ulama Islam tidak akan berdiam diri melontarkan pandangannya mengenai kalian”.
Dengan demikian, peristiwa Anjomanha-ye Eyalati va Velayati merupakan pengalaman kemenangan yang sangat berharga bagi rakyat Iran. Terlebih, kemenangan tersebut merupakan kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengenal figur pemimpin umat Islam yang layak dari berbagai dimensi, semacam Imam Khomeini. Namun demikian, meski skenario politik Syah mengalami kegagalan dalam kasus Anjomanha, tekanan AS untuk melakukan reformasi terus berlangsung. Akhirnya pada bulan Dey 1341 (Januari 1963), Syah mengajukan enam prinsip reformasinya yang dikenal sebagai Revolusi Putih, dan menghendaki digelarnya referendum.
Kebijakan reformasi rancangan AS ini mendapat tanggapan serius para ulama. Untuk kesekian kalinya Imam Khomeini mengajak para marji dan ulama Qom untuk mencari solusi dan langkah bersama. Imam Khomeini mengusulkan untuk memboikot pesta perayaan tahun baru tradisional (Nouruz) Iran 1341 HS (Maret 1963) sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Syah. Dalam statemennya, Imam Khomeini menyebut Revolusi Putih rancangan AS sebagai revolusi hitam dan beliau membongkar tujuan AS dan rezim zionis Israel di balik program revolusi tersebut.
Tentu saja gelombang protes para ulama benar-benar memukul posisi Syah. Dalam berbagai pertemuan terbukanya dengan masyarakat, Imam Khomeini mengajak rakyat Iran untuk bangkit dan secara terang-terangan menyebut Syah sebagai pelaku utama kejahatan dan sekutu rezim zionis. Imam Khomeini dalam pidatonya pada tanggal 12 Farvardin 1342 (1 April 1963) mengkritik keras sikap bungkam para ulama Qom dan Najaf serta negara-negara muslim lainnya di hadapan kejahatan rezim zionis Israel terhadap rakyat Palestina. Dalam pidatonya itu, Imam menyatakan, “Hari ini, sikap membisu sama artinya dengan mendukung penguasa zalim”.
Sehari setelah itu, 13 Farvardin 1342 (2 April 1963), Imam Khomeini mengeluarkan statemen tertulisnya yang terkenal dengan tajuk “Bersahabat dengan Syah Berarti Penjarahan”. Sejatinya, rahasia pengaruh besar pesan dan pernyataan Imam Khomeini terhadap jiwa pendengarnya hingga mereka rela berkorban, terletak pada kemurnian pemikiran, kekuatan pandangan, dan kejujuran Imam Khomeini kepada masyarakat.
Tahun 1342 HS (1963) diawali dengan boikot pesta perayaan tahun baru tradisional (Nouruz) Iran dan peristiwa berdarah di madrasah Faiziyah Qom. Satu sisi, Syah begitu berhasrat untuk menerapkan Revolusi Putih sebagaimana yang diinginkan oleh AS, namun di sisi lain Imam Khomeini terus berjuang menyadarkan rakyat dan bangkit menentang campur tangan AS dan pengkhianatan Syah terhadap bangsanya sendiri.
Pada tanggal 14 Farvardin 1342 (3 April 1963), Ayatollah Al-Udzma Hakim di Najaf, Irak, mengirim telegram kepada para ulama dan maraji Iran yang berisi ajakan untuk hijrah ke Najaf secara massal. Usulan ini merupakan upaya untuk menyelamatkan para ulama dan tokoh hauzah. Namun demikian, tanpa mempedulikan ancaman dan tekanan Syah, Imam Khomeini membalas telegram Ayatollah Hakim. Dalam telegramnya itu, Imam Khomeini menilai bukan maslahat jika para ulama hijrah secara massal ke Najaf dan membiarkan Hauzah Ilmiah Qom dalam keadaan kosong. Imam Khomeini dalam pesannya tertanggal 12 Ordibehesht 1342 HS (2 Mei 1963) memperingati 40 hari terjadinya tragedi Faiziyah menegaskan perlunya ulama dan rakyat Iran untuk bersama-sama mendukung para pemimpin negara-negara Islam dan pemerintahan Arab menentang rezim zionis Israel serta mengutuk persekutuan Syah dengan rezim zionis.Kebangkitan 15 Khordad
Bulan Muharram datang bersamaan dengan bulan Khordad 1342 HS. Imam Khomeini memanfaatkan moment tersebut untuk menggerakkan rakyat Iran bangkit melawan rezim diktator Syah Pahlevi. Pada sore Asyura 13 Khordad 1342 HS (3 Juni 1963) Imam Khomeini menyampaikan pidato bersejarahnya di madrasah Faiziyah Qom. Pidato ini merupakan titik awal kebangkitan 15 Khordad. Dalam pidatonya ini, Imam secara lantang berbicara kepada Syah dan menyatakan, “Tuan, saya menasehati Anda. Wahai Syah! Wahai yang terhormat Syah! Saya menasehati Anda agar meninggalkan seluruh upaya yang membuat Anda menjadi lalai. Saya tak ingin, suatu hari jika Anda hendak pergi justru disyukuri oleh semua pihak…Jika engkau didikte dan diperintah membaca, berpikirlah pada sekelilingmu…Dengarlah nasehat saya. Apa sebenarnya hubungan Syah dengan Israel, sehingga pihak keamanan melarang untuk tidak angkat bicara soal Israel…Apakah Syah adalah orang Israel?”
Syah mengeluarkan perintah untuk menumpas gerakan kebangkitan rakyat. Mulanya, pihak keamanan menangkap banyak sahabat dan pendukung Imam Khomeini pada malam 14 Khordad (4 Juni 1963). Kemudian, pada pukul 3 pagi, 15 Khordad 1342 HS (5 Juni 1963), ratusan tentara Syah mengepung rumah Imam Khomeini. Mereka menangkap Imam saat beliau sedang menjalankan shalat malam dan segera membawanya ke Tehran. Beliau dijebloskan di penjara Bashgah-e Afsaran. Sore harinya, beliau dipindahkan ke penjara Ghasr. Pagi tanggal 15 Khordad berita penangkapan Imam Khomeini pun menyebar ke kota-kota besar Iran, seperti Qom, Tehran, Mashhad, Shiraz, dan kota-kota lainnya.
Jenderal Hossein Fardust, orang kepercayaan Syah, dalam kesaksiannya menuturkan bahwa upaya penumpasan gerak kebangkitan 15 Khordad dilakukan dengan memanfaatkan pelbagai pengalaman dan bekerjasama dengan para politisi dan petugas intelijen paling handal AS. Fardust juga mengungkapkan betapa terguncangnya Syah, kalangan istana, para petinggi militer dan agen mata-mata Iran (SAVAK) saat terjadinya aksi kebangkitan 15 Khordad. Ia juga membeberkan bagaimana Syah dan para jenderal arogan mengeluarkan perintah penumpasan gerakan rakyat.
Setelah 19 hari mendekam di penjara Ghasr, Imam Khomeini dipindahkan ke sebuah penjara di pangkalan militer Eshrat Abad. Dengan ditangkapnya pemimpin revolusi, Imam Khomeini, dan dilancarkannya pembantaian massal pada peristiwa 15 Khordad, tampaknya gerak revolusi sudah berhasil dipadamkan.
Di penjara, Imam Khomeini dengan beraninya menolak seluruh pertanyaan yang diajukan dalam proses intrograsi. Beliau dengan lantang menyatakan bahwa pemerintah dan lembaga yudikatif Iran adalah penguasa yang ilegal dan tidak sah. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, pada malam 18 Farvardin 1343 HS (7 April 1964), Imam Khomeini akhirnya dibebaskan dan dipindahkan ke Qom. Kabar pembebasan Imam pun menyebar luas dan disambut gembira oleh rakyat.
Peringatan tahun pertama hari Kebangkitan 15 Khordad pada tahun 1343 HS (5 Juni 1964) diperingati dengan dirilisnya statemen bersama Imam Khomeini dan para marji taqlid lainnya serta pernyataan terpisah Hauzah Ilmiah. Hari itu dinyatakan sebagai hari duka. Pada tanggal 4 Aban 1343 HS (26 Oktober 1964) Imam Khomeini mengeluarkan statemen revolusioner dan menyatakan, “Dunia harus tahu, setiap musibah yang menimpa bangsa Iran dan bangsa-bangsa muslim lainnya bersumber dari pihak asing, dari AS. Secara umum, bangsa-bangsa Islam membenci pihak asing, khususnya AS. Amerikalah yang mendukung rezim zionis Israel dan para sekutunya. Amerikalah yang memberi kekuatan pada Israel hingga membuat warga muslim Arab terlantar”.
Penentangan Imam Khomeini dan terungkapnya agenda AS di balik rencana disahkannya rancangan Kapitulasi, mendorong rakyat Iran untuk bangkit kembali. Dini hari 13 Aban 1343 HS (4 November 1964), pihak keamanan dari Tehran kembali datang ke Qom dan mengepung rumah Imam Khomeini. Anehnya, seperti tahun sebelumnya, Imam ditangkap saat beliau tengah menunaikan shalat malam. Imam pun ditangkap dan langsung di bawa menuju bandara Mehrabad, Tehran. Di bawah kawalan ketat pihak keamanan Imam diboyong ke Ankara, Turki dengan sebuah pesawat militer yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Sore harinya agen intelijen Iran (SAVAK) mengumumkan berita pengasingan Imam Khomeini di koran-koran Iran dengan tuduhan merongrong keamanan negara. Meski situasi Iran berada di bawah tekanan pemerintah, namun gelombang protes dan demo tetap marak. Gelombang protes itu diwujudkan dalam bentuk aksi unjuk rasa warga di pasar besar Tehran, diliburkannya aktifitas Hauzah Ilmiah untuk jangka panjang, pengiriman kumpulan tanda tangan dan surat protes kepada lembaga-lembaga internasional dan para marji taqlid.
Pengasingan Imam khomeini di Turki berlangsung selama 11 bulan. Selang masa itu, rezim syah dengan otoriternya berusaha menumpas total gerakan kebangkitan rakyat Iran yang masih tersisa dan dengan segera menerapkan rencana reformasi sebagaimana yang dirancang oleh AS. Masa pengasingan Imam Khomeini di Turki merupakan juga kesempatan bagi beliau untuk memulai penulisan buku Tahrirul-Wasilah.
Pengasingan Imam Khomeini dari Turki ke Irak

Tanggal 13 Mehr 1343 (5 Oktober 1965) Imam Khomeini bersama putranya, Ayatollah Haj Agha Mostafa dipindahkan dari Turki dan diasingkan ke Irak. Setelah memasuki Baghdad, Imam Khomeini segera memanfaatkan waktu yang ada untuk berziarah ke makam para Imam Ahlul Bait as seperti di Kadzimain, Samarra, dan Karbala. Seminggu setelahnya, Imam pergi ke tempat pengasingannya di Najaf.
Meski selama di Irak, Imam Khomeini relatif lebih bebas ketimbang di Iran atau Turki, namun masa pengasingan di Najaf selama 13 tahun dimulai dengan maraknya penentangan, hasutan, dan fitnah musuh-musuh Imam, bahkan beliau juga mendapat penentangan keras dari kalangan yang berkedok ulama. Imam bahkan menyebut masa pengasingan di Irak sebagai babak perjuangan yang begitu pahit. Namun begitu, beliau tetap sabar menghadapi segala tantangan yang ada dan terus melanjutkan perjuangannya.
Di bawah tekanan para penentangnya, Imam Khomeini mulai mengajar rangkaian pelajaran fiqih tingkat tingginya di masjid Syeikh Anshari, Najaf pada bulan Aban 1344 HS (sekitar November 1965). Kegiatan mengajar tersebut beliau lanjutkan hingga akhirnya beliau pindah ke Paris. Pelajaran fiqih Imam terkenal sebagai salah satu kelas Hauzah Ilmiah Najaf paling berbobot dan diminati.
Hubungan Imam Khomeini dengan kawan-kawan seperjuangannya di Iran masih beliau jalin lewat pengiriman surat dan utusan. Imam Khomeini selalu memandu mereka dan mengajak mereka untuk tetap bertahan memperjuangkan cita-cita Kebangkitan 15 Khordad.
Di masa-masa pasca pengasingan, Imam Khomeini tak pernah menyerah untuk berhenti berjuang meski didera berbagai tekanan dan ancaman. Ceramah-ceramah dan pesan-pesan tertulis Imam Khomeini selalu mengobarkan harapan kemenangan di hati setiap rakyat Iran.
Pada tanggal 19 Mehr 1347 HS (11 Oktober 1968), dalam dialognya dengan utusan gerakan Fatah, Palestina, Imam Khomeini memaparkan pandangannya tentang persoalan dunia Islam dan perjuangan rakyat Palestina. Dalam dialog ini pula, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa yang mewajibkan untuk menyisihkan sebagian harta zakat bagi kepentingan para pejuang Palestina.
Pada awal tahun 1348 HS (1969), perselisihan antara rezim Syah dan partai Ba’ath yang berkuasa di Irak soal perbatasan air Iran-Irak makin memuncak. Pemerintah Irak mengusir banyak warga Iran yang bermukim di Irak. Mereka juga berupaya memanfaatkan permusuhan Imam Khomeini dengan rezim Syah. Setelah 4 tahun mengajar di Hauzah Najaf dan berjuang keras mencerahkan masyarakat di sekitarnya, Imam Khomeini relatif berhasil mengubah situasi Hauzah Ilmiah Najaf. Akhirnya pada tahun 1348 HS (1969) Imam Khomeini tidak hanya berhasil menjaring dukungan dari dalam negeri Iran, tapi juga berhasil menarik dukungan masyarakat muslim lainnya seperti dari Irak, Lebanon dan negara-negara Islam yang lain. Paradigma perjuangan Imam Khomeini mereka jadikan sebagai model perjuangan mereka.
Perjuangan Tak Kenal Menyerah Imam Khomeini (1350-1356 HS)
Paruh kedua tahun 1350 (menjelang akhir tahun 1971), perselisihan antara rezim Ba’ast Irak dan Syah Iran makin memanas. Perselisihan itu diikuti dengan diusirnya warga Iran yang bermukim di Irak. Dalam telegramnya kepada Presiden Irak di masa itu, Imam Khomeini mengecam keras aksi pengusiran tersebut. Dalam situasi semacam itu, Imam Khomeini bertekad untuk segera keluar dari Irak. Namun pemerintah Baghad tanggap dengan dampak dari keluarnya Imam Khomeini dari Irak sehingga Imam pun dilarang meninggalkan Irak.
Pada tahun 1354 HS (Juni 1975) bersamaan dengan peringatan hari Kebangkitan 15 Khordad, madrasah Faiziyah kembali menjadi pentas kebangkitan para santri revolusioner Iran. Yel-yel ‘Hidup Khomeini dan matilah dinasti Pahlevi’ terus membahana selama dua hari berturut-turut. Padahal, sebelum peristiwa ini, banyak organisasai-organisasi perjuangan rakyat yang telah dilumpuhkan, para tokoh keagamaan dan politik yang aktif berjuang ramai yang dijebloskan ke penjara.
Di sisi lain, Syah terus melanjutkan politik anti-Islamnya. Kebijakan anti-Islamnya itu ditandai dengan diubahnya dasar kalender nasional Iran pada bulan Esfand 1354 HS (Maret 1976). Selama ini, dasar kalender nasional Iran dihitung sejak dimulainya hijrah Nabi Muhammad saw. Namun dasar tersebut diubah oleh Syah dengan menetapkan masa dimulainya kekuasaan dinasti Achemanid sebagai dasar perhitungan kalender nasional Iran. Mereaksi hal itu, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa yang mengharamkan penggunaan kalender nasional Iran versi Syah. Rakyat Iran pun mendukung penuh fatwa Imam Khomeini tersebut, mereka juga turut mendukung diboikotnya Partai Rastakhiz (Kebangkitan). Kedua masalah ini merupakan pukulan berat bagi rezim Syah hingga akhirnya pada tahun 1357 (1978), Syah terpaksa melangkah mundur dan membatalkan penggunaan kalender nasional versi pemerintah.
Geliat Revolusi Islam dan Kebangkitan Rakyat
Dengan begitu teliti dan cermat, Imam Khomeini terus memantau perkembangan terbaru di Iran maupun dunia internasional. Beliau juga amat tanggap dalam memanfaatkan secara maksimal kesempatan yang muncul. Imam Khomeini pada bulan Mordad 1356 HS (Agustus 1977) dalam pesan tertulisnya menyatakan, “Kini, lewat situasi dalam dan luar negeri yang ada, serta dengan terungkapnya kejahatan rezim Syah di mata publik dan media asing merupakan kesempatan bagi kalangan ilmuan, budayawan, tokoh nasionalis, mahasiswa dalam dan luar negeri, dan organisasi-organisasi Islam di mana pun berada untuk tanggap memanfaatkan peluang yang ada dan bangkit secara terbuka”.
Gugur syahidnya, putra Imam Khomeini, Ayatollah Haj Agha Mostafa Khomeini, pada awal bulan Aban 1356 HS (23 Oktober 1977) merupakan titik tolak gerakan kebangkitan kembali komunitas Hauzah dan masyarakat muslim Iran. Imam Khomeini bahkan menyebut peristiwa itu sebagai anugrah tersembunyi ilahi.
Sementara itu rezim Syah membalas aksi Imam Khomeini dengan melansir sebuah artikel di koran Ettela’at . Artikel ini berisi hinaan terhadap Imam Khomeini. Protes luas rakyat Iran terhadap artikel tersebut berujung dengan melutusnya peristiwa Kebangkitan 19 Dey 1356 HS (9 Januari 1978) di Qom. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah santri pendukung revolusi gugur syahid akibat tindak represif pihak keamanan. Meski Syah melancarkan aksi pembantaian massal untuk melumpuhkan gejolak kebangkitan rakyat, namun ia tetap gagal memadamkannya.
Dari Najaf ke Paris
Pertemuan para menteri luar negeri Iran dan Irak di New York memutuskan untuk mengeluarkan Imam Khomeini dari Irak. Hari kedua bulan Mehr 1357 HS (24 September 1978) rumah Imam Khomeini di Najaf di epung oleh tentara Ba’ath Irak. Tersebarnya berita ini menyulut kemarahan luas umat Islam di Iran, Irak, dn negara-negara lainnya. Pada tanggal 12 Mehr 1357 HS (4 Oktober 1978), Imam Khomeini berencana meninggalkan Najaf menuju perbatasan Kuwait. Namun pemerintah Kuwait atas desakan rezim Syah menolak Imam Khomeini memasuki negara ini. Rencana hijrah ke Lebanon dan Syria pun sempat dibicarakan, namun setelah bermusyawarah dengan putranya, Hojjatul Islam Haj Sayed Ahmad Khomeini, Imam khomeini akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Paris.
Tanggal 14 Mehr 1357 HS (6 Oktober 1978), Imam Khomeini memasuki Paris. Dua hari setelahnya, Imam Khomeini tinggal di kediaman salah seorang warga Iran mukim Perancis di Nofel Loshato, sebuah kota kecil di pinggiran Paris. Para pejabat Perancis menyampaikan pandangan presiden negaranya kepada Imam Khomeini yang berisi desakan untuk menjauhi segala bentuk aktifitas politik selama tinggal di Perancis. Mereaksi desakan tersebut, Imam Khomeini secara lantang menegaskan bahwa pembatasan semacam itu bertentangan nyata dengan slogan demokrasi yang selama ini didengung-dengungkan oleh Perancis. Beliau bahkan menyatakan tidak akan berhenti memperjuangkan cita-citanya meski harus berpindah-pindah dari satu airport ke airport lainnya.
Pada bulan Dey 1357 HS (Januari 1979), Imam Khomeini membentuk Dewan Revolusi Islam. Sementara Syah Iran kabur meninggalkan Iran pada tanggal 26 Dey 1357 HS (16 Januari 1979) setelah terbentuknya Dewan Kerajaan dan pengambilan mosi kepercayaan atas kabinet PM Bakhtiar. Berita kepergian Syah pun menyebar ke Tehran dan akhirnya ke seluruh pelosok negeri. Berita pun ini disambut dengan suka cita oleh seluruh rakyat Iran.
Imam Khomeini Kembali ke Iran
Awal bulan Bahman 1357 HS (akhir Januari 1979), kabar tentang keputusan Imam Khomeini untuk kembali ke tanah airnya tersebar luas. Bagi rakyat Iran, kabar tersebut merupakan berita gembira yang paling dinanti-nantikan. Sekitar 14 tahun rakyat Iran merindukan kembalinya Imam Khomeini ke negerinya. Meski demikian, mereka juga amat mengkhawatirkan keselamatan jiwa pemimpin revolusi itu. Sebab hingga saat itu, pemerintah buatan Syah masih bercokol dan Iran berada di bawah kendali militer.
Kendati situasi di Iran masih begitu kritis dan berbahaya, namun Imam Khomeini bertekad untuk kembali ke tanah airnya. Dalam pesannya kepada rakyat Iran, beliau menyatakan bahwa dirinya ingin bersama rakyat di saat-saat yang paling menentukan dan kritis.
PM Bakhtiar bersama pihak militer menutup seluruh bandar udara negara untuk penerbangan asing. Namun setelah beberapa hari, pemerintah Bakhtiar tak sanggup bertahan dan terpaksa memenuhi desakan rakyat. Akhirnya pagi 12 Bahman 1357 (1 Februari 1979) setelah 14 tahun hidup di pengasingan, Imam Khomeini kembali ke tanah air tercintannya. Rakyat Iran menyambut kedatangan Imam Khomeini secara besar-besaran dan penuh suka cita. Menurut pengakuan media-media Barat, warga yang menyambut kedatangan Imam Khomeini di jalan-jalan kota Tehran mencapai sekitar 4 sampai 6 juta orang.
Selamat Jalan Imam!
Imam Khomeini telah menyampaikan seluruh tujuan dan cita-cita perjuangan yang mesti diungkapkan. Dalam prakteknya pun, beliau mengerahkan seluruh daya dan upaya yang dimilikinya untuk merealisasikan cita-cita tersebut. Kini menjelang paruh kedua bulan Khordad 1368 (Juni 1989), Imam Khomeini seakan tengah mempersiapkan dirinya untuk menemui Sang Kekasih, Dzat Maha Suci yang selama ini seluruh perjuangan Imam senantiasa ditujukan untuk mengabdi kepada-Nya. Seluruh rintihan dan puisi sufistik Imam Khomeini merupakan jelmaan dari derita perpisahannya dengan Sang Kekasih dan kerinduannya untuk bertemu dengan Dia. Dan kini, saat-saat perpisahan Imam Khomeini dengan rakyatnya pun telah tiba. Dalam surat wasiatnya beliau menulis, “Dengan hati yang damai, kalbu yang tenang, jiwa yang bahagia dan diri yang penuh harapan kepada karunia ilahi, saya mohon pamit kepada Saudari dan Saudara sekalian menempuh perjalanan menuju tempat keabadian. Saya sangat memerlukan doa baik kalian. Kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya dalam berkhidmat. Saya juga berharap bangsa Iran bisa menerima maaf saya atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada. Saya berharap bangsa Iran bisa terus melangkah maju dengan teguh, tekad, dan kehendak”. Yang menakjubkan beberapa tahun sebelum beliau wafat, Imam Khomeini dalam salah satu puisinya pernah menuturkan:
Aku menanti datangnya anugrah ilahi di paruh Khordad
Tahun demi tahun berlalu
Peristiwa demi peristiwa berganti
Sabtu 13 Khordad 1367 HS, pukul 22.20 adalah saat-saat perpisahan. Sebuah jantung yang menghidupkan jutaan jantung-jantung lainnya dengan sinaran ilahi dan spiritualitas, berhenti berdetak. Lewat kamera tersembunyi yang terpasang di ruang perawatan Imam Khomeini, di sebuah rumah sakit di Tehran, masa-masa operasi jantung dan detik-detik kepergian sang pemimpin revolusi, seluruhnya terekam sebagai dokumen sejarah. Menjelang masa-masa akhir, kondisi ruhani dan jasmani Imam Khomeini ditayangkan lewat televisi. Tangis dan duka rakyat Iran pun tak bisa ditahan.Bibir Imam Khomeini selalu mengisyaratkan rangkaian dzikir yang tak putus-putusnya. Di malam terakhir hidupnya, setelah menjalani operasi jantung yang sangat berat dan melelahkan di usianya yang ke-87 tahun, beliau masih menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah shalat malam meski kedua tangannya masih dipenuhi serum dan infus. Beliau masih meluangkan dirinya untuk membaca kalam suci Al-Quran.Saat detik-detik akhir mulai menjelang, raut muka Imam Khomeini terlihat seperti diliputi aura ketenangan dan penuh damai. Lidahnya tak pernah putus mengucap syahadat atas keesaan Allah dan risalah Rasulullah. Dalam suasana yang begitu pekat dengan cahaya surgawi inilah, jiwa Imam Khomeini terbang menuju keharibaan ilahi.Iran seakan terguncang hebat, saat berita wafatnya Imam Khomeini diumumkan. Seantero Iran dan seluruh sudut dunia yang mengenal pesan dan perjuangan Imam Khomeini tenggelam dalam duka. Tak ada ungkapan dan tulisan yang bisa melukiskan betapa sedihnya rakyat dan umat revolusioner saat melepas kepergian sang Imam, pemimpin agung yang berhasil melepaskan negerinya dari jeratan kezaliman penguasa yang diktator dan campur tangan asing, sosok yang berhasil menghidupkan kembali Islam, mengembalikan kemuliaan umat Islam, mendirikan Republik Islam, seorang ulama besar yang tak gentar menghadapi dua kekuatan adidaya dunia, Timur dan Barat.Selama 10 tahun Imam Khomeini bertahan menghadapi segala bentuk konspirasi penggulingan, kudeta, kerusuhan, dan pelbagai fitnah. Selama delapan tahun, beliau tetap teguh memimpin jihad pertahanan suci menghadapi agresi militer rezim Ba’ath Irak yang didukung oleh dua adidaya dunia, Timur dan Barat. Rakyat benar-benar kehilangan seorang pemimpin tercinta, ulama besar, dan pejuang Islam yang sejati.
Mungkin tak ada siapapun yang kuasa untuk menafsirkan perpisahan ini, ketika mereka mendengar betapa banyak pecinta Imam Khomeini yang meninggal dunia lantaran tak mampu menahan pedihnya perpisahan, ketika mereka melihat betapa banyak rakyat yang kehilangan kesadarannya saat melihat jenazah Imam Khomeini disemayamkan, dan ketika menyaksikan jutaan pengagum sang pemimpin revolusi tenggelam dalam tangis dan duka yang mendalam. Namun bagi mereka yang pernah merasakan manisnya cinta, tentu mudah memahami hakikat semua ini.Benar, rakyat Iran sungguh jatuh cinta kepada Imam Khomeini. Dalam selarik puisi yang begitu indah, rakyat Iran menuturkan, “Cinta kepada Khomeini adalah cinta kepada seluruh kebaikan”.Tanggal 14 Khordad 1368 HS (4 Juni 1989), Dewan Ahli Kepemimpinan Revolusi Islam menggelar sidang. Setelah dibacakannya wasiat Imam Khomeini oleh Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung selama dua setengah jam, pembahasan mengenai calon pengganti Imam Khomeini dan pemimpin tertinggi revolusi dimulai. Setelah beberapa jam berlalu, presiden Iran saat itu, Ayatollah Sayid Ali Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi revolusi Islam. Beliau adalah salah satu murid dekat Imam Khomeini, tokoh terkemuka pejuang revolusi, dan sahabat seperjuangan yang selalu menyertai Imam di segala keadaaan.Selama bertahun-tahun, Barat dan anasir bonekanya di dalam negeri Iran merasa putus asa untuk menumbangkan Imam Khomeini dan mereka selalu menantikan wafatnya beliau. Namun rakyat Iran begitu waspada dan tanggap. Dengan segera rakyat mendukung keputusan Dewan Ahli yang memilih Ayatollah Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin revolusi sehingga konspirasi musuh pun gagal kembali.

Selama ini musuh mengira dengan wafatnya Imam Khomeini , Revolusi Islam pun berakhir. Namun nyatanya, kepergian Imam justru menempatkan era Khomeini ke ranah yang lebih luas dari sebelumnya. Sebab, apakah mungkin pemikiran luhur, kebaikan, spritualitas, dan hakikat bisa musnah?

Siang dan malam 15 Khordad 1368 HS (5 Juni 1989), jutaan warga Iran yang datang dari pelbagai kota dan desa datang ke Tehran, memenuhi Mushalla Besar Tehran, untuk melepas kepergian Imam Khomeini yang terakhir kalinya. Dalam upacara pemakamam agung itu, tak terlihat suasana upacara resmi kenegaraan sebagaiman yang biasa dilakukan dalam prosesi pemakaman seorang pemimpin negara. Yang terlihat hanya suasana kerakyatan dan penuh cinta sebuah bangsa revolusioner yang berduka dan menangis melepas pemimpinnya menuju ke haribaan ilahi.

Dari kejauhan terlihat jenazah Imam yang terbaring damai di tengah lautan pecintanya yang berduka. Setiap orang berbicara kepada Imamnya dengan bahasa masing-masing sembari menetaskan air mata. Seluruh jalanan yang menuju Mushalla Besar Tehran penuh dengan lautan manusia berbusana hitam, yang mengisyaratkan betapa pedihnya sebuah perpisahan. Bendera-bendera tanda duka terpasang di sudut-sudut kota, lantunan kalam suci Al-Quran terdengar bersahutan di masjid-masjid, rumah-rumah dan perkantoran. Saat malam tiba, ribuan lilin di sekeliling Mushalla Besar Tehran dinyalakan untuk mengenang kobaran revolusi yang dinyalakan Imam.

Malam itu, mata seluruh rakyat yang berduka menatapi nyala lilin, seakan mengenang seluruh pengorbanan yang diberikan Imam Khomeini kepada bangsanya. Teriakan “Ya…Husein” para pecinta Imam Khomeini yang merasa menjadi yatim, mengubah malam penuh duka itu menjadi seperti malam-malam Asyura, malam yang begitu tragis saat Imam Husein as, cucu Rasulullah saw dibantai di padang Karbala oleh para durjana. Mereka sadar, suara lembut Imam Khomeini tak akan terdengar lagi di Huseiniyeh Jamaran, tempat di mana Imam biasa mengutarakan cermah-ceramahnya kepada rakyat Iran. Rakyat terus mendampingi jenazah Imam hingga pagi tiba.

Awal pagi 16 Khordad 1368 HS (6 Juni 1989), sembari meneteskan air mata jutaan manusia menggelar shalat jenazah yang diimami oleh Ayatollah Al-Udzma Golpaygani. Lautan manusia di saat itu mengingatkan kembali pada peristiwa penyambutan besar-besaran rakyat Iran yang menyambut kedatangan Imam Khomeini dari pengasingan pada tanggal 12 Bahman 1357 HS (1 Februari 1979). Dua peristiwa besar yang akan senantiasa diingat oleh sejarah.

Media-media massa dunia memperkirakan, lautan pelayat Imam Khomeini saat itu sekitar 9 juta orang, sementara pada peristiwa penyambutan 12 Bahman, diperkirakan sekitar 6 juta orang. Padahal selama 11 tahun lebih kepemimpinan Imam Khomeini di Iran, beragam fitnah, konspirasi, tekanan dan ancaman negara-negara adidaya, tak pernah berhenti mendera rakyat Iran. Melihat kondisi yang demikian itu, semestinya rakyat Iran sudah letih dengan pelbagai kesulitan yang ada. Namun ajaibnya, justru di tengah pelbagai cobaan dan ujian berat tersebut, rakyat Iran semakin matang dan tegar. Generasi hasil didikan ideologi ilahi Imam Khomeini benar-benar memegang teguh ajaran beliau yang berbunyi, “Beban menahan kerja keras, kesusahan, pengorbanan, kesyahidan, dan derita di dunia sebanding dengan besarnya tujuan, kebernilaian dan ketinggian peringkat tersebut”.

Setelah melihat bahwa prosesi pemakaman tak mungkin dilanjutkan di tengah emosi penuh duka rakyat Iran, pemerintah mengumumkan untuk menunda pemakaman dan meminta para pelayat kembali ke rumahnya masing-masing sampai pengumuman berikutnya. Namun di sisi lain, mengingat bahwa penundaan prosesi pemakaman bisa menambah jumlah pelayat yang makin banyak berdatangan dari kota-kota lainnya, maka pemerintah pun memutuskan untuk mengebumikan jenazah Imam Khomeini selepas dzuhur hari itu juga.

Prosesi pemakaman pun berlangsung di tengah himpitan lautan manusia yang tenggelam dalam tangis dan duka. Lewat siaran pelbagai media massa, seluruh dunia juga turut menyaksikan prosesi pemakaman seorang pemimpin agung Revolusi Islam ini. Dengan demikian seperti halnya masa-masa hidup Imam Khomeini yang menjadi sumber perjuangan dan kebangkitan, saat-saat kepergian beliau pun seperti itu juga. Semoga abadilah dia. Karena dia adalah hakikat dan hakikat akan senantiasa abadi dan tak kenal fana!

===================================================

Pengantar
23/07/2008
Benar atau tidaknya amalan seseorang bergantung pada pengetahuannya akan masalah-masalah agama (syar’i) dan mengamalkannya. Salah satu cara untuk mengetahui hukum agama adalah dengan mengikuti fatwa atau taqlid kepada mujtahid yang memenuhi seluruh persyaratan ijtihad.Untuk memperoleh informasi tentang fatwa seorang marja’ taqlid (mujtahid yang fatwanya diikuti) kita bisa merujuk ke buku Risalah Amaliyah (Kumpulan Fatwa) yang diyakini mewakili fatwanya.Berdasarkan realitas, dimana banyak para mukallaf setelah wafatnya Ayatullah Al-Udhma Syaikh Ali Arakiy ingin bertaqlid kepada Ayatollah Al-Udhma Khamenei, pada saat yang sama hingga saat ini kumpulan fatwa beliau sedang dalam penyusunan dan belum diterbitkan, sementara buku ‘Ajwibah Al-Istifaat’ (Jawaban atas Pertanyaan Fatwa) tidak mnecakup semua masalah keseharian, maka kami memandang perlu untuk menyusun perbedaan yang ada antara fatwa beliau dan fatwa Imam Khomeini dengan berpijak pada buku Ajwibah Al-Istifaat dan beberapa sumber lainnya, sehingga setiap mukallaf dapat dengan mudah mengetahui masalah ini.
CATATAN:

  1. Para mukallid Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa melaksanakan fatwa beliau dengan memperhatikan perbedaan yang ada. Jika masih ada yang tidak jelas bisa menyampaikan pertanyaan guna memperjelas hal itu.
  2. Dalam sebagian kasus, tidak terdapat perbedaan, tetapi yang ada adalah penjelasan atau penambahan keterangan.
  3. Fatwa Imam Khomeini diambil dari kitab Tahrir Al Wasilah, Taudhih Al Masail dan Al ‘Urwatul Wutsqa.
  4. Untuk mempersingkat pembahasan kami sengaja tidak mencantumkan referensi fatwa, bagi yang menginginkannya bisa merujuk ke edisi cetak yang telah diterbitkan.
  5. Fatwa Ayatollah Al-Udhma Khamenei bisa Anda bisa dapatkan di kolom sebelah kanan sementara fatwa Imam Khomeini dicantumkan di sebelah kiri.
Imam Khomeini Imam Ali Khamenei
Mujtahid yang bisa dijadikan rujukan dalam fatwa haruslah seorang laki-laki yang sudah baligh, berakal sehat, penganut Syiah 12 Imam, anak halal, hidup dan adil. Sebagaimana sesuai dengan prinsip ihtiyat wajib, bertaqlid harus pada seorang yang tidak rakus pada dunia dan paling tinggi ilmunya (a’lam) di antara para mujtahid di zamannya. 1. Jika para mujtahid yang memenuhi syarat untuk diikuti berjumlah banyak dan fatwa mereka berbeda-beda, maka sesuai dengan prinsip ihtiyat seorang mukallaf wajib mengikuti (bertaqlid) kepada yang paling unggul dalam keilmuan (a’lam), kecuali jika fatwanya bertentangan dengan ihtiyat sementara fatwa mujtahid yang tidak a’lam sesuai dengan prinsip ihtiyat,  maka dalam hal ini tidak wajib untuk mengikuti fatwa mujtahid yang a’lam.
2. A’lam adalah orang yang lebih baik dalam memahami kaidah ijtihad dan sumber pijakan permasalahan syar’i serta memiliki wawasan yang lebih luas pada masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Begitu juga lebih baik dalam memahami (kandungan) teks hadis. Secara ringkas a’lam adalah orang yang lebih jeli dan cermat dalam menyimpulkan hukum. 2. A’lam adalah seorang mujtahid yang lebih bisa dari pada yang lainnya dalam hal menyimpulkan hukum Allah dari dalil-dalilnya. Begitu juga ia memiliki pengetahuan yang cukup akan situasi dan kondisi zamannya yang berpengaruh pada proses identifikasi obyek hukum dan tugas syar’i.
3. Tidak boleh memulai taqlid kepada mujtahid yang sudah meninggal. 3. Memulai taqlid kepada mujtahid yang sudah meninggal tidak boleh berdasarkan prinsip ihtiyat wajib.Soal:Seorang remaja yang baru mencapai usia baligh dan bertaqlid kepada Anda (Ayatollah Al-Udhma Khamenei), namun karena di awal taklif dia perlu membaca dan mengenal seluruh masalah fikih, bolehkan ia menelaah kumpulan fatwa Imam Khomeini r.a?Jawab:Dalam masalah-masalah umum yang dibutuhkan oleh para remaja tercinta, silahkan merujuk kumpulan fatwa Imam Khomeini. Dan jika mereka tidak mendapatkan jawaban dari permasalahan yang dihadapi dalam buku tersebut silahkan mengajukan pertanyaan!
1. Ukuran air Kur kurang lebih 377/419 kilogram 1. Kurang lebih 384 liter.
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang-orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: Semua non muslim dari agama dan aliran apapun dihukumi najis. 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan bahwa mereka najis dzatiy. Menurut pandangan kami mereka dihukumi suci.Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-orang yang beragama Kristen, Yahudi, Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, hukumnya najis. 3. Kotoran burung yang haram dimakan, tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila diaduk dengan kuningnya hingga merahnya menghilang (melebur) maka tidak ada larangan untuk mengkonsumsinya. 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi suci namun haram untuk dikonsumsi.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar (negeri) untuk membuat sepatu dan sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi suci, kecuali jika dipastikan bahwa sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun kulit yang diimpor dari negeri-negeri non muslim dihukumi najis, kecuali jika dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, atau ada kemungkinan pengimpornya adalah seorang muslim yang telah memastikan (keabsahan) proses penyembelihannya secara syar’i dan dengan itu dia memasarkannya di tengah umat Islam. 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda tentang daging, kulit dan anggota badan binatang lainnya yang diimpor dari negara-negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak disembelih secara sya’i maka hukumnya najis.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan yang dari asalnya berbentuk cair, najis hukumnya. 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyat, najis.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia bersentuhan dengan barang lain maka ia membuatnya najis. Begitu juga jika bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat dan seterusnya). 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi dengan sesuatu yang lain dalam keadaan basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi najis. Namun benda najis yang ke tiga ini tidak lagi membuat najis benda lain berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, bejana, karpet atau barang lain yang ada pada seorang muslim, kemudian orang muslim tersebut menghilang dari kita, jika ada prediksi dan sangkaan bahwa dia telah mensucikannya dengan air atau masuk ke aliran air dan menjadi suci karenanya, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghindarinya. 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang muslim najis atau suatu barang yang ia miliki najis, kemudian untuk beberapa waktu kita tidak menjumpainya, maka di saat kita berjumpa lagi dengannya dan kita menyaksikannya memperlakukan barang-barang najis tersebut layaknya barang yang suci, maka kita (bisa) memperlakukannya layaknya barang yang suci dengan syarat orang tersebut mengetahui kondisi awal bahwa barang-barang tersebut najis dan kita mengetahui, bahwa orang tersebut memahami hukum-hukum najis dan kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa suci kecuali dengan air. Orang laki-laki cukup membasuhnya dengan air satu kali. Sedangkan perempuan dan orang yang keluar kencing bukan dari tempatnya yang wajar, berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya membasuhnya dua kali. 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa kali harus dituangkan air kepadanya hingga bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi suci dengan dua kali dibasuh.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran (dubur) dengan selain air masih dipertimbangkan. Namun setelah najisnya hilang, diperbolehkan melakukan shalat (walaupun tanpa membasuhnya dengan air terlebih dahulu) 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1) dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika dengan tiga batu belum hilang, maka wajib diulang hingga bersih. Boleh juga dengan satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap (dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang berbeda.
1. Ukuran air Kur kurang lebih 377/419 kilogram 1. Kurang lebih 384 liter.
2. Soal:Bagaimana kita menghukumi orang-orang Ahlul Kitab dari sisi kesucian?Jawab: Semua non muslim dari agama dan aliran apapun dihukumi najis. 2. Soal:Apakah orang-orang Ahlul Kitab itu suci atau najis?Jawab:Tidak ada kejelasan bahwa mereka najis dzatiy. Menurut pandangan kami mereka dihukumi suci.Orang-orang Ahlul Kitab itu adalah orang-orang yang beragama Kristen, Yahudi, Zoroaster dan Shabiin.
3. Kotoran burung yang haram dimakan, hukumnya najis. 3. Kotoran burung yang haram dimakan, tidak najis.
4. Darah yang ada pada telur ayam tidak najis, namun berdasarkan ihtiyat wajib, hendaknya tidak dikonsumsi. Dan bila diaduk dengan kuningnya hingga merahnya menghilang (melebur) maka tidak ada larangan untuk mengkonsumsinya. 4. Darah yang ada pada telur ayam dihukumi suci namun haram untuk dikonsumsi.
5. Soal:Apakah kulit yang diimpor dari luar (negeri) untuk membuat sepatu dan sejenisnya dihukumi suci?Jawab:Kulit yang diimpor dari negeri-negeri Islam dihukumi suci, kecuali jika dipastikan bahwa sembelihannya tidak sesuai syariat. Adapun kulit yang diimpor dari negeri-negeri non muslim dihukumi najis, kecuali jika dipastikan disembelih sesuai aturan syariat, atau ada kemungkinan pengimpornya adalah seorang muslim yang telah memastikan (keabsahan) proses penyembelihannya secara syar’i dan dengan itu dia memasarkannya di tengah umat Islam. 5. Soal: Kami mohon penjelasan Anda tentang daging, kulit dan anggota badan binatang lainnya yang diimpor dari negara-negara non muslim?Jawab:Jika ada indikasi bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai dengan aturan syariat Islam, maka dihukumi suci, jika yakin bahwa binatang itu tidak disembelih secara sya’i maka hukumnya najis.
6. Arak dan setiap minuman memabukkan yang dari asalnya berbentuk cair, najis hukumnya. 6. Minuman yang memabukkan berdasarkan ihtiyat, najis.
7. Sesuatu yang bersentuhan dengan barang najis akan menjadi najis. Jika kemudian ia bersentuhan dengan barang lain maka ia membuatnya najis. Begitu juga jika bersentuhan dengan barang ke tiga. Setelah itu tidak lagi menajiskan (barang ke empat dan seterusnya). 7. Sesuatu yang bersentuhan dengan benda najis dan menjadi najis jika bersentuhan lagi dengan sesuatu yang lain dalam keadaan basah, maka ia juga menjadi najis. Begitu juga sesuatu yang menjadi najis tersebut jika bersentuhan dengan sesuatu yang lain, maka ia pun berdasarkan prinsip ihtiyat menjadi najis. Namun benda najis yang ke tiga ini tidak lagi membuat najis benda lain berikutnya.
8. Jika yakin akan kenajisan tubuh, baju, bejana, karpet atau barang lain yang ada pada seorang muslim, kemudian orang muslim tersebut menghilang dari kita, jika ada prediksi dan sangkaan bahwa dia telah mensucikannya dengan air atau masuk ke aliran air dan menjadi suci karenanya, maka tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghindarinya. 8. Jika kita meyakini, bahwa badan seorang muslim najis atau suatu barang yang ia miliki najis, kemudian untuk beberapa waktu kita tidak menjumpainya, maka di saat kita berjumpa lagi dengannya dan kita menyaksikannya memperlakukan barang-barang najis tersebut layaknya barang yang suci, maka kita (bisa) memperlakukannya layaknya barang yang suci dengan syarat orang tersebut mengetahui kondisi awal bahwa barang-barang tersebut najis dan kita mengetahui, bahwa orang tersebut memahami hukum-hukum najis dan kesucian.
9. Tempat keluarnya air kencing tidak bisa suci kecuali dengan air. Orang laki-laki cukup membasuhnya dengan air satu kali. Sedangkan perempuan dan orang yang keluar kencing bukan dari tempatnya yang wajar, berdasarkan prinsip ihtiyat wajib, hendaknya membasuhnya dua kali. 9. Soal:Di saat membuang air kecil, berapa kali harus dituangkan air kepadanya hingga bisa dihukumi suci?Jawab:Tempat keluarnya air kencing, sesuai prinsip ihtiyat menjadi suci dengan dua kali dibasuh.
10. Mensucikan tempat keluarnya kotoran (dubur) dengan selain air masih dipertimbangkan. Namun setelah najisnya hilang, diperbolehkan melakukan shalat (walaupun tanpa membasuhnya dengan air terlebih dahulu) 10. Tempat keluarnya kotoran (dubur) bisa disucikan dengan salah satu dari dua cara: 1) dengan air sampai najisnya hilang (setelah itu tidak perlu lagi ada pengulangan). 2) dengan tiga batu, kain atau benda sejenisnya. Jika dengan tiga batu belum hilang, maka wajib diulang hingga bersih. Boleh juga dengan satu batu atau kain dan sejenisnya tapi diusap (dipoles) dengan tiga tempat (bagian) yang berbeda.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s