web web sunni tampilkan hadis hadis dha’if syi’ah untuk menipu umat seolah olah itulah akidah syi’ah

 

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanyaGen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafishahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda denganShahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

.

.

Kedudukan Shahih Bukhari
Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

.

.

Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalamAl Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif)jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukharidan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

.

.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

 

 

PERTANYAAN :

Banyak website salafi wahabi menulis sbb : “
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 644 (1.5%) saja riwayat yg sanadnya sampai ke Nabi?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 690 saja riwayat yg sampai ke Imam Ali?
-44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah tidak ada satupun riwayat yg sampai ke Sayyidah Fatimah?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 21 saja riwayat yg sampai ke Imam Hassan?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 7 saja riwayat yg sampai ke Imam Hussein?

Sedangkan di 9 kitab hadits Sunni :
– Imam Ali ra = 1.583 riwayat
– Abu Bakar ra = 210 riwayat
– Umar bin Khattab ra = 977 riwayat
– Utsman bin Affan ra = 313 riwayat
– Fatimah ra = 11 riwayat
– Hasan bin Ali ra = 35
– Hussein bin Ali ra = 43

Terlihat, kitab2 Sunni lebih banyak meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam dan Ahlul Bait Utama beliau daripada kitab2 hadits Syiah… why???

“””mayoritas hadits dalam Al Kafi adalah Ahad yang tidak dapat dijadikan pegangan dalam masalah akidah –menurut syi’ah sendiri.. Jumlah riwayat yang ada dalam empat kitab syi’ah di atas adalah 44 ribu riwayat lebih sedikit, tetapi riwayat yang berasal dari Nabi SAW hanya ada 644, atau hanya sekitar 1.5 % saja. Itu saja banyak yang sanadnya terputus dan tidak shahih.. Yang lebih mengherankan, dalam kitab Al Kafi yang haditsnya berjumlah 16199, hanya ada 92 riwayat dari Nabi SAW, sementara riwayat dari Ja’far As Shadiq berjumlah 9219.. Sementara riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam empat kitab syi’ah di atas hanya berjumlah 690 riwayat, kebanyakan terputus sanadnya dan tidak shahih, sepertinya fungsi pintu ilmu sudah diambil alih oleh orang lain…Sementara riwayat dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang ada dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 21 riwayat…Empat kitab literatur utama hadits syi’ah tidak memuat riwayat dari Fatimah Az Zahra..Riwayat Imam Husein yang tercantum dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 7 riwayat saja. “”

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Itu akibatnya kalau belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri. MEREKA BERDUSTA !!!!!!!! MEREKA BERDUSTA !!!!!!!!!!!

Tidak benar apa yang mereka sampaikan !!!!!!!! Sebagai ulama syi’ah yang sudah bertahun tahun belajar syi’ah saya mengatakan bahwa : “YANG MEREKA HiTUNG CUMA YANG DiSEBUT NAMA, SEMENTARA YANG MENYEBUT GELAR TiDAK MEREKA HiTUNG, KALAU CARA BEGiNi MENGHiTUNG HADiS JUSTRU DALAM SELURUH KiTAB ASWAJA TiDAK ADA SATUPUN HADiS MUHAMMAD SAW KARENA TiDAK ADA HADiS YANG DiSEBUT DENGAN NAMA NABi TAPi DiSEBUT DENGAN GELAR ‘

ANGKA YANG MEREKA SEBUTKAN DiATAS CUMA YANG DiSEBUT DENGAN NAMA, PADAHAL MASiH BANYAK YANG DiSEBUT DENGAN GELAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!

KENAPA BANYAK HADiS DARi Imam Ja’far Shadiq ????? Itu wajar karena yang menyampaikan hadis dengan mata rantai sampai ke Nabi SAW kan Imam Ja’far !!!!!!!!!! tapi dengan hal ini justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Sanad hadis kulaini benar benar otentik karena benar benar bersambung pada Imam Imam hingga Nabi SAW..

Yang meriwayatkan hadis bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait….

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

TAPi hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu…KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin
( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Setahu saya, ulama syiah tidak menjadikan kitab pegangan mereka seperti Al Kafi sebagai kitab yang semuanya shahih oleh karena itu mereka tidak menyebut kitab mereka kitab shahih seperti Sunni menyebut kitab shahih Bukhari dan Muslim. Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

Al Kulayni tidak pernah menyatakan semua hadits dalam al kahfi shahih, bisa berarti:
bisa maksudnya adalah: ada yang shahih dan tidak shahih.

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.

beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dr hadits tsb, krn jika melakukannya maka beliau tentunya akan mengkategorikannya sesuai penelitian beliau (minimal melakukan catatan2).

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Kayaknya cuma Mas deh yang menganggap itu masalah.

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan… metode yang dilakukan

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

tidak ada yg mengatakan alkulayni superman atau ma’shumin, ia hanya orang yang mencatat hadist2 tanpa mengklaim sepihak keshahihan hadist2nya…. ingat, alkafi bukan satu2nya kitab yg dimiliki Syiah mas, itulah bedanya kita…perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, belajar lgsg dari orgnya dong mas…

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Secara metodologis ini tdk menjadi masalah, para imam mazhab dan Bukhari serta perawi lain juga hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw sebagai pembawa risalah. Toh masih dianggap sebagai perwakilan penyambung syareat Nabi saw.

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan, kalau gak salah Syaikh Albani membuat kitab sendiri tentang itu (Dhaif Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Dawud) dan celakanya menurut syaikh Al Albani dan Daruquthni dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadis dhaif.

Atau contoh lain adalah kitab Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Shahihain, itu nama kitab yang pakai kata “shahih” dan anehnya banyak hadis-hadis dhaif bahkan palsu. Dengan semua data itu apakah anda juga akan berkata sedangkan kitab-kitab pegangan sunni banyak dinyatakan ulama sunni sendiri gak sahih (banyak diragukan bersumber dari Rasulullah SAW). Silakan direnungkan
Jawabannya sederhana kok, berpegang teguh kepada ahlul bait dalam arti merujuk kepada mereka dalam agama diantaranya akidah dan ibadah

Memang banyak hadits dha’if yang terdapat dalam berbagai kitab, entah dlm kitab sunni maupun syi’ah. Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim.

Makanya jangan sok tau. Dalam Syi’ah, fungsi Imam yg 12 adalah BUKAN sbg pembuat hal2 baru dlm agama (bida’ah). Mereka hanyalah pelaksana sekaligus penjaga/pengawal syariat Islam yg dibawa nabi Muhammad saw. Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw.

He he he…dasar sok tau. Kalau para ulama Syi’ah selalu mengatakan bahwa hadis2 yg terdapat dlm Al-Kafi umpamanya masih banyak yg dhaif, itu bukan berarti kebanggaan. Pernyataan mereka itu lebih kpd sikap jujur dan terbuka dan apa adanya. ………Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir.

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman.

==================================================================================================================================================================

SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS
KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi.

Kenapa banyak sekali hadis dha’if ??? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ????
Jawab:
Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan…..

Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ????
Jawab :
Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah !!!!!

Apakah dengan modal empat kitab hadis syi’ah maka kita sudah dianggap berpedoman pada TSAQALAiN ???
jawab :
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF

Adakah hadis aneh aneh dalam kitab syi’ah ????
Jawab :Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai !!!! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !!!!

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as.

Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.

dalam beberapa hal, metodologi hadis Syi’ah amat berlainan dengan metodologi Ahlu Sunnah. Kajian tentang metodologi hadis dalam Syi’ah Imamiah telah menjadi objek sebuah risalah doktoral di fakultas Ushuluddin Universitas al Azhar. Pada penghujung tahun 1996, risalah tersebut telah diuji dan dinyatkan lulus.
Dalam kalangan Syi’ah, kitab-kitab hadis yang dijadikan pedoman utama -dan berfungsi seperti kutub sittah dalam kalangan sunni- ada sebanyak 4 buah kitab.

Kitab al Kâfi. Disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al Kulayni (w.328 H.). Kitab tersebut disusun dalam 20 tahun, menampung sebanyak 16.090 hadis. Di dalamnya sang penyusun menyebutkan sanadnya hingga al ma’shum. Dalam kitab hadis tersebut terdapat hadis shahih, hasan, muwats-tsaq dan dla’if.

Kitab Ma La Yahdluruhu al Faqih. Disusun oleh ash-Shadduq Abi Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih al Qummi (w.381 H.). Kitab ini merangkum 9.044 hadis dalam masalah hukum.

Kitab at-Tahzib. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin al Hasan ath-Thusi (w.460 H.). Penyusun, dalam penulisan kitab ini mengikuti metode al Kulayni. Penyusun juga menyebutkan dalam setiap sanad sebuah hakikat atau suatu hukum. Kitab ini merangkum sebanyak 13.095 hadis.

Kitab al Istibshar. Kitab ini juga disusun oleh Muhammad bin Hasan al Thusi. Penysusun kitab at-Tahzib. Kitab ini merangkum sebanyak 5.511 hadis.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:

Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.

Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.

Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.

Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.

===============================================================================================================================================================

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Al-Kafi
Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik

Man la yahdarul fiqh
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

Tazhibul Ahkam
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
==================================================================================================================================================================

MENGGUGAT KEJUJURAN ASWAJA SUNNi

kedudukan Imam itu lebih tinggi dari Nabi. Coba simak QS Al-Baqarah 124:”Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:”Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata:”(Dan aku mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman:”Janji-Ku (ini) tidak akan mengenai orang2 yang zalim.”

Kalimat “wa idzibtala ibrihima robbuhu bi kalimatin fa attamahuna qola inni ja’iluka linnasi imama..menunjukkan bahwa Imamah itu diberikan kpd Nabi Ibrahim setelah Allah mengujinya dg ujian2 besar spt belum punya keturunan sampai usia tua dan pengorbanan anak tercintanya Ismail.

“Hari kamis! Betapa tragis hari itu!” Kemudian Ibnu Abbas menangis keras sehingga air matanya mengalir ke pipi. Kemudian ia menambahkan (Rasulullah bersabda), “Ambikan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan pernyataan yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku.” Mereka berkata, “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau!” (HR. Muslim)

Sebagain sahabat menilai Nabi ‘yahjur” (bicara tidak karuan akibat sakit berat)…

Apakah saya harus mencintai sahabat yang menilai nabi meracau? Ami-amit. Sumpah, naudzubillahi min dzalik.

udah….jangan debat…… kita bicara kenyataannya ajah………

1. ahlu sunnah itu ngakunya pengikut sunnah…..tp sunnah bikinan sendiri. bikinan orang orang yang dengki sama nabi dan keluarga nya. bukan sunnah dari nabi. cuma belaga belaga dari nabi. makanya ceritanya semua muter muter dan kacau tabrakan melulu antara hadis ini sama itu. gak karuan.
Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadis yang didengarnya dari Nabi SAW. Di antara sahabat yang paling banyak menghapal/meriwayatkan hadis ialah Abu Hurairah. Menurut keterangan Ibnu Jauzi bahwa hadis yang diriwayatkan oleh

-Abu Hurairah sejumlah 5.374 buah hadis.
-Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
-Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
-Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
-Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
-Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
-Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.

Selain itu bagaimana mungkin Bukhori dan Muslim dg umur yg sekitar 60-70 tahun mampu menyeleksi ratusan ribu hadis dan mewawancarai ribuan org yg memiliki hadis yg domisilinya terpencar-pencar ?

Apa masih pantas kitab hadis Bukhori Muslim diberi label “Sahih” ?

Bukhori misalnya tdk mau mewawancarai Imam az-Zaki al-Askari, cucu Rasulullah saw yg sezaman dgnya dan sedikitpun tdk berhujjah dg Imam Ja’far Ash-Shadiq, Imam Kazhim, Imam Ridho, Imam al-Jawad, Hasan bin al-Hasan, Zaid bin Ali bin Husein, Yahya bin Zaid, an-Nafs Az Zakiyah, Ibrahim bin Abdullah, Muhammad bin Qasim bin Ali dan dari keturunan Ahlul Bait manapun. Sebaliknya Bukhori meriwayatkan dari banyak kaum Khawarij yg memusuhi Ahlul Bait dan tokoh2 yg terkenal jahil terhdp keluarga Rasulullah saw.

Total hadis2 yg diriwayatkan Abu Hurairah menurut Muhammad bin Hazm berjumlah 5374, jauh lebih banyak dari jumlah hadis yg diriwayatkan oleh Abu Bakar (22), Umar (50) dan Usman (9).

Bagaimana dg Ibnu Abbas ? Ternyata dalam jalur periwayatan hadis Ibnu Abbas terdpt org2 spt Abu Sahl As-Suri yg dikenal sbg pembohong, pencipta hadis palsu dan pencuri hadis dan Abdul Quddus Abu Said ad-Damasyqi juga sbg pembohong ! (Lisan al-Mizan, Tarikh al-Baghdadi dll). He he he mau ngibulin org ?

Dalam hadis aswaja sunni Memang bisa saja berbunyi “dari Ali dari Rasulullah saw” Tapi ketika diteliti sanadnya pasti ada pembohong. Itu sama saja dg hadis maudhu. Coba pikir bagaimana mungkin seorang yg dijegal menjadi khalifah, diasingkan dan diperangi oleh org spt Aisyah dan Muawiyah dan dilaknat selama 80 thn dan keturunannya dibunuh baik oleh para penguasa Bani Umayah maupun Abbasiyah, hadisnya dimasukkan kedalam kitab hadis Sunni sbg hadis sahih ?

He he he jadi macem mana kualitas kitab2 hadis Sunni itu ?

2. kalangan ahlu sunah itu sekumpulan orang yang keras kepala dalam mempertahankan tradisi dari zaman bani umayah. makanya ciri ciri kalangan ahlu sunah itu bodoh dan keras kepala. gak pernah berpikir logis. contohnya waktu dibilangin bahwa ayat yang artinya ” ikutilah allah rasulnya, dan orang yang menunaikan zakat pada saat dia rukuk”. jelas ayat ini buat ali bin abithalib, tp mereka bilang bukan. itu buat rasulallah. makanya dibilang ulama bodo. tolol dan keras kepala. masa’ allah bilang ikutilah allah, rasulnya, dam rasulnya lagi?? pasti!! orang ketiganya orang lain.

3. “kalangan ahlu sunah tidak terima kalau keluarga nabi itu di beri kelebihan oleh allah ta’ala dari semua mahluk yang lain”. ciri ini sama persis….sama yang diusir dari surga karena gak terima adam yang diberi kelebihan sama allah.

4. ahlu sunnah wal jamaah…….kata kata yang baik di gunakan buat maksud yang salah…… sama seperti waktu muawiyah perang udah kalah…. belaga belaga pakai kata “tidaka da hukum kecuali hukum allah” benar benar kata kata yang haq tapi sayang…..dipakai buat nipu……ada kepentingan politis masuk spt dlm Sahih Bukhori ? Apa bukan menipu namanya kalau ada org jual barang jelek dibilang bagus ?

He he he…makanya baca sejarah yg netral dong. Pikir dg akal yg sehat, kenapa Abu Bakar dkk mengancam mau membakar rumah Fatimah segala ? Ada apa ? Kenapa waktu mengadakan “pemilihan” khalifah di Bani Saidah, Abu Bakar, Umar dll tdk menunggu Ali yg sedang mengurus jenazah Nabi saw ? Kenapa Abu Bakar tdk memberikan Tanah Fadak milik Rasulullah kpd Fatimah sbg ahli waris ? Semua itu bukan serba kebetulan, tetapi dirancang oleh suatu konspirasi untuk menjegal atau mencegah Ali dan Ahlul Bait mememegang kekhilafahan, karena konspirasi Quraisy tdk menghendaki berkumpulnya Nubuwwah dan Khilafah dlm kekuasaan Bani Hasyim.He he engga tdk dikotak-kotak juga memang sdh terkotak-kotak sejak Nabi wafat.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Peristiwa pertama yang berlaku segera selepas wafatnya Nabi SAWA yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah dan ahli sejarah adalah kritik Fatimah Zahra terhadap Abu Bakar yang berhujah dengan sebuah hadith “Kami para Nabi tidak meninggalkan warisan pusaka. Apa yang kami tinggalkan adalah sadaqah”.

Hadith ini ditolak oleh Fatimah Zahra berdasarkan Kitab Allah. Beliau berhujah kepada Abu Bakar bahawa ayahnya Rasulullah tidak mungkin akan menyalahi Kitab Allah yang diturunkan kepadanya. Allah berfirman:” Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembahagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan” (Al-Qur’an Surah al-Baqarah: 11). Ayat ini umum dan meliputi para Nabi dan bukan nabi. Fatimah juga berhujah dengan firman Allah “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud “(Surah 27:16). Dan kedua-dua mereka adalah nabi. Juga firman Allah “Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai” (Surah 19:5-6)

Peristiwa kedua yang berlaku di zaman pertama khilafah Abu Bakar dan dicatat rapi oleh ahli-ahli sejarah yang bermadzhab Sunnah adalah perselisihannya dengan orang yang paling rapat dengannya iaitu Umar bin Khattab.

Secara ringkas, Abu Bakar mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sementara Umar menentang pendapatnya. Umar berkata: mereka tidak wajar diperangi kerana aku dengar Nabi SAWA bersabda:”Aku diperintahkan untuk memerangi melainkan sehingga mereka mengucapkan Tiada Tuhan Melainkan Allah dan Muhammad adalah pesuruh Allah. Siapa yang mengucapkannya maka nyawa dan hartanya selamat dan hisabnya pada Allah semata-mata.”

Bagaimanapun mereka yang enggan memberikan zakat kepada Abu Bakar sebenarnya tidak mengingkari hukum wajibnya zakat itu sendiri. Mereka memperlambatkan kerana ingin mengetahui keadaan yang sebenarnya. Orang-orang Syiah mengatakan bahawa mereka terkejut dengan terlantiknya Abu Bakar sebagai khalifah. Kerana di antara mereka ada yang hadir bersama-sama Rasulullah di Haji Terakhir (Hujjatul Wada’) dan mendengar sendiri khutbah Nabi yang mengangkat Ali bin Abi Talib sebagai khalifah setelahnya. Mereka cuba untuk menunggu sehingga keadaan sebenarnya dapat diketahui tetapi Abu Bakar ingin membungkamkan mereka dari mengetahui keadaan sebenarnya ini.

Mengingatkan bahawa aku tidak mahu berhujah dengan apa yang dikatakan oleh Syiah, maka aku serahkan kepada pembaca yang ingin mencari kebenaran untuk mengkaji masalah ini.

Aku juga tidak lupa untuk mencatatkan di sini suatu cerita berkenaan dengan Rasulullah dan Tha’labah. Suatu hari Tha’labah memohon kepada Rasulullah untuk mendoakannya agar ia menjadi kaya. Dia mendesak Rasulullah dan berjanji kepada Allah akan bersadaqah jika dia kaya kelak. Rasulullah mendoakannya dan Allah pun memperkayakannnya. Disebabkan banyaknya unta dan kambing ternakannya, kota Madinah yang luas akhirnya terasa sempit baginya. Dia berpindah dari kota Madinah dan tidak lagi menghadiri solat Juma’at. Ketika Rasulullah mengutus para Amilin (pengutip zakat) untuk mengambil zakat darinya, Tha’labah menolak untuk memberikan. Katanya: Ini ufti (jizyah) atau sejenisnya. Tetapi Rasulullah tidak memeranginya dan tidak juga memerintahkan orang untuk memeranginya. Berkenaan dengan ini Allah turunkan ayat berikut:”Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian kurniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang soleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari kurniaNya, mereka kikir dengan kurnia itu, dan berpaling. Dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (At-Taubah: 75-76).

Setelah turunnya ayat ini: Tha’labah kemudian datang sambil menangis. Dia minta kepada Rasulullah untuk menerima zakatnya kembali tetapi Rasulullah enggan menerimanya seperti yang dikatakan oleh riwayat.

Jika Abu Bakar dan Umar benar-benar mengikuti sunnah Rasul, kenapa ia menyalahinya dalam tindakan ini dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak berdosa semata-mata kerana alasan enggan memberikan zakat. Setelah cerita Tha’labah di atas yang mengingkari kewajipan zakat dan bahkan menganggapnya sebagai ufti, maka tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan dan menjustifikasikan kesalahan yang dilakukan oleh Abu Bakar atau mentakwilkannya dengan mengatakan bahawa zakat adalah haknya harta. Siapa tahu mungkin Abu Bakar dapat menyakinkan sahabatnya Umar untuk memerangi orang-orang ini, khuatir sikap mereka ini akan diketahui oleh negeri-negeri Islam yang lain yang dapat menghidupkan kembali nas-nasnya al-Ghadir yang memilih

Ketika aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka tentang Ahlul Bayt, dia menjawab: Ahlul Sunnah wal-Jamaah semua ikut Ahlul Bayt. Aku rasa hairan sekali. Aku bertanya bagaimana itu? Jawabnya: Nabi SAWA pernah bersabda:”Ambillah separuh dari agama kalian dari Humaira’ ini, yakni Aisyah”.Nah, kami telah ambil separuh dari agama kami daripada Ahlul Bayt.

Dengan demikian dapatlah dimengertikan sejauh manakah mereka menghormati dan menyanjung Ahlul Bayt. Namun jika aku soal tentang imam dua belas, mereka tidak mengenalnya melainkan Ali, Hasan, dan Husayn.Itupun mereka tidak mengiktiraf keimamahannya Hasan dan Husayn ini. Merea juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah ..Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

He he he….mari kita buktikan hadis2 yg dianggap sahih oleh Sunni karena ada dlm kitab Sahih Bukhori.

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis2 Israeliyat spt:
1. Adam diciptakan spt bentuk Allah
2. Setan lari sambil kentut ktk mendengar suara adzan
3. Nabi Sulaiman as mengancam akan membelah bayi yg diperebutkan dua ibu
4. Allah menaruh kakinya di neraka
5. Nabi Sulaiman as meniduri 70 wanita dlm semalam tp hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia
6. Nabi Muhammad saw membakar sarang semut karena gara2 digigit seekor semut.
7. Nabi Isa turun membunuh babi (apa salahnya babi ?)
8. Awan yg berbicara
9. Sapi dan serigala berbicara bhs Arab
10. Musa menampar malaikat
11. Nabi Musa yg telanjang mengejar batu yg lari membawa bajunya, terlihat kemaluannya oleh Bani Israil.
12. Allah mencipta Adam pada hari Jumat sesudah Ashar
13. Allah turun ke langit dunia.
14. Sungai Nil dan Efrat adalah sungai dari surga
15. Tidak ada penyakit yg menular

dll.

Dalam Sahih Bukhori hadis no. 3 umpamanya kita dpt baca peristiwa ketika Rasulullah menerima wahyu yg digambarkan spt org yg ketakutan dan tdk mengenal siapa yg mendatanginya. Hadis ini driwiyatkan dari Aisyah. Ada keganjilan dlm hadis ini, baik dari sanad maupun matan :
1. Pada sanad riwayat disebutkan seorang bernama Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yg berkhidmat kpd Hisyam bin Abd Malik. Ia sangat terkenal membenci Imam Ali.

2. Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dlm riwayat ini seolah-olah Aisyah mendengar sendiri. Dalam ilmu hadis seharusnya ia mengatakan :’ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda….dst.

3. Rasulullah digambarkan tdk faham dg pengalaman ruhani yg dia alami. Padahal beliau adalah Insan Kamil.

Hadis2 yg bertentangan dg pernyataan Al-Quran tentang ketinggian maqom Nabi saw a.l. :

1. Lupa rakaat salat
2. Mau salat lupa mandi janabah
3. Menonton sambil bermesraan di depan org banyak
4. Rasul kena sihir
5. Allah punya betis
6. Nabi berbicara tanpa ilmu
7. Nabi lupa ayat al-Quran
8. Buang air menghadap kiblat.

dan masih banyak lagi hadis2 yg bermasalah baik dari segi sanad maupun matannya. Hal itu menunjukkan bahwa banyak hadis2 palsu dalam kitab hadis yg di-klaim sahih spt dlm Bukhori dan Muslim.

Bayangkan saja seorang Nabi yg Allah dan para malaikat-Nya membaca salawat dlm Al-Quran,digambarkan oleh hadis2 Sunni spt itu !!

Engga usah kemana-mana dulu gimana tanggapan ente ttg hadis2 yg bermasalah yg merendahkan derajat Nabi dlm kitab “sahih: Bukhori ? Contoh yg terakhir adalah riwayat bahwa Nabi doyan jimak (bersetubuh). Bayangkan sehari semalam 9 istri digilir ! Ini kitab hadis soalnya sdh beredar ke seluruh dunia melalui internet. Siapa kalo bgt yg bikin malu ? Diriwayatkan dari Qatadah berkata bahwa Anas bin Malik pernah bercerita kepada kami bahwa Nabi saw pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu waktu sehari semalam dan jumlah mereka ada sebelas orang. Qatadah mengatakan,’Aku bertanya kepada Anas,’Seberapa kuat beliau saw?’ Dia menjawab,’Kami pernah memperbincangkannya bahwa kekuatan beliau saw sebanding dengan (kekuatan) tiga puluh orang.” Said berkata dari Qatadah,’Sesungguhnya Anas menceritakan kepada mereka bahwa jumlah isteri-isterinya saw adalah sembilan orang.” (HR. Bukhori)

Berbeda dg ulama Sunni yg secara tergesa-gesa mengklaim sahihnya semua hadis dalam kitab hadis Bukhori Muslim, para ulama Syi’ah tdk mengambil sikap yg berlebihan dg meyakini bahwa semua hadis dlm kitab Al-Kafi adalah sahih. Tetapi mereka juga tdk bisa menerima jika keterbatasan pemahaman manusia dijadikan tolok ukur dlm menilai kesahihan suatu hadis. Atau menilai kedudukan suatu hadis hanya dg mengandalkan aspek sanad semata.Jadi sanad bukan segala-galanya, tapi harus ditimbang dg Al-Quran dan logika yg sehat.

Dalam khazanah intelektual Ahlul Bait ada kaedah2 dan neraca untuk mengenal ciri hadis yg sahih yg dpt diterima sbg sabda Nabi saw atau sabda para Imam Ahlul Bait dan membedakannya dari ucapan palsu yg dinisbahkan kpd Nabi saw dan para Imam. Kaidah2 itu adalah sbb :

Pertama, menimbang hadis dengan al-Quran

Kedua, mengambil hadis yg bertentangan dg hadis para penguasa dan pendukungnya.

Sementara itu Sahih Bukhori yg temen ente klaim sahih sanadnya ternyata setelah diteliti hadis2nya sangat bermasalah baik dari segi sanad maupun matannya. Diatas ane sdh memberikan beberapa contoh hadis2 yg bermasalah. Dan ternyata dari sekitar 2000-an hadis yg ada dalam kitab ringkasan “Sahih” Bukhori jumlah hadis yg katanya berasal dari Imam Ali hanya sekitar 5 atau 6 hadis. Lainnya didominasi oleh Abu Hurairah, Aisyah dan Anas bin Malik.

He he…kok engga mudeng juga. Emangnya cuma ulama Sunni yg punya Mustolah Hadis/Rijal Hadis atau Jarh wa Ta’dil. Syi’ah juga punya mang. Cuma bedanya Sunni cukup puas atau berhenti pada titik Jarh wa Ta’dil, sedangkan Syi’ah terus berlanjut ke verifikasi berdasarkan tolok ukur Al-Quran. Bukti2 yg menunjukkan bahwa para ulama hadis Sunni cukup puas dg verifikasi sanad dlm hadis Bukhori yg digembar-gemborkan sahih, adalah sbb :

1. Nabi lupa rakaat salat. Hadis no. 471)
Dari Abu Huarirah ra, ia berkata: Rasulullah saw salat bersama kami akan salah satu salat Maghrib dan Isya. Beliau salat bersama kami dua rakaat kemudian salam. Beliau berdiri pada kayu yg melintang di masjid. Lalu beliau bertelekan padanya seolah-olah beliau marah, beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, menjalinkan jari-jari dan meletakkan pipi kanan diatas bagian luar telapak tangan kiri beliau, dan keluarlah orang2 yang bersegera di pintu mesjid. Mereka berkata:’ Salatnya ringkas’. Di kalangan kaum itu ada Abu Bakar dan Umar takut untuk menyatakannya. Di kaum itu ada seorang laki2 yg kedua tangannya panjang bernama Dzul Yadain berkata :’Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa atau mengqashar salat ?’ Beliau bersabda:’Saya tdk lupa dan tdk pula salat itu diqashar.’ Ia bertanya:’Apakah sebagaimana yg dikatakan oleh Dzul Yadain ?’ Mereka menjawab:’Ya’. Maka beliau maju dan salat akan apa yg tertinggal, kemudian beliau salam, takbir dan sujud spt sujudnya, atau lebih lama. Kemudian beliau mengangkat kepala, takbir, kemudian takbir dan sujud spt sujudnya atau lebih lama. Kemudian beliau mengangkat kepala, takbir dan salam.

2. Mau salat lupa mandi janabah. (Hadis no. 176)
Abu Hurairah ra. menceritakan:”(Pada suatu ektika) orang telah qomat untuk salat. Saf telah diluruskan sambil berdiri. Rasulullah saw datang kpd kami. Setelah berdiri di tempatnya biasa salat, tiba2 ia ingat bahwa beliau junub. Beliau berkata kpd kami,”Tunggulah sebentar !” Sesudah mandi ia datang kembali kpd kami, sedangkan rambutnya masih basah. lalu beliau takbir dan salat bersama-sama dg kami”.

3. Nabi lupa ayat Al-Quran (Hadis no. 2532)
Dari Aisyah ra. Dia berkata:”Nabi saw mendengar seorang laki2 sedang membaca Al-Quran di masjid. Lalu beliau bersabda:”Semoga Allah merahmatinya. Dia telah mengingatkan aku akan ayat ini dan ayat ini dari surat ini yg hampir saja aku lupa.”

Bayangkan saja seorang Al-Mustafa (manusia pilihan), seorang kekasih Allah, seorang Sayidul Anbiya wal Mursalin, seorang yang akhlaknya Al-Quran atau yg disebut Al-Quran dg Khuluqil Adzim dan seorang Insan Kamil, dalam Sahih Bukhori ini digambarkan sbg orang pelupa yg biasa ada pada manusia biasa.

Perhatikan point 3. Walaupun hadis ini sangat pendek, tapi kandungan maknanya sangat membahayakan bangunan Islam, karena jika Rasulullah saw lupa akan ayat2 yg harus disampaikannya, lantas apa yg menjamin keaslian Al-Quran ? Jika hadis ini diterima, kita membuka peluang untuk meragukan otentitas Al-Quran !! Hadis ini bertentangan dg jaminan Allah, ‘Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran dan Kamilah yg menjaganya (QS Al-Hijr 9). ‘Kami akan membacakan Al-Quran kepadamu (Muhammad) sehingga kamu tidak akan (pernah) lupa (QS Al’Ala 6).

Bagaimana hadis2 spt bisa lolos ? Gawat….gawat….! Makanya engga cukup cuma pake kritik sanad (Mustholah Hadis dan Jarh wa’ ta’dil).

4. Rasul Allah kena sihir.(Hadis no. 3118)
Dari Aisyah ra, dia berkata:”Nabi saw disihir, shg terbayang oleh beliau bahwa beliau berbuat sesuatu padahal beliau tdk berbuat demikian itu, hingga pada suatu hari beliau berdoa dan berdoa dan di kemudian hari beliau beliau bersabda:”Adakah kamu (Aisyah) tahu bahwa Allah berfatwa (memenuhi doa) kepadaku mengenai kesembuhanku ? Telah datang kepadaku dua orang (malaikat Jibril dan Mikail, dlm mimpi). Seorang (Jibril) dari keduanya duduk di kepalaku dan yg lain (Mikail) di kedua kakiku. Seorang (Mikail) dari keduanya berkata: kpd yg lain (Jibril):’Apakah sakitnya laki2 (Nabi) ini ?”
Dia (Jibril) menjawab:”Dia disihir.”
Dia (Mikail) bertanya:” Dan siapakah yg menyihirnya ?”
Dia (Jibril) menjawab:” Labid bin ‘Asham.”……..dst.

Pemikir Islam spt Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Ridha menolak riwayat ini. Yah bayangkan saja seorang nabi Musa saja mampu mengalahkan puluhan tukang sihir di hadapan umum. Apalagi seorang Sayyidul Anbiya wal Mursalin spt Nabi Muhammad saw ? Tapi aneh dlm kitab hadis Sunni spt dlm Buhkori dan Muslim ada kisah spt ini yg jelas2 menurunkan derajat nabi saw yg sangat tinggi di sisi Allah ?

Mau tambah lagi ? He he cukup 4 contoh dulu…..

Dlm kitab2 hadis Syi’ah engga ada tuh riwayat2 spt itu. Eh, pake bilang ulama Syi’ah engga pede segala. Tapi salut juga sama ente, kitab sahihnya banyak kemasukan riwayat2 yg maudhu, eh sempat2nya bisa bilang org lain engga pede.

Hua kakak…kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata terlihat.

Nih lihat riwayat tahrif Al-Quran dari kitab hadis Sunni :

1.”Dari Qabishah bin Uqbah yg berasal dari Ibrahim bin ‘Alqamah. Ia berkata kpd kami:”Saya bersama pengikut ‘Abdullah bin Ubay datang ke Syam. Abu Darda yg mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya:”Adakah diantara kalian yg membaca Al-Quran?”. Orang2 menunjuk kpd saya. Kemudian ia berkata :”Bacalah!” Maka sayapun membaca :”Wa layli idza yaghsya wan nahaari idza tajalla wa dzdzakaro wal untsa”. Mendengar demikian dia bertanya:”Apakah engkau mendengarnya dari mulut temanmu ‘Abdullah bin Ubay? Aku menjawab:”Ya”. Ia melanjutkan:”Saya mendengarnya dari mulut Nabi saw dan mereka menolak untuk menerimanya.” (Sahih Bukhori Kitab At-Tafsir bab Surah wal laily idza yakhsya).
Bacaan tsb kurang “ma kholaqo”.

2. Umar bin Khattab berkata:”Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat kedalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dg tanganku sendiri.” (Sahih Bukhori, Bab Asy-Syahadah ‘indal Hakim fi wilayatil Qadha’).

Dg demikian Umar termasuk org yg meyakini adanya tahrif dan pengirangan dalam Al-Quran. Sebab ayat rajam yg dia yakini ada dalam Al-Quran, ternyata tidak ada !

3. Dari Khuzaifah yg berkata:”Saya pernah membaca Surah Ahzab pada masa Nabi saw dan tujuh puluh (70) ayat darinya saya sudah agak lupa dan saya tdk mendapatkannya di dalam Al-Quran yg ada sekarang.” ( Ad-Durrul Mansur, jilid 5, hal 180).

4. Dari Abdurrazaq yg berasal dari Tsauri dari Zirr bin Hubaisy yg berkata:”Ubay bin Ka’ab telah bertanya kpd saya:”Berapa jumlah ayat yg kalian baca dari Surah Al-Ahzab?” Saya menjawab:”Tujuh puluh tiga (73) atau tujuh puluh empat (74) ayat.” Dia bertanya:” Hanya sebanyak itu ?” Pada mulanya Surah tsb sama panjangnya dg Surah Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat Surah Rajam.” Saya bertanya:”Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyi Surah rajam itu ?” Dia menjawab:” Ayat tsb ialah :”..idza zanaya wasysyaihotu farjumu humal battatan nakalan minallah wallahu ‘azizun hakiim…”

Lah kalau ada ulama yg mengatakan kitab hadisnya sahih tapi ternyata banyak yg dhaif/maudhunya apa bukan penipu ?! Hi hi hi ente lucu deh. Soalnya ente kok bangga dg ulama spt itu.

Kalau melihat fakta2 spt itu apa bukannya Sunni yg kontradiktif atau mencla mencle. Dulu Umar pernah mengatakan CUKUPLAH KITAB AALAH DI SISI KITA dlm hadis riwayat Bukhori ini: Ibnu Abbas berkata:”Hari Khamis oh hari Khamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata:”Mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata:’Nabi sudah terlalu sakit sementara Al-Quran ada di sisi kalian. CUKUPLAH BAGI KITA kITAB ALLAH….” Artinya Umar engga memerlukan Sunnah Rasul ! (Jadi embahnya Inkar Sunnah Rasul adalah Umar). Dan kata2nya dibuktikan ketika dia jadi khalifah membakar habis hadis2 yg pada para sahabat. Begitu juga Abu Bakar dan Usman. Kalau Muawiyah tdk membakar hadis tapi banyak memproduksi hadis2 palsu melalui para ulamanya.

pa motivasi di balik pembakaran hadis2 ? Pasti ada dong ! Bagaimana mungkin org dilarang menulis hadis dan membakar hadis yg ada kalau tidak ada motifnya, padahal Sunnah Rasul sangat penting untuk menjelaskan Al-Quran ! He he he ternyata selama menjadi penguasa Abu Bakar, Umar dan Usman secara leluasa membuat hukum2 yg bertentangan dg Al-Quran dan Sunnah Rasul-NYa.Mau tau ? Ini dia beberapa contohnya hasil “ijtihad” mereka.

1. Khalifah Abu Bakar mencoba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipunFatimah, Ali, Hasan dan Husayn AS berada di dalamnya. Ini disebabkan merekatidak melakukan bai’ah kepadanya. Fatimah AH memarahinya hingga akhirhayatnya dan berpesan kepada suaminya supaya merahsiakan pengkebumiandan makamnya daripada Abu Bakar dan Umar. Nabi SAWAbersabda:”Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) danredha dengan keredhaanmu.”[Al-Hakim, al-Mustadrak, III,hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII,hlm.219]

Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah AH. Beliaubersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpabapanya dan merayu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya,IV, hlm.196meriwayatkan daripada Aisyah bahawa Fatimah AH tidak bercakap dengan AbuBakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi wafat selama6 bulan. Manakala beliau wafat, suaminya Ali AS mengkebumikannya di waktu malam dan tidak mengizinkan Abu Bakar dan Umar mengerjakan solat jenazahke atasnya [Al-Bukhari,Sahih,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

2. Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentera di bawahpimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi SAWA bersabda:”Perlengkapkantentera Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tenteraUsamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d, Tabaqat,II,hlm.249 dan lainlain
lagi]

3. Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali AS dan Fatimah AH sebagai musangdan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali AS seperti Umm al-Tihal (seorangperempuan pelacur) kerana menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi SAWA selepas berlakunyadialog dengan Fatimah AH mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telahbertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenaikata-kata tersebut:”Kepada siapakah ianya ditujukan?”Gurunya menjawab:”Ianyaditujukan kepada Ali AS.”Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah ertinya pemerintahan dan pangkatduniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid,Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80]

Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firmanNya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAWA yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAWA bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.243]

4. Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah SAWA. Ijttihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (18):41 dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah SAWA yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari,al-Kasysyaf,II,hlm.127]

5. Khalifah Abu Bakar juga mengambil kembali Fadak daripada Fatimah AH selepas wafatnya Rasulullah SAWA. Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sadaqah.”Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali AS kerana ianya bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) FirmanNya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang
(pembahagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi SAWA.

b) FirmanNya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi aud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman AS mewarisi kerajaan Nabi Daud AS dan menggantikan kenabiannya.

c) FirmanNya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diredhai.”(Surah Maryam:5-6) Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadith tersebut. Dan apabila hadith bertentangan dengan al-Qur’an, maka ianya (hadith) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadith tersebut benar, ia bererti Nabi SAWA sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan ianya bercanggah dengan firmanNya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadith tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan ianya tidak boleh menjadi hujah kerana Fatimah dan Ali AS menentangnya. Fatimah AH berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahawa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah?Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi bapa kamu sedangkan aku tidak mewarisi bapaku?Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi,Balaghah al-Nisa,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah,A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92.

f) Fatimah dan Ali AS adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan
Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul ianya bermakna Rasulullah SAWA sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang bapa terhadap anaknya. Kerana anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari bapa-bapa mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi SAWA dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah AH sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah kerana kemarahanmu (Fatimah AH) dan redha dengan keredhaanmu.”[Al-Hakim, al-Mustadrak,III, hlm.153;Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm.522;al-
Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari,Dhakhair al-Uqba,hlm.39]
Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah AH.

Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa bapanya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wal-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun daripada “mereka” menyembahyangkan jenazahnya.[Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm.542;al-Bukhari,Sahih,VI,hlm,177;Ibn Abd al-Birr,al-Isti’ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah AH menuntut tiga perkara:
a. Jabatan khalifah untuk suaminya Ali AS kerana dia adalah dari ahlul Bayt yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan ianya diriwayatkan oleh 110 sahabat.

jelas sekali bahwa Imam Ali dan sahabat2 lainnya tahu Rasulullah berpesan kepemimpinan selanjutnya ada pada Imam Ali.
-. Apakah anda tidak melihat kejanggalan mengapa pertemuan di saqifah resminya hanya dilakukan oleh sekolompok sahabat dr anshor?
-. Apakah tidak janggal bagi akal sehat anda mengapa mereka melakukannya selagi dalam masa berkabung?
-. Apakah hanya Imam Ali sekeluarga yang berkabung? Apakah sahabat tidak berkabung?
-. Jika memang Abu Bakar yang dianggap layak, mengapa beliau tidak diundang? Bukankah beliau datang secara kebetulan?

b.Fadak.

c. Al-khums, saham kerabat Rasulullah SAWA tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

6. Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain.
Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu
menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA [al-
Hakim,al-Mustadrak,III,hlm.37;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-
Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

7. Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian
dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan ianya bertentangan
dengan Sunnah Nabi SAWA”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari
Tuannya.”[Al-Bukhari,Sahih,X,hlm.83]

8. Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum had ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali AS mahu supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Haja,al-Isabah,III,hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahawa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahawa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan kerana mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka.

Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, iaitu mengikut suku Kinanah ia bererti “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia bererti “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar. Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahawa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik.
Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam jenayah Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak hairanlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi SAWA sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau SAWA. Allah SWT menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlul Sunnah menyatakan bahawa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat kerana beranggapan bahawa ianya jizyah. Maka Allah SWT mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi SAWA tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau SAWA mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama.

Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas jawatan khalifah selepas Rasulullah SAWA dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadith al-Ghadir.

Oleh itu tidak hairanlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira jenayah yang dilakukannya terhadap Muslimin kerana Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun ianya bertentangan dengan Sunah Nabi SAWA.

9. Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan
meriwayatkan Sunnah Nabi SAWA. Dia berucap kepada orang ramai selepas kewafatan Nabi SAWA,”Kalian meriwayatkan daripada Rasulullah SAWA hadithhadith di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi. Justeru itu janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun (syaian) daripada Rasulullah SAWA. Dan sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah:Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut hala dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis iaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:”Rasulullah SAWA sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu kata-kata Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya;Kitab Allah dan Sunnahku.”

Oleh itu tidak hairanlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadith Rasulullah SAWA semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula.[al-Muttaqi al-Hindi, Hanz al-Ummal,V,hlm. 237] Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah SAWA. Oleh itu kata-kata Abu Bakar:”Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun daripada Rasulullah SAWA” menunjukkan larangan umum terhadap pengriwayatan dan penulisan hadith Rasulullah SAWA. Dan ianya tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

Lantaran itu ijtihad Khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAWA:”Allah memuliakan seseorang yang mendengar hadithku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadith) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadith) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, Musnad,I,hlm.437;al-Hakim, al-Mustadrak,I,hlm.78] Dan sabdanya:”Siapakah yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.”[Ahmad bin Hanbal,Musnad,III,hlm.263]

10. Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara
wasiat, walhasil dia sendiri menolak wasiat Nabi SAWA. Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan jawatan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justeru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merosakkan sistem syura dan memansuhkannya.

Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahawa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang jawatan khalifah selepasnya.

11. Khalifah Abu Bakar telah meragui jawatan khalifahnya. Dia
berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah SAWA, adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam jawatan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahawa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana diameragui”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]
12. Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku kerana aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, bererti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

13. Khalifah Abu Bakar menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAWA kerana beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadi maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadith-hadith yang lain tentang perlantikan Ali AS sebagai khalifah selepas Rasulullah SAWA.

14. Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi SAWA untuk
menjalankan mana-mana pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali AS untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi,
Sahih,II,hlm.461;Ibn Hajar, al-Isabah,II,hlm.509]

15. Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb iaitu firmanNya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumputrumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

16. Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah SAWA. Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada fi sabilillah’ telah meriwayatkan daripada hamba Umar bin Ubaidillah bahawa dia menyampaikannya kepadanya bahawa Rasulullah SAWA berkata kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah SAWA saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah SAWA menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis.
Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib. Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitabb bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya daripada al-Ala bin al-Musayyab daripada bapanya bahawa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda kerana bersahabat dengan Nabi SAWA dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pokok. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah danRasulNya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahawa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata:Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah SAWA, maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi SAWA.”
Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Rasulullah SAWA kerana aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.

Lantaran itu khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahawa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah-sunnah Rasulullah SAWA.

17. Khalifah Abu Bakar digodai syaitan. Dia berkata:”Syaitan menggodaku,sekiranya aku betul maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkan aku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7; Nur
al-Absar, hlm. 53]

18. Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia inginmenjadi pokok dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hingap di atas suatu pokok, di berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pokok tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pokok yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah,Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]
Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah SWT di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab?Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wal-wali Allah ini tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

19. Khalifah Abu Bakar ketika sakit menyesal kerana mencerobohi rumah Fatimah AH. Dia berkata:”Sepatutnya akut tidak mencerobohi rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih,Iqd al-Farid,II,hlm.254]

20. Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Rasulullah SAWA di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Rasulullah SAWA supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah kerana mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah jiran anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Rasulullah tidak mahu menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut kerana khuatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mahu juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Rasulullah SAWA bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu. Lantas berubah muka Rasulullah SAWA kerana jawapannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan RasulNya.[al-Nasa’i, al-Khasa’is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155]

Sepatutunya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh
Rasulullah SAWA tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah dia memihak kepada musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

Sebenarnya dalam hadis RIWAYAT AISYAH yg menyatakan bahwa Abu Bakar menjadi Imam salat pada hari2 akhir Rasulullah saw (HR Bukhori no. 713) terdapat kontradiksi. Hadis ini oleh Sunni sering dijadikan dalil sbg isyarat bahwa Abu Bakar dicalonkan untuk menjadi khalifah sesudah Nabi saw.

“Dari Aisyah dia berkata:”Ketika sakit Rasulullah sudah berat, datnglah Bilal mengajak salat, lalu Rasulullah berkata:”Suruh Abu Bakar salat untuk manusia”, lalu aku berkata:”Ya Rasulullah! Abu Bakar itu orang yg lemah, dia ini tdk sanggup mengganti kedudukanmu. Nanti org tdk mendengar suaranya, alangkah baiknya kalau disuruh saja Umar.” Rasulullah berkata:”Suruh Abu Bakar salat!” lalu aku berkata kpd Hafshah:”Katakan bahwa Abu Bakar itu laki2 lemah, kalau dia mengganti kedudukanmu nanti suaranya tdk akan bisa di dengar orang.” Lalu Rasulullan marah dan berkata:”Kamu itu spt perempuan2 yg mengelilingi Yusuf, suruh Abu Bakar di tengah-tengah manusia.” Ketika sudah masuk waktu salat, Rasulullah merasa enteng, kedn beliau berdiri bersandar kpd dua orang, kakinya begelantung dan masuk ke mesjid. Ketika Abu Bakar mendengar suara Rasulullah, dia mundur ke belakang, kmdn Rasulullah memberi isyarat kepadanya untuk meneruskannya, kemdn Rasulullah datang dan duduk di sebelah kiri Abu Bakar, waktu itu Abu Bakar salat berdiri dan Rasulullah salat duduk, Abu Bakar bermakmum kpd Rasulullah dan org2 bermakmum kpd Abu Bakar ra.

Jadi ada dua keadaan, Rasulullah duduk, Abu Bakar berdiri. Ini riwayat dlm Sahih Bukhori Hadis no. 713. Dalam hadis no. 713 ini Rasulullah “jalasa ‘an yasari Abi Bakar”, duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Dalam hadis no.683 dikatakan “fa jalasa Rasulullahi hidza’an Abi Bakrin, Rasulullah duduk di hadapan Abu Bakar. Dalam hadis no. 664 Rasulullah duduk di sebelah kanan Abu Bakar. Masih dlm Sahih Bukhori dan hanya diantarai oleh beberapa halaman saja. Ini kontradiksi, satu “hidza’a (di hadapan), satu “’an yasari (di sebelah kiri) dan riwayat satu lagi “ ‘an yamini” (di sebelah kanan) . Jadi ini kontradiksi antara Abu Bakar yg makmum dan berdiri dg Rasulullah saw yg imam dan duduk (Hadis no. 722). Pertanyaannya: Apakah imamnya satu yaitu Abu Bakar, atau dua yaitu Abu Bakar dan Nabi saw ? Ini tdk jelas.

Berdasarkan satu riwayat, Nabi tdk ikut salat berjamaah karena sakit parah. Kalau keduanya menjadi imam jelas melanggar fiqih, karena imam salat tdk boleh lebih dari satu. Jadi bagaimana hadis ini, Rasulullah jadi imam dan duduk sedangkan Abu Bakar berdiri. Sukar mendamaikan kedua hadis ini.

Sementara itu dlm Hadis no. 3667, disebutkan oleh Siti Aisyah bahwa ketika Rasulullah Saw wafat, Abu Bakar berada di Sunh, sebuah tempat kira2 beberapa puluh kilometer di luar kota Madinah. Jadi pada hari2 terakhir Rasulullah, Abu Bakar tidak berada di Madinah. Karena itu peristiwa Abu Bakar menjadi imam salat sangat diragukan. Abu Bakar tidak berada di Madinah pada hari2 terakhir Rasulullah. Ini menurut Aisyah yg justru menceritakan peristiwa salat itu. JADI ORANG YANG SAMA BERCERITA PADA SATU RIWAYAT ABU BAKAR TIDAK BERADA DI MADINAH DAN PADA RIWAYAT YANG LAIN IA BERADA DI MADINAH !!

Dalam hampir seluruh kitab tarikh disebutkan bahwa Abu Bakar pada hari2 terakhir Rasulullah berada dalam pasukan Usamah pada suatu tempat yg bernama Jurf. Begitu mendengar kabar wafatnya Rasulullah, maka segera dia bergegas kembali ke Madinah.Nah, dari sekian kontradiksi2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dalil yg diajukan oleh Sunni tsb. adalah lemah ! Selain itu riwayat tsb hanya diriwayatkan oleh keluarga Abu Bakar dan hanya ada di kalangan Sunni.

Sekarang coba kita lihat apa yg telah dilakukan oleh para khalifah Sunni.
Abu Bakar :

. 1. Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentera di bawah
pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi SAWA bersabda:”Perlengkapkan
tentera Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentera
Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d, Tabaqat,II,hlm.249 dan lainlain
lagi]

2. Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga
Rasulullah SAWA. Ijttihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal
(18):41 dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah SAWA yang memberi khums
kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari,
al-Kasysyaf,II,hlm.127]

3. Khalifah Abu Bakar juga mengambil kembali Fadak daripada Fatimah AH
selepas wafatnya Rasulullah SAWA. Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi
tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah
sadaqah.”Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan
Ali AS kerana ia bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti
berikut:

a) FirmanNya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang
(pembahagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang
dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi SAWA.
b) FirmanNya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-
Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman AS mewarisi kerajaan Nabi Daud AS dan
menggantikan kenabiannya.

c) FirmanNya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang
putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub dan
jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diredhai.”(Surah Maryam:5-6)
Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang
dengan hadith tersebut. Dan apabila hadith bertentangan dengan al-Qur’an,
maka ianya (hadith) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadith tersebut benar, ia berarti Nabi SAWA sendiri telah lalai untuk
memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan ia bertentangan dengan
firmanNya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu
yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadith tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan tidak
boleh menjadi hujah kerana Fatimah dan Ali AS menentangnya. Fatimah AH
berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahawa aku tidak boleh menerima
pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah?Tidakkah hukum Allah
lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah
mewarisi bapa kamu sedangkan aku tidak mewarisi bapaku?Sesungguhnya
kamu telah melakukan perkara keji.” Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi,
Balaghah al-Nisa,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah,A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn
Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92.

f) Fatimah dan Ali AS adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam
Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan
termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam
ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan
Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin
yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul ia bermakna Rasulullah SAWA
sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang bapa
terhadap anaknya. Kerana anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta
pusaka dari bapa-bapa mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi SAWA dengan keluarganya menunjukkan
betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah AH sebagai ibu
dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah
marah kerana kemarahanmu (Fatimah AH) dan redha dengan keredhaanmu.”[Al-
Hakim, al-Mustadrak,III, hlm.153;Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm.522;al-
Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari,
Dhakhair al-Uqba,hlm.39]

Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah AH.
Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau
berjumpa bapanya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wal-
Siyasah,I,hlm.14]

4. Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain.
Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu
menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA [al-
Hakim,al-Mustadrak,III,hlm.37;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-
Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

5. Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian
dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan ia bertentangan
dengan Sunnah Nabi SAWA”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari
Tuannya.”[Al-Bukhari,Sahih,X,hlm.83]

6. Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum had ke atas Khalid bin al-Walid
yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali AS
mahu supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Haja,al-Isabah,III,hlm.336]
Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian
kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu
dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup
membuktikan bahawa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid
telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa
Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahawa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan
hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak
patut dilakukan kerana mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar
zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka.
Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan
‘idfi’u, iaitu mengikut suku Kinanah ia bererti “bunuh” dan dalam bahasa Arab
biasa ia bererti “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan
darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi
mengetahui maksudnya yang sebenar. Tetapi mereka terus membunuh
kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku
Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahawa perkataaan idfi’u bukanlah
perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik.
Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak
boleh menjadi hujah dalam jenayah Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan
isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak hairanlah jika Ali
AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu
Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka
Nabi SAWA sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan
membayar zakat kepada beliau SAWA. Allah SWT menurunkan peristiwa ini di
dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlul Sunnah menyatakan
bahawa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat
kerana beranggapan bahawa ianya jizyah. Maka Allah SWT mendedahkan
hakikatnya. Dan Nabi SAWA tidak memeranginya dan tidak pula merampas
hartanya sedangkan beliau SAWA mampu melakukannya. Adapun Malik bin
Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama.
Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas jawatan
khalifah selepas Rasulullah SAWA dengan menggunakan kekuatan dan
paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadith al-Ghadir.
Oleh itu tidak hairanlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa
mengira jenayah yang dilakukannya terhadap Muslimin kerana Khalid telah
melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah
perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun
ianya bertentangan dengan Sunah Nabi SAWA.

7. Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan
meriwayatkan Sunnah Nabi SAWA. Dia berucap kepada orang ramai selepas
kewafatan Nabi SAWA,”Kalian meriwayatkan dari Rasulullah SAWA hadithhadith
di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas
kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi. Justeru itu janganlah kalian
meriwayatkan sesuatupun (syaian) daripada Rasulullah SAWA. Dan sesiapa
yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah:Bainana wa bainakum
kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut hala dan
haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari
Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:”Rasulullah
SAWA sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna
Kitabullah).” Lantaran itu kata-kata Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan
Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian
dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya;Kitab Allah dan
Sunnahku.”

Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati
semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadith Rasulullah SAWA semasa
pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula.[al-Muttaqi al-Hindi, Hanz
al-Ummal,V,hlm. 237] Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah
SAWA. Oleh itu kata-kata Abu Bakar:”Janganlah kalian meriwayatkan
sesuatupun daripada Rasulullah SAWA” menunjukkan larangan umum terhadap
pengriwayatan dan penulisan hadith Rasulullah SAWA. Dan ianya tidak boleh
ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

Lantaran itu ijtihad Khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah
Rasulullah SAWA:”Allah memuliakan seseorang yang mendengar hadithku dan
menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadith)
membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa
ilmu (hadith) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal,
Musnad,I,hlm.437;al-Hakim, al-Mustadrak,I,hlm.78] Dan sabdanya:”Siapakah
yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan
membelenggukannya dengan api neraka.”[Ahmad bin
Hanbal,Musnad,III,hlm.263]

8. . Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara
wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi SAWA. Beliau bersabda:”Ali
adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan
sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah
maulanya.”Dan penyerahan jabatan khalifah kepada Umar adalah menyalahi
prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justeru itu Abu Bakar
adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya.

Pertama, dia menggunakan “syura” bagi mencapai cita-citanya untuk
menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua,
apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah
selepasnya tanpa syura dengan alasan bahawa Umar adalah orang yang paling
baik baginya untuk memegang jabatan khalifah selepasnya.
Nah, dari sekelumit bukti2 ini jelas bahwa apa yg dilakukan Khalifah Abu Bakar adalah “ijtihad” dalam wilayah hukum yg sudah qath’i dan jelas dan bertentangan dg syariat yg sudah ada.
Umar bin Khattab :

1. Khalifah Umar juga melarang dan mengharamkan seorang itu “menangis” ke
atas mayat, sedangkan ia adalah harus dan dilakukan oleh Rasulullah SAWA ke
atas Hamzah RA. Oleh itu hadith Umar yang menyatakan “mayat diazab dengan
tangisan orang yang hidup” adalah bertentangan dengan hadith Rasulullah
SAWA yang melarang Umar dari menegah wanita-wanita menangis ke atas
mayat. Rasulullah SAWA bersabda:”Wahai Umar biarkan mereka menangis,
kerana jiwa berdukacita, mata mengalirkan air mata……”[Ibn Majah, al-
Sunan,I,hlm. 481; al-Hakim, al-Mustadrak, I,hlm. 381; Ibn Hanbal, al-Musnad, II,
hlm. 408] Dan ianya juga bertentangan dengan firmanNya di dalam Surah an-
An’am (6): 164:”Dan seseorang yang membuat dosa tidak akan memikul dosa
orang lain.” Lantaran itu kenapa simati disiksa kerana tangisan orang yang
hidup?

2. Khalifah Umar mengatakan tidak wajib salat bagi orang yang berjunub
ketika tidak ada air.[Ibn Majah, al-Sunan,I,hlm. 200; al-Nasai, al-Sunan,I,hlm. 59]
Oleh itu ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Maidah
(5):6….”maka hendaklah kamu bertayammum dengan tanah….”

3. Khalifah Umar memberi hukuman bahawa talak tiga jatuh sekaligus.
Sedangkan talak pada masa Rasulullah SAWA dan khalifah Abu Bakar ialah tiga
kali sebagaimana terdapat di dalam al-Qur’an.[Ahmad bin Hanbal, al-
Musnad,I,hlm. 314; Muslim, Sahih,I,hlm. 574] Ijtihadnya itu adalah bertentangan
dengan Sunnah Nabi SAWA dan firman Tuhan di dalam Surah al-Baqarah (2):
229:”Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh dirujuk lagi dengan
cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik.”

4. Khalifah Umar adalah orang yang pertama mengenakan ‘Aul di dalam ilmu
Faraidh.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’, hlm. 137] Ijtihadnya adalah bertentangan
dengan Sunnah Rasulullah SAWA yang tidak mengenakan ‘Aul.

5. . Khalifah Umar mengatakan Rasulullah SAWA “sedang meracau.” Oleh itu
permintaan beliau supaya dibawa pensil dan kertas supaya beliau menulis
perkara-perkara yang tidak akan menyesatkan ummatnya selama-lamanya tidak
perlu dilayani lagi.[Muslim, Sahih, III, hlm. 69; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36]
Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firmanNya di dalam Surah al-Najm
(53):3-4:”Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemahuan hawa
nafsunya.”

6. Khalifah Umar adalah orang yang pertama menambahkan hukum sebat bagi
peminum arak dari 40 sebatan kepada 80 kali sebatan.[al-Suyuti, Tarikh al-
Khulafa’, hlm. 137]

7. . Khalifah Umar adalah orang yang pertama menciptakan solat Tarawih pada
bulan Ramadhan. Ianya tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAWA.[al-Suyuti,
Tarikh al-Khulafa’, hlm. 136]

8. Khalifah Umar melarang orang ramai dari meriwayatkan dan menulis Sunnah
Rasulullah SAWA, dia berkata:”Hasbuna Kitabullah (Kitab Allah adalah cukup
bagi kita).”[Al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan
hadith yang dipopularkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan pada kalian dua
perkara selama kalian berpegang kepada kedua-duanya Kitab Allah dan
Sunnahku.”

Ibn Sa’d dalam Tabaqatnya, V hlm. 140 meriwayatkan bahawa apabila hadith
atau Sunnah Rasulullah SAWA banyak diriwayatkan dan dituliskan pada masa
Umar bin al-Khattab, maka dia menyeru orang ramai supaya membawa
kepadanya semua hadith-hadith yang ditulis, kemudian dia memerintahkan
supaya ianya dibakar.

Oleh itu tidaklah heran jika khalifah Umar menahan tiga orang sahabat di
Madinah sehingga mati, kerana meriwayatkan banyak hadith Rasulullah SAWA.
Mereka ialah Ibn Mas’ud, Abu Darda’ dan Abu Mas’ud al-Ansari.[al-Dhahabi,
Tadhkirah al-Huffaz, I,hlm. 8; al-Haithami, Majma al-Zawaid,I,hlm. 149; al-Hakim,
al-Mustadrak,I,hlm. 110] Khalifah Umar berkata kepada Abu Darda:”Apa hadith
daripada Rasulullah?”Abu Salmah bertanya kepada Abu Hurairah:”Adakah anda
meriwayatkan hadith semacam ini pada masa Umar?”Abu Hurairah
menjawab:”Sekiranya aku meriwayatkan hadith (semacam ini) pada masa Umar
nescaya dia memukulku dengan cemetinya>”[al-Dhahabi, Tadhkirah al-
Huffaz,I,hlm. 7]

9. . Khalifah Umar menyangka Nabi SAWA dan kaum Muslimin
berada di dalam kebenaran ataupun kebatilan. Ia bertanya Rasulullah
SAWA:”Adakah kita berada di dalam kebenaran dan mereka (kafir) berada dai
dalam kebatilan? Adakah orang yang terbunuh di pihak kita akan memasuki
syurga? Dan orang yang terbunuh di pihak mereka ke neraka? Rasulullah
menjawab:”Ya dan akhirnya Rasulullah SAWA menegaskan kepadanya:”Wahai
Ibn al-Khattab, sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah dan Allah tidak akan
mengabaikan aku.”Umar beranjak dari Rasulullah SAWA dengan marah
(muthaghayyizan), kemudian dia berjumpa Abu Bakar lalu ia mengemukakan
persoalan yang sama, lantas Abu Bakar menyakinkan dia bahawa Muhammad
itu adalah Rasulullah dan Allah tidak akan mengabaikannya.[Muslim, Sahih,IV,
hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111]

10. Khalifah Umar telah menyamakan bayaran jizyah. Ianya bertentangan
dengan Sunnah Nabi SAWA bahawa satu dinar adalah jizyah bagi setiap (zimmi)
yang akil baligh sahaja.[Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab, II,hlm. 460;Ibn Abil Hadid,
Syarh, Nahj al-Balaghah,III,hlm. 178]

Ok lah hadis itu mau ditampilkan. Tapi coba kita cross-check apa benar Umar pantas menjadi Nabi ?Coba simak informasi2 dibawah ini :

1. Khalifah Umar mengatakan tidak wajib sembahyang bagi orang yang berjunub ketika tidak ada air.[Ibn Majah, al-Sunan,I,hlm. 200; al-Nasai, al-Sunan,I,hlm. 59] Oleh itu ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Maidah (5):6….”maka hendaklah kamu bertayammum dengan tanah….”

Atau simak hadis Bukhori no.338:”Dari Ammar bin Yasir ra. bahwa dia pernah bertanya kpd Umar bin Khattab :” Ingatlah anda ketika saya dan anda sedang dlm perjalanan, lalu anda tidak salat (karena tdk ada air), sedangkan saya berguling-guling diatas tanah kemudian saya salat, lalu peristiwa itu saya laporkan kpd Nabi saw…….”

2. Khalifah Umar juga tidak dapat menyelesaikan masalah al-Kalalah yang diakuinya sendiri, dia berkata:”Jika aku mengetahui al-Kalalah, adalah lebih baik
bagiku dari istana-istana di Syam.”[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm.20]

3. Khalifah Umar mengintai satu kumpulan rumah mereka di waktu malam dengan memasukinya melalui pintu belakang tanpa salam. Kelakuannya itu
adalah menyalahi firmanNya di dalam Surah al-Hujurat (49):12:”Dan janganlah kamu mengintai-intai atau mencari-cari kesalahan orang lain.”Dan firmanNya di
dalam Surah al-Baqarah (2):189:”Dan masukilah rumah-rumah itu melalui pintupintunya.”
Dan firmanNya di dalam Surah al-Nur (24):27:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum
meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” Lantaran itu tindakannya adalah bertentangan dengan ayat-ayat tersebut.[al-Suyuti, al-Durr
al-Manthur,VI, hlm.93; al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VIII, hlm. 334]

4. Khalifah Umar telah memerintahkan supaya di rejam seorang wanita gila (yang berzina). Maka Ali AS memperingatkannya dan berkata:”Qalam diangkat
daripada orang gila sehingga dia sembuh.”Umar pun berkata:”Sekiranya tidak ada Ali, nescaya binasalah Umar.”[Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab, III, hlm. 39; al-
Tabari, Dhakhair al-Uqba, hlm. 80]

5. Khalifah Umar tidak membenarkan orang Islam yang bukan Arab mewarisi pusaka keluarga mereka melainkan mereka dilahirkan di negeri Arab.[Malik, al-
Muwatta,II, hlm.12] Oleh itu ijtihad Umar adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWA yang tidak membedakan seseorang melainkan dengan
taqwa dan ia juga mengandung sifat asabiyah sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Hujurat (49):10:”Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah
bersaudara.” Dan Nabi SAWA bersabda:”Tidak ada kelebihan orang Arab ke atas bukan Arab melainkan dengan taqwa.”[Al-Haithami, Majma’ al-Zawa’id, III,
hlm. 226]

6. Khalifah Umar tidak pernah mengadakan kurban (penyembelihan) karena khuatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib.[al-Baihaqi, al-Sunan al-
Kubra,IX, hlm. 265; Syafi’i, al-Umm, II, hlm. 189] Tindakannya adalah bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAWA yang menggalakkan amalan tersebut. Dan kaum Muslimin sehingga hari ini mengetahui kurban adalah sunat.

7. Khalifah Umar mengakui bahawa dia tidak mengetahui tentang al-Qur’an, hukum halal-haram dan masalah pusaka. Dia berkata:”Siapa yang ingin bertanya tentang al-Qur’an, maka hendaklah dia bertanya kepada Ubayy bin Ka’ab. Sesiapa yang ingin mengetahui halal dan haram, maka hendaklah dia bertanya
kepada Muadh bin Jabal. Sesiapa yang ingin mengetahui tentang ilmu faraidh, hendaklah dia bertanya kepada Zaid bin Thabit. Dan siapa yang ingin meminta harta maka hendaklah dia datang kepadaku kerana akulah penjaganya.[al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 271; Abu Ubaid, Kitab al-Amwal, hlm. 223; al-Baihaqi, al-Sunan, VI, hlm. 210] Ketiga-tiga ilmu tersebut dikuasai oleh orang lain. Dia hanya penjaga harta.

8. Khalifah Umar menakut-nakuti dan menggertak seorang wanita supaya membuat pengakuan tentang perzinaannya. Lalu wanita tersebut membuat pengakuannya. Maka khalifah Umar memerintahkan supaya ia dirajam. Lalu Ali AS bertanya kepadanya:”Tidakkah anda mendengar Rasulullah SAWA
bersabda:”Tidak dikenakan hukum had ke atas orang yang membuat pengakuan selepas ujian (bala’) sama ada ia diikat, ditahan atau diugut? Oleh itu lepaskanlah dia.”Maka Umar berkata:”Wanita-wanita tidak terdaya untuk melahirkan seorang seperti Ali. Sekiranya Ali tidak ada niscaya binasalah Umar.”[Fakhruddin al-Razi, al-Araba’ain, hlm. 466; al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 48; al-Tabari Dhakha’ir al-‘Uqba, hlm. 80]

9. . Khalifah Umar tidak mengetahui tempat untuk memulakan umrah. Kemudian dia berkata:”Tanyalah Ali.”[al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-Uqba, hlm. 89; al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 195]

10. Khalifah Umar telah memerintahkan supaya perpustakaan-perpustakaan di Iran dan Iskandariah dibakar atau dicampakkan buku-bukunya ke laut. Ditanya kenapa dia memerintahkannya. Dia menjawab:”Allah telah memberikan kepada kita hidayah yang lebih baik daripada itu.”

Perpustakaan-perpustakaan tersebut mengandung banyak buku-buku ilmiah di dalam berbagai-bagai bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu hisab, falak, hikmah, kedokteran, dan lain-lain. Tetapi khalifah Umar tidak menghargainya.[Ibn al-Nadim, al-Fihrist, hlm. 334; Ibn Khaldun, Tarikh, I, hlm. 32; Ibn al-Jauzi, Sirah al-
Umar, hlm. 107]

Nah, dari sekelumit bukti2 ini jelas bahwa apa yg dilakukan Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah “ijtihad” dalam wilayah hukum yg sudah qath’i dan jelas dan bertentangan dg syariat yg sudah ada. Ini tdk dibantah lagi. Wong sumber2nya jelas dari kitab2 ulama Suni yg terkenal.

Jadi bagaimana Sunni mau mengklaim dirinya AHLU SUNNAH RASULULLAH ? Apa tdk lebih cocok AHLUL BID’AH WAL GAGABAH ?

Siapa yg ditipu ? Wong tiap orang punya akal dan Al-Quran masih ada sbg tolok ukur, kok bisa2nya ada yg menipu dan ditipu. Yang tertipu ente kaleee. Coba aja lihat masa ada kitab hadis pake label SAHIH tapi isinya hadis dhaif bahkan maudhu… Sanad memang penting. Tapi ketika Nabi dibilang lupa ayat Quran dan Nabi Musa mandi telanjang di kali yg katanya sanadnya sahih, hadisnya mau dipertahankan terus ?

Jangankan di bidang agama, di bidang keduniaan saja masalah kepemimpinan ditempatkan pada inti manajemen. Kok Sunni menempatkannya di bidang furu’ ? Pantas saja sampai saat inipun kepemimpinan Sunni engga begitu jelas.

Di tataran praktek ? Coba aja buktikan. Apakah Sunni Salafi sudah melaksanakan semua wasiat2 Nabi saw ? Kalau ane selalu mengacu kpd fakta2 sejarah, itu karena apa yg ada dalam fakta sejarah merupakan pelaksanaan dari konsep Sunni Salafi yg menyimpang dari Sunnah Rasul. Contoh soal khilafah. Dalam hadis Ghadir Khum sdh jelas dikatakan “man kuntu maulahu fa ‘ali maulahu….”. Tapi Sunni Salafi mengaburkan/memalingkan maksud hadis yg sesungguhnya dg mengartikan “maula” dg penolong. Buat apa Nabi cape2 mengumpulkan ribuan sahabat menjelang kematiannya, kalau hanya mengumumkan bahwa Ali itu seorang penolong !

============================================================================================================================================================

KEUTAMAAN BERPEGANG PADA HADiS SYi’AH !!!!!!!!!!!!!

Dg kata lain bimbingan org2 maksum sangat diperlukan sampai Hari Kiamat. Pertanyaan yg sederhana saja: Apakah Syariat Islam yg ditinggalkan Nabi Muhammad saw tdk memerlukan org2 yg maksum untuk menjaga dan melaksanakannya ? Bagaimana mungkin org2 yg tdk maksum (tdk suci) mampu menjaga syariat Islam yg suci?

Pengertian maksum jangan disalah artikan. Seseorang maksum itu tdk berarti dia tdk pernah berbuat salah. Tetapi yg dimaksud adalah bahwa dia dalam lingkup atau tataran syariat tdk pernah melanggarnya. Di luar itu dia adalah seorang makhluk yg bisa berbuat salah di hadapan Khaliknya. ho siapa yg mengatakan Nabi itu sama dg malaikat ? Secara biologis seorang Nabi sama saja dg manusia biasa. Dia kawin, dia tidur, dia makan dsb. Yang membedakannya dg manusia biasa adalah bahwa dia mempunyai maqom ruhani/nafs yg tinggi dan sempurna (Nafs Kamilah) dan selalu mendapat bimbingan Allah Swt.

Sekali lagi ketingginan maqom ruhani ini
hanya dalam wilayah syariat. Di luar itu seorang Nabi adalah seorang makhluk yg dhaif di hadapan Khalik-nya.
Allah mengaruniakan ishmah hanya kpd org yg memang dari kecilnya selalu terjaga dari perbuatan maksiat2 dan mampu mengaktualisasikan potensi2 dirinya secara sempurna dan utuh. Tak mungkin ishmah diberikan kpd seorang ahli maksiat atau mantan ahli maksiat.

Ketika dikatakan bahwa Allah Swt menjaga para nabi dari perbuatan dosa dan maksiat, hal ini tdk berarti menafikan penisbahan kehendak dan ikhtiar bebas kpd mereka.

Makanya mereka disebut “muthohharun” (orang2 yg disucikan) dan bukan “muthohhirin” (orang2 yang menyucikan dirinya). Artinya kelompok pertama lebih tinggi maqomnya dari kel. kedua.

Tp yg membuat saya heran adl sbgan sahabat saling membenci satu sama lain bahkan saling membunuh, contoh :

1. Kasus pembunuhan Malik bin Nuwairah oleh Khalid bin Walid, lalu khalifah pd saat itu mengecam dia dan mengancam hukuman rajam pada dia jika dia kembali ke Madinah. (Ma’alim al Madrasata’in, juz 2 hal 96 dari Tarikh Thabari, Tarikh al Ya’qubi, juz 2 hal 131 dll)

2. Kasus pembunuhan Abu Dzar al Ghifari. Dia diasingkan dari kota Madinah ke satu tempat yang gersang yg tdk ada mata air satu pun, di daerah Rabdzah, sampai 2x Abdullah bin Ma’sud meratapi kematiannya yg tragis seraya berkata : ” Sunguh benar ucapan Rasul yg bersabda “Engkau akan diasingkan sendiri, mati sendiri, dan kelah dibangkitkan sendiri.” (Syirah Ibnu Hisyam; al-Amini, al-Ghadir, juz 8, hal 365.

3. Kasus pembunuhan ‘Abdullah bin Ma’sud, beliau meninggal akibat luka injakan di perutnya.

4. Lihatlah siapa otak perencana pembunuhan Usman bin Affan sehingga ia terkubur di pemakaman Yahudi (Al Imamah Al Syiasah, juz 1, hal 70; tarikh Thabari, juz 5 hal 143-144).

5. Siapa pula pembunuh Thalhah dan Zubair ?

6. Ingat pula bgm mana Ammar bin Yassir dianiyaya oleh bani Umayyah cs (Al Imamah Al Syiasah, juz 1, hal 51).

7. Lalu siapa yg mempunyai gagasan agar Sayyidina Hasan bin ‘Ali dibunuh dgn racun ?
8. Dan yg terbesar adl perang Jamal dan perang Shiffin.
Apa motif mereka shg sampai melakukan pembunuhan itu ? Bgm kita bisa mencintai mereka wong sesama mereka ajah saling membenci koq ?

Kalau anda bandingkan Ali dg Abu Bakar atau Umar, maka terlihat bahwa Ali dari sejak kecilnya tdk pernah menyembah berhala dan melakukan maksiat. Sementara Abu Bakar dan Umar dan yg lainnya adalah para mantan. Itulah yg dimaksud oleh QS Al-Baqarah 124 dg kalimat:”…la yanalu ahdzadzdzaalimiin…’ (keimamahan ini) tidak akan berlaku bagi org2 yg mantan maupun sedang dzalim.” (Pola dzalimin adalah pola isim fa’il yg tdk terpengaruh waktu dulu ataupun sekarang).

Sekali lagi masalah ke-Imamahan/Khilafah. Konsep Sunni yg menganggap Imamah/Khilafah setelah Nabi adalah jabatan yg setiap orang bisa mendudukinya karena hanya mengurus keduniaan semata semata-mata bertentangan dg QS Al-Baqarah 124 yg menegaskan bahwa ke-Imamahan tdk mencakup org2 dzalim. Artinya figurnya harus maksum. Dalam suatu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Nabi saw bersabda:”Imamah tidak akan mencakup org2 yg pernah sujud kpd berhala.” Jadi jelas bahwa figur spt Abu Bakar, Umar dan Usman yg pernah sujud kpd berhala secara syar’i tdk berhak menduduki jabatan ke-imamahan/khilafah, sekalipun secara defacto mereka adalah para khalifah.

Setelah masuk Islampun, Abu Bakar bin Abi Qahafah, Umar bin Khattab dan sahabat2 lainnya masih minum miras. Ini informasinya :

. Khalifah Umar masih meminum minuman keras (arak) pada masa Rasulullah
SAWA sehingga turunnya ayat di dalam Surah al-Maidah (5):91,”Sesungguhnya
syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di
antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu
dari mengingati Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu (dari
mengerjakan pekerjaan itu).”

Di dalam keseronokan mabuknya dia membaca beberapa bait syair antaranya:
Katakan kepada Allah, adakah Dia menegahku dari minumanku?
Katakan kepada Allah, adakah Dia akan menegahku dari makananku?
Apabila sampai berita ini kepada Rasulullah SAWA, beliau keluar di dalam
keadaan marah lalu memukul Umar. Dan Umar berkata:”Aku mohon dengan
Allah dari kemurkaanNya dan kemurkaan RasulNya.” Kemudian turunlah ayat di
dalam Surah al-Maidah (5):91,”Umar berkata:”Kami telah menghentikannya,
kami telah menghentikannya.”

Sepatutnya dia telah menghentikan amalan tersebut apabila ayat kedua dalam
Surah al-Baqarah (2):219 tentang khamar (arak) diturunkan. Kerana ianya sudah
cukup sebagai peringatan kepadanya sekalipun ianya bukanlah pengharaman
sepenuhnya. Riwayat yang lain pula mengatakan bahawa Umar masih berada di
dalam majlis arak, tiba-tiba seorang lelaki memberitahukan kepadanya bahwa
ayat pengharaman arak secara Qat’i telah diturunkan. Lalu dia berkata:”Kami
telah menghentikannya. kami telah menghentikannya!” Sebenarnya majlis arak
itu berlaku di klab Abu Talhah. Ibn Hajr di dalam Fath al-Bari, X, hlm. 30, telah
menguraikan nama-nama para sahabat yang terlibat di dalam majlis arak di
klab Abu Talhah seperti berikut:

1. Abu Bakar bin Abi Qahafah pada masa itu berumur 58 tahun.
2. Umar bin al-Khattab pada masa itu berumur 45 tahun.
3. Abu Ubaidah al-Jarrah pada masa itu berumur 48 tahun.
4. Abu Talhah Zaid bin Sahal, tuan kelab pada masa itu berumur 44 tahun.
5. Suhail bin Baidha’, wafat setahun selepas peristiwa tersebut,kerana sakit tua.
6. Ubayy bin Ka’ab.
7. Abu Dujanah Samak bin Kharsyah.
8. Abu Ayyub al-Ansari.
9. Abu Bakar bin Syaghub.
10. Anas bin Malik sebagai pelayan mereka (di saqi al-Qaum) pada masa itu
berumur 18 tahun.

[al-Tabari, Tafsir, II, hlm. 203; Abu Daud,al-Sunan, II, hlm.
128; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 53; al-Nasa’i, al-Sunan, VIII, hlm.
287; al-Jassas, Ahkam al-Qur’an, II, hlm. 245; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm.
278; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, I. hlm. 252; Ibn Hajr, fath al-Bari, X, hlm.30
dan lain-lain]

Nah, yg kayak begini ini apa pantas jadi pemimpin agama ?
Sementara hadis2 Bukhori yg di klaim paling sahih eh banyak yg menurunkan derajat nabi Muhammad saw dg riwayat2 yg engga masuk akal dan bertentangan dg ayat2 Al-Quran.
Contoh yg engga masuk akal adalah Nabi saw digambarkan sebagai orang yg hobi bersetubuh. bayangkan dlm sehari semalam mampu bersetubuh dg 9 org isterinya !! (HR Bukhori).Makanya kitab Bukhori itu perlu direvisi atau dibuang label “Sahih”nya biar engga malu-maluin Islam

Kalau memang benar kitab2 hadis Sunni banyak meriwayatkan hadis2 dari Ahlul Bait dan mencintai mereka serta mengamalkan ajaran2 mereka, kenapa dalam realitas sejarah para Imam Ahlul Bait, kecuali Imam Ali, tidak didudukan sebagai khalifah kaum muslimin bahkan semuanya dibunuh oleh para penguasa Sunni ? Coba kita perhatikan fakta2 sejarah yg berkaitan dg kematian keluarga Nabi saw.

1. Fatimah meninggal karena luka akibat tertimpa pintu yg didorong oleh orang2 munafik yg menuntut bay’at kpd khalifah Abu Bakar.
2. Ali dibunuh oleh org Khawarij
3. Hasan bin Ali diracun oleh org suruhan Muawiyah.
4. Husein dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah
5. Ali bin Husein diracun oleh penguasa Walid bin Abdul Malik
6. Muhammad bin Ali diracun oleh penguasa Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik
7. Ja’far bin Muhammad diracun oleh penguasa Mansur Dawanqi
8. Musa bin Ja’far diracun oleh penguasa Harun Ar Rasyid
9. Ali bin Musa diracun oleh penguasa Makmun Rasyid
10. Muhammad bin Ali diracun oleh penguasa Muhtasib Billah
11. Ali bin Muhammad diracun oleh penguasa Muhtasib Billah
12. Hasan bin Ali diracun oleh penguasa Muhtasib Billah

Apakah ini disebut mencintai Ahlul Bait apalagi mengamalkan ajarannya ?

wua kak kak kak segitu jelasnya sumber dari sejarawan Sunni yg ane kutip, eh dibilang tdk valid. Asal ente tau Sejarah Islam itu disusun berdasarkan kitab2 Tarikh yg dikarang oleh Thabari, Ibnu Ishaq, Al-Baghdadi, Ibnu Hisyam dll. termasuk para para ahli hadis Sunni spt Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Hakim, Ahmad bin Hambal dll. yg juga bisa dijadikan sumber sejarah. Bagaimana jadinya dg agama Islam ini kalau informasi dari mereka dianggap tdk valid ? Atau barangkali para ahli sejarah dan hadis Sunni tdk bisa dipercaya ?

He he he…masih ngotot terus dg Ibnu Sabanya. Ente engga tau bahwa
dalam jalur sanadnya hadis aswajs sunni ada 100 org Syi’ah ? Berarti cucu2nya embah Saba ada dlm jalur periwayatan kitab SAHIH aswaja sunni.. Nih ane sebutin sebagian nama2nya:
1. Abban bin Taghlib bin Raba al-Kufi
2. Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i al-Kufi (Al-Faqih)
3. Ahmad ibn Al-Mufadhal ibn al-Kufi al-Hafri
4. Ismail bin Abban al-Azdi al-Kufi al-Warraq
5. Ismail bin Khalifah al-Mulai al-Kufi
6. Ismail bin Zakaria al-As’adi al-Khalqani al-Kufi
7. Ismail bin Abbad bin Abbas ath-Thaliqani
8. Ismail bin Abdurahman bin Abi Karimah al-Kufi
9. Ismail bin Musa al-Fazari al-Kufi
10. Talid bin Sulaiman al-Kufi
11. Tsabit bin Dinar
12. Tsuwair bin Abi Fahithah al-Kufi
13. Jabir bin Yazid bin Harits al-Ja’fi
14. Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabi
15. Ja’far bin Ziyad al-Ahmar
16. Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i al-Basri
17. Jumai’ bin ‘Umairah bin Tsa’labah at-Taimi.
18. Al-Harits bin Husairah al-Azdi
19. Al-Harits bin Abdullah al-Hamadani
20. Habib bin Abu Tsabit al-Asadi al-Kahili
21. Hasan bin Hayy bin Saleh al_hamdani
22. Hakam bin Utaibah al-Kufi
23. Hammad bin Isa Al-Juhani
24. Hamran bin A’yan
25. Khalid bin Mukhallad al-Qawani

mas saya luruskan. 100 org Syi’ah yg ada dlm jalur periwayatan hadis2 Sunni bersumber dari informasi ulama hadis Sunni sendiri spt. Adz Dzahabi, Ibnu Mu’in, Abu Hatim, Ibnu Qutaibah, Abu Zahrah dll yang menyatakan bahwa 100 org tsb adalah Syi’ah Rafidah (Pembenci sahabat). Sementara ente mengacu kpd sumber Salafi Wahabi. Ya jelas aja engga klop.

Mau terus dg isyu Ibnu Saba ? Dari merekalah hadis shahih tentang ahlul bait MUNCUL !!!!!!!!!!!!!!

Di tataran praktek ? Coba aja buktikan. Apakah Sunni Salafi sudah melaksanakan semua wasiat2 Nabi saw ? Kalau ane selalu mengacu kpd fakta2 sejarah, itu karena apa yg ada dalam fakta sejarah merupakan pelaksanaan dari konsep Sunni Salafi yg menyimpang dari Sunnah Rasul. Contoh soal khilafah. Dalam hadis Ghadir Khum sdh jelas dikatakan “man kuntu maulahu fa ‘ali maulahu….”. Tapi Sunni Salafi mengaburkan/memalingkan maksud hadis yg sesungguhnya dg mengartikan “maula” dg penolong. Buat apa Nabi cape2 mengumpulkan ribuan sahabat menjelang kematiannya, kalau hanya mengumumkan bahwa Ali itu seorang penolong !

Mencintai sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam secara tepat dan proposional adalah suatu tuntutan syar’i.

Benarkah ? Mari kita bandingkan dg dalil2 lain yg menyatakan sebaliknya, yaitu kewajiban umat Islam untuk mencintai dan berpegang teguh dg Ahlul Bait.

1. QS Al-Ahzab 33
referensi ahlu sunnah : – Sahih Muslim, Tirmidzi, Ahmad bin Hambal dll
2. QS Asy-Syura 23
referensi ahlu sunnah : Al-Hakim Al-Hanafi,Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i dll
3. QS Al-Baqarah 124
ref ahlu sunnah : Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i dll
4. QS Asy-Syua’ara
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
5. QS Ali Imran 103
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
6. QS At-Taubah 110
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
7. QS Al-An’am 153
ref ahlu sunnah : Al_haidariyah, Ghayatul Maram dll
8 QS An-Nisa’ 59
ref ahlu sunnah : Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi dll
9.QS An-Nahl 43
ref ahlu sunnah :Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
10. QS Ar-Ra’d 7
ref ahlu sunnah : Tafsir Ath-Thabari, Tafsir An-Naisaburi dll

dan masih ayat2 lainnya.

Sementara dari ref. hadis antara lain :

1. Hadis Tsaqalain
2. Hadis Safinah
3. Hadis Ghadir Khum
4. Hadis Manzilah
5. Hadis Ashabul Kisa
6. Hadis Madinatul ‘Ilmi

dan ratusan hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait dalam referensi ahlu sunnah dan perintah untuk berbuat baik dan menjaga Ahlul Bait a.l. :

“Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul Baitku” (HR Thabrani). Artinya tdk boleh menyakiti mereka, karena brg siapa menyakiti Ahlul Bait sama dg menyakiti Nabi saw.

“Allah SWT mempunyai 3 kehormatan. Barang siapa yg menjaga ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya dan barang siapa yg tdk menjaga ketiganya maka Allah tdk akan menjaga dunia dan akhiratnya. Saya bertanya, Apa ketiganya itu ? Rasulullah saw menjawab:’Kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kerabatku.”

Pertanyaannya sekarang apakah berpegang teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW atau berpegang teguh pada sahabat Nabi SAW ?

Dibawah ini tulisan yg akan menjawab pertanyaan tsb diatas.
Merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sekarang terbagi dalam berbagai mahzab. Setiap mahzab menawarkan pemahaman khas tersendiri tentang bagaimana Islam sebenarnya. Dan tidak jarang antara mahzab yang satu dan mahzab yang lain terjadi perselisihan pemahaman. Hal ini membuat kesulitan bagi sebagian orang yang ingin memahami ajaran Islam dengan baik. Walaupun begitu ada suatu pemecahan awal yang dapat digunakan dalam memilah yang mana yang benar dan yang mana yang salah dari semua mahzab yang ada. Ajaran Islam sepenuhnya berlandaskan pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Oleh karena itu setiap pandangan yang ditawarkan oleh mahzab apapun hendaknya ditimbang dengan Al Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

Jangankan di bidang agama, di bidang keduniaan saja masalah kepemimpinan ditempatkan pada inti manajemen. Kok Sunni menempatkannya di bidang furu’ ? Pantas saja sampai saat inipun kepemimpinan Sunni engga begitu jelas.

Secara garis besar Islam terbagi dalam dua mahzab besar yaitu Sunni dan Syiah. Masing-masing mahzab memiliki formulasi Islam tersendiri. Adalah tidak benar jika seseorang menuduh bahwa Syiah adalah ajaran yang tidak memiliki landasan dalam Islam atau sebaliknya menuduh Mahzab Sunni tidak memiliki landasan. Landasan selalu ada dan itulah yang membuat kedua mahzab tersebut bertahan ratusan tahun lamanya. Seseorang boleh saja mempersepsi yang mana yang benar dan yang mana yang salah menurutnya dan dengan dasar itu dia berhak untuk memilih mahzab yang akan dianutnya. Hal yang patut dihindari adalah fanatisme mahzab yang membuat seseorang begitu terpolarisasi seakan-akan setiap apapun yang bukan dari mahzabnya adalah sesat.

Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah memiliki landasan awal yang sama yaitu Berpegang pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Perbedaannya terletak pada landasan yang lebih lanjut. Mahzab Sunni mengambil Sunah Rasulullah SAW dominan dari sahabat-sahabat Nabi SAW sedangkan Mahzab Syiah mengambil Sunnah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait.

Tulisan ini akan meninjau kedua landasan lanjut Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah.

Mahzab Syiah adalah Mahzab Ahlul Bait
Seperti yang dijelaskan sebelumnya Syiah mengambil Sunah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait. Dalam pandangan Syiah Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam setelah Al Quran. Hal ini ternyata sesuai dengan apa yang dinyatakan Rasulullah SAW sendiri

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Catatan : hadis semacam ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim Naisaburi dg banyak jalur :

- jumlah perawi dari kalangan sahabat : 24 org
– jumlah perawi dari kalangan thabi’in : 19 org
– jumlah perawi dari abad kedua s/d keempat belas : 323 org
shg hadis ini telah mencapai derajat mutawatir !

Perlu dijelaskan bahwa ada banyak sekali hadis keutamaan Ahlul Bait yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kemuliaan yang besar sehingga setiap umat Islam diwajibkan untuk mencintai mereka. Tetapi dalam pembahasan ini hanya difokuskan terhadap hadis yang menjelaskan dengan kalimat yang lugas dan jelas bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam. Dalam mahzab Syiah kedudukan Ahlul Bait Nabi SAW sebagai pedoman menyebabkan timbulnya pandangan kema’suman Ahlul Bait. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kedudukan Ahlul Bait sebagai Pedoman Umat islam. Sang pedoman jelas sekali harus selalu benar.

ente belum tahu wahabi??
kalau syafei…..imam nya syafei….
kalau hanafi….imamnya abu hanifah
kalau maliki…imamnya malik bin anas
kalau hambali…imamnya ahmad ibn hanbal
kalau wahabi imamnya muhammad bin abdul wahab…..kitab rujukannya, ibn taimiyah ….idola idola ente.
makanya ente wahabi !!!! kalau di zaman nabi, ente ente pada nih yang dibilang nabi asfiatul baghiyah. alias anak buah muawiyah…….

makanya hadist hadist yang dibawa, hadist hadist pinggir jalan.
contoh:

rasul saw bersabda: wajib bagi umatku menjalankan sunahku dan sunah khulafah ar rasyidin……..
orang yang pakai otak sedikit ajah langsung tahu ini palsu.

1. semenjak kapan nabi mewajibkan sunah baru padahal agama sudah sempurna ???
Konsep ini bertentangan dg QS An-Nisa 59 … Tapi ingat posisi mereka hanya sebatas pelaksanan hukum. Coba fahami sekali lagi QS An-Nisa 59 : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Perhatikan ayat :”fa in tanaza’tum fi sya’iin fa rudhuhu ilallah wa rasuluh….”, menunjukkan bahwa apabila terjadi perselisihan dalam masalah hukum diantara umat, maka tidak dikembalikan kpd Allah, Rasul dan Ulil Amri tetapi hanya kpd Allah dan Rasul-Nya. Artinya Ulil Amri BUKANLAH SBG PEMBUAT HUKUM, tetapi hanya menjadi pelaksana hukum. Kalaupun ada kegiatan “ijtihad”, maka ijtihadnya hanya pada tataran teknis pelaksanaan dari ketentuan syariat yg sdh final dan jelas.

2. sunnah adalah perkataan dan perbuatan nabi. apa sahabatnya juga nabi ??
Wajib mencintai sahabat?
Muawiyah sahabat? kalau iya. berarti saya harus mencintai orang yang mengutuk Imam Ali as…..naudzubillah amit-amit….

Diatas kan sdh ane kutip riwayat2 dari para ulama Sunni bahwa Abu Bakar dan Umar telah melakukan perubahan (bid’ah) trhdp Sunnah Rasul selepas Nabi saw wafat. Dalam riwayat Bukhori Muslim yg dikutip Eddi Hendri (Hadis Al-Haudh) kan sdh jelas nasib para sahabat yg melakukan perubahan trhadap Sunnah Rasul. Tegasnya engga gabung dg Nabi saw di Telaga haudh.

Syi’ah mencintai, memuliakan dan mengikuti kepemimpinan Ahlul Bait karena tuntutan syar’i. Dalilnya QS Al-Baqarah 124, QS 33 : 33, Hadis Ashabul Kisa dll. Jadi memuliakan org2 yg disuruh kita memuliakan bukankah wajar2 saja ? Sementara untuk para sahabat tidak ada satupun hadis yg sahih yg menetapkan keharusan mengikuti kepemimpinan mereka. Jelas2 para sahabat itu manusia biasa, saling bunuh-membunuh, cinta dunia dsb, eh tidak boleh disalahkan atau dalam istilah Sunni “jangan berkata-kata” tentang mereka (sahabat). Heh ini kan sama saja dg “maksum”. Bukankah ini malah berlebihan ?

Mahzab Sunni adalah Mahzab Sahabat
Mahzab Sunni mengambil hadis Rasulullah SAW dari para Sahabat. Hal ini berdasarkan banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh mereka para Sahabat. Dalam mahzab Sunni Sahabat Nabi memiliki keutamaan-keutamaan yang besar. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang ini. Sahabat Nabi jelas sekali belajar hadis dari Rasulullah SAW oleh karena itu mengambil hadis dari Sahabat Nabi SAW adalah suatu hal yang rasional dengan sudut pandang ini. Sayangnya tidak ada hadis yang lugas dan jelas yang menyatakan bahwa Sahabat Nabi adalah pedoman bagi umat Islam agar tidak tersesat. Semua hadis yang dijadikan dasar dalam hal ini adalah hadis-hadis keutamaan mereka yang menjelaskan betapa mulianya mereka. Oleh karena itu Sunni tidak pernah menyatakan bahwa Sahabat Nabi itu ma’sum. Hal ini memiliki konsekuensi logis bahwa Sahabat Nabi tidak selalu benar.

Ada sebagian hadis yang sering dijadikan dasar bahwa Sahabat Nabi adalah pedoman bagi umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda “Umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan . Mereka semua ada di neraka kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya “Siapakah golongan itu?”. Beliau menjawab “Apa yang Aku dan para sahabatku ada diatasnya pada hari ini”.(Hadis Riwayat Thabrani dalam Mu’jam As Saghir jilid I hal 256)

Kemudian juga hadis ini
Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan . Mereka semua di neraka kecuali satu golongan “. Para Sahabat bertanya “Dan siapakah golongan (yang selamat) itu wahai Rasulullah SAW?”. Beliau menjawab “Apa yang Aku dan para sahabatku ada diatasnya”. (Hadis Riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi Kitab Al Iman ‘An Rasulillah Bab Ma Ja’a Fi Iftiraqi Hadzihi Al Ummah no 2565)

Kedua hadis tersebut adalah hadis yang dhaif . Hadis pertama riwayat Thabrani dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Sufyan dimana Al Uqaili berkata Hadisnya tidak bisa diikuti. Oleh karena itu Al Uqaili memasukkan hadis ini dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabir no 938. Hadis kedua riwayat Tirmidzi dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad Al Ifriqi dan sebagaimana dijelaskan dalam At Taqrib bahwa dia adalah dhaif. Oleh karena itu Al Mubarakfuri menyatakan dhaifnya hadis tersebut dalam Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Tirmidzi hadis no 2565.

Kesimpulan
Apa yang dapat disimpulkan dari ini adalah Rasulullah SAW sendiri telah menjelaskan bahwa pegangan dan pedoman bagi umat Islam agar tidak sesat adalah Hendaknya berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait Nabi. Tidak ada suatu penjelasan lugas dan jelas yang shahih bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpegang pada sahabat agar umat Islam tidak sesat.

Karena hadis Tsaqalain (berpegang teguh kpd Kitab Allah dan Ithrah Ahlul Baitku ternyata lebih sahih dan dg derajat mutawatir pula, maka hadis yg berbunyi: Berpeganglah kpd Sunnahku dan sunnah sahabatku’ yg secara sanad lemah dan dari segi matan bertentangan dg hadis yg lebih kuat tidak bisa dijadikan pegangan oleh umat Islam.

Diatas sdh saya jelaskan masalah lemahnya hadis berpegang kepada Sunnah Rasul dan sahabat dan kuatnya hadis untuk berpegang kpd Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait nabi. Jadi yang benar adalah kewajiban untuk berpegang teguh dg Kitabullah dan Itrah Ahlul Bait . Dengan demikian QS 4 : 115 tsb diatas adalah ancaman bagi org2 yg mengikuti selain Ahlul Bait.

Mengenai larangan membenci sahabat, saya setuju dg catatan bahwa larangan membenci sahabat itu bagi sahabat yg memang setia kpd Nabi dan saleh. Sementara “sahabat”2 yg sering menyakiti Nabi dan Ahlul Baitnya dan berbiat maksiat dg membunuh sahabat lainnya yg saleh, maka wajar kalau kita mengecam mereka.

Perlakuan terhadap sahabat bersifat proporsional sesuai informasi yg ada dlm Al-Quran dan hadis sahih. Syi’ah Itsna Asy’ariah hanya membenci/mengecam sahabat yg terbukti menyakiti, menganiaya dan membunuh Ahlul Bait. Dan itu hanya berjumlah sedikit. Masih banyak sahabat2 lain yg setia kpd Nabi.Sebaliknya di kalangan Sunnipun ada golongan Nawashib (pembenci keluarga Nabi) dari yg moderat sampai dengan yg paling ekstrim.

===============================================================================================================================================================

TANDUK SETAN DARi NAJAD

Salafi merupakan aliran yang disebut Nabi SAW sebagai “dua tanduk setan dari najad”….Di antara orang-orang yang terkenal yang lahir di Najd adalah Ibn Baz, Ibn Uthaimeen, dan juga Muhammad ibn Abd al Wahhab.

Walaupun beberapa tokoh Wahhabiy (Internasional/Msia) cuba mengalih perhatian ‘Najad’ dengan maksud yang umum. Atau dialihkan ke Iraq..ternyata usaha itu sesekali tidak berhasil. Ini kerana dilalah yang terdapat di dalam hadis begitu jelas memaksudkan Najad sebagai satu sudut geografi yang amat dikenali sebagaimana Syams dan Yaman. Dan sememangnya jika dilihat kedudukan koordinat geografi, Najd/Riyadh terletak pada 2443N 04644E, manakala Madinah terletak pada 2433N 03942E.

najed iraq? huwa ha…ha… itu sih pentakwilan yang tak berdasar.
mana mungkin wahabi mau ngakui bahwa itu najed… tempat lahirnya si PENGKAFIR UMAT IBNU ABDUL WAHAB? KALO ITU ANDA AKUI YA BUBAR DONG SEKTE TAKFIRI INI.

TAK PERLU PAKE HADIS TERSEBUT, DARI AJARAN BIANG TAKFIRI INI (IBNU ABDUL WAHAB) ORANG TAU KALO SEKTE WAHABI ADALAH PELANJUT SEKTE KHOWARIJ… KARENA HAMPIR SEMUA AJRAN DAN POLA PIKIR SERTA PERBUATAN MEREKA mirip.

Najd adalah sebuah daerah tinggi dengan ketinggian 762 hingga 1.525 meter di atas permukaan laut. Bagian timur wilayah ini ditandai dengan perkampungan-perkampungan oasis, sedang di daerah Najd lainnya sedikit didiami oleh kaum nomaden Bedouin. Orang dari Najd disebut Najdi dalam bahasa Arab.

Dan…
Wilayah ini ditaklukan oleh pasukan Wahhabi di bawah Abdul Aziz ibn Abdul Rahman ibn Saud, dari Kekaisaran Ottoman, selama periode tahun 1899-1912. Pada tahun 1932, Najd menjadi salah satu provinsi dari Arab Saudi yang baru didirikan oleh ibn Saud.

Kedudukan Riyadh/Najd hampir pada garis darjah latitude yang sama (beza 10 minit sahaja – bukan ukuran waktu tetapi ukuran latitude) dengan Madinah betul-betul sebelah timur. Helah yang digunapakai bagi mereka yang gerun dengan hadith ini ialah mereka mengatakan bahawa Iraq sememangnya di sebelah timur. Tetapi yang sebenarnya, latitude yang paling rendah bagi Iraq ialah sekitar 3040N (kota Basrah). Baghdad pula 3340N. Dengan kedudukan latitude sedemikian, Iraq terletak di antara 0 – 40 darjah ke utara Medinah. Bukan timur. Kalau nak dikatakan timur, ianya sepatut disekitar 90 +/- 20 darjah dari Medinah

Najad yang dimaksudkan di dalam lembaran sabda Nabi SAW ialah sebuah kawasan yang terletak di timur Madinah. Disanalah munculnya fitnah dan kegemparan terhadap Islam dan umatnya. Fitnah ini mengucar kacirkan fahaman dan pegangan umat Islam sehingga menyeret kepada pertumpahan darah. Ternyata, kemunculan Musailamah al-Kazzab dan Gerakan Wahhabiy yang dipimpin oleh Muhammad Abd Wahhab merealisasi gambaran fitnah yang dimaksudkan. Apa tidaknya, Musailamah al-Kazzab adalah Pemimpin Nabi Palsu. Manakala Muhammad Abd Wahhab memimpin gerakan Wahhabiy yang sanggup menyerang, merampas dan berperang menentang Khilafah Uthmaniyyah lebih dari 200 tahun dan menyebabkan beribu-ribu nyawa terkorban.

diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, al-Tirmidzi bahawa Baginda SAW bersabda : “Ya Allah berkatilah negeri Syams kami, Ya Allah berkatilah negeri Yaman kami. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah : (Bagaimana) dengan negeri Najd kami? Baginda SAW lalu bersabda : Ya Allah berkatilah negeri Syams kami, Ya Allah berkatilah negeri Yaman kami. Dan baginda bersabda pada kali yang ketiga : “Disana (Najad) berlakunya gempa bumi (kegoncangan) timbulnya pelbagai fitnah, dan disana juga munculnya tanduk syaitan.”

Saudaraku…

==================================================================================================================================================================

DINASTI SAUDI :
DARI MANA ASAL MEREKA?
DAN SIAPA SESUNGGUHNYA NENEK-MOYANGNYA?

Penelitian dan pemaparan Mohammad Sakher:
Setelah menemukan fakta-fakta di bawah ini, Rejim Saudi memerintahkan untuk membunuhnya.

Apakah anggota keluarga Saudi berasal dari Suku Anza bin Wa’il seperti pengakuannya?
Apakah agama mereka Islam?
Apakah mereka asli Bangsa Arab?

Di Najd, pada tahun 851 H serombongan bani Al-Masalikh, keturunan Suku Anza, membentuk sebuah kafilah dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul, ditugaskan untuk membeli bahan makanan, biji-bijian gandum dan jagung ke Iraq. Ketika sampai di Bashra, mereka langsung menuju ke sebuah toko pakan yang pemiliknya seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang berlangsung tawar-menawar, Yahudi si pemilik toko bertanya kepada mereka: “Berasal dari suku manakah Anda?”. Mereka menjawab: “Kami berasal dari Bani Anza”, salah satu Suku Al-Masalikh”. Mendengar nama suku itu disebut,

orang Yahudi itu memeluk mereka dengan mesra sambil mengatakan bahwa dirinya juga berasal dari Suku Al-Masalikh, namun menetap di Bashra, Iraq karena permusuhan keluarga antara ayahnya dengan anggota Suku Anza lainnya.

Setelah Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe mengatakan kepada mereka ceritera yang direkayasa mengenai dirinya, dia kemudian memerintahkan kepada pembantunya untuk menaikkan barang-barang belanjaan kafilah itu ke atas Unta-unta mereka. Sikap Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe yang dinilai baik dan tulus itu membuat kagum rombongan bani Masalikh dan sekaligus menimbulkan kebanggaan mereka karena bertemu saudara sesama suku di Iraq – dimana mereka mendapatkan bahan makanan yang sangat mereka perlukan, mereka percaya kepada setiap kata yang diucapkan Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, karena dia seorang pedagang kaya komoditi pakan, mereka menyukai Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe (walaupun sebenarnya dia bukan orang Arab dari suku Al-Masalikh, tapi seorang Yahudi yang berpura-pura)

Saat kafilah sudah siap akan kembali ke Najd, pedagang orang Yahudi itu meminta ijin menumpang dengan mereka pergi ke tempat asalnya, Najd. Permintaan pedagang Yahudi itu diterima dengan senang hati oleh rombongan bani Al-Masalikh.

Akhirnya Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe sampai di Najd. Di Najd ia mulai menyebarluaskan propaganda dirinya dibantu beberapa orang dari bani Al-Masalikh yang baru tiba bersama-’sama dia dari Bashra. Propagandanya berhasil, sejumlah orang mendukungnya, tetapi ditentang oleh yang lain dipimpin oleh Shaikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, ulama di kota Al-Qasim, yang wilayah dakwahnya meliputi Najd, Yaman dan Hijaz. Ia mengusir Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe ( nenek moyang Keluarga Saudi yang saat ini berkuasa ) dari kota Al-Qasim ke kota Al-Ihsa, di sana ia mengganti namanya menjadi Markhan bin Ibrahim Musa . Kemudian dia pindah ke daerah Dir´iya dekat Al-Qatif. Di daerah ini dia mulai menyebarkan ceritera rekayasa kepada penduduk mengenai Perisai Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam yang dirampas sebagai rampasan perang oleh orang musyrik Arab sewaktu Perang Uhud. Perisai itu kemudian dijual oleh orang musyrik Arab kepada Suku Yahudi Bani Qunaiqa dan menyimpannya sebagai koleksi barang berharga. Perlahan tapi pasti, Markhan bin Ibrahim Musa menanamkan pengaruhnya di antara orang-orang Badui melalui ceritera fiktif yang hal ini memberitahu kita bagaimana berpengaruhnya suku-suku Yahudi di Arab dengan menempati kedudukan terhormat. Dia menjadi orang penting diantara suku Badui dan memutuskan untuk tetap tinggal di kota Dir´iya, dekat Al-Qatif kemudian memutuskan menjadikannya sebagai ibukota di Teluk Persia. Ia bercita-cita menjadikan kota itu sebagai batu loncatan untuk membangun kerajaan Yahudi di Tanah Arab.

Dalam rangka memenuhi ambisisnya, dia mulai mendekati dan mempengaruhi suku Arab Badui padang pasir untuk mendukung posisinya, kemudian menobatkan dirinya sebagai raja mereka.

Pada saat yang genting ini, Suku Ajaman bersama-sama dengan Suku Bani Khalid mencium bahaya Yahudi licik ini dan sangat mengkhawatirkan rencana jahatnya, karena dia telah dapat mengukuhkan identitasnya sebagai orang Arab. Mereka sepakat untuk menghentikannya, kemudian menyerang kota Dar’iya dan berhasil menaklukannya, tetapi sebelum menawan Markhan bin Ibrahim Musa, dia melarikan diri.

Dalam pelariannya, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) mencari perlindungan di sebuah perkebunan Al-Malibiid-Ghusaiba dekat Al-Arid, milik orang Arab. Sekarang kota itu bernama Al-Riyadh.

Mordakhai meminta perlindungan politik kepada pemilik perkebunan. Pemiliknya yang ramah itu kemudian segera memberikan tempat perlindungan. Namun belum juga sampai sebulan dia tinggal di perkebunan itu, Mordakhai membunuh pemilik beserta anggota keluarganya, kemudian mengarang ceritera bahwa mereka dibunuh oleh perampok. Dia juga mengaku telah membeli real estate dari pemiliknya sebelum kejadian tragis itu. Maka tinggallah dia disana sebagai pemilik tanah yang baru, kemudian daerah itu diberi nama baru Al-Di’riya, nama yang sama dengan tempat sebelumnya yang ia tinggalkan.

Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) segera membangun sebuah “Guest House” yang disebutnya “Madaffa” di atas tanah yang direbut dari korbannya. Kemudian berkumpullah disekelilinya kelompok munafik yang mulai menyebarkan propaganda bohong bahwa Mordakhai adalah seorang Seikh Arab terkemuka. Mereka merencanakan membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutan Mordakhai dan berhasil membunuhnya di sebuah mesjid di kota Al-Zalafi.

Mordakhai puas telah berhasil membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al- Tamimi, kemudian menjadikan Al-Dir’iya sebagai tempat tinggalnya. Di Al-Dir’iya dia berpoligami dan beranak’pinak, anak-anaknya diberi nama asli Arab.

Sejak saat itu keturunan dan kekuasaan mereka tumbuh berkembang di bawah nama Suku Saudi, mereka juga mengikuti jejak Mordakhai dan kegiatannya dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi serta berkonspirasi melawan bangsa Arab. Secara ilegal mereka menguasai daerah pedalaman dan tanah-tanah perkebunan, membunuh setiap orang yang mencoba menghalangi rencana jahat mereka. Untuk mempengaruhi penduduk di wilayah itu, mereka menggunakan segala macam jenis tipu daya untuk mencapai tujuannya: mereka suap orang-orang yang tidak sefaham dengan uang dan perempuan. Mereka suap penulis sejarah untuk menuliskan biografi sejarah keluarganya yang bersih dari kejahatan, dibuatkannya silsilah keluarga bersambung kepada Suku Arab terhormat seperti Rabi’?, Anza dan Al-Masalikh.

Seorang munafik zaman kiwari bernama Mohammad Amin Al-Tamimi – Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam . Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel.

Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkawinan itu.

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Saud, dari keturunan Saud inilah Dinasti Saudi saat ini.

Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.

Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina tuhan, oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang islampun dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahhab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki). Doktrin Wahhabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan Ajarannya yang Kejam ( Brutal Doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahhabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama Semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.

Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan penentangannya atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan di hukum pancung di lapangan terbuka . Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali tempo mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dia menyewa 90 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Dapatkah kita memberikan komentar terhadap pemborosan yang dilakukan keluarga kerajaan seperti itu, yang pantas adalah: Dihukum pancung di lapangan terbuka.

- Pada tahun 1960′an, pemancar radio “Sawt Al-Arab” di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi.

Kesaksian bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi:

- Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada the WASHINGTON POST pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi, adalah keluarga Yahudi: Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”. Itulah pernyataan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul “Semenanjung Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari Suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Shaikh dari Suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya, Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan, makanan yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkannya di atas piring. Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri, karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahbi selanjutnya menyatakan bahwa, berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak, mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Shaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat. (melaksanakan ajaran menyimpang Wahhabi). Kesalahan Faisal Darwis waktu itu karena dia mengkritik Raja Abul Aziz Al-Saud, ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.

Sistem rejim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama: Tujuan-tujuannya adalah: merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajarannya Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.

——————————————————————————————————
Wahabi Penghancur Peradaban Islam
Najd adalah Najad, Iraq adalah Iraq

Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain.

Inilah berita sedih dan memprihatinkan bagi peradaban Islam dan sejarah peradaban umat manusia secara umum. Pemerintahan Wahabi Arab Saudi telah menghancurkan ratusan situs/tempat sejarah Islam yang telah berusia 14 abad. Semua ini dilakukan semata-mata demi uang dan modernisasi walaupun dibungkus dengan ‘dalil-dalil agama’ versi mereka, bukan dalil-dalil agama yang difatwakan oleh jumhur ulama umat Islam dunia.

Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja sepak terjang kaum Wahabi yang merupakan kelompok sangat minoritas dari umat Islam secara keseluruhan ini untuk mengobok-obok warisan peradaban Islam tanpa izin atau musyawarah dulu dengan mayoritas umat Islam dunia ?

Inilah yang akhirnya terjadi ketika orang-orang Arab Badui Nejed menguasai tanah suci Mekah-Madinah setelah berhasil memberontak dari Kekhilafahan Usmani (Ottoman Empire). Pemberontakan yang disokong Inggris ini akhirnya berujung pembentukan negara baru yang bernama Kerajaan Saudi Arabia yang wilayahnya meliputi kawasan Hijaz dan sekitarnya, termasuk dua tanah suci Mekah dan Madinah. Kaum Quraisy yang penduduk asli Mekah pun lama-kelamaan kian tersingkir. Bahkan bani Hasyim juga telah dipaksa bermigrasi ke Yordania (dengan skenario Inggris).

Kini Mekah dan Madinah sudah tak sama lagi dengan Mekah dan Madinah yang kita baca di buku-buku sejarah Islam. Suasana sakralnya makin tergerus oleh suasana hedonisme ala Amerika.

Situs Peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah berubah fungsi mengikuti rencana Illuminati dalam menghilangkan perasaan patriotisme umat Islam sebagaimana ditulis oleh Doc Marquis dalam “The (Decoded) Illuminati’s Protocols of the Learned Elders of Zion”, Bab 25, hal.102.

Dulu ketika kaum pemberontak Wahabi Nejed ini berhasil menguasai kota suci Mekah dan Madinah setelah mengalahkan pasukan pemerintah Khilafah Usmani, maka para ulama di Nusantara ini pun segera merespons dengan pembentukan ‘Komisi Hijaz’. Respons ini karena para pemberontak Wahabi tersebut telah mulai melakukan perusakan dan penghancuran situs-situs sejarah Islam yang mereka temui di kedua kota suci tersebut.

Namun lama-kelamaan karena kerajaan Wahabi Saudi Arabia ini makin eksis (apalagi dengan dukungan penuh dari Amerika dan Inggris) maka respons tersebut kian kendur. Dan tak terasa sudah sekitar 300 situs sejarah peradaban Islam yang mereka hancurkan.

Akankah ini dibiarkan terus oleh mayoritas umat Islam dunia ?
Seluruh situs sejarah Islam di kedua kota suci tersebut adalah milik umat Islam sedunia. Dan kaum Wahabi yang sekarang menduduki kedua kota suci itu sama sekali tak punya hak untuk mengacak-acaknya seenak perut mereka.

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H/1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: “Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.”

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: An-Nisa 115)
Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?” Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan” Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.” Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.
Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H/1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata: “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya.

Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum salihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.
Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

“Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,” katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, “Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” (Mirip Masonic bukan?)

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.
Gerakan Wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid’ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah Wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum Wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).
Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang shaleh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid’ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid’ah” Karena nama negeri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa’ud.

Sungguh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan lainnya. Diantaranya: “Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana,” sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan)

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: “Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,” dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan.” Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/ 1792 M.

Kaum Salafi wahabi tak pernah hilang watak aslinya yaitu rajin menuding orang lain salah, hanya mereka sajalah yang benar (versi mereka)… YAng cukup gila : mereka mengutip hadis hadis dha’if sebagai bahan black campaign untuk menuding syi’ah imamiyah itsna asyariah sebagai aliran sesat

Salafi wahabi yang mengkritik hadis Syiah secara KALAP DAN GELAP MATA telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni.

Ada sejumlah website anti syi’ah yang sengaja dibuat KAUM SALAFi seperti :

http://syiahindonesia.com ( web ini sangat licik berdusta )
http://www.gensyiah.com ( web ini sangat licik menipu )
http://www.syiah.net ( web ini sangat licik berbohong )
http://hakekat.com ( web ini sangat licik memfitnah )
http://haulasyiah.wordpress.com ( web ini sangat licik menulis )

http://nuralih.wordpress.com/page/2/?archives-list=1

mereka menyebar banyak fitnah, terkesan kalap dan gelap mata sehingga membuat fitnah untuk menipu orang awam…Semua website tersebut jelas nampak putus asa karena kehabisan dalil untuk menghadapi mazhab ahlul bait lalu mulai lah mereka asal bunyi..

Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanya Gen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

BEDAH BUKU : MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH..???
Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

Kehadiran buku ini memberikan beberapa hal penting. Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah.

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Ketiga, terkait dengan hal yang kedua, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme.

Meskipun begitu, pertama, buku ini juga telah menjadi iklan gratis bagi mazhab syiah, sehingga bagi pengkaji yang objektif terpancing untuk memahami mazhab syiah dari sumber-sumber yang kredibel. selain itu, kedua, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena masih ada sisa-sisa penghalang bagi pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin. dan ketiga, Buku ini menjadi contoh bahwa terkadang penerbit buku tidak mengindahkan keilmiahan dan dampak sosial religius dalam penerbitan buku, tetapi lebih pada keuntungan.

Tetapi sebagai sebuah sikap ilmiah saya berusaha untuk sabar dalam membaca dan tentunya menganalisis setiap katanya, utuk mendapatkan misi dan visi pengarangnya. Untuk itu, saya akan tuliskan beberapa hal penting untuk kita dapat mengenal isi buku dan pengarangnya. (Catt. Karena takut tulisannya kepanjangan, maka akan dibuat secara bersambung)

SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG

Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008.

Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2).

Buku ini terdiri dari 153 halaman yang dimulai dengan kata pengantar oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang mengaku pakar aliran syiah. Dengan pengantar tersebut, buku ini semakin kelihatan “prestisiusnya”. Membahas banyak persoalan yang selain pendahuluan dan penutup, buku ini dibagi dalam tujuh pembahasan, sbb :
1. Tentang Abdullah bin Saba’
2. Hakikat Penisbatan Syiah Kepada Ahlul Bait
3. Nikah Mut’ah dan Hal-Hal yang Berhubungan Dengannya
4. Khumus
5. Kitab-kitab Samawi
6. Pandangan Syiah terhadap Ahlussunnah
7. Pengaruh Kekuatan Asing Dalam Pembentukan Ajaran Syiah.

Pada halaman terakhir dilampirkan fatwa yang dikeluarkan oleh Husain Bahrul Ulum, tentang kesesatan buku tersebut.

KEJANGGALAN SOSOK PENGARANG

Ada pepatah yang terkenal “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan propokasi kepada umat Islam. Tapi al-hamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia.

Buku ini tidak menuliskan secara jelas siapa sebenarnya Sayid Husain al-Musawi. Tidak diketahui kapan lahir dan silsilah keluarganya, pendidikan dan guru-gurunya baik di Karbala’ maupun di Najaf (Irak). Juga tidak diketahui karya-karya yang ditulisnya selain buku ini. Dari sini kita meragukan keadaan dan kualitas keilmuannya yang mengaku mujtahid syiah.

Terlebih setelah kita mendapatkan beberapa kejanggalan yang sangat mencolok dari buku yang ditulisnya ini. Kejanggalan sosok pengarang terlihat saat kita melanjutkan bacaan menelusuri buku ini kata-kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Diantara kejanggalannya adalah sbb:

(Catt : Untuk memepermudah, tulisan asli Husain al-Musawi saya beri tanda >; sedangkan tanggapan saya menggunakan tanda #

1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 :

> “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.”

# Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya.

2. Husain musawi menulis pada halaman 94 :

> “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94)

# Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb :
– 1895 M + 35 = 1930 M
– 1314 H + 35 = 1349 H

Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak.
Husain Musawi menulis pada halaman 68 :

> “Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68)

# Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata

Kemudian pada halaman 4 dia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.”

# Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari Sayid (?) Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi.

Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb :
> “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.”

# Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…????

Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini.

Dengan beberapa bukti di atas (dan masih banyak lagi lainnya) kita dapat menyimpulkan bahwa pengarang buku ini bukanlah seorang mujtahid syiah, bahkan mungkin bukan pula penganut mazhab syiah. Namanya juga diragukan apakah benar Sayid Husain al-Musawi atau sekedar mencatut nama agar lebih meyakinkan. Bagi saya, penulis buku ini adalah sosok imajiner yang membuat kisah imajinasi dengan berusaha menjadi tokoh utama dalam sandiwara fiktif ini. Buku ini bisa kita anggap sebagai novel dongeng untuk mendiskriditkan Islam seperti The Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusydi…..mungkin saja, Husain al-Musawi ingin menjadi pelanjut Salman Rusydi. Wallahu a’lam

HUSAIN AL-MUSAWI TIDAK MENGENAL ULAMA-ULAMA DAN IMAM-IMAM SYIAH

“Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, ternyata tidak mengenal tokoh-tokoh dan ulama-ulama syiah, bahkan ia tidak mengenal imam syiah.”

Sebagai buku yang ditulis untuk propokatif, karya Husain al-Musawi, “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?” memang sudah sewajarnya tidak memiliki bobot akademis dan ilmiah. Selain kerancuan dan kejanggalan sosok Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah, dia juga tidak mengenal tokoh-tokoh syiah bahkan gurunya sendiri. Selain itu bahkan dia tidak mengetahui tradisi keilmuan syiah dalam ushul maupun furu’.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Husain al-Musawi adalah sosok fiktif yang mengarang buku dengan khayalan dan imajinasinya. Dia ingin membuat sandiwara dan berusaha menjadi pemain utamanya dan menjadikan yang lain sebagai “bandit-banditnya”. Tapi sayang, ternyata pemeran utama ini tidak tahu naskah skenarionya, dan tidak mengenal dengan baik lawan bermainnya. Pada edisi ketiga ini, kita akan mengungkap lanjutan kepalsuannya dan kebodohannya tentang ulama-ulama dan imam
-imam syiah. Untuk tidak berpanjang mari kita cermati beberapa isi buku tersebut.

1). Pada halaman 4 (dan berlanjut dihalaman2 berikutnya), ia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan mendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu SAYID MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYIF AL-GHITA”….

# Perhatikanlah, Husain Musawi menyebut “Sayid Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita, padahal Allamah Kasyif al-Ghita bukanlah “SAYID”, karena beliau bukanlah keturunan dari Rasulullah saaw dan Ahlul bait nabi saaw. Sehingga Allamah Kasyf al-Ghita tidak pernah dipanggil dengan Sayid melainkan dengan “SYEIKH”. Kita bisa baca semua buku-buku ulama syiah yang besar maupun yang kecil, semua menyebut dengan “SYEIKH KASYF AL-GHITA”. Bahkan kita bisa lihat sendiri di dalam karya-karyanya misalnya “Ashl Syiah wa Ushuluha” disana disebutkan nama SYEIKH MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYF AL-GHITA.

Bagaimana mungkin Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid dan menjadi murid Syeikh Kasyif al-Ghita, tidak tahu tentang silsilah gurunya ini…??? Padahal orang awam syiah sekalipun tahu perbedaan antara Sayid dengan Syeikh.

2). Pada halman 12, ia menulis :

> “…sebagaimana SAYID MUHAMMAD JAWAD pun mengingkari keberadaannya ketika memberi pengantar buku tersebut”,

# Perhatikanlah, dia menyebut Sayid Muhammad Jawad, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD (MUGHNIYAH)” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait as.

# Masih banyak lagi kesalahannya seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharausnya Mirza Ali Ghuruwi. Begitu juga pada halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”..??? Siapa orang ini….??? Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq)…???? Atau apakah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf…?? … ini mungkin hanya salah tulis

3. Tidak hanya disitu ia juga tidak bisa membedakan antara ulama sunni dan syiah. Bahkan keliru menyebut buku syiah. Misalnya : Pada halaman 28 dan 29 dia mengutip dari buku “Maqatil ath-Thalibin” padahal buku tersebut bukan buku syiah. “Maqatil ath-Thalibin” adalah buku karya Ulama ahlus sunnah Abul Faraj al-Isfahani al-Umawi.

Itu diantara kekeliruan2 nya menyebut ulama-ulama syiah. Tapi hal itu masih lumayan. Sebab, tidak hanya sampai disitu, bahkan Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, tidak bisa membedakan imam2 syiah. Dia kesulitan membedakan Imam-imam syiah karena terkadang memiliki panggilan yang sama. Perhatikan pernyataanya berikut ini :

4. Pada halaman 18, ia menulis :
> Amirul mukminin as berkata, “Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang yang memisahkan diri. Kalaulah akau menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Raudhah, 8/338)

# Ternyata Husain al-Musawi tidak mengenal Imam-imam Syiah. Diatas ia menulis “AMIRUL MUKMININ as berkata”. Perlu diketahui, gelar AMIRUL MUKMININ itu diperuntukkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama syiah). Setelah kita periksa ke kitab ar-Raudhah al-Kafi, ternyata tidak terdapat kata “Amirul Mukminin”, tetapi yang ada adalah “ABUL HASAN”. Di bawah ini saya tuliskan riwayatnya sbb :

وَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو الْحَسَنِ ( عليه السلام ) لَوْ مَيَّزْتُ شِيعَتِي لَمْ أَجِدْهُمْ إِلَّا وَاصِفَةً وَ لَوِ امْتَحَنْتُهُمْ لَمَا وَجَدْتُهُمْ إِلَّا مُرْتَدِّينَ وَ لَوْ تَمَحَّصْتُهُمْ لَمَا خَلَصَ مِنَ الْأَلْفِ وَاحِدٌ وَ لَوْ غَرْبَلْتُهُمْ غَرْبَلَةً لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا مَا كَانَ لِي إِنَّهُمْ طَالَ مَا اتَّكَوْا عَلَى الْأَرَائِكِ فَقَالُوا نَحْنُ شِيعَةُ عَلِيٍّ إِنَّمَا شِيعَةُ عَلِيٍّ مَنْ صَدَّقَ قَوْلَهُ فِعْلُهُ .

“Dengan sanad-sanad ini, dari Muhammad bin Sulaiman, dari Ibrahim bin Abdillah al-Sufi berkata: meyampaikan kepadaku Musa bin Bakr al-Wasiti berkata : “Abu al-Hasan a.s berkata kepadaku (Qala li Abul Hasan) : ‘Jika aku menilai syi‘ahku, aku tidak mendapati mereka melainkan pada namanya/sifatnya saja. Jika aku menguji mereka, nescaya aku tidak mendapati mereka kecuali orang-orang yang murtad (murtaddiin). Jika aku periksa mereka dengan cermat, maka tidak seorangpun yang lulus dari seribu orang. Jika aku seleksi mereka, maka tidak ada seorangpun yang tersisisa dari mereka selain dari apa yang ada padaku, sesungguhnya mereka masih duduk di atas bangku-bangku, mereka berkata : Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya. (ar-Raudhat al-Kafi hadis no 290)

# Perhatikan, hadits di atas menyebutkan ABUL HASAN as, bukan Amirul Mukminin. Ketahuilah Abul Hasan as adalah panggilan utk beberapa imam syiah diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama), Imam Ali Zainal Abidin as (imam keempat), Imam Musa al-Kadzhim (imam ketujuh), Imam Ali ar-Ridha (imam kedelapan), dan Imam Ali al-Hadi (imam kesepuluh).

Sekarang siapakah Abul Hasan yang dimaksud oleh hadits di atas..???

Jawabnya adalah bahwa hadits diatas berasal dari Imam Musa al-Kadzhim bukan dari Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebab, hadits tersebut diriwayatkan oleh Musa bin Bakr al-Wasithi, dan beliau adalah sahabat Imam Musa al-Kadzhim as (imam ketujuh syiah).

Bagaimana mungkin, Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid ini, tidak mengenal imamnya sendiri..???? Ini mujtahid yag salah kaprah….

# Selain itu, perhatikan bagaimana ia memotong bagian akhir dari riwayat tersebut yang menegaskan, “Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya”.

Jika kita perhatikan akhir dari riwayat tersebut, maka jelaslah bagaimana Imam Musa al-Kadzim menyipati orang2 syiah yg sejati…..
Dimanakah posisi Husain al-Musawi…??? mungkin termasuk yag bagian pertama dari hadits di atas….yaitu ngaku syiah dan murtaddin yang tidak lolos seleksi para imam….Wallahu a’lam.

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

SYIAH DAN PENAMAAN RAFIDHAH

Seperti kita lihat dalam bukunya yg saya bedah di froum diskusi ini, salah satu kebiasaan Husain al-Musawi adalah menciptakan riwayat palsu atau riwayat lemah dan juga memotong2 riwayat hadits2 syiah sesuka hatinya utk menciptakan citra buruk syiah. Tapi propagandanya memang sudah bisa ditebak bagi org2 yg mau menggunakan sedikit tenaga dan pikirannya.

Diantara yg dipotongnya adalah riwayat ttg penamaan Rafidhah kepada syiah….

- Pada halaman 22 poin 4, Husain al-Musawi menuliskan sbb :

> Sesunguhnya Ahlu Bait menyebut dan menyifati para pengikut mereka sebagai thagut umat ini, kelompok sempalan dan pelempar kitab. Kemudian mereka menambahkan atas hal itu dengan ucapannya, ‘Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang2 yg zahalim’. Oleh karena itu mereka datang kepada Abu Abdillah as, lalu berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya kami telah dicela dengan celaan yang sangat berat di atas punggung-punggung kami, matilah terhadapnya hati-hati kami, para pemimpin menghalalkan darah-darah kami dalam hadits yang diriwayatkan oleh para ahli fikih mereka. Maka Abu Abdullah berkata, “Rafidhah”? Mereka menjawab “Ya”. Maka dia berkata, “tidak! demi Allah bukanlah mereka yang menamai kamu sekalian dengan nama tersebut, tetapi Allah lah yg menamai kamu sekalian dengan nama tersebut.” (Al-Kafi, 3/34)

Husain al-Musawi kemudian mengomentari riwayat tersebut dgn mengatakan, “Abu Abdullah menjelaskan bahwa yg menamai mereka dengan sebutan rafidhah adalah Allah dan bukan ahlus sunnah.
——————-

# Perhatikanlah bagaimana ia memgutip sebagian riwayat dan menyembunyikan riwayat lanjutannya. Setelah saya periksa teks aslinya ternyata sangat panjang (sampai dua halaman) dan Husain al-Musawi memotong teksnya sesuka hatinya untuk menunjukkan sisi negatifnya saja. Padahal hadits ini merupakan pujian bagi orang-orang syiah. Hadits tersebut terdapat dalam Kitab Raudhat al-Kafi bab Khutbah Thalutiyah yg merupakan pujian2 dan kelebihan2 org2 syiah.

Perhatikan teks lengkap berikut ini dari“Kitab Raudhat al-Kafi Bab Khutbah Thalutiyyah hdits no 6 sbb :

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو بَصِيرٍ وَ قَدْ خَفَرَهُ النَّفَسُ فَلَمَّا أَخَذَ مَجْلِسَهُ قَالَ لَهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا هَذَا النَّفَسُ الْعَالِي فَقَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ كَبِرَ سِنِّي وَ دَقَّ عَظْمِي وَ اقْتَرَبَ أَجَلِي مَعَ أَنَّنِي لَسْتُ أَدْرِي مَا أَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ آخِرَتِي فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ إِنَّكَ لَتَقُولُ هَذَا قَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ وَ كَيْفَ لَا أَقُولُ هَذَا فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَ مَا عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكْرِمُ الشَّبَابَ مِنْكُمْ
وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَكَيْفَ يُكْرِمُ الشَّبَابَ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ فَقَالَ يُكْرِمُ اللَّهُ الشَّبَابَ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ أَنْ يُحَاسِبَهُمْ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ هَذَا لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ قَالَ فَقَالَ لَا وَ اللَّهِ إِلَّا لَكُمْ خَاصَّةً دُونَ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَإِنَّا قَدْ نُبِزْنَا نَبْزاً انْكَسَرَتْ لَهُ ظُهُورُنَا وَ مَاتَتْ لَهُ أَفْئِدَتُنَا وَ اسْتَحَلَّتْ لَهُ الْوُلَاةُ دِمَاءَنَا فِي حَدِيثٍ رَوَاهُ لَهُمْ فُقَهَاؤُهُمْ قَالَ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) الرَّافِضَةُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا وَ اللَّهِ مَا هُمْ سَمَّوْكُمْ وَ لَكِنَّ اللَّهَ سَمَّاكُمْ بِهِ أَ مَا عَلِمْتَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَنَّ سَبْعِينَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ ضَلَالُهُمْ فَلَحِقُوا بِمُوسَى ( عليه السلام ) لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ هُدَاهُ فَسُمُّوا فِي عَسْكَرِ مُوسَى الرَّافِضَةَ لِأَنَّهُمْ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ كَانُوا أَشَدَّ أَهْلِ ذَلِكَ الْعَسْكَرِ عِبَادَةً وَ أَشَدَّهُمْ حُبّاً لِمُوسَى وَ هَارُونَ وَ ذُرِّيَّتِهِمَا ( عليهما السلام ) فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَى مُوسَى ( عليه السلام ) أَنْ أَثْبِتْ لَهُمْ هَذَا الِاسْمَ فِي التَّوْرَاةِ فَإِنِّي قَدْ سَمَّيْتُهُمْ بِهِ وَ نَحَلْتُهُمْ إِيَّاهُ فَأَثْبَتَ مُوسَى ( عليه السلام ) الِاسْمَ لَهُمْ ثُمَّ ذَخَرَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَكُمْ هَذَا الِاسْمَ حَتَّى نَحَلَكُمُوهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ رَفَضُوا الْخَيْرَ وَ رَفَضْتُمُ الشَّرَّ افْتَرَقَ النَّاسُ كُلَّ فِرْقَةٍ وَ تَشَعَّبُوا كُلَّ شُعْبَةٍ فَانْشَعَبْتُمْ مَعَ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ ( صلى الله عليه وآله ) وَ ذَهَبْتُمْ حَيْثُ ذَهَبُوا وَ اخْتَرْتُمْ مَنِ اخْتَارَ اللَّهُ لَكُمْ وَ أَرَدْتُمْ مَنْ أَرَادَ اللَّهُ فَأَبْشِرُوا ثُمَّ أَبْشِرُوا فَأَنْتُمْ وَ اللَّهِ الْمَرْحُومُونَ الْمُتَقَبَّلُ مِنْ مُحْسِنِكُمْ وَ الْمُتَجَاوَزُ عَنْ مُسِيئِكُمْ مَنْ لَمْ يَأْتِ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ حَسَنَةٌ وَ لَمْ يُتَجَاوَزْ لَهُ عَنْ سَيِّئَةٍ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ مَلَائِكَةً يُسْقِطُونَ الذُّنُوبَ عَنْ ظُهُورِ شِيعَتِنَا كَمَا يُسْقِطُ الرِّيحُ الْوَرَقَ فِي أَوَانِ سُقُوطِهِ وَ ذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا اسْتِغْفَارُهُمْ وَ اللَّهِ لَكُمْ دُونَ هَذَا الْخَلْقِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَ ما بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
إِنَّكُمْ وَفَيْتُمْ بِمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَيْهِ مِيثَاقَكُمْ مِنْ وَلَايَتِنَا وَ إِنَّكُمْ لَمْ تُبَدِّلُوا بِنَا غَيْرَنَا وَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَعَيَّرَكُمُ اللَّهُ كَمَا عَيَّرَهُمْ حَيْثُ يَقُولُ جَلَّ ذِكْرُهُ وَ ما وَجَدْنا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَ إِنْ وَجَدْنا أَكْثَرَهُمْ لَفاسِقِينَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِخْواناً عَلى سُرُرٍ مُتَقابِلِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَنَا اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ شِيعَتَنَا وَ عَدُوَّنَا فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ فَقَالَ عَزَّ وَ جَلَّ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبابِ فَنَحْنُ الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ عَدُوُّنَا الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ وَ شِيعَتُنَا هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ اللَّهِ مَا اسْتَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِأَحَدٍ مِنْ أَوْصِيَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَ لَا أَتْبَاعِهِمْ مَا خَلَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ وَ قَوْلُهُ الْحَقُّ يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئاً وَ لا هُمْ يُنْصَرُونَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ يَعْنِي بِذَلِكَ عَلِيّاً ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ إِذْ يَقُولُ يا عِبادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِنَّ عِبادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطانٌ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا إِلَّا الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) وَ شِيعَتَهُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَ الصِّدِّيقِينَ وَ الشُّهَداءِ وَ الصَّالِحِينَ وَ حَسُنَ
أُولئِكَ رَفِيقاً فَرَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فِي الْآيَةِ النَّبِيُّونَ وَ نَحْنُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الصِّدِّيقُونَ وَ الشُّهَدَاءُ وَ أَنْتُمُ الصَّالِحُونَ فَتَسَمَّوْا بِالصَّلَاحِ كَمَا سَمَّاكُمُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ إِذْ حَكَى عَنْ عَدُوِّكُمْ فِي النَّارِ بِقَوْلِهِ وَ قالُوا ما لَنا لا نَرى رِجالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرارِ أَتَّخَذْناهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصارُ وَ اللَّهِ مَا عَنَى وَ لَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ صِرْتُمْ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الْعَالَمِ شِرَارَ النَّاسِ وَ أَنْتُمْ وَ اللَّهِ فِي الْجَنَّةِ تُحْبَرُونَ وَ فِي النَّارِ تُطْلَبُونَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَقُودُ إِلَى الْجَنَّةِ وَ لَا تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِخَيْرٍ إِلَّا وَ هِيَ فِينَا وَ فِي شِيعَتِنَا وَ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِشَرٍّ وَ لَا تَسُوقُ إِلَى النَّارِ إِلَّا وَ هِيَ فِي عَدُوِّنَا وَ مَنْ خَالَفَنَا فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَيْسَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا نَحْنُ وَ شِيعَتُنَا وَ سَائِرُ النَّاسِ مِنْ ذَلِكَ بُرَآءُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى فَقَالَ حَسْبِي .

“Sejumlah sahabat kami, dari Sahal bin Ziad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari ayahnya berkata: Aku berada di sisi Abu Abdillah as, mendadak Abu Basir datang. Beliau kelihatan gelisah dengan nafasnya yg sesak. Setelah dia duduk, maka Abu Abdillah as berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau resah seperti ini? Maka dia menjawab : Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, wahai putra Rasulullah, umurku telah tua, tulangku lemah dan ajalku semkain dekat, tetapi aku belum tahu bagaimana keadaanku di akhirat kelak.?

Abu Abdillah as berkata: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau berkata seperti itu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, mengapa aku tidak boleh berkata demikian? Maka Imam as berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah memuliakan para pemuda dan malu kepada golongan tua diantara kamu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sebagai tebusan utkmu, bagaimana Dia memuliakan para pemuda di kalangan kita dan malu kepada yang tua?

Abu Abdilah as. berkata: “Dia memuliakan para pemuda diantara kamu supaya Dia tidak menyiksa mereka dan Dia malu kepada kelompok tua diantara kamu supaya Dia tidak menghisab mereka. Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusanmu, adakah hal ini hanya khusus untuk kita atau untuk semua ahli tauhid? Abu Abdillah as berkata: “Tidak, demi Allah hal ini khusus untuk kamu dan tidak untuk yg lain. Abu Basir berkata: “Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, kami telah buruk, punggung kami patah, hati kami mati, penguasa menghalalkan darah kami dengan hadis2 yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka.

Abu Abdillah as. berkata : Rafidhah? Abu Basir berkata: Ya!. Beliau as. berkata : “Bukan mereka yang menamai kamu demikain, tetapi Allah swt yang telah menamai kamu dengan nama tersebut. TIDAKKAH ENGKAU TAHU WAHAI ABU MUHAMMAD, BAHWA ADA 70 LAKI-LAKI BANI ISRAEL BERSAMA FIRA’UN YANG MENGIKUTINYA. KETIKA MEREKA MELIHAT KESESATAN FIR’AUN DAN PETUNJUK DARI MUSA AS, MAKA MEREKA MENOLAK (RAFADHU) FIR’AUN.

KEMUDIAN MEREKA MENGIKUTI MUSA DAN BERADA DALAM NAUNGAN MUSA AS, DAN MEEKA DIKENAL SEBAGAI ORG2 YANG RAJIN BERIBADAH. MEREKA MENOLAK FIRA’UN. MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA MUSA AS AGAR MENJADIKAN NAMA ITU UNTUK MEREKA DI DALAM TAURAT.

SESUNGGUHNYA AKU MENJADIKAN NAMA MEREKA, KEMUDIAN ALLAH MENYIMPAN NAMA TERSEBUT SEHINGGA MEMBERIKAN NAMA TERSEBUT KEPADA KAMU SEKALIAN. WAHAI ABU MUHAMMAD, MEREKA TELAH MENOLAK KEBAIKAN SEDANGKAN KAMU SEDANG MENOLAK KEJAHATAN. MANUSIA TERPECAH MENJADI BEBERAPA GOLONGAN DAN SYIAH, TETAPI KAMU TELAH MENJADI SYIAH AHLUL BAIT NABIMU. KARENA ITU, KAMU TELAH BERPEGANG DENGAN APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN ALLAH DAN KAMU TELAH MEMILIH APA2 YANG TELAH DIPILIH ALLAH. MAKA BERGEMBIRALAH KAMU DAN BERITAKAN KABAR GEMBIRA INI KEPADA MEREKA.

Kemudian, selanjutnya Abu Abdilah as memberikan kabar gembira dan keutamaan serta kelebihan2 syiah mereka……silahkan anda baca riwayat di atas…maaf sy gak terjemahkan seluruhnya… takut kepanjangan..

# Perhatikanlah…bahwa dengan membaca keseluruhan hadits ini, maka akan dengan jelas terlihat bahwa Husain al-Musawi berusaha membalikkan fakta yg sebenarnya dengan memotong2 riwayat sesuka hatinya…

Apakah Husain al-Musawi ingin mengatakan bahwa org2 yg menolak (rafadhu) Firuan adalah org2 sesat dan yg mengikuti Fira’aun adalah org2 soleh yg selamat….???

Begitulah org2 syiah menolak pemerintahan2 zalim yg meniru pemerintahan Fira’un. Jika Fir’aun dahulu kala memeriksa semua rumah utk mencari dan membunuh anak lelaki yg akan meruntuhkan kekuasaanya… maka penguasa2 masa itu…membunuh para ahlul bait Rasul saaw. Mereka meracun Hasan as dan membunuh Husain as dan keluarganya serta sahabat2nya di Karbala…Tidak hanya sampai disitu, mereka mengawasi setiap Keturunan Rasulullah saaw berikutnya dan mengawasi para pengiktunya. Mencaci maki ahlul bait dan pengikutnya…membunuh org2 yg tidak mau mencaci keluarga Nabi saaw.

Sampai2..seperti Firaun di zaman Musa as, mereka juga mengawasi rumah Imam Hasan al-Askari (Imam kesebelas syiah) utk mencari tahu kelahiran bayinya al-Imam Muhammad al-Mahdi afs dan membunuhnya, karena mereka tahu Imam Mahdi dan para pengikutnya akan meruntuhkan kekuasaan mereka…..org2 syiah inilah yg disebut hadits tersebut sbg yg menolak (rafadhu) penguasa zalim….apakah org yg menolak pemimpin2 zalim seperti Firaun itu sesat..??? silahkan anda jawab sendiri….karena sy rasa tidak perlu diajari lagi.

============================================================================================================================================================

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Al-Kafi
Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik

Man la yahdarul fiqh
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

Tazhibul Ahkam
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
==================================================================================================================================================================

AL-FURU’ AL-KAFI AL-KULAINI
(Telaah Kritis Atas Kualitas Hadis-hadis Syi’ah)

A. Pendahuluan

Dalam Syi’ah, kitab hadis pertama adalah kitab Ali Ibn Abi Thalib yang didalamnya memuat-hadis-hadis yang di-imla’-kan langsung dari Rasulullah SAW tentang halal, haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubthi al-Syi’i dalam kitab al-Sunan, al-Ahkam dan al-Qadaya. Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab,[1] salah satunya adalah al-Kafi fi ‘Ilmi al-Din yang dikalangan Syi’ah merupakan pegangan utama diantara kitab-kitab yang lain.[2]

Pembahasan tentang kitab al-Kafi karya al-Kulaini secara keseluruhan telah banyak dilakukan. Baik melalui komparasi dengan kitab pokok aliran Sunni, tentang kriteria kesahihan hadis,[3] maupun secara khusus kajian tentang al-Ushul al-Kafi. Namun sejauh telaah yang penulis lakukan kajian tentang al-Furu’ al-Kafi, hampir belum ada. Karena itu kajian secara kritis atas kitab tersebut menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Selanjutnya, penulis akan berupaya memaparkan sekaligus menganalisa terhadap informasi yang ada. Khususnya pada setting pribadi al-Kulaini dan umumnya pada al-Furu’ al-Kafi (sistematika, metode dan isi).

B. Setting Biografi al-Kulaini

Pengarang dari kitab al-Kafi adalah Siqat al-Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn Ishaq al-Kulaini al-Raziy.[4] Beliau dilahirkan sekitar tahun 254 H dan atau 260 H di kampung yang bernama al-Kulain atau al-Kulin di Ray Iran. Tidak banyak diketahui mengenai kapan tepatnya al-Kulaini lahir. Informasi lain hanya mengenai tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran yaitu pernah mendiami Baghdad dan Kufah. Ia pindah ke Baghdad karena menjadi ketua ulama atau pengikut Syi’ah Imam dua belas disana, selama pemerintahan al-Muqtadir. Beliau hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah.[5]

Ayah al-Kulaini bernama Ya’qub Ibn Ishaq atau al-Salsali, seorang tokoh Syi’ah terkemuka di Iran. Di kota inilah ia mulai mengenyam pendidikan. Al-Kulaini punya pribadi yang unggul dan banyak dipuji ulama, bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini.[6]

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal dimana dia adalah seorang faqih sekaligus muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam menda’wahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan dan dijuluki siqat al-Islam.[7]

Al-Kulaini menyusun kitab al-Kafi selama dua puluh tahun dengan melakukan perjalanan ilmiah untuk mendapatkan hadis-hadis dari berbagai daerah, seperti Irak, Damaskus, Ba’albak, dan Talfis. Namun bukan hanya hadis yang ia cari tetapi juga berbagai sumber dan kodifikasi hadis dari para ulama sebelumnya. Dari sini nampak adanya usaha yang serius dan besar-besaran.[8]

Imam al-Kulaini –merupakan seseorang yang ahli hadis mempunyai banyak guru dari kalangan ahl al-bait dalam proses transmisi hadis, diantara nama gurunya adalah Abdullah Ibnu Umayyah, Ishaq Ibnu Ya’qub dan lain-lain. Ada beberapa kitab yang telah ditulis oleh al-Kulaini disamping al-Kufi diantaranya adalah: Kitab tafsir al-Ru’ya, kitab al-Rijal, kitab al-Rad ala al-Qaramitah, kitab Rasa’il dan lain-lain.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dari al-Kulaini ini diantaranya adalah, Ayatullah Ja’far Subhani melukiskan dengan matahari dan lainnya sebagai bintang-bintang yang menghiasi langit. Kaum Syi’ah bersepakat bahwasanya kitab ini merupakan kitab utama dan diperbolehkan berhujjah dengan dalil-dalil yang ada didalamnya.[9]

C. Sistematika, Metode dan Isi Kitab al-Furu’ al-Kafi al-Kulaini

Al-Kafi merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’) dan taman (rawdhah). Al-Kurki dalam ijazah-nya al-Qadhi Shafi al-Din ‘Isa, mengatakan, al-Kulaini telah menghimpun hadis-hadis syar’iyyah dan berbagai rahasia rabbani yang tidak akan didapati di luar kitab al-Kafi. Kitab ini menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan. Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyyun.[10]

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya.[11] Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy[12] 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[13]

Al-Kafi terdiri atas 8 jilid yang terbagi menjadi tiga puluh lima (35) kitab dan 2355 bab, 2 jilid pertama berisi tentang al-Ushul (pokok) jilid pertama memuat 1.437 hadis dan jilid kedua memuat 2.346 hadis, yang berkaitan dengan masalah akidah. 5 jilid selanjutnya berbicara tentang al-Furu’ (fikih) dan 1 jilid terakhir memuat 597 hadis yang disebut al-Rawdhah (taman) adalah kumpulan hadis yang menguraikan berbagai segi dan minat keagamaan serta termasuk beberapa surat dan khutbah para imam.[14] Juz ini berisi tentang pernyataan tentang ahl al-bait, ajaran para imam, adab orang-orang saleh, mutiara hukum dan ilmu, yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Dinamakan al-rawdhah (taman) karena berisi hal-hal yang bernilai dan berharga, yang identik dengan taman yang menjadi tempat tumbuh bermacam-macam buah dan bungah.[15]

Adapun tema-tema dalam al-Furu’ al-Kafi yang dimulai dalam jilid III terdiri dari 5 kitab yaitu;[16]

Kitab al-Taharah, yang terdiri dari 46 bab dan 340 hadis.
Kitab al-Haid, yang terdiri dari 24 bab dan 93 hadis.
Kitab al-Jana’iz, berisi tentang pemakaman dan hal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan. Terdiri dari 95 bab dan 545 hadis.
Kitab al-Salah, terdiri dari 103 bab dan 924 buah hadis.
Kitab al-Zakah, terdiri dari 47 bab dan 277 hadis.
Jilid IV terdiri dari 2 kitab yaitu;

Kitab al-Siyam, memuat bab-bab shadaqah yang terdiri dari 43 bab dan 252 buah hadis. Sedangkan tentang puasa terdiri dari 83 bab dan 452 hadis.

Kitab al-Hajj dan bab-bab ziarah, terdiri dari 236 bab dan 1486 buah hadis.

Jilid V terdiri dari 3 kitab yaitu;

Kitab al-Jihad, terdiri dari 32 bab dan 149 buah hadis.

Kitab al-Ma’isyah (cara-cara memperoleh kehidupan), terdiri dari 159 bab dan 1061 hadis.

Kitab al-Nikah, terdiri dari 192 bab dan 990 buah hadis.

Jilid VI terdiri dari 9 kitab yaitu;

Kitab al-’aqiqah, terdiri dari 38 bab dan 223 hadis.
Kitab al-Talaq, terdiri dari 82 bab dan 499 buah hadis.
kitab al-’Itq wa al-Tadbir wa al-Kitabah (jenis-jenis budak dan cara memerdekakannya), terdiri dari 19 bab dan 114 hadis.
Kitab al-Sayd (perburuan), terdiri dari 17 bab dan 119 hadis.
Kitab al-Zaba’ih (penyembelihan), terdiri dari 15 bab dan 74 hadis.
Kitab al-At’imah (makanan), terdiri dari 134 bab dan 709 buah hadis.
Kitab al-Asyribah (minuman), terdiri dari 37 bab dan 268 hadis.
Kitab al-Zayy wa al-Tajammul wa al-Muru’ah (pakaian, perhiasan dan kesopanan), terdiri dari 69 bab dan 553 hadis.
Kitab al-Dawajin (hewan piaraan), terdiri dari 13 bab dan 106 hadis.
Jilid VII terdiri dari 7 kitab, yaitu;

Kitab al-Wasaya (wasiat), terdiri dari 39 bab dan 240 hadis.
Kitab al-Mawaris berisi 69 bab dan 309 hadis.
Kitab al-Hudud berisi 63 bab dan 448 hadis.
Kitab al-Diyat (hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik), terdiri dari 56 bab dan 366 hadis.
Kitab al-Syahadah (kesaksian dalam kasus hukum), terdiri dari 23 bab dan 123 hadis.

Kitab al-Qada wa al-Ahkam (peraturan tentang tingkah laku para hakim dan syarat-syaratnya), terdiri dari 19 bab dan 78 hadis.
Kitab al-Aiman wa al-Nuzur wa al-Kafarat (tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal), terdiri dari 18 bab dan 144 hadis.

Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis. Sistematika pembagian kitab dan bab yang dipakai al-Kulaini sangat sistematis sehingga memudahkan bagi kaum muslimin khususnya kaum Syi’ah untuk menggunakannya sebagai referensi yang utama dalam kehidupan mereka.

D. Al-Kafi Cukup ! Walaupun banyak yang tidak shahih

Kitab al-Kafi menjawab kebutuhan para ahli hadis, fiqih, teologi, juru dakwah, tukang debat (mujadil) dan para pelajar.[18] Oleh karena itu, maka kitab ini mencakup pokok-pokok agama ushul, furu’, akhlak, nasehat, etika dan ajaran Islam yang lain.

Al-Kafi adalah suatu kitab koleksi hadis yang berasal dari Nabi dan para Imam yang diteruskan kepada masyarakat muslim oleh murid-murid dari para Imam. Nama Al-Kafi mempunyai arti “cukup”, ini adalah sebuah kitab yang mencakup hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Syi’i. Al-Kulaini dalam muqaddimah kitabnya menjelaskan:

“… Kamu ingin mempunyai suatu buku yang akan memenuhi kebutuhan religius-mu (kafin), yang meliputi bermacam-macam pengetahuan tentang agama, yang berguna untuk memberikan arahan bagi siswa maupun guru. Yang dapat digunakan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pengetahuan agama dan amaliyyah dan hukum-hukum menurut nampak hadis (asar) dari orang yang dapat dipercaya (Imam)…”[19]

Dengan melihat sejarah penyusunan kitab ini yang mencapai 20 tahun dan didukung oleh kondisi sosial politik saat itu yang merupakan masa yang kondusif bagi Syi’ah. Menurut penulis adalah sangat wajar jika penyusunan al-Kafi mencapai 16.199 hadis, di tambah lagi dengan fenomena bahwa para imam berhak meriwayatkan hadis setelah Nabi wafat.

E. Analisa atas Metode Penulisan al-Furu’ al-Kafi

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dalam kitab ini, di antaranya: adalah sebagai berikut;

Adanya peringkasan sanad. Istilah sanad menurut para ahli hadis Syi’ah adalah para rawi yang menukil hadis secara berangkai dari awal sumber, baik dari Nabi Saw., para imam, para sahabat maupun dari yang lainnya yang diperlihatkan kepada Imam, sampai kepada rawi yang terakhir.[20] Sanad-sanad yang ada dalam kitab ini kadang ditulis secara lengkap, tetapi terkadang al-Kulaini membuang sebagian sanad dengan menggunakan kata ashhabuna, fulan, ‘iddah, jama’ah dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan bagi periwayat-periwayat yang sudah terkenal.[21]

Jika al-Kulaini menyebutkan sahabat kami dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali Ibn Ibrahim, Ali Ibn Muhammad Abdullah Ahmad Ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali Ibn al-Husain al-Sa’dabadi. Sedangkan sebutan dari Sahl Ibn Ziyad adalah Muhammad Ibn Hasan dan Muhammad Ibn ‘Aqil, dan lain-lain. Mereka adalah para periwayat yang dianggap baik oleh al-Kulaini dan telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya.

Misalnya dalam kitab al-Furu’ jilid keenam bab kesembilan mengenai memerdekakan budak, al-Kulaini menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “iddatun min ashabina” ialah ‘Ali Ibn Ibrahim, Muhammad Ibn Ja’far, Muhammad Ibn Yahya, ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdullah al-Qummi, Ahmad Ibn Abdillah, ‘Ali Ibn Husain, yang semuanya dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn Khalid dari Usman Ibn Isa.

Peringkasan sanad ini dilandasi atas keinginan al-Kulaini untuk tidak memperpanjang tulisan, dan dilakukan hanya pada para periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh beliau. Oleh karena itu, jika sanad telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, maka selanjutnya al-Kulaini tidak menulisnya secara lengkap.

Adanya para rawi yang bermacam-macam sampai Imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan dengan hadis-hadis lain diluar Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

F. Kriteria Kesahihan Hadis al-Kulaini

Al-Kulaini dalam menentukan kriteria kesahihan hadis yang terdapat dalam al-Kafi, menggunakan kriteria kesahihan hadis yang lazim dipakai oleh para ulama mutaqaddimin, hal ini dikarenakan masa hidup al-Kulaini termasuk dalam generasi ulama mutaqaddimin. Sedangkan yang masyhur, ada dua pembagian hadis, pada masa ulama mutaqaddimin, pada masa kedua tokoh periwayat, Sayyid Ahmad Ibn Thawus dan Ibn Dawud al-Hulliy. Pembagian hadis ini berkisar pada hadis mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Pembagian ini dipandang dari segi kualitas eksternal (keakuratan periwayat), seperti kemuktabaran hadis yang dihubungkan dengan Zurarah, Muhammad Ibn Muslim serta Fudhail Ibn Yasar. Maka hadis yang berkualitas demikian itu dapat dijadikan hujjah[23].

Sedangkan menurut jumhur Ja’fariyah hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka tampak dalam maksud hadis mutawatir. Karena hadis mutawatir menurut mereka adalah harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[24]

Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatir-nya hadis al-saqalain dan hadis al-ghadir. [25]

Sedangkan hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal), dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat tingkatan itu adalah; sahih, hasan, muwassaq, dan dha’if. Pembagian inilah yang kemudian berlaku sampai saat ini.[26] Namun ada sebagian ulama Syi’ah yang mengakui adanya kualitas qawiy dalam pembagian hadis tersebut, jadi tingkatan kualitas hadis menjadi lima (5), yaitu:

Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[27]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[28]

Kalangan Syi’ah Imamiyah menjelaskan sebab adanya persyaratan ini adalah tidak diterima riwayat orang fasiq, meskipun dari sisi agamanya dia dikatakan sebagai orang yang selalu menghindari kebohongan. Dengan tetap wajib meneliti riwayat dari orang fasik dan orang yang berbeda dari kaum Muslimin (maksudnya; selain Imamiyah). Jika dia dikafirkan maka dia tertolak riwayatnya meskipun diketahui dia orang adil dan mengharamkan kebohongan.

Menurut al-Mamqani, keadilan pasti sejalan dengan akidah dan iman, dan menjadi syarat bagi setiap periwayat. Sejalan dengan firman Allah, “jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.(Q.S al-Hujurat; 6).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa iman adalah syarat bagi periwayat dan riwayat orang fasik wajib diteliti, sedangkan selain pengikut Ja’fariyah adalah kafir atau fasik, maka riwayatnya tidak mungkin sahih sama sekali. Dari sini tidak hanya tampak pengaruh imamah, tapi juga tampak sikap ekstrim dan zindiq.

Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[29]

Dari definisi tersebut tampak bahwa mereka mensyaratkan hadis hasan sebagai berikut;

Bertemu sanadnya kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
Semua periwayatnya dari kelompok Imamiyah.
Semua periwayatnya terpuji dengan pujian yang diterima dan diakui tanpa mengarah pada kecaman. Dapat dipastikan bahwa bila periwayatnya dikecam, maka dia tidak diterima dan tidak diakui riwayatnya.

Tidak ada keterangan tentang adilnya semua periwayat. Sebab jika semua periwayat adil maka hadisnya menjadi sahih sebagaimana syarat yang ditetapkan di atas.

Semua itu harus sesuai dalam semua atau sebagian rawi dalam sanadnya.

Hadis Muwassaq[30]
Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

Definisi ini memberikan pengertian tentang persyaratan sebagai berikut:

Bersambungnya sanad kepada imam yang ma’shum.
Para periwayatnya bukan dari kelompok Imamiyah, tapi mereka dinyatakan siqah oleh ja’fariyah secara khusus.
Sebagian periwayatnya sahih, dan tidak harus dari imamiyah.
Pengaruh akidah mereka tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

Posisi hadis muwassaq diletakkan setelah hadis sahih dan hadis hasan karena adanya periwayat dari selain Ja’fariyah.
Pernyataan siqah harus dari kelompok Ja’fariyah sendiri. Karena bagi mereka pernyataan siqah dari selain Ja’fariyah tidak cukup, bahkan orang yang dinyatakan siqah oleh mereka (selain Ja’fariyah) adalah dha’if menurut mereka.

Al-Mamqani menjelaskan bahwa pengukuhan siqah harus dari para pengikutnya dengan mengatakan, menerima penilaian siqah selain imamiyah, jika dia dipilih imam untuk menerima atau menyampaikan persaksian dalam wasiat, wakaf talak, atau imam mendoakan rahmat dan ridha kepadanya, atau diberi kekuasaan untuk mengurusi wakaf atas suatu negeri, atau dijadikan wakil, pembantu tetap atau penulis, atau diizinkan berfatwa dan memutuskan hukum, atau termasuk syaikh ijazah[31], atau mendapat kemuliaan dengan melihat imam kedua belas.

Hadis Dha’if

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[32]

Dalam hadis sahih terlihat bahwa mereka menilai selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, dan juga tidak diterima dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha, pasalnya mereka tidak percaya dengan akidah imamiyah isna ‘asyariyah. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh kaum Ja’fariyah.

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Hadis Qawiy[33]

Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Hadis muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.[34]

Tingkatan hadis qawiy ini tidak banyak dikenal baik oleh kalangan Syi’ah selain Imamiyah maupun kalangan Sunni. Hal ini dikarenakan jumhur ulama telah sepakat akan pembagian tingkatan hadis Syi’ah menjadi empat macam. Di samping itu sebagian rawi dari tingkatan qawiy ini berasal dari non-Imami, sedangkan mereka membatasi untuk menerima hadis dari selain Imamiyah. Karena syarat utama diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah.

G. Kualitas Hadis dalam al-Furu’ al-Kafi

Sebagaimana diketahui bahwa kitab al-Furu’ al-Kafi mencakup riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Maka kitab ini sama dengan kitab Faqih Man La Yahdhuruh al-Faqih karya al-Shadiq dan dua kitab karya al-Thusi yaitu al-Tahzib dan al-Istibsar. Pengaruh imamah dalam al-Furu’ ini juga sangat kental, misalnya pada bab haji, al-Kulaini meriwayatkan dari Wahab, ia berkata, ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa orang yang tidak bermazhab Ja’fariyah kemudian setelah haji dia mengikuti mazhab Ja’fariyah maka orang tersebut disunahkan mengulang hajinya. Bagi orang Ja’fariyah, tidak boleh menggantikan haji selain dari Ja’fariyah kecuali terhadap bapaknya. Sedang dalam berziarah maka disunahkan dengan sunnah muakkad untuk berziarah ke makam para imam.

Contoh-contoh lain dalam al-Furu’ terdapat pada bab wudhu dan mawaris[35]

· ان العبد اذا توضأ فغسل وجهه تناثرت ذنوب وجهه واذا غسل يديه الى المرفقين تناثرت عنه ذنوب يديه واذا مسح رجليه او غسلهما للتقية تناثرت عنه ذنوب رجليه وان قال في اول وضوئه بسم الله الحمن الرحيم طهرت اعضاؤه كلها من الذنوب وان قال في اخر وضوئه او غسله من الجناية سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ا لا اله الاانت استغفرك واتوب اليك واشهد ان محمدا عبدك ورسولك واشهد ان عليا وليك وخليفتك بعد نبيك وان اوليائه خلفائه واوصيائه…..
· عدة من اصحابنا, عن أحمد بن محمد عن ابن محبوب قال: أخبرني ابن بكير عن زرارة قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: ولكل جعلنا موالي ممّا ترك الوالدين والاقربون, قال : إنّما عنّي بذلك أولى الأرحام في الموارث ولم يعن أولياء النعمة, فأولاهم بالميّت أقربهم إليه من الرحم التي تجرّه إليها
· علي بن ابراهيم عن ابيه ومحمد بن اسماعيل عن الفضل بن شاذان جميعا عن ابن ابي عمير عن عمر بن اذنيه عن محمد بن مسلم والفضيل بن يسار وبريد العجلي وزرارة ابن اعين عن ابي جعفر عليه السلام قال: السلام لا تعول ولاتكون اكثر من ستة.
· وعنه عن محمد بن عيسى بن عبيد عن يونس بن عبد الرحمن عن عمر بن اذنيه مثل ذلك

Dalam riwayat tentang wudhu di atas, tampak sekali adanya pemalsuan, yaitu dalam redaksi “atau membasuh kedua kaki karena taqiyah“, dan dalam redaksi “bahwa orang-orang yang dicintainya (Ali) adalah para khalifahnya dan orang-orang yang diwasiatkannya”. Maka hubungan pendapat mereka dalam masalah fiqih dengan mazhab adalah yang menjadikan mereka memalsukan hadis untuk menolong dua orang (al-Thusi dan al-’Amili).

Al-Thusi dan al-’Amili adalah dua orang yang mengatakan bahwa membasuh dua kaki diterapkan pada taqiyyah. Jadi fanatik Syi’ah kepada pendapat sesuai mazhabnya dan kerancauan dalam pemikiran dan ta’wil telah memunculkan dampak yang sangat buruk, yaitu pemalsuan hadis.

Sedangkan pada riwayat tentang mawaris tampak adanya peringkasan sanad. Adapun mengenai kualitas hadis tentang mawaris ini, secara eksplisit, tidak diketahui karena informasi yang di dapat dalam al-Furu’ sangat terbatas, tanpa keterangan kualitas hadisnya. Dan telah diketahui bahwa dalam kitab al-Kafi ini tidaklah semuanya sahih.

Namun setelah penulis menemukan adanya pembahasan tentang al-Jarh wa al-Ta’dil dan Ushul al-Hadis fi ‘Ilmi al-Dirayah dalam tradisi Syi’ah, adanya peringkasan sanad tidaklah mempengaruhi kualitas hadis. Jadi hadis-hadis tentang mawaris tersebut masih bisa dipakai dan dapat dijadikan hujah.

Fenomena ini bisa dijadikan bukti, bahwa hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if.

H. Kesimpulan

Setelah melakukan penelusuran terhadap kitab-kitab Syi’ah, penulis menemukan kitab ilmu hadis baik sanad maupun matan dari kalangan Syi’ah yang disusun oleh Ja’far Subhani, keduanya adalah Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah, dan Kulliyat fi ‘ilmi al-Rijal. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kajian sanad dan matan telah dikaji secara mendalam. Jika dibandingkan dengan tradisi Sunni, kajian ulum al-hadis Syi’ah juga bisa dianggap telah matang. Meskipun pengaruh Imamiyah masih sangat kental. Hal ini terbukti dengan syarat diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah. Itulah yang menjadi syarat utama dalam ilmu al-jarh wa al-Ta’dil.

Demikian juga terhadap kajian matan, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah, maka imam-imam pada mazhab Syi’ah dapat mengeluarkan hadis. Jadi, tidak heran jika surat-surat, khutbah para imam dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama diposisikan setara dengan hadis. Ini menjadikan kajian hadis Syi’ah berbeda dengan kalangan Sunni. Menurut hemat penulis, dua syarat itulah yang menjadikan penyebab jumlah hadis Syi’ah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hadis Sunni.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Gifari, ‘Abd al-Hasan. al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th.

Al- Hasani, Hasan Ma’ruf. “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992.

Al-Kulaini Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Al-Kulaini, Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.).

Al-Salus, Ali Ahmad. Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997.

Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001.

Esposito, John. L. Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001.

Kurniawan,Yudha. “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

Subhani, Ayatullah Ja’far. “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001.

_______ Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah. Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th.

Suryadilaga, M. Alfatih. Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003.

[1] M. Alfatih Suryadilaga Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 307, lihat juga al-Kulaini Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388), hlm. 4-5.

[2] Ketiga kitab lainnya adalah Man La Yahduruh al-Faqih, Tahzib al-Hakam, dan al-Ikhtisar fi Ma Ukhtulifa min Akhbar.

[3] Yudha Kurniawan, “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

[4] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 124

[5] Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 11.

[6] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992, hlm. 25

[7] Ibid

[8] M. Alfatih Suryadilaga Ibid, hlm. 310.

[9] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah: Studi atas Kitab al-Kafi”, Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol. II, no. 5, 2001. hlm. 35.

[10] Di dalam Syi’ah sekarang terdapat dua aliran besar dalam menanggapi masalah-masalah yang berkembang di Dunia modern dikaitkan dengan ijtihad. Kelompok pertama mengatakan tidak ada ijtihad. Permasalahan sudah cukup dibahas para imam-imam mereka. Aliran ini dikenal dengan ahbariyyun atau muhaddisun. Kedua, kelompok ushuliyyun. Mereka beranggapan bahwa tradisi ijtihad masih terbuka lebar di kalangan Syi’ah tidak terbatas pada kematangan imam-imam mereka. Lihat Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah Al-Kafi” dalam Jurnal al-Hikmah, no, 6, Juli-Oktober 1992, hlm. 29.

[11] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.

[12] Ibid.,

[13] Ibid., hlm. 37

[14] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[15] Lihat dalam Mukaddimah al-Rawdhah, hlm 9. Dikutip dalam Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 140.

[16] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.)

[17] John L. Esposito, Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 302

[18] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 25

[19] Dr. I. K. A. Howard “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 14.

[20] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 469-470.

[21] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 39.

[22] Ibid

[23] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 38-39.

[24] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[25] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[26] Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

[27] Ibid

[28]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[29] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[30] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[31] Telah berlaku dalam ungkapan ulama hadis penyebutan sebagian ulama dengan “syaikh ijazah“, dan yang lain dengan “syaikh riwayah”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah orang yang tidak mempunyai kitab yang diriwayatkan dan tidak mempunyai riwayat yang dinukil, tetapi dia memperbolehkan periwayatan kitab dari selainnya dan dia disebutkan dalam sanad karena dia bertemu gurunya. Dan jika dia dha’if maka tidak madharat kedha’ifannya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang diambil riwayatnya dan dikenal sebagai penulis kitab, dia termasuk orang yang menjadi sandaran riwayat. Orang ini madharat bila tidak mengetahui riwayat. Untuk diterima riwayatnya, disyaratkan harus adil.

[32] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

[33] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 37

[34] Ibid.

[35] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.), hlm. 76, 80 dan 81

One comment

  1. Siapapun anda, mau sunni, syiah, wahabi, salafi, jamaah tablig, ahlusunnah wal jamaah, hizbut tahrir, hizbullah, mujahiddin, dan lain-lain, selagi mengaku bertuhan kepada Allah SWT dan ber nabi kepada Rasulullah Muhammad SAW tidak ada perbedaan di mata Allah kecuali takwanya. Tidak ada dalam islam itu namanya sunii, syiah, dan lain-lain. Ingatlah wahai saudaraku, propaganda yahudi sungguh telah memporak-porandakan umat ini. Lebih baik kita sama-sama melawan media2 yahudi yg ada dimana-mana samapai masuk di kamar-kamar wanita kita dan melulu-lantahkan akhlak wanita muslimah saat ini. betapa bodonhnya kita hanya memntingkan golongan masing-masing, sementara musuh islam sesungguhnya kalian biarkan berlenggak-lenggok? sangat bodoh sekali kita sebodoh-bodohnya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s