29 05 2011
Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung bekerja sama dengan Mizan mengadakan diskusi buku Sahabat Nabi: Siapa, ke Mana, dan Bagaimana?’Karya Dr. Fuad Jabali. Acara berlangsung di Ruang Sidang Al-Jamiah UIN Sunan Gunung Djati, Rabu, 16 Maret 2011 pukul 09.00
.
Sebagai pembicara adalah Dr. Fuad Jabali (Penulis buku). Dr. Jalaluddin Rakhmat, dan Dr. Sulasman. Buku Sahabat Nabi ini menelaah secara mendalam bahwa Sahabat (Nabi) adalah figur yang sangat penting Islam. Pemahaman tentang Islam sangat dipengaruhi oleh pemahaman tentang Sahabat
.
Ketika para ulama, baik terdahulu maupun sekarang, berusaha merumuskan apa pun tentang Islam, seperti yang ditemukan pelbagai buku/kitab, mereka akan melihat pemikiran dan tindakan Sahabat baik sebagai model maupun sebagai pewaris model (yang dikembangkan Nabi). Maka siapapun yang hendak memahami tafsir, kalam fiqih, tasawuf, akhlak dan lain-lain, ataupun mempertanyakan kembali pemahaman-pemahaman yang ada dalam buku/kitab yang menjadi warisan berharga kaum Muslim, maka dia harus memahami dengan baik generasi Sahabat
.
Pemahaman tentang generasi Sahabat menjadi salah satu tumpuan munculnya beragaman masyarakat Muslim seperti Sunni dan Syi’ah. Sebab itu menelaah tentang Sahabat juga merupakan kajian keberagaman masyarakat Muslim
membuka sisi kelam sejumlah sahabat Nabi saw yang sudah terlanjur diagung-agungkan oleh kalangan Sunni.. Mazhab Sunni meyakini semua sahabat Rasul saw yang jumlahnya lebih 100.000 orang sudah terjamin kebaikan dan kebajikannya. Mereka pun menganggap seluruh sahabat sangat layak dijadikan rujukan ajaran Islam
1. Kapan Perkataan ini Pertama kali diundangkan ?
2. Oleh Siapa ? dan apa Hak Orang itu dalam menetaapkan bahwa Ini adalaah Golongan yang benar ?
3. Benarkah Khulafaur Rasyidin terdiri dari 4 Orang Seperti Sekarang di Jama Bani Umayah ?
4. Siapa Yang Menetapkan Fiqh Kalian terdiri dari Hanafi , Maliki , Syafi’i dan Hanbali ?
5. Siapa yang menetapkan Aqidah Kalian itu adalah Asya’iroh dan Maturidi ?
6. Apakah Imam yang Empat itu beraqidahkan seperti kalian ?
7. Kepada siapakah Imam madzhab kalian berguru ?
Tentang Sahabat Rasulullah SAWW .
1. Apakah Hindun , Muawiyah dan Yazid bin Abu Sopian dan Hakam bin Ash itu kalian masukan dalam Kriteria Sahabat rasulullah SAWW ?
2. Apakah Sahabat Punya kekebalan Sehingga tidak boleh dikritisi dan dilaknat, sementara Allah dan Rasulnya telah melaknat sebagian dari mereka ?
3. Adakah Nash dalam al-Qur’an tentang kewajiban kita “mengikuti semua Sahabat” atau bahkan mengikuti Sahabat ?
4. Apa alasan kalian menganggap Ahlul Bait Rasulullah SAWW “yang disucikan Allah” dengan “orang yang disifati tempat salah dan alpa” (kecuali sahabat bukan Manusia) ?
5. Secara “Mutafaq Alaih” , tercatat bahwa “Mayoritas Sahabat digiring ke Neraka” bagaimana ini menurut dibandingkan dengan “Semua Shahabat itu Adil” ?
6. Siapa yang pertama kali mengumumkan bahwa semua Sahabat itu Adil ?
7. Apa Hak orang itu mengatakan semua sahabat adil , apakah dia sekutu Allah dan Rasul-Nya ?
Tentang Istri Rasulullah SAWW ?
1. Apa hukum bagi Istri Rasulullah SAWW yang tidak mengikuti Kitabullah ?
2. Apa Hukum seorang Ibu , yang menyebabkan belasan kaum Muslimin terbunuh di Jamal ?
3. Apa alasan Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan Umar untuk dikuburkan disisi Rasulullah SAWW dan beliau mengijinkan nya , apakah Ummul Mukminin hendak mengatakan kalo Abu Bakar berbohong bahwa Rasulullah SAWW tidak meninggalkan Warisan ?
4. Dan apa Hak Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan bukankah dia itu hanya punya 1/9 dari saham Istri ?
5. Apa yang ada dibenak kalian jika ada Istri Nabiyullah SAWW sampai ditegor Allah Ta’ala dan diancam cerai ?
UIN Bandung kembali menggelar acara bedah buku Sahabat Nabi terjemahan dari buku “The Companions of the Prophet: A Study of Geographical Distribution and Political Aligment”. Acara ini menghadirkan Dr. Fuad Jabali,MA (penulis buku), dan Prof.Dr. Jalaludin Rahmat, M.Sc serta Dr. Sulasman, Rabu (16/03).
Bedah buku tersebut diselenggarakan oleh Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam yang bekerjasama dengan Mizan Publika yang berlangsung sejak pukul 09.00 wib di Ruang Sidang Al-Jami’ah UIN SGD Bandung.
“Memang ada banyak yang baru,bahkan 99 persen baru, pada buku ini mengungkap bahwa sahabat itu sama halnya seperti kita adakalanya salah dan benar. Mari kita membuka ruang-ruang pikiran untuk menerima hal yang baru” tutur Setia Gumilar ketua jurusan Fak adab dan humaniora sekaligus ketua pelaksana bedah buku tersebut.
Buku yang berjudul “Sahabat Nabi “ yang ditulis oleh Dr. Fuad Jabali, MA (Dosen UIN Jakarta) menadapatkan banyak kritik dari berbagai kalangan akademisi. Buku ini membahas sesuatu yang sebelumnya dianggap sakral yakni mengenai Sahabat. Namun, meskipun begitu buku ini memang memilki kelebihan terutama dari segi metodologinya.
Menurut Gumilar, Bedah buku ini ditujukan untuk membahas mengenai masalah pemahaman tentang metodologi pengkajian Sejarah. Dan diharapkan dengan bedah buku ini, karena memang kelebihan buku “Sahabat Nabi “ ini terletak pada metodolginya, karena itu acara ini bertujuan untuk bagaiaman kemudian bisa lebih memahami tentang metodologi. Namun dibalik itu penulis mengakui ada beberapa kelemahan dalam buku ini. “Saya sangat mengakui karya saya ini bukan karya yang terbaik, karena saya bukan orang yang sempurna. Buku ini mengandung banyak kelemahan” tutur Dr. Fuad Jabali, MA.
Bedah buku itu membahas mengenai definisi kata ”sahabat Nabi” yang hingga saat ini masih menjadi perdebatan hangat. Pembahasan sentral yang mengungkap “siapa, Kemana, dan bagaimana Sahabat nabi . Dr.Fuad Jabali,MA dalam bukunya yang berjudul “Sahabat Nabi” berusaha mencoba mengungkap bagaiamana sisi kehidupan keagamaan massa para sahabat dalam berislam. “Buku ini adalah penelitian histografis yang terbaik yang pernah saya baca” ungkap Prof.Dr. Jalaludin Rahmat,M.Sc , selaku pembahas dalam bedah buku tersebut .
Menurut sebagian kalangan, muncul “Mistifikasi” terhadap sahabat nabi yakni sebagai orang yang jujur, adil, dan tak pernah salah. Buku Sahabat nabi ini menghadirkan sisi lain berdasarkan definisi yang selama ini dimunculkan oleh ahli hadist yang mendefinisikan Sahabat nabi adalah orang yang pernah melihat dan bertemu nabi. Menurut Prof.Dr. Jalaludin Rahmat,M.Sc, atas dasar definisi “Longgar” itu mungkin terdapat sekitar 150 jumlah sahabat nabi.
“Tampaknya definisi Sahabat masih menjadi pembicaraan. Hal itu memang membingungkan kalangan almu hadist, sejarahwan, dan kaum awam lainnya. Pernah ada peristiwa yang terjadi mengenai defini si Sahabat. Ini adalah kisah yang yang nyata, ketika datang serombongan orang berjubah putih datang ke kantor polisi melaporkan ada sebuah pengajian yang menghujat Abu Bakar dan dan Umar.
Mereka meminta polisi agar menghentikan pengajian itu. Akan tetapi, kebetulan Polisi tersebut adalah seorang kristiani batak. ”Pak, kami ingin melapor mengenai pengajian yang menghujat Abu Bakar dan Umar,”ucap serombongan itu, dan Polisi batak itupun menjawab,”Tapi belum ada pelaporan dari Abu Bakar dan Umar”,kemudian rombongan berjubah putih itupun melanjutkan,”Tapi mereka berdua itu Sahabat,” mendengar itu Polisi menjawab singkat,”Apalagi mereka Sahabat”. Itu semua terjadi karena belum ada kesamaan makna mengenai definisi sahabat
Rasul bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:
“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. (Bukhari, Shahih dalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi )
‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23 )
Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26. )
Perang Jamal, Aisyah Memerangi Imam Ali, Dua Puluh Ribu Muslim Mati !!
Aisyah berangkat ke Makkah. Ia berhenti di depan pintu masjid menuju ke alHajar
Kemudian mengumpul orang dan berkata: ‘Hai manusia. Utsman telah dibunuh secara zalim! Demi Allah kita harus menuntut darahnya’. Dia dilaporkan juga telah berkata: ‘Hai kaum Quraisy! Utsman telah dibunuh. Dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib. Demi Allah seujung kuku atau satu malam kehidupan Utsman, lebih baik dari seluruh hidup Ali.’ (Lihat Baladzuri, Ansab alAsyraf, jilid 5, hlm. 71.)
Ummu Salamah Menasihati Ummu’lmu’minin
Ummu Salamah menasihati Aisyah agar ia tidak meninggalkan rumahnya: “Ya Aisyah, engkau telah menjadi penghalang antara Rasul Allah saw dan umatnya. Hijabmu menentukan kehormatan Rasul Allah saw, AlQur’an telah menetapkan hijab untukmu.
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya”. (AlAhzab:33)
Dan jangan engkau membukanya. Tempatmu telah pula ditentukan Allah SWT dan janganlah engkau keluar. Allahlah yang akan melindungi umatnya. Rasul Allah saw mengetahui tempatmu. Kalau Rasul Allah saw ingin memberimu tugas tentu telah beliau sabdakan”
( Aisyah Ibnu Thaifur, Baldghat anNisa’, hlm. 8; Mengenai nasihat Ummu Salamah kepada ‘A’isyah, lihat juga Zamakhsyari, alFa’iq, jilid 1, hlm. 290; Ibnu ‘Abd Rabbih, Iqd alFarid, jilid 3, hlm. 69; Syarh NahjulBalaghah, jilid 2, hlm. 79 ).
Aisyah tidak peduli dan orang orang merasa heran. Ayat AlQur’anyang memerintahkan para istri Rasul agar tinggal di rumah tidak dapat lagi menahannya.
Aisyah tidak menghiraukannya. Thalhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair pergi bergabung dengan Aisyah di Makkah. Demikian pula Banu ‘Umayyah serta penguasa penguasa Utsman yang diberhentikan Ali dengan membawa harta baitul mal.
Diriwayatkan bahwa sekali seorang wanita bertanya kepada Aisyah tentang hukumnya seorang ibu yang membunuh anak bayinya. Aisyah menjawab: ‘Neraka tempatnya bagi ibu yang durhaka itu!’. ‘Kalau demikian’, tanyanya: ‘bagaimana hukum seorang ibu yang membunuh dua puluh ribu anaknya yang telah dewasa?’. Aisyah berteriak dan menyuruh orang melempar keluar wanita tersebut.
Thalhah misan Aisyah, yang diharapkan Aisyah akan menjadi khalifah, meninggal dalam Perang Jamal. Ia dibunuh oleh Marwan bin Hakam anggota pasukannya sendiri, karena keterlibatannya dalam pembunuhan Utsman. Setelah memanah Thalhah, Marwan berkata: “Aku puas! Sekarang aku tidak akan menuntut lagi darah Utsman!” Zubair bin ‘Awwam, iparnya, suami kakaknya Asma binti Abu Bakar meninggalkan pasukan setelah mendengar nasihat Ali. Ia dibunuh dari belakang oleh seorang yang bernama ‘Amr bin Jurmuz.
Aisyah punya kelebihan. Setelah menentang dua khalifah ia bisa berubah menjadi orang yang tidak berdosa.. Dan peran Aisyah dalam menentukan aqidah umat berlanjut sampai sekarang dengan hadis hadisnya yang banyak.
Ummu Salamah, misalnya, yang juga ummu’lmu’minin tidaklah mendapat tempat yang terhormat seperti Aisyah. Hal ini disebabkan karena Ummu Salamah berpihak kepada ahlu’lbait’ dengan sering meriwayatkan hadis hadis yang mengutamakan Ali, seperti hadis Kisa’.
Abu Bakar, ayah Aisyah, maupun Umar bin Khaththab menyadari kemampuan Aisyah, dan sejak awal mereka menjadikan Aisyah sebagai tempat bertanya. Ibnu Sa’d, misalnya, meriwayatkan dari alQasim: “Aisyah sering diminta memberikan fatwa di zaman Abu Bakar. Umar dan Utsman dan Aisyah terus memberi fatwa sampai mereka meninggal”. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 3 hlm.3370.)
Dari Mahmud bin Labid: Aisyah memberi fatwa di zaman Umar dan Utsman sampai keduanya meninggal’. Dan sahabat sahabat Rasul Allah saw yang besar, yaitu Umar dan Utsman sering mengirim orang menemui Aisyah untuk menanyakan Sunnah’. Malah Umar memberikan uang tahunan untuk Aisyah lebih besar 20% dari istri Rasul yang lain. Tiap istri Rasul mendapat sepuluh ribu dinar sedang Aisyah dua
belas ribu. Pernah Umar menerima satu kereta dari Irak yang di dalamnya terdapat mutiara (jauhar) dan Umar memberikan seluruhnya pada Aisyah.
Di samping pengutamaan Umar kepada Aisyah dalam fatwa maupun hadiah, Umar juga menahannya di Madinah dan hanya membolehkan Aisyah melakukan sekali naik haji pada akhir kekhalifahan Umar dengan pengawalan yang ketat. Umar menyadari betul peran Aisyah yang tahu memanfaatkan kedudukannya yang mulia di mata umat sebagai ibu kaum mu’minin dan memiliki kemampuan yang tinggi untuk mempengaruhi orang. Dengan demikian mereka saling membagi keutamaan.Sedangkan Utsman, terutama pada akhir kekhalifahannya, melalaikan hal ini.
Dan di pihak lain, Ali seperti juga Fathimah sejak awal menjadi bulan bulanan ummu’lmu’minin Aisyah. Kalau Mu’awiyah bersujud dan diikuti orang orang yang menemaninya, dan shalat dhuha enam raka’at saat mendengar Ali meninggal dunia di kemudian hari, sedangkan Aisyah melakukan sujud syukur ketika mendengar berita gembira ini seperti dilaporkan oleh Abu’lFaraj atIshfahani. (AbuFaraj alIshfahani, Maqatil athThalibiyin,hlm. 43.)
Thabari, Abu’lFaraj alIshfahani, Ibnu Sa’d dan Ibnu alAtsir melaporkan bahwa tatkala seorang menyampaikan berita kematian Ali, ummu’lmu’minin Aisyah bersyair: ‘Tongkat dilepas, tujuan tercapai sudah’ ‘Seperti musafir gembira pulang ke rumah!’
Aisyah berkata: “Cemburuku terhadap istri-istri Rasul tidak seperti cemburuku kepada Khadijah karena Rasul sering menyebut dan memujinya, dan Allah SWT telah mewahyukan kepada Rasul saww agar menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa Allah SWTakan memberinya rumah dari Permata di surga”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 277 dalam Bab Kecemburuan Wanita, Kitab Nikah
Dan di bahagian lain: “Aku tidak cemburu terhadap seorang dari istri-istrinya seperti aku cemburu kepada Khadijah, meski aku tidak mengenalnya. Tetapi Nabi sering mengingatinya dan kadang-kadang ia menyembelih kambing, memotong-motongnya dan membagi-bagikannya kepada teman-teman Khadijah”. Al-Bukhari, jilid 2, hlm. 210, pada Bab Manaqib Khadijah.
Di bahagian yang lain: “Suatu ketika Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin menemui Rasul dan Rasul mendengar suaranya seperti suara Khadijah”. Rasulullah terkejut dan berkata : ‘Allahumma Halah!’. Dan aku cemburu. Aku berkata: ‘Apa yang kau ingat dari perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Qurais dan Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik’.
Apakah reaksi Rasulullah(sawa)?: ‘Dan wajah Rasul Allah saww berubah, belum pernah aku melihat ia demikian, kecuali pada saat turun wahyu’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 150, 154
Rasulullah lalu bersabda: ‘Allah tidak akan mengganti seorang pun yang lebih baik dari beliau. Dia beriman kepada ku tatkala orang lain mengingkariku. Dia membenarkan ku ketika orang lain mendustakanku. Dan dia membantuku dengan hartanya tatkala orang lain enggan membantuku. Allah SWT memberi anak-anak kepadaku melaluinya dan tidak melalui yang lain’. Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 117; Sunan Tirmidzi, jilid 1, hlm. 247;.Shahih Bukhari, jilid 2, hlm. 177, jilid 4, hlm. 36, 195; Musnad Ahmad jilid 6, hlm. 58, 102, 202, 279; Ibnu Katsir,Tarik h, jilid 3, hlm. 128;al-Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 224.
‘Dan ia tiada berkata menurut keinginannya sendiri. Perkataannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya’. Al-Qur’an, an-Najm (53:3)
Ibn Abil-Hadid menceritakan: ‘Aku membacakan pidato Ali mengenai Aisyah dari Nahju’l-Balighah [7], kepada Syaikh Abu’ Ayyub Yusuf bin Isma’il tatkala aku berguru ilmu kalam kepadanya. Aku bertanya bagaimana pendapatnya tentang pidato Ali tersebut.
Ia memberi jawaban yang panjang. Aku akan menyampaikannya secara singkat, sebahagian dengan lafaznya sebahagian lagi dengan lafazku sendiri.(Abu ‘Ayyub melihat dari kacamata yang umum terjadi. Penulis menerjemahkannya agak bebas).
“Abu ‘Ayyub berkata: ‘Kebencian Aisyah kepada Fathimah timbul karena Rasul Allah(sawa) mengawini Aisyah setelah meninggalnya Khadijah. Sedang Fathimah adalah putri Khadijah.Secara umum antara anak dan ibu tiri akal timbul ketegangan dan kebencian. Isteri akan mendekati ayahnya dan bukan suaminya, dan anak perempuan tidak akan senang melihat ayahnya akrab dengai ibu tirinya. Dia akan menganggap ibu tirinya merebut tempat ibunya.Sebaliknya anak perempuan pula menjadi tumpuan kecemburuan dari pihak ibu tiri. Beban cemburu Aisyah kepada almarhumah Khadijah, berpindah kepada Fathimah.”
Besarnya kebencian kepada anak tirinya berbanding dengan kebencian pada madu beliau yang telah meninggal. Ini ditambah lagi apabila suaminya sering mengingati isterinya yang telah meninggal itu.
Kemudian semua bersepakat bahawa Fathimah mendapat kedudukan mulia di sisi Allah SWT melalui hadis Rasul, yang juga ayahnya, sebagai Penghulu Wanita Kaum Mu’minin yang kedudukannya sejajar dengan Asyiah, Mariam binti ‘Imran dan Khadijah al-Kubra seperti yang tertera dalam hadis shahih Bukhari dan Muslim.
Sebagai tambahan, telah menjadi satu pengetahuan yang umum bahawa Rasulullah memuliakan anak perempuannya dengan kemuliaan yang lebih dari apa yang disangka oleh orang ramai, malah melewati kasih sayang yang biasanya diberikan oleh seorang bapa kepada seorang anak.
Atau hadis yang diriwayatkan Aisyah sendiri bahwa Rasul telah bersabda: ‘Wahai Fathimah, apakah engkau tidak puas menjadi penghulu para wanita sejagat atau penghulu wanita umat ini atau penghulu kaum mu’minat?’. Rujukan: Shahih Bukhari, jilid 8, hlm. 79; Shahih Muslim, jilid 7, hlm. 142-144; Ibnu Majah, as-Sunan, jilid 1, hlm. 518; Ahmad bin Hanbal,al-Musnad, jilid 6, hlm. 282; al-Hakim an-Nisaburi, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jilid 3, hlm. 136.
Rasul bersabda bahwa kedudukan Fathimah sama dengan kedudukan Mariam binti ‘Imran dan bila Fathimah melewati di tempat wuquf, para penyeru berteriak dari arah ‘arsy, ‘Hai penghuni tempat wuquf, turunkan pandanganmu karena Fathimah binti Muhammad akan lewat . Hadis ini merupakan hadis shahih dan bukan hadis lemah.(al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156; Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.)
Ali menikahi Fatimah setelah dinikahkan Allah SWT di langit dan disaksikan para malaikat. [al-Mustadrak, jilid 3, hlm. 153, 156;Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 218.]
Betapa kerapnya Rasulullah(sawa) bersabda: ‘Barangsiapa menyakiti Fathimah, maka ia telah menyakitiku’, ‘Membencinya berarti membenciku’ , ‘Beliau adalah sebagian dari diriku’, Meraguinya bererti meraguiku’ [Kanzu’l-’Ummal, jilid 6, hlm. 220]
Dan semua kemuliaan dan penghormatan ini tentu menambah kecemburuan Aisyah yang tidak berusaha sungguh-sungguh untuk melihat konteks ini dengan kenabian Rasul saww.
Sifat beliau jauh sekali berbeza dengan Ummu Salamah(rh), yang juga merupakan seorang isteri Rasulullah(sawa), Ummul Mukminin, yang mencintai Ahlul Kisa bukan sahaja sebagai ahli keluarga tetapi juga sebagai orang yang disucikan di dalam Ayatul Tathir. (Al-Qur’an 33:33)
Biasanya bila seorang isteri merasa diperlakukan kurang baik oleh sesama wanita maka berita ini akan sampai kepada suami. Dan lumrah apabila isteri menceritakan perkara ini pada suaminya dimalam hari. Tetapi Aisyah tidak dapat melakukan perkara ini, keranana Fathimah adalah anak suaminya. Ia hanya dapat mengadu pada wanita-wanita Madinah dan tetangga yang bertamu ke rumahnya.
Kemudian wanita-wanita ini akan menyampaikan berita kepada Fathimah, barangkali begitu pula sebaliknya. Dan yang jelas ia akan menyampaikannya kepada ayahnya, Abu Bakar.
Kemampuan Aisyah untuk mempengaruhi orang sangatlah terkenal dan hal ini akan membekas pada diri Abu Bakar. Kemudian Rasulullah(sawa) melalui hadis yang demikian banyak, telah memuliakan dan mengkhususkan Ali dari sahabat-sahabat lain.
Berita ini tentu menambah kepedihan Abu Bakar, kerana Abu Bakar adalah ayahnya Aisyah. Pada kesempatan lain sering terlihat Aisyah duduk bersama Abu Bakar dan Thalhah sepupunya dan mendengar kata-kata mereka berdua. Yang jelas pembicaraan mereka mempengaruhi Aisyah sebagaimana mereka juga terpengaruh oleh Aisyah’.
Kemudian ia (Abu Ayyub) melanjutkan: ‘Saya tidak mengatakan bahwa Ali bebas dari ulah Aisyah. Telah sering timbul ketegangan antara Aisyah dan Ali di zaman Rasulullah(sawa)’.
Misalnya telah diriwayatkan bahawa suatu ketika Rasul dan Ali sedang berbicara. Aisyah datang menyela antara keduanya dan berkata : ‘Kamu berdua berbicara terlalu lama!’. Rasul marah sekali.Dan, di ketika lain tatkala terjadi peristiwa Ifk, menurut Aisyah, Ali mengusulkan Rasulullah(sawa) agar menceraikan Aisyah dan mengatakan bahawa Aisyah tidak lebih dari tali sebuah sandal. (Tapi ramai orang meragukan peristiwa Ifk yang diriwayatkan Aisyah ini. Dari mana misalnya orang ini mengetahui usul Ali kepada Rasul? Siapa yang membocorkannya?),.
Di pihak lain Fathimah melahirkan ramai anak lelaki dan perempuan, sedang Aisyah tidak melahirkan seorang anak pun. Malah Rasulullah(sawa) menyebut kedua anak lelaki Fathimah, Hasan dan Husain sebagai anak-anaknya sendiri. Hal ini terbukti tatkala turun ayat mubahal ah [ Ali Imran : 61].
“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu),Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anakkamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilahkita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepadaorang-orang yang dusta”.
Bagaimana perasaan seorang isteri, yang tidak dapat melihat bahawa suaminya adalah seorang Rasul Allah, bila suaminya memperlakukan cucu tirinya sebagai anaknya sedangkan ia sendiri tidak punya anak?.
Kemudian Rasul menutup pintu yang biasa digunakan ayahnya ke masjid dan membuka pintu untuk Ali. Begitu pula tatkala Surat Bara’ah turun, Rasul Allah(sawa) menyuruh Ali,yang disebutnya sebagai dari dirinya sendiri, untuk menyusul Abu Bakar dalam perjalanan haji pertama. Dan agar Ali sendiri membacakan surat Bara’ah atau Surat Taubah kepada jemaah dan kaum musyrikin di Mina.
Kemudian Mariah, isteri Rasul, melahirkan Ibrahim dan Ali menunjukkan kegembiraannya, hal ini tentu menyakitkan hati Aisyah.
Yang jelas Ali sama sekali tidak ragu lagi, sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin dan Anshar, bahawa Ali akan menjadi khalifah sesudah Rasul meninggal dan yakin tidak akan ada orang yang menentangnya.
Tatkala pamannya Abbas berkata, kepadanya:“Ulurkan tanganmu, aku akan membaiatmu dan orang akan berkata Paman Rasul membaiat sepupu Rasul, dan tidak akan ada yang berselisih denganmu!”, Ali menjawab: ‘Wahai paman,apakah ada orang lain yang menginginkannya?’. Abbas menjawab: ‘Kau akan tahu nanti! , Ali menjawab: ‘Sedang saya tidak menginginkan jabatan ini melalui pintu belakang. Saya ingin semua dilakukan secara terbuka’. Abbas lalu diam.
Tatkala penyakit Rasulullah(sawa) semakin berat Rasul berseru agar mempercepat pasukan Usamah. Abu Bakar beserta tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar lainnya diarahkan oleh Rasul untuk turut serta di dalam pasukan itu. Maka Ali -yang tidak diikutkan Rasul dalam pasukan Usamah- dengan sendirinya akan menduduki jabatan khalifah itu -bila saat Rasulullah(sawa) tiba, – karena Madinah akan bebas dari orang-orang yang akan menentang Ali. Dan ia akan menerimaj abatan itu secara mulus dan bersih. Maka akan lengkaplah pembaiatan, dan tidak akan ada lawan yang menentangnya.
Itulah sebabnya Aisyah memanggil Abu Bakar dari pasukan Usamah yang sedang berkemah di Jurf -pada pagi hari Isnin, hari wafatnya Rasul dan bukan pada siang hari- dan memberitahu bahawa Rasulullah(sawa) sedang nazak.
Dan tentang mengimami shalat, Ali menyampaikan bahwa Aisyahlah yang memerintahkan Bilal, maula ayahnya, untuk memanggil ayahnya mengimami shalat, kerana Rasul(sawa) sebagaimana diriwayatkan telah bersabda: ‘Agar orang-orang shalat sendiri-sendiri’, dan Rasul tidak menunjuk seseorang untuk mengimami shalat. Shalat itu adalah shalat subuh. Karena ulah Aisyah itu maka Rasul memerlukan keluar, pada akhir hayatnya, dituntun oleh Ali dan Fadhl bin Abbas sampai ia berdiri di mihrab seperti diriwayatkan…’.
Setelah Abu Bakar dibaiat, Fathimah datang menuntut Fadak milik pribadi ayahnya tetapi Abu Bakar menolaknya dan mengatakan bahwa Nabi tidak mewariskan. Aisyah membantu ayahnya dengan membenarkan hadis tunggal yang disampaikan ayahnya bahwa ‘Nabi tidak mewariskan dan apa yang ia tinggalkan adalah sedekah’.
Kemudian Fathimah meninggal dunia dan semua wanita melawat ke rumah Banu Hasyim kecuali Aisyah. Ia tidak datang dan menyatakan bahwa ia sakit. Dan sampai berita kepada Ali bahwa Aisyah menunjukkan kegembiraan.
Kemudian Ali membaiat Abu Bakar dan Aisyah gembira. Sampai tiba berita Utsman dibunuh dan Aisyah orang yang paling kental menyuruh bunuh Utsman dengan mengatakan Utsman telah kafir. Mendengar demikian ia berseru: ‘Mampuslah ia!’ Dan ia mengharap Thalhah akan jadi khalifah. Setelah mengetahui Ali telah dibaiat dan bukan Thalhah, ia berteriak:Utsman telah dibunuh secara kejam dan menuduh Ali sebagai pembunuh dan meletuslah perang Jamal’. [ Ibn Abil Hadid , Nahjul Balaghah Jil. 2 hal. 192 -197] Demikian penjelasan Ibn Abil-Hadid.
Alhamdulillah… Rabu pagi kemarin (16 Maret 2011) saya dapat menghadiri diskusi buku Sahabat Nabi karya Dr.Fuad Jabali yang diterbitkan Mizan. Acara yang diprakarsai Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung ini digelar di Ruang Al-Jamiah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Dan… pimpinan tempat saya beraktivitas mengizinkan saya untuk menghadiri diskusi buku yang dikupas oleh guru saya; Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat—yang biasa saya sapa dengan Ustadz Jalal.
Setiba di lokasi, saya kaget karena ruangan diskusi sudah penuh dan beberapa kawan lama, termasuk dosen-dosen yang pernah mengajar saya di Jurusan Sejarah Peradaban Islam, pun pada hadir. Biasanya kalau acara diskusi buku, para dosen enggan hadir. Jadi, pas tiba, serasa lepas kangen. Biasalah…tanya ini itu. Sekira pukul 10-an, Ustadz Jalal tiba dan saat muncul dari tangga yang langsung menuju ruangan diskusi, segera saya hampiri kemudian mencium tangannya.
DISKUSI yang dipandu Dr.Sulasman, M.Hum (dosen sejarah UIN Bandung) ini diawali dengan pemaparan Pak Fuad yang membahas tentang proses penulisan buku yang asalnya disertasi doktor sejarah di Universitas Leiden, Belanda.
Menurut Fuad, buku Sahabat Nabi ini tersimpan sudah sekira sepuluh tahun dan belum disentuh lagi untuk perbaikan data-datanya. Kemudian Mizan meminta diterbitkan. Meskipun berat, kata Fuad, tapi dipaksakan—meskipun tahu bahwa disertasi tersebut banyak kekurangannya. Hasilnya, buku tersebut terbit pada awal 2011 dengan tebal buku lebih dari 300 halaman; yang lampiran-lampiran dan data statistik yang digunakan penulisan buku tersebut hampir setengah dari isi buku. Jadi, buku tersebut lebih kaya dengan data atau rujukan ketimbang bahasannya.
Fuad bercerita, lebih dari dua tahun menelusuri data tentang para sahabat yang tersimpan di perpustakaan Leiden.
“Saya membaca sekira 2000 biografi para sahabat untuk menulis buku ini. Saya coba menulis sejarah Islam dengan sumber dari ahlu hadis, bukan dari buku-buku sejarah, dan tetap menggunakan metodologi sejarah,” kata Fuad.
Dari kajiannya itu, Fuad menyimpulkan bahwa sahabat Nabi bukan manusia sempurna sehingga banyak kesalahan dan keterbatasan dalam beragama. Apalagi tidak semua sahabat terus menerus hidupnya bersama Rasulullah saw maka tingkat pemahaman keagamaan pun seadanya.
Begitu pun dengan definisi sahabat sempat dikritik. Menurut Fuad, terjadi kekacauan definisi sahabat yang disusun para ulama hadis sehingga orang-orang yang sekadar hidup sezaman dan berada dilingkungan Nabi Muhammad saw, orang-orang yang mabuk tetapi pernah bertemu Nabi, mereka yang diusir Nabi, dan pembunuh pun disebut sahabat.
80% Sunnah Sahabat
Dalam diskusi itu, Ustadz Jalal yang menjadi pembicara kedua memberikan pujian atas keberanian Fuad membuka khazanah Islam pascaRasulullah saw.
Kang Jalal mengungkapkan bahwa beberapa sahabat ternyata ada yang patuh, dan juga tidak patuh terhadap perintah Nabi saw. Itu bisa dilihat dari Al Hujuraat ayat 2 yang isinya memperingatkan kepada sahabat tertentu supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.
Di dalam surah Al Jumuah, juga diceritakan bagaimana sejumlah sahabat diperingati karena meninggalkan Nabi saw yang sedang khutbah Jumat. Para sahabat ini meninggalkan khutbah karena ingin menyaksikan kelompok pemusik yang lewat kala itu.
Beberapa fakta lain yang disebutkan dalam Alquran juga mengungkapkan adanya sahabat yang mencari-cari alasan supaya tidak ikut perang melawan kaum kafir, bahkan melarikan diri dari medan perang.
“Olehnya itu, tidak semua sahabat bisa disebut ‘Adalah (berkeadilan). Hanya sebagian sahabat saja,” kunci Kang Jalal.
Kang Jalal juga menyinggung tentang kisah Khalid bin Walid yang cerita heroiknya sudah melegenda di sebagian Muslim. Menurut catatan sejarah, Khalid bin Walid ternyata pernah membunuh seorang muslim bernama Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga.
Perbuatan Khalid ini tak urung menyebabkan Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar As Shiddiq ra yang menjadi khalifah saat itu, bertentang pendapat. Umar menginginkan agar Khalid dihukum mati karena membunuh seorang muslim dan berzinah. Namun Abu Bakar membelanya karena menganggap Khalid hanya salah dalam berijtihad.
“Jika memang semua sahabat Nabi saw itu ‘Adalah dan bisa dijadikan landasan sunnah, maka pasti bukan suatu dosa membunuh muslim karena kita suka istrinya, lalu memperistrikannya sebelum masa Iddah (kesucian) selesai,” tutur Kang Jalal merujuk kisah Khalid bin Walid.
Ustadz Jalal mengaku bahwa setelah membaca buku karya Fuad, merasa terharu dan menangis, tetapi juga geram terhadap perilaku-perilaku sahabat yang tidak patuh pada Rasulullah saw.
Menurut Ustadz Jalal, fanatisme para ahli hadis terhadap sahabat Nabi menyebabkan umat Islam sekarang enggan untuk melakukan studi kritis. Banyak perilaku dari para sahabat yang jauh dari akhlak Rasulullah saw, tetapi tetap diteladani dan disakralkan. Apabila dikemukakan perilaku tercela mereka maka akan dikecam sebagai zindiq atau sesat. Anehnya, kecaman sahabat terhadap sahabat lainnya tidak pernah disebut zindiq.
Ustadz Jalal juga mengemukakan bahwa kali pertama yang mengecam sahabat dalam sejarah adalah Abbas bin Abdul Muthalib yang mengecam Imam Ali dalam sebuah persidangan—kisahnya terdapat dalam Shahih Muslim.
“Jadi, bukan orang-orang Syiah yang mengecam sahabat itu,” kelakar Ustadz Jalal yang disambut tawa para hadirin.
Selain memberikan pujian, Ustadz Jalal juga memberikan sedikit kritik pada karya Fuad Jabali tersebut, khususnya hal yang menjadi penyebab lahirnya perang antar sahabat; Perang Jamal dan Shiffin.
Sambil membacakan halaman bukunya, Ustadz Jalal menjelaskan bahwa kesalahan Fuad dalam buku tersebut adalah menyatakan Imam Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbayt Nabi mengalami peningkatan kekayaan setelah wafat Nabi. Hal tersebut dibantah oleh Ustadz Jalal, justru yang tertindas dan tidak memiliki kekayaan adalah keluarga Nabi.
“Tanah Fadak yang merupakan warisan Nabi untuk Fathimah dan yang digarap Imam Ali untuk kehidupan sehari-hari diambil oleh penguasa. Sejarah mencatat bahwa justru para sahabat yang menjadi khalifah dan para pejabatnya yang hidupnya makmur dengan kekayaan,” sanggah Ustadz Jalal yang menyebutkan kekayaan mereka yang ditulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.
Dalam diskusi itu juga Ustadz Jalal menginformasikan bahwa dalam penelitian disertasi doktoralnya yang akan diujikan kelak di UIN Makasar menemukan kesimpulan sementara bahwa 80% sunnah yang dijalankan Umat Islam bukan sunnah Nabi. Ustadz Jalal menyebutkan bahwa para sahabat setelah wafat Nabi banyak membuat hal-hal baru dalam agama; seperti shalat tarawih, menambah asholatu khoirumminannaum pada azan subuh, azan dua kali pada ibadah jumat, dan lainnya.
Ustadz Jalal menyebutkan dalam hadis yang dibacakannya langsung pada hadirin bahwa Aisyah binti Abu Bakar sendiri menyatakan telah mengubah-ubah ajaran Rasulullah saw.
“Nah… merekonstruksi sejarah, berarti juga merenkonstruksi agama atau pemahaman keyakinan kita. Karena itu, saya menyarankan untuk menggunakan pendekatan kajian historiografi dalam mengkaji hadis agar terungkap hal-hal yang selama ini tidak kita ketahui. Seperti yang dilakukan doktor Fuad Jabali,” ungkap Ustadz Jalal
Studi kritis historis
Dalam tanya jawab, ada penanya yang cukup menggelitik yang bertanya tentang pengertian sahabat yang sebenarnya dan alat uji untuk membuktikan kebenaran hadis juga sirah nabawiyyah.
Ustadz Jalal menjawab bahwa ada tiga penjelasan tentang mana yang termasuk sahabat nabi dan bukan sahabat.
Pertama, lihat al-quran yang membagi dua sahabat, termasuk ciri-cirinya: ashabul jannah wa ashabunnar. Kedua, nanti di akhirat. Dalam riwayat disebutkan bahwa nanti Rasulullah saw menantikan kedatangan para sahabatnya di telaga alkautsar dan akan terpisahkan antara sahabat yang benar-benar setia dan mengikuti ajaran Rasulullah dengan sahabat yang menyalahi sunnah Nabi atau mereka yang mengubah-ubah ajaran Islam setelah wafat Nabi Muhammad saw. Ketiga—yang ini mungkin termasuk promosi—buka buku The Road to Muhammad (diterbitkan Mizan).
“Dalam buku saya ini, Anda akan mengetahui siapa saja sahabat yang termasuk lulusan madrasah Rasulullah saw. Juga akan mengetahui kualitas dan ciri dari para sahabat Nabi yang sebenarnya,” jawab Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia.
Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.
Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath.
Hadits-hadits tentang haudh
Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.
Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”
Sebagian dari hadits-hadits tersebut
1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).
2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).
Orang-orang yang terhalang dari haudh
Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.
Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,
1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”
Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat
Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kata “SahabatKu”. Kemudian pikirkan dan analisis dengan baik-baik apakah hadis itu tentang kaum munafik atau tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]
حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو معاوية قال ثنا الأعمش عن شقيق عن أم سلمة قالت دخل عليها عبد الرحمن بن عوف قال فقال يا أمه قد خفت ان يهلكنى كثرة مالي أنا أكثر قريشا مالا قالت يا بني فأنفق فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان من أصحابي من لا يرانى بعد أن أفارقه فخرج فلقي عمر فأخبره فجاء عمر فدخل عليها فقال لها بالله منهم أنا فقالت لا ولن أبلي أحدا بعدك
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah yang berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya dan berkata “wahai Ibu sungguh aku khawatir kalau hartaku yang banyak ini membinasakanku dan aku adalah seorang quraisy yang paling banyak hartanya. [Ummu Salamah] berkata wahai anakku berinfaklah karena aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda ”Sesungguhnya dari para Sahabatku akan ada orang yang tidak melihatKu setelah kewafatanKu”. Maka ia [Abdurrahman] keluar dan bertemu Umar kemudian ia mengabarkan kepadanya. Kemudian Umarpun datang menemui Ummu Salamah dan berkata kepadanya “demi Allah, apakah aku termasuk salah seorang dari mereka”. [Ummu Salamah] berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahukan siapapun setelahmu”. [Musnad Ahmad 6/290 no 26532 dimana Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim”]
حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أسود بن عامر ثنا شريك عن عاصم عن أبى وائل عن مسروق عن أم سلمة قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم من أصحابي من لا أراه ولا يرانى بعد أن أموت أبدا قال فبلغ ذلك عمر قال فأتاها يشتد أو يسرع شك شاذان قال فقال لها أنشدك بالله أنا منهم قالت لا ولن أبرئ أحدا بعدك أبدا
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari ‘Aashim dari Abi Wail dari Masyruq dari Ummu Salamah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dari para SahabatKu akan ada orang yang Aku tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatKu setelah aku wafat untuk selama-lamanya”. Hal itu sampai kepada Umar sehingga ia bergegas mendatangi dan menanyakan hal itu. Umar berkata kepada Ummu Salamah “bersumpahlah demi Allah apakah aku adalah salah satu dari mereka?”. Ummu Salamah berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahu siapapun setelahmu untuk selama-lamanya” [Musnad Ahmad 6/298 no 26591 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]
Kalau selama ini masyhur dikenal Huzaifah sebagai sahabat pemegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dengan riwayat di atas maka Ummu Salamah ra mungkin juga layak untuk dikatakan memegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas yaitu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan ada orang-orang yang mendapat predikat tidak akan melihat Nabi dan dilihat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk selamanya. Maksud perkataan “tidak MelihatKu” bukan maksudnya ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan para sahabat masih hidup karena sudah jelas semua sahabat Nabi yang masih hidup setelah wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] lagi. Yang dimaksud itu adalah di akhirat nanti ia tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja kedudukan seperti ini adalah kedudukan yang buruk bagi sahabat Nabi yang dimaksud.
.
.
وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An Nisaa : 69]
Mereka yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendapat balasan dari Allah SWT yaitu berkumpul bersama para Nabi termasuk Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi mereka yang dikatakan sebagai sahabat Nabi yang tidak melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang tidak mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya selepas kewafatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Sehingga dapat dipahami kalau Ummu Salamah menasehati ‘Abdurrahman dengan hadis ini agar ia tidak dibinasakan oleh harta yang ia miliki. Dan dapat dipahami pula bahwa Umar walaupun ia dikenal sebagai sahabat Nabi menjadi takut atau khawatir kalau-kalau dirinya termasuk ke dalam salah seorang sahabat yang dimaksud sehingga ia bertanya kepada Ummu Salamah apakah ia termasuk salah satu dari mereka?. Jawaban Ummu Salamah terhadap Umar menunjukkan kalau Ummu Salamah mengetahui siapakah para sahabat Nabi yang dimaksud dan tentu saja tidak lain ini pasti berasal dari keterangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
Apa yang dapat disimpulkan dari hadis Ummu Salamah di atas?. Kesimpulannya para sahabat Nabi itu memiliki kedudukan yang bermacam-macam, ada diantara mereka yang memiliki keutamaan dan ada pula diantara mereka yang ternyata mendapat predikat tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di akhirat kelak.
Qs. Ali ‘Imran 144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”
Rasulullah bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.”[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]
Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).
Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.
Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”
Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.
Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.
Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.
Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.
Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)
Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan
Adapun mengenai alat uji kesahihan hadis dan sirah nabawiyyah, Ustadz Jalal menyarankan untuk membaca bukunya yang berjudul Al-Mushthafa: Manusia Pilihan yang Disucikan (diterbitkan Simbiosa) yang di dalamnya membahas kajian kritis terhadap hadis dan riwayat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad saw, termasuk metodologi studi kritis historis.
“Kalau Anda tak mau susah-susah meneliti seperti Pak Fuad, cukup melihat al-quran dan gunakan akal sehat. Apabila Anda menemukan hadis yang walaupun diriwayatkan Bukhari atau Muslim, bertentangan dengan al-quran, tolaklah. Begitu juga jika terdapat hadis yang tidak dapat diterima akal, yang merendahkan derajat dan kemuliaan Nabi maka wajib ditolak,” pesan Ustadz Jalal yang diakhiri dengan menyebutkan contoh riwayat Bukhari .
Dikisahkan Nabi mendatangi rumah istri seorang sahabat tanpa ada sahabat tersebut. Kemudian kepala Nabi bersandar pada pangkuan istri yang bukan muhrim tersebut dan diseliksik—mencari kutu—selanjutnya terbangun dengan wajah ceria.
Ustadz Jalal menjelaskan bahwa hadis tersebut harus ditolak karena telah menunjukkan perbuatan Nabi yang tidak mengetahui aturan-aturan Islam dalam bertamu.
“Mendatangi perempuan yang bukan istrinya dan tidur dipangkuan istri orang, bukan termasuk akhlak Nabi. Begitu pun kepala Nabi berkutu, menunjukkan Nabi tidak menjaga kebersihan. Al-Quran menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw berakhlak mulia, terpuji, bersih, dan suci. Jelas hadis tersebut bertentangan dengan informasi al-quran. Karena itu, jika menemukan hadis-hadis atau berita sejarah Nabi yang merendahkan kemuliaan Rasulullah saw perlu dikaji secara kritis, atau langsung tolak,” ungkap Ustadz Jalal mengakhiri pembicaraannya.
Ngaler ngidul…
Setelah mengikuti Diskusi Buku SAHABAT NABI karya Fuad Jabali, saya tidak langsung kembali ke tempat beraktivitas. Saya bersama kawan lama yang kini menjadi dosen berbincang agak lama tentang perkembangan kajian keislaman dan kesejarahan di jurusan tempat dahulu saya menimba ilmu..
1. Kapan Perkataan ini Pertama kali diundangkan ?
2. Oleh Siapa ? dan apa Hak Orang itu dalam menetaapkan bahwa Ini adalaah Golongan yang benar ?
3. Benarkah Khulafaur Rasyidin terdiri dari 4 Orang Seperti Sekarang di Jama Bani Umayah ?
4. Siapa Yang Menetapkan Fiqh Kalian terdiri dari Hanafi , Maliki , Syafi’i dan Hanbali ?
5. Siapa yang menetapkan Aqidah Kalian itu adalah Asya’iroh dan Maturidi ?
6. Apakah Imam yang Empat itu beraqidahkan seperti kalian ?
7. Kepada siapakah Imam madzhab kalian berguru ?
Tentang Sahabat Rasulullah SAWW .
1. Apakah Hindun , Muawiyah dan Yazid bin Abu Sopian dan Hakam bin Ash itu kalian masukan dalam Kriteria Sahabat rasulullah SAWW ?
2. Apakah Sahabat Punya kekebalan Sehingga tidak boleh dikritisi dan dilaknat, sementara Allah dan Rasulnya telah melaknat sebagian dari mereka ?
3. Adakah Nash dalam al-Qur’an tentang kewajiban kita “mengikuti semua Sahabat” atau bahkan mengikuti Sahabat ?
4. Apa alasan kalian menganggap Ahlul Bait Rasulullah SAWW “yang disucikan Allah” dengan “orang yang disifati tempat salah dan alpa” (kecuali sahabat bukan Manusia) ?
5. Secara “Mutafaq Alaih” , tercatat bahwa “Mayoritas Sahabat digiring ke Neraka” bagaimana ini menurut dibandingkan dengan “Semua Shahabat itu Adil” ?
6. Siapa yang pertama kali mengumumkan bahwa semua Sahabat itu Adil ?
7. Apa Hak orang itu mengatakan semua sahabat adil , apakah dia sekutu Allah dan Rasul-Nya ?
Tentang Istri Rasulullah SAWW ?
1. Apa hukum bagi Istri Rasulullah SAWW yang tidak mengikuti Kitabullah ?
2. Apa Hukum seorang Ibu , yang menyebabkan belasan kaum Muslimin terbunuh di Jamal ?
3. Apa alasan Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan Umar untuk dikuburkan disisi Rasulullah SAWW dan beliau mengijinkan nya , apakah Ummul Mukminin hendak mengatakan kalo Abu Bakar berbohong bahwa Rasulullah SAWW tidak meninggalkan Warisan ?
4. Dan apa Hak Ummul Mukminin Aisyah mengijinkan bukankah dia itu hanya punya 1/9 dari saham Istri ?
5. Apa yang ada dibenak kalian jika ada Istri Nabiyullah SAWW sampai ditegor Allah Ta’ala dan diancam cerai ?
Jalaluddin Rahmat : “Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.?”
Tuesday, 06 January 2009
.
memulai dengan sedikit nostalgia pada masa SMU, terkesan dengan buku karangan JR yang berjudul Islam Alternatif, “lama-kelamaan saya menyadari barangkali yang dimaksud JR Islam alternatife itu adalah Syiah”, orang Syiah yang ahlul wara wal wafa, orang yang obyektif dan adil dalam memberi penilaian.
Ketua Dewan Syura Jamaah Ahli Bait (Ijabi) Indonesia Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat (JR) tampil Sebagai pemateri tunggal dalam Dialog Muballigh dengan tema : “Syiah dalam Timbangan Alquran dan Sunnah”. Kamis Malam, 1 Januari 2009 di hotel horison Makassar.
tokoh Syiah Indonesia, yang biasa disapa Kang Jalal ini, memaparkan makalahnya dengan judul “Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as.?”.
Acara yang dilaksanakan oleh Lembaga Studi dan Informasi Islam (LSII) Makassar , yang diketuai Syamsuddin Baharuddin dan didukung ICC dan Ijabi ini dihadiri tiga asatidzah dari Wahdah, yakni Ust. M. Said Abd.Shamad, Ust. M. Ikhwan AJ, Ust. Rahmat AR dan beberapa ulama, cendekiawan dan muballigh Kota Makassar, di antaranya Prof. Dr. Rusydi Khalid, Prof.Dr. Ahmad Sewang, Prof.Dr. Qasim Mathar, Fuad Rumi, Das’ad Latif, DR.Mustamin Arsyad, MA .
Pembatasan Ahlul Bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain
Misalnya, tentang pembatasan ahlul bait hanya Ali, Fatimah, Hasan, Husain Radhiyallahu Ajmain yang berkenaan dengan Surah Al Ahzab:33.
Disebutkan dalam makalah JR:
“Masih dari Ummu Salamah: Ayat ini-Sesungguhnya Allah…-turun di rumahku. Aku berkata:Ya Rasululah, bukannkah aku termasuk Ahlulbait?Beliau bersabda:Kamu dalam kebaikan. Kamu termasuk istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.. Ia berkata Ahlul bait adalah Ali, Fathimah, Al Hasan dan Al Husain. Kata Ibn Asakir:Hadits ini Shahih (Al Arbain fi Manaqib Ummil Mu’minin 106). Hadits-hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa ahlulbait itu tidak termasuk ke dalamnya istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.”
Mazhab Syiah meyakini bahwa tidak semua sahabat benar-benar setia dan patuh kepada Rasul saw. Sebaliknya, hanya sahabat yang setia dan patuh kepada Rasul saw yang bisa dijadikan rujukan ajaran Islam.
Di lain sisi, Mazhab Sunni, khususnya Wahdah Islamiyah meyakini semua sahabat Rasul saw yang jumlahnya lebih 100.000 orang sudah terjamin kebaikan dan kebajikannya. Mereka pun menganggap seluruh sahabat sangat layak dijadikan rujukan ajaran Islam, khususnya Khulafaur Raasyidin (empat khalifah utama), yakni Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib kwh.
Dalam dialog ini, mewakili kelompok Syiah adalah Ketua Dewan Syuro IJABI, Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc, yang juga dikenal sebagai pakar komunikasi, politik, sosiologi dan tasawuf. Sedangkan Wahdah yang menganut paham Wahabi (1) ini mengutus Ketua DPC Wahdah Islamiyah Makassar, Ustad Rahmat Abdul Rahman LC.
Di atas meja panjang, dedengkot mazhab Syiah dan Wahdah ini duduk bersama. Diantaranya kursi keduanya duduk Prof Dr AGH Ahmad Sewang (Direktur PPs UIN Alauddin) dan Dr Muhammad Zain (peneliti sejarah para sahabat Nabi Saw). Sementara Hamdan Juhannis (Pemerhati Masalah Islam) menjadi moderatornya.
Meski digelar secara terbatas dan sederhana, namun kualitas acara ini tak perlu disangsikan lagi. Sebab acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan cendekiawan. Moderator Hamdan menyebut Muhammadiyah, NU, MUI, ICMI, KPPSI bahkan aktivis Ahmadiyah ikut berpartisipasi. Malah, aula PPs UIN Alauddin yang ukurannya memang tidak luas itu akhirnya menjadi sesak oleh pengunjung. Sebagian terpaksa harus duduk melantai.
Pukul 15.00 Wita, acara yang sebenarnya dijadwalkan setelah Salat Jumat atau pukul 13.00 Wita, baru dimulai. Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc yang akrab disapa Kang Jalal diberi kesempatan selama 30 menit memaparkan makalahnya.
Kang Jalal mengingatkan bahwa makalahnya mengutip penjelasan sejumlah tafsir Alquran serta hadist-hadist yang diakui Mazhab Syiah atau pun Sunni. Ayat-ayat tentang sahabat yang dikutip Kang Jalal antara lain Surah Al Fath ayat 18, dan surah Al Bayyinah ayat 8, surah Al Hujurat ayat 2 serta surah Al Jumuah (Jumat).
Melalui Alquran dan fakta sejarah, Kang Jalal mengungkapkan bahwa beberapa sahabat ternyata ada yang patuh, dan juga tidak patuh terhadap perintah Nabi saw. Itu bisa dilihat dari Al Hujuraat ayat 2 yang isinya memperingatkan kepada sahabat tertentu supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.
Di dalam surah Al Jumuah, juga diceritakan bagaimana sejumlah sahabat diperingati karena meninggalkan Nabi saw yang sedang khutbah Jumat. Para sahabat ini meninggalkan khutbah karena ingin menyaksikan kelompok pemusik yang lewat kala itu.
Beberapa fakta lain yang disebutkan dalam Alquran juga mengungkapkan adanya sahabat yang mencari-cari alasan supaya tidak ikut perang melawan kaum kafir, bahkan melarikan diri dari medan perang.
“Olehnya itu, tidak semua sahabat bisa disebut ‘Adalah (berkeadilan). Hanya sebagian sahabat saja,” kunci Kang Jalal.
Kang Jalal juga menyinggung tentang kisah Khalid bin Walid yang cerita heroiknya sudah melegenda di sebagian Muslim. Menurut catatan sejarah, Khalid bin Walid ternyata pernah membunuh seorang muslim bernama Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga.
Perbuatan Khalid ini tak urung menyebabkan Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar As Shiddiq ra yang menjadi khalifah saat itu, bertentang pendapat. Umar menginginkan agar Khalid dihukum mati karena membunuh seorang muslim dan berzinah. Namun Abu Bakar membelanya karena menganggap Khalid hanya salah dalam berijtihad.
Penjelasan Kang Jalal ini sempat membuat gaduh suasana dialog. Menandakan beberapa peserta terkejut mendengar sisi kelam orang yang dicap sahabat Nabi saw ini.
“Jika memang semua sahabat Nabi saw itu ‘Adalah dan bisa dijadikan landasan sunnah, maka pasti bukan suatu dosa membunuh muslim karena kita suka istrinya, lalu memperistrikannya sebelum masa Iddah (kesucian) selesai,” tutur Kang Jalal merujuk kisah Khalid bin Walid.
Masalah Kepemimpinan Setelah Rasulullah jatuh ke tangan Ali Radhiyallalu ‘Anhu
Contoh kedua, tentang Ayat Wilayah (kepemimpinan) yang tercantum dalam makalah. Disebutkan pemimpin dalam alquran disebut ‘waliy”. Al Quran sudah memberikan petunjuk siapa yang sepatutnya dijadikan pemimpin setelah Allah dan RasulNya: Sesungguhnya pemimpin kamu itu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk (Al Maidah:55). Berkata Ibn Abbas, Al Suddi, Utbah bin hakim dan tsabit bin Abdullah:yang dimaksud dengan orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di Masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya (tafsir al Tsa’labi 4:80).
Tidak Mengakui Kedudukan Hadits perintah untuk kembali kepada “Al Qur’an dan Sunnahku”.
Terakhir, komentar Ustadz Rahmat, tentang hadits kembali pada Al Quran dan Assunnah yang didhaifkan. Sayang JR tidak kembali ke perkataan al-Albani sebagaimana kuatnya, ia merujukkan hadits al-Qur’an dan al-Ithrah ke beliau
Kitab lain yang dipakai oleh JR dalam membenarkan mazhabnya adalah Kitab as-Shawaiq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajaral-Haitami, justru kitab itu untuk membantah Syiah, judulnya adalah: as-Shawaiq al-Muhriqah fi ar-Raddi ala Ahli ar-Rafdhi wa ad-Dhalali wa az-Zandaqah
JR dalam bukunya terbitan 2008 yang lalu menyebut Sahabat Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu sebagai anak haram yang tidak diketahui bapaknya secara pasti dan dia sangat banyak dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapa yang dilaknat oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berarti dilaknat oleh Allah.
Selanjutnya, JR menulis tentang Sahabat Muawwiyah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia itu bukan saja fasik bahkan Kafir menurut riwayat versi Syiah.
Fathimah Melaknat Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu (Pada akhirnya dikatakan Rasulullah dan Allah Melaknat Abubakar)
Dalam buku kecil yang memuat ceramah Asyura, JR mengatakan bahwa Fatimah Radhiyallahu ‘Anha telah mengutuk Abubakar Radhiyallahu ‘Anhu karena tidak memberikan kepadanya harta peninggalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal tersebut dibenarkan oleh JR berdasarkan hadits bahwa Fathimah itu adalah bahagian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang menjadikan Fathimah murka berarti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga akan murka dan melaknatnya dan apa yang dilaknat oleh Rasul berari dilaknat oleh Allah. Lalu JR membaca ayat surat al ahzab ayat 58.
Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abubakar
Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abu Bakar RA
وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك
Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata ”Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)
Penjelasan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al Muwatta. Dari hadis di atas diketahui bahwa
- Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
- Rasulullah SAW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW.
.
.
Sebuah Permasalahan
Sepertinya masalah akan selalu ada jika seseorang menuliskan hadis-hadis yang kontroversial
Ah lupakan itu, masalahnya adalah kira-kira apa yang terpikirkan oleh anda setelah membaca riwayat ini. Saya kasih contoh nih
- Mungkinkah anda teringat akan hadis-hadis tentang Sahabat Nabi yang berpaling setelah Berpulangnya Sang Nabi SAW (jadi teringat tulisan Ressay , cuma teringat aja lho )
- Seorang Sunni Salafy biasanya akan geleng-geleng kepala dan mulai berteriak mengeluarkan berbagai prasangka dan nasehat yang semoga saja baik atau mungkin pembelaan (monggo Mas, silakan atuh)
- Seorang Syiah tidak terlalu terkejut mungkin akan berkata “Sahabat Nabi kan memang macam-macam”. Atau ada respon lain yang saya tidak tahu
- Ada juga mungkin yang beranggapan, gak penting amat sih, hari gini masih bahas yang begituan. Pikirkan yang lebih baik dong yang lebih bermanfaat bagi umat (iya iya Mbak, Om, Tante ntar saya cari bahan lain )
- Atau akan ada yang mendhaifkan hadis tersebut, silakan silakan asal disertakan alasannya biar saya yang bodoh ini belajar lebih banyak lagi.
Selebihnya saya berharap banyak respon dari anda, Apa tanggapan anda seputar hadis ini?
Mari kita diskusi baik-baik dengan santun dan jika saja ada yang beranggapan kalau saya ini tidak berharga (sungguh benar sekali) dan sudah menyimpang dari jalan yang lurus mari tolong luruskan saya
Semoga Allah SWT memberikan rahmat kepada kita semua
Salam damai
Catatan : Sebagai perbandingan, anda dapat melihat hadis tersebut di sini Book21 Number 21.14.32
.
Analisis Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”
Hadis Tsaqalain; Peninggalan Rasulullah SAW adalah Al Quran dan Ahlul Bait as
Hadis Tsaqalain; Peninggalan Rasulullah SAW adalah Al Quran dan Ahlul Bait as
Filed under: Uncategorized




