DAKWAH PADA PERMULAAN ISLAM (Imam Ali diangkat menjadi Imam sewaktu beliau berusia belia sekali)

Para Imam kami umumnya tidak memiliki posisi sebagai pemimpin militer. Mereka juga tidak punya pasukan militer untuk membunuhi orang kafir hingga tidak tersisa

————————————————————————————————————————-

Para Imam kami yang nubuwwahnya diberitakan dalam hadits-hadits tentang 12 Imam, sama persis seperti posisinya seperti para Nabi dan Rasul. Hanya mereka tidak diberi gelar nabi dan tidak mendapatkan risalah untuk disampaikan. Mereka adalah para penjaga risalah.

OLEH KARENA YANG MEMBUAT RISALAH ITU IALAH ALLAH, DAN YANG MENGAJARKANNYA KEPADA KITA IALAH RASULULAH, MAKA SUDAH PADA TEMPATNYALAH YANG BERHAK UNTUK MENENTUKAN SIAPA  YANG MENJAGA RISALAH INI IALAH ALLAH DAN RASULNYA.

PEMIMPIN YANG DIJANJIKAN YANG BERJUMLAH 12 ITU PASTILAH MENDAPAT MANDAT DARI TUHAN LEWAT UTUSANNYA—MUHAMMAD AL-MUSTAFA.

1. Mereka bukan pemimpin politis yang dipilih rakyat, lewat syura atau lewat intrik politik

2. Mereka bukan pemimpin kerajaan yang mengangkat diri sendiri atau mendapatkan jabatan itu dari ayahnya yang pernah jadi raja sebelumnya

3. Mereka bukan pemimpin yang mendapatkan kekuasaan lewat peperangan

Mereka adalah dipilih Tuhan, jadi walaupun anda tidak senang tetap anda tidak bisa mengambil jabatan itu dari mereka.

Kalau anda meyakini mereka maka itu tidak akan menambahkan kekuatan apapun pada mereka; apabila anda tidak meyakini mereka itu sama sekali tidak mengurangi kekuatan hujah yang ada pada mereka.

DAKWAH PADA PERMULAAN ISLAM (Imam Ali diangkat menjadi Imam sewaktu beliau berusia belia sekali)

Undangan dan Jamuan untuk Keluarga Dekat serta Mukjizat Pertama dari Nabi Utama

Dakwah yang telah dilancarkan oleh Rasulullah lewat praktek-praktek kesalehan dan ketakwaan yang seringkali diperagakannya, juga ditambah dengan meningkatnya jumlah para pengikutnya membuat Rasulullah merasa bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mengundang orang-orang masuk kedalam agama Islam. Allah (SWT) juga telah memerintahkan Rasulullah sebagai Nabi terakhir dari rangkaian utusan Tuhan untuk mengundang anggota keluarga terdekat dari Rasulullah agar mau menerima Islam untuk kebaikan diri mereka sendiri. Allah berfirman:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (QS. Asy-Syuaraa: 214)
Dengan itu maka orang-orang yang benci dan sudah lebih dahulu menolak Islam tidak bisa lagi mengatakan “Mengapa dia tidak menyampaikan Islam ke keluarganya saja? Mengapa ia tidak memerintahkan mereka untuk menyembah Tuhan yang satu itu dan memberitahukan keluarganya tentang siksaan Tuhan kelak di akhirat?” Mereka tidak bisa lagi mengatakan hal itu karena Rasulullah sudah melakukannya. Dengan adanya dukungan dari pihak keluarga maka penyebaran Islam bisa lebih cepat dan merata
.
Rasulullah akhirnya meminta Ali (yang waktu itu masih bocah kecil) untuk mempersiapkan perjamuan dan mengundang para anggota keluarga terdekat dari Rasulullah yang jumlahnya kira-kira ada sekitar 40 orang. Setelah mempersiapkan perjamuan makan, maka Ali kemudian mulai mengundang mereka satu persatu. Semua anggota keluarga dan kerabat Rasulullah menerima undangan itu dan kemudian mereka makan bersama-sama. Mereka menerima makanan itu diedarkan oleh tangan mulia dan penuh berkah dari Ali bin Abi Thalib. Meskipun makanan itu sebenarnya hanya cukup untuk satu orang saja, akan tetapi anehnya makanan yang penuh berkah itu bisa memenuhi perut sebanyak 40 orang yang hadir. Semuanya merasa kekenyangan dengan hidangan itu. Malah, makanan itu masih tersisa sebagian!
Ini sangat mengejutkan mereka yang hadir, akan tetapi salah seorang paman Nabi yang jahil dan sombong yaitu Abu Lahab bin Abdul Muthalib dengan serta merta berkata tanpa berpikir panjang, “Ini semua hanyalah sihir belaka”. Orang jahil itu tidak mau tahu bahwa yang namanya sihir dan santet itu tidak bisa memberikan orang makanan yang bisa dimakan! Mana ada sihir berupa makanan yang bisa memuaskan semua orang?!
Pada hari itu Rasulullah, sang Nabi akhir zaman, tidak banyak berbicara untuk menanggapi hal itu. Mungkin dengan tidak banyaknya bicara beliau hanya ingin mereka menyadari perbedaan antara ‘mukjizat’ dan ‘sihir’ karena kalau itu sihir, maka sekembalinya mereka dari perjamuan itu, mereka akan tetap merasa lapar dan tidak merasakan kepuasan atas makanan yang telah mereka makan itu.
Karena perjamuan itu tidak mendatangkan hasil yang memuaskan, maka Rasulullah sekali lagi mengundang mereka untuk datang kembali keesokan harinya untuk perjamuan makanan yang sama. Sekali lagi perjamuan itu dilangsungkan dan semua orang merasa puas dan kenyang dengan makanan yang dihidangkan. Sekali lagi makanan yang disajikan tidaklah habis meskipun jumlah yang diundang banyak dan makanan yang ada hanya sedikit.
Kemudian Rasulullah bersabda setelah perjamuan selesai, “Wahai para putera dari Abdul Muthalib. Allah telah menugaskanku untuk memberikan peringatan kepada kalian semua bahwa akan ada siksaan yang amat pedih bagi siapapun yang melakukan perbuatan jahat; dan aku juga ditugaskan untuk memberikan kabar gembira bahwa kalian akan diberikan pahala yang berlimpah apabila kalian melakukan kebaikan selama hidup di dunia. Jadilah Muslim dan ikutilah aku untuk mendapatkan keselamatan. Aku bersumpah demi Allah yang maha-perkasa bahwa aku tidak pernah mengenal siapapun diantara orang-orang Arab sebelum dan sesudahku yang akan membawa kebaikan yang lebih baik daripada kebaikan yang aku berikan kepada kalian semuanya. Aku akan membawakan kalian kemakmuran dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Allah yang maha-pemurah telah memintaku untuk meminta kalian menyembahNya. Sekarang aku bertanya kepada kalian: ‘Siapakah diantara kalian yang mau membantuku dalam tugas penyampaian kabar ini? Siapakah diantara kalian yang mau dan bersedia untuk membantuku, menjadi saudaraku, menjadi penerusku dan menjadi pemangku wasiatku'”.

Tidak ada seorangpun yang menjawab kecuali Ali yang masih bocah kecil waktu itu. Ia berdiri dan berkata, “Ya, Rasulullah. Aku akan menjadi pembantumu. Aku yang akan menjadi saudaramu”
Rasulullah menyuruh Ali untuk duduk. Beliau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyatakan kesediannya. Rasulullah mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali akan tetapi tetap saja tidak ada orang lain yang berdiri untuk menyatakan kesediaannya kecuali Ali bin Abi Thalib. Kemudian akhirnya Rasulullah menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Dialah yang akan menjadi saudaraku, penerusku, dan pemangku wasiat nubuwwah sepeninggalku yang akan menjadi pemimpin kalian sesudahku. Dengarkanlah dia dan patuhilah dia”
Tepat pada hari itulah sebagian orang mulai percaya dan beriman kepada Muhammad sang Nabi baru dan terakhir, akan tetapi kebodohan dan kejahilan serta rasa benci telah membuat beberapa orang kerabat Nabi itu tidak mau menerima risalah yang disampaikan kepada mereka. Akan tetapi, perjamuan makah itu rupanya cukup efektif untuk memberikan dorongan dan semangat baru kepada Rasulullah untuk terus melancarkan dakwahnya.
Selain kenyataan yang mengejutkan yaitu terpuaskannya 40 perut manusia yang sama-sama makan makanan yang hanya cukup untuk satu orang, ada juga kenyataan yang lain yang perlu kita perhatikan dari perjamuan makan ini yaitu pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Rasulullah. Rasulullah dengan secara gamblang menyebutkan bahwa sepupunya itu akan menjadi saudaranya dan penerusnya. Ia akan dijadikan pemangku wasiat sepeninggal Rasulullah. Ia akan menjadi khalifah Rasulullah (yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah; bukan ditunjuk oleh umat yang tidak memiliki wewenang untuk itu–penerj.). Oleh karena itu, maka kita harus menghormati Ali bin Abi Thalib sebagai penerus Muhammad sang Nabi akhir zaman.
Setelah perjamuan makan itu terbukalah jalan untuk mengundang orang lain yang jumlahnya jauh lebih banyak untuk menerima Islam dan memeluk agama ini sebagai keyakinan yang akan dibawa sampai mati. Rasulullah kemudian menunjukkan kepada kita semua usahanya yang tidak mengenal lelah dalam menyampaikan risalah suci dari Illahi ini. Beliau tidak berhenti barang sejenakpun. Beliau terus berjuang hingga akhir hayat beliau menjemputnya. Sejak itu panji-panji Islam berkibar dan bendera kebenaran melambai-lambai mengajak orang-orang berduyun-duyun datang menuju keselamatan.
Risalah Kenabian dari Nabi Terakhir
Tiga tahun berselang sejak Rasulullah ditugaskan menjadi Nabi dan Rasul. Selama kurung waktu itu beliau senantiasa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk membimbing mereka yang mau beliau bimbing menuju kesalehan dan keutamaan. Apabila ada salah seorang dari yang dibimbing oleh Rasulullah itu kembali kepada kemaksiatan yang sering dilakukan sebelum oleh Rasulullah itu kembali kepada kemaksiatan yang sering dilakukan sebelum mendapatkan bimbingan dari Rasulullah, atau apabila ada seseorang yang kembali menyembah berhala atau menunjukkan gejala-gejala penurunan moral, maka Rasulullah akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mereka kembali ke jalan Tuhan, kembali kepada kebenaran. Rasulullah melakukan itu semua dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Beliau memberikan alasan-alasan yang sangat logis dan masuk akal dirangkai dalam ucapan-ucapan beliau yang mempesona dan penuh kesopanan, mendorong mereka untuk mau tidak mau mengikuti ucapan beliau dan kembali ke pangkuan Islam yang mengajarkan tauhid dan kesalehan. Jadi selama kurun waktu itu, Rasulullah tetap mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi hanya pada orang-orang yang dekat saja.
Akan tetapi karena keyakinan Islam itu harus disebarkan keseluruh dunia dan harus disampaikan kepada seluruh umat manusia, maka Rasulullah (saaw) sebagai Nabi terakhir berusaha untuk membuat misi sucinya itu dikenali dan diketahui oleh masyarakat luas. Rasulullah ingin berdakwah secara terbuka dan beliau ingin menyatakan tujuan dan rencananya untuk masyarakat luas.
Dakwah di Bukit Safa
Untuk menyampaikan dan mendakwahkan agama suci Islam ini keseluruhan suku bangsa Arab dan keseluruh dunia, Allah (saaw) memerintahkan Rasullah untuk secara terbuka menyampaikan risalah kenabian yang telah diterimanya dari Allah. Rasulullah juga diperintahkan untuk menjelaskan kebenaran yang ada dalam keyakinannya
.
Rasulullah kemudian berjalan bergegas menuju ke bukit Safa–salah satu bukit yang terkenal di seluruh Mekah–untuk mengumandangkan misi Islam kepada orang-orang dimana pada waktu itu mereka masih sedang getol-getolnya menyembah tuhan-tuhan kecil yang berbilang hingga jumlahnya ada sekitar 360 buah sesuai dengan jumlah hari dalam satu tahun; berhala-berhala semuanya diletakkan di sekitar Kabah. Beliau tidak merasa takut atau malu sedikitpun. Beliau berdiri di tempat yang tinggi seraya berseru menyampaikan misinya, “Wahai, sahabatku”. Suaranya bergema di seluruh perbukitan menarik perhatian dari orang-orang yang kebetulan ada di sekitar itu. Setelah itu berkerumunanlah orang-orang membentuk kerumunan yang banyak dari berbagai macam kalangan dan dari berbagai suku. Mereka bergegas ingin segera mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh orang yang mereka kenal sebagai Muhammad al-Amin. Rasulullah menghadapkan wajahnya yang suci kepada mereka seraya berkata, “Wahai manusia! Akankah kalian percaya apabila aku mengatakan bahwa ada pasukan musuh yang sedang berbaris dari balik bukit ini dan mereka akan menyerang kalian?”
Mereka semua menjawab, “Tentu saja kami percaya kepadamu, Muhammad. Kami belum pernah mendengar dusta keluar dari mulutmu sepanjang hidupmu”
.
Muhammad menjawab, “Wahai, kaum Qurays! Aku memperingatkan kalian agar kalian takut dengan siksaan yang datang dari Tuhan. Selamatkanlah diri kalian dari api neraka. Kedudukan ini sama dengan kedudukan seorang penjaga benteng yang sedang memperingatkan kalian akan adanya pasukan musuh yang sedang datang menyerbu kalian yang berlindung di balik benteng. Aku memperingatkan kalian dari bahaya yang sedang datang mengancam. Apakah orang seperti itu mungkin berdusta kepada kalian?”
.
Abu Lahab bin Abdul Muthalib, yang sangat membenci Rasulullah, takut kalau-kalau kata-kata Rasulullah itu bisa mempesona orang dan mempengaruhi orang-orang. Ia kemudian memecah kebisuan yang sebelumnya menghinggapi orang-orang yang terdiam mendengar kata-kata Rasulullah sebelumnya, “Apa? Kami harus mendengarkan dan mempercayaimu? Semoga kamu lenyap dari bumi ini! Apakah kamu ini mengumpulkan kami ini semua hanya untuk mendengarkan kamu mengatakan hal-hal bodoh seperti ini?”
.
Abu Lahab bin Abdul Muthalib menyela pembicayaan Rasulullah dengan sangat kasar dan tidak membiarkan Rasulullah untuk meneruskan pembicaraannya. Sebagai jawaban langsung dari kelakuan kasar Abu Lahab itu Allah saat itu juga menurunkan sebuah wahyu kepada Rasulullah sekaligus membuktikan kembali kenabiannya. Wahyu itu berupa surah Al-Lahab ayat 1–5, yang berbunyi:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak” (QS. Al-Lahab: 1–5)
Nasib Abu Lahab bin Abdul Muthalib
.
Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah. Ia adalah anak dari Abdul Muthalib. Diantara orang-orang yang membenci, menolak dan mendiskreditkan Islam, dialah yang paling keras kecaman dan permusuhannya terhadap Islam.
Abu Lahab sendiri artinya “Bapak Api yang menyala-nyala”. Nama lain dari dirinya ialah ‘Abdul Al-Uzza’ yang artinya pembantu dari berhala yang bernama Al-Uzza. Ia adalah orang yang sangat temperamental sekali. Wajahnya senantiasa terlihat merah menyala, sesuai dengan nama yang ia sandang. Nama julukannya itu mungkin sekali dipilih oleh orang-orang karena ‘Lahab’ sendiri artinya ‘api yang menyala’, mengingat wajahnya yang senantiasa memerah seperti api
.
Abu Lahab dan isterinya, Ummu Jamil bint Harb (saudari dari Abu Sufyan bin Harb), termasuk orang yang disebut-sebut dalam sejarah Islam sebagai musuh Islam yang sering dilaknat. Ia seringkali menyakiti hati Rasulullah. Seseorang yang bernama Tariq Muharibi pernah melaporkan bahwa pada suatu ketika Abu Lahab terlihat sedang mengendap-endap dari belakang mengikuti Rasulullah yang sedang berjalan melintasi pasar yang disebut ‘Zul-Mujaz’ (tempatnya dekat dengan Arafat, tidak jauh dari kota Mekah). Abu Lahab mengikuti Nabi Muhammad; kemudian ia tiba-tiba berteriak mengatai Nabi Muhammad sebagai orang gila. Ia melemparkan sebuah batu yang kemudian mengenai kaki suci dari Nabi suci ini, menyebabkan kakinya terluka dan mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Tidak puas dengan itu, Abu Lahab kemudian mengangkat sebuah batu yang besar sekali untuk ia hujamkan kepada Nabi Muhammad yang sedang terluka tidak jauh dari tempat dirinya berdiri. Ia tidak bisa melemparkan batu itu kepada Rasulullah karena kemudian sebuah mukjizat terjadi. Kedua tangan yang sedang mengangkat batu itu mendadak susah digerakkan. Ia terdiam dengan mengangkat sebuah batu besar di atas kepalanya
.
Abu Lahab, seorang kaya, sombong, yang sering menggunakan kekayaannya untuk menyerang Islam
Diriwayatkan bahwa setelah kekalahan orang-orang Mekah pada peperangan Badar, Abu Lahab, yang pada waktu itu tidak ikut nimbrung dalam peperangan tersebut, meminta Abu Sufyan bin Harb, ketika ia kembali dari peperangan tersebut, untuk menjelaskan detail dari peperangan tersebut. Abu Sufyan bin Harb menjelaskan rincian dari peperangan itu; bagaimana mereka bisa kalah dalam peperangan itu; dan bagaimana orang-orang Qurays itu sampai lari tunggang langgang dan kemudian ia menambahkan: “Demi Allah, kami melihat di peperangan itu, ada sekelompok orang berkuda yang tampak melayang-layang antara bumi dan langit. Mereka membantu pasukan Muhammad pada waktu itu”.
Abu Rafi, salah seorang hamba sahaya dari Abbas bin Abdul Muthalib menceritakan sebuah cerita yang sekarang bisa kita dengarkan semua. Ia menggambarkan sebagai berikut
:
“Aku pada waktu itu sedang duduk di sana dan aku kemudian mengangkat tanganku dan aku berkata bahwa orang-orang yang datang dari langit itu ialah para malaikat”. “Ketika aku bercerita seperti itu, Abu Lahab menjadi sangat murka dan ia kemudian menghantam wajahku dan aku terjerembab ke tanah dengan keras”. “Abu Lahab terus saja memukuli aku karena ia sangat kecewa dengan kekalahan itu dan karena aku telah menggambarkan peperangan itu dengan sangat rinci. Pada waktu itu, Ummul-Fadl, istri dari Abbas bin Abdul Muthalib, yang pada waktu itu ada di sana, mengambil sebuah tongkat dan ia kemudian memukulkan tongkat itu dengan keras sekali ke kepala Abu Lahab, dan kemudian ia berkata: ‘Kamu ini keterlaluan sekali, Abu Lahab. Tinggalkan orang lemah ini dan janganlah engkau pukuli ia lagi!'”
Kepala Abu Lahab terluka dan mengeluarkan darah dengan deras. Satu minggu kemudian Abu Lahab mati karena sebuah penyakit menular yang menyerang dirinya. Ketika Abu Lahab mati, tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat busuk dan menyengat hingga tidak ada seorangpun yang mau mendekati jasadnya. Akhirnya jasadnya dibiarkan orang-orang selama tiga hari penuh dan akhirnya beberapa orang budak belian yang disewa mau mengangkat jasadnya itu dan dibawa menjauh dari kota Mekah. Mereka menyirami jasad busuk itu dengan air terus menerus dari kejauhan agar bau busuknya tidak begitu tercium. Setelah itu mereka menumpuk-numpuk batu di atas jasad itu hingga akhirnya jasad busuk itu tertutup seluruhnya oleh batu-batu itu.

Ummu Jamil binti Harb, istri dari Abu Lahab yang suka menyakiti Rasulullah

Istri Abu Lahab adalah salah seorang wanita terkemuka dari suku Qurays. Ia lebih dikenal dengan nama julukannya yaitu Ummu Jamil (atau Ummu Jamila). Nama selengkapnya ialah Arwah binti Harb bin Umayyah. Matanya sipit dan cacat sebelah, dan ia sangat pemarah dan mudah tersinggung; sifat itu sama dengan sifat yang dimiliki oleh suaminya yang jahat dan suka melakukan perbuatan buruk sepanjang hidupnya. Ia bekerja sama dengan suaminya dalam setiap kegiatan menyerang Islam dan mencemarkan Islam. Oleh karena itulah maka nanti kelak ia akan turut serta bersama suaminya menghuni jurang terdalam di lautan api neraka
.
Ketika ayat “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (QS. Al-Lahab: 1) diturunkan, Ummu Jamil binti Harb yang bermata picak itu datang keluar sambil berteriak melolong seperti serigala yang sedang marah. Ia datang keluar dengan sebuah batu di kepalan tangannya seraya berkata, “Ia telah mencela ayah kami, dan agamanya itu penuh dengan celaan, dan ia memberikan perintah kepada orang-orang untuk tidak taat lagi kepada kami”
.
Rasulullah pada waktu itu sedang duduk-duduk dan Abu Bakar kebetulan ada di sampingnya. Ketika Abu Bakar melihat Ummu Jamil datang mendekat ia berkata, “Ya Rasulullah! Dia datang dan aku takut dia akan melihat dirimu”. Rasulullah menjawab dengan tenangnya, “Sesungguhnya, dia tidak akan melihatku”. Kemudian Rasulullah membacakan ayat al-Qur’an sebagai perlindungan bagi dirinya: “Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup” (QS. Al-Isra: 45)
.
Ketika Ummu Jamil berdiri di depan Abu Bakar, ia bisa melihat Abu Bakar dengan jelas akan tetapi ia tidak bisa melihat diri Rasulullah padahal Rasulullah sedang duduk bersama Abu Bakar. Ia berkata, “Hai, Abu Bakar! Sesungguhnya aku diberitahu oleh orang-orang bahwa temanmu itu sedang mengarang puisi tentang diriku untuk mencemarkan diriku”. Abu Bakar menjawab, “Tidak! Demi Tuhan dari Rumah Suci ini (Kabah), dia tidak sedang mencemarkan namamu”. Setelah itu ia berbalik sambil bersungut-sungut, “Apa dia tidak tahu aku ini orang ternama. Suku Qurays tahu aku ini seorang puteri dari pemimpin mereka”
.
Ummu Jamil seringkali berbuat jail kepada Rasulullah. Pada suatu ketika,  ia didapati orang sedang mengumpulkan duri-duri tumbuhan yang sangat tajam dan kemudian merangkainya dengan seutas tali. Kemudian di malam harinya, ia berjalan mengendap-endap dan setelah sampai di jalan yang sering dilalui oleh Rasulullah, ia merentangkan untaian duri itu. Ia tahu bahwa Rasulullah seringkali melewati jalan itu ketika beliau hendak pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat shubuh di pagi hari buta. Dan ia berharap kaki Rasulullah itu akan terluka terkena duri yang telah ia rangkai dengan rapi sebelumnya.
Ummu Jamil seringkali datang kepada orang-orang kemudian ia menyebarkan berita bohong. Orang-orang yang mendengar berita itu hati dan telinganya terasa panas membara seolah-olah terbakar api yang menyala. Maka dari itu orang-orang seringkali menyebut Ummu Jamil dengan sebutan “Si Pembawa Kayu Bakar”
.
Perlu diketahui oleh anda semua akhir hidup dari Ummu Jamil yang tragis dan juga mengejutkan kita semua. Ia mati tercekik oleh seutas tali yang cukup besar yang mana tali tersebut seringkali digunakan untuk mengikat kayu bakar
.
CIRI KENABIAN: MUKJIZAT AL-QUR’AN
Kita tahu bahwa surat Al-Lahab itu diturunkan di kota Mekah, dan surat Al-Lahab itu ditujukan untuk Abu Lahab dan istrinya yaitu Ummu Jamil dimana di dalamnya digambarkan bahwa Abu Lahab dan istrinya itu akan dibakar di dalam neraka karena mereka tidak beriman kepada kebenaran dan tidak pernah menjadi seorang Muslim
.
Surat ini diturunkan 10 tahun sebelum Abu Lahab meninggal sebagai seorang yang masih tidak beriman kepada Islam. Banyak dari teman Abu Lahab dan orang-orang yang tidak beriman lainnya dalam kurun waktu 10 tahun itu satu per satu masuk menjadi Muslim. (Jadi sangat beresiko apabila surah itu diturunkan 10 tahun sebelum Abu Lahab meninggal soalnya kemungkinan Abu Lahab itu masuk Islam masih sangat besar mengingat kurun waktu 10 tahun itu lama sekali dan banyak sekali teman-teman Abu Lahab yang telah menjadi Muslim. Jadi kalau Al-Qur’an itu menggambarkan bahwa Abu Lahab itu akan masuk neraka karena tidak meyakini Islam dan kemudian terbukti bahwa Abu Lahab itu tidak pernah masuk Islam, maka yang seperti itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengatakan sesuatu yang benar–penerj.).
HIJRAH KE ABYSSINIA (ETHIOPIA)
Para pemeluk Islam generasi awal atau pada empat tahun pertama hampir semuanya merupakan orang-orang yang sangat santun bersahaja juga lemah tak berdaya dan tidak bisa mempertahankan diri mereka dari orang-orang yang tidak suka kepada mereka. Begitu kejamnya perlakuan orang-orang jahat itu hingga akhirnya Rasulullah (saaw.) menasehati mereka untuk hijrah pergi meninggalkan kota Mekah menuju ke daerah berpenduduk Kristen yaitu Abyssinia atau Ethiopia
.
Muhammad Rasulullah memiliki keyakinan dan menaruh kepercayaan yang kuat kepada Ja’far bin Abu Thalib–saudara dari Imam Ali bin Abi Thalib (as.). Sekelompok pengungsi Muslimin baik laki-laki maupun wanita di bawah kepemimpinan Ja’far bin Abi Thalib menyeberangi Laut Merah. Perjalanan ini dikenal orang di kelak kemudian hari sebagai Hijrah Pertama yang dilakukan oleh kaum Muslimin dalam sejarah Islam. Kejadian itu sendiri terjadi pada tahun ke-5 setelah Rasulullah mengumumkan kenabiannya pada tahun 615M. Kelompok pengungsi itu kemudian diikuti oleh para pengungsi yang lain yang juga telah mengalami perlakuan kejam dari musuh-musuh Islam. Jumlah pengungsi semuanya sekitar 82 orang laki-laki dan 18 orang perempuan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s