Syi’ah Hormati Gusdur Yang Menganggap Wahabi Sebagai Musuh Allah !!!

Senin, 04 Januari 2010 13:49 |||
.
Ratusan umat Islam Syiah tahlil khusus untuk almarhum Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kegiatan ini digelar di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (2/1). Pengajar Pesantren YAPI, ustadz Segaf Assegaf mengatakan tahlil dilaksanakan untuk menghormati Gu Dur sebagai tokoh pluralis
.
Segaf mengatakan meski secara fisik Gus Dur belum pernah mendatangi Pesantren YAPI di Bangil, umat Islam Syiah merasa telah dibela almarhum. Menurutnya, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Al Quran yang berbeda dengan umat Islam lainnya
.
Gus Dur justru yang mengklarifikasi bahwa Al Quran umat Islam Syiah adalah sama dengan Al Quran umat Islam lainnya. Segaf juga mengungkapkan pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah
.
Sedangkan perbedaan-perbedaan yang ada selama ini, menurut Segaf hanya keniscayaan semata. Ia menjelaskan umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kepala YAPI Bangil Ustadz Abdul Mukmin mengatakan Yayasan Pesantrean Islam (YAPI) Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil pada 1974. YAPI Bangil sebelumnya berkedudukan di Bondowoso
.
Namun pada 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji untuk santri putra. Sedangkan santri putri masih di Kota Bangil. Jumlah santri YAPI sebanyak 315 putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. YAPI hanya ada di Bangil, dan tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai dari jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah (khusus agama Islam)
.
(Ant/BEY) Nusantara / Sabtu, 2 Januari 2010 16:26 WIB
.
sumber:http://metrotvnews.com/ =======================================================
Minggu, 03 Januari 2010 11:30
.
  Pasuruan, NU Online
.
Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu.

Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok.

Dia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPi di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya.

Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Alquran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Durlah yang melakukan klarifikasi bahwa Al Quran umat Syiah sama dengan Alquran umat Islam lainnya.

Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata.

Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, Yayasan Pesantrean Islam (YAPI) Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974.

YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil.

Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah (khusus agama Islam).

Sabtu, 2 Januari 2010 21:00

sumber:http://www.nu.or.id

==========================================================
1  Januari  2010
Soal koleksi humor dan keanehan, bisa jadi Gus Dur adalah orang nomor wahid di Indonesia. Sepanjang hayatnya, mantan Ketua PBNU tak bisa dipisahkan dari kontroversi, keanehan dan nyeleneh berbalut guyonan. Kini, sepeninggal kiyai nyentrik ini pun masih menyisakan keanehan. Semasa hidupnya Gus Dur adalah orang yang sangat alergi terhadap kaum “Wahabi.” Saking kerasnya, presiden RI keempat ini bahkan menyebut kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab (Sang Penipu) yang rendah diri
.
“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah Al-Kadzab.
Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.
Demikian disampaikan Gus Dur pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli “The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror” (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September 2007.

..Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri…

Anehnya, ketika Gus Dur sudah meninggal, imam Masjidil Haram dari Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdurrahman Bin Abdul Aziz As-Sudais, justru memimpin doa dan shalat ghaib untuk Gus Dur. Padahal para imam dan ulama Saudi Arabia itulah yang sering jadi sasaran tudingan “Kaum Wahabi.” Shalat ghaib dan doa khusus untuk Gus Dur itu dipanjatkan di Masjid Istiqlal, sebelum shalat Jumat (1/1/2010). Abdurrahman Sudais yang mengenakan jubah warna putih dan mengenakan sorban bercorak merah dan putih kemudian memanjatkan doa dengan bahasa Arab. Doa dipanjatkan sekitar lima menit
.
Para jamaah mengirinya dengan ‘amiin’. Shalat ghaib untuk Gus Dur yang dilakukan oleh Syaikh Sudais adalah keanehan yang fenomenal dalam hidup dan mati Gus Dur
.
Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri. Pun sebaliknya, jika Syaikh Sudais itu tahu bahwa kaum Wahabi termasuk dirinya itu dicela Gus Dur dalam sebuah seminar, sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, masihkan beliau mau mendoakan dan menyolati Gus Dur?
.
Wallahu a’lam
.
Sayangnya, tudingan kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab itu tidak bisa dikonfrontir antara Gus Dur dan Syaikh Sudais. Karena di tahun baru 2010 ini Gus Dur tidak bersama kita lagi. Beliau bertahun baru di alam barunya
======================================================

Benar Gus…! Wahabi Itu Pengacau…!

Presiden Republik Indonesia ke-4 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan tegas menyatakan, kaum Wahabi menjadi keras dan merasa benar sendiri, tak lain karena pengaruh kerja samanya dengan Dinasti Saudi.

“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah al-Kadzab.”

Demikian disampaikan Mantan Ketua PBNU itu pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September, 2007.

Pada jaman Nabi Muhammad SAW, Musailamah al-Kadzab (Sang Penipu) pernah mengaku menjadi nabi. Dia dulu tinggal di Yalamlam, daerah antara Jedah dan Yaman. Dan, kata Gus Dur, Dinasti Saudi dulu menamai istananya dengan Istana Yalamlam.

“Ketika Faishal menjadi raja, nama itu diubah menjadi Istana Riyadh. Soal ini kita harus tahu persis sejarahnya, biar kita tidak berat sebelah,” pinta Gus Dur.

“Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.

“Saya tahu ini dari informasi-informasi yang masuk. Saya bicara apa adanya. Obyektifitas itu penting dan menuntut sikap yang betul-betul mendalam tanpa pikiran macam-macam,” imbuhnya.

Pada diskusi buku terbitan the WAHID Institute tahun 2007, ini hadir juga sebagai pembedah intelektual Syiah Jalaluddin Rakhmat dan Dosen Universitas Paramadina Ihsan Ali Fauzi. Ratusan hadirin terlihat memenuhi ruang diskusi.

Mengomentari isi buku, Jalaluddin Rakhmat menyatakan, buku yang sebetulnya hanya menampilkan satu wajah Islam Wahabi, ini akan banyak memukul para dai di negeri ini. “Mereka hanyalah loud speaker Wahabi yang digerakkan dengan petro dolar dari Jazirah Arabia,” ujarnya. “Saudi mungkin kebakaran jenggot dengan buku ini,” sambungnya.

Kang Jalal – sapaan akrabnya – lantas menyuguhkan beberapa ciri spesifik gerakan Wahabi. Pertama, merasa paling suci dan benar. “Dialah yang paling benar dan semua orang sesat. Dialah yang berada di jalan lurus, di atas sunnah, dan semua orang di atas bid’ah. Dialah yang menjalankan tauhid murni dan semua orang musyrik,” tegasnya.

Kedua , anti plularisme. “Mereka sangat eksklusif. Merasa bahwa surga hanya milik dia dan kelompoknya,” terangnya.

Ketiga , anti tradisi lokal, kecuali tradisi Arab di Padang Pasir. “Semua tradisi di tempat yang didatangi tidak disukai,” katanya.

Dan keempat, anti intelektualisme. “Kita harus patuh pada wahyu al-Qur’an dan Sunnah, dengan tambahan, seperti penafsiran mereka. Karena itu, kita dilarang mengikuti penafsiran yang menyimpang dari penafsiran mereka,” ujarnya.

“Jika semua ciri itu terpenuhi dalam diri kita, insya Allah agama kita becomes evil. Dan insya Allah, kita akan menjadi teroris-teroris baru yang menyebarkan ketakutan di sekitar kita,” tandasnya.

“Dan, musuh paling besar dan paling tidak disukai oleh mereka adalah Syiah,” imbuh Kang Jalal disambut tawa.

Sedangkan Ihsan Ali Fauzi ingin melihat gerakan Wahabi secara lebih fair.“Saya ingin membela Wahabi dari beberapa tuduhan yang mengganggu pikiran kita. Karena kok kayaknya hampir tidak ada sumbangan positif dari Wahabi terhadap peradaban,” katanya. “Jadi, saya mengecam Wahabi, tapi be fair,” imbuhnya.

Hal positif dari Wahabi, kata Ihsan, antara lain semangatnya untuk bertauhid. “Mereka menyebut diri muwahhidun (ahli tauhid, red.). Sama juga seperti Muhammadiyah. Semangat tauhid ini sangat patut digarisbawahi, terlepas dari eksesnya,” pintanya.

Selain itu, pinta Ihsan lagi, kita harus tenang berbicara perihal sumbangan dari Wahabi. “Apa alasan kita menolak orang yang memberikan sumbangan kepada orang lain? Kalau kita menerima sumbangan dari AS (Amerika Serikat, red.), kenapa tidak dari SA ( Saudi Arabia, red.)?” tanyanya.

Secara prinsipil, kata Ihsan, tidak ada alasan sedikitpun untuk menolak sumbangan dari mereka. Toh, ujarnya, banyak sekali madrasah, masjid, atau kantor-kantor di negeri ini yang hidup karena bantuan mereka. “Harus hati-hati menyimpulkan mana yang sumbangan teroris dan mana yang bukan. Kalau tidak, akan bahaya,” pungkasnya.

Soal koleksi humor dan keanehan, bisa jadi Gus Dur adalah orang nomor wahid di Indonesia. Sepanjang hayatnya, mantan Ketua PBNU tak bisa dipisahkan dari kontroversi, keanehan dan nyeleneh berbalut guyonan. Kini, sepeninggal kiyai nyentrik ini pun masih menyisakan keanehan.
Semasa hidupnya Gus Dur adalah orang yang sangat alergi terhadap kaum “Wahabi.” Saking kerasnya, presiden RI keempat ini bahkan menyebut kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab (Sang Penipu) yang rendah diri
.
“Kaum Wahabi keras, itu karena kerja sama dengan Dinasti Saudi. Itu yang penting. Penting sekali. Dinasti Saudi ini mengidap rasa rendah diri. Kenapa? Karena mereka keturunan Musailamah Al-Kadzab. Jadi, sikap rendah diri itu lalu ditutupi dengan sikap seolah paling benar sendiri. Wahabi dijadikan alat untuk menutupi masa lalu Dinasti Saud saja,” tegas Gus Dur.Demikian disampaikan Gus Dur pada diskusi buku karya Stephen Sulaiman Schwartz berjudul “Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global,” di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jakarta, Rabu, (31/10/2007) malam. Buku ini berjudul asli “The Two Faces of Islam: The House of Sa’ud from Tradition to Terror” (2002) yang diterjemahkan dan diterbitkan kembali oleh the WAHID Institute pada September 2007…Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri…
Anehnya, ketika Gus Dur sudah meninggal, imam Masjidil Haram dari Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Abdurrahman Bin Abdul Aziz As-Sudais, justru memimpin doa dan shalat ghaib untuk Gus Dur. Padahal para imam dan ulama Saudi Arabia itulah yang sering jadi sasaran tudingan “Kaum Wahabi.”
.
Shalat ghaib dan doa khusus untuk Gus Dur itu dipanjatkan di Masjid Istiqlal, sebelum shalat Jumat (1/1/2010).Abdurrahman Sudais yang mengenakan jubah warna putih dan mengenakan sorban bercorak merah dan putih kemudian memanjatkan doa dengan bahasa Arab. Doa dipanjatkan sekitar lima menit. Para jamaah mengirinya dengan ‘amiin’.
Shalat ghaib untuk Gus Dur yang dilakukan oleh Syaikh Sudais adalah keanehan yang fenomenal dalam hidup dan mati Gus Dur.Jika semasa hidupnya Gus Dur tahu bahwa kelak bila dirinya sudah meninggal akan dishalati dan didoakan oleh ulama Wahabi, bisa jadi Gus Dur tidak akan mencela kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, Sang Penipu yang rendah diri
.
Pun sebaliknya, jika Syaikh Sudais itu tahu bahwa kaum Wahabi termasuk dirinya itu dicela Gus Dur dalam sebuah seminar, sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab, masihkan beliau mau mendoakan dan menyolati Gus Dur? Wallahu a’lam
.
Sayangnya, tudingan kaum Wahabi sebagai keturunan Musailamah Al-Kadzab itu tidak bisa dikonfrontir antara Gus Dur dan Syaikh Sudais. Karena di tahun baru 2010 ini Gus Dur tidak bersama kita lagi. Beliau bertahun baru di alam barunya.
Aqil Siradj Tirukan Gus Dur: Anta ‘Aduwullah Wahabi

أنت عدو الله وهابي

عقيدة المسلم :

إن كان تابع أحمد متوهباً … ** … فأنا المقر بأنني وهابي

Dalam acara tahlilan tujuh hari mendiang KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, para sahabat dan teman dekat Gus Dur pun membagi cerita seputar pengalaman mereka ketika mendampingi atau sekadar hal yang mereka ketahui.

Pengalaman yang dialami Aqil bersama Gus Dur terjadi saat berziarah ke makam Syeh Al Uraidi di Madinah. Saat sedang membacakan surat al Fatihah, Gus Dur dan dirinya dilarang oleh polisi setempat.

“Anta aduww ulah wahabi, kalian musuh Allah,” ujar Aqil menirukan Gus Dur saat itu yang membentak polisi yang melarang mereka.

Inilah beritanya:

Rabu, 06/01/2010 07:01 WIB
Gus Dur, Sahabat dan Guyonan Segar
Hery Winarno – detikNews

Jakarta – Tak ada habisnya mengupas kisah hidup KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dimata para sahabat dan orang dekatnya. Berbagai kisah dan pengalaman para sahabat pun menarik untuk kembali diceritakan.

Dalam acara tahlilan tujuh hari almarhum, para sahabat dan teman dekat Gus Dur pun membagi cerita seputar pengalaman mereka ketika mendampingi atau sekadar hal yang mereka ketahui dari sosok yang kini ramai didukung untuk dinobatkan menjadi pahlawan.

Gus Dur memang sangat kental dengan joke-joke atau guyonan segar. Karena lucu dan orisinil, candaan Gus Dur seringkali layak untuk diceritakan kembali.

“Akad nikah lewat internet itu sah kata Gus Dur. Tapi kelonane (bersetubuh) juga harus lewat internet,” ujar Ketua PBNU KH Said Aqil Sirodj yang segera membuat hadirin yang hadir tertawa saat menyampaikan testimoni di Jl Warungsila, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/1/2009) malam.

Pengalaman lain yang dialami Aqil bersama Gus Dur terjadi saat berjiarah ke makam Syeh Al Uraidi di Madinah. Saat sedang membacakan surat al Fatihah, Gus Dur dan dirinya dilarang oleh polisi setempat.

“Anta aduww ulah wahabi, kalian musuh Allah,” ujar Aqil menirukan Gus Dur saat itu yang membentak polisi yang melarang mereka.

Gus Dur memang tokoh yang kaya akan humor segar namun mencerdaskan. Namun dibalik itu Gus Dur juga merupakan pemimpin yang sangat sederhana.

“Saya kenal Gus Dur sejak Tahun 1986. Beliau sudah jadi Ketua PBNU saat itu tapi saya sering lihat beliau masih naik kendaraan umum dan pakai sendal jepit,” ujar pengarang buku kewarganegaraan Belanda Martin Van Bruinessen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s