Mazhab Sunni akan berantakan jika kitab hadis sunni beredar sesuai dengan versi aslinya ! Oleh karena itu ulama sunni perlu mengedit teks, meringkas matan dan membersihkan sebagian hadis yang menghantam doktrin sunni agar mazhabnya tetapa tegak

oleh  : Ustad Husain Ardilla

————————————————————————————-

Teori proyeksi dalam studi hadis sunni :  bahwa banyak hadis sebetulnya muncul dan “dibuat” belakangan sebagai bagian dari debat-debat di kalangan ulama sunni, kemudian dinisbahkan ke belakang (projected back) kepada Nabi.

teori proyeksi hanya mungkin akan benar -sebagian- untuk hadis-hadis yang memang tidak punya syahid, tapi kalau sebaliknya (punya syahid, apalagi banyak) teori proyeksi agak kesulitan untuk diterapkan.

Sebagian materi hadits  mempunyai persamaan di kalangan kelompok-kelompok Islam, seperti Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah;

padahal, kelompok ini telah memisahkan diri dari kelompok Ahlus Sunnah sejak wafatnya Nabi saw. Tidak hanya itu saja, kelompok-kelompok tersebut juga saling berperang dalam rentang waktu yang cukup lama, dan saling menuduh kelompok lain telah menyimpang dari Islam

Abu Hanifah, salah seorang ahli hukum Islam paling terkemuka, bahkan boleh dikatakan sering mengabaikan hadith dalam menulis hukum Islam. Padahal, koleksi hadith tersedia. Kenapa? Kekhawatiran yang sama , hadith sunni terlalu rentan dipalsukan!”

Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya..

masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dr turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”

bahwa hadist yg diriwayatkn oleh Imam Bukhari yg sejak kita belajar Islam sudah ditanamkan bahwa itu hadist sahih- sulit rasanya menerima pandangan yg sebaliknya. Karena suatu hal yg ditanamkan ratusan atau bahkan ribuan tahun, sebagai kebenaran hampir mutlak, butuh keberanian intelektual utk menerima kekritisan cara berpikir yg berbeda dgn pendapat umum Ummat Islam. Karena salah-salah kita bisa dianggap keluar dari millah ini, ujung-ujungnya dikafirkan, ngeri coy.

Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih.

hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekyatan hukum sebuah hadits.

minimal syi’ah beragama dengan Iman dan Akal yg Sehat.

justru menurut saya metode sanad itu lebih memiliki banyak kelemahan mas. bukannya untuk menentukan jujur ato tidak seseorang akan sangat sulit, subyektifitas pasti bermain di sini. misal, perawi A dianggap jujur sama Z, tapi belum tentu dia dianggap jujur ama X. Nah kalo gitu, bukannya yang muncul malah ilmu mencari2 kesalahan orang lain, asal menemukan sedikit kecacatan, maka dianggap riwayatya lemah. Saya kira menilai dari sisi matan, dan membandingkannya degan nilai2 universal dari Al-quran akan lebih bagus untuk menilai sebuah hadits. At least lebih obyektif.

hal yg sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist2 suni bahkan yg muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ).

contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yg dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.

kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a

Hadith sangat rentan untuk dipalsukan. Patut dicatat bahwa dengan metode mirip-mirip beginilah agama tauhid yang dibawa Muhammad  dimetamorfosis menjadi mazhab sunni  yang pro oknum  sahabat  zalim..

Yang menjadi teka-teka saya selama ini adalah hadis-hadis politik  sunni  itu kok “klop” benar dengan kepentingan penguasa Mu’awiyah dan Abbasiyah zaman itu. Kalau memang hadis ini sudah ada dari “sono“-nya, kenapa tidak dikutip pada saat situasinya relevan, yaitu waktu Usman diberontak oleh penduduk Mesir? Kenapa hadis-hadis itu tidak dikutip Abu Bakar waktu perang melawan kaum pembangkang zakat? Kenapa hadis itu tak dipakai oleh Ali untuk menghadapi perlawanan Mu’awiyah? Dst. dst.

verifikasi hadis melalui metode sanad  sunni juga tidak bisa memberikan kepastian apapun, kebalikan dari yang diyakini oleh banyak sarjana hadis selama ini. Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif.
Fondasi sanad adalah pendapat seseorang bahwa si A atau si B yang menjadi perawi hadis bisa dipercaya karena dia seorang yang baik (‘adl, bukan fasik), hafalannya bisa dipercaya (dhabth), dan pernah bertemu langsung dengan perawi sebelumnya (muttashil).

Menurut saya, fondasi seperti ini mengandung banyak soal, meskipun sebagai sebuah “temuan”, metode itu cemerlang dan pantas kita hormati. Poin saya, metode itu tidak memberikan fondasi sekukuh seperti dikira oleh banyak orang selama ini. Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi. Hadis  sunni  datang kepada kita bukan karena ada dokumen tertulis yang ada sejak dari zaman Nabi

hadis dirawat melalui ingatan para rawi, sejak zaman sahabat hingga ke generasi para kolektor hadis. Sebagaimana kita tahu, aktivitas awal untuk mencatat hadis baru dimulai secara sporadis pada abad kedua Hijriyah, artinya satu abad lebih setelah Nabi wafat. Imam Bukhari, kolektor yang paling bertanggung jawab atas kodifikasi hadis itu, meninggal pada 870 M. Nabi meninggal pada 632 M. Anda bisa hitung sendiri jarak antara keduanya.

Dalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/lihat  sehingga like-dislike.

Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapapun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset.

Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Adhwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah” (Telaah Atas Sunnah Muhammad) patut dipertimbangkan di sini. Dia mengatakan dalam buku itu yang membuat saya terkesima saat membacanya pertama kali dan selalu saya ingat hingga sekarang: menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 2600an hadis.

Kata Abu Rayyah: bayangkan, Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception“.

Tentu pendapat Abu Rayyah ini disanggah banyak sarjana, antara lain yang paling kondang adalah Muhammad ‘Ajaj al-Khatib melalui bukunya yang sekarang sudah menjadi klasik, “Al-Sunnah Qabl al-Tadwin” (Sunnah Nabi Sebelum Era Kodifikasi, terbit pertama kali 1963).

Saya tidak memihak salah satu kubu dalam perdebatan ini. Belum tentu kritik-kritik Abu Rayyah benar sepenuhnya, begitu juga sanggahan lawan-lawannya belum tentu menjawab dengan memuaskan keberatan-keberatan yang diajukan oleh Abu Rayyah. Yang bisa dipelajari dari perdebatan ini hanya satu: validitas hadis memang masih mengandung masalah di sana-sini. Pangkal masalahnya satu: hadis tidak pernah direkam dalam dokumen tertulis sejak pada masa Nabi yang bisa diverifikasi langsung. Hadis datang ke kita melalui sebuah ingatan. Sebagaimana setiap ingatan, sudah tentu ada masalah di sana menyangkut seberapa jauh validitas ingatan itu dan bagaimana mengeceknya. Seberapapun kuatnya sebuah ingatan, ia tetap sangat “precarious” dan rentan.

Di sinilah saya mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai hadis yang sangat populer dan dianggap valid selama ini, yaitu hadis yang berbunyi, “Taraktu fikum amrain ma in tamassaktum bihima lan tadhillu abadan, Kitaballahi wa sunnata rasulihi” (Sabda Nabi SAW: Aku tinggalkan bagi kalian dua hal, jika kalian memegangnya erat-erat, kalian tak akan pernah sesat, yaitu Kitab Tuhan dan sunnah rasul-Nya).

Pertama, teks hadis ini tidak seragam seperti ini. Ada beberapa versi redaksi untuk hadis ini (saya sudah tak ingat persis). Ini menandakan bahwa ingatan sangat rentan mengalami distorsi (meskipun ulama hadis umumnya mengatakan bahwa “riwayat al-hadith bi al-ma’na” diperbolehkan, alias meriwayatakan hadis tidak secara harafiah seperti diucapkan Nabi, sebaliknya hanya menceritakan “the gist” atau pengertian umumnya saja).

Kedua, hadis ini di kalangan Syi’ah memiliki redaksi yang sama sekali lain. Di kalangan mereka, “dua hal” yang ditinggalkan Nabi itu adalah Kitab Tuhan, alias Quran, dan keluarga Nabi (ahl al-Bait). Dalam pandangan saya, redaksi kalangan Syi’ah ini lebih masuk akal ketimbang redaksi kalangan Sunni. Alasan saya adalah berikut ini.

Jika Nabi menghendaki umat Islam untuk berpegang pada sunnah Nabi, ini sulit diterima secara rasional, sebab sunnah Nabi tidak pernah dibukukan secara relatif baku seperti Quran. Jika Nabi menghendaki berpegang pada sunnah, apa yang sebetulnya disebut sunnah dalam benak Nabi sendiri? Sebab pada masa Nabi sama sekali belum ada koleksi hadis yang relatif standar dan bisa diikuti oleh umat Islam. Sunnah, pada era Nabi, sahabat, dan tabi’in, masih merupakan kategori yang cair sekali. Hadis sunni tidak sekokoh Quran karena yang terakhir ini lebih solid sebagai sebuah teks, dan konon sudah dicatat dalam dokumen tertulis sejak pada masa Nabi (meskipun sekali lagi, dokumen itu sudah tak ada sekarang, antara lain karena, konon, dihancurkan oleh khalifah Usman, sehingga sulit pula kita lakukan verifikasi ulang).

Yang menarik, Nabi sendiri melarang penulisan hadis, sebagaimana dapat kita baca melalui sabdanya, “La taktubu ‘anni ghair al-Quran” (Janganlah kalian mendokumentasikan dari diriku sesuatu selain Quran). Larangan penulisan hadis juga dipraktekkan secara keras oleh khalifah Umar. Khalifah kedua ini gampang naik pitam jika ada seseorang dengan mudah meriwayatkan hadis. Dia pernah mendamprat Abu Hurairah karena sedikit-sedikit meriwayatkan hadis. “Rationale” di balik larangan ini sangat masuk akal: jika sunnah Nabi didokumentasikan, ada kekhawatiran ia akan campur-baur dengan Quran. Biarlah yang didokumentasikan Quran saja, sementara hadis tetap menjadi “living tradition” yang tak tercatat.

Kesimpulan saya: amat mustahil memegangi sesuatu yang tak jelas sosoknya seperti sunnah pada zaman itu. Yang lebih masuk akal, Nabi memerintahkan umat Islam untuk berpegang pada Quran yang sebagai teks lebih solid dan bisa dirujuk bersama-sama, plus keluarga Nabi yang juga bisa dirujuk bersama-sama. Dengan demikian, redaksi kalangan Syi’ah untuk hadis di atas lebih masuk akal. Perintah untuk “berpegang” pada keluarga Nabi masih mengandung pengertian  artinya harus menjadikan keturunan Nabi sebagai khalifah sepeninggal Nabi

Teori proyeksi dalam studi hadis:

sayang sekali pemikiran-pemikiran seperti ini hanya bisa dijumpai di blog. Kalau saja pemikiran-pemikiran seperti ini muncul di masjid, musholla, atau langgar, saya yakin sedikit banyak akan mengubah paradigma kita dalam memahami hadis.

Inti teori ini adalah bahwa banyak hadis sebetulnya muncul dan “dibuat” belakangan sebagai bagian dari debat-debat di kalangan ahli fikih perdana, kemudian dinisbahkan ke belakang (projected back) kepada Nabi. Kasus kongkretnya adalah: misalkan saja seorang ahli fikih sedang berdebat tentang suatu hukum. Lalu ia “menciptakan” sebuah hadis guna memberikan legitimasi dan otoritas pada pedapatnya itu, dan menisbahan hadis “buatan”-nya itu kepada Nabi.

Praktek “membuat hadis” palsu sangat luas terjadi dalam sejarah Islam perdana, terutama di kalangan para “da’i” dan penceramah yang disebut “al-qash-shash“. Agar ceramahnya menarik perhatian umat dan diperhatikan, seorang qash-shash sengaja menciptakan sebuah hadis dan dinisbahkan kepada Nabi.

Taha Husain di tahun 30an pernah menerbitkan sebuah buku, “Fi al-Shi’r al-Jahili” yang kontroversial yang berisi studi kritis atas syair-syair Arab pra -Islam. Menurut studi dia, banyak syair Arab yang selama ini dianggap sebagai syair pra-Islam atau jahiliyyah, sejatinya dibuat jauh setelah Islam datang sebagai bagian dari tradisi eksegesis atau penafsiran Quran.

Sebagaimana kita tahu, salah satu metode tafsir yang berkembang pada fase awal adalah dengan cara menerangkan sejumlah kosa-kata yang artinya ambigu dalam Quran dengan merujuk kepada syair-syair pra-Islam. Menurut Taha Husain, syair-syair ini diciptakan belakangan lalu diproyeksikan ke belakang, yakni ke masa jahiliyyah.
Tetapi, teori proyeksi ini membantu kita dalam memahami beberapa hadis secara lebih proporsional.

Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik.

Salah satu penulis penting di bidang ini adalah Abu al-Hasan ‘Ali al-Mawardi (w. 450 H/1058 M), seorang juris penting dari lingkungan mazhab Syafii. Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi hidup kira-kira empat abad lebih sepeninggal Nabi. Al-Mawardi hidup pada masa dinasti Abbasiyah, terutama pada fae awal saat imperium ini berada di tangan orang-orang Saljuk. Oleh beberapa sarjana, buku al-Mawardi yang terkenal, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah, dianggap sebagai semacam cara untuk memberikan legitimasi pada dinasti Abbasiyah berhadapan dengan lawan-lawannya, seperti dinasti Fatimiyyah di Mesir.

Observasi lain yang relavan mengenai hadis-hadis “politik” adalah sebagai berikut: kenapa hadis-hadis ditu cocok dan pas benar dengan kondisi politik yang berkembang pada era kedinastian Islam?

Hadis riwayat Hisyam b. ‘Urwah dari Abi Shalih dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda: “Sayalikum ba’di wulatun fayalikum al-barru bi birrihi wa al-fajiru bi fujurihi fa-sma’u lahum wa athi’u fi kulli ma wafaqa al-haqqa, fa in ahsanu fa lakum wa in asa’u fa lakum wa ‘alaihim.”

Artinya: Setelah aku meninggal, kalian akan diperintah oleh penguasa yang baik dengan kebaikannya dan penguasa yang jahat dengan kejahatannya. Kalian harus patuh mendengarkan dan menaati mereka dalam hal-hal yang sesuai dengan kebenaran. Jika mereka berbuat baik, maka kebaikan itu akan berguna buat kalian. Tetapi jika mereka berbuat jahat, kalian tak rugi apa-apa, sebaliknya yang rugi adalah mereka sendiri.

Logiskah

Nabi memerintahkan umat Islam untuk taat kepada seorang penguasa, tak peduli apakah mereka adil atau tiran, sebagaimana terbaca dalam hadis yang kedua.

Yang lebih mengagetkan adalah sabda Nabi berikut ini, “Fa in ahsanu falakum wa in asa’u falakum wa ‘alaihim“. Sesuai dengan sabda ini, jika seorang penguasa bertindak adil, maka yang diuntungkan adalah rakyat; jika penguasa bertindak lalim, maka rakyat tak dirugikan apapun; kelaliman itu hanya merugikan penguasa bersangkutan.

Saya nyaris tak percaya bahwa Nabi mengeluarkan statemen seperti ini. Bagaimana mungkin penguasa yang tiran tidak merugikan rakyat? Apakah masuk akal Nabi mengeluarkan statemen seperti ini?

Jika hadis ini memang benar-benar pernah diucapkan oleh Nabi, kenapa beberapa sahabat memberontak pada Usman, khalifah ketiga, saat ia dituduh mempraktekkan kebijakan-kebijakan yang “nepotistik” dan meresahkan banyak masyarakat, hingga akhirnya dia terbunuh? Apakah sahabat melanggar perintah Nabi untuk tunduk pada penguasa, baik penguasa adil ataupun jahat?

Kontradiksi-kontradiksi historis semacam ini tidak pernah dijawab secara memuaskan dalam literatur fikih siyasah, dan sebaliknya ditutup rapat-rapat melalui doktrin “al-shahabi ‘udul“, para sahabat adalah adil. Pokoknya diandaikan saja bahwa generasi sahabat pasti benar, tak mungkin mereka berbuat salah. Kalau pun mereka berbuat sesuatu yang tampaknya salah, itu adalah hasil ijtihad mereka. Ijtihad yang salah tetap mendapat pahala. Solusi semacam ini hanyalah melarikan diri dari masalah, bukan menghadapinya dengan “jantan”.

 Riwayat Muslim dari Abu Hazim, ia berkata: “Selama lima tahun aku bersahabat dengan Abu Hurairah dan aku pernah mendengarnya menceritakan sebuah hadis dari Nabi, “Kanat banu Isra’ila tasusuhum al-anbiya’ kullama halaka nabiyyun khalafahu nabiyyun, wa innahu la nabiyya ba’di, wa satakunu khulafa’u fa taktsuru.” Qalu: Fama ta’muruna? Qala, “Fu bi bai’at al-awwali fa al-awwali wa a’thuhum haqqahum fi inna l-Laha sa’iluhum ‘amma istar’ahum.”

Artinya: Bangsa Israel dulu diperintah oleh para nabi; setiap satu nabi meninggal, maka nabi lain akan menggantikannya. Sementara itu tak ada nabi lagi sepeninggalku, yang ada hanyalah para khulafa’/pengganti, dan mereka akan banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami untuk menghadapi mereka. Nabi berkata: Berikanlah dan penuhilah ba’iat kalian kepada khalifah pertama, lalu yang berikutnya, dan seterusnya. Berikanlah hak mereka, sebab Allah akan meminta pertanggungjawaban kelak mengenai segala hal yang menjadi tanggung-jawab mereka.

Di sana kita temukan suatu kesejajaran antara nabi dengan khalifah. Khalifah pada masa Islam sama kedudukannya dengan nabi-nabi pada bangsa Israel. Karena tak ada nabi lagi sepeninggal Nabi Muhammad, maka yang muncul sebagai “penguasa” yang melanjutkan misi Nabi adalah para khalifah. Oleh karena itu, seperti kita baca dalam penutup hadis itu, umat Islam diperintahkan untuk memberikan hak kepada para khalifah itu. Yang disebut dengan hak di sini adalah ketaatan.

Sekali lagi, hadis ini tak pernah diungkit-ungkit saat terjadi pembangkangan atas Usman, dan juga Ali, khalifah keempat.

Apa kesimpulan yang hendak saya capai dengan observasi ini? Saya menduga dengan kuat, bahwa hadis-hadis politik ini adalah hadis palsu yang “diciptakan” belakangan untuk menjustifikasi penguasa-penguasa dalam dinasti Islam. Sebagaimana kita tahu, banyak sekali khalifah Islam yang bertindak tiranik dan despotik. Hadis-hadis politik ini jelas menguntungkan mereka secara politik, sebab menekankan ketaatan rakyat, walaupun seorang penguasa menempuh kebijakan yang tak menguntungkan mereka.

Saya hampir tak bisa percaya bahwa Nabi mengatakan bawa seorang penguasa yang zalim tak membawa kerugian apa-apa bagi rakyat. Hadis semacam ini kemungkinan besar dibuat belakangan dan “dinisbahkan” atau “diproyeksikan” ke belakang sebagai sabda Nabi.

Verifikasi hadis hanya dengan metode sanad atau mata rantai transmisi sebagaimana selamaini ditempuh oleh kesarjanaan Islam tradisional sama sekali tak memadai. Metode proyeksi ini membantu kita untuk melakukan verifikasi dengan metode non-sanad.

Sebetulnya metode ini sudah dibuka kemungkinannya dalam studi hadis sendiri. Sebagaimana kita tahu, dalam studi ilmu-ilmu hadis (mushthalah al-hadith) kita kenal dua metode kritik (naqd), yaitu kritik sanad dan kritik matan atau teks hadis. Kritik sanad sudah dikembangkan dengan canggih oleh sarjana Islam, tetapi kritik matan kurang banyak dicoba. Metode proyeksi bisa masuk dalam kritik matan itu.
etelah sekian lama hilang, propaganda untuk meruntuhkan otoritas hadis sunni  mulai dicuatkan oleh sarjana-sarjana barat, seperti Ignaz Goldziher, Snouck Hurgronje, dan sebagainya. Ignaz Goldziher, misalnya, meragukan otentitas hadits Nabi saw sebagai sumber hukum Islam

.
Hanya saja, propaganda mereka belum dianggap mampu meruntuhkan otoritas hadis sunni sebagai sumber hukum kedua setelah al-Quran secara ilmiah. Baru setelah terbit dua buah buku karya Prof Joseph Schacht, yakni The Origins of Muhammadan Jurisprudence, pada tahun 1950, dan buku An Introduction to Islamic Law, pada tahun 1960, kaum orientalis mengklaim telah berhasil meruntuhkan otoritas sunnah Nabi saw sebagai sumber hukum secara obyektif-ilmiah. Bahkan, mereka menyakini telah berhasil menemukan sebuah teori yang bisa membuktikan bahwa hadits-hadits hukum yang terdapat di dalam kitab-kitab fikih mu’tabar adalah buatan ulama-ulama fikih abad kedua dan ketiga hijriyyah

.

Teori ini dibangun di atas sebuah asumsi bahwa selama abad kedua dan ketiga hijriyah, para ulama fikih terbiasa memproyeksikan pendapat-pendapat mereka sendiri kepada ucapan Nabi saw melalui sanad-sanad yang mereka buat sendiri. Berdasarkan asumsi ini, kaum orientalis berkesimpulan; hampir-hampir, tidak ada hadits hukum dari Nabi saw yang dianggap otentik. Keseluruhannya adalah kreasi ulama-ulama fikih abad kedua dan ketiga Hijriyyah, bukan benar-benar berasal dari Nabi saw

.
Di dalam The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Joseph Schacht menyatakan bahwa; system isnaad (rantai periwayatan) yang digunakan untuk membuktikan keotentikan hadits sunni sama sekali tidak didukung oleh sumber-sumber sejarah. Masih menurut Schacht, system ini dibuat oleh para ulama fikih abad kedua dan ketiga Hijriyyah secara bohong untuk menisbatkan pendapat-pendapat mereka sendiri ke belakang kepada sumber-sumber sebelumnya [perbuatan, ucapan dan persetujuan Nabi saw].

Dengan kata lain, Schact ingin kita mempercayai bahwa praktek hukum di abad kedua dan ketiga hijriyyah adalah palsu dan buatan ahli fikih abad tersebut, bukan benar-benar berasal dan bersumber dari praktek Nabi saw dan para shahabat. Ia menyatakan bahwa praktek hukum abad kedua dan ketiga hijriyyah ada terlebih dahulu sebelum adanya hadits Nabi dan isnaad (system periwayatan). Hadits Nabi beserta isnaad (system periwayatan) hanyalah alat yang sengaja dibuat ahli fikih abad kedua dan ketiga Hijriyyah untuk mengesankan bahwa pendapat pribadi mereka berasal dan bersumber dari praktek Nabi saw

.
Benarkah praktek hukum abad kedua hijriyyah adalah pendapat pribadi ahli fikih abad itu yang kemudian dinisbahkan ke belakang sampai kepada sunnah Nabi saw? Benarkah hadits-hadits hukum yang terdapat di dalam kitab-kitab fikih mu’tabar adalah kreasi ulama fikih abad kedua dan ketiga Hijriyyah?

Pihak  syi’ah  hanya  MENERiMA   SEBAGiAN  HADiS  SUNNi, sebagian lagi  ditolak !!

Orientalis  tidak  sepenuhnya  benar

Memang benar, tidak semua hadits sunni  yang sampai di tangan kita, keseluruhannya adalah shahih. Ada hadits yang sengaja dibuat-buat (dipalsukan) untuk memperkuat posisi kelompok atau madzhab tertentu, atau untuk membela rejim tertentu; ada hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang memiliki reputasi ilmiah dan personalitas yang buruk, dan lain sebagainya. Namun, kita juga tidak boleh menyatakan bahwa seluruh hadits Nabi itu palsu dan dibuat-buat. Rasanya sulit diterima oleh akal sehat, bahwa seluruh praktek hukum yang ada di abad kedua dan ketiga Hijriyyah adalah kreasi ulama fikih abad itu, dan sama sekali tidak bersumber dari praktek hukum Nabi

.

Pasalnya, ada hadits-hadits Nabi saw yang sampai ke tangan kita melalui periwayatan yang akurat dan dituturkan oleh perawi-perawi yang memiliki kredibilitas ilmu dan personalitas. Selain itu, gejala dan praktek pemalsuan hadits sudah disadari sepenuhnya oleh ulama-ulama kaum Muslim, terutama ulama hadits. Oleh karena itu, sejak dini, mereka telah mencurahkan tenaga untuk meneliti dan mengklasifikasi hadits; mana yang shahih, mana yang dlaâif, mana yang dibuat-buat (palsu), dan sebagainya. Tidak hanya itu saja, mereka juga menggariskan metodologi penelitian terhadap hadits  baik sanad maupun matan– yang lebih kokoh dan komprehensif. Upaya tersebut mereka lakukan demi menjaga sunnah Nabi saw dari pemalsuan, sekaligus menjamin bahwa prinsip keyakinan dan praktek hukum yang mereka jalankan benar-benar bersumber dari Nabi saw

.
Pada dasarnya, al-Quran sendiri telah menjelaskan prinsip-prinsip dasar ilmu hadits. Al-Quran menyatakan, “hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu [TQS Al Hujuurat (49): 6]

.

banyak materi hadits hukum (matnu al-hadits) yang mempunyai persamaan di kalangan kelompok-kelompok Islam, seperti Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah;

padahal, kelompok ini telah memisahkan diri dari kelompok Ahlus Sunnah sejak wafatnya Nabi saw. Tidak hanya itu saja, kelompok-kelompok tersebut juga saling berperang dalam rentang waktu yang cukup lama, dan saling menuduh kelompok lain telah menyimpang dari Islam.

Seandainya pemalsuan hadits hukum terjadi pada abad kedua dan ketiga Hijriyyah, tentunya, tidak ada satupun hadits hukum yang secara bersamaan terdapat dalam kitab kelompok-kelompok Islam tersebut. Namun, kenyataan justru menunjukkan; sebagian materi hadits hukum yang memiliki persamaan dan keterkaitan di tengah-tengah kelompok-kelompok Islam tersebut.

tuduhan Schacht bahwa sanad-sanad hadits telah diduplikasi sedemikian rupa oleh ulama abad kedua dan ketiga Hijriyyah dengan memakai nama orang lain, agar pendapat mereka bisa dinisbahkan kepada sumber pertama, yaitu Rasul, shahabat, dan tabi’in  tidak sepenuhnya benar.

.

Mazhab Sunni akan berantakan jika kitab hadis sunni beredar sesuai dengan versi aslinya !

Oleh karena itu ulama sunni  perlu mengedit teks, meringkas matan dan membersihkan sebagian hadis yang menghantam doktrin sunni agar mazhabnya tetapa tegak

Sebagian Hadis hadis sunni tidak akan kami terima karena bertentangan satu sama lain dan tidak sesuai dengan Al Quran

 

Dalam konteks Islam, proses semacam ini bisa kita lihat dengan jelas. Pada zaman Nabi sendiri, kita tidak pernah menjumpai akidah yang disebut sebagai Ahlussunnah wal Jamaa’h atau dogma Sunni. Kelompok ini pun muncul jauh setelah generasi Nabi. Pada zaman Nabi, banyak hal yang berkaitan dengan agama masih bersifat “bahan mentah”. Bahan mentah itu tercermin dalam teks-teks sebagaimana kita jumpai dalam Quran atau ucapan Nabi. Bahan mentah itu kita jumpai pula dalam contoh dan teladan yang pernah diberikan oleh Nabi, apa yang sering disebut sebagai “sunnah” atau tradisi.

Teks-teks itu mengandung banyak kemungkinan interpretasi. Oleh karena itu, dari teks yang sama, bisa muncul pelbagi pandangan, pendapat, dan aliran. Dengan prosedur tertentu, kelompok yang disebut Sunni merumuskan dogma tertentu yang dianggap benar. Itulah yang disebut sebagai “dogma kelompok yang selamat” (‘aqidat al-firqa al-najiya).

Tetapi, ortodoksi tidaklah bersifat tunggal. Dalam setiap agama selalu ada banyak ragam ortodoksi. Setiap kelompok berusaha merumuskan sejumlah dogma yang mereka anggap tepat dan benar. Dalam Islam, agama yang saya ketahui dengan baik, kita jumpai banyak ragam ortodoksi. Ada ortodoksi yang dikembangkan oleh kelompok Sunni, Syi’ah, Mu’tazilah, Khawarij, dan seterusnya. Apa yang dianggap benar dalam dogma Sunni belum tentu benar dalam pandangan orotodksi yang lain, misalnya Syi’ah atau Mu’tazilah.

Yang perlu kita lihat juga, apa yang disebut sebagai ortodoksi tidak sebatas pada dogma yang berkaitan dengan aspek-aspek teologis. Ortodoksi juga berlaku dalam hal-hal yang berkenaan dengan ritual (‘ibadah) atau cara bertindak yang benar menurut agama (moralitas). Dalam Islam, kita kenal suatu disiplin kajian yang disebut dengan fiqh, yaitu hukum yang mengatur tindakan sehari-hari seorang yang beriman. Sebagaimana ada banyak ragam ortodoksi pada level akidah atau dogma, begitu juga ada banyak ragam ortodoksi pada level fiqh. Dari teks yang sama, yaitu Quran dan hadis, muncul banyak interpretasi dalam bidang hukum. Masing-masing mazhab mencoba melakukan standardisasi atas pelbagai ragam pendapat itu dengan cara menyeleksi mana pendapat yang sesuai dengan standar tertentu dan mana yang tidak. Lahirlah sejumlah mazhab dalam Islam. Sekurang-kurangnya, kita kenal lima mazhab yang populer di masyarakat Islam sekarang ini: mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali dan Ja’fari. Dalam masing-masing mazhab, terdapat ortodoksi tertentu. Belum tentu pendapat yang dianggap ortodoks dalam mazhab tertentu adalah benar alias ortodoks dalam mazhab yang lain.

Setiap aliran dan mazhab tentu berpandangan bahwa dogma dan pendapat yang mereka kemukakan adalah konsisten dengan teks fondasional dalam agama, yakni, dalam konteks Islam, Quran dan sunnah. Sebagaimana sudah saya katakan, dari teks yang sama dalam sebuah agama, bermunculan interpretasi yang berbeda. Suatu interpretasi tertentu boleh saja dianggap tak konsisten atau malah menyimpang dari teks fondasional, tetapi kelompok yang mengajukan interpretasi itu sudah tentu tak setuju dengan anggapan tersebut. Kelompok itu akan berpendapat bahwa interpretasi yang ia ajukan sesuai dengan teks agama yang ada. Kenapa teks yang sama melahirkan interpretasi yang berbeda, tentu hal ini disebabkan oleh banyak hal. Salah satu sebab yang relevan di sini adalah konteks sosial atau metode interpretasi yang berbeda. Karena konteks sosial dan metode yang dipakai berbeda, maka muncul mazhab fikih yang berbeda di kawasan Kufah, Madinah dan Irak, misalnya.

Contoh berikut ini menarik kita simak. Hingga abad kedua Hijriyah, kedudukan sunnah atau hadis Nabi sebagai sumber hukum Islam masih diperdebatkan dengan keras. Imam Syafii (w. 204 H/820 M) menulis karya yang terkenal , “Al-Risalah“, sebagai sebentuk sanggahan terhadap kelompok-kelompok lain yang tak menganggap sunnah sebagai sumber otoritatif dalam penetapan hukum. Dalam “al-Umm“, karya Imam Syafii yang lain, kita jumpai polemik yang cukup hangat antara dia dengan penduduk Madinah, yakni mereka yang mengikuti pendapat Imam Malik. Polemik ini berkisar pada kedudukan sunnah sebagai sumber yang otoritatif. Berkat Imam Syafii-lah kemudian sunnah pelan-pelan diakui sebagai dasar yang mantap untuk menetapkan hukum. Karena itu, ia disebut sebagai “pembela sunnah Nabi”, atau nashir al-sunnah.

Umat Islam yang hidup setelah Imam Syafii dengan mudah melihat sunnah secara taken-for-granted sebagai sumber yang otorittaif dalam Islam. Padahal keadaannya tidak demikian sebelum periode Imam Syafii. Sebelum itu, banyak pihak dalam Islam yang menganggap sumber-sumber lain di luar Quran sebagai lebih otoritatif ketimbang sunnah Nabi. Para sarjana hukum Islam dari kawasan Irak lebih cenderung memakai “pendapat” atau “akal” sebagai sumber yang lebih otoritatif ketimbang sunnah. Penduduk Madinah di bawah kepemimpinan Imam Malik menganggap bahwa tradisi masyarakat Madinah lebih otoritatif ketimbang sunnah Nabi.

Sementara itu, di luar lingkungan “sarjana agama”, kedudukan sunnah juga masih dipersoalkan. Sebuah anekdot yang menarik layak kita sebut di sini, yakni tentang Ibrahim ibn Sayyar al-Nazzam (w. 840 M), salah seorang tokoh penting dalam sekte Mu’tazilah dari aliran Basrah. Al-Nazzam adalah salah satu pemikir Islam klasik yang sangat orisinal dan kreatif, meskipun karya-karyanya tak satupun yang sampai ke tangan kita. Pendapat-pendapatnya bisa kita baca melalui buku-buku doksografi (buku tentang sejarah seke dan aliran dalam Islam), seperti al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahrastani (w. 1153 M), atau karya-karya muridnya sendiri, yaitu al-Jahiz (w. 869 M), seperti “Al-Bayan wa al-Tabyin” dan “Kitab al-Hayawan“.

Al-Nazzam adalah seorang rasionalis tulen yang tidak dengan mudah menerima sebuah hadis begitu saja. Di mata dia, hadis-hadis yang kita terima dari Nabi harus ditimbang dengan akal. Jika hadis-hadis itu bertentangan dengan akal, dia tak segan-segan untuk menolaknya. Karena itu, dia, misalnya, menolak sejumlah hadis yang memuji-muji kucing (al-sinnaur) dan meremehkan anjing (al-kalb). Sebuah hadis terkenal memuji kucing sebagai binatang yang gemar “menggelendot” pada manusia (innahunna min al-tawwafati ‘alaikum), dan karena itu air yang dijilat oleh kucing tidak dianggap kotor atau najis. Sementara itu, anjing dianggap kotor dan najis, bahkan bejana yang dijilat anjing haruslah dicuci hingga tujuh kali menurut sebuah hadis yang terkenal.

Al-Nazzam tidak menerima hadis seperti ini karena, menurut dia, berlawanan dengan akal. Dia, antara lain, mengatakan bahwa manfaat anjing lebih besar ketimbang kucing; kenapa kucing mesti lebih dipuji ketimbang anjing. Kucing gemar memangsa burung yang menjadi mainan anak-anak, sementara anjing justru bisa menjadi binatang pemburu yang bermanfaat bagi manusia. Kucing kerap memangsa binatang dan serangga yang kotor, seperti ular, kalajengking, dan kelelawar. Dengan makanan yang kotor seperti itu, bagaimana mungkin air liur kucing dianggap tidak kotor dan najis? Sementara makanan anjing justru lebih baik dan bersih ketimbang kucing, tetapi air liurnya dianggap najis. Ini jelas tak masuk akal. Kesimpulannya: anjing lebih memiliki manfaat dan gaya hidup yang lebih baik ketimbang kucing. Karena itu, menurut al-Nazzam, hadis yang memuji-muji kucing dan meremehkan anjing ia tolak karena tak masuk akal. (Baca Ahmad Amin, Duha al-Islam, vol. 3, hal. 87, edisi Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Libanon, 2004).

Anekdot tentang al-Nazzam ini saya kutip sekedar untuk memberikan gambaran bahwa kedudukan sunnah dan hadis Nabi tidak sekukuh seperti yang dibayangkan umat Islam saat ini. Ada suatu fase dalam sejarah Islam di mana kedudukan sunnah masih diperdebatkan dengan sengit. Posisi sunnah menjadi mantap karena proses yang berjalan secara berangsung-angsur dan tidak mendadak begitu saja. Dengan metode dan argumen tertentu sebagaimana dikemukakan oleh Imam Syafii, sunnah pelan-pelan menjadi bagian dari doktrin ortodoks Sunni. Tidak semua kelompok dalam Islam tentu menerima argumen Imam Syafii tersebut.

Ortodoksi, sekali lagi, tidak muncul mendadak dan sekali jadi. Ia lahir dalam suatu proses pelan-pelan. Apa yang kita anggap sebagai dogma dalam ajaran Islam saat ini, belum tentu merupakan dogma yang ‘angker’ pada masa-masa awal Islam. Contoh yang baik adalah sejumlah dogma yang dianggap sebagai salah satu kriteria untuk menentukan apakah seseorang menjadi bagian dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau tidak. Ambillah contoh karya ‘Abd al-Qahir ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi (w. 1037 M), Al-Farq Bain al-Firaq. Al-Baghdadi adalah salah satu sarjana penting dalam aliran Asy’ariyah. Ia mencoba merumuskan sejumlah dogma standar yang harus dipercayai oleh seorang pengikut sekte Sunni. Ada lima belas dogma standar menurut al-Baghdadi yang harus diimani oleh seluruh umat Islam. Mereka yang tak mempercayai dogma ini adalah sesat. Banyak di antara dogma-dogma itu yang menarik kita telaah kembali. Misalnya, ia mengatakan bahwa seorang Muslim harus percaya bahwa alam raya adalah baru, dalam pengertian diciptakan dalam konteks waktu kronologis (temporally created), atau, memakai istilah yang sering dipakai dalam teologi Islam, “hadits” (Baca Al-Farq, hal. 283, edisi Dar al-Ma’rifah, Beirut, cet. ke-3, 2001).

Dogma lain: seorang Muslim harus mengetahui sifat-sifat Tuhan dengan prosedur penetapan dan argumen seperti dikenal dalam tradisi teologi Islam, terutama tradisi Asy’ariyah. Seorang yang mengingkari sama sekali sifat-sifat bagi bagi Tuhan, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh kelompok Mu’tazilah, Jahmiyyah atau para filosof, adalah sesat dalam standar dogma Sunni sebagaimana dirumuskan oleh al-Baghdadi.

Sebagaimana kita tahu, al-Baghdadi hidup pada ke-11 Masehi atau ke-5 Hijriyah. Pada saat ia hidup, doktrin Asy’ariyah sudah mapan, dan tugas seorang teolog seperti al-Baghdadi adalah mempertahankan dogma itu dari lawan-lawan doktrinalnya. Dogma Sunni yang ia rumuskan jelas sangat dipengaruhi oleh doktrin teologis yang ia anut. Belum tentu dogma yang ia rumuskan ini disepakati oleh sarjana Islam yang lain. Dogma-dogma ini beberapa tahun kemudian dikritik keras oleh Ibn Rushd (w. 1198 M), sebagaimana bisa kita lihat dalam karyanya, al-Kashf ‘An Manahij al-Adillah. Dalam pandangan Ibn Rushd, seorang Muslim hanya dituntut untuk beriman dengan metode yang sederhana seperti terdapat dalam Quran dan sunnah Nabi. Metode pembuktian Tuhan yang sangat rumit sebagaimana dirumuskan oleh kaum Asy’ariyyah bukanlah bagian dari dogma agama. Orang yang beriman tidak dengan cara Asy’ariyah bukan berarti sesat. Metode dan argumentasi teologis yang dipakai oleh kaum Asy’ariyah, dalam pandangan Ibn Rushd, sama sekali tak ada dalam Quran dan sunnah.

Dengan kata lain, apa yang dianggap ortodoks oleh al-Baghdadi tidaklah demikian di mata Ibn Rushd. Kedua sarjana itu mempunyai perspektif yang berbeda mengenai dogma pokok dalam masalah teologi. Kalau kita telaah dengan cermat, kelima-belas dogma yang ia rumuskan itu adalah “temuan belakangan”, bukan sesuatu yang sudah ada pada zaman Nabi sendiri. Boleh jadi sudah ada embrio yang mengarah kepada dogma-dogma itu dalam teks-teks agama, yaitu Quran dan sunnah. Tetapi sebagai dogma resmi dengan rumusan ketat sebagaimana kita lihat dalam bukunya al-Baghdadi, jelas ia adalah “invensi” atau temuan yang dirumuskan belakangan.

Dengan kata lain, apa yang disebut sebagai dogma ortodoks adalah suatu konstruksi atau susunan yang diciptakan sendiri oleh manusia dengan suatu penalaran tertentu. Dogma itu tidak mesti ada dalam sumber asli. Sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, sumber asli dalam agama mirip dengan sebuah “bahan mentah”. Dari sumber yang sama, pengikut agama bersangkutan bisa melakukan proses “manufaktur” dan melahirkan hal-hal baru yang sebelumnya tak ada dalam teks awal.

Kesimpulan pokok yang hendak saya tuju adalah bahwa selain ortodoksi lahir dalam sebuah proses dan dibuat oleh manusia, suatu dogma menjadi ortodoks juga karena ada orang-orang tertentu yang membuatnya menjadi ortodoks. Dogma-dogma yang dirumuskan oleh al-Baghdadi sebagai ortodoks bukanlah dogma ortodoks pada zaman Nabi dan sahabat sesudahnya. Dogma-dogma itu dianggap ortodoks karena dibuat demikian oleh seorang teolog, yaitu al-Baghdadi, dan kemudian diikuti oleh orang-orang lain yang sepakat dengan dia.

Dengan kata lain, sebuah ortodoksi bukan semata-mata kata benda, tetapi juga kata kerja. Ia bukan sekedar “ortodoks”, tetapi juga sekaligus “ortodoksifikasi“, jika saya boleh memakai istilah ini, yakni proses suatu dogma menjadi ortodoks. Karena itu, apa yang disebut sebagai ortodoksi adalah sesuatu yang terus mengalami evolusi. Ia tidak ada, kemudian ada, kemudian juga bisa tidak ada lagi. Suatu ortodoksi kerapkali berkaitan dengan konteks tertentu. Ketika konteks itu sudah berlalu, bukan mustahil dogma yang semula dianggap ortodoks itu akan pelan-pelan meleleh, memudar, dan bahkan hilang sama sekali. Sejumlah dogma Sunni yang dirumuskan oleh al-Baghdadi dalam penghukungAl-Farq Bain al-Firaq itu, jika kita baca dalam konteks sekarang, sudah kelihatan “old-fashioned“, atau ketinggalan zaman, dan sama sekali tak nyambung dengan tantangan kontemporer yang diahadapi oleh umat Islam saat ini. Oleh karena itu, umat Islam bisa merumuskan kembali ortodoksi baru, sebab tantangan dan konteks zaman yang mereka hadapi sudah berbeda sama sekali.

Catatan penutup yang layak saya kemukakan adalah berkaitan dengan karakter ortodoksi itu sendiri. Di mana-mana, selalu ada watak inheren dalam ortodoksi yang mengarah kepada “closure” dan “enclosure“, alias ketertutupan dan sekaligus juga penutupan diri. Ortodoksi selalu cenderung eksklusif. Hasil akhir praktis yang muncul dari sana sangat khas, yaitu sikap mudah memandang kelompok yang berasal dari ortodokasi lain sebagai sesat, kafir, murtad, dsb. Dalam terminologi klasik, kita kenal istilah “ahl al-ahwa‘”, yakni orang-orang yang mengikuti “whim” atau kemauan mereka sendiri yang sifatnya subyektif. Kelompok-kelompok yang berpandangan di luar kerangka ortodoksi disebut dengan orang-orang heterodoks yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri. Mereka tak mengikuti standar tertentu yang obyektif sebagaimana dianut oleh pengikut ortodoksi tertentu. Kelompok yang dituduh demikian akan menuduh balik lawannya sebagai pengikut hawa nafsu pula. Terjadilah proses saling menilai yang kadang-kadang berujung pada konflik. Ini semua berasal dari kecenderungan ortodoksi yang selalu mengarah pada penutupan diri.

 

 Seorang suku Kurdi Sunni Iran memegang tasbih sambil duduk di situs bersejarah di kota Sanandaj, provinsi Kordistan, 763 km barat laut Teheran

.

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah ?  Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

“Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” katanya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia  Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.

===============================================

HADITS sunni :

Al Muwatho’

Shohih Bukhori

Shohih Muslim

Al Mustadrok

Sunan Abu Daud

Sunan Nasa’i

Sunan Tirmidzy

Sunan Daruquthny

Sunan Ahmad

Sunan Syafi’i

Sunan Abdur Rozaq

Sunan Ibnu Majah

.
TAFSIR

Versi  syi’ah, didalam  ALQURAN tidak ada satupun ayat  yang menyatakan  “sahabat Nabi  SAW yang  menentang imamah Ali  dijamin surga !!”

Tafsir Ibnu Katsir 
Tafsir Qurtuby  
Tafsir Thobary 
Tafsir Jalalain
Tafsir Baidhowi

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis sunni edisi lengkap sengaja disembunyikan ???

Datanglah ke pesantren , adakah barang tersebut ???

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis banyak diedit dan diringkas ???

Tidakkkah anda heran kenapa banyak hadis disembunyikan ulama ??

Sehingga anda terkejut kejut, kok hadis ini ada padahal dulu tidak dinamppakkan para ustad..

Motifnya : motif politik agar mazhab sunni tetap tegak…

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak kontradiksi dan pertentangan antar hadis

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak  kebenaran syi’ah..

Ini bukan fitnah apalagi provokasi

.

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi..

Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Legenda :

1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)

tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis

.

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.

Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

.

setelah kitab Shahih Bukhari tersusun, muncullah segelintir ulama hadits yang mengkritik isi kitab tersebut. Diantaranya Al-Daaraqutni (wafat 385 H), Abu Ali Al-Ghassani (wafat 365 H), dan lain-lain. Kritikan para ulama ini (yang tertuju tidak lebih dari 100 hadits) dari sudut pandang ilmu-ilmu hadits, yang menurut mereka, terdapat juga di dalamnya hadits yang dhoif.

Yang perlu kita cermati, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara kritik ulama terdahulu dengan yang datang kemudian. Ulama terdahulu mengkritik dengan mengacu kepada ilmu-ilmu hadits, sedangkan pengkritik setelahnya dan terutama akhir-akhir ini, hanya berdasarkan logika atau juga akal mereka masing-amsing. Diakui ataupun tidak, baik secara langsung maupun tidak, sedikit banyak mereka terpengaruh dengan para orientalis atau pola pikir mereka.

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Legenda :

1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)

tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis

.

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.

Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Sesuai  dengan fitrahnya yang selalu ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin bersama kebenaran kapanpun dan dimanapun ia berada, manusia dalam mengarungi kehidupannya selalu berfikir dan merenungi fenomena-fenomena yang terjadi di planet bumi ini. Proses tersebut menumbuhkan benih-benih pemikiran yang dapat membuahkan sesuatu yang bernama ilmu. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apakah ilmu itu sebenarnya? Lebih dalamnya lagi, apakah hakikat ilmu itu sebenarnya? Kemudian bagaimanakah cara untuk mendapatkan ilmu tersebut? dan apa konsekuensi yang muncul setelah mendapatkan ilmu tersebut? Apa yang akan dicapai manusia dengan ilmu yang telah diperolehnya? dan pertanyaan terakhir adalah, buah ilmu yang sebenarnya itu apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu dicari jawabannya oleh setiap manusia.

Ilmu dan hakikat ilmu 
Jikalau kita ingin mengetahui sesuatu, maka yang pertama kali harus kita lakukan  adalah menganalisa objek yang ingin kita ketahui tersebut, mulai dari keberadaannya, sifat-sifat yang disandangnya, keistimewaan dan kekurangannya, dan begitu seterusnya sampai pada pertanyaan terakhir apakah buah yang dapat dihasilkan oleh pengetahuan terhadap objek tersebut. Adalah sesuatu yang pasti bahwasanya hal ini bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat di lakukan oleh setiap manusia, hanya mereka yang mencintai pengetahuan serta mau berjalan seiring dengan kodrat yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa pada dirinya, dan yang mau menggerakkan fasilitas kodrat tersebut sebagai jalan untuk mencapai hakikat sajalah yang dapat melakukannya, sehingga pada akhirnya proses tersebut dapat mengantarkannya kepada kebahagian dunia dan akhiratnya kelak.

Kita beranjak dari pertanyaan yang pertama, apakah ilmu itu, dengan kata lain apakah hakikat ilmu itu? Untuk menjawab pertanyaan pertama ini, kita membutuhkan kepada beberapa analisa masalah. Jika kita menengok kembali peradaban manusia mulai dari Nabi Adam as hingga sekarang, maka kita akan menemukan begitu banyak persepektif tentang ilmu dari para ilmuwan yang hidup sepanjang sejarah.

Terlepas dari siapakah ilmuwan tersebut, sebagian mereka mengungkapkan bahwa ilmu adalah kebisaan seseorang untuk melakukan suatu hal, sebagian yang lain menyatakan bahwa ilmu adalah suatu kekuatan yang dapat mengantarkan manusia pada tujuannya dan sebagian lagi meyakini bahwa ilmu adalah ruh yang dapat menghidupkan manusia. Masih banyak lagi persepektif lainnya tentang definisi ilmu tersebut, sampai pada masa kejayaan Yunani kuno, di mana kejayaan tersebut berhasil menembus dunia Islam yang pada akhirnya melahirkan tokoh-tokoh filosof ternama.

Apabila kita masuk kepada wilayah filosofis, yang mana akar-akar pemikirannya banyak bergantung pada akal murni (Logical Knowledge), maka di situpun kita akan menemukan berbagai persepektif dalam mendefinisikan ilmu yang satu sama lain berbeda. Namun sampai sekarang ini kalau kita kembali merujuk pada buku-buku logika, maka kita akan menemukan definisi yang kurang lebih baku tentang ilmu, definisi tersebut mengatakan ilmu yaitu hadirnya suatu gambaran ke dalam benak manusia, akan tetapi definisi ini masih bisa kita diskusikan dan kita pertanyakan kembali, apakah gambaran yang masuk ke dalam benak manusia itu merupakan hakikat ilmu itu sendiri, atau hanya sekedar bentuk dzhohirinya ilmu saja?

Kalu kita melihat literatur khazanah Islam, maka di situ kita akan menemukan bahwa Islam itu sendiri membagi ilmu menjadi dua bagian, yaitu ada hakikat (asli), dengan kata lain dzat ilmu itu sendiri, dan ada pula dzohir atupun far’i (cabang), nah jika yang dimaksud hadirnya gambaran sesuatu di atas tadi adalah hakikat ilmu itu sendiri, maka konsekuensinya adalah gambaran yang masuk ke benak tadi akan membawa manusia tersebut kepada kesempurnaan maknawi, yang mana kesempurnaan tersebut dapat diaplikasikan di berbagai sisi kehidupan manusia. Akan tetapi kita menemukan begitu banyak maklumat yang masuk ke benak manusia, yang saking  banyaknya sampai-sampai tidak dapat kita hitung dengan angka nominal, tetapi gambaran (ilmu) tersebut tidak bisa mengantarkan manusia kepada kesempurnaan, bahkan sebaliknya gambaran (ilmu) tersebut justru mengantarkan manusia pada jurang kehancuran.

Oleh karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa gambaran yang masuk ke dalam benak manusia bukanlah hakikat ataupun dzat ilmu,  melainkan bentuk dzohiri ataupun kulit ilmu  itu sendiri, karena Islam menjelaskan bahwa ilmu memiliki jauhar (substansi), dan jauhar tersebutlah yang memberi arti pada ilmu sehingga manusia dengan ilmunya dapat menjadi manusia seutuhnya yang dapat berbakti pada sesama manusia dan meyampaikannya pada puncak kesempurnaan. Apabila jauhar tadi hilang, maka ilmu tersebut tidaklah berarti lagi dan tidak ada bedanya dengan kebodohan, sebagaimana Imam Ali (as) menjelaskan hal ini dalam kata mutiara beliau:

“Berapa banyak orang alim, akan tetapi kebodohannya telah membunuhnya dan ilmu yang bersamanya tidaklah bermanfaat sama sekali”.

Dari pernyataan beliau bisa kita ambil kesimpulan bahwa ilmu adalah sesuatu dan hakikat ilmu sesuatu yang lain. Akan tetapi apabila manusia dapat mengaplikasikan kulit atau gambaran ilmu tersebut dengan baik maka melalui sebuah proses maknawiah, manusia tersebut akan sampai kepada hakikat ilmu, sekarang apa sebenarnya hakikat ilmu itu? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah menuntut ilmu puluhan tahun bahkan seumur hidup tapi yang di dapat hanya kulitnya dan sama sekali tidak pernah merasakan intisarinya!

Hakikat dan buah ilmu dalam perspektif Islam
Untuk mendapatkan definisi ilmu yang hakiki, maka kita harus merujuk pada Sohib hakikat yang mengetahui dzohir dan batinnya segala sesuatu, yang ilmunya tidak akan pernah salah dan tidak terbatas, karena jika kita mengkaji ilmu mantiq (logika) kita akan menemukan bahwa sampai saat ini bahkan sampai hari kiamat nanti, tidak ada satu manusiapun baik ia pakar logika ataupun filosof yang dapat mendefinisikan sesuatu dengan definisi yang hakiki kecuali para manusia suci yang merupakan pengejawantahan ilmu Ilahi. Hal ini tidak lain dikarenakan keterbatasan manusia dalam pengetahuan, oleh karena itulah mereka membuat suatu konsep dengan berbagai penjelasan dan perinciannya yang sesuai dengan daya faham yang mereka miliki dan tidak lebih dari itu! Jika kita kembali pada nas (baik itu ayat ataupun riwayat), maka kita akan menemukan definisi hakiki dari ilmu itu sendiri.

Kita sering mendengar hadis dari Rasulullah saww yang mana beliau bersabda:  “Ilmu adalah cahaya yang Allah swt letakkan di hati hamba-Nya yang Ia iginkan.”

Jadi hakikat ilmu menurut paling sempurnanya manusia di alam jagat raya ini adalah sebuah cahaya dan bukan gambaran sesuatu yang masuk ke dalam benak manusia, sebagimana kita ketahui bahwa cahaya adalah suatu zat yang suci, dan hal yang suci tidak akan bertemu dengan dengan sesuatu yang kotor, oleh karena itu dalam proses penerimaan cahaya diperlukan tata cara yang khusus dan tidak semua orang mempunyai potensi untuk hal itu.

Adapun gambaran-gambaran yang masuk ke dalam benak manusia merupakan salah satu perantara untuk menerima cahaya tersebut, yang kemudian gambaran-gambaran tersebut direnungkan dan difahami serta diamalkan dengan baik dan ikhlas sehingga pada akhirnya sampai pada cahaya itu sendiri, jikalau gambaran-gambaran yang masuk ke benak manusia adalah hakikat ilmu itu sendiri maka kita tidak akan menemukan kefasadan (kerusakan) serta kehancuran di muka bumi ini, akan tetapi sangat disayangkan bahwa mayoritas manusia hanya bisa mengambil gambaran ilmu tersebut tanpa bisa merealisasikannya hingga menjadi cahaya kesempurnaan.

Dari sinilah kita harus bisa menerima realitas dan janganlah kita terkejut jikalau kita menemukan manusia yang bertahun-tahun menuntut ilmu, bahkan sampai orang terkagum-kagum dengan hasil penemuannya, dan mereka mampu menciptakan berbagai teori yang manusia di zamannya tidak dapat mencernanya dengan baik, akan tetapi perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma kemanusian, dengan berbagai macam teori dan konsep yang ia ketahui ia berani melanggar ketetapan-ketetapan agama, bahkan sampai berani mengorbankan status sosialnya hanya karena ingin mencapai tujuan dan manfaat pribadinya.

Kondisi yang lebih memprihatinkan kita adalah, realitas tersebut justru menimpa mereka yang memiliki status sebagai pelajar agama, mereka yang memiliki peran begitu besar untuk membangun kondisi spiritualitas bangsa dan negara, kehadiran mereka sebagai pelita-pelita yang dapat menerangi kegelapan, kemanapun mereka pergi maka di situ akan terpancarkan cahaya sehingga manusia yang ada di sekitarnya tidak lagi merasa kegelapan dan pada akhirnya mereka dapat menyampaikan manusia yang berada di sekelilingnya tersebut pada tujuan mereka.

Akan tetapi apa daya dan upaya kita, ternyata realitas berbicara lain, kita melihat dan menemukan dengan mata kepala kita sendiri bahwa begitu banyak orang-orang yang mengaku sebagai pecinta ilmu dan berstatus sebagai pewaris para Nabi dalam menyampaikan misi-misi suci Ilahi, ternyata telah menyelewengkan fungsi ilmu itu sendiri. Mereka mempelajari khazanah ilmu-ilmu Islam akan tetapi mereka tidak mengamalkan apa yang mereka dapatkan selama masa belajarnya. Mereka memperdalam ilmu tapi bukan untuk mencapai keridhoan Ilahi melainkan demi mencapai tujuan dan manfaat pribadi.

Mereka pintar dan dapat mengagumkan setiap orang dalam berargumen akan tetapi pada saat yang sama mereka melupakan jati diri mereka, karena kepintaran mereka bukan semata-mata untuk membimbing orang lain menuju ke jalan Allah melainkan mereka ingin mendapatkan posisi yang sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki. Jika Islam mengajarkan untuk tidak memandang kemuliaan manusia hanya dari banyak dan lamanya ia belajar, maka  hari ini realitas itu telah barubah, mereka mengukur kemuliaan manusia hanya dari kuantitas dan lamanya ia belajar, walaupun sering sekali kita menemukan orang-orang yang banyak dan lama belajar cenderung meremehkan orang lain dan menganggap orang lain tidak tahu apa-apa dan menganggap merekalah yang paling bisa.

Mereka tidak lagi memperhatikan ucapan dan garak gerik mereka yang bertentangan dengan akhlak islami, hal inilah yang dari jauh-jauh hari telah diperingatkan oleh Imam Shodiq as:
” Bukanlah ilmu itu dikarenakan banyaknya belajar, sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang mana Allah swt meletakkannya di dalam hati hamba-Nya yang Ia inginkan”.

Hal ini merupakan khayalan orang-orang yang menganggap bahwa mereka sudah berilmu, padahal mereka telah lalai akan hakikat dan buahnya ilmu itu sendiri. Ilmu hakiki tidaklah membuahkan sesuatu yang lain kecuali rasa takut pada Allah swt, sebagimana Allah menerangkan dalam Al-qur’an bahwa buah dari ilmu yang hakiki adalah rasa takut kepada-Nya
” Sesungguhnya hanya dari hamba-hamba-Nya yang berilmu yang takut kepada-Nya”(Al-Fathir:28)

Dan jika kita merujuk kembali kepada nas, maka di situ makna hakikat ilmu dan siapa saja yang menyandang hakikat tersebut, serta bagaimana kriteria orang-orang yang menyandang ilmu hakiki akan semakin jelas, sehingga kita bisa membedakan mana orang yang benar-benar berilmu dengan orang yang berkhayal bahwa ia berilmu. Wahai para pecinta ilmu! Marilah kita merenungi kembali apa sebenarnya hakikat ilmu itu, sehingga kita ataupun mereka yang mengaku pecinta ilmu dan pecinta kebenaran tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran yang akibat dari semua itu adalah murka Allah swt, Rasul-Nya dan para penerusnya yang di sucikan oleh Allah swt dari segala dosa dan kesalahan.[]

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi..

Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Legenda :

1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)

tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis

.

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.

Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits

.

 

 Seorang suku Kurdi Sunni Iran memegang tasbih sambil duduk di situs bersejarah di kota Sanandaj, provinsi Kordistan, 763 km barat laut Teheran

.

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah ?  Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

“Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” katanya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia  Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.

mengapa syiah mengapa sunni beda pemahaman ?

Dialog santai ini  Sekedar untuk menggambarkan perbedaan Suni – Syiah, dengan santai …

Biar nggak usah, pusing-pusing…Tidak dimaksudkan untuk detil2 amat…

Dialog santai antara Ahmad (A), seorang Suni dan Al-Baqir (B), seorang Syiah, di kantin.

A: Eh, Al-Baqir kamu kok Syiah, sih? Syiah kan sesat… Mbok ikut Suni saja yang lurus..
B: Lho, justru menurut saya kamulah yang sesat, ikuti Syiah saja… ini jalan yang lurus..

DASAR KEBENARAN
A: Iya, yah… Nggak mungkin kamu ikut Syiah kalau kamu pikir tidak benar,
kalau gitu kita dialog santai saja. Apa dasarnya Syiah itu benar? Kalau Suni kan jelas,
“umat Islam akan pecah jadi 73, yang benar adalah Ahlu Sunah”.
B: Oh, pasti ada dong, hadis Nabi “Ahlul Bait adalah laksana bahtera Nuh,
siapa yang masuk ke dalamnya dia akan selamat”

QURAN BEDA?
A: Oh, gitu yah? Hadis ini kok jarang saya dengar… Terus ini yang penting,
kalau kamu Islam kok pakai Quran yang lain dengan kami?
B: Tidak, itu fitnah! Quran kami sama dengan kamu. Kalau memang beda, gampang kok
membuktikannya. Datang ke rumah saya, apa Qurannya beda? Cari buku tafsir orang Syiah,
apa ayat2nya beda? Sekarang kan zaman informasi, kalau beda gampang buktikannya,
misalnya kunjungi website Syiah, ada banyak sekali, apa ada ayat Qurannya beda?
A: Tapi katanya ada ulama Syiah yang bilang Quran sekarang tidak asli?
B: Iya memang ada, tapi itu bukan pendapat yang sahih. Lagian yang ngomong gitu, juga
nggak mbuktikan Quran yang asli itu kayak apa? Tidak usah dianggap… Kalau memang
beda, tentu Iran akan mencetak Quran versi Syiah sendiri ke seluruh dunia, kan Iran negara
Islam Syiah?

(Lanjut..)

TAQIYAH
A: Ah, jangan-jangan kamu ngomong gitu untuk taqiyah… Orang Syiah nggak bisa
dipercaya, karena suka taqiyah, sih…
B: Jangan begitu, orang Syiah itu juga punya akhlaq. Kalau misalnya ajaran agamanya
mengajarkan untuk bohong ya agama itu nggak aku ikutin. Pastilah semua agama juga
menjunjung tinggi kejujuran… Taqiyah itu artinya menyembunyikan keimanan, karena
alasan yang benar, misalnya ancaman jiwa. Seperti istri Fir’aun, dia menyembunyikan
keimanan dihadapan Firaun, meski kemudian ketahuan.
A: Tapi seharusnya dalam kondisi apa pun, kita harus menunjukan kebenaran…
B: Untuk alasan yang keselamatan misalnya, kita boleh pura2, seperti dilakukan
oleh Amar bin Yasir ra. Inilah yang disebut taqiyah. Kalau kondisi aman, beribadah bebas,
semua orang boleh bicara tanpa intimidasi, apa gunanya taqiyah.
A: Masuk akal, tapi kayaknya saya nggak sreg, jadi orang Islam kan harus berani…
B: Iya, tapi kalau akibatnya umat Islam menjadi lemah, bagaimana?

RUKUN IMAN & ISLAM
A:Ohya, apa Syiah punya rukun Iman & Islam sendiri?
B: Iya, kami menamakan agak berbeda, yaitu Usuludin dan Furu’udin. Usuludin ada 5, yaitu
Tauhid, Adalah (Keadilan Allah), Nubuwah (Kenabian), Imamah dan Qiyamah. Berbeda sedikit
dengan rukun Iman versi Suni, yaitu pada Imamah. Kalau yang lain relatif sama, hanya
istilahnya beda.
A: Kalau Suni menggunakan khilafah, tapi itu tidak masuk kedalam rukun Iman… Terus iman
kepada Kitab, Malaikat, dan Taqdir kok nggak masuk?
B: Oh, tentu kami percaya dengan Kitab, dan Malaikat tetapi itu bagian dari keyakinan dari
Tauhid dan Nubuwah. Sedang Taqdir, kami menekankan kepada Adalah, keadilan Allah dalam
taqdir…
A: Terus Furu udin, apa itu?
B: Ya hampir sama dengan Rukun Islam, tapi kami lebih banyak karena ada tambahan lain,
yaitu khums, jihad, amar ma’ruf nahi munkar.
A: Oh, begitu… Cuma khums kok nggak dikenal ya dalam Suni?
B: Memang agak berbeda, khums kalau Suni masuk dalam zakat. Yaitu zakat barang tambang,
rampasan perang, itu 1/5 (khums), . Tapi di Syiah, tidak hanya barang tambang, tetapi setiap
keuntungan, termasuk kelebihan pendapatan selama setahun (seperti zakat profesi), dikenai 1/5
A: Wah banyak juga, yah… Kalau Suni hanya 2.5% saja….

(berlanjut)

MADZHAB FIKH

A: Terus cara shalat, puasa apa sama?
B: Secara umum samalah, seperti subuh 2 rakaat, maghrib 3 rakaat, dll… Gerakannya juga sama dari takbir hingga salam… Namun ada beda pada detil, misalnya waktu berdiri tangan tidak sedekap, tapi lurus. Kita mengikuti fikh madzhab Ja’fari…
A: Apaan tuh fikh ja’fari, kok tidak ikut madzhab 4 saja?
B: Yah, kalau kaum Suni punya 4 madzhab Hanafi, Syafii, Maliki dan Hambali… Kami punya madzhab Ja’fari.
Madzhab ini mengikuti pendapat Ja’far Shadiq salah satu Imam Syiah.
A: Ja’far Shadiq? Kok kaya nama salah satu wali songo ya?
B: Oh, benar… Banyak keturunan Nabi SAW memiliki nama Ja’far Shadiq, di antaranya adalah wali songo penyebar Islam di tanah Jawa, beliau juga keturunan Nabi SAW.
A: Tapi Ja’far Shadiq hidup pada zaman siapa?
B: Beliau hidup hampir bersamaan dengan Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik. Malah konon Imam Abu Hanifah dan Imam Malik pernah berguru kepada Ja’far Sadiq. Sehingga terkenal kata2 Imam Abu Hanifah, “Kalau tidak karena 2 tahun (bersama Imam Ja’far), maka celekalah Nu’man (nama Abu Hanifah)”…
A: Oh, gitu? Ternyata saling berguru ya? Seperti juga Imam kaum Suni, Imam Syafi’i pernah berguru kepada Imam Malik, dan Imam Ahmad pernah berguru kepada Imam Syafii… Ternyata ke-5 Imam madzhab saling berdamai, ya? kenapa umatnya saling bertikai?
B: Entahlah… Orang sekarang makin sulit toleransi, beda pendapat sedikit saja, dibilang “Aqidah kita berbeda, engkau bukan saudaraku”
A: Iya, kayaknya lebih mudah menyatukan anak kecil bertengkar, ya? Padahal shalatnya menghadap kiblat yang sama, membaca Quran yang sama, naik haji juga ke tempat yang sama..
B: Tapi syukurlah, sudah mulai banyak yang menginginkan persatuan kayak Ikhwanul Muslimin… Dari Syiah, kemarin presiden Iran dateng ke Indonesia untuk silaturahmi… Saya bersyukur, kamu masih mau silaturahmi sama saya… meski tahu saya Syiah.
A: Oh, bagaimana pun, kamu Saudara saya dalam Islam…

(lanjut)

AHLUL BAIT NABI SAW

B: Boleh tanya, kami kaum Syiah sering menyebut sebagai madzhab Ahlul Bait, sebenarnya
kamu tahu nggak Ahlul Bait…
A: Memang agak jarang kami membahas Ahlul bait dalam kajian-kajian Suni… Tapi setahu saya,
ahlul bait maknanya banyak… Ada yang mengartikan keturunan Ali, ada yang mengartikan ya seluruh umat Islam ini Ahlul bait Nabi… Kalau menurut Syiah bagaimana?
Apa sih pentingnya ahlul bait?
B: Bagi kami, konsep ahlul bait justru merupakan pilar dari ajaran Syiah. Sebagaimana hadis nabi, “Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga (tsaqalain),
yang pertama adalah Kitab Allah, dan yang kedua adalah Ahlu baitku”. Hadis ini sahih, lho… Soalnya diriwayatkan diantaranya oleh Muslim.
A: Lho, bukannya dua perkara itu Al-Quran dan Sunahku? Itu setahu saya…
B: Ya, memang ada… tetapi kami lebih memilih hadis dengan ahlul bait ini… Bagi kami ahlul bait nabi
bukan sekedar keluarga Nabi, tetapi adalah yang kami jadikan anutan, dan kami cintai. Kami ingin
menjadi kelompoknya…
A: Wah, bukannya itu kultus individu, Nabi SAW kan tidak suka dikultusindividukan…
B: Bukan kultus individu, tetapi memang itu perintah Allah dan Rasul.. seperti hadis tadi itu…
A: Apa ada perintah Allah untuk mencintai ahlul bait Nabi? setahu saya tidak ada…
B: Ada, misalnya di surah Asy-syura: 23, “Katakanlah : Aku tidak meminta dari kalian sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluarga (al-qurba) “. Kami menafsirkan Al-Qurba adalah Ahlul bait Nabi… Menurut Syiah, Ahlul bait itu adalah ahlul kisa, yaitu Fatimah, Ali, Hasan dan Husain… dan keturunan mereka…
A: Kalau menurut kami keluarga, ya keluarga dalam arti umum. Okelah, memang kita disuruh mencintai ahlul bait Nabi SAW, karena hadisnya cukup banyak… Tapi, kok bisa2nya Syiah berpendapat Ahlul bait itu suci, tidak punya dosa, seperti nabi saja… Ini kan tidak masuk akal?
B: Menurut saya tidak mustahil kok orang biasa dosanya sedikit, sepanjang dia selalu menjaga diri.. Nah,
menurut kami Ahlul Bait Nabi itu selain menjaga diri, juga memang dijaga oleh Allah SWT dari segala noda..
A: Apa dasarnya?
B: Ada, surat Al-Ahzab ayat 33, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Ini artinya Ahlul bair dijaga Allah…
A: Ah, kami nggak menafsirkan seperti itu…
B: Ya, nggak apa-apa… Kita lanjutkan lain kali saja deh…

(lanjut)

AHLUL BAIT (2)
A: Ohya, lanjutkan ya ngobrol kemarin masalah ahlul bait… Apa benar orang Syiah menyembah
Ali dan keturunannya atau ahlul Bait?
B: Ah, ya nggak dong… Ajaran kita kan sama TAUHID, artinya mengesakan Allah, hanya menyembah
Allah, kalau membuat sekutu kan syirk.
A: Terus kenapa kamu sering dikatakan menyembah Ahlul bait?
B: Nggak tahu, ya? Barangkali karena kami memang mencintai dan membela ahlul Bait Nabi SAW…
Tapi itu kan perintah Allah dan Rasul. Jadi menurut kami, kecintaan kepada Ahlul Bait adalah
karena kecintaan kepada Rasul, kecintaan kepada Rasul adalah karena cinta kepada Allah..
A: Sebenarnya, kami kaum Suni juga mencintai Ahlul Bait Nabi, bukankah kita dianjurkan untuk
banyak-banyak shalawat dan bunyi salawat salah satunya ” wa aali Muhammad”…
B: Benar, sebenarnya kita juga sama2 mencintai ahlul bait Nabi SAW sebagaimana salawat tadi…
A: Saya pengin tahu lebih lanjut mengenai kecintaan kepada Ahlul Bait… Bagaimana riwayat mereka
kenapa orang syiah seneng sekali memperingati Hari Asy-Syura…
B: Kalau kita baca sejarah ahlul Bait Nabi memang penuh dengan pelajaran. Al-Hasan, cucu Nabi SAW,
mementingkan perdamaian dengan Muawiyah, demi persatuan kaum Muslimin. Al-Husein, juga cucu kesangan Nabi SAW, bersama dengan sekitar 70an orang dibantai oleh orang-orang Islam juga di Karbala… Ini yang menyedihkan…Inilah mengapa orang-orang Syiah selalu mengenang kejadian ini… Sebagai bukti
kesetiaan kami terhadap Ahlul Bait, sebagaimana perintah Rasul untuk mencintai dan membela mereka…
A: Saya juga tahu sejarah mereka, hanya kami tidak memperingati sampai gitu-gitu amat?
B: Ya, itu terserah keyakinanmu, tetapi bagi kami memperingati kejadian bersejarah adalah salah satu
bukti kecintaan kami kepada mereka… Bukankah, hal biasa misalnya kamu memperingati hari kelahiran,
pernikahan atau kematian saudaramu? Apalagi dengan panutanmu…
A: Iya, lah… Memang jujur saja… Saya tidak begitu mengenal tokoh-tokoh Ahlul bait… Siapa saja selain
Hasan dan Husein… Kalau ini sudah kami kenal…
B: Terutama mereka adalah Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far Ash-shadiq… ini yang menjadi
pendiri fikh ja’fari, terus Musa Al-Kaziem, Ali Ar-Rida, Muhamad al-Jawad, Ali Al-Hadi, Hasan al-askari, dan Muhamad Al-Mahdi…
A: Terima kasih, menambah daftar orang shaleh yang biasa dikenal di kalangan ahlu Sunah, seperti
Imam Hanafi, Imam Ahmad, Syafi’i, Al-Ghazali, Ibn Taymiah, Ibn Hazm, Imam Asy’ari… saya juga
mengenal Ash-Shadiq, Zainal Abidin, Al-Kazim….
B: Saya sangat bersyukur kalau mau mengenal tokoh-tokoh ahlul bait, karena mereka termasuk pelita
umat… selain ulama2 yang biasa kamu kenal…
A: Iya deh, tapi tidak untuk disembah…
B: heh, siapa yang nyembah?
A: Bercanda… Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad
B: Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad…

(lanjut)

AHLUL BAIT (3)

A: Masih penasaran nih dengan Ahlul Bait… Kalau jelas bahwa mencintai Ahlul bait adalah kewajiban umat Islam, mengapa kok kurang populer di kalangan Ahlu Sunah? Sehingga kita harus shalawat kepadanya, kan?
B: Tidak tahu, ya? Tapi dalam hadis Muslim, Rasulullah mengingatkan 3 kali, “Aku ingatkan kalian akan Ahlul Baitku”… Mungkin karena sejarah. Orang yang menjadi Syiah, adalah merupakan nista, “aib”, dianggap kelompok pemberontak… Nah, salah satu ciri orang Syiah adalah kecintaan terhadap Ahlul Bait.
A: Tapi setahu saya, kalangan nahdliyin juga sangat menghormati kalangan Ahlul Bait Nabi… Kalau ada habaib, keturunan Nabi SAW, mereka sering minta doa kepada mereka… Sehingga Gus Dur pernah bilang NU itu Syiah kultural…
B: Ya, kalangan NU mengenal Ahlul Bait Nabi, sehingga banyak disebut dalam shalawat-salawat mereka… Juga mereka banyak mengamalkan zikir-zikir karya para habaib, seperti Ratib Al-Hadad, Simtud-Durar, dll.
A: Ohya, saya pernah baca buku kalau nggak salah “Rumah Suci Keluarga Nabi”, berisi sejarah dan ajaran penghulu Ahlul Bait itu karya orang Suni madzhab Syafi’i…
B: Betul, ada juga buku-buku Abdullah bin Nuh yang banyak menceritakan kisah-kisah Ahlul Bait Nabi…
A: Ohya, saya tahu juga kalau di kalangan tasauf, tokoh-tokoh seperti Imam Ja’far, Ali Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, dll banyak dikenal. Apa memang mereka pengikut tasauf?
B: Mereka memang rujukan ajaran Islam, termasuk tasauf, kami menyebutnya Irfan. Ajaran rohani mereka memang menonjol… sehingga kebanyakan kalangan tasauf bersanad dengan mereka…
A: Baiklah, saya akan coba mempelajari sejarah dan ajaran mereka, seperti siapa sih Zainal Abidin, Muhamad Al-Baqir, di samping mempelajari ulama-ulama kami Imam Syafi’i, Al-Ghazali, Ibnul Qayim… Ohya, ngomong-ngomong nama kalangan ahlul bait kok kayaknya khas ada nama dan gelar?
B: Ya, itu kebiasaan kami, seperti Muhammad “Al-Mustafa”, Fatimah “Az-Zahra”, Ali “Zainal Abidin” atau “As-Sajad”, Muhammad “Al-Baqir”…
A: OK, thank, nice to talk with you… Assalamu’alaikum
B: Alaikum salam, nice to meet you, too…

Sebelumnya perlu diingatkan bahwa apa yang penulis(saya) sampaikan adalah bersumber dari apa yang penulis baca dari sumber-sumber Syiah sendiri.

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Penulis (saya) menjawab benar perbedaan Sunni dan Syiah memang tidak sebatas Furu’iyah tetapi juga berkaitan dengan masalah Ushulli. Tetapi tetap saja Syiah adalah Islam. Kita akan lihat nanti. Tidak ada masalah dengan pendekatan Sunni dan Syiah karena tidak semuanya berbeda, terdapat cukup banyak persamaan antara Sunni dan Syiah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya

Jawaban saya, kata-kata ini juga bisa ditujukan pada penulis itu sendiri, minimnya pengetahuan dia tentang Syiah kecuali yang di dapat dari Syaikh-syaikhnya. Kemudian berbicara seperti orang yang sok tahu segalanya. Dan berkomentar sebelum memahami persoalan sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Bukankah baik kalau mengenal sesuatu dari sumbernya sendiri yaitu Ulama Syiah. Kalau si penulis itu menganggap Ulama Syiah Cuma berpura-pura lalu kenapa dia tidak menganggap Syaikh-Syaikh mereka itu yang sengaja mendistorsi tentang Syiah. Subjektivitas sangat berperan, anda tentu tidak akan mendengar hal yang baik tentang Syiah dari Ulama yang membenci dan mengkafirkan Syiah. Pengetahuan yang berimbang diperlukan jika ingin bersikap objektif. Sekali lagi perbedaan itu benar tidak sebatas Furu’iyah.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita(Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Kata-kata yang begitu kurang tepat, yang benar adalah Syiah meyakini Rukun Iman dan Rukun Islam yang dimiliki Sunni tetapi mereka merumuskannya dengan cara yang berbeda dan memang terdapat perbedaan tertentu pada Syiah yang tidak diyakini Sunni.
Kitab Hadis Syiah benar berbeda dengan Kitab Hadis Sunni karena Syiah menerima hadis dari Ahlul Bait as(hal ini ada dasarnya bahkan dalam kitab hadis Sunni lihat hadis Tsaqalain) sedangkan Sunni sebagian besar hadisnya dari Sahabat Nabi ra.
sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita. Ini adalah kebohongan, yang benar Ulama-Ulama Syiah menyatakan bahwa Al Quran mereka sama dengan Al Quran Sunni. Yang mengatakan bahwa Al Quran Syiah berbeda dengan Al Quran Sunni adalah kaum Syiah Akhbariyah yang bahkan ditentang oleh Ulama-Ulama Syiah. Kaum Akhbariyah ini yang dicap oleh penulis itu sebagai Ulama Syiah. Sudah keliru generalisasi pula. Penafsiran Al Quran yang berlainan bukan masalah, dalam Sunni sendiri perbedaan tersebut banyak terjadi.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Yang berkata seperti ini adalah Ulama-ulama Salafi, karena terdapat Ulama Ahlussunah yang mengatakan Syiah itu Islam seperti Syaikh Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali, Syaikh Yusuf Qardhawi, dan lain-lain. Sebenarnya yang populer di kalangan Sunni adalah Syiah itu Islam tetapi golongan pembid’ah. Cuma Salafi yang dengan ekstremnya menyebut Syiah agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

Saya akan menanggapi satu persatu pernyataan penulis ini

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj
Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah

Jawaban: Saya tidak tahu apa sumber penukilan penulis ini, yang jelas Syiah juga meyakini Islam dimulai dengan Syahadat. Jadi sebenarnya Syiah meyakini semua rukun Islam Sunni hanya saja mereka menambahkan Al Wilayah. Yang ini yang tidak diakui Sunni, tentu perbedaan ini ada dasarnya.

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)* 
a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad

Syiah jelas meyakini atau mengimani semua yang disebutkan dalam rukun iman Sunni, hanya saja mereka ,merumuskannya dengan cara berbeda seperti yang penulis itu sampaikan. Rukun iman Syiah selain Imamah mengandung semua rukun iman Sunni. Perbedaannya Syiah meyakini Imamah dan Sunni tidak, sekali lagi perbedaan ini ada dasarnya.

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat
Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka

Ini tidak benar karena syahadat dalam Sunni dan Syiah adalah sama Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Tidak mungkinnya pernyataan penulis itu adalah bagaimana dengan mereka orang Islam pada zaman Rasulullah SAW, zaman Imam Ali, zaman Imam Hasan dan zaman Imam Husain. Bukankah jelas pada saat itu belum terdapat 12 imam.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka

Imam Sunni tidak terbatas karena setiap ulama bisa saja disebut Imam oleh orang Sunni. Bagi Syiah tidak seperti itu, 12 imam mereka ada dasarnya sendiri dalam sumber mereka, dan terdapat juga dalam Sumber Sunni tentang 12 khalifah dan Imam dari Quraisy. Intinya Syiah dan Sunni berbeda pandangan tentang apa yang disebut Imam. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.Pernyataan ini hanya sekedar persepsi, tidak dibenarkan berdasarkan apa, jelas sekali penulis ini tidak memahami pengertian Imam dalam Syiah.

Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. Saya tidak tahu apa dasar penulis itu, yang saya tahu Ulama Syiah selalu menyebut Sunni sebagai Islam dan saudara mereka. Anda dapat melihat dalam Al Fushul Al Muhimmah Fi Ta’lif Al Ummah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi(terjemahannya Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah dan Syiah hal 33 yang membuat bab khusus yang berjudul Keterangan Para Imam Ahlul Bait Tentang Sahnya Keislaman Ahlussunnah) Atau anda dapat merujuk Al ’Adl Al Ilahy karya Murtadha Muthahhari( terjemahannya Keadilan Ilahi hal 271-275).

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhum
Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

Pembahasan masalah ini adalah cukup pelik, oleh karenanya saya akan memaparkan garis besarnya saja. Benar sekali khulafaurrosyidin yang diakui Sunni adalah seperti yang penulis itu sebutkan. Syiah tidak mengakui 3 khalifah pertama karena berdasarkan dalil-dalil di sisi mereka Imam Ali ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Pernyataan (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka), disini lagi-lagi terjadi perbedaan. Sunni berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan sukarela. Tetapi Syiah berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan terpaksa. Hal yang patut diperhitungkan adalah Syiah juga memakai sumber Sunni untuk membuktikan anggapan ini, diantaranya hadis dan sirah yang menyatakan keterlambatan baiat Imam Ali kepada khalifah Abu Bakar yaitu setelah 6 bulan. Sekali lagi perbedaan ini memiliki dasar masing-masing di kedua belah pihak baik Sunni dan Syiah, jika ingin bersikap objektif tentu harus membahasnya secara berimbang dan tidak berat sebelah. Perbedaan masalah khalifah ini juga tidak perlu dikaitkan dengan Islam atau tidak, bukankah masalah khalifah ini jelas tidak termasuk dalam rukun iman dan rukun islam Sunni yang disebutkan oleh penulis itu. Oleh karenanya jika Syiah berbeda dalam hal ini maka itu tidak menunjukkan Syiah keluar dari Islam.

Sebelum mengakhiri bagian pertama ini, ada yang perlu diperjelas. Syiah meyakini rukun iman dan rukun islam Sunni hanya saja Syiah berbeda merumuskannya. Oleh karenanya dalam pandangan Sunni, Syiah itu Islam. Syiah meyakini Imamah yang merupakan masalah Ushulli dalam rukun Iman Syiah. Sunni tidak meyakini hal ini. Dalam pandangan Syiah, Sunni tetap sah keislamannya berdasarkan keterangan dari para Imam Ahlul Bait .

Syiah Ali, Sebaik-baik Makhluk

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Ismail Amin

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan,Bariyyah, berasal dari kata baryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai, syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalam khairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya. Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi. Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”. Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskanasbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya. Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I).

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

Wallahu ‘alam bishshawwab

===============================================

HADITS sunni :

Al Muwatho’

Shohih Bukhori

Shohih Muslim

Al Mustadrok

Sunan Abu Daud

Sunan Nasa’i

Sunan Tirmidzy

Sunan Daruquthny

Sunan Ahmad

Sunan Syafi’i

Sunan Abdur Rozaq

Sunan Ibnu Majah

.
TAFSIR

Versi  syi’ah, didalam  ALQURAN tidak ada satupun ayat  yang menyatakan  “sahabat Nabi  SAW yang  menentang imamah Ali  dijamin surga !!”

Tafsir Ibnu Katsir 
Tafsir Qurtuby  
Tafsir Thobary 
Tafsir Jalalain
Tafsir Baidhowi

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis sunni edisi lengkap sengaja disembunyikan ???

Datanglah ke pesantren , adakah barang tersebut ???

Tidakkah anda heran kenapa kitab kitab hadis banyak diedit dan diringkas ???

Tidakkkah anda heran kenapa banyak hadis disembunyikan ulama ??

Sehingga anda terkejut kejut, kok hadis ini ada padahal dulu tidak dinamppakkan para ustad..

Motifnya : motif politik agar mazhab sunni tetap tegak…

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak kontradiksi dan pertentangan antar hadis

Jika kitab hadis beredar sesuai asli, maka akan nampak  kebenaran syi’ah..

Ini bukan fitnah apalagi provokasi

.

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

Tidak ada kesepakatan sunni – syi’ah tentang keorisinilan semua hadis Nabi SAW, ini berbeda dengan masalah ayat ayat Al Quran

Karena hadis sunni tidak dihapal dan tidak dicatat sejak awal secara sistematis, maka ahlul hadis sunni kebingungan untuk memastikan mana hadis yang betul betul berasal dari Nabi (orisinil) dan mana hadis yang dibuat buat…

Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi..

Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !!

Pertanyaan :

  1. Apakah Bukhari maksum sehingga kitab hadisnya 100% benar ?
  2. Ada hadis hadis dalam kitab Bukhari yang saling bertentangan, Apakah masuk akal Nabi SAW mengucapkan sabda sabda yang saling saling berlawanan alias plin plan ??? Ingat, Nabi SAW itu maksum (infallible)

Legenda :

1. Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits)

tapi  hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ????????????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

2. Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman ?????? Apakah yang hilang itu benar benar hilang atau cuma mitos legenda ???

Syi’ah dan Sunni sepakat tentang keorisinilan Al Quran. Syi’ah tidak sepakat tentang keorisinilan semua hadis sunni yang “berlabel shahih”. Logika : Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi ? Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat !

3. Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.
AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya juga gemar mengedit dan meringkas ringkas hadis…. Kenapa hadis sunni diedit dan diringkas ??? ya agar mazhab sunni tetap tegak, segala bau syi’ah dibuang dari hadis

.

Bukhari manusia super ??? 16 tahun adalah 8.409.600 menit, jika dalam tempo 16 tahun Bukhari mampu mengumpulkan 600 ribu hadis saja berarti Bukhari adalah manusia super yang mampu mencari, menyeleksi dan menshahihkan 1 hadis dalam tempo 14 menit !!! itu belum dipotong waktu makan – shalat – tidur – perjalanan… Wow !!

60 minit x 24 jam x365hari x 16 tahun =8.409.600 minit (16 tahun)

hadis yang dikumpul 600,000 dalam tempoh 16 tahun.

8.409.600 dibahagi 600.000 =14,016 minit untuk 1 hadis

adakah imam bukhari mampu mencari,menyeleksi dan mensahihkan hadith itu dalam tempoh 14,016 minit?

itu belum ditolak waktu tidur,makan,solat,aktiviti memanah dan lain lain.jika ditolak waktu itu mungkin masanya lagi kurang mungkin sekitar 7 minit saja masa yang tinggal.

belum dikira lagi masa perjalanan dari kota ke kota lain dalam mencari hadith.

kita selalu diberikan angka angka ini untuk mewujudkan kekaguman kepada imam bukhari.tapi adakah angka ini betul setelah dikira berasaskan matematik

Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy.

Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah lepasan Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah.

Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, Bukhari menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim).

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

.

Mengenal Pemimpin Mazhab Ja’fariyah
Imam Ja’far Shadiq adalah Imam Keenam dalam hierarki dua belas Imam Maksum. Panggilannya adalah Abu Abdillah dan gelarnya yang masyhur adalah as-Shadiq, al-Fadil dan at-Tahir. Imam Shadiq adalah putra Imam Baqir, Imam Kelima, dan ibunya adalah putri dari Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar.Imam Ja’far Shadiq dibesarkan oleh datuknya, Imam Zainal Abidin di Madinah selama dua belas tahun dan dilanjutkan oleh lindungan kasih ayahandanya Imam Muhammad Baqir selama sembilan belas tahun.Setelah syahadah ayahandanya pada tahun 114 H, Imam Ja’far Shadiq menjadi Imam Keenam menggantikan ayahandanya, dan misi suci Islam dan bimbingan ruhani dilimpahkan ke atas pundaknya dari Rasulullah Saw melalui suksesi para Imam sebelumnya.Keadaan PolitikMasa Imâmah Imam Shadiq bertepatan dengan masa-masa revolusi dan bersejarah dalam sejarah Islam yang menyaksikan kejatuhan Dinasti Bani Umayyah dan kebangkitan Dinasti Bani Abbasiyah. Perang saudara dan gejolak politik menyebabkan terjadinya perombakan secara cepat dalam pemerintahan. Dengan demikian, Imam Shadiq menyaksikan raja-raja rezim yang berkuasa mulai dari Abdul Malik hingga penguasa Dinasti Bani Umayyah, Marwan al-Himar. Ia masih hidup hingga masa Abul Abbas as-Saffah dan Mansur dari Dinasti Bani Abbasiyah. Karena perebutan kekuasan politik antara dua kelompok, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah maka gerakan Imam menjadi tidak terkontrol untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan misi-misinya dalam menyampaikan Islam dan menyebarkan ajaran-ajaran Rasulullah Saw.Pada masa-masa terakhir kekuasan Bani Umayyah, Dinasti mereka berada di ambang kejatuhan. Keadaan kacau-balau dan pemerintahan yang tak-terurus terjadi di seluruh negara-negara Islam. Bani Abbasiyah memanfaatkan kesempatan emas dari ketidakstabilan politik ini. Mereka mengklaim diri mereka sebagai “Penuntut Balas Bani Hasyim”. Mereka berprentensi dengan dalih menuntut balas terhadap Bani Umayyah karena telah menumpahkan darah Imam Husain As.Orang-orang awam yang sudah muak dan kesal dengan kekejaman Bani Umayyah dan secara diam-diam merindukan Ahlulbait Nabi Saw untuk berkuasa. Mereka menyadari bahwa jika kepemimpinan dikuasai oleh Ahlulbait, yang merupakan pewaris sah, wibawa Islam akan bertambah dan misi Nabi Saw yang asli dapat disebarkan. Bagaimanapun, sekelompok Bani Abbasiyah dengan diam-diam mengadakan kampanye untuk merebut kekuasaan dari tangan Bani Umayyah dengan dalih bahwa mereka merebutnya untuk diserahkan kepada Bani Hasyim. Sebenarnya, mereka sedang berkomplot untuk kepentingan mereka sendiri. Kemudian, orang-orang awam ini terkecoh dengan membantu mereka dan ketika Bani Abbasiyah berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah, mereka berbalik menentang Ahlulbait.Keadaan AgamaKejatuhan Bani Umayyah dan kebangkitan Bani Abbasiyah telah membentuk dua plot utama dalam drama sejarah Islam. Masa-masa kacau dan revolusioner ini terjadi ketika ajaran-ajaran moral Islam telah ditinggalkan dan ajaran-ajaran Nabi Saw dilupakan, sebuah keadaan anarki yang merajalela. Di tengah-tengah keadaan kacau seperti ini, Imam Ja’far Shadiq tampil ibarat mercusuar yang menyebarkan cahaya untuk menerangi samudra kegelapan dan gelimang dosa di sekelilingnya. Dunia cenderung terhadap pesona dan keutamaannya. Abu Salamah Khallal juga menawarkan mahkota khalifah kepadanya.Akan tetapi, Imam melanjutkan tradisi temurun dari moyangnya menolak dengan tegas tawaran ini, dan lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan penyebaran ilmu dan khidmat terhadap Islam.Ajaran-ajaran Imam Ja’far AsKecakapan Imam Ja’far dalam seluruh cabang ilmu pengetahuan diakui oleh seluruh dunia Islam, yang menarik pelajar-pelajar dari berbagai penjuru, dekat dan jauh, datang kepadanya sehingga murid-murid Imam Ja’far mencapai sekitar empat ribu. Para ‘ulama dan fuqaha dalam bidang hukum banyak menukil hadis-hadis dari Imam Ja’far Shadiq. Murid-muridnya mengadakan kompilasi ratusan kitab dalam berbagai disiplin ilmu dan sastra. Selain ilmu fiqh, hadis, tafsir, dan sebagainya, Imam juga mengajarkan matematika dan kimia kepada beberapa orang muridnya. Jabir bin Hayyan Tusi, seorang ilmuwan matematika ternama, merupakan salah seorang murid Imam yang dapat mengambil manfaat dari ilmu dan bimbingan Imam dan mampu menulis empat ratus kitab dalam subjek yang beragam.Kenyataan ini adalah sebuah fakta sejarah yang tidak dapat diingkari kebenarannya sehingga seluruh ulama-ulama besar Islam berhutang budi atas kehadiran Ahlulbait yang merupakan mata-air ilmu dan pelajaran.Allamah Sibli menulis dalam kitabnya, Sirâtun ‘Nu’man: “Abu Hanifah beberapa lama hadir (menuntut ilmu, penj.) di hadapan Imam Ja’far Shadiq, mendapatkan penelitian berharga darinya dalam bidang ilmu fiqh dan hadis. Kedua mazhab – Sunni dan Syiah – meyakini bahwa sumber ilmu Abu Hanifah kebanyakan bersumber dari pergaulannya bersama Imam Ja’far Shadiq.”

Imam mempersembahkan seluruh hidupnya semata untuk menyebarkan ajaran agama dan mendakwahkan ajaran-ajaran Nabi Saw dan tidak pernah bermaksud untuk berkuasa. Karena keluasan ilmunya dan kebaikan ajarannya, orang-orang berkumpul di sekelilingnya, memberikan penghormatan dan perhatian kepadanya. Karena takut popularitas Imam Ja’far semakin luas, hasud dan dengki menguasai diri penguasa Abbasiyah Mansur Dawaniqi sehingga memutuskan untuk mengenyahkannya.

Allamah Tabataba’i menulis:

Imam Ja’far bin Muhammad, putra Imam Kelima, lahir pada tahun 83 H/ 702 M. Ia syahid pada tahun 148 H/ 765 M. Menurut sumber-sumber Syiah, diracun melalui intrik Khalifah Abbasiyah Mansur. Setelah syahadah ayahnya, Imam Ja’far menjabat Imam melalui perintah Allah Swt dan keputusan para Imam sebelumnya.

Selama masa Imâmah Imam Keenam, kesempatan dan iklim yang lebih bersahabat datang kepadanya untuk lebih leluasa menyebarkan ajaran-ajaran agama. Kesempatan ini muncul sebagai akibat pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah Islam, khususnya bangkitnya Muswaddah yang menggoyang khalifah Bani Umayyah, perang berdarah terjadi yang akhirnya menuntun kepada kejatuhan dan pengasingan Bani Umayyah. Kesempatan emas ini juga adalah hasil dari pembukaan lahan yang dilakukan oleh Imam Kelima yang telah dipersiapkan sebelumnya selama masa imâmahnya yang mencakup dua puluh tahun melalui tabligh ajaran-ajaran asli Islam dan ilmu Ahlulbait Nabi As.

Imam Shadiq mengambil kesempatan emas ini untuk mendakwahkan ilmu agama hingga akhir masa Imâmahnya, seiring dengan masa-masa akhir kekuasaan Bani Umayyah dan awal kemunculan Bani Abbasiyah. Imam mengajar banyak ulama dalam berbagai bidang disiplin ilmu dan ilmu periwayatan, seperti Zurarah bin A’yan, Muhammad bin Muslim, Mu’minut Taq, Hisyam bin Hakam, Aban bin Taghlib, Hisyam bin Salim, Huraiz, Hisyam Kalbi an-Nassabah dan Jabir bin Hayyan (Ahli Kimia). Bahkan beberapa ulama Sunni ternama seperti: Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, pendiri Mazhab Fiqh Hanafi, al-Qadi as-Sukuni, al-Qadi Abul Bakhtari, dan yang lainnya, mendapatkan kehormatan untuk menjadi murid-murid Imam Ja’far. Disebutkan bahwa kelas-kelas dan tahapan-tahapan instruksinya menghasilkan ribuan ulama hadis dan ilmu-ilmu lainnya. Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain.

Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah. Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.

Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam. Kemudian, Imam diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.

Setelah mendengar syahadah Imam, Mansur menulis surat kepada gubernur Madinah yang memerintahkan sang gubernur untuk pergi melayat ke rumah Imam dengan dalih menyampaikan ucapan bela-sungkawa kepada keluarganya, untuk mencari wasiat Imam dan membacakannya. Siapa pun yang dipilih oleh Imam sebagai pewaris dan penggantinya harus dipancung di tempat. Tentu saja, maksud Mansur ini adalah untuk mengakhiri seluruh masalah Imâmah dan hasrat-hasrat Syiah. Ketika gubernur Madinah mengikuti perintah Makmun, untuk membaca wasiat terakhir, dia melihat bahwa Imam, alih-alih memilih satu orang, ia telah memilih empat orang sebagai pelaksana wasiat terakhirnya; khalifah sendiri, gubernur Madinah, ‘Abdullah Aftah, putra sulung Imam, dan Musa, putra bungsu Imam. Dengan cara seperti ini, siasat licik Mansur dapat dipatahkan. (Shiite Islam)

Syahadah

Pada tanggal 25 Syawal 148 H. Imam syahid karena diracun oleh Gubernur Madinah atas perintah Mansur. Shalat jenazah dilakukan oleh putra Imam, Musa Kazhim, Imam Ketujuh, dan jasadnya dikebumikan di pemakaman Jannatul Baqi Madinah. Salam padamu Wahai Aba Abdillah…..

Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:

(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!

(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apaa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!

(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.

(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!

(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!

(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.

(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menndingi keisitimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.

(8) Dll.

Pengaruh fitnah mereka ini sangat besar sekali, sehingga tanpa disadari telah menyelinap ke kalangan sebagia Ahlusunnah dan mempengaruhi alur berpikir sebagian mereka.

Dalam makalah ini saya akan sajikan bebarapa kasus kekejaman para tiran dan para ulama Nawâshib (yang mengaku Ahlusunnah, tapi saya yakin mereka bukan Ahlusunnah) dalam memerangi Sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as.

Contoh Kekejaman Para Penguasa Tiran

Kekejaman para penguasa tiran terhadap para pecinta Nabi saw. dan keluarga suci kenabian tidak hanya terbatas pada para penguasa rezim Umayyah. Para penguasa rezim Abbasiyah juga tidak ketinggalan dalam menekan, mengintimidasi serta menyiksa siapa saja yang berani-berani berjuang dalam menyampaikan sunnah Nabi saw. tentang keutamaan Ahlulbait as.

Banyak kisah sedih kekejaman para penguasa dan aparatnya dalam rangka membrangus sabda-sabda suci Nabi saw. dan dalam usaha mereka untuk menyegel mulut-mulut para muhaddis agar tidak menyebar luaskannya.

Di bawah ini saya akan sebutkan kisah perjuangan Nashr ibn Ali (seorang ulama) dalam penyampaikan sebuah hadis suci Nabi saw. yang mendapat siksa keras agar membuatnya dan rekan-rekan sejawatnya jerah!

Kisah Perjuangan Nasr ibn Ali Dalam Menyebarkan Hadis Kutamaan Imam Ali as.

At Turmudzi dan para muhaddis lain meriwayatkan dari Nashr ibn Ali al Jahdhami, ia berkata, Ali ibn Ja’far[1] telah mengabarkan kepada kami, ia berkata, ’saudaraku Musa mengabarkan kepadaku dari Ja’far ibn Muhammad ayah beliau dari ayah beliau Muhammad ibn Ali dari ayah beliau Ali ibn Husain dari ayah beliau dari kakek beliau Ali ibn Abi Thalib bahwa Rasulullah saw. memegang tangan Hasan dan Husain lalu bersabda:

مَنْ أَحَبَّنِيْ وَ أحبَّ هَذَيْنِ و أباهُما وَ اُمَّهُما كان مَعِيْ في درجَتِيْ يومَ القيامةِ

“Barang siapa mencintaiku dan mencintai kedua anak ini, ayah dan ibu keduanya maka ia bersamaku satu derajat denganku kelak di hari kiamat.”[2]

Al Khathib al Baghdâdi dalam Tarikhnya meriwayatkan, “Abu Abd. Rahman ibn Abd. Allah berkata, ‘Ketika Nashr menyampaikan hadis ini, Al Mutawakkil[3] memerintahkan agar ia dicambuk seribu cambukan. Ja’fa ibn Abd. Al Wahid memohon kepada Al Mutawakkil agar membatalkan hukuman itu, ia berkata kepadanya, ‘Dia adalah seorang dari Ahlulsunnah!’ Al Mutawakkil tetap memerintahkan agar Nashr terus dicambuk, dan Ja’far pun terus memohon dan akhirnya cambukan itu dihentikan… Al Khathib berkata, “Al Mutawakkil memerintahkan agar Nashr dihukum cambuk karena ia menyangkannya sebagai seorang rafidhi, namun setelah ia yakin bahwa Nashr dari Ahlusunnah ia hentikan.”[4]

Apa yang aneh dan membuat Al Mutawakkil begitu murka! Apakah kandungan hadis ini bertentangan dengan Al quran dan sunah Nabi saw?! Atau para perawi yang menjadi perantara periwayatan hadis ini para pembohong?! Bukankan mereka adalah para panutan umat dari keturunan Rasulullah saw. yang telah disepakati para ulama akan kejujuran dan keagungan mereka?!

Coba pembaca perhatikan kembali nama-nama perawi hadis ini! Bukankah Anda temukan nama-nama harum dari putra-putra Rasulullah saw.; 1) Ali ibn Ja’far (kakek seluruh dzurriyyah/para saadah asal Hadhramaut) yang sangat diagungkan umat, 2) Imam Musa Al Kadzim as., 3) Imam Ja’far ash Shadiq as.,4) Imam Muhammad Al Baqir as., 5) Imam Ali Zainal Abidin ibn Husain as., 6) Imam Husain as., 7) Imam Ali as.

Inilah salah satu bukti kekejaman Al Mutawakkil. Dan apabila Anda bertanya kepada sebagian ulama, siapa sejatinya al Mutawakkil itu? Apa jasa-jasanya terhadap kemurnian sunnah? Pastilah mereka akan mengatakan, “Ia adalah Khalifah yang sangat besar perhatiannya terhadap sunnah Nabi!”. Al Suyuthi berkata, Al Mutawakkil dibai’at setelah kematian Al Watsiq, bulan Dzul Hijjah tahun232 H. Segera setelah itu ia menampakkan kecenderungannya kepada sunnah, membela ahlinya dan meniadakan mihnah, ujian (penyiksaan/cobaan) atas mereka!…. Sampai-sampai orang-orang berkata, “Para Khalifah itu ada tiga; Abu Bakar dalam memerangi orang-orang murtad, Umar ibn Abd. Aziz dalam mengembalikan hak kepada orang yang dizalimi dan Al Mutawakkil dalam menghidupkan sunnah dan mematikan faham Tajahhum (Mu’tazilah)”.![5]

Apakah Sunnah yang sedang diperjuangkan oleh al Mutawakkil itu? Jika benar ia memperjuangkan Sunnah Nabi saw. mengapakah ia menyiksa seorang alim yang dengan hati tulus meriwayatkan hadis keutamaan Ahlulbait Nabi as.?! Atau Sunnah yang dimaksud adalah Sunnah bani Umayyah dan para Munafik?

[1] Ali ibn Ja’far adalah putra bungsu Imam Ja’far as., ia dikenal sangat alim, rendah hati, dan teladan dalam ketaqwaan. Ia diberkahi umurnya sehingga hidup sezaman dengan Imam Jawad putra Imam Ali Ar Ridha putra Imam Musa Al Kadzim (kakak Ali ibn Ja’far ra.) dan meyakini keimamahannya walaupun dari sisi kekeluargaan beliau adalah berpangkat kakek sepupu terhadap Imam Jawad as. Ditegaskan oleh para sejarawan dari kaum Sâdah sendiri, seperti Al Syilli dalam Masyra’ ar Râwi bahwa beliau bermazhab Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsnâsyariyah. Beliau adalah kakek para sâdah (para sayid keturunan Rasulullah saw.) yang tinggal di Hadhramaut dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam, seperti Indonesia, Malaysia, beberapa negara di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika dll.

[2] At Tirmidzi dalam Sunan (dengan syarah al Mubârakfûri).10, 237, Manâqib Ali ibn Abi Thalib, bab 93 hadis 3816, Ahmad dalam Musnad,1.168 hadis 576, Fadhail al Shahabah.2,694 hadis 1185, Al Khathib, Tarikh Baghdad, 13/287, Ibnu Asakir, Tarikh Damaskus, pada biodata Imam Hasan: 52 hadis 95 dan 96 dan Al Khawarizmi dalam Manâqib:138 hadis 156, Ibnu Al Maghazili dalam Manâqib:370, Abu Nu’aim dalam Tarikh Ishfahan:1192,dll.

[3] Al Mutawakkil nama lengkapnya Ja’far Abu Al Fadhl ibnu Al Mu’tashim ibn Harun Ar Rasyid. Ia dibaiat sebagai Khalifah setelah Al Wastiq pada bulan Dzul Hijjah tahun 232H. Para Ulama Sunni menyebut Al Mutawakkil sebagai “Khalifah Rasulullah” yang sangat consen terhadap kemurnian sunnah Nabi saw. mereka memuja dan menyanjungnya dan menggelarinya sebagai penyegar sunah dan pemberantas bid’ah!! (Baca sebagai contoh Tarikh al Khulafâ’; As Suyuthi:320).

[4] Al Khathib, Tarikh Baghdad,13/288.

[5] Tarikh Al Khulafâ’:320.

—————————————————————————————————————————————-

Pendahuluan:[1]

Dunia hadis Sunni sedang menghadapi ujian berat dalam banyak sisi dan lini untuk mempertahankan kenetralan dan kevalidannya! Mampukah ia keluar darinya dengan sukses mengusung etika kejujuran, kenetralan, obyektifitas dan berpihak kepada al haq? Itulah pertanyaan yang hendak kita cari tau jawabannya dalam artikel ini.

Di antara ujian yang akan menghadang kenetralannya dalam menyaring sumber data adalah sikap dunia hadis Sunni terhadap para perawi hadis.

Kesucian Sahabat Nabi saw. adalah Garis Merah!

Termasuk masalah yang menyita perhatian dan meminta sikap tegas para ahli hadis Sunni adalah sikap hormat para perawi terhadap para sahabat Nabi saw. tanpa terkecuali! Siapapun yang terbukti bersikap buruk dalam menilai sahabat maka para ulama hadis Sunni tidak akan segan-segan menvonisnya sebagai Zindîq[2], Dajjâl, Ahli Bid’ah, Zâighun ‘Anil Haqqi (menyimpang dari kebenaran) dan kecaman-kecaman lainnya yang tidak kalah seramnya.

Banyak parawi hadis yang gugur bergelimpangan menjadi korban format penilian tersebut…. Mereka dicacat, dikecam divonis sebagai pembohong/kadzzâb dan kemudian yang pasti mereka digugurkan kelayakannya sebagai sumber hadis karena terbukti pernah berkata-kata atau pernah bersikap buruk terhadap seorang atau beberapa orang oknum sahabat Nabi saw.

Abu Zur’ah –seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, guru agung Imam Muslim- membangun kaidah baku yang dijadikan tolok ukur penilaian, ia barkata,

“Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq, sebab sesungguhnya Rasulullah saw. itu haq, Al Qur’an itu haq, apa yang dibawa Nabi itu haq, dan yang menyampaikan itu semua kepada kita adalah para sahabat. Maka siapa yang mencacat mereka sesungguhnya ia sedang berusaha membatalkan Al Qur’an dan Sunnah, karenanya mencacat mereka lebih tepat dan menvonis mereka sebagai zindîq, sesat, berdusta dan kerusakan adalah lebih lurus dan lebih berhak.”[3]

Dan atas dasar kaidah di atas para ulama hadis Sunni membangun penilaian terhadap para perawi. Al Khathib al Baghdadi menukil Yahya ibn Ma’în sebagai mengatakan ketika ia menerangkan kualitas seorang parawi bernama Talîd, “Talîd adalah kadzdzâb/ pembohong besar, ia mencaci maki Utsman. Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”[4]

Ibnu Hibban berkata, “Talîd adalah seorang rafidhi pencaci maki sahabat dan ia meriwayatkan hadis-hadis yang aneh tentang keutamaan Ahlulbait.”[5]

Imam Ahmad ibn Hanbal meninggalkan periwayatkan hadis dari Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya gara-gara ia menceloteh Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Tidak cukup itu ia mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi Yahya ibn Main agar segera meninggalkan meriwayatkan hadis darinya. Ia berpesan kedanya agar menyampaikan kepada Yahya bahwa:

.

أخوك أبو عبد الله أحمد بن حنبل يقرأ عليك السلام ويقول لك: هو ذا تكثر الحديث عن عبيد الله وأنا وأنت سمعناه يتناول معاوية بن أبي سفيان وقد تركت الحديث عنه.

“Saudaramu Abu Abdillah menyampaikan salam dan berkata kepadamu, “inilah engkau berbanyak-banyak meriwayatkan hadis dari Ubaidullah, sementara aku dan engkau sama-sama mendengarnya mencaci Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Aku telah meninggalkan meriwayatkan hadis darinya.”[6]

.

Para ahli hadis Sunni akan segera mengecam seorang perawi dikarenakan ia dituduh mencacat seseorang sahabat dengan kecaman sebagai Rafidhi! Pembohong! Dll.

Akan tetapi apakah mereka setia menjalankan kaidah yang telah mereka bangun sendiri?

Apakah mereka membangun kaidah tersebut dengan i’tikat baik untuk menyaring hadis dari sisipan kaum munafikin?

Apakah mereka akan konsisten menjalankan kaidah tersebut dengan sepenuh hati atas siapa saja yang mencaci dan mencacat apalagi melaknat seorang sahabat Nabi saw.?

Apakah benar kaidah itu mereka bangun untuk membentengi keangungan sahabat Nabi saw, -seluruh sahabat Nabi saw. tanpa memilih dan memilah- dari sikap sinis dan mulut busuk sebagian parawi hadis?

Atau kaidah itu hanya akan diterapkan ke atas para parawi yang menghujat, mencacat dan membenci serta mengutuk sahabat-sahabat tertentu saja, tidak untuk sahabat tertentu lainnya?

Di sini letak ujian berat yang sedang dihadapi kaidah Sunni tersebut!

Namun sepertinya penelusuran acak –apalagi dengan telaten- akan memberi peluang para pemerhati untuk mencurigai ketulusan dan kenetralan kaidah tersebut! Kerena ternyata, kaidah itu hanya diberlakukan ketika menghadapi para parawi yang mencacat atau bahkan sekedar mengkritik oknum-oknum tertentu sahabat Nabi saw., seperti Mu’awiyah, ‘Amr ibn al Âsh, Walîd ibn ‘Uqbah, Thalhah, Utsman, Umar Abu Bakar dkk. Adapaun ketika berhadapan dengan para parawi yang mencaci maki, melaknati dan membenci Imam Ali as., Imam Hasan dan Husain as. serta pribadi-pribadi mulia keluarga Nabi saw. sepertinya kaidah itu lumpuh tanpa daya dan kekuatan! Bahkan tidak jarang, gelar-gelar kehormatan dan pujian menyertai sebutan para perawi pembenci Ali as.!!

Entah mengapa?

Apakah karena para sahabat lainnya itu memiliki kehormatan agung di sisi Allah SWT yang tidak dimiliki oleh Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as.?

Atau karena para ulama itu telah mendapat bocoran informasi langit bahwa keridhaan Allah terlatak pada kebencian, kesinisan sikap dan caci-maki serta laknatan atas Ali dan Ahlulbait as.?

Atau memang pada dasarnya mencaci maki dan mencacat sahabat Nabi itu sah-sah saja hukumnya! Semua huru-hara fatwa dalam masalah ini hanya bersifat politis belaka!

Atau karena alasan lain yang masih dirahasiakan hingga hari ini? Wallahu A’lam!

Para ulama Sunni sendiri mengakui adanya sikap nakal dan subyektif serta mengertapan standar ganda dalam pemberlakuan “kaidah filterisasi” perawi hadis tersebut! Ibnu Hajar pernah bertanya-tanya kebingungan menyaksikan sikap tidak sehat itu dari para “Pembela Sunah” Sunni.

Ibnu Hajar berkata, “Dahulu aku merasa isykal (melihat adanya keganjilan sikap para ulama Rijal) dalam menstiqahkan seorang perawi Nashibi [7](pembenci Ali) dan menghinakan terhadap perawi Syi’ah[8] (pecinta Ali), terlebih telah datang sabda Nabi saw. tentang Ali bahwa “Tidak mencintainya melainkan seorang Mukmin dan tidak membencinya melainkan seorang munafik.”….. “

Dari pernyataan Ibnu Hajar di atas dapat diketahui bahwa demikianlah sikap kebanyakan ulama hadis Sunni dalam mentsiqahkan atau mencacat para parawi…. Mereka mentsiqahkan kaum Nawâshib (pembenci Ali as.) … kaum yang mencaci-maki Ali as. ….. Kaum yang melaknati Ali as. ….

Lalu dinamakan kaidah yang mereka bakukan itu?

Agar pembaca tidak terlalu lama menanti sajian data-data yang membuktikan keharmonisan sikap ulama Sunni terhadap para pembenci Ali dan Ahlulbait as. … sikap kagum dan menyanjung serta terpesona oleh kejujuran, kataqwaan, kezuhudan dan kashalehan para pembenci Ali as., saya langusng sajikan data-data di bawah ini:

Catatan:

Seperti telah disinggung bahwa data-data yang akan saya sajikan ini saya ambil secara acak tanpa bermaksud menelusuri secara detail dan menyeluruh, karena untuk itu diperlukan kerja karas dan waktu panjang.

1. Ishaq ibn Suwaid ibn Hubairah al Adwi.

Dalam Hadyu as Sâri-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib.”[9]

Jadi sepertinya mencaci maki sahabat Nabi saw. tidak mengugurkan keadilan atau mencacat agama seorang!

2. Khalid ibn Salamah ibn al Âsh ibn Hisyam al Makhzumi yang dikenal dengan panggilan al Fa’fa’

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb disebutkan bahwa: Ahmad, Ibnu Ma’in dan Ibnu al Madîni mentsiqahkannya. Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi tsiqah. Muhammad ibn Hamîd menukil Jarir berkata, “Al Fa’fa’ adalah tokoh sekte Murji’ah. Dan ia mebenci Ali.”

Selain itu kajahatan perawi yang satu ini adalah bahwa ia juga menggubah bait-bait syair untuk bani Marwan yang memuat ejekan atas Nabi Muhammad saw.[10]

Kendati demikian ia mampu meraih kepercayaan para ulama hadis Sunni dan ia diandalkan oleh: Muslim dalam Shahihnya, Abu Daud dalam Sunannya, Ibnu Majah dalam Sunannya, at Turmudzi dalam Sunannya, an Nasa’i dalam Sunnanya.

Ibnu Jakfari berkata:

Selamat atas umat yang menjadikan manusia durjana seperti al Fa’fa’ sebagai panutan dan tempat kepercayaannya!

Saya yakin dan bahkan haqqul yakin, andai ada seorang perawi yang menggubah bait-bait syair menghujat Abu Bakar atau Umar pastilah para ulama yang pecemburu terhadap kesucian agama itu akan bangkit memuntahkan amunisi laknatan dan kecamannya dan pasti tak segan-segan menvonisnya sebagai si Zindiq yang harus segera dipenggal kepalanya! Akan tetapi anehnya ketika yang dijuhat dan dihina serta dilecehkan itu adalah Rasul Allah mereka terdiam dan bahkan memberinya gelar kehormatan sebagai perawi Tsiqah yang harus kita percaya hadis riwayatnya! Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.

3. Hushain ibn Numair al Wasithi

Para ulama hadis Sunni, di antaranya adalah Abu Zur’ah mentsiqahkannya, padahal, seperti dilaporkan Abu Khaitsmah, ia terang-terangan menghina Ali.

Bukhari mengandalkannya dalam banyak bab, di antaranya dalam Bab Ahâditsul Anbiya’ (hadis para nabi) dan dalam Bab ath Thibb (pengobatan)… para penulis kitab Sunan –selain Ibnu Majah mengandalkan riwayatnya juga.[11]

4. Khalid ibn Abdillah al Qasri

Dalam kitab Tadzîb at Tadzîb disebutkan, Yahya al Himmani berkata, ‘Dikatakan kepada Sayyâr, apakah engkau meriwayatkan dari Khalid? Maka ia menjawab, ‘Ia lebih mulia dari berbohong.’

Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar perawi terpercaya/tsiqat. Dalam kitab al Mîzân dikatakan bahwa ia adalah Shadûq.[12]

Padahal tidak samar lagi bahwa Khalid itu seorang Amir Dinasti Umayyah yang sangat kejam dan sangat membenci Imam Ali as. … Ia banyak melakukan kejahatan yang mengerikan. Berikut ini saya sebutkan keselumit kejahatannya:

  • Khalid itu mengutamakan Abdul Malik ibn Marwan (Khalifah dimasti Umayyah yang dikenal sangat kejam dan haus darah itu) atas Nabi Ibrahim as. (seorang nabi Ulul Azmi yang sangat agung dan mulia  di sisi Allah SWT)… Dia deklarasikan pengutamaan itu di atas mimbar kota suci Mekkah.
  • Dan dalam kesempatan lain ketika ia menjabat sebagai Amir wilayah Iraq, ia terang-terangan di atas mimbar melaknati Ali ibn Abi Thalib as…. ia berpidato: Ya Allah taknatlah Ali ibn Abi Thalib ibn Abdil Muththalib ib Hasyim, menantu Rasulullah dan ayah Hasan dan Husain… setelahnya ia menghadap kepada para jamaah yang hadir seraya berkata, “Apakah aku menyebutnya samar-samar?”
  • Dilaporkan juga bahwa ia merobohkan masjid dan kemudian membangun di atasnya sebuah gereja untuk ibu kandungnya dan juga membangun di atasnya sinagok-sinagok.
  • Ia memberi jabatan kaum majusi untuk menghinakan kaum Muslimin.
  • Dan juga menikahkan wanita-wanita Muslimat dengan kaum kafir Ahli Kitab….
  • Ia mengatakan andai sang Khalifah tidak ridha kepada kami melainkan dengan menghancurkan bangunan Ka’bah pasti itu akan kami lakukan.
  • Dan ada laporan yang sangat menyayat hati setiap Muslim yang mendengarnya (kecuali jika ia penggemar berat kemunafikan bani Umayyah dan antek-anteknya. Ibnu Khallikan melaporkan bahwa ada seorang wanita Muslimah datang melapor kepada Khalid bahwa ia telah diperkosa oleh seorang pagawainya yang beragama Majusi, maka dengan tanpa keimanan dan rasa malu ia mengabaikan laporannya dan sekaligus mencemoohnya dengan mengatakan: Bagaimana rasa penisnya yang belum dikhitan itu?”

Ibnu Jakfari berkata:

Akankah anjing hina sepertinya dikatakan sebagai parawi tsiqah/jujur terpercaya? Lebih mulia dari berbohong? Adakah seorang Muslim yang peduli akan keselamatan agamanya rela menjadikannya sebagai perantara penukilan agama suci Allah?

Apakah ini yang dibanggakan sebagian musuh-musuh Syi’ah bahwa kitab-kitab hadis Sunni, khususnya Shihâh Sittah dapat diandalkan kevalidannya? Sampai kapan kitab-kitab hadis umat Islam dicemari oleh hadis-hadis kaum fasiq, munafik dan kafir seperti Klahid si durja terkutuk itu?

5. Ziyâd ibn Jubair ats Tsaqafi al Bashri

Parawi yang satu ini telah memikat hati banyak ulama hadis Sunni sehingga mereka berlomba-lomba memujinya. Imam Ahmad, Yahya ibn Ma’in, Abu Zur’ah, an Nasa’i, al Ijli, dan Ibnu Hibbân telah sepakat mentsiqahkannya. Dan para penulis Shihâh; kitab hadis standar Sunni juga berhujjah dengannya.[13]

Mereka semua sepakat mengandalkannya padahal Ziyâd ini telah mencaci maki Hasan dan Husain as… Ibnu Abi Syaibah melaporkan dari Abdurrahman ibn Abi Nu’aim bahwa Ziyâd telah mencaci maki Hasan dan Husain….”[14]

Ibnu Jakfari berkata:

Apa uzur para ulama Sunni itu di hadapan Allah dan rasul-Nya ketika mereka berhujjah dengan si fasiq yang munafik itu?

Apakah kebencian dan caci maki itu haram jika dialamatkan kepada Mu’awiyah dan Utsman dan halal hukumnya jika dialamatkan kepada kedua cucu tercinta Nabi kita; dua penghulu pemuda ahli surga?

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada umat ini? Jika Ali, Hasa, Husain as. dicacat seakan kebajikan sedang diperagakan dan pemeraganya berhak mendapat sanjungan! Seakan sebuah kawajiban Allah sedang ditegakkkan di atas muka bumi!

Namun apabila nama Mu’awiyah, Yazid, ‘Amr ibn Ash, Abu Hurairah, Utsman, Mughirah ibn Syu’bah, Abu Bakar dan Umar disentuh mereka bangkitkan dunia … mereka luncurkan tradisi tercanggih kutukan dan laknatan, seakan kehormatan Allah sedang diinjak-injak! Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn, semoga kita dilindungi Allah dari kesesatan.

6. Abdullah ibn Zaid ibn ‘Amr al Jarmi al Bashri

Al Ijli menegaskaan bahwa ia tak henti-hentinya mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali, namun demikian al Ijli tetap saja menilainya sebagai tsiqah, ia berkata, “Ia seorang tabi’în yang tisqah, dan mencacat Ali ibn Abi Thalib dan tidak sudi meriwayatkan satu hadis pun dari Ali .” dan bukan kali ini al Ijli menegaskan bahwa seorang perawi itu membenci Imam Ali as., namun ia tetap menegaskan ketsiqahannya!

Bukhari mengatakan bahwa ia: Rajulun Shâleh/seorang yang shaleh.[15] Seperti juga dinukil dalam at Tahdzîb. Demikian juga adalah mengherankan ketika Ibnu Sirin berkata, ‘Dia adalah benar-benar saudaraku.

Perawi yang fasiq ini telah mampu memukau para ulama hadis Sunni, tak terkecuali Imam Ahli hadis tak teetandingi; Bukhari dan Muslim, serta para penulis kitab-kitab Sunan lainnya, seperti Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi, dan an Nasa’i.[16]

7. Abdullah ibn Syaqîq al ‘Uqaili al Bashri

Perawi yang satu ini tidak pernah merahasiakan kebenciannya kepada Imam Ali as. sehingga setiap yang menyebut data pribadinya mengakui dalamnya kebencian tersebut. Namun anehnya, para ulama Sunni yang menegaskan kemunafikan perawi yang satu ini, mereka juga menegaskan ketsiqahannya bahkan lebih dari itu, mereka menganggapnya sebagai seorang Waliyullah yang doanya selalu dikabulkan Allah!

Perhatikan data-data di bawah ini:

Ibnu Khirâsy berkata, “Ia seorang Utsmaniy (Nashibi) yang membenci Ali.”[17]

Dalam kitab at Tahdzîb disebutkan bahwa Ibnu Sa’ad menggolongkannya sebagai thabaqah (genesari) pertama tabi’în penduduk kota Bashrah, dan ia berkata: “Ia seorang utsmaniy, ia tsiqah/jujur dalam periwayatan hadis.”[18]

Ahmad al Ijli berkata, “Ia tsiqah. Ia mencerca Ali.”

Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah apa yang dikatakan oleh  al Jariri, “Abdullah ibn Syaqîq adalah seorang yang doanya selalu dikabulkan, terkadang ada awan yang lewat maka ia berkata, ‘Ya Allah jangan biarkan ia berlalu melewati tempat ini dan itu’ maka turunlah hujan.’” Demikian dikisahkan oleh Ibnu Khaistamah.[19]

Ibnu Jakfari berkata:

Orang Mukmin mana yang akan membenarkan dongeng murahan seperti itu?! Tidak diragukan lagi bahwa Ibnu Syaqîq adalah seorang munafik tulen. Dan kebenciannya kepada Imam Ali as. adalah bukti nyata akan hal itu. Andai benar apa yang didongengkan di atas pastilah itu tergolong istidrâj/diberikan sebagai cobaan, seperti yang diberikan Allah kepada dajjal.

Setelah terbukti kemunafikan Ibnu Syaqîq adalah sangat mengherankan ketika kita menyaksikan para ulama’ hadis Sunni berlomba-lomba mendapatkan hak paten periwayatan hadis darinya. Muslim dalam kitab Shahihnya telah mengandalkannya sebagai periwayat hadis. Demikian juga dengan Abu Daud, Ibnu Majah, at Turmudzi dan an Nasa’i.

Dimanakah kita dapat temukan kecemburuan para ulama hadis Sunni ini terhadap kemuliaan para sahabat agung Nabi Muhammad saw.? Mengapa mereka begitu membanggakan perawi yang terang-teranngan membenci Ali as.?

Mengepa mereka menyematkan status kehormatan atasnya? Bukankah –seperti yang ditegaskan Abu Zur’ah: “Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq.” Dan juga yang ditegaskan Yahya ibn Ma’in: “…Dan setiap yang mencaci maki Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia.”

Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dunia hadis Sunni?! Mungkin Anda mengetahuinya?!

8. Limâzah ibn Zabâr al Azdi al Jahdami Abu Labîd al Bashri.

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb dipaparkan pujian dan pentsiqahan para ulama Sunni terhadapnya, sementara pada waktu yang sama mereka menegaskan bahwa perawi yang satu ini adalah sangat membenci Imam Ali as. dan tidak pernah menyembunyikan rasa dengki dan dendamnya kepada saudara Rasulullah yang jiwanya adalah belahan jiwa Rasulullah saw.

Ia hadir dalam peperangan Jamal di pihak musuh Imam Ali as. dan ia seorang nashibi yang tak henti-hentinya mencaci maki Ali dan memuji Yazid.

Dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb di atas disebutkan:

Ibnu Main berkata, “Ia seorang yang gemar mencaci maki. Ia mencaci maki Ali.”[20]

Mathar ibn Humrân berkisah, “Kami di sisi Abu Labîd, lalu ada yang berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mencintai Ali?’ Maka ia menjawab, “Bagaimana aku mencintai Ali sedangkan ia telah membunuh enam ribu dari anggota kaumku dalam satu hari.’”

Dari Hawbi ibn Jarîr dari ayahnya, ia berkata, “Labîd adalah orang yang gemar mencaci maki. Maka aku tanyakan kepada ayahku, siapa yang ia caci maki? Maka ayahku menjawab, ‘Ia mencaci maki Ali ibn Abi Thalib.

Kendati demikian tidak sedikit ulama Sunni yang membanggakannya dan menganggapnya Shalihul hadîts/ia bagus hadisnya. Abu Daud, Ibnu Mâjah dan at Turmudzi mengandalkan riwayatnya dalam kitab-kitab Sunan mereka.

9. Harîz ibn Utsman al Himshi

Kenashibian Harîz tidak samar bagi semua peneliti yang akrab dengan kajian sejarah para perawi hadis. Ia sangat membenci Imam Ali as. dan tak henti-hentinya melaknati beliau di berbagai kesempatan, khususnya dalam wirid seusai shalat!! Tidak cukup itu, ia juga tidak segan-segan memalsu hadis yang menyelek-jelekkan Imam Ali as.

Data-data di bawah ini cukup sebagai bukti:

Ditanyakan kepada Yahya ibn Shaleh, “Mengapa Anda tidak menulis hadis dari Harîz? Ia menjawab, ‘Bagaimana aku sudi menulis hadis dari seorang yang selama tujuh tahun aku salat bersamanya, ia tidak keluar dari masjid sebelum melaknat Ali tujuh puluh kali.’“[21]

Ibnu Hibban juga melaporkan, “Ia selalu melaknat Ali ibn Abi Thalib ra. tujuh puluh kali di pagi hari dan tujuh puluh kali di sore hari”. Ketika ia ditegur, ia mengatakan, “Dialah yang memenggal kepala-kepala leluhurku.”[22]

Dan tentang keberaniannya memalsu hadis, ikuti laporan Ismail ibn Iyasy berikut ini, ia berkata, “Aku mendengar Harîz ibn Utsman berkata, ’Hadis yang banyak diriwayatkan orang dari Nabi bahwasannya beliau bersabda kepada Ali, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa”, itu benar tetapi pendengarnya salah dengar. Aku bertanya, “Lalu  redaksi yang benar bagaimana? Ia berkata, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Qarun di sisi Musa”. Aku bertanya lagi, “Dari siapa kamu meriwayatkannya?” ia berkata, “Aku mendengar Walîd ibn Abd. Malik mengatakannya dari atas mimbar”.[23]

Al Azdi juga melaporkan kepada kita “Harîz meriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. hendak menaiki baghel-nya[24] datanglah Ali lalu  melepaskan pelananya agar beliau jatuh.”

Al Jauhari juga melaporkan kepada kita dengan sanadnya bersambung kepada Mahfûdz, Ia berkata, “Aku bertanya kepada Yahya ibn Shaleh Al Wahadzi, ‘Kamu telah meriwayatkan dari para guru sekelas Harîz, lalu  mengapakah kamu tidak meriwayatkan  dari Harîz?’ Ia berkata, ‘Aku pernah datang kepadanya lalu ia menyajikan buku catatannya, lalu  aku temukan di dalamnya, Si fulan telah menyampaikan hadis kepadaku dari fulan… bahwa Nabi saw. menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali ibn Abi Thalib di potong.”. Maka aku kembalikan buku itu dan aku tidak menghalalkan diriku meriwayatkan darinya!!.[25]

Semua itu tidak rahasia lagi… Akan tetapi yang benar-benar mengeharkan adalah ternyata tidak sedikit tokoh-tokoh besar hadis Ahlusunnah menegaskan ketsiqahannya. Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan, “Ia tsiqah, Ia tsiqah, ia tsiqah!”[26]

Di sini, seperti Anda saksikan, Imam Ahmad (seorang tokoh terkemuka empat Mazhab Sunni) tidak cukup sekali dalam mengapresiasi kejujuran dan keadilan Harîz. Ia mengulanginya tiga kali. Menyematkan gelar tsiqah kepaada seorang perawi adalah puncak pengandalan. Dan lebih dari kata tsiqah, apabila kata itu diulang dua apalagi tiga kali.

Itu artinya Harîz benar-benar menempati tempat istimewa dalam jiwa Imam besar Ahhlusunnah. Selain Ahmad, Yahya ibn Ma’in dan para imam hadis Sunni juga mentsiqahkannya. Demikian ditegaskan Ibnu Hajar dalam Hadyu as Sâri-nya.

Abu Hatim menegaskan bahwa tidak ditemukan di kota Syam seorang parawi yang lebih kokoh darinya.

Ibnu Adi berkata, ‘Ia tergolong perawi kota Syam yang tsiqat/jujur terpercaya.”

Ahmad ibn Abi Yahya berkata, “Ia (Harîz) seorang yang shahih hadisnya, hanya saja ia mencaci maki Ali.”

Al Ijli berkata, “Ia (Harîz) seorang penduduk kota Syam yang tsiqah. Dan ia mencerca dan mencaci maki Ali. Ia menghafal hadisnya.”

Dalam kesempatan lain ia berkata, “Ia kokoh riwayatnya dan ia sangat membenci Ali.”

Ibnu Ammâr berkata, “Para ulama menuduhnya mencaci maki Ali, namun mereka tetap saja meriwayatkan dahis darinya, berhujjah dengannya dan tidak meninggalkannya.”

Dan masih banyak komentar lain sengaja saya tinggalkan….

Karenannya adalah mengherankan sikap ulama Sunni yang masih tetap saja mengandalkannya dalam periwayatan hadis.

Saya tidak mengerti apakah sikap keras para muhaddis Ahlusunnah dalam berpegang teguh dengan hadis riwayatnya itu didasari oleh kebanggaan mereka kepada hadis riwayat kaum munafik pembenci Imam Ali as.? Atau didasari oleh kayakinan mereka akan kejujuran tutur kata kaum munafik pembenci Imam Ali as.?

Atau karena sebab lainnya. Wallahu A’lam, hanya Allah yang Maha mengetahui hakikat sebenarnya.

Yang pasti, sikap tidak sehat seperti itu dapat membuat para pecinta Ahlulbait as. berhak curiga akan ketulusan ulama hadis Sunni dalam klaim kecintaan mereka kepada Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi as.!! Karenanya sudah seharusnya para ulama Sunni kontemporer mengoreksi dan mengintropeksiManhaj Hadis Sunni demi menemukan kesuciannya!

Penutup:

Untuk sementara saya cukupkan menyebut sembilan contoh  penyalur hadis yang telah dipercaya habis-habisan oleh muhaddis Sunni. Semoga dalam kesempatan lain saya dapat menyajikan data-data lain tentang parawi-parawi munafik seperti mereka. Wallahu Waliyyut taufîq.


[1]Penulis berharap judul di atas tidak akan disalah-pahami oleh musuh-musuh Ahlulbait as. sebagai sebuah stitmen pembenaran atas sikap mencaci maki sahabat mulia Nabi saw.[2] Istilah Zindîq (orang yang lepas dari ikatan agama dan norma-norma langit) sudah disalah-gunakan demi kepentingan-kepntingan tertentu. Misalnya, Khalifah al Mahdi –dari dinasti Abbasiyah- menyebut siapapun yang tidak mengakui kekhalifahannya sebagai Zindîq. (Tarikh Ibnu Katsir,10/153) Demikian juga kata itu dialamatkan kepada seseorang yang mengkritik sebagian hadis sahabat atau menolaknya karena dalam hematnya tidak shahih. (Târîkh Badgdâd,14/7).

[3] Ash Shawâiq al Muhriqah;Ibnu Hajar al Haitami, Penutup:211.

[4] Târîkh Baghdâd,7/145 ketika menyebut data Taid, no.3582.

[5] Al Majrûhîn,1/204.

[6] Tarikh Baghdad,14/427.

[7] Ibnu Hajar mendefenisikan kenashibian sebagai: kebencian kepada Ali dan mengutamakan sahabat lain atasnya. (Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri,2/213)

[8] Ibnu Hajar sendiri telah mendefenisikan kesyi’ahan sebagai berikut: Kesyi’ahan adalah kecintaan kepada Ali dan mengutamakannya atas para sahabat. Maka barang siapa yang mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar berarti ia ekstrim dalam kesyi’ahannya, dan ia disebut juga dengan Rafidhi. Jika tidak (mengutamakannya di atas Abu Bakar dan Umar) maka ia hanya seorang Syi’ah.” (Hadyu as Sâri Muqaddimah Fathi al Bâri,2/213)

[9] 2/143.

[10] Tahdzîb at Tahdzîb, 3/83 dan Mizân al I’tidâl,2/412.

[11] Ibid.152

[12] Istilah Shadûq (jujur) adalah gelar yang diberikan kepada seorang perawi sebagai bukti apresiasi pujian, seperti juga kata tsiqah, hanya saja ia dibawah tinggat apresiasi kata tsiqah dalam hirarki redaksi penta’dilan.

[13] Tahdzîb at Tahdzîb,3/308.

[14] Mushannaf; Ibnu Abi Syaibah,12/96 hadis no.12225.

[15] At Târiîkh al Kabîr; Bukhari,5/92.

[16] Lebih lanjut baca Mizân al I’tidâl,4/103.

[17] Tahdzîb al Kamâl,15/91 data no.3333.

[18] Ath Thabaqât al Kubrâ,7/126.

[19] Tarîkh Damasqus,26/161.

[20] Pernyataan ini juga dapat Anda temukan dalam Ma’rifah ar Rijâl,1/145.

[21] Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tarikh Damaskus,12/349.

[22] Al MajRûhuun,1/268.

[23] Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tahdzîb al Kamâl,5/577, Tarikh Baghdad.8,268 dan Tarikh Damaskus,12/349.

[24] Baghel adalah peranakan antara kuda dan keledai.

[25] Syarh Nahj al Balâghah; Ibnu Abi Al Hadid al Mu’tazili,4/70.

[26] Tahdzîb al Kamâl,5/175.

————————————————————————===——————————————————————

Adalah hal mengherankan lagi mengerikan bagi kemurnian agama Islam yang kita yakini kesuciannya apabila para penjahat perang, kaum bengis haus darah, kaum fasik, tiran, pembantai jiwa-jiwa mukminah tak berdosa dan kaum munafik dibanggakan sebagai pembawa ajaran suci tersebut!

Adalah sangat berbahaya dan sekaligus membuka lebar-lebar pintu keraguan atas kemurnian ajaran agama Islam kita, jika orang-orang jahat dan musuh-musuh Islam dan kaum Shalihin dijadikan andalan dalam mentransfer ajaran agama! Maka tidak mengherankan jika kaum berakal akan meragukan kemurnian ajaran agama tersebut!! Sebab pembawanya adalah kaum durnaja dan durhaka!

Banyak contoh kasus yang membuktikan kenyataan pahit dalam dunia penyebaran ajaran agama Islam versi Sunni! Beberapa darinya telah Anda simak bersama dalam edisi sebelumnya, kini kami akan tambahkan beberapa contoh lain…

Para Tokoh Hadis Ahlusunnah Mentsiqahkan  Algojo Penguasa Tiran

Tidak ada yang meragukan bahwa Hajjâj ibn Yusuf dalah aparat bejat, durjana dan durhaka kepada Allah dan rasul-Nya… sejarah telah mencatat sekelumit dari kejahatannya, walaupun yang sekelumit itu sudah sangat mengerikan… ribuan jiwa mukminah tak berdosa ia bantai dengan darah dingin…. Masjid yang tadinya sebagai tempat ibadah ia rubah menjadi tempat penyembelihan kaum Mukminin Muslimin… Hajjâj tidak sendirian dalam melakukan kajahatan kemanusian mengerikan itu (yang tidak kalah mengerikannya dari pembantaian atas kaum Muslim Bosnia oleh kaum Nasharani Serbia dan apa yang terjadi di Poso dan Ambon beberapa waktu silam, bahkan apa yang dilakukan Hajjâj jauh lebih mengerikan).

Ia dibantu oleh para algojo haus darah dan tak berpri-kemanusiaan… namun anehnya, tidak sedikit ulama Ahlusunah yang membela Hajjaj dan memujinya sebagai yang banyak berjasa terhadap Islam… sebagai mana Ahli Hadis Sunni berebut hak paten dalam memuji dan menyanjung para algojo Hajjâj yang tiran dan fasik itu…

Di antaranya adalah:

  • Isma’il ibn Awsath al Bajali – Amir Wilayah Kufah- (w.117 H)

Ia adalah pembantu setia Hajjâj dalam menjalankan agenda kebengisan dan pembantaian terhadap kaum Muslimin, tidak terkecuali para ulama yang tidak loyal kepada kekuasaan tiran rezim bani Umayyah terkutuk. Dialah yang mengajukan Sa’id ibn Jubair –seorang ulama generasi tabi’in yang karismatik dan teguh pendiriannya-. Ismail telah dipuji dan disanjung oleh banyak ulama Ahli hadis Sunni. Ia telah ditsiqahkan oleh Ibnu Ma’in. Ibnu Hibbân menggolongkannya sebagai perawi jujur terpercaya. (Baca kitab Mîzân al I’tidâl,1/1037 dan Lisân al Mîzân1/395)

Mereka Memuji Pemaki Imam Ali as.

Di antara ketidak konsistenan sikap ulama Hadis Ahlusunnah adalah mereka sering kali memuji dan membanggakan keimanan, keshalihan serta keteguhan beragama mereka yang terang-terangan mencaci maki dan melaknati Imam Ali as. sebelumnya telah kami sebutkan beberapa contoh dalam kasus ini. Kini kami tambahkan lagi untuk melengkapi

  • Asad ibn Wadâ’ah Adalah Seorang Abid yang Jujur Padahal Ia Selalu Mencaci maki Imam Ali

Kali ini contoh kasus itu adalah sikap terpesona dan bangga serta kagum yang ditampakkan ulama Ahli Hadis Sunni atas seorang Nâshibi (pembenci dan musuh Ali dan Ahlulbait Nabi saw.) dan lidah busuknya selalu berkecomat-kecamit mencaci maki Imam Ali as. – semoga Allah memanggang lidahnya dengan api neraka bersama para tuan dan pujaannya; Mu’awityah dan gembong kaum munafik lainnya-.

Kendati demikian An Nasa’i –seorang Ahli hadis senior Sunni- mentsiqahkannya. (Baca kitab Mîzân al I’tidâl,1/07 dan Lisân al Mîzân1/385).

  • Khalid al Qasri –seorang Amir rezim tiran bani Umayyyah-

Contoh lain yang tidak kalah memalukannya adalah pujian Ibnu Hibbân atas Khalid. Ia berkata:

ثقة.

“Ia tsiqah.”

Padahal semua telah mengetahui kejahatan dan kekejaman serta kefasikannya. Ia seorang pembenci Imam Ali as.; nâshibi yang sangat keji, seorang amir yang kejam. Ibunya seorang Kristen dan ia (Khalid) membangunkan untuknya gereja untuk tempat ibadah bagi ibunya! tidak diragukan bahwa ia pantas diragukan keberagamaannya.

Untuk mengetahui lebih lengkap kejahatan dan kebejatan serta kefasikannya baca kitab Târikhnya Ibnu Katsir,10/20-21.

Selaki Lagi Mereka Memuji Pembenci Imam Ali as.!

Selain nama-nama di atas, Anda dapat menemukan nama Ishaq ibn Suwaid al Adwi al Bashir (W.131 H)… para ulama Ahli Hadis kebanggaan Ahlusunnah berlomba-lomba memujinya, padahal mereka mengetahui dan mengakui bahwa Ishaq itu membenci dan tidak segan-segan mencaci maki Imam Ali as.!Bukankan ini sebuah keanehan sikap?!

Ishaq tidak pernah merahasikan dan/atau malu-malu menampakkan kebenciaannya kepada Imam Ali as. bahkan ia membanggakannya. Dia berkata:

لا أحب عليا

“Aku tidak suka Ali.”

Namun demikian Ahmad (seorang imam besar empat mazhab Sunni), Ibnu Ma’in dan an Nasa’i mentsiqahkannya. Dia diandalkan oleh Imam Bukhari dan Msulim dalam keduan buku Shahihnya (yang diyakini tershahih setelah Al Qur’an; kitab suci terakhir umat Islam). Dan juga diandalkan oleh Abu Daud dan an Nasa’i.

Sikap Dualisme Yang Mengherankan!

Demikianlah mereka bersikap lembek, bersimpatik dan membanggakan ketsiqahan dan kejujuran para pembenci Imam ali as. dan mereka yang telah “menghiasi” mulut-mulut najis dengan caci-maki manusia suci; Ali ibn Abi Thalib…. Namun apabila giliran ada seorang perawi jujur “tertangkap basah” meriwayatkan sabda Nabi saw. tentang kejelakan Mu’awiyah anak Hindun (penguyah jantung Sayyidina Hamzah –paman Nabi saw.-); –khalifah keenam mereka yang sangat mereka banggakan kejeniusan, kesabaran dan ketulusannya kepada Islam dan kaum Muslimin- maka para ulama berlomba-lomba menghujaninya dengan berondongan anak panah beracum kecaman!! Seakan Mu’awiyah itu seorang nabi yang ma’shum yang tidak mungkin berbuat kekejian dan selalu dikawal para malaikat langit!

.

Data di bawah ini akan membuktikan apa yang saya katakan:

Al Khathib al Baghdâdi melaporkan bahwa Ahmad ibn Hanbal tidak sudi lagi meriwayatkan hadis dari Ubaidullah ibn Musa al ‘Absi setelah ia memergokinya menyebut-nyebut Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Lebih dari itu ia berusaha mempengaruhi Yahya ibn Ma’in agar juga membuang riwayat Ubaidullah. Ia mengutus utusan menemui Yahya dan memerintahnya agar menyampaikan pasan:

أخوك أبو عبد الله أحمد بن حنبل يقرأ عليك السلام ويقول لك: هو ذا تكثر الحديث عن عبيد الله وأنا وأنت سمعناه يتناول معاوية بن أبي سفيان وقد تركت الحديث عنه.

“Saudaramu; Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal mengucapkan salam atasmu dan berkata, ‘Ini dia engkau berbanyak-banyak meriwayatkan hadis dari Ubaidullah, sedangkan engkau dan aku mendengarnya menyebut-nyebut Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Kini aku sudah meninggalkan riwayat darinya.’”[1]

Pencaci-maki Imam Ali as. disanjung!! Yang menyebut-nyebut kejelekan Mu’awiyah dikecam dan dibuang riwayatnya! Sungguh mengerikan penyimpangan ini!!

Al Hasil, setelah ini semua apakah pentsiqahan dan/atau pencacatan yang dilontarkan para tokoh kenamaan Ahli Hadis Sunni terhadap para parawi itu masih berharga?! Sementara norma dan hakikat dari semua nila-nilai keislaman telah diputar-balikkan… yang fasik dipuji sebagai Abid dan jujur!! Pembenci Imam Ali as. dibanggakan sebagai penyandang Sunnah dan pemberantas Bid’ah!!

Lalu masihkan tersisa ruang untuk ketenteraman dalam kemurnian ajaran agama?!

Akankah kaum fasik itu memikul amanat ballighu ‘anni/sampaikanlah ajaran dariku?! Akankah Nabi saw. memuji mereka sebagai pengemban syari’at untuk generasi lanjutan?

Apakah syarat utama pengemban syari’at Islam dan Sunnah Nabi saw. adalah membenci dan mencaci maki Imam Ali as.?! Mengapakah mencaci maki Imam Ali as. menjadi tindakan terpuji, sementara mencacat Mu’awiyah, Abu Hurairah dkk. dikecam dan kadang dikafirkan sebab termasuk syatmul khiyarah/mencaci maki kaum shaleh yang baik?

Apakah demikian pilar mazhab Sunni? Jawabnya saya serahkan kepada Anda….

[1] Tarikh Baghdad,14/427

————————————————————————————————————————————————

Mu’awiyah Memberantas Hadis Keutamaan Imam Ali as.

Mu’awiyah  Imam  Kaum  Aswaja  Sunni !

Di antara ulama hadis ada sekelompok yang menjual dirinya kepada setan, mereka keberja siang malam hanya untuk membantah setiap hadis sabda Nabi saw. Tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. Setiap perawi yang disinyalir mencintai Ali as. Dan meriwayatkan hadis keutamaan tentangnya dituduhnya Syi’ah dan kemudian dikecam dan dijatuhkan keadilannya untuk selainjutnya seluruh riwayatnya dibuang ke tong sampah!

Mereka benar-benar telah menjual agama dan kehormatan mereka kepada Mu’awiyah dan penguasa tiran yang memimpin umat Islam untuk waktu yang tidak sebentar.

Mereka dengan penuh kepatuhan dan ketulusan menjalankan politik setan yang ditetapkan Mu’awiyah untuk mengubur ajaran agama Islam yag dibawa Rasulullah saw.dan ditegakkan dengan jasa pengorbanan Imam Ali as.

Perhatikan surat keputusan Mu’awiyah di bawah ini!

Mu’awiyah  menulis surat keputusan yang dikirimkan kepada para gubenur dan kepala daerah segera setelah ia berkuasa:

أن برِئَت الذمة مِمن روى شيئا فِي فَضْلِ أبِي تُراب و أهْلِ بَيْتِهِ .

“Lepas kekebalan bagi yang meriwayatkan sesuatu apapun tentang keutamaan Abu Thurab (Imam Ali as.) dan Ahlulbaitnya.”[1]

Maka setelah itu para penceramah di setiap desa dan di atas setiap mimbar berlomba-lomba melaknati Ali dan berlepas tangan darinya serta mencaci makinya dan juga Ahlulbaitnya. Masyarakat paling sengsara saat itu adalah penduduk kota Kufah sebab banyak dari mereka adalah Syi’ah Ali as. Dan untuk lebih menekan mereka, Mu’awiyah  mengangkat Ziyad ibn Sumayyah sebagai gubenur kota tersebut dengan menggabungkan propinsi Basrah dan Kufah. Ziyad menyisir kaum Syiah –dan ia sangat mengenali mereka, sebab dahulu ia pernah bergabung dengan mereka di masa Khilafah Ali as.. Ziyad membantai mereka di manapun mereka ditemukan, mengintimidasi mereka, memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, menusuk mata-mata mereka dengan besi mengangah dan menyalib mereka di atas batang-batang pohon kurma. Mereka juga diusir dari Irak, sehingga tidak ada lagi dari mereka yang tekenal.[2]

Jadi janganlah Anda heran jika Anda temukan di zaman kita ini pihak-pihak yang rajin mengkufuri sabda-sabda Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as., atau keterangan para sahabat dan tabi’în yang mengungkap kemuliaan, keutamaan dan keagungan Imam Ali as. sebab mereka adalahjebolan “Madrasah Bani Umayyah” yang ditegakkan di atas kebencian dan permusuhan kepada Nabi saw. dan keluarga sucinya as.!

Dan untuk melengkapi politik pemusnahan ajaran murni agama Islam dan demi mengaburkan kebenaran, Mua’wiyah menyusulnya dengan perintah kedua agar disemarakkan dengan segala bentuk rangsangan pemalsuan hadis tentang keutamaan sahabat-sahabat lain demi menandingi keutamaan Imam Ali as. yang disabdakan Rasulullah saw..

Mu’awiyah menulis sepucuk surat:

إن الحديث في عثمان قد كثر و فشا في كل مصر و في كل وجهٍ و ناحية، فإذا جاءكم كتابي هذا فادعوا الناس إلى الرواية في فضائل الصحابة مفتعلة ، فإن هذا أحب إلَيَّ و أقر لعيني و أدحض لحجة أبي تراب و شيعته و أشد عليهم من مناقب عثمان و فضله.

“Sesungguhnya hadis tentang Utsman telah banyak dan tersebar di seluruh penjuru negeri. Maka apabila datang suratku ini kepadamu ajaklah orang-orang untuk meriwayatkan tentang keutamaan sahabat dan para khalifah terdahulu. Dan jangan biarkan sebuah hadis pun yang diriwayatkan kaum Muslim tentang keutamaan Abu Thurab melainkan datangkan kepadaku tandingannya untuk sahabat lain.[3] Yang demikian itu lebih aku sukai dan lebih mendinginkan mataku serta dapat mematahkan hujjah Abu Thurab dan Syi’ahnya, dan lebih menyakitkan mereka dari pada keutamaan Utsman!”

Dan setelahnya manusia berlomba-lomba memalsu hadis keutamaan sahabat demi menandingi sabda Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali as. dan proyek pemalsuan hadis ini dijalankan dengan rapi dan melibatkan banyak pihak yang penampilan lahiriyahnya cukup menipu, sehingga para ulama yang tulus pun tertipu dan menerimanya sebagai kenyataan yang haq! Dan akhirnya pikiran dan keberagamaan generasi amat Islam diracuni dengan riwayat-riwayat palsu, sehingga hingga sekarang pun mereka meyakini hadis-hadis palsu itu sebagai bagian utama agama Islam!

Akibatnya!

Ibnu Abi al Hadid menegaskan bahwa riwayat serupa juga dikeluarkan oleh Ibnu Arafah (yang dikenal dengan nama Nafthawaih), seorang tokoh dan pembesar Ahli Hadis, ia juga mengatakan bahwa “Kebanyakan hadis palsu tentang keutamaan sahabat itu diproduksi di masa kekuasaan rezim Umayyah, sebagai upaya orang-orang mendekatkan diri kepada mereka dengan anggapan bahwa hal demikian menyakitkan Bani Hasyim (keluarga besar Nabi saw.)”[4]


[1] Dari sini dapat dilihat bahwa sikap sebagian muhaddis Sunni terilhami oleh kebijakan Mu’awiyah di atas.[2]Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.[3] Contoh masalah ini banyak sekali, dapat Anda temukan pada hampir setiap hadis keutamaan Imam Ali as. ada hadis tandingan, seperti hadis Manzilah  dll. Tetapi anehnya, meskipun ia dirangsang dengan rangsangang menggiurkan tetap saja ia tidak diriwayatkan kecuali melalui jalur-jalur lemah.“Mereka berkeherndak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya walaupn kaum Kâfir tidak menyukainya!”

[4] Syarh Nahjul Balâghah; Ibnu Abi Al Hadid, Jilid 1/juz 4/358.

——————————————————————————————————————

Muqaddimah

Judul yang mengerikan tetapi itulah apa adanya. Penjelasannya bisa sangat panjang dan akan saya buat dengan sesederhana mungkin. Apa itu Sunnah? Nah bahaya kan kalau anda salah menangkap apa yang saya maksud. Bisa dilihat disinidisana atau Untuk mempermudah maka anda dapat melihatpenjelasan dari Ustad ini. Sederhananya saya ambil yang ini

Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW.

Tidak percayakah anda kalau Sunnah ini sudah direkayasa!. Mari pikirkan kemungkinan-kemungkinannya. Rasulullah SAW hidup 1400 tahun yang lalu artinya kita terpisah ruang dan waktu yang sangat jauh untuk mengakses apa itu sebenarnya Sunnah atau Bagaimana Sang Rasul SAW sebenarnya. Semudah itukah? belum karena para Pemuka konservatif akan menjawab semua keraguan atas Sunnah dengan menyatakan bahwa para Ulama sudah melakukan metode tersendiri untuk menjaga kemurnian Sunnah. Mereka telah melakukan pencatatan atas Sunnah dan Melakukan penyaringan dengan Metode khusus yang dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis(yah berkaitan dengan Jarh wat Ta’dil dan sebagainya).

Keren jawabannya dan akan memuaskan mereka yang cuma awam-awam saja dan mereka yang biasa bertaklid. Percayakah anda dengan validitas kedua hal yang disebutkan yaitu

  • Pencatatan Atas Sunnah
  • Penyaringan Atas Sunnah

.

.

Pencatatan Sunnah

Kapan dimulai pencatatan? Dulu kabar yang masyhur pencatatan Sunnah dimulai jauh setelah Rasulullah SAW wafat tetapi syubhat ini dibantah oleh Syaikh yang mulia Mustafa Al Azhami. Beliau membantah semua para pengingkar Sunnah yang meragukan pencatatan Sunnah. Singkatnya beliau membuktikan bahwa Sunnah telah mulai dicatat oleh Sahabat Nabi SAW saat Nabi SAW masih hidup. Kemudian pencatatan terus dilakukan orang perorang(orang tertentu) dari tabiin, tabiit tabiin hingga Ulama hadis. Pernah dengar Lembaran or suhuf tertua soal Sunnah yang ditulis oleh Abdullah bin Amr dan Abu Suhail. Yang satu sudah tidak ada lagi alias lenyap tinggal nama dan yang satu lagi masih berupa manuskrip catatan tangan. Kesimpulan: Sunnah sudah ditulis sejak awal Rasulullah SAW hidup dan seterusnya sampai sekarang. So saya sepakati saja yang ini

.

Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak. Mari kita melakukan lompatan ribuan tahun dan kembali ke masa kini. Ada berapa banyak kitab yang memuat Sunnah yang anda ketahui? lumayan banyak baik yang semuanya Shahih(menurut Ulama) atau yang campuran shahih, hasan dhaif dan maudhu’.

.

Ok bisa diperinci Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai(Kubra dan Shughra/Al Mujtaba), Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Daruquthni, Sunan Baihaqi, Shahih Ibnu Hibban , Shahih Ibnu Khuzaimah, Mustadrak Al Hakim, Musnad Ahmad(suka dengan yang ini), Musnad Al Bazzar, Musnad Abu Ya’la, Mu’jam Al Awsath, Kabir dan Saghir Ath Thabrani. Daftar ini masih bisa dibuat panjang Jami’ As Shaghir Suyuthi, Majma Az Zawaid Al Haitsami, Kanz Al Ummal Al Hindi, Musnad Ibnul Mubarak, Musnad Abu Daud Ath Thayalisi, Musnad Asy Syamiyyin, Musnad Al Hamidi, Musnad Asy Syafii, Musnad Aisyah, Musnad Abu Bakar, Al Mushannaf Abdur Razaq, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah dan uups kita melupakan yang paling senior Al Muwatta Imam Malik

.

Selesaikah? oooh belum masih ada lagi(ini belum ditambah dengan banyaknya catatan di kalangan Islam Syiah), tahukah anda bahwa kitab Al Muwattaitu dulu ada banyak sekali tidak hanya Imam Malik yang punya. Informasi yang saya dapat, ada lebih kurang 70 kitab Muwatta dan yang tersisa sekarang hanya Muwatta versi Imam Malik. Selebihnya lenyap ditelan usia

.

So apa yang anda pikirkan, Kitab yang mencatat Sunnah itu bisa juga lenyap. Usilkah anda jika berpikir ada Sunnah yang hilang. Boleh saja usil, tapi semua keusilan anda sudah ada apologinya oleh para Pemuka Konservatif. Mereka akan berkata Tidak ada itu yang hilang karena semuanya sudah tercatat pada kitab yang ada. Saya sebut hal itu apologi karena siapa yang bisa membuktikan, toh kitabnya juga sudah tidak ada. Siapa yang bisa memastikan bahwa Sunnah yang tercatat dalam Suhuf Abdullah bin Amr, Kitab Muwatta yang lain dan Kitab-kitab lain(karena masih ada yang lain) itu semuanya tetap tercatat pada kitab yang ada sekarang. Bukankah tetap ada kemungkinan Sunnah yang tidak tercatat. Lagi-lagi ini perlu bukti dan mana bisa dibuktikan kecuali anda menemukan kembali kitab-kitab yang hilang itu dan membandingkannya dengan kitab yang ada sekarang. Jadi berprsangka baik saja

.

Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah Terlalu banyak Catatan. Hal ini memperbesar kemungkinan kekeliruan para Pencatat. Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, nggak mungkin banget kan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih.(sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin 2 hal yang kontradiktif bisa benar. Salah satunya pasti keliru dan lucunya kesalahan dan kekeliruan dijatuhkan pada Sahabat Nabi SAW yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram.

.

Banyaknya pencatatan menimbulkan banyaknya kemungkinan Inkonsistensi. Mau yang lain lagi nih, pernah dengar riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW pernah melaknat dan mencela orang2 yang tidak berhak mendapatkan laknat dan celaan. Sampai-sampai begitu banyak hadisnya maka ada sang Pencatat Sunnah yang membuat Bab khusus Siapa saja yang pernah dilaknat, dicela dan didoakan jelek oleh Nabi SAW dan dia tidak berhak mendapatkannya maka itu sebagai pembersih, pahala dan rahmat baginya. Padahal ada banyak riwayat lain bahwa Rasul SAW melarang mencela dan melaknat sesama muslim. Yang lebih aneh lagi ada riwayat yang menyatakan bahwa Barang siapa melaknat atau mencela sesuatu yang tidak pantas dilaknat atau dicela maka laknat dan celaan itu akan berbalik pada dirinya sendiri. Luar biasa ternyata semua riwayat tersebut shahih. Nah silakan pikirkan sendiri

Kritis, silakan dan jangan tanya bagaimana sikap para Pemuka Konservatif. Mereka punya banyak pembelaan yang berkesan apologia. Tidak percaya, silakan lihat sendiri bagaimana Mereka menjelaskan semua itu. Intinya Semuanya harus tampak bagus so apapun yang terjadi Tidak ada yang perlu diragukan 

.

.

Penyaringan Sunnah

Bagimana Sunnah disaring? Dengan Metode khusus yang detailnya dapat anda lihat dalam Ulumul Hadis. Saya akan membahas yang paling rawan yaituJarh wat Ta’dil . Ilmu ini berkaitan dengan perawi-perawi hadis. Mereka yang belajar ilmu ini kebanyakan adalah cikal bakal pemuka Konservatif. Ilmu ini mempelajari tentang kedudukan mereka yang meriwayatkan hadis, diterimakah atau ditolak hadisnya. Bisa dibilang dalam cabang ilmu ini yang namanya aib dibongkar habis-habisan. Perawi hadis yang tertuduh berdusta, mungkar, dan tidak dipercaya dijabarkan dengan jelas. Ilmu ini adalah ilmu mati alias gak berkembang kemana-mana. Ilmu ini adalah ilmu warisan yang tidak bisa diverifikasi dengan pasti karena anda dituntut percaya atau bertaklid dengan para Pemuka dan Sesepuh sebelumnya.

.

Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadisnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadisnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta. Verfikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuh sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh.Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah

.

Tetapi saya tidak setuju dengan mereka yang menyatakan ini tidak ilmiah. Metode itu adalah ilmiah yang bisa dilakukan. Jangan mengharap standar yang tinggi kalau memang mustahil. Meragukan penilaian manusia ya sah-sah saja. Seperti hati orang siapa yang tahu

  • Apakah mereka yang terpercaya itu tidak bisa dipengaruhi kecenderungan tertentu(fanatisme mahzab atau tekanan penguasa, dll) sehingga akhirnya mereka mungkin pernah berbohong dalam menyampaikan hadis walau cuma satu kali atau bisa saja mereka keliru menyampaikan hadis, kan mereka manusia.
  • Apakah mereka yang dinyatakan pendusta itu tidak bisa menyampaikan hadis yang benar?, apakah mereka selalu berdusta? Bisa saja kan mereka berkata benar walau hanya satu kali. Siapa yang bisa memastikan.

Sudah jelas jawabannya tidak ada yang pasti tetapi pemecahannya bisa bersifat metodis.

  • Benar mereka yang tsiqah bisa keliru atau bisa saja dipengaruhi kecenderungan tertentu tapi keraguan ini tidak bisa dibuktikan sehingga lebih aman menerima hadis perawi tsiqah sampai ada kemungkinan yang menguatkan bahwa hadis tersebut keliru. Terima saja sampai ada illat/cacatnya.
  • Benar bahwa mereka yang pendusta bisa saja berkata benar tetapi siapa yang bisa menjamin dan membuktikan bahwa mereka tidak berdusta saat itu. Oleh karena itu untuk amannya lebih baik semua riwayat mereka ditolak sampai ada keterangan yang menyatakan mereka benar misalnya ada perawi tsiqah yang juga meriwayatkan hadis yang sama dengan perawi pendusta tersebut. Tolak saja sampai ada yang menguatkannya.

Lalu apa masalahnya? Nah kalau anda belum tahu masalahnya adalah Terlalu banyak Sesepuh dan Ulama yang ikut andil dalam ilmu ini. Dan seperti biasa catatannya juga banyak dan memungkinkan Inkonsistensi. Sang Perawi tertentu bisa menjadi perdebatan di kalangan sesepuh. Pernah dengar yang ini

  • Athiyyah Al Aufi dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Saad tetapi dihaifkan oleh banyak ulama lain
  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Beberapa ulama menyatakan cacat hadis seseorang hanya karena berbeda mahzabnya, Al Jauzjani melakukan pencatatan yang keterlaluan pada banyak perawi yang terkait dengan tasyayyu.
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai2 Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Beberapa ulama menyatakan cacat pada setiap perawi yang berbau Rafidhah dengan tuduhan bahwa Rafidhah itu pendusta tetapi anehnya banyak hadis yang diriwayatkan oleh Rafidhah dalam kitab2 hadis. Labih aneh lagi malah ada Rafidhah yang justru dikatakan tsiqat dan jujur.

Jangan dikira para Pemuka Konservatif itu diam saja dengan masalah ini. Mereka punya jawaban sederhana yaitu Jarh didahulukan ketimbang ta’dildengan alasan mereka yang memuji tidak tahu keburukan perawi yang diketahui oleh mereka yang mencela. Ini adalah Alasan yang digeneralisasi karena kenyataannya ada variasi tertentu dimana mereka yang memuji seorang perawi justru mengetahui dan menolak dengan jelas orang lain yang mencacat atau mencela perawi tersebut.

.

Masalahnya nih seandainya

  • Kesaksian Ibnu Saad soal Athiyah benar maka hadis2 Athiyah (yang tentunya didhaifkan oleh ulama lain) adalah Sunnah yang shahih.
  • Ketika Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir dan mengatakannya Sunnah maka hal ini keliru jika Katsir memang Tiang kebohongan seperti yang dikatakan Imam Syafii.
  • Jika Imam Malik benar celaannya bahwa Ibnu Ishaq itu dajjal maka semua Sunah Rasulullah SAW yang dinisbatkan kepada Rasul dalam kitab Sirah Ibnu Ishaq adalah tertolak.

Pembuktian pastinya sangat sulit dan yang bisa dilakukan hanya memilih yang lebih aman dan lebih melegakan(alias berprasangka baik)

Anda lihat Dengan meloncat-loncat pada ulama satu ke ulama lain maka berkesan yang namanya Sunnah itu sudah diRekayasa.

.

.

Keanekaragaman Inkonsistensi

Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya

  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun

Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).

.

.

Kesimpulan

Jadi Rekayasa Sunnah itu sudah jelas dan memang konsekuensi dari ruang waktu yang berbeda. Jangan diartikan ini sebagai penolakan saya terhadap Sunnah. Bukan seperti itu maksud saya, hanya saja saya mengingatkan bahwa banyaknya sesuatu justru mengaburkan sesuatu. Pilihan anda ya mudah saja, tidak peduli dan ikut aman saja dengan Awamisme Sunnah yang artinya anda tetap saja bagian dari Rekayasa Sunnah yaitu Sunnah yang mayoritas ada membudaya di lingkungan anda atau ikut aktif dalam bagian Rekayasa Sunnah baik dengan mengambil inisiatif bergabung dengan golongan tertentu atau justru membuat Rekayasa Sunnah sendiri seperti saya .

Pemecahannya mudah

“Jangan pernah menganggap Rekayasa sebagai sesuatu yang menyesatkan. Terima itu apa adanya dan cari pemecahan yang terbaik yang bisa anda lakukan”

Apakah ini buruk? Ngapain sih bahas ini padahal udah deket puasa?. Lho apa hubungannya, memangnya saya sedang bermaksiat? Nggak banget deh . Waduh waduh saya ini mengingatkan anda semua wahai yang mengaku berpegang pada Sunnah. Anda sama-sama punya masalah jadi mari bahu membahu memecahkan masalah. Tidak mau ya sudah dan tidak perlu menghina. Anggap saja saya salah dan cuma cuap-cuap asal, Gampang kan

Salam Damai

.Catatan : Tulisan ini juga sebuah Rekayasa Sunnah jadi pilihan ada pada anda untuk memperhatikan apa yang tersirat atau memasukkannya dalam kotak sampah sambil terus mengutuk.

——————————————————————————————————————————————-

Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (1)

Sikap damai lagi mesra terhadap para pembenci dan pencaci maki Imam Ali dan Ahlulbait serta berbanggga dalam mengandalkan riwayat mereka oleh para ulama hadis Sunni juga diperagakan Bukhari –Imam Besar Hadis, bahkan mungkin diangap Imam teragung-. Dalam kitab Shahihnya yang diyakini keshahihan seluruh hadis di dalamnya oleh ulama Sunni sehingga menjadi pandangan resmi mazhab itu, telah mengandalkan kaum Nawâshib yang sangat membenci Imam Ali as. dan juga mencaci maki dan menghina serta melaknati beliau as. sebagai sumber kepercayaan agamanya. Ia banyak meriwayatkan dari kaum Nawâshib.

Ibnu Hajar dalam Mukaddimah Fathu al Bâri (kitab syarah terbesar atas Shahih Bukhari) menyebutkan daftar nama para perawi hadis yang diandalkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya yang dicacat para ulama. Di antara mereka adalah para perawi yang dicacat karena alasan kenashibian/kebencian kepada Ali dan Ahlulbait.

Di bawah ini –demi menyingkat waktu pembaca- langsung saja saya sebutkan nama-nama mereka beriktu keterangan singkatnya:

  • Tsaur ibn Yazîd ibn Ziyâd al Kilâ’I al Himshi asy Syâmi (w.153 H)

Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan lima riwayat dalam berbagai bab, di antaranya pada bab: al Buyû’ (jual beli), al Jihâd danKitab al Ath’imah (makanan), bab Mâa Yuqâlu Idzâ Faragha Min Tha’âmihi (apa yang diucapkan jika selesai makan)[1]. Imam Bukhari menyebutkan jalur darinya demikian: Telah menyampaikan hadis kepada kami Ishaq ibn Yazîd ad Dimasyqi, ia berkata, telah menyampaikan hadis kepada kami Yahya ibn Hamzah, ia berkata telah menyampaikan hadis kepadaku Tsaur ibn Yazîd dari Khalid ibn Ma’dân ….

Tsuar Di Mata Ulama hadis Sunni

Yahya ibn Ma’in berkata, “Aku tidak menyaksikan seorang pun yang meragukan bahwa ia adalah seorang panganut faham Qadariyah. [2]

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Tsaur berfaham Qadariyah. Dan adalah penduduk kota Himsh mengusirnya dari kota mereka. [3]

Ibnu Hajar berkata, “Ia datang ke kota madinah maka Malik melaraang orang-orang untuk duduk bersamanya. Ia dituduh berfaham nushb (membenci Imam Ali dan Ahlulbait as.).”

Yahya ibn main berkata, “Ia (Tsaur) sering duduk-duduk bersama kaum yang mencaci maki Ali. Akan tetapi ia sendiri tidak mencaci makinya.” [4]

Ibnu Jakfari berkata:

Pembelaan Yahya ibn Ma’in terhadap Tsuar di atas tidak benar sebab terbukti bahwa Tsaur tidak hanya gemar dan menikmati duduk bersama kaum yang menjadikan caci maki Imam Ali as. sebagai tema dan obyek pembicaraan… akan tetapi ia juga sangat ganas dalam kebenciannya terhadap Imam Ali as.; sahabat termulia dan khalifah keempat di kalangan Ahlusunuhhah, menantu Nabi saw.

Al Ka’bi melaporkan dalam kitab Qabûl al Khbâr bahwa Tsaur setiap kali menyebut Imam Ali as. selalu berkata, “Aku tidak suka orang yang membunuh kakekku. [5] Dan kakeknya terbunuh dalam peperangan Shiffîn di pihak Mu’awiyah yang disabdakan Nabi saw. (sesuai riwayat Imam Bukhari) sebagai pemimpin kelompok penganjur ke neraka jahannam.!!

Dan pembelaan seperti itu biasa dilakukan terhadap para perawi pujaan mereka…. Karenanya tidak mengherankan jika Anda juga menemukan pujian dan penghargaan atasnya oleh sebagian ulama dan tokoh sentral Sunni, seperti Yahya al Qaththân, yang memujinya dengan: “Aku tidak pernah menyaksikan seorang penduduk kota Syâm yang lebih kokoh riwayatnya darinya.” Atau pembelaan Ibnu Hajar dengan kata-katanya, “Para ulama bersepakat akan ketepatan riwayatnya.”

Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”! Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan! Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!

Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….

Inilah yang menjadikan pera peneliti menaruh kecurigaan akan ketulusan, kejujuran dan keseriusan para ulama Sunni dalam membela Ali dan keluarga; Ahlulbait Nabi yang suci dan disucikan Allah.

  • Ishâq ibn Suwaid ibn Hubairah at Tamîmi (w.131H)

Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan hadis dalam Kitab ash Shaum (puasa) digandeng dengan riwayat Khâlid al Hadzdzâ’.

Dalam Hadyu as Sâri-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib.”[6]

Ibnu Hajar juga berkata dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb, “Abu al ‘Arab ash Shaqali berkata dalam kitab adh Dhu’afâ’nya, ‘Ia sangat mengecam/membenci Ali. Ia berkata, ‘Aku tidak suka Ali. Ia tidak banyak hadisnya.’ Dan kemudian ia berkomentar, ‘Siapa yang tidak mencintai sahabat maka ia bukan seorang yang tsiqah/jujur terpercaya dan tidak ada kehormatan baginya.’” [7]

Ibnu Jakfari berkata:

Semoga Allah merahmati ash Shaqali dan membalasnya dengan kebaikan atas ketulusannya dalam membela kesucian Imam Ali as.

Akan tetapi yang disayangkan lagi mengherankan adalah sikap sebagian ulama hadis Sunni yang masih sudi mempercayai perawi fasiq dan munafik sepertinya sebagai sumber agama?!

Tidakkah kebenciannya terhadap Imam Ali as. yang mana kecintaan dan kebencian kepadanya telah dijadikan barometer keimanan dan kemunafikan! Lalu mengapakah Imam Bukhari dan ahli hadis lainnya seperti Muslim, an Nasa’i dan Abu Daud mempercayainya sebagai penyambung lidah suci Rasulullah?

Mengapakah Imam Bukhari mempercayainya dan menjadikannya hujjah yang menyambungkan dirinya dengan Allah, sementara ia tidak sudi meriwayatkan dari putra teladan Ahlulbait; Imam Ja’far ash Shadiq as. dan meragukannya?

Adilkan sikap mereka itu?

Mereka Bangkit Geram Jika Selain Ali as. Yang Dikecam!

Benar seudaraku –semoga Allah merahmati Anda- bahwa jika yang dikecam itu selain Imam Ali ibn Abi Thalib as. maka mereka tidak akan ragu-ragu untuk spontan menjatuhkan vonis garang atas pelakunya… Perhatikan caci-maki dan luapan kemarahan adz Dzahabi atas al Hafidz Ibnu Khirâsy –kendati tadinya ia mensifatinya dengan beragam pujian akademik seperti al Hâfidz/sangat hafidz yang dalam lagi luas pengetahuannya. Lalu setelanya ia menuduhnya sebagai penganut faham Syi’ah dan membuat-buat riwayat tentang kejelakekan Abu Bakar dan Umar… setelah itu semua ia mengalamatkan kecamanannya atas Ibnu Khirâsy dengan kata-kata, “Engkau adalah seorang Zindiq, penentang kebenaran/al Haq. Semoga Allah tidak pernah meridhaimu. Ibnu Khirâsy mati menuju selain raahmat Allah tahun 283 H.” [8]

Demikian pula dengan Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb ketika menyebut biografi Janâb al Asadi, ia menyebutkan bahwa  ad Dûri menukil Yahya ibn Ma’in berkata tentangnya, “Ia (Janâb) adalah seorang yang jelek. Ia mencaci Utsman…

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Ia adalah seorang yang jelek pendapatnya.

Ibnu Hibbân berkata, “Tidak halal meriwayatkan hadis darinya.”

Ad Dâruquthni berkata, “Ia adalah seorang yang jelek, berfaham Syi’ah yang kental. Ia mencaci-maki Utsman.”

Al Hakim berkata, “Yahya dan Abdurrahman meninggalkan meriwayatkan hadis darinya, dan keduanya telah berbuat baik, sebab ia mencaci-maki Utsman. Dan barang siapa mencaci seorang sahabat maka ia pantas untuk tidak diambil riwayatnya.

Lebih dari itu, ada sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan hati para pecinta Ahlulbait Nabi as… di mana mereka bermesraan dengan para pembenci Imam Ali as. dan mereka yang mencaci-makinya serta melaknatinya… Namun terhadap seorang parawi yang sekedar bersikap kurang menghormat kepada seorang ulama kebanggaan mereka –bukan seorang sahabat besar!- hanya seorang ulama! Mereka segera beramai-ramai mengecamnya! Bahkan melaknatinya!

Banyak contoh kasus dalam hal ini, akan tetapi saya hanya akan menyebutkan sekelumit saja.

Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb ketika menyebut biografi Husain al Karâbisi, ia berkata, “Berkata al Khathib, ‘Hadisnya jarang sekali, sebab Ahmad ketika berbicara tentang masalah Lafadz (ucapan/bacaan) Al Qur’an (apakah ia qadim atau makhluq), al Karâbisi menyalahkan Ahmad, maka para ulama menjauhi dari mengambil riwayat darinya. Dan ketika sampai kepada Yahya ibn Ma’in berita bahwa ia berbicara menyalahkan Ahmad, ia melaknatinya. Dan ia berkata, ‘Alangkah laiknya ia untuk dicambuk.’”

Sementara itu mereka juga mengatakan bahwa keyakinan Husain al al Karâbisi dalam masalah ini adalah bahwa bacaan kita terhadap ayat-ayat Al Qur’an adalah hâdits/bukan Qadîm. Keyakinan itu sama persis dengan yang diyakini oleh banyak tokoh ulama hadis Sunni, seperti Imam Bukhari, Hârits al Muhâsibi, Muhammad ibn Nashr al Marwazi dll.

Subhanallah. Imam Ali dikecam, mereka terdiam! Sementara Ahmad ibn Hanbal disalahkan mereka bangkit melaknati yang menyalahkannya!!

Contoh kedua adalah pembelaan ulama Sunni terhadap Ibnu Mubârak. Ibnu Hajar dalam Tahdzîb at Tahdzîb berkata ketika menyebut biografi Ibnu Mubârak, “Aswad ibn Salim berkata, “Jika engkau melihat seorang menceloteh Ibnu Mubârak maka curigai kemurnian Islamya!.”

Membongkar contoh-contoh kasus dalam masalah ini akan menjadi panjang pembicaraan kita… Maka kami cukupkan sampai di sini.


[1]Shahih Bukari,7/106.[2] Mîzân al I’tidâl,1/374, biografi no.1406. Pernyataan Yahya di ataas juga disebutkan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Damasqusnya,11/183/1058.

[3] Ibid.

[4] Hadyu as Sâri (Muqaddimah Fathu al Bâri),2/148. cet. Maktabah al Kulliyât al Azhâriyah-Kairo.

[5] Qabûl al Khbâr,2/158, Thabaqât; Ibnu Sa’ad,7/467.

[6] Hadyu as Sâri,2/143.

[7] Baca juga Hadyu as Sâri,2/143

[8] Baca Biografi al Hafidz Ibnu Khirâsy dalam kitab Tadzkiratul Huffâdz; adz Dzahabi.

—————————————————————————————————————————-

Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (2)

Seperti Anda telah saksikan data-data dua perawi munafik yang membenci Imam Ali as. namun demikian keduanya tetap menjadi tempat kepercayaan Bukhari dalam meriwayatkan hadis-hadis Nabi Muhammad saw…. Kini pembaca kami ajak mengenali perawi kebanggaan Bukhari lainnya, yang tidak kalah munafiknya di banding dengan dua parawi sebelumnya. Di adalah:

Harîz ibn Utsman al Himshi (w. 163 H)

Perawi yang sangat membenaci Imam Ali as. lainnya yang diandalkan dan dibanggakan Bukhari serta ia percaya sebagai penyambung lidah suci Rasulullah saw. adalah Harîz ibn Utsman al Himshi. Seorang gembong kaum munafikin yang sangat membenci Imam Ali as. Bukhrai meriwayatkan hadis pada bab al Manâqib dari Harîz ibn Utsman melalui jalur sebagai berikut:

1) Dari Ali ibn Ayyâsy, dan

2) Dari ‘Ishâm ibn Khâlid yang meriwayatkan dari Abdullah ibn Busr dan Abdul Wâhid ibn Abdullah an Nashri.

Harîz ibn Utsman al Himshi Adalah Seorang Gembong Nawâshib!

Kenashibian Harîz tidak samar bagi semua pengkaji yang akrab dengan kajian sejarah para perawi hadis. Ia sangat membenci Imam Ali as. dan tak henti-hentinya melaknati beliau as. di berbagai kesempatan, khususnya dalam wirid harian seusai shalat!! Tidak cukup itu, ia juga tidak segan-segan memalsu hadis yang menyelek-jelekkan Imam Ali as.

Data-data di bawah ini cukup sebagai bukti:

Harîz ibn Utsman al Himshi Adalah Seorang Pelaknat Imam Ali as.!

Ditanyakan kepada Yahya ibn Shaleh, “Mengapa Anda tidak menulis hadis dari Harîz? Ia menjawab, ‘Bagaimana aku sudi menulis hadis dari seorang yang selama tujuh tahun aku salat bersamanya, ia tidak keluar dari masjid sebelum melaknat Ali tujuh puluh kali.’“[1]

Ibnu Hibban juga melaporkan, “Ia selalu melaknat Ali ibn Abi Thalib ra. tujuh puluh kali di pagi hari dan tujuh puluh kali di sore hari”. Ketika ia ditegur, ia mengatakan, “Dialah yang memenggal kepala-kepala leluhurku.”[2]

Harîz ibn Utsman al Himshi Adalah Seorang Pemalsu Hadis!

Dan tentang keberaniannya memalsu hadis, ikuti laporan Ismail ibn Iyasy berikut ini, ia berkata, “Aku mendengar Harîz ibn Utsman berkata, ’Hadis yang banyak diriwayatkan orang dari Nabi bahwasannya beliau bersabda kepada Ali, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa”, itu benar tetapi pendengarnya salah dengar. Aku bertanya, “Lalu  redaksi yang benar bagaimana? Ia berkata, “Engkau di sisiku seperti kedudukan Qarun di sisi Musa”. Aku bertanya lagi, “Dari siapa kamu meriwayatkannya?” ia berkata, “Aku mendengar Walîd ibn Abd. Malik mengatakannya dari atas mimbar”.[3]

Ibnu Hajar berkata, “Al Azdi dalam kitab adh Dhu’afâ’ melaporkan bahwa “Harîz ibn Utsman meriwayatkan bahwa ketika Nabi saw. hendak menaikibaghelnya[4] datanglah Ali lalu  melepaskan pelananya agar beliau jatuh.” Setelahnya al Azdi berkomentar, “Seorang yang seperti ini keadaannya tidak pantas diambil riwayatnya.” Akan tetapi Ibnu Hajar –seperti kebiasaannya- berusaha membela Harîz –si pemalsu hadis itu dengan mengatakan, “Mungkin Harîz mendengar kisah itu dari al Walîd.”[5]

Al Jauhari juga melaporkan kepada kita dengan sanadnya bersambung kepada Mahfûdz, Ia berkata, “Aku bertanya kepada Yahya ibn Shaleh Al Wahadhi, ‘Kamu telah meriwayatkan dari para guru sekelas Harîz, lalu  mengapakah kamu tidak meriwayatkan  dari Harîz?’ Ia berkata, ‘Aku pernah datang kepadanya lalu ia menyajikan buku catatannya, lalu  aku temukan di dalamnya, Si fulan telah menyampaikan hadis kepadaku dari fulan… bahwa Nabi saw. menjelang wafat beliau berwasiat agar tangan Ali ibn Abi Thalib di potong.”. Maka aku kembalikan buku itu dan aku tidak menghalalkan diriku meriwayatkan darinya!!.[6]

Hadis palsu riwayat Harîz inilah yang disinggung dalam laporan Ibnu Hajar dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb, kendati ia tidak membongkarnya karena dianggap tidak layak disebutkan. Ibnu Adi berkata, “Yahya ibn Shaleh al Wahhâdhi berkata, ‘Harîz ibn Utsman mendektekan kepadaku dari Abdurrahman ibn Maisarah dari Nabi saw. sebuah hadis yang menjek-jelekan Ali ib Abi Thalib yang tidak layak disebutkan. Sebuah hadis yang sangat munkar, tiada meriwayatkan semisalnya melainkan orang yanmg tidak bertaqwa kepada Allah. Al Wahhadhi, “Maka ketika ia menyampaikan hadis itu kepadaku, aku tinggalkan dia.”[7]

Ibnu Jakfari berkata:

Jika demikian keadaan dan kebusukan jiwa Harîz ibn Utsman … dan jika demikian kualitas kejujurannya… dan jiika para gembong kaum munafikin seperti al Walîd sebagai masyâikh kebanggaan Harîz yang juga dibangggakan Adu Daud dkk. maka apa yang dapaat dikatakan kepada para ulaama itu, khusunya Bukhari yang dengan bangga meriwayatkan dan menghiasi kitab tershahihnya setelah al Qur’an al Karîm dengan riwayatnya? Masihkan kita meragukan bahwa dunia hadis Sunni sedang menghadapi masalah besar dengan mengandalkan kaum munafikin sebagai sumber kepercayaaan dalam agama?!

Dan denga demikian pula apa nilai ucapan dan pembelaan Ibnu Hajar terhadap kaum Nawâshib ketika ia mengatakan, “Dan yang terbanyak dari mereka (para perawi) yang disifati dengan kenashibian -kebencian kepada Imam Ali dan Ahlulbait as.- dikenal akan kejujuran tutur katanya dan konsisten berpagang teguh dengan aagama. Berbeda dengan mereka yang disifati dengan kerafidhian, rata-rata mereka itu adalah pembohong yang tidak berhati-hati dalam menyampaikan berita… “[8] Tidakkah keberanian Harîz daalam memalsu hadis atas nama Nabi mulia saw. sudah cukup sebagai bukti ketidak benaran pernyataan mumbang Ibnu Hajar di atas?! Dimanakah kejujuran yang ia banggakan dari kaum Nawâshib itu? Di manakah keteguhan keregamaan mereka yang ia banggakan? Apakah melazimkan melaknat Ali as. setiap selesai shalat yang ia jadikan dzikir harian itu yang dimaksud dengan keteguhan dalam beragama?

Ulama Hadis Ahlusunnah Membela Dan Mentsiqahkan Harîz ibn Utsman al Himshi!

Semua itu tidak rahasia lagi… Akan tetapi yang benar-benar mengeharkan adalah ternyata tidak sedikit tokoh-tokoh besar hadis Ahlusunnah menegaskan ketsiqahannya. Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan, “Ia tsiqah, Ia tsiqah, ia tsiqah!”[9]

Di sini, seperti Anda saksikan, Imam Ahmad (seorang tokoh terkemuka empat Mazhab Sunni) tidak cukup sekali dalam mengapresiasi kejujuran dan keadilan Harîz. Ia mengulanginya tiga kali. Menyematkan gelar tsiqah kepaada seorang perawi adalah puncak pengandalan. Dan lebih dari kata tsiqah, apabila kata itu diulang dua apalai tiga kali.

Itu artinya Harîz benar-benar menempati tempat istimewa dalam jiwa Imam besar Ahhlusunnah. Selain Ahmad, Yahya ibn Ma’in dan para imam hadis Sunni juga mentsiqahkannya. Demikian ditegaskan Ibnu Hajar dalam Hadyu as Sâri-nya.

Abu Hatim menegaskan bahwa tidak ditemukan di kota Syam seorang parawi yang lebih kokoh darinya.

Ibnu Adi berkata, ‘Ia tergolong parawi kota Syam yang tsiqat/jujur terpercaya.”

Ahmad ibn Abi Yahya menukil Imam Ahmad sebagai mengakatan, “Ia (Harîz) seorang yang shahih hadisnya, hanya saja ia mencaci maki Ali.”

Al Ijli berkata, “Ia (Harîz) seorang penduduk kota Syam yang tsiqah. Dan ia mencerca dan mencaci maki Ali. Ia menghafal hadisnya.”

Dalam kesempatan lain ia berkata, “Ia kokoh riwayatnya dan ia sangat membenci Ali.”

Ibnu Ammâr berkata, “Para ulama menuduhnya mencaci maki Ali, namun mereka tetap saja meriwayatkan hadis darinya, berhujjahdengannya dan tidak membuangnya.”

Tidak cukup itu, para ulama Ahlusunnah mentsiqahkan seluruh guru/masyâikh Harîz. Al âjuri meriwayatkan Abu Daud berkata, “Masyâikh Harîz seluruhnya adalah orang-orang jujur terpercaya/tsiqât.”

Duhaim berkata menyebutkan Harîz, “Ia seorang dari kota Himsh , bagus sanadnya, dan shahih hadisnya.” Dalam kesempatan lain ia berkata, “Harîz adalah tsiqah.”

Dan masih banyak komentar lain sengaja saya tinggalkan….

Seorang Dajjal Kini Berubah Menjadi Dikultus!

Seperti telah diketahui bersama bahwa para ulama Ahlusunnah begitu keras sikap mereka terhadap siapa saja yang berani menyebtuh garis merah kehormatan sahabat Nabi saw. … Mereka mengeluarkan “surat keputusan bersama/SKB” yang menvonis dajjal, zindiq dan kafir bagi siapapun yang berani mencaci para sahabat (dan perlu Anda ketahui bahwa dengan sekedar menyebut kesalahan dan/atau penyimpangan mereka saja –tanpa disertai cacian- sudah dianggap mencaci maki sahabat).

Fatwa Sadis Abu Zur’ah!

Abu Zur’ah –seorang tokoh terkemuka Ahlusunnah, guru agung Imam Muslim- telah mengeluarkan fatwa sadis namun saying tidak serius dalamm menjalankannya!. Ia barkata, “Jika engkau menyaksikan seorang mencela-cela seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang zindîq.”[10]

Akan si dajjâl yang zindiq itu segera akan berubah menjadi seorang parawi tersanjung apabila ia mengalamatkan laknatannya (bukan lagi sekedar kritikan atau cacian semata) kepada manusia pertama yang memeluk Islam, sahabat paling berjasa dalam Islam dan pribadi agung yang paling dicintai Nabi saw…. semuanya akan berubah statusnya jika yang dicaci maki dan yang dilaknati itu adalah Imam Ali as.! Si dajjal kini pasti berubah menjadi manusia suci! Si Zindiq segera berubah menjadi “Pembela dan Pendekar Sunnah”!

Apa yang kami katakana buikan sekedar teori belaka, tetapi data-data yang ada sepenuhnya mendukung kebenaran dan kevalidannya.

Coba Anda perhatikan data di bawah ini- tapi tolong Anda rahasiakan dokumen ini demi menjaga kemantapan keberagamaan kaum awam terhadap mazhab mereka dan agar keimanan mereka kedapa kesucian para ulama tidak guncang!! Dan kami masih memiliki segudang datav rahasia lainnya, nantikan!!-

Ketika para ulama Ahlusunnah, di antaranya al Khathîb al Baghdâdi, ketika menyebutkan biografi Talîd ibn Sulaimân al Muhâribi al Kûfi (w.190 H), di antaranya menyebutkan pernyataan bersejarah Yahya ibn Ma’în yang kemudian dijadikan pedoman seakan ia wahyu segar yang baru dibawa turun malaikat Jibril as. dari langit ke tujuh. Yahya berkata, “Talîd adalah seorang kadzdzâb/pembohong kelas kakap, ia mencaci maki Utsman. Dan setiap yang mencaci Utsman atau Thalhah atau seorang dari sahabat Rasulullah saw. maka ia adalah Dajjâl, tidak layak ditulis hadisnya. Atasnya laknat Allah, laknat para malaikat dan laknat seluruh manusia!.[11]

Ibnu Jakfari Berkata:

Tidaklah salah jika ada yang bertanya kepada Tuan Ibnu Ma’in, mengapakah Anda tidak tergugah bangkit marah “demi membela agama” ketika Imam Ali as. dilaknati oleh seorang perawi? Justeru Anda menyumbangkan kata-kata pujian sebagai bentuk kepercayaan dan penghargaan!

Apakah Imam Ali as. halal untuk dilaknati dan dicaci maki?

Dan benar-benar membuat tidak habis-habis keterheran-heranan kita adalah mereka mentsiqahkan sementara pada waktu yang sama mereka yang mengatakan bahwa harîz sangat membenci Imam Ali as. dan tak henti-hentinya maknati beliau as.! Sungguh membingungkan! Andai ketika mentsiqahkan kaum Nawâshib/para pembenci Imam Ali dan keluarga suci Nabi saw., seperti Harîz para ulama Sunni itu merahasiakan keterangan tentang kebencian dan pelaknatan mereka (Nawâshib) itu! Tapi yang mengehankan dan mungkin juga menyakitkan sebagian kaum Mukminin adalah mereka sengaja menyebutkan kedengkian si perawi tertentu kepada Imam Ali as., tetapi mereka tetap dengan sengaja mentsiqahkannya! Mungkin itu sebagai sikap pamer sikap ideologis yang mereka tampilkan! Allah A’lam.

Kesucian Mu’awiyah Garis Merah Di Mata Ulama Ahlusunnah!

Lebih dari itu, meyakini kesucian Mu’awiyah dari segala bentuk dosa dan penyimpangan adalah sebuah kewajiban agama yang mana akan menjadi gugur keimanan atau paling tidak keadilan seorang jika ia meragukannya atau mencacinya!

Perhatikan sekalim lagi apa yang diabadikan para ulama Sunni dalam laporan mereka seperti di bawah ini:

Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya. Ahmad mengutus seorang utusan khusus untuk menemui Yahya dan menyampaikan pesannya:

أخوك أبو عبد الله أحمد بن حنبل يقرأ عليك السلام ويقول لك: هو ذا تكثر الحديث عن عبيد الله وأنا وأنت سمعناه يتناول معاوية بن أبي سفيان وقد تركت الحديث عنه.

“Saudaramu Ahmad ibn Hanbal menyampaikan salam atasmu dan berkata, ‘Inilah dia kamu berbanyak-banyak meriwayatkan hadis dari Ubaidullah, sedangkan aku dan kamu mendengarnya menyebut-nyebut kejelekan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Kini aku sedah meningggalkan meriwayatkan hadis darinya.’”[12]

Ibnu Jakfari:

Subhanallah, menyebut-nyebut kejelekan Mu’awiyah menggugurkan keadilan seorang perawi, sementara seorang perawi yang siang malam melaknati Imam Imam Ali as. digelarinya dengan Tsiqah! Tsiqah! Tsiqah! (3X)! mengapa? Apakah Mu’awiyah maksum, sehingga ia tidak mungkin berbiah kejahatan, dosa dan kesalahan?

Tidakkah perintah melakinati Imam Ali as. di dalam setiap kesempatan kegamaan atau kenegaraan oleh Mu’awiyah itu bukan sebuah kejahatan dan kemunafikan yang haram untuk dibongkar dan disebut-sebut?

Bukankah pembantaian yang dilakukan Mu’awiyah terhadap para sahabat Nabi saw. dan parav pecinta dan pengikut setia Imam Ali as. seperti Hujr ibn Adi dkk. bukan sebuah kejahatan? Tidakkah ketetapan Allah SWT atas yang membunuh seorang Mukmin itu neraka jahannam?!

Bukankah Nabi saw. –seperti diriwayatkan Bukhari sendiri- bersabda bahwa Mu’awiyah dan kelompoknya adalah du’âtun ilan nâr/pengtanjur kea pi neraka?! Lalu mengapakan menyebut-nyebut kejelekan panagnjur kea pi neraka dihukimi gugur keadilannya? Sementara melaknati Imam Ali as. mendapat “ajungan jempol”?!

Semoga nukilan atas nama Imam Ahmad itu hanya sebuah kepalsuan belaka yang dibuat-buat oleh kaum Nawâshib yang mebawa-bawa nama besar Imam Ahmad untuk melegalkan kesesatan mereka!


[1] Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tarikh Damaskus,12/349.[2] Al MajRûhuun,1/268.

[3]Tahdzîb al Tahdzîb,2/209 ketika membicarakan biodata Harîz, Tahdzîb al Kamâl,5/577, Tarikh Baghdad.8,268 dan Tarikh Damaskus,12/349.

[4] Baghel adalah peranakan antara kuda dan keledai.

[5] Tahdzîb al Tahdzîb,2/207.

[6] Syarh Nahj al Balâghah; Ibnu Abi Al Hadid al Mu’tazili,4/70.

[7] Tahdzîb at Tahdzîb,2/207.

[8] Ibid.8/410.

[9] Tahdzîb al Kamâl,5/175.

[10] Ash Shawâiq al Muhriqah;Ibnu Hajar al Haitami, Penutup:211.

[11] Târikh Baghdâd,7/145, biografi no.3582.

[12]Ibid. 14/427.

Imam Bukhari dan Perawi Pencaci-Maki Sahabat Nabi saw.!! (3)

Gembong munafik lain yang dibanggakan riwayatnya oleh Bukhari dan para ulama hadis Sunni lainnya adalah‘Imrân ibn Haththân.

4) Imrân ibn Haththân -Gembong Kaum Khawârij-.

‘Imrân ibn Haththân. Nama lengkapnya adalah ‘Imrân ibn Haththân ibn Dhabyân al Bashri (w.84H). karenanya sebagian ulama Sunni, seperti Ibnu Hajar harus membelanya dengan segala cara dan dengan segala resiko yang mungkin menimpa dunia hadis Sunni, walaupun dengan menjungkir balikkan norma-norma keagamaan dan menelantarkan kaidah-kaidah yang mereka bvangun sendiri!

Apapun yang akan terjadi dan seburuk apapun resiko yang akan terjadi ‘Imrân tetap harus dibela. Seribu satu uzur akan dicarikan…. Sebab Bukhari –imam besar Ahli Hadis- telah meriwayatkan hadis darinya dan mengandalkan pengambiilan ajaran agama darinya!!

Bukhari telah meriwayat hadis dari ‘Imrân ibn Haththân dalam bab tentang mengenakan pakaian sutra dengan sanad  Muhammad ibn Basysyâr….. dari Yahya ibn Abi Katsîr dari‘Imrân ibn Haththân, ia berkata, ‘Aisyah ditanya tentang sutra…. “[1] sementara para ulama menegaskan bahwa ia tidak pernah mendengar barang satu hadis pun dari A’isyah!

Al ‘Uqaili berkata, “‘Imrân ibn Haththân hadisnya tidak terdukung oleh perawi jujur lainnya. Ia meyakini pandangan kaum Khawârij. Ia menyampaikan hadis dari A’isyah sementara tidak terbukti ia pernah mendengar hadis darinya.” Demikian juga, Ibnu Abdil Barr memastikan bahwa ‘Imrân ibn Haththân tidak pernah mendengar hadis dari ‘Aisyah.[2]

Siapa Sejatinya ‘Imrân ibn Haththân Ini?

Tidak diragukan lagi, semua tau bahwa ‘Imrân ibn Haththân adalah gembong sekte sesat Khawârij dari kelompok al Qa’diyah. Lebih dari itu ia adalah seorang penganjur kepada aliran sesatnya. Dialah yang menggubah bait-bait syair memuji dan meratapi si pembunuh Imam Ali ibn Abi Thalib as. di antaranya adalah bait di bawah ini:

يا ضربة من تقي ما أراد بها * إلا ليبلغ من ذي العرش رضوان

إني لأذكره حينا فأحسبه * أوفى البرية عند الله ميزانا

“Duhai pukulan dari seorang yang bertaqwa yang tidak ia lakukan ** melainkan agar mencapai keridhaan Allah pemilik Arsy

Setiap kali aku mengingatnya aku yakin bahwa ** ia adalah orang yang paling berat timbangan kebajikannya di sisi Allah.

Ibnu Jakfari berkata: Tidak diragukan lagi bahwa bait-bait syair itu sangat menyakitkan hati Rasulullah saw. dan hati Ali ibn Abi Thalib as. lebih dari pukulan Abdurrahman ibn Muljam  (pembunuh Ali as.) itu sendiri! Bagaimana tidak?

Dan termasuk kurang hormat kepada Nabi dan Ali apabila kita menyebut-nyebut nama-nama musuh Ahlulbait as. seperti Ibnu Muljam, Imrân ibn Haththân, Umar ibn Sa’ad, Ziyâd, Mu’awiyah tanpa dibarengi dengan kutukan dan laknatan.

Pembelaan Ulama Hadis Sunni Terhadap ‘Imrân ibn Haththân

Semua bukti kemunafikan ‘Imrân ibn Haththân telah diketahui ulama hadis Sunni, namun demikian mereka tetap berusah dengan sekuat tenaga membela dan mencarikan uzur untuknya. Dan sikap ulama Sunni yang membanggakan kejujuran tutur katanya dan mengandalkannya dalam urusan agama itu yang kami sayangkan! Imam Bukhari telah mempercayainya dalam meriwayatkan hadis dalam kitab Shahihnya! Demikia juga dengan Abu Daud dan an Nasa’i.

Al Ijli mentsiqahkannya. Untuk lebih lengkapnya saya akan terjemahkan keterangan dan pembelaan Ibnu Hajar terhadap ‘Imrân ibn Haththân dalam mukaddimah Fathu al Bârinya.

Ibnu Hajar berkata, “(Kh –Bukhari-, –Abu Daud-, S –An Nasa’i-)‘Imrân ibn Haththân as Sudûsi, seorang penyair kondang. Ia berfaham Khawâirij. Abu Abbas al Mubarrad berkata, ‘‘Imrân ibn Haththân adalaah gembong/pinpinan, penyair dan khathib/juru dakwah sekte al Qa’diyah.’ Al Qa’diyah adalah kelompok sempalan dari sekte Khawârij yang berpandangan tidak perlu memberontak atas penguasa akan tetapi mereka hanya merangsang untuk memberontak. Imrân adalah juru dakwah/penganjur kepada mazhabnya. Dialah yang meratapi Abdurraman ibn Muljam; pembunuh Ali –Alaihi as Salâm/semoga salam Allah atasnya-[3] dengan bait-bait syairnya yang terkenal.

Al Ijli mentsiqahkannya.

Qatadah berkata, ‘Ia (‘Imrân) tidak tertuduh kejujurannya dalam hadis.’

Abu Daud berkata, ‘Tiada di antara penyandang kesesatan yang lebih jujur/shahih hadisnya dari kaum Khawârij.’ Kemudian ia menyebutkan ‘Imrân dan beberapa orang Khawârij lainnya.

Ya’qub ibn Syaibah berkata, ‘Ia sezaman dengan beberapa orang sahabat Nabi. Dan ia di akhir urusannya berfaham Khawârij.’

‘Uqaili berkata, ‘Ia menyampaikan hadis dari A’isyah sementara tidak terbukti ia pernah mendengar hadis darinya.’

Aku (Ibnu Hajar) berkata: “Bukhari hanya meriwayatkan satu hadis darinya dari jalur Yahya ibn Abi Katsir darinya… hadis ini diriwayatkan Bukhari dalam mutâba’ah. Di sisi Bukhari, hadis ini punya jalur-jalur lain dari riwayat Umar dan lainnya….

Aku melihat sebagian imam (ulama besar) mengklaim bahwa Bukhari meriwayatkan hadis darinya itu sebelum Imrâm berfamah Khawârij. Dan uzur itu tidak kuat sebab Yahta ibn Abu Katsir itu meriwayatkan hadis darinya di kota Yamâmah di saat Imrân melarikian diri dari kejaran Hajjâj yang mencarinya untuk membunuhnya karena keyakinannya… kisah lengkapnya dapat And abaca dalam kitab al Kâmil karya al Mudarrad dan juga dalaam kitab-kitab lainnya. Abu Bakaar al Mûshili menceritakan bahwa Imrân telah insaf/meninggalkan famah Khawarij di akhir usianya. Jika ini benar maka iaa adaalaah uzur yang bagus.”[4]

Ibnu Jakfari berkata: Kisah kembalinya Imrân dari faham Khawârij adalah sesuatu yang tidak berdasar

Adapun pembelaan Ibnu Hajar terhadap Bukhari bahwa ia meriwayatkan hadis itu dari ‘Imrân hanya dalam mutâba’ah yaitu hadis yang diriwayatkan sekedar untuk menjadi pendukung untuk menguatkan hadis dari jalur lain adalah pembelaan yang mengada-ngada!! Sebab apa perlunya mendukung sebuah hadis dengan membawakan hadis dari riwayat ‘anjing nereka’ seperti ‘Imrân?

Adu Daud Membongkar Rahasia Ulama Hadis Sunni!

Dan dengan memerhatikan pernyataan sumbang Adu Daud din atas: Tiada di antara penyandang kesesatan yang lebih jujur/shahih hadisnya dari kaum Khawârij, Anda berhak curiga bahwa tenyata sepertinya tidak hanya Imrâm ibn Haththân saja yang mereka banggakan dan percayai sebagai penyambung lidah suci nabi Muhammad!! Akan ntetapi seluruh kaum Khawârij adalah kelompok andalan dalam menyampaikan hadis Nabi saw. karena mereka adalah kelompok paling jujur dalam bertutur kata dan meriwayatklan hadis Nabi saw.!

Sungguh luar biasa “kehati-hatian” ulama hadis itu sehingga mereka bangga meriwayatkan hadis dari anjing-anjing neraka![5]

Jika seorang gembong Khawârij yang sesat yang menyesatkan seperti Imrân diyakini kejujurannya, maka sepertinya kita perlu mendefenisikan ulang kata jujur dan kejujuran! Jika ada yang membanggakan membangun agamanya dari riwayat-riwayat kaum munafikin maka apa yang bisa dibayangkan tentang kualitas bangunan agama itu?

Inikah yang dibanggakan sebagian pihak bahwa dunia hadis Sunni telah rapi dan selektif?

Mengapakah Bukhari -imam teragung mereka- dan juga yang lainnya membanggakan riwayat-riwayat seorang Imrân –si gembong kaum munafikin-?

Kenyataan Pahit Nasib Pasar Hadis Sunni!

Ada sebuah kenyataan yang sangat menyedihkan yang dialami oleh dunia hadis Sunni yaitu bahwa pasar hadis Sunni telah dibanjir oleh hadis-hadis dari riwayat kaum sesat daan penyandang hawa nafsu alias kaum ahli bid’ah!

Kendati –dalam teori mereka bersilang pendapat, apakah dibenarkan mengambil riwayat dari kaum pembid’ah (maksudnya selain anggota Ahlusunnah sendiri), ada yang membolehkan asal si pembid;ah itu bukan penganjur kepada ksesataan bid’ah mazhabnya. Namun demikina dalam praktiknya mereka telah benar-benar tenggelam dalam kubangan riwayat kaum pembid’ah bahkan dengan riwayat-riwayat para penganjur kepadaa kesesatan bid’ah mazhabnya! “imrân ibn Haththân adalaah satu dari ratusan nama ahli bid’ah yang hadis riwayatnya telah membanjiri ‘Pasar Hadis Sunni’!

Menyaksikan kenyataan ini apa kira-kira yang tersisa dari keseriusan kata-kata Imam Nawawi dalam mukaddimah syarah Shahih Muslim yang mengatakan bahwa prakti para Salaf dan Khalaf telah tetap bahwa mereka hanya mau menerima riwayat, mendengar memperdengarkan dan berhujjah dengan hadis-hadis riwayat kaum pembid’ah yang bukan penganjur/du’ât? Sementara kitab-kitab dan jalur-jalur periwayatan para imam Ahlusunnah dipenuhi dengan nama-nama gembong panganjur kepada kesesatan bid’ah mazhabnya?

Dan menyaksikan kenyataan seperti itu Anda berhak ragu akan kemurnian materi mazhab mereka yang ditegakkan di attas hadis-hadis kaum pembid’ah yang tidak sedikit dari mereka disampin kesesatan bid’ah mereka juga dikenal sebagai pembohong dan pemalsu hadis.

Dan jika mereka (ulama hadis Sunni) telah mengimani bahwa kaum Khawârij adalah orang-orang yang jujur dalam tutur katanya sementara mereka itu adalah kaum munafik… kama salahkah jika ada yang menyimpulkan bahwa sebagian dari meteri ajaran Sunni itu adalah produk kaum Khawarij… Terlepas dari benar atau palsunya kesimpulan Adu Daud bahwa kaum Khawârij adalah kelompok yang paling jujr… terlepas dari itu, sebenarnya aapa yang di katakana adalah membongkar sebuah kenyataan bahwa sebenarnya para ulama Sunni sangat mengandalkan hadis-hadis riwayat kaum Khawârij… Adapun tentang apresiasi Adu Daud terhadap kejujuran mereka jelas-jelas sebuah kepalsuan sebab danyataannya adalah sebaliknya… kaum Khawârij adalah kaum yang paling benari memalsu hadis demi mendukung kesesatan mazhabnya… Dan analis kejiwaaan pun pasti mendukung kesimpulan ini! Sebab siapapun yang membangun akidah/mazhabnya di atas kerapuhan hujjah ia pasti akan sangat membutuhkan kepada hujjah/nash keagamaan yang dapat mendukung mazhabnya. Dan tidak ada peluang yang terbuka lebar bagi para pemalsu yang sedang kelabakan mencari pembelaan untuk mazhabnya melebihi peluang pemalsuan hadis atas nama Nabi saw…. dan kita senua yakin bahwa mazhab Khawârij dengan bergabai penyimpangan ajarannya sangat lemah dan karenanya ia sangat membutuhkan kepada hadis… karena tidak banyak (kalau kita mengatakan tidak ada) hadis Nabi saw. yang mendukungnya maka jalan satu-satunya adalah memalsu hadis atas nama Nabi saw.!

Ibnu Hajar membongkar sebuah dokumen penting pengakuan seuorang berfaham Khawârij yang telah taubat (yang sepertinya diusahakan oleh sebagian pihak untuk dirahasiaakan) bahwa “Kaum Khawarij jika menyukai sesuatu pendapat ia buatkan hadis yang mendukungnya.” Baca keterangan Ibnu Hajar tentangnya dalam Tahdzîb at Tahdzîb ketika ia menyebutkan biogafi Qadhi Abdullah ibn ‘Uqbah al Mishri yang dikenal dengan nama Ibnu Luhai’ah.


[1]Shahih Bukhari, Kitab al Libâs, hadis dengan nomer.5387.[2]

[3] Sebagian pembenci Syi’ah Ahlulbait as. –yang selalu bekerja siang malam untuk memecah belah kesatuan kaum muslimin dan menghasut agar tejadi permusuhan antara Syi’ah dan Ahlusunnah selalu bergegas menjulurkan lidah beracunnya menuduh siapapun yang mengucapkan ‘Alaihi as Salâm/semoga salam Allah atasnya’ setelah menyebut nama Imam Ali sebagai Syi’ah!! Jadi apakah sekarang mereka akan mengarahkan panah pecarun mereka ke jantung Ibnu Hajar dan menuduhnya sebagai Syi’ah kerena beliau menyebutkannya?!

[4] Hadyu as Sâri; Muqaddimah Fahil Bâri,2/186-187.

[5] Dalam banyak hadis yang dishahihkan ulama Sunni sendiri diriwayatkan bahwa Nabi saw. menyebut kaum Khawarij sebagai Kilâb Ahli an Nâr/ anijng penghuni neraka!

Siapa lebih unggul hadis Sunni ataukah hadis syi’ah imamiyah ??? 

Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak

Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ???

Jawab :

1. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama

2. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan makna, bukan dengan lafaz

3. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan daya ingat perawi, jadi kata perkata nya belum tentu 100% asli dari Nabi SAW

4. Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan, kitab kitab selain Al Quran pasti ada benar dan ada salahnya tanpa kecuali, gawatnya Shahih Bukhari Muslim diklaim benar semua !! wah wah

.

PERTANYAAN DARi TANDUK SETAN DARi NAJAD :

website salafi wahabi menulis sbb : “
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 644 (1.5%) saja riwayat yg sanadnya sampai ke Nabi?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 690 saja riwayat yg sampai ke Imam Ali?
-44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah tidak ada satupun riwayat yg sampai ke Sayyidah Fatimah?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 21 saja riwayat yg sampai ke Imam Hassan?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 7 saja riwayat yg sampai ke Imam Hussein?

Sedangkan di 9 kitab hadits Sunni :
- Imam Ali ra = 1.583 riwayat
- Abu Bakar ra = 210 riwayat
- Umar bin Khattab ra = 977 riwayat
- Utsman bin Affan ra = 313 riwayat
- Fatimah ra = 11 riwayat
- Hasan bin Ali ra = 35
- Hussein bin Ali ra = 43

Terlihat, kitab2 Sunni lebih banyak meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam dan Ahlul Bait Utama beliau daripada kitab2 hadits Syiah… why???

“””mayoritas hadits dalam Al Kafi adalah Ahad yang tidak dapat dijadikan pegangan dalam masalah akidah –menurut syi’ah sendiri.. Jumlah riwayat yang ada dalam empat kitab syi’ah di atas adalah 44 ribu riwayat lebih sedikit, tetapi riwayat yang berasal dari Nabi SAW hanya ada 644, atau hanya sekitar 1.5 % saja. Itu saja banyak yang sanadnya terputus dan tidak shahih.. Yang lebih mengherankan, dalam kitab Al Kafi yang haditsnya berjumlah 16199, hanya ada 92 riwayat dari Nabi SAW, sementara riwayat dari Ja’far As Shadiq berjumlah 9219.. Sementara riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam empat kitab syi’ah di atas hanya berjumlah 690 riwayat, kebanyakan terputus sanadnya dan tidak shahih, sepertinya fungsi pintu ilmu sudah diambil alih oleh orang lain…Sementara riwayat dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang ada dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 21 riwayat…Empat kitab literatur utama hadits syi’ah tidak memuat riwayat dari Fatimah Az Zahra..Riwayat Imam Husein yang tercantum dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 7 riwayat saja. “”

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Itu akibatnya kalau belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri. MEREKA BERDUSTA !!!!!!!! MEREKA BERDUSTA !!!!!!!!!!!

Tidak benar apa yang mereka sampaikan !!!!!!!! Sebagai ulama syi’ah yang sudah bertahun tahun belajar syi’ah saya mengatakan bahwa : “YANG MEREKA HiTUNG CUMA YANG DiSEBUT NAMA, SEMENTARA YANG MENYEBUT GELAR TiDAK MEREKA HiTUNG, KALAU CARA BEGiNi MENGHiTUNG HADiS JUSTRU DALAM SELURUH KiTAB ASWAJA TiDAK ADA SATUPUN HADiS MUHAMMAD SAW KARENA TiDAK ADA HADiS YANG DiSEBUT DENGAN NAMA NABi TAPi DiSEBUT DENGAN GELAR ‘

ANGKA YANG MEREKA SEBUTKAN DiATAS CUMA YANG DiSEBUT DENGAN NAMA, PADAHAL MASiH BANYAK YANG DiSEBUT DENGAN GELAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!

KENAPA BANYAK HADiS DARi Imam Ja’far Shadiq ????? Itu wajar karena yang menyampaikan hadis dengan mata rantai sampai ke Nabi SAW kan Imam Ja’far !!!!!!!!!! tapi dengan hal ini justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Sanad hadis kulaini benar benar otentik karena benar benar bersambung pada Imam Imam hingga Nabi SAW..

Yang meriwayatkan hadis bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait….

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

TAPi hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu…KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin
( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Setahu saya, ulama syiah tidak menjadikan kitab pegangan mereka seperti Al Kafi sebagai kitab yang semuanya shahih oleh karena itu mereka tidak menyebut kitab mereka kitab shahih seperti Sunni menyebut kitab shahih Bukhari dan Muslim. Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

Al Kulayni tidak pernah menyatakan semua hadits dalam al kahfi shahih, bisa berarti:
bisa maksudnya adalah: ada yang shahih dan tidak shahih.

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.

beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dr hadits tsb, krn jika melakukannya maka beliau tentunya akan mengkategorikannya sesuai penelitian beliau (minimal melakukan catatan2).

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Kayaknya cuma Mas deh yang menganggap itu masalah.

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan… metode yang dilakukan

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

tidak ada yg mengatakan alkulayni superman atau ma’shumin, ia hanya orang yang mencatat hadist2 tanpa mengklaim sepihak keshahihan hadist2nya…. ingat, alkafi bukan satu2nya kitab yg dimiliki Syiah mas, itulah bedanya kita…perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, belajar lgsg dari orgnya dong mas…

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Secara metodologis ini tdk menjadi masalah, para imam mazhab dan Bukhari serta perawi lain juga hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw sebagai pembawa risalah. Toh masih dianggap sebagai perwakilan penyambung syareat Nabi saw.

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan, kalau gak salah Syaikh Albani membuat kitab sendiri tentang itu (Dhaif Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Dawud) dan celakanya menurut syaikh Al Albani dan Daruquthni dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadis dhaif.

Atau contoh lain adalah kitab Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Shahihain, itu nama kitab yang pakai kata “shahih” dan anehnya banyak hadis-hadis dhaif bahkan palsu. Dengan semua data itu apakah anda juga akan berkata sedangkan kitab-kitab pegangan sunni banyak dinyatakan ulama sunni sendiri gak sahih (banyak diragukan bersumber dari Rasulullah SAW). Silakan direnungkan
Jawabannya sederhana kok, berpegang teguh kepada ahlul bait dalam arti merujuk kepada mereka dalam agama diantaranya akidah dan ibadah

Memang banyak hadits dha’if yang terdapat dalam berbagai kitab, entah dlm kitab sunni maupun syi’ah. Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim.

Makanya jangan sok tau. Dalam Syi’ah, fungsi Imam yg 12 adalah BUKAN sbg pembuat hal2 baru dlm agama (bida’ah). Mereka hanyalah pelaksana sekaligus penjaga/pengawal syariat Islam yg dibawa nabi Muhammad saw. Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw.

He he he…dasar sok tau. Kalau para ulama Syi’ah selalu mengatakan bahwa hadis2 yg terdapat dlm Al-Kafi umpamanya masih banyak yg dhaif, itu bukan berarti kebanggaan. Pernyataan mereka itu lebih kpd sikap jujur dan terbuka dan apa adanya. ………Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir.

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman.

==================================================================================================================================================================

SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS
KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi.

Kenapa banyak sekali hadis dha’if ??? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ????
Jawab:
Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan…..

Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ????
Jawab :
Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah !!!!!

Apakah dengan modal empat kitab hadis syi’ah maka kita sudah dianggap berpedoman pada TSAQALAiN ???
jawab :
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF

Adakah hadis aneh aneh dalam kitab syi’ah ????
Jawab :Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai !!!! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !!!!

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as.

Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.

dalam beberapa hal, metodologi hadis Syi’ah amat berlainan dengan metodologi Ahlu Sunnah. Kajian tentang metodologi hadis dalam Syi’ah Imamiah telah menjadi objek sebuah risalah doktoral di fakultas Ushuluddin Universitas al Azhar. Pada penghujung tahun 1996, risalah tersebut telah diuji dan dinyatkan lulus.
Dalam kalangan Syi’ah, kitab-kitab hadis yang dijadikan pedoman utama -dan berfungsi seperti kutub sittah dalam kalangan sunni- ada sebanyak 4 buah kitab.

Kitab al Kâfi. Disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al Kulayni (w.328 H.). Kitab tersebut disusun dalam 20 tahun, menampung sebanyak 16.090 hadis. Di dalamnya sang penyusun menyebutkan sanadnya hingga al ma’shum. Dalam kitab hadis tersebut terdapat hadis shahih, hasan, muwats-tsaq dan dla’if.

Kitab Ma La Yahdluruhu al Faqih. Disusun oleh ash-Shadduq Abi Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih al Qummi (w.381 H.). Kitab ini merangkum 9.044 hadis dalam masalah hukum.

Kitab at-Tahzib. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin al Hasan ath-Thusi (w.460 H.). Penyusun, dalam penulisan kitab ini mengikuti metode al Kulayni. Penyusun juga menyebutkan dalam setiap sanad sebuah hakikat atau suatu hukum. Kitab ini merangkum sebanyak 13.095 hadis.

Kitab al Istibshar. Kitab ini juga disusun oleh Muhammad bin Hasan al Thusi. Penysusun kitab at-Tahzib. Kitab ini merangkum sebanyak 5.511 hadis.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:

Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.

Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.

Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.

Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.

===============================================================================================================================================================

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Al-Kafi
Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik

Man la yahdarul fiqh
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

Tazhibul Ahkam
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
==================================================================================================================================================================

AL-FURU’ AL-KAFI AL-KULAINI
(Telaah Kritis Atas Kualitas Hadis-hadis Syi’ah)

A. Pendahuluan

Dalam Syi’ah, kitab hadis pertama adalah kitab Ali Ibn Abi Thalib yang didalamnya memuat-hadis-hadis yang di-imla’-kan langsung dari Rasulullah SAW tentang halal, haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubthi al-Syi’i dalam kitab al-Sunan, al-Ahkam dan al-Qadaya. Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab,[1] salah satunya adalah al-Kafi fi ‘Ilmi al-Din yang dikalangan Syi’ah merupakan pegangan utama diantara kitab-kitab yang lain.[2]

Pembahasan tentang kitab al-Kafi karya al-Kulaini secara keseluruhan telah banyak dilakukan. Baik melalui komparasi dengan kitab pokok aliran Sunni, tentang kriteria kesahihan hadis,[3] maupun secara khusus kajian tentang al-Ushul al-Kafi. Namun sejauh telaah yang penulis lakukan kajian tentang al-Furu’ al-Kafi, hampir belum ada. Karena itu kajian secara kritis atas kitab tersebut menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Selanjutnya, penulis akan berupaya memaparkan sekaligus menganalisa terhadap informasi yang ada. Khususnya pada setting pribadi al-Kulaini dan umumnya pada al-Furu’ al-Kafi (sistematika, metode dan isi).

B. Setting Biografi al-Kulaini

Pengarang dari kitab al-Kafi adalah Siqat al-Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn Ishaq al-Kulaini al-Raziy.[4] Beliau dilahirkan sekitar tahun 254 H dan atau 260 H di kampung yang bernama al-Kulain atau al-Kulin di Ray Iran. Tidak banyak diketahui mengenai kapan tepatnya al-Kulaini lahir. Informasi lain hanya mengenai tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran yaitu pernah mendiami Baghdad dan Kufah. Ia pindah ke Baghdad karena menjadi ketua ulama atau pengikut Syi’ah Imam dua belas disana, selama pemerintahan al-Muqtadir. Beliau hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah.[5]

Ayah al-Kulaini bernama Ya’qub Ibn Ishaq atau al-Salsali, seorang tokoh Syi’ah terkemuka di Iran. Di kota inilah ia mulai mengenyam pendidikan. Al-Kulaini punya pribadi yang unggul dan banyak dipuji ulama, bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini.[6]

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal dimana dia adalah seorang faqih sekaligus muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam menda’wahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan dan dijuluki siqat al-Islam.[7]

Al-Kulaini menyusun kitab al-Kafi selama dua puluh tahun dengan melakukan perjalanan ilmiah untuk mendapatkan hadis-hadis dari berbagai daerah, seperti Irak, Damaskus, Ba’albak, dan Talfis. Namun bukan hanya hadis yang ia cari tetapi juga berbagai sumber dan kodifikasi hadis dari para ulama sebelumnya. Dari sini nampak adanya usaha yang serius dan besar-besaran.[8]

Imam al-Kulaini –merupakan seseorang yang ahli hadis mempunyai banyak guru dari kalangan ahl al-bait dalam proses transmisi hadis, diantara nama gurunya adalah Abdullah Ibnu Umayyah, Ishaq Ibnu Ya’qub dan lain-lain. Ada beberapa kitab yang telah ditulis oleh al-Kulaini disamping al-Kufi diantaranya adalah: Kitab tafsir al-Ru’ya, kitab al-Rijal, kitab al-Rad ala al-Qaramitah, kitab Rasa’il dan lain-lain.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dari al-Kulaini ini diantaranya adalah, Ayatullah Ja’far Subhani melukiskan dengan matahari dan lainnya sebagai bintang-bintang yang menghiasi langit. Kaum Syi’ah bersepakat bahwasanya kitab ini merupakan kitab utama dan diperbolehkan berhujjah dengan dalil-dalil yang ada didalamnya.[9]

C. Sistematika, Metode dan Isi Kitab al-Furu’ al-Kafi al-Kulaini

Al-Kafi merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’) dan taman (rawdhah). Al-Kurki dalam ijazah-nya al-Qadhi Shafi al-Din ‘Isa, mengatakan, al-Kulaini telah menghimpun hadis-hadis syar’iyyah dan berbagai rahasia rabbani yang tidak akan didapati di luar kitab al-Kafi. Kitab ini menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan. Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyyun.[10]

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya.[11] Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy[12] 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[13]

Al-Kafi terdiri atas 8 jilid yang terbagi menjadi tiga puluh lima (35) kitab dan 2355 bab, 2 jilid pertama berisi tentang al-Ushul (pokok) jilid pertama memuat 1.437 hadis dan jilid kedua memuat 2.346 hadis, yang berkaitan dengan masalah akidah. 5 jilid selanjutnya berbicara tentang al-Furu’ (fikih) dan 1 jilid terakhir memuat 597 hadis yang disebut al-Rawdhah (taman) adalah kumpulan hadis yang menguraikan berbagai segi dan minat keagamaan serta termasuk beberapa surat dan khutbah para imam.[14] Juz ini berisi tentang pernyataan tentang ahl al-bait, ajaran para imam, adab orang-orang saleh, mutiara hukum dan ilmu, yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Dinamakan al-rawdhah (taman) karena berisi hal-hal yang bernilai dan berharga, yang identik dengan taman yang menjadi tempat tumbuh bermacam-macam buah dan bungah.[15]

Adapun tema-tema dalam al-Furu’ al-Kafi yang dimulai dalam jilid III terdiri dari 5 kitab yaitu;[16]

Kitab al-Taharah, yang terdiri dari 46 bab dan 340 hadis.
Kitab al-Haid, yang terdiri dari 24 bab dan 93 hadis.
Kitab al-Jana’iz, berisi tentang pemakaman dan hal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan. Terdiri dari 95 bab dan 545 hadis.
Kitab al-Salah, terdiri dari 103 bab dan 924 buah hadis.
Kitab al-Zakah, terdiri dari 47 bab dan 277 hadis.
Jilid IV terdiri dari 2 kitab yaitu;

Kitab al-Siyam, memuat bab-bab shadaqah yang terdiri dari 43 bab dan 252 buah hadis. Sedangkan tentang puasa terdiri dari 83 bab dan 452 hadis.

Kitab al-Hajj dan bab-bab ziarah, terdiri dari 236 bab dan 1486 buah hadis.

Jilid V terdiri dari 3 kitab yaitu;

Kitab al-Jihad, terdiri dari 32 bab dan 149 buah hadis.

Kitab al-Ma’isyah (cara-cara memperoleh kehidupan), terdiri dari 159 bab dan 1061 hadis.

Kitab al-Nikah, terdiri dari 192 bab dan 990 buah hadis.

Jilid VI terdiri dari 9 kitab yaitu;

Kitab al-’aqiqah, terdiri dari 38 bab dan 223 hadis.
Kitab al-Talaq, terdiri dari 82 bab dan 499 buah hadis.
kitab al-’Itq wa al-Tadbir wa al-Kitabah (jenis-jenis budak dan cara memerdekakannya), terdiri dari 19 bab dan 114 hadis.
Kitab al-Sayd (perburuan), terdiri dari 17 bab dan 119 hadis.
Kitab al-Zaba’ih (penyembelihan), terdiri dari 15 bab dan 74 hadis.
Kitab al-At’imah (makanan), terdiri dari 134 bab dan 709 buah hadis.
Kitab al-Asyribah (minuman), terdiri dari 37 bab dan 268 hadis.
Kitab al-Zayy wa al-Tajammul wa al-Muru’ah (pakaian, perhiasan dan kesopanan), terdiri dari 69 bab dan 553 hadis.
Kitab al-Dawajin (hewan piaraan), terdiri dari 13 bab dan 106 hadis.
Jilid VII terdiri dari 7 kitab, yaitu;

Kitab al-Wasaya (wasiat), terdiri dari 39 bab dan 240 hadis.
Kitab al-Mawaris berisi 69 bab dan 309 hadis.
Kitab al-Hudud berisi 63 bab dan 448 hadis.
Kitab al-Diyat (hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik), terdiri dari 56 bab dan 366 hadis.
Kitab al-Syahadah (kesaksian dalam kasus hukum), terdiri dari 23 bab dan 123 hadis.

Kitab al-Qada wa al-Ahkam (peraturan tentang tingkah laku para hakim dan syarat-syaratnya), terdiri dari 19 bab dan 78 hadis.
Kitab al-Aiman wa al-Nuzur wa al-Kafarat (tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal), terdiri dari 18 bab dan 144 hadis.

Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis. Sistematika pembagian kitab dan bab yang dipakai al-Kulaini sangat sistematis sehingga memudahkan bagi kaum muslimin khususnya kaum Syi’ah untuk menggunakannya sebagai referensi yang utama dalam kehidupan mereka.

D. Al-Kafi Cukup ! Walaupun banyak yang tidak shahih

Kitab al-Kafi menjawab kebutuhan para ahli hadis, fiqih, teologi, juru dakwah, tukang debat (mujadil) dan para pelajar.[18] Oleh karena itu, maka kitab ini mencakup pokok-pokok agama ushul, furu’, akhlak, nasehat, etika dan ajaran Islam yang lain.

Al-Kafi adalah suatu kitab koleksi hadis yang berasal dari Nabi dan para Imam yang diteruskan kepada masyarakat muslim oleh murid-murid dari para Imam. Nama Al-Kafi mempunyai arti “cukup”, ini adalah sebuah kitab yang mencakup hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Syi’i. Al-Kulaini dalam muqaddimah kitabnya menjelaskan:

“… Kamu ingin mempunyai suatu buku yang akan memenuhi kebutuhan religius-mu (kafin), yang meliputi bermacam-macam pengetahuan tentang agama, yang berguna untuk memberikan arahan bagi siswa maupun guru. Yang dapat digunakan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pengetahuan agama dan amaliyyah dan hukum-hukum menurut nampak hadis (asar) dari orang yang dapat dipercaya (Imam)…”[19]

Dengan melihat sejarah penyusunan kitab ini yang mencapai 20 tahun dan didukung oleh kondisi sosial politik saat itu yang merupakan masa yang kondusif bagi Syi’ah. Menurut penulis adalah sangat wajar jika penyusunan al-Kafi mencapai 16.199 hadis, di tambah lagi dengan fenomena bahwa para imam berhak meriwayatkan hadis setelah Nabi wafat.

E. Analisa atas Metode Penulisan al-Furu’ al-Kafi

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dalam kitab ini, di antaranya: adalah sebagai berikut;

Adanya peringkasan sanad. Istilah sanad menurut para ahli hadis Syi’ah adalah para rawi yang menukil hadis secara berangkai dari awal sumber, baik dari Nabi Saw., para imam, para sahabat maupun dari yang lainnya yang diperlihatkan kepada Imam, sampai kepada rawi yang terakhir.[20] Sanad-sanad yang ada dalam kitab ini kadang ditulis secara lengkap, tetapi terkadang al-Kulaini membuang sebagian sanad dengan menggunakan kata ashhabuna, fulan, ‘iddah, jama’ah dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan bagi periwayat-periwayat yang sudah terkenal.[21]

Jika al-Kulaini menyebutkan sahabat kami dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali Ibn Ibrahim, Ali Ibn Muhammad Abdullah Ahmad Ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali Ibn al-Husain al-Sa’dabadi. Sedangkan sebutan dari Sahl Ibn Ziyad adalah Muhammad Ibn Hasan dan Muhammad Ibn ‘Aqil, dan lain-lain. Mereka adalah para periwayat yang dianggap baik oleh al-Kulaini dan telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya.

Misalnya dalam kitab al-Furu’ jilid keenam bab kesembilan mengenai memerdekakan budak, al-Kulaini menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “iddatun min ashabina” ialah ‘Ali Ibn Ibrahim, Muhammad Ibn Ja’far, Muhammad Ibn Yahya, ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdullah al-Qummi, Ahmad Ibn Abdillah, ‘Ali Ibn Husain, yang semuanya dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn Khalid dari Usman Ibn Isa.

Peringkasan sanad ini dilandasi atas keinginan al-Kulaini untuk tidak memperpanjang tulisan, dan dilakukan hanya pada para periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh beliau. Oleh karena itu, jika sanad telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, maka selanjutnya al-Kulaini tidak menulisnya secara lengkap.

Adanya para rawi yang bermacam-macam sampai Imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan dengan hadis-hadis lain diluar Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

F. Kriteria Kesahihan Hadis al-Kulaini

Al-Kulaini dalam menentukan kriteria kesahihan hadis yang terdapat dalam al-Kafi, menggunakan kriteria kesahihan hadis yang lazim dipakai oleh para ulama mutaqaddimin, hal ini dikarenakan masa hidup al-Kulaini termasuk dalam generasi ulama mutaqaddimin. Sedangkan yang masyhur, ada dua pembagian hadis, pada masa ulama mutaqaddimin, pada masa kedua tokoh periwayat, Sayyid Ahmad Ibn Thawus dan Ibn Dawud al-Hulliy. Pembagian hadis ini berkisar pada hadis mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Pembagian ini dipandang dari segi kualitas eksternal (keakuratan periwayat), seperti kemuktabaran hadis yang dihubungkan dengan Zurarah, Muhammad Ibn Muslim serta Fudhail Ibn Yasar. Maka hadis yang berkualitas demikian itu dapat dijadikan hujjah[23].

Sedangkan menurut jumhur Ja’fariyah hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka tampak dalam maksud hadis mutawatir. Karena hadis mutawatir menurut mereka adalah harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[24]

Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatir-nya hadis al-saqalain dan hadis al-ghadir. [25]

Sedangkan hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal), dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat tingkatan itu adalah; sahih, hasan, muwassaq, dan dha’if. Pembagian inilah yang kemudian berlaku sampai saat ini.[26] Namun ada sebagian ulama Syi’ah yang mengakui adanya kualitas qawiy dalam pembagian hadis tersebut, jadi tingkatan kualitas hadis menjadi lima (5), yaitu:

Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[27]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[28]

Kalangan Syi’ah Imamiyah menjelaskan sebab adanya persyaratan ini adalah tidak diterima riwayat orang fasiq, meskipun dari sisi agamanya dia dikatakan sebagai orang yang selalu menghindari kebohongan. Dengan tetap wajib meneliti riwayat dari orang fasik dan orang yang berbeda dari kaum Muslimin (maksudnya; selain Imamiyah). Jika dia dikafirkan maka dia tertolak riwayatnya meskipun diketahui dia orang adil dan mengharamkan kebohongan.

Menurut al-Mamqani, keadilan pasti sejalan dengan akidah dan iman, dan menjadi syarat bagi setiap periwayat. Sejalan dengan firman Allah, “jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.(Q.S al-Hujurat; 6).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa iman adalah syarat bagi periwayat dan riwayat orang fasik wajib diteliti, sedangkan selain pengikut Ja’fariyah adalah kafir atau fasik, maka riwayatnya tidak mungkin sahih sama sekali. Dari sini tidak hanya tampak pengaruh imamah, tapi juga tampak sikap ekstrim dan zindiq.

Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[29]

Dari definisi tersebut tampak bahwa mereka mensyaratkan hadis hasan sebagai berikut;

Bertemu sanadnya kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
Semua periwayatnya dari kelompok Imamiyah.
Semua periwayatnya terpuji dengan pujian yang diterima dan diakui tanpa mengarah pada kecaman. Dapat dipastikan bahwa bila periwayatnya dikecam, maka dia tidak diterima dan tidak diakui riwayatnya.

Tidak ada keterangan tentang adilnya semua periwayat. Sebab jika semua periwayat adil maka hadisnya menjadi sahih sebagaimana syarat yang ditetapkan di atas.

Semua itu harus sesuai dalam semua atau sebagian rawi dalam sanadnya.

Hadis Muwassaq[30]
Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

Definisi ini memberikan pengertian tentang persyaratan sebagai berikut:

Bersambungnya sanad kepada imam yang ma’shum.
Para periwayatnya bukan dari kelompok Imamiyah, tapi mereka dinyatakan siqah oleh ja’fariyah secara khusus.
Sebagian periwayatnya sahih, dan tidak harus dari imamiyah.
Pengaruh akidah mereka tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

Posisi hadis muwassaq diletakkan setelah hadis sahih dan hadis hasan karena adanya periwayat dari selain Ja’fariyah.
Pernyataan siqah harus dari kelompok Ja’fariyah sendiri. Karena bagi mereka pernyataan siqah dari selain Ja’fariyah tidak cukup, bahkan orang yang dinyatakan siqah oleh mereka (selain Ja’fariyah) adalah dha’if menurut mereka.

Al-Mamqani menjelaskan bahwa pengukuhan siqah harus dari para pengikutnya dengan mengatakan, menerima penilaian siqah selain imamiyah, jika dia dipilih imam untuk menerima atau menyampaikan persaksian dalam wasiat, wakaf talak, atau imam mendoakan rahmat dan ridha kepadanya, atau diberi kekuasaan untuk mengurusi wakaf atas suatu negeri, atau dijadikan wakil, pembantu tetap atau penulis, atau diizinkan berfatwa dan memutuskan hukum, atau termasuk syaikh ijazah[31], atau mendapat kemuliaan dengan melihat imam kedua belas.

Hadis Dha’if

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[32]

Dalam hadis sahih terlihat bahwa mereka menilai selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, dan juga tidak diterima dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha, pasalnya mereka tidak percaya dengan akidah imamiyah isna ‘asyariyah. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh kaum Ja’fariyah.

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Hadis Qawiy[33]

Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Hadis muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.[34]

Tingkatan hadis qawiy ini tidak banyak dikenal baik oleh kalangan Syi’ah selain Imamiyah maupun kalangan Sunni. Hal ini dikarenakan jumhur ulama telah sepakat akan pembagian tingkatan hadis Syi’ah menjadi empat macam. Di samping itu sebagian rawi dari tingkatan qawiy ini berasal dari non-Imami, sedangkan mereka membatasi untuk menerima hadis dari selain Imamiyah. Karena syarat utama diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah.

G. Kualitas Hadis dalam al-Furu’ al-Kafi

Sebagaimana diketahui bahwa kitab al-Furu’ al-Kafi mencakup riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Maka kitab ini sama dengan kitab Faqih Man La Yahdhuruh al-Faqih karya al-Shadiq dan dua kitab karya al-Thusi yaitu al-Tahzib dan al-Istibsar. Pengaruh imamah dalam al-Furu’ ini juga sangat kental, misalnya pada bab haji, al-Kulaini meriwayatkan dari Wahab, ia berkata, ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa orang yang tidak bermazhab Ja’fariyah kemudian setelah haji dia mengikuti mazhab Ja’fariyah maka orang tersebut disunahkan mengulang hajinya. Bagi orang Ja’fariyah, tidak boleh menggantikan haji selain dari Ja’fariyah kecuali terhadap bapaknya. Sedang dalam berziarah maka disunahkan dengan sunnah muakkad untuk berziarah ke makam para imam.

Contoh-contoh lain dalam al-Furu’ terdapat pada bab wudhu dan mawaris[35]

· ان العبد اذا توضأ فغسل وجهه تناثرت ذنوب وجهه واذا غسل يديه الى المرفقين تناثرت عنه ذنوب يديه واذا مسح رجليه او غسلهما للتقية تناثرت عنه ذنوب رجليه وان قال في اول وضوئه بسم الله الحمن الرحيم طهرت اعضاؤه كلها من الذنوب وان قال في اخر وضوئه او غسله من الجناية سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ا لا اله الاانت استغفرك واتوب اليك واشهد ان محمدا عبدك ورسولك واشهد ان عليا وليك وخليفتك بعد نبيك وان اوليائه خلفائه واوصيائه…..
· عدة من اصحابنا, عن أحمد بن محمد عن ابن محبوب قال: أخبرني ابن بكير عن زرارة قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: ولكل جعلنا موالي ممّا ترك الوالدين والاقربون, قال : إنّما عنّي بذلك أولى الأرحام في الموارث ولم يعن أولياء النعمة, فأولاهم بالميّت أقربهم إليه من الرحم التي تجرّه إليها
· علي بن ابراهيم عن ابيه ومحمد بن اسماعيل عن الفضل بن شاذان جميعا عن ابن ابي عمير عن عمر بن اذنيه عن محمد بن مسلم والفضيل بن يسار وبريد العجلي وزرارة ابن اعين عن ابي جعفر عليه السلام قال: السلام لا تعول ولاتكون اكثر من ستة.
· وعنه عن محمد بن عيسى بن عبيد عن يونس بن عبد الرحمن عن عمر بن اذنيه مثل ذلك

Dalam riwayat tentang wudhu di atas, tampak sekali adanya pemalsuan, yaitu dalam redaksi “atau membasuh kedua kaki karena taqiyah“, dan dalam redaksi “bahwa orang-orang yang dicintainya (Ali) adalah para khalifahnya dan orang-orang yang diwasiatkannya”. Maka hubungan pendapat mereka dalam masalah fiqih dengan mazhab adalah yang menjadikan mereka memalsukan hadis untuk menolong dua orang (al-Thusi dan al-’Amili).

Al-Thusi dan al-’Amili adalah dua orang yang mengatakan bahwa membasuh dua kaki diterapkan pada taqiyyah. Jadi fanatik Syi’ah kepada pendapat sesuai mazhabnya dan kerancauan dalam pemikiran dan ta’wil telah memunculkan dampak yang sangat buruk, yaitu pemalsuan hadis.

Sedangkan pada riwayat tentang mawaris tampak adanya peringkasan sanad. Adapun mengenai kualitas hadis tentang mawaris ini, secara eksplisit, tidak diketahui karena informasi yang di dapat dalam al-Furu’ sangat terbatas, tanpa keterangan kualitas hadisnya. Dan telah diketahui bahwa dalam kitab al-Kafi ini tidaklah semuanya sahih.

Namun setelah penulis menemukan adanya pembahasan tentang al-Jarh wa al-Ta’dil dan Ushul al-Hadis fi ‘Ilmi al-Dirayah dalam tradisi Syi’ah, adanya peringkasan sanad tidaklah mempengaruhi kualitas hadis. Jadi hadis-hadis tentang mawaris tersebut masih bisa dipakai dan dapat dijadikan hujah.

Fenomena ini bisa dijadikan bukti, bahwa hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if.

H. Kesimpulan

Setelah melakukan penelusuran terhadap kitab-kitab Syi’ah, penulis menemukan kitab ilmu hadis baik sanad maupun matan dari kalangan Syi’ah yang disusun oleh Ja’far Subhani, keduanya adalah Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah, dan Kulliyat fi ‘ilmi al-Rijal. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kajian sanad dan matan telah dikaji secara mendalam. Jika dibandingkan dengan tradisi Sunni, kajian ulum al-hadis Syi’ah juga bisa dianggap telah matang. Meskipun pengaruh Imamiyah masih sangat kental. Hal ini terbukti dengan syarat diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah. Itulah yang menjadi syarat utama dalam ilmu al-jarh wa al-Ta’dil.

Demikian juga terhadap kajian matan, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah, maka imam-imam pada mazhab Syi’ah dapat mengeluarkan hadis. Jadi, tidak heran jika surat-surat, khutbah para imam dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama diposisikan setara dengan hadis. Ini menjadikan kajian hadis Syi’ah berbeda dengan kalangan Sunni. Menurut hemat penulis, dua syarat itulah yang menjadikan penyebab jumlah hadis Syi’ah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hadis Sunni.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Gifari, ‘Abd al-Hasan. al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th.

Al- Hasani, Hasan Ma’ruf. “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992.

Al-Kulaini Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Al-Kulaini, Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.).

Al-Salus, Ali Ahmad. Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997.

Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001.

Esposito, John. L. Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001.

Kurniawan,Yudha. “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

Subhani, Ayatullah Ja’far. “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001.

_______ Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah. Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th.

Suryadilaga, M. Alfatih. Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003.

[1] M. Alfatih Suryadilaga Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 307, lihat juga al-Kulaini Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388), hlm. 4-5.

[2] Ketiga kitab lainnya adalah Man La Yahduruh al-Faqih, Tahzib al-Hakam, dan al-Ikhtisar fi Ma Ukhtulifa min Akhbar.

[3] Yudha Kurniawan, “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

[4] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 124

[5] Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 11.

[6] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992, hlm. 25

[7] Ibid

[8] M. Alfatih Suryadilaga Ibid, hlm. 310.

[9] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah: Studi atas Kitab al-Kafi”, Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol. II, no. 5, 2001. hlm. 35.

[10] Di dalam Syi’ah sekarang terdapat dua aliran besar dalam menanggapi masalah-masalah yang berkembang di Dunia modern dikaitkan dengan ijtihad. Kelompok pertama mengatakan tidak ada ijtihad. Permasalahan sudah cukup dibahas para imam-imam mereka. Aliran ini dikenal dengan ahbariyyun atau muhaddisun. Kedua, kelompok ushuliyyun. Mereka beranggapan bahwa tradisi ijtihad masih terbuka lebar di kalangan Syi’ah tidak terbatas pada kematangan imam-imam mereka. Lihat Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah Al-Kafi” dalam Jurnal al-Hikmah, no, 6, Juli-Oktober 1992, hlm. 29.

[11] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.

[12] Ibid.,

[13] Ibid., hlm. 37

[14] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[15] Lihat dalam Mukaddimah al-Rawdhah, hlm 9. Dikutip dalam Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 140.

[16] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.)

[17] John L. Esposito, Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 302

[18] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 25

[19] Dr. I. K. A. Howard “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 14.

[20] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 469-470.

[21] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 39.

[22] Ibid

[23] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 38-39.

[24] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[25] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[26] Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

[27] Ibid

[28]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[29] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[30] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[31] Telah berlaku dalam ungkapan ulama hadis penyebutan sebagian ulama dengan “syaikh ijazah“, dan yang lain dengan “syaikh riwayah”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah orang yang tidak mempunyai kitab yang diriwayatkan dan tidak mempunyai riwayat yang dinukil, tetapi dia memperbolehkan periwayatan kitab dari selainnya dan dia disebutkan dalam sanad karena dia bertemu gurunya. Dan jika dia dha’if maka tidak madharat kedha’ifannya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang diambil riwayatnya dan dikenal sebagai penulis kitab, dia termasuk orang yang menjadi sandaran riwayat. Orang ini madharat bila tidak mengetahui riwayat. Untuk diterima riwayatnya, disyaratkan harus adil.

[32] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

[33] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 37

[34] Ibid.

[35] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.), hlm. 76, 80 dan 81

Kenapa Syi’ah Imamiyah Menerima Sebahagian Hadis Sunni ??? Salah satu alasan kami karena dalam KUMPULAN HADiS SUNNi terdapat setidaknya 100 kaum SYi’AH PEWARIS SABDA NABI saw

Menuduh syi’ah sesat = ingkar sunnah !!!

Karena ada seratus nama dari kalangan syi’ah yang termasuk dalam rangkaian sanad sanad hadis ahlusunnah, jika ini dibuang maka terjadi bencana amat besar karena banyak hadis sunni akan hilang tidak berbekas

Asnadusy Syi’ah fi Isnad Ahlis Sunnah ( Nama nama perawi syiah diantara sanad sanad hadis ahlusunnah) menunjukkan bahwa sunni berpegang pada riwayat hadis yang berasal dari syi’ah

Sanad adalah nama nama perawi yang membentuk mata rantai hadis

Dijumpai nama nama terkenal dari kalangan tokoh tokoh syi’ah dalam enam kitab hadis sunni yaitu Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa i

Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ah-nya al-Musawi

Pertanyaan :
Ada 100 orang tokoh syi’ah yang menjadi rantai sanad berbagai hadis ulama aswaja.. 100 tokoh ini semuanya tersebar menjadi rantai sanad dalam enam kitab hadis aswaja… Kenapa sedikit sekali ??

Jawaban :

“Ada 100 perawi yang terpercaya, hafidz dan pemuka agama dari kalangan Syi’ah, pendukung keluarga Muhammad, yang luput dari pantauan rezim yang berkuasa

Dengan izin Allah yang ingin menyelamatkan agama Islam yang murni maka ulama hadis  Sunni menerima riwayat 100 orang  tokoh    Syi’ah tersebut…. al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah bahwa 100 tokoh yang dikemukakannya itu adalah tokoh dan perawi Syi’ah, itu merupakan pernyataan yang penuh kejujuran…Sebab menurut dia, Syi’ah adalah sekelompok orang yang berlawanan dengan Ahlus Sunnah.

Karena itu, ketika mengklaim 100 perawi itu sebagai perawi Syi’ah, maka menurutnya mereka secara otomatis bukanlah orang Ahlus Sunnah wal Jama’ah…benar jika mereka dipandang sebagai kelompok tersendiri yang berbeda dari Ahlus Sunnah…Hanya sekitar 100 tokoh syiah yang luput dari pantauan rezim yang  berkuasa  dan “sunni   mengetahui bahwa yang terpenting bagi 100  orang tersebut  adalah jujur dan amanah, tanpa membedakan antara Sunni atau Syi’ah,”….“Ketahuilah bahwa mereka adalah perawi Syi’ah dari kalangan sahabat,”

bahwa ulama jarh wa ta’dil dan ulama hadits lainnya dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak memiliki metoda ilmiah yang baku dalam melakukan jarh dan ta’dil… ..100  orang tersebut  cuma    secuil  yang  lolos  sensor

Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda

yang dilakukan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, adalah kritik dia terhadap dua Kitab Shahih, Bukhari dan Muslim. Ia mengecam beberapa perawi yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab mereka

Kalau rezim penguasa tidak bertindak kejam dalam membantai kaum syi’ah, maka bukan cuma 100 san perawi syi’ah tapi 1000 (seribu) an.. Yang 100 orang itu adalah yang luput dari penguasa.. Maka terjawab lah mengapa dalam hadis aswaja, terkadang ada yang membela ahlul bait dan ada juga yang terkesan membela musuh ahlul bait

  • Mas saya luruskan. 100 org Syi’ah yg ada dlm jalur periwayatan hadis2 Sunni bersumber dari informasi ulama hadis Sunni sendiri spt. Adz Dzahabi, Ibnu Mu’in, Abu Hatim, Ibnu Qutaibah, Abu Zahrah dll yang menyatakan bahwa 100 org tsb adalah Syi’ah Rafidah (Pembenci sahabat). Sementara ente mengacu kpd sumber Salafi Wahabi. Ya jelas aja engga klop.

Bagi kami yang disebut dg Ahlul Bait/Syi’ah Ali adalah Syi’ah Itsna Asy’ariah atau Syi’ah Imamiyah. Sedangkan kelompok2 di luar itu spt Zaidiyah, Ismailiyah dll bukanlah Syi’ah Ali.

  • He he he…masih ngotot terus dg Ibnu Sabanya. Ente engga tau bahwa dalam jalur sanadnya hadis   sunni  ada 100 org Syi’ah ? Berarti cucu  cucu  nya embah Saba ada dlm jalur periwayatan kitab Sunni…….Nih ane sebutin sebagian nama2nya:

1. Abban bin Taghlib bin Raba al-Kufi
2. Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i al-Kufi (Al-Faqih)
3. Ahmad ibn Al-Mufadhal ibn al-Kufi al-Hafri
4. Ismail bin Abban al-Azdi al-Kufi al-Warraq
5. Ismail bin Khalifah al-Mulai al-Kufi
6. Ismail bin Zakaria al-As’adi al-Khalqani al-Kufi
7. Ismail bin Abbad bin Abbas ath-Thaliqani
8. Ismail bin Abdurahman bin Abi Karimah al-Kufi
9. Ismail bin Musa al-Fazari al-Kufi
10. Talid bin Sulaiman al-Kufi
11. Tsabit bin Dinar
12. Tsuwair bin Abi Fahithah al-Kufi
13. Jabir bin Yazid bin Harits al-Ja’fi
14. Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabi
15. Ja’far bin Ziyad al-Ahmar
16. Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i al-Basri
17. Jumai’ bin ‘Umairah bin Tsa’labah at-Taimi.
18. Al-Harits bin Husairah al-Azdi
19. Al-Harits bin Abdullah al-Hamadani
20. Habib bin Abu Tsabit al-Asadi al-Kahili
21. Hasan bin Hayy bin Saleh al_hamdani
22. Hakam bin Utaibah al-Kufi
23. Hammad bin Isa Al-Juhani
24. Hamran bin A’yan
25. Khalid bin Mukhallad al-Qawani

Mau terus dg isyu Ibnu Saba ?

Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman. Setelah Imam ke 12 gaib, maka terputuslah komunikasi antara pengikut Ahlul Bait dan Imam ke 12.

Sunni Mengambil Ilmu Dari Rafidhah

Ada beberapa hal yang melatarbelakangi saya membuat tulisan ini, yang kesemuanya adalah untuk menepis syubhat dan tuduhan yang dilakukan oleh pengikut Salafy kepada pengikut Syiah. Saya melihat kerancuan dan ketidakadilan pengikut Salafy dalam bersikap kepada mereka pengikut Syiah. Kerancuan yang dilatarbelakangi oleh penyakit kronis yang sudah sangat parah yaitu Syiahphobia. (Tulisan ini lumayan panjang dan membosankan)

Rafidhah Adalah Pendusta
Kebanyakan pengikut Salafy seringkali menyebut pengikut Syiah dengan sebutan Rafidhah. Sebutan Rafidhah itu biasanya diringi dengan pernyataan merendahkan dan Tuduhan yang mereka kutip dari perkataan-perkataan Ulama. Pernyataan tersebut yaitu Rafidhah Adalah Seburuk-buruk Pendusta. Dengan ini mereka pengikut Salafy seenaknya menyatakan Setiap orang Syiah sebagai Rafidhah dan Rafidhah adalah seburuk-buruk Pendusta. Artinya yang ingin dinisbatkan oleh pengikut Salafy itu adalah bahwa Pengikut Syiah itu semuanya Pendusta, jadi harus diingkari dan dikecam. SungguhArgumentum Ad Hominem yang menjijikkan.
.

Bayangkan saja jika ada seorang Syiah yang dengan Itikad baik berdiskusi kepada seorang Sunni atau Salafy maka dengan mudahnya Sunni atau Salafy itu berkata Untuk apa berdiskusi dengan seorang Rafidhah yang terkenal pendusta. Atau mereka Sunni atau Salafy itu ada yang berkata Jangan percaya dengan Rafidhah yang mengutip kitab-kitab hadis Sunni, mereka itu adalah pendusta.

.

Tidak hanya itu, dalam bentuk yang lebih halus dapat dilihat sikap sok bijak yang keblinger. Ada diantara Sunni atau Salafy itu yang ternyata bersedia berdiskusi dengan orang Syiah. Dan seperti biasa mereka yang Syiah akan membawakan dalil-dalil yang mendukung mahzab mereka dari kitab-kitab Sunni sendiri. Setelah terjadi pembahasan yang cukup panjang maka Sang Sunni atau Salafy itu menemukan kekeliruan(menurut mereka) dari mereka pengikut Syiah dalam membawakan hadis Sunni. Kekeliruan itu bisa berupa hadis yang dibawakan adalah dhaif, kekeliruan dalam mengutip pendapat ulama Sunni atau Salafy, kekeliruan dalam menyebutkan rujukan dan lain-lain. Hal ini ternyata membuat orang Sunni atau Salafy itu dengan mudah mengeluarkan kata-kata “Bukankah ini merupakan bukti kalau Syiah Rafidhah itu memang seorang Pendusta”.

.

Memang di antara orang Sunni atau Salafy itu ada yang begitu kentalnya Nuansa Syiahphobia sehingga suatu kekeliruan dalam diskusi ilmiah, ia nyatakan sebagai suatu kedustaan. Padahal kekeliruan dalam diskusi ilmiah sudah sangat sering terjadi bahkan kekeliruan itu sendiri bisa dilakukan oleh pengikut Sunni atau Salafy itu sendiri. Dan Tidak jarang dalam hal ini justru yang keliru itu adalah Pengikut Salafy yang sok menyalahkan dan sebenarnya Pengikut Syiah itu yang benar. Jadi untuk apa membuat tuduhan-tuduhan seenaknya bahwa Kekeliruan adalah suatu Kedustaan. 

Perawi Syiah Dalam Hadis Sunni
Bagi Mereka yang tahu maka perkara ini cukup jelas, memang ada cukup banyak perawi hadis dalam Kitab hadis Sunni baik Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Nasai, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah) maupun yang lainnya (Al Mustadrak Al Hakim, Musnad Ahmad, Mu’jam AtThabrani, Shahih Ibnu Khuzaimah) yang ternyata seorang Syiah. Hal ini tidak dapat ditolak bahkan oleh seorang Salafy sekalipun, hanya saja mereka melakukan akrobat untuk berkelit dari dilema mereka.

.

Sudah seringkali saya melihat bahwa Salafy tidak membedakan apa itu Syiah dan apa itu Rafidhah, bagi mereka Syiah ya sama saja dengan Rafidhah dan mereka Rafidhah adalah pendusta. Kemudian ketika ditunjukkan bahwa perawi hadis Sunni sendiri banyak yang Syiah, mereka berkelit dengan berkata

“Itulah kejujuran Ulama hadis Sunni, mereka mengambil hadis dari orang-orang yang mereka anggap tsiqah walaupun adalah ahlul bid’ah dengan syarat tidak berlebihan dalam kebid’ahannya atau tidak meriwayatkan kebid’ahannya”.

Dalam hal perawi Syiah, mereka Salafy berakrobat dengan berkata Syiah yang dimaksud disini adalah tasyayyu atau berlebihan dalam mengutamakan Ali RA dari sahabat yang lain bukan Rafidhah. Sekarang baru berkata bahwa Syiah itu berbeda dengan Rafidhah, karena mereka tidak berani menisbatkan Syiah disini sebagai Rafidhah yang mereka bilang sebagai Pendusta. Sungguh Sikap Antagonis Yang Menyedihkan.

Untuk membungkam sikap Antagonis Salafy yang menyedihkan itu maka akan ditunjukkan bahwa ada di antara perawi hadis Sunni tersebut yang jelas-jelas seorang Rafidhah. Penunjukkan Rafidhah sepenuhnya dengan bersandar pada perkataan dalam kitab Rijal oleh Ulama yang jelas-jelas menyebutkan bahwa Si Fulan adalah Rafidhah, berikut nama-nama mereka

Abbad bin Ya’qub Al Asadi Ar Rawajini Al Kufi
Keterangan tentang Beliau dapat ditemukan dalam Hadi As Sari jilid 2 hal 177, Tahdzib At Tahdzib jilid 5 hal 109 dan Mizan Al Itidal jilid 2 hal 376. Disebutkan

  • Ibnu Hajar berkata bahwa Abbad adalah seorang Rafidhah yang terkenal hanya saja Ia jujur
  • Ibnu Hibban berkata bahwa Abbad seorang Rafidhah yang selalu mengajak orang lain mengikuti jejaknya.
  • Saleh bin Muhammad berkata “Abbad memaki Usman bin Affan”

Jadi Abbad adalah Seorang Rafidhah yang oleh Abu Hatim dikatakan “Ia tsiqat”, beliau seorang Rafidhah dimana Hakim berkata Ibnu Khuzaimah ketika membicarakan Abbad, Ia berkata “Riwayat Abbad dapat dipercaya tetapi pendapatnya sangat diragukan” .Adz Dzahabi berkata “Abbad seorang yang berlebihan Syiahnya, Ahli bid’ah tetapi jujur dalam menyampaikan hadis”. Maka sudah jelas Abbad adalah seorang Rafidhah bahkan dikabarkan beliau memaki sahabat Usman bin Affan tetapi tetap saja beliau dinyatakan tsiqat dan jujur. Abbad adalah perawi hadis dalam Shahih Bukhari, Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmdizi, Musnad Ahmad dan Shahih Ibnu Khuzaimah. Apakah para Salafy itu mau berkelit kalau Syiah yang dimaksud disini adalah tasyayyu, padahal zahir lafal jelas adalah Rafidhah? Ah ya mungkin akan ada akrobat yang lain
.

Sulaiman bin Qarm Abu Dawud Adh Dhabi Al Kufi
Dalam Kitab Tahdzib At Tahdzib jilid 4 hal 213 dan Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 219, disebutkan pernyataan Ulama mengenai Sulaiman bin Qarm. Ada yang menyatakan beliau dhaif(Yahya bin Main dan Abu Hatim) dan ada yang menyatakan beliau tsiqah. Tetapi coba lihat apa yang dikatakan Ibnu Hibban, beliau berkata Sulaiman seorang Rafidhah yang ekstrim. Anehnya walaupun Ibnu Hibban menyatakan Ia Rafidhah, Ahmad bin Hanbal menyatakan Sulaiman tsiqat, tidak ada sesuatu yang membahayakan atas diri Sulaiman hanya saja Ia berlebihan dalam bertasyayyu. Begitu pula pernyataan Ahmad bin Adi “Sulaiman banyak memiliki hadis hasan dan afrad”. Sulaiman bin Qarm adalah perawi hadis dalam kitab Shahih Muslim,Sunan Abu Dawud dan Sunan Tirmidzi. Jika Rafidhah memang pendusta mengapa Ahmad bin Hanbal menyatakan tsiqat pada seorang pendusta, mengapa Imam Muslim meriwayatkan hadisnya dalam kitab Shahih beliau Atau justru sebenarnya Ibnu Hibban keliru. Jika memang Ibnu Hibban keliru maka saya katakan kalau seorang Ulama saja bisa keliru dalam menentukan siapa yang Rafidhah mengapa pengikut Salafy itu begitu soknya dengan mudah berkata siapa yang Rafidhah.

Harun bin Sald Al Ajli Al Kufi
Beliau sebagaimana dijelaskan dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 11 hal 6 dan Mizan Al I’tidal jilid 4 hal 784 adalah perawi yang dapat diterima hadisnya. Tetapi beliau juga dinyatakan sebagai Rafidhah

  • As Saji berkata Dia itu Rafidhah ekstrim
  • Ibnu Hibban berkata Dia Rafidhah ekstrim

Anehnya Harun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban, Ahmad bin Hanbal berkata Harun orang yang saleh dan banyak yang meriwayatkan hadis darinya, Ibnu Abi Hatim berkata “Aku bertanya pada ayahku tentang Harun. Maka dia menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan Harun”. Utsman Ad Darimi mengatakan dari Ibnu Main bahwa tidak ada persoalan dengan Harun walaupun Ad Dauri berkata bahwa Ibnu Main mengatakan Harun itu berlebihan dalam Syiahnya. Hal ini berarti Ibnu Main tidak menganggap kesyiahan Harun sebagai persoalan dalam periwayatan hadis. Jika benar setiap Rafidhah adalah pendusta mengapa Harun yang dikatakan As Saji dan Ibnu Hibban sebagai Rafidhah tetap diterima hadisnya oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim.

Jami’ bin Umairah bin Tsa’labah Al Kufi
Dalam Tahdzib At Tahdzib 2/111 dan Mizan Al ‘Itidal 1/421, didapatkan keterangan tentang Jami’ bin Umair. Beliau dinyatakan Rafidhah oleh Ibnu Hibban. Ibnu Hibban berkata “Dia itu Rafidhah yang memalsukan hadis”. Tetapi walaupun begitu beliau adalah tabiin yang diterima hadisnya

  • Abu Hatim berkata “Dia orang Kufah, seorang Tabiin dan Syiah yang terhormat. Dia jujur dan baik hadisnya”.
  • Al Ijli berkata “Dia seorang Tabiin yang tsiqat”
  • As Saji berkata “Dia memiliki hadis-hadis munkar, dia bisa diperhitungkan dan dia itu jujur”
  • Bukhari berkata “Dia patut dipertimbangkan”
  • Ibnu Adi berkata “Dia seperti yang dikatakan Bukhari,hadis-hadisnya bisa dipertimbangkan. Hadis yang diriwayatkannya umumnya tidak diikuti orang”

Jami’ bin Umairah adalah perawi hadis dalam Sunan Tirmidzi dan Al Mustadrak Al Hakim, Tirmidzi menghasankan sebagian hadisnya dan Al Hakim menshahihkan hadis riwayat Jami’ bin Umairah. Kalau memang yang dinyatakan Ibnu Hibban itu benar maka itu berarti seorang Rafidhah bisa diterima hadisnya.

Abdul Malik bin A’yun Al Kufi
Keterangan tentang Abdul Malik dapat dilihat dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 6 hal 385 dan Mizan Al I’tidal jilid 2 hal 651. Beliau Abdul Malik dinyatakan oleh Al Hamidi dan Sufyan bin Uyainah sebagai seorang Rafidhah

  • Al Hamidi menceritakan bahwa Sufyan menerima hadis dari Abdul Malik seorang Syiah. Al Hamidi berkata bagiku Abdul Malik adalah seorang Rafidhah yang suka menciptakan ajaran bid’ah.
  • Al Hamidi berkata dari Sufyan bahwa Abdul Malik dan kedua saudaranya Zararah dan Hamran adalah penganut Syiah Rafidhah.
  • Al Uqaili dalam Ad Dhuafa menyatakan bahwa Abdul Malik seorang Rafidhah

Tetapi jika kita melihat pernyataan Ulama lain maka ditemukan bahwa Abdul Malik tsiqah dan jujur.

  • Ibnu Hibban menyatakan Abdul Malik tsiqat dan memasukkan namanya dalam Ats Tsiqat
  • Al Ajli menyatakan Abdul Malik sebagai tabiin yang tsiqat
  • Abu Hatim berkata “Ia orang Syiah tetapi jujur”
  • Al Mizzi dalam Tahdzib Al Kamal berkata bahwa Abdul Malik itu Rafidhah tetapi Shaduq(jujur)

Abdul Malik adalah perawi Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Dawud dan Sunan Tirmidzi
Jadi bagaimana mungkin Rafidhah yang dikatakan dusta itu diambil hadisnya oleh para Ulama Sunni. 
Musa bin Qais Al Hadhramy
Beliau adalah seorang perawi hadis yang tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 10 hal 366 dan Mizan Al I’tidal jilid 4 hal 217. Anehnya Al Uqaily berkata Dia itu Rafidhah yang ekstrim. Apakah itu berarti Musa adalah Rafidhah yang tsiqah

  • Yahya bin Main berkata “dia tsiqat”
  • Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata dari ayahnya yang berkata Aku tidak mengetahui tentang Musa kecuali kebaikan
  • Ibnu Syahin berkata Musa diantara perawi yang tsiqah
  • Ibnu Numair berkata tentang Musa dia tsiqat, banyak yang meriwayatkan darinya
  • Abu Hatim berkata “tidak ada persoalan dengan dia”

Selain itu Musa bin Qais lebih mendahulukan Ali ketimbang Abu Bakar. Hal ini dinyatakan Adz Dzahabi dalam sebuah riwayat tentang Musa, bahwa Musa berbicara tentang dirinya sendiri bahwa Sufyan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan Ali, maka katanya Ali lebih kusukai. Musa bin Qais adalah perawi hadis dalam Sunan Abu Dawud.

.

Hasyim bin Barid Abu Ali Al Kufi
Hasyim bin Barid dinyatakan oleh Al Ajli dan Ibnu Hajar sebagai Rafidhah tetapi mereka berdua tetap mentsiqahkan beliau. Hal ini dapat dilihat dalamTahdzib At Tahdzib jilid 11 hal 16 dan Mizan Al I’tidal jilid 4 hal 288.
Al Ajli berkata tentang Hasym “Dia orang Kufah yang tsiqat Cuma dia itu Rafidhah”. Hasym bin Barid telah dinyatakan tsiqah oleh Yahya bin Main, Ibnu Hibban, Ahmad bin Hanbal dan Ad Daruquthni. Hasym adalah perawi hadis dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan An Nasai
Sangat jelas bahwa nama-nama di atas dinyatakan sebagai Rafidhah tetapi tetap saja diterima hadisnya. Hal ini menimbulkan kemusykilan bagi para pengikut Salafy. Sebagian mereka tetap berasumsi bahwa Rafidhah yang dimaksud adalah tasyayyu atau melebihkan Ali RA dibanding sahabat lain.Mereka berkata bahwa kata Rafidhah yang dimaksud di atas bukanlah seperti Syiah Rafidhah yang pencaci sahabat Nabi. Semua itu hanyalah kata-kata berkelit untuk membenarkan sikap mereka yang selalu merendahkan Syiah dengan sebutan Rafidhah. Bukankah Abbad dikabarkan mencaci Utsman bin Affan dan beliau tetap dianggap tsiqah.
Sebagian mereka akan menyatakan bahwa ulama yang menyatakan nama-nama di atas sebagai Rafidhah adalah keliru karena terbukti ada yang mentsiqahkan mereka. Anehnya kenapa tidak sekalian dinyatakan bahwa justru Ulama yang mentsiqahkan itulah yang keliru karena bukankah menurut mereka Salafy, sudah jelas Rafidhah adalah pendusta.

Perawi Hadis Sunni Yang Dikatakan Mencaci Sahabat Nabi
Ada juga perawi hadis yang dikatakan oleh sebagian Ulama telah mencaci sahabat Nabi. Di atas telah disebutkan salah satunya adalah Abbad bin Yaqub. Selain Abbad terdapat juga Abdurrahman bin Shalih Al Azdi yang dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 6 hal 197 dinyatakan bahwa

  • Shalih bin Sulaiman berkata tentang Abdurrahman bin Shalih “Ia orang Kufah yang mencerca Usman tetapi ia jujur”.
  • Musa bin Harun berkata “Ia tsiqat yang bercerita tentang kekurangan-kekurangan para Istri Rasulullah SAW dan para sahabat”
  • Abu Dawud berkata “Aku tidak berminat untuk mendaftar hadis Ibnu Shalih. Ia menulis buku yang mengecam sahabat-sahabat Rasul”

Walaupun begitu tetap banyak yang memandangnya tsiqah

  • Yahya bin Main berkata “Ia tsiqat, jujur dan syiah, baginya jatuh dari langit lebih ia sukai daripada berdusta walau hanya sepatah kata”
  • Abu Hatim berkata Ibnu Shalih seorang yang jujur
  • Ahmad bin Hanbal berkata “Maha suci Allah, ia seorang yang mencintai keluaga Nabi dan ia adil”.

Beliau Abdurrahman bin Shalih Al Azdi adalah perawi hadis dalam Sunan An Nasai.
Seorang yang dikatakan mencaci sahabat-sahabat Nabi ternyata tetap dinyatakan oleh yang lain sebagai tsiqah dan diambil hadisnya.

Kesimpulan
Yang dapat disimpulkan adalah Dalam Kitab hadis Sunni memang terdapat perawi hadis yang dinyatakan oleh sebagian Ulama sebagai Rafidhah. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau Sunni ternyata mengambil hadis juga dari Rafidhah. Apakah Salafy itu akan tetap mengatakan Rafidhah adalah Pendusta?. Kalau tetap begitu, berarti Sunni juga mengambil hadis dari para pendusta. Naudzubillah, saya berlindung kepada Allah SWT dari hal-hal yang demikian.

Salam Damai

Catatan : Tulisan ini hanyalah suatu analisis sederhana terhadap pertentangan yang terjadi antara pengikut Islam Salafy dan Islam Syiah. Penulis tidak memiliki kepentingan dan keuntungan pribadi dalam masalah ini (walaupun sepertinya penulis mungkin akan dirugikan dengan tuduhan-tuduhan yang aneh)

============================================================================

Mazhab Ahlusunnah Kebanjiran Hadis Palsu, Krisis Hadis Shahih

Apapun alasan dan penyebabnya, pemalsuan hadis sudah sedemikian marak tak terkendali dan mencapai batas membahayakan kemurnian agama….

Apapun penyebabnya, hadis-hadis palsu ternyata telah membanjiri pasar-pasar hadis di berbagai kota ilmu Islam, tak terkecuali kota suci Madinah….

Apapun penyebabnya, berprofesi sebagai pembuat hadis palsu kian digemari banyak kalangan, tak terkecuali kaum Shalihin dan para pemuja sufisme ….

Apapun penyebabnya, akhirnya hadis palsu lebih diminati para pemulung hadis dan pemburu sunnah….

Betapapun usaha telah dicurahkan, tetap saja mencari hadis shahih di antara tumpukan hadis-hadis palsu hampir terasa mustahil dan membuat banyak pihak berputus asa… ia lebih langka dari sehelai bulu putih di atas punggung kuda hitam…. Ia lebih langka dari al kibrît al Ahmar ….

Kini dunia hadis Ahlusunnah telah kebanjiran hadis-hadis palsu dan mengalami krisis hadis shahih….

Itulah kira-kira dirasakan Imam Ahlusunnah, imam Dâr al Hijrah; Imam malik ibn Anas…

Banyak riwayat terpercaya melaporkan bahwa Imam Malik telah menghafal tidak kurang dari 100.000 hadis…. Dari jumlah itulah ia menyusun kitab Muwaththa’nya yang sangat ia bangakan dan juga dibanggakan para ulama; para fakih dan muhaddis Ahlusunnah, seperti Imam Syaf’iI dll.

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang banjir hadis di dunia hadis Ahlusunnah…

Jalaluddin as Suyuthi –seorang ulama, pakar haddis, ahhli fikih, dan bahasa- meraangkum laporan untuk kita dalam mukaddimah syarah Muwaththa’nya yang ia beri judul Tanwîr al Hawâlik….

* Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”
* Al Kiya al Harâsi berkata, Sesungguhnya Muwaththa’ Malik terdiri dari sembilan ribu hadis, kemudian ia (Malik) terus-menerus memilih dan memilah sehingga tersisa hanya tujuh ratus hadis.”
* Abu al Hasan ibn Fihr, meriwayatkan dari ‘Atîq ibn Ya’qub, ia berkata, “Malik memuat sekirat 10.000 hadis dalam Muwaththa’, lalu ia senantiasa menelitinya setia tahun, dan ia mengugurkan bagian-bagian tertentu darinya, sehingga tersisa yang sekarang ini.”
* Sulaimn ibn Bilâl berkata, “Malik menulis Muwaththa’ dan di dalamnya terdapaat empat ribu hadis atau lebih, dan ketika ia mati yang tersisa hanya seribu hadis lebih sedikit. Setiaap tahun ia menyortirnya dan menyisakan yang dalam hematnya mengandung maslahat buat kaum Muslimin dan sesuai untuk agama.”

(Baca Tanwîr al Hawâlik,1/6 mukaddimah III)

Dari paparan di atas dapat kita saksikan betapa hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah…. Dari seratus ribu hadis yang diriwayatkan Malik dari para masyâikhnya, yang hampir keseluruhannya adalah berasal dari kota Madinah, ternyata Malik hanya mampu menyisakan sekitaar 1000 hadis saja…

itu pun masih ternyata masih banyak yang tidak layak dikelompokkan sebagai hadis shahih!! Sehingga ada yang mengatakaan andai kematian Imam Malik ditangguhkan hingga setahun kemudian kuat kemungkinan ia akan menggugurkan seluruh isi kitab Muwaththa’ yang ia tulis selama empat puluh tahun itu. (Tentang waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kitab Muwaththa’nya, baca Tanwîr al Hawâlik,1/6)

Ini semua bukti nyata bahwa hadis-hadis palsu telah membanjiri dunia hadis Ahlusunnah dan mereka sedang menghapi krisis hadis yang sangat serius!

Lalu, apa tidak mungkin hadis-hadis yang sekarang beredar atas nama agama itu adalah sebagian dari hadis-hadis palsu yang dibuang Imam Malik itu?

Siapa tau?

Kalau Imam Malik saja sudah kehilangan kepercayaan terhadap 99 persen hadis yang ia riwayatkan sendiri dari paara masyâikhnya, lalu kini apa yang masih bisa dipercaya?

Dari 100.000 hadis ternyata hanya 1000 yang dapat selamat!

Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala.

Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat, sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.

Bismillhirrahmanirahim

Allhumma sholi ala muhammad wa  ali muhammad

Sebelumnya kami telah memaparkan tentang para sy’iah awal dalam artikel yang berjudul “Meneladani Sahabat Memilih Syi’ah sebagai Mahdzab” , akan kami paparkan para pengikut Ahlul Ba’it yang kemudian menjadi rujukan periwayatan hadis dalam kitab-kita hadis ahlu sunnah. Relevansi tulisan ini dengan artikel-artikel sebelumnya adalah, pertama bahwa nama-nama yang disebutkan dalam artikel ini dapat dikatagorikan sebagai syi’ah generasi kedua, ketiga atupun generasi berikutnya. Jika di artikel sebelumnya [1]  disebutkan nama-nama para sahabat yang sudah populer  dan kredibilitasnya diakui secara aklamasi oleh syi’ah maupun sunni, maka dalam tulisan kedua ini akan dipaparkan dari serangkaian nama-nama yang boleh jadi amat jarang di dengar dikalangan awam. Sehingga kompilasi nama-nama para syi’ah awal ini menjadi saling melengkapi. Kedua  nama-nama para syi’ah yang kami sebutkan dalam tulisan ketiga ini menarik, karena ulama-ulama ahli hadis (dari ahlu sunnah) memasukkan dan memepercayai  mereka sebagai jalur perawi hadis, yang ini secara tidak langsung menolak tuduhan dari kaum awam dan kaum polemis yang menuduh pengikut Ahlul Ba’it sebagi “pendusta”. Menganggap para syi’ah awal tersebut sebagai “pendusta” maka  konsekuensinya hadis-hadis yang diriwayatkan melalui jalur mereka harus dikeluarkan dari kompilasi hadis kitab enam milik ahlu sunnah

Sumber rujukan artikel buku ini adalah Kitab al Muraja’at karya Ayatullah Syafruddin al Musawi. Buku ini telah pula diteliti oleh Prof Dr. H Abu Bakar Atjeh (yang bermadzhab ahlu sunnah) dan kemudian diterbitkan dengan judul “Syi’ah Rasionalisme dalam Islam”  pada halaman kata pembuka yang ditulis oleh Kolonel Drs H Bahrum Rangkuti (kepala Pusat Rohani Angkatan Laut Republik Indonesia)  beliau menyebutkan hasil pengkajian Abu Bakar Atjeh ini dengan kalimat yang indah ” Dengan bukumu yang baru ini, “Syi’ah, rasionalisme dalam Islam”, anda telah menyumbangkan suatu karya yang amat bernilai bagi khazanah perpustakaan Islam. Tidaklah berlebih-lebihan jika kulukiskan, bahwa karyamu ini membukakan mata Indonesia, teristimewa bagi para sarjana, alim dan ulama Islam kepada salah satu aspek daripada Islam, yang selama ini agak suram cahayanya di bumi dan dilangit cita-cita Indonesia”.

Kami juga menggunakan buku pembanding  yang menyerang pandangan kitab al Muraja’at, ditulis oleh polemis bernama Mahmud Az Zabby yang berjudul “al Bayyinat, fi ar Radd ‘ala abatil al Muraja’at” meskipun ditulis dengan kadar emosi tingg dipenuhi ledakan kemarahan (yang ini sekaligus membedakannya dengan gaya asy Syaikh Salim al Bisyrib al Maliki -rektor al azhar yang menjadi lawan dialog dari Syafruddin al Musawi- yang tetap menjaga kesantunan dan kesopanan dalam diskusi)  az Zabby  dalam tanggapan tentang nama-nama syi’ah (awal) – yang menjadi perawi hadis dalam kumpulan hadis ahlu sunnah – alih-alih mampu dia patahkan, tetapi az Zabby justru mengiyakan bahwa para perawi hadis tersebut adalah generasi-generasi syi’ah (awal).

Kalau kemudian ada kata-kata bid’ah, syi’ah ekstrim dan lain-lain, saya pribadi memandang sebagai sebuah penegasan perbedaan aras idiologi sesama mereka. Hal itu saya anggap wajar-wajar saja, sebagaimana kita lihat fenomena hari ini, jika seseorang dari pengikut gerakan Islam tertentu kemudian menuduh  gerakan diluar kelompoknya  sebagai  tidak sejalan dengan Islam. Tentu pernyataan tersebut harus dikaji lebih dalam lagi, sebagaimana sebutan-sebutan yang akan ditemukan dalam artikel  dibawah ini.

Sebagaimana yang ditulis dalam al Muraja’at kami akan menuliskan sebagaimana dituliskan dalam kitab tersebut diurutkan dari urutan abjad, dan komentarnya akan kami  sajikan dari  Ayatullah Syafruddin al Musawi  berikutnya Mahmud az zabby.

1.    Abban bin Taghlib bin Rabbah al Kufi : Adz Dzahabbi  menyebutkan dalam kitabnya al Mizan  sebagai berikut : ”Ia seorang syi’i yang keras pendirianya, tetapi ia juga sorang yang selalu menjaga kebenaran  ucapanya. Oleh karenanya, kita ambil ucapanya yang bisa dipercayai itu dan kita tinggalkan bid’ahnya untuk dirinya sendiri”  adz Dzahabi kemudian berkata lagi :”Ahmad bin Hambal  menilainya sebagai dapat dipercaya.  Begitu pula, Ibnu Mu’in dan Abu Hatim. Ibnu ’Adi  menyebutnya sebagai orang ekstrim dalam faham syi’ah. Adz Dzahabi  menyebutkan pula bahwa : Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasai  dan Ibnu Majjah  diantara tokoh-tokoh ahli hadis yang meriwayatkan melalui  Abban bin Taghlib bin Rabbah al Kufi.   Mahmud az Zabby  dalam bukunya menyatakan : Imam Ahmad, Yahya dan Nasa’i (tidak disebutkan di buku Musawwi)  menganggap ia sebagai perawi tsiqat. Menurut Ibn ’Adi, Aban memiliki banyak tulisan, yang umumnya benar. Ia tsiqat dan jujur dalam meriwayatkan,  Ia memang orang syi’ah, tetapi riwayatnya baik, jadi tidak ada persoalan.  Yang menarika adalah,  Mahmud Az Zabby, yang menolak pandangan  al Juzjani yang menganggap Aban menyimpang, ia mengatakan : ”pernyataan al Juzjani kurang bernilai, karena itu tidak perlu ditanggapi”.

a.     Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb : Dia orang Kufah, qari al-Quran. Al-Dzahabi telah merakamkan biografi dia di dalam bukunya al Mizan berkata, ‘Aban ibn Taghlib, dari Maw, di Kufa, adalah seorang Syi’ah. Dia bagaimanapun adalah orang yang benar; maka kami mempercayai pada kebenarannya dan biarlah dia dihukum diatas bid’ahnya.’ Dia juga berkata bahawa : Ahmad ibn Hanbal, Ibn Ma`in dan Abu Hatim telah meletakkan kepercayaan mereka kepadanya. Ibn `Adi berkata bahawa :” beliau adalah ‘pengikut Syi’ah.’ Al-Sa`di menerangkan mengenai beliau, sebagai orang yang ‘Dengan jelas telah Menyimpang.” Adz Dzahabi menjelaskan terhadap kredibiliti orang ini;  bahwa riwayatnya dipakai oleh penulis Shahih Muslim dan juga pengarang empat buku Sunan, yaitu Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nisa’i dan Ibn Majah,  nama beliau telah dipercaya oleh para ahli hadis. Riwayat beliau dapat dirujuk dalam hadith Sahih Muslim, di dalam empat buku Sunan melalui al-Hakam dan al-A`mash, sebagai tambahan Fudayl ibn `Umar. Sufyan ibn `Ayinah, Shu`bah, dan Idris al-Awdi telah menyebutkan hadith dari beliau sebagaimana yang disebutkan  di dalam buku Imam  Muslim.  Beliau wafat tahun 141 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi :”al Bayyinat, fi ar Radd ‘ala abatil al Muraja’at  ia mengatakan : Aban ibn Taghlib ibn Rabah al-Rub’i Abu Sa’d al-Kufi,Imam Ahmad, Yahya, Abu Hatim dan Nasa’i, menganggap Aban perawi tsiqat. Sedangkan al-Juzjani memandang Aban menyimpang, yang pendapatnya dikecam. Menurut ibn ‘Adi, Aban memiliki banyak tulisan, yang umumnya benar. Ia tsiqat dan jujur dalam meriwayat. la memang Syi’ah, tetapi riwayatnya baik, jadi tak ada persoalan. Menurut saya, pernyataan ‘Adi tersebut benar. Sedangkan pernyataan al- Juzjani kurang bernilai, karena itu tidak perlu ditanggapi. Pernyataannya berkonotasi hendak mendiskriminasi warga Kufah. Menurut tradisi ulama terdahulu (mutaqaddimin), tasyayyu’ ialah kepercayaan yang mengutamakan ‘Ali dibanding ‘Utsman. ‘Ali sesungguhnya berpihak kepada kebenaran di setiap berperang. Penentang ‘Ali, sebaliknya, tentu saja yang bersalah. Tasyayyu’ tidak menempatkan ‘Ali lebih tinggi dari Abu Bakar dan ‘Umar. Tetapi, menurut ulama muta’akhkhirin (yang belakangan), tasyayyu’ identik dengan rafadh yang murni. Dengan begitu riwayatnya tidak dapat diterima, karena tidak bernilai. Dari biografi di atas, nyata bahwa Aban ibn Taghlib bukanlah Rafidhah, tetapi penganut tasyayyu’. la tidak mengajak orang lain mengikuti pahamnya, apalagi ia jujur dan istiqamah. Karena itu Ashhabus Sunan menerima riwayat Aban.

c.    Catatan : Bahwa Mahmud Az Zabby tidak menolak sama sekali pandangan kesyi’ahan dari  perwai ini, alaih-alih membantahnya malah az Zabby justru menentang pendapat yang menolak periwayatanya. Az Zabby  justru mengungkapkan polemik difinisi syi’ah, tasyayu’ dan rafidhi dalam kelompoknya yang ternyata tidak sama pandanganya. Tetapi persoalan utama disini adalah bahwa beliau yang disebut dalam kitab al Muraja’at ini adalah seorang Syi’ah. Dan para ahli hadis dari kalangan ahlu sunnah telah menempatkan dia sebagai sumber terpercaya.

2.    Ibrahim bin Yazid an Nakha’i al Kufi (al Fakih) : Ibnu Qutaibah  dalam kitabnya al Ma’arif (hal 206) memasukanya dalam kelompok tokoh-tokoh syi’ah. Dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim Muslim  dijumpai hadist yang diriwayatkan lewat jalur paman ibunya, ”Al Qamah bin Qais.  Beliau tergolong tokoh Islam yang dipercaya  namanya tersebut diantara mata rantai sanad  yang shahih dalam kitab hadis yang enam.  Mahmmud Az Zabby (sang polemis) bukan menyerangnya tetapi melengkapinya :  menurut  al A’jli, ”Ibrahim itu shaleh, ahli fiqih, bertakwa dan sederhana”. A’masy  menilai  hadis Ibrahim baik. Ibn Mu’in :” tak ada yang kuketahui sepandai Ibrahim”  Ibn Mu’in menyatakan ”pola hidup Ibrahim lebih aku sukai daripada pola hidup Sya’bi”.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb :  dia adalah Ibrahim ibn Yazid ibn `Umer ibn al-Aswad al-Nakh`i al-Kufi, seorang faqih. Ibunya adalah Malika anak perempuan Yazid ibn Qays al-Nakh`i dan juga adik perempuan al-Aswad, Ibrahim, dan `Abdel-Rahman, anak lelaki Yazid ibn Qays. Seperti bapa-bapa saudara mereka `Alqamah dan Ubay, anak lelaki Qays, mereka semuanya diantara penyampai yang amat dipercayai  Imam Muslim. Pengarang enam buku Sahih, begitu juga yang lainnya, semua telah bergantung kepada penyampaian mereka, sedangkan telah diketahui bahawa mereka adalah Syi’ah. Berkenaan orang ini (Ibrahim ibn Yazid) dia telah  digolokan sebagai pemuka-pemuka Syi`ah oleh Ibn Qutaybah (seperti yang disebut dalam halaman ke  206 dari kitabnya Al-Ma`arif) dimana dia menyebutkan beberapa orang terkemuka Syiah, dan telah mempercayainya dengan tidak ada keraguan.  Hadith beliau ditemukan dalam buku Sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disebutkan oleh ibu kepada bapa saudaranya `Alqamah ibn Qays, dan oleh Humam ibn al-Harith, Abu `Ubaydah ibn `Abdullah ibn Mas`ud, `Ubaydah, al-Aswad ibn Yazid, bapa saudaranya. Riwayat beliau juga ditemukan di dalam buku Sahih Muslim, melalui bapa saudaranya dipihak ibu, ‘Abdul-Rahman ibn Yazid, dan melalui Sahm ibn Munjab, Abu Mu`ammar, `Ubayd ibn Nadlah, dan `Abis. Dia telah disebutkan oleh Fudayl ibn `Umar, al-Mughirah, Ziyad ibn Kulayb, Wasil, al-Hasan ibn `Ubaydullah, Hammad ibn Abu Sulayman, dan oleh Sammak. Ibrahim telah dilahirkan pada tahun 50 H., dan dia meninggal pada umur 95 atau 96, empat bulan selepas al-Hajjaj mati.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Ibrahim ibn Yazid ibn Qays ibn al-Aswad ibn ‘Amr ibn Rabi’ah ibn Dahl an-Nakha’i Abu Imran al-Kufi al-Faqih’ menurut al-Ajli, Ibrahim itu saleh, ahli fiqih, bertakwa dan sederhana. A’masy menilai hadits Ibrahim baik. Asy-Sya’bi juga mengakui, “tak ada yang kuketahui sepandai Ibrahim.” Kata ibn Mu’in, “pola hidup Ibrahim lebih kusukai daripada pola hidup Sya’bi.” Demikian beberapa pendapat tentang Ibrahim. Sementara al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, berkata begini, “Para ahli hadits, penyusun keenam buku induk hadits, berhujjah dengan Ibrahim dan para saudaranya. Padahal mereka yakin, Ibrahim dan saudaranya itu penganut Syi’ah.” Namun kami belum pernah membaca ada ulama ahli hadits yang menilai Ibrahim dan saudaranya itu Syi’ah. Saya telah menelusuri biografi Ibrahim, tetapi belum menemukan keterangan seperti yang dikemukakan al-Musawi.

c.     Catatan  :   pernyataan Mahmud Az Zaby agak tendensius, bilamana mengatakan”… Namun kami belum pernah membaca ada ulama ahli hadits yang menilai Ibrahim dan saudaranya itu Syi’ah. Saya telah menelusuri biografi Ibrahim, tetapi belum menemukan keterangan seperti yang dikemukakan al-Musawi “ Padahal secara jelas al Musawi menunjukan kitab  al Ma’arif  karya Ibnu Qutaybah menyebutkan beliau adalah seorang syi’ah. Jika Mahmud az zaby dapat dengan mudah melacak pendapat ahli hadis lain mengapa kemudian dia menjadi tumpul ketika menghadapi  pernyataan Ibn Qutaibah. Ataukah dia berusaha menutupi fakta sebenarnya,  Bantahan tendensius akan ditemukan dalam kajian berikutnya, Az Zabby seolah mengabaikan pernyataan Ibnu Qutaibah dan Syahrastani

3.    Ahmad ibn al Mufadhdhal ibn al Kufi al Hafri, Abu Zar’ah  dan  Abu Hatim  mempercayai riwayatnya, meskipun keduanya mengetahui kedudukanya sebagai seorang syi’ah. Dalam al mizan disebutkan : ”Ahmad ibn al Mufadhdhal adalah seorang syi’i dan ia adalah seorang shaduq (yang selalu benar ucapan-ucapanya). Adz Dzahabi menyebutkann  Abu Daud  dan Nas’i  mengambil riwayat hadis darinya dalam kedua kitab mereka.    Mahmmud az Zabby dalam buku polemisnya tidak membantahnya tetapi malah melengkapinya, ia menuliskan :  Ats Tsauri, Asbath Ibn Nashr, Isra’il  dan ulama lainya, meriwayatkan dari hadis Ahmad. Ibn Syaybah, Abu Zara’ah  dan Abu Hatim   juga meriwayatkan hadis dari Ahmad ibn al Mufadhdhal  Abu hatim menilai Ahmad seorang jujur dari kalangan pemuka syoi’ah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Dia adalah Ahmad ibn al-Mufdil ibn al-Kufi al-Hafri. Abu Zar`ah dan Abu Hatim menyebut dari beliau dan mempercayainya, sedang mereka benar-benar sadar akan kedudukan dia cebagai Syi’ah. Di dalam biografi Ahmad, seperti yang disebutkan di dalam Al-Mizan karya adz Dzahabi, Abu Hatim menunjukkan fakta ini dengan mengatakan: “Ahmad ibn al-Mufdil adalah seorang dari pemimpin Syi`ah, dan dia adalah orang yang benar.” Adz Dzahabi menyebut di dalam bukunya Al-Mizan, bahwa Abu Dawud dan al-Nisa’i, mengambil riwayat darinya. Silahkan rujuk hadithnya di dalam Sahih riwayat beliau melalui al-Thawri. Dia menyampaikan melalui Asbat ibn Nasir dan Isra’i.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi : Ahmad ibn al-Mufadhdhal al-Farsyi al-Amawi Abu ‘Ali al-Kufi al-Hafri, Ats-Tsauri, Asbath ibn Nashr, Isra’il, dan ulama lain, meriwayatkan hadits dari Ahmad. Ibn Syaybah, Abu Zara’ah, dan Abu Hatim, juga meriwayatkan hadits dari Ahmad ibn al-Mufadhdhal. Abu Hatim menilai Ahmad seorang jujur dari kalangan pemuka Syi’ah. Perhatikan kata Abu Hatim barusan, biar jelas bagi anda betapa jujurnya ulama hadits dari kalangan Sunni, dan betapa konsistennya mereka menggunakan metoda yang diciptakan. Mereka menerima riwayat Ahmad ibn al-Mufadhdhal, karena ia jujur dan tidak mengajak orang lain mengikuti bid’ahnya. Seandainya ia seorang Rafidhah, ulama hadits pasti menolak riwayat yang berasal darinya.

c.    Catatan : tidak ada yang perlu dikomentari, karena pada dasarnya az Zabby tidak dapat meneolak tulisan al Musawi

4.    Isma’il bin Abban al Azdi al kufi al Warraq.  Adz Dzahabi  menyebutkan dalam kitabnya al Mizan  bahwa al Bukhari dan Turmudzi  berpegang pada riwayat Isma’il dalam kedua kitab shahih mereka.  Demikian pula   Yahya  dan  Ahmad   mengambil riwayat  haditsnya. Al Bukhari  menilainya sebagai orang yang amat boleh dipercaya. Yang lainya menyebutkan sebagai seorang yang berfaham Syi’ah. Ia wafat tahun 286 H. Mahmud az Zabby tidak menolaknya bahkan melengkapinya : disebutkan Isma’il ini sebagai salah seorang guru al Bukhari.   An Nasa’i, Mathin, Ibn Mu’in, Hakim, Abu Ahmad, Ja’far ash Shaigh  dan  ad dar Quthni   menilainya sebagai  seorang tsiqat.  Al Jauzjani   berkata ”kendati Isma’il seorang yang syi’ah (menyimpang) tetapi ia tidak berdusta  dalam meriwayatkan hadist.  Ibn ’Adi berkata : ” sebagian orang Kufah adalah penganut Tasyayyu’”  menurut sang polemis .  Al Jauzjani   adalah seorang benci kepada Ali bin Abi Thalib (nawashib).

Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Isma’l ibn Abban al-Warraq al-Azdari al-Kufisalah seorang guru Imam Bukhari, walau ia tidak banyak meriwayatkan hadits darinya. An-Nasa’i, Mathin, Ibn’Mu’in, Hakim, Abu Ahmad, Ja’far ash-Shadigh dan ad-Dar Quthni, semuanya menilai Isma’il seorang tsiqat. Aj-Jauzjani berkata bahwa walaupun Isma’il menyimpang (dari kebenaran), tetapi ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits. Ibn ‘Adi berkata, “Sebagian besar orang Kufah adalah penganut tasyayyu’.” Menurut pengamatan kami, aj-Jauzjani memusuhi ‘Ali. Ia kebalikan orang Syi’ah yang memusuhi ‘Utsman. Padahal yang-benar, ia justru menghargai dan menyukai mereka berdua. Kita tidak perlu mendengarkan komentar pembid’ah terhadap sesama pembid’ah. Ibn ‘Adi telah menjelaskan, tasyayyu’ Isma’il berbentuk sikap mengutamakan ‘Ali daripada ‘Utsman, bukan Abu Bakar atau ‘Umar. Aj-Jauzjani sendiri menyatakan Isma’il tidak berdusta dalam berhadits –suatu sikap pembeda dari pendusta– dengan kesaksian dari lawannya sendiri. Karena itu Imam Bukhari dan Muslim serta ulama hadits yang lain menerima riwayat Isma’il

5.   Isma’il  bin Khalifah al Mulai al kufi, ia dikenal dengan julukanya sebagai  Abu Isra’il, Adz Dzahabi  menyebutkan dalam al Mizan :  Ia adalah seorang syi’i yang dibenci karena sangat ekstrim  dalam fahamnya itu. Ia termasuk orang yang mengkafirkan ’Utsman bin Afan. Meskipun begitu Turmudzi  meriwayatkan hadisnya dalam shahihnya.  Abu Hatim  menilai baik haditsnya. Abu Zar’ah  berkata  ”Ia seorang shaduq (sangat dapat dipercaya ucapan-ucapanya) tetapi ia berfaham syi’ah” Ahmad  berkata : ”boleh dicatat hadisnya”  Ibnu Quthaibah  menulis dalam kitanya al Ma’arif  menggolongkan dalam kelompok syi’ah. Mahmud az Zabby  tidak membantahnya,  ia mengatakan :” Ismail memang seorang syi’ah, ia memaki Utsman. Namun sangat jujur, bukan pembohong. Karena itu, ulama hadits menerima riwayatnya”  ia menambahkan bahwa  Atsram   menceritakan bahwa b Ahmad menerima hadits Isma’il. Menurut az Zabby pula,  Ibn Mu’in, Ishak Ibn Mansur  menilai hadits Isma’il sangat aik.  ’Umar Ibn Ali  menilai Isma’il  tidak termasuk pendusta. Abu Zara’ah  menyebutikan : Ismail seorang jujur, tetapi pendapatnya berlebihan.  Abu Hatim  menemukan hadist ismali baik dan orangnya ramah.

Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Isma’il ibn Khalifah al-Mala’i al-Kufi Abu Isra’il memang seorang Syi’ah. Ia memaki ‘Utsman. Namun, ia sangat jujur, bukan pembohong. Karena itu, ulama hadits menerima riwayatnya. Sebab, menurut sistem yang disepakati, riwayat pembid’ah dapat diterima dengan catatan ia bukan orang Rafidhah, tidak mempromosikan, bid’ahnya, dan tidak menghalalkan cara berdusta uncuk menguatkan pendapat dan madzhabnya. Isma’il ibn Khalifah tidak termasuk yang tadi itu. Karenanya, penerimaan riwayatnya oleh ulama hadits harus dipahami sebagai kejujuran dan konsistensi mereka, yang tinggi, jauh dari pengaruh hawa nafsu. Atsram menceritakan2 bahwa Ahmad menerima hadits Isma’il. Menurut ibn Mu’in, Ishak ibn Mansur pernah menilai hadits Isma’il sangat baik. ‘Umar ibn ‘Ali menganggap Isma’il tidak termasuk pendusta. Abu Zara’ah juga menyatakan Isma’il seorang jujur, tetapi pendapatnya berlebihan. Abu Hatim menemukan hadits Isma’il itu baik, dan orangnya peramah, memiliki beberapa kesalahan yang menyebabkan haditsnya tidak dapat dijadikan argumen. Namun, haditsnya bisa ditampung.

Catatan : Menurut hemat kami, ada permasalahan inkonsistensi dalam penilaian periwayat hadis, seperti yang dikemukakan Mahmud az Zabbi bahwa  “…memang seorang Syi’ah. Ia memaki ‘Utsman…. “ di analisa mahmud az Zabby berikutnya akan banyak ditemukan seorang “pemaki” lainya diitolak dan yang lain diterima. Yang menjadi ganjalan kedua adalah, Mahmud Az Zabby tidak melakukan penilaian secara adil, bagaimana para periwayat hadis yang dikenal sebagai pemaki Imam Ali bin Abi Thalib (seperti Muawiyyah dan Bani Ummayah) bagaimana yang memerangi Imam Ali dan tidak menghentikan aksi pembakaran rumah-rumah sahabat (seperti Abu Hurairah dan Basir bin Artha’ah) bagimana pula periwayat yang dia sebagai pelaksana lapangan pembunuhan Imam Husain (seperti putra sa’ad Ibn abi Waqqash-Umar bin Sa’ad). Tentunya kadar memaki dengan memerangi dan membunuh jelas berbeda. Ambiguitas ini tidak dijadikan sebagai analisa penilaian oleh Mahmud  az Zabby.

6.    Ismail bin Abbad bin Zakaria al Asadi al Khalqani al Kufi.  Adz Dzahabi menyebutkan dalam kitabnya al mizan, sebagai seorang yang shaduq berfaham syi’ah.  Ia termasuk diantara yang dikutip hadist-hadistnya dalam kitab hadis yang enam.  Az Zabby sang polemis menuliskan : Ahmad bin Hanbal dan Yahya Ibn Mu’in berselisih tentang oran ini .  An Nasa’i  memandang tidak masalah menyangkut diri Isma’il.  Abu Dawud memandang ia Tsiqat, Abu Hatim  memandang ia seorang yang baik. Ibn ’Adi menyatakan haditsnya bagus dan bisa diterima. Ibnu Hajar  menemukan sekelompok orang meriwayatkian hadits Isma’il,  Bukhori  menerima 4 hadist darinya.

Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi : isma’il ibn Zakaria ibn Murrah al-Khalqani al-As’adi Abu Ziyad al-Kufi  Ahmad ibn Hambal dan Yahya ibn Mu’in berselisih penilaian tentang orang ini. An-Nasa’i memandang tidak ada masalah menyangkut diri Isma’il. Abu Dawud justru memandang ia tsiqat. Menurut Abu Hatim, dia seorang baik. Bahkan kata ibn ‘Adi, haditsnya bagus dan bisa diterima. Ibn Hajar menemukan sekelompok orang meriwayatkan hadits Isma’il. Tetapi Imam Bukhari hanya menerima 4 hadits darinya. Tiga diantaranya diikuti riwayat dari perawi lain. Dan yang satu lagi, hadits ke-4, diriwayatkan dari Muhammad ibn Shabah dari Isma’il dari Abu Burdah dari Abu Musa, mengenai kisah seorang lelaki yang dipuji Abu Musa. Kemudian Nabi bersabda, “Kau potong punggung lelaki itu.” Adapun perkataan-perkataan tentang ‘Ali yang disandarkan kepada Isma’il sama sekali tak ada benarnya. Al-Musawi; penulis Dialog Sunnah-Syi’ah sendiri menganggap pernyataan itu tidak dari al-Khalqani. Dengan begitu al-Khalqani bukan orang Rafidhah dan bukan pula orang Syi’ah. Jadi, mengapa al-Musawi menyatakan dia Syi’ah? Tak ada ahli hadits yang menyatakan demikian. Karena itu, jelas bagi kita bahwa al-Nusawi berdusta.

7.    Isma’il bin Abbad bin Abbas ath Thaliqani (terkenal dengan nama  ash Shahib bin Abbad). Adz Dzahabi dalam  kitabnya menyebutkan : bahwa Abu Daud dan turmudzi meriwayatkan haditsnya, adz Dzahabi mengatakan ia serang sastrawan yang amat pandai dan ia seorang syi’i.  az Zabby menuliskan ia sangat jujur, katanya ia penganut mu’tazilah, dalam bidang fiqh penganut syafi’i dan ia penganut sy’iah  ia murid dari al Bukhari.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Nama lengkapnya adalah Isma’il ibn `Abbad ibn al-Abbas al-Taleqani (Abul-Qasim), lebih dikenali sebagai al-Sahib ibn `Abbad. Al-Thahbi seperti yang disebutkan di dalam bukunya Al-Mizan, meletakkan tanda “DT” pada namanya untuk menunjukkan bahawa keduanya; Dawud dan al-Tirmithi bergantung kepadanya di dalam buku sahih mereka [2] Kemudian dia menerangkan, beliau sebagai “seorang Syi’ah yangcerdas dan pandai, seorang terpelajar.’ Dia sebagai seorang Syi’ah dalam suatu perkara tidak boleh diragukan. Atas sebab ini, dia dan bapanya mendapat jabatan dan penghormatan yang tinggi di dalam negeri Buwayhid. Dia adalah orang pertama diantara menteri-menteri kerajaan yang mendapat gelaran “sahib” (sahabat, kawan), semenjak beliau remaja, beliau telah bersahabat dengan Mu’ayyed al-Dawlah ibn Buwayh. Gelar ini telah didapatkan  semenjak remaja dan dipakai saat remaja dn ketka beranjak dewasa beliau dikenali dengan gelaran tersebut.  Beliau dipercaya sebagai menteri, beliau adalah menteri Mu’ayyed al-Dawlah Abu Mansur ibn Rukn al-Dawlah ibn Buwayh. yang wafat pada bulan Sha`ban tahun 373 di Jurjan, Abul-Hasan `Ali, yang lebih dikenali sebagai Fakhr al-Dawlah, adik Mu’ayyed, melanjutkan pemerintahanya dan mempercayakan kedudukan beliau sebagai Sahib. Fakhr al-Dawlah menyanjung tinggi Sahib dan menyempurnakan hajat beliau dengan cara yang sama seperti bapanya sendiri, Abu `Abbad ibn al-Abbas lakukan ketika dia sedang berkhidmat kepada bapa Fakhr al-Dawlah, Rukn al-Dawlah.  Beliau wafat pada usia  59 tahun, meninggal pada khamis malam, 24th Safar, 385, di Rayy. Bandar Rayy telah menutup semua kedainya sebagai tanda berkabung, dan manusia berkumpul dihadapan rumahnya sambil menunggu jenazahnya. Fakhr al-Dawlah, bersama menteri-menteri kerajaan dan ketua turus tentera pergi kesana dengan memakai pakaian berkabung. Apabila jenazahnya dibawa keluar dari rumahnya, manusia melaungkan serentak “Allahu Akbar!”, mencium bumi tanda menghormati, dan Fakhr al-Dawlah mengikuti jenazah beliau berjalan kaki bersama lautan manusia  dan duduk bersama mereka selama 3 hari sebagai tanda berkabung. Penyair membacakan sajak, dan ulama mengadakan majlis memperingati sebagai tanda penghormatan, dan beliau telah disanjung oleh semua yang tidak dapat hadir pada pengkebumian itu. Abu Bakr al-Khawarizmi berkata: “Al-Sahib ibn `Abbad dibesarkan dipangkuan kementerian, belajar merangkak dan berjalan dikawasan persekitarannya, telah dibelai dari dada yang penuh kecemerlangan, dan mewarisinya dari bapanya yang terdahulu.” Abu Sa`id al-Rustami menggubah sajak tersebut  dengan memujinya:  “dia mewarisi kementerian: sambungan di dalam rantai, Orang ternama, adalah dia, keturunan orang ternama, Mengenai kementerian al-Abbas, Abbad sampaikan,  Sedangkan dari Abbad, Isma’il sampaikan.  Di dalam biografi al sahib, al-Tha`alibi berkata: “Saya tidak dapat mencari perkataan yang sesuai untuk dapat menerangkan kedudukan mulia Sahib di dalam ilmu pengetahuan dan sastera, atau penghormatan yang dia nikmati kerana ramah mesra dan bermurah hati atau kebaikannya yang unik, serta memilikki beberapa kemuliaan yang lain lagi.  Kenyataan yang terbaik yang saya dapat katakan bagi pihak dirinya, tidak sampai pada melakukan keadilan terhadap yang terkecil diantara kemuliaan dan ketinggiannya, dan penerangan saya yang terbaik tidak sampai untuk berlaku adil kepada kemuliaan keperibadiannya.” Sahib telah menulis banyak buku yang amat berharga termasuklah Al-Muhit buku bahasa di dalam 7 jilid; Bab nya tersusun secara abjad. Dia memiliki perpustakaan pribadi yang tiada tandingannya. Nuh ibn al-Mansur, seorang dari Raja Sam`an, menulis kepada beliau, menawarkan jabatan sebagai menteri kabinet dan mengurus urusan negara. Beliau meminta maaf kepadanya, dengan berkata dia memerlukan 400 unta untuk memindahkan buku perpustakaan pribadinya. Sebanyak ini mengenai beliau adalah mencukupi.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi : Isma’il salah seorang guru Imam Bukhari, walau ia tidak banyak meriwayatkan hadits darinya. An-Nasa’i, Mathin, Ibn’Mu’in, Hakim, Abu Ahmad, Ja’far ash-Shadigh dan ad-Dar Quthni, semuanya menilai Isma’il seorang tsiqat. Aj-Jauzjani berkata bahwa walaupun Isma’il menyimpang (dari kebenaran), tetapi ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits. Ibn ‘Adi berkata, “Sebagian besar orang Kufah adalah penganut tasyayyu’.” Menurut pengamatan kami, aj-Jauzjani memusuhi ‘Ali. Ia kebalikan orang Syi’ah yang memusuhi ‘Utsman. Padahal yang-benar, ia justru menghargai dan menyukai mereka berdua. Kita tidak perlu mendengarkan komentar pembid’ah terhadap sesama pembid’ah. Ibn ‘Adi telah menjelaskan, tasyayyu’ Isma’il berbentuk sikap mengutamakan ‘Ali daripada ‘Utsman, bukan Abu Bakar atau ‘Umar. Aj-Jauzjani sendiri menyatakan Isma’il tidak berdusta dalam berhadits –suatu sikap pembeda dari pendusta– dengan kesaksian dari lawannya sendiri. Karena itu Imam Bukhari dan Muslim serta ulama hadits yang lain menerima riwayat Isma’il

8.    Isma’il bin Abdurrahman bin Abni Karimah al Kufi  (ahli tafsir al Qur’an yang terkenal dengan nama as Suddi), adz Dzahabi berkata  dalam kitabnya al mizan : ” Ia dituduh penganut faham syi’ah. Seperti yang dinyatakan oleh Husain bin Waqid al Mirwazi   bahwa ia pernah mendengar Isma’il memaki Abu Bakart dab Umar. Meskipun begitu Ats Tsauri dan  Abu Bakar bin ’Iyasy  mempercayai hadist yang diriwayatkanya. Hadist nya dijumpai dalam shahih muslim. Ahmad bin Hanbal  menguatkanya. Mahmud az Zabby menuliskan : ia penganut tasyayu’  namun ulama hadits tidak menolak riwayatnya. Dan menariknya Mahmud az zabby mengecam  al Juzjani  yang menyatakan ” al Suddi adalah pembohong suka memaki shahabat, kata az Zabby  pernyataan al Juzjani tidak perlu didengarkan dan ditanggapi.  Az Zabby mengatakan, bahwa  al Hakim  menegaskan bahwa Isma’il bin Abdurrahman bin Abni Karimah al Kufi  bersifat adil, lebih kuat dibanding ulama yang memandangnya lemah, karena ulamma yang memandangnya lemah tidak memberikan penjelasan yang konkrit.  Ibn Hibban  menegaskan bahwa  as Suddi sebagai perawi yang tsiqat. Abu Hatim  memandang hadist al Suddi dapat diterima.  Al Nasa’i  menilai al suddi  sebagai seorang yang baik.  Ibn ’Adi  menganggap al Suddi sebagai orang yang lurus alias benar.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Lebih dikenali sebagai al-Sadi, Dia seorang penafsir al-Quran yang terkenal. Menyebutkan biografinya, adz Dzahabi menerangkan beliau sebagai ‘penganut paham syi’ah.” Husayn ibn Waqid al-Maruzi mengatakan, bahawa dia pernah mendengar beliau suatu ketika mengutuk Abu Bakr and `Umar. Walaupun terdapat tuduhan seperti itu, beliau telah disebutkan oleh al-Thawri dan Abu Bakr ibn `Ayyash dan banyak lagi penulis yang setaraf dengannya. Penulis Sahih Muslim dan penulis empat buku sahih menganggap beliau sebagai periwayat hadith, sedangkan Ahmad memberikan kepercayaan kepada beliau. Ibn `Adi berkata bahawa dia adalah benar. Yahya al-Qattan berkata tidak terdapat kesalahan pada hadith yang disampaikan oleh beliau. Yahya ibn Sa`id berkata: “Saya tidak pernah mendengar sesiapa yang berkata tidak baik mengenai beliau, al-Sadi; tiada siapapun  yang  meninggalkan riwayat beliau.” Ibrahim al-Nakh`i suatu ketika menemui al-Sadi sedang beliau menafsirkan al-Quran. Ibrahim berkata bahawa al-Sadi menafsirkan al-Quran menurut cara yang digunakan umum. Jika kamu membaca mengenai al-Sadi di dalam Mizan al-I`tidal, kamu akan dapati yang lebih khusus mengenai apa yang kami sebutkan diatas. Rujuk kepada hadith al-Sadi di dalam Sahih Muslim dari Anas ibn Malik, Sa`d ibn `Ubaydah, dan Yahya ibn `Abbad. Abu `Awanah, al-Thawri, al-Hasan ibn Salih, Za’idah, dan Isra’il semuanya telah menyebutkan dari beliau, sebagai penasihat mereka, seperti mana yang disebutkan di dalam buku sahih yang empat. Dia meninggal pada tahun 127 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Isma’il ibn Abdurrahman ibn Abi Karimah al-Kufi  Ia ahli tafsir dan dikenal dengan nama al-Sadi. Ia dituduh penganut tasyayyu’. Namun ulama hadits, tidak menolak riwayatnya, kecuali kalau ia mempromosikan bid’ahnya, dan menghalalkan cara berdusta untuk menguatkan pendapatnya. Namun al-Sadi tidak seperti itu. Al-Jauzjani menyatakan, al-Sadi itu pembohong, suka memaki para sahabat. Namun pernyataan ini tidak perlu ditanggapi, sebab al-Jauzjani juga pembid’ah. Statement seorang pembid’ah mengenai sesama pembid’ah tidak dapat diterima. Beberapa pendapat sudah saya kemukakan, baik yang melemahkan as-Sadi maupun yang memandang dirinya tsiqat. Karena itu, orang yang menerima riwayatnya, berarti memihak pada pendapat ulama yang lebih moderat. Dan yang ini jumlahnya lebih banyak. Di samping itu, penilaian bahwa as-Sadi lemah tidak dikemukakan secara terinci. Di dalam pembahasan tentang perawi-perawi yang tidak dapat diterima riwayatnya, al-Hakim menegaskan bahwa ulama yang memandang ‘Abdurrahman ibn Muhdi bersifat adil, lebih kuat dibanding ulama yang memandahg dia lemah, karena ulama yang ke dua ini tidak memberikan penjelasan yang kongkrit. Ibn Hibban memasukkan al-Sadi ke dalam daftar perawi tsiqat. Menurut Abu Hatim, hadits al-Sadi dapat diterima, meskipun tidak dapat dijadikan sebagai argumen. Al-Nasa’i pernah menilai al-Sadi seorang yang baik. Sedangkan ibn ‘Adi menganggap al-Sadi seorang yang lurus alias benar.

9.    Isma’il bin Musa al Fazari al Kufi. Ibnu ’Adi  berkata seperti yang dikutip adz dzahabi  ” banyak orang yang mnegecamnya karena faham syi’ahnya, tetapi banyak pula ahli hadits yang mengambil riwayatnya seperti Ibnu khuzaimah, Abu ”Arubah, Abu daud dan Turmudzi.  Mahmud az Zabby sang polemis menuliskan : Ibn Hatim, al nasa’i  dan Ibn Hibban menyatakan ia tsiqat. Al Ajari  menilainya jujur dalam berhadits walaupun penganut tasyayu’.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb adz Dzahabi: Al-Mizan menyebutkan Ibn `Uday sebagai berikut, “Manusia benci terhadap pandangan Syiah nya yang ekstrim’  Al-Mizan juga menyebut `Abdan sebagai berkata: “Hammad dan Ibn Abu Shaybah menentang kami menziarahi beliau.” Dia bertanya beliau suatu ketika bagaimana perasaannya dengan ‘yang tidak bermoral yang mengutuk keturunan kita.’ Walaupun terdapat semua ini, keduanya Ibn Khuzaymah dan Abu `Arubah menyebutkan dari beliau, yang juga jurutunjuk di dalam kelas mereka. Dia adalah di dalam kategori yang sama dengan Abu Dawud dan al-Tirmidzi yang menyebutkan dari beliau dan bergantung pada penyampaian hadithnya di dalam Sahih mereka. Abu Hatim menyebut beliau dan mengatakan bahawa beliau boleh dipercayai. ” Al-Nisa’i berkata “dia adalah benar.” Semua ini tertulis di dalam biografi beliau di dalam adzahabi: Al-Mizan.  Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih al-Tirmidzi dan Sunan Abu Dawud seperti yang disampaikan oleh Malik, Sharik, dan `Umar ibn Shakir, seorang sahabat Anas. Dia meninggal pada tahun 245.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Isma’il ibn Musa al-Fazari al-Kufi, Ibn Hatim, al-Nasa’i, dan ibn Hibban menyatakan, isma’il itu tsiqat. Tetapi kata ‘Adi, banyak ulama menolaknya karena dia bersikap ekstrim dalam bertasyayyu’. Al-Ajari menilainya jujur dalam berhadits, walaupun ia penganut tasyayyu’.Dari keterangan hadits di atas, jelaslah bahwa semua ulama sepakat tentang kejuruan Isma’il. Sebagian menyatakan ia tasyayyu’, tetapi bukan rafadh, dan tidak ada orang yang menyatakan ia pendusta, atau mengajak orang lain mengikuti pahamnya. Dengan demikian, maka tak ada cela untuk menerima riwayatnya.

10.    Talid bin Sulaiman al Kufi, Ibnu Mu’in mengatakan sbb : ia sering memaki Utsman. Pada suatu hari salah seorang dari anak anak maula (bekas budak) Utsman mendengar makianya itu. Lalu ia dilemparinya dengan sesuatu yang menyebabkan kakinya patah.  Abu daud  menyebutnya sebagai seorah rafidhi yang memaki abu bakar dan Umar  meskipun begitu  Ahmad  dan Ibnu Numair   mempercayai riwayatnya dalam hadist, padahal ia mengetahui dia seoarang syi’i.  Turmudzi  menyebut hadits yang diriwayatkan dalam kitab shahihnya lewat  ’Atha ’ bin Sa-ib  dan  Abdul Malik bin Umair.  Mahmud az zabby menolak riwayatnya kendati ada ulama hadits yang menerimanya. Alasan penolakanya adalah : ia mencaci  Syaikhan  meskipun diatas juga disebutkan panya periwayat yang mencaci syaikhan tapi tetap dia terima hadisnya. Alasan ia menolakn lainya adalah Talid dituduh membuat hadis tentang keutamaan Ahlul Ba’it.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Ibn Ma`in menyebut beliau dan berkata: “Dia pernah mengutuk `Utsman. Sebahagian dari pengikut Utsman mendengarnya. Mereka melempari batu kepada beliau, lalu mematahkan kaki beliau, itulah sebabnya maka beliau dapat panggilan “al-A`raj,” si pincang. Abu Dawud ada menyebutnya dan berkata beliau adalah Rafidi yang mengutuk Abu Bakr dan `Uthsman. Walaupun terdapat semua ini, Ahmad dan Ibn Namir bergantung pada penyampaian hadithnya, walaupun mereka mengetahui beliau adalah syi’ah. Ahmad telah berkata, “Talid adalah seorang Syi`ah, bahkan kami tidak menjumpai apa-apa kesalahan dengan apa yang beliau sampaikan.” Adz Dzahabi ada menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, menyebut kenyataan mengenai beliau yang diperkatakan oleh mereka yang terpelajar seperti yang tertulis diatas. Dia meletakkan tanda al-Tirmidzi pada nama beliau untuk menunjukkan bahawa al-Tirmidzi menganggap beliau sebagai periwayat hadits. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih al-Tirmidzi melalui `Ata ibn al-Sa’ib dan `Abdel-Malik ibn `Umayr.
b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Talid ibn Sulaiman al-Kufi al-A’raj  Imam Turmudzi meriwayatkan satu hadits dari Talid tentang manaqib (biografi). Para ahli hadits sepakat untuk menolak riwayatnya, sebab ia Rafidhah yang memaki Abu Bakar, ‘Umar, dan sahabat Nabi yang lain. Ia termasuk pembuat hadits palsu, dan meriwayatkan beberapa hadits tentang keutamaan Ahlul Bayt yang aneh-aneh. Adapun pernyataan Ahmad bahwa Talid orang Syi’ah, dan tak ada sesuatu yang membahayakan pada dirinya, menunjukkan ketidaktahuan Ahmad bahwa para ulama menganggap Talid itu orang Rafidhah dan pendusta. Di sini, kecaman terhadap Talid harus didahulukan lantaran jumlah mereka banyak, dan lebih mengetahui keadaan Talid.

c.     Catatan : bandingkan inkonsistnesinya dalam penilaian hadits, berbeda dengan syi’ah yang menguji hadits dengan  selain yang tiga sebagaimana dipakai dalam tradisi ahlu Sunnah syiah masih menggunakan Al Qur’an sebagai alat uji.

11.    Tsabit bin Dinar (dikenal dengan julukan  Abu Hamzah ats Tsumali ) kitab al mizan menyebutkan, bahwa ia memandang sinis tergadap Utsman,   As Sulaimani  memasukanya dalam kelompok rafidhah , tetapi menurut adz dzahabi Turmudzi  berpegang pada riwayatnya.az Zabby menuliskan :  Ahmad, Abu Zara’ah, al Juzjani, al Nasa’i  dan  Ibnu Mu’in  memandang hadistnya lemah  tetapi Abu Hatim   mengatakan, ” walaupun hadistnya lemah, tetapi itu bisa diterima tanpa dijadikan argumen atau hujjah”.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Tsabit lebih dikenali sebagai Abu Hamzah ats Tsumali. Beliau seorang Syi`ah adalah jelas seperti terangnya matahari. Pengarang Al-Mizan menyebut beliau, mengatakan bahawa nama ‘Utsman telah disebutkan dihadapan beliau. Beliau secara menyindir bertanya: “Siapa dia `Utsman?!” Iainya juga mengkatakan bahawa al-Sulaymani memasukan Abu Hamzah sebagai Rafidis. Adz DZahabi  menyebutkan bahwa al-Tirmidzi pada nama Abu Hamzah sebagai  penyampai hadithnya. Waki` dan Abu Na`im menyebut dari beliau dan menggunakan beliau sebagai penyampai hadith. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih al-Tirmithi melalui Anas dan al-Sha`bi dan yang lain dari kalibar yang sama. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, pada tahun 150 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Tsabit ibn Abi Shafiyah Dinar  Ada yang menyebutnya Sa’id Abu Hamzah ats-Tsumali. Ahmad menilainya lemah (dha’if). Ibn Mu’in juga mengatakan begitu. Abu hadits Tsabit itu lemah. Menurut Abu Hatim, walaupun haditsnya lemah, tetapi itu bisa diterima tanpa dijadikan sebagai argumen atau hujjah. Al-Jauzjani juga menyatakan bahwa hadits Tsabit lemah. Dan al-Nasa’i menegaskan, ia tidak tsiqat. Menurut keterangan Yazid ibn Harun, ia mempercayai paham raj’ah. Dan al-Sulaimani memastikan dia sebagai orang Rafidhah. Seperti itulah pendapat ahli hadist mengenai Tsabit. Tapi, al-Musawi memandang: Tsabit sebagai tsiqat. Meskipun Turmudzi meriwayatkan satu hadits darinya, itu tidak berarti Tsabit tsiqat. Penerimaan riwayat itu sekedar mengumpulkan data saja. Sebab terkadang hadits dari perawi yang tidak tsiqat ditulis juga, meskipun tidak dijadikan hujjah.

12.    Tsuwair bin abi FaKhitah (abu jahm) al Kufi  ia adalah maula Ummu Hani binti Abi Thalib,  adz Dzahabi mengutip pernyataan Yunus bin Abi Ishaq bahwa Tsuwair adalah seorang rafidhi, meskipun begittu   Sufyan  dan Syu’bah   mempercayai riwayat haditsnya. Juga Turmudzi  dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar  dan Zaid bin Arqam. Menurut az Zabby, Ibnu Mu’in  menganggap haditsnya tidak ada nilainya.  Abu Hatim   menyatakan haditsnya dha’if.  Ad Daruqutni menganggap haditsnya matruk.  Al Tsawri  memandangnya sebagai kelompok pendusta. Bukhori  mengatakan Yahya  dan Ibnu  Muhdi   meninggalkan ruiayatnya. Ibnu ’Adi   menuliskan Ia memang seorang rafidhah. Kendati demikian Turmudzi tetap meriwayatkanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Dia lebih dikenali sebagai Abu Jahm al-Kufi, hamba Ummu Hani’ yang dibebaskan, anak perempuan Abu Talib. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam Al-Mizan dan menyebut tuduhan Yunus ibn Abu Ishaq bahawa beliau adalah Rafidi. Walaupun begitu keduanya, Sufyan dan Shu`bah telah menyebut dari beliau, dan al-Tirmidzi telah menghasilkan sebahagian dari hadith beliau di dalam sahihnya melalui penyampaian dari Ibn `Umer dan Zayd ibn Arqam. Di masa Imam al-Baqir (as), beliau telah mengekalkan ketaatannya kepada Imam, dan beliau telah terkenal dengan sedemikian. Dalam hal ini, beliau telah membuat beberapa dialog yang menarik dengan  `Amr ibn Tharr, seorang hakim; dan orang sezamannya, Ibn Qays, dan al-Salt ibn Bahram mengesahkan fakta ini

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Tsuwair ibn Abi Fakhitah  Yunus ibn Ishaq menilai Tsuwair seorang Rafidhah. Ibn Mu’in menganggap hadits Tsuwair tidak ada nilainya. Abu Hatim dan ulama lain menyatakan haditsnya dha’if. Menurut ad-Daruquthni, hadits Tsuwair matruk. Sedang al-Tsawri memandang Tsuwair termasuk kelompok pendusta. Imam Bukhari mengabarkan, Yahya dan ibn Muhdi tidak menerima alias meninggalkan riwayat dari Tsuwair. Menurut ibn ‘Adi2, ia memang seorang; Rafidhah, sehingga banyak orang yang memandang haditsnya lemah. Kelemahannya tampak jelas di dalam sejumlah riwayatnya. Hadits Tsuwair memang lebih mendekad dha’if daripada shahih. Ringkasnya, menurut penilaian para, ahli hadits, hadits Tsuwair tidak dapat dijadikan hujjah, walaupun Turmudzi meriwayatkannya. Ia bukan seorang tsiqat. Kelemahannya terletak pada aqidahnya, yaitu Rafidhah.

c.    Catatan : terdapat inskonsistensi penilaian oleh mahmud az zabby

13.   Jabir bin Yazid bin Harits al Ja’fi ia disebut adz Dzahabi dalam al mizan sebagai ulama kaum syi’ah. Dalam shahih Muslim (dari Jarrah) disebutkan sebuah pernyataan Jabir , bahwa ia meriwaytkan 70.000 hadits, dari Abu Ja’far (Imam Baqir as)  dari Rasulullah saw. Adz Dzahabi mengatakan ” Jabir al Ja’fi adalah seorang rafidhi  meskipun begitu Nasa’i, Abu Daud  dan lainya berpegang pada riwayatnya. Az zabby tokoh ini ditolak oleh kalangan ulama ahlu sunnah diantaranya : Ibnu mu’in, Abu Hanifah, Imam syafi’i, Abu Akhqas, Al Humaydi,  Yahya Ibn Ya’la, Ibn Hibban. Alasan penilakanya karena ia berfamam rafidhi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb adz Dzahabi telah menyatakan dalam biografi beliau di dalam bukunya Al-Mizan, yang mengatakan beliau adalah seorang ulama Syi`ah. Dia telah menyebut dari Sufyan yang berkata bahawa dia mendengar Jabir berkata bahawa pegetahuan Rasul [sawas] telah dipindahkan kepada `Ali (as), kemudian kepada al-Hasan (as), dan seterusnya sehingga sampai kepada Imam Ja`fer al-Sadiq (as), yang sezaman dengannya. Muslim telah menyebut beliau di dalam satu dari bab pertamanya dari sahihnya, menyebutkan al-Jarrah yang telah mendengar Jabir berkata bahawa dia mengetahui 70,000 ahadith dari Rasul semuanya disampaikan melalui Imam Ja`far al-Sadiq (as) (i.e. Imam Muhammad al-Baqir [as]). Dia juga telah menyebutkan dari Zuhayr sebagai berkata  “Saya tahu 50,000 hadith, belum satupun yang saya telah sampaikan.”  Satu hari, beliau menyebutkan satu hadith dan berkata, “Ini adalah satu dari 50,000 hadith.” Menurut dari biografinya di dalam adz Dzahabi, Al-Mizan, setiap kali Jabir menyampaikan hadith melalui al-Baqir (as), beliau berkata: “Pengganti dari pengganti Rasul telah sampaikan kepada saya bahawa…” Di dalam biografinya di Al-Mizan, Ibn `Uday berkata: “Orang awam mengatakan bahawa [Jabir] pernah percaya di dalam perkara kembali semula.” Bergantung kepada penyampaian Za’idah, adz Dzahabi telah memasukkan biografinya di dalam Al-Mizan dan berkata: “Jabir al-Ju`fi adalah Rafidi yang mengutuk…” Walaupun begitu, keduanya al-Nisa’i dan Abu Dawud bergantung pada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith yang disampaikan mengenai sujud dengan tidak disengajakan di dalam kedua Sahih. Shihab, Abu `Awanah, dan banyak lagi yang sama kalibar telah menyebut dari beliau. Al-Thahbi, yang memperkatakannya di dalam Al-Mizan, telah meletakkan tanda keduanya Abu Dawud dan al-Tirmidzi pada nama beliau untuk menunjukkan pergantungan mereka terhadap penyampaiannya. Dia juga menyebut Sufyan sebagai berkata bahawa Jabir al-Ju`fi adalah orang yang takut kepada Allah ketika menyampaikan hadith, dan bahawa dia telah berkata: “Saya tidak pernah kenal sesiapa yang lebih wara’ dari beliau [Jabir].” Dia juga menyebutkan Shu`bah sebagai berkata bahawa Jabir adalah benar, dan ‘Setiap kali Jabir menyampaikan hadith, kami mendengarnya, kerana beliau amat dipercayai dari semua orang.” Waki` pernah berkata, “Jika keraguan bermain difikiran kamu, kamu boleh meragui sesiapa sahaja selain dari Jabir al-Ju`fi,” dan bahawa Ibn `Abd al-Hakam mendengar al-Shafi`i berkata bahawa Sufyan al-Thawri berkata kepada Shu`bah: “Jika kamu pernah meragui mengenai Jabir, itu adalah tandanya berakhir persahabatan kita.” Jabir meninggal pada tahun 127 atau 128 H, semoga Allah merahmati ruhnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Jabir ibn Yazid ibn Harits al-Ju’fi al-Kufi . Ibn Mu’in menilai, Jabir itu pendusta. Di tempat lain, dia menegaskan, hadits Jabir tidak dapat diterima. “Demi Tuhan” katanya, “Jabir itu, pendusta dan mempercayai ajaran tentang, raj’ah.” Malahan, Abu Hanifah bersaksi, “Tak seorang pun yang kukenal sedusta Jabir al-Ju’fi. Setiap pendapat yang kusampaikan kepadanya, selalu dia ubah.” Diduga, ia memiliki 3.000 hadits palsu. Menurut” Imam Nasa’i, hadits Jabir matruk (harus ditinggalkan, peny.). Karena ia bukan seorang tsiqat, maka haditsnya tidak dapat diterima. Ibn ‘Adi mengakui, pada umumnya, tuduhan yang dilemparkan kepada Jabir, karena ia mempercayai ajaran raj’ah. Jabir ibn ‘Abdil Hamid, misalnya, berkata begini, “Pantang: bagiku meriwayatkan hadits dari Jabir, ia mempercayai rajah” Abu Dawud berkata, tidak ada yang kuat pada hadits Jabir. Walaupun ia meriwayatkan satu hadits tentang sujud sahwi darinya, tetapi ini tidak berlawanan dengan pernyataannya mengenal Jabir. Imam Syafi’i menceritakan bahwa Sufyan ibn ‘Uyainah berkata, “Aku mendengar ucapan Jabir, lalu aku cepat-cepat (bersembunyi), takut kalau-kalau adzab menimpa diriku.” Abu al-Akhqas berkata pula, “Bila aku berjalan bertemu Jabir, aku buru-buru mohon ampun kepada Allah.” Al-Humaydi mengutip Sufyan mendengar seseorang bertanya kepada Jabir tentang firman Allah Aku tidak akan ke luar dari bumi ini (Mesir), sehingga ayahku memberikan izin (QS, Yusuf 12:80). Jabir menjawab, “Itu tidak ada. ta’wilnya.” Menurut Sufyan, tadi Jabir telah berdusta, “Apa maksud kata-kata “Jabir yang tadi itu?,” tanya Humayd. Sufyan lalu menjelaskan, bahwa orang: Rafidhah menganggap ‘Ali berada di langit, yang tak akan ke luar beserta para puteranya yang akan lahir kembali, kecuali setelah, ada panggilan: “Keluarlah kalian beserta si Anu, dari langit!” . Inilah, kata Jabir, ta’wil dari firman Allah di atas. Tentu, riwayat Jabir tidak dapat diterima, karena ia mempercayai raj’ah, dan pendusta. Bahkan dia satu kelompok dengan saudara-saudara Yusuf. Yahya ibn Ya’ia mendengar Zaidah berkata, Jabir al-Ju’fi: itu seorang Rafidhah. Ia memaki sahabat-sahabat Nabi, Al-Humaydi mendengar seorang bertanya kepada Sufyan: “Apakah engkau melihat orang-orang yang menentang perkataan Jabir “Telah bercerita kepadaku washynya para washy?” Sufyan menjawab: “Perkataan itulah yang justru melemahkan Jabir.” Ibn Hibban menilai Jabir pengikut ‘Abdullah ibn saba’. Menurut Jabir, ‘Ali akan kembali ke dunia. Begitu beberapa pendapat tentang Jabir al-Ju’fi. Jika pembaca ingin mengetahui lebih banyak lagi, silahkan membaca buku-buku tentang biografi perawi hadits. Dari pendapat-pendapat yang ada, dapat disimpulkan bahwa Jabir adalah orang Rafidhah, dan pendusta. Tapi anehnya, al-Musawi justru memandang Jabir sebagai seorang salafi, dan pemuka agama yang adil dan tsiqat. ‘Abdurrahman ibn ‘Abdullah al-Zar’i melihat di Rijal al-Syi’ah fi Al-Mizan, al-Musawi mengutip perkataan Jabir yang dikutip dari kitab al-Kafi, jilid 1, h. 2,18: “Kudengar Abu Ja’far as berkata bahwa barangsiapa menganggap dirinya telah mengumpulkan al-Qur’an secara keseluruhan, seperti diturunkan Allah, maka dia pasti berdusta. Sesungguhnya tidak ada orang yang mengumpulkan dan menghafal al-Qur’an secara keseluruhan seperti diturunkan Allah, kecuali ‘Ali ibn Abi Thalib dan para imam sesudahnya.” Dari sini jelas, Jabir seorang pemuka Rafidhah yang meyakini ketidaklengkapan al-Qur’an. Kalau begitu, bagaimana riwayatnya bisa dipandang shahih dan adil? Jawabnya, tentu saja tidak, kecuali oleh orang yang sepaham dan sealiran dengan dia.

c.    Catatan, kritik tajam   Mahmud az Zabby ini bertentangan dengan apa yang diajukan oleh Ayatullah Musawi yang mengutip pandangan penulis Sahih Muslim, dan az Zabby sama sekali tidak membahasnya.  Berbagai tuduhan az Zabby lebih bersifat dia mencari rujukan yang sealiran dengan kepentingan dirinya.  Tuduhan bahwa perawi hadis ini meyakini Al Qur’an tidak lengkap adalah tuduhan yang dipaksakan. Ima Ali dan Imam Ahlul Ba’it secara syar’i merupakan washi Rasulullah, bagaimana seorang muslim dapat menerima pandangan az Zabby jika dia sendiri menolak washi yang diperintahkan oleh Rasulllah sendiri untuk diikuti sebagimana diriwayatkan dalam Hadist Tsaqalain dan al safinah ?

14.    Jarir bin Abdul Hamid adh Dhabi Ibnu Quthaibah dalam al Ma’arif  memasukanya  dalam kelompok syi’ah. Adz Dzahabi dalam al mizan menyebutkan bukhari dan muslim berpegang pada hadistnya. Az Zabby menyebutkan :  bahwa Ibnu Hajar mengemukakan banyak ulama yang meriwayatkan hadist darinya. ’Ammar ibn al Maushuli   berkata haditsnya dapat dijadikan hujjah ’Ali Ibn al Madaini menilai jarir seorang yang rajin  melakukan  sholat lail. Al Nasa’i memandang ia tsiqat. Abul qasim al Uka  memandang keadilanya disepakati ulama. Az Zabby mengatakan ia bukan seorang syi’ah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Di dalam kitabnya Al-Ma`arif, Ibn Qutaybah memasukankan beliau diantara pemuka Syi’ah, sedangkan adz Dzahabi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, menyatakan dia sebagai periwayat yang terdapat dalam Sahih . Dia telah me memuji beliau dengan berkata: “Beliau adalah ulama dari Rayy yang mana banyak penulis hadis bergantung pada penyampaiannya,” disahkan secara  ijma’  bahwa dia  boleh dipercayai. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih Bukhari dan Muslim yang disampaikan melalui A`mash, Mughirah, Mansur, Isma`il ibn Abu Khalid dan Abu Ishaq al-Shaybani. Qutaybah ibn Sa`id, Yahya ibn Yahya dan `Uthman ibn Abu Shaybah semuanya telah menyebutkan hadith dari beliau sebagaimana yang dituliskan di dalam kedua Sahih. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, di Rayy pada tahun 187 H. Ketika berumur 77.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Jarir ibn ‘Abdul Hamid al-Dhabi al-Kufi Tidak benar menganggap Jarir tokoh Syi’ah. Sebab di buku-buku biografi perawi hadits tidak dijumpai pernyataan yang menyatakan demikian atau yang menyatakan Jarir pembid’ah. Bahkan ia termasuk seorang perawi yang disepakati keadilan dan tsiqatnya. Pendapat al-Musawi dalam Dialog Sunnah-Syi’ah, bahwa Jarir adalah tokoh Syi’ah, yang ia kutip dari buku al-Ma’arif karya ibn Quthaibah, tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi dijadikan pegangan menurut ukuran ulama hadits. Berikut ini saya kemukakan beberapa pendapat ulama hadits mengenai Jarir, agar tampak jelas bahwa anggapan al-Musawi itu tidak benar. Kitab-kitab Shahih dan Sunan meriwayatkan hadits dari Jarir, karena ada kesepakatan penilaian bahwa Jarir itu adil dan tsiqat, sehingga haditsnya dapat dijadikan hujjah. Dengan demikian, jelaslah pula kepalsuan dan provokasi yang dilakukan al-Musawi dalam Dialog Sunnah-Syi’ah terhadap Jarir, seorang perawi hadits yang agung, ia dianggap Syi’ah, padahal itu tidak benar. Ibn Hajar,2 ketika melihat banyak ulama meriwayatkan hadits dari Jarir, menilainya tsiqat, perlu didatangi. ‘Ammar ibn al-Maushuli berkata bahwa hadits dari Jarir dapat dijadikan hujjah, dalam beberapa kitab shahih.Perhatikanlah betapa adilnya Jarir ketika ia berkata “Aku melihat dan mengenal ibn Abi Najih, Jabir al-Ju’fi dan ibn Juraij. Tetapi aku tidak menulis sesuatu dari mereka.” Ketika ditanya mengapa ia tidak memanfaatkan mereka. Jarir menjawab, karena Jabir mempercayai raj’ah, Abu Najih penganut paham Qadariyah, sedangkan ibn Juraij menghalalkan kawin mut’ah.’Ali ibn al-Madini menilai Jarir seorang yang rajin melakukan shalat malam. ‘Ajili menyebut Jarir sebagai orang Kufah yang tsiqat. Al-Nasa’i juga memandang dia tsiqat. Menurut Abul Qasim al-Ulka’i, keadilannya disepakati oleh para ulama.

c.    Catatan  Mamud ahmad az Zabby tidak menanggapi hasil pengkajian Ibn Qutaibah.

15.   Ja’far bin Ziyad al Ahmar, Abu Daud menyebutkanya sebagai syiah shaduq begitu pula Ibnu Adi. Turmudzi dan al Nasai berpegang pada riwayatnya, sebagimana disebutkan dalam al Mizan karya adz dzahabi.  Az Zabby menuliskan : Ahmad  menilai haditsnya baik. Ibnu Mu’in,  ja’far seorang yang tsiqat. Tetapi menurut  Muhammad ibn Utsman ibn abi syaibah  dari Yahya, Ja’far seorang syi’ah. Ya’qub ibn Abi Sufyan  memandang Ja’far seorang yang Tsiqat. Abu Zara’ah  memandang ia sangat jujur Ibnu Muhdi  meriwayatkan hadis darinya.  Al Nasa’i  menyebutnya tak ada cela pada diri ja’far.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Abu Dawud telah menyebut beliau dengan berkata: “Beliau adalah seorang Syi’ah yang jujur.” Al-Jawzjani telah berkata: “Beliau telah menyimpang dari jalan,” yang berarti menyimpang dari jalan al-Jawzjani kepada jalan keturunan Rasul [as]. Ibn `Adi telah menerangkan beliau sebagai syi’ha yang wara’. Cucu nya al-Husayn ibn `Ali ibn Ja`fer ibn Ziyad telah berkata: “Datuk saya Ja`fer adalah seorang ketua Shi`a di Khurasan.” Abu Ja`fer al-Dawaniqi meminta ikat leher untuk dipasangkan ke leher beliau dan leher sekumpulan Syi’ah yang lain dan ditarik seperti tawanan; kemudian dia memenjarakan mereka untuk waktu yang lama. Ibn `Ayinah, Waki`, Abu Ghassan al-Mahdi, Yahya ibn Bishr al-Hariri dan Ibn Mahdi semuanya telah menyebutkan hadith dari beliau, dan sebagai penasihat mereka. Ibn Ma`in dan yang lainnya telah menganggap beliau sebagai penyampai hadith Rasul. Ahmad menyatakan hadith beliau sebagai Sahih, dan benar. Adz Dzahabi menyebutnya di dalam Al-Mizan dan menyampaikan apa yang dikatakan diatas, meletakkan tanda keduanya al-Tirmidzi dan al-Nisa’i pada nama beliau sebagai tanda kedua mereka itu bergantung pada beliau. Rujuk kepada hadith beliau seperti yang disebutkan di dalam Sahih mereka melalui orang lain yang sama kalibar. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, pada tahun 167 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Ja’far ibn Ziyad al-Ahmar al-Kufi Menurut Ahmad, hadits Ja’far baik. Sekelompok orang menyatakan, seperti dinukilkan dari ibn Mu’in, bahwa Ja’far tsiqat. Tapi menurut Muhammad ibn ‘Utsman ibn Abi Syaibah dari Yahya, Ja’far seorang Syi’ah. Al-Jauzjani berkata, Ja’far menyimpang jauh dari jalan yang benar. Tapi Ya’qub ibn Abi Sufyan memandang Ja’far orang tsiqat. Menurut Abu Zara’ah, ia sangat jujur. Abu Dawud pun menilainya jujur, walaupun ia seorang Syi’ah. Ibn Muhdi meriwayatkan hadits darinya. Dan kata al-Nasa’i, “Tak ada cela pada, diri Ja’far.” Dengan melihat pendapat-pendapat ulama diatas, tampak nyata kesepakatan ulama mengenai kejujuran Ja’far. Ia seorang Syi’ah, tetapi bukan Rafidhah. Ia pembid’ah yang tidak kafir lantaran bid’ahnya. Ia juga tidak mempromosikan bid’ahnya, juga tidak menghalalkan cara berdusta demi bid’ahnya. Karena itu, tak ada alasan untuk tidak menerima riwayatnya.

16.   Ja’far bin Sulaiman adh Dhab’i al Bisri ( Abu Sulaiman) Ibnu Quthaibah menganggapnya sebagi seorang syi’ah (baca al Ma’arif 206) Ibnu Sa’ad   menganggapnya sebagai  seorang yang berfaham syi’ah dan dapat dipercaya.  Adz Dzahabi menyebutkan dalam almizan. Bahwa muslim berpegang pada haditsnya  seperti yang dijumoai dalam kitab shahih. Az zabby sang polemis menuliskan : Yahya Ibnu Mu’in menganggapnya tsiqah Hammad Ibn Zayd  memandang  tidak terlarang menerima riwayatnya. Meskipun dia syiah dan banyak menceritakan dir Ali bin Abi Thalib. Ibn Adi  mengatakan Ja’far seorang syi’ah tetapi bukan masalah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Ja`fer ibn Sulayman al-Dab`i al-Basri (Abu Sulayman) Pada halaman  206 dari bukunya Ma`arif, Ibn Qutaybah memasukan beliau diantara pemuka Shi`a. Ibn Sa`d telah menyebut beliau dan menekankan bahawa beliau adalah seorang Shi`a dan dipercayai pada menyampaikan hadith. Ahmad ibn al-Miqdam telah menuduh beliau sebagai “Rafidi.” Ibn `Adi telah menyebut beliau dengan berkata: “Beliau adalah Syi`ah. Tidak terdapat kecacatan pada penyampaiannya, hadith beliau tidak dapat disanggah, dan saya menganggap beliau sebagai seorang yang hadithnya boleh diterima.” Abu Talib telah berkata: “Saya telah mendengar Ahmed berkata bahawa tidak ada sebarang kesalahan dengan ahadith yang disampaikan oleh Ja`fer ibn Sulayman al-Dab`i.” Ianya telah dikatakan kepada Ahmed, “Tetapi  Sulayman ibn Harb berkata bahawa dia tidak menuliskan hadith dari al-Dab`i.” Ahmed menjawab dengan berkata bahawa Ibn Harb tidak melarang sesiapa yang hendak menulis hadith dari al-Dab`i, dan bahawa [ibn Harb perjudis adalah kerana] al-Dab`i seorang Shi`a yang menyampaikan ahadith mengenai `Ali ibn Abu Talib.” Ibn Ma`in telah berkata: “Saya telah mendengar cakap-cakap yang tertentu dari `Abdul-Razzaq yang mengesahkan kepercayaannya terhadap madhab’ Shia. Saya berkata kepada dia: “Penasihat kamu, seperti Mu`ammar, Ibn Jurayh, al-Awza`i, Malik, dan Sufyan, semuanya adalah Sunni. Dimana kamu belajar ini [madhab shia]?’ Dia menjawab: ‘Satu hari, Ja`fer ibn Sulayman al-Dab`i melawat kami, dan saya melihat dia sangat mulia, wara’ dan darinya saya belajar madhab ini.’ Pada pendapat saya, Muhammad ibn Abu Bakr al-Muqaddami telah melihat yang sebaliknya! Dia dengan secara terbuka pernah berkata bahawa Ja`fer belajar “Rafidism” dari `Abdul-Razzaq; dari itu, dia pernah mengutuk yang terkemudian dan berkata: “Tiada siapa yang merosakkan kepercayaan Ja`fer selain dari dia [`Abdul-Razzaq].”  Menyebut dari Sahl ibn Abu Khadouthah, al-Aqili telah berkata: “Saya berkata kepada Ja`fer ibn Sulayman: `Saya telah mendengar bahawa kamu mengutuk Abu Bakr dan Umar,’ Dia menjawab: ‘Mengutuk saya tidak pernah lakukan, tetapi membenci, kamu boleh katakan apa yang kamu suka.’ Bergantung pada Jarir ibn Yazid ibn Harun, Ibn Haban telah berkata di dalam Thiqat, “Bapa saya telah menghantar saya kepada Abu Ja`fer al-Dab`i. Saya berkata kepadanya: Saya telah mendengar kamu mengutuk Abu Bakr and `Umer.’ Dia menjawab: `Saya tidak mengutuk mereka. Tetapi jika kamu hendak mengatakan saya bencikan mereka, ikut sukalah,’ dari itu, saya merumuskan bahawa dia adalah Rafidi.” Di dalam biografi Ja`fer di Al-Mizan, al-Thahbi telah memuatkan semua yang diatas dan juga menekankan kepada fakta bahawa beliau adalah seorang yang wara’ ‘alim’ walaupun Shia. Muslim bergantung kepada beliau di dalam Sahihnya, dan menyebutkan sebahagian dari hadithnya yang unik yang tidak diterbitkan ditempat lain, sebagaimana al-Thahbi sendiri telah mengesahkan apabila dia menyampaikan biografi Ja`fer. Rujuk kepada hadithnya di dalam Sahih yang disampaikan melalui Thabit al-Banani, al-Ja`d ibn `Uthman, Abu `Umran al-Jawni, Yazid ibn al-Rashk dan Sa`id al-Jariri. Qatan ibn Nasir, Yahya ibn Yahya, Qutaybah, Muhammad ibn `Ubayd ibn Hasab, Ibn Mahdi dan Musaddid kesemua mereka telah menyampaikan hadith darinya. Sebagai contoh, beliau telah berkata: “Rasul Allah [sawas], telah menghantar satu pasukan tentera Muslim di bawah pemerintahan Ali; dsb.” Hadith lain yang beliau sampaikan: “Apa yang kamu mahu dari `Ali? `Ali adalah dari saya, dan saya adalah dari dia. Dia adalah wali (ketua) selepas saya bagi setiap yang beriman” sebagaimana yang tertulis di dalam Sahih al-Nisa’i’s dan disampaikan melalui Ibn `Adi dari al-Nisa’i. Al-Thahbi telah menyatakan yang diatas ketika membincangkan Ja`fer di dalam bukunya Al-Mizan. Dia meninggal di dalam bulan Rajab pada tahun 178 H; semoga Allah merahmatinya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Ja’far ibn Sulaiman al-Dhab’I Yahya ibn Mu’in menganggap Ja’far tsiqat. Ahmad pun menilai Ja’far tak bercela. Ibn Sa’ad memandang dia tsiqat, tetapi katanya, terdapat kelemahan, yaitu dia bertasyayyu’. Hammad ibn Zayd berkata, “Tidak terlarang menerima riwayatnya, meskipun dia Syi’ah dan banyak menceritakan tentang diri ‘Ali, dan orang Bashrah berlebih-lebihan dalam memuji ‘Ali. Ibn ‘Adi menegaskan: “Ja’far itu orang Syi’ah, tetapi itu bukan masalah. Dia juga meriwayatkan hadits-hadits yang menerangkan keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar, dan hadits-haditsnya tidak ditolak. Menurut pendapatku, dia termasuk orang yang pantas diterima riwayatnya.” Dengan demikian, tidak seorang pun yang menuduh Ja’far pendusta, Rafidhah, atau mengajak kepada bid’ah. Ia hanya dikenal sebagai pengagung ‘Ali, alias bertasyayyu’. Namun ia jujur dan istiqamah. Dan tasyayyu’ bukanlah bid’ah yang menjadikan kafir. Karena itu tidak ada halangan untuk menerima riwayatnya. Atas dasar ini Imam Muslim dan penyusun kitab-kitab Sunan menerima hadits Ja’far.Jadi, Ja’far bukan orang Rafidhah bukan pendusta, dan tidak mempromosikan bid’ahnya. Keterangan tentang ini ada dalam buku Tahdzib al-Tahdzib dan Mizan al-I’tidal. Bagi ibn Hibban, Ja’far seorang tsiqat dalam meriwayatkan hadits. Tetapi diakui, ia gandrung kepada Ahlul Bait. Namun ia tidak mempromosikan bid’ahnya itu. Para ahli hadits dari imam-imam kita, demikian ibn Hibban; tidak berselisih pendapat bahwa orang jujur –jika ia pembid’ah, tetapi tidak mempromosikan bid’ahnya– haditsnya dapat diterima dan dijadikan hujjah.Al-Azdari melihat ada bid’ah dan kejujuran sekaligus pada diri Ja’far. Ada ungkapan “Ja’far memusuhi sebagian ulama salaf, tetapi ia tidak dusta dalam berhadits.”Adapun anggapan al-Musawi dalam Dialog Sunnah-Syi’ah bahwa Ja’far memaki Abu Bakar dan ‘Umar, itu ia kutip dari Mizan secara sepotong-potong supaya sejalan dengan pendapatnya sendiri. Pengutipan seperti itu sama dengan orang yang membaca ayat, fa waylul lil mushallin, tanpa melanjutkan ke ayat al-ladzina hum fi shalatihin sahun. Khadir ibn Muhammad ibn Syuja’ al-Jaziri mengutip ucapan Ja’far. Khadir bertanya kepadanya: “Kami mendengar isu bahwa anda memaki ‘Abu Bakar dan ‘Umar.” Ja’far menjawab, “Aku tidak memaki, tapi hanya membenci”. Wahab ibn Baqiah’ juga berkisah serupa. Ibn ‘Adi mengutip Zakaria al-Saji yang berkata, “Adapun cerita mengenai makian Ja’far kepada Abu Bakar dan ‘Umar, itu tidak dimaksudkan tertuju kepada Abu Bakar dan ‘Umar yang sahabat Nabi. Tetapi ditujukan kepada dua orang tetangga Ja’far. Mereka berdua menyakiti Ja’far. Hanya saja, nama mereka kebetulan sama: Abu Bakar dan ‘Umar.” Lalu ada yang bertanya tentang kedua, insan tadi. Ja’far menjawab, “Saya tidak memaki, tapi hanya membenci.” Jadi yang dibenci Ja’far bukanlah, Abu Bakar dan ‘Umar yang sahabat Nabi. Dalam al Mizan, al-Dzahabi berkata, “Cerita di atas ada, benarnya, sebab terbukti Ja’far banyak meriwayatkan hadits yang, menerangkan keutamaan dan kelebihan Abu Bakar dan ‘Umar. Jadi, Ja’far itu jujur dan polos.”

17.    Jumai’ bin ’Umairah bin Tsahlabah at Tamimi ia disebutkan oleh abu Atim dalam al mizan sebagai seorang yang berasal dari kufah yang baik riwayat hadistnya, yang sudah lama sekali menganut faham syi’ah. Ibnu hibban juga menyebutnya sebagai rafidhi. Turmudzi menilai hadistnya sebagai hasan (baik)  Az Zabby menyebutkan : ia dikenal pula sebagai Taymullah, Imam Bukhari mengatakan dia patut dipertimbangkan. As Saji menyebutkan dia bisa diperhitungkan dan dia itu jujur. Al Ajli menyebutkan , dia tabi’in yang tsiqat.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb  Jami` ibn `Umayrah ibn Tha`labah al-Kufi al-Taymi (Taymullah) Abu Hatim telah menyebut biografi beliau di dalam bukunya Al-Mizan, pada penghujungnya dia mengatakan: “Al-Kufi adalah seorang ternama Shia, yang mana hadith beliau adalah sahih penyampaiannya.” Ibn Haban telah menyebutkan beliau dan berkata sebagaimana yang tertulis di dalam Al-Mizan, bahawa beliau adalah “Rafidi.” Saya katakan bahawa al-`Ala’ ibn Salih, Sadaqah ibn al-Muthanna, dan Hakim ibn Jubayr kesemua mereka telah mendapatkan ilmu pengetahuan dari beliau, sebagai penasihat mereka. Buku Sunan menyebutkan dari beliau tiga kali. Al-Tirmidzi telah menggunakan hadith beliau sebagaimana buku adz Dzahabi  Al-Mizan mengesahkan. Beliau adalah seorang dari tabi`in. Beliau belajar dari Ibn `Umar dan `Aiysah. Satu hadith yang dipelajarinya dari Ibn `Umar mengatakan bahawa dia [Ibn Umer] telah mendengar Rasul Allah berkata kepada Ali: “Kamu adalah saudaraku didunia ini dan juga diakhirat.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Jami’ ibn ‘Umairah ibn Tsa’labah al-Kufi at-Taimy Disebut juga dia Taymullah. Imam Bukhari mengatakan: “Dia patut, dipertimbangkan”. Abu Hatim berkata: “Dia orang Kufah, seorang Tabi’in, dan Syi’ah yang, terhormat. Dia jujur dan baik haditsnya”. Kata ibn ‘Adi: “Dia seperti yang dikatakan Bukhari. Hadits-haditsnya bisa dipertimbangkan. Hadits yang diriwayatkannya umumnya tidak diikuti orang”. Ibn Numair berkata: “Dia seorang yang paling banyak berdusta: Dia pernah berkata: “Sesungguhnya burung jenjang itu beranak di langit, dan anaknya tidak jatuh”. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Kitab adh-Dhu’afa (Kitab Hadits-hadits Dha’if), dengan sanad darinya. Katanya: “Dia itu Rafidhah yang memalsukan hadits”. Adz-Dzahabi berkata: “Dalam kitab-kitab Sunan, ada tiga hadits yang diriwayatkan olehnya, sebagiannya dianggap hasan oleh Tirmidzi”. As-Saji berkata: “Dia memiliki hadits-hadits munkar. Dia bisa diperhitungkan dan dia itu jujur”. Berkata al-Ajli: “Dia tabi’in yang tsiqat”. Dari komentar-komentar para ahli hadits tentang dirinya, nyatalah bahwa Jami’ tidak dikaitkan dengan paham rafadh

18.    Al harsits bin Husairah (Abu Nu’man)  al Azdi. Abu Hatim ar razi menyebutnya sebagai seorang yang sejak lama menganut syi’ah.  Begitu pula adz Dzahabi dalam kitabnya. Nasa’i meriwayatkan dalam hadistnya.  Az Zabby menuliskan dalam bukunya : Yahya Ibn Mu’in menyebut seorang yang tsiqat.  Ibn ”adi hadisnya bisa ditulsi. Al daruquthni mengaku ia sebagai guru syi’ah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb  Al-Harith ibn Hasirah Abul Nu`man al-Azdi al-Kufi Abu Hatim al-Razi menerangkan beliau sebagai seorang terkemuka Shia. Abu Ahmad al-Zubayri telah mengatakan bahawa dari beliaulah kepercayaan boleh kembali semula. Ibn `Adi menyebut beliau dengan berkata: “Hadithnya telah dituliskan walaupun saya telah melihat kelemahan di dalamnya. Beliau adalah seorang Kufi yang akan di bakar di dalam api, kerana kepercayaan Shi’a nya.” Thanij telah berkata: “Saya bertanya kepada Jarir: `Pernahkah kamu bertemu al-Harith ibn Hasirah?’ Dia menjawab, `Ya, sebenarnya, Saya pernah. Saya berjumpa dengan beliau, seorang tua yang duduk diam dikebanyakkan masa, dan dia menekankan kepada sesuatu yang dermawan.’” Yahya ibn Ma`in telah menyebut beliau dan berkata: “Dia boleh dipercayai [walaupun] Khashbi [nama seorang yang menghina dan merendahkan Shi`a, tr.].” Al-Nisa’i, juga, mempercayai beliau. Al-Thawri, Malik ibn Maghul, `Abdullah ibn Namir, dan kumpulan yang mempunyai kalibar yang sama dengan mereka, semuanya telah menyebut dari beliau, oleh kerana beliau adalah penasihat mereka yang mana mereka telah percayai.  Adz Dzahabi telah menyampaikan biograpfi beliau di dalam bukunya Al-Mizan dengan mengatakan semua yang diatas. Rujuk kepada hadithnya di dalam Sunan melalui Zayd ibn Wahab, `Ikrimah, dan kumpulan dari kelas mereka. Al-Nisa’i menyebut `Abbad ibn Ya`qub al-Rawajni yang menyebutkan rantaian penyampai termasuk `Abdullah ibn `Abdul-Malik al-Mas`udi bahawa al-Harith ibn Hasirah, menurut Zayd ibn Wahab, telah menyampaikan bahawa `Ali (as) telah didengar sebagai berkata: “Saya adalah hamba Allah dan adik kepada RasulNya, tiada siapa yang boleh mengatakan yang sedemikian melainkan dia seorang pendusta.” Al-Harith ibn Hasirah menyampaikan melalui Abu Dawud al-Subai`i, melalui `Umran ibn Hasin, yang berkata: “Saya sedang duduk di dalam kehadiran Rasul Allah [sawas], dengan Ali duduk disebelahnya. Rasul Allah [sawas] telah membaca: `Atau siapa lagi [selain dari Allah] yang akan menolong kepada orang yang memerlukan pertolongan, menghapuskan kesusahannya, dan menjadikan kamu pemerintah dibumi?’ `Ali telah tergerak menggeletar dengannya; dari itu Rasul Allah [sawas] telah menepuk bahu Ali dan berkata: ‘Tiada siapa yang mencintai kamu melainkan mereka yang benar-benar beriman, dan tiada siapa yang membenci kamu melainkan yang hipokrit sehinggalah ke hari pengadilan.’” Tradisionists seperti Muhammad ibn Kuthayyir dan yang lainnya telah menyebutkan hadith yang dibacakan diatas dari Al-Harith ibn Hasirah. Al-Thahbi telah menyampaikannya ketika mengatakan biograpfi bagi Nafi` ibn al-Harith melalui rantaian penyampai yang sama. Apabila dia sampai kepada Al-Harith ibn Hasirah, dia komen dengan berkata, “Beliau boleh dipercayai; tetapi beliau adalah juga seorang Rafidi.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Harits ibn Husairah Abu al-Nu’man al-Azdi al-Kufi1 Menurut Yahya ibn Mu’in, Harits seorang Khasyabi yang tsiqat. Namanya ditambah Khasyabah, yang berarti kayu, tiang, yaitu tiang yang dipakai menyalib Zaid ibn ‘Ali Al-Nasa’i juga memandang dia tsiqat, menurut ibn ‘Adi, haditsnya bisa ditulis walaupun dha’if. Yahya termasuk orang kufah yang berlebih-lebihan dalam mengagungkan ‘Ali. Begitu pula kata Abu Hatim al-Razi, Harits seorang Syi’ah tulen. “Kalau al-Tsawri tidak meriwayatkan hadits darinya, tentu haditsnya sudah kubuang jauh-jaub,” tambahnya. Al-Daruquthni mengakui Harits sebagai guru Syi’ah, yang berlebih-lebihan dalam memuji ‘Ali. Tapi al-Ajri menilainya sebagai Syi’i yang sangat jujur. Al-Ajili, al-Numair dan ibn Hibban memandangnya tsiqat. Kesimpulannya, Harits memang seorang Syi’ah. Tetapi ia bukan Rafidhah. Para ahli hadits mengakui ia jujur, tidak berdusta, atau mengajak orang lain mengikuti pahamnya: Karena itu, tidak ada cegahan untuk menerima riwayatnya.

19.    al Harits bin Abdullah al Hamadani ia adalah kaan karib imam Ali bin Abi Thalib termasuk tabi’in yang terhormat. Ibnu Quthaibah menyebutnya sebagai seorang syi’ah. Ibnu Hibban juga berkata demikian.  Adz Dzahabbi mengatakan yang sama dan menyebutkan hadits-hadist yang diriwayatkanya terdapat dalam kitab hadist yang empat.  Termasuk Nasa’i  Az Zabby menuliskan penolakanya yang panjang terhadap hadist beliau keslahanya adalah karena mencintai Imam Ali bin Abi Thalib (yang dalam pandanganya terlalu berlebihan).

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb    Al-Harith ibn `Abdullah al-Hamadani  Beliau adalah seorang sahabat karib kepada Amirul Mukminin [as] dan seorang tabi’in yang terbaik. Beliau seorang Shi`a yang tidak memerlukan kepada sebarang bukti. Beliau adalah yang pertama yang dihitung oleh Ibn Qutaybah di dalam bukunya Ma`arif sebagai pemuka Shi`a. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya  Al-Mizan, mengakui bahawa beliau adalah ulama yang terkenal dikalangan tabi`in; kemudian dia menyebut kenyataan Ibn Haban sebagai berkata bahawa beliau adalah seorang ‘pelampau’ di dalam kepercayaan Shi`a. Selepas itu, dengan banyaknya, dia menyebutkan mengenai ramai manusia yang marah kepada beliau kerana kepercayaan Shi`anya. Walaupun terdapat semua ini, dia juga merakamkan ijmak mereka, bahawa beliau berpengetahuan tinggi, wara’ dan amat memahami mengenai amalan agama. Dia juga mengaku bahawa ahadith yang disampaikan oleh al-Harith terdapat di dalam empat buku Sunan. Dia menyatakan kepada fakta bahawa Nisa’i, walaupun perjudis, telah bergantung dengan kuat pada penyampaian al-Harith, mengakui bahawa manusia umum walaupun memperkecilkan beliau, tetapi terus juga menyampaikan hadith dari beliau di dalam perkara agama, dan namun begitu al-Sha`bi memanggil beliau pendusta, kemudian dia berpaling dan menyebutkan hadith daripadanya!  Adz Dzahabi menyatakan yang berikutnya di dalam bukunya Al-Mizan: “Nyata sekali, al-Nisa’i mendustakan beliau apabila sampai kepada percakapan dan cerita; tetapi apabila beliau menyampaikan hadith, dia mempercayai beliau.” Al-Mizan menyebut Muhammad ibn Sirin sebagai berkata: “Terdapat 5 sahabat Ibn Mas’ud yang terkenal. Saya mengetahui empat dari mereka, tetapi saya tertinggal al-Harith, yang saya tidak pernah jumpa. Dia adalah yang terbaik dari mereka semua.” Terdapat kontroversi yang besar mengenai siapakah yang tiga orang lagi, iaitu Alqamah, Masruq, atau  `Ubaydah, yang terbaik. Saya katakan bahawa Allah telah membolehkan tradisionists yang dipercayai untuk melakukan keadilan kepada al-Sha`bi dan membuktikan dia sebagai pendusta. Ini telah ditunjukan oleh Ibn `Abd al-Birr di dalam bukunya Jami’` Bayanul `Ilm yang menyebutkan kenyataan jujur yang dibuat oleh Ibrahim al-Nakh`i terhadap pembohongan al-Sha`bi, dia menambah secara lisan: “Saya fikir bahawa al-Sha`bi telah menerima pembalasan yang setimpal kerana mengatakan yang berikut mengenai al-Harith al-Hamadani: `Al-Harith, seorang pendusta, memberitahu saya bahawa …, etc.’”[4] Ibn `Abd al-Birr telah berkata: “Al-Harith tidak menunjukkan sebarang tanda sebagai seorang pendusta; sebahagian manusia telah merasa sakit hati terhadap beliau kerana cintanya kepada `Ali yang amat mendalam dan telah mengutamakan Ali dari yang lain. Inilah sebabnya mengapa al-Sha`bi telah mengatakan beliau sebagai pendusta, oleh kerana al-Sha`bi mengutamakan Abu Bakr, dengan mengatakan bahawa Abu Bakar adalah orang yang pertama pada memeluk Islam, dan dia  mengutamakan `Umer, juga.”  Diantara mereka yang dengki terhadap al-Harith adalah Muhammad Ibn Sa`d yang memuatkan biograpfi al-Harith di dalam jilid 6 pada bukunya Tabaqat, mengatakan bahawa al-Harith berkata ‘yang cemar’ Dengan mengatakan ini dia tidak dapat melakukan apa-apa kepada al-Harith, tidak juga kepada pemuka-pemuka Shi`a yang lain, apabila tiba pada ilmu pengetahuan atau keberanian. Perkataan cemar yang dirujuk Ibn Sa`d adalah tidak lain dari bersekutu kepada keturunan Muhammad dan mengambil mereka sebagai petunjuk di dalam semua perkara sebagaimana Ibn `Abd al-Birr telah mengesahkan di dalam kenyataannya diatas. Al-Harith meninggal pada tahun 65 H; semoga Allah merahmati ruhnya

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Harits ibn ‘Abdillah al-Hamadani al-A’war Dalam kitab Shahih, Imam Muslim mengutip Quthaibah dan Jarir yang menceritakan Harits dari Mughirah yang menerima kabar dari Sya’bi. Kesimpulannya, Harits al-A’war pendusta. Menurut Abu Ishaq, Harits itu pendusta. Pendapat serupa dinyatakan oleh Jarir. Amar ibn ‘Ali berkata: “Yahya dan ‘Abdurrahman tidak meriwayatkan hadits dari Harits.” Riwayat dari Yahya ibn Mu’in tentang Harits itu masih kontroversial. Akan tetapi ‘Utsman al-Darimi mengatakan tidak dapat diikuti atau diterima. Abu Zara’ah berkata: “Hadits Harits tidak dapat dijadikan hujjah.” Menurut Abu Hatim, Harits itu lemah, dha’if, ia tidak termasuk orang yang haditsnya dijadikan hujjah.” Kata al-Nasa’i: “Hadits Harits tidak kuat, alias lemah.” Ibn Hajar berkata: “Aku sudah membaca kitab Mizan karya al-Dzahabi. Di situ dikatakan bahwa al-Nasa’i yang sangat kritis terhadap para perawi hadits, menerima dan menjadikan hujjah hadits dari Harits al-A’war. Padahal mayoritas (jumhur) ulama memandangnya dha’if. Namun, walaupun mereka juga meriwayatkan al-A’war itu dusta, tapi mereka meriwayatkan haditsnya. Asy-Sya’bi hanya mendustakan hikayat-hikayat al-A’war, bukan haditsnya.” “Menurut saya,” demikian ibn Hajar, “Imam Nasa’i tidak berhujjah dengan hadits al-A’war. Dalam kitab Sunannya, beliau hanya meriwayatkan satu hadits dari al-A’war. Itu pun disertai sanad lain, yaitu ibn Maysarah. Ada pula hadits lain yang diriwayatkan darinya, yaitu hadits tentang al-yawm wa al-laylah, juga disertai sanad lain. Inilah keseluruhan hadits al-A’war yang ada pada Nasa’i.” Hafidh menyatakan bahwa ibn Hibban dalam kitab shahihnya memasukkan hadits al-A’war sebagai hadits yang dapat dijadikan hujjah. Namun ibn Hajar mengaku tidak menemukan itu pada kitab Shahih ibn Hibban. Ibn Hibban memang meriwayatkan satu hadits melalui sanad Amr ibli Murrah dari Harits ibn ‘Abdillah al-Kufi dari ibn Mas’ud. Jadi lbn Hibban tidak meriwayatkan dari Harits al-A’war, melainkan dari Harits ibn ‘Abdillah. Dan Harits yang terakhir ini memang dipandang tsiqat oleh ibn Hibban. Ibn ‘Adi berkata bahwa pada umumnya riwayat al-A’war tidak digubris orang. Ibn Hibban menyatakan bahwa A’war adalah orang yang berlebih-lebihan dalam memuji ‘Ali atau bertasyayyu’. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ulama hadits sepakat bahwa al-A’war ialah perawi yang dha’if, tidak tsiqat, dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Namun penulis Dialog Sunnah-Syi’ah menganggapnya sebagai salah seorang perawi yang adil dan tsiqat.

20.    Habib bin Abu Tsabit al asdi al Kabili, Ibnu Quthaibah menyebutkanya dalam al Ma’arif sebagai seorang tokoh syi’ah.  Demikian pula asy syahrastani dalam kitabnya al milal wa nihal. Adz Dzahabi menyebutkan ia sebagai perawi hadis yang meriwayatkan dalam ke enam hadist termasuk shahi bukhari dan Muslim. Az Zabby tidak berkomentar banyak dan mengatakan hadisnya diterima di kalangan ahli hadis, selebihnya polemik az zabby dengan syafruddin al musawwi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb    Al-Harith ibn `Abdullah al-Hamadani  Habib ibn Abu Thabit al-Asadi al-Kahili al-Kufi Dia adalah seorang dari tabi`in. Qutaybah, di dalam bukunya Ma`arif, dan Shahristani, di dalam bukunya Al-Milal wal Nihal, keduanya telah memuatkan beliau diantara pemuka Shi`a. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, memberi tanda pada nama beliau dengan petunjuk bahawa pengarang enam Sahih bergantung kepada penyampaian beliau tanpa ragu-ragu. Yahya Ibn Ma`in dan sekumpulan ulama yang lain telah mempercayai beliau.  Bagaimana pun Al-Dawalibi telah mengatakan yang buruk mengenai beliau dan mengkelasifikasinya sebagai ‘lemah’ hanya kerana beliau seorang Shi`a. Apa yang sebenarnya memeranjatkan saya adalah atitiut Ibn `Awn yang tidak dapat mencari sebarang sebab untuk mengadakan keraguan terhadap tradisi Habib, walaupun dia bersungguh-sungguh pada melakukannya; dari itu dia terpaksa memandang rendah kepada beliau dan memanggil beliau ‘peperangan’ ‘bermata-satu’. Kelemahan sebenar sesaorang adalah melakukan dosa dan mengatakan perkataan yang buruk terhadap orang lain, tidak pada kehilangan sebelah mata. Rujuk kepada tradisi Habib di dalam sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disampaikan melalui Sa`id ibn Jubayr dan Abu Wa’il. Hadith beliau yang disampaikan melalui Zayd ibn Wahab telah dirakamkan hanya di dalam sahih Bukhari. Di dalam sahih Muslim, hadith beliau telah disampaikan melalui Muhammad ibn `Ali ibn `Abdullah ibn `Abbas, dan melalui Tawus, al-Dahhak al-Mashriqi, Abu `Abbas ibn al-Sha`ir, Abu al-Minhal `Abdul-Rahman, `Ata’ ibn Yasin, Ibrahim ibn Sa`d ibn Abu Waqqas, dan melalui Mujahid. Di dalam kedua sahih  Misar, al-Thawri, dan Shu`bah telah menyebutkan tradisi beliau. Di dalam sahih Muslim, ahadith beliau telah disebutkan oleh Sulayman al-A`mash, Hasin, `Abdul-`Aziz ibn Sayah dan Abu Ishaq al-Shaybani. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, pada tahun 119 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Hubaib ibn Tsabit al-Asadi al-Kahili al-Kufi  Para ulama sepakat bahwa Hubaib dapat dijadikan hujjah. Mereka hanya menentang tadlis (pencampuradukan) yang dilakukan Hubaib. Tak seorang pun ulama hadits, yang menyatakan Hubaib pembid’ah. Karena itu Imam Bukhari dan Muslim, dan penyusun kitab hadits lainnya meriwayatkan hadits Hubaib. Akan tetapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, begitu antusias meriwayatkan hadits-hadits palsu untuk menguatkan pendapat dan madzhabnya. Begitu juga dia, sangat antusias mencampuradukkan riwayat antara yang haq dengan yang bathil. Karena itu, dia menyebutkan riwayat Quthaibah dan al-Syahristani, dan memandangnya sebagai riwayat yang mu’tamad, dapat dipercaya. Padahal riwayat ini tidak dijumpai dalam buku-buku ahli hadits. Tentu saja hal ini tidak terpisah dari usahanya (al-Musawi) untuk mempromosikan Ibn Qataibah sebagai perawi yang tsiqat, adil dan agung, agar dapat menguatkan madzhabnya, yaitu madzhab Rafidhah. Bersamaan dengan itu ia kecam hadits-hadits dalam buku induk hadits yang enam (Kutubus-Sittah).

21.    Hasan bin Hayy (Saleh) bin Saleh al Hamdani (saudara kembar Ali bin saleh)  adz dzahabi menyebutnya sebagai tokoh yang menganut faham syi’ah Ibn Sa’ad menyebutkanya dalam juz 6 at Thabaqat sebagai orang yang dapat dipercaya dan kuat hadistnya. Ibn Qutaibah menyebutkanya sebagai orang syi’ah. Muslim dan ahli hadis lainya berpegang pada hadis dia. Az Zabby menyebutkan  keterangan yang panjang tetapi tidak menampik pendapat al musawwi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at Al-Hasan ibn Hayy Nama lengkapHayy adalah Salih ibn Salih al-Hamadani, adik kepada `Ali ibn Salih. Kedua mereka dilahirkan kembar dan berada di senarai teratas bagi orang kenamaan Shi`a. `Ali telah dilahirkan satu jam lebih awal. Tiada siapa pernah mendengar adiknya memanggil beliau dengan namanya yang pertama, sebaliknya dia selalu merujuk kepada beliau sebagai “Abu Muhammad.” Ini telah dinyatakan di dalam jilid 6 dari buku Ibn Sa`d Tabaqat, di dalam bab yang mengatakan al-Hasan. Pengarang mengatakan: “Al-Hasan adalah seorang dari kenamaan, tetapi dia telah dijangkiti dengan Shi`ism. Dia telah tidak mengambil bahagian di dalam solat Jum`a, dan dia menyampaikan pada penolakkan pemerintah yang zalim.” Dia juga menyebut kepada fakta bahawa manusia tidak pernah meminta Allah mensejahterakan `Uthman. Ibn Sa`d telah menyebutnya di dalam jilid 6 pada bukunya Tabaqat, dengan mengatakan, “Dia adalah dipercayai; beliau menyampaikan banyak hadith, dan beliau adalah Shi’a.” Imam Ibn Qutaybah telah memuatkan nama beliau diantara nama-nama penyampai hadith yang lainnya di dalam buku Ma`arif, menerangkan bahawa beliau adalah Shi’a. Pada penghujung bukunya, dia menuliskan al-Hasan diantara penyampai yang sedemikian. Muslim dan pengarang buku Sunan, semuanya telah bergantung pada penyampaian beliau. Rujuklah kepada hadithnya di dalam Sahih Muslim seperti yang disampaikan oleh Sammak ibn Harb, Isma`il al-Sadi, `Asim al-Ahwal, dan Harun ibn Sa`d. `Ubaydullah ibn Musa al-`Abasi, Yahya ibn Adam, Hamid ibn `Abdul-Rahman al-Rawasi, `Ali ibn al-Ja`d, Ahmed ibn Yunus dan semua mereka yang intelek, berkalibar dan terkenal telah belajar dari beliau. Di dalam biograpfinya di dalam Al-Mizan, al-Thahbi menunjukkan bahawa Ibn Ma`in dan yang lain telah mempercayai hadith dari beliau. Dia menambah dengan berkata bahawa `Abdullah ibn Ahmed telah menyebutkan dari bapanya sabagai berkata bahawa al-Hasan lebih sahih dari Sharik. Al-Thahbi juga menyatakan bahawa Abu Hatim telah berkata: “Dia dipercayai mempunyai daya ingatan yang baik dan sahih,” dan bahawa Abu Zar`ah telah berkata: “Dia mempunyai di dalam dirinya kesempurnaan, fiqh, wara’ dan zuhud,” dan bahawa Nisa’i telah mempercayai beliau. Dia juga menyebut dari Abu Na`im sebagai berkata: “Saya telah menyebutkan 800 ahli tradisionists; saya tidak menjumpai seorang yang lebih baik dari al-Hasan ibn Salih,” dan bahawa dia juga telah berkata: “saya telah dapati tiada siapa yang tidak bersalah selain dari al-Hasan ibn Salih.” Dia menyebut `Ubaydah ibn Sulayman berkata: “Allah merasa malu untuk mencederakan al-Hasan ibn Salih.” Dia menyebut  Yahya ibn `Ali Bakir meminta al-Hasan ibn Salih: “Terangkan kepada kami bagaimana untuk melakukan mandi jenazah;” dia tidak dapat melakukannya kerana telah dikuasai oleh tangisan. Dia menyebut `Ubaydullah ibn Musa berkata: “Saya pernah membaca al-Quran di kehadiran `Ali ibn Salih. Setelah selesai membaca ayat `Amalkan kesabaran [Wahai Muhammad]!; Kami telah memberikan kepada mereka hanya sampai kepada waktu yang ditentukan,’ adiknya jatuh dan berbunyi seperti lembu yang luka; maka Ali mengangkat beliau, menyapu dan mencuci mukanya dan memegangnya supaya tidak jatuh lagi,” dan bahawa Waki` telah berkata: “Al-Hasan dan `Ali anak kepada Salih dan ibu mereka membahagikan waktu malam diantara mereka tiga bahagian: setiap mereka bergilir pada bahagian mereka dari itu dapat terus berjaga, menghabiskannya di dalam beribadah dan sanjungan. Apabila ibu mereka meninggal dunia, mereka membahagikan kepada dua. Kemudian Ali meninggal, maka al-Hasan tinggal berjaga sepanjang malam beribadah.”  Abu Sulayman al-Darani telah berkata: “Saya tidak pernah melihat sesiapa yang teramat takut dari al-Hasan anak kepada Salih yang berdiri sepanjang malam membaca Bab 78 dari al-Quran dan pengsan bahkan bagun dan terus membaca hingga ke pagi.” Dia dilahirkan, semoga Allah merahmatinya, pada tahun 100 H. Dan meninggal pada tahun 169.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Hasan ibn Shalih ibn Shalih ibn Hayy Abu ‘Abdullah al-Hamadani ats-Tsauri Dalam kitab Mizan, al-Dzahabi. menerangkan bahwa Hasan adalah pembid’ah, mengagungkan ‘Ali (tasyayu’) walau pun tidak ekstrim, dan ia tidak melakukan shalat Jum’at. ‘Abu Nu’aim berkata: “Ketika mendengar sebutan atau nama Ibn Hayy, ats-Tsauri berkata: ‘ia diketahui suka membawa pedang,’ maksudnya untuk memerangi para pemimpin yang lalim.” Ibn Mu’in dan ulama lainnya memandang tsiqat terhadap Hasan. ‘Abdullah ibn Ahmad menegaskan bahwa Hasan lebih baik daripada Syarik. Menurut Abu Hatim, ia tsiqat, hafizh, dan dapat dipercaya. Abu Zara’ah berkata: “Pada Hasan terkumpul sifat-sifat seperti bisa dipercaya, alim fiqh, tekun ibadah, dan asketis.” Dan Imam Nasa’i menyatakan bahwa ia tsiqat. Ibn Sa’ad, berkata: “Hasan adalah nasik (orang yang berjalan menuju jalan Allah), tekun ibadah, ahli fiqh, dan kebanyakan haditsnya, dapat dijadikan hujjah.” Para ahli hadits sepakat bahwa Hasan adalah tsiqat, hafidz, dan terpercaya. Sifat-sifat ini memiliki nilai tinggi dalam ta’dil (penimbangan hadits). Walaupun beberapa persoalan menimpa dirinya, hal ini tidak merusak tsiqat, ‘adalah (keadilan) dan maqbulnya riwayat yang disampaikannya. Ibn Hajar berkata:2 “Para ulama menyaksikan bahwa Hasan diketahui membawa pedang, guna memerangi pemimpin-pemimpin yang menyeleweng. Ini adalah pendapat lama ulama salaf. Sungguhpun demikian ada peristiwa lain yang dapat menghilangkan, sekurang-kurangnya mengurangi citra yang kurang baik pada Hasan, yaitu ketika para ulama menyaksikan Hasan berlaga dalam pertempuran Harurah dan pertempuran Ibn Asy’ats. Peristiwa ini tentu menjadi pelajaran dan renungan bagi orang yang mau berpikir. Adanya kenyataan seperti di atas tidak merusak atau mengurangi kredibilitas seorang yang sudah dipositifkan sifat adilnya, dikenal hafalannya, terpercaya, dan sifat wara’nya yang sempurna. Bahwa Hasan tidak melakukan shalat Jum’at, karena ia berpendapat bahwa seseorang tidak boleh shalat di belakang (bermakmum) imam yang fasiq. Ia menyatakan bahwa kekuasaan imam yang fasiq tidak absah (bathil). Inilah alasan yang dipakai Hasan. Walaupun pendapatnya itu tidak benar, tetapi harus diingat bahwa dia adalah seorang mujtahid. Berita bahwa Hasan tidak melakukan shalat Jum’at datang dari ats-Tsauri ketika murid Hasan menyatakan: “Ibn Mubarak berkata bahwa Hasan tidak melakukan shalat Jum’at. Padahal aku (Abu Nu’aim) menyaksikan Hasan melakukan shalat Jum’at di tempat khusus yang dirahasiakan, dan dilakukan seusai shalat Jum’at yang umum.”

22.   al Hakam bin Utaibah al kufi. Ibnu Quthaibah  menyebutkanya sebagai tokoh yang berfaham syi’ah. Bukhari dan Muslim berpegang kepada haditsnya. Az Zabby mengomentari . bahwa ia memiliki nama lain Abu ’Abdillah dan Abu Umar al kufi.  Ia menuliskan mengutip dari  al awzi, Ibn Muhdi, sebagai tsiqat tsabat. Mengutip dari Ibn Mu’in, Nasai dan Abu Hatim dengan pernyataan yang sama.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at Al-Hakam ibn `Utaybah al-Kufi Ibn Qutaybah telah menunjukkan kepada fakta bahawa al-Hakam ibn `Utaybah adalah seorang Shi`a di dalam bukunya Ma`arif dan menjumlahkan beliau diantara kenamaan Shi`a. Keduanya Bukhari dan Muslim bergantung kepada penyampaian beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih mereka seperti yang disampaikan oleh Abu Jahifah, Ibrahim al-Nakh`i, Mujahid, dan Sa`id ibn Jubayr. Di dalam Sahih Muslim, ianya disampaikan oleh `Abdul-Rahman ibn Abu Layla, al-Qasim ibn Mukhaymarah, Abu Salih, Tharr ibn `Abdullah, Sa`id ibn `Abdul-Rahman ibn `Abzi, Yahya al-Jazzar, Nafi` (hamba Ibn `Umer), `Ata’ ibn Abu Rabah, `Imarah ibn `Umayr, `Arrak ibn Malik, al-Sha`bi, Maymun ibn Mahran, al-Hasan al-`Arni, Mus`ab ibn Sa`d dan `Ali ibn al-Husayn. Di dalam kedua sahihs, hadith-hadith beliau telah disebutkan oleh Mansur, Misar dan Shu`bah. Terutama di dalam Sahih Bukhari, hadith-hadith beliau telah disampaikan oleh `Abdul-Malik ibn Abu Ghaniya. Di dalam Sahih Muslim, hadith-hadith beliau telah disampaikan oleh al-A`mash, `Amr ibn Qays, Zayd ibn Abu Anisa, Malik ibn al-Maghul; Aban ibn Taghlib, Hamzah al-Zayyat, Muhammad ibn Jehada, Mutraf dan Abu `Awanah. Beliau meninggal pada tahun 115 H. Pada umur 65 tahun.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Al-Hakam ibn ‘Utaibah al-Kufi a1-Kindi Hakam dikenal pula dengan nama Abu ‘Abdiflah dan Abu ‘Umar al-Kufi. Hakam di sini bukan Hakam ibn ‘Utaibah ibn Nahhas, salah seorang tabi’in. Beberapa pendapat ulama tentang dirinya dapat dilihat dari keterangan-keterangan berikut.  Al-Awza’i menyatakan bahwa Hakam alim fiqh. Ibn Muhdi berkata: “Hakam adalah tsiqat tsabat (positif tsiqat)”. Ibn Mu’in, Nasa’i dan Abu Hatim menyatakan pula bahwa Hakam tsiqat. Nasa’i menambahkan kata tsabat: Hal serupa dinyatakan oleh ‘Ajili. Katanya lagi: “Hakam memiliki ajaran (sunnah) dan pengikut. Di dalam ajarannya terlihat adanya tasyayyu’; walau tidak terlalu.

23.    Hammad bin Isa Juhani  dikenal sebagai ulama syi’ah,  beliau adalah pengikut setia Imam Ja’far ash Shadiq, telah meriwayatkan dari Imam 70 hadist. Ad Daruqutni meriwayatkan hadisnya.  Az Zabby menuliskan bahwa ia adalah seorang yang shaleh, mengutip dari Ibn Mu’in. Tetapi hadist riwayatnya di dhoifkan oleh Abu Hatim, Al Ajiri, Ibnu Hajar. Dengan alasan ia pengikut Ahlul Ba’it.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at Hammad ibn `Isa al-Jehni  Dia wafat di Juhfa. Abu `Ali telah menyebut beliau di dalam bukunya Muntahal Maqal. Al-Hasan ibn `Ali ibn Dawud meringkaskan artikal tersebut di dalam karangannya Mukhtasar, di dalam bab pada mengatakan biografi orang-orang tertentu, sekumpulan ulama Shi`a dan pengarang biografi dan kamus, telah menganggap beliau sebagai boleh dipercayai, dari pengikut-pengikut para Imam petunjuk [as]. Dia belajar dari Imam al-Sadiq [as], 70 hadith oleh Rasul [sawas], tetapi beliau tidak menyampaikan lebih dari 20 hadith. Dia telah mengarang beberapa buku yang mana diketahui oleh pengikut kepercayaan kami.  Suatu ketika beliau hadir pada Imam Abul-Hasan al-Kazim [as], dan berkata: “Semoga nyawa saya dipertaruhkan untuk kamu! Tolong doakan kepada Allah untuk merahmati saya dengan sebuah rumah, seorang isteri, seorang anak, seorang orang suruhan dan menunaikan haji setiap tahun.” Hammad berkata: “Apabila dia mendoakan untuk saya mengerjakan haji 50 kali, saya telah pasti saya tidak akan hidup lebih dari itu. Saya telah mengerjakan haji tahunan sebanyak 48 kali; ini adalah rumah saya yang dengannya Allah telah merahmati saya; dihujung sana isteri saya disebalik tabir mendengar kepada saya; ini adalah anak saya, dan ini orang suruhan saya; saya telah dirahmati dengan semua ini.”  Dua tahun kemudian, dan setelah mengerjakan haji 50 kali, beliau bersama Abul `Abbas al-Nawfali al-Qasir pada menunaikan haji ke 51 kali. Apabila dia sampai ketempat dimana para jamaah memakai pakaian ihram, dia masuk ke sungai Juhfa untuk mandi, tetapi arusnya telah menghanyutkan beliau, dan dia wafat sebelum dapat mengerjakan hajinya yang ke 51 kali. Kematiannya, semoga Allah merahmati ruhnya, berlaku pada tahun 209 Hij. Tempat lahirnya adalah Kufa, tetapi dia tinggal di Basrah. Dia hidup lebih dari 70 tahun. Kami telah jalankan kajian yang mendalam di dalam biograpfi beliau di dalam buku kami Mukhtasar al-Kalam fi Mu’allifi al-Shi`a min Sadr al-Islam [Sejarah Ringkas Terhadap Pengarang Shi`a Pada Permulaan Islam].  Al-Thahbi telah menyebutkan beliau dan meletakkan “TQ” pada nama beliau sebagai rujukan kepada mereka diantara pengarang Sunan yang telah menyebutkan hadith dari beliau [Tirmithi] dan Daruqutni, dan telah menyebutkan kepada fakta bahawa beliau telah wafat dalam tahun 208 Hij., dan bahawa beliau telah menyampaikan hadith melalui Imam al-Sadiq (as). Pengarang telah menunjukkan rasa benci kepada beliau, dan mengatakan hadithnya sebagai ‘lemah’ dengan tidak ada sebab melainkan bahawa kepercayaannya adalah Shi`a. Aneh sungguh, Daruqutni mengatakan hadith beliau ‘lemah’ pada suatu ketika, sedangkan diketika yang lain menggunakannya sebagai penyampai hadith di dalam buku Sunannya sendiri – beginilah caranya sebahagian dari kelakuan manusia!

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Hammad ibn Isa al-Juhani Ghariq al-Juhfah1 Ibn Mu’in menyatakan Hammad sebagai seorang tua yang saleh. Menurut Abu Hatim, haditsnya dha’if. Al-Ajiri juga memandang dia dha’if dan banyak meriwayatkan hadits munkar. Ibn Hajar berkata: “Hakim dan Naqasyi meriwayatkan dari Ibn Juraij dan Ja’far ash-Shadiq hadits-hadits palsu.” Ad-Daruquthni memandang Hammad dha’if. Ibn Hibban menyatakan seperti yang dikemukakan Hakim dan Naqasyi di atas. Dan ibn Makhul berkata: “Ulama hadits mendha’ifkan hadits-hadits Hammad.” Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa para ahli hadits memandang hadits Hammad lemah atau dha’if, dan tidak dapat dijadikan hujjah. Berbeda dengan kesepakatan ulama hadits, al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, memandang Hammad sebagai salah seorang perawi mereka yang tsiqat. Al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah berkata: “Sungguh mengherankan al-Daruquthni mendha’ifkan hadits Hammad, tetapi ia meriwayatkan dalam kitab Sunannya. Menurut hemat saya, tidak ada yang perlu diherankan. Sebab di kalangan ulama hadits, tidak dipandang berlawanan antara menjatuhkan hukum dha’if terhadap seorang perawi dengan tindakan meriwayatkan hadits-hadits darinya. Maka sering dijumpai hadits seorang perawi ditulis, tetapi tidak dijadikan hujjah. Untuk itu telah terkenal di kalangan ulama hadits kata-kata berikut: yuktabu haditsuhu wa ia yuhtajju bihi, (haditsnya bisa ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah).

c.    Catatan :  Bandingkan dengan pernyataan Musawi yang tidak ditanggapi oleh az Zabby ” Aneh sungguh, Daruqutni mengatakan hadith beliau ‘lemah’ pada suatu ketika, sedangkan diketika yang lain menggunakannya sebagai penyampai hadith di dalam buku Sunannya sendiri – beginilah “

24.    Hamran bin A’yan ( Saudara Zurarah) Keduanya termasuk seorang syiah yang terpercaya, yang menjaga dan mendalami ilmu syari’at pengikut setia  Imam  al Baqir dan ash Shadiq. Ibn Hibban memasukan mereka sebagai orang yang tsiqat. Az Zabby menuliskan dalam bukunya.  Mengutip Al Ajiri  dario Anu dawud yang mengomentari bahwa ia orang syi’ah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at Hamran ibn `Ayinah Beliau adalah adik kepada Zurarah. Keduanya adalah diantara Shi’a yang amat dipercayai, penjaga shari’a, lautan pengetahuan mengenai keturunan Muhammad [as] Mereka adalah pelita di dalam kegelapan dan tungak bagi petunjuk. Mereka selalu bersama Imams al-Baqir dan al-Sadiq (as) dan menikmati status yang mulia pada mata para Imams diantara keturunan Muhammad. Al-Thahbi menyebut Hamran di dalam bukunya Al-Mizan, menandakan nama beliau dengan ‘Q’ untuk menunjukkan siapakah diantara penyusun Sunan yang bergantung kepada penyampaian beliau [i.e. Dar Qutni.] Kemudian al-Thahbi menambah: “Beliau telah menyampaikan hadith dari Abul Tufayl dan lainnya. Hamzah telah membacakan al-Quran kepada beliau, dan beliau sendiri pernah membacanya dengan tepat dan sempurna.” Ibn Ma`in menganggap hadith beliau ‘boleh diabaikan’ sedangkan Abu Hatim menyambutnya sebagai penasihat [mentor]. Sebaliknya Abu Dawud melabel beliau sebagai “Rafidi.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Hamran ibn Ayan al-Kufi, tuannya Bani Syaibah Menurut Ibn Mu’in, hadits Hamran tidak ada nilainya. Abu Hatim berkata: “ia orang tua yang baik”. Al-Ajiri meriwayatkan dari Abu Dawud bahwa Hamran orang Rafidhah. Ahmad berkata: “Ia dan saudaranya penganut Syi’ah.” An-Nasai’i menyatakan ia tidak tsiqat. Menurut ibn ‘Adi, ia bukan orang yang hina. Ibn Hibban memasukkan dia dalam daftar perawi yang tsiqat. Ibn Hibban memang dikenal sebagai orang yang agak gegabah dalam hal ini. Dari perbagai pendapat yang tampaknya kontradiktif itu, terlihat secara jelas kedha’ifan hadits Hamran, dan tidak dapat dijadikan hujjah. Namun demikian al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah memandang dia sebagai perawi yang adil. Tentu saja, karena dia penganut paham Rafidhah.

25.    Khalid bin Mukhallad al Qatwani (abu Haitsam) Disebutkan oleh ibnu sa’ad dalam ath Thabaqat bahwa ia seorang penanganut paham syi’ah. AbuDaud menyebutnya sebagai seorang shaduq. Bukhari dan Muslim berpegang pada hadisnya. Az Zabby dalam bukunya tidak membantah bahkan menegaskan kesyiahan dia dengan mengambil rujukan dari Ibn Hajar.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Khalid ibn Mukhlid al-Qatwani Juga dikenali sebagai Abul-Haytham al-Kufi, beliau adalah seorang dari mentor [penasihat] Bukhari, seperti mana yang terkemudian menyatakan di dalam Sahihnya. Ibn Sa`d menyebutnya pada muka surat 283, Vol. 6, di bukunya Tabaqat, sebagai berkata, “Dia adalah pengikut kuat Shi`a. Dia meninggal di Kufa di dalam pertengahan tahun 213 H. semasa pemerintahan al-Ma’mun. Dia adalah pelampau di dalam kepercayaan Shi`a  dan penulis telah merakamkan fakta ini.” Abu Dawud menyebut beliau dengan berkata: “Beliau adalah benar; tetapi beliau adalah pengikut Shi`ism.” Al-Jawzjani berkata yang berikut mengenai beliau: “Beliau tidak pernah berhenti menolak orang-orang tertentu, secara umum menerangkan kezaliman golongannya.” Al-Thahbi menyampaikan biografi beliau di dalam bukunya Al-Mizan, menyebutkan pandangan keduanya Abu Dawud dan Jawzjani seperti yang tertulis diatas. Bahkan keduanya Bukhari dan Muslim telah bergantung kepada penyampaian di dalam beberapa bab di dalam Sahih-sahih mereka. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih Bukhari seperti yang disampaikan dari al-Mughirah ibn `Abdul-Rahman, dan di dalam Sahih Muslim oleh Muhammad ibn Ja`fer ibn Abul Kathir, Malik ibn Anas, dan Muhammad ibn Musa. Kedua Sahih menyebutkan di Al-Mizan  beliau dari Sulayman ibn Bilal dan `Ali ibn Mushir. Al-Bukhari menyebut hadith beliau di dalam beberapa tempat pada Sahihnya, tanpa merujuk kepada mana-mana rantaian penyampai, menyebutkan dua hadith beliau dari Muhammad ibn `Uthman ibn Karamah. Muslim menyebutkan hadith beliau seperti yang disampaikan oleh Abu Karib, Ahmed ibn `Uthman al-`Awdi, al-Qasim ibn Zakariyyah, `Abd ibn Hamid, Ibn Abu Shaybah, dan Muhammad ibn `Abdullah ibn Namir. Pengarang bagi Sunan semuanya bergantung kepada penyampaian hadith beliau, sedang mereka sedar akan golongannya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi ‘Khalid ibn Mukhallad al-Qathwani ,Ibn Hajar berkata: “Para pemuka dan guru-guru imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Khalid. Imam Bukhari juga meriwayatkan satu hadits darinya”. Menurut al-Ajli, ia tsiqat, tapi bertasyayyu’. Ibn Sa’ad berkata: “ia seorang Syi’ah yang berlebih-lebihan.” Shalih ibn Jazarah berkata: “Khalid itu tsiqat, tapi ia dituduh pemuja ‘Ali yang ekstrim.” Menurut Ahmad Abu Dawud ia jujur, tapi bertasyayyu’. Abu Hatim berkata: “Haditsnya bisa ditulis, tapi tidak dapat dijadikan hujjah.” Ibn Hajar menanggapi pendapat-pendapat di atas. Katanya: “Mengenai tasyayyu’, sudah kukatakan sebelumnya bahwa itu tidak membahayakan, apalagi jika ia tidak mempromosikan bid’ahnya.” Adapun hadits-haditsnya yang munkar, telah diseleksi oleh Ahmad ibn Adi, lalu ia menuturkannya secara sempurna. Dan hadits-hadits yang munkar itu, bukan hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa para ulama telah sepakat akan kejujuran Khalid. Mereka memandang dia bertasyayyu’, tapi bukan rafadh, dan tidak mempromosikan bid’ahnya. Karena itu tidak ada persoalan untuk berhujjah dengan haditsnya. Ini menunjukkan kejujuran ulama Sunni dan komitmen mereka terhadap metoda yang mereka buat dalam penerimaan riwayat.

26.    Daud bin Abu ’Auf (Abbul Jahhaf) Ibn ”Adi menyebutkanya sebagai seorang syi’i  dia menolak periwayatanya karena ia meriwayatkan hadis keutamaan ahlul ba’it. Tetapi Abu daud dan Nasai serta Ahmad dan Yahya berpoegang pada hadistnya. Az Zabby tidak menolak pandangan itu.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Dawud ibn Abu `Awf (Abul-Hijab) Ibn `Adi telah menyebut beliau dengan berkata, “Saya tidak boleh bergantung kepada penyampaiannya disebabkan beliau adalah Shi’a. Kebanyakkan dari hadith yang beliau sampaikan adalah berkenaan kemuliaan Ahl al-Bayt.” Pertimbangkanlah keanehan kenyataan yang sedemikian!! Ya tidak ada apa-apa yang menimpa terhadap Dawud dari Nasibis ini, oleh kerana keduanya Sufyans menyebutkan hadith beliau, sebagai tambahan kepada `Ali ibn `Abis dan lainnya yang tergolong di dalam para elit diantara yang terkemuka. Keduanya Abu Dawud dan al-Nisa’i telah bergantung kepada penyampaian beliau, dan begitu juga Ahmed dan Yahya. Al-Nisa’i telah mengatakan yang berikut mengenai beliau: “Tidak ada apa-apa yang salah pada hadith beliau.” Abu Hatim telah berkata: “Hadith beliau baik.” Al-Thahbi telah menyebutkan testimoni sedemikian di dalam sahihnya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sunan Abu Dawud, di dalam al-Nisa’i’s melalui Abu Hazim al-Ashja`i, `Ikrimah, dan lainnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Dawud ibn Abi’Auf Abul Jahhaf Ahmad dan Yahya memandang Dawud orang yang tsiqat. An-Nasa’i menyatakan, tak ada kelemahan padanya. Menurut Abu Hatim, hadits Dawud baik. Ibn ‘Adi berkata: “Bagiku Dawud bukan termasuk perawi yang haditsnya dapat dijadikan hujjah. Ia orang Syi’ah.” Hadits-hadits yang diriwayatkan Dawud kebanyakan mengenai keutamaan Ahlul Bayt. Setelah kita melihat pendapat ulama di atas, kita menjadi tidak heran mengapa penyusun kitab-kitab Sunan meriwayatkan hadits Dawud. Sebab Dawud bukan pembid’ah yang kafir lantaran bid’ahnya sebagaimana orang Rafidhah, juga bukan orang pembid’ah yang mempromosikan bid’ahnya. Dan para ulama tidak mencap dia sebagai pendusta.

27.   Zahid bin Harits bin Abdul Karim al Yami ( Abu Abdurrahman) adz Dzahabi menyebutkanya sebagai tabi’in yang terpercaya tetapi menganut faham syi’ah.  Bukhari dan Muslim meriwayatkan haidtsnya.  Az Zabby tidak mengomentarinya bahkan tulisnaya justru melengkapi pandangan  dia syi’ah yang dipercaya oleh para ulama penghimpun hadis.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Zubayd ibn al-Harith ibn `Abdul-Karim al-Yami al-Kufi Juga dikenali sebagai Abu `Abdul-Rahman, beliau telah disebutkan di dalam Al-Mizan, al-Thahbi dimana pengarang telah berkata: “Beliau adalah tabi’I yang dipercayai dan condong kepada Shi’a.’ Kemudian dia menyebutkan kenyataan untuk membuktikan bahawa hadith Zubayd telah disahkan oleh al-Qattan, dan bahawa terdapat pengkritik dan penilai terkenal yang menganggap beliau sebagai bekepercayaan. Abu Ishaq al-Jawzjani telah menulis perkataan yang menghina mengenai beliau, itu memang khusus terhadap atitiutnya  dan juga Nasibis yang lainnya, telah mengatakan:- “Diantara penduduk Kufa, terdapat sekumpulan yang kepercayaan mereka tidak diterima [oleh Nasibis], malah mereka adalah ahli hadith. Diantara mereka adalah: Abu Ishaq, Mansur, Zubayd al-Yami, al-A`mash dan lainnya. Manusia telah menerimanya dengan tiada sebab selain dari kebenaran mereka di dalam menyampaikan hadith, dan penyampaiannya telah mengesahkan kepada kesahihan hadith dari satu dengan yang lainnya,’ sehinggalah kepada penghujung kenyataan yang mana kebenaran telah memaksa dia untuk mendedahkannya. Kerap kali kebenaran telah diperkatakan oleh mereka yang berfikiran waras sebagaimana ianya juga diperkatakan oleh mereka yang degil dan keras hati. Bencana apakah yang boleh sampai kepada tunggak pengetahuan yang mulia ini, ahli hadith dalam Islam, jika kritik yang sedemikian tidak menghargai pandangan mereka yang tinggi terhadap kerabat rasul yang suci, yang menjadi pintu keampunan, penyelamat semua makhluk dimuka bumi ini selepas Rasul [sawas] sendiri, bahtera keselamatan ummahnya? Bencana apa yang dapat menimpa mereka dari kritik yang sedemikian yang tidak mempunyai pilihan melainkan pada meneruskan pencarian, sehinggalah sampai kemuka pintu rumah mereka, dan tanpa pilihan memohon pertolongan mereka? Jika pemuka-pemuka kaum saya senang dengan saya Maka biarlah penjenayahnya bergeseran dan meradang Penyampai yang begini tidak memberikan sebarang perhatian kepada al-Jawzjani atau yang lainnya seperti dia, setelah beliau dianggap berkepercayaan oleh pengarang buku-buku Sahih dan Sunan. Rujuk kepada hadith Zubayd di dalam keduanya iaitu Sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disampaikan oleh Abu Wa’il, al-Sha`bi, Ibrahim al-Nakh`i, dan Sa`d ibn `Ubaydullah. Hanya Bukhari menyebut hadith beliau melalui Mujahid. Di dalam Sahih Muslim hadith beliau telah disampaikan oleh Murrah al-Hamadani, Muharib ibn Dithar, Ammarah ibn `Umayr, dan Ibrahim al-Taymi. Hadith beliau yang disebutkan di dalam kedua Sahih seperti yang disampaikan oleh Shu`bah, al-Thawri, dan Muhammad ibn Talhah. Di dalam Sahih Muslim hadith beliau telah disampaikan oleh Zuhayr ibn Mu`awiyah, Fadil ibn Ghazwan, dan Husayn ibn al-Nakh`i. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, pada tahun 124 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Zubayd ibn Harits ibn ‘Abdil Karim al-Yami Menurut al-Qaththan, Zubayd itu terpercaya. Ibn Mu’in, Abu Hatim dan an-Nasa’i memandang dia tsiqat. Ya’qub ibn Sufyan berkata: “ia tsiqat, namun ia cenderung pada tasyayyu’”‘. Menurut ibn Sa’ad, ia tsiqat dan memiliki beberapa hadits. Ia tergolong seorang Syaikh, walau ia tidak banyak memiliki hadits. Ia seorang ‘Alawi (orang yang berpihak pada ‘Ali atau memandang kebenaran di pihak ‘Ali dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah). Dalam kitab Tarikhnya, Imam Bukhari berkata: “‘Umar ibn Murrah menyatakan bahwa Zubayd orang yang jujur.” Ibn Hibban menyatakan dalam ats-Tsiqaat: “ia seorang yang banyak ibadahnya, berpegang kuat pada ketentuan fiqh, dalam agama, dan ia dikenal sangat wira’i.” Ulama jarh wat-ta’dil sepakat bahwa Zubayd adalah adil, tsiqat, dan kuat ingatan. Karena itu, para penyusun buku-buku induk hadits meriwayatkan haditsnya, walaupun Ya’qub ibn Sufyan –setelah memandang Zubayd tsiqat– berkata: “Hanya saja ia cenderung pada tasyayyu’”‘. Pernyataan itu tidak mengurangi keadilan dan tsiqat Zubayd. Sebab yang dimaksud tasyayyu’ di sini, seperti sudah saya jelaskan, ialah kecenderungan (pemihakan) kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertentangannya dengan Mu’awiyah. Ini jelas menunjukkan kejujuran atau objektifitas ulama Sunni, karena terbukti mereka tidak menggugurkan keadilan Zubayd hanya karena dia orang Syi’ah. Mengenai perkataan Abu Ishak al-Juzjani tentang Zubayd tidaklah diperhitungkan oleh ulama Sunni, sebab menurut pengamatan ulama hadits, ia pembid’ah. Perkataan-perkataannya mengenai Zubayd tidak dapat dijadikan hujjah, sebab penilaian pembid’ah terhadap pembid’ah lain tidak ada artinya

28.   Zaid ibn Habbah Abul Hasan at Tamimi . Ibnu Qutaibah dan Adz Dzahabi menyebutnya sebagai seorang syi’ah yang tekun beribadah  terpoercaya dan benar dalam ucapanya.  Muslim meriwayatkan hadist darinya. Az Zaby  tidak berklomentar banyak dia hanya menambah ulasan al Musawi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Zayd ibn al-Habab, Abul-Hasan al-Kufi al-Tamimi Ibn Qutaybah telah memuatkan biograpfi beliau diantara biografi mereka yang dia telah jumlahkan diantara pemuka Shi’a di dalam hasil kerjanya Al-Ma`arif. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, menerangkan beliau sebagai wara’, berkepercayaan, dan benar. Dia menunjukkan beliau telah dikatakan sebagai berkepercayaan oleh Ibn Ma`in dan Ibn al-Madini. Dia juga menyebutkan Abu Hatim dan Ahmed, menerangkan beliau sebagai benar, menambah bahawa ‘Adi telah berkata: “Beliau adalah seorang tradisionists Kufi yang dipercayai, yang mana kepercayaan kepadanyanya tidak diragukan.” Muslim telah bergantung kepada penyampaiannya. Rujuk kepada Sahih Muslim yang mengandungi hadith beliau seperti yang disampaikan oleh Mu`awiyah ibn Salih, al-Dahhak ibn `Uthman, Qurrah ibn Khalid, Ibrahim ibn Nafi`, Yahya ibn Ayyub, Saif ibn Sulayman, Hasan ibn Waqid, `Ikrimah ibn `Ammar, `Abdul-`Aziz ibn Abu Salma, dan `Aflah ibn Sa`id. Hadith beliau telah disebutkan oleh Ibn Abu Shaybah, Muhammad ibn Hatim, Hasan al-Hulwani, Ahmed ibn al-Munthir, Ibn Namir, Ibn Karib, Muhammad ibn Rafi`, Zuhair ibn Harb, dan Muhammad ibn al-Faraj.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Zaid ibn Habbab Abul Hasan al-Kafi al-Tamimi Menurut adz-Dzahabi, Zaid adalah orang yang tekun beribadah. Ia tsiqat, jujur dan banyak melawat (mencari hadits). Ibn Mu’in dan Ibn al-Madini, juga memandang dia tsiqat. Penilaian yang sama diberikan oleh Abu Hatim dan Ahmad ibn Hanbal. Jadi jelas bahwa Zaid bukan pembid’ah dan bukan pula pendusta. Karena itu, sebagian ahli hadits meriwayatkan haditsnya. Mengenai klaim Ibn Quthaibah bahwa Zaid orang Syi’ah, kami tidak menemukan hal tersebut dalam buku-buku biografi perawi. Kalau pun klaim itu benar, hal itu tidak mengurangi nilai tsiqat dan kejujuran Zaid. Sebab anda sudah paham tentang apa yang dimaksud tasyayyu’ di kalangan ulama hadits

29.    Salim bin Abil Ja’d al Asyja’I, Ibnu Qutaibah dan Syahrastani memasukanya dalam tokoh syi’ah. Adz DZahabi menyebutkanya sebagai tokoh terpercaya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits darinya.  Az Zabby sang polemis tidak berkomentar banyak dia hanya menambah ulasan al musawi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :.Salim ibn Abul Ja`d al-Ashja`i al-Kufi Beliau adalah adik kepada `Ubayd, Ziyad, `Umran, dan Muslim, anak lelaki Abul-Ja`d.  Di dalam jilid 6 dari Al-Tabaqat, Sa`d menyebut kesemua mereka pada muka surat 2303 dan pada muka surat seterusnya. Apabila dia sampai kepada Muslim, dia berkata, “Abul-Ja`d mempunyai 6 orang anak lelaki. Dua darinya mengikuti Shi`ism. Mereka adalah Salim dan `Ubayd. Dua yang lain adalah Murji’is, sedang yang selebihnya adalah Kharijites. Bapa mereka pernah berkata: `Apa kena dengan kamu semua? Saya hairan mengapa Allah menjadikan pandangan kamu berbeza amat sangat.’” Ibn Qutaybah telah membincangkannya pada muka surat 156 dari bukunya Ma`arif di dalam bab pada memperkatakan tabi`in Shi`a dan penggantian mereka. Sekumpulan ulama telah mengesahkan pandangan Salim ibn Abul-Ja`d kepada Shi’a. Qutaybah, pada muka surat 206 dari bukunya Ma`arif, telah memuatkannya diantara pemuka Shi`a, dan begitu juga al-Shahristani di dalam kerjanya Al-Milal wal Nihal di muka surat 27, Vol. 2, di dalam notakaki pada bab mengenai Ibn Hazm. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, mengatakan beliau sebagai tabi’I yang berkepercayaan. Dia juga mengatakan bahawa hadith beliau dari al-Nu`man ibn Bashir dan Jabir telah terjumlah di dalam kedua Sahih. Yang sebenarnya hadith beliau dari Anas ibn Malik dan Karib, telah terjumlah di dalam kedua Sahih sebagaimana ulama hadith telah sedia mengetahui. Al-Thahbi mengatakan bahawa hadith beliau dari `Abdullah ibn `Umer, dan dari Ibn `Umer, terdapat di dalam Sahih Bukhari. Yang terkemudian juga mengandungi hadith beliau dari Ma`dan ibn Abu Talha dan dari bapa yang terkemudian. Hadith beliau telah disebutkan di dalam kedua Sahih oleh al-A`mash, Qatadah, `Amr ibn Murrah, Mansur, dan Hasin ibn `Abdul-Rahman. Dia juga mengetahui hadith yang disebutkan oleh al-Nisa’i dan Abu Dawud di dalam Sunan mereka. Dia meninggal; sama ada pada tahun 87 atau 97 H. semasa pemerintahan Sulayman ibn `Abdul-Malik, atau, sebagaimana sebahagian mereka mengatakan semasa `Umer ibn `Abdul-`Aziz, dan Allah Maha Mengetahui

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Salim ibn Abil-Ja’d al-Asyja’i al-Kufi Menurut adz-Dzahabi, Salim adalah seorang tabi’in yang tsiqat. Ibn Mu’in, Abu Zara’ah dan an-Nasa’i juga memandang ia tsiqat. Ibn Sa’ad berkata: “Salim orang tsiqat, dan ia memiliki banyak hadits.” Al-Ajli menyatakan bahwa ia seorang tabi’in yang tsiqat. Dan menurut Ibrahim al-Harabi, para ahli sepakat bahwa ia tsiqat. Para ulama hadits sepakat mengenai sifat adil dan tsiqatnya Salim. Oleh karenanya, sebagian ulama hadits meriwayatkan hadits daripadanya. Mengenai perkataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah yang diterima dari ibn Quthaibah dan asy-Syahristani, kami menolaknya seperti penolakan pada keterangan sebelumnya (lihat keterangan mengenai perawi ke-28).

30.   Salim bin Abi Hafsah al Ijli Syahrastani menyebutkanya sebagai tokoh syi’ah pentingdemikian pula al Fallas, Ibn ‘Adi dan  Muhammad bin Basyir al Abdil. Ibn Sa’ad menyebutkanya sebagai penganut syi’ah.  Adz Dzahabi menyebutkanya Turmudzi, Ibn Mu’in dan Sufyan serta Muhammad bin Fudhail  meriwayatkan hadistnya. Az Zabby dalam bukunya mendo’ifkan hadis-hadis nya dengan alas an Turmudzi hanya mengambil satu hadis darinya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Salim ibn Abu Hafsah al-`Ijli al-Kufi Al-Shahristani memuatkannya di dalam buku Al-Milal wal-Nihal diantara pemuka Shi`a. Al-Fallas berkata: “Beliau adalah tradisionist yang ‘lemah’ yang melampau di dalam kepercayaan Shi`a.” Ibn `Adi berkata: “Manusia mengkritik terhadap ekstremnya, tetapi saya harap tidak ada apa-apa kesalahan pada hadithnya.” Muhammad ibn Bashir al-`Abdi berkata: “Saya telah melihat Salim ibn Abu Hafsah seperti orang yang dungu dengan janggut yang panjang – wahh janggutnya! Dia berkata: Saya harap saya adalah rakan Ali di dalam apa sahaja yang dipunyainya.’”  Al-Husayn ibn `Ali al-Ju`fi telah berkata: “Saya telah melihat Salim ibn Abu Hafsah seperti orang dungu dengan janggut yang panjang yang selalu akan berkata, ‘Kini saya datang, Wahai pembunuh Na’thal, pembasmi Banu Umayyah!’” `Amr ibn al-Salim ibn Abu Hafsah bertanya kepadanya : “Adakah kamu membunuh `Uthman?” Dia menjawab: “Adakah saya?!” `Amr berkata “Ya, kamu lakukan. Kamu tidak mengutuk pembunuhnya.” Abu ibn al-Madini telah berkata: “Saya telah mendengar Jarir berkata, `Saya memutuskan persahabatan saya dengan Salim ibn Abu Hafsah kerana dia selalu mempertahankan Shi`as.’” Al-Thahbi mempunyai biografi beliau yang khusus, menyebutkan semua yang diatas. Pada muka surat 234 dari Vol. 6 pada Tabaqat, Ibn Sa`d menyebut beliau dan berkata: “Dia amat kuat berpegang kepada kepercayaan Shi`a. Dia memasukki Mekah semasa pemerintahan `Abbasid dan melaungkan, `Ini saya datang, ini saya datang, Wahai pembunuh Omayyads!’ Suaranya agak lantang juga, sehinggakan laungannya telah didengari oleh Dawud ibn `Ali yang bertanya: `Siapakah orang itu?’ Manusia memberitahunya bahawa itu adalah Salim ibn Abu Hafsah, dan mereka menjelaskan cerita dan pandangannya.” Al-Thahbi telah menjumlahkan biografi dia di dalam bukunya Al-Mizan memberi komen, “Dia adalah ketua bagi mereka yang memandang rendah kepada Abu Bakr dan `Umer.” Walaupun dengan semua itu, keduanya, Sufyans menyebut hadith darinya dan begitu juga Muhammad ibn Fudayl, sedang al-Tirmidzi telah bergantung kepada penyampaiannya dan Ibn Ma`in telah menganggap dia sebagai boleh dipercayai. Dia meninggal pada tahun 137 A.H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Salim ibn Abi Hafshah al-Ajli al-Kufi Al-Fallas berkata: “Salim itu dha’if, ia berlebih-lebihan dalam tasyayyu’”‘. Tidak benar jika ada pendapat yang menyatakan bahwa Ibn Mu’in memandang ketsiqatan Salim secara mutlak. Dalam hal ini, pernyataan ibn Mu’in agak kontradiktif. Kepada ad-Duri, ia berkata bahwa Salim orang Syi’ah. Sementara Ibn Ishaq meriwayatkan dari Ibn Mu’in bahwa Salim adalah tsiqat. Menurut Abu Hatim, ia orang Syi’ah tulen. Haditsnya dapat ditulis, tapi tidak dapat dijadikan hujjah. Hajjaj ibn Minhak menyatakan bahwa ia termasuk pelopor yang mendiskreditkan Abu Bakar dan ‘Umar. Ibn ‘Adi berkata: “Salim memiliki banyak hadits. Hadits-hadits yang diriwayatkannya kebanyakan mengenai keutamaan Ahlul Bayt. Ia termasuk orang Syi’ah Kufah yang berlebih-lebihan. Kelemahannya yang utama adalah sikap yang, berlebih-lebihan itu. Mengenai hadits-haditsnya, saya kira tidak ada masalah.” Pada umumnya ulama hadits mengecam Salim. Ia tidak tsiqat. Karena itu, ashabus-Sunan tidak meriwayatkan haditsnya, kecuali Imam Turmudzi. Ia meriwayatkan satu hadits darinya dalam al-Mutaba’at wa sy-Syawahid. Periwayatan Turmudzi ini tidak berarti Salim itu tsiqat. Sebab kadang-kadang ada hadits yang ditulis, tapi tidak dijadikan hujjah

31.    Sa’ad bin Tharif al iskaf al Hadhali  Adz Dzahabi menuliskan riwayatnya lemah dan ia penganut syi’ah, tetapi turmudzi meriwayatkan hadis darinya. Az Zabby tidak menulis terlampau panjang, hadist dia didhoifkan oleh para ulama hadis.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sa`d ibn Tarif al-Iskafi al-Hanzali al-Kufi Al-Thahbi menyebut beliau, menandakan namanya dengan TQ sebagai rujukan kepada pengarang Sunan yang menyebutkan darinya (i.e. al-Tirmidzi and Dar Qutni). Al-Thahbi juga menyebut al-Fallas sebagai berkata bahawa Sa`d adalah  “lemah, pelampau di dalam kepercayaan Shi`a.” Walaupun beliau adalah ‘ekstrimis Shi’a’ al-Tirmidzi dan yang lainnya menyebut hadith darinya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih al-Tirmidzi seperti yang sampaikan oleh `Ikrimah dan Abul-Wa’il. Beliau juga menyampaikan hadith seperti yang disampaikan oleh al-Asbagh ibn Nabatah, `Uman ibn Talhah dan `Umayr ibn Ma’mun. Isra’il, Haban dan Abu Mu`awiyah semuanya menyebut dari beliau

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Sa’ad ibn Tharif al-Iskafi al-Handhali al-Kufi Sungguh mengherankan mengapa al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah memandang Sa’ad itu tsiqat. Padahal semua ulama hadits sepakat bahwa ia dha’if, dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah.

c.    Cataan al Musawi  sebetulnya hanya menuliskan bahwa perawi tersebut telah ditsiqatkan oleh perawi ahlu sunnah sendiri. Bandingkan pernyataan antara keduanya (Musawi dan az zabby)

32.    Sa’id bin Asywa Adz Dzahabi menyebutkanya sebagai hakim kota kufah terpercaya dan terkenal. Bukhari dan Muslim berpegang pada riwayat haditsnya. Az Zabby dalam bukunya tidak menolak pandangan al Musawi dia justru berpolemik dengan ulama terdahulu yang menolak riwayatnya dengan berpegang pada argument Muslim dan Bukhori.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sa`id ibn Ashwa` Beliau telah disebut di dalam buku al-Thahbi, Al-Mizan dimana pengarang telah berkata: “Sa`id ibn Ashwa` adalah kadi Kufa yang jujur dan terkenal. Al-Nisa’i berkata bahawa tidak terdapat kesalahan pada hadith beliau, dan bahawa beliau adalah sahabat al-Sha`bi. Al-Jawzjani menerangkan beliau sebagai pelampau, menyimpang dan fanatik Shi’a.”  Keduanya al-Bukhari and Muslim bergantung kepada penyampaiannya di dalam Sahih mereka. Hadithnya dari al-Sha`bi telah dianggap sebagai sahih oleh pengarang kedua buku Sahih. Di dalam kedua buku Sahih Bukhari dan Muslim, hadith beliau telah sebutkan oleh Zakariyyah ibn Abu Za’idah dan Khalid al-Haththa’. Dia meninggal semasa pemerintahan Khalid ibn `Abdullah.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Sa’id ibn’Amr ‘ibn Asywa’ al-Kufi Sa’id termasuk salah seorang faqih. Ibn Mu’in Nasai, al-Ajli dan Ishak ibn Rahawaih memandang dia tsiqat. Abu Ishak al-Jauzjani memandang dia orang Syi’ah yang berlebih-lebihan. Ibn Hajar berkata: “Al-Jauzjani berlebihan (tidak obyektif) dalam menilai Sa’id. Bukhari dan Muslim menolak penilaian al-Jauzjani. Mereka menyatakan hadits Sa’id dapat dijadikan hujjah. Imam Turmudzi meriwayatkan dua hadits darinya. Yang satu disertai sanad lain. Dari sini jelas bahwa Sa’id dipandang adil dan tsiqat oleh ulama hadits. Mereka tidak ada yang meragukan sifat adil dan kejujuran Sa’id. Mengenai penilaian al-Jauzjani, sudah berkali-kali saya terangkan bahwa ia ahli bid’ah. Karenanya, kesaksiannya terhadap pembid’ah selainnya tidak dapat diterima

33.  Sa’id bin Khaitsam al Hilali. Yahya bin Mu’in  berpendapat, meskipun ia seorang syiah , namun ia adalah seorang yang terpercaya.  Adz Dzahabi menyebutkan Turmudzi dan an Nasa’I meriwayatkan hadistnya.  Az Zabby tidak menolak dalm bukunya alih-alih mendukung pandangan al musawi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sa`id ibn Khaytham al-Hilali Ibrahim ibn `Abdullah ibn al-Junayd telah ditanya: “Sa`id ibn Khaytham adalah seorang Shi`a. Apa fikiran awak mengenai dia?” Dia menjawab: “Katakanlah bahawa dia adalah Shi`a, tetapi dia juga boleh dipercayai.” Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, menyebut dari Ibn Ma`in yang menyampaikan juga percakapan  yang telah dicatitkan diatas. Dia juga menandakan nama beliau dengan singkatan nama keduanya al-Tirmidzi dan al-Nisa’i untuk menunjukkan bahawa kedua pengarang menyebut hadith beliau di dalam Sahih mereka. Dia juga menyatakan fakta bahawa Sa`id membacakan hadith dari Yazid ibn Abu Ziyad dan Muslim al-Malla’i. Sepupunya, Ahmed ibn Rashid, juga menyampaikan hadith beliau.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Sa’id ibn Khaytsam al-Hilaly Ibn Mu’in dan al-Ajili memandang Sa’id sebagal orang yang tsiqat. Abu Zara’ah dan Nasa’i berkata: “Tak ada bahaya pada dirinya.” Ulama hadits tidak ada yang mengungkapkan adanya halangan (mani’) pada diri Sa’id untuk diriwayatkan hadits-haditsnya. Mengenai tasyayyu’ yang dituduhkan kepadanya oleh ibn Mu’in, tidaklah mengurai sifat adil Sa’id. Hal ini menunjukkan tasyayyu’ yang dilakukan Sa’id tidak melewati batas atau sampai pada tingkat rafadh. Ini benar-benar menunjukkan obyektivitas ulama Sunni. Karena itu, sebagian dari Ashabus-Sunan meriwayatkan hadits Sa’id.

34.    Salamah Ibnul Fadhl al Abrasy (hakim kota Rayy)  Beliau adalah perawi peristiwa peperangan dalam kitab Ibn Ishaq, menurut Ibn Mu’in ia penganut paham Syi’ah. Adz Dzahabi menyebutkan Abu Daud dan Turmudzi meriwayatkan hadisnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Salamah ibn al-Fudayl al-Abrash Beliau adalah kadi Rayy dan penyampai tradisi berkaitan kepada peperangan yang mana Rasul [sawas] mengambil bahagian, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Ishaq. Kunyat (surname) beliau Abu `Abdullah. Di dalam biografinya pada Al-Mizan, Ibn Ma`in berkata: “Selamah al-Abrash al-Razi adalah berkepercayaan Shi`ism dan seorang yang hadithnya selalu disebutkan, dan tidak terdapat kesalahan pada hadithnya.” Abu Zar`ah telah juga berkata di dalam Al-Mizan bahawa orang asal Rayy tidak suka kepadanya kerana pandangan agamanya. Yang sebenarnya itu adalah atitiut mereka disebabkan pandangan mereka mengenai semua pengikut keturunan Rasul [sawas]  Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, menandakan nama beliau dengan singkatan nama Abu Dawud dan al-Tirmidzi dan berkata : “Dia telah diingati kerana ibadah dan doanya.” Dia meninggal pada tahun 191.H. Ibn Ma`in mengesahkan fakta bahawa hadith yang berkaitan dengan ekpedisi ketenteraan Rasul sebagaimana yang disampaikan oleh Selamah adalah lebih dipercayai dari yang lainnya. Zanih telah disebutkan sebagai berkata bahawa dia telah mendengar Selamah al-Abrash berkata bahawa beliau telah mendengar hadith mengenai ekspedisi itu dari Ishaq dua kali, dan bahawa dia telah menulis hadithnya seperti yang dia telah lakukan terhadap ekspedisi tersebut.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . Salamah ibn ‘al-Fadh al-AbrasyIa adalah kadi di kota Ray. Ia banyak meriwayatkan hadits mengenai peperangan dari Ibn Ishak. Namun Nasa’i dan Rahawaih mendha’ifkannya. Imam Bukhari berkata: “Salamah memiliki banyak hadits munkar. Kami tidak akan keluar dari kota Ray sebelum membuang haditsnya”. Berkata Abu Zara’ah: “Penduduk Ray kurang simpati kepada Salamah, karena buruk pendapatnya dan lalim (perbuatannya). (Abu Zara’ah menunjuk pada mulutnya, suatu isyarat bahwa Salamah pendusta). Menurut Abu Hatim hadits Salamah tak dapat dijadikan hujjah. Ibn Sa’ad berkata: “Salamah itu tsiqat dan jujur.” Turmudzi berkata: “Ishak banyak bercerita tentang dia.” Menurut al-Ajri dari Abu Dawud, ia tsiqat. Ibn Khaldun menyebutkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya mengenai dia, lalu ia berkata: “Aku tidak mengetahui (mengenal diri Salamah) kecuali kebaikan.” ibn Mu’in berkata: “Salamah al-Abrasy itu bertasyayyu’. Haditsnya dapat ditulis, dan tidak ada pengaruh buruk.” Dari keterangan di atas, nyatalah bahwa-para ulama berbeda pendapat mengenai Salamah al-Abrasy. Sebagian dari mereka memandangnya adil, sementara sebagian lainnya memandangnya tercela. Namun di sini dimenangkan pendapat ulama yang kedua, karena data dan informasinya yang lebih lengkap, serta jumlah mereka lebih banyak pula. Dengan begitu pendapat ulama yang pertama, yang menyatakan Salamah adil, hanya dihubungkan dengan peristiwa Salamah yang bersumber dari Ibn Ishak saja. Wallahu a’lam

35.   Salamah bin Khubail bin Hushain al Hadhrami (Julukanya Abu Yahya) Ibn Qutaibah dan Syahrastani menyebutkanya bahwa ia seorang syi’ah. Riwayat hadisnya terdapat di kitab-kitab haids shahih  (Ash Shihah as sittah)  Az Zaby tidak menolak pandangannya  bahkan ia menyebvutkan nama-nama ulama yang mentsiqah kanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Selamah ibn Kahil ibn Hasin ibn Kadih ibn Asad al-Hadrami, Abu Yahya Sekumpulan ulama yang mengikuti majoriti Muslim, seperti Ibn Qutaybah di dalam bukunya Ma`arif, yang menyebut pada muka surat 206 mengenai kecemerlangan beliau, dan al-Shahristani di dalam bukunya Al-Milal wal-Nihal, pada muka surat 27, Vol. 2, telah menjumlahkannya diantara kenamaan Shi`a. Pengarang dari Enam Sahih semuanya telah bergantung pada penyampaiannya, dan begitu juga yang lain. Beliau telah mempelajari hadith dari orang seperti Abu Jahifah, Suwayd ibn Ghaflah, al-Sha`bi, `Ata’ ibn Abu Rabah, kesemuanya disebut di dalam Bukhari dan Muslim. Di dalam Muslim, beliau menyebut hadith dari Karib, Tharr ibn `Abdullah, Bakir ibn al-Ashaj, Zayd ibn Ka`b, Sa`id ibn Jubayr, Mujahid, `Abdullah ibn `Abdul-Rahman ibn Yazid, Abu Selamah ibn `Abdul-Rahman, Mu`awiyah ibn al-Suwayd, Habib ibn `Abdullah, dan Muslim al-Batin. Al-Thawri dan Shu`bah, keduanya telah menyebutkan hadith beliau di dalam hasil kerja keduanya, sedangkan di dalam Bukhari, hadith beliau telah disebutkan oleh Isma`il ibn Abu Khalid. Di dalam Muslim, beliau disebutkan oleh Sa`id ibn Masruq, Aqil ibn Khalid, `Abdul-Malik ibn Abu Sulayman, `Ali ibn Salih, Zayd ibn `Abu Anisah, Hammad ibn Selamah, dan al-Walid ibn Harb. Selamah ibn Kahil meninggal pada `Ashura tahun 121H

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Salamah ibn Kuhail ibn Hushain ,Ashabus-Sittah, serta ulama hadits lainnya menggunakan hadits Salamah sebagai hujjah, seperti diutarakan oleh al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Sebab Salamah adalah seorang yang disepakati keadilannya oleh ulama hadits. Tidak ada orang yang menuduh dia sebagai pelaku bid’ah yang mengkafirkan, atau berbuat dusta untuk menguatkan pendapatnya. Paling banter dia dipandang bertasyayyu’, dalam bentuk yang sangat sederhana. Dan hal ini tidak berpengaruh kepada seorang perawi yang sudah dikenal jujur, seperti dijelaskan terdahulu. Dan saya sudah menjelaskan pula makna tasyayyu’ menurut ulama hadits. Salamah ibn Kuhail adalah seorang perawi yang dinyatakan tsiqat oleh para ulama, seperti Ahmad, Ibn Mu’in, al-Ajlf, Ibn Sa’ad, Abu Zara’ah. Abu Hatim, Ibn syaibah, Nasa’i, Sufyan, Ibn Mahdi, Syaibah, Ibn Hibban, dan al-Ajri.

36.  Sulaiman bin Shard al Khuzai seorang tokoh syi’ah, ruumahnya digunakansebagai tempat berkumpul keteka mereka menulis surat mengharap kedatangan Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia syahid  saat memimpin gerakan Tawwabun yakni gerakan  memerangi kaum yang membunuh Imam Husain.  Bukhari dan Muslim mengambil riwayat darinya. Az Zabby  tidak berkomentar banyak, dia hanya berpolemik dengan al Musawi masalah tasyayu’, rafidhah dan syi’ah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sulayman ibn Sa`id al-Khuza`i al-Kufi Beliau pernah menjadi ketua tertinggi Shi`a di Iraq, pengantara diantara mereka, penasihat dan penjaga mereka. Mereka semua telah bertemu di dalam rumah beliau apabila mereka memberikan bai’ah kepada Imam Husayn (as). Beliau adalah penyampai bagi tawwabin (yang kesal) diantara Shi`as, mereka yang bangun untuk membalas dendam diatas pembunuhan Imam Husayn (as). Mereka terdiri dari 4 000 tentera yang berkhemah di Nakhila pada awal Rabi` al-Thani, 65 H., mereka berarak menuju `Ubaydullah ibn Ziyad dan bertempur dengan tenteranya di Jazira. Mereka bertempur dengan hebatnya sehingga setiap dari mereka semua gugur. Sulayman, juga telah syahid disuatu tempat dipanggil `Ayn al-Warda setelah Hasin memanah beliau dengan anak panah yang membawa maut. Beliau berusia 93 tahun diketika itu. Kepalanya dan juga al-Musayyab ibn Najba telah dibawa sebagai trophi kepada Marwan ibn al-Hakam.  Biografi beliau telah dirakamkan di dalam Vol. 6, Bahagian satu, dari buku Ibn Sa`d’, Tabaqat, dan di dalam Isti`ab oleh Ibn `Abd al-Birr. Semua mereka yang menulis cerita para keturunan warisan telah merakamkan biografi beliau dan memuji kemuliaannya, keimanan dan taqwa. Dia menikmati kedudukan yang mulia, dihormati dan dimuliakan dikalangan manusia dan perkataannya berat pada timbangan. Beliaulah orangnya yang membunuh Hawshab, musuh terkenal Amirul Mukminin, di dalam pertarungan dipeperangan Siffin. Sulayman amat tajam penglihatannya terhadap musuh Ahl al-Bayt yang telah menyimpang. Para tradisionists telah meminta pandangannya. Hadith yang beliau sampaikan mengenai Rasul [sawas] adalah yang disampaikanya secara terus atau yang disampaikan oleh Jubayr ibn Mut`im yang bergantung pada penyampaiannya, telah dirakamkan di dalam kedua Sahih Bukhari dan Muslim. Di dalam Muslim beliau telah disebutkan oleh Abu Ishaq al-Subay`i dan `Adi ibn Thabit. Sulyman telah menyampaikan hadith yang tidak dituliskan di dalam mana-mana Sahih. Ini termasuk hadith dari Amirul Mukminin, anaknya Imam al-Hasan al-Mujtaba (as), dan Abiy. Di dalam kerja-kerja selain dari Sahih ini, hadith beliau telah disampaikan oleh Yahya ibn Ya`mur, `Abdullah ibn Yasar, dan oleh yang lainnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . Sulaiman ibn Shard ibn al-Jun ibn Abi al-Jun ibn al-Munqid ibn Rabi’ah ibn Ashram ibn Haram al-Khuza’i Abu Mutraf al-Kufi, Sulaiman adalah salah seorang sahabat yang meriwayatkan hadits dari Nabi. Al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, memandang dia sebagai salah seorang perawi Syi’ah yang tsiqat. Sesungguhnya ia hanyalah seorang yang membela ‘Ali ibn Abi Thalib dalam beberapa pertempuran. Ia hadir bersama ‘Ali di Perang Shiffin. Dia termasuk salah seorang yang mengundang Husayn ibn ‘Ali untuk datang ke Kufah. Akan tetapi setelah Husayn hadir, Sulaiman meninggalkannya, dan tidak berperang bersamanya. Ia sangat menyesal atas sikapnya itu setelah Husayn terbunuh. Lalu untuk menebus kesalahannya ia keluar ke medan juang bersama orang-orang yang seperasaan untuk menebus darah Husain, sampai akhirnya ia mati terbunuh. Saya terheran-heran pada al-Musawi, penulis Muraja’at. Pasalnya, ia memandang Sulaiman sebagai orang Rafidhah. Saya ingin bertanya “Apakah sikap dan perbuatan Sulaiman itu dapat dijadikan bukti bahwa ia orang Rafidhah?” Kalau benar demikian, maka semua sahabat yang berlaga di medan perang bersama ‘Ali dapat disebut orang Rafidhah. Tentu setiap Muslim yang berakal tidak ada yang berpendapat demikian. Akan tetapi, emosi itu dapat membuat seseorang menjadi buta, hati dan matanya. Coba kita perhatikan, bagaimana seorang Rafidhah (al-Musawi, penulis Muraja’at) mencela sahabat-sahabat Nabi yang agung. Ia memasukkan racun dalam madu. Menurut pendapat yang benar, Sulaiman adalah seorang sahabat Nabi yang mulia. Ia berada di pihak (satuan perang) ‘Ali ibn Abi Thalib. Kemuliaannya tidak sedikit, seperti halnya sahabat-sahabat Nabi yang lain. Ia tidak dipandang sebagai pembid’ah maupun pendusta. Menurut Ahlus Sunnah, semua sahabat adalah adil. Tak ada perbedaan antara sahabat yang berada di pihak ‘Ali maupun yang berada di pihak Mu’awiyah, atau sahabat yang tidak ikut campur dalam perang saudara itu. Karena itu, Ashabus-Sittah menerima riwayat Sulaiman.

37.    Sulaiman bin Tharkhan at Tamimi (maula Qais al Imam) Ibnu Qutaibah menyebutkanya ia sebagai seorang syi’ah. Kitab yang enam mengambil riwayat Hadis darinya. Az Zabby dalam bukunya mendukung pandangan al musawi dengan menyebut sumber-sumber yang mentsiqat kan nya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sulayman ibn Tarkhan al-Taymi al-Basri Seorang hamba Qays, imam, dia seorang yang amat dipercayai pada penyampaian hadith. Ibn Qutaybah telah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi’a di dalam bukunya Al-Ma`arif. Pengarang dari enam sahih, begitu juga yang lain telah bergantung pada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam kedua Sahih melalui Anas ibn Malik, Abu Majaz, Bakr ibn `Abdullah, Qatadah, dan Abu `Uthman al-Nahdi. Di dalam Sahih Muslim, hadith beliau telah disebut melalui yang lain. Di dalam kedua Sahih hadith beliau telah disebutkan oleh anaknya Mu`tamir, dan oleh Shu`bah dan al-Thawri. Parti yang lain menyebutkan hadithnya di dalam sahih Muslim. Dia meninggal pada tahun 143 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . Sulaiman ibn ath-Tharkhan al-Taymi al Bashri, Ulama hadits sepakat bahwa-Sulaiman ibn Tarkhan orang tsiqat dan adil. Mereka tidak menyebutkan sesuatu yang dapat merusak sifat adil dan kecerdasannya. Imam Ahmad memandang dia tsiqat. Demikian pula ulama lain, seperti Ibn Mu’in, Nasa’i, Ajli, Ibn Sa’ad, Tsauri, Ibn al-Madini, Ibn Abi Hatim, dan ibn Hibban. Mengenai pernyataan al-Musawi, penulis Muraja’at yang dinukil dari Ibn Quthaibah bahwa Sulaiman adalah seorang (perawi) Syi’ah, maka yang dimaksud Ibn Quthaibah adalah kecenderungan Sulaiman untuk berpihak kepada ‘Ali, tidak lebih. Dalam ath-Thabaqat, Ibn Sa’ad menyatakan bahwa kecenderungan seperti itu bukan merupakan penghalang untuk berhujjah dengan hadits Sulaiman. Karena-itu, Ashabus-Sittah menerima riwayatnya.

38.  Sulaiman bin Qaram bin Mu’adz (Abu Daud) adz Dzabi  Ibn Hibban menyebutnya sebagai seorang rafidhi tetapi imam Ahmad bin Hanbal mempercayainya, begitu pula Muslinm, Nasa’i, Turmudzi dan Abu Daud mengambil riwayat hadist darinya.  Az Zabby menulis dalam bukunya bahwa ada sebagian ulama hadist yang menolak riwayatnya  karena ia pneganut tasyayu’. Tetapi ia tidak mengikari adanya ulama lain yang meriwayatkan hadist darinya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sulayman ibn Qarm ibn Ma`ath  Dia juga dikenali sebagai Abu Dawud al-Dabi al-Kufi. Ibn Haban menyebut beliau di dalam buku biografi Sulayman, Al-Mizan. Ibn Haban telah berkata, “Dia seorang Rafidi – begitulah ianya. “Walaupun begitu, Ahmed ibn Hanbal telah mempercayai beliau. Pada penghujung biografi Sulayman seperti yang dirakamkan di dalam Al-Mizan, Ibn `Adi berkata, “Hadith yang disampaikan oleh Sulayman ibn Qarm adalah sahih. Lebih-lebih lagi, hadith beliau lebih dipercayai dari yang disampaikan oleh Sulayman ibn Arqam.”  Muslim, al-Nisa’i, al-Tirmidzi, dan Abu Dawud semuanya telah menyatakan hadith beliau. Apabila al-Thahbi menyebut beliau, dia meletakkan tanda singkatan nama tradisionists pada nama beliau. Rujuk kepada Sahih Muslim dimana hadith Abul-Jawab telah disampaikan oleh Sulayman ibn Qarm dari al-A`mash, sampai kepada Rasul [sawas]. Hadith itu menyatakan bahawa Rasul [sawas] telah berkata bahawa sesaorang itu akan selalu bersama dengan mereka yang dicinta. Di dalam Sunan, hadith beliau menyabut Thabit melalui Anas berturutan, berkata bahawa Rasul [sawas] telah berkata: “Mencari ilmu adalah wajib keatas setiap Muslim.” Dia menyebut al-A`mash dari `Amr ibn Murrah, dari Abdullah ibn al-Harith, dari Zuhair ibn al-Aqmar, dari `Abdullah ibn `Umer yang berkata bahawa al-Hakam ibn Abul `Yang biasa berada dengan Rasul [sawas] kemudian akan pergi menyampaikan hadith baginda [setelah diputar belitkan] kepada Quraysh; dari itu Rasul [sawas] telah mencela kelakuan dia dan kesemua keturunannya sekali, sehingga kehari pengadilan.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . Sulaiman ibn Qarm ibn’Mu’adz Abu Dawud adh-Dhabi al-Kufi Ibn Mu’in memandang Sulaiman sebagai perawi yang dha’if. Demikian pula ulama lain, seperti Abu Zara’ah, Abu Hatim, dan Nasa’i. Ibn ‘Adi berkata, “Sulaiman banyak memiliki hadits hasan dan afrad (hanya diriwayatkan satu perawi). Terdapat perselisihan mengenai pernyataan Imam Ahmad terhadap Sulaiman. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Ahmad memandangnya tsiqat. Sementara menurut versi yang lain dikatakan bahwa imam Ahmad mengatakan: “Tak ada sesuatu yang membahayakan atas diri Sulaiman. Hanya saja ia agak berlebih-lebihan dalam  bertasyayyu’.” Menurut ibn Hibban, ia orang Rafidhah yang sangat ekstrim. Menurut al-Ajri dari Abu Dawud, ia bertasyayyu’. Imam Hakim menyebutkan Sulaiman dalam kelompok orang yang tidak dapat diterima haditsnya. Mengenai dirinya, Imam Hakim berkata, “Ulama hadits memandang Sulaiman penganut Syi’ah yang ekstrim, dan buruk hafalannya.” Dari pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa Sulaiman ibn Qarm. adalah perawi dha’if. Mengenai periwayatan yang dilakukan oleh sebagian dari ashabus-Sunan, juga Imam Muslim, tidak berarti mereka menetapkan sifat adilnya, sebagaimana hal demikian sangat dikenal di kalangan ulama hadits

39.    Sulaiman bin MUhran al Kahili al Kufi  al A’masy Ibnu Qutaibah dan Syahrastani mengemukakan bahwa ia adalah tokoh syi’ah. Adz Dzahabi menyebutkan hadist yang diriwayatkanya ditemukan dalam Bukhari,  Muslim dan kitab enam lainya. Az Zabby  dalam bukunya tidak menolak pendapat itu malah ia berpolemik dengan Jauzjani.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sulayman ibn Mahran al-Kahili al-Kufi al-Asla` Beliau adalah seorang dari kenamaan Shi`a dan tradisionis yang amat dipercayai. Ramai genius diantara ulama Sunni, seperti Ibn Qutaybah di dalam bukunya Ma`arif dan al-Shahristani di dalam bukunya Al-Milal wal-Nihal, dan begitu juga yang lain, semuanya telah memuatkan beliau diantara pemuka Shi`a. Di dalam biografi Zubayd, al-Jawzjani berkata yang berikut di dalam bukunya Al-Mizan: “Diantara manusia di Kufa, terdapat beberapa orang yang golongannya tidak diterima, sebaliknya mereka adalah pakar di dalam hadith diantara ahli-ahli hadith di Kufa. Diantara mereka adalah: Abu Ishaq, Mansur, Zubayd al-Yami, al-A`mash, dan yang terkemuka lainnya. Manusia hanya menerima mereka kerana mereka itu jujur pada menyampaikan hadith,” sehingga penghujung kenyataannya yang dengan nyata telah menunjukkan kejahilan dan perjudisnya mereka. Keburukan apa yang boleh menimpa pemuka tersebut jika Nasibis tidak menghargai tanggong jawab mereka pada menyampaikan perintah Tuhan dan mencari keridhaanNya dengan terus mentaati kepada kerabat Rasul [sawas]? Yang sebenarnya Nasibis ini menerima orang-orang tersebut bukan kerana mereka adalah jujur pada menyampaikan hadith tetapi kerana mereka diperlukan. Jika mereka telah menolak hadith orang-orang ini, kebanyakkan dari hadith-hadith Rasul akan hilang, sebagaimana al-Thahbi sendiri mengakuinya di dalam buku Al-Mizan ketika membincangkan biografi Aban ibn Taghlib. Saya fikir ini adalah kenyataan al-Mughirah: “Abu Ishaq dan A`mash kamu telah membawa Kufa kepada kehancuran” ini telah di katakan, disebabkan oleh kepercayaan orang ini mengenai Shi`a. Selain dari itu keduanya, Abu Ishaq dan al-A`mash adalah lautan ilmu pengetahuan dan penjaga warisan Rasul.  Al-A`mash telah meninggalkan kepada kita banyak insiden yang menarik yang mana telah membayangkan kebesarannya. Satu darinya, sebagai contoh, telah dimuatkan oleh Ibn Khallikan di dalam biografi al-A`mash di dalam Wafiyyat al-A`yan dimana pengarang telah mengatakan:  “Hisham ibn `Abdul-Malik suatu ketika menulis kepada al-A`mash mengatakan: `Tuliskan untuk ku kemuliaan `Uthman dan dosa-dosa `Ali.’ Al-A`mash mengambil surat itu dan membalingkan ke dalam mulut unta betinanya. Kemudian dia berpaling kepada si utusan dan berkata: ‘Itulah jawapan saya.’ Si utusan bagaimana pun meminta al-A`mash menuliskan jawapan dengan berkata bahawa tuannya telah bersumpah untuk membunuhnya jika dia pulang dengan tidak membawa jawapan. Dia merayu kepada adik al-A`mash supaya menekankan kepadanya untuk menuliskan sesuatu. Akhirnya beliau menulis: `Dengan nama Allah yang Maha Pemurah, Maha Pengasih `Uthman mempunyai segala kemuliaan bagi manusia didunia ini, ianya tidak dapat memberikan kamu apa-apa faedah, dan `Ali mempunyai di dalam dirinya segala dosa manusia di dunia ini, ianya tidak dapat mencederakan kamu sedikit pun, dari itu, khuatirlah mengenai jiwa kamu sendiri, dan keamanan bagi kamu.’” Satu lagi kisah yang disampaikan oleh Ibn `Abd al-Birr di dalam bab pada kenyataan para ulama menilai kerja masing-masing di dalam bukunya Jami` Bayanul `Ilm wa Fada’ilih.[5] Pengarang menyebut dari `Ali ibn Khashram yang berkata, “Saya mendengar Abul-Fadl ibn Musa berkata, `Saya memasuki rumah al-A`mash bersama Abu Hanifah untuk menziarahnya ketika beliau sakit. Abu Hanifah berkata: `Wahai Abu Muhammad! Jika tidaklah kerana saya takuti kedatangan saya ini menjadi gangguan kepada kamu, saya pasti akan datang menziarah kepada kamu dengan lebih kerap lagi’. Al-A`mash menjawab, `Kamu adalah penggacau bagi saya walaupun jika kamu berada dirumah kamu sendiri; dari itu bayangkanlah bagaimana perasaan saya apabila saya terpaksa melihat kepada rupa kamu.’” Abul-Fadl berkata seterusnya, setelah meninggalkan rumah al-A`mash, Abu Hanifah berkata, `Al-A`mash tidak pernah memerhatikan puasanya di bulan Ramadan.’ Ibn al-Khashram kemudian bertanya kepada al-Fadl apakah yang dimaksudkan oleh Abu Hanifah. Al-Fadl menjawab, `Al-A`mash umumnya akan memerhatikan suhur semasa bulan Ramadan menurut pada hadith Rasul seperti yang disampaikan oleh Huthayfah al-Yemani.’” Yang sebenarnya, beliau memerhatikan kepada ayat al-Quran: “Dari itu, makan dan minumlah sehingga kamu dapat membezakan antara benang putih dan benang hitam, dari awal pagi, dan sempurnakanlah puasa kamu sehingga malam tiba.”  Pengarang dari Al-Wajiza dan Bihar Al-Anwar keduanya telah menyebut dari Hasan ibn Sa`id al-Nakh`i yang menyebut dari Sharik ibn `Abdullah, seorang kadi, berkata, “Saya menziarahi al-A`mash ketika beliau sakit yang membawa kepada kematiannya. Ketika saya berada disana, Ibn Shabramah, Ibn Layla dan Abu Hanifah masuk dan bertanya mengenai kesihatan beliau. Dia memberitahu mereka bahawa dia sedang menderita kesakitan, bahawa dia takut kepada Allah diatas segala dosanya dan hampir sahaja dia akan menangis. Abu Hanifah kemudian berkata kepada beliau: `Wahai Abu Muhammad! Takutlah akan Allah! Lihatlah sekarang kepada diri kamu. Kamu pernah menyampaikan hadith yang tertentu mengenai `Ali yang mana, jika kamu menolaknya, adalah lebih baik untuk kamu.’ Al-A`mash menjawab: `Berani kamu kata begitu kepada orang seperti saya?’ Bahkan beliau terus mencela dia, dan tidak ada perlunya disini untuk pergi kearah itu. Beliau adalah, semoga Allah merahmati jiwanya, seperti al-Thahbi terangkan di dalam bukunya Al-Mizan, Imam yang dipercayai. Beliau adalah tepat seperti apa Ibn Khallikan telah terangkan ketika membincangkan biografi beliau di dalam bukunya Wafiyyat al-A`yan, seorang yang jujur dan ulama yang mulia. Semua para ulama telah akui jujurnya beliau, saksama dan taqwa. Pengarang dari buku enam Sahih, begitu juga dengan yang lainnya, semuanya telah bergantung kepada penyampaiannya. Rujuk kepada hadithnya di dalam buku Sahih Bukhari dan Muslim dari Zayd ibn Wahab, Sa`id ibn Jubayr, Muslim al-Batin, al-Sha`bi, Mujahid, Abu Wa’il, Ibrahim al-Nakh`i dan Abu Salih Thakwan. Beliau telah menyampaikan di dalam kerja-kerja ini oleh Shu`bah, al-Thawri, Ibn `Ainah, Abu Mua`awiyah Muhammad, Abu `Awanah, Jarir, dan Hafs ibn Ghiyath. Al-A`mash telah dilahirkan pada tahun 61 H. dan meninggal dalam tahun 148 H., semoga Allah merahmati beliau.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . Sulaiman ibn Muhran al-Kahili al-Kufi al-A’masy, Ulama hadits sepakat mengenai keadilan Sulaiman ibn Muhran. Mereka tidak mencela dirinya selain tadlis (campur aduk) yang dibuatnya. Ulama Sunni tidak menggubris pernyataan al-Jauzjani mengenai Sulaiman Karena ia dipandang pembid’ah, sedangkan penilaian seorang pembid’ah terhadap sesama pembid’ah tidak ada nilainya menurut ulama Sunni. Mengenai tuduhan Ibn Quthaibah dan Asy-Syahristani terhadap Sulaiman, maka –kalaupun tuduhan itu benar– hal itu tidaklah mengurangi kredibilitas Sulaiman. Apalagi setelah kita mengerti apa yang dimaksud tasyayyu’ menurut ulama Sunni. Karena itu, ashabul-kutub as-sittah menerima riwayat Sulaiman.

40.    Syuraik (Syarik) bin Abdullah bin Sinan bin Anas bin Nakhai Ibnu Qutaibah menyebutkan sebagi seorang syiah  sebagimana disebutkan pula oleh Abdullah bin Idris dan Abu Daud. Muslim berpegang pada riwayatnya. Az Zabby menuliska dalam bukunya dalam uraian yang panjang yang pada intinya para ulama ahli hadis dari kalangan ahlu sunnah tidak menolak riwayatnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sharik ibn `Abdullah ibn Sinan al-Nakh`i al-Kufi, seorang kadi Imam Abu Qutaybah, di dalam bukunya Ma`arif, tidak ragu-ragu mengatakan bahawa beliau diantara orang kenamaan Shi`a. Pada penghujung biografi Sharik seperti dirakamkan di dalam Al-Mizan, `Abdullah ibn Idris bersumpah bahawa Sharik adalah seorang Shi`a. Abu Dawud al-Rahawi telah disebutkan di dalam Al-Mizan, juga telah mendengar Sharik berkata, “`Ali adalah kejadian yang terbaik; sesiapa yang menafikan fakta ini adalah kafir.”[6] Apa yang beliau maksudkan sudah pastinya bahawa `Ali adalah manusia yang terbaik selepas Rasul [sawas] seperti mana semua Shi’a percaya  Atas sebab ini, al-Jawzjani, telah disebutkan di dalam Al-Mizan, pada mengatakan beliau sebagai ‘berat sebelah’ bererti condong kepada kepercayaan Ahl al-Bayt dan lebih mengutamakannya dari golongan Jawzjani. Al-Mizan juga menyebut hadith Sharik mengenai Amirul Mukminin. Dia menyebut Abu Rabi`ah dari Ibn Buraydah dari bapanya sehinggalah kepada Rasul [sawas] yang berkata: “Untuk setiap Rasul terdapat wazir dan pewaris. “  Beliau amat bergiat pada mengembangkan pengetahuan mengenai kemuliaan Amirul Mukminin, dan menekan Omayyads untuk mengakuinya dan menyebarkan kemuliaannya [as]. Didalam hasil kerja beliau Durrat al-Ghawwas, al-Hariri, seperti di dalam biografi Sharik di dalam buku Ibn Khallikan Wafiyyat al-A`yan, telah berkata, “Sharik mempunyai seorang kawan Omayyad. Satu hari, Sharik menyebutkan sifat-sifat kecemerlangan ‘Ali ibn Abu Talib (as). Kawannya yang Omayyad berkata bahawa `Ali adalah orang baik.’ Ini telah menimbulkan kemarahan Sharik yang berkata, `Adakah itu sahaja yang kamu dapat ucapkan mengenai ‘Ali, bahawa dia seorang yang baik, dan tak ada apa-apa lagi?’”[7]  Pada penghujung biografi Sharik seperti yang tersebut di dalam Al-Mizan, Ibn Abu Shaybah telah menyebut dari ‘Ali ibn Hakim ibn Qadim yang menyatakan bahawa `Ali telah berkata bahawa aduan telah dibawa seorang kepada perhatian Sharik. Orang itu berkata: “Manusia mengatakan bahawa fikiran kamu meragukan.” Sharik menjawab: “Kamu jahil! Bagaimana saya boleh merasa ragu?! Saya harap saya ada bersama dengan ‘Ali untuk menjadikan pedang saya menitiskan darah musuhnya.”  Sesiapa yang mempelajari cara hidup Sharik akan menjadi yakin bahawa beliau adalah pengikut yang taat pada jalan Ahl al-Bayt (as). Beliau menyampaikan banyak tradisi yang disampaikan oleh kebanyakkan ulama Ahl al-Bayt. Anak lelakinya `Abdul-Rahman telah berkata, “Bapa saya telah mempelajari banyak dari Ja`fer al-Ju`fi, sebagai tambahan kepada 10 000 tradisi yang unik.” `Abdullah ibn al-Mubarak telah disebutkan di dalam Al-Mizan sebagai berkata, “Sharik lebih berpengetahuan mengenai hadith orang Kufa dari Sufyan. Beliau adalah musuh ketat kepada musuh-musuh `Ali, dan orang yang mengatakan perkara buruk mengenainya [as].” `Abdul-Salam ibn Harb berkata mengenai beliau: “Mengapa kamu tidak menziarah adik kamu yang sakit?” Dia bertanya: “dan siapakah dia?” Orang itu menjawab: “Malik ibn Maghul.” Sharik, sebagaimana tersebut di dalam biografi di dalam Al-Mizan, kemudian berkata: “Sesiapa yang berkata buruk mengenai ‘Ali dan Ammar sudah pasti bukan saudara kepada saya.” Satu ketika nama Mu`awiyah telah disebut dihadapan beliau dan telah dikatakan sebagai ‘berbudi’, seperti yang dirakamkan di dalam biografinya di dalam Al-Mizan begitu juga di dalan buku Ibn Khallikan, Wafiyyat al-A`yan, beliau berkata: “sesiapa yang mengenepikan kesaksamaan dan menentang `Ali tidaklah sekali-kali yang berbudi.” Beliau menyampaikan satu hadith dari Asim, Tharr, `Abdullah ibn Mas`ud berturutan yang menunjukkan bahawa Rasul [sawas] telah berkata: “Jika kamu melihat Muawiyah diatas mimbar ku, bunuhlah dia.” Ini telah disebutkan oleh al-Tabari, dan al-Tabari pula menyebutnya dari al-Thahbi ketika dia membincangkan biografi Abbad ibn Ya`qub. Di dalam buku Ibn Khallikan, Wafiyyat termasuk biografi Sharik dimana pengarangnya menyebutkan dialog diantara Sharik dan Mis`ab ibn `Abdullah al-Zubairi, di kehadiran pemerintah `Abbasid al-Mahdi. Mis`ab bertanya kepada Sharik: “Adakah kamu benar-benar memperkecilkan Abu Bakr dan `Umer?” sehinggalah kepada penamat dari insiden itu.Walaupun terdapat semua itu, al-Thahbi telah menerangkan bahawa beliau sebagai ‘orang dipercayai’ Dia juga menyebutkan dari Ma`in sebagai berkata bahawa Sharik adalah “jujur dan dipercayai.” Pada penghujung biografi nya, pengarang mengatakan: “Sharik mempunyai pengetahuan yang tinggi. Ishaq al-Azraq belajar dari beliau 9 000 hadith.” Dia juga menyebut dari Tawbah al-Halabi sebagai berkata, “Kami berada di Ramla suatu ketika, dan setiap orang tertanya-tanya siapakah dia orang bagi ummah. Sebahagian manusia mengatakan ianya adalah Lahi`ah, sedang yang lain mengatakan ianya adalah Malik. Kami tanya `Isa ibn Yunus untuk menyatakan pandangan dia. Dia kata: `Orang untuk ummah adalah Sharik,’ yang pada ketika itu masih hidup lagi.”  Muslim dan pengarang empat buku Sunan semuanya telah bergantung pada penyampaian Sharik. Rujuk kepada hadith beliau seperti yang disebut dan disampaikan oleh Ziyad ibn Alaqah, `Ammar al-Thihni, Hisham ibn `Urwah, Ya`li ibn `Ata’, `Abdul-Malik ibn `Umayr, `Ammarah ibn al-Qa`qa` dan `Abdullah ibn Shabramah. Mereka yang menyampaikan ini telah mengatakan dari Ibn Shaybah, `Ali ibn Hakim, Yunus ibn Muhammad, al-Fadl ibn Musa, Muhammad ibn al-Sabah, dan `Ali ibn Hajar. Dia telah dilahirkan sama ada di Khurasan atau  Bukhara dalam tahun 95.H., dan dia meninggal di Kufa pada awal sabtu dalam bulan Thul-Qi`dah, 177 atau  178.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Syarik ibn ‘Abdillah, Ibn Sinan ibn Anas an-Nakha’i al-Kufi, Ibn Mu’in memandang Syarik sebagai perawi hadits yang adil. Ia berkata, “Syarik itu orang jujur dan tsiqat. Hanya saja jika ia berbeda pendapat, pasti saya lebih simpati pada pendapat lawannya.” Ahmad ibn Hanbal menyatakan hal serupa. Menurut al-Ajili, ia orang Kufah yang tsiqat. Ibn Ya’qub ibn Syaiban berkata, “Syarik itu orang jujur dan tsiqat. Tetapi ia jelek hafalannya.” Ibn Abi Hatim berkata kepada Abi Zara’ah bahwa hadits Syarik dapat dijadikan hujjah. Ibn Zara’ah berkata bahwa Syarik banyak lalainya. Ia memiliki hadits, tetapi sewaktu-waktu ia salah. Dikatakan kepada Abu Zara’ah, bahwa ia banyak meriwayatkan hadits palsu: “Jangan berkata begitu,” komentar Abu Zara’ah. Menurut Nasa’i, tak ada yang perlu dirisaukan mengenai dirinya. Ibn ‘Adi berkata: “Kebanyakan hadits Syarik adalah shahih. Adanya kejanggalan dalam hadits-haditsnya bukanlah suatu kesengajaan. Hal itu terjadi karena keburukan hafalannya saja.” Menurut Ibn Sa’ad, ia tsiqat; terpercaya, tetapi sering salah. Hal serupa dikatakan oleh Abu Dawud. Dalam ats-Tsiqat, Ibn Hibban berkata, “Pada akhirnya riwayat Syarik” itu mengandung kesalahan, karena daya hafalnya yang kurang kuat. Oleh sebab itu, periwayatan ulama terdahulu darinya dapat dijamin kebenarannya. Tetapi periwayatan hadits yang dilakukan ulama belakangan (muta’akhkhirin) darinya di Kufah sudah mengalami perubahan yang banyak. Pernyataan serupa dikemukakan oleh al-Ajli, Ibrahim al-Harbi, dan Shalih Jazarah. Imam Ahmad ibn Hanbal berkata, “Ia orang yang pandai, jujur, perawi hadits, dan bersikap keras terhadap pembid’ah. Hanya Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya dalam kategori muttaba’at (rawi-rawi yang layak diikuti).” Al-Saji berkata, ia dipandang berlebih-lebihan dalam tasyayyu’. Akan tetapi terdapat riwayat lain yang berlainan dengan itu. Ia menampilkan ‘Ali lebih tinggi daripada ‘Utsman ibn ‘Affan. Menurut ibn Mu’in, Syarik pernah berkata: “Orang yang menempatkan ‘Ali lebih tinggi daripada Abu Bakar dan ‘Umar tidak memperoleh kebaikan sama sekali.” Adz-Dzahabi pernah mendengar bahwa Syarik berkata: “Seorang tidak akan mendahulukan ‘Ali daripada Abu Bakar, kecuali ia mengharap sesuatu yang hina.” Dari pendapat ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa Syarik adalah tsiqat dan adil. Ulama hadits tidak mencela dia, kecuali daya hafalnya yang buruk itu. Dan ini terjadi di akhir masa hidupnya, seperti diungkapkan oleh sebagian ulama. Mengenai tuduhan bahwa ia sangat mengagungkan ‘Ali maka sudah saya kemukakan pendapat beberapa ulama bahwa pengagungan Syarik kepada ‘Ali tidak sampai ke tingkat rafadh. Artinya, Syarik tidak menempatkan ‘Ali lebih tinggi derajatnya daripada Abu Bakar dan ‘Umar. Hal ini tentu saja tidak mengurangi kredibilitas Syarik, karena ia dikenal adil dan tsiqat. Karena itulah, Imam Muslim dan Ashabus-Sunan menerima riwayatnya.

41.    Syu’bah  bin Hajjaj  (Abu Bustam) Ibnu Qutaibah dan Syahrastani memasukan ia sebagai orang syi’ah. Ahlii hadis dari kalangan Sunni termasuk Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits darinya. Az Zabby  tidak menolaknya alih-alih komentarnya mendukung al musawi.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :.Shu`bah ibn al-Hajjaj Abul-Ward al-`Atki al-Wasiti (Abu Bastam) Telah dilahirkan dan tinggal di Basra, Abu Bastam adalah orang pertama di Iraq yang bertanyakan mengenai  ahli-ahli tradisionis, dan beliau telah dipuji kerana memberikan pertolongan kepada yang lemah dan diabaikan. Dia dianggap diantara kenamaan Shi’a oleh ramai intelek sunni seperti Qutaybah di dalam bukunya Al-Ma`arif, dan al-Shahristani di dalam bukunya Al-Milal wal-Nihal. Pengarang enam buku sahih telah  bergantung kepada penyampaian beliau. Hadith beliau terdapat di dalam buku sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disampaikan oleh Abu Ishaq al-Subai`i, Isma`il ibn Abu Khalid, Mansur, al-A`mash dan yang lainnya. Di dalam buku keduanya Bukhari dan Muslim, hadith beliau telah dibacakan oleh Muhammad ibn Ja`fer, Yahya ibn Sa`id al-Qattan, `Uthman ibn Jabalah dan yang lainnya. Beliau dilahirkan pada tahun 83 dan meninggal pada tahun 160 H., semoga Allah merahmatinya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Syu’bah ibn Hujaj ibn al-Wad al-Ataki al-Azdari Ulama jarh wat-ta’dil sepakat mengenai keadilan Syu’bah, daya hafal dan ketsiqatannya (terpercaya). Mereka juga memandang hadits Syu’bah dapat dijadikan hujjah. Dalam hal di atas, tak seorang pun imam hadits yang menentangnya atau berlainan pendapatnya. Bahkan Imam Syafi’i berkata, “Kalau tak ada Syu’bah, maka hadits di Irak akan hilang.” Pada zamannya, Syu’bah adalah tokoh yang sangat dikenal, baik hafalannya, ketsiqatannya dan sifat wira’inya. Dialah orang pertama di Irak yang memusatkan perhatian di bidang hadits. Ia melakukan penyeleksian terhadap hadits-hadits yang dha’if dan matruk (layak ditinggalkan). Dan akhirnya Syu’bah menjadi panutan orang-orang sesudahnya di Irak. Karena adanya ijma’ ulama di atas, maka Ashabus-Sittah, tanpa kecuali, meriwayatkan hadits Syu’bah. Mengenai pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, yang dikutip dari Ibn Quthaibah dan asy-Syahristani bahwa Syu’bah adalah seorang perawi Syi’ah yang adil, maka –kalaupun anggapan itu benar– pasti yang dimaksud dengan Syi’ah di sini adalah yang tidak merusak keadilan Syu’bah. Ini adalah soal yang sudah saya kemukakan berulangkali dalam tulisan ini.

42.   Sha’sha’ah bin Shauhan bin Hujr bin Harits al ’Abdi Ibnu Qutaibah dan Ibnu Sa’ad menyebutkanya sebagai tokoh syi’ah. Adz Dzahabi menyebutkanya an Nasa’i berpegang pada hadistnya.  Az Zabby tidak memberi komentar penolakan malah mendukungnya. Ia justru berpolemik berkenaaan masalah istilah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Sa`sa`ah ibn Sawhan ibn Hajar ibn al-Harith al-`Abdi Imam Ibn Qutaybah menerangkan beliau pada muka surat 206 di dalam bukunya Ma`arif sebagai seorang pemuka Shi’a yang terkenal. Ibn Sa`d mengatakan pada muka surat 154, Vol. 6, dari bukunya Tabaqat: “[Sa`sa`ah] amat terkenal di seluruh Kufa sebagai pemidato dan sahabat `Ali yang bersama beliau telah disaksikan pada peperangan Unta; bersama dengan saudaranya Zayd dan Sihan anak lelaki Sawhan. Sihan telah dikenali sebagai pemidato sebelum Sa`sa`ah, dan dia adalah pembawa panji-panji semasa peperangan unta.[8] Setelah terbunuh, Sihan telah digantikan oleh Sa`sa`ah. Sa`sa`ah telah menyampaikan hadith dari Imam `Ali (as), dan juga dari ‘Abdullah ibn `Abbas. Beliau seorang tradisionis yang dipercayai walaupun hadith yang disampaikan tidak banyak.” Ibn `Abd al-Birr menyebutkan beliau di dalam bukunya Isti`ab dengan berkata: “Dia menerima Islam semasa hidupnya Rasul Muhammad (sawas) walaupun beliau tidak pernah berjumpa baginda, disebabkan beliau masih kanak-kanak ketika itu.”  Beliau adalah ketua bagi puaknya, keturunan `Abd al-Qays. Beliau adalah pemidato yang fasih, manusia bijak yang dapat menguasai bahasa. Beliau adalah seorang yang wara’, mulia dan bijaksana. Beliau terjumlah di dalam para sahabat `Ali [as]. Yahya ibn Ma`in telah disebutkan sebagai berkata bahawa Sa`sa`ah, Zayd dan Sihan anak lelaki Sawhan semuanya adalah pemidato, dan bahawa Zayd dan Sihan telah terbunuh semasa peperangan unta. Dia juga menyebutkan masaalah kritikal yang khalifa `Umer tidak dapat selesaikan, maka khalifa telah menyampaikan syarahannya, yang mana dia bertanya kepada manusia untuk memberikan pendapat. Sa`sa`ah, ketika itu seorang remaja, berdiri dan memperjelaskan keseluruhan kerumitannya dan kemudian memberikan pendapat yang mana kemudiannya telah diterima sebulat suara. Ini tidak seharusnya memeranjatkan pembaca kerana keturunan Sawhan adalah diantara pemuka utama kaum Arab, tunggak penghormatan dan kemuliaan. Ibn Qutaybah menyebutkan mereka pada muka surat 138 pada Bab Pemuka-pemuka yang Terkenal dan Orang-orang yang Berpengaruh, di dalam bukunya Ma`arif. Pengarang berkata: “Keturunan Sawhan adalah Zayd ibn Sawhan, Sa`sa`ah ibn Sawhan, Sihan ibn Sawhan, dari Banu `Abd al-Qays.” Dia menambah: “Zayd adalah diantara orang yang terbaik. Dia menyampaikan ini dengan berkata bahawa Rasul [sawas] telah berkata: `Sebenarnya Zayd adalah seorang yang baik, dan Jandab – betapa baiknya mereka ini!’ Manusia bertanya: `Mengapa baginda menyebutkan mereka ini sahaja?’ Rasul menjawab: `Tangan seorang dari mereka akan mendahului badannya memasuki syurga 30 tahun lebih awal, sedang yang seorang lagi akan mengenakan tamparan yang hebat supaya yang benar dapat dibezakan dari yang salah.’ Yang pertama telah berlaku, ketika dia mengambil bahagian di dalam peperangan Jalawla’ dimana tangannya telah terpotong. Beliau juga mengambil bahagian di dalam peperangan unta dipihak `Ali (as). Dia berkata kepada Imam: `Wahai Amirul Mukminin! Ianya kelihatan seperti saya akan menemui takdir saya.’ Imam (as) bertanya kepada beliau, `Bagaimana kamu mengetahui itu, wahai bapa Sulayman?’ Dia menjawab: `Saya telah melihat pada penglihatan saya bahawa tangan saya menjangkau dari syurga untuk membawa saya dari dunia ini.’ Dia telah dibunuh oleh `Amr ibn Yathribi, sedangkan saudaranya Sihan telah terbunuh di dalam peperangan unta.”  Ianya bukanlah suatu rahsia bahawa ramalan Rasul mengenai tangan Zayd mendahului keseluruh badannya pada memasukki syurga, bahkan ianya telah dianggap oleh semua Muslim sebagai pengeshan terhadap kerasulannya, satu tanda kebenaran bagi agama Islam dan pengenalan kepada manusia yang benar. Semua penulis biografi Zayd telah menyebutnmya.. Rujuklah kepada biografinya di dalam Al-Isti`ab, Al-Isabah, dan yang lainnya. Tradisionis telah merakamkan yang diatas, setiap mereka dengan perkataan mereka tersendiri, dengan tambahan bahawa walaupun beliau seorang Shi’a beliau telah dijanjikan dengan syurga; maka segala pujian bagi Tuhan sekelian alam.  Al-`Asqalani menyebut Sa`sa`ah ibn Sawhan di dalam Bahagian 3 dari bukunya Isaba, dengan berkata: “Beliau menyampaikan tradisi mengenai `Uthman dan `Ali (as). Beliau telah mengambil bahagian di dalam peperangan Siffin dipihak ‘Ali’s. Beliau seorang pemidato yang fasih yang berdepan dengan Mu`awiyah.” Al-Sha`bi telah berkata: “Saya pernah belajar cara-cara untuk menyampaikan syarahan dari beliau.”[9] Abu Ishaq al-Subai`i, al-Minhal ibn `Amr ibn Baridah, dan lainnya telah menyampaikan hadith dari beliau. Al-`Ala’i, menyebutkan pertentangan Ziyad, dengan berkata bahawa al-Mughirah mengusir Sa`sa`ah, menurut dari perintah yang diterima dari Mu`awiyah, dari Kufa ke Jazirah, atau ke Bahrain (sebahagian ahli sejarah mengatakan ke pulau Ibn Fakkan), dimana beliau telah meninggal di dalam buangan sama seperti Abu Tharr al-Ghifari yang telah meninggal sebelum beliau di Gurun Rabatha (selatan Iraq). Al-Thahbi menyebut Sa`sa`ah dan menerangkan beliau sebagai “tradisionis yang terkenal lagi dipercayai,” menyatakan testimoni terhadap kejujurannya dari Ibn Sa`d and Nisa’i, dan memberi tanda nama beliau untuk menunjukkan bahawa al-Nisa’i bergantung kepada penyampaiannya. Sesiapa yang tidak bergantung kepada penyampaiannya, yang sebenarnya tidak menganiaya sesiapa melainkan terhadap dirinya sendiri, seperti mana al-Quran telah mengatakan: ‘Kami tidak menganiaya sesiapa; mereka telah menganiaya diri mereka sendiri.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi Sha’sha’ah ibn Shuhan ibn Hajar ibn Harits ibn Hajras al-Abdi Abu ‘Umar , Menurut adz-Dzahabi, Sha’sha’ah orang yang ketsiqatannya sangat dikenal. Al-Jauzjani memasukkan dia ke dalam daftar perawi dha’if. Ia dicap Khawarij. Sementara Ibn Sa’ad dan Nasa’i memandangnya tsiqat. Dalam at-Tahdzib disebut demikian” Ibn Hibban menyebut dia dalam kelompok ats-Tsiqat (perawi yang adil).” Penulis at-Tahdzib juga berkata: “Ibn Hibban tidak benar.” Mengenai pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, yang dikutip dari Ibn Quthaibah, maka hal itu sama sekali tidak merusak sifat adil Sha’sha’ah, tabi’in yang agung itu. Ibn Quthaibah memandang dia sebagai salah seorang perawi Syi’ah yang terkenal, hanya karena ia ikut berperang bersama ‘Ali dalam Perang Jamal. Jadi, bukan karena itu berpaham Rafidhah yang mendiskreditkan para sahabat pada umumnya, dan Abu Bakar dan ‘Umar pada khususnya. Hal seperti itu banyak terjadi pada para sahabat dan tabi’in, di mana mereka berpihak kepada ‘Ali dalam perang melawan Mu’awiyah. Karena itu, apakah mereka harus dipandang telah keluar dari lingkungan Ahlus-Sunnah wal-jam’a’ah, dan mesti dipandang sebagai kaum Rafidhah? Hal seperti ini tidak pernah dikatakan oleh ulama Sunni. Sebab ciri utama Rafidhah terletak pada keberanian mereka memberi takwil dan mengubah kalam Allah, dan dengan begitu mereka berpacu untuk berdusta.

c.    Catatan Agaknya Mahmud az Zabby tidak melihat bahwa kesyiahan perawi ini justru diterangkan oleh ulama ahlu sunnah sendiri. Mengenai Ta’will yang dituduhkan, justru banyak ditemukan ta’wil di kalangan ahlu sunnah sebagimana terlihat dalam QS 33:33 yang ditakwilkan sendiri dan bertentangan dengan keterangan Rasulullah saw. Mengenai ia apakah beliau keluar dari lingkungan ahlu sunnah, meminjam Dr at Tijani, justru kaum syi’ah adalah ahlu sunnah wal jama’ah, karena mereka  patuh dan tunduk pada sunnah Rasulullah.

43.    Thawus bin Kisan al Khaulami al Hamdani al Yamani (Abu Abdurahman).  Kalangan ahlu sunnah tidak meragukan  ia sebagai salah seorang tokoh syi’ah sebagaimana dinyatakan Syahrastani dan Ibnu Qutaibah. Penyusun kitab enam termasuk Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis darinya. Tidak ada penolakan dari az Zabby sang polemis.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Tawus ibn Kisan al-Khawlani al-Hamadani al-Yamani Beliau adalah bapa `Abdul-Rahman. Ibunya seorang Farsi, dan bapanya adalah Ibn Qasit, seorang hamba  Namri bagi Bajir ibn Raysan al-Himyari. Intelek Sunni menganggap beliau seorang Shi’a tanpa sebarang soalan. Diantara pemuka-pemuka Shi’a, al-Shahristani menyebut beliau di dalam bukunya Al-Milal wal-Nihal, dan Ibn Qutaybah di dalam bukunya Al-Ma`arif. Pengarang dari enam buku sahih, begitu juga yang lain, semuanya telah bergantung pada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam kedua sahih dimana beliau menyebutkan dari Ibn `Abbas, Ibn `Umer dan Abu Hurayrah, dan di dalam sahih Muslim dimana beliau menyebut dari `Ayesha, Zayd ibn Thabit, dan `Abdullah ibn `Umer. Hadith beliau telah dirakamkan di dalam sahih Bukhari sahaja yang disampaikan oleh al-Zuhri, dan di dalam Muslim oleh ramai tradisionis yang terkenal. Beliau meninggal di Makah semasa hendak menunaikan fardhu haji, satu hari sebelum hari Tarwiya (i.e.pada 7th Thul-Hijjah), dalam tahun sama ada 104 atau 106 H. Perkebumiannya mendapat perhatian umum. Keranda beliau telah dipikul oleh `Abdullah anak lelaki al-Hasan anak lelaki Amirul Mukminin (as). Dia sedang berebut-rebut dengan yang lain untuk memikulnya, sehinggakan tutup kepalanya jatuh, dan pakaiannya koyak dibahagian belakang oleh kesesakkan, seperti yang disampaikan oleh Ibn Khallikan di dalam buku biografinya bagi Tawus di dalam Wafiyyat al-A`yan.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . Thawus ibn Kisah al-Yamani, Dalam at-Tahdzib, Ibn Hajar menyatakan bahwa Thawus sempat bertemu lima puluh orang sahabat. Ulama hadits juga sepakat bahwa Thawus adalah seorang yang jujur, adil, tsiqat, dzabit, taqwa, zuhud, dan banyak ibadahnya. Mereka menerima hadits Thawus yang bersumber dari ‘A’isyah, ‘Umar dan ‘Ali. Karena itulah, ulama hadits, Ashabus-Sittah meriwayatkan haditsnya. Mengenai pernyataan penulis Dialog Sunnah-Syi’ah yang dikutip dari Ibn Quthaibah dan asy-Syahristani, hal tersebut tidak merusak keadilan Thawus, seperti penjelasan kami mengenai perawi nomor 42.

44.    Dzallim bin Amr bin Sufyan (Abul Aswad ad Duali)  ia seorang pengikut setia Imam Hasan dan Imam Husain dan pendukung kepemimpinan Imam Ali sebagaimana disebutkan oleh Syahrastani dan ibnu Qutaibah dan menurut mereka berdua ia adalah orang yang berfaham syi’ah. Kitab shahih yang enam termasuk Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadist darinya.  Az Zabby tidak menolak pandangan al musawi dalam bukunya alih-alih malah memujinya sebagai peletak dasar ilmu Nahwu dan gramatikal arab.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. Zalim ibn `Amr ibn Sufyan, Abul-Aswad al-Du’ali Beliau seorang Shi’a dan taat mematuhinya semasa wilayat Imams `Ali, al-Hasan dan al-Husayn, begitu juga dengan yang lainnya dari ahli Ahlul al-Bayt, keamanan kepada mereka semua, adalah lebih jelas dari sinaran matahari itu sendiri dan tidak memerlukan kepada pembuktian.[10] Kami telah memperkatakannya dengan mendalam di dalam hasil kerja kami Mukhtasar al-Kalam fi Muallifi al-Shi`a min Sadr al-Islam. Beliau adalah seorang Shi’a tiada siapa yang mempertikaikannya. Walaupun terdapat ini semua, pengarang enam buku sahih kesemuanya bergantung kepada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith beliau mengenai `Umer ibn al-Khattab di dalam sahih Bukhari. Di dalam Muslim hadith beliau telah disampaikan oleh Abu Musa dan `Umran ibn Hasin. Di dalam kedua buku sahih, hadith beliau telah disampaikan oleh Yahya ibn Ya`mur. Di dalam Bukhari, `Abdullah ibn Buraydah telah menyebutkan beliau,  dan di dalam Muslim, hadith beliau telah disampaikan oleh anak lelakinya Abu Harb. Dia meninggal, semoga Allah merahmatinya, ketika berumur 85 tahun di Basrah pada tahun 99 H. oleh wabak yang menyerang kota tersebut. Beliaulah yang meletakkan asas pada nahu arab menurut tata cara yang dipelajarinya dari Amirul Mukminin [as] sebagaimana kami telah terangkan di dalam buku kami Al-Mukhtasar.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Dzalim ibn ‘Amr ibn Sufyan Abul Aswad ad-Du’ali al-Bashri Menurut ibn Mu’in, Abu al-Aswad adalah orang yang tsiqat. Al-Ajli berkata: “Ia seorang tabi’in kelahiran Kufah. Dialah orang pertama yang membahas atau berbicara tentang tata bahasa, nahwu. Al-Waqidi berkata: “Ia masuk Islam pada zaman Nabi, dan berperang bersama ‘Ali pada Perang Jamal. Dalam ath-Thabaqat al-Ulama’ min ahl al-Bashrah, Ibn Sa’id berkata, “Ia seorang penyair Syi’ah. Namun ia seorang yang tsiqat dalam haditsnya. Insya Allah, Ibn Hibban menyebut Abu al-Aswad dalam daftar tabi’in yang tsiqat. Dari pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Abu al-Aswad adalah orang yang tsiqat, dan hadits dapat dijadikan hujjah. Ulama hadits tidak ada yang melontarkan suara cela kepada Abu al-Aswad selain Ibn Sa’ad yang memandangnya bertasyayyu’. Tetapi tasyayyu’ ini tidak mengurangi keadilan Abu al-Aswad. Karena itulah, Ashabus-Sittah meriwayatkan haditsnya. Mengenai tuduhan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, bahwa kesyi’ahan Abu al-Aswad lebih terang dan lebih jelas dari matahari, merupakan isapan jempol belaka. Tuduhan demikian hanya karena Abul al-Aswad berperang bersama ‘Ali di Perang Jamal. Tanggapan terhadap tuduhan semacam ini telah kami jelaskan dalam penjelasan mengenai perawi nomor 42.

45.    Amir bin Wailah binAbdullah al Litsi al Makki (Abu Thufail) Ibnu Qutaibah menyebutkanya sebagai penganut rafidhi, Ibnu Abdill Barr menyebutkanya sebagai pengikut setia Imam Ali, ia seorang yang pandai dan bijaksana serta cerdas dan cakap. Hadisnya banyak diriwayatkan oleh Muslim. Az Zabby tidak menolak pandangan al Muaswi bahkan ia mengutip kecaman Abu Muhammad ibn Hazm yang menolak seluruh hadistnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :. `Amr ibn Wa’ilah ibn `Abdullah ibn `Umer al-Laithi al-Makki Juga dikenali sebagai Abul-Tufayl, beliau telah dilahirkan pada tahun yang sama berlakunya peperangan Uhud  i.e. 3.H. Beliau selama lapan tahun berada semasa dengan Rasul [sawas]. Ibn Qutaybah telah memuatkan beliau diantara yang dipanggilnya ‘pelampau Rafidis,” mengatakan bahawa beliau adalah pembawa panji-panji al-Mukhtar dan para sahabat yang terakhir mati. Ibn `Abd al-Birr telah menyebut beliau di dalam Bab kunayat di dalam bukunya Isti`ab dengan berkata, “Beliau tinggal di Kufa dan beliau bersama `Ali (as) di dalam semua peperangan. Apabila `Ali (as) telah dibunuh, beliau pergi ke Makah.” Dia mengakhirnya dengan berkata, “Beliau seorang terhormat dan bijak, pantas pada memberikan jawapan yang betul, fasih. Beliau juga adalah seorang dari Shi’a `Ali [as]” Dia juga menunjukkan bahawa ‘Suatu ketika Abul-Tufayl menemui Mu`awiyah dan dia bertanya kepada beliau: `Untuk berapa lama kamu berkabung diatas kematian sahabat kamu Bapa al-Hasan (as)?’ Beliau menjawab: `Saya bersedih sebanyak mana ibu Musa bersedih ketika berpisah dengan anaknya, dan saya mengadu kepada Allah diatas kekurangan saya.’ Mu`awiyah bertanya kepada beliau: `Adakah kamu diantara mereka yang mengenakan kepongan dirumah `Uthman?’ Dia menjawab: `Tidak; tetapi saya ada menziarahi dia.’ Kemudian Mu`awiyah bertanya lagi: `Apa yang menghalang kamu dari menyelamatkan dia?’ Dia membidas: `Bagaimana pula dengan kamu? Apa yang mengahalang kamu dari melakukan itu apabila kamatian telah pasti akan berlaku kepda dia, sedang kamu berada di Syria, seorang ketua diantara orang-orang suruhannya?!’ Mu`awiyah menjawab: `Tidakkah kamu lihat bahawa membalas dendam adalah petunjuk terhadap sokongan saya?’ `Amir kemudian memberitahu Mu`awiyah bahawa dia bertindak sama seperti apa yang dikatakan di dalam syair yang digubah oleh saudara Ju`f, seorang penyair dimana dia berkata: `Kamu menanggisi kematian ku, bahkan ketika aku hidup, kamu tidak langsung menghilangkan kelaparan yang aku tanggong.’” Al-Zuhri, Abul-Zubair, al-Jariri, Ibn Abul-Hasin, `Abdul-Malik ibn Abjar, Qatadah, Ma`ruf, al-Walid ibn Jami`, Mansur ibn Hayyan, al-Qasim ibn Abu Bardah, `Amr ibn Dinar, `Ikremah ibn Khalid, Kulthum ibn Habib, Furat al-Qazzaz, dan `Abdul-Aziz ibn Rafi` telah menyampaikan hadith beliau seperti mana terdapat di dalam buku sahih Muslim dan Bukhari. Kerja-kerja Bukhari mengandungi tradisi Rasul [sawas] mengenai haji yang disampaikan oleh Abul-Tufayl. Beliau menerangkan kerekteristik Rasul, dan beliau menyampaikan mengenai ibadah dan tanda-tanda kerasulan dari Ma`ath ibn Jabal, dan beliau menyampaikan mengenai ketentuan dari `Abdullah ibn Mas`ud. Beliau sampaikan dari `Ali (as), Huthayfah ibn al-Yemani, `Abdullah ibn `Abbas dan `Umer ibn al-Khattab, seperti mana yang telah diketahui oleh semua penyelidik hadith Muslim selain daripada pengarang Musnad. Abul-Tufayl, semoga Allah merahmati ruhnya, telah meninggal di Makah pada tahun 100 H. (sebahagian mengatakan pada tahun 102, sedang yang lain mengatakan 120), dan Allah lebih mengetahui

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Amir ibn Wailah Abut-Thufail al-Laitsi al-Makki Dalam kitab Hadi al-Sari, Ibn Hajar berkata: “Imam Muslim dan ulama lain menetapkan bahwa Amir termasuk sahabat Nabi. Abu ‘Ali ibn Sakan berkata: “Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa ia melihat Rasulullah, menurut jalur-jalur riwayat yang kuat.” Tetapi tidak ditemukan riwayat bahwa ia meriwayatkan hadits langsung dari Nabi Di dalam kitab at-Tarikh al-Aswad, imam Bukhari meriwayatkan bahwa Amir berkata: “Aku menemui delapan tahun dari masa hidup Rasulullah.” Menurut Ibn ‘Ali, dia seorang sahabat. Kaum Khawarij mengusir dia, karena dekatnya dengan ‘Ali, dan pernyataannya yang selalu mengagungkan ‘Ali dan Ahlul-Bayt. Namun tak ada bahaya dalam haditsnya. Menurut Ibn Hanbal, dia seorang Makkah yang tsiqat. Ibn Sa’ad menyatakan hal serupa, hanya ia menambahkan bahwa Amir adalah orang Syi’ah. Ibn Hajar berkata: “Abu Muhammad ibn Hazm memandang Amir sebagai orang yang jelek, ia mendha’ifkan hadits-haditsnya.” Lebih lanjut Ibn Hajar mengatakan: “Dia memiliki riwayat hadits yang pilihan. Ia seorang sahabat, tak syak lagi. Tidak ada pengaruhnya tuduhan orang atas dirinya, apalagi jika tuduhan itu hanya bersifat emosional semata. Aku tidak melihat di dalam shahih Bukhari riwayat darinya kecuali satu hadits yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, yang bersumber dari ‘Ali ibn Abi Thalib.” Ma’ruf ibn Kharbud meriwayatkan hadits darinya. Juga ulama ulama hadits yang lain. Ringkasnya, para ulama sepakat bahwa Amir adalah seorang sahabat yang adil dan tsiqat. Semua sahabat, menurut ulama Sunni, adalah adil. Ulama hadits tidak menemukan sesuatu pada diri Amir yang dapat merusak sifat adil dan tsiqatnya. Adapun tuduhan bahwa ia Syi’ah, itu artinya ia berpendapat bahwa kebenaran ada di pihak ‘Ali, sewaktu dia berselisih dan berperang dengan Mu’awiyah. Sudah saya jelaskan bahwa hal seperti itu banyak terjadi di kalangan sahabat. Karena itu, sebagian dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits Amin

46.    ’Abbad bin Yaqub al Asadi ar Rawajini ad Daruwquthni menyebutnya sebagai seorang yang berpaham syi’ah,  IbnU Hibban menyebutnyua sebagaui penganjur paham rafidhiah, meskipund demikian tokoh-tokoh ahlu sunnah seperti Bukhari, Turmudzi, Ibnu Majjahm Ibnu Khuzaimah dan Ibn Abi Daud mengambil riwayat hadis darinya. Az Zabby tidak memberikan penentangan pada pandangan al Musawi ini.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abbad ibn Ya`qub al-Asadi al-Ruwajni al-Kufi Beliau telah disebutkan oleh Dar Qutni yang mengatakan, “`Abbad ibn Ya`qub adalah Shi’a yang jujur” Ibn Hayyan menyebut beliau dan berkata, “`Abbad ibn Ya`qub pernah mempelawa manusia kepada Rafidism.” Ibn Khuzaymah berkata, “`Abbad ibn Ya`qub adalah seorang yang mana tradisinya tidak diragukan, walaupun pegangan kepercayaannya dipersoalkan, etc.” `Abbad menyampaikan dari al-Fadl ibn al-Qasim, Sufyan al-Thawri, Zubayd, Murrah, bahawa Ibn Mas`ud pernah menterjemahkan ayat “Allah telah menyelamatkan yang beriman dari berperang” (Qur’an, 25:33) untuk menunjukkan bahawa mereka telah diselamatkan dari memerangi `Ali. Dia menyebut dari Sharik, `Asim, Tharr, dari `Abdullah yang telah mengatakan bahawa Rasul Allah [sawas] telah berkata: “Apabila kamu melihat Mu`awiyah diatas mimbar ku, bunuhlah dia.” Hadith ini telah dirakamkan oleh Tabari dan lainnya. `Abbad berkata bahawa sesiapa yang tidak menyebutkan di dalam doa harian mereka bahawa dia melepaskan diri dari musuh keturunan Rasul [as] akan dibangkitkan di dalam golongan mereka. Dia juga mengatakan, “Allah awj adalah terlalu adil untuk membenarkan Talhah dan al-Zubayr memasuki syurga, mereka telah memerangi ‘Ali setelah memberikan sumpah setia mereka kepadanya.” Salih al-Jazrah telah berkata: “`Abbad ibn Ya`qub pernah menolak `Uthman.” `Abbad al-Ahwazi menyebutkan dari penyampai yang dipercayainya berkata bahawa `Abbad ibn Ya`qub pernah menolak keturunan ‘mereka’. Walaupun terdapt semua ini, para Imams Sunni seperti al-Bukhari, al-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Khuzaymah, dan Ibn Abu Dawud bergantung kepada penyampaiannya, penasihat mereka, kepada beliau mereka telah memberikan sepenuh kepercayaan. Walaupun dengan perjudis dan penolakkannya, Abu Hatim telah menyebutkan beliau dan berkata bahawa beliau adalah shaykh yang dipercayai. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan dan berkata, “Beliau adalah seorang pelampau Shi’a, ketua pembuat bid’ah; tetapi jujur apabila menyampaikan hadith.” Dia terus menyebutkan seperti yang telah diperkatakan diatas mengenai pandangan `Abbad. Al-Bukhari menyebut dari beliau secara terus ketika membincangkan tawhid di dalam sahihnya. Dia meninggal, semoga Allah mencucuri rahmat keatasnya, di dalam bulan Shawwal 150 H. Al-Qasim ibn Zakariyyah al-Mutarraz dengan sengaja telah salah sampaikan kenyataan `Abbad mengenai menggali laut dan aliran airnya, dan kami berlindung dengan Allah dari berkata dusta mengenai mereka yang beriman; sesungguhnya Dialah yang menggagalkan rencana mereka.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Abbad ibn Ya’qub al-Asadi ar-Rawajini al-Kufi Abu Sa’id Dalam Hadi al-Sari, Ibn Hajar berkata bahwa ‘Abbad adalah orang Rafidhah yang terkenal. Hanya saja ia seorang yang jujur. Abu Hatim memandang dia tsiqat. Hakim berkata: “Ibn Huzaimah ketika bercerita tentang ‘Abbad berkata, “Riwayat ‘Abbad dapat dipercaya, tetapi pendapatnya sangat diragukan.” Ibn Hibban berkata: “Ia seorang Rafidhah yang selalu mengajak orang lain mengikuti jejaknya. Saleh ibn Muhammad berkata, “Ia memaki ‘Utsman ibn ‘Affan.” Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits (disertai perawi hadits lain) dari ‘Abbad tentang tauhid. Hadits dimaksud bersumber dari Ibn Mas’ud, yang cuplikannya berbunyi: “Perbuatan apakah yang paling utama?” Terhadap hadits ini, Imam Bukhari mempunyai banyak jalan dari perawi-perawi yang berlainan. Kenyataan ini dapat menimbulkan pertanyaan, bagaimana Bukhari dan pengumpul hadits lainnya mau menerima hadits dari seorang perawi yang keadaannya dha’if dan lemah (wahan)? Jawabannya adalah bahwa periwayatan itu tidak dipergunakan untuk hujjah, sebab kadang-kadang seorang muhaddits mengeluarkan suatu hadits dari seorang perawi, tetapi ia tidak menjadikannya hujjah. Hal seperti ini lazim dan absah dalam ushul al-hadits, seperti disebut dalam ungkapan: “Seorang mencatat hadits, tetapi ia tidak menjadikannya hujjah.” Hadits seperti itu oleh para ahli hadits digunakan sebagai penguat (pendukung), bukan sebagai penetap hukum dasar. Hal seperti itu sama halnya dengan (perawi) ‘Abbad ibn Ya’qub di mana Bukhari menerima satu hadits darinya dengan disertai sanad hadits lain. Sebenarnya hadits itu sendiri mempunyai, banyak jalan, selain jalan ‘Abbad. Namun tidak ada masalah mengenai periwayatan Bukhari, sebab tak seorang pun yang memandang ‘Abbad dusta. Mereka hanya mengecam sikap rafadhnya. Adapun hadits-hadits ‘Abbad yang diriwayatkan oleh sebagian Ashabus-Sittah, maka tidak ada hubungannya dengan bid’ah ‘Abbad. Kecuali itu, untuk hadits tersebut diketemukan sanad lain yang sahih dan jumlahnya banyak. Wallahu a’lam.

47.    Abdul bin Daud (Abu Abdurrahman) al Hamdani,  Ibnu Qutaibah menyebutnya sebagai seorang syi’ah. Al Bukhari meriwayatkan hadist darinya. Az Zabby tidak menolak pandnagan al Musawi bahkan ia secara tidak langsung mengukuhkanya dengan menampilkan pandnagan ulama ahli hadis sunni yang mendukung periwayatanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdullah ibn Dawud Beliau adalah bapa kepada `Abdul-Rahman al-Hamadani al-Kufi. Beliau tinggal di Al-Harbiyya, di pinggir Basrah. Qutaybah telah menjumlahkan beliau diantara personaliti Shi’a yang terkemua di dalam bukunya Al-Ma`arif, dan al-Bukhari telah bergantung kepada penyampaiannya di dalam buku sahihnya. Rujuk kepada hadith beliau dari al-A`mash, Hisham ibn `Urwah dan Ibn Jurayh. Hadith beliau telah disampaikan di dalam sahih Bukhari oleh Musaddid, `Amr ibn `Ali, dan, disebahagian tempat oleh Nasr ibn `Ali. Dia meninggal pada tahun 212.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Abdullah ibn Dawud ibn Amir ibn Rabi’ al-Hamdani Abu ‘Abdurahman’Abdullah dikenal dengan sebutan, al-Kharibi. Ia berasal dari Kufah, namun tinggal di Kharibah, sebuah tempat di Bashrah. Menurut sebagian pendapat, ia tinggal di Ibadan.Ibn Mu’in, Abu Hatim, Abu Zara’ah, an-Nasa’i dan Daruquthni memandang ‘Abdullah sebagai orang tsiqat. Ibn Sa’ad berkata: “Ia tsiqat, dan tekun beribadah.” Al-Kadimi berkata: “Aku tidak pernah berdusta kecuali sekali saja. Ceritanya begini: Ayahku bertanya, ‘Sudahkah kau belajar kepada seorang guru?’ ‘Sudah,’ jawabku. Padahal, aku belum mengaji kepada seorang guru pun.’Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Abdullah adalah seorang tsiqat, jujur dan terpercaya. Karena itulah Ulama hadits menjadikan hadits ‘Abdullah sebagai hujjah, dan beberapa orang dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits darinya. Kalau benar apa yang dikatakan penulis ad-Muraja’at bahwa Ibn Quthaibah memandang ‘Abdullah al-Kharibi sebagai salah seorang tokoh Syi’ah, hal tersebut tak jadi soal sebagaimana berkali-kali kami kemukakan bahwa ibn Qutaibah dan ulama Sunni lainnya memahami tasyayyu’ sebagai suatu sikap memihak kepada ‘Ali dan Ahlul Bayt, tidak lebih. Mereka membedakan pengertian tasyayyu’ dan rafadh. Ulama Sunni tidak menolak riwayat orang Syi’ah sejauh ia dikenal sebagai orang jujur, taqwa, tidak dusta, dan tidak mempromosikan bid’ahnya.

48.    Abdullah bin Syaddad bin Hadi (Usamah) bin ’Amr al Laitsi.  Pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib, Ibn Sa’ad dalam Thabaqat menyebutnya sebagai ulama dan ahli fiqh kalangan syi’ah. Bukhari dan Muslim meriwayatikan dalam kitab shahihnya. Az Zabby jsutru menguatkan dengan menampilakn pandangan ulama ahli hadis kalngan sunni tentang ke tsiqatan dirinya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdullah ibn Shaddad ibn al-Had Nama penuh Al-Had adalah Usamah ibn `Abdullah ibn Jabir ibn al-Bashir ibn `Atwarah ibn `Amir ibn Malik ibn Laith al-Laithi al-Kufi Abul-Walid, seorang sahabat Amirul Mukminin (as). Ibu beliau adalah Salma anak perempuan  `Amis al-Khayth`ami, adik kepada Asma’. Dia adalah sepupu dari pihak ibu kepada `Abdullah ibn Ja`fer dan Muhammad ibn Abu Ja`fer, dan abang kepada `Amara anak perempuan Hamzah ibn `Abdul-Muttalib dari pihak ibu. Ibn Sa`d memuatkan beliau diantara penduduk Kufa yang amat terkenal dengan ilmu fiqh dan berpengetahuan dan tergolong di dalam tabi`in. Pada penutup biografinya, pengarang mengatakan di muka surat 86 di  Vol. 6 dari bukunya Tabaqat: “Semasa pemerintahan `Abdul-Rahman ibn Muhammad ibn al-Ash`ath, `Abdullah ibn Shaddad adalah diantara mereka yang membaca al-Quran secara hafalan dan memerangi al-Hajjaj, dan beliau terbunuh semasa peperangan Dujail.” Dia juga berkata, “Beliau adalah salah seorang faqih yang jujur yang telah menyampaikan banyak hadith, dan beliau adalah seorang Shi’a.” Peperangan yang dirujukkan diatas berlaku di dalam tahun 81 H. Semua pengarang buku sahih telah bergantung pada penyampaian `Abdullah ibn Shaddad. Hadith beliau telah disampaikan oleh Ishaq al-Shaybani, Ma`bid ibn Khalid dan Sa`d ibn Ibrahim. Hadith mereka dari ‘Abdullah ibn Shaddad terdapat di dalam kedua buku sahih dan juga yang lainnya, sebagai tambahan kepada semua Musnad. Al-Bukhari dan Muslim menyebutkan hadith beliau seperti disampaikan dari `Ali (as), Maymuna dan `Aisha.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Abdullah ibn Syaddad ibn al-Hadi al-Laytsi ‘Abdullah dilahirkan pada zaman Nabi. Imam Ahmad berkata: “‘Abdullah tidak menerima hadits secara langsung dari Rasulullah saw.” Ibn al-Madini berkata: “‘Abdullah berperang bersama ‘Ali pada hari Nahrawan.” Menurut al-Waqidi, ia berperang bersama Qara’ pada peperangan Asy’ats melawan Hajjaj. Lalu ia terbunuh pada hari Dujail. ‘Abdullah sendiri termasuk orang yang, tsiqat, banyak haditsnya, dan ia berpihak kepada ‘Ali (tasyayyu’). Al-Ajili dan Khatib berkata: “‘Abdullah termasuk pemuka tabi’in, dan tsiqat. Menurut Abu Zara’ah dan Nasa’i, ia tsiqat. Menurut Ibnu Sa’ad, ia pendukung ‘Utsman, dan tsiqat dalam haditsnya. Namun pernyataan ibn Sa’ad di atas merupakan suatu pernyataan yang banyak dipertanyakan orang. Dari pendapat-pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Abdullah adalah seorang tabi’in yang tsiqat dan terpercaya. Tidak ditemukan pernyataan ulama yang menggugurkan sifat adil ‘Abdullah. Karena itu, beberapa orang dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits ‘Abdullah. Mengenai pendapat yang menyatakan bahwa ‘Abdullah adalah Syi’ah, itu tidak mengurangi sifat keadilan dan kekuatan hadits ‘Abdullah sebagai hujjah, asalkan kita tetap memahami pengertian tasyayyu’ menurut ulama Sunni. Wallahu a’lam bishshawab.

49.   Abdullah bin Umar bin Muhammad bin Abban al Qurasyi ( Julukanya Masykadanah) ia adalah guru dari Muslim, Abu Daud dan al Baghawi. Ia disebut oleh Muhammad abu Jazrag sebagai seorang syi’ah. Asz Dzahabi menyebutkanya Muslim dan Abu Daud meriwayatkan hadist darinya. Az Zabby tidak dapat membantah pandangan al Musawi alih-alih ia menunjukan pandnagn ulama ahli hadis sunni tentang ketsiqatanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdullah ibn `Umer ibn Muhammad ibn Aban ibn Salih ibn `Umayr al-Qarashi al-Kufi Beliau juga dikenali sebagai Mishkadanah, beliau adalah penasihat kepada Muslim, Abu Dawud, al-Baghwi, dan ramai lagi mereka yang terkenal dan semuanya telah mempelajari hadith dari beliau. Abu Hatim telah menyebut beliau dengan mengatakan tentang kejujurannya. Dia menyebutkan hadith dari beliau dan mengatakan bahawa beliau adalah Shi’a. Salih ibn Muhammad ibn Jazrah telah menyebut beliau dan berkata bahawa beliau adalah ‘pelampau’ Shi’a. Walaupun terdapat semua ini, `Abdullah ibn Ahmed telah menyampaikan hadith bari bapanya. Abu Hatim menyatakan bahawa Mishkadanah seorang yang boleh dipercayai. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam Al-Mizan, menerangkan beliau sebagai “seorang yang jujur yang telah mempelajari banyak hadith dari al-Mubarak, al-Dar Wardi, dan kumpulan ulama dari golongan mereka. Muslim, Abu Dawud, al-Baghwi dan ramai yang lain telah merakamkan banyak hadith dari beliau.” Dia telah memberi tanda nama beliau dengan singkatan nama Muslim dan Abu Dawud, menunjukkan dengannya bahawa mereka bergantung kepada hadithnya, dan meyebutkan apa yang ulama diatas telah katakan mengenai beliau. Dia juga telah mengatakan bahawa beliau telah meninggal dalam tahun 239 H. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih Muslim seperti yang disampaikan melalui `Abdah ibn Sulayman, `Abdullah ibn al-Mubarak, `Abdul-Rahman ibn Sulayman, `Ali ibn Hashim, Abul-Ahwas, Husayn ibn `Ali al-Ju`fi dan Muhammad ibn Fudayl. Di dalam bab mengenai dengan penyebab-penyabab pada perpecahan, Muslim menyebut hadith dari beliau secara terus. Abul-`Abbas al-Sarraj telah berkata bahawa beliau meninggal dalam tahun 238 atau 237 H

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Abdullah ibn Amir ibn Muhammad ibn Abban ibn Shalih, yang bergelar MusykadanahMenurut Abu Hatim, ia jujur. Ibn Hibban menyebutkan namanya di dalam kitab ats-Tsiqat (Daftar Perawi yang Tsiqat). Shahih Hammad memandang ‘Abdullah sebagai Syi’ah ekstrim. Al-Aqili meriwayatkan dari sebagian gurunya bahwa sesungguhnya ‘Abdullah tergolong orang yang selamat. Imam Muslim meriwayatkan 12 hadits dari ‘Abdullah mengenai Fathimah al-Zahrah. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Abdullah ibn Amir adalah tsiqat dan jujur. Tidak ditemukan pernyataan ulama yang dapat menodai ketsiqatan dan kejujuran ‘Abdullah. Karena itu, beberapa orang dari Ashabus-Sittah meriwayatkan haditsnya. Mengenai tuduhan bahwa dia Syi’ah, itu tidak mengurangi kredibilitas ‘Abdullah, setelah kita mengerti makna dari istilah “Syi’ah” itu. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa ‘Abdullah adalah Syi’ah ekstrim, itu tidak lain maksudnya adalah bahwa ia lebih mengutamakan ‘Ali daripada ‘Utsman. Sikap seperti ini tidak menjadi persoalan bagi seorang perawi hadits, asalkan ia dikenal sangat jujur.
.

50.    Abdullah bin Luhai’ah bin Uqbah al Hadhrami Ia adalah ulama yang menjabat sebagai qadhi mesir. Ibnu Qutaibah memasukanya sebagai tokoh syi’ah. Adz Dzahabi menyebutkan Shahih Muslim dan Turmudsi banyak mengutip hadis darinya. Az Zabby menuliskan dalam bukunya polemik berkenaan dirinya antara kelompok ulama Hadis ahlu sunnah yangmenerima riwayatnya dan menolak riwayatnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  `Abdullah ibn Lahi`ah ibn `Uqbah al-Hadrami, seorang kadi dan ulama Mesir Di dalam bukunya Ma`arif, Ibn Qutaybah telah memuatkan beliau diantara shaykh yang terkenal. Di dalam biografi `Abdullah ibn Lahi`ah, di dalam Al-Mizan nya, Ibn `Adi telah menerangkan beliau sebagai ‘pelampau Shi’a’ Menyebut dari Talhah, Abu Ya`li, mereka telah berkata: “Abu Lahi`ah telah berkata: `Hay ibn `Abdullah al-Ghafari telah menyampaikan melalui penyampaian Abu `Abdullah Rahman al-Hibli dari `Abdullah ibn `Umer bahawa ketika baginda sakit (yang membawa kepada kewafataannya), Rasul Allah [sawas] memberitahu kami untuk memanggil adiknya. Kami bawakan kepada beginda Abu Bakr, tetapi baginda berpaling darinya dan berkata: `Saya telah meminta untuk dibawakan adik saya’. Kami kemudian bawakan `Uthman, tetapi sekali lagi Rasul Allah [sawas] berpaling darinya. `Ali (as) kemudiannya telah dibawa kepada baginda. Baginda menutupnya dengan jubah dan miringkan kepada baginda kepada bahu beliau untuk seketika lamanya [seakan baginda membisik sesuatu ketelinga beliau]. Apabila `Ali telah beredar, manusia bertanya kepada beliau: `Apakah yang Rasul [sawas] telah katakan kepada kamu?’ Beliau menjawab: `Baginda mengajarkan kepada ku seribu bab dan setiap bab membawa kepada seribu seksen.’”  Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan nya, menandakan nama beliau dengan DTQ untuk menunjukkan siapakan diantara pengarang buku sahih yang menyebutkan dari beliau [i.e. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Dar Qutni. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam sahih al-Tirmidzi, Abu Dawud dan semua musnads. Ibn Khallikan sangat menyanjung beliau di dalam Wafiyyat al-A`yan. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam Sahih Muslim seperti yang disampaikan oleh Yazid ibn Abu Habib. Di dalam bukunya Al-Jam` Bayna Kitabay Abu Nasr al-Kalabathi wa Abu Bakr al-Asbahani [Penyusunan kedua buah buku dari Abu Nasr al-Kalabathi dan Abul-Faraj al-Asbahani, al-Qaysarani memuatkan beliau diantara penyampai yang dipercayai oleh Bukhari and Muslim. Ibn Lahi`ah meninggal pada hari Ahad pertengahan Rabi`ul Akhir, 174 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Abdullah ibn Luhai’ah ibn Uqbah al-Hadrami, Ia menjabat sebagai hakim Mesir dan termasuk ulama di negeri itu. Menurut Ibn Mu’in, ia lemah (dha’if), dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Menurut al-Hamidi dari Yahya ibn Saad, ‘Abdullah tidak atau kurang diperhitungkan. Ibn Muhdi berkata: “Aku tidak pernah menggubris sesuatu hadits yang kudengar dari ‘Abdullah ibn Luhai’ah. Ibn al-Madini dari ibn Muhdi berkata: “Aku tidak pernah mengambil sesuatu (hadits) dari ibn Luhai’ah.” Ahmad ibn Zubair dari Yahya berkata: “Hadits ibn Luhai’ah tidak kuat alias lemah.” Menurut Abu Zara’ah dan Abu Hatim, Ibn Luhai’ah plin-plan, tidak tegas. Haditsnya dapat ditulis sebagai i’tibar (bahan pertimbangan). Menurut al-Jauzjani, tidak ada cahaya kebenaran pada hadits ‘Abdullah, dan tidak selayaknya haditsnya dijadikan hujjah. Pada suatu hari an-Nasa’i berkata: “Aku tidak meriwayatkan dari ibn Luhai’ah, kecuali satu hadits yang diberitakan kepadaku oleh Hilal ibn al-’Ala. Ibn Hanbal berkata: “Aku mendengar ‘Abdullah berkata bahwa hadits ibn Luhai’ah tidak dapat dijadikan hujjah, dan aku banyak menulisnya sekedar mengambil i’tibar dan untuk menguatkan sebagian hadits dengan hadits yang lainnya.” Ibn Hibban berkata: “Aku telah meneliti hadits-hadits Ibn Luhai’ah pada riwayat ulama mutaqaddimin (masa dahulu) dan muta’akhkhirin (masa belakangan). Lalu aku melihat adanya takhlith (campuraduk) dalam riwayat ulama muta’akhkhirin. Sedangkan dalam riwayat ulama mutaqaddimin banyak dijumpai hal-hal yang tidak ada dasarnya sama sekali. Aku pun kembali beri’tibar. Dan ternyata aku melihat Ibn Luhai’ah telah melakukan tadlis, mencampuraduk antara berita dari orang lemah dengan berita dari orang yang dipandang tsiqat. Maka bercampurlah antara keduanya. Dan ibn ‘Adi memandang dia Syi’ah ekstrim. Dari pendapat-pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Abdullah ibn Luhai’ah adalah dha’if. Haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Adapun sebab kedha’ifannya terletak pada tadlis yang dilakukannya. Juga terletak pada kurangnya daya ingatan (dhabith) dan ketsiqatan Ibn Luhai’ah. Mengenai tuduhan “Syi’ah ekstrim” sebagaimana dikatakan Ibn Adi, tidaklah mengurangi sifat adil dan kekuatan haditsnya, seandainya ia tidak melakukan tadlis dan tidak lemah daya ingatnya. Jika sebagian ulama hadits menerima haditsnya, maka hal itu tidak untuk digunakan sebagai hujjah, tetapi untuk i’tibar. Sebab Ibn Luhai’ah termasuk orang yang bisa didaftar haditsnya, namun tidak dapat dijadikan hujjah. Disamping itu, mereka meriwayatkan hadits itu dengan disertai hadits lain supaya dapat menguatkannya. Wallahu a’lam bis-shawab.

51.   Abdullah bin Maimun al Qaddah al Makki ia adalah pengikut imam Ja’far ash shidiq, Turmudzi berpegang pada haditsnya, Az Zabby menjelaskan penolakan hadis yang diriwayatkanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Abdullah ibn Maymun al-Qaddah al-Makki Seorang sahabat Imam Ja`fer ibn Muhammad al-Sadiq (as), penyampaian beliau telah digunakan oleh al-Tirmidzi. Al-Thahbi menyebut beliau dan menandakan nama beliau dengan singkatan al-Tirmidzi sebagai petunjuk bahawa yang kemudian menyebutkan hadith dari beliau. Dia menambah dengan berkata bahawa beliau menyampaikan hadith yang disampaikan oleh Imam Ja`fer ibn Muhammad al-Sadiq (as), dan dari  Talhah ibn `Umer.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Abdullah ibn Maimun al-Qaddah al-Makki Menurut Imam Bukhari, ‘Abdullah termasuk orang yang perlu dijauhi haditsnya. Abu Zara’ah memandang haditsnya penuh kealpaan. Menurut at-Turmudzi, hadits Ibn Maimun itu munkar. Ibn ‘Adi berkata: “Pada umumnya hadits Ibn Maimun tidak dapat diikuti.” Menurut Imam Nasa’i, ia dha’if Abu Hatim berkata; “Hadits Ibn Maimun adalah munkar. Ia meriwayatkan hadits dari sumber-sumber secara bercampuran.” Hadits Ibn Maimun –tanpa disertai sanad lain– tidak dapat dijadikan hujjah. Abu Nu’aim berkata: “‘Ibn Maimun meriwayatkan hadits-hadits munkar.” Para ulama sepakat bahwa Ibn Maimun itu dha’if, tidak tsiqat dan haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Tidak seorang pun yang menentang kesepakatan ini. Namun al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, memandang Ibn Maimun sebagai perawi Syi’ah yang tsiqat. Hal ini jelas berlawanan dengan kesepakatan bulat para ulama hadits mengenai kedha’ifan Ibn Maimun. Penilaian al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah yang kontroversial itu, hanya karena Ibn Maimun merupakan teman dekat salah seorang imam Syi’ah, yaitu Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq. Dari sini terlihat bahwa kaum Rafidhah tidak memiliki metoda (sistem) untuk menentukan tsiqat dan dha’ifnya para perawi. Mereka hanya orang yang menuruti hawa nafsu, dan tersesat karenanya. Jika Imam at-Turmudzi meriwayatkan hadits dari Ibn Maimun, tidak berarti haditsnya dapat dijadikan hujjah. Sebab, seperti saya kemukakan berulang kali, sebuah hadits bisa didaftar sekedar sebagai i’tibar. Itu pun disertai sanad lain yang adil dan tsiqat.

c.     Catatan  tuduhan az Zabby yang dimiliki Ahlul Ba’it justru lebih sempurna, pengujian validitas sebuah hadits bukan hanya ditentukan dengan tsiqat dan dha’ifnya para perawi, tetapi mesti melalui pengujian dengan Al Qur’an, sehingga tidak ditemukan hadis asatir yang melecehkan para Nabi sebagaimana terdapat dalam riwayat hadits ahlu sunnah. Salman Rusdi penulis ayat-ayat setan mengakui bahwa sumber novelnya banyak diambil dari sumber otentik hadis di kitab-kitab standar yang enam (milik ahlu sunnah-pen)

52.    Abdurrahman bin shaleh al azdi (Abu Muhammad al Kufi) Ibnu ’Adi menyebutkanya sebagai orang yang terbakar dalam faham syi’ah. Abu daud menyebutkan bahwa ia pernah menulis sebuah buku tentang  cacad para sahabat.  Meskipun begitu an Nasai dan al Baghawi mempercayai hadistnya demikian penuturan adz dzahabi.  Az Zabby dalam bukunya tidak mengkritik al Musawi ia justru menampilakn polemik diantara ahli hadist ahlu sunnah yang menolak dan menerima riwayatnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdul-Rahman ibn Salih al-Azdi Nama beliau adalah Abu Muhammad al-Kufi. Pelajar dan juga sahabat beliau `Abbas al-Duri berkata bahawa beliau seorang Shi’a. Ibn `Adi menyebutnya dan berkata, “Beliau telah terbakar di dalam api Shi’a.” Salih Jazrah berkata bahawa `Abdul-Rahman pernah menentang `Uthman. Abu Dawud berkata bahawa `Abdul-Rahman telah menyusun sebuah buku mengandunggi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebahagian para sahabat Rasul [sawas], dan bahawa beliau adalah seorang yang keji. Walaupun terdapat ini semua keduanya `Abbas al-Duri dan Imam al-Baghwi menyampaikan hadith beliau. Al-Nisa’i juga menyebut darinya. Al-Thahbi telah merujuk kepada beliau di dalam Al-Mizan nya dan menandakan nama beliau dengan singkatan  al-Nisa’i sebagai petunjuk bahawa yang kemudian telah bergantung kepada beliau. Dia juga telah menyebutkan apa yang para Imams (diantara para Sunnis) telah katakan mengenai beliau seperti tertulis diatas. Dia menunjukkan bahawa Ma`in mempercayai kepada beliau, dan beliau meninggal pada tahun 235. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam buku Sunan seperti yang disampaikan melalui Sharik dan kumpulan terkemuka lainnya

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Abdurahm’an ibn Shaleh al-Azdi al-Ataki, Diceritakan bahwa Ibn Shaleh akan menemui Ahmad ibn Hanbal. Dikatakan hal itu kepada Ahmad. Lalu Ahmad berkata: “Maha Suci Allah! ia seorang yang mencintai keluarga Nabi. Ia adil.” Menurut Yahya ibn Mu’in, ia tsiqat, jujur, dan syi’ah. Bagi Ibn Shaleh, demikian Yahya, jatuh pingsan dari langit lebih ia sukai daripada berdusta walau hanya sepatah kata. Abu Hatim menilai Ibn Shaleh sebagai orang yang jujur. Musa ibn Harun berkata: “Ia tsiqat, yang bercerita tentang kekurangan-kekurangan para istri Rasulullah dan para sahabat:” Abu al-Qasim berkata: “Aku mendengar Ibn Shaleh berkata: “Orang paling utama setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar dan ‘Umar.” Shaleh ibn Muhammad berkata: “Ia orang Kufah, yang mencerca ‘Utsman, tetapi ia jujur.” Abu Dawud berkata: “Aku tidak berminat untuk mendaftar hadits Ibn Shaleh. Ia menulis buku yang mengecam sahabat-sahabat Rasul” Ibn Hibban menyebut Ibn Shaleh dalam kitab ats-Tsiqat. Ibn Adi berkata: “Ibn Shaleh sangat dikenal di kalangan orang Kufah. Tidak ada orang yang menyatakan haditsnya dha’if. Hanya saja ia sangat menonjol dalam berpaham Syi’ahnya. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Shaleh bukan orang yang suka berdusta. Para ahli sepakat mengenai kejujurannya. Namun, mereka mengakui dan mencatat sikapnya yang condong ke Syi’ah. Sungguhpun demikian, sifat yang ditunjukkan Ibn Shaleh, seperti dikemukakan para ulama, tidaklah sampai pada batas rafadh. Sebab, Ibn Shaleh tidak mengutamakan ‘Ali atas Abu Bakar dan ‘Umar. Dan kalau benar bahwa ia menulis sebuah buku mengenai kekurangan-kekurangan para sahabat Nabi, maka hal itu menjadi dasar untuk menilai ia sebagai pembid’ah. Akan tetapi ia tidak menghalalkan sikap dusta untuk menguatkan pahamnya. Karena itu, ulama hadits tetap menjadikan haditsnya sebagai hujjah, karena ia dikenal sangat jujur dan anti kebohongan. Wallahu a’lam. Hal di atas menunjukkan konsistensi ulama Sunni terhadap sistem dan metodologi ilmiah yang mereka ciptakan sebagai dasar al-jarh wat-ta’dil, (pertimbangan kekuatan dan keadilan rawi), ‘ilm ar-rijal (ilmu tentang perawi-perawi hadits), dan dalam qabulur-riwayat wa rafdhiha (diterima atau ditolaknya riwayat).

c.    Catatan :  seperti diakui sendiri oleh Mahmud az Zabby sistem dan metodologi pengujian hadis menurut ahlu sunnah hanya menggunakan 3 hal yaitu al-jarh wat-ta’dil, (pertimbangan kekuatan dan keadilan rawi), ‘ilm ar-rijal (ilmu tentang perawi-perawi hadits), dan dalam qabulur-riwayat wa rafdhiha (diterima atau ditolaknya riwayat). Dalam tradisi syi’ah metodologi itu masih ditambah satu sebagaimana yang diperintahkan Imam Ja’far ash Shadiq yaitu hadis mesti diuji validitasnya dengan Al Qur’an. Maka dalam hadis ahlu sunnah banyak ditemukan hadis yang menyudutkan pribadi Rasulullah yang suci, misalkan : Rasulullah saw yang terkena sihir, Rasulullah yang bermuka masam, Rasulullah yan sholat tidak mandi junub dan lainnya.

53.    Abdurrazzaq bin Humam bin Nafi’ al Himyari ash shan’ani Ia adalah sokoh syi’ah yang terkemuka, sebagimana disebutkan Ibn Qutaibah. Ia yang meriwayatkan tentang keutamaan ahlul ba’it. Ibn Khallikan menyebutkan bahwa bahyak pula yang meriwayatkan hadist darinya diantaranya : Sufyan bin Uyainah, Ahmad bin Hanbal,  Yahya bin Mu’in. Az Zabby sang polemis, tidak menolak pandnagan itu bahkan dia berkomentar dalam dua halaman dengan mengutip pandangan para ahli hadist sunni tentang ketsiqatan dirinya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdul-Razzaq ibn Humam ibn Nafi` al-Himyari al-San`ani Seorang dari pemuka Shi’a dan dari keturunan yang dihormati, beliau telah dijumlahkan oleh Ibn Qutaybah diantara yang terkemuka Shi’a di dalam Ma`arif. Ibn al-Athir, pada muka surat 137, Vol. 6, dari bukunya Al-Tarikh Al-Kamil, menyebutkan kematian `Abdul-Razzaq pada penghujung peristiwa di dalam tahun 211 H. iaitu: “Dalam tahun itu, ahli tradisionis `Abdul-Razzaq ibn Humam al-San`ani, seorang dari penasihat Ahmed, yang Shi`a telah meninggal.” Al-Muttaqi al-Hindi menyebut beliau ketika membincangkan hadith no 5994 di dalam bukunya Kanz al-`Ummal, pada muka surat 391, Vol. 6, mengatakan bahawa beliau adalah Shi’a. Al-Thahbi, di dalam Al-Mizan, berkata, “`Abdul-Razzaq ibn Humam ibn Nafi`, penasihat Abu Bakr al-Himyari, adalah seorang Shi’a, seorang pembesar San`a, adalah seorang tradisionis yang amat dipercayai diantara semua ulama.” Dia meyampaikan biografi beliau dan menambah: “Beliau mempunyai banyak penulisan, mengarang [khususnya] Al-Jami` Al-Kabir. Beliau adalah pemelihara pengetahuan yang dicari oleh ramai manusia, seperti Ahmed, Ishaq, Yahya, al-Thahbi, al-Ramadi, dan `Abd.” Dia membincangkan kerekter beliau dan menyebut al-`Abbas ibn `Abdul-`Azim, yang menuduh beliau sebagai penipu. Dia menyatakan bahawa al-Thahbi telah menolak tuduhan yang sedemikian. Dia berkata, “Bukan sahaja Muslim, tetapi semua mereka yang telah menghafal hadith telah bersetuju dengan al-`Abbas, sedangkan para Imams yang berpengetahuan bergantung kepada penyampaian beliau.” Dia terus menyampaikan biografi beliau, dengan menyebut dari al-Tayalisi sebagai berkata: “Saya telah mendengar Ibn Ma`in mengatakan sesuatu yang darinya saya telah yakin bahawa `Abdul-Razzaq adalah seorang Sh’a. Ibn Ma`in bertanya kepadanya: `Guru kamu seperti Mu`ammar, Malik, Ibn Jurayh, Sufyan, al-Awza`i, semuanya adalah Sunnis. Dimana kamu belajar golongan Shi`ism?’ Dia menjawab: `Ja`fer ibn Sulayman al-Zab`i suatu ketika datang melawat, dan saya dapati beliau amat dihormati dan mendapat petunjuk yang benar, dari itu saya mempelajari Shi`ism dari beliau.’” `Abdul-Razzaq, seperti yang disebutkan diatas, dalam kenyataan dimana beliau berkata bahawa beliau adalah seorang Shi’a menunjukkan bahawa beliau telah mempelajari Shi`ism dari Ja`fer al-Zab`i, tetapi Muhammad ibn Abu Bakr al-Muqaddimi memikirkan bahawa Ja`fer al-Zab`i sendiri yang telah mempelajari Shi`ism dari `Abdul-Razzaq. Bahkan dia menolak `Abdul-Razzaq atas sebab ini. Di dalam Al-Mizan, dia telah disebutkan sebagai berkata, “Saya harap saya telah kehilangan `Abdul-Razzaq untuk selamanya. Tiada siapa yang telah merosakkan kepercayaan Ja`fer selain dari dia.” Kerosakkan yang dia maksudkan adalah Shi`ism!  Ibn Ma`in sangat bergantung kepada penyampaian `Abdul-Razzaq, walaupun dia telah mengatakan bahawa beliau adalah seorang Shi`a seperti yang dinyatakan diatas. Ahmed ibn Abu Khayth`amah, seperti di dalam biografi Abdel-Razzaq di dalam Al-Mizan, telah berkata, “Ianya telah dikatakan kepada Ibn Ma`in bahawa  Ahmed berkata bahawa `Ubaydullah ibn Musa menolak hadith `Abdul-Razzaq kerana beliau adalah seorang Shi’a. Maka Ibn Ma`in menjawab: `Saya bersumpah dengan Allah, Tuhan yang Esa, bahawa `Abdul-Razzaq lebih utama 100 kali dari `Ubaydullah, dan saya telah mendengar hadith `Abdul-Razzaq dan mendapatinya lebih banyak berjilid-jilid dari yang dipunyai `Ubaydullah.’” Juga di dalam biografi `Abdel-Razzaq di dalam Al-Mizan, Abu Salih Muhammad ibn Isma`il al-Dirari telah disebutkan sebagai berkata, “Ketika kami di San`a, tetamu `Abdul-Razzaq, kami mendengar bahawa Ahmed dan Ibn Ma`in, bersama dengan yang lainnya, telah menolak hadith `Abdul-Razzaq, atau mengatakan tidak suka kepadanya, kerana tradisionis adalah seorang Shi’a. Berita itu amat menyedihkan kami. Pada fikiran kami bahawa kami telah membelanjakan wang yang banyak dan bersusah payah untuk datang kesini, semuanya adalah sia-sia sahaja. Kemudian saya bersama dengan rombongan haji yang hendak menuju ke Makah dimana saya bertemu dengan Yahya dan bertanyakan beliau mengenai isu tersebut. Dia, sebagaimana tersebut di dalam biografi `Abdel-Razzaq di dalam Al-Mizan, berkata: `Wahai Abu Salih! Walaupun jika `Abdul-Razzaq meninggalakan Islam sama sekali, janganlah kita menolak hadith darinya.’”  Ibn `Adi telah menyebut beliau dan berkata: “`Abdul-Razzaq telah menyampaikan hadith mengenai kemuliaan, tetapi tiada siapa yang mengesahkannya.[11] Beliau juga menyenaraikan kesalahan-kesalahan orang tertentu,  pandangannya telah ditolak oleh yang lain;[12] lebih-lebih lagi beliau dipercayai adalah seorang Shi’a.”  Walaupun telah terdapat semua ini, Ahmed ibn Hanbal telah ditanyakan suatu ketika, seperti tertulis di dalam biografi `Abdel-Razzaq di dalam Al-Mizan, sama ada dia mengetahui mana-mana hadith yang lebih baik dari yang disampaikan oleh `Abdul-Razzaq, dan jawapannya adalah negetif. Ibn al-Qaysarani menyatakan pada penghujung biografi `Abdul-Razzaq di dalam bukunya Al-Jami` Bayna Rijalul Sahihain, menyebut dari Imam Ahmed ibn Hanbal sebagai berkata, `Jika manusia mempertikaikan hadith Mu`ammar, maka penyelesainya yang terakhir adalah `Abdul-Razzaq.’ Mukhlid al-Shu`ayri berkata bahawa dia suatu ketika berada di dalam kumpulan `Abdul-Razzaq apabila sesaorang menyebut Mu`awiyah. `Abdul-Razzaq, seperti yang disebutkan di dalam biografinya di dalam Al-Mizan, kemudian berkata: `Janganlah merosakkan perjumpaan kita dengan menyebutkan keturunan Abu Sufyan.’” Zayd ibn al-Mubarak telah berkata: “Kami berada di dalam kumpulan ‘Abdul-Razzaq suatu ketika apabila kita memperkatakan hadith ibn al-Hadthan. Iaitu apabila `Umer’s berkata kepada `Ali dan al-`Abbas: `Kamu (i.e. `Abbas) telah datang untuk meminta warisan sepupu kamu [Rasul [sawas] sedangkan orang ini (i.e. `Ali) telah datang untuk meminta warisan isterinya dari bapanya, telah dibacakan, `Abdul-Razzaq, sebagaimana yang dinyatakan di dalam biografinya Al-Mizan, berkata: `Hentikanlah yang sungguh memalukan ini, manusia yang biadap sahaja yang menggunakan ‘sepupu’ dan ‘bapa’ sepatutnya Rasul Allah [sawas]!” Walaupun dengan semua ini, kesemua penyusun Hadith telah merakamkan hadith beliau dan bergantung kepada penyampaiannya. Malah telah diperkatakan, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Khallikan di dalam Wafiyyat al-A`yan, bahawa manusia tidak pergi kepada sesiapa selepas Rasul [sawas] sebegitu kerap seperti yang mereka lakukan kepada `Abdul-Razzaq’s. Beliau telah disebutkan oleh Imam yang sezaman dengannya seperti Sufyan ibn `Ayinah, adalah diantara para-para penasihat-penasihat. `Abdul-Razzaq sendiri adalah seorang darinya,  Ahmed ibn Hanbal, Yahya ibn Ma`in, dan lain lagi.Rujuklah kepada hadith beliau di dalam semua buku Sahih, dan juga Musnad, yang mana mengandungi sebahagian dari hadith beliau. Beliau telah dilahirkan, semoga Allah merahmati ruhnya, pada tahun 211 H. Beliau adalah sezaman dengan Abu `Abdullah Imam al-Sadiq (as) untuk selama 20 tahun.[13] Beliau meninggal semasa permulaan Imamate bagi Imam Abu Ja`fer al-Jawad (as), sembilan tahun sebelum Imam wafat.;[14] semoga Allah membangkitkan beliau bersama dengan para Imam ini yang beliau telah berkhidmat kepada mereka [as], adalah untuk mencari keridhaan kepada Allah.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Abdurrazzaq ibn Himam ibn Nafi’ al-Humairi ash-Shan’ani . Penulis kitab Fath al-Bari berkata: “Ibn Himam adalah salah seorang penghafal hadits yang terpercaya. Ia memiliki banyak karya tulis. Semua imam memandang dirinya tsiqat, kecuali ‘Abbas ibn ‘Abdil ‘Adzim al-Anbari. Pandangan ‘Abbas tentang Himam agak subyektif, sehingga tak seorang pun sependapat dengannya. Abu Zara’ah ad-Dimasyqi berkata: “Dikatakan kepada Ahmad ibn Hanbal, siapa yang lebih terpercaya antara ‘Abdurrazaq ibn Himam dan Muhammad ibn  Bakar ad-Dasani?” jawab Ahmad, ” ‘Abdurrazaq.”‘Abbas ad-Duri dari Ibn Mu’in berkata: ‘Abduffazaq adalah perawi yang terpercaya dalam hadits Makmar dari Hisyam ibn Yusuf. Ya’qub ibn Syaibah dari ‘Ali ibn al-Madini berkata: “Hisyam ibn Yusuf berkata kepadaku, ‘Abdurrazaq adalah orang yang paling alim dan paling hafal diantara kita.” Berkata Ya’qub: “Keduanya (‘Abdurrazaq dan Hisyam) adalah orang tsiqat dan terpercaya.” Adz-Dzahili berkata: “‘Abdurrazaq adalah orang paling tahu tentang hadits, dan dia “hafizh”. Ibn ‘Adi berkata: “Perawi-perawi hadits yang tsiqat banyak berdatangan menemui ‘Abdurrazaq. Mereka meriwayatkan hadits darinya. Namun mereka memandangnya Syi’ah. Label Syi’ah ini merupakan kecaman mereka yang paling akut. Tetapi, kejujuran ‘Abdurrazaq menempatkannya di posisi yang tidak tergoyahkan. An-Nasa’i berkata: “Perlu penelitian lebih jauh bagi orang yang menulis hadits ‘Abdurrazaq di saat ia berusia senja. Banyak orang menerima hadits munkar darinya.” Atsram dari Ahmad berkata: “Barangsiapa mendapatkan informasi (hadits) dari ‘Abdurrazaq setelah ia buta, maka itu bukanlah hadits. Apa yang sudah ditulis dalam buku-bukunya, maka hal itu adalah benar dan shahih. Tetapi yang tidak tercatat dalam buku-bukunya, maka itu hanyalah hasil rekaman setelah ada upaya mengingat kembali apa yang pernah diketahuinya.” Ibn Hajar berkata: “Imam Bukhari berhujjah dengan sejumlah hadits yang diterima dari ‘Abdurrazaq sebelum ia memasuki usia senja. Dan imam-imam yang lain meriwayatkan hadits darinya.” Dari berbagai pendapat ulama di atas dapat disimpulkan bahwa para ahli sepakat mengenai sifat adil, tsiqat, kejujuran dan kuatnya daya ingat ‘Abdurrazaq sebelum ia memasuki masa tuanya (masa di mana terjadi ikhtilath (campur-aduk). Pada waktu itu, tidak seorang pun berbeda pendapat. Hadits-haditsnya yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab Sunan lainnya, semuanya diriwayatkan sebelum ‘Abdurrazaq memasuki masa ikhtilath. Kalangan ahli hadits tidak berselisih untuk berhujjah dengan hadits ‘Abdurrazaq sebelum tuanya. Adapun gelar Syi’ah yang dialamatkan kepadanya sudah merupakan kecaman ulama hadits yang paling keras. Namun label Syi’ah yang disandangnya tidak merusak sifat adil, tsiqat dan kejujurannya. Sebab ia bukanlah penganut Syi’ah ekstrim yang sampai ke tingkat rafadh. Selain itu, ia dikenal sangat jujur dan taqwa. Mengenai bukti yang menunjukkan bahwa ia bukan Syi’ah Rafidhah adalah perkataan Ahmad ibn Azhar, “Aku mendengar ‘Abdurrazaq berkata: “Aku mengutamakan Abu Bakar dan ‘Umar lantaran ‘Ali ibn Abi Thalib lebih mengutamakan mereka daripada dirinya sendiri. Seandainya ‘Ali tidak mengutamakan mereka, tentu saya pun tidak akan melakukannya. Cukuplah dosaku manakala aku mencintai ‘Ali, namun mengingkari ucapannya.” ‘Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal berkata: “Aku bertanya kepada ayahku, apakah ‘Abdurrazaq itu Syi’ah ekstrim? ‘Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu,’ jawab ayahku.” Salamah ibn Syabib berkata: “Aku mendengar ‘Abdurrazaq berkata: Demi Allah, dadaku tidak terbuka untuk mengutamakan ‘Ali melebihi kemuliaan Abu Bakar dan ‘Umar. Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Orang yang tidak mencintai mereka, pastilah ia bukan orang mukmin. Katanya lagi: “Amal perbuatanku yang paling kokoh adalah kecintaanku kepada mereka.” Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan dengan jelas bahwa ‘Abdurrazaq bukanlah Syi’ah Rafidhah. Jika demikian, bagaimana bisa dibenarkan pendapat yang menyatakan bahwa ‘Abdurrazaq penganut paham Rafidhah, dan ia dipandang salah seorang perawi yang tsiqat dan adil? Ini jelas merupakan kepalsuan yang besar yang mengandung motif menghancurkan sendi-sendi sunnah Nabi, dan menceburkan keragu-raguan kepada mereka yang memelihara sunnah, supaya mereka dengan mudah bisa menghancurkan Islam. Orang-orang Sunni hendaknya awas dan peka terhadap hal ini!

54.    Abdul Malik bin A’yan (Saudara Zurarah) Adz Dzahabi menyebutnya sebagai seorang syi’ah bersama saudaranya. Hadistnya diriwayatkan oleh Shahih Bukhari dan Muslim. Az Zabby tidak serta merta menolak hadis dia, bahkan dia menampilkan pandangan-pandangan ulama ahli hadist sunni

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Abdul-Malik ibn `Ayan Beliau adalah adik kepada Zararah, Hamran, Bakir, `Abdul-Rahman, Malik, Musa, Daris, dan Umm al-Aswad, semuanya keturunan `Ayan, dan semuanya adalah pemuka Shi`as. Mereka telah memenangi piala kemuliaan pada berkhidmat terhadap sharia’ Islam, dan telah menghasilkan keturunan yang mulia lagi dihormati yang patuh kepada golongan dan pandangan agama mereka. Al-Thahbi menyebut `Abdul-Malik di dalam Al-Mizan, menyebut dari Abu Wa’il dan lainnya yang menyebut Abu Hatim sebagai berkata bahawa beliau telah menyampaikan hadith-hadith yang sahih, dan bahawa Ma`in telah berkata tidak terdapat sebarang kesalahan dengan hadith-hadith beliau, sedangkan penyampai yang lain mengesahkannya: Maka beliau adalah jujur, tetapi Rafidi, juga.” Ibn Ayinah telah berkata: “`Abdul-Malik, seorang Rafidi, telah menyampaikan hadith kepada kami.” Abu Hatim berkata bahawa beliau adalah dikalangan yang mula-mula untuk mempercayai Islam Shi`a, dan bahawa hadith beliau adalah sahih. Keduanya, Sufyans telah menyampaikan hadith beliau dan penyampai yang lain telah menyampaikan dengan lebih sempurna susunannya. Di dalam buku Al-Jami` Bayna Rijalul Sahihain, Ibn al-Qaysarani, seperti yang disebutkan oleh Sufyan ibn A`yinah, mempunyai sesuatu untuk mengatakan mengenai beliau: “`Abdul-Malik ibn `Ayan, adik kepada Hamran al-Kufi, adalah seorang Shi`a yang mana hadithnya mengenai tawhid dirakamkan oleh Bukhari seperti yang disampaikan oleh Abu Wa’il, dan mengenai iman seperti yang dirakamkan di dalam Muslim.” Beliau meninggal ketika era Imam al-Sadiq (as) yang mendoakan supaya rahmat Allah dicucuri kepadanya. Abu Ja`fer ibn Babawayh telah menyampaikan bahawa Imam al-Sadiq (as), bersama dengan pengikutnya menziarahi pusara beliau di Madina. Semoga beliau dikurniakan ganjaran yang baik dan hidup aman selama-lamanya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Abdul Malik ibn A’yun al-Kufi . Al-Ajli memandang ‘Abdul Malik sebagai orang yang tsiqat. Menurut Abu Hatim, ia orang Syi’ah, tetapi jujur. Ibn Mu’in memandang dia sebagai orang yang tidak diperhitungkan. Ibn Muhdi mencatat hadits darinya, tetapi kemudian ditinggalkannya. Ibn Hajar berkata: “Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, tidak terdapat selain hadits Sufyan ibn ‘Uyainah dari Jami’ ibn Abi Rasyid dan ‘Abdul Malik. Keduanya (Abu Rasyid dan ‘Abdul Malik) mendengar Syaqiq berkata: Aku mendengar Ibn Mas’ud menyebut hadits man halafa ‘ala mall imri’in muslimin. Hadits ini terdapat di Bab Tauhid dalam kitab shahih Bukhari. Imam-imam hadits yang lain juga meriwayatkan hadits ‘Abdul Malik. Al-Hamidi menceritakan bahwa Sufyan menerima hadits dari ‘Abdul Malik ibn A’yun, seorang Syi’ah. “Bagiku,” kata al-Hamidi, “‘Abdul Malik adalah seorang Rafidhah, seorang yang suka menciptakan ajaran bid’ah.” Al-Hamidi berkata dari Sufyan bahwa ‘Abdul Malik dan kedua saudaranya, yaitu Zararah dan Hamran, semuanya merupakan penganut Syi’ah Rafidhah. Dari tiga bersaudara ini yang paling buruk ucapannya adalah ‘Abdul Malik. Ibn Hibban menyebut ‘Abdul Malik dalam kitab ats-Tsiqat, walaupun ia orang Syi’ah. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Abdul Malik bukanlah orang yang tsiqat. Haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah, menurut kebanyakan ahli hadits. Pendapat ulama yang memandang dia tercela harus didahulukan daripada pendapat ulama yang menilainya adil atau tsiqat. Sebab, jumlah ulama yang pertama lebih banyak dan pengetahuan mereka tentang ‘Abdul Malik lebih rinci. Pendapat Sufyan harus didahulukan daripada pendapat al-Ajli, sebab Sufyan mendengar langsung dari ‘Abdul Malik. Dan dia mendapat informasi darinya yang dapat dijadikan dalil bahwa haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Sedangkan al-Ajli memandangnya adil, karena ia tidak mengetahui apa yang diketahui Sufyan. Mengenai periwayatan ‘Abdul Malik, itu hanyalah menyangkut satu hadits saja. Itu pun disertai sanad atau perawi lain, yaitu Abu Rasyid, seperti dikemukakan Ibn Hajar terdahulu. Seandainya tidak disertai perawi lain, tentu Bukhari tidak akan meriwayatkannya. Demikian pula imam-imam hadits yang lain. Mereka meriwayatkan hadits ‘Abdul Malik dengan disertai perawi lain. Sebagian lagi meriwayatkan untuk i’tibar sebagai penguat dan pendukung semata, bukan sebagai hujjah. Di muka sudah saya katakan berkali-kali bahwa ulama hadits kerapkali mendaftar hadits seorang perawi, tetapi mereka tidak menjadikannya sebagai hujjah.

55.    Ubaidullah bin Musa al Absi Ibnu Qutaibah menyebutnya sebagai seorang syi’ah, demikian pula Ibn Sa’ad.  Dia adalah salah seorang guru Bukhari. Dlam kitab shahih bukhari dan Muslim hadis melalui dia diriwayatkan. Az zabby menampilkan polemik penerimaan hadis melalui dia tetapi diakhir kalimat ia menyatakan bahwa riwayatnya  tsiqat dan dapat dijadikan hujjah.
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Ubaydullah ibn Musa al-`Abasi al-Kufi Beliau adalah penasihat al-Bukhari, seperti yang diakuinya sendiri pada muka surat 177 dari buku Sahihnya. Ibn Qutaybah telah memasukkan beliau diantara ahli tradisionis di dalam hasil kerjanya Al-Ma`arif, dengan mengatakan bahawa beliau adalah seorang Shi’a. Apabila dia menyebut semula semua ahli terkemuka Shi’a di dalam bab pada menyebutkan golongan-golongan di muka surat 206 dari bukunya al-Ma`arif, dia menjumlahkan `Ubaydullah diantara mereka. Pada muka surat 279, Vol. 6, dari buku Tabaqat, Ibn Sa`d menyatakan biografi `Ubaydullah dengan tidak lupa untuk menyatakan bahawa beliau adalah Shi’a, dan bahawa beliau menyampaikan hadith pada menyokong Shi`ism, dari itu menurut Ibn Sa`d, telah melemahkan hadithnya pada mata orang ramai. Dia juga menambah bahawa `Ubaydullah juga amat faham dengan al-Quran yang suci. Dia merakamkan pada muka surat 139, Vol. 6, dari bukunya Al-Kamil tarikh beliau meninggal pada penghujung peristiwa yang berlaku dalam tahun 213 H., dengan mengatakan: “`Ubaydullah ibn Musa al-`Abasi, seorang ahli perundangan agama, adalah seorang Shi’a yang telah mengajar al-Bukhari, seperti yang diakui oleh dia sendiri di dalam Sahihnya.” Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan dengan berkata, “Ubaydullah ibn Musa al-`Abasi al-Kufi, adalah penasihat al-Bukhari, adalah tidak dipertikaikan lagi akan kejujuran beliau, tetapi beliau adalah juga seorang Shi’a yang menyeleweng.” Bahkan pengarangnya mengakui bahawa keduanya Abu Hatim dan Ma`in telah mempercayai hadith beliau. Dia berkata, “Abu Hatim telah berkata bahawa hadith yang disampaikan oleh Abu Na`im adalah lebih sahih, bahkan `Ubaydullah adalah lebih sahih dari mereka semua apabila tiba pada hadith yang disampaikan oleh Isra’il.”  Ahmed ibn `Abdullah al-Ajli telah berkata, “`Ubaydullah ibn Musa mempunyai pengetahuan mendalam mengenai al-Quran, telah menyampaikan banyak darinya. Saya tidak pernah melihat beliau sombong atau bangga dan beliau tidak pernah dilihat ketawa terbahak-bahak.” Abu Dawud berkata, “`Ubaydullah ibn al-`Abasi adalah seorang pengikut Shi’a yang kuat.” Pada penghujung biografi Matar ibn Maymun di dalam Al-Mizan, al-Thahbi mengatakan : “`Ubaydullah, seorang Shi’a yang dipercayai.” Ibn Ma`in pernah belajar hadith dari `Ubaydullah ibn Musa dan `Abdul-Razzaq, setelah dia mengetahui bahawa keduanya adalah Shi’a. Di dalam buku al-Thahbi Al-Mizan, ketika menuliskan biografi `Abdul-Razzaq, pengarang menyebutkan dari Ahmed ibn `Ali Khaythamah sebagai berkata, “Saya bertanya kepada Ibn Ma`in berkaitan dengan apa yang saya dengar mengenai penolakkan Ahmed terhadap hadith `Ubaydullah ibn Musa’s kerana beliau adalah seorang Shi’a. Ibn Ma`in menjawab: `Saya bersumpah dengan Allah, yang tiada sekutu bagiNya, bahawa `Abdul-Razzaq lebih utama dari `Ubaydullah seratus kali ganda, dan saya telah mendengar hadith dari `Abdul-Razzaq lebih banyak  dari yang saya dengar dari ‘Ubaydullah.’”  Sunnis, sama seperti semua yang lain, bergantung pada hadith yang disampaikan oleh `Ubaydullah di dalam buku-buku Sahih mereka. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam kedua Sahih yang disampaikan oleh Shayban ibn `Abdul-Rahman. Sahih Bukhari menyebut hadith beliau oleh al-A`mash ibn `Urwah dan Isma`il ibn Abu Khalid. Hadith beliau yang dirakamkan di dalam Sahih Muslim telah dilaporkan dari Isra’il, al-Hasan ibn Salih, dan Usamah ibn Zayd. Al-Bukhari menyebut dari beliau secara terus. Beliau juga disebutkan secara terus oleh Ishaq ibn Ibrahim, Abu Bakr ibn Abu Shaybah, Ahmed ibn Ishaq al-Bukhari, Mahmud ibn Ghaylan, Ahmed ibn Abu Sarij, Muhammad ibn al-Hasan ibn Ashkab, Muhammad ibn Khalid al-Thahbi, dan Yusuf ibn Musa al-Qattan. Muslim menyebutkan hadith beliau seperti yang dilaporkan oleh al-Hajjaj ibn al-Sha`ir, al-Qasim ibn Zakariyyah, `Abdullah al-Darmi, Ishaq ibn al-Mansur, Ibn Abu Shaybah, `Abd ibn Hamid, Ibrahim ibn Dinar, dan Ibn Namir. Al-Thahbi menyatakan di dalam Al-Mizan bahawa `Ubaydullah meninggal pada tahun 213 H. dan menambah , “Beliau amat terkenal dengan zuhudnya, dikagumi dan bertakwa..” Beliau meninggal pada awal bulan Thul-Qi`da; semoga Allah memuliakan tempat beliau dimakamkan.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Ubaidullah ibn Musa al-Absi al-Kufi Ia termasuk salah seorang guru Imam Bukhari yang terkemuka. Ia menerima hadits dari sejumlah tabi’in. Ibn Mu’in, Ajli, ‘Utsman ibn Abi Syaibah, dan ulama lain memandang ia tsiqat. Ibn Sa’ad berkata: “Ia tsiqat, jujur, dan berbudi luhur. Ia banyak meriwayatkan hadits munkar tentang tasyayyu’. Karena itu, banyak orang memandangnya dha’if.” Imam Ahmad mengecam ekstrimitasnya dalam berpaham Syi’ah, dan sikapnya yang anti dunia (taqasysyuf). Menurut Abu Haitam, ia merupakan perawi yang terpercaya dalam hal kisah-kisah Israiliyat. Ibn Mu’in berkata: “Ia tercantum dalam kitab Jami’-nya Sufyan ats-Tsauri. Sufyan memandangnya lemah (dha’if).” Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ‘Ubaidillah adalah tsiqat dan dapat dijadikan hujjah. Para ahli tidak mengecamnya, selain dari paham Syi’ah yang dianutnya. Dan sudah saya kemukakan sebelum ini bahwa yang dimaksud dengan Syi’ah adalah berpihak dan membela ‘Ali dan Ahlul Bait, tidak lebih. Hal demikian tidak merusak sifat adil seorang perawi manakala ia dikenal begitu jujur, dan tidak mengajak orang lain mengikuti pahamnya. Inilah keadaan ‘Ubaidillah ibn Musa. Karena itu, Ashabus-Sittah berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan darinya. Ini membuktikan konsistensi ulama Sunni terhadap metoda penerimaan dan penolakan riwayat. Mereka tidak menolak suatu riwayat, hanya karena fanatik atau mengikuti hawa nafsu. Mengenai sebagian ulama yang memandangnya lemah, hal itu terletak pada riwayat yang bersumber dari Sufyan ats-Tsauri. Hal ini tidak merusak sifat adil ‘Ubaidillah secara umum. Kenyataan itu hanya merusak penilaian mengenai daya ingat dan ketsiqatan ‘Ubaidillah secara khusus dalam riwayatnya dari Sufyan ats-Tsauri. Sedangkan Bukhari menjauhi riwayat-riwayat Ubaidillah yang bersumber dari Sufyan. Ia meriwayatkan yang lain dari itu.

56.   Utsman bin Umair (Abul Yaqdzan) ats Tsaqafi riwayat hadist melalui dirinya dikutip oleh Nasa’i dan  Turmudzi. Az Zabby menuliskan pandangan para penolak riwayat dia, meski dibuku tersebut disebutkan Abu dawud dan Turmudzi meriwayatkanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Uthman ibn `Umayr `Abdul-Yaqzan al-Thaqafi al-Kufi al-Bijli Beliau juga dikenali sebagai `Uthman ibn Abu Zar`ah, `Uthman ibn Qays, dan `Uthman ibn Abu Hamid. Abu Ahmed al-Zubayri berkata bahawa `Uthman percaya kepada ‘kembali semula’. Ahmed ibn Hanbal berkata, “Abu Yaqzan telah terjumlah di dalam yang ditolak oleh Ibrahim ibn `Abdullah ibn Hasan.” Ibn `Adi berkata yang berikut ini mengenai beliau: “Beliau telah memeluk golongan yang jahil dan percaya kepada ‘kembali semula’ walaupun penyampai hadith yang berkepercayaan telah menyebutkan hadith dari beliau, setelah mengetahui bahawa beliau adalah lemah.” Perkara yang sebenarnya adalah, bahawa apabila ada sesaorang yang hendak memperkecilkan ahli trdisionis Shi’a dan memandang rendah kebolehan mereka, mereka menuduh orang-orang itu telah mengajar kepada konsep ‘akan kembali semula’. Itulah yang mereka lakukan kepada `Uthman ibn `Umayr, sehinggakan bahawa Ibn Ma`in telah berkata: “Tidak terdapat sebarang kesalahan terhadap hadith `Uthman.” Walaupun terdapat banyak serangan terhadap beliau, al-A`mash, Sufyan, Shu`bah, Sharik dan ahli terkemuka lainnya tidak teragak-agak untuk menyebutkan hadith beliau. Abu Dawud, al-Tirmidzi dan yang lainnya telah menyebutkan dari beliau di dalam sunan mereka. Rujuklah kepada hadith beliau seperti yang mereka rakamkan melalui Anas dan lainnya. Al-Thahbi telah mendokumenkan biografi beliau dan menyebutkan kenyataan dari ulama yang terkemuka seperti yang tertulis diatas, dan meletakkan tanda DTQ pada nama beliau untuk menunjukkan siapakan diantara pengarang sunan yang menyebutkan hadith dari beliau.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Utsman ibn ‘Umair, Abu al-Yaqdhan ats-Tsaqafi al-Kufi al-Bajili , Sungguh mengherankan bagaimana penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, tokoh kaum Rafidhah, berbuat dusta atas diri ulama-ulama Sunni. Ia menuduh mereka tidak jujur, fanatik, mengikuti hawa nafsu, dan tidak mempunyai metoda. Hal ini terlihat dari ucapannya sebagai berikut: “Kalau ulama Sunni hendak menjatuhkan seorang muhaddits Syi’ah, maka mereka katakan bahwa perawi itu mempercayai paham raj’ah. Sebab itulah, mereka mendha’ifkan ‘Utsman ibn ‘Umair.”Kami dengan mudah dapat menolak tuduhan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah itu. Di sini dapat dikemukakan pertanyaan: jika benar ulama Sunni seperti yang anda tuduhkan, mengapa mereka menerima dan menjadikan hujjah hadits riwayat ‘Ubaidillah ibn Musa al-’Absi, ‘Abdurrazaq ibn Himam, Abban ibn Tugblab, ‘Abdullah ibn Luhai’ah dan lain-lain, yaitu sepuluh perawi yang anda pandang sebagai perawi Syi’ah yang tsiqat? Mengapa ulama Sunni tidak menuduh mereka dengan raj’ah? Tuduhan di atas jelas dusta. Tapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, meyakini bahwa kaum Sunni seperti kaum Rafidhah yang menghalalkan dusta untuk menguatkan mazhab mereka. Bukti lain yang menunjukkan bahwa tuduhan itu tidak benar adalah kenyataan bahwa ulama Sunni, seandainya benar seperti yang dituduhkan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, tentu mereka akan mengambil pernyataan keras al-Jauzjani dan lainnya mengenai Syi’ah. Akan tetapi mereka tidak melakukan hal itu. Agama mereka, ketakwaan dan kejujuran mereka, melarangnya. Di sini saya akan mengemukakan pendapat-pendapat yang obyektif dari orang-orang yang terpercaya mengenai diri ‘Utsman ibn ‘Umair. Menurut adz-Dzahabi, semua ulama mendha’ifkan ‘Utsman. Menurut Ibn Mu’in, ia bukan apa-apa. Abu Ahmad az-Zubairi berkata: “‘Utsman ibn ‘Umair percaya pada ajaran raj’ah.” Berkata an-Nasa’i: “Ia dha’if, bukan perawi yang kuat’” Ad-Daruquthni memandang dia dha’if. Al-Fallas berkata: “Yahya dan ‘Abdurrahman tidak sudi menerima hadits dari Utsman Abu al-Yaqdhan.” Imam Ahmad berkata: “Abu al-Yaqdhan berperang bersama Ibrahim ibn ‘Abdullah ibn Hasan pada waktu terjadi fitnah. Abu al-Yaqdhan adalah dha’if” Ibn ‘Adi berkata: “Pemikiran Abu al-Yaqdhan buruk, ia percaya pada ajaran raj’ah.” Para perawi hadits yang tsiqat meriwayatkan hadits darinya dengan catatan dha’if. Dalam kitab al-Awsath, Imam Bukhari menyatakan hadits Abu al-Yaqdhan munkar. Menurut Ibn Abd al-Bar, semua ulama memandangnya dha’if. Inilah pendapat para ulama yang terpercaya mengenai diri ‘Utsman ibn ‘Umair. Mereka adalah orang-orang yang jujur, tidak mengenal dusta. Mereka tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu dalam memberikan penilaian terhadap seseorang. Abu Dawud dan at-Turmudzi memang menerima hadits darinya, tapi tidak dimaksudkan sebagai hujjah, melainkan untuk sekedar i’tibar. Sebab sebuah hadits bisa didaftar, walau ia tidak dijadikan hujjah. Hal seperti itu lazim dan absah di kalangan ahli hadits.

c.    Catatan,  tentu memasukan sebuah riwayat hadits, bukanlah semata-mata sebagai catatan untuk sekedar dimasukan sebagai ”daftar”,  kalau memang tidak layak dimasukan seharusnya karena validitasnya tentu hadis harus dikeluarkan dari catatan. Penilian az Zabby tersebut cendrung subyektif,  dari daftar yang dituliskan al musawi, kritik yang dilakukan oleh az Zabby (dan ulama ahlu sunnah) tidak konsisten. Ada periwayat yang sma-sama menolak Utsman misalnya disatu tempat di tsiqahkan tapi ditempat lain di tolak.

57.    ’Adi bin Tsabit (al Kufi)  adz Dzahabi menyebutkan ia seorang ulama syi’ah yang pandai serta Imam masjid, penyusun kitab yang enam mengambil riwayat hadist darinya. Az Zabby tidak menolak pandangan al Musawi tetapi secara tidak langsung malah meneguhkanya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Adi ibn Thabit al-Kufi Ibn Ma`in telah menerangkan bahawa beliau sebagai ‘pelampau Shi’a’, sedangkan Dar Qutni memanggil beliau “Rafidi, pelampau, tetapi boleh dipercayai.” Al-Jawzjani berkata bahawa beliau telah ‘menyimpang’ Al-Mas`udi berkata, “Kami tidak pernah melihat orang yang begitu lantang pada menyampaikan pandangan Shi’a nya dari `Adi ibn Thabit.” Di dalam Al-Mizan nya, al-Thahbi menerangkan beliau sebagai “Seorang ulama Shi’a, yang paling jujur diantara mereka semua, kadi dan Imam bagi masjid mereka. Jika semua Shi’a adalah seperti beliau, tuduhan terhadap mereka akan berkurangan.’ Kemudian dia terus menulis biografi beliau dan menyebutkan pandangan dari para ulama yang dituliskan diatas. Dia menyebutkan ulama yang mengatakan beliau jujur adalah seperti Dar Qutni, Ahmed ibn Hanbal, Ahmed al-`Ajli, Ahmed al-Nisa’i, dan meletakkan pada nama beliau singkatan nama pengarang dari buku sahih yang menyebutkan hadith dari beliau. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam kedua buku Sahih Bukhari  dan Muslim seperti yang disampaikan oleh al-Bara’ ibn `Azib, `Abdullah ibn Yazid (datok sebelah ibunya), `Abdullah ibn Abu Awfah, Sulayman ibn Sard, dan Sa`id ibn Jubayr. Hadithnya yang disampaikan oleh Zarr ibn Habish dan Abu Hazim al-Ashja`i telah dirakamkan di dalam sahih Muslim. Hadith beliau telah disampaikan oleh al-A`mash, Mis’ar, Sa`id, Yahya ibn Sa`id al-Ansari, Zayd ibn Abu Anisa, dan Fudayl ibn Ghazwan.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Adi ibn Tsabit al-Anshari al-Kufi Ia seorang tabi’in yang sangat terkenal. Dalam kitab Al-Mizan, adz-Dzahabi berkata: “Ia merupakan ilmuwan Syi’ah, orang kepercayaan mereka dan merupakan imam masjid mereka. Kalau seandainya orang Syi’ah sama seperti dia, tentu keburukan mereka tidak akan banyak.” Al-Ajli, Imam Ahmad, Nasa’i, dan ad-Daruquthni memandangnya tsiqat. Ad-Daruquthni menambahkan bahwa Ibn Tsabit dinilainya sebagai Syi’ah ekstrim. Hal serupa dikatakan pula oleh Ibn Mu’in. Abu Hatim memandangnya jujur. Menurut Afan dari Syu’bah, Ibn Tsabit merupakan penganut Rifa’iyyah. Dalam buku Hadi al-Sari, Ibn Hajar berkata: Segolongan ulama berhujjah dengan hadits ‘Ali. Dalam Shahih Bukhari tidak diriwayatkan dari ‘Adi hadits-hadits yang menguatkan paham atau bid’ahnya. Pendeknya para Ulama sepakat mengenai sifat adil ‘Adi ibn Tsabit dan tsiqatnya. Mereka hanya mengkritik ‘Adi dalam posisinya sebagai orang Syi’ah. Maksudnya orang yang sangat condong membela dan berpihak kepada ‘Ali, baik dalam soal Khalifah maupun dalam pertempurannya melawan Mu’awiyah. Namun hal itu tidak mengurangi nilai keadilan ‘Adi dan nilai kehujjahan haditsnya. Karena itu Ashabus-Sittah meriwayatkan haditsnya dan menjadikannya sebagai hujjah. Apalagi dia bukan orang yang mempromosikan ajaran bid’ahnya. Namun Imam Bukhari dan Muslim masih melakukan bertindak hati-hati dan waspada, dengan tidak meriwayatkan dari ‘Adi hadits-hadits yang tampaknya memperkuat ajaran bid’ahnya.

58.    ’Atiyyah bin Sa’ad bin Junadah al ’Aufi (abul Hasan) ia adalah seorang tab’in  Ibn Qutaibah dan Ibn Sa’ad menyebutkanya sebagai syi’ah. Adz Dzahabi menyebutklan abu daud dan Turmudzi mengambil hadist darinya, az Zabby menuliskan hadisnya hanya sekedar sebagai i’tibar.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : `Atiyyah ibn Sa`d ibn Janadah al-`Awfi Beliau adalah Abul-Hasan al-Kufi, seorang tabi`I yang terkenal. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam Al-Mizan, menyebutkan dari Salim al-Muradi sebagai berkata bahawa `Atiyyah pengikut kepada Shi`ism. Imam Ibn Qutaybah telah memuatkan beliau diantara ahli tradisionis di dalam Ma`arif , cucu yang mengikuti jejaknya,  al-`Awfi, adalah al-Husayn ibn `Atiyyah, seorang kadi, telah menambah, “`Atiyyah, seorang pengikut Shi’a, telah menjadi seorang ahli perundangan agama semenjak pemerintahan al-Hajjaj.” Ibn Qutaybah telah menyebut beberapa orang Shi’a yang terkenal di dalam bab mengenai golongan di dalam bukunya Ma`arif, menyenaraikan `Atiyyah al-`Awfi diantara mereka. Ibn Sa`d menyebut beliau pada muka surat 212, Vol. 6, dari bukunya Tabaqat menunjukkan kepercayaan beliau yang kuat kepada Shi`ism. Bapanya, Sa`d ibn Janadah, adalah seorang sahabat `Ali (as). Suatu ketika dia menziarah Imam di Kufa dan berkata: “Wahai Amirul Mukminin! Saya telah direstui dengan seorang anak lelaki, bolehkan Imam memilihkan namanya?” Imam menjawab: “Ini adalah satu hadiah (`atiyyah) dari Allah; dari itu , namakan dia `Atiyyah.” Ibn Sa`d telah berkata: “`Atiyyah ibn al-Ash`ath keluar bersama pasukan tentera untuk memerangi al-Hajjaj. Apabila tentera al-Ash`ath melarikan diri, `Atiyyah lari ke Parsi. Al-Hajjaj menulis arahan kepada Muhammad ibn al-Qasim memerintahkan dia untuk memanggil beliau supaya mengadap kepadanya dan memberikan kepada beliau pilihan sama ada menolak ‘Ali atau disebat dengan 400 sebatan, serta janggut dan kepalanya dicukur. Maka dia memanggil beliau dan membacakan surat al-Hajjaj kepada beliau, tetapi `Atiyyah enggan untuk mematuhinya, dari itu beliau disebat dengan 400 sebatan serta janggut dan kepalanya dicukur. Apabila  Qutaybah menjadi gabenor Khurasan, `Atiyyah memberontak menentang dia dan terus tinggal disitu sehingga `Umer ibn Habirah menjadi pemerintah Iraq. Pada masa itu barulah beliau menulis surat kepada dia meminta izin untuk pergi kesana. Kebenaran diberikan, beliau datang ke Kufa dimana beliau tinggal dan meninggal pada tahun 11 H.” Pengarang menambah, “Sebenarnya beliau adalah seorang yang jujur, dan beliau telah menyampaikan banyak hadith yang sahih.” Kesemua keturunan beliau adalah pengikut keturunan Muhammad [as] yang ikhlas. Diantara mereka ada yang terkemuka dengan personaliti yang dikagumi seperti al-Husayn ibn al-Hasan ibn `Atiyyah yang telah dilantik sebagai gabenor bagi daerah Al-Sharqiyya menggantikan Hafs ibn Ghiyath, seperti yang tercatit di muka surat 58 pada rujukan yang sama, kemudian dia telah dipindahkan kepada pasukan al-Mahdi. Dia meninggal pada tahun 201 H. Seorang lagi adalah Sa`d ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn `Atiyyah, juga seorang tradisioni, yang menjadi gabenor Baghdad.[15] Dia pernah menyebut hadith dari bapanya Sa`d dan dari bapa saudaranya al-Husayn ibn al-Hasan ibn `Atiyyah. Kembali semula kepada cerita `Atiyyah al-`Awfi. Beliau dianggap penyampai yang dipercayai oleh Dawud dan al-Tirmidzi. Rujuk kepada hadith beliau di dalam buku sahih mereka dari Ibn `Abbas, Abu Sa`id dan Ibn `Umer. Beliau juga telah mempelajari hadith dari `Abdullah ibn al-Hasan yang menyebutkan dari bapanya yang menyebutkan dari neneknya al-Zahra’, ketua wanita disyurga. Anaknya al-Hasan ibn `Atiyyah telah mempelajari hadith dari beliau, begitu juga dengan al-Hajjaj ibn Arta’ah, Mis`ar, al-Hasan ibn Adwan dan lainnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Athiyyah ibn Sa’ad ibn Junadah al-’Awfi Menurut adz-Dzahabi, ia seorang tabi’in yang dikenal dha’if. Abu Hatim berkata: “Haditsnya dha’if, tapi bisa didaftar atau ditulis.” Menurut Salim al-Muradi, ia orang Syi’ah. Ibn Mu’in memandangnya saleh. Menurut Imam Ahmad, hadits ‘Athiyah dha’if. Imam Nasa’i dan segolongan ulama juga menyatakan hal yang sama. Abu Zara’ah juga memandangnya lemah. Ibn ‘Adi berkata: Walaupun ia dha’if, haditsnya dapat ditulis. Ia termasuk salah seorang Syi’ah dari Kufah. Ibn Sa’ad berkata: “Ia tsiqat, Insya Allah! Ia mempunyai banyak hadits yang baik.” Sebagian orang tidak menjadikan haditsnya sebagai hujjah. Menurut Abu Dawud, ia tidak dapat dijadikan sebagai sandaran atau pegangan. Menurut al-Saji, haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Ia mengutamakan ‘Ali atas semua sahabat Nabi yang lain. Para ulama sepakat mengenai kedha’ifan ‘Athiyah dan tidak dapat haditsnya dijadikan sebagai hujjah. Bersamaan dengan kedha’ifannya itu, hadits ‘Athiyah dapat didaftar dengan disertai perawi lain. Atau hadits itu ditulis sekedar sebagai i’tibar dan sebagai hadits pendukung. Dalam kedudukan ini, sebagian dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits ‘Athiyah, diantaranya Abu Dawud. Ia meriwayatkan hadits ‘Athiyah seraya berkata: “Hadits ini bukan sebagai sandaran.”

c.    Catatan : Penolakan dan penerimaan hadits pada waktu yang sama adalah problem tersendiri dalam lingkungan ahli hadis sunnah. Seorang perawi haidtu hal bisa ditolak . Bahkan alasanya hanya karena ia melebihkan Imam Ali bin Abi Thalib. Biasanya mereka dikatagorikan sebagai para pembenci ahlul ba’it (nawashib) yang harus pula diragukan kredibilitasnya, bagaimana mungkin seorang yang mengaku pecinta Rasulullah  pada saat yang sama membantah perintah Rasulullah dengan menolak kabar kelebihan ahlul ba’itnya.

59.    ’Ala bin Saleh Tamimi, Abu hatim menyebutnya sebagai seorang perpaham syi’i. Meskipun demikian Abu Daud dan Turmudzi meriwayatkan hadistnya. Az Zabby tidak menolak dia menjelaskan sebagian ulama ada yang menerima riwayatnya.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Al`ala’ ibn Salih al-Taymi al-Kufi Di dalam biografi Al`ala’ di dalam Al-Mizan, Abu Hatim mengatakan yang berikut mengenai beliau: “Beliau adalah salah seorang seniors Shi`as.” Walaupun begitu, Abu Dawud dan al-Tirmidzi telah bergantung kepada penyampaian beliau. Ma`in mempercayai beliau. Keduanya Abu Hatim dan Abu Zar`ah berkata bahawa tidak terdapat kesalahan dengan hadith beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam kedua buku sahih al-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Yazid ibn Abu Maryam dan al-Hakam ibn `Utaybah, sebagai tambahan kepada semua buku musnad sunni. Abu Na`im dan Yahya ibn Bakir menyebut beliau, dan begitu juga dengan ramai mereka yang terkemuka. Beliau hendaklah dibezakan dari Al`ala’ ibn Abul-`Abbas, seorang penyair Makah. Yang terkemudian adalah seorang shaykh Sufyani. Hadith beliau telah disampaikan oleh Abul-Tufayl. Dia berkedudukan lebih tinggi dari Abul-`ala’ ibn Salih; beliau adalah orang Kufa; sedangkan penyair itu orang Makah. Keduanya telah disebutkan di dalam buku al-Thahbi, Al-Mizan, dimana pengarangnya telah tersalah sebut pada kenyataan yang mengatakan mereka adalah senior Shi`a. Al`ala’ sipenyair telah mengubah syair pada memuji Amirul Mukminin [as] ini telah menjadi bukti yang kuat untuk menunjukkan ketaatan beliau dan pada memaparkan kebenaran mengenai Imam. Dia juga mempunyai rangkap syair yang disanjung oleh Allah, RasulNya dan juga mereka yang beriman.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Ala’ ibn Shalih at-Taymi al-Kufi Abu Dawud menilai Ibn Shalih sebagai orang yang tsiqat. Menurut Abu Hatim, ia termasuk orang Syi’ah tulen. Abu Khaitsumah, ‘Abbas dan Ibn Mu’in memandangnya tsiqat. Abu Hatim dan Abu Zara’ah menyatakan tidak ada masalah mengenai hadits Ibn Shalih. Menurut Ibn al-Madini, ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Pada umumnya ulama memandang Ibn Shalih sebagai orang yang tsiqat dan adil. Mereka hanya mengkritiknya dalam posisinya sebagai orang Syi’ah. Namun hal itu tidak mengurangi sifat adilnya. Sebab dia bukan Syi’ah Rafidhah yang ekstrim. Karena itulah sebagian dari Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits dari Ibn Shalih.

60.    Al Qamah bin Qais an Nakhai (Abu Syibli) Syahrastani menyebutnya sebagi seorang syi’ah dan seorang pemuka Ilmu hadist. Riwayatnya dikutip penyusun hadis yang enam. Az Zabby menuliskan  tidak memberikan kritik apapun ia hanya berpolemik tentang istilah.

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Beliau adalah bapa saudara al-Aswad dan Ibrahim, anak kepada Yazid. Beliau adalah juga pengikut keturunan Muhammad (sawas). Al-Shahristani, di dalam Al-Milal wal-Nihal, telah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi`a. beliau adalah ketua diantara tradisionis yang disebutkan oleh Abu Ishaq al-Jawzjani yang dengan bencinya telah berkata, “Disana terdapat sekumpulan manusia diantara penduduk Kufa yang mana golongan mereka, Shi`ism telah tidak diterima umum, mereka adalah ketua diantara tradisionis Kufa..” `Alqamah dan adiknya `Ali telah menjadi sahabat Imam `Ali (as). Mereka berdua telah mengambil bahagian di dalam peperangan Siffin dimana `Ali telah gugur syahid. Dia biasanya digelar “Abul-Salat” (orang yang selalu solat) disebabkan dia selalu solat. `Alqamah telah membasahkan pedangnya dengan darah mereka yang zalim. Kakinya tergelincir, bahkan beliau terus berperang dijalan Allah, kekal menjadi musuh Mu`awiyah sehingga beliau meninggal. Abu Bardah menjumlahkan nama `Alqamah diantara agen [emissari] kepada Mu`awiyah semasa pemerintahannya, tetapi `Alqamah membantah dan bahkan menulis kepada Abu Bardah dengan berkata: “Tolong buangkan nama saya (dari senarai); tolong buangkan.” Ini telah dirakamkan oleh Ibn Sa`d di dalam biografi nya untuk `Alqamah pada muka surat 57, Vol. 6, dari buku Tabaqat.  Cara fikiran `Alqamah yang saksama dan dihormati dikalangan Sunnis tidak boleh dipertikaikan, walaupun mereka telah mengetahui bahawa beliau berkepercayaan Shi`a. Pengarang enam buku sahih, dan begitu juga yang lain, semuanya telah bergantung kepada penyampaian beliau. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam sahih Muslim dan Bukhari dari Ibn Mas`ud, Abul-Darda’ah dan `Ayesha. Hadith beliau mengenai `Uthman dan Abu Mas`ud telah dirakamkan di dalam sahih Muslim. Di dalam kedua-dua buku sahih, hadith beliau telah disampaikan oleh sepupunya Ibrahim al-Nakh`i. Di dalam sahih Muslim, hadith beliau telah disampaikan oleh `Abdul-Rahman ibn Yazid, Ibrahim ibn Yazid, dan al-Sha`bi. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, dalam tahun 62 H. in Kufa.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. Alqamah ibn Qays ibn ‘Abdillah an-Nakha’i al-Kufi Alqamah dilahirkan semasa hidup Rasulullah saw. Ia meriwayatkan hadits dari sejumlah besar sahabat Nabi. Sehingga Ibn al-Madini berkata: “Orang yang paling tahu tentang Ibn Mas’ud adalah Alqamah ibn al-Aswad.” Imam Ahmad, Ibn Mu’in dan ahli hadits lainnya memandangnya tsiqat. Tidak diketahui adanya kritik dari seorang ulama yang dapat menodai sifat adilnya. Karena itu, beberapa orang dari ashab assittah meriwayatkan hadits dari Alqamah. As-Syahristani memandangnya sebagai tokoh dan perawi Syi’ah, hanya karena Alqamah ikut bertempur bersama ‘Ali ibn Abi Thalib para Perang Shiffin. Tidak lebih dari itu. Tak seorang pun kalangan ulama terpercaya yang memandangnya penganut Syi’ah Rafidhah. Sudah saya jelaskan terdahulu bahwa seorang yang bergabung dengan pasukan ‘Ali tidaklah keluar dari prinsip-prinsip Sunni dan masuk pada golongan Syi’ah Rafidhah. Semua orang yang berperang bersama ‘Ali tidak dapat dipandang telah keluar dari Ahlu-Sunnah wal-Jama’ah. Ini merupakan hal yang sudah dimaklumi. Dan tidak seorang pun dari pakar agama yang menyatakan lain. Pendapat al-Jauzjani tidak sama dengan pendapat Ahlu Sunnah wal-Jama’ah. Tapi mereka tidak menggubris orang itu. Sebab dia pembid’ah. Saya hanya heran pada al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengapa ia menjadikan penentangan terhadap Mu’awiyah sebagai kriteria tsiqat dan keadilan. Tidakkah hal ini merupakan sikap fanatik, menuruti hawa nafsu dan dengki kepada sahabat-sahabat Nabi? Ini cukup jelas pada anggapan yang diberikan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, kepada Alqamah ibn Qays sewaktu ia berkata, “Alqamah selalu memusuhi dan melawan ‘Mu’awiyah ibn Abu Sufyan sampai ia menghembuskan napasnya yang terakhir.”

61.    `Ali ibn Badimah

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : Ali ibn Badimah Al-Thahbi menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan menyebut dari Ahmed ibn Hanbal yang berkata, “Beliau telah menyampaikan hadith yang sahih,” bahawa beliau adalah yang awal dari pengikut Shi`ism, dan Ibn Ma`in telah mempercayai beliau, dan beliau telah menyampaikan hadith dari Makrimah dan yang lainnya, dan bahawa keduanya Shu`bah dan Mu`ammar telah mempelajari hadith dari beliau. Dia telah memberi tanda nama beliau untuk menunjukkan pengarang sunan yang telah menyebut hadith dari beliau

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. . ‘Ali ibn Budaimah al-Harrani Ibn Mu’in, Nasa’i, Abu Zara’ah dan al-Ajli memandang ‘Ali sebagai orang tsiqat. Imam Ahmad berkata, “Hadits ‘Ali baik, tapi ia pemuka Syi’ah.” Menurut al-Jauzjani, ia menyimpang jauh dari kebenaran secara terang-terangan. Ibn Sa’ad memandang dia tsiqat. Menurut Abu Hatim, hadits ‘Ali baik. Ibn Hibban memasukkan dia ke dalam buku ats-Tsiqat. Imam Ahmad juga menyatakan dia tsiqat, walau ada sesuatu yang perlu digarisbawahi menurut Ahmad.Para ulama sepakat mengenai sifat adil dan tsiqat ‘Ali ibn Budaimah. Tidak ada pernyataan ulama yang menodai keadilan dan kehujjahan haditsnya. Imam Ahmad, kendatipun memandang ‘Ali,sebagai pemuka Syi’ah, namun bersamaan dengan itu beliau juga menyatakan ‘Ali tsiqat. Hal yang menunjukkan bahwa ia dipandang Syi’ah adalah sikapnya yang condong dan berpihak kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertempurannya melawan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Dan hal ini, seperti berkali-kali saya sebutkan, tidaklah merusak nilai keadilan seorang perawi. Wallahu a’lam bis-shawab.

62.    `Ali ibn al-Ja`d
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at : beliau adalah Abul-Hasan al-Jawhari al-Baghdadi, seorang hamba Banu Hashim. Seorang dari penasihat al-Bukhari, beliau telah dijumlahkan oleh Qutaybah diantara pemuka Shi`as di dalam bukunya Al-Ma`arif. Biografi nya di dalam Al-Mizan menunjukkan bahawa selama 60 tahun, `Ali biasa berpuasa selang sehari. Al-Qaysarani menyebut beliau di dalam bukunya Al-Jami` Bayna Rijalul Sahihain, mengatakan bahawa al-Bukhari sahaja telah menyebutkan 12 000 hadith yang disampaikan oleh `Ali ibn al-Ja`d. Dia meninggal dalam tahun 203 pada umur 96 tahun.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . ‘Ali ibn al-Ja’d ibn ‘Ubayd al-Jawhari al-Hasan al-Baghdadi. Dalam bukunya, Al-Mizan, adz-Dzahabi menegaskan bahwa ‘Ali adalah penghafal hadits yang terpercaya. Yahya ibn Mu’in memandang dia sebagai orang yang tsiqat dan sangat jujur. Abu Zara’ah juga memandang dia sangat jujur. Abu Hatim menyatakan bahwa ia terpercaya dan jujur. Shaleh ibn Muhammad menyatakan dia tsiqat. Sedangkan an-Nasa’i memandang dia sangat jujur. Menurut ad-Daruquthni, ia tsiqat dan terpercaya. Ibn Qani’ juga memberi penilaian yang sama. Menurut Mathin, ia tsiqat. Ibn ‘Adi berkata, “Saya tidak pernah melihat sesuatu kejanggalan dalam hadits ‘Ali. Dan saya tidak pernah melihat pula hadits munkar dalam banyak riwayat yang ia terima dari orang tsiqat.” Imam Ahmad ibn Hanbal secara khusus menyoroti kesyi’ahan ‘Ali dan segi pemahamannya terhadap al-Qur’an. Inilah beberapa pendapat ulama mengenai ‘Ali ibn Jad. Mereka sepakat mengenai keadilan dan sifat tsiqatnya. Mereka juga mengakui kejujuran dan sifat amanah ‘Ali. Kalau mereka menyatakan bahwa dia Syi’ah, maka yang dimaksud adalah Syi’ah yang tidak merusak sifat adil, kejujuran dan amanahnya. Sebab dia hanya simpati dan berpihak kepada ‘Ali ibn Abi Thalib, tanpa mengecam Abu Bakar dan ‘Umar ibn Khaththab. Ia hanya mengecam Mu’awiyah, dan kadang-kadang ‘Utsman ibn ‘Affan. “Riwayat Ibn Hajar” dalam at-Tahdzib dari Ahmad Ibrahim ad-Dawraqi menunjukkan hal di atas. Diceritakan bahwa Ibrahim berkata kepada ‘Ali ibn Jad, “Aku dengar kau meremehkan ‘Umar ibn Khaththab?” Ia menjawab: “Tidak. Aku tidak pernah melakukan itu. Aku hanya berkata. “Kalau Allah memberi azab kepada Mu’awiyah, aku tidak keberatan. Harun ibn Sufyan al-Mustamli berkata, “Aku duduk di samping ‘Ali ibn Jad. Lalu ia menyebut-nyebut nama ‘Utsman ibn ‘Affan, seraya berkata: ” ‘Utsman mengambil uang negara sebanyak 100 dirham secara tidak sah.” Setelah kita mengetahui siapa ‘Ali ibn Jad, jelaslah bagi kita kejujuran dan objektivitas ulama hadits dari kalangan Ahlus-sunnah wal-Jama’ah. Bid’ah yang dilakukan ‘Ali tidak menghalangi mereka untuk menerima haditsnya setelah mereka mengetahui dan meyakini kejujuran dan sifat amanatnya. Apalagi bid’ah yang diciptakan ‘Ali tidak tergolong jenis bid’ah yang mengkafirkan. Juga bukan bid’ah yang menghalalkan dusta untuk menguatkan bid’ah terkait. Karena itulah, Imam Bukhari meriwayatkan hadits ‘Ali sebanyak 13 hadits dengan pemeriksaan yang seksama. Hal serupa juga dilakukan oleh imam-imam hadits (dari ashhabus-sittah) yang lain.

.
63.  `Ali ibn Zaid

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Nama penuh beliau adalah `Ali ibn Zaid ibn `Abdullah ibn Zuhayr ibn Abu Malika ibn Jad`an Abul-Hasan al-Qarashi al-Taymi al-Basri. Ahmed al-`Ajli telah menyebut beliau dengan berkata bahawa beliau mengikuti perundangan Islam Shi’a. Yazid ibn Zari` telah berkata bahawa `Ali ibn Zaid adalah seorang Rafidi. Walaupun terdapat semua ini, para bijak pandai diantara tabi`in, seperti Shu`bah, `Abdul-Warith, dan banyak lagi mereka yang terkenal semuanya telah menyebutkan hadith dari beliau. Beliau adalah seorang dari tiga pakar perundangan agama yang mana dengannya Basrah telah menjadi terkenal, yang lainnya adalah Qatadah dan ‘Ash`ath al-Hadani. Mereka semuanya buta. Apabila al-Hasan al-Basri meninggal, mereka mengsyorkan kepada `Ali supaya menggantikan tempatnya disebabkan oleh kelayakkan beliau. Beliau amat dihormati, dan hanya mereka yang ternama sahaja yang menjadi sahabat beliau, sesuatu yang tidak dapat dinikmati oleh kebanyakkan Shi’a pada ketika itu. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan dengan menyebutkan fakta yang diatas mengenai beliau. Di dalam buku Al-Jami` Bayna Rijalul Sahihain, al-Qaysarani menyebut biografi beliau dan mengatakan bahawa Muslim telah menyebutkan hadith beliau yang disampaikan oleh Thabit al-Banani, dan bahawa dia telah belajar mengenai jihad dari Anas ibn Malik. Dia meninggal, semoga Allah merahmatinya, dalam tahun 131 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi. ‘Ali ibn Zayd ibn ‘Abdullah ibn Zuhair ibn ‘Ali Abi Malikah Hammad ibn Zayd memandang dia (‘Ali ibn Zayd) dha’if. Hal serupa juga dinyatakan oleh Fallas, Ahmad, Yahya, ‘Ajli, Bukhari, dan Ibn Khuzaymah. Para ulama mengemukakan beberapa hal yang menyebabkan dia dipandang dha’if, diantaranya ialah hafalannya yang buruk, tidak terpercaya, dan memarfu’kan hadits-hadits mauquf. Di samping itu, ia sukar membaur dan ia Syi’ah Rafidhah. Oleh karena semua itu, Imam. Muslim hanya meriwayatkan satu hadits darinya. Itu pun disertai perawi lain yang terpercaya. Selain Muslim, ada pula orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya. Mereka mendaftar haditsnya, tetapi tidak menjadikannya sebagai hujjah. Tapi ini juga tidak banyak, alias jarang terjadi. Walla hu a’lam bis-shawab.

64.    `Ali ibn Salih
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Dia adalah adik kepada al-Hasan ibn Salih. Kami telah mengatakan mengenai kemuliaan beliau apabila kami mengatakan biografi saudaranya al-Hasan. Beliau adalah seorang dari ulama Shi’a yang awal, sama seperti saudaranya. Di dalam bab ‘penjualan’, Muslim bergantung kepada penyampaiannya.`Ali ibn Salih telah menyampaikan hadith dari Salameh ibn Kahil, sedang Waki` telah menyebutkan dari beliau, mereka juga keduanya adalah Shi’a. Beliau telah dilahirkan, semoga Allah merahmati ruhnya, bersama saudara kembarnya di dalam tahun 100 H., dan meninggal pada tahun 151H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi ‘Ali ibn Shaleh ibn Hayy al-Hamdani’Ali ibn Shaleh merupakan saudara kandung Hasan ibn Shaleh. Keduanya sama-sama tokoh masyarakat. Ibn Ahmad memandang dia sebagai orang yang adil. Demikian pula Ibn Mu’in, Nasa’i dan al-’Ajili. Ibn Sa’ad berkata, “Ia hafal al-Qur’an, tsiqat, insya Allah sedikit haditsnya.” para ulama sepakat mengenai keadilan ‘Alibn,Shaleh dan kehujjahan haditsnya. Tidak ada sedikitpun kritik ulama atas dirinya. Juga tidak ada ulama yang menuduhnya Syi’ah. Karena itu, Imam Muslim, Imam Bukhari dan lainnya meriwayatkan hadits ‘Ali dan menjadikannya sebagai hujjah. Sungguh mengherankan bila penulis Dialog Sunnah-Syi’ah menganggap ‘Ali ibn Shaleh sebagai orang Rafidhah dan memandangnya sebagai perawi mereka yang tsiqat. Anggapan di atas jelas merupakan anggapan yang gegabah, tanpa menyebutkan referensinya yang kuat dan mu’tamad. Mungkin saja ia berpegangan pada salah satu dari buku-buku mereka, seperti buku Rijal al-Kusyi, Rijal an-Najasyi, Rijal ath-Thusi, dan buku-buku lainnya yang ditulis tanpa kerangka dan metoda ilmiah. Buku-buku itu sangat subjektif, penuh dusta dan kepalsuan. Lalu, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah sengaja mengelabui para pembaca dengan tidak menyebut nama ‘Ali ibn Shaleh secara lengkap. Ia hanya menyebut nama ‘Ali dan nama orang tuanya: Inilah tradisi penulisan orang Rafidhah dalam buku-buku mereka.

65.   `Ali ibn Ghurab Abu Yahya al-Fazari al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Ibn Hayyan telah menerangkan beliau sebagai ‘pelampau Shi’a’ Mungkin atas sebab ini al-Jawzjani mengenepikan beliau sama sekali. Abu Dawud telah berkata bahawa `hadith Ali telah ditolak, sedangkan keduanya Ibn Ma`in dan Dar Qutni mempercayai beliau. Abu Hatim telah berkata bahawa tiada kesalahan dengan hadith beliau. Abu Zar`ah berkata bahawa dia menganggap beliau sebagai jujur. Ahmed ibn Hanbal berkata, “Saya dapatinya boleh dipercayai.” Ibn Ma`in menerangkan beliau sebagai “orang miskin, dari orang yang dipercayai,” sedangkan al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan menyatakan yang setuju dan yang bertentangan mengenai hadith beliau seperti yang dikatakan diatas, dan menandakan nama beliau dengan SQ untuk menyatakan pengarang Sunan yang mana bergantung kepada penyampaian beliau. Beliau menyampaikan hadith dari Hisham ibn `Urwah dan `Ubaydullah ibn `Umer. Pada muka surat 273, Vol. 6, dari buku Tabaqat, Ibn Sa`d berkata yang berikut mengenai beliau: “Isma`il ibn Raja’ menyebutkan hadith beliau mengenai apa yang al-A`mash telah katakan mengenai `Uthman.” Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, di Kufa pada awal Rabi`ul-Awwal 184, semasa pemerintahan Harun.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . ‘Ali ibn Ghurab al-Fazari al-Kufi al-Qadhi Ibn Mu’in memandang dia sebagai orang yang tsiqat. Demikian pula Imam Daruquthni dan ‘Utsman ibn Abi Syaybah. Abu Hatim dan Nasa’i tidak melihat adanya bahaya pada, ‘Ali ibn Ghurab. Menurut Abu Zara’ah, ia sangat jujur. ‘Abdullah in Ahmad ibn Hanbal berkata: “Aku bertanya tidak banyak kepada ayahku mengenai diri ‘Ali. Ayahku berkata bahwa ia tidak banyak tahu tentang ‘Ali. Namun aku pernah mendengar dari suatu majlis bahwa ia melakukan pencampur-adukan (tadlis). Akan tetapi aku sendiri tidak melihat pencampuradukan itu. Aku hanya tahu bahwa ia orang yang sangat jujur.” Ibn Mu’in berkata: “Ia seorang yang miskin dan jujur.” Abu Zara’ah juga memandang dia sebagai orang yang sangat jujur. Al-Khathib berkata: “Aku mengira dia itu seorang yang mendapat kritik lantaran pikiran dan paham Syi’ah yang dianutnya, namun setelah aku perhatikan, ternyata justru ia orang yang oleh para ulama dipandang sangat jujur.” Para ulama sepakat mengenai keadilan ‘Ali ibn Ghurab. Juga mengenai kejujuran, tsiqat dan amanahnya. Ia dikritik dalam posisinya sebagai orang Syi’ah. Tapi kita sudah memahami pengertian Syi’ah menurut ulama salaf. Di sini kesyi’ahan tidak mengurangi dan merusak sifat adil seorang perawi manakala ia sudah dikenal kejujuran dan sifat amanahnya, sebagaimana yang terlihat pada ‘Ali ibn Ghurab. Wallahu a’lam bis-shawab

66.   `Ali ibn Qadim Abul-Hasan al-Khuza`i al-Kufi
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah penasihat Ahmed ibn al-Furat, Ya`qub al-Faswi dan sekumpulan yang sama setaraf dengan mereka yang telah mempelajari hadith dari beliau. Ibn Sa`d menyebut beliau pada muka surat 282, Vol. 6, dari bukunya Tabaqat dan menerangkan bahawa beliau sebagai ‘Pelampau Shi’a’ Mungkin atas sebab ini sahaja, Yahya menganggap hadith beliau ‘lemah’ Abu Hatim berkata bahawa beliau adalah jujur. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, seperti pandangan yang diatas mengenai beliau, dan menandakan nama beliau untuk menunjukkan bahawa Abu Dawud dan al-Tirmidzi keduanya telah menyebutkan hadith dari beliau. Hadith beliau telah dirakamkan di dalam buku mereka dari Sa`id ibn Abu `Urwah dan Qatar. Dia meninggal, semoga Allah merestui ruhnya, di dalam tahun 213 H. semasa pemerintahan al-Ma’mun.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . ‘Ali ibn Qadim Abu al-Hasan al-Khuza’i al-Kufi1 Menurut ‘Abu Hatim, ‘Ali ibn Qadim termasuk seorang yang jujur. Yahya dan Ibn Mu’in memandang dia dha’if. Menurut Ibn Sa’ad, hadits ‘Ali munkar, dan dia penganut Syi’ah yang militan. Ibn ‘Ali berkata: “Aku tidak setuju dengan sikap ‘Ali menjauhkan diri dari hadits-hadits yang bersumber dari ats-Tsawri. Para ulama sepakat mengenai kedha’ifan ‘Ali ibn Qadim. Mereka tidak mengecamnya sebagai pendusta. Mereka hanya mengecam madzhab yang dianutnya. Sementara tindakannya berpaling dari hadits-hadits ats-Tsawri juga jelas sebab-musababnya. Berdasar kenyataan ini, setiap ulama dari ashhabus-sittah yang meriwayatkan haditsnya menelitinya dengan seksama. Mereka menjauhi hadits-haditsnya yang munkar. Allah a’lam bis-shawab.

67.   `Ali ibn al-Munthir al-Tara’ifi
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah professor kepada al-Tirmidzi, al-Nisa’i, Ibn Sa`id, `Abdul-Rahman ibn Abu Hatim, dan yang terkemuka lainnya yang telah mempelajari hadith dari beliau dan bergantung kepada penyampaiannya. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, menandakan nama beliau dengan TSQ sebagai petanda yang pengarang sunan tersebut telah menyebutkan hadith dari beliau. Beliau menyebut yang berikut dari al-Nisa’i: “`Ali ibn al-Munthir adalah seorang pengikut shi’a yang kuat, dan amat dipercayai.” Dia mengatakan bahawa Ibn Hatim telah berkata bahawa beliau amat jujur dan dipercayai, dan bahawa beliau menyampaikan hadith dari Fudayl, Ibn `Ayinah dan al-Walid ibn Muslim. Al-Nisa’i mengesahkan bahawa beliau adalah pengikut Shi’a yang kuat,” dan bahawa dia bergantung kepada hadith dari beliau yang mana telah dirakamkan di dalam kedua buku Sahih. Ini yang sebenarnya telah menyediakan juadah untuk difikirkan oleh mereka yang meragui beliau. Al-Munthir, semoga Allah merahmati beliau, meninggal pada 256 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . ‘Ali ibn Mundzir ath-Thariqi, Menurut Ibn Abi Hatim, ia termasuk orang yang tsiqat dan jujur. Imam Sha’sha’i juga memandang dia, tsiqat, dan menurutnya ia juga seorang Syi’ah yang tulen. Para ulama menyatakan ketsiqatan ‘Ali ibn Mundzir. Padahal mereka mengetahui bahwa ‘Ali adalah Syi’ah. Ini harus dipahami, bahwa Syi’ah yang dimaksud di sini adalah Syi’ah tidak merusak sifat keadilan seorang perawi dengan catatan dia tidak berlebih-lebihan. Artinya, ia hanya berpihak kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya melawan Mu’awiyah. Tidak lebih dari itu. Inilah pengertian tasyayyu’ menurut ulama Sunni. Karena itu, ashabus-Sunan (penyusun kitab Sunan yang empat) meriwayatkan dan berhujjah dengan hadits ‘Ali ibn Mundzir. Ini merupakan bukti nyata kejujuran ulama Sunni. Mereka menjauhkan diri dari sikap fanatik, menuruti hawa nafsu, dan berbicara tanpa fakta

68.   `Ali ibn al-Hashim ibn al-Barid Abul-Hasan al-Kufi al-Khazzaz al-`Aithi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang dari penasihat Imam Ahmed. Abu Dawud menyebut beliau dan menerangkannya sebagai seorang Shi’a yang pasti.” Ibn Haban berkata bahawa beliau adalah seorang ‘Pelampau Shi’a’. Ja`fer ibn Aban berkata, “Saya telah mendengar Ibn Namir berkata bahawa `Ali ibn Hashim adalah seorang pelampau di dalam kepercayaan Shi’a.” Al-Bukhari telah berkata bahawa keduanya `Ali ibn Hashim dan bapanya amat kuat peganggannya kepada kepercayaan Shi’a. Mungkin atas sebab itu al-Bukhari telah menolak hadith beliau, tetapi semua lima yang lain dari pengarang Sahih telah bergantung kepada penyampaiannya. Ibn Ma`in dan yang lainnya telah mempercayai beliau, sedangkan Abu Dawud telah mengatakan beliau sebagai tradisionis yang amat dipercayai. Abu Zar`ah telah mengatakan bahawa beliau adalah jujur, dan al-Nisa’i telah menyatakan bahawa tidak ada apa-apa kesalahan kepada hadith beliau. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, dan menyebutkan apa yang telah disebutkan diatas. Al-Khatib al-Baghdadi, di dalam bab pada mengatakan kerekter `Ali di dalam bukunya Tarikh (history), Vol. 12, muka surat 116, menyebutkan Muhammad ibn Sulayman al-Baghindi sebagai berkata bahawa `Ali ibn Hashim ibn al-Barid adalah jujur orangnya, seorang yang mengikut kepercayaan Shi`ism. Dia juga menyebut dari Muhammad ibn `Ali al-Ajiri sebagai berkata: “Suatu ketika saya bertanya Abu Dawud mengenai `Ali ibn Hashim ibn al-Barid. Dia mengesyorkan bahawa saya tanya kepada `Isa ibn Yunus. Isa berkata: `Beliau terdiri dari mereka yang memanggil kepada Shi`ism.’” Semua ini adalah benar. Dia juga menyebutkan dari al-Jawzjani sebagai berkata bahawa Hisham ibn al-Barid dan anaknya `Ali ibn Hashim adalah pelampau di dalam golongan mereka yang rosak.” Walaupun terdapat semua ini, pengarang lima buku sahih bergantung pada `Ali ibn Hashim. Rujuk kepada hadith beliau mengenai perkahwinan di dalam sahih Muslim seperti yang disampaikan oleh Hisham ibn `Urwah, dan di dalam bab yang mengatakan meminta kebenaran seperti yang disampaikan dari Talha ibn Yahya. Hadith beliau di dalam sahih Muslim telah disampaikan oleh Abu Mu`ammar Isma`il ibn Ibrahim dan `Abdullah ibn Aban. Ahmed ibn Hanbal, juga, telah menyampaikan hadith beliau, sebagai tambahan kepada kedua anak Shaybah, dan dari kumpulan kelas mereka yang menyampaikan hadith yang mana penasihat mereka adalah tidak lain dari `Ali ibn Hashim. Al-Thahbi berkata, “Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, dalam tahun 181H.,” dengan menambah, “Hadith beliau mungkin yang terawal dari hadith penasihat Imam Ahmed.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi . ‘Ali ibn Hasyim ibn al-Bari al-Aydi Abul Hasan al-Kufi al-Khazzaz, Ibn Mu’in dan Ya’qub, Ibn Abi Syaybah, memandang ‘Ali ibn Hasyim seorang yang tsiqat. Menurut Abu Dawud ia seorang Syi’ah. Bukhari berkata: “Ia dan orang tuanya berlebih-lebihan dalam madzhab yang dianutnya.” Menurut Ibn Hibban, ia Syi’ah ekstrim, banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar dari Masyahir. Pernyataan serupa disampaikan oleh Ibn Numayr. Menurut Abu Zara’ab, ia orang yang sangat jujur, sementara an-Nasa’i menyatakan tidak melihat adanya bahaya pada ‘Ali ibn Hasyim. Sesungguhnya kritik kepada ‘Ali ibn Hasyim terletak pada sikapnya yang berlebih-lebihan dalam madzhab yang dianutnya (Syi’ah). Akan tetapi Syi’ah yang dianut Abu Hasyim tidak sampai ke tingkat Rafadh. Dalam arti tidak membenci dan meremehkan Abu Bakar dan ‘Umar. Dan dia tidak mempercayai raj’ah. Seorang rawi masih diterima riwayatnya asal saja ia tidak Rafadh, dan dikenal jujur dan amanah. Inilah sebenarnya keadaan (haliyah) ‘Ali ibn Hasyim. Karena itulah, Imam Muslim meriwayatkan hadits darinya. Begitu pula ashabus-Sunan yang empat. Mengenai penolakan Imam Bukhari, kita dapat memakluminya, sebab Bukhari memang lebih ketat dari ulama hadits lainnya dalam penerimaan riwayat. Ia tidak menerima hadits Ibn Hasyim, karena ia melihat sifat yang tidak terpuji padanya. Wallahu a’lam bis-shawab

69.    `Ammar ibn Zurayq al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Sulaymani memanggil beliau “Rafidi,” seperti al-Thahbi nyatakan ketika membincangkan `Ammar di dalam Al-Mizan. Walaupun terdapat tuduhan yang sedemikian, Muslim, Abu Dawud dan al-Nisa’i bergantung pada penyampaian beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam Sahih Muslim seperti yang disampaikan oleh al-A`mash, Abu Ishaq al-Subai`i, Mansur, dan `Abdullah ibn `Isa. Hadith beliau telah disampaikan di dalam Sahih Muslim oleh Abul-Jawab, Abul-Hawas Salam, Ibn Ahmed al-Zubayri, dan Yahya ibn Adam.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Umar ibn Raziq al-Kufi ,Manshur meriwayatkan hadits dari ‘Umar ibn Raziq, demikian pula A’masy dan Yahya ibn Adam. Orang yang terakhir ini memandang ‘Umar orang yang tsiqat. Adz-Dzahabi berkata: “Saya tidak pernah melihat orang yang merendahkan ‘Umar kecuali as-Sulaymani. Ia memandang ‘Umar orang Rafidhah. Hanya Allah yang tahu kebenaran pernyataan itu!” Dalam Kitab Tahdzib disebutkan bahwa Ibn Mu’in memandang ‘Umar sebagai orang yang tsiqat. Demikian pula Abu Zara’ah, Ibn Syahim dan Ibn al-Madini. Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tidak melihat adanya bahaya pada ‘Umar ibn Raziq. Menurut Imam Ahmad, ia tergolong perawi hadits yang terpercaya. Para Ulama sepakat mengenai keadilan ‘Umar ibn Raziq. Dalam hal ini tak seorang pun yang menyanggahnya. juga tidak ada tuduhan apa pun terhadap dirinya yang merusak sifat adilnya kecuali pernyataan as-Sulaymani. Namun para ulama tidak membenarkan penilaian as-Sulaymani tadi. Kalau benar ia seorang Rafidhah, seperti dikatakan as-Sulaymani, tentu mereka akan menjauhi hadits ‘Umar, sebab Rafadh itu termasuk bid’ah yang mengkafirkan menurut (umumnya) ulama Sunni.

70.   `Ammar ibn Mu`awiyah, or Ibn Abu Mu`awiyah
a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau juga telah dipanggil Khabab, atau Ibn Salih al-Dihni al-Bijli al-Kufi, Abu Mu`awiyah. Beliau adalah seorang dari wira Shi’a yang mengalami penderitaan yang banyak di dalam mempertahankan keturunan Muhammad [as] sehinggakan bahawa Bishr ibn Marwan melumpuhkan beliau [memotong urat dibelakang lutut] hanya kerana beliau seorang Shi’a. Beliau adalah penasihat kepada kedua Sufyan, sebagai tambahan kepada Shu`bah, Sharik, dan al-`Abar, semuanya telah mempelajari hadith dari beliau dan bergantung kepada penyampaian beliau. Ahmed, Ibn Ma`in, Abu Hatim dan manusia yang lain juga bergantung kepada penyampaiannya. Muslim dan empat pengarang sunan telah menyebutkan hadith beliau. Al-Thahbi telah menulis biografi beliau di dalam Al-Mizan dan menyebutkan pandangan yang ditulis diatas mengenai beliau seorang Shi’a dan tradisionis yang dipercayai, serta menambah bahawa tiada siapa yang mengatakan sesuatu yang buruk mengenai beliau, melainkan al-`Aqili, dan bahawa tiada salah bagi beliau melainkan menjadi seorang Shi’a. Rujuk kepada hadith beliau mengenai Haji di dalam sahih Muslim dari Abul-Zubayr. Dia meninggal dalam tahun 133; semoga Allah merahmati beliau.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ . ‘Ammar ibn Mu’awiyah adz-Dzihni, Imam Ahmad memandang ‘Ammar sebagai orang tsiqat. Demikian pula Ibn Mu’in dan Abu Hatim. Dalam Kitab Mizan, adz-Dzahabi berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang membicarakan ‘Ammar selain al-Aqili. Pembicaraannya dikaitkan dengan pernyataan Abu Bakar ibn ‘Iyasy seperti berikut ini. “Apakah engkau mendengar dari Said ibn Jubair?” Tanya Abu Bakar kepada ‘Ammar. “Tidak,” jawab Ammar. “Pergilah!”, kata Abu Bakar. Adz-Dzahabi menegaskan bahwa riwayat Ammar dari Said yang terdapat di dalam Sunan ibn Majah adalah riwayat yang munqathi’. Ibn ‘Uyainah berkata: “Basyar ibn Marwan memastikan, bahwa ‘Ammar adalah Syi’ah:” Para ulama sepakat mengenai keadilan ‘Animar ibn Mu’awiyah dan ketsiqatannya. Mereka tidak ada yang mengecamnya selain Ibn ‘Uyainah yang menuduh Ammar sebagai Syi’ah. Ini pun tidak mengurangi keadaan ‘Ammar yang dikenal jujur dan amanah. Karena itu, Imam Muslim dan sebagian dari ashabus-Sunan menerima haditsnya.

71.    `Amr ibn `Abdullah Abu Issaq al-Subai`i al-Hamadani al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang Shi’a menurut Ibn Qutaybah di dalam Ma`arif, dan di dalam buku Shahristani Al-Milal wal Nihal. Beliau adalah seorang dari ketua tradisionis yang mana golongannya; di dalam cabang dan akar umbinya, tidak disukai oleh Nasibis disebabkan kepada fakta bahawa Shi’a telah mengikuti jejak langkah Ahl al-Bayt, mendapatkan cara-cara ibadah melalui ketua mereka di dalam semua perkara agama. Atas sebab ini al-Jawzjani telah berkata di dalam biografi Zubayd di dalam Al-Mizan: “Diantara penduduk Kufa, terdapat satu kumpulan yang mana golongan mereka tidak diterima umum; tetapi mereka adalah ketua kepada tradisionis Kufa, seperti Abu Ishaq, Mansur, Zubayd al-Yami, al-A`mash dan yang lain lagi. Manusia telah menerima mereka kerana kejujuran mereka pada menyampaikan hadith; tanpa sebarang tambahan padanya.” Diantara apa yang Nasibis telah tolak adalah hadith Abu Ishaq yang ini:‘Seperti pengarang Al-Mizan telah tunjukkan, Amr ibn Isma’il telah menyebut dari Abu Ishaq yang mengatakan bahawa Rasul Allah [sawas] telah berkata, ‘Ali adalah umpama sebatang pokok yang mana akarnya adalah saya, dahannya adalah ‘Ali, buahnya adalah al-Hasan dan al-Husayn, dan daunnya adalah Shi’a. ‘” Yang sebenarnya, kenyataan al-Mughirah “tiada siapa yang menyebabkan penduduk Kufa untuk mendapat bencana melainkan Abu Ishaq dan al-A`mash” adalah sesuatu yang tidak boleh diterima melainkan hanya kerana yang sebenarnya mereka adalah Shi’a dan mereka taat kepada keturunan Muhammad [as]. Mereka telah menjadi penjaga semua hadith yang menyebutkan sifat-sifat ahlul bayt [as]. Manusia ini adalah lautan ilmu, dan mereka amat patuh kepada perintah Allah. Mereka dipercayai oleh kesemua pengarang enam Sahih dan yang lain juga. Rujuklah kepada hadith Abu Ishaq di dalam kedua buku sahih dari al-Bara’ ibn `Azib, Yazid ibn Arqam, Harithah ibn Wahab, Sulayman ibn Sard, al-Nu`man ibn Bashir, `Abdullah ibn Yazid al-Khadmi, dan `Amr ibn Maymun. Beliau telah disebutkan di dalam kedua buku sahih oleh Shu`bah, al-Thawri, Zuhayr, dan oleh cucunya Yusuf ibn Ishaq ibn Abu Ishaq. Ibn Khallikan berkata di biografi Amr di dalam Al-Wafiyyat bahawa `Amr telah dilahirkan 3 tahun sebelum `Uthman memegang tampuk pemerintahan ummah Islam, dan bahawa dia meninggal sama ada dalam tahun 127 atau 128, atau 129, sedangkan keduanya Yahya ibn Ma`in dan al-Mada’ini berkata bahawa dia meninggal dalam tahun 132, dan Allah maha mengetahui.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ : ‘Umar ibn Abdullah Abu Ishaq as-Sabi’i al-Hamdani al-Kufi, ‘Umar termasuk pemuka tabi’in dan orang terpercaya di Kufah. Hanya saja ia sudah tua dan pelupa. Namun demikian, menurut adz-Dzahabi, ia tidak mencampuraduk (ikhtilath). Imam Ahmad memandang ia tsiqat. Demikian pula Ibn Mu’in, Nasa’i, Ibn al-Madini, ‘Ajili, dan Abu Hatim. Mereka tidak mengecam dia sebagai pendusta atau pembid’ah. Karena itu, Ashabus-Sittah meriwayatkan haditsnya. Mengenai pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengenai diri ‘Umar (Abu Ishaq) yang dinukil dari Ibn Quthaibah dan asy-Syahristani, kita sudah paham dan maklum. Sudah sering saya kemukakan, bahwa yang dimaksud dengan pernyataan mereka, “Abu Ishaq adalah orang Syi’ah,”. adalah dukungannya kepada ‘Ali dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah. Hal demikian tidak mengurangi sifat adil seorang perawi, dan tidak ada halangan untuk berhujjah dengan haditsnya. Mengenai pernyataan al-Jauzjani, ulama Sunni tidak menanggapinya. Sebab, seperti berkali kali saya terangkan, al-Jauzjani adalah seorang pembid’ah. Pernyataan seorang pembid’ah mengenai pembid’ah lainnya tidak dapat dijadikan pegangan.

72    Awf ibn Abu Jamila al-Basri, Abu Sahl

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau amat terkenal dengan “al-A`rabi” [bedouin], walaupun asalnya bukan dari padang pasir. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan dan berkata bahawa “Beliau juga digelar `Awf yang Benar, sedangkan sebahagian mengatakan bahawa beliau mengikuti Shi`ism; walaupun begitu, sekumpulan ulama telah mempercayai beliau.” Dia juga menyebut dari Ja`fer ibn Sulayman yang menerangkan beliau sebagai seorang Shi’a dan menyebut dari Bandar yang memanggil beliau “Rafidi.” Ibn Qutaybah telah menjumlahkan beliau di dalam bukunya Al-Ma`arif diantara pemuka Shi’a. Beliau telah mengajarkan hadith kepada Ruh, Hawdah, Shu`bah, al-Nadr ibn Shamil, `Uthman ibn al-Haytham dan ramai yang lain lagi dari kaliber yang sama. Pengarang dari enam buku sahih dan juga yang lainnya telah bergantung kepada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Bukhari dari al-Hasan dan Sa`id, anak kepada al-Hasan al-Basri, Muhammad ibn Sirin dan Siyar ibn Salamah. Hadith beliau di dalam sahih Muslim telah disampaikan oleh Al-Nadr ibn Shamil. Hadith beliau dari Abu Raji’ al-`Ataridi terdapat di dalam kedua sahih. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, dalam tahun 146 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ : ‘Auf bin Abi Jamilah al-Bashri , ‘Auf dikenal dengan sebutan A’rabi. Dia termasuk tabi’in kecil. Imam Ahmad memandang dia tsiqat. Demikian pula Ibn Mu’in dan Abu Hatim. Nasa’i berkata: “Ia seorang yang tsiqat dan terpercaya.” Menurut Sa’ad, dia seorang yang tsiqat dan banyak haditsnya. Muhammad ibn ‘Abdullah al Anshari berkata: “Ia termasuk perawi yang tsiqat, kuat, tetapi ia seorang Qadariyah. Malah menurut Ibn Mubarak, ia seorang Qadariyah dan Syi’ah sekaligus. ” Dari pembicaraan para iilama di atas, dapat disimpulkan bahwa mereka sepakat mengenai sifat adil dan ketsiqatan ‘Auf, dan berhujah dengan haditsnya. Walau ada orang yang mengecam dia sebagai bid’ah, lantaran menganut paham qadariyah maupun Syi’ah. Kecaman ini tidak merusak sifat adil ‘Auf, sejauh ia tidak mempromosikan bid’ahnya. Dan tidak menghalalkan dusta untuk melegitimasi bid’ahnya. Apalagi ‘Auf dikenal sangat jujur. Ini terbukti dengan sebutan yang diberikan kepadanya, yaitu ‘Auf ash-Shaduq (‘Auf yang terpercaya). Imam Muslim dalam muqaddimah Sahihnya berkata: “…Walaupun ‘Auf dan Asy’ats itu jujur dan amanah.” Karena itu, ashab as-sittah secara keseluruhan meriwayatkan hadits-hadits ‘Auf dan menjadikan sebagai hujjah. Ini menunjukkan secara jelas akan kejujuran ulama Sunni.

73  l-Fadl ibn Dakin

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Nama beliau yang sebenar adalah `Amr ibn Hammad ibn Zuhayr al-Malla’i al-Kufi, dan beliau amat terkenal dengan nama Abu Na`im. Beliau adalah penasihat al-Bukhari, sebagaimana yang diakui di dalam buku sahihnya sendiri. Sekumpulan ulama yang elit, seperti Ibn Qutaybah di dalam Al-Ma`arif, telah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi’a. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan dan berkata: “Saya telah mendengar ibn Ma`in berkata: `Jika nama sesaorang disebutkan di dalam kehadiran Abu Na`im dan dia mengatakan bahawa orang itu adalah baik, maka yakinlah bahawa orang itu adalah Shi’a; sedangkan jika dia melabelkan orang itu sebagai Murji’, maka yakinlah bahawa orang itu adalah sunni yang baik.’” Al-Thahbi berkata bahawa kenyataan itu membuktikan bahawa Yahya ibn Ma`in condong kepada mempercayai ‘kembali semula’. Ianya juga membuktikan orang itu menganggap al-Fadl sebagai pengikut Shi’a yang kuat. Di dalam biografi Khalid ibn Mukhlid di dalam Al-Mizan, al-Thahbi menyebut dari al-Jawzjani yang berkata bahawa Abu Na`im mengikuti golongan Kufi, i.e. Shi`ism. Untuk menjumlahkan semua fakta yang sebenar, al-Fadl ibn Dakin adalah seorang Shi`a dan tidak pernah dipertikaikan. Namun begitu semua pengarang buku sahih yang enam telah bergantung kepada beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Bukhari dari  Humam ibn Yahya, `Abdul-`Aziz ibn Abu Salamah, Zakariyyah ibn Abu Za’idah, Hisham al-Distwa’i, al-A`mash, Misar, al-Thawri, Malik, Ibn `Ayinah, Shaybah, dan Zuhayr. Hadith beliau di dalam sahih Muslim yang disampaikan oleh Saif ibn Abu Sulayman, Isma`il ibn Muslim, Abu `Asim Muhammad ibn Ayyub al-Thaqafi, Abul Amis, Musa ibn `Ali, Abu Shihab Musa ibn Nafi`, Sufyan, Hisham ibn Sa`d, `Abdul-Wahid ibn Ayman, dan Isra’il. Al-Bukhari menyebut dari beliau secara terus, sedang Muslim menyebut hadith beliau seperti yang disampaikan oleh Hajjaj ibn al-Sha`ir, `Abd ibn Hamid, Ibn Abu Shaybah, Abu Sa`d al-Ashajj, Ibn Namir, `Abdullah al-Darmi, Issaq al-Hanzali, dan Zuhayr ibn Harb. Beliau telah dilahirkan pada tahun 133, dan meninggal di Kufa pada hari khamis malam pada hari terakhir bulan  Sha`ban, 210, semasa pemerintahan al-Mu`tasim. Ibn Sa`d menyebut beliau pada muka surat 279, Vol. 6, dari buku Tabaqat, mengatakan beliau sebagai yang dipercayai, jujur, dan seorang yang telah banyak menyampaikan hadith dan yang mengesahkannya.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’Al-Fadhl ibn Dakin, Fadhl ibn Dakin hanyalah gelar. Nama sesungguhnya adalah ‘Amer ibn Hammad ibn Zahir ibn Dirham at-Taymi, keluarga Thalhah Abu Nu’aym al-Kufi. Imam Ahmad memandang al-Fadhl sebagai orang yang tsiqat. Demikian Pula Nasa’i, Khatib, ‘Ajli, Yahya ‘Abdurahman, Waqi’, dan Abu Nu’aym. Tidak ada diantara mereka yang melontarkan kritik yang dapat merusakkan sifat adil Fadhl.Pernyataan-pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengenai Fadhl, tidak lain hanya untuk memberi kesan kepada pembaca bahwa Fadhl adalah ulama Rafidhah, padahal sesungguhnya ia adalah Syi’ah dalam anti ia berpihak kepada ‘Ali dalam pertikaiannya dengan Mi’awiyah, tidak lebih. Dan hal itu tidak membuatnya keluar dari lingkaran kelompok Sunni. Sebaliknya itu tidak menyebabkannya termasuk dalam lingkaran Rafidhah, seperti pernah saya kemukakan sebelumnya.Dengan demikian jelas sekali apa tujuan pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah itu, yaitu membuat kesan kepada pembaca bahwa Fadhl adalah ulama Rafidhah. Ia melihat pendapat adz-Dzahabi, dan mengutipnya sepotong, tidak keseluruhan. Ini lama dengan orang yang membaca ayat waylullilmushallin, tanpa meneruskan bacaannya dengan sempurna. Lihat kutipan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. berikut ini: “Dalam kitab Mizan, adz-Dzahabi berkata bahwa Fadhl ibn Dakin Abu Nu’aym adalah seorang hafidz dan dapat dijadikan hujjah. Hanya saja ia seorang Syi’ah.” Kutipan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah berhenti sampai di sini. Ia tidak meneruskan pada kata-kata: “Tanpa berlebih-lebihan, dan tidak pula memaki-maki para sahabat Nabi.”Bila kita melihat potongan kalimat yang dibuang oleh al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, maka kita akan mengerti maksud adz-Dzahabi mengenai tasyayyu’ yang dinisbatkan kepada Fadhl, yaitu sikap berpihak kepada ‘Ali tanpa berlebih-lebihan dan tidak sampai pada tingkat Rafadh. Karena itu Ashabus-Sittah meriwayatkan dan berhujjah dengan hadits-hadits Fadhl
:
74    Adil ibn Marzuq al-Aghar al-Ruwasi al-Kufi, Abu `Abdul-Rahman

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Mizan dan menerangkan beliau sebagai seorang Shi’a yang amat terkenal, menyebut dari Sufyan ibn `Ayinah dan Ibn Ma`in yang mengesahkan fakta ini. Dia menyebut Ibn `Adi sebagai berkata bahawa dia berharap semoga tidak ada apa-apa kesalahan terhadap hadith yang disampaikan beliau, kemudian dia menyebut dari al-Haytham ibn Jamil sebagai berkata bahawa dia suatu ketika menyebut Fadl ibn Marzuq dan menerangkan, beliau sebagai ‘seorang dari Imam petunjuk.’ Di dalam sahihnya, Muslim bergantung kepada penyampaian hadith dari Fadil yang berkaitan dengan solat seperti yang disampaikan oleh Shaqiq ibn `Uqbah, dan berkenaan dengan zakat oleh `Adi ibn Thabit. Hadith beliau yang mengatakan berkenaan dengan zakat seperti yang dirakamkan oleh Muslim telah disampaikan oleh Yahya ibn Adam dan Abu Usamah. Didalam Sunan, hadith beliau telah disebutkan oleh Waki`, Yazid, Abu Na`im, `Ali ibn al-Ja`d dan ramai yang lain. Zayd ibn al-Habab yang sebenarnya telah berdusta mengenai apa yang dikatakan dari hadith beliau pada mengatakan perlantikkan `Ali (as) sebagai Amr oleh Rasul [sawas]. Dia meninggal, semoga Allah merahmatinya, di dalam tahun 158.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’. Fudhayl ibn Marzuq al-Aghar ar-Ruqasyi ar-Rawwasi Ats-Tsawri memandang Fudhayl sebagai orang yang tsiqat. Demikian pula Ibn ‘Uyainab, Ibn Mu’in dan Ahmad. Ibnu Hatim berkata (dinukil dari ayahnya): “Haditsnya baik, orangnya jujur, tetapi banyak mengandung wahm. Haditsnya dapat ditulis.” “Dapatkah dijadikan hujjah?”, tanyaku. “Tidak,” jawab ayahku.” Menurut an-Nasa’i, ia dha’if. Ibn ‘Adi berkata, “Kukira tak ada bahaya apa-apa pada Fudhayl.” Berkata ‘Ajli: “Ia jujur, haditsnya jaiz. Hanya ia Syi’ah.” Menurut Ibn Hibban, haditsnya munkar. Ia melakukan kekeliruan dalam menilai perawi-perawi yang tsiqat. Ia banyak meriwayatkan hadits-hadits palsu dari ‘Athiyyah. Ibn ‘Adi berkata: “Bagiku, manakala haditsnya sesuai dengan hadits-hadits perawi yang tsiqat, ia bisa dijadikan hujjah.” Para ulama masih berbeda pendapat mengenai Fudhayl. Ada ulama yang memandang dia tsiqat, dan ada pula yang memandangnya lemah. Ulama yang memandangnya lemah bukan karena Syi’ahnya. Sebab, Syi’ahnya terbatas pada pemihakan dia kepada ‘Ali dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah. Dalam hal ini, adz-Dzahabi menjelaskan begini: “Dia dikenal Syi’ah yang tidak berlebih-lebihan dan tidak memaki-maki para sahabat.” Jadi, Para ulama mendha’ifkan dia dari sudut dhabith, (daya ingat), itqan, ketsiqatan dan riwayatnya yang banyak berbeda dari riwayat perawi-perawi yang tsiqat. Karena itu, haditsnya banyak yang munkar, lantaran ia banyak meriwayatkan hadits maudhu’ dari ‘Athiyyah. Karena itu, Imam Muslim tidak jadi meriwayatkan haditsnya lantaran tidak sesuai dengan kriteria beliau. Oleh karena itu, ulama hadits yang meriwayatkan haditsnya menjauhi hadits-hadits Fudhayl dari ‘Athiyyah. Yang diriwayatkan dari Fudhayl hanyalah hadits-hadits yang sesuai dengan riwayat perawi yang tsiqat, sebagaimana dikatakan oleh Ibn ‘Adi. Fudhayl ada meriwayatkan satu hadits yang menerangkan kekhalifahan Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Ali. Ini merupakan suatu bukti bahwa keyakinan Fudhayl berbeda dari keyakinan kaum Rafidhah yang mengecam Abu Bakar dan ‘Umar. Hal ini pula yang menyebabkan kami tetap berkeyakinan bahwa Fudhayl adalah orang Sunni. Akan tetapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah memandang hadits yang diriwayatkan Fudhayl itu sebagai propaganda palsu dari Zayd ibn Hubab. At Musawi menyangsikan, kebenaran hadits itu, bukan karena apa-apa, hanya lantaran hadits itu menceritakan kekhalifahan Abu Bakar dan ‘Umar ibn Khaththab. Seandainya bukan bercerita tentang itu, tentu dia tidak akan menolaknya.

c.    Catatan : Bahwa al Musawi bukanlah yang mengatakan perawi ini adalah syi’ah melainkan yang mengatakan adalah sumber rujukan al musawi  yang tidak lain adalah ditulis ulama ahlu sunnah sendiri.

75   Fitr ibn Khalifah al-Hannat al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  `Abdullah ibn Ahmed suatu ketika bertanya kepada bapanya mengenai Fitr ibn Khalifah. Dia menjawab, “Beliau adalah penyampai hadith yang sahih. Hadith beliau membayangkan atitiut orang yang bertanggong jawab, tetapi beliau juga seorang pengikut Shi’a.” `Abbas telah menyebut dari Ibn Ma`in yang berkata bahawa Fitr ibn Khalifah adalah seorang Shi’a yang dipercayai. Ahmed berkata: “Fitr ibn Khalifah telah dipercayai oleh Yahya, tetapi beliau seorang pelampau Khashbi.” Mungkin atas sebab ini, Abu Bakr ibn `Ayyash telah berkata, “Saya tidaklah meninggalkan tradisi yang disampaikan oleh Fitr ibn Khalifah melainkan kerana beliau dari golongan yang tidak baik,” iaitu bukan terdapat apa-apa kesalahan, melainkan dia seorang  Shi`a. Al-Jawzjani berkata: “Fitr ibn Khalifah telah menyimpang dari laluan.” Ketika dia sakit, dia telah didengar oleh Ja`fer al-Ahmar sebagai berkata: “Tidak ada yang lebih mengembirakan saya dari mengetahui bahawa setiap rambut yang ada pada badan saya terdapat malaikat yang memuji Allah awj bagi pihak diri saya kerana cinta saya terhadap ahlul bayt [as].” Fitr ibn Khalifah menyampaikan hadith dari Abul-Tufayl, Abu Wa’il, dan Mujahid. Hadith beliau telah disebutkan oleh Usamah, Yahya ibn Adam, Qabisah dan yang lainnya dari kaliber yang sama. Ahmed dan yang lainnya telah mempercayai beliau. Murrah telah mengatakan yang berikut ini mengenai beliau, “Beliau adalah seorang penyampai hadith yang bertanggong jawab, yang telah menghafal semua yang disampaikannya dengan cara ingatan.” Ibn Sa`d berkata, “Beliau adalah Insha-Allah dipercayai.” Al-Thahbi membincangkan beliau di dalam Mizan, menyatakan pandangan para ulama, seperti yang dituliskan diatas mengenai dengan kerekternya. Ibn Sa`d telah menyebut perkara yang sama pada muka surat 253, Vol. 6, dari Tabaqat. Apabila Qutaybah menyebut para Shi’a yang terkenal di dalam Ma`arif, dia menyenaraikan Fitr ibn Khalifah diantaranya. Al-Bukhari telah menyebutkan hadith Fitr seperti yang disampaikan oleh Mujahid. Al-Thawri telah menyebut hadith Fitr yang mengatakan dengan kesopanan seperti yang dirakamkan di dalam kerja al-Bukhari. Pengarang dari keempat sunan, dan juga yang lain, semuanya telah menyebutkan hadith dari Fitr. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, di dalam tahun 153 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Fithr ibn Khalifah al-Hannath, Fithr termasuk seorang tabi’in kecil. Imam Ahmad memandang dia adil. Demikian pula al Qathan, Daruquthni, Ibn Mu’in, ‘Ajli dan an-Nasa’i. Ibn Sa’ad berkata: “Insya Allah ia tsiqat. Sebagian orang ada yang mengdha’ifkan dia. Menurut as-Saji, ia tsiqat, tetapi kurang terpercaya. Ibn ‘Adi berkata: “Ia memiliki hadits-hadits yang sahih menurut penuturan orang Kufah, dan mereka mempercayainya. Kukira tidak ada bahaya apa-apa pada Fithr.” Ada sementara orang yang mengecam dia sebagai Syi’ah, walaupun bukan Syi’ah yang ekstrim. Menurut ‘Ajli, Fithr memiliki kecenderungan pada Syi’ah walaupun dalam derajat kecil. Ibn Khaitsumah dari Quthbah ibn ‘Ala berkata: “Aku tinggalkan hadits Fithr, karena didalamnya terdapat kecaman terhadap ‘Utsman ibn ‘Affan.” Abu Bakar ibn ‘Iyasy berkata: “Aku tinggalkan hadits Fithr lantaran buruk madzhabnya. Ahmad ibn Yunus berkata: “Aku menjauhi hadits Fithr. Haditsnya mathruk, tidak dapat ditulis atau didaftar.”  Dalam perselisihan di kalangan. ulama mengenai Fithr, kita melihat Imam Bukhari meriwayatkan satu hadits darinya. Ini tidak bisa disimpulkan bahwa Bukhari berhujjah dengan hadits Fithr. Ibn Hajar berkata: “Dalam kitab Bukhari hanya ada satu hadits (dari Fithr) yang diriwayatkan dari Mujahid dari ‘Abdullah ibn ‘Umar.” Imam Bukhari meriwayatkan dari Tsawri, dari A’masy dan Hasan dan Fithr. Ketiga-tiganya menerimanya dari Mujahid. Berkata Imam Bukhari, “A’masy tidak memarfu’kan hadits itu.” Adapun ashabus-Sunan yang meriwayatkan beberapa hadits Fithr, mereka tidaklah memandang kesyi’ahan Fithr sebagai suatu hal yang dapat merusak keadilan dan kehujjahan haditsnya. Karena itu, mereka meriwayatkan haditsnya. Ini jelas menunjukkan kejujuran mereka yang terbebas dari genggaman hawa nafsu.

76 Malik ibn Isma`il ibn Ziyad ibn Dirham Abu Hasan al-Kufi al-Hindi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang dari penasihat Bukhari seperti yang dinyatakan di dalam sahihnya. Ibn Sa`d menyebut darinya pada muka surat 282, Vol. 6, dari buku Tabaqat. Dia mengakhiri dengan mengatakan bahawa “Abu Ghassan adalah dipercayai, jujur, dan pengikut Shi’a yang kuat.” Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Mizan, yang membuktikan beliau boleh dipercayai dan bermaruah, menyatakan bahawa beliau telah mempelajari golongan Shi’a dari gurunya al-Hasan ibn Salih, dan bahawa Ibn Ma`in telah mengatakan bahawa tiada siapa di Kufa yang lebih tepat pada menyampaikan hadith dari Abu Ghassan, dan bahawa Abu Satim telah berkata: “Pada bila-bila masa saya melihat kepada beliau, dia kelihatan seakan baru sahaja meninggalkan kuburannya, dengan dua tanda sujud yang terdapat pada dahinya.”  Al-Bukhari telah menyebutkan dari beliau secara terus di dalam banyak bab pada sahihnya. Muslim telah menyebut hadith beliau pada hukuman jenayah di dalam buku sahihnya seperti yang disampaikan oleh Harun ibn `Abdullah. Mereka yang menyampaikan hadith beliau di dalam Bukhari adalah: Ibn `Ayinah, `Abdul-Aziz ibn Abu Salamah, dan Isra’il. Keduanya al-Bukhari dan Muslim menyebut hadith beliau dari Zuhayr ibn Mu`awiyah. Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, di Kufa pada tahun 219.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Malik ibn Isma’il ibn Ziyad ibn Dirham Abu Ghassan al-Kufi al-Hindi,  Ibn Hajar berkata: “Malik termasuk salah seorang pemuka atau guru senior Imam Bukhari. Para ahli sepakat mengenai ketsiqatannya.” Mengenai tasyayyu’ yang dituduhkan kepadanya, itu tidaklah menyebabkan dia keluar dari lingkaran Ahlus Sunnah, dan tidak membawanya ke dalam lingkaran Syi’ah Rafidhah. Sebab tasyayyu’ di sini hanyalah pemihakan kepada ‘Ali dalam pertikaiannya melawan Mu’awiyah. Hal ini tidaklah merusak sifat adil dan kehujjahan hadits seorang perawi. Karena itu, Imam Bukhari dan ulama hadits yang lain meriwayatkan dan berhujjah dengan hadits Malik.

77    Muhammad ibn Khazim

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau amat dikenali sebagai Abu Mu`awiyah al-Darir al-Tamimi al-Kufi. Al-Thahbi menyebut beliau dengan berkata, “Muhammad ibn Khazim al-Darir adalah disahkan benar; saya tidak menjumpai sama sekali hadith beliau yang lemah, saya akan bincangkan mengenai beliau dalam bab kunyat.” Apabila pengarang menyebut beliau pada bab yang diperkatakan, dia menyatakan: “Abu Mu`awiyah al-Darir adalah seorang yang amat terkenal dan seorang Imam hadith yang berkepercayaan,” dan dia terus mengatakan: “Al-Hakim telah mengatakan bahawa kedua shaykh bergantung kepada penyampaiannya, dan beliau amat terkenal sebagai pelampau Shi’a.” Kesemua enam pengarang buku sahih telah bergantung pada penyampaiannya. Al-Thahbi telah menandakan nama beliau dengan ‘A’ untuk menunjukkan bahawa semua ahli tradisionis bergantung kepada penyampaiannya. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Bukhari dan Muslim dari al-A`mash dan Hisham ibn `Urwah. Sahih Muslim mengandongi hadith yang lain yang dia sampaikan melalui penyampai lain yang dipercayai. Di dalam sahih Bukhari, hadith beliau telah disampaikan oleh `Ali ibn al-Madini, Muhammad ibn Salam, Yusuf ibn `Isa, Qutaybah, dan Musaddad. Di dalam sahih Muslim, beliau telah disebutkan oleh Sa`d al-Wasiti, Sa`d ibn Mansur, `Amr al-Naqid, Ahmed ibn Sinan, Ibn Namir, Issaq al-Hanzali, Abu Bakr ibn Abu Shaybah, Abu Karib, Yahya ibn Yahya, dan Zuhayr. Musa al-Zaman telah dimenyampaikan hadith beliau di dalam kedua sahih. Muhammad ibn Khazim telah dilahirkan pada 113, dan dia meninggal pada tahun 195; semoga Allah merahmati beliau

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Ia dikenal dengan sebutan Abu Mu’awiyah adh-Dharir. Menurut adh-Dzahabi, ia termasuk salah seorang pemuka agama yang ‘alim dan tsiqat. Tak seorang pun memalingkan muka darinya. Imam Nasa’i memandangnya tsiqat. Demikian pula ‘Ajli dan Ibn Sa’ad. Abu Hatim berkata: “Perawi yang paling dipercaya dari sumber A’masy adalah Sufyan, kemudian Abu Mu’awiyah.” Hal serupa dikatakan oleh Yahya ibn Mu’in. Ibn Kharasy berkata: “Hadits Abu Mu’awiyah yang tidak berasal dari A’masy masih diragukan. Hal yang sama dikatakan oleh ‘Abdullah ibn Ahmad melalui riwayat ayahnya. Karena itu, Imam Bukhari tidak menerima hadits Abu Mu’awiah, kecuali yang bersumber dari A’masy. Adapun haditsnya yang tidak bersumber dari A’masy, Bukhari meriwayatkannya sebagai pendukung saja, artinya, dengan disertai oleh perawi-perawi lain yang dianggap tsiqat. Ibn Hajar berkata, “Bukhari tidak berhujjah dengan hadits Abu Mu’awiyah yang tidak berasal dari A’masy.” Bukhari juga meriwayatkan haditsnya yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah. Akan tetapi hadits-hadits tersebut sebagai pendukung semata. Mengenai pernyataan Hakim bahwa dia menyatakan dukungannya kepada ‘Ali secara berlebih-lebiban, atau pernyataan Abu Dawud bahwa ia menganut paham Murji’ah, semua itu dipandang ulama hadits sebagai bid’ah yang tidak merusak sifat adil dan kehujjahan haditsnya, sebab ia dikenal sebagai orang yang jujur, amanah dan tidak menghalalkan dusta untuk menguatkan madzhabnya. Sebab itu, ulama hadits hanya mengecam dia dari sudut pencampuradukkan (tadlis) yang terdapat dalam beberapa haditsnya yang tidak bersumber dari A’masy. Untuk itu, ulama hadits menjauhinya jika tidak didukung oleh perawi-perawi lain yang tsiqat. Di sini kita melihat bukti lain dari kejujuran ulama Sunni. Mereka menjauhkan diri dari dorongan hawa nafsu dan fanatisme.

78    Muhammad ibn `Abdullah al-Dabi al-Tahani al-Nisaburi, Abu `Abdullah al-Hakim

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang Imam yang huffaz, yang telah menghafal keseluruh al-Quran dan hadith secara ingatan, dan telah mengarang lebih kurang seribu buku. Beliau telah menjelajah keseluruh pelusuk untuk mencari ilmu dan mempelajari hadith dari lebih kurang 2 000 orang guru. Beliau boleh dibandingkan dengan ulama yang amat terkenal dimasa beliau seperti al-Sa`luki. Imam ibn Furk dan para Imam yang lain menganggap status beliau lebih utama dari kedudukan mereka. Mereka menghargai beliau dan juga sumbangannya; mereka memuji nama dan reputasi beliau, dengan tidak meragui kepakaran beliau sama sekali. Kesemua ulama sunni yang tidak dapat mencapai setaraf beliau telah merasa cemburu terhadap beliau. Beliau adalah wira Shi’a, pemelihara syariat Islam. Pengarang Al-Mizan menyampaikan biografi beliau dan menerangkan sebagai, ‘Imam yang berkepercayaan dan seorang Shi’a yang terkenal.’ Dia menyebutkan dari Ibn Tahir sebagai berkata: “Saya bertanya Abu Isma`il `Abdullah al-Ansari mengenai al-Hakim Abu Abdullah. Dia berkata: `Beliau seorang Imam Hadith, seorang Rafidi yang durjana.’” Al-Thahbi telah menyatakan beberapa kenyataan beliau yang menarik, seperti katanya bahawa Dia yang pilihan [sawas] telah dilahirkan siap berkhatan, dengan senyuman pada wajah baginda, dan bahawa `Ali (as) adalah seorang wasi. Pengarang menambah yang berikut: “Beliau adalah seorang yang dipercayai dan berpengetahuan pada apa yang disampaikannya dan telah diterima oleh semua, itu adalah satu fakta yang sebenar.” Beliau telah dilahirkan pada bulan Rabi` al-Awwal tahun 321, dan meninggal dalam bulan Safar tahun 405, semoga Allah merahmati ruh beliau.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi : Muhammad ‘Abdullah adh-Dhabi ath-Thahani an-Naysaburi Abu ‘Abdullah al-Hakim al-Hafidh,  Adz-Dzahabi berkata: “Ia seorang imam yang jujur. Hanya saja ia menyatakan sahih hadits-hadits yang gugur dalam kitab Mustadraknya. Dengan demikian banyak sekali hadits-hadits seperti itu. Aku tidak mengerti, apakah ia khilaf? Mengapa ia tidak mengerti kelemahan pada hadits-hadits itu? Akan tetapi jika ia mengerti, maka jelas hal ini merupakan suatu pengkhianatan yang besar.” Para Ulama mengecam dia lantaran terlalu mudah untuk mentashih suatu hadits. Dan ia menyatakan bahwa hadits itu memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim. Padahal tidak demikian kenyataannya. Oleh karena itu, Ulama hadits mendha’ifkannya dan menolak berhujah dengan haditsnya. ia dikenal dengan orang yang sangat mengagungkan ‘Ali dan keluarganya. Akan tetapi ia tidak sampai meremehkan Abu Bakar dan ‘Umar. Kalau dia meremehkan mereka, maka ia sudah mencapai Rafadh yang dapat merusak sifat adilnya. Ini diperkuat oleh pendapat-pendapat adz-Dzahabi sebagai berikut: “Ia dikenal Syi’ah tanpa memalingkan muka dari Abu Bakar dan ‘Umar. Mengenai riwayat Ibn Thahir dari Abu Isma’il ‘Abdullah dan al Anshari bahwa al-Hakim Abu ‘Abdullah adalah seorang imam hadits dan seorang Rafidhah yang buruk, maka hal ini ditolak oleh adz-Dzahabi, dengan menyatakan berikut ini, “Sesungguhnya Allah menyukai kejujuran. Hakim bukanlah seorang Rafidhah, tetapi Syi’ah saja.” Pendapat adz-Dzahabi di atas memperkuat keterangan saya mengenai perbedaan antara pengertian Rafadh dan tasyayyu’ menurut ulama Sunni.

79    Muhammad ibn `Ubaydullah ibn Abu Rafi` al-Madani

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau, Abu `Ubaydullah, saudara beliau al-Fadl dan `Abdullah anak lelaki `Ubaydullah, datuk beliau Abu Rafi`, bapa saudara beliau Rafi`, al-Hasan, al-Mughirah, `Ali, dan anak-anak lelaki mereka dan juga cucu-cucu mereka, semuanya adalah diantara keturunan Shi’a yang baik. Buku-buku yang mereka karang, mengesahkan betapa dalam penglibatan mereka di dalam Shi’a, seperti yang kami sebutkan di dalam seksen 2, Bab 12, dari buku kami Al-Fusul al-Muhimmah. Ibn `Uday menyebut Muhammad ibn `Ubaydullah ibn Abu Rafi` al-Madani, dengan menambah, pada penghujung biografinya di dalam Mizan, bahawa beliau adalah diantara Kufi Shi`as. Apabila al-Thahbi menyatakan biografinya di dalam bukunya Mizan, dia menandakan dengan TQ sebagai petunjuk, pengarang sunan mana yang menyebut hadith dari beliau (i.e. Tirmithi and Dar Qutni). Dia juga menyebut bahawa beliau menyebutkan hadith dari bapa dan datuknya, dan bahawa Mandil dan `Ali ibn Hashim menyebutkan hadith beliau. Hadith beliau juga disebutkan oleh Haban ibn `Ali, Yahya ibn Ya`li dan lainnya. Muhammad ibn `Ubaydullah ibn Abu Rafi` al-Madani mungkin juga telah menyampaikan hadith dari saudaranya `Abdullah ibn `Ubaydullah yang telah terkenal sebagai tradisionis oleh para penyelidik hadith. Al-Tabarani di dalam Al-Mu`jam al-Kabir telah bergantung kepada penyampaian Muhammad ibn `Ubaydullah ibn Abu Rafi` al-Madani yang menyebutkan dari bapa dan datuknya dengan berkata bahawa Rasul Allah [sawas] telah berkata kepada `Ali (as), “Yang pertama memasukki syurga adalah saya dan kamu, kemudian al-Hasan dan al-Husayn, dengan keturunan kita dibelakang, dan Shi’a kita dikanan dan kiri kita.’

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Muhammad ibn ‘Ubaydillah ibn Abi Rafi’ al-Madani  Adh-Dzahabi berkata: “Para ulama mendha’ifkan Muhammad.” Menurut Bukhari, haditsnya munkar. Yahya ibn Mu’in berkata: “Hadits Muhammad tidak ada nilainya.” Menurut Abu Hatim, hadits Muhammad betul-betul munkar. Menurut Ibn ‘Adi, ia termasuk kelompok Syi’ah di Kufah. Daruquthni berkata: “Haditsnya matruk dan mu’dhal.” Penulis sendiri tidak tahu bagaimana ia dipandang tsiqat, jika keadaannya seperti itu, dan seperti itulah pendapat ulama mengenai dirinya? Adapun al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah memandang tsiqat perawi hadits ini maupun perawi-perawi lain yang berlawanan dengan ulama-ulama hadits yang agung. Hal ini dikarenakan perawi-perawi itu adalah perawi Syi’ah. Muhammad ini, menurut al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, cukup tsiqat dan cukup andal untuk dijadikan hujjah. Di sini saya ingin bertanya: Manakah metoda ilmiah yang digunakan orang Rafidhah dalam melakukan ta’dil dan tajrih? Dan di mana letak kejujuran dan objektivitasnya?

80   Muhammad ibn Fudayl ibn Ghazwan Abu `Abdul-Rahman al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Ibn Qutaybah telah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi’a di dalam hasil kerjanya Al-Ma`arif, dan Ibn Sa`d telah menyebut beliau pada muka surat 271, Vol. 6, dari Tabaqat, dengan mengatakan, “Beliau adalah jujur dan tradisionis yang dipercayai, telah menyampaikan banyak hadith; beliau juga seorang Shi’a, dan sebahagian ulama [atas sebab ini] telah tidak bergantung pada penyampaiannya.” Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bab yang mengandongi sebab yang telah diketahui umum, iaitu reputasi bapanya pada penghujung bukunya Mizan, menerangkan dia sebagai seorang Shi’a yang jujur. Dia juga menyebut beliau di dalam bab yang mengandongi nama pertama mereka adalah Muhammad, telah menerangkan bahawa beliau adalah ‘seorang yang benar dan terkenal’ dengan menambah bahawa Ahmed telah menerangkan, beliau sebagai seorang Shi’a yang mana hadithnya adalah sahih, dan bahawa Abu Dawud telah menerangkan beliau, sebagai seorang Shi’a di dalam prefession [kepercayaan](!), dengan menambah bahawa beliau seorang yang berpengetahuan dan juga penyampai hadith, bahawa beliau mempelajari al-Quran dari Hamzah, dan bahawa beliau telah mengarang banyak buku, Ibn Ma`in telah mempercayai beliau dan Ahmed berkata baik mengenai beliau. Al-Nisa’i telah berkata bahawa tiada sebarang kesalahan dengan hadith beliau. Pengarang dari enam buku sahih, dan juga yang lainnya, telah bergantung pada penyampaiannya. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam Bukhari seperti yang disampaikan oleh Muhammad ibn Namir, Ishaq al-Hanzali, Ibn Abu Shaybah, Muhammad ibn Salam, Qutaybah, `Umran ibn Maysarah, dan `Amr ibn `Ali. Hadith beliau yang disampaikan di dalam Bukhari adalah oleh `Abdullah ibn `Amir, Abu Karib, Muhammad ibn Tarf, Wasil ibn `Abd al-A`la, Zuhayr, Abu Sa`d al-Ashajj, Muhammad ibn Yazid, Muhammad ibn al-Muthanna, Ahmed al-Wak`i, dan `Abdul-`Aziz ibn `Umer ibn Aban. Beliau meninggal, semoga Allah merahmati beliau, di Kufa pada tahun 194 atau 195 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Muhammad ibn Fudhayl ibn Ghazwan Abu ‘Abdurahman al-Kufi Imam Ahmad berkata: “Ia berpihak kepada ‘Ali, tasyayyu’. Haditsnya baik.” Ibn Mu’in memandangnya tsiqat. Abu Zara’ah berkata: “Ia jujur, dan ahli ilmu.” Menurut Abu Hatim, ia seorang guru. Nasa’i tidak melihat sesuatu yang membahayakan dalam hadits Ibn Fudhayl. Menurut Abu Dawud, ia seorang Syi’ah yang militan. Ibn Hibban menyebut dia dalam ats-Tsiqat, dan ia berkata: “Ibn Fudhayl pendukung ‘Ali yang berlebih-lebihan.” Ibn Saad berkata: “Ia tsiqat, jujur dan banyak memiliki hadits. Ia pendukung ‘Ali. Sebagian ulama tidak berhujjah dengan haditsnya.” Menurut ‘Ajli, ia orang Kufah yang tsiqat, tetapi Syi’ah. ‘Ali ibn al-Madani memandangnya sangat tsiqat dalam hadits. Hal serupa dikatakan pula oleh Daruquthni. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Fudhayl adalah seorang yang tsiqat, jujur dan haditsnya baik. Ulama hadits tidak memberikan kritik atasnya dengan kritikan yang merusak keadilan dan kehujjahan haditsnya. Karena itu, para ulama hadits sepakat untuk menerima riwayatnya dan berhujjah dengan haditsnya. Mengenai tuduhan bahwa ia tasyayyu’, itu tidak merusak namanya, sebab ia terkenal sebagai orang yang jujur dan amanah, serta tidak mau berdusta. Adanya tuduhan bahwa ia berlebih-lebihan dalam mendukung ‘Ali, itu artinya ia pernah meremehkan ‘Utsman ibn ‘Affan. Sesungguhnya ada riwayat lain yang menolak tuduhan di atas, dan menetapkan kebalikannya. Abu Hisyam ar-Rifa’i berkata: “Aku mendengar Ibn Fudhayl berkata, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada ‘Utsman, dan tidak ada rahmat bagi orang yang tidak mengasihi ‘Utsman. Berkata Hisyam: “Aku mendengar Ibn Fudhayl bersumpah bahwa dia pendukung Sunnah. Banyak lagi riwayat dari Ibn Hisyam yang menyatakan bahwa Ibn Fudyail tidak ekstrim dan menunjukkan bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, sampai pada masalah-masalah furu’. Berkata Hisyam: “Aku lihat di sepatunya bekas usapan, dan aku sering shalat di belakangnya (bermakmum) dan tidak pernah mendengarkan ia mengeraskan bacaan basmalahnya.” Keterangan ini menunjukkan ia berbeda dari orang Rafidhah.

81    Muhammad ibn Muslim ibn al-Ta’ifi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang sahabat Imam Abu `Abdullah al-Sadiq [as], yang terkenal. Shaykh al-Ta’ifa Abu Ja`fer al-Tusi telah menyebut beliau di dalam buku Rijal al-Shi`a, dan al-Hasan ibn `Ali ibn Dawud telah menjumlahkan beliau di dalam bab, tradisionis yang amat dipercayai di dalam bukunya Al-Mukhtasar. Al-Thahbi memuatkan biografinya dan menyebut Yahya ibn Ma`in dan lainnya yang mengatakan bahawa beliau adalah jujur. Dia menambah dengan mengatakan bahawa al-Qa`nabi, Yahya ibn Yahya, dan Qutaybah semuanya telah menyampaikan tradisi beliau, dan bahawa `Abdul-Rahman ibn Mahdi pernah menyebut Muhammad ibn Muslim ibn al-Ta’ifi dan berkata: “Buku beliau [tradisi] semuanya adalah sahih,” dan bahawa Ma`ruf ibn Wasil berkata: “Saya melihat Sufyan al-Thawri yang ketika bersama dengan Muhammad ibn Muslim ibn al-Ta’ifi, sedang mencatitkan hadith beliau.” Bahkan mereka yang melebelkan beliau sebagai ‘lemah’ hanya melakukannya atas dasar bahawa beliau adalah Shi’a, walaupun begitu perjudis mereka tidak merugikan beliau. Hadith beliau dari ‘Amr ibn Dinar mengenai wudu’ terdapat di dalam sahih Muslim. Menurut dari Tabaqat Ibn Sa`d, seperti yang dinyatakan pada muka surat 381, Vol. 5, hadith beliau telah disebutkan oleh Waki` ibn al-Jarrah dan 100 orang yang lainnya. Pada tahun itu, nama beliau Muhammad ibn Muslim ibn Jummaz meninggal di Medina. Ibn Sa`d telah memuatkan kedua biografinya didalam Vol. 5 pada Tabaqat.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Muhammad ibn Muslim ibn Susin ath-Tha’ifiI, Ibn Mu’in memandang dia tsiqat. Demikian pula Abu Dawud dan ‘Ajli. Menurut Bukhari dan Ibn Muhdi, hadits Muhammad ditulis (diriwayatkan) oleh para perawi sahih. Ibn Hibban menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiqat, dan berkata: “Muhammad sering lalai.” As-Saji berkata: “Ia jujur. Haditsnya perlu dipertimbangkan.” Menurut Ibn Mu’in, ia sering keliru ketika menyampaikan hadits yang dihafalnya. Manakala ia menyampaikan hadits dari kitabnya, tidak ada persoalan. Namun Ahmad mendha’ifkannya dalam segala keadaan, baik ia menyampaikan dari kitabnya maupun dari hafalannya. Ibn ‘Adi menyebutkan beberapa hadits Muhammad, lalu berkata: “Haditsnya hasan dan gharib. Ia termasuk orang yang memelihara haditsnya dengan baik. Aku tidak pernah melihat hadits munkar padanya. Menurut Ya’qub ibn Sufyan, ia tsiqat, tak ada bahaya padanya. Bila kita memperhatikan beberapa pendapat ulama hadits di atas, nyatalah bahwa Muhammad ibn Muslim adalah dha’if. Kedha’ifannya terletak pada hafalannya dan daya ingatnya, bukan dari segi adilnya. Sebab ulama hadits tidak pernah melontarkan sesuatu kritikan yang dapat merusak keadilannya. Mereka yang mendha’ifkan Muhammad dari segi hafalan dan daya ingatnya juga masih berselisih paham. Perselisihan, ini mengenai apakah ia meriwayatkan hadits dari hafalannya atau dari kitabnya. Ini benar-benar membuktikan kepada kita betapa akuratnya metoda ulama Sunni dalam melakukan seleksi para perawi hadits. Orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Muhammad, mereka menerimanya dari kitabnya, bukan dari hafalannya. Hadits-hadits yang termuat dalam kitabnya itu dapat diterima, kecuali oleh Imam Ahmad. Adapun Imam Muslim, karena ketatnya persyaratannya, tidak meriwayatkannya, kecuali satu hadits yang menceritakan tentang tark al-wudhu’. Itupun diikuti oleh periwayat lain, sebagaimana ditegaskan oleh Hakim. Kalau diperhatikan pernyataan-pernyataan ulama mengenai Muhammad ibn Muslim, maka nyatalah bagi kita dusta yang dilakukan oleh al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Ia menuduh ulama Sunni mendha’ifkan Muhammad lantaran paham Syi’ah yang dianutnyal bukan karena sebab lainnya. Dengan tuduhan itu ia hendak menyatakan bahwa ulama Sunni fanatik, menuruti hawa nafsu dan tidak memiliki metoda dalam menolak dan menerima hadits. Jawaban saya terhadap tuduhan dan propaganda di atas adalah keterangan dia sendiri bahwa Imam Muslim meriwayatkan hadits Muhammad ibn Muslim dalam bab wudhu’. Seandainya Muslim mendha’ifkan dia dari segi Syi’ahnya, sebagaimana dia tuduhkan, tentulah sifat adil Ibn Muslim menjadi rusak, dan Imam Muslim tidak akan meriwayatkan haditsnya. Kepada al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, saya ingin bertanya: Tidakkah anda memandang Abban ibn Tughlab, ‘Abdurrazaq, Khalid ibn Mukhalid, ‘Amir ibn Wailah dan lain-lain sebagai perawi yang adil? Mengapa ulama Sunni juga memandang mereka sebagai perawi yang adil? Ulama Sunni tidak mendha’ifkan mereka. Kelihatannya Syeitan telah membelenggu anda, dan menyeret anda ke jurang permusuhan, sehingga anda semakin buta terhadap sunnah, dengki kepada Ahli Sunnah dan pendukungnya. Syeitan akan membawa anda pula ke jurang kenistaan di hari kiamat.

82    Muhammad ibn Musa ibn `Abdullah al-Qatari al-Madani

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam Mizan; menyebut dari Abu Hatim yang mengesahkan beliau adalah Shi’a. Dia juga menyebut dari al-Tirmidzi yang berkata bahawa beliau adalah dipercayai, dan dia menandakan nama beliau dengan singkatan Muslim dan juga pengarang Sunan sebagai petunjuk terhadap pergantungan mereka kepada penyampampaiannya. Rujuklah hadith beliau mengenai makanan di dalam sahih Muslim yang disampaikan dari `Abdullah ibn `Abdullah ibn Abu Talha. Beliau juga telah disebutkan oleh al-Maqbari dan sekumpulan yang ternama lainnya. Mereka yang lain yang telah menyebutkan hadith beliau adalah: Ibn Abu Fadik, Ibn Mahdi, Qutaybah, dan lainnya yang sama kaliber.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Muhammad ibn Musa ibn ‘Abdiffah al-Fithri al-Madani  Abu Hatim berkata: “Ia jujur, baik haditsnya, dan ia condong kepada ‘Ali, tasyayyu’”‘. At-Turmudzi memandang dia tsiqat. Menurut Abu Ja’far ath-Thahawi, ia sangat terpuji dalam riwayat-riwayatnya. Ibn Syahin menyebutkan dalam ats-Tsiqat demikian, “Al-Fithri adalah seorang guru yang tsiqat, bagus haditsnya.” Para ulama sepakat mengenai tsiqat dan adilnya al-Fithri. Mereka tidak melontarkan suatu kritik atasnya yang dapat merusak sifat adil dan dhabithnya. Mengenai tuduhan bahwa ia bertasyayyu’, sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa tasyayyu’ hanyalah dukungan kepada ‘Ali dan keluarganya, tanpa meremehkan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Hal ini tidaklah merusak nama seorang perawi. Apalagi jika ia dikenal jujur dan adil. Karena itu, ulama hadits meriwayatkan hadits al-Fithri dan menjadikannya sebagai hujjah. Di sini saya ingin bertanya kepada al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengapa ulama Sunni tidak mendha’ifkan Wiuhammad ibn Musa al-Fithri? Padahal anda menyebut dia sebagai orang Syi’ah. Demikian pula Abu Hatim.

83   Mu`awiyah ibn `Ammar al-Dihni al-Bajli al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah diantara Shi’a yang sangat dihormati dan disanjung, berkedudukan dan dipercayai. Bapa beliau `Ammar adalah satu contoh yang baik bagi kesabaran dan keteguhan di dalam memegang prinsip pada keadilan, dia adalah suatu model [contoh] yang Allah telah ketengahkan bagi mereka yang sabar menderita untuk kekal di jalanNya. Orang yang zalim telah melumpuhkan nya [dengan memotong urat dibelakang lutut] kerana menjadi seorang Shi’a, seperti yang kami telah nyatakan diatas, tanpa kejayaan pada memalingkannya, sehinggalah dia meninggalkan dunia ini untuk mendapatkan ganjarannya. Anaknya Mu`awiyah telah diberikan dengan layanan yang sama, dan bapa adalah model bagi anaknya. Beliau telah bersama dengan Imams al-Sadiq dan al-Kazim [as], dan mempelajari dari mereka dengan banyaknya. Beliau telah mengarang banyak buku – seperti yang ditunjukkan diatas – dan beliau telah disebutkan oleh penyampai Shi’a seperti Ibn Abu `Umayr dan lainnya. Muslim dan al-Nisa’i telah bergantung pada penyampaiannya. Hadith beliau mengenai Haji telah disebutkan di dalam sahih Muslim oleh al-Zubayr. Di dalam Muslim, beliau telah disebutkan oleh keduanya Yahya ibn Yahya dan Qutaybah. Beliau juga telah menyampaikan hadith yang disebutkan oleh bapanya `Ammar, dan dari kumpulan ulama yang terkenal dan hadith yang sedemikian terdapat di dalam musnads Sunni. Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, pada tahun 175 H.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Mu’awiyah ibn ‘Ammar ad-Duhni al-Bajli al-Kufi, Adz-Dzahabi berkata: “Mu’awiyah adalah orang Kufah yang jujur. Ibn Mu’in dan Nasa’i menyatakan tidak melihat sesuatu yang berbahaya pada diri Mu’awiyah. Menurut Abu Hatim, haditsnya dapat ditulis, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah. Ibn Hibban menyebutkannya di dalam Kitab ats-Tsiqat. Ulama hadits tidak memberikan suatu kritik atas diri Mu’awiyah yang dapat merusak adil dan dhabithnya. Ia termasuk seorang yang terjaga kepribadiannya, mastur al-hal. Mengenai pernyataan Abu Hatim –walaupun itu menunjukkan ketidaksempurnaan Mu’awiyah– namun menurut ulama hadits berarti kesempurnaan Mu’awiyah belum sampai ke tingkat dapat dijadikan hujjah walaupun haditsnya dapat didaftar. Karena itu, Imam Muslim meriwayatkan haditsnya dengan diikuti perawi lain, yaitu hadits tentang masuknya Rasulullah ke Makkah tanpa ihram. Mengenai keterangan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, tentang kehidupan Mu’awiyah ad-Duhni dan kehidupan ayahnya, tidaklah pernah disinggung dalam buku-buku biografi perawi hadits. Ia hanya berpegangan pada sumber-sumber khusus dari kalangannya sendiri. Keterangannya merupakan data yang dapat diragukan keabsahan dan validitasnya. Karena itu, dari segi riwayat, tidak ada hubungannya sama sekali dengan adil dan dhabithnya Mu’awiyah.

84    Ma`ruf ibn Kharbuth al-Karkhi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi menerangkan beliau di dalam Mizan sebagai “Shi`a yang jujur,” menandakan nama beliau dengan singkatan nama al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud untuk menunjukkan bahawa mereka menyebutkan hadith daripada beliau. Dia juga menyebutkan Abul Tufayl berkata bahawa Ma`ruf menyampaikan beberapa hadith beliau. Hadith beliau telah disebutkan oleh `Asim, Abu Dawud, `Ubaydullah ibn Musa dan lainnya. Dia juga menyebutkan Abu Hatim sebagai berkata bahawa yang terkemudian mencatatkan hadith beliau.Ibn Khallikan menyebut beliau di dalam bukunya Wafiyyat dan menerangkan beliau sebagai seorang, orang suruhan `Ali ibn Musa al-Rida [as], Dia terus memuji beliau, menyebutkan kenyataan yang mana beliau berkata, “Saya telah sampai kepada kehadarat Allah, meninggalkan segala-galanya dibelakang saya, dengan penggecualian terhadap melayani ketua saya `Ali ibn Musa al-Rida [as],” Apabila Ibn Qutaybah membincangkan beberapa pemuka-pemuka Shi’a di dalam kerjanya Al-Ma`arif, dia memasukkan Ma`ruf ibn Kharbuth diantara mereka. Muslim telah bergantung kepada penyampaian Ma`ruf ibn Kharbuth; rujuklah kepada hadith beliau di dalam bab hajj di dalam sahihnya dari Abul Tufayl. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 200 H.;[17] pusara beliau adalah mausoleum [tempat ziarah]. Sirri al-Saqti adalah seorang dari muridnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ . Ma’ruf ibn Kharbudz al-Karakhi , Adz-Dzahabi berkata: “Ia seorang yang jujur dan seorang Syi’ah. Yahya ibn Mu’in memandang dia dha’if. Ahmad berkata: “Saya tidak mengerti bagaimana keadaan haditsnya.” Abu Hatim memandang haditsnya dapat ditulis. Menurut as-Saji, ia seorang yang jujur. Ulama hadits sepakat mengenai adil dan jujurnya Ma’ruf. Mereka tidak menuduh dia sebagai, pendusta. Di dalam pernyataan Ahmad dan Abu Hatim, terkandung unsur mendha’ifkan Ma’ruf. Hanya saja hal itu tidak merusak sifat adilnya. Mengenai tuduhan bahwa ia Syi’ah, maka kita sudah mengerti maksud Syi’ah di sini, yaitu yang tidak merusak sifat adil seorang perawi. Apalagi jika ia dikenal jujur. Oleh karena itu, ahli hadits dari kalangan Sunni menuliskan hadits Ma’ruf. Di dalam Kitab Bukhari, tidak ditemukan hadits-hadits Ma’ruf. kecuali satu hadits mengenai ilmu. Hadits itu berasal dari Abu Thufayl, dari ‘Ali, yaitu hadits: Hadditsun-naasa bima ya’rifun. Imam Muslim dan Abu Dawud juga meriwayatkan haditsnya yang berasal dari Abu Thufayl, yaitu hadits: Annahu ra’an-nabiyya fil-hajj.

85    Mansur ibn al-Mu`tamir ibn `Abdullah ibn Rabi`ah al-Salami al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang sahabat kepada Imams al-Baqir and al-Sadiq (as), dan beliau telah menyampaikan hadith daripada mereka, seperti mana pengarang Muntahal Maqal fi Ahwal al-Rijal telah nyatakan. Ibn Qutaybah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi’a di dalam bukunya Al-Ma`arif. Al-Jawzjani telah menjumlahkan beliau diantara penyampai ‘yang mana golongannya tidak disenangi oleh orang-orang yang tertentu, di dalam asas dan juga cabang-cabang agama, disebabkan kerana taat kepada apa yang mereka pelajari dari keturunan Muhammad [as]. Dia berkata: “Diantara penduduk Kufa, terdapat sekumpulan mereka yang mana kepercayaan mereka tidak disenangi, mereka adalah ketua bagi tradisionis Kufa, seperti Abu Ishaq, Mansur, Zubayd al-Yami, al-A`mash dan lain lagi yang terkenal. Manusia telah menerima mereka hanya kerana mereka menyampaikan hadith dengan jujur.”[18] Mengapa mereka sangat benci terhadap manusia yang sangat jujur ini? Adakah kerana mereka berpegang kepada ‘Dua Perkara yang Berat?’ Atau adakah kerana mereka telah menaikki ‘Bahtera Keselamatan’? Atau adakah kerana mereka memasukki kota pengetahuan Nabi melalui pintunya, iaitu Pintu bagi Keampuanan? Atau adakah kerana mereka mencari perlindungan dengan ‘Penyelamat bagi seluruh alam ini’? Atau adakah kerana mereka taat kepada wasiat Rasul iaitu berbaik-baik dengan keturunan baginda? Atau kerana hati mereka telah terserah kepada Allah dan tangisan mereka kerana takut kepadaNya, seperti yang telah diketahui mengenai mereka? Menyebutkan biografi Mansur ibn al-Mu`tamir ibn `Abdullah ibn Rabi`ah, Ibn Sa`d berkata yang berikut ini mengenai Mansur pada muka surat 235,  Vol. 6 dari Tabaqat: “Beliau telah menjadi buta kerana terlalu banyak menangis, kerana takut kepada Allah. Beliau selalu membawa sapu tangan kerana hendak mengeringkan air matanya. Sebahagian mereka mengatakan bahawa beliau berpuasa dan beribadah selama 60 tahun.” Bolehkan manusia yang berkualiti bergini menjadi beban kepada manusia? Sebenarnya, tidak, tetapi kita telah dijangkiti oleh sebahagian manusia yang tidak tahu apakah pengertian saksama; maka kita adalah milik Allah dan kepadaNya kita kembali. Di dalam biografi Mansur ibn al-Mu`tamir ibn `Abdullah ibn Rabi`ah, Ibn Sa`d juga menyebut Hammad ibn Zayd berkata, “Saya telah melihat Mansur di Mekah, dan saya fikir dia tergolong kepada mereka Khashbis, tetapi saya tidak fikir bahawa dia berdusta apabila dia menyebutkan hadith.” Lihatlah terhadap pandangan yang merendahkan, dengki, menghina dan permusuhan secara terang yang terdapat pada keterangan itu. Betapa terkejutnya saya apabila saya mempertimbangkan kenyataannya: ‘Saya tidak fikir bahawa dia berkata dusta…..’ Seakan berkata dusta adalah satu amalan bagi mereka yang ikhlas kepada keturunan Muhammad [as]. Seolah-olah Mansur sahaja yang jujur, dan bukannya semua tradisionis Shi’a yang lain. Memberikan panggilan… seolah-olah Nasibis tidak dapat mencarikan nama yang mana mereka memanggil Shi`as selain dari panggilan yang salah seperti Khashbis, Turabis, Rafidis, etc. Seakan mereka tidak pernah mendengar perintah Allah: “Dan janganlah bertukar-tukar nama yang keji; apakah jenis kefasikkan untuk menggunakan nama yng buruk selepas menerima keimanan (Qur’an, 49:11).” Ibn Qutaybah telah menyebut “Khashbis” di dalam bukunya Al-Ma`arif dan berkata: “Ini adalah Rafidis. Ibrahim al-Ashtar bertemu `Ubaydullah ibn Ziyad di dalam medan pertemporan. Kebanyakkan dari orang-orang Ibrahim mempunyai pengadang dari kayu; dari itu mereka telah dilabelkan sebagai `khashbis,’ orang yang mempunyai kaitan dengan pengadang yang disebabkan oleh kebencian.” Yang sebenarnya, Shi’a digelar yang sedemikian adalah untuk menghina dan memandang rendah kepada mereka, dan juga pada senjata kayu mereka, yang dengannya mereka dapat memukul Ibn Marjanah, pengasas bagi golongan Nasibis, dari itu dengannya telah dapat membakar semangat golongan yang menyimpang ini, pembunuh bagi keturunan Muhammad [as]. “Allah telah memotong ekor bagi mereka yang melakukan kezaliman, segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam ini (Qur’an, 6:45).” Dari itu tidak terdapat sebarang celaan kepada panggilan yang mulia ini, tidak juga sebarang kecacatan di dalam persamaan kepada Turabis, dari  Abu Turab (Imam `Ali, as); kami berbangga dengannya. Kita telah teralih. Marilah kita kembali kepada topik utama, dan mengatakan bahawa ijmak tradisionis telah bergantung kepada Mansur. Atas sebab ini semua pengarang sahih yang enam dan juga yang lainnya telah bergantung kepada penyampaian beliau, setelah mengetahui beliau adalah Shi’a. Rujuklah kepada hadith beliau di dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Abu Wa’il, Abul Duha, Ibrahim al-Nakh`i dan yang terkemuka lainnya. Beliau menyebut dari Shu`bah, al-Thawri, Ibn `Ayinah, Hammad ibn Zayd dan lainnya yang amat terkenal pada penyampaian hadith yang sedemikian. Ibn Sa`d telah berkata bahawa Mansur telah meninggal pada penghujung tahun 132, dan menambah, “Beliau amat dipercayai pada menyampaikan banyak hadith, beliau sangat mulia dan dihormati, semoga Allah merahmati beliau.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Manshur ibn Mu’tamar ibn ‘Abdullah ibn Rabi’ah as-Sulami al-Kufi , Al-Ajiri menceritakan dari Abu Dawud bahwa Manshur tidak pernah meriwayatkan hadits kecuali dari perawi yang tsiqat. Ats-Tsawri berkata: “Di Kufah, tidak sebagai orang yang lebih dipercaya dalam periwayatan hadits dibanding Manshur”. Yahya memandang Manshur sebagai orang yang paling dapat dipercaya. Dalam bukunya, ‘Ali al-Madani berkata demikian: “Jika seorang tsiqat meriwayatkan hadits padamu, dan hadits itu berasal dari Manshur, maka engkau pasti berpegang kepadanya dan engkau tidak ingin pada yang lainnya.” ‘Abdan berkata bahwa ia pernah mendengar Hamzah berkata: Ketika aku datang ke Baghdad, aku lihat orang-orang di sana memuji Manshur.” Abu Zara’ah berkata: Orang Kufah yang paling terpercaya (meyakinkan) adalah Manshur. Abu Hatim berkata: “Manshur adalah orang yang tsiqat. Ia tidak pernah melakukan pencampuradukan (tadlis).” Menurut ‘Ajli, ia seorang Kufah yang tsiqat, dan haditsnya dapat dipercaya. Ia seorang Kufah yang paling dipercaya. Haditsnya seakan-akan tempat minuman, tak seorang pun berselisih didalamnya. Ia ahli ibadah, dan merupakan orang yang salih. Selama dua bulan ia menentang qadha’ (pengadilan negara). Ia Syi’ah, walaupun tidak berlebihan. Dari pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa ulama hadits sepakat mengenai adil dan tsiqatnya Manshur, serta kehujjahan haditsnya. Mereka tidak melontarkan kritik atas Manshur yang merusak sifat adil dan tsiqatnya. Karena itu, ashabus sittah meriwayatkan haditsnya. Kalau dikatakan bahwa ia Syi’ah, itu hanya dalam ukuran sangat kecil, tidak sampai ke tingkat berlebihan. Sebagaimana dikatakan oleh al-Ajri, ini tidak merusak sifat adil dan tsiqat Manshur. Apalagi setelah ada kesepakatan mengenai kejujurannya, dan jauhnya dari perbuatan dusta. Ini menunjukkan kejujuran ulama Sunni, di mana mereka tidak menolak riwayat Manshur, yang dipandang sebagai Syi’ah walaupun tidak sampai ke tingkat Rafadh. Mereka berhujjah dengan hadits riwayat Manshur, sebagaimana dikatakan oleh al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah berikut ini: “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kehujjahan hadits Manshur”. Karena itu, ashabus sittah dan ulama hadits lainnya berhujjah dengan haditsnya, walaupun mereka tahu bahwa ia seorang Syi’ah. Pernyataan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah di atas bertolak belakang dengan tuduhan dia bahwa ulama Sunni tidak jujur. Kepada mereka, ia pernah berkata: “Aku tidak simpati kepada sekelompok orang yang tidak jujur!” Bagaimana mereka dipandang tidak fair, sedangkan mereka sepakat untuk berhujjah dengan hadits Manshur yang berpaham Syi’ah? Ini jelas berlawanan dengan tuduhan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah itu. Setiap orang yang berakal sehat akan menyatakan demikian. Adakah dia jujur dalam memberikan penilaian terhadap ulama Sunni? Ataukah ia seorang sinting yang zalim? Setiap orang yang membaca pernyataan-pernyataannya yang kontroversial itu, pastilah tahu bahwa ia termasuk orang yang hendak mematikan sunnah dan ahlinya. Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya. Pembaca yang kritis dan jujur akan dapat menemukan kejujuran ulama Sunni. Ia juga akan mengerti kebencian al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, terhadap ulama Sunni. Pembaca akan mengetahuinya, misalnya dari riwayat Hammad ibn Zayd, salah seorang ulama Sunni. Ia berkata: “Aku melihat Manshur di Makkah. Kukira dia dari sekte Khasyabiyyah. Aku tidak menuduhnya sebagai seorang pendusta.” Kalau seandainya Hammad tidak jujur, tentu ia akan menyatakan bahwa Manshur adalah pembohong. Akan tetapi, Hammad menyatakan bahwa Manshur adalah seorang yang jujur, walaupun ia seorang Syi’ah. Sesungguhnya al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, itu sendiri yang termasuk golongan orang-orang yang tidak jujur. Tidakkah anda melihat, bagaimana ia berbuat dusta atas ulama Sunni ketika ia berkata: “Orang-orang Sunni adalah kelompok orang yang suka berdusta”. Tuduhan semacam itu ia buat-buat untuk menolak orang-orang Sunni, padahal mereka sama sekali lepas dari tuduhannya. Mereka justru berkeyakinan bahwa dusta adalah suatu ciri yang pasti dalam paham Rafadh. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan bahwa dusta adalah aqidah kaum Rafidhah. Al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah adalah salah seorang dari mereka. Orang-orang yang jujur dari kalangan mereka sangatlah langka. Sungguh mengherankan bagaimana ia bermain-main dengan al-Qur’an, dengan menggunakan dalil secara serampangan tidak pada tempatnya. Apakah menjelaskan bid’ah, dan mengungkap para pelakunya harus dipandang sebagai perbuatan memperolok-olok dengan gelar yang buruk? Apakah pernyataan anda kepada orang kafir dengan sebutan “kafir” atau kepada orang munafik dengan sebutan “munafik” harus dipandang sebagai perbuatan memperolok-olok? Kalau memang demikian, tentu al-Qur’an tidak akan menyebut orang yang secara lahiriah memiliki sifat nifaq sebagai “munafiq.” Demikian pula orang yang melakukan perbuatan keji, seperti berzina dan mencuri, tentu tidak akan disebut zani atau sariq. Kepadanya saya ingin bertanya di mana anda menempatkan ayat ll surah al-Hujurat ketika anda membuang predikat atau atribut Hammad ibn Zayd yang sesungguhnya? Dan mengapa, anda tidak mempraktekkan ayat di atas ketika anda memberikan gelar kepada Abu Bakar, ‘Umar dan ‘A’isyah sebagai jibt, Thaghut dan baqarah? Apakah ini dapat disebut sebagai suatu kejujuran, wahai al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah? Sesungguhnya anda adalah seperti kata orang, “Kau mengecam orang lain dengan keburukan sendiri”.

86    Al-Minhal ibn `Amr al-Kufi, seorang tabi`i

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau seorang Shi’a yang amat terkenal di Kufa. Atas sebab ini, al-Jawzjani telah kategorikan hadith beliau sebagai ‘lemah’, mengatakan beliau sebagai ‘pengikut golongan yang salah’. Ibn Hazm telah berkata buruk mengenai beliau dengan cara yang sama, dan Yahya ibn Sa`d, juga telah merabit-rabitkan [koyak] nama beliau. Ahmed ibn Hanbal mengatakan yang sebaliknya. Dia berkata: “Abu Bishr lebih berharga kepada saya dari pancutan air yang sejuk, dan beliau lebih dipercayai dari yang lainnya..” Selain dari menjadi pengikut Shi’a yang kuat, telah menyatakan secara umum walaupun semasa al-Mukhtar, Beliau tidak diragui oleh ulama mengenai ketepatan hadith yang beliau sampaikan. Beliau disebutkan oleh  Shu`bah, al-Mas`udi, al-Hajjaj ibn Arta’ah, dan ramai lagi dari intelektual yang berkaliber. Beliau dipercayai oleh Ibn Ma`in, Ahmed al-`Ijli dan lainnya. Di dalam Mizan, al-Thahbi menyebut penilaian mereka kepada beliau seperti yang dituliskan diatas, memberi tanda nama beliau dengan singkatan Bukhari dan Muslim sebagai petunjuk bahawa keduanya menganggap hadith beliau boleh dipercayai. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Bukhari dari Sa`id ibn Jubayr. Di dalam sahih Bukhari, di dalam seksen pengarang bagi Tafsir, hadith beliau telah disampaikan oleh Zayd ibn Abu Anisa. Al-Mansur ibn al-Mu`tamir telah menyebut dari beliau di dalam bab para Rasul.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Al-Minhal ibn Amr al-Kufi, Ia adalah salah seorang tabi’in. Ibn Mu’in memandang dia sebagai orang yang tsiqat. Demikian pula Nasa’i, ‘Ajli dan ulama hadits lainnya. Abu Hatim berkata bahwa ia mendengar ‘Abdullah ibn Ahmad berkata: “Aku mendengar bapakku berkata: Syu’bah secara sengaja meninggalkan Minhal ibn Amr. Ibn Abi Hatim berkata: “Di rumahnya sering terdengar suara bacaan yang didendangkan”. Wahab ibn Jarir menceritakan dari Syu’bah bahwa ia berkata: “Aku datang ke rumah Minhal, lalu aku mendengar suara tambur, maka aku segera kembali, tidak bertanya kepadanya”. Ibn Jarir berkata: “Tidakkah sebaiknya engkau bertanya kepada Minhal, kalau-kalau ia sendiri tidak mengerti kejadian itu?”  Abu Khaytsamah meriwayatkan dari Mughirah ibn Muqsam bahwa ia melarang A’masy meriwayatkan hadits dari Minhal. Kepada Yazid ibn Abu Ziyad, Mughirah berkata: “Demi Allah, apakah kesaksian Minhal itu dapat diterima? “Tidak,” jawab Yazid. Al-’Ala’i menceritakan bahwa Ibn Mu’in memaudhu’kan keadaan Minhal. Al-Jauzjani berkata: “Minhal adalah orang yang buruk madzhabnya, dan berpengaruh pada hadits-haditsnya. Dari pendapat-pendapat di atas dapat, disimpulkan bahwa para ulama sepakat mengenai adil, tsiqat dan kuatnya ingatan Minhal. Mereka tidak melontarkan kritik yang berpengaruh atau merusak riwayat hadits yang dilakukannya. Mengenai berita bahwa di rumahnya terdapat suara bacaan yang meliuk-liuk, hal itu tidak mesti memvonis atau menjatuhkan martabat Minhal. Demikian pula adanya berita bahwa di rumahnya terdengar suara gendang. Sebab bisa terjadi Minhal sendiri tidak mengetahuinya, sebab ia tidak ada di rumah. Dan seandainya ia ada dan mendengar, tentu ia tidak akan membolehkannya. Atas dasar ini, maka penolakan Syu’bah hanyalah karena faktor hati-hati alias ikhtiyath. Ini menunjukkan canggihnya ulama Sunni dalam hal jarh wa ta’dil dan dalam penerimaan hadits. Mengenai riwayat Hutsaymah, itu tidak dapat dibenarkan. Sebab perawinya adalah Muhammad ibn ‘Umar al-Hanafi, orang yang tak dikenal. Kalaupun riwayat itu benar, itu hanyalah karena Mughirah, sebagaimana Syu’ba, tidak suka lagu-lagu dari Minhal. Sebab Jarir pernah menceritakan bahwa Mughirah berkata: “Minhal adalah seorang yang bagus suaranya. Ia memiliki gaya bacaan yang disebut wazan tujuh. Dengan demikian, hal itu tidaklah merusak sifat tsiqat Minhal, sebagaimana dinyatakan Ibn Hajar dalam kitab Hadi as-Sari. Mengenai riwayat al-Ala’i, Ibn Hajar berkomentar: “Mungkin ibn Mu’in memaudhu’kan Minhal bila dikaitkan dengan orang lain, sebagaimana hikayat dari Ahmad. Sebab terbukti Abu Hatim menceritakan bahwa Ibn Mu’in memandang Minhal sebagai orang yang tsiqat. Mengenai pernyataan al-Jauzjani, maka sering saya kemukakan bahwa kecamannya terhadap orang Kufah tidak bisa diterima, sebab ia orang yang paling serong dan tidak jujur. Lagi pula, tidak seorang pun dari ulama hadits yang mengecam paham Minhal, selain al-Jauzjani. Mengenai klaim al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, bahwa Minhal seorang Syi’ah, klaim ini tidak didukung oleh acuan yang dipercaya. Dia hanya bersandar pada salah satu kitab Syi’ah yang dipertanyakan objektivitas dan keilmiahannya. Sungguhpun demikian, Bukhari tidak meriwayatkan hadits Minhal, kecuali 2 saja. Yang pertama, hadits yang menerangkan tentang ta’widz al-Hasan wal-Husayn. Kedua, hadits mengenai tafsir Ha-Mim Fushshilat. Hadits ini diperselisihkan, apakah maudhu’ atau mu’affaq, seperti diungkap Ibn Hajar ra.

87    Musa ibn Qays al-Hadrami, Abu Muhammad

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-`Aqili menerangkan beliau sebagai “pelampau Rafidi.” Suatu ketika, Sufyan bertanya beliau mengenai Abu  Bakr. Beliau menjawab: “`Ali lebih bererti kepada saya.” Musa ibn Qays menyampaikan hadith dari Salamah ibn Kahil, Iyad ibn Iyad, berakhir dengan Malik ibn Ja`na yang melaporkan bahawa “Saya mendengar Umm Salamah berkata bahawa `Ali adalah bersama dengan yang benar; sesiapa yang mengikuti dia adalah pengikut yang benar, dan sesiapa yang meninggalkan dia, pastinya telah meninggalkan yang benar; ini telah ditentukan.” Ianya juga telah disampaikan oleh Abu Na`im al-Fadl ibn Dakin dari Musa ibn Qays. Musa ibn Qays telah menyampaikan hadith yang memuji ahlul bayt berjilid-jilid banyaknya sehingga menimbulkan kemarahan al-`Aqili yang berkata kepada beliau apa yang dia telah katakan [yang diatas]. Ibn Ma`in telah mempercayai dan bergantung kapada beliau. Abu Dawud dan Sa`d ibn Mansur keduanya telah bergantung pada penyampaiannya di dalam sunan mereka. Al-Thahbi telah menulis biografinya di dalam Mizan, mengatakan mengenai beliau dengan apa yang telah ditulis diatas. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sunan dari Salamah ibn Kahil dan Hajar ibn `Anbasah. Hadith beliau telah disampaikan oleh Dakin, `Ubaydullah ibn Musa dan penyampai lain yang dipercayai. Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, semasa pemerintahan al-Mansur.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Musa ibn Qays al-Hadhramy, Abu Muhammad, gelar Burung Pipit dari Sorga Berkata ‘Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya: “Aku tidak mengetahui tentang Musa kecuali kebaikan”. Ibn Mu’in menganggap dia tsiqat. Abu Hatim berkata: “Tak ada persoalan dengan dia”. Musa al-Tarra’ berkata: “Dia itu disukai”. Menurut Ibn Syahin, dia termasuk perawi yang tsiqat. Kata Ibn Numair: “Dia tsiqat. Orang banyak meriwayatkan hadits darinya.” Dan kata Ibn Sa’d: “Dia itu sedikit bicara”. Itulah intisari pendapat para ulama tentang orang yang bergelar Burung Pipit dari Sorga ini. Kesimpulannya, mereka semua tidak melihat ada sesuatu yang menodai sifat adilnya. Jadi mereka menganggapnya tsiqat. Adapun pendapat ‘Uqaily bahwa dia termasuk Rafidhah yang ekstrim, itu tidak ada buktinya. Tapi ‘Uqaily juga mengatakan bahwa Musa meriwayatkan hadits-hadits munkar dan membicarakan tulisan-tulisan yang batil. Jika ini yang dijadikan argumen untuk menuduh Musa Rafidhah ekstrem, maka ini adalah argumen yang lemah, sebab periwayatan hadits-hadits yang batil atau munkar tidaklah menunjukkan seseorang itu Rafidhah atau ekstrim, terlebih lagi ‘Uqaily tidak menjelaskan kepada kita apa kebatilan-kebatilan yang diriwayatkan Musa itu. Hanya, saja, adz-Dzahabi menyuguhkan sebuah riwayat tentang Musa ibn Qays ini, bahwa dia (Musa) bercerita tentang dirinya sendiri, bahwa Sufyan bertanya kepadanya tentang Abu Bakar dan ‘Ali, maka katanya: “Ali lebih kusukai.” Barangkali riwayat adz-Dzahabi tentang Musa ini bisa menjadi alasan mengapa ‘Uqaily menganggap Musa Rafidhah ekstrim. Jadi alasannya bukanlah omongan ‘Uqaily bahwa Musa meriwayatkan (hadits-hadits) tentang keutamaan Ahlul Bait, yang menyebabkan ‘Uqaily tidak senang dan mengatakan Musa Rafidhah, sesuai dengan anggapan penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Seandainya perbuatan meriwayatkan hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait bisa menjadi alasan bagi tuduhan sebagai Rafildhi, tentulah ‘Uqaily akan mencap setiap orang yang meriwayatkan hadits mengenai keutamaan Ahlul Bait sebagai Rafidhah. Dan ini tidak dilakukan oleh ‘Uqaily ataupun ahli-ahli hadits yang lain. Ini membuktikan dustanya penulis Dialog Sunnah-Syi’ah dalam tuduhannya terhadap ‘Uqaily. Adapun riwayat Abu Na’im dari Musa ibn Qays dengan sanadnya sampai kepada Ummu Salamah, bahwa dia (Ummu Salamah) berkata: “Kebenaran ada pada ‘Ali … dst”, maka ucapan seperti ini tidaklah menunjukkan pengucapnya Rafidhah yang ekstrim, manakala ucapan tersebut diartikan bahwa ‘Ali berada di pihak yang benar dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah, sebab umumnya Ahlus Sunnah juga berpendapat demikian. Klaim penulis Dialog Sunnah-Syi’ah bahwa Abu Dawud dan Sa’id bin Manshur telah berhujjah dengan hadits Musa adalah klaim yang masih perlu dibuktikan, sebab seorang ahli hadits yang mengeluarkan hadits dari seorang rawi tidaklah dengan sendirinya menunjukkan bahwa ahli hadits tersebut berhujjah dengan rawi tersebut, sebab kadang-kadang sebuah hadits dikeluarkan tetapi tidak dijadikan hujjah.

88    Naif` ibn al-Harith Abu Dawud al-Nakh`i al-Kufi al-Hamadani al-Subay`i

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-`Aqili menerangkan beliau sebagai  “pelampau Rafidi.” Al-Bukhari berkata: “Manusia berkata keji mengenai beliau [kerana beliau seorang Shi’a].” Sufyan, Hamam, Sharik dan sekumpulan ulama yang terkenal dengan kaliber yang sedemikian semuanya menyebutkan dari beliau. Al-Tirmidzi bergantung kepada beliau di dalam sahihnya. Semua pengarang musnads telah merakamkan hadith beliau. Rujuk hadith beliau di dalam Tirmithi dan lainnya dari Anas ibn Malik, Ibn `Abbas, `Umran ibn Hasin dan Zayd ibn Arqam. Al-Thahbi telah menulis biographinya dan mengatakan apa yang telah dikatakan diatas.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’. Nafi’ ibn al-Harits Abu Dawud al-A’ma al-Hamdani ad-Darimi, juga bernama as-Sabi’i al-Kufi al-Qash Berkata ‘Uqaily: “Dia itu Rafidhah ekstrim”. Menurut Bukhari, orang-orang berkata mengenai hal itu. Kata Yahya bin Ma’in: “Dia ini tidak masuk hitungan”. Berkata an-Nasa’i: “Dia matruk”. Berkata Daruquthni dan lainnya: “Haditsnya matruk.” Abu Zara’ah berkata:. “Dia itu tidak masuk hitungan”. Berkata Ibnu Hibban: “Tidak boleh meriwayatkan hadits dari dia”. Berkata Ibnu ‘Adi: “Dia termasuk ekstrimis Kufah”. Berkata as-Saji: “Dia itu munkar haditsnya dan suka berdusta”. Dikatakan orang kepada Qatadah bahwa Nafi’ meriwayatkan hadits dari al-Barra’ dan Zaid bin Arqam. Maka berkatalah Qatadah: “Dia dusta. Itu cuma usahanya saja untuk membuat orang percaya padanya.” Berkata Ibnu Abdil Barr: “Semua ahli sepakat bahwa dia dha’if”. Sebagian mencapnya dusta. Semua sepakat untuk meninggalkan riwayat darinya”. Jadi, para ulama bersepakat bahwa Nafi’ ibn al-Harits itu dha’if, dan meninggalkan riwayat darinya. Hanya, mereka berbeda dalam alasan untuk pandangan mereka itu. Jadi, bagaimana dia bisa dipandang tsiqat? Kefanatikan penulis Dialog Sunnah-Syi’ah terhadap orang-orang Kufah dan kaum ekstrimis itulah, yang telah menyebabkannya menganggap tsiqat orang yang oleh para ulama telah disepakati dha’ifnya dan ditinggalkan haditsnya. Al-Musawi menentang kesepakatan para ulama itu bukan karena apa-apa, melainkan karena Nafi’ itu orang Kufah yang ekstrim. Adapun anggapan al-Musawi bahwa Tirmidzi berhujjah dengan hadits Nafi’ tidaklah benar. Orang seperti Imam Tirmidzi tidak mungkin menentang kesepakatan para ulama dan berhujjah dengan hadits Nafi’. Tetapi para penulis kitab-kitab Musnad memang mengeluarkan hadits-hadits dari Nafi’ yang mengkacaukan nama seorang rawi yang bernama Nafi’ ibn Abi Nafi’. Berkata adz-Dzahabi: “Sebagian periwayat telah mengkacaukan dia. Nama perawi tersebut yang benar adalah Nafi’ bin Abi Nafi”‘. Wallahu a’lam.

89    Nuh ibn Qays ibn Rabah al-Hadani

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau juga dikenali sebagai al-Tahi al-Basri. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Mizan, menerangkan hadith beliau sebagai sahih, dengan menambah bahawa Ahmed dan Ibn Ma`in mempercayai beliau. Dia juga menyebut Abu Dawud sebagai berkata bahawa beliau adalah Shi’a. Al-Nisa’i telah berkata bahawa tiada kesalahan dengan hadith beliau, dan telah meletakan pada nama beliau singkatan nama Muslim dan pengarang sunan sebagai petunjuk bahawa mereka semua menyebut hadith beliau. Di dalam sahih Muslim, hadith beliau mengenai minuman telah disebutkan oleh Ibn `Awn. Hadith beliau pada etika berpakaian terdapat di dalam sahih Muslim juga sama seperti yang disampaikan oleh adiknya Khalid ibn Qays. Di dalam Muslim beliau telah sebutkan oleh Nasr ibn `Ali. Di dalam kerja selain dari Muslim, hadith beliau telah disebutkan oleh al-Ash`ath dan oleh banyak lagi dari kaliber yang sama. Nuh ibn Qays ibn Rabah melaporkan dari Ayyub, `Amr ibn Malik dan sekumpulan manusia yang lain.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ . Nuh ibn Qays ibn- Ribah al-Hadani, dipanggil juga ath-Thahi al-Bashry , Berkata Ahmad dan Ibnu Wa’in dalam riwayat ‘Utsman ad-Darimi tentang Nuh: “Dia tsiqat”. Abu Dawud berkata: “Dia tsiqat. Telah sampai berita dari Yahya bahwa dia (Yahya) menganggap Nuh dha’if’. Murrah mengatakan bahwa dia Syi’ah. Menurut Nasa’i, tak ada masalah dengan dia. Ibnu Syahin mengatakan Nuh termasuk perawi yang tsiqat. Kata Ibnu Ma’in: “Dia itu orang tua yang baik haditsnya”. Al-Ajli mengatakan bahwa dia itu orang Bashrah yang tsiqat. Para ulama sepakat untuk berhujjah dengan hadits Nuh ibn Qays dan menganggapnya tsiqat. Adapun riwayat Abu Dawud dari Yahya yang mengatakan bahwa dia (Yahya) menganggapnya dha’if, itu bertentangan dengan riwayat ‘Utsman ad-Darimi bahwa Nuh itu tsiqat. Juga bertentangan dengan pendapat para ulama yang lain. Mengenai tasyayyu’ yang dinisbatkan kepadanya, maka itu tidaklah merusak atau menodai sifat adilnya, tidak pula menghalangi untuk berhujjah dengan haditsnya. Diantara Ashabus-Sittah ada yang berhujjah dengan haditsnya

90   Harun ibn Sa`d al-`Ijli al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi menyebut beliau dan meletakkan nama singkatan Muslim pada nama beliau sebagai petunjuk bahawa Muslim menyebut hadith dari beliau, kemudian dia menerangkan beliau sebagai ‘benar di dalam haknya’ tetapi dia juga memanggil beliau “Rafidi yang dibenci” yang menyebutnya dari `Abbas dari Ibn Ma`in bahawa beliau adalah pelampau Shi’a. Beliau telah mempelajari hadith dari `Abdul-Rahman ibn Abu Sa`id al-Khudri, yang kemudiannya menyebut dari Muhammad ibn Abu Hafs al-`Attar, al-Mas`udi, dan Hasan ibn Hayy. Abu Hatim berkata bahawa tiada ada sebarang kesalahan pada hadith beliau. Saya teringat satu dari hadithnya yang menerangkan api neraka; ianya dirakamkan di dalam sahih Muslim seperti yang disampaikan oleh al-Hasan ibn Salih dari Harun ibn Sa`d al-`Ijli, dari Salman.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Harun ibn Sald al-Ajli al-Kufi, juga dipanggil al-Ju’fi al-A’war. Berkata Ahmad, “Dia itu orang yang saleh, dan orang banyak meriwayatkan hadits dari dia”. ‘Utsman ad-Darimi mengatakan dari Ibnu Ma’in bahwa tak ada persoalan dengan dia. Kata Ibnu Abi Hatim: “Aku bertanya kepada ayahku tentang Harun. Maka dia mengatakan bahwa tak ada masalah dengan Harun.” Ibnu Hibban memasukkannya dalam kelompok perawi yang tsiqat. Tapi beliau juga memasukkannya dalam kelompok perawi yang dha’if. Kata beliau: “Dia itu Rafidhah ekstrim. Tidak boleh meriwayatkan hadits darinya”. Ad-Dauri mengatakan dari Ibnu Ma’in: “Dia itu Syi’ah ekstrim”. As-Saji berkata: “Dia Rafidhah ekstrim”. Demikianlah perselisihan pendapat para ulama, antara yang berhujjah dengan haditsnya dan menganggap tak ada sesuatu yang mencegah hal itu, dengan mereka yang tidak berhujjah dengan haditsnya karena keadaannya yang Rafidhah ekstrim. Dari perselisihan pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kelompok yang berhujjah dengan hadits Harun tidak mengetahui sebab yang membuat kelompok lain tidak mau berhujjah dengannya, dan bahwa kelompok yang disebut belakangan ini lebih tahu dari kelompok yang disebut lebih dulu. Dalam hal ini pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kelompok yang lebih tahu, kecuali jika perawi yang bersangkutan telah berubah keadaannya dan menjadi baik. Jika begitu, sifat adilnya kembali lagi kepadanya dan dia dapat dijadikan hujjah. Karena soal inilah terjadi perselisihan pendapat di atas. Abu al-’Arab as-Shaqh mengisahkan dari Ibnu Qutaibah bahwa dia (Harun) menyanyikan kepadanya sebuah puisi yang menunjukkan bahwa dia telah melepaskan paham rafadhnya. Dari sini kita tahu mengapa para ulama berselisih pendapat dalam menilai Harun ibn Sa’d al-Ajli. Mereka yang mendha’ifkannya tidak mengetahui bahwa dia telah melepaskan paham rafadhnya, dan mereka yang berhujjah dengannya mengetahui hal itu. Karena itu ada ahli hadits yang mengeluarkan hadits yang diriwayatkan olehnya.

91    Hashim ibn al-Barid ibn Zayd Abu `Ali al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi menyebut beliau dan meletakkan singkatan nama Abu Dawud dan al-Nisa’i pada nama beliau untuk menunjukkan bahawa beliau adalah seorang dari penyampainya, menyebutkan Ibn Ma`in dan yang lainnya pada mengesahkan beliau sebagai yang dipercayai, sebagai tambahan dari testimoni nya sendiri yang mengatakan beliau “Rafidi.” Dia menyebutkan Ahmed sebagai berkata bahawa tiada kesalahan dengan hadith beliau. Hashim menyampaikan hadith dari Zayd ibn `Ali dan Muslim al-Batin, dan dia disebutkan oleh al-Kharibi dan anak lelakinya `Ali ibn Hashim, yang mana kami telah rujuk diatas, sebagai tambahan kepada sekumpulan ulama yang terkenal. Hashim taat kepada Shi`ism, dan ini telah diperjelaskan apabila kita bincangkan `Ali ibn Hashim.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Hasyim ibn al-Barid Abu Ali al-Kufi . Abu Thalib mengatakan dari Ahmad: “Tak ada masalah dengan dia”. Ishaq bin Manshur mengatakan dari Ibnu Ma’in: “Dia tsiqat”. Ibnu Hibban juga menggolongkannya dalam kelompok perawi yang tsiqat. Berkata Ibnu Hajar dan al-Ajli: “Dia orang Kufah yang tsiqat, cuma dia itu Rafidhah”. Abu al-’Arab as-Shaqli berkata: “Ahmad bin Hanbal telah berkata: “Hasyim bin al-Barid itu tsiqat dan sedikit Syi’ah.” Daruquthni berkata: “Dia itu terpercaya”. Para ulama bersepakat akan tsiqatnya Hasyim ibn al-Barid dan bolehnya berhujjah dengannya. Al-’Ajali mengecamnya karena paham rafadhnya, tapi juga menganggapnya tsiqat. Ini menunjukkan bahwa rafadhnya Hasyim itu tidak sampai pada tingkat yang merusak sifat adilnya dan bolehnya berhujjah dengan haditsnya. Dengan kata lain, rafadhnya Hasyim itu hanya sedikit sekali, tanpa disertai keteguhan hati. Riwayat Abu al-Arab as-Shaqli dari Ahmad bin Hanbal menceritakan bahwa Hasyim ibn al-Basid itu tsiqat dan sedikit bertasyayyu’. Itu sebabnya kita kemukakan apa yang tersebut dalam riwayat al-’Ajali. Sebab para ulama mengetahui perbedaan antara rafadh dan tasyayyu’. Maka mereka memenangkan riwayat al-’Ajali atas riwayat Ahmad. Wallahu a’lam. Karena tasyayyu’ bukanlah rafadh, dan tidak merusak keadilan seorang rawi, maka diantara penulis kutub as-sittah ada yang berhujjah dengan hadits Hasyim ibn al-Barid.

92    Hubayrah ibn Maryam al-Himyari

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang dari sahabat Imam `Ali (as), sama setaraf hanya dengan al-Harith di dalam keikhlasan dan persahabatan mereka. Al-Thahbi menyebut beliau dan meletakkan pada nama beliau singkatan nama pengarang sunan sebagai rujukan bahawa beliau adalah seorang penyampai kepada musnad mereka, kemudian dia menyebutkan Ahmed sebagai berkata, “Tiada kesalahan dengan hadith beliau, dan beliau adalah lebih berharga kepada kami dari al-Harith.” Al-Thahbi menyebut dari Ibn Kharash menerangkan Hubayrah sebagai ‘lemah’; dia pernah menyerang yang luka di Siffin.” Al-Jawzjani mengatakan yang berikut mengenai beliau: “Beliau adalah pengikut al-Mukhtar yang akan membunuh mereka yang cedera di dalam peperangan Khazir.” Al-Shahristani, di dalam bukunya Al-Milal wal Nihal, telah mengatakan beliau adalah diantara pemuka Shi`a, fakta yang telah dipercayai oleh semua. Hadith beliau dari `Ali (as) tidak dipersoalkan di dalam sunan, dan beliau telah disebutkan oleh keduanya Abu Ishaq dan Au Fakhita.”

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’. Hubairah ibn Yarim al-Humairy asy-Syaibani al-Kufi. Berkata al-Atsram dari Ahmad: “Tak ada masalah dengan dia.” Berkata ‘Abdullah bin Ahmad: “Hubairah lebih kami sukai daripada al-Harits.” Berkata Nasa’i: “Dia itu tidak kuat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kelompok perawi yang tsiqat. As-Saji berkata: Berkata Yahya bin Nia’ibn: “Dia itu tidak dikenal (majhul)”. Berkata an-Nasa’i dalam al-Jarh wa at-ta’dil: “Aku mengharap tidak ada masalah dengan dia”. Yahya dan ‘Abdurahman tidak meninggalkan haditsnya. Berkata Ibnu Abi Hatim dari ayahnya: “Dia disamakan dengan majhul (tak dikenal).” Tak seorang diantara para ulama yang terang-terangan mendha’ifkan Hubairah. Ucapan an-Nasa’i tentang Hubairah, bahwa dia itu tidak kuat, bertentangan dengan ucapannya yang lain dalam al-Jarh wa at-ta’dil: “Aku mengharap tidak ada masalah dengan dia”, dan juga bertentangan dengan pendapat para ulama yang lain. Adapun ucapan Ibnu Ma’in bahwa dia itu majhul, dan ucapan Abu Hatim bahwa dia itu serupa dengan majhul, tidaklah dengan sendirinya berarti bahwa Hubairah itu dha’if dan ditinggalkan haditsnya. Yahya dan ‘Abdurahman juga tidak meninggalkan hadits Hubairah. Maka seandainya kemajhulan Hubairah itu berarti dia dha’if, tentu mereka semua akan meninggalkan haditsnya. Para ulama yang mempunyai pendapat mengenai Hubairah tidak mencapnya dengan rafadh atau tasyayyu’ yang ekstrim. Mereka juga tidak menuduhnya dusta yang bisa merusak keadilannya dan menghalangi berhujjah dengannya. Dia hanya dipandang telah salah bertindak pada masa pemberontakan Mukhtar. Semoga Allah mengampuni kesalahannya itu. Adapun ucapan al-Jauzjani mengenai dirinya, tidaklah dipertimbangkan sebagai hujjah oleh para ulama Ahlus Sunnah, sebab dia sendiri juga ahli bid’ah. Karena itu, Hubairah bukanlah termasuk perawi Syi’ah dan orang tsiqat mereka sebagaimana disangka oleh penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, dan karenanya diantara ashabus-Sunan ada yang mengeluarkan haditsnya.

93   Hisham ibn Ziyad Abul Miqdam al-Basri

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Shahristani telah menulis beliau di dalam Al-Milal wal Nihal diantara pemuka shi’a. Al-Thahbi menyebut beliau dua kali: satu pada abjad index, dan satu lagi di dalam bab kunayat, meletakkan Q pada nama beliau untuk menunjukkan bahawa Dar Qutni penulis sunan, bergantung kepada penyampaian beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Tirmithi dan hasil kerja-kerja yang lain seperti yang disampaikan dari al-Hasan dan al-Qardi. Beliau telah disebutkan oleh Shayban ibn Farukh, al-Qawariri dan lainnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Hisyam ibn Ziyad Abul Miqdam al-Bashri. Imam Ahmad memandangnya dha’if, demikian pula Abu Zara’ah dan lainnya. Menurut ibn Mu’in, ia tidak tsiqat. Dalam kesempatan lain, Ibn Mu’in berkata: “Ia dha’if dan bukan apa-apa”. Bukhari berkata: “Ulama hadits banyak mempersoalkan Hisyam.” Menurut Abu Dawud, ia tidak tsiqat. Turmudzi memandang dia dha’if. An-Nasa’i juga memandang dia dha’if, haditsnya matruk (ditinggalkan orang) dan tak ada nilainya. Menurut Abu Hatim, haditsnya lemah, tidak kuat. Para ulama sepakat mengenai kedha’ifan Hisyam. Juga mengenai gugurnya kehujjahan hadits Hisyam dan perlunya menjauhi haditsnya. Berbeda dari ijma’ ulama di atas, al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, memandang Hisyam sebagai tsiqat, dan menganggap dia sebagai perawi Syi’ah yang adil. Penilaian ini jelas berlawanan dengan kesepakatan ulama. Hal ini tidak lain hanya karena Hisyam orang Bashrah. Perhatikan, betapa fanatik dan subjektifnya pandangan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah itu! Semoga kita dijauhkan oleh Allah dari sifat buruk itu.Mengenai periwayatan yang dilakukan at-Turmudzi atas hadits Hisyam, tidaklah berarti ia berhujjah dengan hadits itu. juga tidak secara otomatis berarti bahwa Hisyam itu tsiqat. Sebab terkadang ashabus-Sunan meriwayatkan hadits dari seorang perawi, tanpa berhujjah dengannya.

94  Hisham ibn `Ammar ibn Nasr ibn Maysarah, Abu al-Walid

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau juga dikenali sebagai al-Zafri al-Dimashqi. Beliau seorang dari penasihat Bukhari seperti yang nyatakan di dalam sahihnya. Ibn Qutaybah mengatakan bahawa beliau adalah seorang diantara pemuka Shi`a apabila dia menyebutkan beberapa orang dari mereka di dalam bab golongan di dalam bukunya Al-Ma`arif. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Mizan, menerangkan beliau sebagai “Imam, pemidato, qari Damascus, seorang tradisionis dan juga ulama, seorang jujur yang telah menyampaikan banyak hadith, miskipun beliau mempunyai beberapa [ideologi] yang salah, etc.”  Al-Bukhari menyebut beliau secara terus di dalam bab “mereka yang secara suka-rela memberikan tambahan masa untuk membayar balik pinjaman” di dalam bab jual beli pada sahihnya dan di dalam lain bab yang para penyelidik telah terbiasa. Bab yang sedemikan, saya percaya, ada pada bukunya Al-Maghazi, bukunya mengenai minuman, dan pada bab sifat-sifat para sahabat Rasul [sawas]. Hisham ibn `Ammar menyampaikan hadith dari Yahya ibn Hamzah, Sadaqah ibn Khalid, `Abdul-Hamid ibn Abul `Ishrin dan lainnya. Pengarang Al-Mizan berkata: “Ramai yang menyebut hadith beliau; mereka datang ketempat beliau untuk belajar bagaimana untuk membaca al-Quran dan pada penyampaian hadith. Hadith beliau telah disebutkan oleh al-Walid ibn Muslim, seorang dari penasihatnya, sedang beliau sendiri menyampaikan hadith dari Abu Lahi`ah. `Abdan telah berkata bahawa tiada tradisionis yang serupa dengan beliau didunia ini, sedangkan yang lain mengatakan bahawa Hisham seorang yang bercakap lepas, bijak, mudah untuk difahami dan beliau mempunyai ilmu yang banyak.”  Seperti Shi’a yang lain, Hisham ibn `Ammar percaya bahawa gaya bahasa al-Quran hanya diciptakan oleh Allah awj. Apabila Ahmed [ibn Hanbal] mendengar mengenainya, seperti mana yang dinyatakan oleh pengarang  Al-Mizan di dalam biografi, Hisham ibn `Ammar, dia membalas dengan berkata, “Saya telah mengetahui beliau sebagai perosak, semoga Allah membakar beliau.” Ahmed juga telah menjumpai buku yang ditulis oleh Hisham yang mana terdapat syarahan beliau yang berkata: “Pujian bagi Allah yang telah menunjukkan diriNya kepada makhluknya melalui dari apa yang telah dijadikanNya.” Ini telah membuat Ahmed menjadi amat marah, sehinggakan dia meminta semua orang yang pernah bersolat dibelakang Hisham supaya mengulangi solat mereka. Ahmed tidak dapat melihat kenyataan Hisham yang jelas pada mengatakan bahawa Allah amat unggul dari boeh dilihat, maha tinggi dari mereka yang bertanyakan mengenaiNya dengan ‘bagaimana’ atau ‘dimana’, mencukupilah dengan kesyukuran dari makhluknya. Kenyataan beliau boleh dibandingkan dengan sesaorng yang mengatakan: Dia telah menunjukkan mukjizatNya didalam semua kejadian yang diciptakanNya,” atau ianya mungkin boleh jadi lebih tepat dan sesuai dari yang terkemudian; tetapi para ulama dari kaliber yang sama mengatakan terhadap sesama mereka dibahagian yang mereka suka atau sebaliknya, masing-masing adalah setinggi mana darjah pengetahuan mereka. Hisham ibn `Ammar telah dilahirkan pada tahun 153, dan meninggal pada permulaan Muharram tahun 245 H.; semoga Allah merahmatinya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Hisyam ibn ‘Ammar ibn Nashir ibn Maysarah. Ia biasa juga dipanggil adh-Dhafri ad-Dimasyqi. Ia guru Imam Bukhari. Menurut ibn Mu’in, ia tsiqat. Menurut Abu Hatim, dinukil dari Yahya, ia cerdas. ‘Ajli memandang dia orang yang tsiqat. Menurut an-Nasa’i, tidak ada masalah pada diri adh-Dhafri. Daruquthni memandang dia sangat jujur dan besar jasanya. Abdan berkata: “Tak ada seorang pun di dunia seperti adh-Dhafri.” menyimak berbagai pendapat di atas, nyatalah bagi kita bahwa tak seorangpun dari mereka yang menuduh Hisyam ibn ‘Ammar sebagai rafadh, ekstrim, bahkan tasyayyu’. Adapun Ibn Quthaibah, dia memandang Ibn ‘Ammar sebagai tokoh perawi Syi’ah. Jawaban saya atas pandangan ini sama seperti yang telah saya kemukakan di atas, yaitu bahwa Ibn Quthaibah memandang seseorang Syi’ah hanya karena ia mendukung ‘Ali, tidak lebih. Sesungguhnya Hisyam tidak dapat disebut sebagai perawi Syi’ah yang tsiqat, sebagaimana dikatakan oleh penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Ia justru termasuk salah seorang ulama Sunni. Karena itu Imam Bukhari menerima dan meriwayatkan haditsnya. Kalau seandainya Bukhari mengetahui bahwa Hisyam berlawanan dengan Ahlus-sunah wal-Jama’ah, tentulah Bukhari tidak akan menerima haditsnya. Sementara orang mengecam Hisyam lantaran beberapa hal, seperti menerima upah untuk menyampaikan hadits dan menerima talqin. Sesungguhnya hal ini tidak ada kaitannya dengan tasyayyu’. Abu Hatim berkata: “Hisyam itu orang yang sangat jujur. Setelah ia memasuki usia lanjut, hafalannya berubah. Segala sesuatu yang dimilikinya disampaikan kepada orang lain. Dahulunya hadits dia sahih. Ia membacakan hadits dari kitabnya.” Ibn Warah dan ulama lain menyangkal bahwa Hisyam menarik upah untuk menyampaikan hadits.Sungguhpun demikian, di dalam kitab Sahih Bukhari hanya ada dua hadits Hisyam. Pertama, hadits yang berkenaan dengan jual-beli. Kedua, hadits yang berkenaan dengan biografi Abu Bakar yang didukung oleh riwayat ‘Abdullah ibn ‘Ala’. Bukhari juga mentalqinkan satu hadits mengenai haramnya ma’azif (alat-alat musik bersenar) darinya. Itulah semua yang terdapat dalam bukunya Ibn Hajar menjelaskan bahwa Bukhari berhujjah dengan hadits-hadits tersebut. Akan tetapi lain lagi cerita Ahmad tentang Hisyam. Ia berkata: “Ia seorang yang picik, dan sederhana pemikirannya. Ahmad menentang perkataan Hisyam bahwa lafazh Jibril dan Muhammad dalam al-Qur’an itu makhluk. Ahmad juga menentang khutbah Hisyam berikut ini: “Segala puji bagi Allah yang menampak pada setiap ciptaan-Nya (makhluk).” Menurut Ahmad, itu pemikiran Jaham, atau ia penganut paham Jahamiyah yang berpendapat bahwa Tuhan menampakkan diri pada Gunung (zaman Nabi Musa, peny.). Menurut Hisyam, Allah menampakkan diri-Nya kepada makhluk lewat ciptaan-Nya. Jika kalian shalat di belakang Hisyam (bermakmum), maka hendaknya kalian mengulangi shalat kalian, demikian Imam Ahmad. Adz-Dzahabi berkata: “Perkataan Hisyam dapat dipertimbangkan. Akan tetapi orang tidak dibenarkan memutlakkan perkataannya. Mengenal penolakan Ahmad terhadap Hisyam, itu tidak menyebabkan Hisyam menjadi perawi Syi’ah yang tsiqat:

95   Hashim ibn Bashir ibn al-Qasim ibn Dinar al-Wasiti, Abu Mu`awiyah

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Tempat lahir beliau adalah Balkh. Datuknya al-Qasim telah berpindah ke Wasit untuk memulakan perniagaan. Ibn Qutaybah menulis beliau di dalam Al-Ma`arif diantara pemuka Shi`a. Beliau adalah penasihat Imam Ahmed ibn Hanbal dan semua mereka yang sama kaliber. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bukunya Al-Mizan, menandakan nama beliau dengan petunjuk bahawa semua pengarang buku enam sahih bergantung kepada penyampaian beliau, dan menerangkan beliau sebagai seorang yang telah menghafal keseluruh al-Quran. Berkata al-Thahbi: “Beliau adalah seorang ulama yang amat terkenal. Beliau belajar hadith dari al-Zuhri dan Hasan ibn `Abdul-Rahman. Hadith beliau telah disebutkan oleh al-Qattan, Ahmed, Ya`qub al-Dawraqi, dan oleh ramai yang lain.” Rujuklah kepada hadith beliau di dalam buku sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disampaikan oleh Hamid al-Tawil, Isma`il ibn Abu Khalid, Abu Ihaq al-Shaybani, dan oleh yang lain. Beliau telah disebutkan di dalam kedua buku oleh `Umer, al-Naqid, `Amr ibn Zararah, dan Sa`id ibn Sulayman. Di dalam Bukhari, hadith beliau telah disebutkan oleh `Amr ibn `Awf, Sa`d ibn al-Nadir, Muhammad ibn Nabahan, `Ali ibn al-Madini, dan Qutaybah. Di dalam Muslim, beliau disebutkan oleh Ahmed ibn Hanbal, Shurayh, Ya`qub al-Dawraqi, `Abdullah ibn Mu`it`, Yahya ibn Yahya, Sa`id ibn Mansur, Ibn Abu Shaybah, Isma`il ibn Salim, Muhammad ibn al-Sabah, Dawud ibn Rashid, Ahmed ibn Mani`, Yahya ibn Ayyub, Zuhayr ibn Harb, `Uthman ibn Abu Shaybah, `Ali ibn Hajar, dan Yazid ibn Harun. Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, di Baghdad dalam tahun 183 H. ketika berumur 79.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’. Hasyim ibn Basyir ibn Qasirh ibn Dinar as-Sulami al-Washithi. Dalam kitab Hadi as-Sari, Ibn Hajar berkata: “Ulama sepakat mengenai ketsiqatan Hasyim. Hanya saja ia dikenal melakukan tadlis, dan riwayatnya, terutama yang bersumber dari az-Zuhri, dinilai lemah oleh ulama hadits. Mengenai tadlis yang dilakukannya, sekelompok penghafal menyatakan bahwa Bukhari tidak meriwayatkan hadits Hasyim kecuali setelah dilakukan tashrih dan tahdits. Aku perhatikan haditsnya, dan ternyata memang demikian adanya. Adakalanya tashrih Bukhari pada isnad, dan terkadang pada aspek lain. Adapun riwayat Hasyim dari az-Zuhri, maka itu terlihat dalam kedua kitab Sahih (Bukhari-Muslim, peny.). Semua imam berhujjah dengan haditsnya. Wallahu alam bis-shawab. Ibn Hajar telah mengemukakan dalam kitabnya Tahdzib, berbagai pendapat ulama yang memandang tsiqat pada Hasyim dan menyatakan kehujjahan haditsnya tanpa ada perselisihan. Karena itu, para tokoh hadits menjadikan hadits Hasyim sebagai hujjah. Mengenai Ibn Quthaibah yang menganggap Hasyim sebagai salah seorang perawi Syi’ah, maka kita sudah mengerti kriteria Ibn Quthaibah menilai seseorang sebagai Syi’ah. Setiap orang yang cenderung kepada Ahl Bayt dan mendukung ‘Ali dalam pertikaiannya melawan Mu’awiyah, dinilai oleh Ibn Quthaibah sebagai Syi’ah. Sesungguhnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang ditentang oleh orang Sunni, dengan catatan ia tidak meremehkan sahabat-sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan ‘Umar. Kalau al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah itu jujur, tentu ia akan menyatakan bahwa Hasyim itu termasuk ulama Sunni dan ahli hadits. Akan tetapi, ia biasa dusta, mencampuraduk yang benar dan yang batil, memanipulasi kebenaran, dan memberi embel-embel para ulama Sunni dengan tasyayyu’ hanya karena adanya riwayat yang lemah. Atau ia menyatakan terhadap sebagian ulama sebagai orang, yang dipercaya. Hal ini hanyalah suatu taktik saja untuk menyatakan seseorang sebagai ahli hadits dan berasal dari golongan mereka, Rafidhah, dan perawi mereka. Demikianlah keadaan yang terjadi pada diri Hasyim ibn Basyir. Cobalah anda perhatikan

96    Waki` ibn al-Jarrah ibn Malih ibn `Adi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Kunyat beliau adalah “Abu Sufyan,” kerana anak lelaki beliau Sufyan al-Ruwasi al-Kufi. Beliau adalah dari suku kaum Qays Ghilan. Di dalam buku Ma`arif, Ibn Qutaybah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi`a. Di dalam bukunya Tahthib, Ibn al-Madani telah berkata bahawa Waki` berpegang kepada Shi`ism. Marwan ibn Mu`awiyah tidak pernah meragui bahawa Waki` adalah “Rafidi.”  Suatu ketika Yahya ibn Ma`in melawat Marwan dan mendapati dia dengan papan tulis yang menggandongi kenyataan mengenai orang itu dan orang ini. Diantara kandongannya adalah kenyataan yang menerangkan Waki` sebagai Rafidi. Ibn Ma`in berkata kepada Marwan: “Waki` lebih baik dari kamu.” “Lebih baik dari saya?!” bentak Marwan. Ibn Ma`in menjawab: “Ya, lebih baik dari kamu.” Ibn Ma`in membayangkan bahawa Waki` telah mengetahui mengenai dialog ini dan dia bertindak dengan mengatakan, “Yahya adalah seorang sahabat kami.” Ahmed ibn Hanbal telah ditanya, “Jika terdapat kepincangan di dalam penyampaian hadith diantara Waki` dan Abdul-Rahman ibn Mahdi, hadith siapa yang kamu terima?” Ahmed menjawab bahawa dia sendiri lebih mengutamakan hadith `Abdul-Rahman atas sebab yang dia nyatakan. Diantaranya adalah yang ini: “`Abdul-Rahman tidak pernah mengatakan sesuatu yang menghinakan mengenai keturunan kita, tidak seperti Waki` ibn al-Jarrah.” Ini telah disokong oleh kenyataan yang dirakamkan oleh al-Thahbi pada penghujung biografi al-Hasan ibn Salih dimana dia mengatakan bahawa Waki` pernah berkata: “Al-Hasan ibn Salih, dalam pandangan saya, adalah seorang Imam hadith.” Sebahagian manusia berkata kepada beliau, “Tetapi dia tidak memintakan keamanan Allah untuk `Uthman.” Beliau berkata, “Adakah kamu meminta Allah merahmati ruh al-Hajjaj?” ini telah menyamakan `Uthman dengan al-Hajjaj. Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam Al-Mizan dengan menyatakan pandangan yang diatas mengenai beliau. Kesemua pengarang sahih yang enam dan juga yang lainnya telah bergantung pada penyampaian beliau. Rujuk kepada hadith beliau di dalam sahih Bukhari dan Muslim seperti yang disampaikan oleh al-A`mash, al-Thawri, Shu`bah, Isma`il ibn Abu Khalid, dan `Ali ibn al-Mubarak. Beliau telah disebutkan di dalam kedua buku oleh Ishaq al-Hanzali dan Muhammad ibn Namir. Al-Bukhari menyebut hadith beliau seperti yang disampaikan oleh `Abdullah al-Hamidi, Muhammad ibn Salam, Yahya ibn Ja`fer ibn A`yan, Yahya ibn Musa, dan Muhammad ibn Muqatil. Di dalam buku Muslim, beliau telah disebutkan oleh Zuhayr, Ibn Abu Shaybah, Abu Karib, Abu Sa`d al-Ashajj, Nasr ibn `Ali, Sa`d ibn Azhar, Ibn Abu `Umer, `Ali ibn Kashram, `Uthman ibn Abu Shaybah, dan Qutaybah ibn Sa`d. Dia meninggal, semoga Allah merahmati ruhnya, di Fid apabila beliau di dalam kumpulan kafilah yang pulang dari haji, dalam bulan Muharram tahun 197 H. ketika berumur 68.
b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Waqi’ ibn Jarrah ibn Mulih ibn ‘Adi ar-Rawasi Abu Sufyan al-Kufi. Hammad ibn Zayd berkata: ” Kalau aku mau, aku akan mengatakan bahwa Waqi’ lebih unggul dibanding Sufyan.” Ahmad berkata: “Ia adalah seorang guru, Syaikh. Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih banyak ilmunya dan lebih hafal dibanding Waqi”. Salih ibn Ahmad berkata: “Aku bertanya kepada ayahku, siapa yang lebih terpercaya antara Waqi’ dan Yazid?” “Keduanya terpercaya,” jawab ayah. Aku bertanya lagi, “Siapa yang lebih baik diantara keduanya?” Kata ayah,” keduanya baik.” Ibn Ahmad juga berkata: “Telah bercerita kepadaku Waqi’, seorang yang tak pernah dijumpai bandingannya.” ‘Ali ibn ‘Utsman an-Naqili berkata kepada Ahmad: “Sesungguhnya Abu Qatadah memperbincangkan mengenai Waqi’. Ahmad berkata: “Barangsiapa mendustakan orang yang jujur, maka dia pendusta yang ulung.” Ibn Mu’in berkata: “Waqi’ adalah orang yang tsiqat. Demi Tuhan, sesungguhnya aku tidak,pernah melihat orang yang menyampaikan, hadits secara ihlas seperti Waqi’. Dan tidak pernah aku melihat seorang yang lebih hafal dibanding Waqi’.” Waqi’ dalam hal ini sama dengan al-Awza’i pada masanya masing-masing. Hanbal menceritakan bahwa Ibn Mu’in berkata: “Aku melihat sebuah papan di samping Marwan ibn Mu’awiyah. Di papan itu tertulis nama-nama guru, dan predikatnya, seperti si A demikian, si B begini, dan si Waqi’ adalah orang Rafidhah. Yahya (Ibn Mu’in) berkata kepada Marwan: “Waqi’ jauh lebih baik dibanding kamu.” Dibanding aku?”, tanya Marwan. “Ya,” jawabku. Lalu ia diam tak mengatakan sesuatu kepadaku. Seandainya ia berkata sesuatu, tentu para ulama hadits akan mengecam dia. Berita tersebut kemudian sampai kepada Waqi’, dan dia berkata: “Yahya adalah sahabatku!”. Ibn Sa’ad berkata: “Ia tsiqat, terpercaya, agung, dan banyak haditsnya. Menurut al-’Ajli, ia seorang Kufah yang tsiqat, ahli beribadah, berakhlak mulia, dan termasuk penghafal hadits. Ia juga memberi fatwa. Abu Nu’aim mendengar Ahmad berkata: “Berpegang teguhlah kamu pada karya karya Waqi’. Orang kepercayaan kita di Iraq adalah Waqi’”. Ya’qub ibn Sufyan bertanya kepada Ahmad: “Jika terdapat perselisihan dalam suatu hal antara Waqi’ dan ‘Abdurrahman ibn Muhri, yang mana yang anda ambil?” Ahmad menjawab: “‘Abdurahman mesti diikuti; ia diakui orang ulama salaf, dan ia tidak pernah minum arak.” Para ulama sepakat mengenai tsiqat dan kehujjahan hadits Waqi’. Dan tidak seorang pun yang menentang kesepakatan ini. Sebab mereka tidak ada yang menuduh ia berbuat bid’ah, baik bid’ah yang mengkafirkan maupun yang tidak. Mereka juga tidak menuduh dia seorang yang sesat atau berdusta dalam haditsnya. Atau tidak teguh, dan jelek hafalan dalam riwayat-riwayatnya. Ia justru salah seorang ulama Ahlus Sunnah, pemuka ahli hadits berdasar kesepakatan ulama hadits, sebagaimana terlihat dari berbagai riwayat yang telah dikemukakan tadi. Sungguh mengherankan bila kita melihat kedustaan dan kezaliman al-Mussawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Ia mengeluarkan Waqi’ ibn Harraj dari ikatan Ahlus Sunnah, dan memasukkan dia secara zalim ke dalam kalangan kaum rafadh dan ekstrim. Tujuannya tentu saja untuk memanipulir tokoh-tokoh Sunni dan menyesatkan mereka dari jalan Allah. Sesungguhnya al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengetahui kedudukan Waqi’ ibn Haraj di kalangan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Mereka dengan senang menerima Waqi’. Apalagi dia termasuk salah seorang guru Imam Syafi’i. Jika al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, bisa menyatakan kepada orang Sunni bahwa Waqi’ adalah orang Rafadh, tentu ia harus mampu pula menunjukkan bukti kepada mereka yang dapat diterima. Untuk menguatkan klaimnya bahwa Waqi’ adalah orang Rafidhah, al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, mengemukakan sebuah cerita adanya papan yang dilihat Ibn Mu’in di samping Marwan ibn Mu’awiyah. Pada dasarnya, kisah itu benar. Ibn Hajar mengutarakan kisah tersebut dalam bukunya Tahdzib. Akan tetapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, hanya mengutip tulisan Marwan di papan itu, dan itu yang kemudian dijadikannya sebagai dalil untuk mengklaim Waqi’ ibn Haraj. Ia berpura pura tidak mengetahui sanggahan Ibn Mu’in kepada Marwan. Ibn Mu’in menentang keras tulisan Marwan di papan itu dengan mengatakan: “Waqi’ jauh lebih baik daripada kamu (Marwan)!”. Al-Musawi, penulis Dialog Surmah-Syi’ah, juga berpura pura tidak mengetahui sikap Marwan yang bungkam, tidak mengelak pernyataan Ibn Mu’in. Diamnya Marwan tak terlepas dari dua kemungkinan. Pertama, sukut al-iqrar, diam menyetujui bahwa Waqi’ memang lebih baik dari dirinya. Kedua, sukut al-’ajiz, diam karena tidak mampu menunjukkan bukti apa yang ia dakwakan. Jika yang pertama, maka ia mesti mencabut pendapatnya itu. Dan jika yang kedua, ini berarti menunjukkan lemahnya pemikiran Marwan, dan dengan demikian apa yang ia dakwakan itu (yakni, bahwa Waqi’ adalah Syi’ah, peny.) hanyalah sikap dengki saja terhadap sesama. Ini sudah diketahui oleh para Ulama. Allah maha Tahu. Al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah juga berpura-pura tidak mengetahui akhir kisah yang menyatakan: “Kalau seandainya Marwan membantah, tentulah semua Ulama hadits akan mengecam dia!” Ini semua membuktikan adanya kesepakatan ulama akan keadilan dan tsiqatnya Waqi’, dan menunjukkan pula tidak benarnya tulisan Marwan tentang Waqi’ di papan itu. Juga menunjukkan kesepekatan ulama akan kedustaan Marwan, sebab terbukti seandainya Marwan berkilah, mereka akan memukul dan mempecundanginya. Mengenai perkataan Ahmad tentang Waqi’ bahwa ‘Abdurahman lebih disukai dan lebih diterima Ulama salaf dibanding Waqi’, hal ini harus diartikan bahwa Ahmad menyatakan hal itu dalam menjawab soal “Kalau ada perselisihan tentang sesuatu antara ‘Abdurahman dan Waqi’, siapa yang kau ambil?” Maka Ahmad memberi jawaban yang lebih mengunggulkan ‘Abdurahman dibanding Waqi’. Sebabnya adalah karena ‘Abdurahman lebih diterima ulama salaf Tidak demikian halnya dengan Waqi’. Akan tetapi al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah sengaja mengelabui para pembaca dengan menegaskan bahwa Waqi’ adalah orang Rafidhah. Dikatakannya bahwa ia meremehkan orang salaf dan memaki para sahabat, termasuk didalamnya Abu Bakar dan ‘Umar. Ia kemukakan cerita bohong ini setelah mengemukakan riwayat Yahya ibn Mu’in bersama Marwan ibn Mu’awiyah. Saya tidak menolak adanya riwayat itu maupun keabsahan buku-buku biografi yang dapat dipercaya. Akan tetapi saya tidak dapat menerima cara pemahaman dia mengenai riwayat itu. Ia katakan, bahwa Waqi’ adalah orang yang mengecam para sahabat, bahwa ia orang Rafidhah, dan dikatakan bahwa Imam Ahmad mendukung pernyataan itu. Imam Ahmad adalah salah seorang ulama dari tokoh Islam yang memahami betul hakekat Rafidhah dan hakekat keyakinan mereka yang sesat itu. Ia salah seorang ulama yang sepakat untuk tidak menerima riwayat kaum Rafidhah, lantaran buruknya keyakinan mereka. Kalau seandainya Waqi’ adalah orang Rafidhah sebagaimana diklaim oleh al-Musawi, penulis Muraja’at, apakah mungkin Ahmad memandang Waqi’ sebagai orang yang tsiqat, menerima dan berhujjah dengan riwayatnya? Sudah saya kemukakan di depan mengenai pernyataan Ahmad dalam hal ini. Kalau benar apa yang didakwakan al-Musawi, penulis Dialog,Sunnah-Syi’ah itu, maka ini berarti berlawanan dengan keyakinan Imam Ahmad mengenai Rafidhah. Ini berarti beliau mendustakan dirinya sendiri. Akan tetapi apakah masuk akal hal seperti itu terjadi pada seorang imam besar dan agung seperti Imam Ahmad? Ahmad sendiri dalam ucapannya tidak menggugurkan sifat adil Waqi’ dan tidak mengecamnya. Ia hanya mengutamakan ‘Abdurahman jika terdapat perselisihan. Mengutamakan salah satu diantara keduanya ketika terdapat perselisihan, berarti bahwa pada dasarnya keduanya adalah adil dan bisa dijadikan hujjah. Hanya saja ‘Abdurahman lebih tinggi tingkatannya. Dengan demikian riwayat Waqi’ tetap positif keadilan dan kehujjahannya. Bagaimana mungkin Ahmad akan memandang tsiqat dan dapat dijadikan hujjah, scandainya Waqi’ orang Rafidhah. Padahal kita mengetahui, ulama Sunni sepakat untuk tidak menerima riwayat kaum Rafidhah. Kiranya pembaca dapat berpikir dan merenungkan, bagaimana iltibas (pengelabuan) yang dilakukan oleh al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah. Ia mencampuraduk antara yang benar dan yang salah. Namun, bencana hanya akan menimpa orang yang tidak jujur. Adapun bahwa Ibn Quthaibah menyebut Waqi’ dalam Ma’arif sebagai perawi Syi’ah, maka komentar saya dalam hal ini sama seperti yang dahulu disebutkan jelasnya, Ibn Quthaibah menilai seseorang sebagai Syi’ah hanyalah karena orang itu berpihak kepada ‘Ali dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah. Adanya kecenderungan tasyayyu’ yang sedikit itu tidaklah merusak keadilan dan ketsiqatan Waqi’. Juga tidak menggugurkan nilai kehujjahan riwayatnya, sebagaimana dikatakan Ibn al-Madini dalam Tahdzibnya: “Pada diri Waqi’ terdapat sedikit tasyayyu’.” Dari keterangan di atas nyatalah kepalsuan klaim al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, terhadap diri Waqi’ ibn Jarrah yang dipadangnya Rafadh. Berbagai bukti justru menunjukkan kebalikannya. Akan tetapi dia menyalahgunakan dalil-dalil itu untuk menguatkan kesesatannya. Karena bukti dan hujjah sudah nyata akan kebenaran, dan keselamatan Waqi’ dari tuduhan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, maka tepatlah jika ashabus-Sunan menerima riwayat Waqi’

97    Yahya ibn al-Jazzar al-`Arni al-Kufi

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah seorang sahabat Amirul Mukminin [as]. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan dan menandakan nama beliau untuk menunjukkan bahawa Muslim dan pengarang sunan bergantung kepada penyampaian beliau, pengarang menerangkan bahawa beliau adalah seorang yang jujur dan dipercayai,  menyebut dari al-Hakam ibn Atbah yang berkata bahawa Yahya ibn al-Jazzar adalah “pelampau” dalam pandangan Shi’anya. Ibn Sa`d telah menyebut beliau pada muka surat 206, Vol. 6, dari bukunya Tabaqat dengan berkata: “Yahya ibn al-Jazzar patuh kepada Shi`ism, dan beliau adalah pelampau pada melakukannya; bahkan ramai yang telah berkata bahawa beliau amat dipercayai, dan beliau banyak menyapaikan hadith.” Saya telah melihat bagaimana sahih Muslim telah menggandongi satu hadith mengenai ibadah yang beliau telah sampaikan dari `Ali, dan yang lain lagi mengenai iman yang disampaikan dari `Abdul-Rahman ibn Abu Layla. Al-Hakam ibn `Utayba dan al-Hasan al-`Urfi telah menyebutkan hadith beliau di dalam Muslim dan lainnya.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Yahya ibn Jazar al-Arani al-Kufi. Abu Zara’ah memandang Yahya sebagai orang yang tsiqat. Demikian, pula an-Nasa’i dan Abu Hatim. Ibn Hibban menyebut dia dalam ats-Tsiqat. Adz-Dzahabi berkata: “Ia jujur dan tsiqat.” Menurut al-Ajli, ia orang Kufah yang tsiqat dan cenderung pada Syi’ah, tasyayyu’. Hakim Ibn ‘Utaybah berkata: “Ia berlebih-lebihan dalam tasyayyu’. Ibn Sa’ad berkata: “Ia berlebih-lebihan dalam tasyayyu’ dan dia tsiqat.”Adanya kesepakatan ulama mengenai tsiqatnya Yahya ibn Jazar –walaupun ada sebagian orang yang memandang tasyayyu’nya berlebih-lebihan– menunjukkan bahwa kecenderungan Syi’ah Yahya belum sampai ke tingkat yang dapat merusak ketsiqatan dan kehujjahan haditsnya. Dengan kata lain, kesepakatan Ulama mengenai tsiqatnya Yahya menunjukkan bahwa ia bukan pelaku bid’ah yang mengkafirkan, juga bukan orang yang mempromosikan menghalalkan dusta untuk bid’ahnya. Ia juga bukan orang yang menguatkan mazhabnya.Barangsiapa yang kondisinya seperti itu, maka dapat diterima riwayatnya, dan tidak ada halangan untuk berhujjah dengan haditsnya. Karena itu, beberapa orang Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits Yahya ibn Jazar. Ini menunjukkan akan kejujuran ulama Sunni, dan kesungguhan mereka dalam mencari dan memakai Sunnah Rasul secara optimal. Juga menunjukkan kesungguhan mereka dalam berpegang pada metoda ilmiah sebagai dasar dalam menerima dan menolak riwayat. Perhatikanlah! Karena itu, tasyayyu’ dan ekstrimisme yang didakwakan kepada Yahya itu tidak lebih dari sikap condong dan berpihak kepada Ahlul Bayt dan ‘Ali dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah. Dan sikap seperti itu tidaklah merusak sifat keadilan dan kehujjahan haditsnya.

98    Yahya ibn Sa`id al-Qattan

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Kunyat beliau adalah “Abu Sa`id.” Beliau adalah hamba kepada Banu Tamim al-Basri, dan beliau adalah tradisionis yang amat terkenal pada masa itu. Qutaybah telah menjumlahkan beliau diantara pemuka Shi`a di dalam Ma’arif. Pengarang dari enam sahih dan yang lainnya telah bergantung pada penyampaian beliau. Hadith beliau dari Hisham ibn `Urwah, Hamid al-Tawil, Yahya ibn Sa`id al-Ansari dan lainnya berdiri teguh di dalam Bukhari, Musaddad, `Ali ibn al-Madini dan Bayan ibn `Amr. Di dalam buku Muslim hadith beliau telah disampaikan oleh Muhammad ibn Hatim, Muhammad ibn Khalad al-Bahili, Abu Kamil Fadl ibn Husayn al-Jahdari, Muhammad al-Muqaddimi, `Abdullah ibn Hashim, Abu Bakr ibn Abu Shaybah, `Abdullah ibn Sa`d, Ahmed ibn Hanbal, Ya`qub al-Dawraqi, Ahmed ibn `Abdah, `Amr ibn `Ali, dan `Abdul-Rahman ibn Bishr. Dia meninggal, semoda Allah merahmati ruhnya, dalam tahun 198 H. ketika berumur 78.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Yahya ibn Sa’id al-Qaththan.Al-Madani berkata: “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih dipercaya dibanding Yahya ibn Said al-Qaththan.” Ahmad ibn Hanbal berkata: “Aku tidak pernah melihat orang seperti Yahya. Dia orang yang sangat terpercaya di Bashrah.”Ibn Muhdi juga menyatakan bahwa Yahya adalah seorang yang sulit dicari tandingannya. Penegasan seperti ini didapat dari Imam Ahmad melalui berbagai jalan. Atsram berkata: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Yahya al-Qaththan. Betapa tajam ingatannya, dan betapa tinggi tingkat ketsiqatannya. Aku begitu kagum dan salut kepadanya.” Ibn Sa’ad berkata: “Ia seorang yang tsiqat terpercaya, agung dan hujjah. ‘Ajli berkata: “Ia orang Basrah yang tsiqat, ia tidak meriwayatkan hadits kecuali dari orang yang tsiqat. Abu Hatim memandang dia sebagai penghafal hadits yang dapat dijadikan hujjah. Nasa’i berkata: “Ia seorang yang tsiqat, terpercaya dan teguh hati. Sedangkan ats-Tsawri kagum kepada daya hafal Yahya. Semua ulama berhujjah dengan riwayat Yahya. Menurut adz-Dzahabi. Yahya adalah seorang ahli hadits yang hebat pada masanya. Dari berbagai pendapat di atas nyatalah bahwa para ulama sepakat mengenai keadilan, ketsiqatan dan kehujjahan hadits Yahya al-Qaththan tanpa ada perselisihan. Mereka tidak ada yang melontarkan kecaman kepadanya yang dapat merusak sifat adil dan kehujjahan haditsnya. Karena itu, beberapa orang Ashabus-Sittah meriwayatkan hadits Yahya. Jika demikian pandangan ulama hadits, maka bagaimana dengan pendapat orang yang menuduh Yahya Rafidhah, sebagaimana halnya al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah? Tentu ia harus menunjukkan dalil yang membuktikan kebenaran tuduhannya itu. Mengenai pernyataan Ibn Quthaibah bahwa Yahya adalah orang Syi’ah, maka sudah berkali-kali saya’ jelaskan bahwa ia menilai seorang sebagai Syi’ah hanya karena sikap berpihak kepada Ahlul Bayt dan ‘Ali ibn Abi Thalib dalam perselisihannya dengan Mu’awiyah. Dan hal seperti itu tidak merusak sifat keadilan dan kehujjahan seorang perawi menurut ulama Sunni. Wallahu a’lam.
c.

99   Yazid ibn Ziyad al-Kufi, Abu `Abdullah

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Beliau adalah hamba kepada Banu Hashim. Al-Thahbi menyebut beliau di dalam Al-Mizan, meletakkan pada nama beliau singkatan nama Muslim dan empat pengarang sunan untuk menunjukkan bahawa mereka semua menyebutkan hadith dari beliau. Dia menyebutkan bahawa Abu Fadl berkata: “Yazid ibn Ziyad adalah seorang Imam Shi`a yang terkemuka” Al-Thahbi telah mengakui bahawa beliau adalah seorang ulama Kufa yang amat terkenal. Walaupun dengan semua ini, ramai yang telah menyerang beliau, persediaan menentang beliau dengan segala cara pada penghinaan dan tuduhan disebabkan bahawa, bergantung dari Abu Barzah atau mungkin Abu Bardah, beliau telah menyampaikan satu hadith yang mengatakan yang berikut: “Kami berada bersama Rasul [sawas] apabila telah kedengaran nyanyian. Kemudian `Amr ibn al-`Aas dan Mu`aiyah datang dengan sambil menyanyi. Rasul [sawas] berkata: `Wahai Tuhan yang Perkasa! Libatkanlah kedua orang ini di dalam permusuhan, dan balingkan mereka kedalam api neraka.’” Rujuk kepada hadith beliau mengenai minuman di dalam sahih Muslim dari `Abdul-Rahman ibn Abu Layla seperti yang disampaikan dari Sufyan ibn `Ayinah. Dia meninggal, semoga Allah merahmati beliau, dalam tahun 136 ketika berumur lebih kurang 90 tahun.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ . Yazid ibn Abi Yazid al-Kufi. Adz-Dzahabi berkata: “Yazid adalah salah seorang Ulama Kufah yang dikenal buruk hafalannya.” Inilah keterangan adz-Dzahabi mengenai Yazid. Namun al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah telah berbuat tidak jujur dengan memenggal sebagian keterangan adz-Dzahabi di atas. Ia katakan begini: “Adz-Dzahabi mengakui Yazid sebagai salah seorang ulama Kufah yang termasyhur.” ia membuang bagian kedua dari pernyataan adz-Dzahabi di atas, yaitu… “keburukan hafalannya.” Demikianlah kebiasaan buruk orang Rafidhah. Ia membuang dan menghapus sebagian dalil sesuai dengan kehendak hati dan kepercayaannya. Keadaan al-Musawi, penulis, Dialog Sunnah-Syi’ah, adalah seperti orang yang membaca ayat fawailul-lil-mushallin, tanpa meneruskan pada ayat berikutnya: al-ladzina hum fi shalitihim sahun. Kemudian ia menuduh secara palsu ulama-ulama Sunni sebagai serong, zalim, tidak jujur, fanatik dan menuruti hawa nafsu. Ia berkata: “Mereka tidak bersimpati kepada Yazid dan mengecamnya secara berlebih-lebihan, hanya karena dia dalam meriwayatkan hadits, sanadnya bersambung sampai kepada Burzah atau Abu Burdah,” seakan-akan mereka mengecam siapa saja yang mereka sukai, dan memandang adil siapa saja yang mereka sukai, dengan mengikuti hawa nafsu tanpa mengacu kepada metoda ilmiah sebagai dasar dan pegangan, sebagaimana tradisi orang Rafidhah. Kemudian al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah mengutip dari adz-Dzahabi hadits tentang ‘Amr ibn ‘Ash dan Mu’awiyah dan doa atau laknat Nabi kepada mereka lantaran keduanya mendendangkan lagu-lagu. Ia mencukupkan diri dengan kutipan itu saja, tanpa menunjukkan kepada kita pendapat adz-Dzahabi mengenai hadits tersebut. Apakah ini dapat disebut sikap amanah, orang yang mengutip dalil secara sepotong-sepotong, yang sesuai dengan kemauan hawa nafsunya? Adz-Dzahabi berkata mengenai hadits di atas. Menurut beliau, hadits itu adalah hadits gharib dan munkar. Adapun unsur keghariban hadits itu di dalam matannya sangat jelas sekali. Sebab, bagaimana mungkin Nabi memberikan laknat kepada sahabat-sahabatnya? Padahal, Nabi sendiri berkata: “Janganlah kamu memaki-maki sahabatku. Demi Tuhan, seandainya kamu menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka infaqmu itu tidak akan bisa menyamai nilai infak sahabatku yang sebesar satu mud ataupun separuhnya.” Dan beliau juga bersabda: “Aku diutus bukan untuk memberi laknat atau memaki-maki.” Laknat sebagaimana diketahui berarti terjauhkan dari rahmat Allah. Bagaimana mungkin Rasulullah akan mendoakan sahabatnya supaya terjauhkan dari rahmat Allah. Pendapat itu jelas berlawanan dengan firman Allah kepada Nabi berikut ini:     “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS, Al-Fathr, 48:19)     “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman.” Berdasarkan semua itu, maka ulama hadits memandang hadits yang menceritakan laknat Rasulullah kepada ‘Amr ibn ‘Ash dan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan sebagai hadits munkar dan gharib. Keghariban hadits tersebut terlihat dari sudut matan atau teks isi hadits. Kecuali itu, juga terlihat keghariban dan kemunkaran dari segi sanad. Cobalah anda perhatikan. Adapun orang Rafidhah, mereka tidaklah melihat unsur perlawanan hadits itu dengan al-Qur’an dan hadits Nabi yang lain. Sebab mereka berkeyakinan bahwa semua sahabat adalah kafir, kecuali 10 orang dari mereka. Sedangkan ulama Sunni mendha’ifkan Yazid ibn Ziyad bukan karena ia Syi’ah, sebagaimana dituduhkan al-Musawi, penulis Dialog Sunnah-Syi’ah, tetapi lantaran buruknya hafalan Yazid. Dan mereka mengecam Yazid lantaran dia banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar dan gharib. Berikut ini beberapa pernyataan ulama jarh wat ta’dil yang. menguatkan asumsi di atas. Adz-Dzahabi berkata: “Yazid adalah salah seorang Ulama Kufah yang buruk hafalannya.” Menurut Ahmad, hadits Yazid diragukan. Dalam kesempatan lain, Ahmad menegaskan bahwa Yazid bukan ulama penghafal: Menurut Ibn Mu’in, ia bukan perawi yang tsiqat atau kuat. Ia juga menyatakan bahwa Yazid dha’if. ‘Ajli berkata: “Haditsnya ja’iz; ia perlu diingatkan dengan ujungnya hadits (dapat menghafal jika disebutkan sebagian kata-kata haditsnya). Menurut Abu Hatim, ia bukan perawi yang kuat. Ibn ‘Adi memandang dia sebagai Syi’ah Kufah. Ia dha’if; namun haditsnya bisa ditulis. Menurut Nasa’i, ia bukan perawi yang kuat. Daruquthni berkata: “Ia dha’if, suka keliru, dan dapat menghafal hanya dengan dituntun.” Menurut Abu Zara’ah, ia lemah, haditsnya dapat didaftar, tetapi tidak dapat dijadikan hujjah. Al-Jauzjani berkata: “Aku mendengar para ulama mendha’ifkan dia. Menurut Ibn Sa’ad, ia tsiqat, hanya saja dalam usianya yang lanjut ia seringkali melakukan pencampuradukan (tadlis). Karena itu, terdapat dalam riwayatnya hal-hal yang aneh bin ajaib. Kenyataan bahwa ashabus-Sunan dan Imam Muslim meriwayatkan haditsnya tidak berarti secara otomatis hadits itu dapat dijadikan hujjah. Itu menunjukkan bahwa Yazid itu tetap dha’if. Dalam kedha’ifannya itu ashabus-Sunan meriwayatkan haditsnya. Imam Muslim hanya meriwayatkan satu hadits dari Yazid. Itupun disertai perawi lain yang tsiqat. Dan dalam pengantar Kitab Shahihnya beliau berkata: “Perawi-perawi yang belum jelas kejujuran dan kualitas keilmuannya juga terdapat pada beberapa perawi hadits, seperti ‘Atha’ ibn Sa’ib, Yazid ibn Abi Ziyad, Layts ibn Abi Sulaym, dan lain-lain.” Dalam bukunya Tahdzib, Ibn Hajar berkata: “Nawawi memandangnya gharib (tak dikenal). Dalam pengantar Syarh Sahih Muslim, ia menyebutkan biografi Yazid ibn Abi Ziyad setelah biografi Ibn Abi Ziyad ad-Dimasyqi. Imam Nawawi mengira Ibn Abi Yazid ad-Dimasyqi ini yang dimaksud Imam Muslim dengan Yazid ibn Abi Ziyad. Dalam hal ini perlu penelitian yang lebih lanjut.

c.    Catatan :  Sejumlaah hadis sahih bahkan al Qur’an menyebut Muawiyyah dan bani Umayyah sebagai pohon kayu terlaknat. Pada kesempatan lain akan kami sajikan tulisan tentang muawiyyah.

100     Abu `Abdullah al-Jadali

a.    Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at sbb Al Musawi  menyebutkan  dalam kitabnya al Muraja’at :  Al-Thahbi telah menyebut beliau di dalam bab kunayat, meletakkan pada nama beliau “DT” untuk menunjukkan bahawa beliau adalah diantara yang dipercayai oleh keduanya Dawud dan Tirmithi di dalam buku sahih mereka, kemudian dia menerangkan bahawa beliau adalah seorang “Shi`a.” Dia menyebutkan dari al-Jawzjani yang berkata bahawa beliau adalah pembawa panji-panji al-Mukhtar. Dia juga menyebutkan dari Ahmed yang menerangkan beliau sebagai yang boleh dipercayai.” Al-Shahristani telah menjumlahkan beliau sebagai diantara pemuka Shi`a di dalam bukunya Al-Milal wal Nihal. Ibn Qutaybah telah menjumlahkan beliau diantara penganut kuat “Rafidis” di dalam bukunya Al-Ma`arif. Rujuk kepada hadith beliau di dalam buku sahih keduanya Tirmithi dan Abu Dawud dan juga buku musnads sunni yang lain. Ibn Sa`d menyebut beliau pada muka surat 159, Vol. 6, dari buku Tabaqat dimana dia berkata bahawa, “Abu `Abdullah al-Jadali seorang penganut kuat Shi`a. Sebahagian mengatakan beliau mengetuai pasukan polis al-Mukhtar, dan bahawa beliau telah dihantar kepada `Abdullah ibn al-Zubayr bersama dengan 800 orang untuk menghapuskan mereka dan menyokong Muhammad ibn al-Hanafiyyah terhadap perancangan Ibn al-Zubayr.” Yang sebenarnya Ibn al-Zubayr telah mengenakan kepongan kepada rumah Ibn al-Hanafiyyah dan Banu Hashim, menggelilingi rumah mereka dengan kayu api di dalam persediaan untuk membakar mereka hidup-hidup, kerana mereka tidak mahu memberikan bai’ah kepadanya, tetapi Abu `Abdullah al-Jadali telah menyelamatkan mereka dari bencana tersebut; semoga Allah memberikan ganjaran kepada beliau dari apa yang telah dilakukan untuk ahli rumah Rasul [as] Sebanyak ini telah mengakhiri apa yang kami telah dapat mengatakan di dalam keadaan tergesa-gesa, 100 wira Shi’a, yang mana penyampaian hadith mereka telah dipercayai oleh sunni. Mereka ini adalah pemelihara pengetahuan ummah. Melalui mereka, sunnah Rasul telah dikekalkan, dan mereka telah dicari oleh pengarang buku sahih dan musnad. Kami telah sebutkan mereka dengan nama-nama mereka, dan menyatakan teks sunni yang telah mengesahkan mereka sebagai Shi’a, dan terus juga terima penyampaiannya, seperti yang kamu telah minta. Saya fikir mereka yang menimbulkan bantahan akan melihat kesilapan mereka pada mengatakan bahawa sunni tidak bergantung pada penyampaian hadith dari Shi’a. Mereka akan mengetahui bahawa kriteria penyampaian hadith adalah kejujuran dan tepat, tidak kira dari golongan mana mereka datang, Sunni ataupun Shi’a. Jika segala hadith yang dismpaikan oleh Shi’a semuanya ditolak, maka sebahagian besar dari sunnah Rasul [sawas] akan hilang, seperti al-Thahbi sendiri telah mengakui ketika menyampaikan biografi Aban ibn Taghlib di dalam bukunya Al-Mizan. Tidak ada testimoni yang lebih baik dari itu. Kamu, semoga Allah menjadikan kemenangan kepada yang benar melalui diri kamu, telah tahu bahawa terdapat beberapa orang dari keturunan Shi’a, selain dari mereka yang telah dinyatakan diatas, dimana jumlah mereka berlipat kali ganda dari yang seratus ini, yang mana sunni telah bergantung kepada penyampaian hadith dari mereka. Terdapat mereka ‘yang lain’, golongan ini mempunyai kaliber yang lebih tinggi; mereka menyampaikan hadith yang lebih sahih, dan yang mempunyai lebih pengetahuan. Dan diri mereka lebih hampir kepada era Rasul [sawas], dengan senioriti pada memeluk kepercayaan Shi’a. Mereka adalah sahabat Shi’a rasul [sawas], semoga Allah meridhai mereka semua. Kami telah memperkatakan dengan nama mereka yang mulia pada penghujung kerja kami dari Al-Fusul al-Muhimmah. Terdapat juga mereka diantara tabi’in yang dipercayai yang mana penyampaian hadith mereka telah diterima. Setiap seorang dari mereka adalah jujur dan telah menghafal keseluruh al-Quran, dan hujah-hujah mereka bernas dan tidak dapat dibangkang. Diantara mereka yang sedemikian, terdapat mereka yang telah syahid ketika menyokong peperangan sampingan dan  utama, Peperangan Unta, Siffin, Al-Nahrawan, yang berlaku di Hijaz begitu juga di Yemen, ketika Bisr ibn Arta’ah menyerang mereka, ketika permusuhan al-Hadrami yang telah dihantar ke Basrah oleh Mu`awiyah. Mereka juga termasuk yang syahid pada Peperangan Taff bersama dengan Ketua Remaja Disyurga [Imam Husayn ibn `Ali, as], dan mereka yang telah syahid bersama dengan cucunya Zayd, dan ramai lagi yang terpaksa menghadapi bermacam-macam kezaliman dan tuduhan, di dalam membalas terhadap pembunuhan beramai-ramai kepada keturunan Muhammad [as]. Diantara mereka ada yang dibunuh hanya kerana berpegang teguh kepada kepercayaan mereka. Yang lainnya secara kejam telah diusir dari tempat kediaman mereka, dan mereka yang telah memilih kepada taqiyya, takut akan keselamatan nyawa mereka atau disebabkan kerana fizikal yang lemah, seperti al-Ahnaf ibn Qays, al-Asbagh ibn Nabatah, Yahya ibn Ya`mur; beliau inilah yang pertama menggunakan titik kepada huruf abjad Arab, al-Khalil ibn Ahmed al-Farahidi, yang menemui perundangan kepada nahu Arab dan penelitiannya, Ma’ath ibn Muslim al-Harra, yang meletakkan asas kepada sains ta’arif di dalam bahasa Arab, dan ramai lagi yang lain, jika biografi mereka sepenuhnya hendak dituliskan, ianya akan memerlukan jilid-jilid buku yang tebal. Kita ketepikan kebencian Nasibis terhadap manusia ini melalui cara mereka menyerang dengan mengatakan hadith manusia-manusia ini sebagai ‘lemah’, dan mereka memamah nama-nama manusia mulia ini, dari itu telah merugikan mereka dengan pengetahuan yang berfaedah darinya. Terdapat ratusan Shi’a yang berkepercayaan yang telah menghafal hadith, umpama rumah-api untuk petunjuk yang telah diabaikan oleh sunni. Untuk manusia ini, Shi’a telah mengadakan angka-angka petunjuk dan bibliografi yang menggandungi cerita-cerita mereka. Kerja-kerja ini telah membuktikan sejauh mana khidmat manusia ini terhadap agama dan syariah. Sesiapa yang menyelidikki manusia ini, akan mendapati golongan mereka adalah model terhadap kejujuran, kebenaran, wara’, zuhud, ibadah, dan keikhlasan dalam membawa ummah hampir kepada Allah awj,  kepada RasulNya [sawas], kepada kitabNya dan juga kepada para Imam kaum Muslim, begitu juga kepada orang awamnya. Kita berdoa kepada Allah untuk membolehkan kami dan juga diri kamu untuk mendapat manfaat dari rahmatNya; Dia yang maha pemurah.

b.    Mahmud az Zabbi menuliskan dalam bukunya yang menyerang Ayatullah Safrudin al Musawwi’ Abu ‘Abdullah al-Jadali1 Nama aslinya adalah ‘Abdun ibn ‘Abdun. Ada pula yang mengatakan nama aslinya adalah ‘Abdurahman ibn ‘Abdun. Dalam kitab Al-Mizan, adz-Dzahabi berkata: “Ia Syi’ah ekstrim. Menurut al-Jauzjani, ia memiliki riwayat pilihan, dan Imam Ahmad memandang dia sebagai orang tsiqat. Ibn Hajar di dalam kitabnya at-Tahdzib berkata begini: “Ibn Abu Haytsumah menceritakan dari Ibn Mu’in bahwa Abu ‘Abdullah adalah tsiqat. Ibn Hibban menyebutnya di dalam kitab ats-Tsiqat. ‘Ajli memandang dia sebagai seorang tabi’in kelahiran Basrah yang tsiqat. Ibn Sa’ad setelah menyebutkan nasabnya, menyatakan dia itu dha’if. Dikatakannya bahwa ia Syi’ah ekstrim. Ulama hadits menganggapnya sebagai serdadu Mukhtar ibn Abi ‘Ubayd. Ia pernah dikirim Mukhtar, menemui Ibn Zubayr dengan kekuatan pasukan sejumlah 800 orang dari penduduk Kufah. Mereka datang untuk mencegah keinginan dan kehendak Ibn Zubayr terhadap Muhammad ibn al-Hanafiyyah. Nasa’i berkata: “Aku mendengar Abu ‘Abdullah al-Jadali adalah serdadu Mukhtar.” Ibn Hajar berkata: “Ibn Zubayr memanggil Muhammad al-Hanafiyyah untuk berbai’at kepadanya. Muhammad menolak ajakan bai’at itu, lalu ia ditahan atau dikurung di suatu tempat. Ibn Zubayr dan orang-orangnya mengintimidasi Muhammad dengan memberikan batas waktu tertentu. Berita penahanan ini kemudian sampai kepada Mukhtar yang berada di Kufah. Mukhtar kemudian mengirim angkatan perang menuju Makkah di bawah pimpinan Abu ‘Abdullah al-Jadali.” Mereka berhasil membebaskan Muhammad al-Hanafiyyah dari kurungannya. Muhammad mencegah satuan perang itu bertempur di kota suci Makkah. Dari sinilah, demikian Ibn Hajar, ulama hadits memvonis Abu ‘Abdullah dan Abu ath-Thufay, yang ikut serta dalam penyerbuan tadi. Padahal keduanya tidaklah dipandang cacat lantaran perbuatannya itu. Dari berbagai pendapat di atas jelaslah bahwa para ulama tidak mengecam Abu ‘Abdullah, kecuali paham Syi’ah yang dianutnya. Sebagian ulama yang memberikan kritik kepadanya menjelaskan argumen mereka, yaitu karena Abu ‘Abdullah menjadi serdadu Mukhtar. Namun kita sudah maklum bahwa Syi’ah yang tidak sampai pada tingkat Rafadh atau ekstrim, tidaklah merusak sifat adil seorang perawi manakala ia dikenal jujur, amanah, dan tidak pernah berdusta. Bila kita melihat latar-belakang kehidupan Abu ‘Abdullah, nyatalah bahwa tak seorang pun ulama hadits yang menuduhnya sebagai pendusta. Karena itulah, Imam Ahmad memandang dia tsiqat. Demikian pula Ibn Mu’in, Ibn Hibban dan al-’Ajli. Sebagian ashabus-Sunan pun meriwayatkan haditsnya. Hal di atas jelas membuktikan betapa jujur ulama Sunni dalam menentukan keadilan dan tsiqatnya seorang perawi. Mereka berpegang pada firman Allah:     “Dan janganlah sesekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu melakukan ketidakadilan. Berbuat adillah, karena keadilan itu lebih mendekati ketakwaan.” (QS, al-Ma’idah, 5:8). Mereka tak pernah menvonis atau mengambil kesimpulan secara serampangan, mengikuti hawa nafsu atau fanatik buta. Seandainya mereka demikian, tentu Abu ‘Abdullah sudah dipandang gugur sifat adil dan kehujjahan haditsnya, lantaran ia menjadi pimpinan perang Mukhtar ibn Abi ‘Ubayd. Kejujuran ulama Sunni tidak dapat dibandingkan dengan orang Rafidhah yang seringkali menggugurkan sifat adil seorang perawi. Bahkan mereka mengkafirkannya dengan alasan yang dibuat-buat; seperti termuat dalam beberapa referensi mereka. Suatu contoh, mereka mengkafirkan orang yang lebih utama dibanding Abu ‘Abdullah, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar, bahkan mereka mengkafirkan semua sahabat Nabi, kecuali beberapa orang saja dari mereka. Pengkafiran ini tidak lain hanya karena keyakinan para sahabat tersebut berbeda dengan keyakinan mereka yang sesat itu. Tidakkah ini yang dinamakan fanatik buta dan berlaku sewenang-wenang? Renungkanlah. Ibn Hajar adalah salah seorang ulama Sunni yang dituduh kaum Rafidhah sebagai fanatik, menuruti hawa nafsu, zalim dan tidak jujur. Beliau menolak semua tuduhan itu, dan menyatakan bahwa setiap orang yang berakal akan mengetahui kejujuran ulama Sunni, keadilan mereka dan terbebasnya mereka dari sifat fanatik. Hal ihi terlihat dari kata-kata Ibn Hajar: “… dari sini sebagian ulama hadits memvonis Abu ‘Abdullah dan Abu ath-Thufayl lantaran ia termasuk dalam satuan tempur itu. Sesungguhnya perbuatan itu tidaklah membuat keduanya tercela, insya Allah.” Pernyataan Ibn Hajar di atas betul-betul obyektif, karena ia membela Abu ‘Abdullah, dan menolak semua orang yang mendha’ifkan dia dari kalangan Ahlus Sunnah. Beliau juga menolak orang yang mengkultuskannya. Perhatikanlah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadishadis

yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka.

Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats,

Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis

tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.

Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.

Sebagai contoh, hadis hadis dan laporan lainnya dari Abu Hurairah. Laporannya sangat berharga untuk memahami kemelut politik pada zaman itu, bagaimana sikap masa bodoh penguasa terhadap agama setelah Khulafa’urRasyidin dan pengaruhnya terhadap perkembangan keagamaan. Tetapi mutu laporannya sendiri terhadap suatu peristiwa ‘politik’, haruslah diragukan

—————

HADIS YANG MERUGiKAN AHLUL BAiT BATAL KESHAHiHAN NYA

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…

Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…

Keadaan dimana pengikut syi’ah dikejar kejar tentu berpengaruh terhadap kodifikasi HADiS aswaja.. Hanya sekitar 100 tokoh syiah yang luput dari pantauan rezim yang menjadi rantai sanad 6 kitab hadis aswaja… Kalau penguasa tidak kejam, bukan cuma 100 an perawi tapi mungkin bisa 1000 an….

Pembantaian terhadap kaum syi’ah imamiyah dengan kekejaman yang melebihi Firaun merupakan tindakan penghapusan hadis… Pemberontakan Aisyah dan Mu’awiyah merupakan tindakan penghapusan hadis… Pembantaian massal dalam tragedi Harrah oleh Yazid bin Mu’awiyah merupakan tindakan penghapusan hadis… Betapa tidak ?? Bukankah orang yang sudah syahid seperti Ammar bin YAsir dan Hujur Bin Adi tidak bisa lagi menjadi sumber rantai sanad hadis ??? Orang tidak mengkaitkan sejarah rezim dengan ilmu hadis

Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ?? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dll terjadi pada masa Abbasiyah bukan ???

Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…

Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat… MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu tak terpisahkan… Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ????

Siapa lebih unggul hadis Sunni ataukah hadis syi’ah imamiyah ??? Menjawab hakekat.com

Posted on Juni 2, 2011 by syiahali | Sunting

Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…

Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan

Ahlul hadis hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW

Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak

Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti…

Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ???

Jawab :

1. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama

2. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan makna, bukan dengan lafaz

3. Hadis hadis sunni diriwayatkan dengan daya ingat perawi, jadi kata perkata nya belum tentu 100% asli dari Nabi SAW

4. Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan, kitab kitab selain Al Quran pasti ada benar dan ada salahnya tanpa kecuali, gawatnya Shahih Bukhari Muslim diklaim benar semua !! wah wah

.

PERTANYAAN DARi TANDUK SETAN DARi NAJAD :

website salafi wahabi menulis sbb : “
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 644 (1.5%) saja riwayat yg sanadnya sampai ke Nabi?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 690 saja riwayat yg sampai ke Imam Ali?
-44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah tidak ada satupun riwayat yg sampai ke Sayyidah Fatimah?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 21 saja riwayat yg sampai ke Imam Hassan?
– 44.000 riwayat dari kutubul arba’ah syi’ah cuma 7 saja riwayat yg sampai ke Imam Hussein?

Sedangkan di 9 kitab hadits Sunni :
- Imam Ali ra = 1.583 riwayat
- Abu Bakar ra = 210 riwayat
- Umar bin Khattab ra = 977 riwayat
- Utsman bin Affan ra = 313 riwayat
- Fatimah ra = 11 riwayat
- Hasan bin Ali ra = 35
- Hussein bin Ali ra = 43

Terlihat, kitab2 Sunni lebih banyak meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam dan Ahlul Bait Utama beliau daripada kitab2 hadits Syiah… why???

“””mayoritas hadits dalam Al Kafi adalah Ahad yang tidak dapat dijadikan pegangan dalam masalah akidah –menurut syi’ah sendiri.. Jumlah riwayat yang ada dalam empat kitab syi’ah di atas adalah 44 ribu riwayat lebih sedikit, tetapi riwayat yang berasal dari Nabi SAW hanya ada 644, atau hanya sekitar 1.5 % saja. Itu saja banyak yang sanadnya terputus dan tidak shahih.. Yang lebih mengherankan, dalam kitab Al Kafi yang haditsnya berjumlah 16199, hanya ada 92 riwayat dari Nabi SAW, sementara riwayat dari Ja’far As Shadiq berjumlah 9219.. Sementara riwayat dari Ali bin Abi Thalib dalam empat kitab syi’ah di atas hanya berjumlah 690 riwayat, kebanyakan terputus sanadnya dan tidak shahih, sepertinya fungsi pintu ilmu sudah diambil alih oleh orang lain…Sementara riwayat dari Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang ada dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 21 riwayat…Empat kitab literatur utama hadits syi’ah tidak memuat riwayat dari Fatimah Az Zahra..Riwayat Imam Husein yang tercantum dalam empat literatur utama hadits syi’ah hanya berjumlah 7 riwayat saja. “”

Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :Jawaban :

Itu akibatnya kalau belajar syiah dari ulama salafy. Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri. MEREKA BERDUSTA !!!!!!!! MEREKA BERDUSTA !!!!!!!!!!!

Tidak benar apa yang mereka sampaikan !!!!!!!! Sebagai ulama syi’ah yang sudah bertahun tahun belajar syi’ah saya mengatakan bahwa : “YANG MEREKA HiTUNG CUMA YANG DiSEBUT NAMA, SEMENTARA YANG MENYEBUT GELAR TiDAK MEREKA HiTUNG, KALAU CARA BEGiNi MENGHiTUNG HADiS JUSTRU DALAM SELURUH KiTAB ASWAJA TiDAK ADA SATUPUN HADiS MUHAMMAD SAW KARENA TiDAK ADA HADiS YANG DiSEBUT DENGAN NAMA NABi TAPi DiSEBUT DENGAN GELAR ‘

ANGKA YANG MEREKA SEBUTKAN DiATAS CUMA YANG DiSEBUT DENGAN NAMA, PADAHAL MASiH BANYAK YANG DiSEBUT DENGAN GELAR !!!!!!!!!!!!!!!!!!

KENAPA BANYAK HADiS DARi Imam Ja’far Shadiq ????? Itu wajar karena yang menyampaikan hadis dengan mata rantai sampai ke Nabi SAW kan Imam Ja’far !!!!!!!!!! tapi dengan hal ini justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !!!!!!!!

hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”

Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali

Sanad hadis kulaini benar benar otentik karena benar benar bersambung pada Imam Imam hingga Nabi SAW..

Yang meriwayatkan hadis bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait….

Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ??? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )

Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

TAPi hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu…KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !!!!!!!!!!

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin
( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

Setahu saya, ulama syiah tidak menjadikan kitab pegangan mereka seperti Al Kafi sebagai kitab yang semuanya shahih oleh karena itu mereka tidak menyebut kitab mereka kitab shahih seperti Sunni menyebut kitab shahih Bukhari dan Muslim. Coba saja hitung hadis yg diriwayatkan oleh Ali misalnya dg hadis yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yg berasal dari Abu Hurairah yg terdapat dlm Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yg dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sbg pembohong dan Umar mengancamnya dg mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis2..Apanya yg dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak ngambil hadis dari Abu Hurairah dan org2 Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.

Al Kulayni tidak pernah menyatakan semua hadits dalam al kahfi shahih, bisa berarti:
bisa maksudnya adalah: ada yang shahih dan tidak shahih.

Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.

beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dr hadits tsb, krn jika melakukannya maka beliau tentunya akan mengkategorikannya sesuai penelitian beliau (minimal melakukan catatan2).

Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Kayaknya cuma Mas deh yang menganggap itu masalah.

Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan… metode yang dilakukan

Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … …. Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.

setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadis yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.

tidak ada yg mengatakan alkulayni superman atau ma’shumin, ia hanya orang yang mencatat hadist2 tanpa mengklaim sepihak keshahihan hadist2nya…. ingat, alkafi bukan satu2nya kitab yg dimiliki Syiah mas, itulah bedanya kita…perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran shg Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman utk memutuskan suatu hal yg boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, belajar lgsg dari orgnya dong mas…

Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak.

Secara metodologis ini tdk menjadi masalah, para imam mazhab dan Bukhari serta perawi lain juga hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw sebagai pembawa risalah. Toh masih dianggap sebagai perwakilan penyambung syareat Nabi saw.

Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan, kalau gak salah Syaikh Albani membuat kitab sendiri tentang itu (Dhaif Sunan Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Dawud) dan celakanya menurut syaikh Al Albani dan Daruquthni dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga terdapat hadis dhaif.

Atau contoh lain adalah kitab Shahih Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Khuzaimah dan Mustadrak Shahihain, itu nama kitab yang pakai kata “shahih” dan anehnya banyak hadis-hadis dhaif bahkan palsu. Dengan semua data itu apakah anda juga akan berkata sedangkan kitab-kitab pegangan sunni banyak dinyatakan ulama sunni sendiri gak sahih (banyak diragukan bersumber dari Rasulullah SAW). Silakan direnungkan
Jawabannya sederhana kok, berpegang teguh kepada ahlul bait dalam arti merujuk kepada mereka dalam agama diantaranya akidah dan ibadah

Memang banyak hadits dha’if yang terdapat dalam berbagai kitab, entah dlm kitab sunni maupun syi’ah. Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yg konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yg zalim.

Makanya jangan sok tau. Dalam Syi’ah, fungsi Imam yg 12 adalah BUKAN sbg pembuat hal2 baru dlm agama (bida’ah). Mereka hanyalah pelaksana sekaligus penjaga/pengawal syariat Islam yg dibawa nabi Muhammad saw. Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw.

He he he…dasar sok tau. Kalau para ulama Syi’ah selalu mengatakan bahwa hadis2 yg terdapat dlm Al-Kafi umpamanya masih banyak yg dhaif, itu bukan berarti kebanggaan. Pernyataan mereka itu lebih kpd sikap jujur dan terbuka dan apa adanya. ………Sudah ane jelaskan bahwa Syi’ah tdk membeda-bedakan sumber hadis apakah itu dari Ali, Fatimah, Hasan, Husein atau para Imam yg lainnya. Apa yg diucapkan oleh Imam Ja’far umpamanya, itu juga yg diucapkan oleh Imam Ali bin Muhammad kmdn juga oleh Ali bin Husein, Husein bin Ali, Ali bin Abi Talib, Fatimah dan Nabi saw. Substansinya bukan pada jumlah yg diriwayatkan Fatimah atau Imam Hasan lebih sedikit dibanding Imam Ja’far atau imam yg lainnya tetapi pada kesinambungan periwayatan dari Rasulullah saw smp kpd Imam yg terakhir.

hadis2 Rasulullah saw selalu terjaga dibawah pengawasan langsung para Imam zaman dan para pengikut Ali masih bisa berkomunikasi dg para Imam Zaman.

==================================================================================================================================================================

SYi’AH iMAMiYAH MENDHA’iFKAN RiBUAN HADiS
KARENA SYi’AH SANGAT KETAT DALAM iLMU HADiS

Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat………..

Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 1621 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118
Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]

Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi.

Kenapa banyak sekali hadis dha’if ??? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ????
Jawab:
Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan…..

Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ????
Jawab :
Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah

Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah !!!!!

Apakah dengan modal empat kitab hadis syi’ah maka kita sudah dianggap berpedoman pada TSAQALAiN ???
jawab :
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF

Adakah hadis aneh aneh dalam kitab syi’ah ????
Jawab :Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai !!!! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !!!!

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as.

Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Peringatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.

Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.

dalam beberapa hal, metodologi hadis Syi’ah amat berlainan dengan metodologi Ahlu Sunnah. Kajian tentang metodologi hadis dalam Syi’ah Imamiah telah menjadi objek sebuah risalah doktoral di fakultas Ushuluddin Universitas al Azhar. Pada penghujung tahun 1996, risalah tersebut telah diuji dan dinyatkan lulus.
Dalam kalangan Syi’ah, kitab-kitab hadis yang dijadikan pedoman utama -dan berfungsi seperti kutub sittah dalam kalangan sunni- ada sebanyak 4 buah kitab.

Kitab al Kâfi. Disusun oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al Kulayni (w.328 H.). Kitab tersebut disusun dalam 20 tahun, menampung sebanyak 16.090 hadis. Di dalamnya sang penyusun menyebutkan sanadnya hingga al ma’shum. Dalam kitab hadis tersebut terdapat hadis shahih, hasan, muwats-tsaq dan dla’if.

Kitab Ma La Yahdluruhu al Faqih. Disusun oleh ash-Shadduq Abi Ja’far Muhammad bin ‘Ali bin Babawaih al Qummi (w.381 H.). Kitab ini merangkum 9.044 hadis dalam masalah hukum.

Kitab at-Tahzib. Kitab ini disusun oleh Syaikh Muhammad bin al Hasan ath-Thusi (w.460 H.). Penyusun, dalam penulisan kitab ini mengikuti metode al Kulayni. Penyusun juga menyebutkan dalam setiap sanad sebuah hakikat atau suatu hukum. Kitab ini merangkum sebanyak 13.095 hadis.

Kitab al Istibshar. Kitab ini juga disusun oleh Muhammad bin Hasan al Thusi. Penysusun kitab at-Tahzib. Kitab ini merangkum sebanyak 5.511 hadis.

Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:

Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.
Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.

Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.

Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.

Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.

Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.

===============================================================================================================================================================

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Al-Kafi
Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik

Man la yahdarul fiqh
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…

Tazhibul Ahkam
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.

Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
==================================================================================================================================================================

AL-FURU’ AL-KAFI AL-KULAINI
(Telaah Kritis Atas Kualitas Hadis-hadis Syi’ah)

A. Pendahuluan

Dalam Syi’ah, kitab hadis pertama adalah kitab Ali Ibn Abi Thalib yang didalamnya memuat-hadis-hadis yang di-imla’-kan langsung dari Rasulullah SAW tentang halal, haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubthi al-Syi’i dalam kitab al-Sunan, al-Ahkam dan al-Qadaya. Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab,[1] salah satunya adalah al-Kafi fi ‘Ilmi al-Din yang dikalangan Syi’ah merupakan pegangan utama diantara kitab-kitab yang lain.[2]

Pembahasan tentang kitab al-Kafi karya al-Kulaini secara keseluruhan telah banyak dilakukan. Baik melalui komparasi dengan kitab pokok aliran Sunni, tentang kriteria kesahihan hadis,[3] maupun secara khusus kajian tentang al-Ushul al-Kafi. Namun sejauh telaah yang penulis lakukan kajian tentang al-Furu’ al-Kafi, hampir belum ada. Karena itu kajian secara kritis atas kitab tersebut menjadi sangat urgen untuk dilakukan. Selanjutnya, penulis akan berupaya memaparkan sekaligus menganalisa terhadap informasi yang ada. Khususnya pada setting pribadi al-Kulaini dan umumnya pada al-Furu’ al-Kafi (sistematika, metode dan isi).

B. Setting Biografi al-Kulaini

Pengarang dari kitab al-Kafi adalah Siqat al-Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Ya’qub Ibn Ishaq al-Kulaini al-Raziy.[4] Beliau dilahirkan sekitar tahun 254 H dan atau 260 H di kampung yang bernama al-Kulain atau al-Kulin di Ray Iran. Tidak banyak diketahui mengenai kapan tepatnya al-Kulaini lahir. Informasi lain hanya mengenai tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran yaitu pernah mendiami Baghdad dan Kufah. Ia pindah ke Baghdad karena menjadi ketua ulama atau pengikut Syi’ah Imam dua belas disana, selama pemerintahan al-Muqtadir. Beliau hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah.[5]

Ayah al-Kulaini bernama Ya’qub Ibn Ishaq atau al-Salsali, seorang tokoh Syi’ah terkemuka di Iran. Di kota inilah ia mulai mengenyam pendidikan. Al-Kulaini punya pribadi yang unggul dan banyak dipuji ulama, bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini.[6]

Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal dimana dia adalah seorang faqih sekaligus muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam menda’wahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan dan dijuluki siqat al-Islam.[7]

Al-Kulaini menyusun kitab al-Kafi selama dua puluh tahun dengan melakukan perjalanan ilmiah untuk mendapatkan hadis-hadis dari berbagai daerah, seperti Irak, Damaskus, Ba’albak, dan Talfis. Namun bukan hanya hadis yang ia cari tetapi juga berbagai sumber dan kodifikasi hadis dari para ulama sebelumnya. Dari sini nampak adanya usaha yang serius dan besar-besaran.[8]

Imam al-Kulaini –merupakan seseorang yang ahli hadis mempunyai banyak guru dari kalangan ahl al-bait dalam proses transmisi hadis, diantara nama gurunya adalah Abdullah Ibnu Umayyah, Ishaq Ibnu Ya’qub dan lain-lain. Ada beberapa kitab yang telah ditulis oleh al-Kulaini disamping al-Kufi diantaranya adalah: Kitab tafsir al-Ru’ya, kitab al-Rijal, kitab al-Rad ala al-Qaramitah, kitab Rasa’il dan lain-lain.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dari al-Kulaini ini diantaranya adalah, Ayatullah Ja’far Subhani melukiskan dengan matahari dan lainnya sebagai bintang-bintang yang menghiasi langit. Kaum Syi’ah bersepakat bahwasanya kitab ini merupakan kitab utama dan diperbolehkan berhujjah dengan dalil-dalil yang ada didalamnya.[9]

C. Sistematika, Metode dan Isi Kitab al-Furu’ al-Kafi al-Kulaini

Al-Kafi merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (ushul), cabang-cabang (furu’) dan taman (rawdhah). Al-Kurki dalam ijazah-nya al-Qadhi Shafi al-Din ‘Isa, mengatakan, al-Kulaini telah menghimpun hadis-hadis syar’iyyah dan berbagai rahasia rabbani yang tidak akan didapati di luar kitab al-Kafi. Kitab ini menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan. Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyyun.[10]

Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya.[11] Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy[12] 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[13]

Al-Kafi terdiri atas 8 jilid yang terbagi menjadi tiga puluh lima (35) kitab dan 2355 bab, 2 jilid pertama berisi tentang al-Ushul (pokok) jilid pertama memuat 1.437 hadis dan jilid kedua memuat 2.346 hadis, yang berkaitan dengan masalah akidah. 5 jilid selanjutnya berbicara tentang al-Furu’ (fikih) dan 1 jilid terakhir memuat 597 hadis yang disebut al-Rawdhah (taman) adalah kumpulan hadis yang menguraikan berbagai segi dan minat keagamaan serta termasuk beberapa surat dan khutbah para imam.[14] Juz ini berisi tentang pernyataan tentang ahl al-bait, ajaran para imam, adab orang-orang saleh, mutiara hukum dan ilmu, yang tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Dinamakan al-rawdhah (taman) karena berisi hal-hal yang bernilai dan berharga, yang identik dengan taman yang menjadi tempat tumbuh bermacam-macam buah dan bungah.[15]

Adapun tema-tema dalam al-Furu’ al-Kafi yang dimulai dalam jilid III terdiri dari 5 kitab yaitu;[16]

Kitab al-Taharah, yang terdiri dari 46 bab dan 340 hadis.
Kitab al-Haid, yang terdiri dari 24 bab dan 93 hadis.
Kitab al-Jana’iz, berisi tentang pemakaman dan hal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan. Terdiri dari 95 bab dan 545 hadis.
Kitab al-Salah, terdiri dari 103 bab dan 924 buah hadis.
Kitab al-Zakah, terdiri dari 47 bab dan 277 hadis.
Jilid IV terdiri dari 2 kitab yaitu;

Kitab al-Siyam, memuat bab-bab shadaqah yang terdiri dari 43 bab dan 252 buah hadis. Sedangkan tentang puasa terdiri dari 83 bab dan 452 hadis.

Kitab al-Hajj dan bab-bab ziarah, terdiri dari 236 bab dan 1486 buah hadis.

Jilid V terdiri dari 3 kitab yaitu;

Kitab al-Jihad, terdiri dari 32 bab dan 149 buah hadis.

Kitab al-Ma’isyah (cara-cara memperoleh kehidupan), terdiri dari 159 bab dan 1061 hadis.

Kitab al-Nikah, terdiri dari 192 bab dan 990 buah hadis.

Jilid VI terdiri dari 9 kitab yaitu;

Kitab al-’aqiqah, terdiri dari 38 bab dan 223 hadis.
Kitab al-Talaq, terdiri dari 82 bab dan 499 buah hadis.
kitab al-’Itq wa al-Tadbir wa al-Kitabah (jenis-jenis budak dan cara memerdekakannya), terdiri dari 19 bab dan 114 hadis.
Kitab al-Sayd (perburuan), terdiri dari 17 bab dan 119 hadis.
Kitab al-Zaba’ih (penyembelihan), terdiri dari 15 bab dan 74 hadis.
Kitab al-At’imah (makanan), terdiri dari 134 bab dan 709 buah hadis.
Kitab al-Asyribah (minuman), terdiri dari 37 bab dan 268 hadis.
Kitab al-Zayy wa al-Tajammul wa al-Muru’ah (pakaian, perhiasan dan kesopanan), terdiri dari 69 bab dan 553 hadis.
Kitab al-Dawajin (hewan piaraan), terdiri dari 13 bab dan 106 hadis.
Jilid VII terdiri dari 7 kitab, yaitu;

Kitab al-Wasaya (wasiat), terdiri dari 39 bab dan 240 hadis.
Kitab al-Mawaris berisi 69 bab dan 309 hadis.
Kitab al-Hudud berisi 63 bab dan 448 hadis.
Kitab al-Diyat (hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik), terdiri dari 56 bab dan 366 hadis.
Kitab al-Syahadah (kesaksian dalam kasus hukum), terdiri dari 23 bab dan 123 hadis.

Kitab al-Qada wa al-Ahkam (peraturan tentang tingkah laku para hakim dan syarat-syaratnya), terdiri dari 19 bab dan 78 hadis.
Kitab al-Aiman wa al-Nuzur wa al-Kafarat (tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal), terdiri dari 18 bab dan 144 hadis.

Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis. Sistematika pembagian kitab dan bab yang dipakai al-Kulaini sangat sistematis sehingga memudahkan bagi kaum muslimin khususnya kaum Syi’ah untuk menggunakannya sebagai referensi yang utama dalam kehidupan mereka.

D. Al-Kafi Cukup ! Walaupun banyak yang tidak shahih

Kitab al-Kafi menjawab kebutuhan para ahli hadis, fiqih, teologi, juru dakwah, tukang debat (mujadil) dan para pelajar.[18] Oleh karena itu, maka kitab ini mencakup pokok-pokok agama ushul, furu’, akhlak, nasehat, etika dan ajaran Islam yang lain.

Al-Kafi adalah suatu kitab koleksi hadis yang berasal dari Nabi dan para Imam yang diteruskan kepada masyarakat muslim oleh murid-murid dari para Imam. Nama Al-Kafi mempunyai arti “cukup”, ini adalah sebuah kitab yang mencakup hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para Imam Syi’i. Al-Kulaini dalam muqaddimah kitabnya menjelaskan:

“… Kamu ingin mempunyai suatu buku yang akan memenuhi kebutuhan religius-mu (kafin), yang meliputi bermacam-macam pengetahuan tentang agama, yang berguna untuk memberikan arahan bagi siswa maupun guru. Yang dapat digunakan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pengetahuan agama dan amaliyyah dan hukum-hukum menurut nampak hadis (asar) dari orang yang dapat dipercaya (Imam)…”[19]

Dengan melihat sejarah penyusunan kitab ini yang mencapai 20 tahun dan didukung oleh kondisi sosial politik saat itu yang merupakan masa yang kondusif bagi Syi’ah. Menurut penulis adalah sangat wajar jika penyusunan al-Kafi mencapai 16.199 hadis, di tambah lagi dengan fenomena bahwa para imam berhak meriwayatkan hadis setelah Nabi wafat.

E. Analisa atas Metode Penulisan al-Furu’ al-Kafi

Ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dalam kitab ini, di antaranya: adalah sebagai berikut;

Adanya peringkasan sanad. Istilah sanad menurut para ahli hadis Syi’ah adalah para rawi yang menukil hadis secara berangkai dari awal sumber, baik dari Nabi Saw., para imam, para sahabat maupun dari yang lainnya yang diperlihatkan kepada Imam, sampai kepada rawi yang terakhir.[20] Sanad-sanad yang ada dalam kitab ini kadang ditulis secara lengkap, tetapi terkadang al-Kulaini membuang sebagian sanad dengan menggunakan kata ashhabuna, fulan, ‘iddah, jama’ah dan seterusnya. Hal ini dimaksudkan bagi periwayat-periwayat yang sudah terkenal.[21]

Jika al-Kulaini menyebutkan sahabat kami dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali Ibn Ibrahim, Ali Ibn Muhammad Abdullah Ahmad Ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali Ibn al-Husain al-Sa’dabadi. Sedangkan sebutan dari Sahl Ibn Ziyad adalah Muhammad Ibn Hasan dan Muhammad Ibn ‘Aqil, dan lain-lain. Mereka adalah para periwayat yang dianggap baik oleh al-Kulaini dan telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya.

Misalnya dalam kitab al-Furu’ jilid keenam bab kesembilan mengenai memerdekakan budak, al-Kulaini menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “iddatun min ashabina” ialah ‘Ali Ibn Ibrahim, Muhammad Ibn Ja’far, Muhammad Ibn Yahya, ‘Ali Ibn Muhammad Ibn ‘Abdullah al-Qummi, Ahmad Ibn Abdillah, ‘Ali Ibn Husain, yang semuanya dari Ahmad Ibn Muhammad Ibn Khalid dari Usman Ibn Isa.

Peringkasan sanad ini dilandasi atas keinginan al-Kulaini untuk tidak memperpanjang tulisan, dan dilakukan hanya pada para periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh beliau. Oleh karena itu, jika sanad telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, maka selanjutnya al-Kulaini tidak menulisnya secara lengkap.

Adanya para rawi yang bermacam-macam sampai Imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan dengan hadis-hadis lain diluar Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

F. Kriteria Kesahihan Hadis al-Kulaini

Al-Kulaini dalam menentukan kriteria kesahihan hadis yang terdapat dalam al-Kafi, menggunakan kriteria kesahihan hadis yang lazim dipakai oleh para ulama mutaqaddimin, hal ini dikarenakan masa hidup al-Kulaini termasuk dalam generasi ulama mutaqaddimin. Sedangkan yang masyhur, ada dua pembagian hadis, pada masa ulama mutaqaddimin, pada masa kedua tokoh periwayat, Sayyid Ahmad Ibn Thawus dan Ibn Dawud al-Hulliy. Pembagian hadis ini berkisar pada hadis mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Pembagian ini dipandang dari segi kualitas eksternal (keakuratan periwayat), seperti kemuktabaran hadis yang dihubungkan dengan Zurarah, Muhammad Ibn Muslim serta Fudhail Ibn Yasar. Maka hadis yang berkualitas demikian itu dapat dijadikan hujjah[23].

Sedangkan menurut jumhur Ja’fariyah hadis terbagi menjadi mutawatir dan ahad. Pengaruh akidah mereka tampak dalam maksud hadis mutawatir. Karena hadis mutawatir menurut mereka adalah harus dengan syarat hati orang yang mendengar tidak dicemari syubhat atau taklid yang mewajibkan menafikan hadis dan maksudnya.[24]

Pengaruh imamah di sini dapat diketahui ketika mereka menolak hujjah orang-orang yang berbeda dengan mereka yaitu mazhab yang menafikan ketetapan amir al-mukminin Ali sebagai imam. Mereka juga berpendapat tentang mutawatir-nya hadis al-saqalain dan hadis al-ghadir. [25]

Sedangkan hadis Ahad menurut mereka terbagi dalam empat tingkatan atau empat kategori, yang bertumpu pada telaah atas sanad (eksternal) dan matan (internal), dan keempat tingkatan tersebut merupakan pokok bagian yang menjadi rujukan setiap bagian yang lain. Empat tingkatan itu adalah; sahih, hasan, muwassaq, dan dha’if. Pembagian inilah yang kemudian berlaku sampai saat ini.[26] Namun ada sebagian ulama Syi’ah yang mengakui adanya kualitas qawiy dalam pembagian hadis tersebut, jadi tingkatan kualitas hadis menjadi lima (5), yaitu:

Hadis Sahih

Hadis sahih menurut mereka adalah, hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum serta adil dalam semua tingkatan dan jumlahnya berbilang. Dengan kata lain, hadis sahih menurut mereka adalah hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[27]

Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[28]

Kalangan Syi’ah Imamiyah menjelaskan sebab adanya persyaratan ini adalah tidak diterima riwayat orang fasiq, meskipun dari sisi agamanya dia dikatakan sebagai orang yang selalu menghindari kebohongan. Dengan tetap wajib meneliti riwayat dari orang fasik dan orang yang berbeda dari kaum Muslimin (maksudnya; selain Imamiyah). Jika dia dikafirkan maka dia tertolak riwayatnya meskipun diketahui dia orang adil dan mengharamkan kebohongan.

Menurut al-Mamqani, keadilan pasti sejalan dengan akidah dan iman, dan menjadi syarat bagi setiap periwayat. Sejalan dengan firman Allah, “jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.(Q.S al-Hujurat; 6).

Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan, bahwa iman adalah syarat bagi periwayat dan riwayat orang fasik wajib diteliti, sedangkan selain pengikut Ja’fariyah adalah kafir atau fasik, maka riwayatnya tidak mungkin sahih sama sekali. Dari sini tidak hanya tampak pengaruh imamah, tapi juga tampak sikap ekstrim dan zindiq.

Hadis Hasan

Hadis hasan menurut Syi’ah adalah hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dari periwayat adil, sifat keadilannya sesuai dalam semua atau sebagian tingkatan para rawi dalam sanadnya.[29]

Dari definisi tersebut tampak bahwa mereka mensyaratkan hadis hasan sebagai berikut;

Bertemu sanadnya kepada imam yang ma’shum tanpa terputus.
Semua periwayatnya dari kelompok Imamiyah.
Semua periwayatnya terpuji dengan pujian yang diterima dan diakui tanpa mengarah pada kecaman. Dapat dipastikan bahwa bila periwayatnya dikecam, maka dia tidak diterima dan tidak diakui riwayatnya.

Tidak ada keterangan tentang adilnya semua periwayat. Sebab jika semua periwayat adil maka hadisnya menjadi sahih sebagaimana syarat yang ditetapkan di atas.

Semua itu harus sesuai dalam semua atau sebagian rawi dalam sanadnya.

Hadis Muwassaq[30]
Hadis muwassaq yaitu hadis yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma’shum dengan orang yang dinyatakan siqah oleh para pengikut Syi’ah imamiyah, namun dia rusak akidahnya, seperti dia termasuk salah satu firqah yang berbeda dengan imamiyah meskipun dia masih seorang Syi’ah dalam semua atau sebagian periwayat, sedangkan lainnya termasuk periwayat yang sahih.

Definisi ini memberikan pengertian tentang persyaratan sebagai berikut:

Bersambungnya sanad kepada imam yang ma’shum.
Para periwayatnya bukan dari kelompok Imamiyah, tapi mereka dinyatakan siqah oleh ja’fariyah secara khusus.
Sebagian periwayatnya sahih, dan tidak harus dari imamiyah.
Pengaruh akidah mereka tampak dalam hal-hal sebagai berikut:

Posisi hadis muwassaq diletakkan setelah hadis sahih dan hadis hasan karena adanya periwayat dari selain Ja’fariyah.
Pernyataan siqah harus dari kelompok Ja’fariyah sendiri. Karena bagi mereka pernyataan siqah dari selain Ja’fariyah tidak cukup, bahkan orang yang dinyatakan siqah oleh mereka (selain Ja’fariyah) adalah dha’if menurut mereka.

Al-Mamqani menjelaskan bahwa pengukuhan siqah harus dari para pengikutnya dengan mengatakan, menerima penilaian siqah selain imamiyah, jika dia dipilih imam untuk menerima atau menyampaikan persaksian dalam wasiat, wakaf talak, atau imam mendoakan rahmat dan ridha kepadanya, atau diberi kekuasaan untuk mengurusi wakaf atas suatu negeri, atau dijadikan wakil, pembantu tetap atau penulis, atau diizinkan berfatwa dan memutuskan hukum, atau termasuk syaikh ijazah[31], atau mendapat kemuliaan dengan melihat imam kedua belas.

Hadis Dha’if

Menurut pandangan Syi’ah, hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari tiga kriteria di atas. Misalnya di dalam sanadnya terdapat orang yang cacat sebab fasik, atau orang yang tidak diketahui kondisinya, atau orang yang lebih rendah dari itu, seperti orang yang memalsukan hadis.[32]

Dalam hadis sahih terlihat bahwa mereka menilai selain Ja’fariyah sebagai orang kafir atau fasik, sehingga riwayatnya dinyatakan dha’if yang tidak boleh diterima, dan juga tidak diterima dari selain Ja’fariyah kecuali orang yang dinyatakan siqah oleh mereka.

Atas dasar itu mereka menolak hadis-hadis sahih dari tiga khulafa al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, dan Usman) dan sahabat yang lain, tabiin, serta para imam ahli hadis dan fuqaha, pasalnya mereka tidak percaya dengan akidah imamiyah isna ‘asyariyah. Sebab riwayat-riwayat sahih yang di dalam sanadnya terdapat para sahabat senior dan para imam yang amanah, tetapi tidak percaya dengan akidah dua belas imam, maka riwayat-riwayat tersebut dinyatakan dha’if oleh kaum Ja’fariyah.

Hukum Mengamalkan Hadis Dha’if

Adapun hadis-hadis yang dha’if bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis sahih manakala hadis tersebut populer dan sesuai dengan ajaran mereka. Dengan demikian nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di kalangan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradisi Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. Sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalamnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja, melainkan memasukkan hal-hal lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad dan para imam mereka.

Hadis Qawiy[33]

Menurut muhaqqiq dan muhaddis al-Nuri, yang dimaksud dengan tingkat kuat adalah karena sebagian atau semua tokoh sanadnya adalah orang-orang yang dipuji oleh kalangan Muslim non-Imami, dan tidak ada seorang pun yang melemahkan hadisnya. Hadis muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.[34]

Tingkatan hadis qawiy ini tidak banyak dikenal baik oleh kalangan Syi’ah selain Imamiyah maupun kalangan Sunni. Hal ini dikarenakan jumhur ulama telah sepakat akan pembagian tingkatan hadis Syi’ah menjadi empat macam. Di samping itu sebagian rawi dari tingkatan qawiy ini berasal dari non-Imami, sedangkan mereka membatasi untuk menerima hadis dari selain Imamiyah. Karena syarat utama diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah.

G. Kualitas Hadis dalam al-Furu’ al-Kafi

Sebagaimana diketahui bahwa kitab al-Furu’ al-Kafi mencakup riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hukum fikih. Maka kitab ini sama dengan kitab Faqih Man La Yahdhuruh al-Faqih karya al-Shadiq dan dua kitab karya al-Thusi yaitu al-Tahzib dan al-Istibsar. Pengaruh imamah dalam al-Furu’ ini juga sangat kental, misalnya pada bab haji, al-Kulaini meriwayatkan dari Wahab, ia berkata, ada sebuah hadis yang menyatakan bahwa orang yang tidak bermazhab Ja’fariyah kemudian setelah haji dia mengikuti mazhab Ja’fariyah maka orang tersebut disunahkan mengulang hajinya. Bagi orang Ja’fariyah, tidak boleh menggantikan haji selain dari Ja’fariyah kecuali terhadap bapaknya. Sedang dalam berziarah maka disunahkan dengan sunnah muakkad untuk berziarah ke makam para imam.

Contoh-contoh lain dalam al-Furu’ terdapat pada bab wudhu dan mawaris[35]

· ان العبد اذا توضأ فغسل وجهه تناثرت ذنوب وجهه واذا غسل يديه الى المرفقين تناثرت عنه ذنوب يديه واذا مسح رجليه او غسلهما للتقية تناثرت عنه ذنوب رجليه وان قال في اول وضوئه بسم الله الحمن الرحيم طهرت اعضاؤه كلها من الذنوب وان قال في اخر وضوئه او غسله من الجناية سبحانك اللهم وبحمدك اشهد ا لا اله الاانت استغفرك واتوب اليك واشهد ان محمدا عبدك ورسولك واشهد ان عليا وليك وخليفتك بعد نبيك وان اوليائه خلفائه واوصيائه…..
· عدة من اصحابنا, عن أحمد بن محمد عن ابن محبوب قال: أخبرني ابن بكير عن زرارة قال: سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول: ولكل جعلنا موالي ممّا ترك الوالدين والاقربون, قال : إنّما عنّي بذلك أولى الأرحام في الموارث ولم يعن أولياء النعمة, فأولاهم بالميّت أقربهم إليه من الرحم التي تجرّه إليها
· علي بن ابراهيم عن ابيه ومحمد بن اسماعيل عن الفضل بن شاذان جميعا عن ابن ابي عمير عن عمر بن اذنيه عن محمد بن مسلم والفضيل بن يسار وبريد العجلي وزرارة ابن اعين عن ابي جعفر عليه السلام قال: السلام لا تعول ولاتكون اكثر من ستة.
· وعنه عن محمد بن عيسى بن عبيد عن يونس بن عبد الرحمن عن عمر بن اذنيه مثل ذلك

Dalam riwayat tentang wudhu di atas, tampak sekali adanya pemalsuan, yaitu dalam redaksi “atau membasuh kedua kaki karena taqiyah“, dan dalam redaksi “bahwa orang-orang yang dicintainya (Ali) adalah para khalifahnya dan orang-orang yang diwasiatkannya”. Maka hubungan pendapat mereka dalam masalah fiqih dengan mazhab adalah yang menjadikan mereka memalsukan hadis untuk menolong dua orang (al-Thusi dan al-’Amili).

Al-Thusi dan al-’Amili adalah dua orang yang mengatakan bahwa membasuh dua kaki diterapkan pada taqiyyah. Jadi fanatik Syi’ah kepada pendapat sesuai mazhabnya dan kerancauan dalam pemikiran dan ta’wil telah memunculkan dampak yang sangat buruk, yaitu pemalsuan hadis.

Sedangkan pada riwayat tentang mawaris tampak adanya peringkasan sanad. Adapun mengenai kualitas hadis tentang mawaris ini, secara eksplisit, tidak diketahui karena informasi yang di dapat dalam al-Furu’ sangat terbatas, tanpa keterangan kualitas hadisnya. Dan telah diketahui bahwa dalam kitab al-Kafi ini tidaklah semuanya sahih.

Namun setelah penulis menemukan adanya pembahasan tentang al-Jarh wa al-Ta’dil dan Ushul al-Hadis fi ‘Ilmi al-Dirayah dalam tradisi Syi’ah, adanya peringkasan sanad tidaklah mempengaruhi kualitas hadis. Jadi hadis-hadis tentang mawaris tersebut masih bisa dipakai dan dapat dijadikan hujah.

Fenomena ini bisa dijadikan bukti, bahwa hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if.

H. Kesimpulan

Setelah melakukan penelusuran terhadap kitab-kitab Syi’ah, penulis menemukan kitab ilmu hadis baik sanad maupun matan dari kalangan Syi’ah yang disusun oleh Ja’far Subhani, keduanya adalah Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah, dan Kulliyat fi ‘ilmi al-Rijal. Dari sini dapat disimpulkan bahwa kajian sanad dan matan telah dikaji secara mendalam. Jika dibandingkan dengan tradisi Sunni, kajian ulum al-hadis Syi’ah juga bisa dianggap telah matang. Meskipun pengaruh Imamiyah masih sangat kental. Hal ini terbukti dengan syarat diterimanya hadis adalah harus dari kalangan Imamiyah. Itulah yang menjadi syarat utama dalam ilmu al-jarh wa al-Ta’dil.

Demikian juga terhadap kajian matan, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah, maka imam-imam pada mazhab Syi’ah dapat mengeluarkan hadis. Jadi, tidak heran jika surat-surat, khutbah para imam dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama diposisikan setara dengan hadis. Ini menjadikan kajian hadis Syi’ah berbeda dengan kalangan Sunni. Menurut hemat penulis, dua syarat itulah yang menjadikan penyebab jumlah hadis Syi’ah jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah hadis Sunni.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Gifari, ‘Abd al-Hasan. al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th.

Al- Hasani, Hasan Ma’ruf. “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992.

Al-Kulaini Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Al-Kulaini, Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub. Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.).

Al-Salus, Ali Ahmad. Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997.

Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001.

Esposito, John. L. Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001.

Kurniawan,Yudha. “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

Subhani, Ayatullah Ja’far. “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001.

_______ Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah. Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th.

Suryadilaga, M. Alfatih. Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003.

[1] M. Alfatih Suryadilaga Kitab al-Kafi al-Kulaini, (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 307, lihat juga al-Kulaini Muqaddimah Usul al-kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Giffari, juz I (Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1388), hlm. 4-5.

[2] Ketiga kitab lainnya adalah Man La Yahduruh al-Faqih, Tahzib al-Hakam, dan al-Ikhtisar fi Ma Ukhtulifa min Akhbar.

[3] Yudha Kurniawan, “Kriteria Kesahihan Hadis: Studi Komparatif antara Kitab al-Jami’ al-Sahih dan al-Kafi al-Kulaini”, Skripsi, Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2003.

[4] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 124

[5] Dr. I. K. A. Howard, “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 11.

[6] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, Jurnal al-Hikmah, no. 6., Juli-Oktober 1992, hlm. 25

[7] Ibid

[8] M. Alfatih Suryadilaga Ibid, hlm. 310.

[9] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah: Studi atas Kitab al-Kafi”, Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol. II, no. 5, 2001. hlm. 35.

[10] Di dalam Syi’ah sekarang terdapat dua aliran besar dalam menanggapi masalah-masalah yang berkembang di Dunia modern dikaitkan dengan ijtihad. Kelompok pertama mengatakan tidak ada ijtihad. Permasalahan sudah cukup dibahas para imam-imam mereka. Aliran ini dikenal dengan ahbariyyun atau muhaddisun. Kedua, kelompok ushuliyyun. Mereka beranggapan bahwa tradisi ijtihad masih terbuka lebar di kalangan Syi’ah tidak terbatas pada kematangan imam-imam mereka. Lihat Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah Al-Kafi” dalam Jurnal al-Hikmah, no, 6, Juli-Oktober 1992, hlm. 29.

[11] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.

[12] Ibid.,

[13] Ibid., hlm. 37

[14] Al-Fatih Suryadilaga, “al-Kafi al-Kulaini” dalam Studi Hadis (Yogyakarta: TERAS, 2003), hlm. 313.

[15] Lihat dalam Mukaddimah al-Rawdhah, hlm 9. Dikutip dalam Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 140.

[16] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.)

[17] John L. Esposito, Ensiklopedi Islam Modern (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 302

[18] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 25

[19] Dr. I. K. A. Howard “al-Kutub al-Arba’ah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab ahl al-Bait”, Jurnal al-Huda, vol II, no. 4, 2001, hlm. 14.

[20] ‘Abd al-Hasan al-Gifari, al-Kulaini wa al-Kafi (t.tp. Muassasah ‘an Nasyr al-Islami, t.th), hlm. 469-470.

[21] Hasan Ma’ruf al-Hasani, “Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi”, jurnal al-Hikmah, no. 6, Juli-Oktober, 1992, hlm. 39.

[22] Ibid

[23] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 38-39.

[24] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 125

[25] Yang disebut dengan hadis ghadir adalah wasiat Nabi Muhammad bahwa Ali ditunjuk sebagai pengganti beliau. Ibid, hlm.126.

[26] Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th), hlm. 48.

[27] Ibid

[28]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 127.

[29] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 129.

[30] Muwassaq (yang melahirkan kepercaraan), kadang disebut juga dengan qawiy (kuat) karena kuatnya zhan (dugaan akan kebenarannya), di samping karena kepercayaan kepadanya.

[31] Telah berlaku dalam ungkapan ulama hadis penyebutan sebagian ulama dengan “syaikh ijazah“, dan yang lain dengan “syaikh riwayah”. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah orang yang tidak mempunyai kitab yang diriwayatkan dan tidak mempunyai riwayat yang dinukil, tetapi dia memperbolehkan periwayatan kitab dari selainnya dan dia disebutkan dalam sanad karena dia bertemu gurunya. Dan jika dia dha’if maka tidak madharat kedha’ifannya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang diambil riwayatnya dan dikenal sebagai penulis kitab, dia termasuk orang yang menjadi sandaran riwayat. Orang ini madharat bila tidak mengetahui riwayat. Untuk diterima riwayatnya, disyaratkan harus adil.

[32] Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), hlm. 130.

[33] Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 37

[34] Ibid.

[35] Abu Ja’far Muhammad Ibn Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kafi. Jilid III-VII (t. tp. t. th.), hlm. 76, 80 dan 81

Syi’ah Imamiyah Menerima Hadis Hadis Mazhab Sunni Jika : “Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama syi’ah dan Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan syi’ah”

Syi’ah dan Kehujahan Ucapan Keluarga Suci

Syi ‘ah memandang hadis-hadis dari Keluarga Suci seperti memandang hadis-hadis Nabi saw. Bagaimana hadis-hadis mereka bisa dijadikan hujah?

Jawab: Syi’ah Imamiyah mengambil ucapan-ucapan mereka karena hAl-hAl berikut:

Pertama, Nabi saw memerintahkan kaum Muslim agar berpegang pada ucapan Keluarga Suci itu. Beliau bersabda, ” Aku tinggAlkan untuk kalian tsaqAlain(dua hAl yang berat). Yaitu Kitab Allah dan keluargaku, ahlulbaitku.”

Berpegang pada hadis-hadis dan ucapan-ucapan mereka merupakan pengamAlan sabda Nabi saw yang tidak bersumber kecuAli dari Al-Haqq.  TsaqAlayn,ia telah berpegang pada sesuatu yang akan menyelamatkannya dari kesesatan. SebAlikl1ya, siapa yang hanya mengambil sAlah satu saja darinya, ia telah menentang Nabi saw.

Para Imam Syi’ah Adalah Para Washi Nabi saw. Para ulama Syi’ah sepakat bahwa para imam dua belas adalah para washi (orang yang menerima wasiat tentang kepemimpinan) Rasulullah saw. Mereka adalah para imam umat ini dan sAlah satu dari tsaqAlayn ( dua hAl yang berat) yang telah diwasiatkan Rasulullah saw di beberapa tempat. Beliau bersabda, ” Aku tinggAlkan untuk kalian TsaqAlayn, yaitu Kitab Allah dan keluargaku.”

Kedua, kami memandang bahwa Nabi saw memerintahkan kepada umat ini agar bersAlawat kcpada keluarga Muhammad dalam salat-salat fardu dan sunnah. Selain itu, kaum Muslim di segAla pen.juru bumi menyebut keluarga itu setelah menyebut nama Nabi saw dalam tasyahud mereka. Kaum Muslim juga bersAlawat kepada mereka seperti bersAlawat kepada Rasulullah saw. Para fukaha, kendati berselisih pendapat tentang redaksi tasyahud itu, mereka sepakat tentang wajibnya bersAlawat kepada Nabi dan keluarganya. Tentang hAl itu, Imam asy-Syifi’i berkata:

Hai ahlulbait Rasulullah,mencintaimu kewajiban dari Allah dalam Al-Quran yang diturunkan. Cukuplah keagungan bagi kalian siapa yang tidak bersAlawat padamu tidaklah sah salatnya.

KAlau keluarga itu tidak memiliki kedudukan dalam memberikan hidayah kepada umat ini dan keharusan mengikuti mereka, lAlu apa artinya menjadikan sAlawat kepada mereka sebagai amAlan wajib dalam tasyahud dan mengulang-ulangnya dalam seluruh salat siang dan mAlam baik fardu maupun sunnah?

keluarga Muhammad itu memiliki kedudukan khusus dalam urusan-urusan duniawi dan terlebih lagi dalam kepemimpinan Islam. Ucapan dan pendapat mereka adalah hujah bagi kaum Muslim. Mereka juga memiliki kedudukan sebagai rujukan utama ( Al-Marja’iyyah Al-Kubra) setelah wafat RasuluIIah saw baik dalam masAlah akidah dan syariat maupun dalam masAlah-masAlah lain.

Ketiga, Rasulullah saw mengibaratkan Keluarga Suci itu dengan bahtera Nuh as. Barangsiapa yang menaikinya, ia selamat. Tetapi siapa yang meninggAlkannya, ia tenggelam. Ini menunjukkan kehujahan ucapan dan perbuatan mereka.

Masih banyak lagi wasiat-wasiat yang berkenaan dengan keluarga itu yang dinukil dalam kitab-kitab Shahih dan Musnadl Siapa yang mau mengkajinya, silakan merujuk para sumber-sumbernya.

Setiap Muslim mengimani kesahihan wasiat-wasiat ini tidak meragukan kehujahan ucapan-ucapan keluarga Nabi, baik ia diberitahu tentang sumber-sumber ilmu mereka maupun tidak diberitahu. AIlah swt berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. ” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Di samping itu semua; kami tunjukkan beberapa sumber ilmu mereka sehingga menjadi jelas bahwa kehujahan ucapan mereka tidak menunjukkan bahwa mereka itu nabi atau diserahkan ke- pada urusan pensyariatan.

1. Mendengar dari Rasulullah saw

Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka.

Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.

2. Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini.

‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapAlnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah.

Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.

Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”

Imam ash-Shadiq as memperkenAlkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”

Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang hAlAl dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”

Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”

3. Istinbath drin Al-Qur’an dan Sunah

Sumber ketiga bagi ucapan mereka adalah pemahaman dan pengkajian mereka terhadap Al-Qur’an dan sunah. Dari kcdua sumber utama ini mereka menyimpulkan segAla hAl yang khusus berkaitan dengan akidah dan syariat secara mengagumkan yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Inilah yang menjadikan mereka istimewa di tengah kaum muslim dalam hAl kesadaran, serta kedalaman ilmu dan pemahaman. Para imam fiqih di berbagai tempat tunduk kepada mereka. Sehingga Imam Abu Hanifah setelah berguru kepada Imam ash-shadiq as (selama dua tahun) mengatakan, “KAlau tidak ada dua tahun itu, tentu binasAlah an- Nu’man.” Sebab, dalam banyak hukum, mereka berdAlil dengan Al-Qur’an dan sunah. Mereka mengatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun melainkan memiliki landasan dalam Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya.”

Al-Kulaini meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari ‘Umar bin Qais dari Abu Ja’far as: Saya pemah mendengar ia berkata, “Sesungguhnya Allah swt tidak membiarkan sesuatu yang diperlukan umat melainkan Dia menurunkannya dalam Kitab-Nya dan menjelaskannya kepada Rasul-Nya, serta memberikan batasan bagi setiap sesuatu. Dia jadikan atasnya dAlil yang menunjukkannya dan menetapkan hukuman bagi siapa saja melanggar batasan itu.”

Al-Kulaini juga meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari Abu ‘Abdillah as: Saya pernah mendengar ia berkata. “Tidak ada bagi setiap sesuatu melainkan di dalamnya ada ketentuan dari Kitab dan sunah”.

Sunnah adalah salah satu sumber tasyri penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Quran, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Quran sendiri. Itulah sebabnya,di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untukmenjaga dan mengawali pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupunhasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh misalnya.

Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah.Di samping Ahl al-Sunnah sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah Imamiyah sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Ini tentu saja tidak mengherankan, sebab Syiah Imamiyah memiliki pengertian tersendiri tentang al-Sunnah. Maka perbedaan ini tidak pelak lagi kemudian memunculkan perbedaan antara Ahl al-Sunnah dengan mereka dalam persoalan keaqidahan maupun kefikihan

Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.

salah seorang pemikir Syi’ah, yaitu Ja’far al-Subhani Ja’far al-Subhani adalah merupakan salah satu ulama Syi’ah yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu hadis dengan karyanya kitab Usul al-Hadis wa ahkamuhu fi‘Ilmi al-Dirayah dan Kitab Kulliyat fi ‘Ilmi al-Rijal, dan beliau juga merupakan maraji’ Syi’ah pada masa sekarang ini. Beliau memberikan batasan tentang otentisitas hadis menururt Syi’ah, melalui kaidah-kaidah otentisitasnya. Untuk meneliti beliau ini tentang otentisitas hadis, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis–eksplanatoris (eksplanatory analysis), yaitu suatu analisis yang berfungsi memberi penjelasan yang lebih mendalam dari sekedar mendeskripsikan makna sebuah teks. Sehingga memberi pemahaman mengenai, mengapa dan bagaimana pemikiran itu muncul dan apa saja sebab yang melatar belakanginya.

Dalam hal ini, Ja’far al-Subhani membuat kriteria kesahahihan suatu hadis. Dalam kriteria kesahihan hadisnya, Ja’far al-Subhani tidak menekankan pada sanad saja akan tetapi matnnya juga, hal ini terbukti dengan menambah kriteria harus terhindar dari syaz dan ‘illat yang kurang diperhatikan oleh ulama-ulama mutaqaddimin Syi’ah.

Dalam menilai suatu hadis, Ja’far al-Subhani sangat teliti dan harus melalui metode ilmu Rijal al-Hadis dan Jarh wa Ta’dil. Dengan metode ini, maka akan menghasilkan kualitas hadis yang telah diklasifikasikan olehnya, yaitu; Sahih, Hasan, Muwassaq dan Daif. Sebagai implementasinya, Ja’far al-Subhani berpandangan bahwasanya dalam kitab hadis utama Syi’ah yaitu al-Kafi, menurut kriteria yang telah ditetapkan oleh Ja’far al-Subhani bahwasanya tidak semua hadis yang termuat dalam kitab ini adalah Sahih. Berangkat dari pemahaman Ja’far al-Subhani mengenai Otentisitas hadis menurut Syi’ah ini, memberikan pandangan bahwa setiap mazhab atau golongan dalam Islam mempunyai pandangan masing-masing tentang otentisitas hadis. Sehingga melahirkan sesuatu yang spesifik dan khas.

Baik mengenai sumber periwayatan, jalur periwayatan, kriteria kesahihan hadis maupun mengenai perawi dan standar kualitasnya. Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa tidak ada perbedaan antara perkataan yang diucapkan sang imam Mahdi saat ia masih kanak-kanak . Sebab, -menurut mereka- para imam itu tidak mungkin melakukan kesalahan, sengaja ataupun tidak, sepanjang hayat mereka. Itulah sebabnya, salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,Sesungguhnya keyakinan akan kemaâshuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.

Ini karena perkataan para imam itu adalah perkataan Allah, perintah mereka adalah perintah Allah, ketaatan pada mereka adalah ketaatan pada Allah, kedurhakaan pada mereka adalah kedurhakaan pada Allah. Mereka itu tidak mungkin berbicara kecuali dari Allah dan wahyu-Nya.

Muhammad Ridha al-Muzhaffar salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan, Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqahaâ adalah perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi¦Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah setelah meyakini bahwa perkataan al-Maâshum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Maâshum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah âperkataan, perbuatan dan taqrir al-Maâshum.

Ja’far al-Subhany mengatakan,Metode-metode seperti ini adalah termasuk metode yang dapat menetapkan kesiqahâan seorang perawi tanpa perlu komentar lagi. Ini adalah metode-metode khusus yang dapat menetapkan ketsiqahâan individu tertentu. Dan ada pula metode-metode umum yang disebut dengan tautsiqat ammah yang dengannya ketsiqahan sekelompok perawi dapat ditetapkan.

Definisi  al- Sunnah  Menurut  Syi’ah  Imamiyah

Sebagaimana telah disinggung, Syiah Imamiyah memiliki batasan dan definisi tersendiri tentang Sunnah.. Intinya, Sunnah menurut mereka adalah “Perkataan, perbuatan dan taqrir dari al-Ma’shum.”  Dan al-Ma’shum dalam pandangan Syiah Imamiyah tidak hanya terbatas di kalangan para nabi dan rasul. Para imam mereka juga termasuk dalam kategori ini ( Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athhar: Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111 H), Mua’assasah al-Wafa’ Beirut. Cetakan kedua 1983 M )

Muhammad Ridha al-Muzhaffar –salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan,

Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqaha’ adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi”…Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah –setelah meyakini bahwa perkataan al-Ma’shum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Ma’shum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir al-Ma’shum.”

Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan Ahl al-Bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi –hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka ‘tsiqah’ dalam periwayatannya. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat realita. Maka mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realita itu memang berasal dari Allah Ta’ala apa adanya. Dan itu semua (diperoleh) melalui jalur ilham –seperti Nabi melalui jalur wahyu-, atau melalui periwayatan (imam) ma’shum sebelumnya.

Berdasarkan ini, maka penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan al-Sunnah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’, akan tetapi karena merekalah sumber hukum (tasyri’) itu sendiri. [ Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyyah: Hasan al-Amin. Dar al-Ta’aruf li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan keempat 1989 M ]

Penjelasan ini menunjukkan bahwa perkataan para imam yang ma’shum, baik yang diperoleh melalui jalur ilham atau jalur lainnya (dikenal dengan istilah ilmu hadits) [ Al-Fahrasat: Muhammad ibn al-Hasan al-Thusy. Al-Mathba’ah al-Haidariyah, Nejef. Cetakan kedua 1960 M), maupun yang diriwayatkan dan diwariskan dari imam ma’shum sebelumnya dari Rasulullah (ilmu mustauda’), termasuk dalam bagian al-Sunnah yang kedudukannya sederajat dengan al-Sunnah yang berasal dari Rasulullah saw.

salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,“Sesungguhnya keyakinan akan kema’shuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.”( Al-Imam al-ShadiqMuhammad Abu Zahrah. Dar al-Fikr al-‘Araby, Kairo. T.t.)

Mereka juga meyakini bahwa ilmu mustauda’ yang melalui jalur pewarisan dari imam ma’shum sebelumnya itu terbagi menjadi dua: (1) kitab-kitab yang mereka warisi dari Rasulullah, dan (2) ilmu yang mereka terima secara lisan dari beliau saw. (Al-I’tiqadat: Abu Ja’far Muhammad ibn Babawaih al-Qummy (w. 381 H). Cetakan Iran 1320 H.)

‘Ali radhiayyallahu ‘anhu kemudian menitipkannya kepada al-Husain, putranya. Demikianlah seterusnya, setiap imam memperlihatkan sebagian “warisan” itu sesuai kebutuhan zamannya, hingga akhirnya mata rantai keimamahan itu berakhir pada sang imam yang dinanti (al-Muntazhar).( Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal: Ja’far al-Subhany. Dar al-Mizan Beirut. Cetakan pertama 1990 M )

Dengan demikian, pengetahuan tentang keshahihan dan kelemahan sebuah hadits –dalam pandangan Syiah Imamiyah- harus melalui jalur para imam yang ma’shum. Al-Sunnah al-Nabawiyah –bagaimanapun juga- membutuhkan imam yang ma’shum untuk menjelaskan mana yang shahih, dan menyingkirkan yang palsu.( Lu’lu’ah al-Bahrain fi al-Ijazat wa Tarajum Rijal al-Hadits: Yusuf ibn Ahmad al-Bahrany (w. 118 6H). Tahqiq: Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum. Dar al-Adhwa’ Beirut. Cetakan kedua 1986 M. )

Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan,

“Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)

Sikap Syiah Imamiyah Terhadap Teks-teks Hadits Mereka

Sikap para ulama Syiah dalam memandang dan menyikapi teks-teks hadits mereka sendiri :

Al-Ushuliyyun adalah mereka yang memandang perlunya ijtihad, dan bahwa landasan hukum itu terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ dan dalil ‘aqli.Mereka juga meyakini bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam keempat kitab pegangan itu, sanadnya ada yang shahih, hasan, dan dha’if. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian terhadap sanadnya pada saat akan diamalkan atau dijadikan landasan hukum.

Tokoh-tokoh ini antara lain adalah: al-Thusy (w. 460 H), penulis al-Istibshar, al-Murtadha yang dianggap menyusun Nahj al-Balaghah, Muhsin al-Hakim, al-Khu’iy dan al-Khumainy (Khomeni).

Awal Munculnya Pembagian Derajat Hadits dan Perhatian Terhadap Sanad di Kalangan Syiah

Pandangan kelompok ­al-Ushuliyyun kemudian menyebabkan lahirnya ide pembagian hadits menjadi shahih, hasan, muwatstaq, dan dha’if di kalangan SyiahUlama Syiah pertama yang mengeluarkan ide ini adalah Ibnu al-Muthahhir al-Huliyy (w. 726H).( Tarikh al-Imamiyah wa Aslafihim min al-Syi’ah: DR. Abdullah Fayyadh. Mu’assasah al-A’lamy li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan ketiga 1986 M.)

KRITIK SANAD DAN MATAN MENURUT SYIAH IMAMIYAH

Sebagaimana juga Ahl al-Sunnah, Syiah Imamiyah juga memiliki metode kritik sanad dan matan yang khas, meskipun dalam beberapa bagian nampak sama dengan metode kritik sanad dan matan yang dianut oleh Ahl al-Sunnah.

Metode Kritik Sanad Syiah Imamiyah

Dalam hal ini yang akan dipaparkan adalah klasifikasi perawi, kajian al-rijal, serta kajian seputar persambungan dan perputusan sebuah sanad dalam sudut pandang Syiah Imamiyah.

Klasifikasi Perawi di Kalangan Imamiyah

Adapun terkait dengan klasifikasi perawi sebuah hadits yang dapat diterima, dalam pandangan Syiah Imamiyah dapat dikatakan hampir sama dengan klasifikasi yang selama ini dikenal dan dipegangi oleh para ulama hadits Ahl al-Sunnah. Diantara klasifikasi seorang perawi yang maqbul menurut mereka adalah:

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. ‘Adil
  5. Dhabith
  6. Sebagian besar ulama Imamiyah menambahkan syarat “iman”.

Yang dimaksud “iman” di sini adalah bahwa seorang perawi haruslah seorang penganut madzhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah ( Ushul Fiqih: Muhammad Ridha al-Muzhaffar. Dar al-Nu’man, Nejef. Cetakan kedua 1967 M)

Bahkan tidak hanya sekedar penganut madzhab Imamiyah, sang perawi haruslah menerima riwayat itu dari para imam. Al-Thusy mengatakan,

“Setelah diteliti dengan cermat, jelaslah bahwa tidak semua riwayat yang diriwayatkan oleh seorang ‘imamiyah’ dapat diamalkan secara mutlak. (Sebab yang boleh diamalkan) hanyalah riwayat-riwayat yang diriwayatkan dari para imam –alaihissalam- dan dituliskan oleh murid-muridnya.”( Ushul al-Kafy wa Furu’uh: Muhammad ibn Ya’qub al-Kulainy (w. 329 H). Dar al-Adhwa’, Beirut. Cetakan pertama 1399 H )

Karena itu, jika seorang penganut Imamiyah meriwayatkan hadits dari salah seorang Ahl al-Bait yang tidak termasuk dalam kategori imam, maka haditsnya pun tidak dapat diamalkan. Dengan kata lain, tidak semua Ahl al-Bait dapat dijadikan sebagai jalur periwayatan, sebab tidak semua dari mereka itu berstatus sebagai imam. Itulah sebabnya, riwayat yang disampaikan oleh keturunan Fathimah r.a melalui al-Hasan r.a –misalnya- tidak dapat diterima. Bahkan yang melalui jalur al-Husain r.a sekalipun. Al-Thusy –misalnya- menolak riwayat Zaid ibn Ali Zain al-‘Abidin.( Ushul Madzhab al-Syi’ah al-Imamiyah al-Itsnay ‘Asyariyah: DR. Nashir ibn Abdillah ibn Ali al-Qifary. Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Su’ud al-Islamiyah. Cetakan pertama 1993 M.)

Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ? Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:

  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan, “Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (sunni) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”

Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyah sesuai dengan syarat tersebut di atas.

Satu hal penting lain yang juga perlu disebutkan secara singkat di sini adalah sebab-sebab penetapan al-jarh terhadap seorang perawi. Seperti Ahl al-Sunnah, sebab-sebab al-jarh Syiah Imamiyah diantaranya adalah:

  1. Akidah yang batil. Tentu yang dimaksud adalah jika sang perawi bukanlah pengikut Imamiyah.
  2. Cacatnya ke’adalahan perawi, seperti jika ia melakukan dosa besar dan terus-menerus melakukan dosa kecil.
  3. Hafalan yang buruk.
  4. Jika seorang perawi banyak meriwayatkan dari perawi-perawi yang dhu’afa dan majhulun.
  5. Jika perawi itu berasal dari kalangan Bani Umayyah, kecuali jika ia seorang pengikut Imamiyah.

Kajian ‘al-Rijal’ di Kalangan Imamiyah

Harus diakui bahwa para ulama Imamiyah juga memiliki upaya untuk menjelaskan kondisi semua perawi yang terdapat dalam berbagai referensi hadits mereka dari sisi ketsiqahan dan kedha’ifannya. Kalangan Imamiyah mengaku bahwa awal penyusunan referensi dalam bidang ini di kalangan mereka telah dimulai pada abad 2 H. Mereka beranggapan bahwa kitab ‘Ubaidullah ibn Abi Rafi’sebagai karya pertama mereka dalam bidang ini.

Penulisan ilmu ini menurut mereka terus berlanjut hingga abad 4 H. Karya-karya itulah yang kemudian menjadi rujukan penting mereka selanjutnya. Diantaranya:

  1. Rijal al-Kisysyi, karya Muhammad ibn Umar yang lebih dikenal dengan al-Kisysyi (w. 340H). Ia hidup semasa dengan al-Kulainy (w. 329H), dan termasuk tokoh tsiqah penting di kalangan mereka.
  2. Fihris al-Najasyi, karya Abu al-Abbas Ahmad ibn ‘Ali ibn al-Abbas yang lebih dikenal dengan al-Najasyi (w. 450H)

3. Rijal Ibn al-Ghadhairy, karya Ahmad ibn al-Husain al-Ghadhairy (w. 412). Judul buku ini sebenarnya adalah Kitab al-Dhu’afa’. Isinya memuat perawi-perawi dha’if. Penulisnya bahkan mendha’ifkan banyak ulama dan perawi Imamiyah dengan alasan sikap ghuluw yang ada pada diri mereka. Tidak mengherankan jika kemudian ulama Syiah berbeda pendapat tentang validitas penisbatan buku ini pada Ibn al-Dhafairy setelah mereka sepakat bahwa ia adalah seorang yang tsiqah dalam pandangan mereka. Belakangan, Ja’far al-Subhany membenarkan penisbatan kitab ini kepada Ibn al-Dhafairy. Namunjarh dan tadh’ifnya tidak dapat diterima, dengan alasan kesimpulannya tidak didasarkan pada persaksian dan riwayat, melainkan hanya didasarkan pada ijtihad pribadinya

Masih ada karya lain dalam bidang ini di kalangan Syiah. Namun karya-karya itu dianggap sebagai sumber sekunder. Namun ada satu hal yang penting untuk dicatat, bahwa masih banyak perawi majhul tersebar dalam sanad-sanad referensi Syiah, terutama Ushul al-Kafi karya al-Kulainy.

Al-Bahrany (w. 1186H) –salah seorang ulama Imamiyah- mengakui bahwa jika semua aturan al-jarh wa al-ta’dil diterapkan pada sanad-sanad yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits mereka, maka itu akan membatalkan banyak sekali hadits-haditsnya.

Di dalam  Mazhab   Syi’ah   Imamiyah   Itsna   Asyariah ( mazhab   resmi    Iran ), ada  4  kitab   hadis :

a.   Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb :

5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif..

Sangat  sangat   banyak hadis  dhaif dalam Kitab  Al Kafi  ( lebih  separuh  kitab  ini  hadisnya  dha’if )

b. Kitab  hadis   Man la   yahdarul   fiqh  ( 6000  hadis ) …

c. Kitab  hadis   Tazhibul  Ahkam ( 13590  hadis)..

d.   Kitab  hadis  Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar ( 5511 hadis )

Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjah dan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.

Tetapi jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak dapat diterima. Ini disebabkan oleh:

Keyakinan Syiah Imamiyah bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.

Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushulyang ada pada mereka.

Metode tashhih dan tadh’if yang kemudian digagas oleh al-‘Allamah al-Huliyy jika diterapkan pada hadits-hadits Syiah akan ‘membabat habis’ kebanyakan hadits mereka, dan hanya menyisakan sedikit saja. Ini diakui oleh Syekh Yusuf al-Bahrany, salah seorang ulama mereka.

Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb : 5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif..

Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul.

Metode Kritik Matan Syiah Imamiyah

Secara umum, dalam hal ini, Syiah Imamiyah melakukan kritik matan dengan 4 cara –yang juga sebenarnya diakui dan digunakan oleh Ahl al-Sunnah-, yaitu:

  1. Menimbang matan hadits dengan al-Qur’an
  2. Menimbangnya dengan al-Sunnah
  3. Menimbangnya dengan ijma’
  4. Menimbangnya dengan akal sehat.

Hal itu akan dijelaskan sebagaimana berikut.

Pertama, menimbangnya matan hadits kepada al-Qur’an.

Para imam Syiah telah menyatakan kewajiban memaparkan hadits-hadits yang diriwayatkan dari mereka kepada al-Qur’an. Maka yang sesuai dengan al-Qur’an, itulah yang benar. Namun jika hadits itu menyelisihi al-Qur’an, maka ia tidak bisa dijadikan pegangan. Imam al-Ridha mengatakan,

“…Maka janganlah kalian menerima (riwayat) dari kami yang menyelisihi al-Qur’an. Sebab jika kami menyampaikan sesuatu pada kalian, kami tidak menyampaikan kecuali yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah…Maka jika datang kepada kalian orang yang menyampaikan hadits yang menyelisihi itu, maka tolaklah! Sebab setiap perkataan dari kami itu akan disertai dengan hakikat dan cahaya, dan sesuatu yang tidak ada hakikat dan cahayanya, maka itu adalah perkataan syetan.”(58)

Ulama Syiah terdahulu, tidak meyakini tahrif  Al Quran, misalnya : Mereka adalah Ibnu Babawaih al-Qummy (w. 382H), al-Syarif al-Murtadha (w. 436H), al-Thusy (w. 460H), dan al-Fadhl ibn al-Hasan al-Thibrisy (w. 548H).

Dan menurut DR. Nashir al-Qifary, sebagian besar ulama dan pemikir Syiah Imamiyah kontemporer telah mulai meyakini ‘sterilitas’ al-Qur’an dari berbagai tahrif dan bahwa ia adalah sumber tasyri’ pertama. Salah satunya misalnya yang ditunjukkan oleh Sayyid Murtadha al-Radhawy dalam bukunyaal-Burhan ‘ala ‘Adam Tahrif al-Qur’an.

Buku ini justru berusaha melekatkan tuduhan tahrif ini melalui jalur Ahl al-Sunnah. Yaitu bahwa Ahl al-Sunnah-lah yang mengada-ada terhadap Syiah dalam hal ini.

Kedua, menimbangnya dengan al-Sunnah.

Syiah Imamiyah memandang bahwa al-Sunnah merupakan sumber tasyri’ kedua setelah Kitabullah, dan hal ini disepakati oleh semua kaum muslimin. Bahwa definisi al-Sunnah menurut Syiah adalah perkataan, perbuatan dan penetapan al-ma’shum.

Ketiga, menimbangnya dengan ijma’.

Syiah –sebagaimana juga Ahl al-Sunnah- memandang ijma’ sebagai salah satu sumber tasyri’ dalam Islam. Hanya saja, terminologi ijma’ dalam pandangan mereka berbeda dengan terminologi ijma’ menurut Ahl al-Sunnah. Ibn al-Muthahhir al-Huliyy mendefinisikan ijma’ menurut Syiah dengan mengatakan,

“Ijma’ itu hanya menjadi hujjah bagi kita jika ia mencakupi perkataan sang (imam) yang ma’shum. Maka jama’ah apapun, sedikit atau banyak, jika perkataan imam termasuk dalam perkataan mereka, maka ijma’nya menjadi hujjah karenanya (perkataan imam –pen), bukan karena kesepakatan mereka.”

Keempat, menimbangnya dengan akal.

Secara umum, Syiah Imamiyah juga mengakui akal sebagai sumber tasyri’ keempat. Dan yang dimaksud dengan akal di sini adalah “hukum-hukum yang digali sendiri oleh akal”, seperti keharusan menolak semua kemudharatan, dan menghukumi jahatnya memberikan hukuman tanpa penjelasan.


Melalui kajian singkat ini setidaknya kita dapat melihat –meskipun tidak secara terperinci- bahwa secara garis besar memang ada persamaan antara Ahl al-Sunnah dan Syiah Imamiyah secara khusus dalam proses melakukan kritik terhadap sanad dan matan.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s