Hadis hadis Syi’ah Banyak Mengandung Sains Iptek, beda dengan hadis sunni.. Jabir bin Hayyan ( bapak ilmu kimia dunia ) adalah murid Imam Ja’far Shadiq !

 Jabir bin Hayyan ( bapak ilmu kimia dunia ) adalah murid Imam Ja’far Shadiq !
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman ini

Abu Musa Jabir bin Hayyan

Abu Musa Jabir bin Hayyan, atau dikenal dengan nama Geber di dunia Barat, diperkirakan lahir di Kuffah, Irak pada tahun 750 dan wafat pada tahun 803. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, di masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap.

Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

 Buku

Karya Jabir antara lain:

Hadis hadis Syi’ah Banyak Mengandung  Sains Iptek, beda dengan hadis sunni.
.
Jabir bin Hayyan ( bapak ilmu kimia dunia ) adalah murid Imam Ja’far Shadiq !

Jauh sebelum berkembang pesat seperti sekarang, ilmu kimia telah dikenal luas masyarakat abad pertengahan. Saat itulah awal mula cabang ilmu eksakta ini ada. Tapi, tahukah Anda siapa penemu dan pengembang ilmu kimia ini? Adalah Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tersebut.

Lahir di pusat peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai ‘syuhada’ demi penyebaran ajaran Syi’ah. Jabir kecil menerima pendidikannya dari imam terkenal, Imam Ja’far Shadiq as. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.

Ditemukannya kimia oleh Hayyan ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. “Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia,” tulis sejarawan Barat, Philip K. Hitti, dalam History of The Arabs.

Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani.

Adalah menjadi kebiasaannya mengakhiri uraian suatu eksperimen dengan menuliskan:

“Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.”

Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

Jabir ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua ‘technique’ kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.

Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.

Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadu’ dan berkepribadian mengagumkan. “Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar,” tulis Robert Briffault.

Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.

Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai ‘Bapak Ilmu Kimia Modern’ oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karya-karya Jabir Ibn Hayyan.

Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.

Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah (Rongga Dada Kearifan).

Seluruh karya Jabir ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul Summa Perfectionis.

Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: “Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap.

Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur.”

Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:

  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida,
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan,
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.

Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas ‘berterima kasih’ padanya.

Pangeran dan Filsuf
Di abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia –termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester tahun 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Buku kedua (Kitab Al-Sab’een), diterjemahkan juga oleh Gerard Cremona.

Berikutnya di tahun 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). “Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia,” tulis George Sarton.

Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak ki mia modern. Ahli kimia Mus lim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan pang gilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad se be lum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844) mencetuskan teori mo lekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M – 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man
(manusia yang mencerahkan).Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.Itulah sebabnya, ahli sejarah Barat, Philip K Hitti dalam History of the Arabs berujar, ‘’Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab juga memberikan sumbangan yang begitu besar di bidang kimia.’‘ Penyataan Hitti itu merupakan sebuah pengakuan Barat terhadap pencapaian yang telah ditorehkan umat Islam di era keemasan.

Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia. Kebanyakan literatur menulis bahwa Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.

Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.

Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.

Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.

Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja’far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.

Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia mendasari eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. ‘’Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar
mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam.’‘ Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.

Setelah sempat berkarier di Damas – kus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.

Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa Jabir-lah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengapli kasi kan pengetahuan me ngenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Ter nyata, Jabir jugalah yang kali pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.

Adalah Jabir pula yang pertama kali mencatat tentang pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.

Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, peng uapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan
kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknikteknik kimia modern.

Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah

.

Disertasi untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 6 Februari 2009 yang berjudul “Hadis-Hadis tentang Ilmu dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Khulaini”

Posted on Desember 26, 2010 by syiahali | Sunting

Muhammad Alfatih Suryadilaga, M. Ag., (35 tahun) mengatakan, hakekat ilmu itu adanya perpaduan agama dan akal. Saat Tradisi Syi’ah berlangsung, kedua potensi ini dikembangkan bersama-sama secara baik, sehingga Islam bisa mencapai masa keemasannya. Realitas eksternal dan mistik internal pada masa tradisi syi’ah dipadukan secara serasi hingga melahirkan berbagai pakar dan hasil hasil teknologi yang bisa digunakan masyarakat dunia

.

Ketika umat Islam berupaya menjadikan realitas ke abstrak yang ditandai dengan munculnya tasawuf, kemajuan peradaban Islam yang baru mulai beranjak kala itu menjadi surut. Umat Islam yang diwakili dunia timur semakin tertinggal jauh di kancah internasional dari sisi keilmuan. Bangsa-bangsa barat yang mengadopsi rintisan keilmuan para pengikut mahdzab syi’ah semakin berkibar

.

Sehingga perlu disadari bahwa nilai-nilai Islam hendaknya mengedepankan akal sebagai upaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mendukung posisinya sebagai khalifah. Perlu pula dipahami bahwa dangkal/dalamnya keimanan tidak hanya bisa dicapai lewat jalan tasawuf. Tetapi juga lewat penguasaan ilmu pengetahuan. Karena keimanan yang diyakini atas dasar keilmuan akan dapat lestari. Pengakuan keimanan yang tidak didasarkan penguasaan keilmuan akan mudah goyah dan terjerumus kearah kekhufuran. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga ini, saat mempresentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama, Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Jum’at, 6 Februari 2009.

Disertasi yang berjudul “Hadis-Hadis tentang Ilmu dalam Kitab Al-Kafi karya Al-Khulaini” dipertahankan di hadapan Promotor Prof. Dr. H. Machasin, MA., Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA., dan tim penguji antara lain: Dr. Suryadi, M. Ag., Prof. Dr. Koento Wibisono, Dr. Zaenal Abidin Bangir, MA., dan Dr. Phil Sahiron, MA. Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. H. Sukamto, MA. Lebih lanjut putra kelahiran Lamongan ini memaparkan, untuk menggugah umat Islam agar gigih mencari dan menguasai ilmu, ia melakukan analisis terhadap hadis-hadis tentang ilmu dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini yang berjumlah 16.000 hadis. Menurut Alfatih kumpulan hadis dalam kitab al-Kafi berasal dari para imam dan nabi. Keyakinan ini didasarkan biografi al-Kulaini hasil penelusuran promovendus. Diketatui al-Kulaini adalah ulama syi’ah kelahiran Rayy, Iran yang diakui kebesarannya oleh mahdzab  syi’ah

.

Ia termasuk generasi ahli hadis  dan berhasil menyusun kitab hadis al-Kafi dalam kurun waktu 20 tahun. Kitab ini menjadi pegangan mahdzab syi’ah. Untuk menghasilkan pemahaman baru tentang ilmu dari kitab al-Kafi, promovendus melakukan analisis dengan teori hermeneutika gadamer melalui pendekatan sejarah, filsafat, ilmu epistimologi, dan sintesis

.

Dari hasil-hasil penelusurannya terhadap hadis-hadis dalam kitab al-Kafi Bapak 2 (dua) putera dari Dwi Rina Khusniwati, S.S. ini, berhasil mengungkap pemahaman bahwa kesempurnaan agama seseorang adalah dari ilmu dan pengamalannya. Sehingga mencari ilmu diwajibkan atas semua manusia yang beragama. Pentingnya manusia mencari ilmu dengan akalnya, ditegaskan pula dalam hadis al-Kafi, bahwa ketika Allah menciptakan akal, Dia berfirman: “Tidak ada makhluk yang paling dicintai melebihi akal”

.

Menurut Alfatih, dengan akal yang dimiliki manusia, Allah membuktikan kesempurnaan manusia dibandingkan makhluk lain. Melalui akal manusia, Allah juga bisa menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala. Maka melalui akalnya, manusia diwajibkan untuk terus mencari ilmu dan mengamalkannya sehingga manusia memperoleh kebahagiaan dan pahala. Tapi dibalik itu, kata Alfatih, bila akal tidak dipergunakan dengan baik ia akan memperoleh kesesatan. Pentingnya manusia terus mencari dan menguasai ilmu ditegaskan pula dalam hadis-hadis yang mengupas tentang esensi akal. Ditandaskan, akal adalah ciptaan Tuhan yang pertama yang merupakan esensi manusia sebagai mikrocosmos (replika khalifah Tuhan di alam ciptaanNya). Ketika penugasan Adam di bumi, Allah juga meminta Adam untuk memilih satu diantara akal, iman, dan moral melalui Jibril. Kala itu Adam memilih akal. Iman dan moral diminta kembali ke surga. Tetapi moral dan iman bersikukuh untuk turut serta menyertai Adam. Sehingga bisa dipastikan, manusia sebagai keturunan Adam bisa memperjuangkan bersatunya ketiganya (akal,iman, dan moral) untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sementara itu dijelaskan pula dalam kitab al-Kafi, bahwa sumber-sumber ilmu selain akal adalah wahyu (al-Quran), kenabian dan keimanan (ilmu diperoleh dari para nabi melalui alim ulama yang merupakan pewaris para nabi

.

ilmu juga harus mengakui tiga prinsip utama penegasan: 1. Tuhan (Tauhid), 2. Kiamat, 3. Hakikat nabi sebagai utusan Tuhan). Sumber ilmu yang lain adalah alam semesta. Ditegaskan pula sifat ilmu dalam 2 kategori: 1. Ilmu dari Allah yang diperoleh melalui perantaraNya bersifat langsung dan absolut., 2. Ilmu yang diperoleh melalui penelaahan alam semesta bersifat relatif, karena alam mempunyai permulaan dan masa akhir. Dari paparan hasil disertasinya, Muhammad Alfatih Suryadilaga menegaskan, behwa wujud ketaatan manusia kepada Sang Pencipta, tidak hanya bisa dilakukan melalui ibadah ritual, ibadah sosial, dan menjauhi larangan Allah, namun juga melalui perjuangan mencari dan menguasai ilmu pengetahuan

.

Oleh tim penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’ dan dirinya merupakan doktor ke-209 yang telah berhasil diluluskan PPs UIN Sunan Kalijaga.

I. Pendahuluan

Kerasulan Nabi Muhammad saw. merupakan  upaya Tuhan dalam melaksanakan misi agama Islam dan sekaligus menjelaskan firman-Nya dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dari pribadinya muncul berbagai mutiara yang amat berhaga bagi perkembangan Islam yakni sunah dan atau hadis. Keberadaan hadis berkembang luas di dunia Islam dan tidak hanya menyebar di daerah Hijaz saja melainkan ke berbagai wilayah kekuasaan Islam yang telah meluas. Dari sini, menimbulkan berbagai kecenderungan dan keragaman atas sunnah dan hadis. Ada yang menjadi suatu tradisi dan bahkan ada yang hilang di telan zaman.  Terlebih jika dikaitkan dengan masalah kepercayaan atas ideologi tertentu, seperti  Syi’ah.

Sebagai salah satu aliran dalam Islam yang jumlahnya  sepuluh persen dari jumlah keseluruhan umat Islam  di dunia,  Syi’ah memiliki pemikiran yang berbeda dengan aliran lainnya. Ia identik dengan konsep kepemimpinan (imamah) yang merupakan tonggak keimanan Syi’ah.  Mereka hanya percaya bahwa jabatan Ilahiyah yang berhak menggantikan Nabi baik dalam masalah keduniaan maupun keagamaan hanyalah dari kalangan ahl al-bait. Keyakinan tersebut mewarnai kekhasan Syi’ah di samping adanya konsep lain seperti ismah dan mahdi.

Kajian atas hadis-hadis di kalangan Sunni telah banyak dilakukan oleh para pemikir hadis. Sementara dalam khazanah yang sama di dalam tradisi Syi’ah juga dikenal berbagai kitab hadis yang disusun dengan berbagai epistemologinya. Paling tidak di kalangan Syi’ah terdapat empat kitab pokok pegangan dan salah satunya yang sedang dibahas yakni al-Kafi.

Makalah ini akan berupaya meyorot kitab hadis al-Kafi  dengan pembahasan tentang anatomi kitab secara utuh dan berbagai respon umat Islam atas kelahiran kitab tersebut. Namun sebelum membahas hal tersebut, kajian ini akan membahas berbagai latar dan setting historis penulis dan situasi kelahiran kitab al-Kafi . Upaya tersebut sangat diperlukan untuk memberikan analisis yang memadai dan lebih komprehensif.
II. Sketsa Historis: Pengarang dan Kelahiran Kitab

Diskursus hadis dalam ilmu keislaman telah berkembang luas seiring dengan dirasa pentingnya pentadwinan (kodifikasi)  dan pelestarian hadis dari upaya pemalsuan.  Dalam sejarahnya, studi hadis memunculkan berbagai kegiatan ulama dalam pencarian epistemologi ilmu hadis dan beberapa kaidah kesahihan dalam menilai suatu hadis.  Diawali sejak kelahiran sampai abad ke-14 H., studi hadis mengalami berbagai  dinamika pasang surut.

Masa Rasulullah saw. merupakan masa pewahyuan dan pembentukan masyarakat Islam (as}r al-wahyi wa al-takwin).  Di dalamnya, hadis-hadis diwahyukan oleh Nabi Muhammad saw. yang terdiri atas perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi Muhammad saw. dalam membina masyarakat Islam. Keberadaan hadis terus dijaga oleh sahabat, orang yang dekat dengan Nabi Muhammad saw. dengan cara menyedikitkan periwayatan dan pemateriannya. Oleh karena itu, masa tersebut dikenal dengan as}r al-tas|abut wa iqlal min al-riwayah.

Waktu terus berjalan sampai akhirnya abad ke-3 sampai abad ke-5 H., hadis-hadis Nabi Muhammad saw. terbukukan dalam berbagai kitab hadis dengan berbagai metode penulisannya.  Oleh karena itu, ulama pada abad-abad tersebut disebut dengan ulama mutaqaddimin karena telah berusaha mencari hadis ke berbagai daerah dan membukukannya.

Sementara di kalangan Syi’ah didapatkan kenyataan lain, permasalahan penulisan hadis tidak menjadi suatu problem yang serius. Kitab hadis pertama adalah Kitab Ali ibn Abi Talib yang di dalamnya memuat hadis-hadis yang diimla’kan langsung dari Rasulullah saw. tentang halal haram dan sebagainya. Kemudian dibukukan oleh Abu Rafi’ al-Qubti al-Syi’i dalam kitab al-sunan, al-ahkam dan al-qad}aya.

Ulama sesudahnya akhirnya membukukannya ke berbagai macam kitab.  Salah satunya adalah al-Kafi fi ilm al-Din yang di kalangan Syi’ah merupakan kitab pegangan utama di kalangan mazhab Syi’ah. Setidaknya terdapat empat kitab pokok yang beredar dalam mazhab ahl al-bait. Keempat kitab hadis tersebut adalah al-Kafi , man la yahduruh al-faqi>h, tahzi>b al-ah}ka>m, dan al-istibs}ar fi ma ukhtulifa min Akhbar.

Al-Kafi dikarang oleh S|iqat al-Islam, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub bin Ishaq al-Kulaini al-Razi.  Beliau dilahirkan di sebuah dusun Kulain  di Ray Iran dan oleh karenanya ia disebut dengan al-Kulaini atau al-Kulini.   Tidak banyak keterangan yang didapat dari berbagai buku sejarah mengenai kapan pengarang kitab al-Kafi  tersebut dilahirkan. Informasi yang ada hanya tentang tempat tinggal al-Kulaini selain di Iran, yaitu pernah mendiami Bagdad dan Kufah.  Selain itu, tahun kewafatannya, yaitu tahun 328 H dan atau 329 H. (939/940 M.).  al-Kulaini dikembumikan di pintu masuk Kufah.

Ayah al-Kulaini, Ya’qub bin Ishaq adalah seorang tokoh Syi’ah terkemuka dan terhormat di Ray Iran.  Masyarakat sering menyebut ayahnya dengan nama al-Salsali.   Banyak ulama yang lahir di kota ini, seperti paman al-Kulaini  ; Abu al-Hasan Ali ibn  Muhammad, Ahmad ibn  Muhammad, Oleh karena itu, tak heran kalau al-Kulaini  kecil ditempa pendidikannya di kota tersebut. Darah biru  dan kemahirannya dalam bidang agama membawanya kepada kesuksesan.

Dalam berbagai kitab diungkap bahwa pada masa kecilnya al-Kulaini  semasa dengan imam Syi’ah kedua belas al-Hasan al-Askari (w. 260 M.).   Argumen tersebut dapat diperkuat juga oleh al-Taba’taba’i atas diriwayatkan hadis dari ulama yang sezaman dengan tiga imam seperti al-Rida, al-Jawad dan al-Hadi.

Al-Kulaini juga hidup semasa dengan empat wakil imam ke dua belas (sufara’ al-arba’ah) yaitu Imam Muhammad ibn Hasan. Asumsi tersebut berdasarkan atas masa hidup mereka yang diperkirakan berusia 70 tahun sekitar tahun 330 H. Sementara umur al-Kulaini wafatnya tidak sampai pada tahun tersebut.

Masa hidup penulis kitab, al-Kulaini adalah pada masa Dinasti Buwaihiyah (945-1055 M.). Pada masa tersebut merupakan masa  paling kondusif bagi elaborasi dan standarisasi ajaran Syi’ah dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Masa-masa sebelumnya merupakan masa-masa sulit bagi Syi’ah untuk mengembangkan eksistensinya. Hal ini disebabkan oleh adanya pertikaian antara kaum Sunni dengan Syi’ah. Bahkan, untuk melacak sosok al-Kulaini dalam perjalanan hidupnya pada paruh pertama sangat sulit untuk dilakukan. Kota Ray, tempat kelahiran dan tumbuh besar di masa awal al-Kulaini> kecil porak poranda akibat pertentangan tersebut. Oleh karena itu, banyak pengikut Syi’ah yang melakukan taqiyah (menyembunyikan identitas diri) agar selamat dari kejaran kaum Sunni.

Pribadi al-Kulaini merupakan pribadi yang unggul dan banyak dipuji oleh ulama. Bahkan ulama mazhab Sunni dan Syi’ah sepakat akan kebesaran dan kemuliaan al-Kulaini. Ia merupakan pribadi yang dapat dipercaya dari segi agama dan pembicaraannya. Al-Bagawi memasukkan nama al-Kulaini sebagai mujaddid yang datang diutus oleh Allah dalam setiap tahunnya ketika mengomentari hadis tersebut.  Sementara Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa sosok al-Kulaini merupakan sosok fenomenal di mana ia adalah seorang faqih seklaigus sebagai muhaddis yang cemerlang di zamannya. Seorang yang paling serius, aktif, dan ikhlas dalam mendakwahkan Islam dan menyebarkan berbagai dimensi kebudayaan.

Dalam pada itu, Ibn al-Asir mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan salah satu pemimpin Syi’ah dan ulama’nya. Sementara Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’qub al-Razi mengatakan bahwa al-Kulaini termasuk imam mazhab ahl al-bait, paling alim dalam mazhabnya, mempunyai keutamaan dan terkenal.   Masih dalam konteks tersebut, al-Fairuz Abadi mengatakan bahwa al-Kulaini merupakan fuqaha’ Syi’ah. Muhammad Baqir al-Majlisi dan Haan al-Dimstani mengungkap bahwa al-Kulaini ulama yang dapat dipercaya dan karenanya dijuluki dengan s|iqat al-Islam.

Pujian lain juga dikemukakan oleh al-Tusi yang mengatakan bahwa sosok al-Kulaini dalam kegiatan hadis dapat dipercaya (s|iqat) dan mengetahui banyak tentang hadis. Penilaian senada juga diungkapkan oleh al-Najasyi yang mengatakan bahwa al-Kulaini adalaah  pribadi yang paling siqat dalam hadis.

Sementara di kalangan Syi’ah, sosok al-Kulaini tidak diragukan lagi kapasitasnya, ia merupakan orang yang terhormat. Di antara kitabnya yang sampai pada kita saat ini adalah al-Kafi  yang dibuat selama 20 tahun.  Al-Kulaini melakukan perjalan pengembaraan (rihlah) ilmiah untuk mendapatkan hadis ke berbagai daerah. Daerah-daerah yang pernah dikunjungi al-Kulaini> adalah irak, Damaskus, Ba’albak, dan Taflis.  Apa yang dicari al-Kulaini tidak hanya hadis saja, ia juga mencari berbagai sumber-sumber dan kodifikasi-kodifikasi hadis dari para ahli hadis sebelumnya.   Dari apa yang dilakukan, nampak bahwa hadis-hadis yang ada dalam al-Ka>fi>  merupakan sebuh usaha pengkodifikasian hadis secara besar-besaran.

Keberadaan al-Kafi  di antara kitab hadis lain al-kutub al-arbaah adalah sangat sentral. Ayatullah Ja’far Subhani melukiskannya dengan matahari dan yang lainnya sebagai bintang-bintang yang bertebaran menghiasi langit.   Bahkan, telah menjadi kesepakatan di antara ulama Syi’ah atas keutamaan kitb al-Kafi  dan berhujjah atasnya.

Sebagai sorang ahli hadis, al-Kulaini> mempunyai banyak guru dari kalangan ulama ahl al-bait  dan murid dalam kegiatan transmisi hadis. Di antara guru al-Kulaini adalah Ahmad ibn Abdullah ibn Ummiyyah, Ishaq ibn Ya’qub, al-Hasan ibn Khafif, Ahmad ibn Mihran, Muhammad ibn Yahya al-At}t}ar, dan Muhammad ibn ‘Aqil al-Kulaini.  Sedangkan murid-murid dari al-Kulain antara lain Abu al-Husain Ahmad ibn Ali ibn Said al-Kufi, Abu al-Qasim Ja’far ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Sulaiman ibn Hasan ibn al-Jahm ibn Bakr, Muhammad ibn Muhammad ibn ‘Asim al-Kulaini, dan Abu Muhammad Harun ibn Musa ibn Ahmad ibn Said ibn Said.

Karya-karya yang dihasilkan oleh al-Kulaini> adalah:

1.    Kitab Tafsir al-Ru’ya

2.    Kitab al-Rija>

3.    Kitab al-Rad ala al-Qaramitah

4.    Kitab al-Rasa’il : Rasa’il al-Aimmah alaih al-salam

5.    Al-Kafi

6.    Kitab ma Qila fi al-Aimmah alaih al-salam min al-Syi’r.

7.    Kitab al-Dawajin wa al-Rawajin

8.    Kitab al-Zayyu wa al-Tajammul

9.    Kitab al-Wasail

10.    Kitab al-Raudah

Tiga kitab terakhir dapat ditemukan dalam kitabnya al-Kafi oleh sebab itu, ulama banyak yang tidak menyebutnya sebagai kitab sendiri. Namun, Ibn Syahr Aasyub menyebutkannya secara terpisah dan karenanya tetap disebutkan sebagai karya-karya beliau sebagaimana dengan kitab lainnya.

Banyak ulama yang mengungkap kebesaran dan kemanfaatan karya al-Kulaini. seperti Syaikh Mufid dalam Kitabnya Syarh Aqa’id al-Sadiq.  Hal senada juga diungkap oleh al-Kurki dalam ijazahnya al-Qadi Syafi al-Din ‘Isa bahwa belum pernah ditemukan seorang pun yang menulis seperti penyusun al-Kafi.   Sedangkan  al-Majlisi menganggap apa yang dilakukan oleh al-Kulaini> adalah upaya sungguh-sungguh dari penulis yang handal yang dapat menghasilkan karya terakurat dan komprehensif dari golongan yang selamat (najiyyah).

Dari beberapa pujian dan sanjungan atas al-Kulaini dan kitabnya di atas menunjukkan bahwa al-Kafi  merupakan hasil terbaik yang dihasilkan oleh generasi yang terbaik. Oleh karena itu, wajar jika dikemudian hari kitab tersebut dijadikan rujukan primer di kalangan Syi’ah.
III. Al-Kafi : Isi, Sistematika dan Metode

Al-Kafi  merupakan kitab hadis yang menyuguhkan berbagai persoalan pokok agama (us}ul), cabang-cabang (furu’) dan sebagainya yang jumlahnya sekitar 16.000 hadis. kitab tersebut menjadi pegangan utama dalam mazhab Syi’ah dalam mencari hujjah keagamaan.  Bahkan di antara mereka ada yang mencukupkan atas kitab tersebut dengan tanpa melakukan ijtihad sebagaimana terjadi dikalangan ahbariyu>n.

Pengarangnya, al-Kulaini (w. 328 H./939 M.) adalah seorang ulama Syi’ah terkenal dan termasuk generasi ahli hadis ke empat.   Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun. Melihat banyaknya hadis yang dihimpun dan materi bahasannya, maka ada anggapan di kalangan Syi’ah bahwa segala persoalan keagamaan sudah dibahas di dalam kitab al-Ka>fi dan oleh karenanya ijtihad tidak diperlukan lagi. Hal tersebut sesuai dengan namanya, al-Ka>fi> identik dengan koleksi hadis-hadis tentang berbagai persoalan keagamaan.

Menurut al-Khunsari, secara keseluruhan hadis-hadis dalam al-Kafi  berjumlah 16.190 hadis. Sementara dalam hitungan al-Majlisi 16121, Agha Buzurg al-Tihrani sebanyak  15.181 dan Ali Akbar al-Gaffari: 15.176. Al-Kafi  terdiri atas delapan jilid, dua jilid pertama berisi tentang al-us}ul (pokok), lima jilid sesudahnya berbicara tentang al-furu’ (cabang-cabang) dan satu juz terakhir berbicara tentang al-rawdah. Distribusi masing-masing jilid, bab dan hadis yang berada dalam tiap jilidnya dapat dilihat dalam pembahasan berikutnya.

Secara keseluruhan distribusi hadis-hadis dalam tiap jilidnya adalah: jilid I memuat 1437 hadis, jilid II memuat 2346 hadis, jilid III memuat 2049 hadis, jilid IV memuat 2443 hadis, jilid V memuat 2200 hadis, jilid VI memuat 2727 hadis, jilid VII memuat 1704 hadis dan jilid VIII memuat 597 hadis. Dengan demikian jumlah keseluruhan hadis-hadis dalam kitab al-Kafi karya al-Kulaini sebanyak 15.503 hadis. terdapat selisih  618 hadis dan kemungkinan hadis tersebut tidak terhitung disebabkan matannya satu dan sanadnya berbilang.   Hitungan tersebut dilakukan oleh al-Majlisi, ulama yang banyak mengkaji al-Kafi karya al-Kulaini.

Pembagian tema-tema dapat dilihat dalam pembahasan di bawah ini.

Pertama, al-us}ul (8 bagian):

[1] kitab al-akl wa al-jahl (akal dan kebodohan) di dalamnya dibahas hadis-hadis tentag perbedaan teologis antara akal dan kebodohan.

[2] kitab fadl al-ilm (keutamaan ilmu), di dalamnya diuraikan tentang  metode pendekatan ilmu tradisional Islam, metode menilai kebenaran materi subyek hadis. di samping itu, dimuat pula hadis-hadis tentang gambaran hadis dari imam dan alasan-alasan menentang penggunaan opini pribadi (rasio) dan analogi.

[3] kitab al-Tawhid (kesatuan), di dalamnya dibahas berbagai persoalan tentang teologi ketuhanan.

[4] kitab al-hujjah (bukti-bukti), membahas tentang kebutuhan umat manusia akan hujjah. Hujjah ini diperoleh dari para nabi. Namun, seirig dengan wafatnya para nabi, maka keberadannya digantikan para imam mereka. Dengan demikian, hujjah di sini adalah imam.

[5] kitab al-Iman wa al-Kufr (keyakinan dan kekufuran), di dalamnya dibahas  hal-hal yang berkenaan dengan keyakinan dan pengingkaran, pilar-pilar Islam dan perbedaan  yang significant antara iman dan Islam.

[6] kitab al-Du’a (doa), doa-doa yang dicantumkan dalam bagian ini hanyalah doa-doa yang berbeda dengan doa-doa yang ada dalam salat yang sifatnya pribadi. Doa semacam itu kebanyakan dianjurka oleh para imam  mereka.

[7] kitab al-fadl al-Qur’an (keutamaan al-Qur’an) di dalamnya dibahas tentang keuntungan-keuntungan yang didapat bagi para pembaca al-Qur’an dan beeberapa teknik membacanya.

[8] kitab al-Isra’ (persahabatan) di dalamnya ditegaskan tentang hubungan dengan Tuhan di dalamnya mencakup hubungan dengan sesama manusia.

Kedua, al-furu’ (cabang-cabang), yang berisikan tentang berbagai persoalan tentang hukum Islam yang dimulai dari cara bersuci sampai masalah penegakan keadilan melalui jalur peradilan. Berikut ini cuplikan bab-bab yang dibahas dalam bagian al-furu yang dimuat dalam lima juz.

[1] kitab al-t}aha>rah, yang berisi cara bersuci

[2] kitab al-haid (menstruasi)

[3] kitab al-janaiz, berkenaan dengan pemakaman dan ahal-hal lain yang terkait dengan upacara penguburan.

[4] kitab salat yang menguraikan tentang cara-cara salat  dan salat sunnah

[5] kitab zakat

[6] kitab siyam

[7] kitab al-hajj

[8] kitab al-jihad

[9] kitab al-Maisyah (cara-cara memperoleh penghidupan)

[10] kitab munakahat (pernikahan)

[11] kitab aqiqah

[12] kitab al-t}alaq (perceraian)

[13] kitab al-‘itq wa al-tadbir wa al-khatibah, jenis-jenis budak dan cara memer-dekakannya.

[14] kitab al-sayd (perburuan)

[15] kitab al-zabaih (penyembelihan)

[16] kitab al-at’imah (makanan)

[17] kitab al-asyribah (minuman)

[18] al-ziq wa al-tajammul wa al-muru’ah (pakaian, perhisaan dan kesopanan)

[19] kitab dawajin (hewan priaraan)

[20] kitab al-wasaya (wasiat), waris  khusus

[21] kitab al-mawaris, waris yang sifatnya biasa

[22] kitab al-hudud, keadaan dan cara  menghukum .

[23] kitab al-diyat, hukum qisas dan rincian cara penebusan jika seseorang melukai secara fisik.

[24 kitab al-syahadat, kesaksian dalam kasus-kasus hukum.

[25] kitab al-qada’ wa al-ahkam, berisikan hadis-hadis tentang peraturan tingkah laku para hakim  dan syarat-syaratnya.

[26] kitab al-aiman wa al-nuzur wa al-kaffarat, berkenaan dengan hadis-hadis tentang sumpah, janji dan cara penebusan kesalahan ketika pihak kedua batal.

Ketiga, al-Rawdah: kumpulan minat keagamaan, beberapa surat dan khutbah imam. Sistemnya tidak seperti dua bagian sebelumnya. Bagian terakhir dari kitab al-Kafi  ini dimuat dalam satu jilid yakni jilid kedelapan.

Seacara terperinci jumlah hadis dan distribusinya  dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

JILID    BAGIAN/KITAB    BAB     HADIS

I    Usul/4: al-akl wa jahl s/d al-hujjah     71    1440

II    Usul/4: al-iman wa al-kufr  s/d al-usrah    258    2346

III    Furu’/5: taharah s/d zakat    313    2079

IV    Furu’/2: Syiyam s/d al-hajj    362    2190

V    Furu’/3: al-Jihad s/d al-Nikah    382    2200

VI    Furu’/9: al-Aqiqah s/d al-Dawajin    424    2665

VII    Furu’/7: al-Wasaya s/d al-Aiman     287    1708

VIII    Al-Raudah/1    1    597
Hadis-hadis tersebut di atas setelah diteliti oleh al-‘Allamah al-Hilli (w. 598 H.) dan al-Majlisi dengan menggunakan kaedah ‘Ulum al-H}adis|, maka hadis-hadis dalam al-Kafi  dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1.    5.072 hadis sahih},

2.    144 hadis hasan

3.    1.128 hadis muwassaq

4.    302 hadis qawi (kuat),

5.    9.485 hadis da’if.

Dari klasifikasi hadis di atas, nampak bahwa di kalangan mazhab Syi’ah terdapat perbedaan dengan di kalangan Sunni. Secara umum, hadis di mazhab Syi’ah terbagi atas empat macam yakni hadis s}ah}ih}, hadis hasan, hadis muwas|s|aq  dan hadis da’if.   Istilah hadis muwassaq digunakan atas periwayat yang rusak aqidahnya. Demikian juga atas istilah-istilah lain diselaraskan dengan keyakinan mereka, seperti dalam memaknai hadis s}ah}ih} yaitu hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang maksum.

Hadis-hadis yang da’if  (hadis yang tidak memeuhi kriteria dalam tiga klasifikasi sebelumnya) bukan berarti tidak dapat diamalkan. Keberadaan hadis tersebut dapat disejajarkan dengan hadis yang s}ah}ih} manakala hadis tersebut populer dan  sesuai dengan ajaran yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah  atau menurut pendapat ulama hadis tersebut dapat diamalkan.

Dari pembahasan singkat di atas, nampak bahwa terdapat pengaruh yang kuat atas tradisi-tradisi yang berkembang di lingkungan pengarang kitab. Oleh karena itu, tidak heran banyak tradis Syi’ah yang muncul dalam kitab hadis tersebut. sebagai contoh adalah masalah Haji, di dalmnya tidak hanya dibahas masalah manasik haji ke Baitullah saja melainkan memasukkan hal-hal  lain seperti ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. dan para imam mereka.

Hal yang penting diperhatikan bahwa hujjah keagamanan di kalangan Syi’ah tidak serta merta berakhir dengan kewafatan Nabi Muhammad saw. dan terus berjalan ke wakil beliau sampai imam kedua belas. Dari sinilah baru wahyu berhenti. Pada perkembangannya, semua masalah keagaaman kemudian dituangkan dalam kitab standar, termasuk di dalamnya adalah al-Ka>fi> .

Kekhasan lain yang dapat dijumpai dalam al-Kafi  adalah fenomena peringkasan sanad.   Sanad sebagai mata rantai jalur periwayat hadis dimulai dari sahabat sampai ulama hadis terkadang ditulis lengkap dan terkadang membuang sebagian sanad atau awalnya  dengan alasan atas beberapa konteks tertentu. Seperti ketika al-Kulaini telah menulis lengkap sanad pada hadis yang dikutip di atas hadis yang diringkas. Demikian juga, al-Kulaini kadang meringkas dengan sebutan dari sejumlah sahabat kita (ashabuna), dari fulan dan seterusnya. Adapun maksud tersebut tidak lain adalah sejumlah periwayat yang terkenal. Demikian juga dengan kata-kata ‘iddah (sejumlah) dan jama’ah (sekelompok) yang dapat menunjukkan upaya peringkasan sanad

Jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn al-Barqi, maka yang dimaksud adalah Ali ibn Ibrahim, Ali ibn Muhammad Abdullah Ahmad ibn Abdullah dari ayahnya dan Ali ibn al-Husain al-Sa’dabadi.

Demikian juga jika al-Kulaini menyebut sejumlah sahabat dari Sahl ibn Ziyad, maka yang dimaksud tidak lain adalah Muhammad ibn Hasan dan Muhammad ibn Aqil. Apabila al-Kulaini menyebut dari sahabat kami dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, maka maksudnya adalah Muhammad ibn Yahya, Ali ibn Musa al-Kamandani, Dawud ibn Kawrah, Ahmad ibn Idris, dan Ali ibn Ibrahim.   Mereka semua adalah periwayat yang dianggap baik dan dipercaya oleh al-Kulaini dan oleh karenanya jika telah ditulis lengkap pada hadis sebelumnya, biasanya tidak ditulis lagi dalam hadis beriutnya dengan alasan tidak memperpanjang tulisan.

Fenomena lain yang dapat dijumpai ialah keberadaan periwayat hadis  dalam al-Kafi bermacam-macam sampai para imam mereka dan periwayat lain. Jika dibandingkan nilai hadis yang dibawakan antara para pemuka hadis Syi’ah dengan selain Syi’ah berbeda derajat penilaiannya. Dengan demikian, mereka masih mengakui periwayat hadis dari kalangan lain dan menganggapnya masih dalam tataran kuat.

Demikian juga terhadap sumber hadis, adanya anggapan teologis tentang tidak terhentinya wahyu sepeninggal Rasulullah saw., maka imam-imam di mazhab Syi’ah  dapat mengluarkan hadis. Oleh karena itu, tidak heran bahwa surat-surat, khutbah  dan hal-hal lain yang disangkutpautkan dengan ajaran agama  didudukkan setara dengan hadis. Hal tersebut nampak dari apa yang dilakukan al-Kulaini yang ditampilkan dalam juz terakhir yang disebut dengan al-rawdah.
IV. Respon Umat Islam terhadap al-Kafi

Kitab hadis al-Kafi  merupakan khazanah kitab hadis yang masih terpelihara sampai saat ini dan merupakan produk ulama abad ke-3 H.  pengarangnya merupakan ulama ahli hadis generasi keempat setelah generasi pertama al-Tusi dan  al-Najasyi, kedua Syekh al-Mufid dan Ibn al-Gadari’i, ketiga al-Saduq dan Ahmad ibn Muhammad.

Banyak ulama yang menilai positif adanya kitab al-Kafi  dan sekaligus memberikan syarah penjelas atas kitab tersebut. di antara karya-karya ulama adalah:

1.    Jami’ al-Ah}adis wa al-Aqwal karya Qasim ibn Muhammad ibn Jawad ibn al-Wandi (w. 1100 H.).

2.    Al-Dur al-Mandum min Kalam al-Ma’sum karya Ali ibn Muhammad al-Hasan ibn Zaid al-Din (w. 1104 H.) masih berupa tulisan tangan, dan naskah tersebut telah disempurnakan keslaahan-kesalahannya oleh Muhammad Miskah Perguruan Tinggi Teheran.

3.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh al-Ah}adis| al-Imamiyah karya Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini (w. 11040 H.) telah dicetak di Teheran Iran.

4.    Al-Syafi karya Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini (w. 1089 H.) masih dalam bentuk naskah dan disimpan di perpustakaanMuhammad Miskah.

5.    Syarh al-Mizan karya Rafi al-Din Muhammad al-Naini (w. 1082 H.).

6.    Syarh al-Maula Sadr karya al-Syairazi (w. 1050 H.).

7.    Syarh karya Muhammad Amin al-Istirabadi al-Ahbari (w. 1032 H.).

8.    Syarh Maula Muhammad Salih al-Mazandarani (w. 1080 H.).

9.    Kasy al-Kafi karya Muhammad ibn Muhammad

10.    Mir’at al-Uqul fi Syarh al-Ahbar Alu al-Rasul karya Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi (w. 1110 H.) diterbitkan di Teheran tahun 1321 H. terdiri atas empat jilid.

11.    Hady al-Uqul fi Syarh Ahadis al-Usul karya Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn Abd al-Jabbar al-Qatifi, masih dalam bentuk naskah dan terimpan di madrasah ali….

12.    Al-Wafi karya al-Kasani (w. 11091 H.) dicetak tahun 1310 dan 1324 H. dalam tiga jilid.

Sedangkan kitab-kitab H}asyiyah  atas al-Kulaini adalah:

1.    H}asyiyah  al-Syaikh Ibrahim ibn al-Syaikh al-Qasim al-Kadimi

2.    H}a>syiyah  Abi al-Hasan al-Syarif al-Futuni al-Amili (w. 1132 H.).

3.    H}a>syiyah  al-Sayyid al-Miz Abi Talib ibn al-Mirza Bik al-Fundursaki.

4.    H}a>syiyah  al-Syaikh Ahmad ibn Ismail al-Jazairi (w. 1149 H.).

5.    H}asyiyah  al-Sayyid Badr al-Din Ahmad al-Ansari al-Amili.

6.    H}asyiyah Muhammad Amin ibn Muhammad Syarif al-Istarabadi al-Ahbari (w. 11036 H.).

7.    H}asyiyah  Muhammad Baqir ibn Muhammad Taqi al-Majlisi.

8.    H}asyiyah  Muhammad Baqir al-Damad al-Husaini

9.    H}asyiyah  Muhammad Husain ibn Yahya al-Nawri

10.    H}asyiyah  Haidar Ali ibn al-Mrza Muhammad ibn Hasan al-Syairazi.

11.    H}asyiyah  al-Maula al-Rafi’ al-Jailani.

12.    H}asyiyah  al-Sayyid Syibr ibn Muhammad ibn Sanwan al-Hawizi.

13.    H}asyiyah  al-Sayyid Nur al-Din Ali ibn Ali al-Hasan al-Mausawi al-Amili

14.    H}asyiyah  al-Syaikh Zain al-Din abi al-Hasan Ali ibn Hasan

15.    H}asyiyah  al-Syaikh Ali al-Sagir  ibn Zain al-Din ibn Muhammad ibn Husain ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

16.    H}asyiyah al-Syaikh Ali al-Kabir  ibn Muhammad al-Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani.

17.    H}asyiyah  al-Syaikh Qasim ibn Muhammad Jawad al-Kadimi (w. 1100 H.)

18.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Hasan ibn Zain al-Din al-Syahid al-Sani yang terkenal dengan al-Syaikh al-Sabt al-Amili (w. 1030 H.).

19.    H}asyiyah al-Mirza Rafi’ al-Din Muhamamd ibn Haidar al-Naini (w. 1080 H.).

20.    H}asyiyah  al-Syaikh Muhammad ibn Qasim al-Kadimi.

21.    H}asyiyah  Nizam al-Din ibn Ahmad al-Distaki.

Di samping upaya  ulama di atas, ada juga ulama yang meringkas kitab hadis tersebut seperti yang dilakukan Muhammad Ja’far ibn Muhammad Safi al-Na’isi al-Farisi (masih dalam bentuk naskah danntersimpan di perpustakaan)    dan menerjemahkan ke dalam bahasa lain seperti bahasa Parsi seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali ibn al-Haj Muhammad Hasan al-Ardkani dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Auliya’, Syaikh Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini dalam kitabnya yang berjudul al-S}afi Syarh Usul al-Kafi yang telah dicetak tahun 1308 H./1891 M. dalam dua jilid, dan Syarh Furu’ al-Kafi masih dalam bentuk tulisan tangan dan naskahnya tersimpan di perpustakaan Muhammad al-Miskah.

Di samping itu, terdapat ulama yang hanya menysrah sebagian dari hadis-hadis dalam al-Kafi seperti yang dilakukan oleh Baha’ al-Din Muhammad ibn Baqir al-Hasani al-Mukhtari al-Na’ini al-Asfahani dalam kitabnya H}asyiyah al-Faljah fi Syarh} Hadis al-Farjah dan Sayyid Hasan al-Sadr (w. 1324 H.), dalam kitabnya Hidayah al-Najdain wa Tafsil al-Jundain Risalah fi Hadis al-Kafi fi Junud al-Aql wa Junud al-Jahl.

Karya lain yang dapat ditemuan dan disandarkan kepada al-Kafi  adalah kitab dalam bentuk penyuntingan atau penelitian. Adapun kitab-kitabnya adalah:

1.    Al-Rawasyih al-Samawiyah fi Syarh Ahadis al-Imamiyah oleh al-Danad.

2.    Rumuz al-Tafasir al-Waqi’ah fi al-Kafi wa al-Raudah oleh Maula Khalil ibn al-Gazi al-Qazwini.

3.    Nizam al-Aqwal  fi Ma’rifat al-Rijal Rijal al-Kutub al-Arba’ah oleh  Nizam al-Din Muhammad ibn al-Husain al-Qarsyi al-Sawiji

4.    JaImam Syam Al-din  Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Us|man al-Z|ahabi, Mizan al-I’tidal. Jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.),’ al-Ruwat oleh al-Ardabili

5.    Risalat al-Akhbar wa al-Ijtihad fi Sihhat Ahabar al-Kafi  oleh  Muhammad Baqir ibn Muhammad Akmal al-Bahbahani.

6.    Ma’rifat Ahwal al-Iddah allaz|ina yarwi anhum al-Kulaini oleh Muhammad Baqir al-Safti (w. 1260 H.) dicetak tahun 1314 H. di Teheran.

7.    Al-Fawa’id al-Ka>syifah an Silsilah wa Asma’ fi Ba’d Asa>nid al-Ka>fi> oleh Muhammad Husain al-Taba’taba’i al-Tibrizi.

8.    Tarjamah Ali ibn Muhammad al-Mabdu’ ba’d Asanid al-Kafi oleh Mirza abi al-Ma’ali ibn al-Haj Muhammad Ibrahim ibn al-Haj Muhammad al-Kakhi al-Khurasani al-Asfahani  (w. 1315 H.).

9.    Al-Bayan fi Badi’ fi anna Muhammad ibn Isma’Islam al-Mabdu’ dih fi Asanid al-Kafi  oleh Hasan al-Sadr wafat 11 Rabiul Awal 1354 H.

10.    Rijal al-Kafi  oleh al-Sayyid Husain al-Taba’taba’i al-Burujurdi.

Kitab al-Kafi  telah mengalami beberapa kali cetak. Usul al-Kafi di cetak lima kali yakni Syiraz tahun 1278 H., Tibriz tahun 1281 H, Teheran tahun 1311 H. dalam berbagai versi 627 halaman, dan 468 halaman. Kemudian dicetak ulang tahun 1374 H. Sedangkan   Furu’ al-Kafi  dicetak di Teheran tahin 1315 H. dalam dua jilid yang terdiri masing-masing 427 dan 375 halaman. Sedangkan dalam percetakan Dar al-Kutub al-Islamiyyah dalam lima jilid.  Adapun bagian terkhir dari al-Kafi , al-Raudah dicetak di Tehran tahun 1303 H. dalam 142 halaman.

Kajian-kajian kontemporer atas kitab al-Kafi  bermunculan. Seperti pembahasan secara umum atas kitab al-Kafi  dan disandingkan dengan tiga kitab hadis lainnya yang beredar di Syi’ah dan menjadi rujukan utama ulama akhbariyun  dikaji oleh IKA Howard.  Pembahasannya hanya sekilas dan hanya sebatas mendeskripsikan tema-tema pembahasan hadis-hadis di kalangan ahl bait terutama dalam keempat kitab pokok hadis pegangan mazhab Syi’ah berikut sejarah ringkasnya.

Dari segi ulum al-hadis, ada sebuah penelitian yang menyandarkan pada al-Kafi al-Kulaini yaitu: Hasyim Makruf al-Hasani yang berjudul Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi.   Objek kajiannya hadis-hadis dalam kitab al-Kafi dengan mendudukkan dan menilai kehujjahan hadis-hadis di dalam kitab tersebut. Tidak ada pembahasan secara spoesifik terhadap isi dari kitab  al-Kafi . Demikian juga dengan yang dilakukan oleh Ayatullah Ja’far Subhani. Dalam kitab rijal al-h}adis|-nya, ia menjelaskan tentang pertimbangan hadis-hadis mazhab Syi’ah dalam  al-Kutub al-Arba’ah, al-Kafi .  Pembahasan yang dilakukan hanya sebatas mengumpulkan berbagai pendapat ulama Syi’ah dan kadang-kadang-kadang dari ulama Sunni tentang sosok kitab al-Kafi  dan pengarangnya.

Sedangkan literatur yang berdasarkan tema tertentu atas kitab al-Kafi  dijumpai dalam buku kecil setebal 164 halaman yang berjudul Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi karya Husein al-Habsyi.  Namun, yang dilakukan oleh penulis kitab yang ringkas ini hanya sebatas menghadirkan teks-teks hadis tentang akal dan menerjemahkannya serta menelaah sedikit dalam menanggapi hadis per hadis.  Dengan demikian, nampak pembahasannya disesuaikan dengan kitab asalnya dengan tanpa perubahan sedikitpun.

Dari berbagai upaya di atas, nampak bahwa keberadaan kitab al-Kafi   dalam tradisi Syi’ah amat kuat dan kokoh. Al-Ka>fi>  merupakan kitab pokok dan menjadi rujukan utama atas berbagai persoalan keagamaan yang muncul di antara masyarakat Syi’ah. bahkan pada golongan tertentu menganggap segala persoalan telah tercover di dalam kitab tersebut sebagaimnana yang digagas oleh kaum akhbariyun. Nampaknya, apa yang dilakukan kaum Syi’ah identik dengan apa yang dilakukan oleh kaum Sunni terhadap kitab hadis S}ah}ih} al-Bukhari

.
V. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kitab hadis al-Kafi  dikarang oleh seorang bermazhab Syi’ah. kitab tersebut dijadikan rujukan utama di kalangan Syi’ah di samping tiga kitab lainnya. Pengarangnya, al-Kulaini merupakan sosok yang ulet dan pengembara keilmuan dan telah menjelajahi berbagai wilayah guna mencari hadis. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam al-Kafi  terdapat 16.000 buah hadis yang disusun selama 20 tahun.

Prestasi tersebut mengungguli kitab S}ah}ih} al-Bukhari yang ditulis selama 16 tahun dan memuat sekitar 7000 hadis.  al-Kafi  merupakan kitab hadis membahas berbagai persoalan agama yang dimulai dari kitab al-as}l, al-furu’ dan al-rawdah. Keragaman materi nampak dalam karya tersebut karena tidak saja membahas masalah furu’ saja melainkan membahas masalah al-as}l dan al-rawdah yang didalamnya membahas masalah pokok-pokok agama dan minat keagamaan para imam. Kontribusi yang sangat berharga yang disumbangkan al-Kulaini adalah penghimpunan hadis dalam sebuah kitab dan prisnip biarkan hadis berbicara sendiri. Upaya tersebut berkonsekwensi jauh tentang kualitas hadis-hadis di dalam kitab al-Kafi . tidak semua hadis di dalam kitab tersebut bernilai sahih, melainkan bervariasi dan bahkan ada yang da’if

.
DAFTAR PUSTAKA
Azami, M.M. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya Terj. Ali Mustafa Ya’qub. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994.

Eliade, Mircea (Ed.), The Encyclopedia of Relkegion, Vol 6. New York: Macmillan Publishing Company, 1897.

Esposito, John L. Ensiklopedi Islam Modern, juz V. Bandung: Mizan, 2001.

Al-Gita’, As}l al-Syi’ah wa Us}uluha Kairo: Maktabah al-Arabiyah, 1957.

al-Gifari, Abd al-Rasul Abd al-Hasan. al-Kafi wa al-Kulaini.  Qum: Mu’assasah al-Nasyr al-Islami, 1416.

Glasse, Cyril. Ensiklopedi Islam Ringkas terj. Gufran A. Mas’adi. Jakarta:  Rajawali Press, 1999.

Al-Habsyi, Husein. Akal dalam Hadis-hadis al-Kafi.  Bangil: Yayasan Pesantren Islam, 1994.

Al-Hasybi, Ali Umar. Studi Analisis tentang al-Kafi dan al-Kulaini. Bangil: YAPI, t.th.

Al-Hadiy, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Abd al-Qadir ibn Abd. T}uruq takhrij al-h}adis Rasulullah saw.  Mesir: Dar al-I’tisam, t.th.

Hasani, Hasan Ma’ruf. Telaah Kritis atas Kitab Hadis Syi’ah al-Kafi, Jurnal al-Hikmah, No. 6, Juli-Oktober 1992,

Hasyim,  al-Husain Abd al-Majid. Us}ul al-H}adis| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih Mesir: Dar al-Syuruq, 1986.

Howard, IKA “al-Kutub al-Arbaah: Empat Kitab Hadis Utama Mazhab Ahl al-Bait”, dalam Jurnal Al-Huda Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, vol II, No, 4, 2001

Ibn Khaldun, Muqddimah. Cet. IV; Beirut: Dar al-Kurub al-Ilmiyyah, 1978.

Ismail, M. Syuhudi. Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya. Jakarta: Gema Insani Press, 1995

‘Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulum al-H}adis|. Beirut: Dar al-Fikr, 1992.

Al-Kulaini, Usul Al-Kafi al-Kulaini, ditahqiq oleh Ali Akbar al-Gifari, juz I Teheran: Da>r al-Kutub al-Islamiyyah, 1388.

Shahab, Husein. Pergeseran antara Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat: Perspektif Fiqih dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 6 Juli-Oktober 1992.

Shaukat, Jamila. “Classification of Hadith Literature”, Islamic Studies, Vol 24, No. 3, Juli-September 1985.

Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Sejarah Perkembangan Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Siddiqi, Muhammad Zubayr. “Hadith A Subject of Keen Interest” dalam Muhammad Zubayr Shiddiqi, et.al, Hadith and Sunnah Ideals and Realities. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1996.

Subhani, Ja’far Us}ul al-Hadis| wa Ahkamuh fi ‘Ilm al-Dirayah. Qum: Maktabah al-Tauhid, 1414

———-Kulliyat fi Ilm al-Rijal . Beirut: Dar al-Mizan, 1990.

Subki, Ah}mad Muh}ammad. Nazariyat al-Imamat lada al-Syi’ah Isna Asyariyah Tahlil al-Falsafi li al-Qaidah Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th.

Al-Syahrastani, al-Milal  wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s