Metodologi Kritik Hadits Dalam Pandangan Syiah Imamiyah

Awal Munculnya Pembagian Derajat Hadits dan Perhatian Terhadap Sanad di Kalangan Syiah

.

Pandangan kelompok al-Ushuliyyun kemudian menyebabkan lahirnya ide pembagian hadits menjadi shahih, hasan, muwatstaq, dan dha’if di kalangan Syiah.Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. 

 

Ulama Syi’ah yang pertama kali mencetuskan ide pembagian hadis Syi’ah adalah Sayid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus (589 H- 664 H), murid beliau meneruskan jejak langkah sang guru yaknu Syaikh Allamah Al Hilli ibn Al Muthahhar (w.726 H). Dapat dikatakan bahwa tokoh tokoh ini merupakan ulama mutaakhirin (ushuliy) yang banyak memakai akal sehat dalam beragama, jelas mereka memperbaiki kesalahan ulama mutaqaddimiin syi’ah. Dalam syi’ah pintu ijtihad selalu terbuka ! Maka muncullah beberapa jenis hadis seperti sahih, hasan, muwatstsaq, dhaif dan qawiy

.

Api kemenangan muncul ketika pada abad ke 10 H Syahid Tsani melakukan penelitian atas sanad hadis Al Kafi Kulaini lalu menyimpulkan bahwa : dalam Al Kafi terdapat 5073 hadis sahih, 114 hadis hasan, 1118 hadis muwatstsaq, 302 hadis qawiy dan 9845 hadis dhaif.

.

Pada awal abad ke 11 Putera Syahid Tsani mengeluarkan hadis hadis shahih dari empat kitab utama ( Kutub Al Atba’ah) dan menuangkannya dalam sebuah kitab berjudul : MUntaqa Al Jaman Fi Ahadits Al Shihah Wa Al Hisan

.

Dalam kitab Man La Yahdhuruh Al Faqih didapatkan bahwa jumlah riwayat yang muktabar dan shahih hanya berjumlah 1.642 hadis saja

.

Metode Kritik Matan Syiah Imamiyah
Secara umum, dalam hal ini, Syiah Imamiyah melakukan kritik matan dengan 4 cara –yang juga sebenarnya diakui dan digunakan oleh Ahl al-Sunnah-, yaitu:
  1. Menimbang matan hadits dengan al-Qur’an
  2. Menimbangnya dengan al-Sunnah
  3. Menimbangnya dengan ijma’
  4. Menimbangnya dengan akal sehat

    Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ?

    Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:

    1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
    2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
    3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.


HADIS YANG MERUGIKAN AHLUL BAIT BATAL KESHAHIHAN NYA

Pada kitab Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari pengikut Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik.Beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dari hadits tsb

Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yg disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya spt Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Dus ucapan para Imam = ucapan Nabi saw. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW

Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis

.

Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…
.

Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…

.

Keadaan dimana pengikut syi’ah dikejar kejar tentu berpengaruh terhadap kodifikasi HADiS aswaja.. Hanya sekitar 100 tokoh syiah yang luput dari pantauan rezim yang menjadi rantai sanad 6 kitab hadis aswaja… Kalau penguasa tidak kejam, bukan cuma 100 an perawi tapi mungkin bisa 1000 an….
.
Pembantaian terhadap kaum syi’ah imamiyah dengan kekejaman yang melebihi Firaun merupakan tindakan penghapusan hadis… Pemberontakan Aisyah dan Mu’awiyah merupakan tindakan penghapusan hadis… Pembantaian massal dalam tragedi Harrah oleh Yazid bin Mu’awiyah merupakan tindakan penghapusan hadis… Betapa tidak ?? Bukankah orang yang sudah syahid seperti Ammar bin YAsir dan Hujur Bin Adi tidak bisa lagi menjadi sumber rantai sanad hadis ??? Orang tidak mengkaitkan sejarah rezim dengan ilmu hadis
.
Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ?? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dll terjadi pada masa Abbasiyah bukan ???Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…
.

Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat… MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu tak terpisahkan… Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ????

Syi’ah Imamiyah Menerima Hadis Hadis Mazhab Sunni Jika : “Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama syi’ah dan Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan syi’ah”
.

Syi’ah dan Kehujahan Ucapan Keluarga Suci

.

Syi ‘ah memandang hadis-hadis dari Keluarga Suci seperti memandang hadis-hadis Nabi saw. Bagaimana hadis-hadis mereka bisa dijadikan hujah?

.

Jawab:

Syi’ah Imamiyah mengambil ucapan-ucapan mereka karena hAl-hAl berikut:

.

Pertama, Nabi saw memerintahkan kaum Muslim agar berpegang pada ucapan Keluarga Suci itu. Beliau bersabda, ” Aku tinggAlkan untuk kalian tsaqAlain(dua hAl yang berat). Yaitu Kitab Allah dan keluargaku, ahlulbaitku.”
.
Berpegang pada hadis-hadis dan ucapan-ucapan mereka merupakan pengamAlan sabda Nabi saw yang tidak bersumber kecuali dari Al-Haqq.  TsaqAlayn, ia telah berpegang pada sesuatu yang akan menyelamatkannya dari kesesatan. SebAlikl1ya, siapa yang hanya mengambil sAlah satu saja darinya, ia telah menentang Nabi saw.
.
Para Imam Syi’ah Adalah Para Washi Nabi saw. Para ulama Syi’ah sepakat bahwa para imam dua belas adalah para washi (orang yang menerima wasiat tentang kepemimpinan) Rasulullah saw. Mereka adalah para imam umat ini dan sAlah satu dari tsaqAlayn ( dua hAl yang berat) yang telah diwasiatkan Rasulullah saw di beberapa tempat. Beliau bersabda, ” Aku tinggAlkan untuk kalian TsaqAlayn, yaitu Kitab Allah dan keluargaku.”
.
Kedua, kami memandang bahwa Nabi saw memerintahkan kepada umat ini agar bersAlawat kcpada keluarga Muhammad dalam salat-salat fardu dan sunnah. Selain itu, kaum Muslim di segAla pen.juru bumi menyebut keluarga itu setelah menyebut nama Nabi saw dalam tasyahud mereka. Kaum Muslim juga bersAlawat kepada mereka seperti bersAlawat kepada Rasulullah saw. Para fukaha, kendati berselisih pendapat tentang redaksi tasyahud itu, mereka sepakat tentang wajibnya bersAlawat kepada Nabi dan keluarganya. Tentang hAl itu, Imam asy-Syifi’i berkata:
.
Hai ahlulbait Rasulullah,mencintaimu kewajiban dari Allah dalam Al-Quran yang diturunkan. Cukuplah keagungan bagi kalian siapa yang tidak bersAlawat padamu tidaklah sah salatnya.
KAlau keluarga itu tidak memiliki kedudukan dalam memberikan hidayah kepada umat ini dan keharusan mengikuti mereka, lAlu apa artinya menjadikan sAlawat kepada mereka sebagai amAlan wajib dalam tasyahud dan mengulang-ulangnya dalam seluruh salat siang dan mAlam baik fardu maupun sunnah?
.
keluarga Muhammad itu memiliki kedudukan khusus dalam urusan-urusan duniawi dan terlebih lagi dalam kepemimpinan Islam. Ucapan dan pendapat mereka adalah hujah bagi kaum Muslim. Mereka juga memiliki kedudukan sebagai rujukan utama ( Al-Marja’iyyah Al-Kubra) setelah wafat RasuluIIah saw baik dalam masAlah akidah dan syariat maupun dalam masAlah-masAlah lain.
.
Ketiga, Rasulullah saw mengibaratkan Keluarga Suci itu dengan bahtera Nuh as. Barangsiapa yang menaikinya, ia selamat. Tetapi siapa yang meninggAlkannya, ia tenggelam. Ini menunjukkan kehujahan ucapan dan perbuatan mereka.
.
Masih banyak lagi wasiat-wasiat yang berkenaan dengan keluarga itu yang dinukil dalam kitab-kitab Shahih dan Musnadl Siapa yang mau mengkajinya, silakan merujuk para sumber-sumbernya.
.
Setiap Muslim mengimani kesahihan wasiat-wasiat ini tidak meragukan kehujahan ucapan-ucapan keluarga Nabi, baik ia diberitahu tentang sumber-sumber ilmu mereka maupun tidak diberitahu. AIlah swt berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. ” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)
.
Di samping itu semua; kami tunjukkan beberapa sumber ilmu mereka sehingga menjadi jelas bahwa kehujahan ucapan mereka tidak menunjukkan bahwa mereka itu nabi atau diserahkan ke- pada urusan pensyariatan.
.
1. Mendengar dari Rasulullah saw
.
Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka.
.
Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.
.
2. Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini.
.

‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapAlnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah

.

Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.
.
Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”
.
Imam ash-Shadiq as memperkenAlkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”
.
Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang hAlAl dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”
.
3. Istinbath drin Al-Qur’an dan Sunah
.
Sumber ketiga bagi ucapan mereka adalah pemahaman dan pengkajian mereka terhadap Al-Qur’an dan sunah. Dari kcdua sumber utama ini mereka menyimpulkan segAla hAl yang khusus berkaitan dengan akidah dan syariat secara mengagumkan yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Inilah yang menjadikan mereka istimewa di tengah kaum muslim dalam hAl kesadaran, serta kedalaman ilmu dan pemahaman. Para imam fiqih di berbagai tempat tunduk kepada mereka. Sehingga Imam Abu Hanifah setelah berguru kepada Imam ash-shadiq as (selama dua tahun) mengatakan, “KAlau tidak ada dua tahun itu, tentu binasAlah an- Nu’man.” Sebab, dalam banyak hukum, mereka berdAlil dengan Al-Qur’an dan sunah. Mereka mengatakan, “Tidak ada sesuatu apa pun melainkan memiliki landasan dalam Kitab Allah dan sunah Nabi-Nya.”
.
Al-Kulaini meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari ‘Umar bin Qais dari Abu Ja’far as: Saya pemah mendengar ia berkata, “Sesungguhnya Allah swt tidak membiarkan sesuatu yang diperlukan umat melainkan Dia menurunkannya dalam Kitab-Nya dan menjelaskannya kepada Rasul-Nya, serta memberikan batasan bagi setiap sesuatu. Dia jadikan atasnya dAlil yang menunjukkannya dan menetapkan hukuman bagi siapa saja melanggar batasan itu.”
.
Al-Kulaini juga meriwayatkan hadis Melalui sanadnya dari Abu ‘Abdillah as: Saya pernah mendengar ia berkata. “Tidak ada bagi setiap sesuatu melainkan di dalamnya ada ketentuan dari Kitab dan sunah”.
.
Sunnah adalah salah satu sumber tasyri penting dalam Islam. Urgensinya semakin nyata melalui fungsi-fungsi yang dijalankannya sebagai penjelas dan penfasir al-Quran, bahkan juga sebagai penetap hukum yang independen sebagaimana al-Quran sendiri. Itulah sebabnya,di kalangan Ahl al-Sunnah, menjadi sangat penting untukmenjaga dan mengawali pewarisan al-Sunnah ini dari generasi ke generasi. Mereka misalnya- menetapkan berbagai persyaratan yang ketat agar sebuah hadits dapat diterima (dengan derajat shahih ataupunhasan). Setelah meneliti dan membuktikan keabsahan sebuah hadits secara sanad, mereka tidak cukup berhenti hingga di situ. Mereka pun merasa perlu untuk mengkaji matannya; apakah ia tidak syadz atau mansukh misalnya.
.
Demikianlah seterusnya, hingga mereka dapat menyimpulkan dan mendapatkan hadits yang dapat dijadikan sebagai hujjah.Di samping Ahl al-Sunnah sebagai salah satu kelompok Islam terbesar-, ternyata Syiah Imamiyah sebagai salah satu kelompok Syiah terbesar- juga memiliki perhatian khusus terhadap al-Sunnah. Namun mereka memiliki jalur sanad dan sumber khusus dalam menerima al-Sunnah yang berbeda dengan sanad dan sumber Ahl al-Sunnah. Ini tentu saja tidak mengherankan, sebab Syiah Imamiyah memiliki pengertian tersendiri tentang al-Sunnah. Maka perbedaan ini tidak pelak lagi kemudian memunculkan perbedaan antara Ahl al-Sunnah dengan mereka dalam persoalan keaqidahan maupun kefikihan
.
Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.
.
salah seorang pemikir Syi’ah, yaitu Ja’far al-Subhani Ja’far al-Subhani adalah merupakan salah satu ulama Syi’ah yang berkonsentrasi dalam bidang ilmu hadis dengan karyanya kitab Usul al-Hadis wa ahkamuhu fi‘Ilmi al-Dirayah dan Kitab Kulliyat fi ‘Ilmi al-Rijal, dan beliau juga merupakan maraji’ Syi’ah pada masa sekarang ini. Beliau memberikan batasan tentang otentisitas hadis menururt Syi’ah, melalui kaidah-kaidah otentisitasnya. Untuk meneliti beliau ini tentang otentisitas hadis, maka penelitian ini menggunakan pendekatan historis–eksplanatoris (eksplanatory analysis), yaitu suatu analisis yang berfungsi memberi penjelasan yang lebih mendalam dari sekedar mendeskripsikan makna sebuah teks. Sehingga memberi pemahaman mengenai, mengapa dan bagaimana pemikiran itu muncul dan apa saja sebab yang melatar belakanginya.
.
Dalam hal ini, Ja’far al-Subhani membuat kriteria kesahahihan suatu hadis. Dalam kriteria kesahihan hadisnya, Ja’far al-Subhani tidak menekankan pada sanad saja akan tetapi matnnya juga, hal ini terbukti dengan menambah kriteria harus terhindar dari syaz dan ‘illat yang kurang diperhatikan oleh ulama-ulama mutaqaddimin Syi’ah.
.
Dalam menilai suatu hadis, Ja’far al-Subhani sangat teliti dan harus melalui metode ilmu Rijal al-Hadis dan Jarh wa Ta’dil. Dengan metode ini, maka akan menghasilkan kualitas hadis yang telah diklasifikasikan olehnya, yaitu; Sahih, Hasan, Muwassaq dan Daif. Sebagai implementasinya, Ja’far al-Subhani berpandangan bahwasanya dalam kitab hadis utama Syi’ah yaitu al-Kafi, menurut kriteria yang telah ditetapkan oleh Ja’far al-Subhani bahwasanya tidak semua hadis yang termuat dalam kitab ini adalah Sahih. Berangkat dari pemahaman Ja’far al-Subhani mengenai Otentisitas hadis menurut Syi’ah ini, memberikan pandangan bahwa setiap mazhab atau golongan dalam Islam mempunyai pandangan masing-masing tentang otentisitas hadis. Sehingga melahirkan sesuatu yang spesifik dan khas.
.
Baik mengenai sumber periwayatan, jalur periwayatan, kriteria kesahihan hadis maupun mengenai perawi dan standar kualitasnya. Dalam Syi’ah sunnah atau hadis adalah perkataan, perbuatan dan persetujuan atau taqrir Nabi saw, dan para imam ma’sum yang dua belas. Sehingga sumber hadis dikalangan Syi’ah bukan hanya berasal dari Rasulullah alhadis al-nabawi, tetapi juga berasal dari dua belas Imam mereka al-hadis almalawi.
.
Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa tidak ada perbedaan antara perkataan yang diucapkan sang imam Mahdi saat ia masih kanak-kanak . Sebab, -menurut mereka- para imam itu tidak mungkin melakukan kesalahan, sengaja ataupun tidak, sepanjang hayat mereka. Itulah sebabnya, salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,Sesungguhnya keyakinan akan kemaâshuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.
.

Ini karena perkataan para imam itu adalah perkataan Allah, perintah mereka adalah perintah Allah, ketaatan pada mereka adalah ketaatan pada Allah, kedurhakaan pada mereka adalah kedurhakaan pada Allah. Mereka itu tidak mungkin berbicara kecuali dari Allah dan wahyu-Nya

.

Muhammad Ridha al-Muzhaffar salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan, Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqahaâ adalah perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi¦Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah setelah meyakini bahwa perkataan al-Maâshum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Maâshum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah âperkataan, perbuatan dan taqrir al-Maâshum.
.

Ja’far al-Subhany mengatakan,Metode-metode seperti ini adalah termasuk metode yang dapat menetapkan kesiqahâan seorang perawi tanpa perlu komentar lagi. Ini adalah metode-metode khusus yang dapat menetapkan ketsiqahâan individu tertentu. Dan ada pula metode-metode umum yang disebut dengan tautsiqat ammah yang dengannya ketsiqahan sekelompok perawi dapat ditetapkan.

.
Definisi  al- Sunnah  Menurut  Syi’ah  Imamiyah
.
Sebagaimana telah disinggung, Syiah Imamiyah memiliki batasan dan definisi tersendiri tentang Sunnah.. Intinya, Sunnah menurut mereka adalah “Perkataan, perbuatan dan taqrir dari al-Ma’shum.”  Dan al-Ma’shum dalam pandangan Syiah Imamiyah tidak hanya terbatas di kalangan para nabi dan rasul. Para imam mereka juga termasuk dalam kategori ini ( Bihar al-Anwar al-Jami’ah li Durar Akhbar al-A’immah al-Athhar: Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111 H), Mua’assasah al-Wafa’ Beirut. Cetakan kedua 1983 M )
.
Muhammad Ridha al-Muzhaffar –salah seorang ulama kontemporer Syiah- menjelaskan,
Al-Sunnah menurut kebanyakan fuqaha’ adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi”…Akan tetapi menurut (Syiah) Imamiyah –setelah meyakini bahwa perkataan al-Ma’shum dari kalangan Ahl al-Bait setingkat dengan perkataan Nabi saw sebagai sebuah hujjah yang wajib diikuti oleh para hamba- memperluas batasan al-Sunnah menjadi sesuatu yang mencakup perkataan, perbuatan dan taqrir setiap al-Ma’shum (dari Ahl al-Bait). Sehingga al-Sunnah dalam terminologi mereka adalah “perkataan, perbuatan dan taqrir al-Ma’shum.”
.
Rahasia di balik itu semua adalah karena para imam dari kalangan Ahl al-Bait tidaklah sama dengan para perawi dan ahli hadits yang meriwayatkan dari Nabi –hingga perkataan mereka baru dapat dijadikan hujjah jika mereka ‘tsiqah’ dalam periwayatannya. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya untuk menyampaikan hukum-hukum yang bersifat realita. Maka mereka tidak mungkin menetapkan hukum, kecuali jika hukum-hukum realita itu memang berasal dari Allah Ta’ala apa adanya. Dan itu semua (diperoleh) melalui jalur ilham –seperti Nabi melalui jalur wahyu-, atau melalui periwayatan (imam) ma’shum sebelumnya.
.

Berdasarkan ini, maka penjelasan mereka terhadap hukum bukan termasuk dalam kategori periwayatan al-Sunnah atau ijtihad dalam menggali sumber-sumber tasyri’, akan tetapi karena merekalah sumber hukum (tasyri’) itu sendiri. [ Da’irah al-Ma’arif al-Syi’iyyah: Hasan al-Amin. Dar al-Ta’aruf li al-Mathbu’at, Beirut. Cetakan keempat 1989 M ]

.

Penjelasan ini menunjukkan bahwa perkataan para imam yang ma’shum, baik yang diperoleh melalui jalur ilham atau jalur lainnya (dikenal dengan istilah ilmu hadits) [ Al-Fahrasat: Muhammad ibn al-Hasan al-Thusy. Al-Mathba’ah al-Haidariyah, Nejef. Cetakan kedua 1960 M), maupun yang diriwayatkan dan diwariskan dari imam ma’shum sebelumnya dari Rasulullah (ilmu mustauda’), termasuk dalam bagian al-Sunnah yang kedudukannya sederajat dengan al-Sunnah yang berasal dari Rasulullah saw.
.

salah seorang ulama kontemporer Syiah mengatakan,“Sesungguhnya keyakinan akan kema’shuman para imam telah membuat hadits-hadits yang berasal dari mereka serta-merta menjadi shahih, tanpa harus mempersyaratkan adanya persambungan sanad sampai Rasulullah saw, sebagaimana yang dipersyaratkan di kalangan Ahl al-Sunnah.”Al-Imam al-Shadiq: Muhammad Abu Zahrah. Dar al-Fikr al-‘Araby, Kairo. T.t.)

.

Mereka juga meyakini bahwa ilmu mustauda’ yang melalui jalur pewarisan dari imam ma’shum sebelumnya itu terbagi menjadi dua: (1) kitab-kitab yang mereka warisi dari Rasulullah, dan (2) ilmu yang mereka terima secara lisan dari beliau saw. (Al-I’tiqadat: Abu Ja’far Muhammad ibn Babawaih al-Qummy (w. 381 H). Cetakan Iran 1320 H.)
.
‘Ali radhiayyallahu ‘anhu kemudian menitipkannya kepada al-Husain, putranya. Demikianlah seterusnya, setiap imam memperlihatkan sebagian “warisan” itu sesuai kebutuhan zamannya, hingga akhirnya mata rantai keimamahan itu berakhir pada sang imam yang dinanti (al-Muntazhar).( Kulliyat fi ‘Ilm al-Rijal: Ja’far al-Subhany. Dar al-Mizan Beirut. Cetakan pertama 1990 M )
.
Dengan demikian, pengetahuan tentang keshahihan dan kelemahan sebuah hadits –dalam pandangan Syiah Imamiyah- harus melalui jalur para imam yang ma’shum. Al-Sunnah al-Nabawiyah –bagaimanapun juga- membutuhkan imam yang ma’shum untuk menjelaskan mana yang shahih, dan menyingkirkan yang palsu.( Lu’lu’ah al-Bahrain fi al-Ijazat wa Tarajum Rijal al-Hadits: Yusuf ibn Ahmad al-Bahrany (w. 118 6H). Tahqiq: Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum. Dar al-Adhwa’ Beirut. Cetakan kedua 1986 M. )
.
Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan,
“Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)
Sikap Syiah Imamiyah Terhadap Teks-teks Hadits Mereka
Sikap para ulama Syiah dalam memandang dan menyikapi teks-teks hadits mereka sendiri :
Al-Ushuliyyun adalah mereka yang memandang perlunya ijtihad, dan bahwa landasan hukum itu terdiri dari al-Qur’an, al-Sunnah, ijma’ dan dalil ‘aqli.Mereka juga meyakini bahwa hadits-hadits yang terdapat dalam keempat kitab pegangan itu, sanadnya ada yang shahih, hasan, dan dha’if. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian terhadap sanadnya pada saat akan diamalkan atau dijadikan landasan hukum.

Tokoh-tokoh ini antara lain adalah: al-Thusy (w. 460 H), penulis al-Istibshar, al-Murtadha yang dianggap menyusun Nahj al-Balaghah, Muhsin al-Hakim, al-Khu’iy dan al-Khumainy (Khomeni).

Mengingat bahwa kebanyakan hadis di kalangan Ahlusunnah dikumpulkan pasca masa pemerintahan Bani Umayyah lantas bagaimana Anda orang-orang Syiah memandang bahwa “Muawiyah telah mendirikan pabrik pembuatan hadis-hadis?”

.

Pertanyaan

Kalian orang-orang Syiah berpandangan bahwa “Muawiyah – yang diangkat menjabat khalifah Syam oleh Umar – telah mendirikan pabrik pembuatan hadis dan alih-alih bersandar pada seluruh sanad dan bukti-bukti yang terdapat pada al-Qur’an dan sejarah Ahlusunnah bersandar pada hadis-hadis seperti ini. Padahal ucapan Anda ini menunjukkan bahwa di samping Anda sama sekali tidak memiliki informasi tentang sejarah Islam, Anda juga tidak memiliki secuil informasi pun tentang Ushul Fikih, Ilmu Dirayah, Riwayat dan Hadis. Karena itu ada baiknya Anda ketahui bahwa kebanyakan hadis-hadis dikumpulkan dan diklasifikasikan pada masa pasca Bani Umayyah. Pemerintahan Bani Umayyah juga pada tahun 132 H telah mengalami keruntuhan sementara Bukhari (wafat 256 H) dan Imam Malik (wafat 150 H) dan yang lainnya pasca keruntuhan Bani Umayyah. Karena itu kitab-kitab hadis ditulis pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah yang naik tampuk kekuasaan dengan slogan (pembelaan) terhadap Ahlulbait

.

Jawaban Global

Seusai dengan beberapa laporan sejarah yang tidak mengandung secuil pun keraguan bahwa Umar melarang adanya penulisan hadis. Karena itu, tiada sanad tertulis di kalangan kaum Muslimin dan dari sisi lain, terdapat juga beberapa motivasi yang diperlukan untuk memalsukan pelbagai keutamaan-keutaman palsu dan mereka banyak menyediakan fasilitas harta benda untuk hal ini, pasar pembuatan hadis merajalela dan hadis-hadis juga setelah itu telah dikodifikasi berdasarkan riwayat-riwayat yang disebarkan oleh Bani Umayyah. Para penguasa Bani Abbasiyah juga meski meraih tampuk kekuasaan dengan dalih pembelaan terhadap Ahlulbait namun pada kelanjutannya arah yang ditujunya sama dengan arah yang dilalui oleh Bani Umayyah lantaran kalau tidak demikian seharusnya mereka menyerahkan pemerintahan dan kekuasaan kepada Ahlulbait dan para pengikutnya, bahkan sebagian ulama meyakini bahwa kejahatan Bani Abbasiyah jauh lebih besar ketimbang kejahatan Bani Umayyah.

.

Jawaban Detil

Menyimak beberapa poin berikut ini akan dapat membantu kita menyelesaikan persoalan yang ada:

.

1. Penulisan hadis dilarang atas perintah Umar bin Khattab [1] dan karena itu kaum Muslimin tidak memiliki sebuah sanad yang tertulis. Di samping itu, terdapat banyak motivasi di kalangan penguasa Bani Umayyah dalam menciptakan pelbagai keutamaan buatan dan mereka banyak menyediakan fasilitas untuk teralisirinya tujuan ini. Pasar hadis tumbuh berkembang dan hadis-hadis yang setelah itu mengalami kodifikasi adalah hadis-hadis yang berdasarkan riwayat-riwayat yang disebarkan oleh Bani Umayyah.

.

Ibnu Abi al-Hadid menukil dari Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abu Saif Madaini dalam kitab “Al-Ihdâts [2] bahwa Muawiyah setelah ‘Am al-Jama’ah (tahun persatuan) mengumumkan dalam sebuah surat kepada para gubernurnya bahwa ia tidak memiliki perjanjian terkait dengan siapa saya yang menyampaikan keutamaan-keutamaan Abu Turab (Baginda Ali bin Abi Thalib As) dan Ahlulbaitnya. Hingga ia berkata, “(Muawiyah) menulis kepada para gubernurnya untuk menyeru kepada masyarakat untuk menukil riwayat ihwal keutamaan Utsman, sahabat dan tiga khalifah pertama dan terkait dengan hadis yang memuji Ali As maka diajukan hadis yang bertentangan dengannya yang memuji para sahabat lainnya. Surat Muawiyah telah dibacakan kepada masyarakat, harta dibagikan untuk keperluan ini dan banyak hadis buatan yang menyebutkan keutamaan mereka diriwayatkan dan secara luas diajarkan kepada anak-anak dan putra-putra mereka dan mereka sebagaimana belajar al-Qur’an, juga belajar tentang hadis-hadis buatan tersebut. Para juris, hakim dan pemangku jabatan melanjutkan metode ini. Seburuk-buruk manusia yaitu para pembaca yang riya dan orang-orang mustadh’afin yang menyatakan zuhud dan khusyu serta membuat hadis-hadis sehingga mendapatkan kedudukan di hadapan para pemangku jabatan dan memperoleh harta melalui jalan ini sehingga riwayat-riwayat ini sampai di tangan orang-orang beragama yang memandang haram dusta dan tuduhan, lalu menerima dan meriwayatkan hadis-hadis (buatan) tersebut. Kemudian berkata, “Ibnu ‘Arafah yang dikenal dengan Nafthuyah [3] yang merupakan pembesar dan muhaddis paling pandai dalam sejarahnya, juga menukil hal-hal seperti ini. [4]

.

Dengan memperhatikan masalah-masalah seperti ini, mayoritas keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As tertutup, kendati sebagian dari keutaman tersebut tidak terjangkau oleh para musuh dan mereka tidak dapat menghalangi kaum Muslimin untuk menjangkaunya, hal ini merupakan inayahTuhan kepada wali-Nya dan agama hanif Islam. Apa yang ditunjukkan dari penyembunyian selaksa keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As adalah masalah yang dinukil Bukhari dari Abu Ishak, “Seseorang bertanya kepada Bara’a – pada waktu itu juga saya mendengarnya – : Apakah Ali hadir pada waktu perang Badar? Katanya, “Terang dan nyata.” [5] Apa engkau mengira kedudukan Amirul Mukminin pada perang Badar, tersembunyi sebagaimana pada awal-awal kemunculan Islam sehingga harus ditanyakan? Perang Badar di pundak Ali dan berkat pedangnyalah tercapai kemenangan.” Hal ini menunjukkan usaha orang-orang untuk menyembunyikan selaksa keutamaan Imam Ali yang berada pada tataran semaksimal mungkin untuk menutupinya dan apabila mereka meriwayatkannya dalam hal ini maka riwayat tersebut tidak sempurna dan menyeluruh. [6]

.

Sebagai contoh peritistiwa ini dapat dijadikan sebagai contoh, Muawiyah menyerahkan sebanyak empat ratus ribu Dirham dari Baitul Mal kepada Samra bin Jundab supaya ia berceramah di hadapan masyarakat Syam (Suriah) dan berkata kepada mereka bahwa ayat,  Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan ia mempersaksikan kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling pergi (darimu), ia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kerusakan. ” (Qs. Al-Baqarah [2]:204-205) Diturunkan berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib As dan demikian juga Samrah harus berkata bahwa ayat, “Dan di antara manusia ada orang yang rela menjual (mengurbankan) dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Qs. Al-Baqarah [2]:207) diturunkan berhubungan dengna Ibnu Muljam.” [7]

.

Dalam hal ini ada baiknya Anda, pengguna budiman, merujuk pada dua kitab [8] Mahmud Abu Rayyah yang merupakan ulama terkemuka Ahlusunnah di Universitas al-Azhar, dan menelaah dua kitab tersebut dengan baik. Beliau dalam kitab “Adhwâ’ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah menulis, “Para peneliti bersepakat bahwa permulaan penetapan hadis dilakukan pada akhir-akhir masa pemerintahan Utsman dan karena khilafah jatuh di tangan Ali As maka penetapan hadis mencapai puncaknya pada masa pemerintahan bani Umayyah.” [9]

.

Untuk telaah lebih jauh atas orang-orang yang membuat hadis, silahkan lihat, Indeks: Keperibadian Abu Hurairah dalam Pandangan Sahabat, Pertanyaan 8972 (Site: 8953)

.

2. Para penguasa Bani Abbasiyah juga meski meraih tampuk kekuasaan dengan dalih “pembelaan” terhadap Ahlulbait namun pada kelanjutannya arah yang ditujunya sama dengan arah yang dilalui oleh Bani Umayyah lantaran kalau tidak demikian seharusnya mereka menyerahkan pemerintahan dan kekuasaan kepada Ahlulbait dan para pengikutnya, bahkan sebagian ulama meyakini bahwa kejahatan Bani Abbasiyah jauh lebih besar ketimbang kejahatan Bani Umayyah. [10]

.

Akhir kata ada baiknya kita ketahui bahwa Allamah Amini Ra, dalam kitabnya Al-Ghadir, jil. 10, mengemukakan pembahasan yang menarik dan menyeluruh. Beliau menghitung kurang lebih tujuh ratus orang periwayat Ahlusunnah yang merupakan pendusta dan pembuat hadis (palsu). Dan hanya empat puluh tiga orang dari mereka telah menukil sebanyak lima ratus ribu hadis buatan. [11]

.

Di samping itu, mereka menukil kurang lebih seratus hadis palsu melalui jalur Ahlusunnah yang di dalamnya, tidak hanya khilafah dan pelbagai keutamaan para khalifah, so called, al-rasyidun, tetapi juga kedudukan mulia Muawiyah, Yazid, Manshur Dawaniqi dan para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah lainnnya mendapatkan penghormatan dan pengagungan!!! [12] [IQuest]

.

sumber :

[1] . Rincian peristiwa ini Anda dapat telaah pada Kitab al-Ghadir, jil. 6, hal. 417-428, Karya Allamah Amini atau terjemahan al-Ghadir fi al-Kitâb wa al-Sunnah wa al-Âdâb, jil. 12, hal. 192-208. Silahkan lihat software Nur al-Wilâyah, Markaz Tahqiqat Komputeri ‘Ulum Islami.

[2] Siyar A’lâm al-Nubalâ’i, 10/400. Târikh Baghdâd, 12/54, Mirât al-Jinân, 2/83, Mu’jam al-Âdâb, 14/124. Al-Kâmil fi al-Târikh, 6/516 dan sebagainya.

[3] Siyar A’lâm al-Nubalâ’i, 15/75. Juga pada Târikh Baghdâd, 6/159, Wafayât al-A’yân, 1/47, al-Muntazhim 6/277, al-Wâfi bil Wafayât, 6/130, Mu’jam al-Âdâb, 1/254 dan sebagainya.

[4] Syarh Nahj al-Balâghah Ibnu Abi al-Hadid, jil. 11, hal. 44, Software Manhaj al-Nur, Markaz Tahqiqat Komputeri ‘Ulum Islami. Terjemahan Persia al-Ghadir fi al-Kitâb wa al-Sunnah wa al-Âdâb, jil. 21, hal. 43-46. ‘Abaqât al-Anwâr fi Imâmat al-Aimmah al-Athar, jil. 12, hal. 24. Software Nur al-Wilâyah Markaz Tahqiqat.

[5] Shahih Bukhâri, jil. 3, Kitâb al-Maghâzi, Bâb Qatl Abi Jahl.   

[6] . Terjemahan Dalâil al-Shidq, jil. 1, hal. 5 & 6.

[7] Syarh Nahj al-Balâghah Ibnu Abi al-Hadid, jil. 4, hal. 72.

[8] . Silahkan lihat surat-surat pada Syaikh al-Mudhirah Abu Hurairah dan Adhwâ’ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah.

[9] Adhwâ’ ‘ala al-Sunnah al-Muhammadiyah, hal. 118-119 dan 126-135, al-Thaba’at al-Khamisah, Muassasah Mathbu’ati Ismailiyyan, Iran, tanpa tahun. Imam Muhammad Abduh dalam “Risâlah Tauhid,” hal. 7 dan 8, cetakan pertama, juga menekankan masalah ini.

[10] . Allamah Mir Hamid Husain Ra dalam hal ini berkata:

و لم یزل الأمر على ذلک سائر خلافة بنی أمیّة حتى جاءت الخلافة العباسیة، فکانت أدهى و أمرّ و أضرى و أضرّ، و ما لقیه أهل البیت علیهم السّلام و شیعتهم من دولتهم أعظم ممّا مضوا به فی الخلافة الامویة کما قیل: و اللّه ما فعلت أمیّة فیهم معشار ما فعلت بنو العباس‏ ثمّ شبّ الزمان و هرم، و الشأن مضطرب و الشنآن مضطرم، و الدهر لا یزداد إلّا عبوسا، و الأیام لا تبدی لأهل الحق إلّا بؤسا، و لا معقل للشیعة من هذه الخطّة الشنیعة فی أکثر الأعصار و معظم الأمصار إلّا الانزواء فی زوایا التقیّة، و الانطواء على الصبر بهذه البلیة ”.

Silahkan lihat al-Darajât al-Râfi’ah fi Thabaqât al-Syiah, hal. 5-8. ‘Abaqât al-Anwâr fi Imâmat al-Aimmah al-Athar, jil. 12, hal. 24. Nafahât al-Azhâr fi Khulâsha ‘Abaqât al-Anwâr, jil. 15, hal. 42-45.

[11] . Namun hal ini bukan sesuatu yang mengejutkan karena Ibnu Hajar dalam Mukaddimah Fath al-Bâri, hal. 4 mengatakan, Aba Ali Ghasani meriwayatkan dari Bukhari bahwa ia berkata, “Aku mengeluarkan riwayat ini dari kumpulan 600 Ribu hadis dan saya tahu bahwa jumlah riwayat tanpa pengulangan Shahih Bukhâri seluruhnya tidak melebihi 2761 riwayat.

[12] . Terjemahan Persia al-Ghadir fi al-Kitâb wa al-Sunnah wa al-Âdâb, jil. 10, hal. 8.

 

 

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s