Pada tanggal 9 November 2004, Raja Abdullah II bin Al-Husein dari Yordania menyerukan sikap toleransi dan persatuan di dunia Islam. Seruan ini kemudian dikenal dengan sebutan The Amman Message (رسالة عمان). Meski ditandatangani dan disahkan lebih dari 500 ulama-umara seluruh dunia dari 84 negara, poin-poin tersebut jarang diungkap dan diperkenalkan kepada masyarakat; yang terjadi adalah media bayaran terus mengungkap permusuhan, kebencian dan saling fitnah mazhab.
Di antara penandatangan dan pengesah Risalah Amman ini adalah:
- Afghanistan: Hamid Karzai (Presiden).
- Amerika Serikat: Prof. Hossein Nasr, Syekh Hamza Yusuf (Institut Zaytuna), Ingrid Mattson (ISNA)
- Arab Saudi: Raja Abdullah As-Saud, Dr. Abdul Aziz bin Utsman At-Touaijiri, Syekh Abdullah Sulaiman bin Mani’ (Dewan Ulama Senior).
- Bahrain: Raja Hamad bin Isa Al-Khalifah, Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah (Wakil Menteri Urusan Islam)
- Bosnia Herzegovina: Prof. Dr. Syekh Mustafa Ceric (Ketua Ulama dan Mufti Agung), Prof. Enes Karic (Profesor Fakultas Studi Islam)
- Mesir: Muhammad Sayid Thantawi (Mantan Syekh Al-Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung), Ahmad Al-Tayyib (Syekh Al-Azhar)
- India: Maulana Mahmood (Sekjen Jamiat Ulema-i-Hindi)
- Indonesia: Maftuh Basyuni (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (NU).
- Inggris: Dr. Hassan Shamsi Basha (Ahli Akademi Fikih Islam Internasional), Yusuf Islam, Sami Yusuf (Musisi).
- Iran: Ayatullah Ali Khamenei (Wali Amr Muslimin), Ahmadinejad (Presiden), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Mazhab Dunia), Ayatullah Fadhil Lankarani.
- Irak: Jalal Talabani (Presiden), Ayatullah Ali As-Sistani, Dr. Ahmad As-Samarai (Kepala Dewan Wakaf Suni).
- Kuwait: Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber As-Sabah.
- Lebanon: Ayatullah Husain Fadhlullah, Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Suni).
- Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman)
- Pakistan: Pervez Musharraf (Presiden), Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri (Dirjen Pusat Penelitian Islam), Muhammad Taqi Usmani.
- Palestina: Syekh Dr. Ikramah Sabri (Mufti Agung dan Imam Al-Aqsha).
- Qatar: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ali Ahmad As-Salus (Profesor Syariah Universitas Qatar).
- Sudan: Omar Hassan Al-Bashir (Presiden).
- Suriah: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung), Syekh Wahbah Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fikih), Salahuddin Ahmad Kuftaro.
- Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Darul Mustafa), Habib Ali Al-Jufri.
- Yordania: Raja Abdullah II, Pangeran Ghazi bin Muhammad (Dewan Pengawas Institut Aal Al-Bayt), Syekh Izzuddin Al-Khatib At-Tamimi (Hakim Agung), Syekh Salim Falahat (Ikhwanul Muslimin Yordania).
Beberapa tokoh di atas menandatangani dan mengesahkan poin-poin di bawah ini:
Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang
Shalawat dan salam kehadirat Nabi Muhammad dan keluarganya yang baik dan suci
- Siapapun pengikut salah satu dari empat mazhab hukum Islam suni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali), dua mazhab hukum Islam Syiah (Ja’fari dan Zaidi), mazhab hukum Islam Ibadhi serta mazhab hukum Islam Zahiri adalah seorang muslim. Menyatakan pengikut (mazhab) tersebut sebagai kafir adalah hal yang mustahil dan dilarang. Sudah pasti bahwa darah, kehormatan dan hartanya adalah terjaga. Selain itu, berdasarkan fatwa Syekh al-Azhar, adalah tidak mungkin dan tidak diperbolehkan untuk menyatakan kafir kepada penganut keyakinan Asyari atau yang mempraktikkan tasawuf dengan benar (sufi). Demikian juga, tidak mungkin dan tidak diperbolehkan untuk menyatakan kafir kepada pengikut pemikiran salafi yang sesungguhnya. Hal yang sama juga tidak mungkin dan tidak dibenarkan untuk mengkafirkan kepada kelompok muslim manapun yang meyakini Tuhan subhânahu wa ta’âlâ dan utusan-Nya shallallâhu ‘alaihi wa (âlihi wa) salâm, rukun iman, dan rukun Islam, dan yang tidak mengingkari segala prinsip utama agama.
- Terdapat lebih banyak persamaan di antara berbagai macam mazhab hukum Islam tersebut dari pada perbedaan di antara mereka. Para pengikut delapan mazhab hukum Islam sepakat dalam prinsip dasar Islam. Seluruhnya percaya kepada Allah (Tuhan) Swt. yang Mahaesa; bahwa Alquran adalah kalam Allah dan terpelihara serta terjaga oleh Allah dari segala perubahan dan penyimpangan; dan bahwa pemimpin kita Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa (âlihi wa) salâm adalah Nabi dan Rasul bagi seluruh makhluk. Semuanya sepakat dalam hal lima rukun Islam: dua kesaksian keyakinan (syahadatain); salat; zakat; berpuasa di bulan Ramadan, dan haji ke rumah suci Allah (di Mekkah). Semuanya juga sepakat dalam rukun iman: iman kepada Allah (Tuhan), malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, dan Hari Akhir, dalam Pemeliharaan Tuhan baik dan buruk (qadha dan qadr). Perbedaan pendapat di antara ulama dari delapan mazhab hukum Islam hanya dalam bidang tambahan dan cabang agama (furuk) dan beberapa hal pokok (usul) [dari agama Islam]. Perbedaan pendapat dengan penghormatan dalam hal cabang agama (furuk) adalah rahmat. Dahulu pernah dikatakan bahwa perbedaan pendapat di antara ulama “adalah sebuah rahmat”.
- Pengakuan mazhab-mazhab hukum dalam Islam berarti merujuk pada metodologi dasar dalam mengeluarkan fatwa: tidak ada yang dapat mengeluarkan sebuah fatwa tanpa syarat kualifikasi keilmuan. Tidak ada yang dapat mengeluarkan fatwa tanpa merujuk kepada metodologi mazhab hukum Islam. Tidak ada yang dapat mengklaim melakukan ijtihad tidak terbatas dan menciptakan pendapat baru atau mengeluarkan fatwa pertentangan yang dapat mengeluarkan Muslim dari prinsip dan ketentuan syariah dan apa yang telah dibangun dalam kehormatan dari mazhab tersebut.
Apa dan Siapa dalam Pembicaraan
Minggu lalu, salah seorang menteri yang kerap mendapat sorotan meng-update status Twitter-nya. “Mencintai dan dicintai itu, butuh energi,” begitu tweet-nya. Sebuah kalimat yang biasa dan bisa di-tweet oleh siapa saja. Tapi anehnya tweet tak berdosa itu justru mendapat respon bernada sinis dari beberapa orang, beberapa lagi melecehkan. Orang-orang yang merespon negatif itu bukan anak kecil lagi. Mereka yang kita anggap berpendidikan dan bekerja sebagai seorang analis pun ikut merespon tweet tersebut dengan sindiran.
Apa yang salah dengan tweet itu? Tidak ada… yang salah ada siapa. Orang-orang sinis itu tidak merespon “apa” tapi “siapa”. Jadi, meskipun menteri itu berbicara, berbuat yang baik, tetap akan mereka pandang jelek. Padahal, kita sering mendengar kalimat mutiara: “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakan.” Kalimat dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s. tersebut, meskipun nampak sederhana, ternyata memang tidak semudah yang dibayangkan untuk kita amalkan. Rasa tidak suka atau kebencian lebih sering menutup mata dan menyumbat telinga kita.
Dulu, saya termasuk yang seperti itu. Saya pernah membaca pendapat seorang tokoh yang dianggap ulama merendahkan kedudukan Imam Ali. Saya langsung terbawa perasaan tidak suka dan enggan membaca buku yang berisi pemikirannya. Tapi kalau kita perhatikan sungguh-sungguh sabda unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla itu, maka kita sadar bahwa perbuatan kita itu salah.
Contoh lain dari melihat “siapa” di atas “apa” juga dialamatkan kepada Syiah dan pengikutnya. Mereka yang benci sangat kepada Syiah tidak akan mau mendengar penjelasan (tak terbantahkan) ulama Syiah. Seruan ulama dan pengikut Syiah untuk memperkuat persatuan umat Islam juga dipandang sinis sebagai bentuk taqiyah. Tentu saja Islam juga mendapat perlakuan sama. Mereka yang “pokoknya benci” kepada Islam tidak akan mau dengan mudah untuk melakukan hal yang begitu sederhana: mendengar.
Mengutamakan “siapa” di atas “apa” bisa memperkecil area dan kesempatan kita untuk mendapatkan kebenaran dan hikmah dari orang lain. Tidak penting hikmah itu ada di siapa, bagaimana, dan di mana; karena yang penting adalah hikmah itu sendiri. Hikmah adalah barang hilang yang senantiasa dicari mukmin, seperti seorang ibu mencari anaknya yang hilang. Imam Ali a.s. berkata, “Hikmah adalah barang yang hilang bagi orang mukmin. Maka carilah ia walaupun ada pada orang-orang musyrik, karena engkau lebih berhak atasnya.”
Mengutamakan “siapa” di atas “apa” juga bisa menyebabkan taklid buta, kebingungan, dan tersilaukan oleh penampakan lahiriah. Saat Harbul Jamal atau Perang Unta, salah seorang prajurit Imam Ali bertanya, “Apakah engkau akan memerangi Ummulmukminin Aisyah, Talhah, dan Zubair? Apakah mungkin pribadi-pribadi itu berada dalam kebatilan?” Imam Ali a.s. berkata, “Kebenaran tidak dikenali dari manusia. Kenalilah kebenaran itu sendiri niscaya engkau akan mengenal siapakah yang berada di pihak yang benar.” Wallahualam.
Rezim saqifah di malaysia anggap kehadiran dlm peringatan kelahiran Siti Fatimah sbg tindak kriminal.. (Prof.DR.Muhsin Labib, M.A)
Besok (hari Kamis tanggal 26 Mei 2011), jadwal pertama sosialisasi MUHSIN ke daerah. Smg, makin banyak org yg menyadari btp pentingnya UKHUWAH. Ayo kita buktikan, bhw Umat Islam adl Umat yg satu:Tuhan,Nabi saw & Kitab yg sama. Ukhuwah yg hanya memberikan rahmat bg sluruh alam semesta. Inilah MUHSIN, hadiah kecil IJABI, utk wiladat Syd Fathimah(sa). Dulu Beliau(as) khilangan MUHSIN& skg kami berikn MUHSIN yg lain. Kiranya beliau(as) brkenan menerima! (Emilia.AZ / Mba Nike-Sekretaris IJABI)
Persatuan Islam lebih di utamakan, karena berdiri atas persamaan yang dominan lebih rahmatan lil ‘allamin, ketimbang berdiri diatas perbedaan yang membuat perpecahan dan permusuhan ummat Islam itu sendiri, buang lah segala permusuhan dan ingatlah Nabi kita di utus kedunia oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia dengan budi pekerti yang baik.(team banjarkuumaibungasnya.blogspot.com/5/2011)Malaysia Protes Campur Tangan AS
Sekelompok warga Malaysia berkumpul di luar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuala Lumpur untuk memprotes intervensi Washington di dunia Muslim dan dukungan penuh negara itu kepada rezim Zionis Israel.Para demonstran, termasuk aktivis politik mengeluarkan pernyataan yang ditujukan kepada Presiden Barack Obama di mana mereka mengecam konspirasi Washington di negara-negara Islam, IRNA melaporkan pada hari Selasa (10/5).
Dalam pernyataan itu, warga Malaysia juga menyatakan protes mereka atas intervensi militer AS di Libya.
Campur tangan militer AS di Libya telah membahayakan kehidupan banyak warga sipil, dan ini bukan pertama kalinya Washington ikut campur di negara-negara dengan sumber daya minyak, tegas mereka.
Para pengunjuk rasa juga mengutuk dukungan AS kepada Israel, yang mereka gambarkan sebagai teroris terbesar di dunia. Israel sangat mudah membantai rakyat Palestina dengan dukungan AS, ujar demonstran.
Menurut mereka, terorisme tidak akan berakhir di dunia, kecuali AS mengakhiri kebijakan yang tidak adil.
Pada bagian lain pernyataan itu, demonstran Malaysia mempertanyakan Obama atas klaim AS soal pembunuhan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dan penenggelaman di laut. (IRIB/RM/PH11/5/2011)
Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) akhirnya menangkap empat warga Syiah di Gombak, termasuk ketuanya Mohd Kamil Zuhairi, ketika memperingati hari kelahiran kelahiran puteri Nabi Muhammad Saw, di Gombak pagi tadi (24/5).Selain Muhammad Kamil, pembawa acara kelahiran tersebut, Radin Ahmad Faizul mengatakan, dirinya ditahan dan dibawa ke markas kantor polisi Gombak.
Menurutnya, dua orang lagi yang dikenal dengan nama Syed Syafiq dan Ashraf juga ditangkap. Belum ada keterangan mengenai nama lengkap keduanya.
Radin menambahkan, JAIS mengirim lebih dari 20 anggotanya pada acara peringatan hari kelahiran Sayidah Fatimah as itu setelah acara berlangsung 20 menit yang dimulai pukul 12 siang.
Awalnya, JAIS hanya meminta kartu tanda pengenal beberapa tokoh penting penyelenggara termasuk Muhammad Kamil.
Radin menjelaskan, “Acara tersebut hanya, acara makan-makan saja.” Ia juga mengklaim bahwa telah mendapat ijin dari kepolisian untuk menyelenggarakan acara itu.
Sekitar 500 orang hadir dalam program yang diadakan di halaman hauzah atau markas mereka di Gombak. (IRIB/malaysiakini/24/5/2011)
Penyelidikan terhadap empat warga Syiah yang ditahan di Sri Gombak, Kuala Lumpur, ketika menggelar acara peringatan hari kelahiran puteri Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah az-Zahra as, dimulai kemarin (24/5) dan diperkirakan akan selesai hari ini (25/5).Menurut rencana, empat warga Syiah itu akan dibawa ke Mahkamah Rendah Syariah Gombak Barat untuk menindaklanjuti kasus ini.
Keempat warga Syiah itu bernama Mohammad Kamilzuhairi Abdul Aziz, Radin Ahmad Faizul Radin Mohammad Hambali, Mohammad Asyraf Ahmad dan Syed Mohammad Shafik Syed Hussin. Mereka diselidiki berdasarkan bagian butir 12 (C) Undang-Undang Kriminal Syariah Selangor 1995.
Undang-undang itu menyebut pihak yang bertindak dengan cara yang menghina wewenang sah, atau mengingkari, melanggar, atau menyoal perintah atau arahan mufti yang dinyatakan atau diberikan melalui fatwa, telah melakukan kesalahan.
Fatwa negara bagian Selangor menyatakan bahwa Syiah adalah ajaran yang sudah keluar daripada ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah.
Undang-undang tersebut juga menyatakan bahwa jika terbukti bersalah, maka terdakwa akan didenda maksimal 3.000 RM atau dipenjara maksimal dua tahun atau kedua-duanya.
Salah atau Tidak?
Mereaksi penangkapan empat warga Syiah itu, Ketua Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) Marzuki Husin mengatakan bahwa pihaknya mendapat informasi mengenai acara tersebut dari kertas undang acara yang diedarkan.
Dikatakannya, menurut rencana sebelumnya sekitar 1.000 orang termasuk orang cacat hadir pada majlis jamuan yang bermula jam 12.30 siang sehingga 4 sore.
Ketua JAIS mengatakan, “Sebanyak 30 pelaksana undang-undang JAIS bersama dengan 20 polisi serta pegawai Majlis Perbandaran Selayang, ikut serta dalam penyerbuan ke tempat berlangsungnya acara jamuan makan-makan.”
Namun ketika ditanya soal apakah memperingati hari kelahiran Sayidah Fatimah sa, puteri Rasulullah Saw, yang juga istri Imam Ali as adalah sebuah kesalahan, Marzuki hanya menjawab bahwa pihaknya tidak ingin umat Islam terpengaruh.
“Bila (majlis) ini dianjurkan oleh kelompok Syiah, jadi nanti (umat Islam) akan mengikuti dengan gerakan kelompok ini… Kita takut program ini, mereka akan menyusupkan pesan dan (umat Islam) akan terpengaruh.”
“Sebagaimana yang difatwakan, kita tidak ingin ikut ajaran yang menyalahi Ahli Sunnah Wal Jamaah,” katanya.
(IRIB/MZ/25/5/2011)

Ketua NGO Syiah Ar-Ridha, Mohammad Kamilzuhairi Abdul Aziz menilai tindakan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) menahan empat anggotanya kemarin (24/5) sebagai tindakan biadab dan penindasan.Karena menurutnya, lembaga pemerintah itu menahan mereka tanpa surat peringatan dan tidak mengikuti prosedur.
“Tindakan JAIS dalam serangan itu dan menahan empat anggota Syiah, bertentangan dengan Artikel 11, Perlembagaan Malaysia, yang menyebut agama Islam sebagai agama resmi dan penganut-penganut agama lain bebas untuk mengamalkan ajaran agama mereka,” kata Mohammad Kamilzuhairi.
Beliau berkata mereka ditahan kerana didakwa menyebarkan ajaran mazhab Syiah walaupun majlis itu sekadar majlis jamuan makan yang diadakan setiap tahun bagi memperingati hari kelahiran puteri Rasulullah Saw, Sayidah Fatimah Az-Zahra.
Kemarin, Kamilzuhairi bersama tiga lagi rekannya-Radin Ahmad Faizul Radin Mohammad Hambali, Mohammad Asyraf Ahmad dan Syed Mohd Shafik Syed Hussin-ditangkap ketika mengadakan acara jamuan makan yang berlangsung di Dataran Rakyat, Taman Sri Gombak.
Telebih lagi Kamilzuhairi menyatakan bahwa pihaknya telah mendapat ijin dari polisi dalam menggelar acara tersebut. Oleh karena itu, Kamilzuhairi menganjurkan shalat hajat di seluruh negara atas sikap biadab JAIS
Di Luar Negeri Sunni dan Syiah Berseteru, di Indonesia Malah Bersatu
26 05 2011
Jika di luar negeri Sunni dan Syiah, kerap bersertu, tidak halnya di Indonesia. Sebab, untuk kali pertama terjadi di dunia, dua aliran besar dalam Islam itu menyatu dalam satu majelis, dan itu terjadi di Indonesia.
Kumpulan bernama Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) itu dideklarasikan sebelum salat Jumat di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, oleh Pengurus Pusat Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang mewakili Sunni dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang mewakili Syi’ah.
“Majelis ini adalah yang pertama di dunia,” kata Ketua IJABI Jalaluddin Rahmat dalam seminar bertema ‘Kerukunan Ummat Beragama Sebagai Modal Dasar Untuk Kelestarian dan Kebangkitan Bangsa’ yang juga ajang deklarasi majelis itu di Jakarta, Jumat (20/5).
Jalaluddin mengatakan, umat Islam harus bangga pada majelis ini karena ini sejarah baru bagi kedua mazhab yang sering diliputi perpecahan, untuk menjalin ikatan persaudaraan antarsesama muslim.
Jalaluddin menegaskan majelis itu tidak mencampurkan dua paham atau ajaran kedua mazhab itu, melainkan hanya sebagai tempat untuk berkumpul, berdialog, dan melakukan kegiatan sosial.
“Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku) dan menjalin ukhuwah Islamiyah adalah perintah Allah dalam Alquran,” katanya mengutip surat Al-Kafirun dalam Alquran.
Sementara anggota Pengurus Pusat DMI Daud Poliradja menyebut majelis itu didirikan atas latar belakang banyaknya perpecahan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.
“Umat beragama saling menjelekkan agamanya, sedangkan kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila,” sambung Daud.
Selain dihadiri Jalaluddin Rahmat dan Daud Poliradja, deklarasi MUHSIN itu dihadiri pula Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh dan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Brigjen (Pol) Manahan Daulay.
Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang. “Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud.
Salah satu dari lima poin deklarasi MUHSIN menyebutklan, “memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin.”
Sunni dan Syiah Bersatu di Indonesia
27 05 2011
Untuk pertama kalinya terjadi di dunia, dua aliran besar dalam Islam, Sunni dan Syiah, menyatu dalam satu majelis, dan itu terjadi di Indonesia.
Kumpulan bernama majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) itu dideklarasikan sebelum salat Jumat di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, oleh Pengurus Pusat Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang mewakili Sunni dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang mewakili Syi’ah.
“Majelis ini adalah yang pertama di dunia,” kata Ketua IJABI Jalaluddin Rahmat dalam seminar bertema “Kerukunan Ummat Beragama Sebagai Modal Dasar Untuk Kelestarian dan Kebangkitan Bangsa” yang juga ajang deklarasi majelis itu di Jakarta, Jumat (20/5).
Jalaluddin mengatakan, umat Islam harus bangga pada majelis ini karena ini sejarah baru bagi kedua mazhab yang sering diliputi perpecahan, untuk menjalin ikatan persaudaraan antarsesama muslim.
Jalaluddin menegaskan majelis itu tidak mencampurkan dua paham atau ajaran kedua mazhab itu, melainkan hanya sebagai tempat untuk berkumpul, berdialog, dan melakukan kegiatan sosial.
“Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku) dan menjalin ukhuwah Islamiyah adalah perintah Allah dalam Alquran,” katanya mengutip surat Al-Kafirun dalam Alquran.
Sementara anggota Pengurus Pusat DMI Daud Poliradja menyebut majelis itu didirikan atas latar belakang banyaknya perpecahan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.
“Umat beragama saling menjelekkan agamanya, sedangkan kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila,” sambung Daud.
Selain dihadiri Jalaluddin Rahmat dan Daud Poliradja, deklarasi MUHSIN itu dihadiri pula Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh dan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Brigjen (Pol) Manahan Daulay.
Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang.
“Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud. Salah satu dari lima poin deklarasi MUHSIN menyebutklan, “memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin.” (*)
IJABI (Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia)
26 05 2011
IJABI (Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia) adalah organisasi masyarakat yang menghimpun para pecinta Rasulullah saw dan Ahlibaitnya (Keluarga Nabi Muhammad saw), apa pun mazhabnya. IJABI dideklarasikan di Gedung Merdeka, Bandung, pada 1 Juli 2000, secara resmi oleh Presiden Republik Indonesia KH.Abdurrahman Wahid (Gusdur). Masyarakat menyebutnya sebagai organisasi Syiah. Syiah IJABI berbeda dengan syiah lainnya di luar negeri. IJABI bersifat nonsektarian, nonpolitis, dan bergerak untuk pemberdayaan mustadh’afin dan pencerahan pemikiran.
Tetapi karena label Syiah yang distigmatisasikan pada IJABI, sebagian jemaah kami di berbagai tempat mendapat perlakuan buruk, sejak diskriminasi sampai penyerangan fisik. Sebagaimana isu sunni syiah marak melanda di Timur Tengah, isu ini pula yang marak di tengah-tengah kita semua sekarang ini.
IJABI sebagai satu-satunya ormas syiah yang diakui pemerintah senantiasa menyelesaikan isu-isu seperti itu secara hukum dan bekerjasama dengan aparat pemerintah. IJABI, karena semangat nasionalismenya, tidak mempunyai kaitan organisatoris atau finansial dengan organisasi Syiah mana pun di luar negeri, kecuali kaitan pemahaman dan mazhab. Salah satu strategi perjuangan IJABI ialah mendahulukan ‘akhlak di atas fiqih’–(konsep dan strategi ini sudah dibukukan oleh Ustadz Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak di Atas Fikih; Penerbit Mizan-Bandung).
Strategi berikutnya, IJABI berhubungan dengan semua pemeluk agama berdasarkan pluralisme. Sebagai landasan ideal perjuangan IJABI, Pancasila kami jadikan rujukan dalam mencari solusi untuk mengatasi konflik inter dan atar umat beragama.
Jakarta, Mei 2011
PP IJABI
Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?
28 05 2011
Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.
“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).
Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” ujarnya.
Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”
Sementara Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah dari Bengkulu, lalu mengajukan contoh praktik Syiah di daerahnya yang disebut tidak mendiskriminasi penganut Syiah di Bengkulu. “Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” kata ketua IJABI Bengkulu tersebut.
Di Bengkulu, katanya, setiap tahun malah ada perayaan Tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram). “Banyak turis asal Iran yang melihat perayaan Tabot di Bengkulu,” katanya.
Filed under: Uncategorized




