MUI dan DEPAG : ” fatwa MUI pada tahun 1984 tentang syi’ah imamiyah sama sekali tidak menyatakan syi’ah sesat, cuma agar waspada terhadap ajaran syi’ah”….

“Syiah Itu Sah dan Benar sebagai Mazhab dalam Islam”… Pertemuan Ketua MUI dengan Pelajar Indonesia di Iran Tanggal 28 April 2011

Sunday, 01 May 2011 13:49 PDF Print E-mail
Ketua MUI: Syiah Itu Sah dan Benar Sebagai Mazhab Dalam Islam
Prof. Umar Shihab

Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Prof.Umar Shihab menyatakan, “Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu.”Menurut Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib Ketua MUI Pusat Prof. DR. KH. Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran. Pertemuan yang dimediasi oleh Sayyid Farid, salah seorang ulama Iran yang sering berkunjung ke Indonesia bertempat di kediaman beliau di Mujtama Maskuni Ayatullah Sistani, Qom. Hadir lebih dari seratus pelajar Indonesia beserta keluarganya dalam pertemuan sederhana yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut.

DR. Khalid Walid, wakil ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI memberikan sambutan pengantarnya dengan menjelaskan kedatangan rombongan MUI ke Iran atas undangan Majma Taghrib bainal Mazahib. Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. “Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Diantara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. ” Jelas DR. Khalid.

Lebih lanjut beliau menjelaskan,”Diantara bentuk kerjasama yang disepakati adalah pengiriman para peneliti dan ulama Indonesia ke Iran untuk mengikuti pertemuan dan pendidikan khusus mengenai beberapa hal yang beragam di Iran begitu juga sebaliknya, ulama-ulama dan peneliti Iran akan berkunjung ke Indonesia. Di samping itu juga kita telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Departemen Pengurusan Haji dan juga berkunjung ke Kamar Dagang Industri Iran untuk bekerjasama dalam produk halal. Insya Allah, jalinan kerjasama ini diharapkan dengan tujuan mengeratkan hubungan antara Republik Islam Iran dengan masyarakat muslim Indonesia.”
“Semoga dengan adanya kesepakatan dan kerjasama tersebut ukhuwah Islamiyah dapat terjalin dengan baik dan kedua belah pihak bisa saling memahami.” Harapnya.

Perpecahan dan Kebodohan, Ujian bagi Umat Islam Saat Ini
Selanjutnya, KH. Prof. DR. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya di hadapan seratus lebih pelajar Indonesia yang hadir. Beliau menyatakan bahwa hidup di dunia ini penuh dengan tantangan, ujian dan kesulitan-kesulitan. “Tidak ada seorangpun yang hidup ini di dunia ini tidak luput dari ujian, diantara ujian tersebut adalah fitnah, kekurangan harta, kelaparan dan kematian. Namun dalam konteks kehidupan kita sekarang kata para ulama, ujian terberat yang dihadapi kaum muslimin saat ini ada dua. Yang pertama, adalah ujian perpecahan. Betapa sulitnya kita menjalin persatuan. Perpecahan begitu mudah terjadi, antar keluarga, sesama pengikut agama, antar Negara dan sebagainya. Ujian yang kedua adalah kebodohan. Mayoritas umat Islam sulit untuk melepaskan diri dari belenggu kebodohan, karena pura-pura tidak tahu atau memang sama sekali tidak mau tahu.”

Lebih lanjut menjelaskan, “Masyarakat Indonesia saat ini diuji dengan perpecahan. Dalam internal umat Islam sendiri terdapat berbagai macam kelompok yang mengarah kepada perpecahan, ada yang menyatakan diri sebagai kelompok liberal, kelompok anti agama, kelompok anti Syiah dan lain-lain. Keberadaan kelompok-kelompok ini sangat mengancam persatuan umat Islam. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan ada dua kelompok pemecah umat Islam. Yang pertama kelompok pemecah dari luar umat Islam, yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur’an keduanya tidak akan senang sampai umat Islam mengikuti agama dan kelompok mereka. Mereka melakukan berbagai macam cara dengan giat utuk memecah belah umat, melalui buku-buku, selebaran dan memanfaatkan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka menipu dan menghasut umat misalnya melalui pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Ini adalah pemahaman yang sesat bahkan mengarah kepada kekafiran. Karena itu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan dan keyakinan semua agama sama adalah pernyataan yang tidak bisa dibenarkan dan MUI telah mengharamkannya.”

“Yang kedua, kelompok pemecah dari kalangan umat Islam sendiri. Tidak sedikit dari kelompok umat Islam yang justru memecah belah umat. Mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu perpecahan umat, mereka misalnya menyebut maulid itu bid’ah, mengucapkan shalawat di setiap kegiatan itu bid’ah sehingga dengan pemahaman yang seperti itu mereka menyesatkan dan memusuhi kelompok Islam yang mengamalkannya. Kita harus waspada terhadap kelompok pemecah dari dalam ini, mereka bahkan sampai menggunakan banyak uang saking gigihnya untuk memecah belah umat ini.”

“Ujian yang kedua adalah kebodohan. Pelajari dan tuntutlah ilmu agama ini dengan benar dan dari sumbernya yang asli. Al-Qur’an menyebutkan, yang manakah lebih layak kamu ikuti, orang yang memiliki pengetahuan atau orang yang tidak memiliki pengetahuan?. Dan Nabi Muhammad saww dalam haditsnya menyebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Dari riwayat Nabi ini, jelas disebutkan bahwa Sayyidina Ali lebih layak diikuti setelah Nabi. Karenanya tuntutlah ilmu yang berasal langsung dari sumbernya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin menyingkirkan dan melupakan hadits-hadits yang bersumber dari Sayyidina Ali, keluarga, sahabat utama dan terdekat dengan Nabi, dan lebih banyak mengamalkan dan menerima hadits dari selain beliau.”

Lebih spesifik mengenai ujian kebodohan ini, Prof Umar Shihab menasehatkan kepada para hadirin, “Selama di Iran belajarlah dengan sungguh-sungguh, rauplah ilmu sebanyak-banyaknya disini, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah argumen-argumen yang benar mengenai Islam. Tanggung jawab menjaga Islam berada di pundak kalian, para penuntut ilmu. Jauhilah kebodohan! Karena kebodohan adalah musuh kita bersama. Salah seorang ulama terkemuka Sunni asal Kairo, Syaikh Mutalawid Sayhrawi pernah mengatakan, persatuan umat Islam tidak akan tercapai jika umat Islam masih terbelenggu dalam kebodohan. Persatuan umat Islam hanya bisa dicapai jika umat Islam ini pandai. Mereka yang berhak untuk memberikan kritik atas pemahaman orang lain adalah mereka yang pandai dan berilmu, yang memiliki argumen-argumen yang kuat. Namun bukan berarti harus menyalahkan pemahaman yang berbeda. Ketika kalian kembali ke tanah air, silahkan ingin bermazhab apa, selama mazhab tersebut mendapat pengakuan dan pembenaran dari Islam. Sebagaimana MUI telah menyatakan bahwa Sunni dan Syiah sebagai mazhab yang benar. Maka dibenarkan umat Islam di Indonesia untuk memeluk salah satunya. Dan tidak dibenarkan satu sama lain saling menyalahkan yang dapat memecah belah persatuan.”

“Satu hal yang mesti ditanamkan dalam benak pikiran saudara-saudara semua, adalah umat Islam hanya akan kuat dengan persatuan, dan menjadi lemah dengan perpecahan. Dan perintah Al-Qur’an umat Islam harus menjalin persatuan dan melarang kita untuk berpecah. Alhamdulillah, kita bersyukur dengan keberadaan Republik Islam Iran, yang sangat gigih bekerja keras untuk mewujudkan persatuan umat Islam ini dan diantara Negara yang menyatakan perlawanan terhadap imperialisme. Presiden SBY pernah berkata langsung kepada saya, Indonesia adalah Negara yang penduduknya umat Islam terbesar di dunia, namun mengapa tidak mampu memberi peranan terhadap terwujudnya persatuan umat Islam, khususnya persatuan antara Sunni dan Syiah?. Karenanya kami dari MUI menyambut baik ajakan dan undangan dari Republik Islam Iran untuk bekerjasama mewujudkan persatuan umat Islam.”

Dipenghujung ceramah beliau, Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab kembali mempertegas pesan beliau kepada para pelajar Indonesia yang hadir, “Pesan Al-Qur’an Innamal mu’minuna ikhwa, orang-orang yang beriman itu bersaudara. Saudara-saudara belajarlah yang bersungguh-sungguh, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah ajaran Islam yang benar. Saya tidak menyatakan yang benar itu Syiah atau Sunni, tetapi keduanya. Jadilah rahmat bagi umat sekembali kalian ke tanah air, jangan justru menjadi pemecah belah umat. Dalam Sunni dan Syiah memang ada sekte-sekte atau kelompok yang menyimpang, itu harus kalian jelaskan kepada umat, singkap kekeliruan-kekeliruan mereka dan sampaikan ajaran yang benar. Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu. Saya sudah tua, dan kiprah saya tidak lama lagi akan berakhir. Karenanya kalianlah yang saya harap untuk melanjutkan perjuangan untuk mempersatukan umat. Kembalilah ke tanah air, tunjukkan kiprah dan peran kalian. Semoga Allah swt mempersatukan umat Islam ini, sehingga bisa menjadi rahmat bagi sekalian alam.”

Prinsip MUI: Sunni dan Syiah Bersaudara
Setelah Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?. Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat. “Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi.” Jelas beliau.

Ketika ditanyakan langkah-langkah MUI Pusat yang akan dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat dan menyelesaikan perselisihan Sunni-Syiah, Prof. Umar Shihab menjelaskan bahwa MUI akan menjadi penyelenggara seminar Internasional Persaudaraan umat Islam di bulan Desember akhir tahun ini. “MUI akan mengundang ulama-ulama dari berbagai Negara, dari Mesir, Iran bahkan dari Arab Saudi termasuk Syaikh Yusuf Qhardawi untuk hadir sebagai pembicara. Indonesia insya Allah akan menjadi perintis persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan Syiah, semoga Allah membantu usaha-usaha kita.” Jelas beliau.

Setelah memasuki waktu maghrib, dilakukan shalat maghrib berjama’ah. Yang diimami oleh Sayyid Farid, dan Prof. Umar Shihab menjadi jama’ah di shaf pertama. Acara pertemuan tersebut diakhiri dengan makan malam bersama, dan do’a bersama dipenghujung acara dipimpin oleh KH. Prof. DR. Umar Shihab.

Pertemuan Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab dengan pelajar Indonesia yang sedang berada di Qom Iran ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dua tahun lalu diadakan pertemuan di tempat yang sama.(IRIB)( arridha.com) Dipetik dari ABNA.IR

=============================================================================================================

Suko kawe baco atikel ni… 

   quote menarik Umar Shihab:

“Wahabi sendiri barang baru di Indonesia. Kalau semua yang beda dianggapsesat, maka Wahabi pun bisa masuk kategori sesat. Berbahaya sekalikalau yang beda dianggap sesat. Kalau pemerintah sekarang berpahamWahabi, maka bisa-bisa mazhab Syafii pun dianggap sesat. Yang dianggapsesat itu adalah berbeda dalam hal akidah dan syariah”.

“Sekali lagi, kita tidak pernahmenyatakan Syiah itu sesat. Kita menganggap Syiah itu salah satu mazhabdalam Islam yang dianggap benar. Mengapa saya nyatakan demikian? Karenadunia Islam sendiri mengakui keabsahan mazhab ini. Apabila ia sesat,mustahil dan tidak boleh ia masuk ke Masjdil Haram. Kenapa mereka bolehmasuk ke Masjidil Haram? Itu artinya orang Saudi sendiri mengakui bahwamereka tidak sesat. Ia tetap Muslim, hanya saja mazhabnya berbedadengan kita

.
Kita harus membedakan dengan cermat antara istilah “sesat” dengan“beda”. Sesat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dan sesatitu perlu diperbaiki melalui dakwah yang benar. Apabila sekadar beda yaboleh-boleh saja. Yang sesat itu jelas beda. Tapi tidak semua yang bedaitu sesat. Di dalam Sunni sendiri banyak perbedaan”.

Prof.Dr.KH. Umar Shihab
MUI Tidak Pernah Menyatakan Syi’ah Itu Sesat
Dalam upaya mencari pemahaman yg lebih dalam tentang bagaimana MUI memandang aliran sesat, Redaksi SYIAR melakukan wawancara dengan PROF . DR. KH. Umar Shihab, ketua MUI pusat. Ditemui Di rumahnya yang asri dibilangan Kelapa Gading, Ulama asal Rapparang Susel ini memperhatikan tentang kondisi kerukunan antar umat islam di Indonesia.



“Ternyata masih terjadi provokasi anti Syiah di Bangil …”


Wawancara Andito—Majalah Syiardengan Prof.Dr. KH Umar Shihab


Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengadakan siaran pers sehubungan dengan maraknya aliran sesat yang meresahkanumat Islam. Dalam catatan dikatakan bahwa MUI telah mengeluarkansembilan fatwa mengenai aliran sesat, di antaranya Islam Jama’ah,Ahmadiyah, Inkar Sunnah, Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin,shalat dua bahasa di Malang dan Al Qiyadah Al-Islamiyah, serta aliransesat lainnya yang sifatnya lokal atau kedaerahan

.
Dalam upaya mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimanaMUI memandang aliran sesat, Redaksi SYIAR melakukan wawancara denganProf. DR. KH. Umar Shihab, Ketua MUI Pusat. Ditemui di rumahnya yangasri di bilangan Kelapa Gading, ulama asal Rapparang Sulsel inimemprihatinkan tentang kondisi kerukunan antar umat Islam di Indonesia.

MUI dan fatwa
Syiar: Bagaimana proses keluarnya sebuah fatwa MUI?

Umar Shihab: Fatwa itu bisa keluarapabila disepakati oleh semua komisi fatwa, yang unsur-unsurnya terdiridari ormas-ormas Islam dan perwakilan MUI, misalnya Muhammadiyah, DewanDakwah, Al-Irsyad, Tarbiyah Islamiyah, dll. Ini berlaku di seluruhIndonesia. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) juga sudah masuk MUI, iniorganisasi baru yang orang anggap “ekstrim”. Semua organisasi Muslimyang sudah dikenal di Indonesia kita rangkul dan bisa masuk MUI,termasuk Syiah/Ahlulbat, tidak perlu dilarang.

Syiar: Mungkinkah MUI daerah mengeluarkan fatwa yang berbeda atau bertentangan dengan fatwa MUI Pusat?

Umar Shihab: Tidak boleh ada fatwadaerah yang bertentangan dengan pusat. Fatwa MUI Pusat berlakunasional, meliputi seluruh Indonesia. Fatwa daerah hanya khusus untukmasalah-masalah lokal. Misalnya fatwa tentang salat dengan menggunakanbahasa Indonesia, MUI daerah bikin fatwa kemudian diangkat ke tingkatpusat.

Syiar: Ada anggapan bahwa fatwa MUI lebih banyak mengurusi akidah atau keyakinan tapi tidak untuk masalah-masalah sosial.

Umar Shihab: Tidak benar. Kita jugamembahas masalah-masalah yang mencuat dalam kehidupan masyarakat. Fatwatentang korupsi sudah pernah ada, suap juga ada, pornografi juga ada.

Syiar: Mengapa tidak ada fatwa mati untuk koruptor?

Umar Shihab: Kita mempunyai komisihukum dan perundang-undangan. Tapi MUI tidak pernah mengatakan menolakhukuman mati. Tidak pernah ada statement seperti itu. Karena kita tidakmau bertentangan dengan hukum al-Quran. Di dalam al-Quran itu adaqishash. Cuma kita tidak meminta supaya berlaku sepenuhnya. Kita lihatkondisi.

Syiar: Bagaimana hubungan antara MUI dan pemerintah?

Umar Shihab: Kita tidak mau berhadap-hadapan dengan pemerintah. Ini prinsip yang juga bagian dari dakwah kita. Ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal mauizatil hasanah.Kita dakwah dengan cara bijaksana. Kalau ada hal-hal yang tidakdilakukan oleh pemerintah, barulah kita tampil ke depan danmenyampaikan kepada pemerintah.
Misalnya saja RUU pengasuhan anak, rancangannya sudah hampir selesaitapi kita minta agar disesuaikan dengan aturan Islam. Contoh lain RUUpendidikan, sampai demonstrasi besar di kalangan umat Islam karena kitanilai hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga denganundang-undang pornografi dan pornoaksi

.
Sayangnya, ada golongan umat Islam sendiri yang menolak. Ini yangkita sesalkan. Jangankan itu. Fatwa kita tentang sesatnya Al-QiyadahIslamiyah yang menyatakan adanya nabi, masih saja ada orang Islam yangmenyatakan bahwa itu tidak sesat, malah menuduh MUI yang sesat.

Fatwa aliran sesat

Syiar:
Apa kriteria MUI tentang sesat atau tidaknya suatu ajaran?

Umar Shihab: Ada kerangkanya. Dia haruspercaya bahwa Allah Swt itu Esa, Nabi Muhammad saw adalah rasul dannabi terakhir, Al-Quran itu adalah kitab suci. Intinya yang ada dirukun Iman. Begitu juga dengan rukun Islam, adalah prinsip bahwa shalatitu lima kali sehari, puasa Ramadhan, haji ke baitullah. Kalaubertentangan dengan rukun iman dan Islam maka ia bisa dianggap sesat

.
Kita anggap Lia Aminuddin sesat karena menganggap dirinya mendapatwahyu dari Jibril. Nah, masih banyak lagi kelompok yang sekarang masukkajian MUI. Tapi kita tidak pernah anggap sesat masalah khilafiyah.

Syiar: Ada pihak yang menilai bahwa keyakinan tidak bisa diadili.

Umar Shihab: Keyakinan memang tidakmungkin diadili. Tapi yang mungkin diadili adalah orang-orangnya karenadia melakukan dan percaya pada suatu keyakinan yang bertentangan denganajaran agama.
Misalnya Ahmadiyah, kita anggap sesat karena dia meyakini adanyanabi setelah Nabi Muhammad. Tapi sampai sekarang prosesnya belumselesai karena mereka sudah terlanjur mendapatkan izin sebagai yayasan,sebagai organisasi.

Fatwa sesatnya Syiah
Syiar: Bagaimanakah MUI menilai ajaran Syiah?

Umar Shihab: MUI tidak penah berbicaratentang mazhab. Bagi kami di MUI, masalah khilafiyah itu adalah suaturahmat. Kita tidak mau kembali lagi ke masa lalu di mana perkelahiandan pembunuhan mudah terjadi hanya karena perbedaan mazhab.
Masalah mazhab tidak bisa di selesaikan. Biarlah Allah Swt yangmengadilinya. MUI tidak menganggap bahwa salah satu mazhab itu benar.Kita berdiri di semua pendapat bahwa semua mazhab itu benar. Begitujuga terhadap mazhab lain, mazhab Syiah misalnya. MUI berprinsip, bahwakalau dunia Islam sudah mengakui Syiah sebagai mazhab yang benar, lalukenapa MUI harus menolak?

Syiar: Pada Maret 1984 MUI pernah mengeluarkan fatwa yang isinya agar waspada terhadap ajaran Syiah.

Umar Shihab: Ya, itu pada tahun 84.Sekarang eranya sudah lain. Fatwa itu bisa berubah karena perubahankondisi. Di Sunni sendiri juga ditetapkan seperti itu, bahwa fatwa bisaberubah karena perbedaan kondisi. Karena perbedaan tempat, Imam Syafiisendiri pernah mengubah fatwanya ketika beliau pindah ke Mesir dariIrak

.
Begitu juga dengan beberapa fatwa lain di MUI. Saya bisa kasihcontoh fatwa tentang aborsi. Semua aborsi itu dilarang. Islam tidakpernah membenarkan aborsi. Tapi, kemudian terjadi perubahan kondisi dimana terjadi kehamilan akibat perkosaan, sehingga aborsi pada kondisitersebut dikecualikan.

Syiar: Dalam beberapa kasus, ulama daerahmenisbahkan dirinya kepada fatwa MUI Pusat tahun 1984 atau fatwa ulamalain yang menyatakan Syiah itu sesat.

Umar Shihab: Sekali lagi, kita tidakpernah menyatakan Syiah itu sesat. Kita menganggap Syiah itu salah satumazhab dalam Islam yang dianggap benar. Mengapa saya nyatakan demikian?Karena dunia Islam sendiri mengakui keabsahan mazhab ini. Apabila ia sesat, mustahil dan tidak boleh ia masuk ke Masjdil Haram. Kenapamereka boleh masuk ke Masjidil Haram? Itu artinya orang Saudi sendirimengakui bahwa mereka tidak sesat. Ia tetap Muslim, hanya sajamazhabnya berbeda dengan kita.
Kita harus membedakan dengan cermat antara istilah “sesat” dengan“beda”. Sesat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dan sesatitu perlu diperbaiki melalui dakwah yang benar. Apabila sekadar beda yaboleh-boleh saja. Yang sesat itu jelas beda. Tapi tidak semua yang bedaitu sesat. Di dalam Sunni sendiri banyak perbedaan

.
Di Indonesia ini banyak hal yang beda. Cara wudhu, posisi tangansaat salat, dll. Kenapa mesti dipersoalkan? Bahkan penentuan waktu 1Syawal pun berbeda. Ini hal yang sangat berbeda. Yang berpuasa padahari lebaran itu haram. Sedangkan pihak lain meyakini berlebaran padahari puasa itu haram karena ia makan. Banyak hal yang beda di lapangantapi kita tolerir. Ini semua masalah furuiyah.

Syiar: Dengan komposisi ormas Islam “ekstrem” dan“tidak toleran” di MUI, apakah fatwa yang dikeluarkan oleh MUI itutidak bias sehingga terkesan tidak hati-hati? Di antara organisasitersebut ada yang menggunakan kriteria sesat untuk menyerang kelompoklain yang sebenarnya tidak sesat.

Umar Shihab: Mereka tidak boleh memberiinterpretasi sendiri. Interpretasi itu hanya dari MUI. Seperti kasus diSumatra Barat, MUI setempat menyesatkan suatu organisasi. Kemudianmereka datang ke Jakarta untuk klarifikasi. Setelah kita kaji, kitaketahui bahwa sesatnya mereka karena beranggapan pergi haji itu tidakperlu ke Masjidil Haram bagi yang tidak mampu. Ada haji bagi orangmiskin. Ini tidak ada dasarnya dalam agama. Setelah diklarifikasi, kitanyatakan bahwa pemahaman, pedoman dan pernyataan ini harus dibersihkandari organisasi tersebut.

Syiar: Jadi bisa disimpulkan bahwa pandangan Islamyang komprehensif dan baik tidak merata di daerah sehingga mereka tidakbisa membedakan mana yang sesat dan mana yang beda. Bagaimana menyikapihal ini?

Umar Shihab: Saya selalu jelaskan,termasuk dalam rakernas baru-baru ini. Kita tidak perlumempermasalahkan khilafiyah karena tidak ada hakim yang bisa memutuskanyang mana yang benar. Kita serahkan kepada Allah di hari kemudiannanti. Kita kembali kepada prinsip bahwa bila mujtahid itu salah dapatpahala satu, kalau benar dapat pahala dua. Nah, kita ini bukanmujtahid. Tidak ada sama sekali

.
Memang dalam rapat itu ada orang yang ingin mengatakan lebihterperinci supaya orang yang salatnya boleh tiga waktu itu sesat. Sayakatakan itu bukan masalah prinsip karena dasarnya ada dalam Quran danhadis. Janganlah bawa sejauh itu karena nanti efeknya lebih jauh lagi,mereka yang salatnya tangannya turun ke bawah itu sesat juga. Masalahkhilafiyah tidak boleh membawa pada perpecahan

.
MUI menganggap bahwa Syiah adalah mazhab yang benar sebagaimana yangdiakui oleh Rabithah Alam Islamy dan itu diakui oleh Al-Azhar. Buktikonkretnya, jamaah haji Syiah boleh masuk ke Masjidil Haram. Kalaumereka memang sesat, seharusnya tidak boleh masuk

.
Perbedaan mazhab tidak bisa diselesaikan karena masing-masing punyaargumentasi yang semuanya benar. Yang penting mereka mengakui danmeyakini keesaan tuhan, kesucian dan keotentikan Al-Quran, dan Muhammadsebagai nabi terakhir.
Indonesia itu mayoritas Sunni Syafii. Tidak semua mazhab itu ada diIndonesia, tapi bukan berarti ia tidak diterima. Bila semua ini tidakbisa disikapi secara arif akan bisa bermasalah. Misalnya dalam haji.Wahabi tidak mau berpakaian ihram di Jeddah, tapi di Miqat. Kalau kitanaik pesawat Saudia Airline diumumkan bahwa kita sekarang sudah ada diMiqat, niatlah dari sekarang. Jadi orang-orang ramai berganti pakaian

.
Nah, paham Wahabi sekarang sudah masuk di indonesia. Tapi fatwa MUImengatakan bahwa boleh berpakaian ihram di Jeddah. Fatwa MUI ini jugadiakui di beberapa negara Islam. Tapi ada juga pihak lain yang tidakmau pakai fatwa MUI, ya silakan

.
Wahabi sendiri barang baru di Indonesia. Kalau semua yang bedadianggap sesat, maka Wahabi pun bisa masuk kategori sesat. Berbahayasekali kalau yang beda dianggap sesat. Kalau pemerintah sekarangberpaham Wahabi, maka bisa-bisa mazhab Syafii pun dianggap sesat. Yangdianggap sesat itu adalah berbeda dalam hal akidah dan syariah.

Syiar: Bagaimana menjembatani kesenjangan mazhab Sunnah dan Syiah dewasa ini?

Umar Shihab: Saya kira melaluipertemuan-pertemuan di antara kedua belah pihak. Dakwah yang dilakukansatu sama lain tidak boleh saling menyerang. Orang yang memaki-makiorang lain itu sudah salah.
Saya pernah ke Iran dan saya lihat hal-hal luar biasa di sana. Sayajuga pernah pergi ke Najaf dan Karbala. Saya bertemu dengan ulama-ulamaSyiah. Mereka salat sama seperti kita juga. Cuma beda di azan. Sayabertanya, mengapa Anda menambah azan dengan “hayya alal khairil amal”? Mereka menjawab, sama halnya seperti Anda, mengapa Sunni menambah azan dengan “ashalatu khairum minan naum”?
.

Mereka malah bertanya balik, mengapa Anda mau tarawih padahalRasulullah tidak tarawih? Bukankah itu datang dari Sayyidina Umar?Mengapa Anda tidak mengikuti apa yang datang dan diajarkan olehSayyidina Ali? Saya tidak bisa berkata apa-apa

.
Kita perlu cari pendekatan-pendekat an, yang penting jangan salingserang dan menyalahkan. Nah, orang yang tidak tahu masalah mazhabinilah yang saling menyalahkan. Dia tidak mau memahami mazhab oranglain. Kita tidak sedang bicara politik. Yang terjadi di Irak itu bukanmasalah mazhab, tapi politik. Ada kekuatan eksternal yang mempengaruhikonflik antar mazhab tersebut

.
Kita di Indonesia tidak perlu terjadi seperti itu. Silakan kalauAnda mau jadi Syiah. Kenapa kita tidak lihat (konflik) di Saudi Arabia,di Makkah misalnya. Orang salat dengan beragam cara tidak dipersoalkan.Kenapa ada orang salat di hotel mengikuti kiblat masjidil haram? Apakahada yang mempersoalkan? Kita harus bersatu. Kalau sesama Muslimgontok-gontokan, orang luar akan tertawa.

Kekerasan terhadap Syiah
Syiar: Apakah tindakan kekerasan yang dilakukanmasyarakat terhadap komunitas Syiah di daerah-daerah bisa dibenarkankarena mereka mengklaim ikut fatwa MUI?

Umar Shihab: Tidak pernah bisadibenarkan. Semua tindak kekerasan tidak pernah bisa ditolerir.Jangankan terhadap Syiah, terhadap aliran sesat pun kita tidak pernahtolerir tindak kekerasan.
MUI tidak pernah mentolerir aksi-aksi kekerasan seperti itu. Aliransesat pun tidak pernah ditolerir untuk dirusak. Apalagi yang masihtidak sesat. Pelacuran saja, yang jelas-jelas tempat maksiat, kitatidak pernah mengatakan setuju untuk main hakim sendiri. Ini negarahukum, semua harus melalui proses hukum. Jadi kalau ada orang yang maumerusak rumah, masjid dan pesantren orang lain, itu bertentangan denganundang-undang. Beritahukanlah polisi.

Syiar: Dalam beberapa kasus, MUI daerah pernah mengeluarkan surat pernyataan yang negatif tentang Syiah..

Umar Shihab: Itu keliru. Sangat keliru.Kita bisa tegur mereka kalau kedapatan mengeluarkan fatwa yangbertentangan dengan fatwa MUI Pusat. Tapi memang hal ini (suratpernyataan/edaran MUI daerah) susah dipantau. Kalau MUI provinsi ditingkat satu mungkin bisa dipantau. Tapi sulit kalau sudah di bawah.Kalau ada data-data itu, tolong kasih saya.

Syiar: Kenyataannya ada ulama daerah yang meminta pembubaran Syiah dan pengusiran orang-orang Syiah atas nama MUI.

Umar Shihab: Tidak pernah. Itu adalahaktivitas personal yang tidak pernah kita tolerir dan tidak pernah kitabenarkan. Aksi kekerasan itu karena kebodohan, fanatisme buta.Sebenarnya kita tidak ingin ada clash antara Sunni dan Syiah. Kitaingin damai, tidak ingin ada kekerasan.
Ketika tempo hari ada penyerangan atas komunitas Syiah di Bangil,saya sendiri langsung telpon kapolda dan kapolres supaya segera diambiltindakan, karena sesungguhnya MUI tidak pernah mentolerir adanyapengrusakan. Kapolri Jendral Sutanto pun mengatakan tidak boleh adanyapengrusakan. Anda bisa lihat sendiri di televisi bagaimana pernyataansaya.

Syiar: Sekarang ini ada oknum mengatasnamakanAhlusunah yang memprovokasi umat Islam di daerah-daerah untuk membenciSyiah. Mereka juga menuding orang-orang yang moderat dan berpandanganobjektif juga sebagai Syiah. Bagaimana mengantisipasi konflikhorizontal antar mazhab di Indonesia?

Umar Shihab: Prinsip Islam itu satu.Janganlah kita ini gontok-gontokan. Orang yang melakukan provokasi itubodoh, tidak tahu hakikat Islam. Kita akan minta kesadaran semua orangyang memprovokasi dan memecah belah umat bahwa pekerjaannya itu salah.Tindakan-tindakanny a tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Tolong inidicatat.
Sikap kita kepada mereka hendaknya mengikuti sikap Nabi Muhammadtatkala dilempari batu oleh penduduk Thaif. Saat malaikat menyediakandiri menghukum mereka, Nabi malah mendoakan mereka dengan dalih bahwamereka berbuat demikian karena tidak tahu

.
Ada skenario besar yang ingin menghancurkan, bukan hanya umat Islam,tapi kesatuan bangsa Indonesia. Karena apabila umat Islam terpecah,otomatis bangsa Indonesia juga terpecah. Mereka sulit menyerang Islamdengan memakai agama-agama lain. Maka digunakanlah orang-orang Islamsendiri.

Haji Indonesia dan Syiah di Makkah
Syiar: Kuota jamaah haji tahun 2007 untuk Indonesiaadalah 210 ribu orang, naik 5% dari tahun 2006 yang hanya 200 ribujamaah. Namun masih banyak calon jamaah haji yang tidak terangkut dankini masuk dalam waiting list. Bagaimana menjelaskan fenomena ini?

Umar Shihab: Ada tiga kemungkinan.Pertama, banyaknya orang yang ingin menunaikan ibadah haji adalah suatuindikasi bahwa kesadaran orang terhadap ajaran agama lebih baik darimasa-masa yang lalu. Kemungkinan kedua, ekonomi umat Islam Indonesiasudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Kemungkinan ketiga, orang-orang Islam yang ingin berwisata ataujalan-jalan keluar negeri kini mengalihkan tujuan wisata, tidak lagi keEropa atau negara-negara lain, melainkan ke Makkah dan Madinah. Merekaberpikir, daripada ke Eropa lebih baik naik haji atau umrah. Niatnyasudah tidak murni ibadah lagi. Kemungkinan ketiga ini yang sangatdisayangkan. Tapi, dari semua kemungkinan tersebut, motif yang palingbanyak dan dominan adalah berangkat haji atas dasar ibadah.

Syiar: Jamaah haji di Indonesia terbesar di dunia tapi budaya korupsi marak di mana-mana. Bagaimana menyikapi hal ini?

Umar Shihab: Tidak usah dihubung-hubungkan. Saya tidak setuju.

Syiar: Ada pendapat yang menyatakan bahwatempat-tempat suci umat Islam perlu diinternasionalisas i sehingga danayang luar biasa besar jumlahnya tersebut dapat dioptimalkan untukkesejahteraan dan pemberdayaan umat Islam di seluruh dunia.

Umar Shihab: Sebenarnya gagasan itubisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama, bahwa tujuannya untukmendapatkan imbalan dari umat Islam. Dana terkumpul yang begitu besarbisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Di sisi lain, kitapunya aturan-aturan internasional yang membuat ide internasionalisasiMakkah dan Madinah itu menjadi mustahil. Karena kedua tempat itu masukwilayah Saudi Arabia, jadi dilema

.
Menurut saya, kita biarkan saja seperti sekarang, tidak harusdiinternasionalisas i. Apalagi salah satu gelar raja-raja di Saudi ituadalah khadim al-haramain, penjaga wilayah kedua tanah Haram. Kitahanya mengharap bahwa pengaturan haji itu setiap tahun lebihditingkatkan. Kalau memang sudah baik, kenapa kita harus buat satuaturan baru (internasionalisasi itu). Yang penting jangan ada halanganentah itu terkait unsur politik atau mazhab sehingga setiap orang bisapergi ke sana. Alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada masalah.

Syiar: Artinya, haji itu berlaku untuk semua umatIslam dari mazhab manapun, termasuk juga mazhab yang berbeda denganmazhab pemerintah Saudi sendiri?

Umar Shihab: Pokoknya semua mazhabtanpa kecuali. Pemerintah Saudi bisa jadi menggunakan mazhab darisebagian ajaran Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad atau Imam Malik. Tapitetap saja mereka yang tidak bermazhab bebas masuk ke Makkah danMadinah. Alhamdulillah, itu kenyataan hingga sekarang. Mazhab Syiahjuga bebas masuk ke Saudi Arabia dan tidak dilarang.
Setiap saya berangkat ke sana, saya melihat banyak orang Syiah.Kadang-kadang, mereka malah diberikan tempat yang lebih istimewa.Misalnya, dalam fikih Syiah dikatakan bahwa kalau orang berihram itutidak boleh tutup kepala. Sehingga ada juga mobil yang disiapkan tanpapenutup atau atap. Ini sekadar bukti bahwa pemerintah Saudi jugamemberikan kesempatan kepada orang-orang yang bermazhab selainnya.

Biodata:

  • Prof. DR. KH. Umar Shihab lahir di Rapparang, Sulsel, pada 2 Juli 1939.
  • Beliau menamatkan S1 di IAIN Alaudin Makassar (1966), S2 diUniversitas Al-Azhar Kairo (1968), dan S3 Universitas Hasanuddin dalamStudi Hukum Islam (1988).

==============================================================================

Jangan Main Hakim Sendiri
(Prof.DR.H.Nasarudin Umar dari DEPAG )

Dirjen Bimas Islam Departemen Agama (Depag), Prof Dr Nasaruddin Umar MA, kita tidak boleh seenaknya menilai aliran tersebut sesat sebelum dilakukan penelitian dari berbagai aspek oleh orang-orang yang kompeten. ”Yang punya hak mutlak menentukan sesat atau tidak itu hanya Allah SWT,” kata Nasaruddin.Untuk itu, Nasaruddin lebih setuju menyebutnya aliran sempalan, yaitu menyempal atau menyimpang dari mainstream.

.

Syiar : Prof.DR.H.Umar Shihab menegaskan bahwa fatwa MUI pada tahun 1984 tentang syi’ah imamiyah  sama sekali tidak menyatakan sesat. Bagaimana pandangan anda ?
.
Nasarudin Umar : Sikap saya juga sama dengan MUI. Saya juga setuju apa yang disampaikankan oleh Prof.DR.KH.Umar Shihab bahwa Ahlussunnah dan Ahlulbayt (Syi’ah) itu memang berbeda. Tapi harus kita ingat bahwa semua yang berbeda itu sesat.
Urusan sesat menyesatkan itu ada kiriteria dan kaidah tersendiri yang harus didukung oleh ayat2 dan hadits. Tapi untuk syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah yang berkembang di Indonesia, saya tidak berani mengatakan aliran itu sesat. Lain halnya dengan syi’ah2 tertentu, seperti syi’ah Ghulat yang menuhankan Imam Ali bin Abi Thalib. Di kalangan internal syi’ah sendiri, Syi’ah Ghulat itu yang memang sesat dan bukan termasuk syi’ah
.
Sepanjang yang kita liat sekarang ini, syi’ah yang ada di Indonesia tidak menampilkan sesuatu yang bisa di kategorikan sesat, tidak seperti halnya aliran yang belakangan ini muncul di media kita
.
Syiar : Di Bangil, komunitas syi’ah diserang oleh sekelompok masa hasil agitasi seorang oknum ulama. Bagaiman pandangan anda ?
.
Nasarudin Umar : Saya belum mendalami persoalan yang di Bangil. Hemat saya, kita hidup di Negara hukum. Segala hal yang melanggar aturan harus diselesaikan secara hukum. Ada koridornya. Kita tidak boleh menghakimi dan menzholimi orang secara semena-mena. Kalau memang ada yang salah, serahkanlah kepada pihak yang berwajib. Adukan saja. Jangan ditindaklanjuti seperti itu salah.Menurut saya kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah
.
Lihatlah Rasulullah SAWW dalam menyelesaikan persoalan2 dimasyarakat. Beliau mengedepankan perdamaian dan kemanusiaan. Kita tidak boleh lebih tegas dari Rasulullah SAWW, apalagi kejam. Sebagai seorang muslim dan bangsa Indonesia, kita mesti membiasakan diri menyelesaikan persoalan sesuai koridor hukum yang ada. Jangan main hakim sendiri. Itu tidak dibenarkan oleh undang2 dan tentu saja tidak sejalan dengan agama islam.

Syiar : Bagaimana peran Depag dalam hal ini BImas islam dalam melihat persoalan ini ?
.

Nasarudin Umar : Adalah tugas kami bagaimana merangkul yang berbeda. Perbedaan itu tidak harus di artikan sebagai persoalan. Kita boleh beda satu sama lain, malah akan menjadi sebuahkonfigurasi. Seperti sebuah lukisan. Lukisan yang indah berasal dari warna-warni yang kontras
.
Yang penting semua perbedaan ini tidak menyalahi ajaran2 dasar islam, seperti suatu kelompok itu sesat dan menyesatkan. Janganlah sampai kita kembali ke zaman orde baru yang selalu memakai akronim2 yang menyesatkan. Ini bukan zamannya lagi
.
Syiar : Apa pesan anda terhadap komunitas2 syi’ah dan kelompok lain yang tidak menyukainya ?
.
Nasarudin Umar : Sunnah-Syi’ah itu sama. Kalaulah ada yang berbeda, adalah tugas kita saling menjembati perbedaan2 ini. Kalau semua pihak mempunyai itikad yang baik, apalagi Sunnah-syi’ah sama2 tidak sesat, apalagi yang perlu kita ributkan?
Saya himbau kepada siapapun yang main ahakim sendiri, apapun tema yang diributkan, entah itu agama, social, politik, bahwa Indonesia itu adalah Negara hukum. Janganlah selesaikan persoalan dengan cara sendiri. Biarkanlah hukum yang berbicara
.
TAMAT
Saya mau menambahkan, kalau kita jangan mudah menyesatkan dan menkafirkan orang. Waktu Allamah Habib Umar bin Hafizh kejakarta,ada yang bertanya tentang syi’ah. Lalu Habib menjawab dengan nada yang lembut dan rendah, jangan mudah menyesatkan orang. Kalau kita mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang sama saja seperti orang Khawarij
.
Wallahu ‘alam bish shawab
Di ambil dari sumber majalah syiar Dzulhijjah 1428 Hijriyah/Desember 2007 Masehi.

================================================================================

Fatwa-Fatwa Rasmi Ulama Besar Sunni Berkenaan Mazhab Ja`fari(Syiah Imamiyah)

Fatwa-Fatwa Rasmi Ulama Besar Sunni Berkenaan Mazhab Ja`fari(Syiah Imamiyah)


Sejak sekian lama Universiti Al-Azhar Asy-Syarif yang berada di kota Kairo-Mesir telah menjadi pusat dan kiblat pendidikan bagi masyarakat Ahlus Sunnah. Al-Azhar telah banyak mencetak para ulama dan tokoh Ahlus Sunnah yang kemudian tersebar di segala penjuru dunia, termasuk Malaysia & Indonesia. Para alumni al-Azhar dapat bersaing dengan alumni-alumni Timur Tengah  seperti Saudi Arabia, Sudan, Tunis, Moroko, Jordan, Qatar dan negara-negara lainnya. Inilah salah satu penyebab al-Azhar menjadi semakin berpengaruh di berbagai negara muslim dunia, sehingga seorang pemimpin al-Azhar menjadi rujukan dan panutan bagi pemimpin perguruan tingi lain di Timur Tengah.Di sini, saya akan menunjukkan beberapa fatwa dari para petinggi al-Azhar berkenaan kebebasan beramal dengan mazhab Ja`fari, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Imamiah Itsna ‘Asyariyah. Kita akan mulai dengan fatwa dari guru besar yang memulai fatwa pembolehan tersebut.

Fatwa As Syeikh Al Azhar Mahmud Shaltut
Asy-Syeikh Al-Azhar Al-Marhum Syeikh Salim Busyra r.a
Asy-Syeikh Al-Azhar Muhammad Fahham
Asy-Syeikh Al-Azhar Abdul Halim Mahmud

Terjemahan Teks Fatwa Pertama

Berikut saya terjemahkan teks fatwa pertama sebagai bukti Syiah Imamiyah adalah sah sebagai mazhab Islam yang boleh diamalkan :

Fatwa Rektor Universitas Al-Azhar, Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut

Pejabat Pusat Universiti al-Azhar

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Teks Fatwa yang dikeluarkan Yang Mulia Syaikh Al-Akbar Mahmud Syaltut, Rektor Universitas Al-Azhar tentang Kebolehan Mengikuti Mazhab Syiah Imamiah

Soal: Yang Mulia, sebahagian orang percaya bahawa penting bagi seorang Muslim untuk mengikuti salah satu dari empat mazhab yang terkenal agar ibadah dan muamalahnya benar secara syar’i, sementara Syiah Imamiah bukan salah satu dari empat mazhab tersebut, begitu juga Syiah Zaidiah. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiyah Itsna ’Asyariyah misalnya?

Jawab:

1. Islam tidak menuntut seorang Muslim untuk mengikuti salah satu mazhab tertentu. Sebaliknya, kami katakan: setiap Muslim punya hak mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan secara sahih dan fatwa-fatwanya telah dibukukan. Setiap orang yang mengikuti mazhab-mazhab tersebut boleh berpindah ke mazhab lain, dan bukan sebuah tindakan kriminal baginya untuk melakukan demikian.

2. Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyyah (Syiah Dua Belas Imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab Sunni lainnya.

Kaum Muslim wajib mengetahui hal ini, dan sebolehnya menghindarkan diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu mana pun, kerana agama Allah dan Syari’atnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Mahakuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan-mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun transaksi (muamalah).

Tertanda,

Mahmud Syaltut

Fatwa di atas dikeluarkan pada 6 Juli 1959 dari Rektor Universitas al-Azhar dan selanjutnya dipublikasikan di berbagai penerbitan di Timur Tengah yang mencakup, tetapi tidak terbatas hanya pada:

1. Surat kabar Ash-Sha’ab (Mesir), terbitan 7 Juli 1959.

2. Surat kabar Al-Kifah (Lebanon), terbitan 8 Juli 1959.

Bagian di atas juga dapat ditemui dalam buku Inquiries About Islam oleh Muhammad Jawad Chirri, Direktur Pusat Islam Amerika (Islamic Center of America), 1986, Detroit, Michigan.

Fatwa Ulama Islam Sunni Lain

Fatwa Mufti Agung Syria, Almarhum Syeikh Ahmad Kaftaroo

Syeikh Ahmad Kaftaroo

Soal: Apakah mazhab-mazhab seperti Zaidi, Ja’fari, dan Ibadhiah adalah mazhab-mazhab Islam?

Jawab: Membatasi feqah Islam hanya kepada Al-Quran suci dan Sunnah adalah kelalaian terhadap agama Islam dan ini telah menjadikan agama yang benar ini suatu agama yang berpandangan kabur yang terbatas pada sasaran kecil yang tidak mampu memenuhi berbagai keinginan manusia dan persoalan-persoalan kehidupan.

Sudut pandang mazhab-mazhab ini dalam cabang-cabang feqah berbeza. Meskipun demikian, mazhab-mazhab feqah ini berjalan di atas prinsip-prinsip Islam dan begitu juga di dalam prinsip-prinsip yang dapat diperdebatkan, perbezaan-perbezaan yang ada di antara para fuqaha` berkaitan cabang-cabang dari mazhab Islam adalah untuk memudahkan orang-orang dan menghilangkan berbagai kesulitan mereka.

Kerana itu, dengan mempertimbangkan fakta-fakta ini, mengikuti (bertaqlid) kepada salah satu mazhab-mazhab diizinkan sekalipun itu mengharuskan ia mengarah ke eklektisisme kerana Mazhab Maliki dan sekelompok Mazhab Hanafi secara tepat mempunyai fatwanya. Dengan demikian, beramal yang didasarkan pada mazhab-mazhab Islam yang termudah atau bertaqlid pada perintah-perintah termudah ketika itu mengharuskannya dan layak diizinkan, kerana agama Tuhan adalah mudah, bukan agama yang sulit.

Misalnya, Allah SWT berfirman: Maka barang siapa terpaksa kerana kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Mâidah:3)

Kerana itu, Mazhab Zaidi digolongkan sebagai salah satu mazhab Islam termulia terutama sekali ketika buku yang ditulis oleh Imam Yahya bin Murtadha berjudul Al-Bahr Azh-Zhakhar Al-Jamâ, suatu ensiklopedi fikih di dalamnya tidak ada perbedaan apa pun dengan fikih dari Ahlus Sunnah kecuali mereka mempunyai perbedaan-perbedaan parsial di dalam isu-isu seperti ketidaksahan mengusap kepala atau kaki dengan ujung jari-ujung jari yang basah ketika berwudhu juga pemboikotan atas pembantaian oleh non-Muslim.

Syiah Imamiah adalah mazhab Islam yang paling dekat kepada mazhab Imam Syafi’i. Perbedaan fiqihnya dengan fiqah Ahlus Sunnah hanya terkait pada tujuh belas permasalahan.

Demikian juga Mazhab Ibadhiah adalah mazhab yang paling dekat kepada mazhab Ahlul Jamaah (Sunni) menyangkut pendapat tersebut karena perintah-perintah fikih dari para pengikutnya diturunkan berdasarkan Al-Quran, Sunnah, ijma’, dan qiyas.

Kerana alasan–alasan di atas, perbezaan-perbedzaan yang ada di antara para fuqaha seharusnya tidak boleh dianggap sebagai tidak lazim kerana agama itu dinilai sebagai realiti yang satu dan unik. Lagi pula, sumber dan asal-muasal agama semata-mata Wahyu Ilahi.

Tidak pernah terdengar bahwa perbezaan-perbezaan yang ada di antara mazhab-mazhab fiqih telah memicu pertikaian atau konflik bersenjata di antara para pengikut mazhab. Semua itu kerana perbezaan-perbezaan yang ada di antara mazhab-mazhab Islam berkenaan dengan fiqih ilmiah dan ijtihad bersifat parsial, dan menurut Nabi Islam SAW, “Kerana keputusan ijtihadnya, fakih menerima pahalanya. Jika ijtihadnya sesuai, dua pahala untuknya. Jika tidak sesuai, tetap ada satu pahala untuknya.”

Dengan demikian, tidaklah tepat menisbatkan sesuatu apa pun kepada mazhab-mazhab Islam kecuali jika di dalam kerangka ini. Mazhab-mazhab yang disebutkan adalah mazhab-mazhab Islam dan fikih mereka terhormat juga didukung

Fatwa Mantan Mufti Agung Mesir, Nashr Farid Washl, Mengenai “Iqtida” (Mengikuti) Para Pengikut Mazhab Islam lain dari Ahlul Bait AS

Nashr Farid Washl

Yang Mulia Profesor Dr. Nashr Farid Washl, Mufti Mesir,

Wassalamu’alaikum wa rahmatulah,

Bagaimanakah pendapat Anda mengenai orang yang bertaklid kepada Imam Ahlul Bait AS?

Jawab:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Sudah maklum bahwa setiap Muslim yang beriman kepada Allah SWT , bersyahadat atas monoteisme (tauhid), mengakui misi Nabi Muhammad SAW, tidak menyangkal perintah-perintah agama dan orang yang dengan sepenuhnya sadar akan rukun-rukun Islam dan salat dengan tata cara yang benar, maka niscaya juga tepat baginya sebagai imam salat jamaah bagi yang lain dan juga mengikuti imamah orang lain ketika melakukan salat sehari-hari meskipun ada perbedaan-perbedaan (paham) keagamaan di antara imam dan makmumnya. Prinsip ini pun berlaku bagi Syiah Ahlul Bait AS.

Kita bersama mereka (Syiah Ahlul Bait) menyangkut Allah, Rasulullah SAW, Ahlul Bait AS, juga para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada perbedaan di antara kita dan mereka menyangkut prinsip-prinsip dan dasar-dasar syariah Islam juga kewajiban-kewajiban desisif agama.

Ketika Allah SWTmemberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga bisa hadir di Republik Islam Iran di kota-kota seperti Tehran dan Qum. Ketika kami menjadi imam salat berjamaah mereka bermakmum kepada kami, begitu juga ketika mereka menjadi imam kami bermakmum kepada mereka.

Karena itu, kami memohon kepada Allah SWT untuk melahirkan persatuan di antara umat Islam, menghapus setiap permusuhan, kesulitan, perbedaan di antara mereka dan mengangkat kesulitan-kesulian yang ada di antara mereka sekaitan dengan fikih dan kewajiban-kewajiban agama yang sekunder.

Kesimpulan

Seperti yang anda telah dapat lihat dan baca di atas, mereka ialah antara beberapa ulama besar dalam dunia Islam Ahlul Sunnah, dan dapat diperhatikan bahawa mereka membenarkan, mempersetujui serta berpandangan positif terhadap mazhab Ahlulbait. Mereka tidak akan sewenang-sewenangnya mengeluarkan fatwa, jika mereka tidak memahami dan mendalami sesuatu perkara itu.

Oleh itu, Ayyuhal Muslimun, contohilah mereka, dan janganlah kalian  menunjukkan perasaan permusuhan dan buruk sangka pada kami. Marilah kita jalinkan hubungan persaudaraan, kita menyembah tuhan yang sama, mengikuti Rasul yang sama, Kiblat kita sama, banyak lagi hal-hal yang kita punya persamaan berbanding perbezaan.

Ayyuhai Muslimun, ikutilah seruan perpaduan ini, buangkan sangka buruk dahn hasutan syaitan dari kita. Sahutlah tangan saudara mu ini, dan bersama, ISLAM ITU KUAT.

Berikut ialah tambahan fatwa saya..eratkanlah perpaduan dan jauhi perpecahan, hehe.

Dalam artikel yang lepas, saya telah menulis tentang Kelahiran Syiah, Akhlak Pengikut Syiah, dan lain-lain, yang berkaitan dengan mazhab ini, dan pengikutnya. Kali ini, saya telah menjumpai sebuah artikel yang lebih konprehensif dan menyeluruh tentang mazhab ini dan pengikutnya, serta dalil-dalil yang berkaitan(dalam bentuk point lagi..hehe), InsyaAllah.  Silakan membaca, dengan nama Allah.

saudara pembaca………

Polemik aliran sesat di Aceh bagai Episentrum 8,9 SR.

fatwa  POLDA  ACEH  dan  Kesbanglinmas Pemerintah Aceh dan Polda Aceh di koran Serambi Indonesia, 17 April lalu  Hampir saja saya meyakinkan celoteh beberapa teman di warung kopi bahwa orang kita—sangat mudah terpedaya dengan sebuah ungkapan.

Begitu ada yang mengatakan sekelompok orang sesat, yang lain gamblang ikut-ikut menyebut sesat. Padahal MPU  Aceh tidak pernah memfatwakan syi’ah  imamiyah  sebagai  aliran sesat

Hindari Anarkis

Terlepas dari polemik di atas, saya kira banyak orang sepakat bahwa mereka yang sudah menyimpang dari ajaran kebanyakan orang pun tidak mau dikatakan sesat. Betapa pula yang tidak sesat, saat digelari sesat, pasti tidak terima. Ironisnya, jika ketidakterimaan itu diaplikasikan dalam bentuk perlawanan. Namun, lebih ironis pula mereka yang merasa diri ‘lurus alias tidak sesat’, juga bertindak radikal menghukum kelompok yang diindakasi sesat. Oleh karena itu, tindakan anarkis perseorangan ataupun massa yang menghakimi mereka penganut aliran sesat patut ditinjau ulang. Sudah pantaskah menghakimi secara massa mereka yang diklaim aliran sesat? Lantas, di mana posisi polisi, pemerintah, dan ulama? Di mana pula hukum Tuhan semesta alam?

Rasanya banyak hal yang patut ditanyakan, mungkin pada pemerintah, mungkin pada ulama, mungkin juga pada diri sendiri. Sudah saatnya meninggalkan kebiasaan mengkafirkan orang lain tanpa dalil dan kajian kuat. Oleh karenanya, saya terkejut membaca 14 aliran yang diklaim sesat oleh Polda dan Pemerintah Aceh. Pasalnya, tidak ada kriteria mendasar penetapan nama-nama aliran tersebut.

Apakah Polda maupun Pemerintah Aceh sudah memusyawarahkannya dengan Majelis Ulama Aceh? Pertanyaan ini penting, karena dalam diskusi publik tentang “Beragama Tanpa Kekerasan” di Kafe Pustaka, Aceh Institute, 2 April 2011, Ketua MPU Aceh, Prof. Dr. Muslim Ibrahim, M.A., sempat menjawab pertanyaan dari seorang peserta diskusi yang mengkafirkan Syiah dan Mu’tazilah—Syiah adalah salah satu aliran yang diklaim sesat dari 14 aliran menurut Polda dan Pemerintah Aceh (Serambi, 7 April 2011).

Ketua MPU Aceh mengatakan bahwa tidak semua Syiah itu sesat. Namun, ia mengakui beberapa Syiah tergolong ke dalam aliran sesat. Masih menurut Muslim, ada dua atau tiga Syiah yang dianggap sah dan bagian dari kaum muslimin. Hal ini antara lain klarifikasi Muslim terkait kebijakan Polda dan Pemerintah Aceh agar tidak sembarangan melabelkan sesat orang lain.

Kriteria Sesat?

Penting pula mencermati kriteria sesat menurut Majelis Ulama Islam (MUI) pusat. Seperti dilansir sejumlah media, antara lain oleh detiknews dan antaranews: ada 10 kriteria aliran sesat. (1) Mengingkari rukun iman dan islam. (2) Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar’i Alquran dan Asunnah. (3) Meyakini turunya wahyu setelah Alquran. (4) Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran. (5) Melakukan tafsiran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir. (6) Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam. (7) Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul. (8) Mengingkari Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir. (9) Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat. (10) Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i.

Kriteria yang ditetapkan oleh ijma’ ulama Indonesia tersebut tentu sudah melalui pengkajian dan penelusuran. Jika bukan ulama yang jadi pelita dalam kehidupan ini, siapa lagi? Menguatkan pendapat tersebut, cermati pula ijma’ ulama dunia dalam Deklarasi Amman, Jordania. Disebutkan bahwa siapa saja yang mengikuti salah satu dari empat mazhab Ahlusunnah Waljama’ah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali), dan Mazhab Ja’fari (Syiah Imamiah), Mazhab Syiah Zaidiyah, Mazhab Ibadhi, dan Mazhab Az-Zhahiri, semuanya adalah muslim, tidak diperbolehkan mengkafirkannya dan haram darah, harta, serta keluarga mereka

Perlu dicatat, risalah Amman ini disetujui oleh 500 ulama seluruh dunia, baik Sunni (Ahlusunnah Waljama’ah) maupun Syiah, yang kemudian diikuti oleh ratusan ulama dunia dalam deklarasi di Jeddah. Risalah itu antara lain ditandatangi oleh Syeh Hamzah Yusuf (Institut Zaituna) dan Prof. Hossein Nasr, keduanya dari Amerika. Hadir dari Mesir pula: Muhammad Saiyid Thantawi (Mantan Syeh Al Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung Mesir), dan Ahmad Al-Tayyib (Syeh Al Azhar). Dari Indonesia ada Maftuh Basyumi (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiah), Dr. Tuti Alawi (Rektor Universitas As-Syafi’iyah), Dr. Alwi Shihab (Mantan Menlu), dan Hasyim Muzadi (NU). Dari Iran tercatat nama Ayatullah Ali Khamanei (Pemimpin Tertinggi Spiritual Iran), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Antarmazhab Dunia). Sedangkan dari Lebanon: Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Ahlussunnah). Dari Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman). Dari Palestina: Syekh Dr. Ikrimah Sabri (Mufti Agung dan Imam Mesjid Al Aqsha). Dari Qatar: Dr. Yusuf Qardhawi (ulama besar dunia). Dari Syria: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung Syria), Syekh Wahbah Musthafa Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fiqih Syria). Dari Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Pemimpin Madrasha Darul Musthafa dan Ulama besar Ahlussunnah Waljama’ah).

Kendati diakui dunia bahwa Syiah adalah muslim, memang perlu dilihat kembali golongan tersebut. Namun, tidak boleh menggeneralisasikannya. Sebagian kelompok yang oleh ulama Syiah sendiri dikatakan keluar dari Islam, di antaranya kelompok Syiah Ghullat, yang meyakini bahwa Saidina Ali bin Abithalib sebagai penjelmaan Allah di muka bumi; lalu ada juga kelompok Syiah yang menganggap bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu, seharusnya kepada Ali ternyata turun kepada Rasulullah saw.

Beberapa lagi kelompok Syiah sesat sudah punah. Kelompok tersebut bahkan menurut Syiah Imamiah dan Syiah Zaidiyah, adalah najis. Dianjurkan tidak membangun hubungan bisnis dengan mereka. Oleh karena itu, pencantuman nama Syiah oleh Polda dan Pemerintah Aceh sebagai aliran sesat sangat general dan bertentangan dengan ijma’ ulama dunia. Hati-hati mengklaim sesat, sebab merujuk kriteria sesat oleh MUI, poin 10, mengkafirkan sesama muslim juga sesat.

Risalah Amman Yang Ditanda Tangani Kurang Lebih 500 Ulama Baik Syiah maupun Sunnah

Risalah ‘Amman (رسالة عمّان) dimulai sebagai deklarasi yang di rilis pada 27 Ramadhan 1425 H bertepatan dengan 9 November 2004 M oleh HM Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Amman, Yordania. Risalah Amman (رسالة عمّان) bermula dari upaya pencarian tentang manakah yang “Islam” dan mana yang bukan (Islam), aksi mana yang merepresentasikan Islam dan mana yang tidak (merepresentasikan Islam). Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan kepada dunia modern tentang “Islam yang benar (الطبيعة الحقيقية للإسلام)” dan “kebenaran Islam” (وطبيعة الإسلام الحقيقي).

Untuk lebih menguatkan asas otoritas keagamaan pada pernyataan ini, Raja Abdullah II mengirim tiga pertanyaan berikut kepada 24 ulama senior dari berbagai belahan dunia yang merepresentasikan seluruh Aliran dan Mazhab dalam Islam :

1. Siapakah seorang Muslim ?

2. Apakah boleh melakukan Takfir (memvonis Kafir) ?

3. Siapakah yang memiliki haq untuk mengeluarkan fatwa ?

Dengan berlandaskan fatwa-fatwa ulama besar (العلماء الكبار) –termasuk diantaranya Syaikhul Azhar (شيخ الأزهر), Ayatullah As-Sistaniy (آية الله السيستاني), Syekh Qardhawiy (شيخ القرضاوي)– , maka pada Juli tahun 2005 M, Raja Abdullah II mengadakan sebuah Konferensi Islam Internasional yang mengundang 200 Ulama terkemuka dunia dari 50 negara. Di Amman, ulama-ulama tersebut mengeluarkan sebuah panduan tentang tiga isu fundamental (yang kemudian dikenal dengan sebutan “Tiga Poin Risalah ‘Amman/محاور رسالة عمّان الثلاثة”), Berikut adalah kutipan Piagam Amman dari Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania, dengan tema “Islam Hakiki dan Perannya dalam Masyarakat Modern” (27-29 Jumadil Ula 1426 H. / 4-6 Juli 2005 M.) dan dihadiri oleh ratusan Ulama’ dari seluruh dunia sebagai berikut:

[1]Siapapun yang mengikuti Madzhab yang 4 dari Ahlussunnah wal Jamaah (Madzhab Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, Hanbali), Madzhab Jakfariy, Madzhab Zaidiyah, Madzhab Ibadiy, Madzhab Dhahiriy, maka dia Muslim dan tidak boleh mentakfir-nya (memvonisnya kafir) dan haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. dan juga dalam fatwa Fadlilatusy Syekh Al-Azhar tidak boleh mentakfir ulama-ulama beraqidah Al-Asy’ariyah dan aliran Tashawuf yang hakiki (benar). Demikian juga tidak boleh memvonis kafir ulama-ulama yang berpaham Salafiy yang shahih

Sebagaimana juga tidak boleh memvonis kafir kelompok kaum Muslimin yang lainnya yang beriman kepada Allah dan kepara Rasulullah, rukun-rukun Iman, menghormati rukun Islam dan tidak mengingkari informasi yang berasal dari agama Islam.

[2]. Sungguh diantara madzhab yang banyak tersebut memang terdapat perbedaan (ikhtilaf), maka ulama-ulama dari delapan madzhab tersebut bersepakat dalam mabda’ yang pokok bagi Islam. Semuanya beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa yang Maha Esa, Al-Qur’an al-Karim adalah Kalamullah, Sayyidina Muhammad ‘alayhis shalatu wassalam adalah Nabi sekaligus Rasul bagi umat manusia seluruhnya, dan mereka bersepakat atas rukun Islam yang 5 : Syadatayn, Shalat, Zakat, puasa Ramadhan, Haji kepa Baitullah, dan juga bersepakat atas Rukun Imam yang 6 ; beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari kiamat, dan kepada Qadar yang baik dan buruk, dan ulama-ulama dari perngikut Madzhab tersebut berbeda pendapat dalam masalah Furu’ (cabang) dan bukan masalah Ushul (pokok), dan itu adalah Rahmat, dan terdahulu telah dikatakan ;

إنّ اختلاف العلماء في الرأي أمرٌ جيّد

“Sesungguhnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) para Ulama dalam masalah pemikiran hal yang baik”

[3]. Pengakuan terhadap madzhab-madzhab dalam Islam berarti berkomitmen dengan metodologi (manhaj) dalam hal fatwa ; maka siapapun tidak boleh mengeluarkan fatwa selain yang memenuhi kriteria tertentu dalam setiap madzhab, dan tidak boleh berfatwa selain yang berkaitan dengan manhaj (metodologi) madzhab, tidak boleh seorang pun mampu mengklaim ijtihad dan mengembangkan/membuat madzhab/pendapat baru atau mengelurkan fatwa yang tidak bisa diterima yang dapat mengeluarkan kaum Muslim dari kaidah syar’iyyah, prinsip, ketetapan dari madzhabnya.

Tiga Poin Risalah ‘Amman ini lalu diadopsi oleh kepemimpinan politik dunia Islam pada pertemuan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Mekkah pada Desember 2005. Dan setelah melewati satu tahun periode dari Juli 2005 hingga Juli 2006, piagam ini juga diadopsi oleh enam Dewan Ulama Islam Internasional. Secara keseluruhan, lebih dari 500 ulama Islam terkemuka telah mendukung Risalah ‘Amman dan tiga poin pentingnya.

Di antara penandatangan dan pengesah Risalah Amman ini adalah:

Afghanistan: Hamid Karzai (Presiden).

Amerika Serikat: Prof. Hossein Nasr, Syekh Hamza Yusuf (Institut Zaytuna), Ingrid Mattson (ISNA)

Arab Saudi: Raja Abdullah As-Saud, Dr. Abdul Aziz bin Utsman At-Touaijiri, Syekh Abdullah Sulaiman bin Mani’ (Dewan Ulama Senior).

Bahrain: Raja Hamad bin Isa Al-Khalifah, Dr. Farid bin Ya’qub Al-Miftah (Wakil Menteri Urusan Islam)

Bosnia Herzegovina: Prof. Dr. Syekh Mustafa Ceric (Ketua Ulama dan Mufti Agung), Prof. Enes Karic (Profesor Fakultas Studi Islam)

Mesir: Muhammad Sayid Thantawi (Mantan Syekh Al-Azhar), Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Agung), Ahmad Al-Tayyib (Syekh Al-Azhar)

India: Maulana Mahmood (Sekjen Jamiat Ulema-i-Hindi)

Indonesia: Maftuh Basyuni (Mantan Menag), Din Syamsuddin (Muhammadiyah), Hasyim Muzadi (NU).

Inggris: Dr. Hassan Shamsi Basha (Ahli Akademi Fikih Islam Internasional), Yusuf Islam, Sami Yusuf (Musisi).

Iran: Ayatullah Ali Khamenei (Wali Amr Muslimin), Ahmadinejad (Presiden), Ayatullah Ali Taskhiri (Sekjen Pendekatan Mazhab Dunia), Ayatullah Fadhil Lankarani.

Irak: Jalal Talabani (Presiden), Ayatullah Ali As-Sistani, Dr. Ahmad As-Samarai (Kepala Dewan Wakaf Sunni)

Kuwait: Syekh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber As-Sabah.

Lebanon: Ayatullah Husain Fadhlullah, Syekh Muhammad Rasyid Qabbani (Mufti Agung Sunni).

Oman: Syekh Ahmad bin Hamad Al-Khalili (Mufti Agung Kesultanan Oman)

Pakistan: Pervez Musharraf (Presiden), Syekh Muhammad Tahir-ul-Qadri (Dirjen Pusat Penelitian Islam), Muhammad Taqi Usmani.

Palestina: Syekh Dr. Ikramah Sabri (Mufti Agung dan Imam Al-Aqsha).

Qatar: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Dr. Ali Ahmad As-Salus (Profesor Syariah Universitas Qatar).

Sudan: Omar Hassan Al-Bashir (Presiden).

Suriah: Syekh Ahmad Badr Hasoun (Mufti Agung), Syekh Wahbah Az-Zuhaili (Kepala Departemen Fikih), Salahuddin Ahmad Kuftaro.

Yaman: Habib Umar bin Hafiz (Darul Mustafa), Habib Ali Al-Jufri.

Yordania: Raja Abdullah II, Pangeran Ghazi bin Muhammad (Dewan Pengawas Institut Aal Al-Bayt), Syekh Izzuddin Al-Khatib At-Tamimi (Hakim Agung), Syekh Salim Falahat (Ikhwanul Muslimin Yordania).

Bukti kesatuan Sunni dan Syiah serta keharmonian yang diidamkan para pewaris Nabi

Berbagai usaha telah dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan kesatuan dan keharmonian umat Islam, yang sepatutnya terjalin di antara hamba-hamba yang menyembah Allah, tidak kira dari mazhab mana mereka berasal. Namun kesedaran dan komitmen para ulama(pewaris nabi) serta kedewasaan berfikir telah menghalang dan menhancurkan cita-cita jahat musuh-musuh Islam tersebut.

Hanya kaum munafik dan/atau kaum jahil serta mereka yang tertipu dengan propaganda musuh-musuh Islam sahaja yang terjebak dalam jaring pemecahan umat Islam

Apa yang dicontohkan oleh seorang pawaris Nabi saw., ulama karismatik asal kota suci Mekkah, ulama besar Ahlusunnah di tanah air tercinta; Sayyid al Muhaddis Muhammad Alawi al Maliki al Hasani (RH) adalah sebuah bentuk keharmonisan yang seharusnya terjalin di antara umat Islam, khususnya di kalangan para ulama!

Dari kiri Ali Baqir al Musawi, Doktor Muhammad Sa’id Thayyib, Sayyid Hasyim as Salmân, al marhûm Sayyid Muhammad Alawi al- Maliki, Doktor Sâmi dan Amin al Aththâs.

Bentuk keharmonisan yang Diidam-adamkan Para Pewaris Nabi saw.

Hasil dari niat-niat jahat musuh Islam, berbagai-bagai bentuk fatwa telah di keluarkan oleh mereka untuk mengkafirkan antara satu sama lain. Mereka yang bermazhab Ahlul Bait telah menjadi sasaran fatwa pengafiran. Seribu satu alasan mereka carikan untuk menghalalkan darah-darah mereka. Mulai dari tuduhan palsu menyembah para imam dan menuhankan Imam Ali as. hingga tuduhan syirik dengan alasan bertawassul, beristighatsah dan meminta syafa’at kepada Nabi dan para imam suci dari Ahlulbait as.

Agen-agen mereka juga bertebaran di berbagai dunia Islam, tidak terkecuali negera tercinta kita Malaysia! seluruh kekuatan mereka kerahkan untuk memprovokasi masyarakat di peringkat akar umbi untuk mengafirkan Syi’ah dan menghalalkan darah-darah suci mereka! tidak sedikti wang yang mereka laburkan di negara ini.

Walaupun demikian, hal yang menggembirakan ialah munculnya sikap arif dari para pemikir tulus untuk hidup berdampingan dan berganding tangan di antara seluruh masyarakat Muslim dari mazhab manapun mereka berasal! Sebab Islam di atas segalanya! Konsep La ilaha Illahhah, Muhammad Rasulullah di jadikan priority di atas sikap mazhabiyah!

Di Arab Saudi mulai tercipta keadaan yang kondusif di antara elemen masyarakat Muslim dari berbagai mazhab; Sunni, Syi’ah dan Wahhabi sendiri, sebagai pemilik berbagai fasiliti kerajaan!

Keadaan seperti ini membuatkan ektrimis Wahhabi (bukan seluruh Wahhabi) tidak dapat duduk senang! Mereka tidak menginginkan terciptanya keharmonisan di antara umat Islam! Mereka lebih memilih jalan yang membahagiakan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya!

Tokoh karismatik Syi’ah; Syeikh Hasan ash Shaffar (wakil komuniti Syi’ah di Arab Saudi) dan Syeikh dan penulis terkenal bermazhab Wahhabi moderat; Syeikh Ied al Qarni (selaku cendikiawan dan pemikir Muslim) berusaha merumuskan piagam kesepakatan bersama antara berbagai aliran Islam di Arab Saudi.

Semoga usaha terpuji mereka segera ditiru oleh kaum Muslim di negara kita, khususnya mereka yang masih tertipu oleh propaganda musuh-musuh Allah dengan bersemangat menambah api permusuhan di antara Sunnah dan Syi’ah!

Para ulama dari berbagai penjuru dunia Islam menyambut Deklarasi Piagam yang diasas para ulama Mushlihun tersebut!

Ketua Majma’ Alami Li Ahlilbait as.; Syeikh Hasan Akhtari menaruh harapan besar bagi persatuan umat Islam yang berasal dari negera Islam paling bersejarah; Hijaz. Beliau menegaskan bahwa hal itu merupakan

“نبأ سارا لجميع المسلمين ولاقى ترحيبا بين أتباع النبي الأعظم الصادقين”.

“Berita gembira bagi seluruh umat Islam; pengikut setia Nabi agung Muhammad saw.”

Beliau juga menyebutnya sebagai:

خطوة حكيمة نابعة من إدراك عميق وفهم دقيق لعلماء واعين بالأوضاع الراهنة للعالم الإسلامي

“Langkah bijak yang lahir dari kasedaran yang dalam dan pemahaman yang jeli dari para ulama yang menyedari kondisi dunia Islam dewasa ini.”

Dalam suratnya yang dikirim untuk Syeikh Hasan dan al Qarni, Syeikh Akhtari mengatakan:

“في مطلع الألفية الجديد واجه العالم الإسلامي أمواجا متلاطمة التي تروج لها الصهيونية العالمية. وهذا يستدعي أن يتصدى أبناء مدرسة النبوة والرسالة بحكمة وبصيرة لهذه الفتنة العمياء، وأن يجتنبوا القيام بأية خطوة تؤدي إلى التفرقة، ولقد جسّدتم ذلك بأروع صورة من خلال الخطوة الواعية التي أقدمتم عليها”.

“Di awal peradaban ini, Dunia Islam sedang menghadapi badai yang menghempas yang dipropagandakan oleh Zionisme Internasional yang menuntut para pengikut ‘Madrasah Kenabian dan Kerasulan’ bangkit dengan bijak dan kesedaran pandangan untuk menghadapi fitnah yang membutakan itu. Hendaknya mereka menjauhkan diri dari melakukan tindakan yang mengarah kepada perpecahan. Kalian telah mewujudkannya dengan bentuk paling memukau melalui langkah-langkah sedar yang kalian lakukan.”

Al Akhtari juga menjanjikan dukungan penuh terhadap segala usaha ke arah terciptanya persatuan dan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat Muslim Dunia.

Majma’ Alami mengajak seluruh ulama dan pemuikir Islam untuk mendukung dan bergabung ke dalam Kafilah Persatuan Umat Islam ini. Semoga cita-cita para pawaris nabi ini terwujud!

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

Fatwa al-Azhar Mesir terhadap Mazhab Syiah dapat dirujuk kembali dalam kebanyakan media cetak pada 6 Julai 1959.

Pejabat Pusat Universiti Al-Azhar:
DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG
Teks Fatwa Al-Azhar diterbitkan daripada kewibawaannya
Shaikh al-Akbar Mahmud Shaltut,
Dekan al-Azhar Universiti, dalam sahnya mengikuti mazhab Syiah Imamiah

Pertanyaan:
Sesungguhnya setengah golongan manusia percaya, bahawa wajib beribadat dan bermuamalat dengan jalan yang sah dan berpegang dengan salah satu daripada mazhab-mazhab yang terkenal dan bukan daripadanya mazhab Syiah Imamiah atau mazhab Syiah Zaidiah. Apakah pendapat tuan bersetuju dengan pendapat ini dan melarang mengikuti mazhab Syiah Imamiah al-Istna Ashariyah misalannya?

Jawabnya:

1) Sesungguhnya Islam tidak mewajibkan seseorang Muslim mengikuti mana-mana mazhab pun adanya. Akan tetapi kami mengatakan setiap Muslim punyai hak untuk mengikuti satu daripada mazhab yang benar yang fatwanya telah dibukukan dan barangsiapa yang mengikuti mazhab-mazhab itu boleh juga berpindah ke mazhab lain tanpa rasa berdosa sedikit pun.

2) Sesunguhnya mazhab Jafari yang dikenali juga sebagai Syiah Imamiah al-Istna Asyariyyah dibenarkan mengikuti hukum-hukum syaraknya sebagaimana mengikuti mazhab Ahlul Sunnah.

Maka patutlah bagi seseorang Muslim mengetahuinya dan menahan diri dari sifat taksub tanpa hak terhadap satu mazhab. Sesungguhnya agama Allah dan syariatnya tidak membatas kepada satu mazhab mana pun. Para Mujtahid diterima oleh Allah dan dibenarkan kepada bukan Mujtahid mengikuti mereka dengan yang mereka ajar dalam Ibadah dan Muamalat.

Sign,
Mahmud Shaltut.

Demikian fatwa diumumkan pada 6 Julai 1959 dari pejabat Universiti al-Azhar kemudiannya disiarkan dalam media cetak antaranya:

1. Surat khabar al-Sha’ab Mesir, 7 Julai 1959.
2. Surat Khabar Lubnan, 8 Julai 1959.

Rasulullah bersabda: Seandainya agama itu berada pada gugusan bintang yang bernama Tsuraya niscaya salah seorang dari Persia atau dari putra-putra Persia akan pergi ke sana untuk mendapatkannya. (Shahih Muslim No.4618 Kitab Keutamaan Sahabat )

  • Diriwayatkan daripada Abu Hurairah yang berkata, “Kami sedang duduk bersama para sahabat Rasulullah saw ketika Surah Jumuah turun kepada baginda lalu baginda membacakan ayat ” … Dan juga (telah mengutuskan Nabi Muhammad kepada) orang-orang yang lain dari mereka, yang masih belum datang …”Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw sebanyak dua atau tiga kali tetapi baginda tidak menjawab. Bersama kami adalah Salman al-Farisi. Rasulullah saw berpaling kepadanya dan meletakkan tangan baginda ke atas paha Salman seraya bersabda, “Sekiranya iman berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya lelaki dari bangsa ini yang akan mencapainya.” (Sahih Muslim, Kitab al-Fada’il as-Sahabah hadis 6178 dan Sahih Bukhari, Kitab Tafsir, Jilid 5, halaman 108).
  • Allah SWT dalam surah Muhammad ayat 38, berfirman, “Dan jika kamu berpaling (daripada beriman, bertakwa dan berderma) Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain; setelah itu mereka tidak akan berkeadaan seperti kamu.”Ketika turun ayat ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, siapakah yang akan menggantikan kami? Baginda menepuk bahu Salman al-Farisi dan bersabda, “Dia dan kaumnya! Dan jika agama berada di bintang Suraya sekalipun, nescaya yang akan mengambilnya adalah lelaki dari bangsa Farsi.(Tafsir Ibnu Kathir, Jilid 4, halaman 182)

saudaraku….

Syi’AH iMAMiYAH ADALAH AHLUSSUNNAH YANG SESUNGGUHNYA

Kewajiban berpegang teguh dengan al-Quran dan Ahlul Bait

Dalam Sunan Sittah (Kitab Hadis Enam) banyak kali menyebut bahawa nabi meninggalkan dua perkara yang beharga iaitu al-Quran dan Ahlul Bait umpamanya Sunan at-Tirmidzi hadis no. 3874, jilid 5, halaman 722, cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993.

Hadis seumpama ini boleh ditemui dalam Sahih Muslim hal. 1873 – 1874 juz 4 no. 2408, sunt: Muhd Fuad Abd Baqi, t.t, cet. Dar al-Fikr Bayrouth, Imam Ahmad di dalam musnadnya hal. 366 juz 4, al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubra hal. 148 juz 2 serta al-Darimiy di dalam Sunannya m/s 431-432 juz 2.

Allah (s) berfirman dalam surah Syura, ayat 23: {Katakanlah wahai Muhammad, tiada aku minta ganjaran atas seruan dakwahku melainkan kecintaan ke atas kerabat}

Amin Farazala Al Malaya adalah seorang Syiah yang rajin mengkaji dan menyimpan rujukan beliau dalam bentuk salinan fotokopi. Hasil kerja beliau ini sangat berguna untuk menjelaskan siapakah Syiah yang sebenar dengan rujukan-rujukan daripada kitab-kitab Ahlussunnah sendiri.

Menarik di sini selepas meneliti isi kandungannya, saya mulai faham mengapa puak Wahabi tidak berani berdepan dengan Syiah untuk berdialog atau berdebat. Dari sudut yang lain tidak keterlaluan saya mengatakan kalau Wahabi berdebat dengan Syiah jadinya: menang belum pasti, kalah dah tentu. Alhamdulillah, ada saudara kita daripada puak Wahabi mulai insaf setelah membaca ‘Sekilas Pandang’ ini kerana sedar, selama ini dia ditipu tanpa penjamin
.
12 orang Imam adalah manusia suci berketurunan Rasulullah yang mewarisi seluruh khazanah ilmu dan penjaga umat selepas wafatnya Rasulullah (s). Dalam kitab Sahih Muslim yang diterbit oleh Klang Book Centre cetakan 1997, bab pemerintahan (Kitabul Imarah), hadis ke 1787 menyebut pemerintahan 12 orang khalifah daripada bangsa Quraysh, jelas sekali 12 khalifah ini bukan dari kalangan Bani Umayah dan Abasiyah kerana bani-bani ini mempunyai lebih dari 12 orang pemerintah.
.
Menurut sejarah selama pemerintahan dinasti Umayah dan Abasiyah, kesemua Imam 12 dan pengikut-pengikutnya diburu untuk dibunuh. Dalam suasana genting ini ramai ulama terpaksa menyembunyikan keimanan mereka. Nama-nama Imam 12 hari ini masih boleh ditemui dalam Kitab jawi karangan Syeikh Zainal Abidin al-Fatani berjudul Kasyful Ghaibiyah, halaman 53:
Transliterasi:
“…daripada keluarga nabi Sallahualaihi Wa Sallam, daripada walad Fatimah Radiallahuanha, bermula neneknya itu Hasan bin Ali bin Abi Talib, bermula bapanya Imam Hasan al-Askari ibni Imam Ali al-Taqi bin al-Imam Muhammad al-Taqi, al-imam Ali al-Ridha, anak al-Imam Musa al-Kazim anak al-Imam Jaafar al-Sodiq, anak al-Imam Muhammad al-Baqir, anak al-Imam Zainal Abidin bin Ali, anak al-Imam al-Husein, anak al-Imam Ali bin Abi Talib Radiallahuanhu ….”
Ternyata Syeikh Zainal Abidin al-Fatani dalam menyatakan jurai keturunan Imam Mahdi, beliau langsung mengaitkan nama Imam Hasan bin Ali (a) padahal beliau boleh terus mendaftar sisilah Imam Mahdi melalui al-Imam Husein bin Ali (a) tanpa menyebut Imam Hasan (a). Maksud pengarang ini tidak ingin memisahkan Imam Hassan dengan Imam Mahdi. Dengan ini juga lengkaplah nama-nama 12 Imam dalam menyatakan silsilah Imam Mahdi.

Lima kitab nabi Musa (Pentateuch) dalam Bible tidak mahu ketinggalan meramalkan 12 orang khalifah itu daripada keturunan nabi Ismail (a). Berikut adalah petikan dari Perjanjian Lama Kitab Keluaran, Fasal 17, ayat ke-20:

.
saudaraku…
-
Kebangkitan Islam di Iran

Ramalan kebangkitan Islam di Iran sudah lama diramalkan dalam surah Muhammad dan Jumu’ah

“….dan jika mereka berpaling, digantikan satu kaum selain kamu kemudian mereka tidak menjadi seperti kamu” (surah Muhammad, ayat 38)

“… mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w: “Siapakah mereka yang jika kami berpaling, kami akan digantikan dan mereka tidak akan jadi seperti kami?” jawab Rasulullah sambil menepuk tangannya ke bahu Salman al-Farisi, sambil bersabda: “dia dan kaumnya, sekiranya ad-Din terletak di bintang Suria nescaya akan dicapai oleh pemuda-pemuda daripada kalangan bangsa Parsi” (Tafsir Ibnu Kathir)
.
Begitu juga Surah Jumuah ayat 3 dalam Sunan Tirmidzi menceritakan hal yang sama.
Perkataan Syiah sendiri bermaksud ‘pengikut’ atau ‘golongan’. Hari ini perkataan Syiah banyak difokuskan kepada pengikut Imam Ali bin Abi Talib (a). Antara yang menarik perhatian kita adalah perkataan Syiah itu pernah diabadikan dalam beberapa kitab tafsir antaranya ialah Tafsir Dur Mathur Fi Tafsir Ma’thur, jilid ke-8, halaman 589:

(dikeluarkan oleh Ibn Adi daripada ibn Abbas yang telah berkata: apabila turunnya ayat {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} telah bersabda Rasulullah (s) pada Ali : (( ia adalah kamu dan Syiah kamu di hari kiamat adalah orang yang meredha dan diredhai))

Dan dinukilkan ibn Mardawiyah daripada Ali yang telah berkata: Telah bersabda Rasulullah (s) untukku: ((tidakkah engkau mendengar firman Allah {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu sebaik-baik makhluk} ia adalah kamu dan Syiah kamu, di mana janjiku dan janjimu bertemu di telaga Haudh, jika telah datang kepadamu umat untuk perhitungan, mereka dalam kehilangan panduan lantas memohon pertolongan))

Dalam artikel yang lepas, saya telah menulis tentang Kelahiran Syiah, Akhlak Pengikut Syiah, dan lain-lain, yang berkaitan dengan mazhab ini, dan pengikutnya. Kali ini, saya telah menjumpai sebuah artikel yang lebih konprehensif dan menyeluruh tentang mazhab ini dan pengikutnya, serta dalil-dalil yang berkaitan(dalam bentuk point lagi..hehe), InsyaAllah.  Silakan membaca, dengan nama Allah.

———————————————————

Efektifkah Sanksi Ekonomi DK-PBB Atas Iran?

Efektifkah sanksi ekonomi Dewan Keamanan PBB — terkait isu nuklir — yang dijatuhkan kepada Iran hari Sabtu 23 Desember (2006) lalu? Jawabannya gampang-gampang susah. Sanksi itu mungkin saja efektif karena disepakati seluruh anggota Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara; sehingga — jika kelak benar-benar konsisten dilaksanakan dan terbukti efektif — dampak negatifnya akan bereskalase luas
.

Apalagi itu mempertaruhkan kredibilitas PBB sebagai institusi dunia, dan juga Amerika Serikat (beserta sekutunya) sebagai negara adidaya (?). Seandainya sanksi itu tidak serius atau tidak bisa dikontrol konsistensi pelaksanaannya, maka wibawa AS — yang menjadi mandor dalam konspirasi itu — akan semakin anjlok seperti ikan pepes basi, dan itu bisa saja kemudian akan dijadikan sebagai faktor pendorong (accelerator factor) bagi Iran, Suriah, Hizbullah (bukan Hezbollah), Jihad Islam, dan Hamas untuk mempreteli atau meng-khitan-i setting and hidden agenda AS di Timur Tengah.

Jika skenario ini benar, yang paling merinding adalah Israel, sebab baginya, Iran merupakan ancaman terbesar dan oleh karenanya segala faktor yang berpotensi memperkuat wibawa dan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah harus dipangkas sejak awal. Dan Israel menganggap proyek nuklir Iran sebagai faktor utama yang dimaksud.

Akan tetapi banyak pihak yang skeptis dengan keberhasilan sanksi tersebut (bahkan cenderung dianggap sebagai gertak sambal) mengingat dalam dunia yang dikangkangi ideologi neoliberalime (ultrakapitalisme) seperti saat ini, yang paling menentukan segalanya adalah uang atau “fulus”.

Salah satu adagium yang terkenal dalam praktik kapitalisme: “Ada uang Abang disayang, tidak ada uang Abang di-jewer”.

Maka, jangan heran ketika Iran dijatuhi sanksi ekonomi dan militer oleh AS sejak Revolusi Islam tahun 1979, justru AS sendiri yang melanggar sanksi itu di tahun 1980-an dengan diam-diam menjual senjata kepada Iran dalam skandal yang disebut Iran-Contra. Penjualan senjata itu adalah untuk mendapatkan dana yang akan disumbangkan — oleh AS — kepada gerilyawan Contra di Nikaragua, Amerika Latin. Kendati sanksi tersebut masih berlaku hingga sekarang, pengaruhnya praktis tidak terasa bagi Iran (mungkin sekadar ibarat gatal-gatal kecil di celah jari kaki), sebaliknya justru Presiden AS Ronald Reagen jatuh — bak nangka busuk — akibat skandal tersebut.

Jangankan Iran, Irak saja semasa kekuasaan Saddam Husein juga pernah dijatuhi sanksi ekonomi, tapi penjualan minyaknya (Irak) tetap saja berlangsung melalui pasar gelap (black market). Tentu tak sama dengan Irak, negara yang menerapkan sistem pemerintahan Wilayat-ul Faqih itu (Iran) sudah terlanjur mesra menjalin kerjasama proyek-proyek raksasa strategis dengan sejumlah negara di antaranya Rusia, China, dan beberapa negara Barat (Eropa), sehingga AS tidak akan mudah mendepak negara-negara tersebut dari rangkulan Iran
.
Sekadar catatan, hingga saat ini China sangat mengandalkan pasokan minyak dari Iran untuk menjamin kebutuhan industrinya. Itu berarti jika pasokan minyak terganggu, industri dan roda perekonomian China akan mengalami stagnasi besar yang bermuara pada ketidakstabilan sosial-politik, bukan saja di dalam negeri China sendiri tapi juga di negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi tradisional dengannya, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Dapat dibayangkan, berapa juta pengangguran yang akan ditimbulkan akibat penerapan sanksi (ekonomi) konyol itu.

Dari uraian di atas kita meragukan efektifitas sanksi ekonomi atas Iran itu. Mungkin bagi Iran sendiri akan menertawakannya karena mereka paham betul hadist Nabi saw bahwa manusia rawan terperosok pada tiga hal: perempuan, tahta (jabatan untuk tujuan duniawi semata), dan harta (uang). Dan kelemahan neoliberalisme yang menyembah uang itu pasti akan digunakan oleh Iran untuk memperkuat perjuangan menegakkan keadilan. Dalam hal ini, mungkin Iran akan kembali menggunakan modifikasi strategi senjata makan tuan (seperti yang pernah dipraktikkan dalam kasus Iran-Contra) untuk memperolok-olok sanksi ekonomi tersebut.

SEANDAINYA sanksi ekonomi atas Iran tidak efektif, apakah akan beranjak menjadi sanksi militer? Pertanyaan ini pun gampang-gampang susah untuk dijawab. Jika sanksi militer tidak diberlakukan (seandainya kelak terbukti sanksi ekonomi tidak efektif), maka wibawa AS dan sekutunya — termasuk DK-PBB — akan semakin anjlok. Bahkan AS akan menganggap dominasinya di kawasan Timur Tengah akan menjadi goyah seiring dengan menguatnya harga diri dan rasa percaya diri (self convidence) Iran, berikut para koleganya.

AS pun akan semakin dipusingkan dengan rengekan anak emasnya (yang sekaligus dianggapnya sebagai penyangga — buffer state — di Timur Tengah) Israel karena anak ini semakin merasa merinding membayangkan terjangan rudal Shahab-3 Iran yang mampu menjangkau Tel Aviv.

Sebaliknya, kalau sanksi militer terpaksa harus dipilih, AS tentu sudah mempertimbangkan konsekuensi seriusnya. Melalui departemen khusus yang mengkaji tentang Iran dan Islam Syiah yang ada dalam struktur CIA, AS pasti paham betul perbedaan antara Syiah di Irak dan Syiah di Iran. Kendati keduanya mayoritas sama-sama menganut mazhab Syiah Imamiah, namun militansi keduanya sangat berbeda. Dari perspektif historical background hal itu dengan mudah dipahami dalam beberapa rentetan kejadian menjelang syahidnya Imam Husein as — cucu kesayangan Rasulullah Muhammad saw — di Padang Karbala, khususnya pada momen di Kuffah
.

Ketegaran Syiah Iran juga bisa kita saksikan pada kekokohan kepribadian pemuda Iran (Persia) Salman al-Farisi, yang oleh Rasulullah saw dijadikan sebagai salah seorang sahabat sejati. Namun yang paling penting adalah bahwa —

terkait dengan penjabaran makna ayat Qur’an Surah al-Jumu’ah ayat 3 — Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikan iman terletak di bintang tsurayya (bintang kejora), orang-orang dari bangsa Salman ini (maksudnya: Iran) akan dapat menggapainya” (lihat hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Alu’lu Wal Marjan jilid II, juga oleh at-Turmudzi, dan an-Nasai).

“Seandainya iman itu terletak di bintang tsurayya (kejora), orang-orang dari kalangan penduduk Parsi (Iran) akan dapat menggapainya.” (Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah; juga lihat riwayat Bukhari dalam kitab Alu’lu Wal Marjan, jilid I).

Apakah hal itu pula yang antara lain mendorong Imam Ali (karamallahu wajhah) menikahkan puteranya, al-Husein, dengan Syahbanu, salah seorang puteri Raja Persia / Iran, yang keturunannya kini banyak menjadi ulama di Iran? Wallahu a’lam. Yang jelas kalau AS dan sekutunya menyulut api peperangan di Iran, yang pertama akan terbakar adalah Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz. Sekadar catatan, melalui selat ini 30 hingga 40 persen pasokan minyak dunia dilewatkan, dan satu pulau strategis di tengah-tengah Teluk Persia adalah Pulau Abu Musa yang dijadikan salah satu pangkalan Angkatan Laut (AL) Iran yang armada lautnya dilengkapi sejumlah kapal selam berteknologi super canggih yang dibeli dari Rusia.

Maka, dapat diprediksi, pada hari pertama AS dan sekutunya melancarkan serangan militer, harga minyak dunia segera akan melambung ke angka sekitar 100 dollar AS per barrel (bahkan bisa lebih). Dan ini pasti akan menyengsarakan penduduk dunia.

***

Untuk membaca efektifitas gertakan militer AS dan sekutunya, sederhana saja. Cermatilah, kalau para gerilyawan di Irak saja sulit diatasi oleh AS — dan sekutunya — apatah lagi dengan menghadapi mobilisasi warga Syiah dan Suni yang anti AS (dan Israel) di seluruh kawasan Timur Tengah. Dan dalam kondisi dipojokkan bisa saja ulama Iran (Wali Faqih) terdorong untuk mengeluarkan fatwa bahwa membasmi tentara AS dan sekutunya identik dengan menggapai keimanan seperti yang ada di bintang Tsurayya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Selanjutnya, bagaimana pula mengatasi kemungkinan ribuan speed boat karet (yang dimuati bom, dan tidak bisa dideteksi oleh radar karena “karet” bersifat non-conductor) Pengawal Revolusi Iran yang akan disilewerkan secara serentak di Teluk Persia seraya menunggu perintah ke-syahid-an untuk ditabrakan ke lambung-lambung kapal perang AS dan sekutunya. Juga bagaimana mengatasi kemungkinan pesawat-pesawat tempur Iran yang sengaja diterbangkan untuk ditabrakkan ke sasaran musuh, di mana para pilotnya membawa Al-Qur’an sembari melantunkannya bersama-sama dengan melafadzkan shalawat Nabi?

Sebagaimana diketahui, sebelum AS dan sekutunya membombardir Irak, Presiden Irak Saddam (Husein) al-Tarkiti menitipkan 250 pesawat tempur super canggih “Mirage 2000” (buatan Perancis) kepada Iran dan hingga kini belum dikembalikan (mungkin oleh Iran, ini dianggap sebagai pampasan perang dan sebagai bagian dari kompensasi Perang Iran-Irak di masa lalu). Kalau untuk teknologi nuklir saja Iran berhasil melatih tenaga-tenaga ahlinya, mustahil untuk men-training pilot-pilot — yang akan menerbangkan pesawat-pesawat Mirage — itu tidak bisa. Apalagi kebutuhan pilot tersebut sangat urgen bagi Iran karena mereka sudah membeli puluhan pesawat tempur canggih Sukhoi dari Rusia dan telah berhasil membuat modifikasinya untuk diproduksi di dalam negeri.

Sebagai komparasi, gerilyawan mujahidin Hisbullah (Lebanon) saja — yang konon instrukturnya berasal dari ribuan Pengawal Revolusi Iran — sudah berhasil membuat sendiri rudal panggul anti tank canggih Mirkova yang diproduksi oleh Israel, dan ini membuat Israel babak belur (dan para jenderalnya geleng-geleng kepala dan frustrasi seperti “terasi”) pada peperangan beberapa saat lalu di Lebanon. Selain itu, besar kemungkinan dinas intelijen seperti CIA dan Mossad (Israel) sudah memperhitungkan bahwa pasca bubarnya Uni Sovyet dan negara-negara Eropa Timur, begitu banyak jenderal dan insinyur (yang bekerja di laboratorium dan industri-industri persenjataan) yang membutuhkan uang. Dan itu mungkin saja dimanfaatkan oleh Iran dengan membeli kemampuan teknologi mereka sekaligus (bukan hanya sekadar membangun pabrik senjata, seperti yang terjadi di banyak negara Dunia Ketiga).

TENTU saja kita tidak menghendaki skenario buruk seperti di atas menjadi kenyataan, karena esensi kemanusiaan adalah cinta damai; dan memang kedamaian itu indah. Dan bagi kita di Indonesia, paling hanya bisa berdoa atau ber-istighosah. Istighosah teruuuuuus!!

Seruan Imam Khomeini

untuk Persatuan Ummat

(Dikutib dan diedit dari Majalah Yaum Al-Quds, Rabiul Awal 1403 H oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional — Forum SPTN, Jakarta)

Pengantar Redaksi

“Kita menyaksikan rakyat dibodohi dengan dicekoki omongan bahwa pembangunan yang dibiayai dari utang itu wajar, dan utang itu sekarang sudah menyengsarakan rakyat,” demikian Kwik Kian Gie dalam pernyataannya pada acara deklarasi pendirian Pernasindo (Perhimpunan Nasionalis Indonesia). Lebih lanjut, menurut Kwik, untuk melawan pembodohan tersebut akan dimulai kampanye penyadaran. Kampanye ini akan mengajak media yang ada. Jika tidak mendapat sambutan, maka akan membuat media sendiri, misalnya dengan menyebarkan pidato penyadaran dalam kaset rekaman seperti yang dilakukan Imam Khomeini di Iran

(Kompas, 10 / 6 / 2006).

***

“Dunia Islam berada dalam keadaan yang buruk disebabkan perpecahan di antara berbagai kelompok, dan satu-satunya harapan dalam kegelapan ini ialah Imam Khomeini,” demikian Haidir Faruq Maududi (1 / 8 / 1982), seorang ulama Pakistan, putera Maulana Abul A’la Maududi (pendiri Jamaat Islami, Pakistan). Selanjutnya, ia mengatakan bahwa Imam Khomeini telah mampu menolak hegemoni dua super power (Amerika Serikat dan Uni Sovyet), dan telah membuat bangsa Iran menjadi suatu bangsa yang

bebas merdeka. (Dikutib dari majalah Yaum al-Quds, Rabiul Awal 1403 H).

***

Dijadikannya Imam Khomeini (pencetus Revolusi Islam di Iran) sebagai inspirator perjuangan oleh banyak tokoh pejuang pembebasan dan penegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan hakiki menggelitik kita untuk terus menyelami corak dan substansi perjuangan Sang Imam, termasuk

murid-murid beliau.

***

Dari perspektif Al-Qur’an menarik untuk menyimak ayat sebagai berikut:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.”

(Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat, ayat 13)

Bukankah substansi hakiki dari suku-suku itu adalah adat-istiadat dan kebudayaannya? Bukankah suatu bangsa terbentuk dari interaksi (komunikasi) dan kerjasama konstruktif (produktif) antara berbagai suku-adat yang ada? Bukankah “kerjasama konstruktif dan produktif” (juga lihat QS 5 : 2) merupakan makna hakiki dari “saling kenal-mengenal” seperti dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an tersebut?

Sungguh, agama telah memberi ruang yang lapang bagi berbagai adat-istiadat dan kebudayaan untuk mengartikulasikan dirinya demi kemaslahatan bersama.

Selain itu, kita juga sepakat bahwa amar ma’ruf wa nahiy munkar merupakan kewajiban religius yang harus diamalkan bagi setiap Muslim. Namun, bila dicermati, al-ma’ruf dapat diartikan sebagai nilai-nilai kebaikan yang akarnya tumbuh dari tradisi masyarakat; sedangkan al-khair adalah nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari wahyu Ilahi. Realitas ini menunjukkan betapa Islam menghargai pluralitas (beda dengan pluralisme) dan eksistensi multikultural (beda dengan multikulturalisme).

Paparan di atas merupakan sari pati yang dapat kami cerna dari pemikiran-pemikiran para murid Imam Khomeini seperti Ayatullah Mutahhari, Ayatullah Ali Khamenei, dan Ayatullah Hashemi Rafsanjani.

Sungguh, mereka telah memperkenalkan indahnya menjalin interaksi kemanusiaan yang setara atas dasar saling pengertian (beda dengan toleransi) dalam rangka membangun peradaban universal (lebih luhur dari globalisasi) yang berkeadilan dan bermartabat.

_________________

Kami menaruh simpati terhadap rakyat di seluruh dunia, dan kami mendukung (perjuangan) mereka.Adalah kewajiban mereka untuk memutuskan tangan-tangan yang sedang bersekongkol untuk merampok sumber-sumber kekayaan mereka.

Kaum Muslimin harus menyelesaikan masalah-masalah mereka dengan pengertian, bukan dengan saling berkonfrontasi. Adalah kewajiban religius bagi setiap Muslim untuk menyerukan persatuan. Siapa pun yang mengupayakan perpecahan berarti ia melakukan dosa besar yang tidak akan diampuni Tuhan.

Kesalahan ummat Islam yang paling mendasar adalah pengabaian mereka atas nilai-nilai hakiki Al-Qur’an. Padahal, jika mereka mengamalkan anjuran Allah, “Berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”, niscaya segala kesulitan politik dan kemasyarakatan yang mereka hadapi akan mudah teratasi, dan tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memperdayai mereka. Wahai ummat, bangkitlah dan bergabunglah di bawah panji tawhid, lenyapkanlah segala perselisihan karena ambisi pribadi dan golongan, niscaya kalian akan dapat menguasai hak-hak kalian.

Sekiranya kalian telah bersatu dan memelihara hubungan persaudaraan yang Allah telah tetapkan, maka Afghanistan (juga Irak dan Lebanon — Redaksi) tidak akan menjadi sasaran penyerbuan, dan Palestina tidak akan mungkin dijajah.

***

PARA ulama dan intelektual Islam telah berusaha mempersatukan ummat — sejak masa-masa permulaan Islam — dan menjadikan mereka bersatu melawan kelaliman. Dan di mana pun mereka berada, mereka senantiasa membangun kerjasama dan saling pengertian.

***

ORANG-orang yang hendak memperdayai negeri-negeri kaum Muslimin untuk keuntungan mereka sendiri, menebarkan perselisihan dan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Anasir-anasir beberapa negara Barat sangat tidak menginginkan terjadinya persatuan Sunni dan Syiah.

Anda saksikan, setelah deklarasi Pekan Persatuan Islam (yang waktunya bertepatan dengan peringatan Maulid Rasulullah SAW) oleh Ayatullah Montazeri, segera terdengar dari Hijaz (Saudi Arabia) bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah syirik. Maka, apa yang terjadi jika Iran merayakannya? Apakah bangsa Iran kemudian menjadi musyrik?

Apabila kaum Muslimin sedunia bersatu, mereka tidak akan dapat ditaklukkan di bawah dominasi negara-negara neo-imperialis. Sayangnya, pemerintah-pemerintah mereka menyepelekan nilai-nilai Al-Qur’an. Tidakkah mereka memerhatikan Iran — dengan persatuannya — mampu mengalahkan satu imperium yang didukung oleh kekuatan lengkap? Tidakkah mereka melihat bahwa Iran mampu menentang dominasi neo-imperialis Barat (AS) maupun Timur (Uni Sovyet)? Apabila kaum Muslimin — dengan penduduk hampir satu milyar — bersatu, Timur dan Barat tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Mengapa pemerintahan tertentu di kawasan Timur Tengah telah melupakan kejahatan Israel dan menyerang Iran, padahal Iran sedang membela Islam dan nilai-nilai Al-Qur’an? Kini, bahan bakar minyak (BBM) — yang menjadi nadi hidup negara-negara hegemonik — berada dalam kontrol kaum Muslimin. Maka, mengapa mereka melayani dan bertindak sebagai pasar bagi Amerika Serikat dan Uni Sovyet (sekarang sudah bubar — Redaksi)? Itu karena mereka tidak memiliki pertumbuhan politik yang sehat. Alhamdulillah, sekarang Iran telah merdeka (secara konstitusi, politik, ekonomi, kebudayaan, militer maupun ideologi — Redaksi) dan tidak ada kekuatan asing yang campur tangan di sini.

Segala kecemasan dan frustrasi kekuatan-kekuatan congkak itu bersumber dari kenyataan bahwa mereka tidak sanggup mencampuri urusan-urusan Iran. Mereka tidak akan sanggup berbuat begitu hingga kapan pun. Insya Allah.

***

PADA saat ini, ketika kekuatan-kekuatan hegemonik dunia telah dimobilisasi untuk memerangi Islam (dan Iran), penguasa-penguasa tertentu di negeri-negeri Muslim — dengan bantuan kaum Zionis sedunia dan kekuatan-kekuatan neo-imperialiastik — sedang menebarkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin, sehingga kaum Muslimin harus memperkokoh persatuan dengan berpegang teguh pada kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, dan harus terus maju dengan semangat revolusioner.

Kaum Muslimin dan seluruh rakyat yang tertindas jangan sampai tertipu dengan manufer licik mereka, dan agar menyelamatkan diri dari cengkeraman mereka.

Berbahagialah di suatu masa ketika seluruh pemerintahan akan bersatu padu bersama rakyat, dan bangkit bersama, sehingga tangan-tangan superpower (?) terputus dari negara-negara mereka.

Apabila kita bersatu tidak akan ada lagi masalah Al-Quds (Masjid al-Aqsa), dan juga kerumitan-kerumitan lainnya. [**]

Demikian pula dalam menanggapi tulisan orang. Tak perlu terbakar jenggot hingga mengklaim sesat. Kita tidak mau ada kekerasan muncul kembali di Tanoh Serambi Mekkah ini. Cukup sudah konflik bersenjata lalu, jangan sampai konflik beragama juga memicu pertumpahan darah. Semoga Islam damai, Aceh aman. Amin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s