Bulan: Mei 2011

Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali ?

Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali ?

Masih di seputar hangat-hangatnya mengenai siapakah Ahlul Bait, kami akan membawakan atsar perkataan Imam Ali soal ahlul bait yang cukup memberikan petunjuk soal siapakah ahlul bait Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]? Apakah ahlul kisa’ [keluarga Ali] ataukah istri-istri Nabi?.

نا أبو رفاعة نا إبراهيم بن سعيد الجوهري نا إبراهيم بن مهدي عن عيسى بن يونس عن إسماعيل عن قيس قال قال علي : ما زال الزبير منا أهل البيت حتى نشأ ابنه عبد الله فغلبه

Telah menceritakan kepada kami Abu Rifaa’ah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’id Al Jauhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdiy dari Isa bin Yunus dari Ismaiil dari Qais yang berkata Ali berkata “Zubair senantiasa menjadi bagian dari kami Ahlul Bait sampai akhirnya putranya Abdullah tumbuh dewasa dan menguasainya” [Mu’jam Ibnu Arabi 4/431 no 1923]

Atsar Imam Ali di atas diriwayatkan oleh Ibnu Arabi dalam Mu’jam-nya. Ibnu Arabi adalah Ahmad bin Muhammad bin Ziyaad Abu Sa’id bin Al Arabi Al Bashriy seorang Imam muhaddis, qudwah, shaduq, hafizh, Syaikh Al Islam [As Siyar Adz Dzahabiy 15/408 no 229]. Perawi dalam sanad atsar di atas adalah para perawi tsiqat.

  • Abu Rifa’ah yaitu Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Habib Al Adawiy Al Bashriy, biografinya disebutkan Al Khatib dalam kitab Tarikh Baghdad dimana Al Khatib menyatakan ia seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 11/283 no 5150]
  • Ibrahim bin Sa’id Al Jauhariy adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Abu Hatim menyebutkan “shaduq”. Nasa’i dan Al Khatib menyatakan ia tsiqat. Ia juga dinyatakan tsiqat oleh Daruquthni, Al Khaliliy dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 1 no 218]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat hafizh [At Taqrib 1/57]
  • Ibrahim bin Mahdiy adalah perawi Abu Dawud. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Ibnu Qani’ menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 304]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [At Taqrib 1/67]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat.
  • Isa bin Yunus adalah Isa bin Yunus bin Abu Ishaq perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Abu Hatim, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Khirasy menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia tsiqat dan tsabit dalam hadis. Abu Zur’ah berkata “hafizh”. Ibnu Saad berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 440]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat ma’mun” [At Taqrib juz 1/776]
  • Ismail bin Abi Khalid adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Mahdi, Ibnu Ma’in dan Nasa’i berkata “tsqiat”. Ibnu ‘Ammar berkata “hujjah”. Al Ijli dan Abu Hatim menyatakan tsiqat. Yaqub bin Abi Syaibah berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “syaikh shalih”. [At Tahdzib juz 1 no 543]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/93]
  • Qais bin Abi Haazim adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat mukhadhramun. Ibnu Ma’in berkata “ia lebih terpercaya daripada Az Zuhri”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 691]. Al Ijli berkata “termasuk sahabat Abdullah, mendengar dari Abu Bakar Ash Shiddiq dan ia tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1529]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/32]. Adz Dzahabiy berkata “tsiqat hujjah” [Al Mizan juz 3 no 6908]

Atsar di atas sanadnya shahih sampai kepada Imam Ali. Setelah meneliti keshahihan riwayat tersebut mari kita lanjutkan dengan pembahasan terhadap matannya. Ucapan Imam Ali tentang Zubair di atas diucapkan oleh Beliau saat terjadinya perang jamal dimana saat itu Zubair beserta putranya Abdullah bin Zubair berperang dengan Imam Ali. Dalam sejarah [baik yang ternukil dalam kitab sirah maupun kitab hadis] diketahui kalau Zubair termasuk sahabat yang berpihak kepada Imam Ali pasca wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Pada saat itu pihak Abu Bakar [yaitu Umar] mengancam akan membakar rumah Imam Ali yang merupakan tempat berkumpul Ali, Zubair dan sahabat lainnya. Inilah yang dimaksud Imam Ali dengan perkataan “selalu menjadi bagian dari kami Ahlul Bait”. Yaitu maksudnya Zubair bin Awwam selalu berpihak, mendukung dan membela Ahlul Bait. Tetapi sejarah juga membuktikan setelah itu Zubair ternyata ikut berperang melawan Imam Ali dalam perang Jamal.

Padahal dalam perang jamal berdasarkan dalil dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pihak yang benar adalah Imam Ali sedangkan Zubair adalah pihak yang zalim. Imam Ali mengatakan kalau sikap Zubair itu akibat pengaruh dari putranya Abdullah bin Zubair sehingga Zubair yang awalnya berpihak dan mendukung Ahlul Bait kemudian pada perang jamal malah menentang ahlul bait. Itulah maksud perkataan Imam Ali bahwa Zubair senantiasa menjadi bagian dari ahlul bait sampai akhirnya putranya Abdullah menguasainya. Jadi menurut Imam Ali, pada saat perang Jamal, Zubair telah berpisah dari Ahlul Bait.

Pertanyaannya, dalam perang jamal Zubair dan putranya Abdullah bin Zubair itu berpihak kepada siapa?. Siapakah pemimpin pihak Zubair dalam perang Jamal?. Siapakah yang diikuti dan didukung oleh Zubair dalam perang Jamal?. Kita sama-sama mengetahui, tidak lain ia adalah Ummul mukminin Aisyah radiallahu ‘anha salah satu dari istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bukankah Aisyah ra sebagai istri Nabi juga termasuk Ahlul Bait?. Lantas mengapa Imam Ali mengatakan Zubair tidak lagi menjadi bagian dari Ahlul Bait?.

Tentu saja kami tidak akan menyatakan kalau Imam Ali menolak atau menafikan bahwa Aisyah ra adalah istri Nabi yang juga termasuk Ahlul Bait. Dalam tradisi arab sudah jelas kalau istri Nabi termasuk Ahlul Bait dan terdapat dalil yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memanggil istri Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan sebutan Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Imam Ali dengan “ahlul bait” disini adalah “Ahlul Bait” yang seharusnya menjadi pedoman dan wajib diikuti oleh umat islam [termasuk Zubair] yaitu keluarga Imam Ali yang terdiri dari Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Merekalah ahlul bait yang dimaksud dalam perkataan Imam Ali tentang Zubair.

Perang Jamal adalah perselisihan antara Imam Ali dan Aisyah ra, keduanya adalah Ahlul Bait. tetapi ahlul bait yang menjadi pedoman umat [dalam hadis Tsaqalain] dan yang telah disucikan oleh Allah SWT [dalam ayat tathiir] adalah Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Aisyah ra dengan segala kemuliaan yang dimiliki oleh beliau adalah pihak yang keliru, pertentangannya dengan Imam Ali dimana beliau telah keluar dari rumahnya hingga sampai ke medan perang jelas merupakan kesalahan. Kami menghormati dan memuliakan beliau sebagai istri Nabi tetapi kami lebih menjunjung tinggi kebenaran. Imam Ali mengetahui bahwa Aisyah ra istri Nabi adalah Ahlul Bait tetapi beliau tetap mengatakan kalau Zubair tidak lagi berpihak kepada ahlul bait. itu berarti “ahlul bait” yang dimaksud Imam Ali adalah merujuk pada dirinya, Imam Hasan dan Imam Husain yang merupakah ahlul bait yang disucikan oleh Allah SWT.

Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir

Dimana saja dan di zaman manapun akan selalu ada orang-orang yang dengan segala cara mengingkari keutamaan Ahlul Bait. Diantara kaum ingkar tersebut, yang paling berbahaya adalah orang yang menyebut diri mereka “salafy”. Dengan symbol palsu seperti itu mereka mengatasnamakan kaum salaf sambil mengutip hadis-hadis yang mereka simpangkan artinya demi mengingkari keutamaan Ahlul Bait. Salafy adalah kaum yang paling keras pengingkarannya terhadap kepemimpinan Ahlul Bait dan insya Allah, dalam perkara “Ahlul Bait” blog ini akan menjadi yang paling keras membantah salafy. Salafy mengingkari kepemimpinan Ahlul Bait maka kami katakan Ahlul Bait sendiri mengakui kepemimpinan mereka

اخبرنا أبو بكر محمد بن عبد الباقي أنا الحسن بن علي أنا محمد بن العباس الخزاز أنا احمد بن معروف نا الحسين بن محمد أنا محمد بن سعد نا يزيد بن هارون أنا العوام بن حوشب عن هلال بن يساف قال سمعت الحسن بن علي وهو يخطب وهو يقول يا أهل الكوفة اتقوا الله فينا فإنا أمراؤكم وأنا اضيافكم ونحن أهل البيت الذين قال الله تعالى ” إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ” قال فما رأيت يوما قط اكثر باكيا من يومئذ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Baaqiiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbas Al Khazzaaz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ma’ruf yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’ad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Awwaam bin Hausyab dari Hilal bin Yasaaf yang berkata aku mendengar Hasan bin Ali dan ia berkhutbah, ia mengatakan “wahai ahlul kufah bertakwalah kepada Allah tentang kami, kami adalah pemimpin-pemimpin kalian dan tamu-tamu kalian dan kami ahlul bait yang difirmankan Allah SWT “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Hilal bin Yasaaf] berkata “aku belum pernah melihat hari dimana banyak orang menangis seperti pada hari itu” [Tarikh Ibnu Asakir 13/270]

Atsar Imam Hasan ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat, Husain bin Muhammad adalah Husain bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Fahm dikatakan Daruquthni “tidak kuat” tetapi Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun hafizh”.

  • Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Baaqiy adalah Syaikh [guru] Ibnu Asakir yang tsiqat. Adz Dzahabi menyebutnya Syaikh Imam Al Alim. Ibnu Jauzi menyatakan ia tsiqat tsabit dan hujjah [As Siyar 20/23-28 no 12]
  • Hasan bin Ali adalah Abu Muhammad Hasan bin Ali Al Jauhariy Asy Syiraaziy Al Baghdadiy. Adz Dzahabi menyebutnya Syaikh Imam muhaddis shaduq. Al Khatib telah menulis darinya dan menyatakan ia tsiqat dapat dipercaya [As Siyaar 18/68 no 30]
  • Muhammad bin ‘Abbas adalah Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abbas bin Muhammad bin Zakariya bin Yahya Al Baghdadiy Al Khazzaaz yang dikenal dengan Ibnu Haywayh. Adz Dzahabi menyebutnya imam muhaddis yang tsiqat. Al Khatib menyatakan tsiqat. Al Barqaniy berkata “tsiqat tsabit hujjah” [As Siyar 16/409-410 no 296]
  • Ahmad bin Ma’ruf adalah Ahmad bin Ma’ruf bin Basyr bin Musa Abu Hasan Al Khasysyaab mendengar dari Husain bin Fahm dan telah meriwayatkan darinya Ibnu Haywayh. Al Khatib berkata “ia tsiqat” [Tarikh Baghdad 5/368 no 2920]
  • Husain bin Muhammad adalah Husain bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Fahm. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun hafizh” [Mustadrak Ash Shahihain no 4638]. Daruquthni berkata “tidak kuat” [Su’alat Al Hakim no 85]. Al Khatib berkata “ia tsiqat berhati-hati dalam riwayat” [Tarikh Baghdad 8/92 no 4190]
  • Muhammad bin Sa’ad Al Hasyimi Abu ‘Abdullah Al Bashriy penulis kitab Thabaqat. Ibnu Hajar berkata “ia hafizh besar yang tsiqat”. Al Khatib menyatakan Ibnu Sa’ad termasuk ahli ilmu yang memiliki keutamaan, kefahaman dan ‘adalah [At Tahdzib juz 9 no 275]. Ibnu Hajar juga berkata “shaduq memiliki keutamaan” [At Taqrib 2/79].
  • Yazid bin Harun bin Waadiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang klebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]
  • ‘Awwaam bin Hausyaab adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti Syu’bah menganggapnya tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih tidak ada masalah padanya”. Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 298]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit dan memiliki keutamaan” [At Taqrib 1/759]
  • Hilaal bin Yasaaf adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ia menemui masa Ali dan meriwayatkan dari Hasan bin Ali. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 144]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/274]

Tidak diragukan lagi semua perawinya tsiqat. Hanya Husain bin Fahm yang dikatakan Daruquthni “tidak kuat” tetapi ini bukan jarh yang menjatuhkan karena perawi dengan predikat seperti ini bisa jadi hadisnya hasan. Apalagi jarh Daruquthni ini bersumber dari Al Hakim sedangkan Al Hakim sendiri menyatakan Husain bin Fahm tsiqat ma’mun dan Hafizh. Pendapat yang rajih Husain bin Fahm seorang yang tsiqat.

Hilaal bin Yasaaf dalam periwayatan dari Imam Hasan memiliki mutaba’ah yaitu dari Abu Jamilah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsiir Ibnu Abi Hatim no 16776 dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3/93 no 2761. Berikut sanad riwayat Ibnu Abi Hatim dari ayahnya

حدثنا أبو الوليد حدثنا أبو عوانة عن حصين بن عبد الرحمن عن أبى جملية قال إن الحسن بن علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Abi Jamilah yang berkata bahwa Hasan bin Ali-riwayat di atas-

Riwayat Abu Jamilah ini sanadnya hasan. Para perawinya tsiqat kecuali Abu Jamilah ia seorang yang shaduq hasanul hadis. Dalam riwayat Abu Jamilah terdapat tambahan lafaz yang menyebutkan kalau khutbah Imam Hasan itu diucapkan ketika Imam Ali telah wafat.

  • Abu Walid adalah Hisyam bin Abdul Malik seorang Hafizh Imam Hujjah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [2/267]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5970]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yaskuri. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 6049].
  • Hushain bin Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqah [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124]
  • Abu Jamilah adalah Maisarah bin Yaqub seorang tabiin yang melihat Ali dan meriwayatkan dari Ali dan Hasan bin Ali. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 693]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul [At Taqrib 2/233]. Pernyataan Ibnu Hajar keliru karena sebagai seorang tabiin dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah bahkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats Tsiqat maka dia adalah seorang yang shaduq hasanul hadis seperti yang dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 7039]

Abu ‘Awanah dalam periwayatan dari Hushain bin ‘Abdurrahman memiliki mutaba’ah yaitu dari Khalid bin ‘Abdullah Al Wasithiy sebagaimana yang diriwayatkan Ath Thabrani dengan jalan sanad berikut

حدثنا محمود بن محمد الواسطي ثنا وهب بن بقية أنا خالد عن حصين بن أبي جميلة أن الحسن بن علي رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Muhammad Al Wasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari Hushain dari Abu Jamilah bahwa Hasan bin Ali radiallahu ‘anhu-riwayat-

Riwayat ini sanadnya hasan. Mahmud bin Muhammad Al Wasithiy dikatakan Daruquthni seorang yang tsiqat [Su’alat Hamzah no 367]. Wahb bin Baqiyah adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i, Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/291]. Khalid bin ‘Abdullah Al Wasithiy adalah perawi kutubus sittah, Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/259]. Dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka riwayat Imam Hasan ini kedudukannya shahih tanpa keraguan. Telah meriwayatkan dari Imam Hasan, Hilal bin Yasaaf dan Abu Jamilah Maisarah bin Ya’qub.
.

.

.

Pembahasan Matan Riwayat

Khutbah Imam Hasan ini diucapkan beliau setelah Imam Ali meninggal atau syahid [sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu jamilah]. Imam Hasan mengingatkan kepada para penduduk kufah dengan lafaz “wahai penduduk kufah bertakwalah kepada Allah tentang kami”. Lafaz ini menunjukkan bahwa terdapat sesuatu tentang “kami” [yang dikatakan Imam Hasan] dimana hal tersebut diwajibkan bagi umat islam [yang saat itu diseru adalah penduduk kufah].

Apa sebenarnya sesuatu tentang “kami” yang dimaksud oleh Imam Hasan?. Jawabannya terletak pada kalimat setelahnya yaitu pada lafaz “kami adalah pemimpin-pemimpin kalian”. Lafaz “pemimpin” disini diucapkan dalam bentuk jamak, artinya lebih dari satu. Apakah kepemimpinan yang dimaksud merujuk pada kepemimpinan Khalifah dimana Imam Hasan telah dibaiat?.

Jawabannya bukan, karena kalau kepemimpinan yang menyangkut pemerintahan maka pemimpin saat itu hanya ada satu yaitu Khalifah Hasan bin Ali radiallahu ‘anhu. Imam Hasan mengucapkan dengan lafaz jamak “kami pemimpin-pemimpin kalian” untuk menunjukkan kepemimpinan jenis lain yaitu kepemimpinan Ahlul Bait sebagai pribadi-pribadi yang menjadi pedoman umat islam agar tidak tersesat. Sehingga kata “kami” yang diucapkan oleh Imam Hasan merujuk kepada “Ahlul Bait”. Lagipula termasuk aneh jika Imam Hasan mengingatkan penduduk Kufah agar mereka mengikuti dirinya dengan cara mengatakan kalau dirinya adalah khalifah mereka, aneh karena sudah sejak awal mereka telah membaiat Imam Hasan sebagai khalifah atau telah mengakui Imam Hasan sebagai khalifah.

Siapakah Ahlul Bait yang ada saat itu dan yang dimaksudkan oleh Imam Hasan dalam ucapannya tersebut?. Jawabannya terletak pada kalimat selanjutnya “kami adalah ahlul bait yang difirmankan Allah SWT : sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. Ayat ini turun untuk Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain, merekalah ahlul bait yang dimaksud. Pada saat Imam Hasan mengucapkan khutbah tersebut, ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tathhiir adalah Imam Hasan dan Imam Husain. Mereka berdua yang dimaksud dalam ucapan Imam Hasan “kami adalah pemimpin-pemimpin kalian”.

Khutbah Imam Hasan juga memberikan faedah bagi kita bahwa sebenarnya ayat tathhiir sedari awal memang turun untuk ahlul kisa’. Perhatikan lafaz ucapan Imam Hasan “kami adalah ahlul bait yang difirmankan Allah SWT”, lafaz ini bukti nyata bahwa Imam Hasan mengakui ayat tersebut turun untuk Beliau. Ucapan Imam Hasan ini juga membantah pernyataan kaum pengingkar [baca : Nashibi] yang mengatakan kalau ayat tathhiir turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedangkan ahlul kisa’ hanya didoakan oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] supaya ikut masuk.

Khutbah Imam Hasan ini juga memberikan faedah soal makna ayat tathhiir. Bagi kaum pengingkar [baca : salafy nashibi] ayat tathhiir bermakna pribadi-pribadi yang dimaksud harus melaksanakan syariat “jangan berhias” atau “tetaplah dirumahmu” agar mendapatkan penyucian yang dimaksud. Ternyata apa yang dikatakan Imam Hasan sangat jauh dari itu, Bagamana mungkin ahlul bait dalam ayat tathiir harus “tetap di rumahmu” padahal Beliau Imam Hasan malah pergi ke medan perang untuk memerangi Muawiyah dan Imam Hasan mengakui kalau dirinya adalah ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tathhiir.

Imam Hasan menjadikan ayat tathhiir sebagai hujjah agar umat islam mengikuti dan berpedoman kepada Ahlul Bait [dalam hal ini beliau sendiri dan Imam Husain]. Hal ini menunjukkan bahwa makna ayat tathhiir dalam pandangan Imam Hasan adalah sebagai iradah yang takwiniyah artinya pribadi-pribadi yang dimaksud telah disucikan sehingga penyucian itu menjadi keutamaan bagi mereka dimana sebagai orang yang suci pribadi tersebut harus diikuti dan dijadikan pedoman agar tidak tersesat. Pandangan seperti ini selaras dengan wasiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam hadis Tsaqalain.

Tentu saja para pengingkar [baca : Nashibi] akan merasa sakit hati untuk mengakui kepemimpinan Ahlul Bait. Mengapa? Karena mereka malu [padahal tidak tahu malu] atau mereka sombong untuk mengakui kebenaran. Akibatnya kerja mereka menebar berbagai syubhat “itu syiah” atau “itu ucapan syiah” atau “syiah yang menyesatkan” atau “hawa nafsu kaum syiah” dan yang lain-lain kalau bisa disyiah-syiahkan. Orang-orang seperti ini mungkin layak untuk dikatakan neonashibi [nashibi model baru]. Penyakit nashibi ini memang parah, setiap yang mengutamakan ahlul bait di atas sahabat pasti akan mereka tuduh syiah padahal itulah kedudukan ahlul bait yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Siapapun yang berpegang teguh pada sunnah akan mengetahui betapa mulia dan tingginya kedudukan Ahlul Bait sehingga tidak ada satupun [bahkan dari kalangan sahabat] yang dapat dibandingkan dengan Mereka. Akhir kata, kami berlepas diri dari ucapan para penuduh dan pengingkar, kepada Allah SWT kami memohon ampun.

KH. Abdul Malik Ahmad: Ulama Muhammadiyyah Yang Tegas Mengatakan Pancasila Bertentangan Dengan Tauhid


Orangnya tegas, jujur, dan pemberani. Tidak kenal kompromi untuk persoalan akidah menjadi kalimat pas yang melekat dalam pribadinya. Berbeda dengan orang-orang yang mengemis jabatan agar dekat dengan pemerintah, ia justru sebaliknya. Kursi empuk dalam struktur tertinggi Muhammadiyyah pernah ditolaknya semata-mata tidak mau menjadi penjilat untuk Soeharto
.
“… karena saya pribadi hubungannya kurang harmonis dengan pemerintah (Soeharto), maka sebaiknya saya jangan ditempatkan jadi orang nomor satu,” ungkapnya mengagetkan koleganya
.
Ia adalah KH. Abdul Malik Ahmad atau akrab disapa Buya Malik. Tokoh Ideologis Muhammadiyyah yang sempat heboh di ketika menolak asas tunggal Pancasila di tubuh organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu periode 1980-an. Bagi Buya Malik, posisi Tauhid tidak boleh bergeser setapal pun meski itu demi alasan pragmatis. Iya kata yang justru menjadi kunci ormas-ormas muslim saat ini agar bisa “memuluskan” jalan dakwahnya.
Kisah ini bermula ketika Soeharto memaksakan tiap Ormas untuk menerima Asas Tunggal Pancasila lewat RUU Organisasi Kemasyarakatan. Muhammadiyyah pun terbelah. Tak mudah memang, sebab melalui lobi yang panjang. Bahkan, Muhammadiyah sampai menunda muktamar ke-41, yang mestinya diselenggarakan Februari 1984, dan akhirnya baru dilaksanakan 7-11 Desember 1985
.
Tanda-tanda menerima asas tunggal Pancasila, secara terbuka, mulai tampak pada hari kedua muktamar, pada tanggal 8 Desember. Di pendopo Mangkunegaran, Solo, Haji A.R. Fakhruddin, Ketua PP Muhammadiyah, menyebutkan bahwa asas Pancasila itu diterima, “dengan ikhtiar”
.
Dengan ikhtiar, kata Fakhruddin, “Supaya yang dimaksudkan pemerintah itu berhasil, tapi tidak melanggar agama. Kami, para pimpinan, tetap bertekad menegakkan kalimah Allah di Indonesia ini. Tidak merusakkan peraturan-peraturan di Indonesia, tapi tidak menjual iman, tidak menjual agama.”
Presiden Soeharto akhirnya membuka muktamar ke-41 ini. Menyebut diri sebagai orang yang pernah mengecap pendidikan Muhammadiyah, dalam pidatonya Presiden kembali menegaskan bahwa: Pancasila bukanlah tandingan agama. Pancasila bukan pengganti agama. Penegasan ini pernah diusulkan oleh PP Muhammadiyah, supaya dicantumkan dalam batang tubuh UU Organisasi Kemasyarakatan itu
.
Namun ternyata pandangan petinggi Muhammadiyyah dan lebih-lebih Soeharto, bertolak belakang dengan pemahaman Buya Malik. Beliau yang kala itu menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah, mempersolakan Pancasila yang dijadikan lebih tinggi dari tauhid. “Itu yang saya tolak,” katanya. Maka itu konsekuensi menerima asas tunggal bagi Buya Malik adalah kemusyrikan. Sebuah kata yang dapat menjerumuskan kepada kekafiran
.
Kalau kita telaah, alasan Buya Malik memang sangat masuk akal. Logika sederhananya, kalau Orde Baru mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi sebuah ideologi, hal itu sama saja mengakui bahwa Pancasila lebih tinggi dari kitab suci. Dan tokoh Orde Baru lebih tinggi daripada Nabi. Padahal Rasululullah SAW diutus untuk mengapus Syariat-syariat Nabi sebelumnya. Maka bagaimana mungkin Soeharto menghapus Syariat Nabi Muhammad SAW. padahal dia sendiri bukan Nabi
.
Ironisnya lagi, Asas Tunggal, seperti kata KH. Firdaus AN, adalah hasil bikinan tiga tokoh militer yang diragukan komitmennya kepada agama. Mereka adalah Soeharto, Amir Machmud, dan Soedomo
.
Rupanya, kekuatan Tauhid Buya Malik memang bukan isapan jempol semata. Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia, Ahmad Soemargono sempat memiliki pengalaman tersendiri saat berguru kepada Buya Malik.
“Dari sekian guru yang paling berkesan itu adalah Buya Malik Ahmad. Kalau mendengarkan ceramahnya saya tersentuh.” Ungkapnya saat diwawancara Republika
.
Gogon- sapaan akrab Ahmad Soemargono- juga terkesan dengan karya tafsir Buya Malik yang bernama Tafsir Sinar. Menurutnya, kajian-kajian yang terkandung dalam tulisan beliau memiliki nilai Tauhid yang mendalam
.
Segala ujian dan cobaan dalam menegakkan akidah menurut Buya Malik adalah keniscayaan bagi orang beriman. Ini adalah konsekuensi logis tentanga arti menyuarakan kebenaran dan menyingkirkan kebathilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Orientalisme” di tahun 1978, Buya menulis,
“Orang-orang beriman dalam menegakkan aqidah dan ajaran Ilahi menuju keredhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersembunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai membohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang terlalai, terlupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni.”
.
Kini Buya sudah tiada. Ulama Kharismatik itu menyimpan torehan manis tentang arti perjuangan menegakkan pemurnian tauhid kepada Allahuta’ala. Dengan menolak pencampuran ideologi Pancasila yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Kapankah kembali muncul generasi Muhammadiyyah seperti Buya?
.
Seberapa besar pengaruh pola pemikiran Zionis atau Freemasonry terhadap penerapan Pancasila di Indonesia, buku ini akan memaparkannya secara jelas dan lengkap. Namun sebelum itu, akan sangat bermanfaat apabila dalam pengantar ini, kita ilustrasikan
bagaimana penerapan ideologi Pancasila selama dua periode pemerintahan di Indonesia. Di zaman Orla, atas nama Pancasila, Ir. Soekarno diangkat menjadi presiden seumur hidup.

Kekuasaan negara diselenggarakan dengan menganut sistem Demokrasi Terpimpin, yang kemudian ternyata melahirkan prinsip-prinsip yang mereduksi Islam, dan pada saat yang sama mendukung komunisme. Dari sinilah lahirnya Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) sebagai aplikasi idiologi Pancasila (9)
.
Selama 20 tahun rezim Soekarno berkuasa, Indonesia menjadi lahan yang subur bagi golongan-golongan anti Islam; seperti Zionisme, Freemasonry, Salibisme, Komunisme, paganisme, sekularisme serta kelompok “Yes Man” (3)
.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang bersikap kritis, taat beragama, dan bercita-cita membangun masyarakat berdasarkan agama, Indonesia ketika itu bagaikan neraka. Mereka yang dipandang tidak loyal pada pemerintah, dituduh kontra revolusi dan menjadi
mangsa penjara. Sebagai akibatnya, kezaliman politik, keruntuhan akhlak, kebencian antar warga masyarakat, serta kebiadaban kelompok yang kuat dalam menindas yang lemah menjadi trade merk pemerintah Orde Lama
.
Dan akibat selanjutnya, sepanjang kurun waktu orde lama, tidak pernah sepi dari perlawanan rakyat kepada pemerintah, dan pemberontakan daerah terhadap penguasa pusat (4). Penerapan ideologi Pancasila dari masa ke masa, dan pada setiap periode pemerintahan yang berbeda-beda, selalu menimbulkan korban yang tidak kecil. Pembunuhan demokrasi, pemerkosaan hak asasi manusia, adalah di antara ekses-ekses negatif penerapan Pancasila oleh penguasa
.
Di negara Pancasila, seseorang bisa dipenjara bertahun-tahun lamanya tanpa proses pengadilan dengan tuduhan menentang Pancasila atau merongrong wibawa pemerintah yang sah. Dan bila penguasa menghendaki, atas nama Pancasila, seseorang bisa dijebloskan ke dalam penjara, tanpa dasar yang jelas.(3)
Perbenturan ideologi, pertikaian para penganut agama dan kaum anti agama menjelang Gestapo (G 30 S PKI), dan hiruk pikuk Lekra/PKI dan kawan-kawannya. Kemudian keberpihakan penguasa kepada kaum penyembah Lenin itu, serta kezalimannya terhadap kaum muslimin.
Semua ini dapat dibaca dalam buku: “Prahara Budaya”, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Tulisan D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail, diterbitkan oleh penerbit MIZAN Bandung, Maret 1995. 4 Baca buku: Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi, kumpulan tulisan K.H. Firdaus A.N., CV. Pedoman Inti Jaya, 1993. (10).
Kehilangan hak-hak sipil maupun politiknya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Dalam hal ini, termasuk dosa politik rezim Soekarno terhadap rakyat Indonesia adalah dicoret-nya tujuh kata dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yaitu Kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, lalu menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa
.
Tujuh kalimat yang dicoret secara sepihak itu, pada mulanya dinilai sebagai perjanjian moral antara umat Islam dan non-Islam. Selain pencoretan itu, pengkhianatan pemimpin-pemimpin republik terhadap janjinya, telah menyulut api pemberontakan dan menyebabkan kepercayaan rakyat mulai luntur terhadap kredibilitas pemimpin pusat
.
Di antara bentuk pengkhianatan rezim Orla terhadap janji yang diucapkan atas nama pemerintah Pancasila, dan hingga kini membawa akibat buruk bagi bangsa Indonesia, adalah kasus pemberontakan Darul Islam pimpinan Tengku Muhammad Daud Beureueh, tokoh ulama seluruh Aceh (PUSA) berserta para pengikutnya
.
Pengkhianatan pemerintah Orde Lama itu, dengan jelas terlihat dalam dialog antara Tengku Daud Beureueh dan Presiden Soekarno.
Bagian terakhir dari dialog tersebut, selengkapnya adalah sebagai berikut (5)
:
Presiden“Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan”.
Daud Beureueh :” Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan presiden, asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah, sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid” .
Presiden”Kakak! Memang yang saya maksud-kan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang ber-semboyan “merdeka atau syahid” .
Daud Beureueh : ”Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya”.
Presiden: ”Mengenai hal itu kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam” .
Daud Beureueh: ”Maafkan saya Sudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami meng-inginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden”
Presiden : ”Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan kakak itu”.
Daud Beureueh : ”Alhamdulillah, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, (sambil menyodorkan secarik kertas kepada Soekarno) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas kertas ini”.
Mendengar ucapan Tengku Muhammad Daud Beureueh itu langsung Presiden Soekarno menangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah membasahi bajunya. Dalam keadaan terisak-isak Presiden Soekarno berkata: ”Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya” .
Langsung saja Tengku Daud Beureueh menjawab:”Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan pada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang” .
Lantas Presiden Soekarno, sambil menyeka air matanya, berkata:”Wallahi, Billahi, kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam. Dan Wallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah kakak masih ragu-ragu juga?”
Dijawab oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh:”Saya tidak ragu lagi Saudara Presiden. Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hati Saudara Presiden” .
Menurut keterangan Tengku Muhammad Daud Beureueh, oleh karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, beliau tidak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno itu.
Karakteristik orang-orang munafik suka berjanji tapi kemudian mengingkarinya, dan menjadikan sumpah sebagai helah. Allah berfirman: Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Sungguh amat buruklah apa yang mereka lakukan
.
Allah berfirman :
“Yang demikian itu karena mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (kembali), lalu hati mereka dikunci (tertutup dari menerima kebenaran). Maka mereka tidak memahami. Dan apabila engkau melihat mereka, engkau akan kagum karena tubuh-tubuh mereka (yang tegap dan tampan). Dan apabila mereka berbicara, engkau akan terpaku mendengarkannya. Mereka bagaikan kayu yang tersandar (tidak mempunyai fikiran). Mereka menduka setiap suara keras (panggilan) ditujukan kepada mereka. Merekalah musuh (sejati), maka jauhilah mereka, (waspadalah terhadap mereka). Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dibutakan mata hatinya dari kebenaran)?. (Q.S. Al Munafiqun: 2-4).Dari dialog di atas, kita bisa maklum bahwa, secara historis, dari sejak awal masyarakat Aceh ketika bergabung dengan Indonesia, menginginkan otonomi dengan penerapan hukum Islam. Orang Aceh siap membantu pemerintah Indonesia me-lawan Belanda, dengan suatu syarat, supaya syari’at Islam berlaku sepenuhnya di Aceh. Atau dengan kata lain, masyarakat ingin di Aceh berlaku syari’at Islam dalam bingkai negara Kesatuan RI.
Akan tetapi, meski Soekarno telah berjanji dengan berurai air mata, ternyata ia ingkar dan tidak konsekuen terhadap ucapannya sendiri. Melihat kenyataan ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata:”Sudah ratusan tahun syari’at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari’at Islam di Aceh. Maka sejak itu lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh.7
Soekarno termasuk pengagum Kemal Attaturk, presiden Turki keturunan Yahudi, yang paling lantang menolak keterlibatan agama dalam urusan politik dan pemerintahan. Demikian ekstrim pendiriannya dalam urusan ini, sehingga ia menghapus sistem kekhalifahan Islam di Turki, mengganti lafadz adzan yang berbahasa Arab menjadi bahasa nasional Turki. Dia berkata: ”Agama hanyalah hubungan pribadi dengan Tuhan, sedang negara adalah milik
bersama”. (14)
.
Sekarang angin beracun ini masih berhembus kencang. Maka sebagaimana Kemal Attaturk, dalam suatu pidatonya di Amuntai Kalimantan Selatan pada tahun 1954, Soekarno juga pernah menyatakan tidak menyukai lahirnya Negara Islam dari Republik
Indonesia
.
Mengapa Soekarno ingkar janji terhadap rakyat Aceh, dan menolak berlakunya syari’at Islam? Menurut pengakuannya sendiri, Soekarno pernah dikader oleh seorang Belanda keturunan Yahudi, bernama A. Baars. ”Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang
memberi pelajaran kepada saya, jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia” ,
 katanya.
Pengakuan ini diungkapkan di hadapan sidang BPUPKI. Selanjutnya, dalam pidatonya itu, Soekarno juga menyatakan: ”Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang
memperingatkan saya, yaitu Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmo-politisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Di dalam hati saya, sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh buku tersebut”
.
Berdasarkan tela’ah dari berbagai karya tulis, pidato serta riwayat hidup Bung Karno, kita menjadi paham, bahwa prinsip ideologi yang dikem-bangkannya merupakan kombinasi
dari paham kebangsaan dan mulhid, yaitu Nasionalisme dan Komunisme. Kombinasi dari keduanya, kemudian melahirkan ajaran Bungkarno, yang terkenal dengan Marhaenisme, akronim dari Marxisme, Hegel dan Nasionalisme. Semua ini sangat berpengaruh
terhadap aplikasi ideologi Pancasila selama masa kekuasaannya.Setelah berkuasa lebih dari 20 tahun lamanya, kekuasaan Soekarno akhirnya runtuh, dan riwayat hidupnya berakhir nista, terpuruk dari singgasana, dan mati dalam status dipenjara oleh rezim baru Soeharto
.
Catatan Kaki :
(5) Wawancara dengan Tengku Daud Beureuh, dalam TGK. M. DAUD BEUREUH: Peranannya Dalam Pergolakan di Aceh, oleh M. Nur Elibrahimy, hal. 65, PT. Gunung Agung, Jakarta, Cetakan Kedua, 1982. (11) kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus
1945” .
(14) Slogan ini adalah salah satu racun kolonial, tetapi sampai 7 Rubrik Nasional, Mingguan ABADI, No. 37/Th.I, 22-28 Juli 1999. 14

Jenazah Mulia Rasulullah Ditinggal …

 Jenazah Mulia Rasulullah Ditinggal …

Di dalam Islam, tentunya kita semua sudah mafhum bahwa salah satu kewajiban yang paling harus disegerakan dalam pelaksanaannya adalah mengurusi jenazah, mulai dari memandikan jenazah hingga menguburkannya. Dan para ‘ulama sepakat bahwa kewajiban ini termasuk di dalam fardhu kifayah.

247089_10150210815969161_88292589160_6870791_3392967_n.jpg (576×720)Kita bisa melihat di sekeliling kita semisal dengan melihat ada salah satu anggota masyarakat yang meninggal dunia, maka akan sangat segera sekali di dalam masyarakat itu untuk mengurusi jenazahnya. Ada yang sudah menggali lubang kubur di pemakaman, ada yang mengumumkan berita kematian itu di seluruh pelosok kampong, ada yang bertugas memandikan jenazah, menhafani, menyiapkan keranda si mayit dan pengantarnya ke kuburan hingga menguburkannya
.
Hal ini tentu dilakukan karena memang timbulnya pemahaman dan kesadaran pada diri masing-masing anggota masyarakat bahwa mengurusi jenazah adalah sebuah kewajiban atau yang biasa di istilahkan dengan kalimat ma’lum min al din bi al dharurah.
Namun bagaimanakan kita melihat proses pengurusan akan jenazah yang paling mulia di muka bumi ini yakni Nabi Muhammad saw? Manusia yang di pilih oleh Allah swt untuk menyampaikan risalah Islam kepada seluruh penjuru alam semesta ini. Jenazah seorang kekasih Allah yang disegani lawan maupun kawannya. Jenazah yang semasa hidupnya selalu dido’akan oleh para malaikat. Jenazah yang mengeluarkan bau harum saat jenazah tersebut di mandikan. Dan jenazah yang mulia itu baru dikuburkan ketika telah melewati waktu dua hari 3 malam. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah tidak ada yang mengurusi jenazah beliau? Tentu ada, dan mereka adalah para sahabat Rasulullah saw. Maka pertanyaannya adalah kenapa bisa lebih dari 2 hari 3 malam beliau baru di kuburkan?
.
Semasa Sakit Beliau
Dua bulan setelah menunaikan ibadah Haji Wadak (haji terkahir), Nabi mengalami demam. Badannya mulai lemah. Meskipun demikian ia tetap memimpin salat berjemaah
.
Namun setelah merasa sangat lemah, ia menunjuk Abu Bakar menjadi penggantinya sebagai imam shalat. Dalam sirah nabawiyah kita bisa membaca dan melihat bahwa waktu itu ketika Rasulullah saw sakit, Umar kemudian berinisiatif menjadi Imam sholat bagi kaum muslim.
Suara takbir yang diucapkan oleh Umar ketika sholat terdengar oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa “Allah dan kaum muslim tidak menyukai ini, dimana Abu Bakar? Suruhlah dia untuk memimpin sholat berjama’ah kaum muslim”, perintah Rasulullah. Lalu kemudian Abu Bakar kemudian memimpin kaum muslim untuk sholat secara berjama’ah
.
Pernah suatu ketika tatkala Abu Bakar sedang memimpin sholat berjam’ah, Rasulullah yang sebelumnya sakit, datang menghampiri sholat para sahabat tersebut, hampir saja Abu Bakar mundur untuk memberi tempat kepada nabi memimpin sholat, namun nabi member isyarat agar sholat tetap diteruskan dengan Imam sholat sahabatnya Abu Bakar Siddik ra tersebut
.
Pada waktu itu kaum muslim melihat wajah Rasulullah tampak sehat, dan mereka tidak pernah melihat dan merasakan Rasulullah sesehat kala itu. Para sahabat pun bergembira karena mengira bahwa Rasulullah saw telah sehat dan pulih seperti sedia kala
.
Wafatnya Rasulullah saw
Namun akhirnya pada tanggal 12 Rabiulawal 11 H atau 8 Juni 632 M, di usia 63 tahun Allah swt telah mewafatkan beliau.
Namun tahukah kita apa yang terjadi pada hari wafatnya Rasulullah saw? Jenazah beliau belum diurusi oleh para sahabat. Padahal Rasulullah saw adalah orang yang paling dicintai oleh para sahabatnya dibandingkan kecintaan mereka kepada keluarga dan harta mereka sendiri. Sebagaimana mereka mengamalkan hadist yang pernah Rasulullah saw ucapkan :
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Nabi saw. bersabda: ” Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang”
.
Namun mengapa jenazah yang paling mereka cintai itu mereka seolah abaikan? Tidak mereka urusi? Apa yang dilakukan oleh para sahabat kala itu?
Para sahabat sebagian berkumpul di bani saqifah, sebagian lagi berdiam diri, dan para ahlul bait nabi menutup pintu rumah Aisyah yang di dalamnya terdapat jenazah Rasul yang mulia tersebut
.
Apa yang dilakukan para sahabat di bani saqifah?
Ketika Rasulullah wafat, sebagian sahabat baik golongan Anshar dan Muhajirin berkumpul di bani saqifah. Mereka sedang berdebat tentang siapa yang berhak menggantikan kepemimpinan Rasulullah dalam mengurusi umat sepeninggal beliau. Masing-masing dari golongan Anshar dan Muhajirin saling merasa bahwa mereka lah yang berhak menjadi pengganti tongkat estafet kepemimpinan tersebut
.
Kaum Anshar merasa lebih berhak karena mereka adalah “tuan rumah” di tanah mereka di Madinah. Sedangkan golongan Muhajirin lebih merasa mereka yang berhak menjadi pemimpin karena mereka adalah orang-orang dari quraysi, sebagaimana Rasulullah pernah bersabda :
‘’Pemimpin adalah dari orang Quraisy,’ maka janganlah kalian bersaingan dengan saudara-saudara kalian kaum Muhajirin dalam anugerah yang dilimpahkan Allah bagi mereka…”
.
Perselisihan diantara para sahabat Rasulullah tersebut hamper saja menyebabkan pertikaian diantara mereka yang bisa berujung kepada pertumpahan darah
.
Para sahabat kemudian melaporkan kejadian itu kepada Abu Bakar, dan meminta Abu bakar untuk mengatasi masalah itu.
Akhirnya setelah terjadinya musyawarah antara kaum Anshar dan Muhajarin kemudian terpilihlah Abu Bakar untuk menjadi Imam/Khalifah bagi kaum muslim. Semua sahabat ridha akan keputusan tersebut dan tidak ada satupun yang mengingkarinya.
Proses sejak wafatnya Rasulullah kemudian perselisihan yang terjadi diantara kaum muslim dari golongan kaum Anshar dan Muhajirin hingga dimakamnya jenazah Rasulullah saw memakan waktu 2 hari 3 malam
.
Timbul pertanyaan, kenapa mereka para sahabat tidak mendahulukan mengurusi jenazah Rasulullah saw terlebih dahulu daripada memilih seseorang untuk menjadi seorang pemimpin?
Ya karena mereka mengkudeta wasiat Ghadir Kum dan menzalimi  wasiat Nabi SAW
.

Para Khalifah Itu Adalah Para Imam Ahlul Bait

Sesungguhnya kata “khulafa” di dalam hadis ini tidaklah dikhususkan untuk satu golongan tertentu, dan penafskan kalangan Ahlus Sunnah bahwa para khalifah itu adalah para khalifah yang empat adalah sebuah pentakwilan yang tanpa dalil. Karena pernyataan (proposisi) yang dikemukakan lebih luas dari klaim, dan bahkan bukti-bukti mengatakan sebaliknya. Yaitu bahwa yang dimaksud dengan para khalifah rasyidin ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait as.

Disebabkan dalil-dalil dan riwayat-riwayat yang pasti yang menetapkan bahwa para khalifah rasyidin sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah. Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, “Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam kitab al-’Umdah melalui dua puluh jalan bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, dan seluruhnya dari bangsa Quraisy. Dan begitu juga di dalam Sahih Bukhari melalui tiga jalan, di dalam Sahih Muslim melalui sembilan jalan, di dalam Sunan Abu Dawud melalui tigajalan, di dalam Sunan Turmudzi melalui satu jalan, dan di dalam al-Hamidi melalui tiga jalan.

Di dalam Sahih Bukhari berasal dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayah saya men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.’” Adapun di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”

Setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa berhujjah dengan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin..” dengan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Dikarenakan riwayat-riwayat yang mutawatir yang mencapai dua puluh jalan, yang kesemuanya dengan jelas mengatakan khalifah itu ada dua belas orang; dan kita tidak akan menemukan penafsiran bagi riwayat-riwayat ini pada dunia nyata kecuali pada para Imam mazhab Ahlul Bait yang dua belas. Dengan demikian, Syi’ah adalah satu-satunya kelompok yang merupakan personifikasi dari makna hadis-hadis ini, dikarenakan penerimaan mereka kepada kepemimpinan Imam Ali as, kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, dan setelah itu sembilan orang Imam dari keturunan Imam Husain, sehingga jumlah mereka seluruhnya berjumlah dua belas orang Imam.

Meskipun kata “Quraisy” yang terdapat di dalam riwayat-riwayat ini bersifat mutlak dan tidak dibatasi, namun dengan riwayat-riwayat dan petunjuk-petunjuk yang lain menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah Ahlul Bait. Dan itu disebabkan adanya banyak riwayat yang menunjukkan kepada kepemimpinan Ahlul Bait. Insya Allah, kita akan memaparkan sebagiannya pada pembahasan-pembahasan yang akan datang.

Pada kesempatan ini saya cukupkan Anda dengan riwayat yang berbunyi, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”

Setelah ini tidak ada lagi orang yang bisa berhujjah dengan hadis “Kamu harus berpegang teguh kepada sunahku dan sunah para Khulafa` Rasyidin..” dengan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Dikarenakan riwayat-riwayat yang mutawatir yang mencapai dua puluh jalan, yang kesemuanya dengan jelas mengatakan khalifah itu ada dua belas orang; dan kita tidak akan menemukan penafsiran bagi riwayat-riwayat ini pada dunia nyata kecuali pada para Imam mazhab Ahlul Bait yang dua belas. Dengan demikian, Syi’ah adalah satu-satunya kelompok yang merupakan personifikasi dari makna hadis-hadis ini, dikarenakan penerimaan mereka kepada kepemimpinan Imam Ali as, kemudian Imam Hasan dan Imam Husain, dan setelah itu sembilan orang Imam dari keturunan Imam Husain, sehingga jumlah mereka seluruhnya berjumlah dua belas orang Imam.

Meskipun kata “Quraisy” yang terdapat di dalam riwayat-riwayat ini bersifat mutlak dan tidak dibatasi, namun dengan riwayat-riwayat dan petunjuk-petunjuk yang lain menjadi jelas bahwa yang dimaksud adalah Ahlul Bait. Dan itu disebabkan adanya banyak riwayat yang menunjukkan kepada kepemimpinan Ahlul Bait. Insya Allah, kita akan memaparkan sebagiannya pada pembahasan-pembahasan yang akan datang.

Pada kesempatan ini saya cukupkan Anda dengan riwayat yang berbunyi, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”

Riwayat ini merupakan salah satu korban daripada pengubahan. Namun, Allah SWT menampakkan cahaya-Nya. Al-Qanduzi al-Hanafi sendiri telah menukilnya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Pada mawaddah kesepuluh dari kitab Mawaddah al-Qurba, bagi Sayyid Ali al-Hamadani —semoga Allah SWT mensucikan jalannya dan mencurahkan keberkahannya kepada kita— disebut-kan, “Dari Abdul Malik bin ‘Umair, dari Jabir bin Samrah yang ber-kata, ‘Saya pernah bersama ayah saya berada di sisi Rasulullah saw, dan ketika itu Rasulullah saw bersabda, ‘Sepeninggalku akan ada dua belas orang khalifah.’ Kemudian Rasulullah saw menyamarkan suar-anya. Lalu saya bertanya kepada ayah saya, ‘Perkataan apa yang disamarkan olehnya?’ Ayah saya menjawab, ‘Rasulullah saw berkata, ‘Semua berasal dari Bani Hasyim.”

Bahkan Al-Qanduzi meriwayatkan banyak hadis lain yang lebih jelas dari hadis-hadis di atas. Al-Qanduzi telah meriwayat dari ‘Abayah bin Rab’i, dari Jabir yang mengatakan, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya adalah penghulu para nabi dan Ali adalah penghulu para washi, dan sesungguhnya para washi sepeninggalku berjumlah dua belas orang. Yang pertama dari mereka adalah Ali, dan yang terakhir dari mereka adalah al-Qa’im al-Mahdi.”

Setelah menyebutkan hadis-hadis ini, Al-Qanduzi al-Hanafi tidak menemukan apa-apa selain harus mengakui dan mengatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis yang menunjukkan bahwa para khalifah sesudah Rasulullah saw sebanyak dua belas orang khalifah, telah banyak dikenal dari banyak jalan, dan dengan penjelasan jaman dan pengenalan alam dan tempat dapat diketahui bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah saw dari hadis ini ialah para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Karena tidak mungkin kita dapat menerap-kannya pada raja-raja Bani Umayyah, dikarenakan jumlah mereka yang lebih dari dua belas orang dan dikarenakan kezaliman mereka yang amat keji, kecuali Umar bin Abdul Aziz, dan dikarenakan mereka bukan dari Bani Hasyim.

Karena Rasulullah saw telah bersabda, ‘Seluruhnya dari Bani Hasyim’, di dalam riwayat Abdul Malik, dari Jabir. Dan begitu juga penyamaran suara yang dilakukan oleh Rasulullah saw di dalam perkataan ini, memperkuat riwayat ini. Dikarenakan mereka tidak menyambut baik kekhilafahan Bani Hasyim. Kita juga tidak bisa menerapkannya kepada raja-raja Bani ‘Abbas, disebabkan jumlah mereka yang lebih banyak dibandingkan jumlah yang disebutkan, dan juga dikarenakan mereka kurang menjaga ayat “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah apapun kepadamu atas risalah yang aku sampaikan kecuali kecintaan kepada keluargaku’” dan hadis Kisa`. Maka mau tidak mau hadis ini harus diterapkan kepada para Imam dua belas dari Ahlul Bait Rasulullah saw. Karena mereka adalah manusia yang paling berilmu pada jamannya, paling mulia, paling warak, paling bertakwa, paling tinggi dari sisi nasab, paling utama dari sisi kedudukan dan paling mulia di sisi Allah SWT. Ilmu mereka berasal dari bapak-bapak mereka, dan terus bersambung kepada datuk mereka Rasulullah saw.

para Imam Ahlul Bait jauh lebih dekat dibandingkan menerapkannya kepada para khalifah yang empat. Karena sudah jelas bahwa para khalifah sepeninggal Rasulullah saw itu berjumlah dua belas orang khalifah, yang kesemuanya berasal dari Bani Hasyim.

PENUNJUKKAN HADIS TSAQALAIN TERHADAP KEIMAMAHAN AHLUL BAIT

Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil. Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya. Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Karena hal ini merupakan pembahasan berikutnya. Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini. Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka. Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Sekelompok para mufassir telah mengatakan yang demikian itu. Ibnu Hajar telah menyebut nama-nama mereka di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, di dalam bab “Apa-Apa Yang Diturunkan Dari Al-Qur’an Tentang Ahlul Bait”. Silahkan Anda merujuknya!

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah danjanganlah berpecah-belah.’” Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.’”

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu” memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini. Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.” Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

Inggris Latih Pasukan Arab Saudi Salafi di Bahrain Untuk Memerangi Syi’ah Bahrain

Kemunafikan Inggris- Dukung Pemberontak Libya, Latih Tentara Saudi untuk Melawan Demonstran

Posted by تان سليمان , , 6:31 PM

Hal itu diungkapkan hari ini (29/5) bahwa Inggris adalah melatih tentara nasional Arab Saudi -pasukan elit yang digunakan untuk menghancurkan- demonstran anti rezim di Bahrain awal tahun ini mengakibatkan pembunuhan terhadap demonstran tidak bersenjata dan penangkapan serta penyiksaan terhadap lawan politik.
Mengomentari hal ini Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir di Inggris mengatakan: “kemunafikan kebijakan luar negeri Inggris secara nyata bisa dilihat untuk semua orang. Dalam pidatonya di Mansion House awal bulan ini, Menteri Luar Negeri William Hague mengatakan ‘kita berdiri hari ini dengan orang-orang yang bangkit melawan rezim tirani. ”
“Namun, pada saat yang sama Inggris memberikan pelatihan militer untuk diktator korup yang membunuh, memukul dan menyiksa para demonstran yang menentang pemerintahan tirani mereka.”
.
“Berita ini datang sebagai kejutan kecil kepada kita mengingat bahwa pada awal pemberontakan ini, Perdana Menteri Inggris Cameron berada di wilayah tanpa malu-malu menjual senjata rezim ini. Hanya beberapa minggu sebelum Gaddafi menjadi musuh publik nomor satu ia sedang dipeluk oleh kantor luar negeri Inggris, dan hanya beberapa hari setelah membantai ratusan orang, William Hague menyebut Bashar al Assad sebagai sang reformis! ”
“Pesan kami kepada masyarakat Timur Tengah adalah: perubahan yang nyata hanya akan datang dengan menghapus rezim dan pengaruh kekuasaan kolonial Barat yang mendukung mereka.”
.
“Semakin banyak orang menyadari bahwa meskipun Mubarak atau Ben Ali telah pergi, mereka belum melihat perubahan yang nyata. Semakin banyak orang menyadari bahwa Inggris, Amerika dan Eropa yang putus asa untuk mempertahankan pengaruh mereka di wilayah tersebut. Semakin banyak orang bisa melihat bahwa keterlibatan Barat di Libya lebih karena kepentingan minyak Inggris dan mencegah krisis pengungsi di Eropa daripada tentang dukungan berprinsip apapun untuk pemberontakan tersebut. ”

“Revolusi ini tidak akan menghasilkan perubahan nyata sampai masyarakat tidak hanya menghapus tiran, tetapi membangun kembali negara Khilafah Islam yang akan menghilangkan pengaruh pemerintah Barat yang mendirikan dan mendukung tiran ini sejak penghancuran negara Khilafah

.

Dengan dalih membantu keamanan di Manama dan menumpas aksi protes damai rakyat. Rezim Arab Saudi secara terang-terangan mengirim tentaranya ke negera Bahrain, kini giliran Inggris mulai terbongkar kedoknya. Ternyata misi yang diemban tentara Saudi ini mendapat restu dari London. Bahkan untuk menjalankan misi tersebut, tentara Saudi mendapat pelatihan khusus dari militer Inggris. Taktik dan strategi menumpas aksi demo didapat tentara Saudi dari Inggris.

Hal ini diakui sendiri oleh wakil menteri pertahanan Inggris. Ia mengakui bahwa militer negaranya melatih sejumlah kesatuan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Kesatuan tersebut adalah pasukan garda nasional yang saat ini ditempatkan di Bahrain. Ditambahkannya, Dephan Inggris memiliki kerjasama militer luas dengan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup pelatihan pasukan garda nasional.

Terbongkarnya dukungan dan pelatihan militer Inggris terhadap Arab Saudi bersamaan dengan kritik luas di London terkait aksi militer Riyadh di Manama. Para petinggi London juga memprediksikan pemindahan tawanan Bahrain ke Arab Saudi. Namun demikian, petinggi London mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini.

Sementara itu, ulah Riyadh mengirim pasukannya ke Bahrain mendapat kecaman dan kritik luas dari berbagai negara dan publik dunia. Sejak dimulainya kebangkitan rakyat Bahrain menentang Dinasti al-Khalifa, ratusan rakyat tewas, cidera atau diculik pasukan Arab Saudi. Nasib mereka yang diculik hingga kini masih belum jelas.

Di sisi lain, sejumlah anggota majelis rendah Inggris melayangkan surat tuntutan penjatuhan embargo senjata kepada Arab Saudi dan Bahrain. Dalam suratnya, mereka mengecam kehadiran pasukan Saudi di Bahrain dan perusakan tempat-tempat ibadah di Manama.

Perdana Menteri Inggris David Cameron pekan lalu diberitakan melakukan pembicaraan dengan Shaikh Salman bin Hamad al-Khalifa, putra mahkota Bahrain di London. Koran Daily Telegraph terkait hal ini menulis, petinggi Inggris tidak pantas menggelar karpet merah bagi arsitek penyiksaan rakyat Bahrain.

Kate Allen, salah satu staf Badan Amnesti Internasional menandaskan, Cameron harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan meminta pemerintah Bahrain menghentikan aksi brutalnya membantai warga. Namun menurutnya, Cameron mengorbankan isu hak asasi manusia demi keuntungan perdagangan dan berbagai kontrak penjualan senjata.

Kini, pengakuan tersirat deputi menteri pertahanan Inggris terkait pelatihan militer Arab Saudi oleh London kian membuktikan wajah sejati Amerika Serikat dan negara Barat serta Arab yang tak segan-segan mendepak hak asasi manusia demi meraih keuntungan dan menjaga kepentingan.

entara Arab Saudi yang dikirim ke Bahrain untuk membantu menghadapi demonstrasi telah menerima pelatihan dari Inggris, sebuah surat kabar mengatakan Ahad, dengan mengutip dokumen pemerintah.

Garda Nasional Arab Saudi telah diberi pelatihan persenjataan dan penegakan ketertiban umum oleh misi militer Inggris, menurut dokumen yang didapat oleh The Observer, berdasar Undang-udang Kebebasan Informasi.

Pasukan Teluk pimpinan Saudi, yang mencakup polisi Uni Emirat Arab (UAE), masuk Bahrain pada pertengahan Maret untuk membantu menghadapi demonstran pro-demokrasi di negara Arab mayoritas Syiah yang diperintah oleh monarki Muslim Sunni itu.

Langkah itu telah membebaskan pasukan keamanan Bahrain untuk menghadapi gerakan protes. Sebanyak 20 tim pelatihan telah dikirim ke Arab Saudi tiap tahun, kata Observer, dengan Riyath yang membayar rekeningnya.

Personel Inggris secara tetap menjalankan kursus bagi pasukan elite garda nasional dalam latihan keahlian militer umum, ketrampilan lapangan dan persenjataan, dan juga penanganan insiden, penjinakan bom, pencarian, ketertiban umum dan pelatihan penembak jitu, kata dokumen tersebut.

Para pengkampanye hak asasi manusia menyatakan Inggris oleh karena itu telah membantu menindas pergolakan di Bahrain, di tengah kecaman bahwa London tidak mengambil sikap keras pada penguasa Bahrain seperti sikapnya pada pemimpin Libya Muamar Gaddafi.

Menteri Muda Pertahanan Nick Harvey mengatakan pada parlemen pekan lalu bahwa beberapa anggota pasukan Saudi yang telah dikerahkan di Bahrain mungkin telah menjalani beberapa pelatihan Inggris.

Kementerian Pertahanan menekankan bahwa keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan asing dimaksudkan untuk menimbulkan kebudayaan menghormati hak asasi manusia.

“Inggris memberi pelatihan dan pendidikan pertahanan kelas-dunia pada banyak negara, termasuk di Teluk, menciptakan hubungan kekal antara pasukan bersenjata kami dan meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja bersama ke arah keamanan dan stabilitas regional,” kata seorang juru bicara.

“Negara-negara Teluk merupakan mitra penting dalam perang melawan terorisme dan pengembangan senjata nuklir dan juga menjadi sumber pengaruh ekonomi dan politik yang sedang muncul.

Dalam sebuah upaya untuk menopang sekutu dekatnya, Arab Saudi mengirim ratusan pasukan masuk ke dalam Bahrain pada Senin (14/3) waktu setempat, dalam sebuah tawaran untuk membantu pemerintah mendamaikan protes anti-rejim.

Intervensi tersebut datang “setelah seruan berulang-ulang oleh pemerintah Bahrain untuk dialog, yang berlangsung tanpa terjawab” oleh pihak oposisi, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP)
.
Pasukan tersebut, yang masuk kerajaan Teluk strategis, adalah bagian dari Pasukan Pelindung Teluk milik negara-negara Teluk.
Di bawah peraturan Dewan Kerjasama Teluk, “pasukan Teluk manapun yang memasuki sebuah negara anggota menjadi berada di bawah komando pemerintah,” pejabat tersebut menambahkan.
Bahrain, sebuah negara dengan sebagian besar Syiah dikuasai oleh sebuah dinasti Muslim Sunni, telah melihat protes oposisi akbar, menuntut jangkauan luas reformasi demokrasi
.
Raja Bahrain telah menawarkan dialog dan sebuah perlemen baru yang lebih kuat, dan refomrasi lainnya namun pihak oposisi telah menolak untuk duduk dan berbicara sampai pemerintah mengundurkan diri
.
Pemerintah Bahrain belum mengkonfirmasi kehadiran pasukan Arab Saudi di kepulauan tersebut, yang adalah rumah bagi Armada Kapal Kelima AS.
Namun, menteri luar negeri kerajaan tersebut mengatakan pada akun Twitter miliknya bahwa pasukan keamanan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council – GCC) ada di Bahrain, tidak memberikan rincian lebih jauh
.
Nabeel Al-Hamer, seorang mantan menteri informasi dan penasihat pengadilan kerajaan, mengkonfirmasi berita tersebut, juga melalui berita Twitter miliknya
.
“Pasukan dari Dewan Kerjasama Teluk telah tiba di Bahrain untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan,” Al-Hamer mengatakan.
GCC terbentuk dari enam negara Teluk – Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar.
Aliansi tersebut bertujuan untuk mencapai integrasi ekonomi dan keamanan antara negara anggota GCC.
Bahrain digabungkan dengan Arab Saudi oleh sebuah jalan lintasan di seberang Teluk
.
Para analis dan diplomat menyakini bahwa Arab Saudi dibuat khawatir oleh perselisihan di Bahrain karena perselisihan tersebut akan membuat lebih berani orang-orang Syiah yang gelisah di dalam Provinsi bagian Timur, pusat dari industri minyak.
Kantor berita harian Gulf Daily News, sebuah harian yang dekat dengan perdana menteri berkuasa Bahrain, memberitakan pada Senin (14/3) bahwa pasukan dari GCC akan melindungi fasilitas-fasilitas strategis
.
Pasukan GCC akan membantu mempertahanakan ketertiban dan hukum, harian tersebut mengatakan di sebuah berita halaman depan, kantor berita Reuters mengatakan
.
“Misi mereka akan dibatasi untuk melindungi fasilitas penting, seperti minyak, listrik dan instalasi air, dan fasilitas perbankan dan keuangan.”
Pada Senin, para pemrotes tumpah ruah masuk ke dalam distrik pusat fasilitas penting, kompleks bisnis Financial Harbor – sebuah simbol kekayaan dan keistimewaan – sementara kepolisian nampaknya telah meninggalkan daerah tersebut, para saksi mengatakan.
Oposisi Bahrain mengecam intervensi Arab Saudi sebagai sebuah “pendudukan asing”
.
“Kami menganggap kedatangan tentara manapun, atau kendaraan militer apapun, masuk ke dalam kawasan Bahrain… sebuah pendudukan terselubung dari kerajaan Bahrain dan sebuah konspirasi terhadap rakyat Bahrain yang tidak bersenjata,” kata sebuah pernyataan oleh aliansi oposisi yang dikutip oleh kantor berita AFP.
.
Blok tersebut membandingkan tujuh kelompok oposisi, sebagian besar Syiah, mengatakan bahwa intervensi tersebut “melanggar konvensi internasional.”
Blok alinasi tersebut juga menyerukan sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dan memohon komunitas internasional untuk bertindak memastikan “perlindungan rakyat Bahrain dari bahaya intervensi militer asing.”
Intervensi Arab Saudi kemungkinan besar memicu sensitivitas di Teluk, di mana beberapa komunitas Syiah mengeluhkan diskriminasi dan marjinalisasi.
“Negara dengan populasi Syiah yang besar, terutama di Kuwait dan Arab Saudi, kemungkinan mengintensifkan demonstrasi anti-rejim lokal sendiri,” Ghanem Nuseibeh, rekanan pada konsultasi Cornerstone Global, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
“Perselisihan Bahrain dapat secara potensial mengubah kekerasan sektarian regional yang berlangsung melebihi perbatasan negara tertentu yang dikhawatirkan.”
.
Namun di Bahrain sendiri, para pemrotes nampaknya tidak terpengaruh oleh berita-berita intervensi Arab Saudi.
“Kami tidak akan pernah pergi. Ini adalah negara kami,” kata Abdullah, seorang pemrotes, ketika ditanya apakah pasukan Arab Saudi akan menghentikan mereka.

“Mengapa kami harus takut? Kami tidak takut di dalam negara kami sendiri.”

SETAN DARi NAJAD dilatih Inggris Untuk Memerangi Syi’ah Bahrain !!! Wow Manhaj Salafi Pro British

Kemunafikan Inggris- Dukung Pemberontak Libya, Latih Tentara Saudi untuk Melawan Demonstran

Posted by تان سليمان , , 6:31 PM

 

Hal itu diungkapkan hari ini (29/5) bahwa Inggris adalah melatih tentara nasional Arab Saudi -pasukan elit yang digunakan untuk menghancurkan- demonstran anti rezim di Bahrain awal tahun ini mengakibatkan pembunuhan terhadap demonstran tidak bersenjata dan penangkapan serta penyiksaan terhadap lawan politik.
Mengomentari hal ini Taji Mustafa, perwakilan media Hizbut Tahrir di Inggris mengatakan: “kemunafikan kebijakan luar negeri Inggris secara nyata bisa dilihat untuk semua orang. Dalam pidatonya di Mansion House awal bulan ini, Menteri Luar Negeri William Hague mengatakan ‘kita berdiri hari ini dengan orang-orang yang bangkit melawan rezim tirani. ”
“Namun, pada saat yang sama Inggris memberikan pelatihan militer untuk diktator korup yang membunuh, memukul dan menyiksa para demonstran yang menentang pemerintahan tirani mereka.”
.
“Berita ini datang sebagai kejutan kecil kepada kita mengingat bahwa pada awal pemberontakan ini, Perdana Menteri Inggris Cameron berada di wilayah tanpa malu-malu menjual senjata rezim ini. Hanya beberapa minggu sebelum Gaddafi menjadi musuh publik nomor satu ia sedang dipeluk oleh kantor luar negeri Inggris, dan hanya beberapa hari setelah membantai ratusan orang, William Hague menyebut Bashar al Assad sebagai sang reformis! ”
“Pesan kami kepada masyarakat Timur Tengah adalah: perubahan yang nyata hanya akan datang dengan menghapus rezim dan pengaruh kekuasaan kolonial Barat yang mendukung mereka.”
.
“Semakin banyak orang menyadari bahwa meskipun Mubarak atau Ben Ali telah pergi, mereka belum melihat perubahan yang nyata. Semakin banyak orang menyadari bahwa Inggris, Amerika dan Eropa yang putus asa untuk mempertahankan pengaruh mereka di wilayah tersebut. Semakin banyak orang bisa melihat bahwa keterlibatan Barat di Libya lebih karena kepentingan minyak Inggris dan mencegah krisis pengungsi di Eropa daripada tentang dukungan berprinsip apapun untuk pemberontakan tersebut. ”

“Revolusi ini tidak akan menghasilkan perubahan nyata sampai masyarakat tidak hanya menghapus tiran, tetapi membangun kembali negara Khilafah Islam yang akan menghilangkan pengaruh pemerintah Barat yang mendirikan dan mendukung tiran ini sejak penghancuran negara Khilafah

.

Dengan dalih membantu keamanan di Manama dan menumpas aksi protes damai rakyat. Rezim Arab Saudi secara terang-terangan mengirim tentaranya ke negera Bahrain, kini giliran Inggris mulai terbongkar kedoknya. Ternyata misi yang diemban tentara Saudi ini mendapat restu dari London. Bahkan untuk menjalankan misi tersebut, tentara Saudi mendapat pelatihan khusus dari militer Inggris. Taktik dan strategi menumpas aksi demo didapat tentara Saudi dari Inggris.

Hal ini diakui sendiri oleh wakil menteri pertahanan Inggris. Ia mengakui bahwa militer negaranya melatih sejumlah kesatuan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Kesatuan tersebut adalah pasukan garda nasional yang saat ini ditempatkan di Bahrain. Ditambahkannya, Dephan Inggris memiliki kerjasama militer luas dengan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup pelatihan pasukan garda nasional.

Terbongkarnya dukungan dan pelatihan militer Inggris terhadap Arab Saudi bersamaan dengan kritik luas di London terkait aksi militer Riyadh di Manama. Para petinggi London juga memprediksikan pemindahan tawanan Bahrain ke Arab Saudi. Namun demikian, petinggi London mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini.

Sementara itu, ulah Riyadh mengirim pasukannya ke Bahrain mendapat kecaman dan kritik luas dari berbagai negara dan publik dunia. Sejak dimulainya kebangkitan rakyat Bahrain menentang Dinasti al-Khalifa, ratusan rakyat tewas, cidera atau diculik pasukan Arab Saudi. Nasib mereka yang diculik hingga kini masih belum jelas.

Di sisi lain, sejumlah anggota majelis rendah Inggris melayangkan surat tuntutan penjatuhan embargo senjata kepada Arab Saudi dan Bahrain. Dalam suratnya, mereka mengecam kehadiran pasukan Saudi di Bahrain dan perusakan tempat-tempat ibadah di Manama.

Perdana Menteri Inggris David Cameron pekan lalu diberitakan melakukan pembicaraan dengan Shaikh Salman bin Hamad al-Khalifa, putra mahkota Bahrain di London. Koran Daily Telegraph terkait hal ini menulis, petinggi Inggris tidak pantas menggelar karpet merah bagi arsitek penyiksaan rakyat Bahrain.

Kate Allen, salah satu staf Badan Amnesti Internasional menandaskan, Cameron harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan meminta pemerintah Bahrain menghentikan aksi brutalnya membantai warga. Namun menurutnya, Cameron mengorbankan isu hak asasi manusia demi keuntungan perdagangan dan berbagai kontrak penjualan senjata.

Kini, pengakuan tersirat deputi menteri pertahanan Inggris terkait pelatihan militer Arab Saudi oleh London kian membuktikan wajah sejati Amerika Serikat dan negara Barat serta Arab yang tak segan-segan mendepak hak asasi manusia demi meraih keuntungan dan menjaga kepentingan.

entara Arab Saudi yang dikirim ke Bahrain untuk membantu menghadapi demonstrasi telah menerima pelatihan dari Inggris, sebuah surat kabar mengatakan Ahad, dengan mengutip dokumen pemerintah.

Garda Nasional Arab Saudi telah diberi pelatihan persenjataan dan penegakan ketertiban umum oleh misi militer Inggris, menurut dokumen yang didapat oleh The Observer, berdasar Undang-udang Kebebasan Informasi.

Pasukan Teluk pimpinan Saudi, yang mencakup polisi Uni Emirat Arab (UAE), masuk Bahrain pada pertengahan Maret untuk membantu menghadapi demonstran pro-demokrasi di negara Arab mayoritas Syiah yang diperintah oleh monarki Muslim Sunni itu.

Langkah itu telah membebaskan pasukan keamanan Bahrain untuk menghadapi gerakan protes. Sebanyak 20 tim pelatihan telah dikirim ke Arab Saudi tiap tahun, kata Observer, dengan Riyath yang membayar rekeningnya.

Personel Inggris secara tetap menjalankan kursus bagi pasukan elite garda nasional dalam latihan keahlian militer umum, ketrampilan lapangan dan persenjataan, dan juga penanganan insiden, penjinakan bom, pencarian, ketertiban umum dan pelatihan penembak jitu, kata dokumen tersebut.

Para pengkampanye hak asasi manusia menyatakan Inggris oleh karena itu telah membantu menindas pergolakan di Bahrain, di tengah kecaman bahwa London tidak mengambil sikap keras pada penguasa Bahrain seperti sikapnya pada pemimpin Libya Muamar Gaddafi.

Menteri Muda Pertahanan Nick Harvey mengatakan pada parlemen pekan lalu bahwa beberapa anggota pasukan Saudi yang telah dikerahkan di Bahrain mungkin telah menjalani beberapa pelatihan Inggris.

Kementerian Pertahanan menekankan bahwa keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan asing dimaksudkan untuk menimbulkan kebudayaan menghormati hak asasi manusia.

“Inggris memberi pelatihan dan pendidikan pertahanan kelas-dunia pada banyak negara, termasuk di Teluk, menciptakan hubungan kekal antara pasukan bersenjata kami dan meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja bersama ke arah keamanan dan stabilitas regional,” kata seorang juru bicara.

“Negara-negara Teluk merupakan mitra penting dalam perang melawan terorisme dan pengembangan senjata nuklir dan juga menjadi sumber pengaruh ekonomi dan politik yang sedang muncul.

Dalam sebuah upaya untuk menopang sekutu dekatnya, Arab Saudi mengirim ratusan pasukan masuk ke dalam Bahrain pada Senin (14/3) waktu setempat, dalam sebuah tawaran untuk membantu pemerintah mendamaikan protes anti-rejim.

Intervensi tersebut datang “setelah seruan berulang-ulang oleh pemerintah Bahrain untuk dialog, yang berlangsung tanpa terjawab” oleh pihak oposisi, seorang pejabat Arab Saudi mengatakan kepada kantor berita Agence France-Presse (AFP)
.
Pasukan tersebut, yang masuk kerajaan Teluk strategis, adalah bagian dari Pasukan Pelindung Teluk milik negara-negara Teluk.
Di bawah peraturan Dewan Kerjasama Teluk, “pasukan Teluk manapun yang memasuki sebuah negara anggota menjadi berada di bawah komando pemerintah,” pejabat tersebut menambahkan.
Bahrain, sebuah negara dengan sebagian besar Syiah dikuasai oleh sebuah dinasti Muslim Sunni, telah melihat protes oposisi akbar, menuntut jangkauan luas reformasi demokrasi
.
Raja Bahrain telah menawarkan dialog dan sebuah perlemen baru yang lebih kuat, dan refomrasi lainnya namun pihak oposisi telah menolak untuk duduk dan berbicara sampai pemerintah mengundurkan diri
.
Pemerintah Bahrain belum mengkonfirmasi kehadiran pasukan Arab Saudi di kepulauan tersebut, yang adalah rumah bagi Armada Kapal Kelima AS.
Namun, menteri luar negeri kerajaan tersebut mengatakan pada akun Twitter miliknya bahwa pasukan keamanan Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council – GCC) ada di Bahrain, tidak memberikan rincian lebih jauh
.
Nabeel Al-Hamer, seorang mantan menteri informasi dan penasihat pengadilan kerajaan, mengkonfirmasi berita tersebut, juga melalui berita Twitter miliknya
.
“Pasukan dari Dewan Kerjasama Teluk telah tiba di Bahrain untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan,” Al-Hamer mengatakan.
GCC terbentuk dari enam negara Teluk – Bahrain, Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Oman, dan Qatar.
Aliansi tersebut bertujuan untuk mencapai integrasi ekonomi dan keamanan antara negara anggota GCC.
Bahrain digabungkan dengan Arab Saudi oleh sebuah jalan lintasan di seberang Teluk
.
Para analis dan diplomat menyakini bahwa Arab Saudi dibuat khawatir oleh perselisihan di Bahrain karena perselisihan tersebut akan membuat lebih berani orang-orang Syiah yang gelisah di dalam Provinsi bagian Timur, pusat dari industri minyak.
Kantor berita harian Gulf Daily News, sebuah harian yang dekat dengan perdana menteri berkuasa Bahrain, memberitakan pada Senin (14/3) bahwa pasukan dari GCC akan melindungi fasilitas-fasilitas strategis
.
Pasukan GCC akan membantu mempertahanakan ketertiban dan hukum, harian tersebut mengatakan di sebuah berita halaman depan, kantor berita Reuters mengatakan
.
“Misi mereka akan dibatasi untuk melindungi fasilitas penting, seperti minyak, listrik dan instalasi air, dan fasilitas perbankan dan keuangan.”
Pada Senin, para pemrotes tumpah ruah masuk ke dalam distrik pusat fasilitas penting, kompleks bisnis Financial Harbor – sebuah simbol kekayaan dan keistimewaan – sementara kepolisian nampaknya telah meninggalkan daerah tersebut, para saksi mengatakan.
Oposisi Bahrain mengecam intervensi Arab Saudi sebagai sebuah “pendudukan asing”
.
“Kami menganggap kedatangan tentara manapun, atau kendaraan militer apapun, masuk ke dalam kawasan Bahrain… sebuah pendudukan terselubung dari kerajaan Bahrain dan sebuah konspirasi terhadap rakyat Bahrain yang tidak bersenjata,” kata sebuah pernyataan oleh aliansi oposisi yang dikutip oleh kantor berita AFP.
.
Blok tersebut membandingkan tujuh kelompok oposisi, sebagian besar Syiah, mengatakan bahwa intervensi tersebut “melanggar konvensi internasional.”
Blok alinasi tersebut juga menyerukan sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dan memohon komunitas internasional untuk bertindak memastikan “perlindungan rakyat Bahrain dari bahaya intervensi militer asing.”
Intervensi Arab Saudi kemungkinan besar memicu sensitivitas di Teluk, di mana beberapa komunitas Syiah mengeluhkan diskriminasi dan marjinalisasi.
“Negara dengan populasi Syiah yang besar, terutama di Kuwait dan Arab Saudi, kemungkinan mengintensifkan demonstrasi anti-rejim lokal sendiri,” Ghanem Nuseibeh, rekanan pada konsultasi Cornerstone Global, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
“Perselisihan Bahrain dapat secara potensial mengubah kekerasan sektarian regional yang berlangsung melebihi perbatasan negara tertentu yang dikhawatirkan.”
.
Namun di Bahrain sendiri, para pemrotes nampaknya tidak terpengaruh oleh berita-berita intervensi Arab Saudi.
“Kami tidak akan pernah pergi. Ini adalah negara kami,” kata Abdullah, seorang pemrotes, ketika ditanya apakah pasukan Arab Saudi akan menghentikan mereka.

“Mengapa kami harus takut? Kami tidak takut di dalam negara kami sendiri.”

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

oleh : Ustad Husain Ardilla

Syi’ah merupakan mazhab YANG BERPEGANG KEPADA AHLU BAiT dan SEBAGiAN  SAHABAT !

Tidak ada dikotomi  antara syi’ah dengan sebagian sahabat

ingatlah kepada kisah Harits di dalam perang Jamal.

Haris kebingungan, karena dua pihak yang hendak berperang itu adalah sama-sama orang yang dicintai nabi.

Harits tampak bingung dan bersedih, ia berkata, “Wahai Amirul mukminin, saya jadi bingung, di satu sisi ada Anda, menantu Rasulullah,  Sahabat Rasulullah, sepupu Nabi saw, sedangkan di pihak lain ada Aisyah, Ummul Mukimin, Istri Nabi, Putri Abu Bakar, siapa yang benar dan siapa yang harus saya bela?”

Ali berkata, “Wahai Harits, cara berpikir mu itu terbalik! kebenaran tidaklah dapat dilihat dari siapa orangnya.”

bila wahabi mau menghimpun bersama 100 orang syiah saja, lalu saya tanya satu persatu, apakah ada di antara mereka yang menjadi syiah karena keturunan atau sejak mereka kecil? maka jawabannya tidak ada. karena ketika kami berhimpun, masing-masing seringkali menceritakan masa lalunya, di madzab mana dahulu mereka berada dan sebagai apa. semuanya berasal dari mazhab non syiah. ada para mantan dedengkot NII, ada dari Persis, Muhammadiyah, NU, LDII, dari kelompok tarekat-tarekat, dan ada juga yang berasal dari kelompok salafi. Demikian pula ketika saya berhimpun dengan sekelompok syiah lainnya, tidak dapat saya temukan satupun yang bukan mantan sunni. dari sini dapat dipertimbangkan bahwa mayoritas syiah di Indonesia adalah mantan sunni.

diantara seribu umat, ada satu umat dari keturunan habib. terkadang habib ini juga mantan sunni. tapi kebanyakan habib memang syiah sejak kecil. tapi jumala habib dengan jumlah umat itu 1 : 1000. jadi, boleh dikatakan umat syiah yang bukan mantan sunni, hanya 1 di antara 1000 orang syiah.

kaum wahabi kerap menyebarkan brosur yang memprovokasi masyarakat agar membenci dan menolak syiah di Indonesia

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

daan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “

Perbedaan Sunni dan Syiah hanya soal jalur hadis semata. Kaum Muslim Syiah (Mazhab Ahlulbait) meyakini hanya sunnah dan hadis Nabi yang berasal dari keluarga Nabi dan sahabat tepercaya yang layak dijadikan pedoman.

Mazhab Ahlulbait selektif dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Tidak semua sahabat Nabi dianggap saleh dan adil. Karena itu, riwayat-riwayatnya tidak sembarang diterima.

Meski memang tidak dipungkiri dalam sejumlah kitab hadis masih ada yang harus dikaji secara kritis. Saya meyakini bahwa sesudah wafat nabi, ada banyak hadits palsu yang disandarkan oleh nabi oleh perawi sunni

Berikut saya sampaikan bahan bagi kaum ahlul hadits baik dari Suni maupun Syii yang masih malu-malu untuk mendiskusikannya.

Setidaknya ada 2 versi hadits yang relevan dengan judul yang diangkat:

1. Pedomanilah Rasulullah dan Sahabat

dalil-dalil ahlusunnah yang kontra terhadap hadits tsaqalain itu secara makna, tidak lebih kuat dari dalil yang tsaqalain yang diyakini oleh kaum syiah. Oleh karena itu, jika standar keabsahan hadits itu mengikuti cara berpikir ahlu sunnah, maka seharusnya imamah itu diyakini oleh ahlusunnah berdasarkan hadits tsaqalain itu.

orang berkata, “jika Abu Bakar salah di mata Ali, mengapa Ali menjadi pengecut dengan tidak memerangi Abu Bakar?”

Abu Bakar itu muslim. dan menumpahkan darah sesama muslim itu haram hukumnya, kecuali karena membela diri, bukan agresi. Dengan naiknya Abu Bakar menjadi khalifah dan keengganannya untuk memberikan tanah fadak kepada fatimah, bukan alasan yang tepat untuk Ali memerangi Abu Bakar sehingga terjadi pertumpahan darah. tetapi, anda dan orang-orang yang sefaham dengan anda menganggap sikap itu sebagai bentuk kepengecutan.

Ali a.s memang memililki kekuatan yang besar, tapi untuk memerangi suatu kelompok atau suatu pihak, tidak cukup dengan memiliki kekuatan besar itu, tapi juga harus mendahulukan KEBERLANGSUNGAN AGAMA ISLAM. Kaum muslimin pada masa Abubkar menolak memerangi kaum murtadin jika Ali tidak mau membai’at Abubakar !

Ali a.s mengetahui siapa orang yang hendak membunuhnya, dan kapan orang itu akan membunuhnya  karena Nabi telah memberi tau kepada Ali jauh-jauh hari, kapan dan siapa orang yang akan membunuh ali.  itu adalah keyakinan kaum syiah. Orang non syiah berkata, “Kalau begitu, kenapa Ali tidak menangkap calon pembunuhnya sebelum pembunuh itu membunuh dirinya, kenapa Ali tidak membunuh Muawiyah ketika Nabi wafat ??”

untuk menangkap seorang pembunuh, tentu diperlukan hujjah. sedangkan seseorang tidak dapat dihukum atau diqisas hanya karena ia memiliki niat membunuh.

ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, muawiyahpun naik menjadi khalifah tandingan. dan keluarga rasulullah mendapat tekanan yang lebih besar dari masa khalifah utsman. Sehingga mimbar-mimbar jumat, tidak kurang dari 6.000 mimbar jumat di gunakan untuk mencaci maki Ali bin abi thalib atas perintah Muawiyah. Ali sudah dianggap kafir ole sebagai orang yang terkena provokasi. kebenaran tertutup dari mata umat, sehingga ada seorang arab yang mendengar bahwa syahidnya Ali adala ketika ia sedang melaksanakan shalat, si Arab ini terkejut dan berkata, “Shalat? apa dia shalat? aku mengira dia tidak perna shalat?”

selepas syahidnya Ali, Muawiyah mengundang para ulama dan ahli hadits, serta mengundang Hasan a.s untuk diperolok-olok dimajelisnya.

Husain putra Ali bin Abi Thalib di kepung di Karbala, yang mengepung itu adalah kaum muslimin. mereka mengepung Husain seperti mengepung orang kafir. sehingga imam Husain, mengangkat bayinya yang menangis kehausan, “WAhai kalian semua! seandainya kalian menganggap aku kafir, maka lihatlah bayi ini? berikanlah air kepadanya, karena ia tidak berdosa!”

tapi seruan Husain a.s dijawab dengan anak panah yang menembus leher Ali Ashgar, bayi tak berdosa itu. meminta seteguh air saja, bagi seorang bayi yang tak berdosa, dijawab dengan kebengisan, maka bagaimana menyodorkan al Quran yang tdak sesuai dengan keyakinan mereka?

persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Apa Sebab Perpecahan?

sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.” (QS. al-An’am: 159).

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang…”

Seorang muslim -apalagi penuntut ilmu dan da’i- semestinya memperhitungkan dampak dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.

Sebuah pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.

Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap ta’ashub kepada sosok tertentu selain Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh dia telah keliru!

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat

“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

2. Pedomanilah Kitabullah dan Ahlul bait

hadits tsaqalain yang berbunyi “Kitabullah wa Itrati”   memiliki hadits “tandingan”yakni pedomanilah Rasulullah dan para Sahabat. Lalu kepada hadits mana kita harus berpegang ?? dan mana yang palsu ??

Mungkin sebagian orang menjadi bingung dan menganggap ketiga hadits tersebut saling bertentangan, sehingga harus dipegang salah satunya, dan ditinggalkan yang lainnya. Untuk itu kemudian harus menguji satu persatu, mana hadits yang paling shahih. Tapi pekerjaan ini bukanlah pekerjaan mudah. Jika setiap orang ingin yakin sepenuhnya tentang mana yang paling shaheh, maka setiap orang harus melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh para ahli atau para peneliti hadits. Tidak akan selesai kita melakuan penelitian dalam waktu satu atau dua bulan saja, untuk satu hadits ini saja. Bayangkan, itu baru satu hadits. Padahal kita dihadapkan pada banyak hadits, ratusan bahkan ribuan hadits yang dianggap memiliki pertentangan. Berapa banyak umur yang akan kita habiskan untuk meneliti keshahehan hadits-hadits ini satu persatunya? Itu karena orang awam, seolah-olah ingin mengambil alih pekerjaan yang seharusnya hanya dilakukan oleh para ahli.

Di tangan saya terdapat sebuah buku yang berjudul “Dua Pusaka Nabi” yang isinya mengupas tuntas kajian matan dan sanad hadits tsaqalain “Kitab dan Itrah”, berikut matan dan sanad hadits yang dianggap berlawanan dengannya. Tebal buku tersebut adalah 684 halaman. Bayangkan, karena ingin meyakinkan keautentikan satu hadits saja, penulisnya harus menguraikan fakta-fakta yang panjang lebar, hingga mencapai 684 halaman. Coba renungkan, berapa juta lembar yang dibutuhkan untuk menguraikan fakta-fakta keautentikan seribu hadits? Akankah kita menghabiskan umur untuk menelaah seluruh kitab itu?

Dorongan untuk menelaah seluruh kajian sanad dari suatu hadits tersebut, terutama karena ada pihak lain yang meragukan keshahehannya, sementara pihak lainnya menyatakan dhaif, palsu atau memaknainya dengan makna yang jauh berbeda bahkan bertentangan, sehingga kita menjadi bimbang dan ingin memastikan keshahehannya, atau karena kita ingin membuktikan kepada mereka yang tidak percaya keshahehannya bahwa hadits tersebut memang shaheh.


Adapun Kitabullah dan Sunnah ?

“sunnah” yang di bawa sama “itrah” itu yang paling benar memadukannya,

‘itrah’ yang mana? tentu itrah yg dimaksud oleh Nabi saw,

itrah itu pengertiannya bisa ahlil bait artinya dari nasab keturunan

Keharusan berpegang dan mengikuti Kitabullah dan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukanlah hanya berdasarkan hadits2, akan tetapi berdasarkan firman Allah langsung di dalam Al-Quran.

Diantaranya Allah berfirman :”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”(Q.S Al-Ahzab ayat 36)

Allah juga berfirman :”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(Q.S An-Nisa ayat 59)

inilah hadits nama-nama dua belas imam suci yang disebutkan oleh Rasulullah saw :

Dari Jabir Yazid al Ju`fy, ia berkata, “Jabir bin Abdillah Anshari berkata : ` Ketika Allah menurunkan menurunkan ayat :

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu (Q.S 4: 59)”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Kami telah kenal Allah dan RasulNya.  Akan tetapi siapakah Ulil Amr yang ketaatan kepadanya dihubugkan dengan ketaatan (kepada) Anda?

Beliau menjawab ,” Hai Jabir! Mereka adalah para khalifah (penggantiku) dan pemimpin umat Islam setelahku. Yang pertama (1)Ali bin Abi Thalib, kemudian (2)Hasan dan (3)Husain, kemudian (4)Ali bin Husain, kemudian (5)Muhammad bin Ali, yang dalam Taurat dikenal dengan al Baqir dan kamu, hai Jabir, akan menemuinya. Jika kamu menjumpainya, sampaikan salamku atasnya! Kemudian (6)ash Shidiq Ja`far bin Muhammad, kemudian (7)Musa bin Ja`far, Kemudian (8)Ali bin Musa, kemudian (9)Muhammad bin Ali, kemudian (10)Ali bin Muhammad, kemudian (11)Hasan bin Ali, kemudian yang kauniyahnya sama denganku, ia adalah al Hujjah (bukti) Allah di bumi Nya, peninggalan Nya di kalangan (di antara) hamba-hamba Nya, ia adalah (12) Putra Hasan bin Ali, Allah akan menaklukan Timur dan Barat melalui tangannya, ia menghilang dari syiah dan orang-orang yang mencintainya, sehingga tidak akan meyakini imamahnya dengan teguh kecuali orang yang hatinya telah diuji oleh Allah (dan berhasil dengan) keimanan.

Jabir berkata, `Aku berkata : “Wahai Rasulullah, apakah pengikut-pengikut (syiah)-nya dapat mengambil manfaat darinya pada masa ghaibnya?

Beliau menjawab “ Demi Dzat yang membangkitkanku (mengutusku) dengan kenabian, mereka akan bersinar dengan sinar cahayanya dan mengambil manfaat dengan wilayahnya pada masa ghaibnya, sehingga manusia menarik manfaat dari matahari ketika ditutupi awan tebal.” [41]

Selain riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan di atas, masih banyak riwyat lain yang senada dan memuat kandungan serupa. Jumlah hadis tersebut mencapai ratusan, oleh sebab itu tidak mungkin kami sebut semuanya dalam buku ini, bagi yang berminat dapat merujuknya langsung ke buku yang secara khusus membahas masalah-masalah tersebut, seperti : Muntakab al Atsar, karya Luftullah as Shafi al Guybaygani, al Mahdi karya as Sayyid Shadruddin ash Shadr, dan al Imam al Mahdi karya Muhammad Ali Dukhayyil.

[41] Ikmaluddin, I/365, Ilzam An Nashib, 55; Yanabi al Mawaddah, 465

Sumber : Ali Umar Al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, Hal. 319-320

Imam Khomeini

hadith ” Tsaqalain” yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadith ahli Sunnah

Diantara hadithnya:

.
Al-Imam Abul Hussain Muslim bin Hajaj An-Naisaburi ( wafat 262 H) meriwayatkan dalam Shahihnya dengan sanadnya
(2408) حدثني زهير بن حرب، وشجاع بن مخلد، جميعا عن ابن علية، قال زهير: حدثنا إسماعيل بن إبراهيم، حدثني أبو حيان، حدثني يزيد بن حيان، قال: انطلقت أنا وحصين بن سبرة، وعمر بن مسلم، إلى زيد بن أرقم، فلما جلسنا إليه قال له حصين: لقد لقيت يا زيد خيرا كثيرا، رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، وسمعت حديثه، وغزوت معه، وصليت خلفه لقد لقيت، يا زيد خيرا كثيرا، حدثنا يا زيد ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: يا ابن أخي والله لقد كبرت سني، وقدم عهدي، ونسيت بعض الذي كنت أعي من رسول الله صلى الله عليه وسلم، فما حدثتكم فاقبلوا، وما لا، فلا تكلفونيه، ثم قال: قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا، بماء يدعى خما بين مكة والمدينة فحمد الله وأثنى عليه، ووعظ وذكر، ثم قال: ” أما بعد، ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب، وأنا تارك فيكم ثقلين: أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله، واستمسكوا به ” فحث على كتاب الله ورغب فيه، ثم قال: «وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي، أذكركم الله في أهل بيتي» فقال له حصين: ومن أهل بيته؟ يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال: نساؤه من أهل بيته، ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده، قال: ومن هم؟ قال: هم آل علي وآل عقيل، وآل جعفر، وآل عباس قال: كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال: نعم
.
Telah meriwayatkan kpd kami Zuhair bin Harb,dan Syuja`bin Makhlad kesemuanya daripada Ibnu `Aliyah,kata Zuhair: telah meriwayatkan kepada kami Ismai`l bin Ibrahim,telah meriwayatkan kepada kami Abuu Hayyan,meriwayatkan kepada kami Yazid bin Hayyan,katanya: Aku telah bertolak bersama-sama Hushoin bin Sabrah,dan `Umar bin Muslim menemui Zaid bin Arqam,apabila kami duduk bermajlis bersamanya Hushoin berkata kepadanya: ” Sesungguhnya engkau wahai Zaid telah mendapat kebaikan yang sangat banyak,engkau pernah melihat Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam,dan engkau telah mendengar haditnya,dan engkau telah ikut berperang bersamanya,dan engkau pernah solat di belakangnya dan sungguh enkau telah bertemunya, wahai Zaid kebaikan yang banyak, khabarkanlah kepada kami wahai Zaid apa yang telah engkau dengar daripada Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam,jawabnya: ” Wahai anak saudaraku,demi Allah umurku telah tua,aku dah lama hidup,dan aku telah lupa sebahagian hadith yang aku telah hafal daripada Rasulullah sallallahu`alahiwasallam ,maka apa yang aku khabarkan kepada kamu maka terimalah,jika tidak aku ingat maka jangan kamu memberat-beratkan aku,kemudian beliau berkata: ” Suatu hari Rasulullah sallallahu`alaihiwasallam bangun beridiri berkhutbah kepada kami disisi anak sungai yang bernama Khum yang terletak di antara Makkah dan Madinah lalu beliau memuji Allah dan memberi nasihat serta peringatan kemudian beliau bersabda: ” Amma Ba`d, ketahuilah wahai manusia,maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia hampir-hampir utusan tuhanku( malaikat maut) mendatangiku dan aku dimatikan,dan aku meninggalkan kepada kamu tsaqalain( dua perkara yang berat): yang pertamanya ialah Kitab Allah,padanya terdapat petunjuk dan cahaya maka berpeganglah dengan Kitab Allah,dan berpegang teguhlah dengannya”,kemudian beliau menggalakkan agar melazimi kitab Allah dan memberi motivasi agar berpegang dengannya, kemudian beliau bersabda: “Ahli Baitku, Aku mengingatkan kamu dengan Allah agar menjaga hak-hak ahli baitku,aku mengingatkan kamu dengan Allah terhadap ahli baitku,aku mengingatkan kamu dengan Allah terhadap ahli baitku..” Kata Hushoin kepadanya: ” Dan siapakah ahli baitnya?,bukankah isteri-isterinya termasuk ahli baitnya?, jawab Zaid: ” isteri-isterinya adalah ahli baitnya,akan tetapi ahli baitnya adalah sesiapa yang diharamkan sadaqah(zakat) selepas kewafatannya” dia bertanya lagi: ” Siapa mereka?” Jawab Zaid: ” Mereka ialah aali( Keluarga) `Ali,keluarga `Aqil,keluarga Ja`afar dan keluarga `Abbas”. Dia bertanya lagi: ” Kesemua mereka itu diharamkan sadaqah(zakat)? ” Jawab Zaid: ” Y
.[ HR Muslim no:2408, Kitab Fadhail As-Sohabah Radiallahu`anhum, Bab Fadhail `Ali bin Abi Talib Radiallahu`anhu ]
.
Hadith berkenaan Tsaqalain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah Hadith yang paling shahih dalam bab ini,dan merupakan umdah(asas) pada masalah ini.Adapun hadith-hadith lain yang shahih diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan selainya seperti diriwayatkan beliau dengan sanadnya
3788 - حدثنا علي بن المنذر الكوفي قال: حدثنا محمد بن فضيل قال: حدثنا الأعمش، عن عطية، عن أبي سعيد، والأعمش، عن حبيب بن أبي ثابت، عن زيد بن أرقم قالا: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي أحدهما أعظم من الآخر: كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض. وعترتي أهل بيتي، ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض فانظروا كيف تخلفوني فيهما «هذا حديث حسن غريب»
.
Telah meriwayatkan kepada kami `Ali bin Munzir Al-Kufi katanya: Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Fudhail katanya: Telah meriwayatkan kepada kami `Al-`Amasy,daripada `Atiyah,daripada Abi Sa`id dan Al`Amasy daripada Habib bin Abi Thabit,daripada Zaid bin Arqam katanya: Rasulullah sallalahu`alaihiwasallam bersabda: ” Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh dengannya maka kamu tidak akan sesat selepasku, salah satunya sangat agung daripada yang lain: Kitab Allah tali yang dihulurkan daripada langit ke bumi,dan ahli `itrah ahli baitku,dan tidak akan berpisah antara keduanya sehinggalah disampaikan keduanya kepadaku al-haudh(telaga) maka lihatlah kamu semua bagaiman kamu menggantikan aku dalam menjaga hak-hak keduanya
.
[ HR Tirmidzi no:3786,3788, Bab Manaqib Ahli Baitin Nabi sallallahu`alaihiwasallam dan At-Tirmidzi menyebutkan hadith ini hasan gharib,dan Syeikh Al-Albani mensahihkannya

serban

Selain itu perlu difahami bahwa bagi kaum syiah, menggunakan redaksi bihi maupun bihima, tidaklah menyalahi makna bahwa maksudnya adalah “Quran dan ahli bait nabi”. Kenapa? Karena Quran dan Ahli Bait nabi dianggap sebagai satu. Sebagaimana Muhammad saw dan al-Quran dianggap sebagai suatu kesatuan. Oleh karena itu, baik Muhammad saw dan Ali disebut sebagai al-Quran Natiq, yakni al-Quran yang berbicara.

Kitabullah dan Ahlul  bait:

Muslim 4425.

Telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] dan [Syuja’ bin Makhlad] seluruhnya dari [Ibnu ‘Ulayyah], [Zuhair] berkata; Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim]; Telah menceritakan kepadaku [Abu Hayyan]; Telah menceritakan kepadaku [Yazid bin Hayyan] dia berkata; “Pada suatu hari saya pergi ke [Zaid bin Arqam] bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam. Hai Zaid, kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kamu pernah melihat Rasulullah. Kamu pernah mendengar sabda beliau. Kamu pernah bertempur menyertai beliau. Dan kamu pun pernah shalat jama’ah bersama beliau. Sungguh kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. OIeh karena itu hai Zaid. sampaikanlah kepada kami apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!

.
Zaid bin Arqam berkata; Hai kemenakanku, demi Allah sesungguhnya aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, apa yang bisa aku sampaikan, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan. maka janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya.” Kemudian Zaid bin Arqam meneruskan perkataannya.

.
Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang di sebut Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata; Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya.

.
Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Kitabullah yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Kitabullah dan peganglah. Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Kitabullah. Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn; “Hai Zaid, sebenarnya siapakah ahlul bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah ahlul bait (keluarga) nya?” Zaid bin Arqam berkata; “Istri-istri beliau adalah ahlul baitnya. tapi ahlul bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau.” Husain bertanya; “Siapakah mereka itu?” Zaid bin Arqam menjawab; “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas.” Husain bertanya; “Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?” Zaid bin Arqam menjawab.”Ya.”
dst

.

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan]; Telah menceritakan kepada kami [Hassan] yaitu Ibnu Ibrahim dari [Sa’id] yaitu Ibnu Masruq dari [Yazid bin Hayyan] dari [Zaid bin Arqam] dia berkata; Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya; ‘Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana Hadits Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al-Qur’an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.’ Juga di dalamnya disebutkan perkataan; Lalu kami bertanya; siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau? Dia menjawab; Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlu bait beliau adalah, keturunan beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.’

.

 Sunan Darimi no. 3182.

Telah menceritakan kepada kami [Ja’far bin ‘Aun] telah menceritakan kepada kami [Abu Hayyan] dari [Yazid bin Hayyan] dari [Zaid bin Arqam] ia berkata, “Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri khutbah, beliau memuji Allah dan memuja-Nya kemudian bersabda: “Wahai manusia, aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba masanya utusan Rabbku datang padaku hingga aku pun harus memenuhi- Nya. Dan sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat. Pertama adalah Kitabullah yang mengandung di dalamnya petunjuk dan cahaya maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah dan ambillah ia.” Maka beliau mendorong dan menganjurkan untuk berpegang teguh kepadanya. Kemudian beliau bersabda: ‘Aku ingatkan kalian akan Allah pada Ahlu baitku.’ Beliau mengatakan tiga kali.”

.

Tirmidzi no. 3718 dan 3719

Telah menceritakan kepada kami [Nahsr bin Abdurrahman Al Kuffi] telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hasan, dia adalah seorang dari Anmath] dari [Ja’far bin Muhammad] dari [ayahnya] dari [Jabir bin Abdullah] dia berkata; saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hajinya ketika di ‘Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya -Al Qahwa`- dan saya mendengar beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu; kitabullah dan sanak saudara ahli baitku.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Abu Dzar, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan Hudzaifah bin Asid. ia berkata; “hadits ini derajatnya hasan gharib melalui jalur ini. Lalu ia melanjutkan; “Sa’id bin Sulaiman dan banyak dari kalangan ulama` yang telah meriwayatkan dari Zaid bin Hasan.”

.

Tirmidzi no. 3720.

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Al Mundzir Al Kufi] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudhail] telah menceritakan kepada kami [Al A’masy] dari [‘Athiyah] dari [Abu Sa’id Al A’masy] dari [Habib bin Abu Tsabit] dari [Zaid bin Arqam radliallahu ‘anhuma] keduanya berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian sesuatu yang sekiranya kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya itu lebih agung dari yang lain, yaitu; kitabullah adalah tali yang Allah bentangkan dari langit ke bumi, dan keturunanku dari ahli baitku, dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib.”

Fathimah Az Zahra puteri Nabi SAW yang dizalimi kaum pemberontak pelaku kudeta

29 05 2011

Jalaluddin Rakhmat

KISAH perjuangan Fathimah adalah kisah penderitaan. Ia membuka matanya yang pertama ketika keluarga Nabi saw digoncang oleh berbagai musibat. Ia juga menutup matanya pada waktu keluarga Fathimah dihujani musibat, yang seperti terungkap dalam puisinya, “Sekiranya musibat itu menimpa siang, siang akan berubah menjadi malam gelita. Ke manakah ia mengadukan segala deritanya? Di manakah ia mendapatkan kedamaian di tengah prahara di zamannya? Di manakah ia melabuhkan hatinya yang hancur?”

Dari ayahnya ia belajar bahwa ia hanya menemukan ketentraman dalam ibadah, dalam zikir dan doa. Ketika tangan Fathimah melepuh karena memutar penggilingan gandum, ia datang menemui ayahnya. Rasulullah saw baru saja menerima banyak tawanan perang. Ia ingin meminta salah seorang di antaranya untuk membantunya bekerja di rumah. Ia tidak berhasil menemuinya. “Ketika Nabi saw datang,“ kata Ali yang mengisahkan kejadian itu kepada kita, “Aisyah menceritakan kepadanya tentang kedatangan Fathimah. Beliau mengunjungi kami ketika kami bersiap untuk tidur. Aku bangkit untuk menyambutnya tetapi beliau berkata: Tetaplah kalian di tempat kalian. Lalu beliau duduk di antara kami. Aku merasakan sejuknya kedua telapak kakinya pada dadaku. Beliau berkata: Perhatikan, akan aku ajarkan kepada kalian yang lebih baik dari apa yang kalian minta, jika kalian sudah berbaring untuk tidur. Ucapkan takbir 34 kali, tasbih 33 kali, dan tahmid 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu.”

Tasbih yang diajarkan Nabi saw itu kelak terkenal dengan sebutan Tasbih Al-Zahra. Tasbih ini bukan hanya dibaca sebelum tidur, tetapi juga diwiridkan setiap ba’da salat. Dari Al-Zahra, kita bukan hanya menerima tasbih ini, tetapi juga banyak tasbih lainnya. Dan di samping tasbih, kita juga mewarisi doa-doa ba’da salat lainnya, yang kita sebut sebagai ta’qib. Selain tasbih dan doa, dari Fathimah, kita juga belajar doa harian serta doa untuk berbagai situasi -seperti doa hajat, doa untuk keluar dari penjara, doa untuk menolak bencana, dan doa sehari-hari lainnya.

Pada lidah Al-Thahîrah, Sang Perempuan Suci, doa bukan hanya permohonan kepada Allah. Seperti Nabi Ya’qub yang berkata, “Sesungguhnya aku adukan derita dan kepedihanku kepada Allah” (QS. Yusuf: 86), Fathimah juga menjadikan doa sebagai pengaduan, jeritan hati, dan ungkapan kerinduan. Simaklah, misalnya, doa hari Selasa:

Ya Allah, jadikanlah kelalaian manusia dari kami sebagai peringatan, dan jadikanlah ingatan mereka pada kami sebagai syukur, dan jadikan ucapan baik yang kami ucapkan dengan lidah kami sebagaimana yang ada di dalam hati kami

.
Ya Allah, sungguh pengampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami, dan sungguh rahmat-Mu lebih kami harapkan dari amal-amal kami.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat pada Muhammad dan keluarganya, serta anugerahkanlah kami petunjuk untuk melakukan amal baik dan amal salih.

Di samping itu, seperti para ma’shumin lainnya, Sayyidah Fathimah menjadikan doa sebagai media untuk mengajarkan ajaran Islam kepada para pendengarnya. Dalam doa dan zikirnya ia menjelaskan kebesaran Allah dan keesaaan-Nya, kasih sayang Allah dan ampunannya dengan bahasa yang jernih, sederhana, indah, tetapi mendalam. Perhatikanlah doa-doa ta’qib salat dalam buku ini, terutama doa yang harus dibaca di pagi hari (setelah salat Subuh). Setiap kalimat doanya dapat menjadi satu bab pelajaran Aqidah, “…bagi orang yang punya hati, memusatkan pendengaran dan ia menjadi saksi.” (QS. Qaf: 37)
Menurut Sayyid Husain Fadhlullah, Fathimah juga mengajarkan prinsip kehidupan yang harus dipegang teguh oleh kaum mukminin. Imam Hasan menceritakan ibadat ibunya, “Aku pernah melihat ibuku Fathimah as berdiri di mihrabnya sepanjang malam Jumat. Tidak henti-hentinya ia rukuk dan sujud sampai terbit fajar. Aku mendengar ia mendoakan kaum mukminin dan mukminat sambil menyebut nama-nama mereka. Ia memperbanyak doa bagi mereka tetapi tidak berdoa untuk dirinya. Aku bertanya kepadanya: Ibu, mengapa Ibu tidak berdoa untuk ibu sendiri sebagaimana Ibu berdoa untuk orang lain? Ia menjawab: Anakku, tetangga dulu baru rumah kita sendiri!”
.

Al-jâr tsumma al-dâr adalah falsafah hidup Fathimah. Ia menjadikan hidupnya sebagai masa untuk berkhidmat bagi manusia. Kecintaannya kepada Al-Khaliq diungkapkannya dengan kecintaannya kepada makhluk-Nya. Tetangga dulu baru rumah sendiri. Di dalam doa ketika kita berkutat dalam keinginan-keinginan egoistis kita, Sayyidah Fathimah melantunkan doa-doa mulia untuk orang lain. Apa yang diungkapkannya dalam doa dipraktekkan juga dalam kehidupannya sehari-hari. Bagi Fathimah, falsafah al-jâr tsumma al-dâr bukan hanya sekedar wacana yang diomongkan kemudian dilupakan, bukan hanya sebatas pakaian yang dapat dikenakan dan ditanggalkan. Falsafah itu sekaligus jalan kehidupan yang ditempuhnya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, diceritakan kisah berikut ini; Seorang A’rabi -Arab Badui- dari Bani Sulaym keluar untuk mencari air di padang pasir. Tiba-tiba ia menemukan dhab -sejenis biawak- merayap di hadapannya. Ia berjalan di belakangnya sampai berhasil menangkapnya. Ia menyimpannya di dalam kantongnya. Ia melanjutkan perjalanannya mendatangi Nabi saw. Tidak jauh dari Nabi, ia berteriak, “Ya Muhammad, ya Muhammad!”
Ketika orang A’rabi itu menyerunya ‘Ya Muhammad, ya Muhammad’, Nabi pun menjawabnya dengan seruan, “Ya Muhammad, ya Muhammad.” Sang A’rabi lalu berkata, “Engkau tukang sihir pendusta! Di bawah kolong langit ini, di atas permukaan bumi, tidak ada lidah yang lebih pembohong daripada lidahmu. Engkaulah yang mengaku bahwa Tuhan telah membangkitkan kamu di bumi ini sebagai utusan kepada orang hitam maupun orang putih. Demi Latta dan ‘Uzza, sekiranya aku tidak takut kaumku menyebut aku sebagai orang yang terburu-buru, aku akan bunuh kamu dengan pedang ini dengan satu tebasan saja!”
.

Umar meloncat untuk mencengkeramnya. Tetapi Nabi berkata, “Duduk hai Umar! Hampir saja seorang penyantun itu dapat menjadi nabi karena kesantunannya.” Kemudian Nabi melihat kepada orang A’rabi itu seraya berkata, “Hai saudaraku Bani Sulaym, inikah yang dilakukan orang Arab? Mereka menyerang kami di tengah-tengah majelis kami dan mencaci maki dengan kata-kata kasar? Hai A’rabi, demi yang mengutusku dengan kebenaran sebagai nabi, sesungguhnya dua pukulan di dunia esok hari akan menyala di neraka. Hai A’rabi, demi Yang mengutusku dengan kebenaran sebagai Nabi, sesungguhnya penghuni langit yang ketujuh menamaiku Ahmad Yang Benar. Hai A’rabi, Islamlah kamu supaya kamu selamat dari api neraka. Sehingga apa yang kami miliki juga menjadi milikmu, apa yang menimpa kami juga menimpamu, dan jadilah kamu saudara kami di dalam Islam.”
Orang A’rabi itu semakin marah dan berkata, “Demi Latta dan ‘Uzza, aku tidak akan beriman kepadamu hai Muhammad, kecuali kalau biawak ini beriman.” Ia lalu melemparkan biawak dari kantongnya. Ketika jatuh ke bumi, biawak itu segera melarikan diri. Nabi saw menyerunya, “Hai biawak, kembalilah kepadaku!” Biawak itu kembali sambil memandang Nabi saw

.
Nabi bersabda, “Hai biawak, siapakah aku?” Tiba tiba biawak itu berbicara dengan lidah yang fasih, “Engkau Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Muthalib, bin Hasyim, bin Abdu Manaf.” Nabi bertanya lagi, “Siapa yang kamu sembah?” Biawak itu menjawab, “Aku menyembah Allah yang menaburkan biji-bijian dan menggelarkan ciptaan, yang mengambil Ibrahim sebagai sahabat-Nya dan memilih engkau, hai Muhammad, sebagai kekasih-Nya.”
Ketika orang A’rabi itu menyaksikannya, ia berkata, “Ajaib benar! Seekor biawak yang aku buru di padang pasir dan aku simpan di dalam kantungku, yang tidak berfikir dan berakal, tiba-tiba berbicara kepada Muhammad saw dengan pembicaraan seperti ini dan bersaksi dengan kesaksian seperti ini. Ulurkan tanganmu dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya.” Masuklah orang A’rabi itu ke dalam Islam dan baguslah Islamnya

.
Kemudian Nabi melihat ke arah sahabat-sahabatnya seraya berkata, “Ajarkan kepada orang A’rabi ini beberapa surat Al-Quran.” Setelah orang A’rabi itu diajari beberapa surat dari Al-Quran, Nabi berkata lagi kepadanya, “Apakah kamu punya harta kekayaan?” Ia berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi. Ada empat ribu orang Bani Sulaym. Tidak seorang pun di antara mereka yang lebih miskin dan lebih sedikit hartanya dariku.”
Nabi menengok kepada sahabat-sahabatnya dan bertanya, “Siapa yang mau memberikan orang A’rabi ini seekor unta, aku jaminkan bagi dia di sisi Allah, seekor unta dari surga.” Lalu Sa’ad bin Ubadah meloncat dan berkata, “Biarlah ibu dan ayahku menjadi tebusanku, unta merah ini menjadi milik orang A’rabi.”
.

Nabi menengok lagi sahabat-sahabatnya dan berkata, “Siapa yang mau memberikan mahkota kepada orang A’rabi ini, aku jaminkan baginya di sisi Allah, mahkota ketakwaan.” Lalu Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata, “Apakah mahkota ketakwaan itu?” Nabi kemudian menyebutkan sifat-sifatnya. Ali pun melingkarkan serbannya kepada kepala orang A’rabi itu

.
Setelah itu Nabi bersabda, “Barangsiapa yang memberi bekal kepada orang A’rabi ini, aku jaminkan baginya di sisi Allah, bekal ketakwaan.” Salman Al-Farisi berdiri dan bertanya, “Apa bekal takwa itu?” Rasulullah bersabda, “Hai Salman, pada hari terakhir engkau meninggalkan dunia ini, Tuhan membimbing kamu untuk mengucapkan kalimat syahadat. Jika kamu sanggup mengucapkannya, kamu akan berjumpa denganku dan aku berjumpa denganmu. Jika tidak, kamu takkan berjumpa denganku dan aku pun takkan berjumpa denganmu selama-lamanya.”
Lalu berangkatlah Salman mendatangi sembilan rumah istri Nabi saw. Ia tidak mendapatkan apa pun dari mereka. Ketika ia kembali lagi, ia melewati kamar Fathimah lalu mengetuk pintunya. Dari dalam terdengar suara, “Siapa di balik pintu?” Ia menjawab, “Aku Salman Al-Farisi.” Ia bertanya, “Ya Salman, kau mau apa?” Kemudian Salman mengisahkan orang A’rabi dengan biawaknya di depan Nabi saw.
Fathimah berkata, “Hai Salman, Demi Yang mengutus Muhammad saw dengan kebenaran sebagai Nabi, sudah tiga hari ini kami tidak makan. Hasan dan Husain sudah menggigil karena kelaparan yang sangat dan tidur seperti anak burung yang kehilangan bulunya. Tapi aku tidak akan menolak kebaikan kalau kebaikan itu datang di pintuku. Hai Salman, bawalah perisai ini dan sampaikan kepada Syam’un orang Yahudi. Katakan kepadanya: Fathimah putri Muhammad minta dipinjami satu sha’ kurma dan sha’ gandum. Aku akan mengembalikan kepadanya, insya Allah.”
.

Ketika Syam’un mengambil perisai itu, dibolak-balikannya benda itu dalam tangannya sementara matanya berlinang air mata. Kemudian ia berkata, “Hai Salman, inilah yang disebut zuhud dalam dunia. Inilah yang disampaikan kepada kami oleh Musa bin Imran di dalam Taurat. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hamba-Nya dan Utusan-Nya.” Masuk Islamlah Yahudi itu dengan keislaman yang baik. Ia memberikan kepada Salman satu sha’ kurma dan satu sha’ gandum

.
Salman mendatangi Fathimah yang segera menggiling gandum itu dengan tangannya dan membuat roti. Ia berkata kepadanya, “Ambillah roti ini dan bawa kepada Nabi saw.” Salman berkata kepadanya, “Ya Fathimah, ambillah sebagian kecil untuk melepaskan lapar Hasan dan Husain.” Fathimah berkata, “Ya Salman, roti ini sudah kami persembahkan untuk Allah dan kami tidak akan mengambil sedikit pun.” Salman membawa roti itu ke hadapan Nabi dan menjelaskan apa yang dilakukan Fathimah

.
Nabi sendiri waktu itu belum makan selama tiga hari. Nabi lalu berangkat menuju bilik Fathimah. Ia mengetuk pintu. Ketika Fathimah membuka pintu, Nabi saw melihat mukanya yang menguning dan matanya yang sayu. Nabi berkata, “Anakku, mengapa kulihat wajahmu menguning dan matamu sayu?” Fathimah berkata, “Ya Abah, sudah tiga hari ini kami tidak memakan makanan apa pun. Hasan dan Husain sudah menggigil karena kelaparan dan tidur seperti anak burung yang menggelepar karena kehilangan bulunya.”
.

Nabi mengambil salah seorang dari cucunya dan menempatkannya pada pahanya sebelah kanan dan yang lain pada paha sebelah kiri serta mendudukkan Fathimah di hadapannya. Nabi memeluknya dan masuklah Ali. Ia memeluk Nabi dari belakang. Kemudian Nabi saw mengangkat matanya ke arah langit seraya berkata, “Tuhanku, junjunganku, pelindungku, inilah ahli baitku. Ya Allah, hilangkan dari mereka segala noda dan sucikan mereka sesuci-sucinya.”
Kemudian Fathimah masuk ke tempat ibadatnya. Ia merapatkan kedua kakinya dan salat dua rakaat. Setelah itu ia mengangkat tangan ke langit seraya berdoa, “Tuhanku, junjunganku, inilah Muhammad nabi-Mu, inilah Ali putra paman nabi-Mu dan inilah Hasan dan Husain, kedua cucu nabi-Mu. Tuhanku, turunkan kepadaku hidangan dari langit sebagaimana telah engkau turunkan kepada Bani Israil. Mereka makan makanan itu tapi kemudian kafir. Ya Allah, turunkanlah makanan itu kepada kami dan sungguh kami ini orang-orang mukmin.”
.

Berkata Ibnu Abbas, “Demi Allah, belum habis doa itu, tiba-tiba aku melihat nampan yang di belakang menyebarkan wewangian yang lebih harum dari kesturi.” Kemudian Fathimah membawanya ke hadapan Nabi saw, Ali, Hasan, dan Husain. Dan Ali bertanya kepadanya, “Hai Fathimah, dari mana engkau dapatkan ini semua?” Lalu Nabi saw berkata, “Makanlah ya Abal Hasan dan jangan banyak bertanya. Segala puji bagi Allah yang tidak mematikan aku sebelum ia menganugerahkan padaku seorang anak yang seperti Maryam binti Imran. ”Setiap kali Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab ia mendapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini? Maryam menjawab: Makanan itu dari sisi Allah swt. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakinya tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran; 37)
.

Makanlah Nabi bersama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Setelah itu Nabi keluar. Sang A’rabi yang telah mendapatkan bekal, duduk di atas kendaraannya dan menemui Bani Sulaym yang ketika itu berjumlah empat ribu orang. Ketika ia berada di tengah-tengah mereka, ia berteriak dengan suara keras, “Ucapkan oleh kalian Lâilâha ilallâh, Muhammadar Rasûlullâh.”
Begitu mereka mendengar suara itu, mereka segera mengambil pedang dan menghunusnya sambil berkata, “Kamu sudah murtad dan memasuki agama Muhammad, tukang sihir pendusta!” Ia berkata kepada mereka, “Ia bukan tukang sihir dan bukan pendusta! Hai Bani Sulaym, sesungguhnya Tuhan Muhammad adalah sebaik-baiknya Tuhan dan Muhammad adalah sebaik-baiknya Nabi. Aku datang kepadanya dalam keadaan lapar dan ia memberikan makanan kepadaku. Aku datang dalam keadaan telanjang, ia memberiku pakaian. Aku datang sambil berjalan kaki, dan ia berikan kepadaku kendaraan.”
Kemudian ia menceritakan kisah biawak di hadapan Nabi saw, dan berkata, “Hai Bani Sulaym, Islamlah kamu supaya kalian selamat dari api neraka.” Hari itu juga empat ribu orang Bani Sulaym masuk Islam. Mereka adalah sahabat di sekitar Nabi yang membawa bendera hijau.

Seperti ajakan tokoh Bani Sulaym, kumpulan doa-doa Fathimah as disampaikan dengan diiringi seruan untuk mengikuti Fathimah bukan saja dalam mengamalkan doanya, tetapi juga dalam mempraktekkan ajarannya dalam kehidupan kita.

Dengan melantunkan doa-doa Fathimah as, kita ingin menyerap sedikit saja cahaya yang memancar dari mihrabnya. Dengan memanjatkan rintihan-rintihan sucinya, kita berharap agar Tuhan menggabungkan kita bersama sang penghulu perempuan seluruh alam, Sayyidah Fathimah ‘alaihas salam.

Apa yang Dihapus (OLEH SETAN DARi NAJAD) di Masjid Nabawi ???

Sejak awal blog ini ingin tetap konsisten dengan prinsip persatuan umat Islam dan sebisa mungkin tetap ingin menjaganya. Dalam beberapa diskusi dan pertemuan, ada keinginan untuk tidak terlalu menyinggung Wahabi atau yang sekarang ini mencatut nama salafi. Katanya, mereka sebenarnya masih punya peluang untuk dibantu. Setidaknya dibantu untuk kembali menggunakan akal dan tidak buta dengan istilah dan penampilan lahiriah.

Gambar-gambar di bawah ini menunjukkan bahwa kelompok yang kelihatannya sangat taat ini sebenarnya ingin mencerabut Nabi Muhammad saw. dari hati umat muslim. Dimulai dari klaim bahwa orang tua nabi berada di neraka, keluarga nabi adalah manusia biasa, larangan ziarah kepada nabi, dan tuduhan lain yang merendahkan nabi saw. Liciknya mereka menggunakan dalih dengan mengaku sebagai muwahid sejati dan menjual murah kata-kata “musyrik”, “bidah“, “sesat” dan sebagainya.

Apa yang Dihapus di Masjidnabawi?

Ketika kekhalifahan Utsmaniah (Ottoman) Turki membangun kembali Masjid Nabawi, mereka menuliskan di pagar emas Raudah Syarif “Ya Allah Ya Muhammad” bersamaan.

Tapi menurut syariahnya Wahabi, penyebutan “Ya Muhammad” adalah syirik meskipun seluruh umat muslim tahu Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Nya. Sehingga mereka menambahkan “titik” di bawah huruf “ha” sehingga menjadi huruf “jim” dan menghapus huruf “mim” untuk kemudian menambahkan “dua titik” sehingga terlihat seperti huruf “ya”. Kemudian kata Muhammad dihapus menjadi Majîd.

“Ya Muhammad” menjadi “Ya Majid”

sumber kutipan : http://ejajufri.wordpress.com/2011/05/29/apa-yang-dihapus-di-masjid-nabi-dan-ditulis-di-kakbah-oleh-wahabi/

Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab menyebutkan bahwa sampai saat ini MUI sama sekali tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah. Namun saat ini beberapa media dan situs yang memiliki tendensi negatif terhadap Syiah mempublikasikan selebaran fatwa MUI yang disebutkan menyatakan kesesatan Syiah dan bukan bagian dari Islam. Manakah yang benar dari keduanya?

Analisa “Fatwa” MUI: Waspada Klaim Palsu Syiah Sesat

 

Menurut Kantor Berita ABNA, dalam pertemuannya dengan para pelajar Indonesia yang berada di Qom (28/4), Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab menyebutkan bahwa sampai saat ini MUI sama sekali tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah. Namun saat ini beberapa media dan situs yang memiliki tendensi negatif terhadap Syiah mempublikasikan selebaran fatwa MUI yang disebutkan menyatakan kesesatan Syiah dan bukan bagian dari Islam. Manakah yang benar dari keduanya?

Pernyataan Prof. Umar Shihab yang notabene adalah Ketua MUI yang menyebutkan MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah atau media-media anti Syiah yang menyebutkan MUI pernah mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan belum dianulir sampai saat ini?

Berikut kami menyertakan sebuah analisa sederhana:

Prof. Umar Shihab sebagai ketua MUI tentu tidak akan mengeluarkan pernyataan secara gegabah hanya sekedar untuk menyenangkan pendengarnya, dengan mengorbankan reputasinya sebagai tokoh masyarakat, ulama dan pejabat negara. Sementara media-media anti Syiah, tentu akan melakukan banyak hal untuk tetap membenarkan pendapat mereka meskipun itu dengan cara manipulasi dan merendahkan kehormatan seorang muslim.

Media anti-Syiah mempublikasikan kembali hasil Rakernas MUI tahun 1984 yang mengeluarkan rekomendasi mengenai paham Syiah yang kemudian mereka menyebutnya sebagai fatwa MUI.

Berikut teks lengkap rekomendasi tersebut (http://www.mui.or.id/index.php?option=com_docman&task=doc_view&gid=25&tmpl=component&format=raw&Itemid=84)

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai berikut:

Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.

Perbedaan itu di antaranya :

  1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu musthalah hadits.
  2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma’sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
  3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
  4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.
  5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).

Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan: Jakarta, 7 Maret 1984 M

4 Jumadil Akhir 1404 H

KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML (Ketua)

H. Musytari Yusuf, LA (Sekretaris)

Analisa

  1. Meskipun rekomendasi tersebut dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI dan terdapat dalam Himpunan Fatwa MUI namun tidak satupun teks yang menyebutkan bahwa apa yang tertulis di atas adalah Fatwa MUI. Di awal surat disebutkan bahwa teks di atas adalah rekomendasi MUI yang merupakan hasil dari Rakernas MUI tahun 1984 mengenai paham Syiah dan di akhir teks disebutkan himbauan MUI untuk mewaspadai Syiah, dan sama sekali tidak menyebutkan fatwa MUI apapun mengenai Syiah.
  2. Dalam surat rekomendasi tersebut disebutkan, “Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.” Pernyataan bahwa paham Syiah sebagai salah satu paham yang terdapat dalam dunia Islam, menunjukkan pengakuan MUI bahwa Syiah adalah bagian dari dunia Islam. Tidak sebagaimana pengklaiman media anti-Syiah yang menyebutkan MUI mengeluarkan fatwa kesesatan Syiah dan menganggap Syiah di luar Islam.
  3. Lima poin perbedaan yang dipaparkan MUI dalam surat rekomendasi tersebut adalah perbedaan antara paham Syiah dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia, bukan dengan ajaran Islam itu sendiri, dan bukan pula dengan mazhab suni (ahlusunah waljemaah) yang dianut umat Islam di luar Indonesia. Mengingat, jangankan pemahaman ahlusunah waljemaah dengan umat Islam di negara lain, dalam negeri Indonesia sendiri, antara sesama pengikut ahlusunah waljemaah terdapat perbedaan akidah dan amalan fikih yang mencolok. Antara pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut Nahdatul Ulama (NU) yang moderat terhadap tradisi lokal sangat berbeda dengan pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut ormas-ormas keagamaan yang berafiliasi ke Arab Saudi.
  4. MUI tidak menyebutkan lima poin perbedaan pokok antara paham Syiah dengan pemahaman ahlusunah waljemaah yang dianut (mayoritas) umat Islam Indonesia sebagai kesesatan Syiah dan pembenaran terhadap pemahaman ahlusunah waljemaah versi umat Islam Indonesia. Adanya perbedaan paham dalam dunia Islam adalah hal yang biasa, sebagaimana perbedaan paham dalam mazhab suni sendiri.
  5. Himbauan MUI agar waspada terhadap ajaran Syiah hanya dikhususkan kepada umat Islam Indonesia yang berpaham ahlusunah waljemaah bukan kepada seluruh umat Islam Indonesia. Karenanya, bukan menjadi persoalan kemudian jika ada ormas-ormas Islam ataupun tokoh Islam yang menyatakan menerima keberadaan Syiah di Indonesia. Dan statusnya sebagai himbauan tidak meniscayakan bahwa yang menerima keberadaan Syiah menentang MUI.

Dengan lima poin analisa sederhana tersebut di atas, kami menyatakan apa yang dinyatakan oleh Prof. Umar Shihab bahwa MUI tidak pernah menyatakan Syiah sesat adalah benar, sementara media-media ataupun ormas-ormas yang anti-Syiah yang mengklaim MUI pernah mengeluarkan fatwa mengenai kesesatan Syiah adalah kedustaan belaka dan upaya manipulatif untuk tetap menimbulkan perpecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.

Kami mengutip kembali pernyataan Prof. Dr. Umar Shihab, “Suni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah Swt. yang menghendaki umat ini bersatu.” Semoga Allah Swt. memperbanyak orang-orang seperti beliau.

Prof. DR. Umar Shihab: “Saya Bukan Pembela Syiah, tapi

Pembela Kebenaran”

 

Prof. Dr. KH. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat), pekan lalu bersama rombongan mengunjungi Iran kurang lebih selama seminggu atas undangan Organisasi Ahlul Bait Internasional. Beliau sangat terkesan dalam kunjungan singkatnya tersebut karena dapat melihat dari dekat suasana spiritual dan semangat kehidupan keberagamaan di Iran serta usaha keras para ulama Iran dalam mewujudkan persatuan antara sesama muslim dan pendekatan antara pelbagai mazhab Islam.

Saat bertemu dengan para pelajar Indonesia di Qom (Selasa, 13 Oktober 2009) beliau tidak bisa menyembunyikan rasa harunya ketika mendapatkan kesempatan dan taufik dari Allah Swt. untuk berziarah pertama kalinya ke makam kakek beliau, Imam Ali ar-Ridha. Bagi beliau, sosok Imam Ridha adalah teladan bagi seluruh umat Islam.

 

Tokoh Islam yang sejak kecil bercita-cita untuk mempersatukan barisan kaum Muslimin ini menghimbau para pelajar Indonesia di Iran supaya menjadi dai-dai yang menyerukan persatuan dan menghindari timbulnya perpecahan di tengah umat Islam. Beliau sangat anti terhadap gerakan takfiriah (usaha mengkafirkan sesama muslim) hanya karena perbedaan masalah furu’ (masalah cabang alias tidak prinsip). Beliau sangat mengapresiasi upaya serius ulama-ulama Iran di bidang pendekatan antara pelbagai mazhab Islam.

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan Prof. Dr. KH. Umar Shihab, berikut ini kami melakukan wawancara singkat dengan beliau. Dengan harapan, semoga kerukunan beragama dan bermazhab di tanah air tercinta berjalan dengan baik dan tidak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama dan mudah-mudahan tercipta suasana saling memahami dan ukhuwah islamiah antara pelbagai mazhab Islam.

Setelah melihat Iran dari dekat, bagaimana pandangan dan kesan Anda?

Iran merupakan tempat perkembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan agama. Ini ditandai dengan banyaknya perpustakaan besar di sana-sini. Sekiranya saya masih muda, niscaya saya akan belajar di sini.

Beberapa bulan yang lalu adik saya, Quraish Shihab, juga datang ke Iran guna memenuhi undangan Lembaga Pendekatan Mazhab Islam. Sepengetahuan saya, hanya Iran satu-satunya negara yang secara resmi memiliki lembaga yang peduli terhadap persatuan antara mazhab-mazhab Islam. Iran secara getol menyerukan persatuan antara sesama umat Islam, apapun mazhab mereka. Kalau saja negara-negara Islam meniru strategi pendekatan mazhab yang dilakukan Iran niscaya tidak ada pengkafiran, dan kejayaan dan kemenangan Islam akan terwujud.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi isu ikhtilaf antara Syiah dan Ahlussunah?

Saya orang suni, tapi saya percaya Syiah juga benar. Sebagaimana saya percaya bahwa mazhab Hanafi dan Maliki juga benar. Saya tidak mau disebut sebagai pembela Syiah, tapi saya pembela kebenaran. Jangankan mentolerir kekerasan antarmazhab yang MUI tidak pernah mengeluarkan “fatwa sesat dan kafir” terhadap mazhab tersebut, kepada Ahmadiah yang kita fatwakan sebagai ajaran sesat pun kita tidak mengizinkan dilakukannya kekerasan terhadap mereka.

Kita tidak boleh gampang mengecap kafir kepada sesama muslim hanya karena masalah furu’iah (masalah cabang/tidak utama). Antara Syafii dan Maliki terdapat perbedaan, meskipun Imam Malik itu guru Imam Syafii. Ahmadiah kita anggap sesat karena mengklaim ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad saw, sedangkan mazhab ahlulbait (Syiah) dan ahlusunah sama meyakini tidak ada nabi lain sesudah Nabi Muhammad saw.

Perbedaan itu hal yang alami dan biasa. Imam Syafii, misalnya, meletakkan tangannya di atas dada saat melaksanakan salat. Namun saat berada di Mekkah—untuk menghormati Imam Malik—beliau meluruskan tangannya dan tidak membaca kunut dalam salat subuhnya. Orang yang sempit pengetahuannya yang menyalahkan seseorang yang tangannya lurus alias tidak bersedekap dalam salatnya.

Sebagian kalangan menganggap Syiah sebagai mazhab sempalan dan tidak termasuk mazhab Islam yang sah? Bagaimana pendapat Anda?

Orang yang menganggap Syiah sebagai mazhab sempalan tidak bisa disebut sebagai ulama. Syiah dan ahlusunah tidak boleh saling menyalahkan. Masing-masing ulama kedua mazhab tersebut memiliki dalil. Syiah dan ahlusunah mempunyai Tuhan, Nabi, dan Alquran yang sama. Orang yang mengklaim bahwa Syiah punya Alquran yang berbeda itu hanya fitnah dan kebohongan semata.

Saudara Prof. Muhammad Ghalib (Guru Besar Tafsir dan Sekretaris MUI Sulsel, Makassar yang ikut bersama beliau ke Iran) akan membawa Alquran cetakan Iran yang konon katanya berbeda itu ke tanah air. Saya sangat kecewa kalau ada salah satu ulama mazhab membenarkan mazhabnya sendiri dan tidak mengapresiasi mazhab lainnya. Salat yang dilakukan oleh orang-orang Syiah sama dengan salat yang dipraktikkan Imam Malik.

Apa pesan Anda terhadap kami sebagai pelajar-pelajar agama?

Pesan pertama dan utama saya, peliharalah persatuan dan kesatuan antara umat Islam. Banyak ayat dalam Alquran yang mengecam perpecahan dan perselisihan di antara sesama umat Islam, seperti usaha menyebarkan fitnah dan percekcokan di tubuh umat Islam dll. Kita harus menjadi pelopor persatuan dan tidak membiarkan perpecahan terjadi di tubuh umat Islam. Contoh ideal persatuan dan persaudaraan antara sesama muslim adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. saat mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Ansar.

Pesan kedua, persatuan yang ditekankan dalam ajaran Islam bukan persatuan yang pura-pura atau untuk kepentingan sesaat, namun persatuan yang bersifat kontinu dan sepanjang masa. Kita tidak boleh terjebak dalam fanatisme buta. Saya saksikan sendiri di Iran, khususnya di Qom, banyak orang-orang alim yang sangat toleran. Saya tahu persis di Iran ada usaha serius untuk mendekatkan dan mencari titik temu antara mazhab-mazhab Islam yang tidak ditemukan di tempat lain.

Saya mengunjungi perpustakaan di Qom dan saya melihat usaha keras para ulama di bidang pendekatan antara mazhab Islam. Saya tekankan bahwa setiap ulama mazhab memiliki dalil atas setiap pendapatnya dan pihak yang berbeda mazhab tidak boleh menyalahkannya begitu saja. Sebagai contoh, kalangan ulama berbeda pendapat berkaitan dengan hukum mabit (bermalam) di Mina. Ada yang mewajibkannya dan ada pula yang menganggapnya sunah. Jangankan antara Syiah dan ahlusunah, antara sesama internal ahlusunah sendiri pun terdapat perbedaan, misalnya antara Syafii dan Hanafi. Jadi, perpecahan itu akan melemahkan kita sebagai umat Islam.

Pesan ketiga, sebagai pemuda, jangan berputus asa. Allah Swt. memerintahkan kita untuk tidak berputus asa. Belajarlah bersungguh-sungguh karena menuntut ilmu itu suatu kewajiban. Hormatilah guru-guru Anda karena mereka adalah ibarat orang tua bagi Anda. Menghormati guru sama dengan menghormati orang tua Anda. Harapan kita dan umat Islam terhadap Anda begitu besar. Kami berterima kasih atas semua pihak yang membantu Anda di sini, terutama guru-guru Anda.

Saya menghimbau para pelajar Indonesia di Iran—setelah mereka pulang—hendaklah mereka menjadi dai-dai yang menyerukan persatuan di antara umat. Islam menekankan persatuan sesama muslim dan tidak menghendaki timbulnya fitnah, seperti apa yang dilakukan oleh Rasul saw. saat beliau memerintahkan untuk menghancurkan Masjid Dirar. Karena tempat itu dijadikan pusat penyebaran fitnah dan usaha untuk memecah belah umat.

Seringkali karena fanatisme, kita melupakan persatuan. Orang yang memecah belah umat patut dipertanyakan keislamannya. Sebab, orang munafiklah yang bekerja untuk memecah belah umat. Dan orang-orang seperti ini sepanjang sejarah pasti ada dan selalu ada hingga hari ini. Sejak kecil saya bercita-cita untuk mempersatukan sesama umat Islam. Dan di akhir hayat saya, saya tidak ingin melihat lagi perpecahan dan pengkafiran sesama Islam.

Mazhab Bani Umayyah berusaha mengaku sebagai Islam Sahabat atau Ahlusunnah wal Jamaah sedangkan mereka termasuk tulaqa (artinya-orang-orang yang dibebaskan oleh Nabi saww)

Sesungguhnya Islam yang berusaha diterapkan oleh keturunan umayyah dan berusaha untuk mengatur umat Islam  dengan Islamnya itu. Mempunyai pengaruh  dan idiologi yang sangat berbahaya bagi umat Islam.Karena kita dapati bahwa sekte atau kelompok ini dan Islam yang terdapat dalam ajaran-ajarannya serta strategi-strateginya secara umum berusaha mengarah kepada sekelompok cendikiawan muslim untuk memberikan dasar-dasar serta berpendapat  dengan Islam yang telah diusahakan oleh bani umayyah.

Lebih berbahaya lagi adalah,  Mazhab Bani Umayyah berusaha mengaku sebagai Islam Sahabat atau Ahlusunnah wal Jamaah. Ini adalah beberapa bahaya yang sangat mendasar. Sementara Islam dan ajaran-ajaran yang terdapat dalam madrasah sahabat memiliki banyak perbedaan yang sangat asasi, baik dari sisi Islamnya, langkah-langkahnya, idiologinya dengan Islam  yang diterapkan oleh Bani Umayyah. Objek inilah yang harus kita pisahkan antara Mazhab Ahlusunnah Wal Jamaah dengan Mazhab Bani Umayyah.

Karena itu, kejadian in ibukan saja kejadian sejarah. Tentang bagaimana masuk Islamnya Bani Umayyah pada futuh Makkah, sedangkan mereka termasuk tulaqa (artinya-orang-orang yang dibebaskan oleh Nabi saww), bagaimana mereka dapat berkuasa sementara mereka tidak memiliki keahlian agama dan pengetahuan begitupun muawiyah dan keluarganya?. dan bagaimana merekadapat mengaku sebagai Amirul Mukminin kepada kaum muslimin ?, dan mengaku sebagaiKhalifah Rasulullah saww dan Muslimin ?.

Sesungguhnya Islamnya tersebut adalah Islam versi Umawi yaitu Muawiyah bin Abi Sofyan sangat bertolakbelakang dengan Islam Muhammadi atau Nabawi atau hakiki yang mana Rasul sawwingin mendidik umat dengan Islam yang hakiki.

Oleh karena itu, Ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memperoleh kekuasaan politik dan menjadi seorang khalifah serta menjadi Amirul Mukminin yang kemudian dikenal dengan nama Islam Bani Umayyah, ia segera melakukan beberapa hal setelah itu.

Pertama :

Muawiyah bin Abi Sofyan menetapkan untuk menyebut Ali dan keutamaan-keutamaannya dan mengganti semua riwayat dari Rasul saww dan juga apa-apa yang telah diriwayatkan dari para sahabat tentang Ali dan keutamaan-keutamaannya dengan cara mengurangi keutamaan-keutamaan Ali.

Pertanyaannya adalah :

Benarkah  Muawiyah bin Abi Sofyan menyuruh demikian ?

Jawabnya terdapat :

Di dalam kitab Shahih Muslim, kitab keutamaan Sahabat,bab keutamaan Ali bin Abi Thalib Jilid 2 halaman 448 hadis ke 2404, cetakan DarFikr  tahun 1414 / 1993 (karangan Muslim bin Hajjaj An-naisaburi, lahir th 820 wafat th 875 M /  204-261 H):

Dari Amar bin Sa’ad bin Abi Waqqos dari ayahnya iaberkata : ” Muawiyah telah memerintahkan Sa’ad, apa yang mencegah engkau dari mencaci Abu Turab ?. Sa’ad menjawab: ” aku ingat Tiga hal  yang Rasul saww pernah bersabda, dan aku tidak akan pernah mencacinya, karena seandainya salah satu dari tiga itu aku miliki, lebih aku sukai daripada unta merah. :

  1. Ali berkata kepada Rasul Saww : ” Ya Rasulullah engkau tinggalkan akubersama para wanita dan anak-anak kecil ? kemudian Rasulullah menjawab :”tidakkah engkau rido menjadi bagian dariku sebagaimana  kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidakada Nabi setelahku.[Untuk lebih jelasnya, tentang apa yangdimaksud oleh Rasul saww dengan kedudukan tersebut maka silahkan buka Qs.20:30-32 “(yaitu) Harun, saudaraku teguhkanlah dengan dia kekuatanku danjadikankanlah dia sekutu dalam urusanku”hadis initerdapat pula dalam Bukhori Jilid 2 halaman 300.]
  2. Dan aku mendengar beliau bersabda pada perang Khaibar: “Pasti akan aku berikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasulnya dan Allah serta Rosulnya mencintai dia.” [(buka Qs. 3:31). dalam ayat tsb menjelaskan bahwa amirul mukminin adalah sebagai tolok ukur yang paling utama bagi orang yang mengikuti Rasulullah saww. Dan hadis ini pun terdapat dalam kitab Bukhori Jilid 3 halaman 51. Rasul saww bersabda : “panggilkan untukku Ali, maka datanglah Ali menemui beliau dalam keadaan sakit mata, lalu Nabi memberi ludah pada matanya kemudian menyerahkan panji kepadanya,maka Allah memberikan kemenangan ditangannya.]
  3. Dan pada saat turun ayat ini “katakanlah mari kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian” kemudian Rasul saww memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu beliau berdoa” Ya Allah merekalah keluargaku. [Hadis ini menggugurkan pendapatyang mengatakan bahwa Istri-istri Nabi termasuk Ahlu Bait yang disucikan sesuci-sucinya sebagaimana yang terdapat dalam Qs. 33 : 33.]

Sementara Ibn Taymiyah adalah orang yang selalu meragukan semua riwayat yang didalamnya meriwayatkan keutamaan Ali dan Ahlul Bait.

Ketika kita sampai kepada nas-nas diatas kita mendapatkan kejelasan bahwa Muawiyah bin Abi Sofyan memang benar  telah memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqos untuk mencaci Ali. Hal itu, diperjelas oleh Ibn Taimiyah dalam kitabnya Minhajussunnah An-nabawiyah Jilid 5 halaman 23, terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004 (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M / 661-728 H) Ibn Taimiyah berkata : “ Adapun hadis Sa’ad ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memerintahkanpadanya untuk mencaci maki Ali lalu ia menolak”

Dari perkataannya tersebut menunjukan bahwa Ibn Taymiyah memahami benar maksud dari hadis Sohih Muslim diatas?

Muawiyah adalah seorang sahabat, yang meminta sahabat lain untuk mencaci Ali. Bukankah hal ini termasuk mengurangi keutamaan sahabat ?

Dalam kitab Shawaiq al Muqriqahterbitan Maktabah Al Qohirah, cetakan ke 2 tahun 1385 H / 1965 M.Pada halaman 211, (karangan Ibn Hajar Al Haitami, lahir 1504 wafat 1567 M /909-974 H) :

” Telah berkata Imam pada zamannya Abu Zur’ah Arrozi paling mulianyadiantara guru-guru Muslim, ia berkata : “jika kamu melihat seseorang mengurangi salah seorang sahabat Rasul saww. Ketahuilah sesungguhnya dia zindiq.

Dalam kitab yang sama dia berkata :” Abu Zur’ah Arrozi adalah orang yang duduk bersama Imam Ahmad bin Hanbal.

Bagaimana dengan Muawiyah bin Abi Sofyan yang menyuruh Sa’ad bin Abi Waqos untuk mencaci Ali. Bukankah Ali termasuk sahabat Rasulullah juga ?

Ibn Taimiyah berkeyakinan bahwa nas-nas yang menyatakan “Islam senantiasa Mulia hingga12 kholifah, semuanya dari Quraisy”, Ibn Taimiyah berkeyakinan bahwa dari 12 khalifah tersebut yang ke 7 dan ke 8 nya adalah dari Bani Umayah, bahkan dia meragukan apakah Ali termasuk dari mereka atau tidak ?.

Kedua

Di dalam kitab Minhajus-Sunah An-Nabawiyah Jilid 8 halaman 238 terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004, (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M / 661-728 H)  :

Maka para khalifah itu adalah Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali kemudian diangkatlah seseorang yang disepakati manusia. ia mendapatkan kemuliaan, dan kekuasaan ia adalah Muawiyah dan anaknya Yazid kemudian Abdul Malik bin Marwan dan ke empat anaknya diantara mereka adalah Umar bin Abdul Aziz. Yang ke 8 dari 12 khalifah itu adalah mereka yang telah mendapatkan kabar gembira dari Nabi Ismail as. Dan sebagian daripara pembesar itu dari Bani Umayah.

Dengan kata lain Ibn Taymiyah tidak memasukkan Al-Hasan dan Al-Husain termasuk dari 12 Khalifah dan tidak termasuk para pembesar yang mendapatkan kabar gembira dari Nabi Ismail as. Secara tidak langsung Ibn Taimiyah lebih mengutamakan Yazid daripada Al-Hasan dan Al-Husain.

Sekarang nampak jelas bagi kita, bahwa mazhab Ibn Taymiyah sangat condong kepada Bani Umayah.

Ibn Taymiyah berkata : “Sebagian dari faktor-faktor semua itu adalah bahwa sesungguhnya mereka berada pada awal Islam dan era kejayaan. Kemudian Ibn Taimiyah berkata: ” yang sangat besar adalah manusia menaruh dendam kepada Bani Umayah dikarenakan dua hal, salah satunya adalah ” perbincangan mereka menjelek-jelekankan Ali” – (artinya caci maki mereka kepada Ali).

Ibn Taymiyah tidak berkata pelaknatan atau cacian mereka kepada Ali, akan tetapi menyepelekan masalah tersebut, dengan begitu dia dapat mengelabui dan menipu umat Islam terhadap sesuatu yang telah dilakukan Bani Umayyah terhadap Ahlul Bait as.

Anehnya, Apabila menjelek-jelekan khalifah pertama, kedua dan ke tiga merupakan musykilah yang besar, namun apabila menjelek-jelekan Ali tidak termasuk musykilah yang besar.!

Kemudian Ibn Taymiyah berkata :

“yang dimaksud disini adalah sesungguhnya hadis yang didalamnya menyebutkan 12 khalifah, baik Ali ditetapkan termasuk darinya atau tidak adalah sama saja. (pen.Ibn taimiyah berusaha meragukan kembali, dengan alasan umat tidak sepakat terhadap Ali)

Kita kembali kepada nas yang disebutkan oleh Ibn Taymiyah yang berkata:

” yang sangat besar adalah manusia menaruh dendam kepada Bani Umayah karena dua hal salah satu dari keduanya adalah perbincangan mereka tentang Ali dan yang kedua mengakhirkan waktu Sholat.

Ibn Taymiyah berkata :

“Oleh karena itu, Umar bin Maroh Al Jumali telah meriwayatkan setelahkematiannya, dikatakan kepadanya. Apa yang telah Allah lakukan dengan semua itu? Ia (Umar bin Maroh Al Jumali) berkata : Allah telah mengampuniku karena aku selalu menjaga sholat-sholatku pada waktunya, dan karena kecintaanku kepada Ali bin Abi Thalib.  Ini adalah orang yang menjaga dua sunnah. Oleh karena itu, seseorang harus berpegang teguh dengan sunnah ketika telah bermunculan bid’ah” ( pen. Dari perkataannya Ibn Taymiyah mengakui bahwa cinta kepada Ali termasuk dari sunnah Nabawiyah. sekarang jelas bahwa Ibn Taimiyah kebanyakan lupa.)

Qs. 42 :23 (asy-Syura;23)

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada Al Qurba.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannyaitu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa Allah Swt telah mewajibkan kepada kita untuk mencintai Al Qurba sebagai upah atas dakwah Rasul saww, Siapakah Al Qurba yang wajib kita cintai itu ? mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Untuk lebih jelasnya silahkan rujuk beberapa kitab berikut :

  1. Tafsir Al Qurtubi Jilid 8 hal.16, terbitan Dar Fikr tahun 1424 H/ 2003M
  2. Tafsir fakhrurozi Jilid 14 hal.167, terbitan Dar Fikr tahun 2002/1423
  3. Mustadrak Al hakim Jilid 3 hal.51, terbitan Dar fikr tahun 2002/1422
  4. Fusulul Muhimmah hal. 27 karangan Ibn Shobag, terbitan Dar Adwa, cetakan ke dua
  5. Tafsir Baidowi Jilid 4 hal. 53, terbitan Dar Fikr
  6. Yanabiul Mawaddah karangan Al Qunduzy Al Hanafi, terbitan Muassasah Al Ilmiyah Beirut. dll

Qs 3:61(Ali Imran ;61) :

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”

Demikianlah riwayat-riwayat mereka mengenai kecintaan kepada para khalifah Bani Umayyah, sementara cinta kepada Ali terdapat dalam Al Qur’an. dan mereka wahabi selalu berkata :”kami pun mencintai Ali dan Ahlul Baitnya.”..!

jawabannya adalah : Jelas, mereka harus mencintai Ali dan Ahlul Bait, karena jika tidak maka mereka keluar dari Islam.

Dan Harus diketahui bahwa kecintaan kita kepada Ahlul Bait bukanlah suatu keberuntungan bagi Ahlul Bait akan tetapi manfaat kecintaan tersebut kembali kepada diri kita sendiri.Karena mencintai mereka adalah kewajiban dari Allah swt.

Ketiga

Di dalam kitab Minhajus-Sunnah An-Nabawiyah, Jilid 5 halaman 244, terbitan Darul Hadis Qohirah tahun 1425/2004, (karangan Ibn Taimiyah Taqiyyudin, lahir th 1263 wafat 1328 M/ 661-728 H):

” Dan juga, sungguh kondisi politik lebih tertata / tertib pada masa Muawiyah sebagaimana belum tertata pada masa Ali, maka wajib menjadikan para pejabat Muawiyah lebih baik daripada para pejabat Ali”. (pen. Kalau ukurannya seperti itu kenapa Allah swt tidak mensucikan Muawiyah bin Abi Sofyan saja ???)

Para pejabat Muawiyah bin Abi Sofyan antara lain : Amr bin Ash, Mughiroh bin Syu’bah, Basar bin Arthat,Marwan, Hakam dan orang-orang yang telah dilaknat Rasul saww. Jadi, Ibn Taimiyah mengangap tingkatan dan kedudukan mereka ini lebih utama dari pada Salman, Abu Dzar,dan Amar. Demikianlah keyakinan Ibn Taimiyah mengenai sahabat.!

Siapakah para pejabat Muawiyah bin Abi Sofyan itu ?

Ibn Taymiyah berkata : “Para pejabat Muawiyah adalah Syiah Usman.”

Siapakah Syiah Usman itu?

Ibn Taymiyah berkata : “mereka itu adalah Nashibi yaitu orang-orang yang membenci Ali”.

Kalau begitu dimana kewajiban cinta kepada Ahlul Bait ??

Ibn Taimiyah berkata : “Syiah Usman  dan Nashibi keberadaannya lebih utama daripada Syiah Ali diatas semua standard.

Jadi Ibn Taymiyah meyakini bahwa orang-orang yang membenci Ali, keberadaannya  lebih utama daripada Syiah Ali dan orang-orang yang mencintai Ali.

Kemudian Ibn Taymiyah berkata :

” Para sahabat Ali itu tidak memiliki ilmu, agama, keberanian dan kedermawanan. Dan keadaan mereka tidak baik didunia maupun diakhirat.”

Artinya para pejabat Usman dan Syiahnya yang kemudian mereka menjadi Syiah Muawiyah. Menurut Ibn Taymiyah Mereka itu berilmu, beragama, berani, dan dermawan lebih utama daripada sahabat Ali as.

Demikianlah idiologi Ibn Taimiyah yang memperkuat existensi mazhab Bani Umayyah hingga sekarang.

Jadi, jawaban bagi orang yang mengatakan bahwa ini hanya kejadian sejarah saja, adalah salah besar, karena sekarang hadir dalam kehidupan kita dalam bentuk pemikiran, aqidah, agama, keimanan, serta politik, dll.