Salafi pecah dua : 1. Salafi dakwah (doyan menyerang jama’ah syi’ah) 2. Salafi jihadi (pelaku teror bom alias teroris)…. Said Aqil Siradj: “Yayasan Yang Didanai Arab Perlu Dipantau”

Sejak firqah salafi wahabi masuk ke Indonesia maka aneka paham kekerasan mengguncang Indonesia..

Salafi pecah dua :

1. Salafi dakwah (doyan menyerang jama’ah syi’ah)

2. Salafi  jihadi (pelaku teror bom alias teroris)

Gerbang depan Pondok Pesantren Yapi, Pasuruan, Jawa Timur.

andi_kontrasSurabaya, Seruu.com Komisi Untuk Orang Hilang Dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras ) Jawa Timur menemukan adanya kejanggalan dalam proses penyerangan Pondok pesantren Yapi di Beji Bangil beberapa waktu lalu. Menurut Koordinator Kontras Surabaya, Andy Irfan , dari temuan Kontras di lokasi diketahui bahwa eskalasi konflik sudah sering terjadi di wilayah tersebut.

Kontras mencatat ada peristiwa penting yang terjadi di wilayah itu, diantaranya  adanya penyerangan  yang dilakukan oleh masyarakat yang mengatasnamakan Himpunan Masyarakat  Ahlul Sunnah Wal Jama’ah (HAMAS) meminta agar Syiah dibubarkan, kedua terjadi penyerangan yang dilakukan jamaah Sunni terhadap jamaah Syiah yang diproses hingga pengadilan yang berujung jamaah Syiah dihukum ,namun oleh jamaah Sunni hukuman tersebut terlalu rendah dan pada tahun 2007 ada penyerangan terhadap masjid milik jamaah Syiah bernama masjid Jarhum.

”Penyerangan dilakukan karena ada ceramah agama yang dilakukan oleh ustadz Sunni yang membakar semangat jamaah Sunni untuk anti Syiah,” ujar koordinator Kontras Surabaya, Andi Irfan saat ditemui dikantornya, Selasa (22/2/11).

Menurut Andi Irfan, dari penyerangan di Yapi tersebut, Kontras menyimpulkan bahwa kekerasan yang terjadi disebabkan karena kelalaian pemerintah dalam menciptakan dialog antar umat beragama dan kelalaian pihak kepolisian untuk menjaga keamanan di wilayahnya masing-masing.

”Atas temuan itu kami mendesak agar kepolisian melakukan proses hukum secara fair dan terbuka atas kasus ini dan mendesak pemerintah untuk sesering mungkin menggelar dialog antar umat beragama,” terang mantan wartawan surat kabar terbitan Jakarta ini.

Yayasan Pondok Pesantren Islam di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sering kali menjadi sasaran teror pihak-pihak yang sengaja ingin membenturkannya dengan organisasi Islam lain.

“Sudah beberapa kali kami mengalami teror, tetapi untuk yang penyerangan langsung ke pondok baru kali ini terjadi,” kata salah satu pemimpin Yayasan Pondok Pesantren Islam (Yapi), Habib Ali bin Umar, saat dihubungi dari Surabaya, Selasa malam.

Ia mengungkapkan, biasanya teror yang diterima santri sering kali terjadi pada tengah malam. “Baru kali ini ada penyerangan langsung pada siang hari,” katanya menambahkan.

Habib Ali menduga insiden yang terjadi pada pukul 14.30 WIB itu dilakukan pihak-pihak yang ingin membentur-benturkan ajaran Islam. “Hubungan kami dengan NU dan Muhammadiyah sangat baik. Begitu juga dengan para habib di Pasuruan juga berlangsung harmonis,” katanya sebelum mengikuti pertemuan dengan Wakil Bupati Pasuruan Eddy Paripurna dan para anggota muspida di Pendapa Kabupaten Pasuruan.

Sebagian kalangan menilai pondok pesantren yang banyak melahirkan para mubalig itu mengajarkan ajaran Islam semiradikal. “Memang ada yang berbeda materi pelajaran kami dengan yang diajarkan di pondok-pondok pesantren lain di Pasuruan,” kata Habib Ali.

Namun, perbedaan itu tidak mencolok. Yapi tetap memegang teguh ajaran ahlussunnah wal jama’ah dengan menganut empat mazhab, yakni Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi, sebagaimana pedoman umum kaum Muslim di Indonesia.

“Kami hanya memberikan pelajaran tentang perbandingan mazhab. Di situ kami membandingkan empat mazhab itu dengan mazhab Imam Ja’far,” katanya menjelaskan.

Imam Ja’far yang dimaksud Habib Ali itu adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib dan bagian dari Ahlulbait. Hal inilah yang menimbulkan tudingan bahwa Yapi menganut faham Syiah. “Padahal, Imam Ja’far itu merupakan guru dari Imam Hanafi dan Imam Maliki (dua dari empat mazhab),” katanya.

Yapi didirikan oleh Habib Husain bin Abu Bakar Alhabsyi pada 1976. Yapi dibangun di atas lahan di pinggir Jalan Raya Bangil-Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Sepeninggal Habib Husein 15 tahun silam, perkembangan Yapi makin pesat. Santrinya berasal dari berabagai daerah di pelosok Tanah Air dengan didominasi warga keturunan Arab atau dari trah habib.

Dalam perkembangannya, Yapi mendirikan pendidikan umum SMP dan SMA selain madrasah diniah yang dinamainya dengan Hauzah.

Lokasi Kejadian :
Yayasan Pondok Pesantren Islam (Yapi) Al Ma’hadul Islam di Desa Kenep, Kecamatan Beji,  Pasuruan.

Kronologi Penyerangan YAPI
Selasa, 15 Februari 2011
Pada sekitar pukul 12.00, petugas kepolisian menghubungi pihak YAPI untuk menawarkan pengamanan di sekitar lokasi YAPI dengan mengirim beberapa pleton petugas kepolisian. Karena tidak ada informasi terkait adanya ancamam keamanan, maka pihak YAPI tidak menerima tawaran tersebut, dan hanya meminta dikirim beberapa petugas dengan pakaian sipil.

Pada pukul 14.05, sekelompok massa (berjumlah sekitar 100 – 150 orang) yang menggunakan kendaraan bermotor (sepeda motor) dan mobil pick up, berpakaian muslim (menggunakan sarung,  baju koko dan berpeci) serta membawa bendera Jamaah Aswaja datang dari arah selatan YAPI (arah dari Kecamatan Pandaan Pasuruan).

Ketika rombongan massa berada tepat di depan pesantren YAPI, massa berhenti dan meneriakkan cacian terhadap satu tokoh Ponpes YAPI, yaitu Ustad Husain. Massa juga mengolok-olok dan mengumpat syi’ah. Para santri pesantren Yapi yang sedang berada di halaman depan pesantren bereaksi dengan membalas cacian massa tersebut.
Massa menjadi semakin brutal, mereka masuk ke area pesantren dengan melewati pintu gerbang utama dan melakukan pelemparan yang mengakibatkan pecahnya kaca-kaca pos penjagaan dan ruang tamu, mereka juga menyerang petugas pos penjagaan.

Para santri YAPI menghadang massa penyerang dan terjadilah perkelahian (bentrok fisik dan saling lempar batu) antara massa penyerang dan santri YAPI di halaman depan Pesantren YAPI.

Perkelahian terjadi sekitar 15 menit. Kemudian seorang petugas kepolisian berpakaian sipil menembakkan senjata api ke udara untuk membubarkan massa penyerang.

Pada pukul 14.30, sejumlah petugas kepolisian datang ke lokasi kejadian. Dan kondisi berangsur normal.

Dari keterangan dan bukti di lapangan, penyerangan ini dilakukan tanpa perencanaan, bersifat reaktif dan dipicu oleh semangat anti Syi’ah yang dihembuskan dalam ceramah keagamaan.

Pelaku Penyerangan
Pelaku penyerangan ini adalah dari jamaah Aswaja. Jamaah ini baru saja mengikuti pengajian di pesantren PTIQ Singosari Malang (berjarak sekitar 1 jam menggunakan kendaraan motor dari lokasi kejadian).

Jumlah Korban
Seluruh korban luka-luka berjumlah enam orang, yaitu empat orang santri  :

  1. Miqdat, 17, siswa kelas 2 SMA;
  2. M. Baraqbah, 19, siswa kelas 2 SMA;
  3. Ali Reza, 15, siswa kelas 1 SMA dan
  4. Abdul Qodir, 15, siswa kelas 1 SMA

Dan dua orang petugas jaga pesantren Syaroni dan Soir.
Keseluruhan korban di periksa ke RS Masyitoh, Bangil, untuk mendapatkan perawatan medis dan satu orang (Ali Reza) dirujuk ke Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya karena mendapatkan luka serius di bagian mata .

Latar Belakang Konflik Sunni – Syi’ah di Pasuruan

Berdasarkan informasi yang digali di lapangan, sejak Jama’ah Syi’ah dinyatakan waspada oleh MUI pada tahun 1984 terjadi konflik yang mengarah pada kekerasan antara komunitas Sunni dan Syi’ah di pasuruan. Eskalasi konflik menguat pada sekitar tahun 2007. Sepanjang tahun 2007, KontraS mencatat terdapat 3 (tiga) peristiwa konflik syiah-sunni yang cukup penting. Pertama, aksi sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan Himpunan Masyarakat Ahlul Sunnah Wal Jama’ah (HAMAS) meminta Syi’ah dibubarkan1. Kedua, terjadi perkelahian antara salah seorang Jama’ah Syi’ah dengan Jama’ah Sunni pada akhirnya Jama’ah dari Syi’ah di hukum oleh pengadilan tetapi dianggap oleh kelompok Sunni hukuman terlalu rendah. Ketiga, pada desember 2007 terjadi penyerangan dan tindak kekerasan terhadap sebuah masjid syi’ah bernama Masjid Jarhum dan rumah tokoh syi’ah Ust. Ali Zaenal Abidin & Ust. Muhammad bin Alwi.

PASURUAN,

Sejumlah komponen masyarakat menyatakan penyesalan dan keprihatinannya atas insiden penyerangan di Pesantren Yapi (Yayasan Pesantren Islam) di Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Sikap tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara tokoh agama, pimpinan DPRD, serta Muspida Kabupaten Pasuruan setelah mengadakan pertemuan secara tertutup di Pendapa Kabupaten Pasuruan, Selasa (15/2/2011) malam.

Kesepakatan bersama yang disampaikan Wakil Bupati Pasuruan Eddy Paripurna pada Rabu dini hari itu terdiri atas beberapa poin. Pertama, menyesalkan dan prihatin atas kejadian di Pesantren Yapi di Desa Kenep, Kecamatan Beji.

Kedua, meminta kepada aparat penegak hukum untuk melakukan tindak lanjut terhadap kasus tersebut, secara obyektif dan adil sesuai dengan hukum yang berlaku, serta memerhatikan akar persoalannya.

Ketiga, sepakat menjaga ketenangan dan kondusifnya keamanan dan ketertiban di wilayah Kabupaten Pasuruan, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Keempat, meminta kepada para tokoh untuk saling mengendalikan umatnya agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Kelima, atas kejadian ini media massa, baik cetak maupun elektronika diminta ikut serta meredam dan menyejukkan suasana di Kabupaten Pasuruan.

Wakil Bupati menjelaskan, kesepakatan bersama ditindaklanjuti dengan pertemuan lanjutan khusus bagi warga dan tokoh masyarakat di Bangil. Pertemuan tertutup yang dipimpin Eddy Paripurna itu juga dihadiri Kapolda Jawa Timur Irjen Badrodin Haiti, Kapolres Pasuruan AKBP Syahardiantono, Dandim Pasuruan Letkol (Inf) Abu Bakar, Kajari Bangil Widyantioro, dan Ketua PN Bangil, Bagus Irawan.

Adapun tokoh agama yang hadir di antaranya Rois Syuriah PCNU Pasuruan KH AD Rachman Syakur, Ketua PCNU Pasuruan Sonhaji Abdussomad, Rois Syuriah PCNU Bangil KH MA Fuady, Ketua PCNU Bangil H Syamsul Maarif, serta Ketua PDM Muhammadiyah Kabupaten Pasuruan H Imam Suladi. Sementara dari Yapi diwakili oleh salah seorang pimpinannya, yakni Habib Ali bin Umar.

Rombongan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengunjungi Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco di Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP), Jakarta (19/4). AKBP Herukoco adalah korban ledakan bom bunuh diri di Masjid adz-Dzikra Mapolresta Cirebon.

Rombongan PBNU yang terdiri dari Ketua Umum KH said Aqil Siradj, Ketua PBNU H Iqbal Sullam dan H Arvin Hakim Thoha, Sekretaris Jenderal H Marsudi Syuhud dan Bendahara Umum H Bina Suhendra diterima langsung oleh isteri AKBP Herukoco, Dian, di ruang tunggu. Selanjutkan rombongan menjenguk langsung AKBP Herukoco di ruang perawatannya dan berdoa bersama-sama dengan dipimpin oleh KH Said Aqil Siradj.

Kepada para wartawan, KH Said Aqil Siradj menyatakan, PBNU turut berbela sungkawa atas seluruh korban ledakan bom bunuh diri di Masjid adz-Dzikra Mapolresta Cirebon, Jum’at (15/4). PBNU mendoakan kepada para korban yang sedang dirawat dan seluruh keluarganya, semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Lebih lanjut, Kyai Said -sapaan akrab KH Said Aqil Siradj, menyatakan Islam tidak membenarkan tindakan-tindakan kekerasan, terutama jika dilakukan untuk memaksakan kehendak. Memang hal demikian bukan hal baru dalam sejarah manusia, namun sejak lahirnya dan hingga saat ini, Islam tidak membenarkan cara-cara demikian.

“Dalam sejarah Islam, orang-orang yang membunuh saudara-saudara Muslim lainnya karena dianggap kafir disebut sebagai kaum khowarij. Mereka menganggap orang-orang diluar kelompok mereka sebagai kafir dan layak dibunuh,” tutur Kiai Said.

Perilaku yang menganggap orang-orang Muslim lainnya sebagai kafir ini, menurut Kiai Said, bukanlah bagian dari jatidiri Islam Indonesia. Karena jatidiri Islam di Indonesia adalah Islam yang rahmatan lil’alamin.

“Dahulu Islam disebarkan ke Nusantara oleh para Walisongo dengan penuh kedamaian. Hingga saat ini Islam Indonesia adalah Islam yang penuh kedamaian dan rahmat bagi seluruh semesta (rahmatan lil’alamin), bukan islam yang anarkis dan pengebom,” tandas kiai asal Cirebon ini.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menilai bom bunuh diri di Masjid Polresta Cirebon merupakan tindakan biadab.

“Saya atas nama Ketua Umum PBNU yang merupakan kelahi­ran Cirebon, ikut mengecam dan mengutuk tindakan biadab ter­sebut,” tegasnya kepada Rak­yat Merdeka, di Jakarta.

Sebelumnya diberitakan, Ju­mat (15/4) Polresta Cirebon di­kejutkan dengan bom bunuh diri yang dilakukan seorang pria berpakaian serba hitam di dalam masjid.

Bom tersebut dilakukan ketika para jamaah melaksanakan sholat Jumat.

Said Aqil Siradj selanjutnya mengatakan, kinerja aparat ke­polisian, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Pe­nanggulangan Terorisme (BNPT) hendaknya ditingkatkan. Sebab, ancaman teror bom ini meru­pa­kan hal yang perlu diwaspadai semua pihak.

“Saya kira, yayasan Islam yang didanai oleh Arab yang tiap hari melakukan teror teologi perlu di­pantau setiap saat,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bagaimana Anda melihat ke­jadian bom di Cirebon?

Tindakan ini benar-benar me­nampar Islam, menampar polisi, dan menampar negara. Sebab, kejadian ini bersinggungan de­ngan simbol Islam dan simbol negara. Sebab, kejadiannya di Masjid Polresta Cirebon.

Apa Anda kaget bom dile­dak­­kan di Masjid?

Ini adalah tindakan jahiliyah yang secara jelas bertentangan dengan Islam. Sebenarnya tinda­kan teror itu bisa dilakukan di mana saja. Bisa di pasar, masjid, sedang sholat, atau sedang nyanyi. Tapi bila di masjid dan yang sedang sholat itu lebih biadab lagi. Namun kami tidak kaget dan tidak heran, karena sejak dulu teror sudah dilakukan di masjid.

Kenapa Anda bilang begitu?

Sayidina Umar bin Khattab dibunuh ketika menjadi imam sholat subuh oleh seorang majusi yang pura-pura ikut sholat. Kemudian Sayidina Ali bin Abi Thalib dibunuh ketika baru keluar dari rumahnya yang hendak mau menjadi imam sholat subuh di Kufah tahun 40.

Siapa kira-kira otak bom ini?

Saya tidak akan menunjuk siapa pelakunya. Tapi yang jelas mereka sedang menunjukkan diri bahwa mereka masih ada, kuat, eksis, punya dana, punya sistem, dan masih punya jaringan.

Apakah ini kelanjutan dari teror bom buku?

Sebelumnya teror-teror yang terjadi mengenai simbol Ame­rika. Sedangkan sekarang sudah di masjid, dan terlebih di kantor polisi. Ini merupakan kejadian luar biasa. Kita harus mening­kat­kan kewaspadaan, intelijen harus lebih canggih lagi agar lebih me­ningkatkan kinerjanya.

Apa yang perlu dilakukan ke depan?

Setiap lembaga, seperti BNPT, Polri dan BIN masing-masing harus meningkatkan kinerjanya agar teror ini tidak terjadi lagi. Selain itu, masyarakat harus lebih waspada.

Bagaimana dengan program deradikalisasi?

Program dera­di­ka­li­sasi seha­rus­nya jangan ha­nya di­semi­nar­kan saja. Jangan di­bincangkan saja, te­tapi harus se­gera disam­pai­kan ke­pada ma­sya­rakat agar ideologi ra­di­kal tidak berkem­bang. Dalam hal ini BNPT harus bekerja keras di samping BIN dan secara ke­selu­ruhan adalah polisi.

Apa program deradikalisasi se­jauh ini sudah efektif?

Saya melihatnya belum efektif karena tidak ada kinerja yang jelas. Sementara bom meledak terus. Sedangkan upaya tindakan pen­cegahannya kurang nyata.

Menteri Agama berharap agar masyarakat tidak terpan­cing de­ngan bom ini, bagai­mana di NU?

Kalau orang NU tidak akan ter­pan­cing, tetapi saya mengharap­kan kita bisa meningkatkan ke­waspadaan dan setiap warga masyarakat yang bisa mengetahui indikasi adanya fenomena keke­rasan segera melaporkan kepada aparat dan segera melakukan tindakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s