Ternyata Imam Mahdi Ada Dalam Al Quran

Hubungan Penantian Positif dan  Asyura

Mereka yang berada di barisan Al-Qur’an, Itrah dan para ulama Ilahi mengatakan bahwa intidzâr (penantian) itu seharusnya disertai dengan pelaksanaan amal  sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah swt. Muntadzir (seorang penanti)  adalah seseorang yang memiliki perhatian atas tugas-tugas (wadhâ’if) agama serta tidak melupakan keutamaan-keutamaan akhlak.

Penantian positif yakni bahwasanya hukum Islam tidak akan mengalami perubahan, dan si penanti senantiasa mempunyai kesiapan menyongsong kehadiran Imam Zaman ajf kapanpun, dimana beliau (as) di setiap waktu adalah sebagai penegak kebenaran dalam semesta alam. Yang mengherankan adalah mereka yang mengatakan: “Hukum-hukum Allah akan pasti menjadi  terabai dalam masa intidzâr, sekalipun pangkuan seseorang berlumuran dosa, maka ia akan tetap ditolong dengan tibanya  faraj ( kemunculan Imamul- Mahdi as)”.

Sekarang, persoalan adalah, Jika seseorang telah melakukan suatu dosa dan hukum had (hukuman bagi pendosa) sudah semestinya dijalankan atasnya dengan sebab dosa yang telah dilakukannya itu, apakah bukan Nabi saw dan para Imam as sebagai orang yang pertama menjalankan perintah Ilahi? Apakah Imam Zaman as akan meridhoi (wal’iadzubillah) ketika hudud Ilahi tidak dijalankan?. Walau bagaimanapun para pembesar dari kalangan ulama dalam masalah tugas-tugas umat di zaman keghaiban Al-Imam as telah menulis kitab-kitab dan berkata:

“Adapun dari tugas utama para penanti adalah bersungguh-sungguh menuntut pengenalan-pengenalan (ma’ârif) Ilahi dan juga mengikatnya dalam pengamalan”.

Dalam sebuah riwayat, Imam Jaafar as Shadiq as berkata : “Wara’, ifat berlaku baik/layak… dan menanti faraj dengan sabar itu adalah dari agama para Imam”.

ntidhârul-faraj disebutkan beriringan dengan pengajaran-pengajaran sepertiwara’, ifat/menjaga kesucian dan kehormatan diri  serta kelayakan dan berfikir baik. Dan dalam riwayat yang lain, Imam Jaafar as Shodiq as menyatakan mengenai kedudukan penanti Imam Zaman: “Orang yang menanti Imam Zaman adalah seperti seseorang yang sedang menyingsingkan pedang di samping Rasulillah saw di medan perang, ia berperang sambil melakukan pembelaan terhadap diri Rasulillah saw”.

Keutamaan-keutamaan ini diperuntukan kepada muntadzir yang manakah?, Adakah untuk muntadzir (Al-iadzubillah) yang rela  terhadap percutian ahkam Islam? Adakah bagi ia yang mempunyai keyakinan terhadap kerusakan dan keberluasannya? (i’ăzdunallah / Allah melindungi kita dari kejahatan dan was-was syaitan).

Dari riwayat yang mulia ini dan puluhan riwayat-riwayat yang lain dapat digunakan bahwa para muntadhir dalam masa keghaiban akan mengamalkan tanggung jawab-tanggung jawab penting yang ditanggung olehnya, disebutkanberkedudukan sebagai sang pembela Rasulullah saaw. Jika tidak bermaknakan demikian, maka seorang yang tidak mengamalkan ahkam agama dan tidak menganjurkan amar ma’rûf kepada yang lain bahkan rela terhadap kemungkaran dan perluasan tanpa batas dan tanpa ikatan hukum, apakah ada keserupaannya dengan mereka yang menjaga jiwa Rasulullah saaw? Dimana Rasulullah saw dengan segala keagungannya adalah sebagai penyebar ahkam agama Islam.

Sebagai memperingatkan dan perhatian bagi semua penanti, kami menyebutkan bagian bahasan dari paling pentingnya taklif-taklif di masa keghaiban dengan menyebutkan poin-poin berikut yang tidak mengecualikan kelompok manapun untuk menunaikan tanggungjawabnya:

1. Berusaha mencapai ilmu dan ma’rifat

Yang pertama sekali tugas para hamba Allah di masa keghaiban adalah berusaha mencapai ilmu dan makrifat (pengenalan) berkenaan dengan Hadhrat (Imamu-zaman as), yaitu orang yang Allah-Taala telah mewajibkan untuk ditaati, beliaulah sang pengantara antara para hamba dan Allah-Taala. Sifat dan kekhususan-kekhususan beliau hendaknya harus dikenal. Telah disebutkan dalam berbagai riwayat bahwasanya : Jika seseorang mengenal Imam-nya (yaitu mengenal kedudukan keimamahan beliau as) sama seperti orang yang sedang berada menanti dalam kemah Al- Imam as).

Hendaknya diperhatikan bahwasannya wujud pribadi Al-Imam as adalah serupa dengan mįzăn (timbangan), jika manusia telah mendapatkan pengenalan terhadap beliau as maka ini menyebabkan terselamatkannya dia dari berbagaisyubhat (kesamaran) dan kesesatan jalan.

Dari yang paling penting sekali diantara seluruh pengenalan adalah pengenalan terhadap kekhususan-kekhususan dan sifat-sifat unggul Al-Imam as, disamping pengenalan terhadap nama, nasab (silsilah keturunan) ayah dan para kakek beliau as. Dan dari keunggulan-keunggulan khusus beliau as adalah ;  berilmu, ishmat ( maksum/terjaga dari segala dosa dan kesalahan), wara’, syuja’at(berani), įtsăr (mendahulukan kepentingan yang lain dari kepentingan diri) dan puluhan sifat-sifat utama yang lain. Dalam riwayat disebutkan bahwa : Paling minimnya pengenalan terhadap Al-Imam as adalah mengenal beliau sebagai pewaris Rasulillah saAw dan berlaku taat kepada Al-Imam adalah taat kepada Allah dan Rasulullah saaw.

2. Menjaga adab terhadap ingatan dan sebutan nama Imam Zaman ajf

Salah satu potret adab Islam mengenai hal ini hendaknya manusia tidak menyebut Imam Zaman ajf  kecuali dengan sebutan laqab-laqab mulia beliau seperti : Al-Hujjah, Shôhibu-zaman, Baqiatullahil-a’dzam, Mahdį … (ada perbedaan pendapat antara ulama yang mulia -semoga Allah menambah kemuliaan  atas mereka – dalam penyebutan secara tashrįh ( jelas ) ataukah dengan nama asli beliau yang mulia.

Sekelompok dari mereka menganggap boleh menyebut secara tashrih hanya ketika bertaqiah, seperti Al-marhum Hur Âmilį pemilik kitab Wasâ’ilu-syįah. Dan sebagian lain seperti Syaikh Mufįd dan Al-marhum Thabarsį adalah melarang penyebutan secara tashrįh terhadap nama beliau as. Untuk kita menjaga adab dan mendapatkan yang lebih hati-hatinya adalah disini kita akan menyebutkanHadhrat dengan laqab-laqab mulia beliau sebagai sirah (cara) yang sudah dijalankan oleh para ulama yang agung dan juga sebagai berlaku hormat dan pengagungan.

3. Mencintai kepada Hadhrat as secara khusus

Mengingat ni’mat-ni’mat Ilahi menyebabkan cinta dan suka terhadap Allah Taala. Dan pengantara semua ni’mat Ilahi yang ada diatas para makhluk ini adalah wujudnya Hujjat kebenaran yaitu Imam Zaman ajf . Harus diperhatikan bahwa semua keberkatan dan kebaikan Ilahi ini diperantarai oleh Hadhrat Hujjat as. Maka akal memberikan hukum untuk mencintai Hadhrat as itu. Dan di lain riwayat, banyak disebutkan bahwa Rasulullah saaw dan para Imam as telah memberikan perintah berkenaan dengan cinta kepada Imam Zaman ajf, seperti yang ada dalam sebuah riwayat berikut, bahwa Rasulullah saaw ketika dimalam Mi’raj, bersabda: “Allah Taala berfirman kepada-ku: ( Wahai Muhammad cintailah Dia ( Imam Zaman ajf), karena Aku cinta kepada-nya dan kepada orang-orang yang mencintai-nya )“.

Titik perkara yang harus diperhatikan secara mendalam adalah bahwasannya agama akan dimenangkan secara sempurna berkat tangan dan pemerintahan hak beliau as dan Hadhrat akan memikul kerja keras yang memenatkan demi memenangkan agama Allah serta kemenangan hak di atas kebatilan. Dan ini menuntut akan kecintaan kita kepada beliau as secara khusus. Kita semua mengetahui bahwa mencintai para Imam pemberi hidayat as terlebih cinta kepada Imam Zaman ajf secara khusus pada dasarnya adalah cinta kepada Allah swt.

4. Mengumumkan cinta kepada Hadhrat as di tengah kelompok masyarakat

Yakni manusia hendaknya menyampaikan kata-kata indah/sabda dan riwayat kehidupan para Imam as dengan bahasa masyarakat dan kelompok-kelompoknya yang bermacam-macam. Dan menggalakan kecintaan mayarakat kepada para Imam as lebih khusus cinta kepada Imam Zaman ajf.

5. Menanti pemerintahan hak dan kemunculan keluarga Muhammad saaw

Dalam Al-Quran yang mulia Allah Taala berfirman : “ …maka nantikanlah!, aku dan kamu dari yang sedang menanti”. Dalam riwayat banyak yang menyebutkan pahala dan kedudukan yang tinggi diperuntukan kepada para penanti seperti ; dalam do’a Arafah, Imam Sajjad as menghaturkan kata selamat sejahtera kepada para penanti. Dalam sebuah riwayat, Imam Jaafar as Shodiq as berkata :“Seorang penanti yang meninggal dunia dalam keadaan intidhâr seperti seseorang yang sedang berada dalam kemah Al-Qâ’im (Imam Zaman as)”.

Dari keseluruhan riwayat yang datang dalam bab ini bahwasannya intidhâr kepada pemerintahan hak bermaknakan demikian; bahwasannya manusia hendaknya ingin sekali berada disamping Hadhrat as, ikut menolongnya dan siap berkorban demi apa saja yang dikehendaki oleh Allah Taala dan Imam Zaman as, bukan berusaha mencapai  apa yang dikehendaki oleh keinginan diri-sendiri yang rendah.

Intidhâr pemerintahan yang hak berbeda dengan seluru intidhâr yang lain karena muntadzar (orang yang dinanti) dalam intidhâr ini adalah sang pemimpin kita (umat manusia) yaitu Imam Zaman as yang dialah Hujjat kebenaran dan pengantar feidh (anugrah ni’mat) dan pemberi petunjuk umat manusia.

Tidak diragukan lagi intidhâr ini adalah paling beratnya penantian diantara penantian-penantian, hanya mereka yang ikhlas yang dapat melakukannya, yang tidak mungkin dilakukan tampa diiring dengan ketaqwaan dan beramal dengan peraturan undang-undang agama. Dalam sebagian riwayat banyak mengisyaratkan bahwasannya intidzâr faraj adalah sebagai ibadat.

Dengan dasar berfikir demikian, banyak dari kalangan ulama besar kita mengemukakan bahasan mengenai adanya atau tidak adanya qashdu qurbat (niat mendekatkan diri kepada Allah sebagai syarat sahnya peribadatan) dalam intidhâr.

Karena  tulisan ini kami berniat meringkas saja, maka kami cukupkan dengan kesimpulan bahwasannya; di setiap Subuh dan Malam hendaknya menanti farajdan bersiap-siap untuk menolong pemerintah yang hak. Persiapan ini hendaknya senantiasa kekal. Boleh jadi inilah salah satu dari hikmah disembunyikannya zaman kemunculan Imam as. Di mana kaum beriman di sepanjang waktu berada dalam keadaan bersiap sedia, dan mereka menjaga kesiapan diri mereka.

6. Menerangkan kesukaan dan kerinduan untuk menjumpai Hadhrat as

Salah satu dari tanda-tanda suka dan cinta kepada yang lain adalah menerangkan rasa suka untuk menjumpai-nya. Imam jaman adalah kecintaan seluruh aulia’ dan para Nabi as yang di berbagai tempat juga telah memperlihatkan penjelasan kesukaan mereka untuk menjumpai Hadhrat as, seperti Amįrul-muminįn Ali bin Abi Thalib as setelah menyifatkan Walį ashr as, menjelaskan rasa ingin beliau untuk berjumpa dengan Hadhrat as. Para pecinta dan penanti hendaknya menerangkan kerinduan mereka dalam prilaku ingin berjumpa dengan Hadhrat as.

7. Menyebut keutamaan-keutamaan dan manâqib (do’a, zikir dan ziarah) Hadhrat dan hadir dalam majilis-majilis peringatan beliau as

Mengingat keutamaan-keutamaan dan manâqib Ahlul-Bait as terlebih Hadhrat Walį ashr as adalah sebagai mishdaq (wujud nyata) mengingat Allah Taala. Ini adalah wadhifah semua orang beriman dan para penanti di ketika dalam majilis dan perayaan, mereka duduk membicarakan keutamaan Rasulullah dan keluarga beliau saaw. Mengingat keutamaan-keutamaan Ahlul-Bait as pada hakekatnya sebagai mengagungkan syi’ar-syi’ar Ilahi dan menjalankan amar ma’rûf. Dan yang pasti perlakuan ini akan menjadi siksaan berat bagi setan.

8. Merasa sedih karena berpisah dan jauh dari Hadhrat as

Dalam banyak riwayat menyebutkan bahwa tanda-tanda pribadi syi’ah adalah kesedihan dia dalam kesedihan para Imam as. Tidak diragukan lagi bahwa keghaiban Hadhrat as serta apa yang menjadi kesedihan dan kedukaan beliau dan para pengikut beliau adalah dari yang paling utama sekali yang menyebabkan kesedihan para Imam as. Dalam berbagai riwayat menyebutkan memiliki keadaan sedih dan berduka karena berpisah dari Hadhrat as sangat dipuji.

9. Membaca qashidah, sajak dan puisi berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Hadhrat as

Telah disebutkan dalam sebuah riwayat : “Siapa yang membacakan sebait syair tentang kami maka Allah Taala akan membangunkan sebuah rumah baginya di dalam syurga”.

Dalam riwayat yang lain menyebutkan bahwa pahala-pahala yang agung dengan perbedaan timbangan diperuntukan kepada para penyair dan pemuja, dan perbedaan timbangan pahala ini boleh jadi disesuaikan dengan perbedaan derajat makrifat atau pengaruh syair dan qashidah mereka. Kedudukan yang dimiliki oleh para penyair seperti Kamiat Asadi, Sayyid Hamiri, Da’bal Khazai karena sebab makrifat dan ilmu pengetahuan yang benar mereka berkenaan dengan para Imam as dan penyebaran keutamaan-keutamaan mereka as dengan perantaran seni sejati Islam.

10. Berdiri ketika mendengar sebutan nama dan laqab-laqab mulia Hadhrat as sambil meletakan tangan keatas kepala sebagai tandapenghormatan

Terdapat dalam sebuah hadis: Di suatu majelis yang di hadiri oleh Imam Shodiq as, diingatkan tentang Imam Zaman as, Imam Jaafar as Shodiq as bangkit berdiri karena menghormati nama beliau as. Ini adalah tata-cara yang sudah berjalan di kalangan para Imam as dan para ulama besar syiah, juga dalam buku-buku yang berkaitan dengan perkara ini menganggap mustahab (sunnah) melakukannya dikala sendirian. Bahkan sebagian dari para ulama mengatakan: Suatu ketika dalam suatu mesjid, disebutlah nama Al-Imam Zaman as, maka sebagian dari para hadirin bangkit berdiri, dan sebagian dari mereka tidak melakukannya tanpa ada udzur, maka ini termasuk prilaku penghinaan dan mengoyak kehormatan, maka prilaku demikian akan menjadi haram.

11. Menangis dan menyebabkan orang lain menangis karena berpisah dengan Imam Zaman as

Keutamaan menangis ini dikarenakan bahwa si penangis telah meneteskan air mata atas kesulitan-kesulitan yang menimpa Hadhrat dan qalbunya terbakar oleh karena berpisah dari Yusuf-nya Fathimah as, tangisan yang di sebabkan oleh penglihatan yang bertahun-tahun dilewatkan dengan keghaiban Imam yang menyebabkan suatu kelompok melontarkan kata-kata yang tidak senonoh berkenaan dengan beliau seperti ; telah mati, telah dibunuh, telah binasa. Syi’ah dan orang beriman yang mempunyai ilmu dan kesadaran serta memiliki makrifat terhadap maqam keimamahan, setelah menyaksikan dan mendengarkan ucapan-ucapan yang tidak senonoh itu maka air mata keterpisahan mengalir dari pelupuk matanya.

Hati bak kayu terbakar oleh rindu melihat-mu

Mata deras alirkan air, bak sungai  karena  berpisah dari-mu

Tenggelam dalam banjir air mata dan jiwa dipanggang

Orang tenggelam kobaran, bila akan dilihat.

Api cinta pada-mu bergeming di kepala

Gemerlap dari hati, tidur dari mata-ku, dirampas.

12. Memohon dan banyak berdoa kepada Allah swt supaya mengenal dan mengetahui Imam Zaman as

Pengenalan terhadap cahaya-cahaya suci keberadaan para Imam pemberi petunjuk as tanpa inâyah dan petunjuk Ilahi tidaklah mungkin. Allah Swt–lah yang  meletakan hidayah ini kedalam hati manusia, Imam Jaafar as Shodiq as berkata:” Hikmah kebijakan yang Allah Swt berikan kepada para hamba itu adalah ketaatan pada Allah dan makrifat terhadap Imam as “. (Kitab Usulul-Kâfį  jld 1, h185, bab Ma’rifat Imam as).

Dalam riwayat yang banyak telah menyebutkan bahwa perkara yang paling utama dam wajib setelah mengenal Allah dan Rasulullah saw adalah mengenal Imam jaman as dan pemimpin perkara kaum muslimin (walį amri muslimin ). Tidak mengenal Imam as yakni terdampar dalam putaran deras kebodohan dan kedunguan (kebingungan) seperti kaum jahiliat sebelum Islam.

Hendaklah diperhatikan bahwa pengenalan dan pengetahuan adalah ciptaan Allah Swt, demikian juga Dia telah menyiapkan segala sebab-musababnya. Salah satu dari sebab-sebab itu adalah ketelitian terhadap perjalanan hidup para Imam as dan perkara-perkara luar biasa mereka (mu’jizât) serta pencermatan terhadap akhlak dan ucapan-ucapan mereka. Tetapi dengan usaha yang demikian hendaknya juga memohon taufik pengenalan yang benar dari Allah Swt. Namun yang pasti adalah Allah Swt akan memberikan hasil jerih payah serta berita gembira pertolongan dan petunjuk seperti dalam firma-Nya: “Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh berusaha dalam mencapai kami maka kami akan memberikan petunjuk jalan kami kepada mereka”.( Al-Ankabut 69)

Marhum Kulainį dan syekh Thusį dan pemilik kitab “Al-Gaibah“ Nu’manį dengan mengambil periwayatan dari Zurârah, telah menaqalkan sebuah do’a dari Imam Jaafar as Shodiq as yang berkata : “Akan terjadi bagi pemuda itu ( Imam Zaman as ) kegaiban sebelum kebangkitannya …maka wahai Zurârah jika kamu mengalami jaman itu maka bacalah doa berikut :

اللَّهُمَّ عَرِّفنِی نَفسَکَ فَاِنَّکَ اِن لم تُعَرِّفَنِی نَفسَکَ لم اَعرِف نَبِیَّکَ، اَللَّهُمُّ عَرِّفَنِی رَسُولَکَ فَاِنَّک اِن لَم تُعَرِّفنِی رَسُولَکَ لَم اَعرِف  حُجَّتَکَ, اَللَّهُمَّ عَرِّفنِی حُجَّتَک فَاِنَّکَ اِن لَم َتُعَرِّفنِی حُجَّتَک ضَلَلتُ عَن دِینِی.

”Ya Allah! kenalkan padaku diri-Mu, jika Engkau tidak mengenalkan diri-Mu pada-ku maka aku tak akan dapat mengenal Nabi-Mu, ya Allah! kenalkan pada-ku Rasul-Mu, jika Engkau tidak mengenalkan Rasul-Mu pada-ku maka aku tidak akan dapat mengenal Hujjah-Mu, ya Allah! kenalkan pada-ku Hujjah-Mu, jika Engkau tidak mengenalkan Hujjah-Mu pada-ku maka sesatlah aku dari agama-ku”.

Berkenaan dengan pembahasan do’a di jaman keghaiban Imam telah termaktub dalam kitab yang bermacam-macam, bagi mereka yang berminat mengetahui lebih lanjut silakan membaca kitab-kitab tersebut.

13. Mengenal tanda-tanda kemunculan Hadhrat as

Termasuk dari tugas orang beriman dan para penanti adalah mengenal tanda-tanda kemunculan Hadhrat as. Tanda-tanda kemunculan telah dibagi kepada beberapa istilah yang berbeda seperti:

-Hatmiah (tanda yang pasti),

-Gairu hatmiah ( tanda yang tidak pasti),

-Qaribah (tanda dekat),

-Ba’įdah ( tanda jauh).

Mengenal tanda-tanda ini diperlukan supaya manusia ketika melihat tanda-tanda yang pasti dan yang sudah dijanjikan maka mereka akan menghadap kearah Hadhrat as. Tanda-tanda ini telah diterangkan oleh para Imam suci as supaya dapat membedakan argumen yang benar dan yang bohong, dan supaya orang-orang beriman mengenal tanda-tanda ini dari jalan Itrah as saja, sehingga mereka tidak akan mengikuti kelompok pengaku-ngaku imamat yang hanya menipu manusia tampa ada isi dalam sarung bekalnya. Perhatikanlah dua riwayat di bawah ini:

1. Telah dinukil dari Muhammad bin Shomit yang berkata: “Saya menghaturkan pertanyaan kepada Imam Jaafar as Shodiq as: Apakah tidak ada tanda-tanda sebelum kemunculan (dzuhûr) ? Imam berkata: Ada, saya melanjutkan: Apakah itu?, Imam berkata: yaitu  binasanya Abbâsį, keluarnya Sufiyânį, terbunuhnya jiwa yang suci, masuk/rontuhnya dataran di Baidâ’ (tanah dataran antara Makkah dan Madinah) dan terdengar suara dari langit . Saya berkata : Saya berkorban untuk Anda, saya khawatir perkara ini akan mengalami masa yang panjang, Imam as berkata : Tidak, namun yang pasti adalah itu seumpama biji-biji tashbih yang berurutan dan beratur rapi.”( Kitab ” Al-Gaibah ” Nu’mani h139).

2. Dinukil dari Hamrân bin A’yan dari Imam Baqir as berkenaan dengan tasir ayat:

فَقَضَي أجَلاً و أجَلٌ مُسَمَي عِندَه

Beliau as berkata : “Ajal (ketetapan) ada dua macam; Satu ajal hatmį yang pasti berlaku dan yang kedua ajal mauqûf yang bergantung pada perkara yang lain, Hamrân berkata : Saya berharap ketetapan yang berlaku atas Sufyanį adalah dari ketetapan yang mauqûf. Imam Baqir as berkata : Tidak, demi Tuhan itu dari bagian ketetapan yang hatmį” (Kitab ” Al-Gaibah ” Nu’mani h139).

14. Menyerah pada urusan Allah swt, tidak tergesa-gesa dan tidak mengada-ada menentukan waktu kemunculan

Banyak terdapat dalam riwayat yang menyatakan:

“Kamu sekalian menyerahlah pada perkara Allah dan jangan tergesah-gesah karena dalam ketergesahan boleh jadi akan membinasakan kamu”.

Dalam riwayat yang lain yang dimaksud dengan perkara Allah tersebut adalah keghaiban Hadhrat as yang memiliki batas akhir, dan pasti akan mencapai batas akhir itu.

Dalam sebuah hadist dari Imam Jaafar as Shodiq as yang berkata:“Mahâdhįr telah binasa”, perawi berkata : Saya bertanya apakah yang dimaksud dengan mahâdhįr? ,beliau berkata : Mereka yang tergesa-gesa, lalu Imam as berkata: Telah dekat bagi para penghisab diri untuk mencapai kejayaan dan benteng kesabaran tetap berada di atas kaki–kaki teguh mereka”.

Sebab dicelanya ketergesa-gesaan adalah oleh karena si pelaku ketergesaan mungkin dia akan melepaskan rasa sabar dan tanggungjawab sehingga ia akan mengikuti orang-orang yang sesat yang mengaku-ngaku memiliki maqam keimamahan, atau ketergesahan ini akan menyebabkan  keputus-asaan dari kejadian perkara kemunculan Imam yang agung. Keputus-asaan ini bermakna membohongkan para Imam as dan Rasulullah saaw.

Seseorang yang tergesa-gesa mungkin dari pengaruh keraguan dirinya, ia juga akan mengajak orang lain untuk ikut ragu, atau ia akan meninggalkan amalan-amalan dan tugas-tugas di masa keghaiban seperti ; meninggalkan do’a supaya dicepatkan kemunculan Hadhrat atau meninggalkan sedekah untuk keselamatan diri Imam Zaman as, Dan juga ia akan meninggalkan amalan-amalan penting lainnya.

15. Bersedekah dengan tujuan sebagai mewakili kehadiran hadhrat dan keselamatan beliau as

Dalam hukum Agama Islam membenarkan orang beriman saling mewakili dalam melakukan amalan-amalan kebaikan seperti : Mendirikan sholat, melakukan ziarah, memberi sedekah, ini menunjukan adanya rasa saling cinta antara satu sama lain. Imam jaman as adalah pemimpin orang-orang beriman serta memiliki maqam keimamahan bagi ummat dan sebagai hujjah Ilahi maka jika suatu amal dilakukan dengan mewakilkan diri untuk beliau maka tentu memiliki nilai yang lebih tinggi.

Telah dinaqalkan dari Imam Musa bin Ja’far as, bahwa beliau as dalam menjawab seseorang yang bertanya : “Apakah aku dapat melakukan haji, mendirikan sholat dan memberi sedekah sebagai menggantikan mereka yang masih hidup dan telah meninggal dunia dari kalangan keluarga dan teman-temanku ?, Imam as berkata :” Ya boleh, kamu bersedekah sebagai mewakilkan dirinya, dirikanlah sholat, dan dengan sebab silaturahim dan perhubungan-mu dengannya, engkau mendapatkan pahala yang lain”.( Kitab Wasa’ilul-Syi’ah j5, h367).

Sekalipun pada kebiasaanya manusia memanglah akan saling berhubungan antara keluarga dan orang-orang dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, tetapi dalam riwayat ini menjelaskan persoalan melakukan amalan-amalan dengan mewakilkan diri untuk keluarga serta teman-teman yang beriman yang hidup dan telah meninggal dunia. Dan Imam as dalam menjawab soalan tersebut, juga memberikan dorongan untuk melakukannya. Poin penting yang diperhatikan disini adalah bahwasannya tiada hubungan yang lebih kokoh dari hubungan antara Imam dan orang-orang yang beriman, karena Imam as adalah pengalir anugrah Ilahi dan pengantara antara Bumi dan Langit.

اَينَ السَبَبُ المُتَصِلُ بَينَ الارضِ وَ السَمَاء

Amalan-amalan lain yang telah dianjurkan adalah memberikan sedekah dengan niat untuk keselamatan Imam Zaman as. Siapakah musafir yang paling mulia lebih dari Hadhrat Walį ashr as yang baginda Rasulullah saw telah bersabda:”Seorang hamba belum beriman sehinggalah dia mencintai-ku melebihi dari dirinya sendiri, dan mencintai keluarga-ku melebihi dari keluarga dirinya sendiri, serta mencintai anak-keturunan-ku melebihi dari anak-keturunannya sendiri, dan sari-pati (dzât) aku disisinya lebih ia cintai dari pada sari pati dirinya”.( Kitab Majâlis Shadûq hal 201).

Selain dari memberikan sedekah, dengan melakukan haji, ziarat ketempat-tempat yang suci dan orang-orang yang telah mati syahid dengan perantaraan orang lain atau mengambil wakil untuk melakukan amalan-amalan tersebut sebagai menggantikan Hadhrat as juga termasuk perbuatan yang telah dianjurkan, dan mustahab dilakukan di masa keghaibahan.

Yang perlu diperhatikan adalah setiap amalan yang kita lakukan sebagai menggantikan diri Hadhrat as dan keluarga mulia Rasulullah saaw, selain menunjukan atas kecintaan dan kesetiaan terhadap keluarga mulia ini, paling besar faedahnya –Insyaallah rahmat dan keberkatan Ilahi– akan meliputi keadaan diri kita. Karena akhlaknya keluarga ini berdasarkan argument berikut:

عَادَ تُكُم الاِحسَانُ وَ سَجَيٌَتُكُم الكِرَم

- yaitu kebiasan kalian adalah berlaku baik dan budi-pekerti kalian mulia-. Mereka adalah para penasir Al-Qur’an dan merekalah pengamal-pengamal undang-undang Ilahi dan Al-Qur’an, dan merekalah tempat penampakan lutfi Ilahi serta berakhlak belas kasih sebagaimana dalam Al-qura’an disebutkan:

مَن جَاءَ بِالحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرَ اَمثَالِهَا”.

Jika manusia beranjak satu langkah kearah Tuhan maka taufiq sepuluh langka yang lain akan dianugrahkan kepadanya. Karena itu misalkan seorang mukmin bersedekah senilai seratus Rupiah demi keselamatan Imam jaman as, maka akan sebanding dengan seribu, keberkatan dan perhatian Hadhrat pun akan mengikutinya. Apakan ada kebahagiaan manusia yang melebihi dari pada mendapatkan taufik dalam melakukan amalan-amalan ini.

16. Berusaha dalam perkhidmatan dan menolong Hadhrat

Para Imam as mempunyai kedudukan khusus dan utama. Di antara para Imam, bahkan menurut pandangan Imam as yang lain , Imam Zaman ajf mempunyai kekhususan tersendiri, sehinggalah dinaqalkan dari Imam Jaafar as Shodiq as berkata: ”Dan seandainya saya mendapatkan masa ia, maka seluruh kehidupanku akan ku-khidmatkan kepada-nya”. Sabda beliau ini hendaknya tidak diambil dengan remeh dan mudah-mudah saja. Suatu perkataan besar dari Imam Shodiq as ini sebagai ungkapan puncak penghormatan dan pengagungan beliau as terhadap wujud mulia Hadhrat Walį Ashr as. Imam Shodiq as disepanjang masa usianya telah melakukan perkhidmatan penuh dan menyebar-luaskan ma’ârif  Ilahi, namun kata-kata demikian beliau mengatakannya.

Yang benar adalah kita-pun hendaknya memilki i’itiqôd (keyakinan) seperti itu, karena keluarga (para Imam suci ahlul-Bait as) yang dibanggakan oleh para malaikat di langit, itupun telah melakukan perkhidmatan kepada-nya (Imam Zaman as), dan memang pasti mereka memiliki maqom dan keagungan ini. Dan bila kita bangga terhadap perkhidmatan kepadanya maka jadilah kita bertabiat malaikat.Taklif-taklif yang lain di masa keghaiban adalah hendaknya kita menolong Hadhrat as.

Hendaknya diperhatikan bahwasannya Allah Swt  Zat Suci dan Maha Berkemampuan tidak memerlukan pertolongan kita para makhluk, dan jikalau dicabut inayah-Nya satu detik saja dari kita, maka kita akan tiada dan menjadi binasa. Jadi menolong Allah bermakna menolong para wali Ilahi dan menolong agama Allah serta Rasul mulia saaw dan para Imam as. Menolong Rasul mulia saaw dan para Imam as pemberi petunjuk  yakni mengamalkan peraturan-peraturan mereka, dan ini disetiap zaman memiliki perbedaan, terkadang dengan cara kemiliteran seperti jihad dan perlawanan. Terkadang juga dengan do’a dan sedeqah, atau dengan mendirikan majelis-majelis, peringatan dan mengadakan pembendungan budaya dan lain-lain cara. Hendaknya semua berazam/bertekad untuk membantu Hadhrat disegala keadaan, dan kita hendaknya mengetahui niat dan tujuan menolong Hadhrat adalah sangat penting sekali. Terdapat dalam riwayat berbunyi:

نٍِيٌةُ المُؤمِن خَيرٌ مِن عَمَلِه

Niat orang beriman itu lebih baik dari pada amalnya.

Dalam sebuah sarahan lain Imam Jaafar as Shodiq as berkata : “Saya sendiri tidak keluar dari para syuhada Karbala, dan perhitungan pahala-ku tidaklah lebih sedikit dari pahala mereka, karena dalam niat, saya menolong agama yang hak dan membantu Imam Husein as…”(Kitab Raudhatul-kâfį  j8, h8).

17. Memperbarui bai’at dengan Hadhrat as setiap hari selepas sholat fardlu dan setiap Jumat

Dalam khotbah Al-Gadįr, Rasulullah saw menyerukan kepada para hadirin dan kepada mereka yang tidak hadir untuk melakukan bai’at dengan para Imam, orang-orang beriman hendaknya perikatan janji dan bai’at ini diperbaharuikan lagi bersama Imam di setiap zaman. Bai’at dengan wakil kebenaran bermaknakan berbai’at dengan Allah swt

Asli hukum bai’at adalah wajib dan diperlukan dan perbaharuannya menjadi perkara yang sangat ditekankan. Mengenai hal ini banyak riwayat yang menyebutkan, dan juga telah dihaturkan do’a-do’a untuk waktu yang berbeda. Dari sekian do’a-do’a yang menjadi perhatian adalah do’a Âhd , yang telah dinaqalkan dari Imam Jaafar as Shodiq as, do’a ini mencakupi pembelajaran makrifat terhadap Imam, do’a ini mengandungi makna yang banyak dan mestilah kita bisa mengatakan do’a ini adalah ibu dari segala do’a. Dalam kitab-kitab sumber telah diriwayatkan bahwasannya para malaikat Ilahi di setiap hari Jumat di Baitul-Ma’mûr mereka berkumpul untuk memperbaharui bai’at kewilayahan para Imam yang suci as. Dengan memperhatikan matlab di atas yang banyak mengkhususkan hari Jumat untuk Hadhrat as, maka selayaknya di hari Jumat dapat mengadakan bai’at dengan Imam Zaman as dan sebisa-bisanya diusahakan untuk memperbaharuinya.

18. Mengadakan silaturahmi dengan harta benda terhadap Hadhrat as atau terhadap para Syiah dan pecintanya.

Termasuk perkara yang dimustahabkan dan menjadi hal yang ditekankan di masa kegaiban Imam Zaman as adalah mengkhususkan sebahagian dari harta-benda yang ada untuk Hadhrat. Terdapat dalam riwayat menyatakan  “Tiada perkara yang paling dicintai disisi Allah melebihi perkara mengkhususkan uang/harta-benda untuk Imam as, sungguh Allah Swt akan menetapkan bagi yang menunaikan satu dirham sama dengan satu gunung Uhud di surga.

Silatur-rahim dengan cara demikian hendaknya disertai pikiran bahwasannya Imam as tidak butuh terhadap harta yang ada di tangan manusia, namun manusialah yang membutuhkan supaya Imam as dapat mengabulkan hartanya untuk mensucikan diri manusia sendiri. Dalam sebagian dari kitab-kitab sumber hadist meriwayatkan : “Jika kamu tidak dapat bersilatur-rahim dengan berziarah kepada kami maka lakukanlah silatur-rahim dengan para pecinta kami dan ziarahilah salah seorang dari mereka yang sholeh”.( Kitab Kâmiluz-zirât hal 319 bab 105).

19. Mengirim salam dan shalawât atas beliau as dan menghadiahkan sholat untuknya.

Mengirim sholawât kepada Rasulullah saaw dan keluarganya as sudah menjadi perkara yang banyak diperhatikan dan ditekankan dalam ayat-ayat dan riwayat. Matlab ini demikian lebih diperhatikan dalam riwayat, sehingga sangat sedikit yang dapat dijumpai topik bahasan yang sebanding dengannya dalam pemberhatian dan sensitifnya perkara tersebut. Diantaranya mengirim salam dan sholawat atas Hadhrat Walį Ashr as dalam banyak do’a yang datang dari para Imam as. Dan yang pasti dalam kitab-kitab do’a sholawat atas para Imam as telah disebutkan secara terpisah dan khusus diperuntukan bagi setiap satu-persatu dari mereka. Dari sekian do’a salam dan sholawat  keatas Hadhrat Walį Ashr yang termuat adalah do’a yang dinaqalkan oleh marhum Sayyid Ibnu Thowus, doa tersebut di mulai dengan kalimat:

الٌلهُم صَل علي وَلِيٌك و ابن اولياءك الذ ين فرضت طاعتهم

(Kitab Jamâlul-usbu’ halaman 493).

Dalam kitab tersebut ada sebuah bahasan yang dikhususkan untuk topik: “Hadiah sholat untuk para Imam as”. Dan dalam sumber keterangan yang lain telah disebutkan bahwasannya mustahab bagi manusia untuk melakukan sholat dengan niat menghadiahkannya kepada Walį ashr as dengan penjelasan sebagai berikut : Mulailah dari hari Jumat dengan melakukan delapan rakaat dengan niat 4 rakaat untuk dihadiahkan kepada Hadhrat Rasulullah saaw, dan 4 rakaat lagi untuk Hadhrat Az-Zahra as, Di hari Sabtu hingga hari kamis demikian juga di setiap harinya melakukan delapan rakaat sholat, setiap 4 rakaatnya dihadiahkan kepada setiap seorang dari para Imam as sehinggalah 4 rakaat terakhir yang dilakukan pada hari Khamis itu dihadiahkan kepada Imam Zaman as, perlu diperhatikan disetiap lepas dari dua rakaat sholat-sholat tersebut hendaknya membaca: (اللهُمٌَ أنتَ السَلام… ) dan di tempat perkataan (فلان بن فلان ) hendaknya menyebutkan nama seorang Imam yang diniatkan untuk dihadiahkan sholat itu kepadanya.

Tanpa diragukan lagi pembahasan tentang Imam Mahdi a.s. telah tertera di pelbagai sumber dan literatur Islam. Rasulullah saaw sendiri yang mengajarkan hal tersebut. Imam Ali a.s. dan para imam yang lain juga tidak ketinggalan, mereka  senantiasa menyinggung pembahasan yang satu ini dan mengulang-ulanginya. Para ulama dan pemuka sekte-sekte Islam sepanjang sejarah juga satu demi satu di segenap penjuru negeri Islam telah menulis dan menyusun buku yang tidak sedikit jumlahnya.

Dengan pelbagai hal tersebut apakah dapat dibayangkan topik dan pembahasan yang begitu populer dan urgen ini tidak tertera dalam kitab suci Al-Quran? Jawabannya tentu tidak. Pasti pembahasan semacam ini telah  terdapat di dalamnya.

Al-Quran dalam bentuk singgungan atau bahkan secara gamblang telah menjelaskan peristiwa dan kejadian yang nantinya akan terjadi di akhir zaman; seperti kemenangan kaum mukmin atas musuh-musuh mereka. Menurut para mufassir ayat-ayat semacam ini misdaqnya adalah munculnya pemerintahan Imam Mahdi a.s. di akhir zaman.

Al-hasil, para mufasir kontemporer menghitung dan mentahqiq jumlah ayat-ayat yang berkaitan dengan beliau a.s dan mereka mendapatkan ayat-ayat yang tidak sedikit. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa metode mereka dalam pencarian tersebut mencakup ayat-ayat yang secara gamblang menjelaskan permasalahan Mahdawiyah dan yang lain, atau ayat-ayat di mana para mufassir karena satu dan lain hal menyebut dalam tafsirnya riwayat atau pembahasan tentang Mahdawiyah.

Pada kesempatan ini, kita akan membawakan 7 ayat saja yang memiliki indikasi yang jelas terhadap permasalahan Mahdawiyah.

Ayat pertama

وَ لَقَدْ كَتَبْنا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَْرْضَ يَرِثُها عِبادِيَ الصَّالِحُونَ ( ‏انبيا 105)

Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya kami telah menuliskan di Zabur setelah Dzikr, bahwa dunia akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku  yang saleh.”(Anbiya’; 105)

Imam Muhammad Al-Baqir a.s. bersabda:” hamba-hamba Allah yang akan menjadi pewaris bumi yang tersebut dalam ayat- adalah para sahabat Al-Mahdi a.s. yang akan bangkit  di akhir zaman.”

Syekh Thabrisi setelah menukil riwayat ini mengatakan, terdapat sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Syi’ah dan Ahli Sunah yang menjelaskan dan menguatkan riwayat dari Imam Al-Baqir a.s. di atas. Hadis tersebut mengatakan, “Jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali tinggal sehari, maka Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sehingga seorang yang saleh dari Ahlul-baitku bangkit, dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.” Imam Abu bakar, Ahmad bin Husain Al-Baihaqi dalam buku al-Ba’tsu wa Nutsur telah membawakan riwayat yang banyak tentang hal ini.[Tafsir Majma’ul bayan, jild 7, hal 66-67]

Dalam kitab Tafsir Ali bin Ibrahim berkaitan dengan ayat yang berbunyi “Kami telah menulis di Zabur setelah Dzikr…” dijelaskan bahwa semua kitab-kitab yang berasal dari langit disebut dengan Dzikr. Sedang maksud dari dunia akan diwarisi oleh para hamba-hamba yang saleh adalah Al-Qaim a.s. dan para pengikutnya.[Tafsir Nur Tsaqalain, jild 3, hal 464]

Ayat kedua

وَ نُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأَْرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوارِثِينَ.

Kami menginginkan untuk menganugerahkan kepada mereka yang tertindas di bumi, dan akan Kami jadikan mereka para pemimpin dan pewaris dunia.(Qashash; 5)

Sesuai dengan beberapa ungkapan Imam Ali a.s. di dalam Nahjul balagah serta sabda para Imam yang lain, ayat ini berkaitan dengan Mahdawiyah. Dan sesungguhnya kaum tertindas yang dimaksud adalah para pengikut kafilah kebenaran yang terzalimi yang akhirnya kendali dunia akan jatuh ke tangan mereka. Fenomena ini puncaknya akan terwujud di akhir zaman.[Majma’ul bayan, juz 7, halaman 239]

Syekh Shaduq dalam kitab Amalinya menukil sabda Imam Ali a.s. yang berbunyi:”ayat ini berkaitan dengan kita”.[Tafsir Nuruts Tsaqalain, juz 4, halaman 107-111]

Ayat Ketiga

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكافِرِينَ يُجاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَ لا يَخافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ …

Hai orang- orang yang beriman, barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, bersikap keras terhadap orang- orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela…(Al-Maidah; 54)

Dalam tafsir Ali bin Ibrahim disebutkan:”ayat ini turun berkaitan dengan Al-Qaim dan para pengikutnya, merekalah yang berjuang di jalan Allah SWT dan sama sekali tidak takut terhadap apapun”.[Tafsir Nur Tsaqalain, juz 1, halaman 641]

Ayat Keempat

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَْرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَ لَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضى‏ لَهُمْ وَ لَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَ مَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذلِكَ فَأُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ.

Allah SWT menjanjikan orang-orang yang beriman dari kalian dan yang beramal saleh, bahwa mereka (pasti) akan dijadikan sebagai khalifah di atas muka bumi, sebagaimana Ia juga telah menjadikan para pemimpin sebelum mereka dan –Ia menjanjikan untuk menyebar dan menguatkan agama yang mereka ridhai, dan menggantikan rasa takut mereka menjadi keamanan.(Nur; 56)

Syekh Thabarsi mengatakan:”dari para Imam Ahlul bait a.s. diriwayatkan bahwa ayat ini berkaitan dengan Mahdi keluarga Muhammad saaw. Syekh Abu Nadhr ‘Iyasyi meriwayatkan dari imam Ali Zainal Abidin a.s. bahwa beliau membaca ayat di atas. Setelah itu beliau berkata,”Demi Allah SWT mereka yang dimaksud adalah para pengikut kita, dan itu akan terealisasi berkat seseorang dari kita. Dia adalah Mahdi umat ini. Dialah orang yang disebut-sebut oleh Rasul saaw, jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali sehari lagi, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sampai seseorang dari keluarga ku muncul dan memimpin dunia. Namanya seperti namaku (Muhammad), riwayat semacam ini juga dapat ditemukan melalui jalur yang lain seperti dari imam Muhammad Baqir a.s. dan imam Ja’far Shadiq a.s.”.

Aminul Islam Syekh Thabarsi mengakhiri ucapan dan penjelasannya tentang ayat ini dengan penjelasan berikut ini            ” mengingat agama Islam belum tersebarnya ke seluruh penjuru dunia, maka pastilah janji ini akan terwujud dalam masa yang akan datang, di mana hal tersebut-globalitas agama- tidak dapat dielakan dan dipungkiri lagi. Dan kita ketahui bahwa janji Allah tidak akan pernah hanya janji semata.”[Majma’ul bayan, juz 7, halaman 152; Tafsir Al-Burhan, juz 3, halaman 147]

Ayat Kelima

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدى‏ وَ دِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah Zat yang yang telah mengutus rasul-Nya dengan hidayah dan agama yang benar untuk sehingga Ia menangkan agama tersebut terhadap agama-agama yang lain, kendati para musyrik tidak menginginkannya.(At-Taubah; 33)

Dalam kitab tafsir Kasyful Asyrar karya Rasyiduddin Mibudi disebutkan: Rasul dalam ayat tersebut adalah baginda Nabi Muhammad saaw, sedang hidayah yang dimaksud dari ayat tersebut adalah kitab suci al-Quran dan agama yang benar itu adalah agama Islam. Allah SWT akan memenangkan agama (Islam) ini atas agama-agama yang lain, artinya tiada agama atau pedoman di atas dunia, kecuali ajaran Islam telah mengalahkannya. Dan hal ini sampai sekarang belum terwujud. Kiamat tidak akan datang kecuali hal ini terwujud. Abu Said al-Khudri menukil, bahwa Rasul saaw pada suatu kesempatan menyebutkan bala dan ujian yang akan datang kepada umat Islam, ujian itu begitu beratnya, sehingga beliau mengatakan bahwa setiap dari manusia tidak dapat menemukan tempat berlindung darinya. Ketika hal ini telah terjadi, Allah SWT akan memunculkan seseorang dari keluargaku yang nantinya dunia akan dipenuhi oleh keadilan. Seluruh penduduk langit dan bumi rela dan bangga dengannya. Di masanya, hujan tidak akan bergelantungan di atas langit kecuali akan turun menyirami bumi, dan tiada tumbuh-tumbuhan yang ada di dasar bumi kecuali bersemi dan tumbuh. Begitu indah dan makmurnya kehidupan di masa itu sehinga setiap orang berandai-andai jika sesepuh dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia kembali lagi…[Kasyful asar, juz, 4, halaman 119-120]

Ayat Keenam

وَ مَنْ قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنا لِوَلِيِّهِ سُلْطاناً فَلا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كانَ مَنْصُوراً

Barangsiapa terbunuh secara mazdlum, maka kita akan jadikan ahli warisnya sebagai pemimpin, oleh karena itu hendaknya tidaklah berlebihan dalam membunuh, sesungguhnya dia akan tertolong. (Isra’; 33)

Huaizi dalam kitab tafsir Nur Tsaqalain mengatakan: Imam Baqir a.s. berkata, ” Maksud dari orang yang terbunuh secara mazdlum tersebut adalah Husain a.s., dan kamilah ahli waris dan wali dari beliau, saat Qaim a.s. datang dia akan menuntut darah Husain a.s. dan sesungguhnya dia akan ditolong. Dan dunia tidak akan berakhir selagi darah tersebut tidak ditebus dan diambil oleh seorang dari keluarga Muhammad saaw, seorang sosok yang akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia telah disesaki oleh kezaliman dan ketidak adilan.”[Nur tsaqalian, juz 3, halaman 163]

Ayat Ketujuh

بَقِيَّة اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ …

Simpanan Tuhan itu lebih baik bagi kalian, jika kalian beriman… (Hud; ayat 86)

Dalam tafsir Nur Tsaqalain, dengan menukil dari Al-Kafi, disebutkan,” Seseorang bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq a.s. tentang Al-Qaim a.s., apakah bisa menggunakan ungkapan Amirul mukminin saat mengucapkan salam kepada beliau? Imam menjawab, “Tidak, karena gelar ini diberikan Allah untuk Imam Ali a.s  saja. … dia bertanya (lagi), aku tebusan bagimu, lalu apa yang harus aku sampaikan saat mengucapkan salam padanya ? Imam Shadiq a.s. menjawab, Semua harus mengatakan: السلام عليک يا بقية الله   “Salam atasmu wahai simpanan Allah”. Kemudian beliau membaca ayat di atas.[Nur tsaqalian, juz 2, halaman 390]

Syekh Abu Manshur Thabrisi dalam kitab Al-Ihtijaj, menukil sebuah riwayat dari Amirul Mukiminin Ali a.s.:”Baqiyatullah adalah Mahdi, di mana dia akan datang setelah masa ini. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman.”[Nur tsaqalian, juz 2, halaman 390]

Syekh Shaduq r.a. dalam kitab Ikmaluddin, meriwayatkan sebuah riwayat yang cukup panjang dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Isi sebagian riwayat yang menyinggung permasalahan Imam Mahdi a.s.itu demikian,” Saat Qaim muncul, dia akan bersandar kepada Ka’bah, kemudian 313 orang bergabung dengannya. Maka ungkapan pertama yang beliau ucapkan adalah ayat di atas, dan mengatakan akulah Baqiyatullah, hujjah dan khalifah Allah di antara kalian. Saat itu setiap muslim menyalaminya dengan ungkapan, Salam atasmu wahai Baqiyatullah di bumi-Nya.”[Nur tsaqalian, juz 2, halaman 390-392]

Begitu juga dalam hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir a.s. disebutkan:” Ilmu akan kitab Allah dan sunah Rasulullah saaw bersemi di hati Mahdi, sebagaimana tumbuhan-tumbuhan terbaik bersemi dan berkembang. Barang siapa di antara kalian hidup dan berjumpa dengannya maka berilah salam demikian, Salam atasmu wahai  keluarga rahmat dan kenabian, wahai gudang ilmu, wahai tempat turunnya risalah, Salam wahai Baqiyatullah”.

One comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s