Abu Hurairah pembohong/pendusta menurut Imam Ali, Umar Ibn Khatab, Abdullah Ibn Umar, Zubair dan Aisyah !!! Petaka Ahli hadis Sunni yang salah men tsiqahkan orang

Selain perkataan Umar Ibn Khatab, mereka dibawah ini mengatakan Abu Hurairah sebagai pembohong/pendusta,

1. Abdullah Ibn Umar, ((Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ bayan alilm wa fadhluhu, jilid 2, hlm. 154,)

2. Ummul Mukminin Aisyah,( Ibnu Qutaibah, alImamah was Siyasah, hlm. 126, 127.)

3. Imam Ali, (Ibnu Qutaibah, Tawil Mukhtalaf alHadits, hlm. 51.)

4. Zubair (( Ibnu Katsir, al Bidayah wanNihayah, hlm. 109 )

Tentukan sekarang, di pihak manakah saudara berada

Beranikah dari sekarang ini saudara-saudara kita Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah dari sekarang saudara-saudara Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hurairah, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah saudara Ahlusunah menyatakan bahwa Umar bin Khatab sebagai Khalifaturrasyidiin yang wajib ditaati, tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Hurairah) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis oleh sahabat Umar?

Apakah Abu Hurairah perlu  dibela  ?

Abu Hurairah sebagai sosok terkemuka di jajaran perawi hadis Ahlussunah yang meriwayatkan tidak kurang dari lima ribu hadis yang bisa dilihat dalam kitab-kitab standart mereka. Imam Bukhari sendiri menukil tidak kurang dari empat ratus hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Di sini kita akan lihat, siapakah sosok Abu Hurairah?

Bukankah Abu Hurairah yang dikatakan oleh khalifah pertama (Umar bin Khatab) sebagai musuh Allah dengan ucapannya: “Wahai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, engkau telah mencuri harta Allah”? (ya ‘aduwallah wa ‘aduwa kitabihi saraqta maalallah). (Lihat: at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335, Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:612) Lantas kenapa musuh Allah -menurut versi khalifah kedua Ahlusunnah ini- masih dipakai dan dipercaya oleh Imam Bukhari dalam periwayatan hadis? Apakah Imam Bukhari tidak percaya lagi terhadap Umar bin Khatab, atau bahkan meremehkan anjuran-anjuran seorang khalifaurrasyidiin? Bukankah Umar adalah sahabat dan khalifah Rasul yang harus diikuti?

Bukankah Abu Hurairah adalah pribadi yang terkenal dikalangan sahabat sebagai manusia yang tidak dapat dipercaya (baca: pembohong). Hal ini sebagaimana yang telah dinukil dari beberapa sahabat tentang dia, semisal: Ummul mukminin Aisyah, Umar bin Khatab, Marwan bin Hakam, Ali bin Abi Thalib…dsb. Sampai-sampai ummul mukminin Aisyah pernah mengatakan: “Apakah gerangan hadis-hadis yang telah engkau sampaikan atas nama Nabi ini? Bukankah apa yang telah engkau dengar juga sebagaimana yang telah kami dengar? Dan bukankah yang telah engkau lihat juga telah kami lihat?” (Lihat: Siar a’lam an-Nubala’ Jil:2 Hal:604/612/613, at-Tabaqot al-Kubra Jil:4 Hal:335) Pertanyaannya sama, apakah imam Bukhari dan Muslim sudah tidak percaya lagi terhadap istri Rasul yang bergelar ummulmukminin serta sahabat-sahabat besar Rasul di atas tadi? Sehingga dari situlah Ibnu Abil Hadid yang bermazhab muktazilah dalam Syarh Nahjul Balaghah menukil ungkapan beberapa ulama Ahlussunah semisal Abu Hanifah yang menyatakan: “Semua sahabat adil kecuali Abu Hurairah, Anas bin Malik…” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:4 Hal:69). Atau menukil ungkapan Jahidh dari kitabnya yang terkenal “at-Tauhid”, yang menyatakan: “Abu Hurairah adalah pribadi yang tidak dapat dapat dipercaya dalam masalah periwayatan (hadis) dari Rasulullah…sebagaimana Ali tidak mempercayainya, bahkan mencelanya. hal serupa juga yang dilakukan oleh Umar dan Aisyah (terhadap Abu Hurairah)” (Syarh Nahjul Balaghah, Jil:20 Hal:31). Apakah Imam Bukhari mengaku sebagai orang yang lebih mulia dari Umar, Aisyah dan Ali sehingga ia tetap mempercayai Abu Hurairah dalam periwayatan hadis, dan meremehkan pendapat mereka dengan tidak mengindahkan penilaian mereka terhadap Abu Hurairah? Bukankah menurut mayoritas Ahlusunnah menyatakan bahwa para sahabat layak -bahkan wajib- untuk diikuti, sebagai Salaf Saleh?

Bukankah Abu Hurairah juga terkenal sebagai periwayat hadis-hadis yang merendahkan martabat para nabi Allah? Sebagai contoh, hadis yang menyatakan bahwa nabi Ibrahim as pernah berbohong sebanyak tiga kali; “Ibrahim tiada pernah berbohong kecuali sebanyak tiga kali” (Shahih Bukhari Jil:4 Hal:112). Atau hadis tentang peristiwa nabi Musa berlari dalam keadaan bugil dihadapan Bani Israil sehingga nampak kemaluannya oleh mereka, itu beliau lakukan hanya bertujuan untuk menangkal sangkaan buruk mereka terhadap beliau. (Shahih Bukhari Jil:4 Hal:126 dan pada bab Bad’u al-Khalq Jil:2 Hal:247)…dsb, yang semuanya merupakan kisah-kisah penghinaan atas pribadi para nabi Allah. Dari situlah akhirnya Fakhru ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabir menyatakan: “tiada layak dihukumi pribadi yang berbohong atas nama para nabi kecuali dengan sebutan Zindiq”. Dalam kesempatan lain ia menyatakan: “Menyatakan bohong atas perawi hadis tadi (yaitu: Abu Hurairah) lebih tidak berbeban ketimbang menyandarkannya (kebohongan) pada khalil ar-Rahman (yaitu: Ibrahim as)”. (Lihat: at-Tafsir al-Kabir Jil:22 Hal:186 dan Jil:26 Hal:148) Apakah hanya karena riwayat-riwayat bohong itu terdapat pada kitab shahih Bukhari sehingga kita dipaksa turut serta mendeskriditkan dan menginjak-injak kehormatan para nabi Allah, demi menjaga kesakralan kitab karya Imam Bukhari sebagai kitab Shahih, paling Shahihnya kitab pasca al-Quran?

Bukankah Ibrahim an-Nakha’I pernah menyatakan: “Golongan kita (ashabuna) mereka meninggalkan hadis yang datang dari Abu Hurairah”? Atau pada kesempatan lain ia pernah menyatakan: “Mereka tiada mengambil riwayat dari Abu Hurairah kecuali dalam hal-hal yang berkaitan dengan sorga dan neraka saja”. (Lihat: Siar a’alam an-Nubala’ Jil:2 Hal:609, Tarikh Ibn Asakir Jil:19 Hal:122)

Bukankah Fakhru ar-Razi dalam kitab al-Matholib al-Aliyah menukil ungkapan pribadi-pribadi yang memiliki hubungan dekat dengan Rasul sebagai bukti atas kebohongan Abu Hurairah? Fakhru ar-Razi mengatakan: “Banyak dari kalangan sahabat mencela Abu Hurairah, kita sebutkan contohnya; Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa yang di pagi hari bangun dalam keadaan jinabah maka hendaknya tidak berpuasa”. Lantas mereka (para sahabat) mengeceknya kembali kepada dua istri Rasul Aisyah dan Ummu Salamah, mereka berdua mengatakan: “Hal itu (peristiwa itu) pernah dialami oleh Nabi, namun beliau tetap berpuasa”. Mereka berdua (istri-istri Nabi) lebih mengetahui (apa yang diperbuat oleh Nabi)…”. (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205). Dalam kesempatan lain, Fakhru ar-Razi juga menukil kejadian yang berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib. Sewaktu Abu Hurairah meriwayatkan satu hadis dengan mengucapkan: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berbicara kepadaku…”, lantas Ali berkata: “Sejak kapan beliau menjadi kekasihmu?” (al-Matholib al-Aliyah Jil:9 Hal:205)

Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan oleh Abu Hurairah -yang tidak mungkin kita ungkap secara keseluruhan di sini- sehingga dari situ menyebabkan banyak sahabat, dan ulama dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in meragukan kejujurannya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan Umar bin Khatab sendiri sempat mengancamnya jika ia (Abu Hurairah) sampai meriwayatkan hadis. (Lihat: Tadzkirat al-Huffadz Jil:1 Hal:7, Akhbar al-Madinah al-Munawwarah karya Ibnu Syaibah Jil:3 Hal:800, Jaami’ bayan al-‘Ilm karya Ibnu Abdul Bar Jil:2 Hal:121)

Jika kitab Shohih Bukhari -yang dinyatakan kitab yang semua isinya dijamin kesahihannya dan secara mutlak tidak bisa dikritisi dan diganggu gugat- beberapa hadisnya diisi oleh pembohong semisal Abu Hurairah -sebagaimana diakui oleh para sahabat dan beberapa ulama Ahlussunah sendiri- lantas, apakah mungkin yang keluar dari pembohong pasti dijamin kesahihannya? Pertanyaan serupa juga bisa ditujukan kepada kitab Shahih karya Imam Muslim yang bertitel sama dengan sahih Bukhari, juga kitab-kitab standart Ahlusunah lain yang di dalamnya terdapat riwayat Abu Hurairah…jika jawabannya negative, maka apakah kita masih layak menyebut kitab Bukhari dan Muslim sebagai kitab Shahih? Ingat, jika dipaksakan jawabannya positif, niscaya akan terjadi paradoksi dalam pikiran manusia yang berakal sehat. Beranikah dari sekarang ini saudara-saudara kita Ahlusunah meninggalkan riwayat-riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai konsekuensi mereka terhadap penghormatan kepada Ummul Mukminin Aisyah dan Khalifah Umar dan Ali? Beranikah dari sekarang saudara-saudara Ahlusunah menyatakan bahwa dua kitab Bukhari dan Muslim tidak lagi disebut sebagai kitab Shahih karena terdapat ratusan riwayat Abu Hurairah, sebagai bukti ketaatan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah, Khalifah kedua (Umar bin Khatab) dan keempat (Ali bin Abi Thalib)? Mungkinkah mengatakan Umar bin Khatab sebagai Khalifah yang wajib ditaati akan tetapi di sisi lain tetap mengambil riwayat-riwayat dari orang (spt Abu Hurairah) yang telah divonis sebagai pembohong, bahkan dilarang untuk meriwayatkan hadis? [FI]

KISAH SEJARAH DAN KONTAMINASI HADIS DHA’IF
========================================
1. DAMPAK PADA PENULISAN SEJARAH DAN ISNAD :

Penulis Sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi-saksi pelapor suatu peristiwa atau keadaan dan para penyalur yang membentuk rangkaian Isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka karena kelemahan-kelamahan manusiawai, seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya. Suatu rangkaian Isnad yang lengkap , dengan penyalur-penyalur yang identitas orangnya dapat dipercaya, belum bisa menjadi kebenaran suatu berita.

2. PERBUATAN PARA PEMBOHONG :

Murthada al-Askari misalnya, telah berhasil menemukan nama 150 orasng sahabat nabi yang fiktif, yang telah dimasukan oleh para penulis sejarah lama sebagai saksi-saksi pelapor. Penulis sejarah semacam ini telah memasukan nama berbagai kota dan sungai yang kenyataannnya tidak pernah ada. Al’ Amin berhasil mengumpulkan nama 700 nama pembohong yang pernah mengada-adakan berita tentang Nabi Muhammad, bahkan ada yang menyampaikan seorang diri beribu-ribu hadis palsu. Diantar mereka terdapat para pembohong Zuhud, yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman tetapi pada pagi hari mulai duduk mengajar dan berbohong seharian.

3. ANTISIPASI PARA ULAMA :

Sebenarnya para ulama jaman dahulu telah mengetahui cerita fiktif, dan telah mengenal para penulis buku tersebut sebagai pembohong , tetapi karena berbagai sebab, keritik-keritik mereka terhenti ditengah jalan. Kedudukan Ulama makin beralih ke “tugas dakwah” dan “mengabaikan penelitian”. Penelitian dijaman para sahabatpun dilupakan. Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah jaman para sahabat dan tabiin, generasi kedua. Sedangkan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup pada masa-masa kemudian.
Itulah sebabnya buku-buku yang mengandung hasil studi yang kritis tidak lagi mendapatkan pasaran. Karena “pikiran-pikiran baru” ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah “mantap” dalam keyakinan.
Pada abad kedua puluh ini telah muncul para peneliti yang sangat tekun antar lain Syekh Muhammad Ridha al-Muzhaffar dalam bukunya SHAQIFAH dan Abdul Farah Abdul Maqshud dalam buku AS-SHAQIFAH WAL KHILAFAH. Dan buku ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian yang telah dilakukan peneliti2 muslim sebagaimana dua orang diatas.

RIWAYAT HIDUP DAN HADIS-HADIS ABU HURAIRAH :
========================================
Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan2 Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para dsahabat lainnya. Tetapi sehubungan dengan peristiwa saqifah , riwayat sejarah dan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah harus dipandang dengan kritis karena profil kontroversil tokoh ini.

Untuk itu perlu sedikit penjelasan :

Abu Hurairah (wafat 57 H)
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.

Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya.

Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain, karena banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.

Syu’bah bin al-Hajjaj memperhatikan bahwa Abu Hurairah meriwayatkan dari Ka’ab al-Akhbar dan meriwayatkan pula dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, tetapi ia tidak membedakan antara dua riwayatnya tersebut. Syu’bah pun menuduhnya melakukan tadlis,

Abu Hurairah meriwayatkan hadist dari /abu Bakar, Umar, Utsman, Ubai bin Ka’ab, Utsman bin Za’id, Aisyah dan sahabat lainnya. Sedangkan jumlah orang yang meriwayatkan darinya melebihi 800 orang, terdiri dari para sahabat dan tabi’in. diantara lain dari sahabat yang diriwayatkan adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, dan Anas bin Malik, sedangkan dari kalangan tabi’in antara lain Sa’id bin al-Musayyab, Ibnu Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid dan Asy-Sya’bi.

1. Abu Hurairah memeluk Agama Islam sesudah perang Khaibar yang terjadi pada bulan Safar tahun 7 H . Pada bulan Zulkhaidah tahun 8 H , ia dikirim untuk mendampingi Al’ Ala’bin Hadhrami yang diangkat rasul menjadi gubernur di Bahrain. Ia baru kambali ke Madinah bersama para sahabat hanya selama satu tahun sembilan bulan , dari tahun 7 sampai tahu 8 H . Peristiwa Saqifah terjadi tahun 11 Hijriah.

2. Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala ia kembali dari Bahrain, Umar bin Khatab memukulnya sampai berdarah, karena Umar menuduhnya menggelapkan uang Baitul Mal . Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menamakannya “musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Abu Hurairah ketika itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah Al’ Ala bin Hadhrami, yang kemudian diganti oleh Qudamah bin Madh’un. Umar tidak mempercayai sebuah hadis pun dari Abu Hurairah dan melarang (dia) menyampaikan hadis.

3. Setelah Utsman meninggal , Abu Hurairah mem-bai’at Mu’awiyah. Kepribadiannya yang piknikus itu dapat dilukiskan dengan kata-katanya sendiri (yg pernah diucapkan Abu Hurairah) :” Sungguh semarak makan di meja Mu’awiyah, dan sungguh sempurna solat dibelakang Ali bin Abi Thalib. Dan iapun memilih makan dimeja Mu’awiyah . Ia mem bai’at Mu’awiyah sebagai khalifahnya . Lalu hadis-hadisnya pun mulai bermunculan . Yang pertama berbunyi :”Aku mendengar rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Allah mengamanatkan wahyunya kepada ketiga oknum, yaitu saya , Jibril serta Mu’awiyah. Karena doyannya kepada makanan itulah maka orang menamakannya Syekh al’Mudhfrah, ….”Syekh Doyan Makan” . Seluruh hadisnya disampaikan di jaman Mu’awiyah.

4. Hadis-hadis yang disampaikan Abu Hurairah berjumlah 5.373 buah. Bila dibandingkan dengan seluruh hadis yang disampaikan oleh keempat Khalifah ur Rassyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar misalnya menyampaikan hanya 142 hadis, Umar hanya 537 hadis, Utsman hanya 146 hadis dan Ali hanya 586 hadis, Jumlah semuanya hanya 1.411 hadis , dan itu berarti Cuma 21% dari jumlah hadis yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri. Dan jumlah ini hamper sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Umar mengancam akan memukulnya, apabila ia membawakan hadis. Ia (Abu Hurairah) sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadispun di jaman Umar. Ummul mukminin Aisyah mengatakan bahwa ia tak pernah mendengar rasul bercerita seperti apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Ali menamakannya “Pembohong Ummah”. Demikian juga tokoh-tokoh kemudian, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa sekiranya Abu Huarirah meninggal sebelum Umar, maka Umat Islam tidak akan mewarisi hadis-hadis yang penuh khurafat, isykalat dan israiliyat. (pengaruh Injil).

5. Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian (sejarah dll), padahal dia tidak hadir ditempat tersebut. Ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di Suffah Mesjid Nabi di Madinah , yairu antara bulan safar tahun tujuh hijriah, sampai bulan zulkhaidah tahun delapan. Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi ia telah memberikan laporan –laporan sebagai saksi mata tentang hal-hal yang terjadi pada masa-masa sebelum dan sesudahnya. Misalnya ia menceriytakan bahwa Rasul Allah menyuruh Abu Thalib membaca syahadat tatkala ayah Ali itu sedang menghadapi maut, tetapi Abu Thalib menolak, dan karena itu Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Katanya, pada wqaktu itulah turun ayat Al Quran :” Kamu tidak dapat memberi hidayah (kepada) siapa saja yang kamu cintai, tetapi Allah-lah pemberi hidayah (kepada) siapa yang Ia kehendaki. Dan Ia telah mengetahui siapa yang menerima petunjuk.(QS 28:56). Anehnya Abu Thalib meninggal tiga tahun sebelum hijriah, sedangkan Abu Hurairah baru muncul dalam masyarakat Islam tujuh tahun setelah Hijriah, yakni 10 tahun setelah Abu Thalib wafat. Dan ia menyampaikan hadis itu sebagai saksi mata . Maka dapatlah dimaklumi apabila Mu’awiyah memberikannya sejumlah uang kepadanya untuk hadis tsb. Banyak sangat hadis Abu Hurairah seperti itu.

6. TERHILAFKAN/ TERKONTAMINASI KEDALAM KARYA2 BUKHARI DAN MUSLIM SEKIAN ABAD KEMUDIAN YANG MEREKA ANGGAP SAHIH :

A. Hadis-hadis Israiliyat banyak disampaikan Abu Hurairah. yang berakibat kehilafan manusiawi pengumpul hadis sekian abad kemudian seperti Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya antara lain meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan 60 hasta (27 m)” Dan tambahan via jalur Sa’id bin Musib :” Lebar badan Adam 7 hasta (dzira), yaitu 2,15 m”. Melalui jalur lain dengan lafal yang lain :” Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memeukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurtu bentuk-Nya”. Melalui jalur lain lagi , ada yang berbunyi :” Bila memukuil orang , hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata :” Mudah-mudahan Allah memburukan wajahmu”, sebab wajah Allah adalah SAMA dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membebntuk Adam menurut wajah-Nya.

B. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam sahihnya, dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Malaikat maut datsang kepad Musa dan bersabda :” Penuhilah kehendak Tuhanmu !”, maka Nabi Musa pun menampar mata malaekat Maut, sehingga biji mata Malaekat Maut keluar dari rongganya. Maka Malaekat Maut kembali kepada Allah dan berkata :” Sesungguhnya Engkau mengutus kepada hamba-Mu yang tiada menghendaki kematian dan ia mencopot mataku”. Maka Allah mengembalikan biji mata Malaekat Maut kedalam tempatnya semula. Dan berkata :” Kembalilah kepadanya dan katakan agar ia meletakan tangannnya diatas punggung seekor sapi , maka umurnya akan bertambah satu tahun untuk setiap bulu sapi yang melekat ditangannya”. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah :” Sesudah itu bagaimana ?”. Allah menjawab :” Sesudah itu mati”. Maka Musa bekata :” Jika demikian, maka lebih baik aku mati sekarang saja”. Ia lalu memohon kepada Allah agar ia didekatkan ke tanah suci, sejauh lemparan batu”.

C. Bukhari dan Muslim menulis dalam sahihnya berasal dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Bani Israil suatu ketika serdang mandi telanjang dan saling melihat aurat mereka. Dan Nabi Musa tidak akan mandi bersama mereka, karena (beliau malu) kemaluannnya besar, ia menderita hernia (burut).”. Suatu ketika Nabi Musa pergi mandi dan meletakan bajunya diatas batu , maka batu itupun berlari membawa bajunya . Dan setelah Musa menjamah bekas tempat batu itu , dia baru sadar dan melihat batu yang lari . Ia pun keluar dari tempat pemandiannnya dengan telanjang bulat dan mengejar batu itu, sambil berteriak :” Wahai batu , bajuku !! Wahai batu, bajuku !!”. Makam orang Israil pun melihat kearah kemaluan nabi Musa (pen : aneh, tak ada cerita insting menutupi dengan tangannya) dan berkata :” Demi Allah, Musa tidak menderita penyakit”. Maka batu itupun muncul kembali dari persembunyiannya, sehingga terlihat oleh Musa dan Musa lalu mengambil pakainnya . Ia kemudian menampar batu itu sehingga meninggalkan bekas pada enam atau tujuh tempat”.

D. Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Huarirah :” Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menciptakan Gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelak-jelek pada hari Selasa , menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan-hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam a.s pada hari Jumat, sesudah waktu Asar , sebagi ciptaan terakhir dan pada hari yang terakhir , serta saat yang terakhir, yaitu (waktu) diantara waktu Asar dan Malam”.

———————————————————-
NAH…INI DIA BUKTI YANG PENULIS CARI2, YANG MENYEMBUHKAN KEPALA YANG PUSING, MEMPERTANYAKAN KEGANJILAN BUNYI SUATU HADIS DALAM “SAHIH” BUKHARI DAN “SAHIH” MUSLIM. TERNYATA LABEL “SAHIH” TERSEBUT BUKANLAH ATAS KESEPAKATAN UMAT DAN ULAMA. TETAPI HANYA KEHENDAK ATAU KHILAF PRIBADI ATAU KEJAHILAN SEMENTARA ORANG…OK,
Semoga Allah SWT tetap melimpahkan rachmat dan hidayahnya kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim atas jerih payahnya selama ini dan semoga beliau di akhirat dapat menyaksikan generasi penerusnya “MEMBERSIHKAN” nama baik mereka…amin.
———————————————————-

============================================================================

simaklah hadis  masuk dengan merangkak di atas pantat mereka dan berkata, ‘Satu biji dalam sehelai rambut.’” ….

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dikatakan kepada Bani Israil, ‘Masuklah pintu gerbang sambil bersujud dan katakanlah, ‘Bebaskan kami dari dosa.’ (Al-Baqarah: 58). Lalu mereka mengganti. Mereka masuk dengan merangkak di atas pantat mereka dan berkata, ‘Satu biji dalam sehelai rambut.’”

Muslim meriwayatkan dengan lafadz, “Dikatakan kepada Bani Israil, ‘Masuklah pintu gerbang dengan bersujud dan ucapkanlah, ‘Bebaskanlah kami dari dosa.’ Niscaya kesalahanan kalian diampuni.  Lalu mereka mengganti. Mereka pun masuk gerbang dengan merangkak di atas pantat mereka. Mereka berkata, ‘Sebiji dalam sehelai rambut.’”

Takhrij Hadis

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab kisah Khidhir dengan Musa (6/436, no. 3403) dan dalam Kitab Tafsir di tafsir surat Al-Baqarah (8/164, no. 4479), dalam tafsir surat Al-A’raf (8/304, no. 4641). Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Tafsir (4/2312, no. 3015).

===================================================

Inilah  hadis  Nabi  Musa  lari telanjang….

Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah r.a berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Musa adalah seorang laki-laki yang pemalu dan menutup diri. Kulitnya tidak terlihat sedikit pun karena rasa malunya. Di kalangan Bani Israil terdapat orang-orang yang menyakitinya. Mereka berkata, ‘Musa tidak tertutup seperti itu kecuali karena cacat yang ada di kulitnya, bisa penyakit sopak, bisa karena kedua buah pelirnya besar atau penyakit lainnya.’

Dan sesungguhnya Allah berkehendak untuk membebaskan Musa dari segala tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Suatu hari Musa menyendiri. Dia melepas pakaiannya dan meletakkannya di atas sebuah batu, lalu dia mandi. Selesai mandi Musa menghampiri bajunya untuk mengambilnya dan memakainya, tetapi batu itu berlari membawa baju Musa. Maka Musa mengambil tongkatnya. Orang-orang melihat Musa telanjang dalam bentuk ciptaan Allah yang baik. Allah membebaskan Musa dari tuduhan yang mereka katakan. Batu itu berhenti, maka Musa mengambil bajunya dan memakainya. Musa mulai memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, pukulan tongkat Musa itu meninggalkan bekas di batu itu sebanyak tiga atau empat atau lima; dan itulah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakana. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Al-Ahzab: 69).”

Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Bani Israil mandi dengan telanjang, sebagian melihat kepada yang lain. Sementara Musa mandi sendiri. Mereka berkata, ‘Musa tidak mau mandi kepada kita kecuali karena dia itu memiliki buah pelir yang besar.’ Suatu hari Musa mandi dan dia meletakkan bajunya di atas batu. Tapi kemudian batu itu berlari membawa bajunya. Musa memburunya sambil berkata, ‘Bajuku wahai batu.’ Bani Israil pun melihat Musa. Mereka berkata, ‘Demi Allah, Musa tidak apa-apa.’ Lalu Musa mengambil bajunya dan memukuli batu itu.’” Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, pukulan Musa membekas di batu itu enam atau tujuh kali pukulan.”

Dalam riwayat ketiga dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Musa adalah seorang laki-laki pemalu. Itulah firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakana. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (Al-Ahzab: 69).

Takhrij Hadis

Hadis ini terdapat di dalam Shahih  Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, 6/436, no. 3404. Riwayat kedua oleh Bukhari dalam Kitabul Ghusli, bab orang mandi telanjang, 1/385, no. 278.

Riwayat ketiga terdapat dalam Shahih Bukhari dalam Kitab Tafsir, bab “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa.” (Al-Ahzab: 69), 8/534.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya dalam Kitabul Fadhail, 4/1841, bab keutamaan-keutamaan Musa; juga dalam Kitabul Haid, bab boleh mandi telanjang sendirian, 1/267, no. 339.

===========================================

Kredibilitas Abu Hurairah

BUKTi DUSTA ABU HURAIRAH
KEANEHAN ABU HURAiRAH DAN HADiS ASWAJA SUNNi

Seluruh sejarawan baik dari pihak syiah maupun sunni mengatakan bahwa ahlulbait Nabi tinggal bermukim di kota madinah. Mengapa sedikit sekali orang-orang Madinah yang katanya sunni itu mengambil hadis dari para Imam Ahlul Bait?.

Abdullah bin Umar tidak mau membaiat Ali di kemudian hari, malah membaiat Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf. Keduanya membuat hadis hadis yang memojokkan Ali…Abu Hurairah menyampaikan 5374 hadis, Ibnu ‘Umar 2630, Anas bin Malik 2286 dan ‘A’isyah 2210.

Sebagai perbandingan, maka seluruh hadis yang disampaikan Abu Bakar selama 20 tahun pergaulannya dengan Rasul, hanya diperoleh Abu Hurairah dalam 16,7 hari duduk di Shuffah setelah ia menganut Islam, Umar dalam 63,1 hari, Utsman dalam 17,1 hari, Ali dalam 68,9 hari, Thalhah bin Ubaidillah dalam 4,4 hari, Salman atFarisi dalam 7 hari, Zubair bin ‘Awwam dalam 1,1 hari, Abdurrahman bin ‘Auf dalam 1 hari.

Penghuni shuffah yang lain seperti Hajjah bin Amr alMazini a IAnshari
Hajjah bin Amr alMazini atAnshari, Hazib bin Armalah, Tinkhafah bin alQais alGhifari, Zaid bin Khaththab alAdawi, Abdullah bin Qaridzah alTumali dan Furat bin Hayyan bin alAli masingmasing hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis. Safinah, sahaya Rasul Allah saw meriwayatkan 14 hadis, satu hadis diriwayatkan oleh Muslim. Syarqan, juga sahaya Rasul Allah saw hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis dan diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Dan seluruh hadis hadisnya baru diucapkannya hampir 30 tahun sesudah Rasul Allah saw wafat sebagaimana pengakuannya, karena sekembalinya, dari Bahrain dia tidak diperkenankan mengobral hadisnya.

Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan keutamaan Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para Sahabat lain.

Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar. Kaum dari klan adDaus, klan Abu Hurairah, dan kaum al’ Asy’ari mendatangi Rasul Allah tatkala Rasul berada di Khaibar

Beliau adalah seorang yang paling banyak meriwayatkan hadith Rasulullah SAWA sedangkan beliau tidak tahu membaca dan menulis. Sebagaimana beliau sendiri menyatakannya. Dan kenyataannya itu dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya:”Aku menghadiri satu majlis Rasulullah SAWA…..”Beliau bersabda:”Sesiapa yang membentangkan kainnya sehingga aku melaksanakan bacaanku (doaku), kemudian ia memegangnya kembali, nescaya dia tidak akan melupai sesuatu yang ia dengarnya daripadaku, oleh itu aku membentangkan kainku (burdah) ke atasku sehingga beliau melaksanakan bacaannya (doanya), kemudian aku memegangnya kembali. Demi orang yang diriku ditanganNya. Aku tidak melupai sesuatu yang aku dengar daripadanya.”[1]

Persoalan yang timbul, di manakah tawaran ini dibuat oleh Rasulullah SAWA dan kenapa sahabat-sahabat lain tidak berlumba-lumba bagi mendapatkan keistimewaan ini? Adakah mereka mengesyaki dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAWA? Tentu tidak sekali! Atau mereka tidak mempunyai kain untuk dibentangkan (di hadapan Rasulullah SAWA) sebagaimana ianya telah dibentangkan oleh Abu Hurairah? Bolehkah kita mengemukakan soalan-soalan sedemikian rupa? Atau ianya tidak diizinkan?

Mengapa koleksi Hadis Abu Hurairah banyak? Ini bukan karena kuatnya hafalan maupun dia pemburu Hadis. Ini karena banyaknya Hadis yang periwayatannya disandarkan kepada Abu Hurairah. Mengapa? Karena, Abu Hurairah menjabat gubernur yang tepercaya di masa pemerintahan Bani Umayyah. Pada masa itu terjadi konflik besar antara pengikut Bani Umayyah dan Ali bin Abu Thalib. Di dalam konflik itulah berhamburan Hadis dari pihak-pihak yang konflik, sehingga Bukhari menemukan 600 ribu Hadis, Ahmad menemukan lebih dari sejuta Hadis.

Misalnya, seperti yang sudah sering diungkapkan, kenapa Abu Hurairah yang hanya bergaul dengan Nabi dalam waktu yang singkat meriwayatkan banyak sekali hadis, jauh lebih banyak dari Abu Bakar dan Umar

salah satu hadis Abu hurairah dalam Mustadrak Al Hakim jilid 4 hal 38 berikut yang menentukan kualitas kepribadiannya Abu hurairah menceritakan “saya menemui Ruqayyah putri Nabi saw istri utsman ketika dia sedang memegang sisir di tangannya. Dia berkata “Nabi saw baru saja pergi setelah saya menyisir rambutnya, ia berkata kepadaku “bagaimana kamu mendapati Abu abdillah (utsman)?”. Aku berkata “baik”.
Dia pun melanjutkan “muliakanlah ia, karena ia adalah sahabat yang akhlaknya paling mirip denganku”.

Al Hakim mengatakan kalau hadis ini sanadnya shahih

Komentar :
matannya PALSU karena Ruqayyah meninggal pada tahun ke-3 H saat perang Badar sedangkan Abu hurairah memeluk islam setelah kemenangan Khaibar pada tahun ke-7 H. Hadis di atas mengatakan kalau Abu hurairah mengaku bertemu dan berbicara dengan Ruqayyah padahal jauh sebelum dia datang kepada Nabi, Ruqayyah telah meninggal dunia. Bagaimana bisa Abu hurairah mengatakan hal yang dusta seperti ini. Inikah kualitas kepribadian Abu hurairah, masihkah perlu bertanya, mengapa Abu hurairah digugat?.

Atau kita kembali ke zaman-zaman yang silam, dengan mendiamkan diri kerana takut jatuh di dalam kezindiqan atau tidak ada di sebaliknya (zindiq) selain daripada pedang, seksaan atau sebagainya!

Al-Khatib al-Baghdadi menceritakan satu peristiwa di mana hadith Abu Hurairah disebut di hadapan Harun al-Rasyid:”Sesungguhnya Musa berjumpa Adam dan bertanya:”Adakah anda Adam yang telah mengeluarkan kami dari syurga? Seorang lelaki Quraisy bertanya:”Di manakah Adam berjumpa denga Musa?” Lalu Harun al-Rasyid memarahinya dan berkata:”Seksaan atau pedang (pembunuhan). Ini adalah seorang kafir zindiq sedang mencaci hadith Rasulullah SAWA.”[2]

Dari sini kita dapati betapa besar dan bahayanya perkara ini. Lelaki tadi bertanya tentang tempat berjumpa Musa dengan Adam supaya ianya menjadi lebih jelas kepadanya. Mungkin dia tidak tahu akibatnya, lalu dia dituduh dengan zindiq. Kerana dia meminta penjelasan tentang kesulitan yang terdapat di dalam hadith Abu Hurairah, kemudian dia dituduh pula mencaci hadith Rasulullah SAWA.

Bagaimana pula jika dia meminta penjelasan tentang hadith Abu Hurairah yang telah dikeluarkan oleh Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari dan Muslim:

Terjemahan:”Sesungguhnya Neraka Jahannam tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kakiNya, maka Neraka Jahannam berkata:”cukup, cukup.”[3]

Sekiranya begitu, adalah menjadi satu kesalahan bagi setiap Muslim yang membersihkan Allah Ta’ala daripada sifat tersebut dengan mempersoalkan hadith tersebut, kerana ianya mengikut mereka, adalah mencaci Abu Hurairah, dan mencaci Abu Hurairah adalah mencaci Rasulullah SAWA.

Bagaimana pula jika dia ingin meminta penjelasan mengenai tempat di mana Allah turun di langit dunia ketika tinggal 1/3 (akhir) malam. Abu Hurairah meriwayatkan hadith tersebut kemudian ianya dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim dan Ahmad bin Hanbal.[4]

Tujuan kami ialah mengemukakan hadith-hadith Abu Hurairah yang meragukan kerana bilangan hadithnya terlalu banyak sehingga mendatangkan syak tentang kebenarannya. Sedangkan beliau adalah seorang yang buta huruf, tidak boleh membaca dan menulis. Beliau baru masuk Islam, dan sahabat yang paling sedikit bersama Rasulullah SAWA. Beliau menceritakan peristiwa-peristiwa yang dia sendiri tidak berada di tempatnya.

Di antaranya beliau menceritakan bahawa Nabi SAWA terlupa di dalam sembahyangnya (sedangkan beliau bersih daripada itu).[5]

Abu Hurairah berkata:”Rasulullah sembahyang Zuhr atas Asr bersama kami dalam dua raka’at, maka Dzul Yadain bertanya adakah anda mengurangkan sembahyang atau anda terlupa?
Muslim mengeluarkan hadith tersebut dengan lafaz:”Manakala aku (Abu Hurairah) sembahyang bersama Rasulullah SAWA…..”

Hadith tersebut menunjukkan Abu Hurairah bersama di dalam peristiwa tersebut. Apa yang tidak syak lagi bahawa Abu Hurairah masuk Islam selepas peperangan Khaibar dalam tahun 7 Hijrah. Dan kewafatan Dzul Yadain di dalam peperangan Badr di dalam tahun kedua Hijrah. Mereka (penyokong Abu Hurairah) cuba mencari titik persamaan di dalam hadith tersebut, tetapi mereka tidak dapat jawapan yang memuaskan.[6]

Abu Hurairah juga menceritakan tentang Ruqaiyah binti Rasulullah SAWA di mana beliau berjumpa dengannya dan bertanyakan kepadanya mengenai kelebihan Uthman.[7]

Ruqaiyah meninggal dunia sebelum Islam Abu Hurairah pada tahun ketiga Hijrah. Begitu juga beliau tidak hadir di Madinah dan beliau bercakap perkara-perkara yang beliau dakwa, beliau telah menyertainya sebagaimana katanya:”Aku bersama Ali AS, ketika Nabi SAWA mengutusnya dengan Surah al-Bara’ah.”[8]

Di mana di tempat yang lain pula beliau berkata:”Aku bersama Abu Bakr,”sedangkan sejarah memberi penyaksian bahawa beliau tidak pernah hadir di Madinah, kerana beliau menjadi bilal di Bahrain.”
Kami telah kemukakan beberapa contoh percanggahan yang di dapati di dalam riwayat-riwayat Abu Hurairah.

Apabila kami meneliti dan menolak riwayat yang tidak betul, maka itulah yang diwajibkan oleh Islam dan diakui oleh akal.

Walau bagaimanapun Abu Hurairah menduduki tempat pertama orang yang terbanyak meriwayatkan hadith. Oleh itu menilai kembali hadith-hadith yang begitu banyak, tidaklah bermakna mencaci hadith Rasulullah SAWA. Lantaran itu ianya pula tidak boleh sama sekali dikatakan bahawa Syi’ah tidak langsung berpegang kepada hadith-hadith sahabat.

Di sini kami tidak mahu membincangkan hadith Abdullah bin Umar dan pengkhususannya yang membuatkannya menduduki tempat kedua selepas Abu Hurairah. Abdullah bin Umar meriwayatkan 2630 hadith [9] di mana orang yang paling tua, dan paling rapat bergaul dengan Nabi tidak dapat berbuat demikian. Beliau berumur 20 tahun manakala Nabi SAWA meninggal dunia. Banyaknya hadith yang diriwayatkan oleh beliau telah melahirkan tandatanya sebagaimana di sana terdapat beberapa perkara yang menegah kami dari menerima kebanyakan riwayat-riwayatnya.[10] Dan tawaqquf (tidak menerima dan menolak) terhadap riwayatnya, tidak membawa cacian kepada sahabat. Kami tidak mahu meminta maaf kerana menolak hadith-hadith beliau, apabila kami dapati hakikatnya yang sebenar. Tetapi rekod-rekod mengenai perbuatan beliau, adalah cukup untuk mendedahkan hakikat tersebut.[11] Kami akan tutup perbincangan dengan panjang lebar mengenainya (di sini) kerana ingin meringkaskannya. Kami akan membincangkan secara terperinci mengenainya di tempat yang lain.

Adapun Umm al-Mu’mimin Aisyah, kami tidak ingin membincangkan kehidupan dari awal hingga akhir, kerana ianya akan terkeluar daripada tajuk buku ini.[12] Tetapi apa yang kami mahu ialah perbincangan mengenai hadithnya secara ringkas, kerana personalitinya mempunyai kedudukan di dalam masyarakat dan kesan kepada Tasyri’ Islami. Beliau mengatasi isteri-isteri Nabi SAWA yang lain di dalam meriwayatkan hadith.

Nota Kaki:
1. Ahmad bin Hanbal, XII, hlm.72; Ibn Qutaibah menceritakan di dalam bukunya Ta’wil Fil Mukhtalaf al-Hadith, hlm.27, bahawa Nizam berkata:”Umar, Uthman, Ali AS, dan Aisyah menolak riwayat Abu Hurairah; Ibn Kathir, Tarikh, XIII, hlm.105

2. Tarikh Baghdad, XIV, hlm.7

3. Ahmad bin Hanbal, Musnad, III, hlm.314; al-Bukhari, Sahih, III, hlm, 127; Muslim, Sahih, II, hlm.482

4. Al-Bukhari, Sahih, IV, hlm.68, I, hlm.136; Muslim, Sahih, I, hlm, 283; Ahmad bin Hanbal, Musnad, II, hlm.258

5. Jika sekiranya Nabi SAWA terlupa, ini bermakna beliau mungkin tidak melaksanakan sebahagian yang diperintahkan kepadanya. Oleh itu perutusannya tidak mencapai maksud dan ianya akan menjauhkan orang ramai dari mendekatinya. Dan ianya bertentangan dengan Surah 107:4-5.

6. Hasyiah Ibn Abidin ‘Ala al-Dur al-Mukhtar, I, hlm. 643; al-Bukhari, Sahih, II, hlm.163; Muslim, Sahih, II, 309, telah mencatatkan hadith Abu Hurairah yang menceritakan bagaimana Nabi Musa AS telah menampar Izrail, lalu mencederakan sebiji matanya. Tindakan itu adalah disebabkan Izrail ingin mengambil nyawanya dan tidak disetujui oleh Nabi Musa AS pada ketika itu.

7. Al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm.48

8. Nasai, Sahih, Bab al-Hajj, IV, hlm.150. Lihat Bukhari, Sahih 3, hlm.48 tentang dakwaan beliau berada di Khaibar tetapi dia tidak ada.

9. Ini bermakna Abdullah bin Umar telah meriwayatkan hadith lebih banyak daripada Khalifah empat sebanyak 1219 hadith kerana mereka hanya meriwayatkan sebanyak 1411 hadith. Dan beliau meriwayat lebih daripada bapanya sebanyak 2093 hadith kerana bapanya hanya meriwayatkan 537 hadith sahaja.

10. Al-Bukhari telah mencatatkan sebuah hadith riwayat Abdullah bin Umar mengenai cara Nabi SAWA “membuang air”(kecil atau besar). Abdullah bin Umar berkata: Aku memanjat artaqaitu di atas rumah Hafsah, maka aku melihat Nabi SAWA sedang membuang air dalam keadaan membelakangi Qiblat, menghadap ke arah Syam, al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 117. Ini adalah bertentangan daripada apa yang dipersetujui umum bahawa Nabi SAWA melarang membuang air mengadap atau membelakangi Qiblat. Oleh itu ianya pasti tidak dilakukan oleh Nabi SAWA kerana terbukti betapa bertentangannya larangan Nabi dan perbuatannya. Demi menjaga Abdullah bin Umar, sebahagian ulamak berpendapat bahawa ianya adalah khusus untuk Nabi SAWA. Mereka tidak berani mengatakan bahawa riwayat Abdullah bin Umar itu adalah palsu kerana mereka mahu menjaga sahabat iaitu Abdullah bin Umar dan tidak mahu menjaga Nabi SAWA.

11. Ibn Athir, al-Kamil, I, hlm.199, menyatakan bahawa manakala Muawiyah berazam supaya Yazid dibai’ahkan, dia memberi 100 ribu dirham kepada Abdullah bin Umar, dan dia menerimanya. Manakala Muawiyah menyebut sahaja tentang bai’ah Yazid,”Abdullah bin Umar berkata: Inilah yang aku kehendaki….Apa yang anehnya ialah Abdullah bin Umar mengetahui tentang kefasikan dan kejahatan Yazid. Tetapi dia masih meminta keluarganya supaya memberi bai’ah kepada Yazid sekalipun ia (Yazid) adalah seorang pemabuk, pembunuh Husayn AS, dan lain-lain.

12. Asad Haidar, Aisyah Wa al-Tasyri’, Beirut, 1968.

Saudaraku ….

Mengapa koleksi Hadis Abu Hurairah banyak? Ini bukan karena kuatnya hafalan maupun dia pemburu Hadis. Ini karena banyaknya Hadis yang periwayatannya disandarkan kepada Abu Hurairah. Mengapa? Karena, Abu Hurairah menjabat gubernur yang tepercaya di masa pemerintahan Bani Umayyah. Pada masa itu terjadi konflik besar antara pengikut Bani Umayyah dan Ali bin Abu Thalib. Di dalam konflik itulah berhamburan Hadis dari pihak-pihak yang konflik, sehingga Bukhari menemukan 600 ribu Hadis, Ahmad menemukan lebih dari sejuta Hadis.

Misalnya, seperti yang sudah sering diungkapkan, kenapa Abu Hurairah yang hanya bergaul dengan Nabi dalam waktu yang singkat meriwayatkan banyak sekali hadis, jauh lebih banyak dari Abu Bakar dan Umar

==================================================================================

Hadis Isra’ilyiat dan Khurafat Abu Hurairah

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadishadis isra’iliyat, seperti Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah, setan lari sambil kentut mendengar suara azan, Nabi Sulaiman yang mengancam akan membelah bayi yang diperebutkan dua orang ibu, Allah menaruh kakinya ke neraka, Nabi Sulaiman yang meniduri tujuh puluh wanita dalam semalam tapi hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia, Nabi yang membakar sarang semut karena digigit seekor semut.

Hadis Nabi Isa akan turun membunuh babi (apa salahnya babi?), awan yang bicara, sapi dan serigala berbicara bahasa Arab, Allah yang marah sekali dan tidak akan pernah lebih marah lagi seperti itu, yang diucapkan Adam karena dia melanggar perintah Allah. Sedikit di antaranya yang merupakan cuplikan dari buku Mahmad Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, dan beberapa buku lain perludikemukakan disini.

Hadis Bentuk Adam Seperti Allah

Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah: “Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan enam puluh hasta (27 meter).” Dan jalur Said bin Musayyib, lebar badan Adam tujuh hasta (dzira), yakni 3,15 meter.” 226

Melalui jalur lain, dengan lafal yang lain, “Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurut bentukNya.” Melalui jalur lain lagi, ada yang berbunyi: “Bila memukul orang, hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata, ‘Mudahmudahan Allah memburukkan wajahmu!’ sebab wajah Allah adalah sama dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membentuk Adam menurut bentukNya”.
227

Hadis Musa as Menampar Malaikat

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah: “Rasul bersabda: Malaikat Maut datang kepada Musa dan bersabda: ‘Penuhilah kehendak Tuhanmu!’ Maka Nabi Musa pun menampar mata Malaikat Maut, sehingga biji mata Malaikat Maut keluar dari rongganya. Maka Malaikat Maut kembali kepada Allah dan berkata: ‘Sesungguhnya Engkau mengutusku kepada hambaMu yang tiada menghendaki kematian, dan ia mencopot mataku’.
Maka Allah mengembalikan biji mata Malaikat Maut ke dalam tempatnya semula, dan berfirman: ‘Kembalilah, dan katakanlah. kepadanya agar ia meletakkan tangannya di atas punggung seekor sapi, maka umurnya akan bertambah satu tahun untuk setiap bulu sapi yang melekat di tangannya’. Nabi Musa lalu bertanya kepada Allah: ‘Sesudah itu bagaimana? Allah menjawab: ‘Sesudah itu mati’. Maka Musa berkata: ‘Jika demikian, maka lebih baik aku mati sekarang saja’. Ia lalu memohon kepada Allah, agar ia didekatkan ke tanah suci, sejauh lemparan batu”. 228

224 AlHakim, alMustadrak,jilid 2, hlm. 623, berasal dari rangkaian yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq.

225 Bukhari dalam AtTarikh AshShaghir dari jalur ‘Ali bin Yazid; Abu Nu’aim, Dala’il AnNubuwwah, jilid 1 hlm. 6; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikhnya, jilid 1, hlm. 275; Ibn AbilHadid, Syarh Nahju’lBalaghah, jilid 3, hlm. 315; Ibnu Katsir dalam Tarikhnya, jilid 1, hlm. 266; Ibnu Hajar, ‘Ishabah, jilid 4, hlm. 115; alQasthalani,
alMawahib adDiniyyah, jilid 1, hlm. 518 yang dipetik dari Tarikh Bukhari; Diyar Bakri, Tarikh alKhamis, jilid 1, hlm. 254.

226 Bukhari, Shahih, kitab “I’tizam, jilid 4, hlm. 57; Muslim, Shahih, bab “Masuk Surga”, jilid 2, hlm. 481.

227 Bandingkan, misalnya, dengan ayat AlQur’an, Tiada sesuatu serupa Ia (AlQur’an, 42:11); Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata (AlQur’an, 6:103); Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan. ( AlQur’an, 37:159).

————-

Hadis Nabi Musa as Telanjang Mengejar Batu yang Lari

Bukhari dan Muslim menulis dalam Shahihnya yang berasal dari Abu Hurairah: “Rasul bersabda: Banu Isra’il, suatu ketika, sedang mandi telanjang, dan saling melihat aurat mereka. Dan Nabi Musa as sedang mandi sendirian. Dan mereka berkata: ‘Demi Allah Musa tidak akan mandi bersama kami, karena kemaluannya besar; ia menderita burut’. Suatu ketika Musa pergi mandi dan meletakkan bajunya di atas batu, maka batu itu pun lari membawa bajunya. Dan setelah Musa menjamah bekas tempat batu itu, baru ia sadar dan melihat batu yang lari. Ia pun keluar dari tempat permandiannya dengan telanjang bulat mengejar batu itu, sambil berteriak: ‘Wahai batu, bajuku! Wahai batu, bajuku!’ Maka orang Isra’il pun melihat ke arah kemaluan Musa dan berkata: ‘Demi Allah, Musa tidak menderita penyakit’. Maka batu itu pun muncul kembali dari persembunyiannya, sehingga terlihat oleh Musa, dan Musa lalu mengambil pakaiannya. Ia kemudian menampar batu itu, sehingga meninggalkan bekas, pada enam atau tujuh tempat”. 229

Hadis Allah Mencipta Adam Hari Jum’at Sesudah Ashar

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah: “Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, dan menciptakan gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelek jelek pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewanhewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam as pada hari Jumat, sesudah waktu asar, sebagai ciptaan terakhir dan pada hari terakhir, serta saat yang terakhir, yaitu di antara waktu asar dan malam”. 230

Hadis Keutamaan Sahabat, Neraka Berdebat Dengan Surga, Abu Bakar Penghias Surga,Tulisan di Langit: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’

Abu’lFaraj Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Rasul Allah menceritakan kepada saya: Surga dan neraka saling membanggakan diri. Neraka berkata kepada surga: ‘Kedudukanku lebih agung dari kedudukanmu. Di tempatku berdiam. Fir’aun, rajaraja dan penguasa yang jahat serta keluarga mereka’. Lalu Allah mewahyukan kepada surga, agar mengatakan kepada neraka: ‘Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

Abul Abbas alWalid bin Ahmad alJauzini menyampaikan dari Abu Hurairah: ‘Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar memiliki sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintupintu itu, berhembus angin rahmat. Di luar kubah terdapat pengampunan Allah, dan di dalam kubah terdapat keridaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah, maka pintu akan terbuka, dan dia dapat melihat Allah’.

Ibnu Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Aku mendengar Rasul Allah bersabda: ‘Tatkala aku mikraj ke langit, aku tiada menemui sesuatu di langit, kecuali aku bertemu dengan tulisan: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’.

Hadis Sapi dan Serigala Berbahasa Arab

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Setelah shalat subuh, Rasul Allah menghadap orang banyak lalu bersabda: ‘Tatkala seorang sedang menggembalakan sapinya, ia telah menunggangi dan memukulnya dan tibatiba sapi itu berkata: ‘Kami tidak diciptakan untuk diperlakukan seperti ini. Kami diciptakan untuk membajak’. Maka orang orang berkata: ‘Subhanallah! Sapi bicara (bahasa Arab)’. Maka Rasul saw bersabda: ‘Sesungguhnya aku percaya akan hal ini, juga Abu Bakar dan Umar’. Padahal (lanjut Abu Hurairah) Abu Bakar dan Umar tidak hadir di antara kami. Lalu Rasul Allah saw bersabda (lagi): ‘Dan tatkala seseorang sedang menggembalakan kambingnya, ia bertemu dengan seekor serigala yang melarikan seekor kambingnya. Ia lalu mengejar dan hampir dapat merebutnya dari serigala, tapi tiba tiba serigala itu berkata; ‘Ini, engkau hendak merebutnya dari aku? Bukankah hari ini hari binatang buas (sabu), hari yang tiada orang boleh menggembala, kecuali diriku?’ Maka orang orang pun berkata: ‘Mahasuci Allah. Serigala bicara’. Maka Rasul bersabda: ‘Sesungguhnya aku percaya akan cerita ini; aku, Abu Bakar dan Umar’. Padahal mereka berdua, Abu Bakar dan Umar, (kata Abu Hurairah), tidak hadir di antara kami’. 231

Hadis Syair Atau Sajak Abu Hurairah

Abu Hurairah berkata: ‘Rasul Allah bersabda: ‘Adalah lebih baik mengisi perut seorang dengan nanah daripada mengisinya dengan syair’. (Bukhari dan Muslim). Hadis ini bertentangan dengan kenyataan bahwa Rasul menyukai syair.

Ubay bin Ka’b menyampaikan bahwa Rasul Allah
bersabda: ‘Dalam syair terdapat hikmah’. Dan riwayat dari Abi Dawud: ‘..ada hikmah dalam syair’.

Dan dalam riwayat lain: ‘Sesungguhnya dalam syair itu terdapat hikmah’. Dan Rasul meminta diperdengarkan syair Umayyah bin Abi ashShalt, seperti diceritakan oleh ‘Amr bin Syarid dari ayahnya yang berkata: ‘Suatu ketika aku mengikuti Rasul Allah dan ia bersabda: ‘Apakah Anda menyimpan syair Umayyah Ibnu Abi AshShallt?” Dan aku menjawab: ‘Ya’. Dan Rasul Allah
bersabda: ‘Coba!’ Dan aku memperdengarkan kepada beliau seratus bait (syair)”.

Dan diriwayatkan oleh Muslim, tatkala Rasul Allah mendengar bagian syair yang terkenal:
Derita di padang pasir akan datang karena kau bebal
Berita ‘kan datang padamu dari kelana tak berbekal
Beliau bersabda bahwa dalam syair di atas terkandung kalimah nubuat. Dan diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Nabi bersabda: ‘Benar dalam katakata penyair ini terdapat hikmah: Bukankah segala, selain Dia, lenyap selalu Dan segala nikmat sekejap pasti ‘kan berlalu’.

Dan Rasul Allah mengizinkan penyair Hassan bin Tsabit untuk berhujah dengan kaum musyrikin dengan katakata: ‘Sesungguhnya Roh Suci selalu akan memberi inspirasi kepadamu selama engkau membela (keagungan) Allah dan Rasulnya’ (Muslim).

Dan diriwayatkan oleh Bukhari: ‘Berhujahlah dengan mereka dan Jibril bersamamu’. Dan puluhan ayat AlQur’an menyerupai syairsyair yang indah, seperti ayatayat berikut: Fa man tazakka fa innama yatazakki li nafsihi Barang siapa bersuci diri Ia hanya bersuci dirinya sendiri 232

Wa jifanin kal jawabi wa qudurin rasiyitin Dan piringpiring sebesar anak tambak serta periukperiuk yang tidak beranjak 233

Hadis Allah SWT Turun ke Langit Dunia

Abu Hurairah: Rasul Allah saw bersabda: ‘Allah ta’ala tiap malam turun ke langit dunia pada sepertiga akhir malam dan berseru: ‘Barangsiapa yang berdoa kepadaKu niscaya akan Kukabulkan, dan barangsiapa yang meminta akan Kuberikan, dan barangsiapa yang memohon pengampunan akan Kuampuni.” (Bukhari dan Muslim).

Karena tiap detik dimuka bumi ini separuh bola bumi melewati malam hari, maka Tuhan selalu berada, di ‘langit dunia’ (asSama’ addunya) dan selalu berfirman seperti dikatakan oleh Abu Hurairah.

Hadis Sungai Nil Dan Efrat Adalah Sungai Dari Surga
Diriwayatkan oleh Muslim dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasul Allah saw bersabda:‘Sungai Nil dan Sihan dan Jihan dan Furat adalah sungaisungai di Surga’ dan riwayat ini disampaikan juga oleh Ka’b alAhbar yang berbunyi: ‘Ada empat sungai di Surga yang diletakkan di dunia oleh Allah yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, yaitu Nil; Sungai Madu di Surga, dan Furat; Sungai Minuman Keras, dan Sihan; Sungai Air, serta Jihan; Sungai Susu di dunia! 234

Hadis ‘Tiada Penyakit Menular’ dari Abu Hurairah

Abu Hurairah berkata: Rasul Allah saw bersabda: ‘Tidak ada tular menular, tidak ada shafar (penyakit kuning) dan tidak juga ada hama. Maka bertanyalah seorang Arab: ‘Ya Rasul Allah, mengapa untaku yang berada di lapangan (yang sehat dan gesit) seperti kijang, tibatiba menderita penyakit, setelah unta yang berpenyakit masuk di tengah untauntaku?’.

Nabi saw bertanya: ‘Lalu siapakah yang menulari unta yang pertama (tadi)?’ (Bukhari dan Muslim). Sedang di pihak lain para ulama mengenal hadis termasyhur dari Usamah bin Zaid, bahwa Rasul Allah telah bersabda: ‘Bila kamu mendengar adanya wabah penyakit pes (tha’un) di suatu daerah, maka jangan masuki daerah itu; dan bila telah terjadi (wabah) dan kamu berada di dalamnya maka janganlah kamu keluar (dari daerah tersebut)!’ Hadis di atas telah disampaikan juga oleh Abdurrahman bin ‘Auf. Dan karena kedua hadis tersebut, Umar bin Khaththab, tatkala suatu ketika pergi ke Syam dan mengetahui bahwa negeri tersebut terserang wabah, ia segera kembali bersama rombongannya.

Hadis Abu Hurairah Tentang Lalat, Perang Lalat Diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda: ‘Bila lalat jatuh ke dalam bejana maka benamkanlah seluruhnya karena sayapnya yang sebuah
mengandung penyakit (da’) dan yang satu lagi mengandung obat (syifa’)’. Di tempat lain: ‘yang sebelah mengandung racun (samm) dan yang satu lagi obat (syifa), dan ia mendahulukan (sayap yang mengandung) racun dan mengakhirkan (sayap yang mengandung) obat’. Dan di bagian lain ‘di bawah sayap kanan lalat terdapat obat dan di bawah sayap kiri terdapat racun, dan bila jatuh ke dalam bejana (ina’) atau ke dalam minuman (syarab) atau ke dalam kuah (maraq) maka benamkanlah karena dengan demikian ia akan mengangkat sayap yang di bawahnya mengandung obat dan melindungi sayap yang di bawahnya mengandung racun’.

Hadis ini telah menyusahkan para da’i yang membaca hadis Bukhari, karena tidak ada orang yang mengerti ilmu kesehatan yang akan menerima hadis ini tanpa menimbulkan pertentangan dalam dirinya. Penolakan terhadap hadis ini telah menimbulkan perdebatan sengit dalam majalah ‘Liwa’ alIslam’ di Mesir pada masa lalu. Perdebatan tentang ‘Hadis Lalat’ ini terkenal dengan nama ‘Perang Lalat’ (Ma’rikah azDzubab).

Yang membela hadis ini memperkuat dalilnya dengan mengatakan bahwa
hadis ini shahih karena dimuat dalam Bukhari, dan yang lain beralasan bahwa hadis mengenai ‘kerakusan’ seperti itu yang bertentangan dengan ilmu dan karena lalat yang menjadi sumber penularan banyak penyakit.

Hadis Pundipundi

Abu Hurairah Abu Hurairah berkata: ‘Aku tertimpa tiga musibah dalam Islam. Tiada peristiwa yang menimpaku seperti itu. Wafatnya Rasul Allah dan aku adalah sahabatnya, dibunuhnya Utsman dan almizwad’.

Orangorang bertanya: ‘Dan apa itu ‘almizwad’ ya Abu Hurairah?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Kami bersama Rasul Allah dalam perjalanan dan Rasul Allah bersabda: ‘Ya Abu Hurairah! Adakah sesuatu padamu?’. Aku berkata: ‘Ada kurma dalam pundipundi (mizwad)!’.

‘Bawa kemari!’ sabda Rasul Allah. Dan tatkala aku mengeluarkan kurma dari dalam pundipundi, ia mengusap dan berdoa ke dalamnya kemudian bersabda: ‘Panggilkan sepuluh orang!’ Dan orangorang makan sampai kenyang dan demikianlah seterusnya sehingga seluruh pasukan (kenyang dengan kurma). Dan masih ada kurmaku dalam pundipundi. Dan Rasul Allah bersabda: ‘Bila engkau ingin mengambil sesuatu dari dalamnya, masukkanlah tanganmu dan jangan engkau membocorkannya’. Abu Hurairah berkata: ‘Dan aku makan dari pundipundi tersebut selama Rasul Allah hidup dan aku makan dari dalamnya selama seluruh hidup Abu Bakar dan aku makan dari isinya selama seluruh hidup Umar, dan aku makan dari dalamnya selama seluruh hidup Utsman dan tatkala Utsman dibunuh hilanglah milikku dan hilanglah juga punditpundi itu’. Tahukah kamu berapa banyak aku makan dari dalamnya? Aku telah makan dari dalamnya berlipat ganda dari enam puluh gantang’.

Dalam hadis ini Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasul Allah makan dari pundipundinya setelah mengusapnya dan memberi makan seluruh anggota pasukannya. Dalam riwayatnya yang lain yang dimuat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal yang dimiliki Abu Hurairah bukanlah pundipundi atau kantong makanan (mizwad), tetapi miktal (keranjang). ‘Rasul Allah memberikan sedikit kurma kepadaku dan aku memasukkannya ke dalam keranjang dan kami menggantungnya di loteng rumah dan kami terus makan dari dalamnya sampai berakhir tatkala keranjang itu dibinasakan oleh penduduk Syam yang menyerbu Madinah, yaitu pasukan Busr bin Arthat yang dikirim Mu’awiyah menakutnakuti penduduk Madinah dan Makkah dan selama pasukan Mu’awiyah menyerang punditpundi ini Mu’awiyah harus menggantinya dan telah terlaksana. Dan Mu’awiyah mengganti dengan sesuatu yang banyak’.

Bila dalam riwayat Ahmad bin Hanbal Abu Hurairah menceritakan tentang pundipundi atau keranjang yang digantung di loteng rumah, maka riwayat Abu Hurairah yang dicatat oleh Dzahabi dalam Sair alA’lam pundipundi itu tergantung di pinggangnya: ‘Abu Hurairah berkata: Aku kurma ini, ya Rasul Allah!’. Maka dia bersabda: ‘Ambillah kurmakurma itu dan masukkanlah ke dalam pundipundi, dan andaikata engkau ingin mengambilnya masukkanlah tanganmu ke dalamnya dan jangan sekalikali membuatnya berserakan!. Abu Hurairah berkata: ‘Dan aku mengambil dari kurma tersebut sejumlah wasaq (wasaq = yang mampu diangkut seekor unta = enam puluh gantang) untuk keperluan agama (fi sabilillah).

Dan dari situlah kami makan dan menikmatinya dan pundipundi itu tergantung di pinggangku dan tidak terpisah dari pinggangku sampai Utsman terbunuh’. Lalu tatkala Abu Hurairah kelaparan di Shuffah sebagaimana diceritakannya sendiri dan diceritakan ummu’lmuminin Aisyah tatkala ia mendatangi para sahabat dari rumah ke rumah untuk minta makan, di manakah pundipundi
Abu Hurairah itu?

231 Bukhari, dalam Shahihnya, jilid 3, hlm. 316.

232 AlQur’an, Fathir (XXXV), 18.

233 AlQur’an, Saba’ (XXXIV), 13.

234 Lihat “AnNujum azZahirah, jilid 1, hlm. 34, Mahmud Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, hlm. 94, lihat juga Perjanjian Lama, Kejadian (Genesis), ayat 10.

228 Muslim dalam Shahih, melalui banyak jalur, yang berasal dari Abu Hurairah, dalam bab “Keutamaan Musa.” dari Kitab “Fadha’il”, jilid 2, hlm. 309; Bukhari dalam Shahihnya, bab “Wafatnya Musa”, dalam kitab “Penciptaan”, jilid 2, hlm. 163.

229 Muslim dalam Shahihnya, yang berasal dari Abu Hurairah, dengan banyak jalur, bab Fadha’il Musa, jilid 2, hlm. 308; Bukhari, dalam Shahihnya,jilid 2, hlm. 163.

230 Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i diriwayatkan yang berasal dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antaranya dalam enam hari. Kemudian Allah beristirahat di atas ‘Arsy pada hari ketujuh. Padahal dalam AlQur’an, yaum (hari) di sini
bermakna kurun waktu; ada yang bermakna seribu tahun (AlQur’an, 22:47; 32:5), ada yang menunjukkan lima puluh ribu tahun (AlQur’an, 70:4).

——————

Hadis Membentangkan Baju

Abu Hurairah mengeluarkan. hadis ini untuk membela diri tatkala orang mempertanyakan banyaknya. hadis yang disampaikannya. Bukhari dan lainlain
meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Kamu menyatakan bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis Rasul Allah. Dan mereka berkata: ‘Kaum Muhajirin dan ‘Anshar tidak menyampaikan hadis sebanyak yang disampaikan Abu Hurairah. Sebenarnya ikhwanku kaum Muhajirin sibuk jual beli di pasar. Dan aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku maka aku hadir tatkala mereka tidak hadir dan aku menghapal tatkala mereka lupa. Dan ikhwanku kaum ‘Anshar mengurus hartanya, dan aku seorang miskin dari orangorang
miskin yang tinggal di Shuffah. Aku menghapal tatkala mereka tidur. Dan Rasul Allah saw (sekali) telah bersabda: ‘Siapa yang mengbentangkan bajunya setelah aku selesai bicara, kemudian melipatnya maka ia tidak akan lupa apa yang aku katakan, maka aku bentangkan serban yang aku pakai dan aku lipat ke dadaku, maka aku tidak lupa sedikit pun apa yang disabdakan Rasul Allah saw.’ 235

Abu Hurairah di bagian lain dilaporkan mengatakan bahwa bukan ia yang menghamparkan serbannya. Dzahabi melaporkan bahwa Rasul Allah sendiri yang melepaskan serbannya dari punggung Abu Hurairah dan membentang kannya antara Nabi dan Abu Hurairah.

Dari hadis Sa’d bin Abi Hindun dari Abu Hurairah bahwa Rasul Allah saw bersabda: ‘Bukankah engkau meminta bagian dari rampasan perang yang diminta (juga) oleh sahabatsahabatmu? Aku berkata: ‘Aku mohon Anda mengajarkan aku ilmu yang diajarkan Allah kepadamu. Dan ia menanggalkan serban yang berada di punggungku dan ia membentangkannya antara diriku dan dirinya sehingga seakanakan aku melihat kutu merayap di atas serban dan ia menyampaikan dan menerangkan hadisnya kepadaku. Dia berkata: ‘Lipatlah!’ dan sejak itu aku tidak melupakan satu kata pun dari apa yang beliau sabdakan’. 236

Dan dari alMaqribi dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Aku berkata kepada Rasul Allah: ‘Aku mendengar hadis banyak darimu dan aku lupa (akan hadishadis itu)’. Dan Rasul Allah bersabda: ‘Bent angkanlah serbanmu dan aku membentang kannya, dan beliau menciduk ke dalamnya dengan kedua belah tangannya, kemudian bersabda: ‘Lipatlah!’ dan aku melipatnya dan sejak itu aku tidak melupakan sebuah hadis pun”. 237

Abu Hurairah mengatakan bahwa kaum Muhajirin jauh dari Rasul Allah karena sibuk dengan berdagang di pasar dan kaum Anshar sibuk dengan urusan mereka. Dengan kata lain setiap orang dari kaum Muhajirin yang awal dan terdahulu serta setiap orang dari kaum Anshar sedang sibuk berdagang atau mengurus harta mereka. Lalu bagaimana dengan peringatan Allah kepada manusia dengan firmanNya yang berbunyi: ‘Orang orang lakilaki yang tiada menjadi lalai mengingat Allah oleh perniagaan atau bertukar barang dagangan’. 238

Tuduhan Para Shahabat

Ibnu Qutaibah berkata dalam Ta’wil Mukhtalaf alHadits: ‘Tatkala Abu Hurairah meriwayatkan hadis Rasul Allah, tidak ada shahabat besar yang terdahulu (sabiqun) ataupun yang awal (awwalun) yang menyampaikan riwayat seperti dia. Mereka menyampaikan, dakwaan dan mengingkarinya serta bertanya: ‘Bagaimana (mungkin) engkau mendengar hadis itu sendirian? Siapa yang mendengar bersamamu?’ Aisyah ra paling getol di antara mereka yang mengingkarinya, karena Aisyah paling lama hidup di zaman Abu Hurairah mengeluarkan hadishadisnya”.239

Selanjutnya Ibnu Qutaibah menulis: ‘Dan mengherankan sikap mereka (para ahli hadis); mereka menyebut Abu Hurairah sebagai pembohong tetapi mereka tidak menulis mengenai Abu Hurairah sesuai dengan kesepakatan para ahli hadis.

Yahya bin Mu’in dan Ali Ibnu alMadini dan orang orang seperti mereka menolak Hadis Abu Hurairah, tapi anehnya orang tetap saja berhujah dengan hadis Abu Hurairah yang tidak akur dan serasi dengan seorang pun dari para shahabat dan telah dianggap sebagai pembohong oleh Umar, Utsman dan Aisyah’. 240

Ibnu Qutaibah menyebut Abu Hurairah sebagai ‘Perawi pertama dalam Islam yang harus dituduh’.
——————————–
Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah
Tatkala Ali bin Abi Thalib mendengar Abu Hurairah berkata tentang Rasul Allah: ‘Telah bersabda sahabatku’, ‘Telah menyampaikan kepadaku sahabatku’, ‘Aku melihat sahabatku’, Ali berkata: ‘Sejak kapan (Rasul Allah saw menjadi sahabatmu) ya Abu Hurairah? 241

Ali bin Abi Thalib menyebut Abu Hurairah adDausi ini sebagai pembohong yang paling berat dari umat ini (akdzabu annas).

Pada kesempatan lain Ali berkata: ‘Di antara orang hidup yang paling
membohongi Rasul Allah adalah Abu Hurairah adDausi. Ali juga menamakan Ka’b alAhbar sebagai pembohong. 242
———————-
Aisyah dan Abu Hurairah

Ibnu Qutaibah melukiskan hubungan Aisyah dengan Abu Hurairah: ‘Engkau menyampaikan hadis yang tidak kudengar dari Nabi saw’. Demikianlah katakata Aisyah yang ditujukan kepada Abu Hurairah. Abu Hurairah menjawab dengan jawaban yang tidak beradab dan tanpa hormat, seperti diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Sa’d, Ibnu Katsir dan lainlain:
‘Engkau (terlalu) sibuk dengan cermin dan tempat celak!’. Dan di bagian lain ia berkata kepada Aisyah: ‘Aku tidak disibukkan oleh cermin dan tempat celak serta pewarna, tetapi aku melihat Anda demikian’. Dan diriwayatkan oleh Dzahabi bahwa Aisyah berkata kepada Abu Hurairah: ‘Keterlaluan Abu Hurairah, berlebihan yang engkau sampaikan tentang Rasul Allah!’. Dan Abu Hurairah menjawab: ‘Aku tidak disibukkan oleh cermin dan tidak oleh tempat celak dan tidak juga dengan alat pemoles (yang menjauhkan aku dari Rasul Allah)!’

Dan Aisyah menjawab: ‘Engkaulah yang sibuk mengurus perutmu, dan kerakusanmu membuat engkau terbirit birit pergi dari Rasul Allah dan bergegas (bersembunyi) di belakang orangorang, mengetuk rumah memintaminta makanan untuk memenuhi perutmu yang lapar sehingga mereka lari dan menjauhimu. Kemudian engkau jatuh pingsan di depan kamarku dan orang mengira engkau gila dan mereka menginjakinjak lehermu. 243

Ummulmu’minin Aisyah sering bertengkar dengan Abu Hurairah bila yang terakhir ini menyampaikan hadis. Sekali ia menyampaikan hadis yang berbunyi: ‘Barangsiapa bangun pagi dalam keadaan junub, maka tidak ada puasa baginya’. Aisyah mengingkari hadis ini dan mengatakan bahwa Rasul Allah suatu ketika sampai fajar berada dalam keadaan junub yang bukan disebabkan mimpi dan beliau mandi dan berpuasa dan Aisyah menyampaikan pesan kepada Abu Hurairah untuk tidak menyampaikan hadis tersebut. Kemudian Abu Hurairah mengakui bahwa dia tidak mendengar dari Rasul Allah saw tetapi dari Fadhl bin Abbas yang telah meninggal. Dan Ibnu Qutaibah berkata tentang masalab ini: ‘Ia menjadikan mayat sebagai saksi dan mengelabui orang bahwa ia mendengar dari Rasul Allah sedang dia tidak mendengar dari Rasul! 244

Aisyah juga menuduhnya sebagai pembohong tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis dari Rasul Allah bahwa, pada perempuan, rumah dan binatang melata terdapat pertanda sial (thirah, evil omen). 245
Dan tatkala Aisyah mendengar hadis Abu Hurairah: ‘Tidak akan masuk surga anak haram’, Aisyah menjawab: ‘Dia tidak memikul dosa ayahnya’ lalu Aisyah menyampaikan ayat alQur’an: “Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakanNya
kepadamu apa yang kamu perselisihkan”. 246

Ibnu Umar dan Abu Hurairah

Abdullah bin Umar bin Khaththab menuduh Abu Hurairah sebagai pembohong. Misalnya, tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis tentang shalat witir. 247
Atau tatkala Abu Hurairah menyampaikan hadis tentang anjing. Ibnu Umar menuduhnya membuat hadis untuk kepentingan Abu Hurairah sendiri dan dikatakannya didengarnya dari Rasul Allah. 248

Zubair bin ‘Awwam dan Abu Hurairah Tatkala mendengar hadis Abu Hurairah, Zubair berkata ‘Bohong’. 249 ,
——
Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah

Umar adalah orang pertama yang melihat bahaya hadishadis Abu Hurairah yang dikatakan didengarnya dari Rasul Allah. Umar menghalangi Abu Hurairah menyampaikan hadis tatkala ia pulang dari Bahrain. Umar mengancam akan mencambuknya andaikata ia menyampaikan hadisnya sebelum ‘penyakit menyebar dan kuman menjadi kebal’. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari
Sa’ib binYazid yang mendengar Umar berkata kepada Abu Hurairah: ‘Engkau harus berhenti menyampaikan hadis Rasul Allah atau engkau akan aku asingkan ke daerah Daus’. 250

Dan kepada Ka’b alAhbar Umar berkata: ‘Engkau harus meninggalkan penyampaian hadis atau engkau akan diasingkan ke daerah alQurdah’.
Di bagian lain, Umar berkata kepada Abu Hurairah: ‘Terlalu banyak ya Abu Hurairah dan aku akan memukulmu bila engkau berbicara bohong tentang Rasul Allah’. 251

Meskipun Utsman tidak sekeras Umar tetapi kemarahan serupa telah disampaikan juga oleh Utsman kepada Abu Hurairah dan Ka’b alAhbar’.
252

Di samping itu Umar memecatnya dari kedudukannya sebagai gubernur Bahrain karena menuduhnya sebagai pencuri. Ibnu ‘Abd Rabbih menulis pada bagian awal jilid pertama bukunya ‘Iqd alFarid. “Umar kemudian memanggil Abu Hurairah dan berkata kepadanya: ‘Aku tahu tatkala aku mengangkatmu jadi gubernur di Bahrain, sandal pun engkau tidak punya. Kemudian sampai berita kepadaku bahwa engkau membeli kudakuda seharga seribu enam ratus dinar’. Abu Hurairah: ‘Kami memiliki kuda kemudian beranak pinak dan aku mendapat hadiah beruntun’.

Umar: ‘Aku telah perhitungkan penghasilanmu dan rizkimu dan kelebihan ini harus kau kembalikan!’. Abu Hurairah: ‘Kamu tidak berhak untuk mengambilnya!’. Umar: ‘Ya, demi Allah aku harus ambil! Dan aku akan pukul punggungmu!’ Kemudian ia mengambil pecut dan memukulnya sampai berdarah! “Kemudian Umar berkata: ‘Bawa kemari uang itu!’ Abu Hurairah:‘Aku menganggap harta yang engkau ambil itu dijalan Allah!” Umar: ‘Ya, kalau engkau mengambil itu dari yang halal dan engkau laksanakan dijalan yang benar! Apakah engkau datang dari Bahrain mengambil pajak untuk dirimu dan bukan karena Allah dan bukan untuk kaum Muslimin? Kau tidak punya keahlian apaapa kecuali mengangon unta!’

Di bagian lain Abu Hurairah meriwayatkan dalam buku yang sama: ‘Abu Hurairah menerangkan: ‘Ketika aku diberhentikan oleh Umar dari Bahrain, Umar berkata kepadaku: ‘Ya musuh Allah dan musuh KitabNya, engkau mencuri harta Allah? Aku menjawab: ‘Aku bukan musuh Allah dan musuh KitabNya! Tapi aku adalah musuh yang memusuhimu! Dan aku tidak mencuri harta Allah!’’

Umar: ‘Dari mana engkau kumpulkan uang yang sepuluh ribu?’ Abu Hurairah: ‘Kuda beranak pinak dan aku telah mendapat hadiah beruntun dan keuntungan susul menyusul, Umar menyitanya dariku!

Dan setelah shalat subuh aku mintakan pengampunan untuk Amiru’lmuminin!’.

Tabi’in Menolak Hadis Abu Hurairah, Ibrahim Nakha’i dan Kawankawan
Sebagai contoh dapat dikemukakan disini Ibrahim Nakha’i. Ia lahir tahun 50 H/ 670 M dan pernah melihat ummu’lmuminin Aisyah. Aisyah meninggal satu tahun sebelum Abu Hurairah meninggal, maka dia mungkin juga pernah melihat Abu Hurairah. Sahabat sahabatnya meriwayatkan dari Mughirah yang didengarnya dari Ibrahim: ‘Sahabatsahabat kami menolak hadis Abu Hurairah’. Juga diriwayatkan oleh A’masy dari Ibrahim: ‘Mereka tidak mengambil semua hadis Abu Hurairah’. Dan diriwayatkan oleh atsTsauri dari Manshur dari Ibrahim: ‘Mereka melihat ‘sesuatu’ pada hadis Abu Hurairah, dan mereka tidak mengambil seluruh hadis Abu Hurairah kecuali mengenai sifat surga dan neraka, atau ajakan kepada amal salih atau menolak kemungkaran seperti tersebut dalam alQur’an’.

Atau diriwayatkan oleh Abu Usamah yang didengarnya dari A’masy: ‘Ibrahim, adalah seorang ahli hadis. Dan aku sendiri bila aku mendengar sebuah hadis aku segera mendatanginya dan menyampaikan hadis tersebut. Maka pada suatu hari aku menyampaikan, hadishadis Abi Shalih yang berasal dari Abu Hurairah dan dia berkata: ‘Jauhkan aku dari Abu Hurairah! Sungguh mereka meninggalkan banyak sekali hadishadisnya’.253

Sikap Imam Abu Hanifah dan Kawankawan
Sikap Imam Abu Hanifah dan sahabatsahabatnya para ahli fiqih yang terkenal dalam dunia Islam adalah bahwa mereka dan para penganut madzhabnya tidak menghargakan hadis hadis Abu Hurairah dan berbeda dengan Ibrahim Nakha’i dan sahabatsahabatnya yang masih menerima hadis Abu Hurairah tentang surga dan neraka, mereka menolak semua hadis Abu Hurairah.

Diriwayatkan oleh Muhammad bin alHasan, seorang sahabat Abu Hanifah yang mendengar Abu Hanifah berkata: ‘Aku mengikuti pendapat para Sahabat seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta ketiga Abdullah dan aku tidak melihat perbedaan di antara mereka. Kecuali tiga orang’.

Dan dalam riwayat lain: ‘Aku mengikuti semua Sahabat dan aku tidak melihat perbedaan di antara mereka kecuali tiga orang (Anas bin Malik, Abu Hurairah dan Samurah). Tentang Anas, ia mulai pikun pada akhir umurnya dan ia mengeluarkan fatwa menurut akalnya dan aku tidak bertaklid pada akalnya. Dan tentang Abu Hurairah, ia telah meriwayatkan semua yang didengarnya tanpa memikirkan artinya dan tidak membedakan naskh dari mansukh”. 254

Dan Abu Yusuf meriwayatkan: ‘Aku berkata kepada Abu Hanifah: ‘Apabila kabar yang sampai kepadaku dari Rasul Allah berbeda dengan pandangan kita, maka apa yang akan kita lakukan?’.

Ia menjawab: ‘Bila datang berita yang meyakinkan maka tinggalkan pandanganku’. Dan aku berkata: ‘Apa pendapat Anda tentang riwayat yang disampaikan Abu Bakar dan Umar?’ Ia menjawab: ‘Aku menerima keduanya!’. Dan aku bertanya: ‘Dan Ali serta Utsman?’. Ia menjawab: ‘Demikian pula!’. Kemudian ia menyebut sejumlah Sahabat. Ia berkata: ‘Semua Sahabat dapat dipercaya, adil, kecuali dua orang. Yang seorang adalah Abu Hurairah dan orang meragukannya karena (hadisnya) yang banyak’. 255

Dan dalam alAhkam alHamidi: ‘Para Sahabat mengingkari Abu Hurairah karena hadis yang diriwayatkan olehnya terlalu banyak, sehingga Aisyah ra berkata: ‘Mudahmudahan Allah SWT mengasihi Abu Hurairah. Ia adalah seorang pengoceh 256 tentang hadis lesung’.

Pada suatu ketika dalam majelis Harun alRasyid orangorang sedang berdebat dan nada suara mereka makin meninggi. Sebagian orang berargumentasi dengan hadis yang diriwayatkan AbuHurairah dan yang lain menolak hadis tersebut dengan katakata: ‘Riwayat Aba Hurairah harus dicurigai (muttaham)! 257

Kaum Mu’tazilah dan Abu Hurairah

Kaum Mu’tazilah tidak memercayai hadishadis Abu Hurairah dan tidak berpegang pada hadishadisnya. Abu Ja’far alIskafi berkata: ‘Dan Abu Hurairah dianggap cacat (madkhul) oleh tokoh kami (yakni tokohtokoh Mu’tazilah) dan riwayatnya tidak terpakai. Umar memukulnya dan berkata: ‘Engkau terlalu banyak membawa riwayat, dan aku akan memukulmu kalau engkau terus membohongi Rasul Allah’. 258

Abu Hurairah ‘Pemerdaya’

Seseorang dikatakan telah memperdaya, bila ia bertemu dengan seseorang pada suatu kesempatan dan tidak mendengar perkataan orang tersebut tapi mengatakan bahwa ia telah mendengarnya. Atau menyampaikan berita tentang seseorang yang hidup sezaman dengannya, yang tidak ia temui, tetapi ia mengatakan telah mendengar pembicaraan orang tersebut.

Abu Hurairah meriwayatkan semua yang didengarnya sebagai sabda Rasul Allah, tidak peduli apakah ia mendengarnya langsung dari Rasul Allah atau dari para Sahabat atau dari generasi sesudah sahabat yaitu para tabi’in dan dia tidak mengatakan sumbernya dan memberi kesan kepada orang bahwa dia lansung mendengar dari Nabi. Di kalangan para ahli hadis digunakan istilah tadlis.

Ibnu Qutaibah menulis dalam Ta’wil Mukhtalaf alHadits:‘Abu Hurairah berkata: ‘Rasul Allah bersabda demikian! padahal ia sebenarnya mendengar dari ‘orang yang dipercayainya’ dan kemudian meriwayatkannya. 259

Ibnu Qutaibah sengaja menyebut bahwa Abu Hurairah menggunakan istilah ‘orang yang dipercayainya’ dan tidak orang yang dapat dipercaya, karena Abu Hurairah tidak menyebut nama orang yang meriwayatkan kepadanya.

Dzahabi meriwayatkan dalam ‘Sair alA’lam anNubala’: ‘Telah berkata Yazid bin Ibrahim: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang’. Dan Dzahabi menghubungkan berita ini dengan katakatanya:
‘Ia memperdayakan tentang Sahabat dan tidak merasa aib’. Dan Yazid bin Harun berkata dalam ‘alBidayah wanNihayah’:

‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang, yakni ia meriwayatkan apa yang didengarnya dari Ka’b alAhbar dan tidak didengarnya dari Rasul Allah, dan dia tidak memisahkan yang satu dari yang lain! Ibnu ‘Asakir berkata: ‘Dan Syu’bah menghubungkan ini dengan hadis Abu Hurairah ‘Barang siapa bangun pagi dalam keadaan junub maka tidak ada puasa baginya’ dan tatkala didesak ia mengatakan ‘seorang telah menyampaikannya kepadaku
dan aku tidak mendengar dari Rasul Allah’ ‘.(hadis yang dibantah oleh ummu’lmu’minin Aisyah dan setelah didesak Abu Hurairah mengatakan ia mendengarnya dari Fadhl bin Abbas yang telah meninggal dan tidak dapat dijadikan mitra bicara, lihat di atas, pen.)

AlHakim 260 berkata: ‘hadis bagi kami terbagi dalam enam jenis’. Kemudian ia berbicara tentang jenis yang kedua: Adalah mereka yang mengeluarkan hadis dengan memperdayakan orang. Dan mereka berkata: ‘Si pulan berkata (kepadaku)!’ dan bila dibantah orang dan merasa terdesak serta gagal mempertahankan kesaksian pendengaran mereka, mereka lalu mengubah sumber mereka’.

Mahmud Abu Rayyah memasukkan Abu Hurairah dalam kategori ini. Nawawi berkata dalam AtTaqrib: ‘Dikatakan memperdayakan karena perawi meriwayatkan tentang orang sezamannya, tapi tidak mendengar lansung darinya. Ia berkata: ‘Si pulan berkata’ atau “Berasal si pulan”. Dan ini cocok sekali dengan Abu Hurairah, karena ia dalam kebanyakan hadisnya berkata: ‘Rasul Allah bersabda’ (qala Rasul Allah), atau ‘Dari Rasul Allah’ (‘an Rasul Allah) dan dia tidak mendengar dari Rasul Allah. ‘Attadlis’ hukumnya adalah penolakan (madzmum) seluruhnya secara mutlak sebagaimana dikemukakan oleh Syu’bah bin alHajjaj, Imam ahli cacat atau tidaknya suatu hadis (Ahlu alJarh wa atTa’dil)

dengan katakatanya: ‘Berzina lebih aku sukai dari memperdayakan’ dan:
‘Memperdayakan orang adalah saudara dari bohong’. 261

Abu Hurairah Berbeda Dengan Sahabat lain, Kedudukannya Khusus
Kedudukan Abu Hurairah adalah khusus karena dia dicerca dan dikritik oleh Para Sahabat Besar secara susul menyusul yang tidak pernah terjadi pada para Sahabat lain. Ia dituduh sebagai ‘pembohong’ dan ‘pengoceh’ oleh para Sahabat Besar. Dan anehnya orang suka kepada hadisnya tentang Tuhan yang turun ke ‘langit dunia’, Tuhan yang menciptakan Adam seperti wajah Tuhan dengan tinggi enam putuh hasta, Tuhan yang menaruh kaki di neraka, Nabi Musa yang mengejar batu dengan telanjang bulat, Nabi yang menghancurkan seluruh sarang semut karena digigit oleh seekor semut, sapi dan serigala yang berbicara bahasa Arab, pundipundi ajaib yang diikat di pinggangnya dan mengeluarkan kurma selama dua puluh tahun, hadis membenamkan lalat kedalam minuman, hadis tidak ada penyakit menular dan ratusan hadis lain yang tidak mungkin
dimasukkan ke dalam buku kecil ini.

Ahli sejarah tidak mudah menerima hadis Abu Hurairah. Mereka berkata: ‘Mudah orang berbohong tetapi sukar mempertahankan kebohongan sesudah dituturkan’. Abu Hurairah mestinya menceritakan kepada kita, di mana berada pundipundinya tatkala ia kelaparan di Shuffah. Dalam perang yang mana Rasul Allah menanyakan punditpundinya, mengusap dan memberi makan seluruh pasukan. Bagaimana rasa kurma mukjizat tersebut dan berapa banyak
yang dimakan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Dan mengapa dari puluhan ribu Sahabat tidak ada satu pun menceritakan pundipundi Abu Hurairah yang merupakan suatu mukjizat besar.

Mengapa Ali mengatakannya sebagai anggota umat yang paling pembohong? Mengapa ummulmuminin menamakan Abu Hurairah sebagai ‘pengoceh tidak karuan’. Mengapa ia mengatakanbahwa Ali dilaknat Allah dan para malaikat serta seluruh ummat manusia di Masjid Kufah?

259 Ibnu Qutaibah, Ibid, hlm. 50.
260 Bab 6 bukunya Ma’rifah U’lum alHadits.
261 Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 115.

253 Lihat Sair A’lam anNubala’,jilid 2, hlm. 348; alBidayahwa’nNihayah
oleh Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 109 dll.

254 Mahmud Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, hlm. 146.
255 Mahmud Abu Rayyah, Ibid, hlm. 147.
256 mihdzar, berbicara tidak karuan.
257 Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 147, 148.
258 Ibn AbilHadid, Syarh Nahju’lBalaghah, jilid 4, hlm. 68.

246 AlQur’an, alAn’am (VI): 164.
247 Ibnu ‘Abdil Barr, Jami’ bayan alilm wa fadhluhu, jilid 2, hlm. 154,
248 Lihat Mahmud Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah Abu Hurairah, hlm. 142, 143.

249 Ibnu Katsir, alBidayahwanNihayah, hlm. 109.
250 Dzahabi: A’lam anNubala, jilid 2, hlm. 433; alBidayah wanNihayah,
jilid 8, hlm. 106.
251 Ibn AbilHadid, Syarh NahjulBalaghah, jilid 4, hlm. 67, 68.

252 Mahmud Abu Rayyah, ibid, hlm. 104.

239 Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf alHadits, hlm. 48.

240 Ibnu Qutaibah, Tawil Mukhtalaf alHadits, hlm. 10, 11.

241 Ibnu Qutaibah, Tawil Mukhtalaf alHadits, hlm. 51.

242 Ibn Abil Hadid, Syarh NahjulBalaghah, jilid 4, hlm. 68.

243 Dzahabi: Sair alA’lam, jilid 2, hlm.435.

244 Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf alHadits, hlm. 28.

245 Ibnu Qutaibah, alImamah was Siyasah, hlm. 126, 127.

235 Fat’ha1Bari, jilid 4, hlm.231.

236 Sair A’lam anNubala’, jilid 2, hlm.429.

237 Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 4, hlm. 56.

238 AlQur’an, anNur (XXIV), 37.

Setelah ada hadis membentangkan baju, Abu Hurairah mengaku tidak lupa akan hadis hadis Rasul Allah. Kalau demikian ia mestinya menceritakan mengapa Rasul mengirimnya ke Bahrain dan tidak menahannya di Madinah untuk mendengarkan hadishadis Rasul Allah yang lain, karena sesudah itu Rasul Allah masih hidup selama dua tahun lagi? Dan mengapa Umar tidak mendudukkannya dalam majelisnya sebagai guru? Mengapa Umar mengatakan ‘Kalau tiada Ali, maka celakalah Umar? Dan bukan ‘Kalau tiada Abu Hurairah maka celakalah ummat Islam?’

Abu Hurairah mengatakan bahwa kaum Muhajirin jauh dari Rasul Allah karena sibuk dengan perdagangan mereka di pasar dan kaum Anshar sibuk dengan urusan mereka. Dengan kata lain setiap orang dari kaum Muhajirin yang awal dan terdahulu serta setiap orang dari kaum Anshar sedang sibuk berdagang atau mengurus harta mereka. Orang meragukan hadis Abu Hurairah ini karena Allah telah memberi peringatan kepada umat manusia dengan firmanNya yang berbunyi:

‘Orang orang lakilaki yang tiada menjadi lalai mengingat Allah oleh perniagaan atau bertukar barang dagangan’. Dan orang yakin bahwa para Sahabat tidak akan lalai terhadap firman Allah SWT tersebut. Abu Hurairah seharusnya menceritakan di mana Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Salman alFarisi, ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr dan lainlain?

Apakah mereka juga sedang sibuk berdagang? Bukankah hari pasar adalah hari Kamis dan hanya sedikit yang berdagang? Dan bukankah paling sedikit Abu Dzarr, Miqdad dan ‘Ammar bin Yasir hampir selalu berada di masjid? Dan bukankah Abu Hurairah sendiri mengatakan bahwa di Shuffah saja sudah berdiam tujuh puluh orang, lalu sedang di mana mereka itu? Dan seperti dikatakannya sendiri bahwa mereka, termasuk Abu Hurairah, ‘tidak ada yang mengenakan jubah (rida’, baju luar yang lepas), tapi hanya mengenakan izar (semacam selendang) atau kisa’ (baju) yang dilingkarkan keleher mereka’, lalu mengapa yang lainlain tidak membentangkan bajubaju mereka?

Dan catatan yang kuat menunjukkan bahwa tidak semua Sahabat sibuk dengan harta milik mereka. Misalnya Salman alFarisi yang oleh Rasul Allah disebut sebagai anggota ahlu’lbait (ia tinggal bersama keluarga Rasul dan masuk keluar rumah bebas seperti rumahnya sendiri, pen).

Dan Rasul pernah berkata mengenai Salman: ‘Andaikata addin berada di bintang kejora (tsurayya) akan dapat dicapai oleh Salman dan kaumnya’. Dan Aisyah berkata tentang Salman: ‘Salman selalu duduk bersama Rasul Allah, sendirian ia menemani Rasul Allah sampai malam dan hampir saja ia mengalahkan kami’. Dan berkata Ali: ‘Sesungguhnya Salman alFarisi Seperti Luqman alHakim, ia mengetahui ilmu dari awal sampai akhir. Lautan ilmu yang tidak mengering’.

Bila ada perintah Rasul Allah agar jemaah membentangkan bajunya maka semua orang yang hadir di masjid, paling sedikit para penghuni Shuffah akan berebut membentangkan baju mereka untuk mendapatkan kemuliaan dari Rasul Allah saw. Ia mengatakan bahwa ia miskin dan hanya memiliki sepasang baju, tentu banyak orang lain yang mempunyai lebih banyak baju akan mendahuluinya.

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita bagaimana dengan hadis Rasul Allah yang didengarnya sebelum peristiwa tersebut, yang menurut Abu Hurairah tidak dapat diingatnyakarena dia pelupa. Lalu bagaimana ia mengetahui hadis dan peristiwa yang terjadi dari tahun 8 H/629 M sampai wafatnya Rasul Allah dan peristiwa yang terjadi selama dua puluh tahun sebelum ia bertemu dengan Rasul?

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita mengapa Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali tidak mendudukkan Abu Hurairah di dalam majelis mereka sebagai tempat bertanya tentang hadis? Malah mencercanya dan Umar mengancam akan memukulnya bila ia meriwayatkan hadis?

Ia seharusnya menceritakan juga apakah ingatannya khusus diberikan Allah untuk mengingat hadis dan tidak untuk mengingat ayat AlQur’an. Kalau daya ingat bersifat umum, dan memang seharusnya demikian, mengapa Utsman tidak memasukkannya sebagai salah seorang penghimpun lembaranlembaran
catatan AlQur’an?

Hal hal seperti ini seharusnya diterangkan oleh Abu Hurairah. Lalu mengapa orang mempertahankan hadis Abu Hurairah? Hal ini merupakan misteri dan terjadi juga pada agama lain. Sukar juga dipahami sebagaimana, manusia itu sendiri adalah makhluk yang sukar dipahami.
————————-====

Abu Hurairah dan Ka’b alAhbar

Ibnu Katsir berkata dalam alBidayah wanNihayah: ‘Muslim bin alHajjaj
mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b alAhbar,
kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b alAhbar dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b alAhbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadishadis’.

Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’. 262

Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b alAhbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaranajaran Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafatnya, dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya AthThabaqat alKubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b alAhbar.Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab:‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’ 263

AlHakim berkata bahwa riwayat ini shahih menurut syarat BukhariMuslim.
264

Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar alIslam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang lakilaki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping bukubuku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya. 265

Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari Ka’b alAhbar.266

Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, AbdullahAbdullah yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lainlainnya yang mendengar dari Ka’b alAhbar”.

Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b alAhbar.

Dzahabi berkata dalam Thabaqat alHuffazh dan dalam Sair A’lam anNubala’ …Dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b alAhbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’. 267

Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b alAhbar’.268

Dan Baihaqi dalam alMadkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikanriwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”. 269

Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis, sedang saya tidak”. 270

Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b alAhbar
adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.

Thaha Husain berkata: ‘Ka’b alAhbar adalah seorang eksentrik (gharib alathwar), mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b alAhbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudahmudahan
Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup.

Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah. Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudahmudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifat sifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheranheran.

Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.

AlUstadz Sa’id alAfghani menulis dalam majalah Risalah alMishriyah:
‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b alAhbarlah sebenarnya Zionis yang pertama..’.

Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahankelemahan
hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisahkisah Perjanjian Lama dari Ka’b alAhbar, sebelum ia menyampaikan hadishadisnya di zaman Mu’awiyah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadishadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin AbiThalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka.

Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif a Mada’ini, dalam bukunya, alAhdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orangorang, agar menyediakan hadishadis tentang para Sahabat dan khalifah;perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.

Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadishadis tentang keutamaan penguasa untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.

Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangkaprasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifatsifat pribadinya, dengan melihat bahanbahansejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi.

Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporanlaporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya. Sebagai contoh, hadishadis dan laporan lainnya
dari Abu Hurairah. Laporannya sangat berharga untuk memahami kemelut politik pada zaman itu, bagaimana sikap masa bodoh penguasa terhadap agama setelah Khulafa’urRasyidin dan pengaruhnya terhadap perkembangan keagamaan. Tetapi mutu laporannya sendiri terhadap suatu peristiwa ‘politik’, haruslah diragukan.

270 Shahih Bukhari, jilid 1, hlm. 23.

262 Ibnu Katsir: alBidayah wa’nNihayah, jilid 8, hlm. 109.

263 Ibnu Sa’d, atThabaqat alKubra, jilid 4, hlm. 58.

264 AlHakim,alMustadrak, jilid 1, hlm. 92.

265 Lihat juga Thabaqat, jilid 7, hlm. 79.

266 Suuythi, Alfiat, bab “Riwayat Orangorang Besar dari Orangorang Kecil, atau “Riwayat Sahabat yang berasal dari Tabi’in”, hlm. 237, 238.

267 Sair A’lam anNubala’, jilid 2, hlm. 432.

268 Dzahabi, ibid, jilid 2, hlm. 417.

269 AlIshabah, jilid 5, hlm. 205.

================================================================================

BUKTi DUSTA ABU HURAIRAH
KEANEHAN ABU HURAiRAH DAN HADiS ASWAJA SUNNi

Seluruh sejarawan baik dari pihak syiah maupun sunni mengatakan bahwa ahlulbait Nabi tinggal bermukim di kota madinah. Mengapa sedikit sekali orang-orang Madinah yang katanya sunni itu mengambil hadis dari para Imam Ahlul Bait?.

Abdullah bin Umar tidak mau membaiat Ali di kemudian hari, malah membaiat Mu’awiyah dan Yazid bin Mu’awiyah dan gubernur Hajjaj bin Yusuf. Keduanya membuat hadis hadis yang memojokkan Ali…Abu Hurairah menyampaikan 5374 hadis, Ibnu ‘Umar 2630, Anas bin Malik 2286 dan ‘A’isyah 2210.

Sebagai perbandingan, maka seluruh hadis yang disampaikan Abu Bakar selama 20 tahun pergaulannya dengan Rasul, hanya diperoleh Abu Hurairah dalam 16,7 hari duduk di Shuffah setelah ia menganut Islam, Umar dalam 63,1 hari, Utsman dalam 17,1 hari, Ali dalam 68,9 hari, Thalhah bin Ubaidillah dalam 4,4 hari, Salman atFarisi dalam 7 hari, Zubair bin ‘Awwam dalam 1,1 hari, Abdurrahman bin ‘Auf dalam 1 hari.

Penghuni shuffah yang lain seperti Hajjah bin Amr alMazini a IAnshari
Hajjah bin Amr alMazini atAnshari, Hazib bin Armalah, Tinkhafah bin alQais alGhifari, Zaid bin Khaththab alAdawi, Abdullah bin Qaridzah alTumali dan Furat bin Hayyan bin alAli masingmasing hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis. Safinah, sahaya Rasul Allah saw meriwayatkan 14 hadis, satu hadis diriwayatkan oleh Muslim. Syarqan, juga sahaya Rasul Allah saw hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis dan diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Dan seluruh hadis hadisnya baru diucapkannya hampir 30 tahun sesudah Rasul Allah saw wafat sebagaimana pengakuannya, karena sekembalinya, dari Bahrain dia tidak diperkenankan mengobral hadisnya.

Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan keutamaan Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para Sahabat lain.

Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar. Kaum dari klan adDaus, klan Abu Hurairah, dan kaum al’ Asy’ari mendatangi Rasul Allah tatkala Rasul berada di Khaibar. Kaum ‘Asy’ari terlambat mengunjungi Rasul, seperti diceriterakan Abu Musa al’ Asy’ari, karena sedang berperang dengan kaum kafir. Tentang Abu Hurairah biarlah ia sendiri yang menceriterakan:

Aku mendatangi Rasul Allah yang pada waktu itu berada di Khaibar, setelah Khaibar ditaklukkan, dan aku berkata: “Ya Rasul Allah adakah bagian untukku? Tolong bicarakan dengan kaum Muslimin itu untuk membagikan bagian mereka dengan kami.” 194

Ia kemudian tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Dzulqaidah tahun 8 Hijriah/Maret 630 M, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani al’ Ala’ alHadhrami sebagai mu’azin. Sedang peristiwa Saqifah terjadi pada tahun 11 H/8 Jum 632 M. Dengan demikian ia tinggal di Shuffah selama 1 tahun 9 bulan. Ia meninggal tahun 59 Hijriah. Dan umat Islam kehilangan sahabat yang paling banyak menyampaikan hadis. Abu Muhammad bin Hazm meriwayatkan dari Abu Abdurrahman Baqi Ibnu Mukhallad alAndalusi yang mencatat dalam “Musnadnya” bahwa Abu Hurairah meriwayatkan 5374 hadis,

194 Fat’hulBari, jilid 6, hlm. 31 jilid 7, hlm. 393

———————–
Abu hurairah sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayat atau karena kecintaannya kepada Nabi saw seperti yang lain, tetapi untuk mendapatkan makanan.

Dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata: ‘Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’. Dan dalam riwayat lain: ‘untuk memenuhi perutku yang lapar’. Dalam riwayat Muslim: ‘Aku melayani Rasul Allah untuk mengisi perutku’, atau ‘Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’.

Ia mendatangi para sahabat seperti Umar dan Abu Bakar dengan berpurapura Meminta dibacakan sebuah ayat alQur’an,menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawarkan makanan, tetapi tiada seorang sahabat pun menawarkan makanan kepadanya kecuali Ja’far bin Abi Thalib yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar aku menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu dengan Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat Kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat Kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.’ 196

Bukhari: ‘Aku, bila bertanya mengenai sebuah ayat (alQur’an) kepada Jafar (bin Abi Thalib) maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku ke rumahnya’. Di bagian lain: ‘Aku meminta kepada Jafar bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (AlQur’an), yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin; Jafar
bin Abi Thalib. Ia mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan seadanya’. 197

Tirmidzi meriwayatkan: ‘Dan bila aku bertanya kepada Jafar mengenai ayat, ia tidak menjawab (pertanyaanku) sampai ia tiba di rumahnya’. Menurut Abu Hurairah, Ja’farlah yang terbaik di kalangan sahabat. Hadis mengenai ‘laparnya’ Abu Hurairah ini, banyak jumlahnya. Lalu di mana ‘pundipundinya’? (Lihat hadis ‘mizwad’ atau pundipundi).

Kepribadian Abu Hurairah

Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Khaththab mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum Muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab Allah atau musuh Islam. 198

Abu Hurairah pada masa itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah al ‘Ala’ alHadrami dan Qudamah bin Mazh’un. Jarud al’ Aqdi datang kepada Umar dari Bahrain dan melaporkan bahwa Qudamah bin Mazh’un minum minuman keras dan mabuk. Umar bertanya: ‘Siapa yang menyaksikan bersama Anda?’

Jarud: ‘Abu Hurairah!’. Umar memanggil Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata: ‘Aku tidak melihatnya minum, tetapi aku melibatnya mabuk dan untahmuntah’.

Umar berkata: ‘Engkau telah mengubah kesaksian!’ Dan Umar menyuruh panggil isteri Qudamah yang bernama Hindun binti alWalid, dan Hindun memberikan kesaksian yang benar dan memberatkan suami nya…‘Qudamah adalah pengikut Perang Badr satusatunya yang dihukum Umar karena minum minuman keras’. 199

196 Fat’h alBari, jilid 11, hlm. 236, 237.

197 Fat’h alBari,jilid 7, hlm. 61, 62.

198 Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 4, hlm.5960;juga oleh Baladzuri dan lain lain.

199 Ibnu ‘Abd alBarr, Kitab alIsti’ab,jilid 2, hlm. 548; FathalBari, jilid 7, hlm. 255.

—————————————

Abu hurairah juga punya hobi makan. Karena kesukaannya yang berlebihan akan makanan, maka ia sering juga disebut sebagai pembawa ‘hadis lesung’. 200
Karena seringnya ia meriwayatkan hadis, ummu’lmu’minin Aisyah dan para sahabat yang utama menuduhnya sebagai ‘berbicara tak karuan’ (mazzah), ‘berbohong’ (kadzdzab) dan lain lain.

Umar mengancam akan memukul dan mengasingkannya apabila ia meriwayatkan hadis. Ia sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadis pun di zaman Umar. Ummu’lmu’minin Aisyah mengatakan bahwa ia tidak pernah mendengar Rasul bercerita seperti yang disampaikan Abu Hurairah. Ali menamakannya pembohong umat. Demikian pula tokoh tokoh yang terdahulu. Sayid Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa andaikata Abu Hurairah meninggal sebelum Umar maka umat Islam tidak akan mewarisi hadishadis yang penuh khurafat, isykalat, dan isra ‘iliyat

Tidak Hadir, Bilang Hadir

Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian padahal dia tidak hadir di tempat tersebut. Sebagaimana dikatakan di atas ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di shuffah Masjid Nabi di Madinah, yaitu antara bulan Safar tahun 7 Hijriah, sampai bulan Zulqaidah tahun 8. Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi, ia telah menyampaikan laporanlaporan sebagai saksi mata tentang halhal yang terjadi pada masamasa sebelum dan sesudahnya. Bukhari menulis bahwa Abu Hurairah telah berkata: ‘Kami membuka (menaklukkan) Khaibar dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas atau perak. Yang kami dapat adalah lembu, unta dan alat alat rumah tangga (mata’)’. Hadis serupa disampaikan juga oleh Muslim. Sedang Abu Hurairah masuk Islam sesudah Perang Khaibar tersebut.
Begitu pula Abu Hurairah mengatakan bahwa dia berada dalam perjalanan haji Abu Bakar sebagaimana diceritakan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Mundzir, Ibnu Mardawaih, Baihaqi dari Abu Hurairah: ‘Abu Bakar ra mengutusku pada musim haji tersebut untuk menyampaikan kepada penyeru penyeru yang dikirim kannya pada hari anNahr di Mina agar mengumumkan bahwa kaum musyrikin tidak boleh naik haji sesudah tahun itu, dan tidak boleh melakukan thawwaf di Bait Allah dalam keadaan telanjang. Kemudian Nabi saw menyusulkan Ali bin Abi Thalib ra dan menyuruhnya untuk mengumumkan Surat alBara’ah
201 dan Ali bersama kami mengumumkan Surat alBaraah kepada orangorang yang berkumpul di Mina pada hari AnNahr dan agar kaum Musyrikin tidak naik haji sesudah tahun itu dan tidak boleh berthawwaf di Bait Allah dalam keadaan telanjang’.

200 lesung = almihras
= alat untuk menumbuk dan mengulek makanan. Lihatlah ‘Hadis Lalat’ dan ‘Hadis Pundipundi’.

201 Juga disebut Surat AtTaubah (IX), sebagaimana diketahui Surat Bara’ah merupakan pemutusan hubungan kaum Muslimin dari keterikatan dengan kaum musyrikin,

==============================================================================

Abu Hurairah dalam sahih bukhari menyampaikan (liahat isnad lengkapnya di sahih bukhari): ” Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan 60 hasta (27 m)”
Hadist yg sangat bathil dan dimuat di shahih bukhari.
Lihat pendapat Umar bin Khatab tentang beliau
Lihat pendapat Ali bin Abi Thalib tentang beliau

mereka menciptakan ilusi yang namanya : Munafik. Bagi mereka, sejarah Sahabat Nabi adalah sejarah emas. Kalo ada kekacauan, maka munafik lah penyebabnya. Semua sahabat, hubungannya harmonis. Kalo terjadi perang, maka munafik peyebabnya.

Dari jaman Rasulullah sampai wafatnya Imam Ali, penyebab kekacauan adalah Munafik. Anehnya, kita sama sekali buta siapa yang jadi munafik. Ya namanya saja ilusi.

wahhabi/salafy bersembunyi dibalik kedok munafik. Karena munafik, mustahil mengetahui mereka. kalo ketahuan, bukan munafik lagi namanya. Tapi Kafir …

Ilusi munafik ini cukup berhasil didepan pengikut2 mereka yang kebetulan kebanyakan tolol bin goblok.

Contoh paling kecil. Pertempuran Shiffin, yang mengakibatkan puluhan ribu umat islam terbunuh. Segala dosa akibat terbunuhnya puluhan ribu umat islam tersebut, ditimpakan kepada MUNAFIK. Muawiyah yang jelas2 memerintahkan ribuan pasukan untuk memberontak kepada Imam Ali dan membuat kekacauan, dicuci bersih dengan adanya ilusi yang bernama Munafik.

ILUSI kedua yang diciptakan wahhabi/salafy selain Munafik adalah IJTIHAD. Jika ilusi Munafik gagal atau dianggap gagal untuk menjelaskan sesuatu hal, maka dibuatlah ilusi yang namanya IJTIHAD.

IJTIHAD sendiri menurut pengertian Sunni adalah upaya yang sungguh2 untuk mencari ilmu dalam memutuskan suatu perkara yang tidak diputuskan oleh AlQuran maupun hadits dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Dalam kasus perang Shiffin, demi membela Muawiyah (setelah ilusi Munafik dianggap gagal), wahhabi/salafy menggunakan ilusi Ijtihad untuk membela Muawiyah. Hati yang jujur dan pikiran yang jernih, seharusnya bertanya :
1. Upaya yang sungguh2 seperti apa yang hendak dicari Muawiyah sehingga harus mengorbankan nyawa puluhan ribu umat Islam ?
Kalo dikatakan mencari pembunuh Utsman, anehnya, setelah Muawiyah berkuasa, kenapa pembunuh Utsman tidak dicari?
2. Apakah perang yang mengakibatkan nyawa puluhan ribu umat Islam terbuang ini, termasuk syarat yang masuk akal dan sesuai pertimbangan matang?

Perdefinisi Ijtihad saja, wahhabi/salafy gagal mencari pembenaran akan tindakan Muawiyah. Tapi toh, karena hati sudah buta dan pikiran sudah kotor, ilusi apapun akan digunakan demi membela tuan Mereka, Muawiyah laknatullah.

Paling banter wahhabi akan bilang : “Ah pasti ini kerjaanya munafik. Antara Umar dan Abu Hurairah tidak terjadi perselisihan, orang munafik lah yang membuat perselisihan.”

Mereka punya jawaban sapu jagad : “Munafik” . Kata inilah yang digunakan untuk menjawab berbagai kejadian muskil diantara sahabat.

Rasulullah disergap di bukit Aqobah => Munafik jadi tersangkanya.
Peristiwan Saqifah => Munafik juga jadi tersangkanya.

AbuDzar memprotest Utsman => Abu Dzar dihasut Munafik.

Abu Dzar dibuang Utsman ke gurun tandus => Atas hasutan Munafik. Utsman gak salah, yang salah Munafik.

Pembunuhan Utsman => Yang salah munafik

Aisyah, Talhal, Zubari perang dengan Imam Ali => Munafik yang salah. Aisyah, Talhal, Zubari dihasut Munafik. Imam Ali juga dihasut Munafik.

Perang Shiffin antara Imam Ali melawan Muawiyah => Yang ini lebih parah. Wahhabi/salafy bilang, dalam kasus ini, Justru Imam Ali yang dihasut Munafik untuk memerangi Muawiyah.

Munafik, munafik, kasihan banget sih deh elo. Jadi kambing hitam melulu. Kalo ditanya, siapa yang jadi munafik? jawabannya very easy. Yang namanya munafik ya gak ada yang tahu. Kalo tahu, bukan lagi munafik namanya … Iya toh …

Pokoknya, dikit-dikit munafik, dikit-dikit munafik. Munafik kok cuma dikit. Dasa wahhabi/salafy tolol …

Siapakah Musuh Allah, Abu Hurairah Atau Umar?

Melihat judulnya terasa membuat nafas sesak, tetapi kami ingatkan jangan tertipu dengan judulnya lebih baik baca dulu tulisan ini sampai habis. Tulisan ini sekali lagi hanya menampilkan hadis-hadis yang ternyata ditinjau dari sudut keilmuan adalah hadis shahih.

أخبرني أبو بكر محمد بن أحمد المزكي بمرو حدثنا عبد الله بن روح المدايني حدثنا يزيد بن هارون أنبأ هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال قال لي عمر يا عدو الله وعدو الإسلام خنت مال الله قال قلت لست عدو الله ولا عدو الإسلام ولكني عدو من عاداهما ولم أخن مال الله ولكنها أثمان أبلي وسهام اجتمعت قال فأعادها علي وأعدت عليه هذا الكلام قال فغرمني اثني عشر ألفا قال فقمت في صلاة الغداة فقلت اللهم اغفر لأمير المؤمنين فلما كان بعد ذلك أرادني على العمل فأبيت عليه فقال ولم وقد سأل يوسف العمل وكان خيرا منك فقلت أن يوسف نبي بن نبي بن نبي بن نبي وأنا بن أميمة وأنا أخاف ثلاثا واثنتين قال أولا تقول خمسا قلت لا قال فما هن قلت أخاف أن أقول بغير علم وأن أفتي بغير علم وأن يضرب ظهري وأن يشتم عرضي وأن يؤخذ مالي بالضرب هذا حديث بإسناد صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

Telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al Muzakkiy di Marwa yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Rawh Al Madainiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Hisyaam bin Hasan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah yang berkata Umar berkata kepadaku “wahai Musuh Allah dan musuh Islam, engkau telah mengkhianati harta Allah. Aku berkata “aku bukan Musuh Allah dan juga bukan musuh Islam tetapi aku adalah musuh siapapun yang memusuhi keduanya, aku pun tidak mengkhianati harta Allah. Harta itu adalah hasil penjualan unta-untaku dan sejumlah harta yang aku kumpulkan. Ia [Umar] berkata “kembalikanlah” dan aku mengulangi perkataan yang tadi. [Abu Hurairah] berkata “maka ia mengambil dariku dua belas ribu [dirham]. [Abu Hurairah] berkata “maka aku mendirikan shalat malam dan berdoa “Ya Allah, ampunilah amirul mukminin”. Suatu ketika setelah peristiwa itu ia memintaku untuk bertugas dan aku menolaknya. Ia [Umar] berkata “bukankah sungguh telah bertugas Yusuf dan ia lebih baik darimu”. Aku [Abu Hurairah] berkata “Yusuf adalah Nabi anak Nabi anak Nabi anak Nabi sedangkan aku adalah anak Umaimah dan aku takut tiga dan dua”. Ia [Umar] berkata “kenapa tidak engkau katakan lima?”. Aku [Abu Hurairah] berkata “tidak”. Umar berkata “apakah itu?” Aku [Abu Hurairah] berkata “aku takut berbicara tanpa ilmu, berfatwa tanpa ilmu, punggungku dicambuk, harga diriku dicela dan hartaku diambil dengan paksa”. Al Hakim berkata “hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim tetapi mereka tidak mengeluarkannya” [Al Mustadrak Ash Shahihain juz 2 no 3327]

Riwayat ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat shaduq. Hisyaam bin Hasan dalam periwayatannya dari Ibnu Sirin memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Sulaim Abu Hilal Ar Rasibiy seperti yang disebutkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 4/335 dengan jalan sanad telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Al Haitsam telah menceritakan kepada kami Abu Hilal dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah. Hisyaam bin Hasan juga memiliki mutaba’ah dari Ayub As Sakhtiyati sebagaimana yang disebutkan Abdurrazaq dalam Al Mushannaf 11/323 no 20659 dengan jalan sanad dari Ma’mar dari Ayub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah. Riwayat Ibnu Sa’ad dan Abdurrazaq semuanya terdapat lafaz perkataan Umar kepada Abu Hurairah “wahai musuh Allah”. Al Hakim dan Adz Dzahabi bersepakat menshahihkan hadis ini, berikut para perawi riwayat Al Hakim di atas

  • Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al Muzakkiy adalah Muhammad bin Ahmad bin Hatim Syaikh [guru] Al Hakim dia juga dikenal dengan panggilan Abu Bakar bin Abi Nashr. Al Hakim telah menshahihkan hadis-hadisnya dalam Al Mustadrak dan ia dengan jelas menyatakan Abu Bakar bin Abi Nashr shaduq [Su’alat Mas’ud bin Ali no 320]
  • Abdullah bin Rawh Al Madainiy adalah seorang yang tsiqat. Al Hakim berkata Daruquthni berkata “Abdullah bin Rawh Al Madainiy tidak ada masalah padanya” [Su’alat Al Hakim no 124]. As Sahmiy berkata aku bertanya kepada Daruquthni tentang ‘Abdullah bin Rawh Al Madainiy, ia berkata “tsiqat” [Su’alat Hamzah no 182]
  • Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]
  • Hisyaam bin Hasan Al Azdiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah [yang berarti ia tsiqat]. Sa’id bin Abi Arubah berkata “aku belum pernah melihat orang yang lebih hafal hadis Muhammad bin Sirin selain Hisyaam”. Ad Duuri berkata Ibnu Ma’in berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in juga menyatakan ia tsiqat [dalam riwayat Ad Darimiy]. Al Ijli berkata “orang bashrah yang tsiqat hasanul hadits”. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat. Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Adiy berkata “hadis-hadisnya lurus aku tidak melihat ia memiliki riwayat mungkar dan ia shaduq” [At Tahdzib juz 11 no 75]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat termasuk orang yang paling tsabit dalam riwayat Muhammad bin Sirin dan riwayatnya dari Atha’ dan Hasan diperbincangkan karena mursal” [At Taqrib 2/266]
  • Muhammad bin Sirin adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia tsiqat ma’mun seorang Faqih yang terhormat imam wara’ dan banyak ilmunya. Ibnu Hibban berkata “Muhammad bin Sirin adalah penduduk bashrah yang wara’ seorang Faqih yang memiliki keutamaan, hafizh dan mutqin”. [At Tahdzib juz 9 no 338]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dan ahli ibadah [At Taqrib 2/85]

Riwayat di atas menunjukkan kalau Umar telah memanggil Abu Hurairah dengan perkataan “wahai Musuh Allah”. Dan Abu Hurairah menyangkal perkataan tersebut bahwa ia bukan musuh Allah. Kisah ini memang terjadi pada masa Umar berkaitan dengan harta yang dikirimkan dan dimiliki oleh Abu Hurairah. Fokus permasalahan disini bukan pada siapakah yang benar tetapi pada lafaz atau perkataan “Musuh Allah” dari Umar kepada Abu Hurairah. Bukankah perkataan ini sangat kasar untuk ditujukan kepada seorang muslim apalagi terhadap salah seorang sahabat Nabi seperti Abu Hurairah.

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengingatkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati menggunakan perkataan “kafir” atau “musuh Allah” kepada saudaranya sesama muslim karena konsekuensinya sangat berat yaitu perkataan tersebut bisa berbalik kepada dirinya sendiri jika yang bersangkutan ternyata tidak demikian.

حدثني زهير بن حرب حدثنا عبدالصمد بن عبدالوارث حدثنا أبي حدثنا حسين المعلم عن ابن بريدة عن يحيى بن يعمر أن أبا الأسود حدثه عن أبي ذر أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ليس من رجل ادعي لغير أبيه وهو يعلمه إلا كفر ومن ادعى ما ليس له فليس منا وليتبوأ مقعده من النار ومن دعا رجلا بالكفر أو قال عدو الله وليس كذلك إلا حار عليه

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdus Shamad bin ‘Abdul Waarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain Al Mu’allimi dari Ibnu Buraidah dari Yahya bin Ya’mar bahwa Abul Aswad menceritakan kepadanya dari Abi Dzar yang mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Tidaklah seseorang mengakui orang lain sebagai ayahnya padahal ia mengetahui [bahwa ia bukan ayahnya] kecuali ia kafir. Barang siapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami dan hendaknya ia menyiapkan tempat duduknya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan “kafir” atau berkata “musuh Allah” padahal tidak demikian maka perkataan itu berbalik kepadanya [Shahih Muslim 1/79 no 61]

Berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih maka terdapat hukum atau aturan mengenai lafaz perkataan “kafir” dan lafaz perkataan “musuh Allah”. Jika seseorang mengucapkan kata tersebut kepada orang lain maka tetaplah itu menjadi milik salah satu dari keduanya. Jika memang demikian maka orang yang bersangkutan layak mendapatkannya tetapi jika tidak demikian maka perkataan itu akan kembali pada orang yang mengucapkannya.

Telah shahih bahwa Umar memanggil Abu Hurairah dengan perkataan “wahai Musuh Allah”. Maka hanya ada dua kemungkinan, Abu Hurairah memang musuh Allah tetapi jika tidak demikian maka kemungkinan yang satunya perkataan “musuh Allah” itu akan kembali kepada Umar sendiri. Itulah yang dimaksud dengan judul di atas. Siapakah Musuh Allah, apakah Abu Hurairah ataukah Umar?. Apa jawabannya, kami cukup bertawaqquf saja karena kalau coba-coba menjawab akan bermunculan para penghina yang seenaknya menuduh orang. Jadi tulisan ini tidak memvonis siapapun, tetapi hanya mengutarakan kebingungan yang dihadapi penulis terkait dengan hadis-hadis di atas. Silakan bagi siapapun yang bersedia memberikan jawaban atau memberikan masukan atau mengkoreksi kalau ada yang keliru dari tulisan di atas. Akhir kata mari berdiskusi dengan kata-kata yang santun sudah bukan zamannya lagi berdiskusi dengan kata-kata spam kotor caci maki hina menghina dan sebagainya. Salam Damai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s