Hadis yang menyatakan Umar Bin Khattab dijamin surga bertentangan dengan Qs.4:59 dan Qs. 49:2 jadi mustahil hadis tersebut shahih !!

Penyebab perselisihan antara Kaum Sunni dengan Kaum Syiah

SHOHIH MUSLIM, Kitab Al Wasiyyah no 4016
Pada hari Kamis malam; ketika Rasulullah sedang sakit menghadapi maut, beberapa sahabat berkumpul di rumah Aisyah untuk membesuk Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Berikanlah saya kerta dan pena, karena saya akan membuat surat wasiat sehingga kamu tidak tersesat setelah kepergianku!”

Umar ibn Khattab berkata: “Kita memiliki AlQuran; sudah cukup untuk kita AlQuran!”

Mayoritas sahabat tidak setuju dengan pendapat Umar ibn Khattab; sehingga terjadi pedebatan dengan suara keras di antara mereka. Rasulullah bertambah menderita mendengarkan perdebatan di antara para sahabat.

Rasulullah berkata: “Pergilah kamu semua keluar!”

Keadaan Rasulullah bertambah parah; sehingga Rasulullah wafat tanpa menulis surat wasiat

ALQURAN Qs.4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasul…..

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab mencegah para sahabat yang lain memberikan kertas dan pena; sehingga Rasulullah bisa meninggalkan surat wasiat?

ALQURAN Qs. 49:2
Hai orang orang yang beriman; janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih tinggi dari pada suara Nabi; dan janganlah kamu bersuara keras seperti suara keras di antara kamu; supaya tidak terhapus pahala kamu tanpa kamu sadari

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak menghormati Rasulullah; sehingga dia memulai pedebatan dengan suara yang keras?

Kalau menurut Ulama Syiah, sikap Umar ibn Khattab adalah kesalahan besar yang melanggar AlQuran dan Hadith; karena Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah, sehingga Umar ibn Khattab mencegah orang lain memberikan kertas dan pena kepada Rasulullah.

Umar ibn Khattab sengaja berdebat dengan suara yang keras di depan Rasulullah; sehingga Rasulullah sangat menderita, pada saat menghadapi maut.

Ulama Syiah berkata: “Rasulullah rajin mewajibkan para sahabat untuk menulis surat wasiat (baca Kutub Sihah Sittah tentang Surat Wasiat); tetapi Rasulullah sendiri tidak meninggalkan surat wasiat adalah keanehan dan kejanggalan!”

Ulama Syiah juga mengatakan: “Rasulullah akan menunjuk Ali ibn Abu Tholib sebagai penggantinya menjadi IMAM (Pemimpin) untuk ummat Islam!”

Benar 100 % dan setuju 100%, maka kita sebaiknya merujuk kepada Ahadith lain yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii)

Umar ibn Khattab sengaja menghalangi para sahabat untuk membuatkan Surat Wasiat sesaui dengan permintaan Rasululah.

KESIMPULAN

Kaum Sunni fanatik buta membela semua kesalahan yang telah dilakukan oleh para sahabat. Kaum Syiah rajin membela Rasulullah dan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka); karena kecintaan Kaum Syiah kepada Rasululah dan Ahlul Bait.

Perselisihan yang terjadi diatas pastilah :
“Yang satu benar, yang lain salah, mustahil kedua duanya benar”
Dalam hal ini Muhammad SAW lah yang berada dalam kebenaran karena beliau mempedomani AL QURAN

Rasulullah mewasiatkan 3 hal menjelang wafatnya…

Perkara ketiga adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kaum Muslimin disembunyikan  aswaja sunni  yaitu wasiat Nomor  3  Nabi  SAW…

Setelah  peristiwa ghadir kum tentang Imamah Ali,

berlanjut dengan penggagalan wasiat TERTULiS  NAbi  SAW  oleh  Umar bin Khattab untuk menjegal Imam Ali menjadi khalifah…

Setelah wasiat tertulis di gagalkan Umar : Rasulullah  SAW mengeluarkan 3 wasiat  secara lisan !!!  Aswaja Sunni menyembunyikan  wasiat  nomor  3  Nabi  SAW… keterlaluan  banget.. ini  kudeta dan pemalsuan agama bukan ???

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat tiga hal saat menjelang wafatnya: Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata, ?aku lupa isi wasiat yang ketiga.?( Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.)

Hadis mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengatakan tiga perkara tetapi ia lupa perkara ketiga yang berharga bagi kaum muslimin. Aneh sekali, bahwa perawi yang biasanya ingat akan ribuan hadis, lupa wasiat ketiga Nabi.

Perhatikan dua perkara yang disebutkan oleh kedua perawi tersebut;

1) Mengusir penyembah berhala dari semenanjung Arabia;

2) Menghormati utusan-utusan asing. Dapat kita lihat bahwa kedua perkara tersebut bukan perkara yang jika dilakukan kaum Muslimin, mereka tidak akan pernah tersesat sepeninggal Nabi Muhammad.

Perkara ketiga pasti lebih penting yang akan menjamin keselamatan kaum Muslimin, dan tidak mungkin tidak lebih penting daripada kepemimpinan.

Shahih Bukhari | No. 2911 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: ?Hari Kamis. Apakah hari Kamis itu?? Kemudian Ibnu Abbas menangis sehingga air matanya membasahi kerikil, lalu dia berkata: ?Rasulullah saw sakit keras pada hari Kamis, lalu beliau bersabda: ?Bawalah alat tulis kepadaku, aku catatkan buat kalian suatu catatan yang sesudah itu kalian tidak akan tersesat selamanya.? Maka mereka bertengkar dan tidaklah seyogya disisi Nabi ada pertengkaran: Mereka berkata: ?Rasulullah diam?. Beliau bersabda: ?Biarkanlah aku; sesuatu yang sedang aku lakukan (bersiap-siap menghadapi wafat dll) adalah lebih baik daripada apa yang kalian ajakkan kepadaku?. Ketika wafat, beliau berwasiat dengan tiga hal, yaitu: Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab, berilah hadiah kepada tamu (utusan) sepadan aku (Nabi) memberi hadiah kepada mereka. Dan aku lupa terhadap yang ketiga

Tidak syak lagi bahwa isi wasiat yang ?terlupa? itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali sebagai khalifah dan imam sepeninggalnya. Namun si perawi enggan menyebutkannya

Menurut Aisyah sejumlah orang telah mengklaim bahwa Nabi SAW telah mewasiatkan Imamah kepada Ali, tapi Aisyah menolak mentah mentah klaim tersebut ?. Orang yang menyatakan Nabi telah memberi wasiat pada Ali termasuk Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Fadhil, Salman, Abu Zarr sementara Aisyah tidak berada di kamar Nabi sehingga Aisyah tidak tau wasiat Nabi?

DALiL KUBU IMAM ALi-FATiMAH YANG BENAR

1. Hadis berikut ini membuktikan bahwa Abbas mengajak Imam Ali meminta wasiat tertulis berupa DOKUMEN TERTULiS dari Nabi? Wasiat lisan sudah diberikan oleh Nabi di Ghadir Kum? wasiat tertulis ingin diminta Abbas karena dia mengetahui ada desas desus bahwa kelompok Abubakar Umar dan kelompok Saad bin Ubadah juga mengincar kekhalifahan

Catatan yang paling kuat menunjukkan bahwa Rasul wafat dengan bersandar di dada Ali bin Abi Thalib; sebelum wafat, beliau telah berpesan agar Ali lah yang memandikan jenazah beliau. Rasul
Allah dimandikan setelah Abu Bakar dan Umar pergi ke Saqifah.

Tiada seorang pun dari keluarga Rasul maupun sahabat Ali yang mengetahui bahwa ada pertemuan di sana. Tetapi Abbas, paman Rasul, mempunyai firasat bahwa akan ada perebutan kekuasaan.

Bukhari :: Book 5 :: Volume 59 :: Hadith 728
Narrated ?Abdullah bin Abbas:
Ali bin Abu Talib came out of the house of Allah?s Apostle during his fatal illness. The people asked, ?O Abu Hasan (i.e. Ali)! How is the health of Allah?s Apostle this morning?? ?Ali replied, ?He has recovered with the Grace of Allah.? ?Abbas bin ?Abdul Muttalib held him by the hand and said to him, ?In three days you, by Allah, will be ruled by ?abdun al ?aashaa*, And by Allah, I feel that Allah?s Apostle will die from this ailment of his, for I know how the faces of the offspring of ?Abdul Muttalib look at the time of their death. So let us go to Allah?s Apostle and ask him who will take over the Caliphate. If it is given to us we will know as to it, and if it is given to somebody else, we will inform him so that he may tell the new ruler to take care of us.? ?Ali said, ?By Allah, if we asked Allah?s Apostle for it (i.e. the Caliphate) and he denied it us, the people will never give it to us after that. And by Allah, I will not ask Allah?s Apostle for it.?

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ?anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: ?Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah ?? Beliau menjawab: ?Alhamdulillah telah sembuh dengan izin Allah?.. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: ?Demi Allah, dalam tiga hari kedepan anda akan dipimpin oleh hamba yang bermaksiat/durhaka/otoriter* .. Demi Allah, aku merasa bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali bagaimana wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada nya siapa yang akan mengambil alih kekhalifahan.. Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. Kita akan melaporkan kepadanya maka mungkin Nabi akan memberitahukan penguasa baru yang akan memerintah.. Ali bin Abi Thalib berkata : ?Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakan kepada Rasulullah (tentang kekhalifahan), lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka orang orang tidak akan pernah memberikannnya kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan menanyakan nya kepada Rasulullah (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

* Teks arabnya : faqaala anta wallahi ba?da tsalaasin tahta ?abdun al ?aashaa, kata abdun ?aashaa bermakna hamba yang bermaksiat/ durhaka/ otoriter

Tapi tidak lama setelah peristiwa ini, pada hari kamis Nabi mencoba mewasiat kan 3 hal secara tertulis tapi di gagal kan oleh Umar.. Namun kemudian setelah mereka diusir Nabi mewasiatkan 3 hal secara lisan.. Wasiat ketiga disembunyikan Aswaja sehingga Aswaja bisa tegak

Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk.. Ahlul bait sebagai khalifah pengganti Nabi ditambah hadis Tsaqalain dengan matan ?khalifah?

Rasulullah SAW bersabda kepada Ali ?Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku?. [diriwayatkan dalam Musnad Abu Daud Ath Thayalisi no 829 dan 2752, Sunan Tirmidzi no. 3713, Khasa?is An Nasa?i no 89, Musnad Abu Ya?la no 355, Shahih Ibnu Hibban no 6929, Musnad Ahmad 5/356 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Al Mustadrak 3/134, Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/468 menyatakan sanadnya kuat, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 2223].

2.Shahih Bukhari | No. 4237 | KITAB PERANG

Dari Anas katanya: ?Ketika Nabi saw. sakitnya sudah keras (kritis) maka beliau jatuh pingsan. Lalu Fatimah berkata: ?Aduh, sulitnya ayahku? Maka beliau berkata kepadanya: ?Sudah tidak ada lagi kesulitan lagi bagi ayahmu setelah hari ini?. Maka ketika beliau sudah meninggal dunia, Fatimah berkata:?Lalu Ayahku, engkau telah memenuhi panggilan Tuhan, Duh ayahku siap yang menempati Sorga Firdaus, duh ayahku kepada Malaikat Jibril kita memberi khabar kematian?. Ketika Rasulullah telah dimakamkan, maka Fatimah as. berkata: ?Hai Anas, Apakah jiwamu menjadi baik bila menaburkan debu kepada Rasulullah saw.?

3.Shahih Bukhari | No. 4240 | KITAB PERANG

Dari Salim dari ayahnya (Abdullah bin Umar) bahwa saw. menugaskan Usamah bin Zaid, lalu mereka (para sahabat)membicarakan tentangnya, lantas Nabi saw. bersabda: ?telah sampai kepadaku bahwa kalian berkata tentang Usamah dan sesungguhnya ia adalah orang yang paling saya cintai?.

4.Shahih Bukhari | No. 4214 | KITAB PERANG

Dari Said bin Jabir katanya: ?Ibnu Abbas telah berkata: ?Pada hari kamis dan selain hari kamis sakit Rasulullah parah ?. Maka Rasulullah saw. berkata: ?Datanglah kalian kepada saya. Saya akan menulis sebuah surat untuk kalian. Kalian tidak akan sesat selamanya. Kemudian para sahabat bertengkar (berbeda pendapat). Tidak patut perbedaan pendapat yang timbu! dari satu Nabi?. Maka mereka berkata: ?Apa keadaan Nabi saw., apakah beliau diam? Mintalah penjelasan kepadanya. Mereka pergi kembali kepada Nabi. Lantas beliau bersabda: ?Tinggalkanlah aku, parkara yang sedang saya lakukan lebih baik dari apa yang kamu ajak aku kepadanya, dan beliau berwasiat kepada mereka tiga perkarat 1. Keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab. 2. Kirimkanlah delegasi sebagaimana saya telah mengirimkan delegasi. Perkara yang nomor tiga : ?saya lupa dengannya?.

5.Shahih Bukhari | No. 4216 | KITAB PERANG

Dari Aisyah ra., katanya: ?Nabi saw. memanggil Fatimah pada waktu sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, lantas beliau membaikkan sesuatu keadannya lantas Fatimah menangis, kemudian beliau membisikkan sesuatu kepadanya lantas dia tertawa, lalu kami bertanya tentang itu, lantas Fatimah menjawab: ?Nabi saw. berbiaik kepadaku bahwa beliau akan meninggal dunia dalam sakit yang ia derita sekarang, lalu saya menangis, kemudian beliau berbiaik kepadaku, lalu beliau berikan khabar aku bahwa saya adalah keluarga yang pertama kali mengikutinya lantas saya tertawa?.

6.Shahih Bukhari | No. 3544 |
KITAB BERBAGAI KEUTAMAAN SAHABAT-SAHABAT NABI
Dari Abdullah bin ?Umar ra., Ia berkata: Nabi saw. mengirim perutusan (pasukan perang) dan beliau mengangkat Usamah bin Zaid sebagai pimpinan atas mereka, lalu sebagian orang mencerca kepemimpinannya. Maka Nabi saw. bersabda: ?Bila kalian mencerca kepemimpinannya, maka kalian mencerca pula kepemimpinan ayahnya sebelum (dia). Demi sumpah Allah, sungguh Ia (laid) diberi hak untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya Ia adalah orang yang paling aku cintai dan ini (Usamah) adalah orang yang paling aku cintai setelah dia?.

Shahih Bukhari | No. 4241 | KITAB PERANG
Dari Abdullah bin Umar ra. bahwasannya Rasulullah saw . telah menggirim satu utusan dan menjadikan Usamah;sebagai pemimpinnya lantass orang banyak mengecam kepemimpinannya, lantas ia. sudah saw. berdiri sambil bekata: ?Jika kalian mengecam kepemimpinannya, maka kalian benar-benar telah mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin, dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan sesungguhnya orang ini benar-benar termasuk orang yang paling aku cintai sesudahnya?.

Shahih Bukhari | No. 6302 | KITAB SUMPAH DAN NADZAR
Dari Abdullah bin Umar ra. katanya. ?Rasulullah saw. telah mengurus utusan dan telah menjadikan pemimpin mereka Usamah bin Zaid, lantas sebagian manusia mencela kepemimpinannya. Lantas Rasulullah saw. berdiri seraya bersabda: ?Jika kalian mencela kepemimpinannya, maka sungguh kalian mencela kepemimpinan ayahnya sebelum itu (muhammad). Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar tercipta sebagai pemimpin. Dan sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang yang paling saya cintai dan sesungguhnya (orang) ini (Usamah) sungguh termasuk orang yang paling saya cintai sesudah itu?.
??
7.ALQURAN 2:240
Mereka yang akan meninggal di antara kamu dan meninggalkan para istri; diwajibkan untuk membuat surat wasiat??.

8.ALQURAN 2:180
diwajibkan atas kamu; jika datang tanda2 maut; jika meninggalkan harta; untuk membuat surat wasiat?.

9. SUNAN ABU DAWUD, Kitab Al Kharaj, Bab tentang Khumus & Fai?i no 2978
Ali ibn Abu Tholib berkata: ?Saya, Al Abbas, Fatimah, Zaid ibn Harithat mengunjungi Rasulullah dan kami berkata: ?Ya Rasulullah jika kamu akan khumus kepada kami seperti yang diterangkan di dalam AlQuran; maka bagilah (buatlah surat wasiat) sekarang supaya tidak terjadi perbedaan pendapat setelah kepergian kamu!? .Rasulullah berkata: ?Saya akan menugaskan Abu Bakr untuk membuatnya!?

10.ALQURAN 4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasulullah?.

Siapa yang mengatakan Rasulullah meninggal dipangkuan Aisyah? Itukan hanya kata Aisyah yang membenci Imam Ali..Ibnu Abbas ditanya seseorang.: ?Dipangkuan siapa Nabi menghembuskan napas terakhir?? Ibn Abbas menjawab: ?Saat meninggal dipangkuan Ali? Orang itu menambahkan: ? Aisyah mengaku bahwa ketika menghembuskan napas terakhir, kepala Nabi bersandar kedadanya.? Ibn Abbas menolak pengakuannya itu seraya berkata: ?Nabi menghembuskan napas terakhir dipangkuan Ali, dan Ali serta saudara saya Fadhl yang memandikannya.? (Thabaqat al-Kubra jil.II hal.263: Sirah Ibn Hisyam II hal. 654; Tarikh al-Kamal II )?? Jadi mungkin saja Aisyah memerangi Ahlulbait Nabi

12.Ibnu Abbas berkata: ?Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, ?Pergilah kalian dari sisiku!? Ibnu Abbas berkata: ?Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.?
Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil. 3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.

Shahih Bukhari | No. 3019 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)
Dari Sa?id bin Jubair, dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: ?Hari Kamis. Apakah hari Kamis itu?? Kemudian Ibnu Abbas menangis hingga air matanya membasahi kerikil. Aku bertanya: ?Wahai Ibnu Abbas, apakah hari Kamis itu?? ia berkata: ?Rasulullah saw sakit keras, lalu beliau bersabda: ?Datangkanlah kepadaku tulang belikat (papan tulis), untuk aku tuliskan catatan (wasiat) kepada kamu di mana kamu tidak akan tersesat sesudah itu selama-lamanya.? Maka mereka berdebat, dan tidaklah patut terjadi perdebatan di hadirat Nabi. Lalu mereka berkata: ?Apakah pada beliau itu? Adakah beliau mendiamkan (tidak mau berhubungan)? Mintalah pemahaman kepada beliau?. Lalu beliau bersabda: ?Biarkanlah aku. Maka apa yang sedang aku hadapi ini adalah lebih baik daripada apa yang kamu pintakan kepadaku?. Lalu beliau memerintahkan kepada mereka tiga perkara; di mana beliau bersabda:?Keluarkanlah orang-orang musyrik dari jazirah Arab,dan berilah hadiah kepada utusan sepadan aku memberi hadiah kepada mereka, dan yang ketiga aku lupa

Rasulullah meminta kertas dan pena; tetapi Umar ibn Khattab menolak dan mencegah para sahabat yang lain untuk memberikan kertas dan pena kepada Rasulullah.

Abu Bakr dan Umar ibn Khattab tidak menghendaki Ali ibn Abu Tholib untuk menggantikan Rasulullah; sehingga Abu Bakr dan Umar ibn Khattab berusah mencegah Rasulullah untuk membuat Surat Wasiat; sehingga Rasulullah tidak tertulis di dalam Surat Wasiat bahwa Ali ibn Abu Tholib sebagai pengganti Rasulullah.

- Imam Ali menunda baiatnya kepada Abubakar yang mana menjelaskan kepada kita bahwa Imam Ali as tidak pernah mendengar isyarat atau penunjukan Abubakar sebagai pengganti Nabi saw. Jika Imam Ali as pernah mendengar isyarat ini maka bagi Imam Ali as tdk perlu menunggu waktu lama (bahkan hingga 6 bulan?) untuk melakukan baiat. Manusia di sekitar Nabi saw yang pertama pertama akan melaksanakan perintah Nabi saw adalah Imam Ali as.

Jangankan hanya membaiat, mengorbankan jiwanya untuk menggantikan Nabi saw pun bukan masalah. Penolakan Imam Ali as untuk membaiat kepada khalifah terpilih juga menegaskan 1 hal, yakni Imam Ali as sdh mengetahui dari Rasul saw siapa yg seharusnya menjadi pimpinan umat mukmin setelah Rasul saw wafat. Yang pasti bukanlah Abubakar.

- kapan Imam Ali mengakui tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan. JUSTRU Imam Ali mengakui kepemimpinannya kok itu tertera dalam hadis shahih. ho ho ho gak pernah baca ya, kalau Imam Ali ketika menjadi khalifah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang soal hadis tersebut. Artinya Imam Ali mau menjadi khalifah dengan hujjah dalil tersebut?

13.Shahih Bukhari | No. 2948 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)
. Dari Aisyah, Ummil Mukminin ra, dia berkata: Sesungguhnya Fathimah alaihassalaam binti Rasulullah saw meminta kepada Abu Bakar, sesudah wafat Rasulullah saw, supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah saw dan harta fai? yang dianugerahkan oleh Allah kepada beliau. Berkata Abu Bakar kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: ?(Harta) kami tidaklah diwaris. Harta yang kami tinggalkaan adalah merupakan shadakah?. Maka Fathimah binti Rasulullah saw marah dan mendiamkan Abu Bakar. Fathimah senantiasa mendiamkan Abu Bakar hingga meninggal, dan dia hidup sesudah Rasulullah saw selama enam bulan. Aisyah berkata: Fathimah itu meminta bagiannya kepadaAbu Bakar, dari harta yang ditinggalkan Rasulullah saw berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan shadakah beliau di Madinah. Abu Bakar menolak demikian kepadanya, dan Abu Bakar berkata: ?Aku tidak meninggalkan sesuatu, yang dulu diperbuat oleh Rasulullah saw, aku melaksanakannya. Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan beliau.? (Berkata Aisyah:) Adapun shadakah beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar danFadak oleh Umar ditahan, dan dia berkata: ?Dua tanah itu adalah shadakah Rasulullah saw, keduanya adalah oleh hak-hak beliau, yang datang kepada beliau dan oleh peristiwa-peristiwa yang beliau alami. Sedangkan urusan itu adalah kepada orang yang memegang kekuasaan? Berkata (AI-Zuhri perawi hadits ini): Maka kedua tanah itu demikian keadaannya (di tangan pemegang kekuasaan) sampai hari ini.

Riwayat Hidup Para Imam Suci Ahlul Bait as.

Tragedi Hari Kamis

Sebelum meninggal dunia, Rasulullah saw. melihat pentingnya memperkokoh baiat terhadap washî dan pintu kota ilmunya yang telah terlaksana di Ghadir Khum untuk menutup kesempatan bagi para pengkhianat. Ia saw. berkata: “Ambilkan secarik kertas dan pena untukku. Aku akan menulis untuk kalian sebuah wasiat agar kalian tidak tersesat untuk selamanya.”
Betapa besar nikmat tersebut bagi kaum muslimin. Karena hal itu adalah sebuah jaminan dari penghulu alam, Rasulullah saw. bahwa umat manusia tidak akan tersesat sepeninggalannya. Mereka senantiasa dapat berjalan di atas jalan lurus yang tidak tercerabuti oleh penyimpangan sedikit pun. Wasiat apakah yang dapat menjamin petunjuk dan kebaikan bagi umat Islam itu? Wasiat itu tidak lain adalah kepemimpinan Ali as. atas umat manusia sepeninggalnya

.
Sebagian sahabat mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw. bermaksud ingin menulis wasiat mengenai kekhalifahan Ali as. sepeninggalnya. Oleh karena itu, mereka menolak permintaannya itu sembari berteriak: “Cukup bagi kita kitab Allah!”

.Setiap orang yang merenungkan penolakan tersebut pasti mengetahui apa maksud ucapan itu. Sahabat yang menolak itu merasa yakin bahwa Nabi saw. akan mengangkat Imam Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya melalui wasiat tersebut. Seandainya sahabat itu tahu bahwa ia hanya ingin berwasiat supaya perbatasan-perbatasan wilayah negara Islam dijaga atau ajaran-ajaran agama Islam diperhatikan, pasti ia tidak akan menolak permintaannya seberani itu.
Yang jelas, ketika itu terjadi keributan di antara orang-orang yang hadir di rumah Rasulullah saw. Sekelompok dari mereka berusaha agar permintaannya itu segera dilaksanakan. Sementara sekelompok yang lain berusaha menghalanginya menulis wasiat tersebut. Beberapa Ummul Mukminin dan para wanita yang lain melawan sikap para penentang yang telah berani menghalang-halanginya di saat-saat terakhir Hayâhnya itu. Mereka berkata dengan nada protes: “Tidakkah kalian mendengar ucapan Rasulullah saw.? Tidakkah kalian ingin melaksanakan keinginan Rasulullah saw.?”

.Khalifah Umar, dalang dan otak penentangan itu, bangkit dan berteriak kepada para wanita itu. Ia berkata: “Sungguh kalian adalah wanita-wanita yusuf. Apabila ia sakit, kalian hanya bisa menangis. Dan Jika ia sehat, kalian senantiasa membebaninya”.
Mendengar teriakan itu, Rasulullah saw. berkata seraya membidikkan pandangan matanya yang tajam ke arah Umar: “Biarkan para wanita itu. Sungguh mereka lebih baik dibandingkan dengan kalian semua!”
Pertikaian di antara orang-orang yang hadir pun bertambah sengit. Hampir saja kelompok yang mendukung Nabi saw. untuk menulis wasiat itu memenangkan pertikaian. Tetapi seorang penentang segera bangkit dan membidikkan panahnya untuk menghancurkan taktiknya. Orang itu berkata: “Sesungguhnyanya sedang mengigau.”
Betapa lancangnya orang itu berkata demikian kepada Rasulullah saw. dan sungguh berani ia menentang poros kenabian. Dia berani mengatakan bahwa Rasulullah saw. sedang mengigau, padahal Al-Qur’an berfirman: “Sahabat kalian itu tidak tersesat dan juga tidak menyimpang. Dia tidak berbicara atas dasar hawa nafsu, melainkan atas dasar wahyu yang diturunkan kepadanya. Dia dididik oleh Dzat Yang Maha Perkasa.” (QS. An-Najm [53]:2-5)
Nabi Muhammad saw. mengigau? Padahal Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya itu adalah ucapan seorang rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan di sisi ‘Arsy yang tersembunyi.” (QS. At-Takwîr [81]:19-20)

.Kita harus melihat peristiwa tersebut secara obyektif dan dengan kesadaran yang bukan penuh, bukan dengan perasaan dan emosi. Karena hal itu berkaitan erat dengan realitas agama kita dan dapat mengungkap bagi kita suatu realitas yang menunjukkan tipu daya musuh terhadap Islam.
Ala kulli hal, taktkala Ibn Abbâs, panutan umat yang alim itu, menyebutkan peristiwa yang mengenaskan itu, hatinya pilu bak tersayat sembilu dan melinangkan air mata bagaikan butiran-butiran permata. Dia berkata: “Hari Kamis! Oh betapa memilukan tragedi hari Kamis. Pada hari Kamis itu Rasulullah saw. bersabda: ‘Ambilkan kertas dan pena untukku. Aku ingin menulis sebuah wasiat untuk kalian, agar kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.’ Tetapi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah sedang mengigau.’”
Satu-satunya kemungkinan yang bisa kita ungkapkan berkenaan dengan masalah ini adalah sekiranya Rasulullah saw. sempat menulis wasiat berkenaan dengan hak Imam Ali as. itu, wasiat itu tidak akan bermanfaat sama sekali. Mereka akan menuduhnya saw. sedang mengigau dan tidak sadarkan diri. Padahal tuduhan semacam ini adalah sebuah tikaman yang sangat telak atas kesucian kenabian.

Rasulullah saw. Menghadap ke Haribaan Ilahi

Kini tiba saatnya manifestasi kelembutan Ilahi itu harus berangkat ke langit yang tinggi. Kini tiba saatnya cahaya yang menerangi alam semesta ini harus pindah ke haribaan suci Ilahi. Malaikat maut telah mendekat menghampirinya saw. untuk menerima roh yang agung itu. Pada saat itu, ia saw. menoleh ke washî dan pintu kota ilmunya. Ia saw. bersabda: “Letakkanlah kepalaku di atas pangkuanmu. Utusan Allah telah tiba. Apabila rohku telah keluar, maka raih roh itu dan usaplah wajahmu dengannya. Kemudian hadapkanlah aku ke arah kiblat, uruslah jenazahku, dan salatilah aku. Engkaulah orang pertama yang menyalatiku. Janganlah engkau tinggalkan aku hingga engkau kuburkan aku di dalam tanah, dan mintalah bantuan kepada Allah swt.”
Imam Ali as. segera meraih kepala Rasulullah saw. dan meletakkan kepala suci itu di atas pangkuannya, lalu ia meletakkan tangan kanannya di bawah dagunya. Tidak lama kemudian, roh Rasulullah saw. yang agung pun berangkat. Imam Ali mengusap wajahnya dengan rohnya itu.
Bumi bergoncang dan cahaya keadilan pun lenyap. Oh, betapa hari-hari yang panjang ini penuh dengan kesedihan, hari yang gelap gulita tidak ada tandingannya. Telah sirna mimpi-mimpi kaum muslimin. Kaum wanita Madinah pun keluar sambil menampar-nampar pipi mereka. Suara duka dan kesedihan mereka terdengar nyaring. Para Ummul Mukminin menghempaskan jilbab-jilbab dari atas kepala sembari memukul-mukul dada. Sementara tenggorokan kaum wanita Anshar parau karena berteriak histris.
Di antara keluarga Rasulullah saw. yang paling terpukul dan sedih adalah buah hati dan putri semata wayangnya, Sayyidah Az-Zahrâ’ as. Ia merebahkan diri ke atas jenazah ayahanda tercinta sembari berkata dengan suara yang pilu: “Oh, ayahku! Oh, nabi rahmatku! Kini wahyu tak ‘kan datang lagi. Kini terputuslah hubungan kami dengan Jibril. Ya Allah, susulkanlah rohku dengan rohnya. Berikanlah aku syafaat untuk dapat melihat wajahnya. Janganlah Engkau halangi aku untuk memperoleh pahala dan syafaatnya pada Hari Kiamat kelak.”
Az-Zahrâ’ as. berjalan mondar-mandir di seputar jenazah ayahandanya yang agung itu dengan duka yang mendalam. Peristiwa itu telah membungkam lidahnya. Ia hanya dapat berkata: “Oh, ayahku! Kepada Jibril aku menyampaikan bela sungkawa ini. Oh, ayahku! Surga Firdaus tempat ia berteduh. Oh, ayahku! Ia telah memenuhi panggilan Tuhan yang telah memanggilnya.”
Kewafatan ayahanda tercinta telah membuat Sayyidah Az-Zahrâ’ bisu bagaikan mayat yang tak bernyawa lagi. Betapa sedihnya Az-Zahra as., buah hati Rasulullah saw. itu.

Menangani Proses Pemakaman Jenazah yang Agung

Imam Ali as. menangani proses pemakaman jenazah saudara dan putra pamannya itu sambil mencucurkan air mata yang deras. Ali as. memandikan jasad yang suci itu sambil berkata dengan suara yang lirih: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, dengan kepergianmu ini telah terputus kenabian dan berita langit yang tidak pernah terputus dengan kematian orang lain selainmu. Engkau dikhususkan (dengan kenabian) sehingga engkau senantiasa menjadi pelipur lara bagi orang lain, dan missimu bersifat umum sehingga seluruh manusia sama di hadapanmu. Sekiranya engkau tidak menyuruhku untuk bersabar dan tidak melarangku untuk berkeluh-kesah, niscaya telah kutumpahkan seluruh kesedihanku, problem pun berkepanjangan, dan kesedihan pun berkelanjutan.”
Setelah selesai memandikan jasad Rasulullah saw., Ali as. mengkafaninya dan meletakkan jazad mulia itu di atas keranda untuk dimakamkan.

Menyalati Jenazah Rasulullah saw.

Orang pertama yang menyalati jenazah Rasulullah saw. yang suci adalah Allah swt. di atas ‘Arsy-Nya, kemudian Jibril as., kemudian Israfil as., dan kemudian para malaikat serombongan demi serombongan. Setelah itu, kaum muslimin berbondong-bondong menyalati jenazah nabi mereka. Imam Ali as. berkata: “Tak seorang pun yang menjadi imam dalam salat ini. Ia adalah imam kalian, baik ketika hidup maupun setelah wafat.”
Mereka masuk ke dalam ruangan sekelompok demi sekelompok dan menyalati jenazahnya dengan berbaris tanpa imam. Salat tersebut dilakukan secara khusus. Imam Ali as. membacakan bacaan-bacaan salat, sementara mereka mengikuti bacaan terebut. Bacaan itu adalah

?لسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ مَا

أُنْزِلَ إِلَيْهِ، وَ نَصَحَ لِأُمَّتِهِ، وَ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتىَّ أَعَزَّ اللهُ دِيْنَهُ وَ تَمَّتْ كَلِمَتُهُ،

اللَّهُمَّ فَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّبِعُ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ، وَ ثَبِّتْنَا بَعْدَهُ وَ اجْمَعْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُ


Salam sejahtera, juga rahmat, dan seluruh berkah Allah untukmu, wahai nabi Allah. Ya Allah, kami bersaksi bahwa ia telah menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya, telah menasihati umatnya, dan telah berjuang di jalan Allah sehingga Allah memuliakan agama-Nya dan menyempurnakan kalimat-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti apa yang telah diturunkan kepadanya. Teguhkanlah kami sepeninggalnya dan himpunlah kami dengannya.

Sementara seluruh masyarakat yang menyalatinya itu mengucapkan: “Amîn.”
Kaum muslimin berjalan melalui jenazah nabi yang agung itu sembari menatapnya dengan kesedihan dan rasa duka yang sangat dalam. Mereka kini telah kehilangan penyelamat dan pembimbing. Pembangun negara dan peradAbân yang tinggi itu telah wafat meninggalkan mereka.

Menguburkan Jenazah Rasulullah saw.

Seusai kaum muslimin menyalati jenazah Rasulullah saw., Imam Ali as. menggali kuburan untuknya. Setelah itu, ia menguburkan jenazah saudaranya itu.
Kekuatan Ali telah melemah. Ia berdiri di pinggiran kubur sembari menutupi kuburan itu dengan tanah dengan disertai linangan air mata. Ia mengeluh: “Sesungguhnya sabar itu indah, kecuali terhadapmu. Sesungguhnya berkeluh-kesah itu buruk, kecuali atas dirimu. Sesungguhnya musibah atasmu sangat besar. Dan sesungguhnya sebelum dan sesudahmu terdapat peristiwa besar.”
Pada hari bersejarah itu, bendera keadilan telah terlipat di alam kesedihan, tonggak-tonggak kebenaran telah roboh, dan cahaya yang telah menyinari alam telah lenyap. Beliaulah yang telah berhasil mengubah perjalanan hidup umat manusia dari kezaliman yang gelap gulita kepada kehidupan sejahtera yang penuh dengan peradAbân dan keadilan. Dalam kehidupan ini, suara para tiran musnah dan jeritan orang-orang jelata mendapat perhatian. Seluruh karunia Allah terhampar luas untuk hamba-hamba-Nya dan tak seorang pun memiliki kesempatan untuk menimbun harta untuk kepentingannya sendiri.

Muktamar Tsaqîfah

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peristiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka dan membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka.
Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ’idah pada hari Rasulullah saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekhalifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Rasulullah saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum. Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Rasulullah saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Rasulullah saw. sedang mengigau sehingga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.
Ala kulli hal, kaum Anshar merupakan tulang punggung bagi kekuatan bersenjata pasukan Rasulullah saw. dan mereka pernah menebarkan kesedihan dan duka di rumah-rumah kaum Quraisy yang kala itu hendak melakukan perlawanan terhadap Rasulullah saw. Ketika itu orang-orang Quraisy betul-betul merasa dengki terhadap kaum Anshar. Oleh karena itu, kaum Anshar segera mengadakan muktamar, karena khawatir terhadap kaum Muhajirin.
Hubâb bin Munzdir berkata: “Kami betul-betul merasa khawatir bila kalian diperintah oleh orang-orang yang anak-anak, nenek moyang, dan saudara-saudara mereka telah kita bunuh.”
Kekhawatiran Hubbâb itu ternyata menjadi kenyataan. Setelah usia pemerintahan para khalifah usai, dinasti Bani kaum Umayyah berkuasa. Mereka berusaha untuk merendahkan dan menghinakan mereka. Mu’âwiyah telah berbuat zalim dan kejam. Ketika Yazîd bin Mu’âwiyah memerintah, ia juga bertindak sewenang-wenang dan menghancurkan kehormatan mereka dengan berbagai macam siksa dan kejahatan. Yazîd menghalalkan harta, darah, dan kehormatan mereka pada tragedi Harrah. Sejarah tidak pernah menyaksikan kekejian dan kekezaman semacam itu.
Ala kulli hal, pada muktamar Tsaqîfah tersebut, kaum Anshar mencalonkan Sa’d sebagai khalifah, kecuali Khudhair bin Usaid, pemimpin suku Aus. Ia enggan berbaiat kepada Sa’d karena kedengkian yang telah tertanam antara sukunya dan suku Sa’d, Khazraj. Sudah sejak lama, memang hubungan antara kedua suku ini tegang.
‘Uwaim bin Sâ’idah bangkit bersama Ma’n bin ‘Adî, sekutu Anshar, untuk menjumpai Abu Bakar dan Umar. Mereka ingin memberitahukan kepada Abu Bakar dan Umar peristiwa yang sedang berlangsung di Tsaqîfah. Abu Bakar dan Umar terkejut. Mereka segera pergi menuju ke Tsaqîfah secara tiba-tiba. Musnahlah seluruh cita-cita yang telah dirajut oleh kaum Anshar. Wajah Sa’d berubah. Setelah terjadi pertikaian yang tajam antara Abu Bakar dan kaum Anshar, kelompok Abu Bakar segera bangkit untuk membaiatnya. Umar yang bertindak sebagai pahlawan dalam baiat itu telah memainkan peranannya yang aktif dalam ajang pertikaian kekuasaan itu. Dia menggiring masyarakat untuk membaiat sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar keluar dari Tsaqîfah diikuti oleh para pendukungnya menuju ke masjid Rasulullah saw. dengan diiringi oleh teriakan suara takbir dan tahlil. Dalam baiat ini, pendapat keluarga Nabi saw. tidak dihiraukan. Begitu pula pendapat para pemuka sahabatnya, seperti Ammâr bin Yâsir, Abu Dzar, Miqdâd, dan sahabat-sahabat yang lain.

Sikap Imam Ali as. Terhadap Pembaiatan Abu Bakar

Para sejarawan dan perawi hadis bersepakat bahwa Imam Ali as. menolak dan tidak menerima pembaiatan atas Abu Bakar. Ia lebih berhak untuk menjadi khalifah. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Kedudukan Ali as. di sisi Rasulullah saw. adalah seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Islam tegak karena perjuangan dan keberaniannya. Dia mengalami berbagai macam bencana dalam menegakkan Islam. Nabi saw. menjadikan Ali as. sebagai saudaranya. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada kaum muslimin: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah juga pemimpinnya.”
Atas dasar ini, Ali as. menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat untuk menyeret Ali as. dan memaksanya berbaiat. Umar bin Khaththab bersama sekelompok pengikutnya mengepung rumah Ali as. Umar menakut-nakuti, mengancam, dan menggertak Ali as. dengan menggenggam api untuk membakar rumah wahyu itu. Buah hati Rasulullah saw. dan penghulu para wanita semesta alam keluar dan bertanya dengan suara lantang: “Hai anak Khaththab, apa yang kamu bawa itu?” Umar menjawab dengan keras: “Yang aku bawa ini lebih hebat daripada yang telah dibawa oleh ayahmu.”
Sangat disayangkan dan menggoncang kalbu setiap muslim! Mereka telah berani bertindak keras seperti itu terhadap Az-Zahrâ’ as., buah hati Rasulullah saw. Padahal Allah rida karena keridaan Az-Zahrâ’ dan murka karena kemurkaannya. Melihat kelancangan ini, tidak ada yang layak kita ucapkan selain innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.
Akhirnya, mereka memaksa Imam Ali as. keluar dari rumahnya dengan paksa. Para pendukung Khalifah Abu Bakar menyeret Imam Ali as. untuk menghadap dengan pedang terhunus. Mereka berkata dengan lantang: “Baiatlah Abu Bakar! Baiatlah Abu Bakar!”
Imam Ali as. membela diri dengan hujah yang kokoh dan tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekerasan dan kekezaman mereka. Ia berkata: “Aku lebih berhak atas masalah ini daripada kalian. Aku tidak akan membaiat kalian, tetapi kalian sebenarnya yang harus membaiatku. Kalian telah merampas urusan ini dari kaum Anshar dengan alasan bahwa kalian memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi saw. Tetapi kalian telah menggasab kekhalifahan itu dari kami Ahlul Bait secara paksa. Bukankah kamu telah mengaku di hadapan kaum Anshar bahwa kamu lebih utama dalam urusan ini daripada mereka karena Nabi Muhammad saw. berasal dari kalangan kalian, sehingga mereka rela memberikan dan menyerahkan kepemimpinan itu kepadamu? Kini aku juga ingin berdalih kepadamu seperti kamu berdalih kepada kaum Anshar. Sesungguhnya aku adalah orang yang lebih utama dan lebih dekat dengan Rasulullah saw., baik Ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Camkanlah ucapanku ini, jika kamu beriman. Jika tidak, maka kamu telah berbuat zalim sedang kamu mengetahuinya.”
Betapa indah hujah dan dalil tersebut. Kaum Muhajirin dapat mengalahkan kaum Anshar lantaran hujah itu, karena mereka merasa memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi saw. Argumentasi Imam Ali as. lebih tepat, lantaran suku Quraisy yang terdiri dari banyak kabilah dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw. itu bukan anak-anak paman atau bibinya. Sementara hubungan kekerabatan antara Nabi saw. dengan Imam Ali as. terjelma dalam bentuk yang paling sempurna. Karena Ali as. adalah sepupu Nabi saw., ayah dua orang cucunya, dan suami untuk putri semata wayangnya.
Walau demikian, Umar tetap memaksa Imam Ali as. Umar berkata: “Berbaiatlah!”
“Jika aku tidak melakukannya?”, tanya Imam Ali pendek.
“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika engkau tidak membaiat, aku akan penggal lehermu”, jawab Umar pendek.
Imam Ali as. diam sejenak. Ia memandang ke arah kaum yang telah disesatkan oleh hawa nafsu dan dibutakan oleh cinta kekuasaan itu. Imam Ali as. melihat tidak ada orang yang akan menolong dan membelanya dari kejahatan mereka. Akhirnya ia menjawab dengan nada sedih: “Jika demikian, kamu telah membunuh hamba Allah dan saudara Rasulullah.”
Umar segera menimpali dengan berang: “Membunuh hamba Allah, ya. Tetapi saudara Rasulullah, tidak.”
Umar telah lupa dengan sabda Rasulullah saw. bahwa Imam Ali as. adalah saudaranya, pintu kota ilmunya, dan kedudukannya di sisinya adalah sama dengan kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Ali as. adalah pejuang pertama Islam. Semua realita dan keutamaan itu telah dilupakan dan diingkari oleh Umar.
Kemudian Umar menoleh ke arah Abu Bakar seraya menyuruhnya untuk mengingkari hal itu. Umar berkata kepada Abu Bakar: “Mengapa engkau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk memaksanya?”
Abu Bakar takut fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia akhirnya menentukan sikap: “Aku tidak akan memaksanya, selama Fathimah berada di sisinya.”
Akhirnya mereka membebaskan Imam Ali as. Ia berlari-lari menuju ke makam saudaranya, Rasulullah saw. untuk mengadukan cobaan dan aral yang sedang menimpanya. Ia menangis tersedu-sedu seraya berkata: “Wahai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah meremehkanku dan hampir saja mereka membunuhku.”
Mereka telah meremehkan Imam Ali as. dan mengingkari wasiat-wasiat Nabi saw. berkenaan dengan dirinya. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan hati yang hancur luluh dan sedih. Benar telah terjadi apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. akan terjadi pada umat Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Mereka kembali kepada kekufuran. Allah swt. berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun ….” (QS. ?li ‘Imrân [3]:144)
Sungguh mereka telah kembali kepada kekufuran, kekufuran yang dapat menghancurkan iman dan harapan-harapan mereka. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.
Kita tutup lembaran peristiwa-peristiwa yang mengenaskan dan segala kebijakan pemerintah Abu Bakar yang tiran terhadap keluarga Nabi saw. ini, seperti merampas tanah Fadak, menghapus khumus, dan kebijakan-kebijakan yang lain. Seluruh peristiwa ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Mawsû’ah Al-Imam Amiril Mukminin as.

Az-Zahrâ’ Menuju ke Alam Baka

Salah satu peristiwa yang sangat menyedihkan Imam Ali as. adalah kepergian buah hati Rasulullah saw., Az-Zahrâ’ as. Ia jatuh sakit, sementara hatinya yang lembut tengah merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa sakit telah menyerangnya. Dan kematian begitu cepat menghampirinya, sementara usianya masih begitu muda. Oh, betapa beratnya duka yang menimpa buah hati dan putri semata wayang Rasulullah saw. itu. Ia telah mengalami berbagai kekezaman dan kezaliman dalam masa yang sangat singkat setelah ayahandanya wafat. Mereka telah mengingkari kedudukannya yang mulia di sisi Rasulullah, merampas hak warisannya, dan menyerang rumahnya.
Az-Zahrâ’ telah menyampaikan wasiat terakhir yang maha penting kepada putra pamannya. Dalam wasiat itu ditegaskan agar orang-orang yang telah ikut serta merampas haknya tidak boleh menghadiri pemakaman, jenazahnya dikuburkan pada malam hari yang gelap gulita, dan kuburannya disembunyikan agar menjadi bukti betapa ia murka kepada mereka.
Imam Ali as. melaksanakan wasiat istrinya yang setia itu di pusaranya yang terakhir. Ia berdiri di pinggir makamnya sambil menyiramnya dengan tetesan-tetesan air mata. Ia menyampaikan ucapan takziah, bela sungkawa, dan pengaduan kepada Rasulullah saw. setelah menyampaikan salam kepada beliau:
Salam sejahtera untukmu dariku, ya Rasulullah, dan dari putrimu yang telah tiba di haribaanmu dan yang begitu cepatnya menyusulmu. Ya Rasulullah, betapa sedikitnya kesabaranku dengan kemangkatanmu dan betapa beratnya hati ini. Hanya saja, dalam perpisahan denganmu dan besarnya musibahmu ada tempat untuk berduka. Aku telah membaringkanmu di liang kuburmu. Dan jiwamu telah pergi meninggalkanku ketika kepalamu berada di antara leher dan dadaku. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn. Titipan telah dikembalikan dan gadai pun telah diambil kembali. Tetapi kesedihanku tetap abadi. Malam-malamku pun menjadi panjang, hingga Allah memilihkan untukku tempatmu yang kini engkau singgahi. Putrimu akan bercerita kepadamu tentang persekongkolan umatmu untuk berbuat kejahatan. Tanyakanlah dan mintalah berita mengenai keadan mereka! Padahal perjanjian itu masih hangat dan namamu masih disebut-sebut. Salam sejahtera atasmu berdua, salam selamat tinggal, tanpa lalai dan jenuh. Jika aku berpaling, maka bukan karena bosan. Jika aku diam, maka bukan karena aku berburuk sangka terhadap apa yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang sabar.
Ungkapan-ungkapan Imam Ali as. di atas menunjukkan betapa ia mengalami kesedihan yang mendalam atas kepergian titipan Rasulullah saw. itu. Ungkapan-ungkapan itu juga menunjukkan betapa dalamnya sakit hati dan duka yang dialAmînya akibat perlakuan umat Islam. Imam Ali as. juga minta kepada Rasulullah saw. agar memaksa putrinya bercerita dan memberikan informasi tentang seluruh kejahatan dan kezaliman yang telah dilakukan oleh umatnya itu.
Seusai menguburkan jenazah buah hati Rasulullah saw., Imam Ali as. kembali ke rumah dengan rasa duka dan kesedihan yang datang silih berganti. Para sahabat telah mengasingkannya. Imam Ali as. berpaling sebagaimana mereka juga berpaling darinya. Ia bertekad untuk menjauhi seluruh urusan politik dan tidak ikut campur tangan tentang hal ini.

Pemerintahan Umar

Masa kekuasaan Abu Bakar tidak berlangsung lama. Setelah dua tahun berkuasa, ia mengalami sakit parah. Pada saat-saat menjelang kematiannya, ia menyerahkan kekhalifahan kepada sahabatnya, Umar. Keputusan ini mendapat kritikan dan kecaman keras dari para sahabat besar. Tetapi ia tidak bergeming. Ia tetap menjalankan tekadnya itu melalui sebuah surat wasiat. Wasiat ini ditulis oleh ‘Utsmân bin ‘Affân. Dia juga yang mengumumkan di hadapan khalayak ramai dan mengajak mereka untuk membaiat Umar.
Ala kulli hal, Umar telah menerima jabatan kekhalifahan dengan mudah dan tanpa bersusah payah. Dia menjalankan pemerintahan dengan tangan besi dan mengatur urusan Negara dengan kekerasan dan kekezaman. Tindakannya menuai kritikan pedas dari para sahabat besar. Para sejarawan menulis, sebenarnya perlakuan Umar (selama menjadi khalifah) itu lebih kejam dan keras daripada pedang Hajjâj bin Yusuf. Setiap orang yang beroposisi dengannya, ia hadapi dengan kejam dan bengis. Umar telah menguasai negara sepenuhnya. Dan ia memiliki cara tersendiri dalam menjalankan roda pemerintahan. Sepak terjang Umar dalam bidang politik, baik dalam maupun luar negeri, dan bidang ekonomi telah kami paparkan secara rinci dalam buku kami, Mawsû’ah Al-Imam Amirul Mukminin as., jilid 2.

Umar Terbunuh

Umar memiliki politik tersendiri untuk imperium Persia. Dia begitu dengki terhadap imperium ini, sebagaimana juga bangsa Persia membencinya. Abu Lu’lu’ah adalah seseorang berkebangsaan Persia yang sangat membenci Umar. Tetapi ia menyembunyikan isi hatinya itu. Pada suatu hari, ia pernah berlalu di hadapan Umar. Umar berkata kepadanya sembari mengejek: “Aku dengar engkau mampu membuat gilingan tepung yang digerakkan dengan tenaga angin?”
Abu Lu’lu’ah merasa tersengat oleh ucapan Umar yang bernada ejekan itu. Ia emosi seraya berkata: “Aku akan membuat gilingan tepung yang dapat berbicara dengan manusia.”
Pada hari kedua, Abu Lu’lu’ah behasil membunuh Umar. Ia menikamnya dengan tiga kali tikaman. Salah satu tikaman itu mengenai bagian bawah perutnya hingga kulitnya robek. Setelah itu, Abu Lu’lu’ah menyerang orang-orang yang berada di dalam masjid. Ia berhasil menikam sebanyak sebelas orang. Kemudian ia melakukan bunuh diri. Umar segera dibawa ke rumahnya, sementara lukanya banyak mengeluarkan darah. Ia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya: “Siapakah yang menikamku?”
“Budak Mughîrah”, jawab mereka singkat.
Umar menimpali: “Bukankah aku telah berkata kepada kalian, ‘Jangan bawa aku ke hadapan orang dungu sehingga kalian melengahkanku?’”
Kemudian keluarga Umar memanggil seorang tabib. Tabib bertanya kepada Umar: “Minuman apa yang paling kamu sukai?
“Nabîdz (anggur)”, jawab Umar pendek.
Umar diberi minum anggur. Cairan anggur itu keluar dari salah satu tikamannya. Orang-orang yang hadir berkata: “Telah keluar nanah.” Lalu ia diberi minum susu. Keluar lagi nanah dari salah satu tikaman yang lain. Tabib pun merasa putus asa. Tabib berkata: “Aku menduga engkau tidak dapat hidup lagi sampai sore hari.”

Konsep Syûrâ

Penyakit Umar semakin parah. Ia lama berpikir kepada siapakah kekhalifahan ini harus diserahkan. Ia teringat kepada para pendukungnya yang pernah membantunya mengeluarkan kekhalifahan dari keluarga Rasulullah saw. Ia naik ke atas mimbar dan menampakkan kesedihan kepada masyarakat. Ia berkata: “Sekiranya Abu ‘Ubaidah masih hidup, pasti aku berikan kekhalifahan ini kepadanya. Karena ia orang jujur di antara umat ini. Sekiranya Sâlim budak Abi Hudzaifah masih hidup, pasti aku serahkan kekhalifahan ini kepadanya. Karena ia sangat mencintai Allah swt.”
Padahal, jika kita membuka kembali lembaran sejarah Islam, kita tidak akan menemukan sedikitpun peran Abu ‘Ubaidah di medan jihad atau khidmatnya kepada dunia Islam. Sâlim budak Abi Hudzaifah adalah rakyat biasa yang tidak dikenal. Ia hanya memiliki peran ketika menyerang rumah Imam Ali as. Peristiwa tersebut harus dikaji secara seksama dan tanpa ada unsur semangat golongan dan fanatisme suku sehingga muslimin dapat mengetahuinya secara obyektif.
Ala kulli hal, Umar telah menetapkan konsep Syûrâ, sebuah konsep yang sangat goyah dan lemah. Tujuan Umar adalah untuk menyingkirkan Imam Ali as. dari kekhalifahan dan menyerahkannya kepada ‘Utsmân bin Affân, pemuka Bani Umwiyah. Sikap ini menyenangkan hati orang-orang Quraisy yang memiliki kedengkian dan kebencian yang mendalam kepada Imam Ali as.
Akhirnya, ‘Utsmân bin ‘Affân memperoleh jabatan kepemimpinan umat Islam sesuai dengan ketetapan Syûrâ, Syûrâ yang telah menimpakan musibah dan berbagai fitnah atas kaum muslimin dan menjerumuskan mereka ke lembah kehancuran. Kami telah menjelaskan konsep Syûrâ yang telah ditetapkan oleh Umar ini dalam buku kami, Mawsû’ah Al-Imam Amiril Mukminin as. Pada kesempatan ini, kami hanya menyinggung masalah ini secara sekilas.

Pemerintahan ‘Utsmân

Mayoritas kaum muslimin menerima kekhalifahan ‘Utsmân dengan penuh kerisauan dan keraguan. Mereka menilai bahwa naiknya ‘Utsmân ke takhta kekuasaan adalah kemenangan bagi keluarganya yang tidak pernah ikut andil dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam. Dawzî melihat bahwa kemenangan keluarga Umayyah sebenarnya adalah kemenangan sekelompok orang yang menyimpan permusuhan terhadap Islam.
Kenyataannya, ‘Utsmân mengangkat Bani Umayyah sebagai aparat negara. Mereka menguasai perekonomian umum demi kepentingan mereka sendiri dan untuk membangun kembali keluarga mereka yang telah dihancurkan oleh Islam. Mereka telah membelenggu kepribadian ‘Utsmân yang lemah dan memanfaatkan kecintaannya kepada mereka. Dengan jalan ini, mereka mengeruk harta negara, sebagaimana unta melahap tumbuh-tumbuhan di musim bunga. Menurut perspektif Imam Ali as: “Dengan itu, mereka menyebarkan kefakiran dan kesengsaraan di tengah-tengah masyarakat Islam. Hal itu menyebabkan kemarahan umat tersebar dan negara hancur luluh.”
Faktor penting lain yang membuat pemerintahan ‘Utsmân runtuh adalah ia memberikan wewenang kepada Bani Umayyah dan Abi Mu’îth atas daerah-daerah kekuasaan Islam, padahal mereka tidak memiliki kelayakan dan kepandaian sama sekali dalam mengatur negara. Sebagian dari mereka malah diangkat untuk menangani masalah-masalah besar negara. Misalnya Walîd bin ‘Uqbah diangkat menjadi gubernur Kufah. Ia menghabiskan kekayaan negara untuk bermabuk-mabukan setiap malam bersama para wanita penyanyi hingga pagi hari. Ia pernah mengerjakan salat Shubuh sebagai imam sambil mabuk sebanyak empat rakaat. Ketika rukuk dan sujud, ia berkata: “Aku ingin menenggak arak. Berikanlah!” Kemudian ia memuntahkan arak di mihrab salat dan mengucapkan salam. Setelah itu ia menoleh ke arah orang-orang yang salat di belakangnya seraya berkata: “Apakah aku perbanyak rakaat salat ini untuk kalian?” Ibn Mas’ûd menjawab: “Semoga Allah tidak menambahkan kebaikan padamu dan juga kepada orang yang mengutusmu.” Ibn Mas’ûd mengambil sandal dan memukul wajah Walîd dengan pangkal sandal itu. Kemudian orang-orang berkumpul. Walîd memasuki istana sambil mabuk yang diikuti oleh jamaah. Walîd betul-betul bejad dan telah keluar dari agama.
Para wakil kota Kufah segera pergi ke Yatsrib untuk mengadukan kelakuan Walîd kepada ‘Utsmân. Mereka membawa cincin yang mereka copot ketika Walid sedang mabuk untuk diperlihatkan kepada ‘Utsmân. Sesampainya di sana, mereka mengadukan perbuatan Walîd yang suka minum arak. Tetapi mereka tidak mendapatkan jawAbân apa-apa. Bahkan ‘Utsmân menghadapi mereka dengan ketus dan kejam seraya berkata: “Dari mana kalian tahu bahwa yang ia minum itu adalah arak?”
“Yang ia minum itu adalah arak yang biasa kita minum pada masa jahiliah”, tukas mereka pendek.
‘Utsmân naik pitam. Dia mendorong mereka sambil mengeluarkan kata-kata yang pedas. Akhirnya mereka keluar meniggalkan ‘Utsmân setelah menerima murkanya. Mereka segera menjumpai Imam Ali as. dan menceritakan peristiwa yang terjadi antara mereka dengan ‘Utsmân. Imam Ali as. segera bangkit menuju ‘Utsmân dan berkata kepadanya: “Engkau telah menolak para saksi dan membatalkan sanksi.”
‘Utsmân merasa takut atas akibat yang akan terjadi. Ia berkata kepada Imam Ali as.: “Lalu, apa pendapatmu?”
Imam Ali as. menjawab: “Pendapatku adalah utuslah seseorang menemui sahabatmu itu. Jika ada dua orang yang siap bersaksi atas perbuatannya itu dan ia tidak memiliki dalih, maka perlakukanlah sanksi atasnya.”
‘Utsmân menerima pendapat Imam Ali as. Ia segera mengutus seseorang menjumpai Walîd. Ketika utusan itu tiba di hadapannya, ia memanggil para saksi. Para saksi bersaksi atas perbuatan Walîd itu. Walîd diam dan tidak mampu beralasan untuk membela diri. Iapun pasrah untuk menerima sanksi. Tetapi ia menolak hadir untuk dicambuk karena takut kepada ‘Utsmân. Akhirnya Imam Ali as. melakukan sanksi atasnya. Walîd mencerca Imam Ali as. seraya berkata: “Hai si zalim.” ‘Aqîl bangkit dan menjawab cercaannya itu. Mulailah Imam Ali as. mengangkat cambuk tinggi-tinggi dan memukulnya. ‘Utsmân nampak murka dan tidak tega melihat itu. Ia berteriak kepada Imam Ali as.: “Tidak seharusnya engkau berbuat begitu!” Imam Ali as. menjawab sesuai dengan hukum syariat yang menegaskan: “Bahkan lebih keras dari ini bila ia telah berbuat fasik dan melarang hak Allah dituntut darinya.”
Sikap ‘Utsmân seperti itu menunjukkan betapa ia meremehkan pelaksanaan hukum Allah, dan betapa ia menaruh kasihan terhadap keluarganya yang congkak dan dimurkai Allah.

Kelompok Penentang ‘Utsmân

Kaum muslimin pilihan dan yang saleh sangat murka terhadap ‘Utsmân dan para gubernurnya. Mereka mengecam dan melontarkan kritikan-kritikan yang pedas kepadanya.
Perlu disebutkan di sini, bahwa para penentang ‘Utsmân memiliki haluan pemikiran yang berbeda-beda. Mereka terbagi dalam kelompok kanan dan kelompok kiri. Thalhah, Zubair, ‘AIsya’h, dan ‘Amr bin ‘Ash berdiri di kelompok yang berambisi ingin mencapai kepentingan pribadi yang sangat sempit. Sedangkan kelompok lainnya terdiri dari para pembesar Islam seperti ‘Ammâr bin Yâsir (anak keturunan orang-orang yang baik), Abu Dzar Al-Ghifârî sang mujahid agung, Abdullah bin Mas’ûd sang qârî, dan sahabat-sahabat lainnya yang telah mendapatkan ujian di jalan dan berhasil lulus dengan rapor yang memuaskan. Mereka melihat bahwa Sunah Rasulullah saw.telah dibunuh dan bidah telah dihidupkan kembali, kebenaran telah didustakan dan pengutamaan telah dilimpahkan kepada orang-orang yang tidak berhak. Mereka berdiri di hadapan ‘Utsmân untuk menentang politiknya dan menuntut agar ia mengubah perilakunya dan menjauhkan keluarga Umayyah dari kekuasaan. Mereka tidak mempunyai kepentingan apapun dalam penentangan tersebut, selain berkhidmat kepada Islam. Tetapi ‘Utsmân tidak mengindahkan keinginan mereka.

Penyerbuan atas ‘Utsmân

Setelah berbagai macam cara yang diusulkan kepada ‘Utsmân untuk melakukan perbaikan dalam tubuh sistem pemerintahan tidak berhasil, api pemberontakan berkobar untuk menentangnya. Para pemberontak mengepung rumahnya. Mereka menuntut agar ia mengundurkan diri. Tetapi ia menolak. Mereka menuntut agar ia menjatuhkan hukuman kepada Marwân dan Bani Umayyah. Tapi ‘Utsmân pun tetap acuh tak acuh. Bani Umayyah telah meninggalkan ‘Utsmân sendirian. Sekelompok orang yang dipimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar melakukan penyerbuan terhadap ‘Utsmân. Ia menjambak jenggot ‘Utsmân seraya berkata kepadanya: “Allah telah menghinakanmu, hai Na’tsal.”
‘Utsmân menjawab: “Aku bukan Na’tsal. Tetapi aku adalah hamba Allah dan Amirul Mukminin.”
Muhammad bin Abu Bakar menimpali: “Mu’âwiyah tidak lagi membutuhkanmu.” Muhammad pun menyebutkan beberapa orang dari Bani Umayyah yang turut mengepung rumahnya.
‘Utsmân merengek kepadanya seraya berkata: “Hai putra saudaraku, lepaskan jenggotku. Ayahmu tidak pernah melakukan seperti ini.”
Muhammad menjawab: “Aku tidak menginginkan atasmu lebih keras dari pegangan tanganku terhadap jenggotmu ini.”
Setelah berkata begitu, Muhammad menikamnya dengan belati yang digenggamnya. Tak ayal lagi, tubuh ‘Utsmân menjadi sasaran para pemberontak dan tubuh tak bernyawa itu dicampakkan ke atas tanah. Tak seorang pun dari Bani Umayyah dan keluarga Abi Mu’îth yang berani menolongnya. Para pemberontak telah bertindak keterlaluan dalam menghinakannya. Mereka mencampakkan tubuh ‘Utsmân itu di tempat yang terhina dan tidak mengizinkan untuk dikuburkan. Hal ini berlanjut hingga Imam Ali as. menyuruh agar ‘Utsmân dikuburkan. Mereka pun mengizinkan untuk dikuburkan.
Kehidupan ‘Utsmân telah berakhir dengan cara yang sangat mengenaskan. Dengan membunuh ‘Utsmân ini, muslimin telah memperoleh ujian yang sangat berat. Berbagai musibah dan fitnah telah mengintai dan akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang keburukan yang sangat besar. Karena Bani Umayyah merasa beruntung dengan terbunuhnya ‘Utsmân. Mereka memperoleh celah untuk menuntut darahnya, sebagaimana kekuatan oposisi seperti Thalhah, Zubair, dan ‘AIsya’h juga memperoleh kesempatan untuk menuntut darahnya. Mereka menjadikan pertikaian ini sebagai kartu kemenangan bagi diri mereka, padahal mereka sendirilah yang telah ikut bersekongkol untuk mengepung rumah ‘Utsmân.

Kekhalifahan Imam Ali as.

Imam Ali as. merasa sangat gelisah menghadapi peristiwa pembunuhan ‘Utsmân. Hal itu lantaran ia tahu tentang peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi. Bani Umayyah dan orang-orang yang rakus kekuasaan pasti akan menuntut darah ‘Utsmân sebagai alasan atas penolakan dan pembangkangan mereka, bila Imam Ali as. bersedia memegang tampuk kekuasaan.
Ada hal lain yang membuat Imam Ali as. tidak tenang dan gelisah. Yaitu ia adalah satu-satunya figur yang dicalonkan sebagai pemimpin umat. Tentunya ketika ia menduduki jabatan kekhalifahan, ia akan menjalankan politik atas umat Islam berdasarkan hak, kebenaran, dan keadilan yang murni, dan menjauhkan para koruptor dan orang-orang yang tamak dunia dari kursi kekuasaan. Sudah pasti, kelompok oposisi akan menjadi penghalang bagi strategi politiknya dan akan melakukan perlawanan bersenjata.
Pada mulanya, Imam Ali as. menolak untuk menjadi khalifah. Tetapi mayoritas muslimin memaksanya. Mereka menuntut agar ia memimpin umat Islam. Imam Ali as. menjawab: “Aku tidak memerlukan kekuasaan. Siapa saja yang kalian pilih, aku akan merestuinya.”
Mereka tidak mau mengerti ucapan Imam Ali as. dan tetap memilihnya sebagai khalifah. Mereka berkata: “Kami tidak memiliki pemimpin selain dirimu.”
Mereka memohon lagi untuk kedua kalinya: “Kami tidak akan memilih selain dirimu.”
Imam Ali as. tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau menerima permohonan mereka. Karena ia tahu bencana dan aral yang akan melintang. Sementara itu, sekelompok pasukan bersenjata mengadakan sebuah pertemuan setelah mereka tahu bahwa Imam Ali as. tetap pada pendiriannya; tidak mau menerima kekhalifahan. Mereka sepakat untuk menghadirkan para tokoh Madinah dan orang-orang yang memiliki pengaruh, dan mengancam untuk membunuh Imam Ali as., Zubair dan Thalhah, bila mereka tidak berhasil mengangkat seorang pemimpin untuk kaum muslimin.
Para pemuka Madinah segera mendatangi Imam Ali as. Dengan penuh cemas mereka memohon kepadanya: “Terimalah baiat kami! Terimalah baiat kami! Apakah Anda tidak melihat apa yang akan terjadi atas Islam dan ancaman para penduduk terhadap kami?”
Imam Ali as. tetap menolak seraya berkata: “Biarkanlah aku dan carilah orang selainku.” Imam berusaha memberikan pengertian kepada mereka atas berbagai bencana yang akan ia hadapi. Ia berkata: “Wahai hadirin, kita akan menghadapi problema yang beraneka agam sehingga hati ini tidak akan tentram dan akal pikiran tidak akan tegak.”
Mereka tetap tidak memahami ucapan Imam Ali as. Malah mereka memohon dengan menggunakan gelarnya. Mereka berkata: “Amirul Mukminin adalah Anda! Amirul Mukminin adalah Anda!”
Akhirnya, Imam Ali as. menjelaskan kepada mereka sistem pemerintahan yang akan ia jalankan. Ia menegaskan: “Ketahuilah, jika aku menerima permohonan kalian, aku akan memperlakukan kalian sesuai dengan ilmuku. Aku tidak akan menggubris ucapan siapa pun dan tidak menerima kecaman siapa pun. Jika kalian meninggalkanku, maka aku adalah sama dengan kalian. Barangkali aku akan mendengarkan kalian dan menaati orang yang kalian serahi urusan ini. Aku menjadi pembantu kalian adalah lebih baik bagi kalian daripada aku sebagai pemimpin kalian.”
Imam Ali as. telah menjelaskan kepada mereka sistem pemerintahan yang akan ia jalankan. Yaitu hak, kebenaran, dan keadilan. Mereka menerima seluruh penjelasan yang telah diberikan oleh Imam Ali as. Mereka berkata: “Kami tidak akan meninggalkanmu sebelum kami membaiatmu.”
Mereka mengerumuni Imam Ali as. dari seluruh arah dan menuntut agar ia menerima kekhalifahan. Ketika menjelaskan pemandangan yang ada pada saat pembaiatan itu, Imam Ali as. berkata: “Dengan serentak, mereka berdesak-desakan bagai rambut tebal anjing hutan yang ada di lehernya. Mereka mengerumuniku dari semua arah hingga Hasan dan Husain terinjak-injak dan bajuku sobek. Mereka berkumpul di sekelilingku bagaikan kerumunan domba.”

Imam Ali as. Menerima Kekhalifahan

Tidak ada alasan lagi bagi Imam Ali as. untuk tidak menerima kekhalifahan. Ia terpaksa menerima kedudukan ini. Hal itu karena ia khawatir kepemimpinan umat Islam akan dipegang oleh Bani Umayyah yang fasik. Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak menerima kekhalifahan ini, melainkan karena aku takut umat Islam ini akan dipermainkan oleh seorang durjana dari Bani Umayyah yang akan mempermainkan kitab Allah swt.”
Masyarakat muslim beramai-ramai menuju ke masjid. Imam Ali as. maju ke depan sembari diiringi dengan gemuruh takbir dan tahlil. Thalhah maju ke depan dan membaiat Imam Ali as. dengan tangannya yang lumpuh, tangan yang cepat sekali akan melanggar janji Allah itu. Imam Ali as. telah membaca sikapnya itu. Ia berkata: “Betapa cepatnya ia akan melanggar baiatnya.”
Setelah itu, kaum muslimin beramai-ramai membaiat Imam Ali as. Hal itu berarti mereka telah membaiat Allah dan Rasul-nya. Pembaiatan umum terhadap Imam Ali as. telah selesai, sebuah pembaiatan yang tidak pernah terjadi pada masa khalifah-khalifah lainnya. Kaum muslimin merasa senang dan bahagia dengan itu. Imam Ali as. berkata: “Begitu gembiranya kaum muslimin dengan pembaiatan terhadapku, sehingga anak kecil pun merasa gembira. Orang-orang tua tertatih-tatih datang membaiat, orang-orang yang sakit turut untuk membaiat sambil menahan derita sakitnya, dan kaki mereka pun lemah lunglai karena ingin membaiat.”
Pada hari bersejarah itu, bendera keadilan dan kebenaran di dunia Islam telah berkibar. Islam telah kembali kepada kegemilangan dan kejayaannya.

Keputusan yang Tegas

Setelah Imam Ali as. menduduki kursi kekhalifahan, ia langsung mengeluarkan beberapa keputusan penting sebagai berikut:
1. Mengambil alih tanah-tanah yang pernah diberikan ‘Utsmân kepada Bani Umayyah.
2. Mengembalikan alih harta kekayaan negara melimpah yang pernah diberikan ‘Utsmân kepada Bani Umayyah dan Bani Abi Mu’îth.
3.Mengambil alih harta kekayaan ‘Utsmân, termasuk juga pedang dan perisainya.
4.Memecat seluruh gubernur, karena mereka telah berbuat kezaliman dan kerusakan di muka bumi ini secara terang-terangan.
5.Menyamakan hak antara muslimin dan non-muslim yang tinggal di negara Islam tapi tidak belum memeluk agama Islam. Persamaan hak ini mencakup:
o Persamaan dalam pemberian tunjangan.
o Persamaan di hadapan undang-undang.
o Persamaan dalam hak dan tugas.
Orang-orang Quraisy merasa sangat jengkel dan kecewa dengan keputusan-keputusan tersebut. Mereka merasa khawatir terhadap harta kekayaan yang selama ini telah mereka tunai dari hasil korupsi. Karena itu, mereka melakukan penentangan dan berusaha menghalangi dan membendung setiap strategi politik Imam Ali as. yang bertujuan menegakkan keadilan sosial dan politik di dalam masyarakat Islam.
Akhirnya, berbagai kekuatan oposisi berusaha menyulut api peperangan melawan Imam Ali as. untuk menjatuhkan pemerintahannya. Secara ringkas, kami akan menjelaskan beberapa peperangan yang telah berhasil disulut oleh mereka untuk menentang pemimpin keadilan Islam dan sahabat kaum tertindas ini.

1. Perang Jamal

Perang Jamal ini lahir akibat ketamakan politik dan kekuasaan. Mu’âwiyah telah menipu Zubair dan Thalhah dengan mengiming-imingi kekhalifahan dan pembaiatan kepada mereka setelah kekuasaan Imam Ali as. berhasil diruntuhkan. Adapun ‘AIsya’h, hatinya telah dikuasai oleh kedengkian dan kebencian terhadap Imam Ali as. Akhirnya, terbentuklah sebuah fron oposisi penentang Imam Ali as. yang dikepalai oleh ketiga orang tersebut di Mekah. Orang-orang yang memiliki sifat tamak, congkak, dan pikiran dangkal turut mendukung fron ini. ‘AIsya’h segera membentuk pasukan, sementara Bani Umayyah melengkapi mereka dengan senjata dan sarana perang. Mereka telah mengeluarkan harta melimpah. Harta ini telah berhasil mereka korupsi dari Baitul Mâl muslimin pada saat mereka menjadi gubernur selama ‘Utsmân memegang tampuk kepemimpinan.
Pasukan yang dipimpin oleh ‘AIsya’h, Thalhah, dan Zubair itu berangkat menuju ke Bashrah. Mereka berhasil menguasai kota Bashrah setelah melakukan pertempuran sengit dengan pasukan Bashrah. Mengetahui serangan para pembangkang ini, Imam Ali as. keluar dengan bala tentaranya untuk menumbangkan mereka. Kedua pasukan tersebut bertempur dengan sengit. Imam Ali as. berhasil membunuh Thalhah dan Zubair. Komando perang diambil alih oleh ‘AIsya’h. Unta yang ditungganginya dikelilingi oleh bala tentara yang tak terhitung. Mereka dapat menebas tangan-tangan dan menghabiskan nyawa-nyawa yang ada di sekelilingnya. Setelah pertempuran sengit terjadi, unta ‘AIsya’h tersungkur jatuh ke atas tanah dan pasukannya kalah.
Missi peperangan ini pun mengalami kegagalan dan kerugian yang besar. Peperangan ini telah menimbulkan kerugian yang memalukan di barisan muslimin dan menebarkan perpecahan dan permusuhan di antara mereka. Sementara rumah-rumah penduduk Bashrah dipenuhi oleh duka, kesedihan, dan nestapa.

2. Perang Shiffin

Belum lagi sempat beristirahat untuk menghilangkan kepenatan akibat perang Jamal, Imam Ali as. telah mendapat ujian berat dari musuh pemakar yang tidak pernah memiliki satu pun nilai-nilai insani. Dia menggunakan taktik kemunafikan, tipu daya, dan khianat. Dia mahir dan terbiasa dengan karakrer buruk ini. Dia adalah Mu’âwiyah bin Abu Sufyan yang dijuluki oleh para pendukungnya dengan sebutan Kisra Arab. Mereka menyerahkan kekuasaan Syam kepadanya, sedang mereka tidak memperhatikan lembaran-lembaran tingkah lakunya yang hitam. Mereka juga tidak memperhatikan bahwa ia berasal dari pohon yang terkutuk seperti ditegaskan oleh Al-Qur’an. Apakah mereka tidak pernah mendengar tentang berbagai peperangan destruktif yang telah disulut oleh Abu Sufyân dan Bani Umayyah untuk menentang Rasulullah saw., padahal realita itu belum berlalu terlalu lama? Kemaslahatan apa yang diperoleh kaum muslimin dengan mengangkat srigala bodoh itu sebagai penguasa Syam sebagai daerah terpenting bagi negara Islam? Mengapa mereka tidak menyerahkan kedudukan yang berharga itu kepada putra-putra Rasulullah saw. atau kepada orang-orang pilihan dan terdidik dari putra-putra suku Aus dan Khazraj yang telah rela berjuang dengan baik untuk menegakkan ajaran Islam?
Ringkasnya, Mu’âwiyah telah mengerahkan pasukannya menuju ke Shiffin untuk memerangi saudara dan pintu kota ilmu Rasulullah saw. Pasukan Mu’âwiyah berhasil menguasai sungai Furat dan mencegah pasukan Imam Ali as. untuk mengambil sir minum. Pasukan Mu’âwiyah menganggap hal ini sebagai sebuah prolog kemenangan.
Imam Ali as. mengerahkan pasukannya untuk membasmi musuh penipu yang telah mencabut ketaatan dan bergegas kepada fitnah itu. Pasukan Imam Ali as. percaya dan yakin betul bahwa mereka sedang memerangi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya.
Pasukan Imam Ali as. tiba di Shiffin. Mereka melihat sungai Furat telah dikelilingi dan dikuasai oleh pasukan Mu’âwiyah. Pasukan Islam tidak memiliki jalan lain untuk memperoleh air minum. Sementara pasukan Mu’âwiyah tetap menghalangi mereka untuk mengambil air minum. Seorang komandan pasukan Imam Ali bertekad untuk menyerang dan memporak-porandakan barisan pasukan Mu’âwiyah. Sekelompok pasukan Imam Ali menyerang pasukan Mu’âwiyah dengan ksatria. Pasukan Imam Ali berhasil menyingkirkan mereka dari sungai Furat dan menimpakan kerugian yang memalukan kepada mereka. Sebagian pasukan Imam Ali meminta supaya Imam Ali as. memperlakukan pasukan Mu’âwiyah seperti itu pula. Imam Ali as. menolak permohonan pasukannya itu. Karena syariat Islam tidak membenarkan tindakan semacam itu. Sesungguhnya air itu diperbolehkan untuk diminum sekalipun kepada anjing dan babi.
Imam Ali as. mengutus beberapa orang kepada Mu’âwiyah untuk melakukan perdamaian dan menghindari pertumpahan darah. Tetapi Mu’âwiyah menolak usulan itu. Dia tetap membangkang dan menentang. Api peperangan pun berkobar antara kedua pasukan dan berlangsung hingga dua tahun lamanya. Pertempuran yang paling dahsyat terjadi adalah pertempuran yang terjadi pada malam Al-Harîr. Pertempuran ini telah menelan korban sebanyak 70.000 prajurit dari kedua belah pihak. Dalam peperangan ini pasukan Mu’âwiyah mengalami kekalahan telak. Pasukannya porak poranda dan ia hendak melarikan diri. Tetapi ia mengurungkan niatnya itu setelah ingat syair Ibn Ithnâbah.

Mempermainkan Mushhaf

Pasukan Imam Ali as. melakukan penyerangan di bawah komando Malik Al-Asytar. Ia hampir saja meraih kemenangan. Jarak antara mereka dengan kemenangan atas Mu’âwiyah hanyalah seukuran memerah susu kambing. Tetapi ‘Amr bin ‘Ash, sang penipu ulung, telah mengatur siasat untuk memporak-porandakan pasukan Imam Ali as. dan menggulingkan kepemimpinannya. Ibn ‘Ash telah menjalin hubungan dengan Asy’ats bin Qais dan beberapa komandan pasukan Imam Ali as. secara rahasia.Dia telah berhasil menipu, mengiming-imingi, dan memberikan uang sogok kepada mereka. Mereka sepakat untuk mengangkat mushhaf Al-Qur’an dan mengajak muslimin untuk tunduk kepada hukum Al-Qur’an berkenaan dengan perkara yang sedang mereka perselisihkan itu. Pengangkatan mushhaf dimulai dan seruan pasukan Mu’âwiyah untuk bertahkim kepada Al-Qur’an terdengar nyaring. Tipu daya ini laksana halilintar bagi pasukan Imam Ali as. Sebanyak lebih dari dua puluh ribu prajurit yang berteriak mengajak untuk bertahkim kepada Al-Qur’an. Imam Ali as. memperingatkan dan menasihati mereka bahwa semua itu hanyalah sebuah tipu daya belaka. Mu’âwiyah terpaksa melakukan siasat ini karena pasukannya telah lemah dan tidak dapat berdiri tegak lagi. Tetapi pasukan Imam Ali as. tidak mau mengerti. Bahkan mereka mengancam bila Imam Ali as. tidak mengabulkan permohonan mereka itu. Akhirnya Imam Ali as. terpaksa mengabulkan permintaan mereka. Pada saat-saat yang genting dan mengkhawatirkan itulah kekhalifahan Imam Ali as. berakhir dan tenggelam cahayanya.

Penentuan Abu Mûsâ Al-Asy’arî

Setelah peristiwa itu, berbagai peristiwa besar berturut-turut menimpa Imam Ali as. Di antaranya adalah penentuan Abu Mûsâ Al-Asy’arî sebagai wakil pasukan Irak (untuk menghadiri proses tahkim). Imam Ali as. menolak penentuan tersebut. Tetapi mereka memaksa Imam Ali as. untuk memilihnya sebagai wakil mereka. Pasukan Syam memilih ‘Amr bin ‘Ash sebagai wakil mereka. Ia berhasil menipu Al-Asy’arî. Sebelumnya, ‘Amr dan Al-Asy’arî telah sepakat untuk mencopot kekhalifahan Imam Ali as. dan Mu’âwiyah, dan memilih Abudullah bin Umar sebagai pemimpin kaum muslimin. Al-Asy’arî merasa gembira dengan keputusan ini. Ketika tiba waktu bertahkim, Al-Asy’arî mencopot kekhalifahan Imam Ali as., tetapi ‘Amr bin ‘Ash menetapkan kekhalifahan Mu’âwiyah.

3. Melawan Khawârij

Setelah peristiwa tahkim itu, fitnah terjadi di kalangan pasukan Imam Ali as. Sekelompok orang melakukan pembangkangan. Mereka mengumumkan akan mengangkat senjata dan menilai bahwa Imam as. telah kafir, karena ia mau menerima ajakan bertahkim. Padahal sebenarnya, merekalah yang memaksa Imam Ali as. untuk menerima tahkim. Yel-yel yang mereka teriakkan adalah lâ hukma illa lillâh (tiada hukum selain hukum Allah). Tetapi, begitu cepatnya syiar ini berubah menjadi sarana penumpahan darah dan angkat senjata. Imam Ali as. menghujat dan menyadarkan mereka atas kekeliruan pandangan mereka itu. Sekelompok dari mereka menerima pandangannya. Tetapi sekelompok yang lain tetap bersikeras atas kesesatan dan kebodohan mereka dan menebarkan kerusakan di muka bumi. Mereka banyak membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan menyebarkan rasa takut di tengah-tengah masyarakat Islam. Akhirnya Imam Ali as. terpaksa mengadakan perlawanan terhadap mereka. Meletuslah perang Nahrawan. Dalam peperangan ini, sebagian besar mereka telah tewas.
Peperangan tersebut belum berakhir sampai di situ. Tampak lagi pembangkangan yang lebih buruk di dalam tubuh pasukan Imam Ali as. Mereka mengajak untuk memerangi Mu’âwiyah. Tetapi tidak seorang pun yang mengikuti ajakan mereka itu.
Kekuatan Mu’âwiyah mulai nampak di panggung politik sebagai kekuatan yang besar. Mulailah mereka menguasai daerah-daerah Islam dan memerangi daerah-daerah yang taat kepada kepemimpinan Imam Ali as. Hal itu mereka lakukan untuk menunjukkan bahwa Imam Ali as. tidak mampu melindungi mereka. Akhirnya sinar kewibawaan Imam Ali as. mulai pudar dan bencana pun datang menghantuinya silih berganti. Imam Ali melihat kebejatan Mu’âwiyah semakin kokoh dan sinar harapan dan angan-angannya pun telah sempurna, sedangkan ia tidak memiliki satu kekuatan pun yang mampu menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.

Syahadah Imam Ali as.

Imam Ali as. mulai berdoa, bersimpuh, dan bermunajat kepada Allah swt. agar Dia segera memnyelamatkan dirinya dari masyarakat yang sesat itu dan memindahkannya ke alam baka. Di sana ia akan mengadukan kepada putra pamannya segala bencana dan musibah yang telah menimpanya. Allah swt. mengabulkan doanya itu. Seorang durjana dan pendurhaka yang bernama Abdurrahman bin Muljam telah menebas kepala Imam Ali as., seperti pembunuh unta Nabi Saleh membunuh untanya. Pada waktu itu Imam Ali as. sedang berdiri di hadapan Allah swt. di mihrabnya mengerjakan salat di dalam sebuah rumah Allah. Si durjana itu menghunus dan menebaskan pedangnya. Ketika merasakan pedihnya tebasan pedang itu, ia berteriak: “Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah beruntung.”
Penghulu orang-orang yang bertakwa telah beruntung. Hayâhnya telah berakhir dengan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat hak.
Salam sejahtera Allah atasnya pada hari ia dilahirkan di dalam Ka’bah dan pada hari ia meneguk cawan syahadah di dalam rumah Allah.
Dengan syahadahnya itu, bendera hak, kebenaran, dan keadilan terlipat, sinar hidayah dan cahaya petunjuk yang selama ini telah menyinari dunia Islam telah padam.

Catatan Kaki:

Murûj Adz-Dzahab, jilid 2, hal. 3; Al-Fushûl Al-Muhimmah, karya Ibn Shabbâgh, hal. 24; Mathâlib As-Sa’ûl, hal. 22; Tadzkirah Al-Khawwash, hal. 7; Kifâyah Ath-Thâlib, hal. 37; Nûr Al-Abshâr, hal. 76; Nuzhah Al-Majâlis, jilid 2, hal. 204; Syarh asy-Syifâ’, jilid 2, hal. 15; Ghâyah Al-Ikhtishâr, hal. 97; ‘Abqariyyah Al-Imam, oleh Al-’Aqqâd, hal. 38; Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 483. Dalam Al-Mustadrak, Al-Hakim menegaskan: “Terdapat hadis-hadis mutawâtir yang manyatakan bahwa Fathimah binti Asad melahirkan Ali bin Abi Thalib di dalam Ka’bah.”
Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., jilid 1, hal. 32, menukil dari Manâqib Ali bin Abi Thalib, jilid 3, hal. 90.
Târîkh Al-Khamîs, jilid 2, hal. 275.
Al-Ma’ârîf, hal. 73; Adz-Dzakhâ’ir, hal. 58; Ar-Rriyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 257.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 154.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 9, hal. 102; Faidh Al-Qadîr, jilid 4, hal. 358; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 156; Fadhâ’il Ash-Shahâbah, jilid 1, hal. 296.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 9, hal. 102.
Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 1, hal. 63.
Kunûz Al-Haqâ’iq, karya Al-Manâwî, hal. 43.
Shifah Ash-Shafwah, jilid 1, hal. 162.
Imtâ’ Al-Asmâ’, jilid 1, hal. 16.
Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., jilid 1, hal. 54.
Syarh Nahjul Balaghah, karya Ibn Abil Hadid, jilid 4, hal. 116.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 2, hal. 301; Thabaqât Ibn Sa’d, jilid 3, hal. 21; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 400; Târîkh At-Thabarî, jilid 2, hal. 55.
Khazânah Al-Adab, jilid 3, hal. 213.
Târîkh At-Thabarî, jilid 2, hal. 63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, jilid 2, hal. 24; Musnad Ahmad bin Hanbal, hal. 263. Peristiwa ini diriwayatkan oleh banyak perawi hadis.
Târîkh At-Thabarî, jilid 2, hal. 63; Târîkh Ibn Al-Atsîr, jilid 2 hal. 24; Musnad Ahmad, hal. 263.
Târîkh Bagdad, jilid 6, hal. 221; Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 76; Nûr Al-Abshâr, hal. 76.
Tafsir At-Thabarî, jilid 13, hal. 72; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 157; Tafsir Al-Haqâ’iq, hal. 42; Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 129.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 108; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 329; Tafsir At-Thabarî, jilid 4, hal. 600; Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 8, hal. 267.
Usud Al-Ghâbah, jilid 4, hal. 25; Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 78; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 64.
Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 8, hal. 589; Tafsir At-Thabarî, jilid 30, hal. 17; Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 96.
Tafsir At-Thabarî, jilid 8, hal. 145.
Asbâb An-Nuzûl, hal. 150.
Târîkh Baghdad, jilid 8, hal. 19; Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 6, hal. 19.
Dalâ’il Ash-Shidq, jilid 2, hal. 152.
Tafsir Ar-Râzî, jilid 12, hal. 26; Nûr Al-Abshâr, hal. 170; Tafsir Ath-Thabarî, jilid 6, hal. 186.
Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 3, hal. 106; Tafsir Al-Kasysyâf, jilid 1, hal. 692; Dzakhâ’ir Al-’Uqbâ, hal. 102; Majma’Az-Zawâ’id, jilid 7, hal. 17; Kanz Al-’Ummâl, jilid 7, hal. 305.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 7, hal. 103; Dzakhâ’ir Al-’Uqbâ, hal., 25; Nûr Al-Abshâr, hal. 101; Ad-Durr Al-Mantsûr, jilid 7, hal. 348.
Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 3, hal. 102.
Tafsir Ar-Râzî, jilid 2, hal. 699; Tafsir Al-Baidhâwî, hal. 76; Tafsir Al-Kasysyâf, jilid 1, hal. 49; Tafsir Rûh Al-Bayân, jilid 1, hal. 457; Tafsir Al-Jalâlain, jilid 1, hal. 35; Shahîh Muslim, jilid 2, hal. 47; Shahîh At-Turmuzî, jilid 2, hal. 166; Sunan Al-Baihaqî, jilid 7, hal. 63; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 185; Mashâbîh As-Sunnah, karya Al-Baghawî, jilid 2, hal. 201; Siyar A’lâm An-Nubalâ’, jilid 3, hal. 193.
Tafsir Ar-Râzî, jilid 10, hal. 243; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 133, Rûh Al-Bayân, jilid 6, hal. 546; Yanâbî’ Al-Mawaddah, jilid 1, hal. 93; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 227; Imtâ’ Al-Asmâ’, hal. 502.
Tafsir Ar-Râzî, jilid 6, hal. 783; Shahîh Muslim, jilid 2, hal. 331; Al-Khashâ’ish Al-Kubrâ, jilid 2, hal. 264; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 188; Tafsir Ibn Jarîr, jilid 22, hal. 5; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 4, hal. 107; Sunan Al-Baihaqî, jilid 2, hal. 150; Musykil Al-Atsar, jilid 1, hal. 334; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 33.
Mustadrak Al-Hâkim, jilid 2, hal. 416; Usud Al-Ghâbah, jilid 5, hal. 521.
Ad-Durr Al-Mantsâr, jilid 5, hal. 199.
Dzakhâ’ir Al-’Uqbâ, hal. 24.
Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 101.
Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 80; Nûr Al-Abshar, hal. . 80.
Tafsir Ath-Thabarî, jilid 10, hal. 68; Tafsir Ar-Râzî, jilid 16, hal. 11; Ad-Durrul Mantsur, jilid 4, hal. 146; Asbâb An-Nuzûl, karya Al-Wâhidî, hal. 182.
Tafsir Ath-Thabarî, jilid 21, hal. 68; Asbâb An-Nuzûl, hal. 263; Târîkh Bagdad, jilid 13, hal. 321; Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 206.
Majma’Az-Zawâ’id, jilid 7, hal. 110.
Tetapi ternyata Walîd berdusta. Kemudian turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan ….” (QS. Al-Hujurât [49]:6)
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 400.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 2, hal. 299; Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 14.
Dzakhâ’ir Al-’Uqbâ, hal. 92.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 3, hal. 61.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 154.
Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, 163.
Târîkh At-Thabarî, jilid 2, hal. 127; Târîkh Ibn Atsîr, jilid 2, hal. 22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, jilid 1, hal. 116; Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 331; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 399.
Al-Murâja’ât, hal. 208.
Musnad Abu Daud, jilid 1, hal. 29; Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 7, hal. 195; Musykil Al-?tsâr, jilid 2, hal. 309; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 182; Târîkh Bagdad, jilid 11, 432; Khashâ’ish An-Nasa’î, hal. 16.
Usud Al-Ghâbah, jilid 4, hal. 26; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 15; Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, jilid 7, hal. 120.
Târîkh Bagdad, jilid 2, hal. 377.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 401.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 156; As-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 73.
Mu’jam Al-Udabâ’, jilid 17, hal. 200.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 1, hal. 301; Shahîh Ibn Mâjah, jilid 12; Târîkh Baghdad, jilid 1, hal. 255; Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 4, hal. 185.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 1, hal. 299.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 9, hal. 133.
Nûr Al-Abshâr, hal. 72.
Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 129.
Al-Istî’âb, jilid 2, hal. 464.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 400.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 1, hal. 367.
Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 75.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 2, 308.
Shahîh At-Turmudzî, jilid 2, hal. 308; Kanz Al-’Ummâl, jilid 1, hal. 84.
Ash-Shawâ’iq Al-Muhriqah, hal. 75.
Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 9, 168; Al-Mustadrak, jilid 2, hal. 43; Târîkh Baghdad, jilid 2, hal. 120; Al-Hilyah, jilid 4, hal. 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20.
Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 149; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 116. Dalam kitab Faidh Al-Qadîr dan Majma’ Az-Zawâ’id, Nabi saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku.”
Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 252. Serupa dengan hadis itu, hadis yang terdapat dalam Shahîh At-Turmudzî, jilid 2, hal. 319 dan Sunan Ibn Mâjah, jilid 1, hal. 52.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 3, hal. 154.
Al-Mîzân, jilid 14, hal. 12.
As-Sîrah An-Nabawiyah, hal. 74.
Hayâh Al-Imâm Amirul Mukminin, jilid 2, hal. 20.
Usud Al-Ghâbah, jilid 4, hal. 93.
Al-Imam Ali bin Abi Thalib, jilid 1, hal. 82.
As-Sîrah An-Nabawiyah, jilid 2, hal. 105.
Târîkh Ibn Katsîr, jilid 4, hal. 47.
Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 32.
Târîkh Baghdad, jilid 13, hal. 19; Mustadrak Al-Hâkim, jilid 3, hal. 32.
Rasâ’il Al-Jâhizh, hal. 60.
Hayâh Al-Imam Amirul Mukminin as., jilid 2, hal. 27.
A’yân Asy-Syi’ah, jilid 3, hal. 113.
Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 1, hal. 62; Shifah Ash-Shafwah, jilid 1, hal. 163; Musnad Ahmad, Hadits ke-778.
Shifah Ash-Shafwah, jilid 1, hal. 164; Shahîh Al-Bukhârî, jilid 7, hal. 121.
Hayâh Al-Imam Amirul Mukminin as., jilid 2, hal. 30.
Târîkh Baghdad, jilid 1, hal. 324; Mîzân Al-I’tidâl, jilid 2, hal. 218; Kanz Al-’Ummâl, jilid 6, hal. 368. Dalam kitab Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, jilid 2, hal. 188 disebutkan bahwa tujuh puluh orang lelaki telah bergotong royong untuk mengembalikan pintu benteng tersebut ke tempatnya semula dengan susah payah.
Khazânah Al-Adab, jilid 6, hal. 56.
Hayâh Al-Imam Amirul Mukminin as., jilid 2, hal. 30.
Hayâh Al-Imam Husain as., jilid 1, hal. 195, menukil dari Târîkh Al-Ya’qûbî, jilid 2, 90.
Al-Ghadîr, jilid 2, hal. 34.
Nusnad Ahmad, jilid 4, hal. 281.
Al-Ghadîr, jilid 1, hal. 271.
Al-Bidâyah wa An-Nihâyah, jlid 5, hal. 226.
Semua sejarahwan mencatat peristiwa yang menyedihkan ini. Al-Bukhârî sendiri menyebutkannya beberapa kali pada jilid 4, hal. 68 dan 69, dan juga pada jilid 6, hal. 8. Dia menyembunyikan nama penentang itu. Sementara dalam kitab An-Nihâyah, karya Ibn Atsîr, Syarah Nahjul Balagah, karya Ibn Abil Hadîd, jilid 3, hal. 114, dan juga dalam kitab-kitab yang lain, nama orang itu disebutkan.
Musnad Ahmad, jilid 1, hal. 355.
Al-Manâqib, jilid 1, hal. 29. Terdapat banyak hadis mutawatir yang menegaskan bahwa Nabi saw. wafat sementara kepala beliau berada di pangkuan Imam Ali as. Silakan Anda rujuk Thabaqât Ibn Sa’d, jilid 2, hal. 51, Majma’ Az-Zawâ’id, jilid 1, hal. 293, Kanz Al-’Ummâl, jilid 4, hal. 55, Dzakhâ’ir Al-’Uqbâ, hal. 94, dan Ar-Riyâdh An-nâdhirah, jilid 2, hal. 219.
Ansâb Al -Asyrâf, jilid 1, hal. 574.
Târîkh Al-Khamîs, jilid 2, hal. 192.
Nahjul Balâghah, jilid 2, hal. 255.
Hilyah Al-Awliyâ’, jilid 4, hal. 77.
Kanz Al-’Ummâl, jilid 4, hal. 54.
Nahjul Balaghah, khotbah ke-409.
Hayâh Al-Imam Husain as., jilid 1, hal. 235.
Ansâb Al-Asyrâf, karya Al-Balâdzurî. Para sejarahwan sepakat tentang adanya ancaman Umar kepada Ali as. untuk membakar rumahnya itu. Silahkan Anda rujuk Târîkh Ath-Thabarî, jilid 3, hal. 202, Târikh Abi Al-Fidâ’, jilid 1, hal. 156, Târîkh Al-Ya’qûbî, jilid 2, hal. 105, Murûj Adz-Dzahab, jilid 1, hal. 414, Al-Imâmah wa As-Siyâsah, jilid 1, hal. 12, Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, jilid 1, hal. 34, Al-Amwâl, karya Abu ‘Ubaidah, hal. 131, A’lâm An-Nisâ’, jilid 3, hal. 205, dan Al-Imam Ali, karya Abul Fattâh Maqshûd, jilid 1, hal. 213.
Al-Imâmah wa As-Siyâsah, hal. 28-31.
Nahjul Balâghah, jilid 2, hal. 182.
Di antara sahabat besar yang mengkritik penyerahan kekhalifahan dari Abu Bakar kepada Umar adalah Thalhah dan para sahabat yang lain. Silakan Anda rujuk Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, jilid 9, hal. 343.
Murûj Adz-Dzahab, jilid 2, hal. 262.
Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd, jilid 2, hal. 185.
Al-Istî’âb, catatan atas Al-Ishâbah, jilid 2, hal. 461; Al-Imâmah wa As-Siyâsah, jilid 1, hal. 21.
Târîkh Asy-Syi’r Al-Arabî, hal. 26.
As-Sîrah Al-Halabiyah, jilid 2, hal. 314.
Hayâh Al-Imam Amiril Mukminin as., jilid 2, hal. 215.
Târîkh Ibn Al-Atsîr, jilid 3, hal. 80.
Al-’Iqd Al-Farîd, jilid 2, hal. 92.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s