Month: Februari 2011

Pasca wafatnya Rasulullah Saw, mulai muncul perselisihan terkait suksesi kepemimpinan. Sekelompok umat Islam percaya bahwa pemilihan khalifah harus dilakukan dengan suara rakyat atau perwakilan mereka. Sementara sekelompok lain meyakini masalah sepenting ini harus memperhatikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Karena Rasulullah Saw dalam banyak peristiwa, seperti Ghadir Khum, beliau telah menunjuk Imam Ali bin Abu Thalib sebagai penggantinya

Demi merealisasikan persatuan Islam di Iran, Imam Khomeini ra memberikan pencerahan kepada masyarakat dan menjelaskan tujuan kaum imperialis Barat dan Timur. Dengan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam dan memperdalam budaya dan rasa percaya diri masyarakat, Imam Khomeini ra berhasil memperkokoh prinsip-prinsip persatuan di Iran

 

Nabi Muhammad Saw selama 23 tahun mengajak masyarakat memeluk Islam telah mengalami segala bentuk kesulitan dan kesusahan. Selama di Madinah khususnya, di masa beliau membentuk pemerintahan Islam, telah banyak usaha dilakukan demi mengharmonisasikan dan menciptakan solidaritas umat Islam. Sejatinya, langkah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw ini juga berdasarkan perintah Allah Swt. Sebagaimana telah disinggung dalam banyak ayat tentang pentingnya persatuan umat Islam. Akhirnya, berkat usaha keras yang tak kenal lelah, Rasulullah Saw berhasil memberikan nikmat solidaritas dan persatuan Islam kepada masyarakat Islam waktu itu.

Pasca wafatnya Rasulullah Saw, mulai muncul perselisihan terkait suksesi kepemimpinan. Sekelompok umat Islam percaya bahwa pemilihan khalifah harus dilakukan dengan suara rakyat atau perwakilan mereka. Sementara sekelompok lain meyakini masalah sepenting ini harus memperhatikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Karena Rasulullah Saw dalam banyak peristiwa, seperti Ghadir Khum, beliau telah menunjuk Imam Ali bin Abu Thalib sebagai penggantinya. Sekalipun Imam Ali as tidak menjadi khalifah pada masa meninggalnya Rasul, namun kinerja yang ditunjukkan beliau menunjukkan masalah persatuan Islam dan sejumlah masalah lainnya bahkan lebih penting dari masalah kekuasaan yang menjadi haknya.

Sekaitan dengan hal ini, Imam Ali as bukan hanya tidak meletakkan dirinya berhadap-hadapan dengan khalifah yang berkuasa, tapi dalam kasus-kasus penting, para khalifah yang meminta tuntunan dan solusi dari beliau. Imam Ali as menilai penting dan sangat bernilai persatuan umat Islam. Dikatakannya, “Hendaknya kalian senantiasa bersama masyarakat Islam. Karena kekuasaan Allah selalu bersama jamaah. Janganlah berselisih! Karena kelompok kecil bakal menjadi santapan setan. Sama seperti kambing yang terpisah dari kelompoknya bakal diterkam serigala.”

Dalam sejarah Islam, perselisihan mazhab senantiasa dimanfaatkan oleh musuh untuk menguasai umat Islam. Oleh karenanya, Imam Ali as menunjukkan kepada umat Islam agar berusaha sebisa mungkin untuk meninggalkan perselisihan di tengah masyarakat Islam. Perilaku Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw menjadi pelita bagi kita bagaimana sekalipun punya perbedaan cara pandang terkait satu masalah dengan para ulama waktu, tapi mereka selalu berusaha perselisihan ini hanya terbatas di lingkungan ilmiah, agar perselisihan tidak meluas ke tengah masyarakat Islam. Sepanjang sejarah Islam, kebanyakan metode yang dipakai oleh ulama tercerahkan adalah menjauhkan diri dari perselisihan dan mengajak umat agar bersatu.

Patut disayangkan selama dua abad lalu, para pemimpin negara-negara Islam yang berkuasa merupakan boneka para kekuatan imperialis. Selama ini pula, ulama tercerahkan seperti Sayyid Jamaluddin Asad Abadi yang dikenal Sayyid Jamaluddin Afghani menyeru masyarakat Islam untuk bersatu, namun yang terjadi mereka malah diancam dan ditumpas oleh para penguasa. Bila ditelusuri masalahnya sederhana saja. Imperialisme Barat berusaha menjarah kekayaan negara-negara Islam menabuh genderang perselisihan di tengah-tengah masyarakat Islam. Mereka juga mempublikasikan buku-buku dan majalah untuk menciptakan perselisihan di dunia Islam.

Kekuatan-kekuatan hegemoni biasanya menekankan keutamaan satu etnis tertentu dan perselisihan agama demi mengobarkan api kebencian di antara mereka. Hingga sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, imperialis Barat begitu gembira karena berhasil mengompori dunia Islam agar senantiasa tenggelam dalam perselisihan. Dengan cara ini, mereka berhasil mencegah terciptanya sebuah negara Islam. Tapi pasca Revolusi Islam, kekuatan-kekuatan hegemoni masih tetap menerapkan cara itu dengan metode baru demi menciptakan perselisihan di antara umat Islam. Sekalipun demikian, Revolusi Islam telah memberikan tenaga baru kepada umat Islam dan mampu menghadapi segala bentuk konspirasi musuh.

Imam Khomeini ra mengetahui bahwa kemenangan Revolusi Islam tidak dapat dicapai tanpa menciptakan persatuan Islam di tengah masyarakat Iran. Untuk itu Imam Khomeini berusaha mempersatukan seluruh kelompok yang ada dan mendekatkan hati mereka satu sama lainnya. Imam Khomeini ra telah memberikan persatuan nasional kepada Iran yang memiliki beragam etnis dan agama. Demi merealisasikan persatuan Islam di Iran, Imam Khomeini ra memberikan pencerahan kepada masyarakat dan menjelaskan tujuan kaum imperialis Barat dan Timur. Dengan menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam dan memperdalam budaya dan rasa percaya diri masyarakat, Imam Khomeini ra berhasil memperkokoh prinsip-prinsip persatuan di Iran.

Di sisi lain, rakyat Iran yang mengikuti tuntunan Imam Khomeini ra soal persatuan Islam akhirnya berhasil mengantarkan Revolusi Islam mencapai kemenangan. Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang kini menjadi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran melanjutkan jalan Imam Khomeini ra. Beliau mengatakan, “Prinsip tauhid dan keyakinan akan keesaan Allah hendaknya dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat Islam baik individu maupun sosial. Prinsip ini hendaknya mampu membentuk masyarakat dalam format sebuah masyarakat yang saling berhubungan dan berkoordinasi satu dengan lainnya dan memiliki persatuan.”

Tak syak, satu dari faktor kemajuan dan kesempurnaan bangsa-bangsa di dunia adalah persatuan. Sama seperti bersatunya tetesan air akhirnya mampu memenuhi bendungan. Persatuan manusia juga bakal menciptakan sinergi dan kekuatan yang luar biasa serta memperkokoh barisan masyarakat. Sesuai dengan pentakbiran al-Quran, barisan agung umat Islam menciptakan ketakutan dalam diri musuh dan selanjutnya mereka tidak bakal menyerang umat Islam.

Imam Khomeini ra dengan meniti ayat-ayat al-Quran juga punya harapan untukmembentuk sebuah umat Islam yang satu. Pendiri Revolusi Islam Iran ini lewat sebuah seruan umum mengajak para pemimpin negara-negara Islam untuk bersatu. Beliau meminta mereka untuk bersatu demi kepentingan umat Islam dan berdiri melawan para imperialis Barat dan Timur. Imam berkata, “Keyakinan kami, sebelum bangsa-bangsa ini bangkit, semestinya pemerintah-pemerintah ini tunduk dan bersahabat satu dengan lainnya.”

Sayangnya kebanyakan para pemimpin negara-negara Islam yang bergantung pada kekuatan-kekuatan imperialis tidak mengambil strategi untuk mewujudkan persatuan. Akhirnya, Imam Khomeini ra tanpa mengharapkan pemerintah-pemerintah ini mengajak bangsa-bangsa muslim untuk bersatu dan membentuk pemerintahan Islam. Kepada mereka Imam mengatakan, “Bangsa-bangsa harus memikirkan tentang Islam. Kami sudah putus asa dari mayoritas kepala-kepala negara Islam. Tapi bangsa-bangsa harus berpikir dan kami belum berputus asa dari mereka.”

Kini masa kebangkitan dan kesadaran Islam telah dimulai. Seakan-akan inti pemikiran Imam Khomeini ra dan Ayatollah Sayid Ali Khamenei telah sampai di hampir seluruh dunia Islam. Rakyat negara-negara Islam di Afrika Utara yang bertahun-tahun putus asa dari para penguasa zalim mereka kini mulai bersatu dengan panggilan suci Allahu Akbar. Mereka menuntut pembebasan negaranya dari negara-negara penindas dan bergantung.

Di negara-negara seperti Tunisia, Yaman, Yordania dan khususnya Mesir telah muncul gelombang kesadaran Islam di seluruh lapisan masyarakat. Dengan rasa solidaritas dan persatuan mereka bertekad untuk mengambil alih nasib bangsanya dan memerdekakan negaranya dari kekuatan asing. Dalam surat ar-Ra’d ayat 11 Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Oleh karenanya, selama rakyat Mesir mampu mempertahankan persatuan di antara mereka dan maju melawan diktator Hosni Mubarak dengan kesadaran, mereka dapat berharap mencapai kemenangan.

Kini lingkaran persatuan umat Islam semakin kokoh dan mereka semakin dekat untuk membentuk sebuah umat Islam yang satu. Jelas, ketiadaan para penguasa zalim di negara-negara Islam bakal memberikan harapan yang lebih bagi terbentuknya persatuan Islam. Umat Islam kini hidup di masa kebangkitan dan kesadaran. Dengan meminggirkan perselisihan agama dan mengikut ajaran-ajaran agama yang tinggi dapat mendorong mereka untuk lebih memikirkan persatuan dan solidaritas Islam. Dengan demikian mereka lebih dapat berharap mampu membebaskan diri dari hegemoni kekuatan asing dan dapat menentukan nasib politiknya sendiri.

Dari beberapa pendapat di atas (baik dari kalangan syi’ah maupun ahlu sunnah) menunjukan bahwa Saif bin Umar sebagai satu-satunya sumber yang meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba adalah sesorang yang pembohong dan oleh sebagian dianggap zindik, juga riwayat-riwayatnya dianggap lemah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif dalam sejarah Islam. Hal ini didasarkan bukan hanya karena adanya Saif bin Umar dalam jalur sanadnya, tetapi juga karena Saif bin Umar adalah seseorang yag terkenal zindiq dan fasik.

Mazhab sunni mencaci dan mengutuk Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’

.

Dr. Aly Al Wardy dalam kitabnya Wu’adzus Salatin dan Dr, Kamil Mustafa As Syaibi dalam kitabnya As Shilah Baina Tashawuf wa al Tasyyu’ mengalamatkan inisial Ibnu Saba pada Amar bin Yasir dengan beberapa faktor :

1.  Ibu Amar bin Yasir, Sumayah adalah seorang budak hingga ia pun dijuluki Ibnu Sauda·

2. Amar bin Yasir berasal dari kabilah Ansy pecahan dari klan Saba’

3.    Fanatisme  Ammar terhadap Aly, diriwayatkan bahwa ia memandang Aly lebih berhak menjadi Khalifah dibanding Utsman· Ammar menyerukan pengangkatan Ali sebagai khalifah

4. Amar bin Yasir mengkampanyekan pemikirannya di Madinah dan Mesir·

Mereka memaparkan sejumlah bukti bahwa Abdullah bin Saba’ yang dimaksudkan mazhab sunni adalah ‘Ammar bin Yasir.

Golongan Sabaiyah yang ditengarai bentukan milisi ekstrim Ibnu Saba tidak lain adalah kelompok muslimin yang berasal dari klan Saba yang memang setia mendukung Aly, dan seringkali bertindak oposisi di masa pemerintahan Utsman, kelompok ini diwakili Amar bin Yasir, Abu Dzar Al Ghifari dan kaum Anshar yang memang berasal dari klan Saba.

KESIMPULAN

Demikianlah cacian dan kutukan mazhab sunni terhadap Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’  

Pada dasarnya Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif..

Siapakah Saif bin Umar?

Menurut Thabari, namanya yang lengkap adalah Saif bin umar Tamimi Al-Usaidi. Menurut Al-Lubab Jamharat Al-Ansab dan Al-Isytiqaq, namanya Amr bin Tamimi. Karena ia keturunan Amr maka ia telah mengkontribusikan lebih banyak lagi tentang perbuatan-perbuatan heroik Bani Amr ketimbang yang lain-lainnya.

Namanya disebut sebagai usady, sebagai ganti Osayyad, dalam Al-Fihrist oleh Ibn Nadim. Dalam Tahdzib Al-Tahdzib, ia juga disebut Burjumi, Sa’adi atau Dhabi. Disebutkan pula bahwa Saif berasal dari Kufah dan tinggal di Baghdad, meninggal pada tahun 170 H pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid ( 170-193 H).

Saif bin Umar Tamimi menulis dua buah buku yang berjudul:

1.  Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah, isinya menjelaskan tentang sejarah dari sebelum wafatnya Nabi Muhammad Saw hingga pada masa Utsman menjadi khalifah.

2. Al-Jamal wa Al-Masiri ‘Aisyah wa Ali, mengenai sejarah sejak terbunuhnya Utsman sampai peristiwa peperangan jamal.

Kedua buku ini lebih banyak menceritakan tentang fiksi ketimbang kebenaran. Sebagian dari cerita-ceritanya adalah cerita palsu yang dibuat olehnya. Kemudian kedua buku ini pun menjadi sumber rujukan para sejarawan seperti Ibnu Abdil Bar, Ibnu Atsir, Dzahabi dan Ibnu Hajar ketika mereka hendak menulis dan menjelaskan perihal para sahabat Nabi Saw.

Allamah Askari menjelaskan dalam bukunya bahwa setelah diadakan penelitian terhadap buku-buku yang dikarang oleh keempat sejarahwan di atas ditemukan bahwa ada sekitar 150 sahabat nabi buatan yang dibuat oleh Saif bin Umar.7

Ahli Geografi seperti Al-Hamawi dalam bukunya Mu’jam Al-Buldan dan Al-Himyari dalam Al-Raudh yang menulis kota-kota islam juga menggunakan riwayat dari Saif dan menyebutkan nama-nama tempat yang diada-adakan oleh Saif8Dengan demikian Saif tidak hanya membuat tokoh fiktif Abdullah bin Saba tetapi juga dia telah membuat ratusan tokoh fiktif lainnya dan juga tempat-tempat fiktif yang dalam realitasnya tidak ada. Berikut ini adalah pandangan dan penilaian para penulis biografi tentang nilai-nilai tulisan Saif :

1. Yahya bin Mu’in (w. 233 H); “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna”.

2. Nasa’i (w. 303 H) dalam kitab Shahih-nya mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya.”

3. Abu Daud (w. 275H) mengatakan: “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong (Al-Kadzdzab).”

4. Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) mengatakan bahwa : “Dia telah merusak hadist-hadits shahih, oleh karena itu janganlah percaya terhadap riwayat-riwayatnya dan tinggalkanlah hadists-hadistnya.”

5. Ibnu Sakan (w. 353 H)_mengatakan : “Riwayatnya lemah.”

6. Ibnu Hiban (w. 354 H) dia mengatakan bahwa :” Hadists-hadits yang dibuat olehnya kemudian disandarkan pada orang yang terpercaya” juga dia berkata “Saif dicurigai sebagai Zindiq; dan dikatakan dia telah membuat hadits-hadits yang kemudia hadis tersebut dia sandarkan pada orang yang terpercaya.”

7. Daruqutni (w. 385 H) berkata :” Riwayatnya lemah. Tinggalkanlah hadits-haditsnya.”

8. Hakim (w. 405 H) mengatakan : “Tinggalkanlah hadits-haditsnya, dia dicurigai sebagai seorang zindiq.”

9. Ibnu ‘Adi (w. 365 H) mengatakan : “Lemah, sebagian dari riwayat-riwayatnya terkenal namun sebagian besar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”

10. Firuz Abadi (w. 817 H) penulis kamus mengatakan:” Riwayatnya lemah.”

11. Muhammad bin Ahmad Dzahabi (w. 748 H) mengenainya dia mengatakan :”Para ilmuwan dan ulama semuanya sepakat bahwa riwayatnya lemah dan ditinggalkan.”

12. Ibnu Hajar (w. 852 H) mengatakan :”hadisnya lemah” dan dalam buku lain mengatakan :Walaupun banyak riwayat yang dinukil olehnya  mengenai sejarah dan penting, tapi karena dia lemah, hadits-haditsnya ditinggalkan.”

13. Sayuti (w. 911 H) mengatakan :”Sangat lemah.”

14. Shafiuddin (w. 923 H) mengatakan :”Menganggapnya lemah.”

Dari beberapa pendapat di atas (baik dari kalangan syi’ah maupun ahlu sunnah) menunjukan bahwa Saif bin Umar sebagai satu-satunya sumber yang meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba adalah sesorang yang pembohong dan oleh sebagian dianggap zindik, juga riwayat-riwayatnya dianggap lemah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif dalam sejarah Islam. Hal ini didasarkan bukan hanya karena adanya Saif bin Umar dalam jalur sanadnya, tetapi juga karena Saif bin Umar adalah seseorang yag terkenal zindiq dan fasik.

Wallahu ‘alam bishshawwab. []

.

Syi’ah

Tuduhan bahawa madzhab syiah adalah ajaran daripada si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat Islam dan semacam sudah sebati dengan masyarakat bahawa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Ia dikatakan mempunyai madzhab Saba’iyyah mengemukakan teori Ali adalah wasi Muhammad SAW. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibn al-Sawda’ atau ibn ‘Amat al-Sawda’- anak kepada wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah ibn Saba’ adalah satu dongengan semata-mata.

Allamah Murtadha Askari telah mengesan dan membuktikan bahawa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam versi sunni adalah bersumberkan dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka ini sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber iaitu Sayf ibn Umar dalam bukunya al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba' wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercayai oleh kebanyakan penulis-penulis rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah bin Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Utsman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat untuk menghasut orang ramai supaya bangun memberontak menentang khalifah Uthman. Sayf dikatakan sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari watak Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah mencipta beberapa watak, tempat, dan kota khayalan.

Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut seperti Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-Ashari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin. Allamah al-Askari mengesan cerita Abdullah ibn Saba’ dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi.

Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai nabi. Mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup (walau bagaimanapun menurut Sa’d ibn Abdullah Ali telah menghalau Ibn Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika ini Abdullah ibn Saba’ mengatakan Ali AS tidak wafat sebaliknya akan kembali semula ke dunia). Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba’ menyatakan bahawa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengisytiharkan Imamah Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahawa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bida’ah yang bertentangan dengan hukum Islam sama ada dari madzhab Syi’ah atau Sunnah. Kisah tersebut pula tidak pernah disebut oleh tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun.

Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Sabak’ sebelum berlakunya peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS telah tidak disebut oleh penulis-penulis yang terawal seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang sekali sehaja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakr dan Umar…” Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut.

Ibn Qutaybah memberikan identiti orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa kehairannya bahawa tidak seorang pun daripada para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya – satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’ , yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu untuk melukiskan watak khayalan yang menjadi orang pertama mengiystiharkan Imamah Ali AS. Watak ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, mengisytiharkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan seterusnya selepas kewafatan Imam Ali AS, mengisytiharkan kesucian Ali AS dan Ali akan hidup kembali dan orang yang pertama bercakap dengan lantang tentang musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. justeru, Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’

Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri daripada puak-puak yang berasal dari Yaman. Selepas kejatuhan Bani Umayyah. istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’

 

Jika anda menganalisa riwayat dongeng Abdullah bin Saba, maka anda akan melihat bahwa satu nama menjadi pusat riwayat tersebut yaitu Saif bin Umar. Sementara dalam beberapa riwayat lainnya tidak memiliki rantai riwayat. Ada juga beberapa riwayat tentang Abdullah bin Saba yang tidak melalui jalur Sayf bin Umar tapi anehnya riwayat tersebut tidak berkaitan atau tidak menyatakan keterlibatan “Sabais atau pengikut si Ibn Saba” dalam pembunuhan Ustman melainkan hanya menyebutkan namanya dan ini benar-benar berbeda dengan dongeng yang dibuat oleh Saif bin Umar
.
Sementara itu, menurut Ijma’ Ahlu Sunah, Sayf bin Umar adalah Pembohong dan tidak diakui riwayatnya, lalu bagaimana mereka bisa menggunakan riwayat Saif bin Umar yang oleh mereka sendiri dikatakan pembohog.?
.
Pandangan Ulama tentang Saif bin Umar :
  1. Ulama andalan Salafi Wahabi, Albani menyatakan Sayf bin Umar : “Pembohong” (Silsila Sahiha, j.3 h.184)
  2. Mahmud Abu Rayah juga menyatkan Sayf sebagai pembohong. (Adhwa ala Al Sunnah, h139)
  3. Ibn Abi Hatim menyatkan : Matruk[1] (Al-Jarh wa Al Ta’dil, j.4 h.278).
  4. Al-Haythami menyatakan : Matruk (Majma al-Zawaid, j8, h.98)
  5. Syaikh Syu’aib al-Arnaut menyatkan Saif bin Umar :  Matruk (cttn. pinggir Siyar Alam An Nubala, j.3 h.27)
  6. Yahya Mukhtar al Ghazawi berkata : “Merupakan kesepakatan bahwa ia (Sayf bin Umar) Matruk” (Cttn. Kaki “Al Kamil” oleh Abdullah bin Uday  j.3 h.435).
Sebagian Ulama menyatakan Sayf bin Umar dan riwayatnya Dhaif adalah:
  1. Ibn Hajar (Taqrib al-Tahdib, j.1 h.408)
  2. Yahya ibn Ma’in (Tarikh Ibn Ma’in, j.1 h.336),
  3. Al-Nasai (Al-Du’afa, h.187)
  4. Al-Aqili (Al-Du’afa oleh Aqili, j.2 h.175), sementara dia sendiri juga menyatakan bahwa Al-Salihi al-Syami menyatakan “Sangat Lemah” (Subul al-Huda wa al-Rasyad, j.11 h.143).
Ulama lainnya, antara lain  :
  1. Ibn Hiban : “Dia (Sayf) meriwayatkan riwayat-riwayat palsu” (Al-Majruhin, j.1 h.345).
  2. Allamah Abu Naim al Asbahani : “Dia (Sayf) tidak ada artinya/bukan apa-apa” (Al Du’afa, oleh Abu Naim, h.91)
  3. Imam Abu Daud sependapat dengan Abu Naim bahwa Sayf tidak ada artinya (Su’alat al-ajiri, j.1 h.214).
  4. Ibn al-Jawzi : ‘Dia (Sayf) dituduh memalsukan hadis” (Al-Maudu’at, oleh ibn al-Jawzi, j.1 h.222).
  5. Abdullah bin Uday : “Riwayat darinya munkar” (Mizan al-I’tidal, j.2 h.255).
  6. Al-Hakim :“Sayf dituduh sesat. Riwayat darinya ditinggalkan” (Tarikh Islam, j.11, h.161)
  7. Hasan bin Farhan al-Maliki berkata : “Pemalsu” (Nahu Inqad al-Tarikh, h.34).
Bahkan Adz-Dzahabi berkata dalam al-Mughni fi al-Dhu’afa, h.292  :

“Sayf mempunyai dua Kitab, yg mana (keduanya) secara bulat (sepakat) ditolak oleh para Ulama”[2]

Yang menarik adalah, meskipun Ulama Ahlu Sunnah menolak riwayat dari Saif bin Umar dan dua Kitab yang berisi segala macam dongeng Abdullah bin Saba, mereka tetap mengambil beberapa cerita darinya dan telah memasukkan dalam buku-buku mereka, salah satunya Dzahabi sendiri. (tanya kenapa..??)
Dan yang lebih lucu lagi Kaum Wahaby Nashibi yang paling doyan memakai riwayat-riwayat dhaif yang ujungnya semua dari Sayf bin Umar karena semua sumber dari dongeng tersebut berujung di Kitab Sayf itu sendiri yaitu “Al Jamal wa Masir Aisyah wa Ali”
Bagi anda yang ingin melihat bagaimana skema jalannya dongeng Abdullah bin Saba dari Sayf sampai ke kitab-kitab Ulama Ahlu Sunah, dan juga riwayat yang dikatakan dari Syiah, maka silahkan klik disini berserta keterangan lainnya dari Antologi Islam.
Cttn :
[1] Hadits Matruk adalah  hadits yang ditinggalkan, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi saja sedangkan perawi itu dituduh berdusta. Jadi riwayat dari Sayf bin Umar ditinggalkan/tidak dipakai.
[2] Al-Futuh wa al-Riddah dan Al-Jamal wa Masir Aisyah wa Ali
.

BEDAH BUKU  :MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH?

TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

bersambung…

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar
.
.

Kisah dongeng Abdullah bin Saba (2)

Yasini:
Sebelum memulakan perbahasan, silakan tuan sampaikan sedikit ucapan.

Ayatullah Qazwini:
Dalam beberapa minggu kebelakangan ini, salah satu siaran televisyen yang berkait rapat dengan Wahabi telah meluaskan propaganda menentang Syiah dengan serangan yang sangat dahsyat. Mereka berkhayal bahawa ia dapat mempertikaikan cahaya nurani Ahlul Bait yang ma’sum dan suci di peringkat antarabangsa
Saluran Al-Mustaqillah yang mempunyai hubungan dengan Wahabi, sejak hari pertama siarannya, ia berusaha mencetuskan fitnah terhadap Syiah. Dua bulan baru-baru ini fitnah telah sampai ke kemuncaknya. Saya sendiri telah diundang untuk berdebat. Kami pun menolaknya sambil menyatakan kami tidak sudi berdebat dalam sebuah saluran televisyen yang mencetuskan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kami sudah berdebat dengan tokoh-tokoh terkenal Wahabi seperti mufti besar, para pensyarah universiti dan hawzah-hawzah ilmiyah mereka. Namun itu bukanlah perdebatan dengan seorang Ahlusunnah, tetapi perdebatan dengan orang gila yang kerjanya tidak ada yang lain kecuali mencaci, seolah-olah tidak pernah mendapat didikan ayah dan ibunya. Menurut pandangan kami, individu seperti ini bukan menghina Syiah, namun ia menghina Islam.

Kadang-kadang apabila diceritakan sedikit sahaja perihal sahabat nabi dalam saluran TV Salam, sebahagian tok guru Ahlusunnah akan membangkitkan perkara ini dalam khutbah-khutbah Jumaat, mereka lantang menentang saluran TV Salam dan Syiah. Namun saya tidak tahu mereka ini berdiam diri apabila beberapa saluran TV meluahkan penghinaan paling buruk terhadap para Imam (a.s), Ahlul Bait (a.s) dan Imam Mahdi (a.j) serta melaknat para marji’ taqlid Syiah dalam beberapa saluran TV?. mengapa mereka tidak mengeluarkan pernyataan masing-masing? Mengapakah mereka tidak bertindak apa-apa? apakah mereka takut dengan orang gila? Kami suka melihat kalau para alim ulama Sunni seperti Abdul Hamidi yang lantang memprotes saluran TV Salam agar berdepan dengan semua penghinaan orang gila ini. Hendaklah mereka tunjukkan slogan yang dilaungkan mereka selama ini, iaitu kita menuntut perpaduan sesama Islam dan menjauhi sebarang bentuk perpecahan dan perselisihan. Ramai saudara kita dari dalam dan luar negara menelefon kami dan mengirim emel agar mengatur acara untuk berdepan dengan serangan Wahabi dan menyusun rancangan untuk para mahasiswa, pensyarah universiti dan pelajar agama menjawab keraguan Wahabi yang besikap kebudak-budakan terhadap Syiah.

Ada kabar gembira buat semua penonton, mahasiswa, pensyarah universiti, pelajar agama, ustaz-ustaz Hawzah Ilmiyah dari dalam dan luar negara, bahawa dalam waktu terdekat ini akan diumumkan kemunculan beberapa rancangan mengenal kebudayaan Syiah dan menjawab keraguan Wahabi melalui laman web dan secara online untuk para pemuda kita. Setelah beberapa ketika rancangan ini berjalan, kami akan mengadakan program khusus untuk mereka yang mengikuti acara tersebut. Barangsiapa yang berjaya dalam ujian, mereka akan meraih hadiah yang lumayan seperti pakej menunaikan ibadah haji dan menziarahi Masyhad untuk peserta dari dalam dan luar negara.

Dalam pertemuan kita yang pertama, salah satu keraguan penting yang ditimbulkan oleh Wahabi untuk memerangi Syiah pada hari ini ialah pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba. Beberapa perkara telah kami kemukakan kepada penonton bahawa Abdullah bin Saba tidak lebih dari dongengan dan khayalan. Mereka mencipta hikayat ini semata-mata untuk melonggokkan peristiwa perbalahan di kalangan sahabat ke atas seorang yang bernama Abdullah bin Saba iaitu seorang Yahudi yang baru memeluk Islam. Mereka pun saling berselisih tentang zaman keIslaman Abdullah bin Saba, di mana ia menerima Islam dan apa kerjanya.

Yasini:
Ulama Syiah enggan menerima kewujudan Abdullah bin Saba. Tolong terangkan perkara ini.

Ayatullah Qazwini:
Ramai ilmuan Syiah yang terbilang memungkiri Abdullah bin Saba dan percaya Dinasti Bani Umayyah yang telah mewujudkan kisah dongeng ini. Marhum Kasyif Al-Ghita secara langsung menyebut:

أحاديث خرافة وضعها القصاصون و أرباب السمر و المجون.

Hadis-hadis yang berkaitan dengan Abdullah bin Saba adalah khurafat, hanya para penglipur lara yang gila sahaja menerimanya.

احاديث مربوط به عبد الله بن سبأ، خرافي است و قصه*گويان و کساني که به شب*نشيني مي*روند و بذله*گو هستند، اين داستان را بافته*اند.
أصل الشيعة و أصولها للشيخ كاشف الغطاء، ص181
‘Allamah ‘Askari mempunyai kitab yang khusus tentang topik ini dan dicetak dalam dua jilid. Beliau menerangkan dalil-dalil, kesaksian dan ayat al-Quran yang membuktikan kisah Abdullah bin Saba ini sengaja dicipta. Marhum Ayatullah al-Uzma al-Khu’I yang menjadi kebanggaan fuqaha Syiah kerana berguru dengan beliau, di dalam Mu’jam Rijal al-Hadis berkata:

إن أسطورة عبد الله بن سبأ و قصص مشاغباته الهائلة موضوعة مختلقة اختلقها سيف بن عمر الوضاع الكذاب.
معجم رجال الحديث للسيد الخوئي، ج11، ص207
Dongeng Abdullah bin Saba dicipta oleh seorang yang mencipta hadis bernama Saif bin Umar. – Mu’jam Rijal al-Hadis Li Sayyid al-Khu’i.

Beliau merujuk kepada penelitian ‘Allamah ‘Askari tentang perkara ini. Barangsiapa yang ingin melihat penelitian khusus perkara ini, silakan merujuk kepada kitab beliau. ‘Allamah Tabataba’i di dalam kitab al-Mizan berkata ‘kisah Abdullah bin Saba merupakan cerita rekaan semata-mata, dan ia daripada khurafat sejarah’, Tafsir al-Mizan Li Sayyid Tabataba’i, jilid 9 halaman 260.

‘Allamah Muhammad Jawad al-Mughniyah, antara tokoh yang terkenal di Lubnan, saya sendiri bangga menjadi anak murid beliau dalam beberapa kuliah pagi, di dalam kitab ‘Abdullah bin Saba wa Asatir Ukhra, jilid 1 halaman 12 telah membahaskan topik ini.

Dr. Ali al-Wardi di dalam kitab Wi’az al-Salatin, halaman 90 hingga 112 telah menerangkan topik ‘Abdullah bin Saba secara terperinci dengan membedah manuskrip sejarah di zaman Bani Umayyah.
Salah sorang ulama Syiah bernama ‘Abdullah Fayyadh menerangkan topik ini di dalam kitab Tarikh al-Imamiyyah sebagai: Perkara ini lebih dekat dengan khayalan sehingga ia terkeluar dari hakikat.
Cukuplah kami sebutkan tadi beberapa orang ulama Syiah yang memungkiri kewujudan ‘Abdullah bin Saba.

Yasini:
Apakah Ulama Ahlusunnah juga memungkiri kewujudan ‘Abdullah bin Saba?

Ayatullah Qazwini:
Ada beberapa orang ulama di kalangan ulama Ahlusunnah turut memungkiri perkara ini. Dr. Taha Husain, salah seorang tokoh Sunni yang terkenal secara langsung mengatakan musuh-musuh Syiah yang mencipta ‘Abdullah bin Saba untuk mempertikaikan kebudayaan Syiah:

أراد خصوم الشيعة أن يدخلوا في أصول هذا المذهب عنصرا يهوديا إمعانا في الكيد لهم و النيل منهم.
الفتنة الكبرى للدكتر طه حسين، ج2، ص98، طبعة دار المعارف بمصر، عام 1953 ميلادي
Mereka ingin memerangi Syiah dengan memasukkan elemen Yahudi ke dalam usul mazhab ini. – al-Fitnatul Kubra Li- Dr. Taha Husain, jilid 2 halamabn 98.

Dr. Ali Nasysyar, salah seorang pemikit Islam dan professor falsafah berkata di dalam kitab Nasyatul Fikr Fi al-Islam, jilid 2 halaman 39 sebagai: ‘Abdullah bin Saba di dalam teks sejarah adalah hasil rekaan. Sejarah menyebut nama beliau untuk menuduhnya sebagai pencetus fitnah pembunuhan Uhtman dan peperangan Jamal. ‘Ammar bin Yasir lah yang dianggap Abdullah bin Saba.

Dr. Hamid Dawud Hanafi, iaitu salah seorang tokoh Mesir yang mendapat gelaran Doktor di Universiti Sastera Kaherah mengakui pembikinan kisah ini di dalam mukadimah kitab ‘Allamah ‘Askari, jilid 1 halaman 17.
Muhammad Kamil Husain, seorang doktor, ulama dan ahli falsafah Mesir menyebut kisah ‘Abdullah bin Saba sebagai khayalan di dalam kitab Adab Misr al-Fatimiyyah, halaman 7.

Pensyarah universiti Malik Sa’ud di Riyadh, Dr. Abdul Aziz al-Halabi berkata: kesimpulannya Abdullah bin Saba ialah:

شخصية وهمية لم يكن لها وجود.
دراسة للرواياة التاريخية عن دوره في الفتنة، ص73
Personaliti khayalan, tidak mungkin ia wujud. (Dirasah lil-Riwayah al-Tarikhiyyah ‘An Dawrihi fil Fitnah, halaman 73).

Jikalau ia wujud sekalipun, adalah satu pembohongan jika perkara ini dikaitkan dengannya.
Peneliti buku al-Muntazam Ibnu Jawzi, Dr. Sahil menyebut tentang pembikinan Abdullah bin Saba dalam kitab tersebut.
Mereka ini adalah tokoh tersohor Ahlusunnah yang percaya bahawa pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba.

Walau bagaimana pun saya akan terangkan lagi, di mana saya sendiri telah mengkaji selama lebih dari 500 jam dalam jurusan ini.
Menurut riwayat Syiah, Abdullah bin Saba telah diceritakan sebagai ghuluw terhadap Amirul Mukminin, dan ia tidak diterima oleh Ali (a.s). Namun Tabari, pembesar Wahabi seperti Ibnu Taimiyyah dan lain-lain lagi telah mengaitkannya sebagai pengasas mazhab Syiah. Kami menganggap ungkapan tidak berasas ini tidak ada yang lain lagi kecuali mengarut. Mereka telah mengaitkan Abdullah bin Saba dalam peristiwa pembunuhan Uthman, fitnah perang Jamal dan lain-lain lagi. Kami dapati, salah satu pembohongan sejarah ialah, tidak ada bukti sama sekali mengenai perkara ini meskipun hadis dhaif dalam kitab Ahlusunnah dan Syiah.

Yasini:
Siapakah orang yang mula-mula mereka cipta kisah dongeng Abdullah bin Saba?

Ayatullah Qazwini:
Soalan ini sering ditanya kepada kami oleh kebanyakan pemuda, ahli akademik Hawzawi. Pertanyaan “Dari mana ia masuk ke dalam sejarah?”, “Dari mana datangnya kisah Abdullah bin Saba ini?”, “Apakah ia benar-benar wujud atau tidak?” adalah satu perbahasan. Kisah dongeng yang dikaitkan dengan beliau adalah satu perbahasan yang lain. Dengan merujuk kepada sumber-sumber kita, Ahlusunnah dan Wahabi mempertikai, mereka sering berbicara. Iya, memang ada riwayat di dalam kitab Rijal Kasyi dan Khishal Syaikh Saduq. Namun apakah dengan adanya riwayat ini menunjukkan ia pengasas mazhab Syiah, pembunuhan Uthman dan jenayah-jenayah lain yang dikaitkan dengan Abdullah bin Saba? Dalam menjawab pertanyaan ini, saya berterus terang, silakan semua penonton, cendiakawan Ahlusunnah dan Wahabi berikan sekecil-kecil bukti yang menyangkal kata-kata saya, bahawa orang yang mula-mula mencipta kisah Abdullah bin Saba ialah Saif bin Umar yang meninggal dalam tahun 170 Hijrah.
Setelah Tabari, orang yang menukilkannya akan mengambil dari Tabari.
تاريخ الطبري، ج3، ص378

Ibnu Athir, penulis al-Kamil Fi al-tarikh, wafat dalam tahun 630 Hijrah telah menukilkan kisah ini daripada Tabari dan di permulaannya mengatakan:
فابتدأت بالتاريخ الكبير الذي صنّفه الإمام أبو جعفر الطبري إذ هو الكتاب المعول عند الكافة عليه.
الكامل في التاريخ لإبن الأثير، ج1، ص3
Saya mulakan dengan Tarikh al-Kabir yang dikarang oleh al-Imam Abu Ja’far al-Tabari, kerana kitabnya menjadi kepercayaan semua orang (seluruh Ahlusunah). (al-Kamil Fi Tarikh Li Ibnu Athir, jilid 1 halaman 3). Ibnu Kathir Dimasqi, wafat dalam tahun 774 Hijrah, dalam al-Bidayah wan Nihayah menukilkan kisah tersebut dan akhirnya mengatakan:

هذا ملخص ما ذكره أبو جعفر بن جرير.
البداية و النهاية لإبن كثير، ج7، ص275

Inilah petikan dari apa yang disebut oleh Abu Ja’far bin Jarir. Ibnu Khaldun, wafat dalam tahun 808
Hijrah menukilkan kisah ini daripada Tabari dan mengatakan:

هذا أمر الحمل، ملخص من کتاب أبي جعفر الطبري.
تاريخ ابن خلدون لإبن خلدون، ج2، بخش2، ص166
Penulis di zaman ini seperti Rashid Ridha di dalam kitab Al-Sunnah Wa Syiah menukilkannya daripada
Tabari (Al-Sunnah Wa Syiah, halaman 4, 6, 45, 49 dan 103) Ahmad Amin Misri di dalam kitab Fajrul Islam turut mengambil perkara ini daripada Tabari. Farid Wajdi, penulis kitab Dairatul Mu’arif, wafat dalam tahun 1370 Hijrah menukilkannya daripada Tabari. Hasan Ibrahim Hasan di dalam Tarikh al-Islam al-Siyasi, halaman 347 meriwayatkannya daripada Tabari. Semua orang yang menukilkan kisah dongeng dan khayalan Abdullah bin Saba sebagai pengasas mazhab Syiah, stimulasi pembunuhan Uthman dan pencetus fitnah perang Jamal akan kembali kepada Tarikh Tabari, namun Tabari hanya menukilkannya daripada Saif bin Umar, bukan daripada orang lain. Selain itu ada perkara yang lain lagi, perkara ini akan dibicarakan lagi dalam pertemuan akan datang.

Yasini:
Tolong terangkan permasalahan utama Abdullah bin Saba untuk para penonton.

Ayatullah Qazwini:
Menurut pandangan saya ada tiga masalah utama tentang kisah dongeng ini. Mereka yang mereka cipta kisah Abdullah bin Saba ini mengatakan kisah pembunuhan Uthman dan lain-lain lagi berkait rapat dengan Abdullah bin Saba. Saya minta, sila beri perhatian permasalahan yang saya bawakan ini. Jikalau ada khilaf atau pertentangan dengan bukti kami, sila kemukakan, dan saya yakin tidak ada siapa pun yang mampu menyangkal.

Persoalan pertama:
Seluruh cerita ini merujuk kepada Tabari, dan Tabari menukilkan daripada seorang yang bernama Saif bin Umar. Saif bin Umar menurut pandangan Ahlusunnah adalah seorang yang Dhaif dan mereka cipta hadis, serta dituduh Zindiq dan tidak beragama. Yahya bin Mu’in di dalam Tarikhnya berkata:
سيف بن عمر ضعيف.
تاريخ ابن معين ليحيى بن معين، ج1، ص336

Nasai di dalam kitab al-Dhu’afa berkata:
آقاي نسائي در کتاب الضعفاء مي*گويد:
ضعيف.
كتاب الضعفاء و المتروكين للنسائي، ص187
‘Uqayli, al-Razi dan Ibnu Habban berterus terang:

أتهم بالزندقة، کان يضع الحديث.
كتاب المجروحين لإبن حبان، ج1، ص345 ـ تاريخ الإسلام للذهبي، ج11، ص162
Beliau dituduh Zindiq serta telah mereka cipta Hadis.

Abu Na’im Isfahani berkata:

متهم في دينه، مرمي بالزندقة، ساقط الحديث لا شئ.
كتاب الضعفاء لأبو نعيم الأصبهاني، ص91
Beliau dituduh zindiq, riwayatnya gugur (tidak boleh dipakai) Al-Mazzi di dalam Tahdhibul Kamal jilid 12 halaman 326 telah menceritakan hal yang sama.

Al-Dhahabi Mizan al-I’tidal turut menukilkannya di dalam (Mizan al-I’tidal Li Dhahabi, jilid 2 halaman 255). Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata di dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib:

و قال الحاکم اتهم بالزندقه و هو في الرواية ساقط.
تهذيب التهذيب لإبن حجر، ج4، ص260

Saif bin Umar dituduh Zindiq dan jatuh kemuktabarannya.

Persoalan kedua:
Mereka membetulkan kening sambil merosakkan mata. Mereka tidak sedar pembikinan diskusi Abdullah bin Saba hakikatnya apabila sahabat menjadikan rujukan sumber pemikiran Ahlusunnah, ia telah meninggalkan persoalan, seperti Tabari menukilkan riwayat ini daripada Saif bin Umar yang membawa pergi ke rantau Syam, Mesir dan beberapa tempat dengan menyebarkan kabar angin menentang Uthman sambil membahaskan kekhalifahan dan kewasiyan Ali (a.s). Sebahagian Sahabat seperti Abu Zar, Ammar dan beberapa orang yang lain telah menjadi mangsa fitnah Saif bin Umar. Kami ingin bertanya kepada Ahlusunnah:

Sahabat ini seluruh usianya, menjadi dewasa di kaki minbar Nabi (s.a.w), seperti ‘Ammar bin Yasir di mana Rasulullah berkata tentang beliau:
عمار ياسر ملئ ايمانا إلي مشاشه.
سنن ابن ماجة، ج1، ص52 ـ سنن النسائي، ج8، ص111 ـ فضائل الصحابة للنسائي، ص50 ـ المستدرك الصحيحين للحاكم النيشابوري، ج3، ص392 ـ مجمع الزوائد للهيثمي، ج9، ص295
Seluruh kewujudan ‘Ammar bin Yasir sarat dengan keimanan. Rasulullah telah bersabda tentang peribadi seperti Abu Zar, tidak ada orang yang lebih tulus daripada Abu Zar:
ما أظلت الخضراء و لا أقلت الغبراء أصدق من أبي ذر.

مسند احمد، ج2، ص163 ـ سنن الترمذي، ج5، ص334 ـ المستدرك الصحيحين للحاكم النيشابوري، ج3، ص342
Tabari di dalam Tarikhnya mengatakan, kedua sahabat besar ini, telah menjadi mangsa propaganda Saif bin Umar, ia membicarakan kewasiyan Ali dan mencetuskan propaganda memerangi Uthman serta beberapa peristiwa yang lain (Tarikh Tabari, jilid 3 halaman 379).

Menarik perhatian di sini, Ahmad bin Amin Misri di dalam kitab Fajrul Islam mengatakan:
أن أبا ذر تلقى فكرة الاشتراكية من ذلك اليهودي و هو تلقى هذه الفكرة من مزدكيي العراق أو اليمن.
Sesungguhnya Abu Zar menerima pemikiran sosialis daripada Yahudi itu, yang mengambil pemikiran dari Mazdiki Iraq atau Yaman.
Saya ingin bertanya kepada Ahlusunnah. Jikalau seorang ulama Syiah membuat penghinaan begini kurang hajar kepada salah seorang sahabat, apa yang anda lakukan? Tidakkah perkataan itu juga menghina Abu Zar dan ‘Ammar?

Jikalau riwayat Saif bin Umar diterima mereka sebagai pengasas kebudayaan Syiah, Saif bin Umar ini juga telah mempersoalkan keadilan Sahabat. Apakah tanggapan mereka terhadap sahabat yang lain setelah meletakkan Abu Zar dan ‘Ammar di bawah pengaruh pemikiran Abdullah bin Saba seorang yang sosialis, tidak beragama, menentang al-Quran dan Islam? Apakah sahabat seperti ini tidak boleh dirujuk sebagai sumber ilmu untuk umat Islam?

Tabari berkata daripada kata-kata Saif bin ‘Umar, bahawa pembunuhan ‘Uthman berkaitan dengan beberapa orang seperti Abu Zar, ‘Ammar ‘Abdul Rahman bin ‘Udais, Kananah bin Busr dan ‘Amru bin Hamiq al-Khuza’i (Tarikh al-Tabari, jilid 3 halaman 376; Tabaqat al-Kubra Li-Ibnu Sa’ad, jilid 3 halaman 71; Asad al-Ghabah Li- Ibnu al-Athir al-Jazri, jilid 3 halaman 309).

Saya ada pertanyaan untuk Ahlusunnah dan Wahabi yang menukilkan perkara ini dengan terperinci: Apakah ‘Amru bin Hamiq al-Khuza’i daripada sahabat terkemuka atau tidak? Mereka telah menukilkan bahawa ‘Amru bin Hamiq al-Khuza?i adalah orang yang masuk Islam dalam Hujjatul Wida’, beliau termasuk daripada sahabat yang besar sahabat Nabi (Asad al-Ghabah Li- Ibnu al-Athir al-Jazri, jilid 4, halaman 100, al-Isti’ab Li-Ibn ‘Abd al-Bar, jilid 3 halaman 1173). ‘Abdul Rahman bin ‘Udays dikatakan:
ممن بايع تحت الشجرة و شهد بيعة الرضوان.
Ahlusunnah Wal Jama’ah berdalil dengan ayat Shajarah untuk membuktikan keadilan seluruh sahabat. Nampaknya Ibnu ‘Udais adalah salah seorang yang menyertai Bai’atul Ridwan. Beliau juga salah seorang yang berkata:
أعان علي قتل عثمان.
Apakah jawapan anda? Ibnu Hajar berkata bahawa Kinanah bin Busr adalah salah seorang sahabat Nabi (Al-Ishabah Li-Ibnu Hajar ‘Asqalani, jilid 5 halaman 486)

Meskipun begitu, Tabari masih meriwayatkan kisah-kisah yang menentang Syiah. Kisah ini diletakkan di bawah pengaruh Abdullah bin Saba yang melibatkan mereka ini dalam pembunuhan ‘Uthman.
Pihak Ibnu Taimiyah berkata, pengasas mazhab Syiah adalah Abdullah bin Saba’. Pihak mereka berkata juga, orang yang membunuh ‘Uthman adalah mereka yang termasuk di kalangan pemusnah di muka bumi dan daripada kabilah yang celaka.

Apakah ini bukan satu penghinaan terhadap sahabat? Tidakkah ini bukan penghinaan terhadap ‘Abdul Rahman bin ‘Udais, ‘Amru bin Hamiq al-Khuza?i dan Kinanah bin Busr? Tabari yang mengaitkan ‘Abdullah bin Saba dengan pengasasan mazhab Syiah, dari satu sudut yang lain beliau juga menyabitkan peristiwa pembunuhan ‘Uthman dengan sahabat.

Saudara Ahlusunnah dan Wahabi! Jikalau kami menerima kata-kata Tabari dan Saif bin ‘Umar tentang ‘Abdullah bin Saba, bukan daripada Tabari kisah yang mengaitkan gabungan seluruh sahabat di dalam Madinah untuk membunuh ‘Uthman, serta mengirim surat ke luar kota Madinah iaitu datanglah ke Madinah, Khalifah Muslimin telah menghancurkan Islam, jikalau anda ingin berjihad, kembalilah ke Madinah dan menentang khalifah. Tabari menukilkan bahawa ‘Uthman menulis surat kepada Muawiyah dan berkata:

فإن أهل المدينة قد كفروا و أخلفوا الطاعة و نكثوا البيعة.
تاريخ الطبري، ج3، ص402

Sesungguhnya warga Madinah telah kafir, menderhaka dan memutuskan bai’at mereka (Tarikh Tabari jilid 3 halaman 402).
Bagaimana anda ingin menerima kisah Abdullah bin Saba disamping tidak menerima kata-kata ‘Utman yang menganggap penduduk Madinah sebagai kafir! Tidakkah ini berat sebelah?

Persoalan ke-dua.

Mereka berkata di zaman, Abdullah bin Saba’ telah pergi ke Mesir, Sham dan berbagai kota sambil membahaskan kawashiyan Amirul Mukminin (a.s) dan mengobarkan pemberontakan menentang ‘Uthman yang membawa pembunuhannya. Kami bertanya kepada Ahlusunnah:
‘Uthman ada perselisihan sengit dengan beberapa tokoh besar, dan ia mengarahkan Abu Zar dibuang negeri. Akibatnya beliau mati di sahara Zabdah dalam keadaan dahaga dan lapar. Ia mengarahkan kaki dan gigi ‘Abdullah bin Mas?ud dipatahkan. Ia hendak memukul ‘Ammar bin Yasir ketika berlaku perselisihan sengit antara keduanya. Namun kenapa ia duduk diam-diam apabila berhadapan dengan propaganda Abdullah bin Saba? Tidakkah ini menunjukkan kelemahan ‘Uthman? Mengapa pula apabila Abu Zar melancarkan penentangan pemerintahan pusat, dengan segera mata-mata kerajaan Uthman memberikan informasi kepadanya dan Abu Zar langsung dibawa ke Madinah? Tetapi dalam menghadapi komplot Abdullah bin Saba, mata-mata ini tidak memberikan maklumat sehingga menyebabkan pembunuhan ‘Uthman terjadi.
Perkara ini kami perlu bicarakan secara panjang lebar terutamanya kebangkitan menentang ‘Uthman dan stimulasi pembunuhannya dari sumber-sumber Ahlusunnah. Di sinilah antara salah satu tempat perselisihan asasi antara Sunni dan Syiah.

Pertanyaan penonton
Pertanyaan:
Saya telah membaca sebuah kitab yang menyatakan bahawa setelah Rasulullah menerima perjanjian Hudaibiyah, khalifah kedua memprotes Nabi (s.a.w) dan berkata kepada khalifah pertama bahawa saya mengesyaki kerasulan Nabi (s.a.w). Apakah perkara ini ada di dalam sumber Ahlusunnah?
Jawapan:
Jikalau anda mempunyai Sahih Bukhari, peristiwa ini telah dinukilkan di dalam jilid 4 halaman 70 hadis 3182, dan Sahih Muslim jilid 5 halaman 175 hadis 4525 di mana di dalam perjanjian Hudaibiyah, khalifah kedua telah memprotes Nabi (s.a.w) dan berkata: Tidakkah kebenaran bersama kita dan kebatilan bersama mereka? Nabi menjawab: iya. Kata khalifah ke-dua: maka kenapa kita menerima penghinaan dalam perkara ini?. Nabi (s.a.w) bersabda: Saya utusan Allah, dan Allah tidak meninggalkan saya bersendirian, dan Dia membantu saya. ‘Umar tidak berpuas hati dengan jawapan Nabi (s.a.w) dan pergi kepada Abu Bakar seraya berkata: Tidakkah kita bersama kebenaran? Tidakkah korban kita di dalam Syurga manakala korban mereka di dalam neraka? Abu Bakar menjawab: Iya. ‘Umar pun berkata: Mengapakah kita menerima penghinaan terhadap agama kita? Abu Bakar berkata sebagaimana sabda Nabi (s.a.w). Sehingga terdapat di dalam Sahih Bukhari jilid 6 halaman 45 hadis 4844:

فرجع متغيظا، فلم يصبر حتى جاء أبا بكر.
‘Umar tidak berpuas hati terhadap jawapan Nabi dan pulang dalam keadaan marah. Beliau tidak bersabar dan pergi kepada Abu Bakar .

Begitu juga yang terdapat di dalam kitab muktabar Ahlusunnah:
و الله! ما شککت منذ أسلمت إلا يومئذ.
تاريخ الإسلام للذهبي، ج2، ص371 ـ تاريخ مدينه دمشق لإبن عساکر، ج57، ص229 ـ الدر المنثور للسيوطي، ج6، ص77 ـ المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج5، ص339 ـ صحيح ابن حبان، ج11، ص224 ـ المعجم الكبير للطبراني، ج20،
ص14 ـ جامع البيان لإبن جرير الطبري، ج26، ص129

Demi Allah! Aku tidak syak (terhadap kenabian baginda) sejak masuk Islam melainkan pada hari ini (Tarikh al-Islam Li-Zahabi jilid 2 halaman 371, Tarikh Madinah Dimasyq Li-Ibnu ‘Asakir jilid 57 halaman 229, al-Dur al-Manthur Li-Suyuthi jilid 6 halaman 77, Mushannaf Li-Ibnu Razzaq al-Shan’ati jilid 5 halaman 339, Sahih Ibnu Habban jilid 11 halaman 224, al-Mu’jam al-Kabir Li-Tabrani jilid 20 halaman 14, Jami’ al-Bayan Li-Ibnu Jarir al-Tabari).
Sehingga terdapat di dalam sumber-sumber Ahlusunnah menyatakan dikeranakan saya telah memprotes dan mengesyaki kerasulan baginda, saya telah banyak berpuasa di jalan Allah dan beramal supaya dosaku diampunkan (Sahih Ibnu Habban, jilid 11 halaman 224).

Pertanyaan:
Salah satu propaganda Wahabi ialah, kita hendaklah tidak menukilkan ikhtilaf di antara para sahabat kerana perselisihan yang parah itu bakal menimbulkan kemusykilan terhadap kesahihan al-Quran, kerana mereka adalah perawi dan penghafal al-Quran yang menyampaikannya kepada kita secara berperingkat. Mohon terangkan perkara ini.
Jawapan:
Perkara ini telah diajukan pada hari pertama. Umumnya kami tidak terima perkara ini kerana Rasulullah telah memperkenalkan Al-Quran dan Ahlul Bait sebagai pegangan untuk manusia. Baginda bersabda:
إني تارک فيکم الثقلين کتاب الله و عترتي، إن تمسکتم بهما لن تضلوا بعدي.

Sesungguhnya saya tinggalkan kepada kamu dua perkara berharga iaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, jika kalian berpegang dengan keduanya, kalian tidak akan sesat sepeninggalanku. Baginda tidak bersabda “kitab Allah dan para sahabatku”. Al-Quran dan Ahlul Bait saling menerangkan antara satu sama lain sampai hari kiamat. Kami telah membahaskan tentang hadis Thaqalayn secara berasingan di mana adalah satu kesilapan jikalau kita ingin mengambil pelajaran al-Quran daripada para sahabat. Ia tidak selaras dengan hakikat sejarah.

Sebelum ini kami telah bahaskan bahawa sahabat tidak memperdulikan hadis dan Abu Hurairah berkata, Muhajirin dan Ansar tidak menghiraukan ucapan Nabi kerana asyik berdagang dan bercucuk tanam (Sahih al-Bukhari jilid 1 halaman 38 dan jilid 3 halaman 74; Sahih Muslim jilid 7 halaman 167; Mustadrak al-Hakim jilid 3 halaman 509).

Pertanyaan.
Wahabi ada cara tersendiri berpegang dengan al-Quran dan menggunakan ayat-ayat yang tidak berkaitan untuk menjawab keraguan. Adakah kitab yang dapat saya baca untuk memahami helah Wahabi ini.
Jawapan:
Kitab ‘Ayin Wahhabi’ dan kitab ‘Wahabi, Mabani Fikri wa Karnameh ‘Ilmi’ karangan Hadrat Ayatullah al-Uzma Subhani, dan kitab saya sendiri ‘Wahhabi az Manzare ‘Aql Wa Sar’.

Pertanyaan:
Dalam saluran al-Mustaqillah ada satu soalan mengenai seorang tokoh Syiah yang mengatakan masalah Tajsim dan perbahasan Mukmin al-??q dan Hisham bin Hakam. Benarkah perkara ini dan apakah kita sudah menjawabnya?
Jawapan:
Insyallah kami akan membicarakannya nanti. Dalam jawapan terhadap kitab Qaffari, kami telah menulis hampir 250 halaman dan Insyallah, dalam waktu terdekat nanti, akan kami cetak dan dimasukkan ke dalam web site kami. Yang memasukkan tajsim ke dalam budaya Islam ialah golongan Ahlusunnah seperti Abu Hurairah dan Ka’b bin al-Ahbar. Sebelum Hisham bin Hakam yang meninggal pada tahun 199 Hijrah, Ahmad bin Hanbal sendiri adalah penyebar pemikiran Tajsim. Ibnu Qatadah dan beberapa orang yang lain turut menyebarkan sebelum beliau. Salah satu keraguan yang perlu dijawab ialah apakah Mukmin al-??q atau Hisham bin Hakam menyebarkan pemikiran Tajsim atau ulama Ahlusunnah? Apa saja yang mereka nukilkan daripada Hisham bin Hakam adalah sama sekali pembohongan. dan riwayatnya Dhaif. Terdapat beberapa hadis daripada Hisham bin Hakam dan Mukmin bin al-??q dalam menyangkal dan menafikan Tajsim.

kukuhlah bukti bahawa RasūluLlah tidak pernah mempunyai anak perempuan yang lain kecuali Fāṭimah. Jikalau ada pasti baginda tidak akan bersabda demikian.

Salam wa rahmatollah. Artikel ini dipetik dari sumber abna.ir

Salah satu kelebihan yang ada pada khalīfah ʽUthmān bin ʽAffān ialah menjadi menantu RasuluLlah (s.a.w) dengan memperisterikan puteri baginda yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kulthūm. Meskipun begitu terdapat beberapa pandangan yang berbeza tentang pernikahan ini di kalangan ummat Islām walaupun Ahlusunnah menegaskan pernikahan ini pernah berlangsung. Beberapa orang sarjana Shīʽah tampil dengan fakta-fakta sejarah yang menolak pandangan ini dengan membawa dalil-dalil bahawa tidak seorang pun isteri Uthmān adalah puteri RasuluLlah (s.a.w). Bahkan menurut mereka yang dinikahi Uthmān itu hanyalah anak angkat baginda dan anak saudara Khadījah.

Bagi mereka yang ingin mendalami hujjah-hujah tersebut bolehlah merujuk kepada kitab Azwāj al-Nabī wa Banātuhu, karangan al-Shaykh Najāḥ al-Ṭā’ī, al-Ṣaḥīḥ min Sīrah al-Nabī al-Aʽẓam karangan Sayyid Jaʽfar Murtaḍā dan lain-lain lagi…

Walau bagaimanapun antara dalil-dalilnya adalah seperti berikut:

1. Tidak ada hubungan akrab antara Nabī (s.a.w) dengan anak perempuan yang lain:
Dengan meneliti Sīrah al-Nabawiyyah, kita akan dapati ia telah menceritakan hubungan yang sangat utuh kekeluargaan Nabī dengan puterinya yang bernama Fāṭimah az-Zahra sehingga ke saat akhir kewafatan baginda. Nabi (s.a.w) sentiasa mengunjungi rumah Fāṭimah sebelum pergi malaksanakan kerjanya. Tidak sedikit riwayat di dalam kitab Shīʽah atau Ahlusunnah yang membuktikan keakraban mereka berdua sehingga ramai ʽulamā’ menukilkan gelaran Ummu Abīha kepada Fāṭimah az-Zahra. Ibnu Ḥajar al-ʽAsqalānī di dalam kitab Tahdhib dan al-Iṣābah, Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam al-Nubalā’ dan al-Kāsyif menulis:

فاطمة الزهراء … كانت تكنى أم أبيها .
الإصابة – ابن حجر – ج 8 – ص 262 و سير أعلام النبلاء – الذهبي – ج 2 – ص 118 – 119 و الكاشف في معرفة من له رواية في كتب الستة – الذهبي – ج 2 – ص 514 و تهذيب الكمال – المزي – ج 35 – ص 247 و أسد الغابة – ابن الأثير – ج 5 – ص 520 و الاستيعاب – ابن عبد البر – ج 4 – ص 1899 .

Namun tidak pernah ditemui hadīth meskipun riwayat ḍaʽīf di dalam kitab Shīʽah atau Sunnī yang menunjukkan RasuluLlah mengetuk pintu rumah Ruqayyah dan Ummu Kulthum. Persoalannya mengapa tidak pernah ada riyawat yang menunjukkan tanda-tanda keakraban baginda kepada puteri-puteri yang lain, samada di Madinah atau di Makkah?

Jikalau Nabi (s.a.w) mempunyai puteri-puteri yang lain dari Fāṭimah, sudah tentu mereka juga mempunyai kelayakan dan keistimewaan. Contohnya di zaman Jahiliyah Faṭimah telah mempertahankan Rasulullah ketika baginda disakiti oleh kafir Quraysh. Namun di manakah puteri-puteri baginda yang lain? Muslim meriwayatkan:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ وَقَدْ نُحِرَتْ جَزُورٌ بِالْأَمْسِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ أَيُّكُمْ يَقُومُ إِلَى سَلَا جَزُورِ بَنِي فُلَانٍ فَيَأْخُذُهُ فَيَضَعُهُ فِي كَتِفَيْ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَأَخَذَهُ فَلَمَّا سَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ قَالَ فَاسْتَضْحَكُوا وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَمِيلُ عَلَى بَعْضٍ وَأَنَا قَائِمٌ أَنْظُرُ لَوْ كَانَتْ لِي مَنَعَةٌ طَرَحْتُهُ عَنْ ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى انْطَلَقَ إِنْسَانٌ فَأَخْبَرَ فَاطِمَةَ فَجَاءَتْ وَهِيَ جُوَيْرِيَةٌ فَطَرَحَتْهُ عَنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَتْ عَلَيْهِمْ تَشْتِمُهُمْ .
صحيح مسلم – مسلم النيسابوري – ج 5 – ص 179 و صحيح البخاري – البخاري – ج 1 – ص 65 .

Ibnu Masʽud meriwayatkan: Tatkala Nabi (s.a.w) ṣolat di samping Kaʽbah, Abū Jahal dan para sahabatnya sedang duduk. Sehari sebelumnya mereka telah menyembelih (Nahr) seekor anak unta. Abū Jahal berkata: Siapakah di antara kalian yang boleh mengambil kotoran unta dan menumpahkannya ke atas antara dua bahu Muḥammad ketika ia sedang sujud? Maka bangunlah seorang yang sangat celaka di antara kaum itu, ia mengambil kotoran itu. Tatkala Nabī (s.a.w) sedang sujud, ia menumpahkannya ke atas belakang baginda. Mereka ketawa dan yang lain pun ikut tertawa. Ibnu Masʽud saya berdiri dan menyaksikannya. Jikalau saya ada kekuatan, saya akan menyingkirkannya dari belakang baginda. Nabī (s.a.w) meneruskan sujud tanpa mengangkat kepalanya sehingga orang ramai pergi dan melaporkannya kepada Fāṭimah yang masih kanak-kanak ketika itu. Beliau datang membuang kotoran binatang itu dan mengutuk mereka.
-Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 5 halaman 179.

Dalam beberapa riwayat yang lain pun, hanyalah Faṭimah Az-Zahra sahaja yang tampil bersedih dan merawat luka Nabī (s.a.w). Sekiranya baginda mempunyai anak-anak yang lain, sudah tentu mereka pun akan muncul mempertahankan ayah mereka menghadapi kedukaan.

Tatkala Nabī (s.a.w) kembali dari perang Uḥud. Di manakah anak-anak Nabī yang lain ketika Faṭimah mencuci dan merawat luka-luka di wajah baginda? Tidakkah mereka berdua disebut juga sebagai anak-anak baginda? Mengapakah tidak ada sedikit pun riwayat yang menunjukkan hubungan kekeluargaan antara Nabī dan anak-anaknya?

2. Peristiwa Mubāhalah.

Rasulullah (s.a.w) memilih keluarga beliau yang utama untuk bergabung dalam peristiwa Mubāhalah. Persoalannya di sini mengapakah baginda masih tidak membawa anak-anak yang lain untuk mengambil bahagian dalam peristiwa ini kecuali Fāṭimah?

Muslim Nishābūrī menulis di dalam Ṣaḥīḥnya:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ … وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي .
صحيح مسلم ، ج 5 ، ص 23، كتاب فضائل الصحابة ، باب من فضائل علي بن أبي طالب، ح 32 .

ʽĀmir bin Saʽd bin Abī Waqqāṣ meriwayatkan daripada ayahnya yang berkata: Muʽāwiyah bin Abū Sufyān menitahkan Saʽd (mencaci ʽAlī). Maka Muʽawiyah bertanya: Apa yang menyebabkan engkau tidak mencerca Abā Ṭurāb (ʽÂlī bin Abī Ṭālib) . Saʽd menjawab: Dikeranakan tiga faḍīlat yang Nabī sabda tentang beliau, maka saya tidak akan mencacinya. Andainya saya memiliki salah satu darinya, maka ia lebih baik buatku berbanding memiliki seekor unta berbulu merah… tatkala turunnya ayat (… فقل تعالوا ندع أبناءنا و أبناءكم و نساءنا و نساءكم و أنفسنا و أنفسكم …), Rasulullah (s.a.w) memanggil ʽAlī, Fāṭimah, Ḥasan dan Ḥusayn dan berkata: Ya Allah, mereka ini ahliku.
- Ṣaḥīḥ muslim, jilid 5 halaman 23

Apakah terma «نساءنا » tidak melibatkan puteri-puteri Nabī yang lain, atau baginda tidak mempunyai anak perempuan yang lain selain Fāṭimah?

3. Tiada riwayat anak Nabī dilamar oleh ʽUthmān kecuali Fāṭimah.

Antara peristiwa yang jelas dan membatalkan kisah pernikahan Uthmān dengan puteri-puteri Rasulullah ialah; belum pernah ditemui catatan sejarah tentang individu dari golongan muhājirīn atau Anṣār tampil melamar Ummu Kalthum. Namun kisah yang masyhur hanyalah para sahabat cuba melamar Fāṭimah. Mereka silih berganti meminangnya disamping tertanya-tanya, siapakah yang bertuah mendapat kemuliaan dan kebanggaan ini. Oleh itu tidakkah Ummu Kulthum juga puteri Rasulullah (s.a.w) atau beliau bukan anak baginda?

4. Pengharaman menghimpunkan puteri Rasulullah dengan dengan puteri musuh.

Para ʽulamā’ dan ahli ḥadith Ahlusunnah cuba merendahkan martabat ʽAlī dengan meriwayatkan cerita kononnya ‘Alī pernah melamar puteri Abū Jahal. Perkara ini menyebabkan kemarahan isteri beliau. Fāṭimah az-Zahra lantas mengadukan hal ini kepada Nabī (s.a.w). Timbul rasa murka pada diri Nabī (s.a.w) dan baginda datang ke masjid dan memberikan ucapan seperti berikut:

وَإِنَّ فَاطِمَةَ بَضْعَةٌ مِنِّي وَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسُوءَهَا وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ .
صحيح البخاري – ج 4 – ص 212 – 213

Faṭimah adalah sebahagian daripadaku dan saya tidak suka beliau disakiti. Demi Allah, tidak dibolehkan dihimpunkan puteri Rasulullah (s.a.w) dengan puteri musuh Allah di samping seorang lelaki.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, jilid 4 halaman 212 – 213.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah (s.a.w) bersabda:

إِلَّا أَنْ يُرِيدَ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ فَإِنَّمَا هِيَ بَضْعَةٌ مِنِّي يُرِيبُنِي مَا أَرَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا .
صحيح البخاري ج 6، ص 158، ح 5230، كتاب النكاح، ب 109 – باب ذَبِّ الرَّجُلِ عَنِ ابْنَتِهِ، فِي الْغَيْرَةِ وَالإِنْصَافِ و صحيح مسلم، ج 7، ص 141، ح 6201، كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلام .

Sekiranya ʽAlī bin Abī Ṭālib ingin mengambil anak Abū Jahal, hendaklah ia menceraikan anakku. Sesungguhnya Fāṭimah adalah belahan dariku, aku benci apa yang dibencinya, dan apa yang menyakitinya akan menyakitiku jua.
- Ṣaḥīḥ Bukhārī, jilid 6 halaman 158, ḥadith nombor 5230, Kitāb al-Nikāḥ. Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 7 halaman 141, ḥadith nombor 6201.

Perkara ini jelas merendahkan makam ʽAlī bin Abī Ṭālib. Para ʽulamā’ Ahlusunnah telah menceritakannya sehingga beberapa laman web wahābī mengatakan ʽAlī ialah orang yang pertama menyakiti hati Fāṭimah.

Jangan dilupa bahawa ʽUthmān bin ʽAffān telah menghimpunkan isteri yang didakwa sebagai puteri Nabī bersama anak-anak musuh Allah. Bukan hanya sekali, bahkan beberapa kali perhimpunan ini dilakukannya.

Ramlah binti Shaybah merupakan salah seorang isteri ʽUthmān yang dinikahinya ketika masih di Makkah dan ikut bersama beliau berhijrah ke Madīnah. Ibnu ʽAbd al-Bar menulis tentang perkara ini:

رملة بنت شيبة بن ربيعة كانت من المهاجرات هاجرت مع زوجها عثمان بن عفان.
الاستيعاب ، ج 4 ، ص 1846 رقم 3345 .

Ramlah binti Shaybah bin Rabīʽah adalah salah seorang daripada Muhājirīn yang berhijrah bersama suaminya ʽUthmān bin ʽAffān.
- Al-Istīʽāb, jilid 4 halaman 1846, nombor 3345

Ayahnya Ramlah yang bernama Shaybah adalah musuh Nabī dan Islām. Beliau terbunuh dalam pertempuran kaum Muslimīn dan Mushrikīn Makkah di Badar. Ibnū Ḥajar menulis tentang ini sebagai berikut:

رملة بنت شيبة بن ربيعة بن عبد شمس العبشمية قتل أبوها يوم بدر كافرا .
الإصابة، ج 8، ص 142 – 143 رقم 11192.

Ramlah, anak perempuan Shaybah bin Rabīʽah bin ʽAbd Shams al-ʽAbshamiyyah, ayahnya terbunuh dalam keadaan kafir dalam perang badar.
- Al-Iṣābah, jilid 8 halaman 142-143, nombor 11192.

Dalam keadaan riwayat ṣaḥīḥ menurut Ahlusunnah telah mengharamkan perkahwinan puteri Nabī dengan anak perempuan musuh Islām dalam satu masa, rupa-rupanya ʽUthmān mempunyai isteri yang terdiri daripada anak Nabī dan anak musuh dalam satu ketika. Ibnu Athīr menulis:

ولما أسلم عثمان زوجّه رسول الله صلى الله عليه وسلم بابنته رقية وهاجرا كلاهما إلى أرض الحبشة الهجرتين ثم عاد إلى مكة وهاجر إلى المدينة .
أسد الغابة، ج 3، ص 376 .

Tatkala ʽUthmān menikahi Ruqayyah puteri RasuluLlah (s.a.w), mereka berdua berhijrah ke Ḥabshah. Setelah kembali ke Makkah, mereka berdua berhijrah pula ke Madīnah.
- Asad al-Ghābah, jilid 3 halman 376

Selain itu, ʽUthmān juga telah menikahi Ummul Banīn binti ʽAyyinah dan Fāṭimah binti al-Walīd bin ʽAbd Shams sedangkan kedua ayah mereka juga memusuhi Islām di zaman itu.

Sekiranya benar menghimpunkan puteri RasūluLlah dengan anak musuh Islām adalah haram, mengapa ʽUthmān melakukan perkara ini beberapa kali? Jikalau ianya tidak haram, mengapakah Nabī mehalalkannya untuk Uthmān dan mengharamkannya untuk ʽAlī (NaʽuzubiLlah)? Maka teranglah bahawa cerita dongeng tentang Alī bin Abī Ṭalib melamar puteri Abū Jahal adalah ciptaan Banī Umayyah untuk mengurangkan martabat Amīrul Mu’minīn atau dapat kita simpulkan bahawa Nabī tidak mempunyai anak perempuan yang lain kecuali Fāṭimah.

5. Anak bongsu RasuluLlah (s.a.w).

Unsur-unsur penipuan dalam topik ini menjadi lebih jelas apabila ramai ʽUlamā’ Ahlusunnah seperti Ḍiyā’ al-Muqaddasī berkata:

عن قتادة ، قال : ولدت خديجة لرسول الله ( صلى الله عليه وآله وسلم ) : عبد مناف في الجاهلية ، وولدت له في الاسلام غلامين ، وأربع بنات : القاسم ، وبه كان يكنى : أبا القاسم ، فعاش حتى مشى ، ثم مات ، و عبد الله ، مات صغيرا . وأم كلثوم . وزينب . ورقية . وفاطمة … .
البدء والتاريخ ، ج 5 ، ص 16 و ج 4 ، ص 139 .

Qatādah berkata: Khadījah telah melahirkan ʽAbd al-Manāf untuk RasūluLlah (s.a.w) di zaman Jāhiliyah. Ketika zaman Islām, Khadījah melahirkan pula dua anak lelaki dan empat perempuan untuknya iaitu: Qāsim yang menjadi julukan baginda (Abul Qāsim), beliau hidup sampai mampu berjalan dan meninggal dunia. ʽAbduLlah yang meninggal ketika masih kecil, Ummu Kulthum, Zaynab, Ruqayyah dan Fāṭimah….

Shahābuddīn al-Qatalānī setelah menukilkan riwayat ini menulis:

وقيل : ولد له ولد قبل المبعث ، يقال له : عبد مناف ، فيكونون على هذا اثني عشر ، وكلهم سوى هذا ولد في الاسلام بعد المبعث .
المواهب اللدنية ، ج 1 ، ص 196 .

Telah dikatakan bahawa Khadījah melahirkan seorang anak lelaki untuk baginda sebelum biʽthah, iaitu ʽAbdul Manāf. Anak-anak selain dari putera ini (ʽAbdul Manāf) lahir di zaman Islām iaitu setelah biʽthah.
Ibnu ʽAbd al-Bar di dalam al-Istīʽāb menulis:

وقال الزبير ولد لرسول الله صلى الله عليه وسلم القاسم وهو أكبر ولده ثم زينب ثم عبد الله وكان يقال له الطيب ويقال له الطاهر ولد بعد النبوة ثم أم كلثوم ثم فاطمة ثم رقية .
الاستيعاب – ابن عبد البر – ج 4 – ص 1818 .

Zubayr berkata: Telah lahir untuk RasūluLlah (s.a.w) al-Qāsim, iaitu anak sulung. Kemudian Zaynab dan ʽAbduLlah yang dipanggil Ṭayyib atau Ṭāhir setelah al-Nubuwwah. Kemudian Ummu Kulthūm, Fāṭimah dan Ruqayyah.
- Al-Istīʽāb, Ibn ʽAbd al-Bar, jilid 4 halaman 1818.

Selain itu, menurut sejarawan Ahlusunnah yang lain, Ruqayyah adalah anak bongsu RasūluLlah dan ia lebih muda dari Fāṭimah. Ibnū Kathīr menulis:

أكبر ولده عليه الصلاة والسلام القاسم ، ثم زينب ، ثم عبد الله ، ثم أم كلثوم ثم فاطمة ثم رقية …

Anak sulung RasūluLlah ialah al-Qāsim, kemudian Zaynab, ʽAbduLlah, Ummu Kulthūm Fāṭimah, Ruqayyah…
- al-Sīrah al-Nabawiyyah Li Ibn Kathīr, jilid 1 halaman 264.

Dengan jarak ini usia ini, bagaimana mungkin kita dapat membenarkan dakwaan Ahlusunnah bahawa Ruqayyah telah bernikah dengan Uthmān? Sedangkan Hijrah pertama terjadi pada tahun ke-lima Biʽthah. Sementara itu ramai juga ʽulamā’ Ahlusunnah menulis bahawa Ummu Kulthūm dan Ruqayyah terlebih dahulu menjadi isteri anak Abū Lahab sebelum menikah dengan ʽÛthmān sehingga turun ayat mengenai Abū Lahab. Ibnu Athīr menulis di dalam Asad al-Ghābah:

قد زوج ابنته رقية من عتبة بن أبي لهب وزوج أختها أم كلثوم عتيبة بن أبي لهب فلما نزلت سورة تبت قال لهما أبوهما أبو لهب وأمهما أم جميل بنت حرب بن أمية حمالة الحطب فارقا ابنتي محمد ففارقاهما …
أسد الغابة – ابن الأثير – ج 5 – ص 456 .

RasūluLlah telah menikahkan puterinya Ruqayyah kepada ʽUtaybah bin Abū Lahab, dan saudara perempuannya Ummu Kulthūm kepada ʽUtaybah bin Abū Lahab (anak lelaki yang lain). Tatkala turunnya surah Tabbat, Abū Lahab dan isterinya Ummu Jamil bin Ḥarb (pembawa kayu bakar) menceraikan anak-anak Muḥammad daripada anak-anak lelaki mereka.
- Asad al-Ghābah, Ibnu Athīr, jilid 5 halaman 456.

Sedangkan Surah Tabbat telah diturunkan di zaman umat Islām dikepung di Shaʽb Abī Ṭālib. Suyūṭī di dalam al-Dur al-Manthur menulis:

فنزلت تبت يدا أبى لهب قال ابن عباس فحصرنا في الشعب ثلاث سنين
الدر المنثور – جلال الدين السيوطي – ج 6 – ص 408

Maka turunlah sūrah Tabbat Yadā Abī Lahab. Ibnu ʽAbbas berkata: Kami dikepung di Shaʽb selama tiga tahun.
- Al-Durr al-Manthūr, Jalāluddīn al-Sayūṭī, jilid 6 halaman 408.

Kepungan di Shaʽb Abī Ṭālib terjadi dalam tahun ke-tujuh sebelum Hijrah, manakala keberangkatan hijrah ke Ḥabshah terjadi tahun ke-sembilan sebelum Hijrah. Menurut catatan Ibnu Athir, Uthmān telah menikah dengan Ruqayyah dan berhijrah ke Ḥabsyah, Dengan ini bagaimana ingin dikatakan isteri ʽUthmān adalah puteri Nabī?

6. ʽAbduLlah bin ʽUmar membandingkan kelebihan ʽUthman dan ʽAlī.

Menurut Muḥammad bin Ismāʽīl al-Bukhārī, telah datang seseorang kepada ʽAbduLlah bin ʽUmar dan bertanya pandangannya tentang ʽUthmān dan Imām ʽAlī. ʽAbduLlah membuat perbandingan antara Alī dan ʽUthman dengan mengatakan:

أَمَّا عُثْمَانُ فَكَأَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ وَأَمَّا أَنْتُمْ فَكَرِهْتُمْ أَنْ تَعْفُوا عَنْهُ وَأَمَّا عَلِيٌّ فَابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَتَنُهُ … .
صحيح البخاري – البخاري – ج 5 – ص 157 .

Mengenai ʽUthmān, sepertinya Allah mengampuni beliau (kerana melarikan diri dari perang Uḥud) meskipun engkau tidak suka. Mengenai ʽAlī pula, beliau adalah anak saudara RasūluLlah dan menantu baginda.
- Ṣaḥīḥ Bukhāri, jilid 14 halaman 498 menurut software Maktabah al-Shamilah.

Dalam riwayat ini, ʽAbduLlah bin ʽUmar cuba mempertahankan ʽUthmān dengan secara langsung mengatakan ‘sepertinya Allah mengampuni beliau dalam perang Uḥud’. Meskipun begitu para sahabat tidak mengampuni khalifah ini dan keluar membunuhnya. Tanpa menyebut ʽUthmān adalah menantu RasūluLlah, sebaliknya beliau menggunakan dalil keampunan Allah untuk membela ʽUthmān yang lari dari perang Uḥud dan berpatah balik tiga hari setelah mengetahui RasūluLlah masih hidup.

Namun ʽAbduLlah bin ʽUmar memperkenalkan ʽAlī bin Abī Ṭālib sebagai anak saudara dan menantu Nabī. Sekiranya ʽUthmān adalah menantu RasūluLlah, sudah tentu ʽAbduLlah bin ʽUmar berdalil dengan kelebihan tersebut kerana beliau telah sedaya upaya membela ʽUthmān dalam menghadapi tuduhan-tuduhan ke atasnya. Sedangkan dalil menantu Nabī adalah bukti paling kuat baginya.

7. Khutbah Fāṭimah.

Setelah peristiwa rampasan tanah fadak, Fāṭimah tampil di masjid dan berkhutbah dan ramai ʽulamā’ Ahlusunnah telah menulis peristiwa ini. Antara isi khutbah beliau ialah:
أنا فاطمة بنت محمد أقول عودا على بدء ، وما أقول ذلك سرفا ولا شططا… فإن تعزوه تجدوه أبي دون نسائكم وآخا ابن عمي دون رجالكم ، فبلغ الرسالة صادعا بالرسالة ناكبا عن سنن مدرجة المشركين ، ضاربا لثجهم آخذا بأكظامهم ، داعيا إلى سبيل ربه بالحكمة والموعظة الحسنة .
مناقب علي بن أبي طالب (ع) وما نزل من القرآن في علي (ع) – أبي بكر أحمد بن موسى ابن مردويه الأصفهاني – ص 202 و السقيفة وفدك – الجوهري – ص 142 .

Saya adalah Fāṭimah puteri Muḥammad, saya menyatakannya berulangkali, tidak aku berbicara tentangnya dengan kesilapan dan tidak bermatlamat… Jikalau kamu mengenalinya, maka ayahku bukanlah ayah perempuan-perempuan kamu, dan saudara anak pakcikku bukanlah seperti lelaki-lelaki kamu.
- Manāqib ʽAlī bin Abī Ṭālib wa mā Nazzala min al-Qur’ān fī ʽAlī, Abī Bakr Aḥmad bin Mūsā Ibn

Mardawiyyah al-Iṣfahānī, halaman 202, dan al-Saqīfah wa Fadak, al-Jawharī, halaman 142.
Jika isteri ʽUthmān itu anak-anak Nabī, tidak perlu Fāṭimah selaku ketua wanita di syurga berkata demikian kerana ʽUthmān juga boleh mengemukakan bantahan kerana beliau juga adalah menantu RasūluLlah.

8. Bapa mertua ʽAlī hanyalah Nabī Muḥammad.

Ibnu al-Dimashqī dan Muḥibbuddīn al-Ṭabarī menulis:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي : أوتيت ثلاثا لم يؤتهن أحد ولا أنا ، أوتيت صهرا مثلي ولم أوت أنا مثلي ، وأوتيت زوجة صديقة مثل بنتي ولم أوت مثلها زوجة ، وأوتيت الحسن والحسين من صلبك ولم أوت من صلبي مثلهما ، ولكنكم مني وأنا منكم .
جواهر المطالب في مناقب الإمام علي (ع) – ابن الدمشقي – ج 1 – ص 209 و الرياض النضرة ج 2 ص 202 .

RasūluLlah (s.a.w) berkata kepada ʽAlī: Engkau telah dikurniakan tiga perkara yang tidak diberikan kepada sesiapapun termasuk aku. Engkau telah diberikan mertua sepertiku yang tidak diberikan kepadaku. Engkau telah diberikan isteri yang jujur seperti puteriku yang tidak diberikan kepadaku sepertinya. Engkau diberikan al-Ḥasan dan al-Ḥusayn daripada sulbi-mu, dan ia tidak diberikan kepada-ku melalui sulbi-ku sepertinya. Namun kalian daripada-ku dan aku daripada kalian.
- Jawāhir al-Maṭālib fi Manāqib al-Imām ʽAlī, Ibnu al-Dimashqī, jilid 1 halaman 209, dan Riyāḍ al-Naḍrah, jilid 2 halaman 202.

Dalam riwayat ini Nabī berterus terang bahawa ʽAlī telah dikurniakan mertua seperti baginda yang tidak pernah dikurniakan kepada sesiapapun. Dengan ini kukuhlah bukti bahawa RasūluLlah tidak pernah mempunyai anak perempuan yang lain kecuali Fāṭimah. Jikalau ada pasti baginda tidak akan bersabda demikian.

Beberapa orang sarjana Shīʽah tampil dengan fakta-fakta sejarah yang menolak pandangan ini dengan membawa dalil-dalil bahawa tidak seorang pun isteri Uthmān adalah puteri RasuluLlah (s.a.w). Bahkan menurut mereka yang dinikahi Uthmān itu hanyalah anak angkat baginda dan anak saudara Khadījah…

Salam wa rahmatollah. Artikel ini dipetik dari sumber abna.ir

Salah satu kelebihan yang ada pada khalīfah ʽUthmān bin ʽAffān ialah menjadi menantu RasuluLlah (s.a.w) dengan memperisterikan puteri baginda yang bernama Ruqayyah dan Ummu Kulthūm. Meskipun begitu terdapat beberapa pandangan yang berbeza tentang pernikahan ini di kalangan ummat Islām walaupun Ahlusunnah menegaskan pernikahan ini pernah berlangsung. Beberapa orang sarjana Shīʽah tampil dengan fakta-fakta sejarah yang menolak pandangan ini dengan membawa dalil-dalil bahawa tidak seorang pun isteri Uthmān adalah puteri RasuluLlah (s.a.w). Bahkan menurut mereka yang dinikahi Uthmān itu hanyalah anak angkat baginda dan anak saudara Khadījah.

Bagi mereka yang ingin mendalami hujjah-hujah tersebut bolehlah merujuk kepada kitab Azwāj al-Nabī wa Banātuhu, karangan al-Shaykh Najāḥ al-Ṭā’ī, al-Ṣaḥīḥ min Sīrah al-Nabī al-Aʽẓam karangan Sayyid Jaʽfar Murtaḍā dan lain-lain lagi…

Walau bagaimanapun antara dalil-dalilnya adalah seperti berikut:

1. Tidak ada hubungan akrab antara Nabī (s.a.w) dengan anak perempuan yang lain:
Dengan meneliti Sīrah al-Nabawiyyah, kita akan dapati ia telah menceritakan hubungan yang sangat utuh kekeluargaan Nabī dengan puterinya yang bernama Fāṭimah az-Zahra sehingga ke saat akhir kewafatan baginda. Nabi (s.a.w) sentiasa mengunjungi rumah Fāṭimah sebelum pergi malaksanakan kerjanya. Tidak sedikit riwayat di dalam kitab Shīʽah atau Ahlusunnah yang membuktikan keakraban mereka berdua sehingga ramai ʽulamā’ menukilkan gelaran Ummu Abīha kepada Fāṭimah az-Zahra. Ibnu Ḥajar al-ʽAsqalānī di dalam kitab Tahdhib dan al-Iṣābah, Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam al-Nubalā’ dan al-Kāsyif menulis:

فاطمة الزهراء … كانت تكنى أم أبيها .
الإصابة – ابن حجر – ج 8 – ص 262 و سير أعلام النبلاء – الذهبي – ج 2 – ص 118 – 119 و الكاشف في معرفة من له رواية في كتب الستة – الذهبي – ج 2 – ص 514 و تهذيب الكمال – المزي – ج 35 – ص 247 و أسد الغابة – ابن الأثير – ج 5 – ص 520 و الاستيعاب – ابن عبد البر – ج 4 – ص 1899 .

Namun tidak pernah ditemui hadīth meskipun riwayat ḍaʽīf di dalam kitab Shīʽah atau Sunnī yang menunjukkan RasuluLlah mengetuk pintu rumah Ruqayyah dan Ummu Kulthum. Persoalannya mengapa tidak pernah ada riyawat yang menunjukkan tanda-tanda keakraban baginda kepada puteri-puteri yang lain, samada di Madinah atau di Makkah?

Jikalau Nabi (s.a.w) mempunyai puteri-puteri yang lain dari Fāṭimah, sudah tentu mereka juga mempunyai kelayakan dan keistimewaan. Contohnya di zaman Jahiliyah Faṭimah telah mempertahankan Rasulullah ketika baginda disakiti oleh kafir Quraysh. Namun di manakah puteri-puteri baginda yang lain? Muslim meriwayatkan:

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عِنْدَ الْبَيْتِ وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ وَقَدْ نُحِرَتْ جَزُورٌ بِالْأَمْسِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ أَيُّكُمْ يَقُومُ إِلَى سَلَا جَزُورِ بَنِي فُلَانٍ فَيَأْخُذُهُ فَيَضَعُهُ فِي كَتِفَيْ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَأَخَذَهُ فَلَمَّا سَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ قَالَ فَاسْتَضْحَكُوا وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَمِيلُ عَلَى بَعْضٍ وَأَنَا قَائِمٌ أَنْظُرُ لَوْ كَانَتْ لِي مَنَعَةٌ طَرَحْتُهُ عَنْ ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاجِدٌ مَا يَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى انْطَلَقَ إِنْسَانٌ فَأَخْبَرَ فَاطِمَةَ فَجَاءَتْ وَهِيَ جُوَيْرِيَةٌ فَطَرَحَتْهُ عَنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَتْ عَلَيْهِمْ تَشْتِمُهُمْ .
صحيح مسلم – مسلم النيسابوري – ج 5 – ص 179 و صحيح البخاري – البخاري – ج 1 – ص 65 .

Ibnu Masʽud meriwayatkan: Tatkala Nabi (s.a.w) ṣolat di samping Kaʽbah, Abū Jahal dan para sahabatnya sedang duduk. Sehari sebelumnya mereka telah menyembelih (Nahr) seekor anak unta. Abū Jahal berkata: Siapakah di antara kalian yang boleh mengambil kotoran unta dan menumpahkannya ke atas antara dua bahu Muḥammad ketika ia sedang sujud? Maka bangunlah seorang yang sangat celaka di antara kaum itu, ia mengambil kotoran itu. Tatkala Nabī (s.a.w) sedang sujud, ia menumpahkannya ke atas belakang baginda. Mereka ketawa dan yang lain pun ikut tertawa. Ibnu Masʽud saya berdiri dan menyaksikannya. Jikalau saya ada kekuatan, saya akan menyingkirkannya dari belakang baginda. Nabī (s.a.w) meneruskan sujud tanpa mengangkat kepalanya sehingga orang ramai pergi dan melaporkannya kepada Fāṭimah yang masih kanak-kanak ketika itu. Beliau datang membuang kotoran binatang itu dan mengutuk mereka.
-Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 5 halaman 179.

Dalam beberapa riwayat yang lain pun, hanyalah Faṭimah Az-Zahra sahaja yang tampil bersedih dan merawat luka Nabī (s.a.w). Sekiranya baginda mempunyai anak-anak yang lain, sudah tentu mereka pun akan muncul mempertahankan ayah mereka menghadapi kedukaan.

Tatkala Nabī (s.a.w) kembali dari perang Uḥud. Di manakah anak-anak Nabī yang lain ketika Faṭimah mencuci dan merawat luka-luka di wajah baginda? Tidakkah mereka berdua disebut juga sebagai anak-anak baginda? Mengapakah tidak ada sedikit pun riwayat yang menunjukkan hubungan kekeluargaan antara Nabī dan anak-anaknya?

2. Peristiwa Mubāhalah.

Rasulullah (s.a.w) memilih keluarga beliau yang utama untuk bergabung dalam peristiwa Mubāhalah. Persoalannya di sini mengapakah baginda masih tidak membawa anak-anak yang lain untuk mengambil bahagian dalam peristiwa ini kecuali Fāṭimah?

Muslim Nishābūrī menulis di dalam Ṣaḥīḥnya:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ … وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ } دَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي .
صحيح مسلم ، ج 5 ، ص 23، كتاب فضائل الصحابة ، باب من فضائل علي بن أبي طالب، ح 32 .

ʽĀmir bin Saʽd bin Abī Waqqāṣ meriwayatkan daripada ayahnya yang berkata: Muʽāwiyah bin Abū Sufyān menitahkan Saʽd (mencaci ʽAlī). Maka Muʽawiyah bertanya: Apa yang menyebabkan engkau tidak mencerca Abā Ṭurāb (ʽÂlī bin Abī Ṭālib) . Saʽd menjawab: Dikeranakan tiga faḍīlat yang Nabī sabda tentang beliau, maka saya tidak akan mencacinya. Andainya saya memiliki salah satu darinya, maka ia lebih baik buatku berbanding memiliki seekor unta berbulu merah… tatkala turunnya ayat (… فقل تعالوا ندع أبناءنا و أبناءكم و نساءنا و نساءكم و أنفسنا و أنفسكم …), Rasulullah (s.a.w) memanggil ʽAlī, Fāṭimah, Ḥasan dan Ḥusayn dan berkata: Ya Allah, mereka ini ahliku.
- Ṣaḥīḥ muslim, jilid 5 halaman 23

Apakah terma «نساءنا » tidak melibatkan puteri-puteri Nabī yang lain, atau baginda tidak mempunyai anak perempuan yang lain selain Fāṭimah?

3. Tiada riwayat anak Nabī dilamar oleh ʽUthmān kecuali Fāṭimah.

Antara peristiwa yang jelas dan membatalkan kisah pernikahan Uthmān dengan puteri-puteri Rasulullah ialah; belum pernah ditemui catatan sejarah tentang individu dari golongan muhājirīn atau Anṣār tampil melamar Ummu Kalthum. Namun kisah yang masyhur hanyalah para sahabat cuba melamar Fāṭimah. Mereka silih berganti meminangnya disamping tertanya-tanya, siapakah yang bertuah mendapat kemuliaan dan kebanggaan ini. Oleh itu tidakkah Ummu Kulthum juga puteri Rasulullah (s.a.w) atau beliau bukan anak baginda?

4. Pengharaman menghimpunkan puteri Rasulullah dengan dengan puteri musuh.

Para ʽulamā’ dan ahli ḥadith Ahlusunnah cuba merendahkan martabat ʽAlī dengan meriwayatkan cerita kononnya ‘Alī pernah melamar puteri Abū Jahal. Perkara ini menyebabkan kemarahan isteri beliau. Fāṭimah az-Zahra lantas mengadukan hal ini kepada Nabī (s.a.w). Timbul rasa murka pada diri Nabī (s.a.w) dan baginda datang ke masjid dan memberikan ucapan seperti berikut:

وَإِنَّ فَاطِمَةَ بَضْعَةٌ مِنِّي وَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسُوءَهَا وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ .
صحيح البخاري – ج 4 – ص 212 – 213

Faṭimah adalah sebahagian daripadaku dan saya tidak suka beliau disakiti. Demi Allah, tidak dibolehkan dihimpunkan puteri Rasulullah (s.a.w) dengan puteri musuh Allah di samping seorang lelaki.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, jilid 4 halaman 212 – 213.

Dalam riwayat yang lain Rasulullah (s.a.w) bersabda:

إِلَّا أَنْ يُرِيدَ ابْنُ أَبِي طَالِبٍ أَنْ يُطَلِّقَ ابْنَتِي وَيَنْكِحَ ابْنَتَهُمْ فَإِنَّمَا هِيَ بَضْعَةٌ مِنِّي يُرِيبُنِي مَا أَرَابَهَا وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا .
صحيح البخاري ج 6، ص 158، ح 5230، كتاب النكاح، ب 109 – باب ذَبِّ الرَّجُلِ عَنِ ابْنَتِهِ، فِي الْغَيْرَةِ وَالإِنْصَافِ و صحيح مسلم، ج 7، ص 141، ح 6201، كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلام .

Sekiranya ʽAlī bin Abī Ṭālib ingin mengambil anak Abū Jahal, hendaklah ia menceraikan anakku. Sesungguhnya Fāṭimah adalah belahan dariku, aku benci apa yang dibencinya, dan apa yang menyakitinya akan menyakitiku jua.
- Ṣaḥīḥ Bukhārī, jilid 6 halaman 158, ḥadith nombor 5230, Kitāb al-Nikāḥ. Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 7 halaman 141, ḥadith nombor 6201.

Perkara ini jelas merendahkan makam ʽAlī bin Abī Ṭālib. Para ʽulamā’ Ahlusunnah telah menceritakannya sehingga beberapa laman web wahābī mengatakan ʽAlī ialah orang yang pertama menyakiti hati Fāṭimah.

Jangan dilupa bahawa ʽUthmān bin ʽAffān telah menghimpunkan isteri yang didakwa sebagai puteri Nabī bersama anak-anak musuh Allah. Bukan hanya sekali, bahkan beberapa kali perhimpunan ini dilakukannya.

Ramlah binti Shaybah merupakan salah seorang isteri ʽUthmān yang dinikahinya ketika masih di Makkah dan ikut bersama beliau berhijrah ke Madīnah. Ibnu ʽAbd al-Bar menulis tentang perkara ini:

رملة بنت شيبة بن ربيعة كانت من المهاجرات هاجرت مع زوجها عثمان بن عفان.
الاستيعاب ، ج 4 ، ص 1846 رقم 3345 .

Ramlah binti Shaybah bin Rabīʽah adalah salah seorang daripada Muhājirīn yang berhijrah bersama suaminya ʽUthmān bin ʽAffān.
- Al-Istīʽāb, jilid 4 halaman 1846, nombor 3345

Ayahnya Ramlah yang bernama Shaybah adalah musuh Nabī dan Islām. Beliau terbunuh dalam pertempuran kaum Muslimīn dan Mushrikīn Makkah di Badar. Ibnū Ḥajar menulis tentang ini sebagai berikut:

رملة بنت شيبة بن ربيعة بن عبد شمس العبشمية قتل أبوها يوم بدر كافرا .
الإصابة، ج 8، ص 142 – 143 رقم 11192.

Ramlah, anak perempuan Shaybah bin Rabīʽah bin ʽAbd Shams al-ʽAbshamiyyah, ayahnya terbunuh dalam keadaan kafir dalam perang badar.
- Al-Iṣābah, jilid 8 halaman 142-143, nombor 11192.

Dalam keadaan riwayat ṣaḥīḥ menurut Ahlusunnah telah mengharamkan perkahwinan puteri Nabī dengan anak perempuan musuh Islām dalam satu masa, rupa-rupanya ʽUthmān mempunyai isteri yang terdiri daripada anak Nabī dan anak musuh dalam satu ketika. Ibnu Athīr menulis:

ولما أسلم عثمان زوجّه رسول الله صلى الله عليه وسلم بابنته رقية وهاجرا كلاهما إلى أرض الحبشة الهجرتين ثم عاد إلى مكة وهاجر إلى المدينة .
أسد الغابة، ج 3، ص 376 .

Tatkala ʽUthmān menikahi Ruqayyah puteri RasuluLlah (s.a.w), mereka berdua berhijrah ke Ḥabshah. Setelah kembali ke Makkah, mereka berdua berhijrah pula ke Madīnah.
- Asad al-Ghābah, jilid 3 halman 376

Selain itu, ʽUthmān juga telah menikahi Ummul Banīn binti ʽAyyinah dan Fāṭimah binti al-Walīd bin ʽAbd Shams sedangkan kedua ayah mereka juga memusuhi Islām di zaman itu.

Sekiranya benar menghimpunkan puteri RasūluLlah dengan anak musuh Islām adalah haram, mengapa ʽUthmān melakukan perkara ini beberapa kali? Jikalau ianya tidak haram, mengapakah Nabī mehalalkannya untuk Uthmān dan mengharamkannya untuk ʽAlī (NaʽuzubiLlah)? Maka teranglah bahawa cerita dongeng tentang Alī bin Abī Ṭalib melamar puteri Abū Jahal adalah ciptaan Banī Umayyah untuk mengurangkan martabat Amīrul Mu’minīn atau dapat kita simpulkan bahawa Nabī tidak mempunyai anak perempuan yang lain kecuali Fāṭimah.

5. Anak bongsu RasuluLlah (s.a.w).

Unsur-unsur penipuan dalam topik ini menjadi lebih jelas apabila ramai ʽUlamā’ Ahlusunnah seperti Ḍiyā’ al-Muqaddasī berkata:

عن قتادة ، قال : ولدت خديجة لرسول الله ( صلى الله عليه وآله وسلم ) : عبد مناف في الجاهلية ، وولدت له في الاسلام غلامين ، وأربع بنات : القاسم ، وبه كان يكنى : أبا القاسم ، فعاش حتى مشى ، ثم مات ، و عبد الله ، مات صغيرا . وأم كلثوم . وزينب . ورقية . وفاطمة … .
البدء والتاريخ ، ج 5 ، ص 16 و ج 4 ، ص 139 .

Qatādah berkata: Khadījah telah melahirkan ʽAbd al-Manāf untuk RasūluLlah (s.a.w) di zaman Jāhiliyah. Ketika zaman Islām, Khadījah melahirkan pula dua anak lelaki dan empat perempuan untuknya iaitu: Qāsim yang menjadi julukan baginda (Abul Qāsim), beliau hidup sampai mampu berjalan dan meninggal dunia. ʽAbduLlah yang meninggal ketika masih kecil, Ummu Kulthum, Zaynab, Ruqayyah dan Fāṭimah….

Shahābuddīn al-Qatalānī setelah menukilkan riwayat ini menulis:

وقيل : ولد له ولد قبل المبعث ، يقال له : عبد مناف ، فيكونون على هذا اثني عشر ، وكلهم سوى هذا ولد في الاسلام بعد المبعث .
المواهب اللدنية ، ج 1 ، ص 196 .

Telah dikatakan bahawa Khadījah melahirkan seorang anak lelaki untuk baginda sebelum biʽthah, iaitu ʽAbdul Manāf. Anak-anak selain dari putera ini (ʽAbdul Manāf) lahir di zaman Islām iaitu setelah biʽthah.
Ibnu ʽAbd al-Bar di dalam al-Istīʽāb menulis:

وقال الزبير ولد لرسول الله صلى الله عليه وسلم القاسم وهو أكبر ولده ثم زينب ثم عبد الله وكان يقال له الطيب ويقال له الطاهر ولد بعد النبوة ثم أم كلثوم ثم فاطمة ثم رقية .
الاستيعاب – ابن عبد البر – ج 4 – ص 1818 .

Zubayr berkata: Telah lahir untuk RasūluLlah (s.a.w) al-Qāsim, iaitu anak sulung. Kemudian Zaynab dan ʽAbduLlah yang dipanggil Ṭayyib atau Ṭāhir setelah al-Nubuwwah. Kemudian Ummu Kulthūm, Fāṭimah dan Ruqayyah.
- Al-Istīʽāb, Ibn ʽAbd al-Bar, jilid 4 halaman 1818.

Selain itu, menurut sejarawan Ahlusunnah yang lain, Ruqayyah adalah anak bongsu RasūluLlah dan ia lebih muda dari Fāṭimah. Ibnū Kathīr menulis:

أكبر ولده عليه الصلاة والسلام القاسم ، ثم زينب ، ثم عبد الله ، ثم أم كلثوم ثم فاطمة ثم رقية …

Anak sulung RasūluLlah ialah al-Qāsim, kemudian Zaynab, ʽAbduLlah, Ummu Kulthūm Fāṭimah, Ruqayyah…
- al-Sīrah al-Nabawiyyah Li Ibn Kathīr, jilid 1 halaman 264.

Dengan jarak ini usia ini, bagaimana mungkin kita dapat membenarkan dakwaan Ahlusunnah bahawa Ruqayyah telah bernikah dengan Uthmān? Sedangkan Hijrah pertama terjadi pada tahun ke-lima Biʽthah. Sementara itu ramai juga ʽulamā’ Ahlusunnah menulis bahawa Ummu Kulthūm dan Ruqayyah terlebih dahulu menjadi isteri anak Abū Lahab sebelum menikah dengan ʽÛthmān sehingga turun ayat mengenai Abū Lahab. Ibnu Athīr menulis di dalam Asad al-Ghābah:

قد زوج ابنته رقية من عتبة بن أبي لهب وزوج أختها أم كلثوم عتيبة بن أبي لهب فلما نزلت سورة تبت قال لهما أبوهما أبو لهب وأمهما أم جميل بنت حرب بن أمية حمالة الحطب فارقا ابنتي محمد ففارقاهما …
أسد الغابة – ابن الأثير – ج 5 – ص 456 .

RasūluLlah telah menikahkan puterinya Ruqayyah kepada ʽUtaybah bin Abū Lahab, dan saudara perempuannya Ummu Kulthūm kepada ʽUtaybah bin Abū Lahab (anak lelaki yang lain). Tatkala turunnya surah Tabbat, Abū Lahab dan isterinya Ummu Jamil bin Ḥarb (pembawa kayu bakar) menceraikan anak-anak Muḥammad daripada anak-anak lelaki mereka.
- Asad al-Ghābah, Ibnu Athīr, jilid 5 halaman 456.

Sedangkan Surah Tabbat telah diturunkan di zaman umat Islām dikepung di Shaʽb Abī Ṭālib. Suyūṭī di dalam al-Dur al-Manthur menulis:

فنزلت تبت يدا أبى لهب قال ابن عباس فحصرنا في الشعب ثلاث سنين
الدر المنثور – جلال الدين السيوطي – ج 6 – ص 408

Maka turunlah sūrah Tabbat Yadā Abī Lahab. Ibnu ʽAbbas berkata: Kami dikepung di Shaʽb selama tiga tahun.
- Al-Durr al-Manthūr, Jalāluddīn al-Sayūṭī, jilid 6 halaman 408.

Kepungan di Shaʽb Abī Ṭālib terjadi dalam tahun ke-tujuh sebelum Hijrah, manakala keberangkatan hijrah ke Ḥabshah terjadi tahun ke-sembilan sebelum Hijrah. Menurut catatan Ibnu Athir, Uthmān telah menikah dengan Ruqayyah dan berhijrah ke Ḥabsyah, Dengan ini bagaimana ingin dikatakan isteri ʽUthmān adalah puteri Nabī?

6. ʽAbduLlah bin ʽUmar membandingkan kelebihan ʽUthman dan ʽAlī.

Menurut Muḥammad bin Ismāʽīl al-Bukhārī, telah datang seseorang kepada ʽAbduLlah bin ʽUmar dan bertanya pandangannya tentang ʽUthmān dan Imām ʽAlī. ʽAbduLlah membuat perbandingan antara Alī dan ʽUthman dengan mengatakan:

أَمَّا عُثْمَانُ فَكَأَنَّ اللَّهَ عَفَا عَنْهُ وَأَمَّا أَنْتُمْ فَكَرِهْتُمْ أَنْ تَعْفُوا عَنْهُ وَأَمَّا عَلِيٌّ فَابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَتَنُهُ … .
صحيح البخاري – البخاري – ج 5 – ص 157 .

Mengenai ʽUthmān, sepertinya Allah mengampuni beliau (kerana melarikan diri dari perang Uḥud) meskipun engkau tidak suka. Mengenai ʽAlī pula, beliau adalah anak saudara RasūluLlah dan menantu baginda.
- Ṣaḥīḥ Bukhāri, jilid 14 halaman 498 menurut software Maktabah al-Shamilah.

Dalam riwayat ini, ʽAbduLlah bin ʽUmar cuba mempertahankan ʽUthmān dengan secara langsung mengatakan ‘sepertinya Allah mengampuni beliau dalam perang Uḥud’. Meskipun begitu para sahabat tidak mengampuni khalifah ini dan keluar membunuhnya. Tanpa menyebut ʽUthmān adalah menantu RasūluLlah, sebaliknya beliau menggunakan dalil keampunan Allah untuk membela ʽUthmān yang lari dari perang Uḥud dan berpatah balik tiga hari setelah mengetahui RasūluLlah masih hidup.

Namun ʽAbduLlah bin ʽUmar memperkenalkan ʽAlī bin Abī Ṭālib sebagai anak saudara dan menantu Nabī. Sekiranya ʽUthmān adalah menantu RasūluLlah, sudah tentu ʽAbduLlah bin ʽUmar berdalil dengan kelebihan tersebut kerana beliau telah sedaya upaya membela ʽUthmān dalam menghadapi tuduhan-tuduhan ke atasnya. Sedangkan dalil menantu Nabī adalah bukti paling kuat baginya.

7. Khutbah Fāṭimah.

Setelah peristiwa rampasan tanah fadak, Fāṭimah tampil di masjid dan berkhutbah dan ramai ʽulamā’ Ahlusunnah telah menulis peristiwa ini. Antara isi khutbah beliau ialah:
أنا فاطمة بنت محمد أقول عودا على بدء ، وما أقول ذلك سرفا ولا شططا… فإن تعزوه تجدوه أبي دون نسائكم وآخا ابن عمي دون رجالكم ، فبلغ الرسالة صادعا بالرسالة ناكبا عن سنن مدرجة المشركين ، ضاربا لثجهم آخذا بأكظامهم ، داعيا إلى سبيل ربه بالحكمة والموعظة الحسنة .
مناقب علي بن أبي طالب (ع) وما نزل من القرآن في علي (ع) – أبي بكر أحمد بن موسى ابن مردويه الأصفهاني – ص 202 و السقيفة وفدك – الجوهري – ص 142 .

Saya adalah Fāṭimah puteri Muḥammad, saya menyatakannya berulangkali, tidak aku berbicara tentangnya dengan kesilapan dan tidak bermatlamat… Jikalau kamu mengenalinya, maka ayahku bukanlah ayah perempuan-perempuan kamu, dan saudara anak pakcikku bukanlah seperti lelaki-lelaki kamu.
- Manāqib ʽAlī bin Abī Ṭālib wa mā Nazzala min al-Qur’ān fī ʽAlī, Abī Bakr Aḥmad bin Mūsā Ibn

Mardawiyyah al-Iṣfahānī, halaman 202, dan al-Saqīfah wa Fadak, al-Jawharī, halaman 142.
Jika isteri ʽUthmān itu anak-anak Nabī, tidak perlu Fāṭimah selaku ketua wanita di syurga berkata demikian kerana ʽUthmān juga boleh mengemukakan bantahan kerana beliau juga adalah menantu RasūluLlah.

8. Bapa mertua ʽAlī hanyalah Nabī Muḥammad.

Ibnu al-Dimashqī dan Muḥibbuddīn al-Ṭabarī menulis:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لعلي : أوتيت ثلاثا لم يؤتهن أحد ولا أنا ، أوتيت صهرا مثلي ولم أوت أنا مثلي ، وأوتيت زوجة صديقة مثل بنتي ولم أوت مثلها زوجة ، وأوتيت الحسن والحسين من صلبك ولم أوت من صلبي مثلهما ، ولكنكم مني وأنا منكم .
جواهر المطالب في مناقب الإمام علي (ع) – ابن الدمشقي – ج 1 – ص 209 و الرياض النضرة ج 2 ص 202 .

RasūluLlah (s.a.w) berkata kepada ʽAlī: Engkau telah dikurniakan tiga perkara yang tidak diberikan kepada sesiapapun termasuk aku. Engkau telah diberikan mertua sepertiku yang tidak diberikan kepadaku. Engkau telah diberikan isteri yang jujur seperti puteriku yang tidak diberikan kepadaku sepertinya. Engkau diberikan al-Ḥasan dan al-Ḥusayn daripada sulbi-mu, dan ia tidak diberikan kepada-ku melalui sulbi-ku sepertinya. Namun kalian daripada-ku dan aku daripada kalian.
- Jawāhir al-Maṭālib fi Manāqib al-Imām ʽAlī, Ibnu al-Dimashqī, jilid 1 halaman 209, dan Riyāḍ al-Naḍrah, jilid 2 halaman 202.

Dalam riwayat ini Nabī berterus terang bahawa ʽAlī telah dikurniakan mertua seperti baginda yang tidak pernah dikurniakan kepada sesiapapun. Dengan ini kukuhlah bukti bahawa RasūluLlah tidak pernah mempunyai anak perempuan yang lain kecuali Fāṭimah. Jikalau ada pasti baginda tidak akan bersabda demikian.

Penyusupan Salafi Ke Barisan Syi’ah Ahlul Bait Di Gagalkan

Kebenaran Yang Romantis

Kebenaran itu romantis, enak sekali didengar tapi susahnya untuk dibuktikan. Kebenaran itu romantis, penuh rayuan hingga membuat orang buta. Kebenaran itu romantis, betapa bahagianya bila benar-benar nyata. Kebenaran itu romantis, he he he bagi yang menghargainya :mrgreen:

Untuk apa sih bicara soal Kebenaran? Nggak penting, karena udah basi. Lihat saja kesana kemari ada banyak yang mengklaim bahwa Kebenaran itu sudah jadi miliknya. Kebenaran itu Misteri, alah naif banget, kalau iya mana ada kali yang namanya sesat bin menyesatkan. Kebenaran itu sudah jelas makanya yang sok beda sudah pasti sesat :mrgreen: .

Tanya kenapa? Karena Kebenaran itu romantis, begitu romantisnya hingga membuat semua para pencarinya serasa di awang-awang. Entah mengapa Kebenaran senang sekali dikejar-kejar . Kebenaran sepertinya tidak suka jika ada yang mau memasungnya. Kebenaran tidak ingin dimiliki oleh hanya satu hati. Betapa gombalnya Sang Kebenaran ketika Ia menebar rayuan bahwa Aku hanya milikmu seutuhnya. Sangat disayangkan betapa banyak dari mereka Manusia yang terjebak oleh Rayuan gombal Sang Kebenaran.

Kebenaran Bermain Siasat
Kebenaran tahu dengan pasti bahwa Ia begitu berharga bagi banyak orang. Ia memanfaatkan hal ini untuk mengelabui mereka. Ia tahu bahwa dirinya akan dikejar-kejar dan Ia senang sekali dikejar-kejar. Ia tahu ada begitu banyak jenis Manusia, dari yang paling bodoh sampai yang paling pintar. Mereka semua adalah mangsa yang akan dilahap habis-habisan. ;)

.
Mula-mula ia akan bermain siasat, mendekati mangsanya, membuai mereka dengan rayuan gombal Aku Cuma Milikmu Seorang. Celakanya mereka yang bodoh mudah sekali terjerat dengan rayuan gombal ini. Hasilnya mereka akan berwaham ria bahwa Kebenaran adalah miliknya dan yang lain sesaaaaaat. Mulailah mereka dengan pongahnya menyesatkan sana sini sehingga mereka dengan sengaja ataupun tidak sengaja telah menimbulkan kekacauan. Nah bisa dimengerti kalau Penyakit Grandiosa bertebaran di sana sini dan Saya cuma bisa terdiam. Kasihan, sementara Sang Kebenaran melenggang menjauh dari mereka sambil tertawa :lol:

.
Untuk Mereka yang pintar, rayuan seperti ini ternyata tidak mempan. Mereka yang pintar memiliki perisai penangkis yaitu Kebenaran tidak bisa dimonopoli oleh karena itu Sang Kebenaran telah menyiapkan rayuan yang lebih manis. Ia seolah-olah akan menghinakan dirinya untuk memancing rasa kasihan mereka. Kebenaran akan membisikkan bahwa Ia sudah tidak suci lagi, bahwa Ia sudah ternoda, bahwa Ia penuh dengan campuran kebohongan. Sehingga Mereka yang pintar akan berpikir bahwa Tidak ada itu yang namanya Kebenaran, semuanya relatif bisa benar dan salah. Tidak ada yang mutlak benar :mrgreen: Gak nyangka kalau kebenaran itu licik

.

Maka bermunculanlah semua manusia berjenis pintar entah dari mana datangnya dan setiap dari mereka datang membawa Jenis Kebenaran sendiri. Mereka saling menerima dengan baik walaupun berbeda. Celakanya banyak orang yang makin bingung, tidak tahu mau ikut siapa, tidak tahu lagi yang mana yang memang benar karena semuanya bisa tampak benar dan bisa tampak salah. Dunia yang membingungkan, kasihan!. Sementara Sang Kebenaran pergi dengan tersenyum sambil mengelus janggut emasnya. :mrgreen:

Kebenaran Suka Selingkuh
Ternyata tidak semua manusia itu pintar atau tidak semua manusia itu bodoh. Ada manusia yang punya kelainan tersendiri. Sepertinya kelainan ini muncul akibat Evolusi yang berkepanjangan. Hasil evolusi(yang katanya kontroversi dan tetep anget terus) dari Manusia-manusia yang bergulat dengan rayuan Kebenaran. Ada beberapa tipe manusia dengan kelainan khas ini. Tipe –tipe manusia yang menjadi korban selingkuhannya Kebenaran. :P

Manusia Tipe Pemikir
Manusia ini kelainannya tidak pernah berhenti berpikir. Dia akan memikirkan segala sesuatu yang terlintas dalam benaknya. Menghadapi manusia satu ini maka Sang Kebenaran cukup kewalahan. Bayangkan saja, setiap siasat yang ditampakkan oleh Sang Kebenaran maka manusia tipe pemikir ini akan tahu cara mengatasinya. Luar biasa, ternyata Sang Kebenaran punya cara sendiri.

.

Kebenaran akan menunjukkan wajah aslinya kepada Mereka tipe begini tanpa siasat, tanpa rahasia dan tanpa isyarat . Kebenaran seolah-olah menyerah dengan manusia jenis ini. Tentu saja manusia tipe ini semakin lama akan semakin bangga dengan dirinya yang berhasil menundukkan Kebenaran. Rasa bangga yang kian lama membuat ia tidak lagi memikirkan banyak hal, rasa bangga yang membuat ia lengah. Hingga saat seperti itulah maka Sang Kebenaran yang telah jadi temannya mulai membisikkan kebohongan-kebohongan kecil yang tidak disadari Sang pemikir. Sang Kebenaran diam-diam mengelabui pikiran sang pemikir. Semakin lama kebohongan kecil yang tidak disadari itu menjadi semakin besar dan Manusia tipe pemikir yang tadinya punya kelainan akhirnya menjadi Manusia normal yang kerjanya menyalahkan orang. :mrgreen: .

Sementara Sang Kebenaran pergi selingkuh dengan manusia tipe lain yang telah menarik minatnya. Siapa calon korban baru itu? ;)

.

Manusia Tipe Kreatif
Manusia jenis ini adalah Manusia kreatif yang mengais ilmu dari mana saja atau memulung hikmah apapun dari manapun. Manusia ini akan tampak bijak karena baginya Kebenaran bisa diambil dari mana saja. Bahkan Kebenaran bisa diambil dari tempat sampah. Tentu saja slogan ini sedikit menyinggung hati Sang Kebenaran sehingga pandangannya tertarik pada manusia jenis ini. Mulailah ia mencari cara untuk mengelabui mereka. Semua rayuan ia kerahkan dan cukup menarik ternyata semua rayuan itu diterima dengan baik oleh manusia kreatif ini. Sang Kebenaran terheran-heran, wah ada juga manusia aneh begini.

.

Sayangnya semua rayuan itu tidak merubah apapun karena lagi-lagi Manusia itu kreatif. Lain disuruh lain dibuat, Sang Kebenaran membisikkan Orang Lain Salah Kamu Yang benar, maka manusia kreatif itu malah berkata Saya ternyata juga keliru, perkataanmu ada benarnya. Tidak pantang menyerah, Sang Kebenaran kemudian memberi bisikan bahwa Setiap perkataan orang itu ada benarnya jadi harus diambil, maka manusia kreatif itu malah berkata Ah maaf kali ini anda salah, sayalah yang benar.

.

Wah kebenaran lumayan dibuat pusing dan akhirnya melakukan siasat terakhir. Kebenaran mulai memberikan banyak Rahasia Kebenaran yang tidak pernah terungkap kepada mereka. Rahasia yang berharga, Ilmu yang tidak mudah didapat, Pengetahuan yang tidak mudah dicapai oleh siapapun. Sesuatu yang berharga ini terus diberikan Sang Kebenaran kepada mereka hingga mereka yang awalnya kreatif sudah melupakan semua kreatifitas mereka. Untuk apa lagi mengais pengetahuan dari mana saja toh saya sudah dapat yang benar-benar berharga. Maka Manusia ini sudah mulai terbuai dan semakin lama Kebenaran terus mengelabui. Ia selipkan diantara yang berharga itu kotoran-kotoran kecil yang cukup untuk menodai hati mereka yang kreatif. Akhirnya Manusia yang kreatif itu menjadi ternodai dengan kesombongan kecil akibat rayuan Sang Kebenaran. Sukses sekali lagi buat Sang Kebenaran, dan ia sudah mulai bosan.

Jadi Ya Kebenaran selingkuh lagi, mencari korban baru yang kali ini bisa dibilang korban terakhirnya :mrgreen:

.

Sang Pencari Kebenaran
Manusia jenis ini adalah Mereka para Pencari Kebenaran, bukan sekedar pencari tetapi memang mencari. Mereka adalah para pejuang yang jatuh bangun dalam mencari kebenaran. Mereka tidak dengan mudahnya berkata bahwa Itu salah tapi mereka tahu kapan harus menyalahkan orang dan kapan harus mengaku salah. Mereka tidak dengan mudahnya berkata Ambillah kebenaran dari mana saja tapi mereka mengakui kalau kebenaran itu banyak. Mereka tidak dengan mudahnya mengatakan bahwa Kebenaran itu relatif tetapi memang bagi mereka Kebenaran itu punya banyak sudut dan bentuk.

.
Sang Kebenaran mulai mencari cara untuk mengelabui mereka, lagi-lagi dengan semua macam rayuan. Sayangnya semua rayuan itu tak terdengar karena mereka Para Pencari Kebenaran itu tidak mau menjalin hubungan khusus dengan Sang Kebenaran. Bagi manusia jenis ini Sang Kebenaran itu untuk dicari bukan untuk dipeluk dan didekap erat-erat. He he he bisa dibayangkan semua rayuan manis Sang Kebenaran ditolak mentah-mentah karena

Ngapain ini ngaku-ngaku sebagai Sang Kebenaran, sana pergi saya lagi mencari Sang Kebenaran, jangan mengganggu..hus…hus….

.

Betapa tersinggungnya Sang Kebenaran, sekarang ia yang ditolak oleh manusia dengan dalih Yang namanya Kebenaran itu nggak gampangan menampakkan diri, Kebenaran butuh pencarian.

Sang Kebenaran kecewa dan menggerutu Memangnya ada Sang Kebenaran selain saya. Akhirnya Sang Kebenaran yang suka selingkuh itu tahu bagaimana rasanya diselingkuhi :mrgreen: . Dengan kecewa berat Sang Kebenaran pergi menjauh dari manusia jenis ini sambil mengutuk

Sana terus saja mencari, kamu nggak bakalan mendapatkan apa yang kamu cari, karena aku tak akan pernah mau mendekatimu. Ngambek ni ye .

Sementara Sang Pencari Kebenaran terus saja mencari, tidak tahu apa itu yang dicari :( .

.

Begitulah Sang Kebenaran akhirnya merasa tersinggung berat dengan manusia sehingga memutuskan untuk menyendiri tetapi semuanya sudah terlambat. Sudah begitu banyak manusia yang sudah terkelabui oleh Kebenaran. Dalam hati Sang Kebenaran tersenyum Walaupun sakit hati yang penting aku sudah cukup banyak bermain :lol:

Salam Damai

.

Catatan : Link terkait cuma sebuah undangan jangan diartikan yang lain (karena agak sedikit gak nyambung), semoga bisa dimaklumi :mrgreen:

Penyusupan Salafi Ke Barisan Syi’ah Ahlul Bait Di Gagalkan !!!!

=======================================================

Membongkar Sunni dan 55 Negara Sunni yang lain(terutamanya  Malaysia)

Membongkar Selebaran Yang Mencatut Nama Syi’ah (terutama di Malaysia)

February 11, 2011

Amaran: Selebaran dibawah ini  merupakan fitnah yang dilakukan  orang orang yang mencatut nama Syi’ah (sebuah laman Facebook) dan laman blog tenteradajjal.blogspot.com atau laman-laman lain yang seangkatan dengannya.

BERiKUT  iNi  BUNYi  SELEBARAN  ADU  DOMBA tersebut :

————————————————————————————————————

Wahai saudara-saudara Syiah ku sekalian, marilah kita sama-sama berhati-hati terhadap agama Sunni dan penyelewengan besar yang terdapat di dalamnya. Mereka mengaku sebagai orang Islam dan pengikut sebenar agama ini, malangnya dalam masa yang sama, melakukan banyak perkara yang bertentangan dengan ajaran sebenar Islam. Mereka ialah musuh Islam yang nyata, dan harus ditentang. Mari kita lihat penyelewengan mereka, insyaAllah.

1. Menghalalkan zina dan pusat-pusat tumpuannya.

Lihat sahaja mereka ini, bising tentang kita menhalalkan mut’ah, tetapi dalam masa yang sama, negara mereka bercambah dengan kegiatan zina. Lihatlah betapa ramainya perempuan-perempuan Sunni ini, merelakan diri mereka menjadi pusat tumpuan melepaskan nafsu.

Inilah akibatnya, apabila nikah mut’ah dikatakan zina. Bodoh. Padan muka korang, biarkan la lebih banyak lagi anak haram muncul kat Malaysia ni. Lepas ni bila buka tong sampah, tengok la kot-kot ada bayi orang Sunni yang dibuang dalam tu.

Kenapa, terkejut? Ya orang Sunni kerap membuang bayi di merata tempat. Dan mereka mengatakan kita sesat, lawak, nasib baik saya Syiah, kalau tak mungkin saya akan mengeluarkan kata-kata kesat terhadap kelucuan ini.

2. Menghalalkan arak dan penjualannya.

Sejak saya dilahirkan, sehinggalah sekarang, saya tidak pernah melihat satu pun negeri atau daerah di Malaysia yang Sunni yang tidak menjual arak di dalamnya. Malah di seluruh negara Sunni ini, arak diminum, dijual dan dihidangkan secara bebas. Bukan setakat itu, banyak juga kilang-kilang pengeluaran najis ini bertapak di negara Sunni ini.

Dengan ini, saya membuat penilaian bahawa Sunni membenarkan arak dijual dan diminum secara bebas, yakni menghalalkannya. Tidak dilupakan juga ramai Sunni yang tidak segan silu menghalalkan minuman ini untuk diri mereka, oleh itu, masih mahukah kita terhegeh nak bersatu dengan mereka?

3. Menutup aurat tidak perlu janji hati suci dan perangai elok

Bagi seorang yang berwarganegara Iran atau Arab Saudi, dan mempunyai keimanan di hati mereka, apabila menjejakkan sahaja kaki di Malaysia, mata mereka akan kekenyangan apabila tidak henti-henti dijamu dengan cara berpakaian masyarakat Sunni yang, wanita terutamanya, yang sangat “menjaga maruah mereka”.

Saya kerap juga bersembang dengan wanita-wanita Sunni ini, dan bertanya kepada mereka tentang kewajiban menutup aurat yang disyariatkan di dalam Islam, mereka kerap menjawab bahawa tidak mengapa tidak menutup aurat, janji kita ada hati yang suci dan pekerti yang mulia. Nauzubillah!!

Lihatlah mereka saudara-saudara Syiahku sekalian, ini tidak lain dan tidak bukan, adalah ajaran agama mereka, yang sesat lagi menyesatkan, jauhi lah mereka, rosak akhlak anak-anak kita.

4. Mereka bersahabat dengan Dajjal laknatullah.

Di balik tuduhan mereka terhadap Iran sebagai sebuah negara proksi dajjal, mereka sebenarnya tepaksa melakukan tuduhan ini bagi menutup tindakan-tindakan mereka yang sebenarnya, yakni merekalah tentera dajjal yang sebenarnya.

Ya saudara-saudaraku sekalian, merekalah tentera dajjal, mengejutkan bukan? Orang-orang yang kita anggap sebagai saudara, sebenarnya ialah sekutu rapat dajjal. Mereka ialah yahudi yang berpura-pura.

5. Tidak membenarkan Syiah beribadat secara terbuka, tempat ibadat mereka tidak dibenarkan dibina.

Apabila berhadapan dengan kita, seringkali kita mendengar antara tuduhan mereka ialah di Iran sunni tertindas, di Tehran contohnya, sebiji masjid Sunni pun tiada. Lantas dengan mudah mereka mengatakan kita sentiasa bermusuhan dengan Sunni.

Betapa munafiknya mereka ini, tak sedar yang diorang pun buat perkara yang serupa kepada masyarakat Syiah di Malaysia. Lihatlah di Malaysia, ada berapa banyak masjid Syiah? Habuk pun tarak, yang ada hanyalah pusat-pusat Hussainiyah dan hauzah yang terpaksa beroperasi secara bersembunyi kecuali satu dua. Jawapan mereka, fahaman kita sesat dan bahaya kalau dibiarkan beramal secara terbuka.

Kalau gitu jangan marahlah kalau di Iran tiada masjid untuk agama Sunni, yang bersahabat dan bersekutu dengan dajjal, serta mengamalkan ajaran yang sesat lagi menyesatkan.

6. Membenarkan perjudian dan pusat-pusat berkaitan.

Dri sebesar-besar pusat kassino di Genting Highlands hinggalah sekecil-kecil kedai Toto di pekan kecil, pusat judi bercambah dibuka di sana sini. Dan cuba teka siapa yang banyak pergi ke pusat-pusat seperti ini, orang Melayu “Islam” Sunni bermazhab Syafi’i. Jadi apa nak dikata lagi dengan bukti yang begitu jelas ini?

7. Masyarakat Sunni di Malaysia banyak mengamalkan ajaran khurafat.

Jangan cuba menafikan, ini adalah satu perkara biasa dikalangan masyarakat Sunni di Malaysia. Jika mereka ditimpa apa-apa masalah, tiada orang lain yang akan mereka rujuki, melainkan bomoh-bomoh yang kebanyakan dari mereka tidak diketahui mengamalkan cara perubatan Islam. Seru jin, pakai tangkal entah apa-apa, tanam sini, tanam sana, paku sini, paku sana, nasi kangkang dan banyak lagi, adalah antara amalan masyarakat Sunni Malaysia.

Mereka juga ada banyak kepercayaan karut, antaranya kalau menyanyi kat dapur akan kahwin dengan orang tua, dan banyak lagi kepercayaan yang tiada asasnya di sisi Sunah Rasul. Malah ada pepatah mereka mengatakan, ” biar mati anak, jangan mati adat”. Nauzubillah, betapa murahnya nyawa anak mereka kalau dibandingkan dengan Sunnah nenek moyang mereka. Patutla suka buang bayi.

—————————————————————————————————–

Kesimpulan

Selebaran diatas  bukan pihak kami yang  menulis !!!  Selebaran  itu black campaign untuk memburuk burukkan syi’ah !!! Kalau nak membincangkan tentang  Sunni, maka tak susah. Caranya keluar sahaja dari rumah dan lihat sekeliling, jelas ternyata.

Tetapi sudah tentu, kami Syiah tidak akan berfikir macam ini. Kami tidak seperti kamu yang membuat pertuduhan berdasarkan apa yang dilakukan oleh “segelintir” Sunni. Kerana kami geng baik dan kamu geng jahat. Geng baik mesti dalam mana-mana keadaan pun akan tertindas, dan kamu memang penindas. Semoga Allah membalas fitnah kamu.

Shalat Syi’ah Tetap Lima Waktu, Hanya Saja Ada Keringanan Menjama’ dari Nabi SAW Agar Tidak Memberatkan Umatnya

saat saya tanya ke orang2 Syi’ah di milis FB, mereka bilang bahwa sholat mereka tetap 5x. Namun dilakukan di 3 waktu sebagaimana Muslim Sunni melakukannya saat shalat Jamak di perjalanan. Misalnya shalat Dzuhur waktunya digabung dgn shalat Ashar, Shalat Maghrib dgn  Isya.

Syiah dikenal menggabung dua shalatnya. Misalnya, ketika seorang Syiah telah melakukan shalat dhuhur, secara langsung setelahnya ia dapat melakukan shalat ashar. Begitu juga setelah shalat maghrib ia bisa langsung shalat isya’.Itu tidak diperbolehkan bagi Ahlu Sunah. 

Doktor Muhammad Tijani Samawi sebelum Syiah memiliki pengalaman menarik berkaitan dengan hal ini. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang shalat menjadi makmum Ayatullah Bagir Shadr, seorang marj’a besar Syiah di Iraq.

Saat itu mereka sedang shalat dhuhur berjama’ah. Seusai shalat dhuhur, setelah melakukan shalat-shalat sunah, imam langsung berdiri lagi untuk melakukan shalat ashar. Doktor Tijani pun bingung apakah dia harus ikut shalat ashar langsung setelah dhuhur atau tidak. Karena ia berada di tengah-tengah shaf jama’ah dan tidak memungkinkan baginya untuk keluar, akhirnya ia pun ikut shalat ashar berjama’ah. Namun sampai seusai shalat ia tetap bingung apakah shalat asharnya benar atau tidak karena dilakukan langsung seusai shalat dhuhur.

Ia pun menanyakan hal itu kepada Ayatullah Baqir Shadr, apakah perbuatan itu betul?

Shahid Shadr berkata: “Ya, betul. Kita diperbolehkan melakukan dua shalat wajib bersamaan (shalat dhuhur dan asar, shalat maghrib dan isya’). Yakni seusai shalat yang satu, dilanjutkan shalat yang kedua secara langsung; meskipun tidak ada udzur atau hal-hal yang menuntut kita untuk melakukannya bersamaan.”

Shalat

Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang Muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”. Shalat merupakan salah satu daripada Furu’ ud-Din (cabang agama) yang tanpanya maka tidak sempurnalah agama seseorang itu. Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:

1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.

Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).

Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –

Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya

Malik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”

ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.

Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.

Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.

Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.

Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Menjamak Shalat Menurut Syiah Imamiah

Mereka percaya bahwa setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat harian adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Yang paling penting adalah melakukan setiap shalat pada waktunya yang khusus. Hanya saja, mereka melakukan jamak antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah saw. melakukan jamak dua shalat tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa berpergian, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan kitab hadis lainnya, “Sebagai keringanan untuk umat serta untuk mempermudah bagi mereka”. Dan itu telah menjadi masalah biasa pada masa kita sekarang ini..Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian ingin mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan (keberatan) pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah dan seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Sesat. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ” Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”. Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW. Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya. Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan

.

Solat Jamak menurut Al-Quran dan Sunnah Nabi

Sembahyang tetap 5 kali sehari semalam. Cuma waktunya sahaja yang ditakrifkan sebagai waktu bersama (jamak) – Subuh, Zohor bersama Asar, dan Maghrib bersama Isyak. Ini telah difirmankan dalam Al-Quran dan diterangkan dalam sunah Nabi. Dan, sememangnya yang lebih afdal adalah 5 kali dalam lima waktu.

Berikut adalah petikan ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi yang menerangkan lebih lanjut sekitar perkara ini:

1.    Surah al-Israk ayat 78:
“Dirikanlah solat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula) solat subuh. Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

a.    Sesudah matahari tergelincir: Waktu bersama (jamak) Zuhur dan Asar.

b.    Gelap malam: Waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak.

c.    Solat Subuh.

(Inilah konsep 3 waktu tapi 5 kali sehari semalam- namun afdalnya dipisahkan seperti yang dilaksanakan sekarang).

2.    Surah al-Israk ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagi kamu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”

Sebahagian malam hari: Sesudah waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak habis (Sesudah lebih kurang 12.30  t/malam)- Inilah waktu solat tahajjud yang sebenarnya.

Ayat al-Quran berikut ini lebih mengkhususkan lagi:

3.    Surah Hud ayat 114:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam”.

Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).

Bahagian permulaan daripada malam: Mengisyaratkan waktu bersama antara Maghrib dan Isyak. Digunakan istilah bahagian permulaan daripada malam sebab bahagian akhir daripada malam adalah untuk solat tahajjud. (Lihat Surah al-Israk ayat 79).

Sehubungan itu, dikemukakan sebahagian kecil daripada hadis-hadis tentang solat jamak. Dalam kitab hadis Shahih Bukhari (diterjemah H. Zainuddin Hamidy – H.Fachruddin Hs, H. Hasharuddin Thaha – Johar Arifin, A. Rahman Zainuddin M.A; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 306 Berita dari Ibnu Abbas ra. mengatakan, bahawa Nabi saw salat di Madinah tujuh dan lapan rakaat. Yaitu salat zohor dan asar (dikerjakan berturut-turut pada waktu yang sama tujuh rakaat).

Hadis no 310 kata Abu Umammah ra. “Kami solat zohor bersama Umar bin Abdul Aziz, setelah itu kami pergi menemui Anas bin Malik dan kami dapati dia sedang salat asar. kataku kepadanya ‘Hai pakcik! salat apakah yang pakcik kerjakan ini?’ jawabnya, ‘Salat Asar! dan inilah (waktunya) salat asar Rasulullah saw, dimana kami pernah salat bersama-sama dengan beliau’.

……dan dalam kitab Sahih Muslim (diterjemah Ma’Mur Daud ditashih Syekh H. Abd. Syukur Rahimy; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 666 Dari Ibnu’ Abbas r.a., katanya: “Rasulullah saw pernah (baca: telah) menjama’ salat Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak tidak ketika takut dan tidak pula dalam perjalanan (baca: musafir)”.

Hadis no. 667. dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Rasulullah saw pernah menjama’ salat suhur dan asar di Madinah tidak pada waktu takut (perang atau dalam keadaan bahaya) dan tidak pula dalam perjalanan. Kata Abu Zubair, dia menanyakan hal itu kepada Sa’id, “Kenapa Rasulullah saw sampai berbuat demikian?’ Jawab Sa’id, “Aku pun pernah bertanya seperti itu kepada Ibnu Abbas, maka jawab Ibnu Abbas: ‘Beliau ingin untuk tidak menyulitkan umatnya’

Hadis no. 670 dari Ibnu Abbas ra. katanya: ‘Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau pernah menjamak solat zohor dengan asar, dan salat maghrib dengan Isya’, tidak pada saat perang dan tidak pula ketika hujan. Waki’ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa sebabnya Nabi saw berbuat demikian?’ Jawab Ibnu Abbas, “Supaya tidak menyulitkan umatnya”…. .

Hadis no. 671 dari Abdullah bin Syaqiq ra. katanya: ‘Pada satu hari sesudah asar, Ibnu Abbas memberikan pengajian dihadapan kami hingga terbenam matahari dan bintang-bintang sudah terbit. lalu jemaah berteriak, “salat! salat!” bahkan seorang laki-laki Bani Tamim langsung berdiri ke hadapan Ibnu Abbas, lalu ia berkata “salat! salat!” Kata Ibnu Abbas, “Apakah engkau hendak mengajariku tentang Sunnah Nabi, yang engkau belum tahu? Aku melihat Rasulullah saw menjama salat Zuhur dan Asar dan Maghrib dengan Isya’”. Kata Abdullah bin Syaqiq, ‘Aku ragu kebenaran ucapan Ibnu Abbas itu. Kerana itu aku bertanya kepada Abu Hurairah. Ternyata Abu Hurairah membenarkan ucapan Ibnu Abbas itu”.

Berdasarkan hadis-hadis ini dapat disimpulkan bahawa di kalangan para sahabat sendiri telah berlaku perselisihan pendapat sama ada boleh atau tidak menjamakkan solat tanpa musafir. Lihat misalnya Abu Umammah (bertanya kepada Anas bin Malik) dan Abdullah bin Syaqiq (merujuk kepada Abu Hurairah) bagi memastikan kebenarannya. Jika para sahabat Nabi yang terkenal dengan ilmunya masih berselisih pendapat maka tidak hairanlah jikalau kita masih meneruskan tradisi saling berselisih pendapat seperti pada zaman para sahabat. Bukankah sahabat itu seperti bintang-bintang?

Yang pastinya hadis-hadis tentang solat jamak ini bukan sahaja terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim namun terdapat juga dalam kitab-kitab hadis yang lain.

Hukum Shalat Jamak Ketika Tidak Sedang Dalam Perjalanan

Hal yang sangat dikenal di kalangan umat islam adalah diperbolehkannya Menjamak Shalat Ketika Sedang Dalam Perjalanan. Tetapi sangat disayangkan banyak orang Islam yang tidak tahu kalau sebenarnya Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan. Tidak jarang diantara mereka yang tidak tahu itu, pikirannya dipenuhi dengan prasangka-prasangka yang merendahkan ketika melihat orang lain Menjamak Shalat padahal tidak ada Uzur apapun. Beberapa dari mereka berkata “Jangan berbuat Bid’ah” atau “Ah itu mah kerjaan orang Syiah”. Coba lihat dialog ini

Si A :Ntar bareng kesana ya

Si B :Ok, tapi kita shalat dulu

Si A :hmm lagi nanggung, ntar aja deh aku jama’ dengan Ashar

Si B :( terpana)…. emang boleh seenaknya dijamak gitu, bukannya Jama’ itu boleh kalau dalam perjalanan.

Si A :he he he boleh, boleh.

Si B : kamu Syiah ya

Si A : bukan kok

Si B : ya udah terserah kamulah, yang penting saya shalat dulu

Saya cuma bisa tersenyum sinis mendengarkan mereka yang dipermainkan oleh Wahamnya ini. Pikiran mereka ini dipengaruhi oleh Syiahpobhia yang keterlaluan sehingga berpikir setiap amalan yang dilakukan oleh Syiah adalah sesat. Saya katakan Tidak ada urusan mau bagaimana Syiah mengamalkan Ritualnya. Sekarang yang sedang dibicarakan adalah Shalat Jama’ yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. ;)

.

.

Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.

Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan :mrgreen:

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah atau dengan pengaruh Syiahpobhia seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Syiah. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. :P

Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “ Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”.Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya.

Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan:) Wassalam

Catatan: Tulisan ini saya buat dalam kondisi sakit-sakitan, gak nyangka ternyata saya masih bisa-bisanya buat tulisan. Tolong doakan agar saya cepat sembuh ya, hmmm eh salah ding doakan agar badan saya enakan aja deh :mrgreen:

283791_460681150621691_171225324_n

shalat-penyembah-batu

Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnyaMalik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

.

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

.

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu

.

Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :

Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).

Waktu solat mengikut al-Quran

Allah (swt) berfirman dalam kitabNya yang suci:

“Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam, dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya).” 
Qur’an 17:78

Waktu solat menurut al-Quran adalah tiga, bukan lima.

  1. Gelincir Matahari
  2. Waktu Gelap Malam
  3. Waktu Subuh.

Imam Fakhruddin Razi, pengulas al-Quran terkenal Sunni, menulis berkenaan ayat yang dipetik (Surah 17, Ayat 78):

“Jika kita menafsirkan waktu gelap malam (ghasaq) sebagai masa apabila kegelapan mula muncul maka terma ghasaq merujuk kepada bermulanya Maghrib. Berdasarkan hal ini, tiga waktu disebut dalam ayat: ‘waktu tergelincir matahari, waktu bermulanya Maghrib dan waktu Fajar’. Ini menyatakan bahawa waktu tergelincir matahari adalah waktu untuk Zuhur dan Asar, waktu ini dikongsi oleh dua solat ini. Waktu bermulanya Maghrib adalah adalah waktu untuk Maghrib dan Isyak maka waktu ini juga dikongsi oleh dua solat ini. Hal ini memerlukan kebolehan untuk menjamak antara Zuhur dan Asar serta antara Magnrib dan Isyak pada setiap masa. Akan tetapi terdapat bukti yang menunjukkan bahawa manjamak ketika di rumah tanpa sebarang alasan adalah tidak dibenarkan. Hal ini menjurus kepada pandangan bahawa menjamak adalah dibolehkan apabila sedang bemusafir atau apabila hujan dll.”

Tafseer Kabeer, m.s 107

Sementara kami akan InsyaAllah menyangkal komentar Razi berkenaan menjamak tanpa sebab adalah tidak dibenarkan, apa yang kita dapat dari sini adalah masa untuk solat fardhu hanyalah tiga:
1). Masa untuk dua solat fardhu, Zuhur (tengah hari) dan Asar (petang), yang dikongsi oleh keduanya.
2). Masa untuk dua solat fardhu, Maghrib (senja) dan Isyak (malam) yang juga dikongsi oleh keduanya.
3). Masa untuk solat Subuh (pagi) yang hanya spesifik untuknya sahaja.

Kami melaksanakan solat Zuhur dan Asar dan kemudian solat Maghrib dan Isyak dalam satu satu masa. Kami tidak melakukannya hanya berdasarkan penghakiman kami, malah hal ini dilakukan kerana ianya adalah Sunnah Nabi Muhammad (s). Adalah dilaporkan dalam Sahih Bukhari bahawa Ibn Annas [r] berkata:

“Aku mengerjakan lapan rakaat (Zuhur dan Asar) dan tujuh rakaat (Maghrib dan Isyak) pada satu satu masa bersama Nabi Muhammad (s) (dengan tiada solat sunat diantaranya.)” Umru berkata bahawa dia berkata kepada Abul Shaqa: “Aku fikir Nabi (s) mengerjakan Zuhur sedikit lewat dan Asar sedikit awal, dan Isyak sedikit awal, Maghrib sedikit lewat, Abul Shaqa menjawab bahawa dia juga merasakan yang sama.”

Kita baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 537, Bab Waktu Solat:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
Rasul Allah (salam dan salawat ke atasnya) melakukan di Madinah tujuh (rakaat) dan lapan (rakaat), i.e. (menjamak) solat tengah hari (Zuhur) dan petang (Asar) (lapan rakaat) dan solat senja (Maghrib) dan malam (Isyak) (tujuh rakaat).

Dalam mengulas mengenai hadis ini, pada muka surat yang sama dalam Tayseer al-Bari, Allamah Waheed uz Zaman berkata:

“Hadis ini agak jelas di mana dua solat boleh dilakukan pada satu masa. Hadis yang kedua memberitahu kita mengenai insiden di Madinah sewaktu tiada rasa takut mahupun sebarang paksaan. Telah pun disebut di atas bahawa Ahli Hadis menganggapnya dibolehkan, dan dalam kitab-kitab Imamiah terdapat banyak hadis-hadis dari Imam Hadis dalam bab menjamak (solat) dan tiada alasan untuk hadis-hadis ini dikategorikan sebagai palsu”

 Tayseer al Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 2, Kitab Tahajjud, m.s 187, diterbitkan oleh Taj Company Limited, Karachi

Kita juga baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 518:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
“Nabi (s) melakukan solat lapan rakaat untuk Zuhur dan Asar, dan tujuh untuk solat Maghrib dan Isyak di Madinah.” Aiyub berkata, “Berkemungkinan ianya pada malam yang hujan.” Anas berkata, “Mungkin.”

Dalam ulasan berbahasa Urdu Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, dalam mengulas ungkapan terakhir Jabir di mana dia menduga bahawa berkemungkinan ianya malam yang hujan, Allamah Waheed uz-Zaman menulis:

“Kata-kata Jabir adalah berdasarkan kemungkinan, kesalahannya telah dibuktikan oleh riwayat Sahih Muslim yang menyatakan bahawa tiada hujan mahupun sebarang perasaan takut yang wujud.”

Maulana Waheed uz-Zaman menulis lagi:

“Ibn Abbas dalam riwayat yang lain berkata bahawa Nabi Muhammad (s) melakukannya untuk menyelamatkan umatnya dari sebarang kesukaran.”

 Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 1, m.s 370, Kitab Waktu Solat, diterbitkan oleh Taj Company Limited.

Dalam perkaitan ini riwayat Sunni juga menyingkirkan sebarang tanggapan bahawa jamak tersebut mungkin dilakukan kerana keadaan cuaca yang buruk:

Nabi Muhammad (s) bersolat di Madinah, ketika bermastautin di sana, tidak bermusafir, tujuh dan lapan (ini merujuk kepada tujuh rakaat Maghrib dan Isyak dijamakkan, dan lapan rakaat Zuhur dan Asar dijamakkan).
Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Jilid 1, m.s 221

“Nabi Muhammad (s) melakukan solat Zuhur dan Asar secara jamak serta Maghrib dan Isyak secara jamak tanpa perasaan takut mahupun dalam bermusafir.”
Malik ibn Anas, al-Muwatta’, Jilid 1, m.s 161

Sekarang mari kita lihat kepada hadis dari Sahih Muslim:

Ibn ‘Abbas melaporkan bahawa Rasul Allah (s) menjamak solat Zuhur dan Asar serta solat Maghrib dan Isyak di Madinah tanpa berada dalam keadaan merbahaya mahupun hujan. Dan di dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Waki’ (kata-katanya ialah): “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang membuatkan baginda melakukan hal tersebut? Dia berkata: Supaya umatnya (Rasulullah) tidak diletakkan dalam keadaan sukar (yang tidak diperlukan).”

Kami telah mengambil hadis ini dari sumber Sunni berikut:

  1. Sahih Muslim (terjemahan Inggeris), Kitab al-Salat, Buku 4, Bab 100 Menjamak solat apabila seseorang dalam bermastautin, hadis no. 1520;
  2. Jami al-Tirmidhi, Jilid 1, m.s 109, diterjemah oleh Badee’ uz-Zaman, diterbitkan oleh kedai buku No’mani, bazaar Urdu Lahore.
  3. Sunan Abi Daud, jilid 1, m.s 490, Bab: ‘Menjamak Solat’, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman

Dalam ulasannya mengenai hadis ini, Zaman menyatakan:

Terdapat dua jenis jamak solat, Jamak Taqdeem dan Jamak Takheer, yang awal bermaksud melaksanakan solat Asar pada waktu Zuhur dan Isyak pada waktu Maghrib, dan yang terkemudian adalah melakukan solat Zuhur pada waktu Asar dan Maghrib pada waktu Isyak, kedua-dua jenis adalah terbukti sah dari Sunnah Rasulullah.
Sunan Abu Daud, jilid 1, m.s 490, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman, diterbitkan di Lahore

Maulana Waheed uz-Zaman membuat rumusan pada muka surat yang sama dengan menyatakan:

“Hujah-hujah yang menentang jamak solat adalah lemah, sementara yang membenarkannya adalah kuat.”
Sunan Abu Daud, volume 1, page 490, translated by Maulana Waheed uz-Zaman, published in Lahore

Shah Waliullah Dehalwi menyatakan dalam Hujutallah Balagha, m.s 193:

Masa untuk solat sebenarnya adalah tiga, iaitu pagi, Zuhur dan pada waktu gelap malam dan ini adalah maksud kepada firman Allah ‘Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari’. Dan Dia berfirman hingga waktu gelap malam’ kerana masa untuk menunaikan solat Zuhur adalah sehingga matahari terbenam oleh kerana tiada kerenggangan antara duanya, maka, dalam keperluan, adalah dibolehkan untuk menjamak Zuhur dan Asar serta Maghrib dan Isyak

Sekarang kami sediakan testimoni Sahabat yang disayangi Ahli Sunnah bernama Abu Hurairah mengenai dibolehkan untuk menjamak solat. Kita baca dalam Musnad Ahmad:

Abdullah bin Shaqiq meriwayatkan bahawa pernah sekali selepas Asar, Ibn Abbas tinggal sehingga matahari terbenam dan bintang muncul, lalu orang berkata: ‘Solat’ dan di antara yang berkata adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang berkata: ‘Solat, solat’. Lalu dia (Ibn Abbas) manjadi marah dan berkata: ‘Bolehkah kamu mengajarku Sunnah!! Aku melihat Rasul Allah (sawa) menjamak solat Zuhur dan Asar, serta Maghrib dan Isyak’. Abdullah (bin Shaqiq) berkata: ‘Aku mempunyai keraguan mengenai perkara ini maka aku berjumpa Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan dia bersetuju dengan beliau (Ibn Abbas)’.

 Musnad Ahmad, Jilid 1 m.s 251 Hadis 2269

Shaykh Shu’aib al-Arnaout berkata:

‘Rataiannya adalah Sahih mengikut standard Muslim’.

Kami juga akan menyebut amalan Sahabat terkenal Anas bin Malik dan testimoninya mengenai mengerjakan solat Asar pada waktu Zuhur. Kita bca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 524:

Diriwayatkan Abu Bakr bin Uthman bin Sahl bin Hunaif:

bahawa dia mendengar Abu Umama berkata: Kami melakukan solat Zuhur bersama ‘Umar bin Abdul Aziz dan kemudian pergi kepada Anas bin Malik dan menjumpainya melakukan Solat Asar. Aku bertanya kepadanya, “Wahai pakcik! Solat apa yang kamu lakukan?” Dia berkata ‘Solat Asar dan ini adalah (waktu) solat Rasul Allah yang mana kami pernah bersolat bersama baginda.”

Riwayat ini memperkukuhkan tafsiran ayat 17:78 oleh Fakhruddin al-Razi yang mana menurutnya masa untuk melakukan Zuhur dan Asar adalah sama.

Melakukan dua solat dengan satu Azan

Apabila sudah terbukti bahawa jamak solat bukanlah satu pembaharuan, malah adalah Sunnah Nabi Muhammad (s) untuk menyelamatkan umatnya dari kesukaran, kita dibenarkan untuk menggunakan kemudahan ini. Mereka perlu tahu bahawa oleh kerana Sunnah Nabi membenarkan para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid untuk solat Zohor dan Asar, kemudian panggilan kedua untuk solat Asar dan Isyak dilaungkan didalam masjid tanpa pembesar suara dan kemudian solat ditunaikan. Cara yang sama juga turut dipetik oleh ulama Sunni.

Allamah Abdul Rehman al-Jazeeri menulis:

“Cara yang betul untuk menghimpun orang untuk bersolat adalah dengan melaungkan azan Maghrib dengan suara kuat yang biasa, kemudian selepas azan, masa diperlukan untuk melakukan solat tiga rakaat perlu ditangguhkan. Kemudian solat Maghrib perlu dilaksanakan dan kemudian adalah elok untuk melaungkan azan Isyak di dalam masjid, azan sepatutnya tidak dilaungkan dari menara supaya ianya tidak akan memberi tanggapan bahawa masa tersebut adalah masa kebiasaan untuk solat Isyak, oleh sebab itulah azan tersebut perlu dilaungkan dengan suara perlahan dan kemudian solat Isyak boleh dilaksanakan.” 
Al-Fiqa al-Al Madahib al-Arba’a, jilid 1 m.s 781, diterjemah oleh Manzoor Ahmed Abbas, diterbitkan oleh Akademi Ulama, Charity department Punjab

Jelas dari sini, berdasarkan dalil-dalil yang sahih,menjamakkan solat walaupun bukan dalam keadaan yang memerlukan adalah mubah dan sah. Ini bertepatan dengan cara yang diikuti oleh pengikut Mazhab Ahlulbait(as).

Keutamaan Sholat di Awal Waktu; Pandangan Al-Quran, Hadits dan Sirah Imam-imam Maksum dan Ulama

Pendahuluan

Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt dan sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi besar islam Muhammad saww dan kepada keluarganya yang suci dan jauhkanlah rahmatmu ya Allah atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk  tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah. Itu semua perlu juga kita perhatikan.

Sholat di awal waktu dalam pandangan Al-Quran

Allah swt berfirman: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[*]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”  [1]

Imam Shadiq as bersabda:

 امتحنوا شيعتنا عند مواقيت الصلاة كيف محافظتهم عليها

Ujilah syiah kami pada waktu-waktu sholat, bagaimana mereka menjaganya. [2]

Allah swt juga berfirman: “Celaka bagi orang-orang yang mendirikan sholat, yang mana mereka mendirikannya secara lalai.” [3] Berkenaan dengan ayat ini, Imam Shadiq as ditanya, beliau menjawab: “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang yang melalaikan sholatnya, dan ia tidak mendirikannya di awal waktu tanpa ada halangan (uzur).[4]

Keutamaan sholat di awal waktu dalam pandangan riwayat

Imam Bagir as bersabda:

اعلم ان اول الوقت ابدا افضل فتعجل الخيرابدا ما استطعت

 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal waktu itu adalah sebuah keutamaan, oleh karena itu laksanakanlah secepatnya pekerjaan baikmu selagi kamu mampu,.”[5]

Imam Shodiq as bersabda:

لفضل الوقت الاول على الاخير خير من ولده وماله

“Sesungguhnya keutamaan yang ada di awal waktu dibandingkan akhirnya lebih baik bagi seorang mukmin dari anak-anaknya dan hartanya.”[6]

Beliau juga dalam haditsnya yang lain bersabda:

فضل الوقت الاول على الاخير كفضل الآخرة على النيا

“Keutamaan awal waktu atas akhirnya sebagaimana keutamaan akherat terhadap dunia.”[7]

Imam Musa bin Jakfar as bersabda: “Sholat-sholat wajib yang dilaksanakan pada awal waktu, dan syarat-syaratnya dijaga, hal ini lebih wangi dari bunga melati yang baru dipetik dari tangkainya, dari sisi kesucian, keharuman dan kesegaran. Dengan demikian maka berbahagialah bagi kalian yang melaksanakan perintah shalat di awal waktu.”[8]

Imam Shadiq as bersabda: “Seorang yang mengaku dirinya haq (Syiah) dapat diketahui dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah: 1. Dengan penolongnya, siapakah mereka. 2. Dengan sholatnya, bagaimana dan kapan ia melaksanakannya. 3. Jika ia memiliki kekayaan, ia akan teliti dimana dan kapan akan ia keluarkan.[9]

Sholat di awal waktu cermin kesuksesan ruhani

Diantara salah satu rahasia penting sholat di awal waktu adalah keteraturan hidup dengan tolak ukur agama dan tidak lalai kepada tuhan. Adapun orang yang mendirikan sholat, namun tidak terikat dengan awal waktu, dasar tolak ukur hidup mereka adalah ditentukan oleh permasalahan selain tuhan, dan ketika masuk waktu sholat, mereka mendirikannya, namun terkadang di awal waktu, pertengahan dan atau diakhirnya, permasalahan ini sudah sangat merendahkan dan meremehkan sholat itu sendiri sebagai tiang dan pondasi agama bahkan merupakan rukun islam bagi setiap muslim, dan dengan demikian seseorang akan merasa bahwa setiap permasalahan duniawi yang datang, akan lebih ia dahulukan ketimbang mengerjakan sholat, seperti contoh: Di tengah pekerjaan, makanan sudah dihidangkan, dikarenakan teman atau tamu yang bertandang kerumah dan lain sebagainya dari permasalahan dunia yang menyebabkan kita lalai dan tidak mengerjakannya di awal waktu. Hal semacam ini adalah sebuah kejangkaan dan tidak komitmen terhadap urusan agama.

Adapun orang yang terikat -dengan urusan agama- mereka mendirikan sholat di awal waktu. Tolak ukur kehidupan mereka, mereka susun sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan oleh Ilahi. Dalam artian bahwa setiap pekerjaan telah disusun sedemikian rupa sehingga ketika datang waktu sholat, mereka tidak disibukkan dengan pekerjaan yang lain selain ibadah sholat. Dan perhatikanlah jika menjanjikan sasuatu jangan mendekati waktu sholat, dan jika hendak menyantap makan siang atau malam, hendaknya tidak pada waktu sholat, dan jika hendak mengundang tamu atau berpergian untuk tamasya, hendaknya disusun sesuai dengan waktu sholat. Dengan demikian ia telah menunjukkan bahwa untuknya agama dan sholat adalah segala-galanya. Permasalahan inilah yang memiliki pengaruh yang sangat dalam untuk membentuk jiwa seorang insan menuju kesempurnaan.

Sholat di awal waktu adalah rumus untuk dapat menguasai jiwa, hawa nafsu dan pikiran serta menentang keinginan syahwat, karena dengan cara mengatur waktu dan janji yang kuat, seorang manusia seiring dengan berjalannya waktu dapat menemukan dan berhadapan dengan berbagai ragam hawa nafsu. Ketika keragaman seperti makan, istirahat, rekreasi dan pekerjaan menghadang, yang mana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, namun dikarenakan waktu sholat telah tiba, hal itu dikesampingkan demi beribadah kepada Tuhannya (sholat), hal yang demikianlah yang disebut dengan tegarnya jiwa dan kuatnya iman.

Seorang yang ingin mendirikan sholatnya di awal waktu, tentu telah mengatur jadwal kehidupannya, misalnya: untuk dapat sukses melaksanakan sholat subuh di awal waktu, dia akan tidur lebih awal dan meninggalkan sebagian menu(kegiatan) yang menyebabkan ia begadang malam, karena hal itu bertentangan dengan keterjagaan di awal waktu. Di lain hal kita mengetahui bahwa bangun diwaktu(azan) subuh itu memiliki banyak barakah  dari sisi kejiwaan dan bahkan dari sisi materi.

Nah yang terpenting sekarang adalah kita harus mementingkan peranan sholat dalam diri kita, dan mulailah sejak saat ini mengambilnya sebagai rancangan yang mau tidak mau harus kita mulai dan kita kerjakan walaupun terkadang sering kali dalam memulainya kita ketinggalan untuk mengerjakan sholat itu di awal waktu, namun secepatnya kita mendirikannya. Bukan sebaliknya kemudian kita menaruhnya di akhir waktu, sehingga dengan cara ini, secara perlahan hal tersebut akan menjadi adat bagi kita untuk menjalankannya secara mudah dan tidak merasa beban. Dan ketika itulah sholat seseorang akan berbentur dengan keharuman dan kesucain yang luar biasa.

Dan Jika Tidak Sampai Laknatlah Aku

Almarhum Alamah Thabatabai dan Ayatullah Bahjat menukil dari almarhum Qadhi ra, ketika itu beliau berkata: “Kalau saja seorang yang mendirikan sholat wajibnya pada awal waktu dan ia tidak sampai pada jenjang yang tinggi (dari sisi keruhaniannya), maka laknatlah aku!.” (dalam naskah lain beliau berkata: “…maka ludahilah wajahku!”).

Awal waktu adalah rahasia yang sangat agung, karena firman allah swt yang berbunyi  “ حافظوا على الصلوات Peliharalah segala sholatmu…”, adalah salah satu poros dan sebagai pusat, dan selain itu juga terdapat firman Allah yang lain yang berbunyi “ واقيموا الصلاة Dan dirikanlah sholat…”, seorang insan yang mementingkan dan mengikat dirinya untuk mendirikan sholat di awal waktu, pada dasarnya itu adalah baik, dan memiliki pengaruh yang sangat besar dan positif untuk dirinya, walau tanpa dihadiri dengan sepenuh hati.[10]

Dari mana engkau dapatkan kedudukan ini

Mullah Mahdi Naroki yang sangat melatih dirinya dengan sifat-sifat baik seperti wara, kesucian, kesehatan, ketakwaan dan lain-lainnya, sehingga dengan itu semua beliau berhasil dapat melihat dengan mata akherat, berkata: “Pada hari raya, saya pergi berziarah ke tempat pemakaman, dan saya berdiri ke sebuah makam dan kepadanya saya katakan: “Adakah hadiah yang dapat engaku berikan padaku di hari raya ini?”.

Malam harinya ketika saya beranjak tidur, dalam mimpi, saya  melihat seseorang yang wajahnya indah dan bercahaya datang menghampiriku, dan berkata: “Datanglah esok hari ke makamku, akan aku berikan sesuatu kepadamu sebagai hadiah di hari raya”. Keesokan harinya aku datang kepemakaman yang diisyaratkan oleh mimpiku itu. Sesampainya aku di sana, tiba-tiba tersingkaplah alam barzah untukku. Ketika itu tampaklah sebuah taman yang indah dan sangat menakjubkan, di dalamnya ada sebuah pintu dan pepohonan yang sebelumnya tidak pernah seorang pun melihatnya, tapi aku dapat temukan di sana. Di tengahnya terdapat sebuah istana yang sangat megah berdiri kokoh. Kemudian saya diajak memasuki ke ruangan dalam istana, ketika aku masuk, aku melihat seseorang yang duduk penuh dengan keagungan di atas singgasana yang bertahtakan intan permata. Kepadanya aku katakan: “Dari golongan manakah engkau?. Ia menjawab: “Aku dari golongan orang-orang yang beribadah. Kemudian aku tanyakan kembali: “Dari manakah engkau dapatkan kedudukan ini?. Ia berkata: “Pekerjaan yang sehat, dan sholat berjamaah diawal waktu.[11]

Perjalanan Ahlul Bait as dalam Sholat di Awal Waktu:

Sholat Awal Waktu pada Perang Shiffiin (Shofain)

Dalam cuaca panas peperangan Shiffin, ketika imam Ali as sedang sibuk-sibuknya berperang, Ibnu Abbas ra melihat beliau yang sedang berada di tengah dua barisan perang itu, secara tiba-tiba menegadahkan wajahnya ke arah matahari, ia bertanya: “Wahai imam, Ya Amirul Mukminin, untuk apa hal itu engkau lakukan?. Beliau menjawab: “Aku melihatnya karena ingin memastikan apakah sudah masuk waktu sholat dzuhur, sehingga kita mendirikannya?. Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Apakah sekarang ini saatnya untuk mendirikan sholat?. Peperangan telah menghalangi kita untuk mendirikan sholat, imam menjawab: “Untuk apa kita berperang melawan mereka?, Bukankah kita berperang dengan mereka supaya kita dapat mendirikan sholat?, hanya karena sholat kita berperang melawan mereka. Setelah itu perawi berkata: “Imam Ali sama sekali tidak pernah meninggalkan sholat malamnya walaupun pada malam “Lailatul Harrir”[12] (Lailatul Harrir adalah sebuah malam yang sangat genting dimana pasukan  Imam Ali dan Muawiah (laknat Allah kepadanya) meneruskan perang mereka sampai pagi.)

Sholat Terakhir Imam Husain as

Siang hari dari sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari Asyura, keadaan yang begitu menyengat karena teriknya matahari, dan cuaca yang panas dengan peperangan yang tidak seimbang  sedang terjadi di tanah Karbala, salah seorang dari pembela Sayyidus Syuhada Imam Husain as bernama Abu Tsamamah Asshoidi kepada Imam berkata: “Wahai Aba Abdillah (Lakqab panggilan Imam Husain as), jiwaku aku korbankan untukmu, saya lihat para musuhmu ini sudah dekat denganmu, aku bersumpah demi Allah sungguh engkau tidak akan terbunuh, kecuali dengan seizin Allah aku kobankan dulu nyawaku, namun aku akan senang sekali menemui Tuhanku dalam keadaan aku telah menjalankan tugasku yaitu mendirikan sholat yang sekarang ini sudah saatnya melakukankan sholat dzuhur.

Seketika Imam Sayyidus Syuhada menengadahkan wajah suci beliau kearah langit dan melihat matahari (yang sudah condong) kemudian bersabda: “Engkau ingat akan sholat!, Semoga Allah swt menjadikan engkau termasuk orang-orang yang selalu ingat akan mendirikan sholat. Ya sekarang ini saatnya mendirikan sholat di awal waktu, mintalah dari mereka waktu sesaat untuk mengangkat senjata sehingga kita dapat mendirikan sholat. Seketika itu seorang yang terlaknat bernama Hashin bin Tamim berkata: “Sholat yang kalian dirikan tidak akan diterima., Kemudian perkataan itu dijawab oleh Habib bin Madzohir, dikatakan padanya: “Wahai peminum arak, kau pikir sholat yang didirikan oleh keluarga rasulullah saww tidak diterima Allah swt, sedangkan sholat yang kau dirikan diterima!, jangan kira begitu”.

Kemudian Imam Husain as mendirikan Sholat Khauf bersama segelintir para pembela beliau yang tersisa.[13]

Perjalanan Imam Khomaini dalam mendirikan sholat di awal waktu

Dalam sebuah media penerbitan yang menukil perkataan salah seorang dari putra Imam yang menceritakan bahwa: “Hari pertama kali Muhammad Reza Syah pergi, saat itu kami berada di kota Novel Losyatu. Hampir tiga atau empat ratus wartawan berkumpul mengelilingi rumah Imam, sebuah ranjang kecil disiapkan, dan Imam berdiri di atasnya. Seluruh kamera yang ada aktif mengontrol seluruh ruangan. Dan sesuai perjanjian setiap orang dari mereka melontarkan satu pertanyaan, setelah dua tiga pertanyaan, tiba-tiba suara azan terdengar, tanpa ada aba-aba Imam langsung meningalkan ruangan dan berkata: “Saat fadhilahnya (waktu yang diutamakan)  melaksanakan sholat dzuhur”. Semua orang yang hadir merasa heran dan takjub karena Imam meninggalkan ruangan begitu saja. Kemudian ada seseorang yang memohon kepada beliau untuk sedikit bersabar sampai minimalnya empat atau lima pertanyaan yang akan disampaikan beberapa wartawan, kemudian Imam dengan marahnya berkata: “Tidak bisa sama sekali” dan pergi meninggalkan ruangan.[14]

Imam Khomaini ra sampai akhir hayatnya, selalu merasa khawatir untuk tidak dapat menjalankan sholatnya di awal waktu, walaupun ketika beliau dirawat di rumah sakit. Dinukil dari Syekh Ansori ketika datang menjenguk beliau yang sedang dirawat, berkata: “Apakah engkau hendak mendirikan sholat?, kemudian beliau menggerakkan tangannya dan kami pun sadar bahwa beliau sedang beribadah sholat.[15]

Semua yang aku miliki dari menjalankan sholat di awal waktu

Hujjatul Islam Haji Hasyimi Nejad berkata: “Tempo lalu ada orang tua yang datang ke sebuah masjid bernama Loleh Zar pada bulan Ramadhan, ia termasuk seorang yang sukses di zaman itu, dan sebelum azan dikumandangkan ia selalu hadir di dalam masjid.

Kepadanya aku katakan: “Haji Fulan, saya lihat engkau termasuk orang yang sangat sukses, karena setiap hari saya datang ke masjid ini, pasti engkau lebih dahulu datang dariku dan mengambil tempat di salah satu bagian masjid. Ia menjawab: “Sebenarnya, semua yang aku miliki ini, karena sholat yang aku dirikan di awal waktu. Kemudian setelah itu ia meneruskan perkataannya: “Pada masa mudaku, aku pergi ke Masyhad dan aku berjumpa dengan Almarhum Haji Syekh Hasan Ali Bagceh-i, aku katakan padanya: “Aku memiliki tiga keinginan, dan aku ingin Allah memberikan ketiganya di masa mudaku, bisakah engkau mengajarkan sesuatu sehingga aku dapat mencapai semua keinginanku tadi.

Kemudian beliau bertanya, “Apa yang engkau inginkan; , aku katakan padanya: “Aku ingin di masa mudaku, aku bisa mengamalkan ibadah haji, karena ibadah haji di masa muda memiliki kelezatan tersendiri”.

Lalu ia berkata: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Dan kembali aku katakan: “Keinginanku yang kedua adalah aku ingin Tuhan memberikanku istri yang baik dan sholehah”.

Beliau pun menjawab: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Keinginanku yang terakhir aku katakan: “Aku ingin Allah memberikanku sebuah pekerjaan yang terhormat”.

Kemudian beliau menjawab sama seperti jawaban yang pertama dan kedua: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Setelah itu aku mulai jalankan amalan yang diajarkan Syekh itu kepadaku, dan dalam jangka waktu tiga tahun, Allah memberikan aku jalan untuk dapat menjalankan ibadah haji, dan mendapatkan istri yang mukminah dan sholehah dan memberikan padaku sebuah pekerjaan yang mulia.[16]  Allahu A’lam

Penulis: S2 Jurusan ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran

Sumber: http://www.Islamalternatif.net

* Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ada yang mengatakan bahwa sholat wusthaa itu adalah sholat dzuhur.


[1]  Surah Al-Baqarah ayat 238.

[2]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 23, dinukil dari kitab Qurbul isnad.

[3]  Surah almaaun ayat 3-4.

[4]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 6.

[5]  Idem dinukil dari kitab Asrar

[6]  Idem hal: 12, dari kitab Qurbul Isnad.

[7]  Idem dari kitab Tsawabul ‘Amaal.

[8]  Idem hal: 18-20, dinukil dari kitab Tsawabul ‘Amaal dan Almahasin

[9]  Idem.

[10]  Dar Mahzare Digaran, hal, 99.

[11]  Qeseha-e Namaz, hal: 92

[12]  Biharul Anwar, jilid 80 hal: 23 dinukil dari Irsyadul Qulub, Dailami.

[13]  Nafsul Mahmum, hal: 164.

[14]  Simo-e Farzonegan, hal: 159.

[15]  Dostonho-e Namaz, hal: 87. kemudian dikatakan bahwa Imam Khomaini setelah itu berkata: “Panggil perempuan-perempuan itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mereka”. Ketika mereka datang, beliau berkata: “Jalan, jalan yang sangat sulit dan meletihkan, kemudian beliau mengulangi perkataan beliau dan berkata: “janganlah kalian berbuat dosa”.

[16]  Idem.

Kontradiksi Imam Syafi’i vs Hadis Nabi SAW Tentang Bid’ah Hasanah !!! Petaka Salafi

Al Imam Syafi’iy Rahimahullah Dan Bid’ah Hasanah : Anomali Salafy

Salah satu dari sekian banyak anomaly salafy adalah sikap taklid pengikut salafy terhadap ulama mereka yang ujung-ujungnya sama saja dengan fanatisme mahzab yang biasa mereka cela. Tidak jarang sikap mereka ini ditutup-tutupi dengan gaya sok ilmiah. Ada contoh sederhana yang menggambarkan anomaly salafy ini yaitu soal pernyataan salah satu pengikut salafy kalau imam syafi’iy tidak pernah membagi bid’ah ke dalam bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Pengikut salafy ini hanya taklid kepada Syaikh salafy Ali Al Halaby dan Salim Al Hilali. Syaikh Ali Al Halaby menyatakan kalau atsar imam syafi’i tersebut diriwayatkan oleh perawi yang majhul [‘Ilmu Ushuulil-Bida’ hal 121]. Seperti biasa tulisan pengikut salafy itu dikutip atau dikupipes oleh banyak pengikut salafy lainnya. Silakan pembaca search ala google untuk menemukan tulisan para salafiyun yang kami maksud.

Pernyataan syaikh Ali Al Halaby kalau atsar imam syafi’i tersebut dhaif karena ada perawi yang majhul adalah mengada-ada dan hanya bisa mengecoh kaum awam salafy yang gemar bertaklid. Atsar imam syafi’i tersebut shahih tanpa keraguan.

حدثنا أبو بكر الآجري حدثنا عبد الله بن محمد العطشي حدثنا إبراهيم بن الجنيد حدثنا حرملة بن يحيى قال سمعت محمد بن إدريس الشافعي يقول البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان نعمت البدعة هي

 

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Ajurriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al ‘Athsyiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Junaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya yang berkata aku mendengar Muhammad bin Idris Asy Syafi’i berkata “bid’ah itu ada dua, bid’ah mahmudah [terpuji] dan bid’ah madzmu’ah [tercela]. Apa saja yang bersesuaian dengan sunnah maka ia terpuji dan apa saja yang bertentangan dengan sunnah maka ia tercela. Dan ia [syafi’i] berhujjah dengan perkataan Umar bin Khattab tentang shalat malam di bulan ramadhan “ini adalah sebaik-baik bid’ah” [Hilyatul Auliya Abu Nu’aim 9/113]

Atsar ini sanadnya hasan, para perawinya terpercaya kecuali ‘Abdullah bin Muhammad Al ‘Athasyiy dia seorang yang shaduq hasanul hadis. Tidak ada yang mencacatnya dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat.

  • Abu Bakar Al Ajurry atau Muhammad bin Husain bin ‘Abdullah Al Baghdadi penulis kitab Asy Syari’ah adalah seorang yang tsiqat. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Muhaddis Al Qudwah, Al Khatib berkata “tsiqat” [Tadzkirah Al Huffazh 12/40 no 888]
  • Abdullah bin Muhammad Al ‘Athasyiy seorang yang shaduq hasanul hadis. Al Khatib telah menyebutkan biografinya dalam Tarikh Baghdad tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil tetapi disebutkan bahwa telah meriwayatkan darinya Abu Bakar Muhammad bin Husain Al Ajurry, Ibnu Syahin dan Yusuf bin Umar Al Qawwas [Tarikh Baghdad 10/115-116 no 5239]. Al Ajurri adalah seorang yang tsiqat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ibnu Syahin atau Umar bin Ahmad Abu Hafsh disebutkan oleh Al Khatib kalau ia seorang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 11/264 no 6028]. Yusuf bin Umar Al Qawwas disebutkan oleh Adz Dzahabi kalau ia adalah seorang Imam Muhaddis yang tsiqat [As Siyar 16/474 no 351]. Sejumlah perawi tsiqat telah meriwayatkan hadisnya dan tidak ada satupun yang menjarah atau mencacatnya maka kedudukan hadisnya adalah hasan.
  • Ibrahim bin Junaid adalah Ibrahim bin ‘Abdullah bin Junaid, biografinya disebutkan oleh Al Khatib dan ia menyatakan Ibrahim bin Abdullah bin Junaid tsiqat [Tarikh Baghdad 6/119 no 3150]
  • Harmalah bin Yahya adalah seorang yang tsiqat. Al Uqaili menyatakan ia tsiqat, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 426]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/195]

Selain atsar riwayat Abu Nu’aim di atas perkataan Imam Syafi’i juga telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’iy dan Madkhal Ila Sunan Al Kubra dengan jalan dari Muhammad bin Musa bin Fadhl Abu Sa’id bin Abi Amru dari Abul Abbas Al Asham dari Rabi’ bin Sulaiman dari Imam Syafi’iy

أخبرنا أبو سعيد بن أبي عمرو ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا الربيع بن سليمان قال قال الشافعي رضي الله عنه المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتاباً أو سنة أو أثراً أو إجماعاً فهذه لبدعة الضلالة والثانية ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا فهذه محدثة غير مذمومة

 

Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’id bin Abi Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sulaiman yang berkata Syafii berkata “perkara-perkara baru yang diada-adakan itu ada dua, pertama yaitu apa-apa saja yang bertentangan dengan kitab Allah atau sunnah atau atsar atau ijma’ maka ini bid’ah dhalalah. Dan yang kedua yaitu apa-apa saja yang di dalamnya kebaikan tidak bertentangan dengan apa saja yang telah disebutkan [kitab Allah, sunah, atsar dan ijma’] maka inilah bid’ah yang tidak tercela [Madkhal Ila Sunan Kubra 1/206]

Atsar di atas juga diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Manaqib Asy Syafi’i 1/468-469 dengan sanad yang sama yaitu dari Muhammad bin Musa bin Fadhl dari Al Asham dari Rabi’ dari Imam Syafi’iy. Syaikh Salim Al Hilali dan Syaikh Ali Al Halabi mencacatkan atsar ini karena menurut mereka Muhammad bin Musa bin Fadhl seorang yang majhul tidak ditemukan biografinya. Pernyataan kedua ulama salafy ini jelas salah besar, atsar di atas shahih dan berikut keterangan mengenai para perawinya

  • Abu Sa’id bin Abi Amru adalah Muhammad bin Musa bin Fadhl Ash Shayrafiy seorang Syaikh yang tsiqat. Adz Dzahabi telah menyebutkan biografinya dalam As Siyar seraya berkata “Syaikh tsiqat ma’mun” [As Siyar 17/350 no 218]. As Safadi juga menyebutkan biografinya dan menyatakan ia tsiqat [Al Wafi 5/59]. Disebutkan kalau ia mendengar hadis dari Abul Abbas Al Asham dan ia telah dikenal sebagai Syaikh [gurunya] Baihaqi [Mausu’ah Rijal Sunan Baihaqi no 154]. Jadi sungguh aneh sekali kalau dua ulama besar salafy mengaku tidak menemukan biografinya.
  • Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf yang dikenal dengan Al ‘Asham. Adz Dzahabi menyebutnya Al Imam Al Muhaddis. Al Hakim menukil dari Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Abu Nu’aim bin Adiy dan Ibnu Abi Hatim bahwa Al ‘Asham seorang yang tsiqat [As Siyar 15/452-458 no 258]
  • Rabi’ bin Sulaiman adalah seorang yang tsiqat sahabat imam Syafi’i. Dia adalah salah satu Syaikh [gurunya] Nasa’i dimana Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Yunus dan Al Khatib menyatakan ia tsiqat. Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq tsiqat. Abu Hatim berkata “shaduq”. Al Khalili berkata “disepakati tsiqat” [At Tahdzib juz 3 no 473]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/294]

Jadi atsar imam syafi’i tentang bid’ah hasanah adalah shahih tanpa adanya keraguan dan ini membuktikan kejahilan salafy dan pengikutnya yang gemar bertaklid tanpa meneliti apakah yang dinyatakan oleh ulama mereka itu benar atau tidak. Beberapa situs salafy mengalami kebingungan soal bid’ah hasanah, mereka berkata kalau memang ada bid’ah hasanah maka bagaimanakah batasannya?. Aneh padahal telah jelas sekali batasan yang diberikan imam syafi’iy, jika perkara baru itu sesuai dengan kitab Allah dan Sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka itulah bid’ah hasanah.

Pengikut salafy juga berdalil dengan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat. Cara pendalilan salafy ini tidak benar karena bid’ah yang dimaksud dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah yang bersifat syar’i yaitu yang tidak memiliki landasan hukum dari kitab Allah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan yang memiliki landasan hukum dari kitab Allah dan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka bid’ah seperti ini bukan bid’ah syar’i tetapi dikembalikan kepada makna bid’ah lughawi [secara bahasa]. Inilah yang disebut imam syafi’i dengan bid’ah yang terpuji atau bid’ah hasanah.

Aneh bin ajaib, salafy dan pengikutnya tidak pernah sadar diri. Justru merekalah yang seharusnya kebingungan atau mengalami dilema dalam menyikapi berbagai hal baru atau bid’ah yang dibuat oleh para sahabat. Seperti misalnya pembukuan Al Qur’an yang jelas-jelas dikatakan oleh Abu Bakar ra dan Umar ra kalau hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Atau pelarangan haji tamattu oleh Umar, atau adzan kedua dalam shalat jum’at oleh Utsman bin ‘Affan. Kalau memang semua bid’ah itu sesat maka apa yang akan mereka katakan kepada ketiga sahabat Nabi shallallalhu ‘alaihi wasallam tersebut. Salam Damai

Yang jelas perkataan (sabda) Nabi SAW adalah paling utama dan paling layak diikuti. Dapat kita lihat dalam banyak hadis yang shahih, beliau SAW menyatakan berbagai keutamaan Imam Ali yang tidak mungkin mampu disamai oleh sahabat sahabat yang lain meski semua keutamaan sahabat sahabat tsb dikumpulkan jadi satu.

Hadis Imam Ali Penduduk Madinah Yang Paling Utama : Keutamaan Di Atas Abu Bakar, Umar Dan Utsman

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa sebagian sahabat menyatakan kalau Imam Ali adalah penduduk Madinah yang paling utama. Tidak diragukan lagi bahwa Madinah adalah tempat tinggal mayoritas sahabat besar kaum muhajirin dan anshar termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman, jadi adanya hadis ini menunjukkan di mata sebagian sahabat Imam Ali lebih utama dibanding para sahabat lainnya termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman.

حدثنا محمد بن أحمد بن الجنيد قال نا يحيى بن السكن قال نا شعبة قال نا أبو إسحاق عن عبد الرحمن بن يزيد عن علقمة عن عبد الله قال كنا نتحدث أن أفضل أهل المدينة ابن أبي طالب

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Junaid yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin As Sakaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari Alqamah dari ‘Abdullah yang berkata “kami mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling utama adalah Ibnu Abi Thalib” [Musnad Al Bazzar 5/20 no 1437]

Hadis ini sanadnya hasan. Para perawinya adalah perawi tsiqat kecuali Yahya bin As Sakaan dia seorang perawi yang hadisnya hasan.

  • Muhammad bin Ahmad bin Junaid adalah perawi yang tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 15639]. Telah meriwayatkan darinya Ibnu Abi Hatim dan ayahnya dimana Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 7/183 no 1039]. Telah meriwayatkan darinya Abdullah bin Ahmad [Al Ikmal Al Husaini no 758] dan Abdullah bin Ahmad seperti ayahnya [Ahmad bin Hanbal] hanya meriwayatkan dari orang yang perawinya tsiqat dalam pandangan mereka.
  • Yahya bin As Sakan termasuk sahabat Syu’bah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan kalau telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Hanbal [Ats Tsiqat juz 9 no 16282]. Ahmad bin Hanbal termasuk ulama yang hanya meriwayatkan dari perawi yang tsiqat menurutnya maka di sisi Ahmad, Yahya bin As Sakan itu tsiqat. Abu Hatim menyatakan “laisa bil qawiy [tidak kuat]” [Al Jarh Wat Ta’dil 9/155 no 643]. Di sisi Abu Hatim pernyataan ini berarti seorang yang hadisnya hasan atau tidak mencapai derajat shahih apalagi Abu Hatim sendiri termasuk yang meriwayatkan dari Yahya bin As Sakaan. Adz Dzahabi berkata “Yahya bin As Sakan mendengar dari Syu’bah, didhaifkan oleh Shalih Jazarah dan diterima oleh yang lainnya” [Al Mughni 2/735 no 6975]. Dalam biografi Yahya bin ‘Abbad Adh Dhuba’iy, Ibnu Main menyatakan kalau Yahya bin ‘Abbad seorang yang shaduq dan Yahya bin As Sakan lebih tsabit darinya [At Tahdzib juz 11 no 383]. Hal ini berarti di sisi Ibnu Ma’in, Yahya bin As Sakan seorang yang shaduq atau tsiqat.
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • Abu Ishaq adalah Amru bin Abdullah As Sabi’i perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, Nasa’i, Abu Hatim, Al Ijli menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah dan mengalami ikhtilath di akhir umurnya [At Taqrib 1/739]. Tetapi yang meriwayatkan darinya adalah Syu’bah dimana Bukhari dan Muslim telah berhujjah dengan riwayat Syu’bah dari Abu Ishaq begitu pula Bukhari Muslim telah berhujjah dengan riwayat Abu Ishaq dari ‘Abdurrahman bin Yazid An Nakha’i [Tahdzib Al Kamal 22/102 no 4400]
  • Abdurrahman bin Yazid An Nakha’iy adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat memiliki banyak hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat”. Daruquthni menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 583]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/596]
  • Alqamah bin Qais An Nakha’iy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit faqih dan ahli ibadah [At Taqrib 1/687]

Riwayat Abdullah bin Mas’ud di atas sanadnya hasan. Yahya bin As Sakan adalah seorang yang hadisnya hasan dan dalam periwayatannya dari Syu’bah ia memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Ja’far yaitu riwayat berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قثنا محمد بن جعفر نا شعبة عن أبي إسحاق عن عبد الرحمن بن يزيد عن علقمة عن عبد الله قال كنا نتحدث ان أفضل أهل المدينة علي بن أبي طالب

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari ‘Alqamah dari ‘Abdullah yang berkata “kami mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling utama adalah Ali bin Abi Thalib” [Fadha’il Ash Shahabah no 1033]

Hadis ini sanadnya shahih dengan syarat Bukhari dan Muslim. Abdullah bin Ahmad dan ayahnya Ahmad bin Hanbal telah dikenal dan disepakati ketsiqahannya. Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]. Sedangkan sisa perawi lainnya adalah perawi shahih sebagaimana telah berlalu penjelasannya.

Maka riwayat Ahmad bin Hanbal disini kedudukannya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim. Muhammad bin Ja’far atau Ghundar adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah dan disini ia memiliki mutaba’ah dari Yahya bin As Sakan seorang yang hasanul hadits. Kesimpulannya riwayat tersebut shahih tanpa keraguan.

.

.

Penjelasan Hadis

Hadis tersebut menggunakan lafaz “kami” dimana secara umum dalam ilmu hadis lafaz ini menunjukkan para sahabat atau mayoritas sahabat atau ijma’ sahabat. Tentu dengan pengertian ini maka dapat dikatakan kalau mayoritas sahabat atau ijma’ sahabat menganggap Imam Ali adalah penduduk Madinah yang paling utama. Diketahui pula bahwa Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu] dan Utsman [radiallahu ‘anhu] termasuk penduduk madinah dan diriwayatkan dalam atsar Ibnu Umar kalau sebagian sahabat mengutamakan Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman diatas para sahabat lainnya.

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ بَزِيعٍ حَدَّثَنَا شَاذَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنَّا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ثُمَّ عُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ ثُمَّ نَتْرُكُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نُفَاضِلُ بَيْنَهُمْ

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Bazii’ yang menceritakan kepada kami Syadzaan yang menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abi Salamah Al Majsyuun dari Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu Umar radiallahu’anhuma yang berkata “kami di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam tidak membandingkan Abu Bakar dengan seorangpun kemudian Umar kemudian Utsman kemudian kami membiarkan sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam yang lain dan tidak mengutamakan siapapun diantara mereka” [Shahih Bukhari no 3697]

Maka sudah seharusnya kita memahami kalau atsar Ibnu Mas’ud bukan sebagai mayoritas sahabat atau ijma’ sahabat tetapi sebagian sahabat. Jadi makna atsar Ibnu Mas’ud adalah sebagian sahabat menganggap Imam Ali sebagai orang yang paling utama diantara penduduk madinah. Begitu pula atsar Ibnu Umar di atas dipahami bahwa sebagian sahabat lain telah mengutamakan Abu Bakar kemudian Umar kemudian Utsman kemudian setelah Utsman mereka tidak mengutamakan siapapun diantara para sahabat bahkan mereka juga tidak mengutamakan Imam Ali di atas para sahabat lainnya.

Di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sendiri yang mengutamakan Imam Ali di atas para sahabat lainnya. Siapakah yang ditunjuk di Khaibar yang dikatakan sebagai “mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya”?, bukan Abu Bakar, bukan Umar dan bukan Utsman tetapi Ali bin Abi Thalib. Siapakah yang dikatakan kedudukannya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Bukan Abu Bakar, bukan Umar dan bukan Utsman tetapi Ali bin Abi Thalib. Siapakah yang dikatakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di ghadir khum dimana Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutamakannya di atas semua sahabat lainnya? Bukan Abu Bakar, bukan Umar dan bukan Utsman tetapi Ali bin Abi Thalib. Siapakah yang Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] katakan sebagai Ahlul Bait salah satu Ats Tsaqalain pegangan umat agar tidak tersesat sepeninggal Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam]? Bukan Abu Bakar, bukan Umar dan bukan Utsman tetapi Ali bin Abi Thalib. Justru aneh sekali kalau sebagian sahabat itu tidak mengutamakan Imam Ali di antara sahabat lainnya bahkan setelah Utsman pun mereka menganggap Imam Ali tidak lebih utama dari sahabat yang lain. Kami disini lebih memilih pandangan sebagian sahabat yang mengutamakan Imam Ali di atas para sahabat lainnya termasuk  di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman karena pendapat ini kami nilai dalilnya lebih kuat berdasarkan berbagai hadis shahih Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada lagi yang aneh terkait hadis Ibnu Umar di atas, munculnya kelompok yang ngaku-ngaku salafy terus mengartikan hadis Ibnu Umar berarti terdapat ijma’ sahabat yang mengutamakan Abu Bakar, terus Umar dan terus Utsman. Baik sadar atau tidak mereka ini sudah inkonsisten atau tanaqudh atau menentang dirinya sendiri. Kalau memang atsar Ibnu Umar di atas dipandang ijma’ sahabat maka yang pertama menentang ijma’ itu adalah mereka sendiri, toh kelompok itu mengakui bahwa setelah Utsman, Imam Ali adalah sahabat yang paling utama diantara yang lainnya, secara bahasa mereka Imam Ali itu utama yang keempat. Nah ini kan bertentangan dengan atsar Ibnu Umar yang jika diartikan ijma’ sahabat maka sahabat telah berijma’ kalau setelah Utsman mereka tidak mengutamakan satupun sahabat dari yang lainnya termasuk disini Imam Ali. Apakah mereka paham soal ini? tidak, inkonsisten ini malah dijadikan pilar utama dalam keyakinan mereka, bahkan dengan inkonsisten ini mereka menuduh siapapun yang melanggar dogma inkonsitensi yang mereka anut sebagai sesat atau menyimpang. Betapa kebodohan menjadi begitu menyakitkan dan betapa keangkuhan telah menjadi tameng untuk menolak kebenaran yang akhirnya membuat mereka sangat konsisten dalam inkonsistensi mereka.

.

.

 

Syubhat Para Pengingkar

Mereka yang suka melemahkan keutamaan ahlul bait tidak henti-hentinya menghembuskan syubhat. Setiap hadis keutamaan ahlul bait yang melebihi keutamaan Abu bakar dan Umar selalu saja ada syubhat yang dicari-cari. Diantara syubhat mereka untuk melemahkan hadis di atas adalah mereka mengatakan hadis tersebut lafaznya khata’ atau salah, yang benar adalah hadis berikut

أخبرنا وهب بن جرير بن حازم وعمرو بن الهيثم أبو قطن قالا أخبرنا شعبة عن أبي إسحاق عن عبد الرحمن بن يزيد عن علقمة عن عبد الله قال كنا نتحدث أن من أقضى أهل المدينة بن أبي طالب

Telah mengabarkan kepada kami Wahab bin Jarir bin Hazm dan ‘Amru bin Al Haitsam Abu Quthn yang keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari ‘Abdurrahman bin Yazid dari Alqamah dari Abdullah yang berkata “kami mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling mengetahui dalam masalah hukum adalah Ibnu Abi Thalib” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/81]

Hadis ini memang sanadnya shahih. Baik hadis ini dan hadis di atas keduanya shahih, keduanya diterima dan tidak ada pertentangan sedikitpun. Telah dibuktikan sebelumnya bahwa hadis dengan lafaz “penduduk madinah yang paling utama” adalah hadis yang shahih dan tsabit. Tidak ada dasar sedikitpun menyatakan lafaz hadis tersebut salah, mereka yang mengatakan ini memang sengaja mencari-cari syubhat untuk melemahkan hadis keutamaan Imam Ali. Sekali lagi hadis dengan lafaz “penduduk Madinah yang paling utama” telah diriwayatkan oleh Ghundar dan Yahya bin As Sakan dari Syu’bah dan Ghundar adalah orang yang paling tsabit riwayatnya dari Syu’bah. Jadi tidak ada dasarnya menyatakan lafaz hadis tersebut salah. Pendapat yang benar kedua hadis tersebut benar, Imam Ali adalah penduduk Madinah yang paling utama dan Imam Ali adalah penduduk Madinah yang paling mengetahui atau paling ahli dalam masalah hukum.

Syubhat lain yang dihembuskan adalah mereka menyimpangkan makna hadis tersebut yaitu bahwa Imam Ali adalah penduduk Madinah yang paling utama setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman. Jadi dengan ini mereka tetap bisa menyatakan kalau hadis ini tidak menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman. Inipun sebenarnya hanya syubhat yang dicari-cari, prinsipnya kita berpegang pada zahir lafaz. Lafaz hadis ini umum, bukankah Abu Bakar, Umar dan Utsman adalah penduduk Madinah maka jika ada sebagian sahabat mengatakan Imam Ali penduduk Madinah yang paling utama maka itu berarti menurut mereka Imam Ali lebih utama dari Abu Bakar, Umar dan Utsman.

.

.

 

Kesimpulan

Sebagian sahabat memang diketahui mengutamakan Imam Ali diatas para sahabat lainnya termasuk Abu Bakar, Umar dan Utsman dan sebagian sahabat lainnya mengutamakan Abu Bakar, Umar dan Utsman di atas para sahabat lainnya dan setelah itu mereka tidak menganggap Imam Ali lebih utama dari sahabat yang lain. Perbedaan pandangan di sisi para sahabat adalah hal yang wajar, justru yang tidak benar adalah doktrin yang dianut sebagian orang kalau ijma’ sahabat menganggap Abu Bakar, Umar dan Utsman lebih utama dari Imam Ali. Jika dikatakan sebagian sahabat maka itulah yang benar tetapi jika dikatakan ijma’ sahabat maka itu jelas keliru. Terdapat riwayat shahih dimana sebagian sahabat mengutamakan Imam Ali seperti yang telah ditunjukkan di atas.

membungkam para salafy berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy berkeras [bin ngotot] kalau Najd yang dimaksud dalam hadis Fitnah Najd adalah Iraq bukannya Najd yang ada di Jazirah Arab. Cara pendalilan mereka ini telah kami bahas dan merupakan fallacy [sesat pikir] yang sangat nyata

Dimanakah Masyriq Pada Hadis Fitnah [Najd] : Rabiah Mudhar Ahlul Masyriq

Tulisan ini bisa dibilang pengulangan yang disertai dengan sedikit tambahan untuk membungkam para salafy berkaitan dengan hadis Najd. Seperti yang kita ketahui bersama, salafy berkeras [bin ngotot] kalau Najd yang dimaksud dalam hadis Fitnah Najd adalah Iraq bukannya Najd yang ada di Jazirah Arab. Cara pendalilan mereka ini telah kami bahas dan merupakan fallacy [sesat pikir] yang sangat nyata

.

Hadis Fitnah Timur : Najd

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا وكيع عن عكرمة بن عمار عن سالم عن ابن عمر قال خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم من بيت عائشة فقال رأس الكفر من ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان يعني المشرق

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ikrimah bin ‘Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata “sumber kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

وحدثني حرملة بن يحيى أخبرنا ابن وهب أخبرني يونس عن ابن شهاب عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وهو مستقبل المشرق ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا ها إن الفتنة ههنا من حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dan Beliau menghadap kearah timur “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Kedua hadis di atas dengan jelas menyebutkan tentang masyriq [timur] sebagai arah tempat datangnya fitnah atau arah munculnya tanduk setan. Pertanyaannya adalah timur yang dimana?. Salafy mengatakan bahwa di masa arab dahulu istilah timur barat sama halnya dengan istilah kanan kiri. Artinya di sebelah kanan adalah timur dan disebelah kiri adalah barat. Salafy menginginkan dengan pengertian tersebut maka arah timur yang dimaksud tidak mesti tepat di timur arah mata angin sekarang. Syubhat salafy ini terbantahkan dengan adanya berbagai hadis shahih yang menunjukkan kalau arah timur yang dimaksud adalah arah matahari terbit. Yaitu hadis berikut

حدثنا عبد الله ثنا أبي ثنا أبو سعيد مولى بنى هاشم ثنا عقبة بن أبي الصهباء ثنا سالم عن عبد الله بن عمر قال صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم الفجر ثم سلم فاستقبل مطلع الشمس فقال ألا ان الفتنة ههنا ألا ان الفتنة ههنا حيث يطلع قرن الشيطان

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id mawla bani hasyim yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Abi Shahba’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Salim dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat fajar kemudian mengucapkan salam dan menghadap kearah matahari terbit seraya bersabda “fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan” [Musnad Ahmad 2/72 no 5410 dengan sanad shahih]

حدثنا موسى بن هارون ثنا عبد الله بن محمد بوران نا الأسود بن عامر نا حماد بن سلمة عن يحيى بن سعيد عن سالم عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه و سلم استقبل مطلع الشمس فقال من ها هنا يطلع قرن الشيطان وها هنا الفتن والزلازل والفدادون وغلظ القلوب

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin Sa’id dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kearah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/74 no 8003 dengan sanad shahih]

Tidak hanya soal arah yang dimaksud timur matahari terbit. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan nama tempat yang dimaksud yang sesuai dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Tempat tersebut adalah Najd

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah muncul tanduk setan” [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Najd disini bukanlah Iraq karena antara Najd dan Iraq hanya Najd yang merupakan tempat dengan arah timur matahari terbit dari Madinah. Salafy bisa saja berdalih kalau Iraq juga terletak di timur madinah dengan alasan kanan Madinah adalah timur dan kiri Madinah adalah barat tetapi dalih tersebut tertolak dengan penjelasan arah  yang dimaksud adalah timur matahari terbit. Irak tidak terletak pada arah timur matahari terbit. Siapapun yang berada di Madinah dan menyaksikan arah terbitnya matahari kemudian ia menelusuri jalan dengan arah tersebut maka ia akan sampai di Najd bukan di Iraq.

Selain menunjukkan nama tempat tersebut, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan ciri-ciri orang atau penduduk di tempat tersebut. Diantaranya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan kalau orang-orang disana [tempat munculnya fitnah] adalah orang yang berhati sombong dan angkuh termasuk pengembala unta atau dikenal dengan sebutan Ahlul wabar.

حدثنا يحيى بن يحيى قال قرأت على مالك عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رأس الكفر نحو الشرق والفخر والخيلاء في أهل الخيل والإبل الفدادين أهل الوبر والسكينة في أهل الغنم

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qara’tu ala [aku membacakan kepada] Malik dari Abi Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik orang-orang pengembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan kelembutan ada pada pengembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

حدثنا عبدالله بن عبدالرحمن أخبرنا أبو اليمان عن شعيب عن الزهري حدثني سعيد بن المسيب أن أبا هريرة قال سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول جاء أهل اليمن هم أرق أفئدة وأضعف قلوبا الإيمان يمان والحكمة يمانية السكينة في أهل الغنم والفخر والخيلاء في الفدادين أهل الوبر قبل مطلع الشمس

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Yaman dari Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah berkata aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Penduduk Yaman datang, mereka bertingkah laku halus dan berhati lembut iman di Yaman, hikmah di Yaman, kelembutan ada pada penggembala kambing sedangkan kesombongan dan keangkuhan ada pada orang-orang Faddadin Ahlul Wabar [arab badui] di arah terbitnya matahari [Shahih Muslim 1/71 no 52]

Kedua hadis di atas menyebutkan tempat munculnya fitnah adalah tempat pada arah timur matahari terbit dimana orang-orang disana dikenal sebagai pengembala unta, orang yang berhati kasar sombong dan angkuh yang merupakan tabiat kebanyakan dari ahlul wabar atau arab badui. Ahlul wabar bisa diartikan sebagai orang arab badui karena tempat tinggal mereka terbuat dari al wabr atau bulu. Di masa Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] Ahlul wabar tinggal di Najd.

.

.

Rabi’ah dan Mudhar Ahlul Masyriq

Selain menyebutkan ciri-ciri mereka, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga menyebutkan kabilah mereka yang dikenal sebagai Rabiah dan Mudhar. Rabi’ah dan Mudhar dikenal sebagai Ahlul Masyriq [penduduk timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن إسماعيل قال حدثني قيس عن عقبة بن عمرو أبي مسعود قال أشار رسول الله صلى الله عليه وسلم بيده نحو اليمن، فقال الإيمان يمان هنا هنا، ألا إن القسوة وغلظ القلوب في الفدادين، عند أصول أذناب الإبل، حيث يطلع قرنا الشيطان، في ربيعة ومضر

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Isma’il yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi Mas’ud yang berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya kearah Yaman dan berkata “Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang Faddadin [arab badui atau pedalaman] yang sibuk dengan unta-unta mereka dari arah munculnya tanduk setan [dari] Rabi’ah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

Dalil-dalil di atas hanya pengulangan dari tulisan kami sebelumnya tetapi disini akan kami tambahkan sedikit dalil shahih kalau Rabiah dan Mudhar adalah penduduk Masyriq [timur] di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Berikut hadis yang memuat keterangan tentang Rabi’ah dan Mudhar

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أُتَرْجِمُ بَيْنَ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبَيْنَ النَّاسِ فَقَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ الْوَفْدُ أَوْ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا رَبِيعَةُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى قَالُوا إِنَّا نَأْتِيكَ مِنْ شُقَّةٍ بَعِيدَةٍ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيَكَ إِلَّا فِي شَهْرٍ حَرَامٍ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ نُخْبِرُ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا نَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ قَالَ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَتُعْطُوا الْخُمُسَ مِنْ الْمَغْنَمِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الدُّبَّاءِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّتِ قَالَ شُعْبَةُ رُبَّمَا قَالَ النَّقِيرِ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ قَالَ احْفَظُوهُ وَأَخْبِرُوهُ مَنْ وَرَاءَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ghundar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abi Jamrah yang berkata saya pernah menjadi penterjemah antara Ibnu Abbas dan orang-orang. [Ibnu Abbas] berkata “sesungguhnya delegasi [utusan] Abdul Qais pernah mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “siapakah utusan itu atau kaum itu?”. [para sahabat] berkata “Rabi’ah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “selamat datang kaum atau utusan semoga tidak ada kesedihan dan penyesalan. Mereka berkata “kami datang dari perjalanan jauh dan diantara tempat tinggal kami dan tempat tinggal-Mu terdapat perkampungan kaum kafir Mudhar sehingga kami tidak bisa datang kepadaMu kecuali pada bulan haram maka perintahkanlah kepada kami perintah yang dapat kami ajarkan kepada orang-orang di tempat kami dan karenanya kami dapat masuk surga. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan kepada mereka empat hal dan melarang mereka empat hal, memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah ‘azza wajalla satu-satunya. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tahukah kalian arti beriman kepada Allah satu-satunya?”. Mereka berkata “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan Shalat dan menunaikan zakat dan berpuasa di bulan ramadhan dan memberikan seperlima [khumus] dari harta rampasan perang [ghanimah] . Dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mereka dari meminum Ad Dubaa’ Al Hantam dan Al Muzaffat. Syu’bah berkata “terkadang Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan An Naqiir dan terkadang berkata Muqayyir. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hafalkanlah itu dan kabarkanlah kepada orang-orang di tempat kalian” [Shahih Bukhari 1/29 no 87]

Hadis di atas menjelaskan bahwa kabilah Abdul Qais adalah salah satu dari Kabilah Rabi’ah dan diantara tempat tinggal mereka dan tempat tinggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di madinah terdapat tempat tinggal kabilah Mudhar [yang masih kafir]. Pertanyaannya siapakah kabilah Abdul Qais ini dan dimana mereka tinggal. Terdapat dalil shahih yang menyebutkan kalau Abdul Qais termasuk penduduk Masyriq [timur]

حدثنا أحمد قال حدثنا شباب قال حدثنا عون بن كهمس قال حدثنا هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة عن النبي قال خير أهل المشرق عبد القيس

Telah menceritakan kepada kami Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaab yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Kahmas yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hassaan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang bersabda “penduduk Masyriq [timur] yang paling baik adalah Abdul Qais” [Mu’jam Al Awsath Thabrani 2/171 no 1615]

Hadis ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Berikut adalah keterangan mengenai para perawinya

  • Ahmad syaikh [guru] Thabrani dalam sanad di atas adalah Ahmad bin Husein bin Nashr Abu Ja’far Al ‘Askariy . Daruquthni menyatakan kalau ia seorang yang tsiqat [Su’alat Hamzah 1/146 no 144]
  • Syabab adalah Khalifah bin Khayaath termasuk salah satu syaikh [guru] Bukhari. Ibnu Adiy menyatakan ia hadisnya lurus shaduq. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan ia mutqin. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 3 no 304]. Adz Dzahabi menyatakan ia shaduq [Al Kasyf no 1409]
  • ‘Aun bin Kahmas adalah salah satu perawi Abu Dawud. Telah meriwayatkan darinya jamaah tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak dikenal”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Abu Dawud berkata “tidak disampaikan kepadaku kecuali yang baik” [At Tahdzib juz 8 no 313]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang shaduq hasanul hadis [Tahrir Taqrib At Thadzib no 5225]. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4319]
  • Hisyam bin Hassaan adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibnu Saad Ibnu Syahin, Utsman bin Abi Syaibah dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Abu Hatim dan Ibnu Adiy berkata “shaduq”. [At Tahdzib juz 11 no 75]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat dan termasuk orang yang tsabit riwayatnya dari Ibnu Sirin [At Taqrib 2/266]
  • Muhammad bin Sirin adalah perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dan ahli ibadah [At Taqrib 2/85]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 4898]

Hadis di atas menyebutkan kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebut Abdul Qais sebagai ahlul masyriq [penduduk timur] yang paling baik. Apakah masyriq [timur] yang dimaksud?. Arah timur manakah yang dimaksud?. Dimana sebenarnya tempat tinggal kabilah Abdul Qais?. Perhatikan hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ جُمُعَةٍ جُمِّعَتْ بَعْدَ جُمُعَةٍ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسْجِدِ عَبْدِ الْقَيْسِ بِجُوَاثَى مِنْ الْبَحْرَيْنِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aamir Al ‘Aqdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abi Jamrah Adh Dhuba’iy dari Ibnu Abbas yang berkata “sesungguhnya shalat jum’at yang pertama dilakukan setelah shalat jum’at di masjid Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah di masjid kabilah Abdul Qais di Juwatsa daerah Bahrain [Shahih Bukhari 2/5 no 892]

Jadi kabilah Abdul Qais yang termasuk salah satu kabilah Rabi’ah tinggal di Bahrain. Dimanakah Bahrain?. Bahrain adalah kawasan yang terletak di sebelah timur arah matahari terbit dari madinah. Kalau Bahrain adalah tempat tinggal kabilah Abdul Qais maka dimanakah tempat tinggal kafir Mudhar yang disebutkan dalam hadis  Bukhari sebelumnya terletak di antara madinah [tempat tinggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Bahrain [tempat tinggal Abdul Qais]. Jawabannya gampang, ambil peta dan lihat tempat itu adalah Najd.

أخبرنا عمر بن سعيد بن سنان قال أخبرنا أحمد بن أبي بكر عن مالك عن عبد الله بن دينار عن ابن عمر أنه قال رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يشير نحو المشرق ويقول ( ها إن الفتنة ها هنا إن الفتنة ها هنا من حيث يطلع قرن الشيطان ) قال أبو حاتم رضي الله عنه مشرق المدينة هو البحرين و مسيلمة منها وخروجه كان أول حادث حدث في الإسلام

Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Sa’id bin Sinaan yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Bakar dari Malik dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar yang berkata sesungguhnya aku melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengarahkan tangannya kea rah timur dan berkata “dari sini fitnah dari sini fitnah dari sini dari arah munculnya tanduk setan”. Abu Hatim berkata “timur madinah adalah Bahrain, Musailamah berasal darinya dan keluar darinya dialah yang pertama membuat bid’ah dalam islam” [Shahih Ibnu Hibban 15/24 no 6648 Syaikh Al Arnauth berkata “shahih dengan syarat Bukhari Muslim]

Kawasan Bahrain dan sekitarnya termasuk Najd adalah kawasan yang di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikenal sebagai masyriq [timur] sehingga penduduknya Rabi’ah dan Mudhar disebut sebagai ahlul masyriq.

 

Najd dan BahrainNajd dan Bahrain

Jadi hadis fitnah yang katanya muncul dari arah timur matahari terbit dari arah munculnya tanduk setan dari Rabiah dan Mudhar maka sangat jelas tempat yang dimaksud adalah Najd sebagaimana yang tertera jelas dalam hadis shahih.

Catatan : sedikit tentang Bahrain, dahulu Bahrain meliputi daerah kawasan timur yaitu Ahsa, Qatif dan Awal. Sekarang Ahsa dan Qatif menjadi bagian dari propinsi timur Arab Saudi dan Awal menjadi yang sekarang dikenal sebagai kepulauan Bahrain. Jadi dahulu Bahrain itu bersebelahan dengan Najd. Selengkapnya tentang Bahrain dapat dibaca disini. Gambar dicomot dari Mbah Gugel blog-nya salafytobat

Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur

Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.

.

.

Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]

Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar.

.

.

.

Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. [Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.

Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.

Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah” mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]

Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk [Sirah Ibnu Hisyam 2/562]

Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

.

.

.

Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]

Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]

Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkan isyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan “tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].

Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur” yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”

Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.

.

.

.

Keutamaan Yang Memerangi Khawarij

Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” [Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”

Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”

.

.

.

Kesimpulan

Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij. Salam Damai