Pembantaian Keluarga Nabi SAW !!!

Syair Imam Husein a.s :

 

Jika agama kakekku takkan tegak kecuali dengan jalan harus dibunuhnya aku..?
Maka, wahai pedang-pedang kaum durjana perangilah aku..!
Wahai kematian, datanglah dan aku menyongsongmu
Ketahuilah, batas kehidupan dan kematian adalah semu.
Aku lindungi keluarga Muhammad SAW darimu
Aku perangi kalian dengan tanpa ragu dan jemu
Bagiku kehidupan dan kematian adalah sama
Kematian sang at indah di mata sang kesatria
Kehidupan adalah masa di mata sang jawara.
Kematian pasti datang mencari mangsa
Celakalah orang yang menjajakan agama demi harta dan tahta
Celakalah orang yang memerangi Marga Thoha
di akhirat nanti mereka akan merangkak mengemis iba.

Di dalam kemah tangisan para putri Nabi SAW semakin menjadi, tak tega melihat putra bungsu Al-Husain’As yang berusia 5 bulan menggelepar kehausan, suara tangisannya parau dan lirih. Al-Husain As membawa, mengangkatnya tinggi-tinggi bayi itu agar tampak oleh lawan, memohon secangkir air bagi bayinya, dengan bersabda:

” Hai kaum durjana… kalian biarkan kaum Yahudi dan Nasrani bahkan kuda, anjing dan babi minum di sungai Eufrat. Aku mohon secangkir saja untuk bayi ini…! “

Seorang pasukan lawan menjawab sambil melepaskan anak panahnya: Inilah air kiriman dariku..! Al-Husein As terkejut mendengar tangis bayinya terhenti seketika… Al-Husain As terhentak merasakan cairan hangat mengaliri kepala, wajah, terus turun kebawah, dan ternyata darah..! Bayi itu diturunkannya, sekujur tubuh Al-Husain As menggigil melihat kenyataan yang tak terduga… Bayi itu diletakkan di atas tanah, Al-Husain As mencabut perlahan anak panah yang menancap di leher menembus dada bayinya, memancarlah darahnya, lalu ditadahinya dengan kedua telapak tangannya, dan dilemparkannya ke arah langit sambil berteriak:

” Terimalah persembahan awalku ya Allah…! “

Banyak penulis yang menyaksikan, darah yang dilemparkan kelangit itu, tidak turun kembali ke bumi. [Buku The Saviour oleh Antoane Bara ].

Inna Lillahi wa inna Ilaihi rojiun Ali Al-Ashghor wafat putra Imam Husain As yang terkecil. Al-Husein As memerintahkan menyerang satu persatu, mulai dari Sahabatnya, saudaranya, semuanya wafat, lalu giliran putranya yang terbesar bernama Ali Akbar. Ali Akbar menyerang dan terus menyerang lalu kembali menemui ayahnya:

” Duhai ayah Rasa haus ini mencekik leherku, kini seakan aku tak mampu lagi memegang pedang, adakah setetes air guna memulihkan tenagaku..? “
” Berperanglah semampumu nak… Kakekmu menantimu dan telah menyiapkan segelas madu merah dan surga nak…”

Ali Akbar menyerang memacu kudanya, lawannya menghujani anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya, sebuah tombak menghunjam dilambungnya, Ali Akbar terhuyung di atas kudanya Al-Husein melesat memeluknya agar tidak jatuh terjerembab ke tanah. Dalam pelukan ayahnya, Ali Akbar tersenyum dan bersuara parau:

Maafkan aku ayah…. Aku tidak mampu lagi membantumu… Aku sangat mencintaimu ayah…”

Bibirnya, sekujur tubuhnya bergetar dalam pelukan ayahnya, lalu Al-Husain mengucapkan:” Inna Lillahi wa Inna Ilaihi rojiun. terimalah persembahan awalku Ya Allah.. !
.
Al-Husain berperang tiada lesu dan jemu, pasukan Umar yang licik itu menghujani anak panah yang memenuhi sekujur tubuhnya, hingga Al-HusainAs tiada berdaya lagi, pasukan Umar mengitari, menebas kedua lengannya dengan terbahak-bahak.

Al-Husain As berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang tak berlengan, berjalan terhuyung-huyung menuju ke kemah adiknya, tiba-tiba tiga tombak dihunjamkan dan robohlah sang pahlawan Rasulullah SAW itu..!

Sy Zainab menutup matanya, lalu membukanya kembali dan terlihat matahari memerah seakan marah, membelalakkan mata seakan murka menyaksikannya, dan terhentak terhenti dari peredarannya, tiada mau masuk keperaduannya.

Kemudian datanglah Syimir bin Zil Jauzan dengan beringas bangga sambil terbahak-bahak mencabuti tombak, anak panah dengan kasar, lalu duduk di dada Al-Husain As, yang semakin menyesakkan nafasnya, Al-Husain As dengan nafas yang tersisa bersabda:

H : Siapakah engkau..? Dan apa yang membuatmu menjadi begitu biadab..? siapakah aku yang kau duduki dadanya ini..?
S : Aku Syimir dan engkau Husain bin Ali..
H : Bila kau tahu, mengapa kau masih berniat membunuhku..?
S : Aku mengharap imbalan dari khalifah Yazid..
H : Tidakkah kau harapkan syafaat dari kakekku..?
S : Imbalan dari Yazid lebih aku dambakan..
H : Sebelum kau bunuh, berilah aku air minum dulu…
S : Bukankah kakekmu telah menyiapkannya di surga..?
H : Bukalah penutup wajahmu dan kakekku bersabda: pembunuhku, lelaki berwajah rusak menakutkan dan di sekujur tubuhnya berbulu sangat kasar, hingga tidak memikat babi hutan.
S : Engkau dan kakekmu sama-sama terkutuk dan akan aku potong pada setiap persendianmu dengan perlahan, sebagai imbalan dari ucapan kakekmu itu…!

Syimir mulai melucuti persendian jari-jari kaki, tangan Al- Husain As dengan perlahan, pada puncak kegeramannya Syimir menempelkan pedangnya di leher Al-Husain, tetapi pedang Syimir tak dapat melukai leher Al-Husain As, Syimir berganti-ganti pedang, namun lehernya tak tergoreskan, Syimir menekan pedangnya di leher Al-Husain, lalu menggeleng-gelengkan kepala Al-Husain dan tetap saja leher itu tak tergoreskan. Syimir bingung, putus asa, kemudian datang seseorang yang melihatnya berkata: Leher Al-Husain itu selalu diciumi oleh Rasulullah SAW.

Syimir membalik, menelungkupkan tubuh Al Husain As yang tak berdaya, Al-Husain mengarahkan pandangannya tertuju kepada sy Zainab adiknya…. Syimir menyembelihnya dari belakang lehernya…. Sy Zainab menjerit, pekikkannya merobek-robek langit. Bersama kewafatan Al-Husein As, mataharipun terjun menenggelamkan dirinya kedalam bumi pada hari Jum’at tanggal 10 Muharram 61 H. Innalillahi wa inna Ilaihi rojiun….

Kudanya datang ke kemah Sy Zainab tanpa penunggangnya penuh dengan luka dan dengan air matanya berbela sungkawa.

Di Madinah, setiap sore mengamati air bercampur tanah di dalam botol yang tiba-tiba berubah menjadi darah dan Ummu Salamah ra menjerit menangis mengabarkan kepada orang akan wafatnya Al-Husain As, para Sahabat Nabi SAW menangis melaknat Yazid.

Kepala Al-Husain As ditancapkan di ujung tombak diarak dipertontonkan, dibelakangnya barisan keluarga Rasulullah SAW dirantai tangan dan kakinya di giring bagaikan tawanan perang yang dihinakan menuju Kufah hingga ke Syam.

Diperjalanan tiba-tiba alam menjadi gelap gulita, pasukan pengawal mengistirahatkan membuka rantai para tawanan, sy Syaharbanu ra keguguran karena kelelahan.

Pendeta Bhuhaira tertegun, berjalan menuju sinar yang menjulang kelangit dan diketahuinya pusat sinar itu dari kepala Al- Husain As yang tertancap diujung tombak.

Pendeta itu membayar mahal untuk meminjam semalam kepala Al-Husain As. Kepala Al-Husain As dibedirikan perlahan di atas meja, di bersihkannya kepala, wajahnya dari darah bercampur tanah yang melekatinya, mengelapnya dengan kapas dan air hangat, tanpa henti jari jemarinya bergerak lembut, meminyaki dan menyisir rambutnya hingga wajah Al-Husain As bersih ceria.

Pendeta Bhuhaira memandanginya, menciumi wajah mulia itu sambil berkata:

Aku yakin engkau orang mulia, keturunan orang mulia, salamku untukmu, ayahmu, kakekmu, bila engkau keturunan Ahmad Nabi akhir zaman, sampaikanlah salamku dan katakan aku beriman kepadanya nak…

Keluarga Nabi Muhammad SAW yang tersisa akhirnya sampai di Syam dalam keadaan kelelahan tangan, kaki membengkak berdarah karena rantai besi yang diikatkannya.

Tawanan disambut senyum kesinisan, tawa penghinaan, kalimat menyakitkan, sesampainya di Syam, kaki, tangan dibuka borgolnya dengan kasar oleh pengawal menampakkan kebencian yang dipamerkan dihadapan tuannya demi harapkan sanjungan dan jasa.

Pasukan lemparkan kepala Al-Husain As dengan kasar di lantai, Keluarga Nabi SAW terhentak menyaksikannya

oleh deraan kenyataan yang menyakitkan, penguasa tahta kedholiman, Yazid berbicara sambil menginjak kepala Al-Husain As, yang melihatnya pasti akan berkata:

Perbuatannya memerihkan mata. Hentakannya menyesakkan dada. Kalimatnya meledakkan kepala. Kata-katanya memekakkan telinga. Nada-nadanya melunglaikan raga Aksinya menjerat jiwa. Kesombongannya mendirikan bulu roma. Beginilah nasib pemburu akherat harus menerima dera nestapa dunia.

Saat diinjak, kepala Al-Husain As bersabda:

” Kamu telah memisahkan kepalaku dari tubuhku….” Kepala Al-Husain As dipecutinya hingga diam. [The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 148 ].

Ibnu Wakidah mendengar kepala Al-Husain As membaca Surat Al-Kahfi, Ibnu Wakidah ragu dan sangsi bila suara itu keluar dari lisan kepala itu, tiba-tiba beliau berhenti mengaji dan kepala Al-Husain menoleh ke arahnyanya sambil bersabda:

” Hai Ibnu Wakidah.. Tidakkah kamu tahu bahwa kami para Imam selalu hidup dan diberi rizki di sisi Tuhan-Nya..?”

Ibnu Wakidah berniat mencuri kepala itu dan menguburkannya, tiba-tiba kepala itu bersabda:

” Hai Ibu Wakidah… Tidak perlu melakukan hal itu, karena perbuatan mereka yang menumpahkan darahku lebih berat di sisi Allah SWT daripada yang membawaku berjalan di ujung tombak, maka biarkanlah, mereka kelak akan mengetahui, saat dibelenggu dengan rantai dileher mereka sambil diseret. [ The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 149 ] .

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS 2:154

” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di Jalan Allah [bahwa mereka itu] mati, bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.

Minhal bin Amr berkata:

Aku melihat kepala Al-Husain As di ujung tombak, di depannya ada seorang yang membaca Surat Al-Kahfi hingga sampai pada ayat:

” Dan [yang mempunyai] rahim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan… ” Kepala itu bersabda dengan bahasa yang fasih: Ada yang lebih mengherankan daripada Ashhabul Kahfi yaitu pembunuhan terhadapku dan membawa kepalaku. The Saviour: Al-Khshalsh As-Suyuthi 2:127 ].

Saat Yazid memerintahkan membunuh seorang utusan kaisar Romawi yang membela Al-Husain tiba-tiba kepala itu bersuara keras:

La haula wa la quwwata ilia Billah
The Saviour: Magtal Al-Awalim: 151].

Hampir sebulan Yazid terpuaskan dan akhirnya membebaskan. Kafilah suci pergi menuju Karbala guna menyambung jari jemari, betis, lengan disatukan dengan tubuh dan kepalanya, lalu jenazah Al-Husain dishalati dan dimakamkan di Karbala.

Kafilah suci lalu pergi menuju Madinah guna melaporkan semua kejadian kepada kakeknya kepada ibunya pertanda tugas suci Sy Zainab telah diselesaikan dengan baik.

Sesampainya di Madinah dari Karbala, seluruh keluarga itu mengalami keguncangan yang kesekian kalinya, kali ini ledakan dahsyat dalam hati dan fikiran menyatu dalam perasaan ingin mengadukan kepada kakeknya Rasulullah SAW di pusaranya.

Semuanya berlari ingin segera mencapai pusara, di masjid Nabawi, setelah melihat makam kakeknya, tubuh beliau itu terhenti, mendadak bergetar dan lunglai terjatuh di pelataran masjid, beliau tak mampu berdiri lagi dan merangkak menuju pusara Nabi Muhammad SAW guna menguras isi hatinya.
Sy Zainab ra membuat acara peringatan Arbain, seluruh penduduk Madinah hadir dan menangisi Al-Husain As.

Yazid mendengar dan merasa khawatir lalu bersurat kepada Walid gubernur Madinah, yang kemudian mengusir sy Zainab ra dari Madinah, pergi ke Mesir. Sy Syaharbanu ra istri Imam Husain As menuju kemakam Rasulullah SAW, menangis, mengadu:

Benar sabdamu ya Rasulullah bahwa: Ahlul Baitmu padanan Al- Qur’an yang tak dapat dipisahkan. Dahulu di Shiffin pasukan Muawiyah menancapkan AlQur’an di ujung tombak untuk melanggengkan kekuasaannya. Kini di Karbala pasukan Yazid bin Muawiyah menancapkan kepala Husainmu, Ahlul Baitmu diujung tombak pula demi melanggengkan kekuasaannya. Dan sempurnalah kekejian Bani Umaiyah terhadap Bani Hasyim….

Benar sabdamu ya Rasulullah…. Kesyahidan Al-Husain membuat tiara di dalam hati orang orang beriman yang tidak akan pernah padam untuk selama-lamanya. Ya Rasulullah… doakan aku segera menyusulnya… Demi Allah… Aku tak sanggup hidup lagi…

Sy Syaharbanu memohon kepada kerabatnya untuk segera membongkar atap rumahnya, sambil menangis Imam Ali Zainal Abidin As bersabda:

ZA : ” Duhai ibuku…Bila atap rumah ini dibongkar maka engkau akan wafat oleh sengatan panasnya matahari Bu…”
Ibu: ” Aku telah menyaksikan ayahmu selalu terkena sengatan matahari dalam keadaan haus dan lapar dipaksa untuk berperang dan wafat kehausan…. Apakah aku akan lari dari sengatan matahari nak.? Keinginanku segera wafat nak… Dan engkau ku titipkan kepada Allah SWT… Maafkan… maafkan ibu nak… Aku tak dapat melupakan saat ayahmu ditelungkupkan nak… Semoga Allah memberikan ketabahan kepadamu nak.”

Semakin lama semakin banyak yang meminangnya, akan tetapi setiap pinangan yang hadir, bagai tusukan duri di hatinya. Setahun kemudian Syaharbanu wafat. Inna Lillahi w a inna Ilaihi rojiun…

Kita telah mengetahui sekelumit perjuangan, penderitaan Ahlul Kisa’ As yang sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

” Tiada penderitaan [ujian] seorang Nabipun seperti penderitaanku dan tiada penderitaan sebuah keluarga pun seperti penderitaan keluargaku.

Tiada Zat Semulia Allah SWT
Tiada Malaikat semulia Jibril As
Tiada Kitab semulia Al-Qur’an
Tiada Nabi semulia Nabi Muhammad SAW
Tiada Insan semulia Ahlul Bait As.

Al-Hasan dan Al-Husain yang benihnya ditanam oleh Rasulullah SAW dan tunasnya terpelihara di istana ke-Nabian dan di taman ke Imaman hingga berbunga dengan aroma semerbak keharumannya. Harum kebenaran Ilahi di atmosfer akidah Islami. Penyejuk mata dan hati bagi Sang Nabi.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW naik di atas mimbar dalam keadaan sedih meletakkan telapak tangan kanannya di kepala Al- Hasan dan yang kiri di kepala Al-Husain lalu bersabda:

” Ya Allah…. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Rasul-Mu.. dua anak ini adalah keturunanku yang terbaik dan utama yang aku tinggalkan di tengah umatku, Jibril As telah memberitahuku bahwa keduanya akan diburu dan dibunuh dengan racun dan pedang.
Ya Allah…. Berkahilah ia dalam kesyahidannya dan jadikanlah dia penghulu para Syuhada….

Rasulullah SAW saat mengimami shalat Isya’ dalam sujudnya sangat lama, setelah shalat Sahabat bertanya mengapa saat sujud tadi sangat lama ya Rasulullah…? Rasul SAW: ” Husain naik dipunggungku, aku biarkan sampai ia turun sendiri…! “

Rasulullah SAW memberikan manisan lebih banyak kepada salah seorang teman Al-Husain As, saat Al-Husain bertanya, maka Rasulullah SAW bersabda:

” Temanmu yang satu itu lebih mencintaimu ya Al-Husain…

Pada acara Arbain para penyair dari berbagai daerah bahkan luar negeri berdatangan dengan mempersiapkan syair-syairnya untuk dibaca pada acara tersebut, sangat banyak yang membawakan syairnya secara bergantian, tidak terhitung banyaknya penyair yang pingsan pada saat membaca syairnya itu. Ada seorang pemuda belia yang rupawan naik keatas panggung sambil membawa secarik keatas cukup lama dia berada di atas panggung karena perasaan cintanya kepada Al- Husain As pemuda itu tak mampu berucap pandangan matanya mengarah ke atas tubuh dan bibirnya bergetar dari sela-sela bibirnya keluar suara ” Yaa Husain…” lalu pingsan.

Syair pujian Khalil Gibran untuk Imam Husain as:

” Kesyahidan yang dipersembahkan oleh Al-HusainAs mengajarkan kepada manusia bagaimana dari keadaan teraniaya bisa meraih kemenangan.”

Mahatma Gandhi yang beragama Hindu dari India:

” Kesyahidan Husain itu mengajarkan kepada jiwa bagaimana ia menyalakan, berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa mencerahkan yang utama dan prinsip-prinsip yang luhur, sehingga interaksinya menggoncangkan tabiat, seperti kegoncangan yang jatuh cinta yang kacau pikirannya karena mengingat rupa kekasihnya, kemudian ia mengekalkannya dalam kalam, syair, dan keindahan, hingga catatan itu di abadikan oleh sejarah. Hal itu agar menjadi biografi yang paling kekal bagi kesyahidan yang paling agung ini, dan agar menjadi seindah-indah ucapan untuk sesempurna sempurna bentuknya.”

Banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Dalam kesempatan ini kami akan batasi kajian kali ini hanya pada kepalsuan keutamaan puasa Asyûrâ’.

Para Pendongen itu berkata:

• Ketika Nabi saw. hijrah ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyûrâ’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, lalu beliau bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpuasa, maka mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.” Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di banding kalian.” Lalu beliau memerintahkan umat Islam agar berpuasa untuk hari itu. Demikian dalam dua kitab Shahih; Bukhrai dan Muslim dan lainnya.[1]

• Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya didongengkan dari Aisyah ra. dan selainnya bahwa: Kaum Quraisy berpuasa di hari Asyûrâ’ di masa Jahiliyah mereka. Dan rasulullah saw. juga berpuasa. Lalu setelah beliau berhijrah ke kota Madinah beliau pun berpuasa dan memerintah (umat Islam) agar berpuasa. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang mau silahkan berpuasa (Asyûrâ’) dan siapa yang mau juga boleh meninggalkannya.”[2]

• Sebagian pendongeng juga menyebutkan –seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim- bahwa Nabi saw. baru melaksanakan puasa Asyûrâ’ itu di tahun sembilan Hijrah dan setelah menyaksikan orang-orang Yahudi melakukannya, beliau berjanji jika berumur panjang akan menyalahi kaum Yahudi dengan menambah puasa hari kesembilan juga. Tetapi beliau wafat sebelum bulan Muharram tahun depan.[3]

Ibnu Jakfari berkata:

Di sini kami memastikan bahwa dongeng di atas adalah palsu dan hanya hasil khayalan kaum pendongen belaka!

Dan: 
A) Terlepas dari cacat parah pada sanad riwayat-riwayat di atas, di mana ia diriwayatkan dari jalur orang-oraang yang bermasalah dan baru tiba di kota suci Madinah beberapa tahun setelah Hijrah Nabi saw. seperti Abu Musa al Asy’ari, dan ada yang saat hijrah masih kanak-kanak seperti Ibnu Zubair dan di antara mereka ada yang baru menyatakan secara formal keislamannya di tahun-tahun akhir Hijrah Nabi saw. seperti Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan.

B) Terlepas dari adanya kontradiksi di antara riwayat-riwayat di atas, seperti, sebagian riwayatnya mengatakan bahwa:

1. Nabi saw. berpuasa di hari Asyûrâ’ itu karena mengikuti Yahudi di mana sebelumnya beliau tidak mengetahuinya, dan setelah mengetahuinya dari orang-oraang Yahudi kota Madinah beliau berkeyakinan bahwa beliau dan umat Islam lah lebih berhak atas Musa as. dari kaum Yahudi itu! 
2. Sementara riwayat lain mengatakan bahwa Nabi saw. seperti juga kaum Musyrik lainnya sejak zaman Jahiliyah telah menjalankan tradisi puasa Asyûrâ’. 
3. Sementara riwayat ketiga mengatakan bahwa Nabi saw. meninggalkan tradisi puasa Asyûrâ’ setelah diwajibkannya puasa bulan Ramadhan. 
4. Adapun riwayat keempat mengatakan bahwa Nabi saw. baru mengetahui kebiasaan kaum Yahudi kota Madinah berpuasa hari Asyûrâ’ sebagai ungkapan syukur mereka atas keselamatan Nabi Musa as. dan kaumnya itu di tahun kesembilan Hijrah. Dan kemudian Nabi aw. Berjanji akan menyalahi kaum Yahudi itu dengan menambah puasa hari kesembilan bulan itu. Namun sayang beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya. 
5. Bahkan mereka meriwayatkan dari Mu’awiyah (yang baru memeluk Islam dari tahun fathu Makkah) bahwa Nabi saw. tidak pernah memerintahkan umat berpuasa di hari Asyûrâ’ akan tetapi beliau bersabda, “Barang siapa mau berpuasa silahkan dan yang tidak juga tidak apa2.” 
Dan masih banyak keanehan lain dalam riwayat-riwayat dongeng puasa hari Asyûrâ’. Dan Ibnu Qayyim telah memaparkannya dalam kitab Zâd al Ma’âd-nya.[4]

Terlepas dari semua masalah di atas coba perhatikan catatan di bawah ini:

Pertama: Riwayat pertama di atas mengtakan kepada kita bahwa Nabi mulia saw. tidak mengetahui sunnah saudara beliau; Nabi Musa as. dan beliau baru mengetahuinya dari orang-orang Yahudi dan setelahnya beliau bertaqlid kepada mereka!

Hal demikian mungkin tidak merisaukan pikiran para ulama itu, sebab mereka meriwayatkan (dan kami beristighfar/memohon ampunan Allah atas kepalsuan itu) bahwa Nabi saw. memang sangat menyukai untuk menyesuaikan diri dengan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal-hal yang belum diperintahkan dalam wahyu. Seperti diriwayatkan Bukhari dan lainnya.[5] 
Akan tetapi yang aneh dan lucu mereka pada waktu yang sama juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. itu selalu bersemangat untuk menyalahi kaum Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan, seperti yang mereka kisahkan dalam kasus adzan, di mana beliau menolak tawaran agar adzan dilakukan dengan meniup trompet atau menabuh lonceng seperti di gereja-gereja! Juga dalam masalah datang bulan dan menyemir rambut yang telah beruban… begitu juga Nabi saw. sering berpuasa di hari sabtu dan minggu dengan tujuan menyalahi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).. 
Semua yang mereka riwayatkan ini benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan dalam riwayat puasa Asyûrâ’. Sebuah kontradiksi yang biasa kita temukan dalam riwayat-riwayat para ulama itu, seihingga kami tidak kaget lagi dengannya.!!

Sampai-sampai karena kaum Yahudi mengeluhkan sikap Nabi saw. tersebut, mereka berkata, “Orang ini (Nabi maksud mereka) tidak bermaksud membiarkan urusan kita melainkan dia menyalahi kita dalam segala urusan kita.”[6]

Ibnu al Hâj berkata, “Adalah Nabi saw. membenci menyesuai Ahlul Kitab dalam semua urusan mereka, sampai-sampai orang-orang Yahudi berkata, ‘Muhammad menginginkan untuk tidak membiarkan ursan kita melainkan ia menyalahi kita tentangnya.’

Dan telah datang dalam hadis: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia dari mereka.”[7]

Kedua: ada sebuah kenyataan yang sering diabaikan oleh para ulama (khususnya mereka yang tertipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang puasa Asyura) bahwa kata Asyûrâ’ untuk menunjuk pada hari kesepuluh bulan Muharram itu baru berlaku setelah kesyahidan Imam Husain as. cucu tercita Nabi Muhammad saw. dan keluarga serta pengikut setia beliau… jadi ia adalah nama/istilah Islami. Artinya istilah itu baru berlaku setelah datangnya Islam dan dilakukan oleh kaum Muslimin, sementara sebelum itu istilah itu tidak pernah ada dan berlaku.

Ibnu al Atsîr berkata, “Ia adalah nama Islam.”[8]

Ibnu Duraid berkata, “Sesunguhnya ia adalah nama Islami yang sebelumnya di masa jahiliyah tidak dikenal.”[9]

Ketiga: Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pu mereka tidak melakukannya dan tidak pula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar!

Keempat: Lebih dari semua itu adalah bahwa puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan sejak beliau masih tinggal di Makkah! Seperti dalam kisah diutusnya ‘Amr ibn Murrah al Juhani sebagaimana diriwayatkan banyak ulama di antaranya Ibnu Katsir, ath Thabarani, Abu Nu’aim, al Haitsami dan lainnya.[10]

Bahaya Pemalsuan Atas Nama Nabi saw.!

Dan kenyataan ini menjadikan kita membayangkan betapa besar bahaya yang sedang mengancam agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuan semacam itu…. Bagaimana kebencian terhadap keluarga suci Nabi saw. dan para pecinta mereka (baca Syi’ah) telah maracuni jiwa dan kemudian mendorong sebagian orang untuk berani memalsu hadis atas nama Nabi Muhammad saw. dengan harapan dapat mengubur perjuangan cucu tercinta Nabi saw.! Dan kemudian lantaran berbaik sangka kepada para pemalsu itu, sebagian ulama menerima dan meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka!

Kepalsuan dan pemalsuan atas nama Nabi saw. seperti itu menjadikan kita harus selalu waspada terhadap semua langkah yang dirancang oleh oknum musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. dalam memerangi mereka dan mengaburkan keagungan dan kemuliaan perjuangan mereka!

Hari Asyura’ Adalah Hari Raya Bani Umayyah dan Musuh-musuh Keluarga Suci Nabi as.

Para penguasa Bani Umayyah dan antek-antek mereka di sepanjang sejarah berusaha menjadikan hari ke sepuluh bulan Muharram (Asyûrâ’) sebagai hari raya, hari kebahagian, hari kegembiraan, hari kemenangan dan hari keselamatan! Semua itu mereka lakukan untuk menentang Ahlulbait as. yang menjadikannya sebagai hari duka atas kesyahidan Imam Husain as. dan keluarga serta pengikut setia beliau.

Al Biruni melaporkan “Adapun Bani Umayyyah mereka telah mengenakan baju-baju baru, berhias diri, bercelak dan berlebaran. Mereka mengadakan parayaan-perayaan dan jamuan tamu. Mereka membagi-bagi permen dan makanan-makanan yang lezat. Dan demikian lah yang berkalu di kalangan masyarakat selama kekuasan mereka dan tetap berlaku meski kekuasaan mereka telah tumbang. 
Adapun kaum Syi’ah, mereka meratapi dan menangisi kesyahidan penghulu para syuhada’ ; Al Husain as…. .“[11]

Al Miqrizi melaporkan, “Dan setelah tumbangnya kekuasaan ‘Alawiyyin di Mesir, para penguasa dari dinasti Ayyubiyah menjadikan Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan. Mereka berlapang-lapang kepada keluarga mereka. Mereka menyajikan beragam makanan lezat. Memakai alat-alat dapur yang baru. Mereka bercelak dan mendatangi pemandian-pemandian umum sesuai dengan kebiasaan penduduk kota Syam yang ditradisikan oleh Hajjaj di masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan dengan tujuan menyakitkan hati Syi’ah Ali ibn Abi Thalib (Karramallah wajhahu/ semoga Allah memliakan wajah beliau), di mana mereka menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari duka dan kesedihan atas kasyahidan Husain ibn Ali as. sebagi beliau gugur syahid di hari itu.” Kemudian ia melanjutkan: “Dan kami masih menyaksikan sisa-sisa tradisi bani Ayyûb yang menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan dan kelapangan.”

Al Miqrizi juga menyebutkan doa Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah) yang berbunyi: “Dan ini adalah hari di mana bani Umayyah dan anak keturunan wanita pengunyah jantung meyakini keberkahannya karena mereka telah berhasil membunuh Husain.”[12] 
Dan untuk semua itu, musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. telah membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan pahala besar yang dijanjikan bahwa yang berpuasa, berbanyak-banyak dalam memberi uang belanja kepada keluarga, mengusap kepala anak yatim, membagi-bagi makanan dan menampakkan kehabagian dan kegembiraan di dalamnya. Walaupun tidak sedikit pula usaha telah dicurahkan ulama Islam (sunni) dalam membongkar kepalsuaan hadis-hadis seperti itu.

Namun yang paling menyedihkan dari pemalsuan atas nama Nabi saw. adalah fatwa-fatwa sesat lagi menyesatkan yang diproduksi sebagai terompet kemunafikan dan kesesatan bani Umayyah yang melarang menampakkan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain as. dan juga melarang membacakan kisah kesyahidannya!

——————————————————————————–

[1] Mushannaf Abdurrazzâq,4/289 dan 290, Shahih Bukhari,1/244, Shahih Muslim,3/150, as Sirah al Halaibiyah,2/132-133, al Bidayah wa an Nihayah,1/274, 3/355. baca juga tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam surah al Baqarah.

[2] Ibid. dan Muwaththa’; Imam Malik,1/279 dan Zâd al Ma’âd,1/164 dan 165.

[3] Shahih Muslim,3/151.

[4] Zâd al Ma’âd,1/164-165.

[5] Shahih Bukhari, pada bab Farq asy Sya’ri Fi al Libâs, as Sirah al Halabiyah,2/132 dan Zâd al Ma’âd,1/165.

[6] As Sirah al Halabiyah,2/115 dan Sunan Abu Daud,2/250.

[7] Al Madkhal,2/48.

[8] An Nihayah; Ibnu Atsîr,3/240.

[9] Ibid.

[10] Al Bidayah wa an Nihayah,2/252 dari riwqayat Abu Nu’aim, Majma’ az Zawâid,9/244 dari riwayat ath Thabarani dan Kanzu ‘Ummâl,7/64 dari riwayat ar Ruyâni dan Ibnu ‘Asâkir.

[11] ‘Ajâib al Makhlûqât,1/114.

[12] Al Khithath; al Miqrizi,1/490. baca juga al Hadhârah Fi al Qarni ar Râbi’ al Hijri,1/138.

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam acara perayaan Hari Raya Iedul Ghadir menyatakan bahwa kebohongan meluas Rezim Zionis Israel dan pihak-pihak asing terkait program nuklir sipil Iran malah akan menjatuhkan kredibilitas mereka. Rahbar dalam pertemuannya dengan ribuan warga Iran dari berbagai kalangan menyebut AS sebagai gembong para musuh Iran. Dikatakannya pula, Inggris adalah musuh terburuk Iran.

Lebih lanjut Rahbar menuturkan, “Rezim Zionis Israel, AS dan negara-negara arogan lainnya mengkhawatirkan kebangkitan ummat Islam dan status Iran sebagai negara kiblat. Untuk itu, mereka berupaya mengucilkan Iran dengan berbagai konspirasi dalam 30 tahun terakhir ini. Namun upaya itu gagal berkat kemuliaan ilahi.” Dikatakannya pula, “Ketika tidak mampu mengancam rakyat dengan intimidasi dan sanksi, negara-negara arogan berupaya akan menggunakan berbagai cara untuk menciptakan perselisihan di dalam negeri.”

Rahbar dalam bagian pidatonya menambahkan, “Para gembong arogansi dalam berbagai propaganda, mengungkapkan habisnya kesabaran mereka. Akan tetapi semua pihak mengetahui bahwa mereka tidak cukup sabar dalam menghadapi Iran. Dalam 30 tahun terakhir ini, para musuh menggunakan berbagai konspirasi politik, ekonomi, militer dan propaganda untuk menekan bangsa ini.”

Dalam kesempatan itu, Rahbar juga mengucapkan selamat atas Hari Raya Iedul Ghadir kepada bangsa Iran dan ummat Islam sedunia. Seraya menjelaskan bahwa mengapa Hari Raya Iedul Ghadir disebut sebagai Hari Raya Akbar, Rahbar mengatakan, ” Peristiwa Ghadir mempunyai kandungan lebih besar dibanding dengan hari-hari besar lainnya, karena hari itu menjelaskan tugas abadi ummat Islam berlandaskan standar ilahi dalam aspek hidayah dan pemerintahan.”

Menyinggung propaganda anti-Syiah, Rahbar menjelaskan, “Negara-negara arogan mengetahui dengan baik bahwa bangsa Iran dengan berpegang teguh pada spirit kepemimpinan dan pembentukan pemerintah Islam, telah mewujudkan harapan seluruh ummat Islam dan para pemikir muslim. Untuk itu, para musuh berupaya mendepak Syiah dari dunia Islam.”

One comment

  1. Saya sangat terkesan ,ketika pertama kali membaca artikel ini. Saya adalah seoarang pelajar .Mohon doakan saya ,agar saya bisa menjadi salah satu dari pejuang islam ,meskipun saya adalah pemuda yang telah banyak berbuat maksiat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s