Mushaf Fatimah Quran Syi’ah ???

Artikel Islami:
Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as
Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”. 

 Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as

Sebagian Muslimin menuduh bahwa mushaf Fathimah az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian mempersoalkan keberadaan mushaf itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian Muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran sendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Ada beberapa kemungkinan terkait sikap permusuhan ini:

1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.

2. Mereka tidak mau menerima  bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah mushaf.

3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti itu apalagi dirinya.

4. Mereka berpikir bahwa mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu, mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayidah Fathimah sepeninggal ayahnya. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.(1)

Abu Basyir berkata, “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata, ‘Apa mushaf  Fathimah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah! Tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.(2)

Hadis ini menjelaskan  bahwa mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu kata pun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu kata pun dari zahirnya al-Quran tidak tampak di sana.

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu untuk apa mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini:

Allamah Majlisi menjelaskan, “Iya memang al-Quran demikian, tetapi mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang  anda maksud adalah lafad zahirnya al-Quran, dan itu tidak ada dalam mushaf  Fathimah.(3)

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya mushaf  Fathimah? Sejak kapan ia ada? Mushaf ini mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Salah satu nama Sayidah Fathimah adalah Muhaddatsah. Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah az-Zahra dengan nama Muhaddatsah berkata, “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya adalah Sayidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian, “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukulah bersama orang-orang yang ruku”.(4)

Suatu malam, Sayidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata, “Bukankah Maryam; putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?” Para malaikat menjawab, “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir.(5)

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.

2. Istri Imran; ibu Nabi Musa dan Maryam as.

3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.

4. Sayidah Fathimah as.(6)

Ketika Rasulullah Saw sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayidah Fathimah as bertanya, “Siapa?”

Ia menjawab, “Aku orang asing. Aku punya pertanyaan kepada Rasulullah. Apakah Anda mengizinkan saya untuk masuk?”

Sayidah Fathimah menjawab, “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan.”

Ia pergi dan beberapa waktu kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu sambil berkata, “ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”

Pada saat itu Rasulullah Saw bangun dan berkata kepada putrinya, “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”

“Tidak, ya Rasulullah!” jawab Fathimah as

Beliau bersabda, “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan dan menghapus kelezatan duniawi. Ia adalah malaikat maut! Demi Allah! Sebelum aku, ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia juga tidak akan meminta izin dari seorang pun. Karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayidah Fathimah berkata, “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”

Kemudian malaikat maut masuk bagaikan angin semilir seraya berkata, “Assalamu Ala Ahli Baiti Rasulillah!”(7)

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Shadiq as berkata, “Sepeninggal Rasulullah Saw, Sayidah Fathimah as hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesyahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah mushaf sehingga disebut sebagai mushaf Fathimah”.[8]

Poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah as

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam mushaf Fathimah.

Imam menjelaskan kandungannya:

1. Tentang berita sekarang dan kabar yang akan datang sampai Hari Kiamat.

2. Tentang berita langit dan nama-nama malaikat langit.

3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah Swt.

4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.

5. Nama-nama seluruh orang Mukmin dan Kafir dari awal sampai akhir penciptaan.

6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.

7. Jumlah orang-orang Mukmin dan Kafir setiap kota.

8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.

9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.

10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.

11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.

12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.

13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.

14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.(9)

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayidah Fathimah. Imam Baqir menjawab, “Sayidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.(10) (IRIB Indonesia)

*) Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Mohammad Hassan Amani.

Catatan:

1. Lisanul Arab, jilid 10 kata Shahafa dan Mufradat Raghib.

2. Ringkasan hadis, Ushul Kafi, jilid 1, hal 239, Bashair ad-Darajat, hal 151 dan Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.

3. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 40.

4. Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36

5. Ibid.

6. Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336, penerbit Intisyarat Allamah.

7. Ibid.

8. Lihat: Ushul Kafi, jilid 1, hal 240,  Bashair ad-Darajat, hal 157, Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282 dan Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80, jilid 26, hal 44-46 dan 48 dan jilid 47, hal 271.

9. Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.

10. Ibib, hal 292.

Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as

 

 

 

 

 

 

Kata “mushaf” kini sering difahami sebagai Al Qur’an; padahal dari segi bahasa artinya “sekumpulan lembaran di antara dua sampul” yang kini kita sebut buku. Oleh karena itu, Mushaf Fathimah adalah buku yang beliau miliki, yang mana riwayat-riwayat Ahlu Sunah pun sering menjelaskannya pula. Misalnya, para perawi seperti Ubay bin Ka’ab meriwayatkan bahwa ada sebuah buku yang dimiliki oleh Fathimah Azzahra. Jadi tuduhan bahwa Syiah memiliki Qur’an lain yang disebut Mushaf Fathimah, adalah tuduhan buta. Karena sama sekali tidak terbukti bahwa buku itu adalah Al Qur’an, apa lagi Qur’an yang dianut Syiah.

Mengenai buku apakah itu, dalam riwayat-riwayat Syiah juga banyak keterangan yang didapat. Misalnya tentang kandungan, volume, bagaimana dan kapan buku itu ditulis, dsb. Berdasarkan hadits-hadits tersebut, dapat dinyatakan bahwa buku itu mengandung hal-hal seperti wasiat Fathimah Azzahra, berita tentang musibah-musibah yang akan menimpa anak cucunya kelak, berita tentang peristiwa-peristiwa yang kelak akan terjadi, dan juga kabar mengenai raja-raja dan para penguasa yang akan memimpin di muka bumi. Disebutkan pula buku itu menjelaskan seluruh halal dan haram yang ada di dunia ini.

Bagaimana dan kapan buku itu ditulis? Ada riwayat yang menjelaskan: “Rasulullah saw menjelaskan hal-hal tertentu dan Imam Ali menulisnya.” Lalu jika demikian, mengapa disebut Mushaf Fathimah? Jawabannya karena buku itu disimpan oleh beliau. Ada juga yang mengatakan karena sebagian informasi yang tertulis dalam buku itu sampai ke telinga Imam Ali melalui perantara Fathimah.

Riwayat lainnya menjelaskan bahwa sepeninggal Rasulullah, Fathimah Azzahra terpuruk dalam kesedihannya. Allah mengutus malaikat untuk menemaninya, berbicara dengannya dan memberi berbagai macam berita seperti kedudukan ayahnya di alam sana, dan juga masalah-masalah lainnya; yang akhirnya semua itu disampaikan oleh beliau kepada Imam Ali dan Imam menuliskannya.[1]

Hanya saja timbul pertanyaan mengenai yang terakhir ini, karena kita meyakini bahwa dengan diutusnya Rasulullah, setelahnya tidak ada lagi wahyu yang diturunkan kepada manusia. Jawabannya, apa yang terjadi pada Fathimah Azzahra bukanlah diturunkannya wahyu, namun pembicaraannya dengan malaikat yang diutus Allah. Sebagaimana kita membaca dalam Al Qur’an bahwa seringkali manusia memiliki hubungan dengan malaikat, seperti yang kita dengar tentang Maryam [2]; Tuhan juga pernah berkomunikasi dengan ibu nabi Musa [3]. Oleh karena itu, tidak mustahil jika seandainya terjadi komunikasi antara Fathimah Azzahra dengan malaikat yang diutus Allah. Yakni, seusai kenabian Rasulullah saw, terputuslah hubungan antara Tuhan dengan manusia sebagai nabi, bukan terputusnya hubungan Tuhan dengan makhluk-Nya sama sekali.

Di manakah Mushaf Fathimah saat ini? Berdasarkan riwayat-riwayat yang sampai ke tangan kita, Mushaf Fathimah diwariskan turun temurun oleh Ahlul Bait dan berdasarkan kitab itu para Imam menjelaskan hukum-hukum syar’iy dan memberitakan peristiwa-peristiwa yang akan datang.

Saya mengingatkan, akhir-akhir ini ada buku yang bernama Shahifah Fathimah Azzahra. Perlu diketahui bahwa buku itu bukanlah Mushaf Fathimah, melainkan hanya buku yang mencakup doa-doa Fathimah Azzahra.

1. Biharul Anwar, jilid 26; Tadwn As Sunnah Asy Syarifah, halaman 77.

2. Ali Imran: 42-45

3. Al Qashash: 7

Tahrif Al-Qur’an
Selama ini isu tentang tahrif (perubahan dalam arti penambahan atau pembuangan ayat) pada Al-qur’an selalu dituduhkan kepada syi’ah, dan hal ini telah dibantah oleh ulama syi’ah sekarang. Padahal banyak riwayat pada ahlusunnah yang menyiratkan adanya tahrif Al-qur’an, seperti berikut :

1. Ibnu Majah meriwayatkan dari A’isyah, yang mengatakan bahwa Ayat Rajam dan Ayat Radha’ah yang ia simpan di bawah ranjang telah dimakan kambing dan tidak ada lagi dalam Al-Qur’an.
Lihat :
a. “Ta’wil Mukhtalaf Al-hadits” oleh Ibn Qutaibah, hal. 310.
b. Musnad Ahmad, jilid 6, hal. 269.
dll.

2.

Aisyah mengatakan : “Pada masa Nabi, Surat Al-Ahzab dibaca sebanyak 200 ayat, tetapi ketika Utsman menulis mushaf ia tidak bisa mendapatkannya kecuali yang ada sekarang”

Ref. ahlusunnah :
1. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
2. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.
3. Musnad Ahmad, jilid 5, hal. 132.
dll.

Seperti kita ketahui bahwa surat Al-Ahzab yang ada di mushaf sekarang ini adalah 73 ayat. Berarti menurut riwayat tersebut ada 127 ayat yang hilang.

3. Umar bin Khottob mengatakan : “Apabila bukan karena orang-orang akan mengatakan bahwa Umar menambah-nambah ayat ke dalam Kitabullah, akan aku tulis ayat rajam dengan tanganku sendiri”
lihat :
a. Shohih Bukhori bab “shahadah indal hakim fi wilayatil Qadla”.
b. “Al-itqan” oleh Suyuthi, jilid 2, hal. 25 dan 26.
c. Nailul Authar, kitab hudud ayat rajam, jilid 5, hal. 105.
d. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 260.
e. “Hayatus Shohabah” oleh Kandahlawi, jilid 2, hal. 12.
dll.

Bila anda belum tahu mengenai ayat rajam, berikut bunyinya :
“Idzaa Zanaya Syaikhu wa Syaikhotu Farjumuuhuma Al-battatan Minallaahi Wallaahu ‘Aziizun Hakiim”
lihat :
a. Suyuthi, dalam “Al-Itqan”, jilid 2, hal. 25.
b. Abdur Rozaq, dalam “Mushannif”, jilid 7, hal. 320.
c. Muntakhab Kanzul Ummal pada Musnad Ahmad, jilid 2, hal. 1.

Dan ayat rajam ini tidak ada pada mushaf Al-qur’an yang kita pegang sekarang ini.

Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat ahlusunnah yang menunjukkan adanya tahrif pada Al-qur’an.

Namun seperti yang saya katakan, semua riwayat tentang adanya tahrif pada Al-Qur’an, telah dibantah oleh ulama syiah yang bernama Syekh Rasul Ja’farian, dalam bukunya “Ukdzubah Tahrif Al-Qur’an Baina Syi’ah Wa Sunnah”, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “Menolak Isu Perubahan Al-Qur’an”, penerbit Pustaka Hidayah, Jakarta. Saya sarankan anda membaca buku ini.

Tulisan ulama syi’ah tersebut membantah semua riwayat, baik yang bersumber dari ahlusunnah maupun yang bersumber dari ulama syi’ah terdahulu. Sehingga kesimpulannya, ulama syi’ah sekarang seperti Syekh Rasul Ja’farian, Ayatullah Borujerdi, Imam Khomeini, dan lain-lain, berdasarkan penelitian mereka, menolak adanya tahrif pada Al-qur’an.

Salah satu yang menjadi dasar penolakan ulama syi’ah sekarang tentang tahrif, adalah adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang mendasari penolakan terhadap tahrif pada Al-Qur’an, yaitu :
1. [Q.S. 15:9], berbunyi :
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya”.

2. [Q.S. 41:41-42], berbunyi :
“….Dan sesungguhnya Alqur’an itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Yang ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.

Berikut saya kutipkan pernyataan beberapa ulama syi’ah sekarang (selain Syekh Rasul Ja’farian) tentang penolakan terhadap riwayat tahrif pada Al-Qur’an :

1. Allamah Syahsyahani mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“..Hadits-hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits mutawattir yang lebih kuat dan sesuai dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, akal sehat dan kesepakatan”.

2. Imam Khomeini mengatakan tentang hadits tahrif, yaitu :
“Lemah, tidak pantas berdalil dengannya”.

dan masih banyak lagi yang lain.

Berikut saya nukilkan juga ucapan seorang ulama besar ahlusunnah, yang bernama Al-Hindi : “Sesungguhnya Al-Qur’an Al-Majid, di kalangan jumhur Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyyah, adalah terjaga dari perubahan dan pergantian. Dan apabila ada juga diantara mereka yang mengatakan adanya pengurangan pada Al-Qur’an, maka yang demikian itu mereka tolak dan tidak mereka terima. “

lihat :
Al-Hindi, dalam “Idhharul Haq Haulasy Syi’ah Wal Qur’an”, jilid 2, hal. 128.

Tetapi berbeda dengan ulama ahlusunnah, yang tidak pernah membantah terhadap riwayat-riwayat tentang tahrif yang ada pada kitab-kitab ahlusunnah sendiri sebagaimana yang telah saya nukilkan di atas.

Dan pada pernyataan Sayyid Al-Khu’i (yang anda kutip) tidak berbicara tentang tahrif, melainkan beliau berbicara tentang adanya ayat yang letaknya salah, maksudnya adalah bahwa harusnya ayat tersebut berada pada tempat yang lain. Sebagai contoh pada [Q.S. Al-Maidah 3], pada awal ayat membahas maudhu’ (subyek) tentang makanan yang halal-haram, tetapi tiba-tiba maudhu’ ayat berubah menjadi “Pada hari ini orang-orang kafir
berputus asa…….ku ridloi Islam menjadi agamamu”, kemudian dilanjutkan lagi dengan maudhu’ tentang makanan yang halal-haram. Di sini jelas terlihat adanya maudhu’ yang tidak sesuai pada rangkaian ayat tersebut. Kesalahan penempatan atau penertiban ayat adalah bukan tahrif, karena tidak terjadi penambahan atau pembuangan ayat. Ini yang mesti anda fahami.

Sayyid Al-Khu’i TIDAK PERNAH menyetujui pendapat adanya tahrif pada Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Al-Bayan Fi Tafsiril Qur’an”.

Dalam sejarah pengumpulan Al-Qur’an, maka ada banyak sekali mushaf, seperti seperti mushaf Ubay bin Ka’ab, mushaf Utsman, mushaf Ibnu Zubair, mushaf A’isyah, mushaf Ali, dll.

Ref. ahlusunnah :
1. Abu Dawud, dalam “Mashohif”, hal. 51-93.
2. Ibn Abil Hadid, dalam “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 1, hal. 27.
3. Ibn Sa’ad, dalam “Thabaqat Al-Kubra”, jilid 2, hal. 338.
dll.

Dan yang sampai pada kita sekarang ini adalah mushaf Utsman. Karena Utsman tidak ma’sum, maka bisa saja terjadi kesalahan peletakan atau penertiban ayat pada Al-Qur’an. Namun, sekali lagi, hal itu BUKAN tahrif.

Syekh Abdurrahim Tabrizi TIDAK PERNAH mendukung pendapat tentang adanya tahrif Al-Qur’an. Lihat kitab beliau yang berjudul “Alaur Rahim”. Sehingga, pasti telah terjadi pemotongan kalimat beliau pada saat anda mengutipnya. Atau anda mungkin hanya mengutip dari kitab-kitab yang anti syi’ah, yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan.

1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an ?

Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.
Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, ” Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Sunnah/Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka.Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif.

Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW: “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]

Mushaf Fatimah ???

Sesungguhnya banyak orang yang tidak benar benar mengenal Syiah kecuali mereka hanya membebek ulama mereka..

Sementara banyak juga yang sangat bangga dengan doktrin Mushaf Fatimah adalah Quran orang Syiah.

Satu satunya sebab mengapa mereka akhirnya terjerumus lebih dalam kepelosok kebodohan adalah karena mereka dengan berani mengikuti ulama ulama puritan yang ‘sangat berani’ mengubah ubah Hadith Hadith Rasulullah Saww.

Sehingga besar kemungkinan mereka bukanlah pemerhati atau pun mewakili Kaum Syiah kecuali hanya menjadi perpanjangan tangan kaum takhfiri saja.

Inilah Hadith yang menjadi ‘alat’ kaum takhfiri dalam memfitnah Syiah, dengan memotong di kalimat belakang (un bold)

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Mushaf Fatimah di susun oleh Imam Ali As disaat beliau dalam kesendirian pasca Kebanyakan penduduk madinah meninggalkan beliau.

Sebagian muslimin menuduh bahwa Mushaf Fathimah Az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian memberatkan wujudnya Mushaf itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Jawabannya adalah:

  1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.
  2. Mereka tidak mau menerima bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah Mushaf.
  3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti apalagi dirinya.
  4. Mereka berpikir bahwa Mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa Mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu Mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi Mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu Mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan  Sayyidah Fathimah sepeninggal Ayahnya saw. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Hadis ini menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran , adapun kalimat :  “”Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya””  bermakna  metafora atau kiasan yang  bermakna  “”kumpulan tulisan   Sayyidah Fathimah, sepeninggalnya  secara langsung diserahkan  kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Mahdi.. Adapun  Al Quran Syi’ah  sama persis dengan Al Quran  Sunni””

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu apa Mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini?:

Allamah Majlisi menjelaskan: “Iya memang al-Quran demikian, tetapi Mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang anda maksud adalah lafadh dhahrinya al-Quran, dan itu tidak ada dalam Mushaf Fathimah.

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya Mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Ia mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Sayyidah Fathimah As bergelar Al Muhaddatsah.

Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah Az-Zahra As dengan nama Muhaddatsah berkata: “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya Sayyidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian: “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.

Suatu malam, Sayyidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata:“Bukankah Maryam (juga bergelar Sayyidatunissa lil alamin – dizamannya); putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?

Para malaikat menjawab: “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir”

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.

2. Istri Imran; ibu Nabi Musa

3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.

4. Sayyidah Fathimah as.

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayyidah Fathimah as bertanya: “Siapa?”. Ia menjawab: “Aku orang asing, punya pertanyaan kepada Rasulullah, anda mengizinkan saya untuk masuk?”.

Sayyidah Fathimah As menjawab: “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan”. Ia pergi kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu dan berkata: “Ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”. Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya: “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”. Tidak ya Rasulullah!. Beliau bersabda: “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan, menghapus kelezatan duniawi, ia adalah malaikat maut! Demi Allah sebelum aku ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia tidak akan meminta izin dari seorang pun, karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayyidah Fathimah berkata: “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”. Masuklah malaikat maut bagaikan angin semilir seraya berkata: “Assalamu ala Ahli Baiti Rasulillah!”.

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Shadiq as bersabda: “Sepeninggal Rasulullah saw Sayyidah Fathimah hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah Mushaf sehingga disebut sebagai Mushaf Fathimah”.
Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah as

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah.

Imam menjelaskan kandungannya:

  1. Tentang kabar-kabar sekarang dan kabar yang akan datang sampai hari kiamat.
  2. Tentang kabar langit dan nama-nama malaikat langit.
  3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah swt.
  4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
  5. Nama-nama seluruh orang mukmin dan orang kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
  6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
  7. Jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota.
  8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
  9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
  10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
  11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
  12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
  13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
  14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayyidah Fathimah. Imam Baqir menjawab: “Sayyidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.

[ Disadur dari Judul Asli Mengenal Mushaf Sayyidah Fathimah Az-Zahra as ]
[ Emi Nur Hayati Ma’sum Said - Al Shia ]

Maraji :
* Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Muhammad Hasan Amani.

  • Lisan Arab, jilid 10 kata Shahafa. Mufradat Raghib.
  • Ringkasan hadis, Usul Kafi, jilid 1, hal 239. Bashair ad-Darajat, hal 151. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
  • Bihar Al-Anwar, jilid 26, hal 40.
  • Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
  • Ibid.
  • Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336. penerbit Intisyarat Allamah.
  • Lihat: Usul Kafi, jilid 1, hal 240. Bashair ad-Darajat, hal 157. Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80. jilid 26, hal 44-46 dan 48. jilid 47, hal 271.
  • Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
  • Ibid, hal 292.

Al Qur'an terlindung dari perubahan dan tahrif

Tanya: Apa pendapat anda mengenai keterlindungan Al-Qur’an dari perubahan dan tahrif ?

jawaban ustad husain ardilla:

Banyak sekali riwayat dan hadis yang sampai ke tangan kita baik dari jalan yang umum atau khusus yang telah menjelaskan permasalahan tahrif Al-Qur’an  telah dirubah dan di-tahrif oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, kita tidak dapat mempercayai adanya perubahan dan tahrif Al-Qur’an.

Bahkan dari sejak sebelum masa Syaikh Shaduq, Fadhl bin Syadzan (260 H.) menegaskan bahwa keyakinan terhadap terubahnya (di-tahrif-nya) Al-Qur’an adalah keyakinan para penentang Syiah. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an benar-benar terjaga dari segala perubahan, pengurangan atau penambahan.

Penanya hanya dengan membaca sebuah riwayat lalu dengan mudahnya berkata bahwa Syiah meyakini tahrif Al-Qur’an. Padahal setiap apa yang ada dalam riwayat kami bukan berarti itu juga akidah kami. Anda harus membaca akidah kami dari kitab-kitab akidah yang bertumpu pada tafsiran-tafsiran Al-Qur’an yang benar, hadits-hadits mutawatir, dan juga akal. Sungguh sama sekali tidak ada keyakinan sedemikian rupa dalam kitab-kitab akidah Syiah.

Pasti riwayat yang anda baca itu salah anda fahami. Riwayat tersebut tidak menjelaskan kurang atau bertambahnya ayat Al-Qur’an, namun penafsiran dan penjelasan Al-Qur’an, semacam asbab nuzul. Seperti inilah jika anda tidak memahami riwayat Ahlul Bait; anda mengira penjelasan-penjelasan tersebut bagian dari Al-Qur’an, padahal tidak.

Inilah riwayat yang dijadikan andalan oleh si penanya:

1. Dalam Ushul Al-Kafi dalam tafsir ayat Dzarr disebutkan:

“…dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?… ” (Al-A’raf: 172)

Lalu setelah itu ada kata-kata yang ditambahkan (sekali lagi, sebagai penjelasan) “Bahwa Muhammad adalah utusan-Ku dan Ali adalah pemerintah orang-orang yang beriman?…”

Jawabannya, anggap saja riwayat ini memang benar dan sahih. Namun itu tidak berarti kalimat tambahan tersebut merupakan bagian dari ayat Al-Qur’an. Kalimat tersebut hanya ingin menafsirkan bahwa di alam Dzarr tersebut umat manusia juga telah diperintahkan untuk mengimani Rasulullah saw dan Imam Ali as.

2. Dalam sebuah hadits yang lain yang berkenaan dengan sebuah ayat tentang Nabi disebutkan:

“…maka orang-orang yang beriman kepadanya,” lalu ada kata-kata: “yakni kepada Imam,” kemudian ayat dilanjutkan: “memuliakannya, menolongnya…” (Al-A’raf: 157)

Jawabannya, jika anda mengkaji riwayat tersebut dari awal sampai akhir, anda akan menyadari bahwa saat itu Rasulullah saw memang ingin menjelaskan kedudukan Imam Ali as yang akan menjadi pengganti sepeninggal beliau nanti. Lalu beliau kembali mengingatkan, “Orang-orang yang beriman adalah orang yang mengimani Nabinya lalu membantunya (memberinya dukungan).”

Iman kepada Nabi adalah iman kepada apapun yang diturunkan kepadanya; dan jelas salah satu hal yang diturunkan kepada beliau adalah perkara Imamah Imam Ali as dan keturunannya.

Jadi penggalan kata itu adalah penekanan terhadap suatu keyakinan agama sebagai penjelas ayat Al-Qur’an, bukan sebagai ayat Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu salah jika dikira Syiah menambah ayat Al-Qur’an.

3. Dalam sebuah hadits, dalam menafsirkan ayat yang berbunyi “bagai kegelapan-kegelapan”, Imam menjelaskan bahwa kegelapan-kegelapan tersebut adalah fulan, fulan dan fulan. Telah ditukil riwayat tersebut dari tafsir Ali bin Ibrahim, yang mana sanadnya sangat bermasalah. Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa itu bukanlah tulisan Ali bin Ibrahim, namun seseorang yang bernama Abbas bin Muhammad; ia adalah seorang yang tak dikenal. Ia pun menukilnya dari dua orang yang bernama Ali bin Ibrahim dan Ziyad bin Mundzir, yang dikenal dengan Abil Jarud.

Apa yang ditukil dari Ali bin Ibrahim semua berkenaan dengan surah Al-Fathihah, Al-Baqarah dan sebagian dari surah Ali Imran. Adapun surah Ali Imran ayat 45 hingga akhir ditukil dari Ziyad bin Mundzir yang dikenal dengan Abil Jarud, dan kebetulan ayat tersebut yang mana berada dalam surah An Nur, berkaitan dengan bagian riwayat yang mana perawinya adalah Ziyad bin Mundzir.

Dengan demikian, hadits tersebut tercantum pada kitab yang tidak dikenal penulisnya, dan sanadnya pun sangat bermasalah, yakni sanadnya tersambung pada Zaid Ja’fi yang mana Najashi (seorang alim ilmu Rijal) menyebutnya sebagai orang yang sering mencapur aduk antara riwayat yang sahih dan dhaif.Adz Dzari’ah ila Tashanif As Syiah, jld. 4, bagian Tafsir Ali bin IbrahimKulliyyat fi Ilmi Ar Rijal, hlm. 228.]

Apakah dapat dibenarkan anda menuduh Syiah dengan sebuah tuduhan yang berasal dari riwayat seperti ini?

Penanya juga dalam kelanjutan pertanyaannya berkata: Imam di akhir ayat menjelaskan tentang “Orang-orang yang beruntung” dengan penjelasan seperti ini: “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi pemerintah zalim dan tidak menyembah mereka. Mereka adalah fulan, fulan dan fulan.”

Sebenarnya apa masalah riwayat ini? Imam hanya menjelaskan siapakah “pemerintah zalim” (taghut) itu yang beberapa di antara mereka adalah tiga orang yang disebutnya. Apakah ini termasuk tahrif dan perubahan Al-Qur’an?

Tahrif adalah menambahkan dan mengurangi ayat Al-Qur’an, bukan menafsirkan ayat-ayatnya.

Kalau hanya karena ada penggalan kata-kata penafsiran di tengah-tengah Al-Qur’an anda menyebutnya sebagai tahrif, lalu bagaimana dengan riwayat ini: Dalam Shahih Muslim Aisyah menukilkan ayat yang berbunyi: “Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha…” lalu ditambahinya, “shalat Ashar”.[Shahih Muslim, bab Dalil orang yang berkata bahwa Shalat Wustha adalah shalat Ashar, jld. 1, hlm. 37-448.]

Apakah Mushaf Fathimah adalah Qur'an Syiah

Syiah Menjawab Syubhat:
 Aqidah Syi’ah Tentang al-Qur’an; Menolak Isu Tahrif al-Qur’an
Syarif al-Murtadha (w. 436H) menyatakan al-Qur’an telah dijaga dengan rapi karena ia adalah mu’jizat dan sumber ilmu-ilmu Syarak, bagaimana ia boleh diubah dan dikurangkan? Selanjutnya beliau meyatakan orang yang mengatakan al-Qur’an itu kurang atau lebih tidak boleh dipegang pendapat mereka (al-Tabrasi, Majma’ al-Bayan, I, hlm. 15).

Sesungguhnya Syi’ah mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang adalah benar dan mereka beramal dengannya. Tetapi tidak dinafikan bahwa terdapat kitab-kitab karangan ulama Syi’ah seperti al-Kulaini dan lain-lain yang telah mencatat tentang kurang atau lebihnya ayat-ayat al-Qur’an yang ada sekarang, tetapi ketahuilah anda bahwa bukanlah semua riwayat itu sahih malah ada yang sahih dan ada yang dha’if. Contohnya al-Kulaini telah meriwayatkan di dalam al-Kafi bahwa Rasulullah Saww telah dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awwal tetapi riwayat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama Syi’ah karena setelah melalui penelitian yang lebih serius mereka berpendapat bahwa Nabi Saww telah dilahirkan pada 17 Rabi’ul Awwal.

Begitu juga mereka menolak kitab al-Hassan bin al-’Abbas bin al-Harisy yang dicatat oleh al-Kulaini di dalam al-Kafi, malah mereka mencela kitab tersebut. Begitu juga mereka menolak riwayat al-Kulaini bahwa orang yang disembelihkan itu adalah Nabi Ishaq bukan Nabi Isma’il AS (al-Kafi, IV, hlm. 205). Justeru itu riwayat al-Kulaini umpamanya tentang kekurangan dan penambahan ayat-ayat al-Qur’an adalah riwayat yang lemah (Majallah Turuthuna, Bil. XI, hlm. 104).

Karena ulama Syi’ah sendiri telah menjelaskan kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalam al-Kafi, malah mereka menolak sebahagian besar riwayat al-Kulaini. Begitu juga dengan kitab al-Istibsar fi al-Din, Tahdhib al-Ahkam karangan al-Tusi dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih karangan Ibn Babuwaih, sekalipun 4 buku tersebut dikira muktabar di dalam mazhab Syi’ah, umpamanya al-Kafi yang mempunyai 16,199 hadith telah dibagikan menjadi 5 bagian (di antaranya):

1. Sahih, mengandungi 5,072 hadith.

2. Hasan, 144 hadith.

3. al-Muwaththaq, 1128 hadith (iaitu hadith-hadith yang diriwayatkan oleh orang yang bukan Syi’h tetapi mereka dipercayai oleh Syi’ah).

4.  al-Qawiyy, 302 hadith.

5. Dhaif, 9,480 hadith. (Lihat Sayyid Ali al-Milani, al-Riwayat Li Ahadith al-Tahrif di dalam Turuthuna, Bil. 2, Ramadhan 1407 Hijrah, hlm. 257).

Oleh itu riwayat-riwayat tentang penambahan dan kekurangan al-Qur’an telah ditolak oleh ulama Syi’ah Imamiyah mazhab Ja’fari dahulu dan sekarang. Syaikh al-Saduq (w. 381H) menyatakan “i’tiqad kami bahwa al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Muhammad SAWW dan keluarganya adalah di antara dua kulit (buku) yaitu al-Qur’an yang ada pada orang banyak dan tidak lebih dari itu. Setiap orang yang mengatakan al-Qur’an lebih dari itu adalah suatu kedustaan.” (I’tiqad Syaikh al-Saduq, hlm. 93). Syaikh al-Mufid (w. 413H) menegaskan bahwa al-Qur’an tidak kurang sekalipun satu kalimat, satu ayat ataupun satu surah (Awa’il al-Maqalat, hlm. 55). Syarif al-Murtadha (w. 436H) menyatakan al-Qur’an telah dijaga dengan rapi karena ia adalah mu’jizat dan sumber ilmu-ilmu Syarak, bagaimana ia boleh diubah dan dikurangkan? Selanjutnya beliau meyatakan orang yang mengatakan al-Qur’an itu kurang atau lebih tidak boleh dipegang pendapat mereka (al-Tabrasi, Majma’ al-Bayan, I, hlm. 15). Syaikh al-Tusi (w. 460H) menegaskan bahwa pendapat mengenai kurang atau lebihnya al-Qur’an adalah tidak layak dengan mazhab kita (al-Tibyan fi Tafsir al-Qur’an, I, hlm.3). Begitu juga pendapat al-Allamah Tabataba’i dalam Tafsir al-Mizan, Jilid 7, hlm. 90 dan al-Khu’i dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azim, I, hlm. 100, mereka menegaskan bahwa al-Qur’an yang ada sekarang itulah yang betul dan tidak ada penyelewengan.

Demikianlah sebahagian daripada pendapat-pendapat ulama Syi’ah dahulu dan sekarang yang mengakui kesahihan al-Qur’an yang ada pada hari ini. Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata,”Apabila datang kepada kamu dua hadith yang bertentangan maka hendaklah kamu membentangkan kedua-duanya kepada Kitab Allah dan jika tidak bertentangan dengan Kitab Allah, maka ambillah dan jika ia bertentangan Kitab Allah, maka tinggalkanlah ia” (Syaikh, al-Ansari, al-Rasa’il, hlm. 446).

Kata-kata Imam Ja’far al-Sadiq itu menunjukkan al-Qur’an yang wujud sekarang ini adalah al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ke atas Nabi Saww tanpa tambah dan kurang jika tidak, tidak menjadi rujukan kepada Muslimin untuk membentangkan hadith-hadith Nabi Saww yang sampai kepada mereka. Oleh itu mazhab Syi’ah Ja’fari samalah dengan mazhab Ahlus Sunnah dari segi keyakinan mengenai penjagaan al-Qur’an dari penyelewengan, dan mengenai riwayat-riwayat tahrif al Qur’an ternyata juga banyak terdapat di dalam kitab-kitab  Sahih Ahlus Sunnah sendiri yang mencatatkan bahwa al-Qur’an telah ditambah, dikurang dan ditukarkan, di antaranya seperti berikut:

1. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, VI, hlm. 210 menyatakan (Surah al-Lail (92):3 telah ditambah perkataan “Ma Khalaqa” oleh itu ayat yang asal ialah “Wa al-Dhakari wa al-Untha” tanpa “Ma Khalaqa”. Hadith ini diriwayatkan oleh Abu al-Darda’, kemudian ianya dicatat pula oleh Muslim, Sahih,I,hlm. 565; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191.

2. Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 394; al-Turmudhi, Sahih, V, hlm. 191 menyatakan (Surah al-Dhariyat (51):58 telah diubah dari teks asalnya “Inni Ana r-Razzaq” kepada “Innallah Huwa r-Razzaq” yaitu teks sekarang.

3. Muslim, Sahih, I, hlm. 726; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm. 224 meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari,”Kami membaca satu surah seperti Surah al-Bara’ah dari segi panjangnya, tetapi aku telah lupa, hanya aku mengingati sepotong dari ayatnya,”Sekiranya anak Adam (manusia) mempunyai dua wadi dari harta, niscaya dia akan mencari wadi yang ketiga dan perutnya tidak akan dipenuhi melainkan dengan tanah.”

4. Al-Suyuti, al-Itqan, II, hlm. 82, meriwayatkan bahwa ‘Aisyah menyatakan Surah al-Ahzab (33):56 pada masa Nabi SAWW adalah lebih panjang yaitu dibaca “Wa’ala al-Ladhina Yusaluna al-Sufuf al-Uwal” setelahnya “Innalla ha wa Mala’ikatahu Yusalluna ‘Ala al-Nabi…” Aisyah berkata,”Yaitu sebelum Uthman mengubah mushaf-mushaf.”

5. al-Muslim, Sahih, II, hlm. 726, meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy’ari membaca setelah Surah al-Saf (61):2, “Fatuktabu syahadatan fi A’naqikum…”tetapi itu tidak dimasukkan ke dalam al-Qur’an sekarang.

6. Al-Suyuti, al-Itqan, I, hlm. 226 menyatakan bahwa dua surah yang bernama “al-Khal” dan “al-Hafd” telah ditulis dalam mushaf Ubayy bin Ka’b dan mushaf Ibn ‘Abbas, sesungguhnya ‘Ali AS mengajar kedua-dua surah tersebut kepada Abdullah al-Ghafiqi, ‘Umar dan Abu Musa al-Asy’ari juga membacanya.

7. Malik, al-Muwatta’, I, hlm. 138 meriwayatkan dari ‘Umru bin Nafi’ bahwa Hafsah telah meng’imla’ “Wa Salati al-Asr” selepas Surah al-Baqarah (2): 238 dan ianya tidak ada dalam al-Qur’an sekarang. Penambahan itu telah diriwayatkan juga oleh Muslim, Ibn, Hanbal, al-Bukhari, dan lain-lain.

8. Al-Bukhari, Sahih, VIII, hlm. 208 mencatatkan bahwa ayat al-Raghbah adalah sebahagian daripada al-Qur’an iaitu “La Targhabu ‘an Aba’ikum” tetapi ianya tidak wujud di dalam al-Qur’an yang ada sekarang.

9. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 82; al-Durr al-Manthur, V, hlm. 180 meriwayatkan daripada ‘Aisyah bahwa dia berkata,”Surah al-Ahzab dibaca pada zaman Rasulullah SAWW sebanyak 200 ayat, tetapi pada masa ‘Uthman menulis mushaf ianya tinggal 173 ayat sahaja.”

10. Al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 192 mencatatkan bahwa di sana terdapat ayat yang tertinggal selepas Surah al-Ahzab (33):25 iaitu “Bi ‘Ali bin Abi Talib”. Jadi ayat yang dibaca, “Kafa Llahul Mu’minin al-Qital bi ‘Ali bin Abi Talib.”

11. Ibn Majah, al-Sunan, I, hlm. 625 mencatat riwayat daripada ‘Aisyah RD dia berkata: ayat al-Radha’ah sebanyak 10 kali telah diturunkan oleh Allah dan ianya ditulis dalam mushaf di bawah katilku, tetapi manakala wafat Rasulullah SAWW dan kami sibuk dengan kewafatannya, maka ianya hilang.

12. Al-Suyuti, al-Itqan, III, hlm. 41 mencatatkan riwayat daripada ‘Abdullah bin ‘Umar, daripada bapanya ‘Umar bin al-Khattab, dia berkata,”Janganlah seorang itu berkata aku telah mengambil keseluruhan al-Qur’an, apakah dia tahu keseluruhan al-Qur’an itu? Sesungguhnya sebahagian al-Qur’an telah hilang dan katakan sahaja aku telah mengambil al-Qur’an mana yang ada.” Ini bererti sebahagian al-Qur’an telah hilang.

Demikianlah di antara catatan para ulama Ahlus Sunnah mengenai al-Qur’an sama ada lebih atau kurang di dalam buku-buku Sahih dan muktabar mereka. Bagi orang yang mempercayai bahwa semua yang tercatat di dalam sahih-sahih tersebut adalah betul dan wajib dipercayai, akan menghadapi dilema, karena kepercayaan sedemikian akan membawa mereka kepada mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang tidak sempurna, sama ada berkurangan atau berlebihan. Jika mereka mempercayai al-Qur’an yang ada sekarang adalah sempurna – dan memang sempurna – ini bererti sahih-sahih mereka tidak sempurna dan tidak sahih lagi. Bagi Syi’ah mereka tidak menghadapi dilema ini karena mereka berpendapat bahwa bukan semua riwayat di dalam buku-buku mereka seperti al-Kafi, al-Istibsar fi al-Din dan lain-lain adalah sahih, malah terdapat juga riwayat-riwayat yang lemah.

Oleh itu untuk mempercayai bahwa al-Qur’an yang ada sekarang ini sempurna sebagaimana yang dipercayai oleh Syi’ah mazhab Ja’fari, maka Ahlus Sunnah terpaksa menolak riwayat-riwayat tersebut demi mempertahankan kesempurnaan al-Qur’an. Dan mereka juga harus menolak riwayat-riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan akal seperti hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah,”Sesungguhnya Neraka Jahanam tidak akan penuh sehingga Allah meletakkan kakiNya, maka Neraka Jahanam berkata: Cukup, cukup.”(Al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 127; Muslim, Sahih, II, hlm. 482).

Hadith ini adalah bertentangan dengan ayat al-Qur’an Surah al-Sajdah (32):13 yang bermaksud,….”Sesungguhnya Aku akan penuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia.” Juga bertentangan dengan Surah al-Syura (42):11 yang menafikan tajsim “Tidak ada suatu yang perkarapun yang menyerupaiNya.”

Lantaran itu tidaklah mengherankan jika al-Suyuti di dalam Tadrib al-Rawi, hlm. 36 menyatakan bahwa al-Bukhari telah mengambil lebih 480 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh Muslim dan ia mengambil dari para perawi yang lemah, sama ada disebabkan oleh pembohongan dan sebagainya, sementara Muslim pula mengambil 620 periwayat yang tidak disebut atau diambil oleh al-Bukhari dan terdapat di dalamnya 160 periwayat yang lemah. Murtadha al-Askari pula menulis buku berjudul 150 sahabat fiktif, Beirut, 1968. Hanya nama-nama mereka saja disebutkan oleh al-Bukhari dan Muslim tetapi mereka sebenarnya tidak pernah ada sebelumnya hanya tokoh yang diada-adakan. Oleh itu ‘sahih” adalah nama buku yang diberikan oleh orang tertentu, misalnya al-Bukhari menamakannya ‘Sahih” yaitu sahih menurut pandangannya, begitu juga Muslim menamakan bukunya ‘Sahih” yaitu sahih menurut pandangannya namun belum tentu shahih bagi ulama hadits lainnya.

Justru itu kitab-kitab ‘sahih’ tersebut hendaklah dinilai dengan al-Qur’an, karena Sahih yang sebenar adalah sahih di sisi Allah SWT. Dan kita bersaksi bahwa al-Qur’an yang ada di hadapan kita ini adalah sahih dan tidak boleh diperselisihkan lagi.

Dengan itu anda tidak lagi menganggap Syi’ah mempunyai al-Qur’an ‘lebih atau kurang’ isi kandungannnya karena mereka sendiri menolaknya. Dan telah dicatat di dalam kitab-kitab Sahih dan muktabar Ahlus Sunnah tetapi mereka juga menolaknya. Dengan demikian Syi’ah dan Sunnah adalah bersaudara di dalam Islam dan mereka wajib mempertahankan al-Qur’an dan beramal dengan hukumnya tanpa menjadikan ‘ijtihad’ sebagai alasan untuk menolak (hukum)nya pula.

Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as

 

 

 

 

 

 

Tanya: Kami membaca dalam Al-Kafi bahwa Syiah memiliki suatu kitab yang disebut Mushaf Fathimah. Yang kami fahami dari Al-Kafi, Mushaf Fathimah adalah Al-Qur’an-nya orang Syiah. Benarkah itu?

Jawab: Tidak, tidak demikian. Bukan seperti itu maksud dari apa yang disebutkan dalam Al-Kafi.

Hadits dalam Al-Kafi tersebut hanya sekedar menjelaskan suatu kitab yang bernama Mushaf Fathimah. Mushaf tidak selalu berarti Al-Qur’an. Mushaf berasal dari kata Shahifah yang berarti lembaran. Oleh karena itu Mushaf adalah kumpulan lembaran-lembaran; tidak harus berarti Al-Qur’an.

Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Saat itu lembaran-lembaran amal perbuatan telah disebarkan.” (At Takwir:10)

“(hal) ini telah disebutkan dalam lembaran-lembaran terdahulu, dalam kitab Ibrahim dan Musa.” (Al-A’la: 18-19)

Dalam sejarah dapat kita baca bahwa yang disebut mushaf adalah segala lembaran-lembaran yang dikumpulkan menjad satu. Sepeninggal Nabi pun Al-Qur’an bahkan tidak pernah disebut dengan sebutan mushaf.

Ibnu Abi Dawud Sajistani mengenai disusunnya Al-Qur’an dalam satu mushaf (satu kumpulan) berkata, “Ketika Nabi meninggal dunia, Ali bersumpah untuk tidak mengenakan rida’ (semacam pakaian) kecuali untuk shalat Jum’at hingga selesai Al-Qur’an dikumpulkan menjadi satu mushaf.”

Abu Al-’Aliyah menukilkan, “Mereka melihat Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa kekhilafahan Abu Bakar.”

Ia juga menukil, “Umar bin Khatab mengeluarkan perintah pengumpulan (pengkoleksian) Al-Qur’an sedang ia adalah orang pertama yang telah mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf.”[1]

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa pada waktu itu yang disebut mushaf adalah suatu kumpulan lembaran-lembaran yang telah menjadi satu agar tidak tersebar berceceran. Lalu lama kelamaan Al-Qur’an pun disebut dengan mushaf.

Demikian pula riwayat-riwayat dari kalangan kami, misalnya:

Imam Ja’far Shadiq berkata: “Barang siapa membaca Al-Qur’an yang telah menjadi Mushaf (lembaran-lembaran yang telah dijilid), ia akan mendapatkan banyak manfaat untuk matanya.”[2]

Ia juga pernah berkata, “Membaca Al-Qur’an dalam bentuk mushaf akan meringankan adzab kubur ayah dan ibu kalian.”[3]

Para ahli sejarah mengenai Khalid bin Ma’dan menulis:

“Khalid bin Ma’dan menulis ilmunya dalam mushaf yang memiliki kancing (pengunci) dan pegangan.”[4]

Khalid bin Ma’dan adalah salah seorang yang termasuk Tabi’in dan mengalami 70 sahabat dalam hidupnya.[5]

Sampai akhir abad ke-1 Hijriah, kata mushaf memiliki arti umum, yaitu kumpulan lembaran berjilid yang mana kebanyakan orang menjadikannya sarana nenulis dan menuangkan isi pikiran.

Kalau begitu mengapa kita heran kalau putri Rasulullah saw memiliki mushaf? Yang mana ia telah menuang segala yang ada di pikirannya (ilmu-ilmu yang pernah diajarkan oleh ayahnya) ke dalam mushaf tersebut lalu mewariskannya kepada anak-anak sebagai sebaik-baiknya warisan.

Para Imam kami pun juga telah menjelaskan bahwa mushaf tersebut hanyalah kumpulan tulisan Fathimah Az-Zahra yang berisi pengetahuan-pengetahuan yang didapat dari ayahnya. Lagi pula ia dijuluki dengan sebutan Muhaddatsah, yakni orang yang diajak bicara dengan malaikat. Pasti segala yang ia dapat dari pembicaraan itu telah dituliskan ke dalam mushafnya.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Dalam Mushaf Fathimah terdapat penjelasan mengenai halal dan haram yang padahal masih belum ada wujudnya di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Itu bukanlah Qur’an, namun dikte Rasulullah Saw yang dituliskan oleh Ali. Semua itu ada di tangan kami.”[6]

Ia juga pernah berkata, “Di dalamnya banyak sekali hal-hal yang tidak ada di dalam Al-Qur’an kalian.” Lalu perawi bertanya, “Apakah di dalamnya ada suatu pengetahuan (ilmu)?” Dijawabnya, “Ya, namun bukan sembarang pengetahuan.”[7]

Jadi Mushaf Fathimah bukanlah sesuatu yang kita sebut Al-Qur’an dan kita yakini sebagai Qur’an Syiah. Namun seringkali masalah tersebut dijadikan alat oleh pembenci kami untuk memojokkan Syiah dengan berbagai tuduhan.


[1] Kitab Al-Masahif, Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Abi Dawud Sajistani, hlm. 9-10.

[2] Ushul Al-Kafi, jld. 2, hlm. 613.

[3] Ibid.

[4] Kitab Al-Masahif, Hafidz Abu Bakar Abdullah bin Abi Dawud Sajistani, hlm. 134-135.

[5] Al-Lubab fi Tadzhib Al-Ansab, Ibnu Atsir, jld. 3, hlm. 62 dan 63.

[6] Bashair Ad Darajat, hlm. 157.

[7] Al-Kafi, jld. 2, hlm. 613, hadits 1

Mengenal Mushaf Sayidah Fathimah Az-Zahra as

 

 

 

 

 

 

Senin, 04 Juli 2011 10:53 Redaksi
E-mail Cetak PDF
Menjawab Artikel  “Bukti Kekufuran Syi’ah terhadap Al-Qur’an ”  tulisan http://www.syiahindonesia.com

Pandangan Islam Terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan rujukan pertama dalam memahami Islam. Keimanan kepada al-Qur’an merupakan salah satu rukun dari rukun iman yang enam. Syi’ah imamiyah  meyakini seyakin-yakinnya bahwa Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah yang terpelihara dari perubahan, penambahan atau pengurangan. Karena, Allah telah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs. Al-Hijr 9).

Ayat ini adalah jaminan dari Allah sendiri, bahwa kitab suci-Nya tidak akan mengalami pengurangan atau penambahan atau pun perubahan. Sebab, Allah  sendiri-lah yang akan langsung menjaganya. Allah  juga berfirman:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang padanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Qs. Fushshilat 41-42).

Allah telah menegaskan bahwa kitab suci-Nya Al-Qur’an ini diturunkan dengan persaksian dan keilmuan Allah.

Mushaf Fatimah Quran Syi’ah ???

Sesungguhnya banyak orang yang tidak benar benar mengenal Syiah kecuali mereka hanya membebek ulama mereka. Sementara banyak juga yang sangat bangga dengan doktrin Mushaf Fatimah adalah Quran orang Syiah.Satu satunya sebab mengapa mereka akhirnya terjerumus lebih dalam kepelosok kebodohan adalah karena mereka dengan berani mengikuti ulama ulama puritan yang ‘sangat berani’ mengubah ubah Hadith Hadith Rasulullah Saww.Sehingga besar kemungkinan mereka bukanlah pemerhati atau pun mewakili Kaum Syiah kecuali hanya menjadi perpanjangan tangan kaum takhfiri saja
.
Inilah Hadith yang menjadi ‘alat’ kaum takhfiri dalam memfitnah Syiah, dengan memotong di kalimat belakang (un bold)Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.Mushaf Fatimah di susun oleh Imam Ali As disaat beliau dalam kesendirian pasca Kebanyakan penduduk madinah meninggalkan beliau.Sebagian muslimin menuduh bahwa Mushaf Fathimah Az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian memberatkan wujudnya Mushaf itu.Pertanyaannya adalah mengapa sebagian muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Jawabannya adalah:

1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.
2. Mereka tidak mau menerima bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah Mushaf.
3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti apalagi dirinya.
4. Mereka berpikir bahwa Mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa Mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu Mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi Mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu Mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan yang isinya adalah pembicaraan malaikat Jibril kepada Sayyidah Fathimah sepeninggal Ayahnya saw. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Hadis ini menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran dan tidak satu kata pun, namun dari sisi kandungan dan topik, kendati satu kata pun dari dhahirnya al-Quran tidak tampak di sana.

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu apa Mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini?:

Allamah Majlisi menjelaskan: “Iya memang al-Quran demikian, tetapi Mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang anda maksud adalah lafadh dhahrinya al-Quran, dan itu tidak ada dalam Mushaf Fathimah.

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya Mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Ia mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Sayyidah Fathimah As bergelar Al Muhaddatsah.

Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah Az-Zahra As dengan nama Muhaddatsah berkata:

“Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya Sayyidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian: “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.

Suatu malam, Sayyidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata:

“Bukankah Maryam (juga bergelar Sayyidatunissa lil alamin – dizamannya); putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?

Para malaikat menjawab: “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir”

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.

2. Istri Imran; ibu Nabi Musa

3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.

4. Sayyidah Fathimah as.

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayyidah Fathimah as bertanya: “Siapa?”. Ia menjawab: “Aku orang asing, punya pertanyaan kepada Rasulullah, anda mengizinkan saya untuk masuk?”.

Sayyidah Fathimah As menjawab: “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan”. Ia pergi kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu dan berkata: “Ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”. Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya: “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”. Tidak ya Rasulullah!. Beliau bersabda: “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan, menghapus kelezatan duniawi, ia adalah malaikat maut! Demi Allah sebelum aku ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia tidak akan meminta izin dari seorang pun, karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayyidah Fathimah berkata: “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”. Masuklah malaikat maut bagaikan angin semilir seraya berkata: “Assalamu ala Ahli Baiti Rasulillah!”.

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Shadiq as bersabda: “Sepeninggal Rasulullah saw Sayyidah Fathimah hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah Mushaf sehingga disebut sebagai Mushaf Fathimah”.
Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah as

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah.

Imam menjelaskan kandungannya:

1. Tentang kabar-kabar sekarang dan kabar yang akan datang sampai hari kiamat.
2. Tentang kabar langit dan nama-nama malaikat langit.
3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah swt.
4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
5. Nama-nama seluruh orang mukmin dan orang kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
7. Jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota.
8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayyidah Fathimah. Imam Baqir menjawab: “Sayyidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.

[ Disadur dari Judul Asli Mengenal Mushaf Sayyidah Fathimah Az-Zahra as ]
[ Emi Nur Hayati Ma’sum Said - Al Shia ]

Maraji :
* Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Muhammad Hasan Amani.

* Lisan Arab, jilid 10 kata Shahafa. Mufradat Raghib.
* Ringkasan hadis, Usul Kafi, jilid 1, hal 239. Bashair ad-Darajat, hal 151. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
* Bihar Al-Anwar, jilid 26, hal 40.
* Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
* Ibid.
* Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336. penerbit Intisyarat Allamah.
* Lihat: Usul Kafi, jilid 1, hal 240. Bashair ad-Darajat, hal 157. Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80. jilid 26, hal 44-46 dan 48. jilid 47, hal 271.
* Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
* Ibid, hal 292.

Mushaf Fatimah ???

Sesungguhnya banyak orang yang tidak benar benar mengenal Syiah kecuali mereka hanya membebek ulama mereka..

Sementara banyak juga yang sangat bangga dengan doktrin Mushaf Fatimah adalah Quran orang Syiah.

Satu satunya sebab mengapa mereka akhirnya terjerumus lebih dalam kepelosok kebodohan adalah karena mereka dengan berani mengikuti ulama ulama puritan yang ‘sangat berani’ mengubah ubah Hadith Hadith Rasulullah Saww.

Sehingga besar kemungkinan mereka bukanlah pemerhati atau pun mewakili Kaum Syiah kecuali hanya menjadi perpanjangan tangan kaum takhfiri saja.

Inilah Hadith yang menjadi ‘alat’ kaum takhfiri dalam memfitnah Syiah, dengan memotong di kalimat belakang (un bold)

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Mushaf Fatimah di susun oleh Imam Ali As disaat beliau dalam kesendirian pasca Kebanyakan penduduk madinah meninggalkan beliau.

Sebagian muslimin menuduh bahwa Mushaf Fathimah Az-Zahra as adalah Quran orang-orang Syiah yang ada di tangan Imam Mahdi af yang akan disodorkan ketika dia muncul. Dan sebagian memberatkan wujudnya Mushaf itu.

Pertanyaannya adalah mengapa sebagian muslimin begitu benci dan menaruh dendam terhadap Syiah dan menuduh bahwa orang-orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri selain yang ada di tangan orang non Syiah? Bahkan sampai saat ini senantiasa ada orang-orang dengki yang mengkritik secara tidak obyektif hanya ingin menjatuhkan dan mencari kelemahan saja tanpa ada niat ingin mencari kebenaran? Jawabannya adalah:

  1. Selain mereka tidak merujuk ke sumber-sumber hadis Syiah, mereka hanya termakan oleh hasutan musuh-musuh Syiah.
  2. Mereka tidak mau menerima bahwa orang-orang Syiah meyakini bahwa Fathimah as; putri Nabi Muhammad saw memiliki sebuah Mushaf.
  3. Kebencian dan kekerasan hati mereka terhadap ajaran Syiah yang disampaikan oleh para Imam Maksum as dan tidak mau orang lain memiliki keyakinan seperti apalagi dirinya.
  4. Mereka berpikir bahwa Mushaf adalah kumpulan al-Quran sebagaimana istilah yang diterapkan pada zaman Rasulullah saw bahwa Mushaf adalah kumpulan-kumpulan tulisan al-Quran, padahal pada zaman itu Mushaf secara bahasa adalah kumpulan-kumpulan lembaran yang sudah dijilid dalam bentuk sebuah buku. Jadi Mushaf bukan hanya kumpulan tulisan al-Quran saja, tetapi mencakup juga kumpulan-kumpulan tulisan selain al-Quran. Oleh karena itu Mushaf Fathimah adalah kumpulan-kumpulan tulisan  Sayyidah Fathimah sepeninggal Ayahnya saw. Walaupun sampai saat ini al-Quran itu sendiri juga dikenal dengan istilah “Mushaf Syarif”.

Abu Basyir berkata: “Aku berada di sisi Imam Shadiq as dan aku berkata: “Apa Mushaf Fathimah itu?”. Beliau menjawab: “Mushaf yang tebalnya tiga kali al-Quran yang ada di tanganmu. Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya.

Hadis ini menjelaskan bahwa Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali al-Quran , adapun kalimat :  “”Namun, demi Allah, tidak satu kata pun dari al-Quran ada di dalamnya””  bermakna  metafora atau kiasan yang  bermakna  “”kumpulan tulisan   Sayyidah Fathimah, sepeninggalnya  secara langsung diserahkan  kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Mahdi.. Adapun  Al Quran Syi’ah  sama persis dengan Al Quran  Sunni””

Boleh jadi orang-orang yang dengki akan menyanggah bahwa banyak hadis-hadis tentang “al-Quran mencakup semua hukum, dan kejadian-kejadian sekarang dan yang akan datang”, lalu apa Mushaf Fathimah itu dan bagaimana memahami hadis berikut ini?:

Allamah Majlisi menjelaskan: “Iya memang al-Quran demikian, tetapi Mushaf adalah makna dan bacaan yang tidak kita pahami dari al-Quran, bukan tulisan lahiriahnya yang kita pahami dari al-Quran. Oleh karena itu apa yang anda maksud adalah lafadh dhahrinya al-Quran, dan itu tidak ada dalam Mushaf Fathimah.

Untuk mengetahui lebih dalam, apa sebenarnya Mushaf Fathimah? Sejak kapan ia ada? Ia mencakup pembahasan apa saja? Sekarang ada di mana dan di tangan siapa? Mari kita ikuti penjelasan berikut ini. Mungkin bisa membuka wawasan sebagian kita yang belum banyak mengetahuinya.

Sayyidah Fathimah As bergelar Al Muhaddatsah.

Imam Shadiq mengenai sebab penamaan Fathimah Az-Zahra As dengan nama Muhaddatsah berkata: “Fathimah as disebut Muhaddatsah karena malaikat Jibril senantiasa turun dan menyampaikan kabar kepadanya sebagaimana menyampaikan kabar kepada Maryam as; putri Imran”.

Malaikat Jibril berkata kepada Fathimah as sebagaimana berkata kepada Maryam; dalam ayat 42 dan 43 surat Maryam. Berhubung lawan bicaranya Sayyidah Fathimah, maka Jibril berkata demikian: “Hai Fathimah! Sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia. Hai Fathimah! Taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk”.

Suatu malam, Sayyidah Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat dan berkata:“Bukankah Maryam (juga bergelar Sayyidatunissa lil alamin – dizamannya); putri Imran, wanita yang paling utama di antara wanita-wanita di alam?

Para malaikat menjawab: “Maryam adalah wanita yang paling utama di zamannya, tetapi Allah menetapkanmu sebagai wanita yang paling utama di zamanmu dan zamannya Maryam dan kamu adalah penghulu semua wanita yang pertama sampai yang terakhir”

Para malaikat biasanya hanya berbicara dengan para nabi saja. Namun ada empat wanita mulia yang hidup di zaman para nabi, dan kendati mereka bukan nabi, tetapi para malaikat berbicara dengan mereka. Antara lain:

1. Maryam; ibu Nabi Isa as.

2. Istri Imran; ibu Nabi Musa

3. Sarah; ibu Nabi Ishaq as.

4. Sayyidah Fathimah as.

Ketika Rasulullah Saww sakit di atas tempat tidur. Ada orang laki-laki asing mengetuk pintu. Sayyidah Fathimah as bertanya: “Siapa?”. Ia menjawab: “Aku orang asing, punya pertanyaan kepada Rasulullah, anda mengizinkan saya untuk masuk?”.

Sayyidah Fathimah As menjawab: “Kembalilah, semoga Allah merahmatimu. Rasulullah tidak enak badan”. Ia pergi kemudian kembali lagi dan mengetuk pintu dan berkata: “Ada orang asing yang minta izin kepada Rasulullah, bolehkah dia masuk?”. Pada saat itu Rasulullah Saww bangun dan berkata kepada putrinya: “Wahai Fathimah! Tahukah kamu siapa dia?”. Tidak ya Rasulullah!. Beliau bersabda: “Ia adalah orang yang membubarkan perkumpulan, menghapus kelezatan duniawi, ia adalah malaikat maut! Demi Allah sebelum aku ia tidak pernah meminta izin dari seorang pun dan sepeninggalku ia tidak akan meminta izin dari seorang pun, karena kehormatan dan kemuliaan yang aku miliki di sisi Allah, ia meminta izin dariku, maka izinkanlah dia masuk!”

Sayyidah Fathimah berkata: “Masuklah, semoga Allah merahmatimu!”. Masuklah malaikat maut bagaikan angin semilir seraya berkata: “Assalamu ala Ahli Baiti Rasulillah!”.

Munculnya Mushaf Fathimah

Imam Shadiq as bersabda: “Sepeninggal Rasulullah saw Sayyidah Fathimah hanya hidup selama tujuh puluh lima hari. Di masa-masa kesedihan beliau itu malaikat Jibril selalu turun menemuinya memberitakan keadaan ayahnya di sisi Allah dan memberitakan tentang kejadian yang akan datang mengenai anak-anaknya (kejadian yang akan menimpa kesahidan anak-anaknya di tangan manusia-manusia zalim), dan Imam Ali menulisnya dalam sebuah Mushaf sehingga disebut sebagai Mushaf Fathimah”.
Poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah as

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as mengenai poin-poin yang ada dalam Mushaf Fathimah.

Imam menjelaskan kandungannya:

  1. Tentang kabar-kabar sekarang dan kabar yang akan datang sampai hari kiamat.
  2. Tentang kabar langit dan nama-nama malaikat langit.
  3. Jumlah dan nama orang-orang yang diciptakan Allah swt.
  4. Nama-nama utusan Allah dan nama-nama orang yang mendustakan Allah.
  5. Nama-nama seluruh orang mukmin dan orang kafir dari awal sampai akhir penciptaan.
  6. Nama-nama kota dari barat sampai timur dunia.
  7. Jumlah orang-orang mukmin dan kafir setiap kota.
  8. Ciri-ciri orang-orang pendusta.
  9. Ciri-ciri umat terdahulu dan sejarah kehidupan mereka.
  10. Jumlah orang-orang zalim yang berkuasa dan masa kekuasaannya.
  11. Nama-nama pemimpin dan sifat-sifat mereka, satu persatu yang berkuasa di bumi, dan keterangan pembesar-pembesar mereka, serta siapa saja yang akan muncul di masa yang akan datang.
  12. Ciri-ciri penghuni surga dan jumlah orang yang akan masuk surga.
  13. Ciri-ciri penghuni neraka dan nama-nama mereka.
  14. Pengetahuan al-Quran, Taurat, Injil, Zabur sebagaimana yang diturunkan dan jumlah pohon-pohon di seluruh daerah.

Mushaf Fathimah ada di tangan Imam Maksum as dan silih berganti sampai sekarang ada di tangan Imam Mahdi af.

Abu Bashir bertanya kepada Imam Muhammad Baqir as tentang siapakah yang memegang mushaf tersebut sepeninggal Sayyidah Fathimah. Imam Baqir menjawab: “Sayyidah Fathimah secara langsung menyerahkannya kepada Imam Ali as dan sepeninggal Imam Ali ada di tangan Imam Hasan as kemudian sepeninggal beliau ada di tangan Imam Husein kemudian silih berganti di antara Imam maksum keturunan Imam Husein sehingga diserahkan kepada Imam Zaman af.

[ Disadur dari Judul Asli Mengenal Mushaf Sayyidah Fathimah Az-Zahra as ]
[ Emi Nur Hayati Ma’sum Said - Al Shia ]

Maraji :
* Makalah ini disarikan secara bebas dari makalah Mushaf Fathimah Menurut Pandangan Para Imam Maksum as, Muhammad Hasan Amani.

  • Lisan Arab, jilid 10 kata Shahafa. Mufradat Raghib.
  • Ringkasan hadis, Usul Kafi, jilid 1, hal 239. Bashair ad-Darajat, hal 151. Bihar al-Anwar, jilid 26, hal 28.
  • Bihar Al-Anwar, jilid 26, hal 40.
  • Awalim Al-ulum wa al-Ma’arif wa al-Ahwal, Allamah Bahani, hal 36
  • Ibid.
  • Manaqib Ibnu Shahr Ashub, jilid 3, hal 336. penerbit Intisyarat Allamah.
  • Lihat: Usul Kafi, jilid 1, hal 240. Bashair ad-Darajat, hal 157. Musnad Fathimah Az-Zahra, hal 282. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 80. jilid 26, hal 44-46 dan 48. jilid 47, hal 271.
  • Musnad Fathimah, rangkuman hal 290-291.
  • Ibid, hal 292.

Pernyataan menggelikan yang dilontarkan oleh Ustad salafi   ialah adanya Qur’an orang Syiah yang disebutnya dengan Mushaf Fatimah.  “ Al Qur’an mereka yang berjumlah 17 ribu ayat itu disebut Mushaf Fatimah “. Dalam catatan kaki, ia mengutipnya, dari kitab Al Kafi, juz 1 halaman 240 – 241.

Padahal, kalau kita merujuk kepada kitab tersebut,  tidak ada satu kata atau kalimat dimanapun di dalam kitab tersebut yang menyebutkan bahwa Mushaf Fatimah adalah kitab suci Al Qur’an. Entah darimana Ustad salafi  memperoleh ‘mimpi’  bahwa Mushaf Fatimah adalah kitab suci Al Qur’an. Sekedar pengetahuan buat Ustad salafi   bahwa dalam ajaran Syi’ah   ( versi orang Syi’ah ) yang kami yakini,  Mushaf Fatimah bukanlah kitab suci Al Qur’an.

Di dalam buku berjudul “ Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah “, karya Husein Al Habsyi, pada halaman 98 di bawah subjudul Beberapa Pendapat Ulama Syi’ah Imamiyah Tentang Al Qur’an, tertulis sebagai berikut :

“Perlu diketahui, tuduhan yang mengatakan bahwa Syi’ah Imamiyah beranggapan bahwa Al Qur’an telah diubah atau dikurangi adalah tuduhan yang tidak berdasar dan salah. Disini kami ingin menyampaikan keterangan – keterangan ulama Syi’ah Imamiyah yang berkaitan dengan masalah ini, antara lain :

1. Syaikh Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Al Qummi

Di dalam risalahnya yang berjudul I’tiqaduna Fi Al Qur’an menyebutkan : “ Keyakinan kami tentang Al Qur’an ialah bahwa Al Qur’an yang sebenarnya adalah yang sekarang ada pada masyarakat dunia dan tidak lebih dari itu. Dan, orang yang menuduh bahwa Syi’ah Imamiyah mengatakan dan beranggapan lebih dari itu, ketahuilah bahwa ia adalah seorang pembohong”.

Al Qummi juga dengan tegas mengatakan bahwa “ Keyakinan dan anggapan seperti itu adalah anggapan seluruh Imamiyah dan mereka mengatakan bohong kepada orang yang menuduh adanya pengubahan ( tahrif ) pada Syi’ah ”

2. Syaikh Muhammad bin Hasan Al Thusi

 

Al Tibyan fi Tafsir Al Qur’an : “Anggapan bahwa Al Qur’an telah dikurangi dan ditambah sama sekali tidak layak diketengahkan oleh siapapun yang membahas persoalan ini, sebab adanya tambahan sudah di-ijma’- kan kebatilannya”

3. Abu Ali Al Fadhl Al Thabrasi

Penulis kitab Tafsir Majma’ Al Bayan mengatakan dalam salah satu mukadimah kitabnya : “ Anggapan tentang adanya penambahan Al Qur’an merupakan satu hal yang sudah jelas salah dan menyalahi ijma’ yang ada….”.

4. Syaikh Al Nabhani

Al Syaikh Bahauddin Muhammad bin Al Husain Al Amili berkata : “ Pendapat yang benar ialah bahwa Al Qur’an terjaga dari pengubahan baik berupa pengurangan maupun penambahan, berdasarkan firman Allah SWT : “ Dan sesungguhnya Kami benar – benar memeliharanya “ ( QS 15 : 9 ).

5. Al Muhaqqiq Al Tsani

Syaikh Ali bin Abdil Al Kharkhi yang dikenal dengan gelar Al Muhaqiq Al Tsani telah menulis sebuah buku tentang penolakan adanya pengurangan dan penambahan Al Qur’an berdasarkan ijma’.

6. Syaikh Ja’far Al Najafi

Syaikh Ja’far Al Najafi adalah seorang yang terkemuka pada zamannya dan ia adalah salah seorang ahli fiqih. Dalam mukadimah bukunya yang berjudul Kasyif Al Ghita’ , beliau menulis : “Tidak ragu lagi, Al Qur’an senantiasa terjaga dari kekurangan dengan penjagaan yang ketat dari Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan kesepakatan para ulama di setiap zaman. Pendapat beberapa orang yang menolak keterangan itu tidak perlu dirisaukan”

7. Al Sayyid Muhsin Al Muhaqqiq Al Baghdadi

Ia adalah salah satu tokoh terkemuka pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Syarh Al Waqifiyah , sebuah uraian mengenai ushul fiqih, ia menulis : “ Adanya ijma’ para ulama tentang tidak adanya tambahan di dalam Al Qur’an didukung oleh kebanyakan ulama. Begitu pula ulama kami, Syi’ah Imamiyah, mereka juga sepakat tentang tidak adanya kekurangan di dalam Al Qur’an”

Yang kami sebutkan di atas adalah nama ulama akhir – akhir ini atau yang sering kali disebut dengan ulama’ mutaakhkhirin . ( Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, karya tokoh Syi’ah termuka, Husain Al Habsyi, halaman 98 – 102 ).

Nah, anda lihat seluruh para ulama Syi’ah sudah sepakat ( ‘ijma ) bahwa Al Qur’an tidak mengalami perubahan ( tahrif ) , baik penambahan ataupun pengurangan. Lalu, muncullah Ustad salafi  yang bukan Syi’ah dan secara semena – mena memvonis bahwa Syi’ah meyakini tahrif Al Qur’an . Ini sangat menggelikan dan kita harus mempertanyakan, darimana anda mendapatkan ‘wangsit’ semacam itu , Pak Ustad ???.

Sengaja saya mengutip pendapat para ulama Syi’ah tersebut langsung dari bukunya Ustad Husain Al Habsyi yang berjudul ‘ Sunnah Syi’ah Dalam Ukhuwah Islamiyah ‘ itu.

Hadis yang disampaikan  salafi  itu secara lengkap berbunyi :

“ Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril AS kepada ( Nabi ) Muhammad SAW adalah 17 ribu ayat ”
Memang benar, hadis di atas diriwayatkan Syeikh al Kulaini (RH) dalam Kitab Al Kâfi pada Kitabu Fadhli Al Qur’an, Bab An Nawâdir. Namun, yang luput dari perhatian salafi  ialah kenyataan bahwa hadis di atas adalah hadis Âhâd (bukan mutawâtir) yang tidak akan pernah ditemukan di bagian lain di dalam kitab Al Kâfi maupun kitab-kitab hadis Syi’ah lainnya dengan sanad di atas.

.
For your information. Bahwa al Kulaini (RH) memasukkan hadis di atas dalam Bab An Nawâdir. Dan, tahukah anda apa yang kami maksudkan dengan An Nawadir  ?. Seperti disebutkan Syeikh Mufîd bahwa para ulama Syi’ah telah menetapkan bahwa hadis-hadis nawâdir adalah tidak dapat dijadikan pijakan dalam amalan, sebagaimana istilah nadir ( bentuk tunggal kata Nawâdir) sama dengan istilah Syâdz. Dan para Imam Syi’ah AS. telah memberikan sebuah kaidah dalam menimbang sebuah riwayat yaitu hadis syâdz harus ditinggalkan dan kita harus kembali kepada yang disepakati al Mujma’ ‘Alaih.

.

Imam Ja’far as. bersabda:

يَنْظُرُ إلَى ما كان مِن رِوَايَتِهِم عَناّ فِي ذلك الذي حَكَمَا بِه الْمُجْمَع عليه مِن أصحابِك فَيُؤْخَذُ بِه من حُكْمِنَا وَ يُتْرَكُ الشَّاذُّ الذي ليْسَ بِمَشْهُوْرٍ عند أصحابِكَ، فإنَّ الْمُجْمَعَ عليه لاَ رَيْبَ فيه.

َ“Perhatikan apa yang di riwayatkan oleh mereka dari kami yang jadi dasar keputusan mereka. Diantara riwayat riwayat itu, apa yang disepakati oleh sahabat-sahabatmu, ambillah ! . Adapun riwayat yang syâdz dan tidak masyhur di antara sahabat-sahabatmu tinggalkanlah !. Karena riwayat yang sudah disepakati itu tidak mengandung keraguan ” ( HR. Al Kâfi, Kitab Fadhli Al ‘Ilmi, Bab Ikhtilâf Al Hadîts, hadis no. 10 )

Sementara hadis di atas tidak meraih kemasyhuran dari sisi dijadikannya dasar amalan dan fatwa, tidak juga dari sisi berbilangnya jalur periwayatannya. Ia sebuah riwayat Syâdz Nâdirah dan bertentangan dengan ijmâ’ mazhab seperti yang dinukil dari para tokoh terkemukan Syi’ah di antaranya Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha ‘Almul Hudâ, Syeikh ath Thûsi, Allamah al Hilli, Syeikh ath Thabarsi dll.

.
Hadis di atas tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya sebuah riwayat dan kaidah-kaidah pemilahan antara hadis shahih dan selainnya yang telah ditetapkan Syeikh Al Kulaini sendiri dalam Al Kâfi.

.
Pendek kata, hadis tersebut – menurut ulama Syi’ah – berstatus syadz ( meragukan ) dan ditolak untuk diamalkan atau dijadikan pegangan , karena itu tidak pernah dijadikan dasar amalan dan keyakinan Syi’ah

saudaraku……

Mushaf maksudnya suatu kumpulan sahifah yang merupakan bentuk tunggal untuk kata ‘halaman’ ( shuhuf ). Arti literal dari kata mushaf adalah naskah yang terikat diantara dua papan. Pada jaman itu orang-orang biasa menulis di atas kulit dan benda benda lain. Mereka menggulung tulisan-tulisan itu dikenal sebagai gulungan surah, atau mereka memakai lembaran-lembaran terpisah dan mengikatnya bersama-sama, karena itu disebut mushaf. Sekarang ini kita menyebutnya ‘buku’. Kata yang sebanding dengan buku adalah ‘kitab’ yang dulu ( dan sekarangpun masih ) biasa ditujukan untuk korespondensi atau untuk suatu dokumen tertulis atau tercatat.

Al Qur’an adalah sebuah mushaf ( buku / kitab), tetapi tidak setiap mushaf kita sebut dengan Al Qur’an. Mushaf Fatimah bukanlah Al Qur’an. Dalam sebuah hadis, dikatakan bahwa Fathimah AS, sesudah Rasulullah SAW wafat, biasa menulis apa yang sudah diberitahukan kepadanya tentang apa yang akan terjadi pada anak cucunya dan kisah-kisah mengenai para penguasa selanjutnya ( hingga hari kebangkitan ). Fathimah AS mencatat atau meminta Imam Ali untuk mencatatkan informasi-informasi tersebut, yang disimpan keluarga para imam, dan disebut Kitab ( Mushaf ) Fathimah.

Kesimpulan, tidak pernah ada Al Qur’an yang disebut dengan Mushaf Fatimah. Ini hanya tuduhan yang diada – adakan oleh orang – orang yang membenci dan memusuhi Syi’ah.

One comment

  1. Buat apa memperdebatkan Al Qur’an (mushaf Utsmani) dg mushaf Fathimah sekarang ? . Al Qur’an mushaf Utsmani telah di-KODIFIKASI (dibukukan) dan dipatenkan pd jaman khalifah Utsman (Sayidina Ali juga msh hidup waktu itu ) dan diterima semua pihak . ITU FINAL …!. Jadi kalau ada protes ini – itu dan lain- lainnya , pasti sdh dilakukan pd jaman itu . Kitab diluar itu (mushaf Utsmani) , bukan merupakan Kitab Suci Al Qur ‘an , tp cuma kitab pendukung spt kumpulan hadists Qudsi , hadists Rosul dll. Kalau mau mempersoalkannya saat ini .. ya terlambat 1.300 tahun !.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s