Mengapa banyak TKW diperkosa di Arab Saudi Manhaj Salaf ? peneliti Lembaga studi islam dan Kebudayaan ; Fachrurozy menilai, nilai-nilai religiusitas masyarakat Saudi lebih rendah daripada di Indonesia. Karenanya, orang-orang yang paham tentang nilai-nilai agama di Saudi, dalam hal ini adalah Islam, sangat sedikit sekali.

Sungguh ironis dan kontradiktif dengan klaim sunni  sebagai Rahmat bagi seluruh alam.

Justru anggapan  itulah yang dipermasalahkan oleh siapapun yang diluar Islam.

Dimanakah letak moralitas onta-onta arab itu? Apakah mereka tidak pernah berfikir dan membayangkan seandainya ada sanak mereka yang wanita yang bekerja pada orang lain, kemudian diperlakukan sama dengan cara perlakuan mereka. Tidakkah mereka akan marah. Sungguh onta-onta arab itu begitu bangganya memperlihatkan kebejatannya.

Kalau anda bilang diarab tidak ada pelacur Arab…anda salah besar…terbukti banyak yang dihukum rajam kalau ketahuan. Anda bilang tidak ada karena tadi anda mungkin tidak menyimak apa yang saya utarakan tentang tertutupnya informasi di sono. Lagi pula siapa yang mau dan berani menunjukkan jati dirinya sebagai pelacur di negara yang dengan sadisnya akan merajam mereka. Itu setor nyawa namanya. Jadi kalo anda bilang tidak ada, itu tidak berarti tidak ada sama sekali. Bagaimana bisa anda bedakan wanita baik2 dan wanita nakal jika semua wanita harus dikurung dalam songkok yang rapat?. Di indonesia ini juga ada lho pelacur yang pura-pura alim dengan memakai songkok untuk menutupi kelakuannya.

Kalau anda katakan tidak ada pelacur di arab, dan kerja mereka hanya ibadah saja, seperti anda lihat di masdjid2 dimana anda suka menghabiskan waktu, itu wajar. Sebab anda gak pernah memasuki lorong-lorong rahasia disudut-sudut kotanya yang kelam/temaram. Lagipula kalo benar sudah gak ada pelacur arab disana, buat apalagi hukum sariah. Untuk mencegah? apa yang mau dicegah kalau sudah tidak ada.

Untuk para TKW?. Sebelum mulainya pengiriman TKW, arab itu udah pake undang2 syariah yang nota bene memasukkan persoalan zina dan pelacuran ini. Bukti konkritnya aja terlihat dari adanya tarian perut yang terkenal itu, yang mempertontonkan udel segala. Ini pun kan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam industri esek-esek.

Sekarang aku pengen tanya satuuuuuuuuuuuuu aja pertanyaan. Jawab dengan “ya/tidak”.
Menganiaya pembantu itu tindakan yang kau cela atau tidak, walaupun pelakunya itu muslims Arab?

JAKARTA, RIMANEWS-

Kasus penganiayaan Tenaga Kerja di negeri petro dollar, Arab Saudi, bukan kali ini saja terjadi. Ratusan, mungkin ribuan kasus penganiayaan terhadap tenaga kerja telah terjadi di negeri tersebut.

Penganiayaan dan penyiksaan atas pembantu rumah tangga (PRT) asing di Arab Saudi juga tidak hanya menimpa pekerja asal Indonesia, seperti yang dialami Sumiati baru-baru ini. Banyak pula PRT asal Sri Lanka mengalami masalah di Saudi.

Majalah Times merilis, Salah satu kejadian terparah tahun ini adalah penderitaan yang menimpa Lahanda Ariyawathie. Pada Agustus lalu, perempuan berusia 50 tahun itu dipulangkan dari Saudi dengan kondisi mengenaskan setelah lima tahun bekerja di sana.

Di tubuh Lahanda banyak terdapat luka tusukan benda kecil. Setelah diperiksa, dokter menemukan lebih dari 20 paku kecil dan jarum pentul dari tubuh Lahanda.

Kasus penganiayaan yang terjadi di Saudi selama ini didominasi oleh mereka yang bekerja di bidang infomal seperti pembantu rumah tangga, sopir, tukang kebun dan yang lainnya.

Menurut peneliti Lembaga studi islam dan Kebudayaan, fachrurozy, yang juga sempat menetap di Saudi selama beberapa tahun, struktur bangunan di Saudi dengan tembok dan pagar rumah yang tinggi, merupakan salah satu faktor sulitnya mendeteksi tindakan penganiayaan majikan terhadap pembantunya.

Lebih lanjut, Fachrurozy menilai, nilai-nilai religiusitas masyarakat Saudi lebih rendah daripada di Indonesia. Karenanya, orang-orang yang paham tentang nilai-nilai agama di Saudi, dalam hal ini adalah Islam, sangat sedikit sekali.

KW di Arab Saudi sering diperlakukan tidak manusiawi. Mulai disiksa majikan cewek, sampai diperkosa majikan pria. Hal ini dialami oleh salah satu TKW baru-baru ini. Simak selengkapnya di bawah ini.

Berharap dapat mengubah status ekonomi keluarga, Tenaga Kerja Wanita Asal Cianjur, Jawa Barat, pulang dengan kondisi lumpuh. Nurhayati bin Pudin (30), TKW asal Kampung Cijunjung, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Cianjur, lumpuh akibat melompat dari lantai tiga, saat hendak diperkosa majikannya.

TKW disiksa

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Nurhayati berangkat menjadi TKW tahun 2008, melalui PJTKI PT Johara Perdana Satu, yang beralamat di Jalan Jatinegara Timur 84 F, Jakarta Timur. Perusahaan itu mengirimnya, ke Kota Mekkah, Saudi Arabia, sebagai pembantu rumah tangga. Namun baru satu pekan bekerja, Nurhayati mendapatkan perlakuan kasar dari isteri majikannya.

Berbagai siksaan acap kali dilakukan istri majikan terhadap dirinya. Tidak hanya tamparan, ancaman dan disiram minyak mendidih, menjadi santapan sehari-hari.

Namun harapan untuk mengubah status ekonomi, membuat ia tetap bertahan. Bahkan ia tidak merasakan sakitnya siksaan yang diberikan istri majikannya itu. Namun menginjak bulan keempat, sang majikan pria, berusaha memerkosanya. Ketika itu, ia tengah berada di lantai 3 rumah tersebut, ia sempat melawan dan mengacam akan melompat.

Sang majikan dengan nafsu bejatnya, terus berusaha memerkosanya, hingga akhirnya Nurhayati memilih melompat. Akibatnya, Nurhayati sempat koma dan kedua kaki Nurhayati mengalami lumpuh.

Sebelum dibawa pulang ke Cianjur, ia sempat dirawat selama 2,5 tahun tanpa sanak saudara di rumah sakit di Mekah. “Saya baru sadar kaki saya lumpuh, setelah sadar dari koma di rumah sakit di Mekah,” katanya.

Derita tiada habisnya, saat pulang ke Cianjur, ia terpaksa menumpang di rumah pamannya Engkos, di Kampung Pasir Astana, Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu karena rumahnya dijual suaminya yang kabur entah kemana. Nurhayati saat ini hanya bisa tergolek lemas di rumah sang paman dan berharap mendapatkan bantuan dari berbagai pihak

—————————————————————————————-

    Selasa, 06 Mei 2008 13:54 

    Kapanlagi.com – Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal dusun Pakem, RT-01 RW-03, Desa Wringintelu, Kecamatan Puger, Jember, Jawa Timur, Nursiyati (38), telah diperkosa hingga hamil, namun korban justru terancam hukuman rajam 2.000 kali yang akan dijalaninya selama dua tahun. 

    “Korban sudah menjalani masa tahanan selama satu tahun dan tinggal menunggu putusan mahkamah, tapi bila tidak ditangani dengan serius maka korban tidak akan diputus hukumannya,” kata Ketua DPW Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jatim, Cholily di Surabaya, Selasa.

    Menurut dia, putusan mahkamah akan segera dapat diketahui bila ada pendampingan hukum dari KJRI Jeddah. Karena itu, SBMI Jatim mendesak pemerintah memberikan bantuan layanan pendampingan hukum untuk pembebasan dan menjamin hak-hak korban atas gaji dan asuransi.

    “DPC SBMI Jember sudah mengadukan kasus itu kepada Disnakertrans Jember melalui surat nomer 11/Srt.P/SBMI/IV/2008 tertanggal 5 Mei 2008 yang ditanda tangani Wagiman (suami korban) dan Ahmad Mufri (koordinator advokasi dan fasilitasi SBMI Jember),” katanya.

    Oleh karena itu, SBMI Jatim mengecam tindakan pemerintah Arab Saudi yang tidak melihat terhadap history kejadian perkara dan tidak memberikan perlindungan kepada korban.

    Selain itu, mendesak pemerintah pusat melalui Dirjen Perlindungan WNI di LN Deplu dan BNP2TKI untuk memberikan layanan pendampingan hukum, karena korban selama ini tak mendapatkan pembelaan.

    “Kami juga mendesak pemerintah pusat untuk memberi peringatan keras kepada PT Andromeda Graha, Malang, Jawa Timur, termasuk mencabut izin operasi, karena sudah dua korban dalam rentang waktu yang nisbi singkat dalam menempatkan TKI di LN dalam kondisi bermasalah,” katanya menegaskan.

    SMBI Jatim juga mendesak pemerintah Jember untuk melakukan tindakan kepada PPTKIS (PT Andromeda Graha) dengan mencabut izin operasi dan melarang beroperasi di wilayah kabupaten Jember, tapi tetap harus menjamin pencairan klaim asuransi yang harus didapatkan korban.

    “Kasus itu terungkap dari Sumiati yang kebetulan mengalami nasib serupa dengan korban yang juga ditangani SBMI DPC Jember,” katanya.

    Untuk kasus Nursiyati yang menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Arab Saudi itu, katanya, perekrut korban sebagai TKW adalah Misnan/Misngan dari Desa Tembokrejo, Kecamatan Umbulsari, Jember, kemudian diberangkatkan PT Andromeda Graha selaku PPTKIS milik Chalid Bajamal yang beralamat di Jalan dr Cipto 202 Bedali, Lawang, Malang.

    Sementara suami korban, Wagiman menceritakan, istrinya berangkat ke Arab Saudi pada April 2006, karena ajakan Misnan yang akhirnya mengantarkan ke PT Andromeda Graha di Malang pada Februari 2006, kemudian ditampung selama 1,5 tahun dan akhirnya berangkat pada April 2006.

    “Istri saya bekerja di Arab Saudi sebagai PRT dan komunikasi dengan keluarga selama setahun pertama cukup lancar, bahkan istri saya sempat mengirim uang kepada kami sebesar Rp4.200.000 setelah lima bulan bekerja,” katanya mengungkapkan.

    Namun, sejak 1,5 tahun terakhir terjadi putus komunikasi hingga akhirnya menerima surat dari istri pada Februari 2008.

    “Dalam surat itu, istri saya menceritakan bahwa dia sekarang dipenjara, dia dipenjara selama dua tahun dan sudah menjalani masa tahanan selama setahun. Dalam surat itu, istri saya tidak menceritakan secara jelas penyebab dirinya dipenjara,” katanya.

    Namun, dia menceritakan dalam suratnya bahwa dirinya sering diganggu/digoda dan sering mengalami pelecehan yang dilakukan keponakan majikan dan bahkan diperkosa hingga hamil.

    “Kami sudah membalas suratnya pada 25 April 2008. Dalam surat balasan itu, kami menceritakan bahwa keluarga di Jember sangat berharap dia segera pulang dan kami juga menulis bahwa anaknya yang kedua sering sakit-sakitan,” katanya. (*/cax)

    ———————————————————————

    Lagi , TKW Diperkosa Majikan Sampai Hilang Ingatan

    http://www.rimanews.com/read/20101128/7389/lagi-tkw-diperkosa-majikan-sampai-hilang-ingatan

    Minggu, 28 Nov 2010 01:28 WIB

    JEDDAH, RIMANEWS- Lagi-lagi Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Indonesia menjadi korban kebejatan sang majikan. Kali ini peristiwa tersebut menimpa seorang TKW asal Jawa Barat yang menjadi korban pemerkosaan sang majikan. Perbuatan bejat sang majikan ini telah membuat gadis tersebut terpukul hingga hilang ingatan.

    Tiga perempuan lain, penghuni kolong jembatan Kandara, setia menemani. “Dia habis diperkosa,” ujar Hani Marsiana yang duduk di samping perempuan yang mulutnya tak berkata apa-apa itu. Dia berkata sambil berbisik. Maksudnya agar tak terdengar perempuan yang tatapannya kosong yang diketahui bernama Nina tersebut.

    Hani, TKW asal Karawang, Jawa Barat, itu menceritakan, dua minggu lalu, Nina ditemukan tergeletak tidak jauh dari jembatan Kandara, tempat berkumpulnya orang-orang Indonesia yang gagal mengadu nasib di Saudi. “Kondisinya mengenaskan. Tubuhnya biru-biru, memar-memar seperti habis dipukuli. Badannya lemas seperti orang pingsan,” ungkapnya.

    Beruntung, tubuh Nina yang lunglai itu ditemukan para TKI di lokasi tersebut. Mereka kemudian merawat Nina hingga siuman. Namun, setelah badan Nina mulai bergerak dan mampu duduk, batinnya seolah belum mampu merespons lingkungan di sekitarnya. Secara pelan-pelan, penghuni kolong jembatan Kandara mengorek informasi dari dia.

    “Pelan-pelan kami ajak ngomong. Akhirnya, sedikit-sedikit dia bisa cerita bahwa habis diperkosa majikannya orang Arab,” ungkap Hani mencoba menceritakan kisah Nina kepada Jawa Pos (induk koran ini).

    Namun, nasib buruk belum berhenti sampai di situ. Setelah bisa meninggalkan majikannya yang bejat itu, Nina kembali mengalami nasib buruk. Seorang warga Mesir yang sebelumnya mau menampung, ternyata juga mempunyai niat buruk seperti majikan Nina. Dia bercerita, selama seminggu dirinya disekap orang Mesir tersebut dan dipaksa melayani nafsu bejatnya. Setelah itu, dia dibuang di kawasan Kandara. “Memang ada yang lihat, Nina ini diturunkan dari mobil Camry oleh orang Mesir,” lanjut Hani.

    Berdasar pengakuan yang sempat diceritakan kepada teman-temannya warga kolong jembatan Kandara, Nina berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Dia sudah memiliki suami dan anak di sana. Sayang, banyak hal yang, tampaknya, tidak bisa lagi diingat Nina. Misalnya, saat ditanya usianya, Nina diam saja. “Dia masih seperti orang hilang ingatan,” tuturnya.

    Menurut Rokib (32), TKI yang juga penghuni kolong jembatan Kandara, sudah sering terjadi peristiwa seperti yang dialami Nina. Mereka dibuang tidak jauh dari jembatan Kandara dengan harapan warga Indonesia yang berada di kolong jembatan itu bisa mengambil dan merawatnya.

    “Kalau yang kondisinya parah, ya meninggal di sini. Ada juga yang hamil tua dibuang di sini, jadi ya mbrojol (melahirkan) di kolong jembatan ini,” ujarnya. Rokib mengungkapkan, para TKI di bawah jembatan Kandara tidak tahu lagi harus mengadu kepada siapa. Sebab, konsulat jenderal (konjen) yang seharusnya mewakili pemerintah Indonesia di negeri Arab tidak pernah memperhatikan mereka. “Percuma saja kami lapor ada TKW diperkosa, misalnya. Paling mereka tanya ada saksinya atau tidak,” ungkapnya.

    Dia menilai, memang banyak kerugian dalam pengiriman tenaga kerja wanita (TKW) ke Saudi. Sebab, model perumahan warga Saudi yang tertutup tembok-tembok tinggi tidak memungkinkan TKW untuk keluar jika terjadi tindakan buruk yang menimpa mereka. “Kalaupun teriak, nggak bakal ada yang mendengar. Percuma saja. Paling ya pasrah,” tegasnya.

    Ketika disinggung soal rencana pemerintah memberikan telepon seluler kepada setiap TKW yang bekerja di Saudi, Rokib menilai percuma saja. Sebab, kebanyakan TKW sudah memiliki peranti itu. Hanya, penggunaannya tidaklah sebebas di negara lain. “Ini negara Arab. Majikan itu seperti raja. Nggak boleh dibantah oleh babu seperti kita ini,” ujarnya.

    Di sisi lain, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) yang mengirim para TKW tidak mau tahu apa yang terjadi. Akibatnya, para TKW harus berjuang sendiri untuk bisa selamat dari nasib buruk yang menimpa mereka di Saudi. “Kasihan sekali mereka (TKW, red). Kadang nggak dibayar berbulan-bulan, disiksa, diperkosa, lalu dibuang ke jembatan Kandara,” ungkapnya.(ach/SE)

    ————————————————————————

    Lima TKW Konawe Diperkosa di Arab Saudi
    Rabu, 6 Oktober 2010 | 09:11 WIB

    KENDARI, KOMPAS.com — Lima tenaga kerja wanita asal Desa Dunggua, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi korban pemerkosaan di Arab Saudi. Namun, sejauh ini mereka belum mendapatkan perhatian dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia dan pemerintah.

    “Tiga dari lima korban itu sedang mengasuh anaknya di kampung halaman,” kata Ketua Divisi Advokasi Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah Sulawesi Tenggara Susianti Kamil di Kendari, Rabu (6/10/2010).

    Ia mengatakan, kasus pemerkosaan itu terjadi pada  2008 sampai 2010, tetapi belum mendapat perlindungan dari Pemerintah Indonesia dan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang memberangkatkan mereka.

    Menurut dia, salah satu korban adalah AY (25) yang telah diperkosa majikannya sehingga memiliki anak dan dinafkahi sendiri oleh pihak keluarga AY karena tidak adanya tanggung jawab dari PJTKI.

    Dia menceritakan, AY pergi ke Arab Saudi pada 2005 atas jasa PT Momenson Sejatera di Jakarta. Selama 27 bulan AY tidak memperoleh gaji. Selain itu, majikannya sering menyiksa dan memerkosa AY sampai hamil.

    Ia menilai, banyaknya TKW yang menjadi korban penganiayaan di luar negeri, terutama disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai hak pekerja dan tata cara meminta perlindungan.

    “Sekarang kami mendorong pemerintah daerah agar mengalokasikan dana untuk penyuluhan bagi calon tenga kerja yang akan diberangkatkan ke luar negeri,” katanya.

    Ia menambahkan, penyuluhan terpenting bagi TKI adalah mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja dan tata cara meminta perlindungan bila menjadi korban eksploitasi.

    ——————————————————————————

    Jaminan Keselamatan Kerja TKW Rendah
    Kamis, 1 Juli 2010 | 17:16 WIB
    KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
    Ilustrasi

    CIANJUR, KOMPAS.com - Kasus kekerasan yang menimpa sejumlah Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Cianjur, Jabar, akibat rendahnya jaminan keselamatan kerja selama berada di luar negeri.

    Sukarelawan International Labour Organization (ILO) Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Kawasan Cianjur-Sukabumi, Asep Mirda Yusup, Kamis (1/7/2010) mengatakan pihaknya menilai pemerintah masih belum mampu melindungi warga negaranya yang bekerja di luar negeri.

    “Akibatnya, para buruh migran asal Indonesia, paling rentan menjadi korban kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan seksual, sampai tindakan perkosaan,” katanya.

    Cianjur merupakan salahsatu daerah di Indonesia yang paling banyak mengirim TKW. “Jadi tidak heran banyak TKW asal Cianjur yang bermasalah, mulai dari korban kekerasan majikannya sampai menjadi korban perdagangan orang,” tuturnya.

    Tingginya angka keberangkatan warga Cianjur ke luar negeri untuk menjadi TKW tersebut, menurut dia, mengindikasikan masih minimnya lapangan pekerjaan di Cianjur.

    “Karenanya, tidak sedikit yang mengambil jalan pintas menjadi TKW, meskipun nyawa menjadi taruhannya,” ujarnya.

    Sedangkan wilayah yang selama ini banyak mengirimkan TKW di Cianjur, Kecamatan Karangtengah dan Sukaluyu.

    Pihaknya mendesak, Pemkab Cianjur, agar terus berupaya mengembangkan lapangan pekerjaan di tingkat desa, sehingga mampu menyerap tenaga kerja.

    Sementara itu, salah seorang staf di salah satu jasa tenaga kerja di Kelurahan Sayang, Cianjur, mengaku dalam satu hari menerima tidak kurang dari 20 orang yang mendaftar untuk menjadi TKW ke luar negeri.

    Kebanyakan dari mereka melamar untuk menjadi pembantu rumah tangga (PRT) dan pelayan toko dengan harapan dapat disalurkan ke negara-negara di Timur Tengah.

    “Pada umumnya mereka tidak dibekali dengan pendidikan formal atau keterampilan khusus yang memadai. Mereka hanya berbekal semangat dan kemauan saja,” katanya.

    ——————————————————–

    JAKARTA(SP),
    Tenaga Kerja Wanita (TKW) Sringatin Binti Kusran Kusni (27) dibunuh majikannya Abdullah Ali Jam’an Alzahrani di Saudi Arabia, Juni 2000. Sebelum dibunuh, Sringatin diperkosa berkali-kali hingga hamil. Hal itu diungkapkan ayah korban, Kusran Kusni, warga Desa Klorongan, Kecamatan Geger, Madiun, Jawa Timur di Jakarta, Kamis (30/11).

    Kusran didampingi istrinya Sri Rahayu (44) dan Munir Achmad dari Lembaga Pelayanan dan Bantuan Hukum TKI (LPBH TKI). Kusran membenarkan, terungkapnya kasus pembunuhan putrinya itu setelah lima bulan kemudian.

    Jadi, dia menduga, peristiwa yang tragis ini ditutup-tutupi oleh Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, Saudi Arabia, karena pihak KJRI baru melaporkan kejadian tersebut, Rabu (15/11) setelah menerima surat dari PT Bumen Jaya Duta Putra, perusahaan tenaga kerja yang mengirimkan Sringatin ke Saudi Arabia sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

    Dikatakan, Sringatin dibunuh Abdullah pada 22 Juni 2000 setelah sekian lama diperkosa. Hal ini diketahuinya dari surat Sringatin yang datang beberapa kali sebelum kematiannya. Sringatin menceritakan dirinya telah diperkosa oleh majikannya berulang kali. “Kalau nafsu bejat Abdullah tidak dilayani, ia disiksa,” kata Kusran menceritakan surat anaknya itu dengan nada sedih.

    Tapi, yang paling menyedihkan justru kematian anaknya itu baru diketahuinya setelah keluarga Abdullah yang diwakili Said Zahraim dan Jana Zahraim datang menemui Kusran di Madiun untuk meminta surat maaf sekaligus ingin membayar diyat (denda) agar Abdullah bisa dibebaskan dari hukuman pancung.

    “Kalau Said Zahraim dan Jana Zahraim utusan Abdullah Ali Jam’an Alzahrani tidak datang menemui kami untuk minta surat pemaafan, kami tidak tahu putri sulung kami itu sudah tiada,” katanya.

    Dikatakan, semula kedua utusan itu menceritakan Sringatin meninggal akibat sakit dan ditemukan luka membiru di atas perut karena dia berusaha menggugurkan kandungannya dengan cara memijat perutnya sendiri. Tapi, kami tidak percaya, sehingga meminta bantuan Munir Achmad dari LPBH TKI.

    Menurut hukum di Saudi Arabia, seorang pembunuh bisa dibebaskan dari hukuman pancung kalau keluarga korban memaafkannya dan pelakunya membayar denda (diyat). Munir Achmad menambahkan, kedua utusan Abdullah itu berupaya memberikan sejumlah uang kepada Kusran Kusni agar memberikan surat pemaafan bagi Abdullah. Tapi, hal itu ditolak Kusran.

    “Kita jadi curiga. Apalagi kedua orang ini tidak membawa surat hasil visum akibat kematian Sringatin. Untung kedua orang tua korban tidak tergiur atas tawaran kedua orang tersebut. Paling-paling yang mereka berikan Rp5 juta sampai Rp10 juta. Apakah harga nyawa manusia senilai itu? Padahal untuk denda (diyat) di Saudi Arabia paling kecil dibutuhkan 100.000 dinar atau sekitar Rp200 juta. Itu pun kalau keluarga korban mau bertahan, bisa 10 kali lipat dari jumlah itu,” kata Munir.

    Kusran dan Munir sangat menyayangkan sikap KJRI dan KBRI di Jeddah. “Mereka baru memberi tahu perusahaan pengirim tenaga kerja dan LPBH TKI atas kejadian ini 15 November 2000 setelah disurati,” kata Munir.

    Selain itu, Munir dan Kusran juga kesal terhadap Dirjen Binapenta Tjepy Alwi yang sudah dilaporkan mengenai hal ini, tapi sampai sekarang tidak ditindaklanjuti. “Justru mereka yang bertanya kepada kita,” kata Munir kesal


3 comments

  1. lebih baik tidak lagi kerja di arab karena resiko lebih besar, disamping kemampuan/skill kurang juga kendala masalah komunikasi (sebut bahasa arab) tidak dikuasai oleh rata-rata tenaga indonesia. bila memaksakan karena faktor ekonomi, mestinya pihak pemerintah dan instansi terkait sama-sama bertanggung jawab, mereka adalah bagian dari saudara kita, rasa solidaritas harus dikedepankan.

  2. ya, to the poin saja, kita tidak usah mengirim tenaga kerja di negara-negara Arab dan negara manapun juga yg tlh trbukti tdk punya hati nurani. pemerintah harus berani ambil segala resiko.titik. sebenarnya tdk ush jauh-jauh ke luar negri, di negeri kita sendiri pun masih banyak majikan yg semena-mena dgn pembantunya. barangkali LBH-LBH kita dan pmerintah perlu menggalakkan sosialisasi pelaksanaan hak dan kewajiban antara buruh dan majikan.

  3. orang indo itu sifatnya bonex’ bnyak yg mnganut systim”, berusa dlu dan tanpa mnyerah sbelum berjuang” sbuah prisip yg memandang hidup hrus berani mnanggung sgala resiko klu gk mw nggung y jngan hdup;;;;;; mgkin itu yg ada dlm benak pmikiran para tki …tp apa dya mnusia hnya bisa brusaha toh garis tdk brpihak pada sbagian dari mereka,dan usahanya hnya di ambang kegagalan,,,ckup prihatin
    ‘ IKLAN MULAI MERBAK DI RADIO MAUPUN D MDIA MASA DG IMING” GAJI LUMAYAN..TP ANEHNYA PEMERINTAH MBIARKAN BGITU SJA…Sdgkan mreka bgian dari pngusaha yg cari untuk keuntungan lwat jasa pngiriman TKI ,serta tdk brtanggung jwab scara pnuh..mlihat fakta d lpangan tki dr llusan sd smpai SMP ,aj bisa brangkat ke luar negeri’byangkan aj luar negeri booookk…yg pasti SDM mereka pasti sngat mnim pngetahuan maupun scara pengalaman,,,pra pngusaha hnya cari untung bisa kirim tki sbanyak bnyaknya dapt untung banyak…sharusny pmerintah hrus mnangani msalah tki scara serius dan hrus ketat dalam mengawasi sistim rekrut tki…yg lucunya lagi para TKI yg brmaslah jd ajang cari muka para politikus negara, mereka berlomba lomba.mncari perhatian .mngatas nmakan bela wrganya….huhh sangat mmilukan negara ini….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s