Sungai Nil Dan Efrat Adalah Sungai Dari Surga ( Hadis Shahih Abu Hurairah ) … Bandingkan dengan Perjanjian Lama, Kejadian (Genesis), ayat 10.

Diriwayatkan oleh Muslim dan Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasul Allah saw bersabda: ‘Sungai Nil dan Sihan dan Jihan dan Furat adalah sunga isungai  di Surga’ dan riwayat ini disampaikan juga oleh Ka’b al Ahbar yang berbunyi: ‘Ada empat sungai di Surga yang diletakkan di dunia oleh Allah yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, yaitu Nil; Sungai Madu di Surga, dan Furat; Sungai Minuman Keras, dan Sihan; Sungai Air, serta Jihan; Sungai Susu di dunia ! ( Lihat “AnNujum azZahirah, jilid 1, hlm. 34, Mahmud Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, hlm. 94, lihat juga Perjanjian Lama, Kejadian (Genesis), ayat 10. ))

١١٠ – سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالْفُرَاتُ وَالنَّيْلُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ

“Sihan, Jihan, Eufrat dan Nil, semua adalah  sungai – sungai  surga.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (8/149), Ahmad (2/289-440), Abubakar Al-Abhari dalam Al-Fawaid Al-Muntaqat (143/1) dan Al-Khatib (54-55)  jalur Al-Hafs bin Ashim, dari Abi Hurairah secara marfu’.

Hadits itu juga mempunyai jalur lain dengan lafazh:

١١١ – فَجَرَتْ أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ مِنَ الْجَنَّةِ الْفُرَاتُ وَالنِّيْلُ وَالسَّيْحَانُ وَجَيْحَانُ

“Lalu mengalirlah empat sungai dari surga: Eufrat, Nil, Sihan dan Jihan.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/261), Abu Ya’la dan Musnad-nya (4/1416, terdaftar dalam Maktab Islami) dan Al-Khathib dalam Tarikh-nya (1/44, 8/15) dari Muhamad bin Amr dari Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’.

Hadtis ini sanadnya hasan.

Ia juga mempunyai jalur yang ketiga, dikeluarkan oleh Al-Khathib (1/54) dari jalur Idris Al-Audi yang diperoleh dari ayahnya secara marfu’, ringkas dengan lafazh:

نَهْرَانِ مِنَ الْجَنَّةِ النَّيْلُ وَ الْفُرَاتُ

“Dua sungai  surga Nil dan Eufrat.”

Idris ini adalah majhul (tidak dikenal) dijelaskan dalam At-Taqib.

Hadits ini juga memilihi syahid (hadits pendukung) dari hadits Anas bin Malik secara marfu’ dengan lafazh:

١١٢ – رُفِعَتْ لِي سِدْرَةُ الْمُنْتَهَى فَي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ نَبِقَهَا مِثْلُ قُلاَلِ هَجَرَ وَوَرَقُهَا مَثْلُ آذَانَ الْفَيْلَةِ يَخْرُجُ مِنْ سَاقِهَا نَهْرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهْرَانِ بَاطِنَانِ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيْلُ مَا هٰذَانِ ؟ قَالَ أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَفِي الْجَنَّةِ وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيْلُ وِالْفُرَاتُ

“Aku dinaikkan ke Shidratil-Muntaha di langit ke tujuh. Buahnya seperti kendi yang indah, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari batangnya keluar dua sungai dhahir dan dua sungai batin. Kemudian aku bertanya, “Wahai Jibril, apakah keduanya ini?” Dia menjawab, “Adapun dua yang batin itu ada di surga sedangkan dua yang dhahir itu adalah Nil dan Eufrat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (3/164): “Bercerita kepdaku Abdurrazaq: “Bercerita kepadaku Mu’ammar, dari Qatadah dari Anas bin Malik secara marfu’.”

Saya berkata: Hadits ini sanadnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim. Al-Bukhari mentakhrijnya secara mu’allaq (perawi selain sahabat ada yang gugur). Kemudian dia berkata: “Dan Abdurrazaq mengatakan Ibrahim bin Thuhman dari Syu’bah dari Qatadah/ Dan sungguh Al-Bukhari (3/30-33), juga Imam Muslim (1/103-105), Abu Awamah (1/120-124), Imam Nasa’i (1/75-77) dan juga Imam Ahmad (2/207-208 dan 208-210) menyambung hadits tersebut yang diambil dari berbagai jalur yang berasal dari Qatadah, dari Anas, dari Malik bin Sha’sha’ah secara marfu’ (disambung) dengan hadits Isra’ secara lengkap dimana di dalamnya terdapat hadits di atas. Kemudian mereka memasukkan hadits tersebut ke dalam musnad Malik bin Sha’sha’ah. Inilah yang benar.

Kemudian saya dapati bahwa Al-Hakim mengeluarkan hadits itu (1/81) dari jalur Ahmad, dia menilai:

“Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim.” Penilaian tersebut disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Kemudian Al-Hakim juga mengeluarkannya dari jalur Hafsh Ibnu Abdullah yang menceritakan, “Telah bercerita kepadaku Ibrahim bin Thahman.”

Ibnu Katsir berkata dalam alBidayah wanNihayah: ‘Muslim bin alHajjaj

mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b alAhbar, kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b alAhbar

dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b alAhbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan

Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadis hadis’.

Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’. (Ibnu Katsir: alBidayah wa’nNihayah, jilid 8, hlm. 109.)

Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b alAhbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaranajaran

Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafatnya,

dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya AthThabaqat alKubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b alAhbar.Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’ (Ibnu Sa’d, atThabaqat alKubra, jilid 4, hlm. 58)

Al Hakim Berkata  bahwa riwayat ini shahih menurut syarat BukhariMuslim.

( AlHakim, alMustadrak, jilid 1, hlm. 92 )

Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar alIslam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang laki laki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping bukubuku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya. (Lihat juga Thabaqat, jilid 7, hlm. 79.)

Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari  Ka’b alAhbar.

(Suyuhi,  Alfiat, bab “Riwayat Orang orang  Besar dari Orang orang Kecil, atau “Riwayat Sahabat yangberasal dari Tabi’in”, hlm. 237, 238.)

Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, AbdullahAbdullah

yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lain lainnya yang mendengar dari Ka’b alAhbar”.

Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b alAhbar.

Dzahabi berkata dalam Thabaqat alHuffazh dan dalam Sair A’lam anNubala’

Dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b alAhbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’. (Sair A’lam anNubala’,jilid 2, hlm. 432.)

Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b alAhbar’.

Dan Baihaqi dalam alMadkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikan riwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”. (Al  Ishabah, jilid 5, hlm. 205.)

Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis,sedang saya tidak”. (Shahih Bukhari, jilid 1, hlm. 23.)

Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b alAhbar adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum

pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.

Thaha Husain berkata: ‘Ka’b alAhbar adalah seorang eksentrik (gharib alathwar),

Mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b alAhbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudah mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup.

Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah. Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudahmudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifat sifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheran heran.

Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.

A lUstadz Sa’id alAfghani menulis dalam majalah Risalah alMishriyah:  ‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b al Ahbarlah

sebenarnya Zionis yang pertama..’.

Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahan kelemahan

hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisah kisah Perjanjian Lama dari Ka’b alAhbar, sebelum ia menyampaikan hadis hadisnya di zaman Mu’awiyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s