diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i diriwayatkan yang berasal dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antaranya dalam enam hari. Kemudian Allah beristirahat di atas ‘Arsy pada hari ketujuh..Padahal dalam AlQur’an, yaum (hari) di sini bermakna kurun waktu; ada yang bermakna seribu tahun (AlQur’an, 22:47; 32:5), ada yang menunjukkan lima puluh ribu tahun (AlQur’an, 70:4).

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/09/b0cad-bapa2bkucing.jpg?w=319&h=188

Ahli sejarah syiah  tidak mudah menerima hadis Abu Hurairah. Mereka berkata: ‘Mudah orang berbohong tetapi sukar mempertahankan kebohongan sesudah dituturkan’. Apa buktinya ??

Hadis shahih yang meriwayatkan ‘kekafiran’ Abu Thalib adalah riwayat Abu Hurairah.. Tetapi bagaimana Abu Hurairah dapat menyaksikan peristiwa meninggalnya Abu Thalib sedang ia pada waktu itu berada di desa Daus, Yaman, dan baru muncul di Madinah dan masuk Islam sepuluh tahun kemudian ? Mazhab  Sunni   Mengkafirkan  Abu  Thalib  !!!

Abu Hurairah masuk Islam pada perang Khaibar dan ini disepakati oleh para ahli tarikh (sejarah Islam), yaitu pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rassul Saww hijrah ke Madinah (sebagai awal dari tahun hijriyyah).

Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita menilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?

Abu Hurairah mengatakan bahwa dia berada dalam perjalanan haji Abu Bakar sebagaimana diceritakan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Mundzir, Ibnu Mardawaih, Baihaqi dari Abu Hurairah: “”Abu Bakar ra mengutusku pada musim haji tersebut untuk menyampaikan kepada penyeru penyeru yang dikirimkannya pada hari anNahr di Mina. Kemudian Nabi saw menyusulkan Ali bin Abi Thalib ra dan menyuruhnya untuk mengumumkan Surat alBara’ah  dan Ali bersama kami mengumumkan Surat alBaraah kepada orang””…….

FAKTANYA : Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar. Ia kemudian tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Dzulqaidah tahun 8 Hijriah/Maret 630 M, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani al’ Ala’ alHadhrami sebagai mu’azin.. FAKTANYA : Rasul Allah mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin (Amir) haji tahun 9 Hijriah. … Jelas  Abu  Hurairah  Tidak Hadir, Bilang Hadir !!!!!!!!!!!!!

Allah SWT Turun ke Langit Dunia ( Hadis  Shahih  Abu  Hurairah ) ditolak syi’ah… Karena tiap detik dimuka bumi ini separuh bola bumi melewati malam hari, maka Tuhan selalu berada, di ‘langit dunia’ (asSama’ addunya) dan selalu berfirman seperti dikatakan oleh Abu Hurairah.

diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i diriwayatkan yang berasal dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antaranya dalam enam hari. Kemudian Allah beristirahat di atas ‘Arsy pada hari ketujuh..

Nabi Musa as Telanjang Mengejar Batu yang Lari ( Hadis  Shahih  Abu  Hurairah  Yang  Porno )

Benarkah Abu Thalib Kafir?

Abu Thalib Ibn Abdul Muthalib (Wafat 3 SH, nama sebenarnya adalah Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh dari Nabi Muhammad Saww. Ia juga adalah ayah dari Ali Ibn Abi Thalib.

Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam. Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.

Dengan reputasinya yang demikian membela dan menyayangi Nabi Saww, tak pelak membuat sebagian kalangan yang merasa heran bahwa pada akhirnya Abu Thalib wafat dalam keadaan belum menerima Islam alias kafir. Di kemudian hari keheranan sebagian kalangan ini menimbulkan gugatan2 terhadap hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib dengan kembali melakukan kritik terhadap hadist2 tyang menyatakan kekafiran Abu Thalib. Kritik2 tersebut bertambah kencang takkala mendapati kenyataan bahwa Abu Sufyan yang terkenal sebagai dedengkot kafir Quraisy justru berada di pihak Islam dengan mengucapkan kalimah syahadat ketika peristiwa futuh Makkah.

Artikel ini bertujuan untuk mendudukan kembali perihal hadist2 tentang kekafiran Abu Thalib dan disertai dengan kritik2 yang menyertai hadist2 tersebut. Adapun percaya atau tidaknya, saya mengembalikan kepada Allah Swt semata dan penilaian objektif dari para pembaca. Berikut di bawah ini hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib beserta kritikan terhadapnya.

1. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Abi Thalib menjelang wafatnya disuruh oleh Nabi Saww untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun Abu Jahal dan Abdullah Ibn Umayyah memperingatkan Abi Thalib untuk tetap berpegang teguh pada agama Abdul Muthalib. Hingga hembusan nafas terakhir, Abi Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ia wafat sebagai orang yang kafir.

Nabi sangat sediah akan kenyataan tersebut, karenanya Nabi Saww ingin memohon ampunan bagi Abu Thalib, tetapi turunlah QS: At-Taubah 113 yang melarang Nabi untuk memohonkan ampunan bagi orang2 musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi -lagi2- Allah Swt menegurnya melalui QS: Al-Qashash: 56, bahwa “Sesungguhnya Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai…….”.

Jawaban:

a. Hadist riwayat Muslim pada sanad pertamanya ialah sahabat Abu Hurairah Ra. Dari sejarah kita dapat mengetahui bahwa Abu Hurairah masul Islam pada perang Khaibar dan ini disepakati oleh para ahli tarikh (sejarah Islam), yaitu pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rassul Saww hijrah ke Madinah (sebagai awal dari tahun hijriyyah). Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita meniilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?. Dan ini kejanggalan pertama.

b. Mengenai QS: At-Taubah 113. Para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk ayat terakhir yang turun di Madinah. Sementara QS: Al-Qashash turun pada waktu perang Uhud. Dari sini kita telah mendapatkan kejanggalan, yaitu jarak bertahun2 yang menjadi selisih antara turunnya kedua ayat tersebut. Jadi ayat tersebut tidak turun pada satu kesempatan untuk menjelaskan peristiwa yang sama, yaitu wafatnya Abu Thalibb.

Kejanggalan ini belum ditambah dengan fakta bahwa QS; At-Taubah: 113, ialah ayat yang turun di Madinah, sementara Abu Thalib wafat di Makkah (sebelum hijrah). Bukankah suatu kejanggalan bahwa ayat yang turun di Madinah menjadi penjelasan terhadap peristiwa yang turun di Makkah?.

2. Hadist Ad-Dhahdah dalam riwayat Bukhari dan Muslim:

Bersumber dari Abdullah bin Al Harits, beliau berkata, “Aku mendengar Al Abbas berkata, Aku bertanya kepada Rasullulah saw., ‘Ya Rasulullah! Abu Thalib dulu merawatmu dan menolongmu. Lalu apakah itu ada manfaatnya baginya?” Rasullulah saw. Bersabda: “Ya! Aku menemukannya berada diluapan neraka, lalu aku mengeluarkannya ke kedangkalan.” Bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa Rasullulah saw. Bersabda: “Ahli neraka yang paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang terompah yang menyebabkan otaknya mendidih.”

Jawaban:

Kata “dhahdah diterjemahkan sebagai “kedangkalan”. Dalam kamus bahasa Arab Dhahdhah diartikan sebagai “bagian yang tergenang air di permukaan bumi yang genangannya mencapai mata kaki.”. Kemudian genangan air yang dangkal ini digunakan untuk menggambarkan permukaan neraka. Coba kita telaah hadis-hadis tadi, secara kritis.

- Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hamper semuanya termasuk rangkaian para pendusta dan mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. Ibnu Abi ‘Umar menerimanya dari Sufyan al-Tsauri. Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya.

Dengan mempertimbangkan berbagai kejanggalan2 hadist di seputar wafatnya Abu Thalib dalam keadaan kafir, seyogyanya kita bersikap menahan diri terhadap pengkafiran diri Abu Thalib. Terlebih menimbang pada kenyataan bahwa Abi Thalib adalah termasuk dari sebagian gelintir orang yang membela dakwah Nabi Muhammad Saww pada awal perkembangan Islam di Makkah. Niscaya tanpa perlindungan dari Abu Thalib, Islam tidak akan menyebar hingga kita-pun dapat merasakan nikmatnya hidup di bawah panji2 Islam. Alangkah baiknya bila kita menahan lidah untuk mengkafirkan orang2 yang disayangi oleh Rassulallah Saww. Saya pribadi sebagai muslim Sunni bersikap untuk menahan diri dan menyerahkan vonis mengenai Abu Thalib kepada Allah Swt semata, dan seluruhnya kembali kepada Allah Swt.

Abu Thalib meninggal di Makkah 3 tahun sebelum Hijrah dan Abu Hurairah masuk Islam 7 tahun sesudah Hijrah, yaitu sesudah Perang Khaibar. Dengan kata lain Abu  Hurairah baru datang dari Yaman

Anak cucu Ali dan Fathimah serta keluarga Rasul Allah saw tidak pernah meragukan keimanan Abu Thalib. Selain Mazhab Imamiah, juga kebanyakan penganut Mazhab Zaidiyah dan Mazhab Mu’tazilah menganggap Abu Thalib sebagai seorang Mu’min. Di dalam Mazhab Ahli Sunnah dapat dibilang satu satunya hadis shahih yang meriwayatkan ‘kekafiran’ Abu Thalib adalah Abu Hurairah. Tetapi bagaimana ia dapat menyaksikan peristiwa meninggalnya Abu Thalib sedang ia pada waktu itu berada di desa Daus, Yaman, dan baru muncul di Madinah dan masuk Islam sepuluh tahun kemudian?

Lagi pula para Sahabat besar menganggap Abu Hurairah sebagai pembohong (lihat pembicaraan di bagian lain mengenai Abu Hurairah), maka Abu Hurairah haruslah dicurigai seperti dikatakan oleh Imam Ibnu Qutaibah. Hal ini disebabkan kaum

Muslimin lebih percaya kepada para Sahabat seperti Umar, Utsman, Ali serta Aisyah ketimbang Abu Hurairah. Abu Hurairah bukan Sahabat besar, bukan dari kaum Muhajirin, bukan ‘Anshar, bukan penyair Rasul, bukan keluarga Rasul, malah asal usulnya, orang tuanya, bahkan nama aslinya pun tidak diketahui orang.

Dan secara moral, orang akan mempertimbangkan keyakinan keluarganya yang tentunya lebih mengetahui Abu Thalib ketimbang orang luar seperti Abu Hurairah yang sama sekali tidak mengenal, melihat apalagi menyelami pribadinya. Lagi pula orang mengetahui bahwa Mu’awiyah ingin melenyapkan keutamaan Ali bin Abi Thalib untuk memelihara kekuasaannya, dan Abu Hurairah adalah salah seorang yang menyediakan perangkat lunaknya.

Ia tidak membuang kesempatan membuat hadis mengenai Abu Thalib, ayah Ali, paman Rasul Allah, yang dikatakannya sebagai kafir yang tentunya sangat menggemaskan keluarga ahlu’lbait.

Haruslah diakui betapa susahnya anggota keluarga seperti keluarga Nabi ini membuktikan keislaman Abu Thalib setelah hadis Abu Hurairah muncul lebih dari empat puluh tahun sesudah wafatnya Abu Thalib, yang didukung oleh penguasa yang menganggap hadis hadis seperti kekafiran Abu Thalib sangat penting untuk mereka.

Ada hadis yang diriwayatkan oleh murid dan menantu Abu Hurairah yang bernama Said bin Musayyib yang dikatakan didengarnya dari ayahnya yang mengatakan bahwa Abu Thalib tidak mau membaca syahadat pada saat sekarat. Tetapi orang mengetahui Said bin Musayyib adalah seorang yang sangat memusuhi Ali bin Abi Thalib sebagaimana dapat diikuti dalam kisah percekcokan antara Sa’id bin Musayyib dan salah seorang anak Ali. (Lihat Syarh NahjulBalaghah, jilid 3, hlm. 370)

Lama kemudian, tatkala ia ditegur karena tidak mau menshalati jenazah Ali bin Husain bin Ali, cucu Ali bin Abi Thalib, ia mengatakan ‘Saya lebih suka shalat dua raka’at dari pada menshalati jenazahnya’ seperti dicatat oleh Waqidi. Dari segi matan, hadis ini pun jelas dikarang secara tergesa gesa. Diceritakan bahwa tatkala Abu Thalib tidak mau mengucapkan La ilaha ilallah, Rasul Allah hendak memohon agar Allah SWT

mengampuni Abu Thalib lalu turunlah ayat Surat Taubah: “Tiadalah pantas hagi Nabi dan orangorang yang beriman bahwa mereka meminta ampun bagi orang yang musyrik, sekalipun mereka kaum kerabat setelah nyata padanya bahwa mereka penghuni neraka”.(  AlQur’an, AtTaubah (IX), 113  )

Sesudah itu baru turun ayat Surat Qashash: “Kau tiada dapat memberi hidayah siapa (saja) yang engkau cintai. Tapi Allahlah yang memberi Hidayah siapa yang Ia berkenan. Dan Allah lebih mengetahui orang yang menerima petunjuk”. (AlQuran, alQashash (XXVIII), 56)

Sedang Surat at Taubah termasuk surat surat  Madaniah terakhir  sekitar sepuluh tahun sesudah Abu Thalib meninggal. ( Shahih Bukhari, jilid 7, hlm. 67; Tafsir Qurthubi, jilid 8, hlm. 273; Tafsir Syaukani, jilid 3, hlm. 316; Muslim, Irsyad as Sariy fi Syarh alBukhari, jilid 7, hlm. 101; juga Thabari, alHakim, Ibnu Abi Hatim, dan Baihaqi yang menyampaikan hadis yang berasal dari Ibnu Mas’ud dan Buraidah; Thabrani dan Ibnu Mardawaih melalui jalur ‘Ikramah yang berasal dari Ibnu ‘Abbas; lihat Tafsir athThabari, jilid 2, hlm. 31; Irsyad as Sariy, jilid 7, hlm. 270; adDurru’lMantsur, jilid 3, hlm. 273. Dan Zamakhsyari dalam tafsirnya alKasyf, jilid 2, hlm. 49 menceritakan bahwa hadis di atas turun berkenaan dengan Abu Thalib, kemudian menambahkan: “Benar, karena Abu Thalib meninggal sebelum Hijrah, sedang ayat ini turun pada akhir kurun Madinah”. )

Di samping itu ada hadis yang dikatakan diriwayatkan juga oleh Ibnu Abbas, yang tentu saja diragukan. Hadis ini disampaikan oleh Ibnu Mardawaih dan lain lain melalui jalur Abu assure bin Sahl dari ‘Abdul Quddus dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas. Di dalam rangkaian isnadnya terdapat orang orang seperti Abu Sahl AsSuri yang dikenal sebagai pembohong, pencipta hadis palsu dan  pencuri hadis,’ ( AlBidayah wa’nNihayah, jilid 5, hlm. 354; Mizan al Itidal, jilid 1, hlm. 370; alLa’Ali u1 Mashnu’ah, jilid 2, hlm. 80. )

dan ‘Abdul Quddus Abu Sa’id adDamasyqi yang merupakan mata rantai yang

lain, juga dituduh sebagai pembohong. (Lisan a1Mizan, jilid 4, hlm. 46; Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 127; Mizan alI’tidal, jilid 2, hlm. 143; alLa ali’ul Mashnu’ah, jilid 1, hlm. 207.)

Lalu mengapa pula memanfaatkan para pembohong seperti Abu Sahl AsSuri

Meriwayat kan juga dari pembohong ‘Abdul Quddus di atas dari Nafi dari Ibnu Umar mengenai hadis yang di dalamnya menceritakan turunnya Surat At Taubah sekitar sepuluh tahun sesudah Abu Thalib meninggal untuk menopang Hadis Sa’id bin Musayyib yang jelas tidak historis itu atau hadis Abu Hurairah yang merupakan hadis yang memperdayakan orang dan mengorbankan tokoh seperti Abu Thalib yang peranannya dalam membela Rasul tidak terlukiskan dengan kata kata?

Hadis lain dikatakan berasal dari Qatddah yang dimuat dalam tafsir Thabari, juga hadis yang dikatakan berasal dari Ibnu Abbas melalui jalur ‘Athiyyah al’Aufi dari Ibnu Abbas. Hadis hadis ini ditolak karena juga memuat Surah At Taubah yang secara jumhur diakui sebagai Surat yang turun pada akhir kurun Madinah. Bukhari, misalnya meriwayatkan bahwa ayat ini turun sesudah pembukaan Makkah sedang sebagian lagi sesudah Perang Tabuk. (Thabari, alHakim, Ibnu Abi Hatim, Baihaqi dan Ibnu Mardawaih.)

Abu Thalib merupakan pasukan satu orang yang melindungi Rasul Allah saw selama sepuluh tahun kenabiannya di Makkah, sama seperti yang dilakukan dalam kurun waktu yang sama oleh kaum ‘Anshar dan Muhajirin di Madinah. Seperti isterinya Fathimah binti Asad yang sejak awal telah memeluk Islam, ia memerintahkan anakanaknya

untuk mengikuti Muhammad saw. Ia dengan tulusnya melindungi Rasul.

Marilah kita ikuti hadis yang lain. Ibn AbilHadid meriwayatkan dari banyak jalur, dari Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dan sebagian lagi dari Abu Bakar bin Abi Quhafah:

‘Sesungguhnya, Abu Thalib sebelum meninggal berkata: ‘La ilaha ilallah, Muhammad Rasul Allah’.

Dan yang termasyhur adalah bahwa Abu Thalib tatkala sedang sekarat kelihatan berbicara pelan. Dan melihat bibir yang bergerak, Abbas, saudaranya, mendekatkan kupingnya dan mendengar Abu Thalib membaca syahadat. (Sirah Ibnu Hisyam, jilid 2 hlm. 27; Tharikh Ibnu Katsir, jilid 2, hlm. 123; Ibnu Sayyid AnNas, Uuyn alAtsar, jilid 1, hlm. 131; alIshabah,  jilid 4, hlm. 116; alMawahib Diniyyah, jilid 1, hlm. 71; AsSirah alHalabiyah, jilid 1, hlm. 372; AsSirah adDahlaniyyah  Hamisy alHalabiyah,  jilid 1, hlm. 89; Asna a1Muthalib,  hlm. 20.)

‘Sesungguhnya, tatkala penyakit Abu Thalib bertambah parah, Rasul Allah bersabda kepadanya: ‘Wahai paman! Ucapkanlah syahadat agar melapangkan aku memohon syafa’at untukmu pada hari kiamat’. Dan Abu Thalib menjawab: ‘Wahai anak paman! Andaikata aku tidak takut orang Quraisy mencelaku karena mengira aku takut akan mati, maka aku akan melakukannya’. Dan tatkala maut makin mendekat, bibirnya bergerakgerak, Abbas lalu mendekatkan kupingnya dan Abbas berkata kepada Rasul Allah: ‘Demi Allah, wahai anak saudaraku, ia telah mengucapkan kalimat yang engkau perintahkan kepadanya untuk diucapkan!’. Dan Rasul Allah saw bersabda: ‘Segala syukur bagi Dia yang memberi hidayat kepadamu, wahai paman!. (Tarikh Abu’IFida’, jilid 1, hlm. 120; Sy’rani, Kasyf alGhummah, jilid 2, hlm. 144.)

Ahmad Zaini Dahlan berkata dalam tafsirnya ( AlHalabiyah, jilid 1, hlm. 194)  ,  AsySyaikh AsSuhaimi dalam bukunya ‘Syarh Jauharah serta lain lain berkata bahwa hadis Abbas memperkuat keyakinan sebagian peneliti (ahlul kasyf) bahwa ia (Abu Thalib) adalah seorang Muslim’.

Salam Gitu Aja koq repot

Selamat menikmati hidangan.

NB: Tadlis: istilah dalam ilmu hadist, yaitu perawi meriwayatkan suatu hadits yang hadits tersebut tidak pernah
didengarnya, tanpa menyebutkan bahwa perawi pernah mendengar hadits tersebut darinya.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/09/b0cad-bapa2bkucing.jpg?w=319&h=188

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Hurairah: “Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu, dan menciptakan gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelek jelek pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam as pada hari Jumat, sesudah waktu asar, sebagai ciptaan terakhir dan pada hari terakhir, serta saat yang terakhir, yaitu di antara waktu asar dan malam”.

Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i diriwayatkan yang berasal dari Abu Hurairah: “Sesungguhnya Allah SWT menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antaranya dalam enam hari. Kemudian Allah beristirahat di atas ‘Arsy pada hari ketujuh.

Padahal dalam AlQur’an, yaum (hari) di sini bermakna kurun waktu; ada yang bermakna seribu tahun (AlQur’an, 22:47; 32:5), ada yang menunjukkan lima puluh ribu tahun (AlQur’an, 70:4).

Hadis  Isra’iliat  dan  Khurafat  Abu  Hurairah

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis hadis isra’iliyat, seperti Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah, setan lari sambil kentut mendengar suara azan, Nabi Sulaiman yang mengancam akan membelah bayi yang diperebutkan dua orang ibu, Allah menaruh kakinya ke neraka, Nabi Sulaiman yang meniduri 70 wanita dalam semalam tapi hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia, Nabi yang membakar sarang semut karena digigit seekor semut. Nabi Isa akan turun membunuh babi (apa salahnya babi?), awan yang bicara, sapi dan serigala berbicara bahasa Arab, Allah yang marah sekali dan tidak akan pernah lebih marah lagi seperti itu, yang diucapkan Adam karena dia melanggar perintah Allah. Sedikit di antaranya yang merupakan cuplikan dari buku Mahmad Abu Rayyah, Syaikh alMudhirah, Abu Hurairah, dan beberapa buku lain perlu dikemukakan disini.

Keutamaan Sahabat, Neraka Berdebat Dengan Surga, Abu Bakar Penghias Surga,Tulisan di Langit: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’

Abu’lFaraj Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Rasul Allah menceritakan kepada saya: Surga dan neraka saling membanggakan diri. Neraka berkata kepada surga: ‘Kedudukanku lebih agung dari kedudukanmu. Di tempatku berdiam. Fir’aun, raja raja dan penguasa yang jahat serta keluarga mereka’. Lalu Allah mewahyukan kepada surga, agar mengatakan kepada neraka: ‘Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

Abul Abbas alWalid bin Ahmad alJauzini menyampaikan dari Abu Hurairah: ‘Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar memiliki sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintu pintu itu, berhembus angin rahmat. Di luar kubah terdapat pengampunan Allah, dan di dalam kubah terdapat keridaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah, maka pintu akan terbuka, dan dia dapat melihat Allah’.

Ibnu Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Aku mendengar Rasul Allah bersabda: ‘Tatkala aku mikraj ke langit, aku tiada menemui sesuatu di langit, kecuali aku bertemu dengan tulisan: ‘Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq’.

Ibnu Katsir berkata dalam alBidayah wanNihayah: ‘Muslim bin alHajjaj

mendengar dari Busr bin Sa’id yang berkata: ‘Bertakwalah kepada Allah dan lindungi hadis Nabi, demi Allah kami telah melihat tatkala kami duduk bersama Abu Hurairah dan ia telah menyampaikan hadis tentang Rasul Allah sedangkan sebenarnya ia sedang menyampaikan riwayat yang berasal dari Ka’b alAhbar, kemudian seorang di antara kami berdiri dan mengatakan bahwa apa yang didengar Abu Hurairah dari Ka’b alAhbar

dijadikannya hadis Rasul Allah’. Dan dalam riwayat lain: ‘Ia menjadikan apa yang dikatakan Ka’b alAhbar sebagai hadis Rasul Allah dan apa yang dikatakan

Rasul Allah dikatakan dari Ka’b. Maka bertakwalah kepada Allah dan peliharalah hadis hadis’.

Yazid bin Harun berkata: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang (yudallisu) yaitu dengan mengacaukan apa yang didengarnya dari Ka’b dengan apa yang didengarnya dari Rasul dan ia tidak memisahkan yang satu dengan yang lain’. (Ibnu Katsir: alBidayah wa’nNihayah, jilid 8, hlm. 109.)

Abu Hurairah segera pergi ke Madinah dari Bahrain setelah ia mendapat kabar tentang Ka’b alAhbar sang Yahudi yang kemudian mengajari Abu Hurairah ajaranajaran

Yahudi, isra’iliyat, dan ia memperdaya kaum Muslimin dengan khurafatnya,

dan kaum Muslimin yang tidak mengerti mengambil dari Abu Hurairah. Seperti yang dikatakannya kepada Qais bin Ibnu Kharsyah: ‘Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak tertulis dalam Taurat yang diturunkan kepada Musa’.

Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam bukunya AthThabaqat alKubra dari Abdullah bin Syaqiq bahwa Abu Hurairah. mencari dan mendatangi Ka’b alAhbar.Ka’b waktu itu berada di tengah sekelompok orang. Ka’b bertanya: ‘Apa yang kau kehendaki dari Ka’b?’ Abu Hurairah menjawab: ‘Aku sesungguhnya tidak mengetahui seorang pun dari Sahabat Rasul Allah yang lebih menghapal hadis Rasul Allah dari diriku! ‘Maka Ka’b menjawab: ‘Engkau sama sekali tidak hendak menjadi murid dengan hanya mengisi perutmu tiap hari dari Ka’b dan tidak belajar; dengan kata lain engkau tidak boleh hanya mengejar dunia’. Dan Abu Hurairah bertanya: ‘Engkaukah Ka’b?’. Ka’b menjawab ‘Ya’. Abu Hurairah berkata: ‘Untuk inilah aku datang kepadamu!’ (Ibnu Sa’d, atThabaqat alKubra, jilid 4, hlm. 58)

Al Hakim Berkata  bahwa riwayat ini shahih menurut syarat BukhariMuslim.

( AlHakim, alMustadrak, jilid 1, hlm. 92 )

Ahmad Amin dalam mengulas Thabaqat dari Ibnu Sa’d ini menceritakan dalam Fajar alIslam bahwa Ka’b pada masa itu menyampaikan pelajarannya di dalam masjid. Tentang seorang laki laki tatkala memasuki masjid telah melihat Amir bin Abdullah bin ‘Abdul Qais sedang duduk di samping bukubuku dan di antaranya terdapat Kitab Taurat, dan Ka’b sedang membacanya. (Lihat juga Thabaqat, jilid 7, hlm. 79.)

Para ahli hadis tahu bahwa Abu Hurairah mengambil pelajaran dari  Ka’b alAhbar.

(Suyuhi,  Alfiat, bab “Riwayat Orang orang  Besar dari Orang orang Kecil, atau “Riwayat Sahabat yangberasal dari Tabi’in”, hlm. 237, 238.)

Ahmad Syakir berkata: “Dan dari jenis ini terdapat riwayat para Sahabat yang mereka dengar dari para tabi’in seperti riwayat Abdullah bin Abbas, AbdullahAbdullah

yang lain, Abu Hurairah, Anas (bin Malik) dan lain lainnya yang mendengar dari Ka’b alAhbar”.

Dan jelas Abu Hurairah merupakan Sahabat yang paling banyak tertipu oleh dan percaya kepada, serta membuat riwayat dari Ka’b dengan memperdaya orang. Abu Hurairah adalah yang terbanyak meriwayatkan hadis Rasul Allah, padahal riwayatnya terbukti berasal dari apa yang dibacakan kepadanya oleh Ka’b alAhbar.

Dzahabi berkata dalam Thabaqat alHuffazh dan dalam Sair A’lam anNubala’

Dalam membicarakan Abu Hurairah bahwa Ka’b alAhbar telah berkata: ‘Bukan main Abu Hurairah! Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isinya dari Abu Hurairah’. (Sair A’lam anNubala’,jilid 2, hlm. 432.)

Dzahabi berkata di bagian lain: ‘Abu Hurairah mengambil dari Ka’b alAhbar’.

Dan Baihaqi dalam alMadkhal dari jalur Bakar bin Abdullah dari Abi Rafi’ dari Abu Hurairah yang berkata: ‘Bila Abu Hurairah bertemu dengan Ka’b maka ia akan meminta Ka’b menyampaikan riwayat. Dan Ka’b kemudian berkata: “Aku belum pernah melihat seseorang yang tidak membaca Taurat lebih mengetahui isi Taurat dari Abu Hurairah”. (Al  Ishabah, jilid 5, hlm. 205.)

Abu Hurairah adalah seorang buta huruf, bukan hanya tidak membaca bahasa Ibrani, malah ia tidak bisa mengeja huruf Arab. “Ia berkata: ‘Tidak ada seorang sahabat Nabi saw pun yang demikian banyak membawakan hadis Nabi kecuali Ibnu Umar. Hanya saja ia (bisa baca) tulis,sedang saya tidak”. (Shahih Bukhari, jilid 1, hlm. 23.)

Dan pada masa itu tidak ada Muslim yang mengerti Taurat. Ka’b alAhbar adalah orang Yahudi dari Yaman yang baru masuk Islam di zaman para Sahabat dan belum

pernah bertemu dengan Rasul Allah, oleh karena itu dia termasuk generasi tabi’in.

Thaha Husain berkata: ‘Ka’b alAhbar adalah seorang eksentrik (gharib alathwar),

Mengetahui bagaimana menipu banyak orang Islam dan di antaranya Umar bin Khaththab, dialah Ka’b alAhbar, seorang Yahudi dari Yaman. Ia menyatakan bahwa ia bertanya kepada Ali, mudah mudahan Allah memberi rahmat kepadanya, yaitu tatkala Ali diutus Rasul Allah ke Yaman dan tatkala Ali mengabarkan kepadanya sifat Nabi, ia mengatakan ia telah mengetahui sifat Nabi yang diceritakan Ali dari dalam Taurat. Dan ia tidak datang ke Madinah pada masa Nabi masih hidup.

Dia tetap dalam agama Yahudinya di Yaman. Tapi ia mengatakan bahwa pada masa itu ia telah masuk Islam dan berdakwah di Yaman. Ia datang ke Madinah pada masa Umar menjadi khalifah. Ia menjadi maula (di bawah perlindungan, pen.) Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mudahmudahan Allah memberi rahmat kepadanya, dan Ka’b dengan ahlinya membohongi kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa ia menemukan sifat sifat mereka dalam Kitab Taurat. Dan kaum Muslimin mengagumi hal demikian itu dan dengan demikian mengagumi dirinya juga. Dan ia tidak segan segan membohongi Umar bin Khaththab sendiri dengan mengatakan bahwa ia mendapatkan sifat Umar dalam Taurat dan Umar terheran heran.

Umar bertanya: ‘Engkau menemukan namaku dalam Thurat?’. Ka’b menjawab: ‘Aku tidak mendapatkan namamu dalam Taurat, tetapi aku mendapatkan sifatmu!’.

A lUstadz Sa’id alAfghani menulis dalam majalah Risalah alMishriyah:  ‘Bahwa Wahb bin Munabbih adalah Zionis pertama telah saya koreksi dalam artikel yang dimuat dalam edisi nomor 656 majalah ini, dengan bukti yang kuat bahwa Ka’b al Ahbarlah sebenarnya zionis yang pertama merusak islam

Para penulis Muslim di zaman dahulu telah melihat kelemahan kelemahan hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu pasti bahwa Abu Hurairah mendapatkan kisah kisah Perjanjian Lama dari Ka’b alAhbar, sebelum ia menyampaikan hadis hadisnya di zaman Mu’awiyah.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/09/b0cad-bapa2bkucing.jpg?w=319&h=188

Hadis Sebagai Sumber Sejarah, hadis Shahih Belum Tentu Shahih

Sumber sejarah kita adalah AlQur’an, hadis dan naskah sejarah lainnya. Mengenai AlQur’an, tidak ada beda pendapat. AlQur’an hanya satu. Tetapi mengenai hadis kita harus memilih hadis shahih. Namun haruslah diingat bahwa Hadis yang ‘shahih’ belum tentu shahih bila dihubungkan dengan sejarah atau ayat AlQur’an.

Misalnya hadis Abu Hurairah mengenai mizwad, kantong mukjizat yang diikatkan di pinggangnya dan memberi makan pasukan pasukan dan dirinya sendiri selama dua puluh tahun. Atau hadis Abu Hurairah tentang Adam yang diciptakan seperti bentuk Allah SWT dengan panjang enam puluh hasta, yang akan dibicarakan di bagian lain pengantar ini. Atau hadis yang bertentangan satu dengan yang lain

Abu Hurairah adalah nama julukan yang berarti Ayah Anak Kucing. Menurut ceritanya ia pernah bekerja sebagai buruh pengembala dan sering membawa anak kucing bersamanya. Dari situlah ia diberi gelar Abu Hurairah.

Abu  Hurairah  ‘Pemerdaya’

Seseorang dikatakan telah memperdaya, bila ia bertemu dengan seseorang pada suatu kesempatan dan tidak mendengar perkataan orang tersebut tapi mengatakan bahwa ia telah mendengarnya. Atau menyampaikan berita tentang seseorang yang hidup sezaman dengannya, yang tidak ia temui, tetapi ia mengatakan telah mendengar pembicaraan orang tersebut.

Abu Hurairah meriwayatkan semua yang didengarnya sebagai sabda Rasul Allah, tidak peduli apakah ia mendengarnya langsung dari Rasul Allah atau dari para Sahabat atau dari generasi sesudah sahabat yaitu para tabi’in dan dia tidak mengatakan sumbernya dan memberi kesan kepada orang bahwa dia lansung mendengar dari Nabi. Di kalangan para ahli hadis digunakan istilah tadlis.

Ibnu Qutaibah menulis dalam Ta’wil Mukhtalaf alHadits: ‘Abu Hurairah berkata: ‘Rasul Allah  bersabda demikian! padahal ia sebenarnya mendengar dari ‘orang yang dipercayainya’ dan kemudian meriwayatkannya. ( Ibnu Qutaibah, hlm. 50.)

Ibnu Qutaibah sengaja menyebut bahwa Abu Hurairah menggunakan istilah ‘orang yang dipercayainya’ dan tidak orang yang dapat dipercaya, karena Abu Hurairah tidak menyebut nama orang yang meriwayatkan kepadanya.

Dzahabi meriwayatkan dalam ‘Sair alA’lam anNubala’:  ‘Telah berkata Yazid bin Ibrahim: ‘Aku  mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang’. Dan Dzahabi menghubungkan berita ini dengan kata katanya: ‘Ia memperdayakan tentang Sahabat dan tidak merasa aib’. Dan Yazid bin Harun berkata dalam ‘alBidayah wanNihayah’: ‘Aku mendengar Syu’bah berkata: ‘Abu Hurairah memperdayakan orang, yakni ia meriwayatkan apa yang didengarnya dari Ka’b alAhbar dan tidak didengarnya dari Rasul Allah, dan dia tidak memisahkan yang satu dari yang lain!

Ibnu ‘Asakir berkata: ‘Dan Syu’bah menghubungkan ini dengan hadis Abu Hurairah ‘Barang siapa bangun pagi dalam keadaan junub maka tidak ada puasa baginya’ dan tatkala didesak ia mengatakan ‘seorang telah menyampaikannya kepadaku dan aku tidak mendengar dari Rasul Allah’ ‘.(hadis yang dibantah oleh ummu’lmu’minin Aisyah dan setelah didesak Abu Hurairah mengatakan ia mendengarnya dari Fadhl bin Abbas yang telah meninggal dan tidak dapat dijadikan mitra bicara, lihat di atas, pen.)

Al Hakim (Bab 6 bukunya Ma’rifah U’lum alHadits) berkata: ‘hadis bagi kami terbagi dalam enam jenis’. Kemudian ia berbicara tentang jenis yang kedua: Adalah mereka yang mengeluarkan hadis dengan memperdayakan orang. Dan mereka berkata: ‘Si pulan berkata (kepadaku)!’ dan bila dibantah orang dan merasa terdesak serta gagal mempertahankan kesaksian pendengaran mereka, mereka lalu mengubah sumber mereka’.

Mahmud Abu Rayyah memasukkan Abu Hurairah dalam kategori ini. Nawawi berkata dalam AtTaqrib: ‘Dikatakan memperdayakan karena perawi meriwayatkan tentang orang sezamannya, tapi tidak mendengar lansung darinya. Ia berkata: ‘Si pulan berkata’ atau “Berasal si pulan”. Dan ini cocok sekali dengan Abu Hurairah, karena ia dalam kebanyakan hadisnya berkata: ‘Rasul Allah bersabda’ (qala Rasul Allah), atau ‘Dari Rasul Allah’ (‘an Rasul Allah) dan dia tidak mendengar dari Rasul Allah.

‘Attadlis’ hukumnya adalah penolakan (madzmum) seluruhnya secara mutlak sebagaimana dikemukakan oleh Syu’bah bin alHajjaj, Imam ahli cacat atau tidaknya suatu hadis (Ahlu alJarh wa atTa’dil) dengan kata katanya: ‘Berzina lebih aku sukai dari memperdayakan’ dan: ‘Memperdayakan orang adalah saudara dari bohong’. 261

Abu Hurairah Berbeda Dengan Sahabat lain, Kedudukannya Khusus

Kedudukan Abu Hurairah adalah khusus karena dia dicerca dan dikritik oleh Para Sahabat Besar secara susul menyusul yang tidak pernah terjadi pada para Sahabat lain. Ia dituduh sebagai ‘pembohong’ dan ‘pengoceh’ oleh para Sahabat Besar. Dan anehnya orang suka kepada hadisnya tentang Tuhan yang turun ke ‘langit dunia’, Tuhan yang menciptakan Adam seperti wajah Tuhan dengan tinggi enam putuh hasta, Tuhan yang menaruh kaki di neraka, Nabi Musa yang mengejar batu dengan telanjang bulat, Nabi yang menghancurkan seluruh sarang semut karena digigit oleh seekor semut, sapi dan serigala yang berbicara bahasa Arab, pundit pundi ajaib yang diikat di pinggangnya dan mengeluarkan kurma selama dua puluh tahun, hadis membenamkan lalat ke dalam minuman, hadis tidak ada penyakit menular dan ratusan hadis lain yang tidak mungkin dimasukkan ke dalam buku kecil ini.

Ahli sejarah syiah  tidak mudah menerima hadis Abu Hurairah. Mereka berkata: ‘Mudah orang berbohong tetapi sukar mempertahankan kebohongan sesudah dituturkan’. Abu Hurairah mestinya menceritakan kepada kita, di mana berada pundit pundinya

tatkala ia kelaparan di Shuffah. Dalam perang yang mana Rasul Allah menanyakan pundi  pundinya, mengusap dan memberi makan seluruh pasukan. Bagaimana rasa kurma mukjizat tersebut dan berapa banyak yang dimakan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Dan mengapa dari puluhan ribu Sahabat tidak ada satu pun menceritakan pundit pundi Abu Hurairah yang merupakan suatu mukjizat besar.

Mengapa Ali mengatakannya sebagai anggota umat yang paling pembohong? Mengapa ummulmuminin menamakan Abu Hurairah sebagai ‘pengoceh tidak karuan’. Mengapa ia mengatakan bahwa Ali dilaknat Allah dan para malaikat serta seluruh ummat manusia di Masjid Kufah ?Bid’ah apa yang dilakukan oleh Ali?

Mengapa ia mengatakan bahwa Aisyah hanya sibuk dengan cermin dan tempat celak dan pemoles? Lalu mengapa orang membiarkan ‘Abu Hurairah’ memasuki rumah orang dan mengatakan bahwa seorang anggota keluarganya ‘mati dalam keadaan kafir’ sedang seluruh keluarganya tidak sedikit pun meragukan keislamannya, seperti kisah Abu Hurairah tentang Abu Thalib?

Tatkala ia dikritik karena membawa begitu banyak hadis, ia menceritakan bahwa Rasul Allah membentangkan bajunya dan Abu Hurairah tidak lupa akan hadis hadis

Rasul Allah. Kalau demikian ia mestinya menceritakan mengapa Rasul mengirimnya ke Bahrain dan tidak menahannya di Madinah untuk mendengarkan hadis hadis Rasul Allah yang lain, karena sesudah itu Rasul Allah masih hidup selama dua tahun lagi?

Dan mengapa Umar tidak mendudukkannya dalam majelisnya sebagai guru? Mengapa Umar mengatakan ‘Kalau tiada Ali, maka celakalah Umar? Dan bukan ‘Kalau tiada Abu Hurairah maka celakalah ummat Islam?’

Abu Hurairah mengatakan bahwa kaum Muhajirin jauh dari Rasul Allah karena sibuk dengan perdagangan mereka di pasar dan kaum Anshar sibuk dengan urusan mereka. Dengan kata lain setiap orang dari kaum Muhajirin yang awal dan terdahulu serta setiap orang dari kaum Anshar sedang sibuk berdagang atau mengurus harta mereka. Syiah menolak  hadis Abu Hurairah ini karena Allah telah memberi peringatan kepada umat manusia dengan firmanNya yang berbunyi: ‘Orang oranglaki laki yang tiada menjadi lalai mengingat Allah oleh perniagaan atau bertukar barang dagangan’.

Dan orang yakin bahwa para Sahabat tidak akan lalai terhadap firman Allah SWT tersebut. Abu Hurairah seharusnya menceritakan di mana Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Salman alFarisi, ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr dan lain lain?

Apakah mereka juga sedang sibuk berdagang? Bukankah hari pasar adalah hari Kamis dan hanya sedikit yang berdagang? Dan bukankah paling sedikit Abu Dzarr, Miqdad dan ‘Ammar bin Yasir hampir selalu berada di masjid?

Dan bukankah Abu Hurairah sendiri mengatakan bahwa di Shuffah saja sudah berdiam tujuh puluh orang, lalu sedang di mana mereka itu? Dan seperti dikatakannya sendiri bahwa mereka, termasuk Abu Hurairah, ‘tidak ada yang mengenakan jubah (rida’, baju luar yang lepas), tapi hanya mengenakan izar (semacam selendang) atau kisa’ (baju) yang dilingkarkan ke leher mereka’, lalu mengapa yang lain lain tidak membentangkan baju baju mereka?

Dan catatan yang kuat menunjukkan bahwa tidak semua Sahabat sibuk dengan harta milik mereka. Misalnya Salman alFarisi yang oleh Rasul Allah disebut sebagai anggota ahlu’lbait (ia tinggal bersama keluarga Rasul dan masuk keluar rumah bebas seperti rumahnya sendiri, pen).

Dan Rasul pernah berkata mengenai Salman: ‘Andaikata addin berada di bintang kejora (tsurayya) akan dapat dicapai oleh Salman dan kaumnya’. Dan Aisyah berkata tentang Salman: ‘Salman selalu duduk bersama Rasul Allah, sendirian ia menemani Rasul Allah sampai malam dan hampir saja ia mengalahkan kami’. Dan berkata Ali: ‘Sesungguhnya Salman alFarisi seperti Luqman alHakim,  ia mengetahui ilmu dari awal sampai akhir. Lautan ilmu yang tidak mengering’.

Bila ada perintah Rasul Allah agar jemaah membentangkan bajunya maka semua orang yang hadir di masjid, paling sedikit para penghuni Shuffah akan berebut membentangkan baju mereka untuk mendapatkan kemuliaan dari Rasul Allah saw. Ia mengatakan bahwa ia miskin dan hanya memiliki sepasang baju, tentu banyak orang lain yang mempunyai lebih banyak baju akan mendahuluinya.

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita bagaimana dengan hadis Rasul Allah yang didengarnya sebelum peristiwa tersebut, yang menurut Abu Hurairah tidak dapat diingatnya karena dia pelupa. Lalu bagaimana ia mengetahui hadis dan peristiwa yang terjadi dari tahun 8 H/629 M sampai wafatnya Rasul Allah dan peristiwa yang terjadi selama dua puluh tahun sebelum ia bertemu dengan Rasul?

Abu Hurairah seharusnya menceritakan kepada kita mengapa Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali tidak mendudukkan Abu Hurairah di dalam majelis mereka sebagai tempat bertanya tentang hadis? Malah mencercanya dan Umar mengancam akan memukulnya bila ia meriwayatkan hadis? Ia seharusnya menceritakan juga apakah ingatannya khusus diberikan Allah untuk mengingat hadis dan tidak untuk mengingat ayat AlQur’an.

Kalau daya ingat bersifat umum, dan memang seharusnya demikian, mengapa Utsman tidak memasukkannya sebagai salah seorang penghimpun lembaran lembaran catatan AlQur’an?

Hal hal seperti ini seharusnya diterangkan oleh Abu Hurairah.Lalu mengapa orang mempertahankan hadis Abu Hurairah? Hal ini merupakan misteri dan terjadi juga pada agama lain. Sukar juga dipahami sebagaimana, manusia itu sendiri adalah makhluk yang sukar dipahami.

Asal usul Abu Hurairah, Hanya 1 Tahun 9 Bulan di Shuffah

Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar.Ia kemudian tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Dzulqaidah tahun 8 Hijriah/Maret 630 M, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani al’ Ala’ alHadhrami sebagai mu’azin. Sedang peristiwa Saqifah terjadi pada tahun 11 H/ 632 M.

Penghuni shuffah yang lain seperti Hajjah bin Amr alMazini a IAnshari Hajjah bin Amr alMazini atAnshari, Hazib bin Armalah, Tinkhafah bin alQais alGhifari, Zaid bin Khaththab alAdawi, Abdullah bin Qaridzah alTumali dan Furat bin Hayyan bin alAli

Masing masing hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis. Safinah, sahaya Rasul Allah saw meriwayatkan 14 hadis, satu hadis diriwayatkan oleh Muslim. Syarqan, juga sahaya Rasul Allah saw hanya meriwayatkan 1 (satu) hadis dan diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian padahal dia tidak hadir di tempat tersebut. Sebagaimana dikatakan di atas ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di shuffah Masjid Nabi di Madinah, yaitu antara bulan Safar tahun 7 Hijriah, sampai bulan Zulqaidah tahun 8..  Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi, ia telah menyampaikan laporan laporan sebagai saksi mata tentang hal hal  yang terjadi pada masa masa sebelum dan sesudahnya.

seluruh hadis hadis Abu  Hurairah baru diucapkan Abu Hurairah  hampir 30 tahun sesudah Rasul Allah saw wafat sebagaimana pengakuannya, karena sekembalinya, dari Bahrain dia tidak diperkenankan mengobral hadisnya.

Dengan demikian ia tinggal di Shuffah selama 1 tahun 9 bulan. Ia meninggal tahun 59 Hijriah. Dan umat Islam kehilangan sahabat yang paling banyak menyampaikan hadis.. Bahwa Abu Hurairah meriwayatkan 5374 hadis

Ia sendiri menceritakan bahwa ia mendatangi Rasul bukan karena ia mendapat hidayat atau karena kecintaannya kepada Nabi saw seperti yang lain, tetapi untuk mendapatkan makanan.

Dalam riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah berkata: ‘Aku adalah seorang miskin, aku bersahabat dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’. Dan dalam riwayat lain: ‘untuk memenuhi perutku yang lapar’. Dalam riwayat Muslim: ‘Aku melayani Rasul Allah untuk mengisi perutku’, atau ‘Aku menetap dengan Rasul Allah untuk mengisi perutku’.

Ia mendatangi para sahabat seperti Umar dan Abu Bakar dengan berpura pura  meminta dibacakan sebuah ayat alQur’an, menurut pengakuannya sendiri, padahal ia ingin agar ditawarkan makanan, tetapi tiada seorang sahabat pun menawarkan makanan kepadanya kecuali Ja’far bin Abi Thalib yang langsung mengajak Abu Hurairah ke rumahnya.

Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Demi Allah, tiada lain kecuali Dia, aku sering menekan perutku ke bumi karena lapar, dan pada suatu hari, karena lapar aku menekan perutku dengan batu sambil duduk di jalan tempat mereka keluar dari masjid. Aku bertemu dengan Abu Bakar dan aku bertanya kepadanya tentang ayat Kitab Allah, dan aku tidak menanyainya kecuali (dengan maksud) agar dia memberi aku makan; tapi ia berlalu dan tidak melakukannya. Dan Umar bertemu denganku dan aku bertanya mengenai ayat Kitab Allah, aku tidak bertanya (kepadanya) kecuali agar ia mengajak aku makan, dan ia tidak melakukannya.’ ( Fat’h alBari, jilid 11, hlm. 236, 237. )

Bukhari: ‘Aku, bila bertanya mengenai sebuah ayat (alQur’an) kepada Jafar (bin Abi Thalib) maka dia tidak akan menjawab kecuali setelah ia mengajakku ke rumahnya’. Di bagian lain: ‘Aku meminta kepada Jafar bin Abi Thalib untuk membacakan kepadaku ayat (AlQur’an), yaitu artinya, agar dia memberi aku makan, dan dia adalah orang yang paling baik terhadap orang miskin; Jafar bin Abi Thalib. Ia mengajak kami ke rumahnya dan memberi kami makan seadanya’. ( Fat’h alBari, jilid 7, hlm. 61, 62 )

Kepribadian Abu Hurairah

Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala kembali dari Bahrain, Umar bin Khaththab mencurigainya menggelapkan uang baitul mal. Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menyebutnya sebagai musuh Allah dan musuh kaum Muslimin, dalam riwayat lain, musuh Kitab Allah atau musuh Islam. ( Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 4, hlm.5960; juga oleh Baladzuri dan lain lain )

Di samping itu Umar memecatnya dari kedudukannya sebagai gubernur Bahrain karena menuduhnya sebagai pencuri. Ibnu ‘Abd Rabbih menulis pada bagian awal jilid pertama bukunya ‘Iqd alFari.; “Umar kemudian memanggil Abu Hurairah dan berkata kepadanya: ‘Aku tahu takkala aku mengangkatmu jadi gubernur di Bahrain, sandal pun engkau tidak punya. Kemudian sampai berita kepadaku bahwa engkau membeli kuda kuda seharga seribu enam ratus dinar’. Abu Hurairah: ‘Kami memiliki kuda kemudian beranak pinak dan aku mendapat hadiah beruntun’. Umar: ‘Aku telah perhitungkan penghasilanmu dan rizkimu dan kelebihan ini harus kau kembalikan!’. Abu Hurairah: ‘Kamu tidak berhak untuk mengambilnya!’. Umar: ‘Ya, demi Allah aku harus ambil! Dan aku akan pukul punggungmu!’ Kemudian ia mengambil pecut dan memukulnya sampai berdarah! “Kemudian Umar berkata: ‘Bawa kemari uang itu!’ Abu Hurairah: ‘Aku menganggap harta yang engkau ambil itu dijalan Allah!” Umar: ‘Ya, kalau engkau mengambil itu dari yang halal dan engkau laksanakan dijalan yang benar! Apakah engkau datang dari Bahrain mengambil pajak untuk dirimu dan bukan karena Allah dan bukan untuk kaum Muslimin? Kau tidak punya keahlian apa apa  kecuali mengangon unta!’ Di bagian lain Abu Hurairah meriwayatkan dalam buku yang sama: ‘Abu Hurairah menerangkan: ‘Ketika aku diberhentikan oleh Umar dari Bahrain, Umar berkata kepadaku: ‘Ya musuh Allah dan musuh KitabNya, engkau mencuri harta Allah? Aku menjawab: ‘Aku bukan musuh Allah dan musuh KitabNya! Tapi aku adalah musuh yang memusuhimu! Dan aku tidak mencuri harta Allah!’’ Umar: ‘Dari mana engkau kumpulkan uang yang sepuluh ribu?’ Abu Hurairah: ‘Kuda beranak pinak dan aku telah mendapat hadiah beruntun dan keuntungan susul menyusul, Umar menyitanya dariku! Dan setelah shalat subuh aku mintakan pengampunan untuk Amiru’lmuminin!’.

Saudara pembaca ….

Semua riwayat ini dimuat dalam Bukhari dan Muslim : Abu Hurairah berkata: ‘Rasul Allah jadi imam kami dalam shalat Dzuhur atau Ashar dan ia mengucapkan salam (baru) shalat dua raka’at. Dan berkata Dzul Yadain: ‘Anda mempersingkat shalat atau Anda lupa?. Di bagian lain Abu Hurairah berkata ‘shalat bersama kami pada suatu shalat isi, Dzuhur atau Asar’. Di bagian lain Abu Hurairah berkata: ‘Ia jadi Imam kami shalat Asar’ dan di bagian lain lagi: ‘Sedang aku shalat bersama Rasul Allah shalat Dzuhur!’ …….. FAKTANYA  : Dzul Yadain syahid pada Perang Badr jauh sebelum Abu Hurairah masuk Islam… Jelas  Abu  Hurairah  Tidak Hadir, Bilang Hadir !!!!!!!!!!!!!

Abu  Hurairah  berkata: ‘Aku masuk (ke rumah) Ruqayah anak Nabi Allah, isteri Utsman yang sedang memegang sisir: Rasul Allah keluar lebih dulu dari aku. Rambutnya terurai. Rasul Allah bertanya kepada Ruqayah: ‘Bagaimana keadaan Abu Abdullah (Utsman, pen) Ruqayah menjawab: ‘Baik!’ Rasul Allah berkata: “Hormatilah dia karena dia adalah sahabat yang diciptakan paling  menyerupaiku!” ( HR. AlHakim dalam al Mustadrak )… FAKTA : Hadis ini isnadnya shahih tapi matannya lemah.. Karena Abu Hurairah memeluk Islam sesudah Perang Khaibar tahun 7 Hijriah (setelah Ruqayah meninggal)… JAngan  suka  boong  dong  !!!!

Abu Hurairah mengatakan bahwa dia berada dalam perjalanan haji Abu Bakar sebagaimana diceritakan oleh Bukhari, Muslim, Ibnu Mundzir, Ibnu Mardawaih, Baihaqi dari Abu Hurairah: ‘Abu Bakar ra mengutusku pada musim haji tersebut untuk menyampaikan kepada penyeru penyeru yang dikirimkannya pada hari anNahr di Mina agar mengumumkan bahwa kaum musyrikin tidak boleh naik haji sesudah tahun itu, dan tidak boleh melakukan thawwaf di Bait Allah dalam keadaan telanjang. Kemudian Nabi saw menyusulkan Ali bin Abi Thalib ra dan menyuruhnya untuk mengumumkan Surat alBara’ah dan Ali bersama kami mengumumkan Surat alBaraah kepada orang orang yang berkumpul di Mina pada hari AnNahr dan agar kaum Musyrikin tidak naik haji sesudah tahun itu dan tidak boleh berthawwaf di Bait Allah dalam keadaan telanjang’.

Surat alBara’ah Juga disebut Surat AtTaubah (IX), sebagaimana diketahui Surat Bara’ah merupakan pemutusan hubungan kaum Muslimin dari keterikatan dengan kaum musyrikin

Ibnu Ishaq dalam Sirah menulis: Rasul Allah mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin (Amir) haji tahun 9 Hijriah. Dan tatkala Abu Bakar keluar dari Madinah, turunlah Surat alBaraah dan orang bertanya kepada Rasul Allah. ‘Bagaimana kiranya kalau Anda mengirimnya bersama Abu Bakar?

Abu Hurairah datang kepada Rasul Allah pada bulan Safar tahun 7 Hijriah, Juni 628 M, setelah Perang Khaibar. Ia kemudian tinggal di emperan Masjid Madinah (Shuffah) sampai bulan Dzulqaidah tahun 8 Hijriah/Maret 630 M, karena pada bulan itu ia disuruh Rasul ke Bahrain menemani al’ Ala’ alHadhrami sebagai mu’azin.. FAKTANYA : Rasul Allah mengutus Abu Bakar sebagai pemimpin (Amir) haji tahun 9 Hijriah. … Jelas  Abu  Hurairah  Tidak Hadir, Bilang Hadir !!!!!!!!!!!!!

Lagi pula para Sahabat besar menganggap Abu Hurairah sebagai pembohong (lihat pembicaraan di bagian lain mengenai Abu Hurairah), maka Abu Hurairah haruslah dicurigai seperti dikatakan oleh Imam Ibnu Qutaibah. Hal ini disebabkan kaum

Muslimin lebih percaya kepada para Sahabat seperti Umar, Utsman, Ali serta Aisyah ketimbang Abu Hurairah. Abu Hurairah bukan Sahabat besar, bukan dari kaum Muhajirin, bukan ‘Anshar, bukan penyair Rasul, bukan keluarga Rasul, malah asal usulnya, orang tuanya, bahkan nama aslinya pun tidak diketahui orang.

Bukhari menulis bahwa Abu Hurairah telah berkata: ‘Kami membuka (menaklukkan) Khaibar dan kami tidak mendapat rampasan perang berupa emas atau perak. Yang kami dapat adalah lembu, unta dan alat alat rumah tangga (mata’)’. Hadis serupa disampaikan juga oleh Muslim. FAKTANYA : Abu Hurairah masuk Islam sesudah Perang Khaibar tersebut.

Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan keutamaan Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para Sahabat lain. Tetapi sehubungan dengan peristiwa Saqifah, riwayat dan hadis yang disampaikan Abu Hurairah, harus dipandang dengan kritis.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/09/b0cad-bapa2bkucing.jpg?w=319&h=188

Tidak syak lagi bahwa ajaran Islam dibangun di atas dua pilar utama; Al Qur’an dan Sunnah! Al Qur’an adalah qath’iul wurûd (sudah pasti dan terbukti datangnya dari sisi Allah SWT), kendati dalam dalâlah/petunjuknya bersifat dzanni (masih terbukanya beberapa penafsiran tentangnya). Sedangkan Sunnah Nabiwiyah kita terima dalam kualitas dzanniyah, yang rawan pemalsuan, kekeliruan dan penyelewengan. Sebagaimana dari sisi dalâlah-nya juga banyak yang bersifat dzanniyah.[1]

Berangkat dari kenyataan ini, adalah keharusan atas para ulama untuk menyeleksi dengan teliti semua riwayat yang memuat klaim Sunnah agar kita dapat menemukan Sunnah yang shahihah dari tumpukan riwayat-riwayat yang mengklaim memuat Sunnah!

Dan karena produk-produk palsu atas nama Sunnah Nabi saw. telah membanjiri ‘Pasar Hadis’ maka tidaklah heran jika banyak ‘Ahli Hadis’ yang tertipu dan kemudian menganggapnya sebagai Sunnah yang sedang mereka cari![2] Mereka mengoleksinya dalam kitab-kitab kebanggaan mereka dan generasi berikutnya menganggap produk palsu itu sebagai Sunnah Nabi Muhammad saw.; sumber kedua ajaran Islam yang murni! Kitab-kitab hadis yang diyakini penulisnya sebagai hanya memuat hadis-hadis shahih sekali pun ternyata tidak selamat dari rembesan hadis-hadis palsu atau hadis-hadis bermasalah!

Namun demikian sebagian pihak mengklaim dengan nada menantang bahwa apa yang dilakukan para Muhaddis Sunni telah mencapai puncak ketelitian dalam menyeleksi hadis-hadis, dan puncak dari usaha itu adalah dibukukannya enam kitab hadis Shahih, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim!

Dalam kesempatan ini saya tidak sedang meragukan “kerja ngotot” mereka dalam menyaring hadis, akan tetapi sekedar mempertanyakan sejauh mana kesuksesan usaha tersebut! Sebab pada kenyataannya masih terlalu banyak hadis bermasalah yang lolos seleksi dan masuk dalam kategori hadis sehat, sementara ia mengandung penyakit!

Mungkin hal itu diakibatkan oleh dahsyatnya produk-produk palsu yang diikemas dengan kemasan menarik dan menipu sehingga bukan hal mudah membedakannya dari Sunnah yang Shahihah! Atau diakibatkan ketidak akuratan alat seleksi yang mereka pergunakan! Atau karena sebab lain! Wallahu A’lam.

Hadis-hadis bermasalah itu menyebar hamper dalam semua bab dan tema agama, dari tema akidah, syari’at (fikih), akhlak, sejarah para nabi as., sejarah Nabi Muhammad saw. dll.

Di bawah ini saya berharap ada jawaban memuaskan dari mereka yang membanggakan hasil usaha slektif para Ahli Hadis Sunni, yang dianggapnya telah mencapai puncaknya! Berbeda dengan dunia hadis Syi’ah yang masih amboradul, serba tidak matang, tak mengenal liku-liku sanad riwayat dan rentang kepalsuan! Saya berharap teman-teman tersebut mmeberikan jawaban ilmiah tentang hadis-hadis bermasalah riwayat Bukhari dean Muslim atau salah satu dari keduanya di bawah ini. Dan sengaja saya batasi telaah saya pada dua kitab tershahih setelah Al Qur’an itu mengingat:

A)    Kedua kitab tersebut adalah telah mendapat kepercayaan luas di kalangan tokoh-tokoh Ahlusunnah sebagai Ashahhu kutubi ba’da itabillah/kitab tershahih setelah Kitabullah!

B)     Dengan melibatkan kitab-kitab hadis level dua dikhawatirkan akan makin mempermarah keadaan. Sebab dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak hadis yang mengerikan untuk diungkap, walaupun dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga banyak hadis yang tidak kalah bermasalahnya!

  • Postur Nabi Adam as. Sama dengan Postur Allah SWT!

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

حدثنا ‏ ‏يحيى بن جعفر ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏عن ‏ ‏معمر ‏ ‏عن ‏ ‏همام ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏
‏عن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏خلق الله ‏ ‏آدم ‏ ‏على صورته طوله ستون ذراعا فلما خلقه قال اذهب فسلم على أولئك النفر من الملائكة جلوس فاستمع ما يحيونك فإنها تحيتك وتحية ذريتك فقال السلام عليكم فقالوا السلام عليك ورحمة الله فزادوه ورحمة الله فكل من يدخل الجنة على صورة ‏ ‏آدم ‏ ‏فلم يزل الخلق ينقص بعد حتى الآن[3]

“Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya, panjangnya enam puluh hasta. Dan ketika Dia menciptakannya, Dia berfiman, ‘Pergilah dan  ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu dan dengarkan jawaban mereka, karena ia adalah ucapan salammu dan salam keturunmu. Maka Adam mengucapkan: “Salam atas kalian.” Lalu mereka menjwab: “Salam dan rahmat Allah atasmu.” Para malaikat itu menambah kata rahmat Allah. Maka setiap orang yang masuk surga akan berpostur seperti Adam. Dan setelahnya ciptaan berkurang (mengecil) ukurannya sehingga seperti sekarang ini.”

(HR. Shahih Bukhari, Kitab al Isti’dân, Bab Bad’u as Salâm dan Shahih Muslim, Kitab al Jannah wa Shifatu Na’îmiha, Bab Yadkhulul Jannah Aqwâmun…)

Hadis di ataas dengan redaksi lain, dari Abu Hurairah dari Nabi saw. :

“Jika seorang dari kalian memukul saudaranya hendaknya ia menghindari memukul wajah, sebab sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya.”

(HR Shahih Muslim, Bab an Nahyu ‘An Dharbil Wajhi/larangan memukul wajah)

Ustad Husain Ardilla Berkata:

Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Ada kekhawatiran bahwa Abu Hurairah menimba ucapan itu dari Guru Besar yang bernama Ka’ab al Ahbâr; seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan kemudian menyebarkan ajaran yahudiyah di tengah-tengah kaum Muslimin dan sempat memikat kekaguman sebagian sahabat, seperti Abu Hurairah yang kemudian menjadi murid setia yang rajin menjajahkan kepalsuan bualannya!

Sebab bulalan palsu seperti itu termuat dengan kentalnya dalam Al Kitab; Penjanjian Lama, Kitab Kejadian:1:27:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarann-Nya, menurut gambaran Allah diciptakan-Nya dia.”[4]

Dan pada Kitab Kejadian 5:1:

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah.”

Para penafsir Al Kitab kebingungan dalam mengahadapi ayat-ayat di atas, dan akhirnya mereka terpaksa mempelesetkan maknanya agar tidak memberi makna materistis bagi Dzat Allah. Mereka mengartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa Allah menciptakan manusia menyerupai Allah dalam kesucian/kekudusannya.[5]

Sepereti Anda ketahui bahwa tasfir yang dipilih dalam kamus tersebut adalah demi menghindar dari tajsîs/meyakini Allah berpostru seperti makhluk-Nya. Tetapi anehnya mereka yang mengadopsi tekas Al Kitab dan kemudian menamakannya sebagai sabda Nabi sauci Muhammad saw. letah melangkah lebih jauh dengan menutup semua pintu usaha untuk menakwilkannya dengan selain makna posturisasi Allah. Maha suci Allah dari pensifatan mereka, seperti yang dapat Anda saksikan dalam riwayat kedua yang saya sebutkan dari riwayat Imam Muslim!

Jika Tinggi Ada 60 Hasta, Berapa Lebar Badannya?

Saranya sah-saha saja jika ada yang usil dan ingin tahu berapa sebenarnya lebar badan Nabi Adam as. sebab beliau addalah ayah kita semua. Di sini al ‘Aini –pensyarah Shahih Bukhari- memberikan jawaban pasti bahwa lebar badan Adam; ayah umat manusia adalah tujuh hasta! Hanya tujuh hasta! Tidak lebih dan tidak kurang![6]

Edialkah prawakan seperti itu? Panjang 60 hasta, lebar 7 hasta!

Jika panjang/tinggi Adam itun 60 hasta itu mkeniscayakan tulang tengkoraknya sepanjang 2 hasta. Tapi anehnya sepanjang penemuan vosil dan kerangka manusia pra sejarah sekalipunn tidak pernah ditemukan tengkorak manusia seperti itu! Apa yang ditemukan para iilmuan tidak jauh beda besarnya dengan tengkorak manusia sekarang/modern. Tidak pula ternah ditemukan ada kerangka manusia setinggi 60 hasta!

Selain itu, jika benar apa yang dikatakan Abu Hurairah bahwa tinggi Adam as. adalah 60 hasta maka sermestinya tebal badannya mencapai 17,7 hasta. Sebab manusia normal, lebar badan mestinya adalah 2/7 dari tinggi badannya!

Jika benar bahwa lebar badan Adam as. itu 7 hasta maka semestinya tingginya adalah 24,5 hasta bukan 69 hasta!

Jadi di hadapan ucapan Abu Hurairah itu hanya ada dua plihan;

A)                Abu Hurairah salah dalam memberikan gambaran postur Nabi Adam as.!

B)                 Adam as. memang diciptakan tidak Fi Ahsani taqwîm/sebaik-baik bentuk penciptaan. Postus Adam as. terlalu ramping, tidak serasi antara tinggi dan lebar!

  • Allah SWT Memamerkan Betis Indah-Nya

Di antara hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim terkait dengan masalah tauhid dan sifat Allah SWT yang perlu mendapat sorotan adalah hadis yang mengatakan bahwa: “Kelak di hari kiamat ketika para pengyembah selain Allah telah dipertemukan dengan sesembahan mereka…. Sehingga setelah selesai dan tidak tersisa melainkan mereka yang menyembah Allah; baik yang shaleh maupun yang durja. Datanglah Allah Rabbul ‘Alâmin daalam tampilan lain yang lebih rendah dari tampilan yang pernah mereka kenal di dunia dahulu, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Apa yang kalian nanti? Semua telah mengikuti sesembahan yang dahulu mereka sembah.” Maka mereka menjawab, “Orang-orang telah meninggalkan kami di dunia di saat kami sangat membutuhkan mereka, kami tidak menemani mereka. Kami sedang menanti Tuhan yang dahulu kami sembah.” Lalu Allah berfirman, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, ‘Kami tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dua atau tiga kali mereka ucapkan.

Dalam riwayat lain: “Maka datanglah Dzat Yang Maha Perkasa dalam bentuk selain bentuk yang dahulu mereka saksikan pertama kali, lalu Dia berkata, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, “Engkau Tuhan kami?”…

Dalam riwayat lain, mereka berkata menolak, “Kami berlindung darimu!.”

Maka Allah berfiman, “Adakah tanda antara kalian dan Dia dengannya kalian mengenal-Nya?” Mereka berkata, “Ya, ada. Betis.” Maka Allah menyingkap betis-Nya. Maka bersujudlah semua orang Mukmin, adapun orang yang dahulu menyembah-Nya karena riya’ dan mencari pamor tidak bias bersujud, setiap kali mereka hendak bersujud punggung mereka menajdi seperti papan dan mereka tertelungkup… “

(Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid, Bab Qaulullah –Ta’ala- Wujûhun Yaumaidzin Nâdzirah, hadsi no.7439 dan beberapa tempat lainnya di antaranya: Kitab at Tafsîr, Bab Qaulihi Innallaha Lâ Yadzlimu Mitsqâla Dzarratin, hadis no.4581 dan baca juga Shahih Muslim Bab Ma’rifah Tharîq ar Ru’yah).

Di antara redaksri riwayat Bukhari adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا ‏ ‏يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏زَيْدٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ‏ ‏قَالَ :‏قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ ‏ ‏هَلْ تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا قُلْنَا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ لَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَتِهِمَا ثُمَّ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيبِ مَعَ صَلِيبِهِمْ وَأَصْحَابُ الْأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ وَغُبَّرَاتٌ مِنْ ‏ ‏أَهْلِ الْكِتَابِ ‏ ‏ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ فَيُقَالُ ‏ ‏لِلْيَهُودِ ‏ ‏مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ ‏ ‏عُزَيْرَ ‏ ‏ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ ثُمَّ يُقَالُ ‏ ‏لِلنَّصَارَى ‏ ‏مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ فَيَقُولُونَ كُنَّا نَعْبُدُ ‏ ‏الْمَسِيحَ ‏ ‏ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ فَيَقُولُونَ نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ فَيَقُولُونَ فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ الْيَوْمَ وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا قَالَ فَيَأْتِيهِمْ الْجَبَّارُ فِي صُورَةٍ غَيْرِ صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَلَا يُكَلِّمُهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ السَّاقُ فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ ‏ ‏طَبَقًا ‏ ‏وَاحِدًا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ ……

*****

Dalam riwayat-riwayat tersebut dikatakan bahwa (1) Umat manusia kelak di hari kiamat akan melihat Allah dengan mata telanjang! Sebagiamana sebelumnya nmereka juga pernah melihat-Nya hanya saja dalam tampilan dan bentuk lain yang berbeda dengan bentuk di hari kiamat. Dan hal itu tentunya meniscayakan adanya cahaya yang menyambung antara mata dan Dzat Allah!  (2) Memandang Allah SWT drngan mata telanjang ternyata tidak terbatas hanya bagi kaum Mukminin saja, akan tetapi Allah juga akan dilihat oleh kaum munafikin! (3) Allah memiliki bentuk yang terdiri dari bagian-bagian dan berlaku padanya apa yang berlaku atas meteri seperti berpindah tempat, bergerak dan menempati  ruang, serta akan tampil untuk di permukaan dan diliaht mata telanjang! (4) Allah tampil daalam rupa dan bentuk yang bermacam-macam. (5) Dan ketika Allah tampil di hari kiamat dalam bentuk dan rupa lain yang tidak mereka kelal sebelumnya, maka mereka meminta agar Allah menampakkan tanda pengenal yaitu betis! Akhirnya Allah menyingkap betis-Nya dan mereka pun mengenali-Nya lalu merreka bersujud!

Itu artinya, andai Allah tidak memperkenalkan jati diri-Nya dengan menyingkap betis-Nya pastilah kaum Mukminin di hari kiamat itu tidak akan mengenal-Nya. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Betis Allah!

Masalah penetapan adanya betis Allah SWT. yang  Allah singkap itu terkait dengan ayat 42 surah Nûn,  karena itu, Bukhari menyebutkan hadis ini pada tafsir surah Nûn Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, sebagai tafsir dari ayat tersebut! Oleh sebab itu kami akan menelaah maksud ayat tersebut walau secara ringkas.

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقٍ….

“Pada hari betis disngkapkan…. “

Ayat tersebut dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang kedahsyatan kejadian di hari kiamat. Kaum kafir diminta untuk mendatangkan sesembahan mereka untuk menolong dan menyelamatkan mereka! Kapan? “Pada hari betis disngkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” Yang dimaksud dengan betis disingkapkan adalah menggambarkan keadaan yang sedang ketakutan dan  kedahsyatan yang sangat!

Tafsir ini telah dinukil dari para pembesa Salaf, seperti Ibnu Abbas, hasan al Basrhi, Mujahid, Qatadah dan Sa’id ibn Jubair. Baca ketarangan mereka dalam: Fathu al Bâri,18/307.

Akan tetapi, Bukhari memaknai kata sâqin dengan arti betis dan dikaitan dengan Dzat Allah SWT.; betis Allah!!

Dan akibat menerima tanpa seleksi hadis Bukhari di atas, sebagian orang berkeyakinan bahwa Allah SWT punya betis yang kelak pada hari kiamat akan disingkap sebagai tanda pengenal kepada kaum Mukminin!!

Mengepa terjadi penyelewengan dalam memahami makna ayat di atas? Jawabnya jelas! Karena Bukhari; Imam Ahli Hadis telah meriwayatkannya demikian!

Sementara salah satu pangkal kesalahan itu terletak pada adanya kesalahan pada penukilan teks sebenarnya! Imam Bukhari meriwayatkannya dengan redaksi demikian:

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقِهِ….

“Tuhan kami menyingkap betis-Nya, maka bersujudlah semua orang mukmin dan mukminah….” (HR. Bukari, Kitab at Tafsîr, Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, hadis no.4919)

Sepertinya terjadi kesalahan dalam redaksi itu yang kemudian menyebabkan kekacauan akidah tentang sifat Allah SWT.

Coba Anda perhatikan redaksi dalam ayat Al Qur’an di atas! Ia hanya menyebutkan kata: ساقٍdan dalam bentuk nakirah. Ia berkata, “Pada hari betis disngkapkan.” Tidak ada sebutan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, sehingga ia sama sekali tidak terkait dengan sifat Allah! Akan tetapi, ketika kita memerhatikan riwayat Bukhari kita temukan bahwa Allah yang menyingkap betis-Nya! Betis Allah!!

Karenanya salah seorang tokoh agung Ahli Hadis Sunni bernama Isma’ili menegaskan bahwa pada redaksi riwayat Bukhari di atas terjadi kesalahan! Yang shahih adalah tanpa kata ganti orang ketiga: هِ  pada kata: ساقِهِ, sebab redaksi terakhir ini sesuai dengan redaksi Al Qur’an. Dan tidak lah terbayangtkan bahwa Allah punya organ badan sebab yang demikian itu menyerupkan-Nya dengan makhluk-Nya, sementara Allah tidak menyerupai makhlu-Nya! Demikian ditegaskan al Isma’ili.[7]

Jadi dalam hemat al Isma’ili, Bukhari salah dalam menukil atau meriwayatkan redaksi hadis yang salah!

Akankah para ulama Sunni lainnya berbesar hati seperti al Isma’il?

Penutup:

Selain dua contoh kasus di atas, masih banyak lainnya! Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kapada saya untuk membeberkan kasud-kasus lainnya dalam kesempatan mendatang. Amîn.

Dan semoga kenyataan ini menjadi bahan renungan bagi para pecinta Sunnah Nabi saw. dan kami menanti sikap ilmiah (bukan ocehan kosong) dari para pemerhati!

Dan jika kitab tershahih Ahlusunnah sedemikian rentangnya dari kepalsuan, maka  apa bayakan kita terhadap kitab-kitab hadis lainnya yang dari sisi kualitas jauh di bawah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim?!

 


[1] Tentunya tidak menutup kenyataan bahwa di antara ayat-ayat Al Qur’an ada yang qathi petunjuknya sebagaimana di antara Sunnah ada yang qathi juga wurûd-nya.[2] Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”

[3] http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=9299.

[4] Al Kitab,diterbitankan OLEH  LEMBAGA AL KITAB INDONESIA – JAKARTA 1985.

[5] Baca Kamus al Kitab al Muqaddas, pada kata Adam.

[6] ‘Umdah al Qâri,22/229.

[7] Baca Fathu al Bâri,18/308.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s