pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali

Menurut riwayat dari Al-Ya’qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada’),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama “GHADIR KHUM.” Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain beliau berkata : “Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya”

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya, Ali mem-bai’at Abu Bakar setelahFatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Sahabat Nabi  SAW ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Imam Ali AS berbai’at kepada Abubakar setelah USMAN bin AFFAN menyatakan : “tidak seorangpun mau bergabung dalam lasykar muslim untuk memerangi kaum MURTAD kalau anda tidak berbai’at kepada ABUBAKAR”..

Jadi Imam Ali menjaga keutuhan Islam dari kepunahan !!!

Sepeninggal Rasulullah memang banyak kaum muslimin yang kembali ke agamanya semula. Karena Nabi Muhammad, pimpinan mereka, sudah wafat, mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan muncul orang-orang yang mengaku Nabi, antara lain Musailamah Al-Kadzab, Thulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad Al-Ansi

This Picture Is Taken From: http://wargamesfactory.lefora.com/composition/attachment/59f8087b70dd6f22636d8247b9eb19b3/256618/Vichy_camel_troops_in_Syria_03-1.jpg
Kemurtadan saat itu terjadi di mana-mana dan menimbulkan kekacauan. Untuk itu Abu Bakar mengirim 11 pasukan perang dengan 11 daerah tujuan. Antara lain, pasukan Khalid bin Walid ditugaskan menundukkan Thulaiha Al-Asadi, pasukan ‘Amer bin Ash ditugaskan di Qudhla’ah. Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman dan Khalid bin Said ditugaskan ke Syam

This Picture Is Taken From: http://mojette.deviantart.com/art/muslim-soldier-A-59597641

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Qatadah, dia menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan ayat ini, diketahuilah bahwa akan terjadi beberapa kelompok manusia akan murtad, yaitu keluar dari agama Islam. Peristiwa itu kemudian benar-benar terjadi, ketika Nabi Muhammad saw. berpulang ke rahmatullah, maka pada waktu itu murtadlah sebagian orang dari Islam, terkecuali dari tiga tempat, yaitu penduduk Madinah, penduduk Mekah dan penduduk Bahrain

Peristiwa terjadinya orang-orang murtad ini sudah banyak sekali. Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa Nabi Muhammad saw. masih hidup telah terjadi tiga kali peristiwa orang-orang murtad, yaitu:

A. Golongan Bani Mudhij yang dipelopori oleh Zulkhimar, yaitu Al-Aswad Al-Ansy seorang tukang tenung. Dia mengaku sebagai nabi di negeri Yaman, akhirnya dia dihancurkan Allah, dibunuh oleh Fairuz Ad-Dailami.

B. Golongan Bani Hanifah, yaitu kaum Musailamah Al-Kazzab. Musailamah mengaku dirinya sebagai nabi. Pernah dia berkirim surat kepada Nabi Muhammad saw. mengajak beliau untuk membagi dua kekuasaan di negeri Arab. Dia memerintah separoh negeri dan Nabi Muhammad saw. memerintah yang separoh lagi. Nabi Muhammad saw. membalas suratnya itu dengan mengatakan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah dan Allah akan mempusakakan bumi ini kepada siapa yang dikehendaki di antara hamba-Nya dan bahwa kemenangan terakhir akan berada pada orang yang bertakwa kepada-Nya. Akhirnya Musailamah diperangi oleh Khalifah Abu Bakar dan ia mati dibunuh oleh Wahsyi yang dulu pernah membunuh Hamzah, paman Nabi pada perang Uhud.

C. Golongan Bani Asad, pemimpinnya bernama Tulaihah bin Khuwailid, dia juga mengaku dirinya menjadi nabi, maka Aba Bakar memerangi dengan memberitahukan Khalid bin Walid untuk membunuhnya. Dia mundur dan lari ke negeri Syam dan akhirnya dia kembali menjadi seorang muslim yang baik.

This Picture Is Taken From: http://wargamesfactory.lefora.com/composition/attachment/59f8087b70dd6f22636d8247b9eb19b3/256618/Vichy_camel_troops_in_Syria_03-1.jpg

banyak benar terjadi golongan-golongan yang murtad terdiri dari 7 golongan, yaitu:
1. Ghathafan
2. Bani Khuza`ah
3. Bani Salim
4. Bani Yarbu’
5. Sebagian Bani Tamim
6. Kindah
7. Bani Bakr

Salam dan Solawat.

Ada dua pilihan bagi Imam Ali :

1. Memerangi Abubakar cs dengan resiko ISLAM  hancur  binasa karena MUSUH  MUSUH  Imam Ali  dan  MUSUH MUSUH  ABUBAKAR  Cs telah mengepung mereka !!

2. Membai’at Abubakar  secara the facto (taqiyah terpaksa)  agar  Islam tetap hidup dimuka bumi ini… Tanpa membai’at  secara THE JURE

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata: “Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah” Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316, Wahabi ingin mempermasalahkan Syiah iaitu engkau mengatakan sesudah Nabi semua orang selain empat orang telah murtad, iaitu selama masa 23 tahun usaha keras Rasulullah mendidik hanya empat orang yang tidak murtad? Jawaban kami ialah, kalau kami mengatakan hanya empat orang yang tidak murtad,tetapi Ummul Mukminin Aisyah mengatakan semua orang Islam itu murtad, tentunya dalam pandangan Syiah yang dimaksud dengan murtad bukanlah murtad daripada keimanan, akan tetapi menentang perintah-perintah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pada zaman khalifah ke dua, ketika salah seorang sahabat meninggal, saat Huzaifah tidak menerima bahawa sahabat ini bukan daripada kalangan munafik, hinggalah khalifah tidak hadir untuk menyolatinya kerana ia takut orang tersebut daripada golongan munafik. Ini kerana Syiah dan Sunni menerima bahawasanya Huzaifah sahabat penyimpan rahsia dan Rasulullah pernah mengatakan nama-nama orang munafik kepadanya.

Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Orang-orang yang menyangsikan legalitas kekhilafahan pasca Rasul saw mengatakan, “Jika Imam Ali as menentang para khalifah, mengapa Imam Ali as tidak bersikap memerangi mereka? Mengapa Imam Ali as membaiat mereka?

Di bawah ini dipaparkan argumentasi atas pertanyaan tersebut.

Mengapa Imam Ali as Tidak Bangkit Melawan Para Khalifah?

Bagaimana mungkin ia akan memeranginya? Dengan kemampuan biasa atau kemampuan gaib (malakuti)?

Pertama: Dengan kekuatan atau kemampuan biasa

Jika Imam Ali as menginginkan perang dengan kekuatan atau kemampuan biasa maka tidaklan diyakini akan berhasil (kalah). Begitu halnya kesaksian dalam sejarah bahwa di Ghadir Khum sebanyak 100.000 orang mendengar pesan dari Nabi saw. Setelah berlalu 30 hari dari peristiwa Ghadir Khum, ketika Rasulullah saw meninggal, segelintir dari para pendukung Ali as memberikan kesaksian (atas hak kekhalifahan Imam Ali as ini) dan tidak membawa hasil hingga umat hari demi hari bertambah kesesatan mereka.

Kedua: Dengan kekuatan atau kemampuan gaib

Jika dengan kekuatan Ilahi mereka (para khalifah sebelumnya) berperang, seperti halnya beliau as mendobrak dan mencabut pintu Khaibar (dan menjadikannya sebagai tamengnya), maka semua rakyat akan terbunuh, hingga tidak ada lagi yang tersisa dari mereka dan pada saat itulah, mereka akan memerintah (umat). Maka sudah seharusnya rakyat dengan bebas memilih jalannya karena dunia adalah tempat ujian.

Ketiga: Jika Imam Ali as memiliki pengikut untuk berperang

Seperti halnya Thalhah dan Zubair menginginkan pemerintahan Kufah dan Basrah, Muawiyah juga tidak hadir untuk menyerahkan pemerintahan Syam. Amirul Mukminin as ketika itu memiliki pengikut hingga dia berperang melawan Muawiyah dan setelah itu, beliau menerima keinginan-keinginan dari pihak musuh yang tidak dikehendaki.

Yang sebenarnya, para khalifah telah merampas kekhalifahan dari beliau as. Mereka mengetahui bahwa kepemimpinan semua negeri Islam ada di tangan Imam Ali as. Bukanlah suatu argumen (yang tepat) bahwa Imam Ali as tidak bangkit melawan mereka, ketika beliau as tidak memiliki pengikut sekalipun. Begitu halnya dengan apa yang dikatakan beliau as dalam khotbah Syiqsyiqiyyah, beliau as berkata, “Apakah saya akan menyerang tanpa pengikut atau pasukan?”

Dalam khotbah ini, beliau as berkata, “Saya berfikir dalam perkara ini (imamah), apakah saya akan menyerang tanpa pengikut, atau saya akan bersabar atas kesesatan umat, yang karenanya orang tua akan senantiasa renta dan para pemuda akan menjadi tua. Seorang mukmin akan senantiasa berada dalam musibah hingga dia meninggal, dan saya telah bersabar atas musibah ini, dalam keadaan mata dan tenggorokan saya tertusuk duri”.

Mengapa Imam Ali as Membaiat Khalifah?

Pertama: Dalam sejarah disebutkan ketika Abu Bakar memimpin pemerintahan selam enam bulan, Musailamah Kadzdzab dengan pasukan murtadnya siap untuk menyerang Madinah. Abbas, paman Imam Ali as, yang berkhidmat kepada beliau as telah bersiap dan menyatakan, “Islam akan lenyap, dikarenakan tidak seorang pun yang taat pada perintah Abu Bakar untuk pergi perang melawan Musailamah dan pasukannya’. Rakyat berkata, ‘Karena Imam Ali as tidak membaiat Abu Bakar maka kami tidak ikut serta dalam peperangan melawan Musailamah.’

Akhirnya, Imam Ali as pun bangkit dan datang ke masjid membaiat Abu Bakar untuk menyelamatkan Islam. Ketika itu pula, rakyat memastikan untuk berperang melawan pasukan Musailamah. Tertulis dalam sejarah bahwa dalam peperangan melawam pasukan Musailamah, seratus orang penghafal al-Qur’an tewas, yang pada akhirnya Musailamah kalah. Jika Imam Ali as tidak membaiatnya, kaum Muslim dan Islam akan musnah (untuk selama-lamanya).

Kedua: Pada saat itu, Kaisar Romawi menanti kesempatan adanya perbedaan dan perselisihan di antara kaum Muslim yang ada di Madinah hingga dia siap untuk menyerang dan dapat menjatuhkan Islam.

Mengapa Imam Ali as Shalat Bersama Mereka?

Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam. Namun, tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa Imam Ali as datang (shalat berjamaah) ke mesjid sebagai tanda keridhaannya atas kepemimpinan Abu Bakar. Selain itu, jika beliau as tidak ikut serta shalat bersama mereka (di mesjid), itu berarti bahwa beliau dianggap menentang baiat.

Mengapa Imam Ali as Memberikan Petunjuk Masalah Politik, Sosial, Fikih Dan Peradilan Walau Tidak Membantu Mereka?

Pemberian petunjuk dalam masalah politik, sosial, fikih dan peradilan sangat bermanfaat bagi masyarakat Islam ketika itu dan masa yang akan datang. Dengan melalui petunjuk beliau as, maka akan tampak kebodohan dan ketidaktahuan khalifah ketika itu. Oleh karenanya, dalam 70 kali kesempatan, Umar berkata, “Jika tidak ada Ali, maka Umar akan celaka”.

Dari sisi lain, dengan keagungan keilmuan bagi para peneliti dapat menemukan jalan kebenaran dan akan tersebar kapasitas dari keilmuan Imam Ali as.

Mengapa Imam Ali as. Akhirnya Membaiat Abu Bakar?

Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.

Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk mengatakannya! Sebagaimana orang lain juga boleh mengutarakan analisanya dalam masalah tersebut. Akan tetapi Imam Ali as. menerangkan kepada kita sebab mengapa beliau pada akhirnya memberikan baiat untuk Abu Bakar dan tidak terus mengambil sikap oposisi, apalagi perlawanan bersenjata!

Dalam keterangan-keterangan yang dinukil dari Imam Ali as. ada beberapa sebab:

Pertama, tidak adanya pembela yang cukup untuk mengambil alih kembali hak kewalian beliau.

Sikap Imam Ali as. itu telah beliau abadikan dalam benyak kesempatan, di antara dalam pidato beliau yang terkenal dengan nama khuthbah Syiqsyiqiyyah.

Imam Ali as. berpidato:

أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا  وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا .وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ  فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ!

فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, وفِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْنَهْبًا.

“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya.

Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang dengan tangan terputusatau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!

Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. Aku menyaksikan warisanku dirampok… “[1]

Kedua, sikap enggan memberikan baiat itu sudah cukup membuktikan hak kewalian beliau yang mereka bekukan.

Dan ketiga, mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengorbankan hak beliau demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistenti kaum Muslimin dan Dawlah Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

Dalam sebuah pernyataannya, Imam Ali as. menjelaskan sebab mengapa beliau sudi memberikan baiat untuk Abu Bakar:

فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.

“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para  pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.”[2]

Inilah sebabh hkiki dalam maalah ini, bukan seperti yang diasumsikan sebagian orang.

Adapaun tuduhan Syeikh bahwa dengan demikian kaum Syi’ah menuduh Imam mereka bersikap pengecut, maka kesimpulan miring itu sama sekali tidak berdasar, sebab pada diri Nabi Harun as. terdapat uswah, teladah baik bagi Imam Ali as. ketika beliau berkata, seperti diabadikan dalam Al Qur’an:

وَ لَمَّا رَجَعَ مُوسى‏ إِلى‏ قَوْمِهِ غَضْبانَ أَسِفاً قالَ بِئْسَما خَلَفْتُمُوني‏ مِنْ بَعْدي أَ عَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَ أَلْقَى الْأَلْواحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوني‏ وَ كادُوا يَقْتُلُونَني‏ فَلا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْداءَ وَ لا تَجْعَلْني‏ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمينَ

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150)

Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri.

Ketertindasan dan ketidak-berdayaan Imam Ali as. itu telah diberitakan Nabi saw. dalam banyak sabda beliau, di antaranya adalah hadis yang sangat terkenal yang berbunyi:

أنتم المستَضْغَفٌون بَعدي

“Sepeninggalku, kalian akan ditindas.”[3]

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Mengkhianati Imam Ali as.

Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. telah memberitakan dari balik tirai ghaib, bahwa umat ini akan menelantarkan Ali as. dan tidak memberikan kesetian pembelaan untuknya. Mereka akan mengkhianatinya!

Imam Ali as. berulang kali mengatakan:

إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.

“Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.”

Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:

صحيح الاسناد

“Hadis ini sahih sanadnya.”

Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:

صحيح

“Hadis ini shahih.” [4]

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.

Demikian juga, sebagian orang yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw.

Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini:

Imam Ali as. berkata:

بينا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) آخذ بيدي ونحن نمشي في بعض سكك المدينة، إذ أتينا على حديقة، فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! فقال: إنّ لك في الجنّة أحسن منها، ثمّ مررنا بأُخرى فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! قال: لك في الجنّة أحسن منها، حتّى مررنا بسبع حدائق، كلّ ذلك أقول ما أحسنها ويقول: لك في الجنّة أحسن منها، فلمّا خلا لي الطريق اعتنقني ثمّ أجهش باكياً، قلت: يا رسول الله ما يبكيك ؟ قال: ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك إلاّ من بعدي، قال: قلت يا رسول الله في سلامة من ديني ؟ قال: في سلامة من دينك.

“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al Bazzâr dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,[5]Ibnu Hibbân dkk. [6]

Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88

Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!

Kapan Imam Ali Membaiat Abu Bakar? : Membantah Para Nashibi

Cukup banyak situs nashibi [yang ngaku-ngaku salafy] menyebarkan syubhat bahwa Imam Ali membaiat Abu Bakar pada awal-awal ia dibaiat. Mereka mengutip riwayat dhaif dan melemparkan riwayat shahih. Mereka mengutip dari riwayat [yang tidak mu’tabar menurut sebagian mereka] dan melemparkan riwayat mu’tabar dan shahih di sisi mereka. Mengapa hal itu terjadi?. Karena kebencian mereka terhadap Syiah. Salafy nashibi itu menganggap pernyataan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan sebagai “syubhat Syi’ah”. Menurut salafy nashibi yang namanya “syubhat Syi’ah” pasti dusta jadi harus dibantah meskipun dengan dalih mengais-ngais riwayat dhaif.

Kami akan berusaha membahas masalah ini dengan objektif dan akan kami tunjukkan bahwa kabar yang shahih dan tsabit adalah Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘Alaihis Salam] dan ini tidak ada kaitannya dengan Syiah dan riwayat di sisi mereka. Riwayat yang menyatakan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan adalah riwayat shahih dan tsabit dari kitab yang mu’tabar di sisi para ulama yaitu Shahih Bukhari. Tidak ada keraguan akan keshahihan riwayat ini

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَى أَبِي بَكْرٍ تَسْأَلُهُ مِيرَاثَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِالْمَدِينَةِ وَفَدَكٍ وَمَا بَقِيَ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ إِنَّمَا يَأْكُلُ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْمَالِ وَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أُغَيِّرُ شَيْئًا مِنْ صَدَقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ حَالِهَا الَّتِي كَانَ عَلَيْهَا فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَأَعْمَلَنَّ فِيهَا بِمَا عَمِلَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَبَى أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَدْفَعَ إِلَى فَاطِمَةَ مِنْهَا شَيْئًا فَوَجَدَتْ فَاطِمَةُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ فِي ذَلِكَ فَهَجَرَتْهُ فَلَمْ تُكَلِّمْهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلًا وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنْ النَّاسِ وَجْهٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ اسْتَنْكَرَ عَلِيٌّ وُجُوهَ النَّاسِ فَالْتَمَسَ مُصَالَحَةَ أَبِي بَكْرٍ وَمُبَايَعَتَهُ وَلَمْ يَكُنْ يُبَايِعُ تِلْكَ الْأَشْهُرَ فَأَرْسَلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ أَنْ ائْتِنَا وَلَا يَأْتِنَا أَحَدٌ مَعَكَ كَرَاهِيَةً لِمَحْضَرِ عُمَرَ فَقَالَ عُمَرُ لَا وَاللَّهِ لَا تَدْخُلُ عَلَيْهِمْ وَحْدَكَ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَمَا عَسَيْتَهُمْ أَنْ يَفْعَلُوا بِي وَاللَّهِ لآتِيَنَّهُمْ فَدَخَلَ عَلَيْهِمْ أَبُو بَكْرٍ فَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَقَالَ إِنَّا قَدْ عَرَفْنَا فَضْلَكَ وَمَا أَعْطَاكَ اللَّهُ وَلَمْ نَنْفَسْ عَلَيْكَ خَيْرًا سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالْأَمْرِ وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصِيبًا حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِي بَكْرٍ فَلَمَّا تَكَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَابَتِي وَأَمَّا الَّذِي شَجَرَ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ مِنْ هَذِهِ الْأَمْوَالِ فَلَمْ آلُ فِيهَا عَنْ الْخَيْرِ وَلَمْ أَتْرُكْ أَمْرًا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُهُ فِيهَا إِلَّا صَنَعْتُهُ فَقَالَ عَلِيٌّ لِأَبِي بَكْرٍ مَوْعِدُكَ الْعَشِيَّةَ لِلْبَيْعَةِ فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ الظُّهْرَ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ وَتَخَلُّفَهُ عَنْ الْبَيْعَةِ وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ وَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَعَظَّمَ حَقَّ أَبِي بَكْرٍ وَحَدَّثَ أَنَّهُ لَمْ يَحْمِلْهُ عَلَى الَّذِي صَنَعَ نَفَاسَةً عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَلَا إِنْكَارًا لِلَّذِي فَضَّلَهُ اللَّهُ بِهِ وَلَكِنَّا نَرَى لَنَا فِي هَذَا الْأَمْرِ نَصِيبًا فَاسْتَبَدَّ عَلَيْنَا فَوَجَدْنَا فِي أَنْفُسِنَا فَسُرَّ بِذَلِكَ الْمُسْلِمُونَ وَقَالُوا أَصَبْتَ وَكَانَ الْمُسْلِمُونَ إِلَى عَلِيٍّ قَرِيبًا حِينَ رَاجَعَ الْأَمْرَ الْمَعْرُوفَ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aaisyah Bahwasannya Faathimah [‘alaihis-salaam] binti Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] mengutus utusan kepada Abu Bakr meminta warisannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dari harta fa’i yang Allah berikan kepada beliau di Madinah dan Fadak, serta sisa seperlima ghanimah Khaibar. Abu Bakr berkata ‘Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda ‘Kami tidak diwarisi, segala yang kami tinggalkan hanya sebagai sedekah”. Hanya saja, keluarga Muhammad [shallallahu 'alaihi wasallam] makan dari harta ini’. Dan demi Allah, aku tidak akan merubah sedikitpun shadaqah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam] dari keadaannya semula sebagaimana harta itu dikelola semasa Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam], dan akan aku kelola sebagaimana Rasulullah mengelola. Maka Abu Bakr enggan menyerahkan sedikitpun kepada Fathimah sehingga Fathimah marah kepada Abu Bakr dalam masalah ini. Fathimah akhirnya mengabaikan Abu Bakr dan tak pernah mengajaknya bicara hingga ia meninggal. Dan ia hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu 'alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Aliy, ketika malam hari, dan ‘Aliy tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr. Padahal semasa Faathimah hidup, Aliy dituakan oleh masyarakat tetapi, ketika Faathimah wafat, ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Aliy kemudian mengutus seorang utusan kepada Abu Bakar yang inti pesannya  ‘Tolong datang kepada kami, dan jangan seorangpun bersamamu!’. Ucapan ‘Aliy ini karena ia tidak suka jika Umar turut hadir. Namun ‘Umar berkata ‘Tidak, demi Allah, jangan engkau temui mereka sendirian’. Abu Bakr berkata ‘Kalian tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Demi Allah, aku sajalah yang menemui mereka.’ Abu Bakr lantas menemui mereka. ‘Aliy mengucapkan syahadat dan berkata ”Kami tahu keutamaanmu dan apa yang telah Allah kurniakan kepadamu. Kami tidak mendengki kebaikan yang telah Allah berikan padamu, namun engkau telah sewenang-wenang dalam memperlakukan kami. Kami berpandangan, kami lebih berhak karena kedekatan kekerabatan kami dari Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wa sallam’]. Hingga kemudian kedua mata Abu Bakr menangis. Ketika Abu Bakr bicara, ia berkata “Demi Yang jiwaku ada di tangan-Nya, kekerabatan Rasulullah lebih aku cintai daripada aku menyambung kekerabatanku sendiri. Adapun perselisihan antara aku dan kalian dalam perkara ini, sebenarnya aku selalu berusaha berbuat kebaikan. Tidaklah kutinggalkan sebuah perkara yang kulihat Rasulullah [shallallahu 'alaihi wa sallam] melakukannya, melainkan aku melakukannya juga’. Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr ‘Waktu baiat kepadamu adalah nanti sore’. Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. ‘Aliy kemudian beristighfar dan mengucapkan syahadat, lalu mengemukakan keagungan hak Abu Bakar, dan ia menceritakan bahwa apa yang ia lakukan tidak sampai membuatnya dengki kepada Abu Bakar. Tidak pula sampai mengingkari keutamaan yang telah Allah berikan kepada Abu Bakr. Ia berkata “Hanya saja, kami berpandangan bahwa kami lebih berhak  dalam masalah ini namun Abu Bakr telah bertindak sewenang-wenang terhadap kami sehingga kami pun merasa marah terhadapnya”. Kaum muslimin pun bergembira atas pernyataan ‘Aliy dan berkata “Engkau benar”. Sehingga kaum muslimin semakin dekat dengan ‘Aliy ketika ‘Aliy mengembalikan keadaan menjadi baik” [Shahih Bukhaari no. 4240-4241].

Hadis riwayat Bukhari ini juga disebutkan dalam Shahih Muslim 3/1380 no 1759 dan Shahih Ibnu Hibban 11/152 no 4823. Dari hadis yang panjang di atas terdapat bukti nyata kalau Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan yaitu setelah wafatnya Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam]. Sisi pendalilannya adalah sebagai berikut. Pehatikan lafaz Perkataan Aisyah

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ اسْتَنْكَرَ عَلِيٌّ وُجُوهَ النَّاسِ فَالْتَمَسَ مُصَالَحَةَ أَبِي بَكْرٍ وَمُبَايَعَتَهُ وَلَمْ يَكُنْ يُبَايِعُ تِلْكَ الْأَشْهُرَ

Ketika [Sayyidah Fathimah] wafat ‘Aliy memungkiri penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu.

Aisyah [radiallahu ‘anha] menyatakan dengan jelas bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar adalah setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan dan Imam Ali tidak pernah membaiat pada bulan-bulan sebelumnya. Jadi dari sisi ini tidak ada yang namanya istilah baiat kedua. Itulah baiat Imam Ali yang pertama dan satu-satunya

Aisyah [radiallahu ‘anha] kemudian menyebutkan dengan jelas peristiwa yang terjadi setelah Sayyidah Fathimah wafat yaitu Imam Ali memanggil Abu Bakar kemudian memutuskan untuk memberikan baiat di hadapan kaum muslimin. Aisyah [radiallahu ‘anha] menyebutkan bahwa Abu Bakar berkhutbah di hadapan kaum muslimin, perhatikan lafaz

فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ الظُّهْرَ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ وَتَخَلُّفَهُ عَنْ الْبَيْعَةِ وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ

Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia menaiki mimbar. Ia mengucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Aliy dan ketidakikutsertaan Ali dari bai’at serta alasannya.

Abu Bakar sendiri sebagai khalifah yang akan dibaiat menyatakan di hadapan kaum muslimin alasan Imam Ali tidak memberikan baiat kepadanya. Ini bukti nyata kalau Abu Bakar sendiri merasa dirinya tidak pernah dibaiat oleh Imam Ali. Khutbah Abu Bakar disampaikan di hadapan kaum muslimin dan tidak satupun dari mereka yang mengingkarinya. Maka dari sini dapat diketahui bahwa Abu Bakar dan kaum muslimin bersaksi bahwa Ali tidak pernah membaiat sebelumnya kepada Abu Bakar.
.

.

.

Kemudian mari kita lihat riwayat yang dijadikan hujjah oleh salafy nashibi bahwa Imam Ali telah memberikan baiat kepada Abu Bakar pada awal pembaiatan Abu Bakar.

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا جعفر بن محمد بن شاكر ثنا عفان بن مسلم ثنا وهيب ثنا داود بن أبي هند ثنا أبو نضرة عن أبي سعيد الخدري رضى الله تعالى عنه قال لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم قام خطباء الأنصار فجعل الرجل منهم يقول يا معشر المهاجرين إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا استعمل رجلا منكم قرن معه رجلا منا فنرى أن يلي هذا الأمر رجلان أحدهما منكم والآخر منا قال فتتابعت خطباء الأنصار على ذلك فقام زيد بن ثابت فقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان من المهاجرين وإن الإمام يكون من المهاجرين ونحن أنصاره كما كنا أنصار رسول الله صلى الله عليه وسلم فقام أبو بكر رضى الله تعالى عنه فقال جزاكم الله خيرا يا معشر الأنصار وثبت قائلكم ثم قال أما لو فعلتم غير ذلك لما صالحناكم ثم أخذ زيد بن ثابت بيد أبي بكر فقال هذا صاحبكم فبايعوه ثم انطلقوا فلما قعد أبو بكر على المنبر نظر في وجوه القوم فلم ير عليا فسأل عنه فقال ناس من الأنصار فأتوا به فقال أبو بكر بن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم وختنه أردت أن تشق عصا المسلمين فقال لا تثريب يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعه ثم لم ير الزبير بن العوام فسأل عنه حتى جاؤوا به فقال بن عمة رسول الله صلى الله عليه وسلم وحواريه أردت أن تشق عصا المسلمين فقال مثل قوله لا تثريب يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعاه

Telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Syaakir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Wuhaib yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Hind yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Al Khudriy radiallahu ta’ala ‘anhu yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat maka khatib khatib di kalangan anshar berdiri kemudian datanglah salah seorang dari mereka yang berkata “wahai kaum muhajirin sungguh jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyuruh salah seorang diantara kalian maka Beliau menyertakan salah seorang dari kami maka kami berpandangan bahwa yang memegang urusan ini adalah dua orang, salah satunya dari kalian dan salah satunya dari kami, maka khatib-khatib Anshar itu mengikutinya. Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berasal dari kaum muhajirin maka Imam adalah dari kaum muhajirin dan kita adalah penolongnya sebagaimana kita adalah penolong Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Abu Bakar radiallahu ta’ala anhu berdiri dan berkata “semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian wahai kaum Anshar, benarlah juru bicara kalian itu” kemudian ia berkata “jika kalian mengerjakan selain daripada itu maka kami tidak akan sepakat dengan kalian” kemudian Zaid bin Tsabit memegang tangan Abu Bakar dan berkata “ini sahabat kalian maka baiatlah ia” kemudian mereka pergi.

Ketika Abu Bakar berdiri di atas mimbar, ia melihat kepada orang-orang kemudian ia tidak melihat Ali, ia bertanya tentangnya maka ia menyuruh orang-orang dari kalangan Anshar memanggilnya, Abu Bakar berkata “wahai sepupu Rasulullah dan menantunya apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Ali berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” maka ia membaiatnya. Kemudian Abu Bakar tidak melihat Zubair, ia menanyakan tentangnya dan memanggilnya kemudian berkata “wahai anak bibi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan penolongnya [hawariy] “apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Zubair berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah” maka ia membaiatnya. [Mustadrak Al Hakim juz 3 no 4457]

Hadis riwayat Al Hakim di atas juga diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 8/143 no 16315 dan Al I’tiqad Wal Hidayah hal 349-350 dengan jalan sanad yang sama dengan riwayat Al Hakim di atas.

Hadis semakna juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibnu Asakir 30/276-277, Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 8/143 no 16316 dan Al I’tiqad Wal Hidayah hal 350. Berikut riwayat Ibnu Asakir

وأخبرنا أبو القاسم الشحامي أنا أبو بكر البيهقي أنا أبو الحسن علي بن محمد بن علي الحافظ الإسفراييني قال نا أبو علي الحسين بن علي الحافظ نا أبو بكر بن إسحاق بن خزيمة وإبراهيم بن أبي طالب قالا نا بندار بن بشار نا أبو هشام المخزومي نا وهيب نا داود بن أبي هند نا أبو نضرة عن أبي سعيد الخدري قال قبض النبي (صلى الله عليه وسلم) واجتمع الناس في دار سعد بن عبادة وفيهم أبو بكر وعمر قال فقام خطيب الأنصار فقال أتعلمون أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) كان من المهاجرين وخليفته من المهاجرين ونحن كنا أنصار رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فنحن أنصار خليفته كما كنا أنصاره قال فقام عمر بن الخطاب فقال صدق قائلكم أما لو قلتم غير هذا لم نتابعكم وأخذ بيد أبي بكر وقال هذا صاحبكم فبايعوه وبايعه عمر وبايعه المهاجرون والأنصار قال فصعد أبو بكر المنبر فنظر في وجوه القوم فلم ير الزبير قال فدعا بالزبير فجاء فقال قلت أين ابن عمة رسول الله (صلى الله عليه وسلم) وحواريه أردت أن تشق عصا المسلمين قال لا تثريب يا خليفة رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فقام فبايعه ثم نظر في وجوه القوم فلم ير عليا فدعا بعلي بن أبي طالب فجاء فقال قلت ابن عم رسول الله (صلى الله عليه وسلم) وختنه على ابنته أردت أن تشق عصا المسلمين قال لا تثريب يا خليفة رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فبايعه هذا أو معنا

Telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Asy Syahaamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Baihaqi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Al Al Hafizh Al Isfirayiniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ali Husain bin ‘Ali Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq bin Khuzaimah dan Ibrahim bin Abi Thalib, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Bindaar bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hisyaam Al Makhzuumiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Wuhaib yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Hind yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Al Khudriy yang berkata “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan orang-orang berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah dan diantara mereka ada Abu Bakar dan Umar. Pembicara [khatib] Anshar berdiri dan berkata “tahukah kalian bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari golongan muhajirin dan penggantinya dari Muhajirin juga sedangkan kita adalah penolong Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kita adalah penolong penggantinya sebagaimana kita menolongnya. Umar berkata “sesungguhnya pembicara kalian benar, seandainya kalian mengatakan selain itu maka kami tidak akan membaiat kalian” dan Umar memegang tangan Abu Bakar dan berkata “ini sahabat kalian maka baiatlah ia”. Umar mulai membaiatnya kemudian diikuti kaum Muhajirin dan Anshar.

Abu Bakar naik ke atas mimbar dan melihat kearah orang-orang dan ia tidak melihat Zubair maka ia memanggilnya dan Zubair datang. Abu Bakar berkata “wahai anak bibi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan penolongnya [hawariy] “apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Zubair berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah” maka ia membaiatnya. Kemudian Abu Bakar melihat kearah orang-orang dan ia tidak melihat Ali maka ia memanggilnya dan Ali pun datang. Abu Bakar berkata “wahai sepupu Rasulullah dan menantunya apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Ali berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” maka ia membaiatnya. Inilah riwayatnya atau dengan maknanya [Tarikh Ibnu Asakir 30/276-277]

Salafy berhujjah dengan riwayat Abu Sa’id di atas dan melemparkan riwayat Aisyah dalam kitab shahih. Mereka mengatakan “bisa saja Aisyah tidak menyaksikan baiat tersebut”. Sayang sekali hujjah mereka keliru, riwayat Aisyah shahih dan tsabit sedangkan riwayat Abu Sa’id mengandung illat [cacat] yaitu pada sisi kisah “adanya pembaiatan Ali dan Zubair”.

Perhatikan kedua riwayat di atas yang kami kutip. Kami membagi riwayat tersebut dalam dua bagian. Bagian pertama yang menyebutkan pembaiatan Abu Bakar oleh kaum Anshar dan bagian kedua yang menyebutkan pembaiatan Ali dan Zubair [yang kami cetak biru]. Bagian pertama kedudukannya shahih sedangkan bagian kedua mengandung illat [cacat] yaitu inqitha’. Perawinya melakukan kesalahan dengan menggabungkan kedua bagian tersebut. Buktinya adalah sebagai berikut.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عفان ثنا وهيب ثنا داود عن أبي نضرة عن أبي سعيد الخدري قال لما توفى رسول الله صلى الله عليه و سلم قام خطباء الأنصار فجعل منهم من يقول يا معشر المهاجرين ان رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا استعمل رجلا منكم قرن معه رجلا منا فنرى أن يلي هذا الأمر رجلان أحدهما منكم والآخر منا قال فتتابعت خطباء الأنصار على ذلك قال فقام زيد بن ثابت فقال إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان من المهاجرين وإنما الإمام يكون من المهاجرين ونحن أنصاره كما كنا أنصار رسول الله صلى الله عليه و سلم فقام أبو بكر فقال جزاكم الله خيرا من حي يا معشر الأنصار وثبت قائلكم ثم قال والله لو فعلتم غير ذلك لما صالحناكم

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Affan yang berkata telah menceritakan kepada kami Wuhaib yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud dari Abi Nadhrah dari Abi Sa’id Al Khudriy yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat maka khatib khatib di kalangan anshar berdiri kemudian datanglah salah seorang dari mereka yang berkata “wahai kaum muhajirin sungguh jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjuk salah seorang diantara kalian maka Beliau menyertakan salah seorang dari kami maka kami berpandangan bahwa yang memegang urusan ini adalah dua orang, salah satunya dari kalian dan salah satunya dari kami, maka khatib-khatib Anshar itu mengikutinya. Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berasal dari kaum muhajirin maka Imam adalah dari kaum muhajirin dan kita adalah penolongnya sebagaimana kita adalah penolong Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Abu Bakar radiallahu ta’ala anhu berdiri dan berkata “semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian wahai kaum Anshar, benarlah juru bicara kalian itu” kemudian ia berkata “ demi Allah, jika kalian mengerjakan selain daripada itu maka kami tidak akan sepakat dengan kalian” [Musnad Ahmad 5/185 no 21657, Syaikh Syu’aib berkata “sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim”]

Hadis riwayat Ahmad ini juga diriwayatkan dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabrani 5/114 no 4785, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/562 no 38195, Ahadits ‘Affan bin Muslim no 307, Tarikh Ibnu Asakir 30/278 dengan jalan sanad ‘Affan bin Muslim. ‘Affan bin Muslim memiliki mutaba’ah yitu Abu Dawud Ath Thayalisi sebagaimana disebutkan dalam Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/84 no 602. Riwayat Wuhaib bin Khalid dengan jalan sanad yang tinggi hanya menyebutkan bagian pertama tanpa menyebutkan bagian kedua. Sedangkan bagian kedua adalah perkataan Abu Nadhrah.

حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ ، نا عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى ، نا دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ ، عَنْ أَبِي نَضْرَةَ ، قَالَ : ” لَمَّا اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ مَا لِي لا أَرَى عَلِيًّا ، قَالَ : فَذَهَبَ رِجَالٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَجَاءُوا بِهِ ، فَقَالَ لَهُ : يَا عَلِيُّ قُلْتَ ابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ وَخَتَنُ رَسُولِ اللَّهِ ؟ فَقَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : لا تَثْرِيبَ يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ ابْسُطْ يَدَكَ فَبَسَطَ يَدَهُ فَبَايَعَهُ ، ثُمَّ قَالَ أَبُو بَكْرٍ : مَا لِي لا أَرَى الزُّبَيْرَ ؟ قَالَ : فَذَهَبَ رِجَالٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَجَاءُوا بِهِ ، فَقَالَ : يَا زُبَيْرُ قُلْتَ ابْنُ عَمَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَحَوَارِيُّ رَسُولِ اللَّهِ ؟ قَالَ الزُّبَيْرُ : لا تَثْرِيبَ يَا خَلِيفَةَ رَسُولِ اللَّهِ ابْسُطْ يَدَكَ فَبَسَطَ يَدَهُ فَبَايَعَهُ “

Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Umar Al Qawaariiriy  yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa bin ‘Abdul A’laa yang berkata telah menceritakan kepada kami Daawud bin Abi Hind dari Abu Nadhrah yang berkata Ketika orang-orang berkumpul kepada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata “Ada apa denganku, aku tidak melihat ‘Aliy ?”. Maka pergilah beberapa orang dari kalangan Anshaar yang kemudian kembali bersamanya Lalu Abu Bakr berkata kepadanya “Wahai ‘Ali, engkau katakan engkau anak paman Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus menantu beliau?”. ‘Ali radliyallaahu ‘anhu berkata : “Jangan mencela wahai khalifah Rasulullah. Bentangkanlah tanganmu” kemudian ia membentangkan tangannya dan berbaiat kepadanya. Kemudian Abu Bakr pun berkata “Ada apa denganku, aku tidak melihat Az-Zubair?”. Maka pergilan beberapa orang dari kalangan Anshaar yang kemudian kembali bersamanya. Abu Bakr berkata “Wahai Zubair, engkau katakan engkau anak bibi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus hawariy beliau”. Az-Zubair berkata “Janganlah engkau mencela wahai khalifah Rasulullah. Bentangkanlah tanganmu”. Kemudian ia membentangkan tangannya dan berbaiat kepadanya” [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1292].

Dawud bin Abi Hind dalam periwayatannya dari Abu Nadhrah memiliki mutaba’ah dari Al Jurairiy sebagaimana yang diriwayatkan Al Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf 1/252 dengan jalan sanad Hudbah bin Khalid dari Hammad bin Salamah dari Al Jurairy dari Abu Nadhrah. Hammad bin Salamah memiliki mutaba’ah dari Ibnu Ulayyah dari Al Jurairy dari Abu Nadhrah sebagaimana disebutkan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1293

Riwayat Al Jurairy juga disebutkan oleh Ibnu Asakir dengan jalan sanad dari Ali bin ‘Aashim dari Al Jurairy dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id [Tarikh Ibnu Asakir 30/278]. Riwayat Ibnu Asakir ini tidak mahzfuzh karena kelemahan Ali bin ‘Aashim. Yaqub bin Syaibah mengatakan ia banyak melakukan kesalahan. Ibnu Ma’in menyatakan tidak ada apa-apanya dan tidak bisa dijadikan hujjah. Al Fallas berkata “ada kelemahan padanya, ia insya Allah termasuk orang jujur”. Al Ijli menyatakan tsiqat. Al Bukhari berkata “tidak kuat di sisi para ulama”. Daruqutni juga menyatakan ia sering keliru. [At Tahdzib juz 7 no 572]. An Nasa’i menyatakan Ali bin ‘Aashim “dhaif” [Ad Dhu’afa no 430]. Ali bin ‘Aashim dhaif karena banyak melakukan kesalahan dan dalam riwayatnya dari Al Jurairiy ia telah menyelisihi Hammad bin Salamah dan Ibnu Ulayyah keduanya perawi tsiqat. Riwayat yang mahfuzh adalah riwayat dari Al Jurairy dari Abu Nadhrah tanpa tambahan dari Abu Sa’id.

Dengan jalan sanad yang tinggi yaitu riwayat Dawud bin Abi Hind dan riwayat Al Jurairiy dari Abu Nadhrah maka diketahui bahwa bagian kedua yang menyebutkan pembaiatan Ali dan Zubair bukan perkataan Abu Sa’id Al Khudriy melainkan perkataan Abu Nadhrah.

Riwayat Wuhaib yang disebutkan Al Hakim, Baihaqi dan Ibnu Asakir dengan sanad yang panjang menggabungkan kedua bagian tersebut dalam satu riwayat padahal sebenarnya bagian pertama adalah perkataan Abu Sa’id Al Khudriy sedangkan bagian kedua adalah perkataan Abu Nadhrah. Riwayat Ja’far bin Muhammad bin Syaakir dari ‘Affan bin Muslim dari Wuhaib dan riwayat Abu Hisyaam dari Wuhaib memiliki pertentangan yang menunjukkan bahwa riwayat tersebut diriwayatkan dengan maknanya sehingga memungkinkan terjadinya pencampuran kedua perkataan Abu Sa’id dan Abu Nadhrah.

  • Pada riwayat ‘Affan dari Wuhaib disebutkan kalau yang berkata “sesungguhnya juru bicara kalian benar” adalah Abu Bakar tetapi pada riwayat Abu Hisyaam dari Wuhaib yang mengatakan itu adalah Umar.
  • Pada riwayat ‘Affan dari Wuhaib disebutkan kalau yang memegang tangan Abu Bakar dan berkata “ini sahabat kalian” adalah Zaid bin Tsabit tetapi dalam riwayat Abu Hisyaam dari Wuhaib yang memegang tangan Abu Bakar dan mengatakan itu adalah Umar.

Riwayat yang tsabit dalam penyebutan baiat Ali dan Zubair kepada Abu Bakar adalah riwayat perkataan Abu Nadhrah sedangkan riwayat Wuhaib dengan sanad yang panjang telah terjadi pencampuran antara perkataan Abu Nadhrah dan Abu Sa’id Al Khudri. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Wuhaib dengan sanad yang tinggi tidak terdapat keterangan penyebutan baiat Ali dan Zubair. Abu Nadhrah Mundzir bin Malik adalah tabiin yang riwayatnya dari Ali, Abu Dzar dan para sahabat terdahulu [Abu Bakar, Umar dan Utsman] adalah mursal [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 800] maka riwayat yang menyebutkan pembaiatan Ali dan Zubair adalah riwayat dhaif.

.

.

Apalagi telah disebutkan dalam riwayat shahih dan tsabit dari Aisyah sebelumnya bahwa baiat Imam Ali kepada Abu Bakar terjadi setelah kematian Sayyidah Fathimah [‘alaihis salam] yaitu setelah enam bulan. Dalih salafy yang melahirkan istilah “baiat kedua” jelas tidak masuk akal karena jika memang riwayat Abu Sa’id benar maka baiat Imam Ali kepada Abu Bakar itu sudah disaksikan oleh kaum muslimin lantas mengapa perlu ada lagi baiat kepada Imam Ali setelah enam bulan dihadapan kaum muslimin. Apalagi setelah enam bulan Abu Bakar malah dalam khutbahnya menyebutkan kalau Ali belum pernah memberikan baiat dan alasannya. Kemusykilan ini terjelaskan bahwa riwayat Abu Sa’id itu dhaif, Abu Sa’id tidak menyebutkan baiat Ali dan Zubair, itu adalah perkataan Abu Nadhrah yang tercampur dengan riwayat Abu Sa’id.

Jadi jika kita melengkapi riwayat Al Hakim dan yang lainnya [tentang penyebutan baiat Ali] dengan riwayat yang mahfuzh maka riwayat tersebut sebenarnya sebagai berikut.

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا جعفر بن محمد بن شاكر ثنا عفان بن مسلم ثنا وهيب ثنا داود بن أبي هند ثنا أبو نضرة عن أبي سعيد الخدري رضى الله تعالى عنه قال لما توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم قام خطباء الأنصار فجعل الرجل منهم يقول يا معشر المهاجرين إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا استعمل رجلا منكم قرن معه رجلا منا فنرى أن يلي هذا الأمر رجلان أحدهما منكم والآخر منا قال فتتابعت خطباء الأنصار على ذلك فقام زيد بن ثابت فقال إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان من المهاجرين وإن الإمام يكون من المهاجرين ونحن أنصاره كما كنا أنصار رسول الله صلى الله عليه وسلم فقام أبو بكر رضى الله تعالى عنه فقال جزاكم الله خيرا يا معشر الأنصار وثبت قائلكم ثم قال أما لو فعلتم غير ذلك لما صالحناكم ثم أخذ زيد بن ثابت بيد أبي بكر فقال هذا صاحبكم فبايعوه ثم انطلقوا أبو نضرة قال فلما قعد أبو بكر على المنبر نظر في وجوه القوم فلم ير عليا فسأل عنه فقال ناس من الأنصار فأتوا به فقال أبو بكر بن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم وختنه أردت أن تشق عصا المسلمين فقال لا تثريب يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعه ثم لم ير الزبير بن العوام فسأل عنه حتى جاؤوا به فقال بن عمة رسول الله صلى الله عليه وسلم وحواريه أردت أن تشق عصا المسلمين فقال مثل قوله لا تثريب يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعاه

Telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad bin Syaakir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Wuhaib yang berkata telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abi Hind yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhrah dari Abu Sa’id Al Khudriy radiallahu ta’ala ‘anhu yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat maka khatib khatib di kalangan anshar berdiri kemudian datanglah salah seorang dari mereka yang berkata “wahai kaum muhajirin sungguh jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyuruh salah seorang diantara kalian maka Beliau menyertakan salah seorang dari kami maka kami berpandangan bahwa yang memegang urusan ini adalah dua orang, salah satunya dari kalian dan salah satunya dari kami, maka khatib-khatib Anshar itu mengikutinya. Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berasal dari kaum muhajirin maka Imam adalah dari kaum muhajirin dan kita adalah penolongnya sebagaimana kita adalah penolong Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Abu Bakar radiallahu ta’ala anhu berdiri dan berkata “semoga Allah membalas kebaikan kepada kalian wahai kaum Anshar, benarlah juru bicara kalian itu” kemudian ia berkata “jika kalian mengerjakan selain daripada itu maka kami tidak akan sepakat dengan kalian” kemudian Zaid bin Tsabit memegang tangan Abu Bakar dan berkata “ini sahabat kalian maka baiatlah ia” kemudian mereka pergi.

Abu Nadhrah berkata Ketika Abu Bakar berdiri di atas mimbar, ia melihat kepada orang-orang kemudian ia tidak melihat Ali, ia bertanya tentangnya maka ia menyuruh orang-orang dari kalangan Anshar memanggilnya, Abu Bakar berkata “wahai sepupu Rasulullah dan menantunya apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Ali berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” maka ia membaiatnya. Kemudian Abu Bakar tidak melihat Zubair, ia menanyakan tentangnya dan memanggilnya kemudian berkata “wahai anak bibi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan penolongnya [hawariy] “apakah engkau ingin memecah belah kaum muslimin?”. Zubair berkata “jangan mencelaku wahai khalifah Rasulullah” maka ia membaiatnya

Akhir kata sepertinya Salafy nashibi harus berusaha lagi mengais-ngais riwayat dhaif untuk melindungi doktrin mereka. Atau mungkin akan keluar jurus “ngeyelisme” yang seperti biasa adalah senjata pamungkas orang yang berakal kerdil. Lebih dan kurang kami mohon maaf [kayak bahasa “kata sambutan”].

Penyebab Perselisihan antara Sunni dengan Syiah

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat.

.
Nabi Muhammad adalah IMAM (Pemimpin Negara) untuk masyarakat Madinah. Penduduk Madinah terdiri dari orang2 Nasrani, orang2 Yahudi dan orang2 Muslim setelah Nabi Muhammad mengungsi ke Madinah dari Makkah.

Nabi Muhammad dipilih langsung oleh masyarakat Madinah (Nasrani, Yahudi, Islam dll) sehingga Nabi Muhammad menjadi IMAM (Pemimpin Negara) di Madinah. Masyarakat memilih langsung seorang Pemimpin Negara (IMAM) adalah SUNNAH.
Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH. ,

menolak ALLAH (AlQuran) dan RASUL (hadith/Sunnah) adalah dosa besar, sehingga wajar syi’ah kerap mengkritik sahabat Nabi SAW agar umat tidak sesat …

ALQURAN 33:72
Sesungguhnya manusia itu sangat jahat (dzalim) dan sangat bodoh.

SHOHIH BUKHARI, kitab 56 no 795
Uqba ibn Amr melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Demi ALLAH, saya tidak takut kamu akan kembali menjadi orang2 musyrik; tetapi saya sangat takut, kamu akan saling membunuh untuk mendapatkan dunia ini (harta dan kekuasaan)!”

SHOHIH MUSLIM, Kitab Al Wasiyyah no 4016
Pada hari Kamis malam; ketika Rasulullah sedang sakit menghadapi maut, beberapa sahabat berkumpul di rumah Aisyah untuk membesuk Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Berikanlah saya kerta dan pena, karena saya akan membuat surat wasiat sehingga kamu tidak tersesat setelah kepergianku!”

Umar ibn Khattab berkata: “Kita memiliki AlQuran; sudah cukup untuk kita AlQuran!”

Mayoritas sahabat tidak setuju dengan pendapat Umar ibn Khattab; sehingga terjadi pedebatan dengan suara keras di antara mereka. Rasulullah bertambah menderita mendengarkan perdebatan di antara para sahabat.

Rasulullah berkata: “Pergilah kamu semua keluar!”

Keadaan Rasulullah bertambah parah; sehingga Rasulullah wafat tanpa menulis surat wasiat

ALQURAN 4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasul…..

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab mencegah para sahabat yang lain memberikan kertas dan pena; sehingga Rasulullah bisa meninggalkan surat wasiat?

ALQURAN 49:2
Hai orang orang yang beriman; janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih tinggi dari pada suara Nabi; dan janganlah kamu bersuara keras seperti suara keras di antara kamu; supaya tidak terhapus pahala kamu tanpa kamu sadari

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak menghormati Rasulullah; sehingga dia memulai pedebatan dengan suara yang keras?
Benar 100 % dan setuju 100%, maka kita sebaiknya merujuk kepada Ahadith lain yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii)

SUNAN ABU DAWUD, Kitab AL Kharaj,
Bab tentang pembagian 1/5 yang diamil oleh Rasulullah untuk Ahlul Bait no 2978

Ali ibn Abu Tholib berkata: “Saya, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithat mendatangi Rasulullah.

Kami berkata: “Sebaiknya anda segera membuat surat wasiat untuk pembagian harta rampasan perang (Fai) sesuai petunjuk yang tertulis di dalam AlQuran; supaya tidak ada perselisihan antara kami (Ahlul Bait) dengan orang2 lain setelah kepergianmu!”

Rasulullah berkata: “Saya akan memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan saya, surat wasiat segera!”

PERTANYAAN

Kenapa Abu Bakr tidak melaksanakan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr segara membuatkan Rasulullah surat wasiat?

ALQURAN 2:180
Diwajibkan atas kam, jika datang tanda tanda maut, jika dia meninggalkan harta untuk menulis surat wasiat….

ALQURAN 2:240
dan mereka yang akan meninggal dunia di antara kamu, dan meninggalkan istri. Maka tulislah surat wasiat…..

Tidak mungkin Rasulullah melanggar ayat ayat ALLAH yang tertulis di dalam AlQuran sesuai pendapat antum.

Jauh jauh hari sebelum datang tanda tanda Maut, Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan surat wasiat, karena desakan Ali ibn Abu Tholib, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithah.

Rasulullah telah melaksanakan perintah ALLAH terhadpa kewajiban menulis surat wasiat; tetapi Abu Bakar sengaja mengabaikan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr tidak membuatkan Rasulullah surat wasiat.

Umar ibn Khattab sengaja menghalangi para sahabat untuk membuatkan Surat Wasiat sesaui dengan permintaan Rasululah.

Dan kalo menurut saya… Kalo kejadian ini disebut sebagai Penyebab Perselisihan antara Sunni dengan Syiah…
Kaum Sunni fanatik buta membela semua kesalahan yang telah dilakukan oleh para sahabat. Kaum Syiah rajin membela Rasulullah dan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka); karena kecintaan Kaum Syiah kepada Rasululah dan Ahlul Bait

.
SUNAN ABU DAWUD, Kitab AL Kharaj,
Bab tentang pembagian 1/5 yang diamil oleh Rasulullah untuk Ahlul Bait no 2978

Ali ibn Abu Tholib berkata: “Saya, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithat mendatangi Rasulullah.

Kami berkata: “Sebaiknya anda segera membuat surat wasiat untuk pembagian harta rampasan perang (Fai) sesuai petunjuk yang tertulis di dalam AlQuran; supaya tidak ada perselisihan antara kami (Ahlul Bait) dengan orang2 lain setelah kepergianmu!”

Rasulullah berkata: “Saya akan memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan saya, surat wasiat segera!”

PERTANYAAN

Kenapa Abu Bakr tidak melaksanakan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr segara membuatkan Rasulullah surat wasiat?

ALQURAN 2:180
Diwajibkan atas kamu, jika datang tanda tanda maut, jika dia meninggalkan harta untuk menulis surat wasiat….

ALQURAN 2:240
dan mereka yang akan meninggal dunia di antara kamu, dan meninggalkan istri. Maka tulislah surat wasiat…..

Rasulullah telah melaksanakan perintah ALLAH terhadpa kewajiban menulis surat wasiat; tetapi Abu Bak sengaja mengabaikan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr tidak membuatkan Rasulullah surat wasiat.

Umar ibn Khattab sengaja menghalangi para sahabat untuk membuatkan Surat Wasiat sesaui dengan permintaan Rasululah.

SHOHIH MUSLIM, Kitab Al Wasiyyah no 4016
Pada hari Kamis malam; ketika Rasulullah sedang sakit menghadapi maut, beberapa sahabat berkumpul di rumah Aisyah untuk membesuk Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Berikanlah saya kerta dan pena, karena saya akan membuat surat wasiat sehingga kamu tidak tersesat setelah kepergianku!”

Umar ibn Khattab berkata: “Kita memiliki AlQuran; sudah cukup untuk kita AlQuran!”

Mayoritas sahabat tidak setuju dengan pendapat Umar ibn Khattab; sehingga terjadi pedebatan dengan suara keras di antara mereka. Rasulullah bertambah menderita mendengarkan perdebatan di antara para sahabat.

Rasulullah berkata: “Pergilah kamu semua keluar!”

Keadaan Rasulullah bertambah parah; sehingga Rasulullah wafat tanpa menulis surat wasiat

ALQURAN 4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasul…..

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab mencegah para sahabat yang lain memberikan kertas dan pena; sehingga Rasulullah bisa meninggalkan surat wasiat?

ALQURAN 49:2
Hai orang orang yang beriman; janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih tinggi dari pada suara Nabi; dan janganlah kamu bersuara keras seperti suara keras di antara kamu; supaya tidak terhapus pahala kamu tanpa kamu sadari

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak menghormati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab memulai pedebatan dengan suara yang keras?

Suara yang keras telah menyebabkan Rasulullah sangat menderita sebelum wafat; dan Rasulullah tidak dapat membuatkan surat wasiat.

SHOHIH MUSLIM, Kitab keutamaan para sahabat; terutama keutamaan Ali ibn Abu Tholib
Rasulullah berkata: “Kedudukan Ali ibn Abu Tholib dengan saya, sama dengan kedudukan Harun dengan Musa, keucali tidak ada nabi baru setelah saya!”

Ketika Musa pergi atau wafat; maka Harun menggantikan Musa. Begitu juga setelah Nabi Muhammad pergi atau wafat; maka Ali ibn Abu Tholib wajib menggantikan Rasulullah; sesuai dengan kehendak Rasulullah sendiri.

Abu Bakr & Umar ibn Khattab adalah orang2 yang sangat pintar; sehigga mereka sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat.

Abu Bakr & Umar ibn Khattab sengaja tidak mentaati Rasulullah; supaya Rasulullah tidak dapat membuat surat wasiat; karena mereka takut Rasulullah menyebutkan nama Ali ibn Abu Tholib sebagai pengganti Rasulullah di dalam surat wasiat tersebut.

Kolusi, Konspirasi, Kecurangan telah dilakukan oleh Abu Bakr dan Umar ibn Khattab untuk memdapatkan kekuasaan; sejak Rasulullah masih hidub.
SHOHIH BUKHARI, Kitab 43 no 642
Umar ibn Khattab melaporkan bahwa ALLAH mewafatkan Rasulullah, kemudian Kaum Ansar berkumpul di Saqifa (beranda, ruang tamu) di dalam rumah Bani Saida.

Saya berkata kepada Abu Bakr: “Marilah kita ke sana!”
maka kami berdua pergi ke Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida

SHOHIH BUKHARI, kitab 59 no 356
Umar ibn Khattab berkata: “Ketika Rasulullah wafat saya mengajak Abu Bakr untuk bertemu dengan Kaum Anshor.

Kami bertemu dengan Uwaim ibn Saida dan Manbin Adi yang ikut berperang membantu Rasulullah pada perang Badar; di dalam perjalanan ke Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida!”

SHOHIH BUKHARI, Kitab 57 no 19
Masyarakat sangat sedih dan menangis dengan keras (setelah mengetahui bahwa Rasulullah telah wafat) dan Anshar berkumpul dengan Sad Ibn Ubada di dalam Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida.

Muhajirin berkata: “Sebaiknya ada seorang pemimpin dari kami; dan ada seorang pemimpin dari kamu!”

Kemudian Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Abu Baida bin AL Jarrah bergabung dengan mereka. Umar ibn Khattab menghendaki Abu Bakr berbicara kepada mereka; tetapi Abu Bakr menolak.

Umar ibn Khattab berkata: “Demi Tuhan, saya hanya bermaksut untuk menyampakan pendapatku dan saya takut Abu Bakr tidak dapat berbicara dengan baik dan jelas!”

Abu Bakr berkata: “Kami (Muhajirin atau para sahabat dari Makkah) adalah para pemimpin dan kamu (Anshor atau para sahabat dari Madinah) adalah para pembantu (mentri mentri negara)

Hubab ibn Mudhir berkata: “Tidak, kami tidak dapat menerimanya; tetapi seorang pemimpin harus datang dari kami dan seorang pemimpin dari kamu!”

Abu Bakr berkata: “Tidak. Semua pemimpin harus dari kami (Muhajirin atau para sahabat dari Makkah) dan semua mentri mentri negara (para pembantu pemimpin) dari Kamu (Anshor atau para sahabat dari Madinah), karena Kaum Quraish adalah orang2 yang terbaik di antara suku suku Arab. Kamu harus memilih Umar ibn Khattab atau Ubaida ibn Al Jarrah sebagai pemimpin kamu!”

Umar ibn Khattab berkata kepada Abu Bakr: “Tidak, tetapi kita semua harus memilih kamu (Abu Bakr) sebagai pemimpin kita; karena kamu orang yang terbaik di antara kita dan kamu memiliki hubungan yang baik dengan Rasulullah!”

Kemudian Umar ibn Khattab mengangkat tangan Abu Bakr dan memilih Abu Bakr sebagai pemimpinnya; dan orang2 dari Makkah mulai memilih Abu Bakr sebagai pemimpin mereka.

Ketika Musa pergi dan/atau wafat maka Harun menggantikan Musa. Jika Nabi Muhammad wafat maka Ali ibn Abu Tholib wajib menggantikan Nabi Muhammad berdasarkan Hadith tersebut.

Kita mengetahui bahwa Rasulullah telah memilih Ali ibn Abu Tholib sebagai pengganti Rasulullah berdasarkan Hadith t; tetapi Abu Bakr hendak menjadi pengganti Rasulullah (Khalifah Rasulullah) dan Umar ibn Khattab hendak menjadi pengganti Khalifah (Khalifah Khalifah).

Maka Abu Bakr dan Umar ibn Khattab mencegah Rasulullah untuk membuat Surat Wasiat; ketika Rasulullah masih hidub.

Abu Bakr dan Umar ibn Khattab juga melakukan kecurangan2 dengan cara melakukan Pemilihan Umum rahasia di Saqifa (beranda, ruang tamu) di dalam rumah Bani Saidah; dan di dalam Masjid beberapa hari setelah Rasulullah wafat; tanpa dihadiri oleh mayoritas sahabat dan tanpa dihadiri oleh Ahlul Bait (anggota2 keluarga nabi Muhammad).
Setelah Rasulullah wafat; terjadi perbedaan pendapat (perselisihan) antara Ahlul Bait (Ali, Fatimah binti Muhammad) dengan Abu Bakr & Umar ibn Khattab; sehingga hubungan antara Ahlul Bait dengan Abu Bakr & Umar ibn Khattab menjadi tidak baik (kaku, tegang, tidak harmonis dll) selama 6 bulan setelah Rasulullah wafat.

Marilah kita menggunakan kepala dinggin untuk mengerti; sehingga kita semua dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari perdebatan pendapat (perselisihan) di antara Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka) dengan Abu Bakr dan Umar ibn Khattab; dan supaya kita dapat mengerti Islam dengan baik dan benar.

SHOHiH BUKHARI, Kitab 59 no 546

Aisyah binti Abu Bakr melaporkan:

“Fatimah binti Muhammad datang ke Abu Bakr untuk meminta harta warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah sebagai KHUMUS dan FAI (rampasan perang) di Madinah, di Fadak dan Khaibar.

Abu Bakr berkata: “Rasulullah tidak mewarisan hartanya; karena semua harta yang ditinggalkan oleh Rasulullah menjadi Sodaqoh dan Zakat. Ahlul Bait dapat makan dari Sodaqoh dan Zakat.

Demi ALLAH, saya tidak akan mengubah Sodaqoh dan Zakat yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah; sehingga saya menolak mengembalikannya kepada Fatimah binti Muhammad.

Fatimah binti Muhammad sangat marah kepada Abu Bakr dan dia tidak berbicara kepada Abu Bakr sampai dia wafat. Fatimah binti Muhammad wafat 6 bulan setelah Rasulullah wafat. Ketika Fatimah wafat; Ali ibn Abu Tholib menguburkannya di malam hari supaya Abu Bakr tidak mengetahuinya.

Beberapa hari setelah penguburan Fatimah binti Muhammad; Ali ibn Tholib berusah memperbaiki hubungan antara Ahlul Bait dengan Abu Bakr dan Umar ibn Khattab untuk menjaga persatuan ummat Islam.

Ali ibn Abu Tholib mengirimkan anaknya kepada Abu Bakr untuk memanggil Abu Bakr datang ke rumah Ali ibn Abu Tholib.

Ali ibn Abu Tholib menulis: “Datanglah ke rumah kami sediri, karena Ali ibn Abu Tholib tidak menghendaki Umar ibn Khattab datang ke rumahnya!”

Umar ibn Khattab berkata (kepada Abu Bakr): “Tidak, demi Tuhan, kamu tidak boleh datang sendiri kesana!”

Abu Bakr berakta: “Jangalah kamu berburuk sangka, apakah yang akan mereka lalukan kepada saya? Demi Tuhan, saya akan datang sendiri kesana!”

Abu Bakr datang ke rumah Ali ibn Abu Tholib dan Ali ibn Abu Tholib menyambut Abu Bakr dengan baik, sopan-santun dan ramah tamah.

Ali ibn Abu Tholib membacakan Sholawat dan berkata: “Kami menghormati kekuasaan yang berada di tangan kamu; kami tidak cemburu kepada kekuasaan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu; tetapi kami kecewa karena kamu tidak melakukan musyawarah kepada kami sebelum kamu mengambil kekuasaan tersebut. Padahal kami lebih berkah berkuasa sesuai dengan kehendak Rasulullah sendiri!”

Abu Bakr sangat menyesali perbuatannya dan memohon maaf kepada Ali ibn Abu Tholib dan menangis dengan sungguh sungguh.

Abu Bakr berkata: “Kedudukan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka) lebih dekat di dalam hati saya dari pada kedudukan keluarga saya sendiri.

Permasalahan yang timbul di antara saya dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) tentang harta warisan dan tentang kekuasaan disebabkan oleh keputusan saya sendiri. Saya berusaha membagikan Sodaqoh dan Zakat sesuai dengan Rasululalh membagikan Sodaqoh dan Zakat!”

Setelah selesai Sholat Zuhur di dalam Masjid; Ali ibn Abu Tholib naik ke atas mimbar dan memberikan keterangan.

Ali ibn Abu Tholib berkata setelah mengucapkan Sholawat: “Ali ibn Abu Tholib menerangkan bahwa Ahlul Bait tidak mendukung Abu Bakr setelah Rasulullah wafat; bukan kerana kecemburuan; tetapi karena tidak ada musyawarah ketika Abu Bakr mengambil kekuasaan sebagai Pemimpin Negara. Padahal Rasulullah sendiri menghendaki Ahlul Bait yang menggantikannya!”
Mayoritas sahabat dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) sedang sibuk mengurus penguburan Rasulullah; tetapi minoritas sahabat memperebutkan kekuasaan dengan cara KECURANGAN (Kolusi, Nepotism dan Kolusi) untuk menjadi IMAM (pemimpin) sebagai Khalifah Rasulullah (Pengganti Utusan Tuhan).
SHOHIH MUSLIM, Kitab keutamaan para sahabat; terutama keutamaan Ali ibn Abu Tholib
Rasulullah berkata: “Saya akan meninggalkan 2 perkara untuk kamu semua; supaya kamu semua tidak tersesat setelah kepergianku. Pertama adalah AlQuran dan ke dua adalah Ahlul Baitku (Ali, Fatimah dan keturunan mereka)!”

Kesalahan antum sangat fatal; karena antum menolak ALLAH (AlQuran) dan menolak RASUL (Hadith/Sunnah); tetapi antum menerima BIDAH (IJMA’ SAHABAT) yang diciptakan oleh para sahabat tertentu.

Ketika Abu Bakr dan Umar ibn Khattab membuat BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam), mayoritas sahabat termasuk Ali ibn Abu Tholib sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah. BIDAH yang diciptakan dan yang dipelopori oleh Abu Bakr dan Umar ibn Khattab

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.”

Walaupun Imami Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Beberapa sahabat terus menolak Abu Bakr sebagai Khalifah walaupun Ali ibn Abu Tholib telah mengakui Abu Bakr sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); sehingga sahabat tersebut menolak membayar zakat untuk Abu Bakr.

Abu Bakr mengeluarkan Fatawa untuk mengkafirkan para sahabat yang menolak membayar zakat kepada Abu Bakr dan memutuskan untuk membunuh para sahabat di dalam perang Riddah dan perang Yamamah.

Para sahabat banyak yang menolak bentuk negara Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam) yang dipimpin oleh Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan; karena bentuk negara berdasarkan AlQuran dan Hadith/Sunnah adalah IMAMAH

.
ALQURAN 4:93
Barangsiapa yang membunuh Mukmin (orang yang beriman) dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam. Pembunuhnya akan kekal berada di dalamnya; karena ALLAH sangat murka kepadanya; dan menyediakan sisksaan yang sangat pedih

SHOHIH BUKHARI, Kitab 23 no 428
Rasulullah berkata: “Demi Tuhan, saya tidak takut kamu akan menyembah Tuhan Tuhan lain selain ALLAH; tetapi saya takut kamu akan membunuh satu dengan lainya untuk mendapatkan dunia ini (Harta atau Kekuasaan)!”

.
SHOHIH MUSLIM, Kitab Iman no 160
Ubaidullah ibn Abu Bakr melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Janganlah kamu membunuh seorang muslim dengan sengaja; kecuali menuntut keadilan; supaya kamu tidak dikafirkan oleh ALLAH!”
.

Mayoritas sahabat dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) sedang sibuk mengurus penguburan Rasulullah; tetapi minoritas sahabat memperebutkan kekuasaan dengan cara KECURANGAN (Kolusi, Nepotism dan Kolusi) untuk menjadi IMAM (pemimpin) sebagai Khalifah Rasulullah (Pengganti Utusan Tuhan)

.

‘Ali tetap berkeyakinan bahwa “Imamah adalah haknya”. Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun.. Inilah akidah syi’ah !! Baladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.”

Sebagian sejarawan menyebutkan: “Pada suatu hari Umar bin Khatthab mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Mengapa sampai saat ini engkau belum mengambil baiat dari si pembangkang, Ali bin Abi Thalib Wahai Abu Bakar? Kau tidak akan dapat melakukan apapun bila Ali belum melakukan baiat kepadamu! Utus pasukan kepadanya sehingga ia berbaiat kepadamu”.

Abu Bakar dan kroninya sepakat untuk memaksa Ali agar berbaiat kepadanya. Mereka mengirim sebuah pasukan berkekuatan penuh mengepung rumahnya dan masuk ke dalam rumah Ali secara paksa.[43] Mereka menyeretnya keluar dengan cara yang tidak pantas. Nabi menyifatinya sebagai pembantu utamanya seperti dalam hadis, “Engkau di sisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya tidak ada nabi sepeninggalku”.

Mereka membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berteriak dengan suara keras sambil memaksanya: “Lakukan baiat kepada Abu Bakar!” Ali menjawab dengan logika yang kokoh dan penuh keberanian: “Aku lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan kalian. Aku tidak akan berbaiat kepada kalian. Lebih tepat kalian berbaiat kepadaku. Kalian telah merampas kekhalifahan dari kaum Anshar dengan argumentasi kedekatan kekeluargaan kalian dengan Rasulullah saw. Apakah kalian ingin mengambilnya pula secara paksa dari kami Ahlul Bait Nabi dengan argumentasi yang sama?! Apakah kalian tidak berdalil di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak untuk memimpin dibandingkan mereka, karena Muhammad saw. adalah dari kalian dan karenanya mereka menyerahkan kepemimpinan kepada kalian? Sekarang aku juga ingin berargumentasi dengan cara yang telah kalian lakukan terhadap kaum Anshar. Kami lebih layak dan dekat kepada Rasulullah saw; baik semasa ia hidup atau sepeninggalnya. Bersikaplah adil bila kalian masih beriman! Bila tidak, lakukan kezaliman yang kalian inginkan sementara kalian tahu apa balasannya nanti!”[44]

Penjelasan tegas yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib a.s. akan kebenaran sebagai kendaraan politiknya tidak begitu saja diterima oleh penguasa waktu itu, sekalipun sudah tidak berdaya untuk menjawab tantangan argumentasinya. Untuk sesaat, semua terdiam. Namun setelah itu, Umar bin Khatthab bangkit dan terpaksa menggunakan jalan kekerasan sambil berkata kepada Ali: “Engkau tidak akan kami biarkan hidup sampai melakukan baiat kepada Abu Bakar”. Ali a.s. tetap tidak bergeming dengan pendiriannya dan menjawab: “Wahai Umar! Engkau telah memeras dengan sungguh-sungguh segala kecerdikan yang kau miliki. Mulai hari ini persiapkan masalah ini (kekhalifahan) untuk dirimu, karena mungkin masalah kekhalifahan menjadi bagianmu kelak. Demi Allah! Wahai Umar, aku tidak mengikuti omonganmu dan tidak akan membaiat Abu Bakar”.[45]

Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menyingkap kedok rahasia perjuangan Umar dan semangatnya untuk mendapat baiat dari Ali. Sikapnya selama ini ialah setelah Abu Bakar, kekhalifahan akan jatuh ke tangannya.

Abu Bakar sendiri khawatir kejadian akan berkembang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Ia takut akan kemarahan Ali. Akhirnya ia berkata: “Bila engkau tidak ingin membaiatku, aku tidak akan memaksamu”. Namun pada saat itu, Abu Ubaidah bin Al-Harraj berusaha untuk tetap menundukkan Ali sebagai caranya untuk merebut hati Abu Bakar dengan perkataanya:

“Wahai anak pamanku! usiamu masih belum seberapa dibandingkan dengan mereka yang telah berumur. Engkau masih muda dan belum punya banyak pengalaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan. Yang kutahu, dalam masalah ini Abu Bakar lebih baik dibandingkan engkau. Di samping itu, Abu Bakar lebih luas pengetahuannya dibanding denganmu. Serahkan saja urusan pemerintahan ini kepada Abu Bakar! Bila engkau masih hidup dan diberi umur panjang, pada waktu itu engkau yang lebih tepat untuk memerintah karena keutamaan, agama, ilmu, pemahaman, pengalaman, keturunan dan hubungan dekatmu berkat perkawinan”.[46]

Puncaknya ungkapan-ungkapan politis semacam ini hanya untuk mengelabui orang lain. Namun tentunya, ini tidak akan berpengaruh bila diucapkan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali tidak kehilangan kesadarannya, bahkan jiwanya merasa tertusuk dengan penyimpangan yang telah terjadi ini. Akhirnya ia berdiri dan berpidato di hadapan kelompok Abu Bakar untuk mengingatkan mereka akan kesalahan yang telah diperbuat.

Ali berkata: “Takutlah kepada Allah wahai kaum Muhajirin! Jangan kalian keluarkan kekuasaan Muhammad di Arab dari dalam rumahnya ke rumah kalian. Jangan kalian hempaskan keluarga Muhammad dari posisinya yang sah dan dari manusia. Demi Allah! Wahai kaum Muhajirin, kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan manusia yang lain, karena kami adalah Ahlul Bait Nabi. Kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan dengan kalian. Kami adalah orang yang membaca Kitab Allah. Kami adalah orang yang memahami dengan benar agama Allah. Kami adalah orang yang mengenal betul sunah-sunah Nabi Muhammad saw. Kami lebih faham masalah kemasyarakatan. Kami adalah orang yang akan menjauhkan keburukan dari kalian. Kami adalah pemutus yang adil. Demi Allah! Semua ini ada pada kami. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membuat kalian sesat dan celaka dari jalan Allah, dan semakin kalian berjalan akan semakin jauh dari kebenaran”.[47]

Diriwayatkan bahwa Fathimah, putri Nabi, keluar mengikuti Ali bin Abi Thalib dari belakang. Ia khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Fathimah a.s. keluar sambil menggandeng kedua tangan anaknya; Hasan dan Husein a.s. Melihat itu, Bani Hasyim keluar bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia menantang mereka dan akan menyumpahi mereka bila tidak meninggalkan Ali. Fathimah a.s. berkata: “Lepaskan anak pamanku! Bebaskan suamiku! Demi Allah! Aku akan membuka kain penutup kepalaku dan membiarkan rambutku tergerai dan akan kuletakkan pakaian ayahku di atas kepalaku dan aku akan menyumpahi kalian! Unta Nabi Saleh tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding denganku. Anaknya tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding anakku”.[48]

Ali dan Kesulitan-kesulitan Pasca Saqifah

Bila sikap dan posisi Ali bin Abi Thalib membuat semua orang merasa takut, maka sikap dan posisinya terhadap kekhalifahan setelah Rasulullah saw. adalah yang paling menakutkan. Inayah ilahiyah menginginkan di setiap zaman ada pahlawan yang mengorbankan jiwanya untuk menegakkan dan memuliakan prinsipnya. Hal inilah yang mendorong Ali untuk tidur di atas pembaringan maut dan untuk berhijrah mengikuti Nabi ke Madinah. Ujian yang masih belum dilakukannya adalah mengorbankan kedua anak laki-lakinya; Hasan dan Husein.

Ali tidak mengorbankan kedua anaknya dalam peristiwa kekhalifahan agar kembali kepada arahnya yang tepat dan benar, karena ia tahu betul bahwa itu tidak lagi menyisakan seseorang yang melanjutkan pesan wahyu dari sisi yang lain. Kedua cucu Nabi adalah anak kecil yang belum disiapkan untuk masalah khilafah saat ini.

Ali bin Abi Thalib memiliki kesiapan penuh untuk menjadikan dirinya sebagai korban demi prinsip Islam di setiap periode kehidupannya, sejak dilahirkan di dalam Ka’bah hingga menjadi syahid di masjid Kufah. Ia telah mengorbankan dirinya demi posisi yang telah disahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan menerima kenyataan untuk tidak berkuasa sebagai khalifah zhahir dalam rangka kemaslahatan utama umat Islam. Hal itu juga lantaran Rasulullah telah menyebutnya sebagai pengemban wasiat dan penjaga umat dan agama.

Ali bin Abi Thalib berada di persimpangan jalan yang semua arahnya menyulitkan dirinya:

1. Ali harus membaiat Abu Bakar. Kondisi Ali dalam masalah pembaiatan tidak berbeda jauh dengan sebagian kaum muslimin yang lain. Dan pada saat yang sama, ia harus melindungi diri, kepentingan pribadi, masa depan yang baik dan dihormati oleh aparat pemerintah. Namun, ini tentu tidak mungkin; di mana kedua-duanya bakal diraihnya. Membaiat Abu Bakar dan mengakui kekuasaannya artinya menyimpang dan meninggalkan perintah Rasullah saw. yang pada gilirannya, berakibat penyimpangan khilafah dan kepemimpinan dari jalannya yang sah dan dari makna hakikinya hingga akhir zaman. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan dirinya sendiri untuk menguatkan sendi-sendi Islam dan khilafah islamiyah menjadi sia-sia, yang pada akhirnya terjadi penyimpangan peradaban Islam yang telah dibangun selama ini secara seksama dan merata.

2. Ali mengambil sikap diam, sekalipun dari kecil mengganggu matanya dan tenggorokannya. Ia harus berusaha untuk bersikap arif dan bijaksana agar tetap dapat menjaga eksistensi Islam sekaligus melindungi kaum muslimin, sekalipun ia harus rela menunggu hasil usahanya lebih lambat.

3. Ali mengumumkan pemberontakan bersenjata terhadap kepemimpinan Abu Bakar dengan mengajak kaum muslimin untuk membantunya menghadapi khalifah yang berkuasa.

Seandainya opsi ketiga dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu melakukan gerakan bersenjata, apa yang bakal didapatkannya? Kondisi inilah yang ingin dicoba untuk dianalisa sesuai dengan kondisi sejarah yang sulit waktu itu.

Tidak sesederhana itu bila para penguasa langsung turun dari tahtanya dengan sedikit pemberontakan yang dihadapi, apa lagi dengan melihat kenyataan bahwa mereka sangat rakus dengan yang namanya kekuasaan. Artinya, mereka pasti dengan sekuat tenaga berusaha untuk membela dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Pada saat seperti itu, sangat logis bila Saad bin Ubadah akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk juga mengumumkan perang lainnya guna memenuhi hawa nafsunya untuk menguasai kekuasaan.

Analisa ini muncul ketika Saad mengancam kelompok terpilih sebagai penguasa, Abu Bakar, untuk memerangi mereka bila ia dituntut untuk memberikan baiat. Ia sempat berkata: “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan memberikan baiat hingga aku memerangi kalian dengan panah-panahku yang kucat ujungnya dengan darah kalian. Aku akan memerangi kalian dengan pedangku dan membunuh kalian satu persatu bersama keluargaku dan mereka yang masih taat kepadaku. Seandainya Semua manusia dan jin berkumpul dan membela kalian aku tidak akan melakukan baiat”.[49]

Kemungkinan yang paling bisa dilakukan oleh Sa’ad bin Ubadah ialah menyiapkan diri untuk melakukan kudeta. Hanya saja, ia tidak berani menjadi orang pertama yang mengangkat senjata. Ia merasa cukup dengan ancaman kerasnya sebagai pewrnyataan perang. Ia menanti buruknya kondisi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menentang khalifah terpilih. Ia bebas kapan saja melakukan kudeta saat melihat kelompok penguasa menjadi lemah dan ada kelompok kuat lainnya yang ingin juga mengkudeta pemerintah. Pada saat itu, ia berharap dapat mengusir kaum Muhajirin dari Madinah atau menghabisi mereka di sana,[50] sebagaimana diungkapkan di Saqifah.

Perlu dicatat bahwa masih ada kelompok Bani Umayyah yang menanti posisi dan kekuasaan. Mereka masih punya pengaruh yang besar di Mekkah sejak tahun-tahun Jahiliyah terakhir; bagaimana Abu Sufyan sebagai pemimpin mereka menentang dan ingin menghancurkan Islam. Di sisinya, ada wakil yang benar-benar taat kepadanya. Ia bernama Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah.

Bila direnungkan kejadian di hari-hari itu,[51] kabar wafatnya Rasulullah saw. telah sampai ke Mekkah di bawah pemerintahan Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah. Ia menyembunyikan kabar tersebut sementara di Madinah terjadi kegelisahan, dan itu hampir membuat penduduk Mekkah menjadi murtad. Tentunya, tidak ada yang rela terhadap penyebab kemurtadan mereka. Kemurtadan itu berawal dari kemenangan Abu Bakar yang sekaligus menunjukkan kemenangan mereka atas penduduk kota Madinah sebagaimana sebagian peneliti menjelaskan hal itu, karena Abu bakar menjadi khalifah pada hari Rasulullah wafat.

Kemungkinan besar, kabar Abu Bakar menjadi khalifah datang bersamaan dengan kabar wafatnya Nabi. Sebab kejadian itu dapat disebutkan dengan penjelasan ini: Gubernur yang diangkat oleh dinasti Umaiyah ‘Itab bin Usaid berusaha untuk menjelaskan sikap politis yang diyakini oleh Bani Umayyah waktu itu. Ia menyembunyikan kabar kemenangan Abu Bakar dan menyebarkan kematian Rasulullah saw. Pada awalnya ia berusaha menyembunyikan kabar ini karena tahu bahwa Abu Sufyan kecewa dengan sikap dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Kabar itu kemudian disebarkan setelah tahu kerelaan Abu Sufya setelah terjadi pertemuan yang menghasilkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan dinasti Umayah. [52]

Dengan demikian, hubungan politis antara tokoh-tokoh Umawiyah dengan pemerintahan terpilih mulai terbangun sejak saat itu. Ini memberikan penafsiran adanya sebuah kekuatan yang tersimpan di balik ucapan-ucapan Abu Sufyan, yaitu ketika ia kecewa kepada Abu Bakar dan teman-temannya. Abu Sufyan berkata: “Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Dan ia berkata tentang Ali bin Abi Thalib dan Abbas: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, akan kuangkat tangan keduanya menjadi pemimpin”.[53]

Bani Umayyah telah mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta, dan Ali bin Abi Thalib a.s. mengetahui niat mereka yang diungkapkan dalam kejadian Saqifah. Di samping itu, Ali tahu bahwa mereka orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Yang mereka inginkan adalah kepentingan pribadi. Oleh karenanya, Ali menolak permintaan Bani Umayyah. Sejak saat itu Bani Umayyah menanti perpecahan; ketika kelompok-kelompok bersenjata melakukan peperangan. Mereka tidak pernah yakin akan kemampuan pemerintah untuk menjamin kepentingan mereka. Dan makna pemisahan mereka dari jamaah pada waktu itu adalah sebuah pengumuman keluarnya mereka dari agama dan memisahkan Mekkah dari Madinah.

Dengan demikian, bila pada masa itu kelompok Ali bin Abi Thalib melakukan pemberontakan menentang penguasa yang mengambilnya haknya, akan terjadi pertumpahan darah yang diikuti oleh banyak kepentingan, dan pada saat yang sama, memberikan peluang kepada mereka yang menghendaki terjadinya fitnah dan kaum munafikin akan memanfaatkan situasi.

Kondisi yang sulit ini tidak memberikan kesempatan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengangkat suaranya melawan penguasa, karena yang akan terjadi adalah pertumpahan darah dan pembunuhan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Akibatnya eksistensi Islam akan lenyap pada saat-saat kaum muslimin perlu berlindung di balik satu kepemimpinan. Kaum muslimin perlu memusatkan kekuatannya untuk mencegah terjadinya fitnah dan kudeta.[54]

Mempertimbangkan kondisi demikian ini, Ali harus memilih jalan tengah yang dapat mewujudkan sebesar mungkin tujuan risalah yang diembannya.

Dari sini dapat diketahui bahwa Rasulullah saw. telah menyiapkan dua garis acuan atau sebuah acuan yang memiliki dua tahap.

Tahap pertama, pengangkatan Ali sebagai imam dan khalifah secara resmi dengan pengumuman resmi dan pengambilan baiat dari kaum muslimin di hari Ghadir Khum. Rasul sebagai pemimpin politik diakui sepanjang sejarah oleh orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Nabi memiliki pandangan yang tajam dan jauh ke depan. Keinginannya akan kebaikan umatnya dan hubungannya yang terus menerus dengan alam gaib dan ilmu ilahi yang berwujud syariat Islam sebagai penutup segala syariat, merupakan tujuan risalah ilahi yang dapat terwujudkan secara keseluruhan.

Dari sini dan dari sisi pengetahuannya akan seberapa besar kesadaran umat Islam akan risalah Islam di zamannya dan seberapa besar peleburan sikap mereka dengan nilai-nilai risalah Islam, serta kondisi masyarakat yang menerima atau terpaksa menerima negara yang didirikan oleh Nabi yang mencakup kabilah-kabilah dan nilai-nilai Jahiliyah, tidaklah mudah untuk menghilangkannya dengan cepat dan dengan langkah-langkah pendidikan jangka pendek. Semua ini dapat diketahui oleh orang yang merenungi kondisi yang meliputi kehidupan Nabi dan negara. Orang akan merasakan keharusan adanya rencana jangka panjang yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan besar risalah Islam setelah ketidakmungkinan mewujudkannya pada waktu hidup Nabi dan dalam kondisi masyarakat yang seperti ini dalam waktu singkat.

Dengan demikian, tahap kedua adalah setelah umat Islam berpaling dari ajaran-ajaran Nabi. Dan langkah yang harus diambil oleh Ali bin Abi Thalib adalah sabar, waspada dan kembali menggariskan secara praktis proses pembinaan yang lebih mengakar di bawah pemerintahan Islam yang baru dengan harapan, bahwa suatu saat kondisi memungkinkan untuk menguasai pemerintahan dan mewujudkan ajaran-ajaran Nabi. Pada saat itu, semua tujuan-tujuan dapat diwujudkan dan umat Islam dapat mempraktekkan syariat Islam secara benar.

Ali dan Pengumpulan Al-Qur’an

Semua riwayat yang sahih sepakat bahwa setelah melakukan prosesi penguburan jasad Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib tinggal di rumahnya dan menyibukkan dirinya mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali bin Abi Thalib mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tulisan-tulisan yang berserakan.

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq a.s. bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali! Al-Qur’an berada di balik pembaringanku, masih berada dalam mushaf, kain sutera dan kertas. Ambillah dan kumpulkan Al-Qur’an itu! Dan jangan biarkan ia hilang sebagaimana orang-orang yahudi menghilangkan Taurat” kitab asli. Kemudian Ali pergi mengambil dan mengumpulkannya lalu meletakkannya dalam sebuah pakaian kuning.[55]

Diriwayatkan pula, bahwa Ali bin Abi Thalib melihat orang-orang dalam kondisi kebingungan ketika Nabi wafat. Kemudian ia bersumpah untuk tidak menyelempangkan surbannya sampai selesai mengumpulkan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan Al-Qur’an selama tiga hari tanpa keluar rumah.[56]

Diriwayatkan pula, Ali bin Abi Thalib tidak melakukan kontak dengan orang-orang untuk beberapa waktu sampai ia mengumpulkan Al-Qur’an. Kemudian ia keluar menemui orang-orang dengan memakai gamis, sementara orang-orang sedang berkumpul di masjid. Setelah berada di tengah-tengah mereka, Ali meletakkan Al-Qur’an di hadapan mereka sambil berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “Kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang bila kalian berpegang padanya, niscaya kalian tidak akan sesat; kitab Allah dan itrahku, Ahlul Baitku. Ini adalah kitab Allah dan aku adalah itrah Ahlul Bait”.[57]kemudian ia menambahkan: “Aku menjelaskan hal ini agar kelak kalian tidak berkata: “Kami lupa tentang masalah ini”.

Ali menambahkan: “Jangan sampai pada Hari Kiamat, kalian berkata bahwa aku belum mengajak kalian untuk membela, aku belum mengingatkan kalian tentang hakku, dan aku belum mengajak kalian kepada kitab Allah dari pembukaannya hingga akhir”.[58]

Umar bin Khatthab berkata kepada Ali: “Bila engkau memiliki Al-Qur’an, kami memiliki yang sama. Oleh karenanya, kami tidak membutuhkan Al-Qur’an yang berada di tanganmu dan dirimu”.

Tampaknya, Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali juga menjelaskan mana ayat yang umum dan khusus, mutlak dan muqayyad, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, surat-surat yang wajib sujud dan yang tidak, dan sunah-sunah dan adab yang berkaitan dengan Al-Qur’an. begitu juga Ali bin Abi Thalib menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul). Ia juga mendiktekan penulisan enam puluh macam prinsip yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an; setiap satu prinsip dibawakan contoh khusus yang berkaitan dengannya.

Pekerjaan besar yang dilakukan Ali mengangkatnya pelindung prinsip-prinsip utama Islam. Ali mengarahkan akal seorang muslim untuk mengkaji lebih dalam tentang ilmu-ilmu yang dikandung oleh Al-Qur’an. Tujuannya tidak lain agar Al-Qur’an menjadi sumber utama pemikiran manusia yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

Apa yang dikerjakan oleh Ali bin Abi Thalib perlu mendapat apresiasi yang besar. Ia sendiri pernah berkata: “Setiap ayat yang turun kepada Rasulullah saw. pasti dibacakan kepadaku, kemudian aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Nabi mengajarkanku takwil ayat tersebut, tafsir, nasikh dan mansukhnya dan muhkam dan mutasyabihnya. Kemudian Nabi berdoa kepada Allah swt. agar aku dapat memahami apa yang diajarkannya. Aku tidak pernah lupa sebuah ayat dari Al-Qur’an, bahkan sebuah ilmu yang kutulis lewat ajaran Nabi. Allah telah mengajarkan kepada Nabi segala sesuatu baik halal dan haram, perintah dan larangan, dan apa yang telah terjadi atau yang akan terjadi yang berkaitan dengan ketaatan atau kemaksiatan, pasti Nabi mengajarkannya kepadaku, dan aku menghafalkannya. Aku tidak pernah lupa walaupun satu huruf”.[59]

Sikap Ali di Zaman Abu Bakar

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Demi Allah! Tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa Arab akan mengambil kekhalifahan sepeninggal Nabi dari Ahlul Baitnya, atau aku akan dicegah untuk memerintah. Satu hal yang membuatku gusar adalah orang-orang yang berduyun-duyun membaiat Abu Bakar. Aku tetap pada posisiku, sampai suatu saat aku melihat bahwa masyarakat Islam tidak lagi berpegang pada Islam, atau mereka ingin menghancurkan agama Muhammad saw. Pada saat itu, aku khawatir bila tetap tinggal diam menyaksikan hal itu terjadi. Aku harus maju menolong Islam dan pengikutnya. Kondisi ini buatku lebih sulit dari sekadar melepaskan kekuasaan yang menjadi hakku atas kalian. Kekuasaan yang menurutku tidak lebih dari sebuah barang yang pada akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana, atau bagaikan awan yang cepat berlalu. Oleh karenanya, aku harus berdiri di tengah-tengah kekacauan ini sampai kebatilan lenyap dan agama tetap tegak.[60]

Semua kejadian yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw. dan sistem yang berkuasa berusaha menjauhkan masyarakat dari kebenaran. Seluruhnya belum melupakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengemban wasiat; menuntun umat Islam dan mempraktekkan risalah Islam.

Baiat yang dilakukan kepada Abu Bakar telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib dari mengatur kehidupan umat Islam secara langsung. Kondisi ini pula memaksanya untuk meminggirkan dirinya dari dunia politik, sementara wasiat Nabi adalah untuknya sebagai sebuah kewajiban ilahi untuk melindungi umat Islam. Keinginannya yang kuat dan dalam akan risalah Islam sementara masyarakat Islam yang terkoyak-koyak selama ini telah menjadikanya sebagai pemimpin sekaligus panutan yang membela Islam di setiap medan.

Berdasarkan hal-hal di atas, Ali bin Abi Thalib mulai menyampaikan pandangan-pandangannya, menjelaskan prinsip-prinsip agama yang benar di setiap kondisi yang sulit, di mana orang-orang mengikuti kepemimpinan yang ada di zaman yang sulit dan pada umat yang akidah Islamnya masih belum kuat dan mengkristal dalam jiwanya. Ali adalah tolok ukur dalam masalah-masalah peradilan dan fatwa dalam kehidupan masyarakat Islam, mulai dari peradilan, sosial dan manajemen, di zaman Abu Bakar hingga Utsman bin Affan.

Posisi penting lain Ali adalah melindungi Madinah sebagai benteng di hadapan serangan kaum yang murtad bersama-sama beberapa sahabat setianya yang siap setiap saat di sisinya.

Wasiat Abu Bakar kepada Umar

Ali bin Abi Thalib senantiasa dizalimi. Ia mempertahankan haknya yang dirampas. Hatinya pedih melihat kondisi kekhalifahan dan Islam. Yang bisa dilakukannya hanyalah sabar dan membuka mata lebar-lebar untuk memahami apa yang terjadi. Ia mengungkapkan kepedihan dan kesedihannya dalam pidato terkenalnya yang bernama Syiqsyiqiah. Ali bin Abi Thalib berkata:

“Demi Allah! Ketahuilah, Abu Bakar bin Abi Quhafah telah memakai jubah kekhalifahan. Padahal, ia tahu bagaimana posisiku dalam kekhalifahan. Aku laksana poros penggilingan yang senantiasa berputar mengelilingku. Ia tahu bahwa ilmu-ilmu tersebar melaluiku. Setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan tidak akan dapat melebihiku. Aku kemudian berusaha meminggirkan diriku dari usaha perebutan kekhalifahan yang menjadi hakku. Aku senantiasa berpikir, apakah mungkin seorang diri aku menuntut hakku? Ataukah dalam situasi yang tidak menentu aku perlu mengambil sikap sabar? Kondisi ini memaksa orang-orang tua musnah sementara para pemuda menjadi tua. Mereka yang beriman sampai kiamat dan bertemu dengan Allah dalam situasi sedih. Melihat kondisi yang semacam ini, aku merasa sikap yang paling tepat adalah sabar. Oleh karenanya aku bersabar melihat semua ini seakan menahan duri yang menusuk mata dan tulang yang tersangkut di tenggorokkan. Dalam pandanganku, warisanku dirampok oleh mereka! Semua terjadi sampai Abu Bakar mati dan menyerahkan masalah kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab. Sangat aneh! Abu Bakar meminta maaf kepada kaum muslimin selagi masih hidup.[61] Bagaimana mungkin menjelang kematiannya ia memberikan hak kekhalifahan kepada orang lain (Umar bin Khatthab)? Keduanya telah bersusah payah memeras unta kekhalifahan dan bersenang-senang dengan perasannya. Pada akhirnya, khalifah pertama (Abu Bakar) memberikan hak kekhalifahan dan pemerintahan kepada seseorang yang terkenal dengan setumpuk kebobrokannya. Ia orang yang menyukai kekerasan, mempersulit orang lain dan sering melakukan kesalahan yang akhirnya menyesal dan meminta maaf”.[62]

Masa hidup Abu Bakar tidak panjang. Ia mulai lemah karena penyakit dan mulai mendekati ajalnya. Ia mengambil keputusan untuk menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab sepeninggalnya. Keputusan ini ditentang oleh mayoritas Muhajirin dan Anshar. Mereka mengumumkan kebencian terhadap keputusan itu, karena tahu sifat keras Umar dan perilakunya yang buruk terhadap orang lain.[63]

Abu Bakar tidak menanggapi bahkan bersikeras dengan pendapatnya.

Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan menghadapnya untuk menuliskan surat keputusan pengangkatan Umar. Abu Bakar berkata kepada Utsman bin Affan: “Tuliskan: Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar bin Abi Quhafah kepada kaum muslimin. Amma ba’du” Kemudian Abu Bakar pingsan. Utsman menulis lanjutannya: “Sesungguhnya aku telah menjadikan Umar bin Khatthab sebagai penggantiku, aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lalu Abu bakar tersadar dari pingsannya. Ia berkata kepada Utsman: “Bacakan untukku! Utsman membaca apa yang ditulisnya. Setelah mendengar itu, Abu Bakar lantas mengucapkan takbir lalu berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman bin Affan menjawab: “Ya”. Abu Bakar berkata: “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan untukmu”.[64]

Keberatan terhadap Wasiat Abu Bakar

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak dapat menerima apa yang diperbuat oleh Abu Bakar dengan alasan-alasan berikut:

1. Abu Bakar tidak melakukan musyawarah dengan satupun dari kaum muslimin untuk meletakkan kendali kekhalifahan kecuali dengan Abdurrahman bin ‘Auf dan Utsman bin Affan. Kedua orang ini adalah yang paling tahu kecenderungannya untuk menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pengganti setelahnya. Sikap Abu Bakar itu muncul dari rasa kekhawatiran para sahabat yang ikhlas yang akan menolak Umar bin Khatthab sebagai penggantinya kelak.

2. Penegasan untuk menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari peta politik dan dari penentuan arah kekhalifahan. Oleh karenanya, dalam masalah ini Abu Bakar tidak pernah melakukan konsultasi dengan Ali. Padahal Abu Bakar selalu membutuhkan Ali untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau sekurang-kurangnya, menurut Abu Bakar, pandangan dan sikap Ali selalu benar dibandingkan pandangan selainnya.

3. Abu Bakar menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pemimpin dan mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menaatinya, seakan-akan Abu Bakar pengemban wasiat kaum muslimin, demikian ini merujuk ucapannya: “Aku telah mengangkat Umar menjadi khalifah bagi kalian sepeninggalku. Dengar dan taatilah dia!” Ucapan ini selalu diungkapkan Abu Bakar meskipun ia melihat tanda kemarahan di wajah mayoritas sahabat Nabi.

4. Abu Bakar melanggar keyakinannya selama ini; bahwa ia berjalan dan memerintah sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia mengklaim bahwa ketika Nabi meninggal dunia, beliau tidak menetapkan seorang pun sebagai penggantinya. Sementara sekarang ia malah mewasiatkan temannya sendiri, Umar bin Khatthab, sebagai khalifah setelahnya.[65]

5. Abu Bakar tengah mempersiapkan kerajaan Bani Umayyah yang telah menyengsarakan kaum muslimin dan Islam. Dan itu terjadi karena ketamakan-ketamakan mereka akan kekuasaan, di samping keberanian mereka untuk menguasainya. Hal ini tersirat dari ucapan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan: “Seandainya Umar tidak ada, aku pasti akan memilihmu”.[66] Abu Bakar tahu benar bahwa Utsman secara emosional lemah dan condong ke Bani Umayyah dan mereka pasti akan menguasainya.

[43] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 30. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 443.

[44] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.

[45] . Ansab Al-Asyraf, jilid1, hal 587. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5.

[46] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5 dan jilid 1, hal 134.

[47] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.

[48] . Ath-thabarsi, Al-Ihtijaj, jilid 1, hal 222.

[49] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459.

[50] .Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459. cerita Saqifah, Al-Hubbab bin Al-Mundzir berkata: “Demi Allah! Ketahuilah bila kalian menginginkan, kami akan mengembalikan segala sesuatu seperti semula (Muhajirin kembali ke Mekah).

[51] . Ibnu Al-Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 123: Kabar kematian Rasulullah sampai ke Mekkah dan Itab bin Usaid bin Al-‘Ash adalah gubernur di sana.

[52] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 449. Kekcewaan Abu Sufyan menjadi reda setelah Abu Bakar menjadikan Muawiyah anak Abu Sufyan sebagai gubernur di Syam. Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku akan melakukan silaturahmi dengannya”.

[53] . Ibid.

[54] . As-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr, Fadak fi At-Tarikh, hal 102-105.

[55] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41. Fath Al-Bari, jilid 10, hal 386. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 51.

[56] . Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 30.

[57] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41.

[58] . Kitab Sulaim bin Qais, hal 32, cetakan muassasah Al-Bi’tsah.

[59] . Al-Kanji, Kifayah Ath-thalib, hal 199. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 2, hal 187, Bihar Al-Anwar, jilid 92, hal 99.

[60] . Nahjul Balaghah, surat ke 62.

[61] . Lihat Tadzkirah Al-Khawash, hal 62, sekaitan dengan ucapan Abu Bakar: “Ganti aku! Aku bukan yang terbaik di antara kalian.”

[62] . Nahjul Balaghah, khutbah ketiga.

[63] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 36. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 618-619. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.

[64] . Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.

[65] . Ini tampak aneh ketika ia sadar dari pingsannya dan mendengarkan apa yang ditulis oleh Utsman tentang penetapan khalifah setelahnya, lalu ia berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman menjawab: “Ya”. Bagaimana mungkin ia dan Utsman khawatir akan timbulnya perselisihan di antara kaum muslimin; sementara Rasulullah saw. tidak khawatir munculnya perselisihan di antara umatnya?! Bukankah mereka secara jelas mengatakan bahwa Nabi meninggal tanpa menetapkan seorang pun sebagai penggantinya?! Celakalah! Bagaimana mereka memiliki kesimpulan seperti ini.

Lebih dari itu, Umar sempat melarang Nabi untuk menuliskan wasiat di akhir masa hidupnya, sementara ia duduk dan di hadapannya ada kertas dan bersamanya budak Abu Bakar yang di tangannya surat keputusan pengangkatan Umar. Pada saat yang sama, Umar juga berkata: “Wahai kaum muslimin! Dengarkan dan taatilah ucapan khalifah Rasulullah, bahwa ia berkata: “Aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lihat Ath-thabari, jilid 1, hal 2138, cetakan Eropa. Tampak dua sikap Abu Bakar yang kontradiksi satu dengan lainnya! Apakah ada tafsir lain selain adanya persekongkolan untuk menghancurkan rencana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah?!

[66] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 164.

Kapan Ali Baiat Abu Bakar

Ali membaiat Abu Bakar enam bulan kemudian, sesudah Fathimah meninggal dunia. Mu’ammar meriwayatkan dari az-Zuhri dari Aisyah, tatkala Aisyah berbicara tentang kejadian antara Fathimah dan Abu Bakar mengenai warisan Nabi saw:

‘Fathimah meninggalkan Abu Bakar dan tidak berbicara dengannya sampai ia meninggal enam bulan setelah Rasul saw wafat, dan tatkala ia meninggal suaminyalah yang menguburkannya. Fathimah tidak mengizinkan Abu Bakar menyembahyangkan jenazahnya.

Orang memandang Ali karena Fathimah, tetapi setelah Fathimah meninggal orang berpaling dari Ali. Fathimah hidup enam bulan lagi setelah Rasul saw wafat502. Mu’ammar berkata:

Seorang laki-laki bertanya kepada az-Zuhri: ‘Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar dalam enam bulan itu? Zuhri menjawab: ‘Tidak, dan tidak seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai ‘Ali membaiatnya’. Tatkala Ali melibat orang-orang berpaling dari dirinya, ia lalu bergabung dengan Abu Bakar.503

Ibnu ‘Abdil Barr dalam Usdu’l-Ghabah menulis:

‘Kaum oposan menyetujui menerima Abu Bakar enam bulan setelah baiat umum kepadanya’.504

Ya’qubi: ‘Ali membaiat Abu Bakar 6 bulan setelah baiat umum.505 Dalam Isti’ab dan Tanbih wa’l-Asyraf: ” ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal dunia.”506

Dalam Tafsir al-Wushul, Az-Zuhri berkata: ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai 6 bulan.’507

Baladzuri dalam Ansab al-Asyraf berkata: “Tatkala, orang-orang Arab menolak Islam dan menjadi murtad, Utsman mendatangi ‘Ali dan membujuknya membaiat Abu Bakar untuk membesarkan hati kaum Muslimin memerangi kaum ‘murtad’ di zaman Abu Bakar. ‘Ali membaiat Abu Bakar dan keresahan umat Islam terselesaikan. Kaum Muslimin lalu mempersiapkan diri memerangi apa yang dinamakan kaum ‘murtad’.508

Marilah kita ikuti dialog antara ‘Ali dan Abu Bakar tatkala ‘Ali akan membaiat Abu Bakar menurut Ibnu Qutaibah:

Ibnu Qutaibah menulis: “Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal, yaitu tujuh puluh lima hari setelah Rasul wafat. Dan ‘Ali mengirim utusan kepada Abu Bakar agar Abu Bakar datang ke rumah ‘Ali. Maka Abu Bakar pun datang dan masuk ke rumah ‘Ali dan dirumah itu telah berkumpul Banu Hasyim. Kemudian setelah memuji Allah dan Rasul Allah sebagaimana lazimnya, ‘Ali berkata: “Amma ba’du, wahai Abu Bakar, kami tidak membaiat Anda karena mengingkari keutamaan Anda melainkan kami benar-benar yakin bahwa kekhalifahan itu adalah hak kami dan Anda telah merampasnya dari kami.

Kemudian ia menyampaikan kedekatannya dengan Rasul Allah. Ia terus menyebut kedekatannya dengan Rasul sampai Abu Bakar menangis. Abu Bakar lalu berkata: ‘Kerabat Rasul Allah lebih aku cintai dari kerabatku sendiri. Aku akan menuruti apa yang dilakukan Rasul insya Allah. ‘Ali lalu berkata: Aku berjanji akan membaiatmu besok di masjid, insya Allah.” Besoknya ‘Ali datang ke masjid dan membaiat Abu Bakar..Sayang sekali Ibnu Qutaibah tidak menyebut pidato ‘Ali itu secara lengkap, karena ‘Ali tentu menyampaikan hadis-hadis Rasul mengenai keutamaannya.

Baiat ‘Ali Berdasarkan Ketaatan, Bukan Pengakuan
Dari petikan tulisan Ibnu Qutaibah tersebut jelas bahwa pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan khliafah Abu Bakar. Dan ‘Ali mengatakannya secara terus terang.

‘Ali membaiat Abu Bakar, seperti nanti akan di bicarakan pada bab Sikap ‘Ali Terhadap Peristiwa Saqifah dan bab Nas bagi Ali jelas seperti dilaporkan Baladzuri adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagaian kabilah Arab.

Sejak awal ‘Ali tidak punya ambisi akan kekuasaan, tetapi ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ia selalu menghindarkan diri dari perlawanan fisik Pada saat rumahnya hendak dibakar bersama anak istrinya dan teman-temannya ia tidak melawan. Ini mungkin untuk sebagian ia lalukan demi keselamatan keluarganya sebagaimana pernah diucapkannya. Ketakutannya akan keselamatan anak-anaknya menjadi kenyataan bertahun-tahun kemudian tatkala Mu’awiyah meracuni Hasan, dan Yazid bin Muawiyah membantai Husain serta keluarganya di Karbala yang semuanya menyatakan bahwa mereka hanyalah meniru apa yang dilakukan oleh ‘Umar. Ia barangkali juga sadar bahwa sekarang ia menghadapi ‘politik kekuasaan’.

Tiga hari sesudah itu Abu Sufyan menawarkan bantuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan tapi ditolaknya.

Dengan kata lain, membaiat atau tidak, bagi ‘Ali adalah sama saja. Ia tidak punya pikiran untuk ‘memberontak’ terhadap Abu Bakar.

Untuk menenteramkan Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah, ‘Umar mengangkat Mu’awiyah sebagai gubernur di Syam. Di Syam Mu’awiyah bergabung dengan keturunan ‘Abdu Syams lainnya yang sejak seratus tahun yang lalu menyingkir dari Makkah dalam perselisihannya dengan Banu Hasyim, ‘yang kelak menjadi kasak-kusuk terbesar dalam sejarah Islam; perebutan kekuasaan atas ‘Ali’.509

Tetapi ‘Umar tetap tidak hendak mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai gubernur.

Tatkala ‘Umar sedang mencari seorang yang pantas jadi gubernur di Himsh, ia telah berkata pada Ibnu ‘Abbas bahwa bila ia menunjuk Ibnu ‘Abbas sebagai gubernur ia khawatir Ibnu ‘Abbas akan menghimpun kekuatan untuk Banu Hasyim dengan mengajak orang berkumpul pada mereka. ‘Rasul sendiri tidak pernah mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai pejabat’.510 Demikian ‘Umar berkata.

“Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asy-Syiqsyiqiyyah:

“Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya’.511

‘Umar Mengakui ‘Ali Sebagai Imam Atau Faqih
Meskipun mencegah ‘Ali jadi khalifah, ‘Umar mengakui ‘Ali sebagai imam atau faqih dan paling pantas untuk kedudukan khilafat. ‘Umar mencegahnya jadi khalifah dengan alasan ‘Ali masih muda, ‘Ali cinta pada keluarga Abu Thalib, suka bergurau dan lain-lain.

‘Ali sendiri yakin bahwa ia adalah imam dan faqih, paling sedikit di kalangan keluarga, dan Syiahnya.

Pada kenyataannya ‘Umar sendiri sering bertanya kepada ‘Ali dalam masalah-masalah keagamaan yang sulit sebagaimana sering dikatakannya. Pengakuan ‘Umar bahwa ‘Ali adalah faqih umat, dapat disimak dari cerita berikut.

Abu Bakar al-Anbari meriwayatkan dalam Amaliah:

“Pada suatu ketika ‘Ali duduk dekat ‘Umar di Masjid. Setelah ‘Ali pergi, seseorang mengatakan kepada ‘Umar bahwa ‘lelaki itu’ tampak bangga akan dirinya. Umar menjawab:

‘Orang seperti dia berhak bangga! Demi Allah kalau tidak oleh pedangnya tidak akan tegak tonggak Islam. Ia juga faqih dari umat ini512, terdahulu dalam Islam dan agung’. Orang tersebut lalu berkata: ‘Dan apa yang menyebabkan engkau menghalanginya, ya Amiru’l-mu’minin untuk memegang jabatan kekhalifahan?’ ‘Umar menjawab: ‘Kami menghalanginya karena umurnya yang muda dan cintanya kepada Banu Abdul Muththalib.’513

Karena keyakinannya ini, Sa’d bin Abi Waqqash pernah berkata kepada ‘Ali pada pertemuan Syura setelah ‘Umar terbunuh: ‘Wahai ‘Ali, engkau amat rakus akan kekhalifahan ini’. ‘Ali menjawab: ‘Orang menuntut haknya tidak dapat dikatakan rakus, tetapi yang dapat dikatakan rakus justru orang yang mencegah orang lain untuk mendapatkan hak dan berusaha merampasnya meskipun ia tidak cocok untuk itu.’514 Sa’d bin Abi Waqqash diam. Setelah ‘Ali meninggal dikemudian hari, Sa’d sering membela ‘Ali dalam perdebatan dengan Mu’awiyah dengan menyebut hadis manzilah dan lain-lain.515 Kemampuan ‘Ali dalam bidang ilmu agama ini telah disabdakan Rasul Allah saw:

“Aku adalah gudang ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Mereka yang ingin mendapatkan ilmu(ku), hendaknya datang melalui pintu-nya”.516

Rasul Allah saw juga bersabda: ‘Yang paling berilmu dari umat-ku, sesudahku, adalah ‘Ali bin Abi Thalib’.517′Yang paling bisa membuat keputusan hukum dari umatku adalah ‘Ali’.518

‘Ali adalah paling bisa membuat keputusan dari kamu sekalian’.519

Orang meragukan sampai di mana ketulusan ‘Umar tatkala ia mengatakan bahwa ‘kalau tiada ‘Ali maka celakalah ‘Umar’. Hal ini dapat dipahami dengan jelas tatkala ‘Ali dengan tegas menolak keputusan-keputusan hukum Abu Bakar dan ‘Umar sebagaimana akan dibicarakan pada bab berikut. Dan orang mengetahui ijtihad-ijtihad ‘Umar yang kontroversial itu.

Banyak sahabat yang menunda pembaiatan kepada Abu Bakar, karena kesetiaan kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Di antara mereka dapat disebutkan:

1. Abu Dzarr al-Ghifari, salah seorang di antara pemeluk Islam yang pertama, terkenal karena kesalehannya, pembela fakir miskin dan kaum tertindas, penentang penindasan yang ulet.

2. Ammar bin Yasir, salah seorang pemeluk Islam yang pertama. Ayah bundanya mati syahid teraniaya oleh kalangan jahiliah Quraisy di Makkah. Dalam usia tuanya, ‘Ammar berperang bersama ‘Ali melawan Mu’awiyah dalam peperangan Shiffin. Di sana ‘Ammar gugur. Rasul Allah telah meramalkan bahwa ‘Ammar akan mati terbunuh oleh kalangan pendurhaka.

3. Salman al-Farisi, orang Persia, Iran, yang oleh Rasul dianggap sebagai anggota keluarga beliau. Ia juga disebut sebagai teknikus Muslim yang pertama.

4. Bilal, seorang Habsyi berkulit hitam, bekas budak yang kemudian menjadi Sahabat dan terkenal sebagai Mu’azzinur-Rasul.

5. ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, paman Nabi.

6. Zubair bin ‘Awwam, Sahabat dan sepupu Nabi.

7. Abu Ayyub al-Anshari, Sahabat Rasul yang paling utama di kalangan kaum Anshar. Rumahnya ditempati Rasul tatkala beliau hijrah ke Madinah. Di kemudian hari ia berjuang bersama khalifah ‘Ali di peperangan Jamal, Shiffin dan Nahrawan.

8. Hudzaifah bin al-Yaman. Meskipun membaiat Abu Bakar, ia berpesan kepada kedua orang putranya untuk menyokong ‘Ali. Kedua putranya meninggal dalam peperangan Shiffin di pihak ‘Ali.

9. Khuzaimah bin Tsabit, yang oleh Rasul diberi gelar Dzusysyahadatain, yang kesaksiannya sama dengan kesaksian dua orang. Ia gugur dalam peperangan Shiffin melawan Mu’awiyah.

10. ‘Utsman bin Hunaif, saudara Sahl.

11. Sahl bin Hunaif, yang kemudian diangkat ‘Ali sebagai gubernur di Iran.

12. Al-Bara’a bin ‘Azib al-Anshari; ia turu berperang bersama ‘Ali dalam perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawan.

13. Ubay bin Ka’b, seorang ahli fiqih dan ahli baca Al-Qur’an, dari kaum Anshar.

14. Al-Miqdad bin ‘Amr, Sahabat yang termasuk di antara tujuh pemeluk Islam yang pertama.

.

Tatkala Imam Ali As mengetahui bahwa Allah Swt telah mengangkatnya sebagai khalifah lalu mengapa ia memberikan baiat kepada Abu Bakar, Umar dan Usman? Apabila Anda katakan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan, sementara kita tahu bahwa barangsiapa yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan maka sesungguhnya ia tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam, karena seseorang dapat menjadi imam tatkala ia memiliki kemampuan. Apabila Anda katakan bahwa Imam Ali memiliki kemampuan namun beliau tidak memanfaatkannya maka hal ini merupakan sebuah pengkhianatan dan seorang pengkhianat tidak dapat menjadi seorang imam! Ia tidak dapat menjadi pemimpin yang dipercaya oleh masyarakat. Sementara Imam Ali As tidak mungkin berbuat khianat. Ia suci dari segala macam pengkhianatan. Lalu apa jawaban Anda atas keberatan ini? Apa Anda memiliki jawaban benar atas kritikan dan isykalan ini?

Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam.

Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu.

Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam.

Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1] Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2] Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[4]

Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6] Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Catatan Kaki:
[1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

[2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

[3]. Ibid.

[4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

[5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

[6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

[7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

.
pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan k Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Ali membaiat Abu Bakar enam bulan kemudian, sesudah Fathimah meninggal dunia. Mu’ammar meriwayatkan dari azZuhri dari Aisyah, tatkala Aisyah berbicara tentang kejadian antara Fathimah dan Abu Bakar mengenai warisan Nabi saw: “Fathimah meninggalkan Abu Bakar dan tidak berbicara dengannya sampai ia meninggal enam bulan setelah Rasul saw wafat, dan tatkala ia meninggal suaminya lah yang mengubur kannya. Fathimah tidak mengizinkan Abu Bakar menyembahyangkan jenazahnya. Orang memandang Ali karena Fathimah, tetapi setelah Fathimah meninggal orang berpaling dari Ali. Fathimah hidup enam bulan lagi setelah Rasul saw wafat ( 1 ) .

Mu’ammar berkata: Seorang laki laki bertanya kepada azZuhri: ‘Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar dalam enam bulan itu? Zuhri menjawab: ‘Tidak, dan

tidak seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai ‘Ali membaiatnya’. Tatkala Ali melibat orangorang berpaling dari dirinya, ia lalu bergabung dengan Abu Bakar. ( 2)

Ibnu ‘Abdil Barr dalam Usdu’l Ghabah menulis: ‘Kaum oposan menyetujui menerima Abu Bakar enam bulan setelah baiat umum kepadanya’. ( 3 )

Ya’qubi: ‘Ali membaiat Abu Bakar 6 bulan setelah baiat umum. ( 4 )

Dalam Isti’ab dan Tanbih wa’lAsyraf: “ ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal dunia.” ( 5 )

Dalam Tafsir alWushul, AzZuhri berkata: ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai 6 bulan.’ ( 6 )

Baladzuri dalam Ansab alAsyraf berkata: “Tatkala, orang orang Arab menolak Islam dan menjadi murtad, Utsman mendatangi ‘Ali dan membujuknya membaiat Abu Bakar untuk membesarkan hati kaum Muslimin memerangi kaum ‘murtad’ di zaman Abu Bakar. ‘Ali membaiat Abu Bakar dan keresahan umat Islam terselesaikan. Kaum Muslimin lalu mempersiapkan diri memerangi apa yang dinamakan kaum ‘murtad’. (7)

Marilah kita ikuti dialog antara ‘Ali dan Abu Bakar tatkala ‘Ali akan membaiat Abu Bakar menurut Ibnu Qutaibah:

Ibnu Qutaibah menulis: “Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal, yaitu tujuh puluh lima hari setelah Rasul wafat. Dan ‘Ali mengirim utusan kepada Abu Bakar agar Abu Bakar datang ke rumah ‘Ali. Maka Abu Bakar pun datang dan masuk ke rumah ‘Ali dan dirumah itu telah berkumpul Banu Hasyim. Kemudian setelah memuji Allah dan Rasul Allah sebagaimana lazimnya, ‘Ali berkata: “Amma ba’du, wahai Abu Bakar, kami tidak membaiat Anda karena mengingkari keutamaan Anda melainkan kami benar benar yakin bahwa kekhalifahan itu adalah hak kami dan Anda telah merampasnya dari kami. Kemudian ia menyampaikan kedekatannya dengan Rasul Allah. Ia terus menyebut kedekatannya dengan Rasul sampai Abu Bakar menangis.

Abu Bakar lalu berkata: ‘Kerabat Rasul Allah lebih aku cintai dari kerabatku sendiri. Aku akan menuruti apa yang dilakukan Rasul insya Allah. ‘Ali lalu berkata: Aku berjanji akan membaiatmu besok di masjid, insya Allah.” Besoknya ‘Ali datang ke masjid dan membaiat Abu Bakar..Sayang sekali Ibnu Qutaibah tidak menyebut pidato ‘Ali itu secara lengkap, karena ‘Ali tentu menyampaikan hadishadis

Rasul mengenai keutamaannya.

Dari petikan tulisan Ibnu Qutaibah tersebut jelas bahwa pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan khliafah Abu Bakar. Dan ‘Ali mengatakannya secara terus terang.

‘Ali membaiat Abu Bakar, seperti dilaporkan Baladzuri adalah untuk membesarkan hati

kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagaian kabilah Arab.

‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya. Ia selalu menghindarkan diri dari perlawanan fisik Pada saat rumahnya hendak dibakar bersama anak istrinya dan teman temannya ia tidak melawan. Ini mungkin untuk sebagian ia lalukan demi

keselamatan keluarganya sebagaimana pernah diucapkannya. Ketakutannya akan keselamatan anak anaknya menjadi kenyataan bertahun tahun kemudian tatkala Mu’awiyah meracuni Hasan, dan Yazid bin Muawiyah membantai Husain serta keluarganya di Karbala yang semuanya menyatakan bahwa mereka hanyalah meniru apa yang dilakukan oleh ‘Umar. Ia barangkali juga sadar bahwa sekarang ia menghadapi ‘politik kekuasaan’. Tiga hari sesudah itu Abu Sufyan menawarkan bantuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan tapi ditolaknya.

Untuk menenteramkan Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah, ‘Umar mengangkat Mu’awiyah sebagai gubernur di Syam. Di Syam Mu’awiyah bergabung dengan keturunan ‘Abdu Syams lainnya yang sejak seratus tahun yang lalu menyingkir dari Makkah dalam perselisihannya dengan Banu Hasyim, ‘yang kelak menjadi kasak kusuk terbesar dalam sejarah Islam; perebutan kekuasaan atas ‘Ali’. ( 8 )

Tetapi ‘Umar tetap tidak hendak mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai gubernur.

Tatkala ‘Umar sedang mencari seorang yang pantas jadi gubernur di Himsh, ia telah berkata pada Ibnu ‘Abbas bahwa bila ia menunjuk Ibnu ‘Abbas sebagai gubernur ia khawatir Ibnu ‘Abbas akan menghimpun kekuatan untuk Banu Hasyim dengan mengajak orang berkumpul pada mereka. ‘Rasul sendiri tidak pernah mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai pejabat’. ( 9 ) Demikian ‘Umar berkata.

“Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya’. ( 10 )

sumber :

1 = Aisyah, puteri khalifah pertama, Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsaman bin ‘Amir bin Ka’ab bin Sa’d bin Tail, dari Bani Quraisy. Dilahirkan 4 tahun sesudah bi’tsah. Sembilan tahun sebelum tahun 1 Hijriah. Wanita pertama yang dikawini Rasul sesudah wafatnya Khadijah, dua tahun sebelum Hijrah, tatkala ia berumur 6 tahun. Rasul berkumpul dengannya bulan Syawal 18 bulan setelah Hijrah ke Madinah, setelah Perang Badar Besar, Ghazwah Badr AlKubra. Tatkala Rasul wafat, ia berumur 18 tahun. Berkumpul dengan Rasul selama 8 tahun 5 bulan. Ia hidup tenteram di zaman khalifah Abu Bakar, ‘Umar dan bagian awal khalifah ‘Utsman dan kemudian mulai bertengkar dengan khalifah Utsman yang berakhir dengan meninggalnya Utsman. Tatkala ‘Ali dibaiat, ‘A’isyah memerangi ‘Ali dalam perang Unta atau Perang Jamal. Dinamakan demikian karena dalam perang tersebut ‘A’isyah menunggangi unta yang berlangsung di Bashrah dan setelah kalah perang ia dihantar ke Madinah atas perintah khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Ummu’lmu’minin ‘A’isyah tidak dapat menahan diri untuk memasukkan perasaan pribadinya yang keterlaluan dalam laporan ini. Bacalah Bab 1: “Pengantar” sub bab “Mengapa ‘Aisyah Benci Fathimah dan ‘Ali.”

2 = Thabari, Tarikh, jilid 2, hlm. 448; Ibnu Qutaibah, alImamah was Siyasah, jilid 1, hlm. 18: Mas’udi, Muruj adzDzahab, jilid 2, hlm. 414; Ibnu ‘Abd Rabbih, alIqd

alFarid, jilid 3, hlm. 64; Shahih Bukhari dan Kitab Maghazi bab Ghazwah Khaibar, jilid 3, hlm. 37; Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 72, jilid 5, hlm. 153 bab Rasul

bersabda ‘Kami para Nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah’; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 285286; Ibnu Atsir, Tarikh, jilid 2, hlm. 126; Ibn AbilHadid, Syarh Nahju’lBalaghah, jilid 2, hlm. 122; Shawaiq, jilid 1, hlm. 12; Tarikh alKhamis, jilid 1, hlm. 1933.

3 = Ibnu ‘Abdil Barr, Usdu’IGhabah, jilid 3, hlm. 222.

4 = Ya’qubi, Tarikh, jilid 2, hlm. 105.

5= Isti’ab, jilid 2, hlm. 244; Tanbih walAsyraf, hlm. 250.

6 = Tafsir alWushul, jilid 2, hlm. 46.

7 = Ansab alAsyraf, jilid 1, hlm. 587.

8 = Lihat Fuad Hashem, ibid. hlm 48.

9 = Mas’udi, Muruj adzDzahab, jilid 1, hlm. 427.

10 = Lihat bab Nas Bagi ‘Ali.

.

Dalam sejarah Islam, masalah imamah (imâmah) telah memicu konflik yang berkepanjangan. Asy-Syahrastani, pengarang al-Milal wa an-Nihal, menyatakan bahwa tidak ada faktor pertikaian di kalangan umat Islam yang lebih besar daripada masalah imamah.[1] Mazhab Syiah dan Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) berbeda pandangan dalam definisi imamah, kriteria seorang imam, metode penentuan imam, legitimasi imam, individu-individu imam, dan lain sebagainya. Secara umum, mazhab Aswaja memandang imamah identik dengan khilafah dan membatasi skopnya pada ranah politik, sementara Syiah memberikan peran yang jauh lebih besar kepada imamah.

Menurut mazhab Aswaja, seorang imam pertama-tama dan terutama adalah seorang pemimpin politik yang bertugas memerintah dan mengatur tatanan sosial-politik. Karena itu, logis kiranya bilamana pemimpin politik yang biasa disebut dengan khalîfah ini tidak perlu terlalu tinggi dalam hal keilmuan atau ketakwaan, melainkan cukup memiliki sifat adil (‘adâlah). Sebagai pemimpin politik suatu masyarakat sudah sepatutnya imam ini dipilih secara demokratis melalui musyawarah. Musyawarah menyangkut urusan “sosial-politik” ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi: “…dan urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah di antara mereka.” (QS 42: 38). Singkat kata, karena imam tidak lebih daripada khalifah yang dipahami sebagai “pemegang kekuasaan politik”, maka syarat “adil” dan “dipilih secara musyawarah” sudah cukup untuk membuat siapa saja mengajukan diri sebagai calon imam.

Benar saja, selain dari empat khalifah pertama yang digelari dengan al-khulafâ` ar-râsyidun, umat Islam hampir tidak pernah lagi mempunyai pemimpin atau khalifah yang adil dan bijak. Lembaran-lembaran hitam mengisi sejarah Islam justru karena kezaliman dan kekejian penguasa-penguasa yang oleh sebagian umat Islam disebut sebagai khalifah atau amîr al-mu`minîin. Yazid yang terkenal zalim dan bengis dapat berkuasa di tengah-tengah umat Islam. Pada masa kekuasaannya, bermacam-macam kejadian tragis terjadi. Puncaknya, Yazid memaksa Imam Al-Husein, cucunda Nabi Muhammad, untuk tunduk dan berbaiat kepadanya. Manakala Al-Husein menolak paksaan baiat itu, beliau dan sebagian besar anggota keluarga dan sahabatnya dibantai secara biadab oleh kaki tangan Yazid.

Berbeda dengan itu, menurut mazhab Syiah, imamah memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih penting dibandingkan dengan dimensi politiknya. Dimensi spiritual ini adalah dasar, sedangkan dimensi politik adalah cabangnya. Dengan kata lain, seorang imam menjadi imam pertama dan terutama karena maqâm spiritualnya yang tinggi di sisi Allah dan kualitas-kualitas jiwanya yang sempurna. Karena itu, untuk mengetahui imam dalam pengertian ini, mau tidak mau, kita mesti mengacu kepada nash dan petunjuk Allah. Legitimasi seorang imam juga tidak diperoleh lewat musyawarah atau baiat. Imam dalam arti yang demikian menjadi imam bukan karena pengakuan atau kesepakatan orang, melainkan karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.

Dengan demikian, persoalan ini tidak bisa dikait-kaitkan dengan musyawarah atau kesepakatan publik. Para nabi dan rasul tidak mendapatkan kedudukan mereka melalui musyawarah atau pemungutan suara, melainkan melalui penunjukan dari Allah dan ketinggian spiritualnya. Para pakar dalam bidang-bidang keilmuan juga tidak mendapatkan kepakaran mereka melalui kesepakatan dan pengakuan publik, melainkan melalui proses belajar dan penelitian. Jadi, wilayah imamah secara primer bukanlah wilayah publik dimana kesepakatan dan pengakuan memiliki peran esensial, melainkan termasuk dalam wilayah agama yang meliputi wilayah publik.

Dalam perspektif seperti ini, imam bukan hanya khalifah yang hanya berperan menggantikan tampuk kekuasaan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad, melainkan juga¾seperti tercantum dalam pelbagai hadis Nabi¾mereka adalah para pemberi syafa’at, wasilah menuju Allah, pendamping Al-Quran, penjaga agama, pintu menuju Allah, pilar kehidupan di bumi, penopang kebenaran, dan tidak dapat dibandingkan dengan manusia biasa.[2] Mereka ini adalah wali-wali Allah yang berperan sebagai pintu-pintu dan perantara-perantara menuju Allah. Itulah sebabnya konsep tawassul dalam Syiah merupakan ajaran yang fundamental.

Menurut pandangan Syiah, hubungan antara nubuwah (nubuwwah) dan imamah bersifat irisan (intersection). Yakni, sebagian nabi sekaligus juga imam, tapi tidak semua imam menerima wahyu layaknya seorang nabi. Nubuwah berakhir dengan Baginda Muhammad saww, tetapi imamah tidak berakhir dengan beliau. Puluhan hadis yang berkaitan dengan kedudukan Ali sebagai pengganti (washy) Nabi merujuk pada fungsi imamah yang terus berlanjut meskipun nubuwah dalam pengertian turunnya wahyu berakhir dengan nabi Muhammad saaw.

Salah satu nash yang secara jelas berbicara mengenai imamah terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 124: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menyempurnakannya. Allah berfirman: Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi manusia. Ibrahim berkata: (Dan aku memohon juga) dan dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Menurut para mufasir, Nabi Ibrahim ditetapkan Allah sebagai imam setelah beliau menjadi nabi, sehingga status imamah dan nubuwah bergabung pada diri Ibrahim a.s.[3]

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menyebutkan bahwa imamah Nabi Ibrahim as diperoleh setelah beliau melewati pelbagai cobaan dan ujian. Selain menunjukkan ketinggian status imamah, ayat 124 itu juga menunjukkan bahwa seseorang tidak menjadi imam kecuali dengan bersabar menghadapi pelbagai ujian. Dan masalah kesabaran menghadapi ujian ini ditegaskan juga dalam ayat lain: “Dan kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) imam-imam yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka adalah orang-orang yang meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32: 24).

Dalam ayat yang disebut belakangan, selain masalah kesabaran, Al-Qur’an juga menyebutkan keyakinan sebagai syarat lain seseorang mencapai maqam imamah. Masalah keyakinan ini secara khusus pernah diminta oleh Nabi Ibrahim dalam upayanya mencapai maqam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku sudah percaya, namun agar semakin tentram hatiku.’…” (QS 2: 260). Keinginan mendapat ketentraman batin ini kemudian diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim. Allah berfirman: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin.” (QS 6: 75).

Melalui kualitas kesabaran dan keyakinan itulah seorang imam memperoleh kemaksuman (’ishmah), kesucian dan penyucian dari Allah (QS 33: 33). Kemaksuman adalah keadaan terbebas dari segala dosa dan kezaliman dalam pelbagai tingkatannya seperti disiratkan dalam surah al-Baqarah ayat 124 di atas “…janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Tentu saja, kemaksuman ini tidak diperoleh oleh sembarang orang lewat sembarang cara. Kemaksuman diperoleh lewat kesabaran seorang hamba dalam menyongsong pelbagai ujian dalam menuju Allah dan lewat keyakinannya yang mendalam.

Sejujurnya, apabila imam itu kita pahami hanya sebagai seorang pemimpin atau penguasa politik, maka akidah Syiah mengenai kemaksuman para imam ini jelas berlebih-lebihan. Dengan mudah orang akan menunjukkan bukti-bukti rasional maupun pragmatis bahwa seorang penguasa atau kepala pemerintahan tidak harus maksum, melainkan cukuplah baginya sifat adil. Namun, masalahnya berbeda bilamana imam ini kita pahami sebagaimana yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang menuturkan mengenai imam dan imamah.

Selain soal kemaksuman, berdasarkan hadis-hadis yang sedemikian banyak, Syiah juga meyakini bahwa alam semesta tidak akan pernah kosong dari imam, baik ia tampak secara indrawi maupun gaib. Puluhan hadis seperti ini sejalan juga dengan hadis-hadis yang menyatakan bahwa para imam bagaikan perahu Nabi Nuh, bintang-bintang yang menerangi bumi, tiang-tiang alam raya dan lain sebagainya.[4] Lantaran kedudukan yang sedemikian penting itu, kita tidak bisa menganggap imamah ibarat lembaga-lembaga sosial-politik yang tercipta berdasarkan kesepakatan dan dapat berakhir juga bersadarkan kesepakatan. Berbeda dengan presiden yang bisa naik dan bisa turun, seorang imam tidak bisa turun atau diturunkan oleh masyarakat.

Dalam konteks seperti itulah kita bisa mengerti mengapa Rasulullah saw bersabda bahwa siapa yang mati tanpa (memiliki atau mengenali) imam zamannya, maka matinya bagaikan mati dalam keadaan jahiliah.[5] Dalam versi lain, Rasul bersabda: “Siapa yang mati tanpa memberikan baiat kepada imam, maka ia akan mati dalam keadaan jahiliah.” Begitu juga halnya dengan penekanan yang diberikan Rasulullah saaw untuk mecintai para imam dari Ahlul Baitnya. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, Rasulullah saaw bersabda:

“من اراد التوكّل على الله فليحبّ اهل بيتي، و من اراد أن ينجو من عذاب القبر فليحبّ اهل بيتي،

و من اراد الحكمة فليحبّ اهل بيتي، و من اراد دخول الجنّة بغير حساب فليحبّ اهل بيتي، فو الله ما احبّهم احد الاّ ربح الدنيا و الاخرة“

“Barangsiapa ingin bertawakal (mewakilkan urusannya) kepada Allah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin selamat dari siksa kubur, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin memperoleh hikmah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; dan barangsiapa ingin masuk surga tanpa hisab, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku. Demi Allah, tak seorangpun mencintai mereka kecuali dia beruntung di dunia dan akhirat.”[6]

Hadis-hadis seperti di atas tercantum dalam pelbagai kitab hadis secara berlimpah-ruah, sedemikian sehingga membuat kita bertanya-tanya: Gerangan apa yang mendorong Allah melalui Nabi-Nya mengulang-ulang manfaat-besar kecintaan kepada mereka? Apakah ini semacam “agenda politik” yang dirancang oleh Nabi Muhammad untuk mengangkat Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai penguasa-penguasa politik sepeninggal beliau? Ataukah penekanan itu untuk menunjukkan kepada manusia bahwa kebergantungan mereka pada imam tidak berhenti pada kehidupan fisik dan wilayah sosial politik semata-mata, melainkan terus berlanjut pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya di alam-alam yang lain?

Jelas, bahwa kebergantungan dan kebutuhan manusia kepada para imam yang suci itu terus berlanjut secara abadi. Kecintaan kita kepada Rasul dan para imam itu menjadi ikatan yang akan terus menjaga kita walaupun tubuh kita telah hancur berkalang tanah. Ikatan inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai asas Islam.[7] Dalam hadis lain disebutkan bahwa kecintaan kepada mereka adalah sebaik-baik ibadah dan menyebabkan orang masuk surga.[8] Dalam kaitan dengan Imam Ali, Rasul bersabda:

يا علي ، لا يحبّك الاّ مؤمن ولايبغضك الاّ كافر او منافق

(Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.)[9]

Hanya saja, ironisnya, para imam yang suci dan ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia kembali kepada-Nya tidak selalu diterima oleh masyarakat sebagai penguasa dan pemimpin politik mereka. Bahkan, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang suci ini sering kali tersingkirkan dan dipermainkan oleh para avonturir yang dengan licik memanipulasi opini masyarakat, sehingga pada gilirannya imam-imam yang secara niscaya berkedudukan tinggi di mata Allah ini sering kali ditindas oleh Umat Muhammad persis seperti perlakuan Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka.

Dari urain singkat di atas, kita bisa memetik beberapa kesimpulan berikut: pertama, imamah adalah kedudukan yang ditetapkan oleh Allah dengan nash dan bukan hasil pilihan suatu musyawarah, sebagaimana nubuwah juga langsung ditetapkan oleh Allah; kedua, berbeda dengan khalifah, imam harus maksum (ma‘shûm) dan suci; ketiga, imam belum tentu mendapatkan kekuasaan dan legitimasi politik. Mungkin saja ada seorang imam yang tidak “diakui” sebagai penguasa politik, meskipun status imamah tidak mungkin dicabut oleh masyarakat lantaran status itu adalah pemberian Allah dan konsekuensi dari ketinggian kedudukannya di sisi Allah; dan keempat, kebutuhan manusia kepada imamah bersifat permanen sebagaimana kebutuhan manusia kepada nubuwah. Dengan berakhir serta sempurnanya nubuwah pada diri Nabi Muhammad, maka fungsi nubuwah untuk seterusnya dilanjutkan dengan imamah.

Musa Kazhim

20 Shafar 1424

(Hari Arba’in Imam Al-Husein)

[1] Al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal , Kairo, 1968, jilid I, hal. 99

[2] Lebih jauh, rujuk Muhammad Ar-Raysyahri, Ahlul Bait fil al-Kitab wa as-Sunnah, Muassasah Dar Al-Hadits, tanpa tahun.

[3] Sayyid Kamal Al-Haydari, Bahtsun Haul Al-Imâmah, Dar Al-Shadiqin, Qum, 1999, hal. 93.

[4] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal 140-168.

[5] Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad, Dar Al-Fikr, Beirut, 1414 H., jilid 6, hal 22.

[6] Muwaffaq Al-Khawarizmi, Maqtal Al-Husein, Maktabah Al-Mufid, Qum, t.t., jilid 1, hal. 59; Al-Juwayni, Faraid Al-Simthayn, Muassasah Al-Mahmudi, Beirut, jilid 2, hal. 294; dan Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’ Al-Mawaddah, Dar Al-Uswah, Teheran, jilid 2, hal. 332.

[7] Alauddin Al-Hindi, Kanz Al-‘Ummal, Maktabah Al-Turats Al-Islami, Beirut, 1397 H., jilid 1, hal. 645.

[8] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal. 393.

[9] Ibn Asakir Al-Damasyqi, Târîkh Damasyq, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, 1395 H., jilid 2, berkenaan dengan “Biografi Imam Ali”.

Mengapa Imam Ali as. Akhirnya Membaiat Abu Bakar?

Adapun mengapa akhirnya Imam Ali as. memberikan baitannya untuk Abu Bakar? Riwayat-riwayat dari Aisyah di atas mengatakan bahwa ia memohon perdamaian dengan pihak Abu Bakar dikarenakan kematian Fatimah yang mengakibatkan berpalingnya orang-orang dari Ali as.

Demikian Aisyah menganalisa sikap politis Imam Ali as. dan itu adalah hak Aisyah untuk mengatakannya! Sebagaimana orang lain juga boleh mengutarakan analisanya dalam masalah tersebut. Akan tetapi Imam Ali as. menerangkan kepada kita sebab mengapa beliau pada akhirnya memberikan baiat untuk Abu Bakar dan tidak terus mengambil sikap oposisi, apalagi perlawanan bersenjata!

Dalam keterangan-keterangan yang dinukil dari Imam Ali as. ada beberapa sebab:

Pertama, tidak adanya pembela yang cukup untuk mengambil alih kembali hak kewalian beliau.

Sikap Imam Ali as. itu telah beliau abadikan dalam benyak kesempatan, di antara dalam pidato beliau yang terkenal dengan nama khuthbah Syiqsyiqiyyah.

Imam Ali as. berpidato:

أَمَا وَاللهِ لَقَدْ تَقَمَّصَهَا إبْنُ اَبِيْ قُحَافَةَ وَإِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّ مَحَلِّي مِنْهَا مَحَلُّ اْلقُطْبِ مِنَ الْرُحَى , يَنْحَدِرُ عَنِّي اْلسَيْلُ وَ لاَ يَرْقَى إلَىَّ الْطَيْرُ. فَسَدَلْتُ دُوْنَهَا ثَوْبًا  وَ طَوَيْتُ عَنْهَا كَشْحًا . وَ طَفِقْتُ أَرْتَئِ بَيْنَ أنْ أَصُوْلَ بِيَدٍ جَذَّاءَ أوْ أَصْبِرَ عَلَى طِخْيةٍ عَمْيَاءَ , يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ وَ يَشِيْبُ فِيْهَا الْصَغِيْرُ, وَ يَكْدَحُ  فِيْهَا الْمُؤْمِنُ حَتَّى يَلْقَى رَبَّهُ !

فَرَاَيْتُ اَنَّ الْصَبْرَ عَلَى هَاتَا أَحْجَى . فَصَبَرْتُ , وَ فِي الْعَيْنِ قَذًى, و فِي الْحَلْقِ شَجًا أَرَى تُرَاثِيْ  نَهْبًا.                                                           

“Demi Allah, sesungguhnya putra Abu Quhafah (Abu ABakar) telah mengenakan busana kekhilafahan itu, padahal ia tahu bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah bagaikan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Maka aku mengulur tabir terhadap kekhilafahan dan melepaskan diri darinya.

Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang dengan tangan terputus atau bersabar atas kegelapan yang membutakan, dimana orang dewasa menjadi tua bangka dan anak kecil menjadi beruban dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup dalam tekanan sampai ia menemui Tuhannya!

Maka aku dapati bahwa bersabar atasnya lebih bijaksana. Maka aku bersabar, walaupun ia menusuk mata dan mencekik kerongkongan. Aku menyaksikan warisanku dirampok … “ [1]

Kedua, sikap enggan memberikan baiat itu sudah cukup membuktikan hak kewalian beliau yang mereka bekukan.

Dan ketiga, mengingat maslahat umat Islam menuntut agar beliau mengorbankan hak beliau demi meraih maslahat Islam yang lebih abadi. Sebab eksistenti kaum Muslimin dan Dawlah Islam sedang terancam dengan maraknya kaum murtad yang meninggalkan agama Islam dan berniat untuk menyerang kota suci Madinah dan memerangi kaum Muslim!

Dalam sebuah pernyataannya, Imam Ali as. menjelaskan sebab mengapa beliau sudi memberikan baiat untuk Abu Bakar:

فأَمْسَكْتُ يدي حتَّى رأيتُ راجِعَةَ الناسِ قد رجعت عن الإسلامِ , يدعون إلى مَحقِ دين محمد (ص), فَخَشيتُ إن لم أنصرِ الإسلامِ و أهلَه أن أرى فيه ثَلْمًا أو هدمًا تكون المصيبةُ بِهِ عليَّ أعظَم من فوتِ ولايَتِكم.

“Dan ketika aku saksikan kemurtadan orang-orang telah kembali meninggalkan Islam, mereka mengajak kepada pemusnahan agama Muhammad saw., maka aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan para  pemeuluknya aku akan menyaksikan celah atau keruntuhan Islam yang bencananya atasku lebih besar dari sekedar hilangnya kekuasaan atas kalian.”[2]

Inilah sebabh hkiki dalam maalah ini, bukan seperti yang diasumsikan sebagian orang.

Adapaun tuduhan Syeikh bahwa dengan demikian kaum Syi’ah menuduh Imam mereka bersikap pengecut, maka kesimpulan miring itu sama sekali tidak berdasar, sebab pada diri Nabi Harun as. terdapat uswah, teladah baik bagi Imam Ali as. ketika beliau berkata, seperti diabadikan dalam Al Qur’an:

وَ لَمَّا رَجَعَ مُوسى‏ إِلى‏ قَوْمِهِ غَضْبانَ أَسِفاً قالَ بِئْسَما خَلَفْتُمُوني‏ مِنْ بَعْدي أَ عَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَ أَلْقَى الْأَلْواحَ وَ أَخَذَ بِرَأْسِ أَخيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُوني‏ وَ كادُوا يَقْتُلُونَني‏ فَلا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْداءَ وَ لا تَجْعَلْني‏ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمينَ 

“Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” Dan Musa pun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang lalim.” (QS.A’râf [7];150)

Imam Ali as. mengalami kondisi serupa dengan parnah dialami oleh Nabi Harun as. ketika kaumnya membangkang dengan kesesatan akibat provokasi Samiri.

Ketertindasan dan ketidak-berdayaan Imam Ali as. itu telah diberitakan Nabi saw. dalam banyak sabda beliau, di antaranya adalah hadis yang sangat terkenal yang berbunyi:

أنتم المستَضْغَفٌون بَعدي

“Sepeninggalku, kalian akan ditindas.”[3]

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Mengkhianati Imam Ali as.

Bahkan lebih dari itu, Nabi saw. telah memberitakan dari balik tirai ghaib, bahwa umat ini akan menelantarkan Ali as. dan tidak memberikan kesetian pembelaan untuknya. Mereka akan mengkhianatinya!

Imam Ali as. berulang kali mengatakan:

إنّه ممّا عهد إليّ النبي (صلى الله عليه وآله وسلم) أنّ الاُمّة ستغدر بي بعده.

 “Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.”

Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:

صحيح الاسناد

“Hadis ini sahih sanadnya.”

Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:

صحيح

“Hadis ini shahih.” [4]

Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.

 

Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.

Demikian juga, sebagian orang yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw.

Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini:

Imam Ali as. berkata:

بينا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) آخذ بيدي ونحن نمشي في بعض سكك المدينة، إذ أتينا على حديقة، فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! فقال: إنّ لك في الجنّة أحسن منها، ثمّ مررنا بأُخرى فقلت: يا رسول الله ما أحسنها من حديقة ! قال: لك في الجنّة أحسن منها، حتّى مررنا بسبع حدائق، كلّ ذلك أقول ما أحسنها ويقول: لك في الجنّة أحسن منها، فلمّا خلا لي الطريق اعتنقني ثمّ أجهش باكياً، قلت: يا رسول الله ما يبكيك ؟ قال: ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك إلاّ من بعدي، قال: قلت يا رسول الله في سلامة من ديني ؟ قال: في سلامة من دينك.

“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al Bazzâr dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,[5] Ibnu Hibbân dkk. [6]

Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88

Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!

 

Imam Ali as. Mengeluhkan Pengkhiatanan Suku Quraisy!

Dalam banyak pernyataannya, Imam Ali as. telah mengeluhkan kedengkian, kejahatan dan sikap arogan suku Quraisy terhadap Nabi saw. yang kemudian, ketika mereka tidak mendapatkan jalan untuk meluapkannya kepada beliau saw., mereka meluapkan dendanm kusumat kekafiran dan kemunafikan kepadanya as.

Di bawah ini akan saya sebutkan sebuah kutipan pernyataan beliau as. tersebut.

اللهمّ إنّي أستعديك على قريش، فإنّهم أضمروا لرسولك (صلى الله عليه وآله وسلم) ضروباً من الشر والغدر، فعجزوا عنها، وحُلت بينهم وبينها، فكانت الوجبة بي والدائرة عليّ، اللهمّ احفظ حسناًوحسيناً، ولا تمكّن فجرة قريش منهما ما دمت حيّاً، فإذا توفّيتني فأنت الرقيب عليهم وأنت على كلّ شيء شهيد.

“Ya Allah, aku memohon dari Mu agar melawan Quraisy, karena mereka telah memendam bermacam sikpa jahat dan pengkhianatan kepada Rasul-Mu saw., lalu mereka lemah dari meluapkannya, dan Engkau menghalang-halangi mereka darinya, maka dicicipkannya kepadaku dan dialamatkannya ke atasku. Ya Allah peliharalah Hasan dan Husain, jangan Engkau beri kesempatan orang-orang durjana dari Quraisy itu membinasakan keduanya selagi aku masih hidup. Dan jika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkau-lah yang mengontrol mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[7]

Coba Anda perhatikan pernyataan Imam Ali as. di atas, bagaimana dendam dan pengkhianatan Quraisy terhadap Nabi saw. akan mereka luapkan kepadanya! Dan di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa mereka tidak segan-segan akan menghabisi nyawa bocah-bocah mungil kesayangan Rasulullah saw.; Hasan dan Husain as. yang akan meneruskan garis keturunan kebanian sebagai melampiasan dendam mereka kepada Nabi saw.!


[1]Nahjul Balaghah, pidato ke3.

[2] Ibid. pidato ke74.

[3] Musnad Ahmad,6/339.

[4] Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142.

[5] Al Mustadrak,3/139 hanya saja bagian akhir radaksi hadis ini terpotong, sepertinya ada “tangan-tangan terampil” yang sengaja menyensor hadis di atas.

[6]Teks hadis di atas sesuai dengan yang terdapat Majma’ az Zawâid,9/118.

[7] Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298.

Ini dia alasan mengapa imam Ali membaiat para khalifah

  • Tatkala Imam Ali As mengetahui bahwa Allah Swt telah mengangkatnya sebagai khalifah lalu mengapa ia memberikan baiat kepada Abu Bakar, Umar dan Usman? Apabila Anda katakan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan, sementara kita tahu bahwa barangsiapa yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan maka sesungguhnya ia tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam, karena seseorang dapat menjadi imam tatkala ia memiliki kemampuan. Apabila Anda katakan bahwa Imam Ali memiliki kemampuan namun beliau tidak memanfaatkannya maka hal ini merupakan sebuah pengkhianatan dan seorang pengkhianat tidak dapat menjadi seorang imam! Ia tidak dapat menjadi pemimpin yang dipercaya oleh masyarakat. Sementara Imam Ali As tidak mungkin berbuat khianat. Ia suci dari segala macam pengkhianatan. Lalu apa jawaban Anda atas keberatan ini? Apa Anda memiliki jawaban benar atas kritikan dan isykalan ini?

    Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam.

    Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu.

    Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam.

    Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

    Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1] Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2] Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

    Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[4]

    Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

    Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

    Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6] Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

    Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

    Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

    Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

    Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

    Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

    Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

    Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

    Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

    Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

    Catatan Kaki:

    [1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

    [2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

    [3]. Ibid.

    [4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

    [5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

    [6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

    [7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

    [8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

    [9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

Para Pembaca…

Pengingkaran Pendiri Mazhab Wahabi; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb terhadap tegasnya petunjuk hadis Ghadir sebagai penujukan atas Imam Ali as. sebagai Pemimpin Tertinggi Umat Islam sepeninggal Nabi saw. yang telah kami bantah kepalsuan dan kebatilan anggapannya pada edisi sebelumnya, ia susul denan kata-kata:

… ولو كان نصاً لادّعاها علي رضي الله عنه لأنه أعلم بالمراد، ودعوى إدّعائها باطل ضرورة ، ودعوى علمه يكون نصاً على خلافته وترك إدعائها تقية أبطل من أن يبطل . وما أقبح ملة قوم يرمون إمامهم بالجُبن والخور والضعف في الدين مع أنه أشجع الناس وأقواهم.

“… jika demikian (ia sebagai nash/penunjukan terang) pastilah Ali mengakuinya, sebab ia lebih mengerti maksudnya. Dan mengklaim bahwa Ali mengakuinya adalah batil/palsu secara pasti, dan mengklaim bahwa Ali mengetahuinya tetepi ia meninggalkan mengakuinya kerena taqiyyah lebih batil untuk dibantah.

Alangkah jelaknya agama kaum yang menuduh imam mereka pengecut dan takut serta lemah dalam menegakkan agama, padahal ia termasuk paling berani dan paling kuatnya orang …”

Tanggapan Kami:

Ibnu Ja’fari berkata:

Untuk klaim palsunya kali ini kami bermaksud menaggapinya secara ringkas dan secukupnya dengan membuktikan bahwa sebenarnya sejarah otentik telah mencatat bahwa ternyata Imam Ali as. tidak diam, beliau telah memprotes dengan keras pembaiatan atas Abu Bakar sebagai Khalifah. Demikian juga dengan keluarga beliau, keluarga besar bani Hasyim dan para pengikut setia beliau, mereka telah memprotes keras hasil pembaiatan Abu Bakar di Saqîfah.

Protes tersebut beliau demonstrasikan dengan beragam cara di antaranya dengan sikap praktis yang akan menjadi bukti disepanjang sejarah yang tidak akan dapat ditutup-tutupi oleh upaya pembutaan apapun!

Imam Ali as. melakukan protes keras dengan menolak memberikan pengakuan legalitas syar’i atas hasil pembaiatan Abu Bakar di Saqîfah! Dan berbagai upaya termasuk dengan cara kekerasan sekalipun ternyata para pendukung kekhalifahan Abu Bakar tidak mampu membuat Imam Ali as. bertekuk lutut memberikan baiat dan restu serta pengakuan akan keabsahan Khalifah Abu Bakar!

Imam Ali as. tetap tegar dengan pendiriannya, dan membuktikan kepada umat dan sejarah bahwa hak kewalian beliau yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Nabi-Nya di Ghadir Khum telah dibekukan dan diambil alih oleh  kelompok Saqîfah!

Berita tentang keengganan Imam Ali as. untuk membaiat Abu Bakar sedemikian masyhur, sehingga kitab hadis paling selektif, seperti Shahih Bukhari pun melolos-sensorkannya.

Imam Ali as. menolak memberikan baiat selama kurun waktu enam bulan dari pembaiatan Abu Bakar! Sebuah waktu yang sangat panjang! Dalam kurun waktu itu, Imam Ali as. tak henti-hentinya membuktikan hak kewaliannya atas umat Islam! Sehingga terjadi kerenggangan hubungan antara beliau dengan Abu Bakar dan kelompoknya.

Penentangan Imam Ali as. atas rekayasa pembaitan Abu Bakar di Saqîfah berbuntut panjang!

Di antara ekor panjang penentangan Imam Ali as. atas pembaiatan Abu Bakar adalah peristiwa-peristiwa berikut ini:

A) Ancaman Pembakaran.

Para sejarawan Islam melaporkan berbagai peristiwa penting di antaranya apa yang dilaporkan oleh Ibnu Abi Syaibah (w.235H) dalam Mushannaf-nya dengan sanad bersambung kepada Zaid ibn Aslam dari ayahnya, ia berkata:

حين بويع لابي بكر بعد رسول الله، كان علي والزبير يدخلان على فاطمة بنت رسول الله، فيشاورونها ويرتجعون في أمرهم، فلمّا بلغ ذلك عمر بن الخطّاب، خرج حتّى دخل على فاطمة فقال: يا بنت رسول الله، والله ما أحد أحبّ إلينا من أبيك، وما من أحد أحبّ إلينا بعد أبيك منك، وأيم الله ما ذاك بمانعي إنْ اجتمع هؤلاء النفر عندك أن أمرتهم أن يحرّق عليهم البيت.

“Ketika Abu Bakar dibaiat sepeninggal Rasulullah, Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah putri Rasulullah. Mereka bermusyawarah dengannya tentang urusan mereka. Ketika berita itu didengar oleh Umar ibn al Khaththab, ia keluar sehingga menemui Fatimah dan berkata kepadanya, ‘Hai putri Rasulullah, demi Allah tiada seorang yang lebih aku cintai dari ayahmu dan tiada seorang setelah ayahmu yang lebih kami cintai darimu. Demi Allah hal itu sama sekali tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar rumah ini dibakar bersama mereka.’” [1]

Ath Thabari juga melaporkan dalam Târîkh al Umam wa al Mulûk:

أتى عمر بن الخطّاب منزل علي، وفيه طلحة والزبير ورجال من المهاجرين فقال: والله لاُحرقنّ عليكم أو لتخرجنّ إلى البيعة، فخرج عليه الزبير مصلتاً سيفه، فعثر فسقط السيف من يده، فوثبوا عليه فأخذوه.

“Umar ibn al Khaththab mendatangi rumah Ali, di dalamnya berkumpul Thalhah dan Zubair dan beberapa orang Muhajirin, ia berkata (mengancam), ‘Demi Allah aku benar-benar akan membakar kalian atau kalian keluar untuk memberikan baiat!’ Maka Zubair keluar sambil menghunuskan pedangknya, lalu ia terpeleset dan jatuhlah pedang itu dari tangannya, lalu mereka mengeroyoknya dan mengambil pedang itu darinya.”[2]

B) Mereka Membawa Obor Yang Menyala.

Jika pada pada laporan-laporan di atas hanya disebutkan bahwa mereka (Umar dkk.) hanya mengancam akan membakar rumah Fatimah bersama penghuninya karena mereka berkumpul menentang Khalifah Abu Bakar, maka dalam laporan-laporan di bawah ini disebutkan bahwa Umar dan rekan-rekannya benar-benar ingin membuktikan keseriusan ancaman mereka itu dengan membawa obor yang menyala-nyala.

Dalam Ansâb al Asyrâf-nya, al Balâdzuri (w.224H) melaporkan:

إنّ أبا بكر أرسل إلى علي يريد البيعة، فلم يبايع، فجاء عمر ومعه فتيلة، فتلقّته فاطمة على الباب، فقالت فاطمة: يابن الخطّاب، أتراك محرّقاً عَلَيّ بابي ؟! قال: نعم، وذلك أقوى فيما جاء به أبوك.

“Sesunggunya Abu Bakar mengutus (seorang utusan) kepada Ali memintanya agar membaiat, tapi Ali tidak mau membaiat. Maka datanlah Umar dengan membawa obor, lalu Fatimah menghadangnya di depan pintu, ia berkata, ‘Hai putra al Khaththab, apakah engkau akan membakarku dengan membakar pintu rumahku?!’ Umar menjawab, ‘Ya, dan hal itu akan menguatkan agama yang dibawa ayahmu.’”[3]

Ibnu Abdi Rabbih (w.328 H) melaporkan dalam al ‘Iqdu al Farîd-nya:

وأمّا علي والعباس والزبير، فقعدوا في بيت فاطمة حتّى بعث إليهم أبو بكر ليخرجوا من بيت فاطمة وقال له: إنْ أبوا فقاتلهم، فأقبل بقبس من نار على أنْ يضرم عليهم الدار، فلقيته فاطمة فقالت: يابن الخطّاب، أجئت لتحرق دارنا؟ قال: نعم، أو تدخلوا ما دخلت فيه الاُمّة.

“Adapun Ali, Abbas dan Zubair mereka duduk/bertahan di rumah Fatimah sehingga Abu Bakar mengutus utusan menemui mereka agar mereka segera keluar dari rumah Fatimah. Abu Bakar berkata kepada utusannya itu, ‘Jika mereka enggan keluar maka perangi mereka!’. Lalu ia (utusan itu) datang dengan membawa seonggok api untuk membakar rumah itu atas mereka. Kemudian Fatimah menghadangnya, ia berkata, ‘Hai putra al Khtaththab, apakah engkau datang untuk membakar rumah kami?! Ia berkata, ‘Ya. Atau kalian semua mau masuk bersama umat menerima baiat Abu Bakar.”[4]

C) Mereka Menyiapkan Kayu Bakar

Ternyata konflik yang terjadi antara kubu Imam Ali as. dan kubu Abu Bakar tidak berhenti sampai di sini; hanya mengancam dan membawa obor api. Akan tetapi mereka benar-benar telah mempersiapkan kayu bakar untuk menghanguskan rumah Fatimah dan Ali serta membakar seluruh penghuni yang bertahan di rumah tersebut dalam protes mereka atas pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah! Paling tidak demikian yang dilaporkan dalam data-data sejarah yang ada.

Al Mas’ûdi melaporkan dalam Murûj adz Dzahab-nya yang kemudian dinukil oleh Ibnu Abil Hadid al Mu’tazili dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya dari Urwah ibn Zubair –keponakan Ummul Mukminin Aisyah- bahwa ia ketika memberikan uzur mengapa kakaknya yang bernama Abdullah ketika berkuasa di Hijâz pernah berniat membakar tokoh-tokoh Bani Hasyim dikarenakan mereka menolak membaiatnya sebagai pemimpin/ Khalifah. Urwah memberikan uzur akan hal itu dengan alasan bahwa dahulu Bani Hasyim juga pernah diancam untuk dibakar dikarenakan keengganan mereka memberikan baiat untuk Abu Bakar.[5]  

Al Ya’qubi dan al Jauhari juga melaporkan, “Dan sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar bertahan tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar, mereka berpihak kepada Ali bin Abi Thalib, di antara mereka adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, Fadhl ibn Abbas, Zubair ibn Awwâm, Khalid bin Said, Miqdad ibn ‘Amr, Salman al Fârisi, Abu Dzarr al Ghiffari, Ammar ibn Yasir, al Barâ’ ibn ‘Âzib dan Ubai ibn Ka’ab. Maka Abu Bakar memanggil Umar, Abu Ubaidah dan Mughirah ibn Syu’bah. Ia berkata, “Bagaimana pendapat kalian?”

Mereka menjawab, “Yang tepat Anda temui adalah Abbas ibn Abdul Muththalib, dan berikan baginya dan keturunannya bagian dari kekuasaan ini, maka dengan demikian Anda melemahkan posisi Ali ibn Abi Thalib dan bukti kuat bagi Anda atas Ali jika ia (Abbas) mau berbagung dengan pihak kalian….“[6]

Umar berkata, “Termasuk kisah kami ketika Nabi wafat bahwa Ali dan Zubair bersama mereka yang tidak mau berbaiat, mereka berkumpul di rumah Fatimah.[7]

Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab Shahih-nya meriwayatkan dari Ummul Mukminin A’isyah bahwa Imam Ali as. tidak mau memberikan baiat untuk Abu Bakar selama masa hidup Fatimah putri Nabi saw. Dan setelah wafat Fatimah, Ali menganggap mungkar wajah-wajah manusia, maka ia menawarkan mushâlahata/perdamaian dan berbaiat untuk Abu Bakar. Sementara ia tidak memberikan baiat… “ [8]

Ibnu Ja’fari berkata:

Dalam laporan dan pernyataan Aisyah di atas yang telah diriwayatkan para muhaddis Ahlusunnah, utamanya Bukhari dan Muslim, ditegaskan bahwa Ali enggan memberikan baiat untuk Abu Bakar, dan setelah wafat Fatimah as. Ali menjadi merasa gusar terhadap orang-orang, lalu ia –masih kata Aisyah ra.- menawarkan opsi damai kepada Abu bakar, iltamasa mushâlahata Abi Bakr[9] dan mengakhiri kondisi persengketaan antara keduanya!

Pertama yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa  benar-benar telah terjadi sengketa antara Abu Bakar dan Imam Ali as. dalam masalah Khilafah sebagai sikap protes Imam Ali atas pembaiatan Abu Bakar. Dan protes itu dilakukan bukan sekedar karena Imam Ali as. tidak diikut sertakan dalam rapat dadakan di Saqîfah, seperti yang hendak disipmpulkan sebagian peneliti, melainkan karena Imam Ali as, pada dasarnya melihat baiat yang terjadi di sana itu ilegal, keluar dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya dalam kepemimpinan.

Sebab –dalam pandangan Ahlusunnah-[10] betapapun Imam Ali as. tidak hadir dalam rapat di Saqîfah, pembaiatan itu telah sah, jadi adalah wajib atas Imam Ali as. untuk menerimanya dan tidak menolak hasil pembaiatan yang telah dilakukan oleh banyak kalangan sahabat… masalah tidak diikut sertakannya Imam Ali as. dalam rapat itu hanya membenarkan  Imam Ali as. untuk menegur pelanggaran etis tersebut, bukan membenarkannya membangkang dan menolak pembaiatan!

Dari sini di hadapan kita hanya ada dua opsi tentang sikap Imam Ali as. tersebut:

Opsi Pertama, Sikap keengganan dan penentangan Imam Ali as. itu dipicu oleh emosi dan atau persaingan dalam memperebutkan jabatan Khilafah!

Opsi Kedua, Karena Imam Ali as. meyakini bahwa kekhalifahan adalah hak beliau, dan tidaklah sah pengangkatan siapapun selain dirinya.

Opsi pertama jelas tertolak… tidak ada seorang Muslim yang sadar apa yang ia pikirkan akan terlintas dalam pikirannya bahwa Imam Ali as. menentang pembaiatan atas Abu Bakar atas dorongan hawa nafsu dan emosi serta persaingan tidak sehat! Sebab, seperti disabdakan Nabi saw. bahwa “Ali senantiasa bersama Al Qur’an” “Ali senantiasa bergandengan dengen kebenaran/haq”

Terlebih lagi, dalam benyak kesempatannya, Imam Ali as. menyatakan dengan tegas bahwa Imamah/Khilafah adalah hak beliau yang mereka rampas dan mereka halang-halangi Ali dari mengambilnya kembali dengan cara damai.

Dalam salah sebuah pidatonya, Imam Ali as. mempertegas hal tersebut:

وقال قائل: إنّك يا ابن أبي طالب على هذا الامر لحريص، فقلت: بل أنتم ـ والله ـ أحرص وأبعد، وأنا أخص وأقرب، وإنّما طلبت حقّاً لي وأنتم تحولون بيني وبينه، وتضربون وجهي دونه، فلما قرّعته بالحجة في الملا الحاضرين هبّ كأنه بهت لا يدري ما يجيبني به.

اللهم إني استعديك على قريش ومن أعانهم، فانهم قطعوا رحمي، وصغّروا عظيم منزلتي، وأجمعوا على منازعتي أمراً هو لي، ثم قالوا: ألا إنَّ في الحق أنْ تأخذه وفي الحق أن تتركه .

“Ada seorang berkata, ‘Hai putra Abu Thalib, Sesungguhnya engkau rakus terhadap urusan (Kekhalifahan) ini!’ Maka aku berkata, “Demi Allah, kalian-lah yang lebih rakus dan lebih jauh, adapun aku lebih khusus dan lebih dekat. Aku hanya meminta hakku, sedangkan kalian menghalang-halangiku darinya, dan menutup wajahku darinya. Dan ketika aku bungkam dia dengan bukti di hadapan halayak ramai yang hadir, ia terdiam, tidak mengerti apa yang harus ia katakan untuk membantahku.

Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu atas Quraisy dan sesiapa yang membela mereka, karena sesungguhnya mereka telah memutus tali kekerabatanku, menghinakan keagungan kedudukanku dan bersepakat merampas sesuatu yang menjadi hakku. Mereka berkata, ‘Ketahuilah bahwa adalah hak kamu untuk menuntut dan hak kamu pula untuk dibiarkan.”[11] 

Jadi di hadapan kita hanya tersisa opsi kedua yaitu bahwa konsep pemilihan yang menjadi dasar syar’i dalam pembaiatan Saqîfah adalah ilegal, tidak syar’i secara mendasar di mata Imam Ali as.! Dan hak Imamah dan Khilafah adalah hak Imam Ali as. yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan untuknya di Ghadir Khum! Di hadapan puluhan ribu umat Islam dalam sebuah rapat besar pengangkatan!

Mungkinkah Imam Ali as. menyengaja berbohong dan mengada-ngada atas nama Rasulullah saw. bahwa kepemimpinan umat pasca masa kerasulan adalah hak beliau as.?!

Kedua, pertanyaan yang layak muncul di sini, mungkinkan opsi damai itu ditawarkan tanpa ada persengketaan antara keduanya?!

Al Balâdzuri melaporkan, “Abu Bakar mengutus Umar untuk menemui Ali ra., ketika ia duduk (menolak) memberikan baiat, ia berkata, “Datangkanlah dia kepadaku dengan cara yang paling kasar!” Setelah Ali didatangkan, terjadilah antara keduanya pembicaraan, lalu Ali (berkata kepada Umar), ‘Perahlah susu itu satu kali perahan, untukmu separohnya.’[12] Maksudnya bahwa apa yang dilakukan Umar dalam mendukung  kekhalifahan Abu Bakar ini dengan semangat bahwa nantinya ia juga akan menjabatnya!

Adz Dzahabi meriwayatkan sebuah hadis riwayat al ‘Uqaili dari Abdurrahman yang melaporkan bahwa Abu Bakar pernah menyesali sikap kasarnya terhadap Imam Ali as. dan para pembelanya yang menolak memberikan baiat dan mengakuinya sebagai Khalifah! Abu Bakar berkata, “… Aku tidak menyesali sebuah tindakan yang aku lakukan seperti penyesalanku atas tiga perkara, andai dahulu aku tidak menyerang rumah Fatimah dan aku biarkan saja walaupun mereka menutupnya untuk menyatakan perang.”[13]

Ada seseorang bertanya kepada Zuhri, “Apakah Ali tidak membaiat Abu Bakar selama enam bulan?” Maka Zuhri menjawab, “Ya, benar. Ali tidak membaiat dan tidak juga satupun dari keluarga bani Hasyim sampai Ali mau membaiat. Dan ketika Ali melihat bahwa orang-orang berpaling darinya, ia meminta mushâlahah/damai dengan Abu Bakar.”[14]

Al Hafidz Ibnu Hajar berkomentar, ”Baiat yang mereka berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan.”[15]

Al Ya’qubi melaporkan, “Ali tidak memberikan baiatnya melainkan setelah enam bulan.”[16]

Ibnu Hazm berkata, “Kami mendapatkan bahwa Ali terlambat memberikan baiat sampai enam bulan.”[17]

Ibnu al Atsîr menegaskan bahwa, “Yang shahih, benar ialah bahwa Ali tidak memberikan baiat untuk Abu Bakar melainkan setelah enam bulan.”[18] (Bersambung)


[1] Al Mushannaf,7/432. Aslam adalah maula Umar ibn al Khaththab. Sebagian ulama tidak membiarkan riwayat ini tertulis tanpa disensor, seperti yang dilakukan Ibnu Abdil Barr dalam kitab al Istî’âb-nya,3/975, kendati ia meriwayatkan dengan sanad yang sama dengan sanad Ibnu Abi Syaibah ia membuang kata-kata Umar yang mengancam akan membakar rumah putri tercinta Rasulullah saw. berserta seluruh penghuninya, termasuk Ali, Hasan, Husain, Zubair, Thalhah dkk.

[2] Târîkh ath Thabari,3/202.

[3] Ansâb al Asyrâf,1/586.

[4] Al Iqdu al Farîd,3/15.

[5]Murûj adz Dzahab,3/86. Dâr al Fikr. Bairut dengan tahqîq MuhammadMuhyiddîn Abdul Hamîd. Dan Syarah Nahjul Balaghah,20/147.

[6] Târîkh al Ya’qubi, 2\103, as Saqifah, baca Syarah Nahjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 2\13 dan 74 dan al Imamah wa as Siyasah,1\14.

[7] Musnad Ahmad,1\55, Tarikh al Umam wa al Mulk; ath Thabari,2\466,  al Kamil; Ibnu, 2\124, Al Bidayah wa an Nihayah, 5\246, Shafwat ash Shafwah,1\97, Syarah NAhjul Balaghah; Ibnu Abi al Hadid, 1\123, Tarikh al Khulafa’; As Suyuthi: 45, Sirah Ibnu Hisyam,4\338 dan Taisir al Wushul, 2\41.

[8] Ath Thabari,2\448 Shahih Bukhari; Kitab al Maghazi, bab Ghazwah Khaibar, 3\38, Shahih Muslim,2\72 dan 5\153, bab Qaulu Rasulillah: Nahnu La Nurats, Ibnu Katsir, 5\285-258, Ibnu Abdi Rabbih, 3\64, Ibnu al Atsir, 2\126, Kifayah ath Thalib; Al Kinji: 225-226, Syarah Nahjul Balaghah, 1\122, Muruj adz Dzahab, 2\414, Tanbih wa al Isyraf: 250, ash Shawaiq, Tarikh al Khamis,1\193, al Imamah wa as Siyasah,1\14, al Isti’ab, 2\244, al Bad’u wa at Tarikh,5\66 dan Ansab al Asyraf,1\586.

[9] Ini adalah redaksi berbahasa Arab seperti dalam riwayat Imam Bukhari yang artinya: Ali meminta damai dengan Abu Bakar!.

[10] Seperti telah lewat dijelaskan bahwa legalitas pembaiatan untuk pengangkatan seorang Khalifah tidak harus dihadiri oleh seluruh anggota Ahlul Halli wa al Aqdi, cukup dihadiri oleh beberapa onggota saja yang telah mewakili. Bahkan di antara ulama Ahlusunnah ada yang mencukupkan dengan jumlah yang sangat sedikit. Artinya dalam kaca mata Teologi Ahlusunnah, pembaitan Abu Balkar di Saqîfah itu sudah memenuhi syarat dan adalah kewajiban atas Imam Ali as. untuk menerimanya, bukan menentangnya!!

[11] Nahjul Balaghah, kuthbah ke.172.

[12] Ansâb al Asyrâf,1/587.

[13] Mizân al I’tidâl,3/109 dan riwayat itu juga disebutkan Ibnu Hajar dalam Lisân al Mizân,4/189.

[14] Ibid.

[15] Usdu al Ghâbah, 3\222 .

[16] Târîkh al Ya’qûbi :2\126 .

[17] Al Ghadir, 3\102 dari al Fishal: 96-97.

[18] Al Kâmil Fi at Târîkh; ‘Izzuddîn Ibnu al Atsîr,2/326. Dâr Shâdir-Beirut.

=======================================================================

Seseorang telah bertanya kepada Imam Ali as, “Jika hak kekhilafahan Anda didasari nash-nash yang jelas, mengapa Anda tidak menuntut hak kekhilafahannya ketika Abu Bakar mengambil alih kekhilafahan setelah Rasulullah Saw wafat?”

Imam Ali as menjawab pertanyaan ini :

“Demi Allah, bukannya aku takut (tidak ada yang menghalangiku dari rasa takut) dan bukan pula aku takut mati, akan tetapi saudaraku, Rasulullah Saw telah mencegahku, seraya berkata kepadaku: “Wahai Abal Hasan, sesungguhnya umat ini akan mengingkari (hak kekhilafahan)mu sedangkan engkau melaksanakan janjiku sebagaimana Harun kepada Musa.”

Aku (Imam Ali) pun bertanya kepada Rasulullah Saw : “Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku apabila hal ini terjadi?”

Nabi Saw menjawab, “Apabila engkau mendapatkan sahabat-sahabat yang menolong maka tahanlah tanganmu dan peliharalah darahmu sampai engkau menyusulku sesudah engkau dizalimi.”

Ima Ali as berkata, “Sesungguhnya aku ini mengambil suri tauladan tujuh para nabi. Yang pertama, adalah Nabi Nuh as yang ketika mengadu kepada Tuhannya :

“Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah.” (QS Al-Qamar [54] ayat 10)

Dan yang kedua, adalah Nabi Ibrahim al-Khalil as yang berkata, “Dan Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah,” (QS Maryam [19] ayat 48)

Dan yang ketiga adalah Nabi Luth as yang mengatakan, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat.” (QS Hud [11] ayat 80)

Dan yang keempat, adalah Nabi Yusuf as yang mengatakan : “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS Yusuf [12] ayat 33)

Dan yang kelima, Nabi Musa as yang berkata, “Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu,” (QS Al-Syu’ara [26] ayat 21)

Dan yang keenam, adalah Nabi Harun as yang berkata kepada Nabi Musa as, “Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku,” (QS Al-A’raf [7] ayat 150)

Adapun yang ke tujuh adalah Rasulullah Saw yang ketika melarikan diri dari kaum Musyrik Quraisy menuju sebuah gua (Tsur).

Seseorang telah bertanya kepada Imam Ali al-Ridha as :
“Mengapa Imam Ali tidak melawan (memerangi) musuh-musuhnya selama 25 tahun sesudah Rasulullah Saw wafat, akan tetapi beliau memerangi mereka saat beliau menjadi khalifah?”

Imam Ali al-Ridha as menjawab :
“Karena beliau mengikuti jejak langkah Rasulullah Saw yang membiarkan kaum musyrikin dan tidak memerangi mereka di Makkah selama 13 tahun setelah kenabiannya. Dan itu beliau lakukan dikarenakan jumlah pendukung beliau masih teramat sedikit. Begitu pulalah yang dilakukan Imam Ali as.

Dan apabila kiat megikuti Al-Quran yang mulia, kita akan menemukan 2 macam argumen yang sangat kuat. Yang pertama adalah al-Quran yang meyuruh beliau bersabar atas gangguan kaum musyrikin :

“Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

(QS Al-Nahl [16] ayat 126)

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS Al-Muzzamil [73] ayat 10)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar.” (QS Al-Ahqaaf [46] ayat 35)

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri.” (QS 52 : 48)

Dan satu macam lagi al-Quran yang mulia menyuruh beliau berperang :

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas.” (QS Muhammad [47] ayat 35)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS Al-Taubah [9] ayat 14)

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka.” (QS Muhammad [47] ayat 4)

Allah telah menyampaikan kepada Nabi-Nya ayat-ayat agar beliau bersabar ketika jumlah sahabat-sahabat beliau belum memadai, namun Dia juga memerintahkan Nabi-Nya menggunakan kekerasan ketika Nabi Saw telah memiliki kekuatan yang seimbang dengan musuh dan menghancurkan para mufsidin sampai ke akar-akarnya. Dan dengan hujjah-hujjah ini, jelaslah bahwa sesungguhnya sabar itu baik dalam beberapa keadaan tertentu, tapi tidak seluruhnya.

(Dikutip dari kitab Al-Syi’ah wa al-Hakimun hlm. 18, yang disusun oleh Muhammad Jawad al-Mughniyyah)

‘Ali bin Abi Thaib (599 – 661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia menjadi menantu Muhammad.

Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi’ah meninggikan kedudukan Ali atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Syi’ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.

Sebagian Sunni yaitu mereka yang menjadi anggota Bani Umayyah dan para pendukungnya memandang Ali sama dengan Sahabat Nabi yang lain.

Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu Anhu (RA) atau semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.

Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri. Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran (duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih dulu memperbaiki pakaiannya.

Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh) atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Seperti pada tarekat Qadiriyyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja’far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.

Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27 tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.

Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan Quraisy Mekkah.

Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Nabi SAW terkesan tidak suka, karena itu mulai memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).

Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.

Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya) kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi’ah dan sebagian riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada Nabi Musa.

Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut atau orang ke 2 yang percaya setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah ‘Ihsan’) atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau Sahabat-sahabat yang lain.

Karena bila ilmu Syari’ah atau hukum-hukum agama Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan kapasitas masing-masing.

Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak.

Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.

Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra yang banyak dinanti para pemuda. Nabi menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan banyak hal lain. 

Perang Badar

 Beberapa saat setelah menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas di tangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.

Perang Khandaq

Perang Khandak juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wud. Dengan satu tebasan pedangnya yang bernama dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.

Perang Khaibar

Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi saw bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, temyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.

Hampir semua peperangan beliau ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.  

Setelah Nabi Wafat

 Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi’ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pem-bai’at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai’at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat

Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

Sebagai Khalifah

 Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut.

Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Beliau meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

Ali memiliki delapan istri setelah meninggalnya Fatimah az-Zahra dan memiliki keseluruhan 36 orang anak. Dua anak laki-lakinya yang terkenal, lahir dari anak Nabi Muhammad, Fatimah, adalah Hasan dan Husain.

Keturunan Ali melalui Fatimah dikenal dengan Syarif atau Sayyid, yang merupakan gelar kehormatan dalam Bahasa Arab, Syarif berarti bangsawan dan Sayyed berarti tuan. Sebagai keturunan langsung dari Muhammad, mereka dihormati oleh Sunni dan Syi’ah.

Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak yang terdiri dari 18 anak laki-laki dan 18 anak perempuan. Sampai saat ini keturunan itu masih tersebar, dan dikenal dengan Alawiyin atau Alawiyah. Sampai saat ini keturunan Ali bin Abi Thalib kerap digelari Sayyid.

Penyebab Perselisihan antara Sunni dengan Syiah

Abu Bakar dan Umar ibn Khattab sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat.

.
Nabi Muhammad adalah IMAM (Pemimpin Negara) untuk masyarakat Madinah. Penduduk Madinah terdiri dari orang2 Nasrani, orang2 Yahudi dan orang2 Muslim setelah Nabi Muhammad mengungsi ke Madinah dari Makkah.

Nabi Muhammad dipilih langsung oleh masyarakat Madinah (Nasrani, Yahudi, Islam dll) sehingga Nabi Muhammad menjadi IMAM (Pemimpin Negara) di Madinah. Masyarakat memilih langsung seorang Pemimpin Negara (IMAM) adalah SUNNAH.
Kaum Syiah menolak BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam); sehingga Kaum Syiah tidak mengakui Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); karena Kaum Syiah memperjuangkan negara IMAMAH. ,

menolak ALLAH (AlQuran) dan RASUL (hadith/Sunnah) adalah dosa besar, sehingga wajar syi’ah kerap mengkritik sahabat Nabi SAW agar umat tidak sesat …

ALQURAN 33:72
Sesungguhnya manusia itu sangat jahat (dzalim) dan sangat bodoh.

SHOHIH BUKHARI, kitab 56 no 795
Uqba ibn Amr melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Demi ALLAH, saya tidak takut kamu akan kembali menjadi orang2 musyrik; tetapi saya sangat takut, kamu akan saling membunuh untuk mendapatkan dunia ini (harta dan kekuasaan)!”

SHOHIH MUSLIM, Kitab Al Wasiyyah no 4016
Pada hari Kamis malam; ketika Rasulullah sedang sakit menghadapi maut, beberapa sahabat berkumpul di rumah Aisyah untuk membesuk Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Berikanlah saya kerta dan pena, karena saya akan membuat surat wasiat sehingga kamu tidak tersesat setelah kepergianku!”

Umar ibn Khattab berkata: “Kita memiliki AlQuran; sudah cukup untuk kita AlQuran!”

Mayoritas sahabat tidak setuju dengan pendapat Umar ibn Khattab; sehingga terjadi pedebatan dengan suara keras di antara mereka. Rasulullah bertambah menderita mendengarkan perdebatan di antara para sahabat.

Rasulullah berkata: “Pergilah kamu semua keluar!”

Keadaan Rasulullah bertambah parah; sehingga Rasulullah wafat tanpa menulis surat wasiat

ALQURAN 4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasul…..

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab mencegah para sahabat yang lain memberikan kertas dan pena; sehingga Rasulullah bisa meninggalkan surat wasiat?

ALQURAN 49:2
Hai orang orang yang beriman; janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih tinggi dari pada suara Nabi; dan janganlah kamu bersuara keras seperti suara keras di antara kamu; supaya tidak terhapus pahala kamu tanpa kamu sadari

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak menghormati Rasulullah; sehingga dia memulai pedebatan dengan suara yang keras?
Benar 100 % dan setuju 100%, maka kita sebaiknya merujuk kepada Ahadith lain yang tertulis di dalam Kutub Sihah Sittah (Bukhari, Muslim, Tarmidzi, Ibn Majah, Abu Dawud dan Nasaii)

SUNAN ABU DAWUD, Kitab AL Kharaj,
Bab tentang pembagian 1/5 yang diamil oleh Rasulullah untuk Ahlul Bait no 2978

Ali ibn Abu Tholib berkata: “Saya, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithat mendatangi Rasulullah.

Kami berkata: “Sebaiknya anda segera membuat surat wasiat untuk pembagian harta rampasan perang (Fai) sesuai petunjuk yang tertulis di dalam AlQuran; supaya tidak ada perselisihan antara kami (Ahlul Bait) dengan orang2 lain setelah kepergianmu!”

Rasulullah berkata: “Saya akan memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan saya, surat wasiat segera!”

PERTANYAAN

Kenapa Abu Bakr tidak melaksanakan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr segara membuatkan Rasulullah surat wasiat?

ALQURAN 2:180
Diwajibkan atas kam, jika datang tanda tanda maut, jika dia meninggalkan harta untuk menulis surat wasiat….

ALQURAN 2:240
dan mereka yang akan meninggal dunia di antara kamu, dan meninggalkan istri. Maka tulislah surat wasiat…..

Tidak mungkin Rasulullah melanggar ayat ayat ALLAH yang tertulis di dalam AlQuran sesuai pendapat antum.

Jauh jauh hari sebelum datang tanda tanda Maut, Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan surat wasiat, karena desakan Ali ibn Abu Tholib, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithah.

Rasulullah telah melaksanakan perintah ALLAH terhadpa kewajiban menulis surat wasiat; tetapi Abu Bakar sengaja mengabaikan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr tidak membuatkan Rasulullah surat wasiat.

Umar ibn Khattab sengaja menghalangi para sahabat untuk membuatkan Surat Wasiat sesaui dengan permintaan Rasululah.

Dan kalo menurut saya… Kalo kejadian ini disebut sebagai Penyebab Perselisihan antara Sunni dengan Syiah…
Kaum Sunni fanatik buta membela semua kesalahan yang telah dilakukan oleh para sahabat. Kaum Syiah rajin membela Rasulullah dan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka); karena kecintaan Kaum Syiah kepada Rasululah dan Ahlul Bait

.
SUNAN ABU DAWUD, Kitab AL Kharaj,
Bab tentang pembagian 1/5 yang diamil oleh Rasulullah untuk Ahlul Bait no 2978

Ali ibn Abu Tholib berkata: “Saya, Al Abbas, Fatimah binti Muhammad dan Zaid ibn Harithat mendatangi Rasulullah.

Kami berkata: “Sebaiknya anda segera membuat surat wasiat untuk pembagian harta rampasan perang (Fai) sesuai petunjuk yang tertulis di dalam AlQuran; supaya tidak ada perselisihan antara kami (Ahlul Bait) dengan orang2 lain setelah kepergianmu!”

Rasulullah berkata: “Saya akan memerintahkan Abu Bakr untuk membuatkan saya, surat wasiat segera!”

PERTANYAAN

Kenapa Abu Bakr tidak melaksanakan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr segara membuatkan Rasulullah surat wasiat?

ALQURAN 2:180
Diwajibkan atas kamu, jika datang tanda tanda maut, jika dia meninggalkan harta untuk menulis surat wasiat….

ALQURAN 2:240
dan mereka yang akan meninggal dunia di antara kamu, dan meninggalkan istri. Maka tulislah surat wasiat…..

Rasulullah telah melaksanakan perintah ALLAH terhadpa kewajiban menulis surat wasiat; tetapi Abu Bak sengaja mengabaikan perintah Rasulullah; sehingga Abu Bakr tidak membuatkan Rasulullah surat wasiat.

Umar ibn Khattab sengaja menghalangi para sahabat untuk membuatkan Surat Wasiat sesaui dengan permintaan Rasululah.

SHOHIH MUSLIM, Kitab Al Wasiyyah no 4016
Pada hari Kamis malam; ketika Rasulullah sedang sakit menghadapi maut, beberapa sahabat berkumpul di rumah Aisyah untuk membesuk Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Berikanlah saya kerta dan pena, karena saya akan membuat surat wasiat sehingga kamu tidak tersesat setelah kepergianku!”

Umar ibn Khattab berkata: “Kita memiliki AlQuran; sudah cukup untuk kita AlQuran!”

Mayoritas sahabat tidak setuju dengan pendapat Umar ibn Khattab; sehingga terjadi pedebatan dengan suara keras di antara mereka. Rasulullah bertambah menderita mendengarkan perdebatan di antara para sahabat.

Rasulullah berkata: “Pergilah kamu semua keluar!”

Keadaan Rasulullah bertambah parah; sehingga Rasulullah wafat tanpa menulis surat wasiat

ALQURAN 4:59
Hai orang2 yang beriman; taatilah ALLAH dan taatilah Rasul…..

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak mentaati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab mencegah para sahabat yang lain memberikan kertas dan pena; sehingga Rasulullah bisa meninggalkan surat wasiat?

ALQURAN 49:2
Hai orang orang yang beriman; janganlah kamu meninggikan suara kamu lebih tinggi dari pada suara Nabi; dan janganlah kamu bersuara keras seperti suara keras di antara kamu; supaya tidak terhapus pahala kamu tanpa kamu sadari

PERTANYAAN

Kenapa Umar ibn Khattab tidak menghormati Rasulullah; sehingga Umar ibn Khattab memulai pedebatan dengan suara yang keras?

Suara yang keras telah menyebabkan Rasulullah sangat menderita sebelum wafat; dan Rasulullah tidak dapat membuatkan surat wasiat.

SHOHIH MUSLIM, Kitab keutamaan para sahabat; terutama keutamaan Ali ibn Abu Tholib
Rasulullah berkata: “Kedudukan Ali ibn Abu Tholib dengan saya, sama dengan kedudukan Harun dengan Musa, keucali tidak ada nabi baru setelah saya!”

Ketika Musa pergi atau wafat; maka Harun menggantikan Musa. Begitu juga setelah Nabi Muhammad pergi atau wafat; maka Ali ibn Abu Tholib wajib menggantikan Rasulullah; sesuai dengan kehendak Rasulullah sendiri.

Abu Bakr & Umar ibn Khattab adalah orang2 yang sangat pintar; sehigga mereka sangat berambisi menggantikan Rasulullah. Mereka melakukan Kolusi, Konspirasi, Kecurangan dengan semua cara; termasuk tidak mentaati Rasulullah; ketika Rasulullah hendak membuat surat wasiat.

Abu Bakr & Umar ibn Khattab sengaja tidak mentaati Rasulullah; supaya Rasulullah tidak dapat membuat surat wasiat; karena mereka takut Rasulullah menyebutkan nama Ali ibn Abu Tholib sebagai pengganti Rasulullah di dalam surat wasiat tersebut.

Kolusi, Konspirasi, Kecurangan telah dilakukan oleh Abu Bakr dan Umar ibn Khattab untuk memdapatkan kekuasaan; sejak Rasulullah masih hidub.
SHOHIH BUKHARI, Kitab 43 no 642
Umar ibn Khattab melaporkan bahwa ALLAH mewafatkan Rasulullah, kemudian Kaum Ansar berkumpul di Saqifa (beranda, ruang tamu) di dalam rumah Bani Saida.

Saya berkata kepada Abu Bakr: “Marilah kita ke sana!”
maka kami berdua pergi ke Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida

SHOHIH BUKHARI, kitab 59 no 356
Umar ibn Khattab berkata: “Ketika Rasulullah wafat saya mengajak Abu Bakr untuk bertemu dengan Kaum Anshor.

Kami bertemu dengan Uwaim ibn Saida dan Manbin Adi yang ikut berperang membantu Rasulullah pada perang Badar; di dalam perjalanan ke Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida!”

SHOHIH BUKHARI, Kitab 57 no 19
Masyarakat sangat sedih dan menangis dengan keras (setelah mengetahui bahwa Rasulullah telah wafat) dan Anshar berkumpul dengan Sad Ibn Ubada di dalam Saqifa (beranda, ruang tamu) yang dimiliki oleh Bani Saida.

Muhajirin berkata: “Sebaiknya ada seorang pemimpin dari kami; dan ada seorang pemimpin dari kamu!”

Kemudian Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Abu Baida bin AL Jarrah bergabung dengan mereka. Umar ibn Khattab menghendaki Abu Bakr berbicara kepada mereka; tetapi Abu Bakr menolak.

Umar ibn Khattab berkata: “Demi Tuhan, saya hanya bermaksut untuk menyampakan pendapatku dan saya takut Abu Bakr tidak dapat berbicara dengan baik dan jelas!”

Abu Bakr berkata: “Kami (Muhajirin atau para sahabat dari Makkah) adalah para pemimpin dan kamu (Anshor atau para sahabat dari Madinah) adalah para pembantu (mentri mentri negara)

Hubab ibn Mudhir berkata: “Tidak, kami tidak dapat menerimanya; tetapi seorang pemimpin harus datang dari kami dan seorang pemimpin dari kamu!”

Abu Bakr berkata: “Tidak. Semua pemimpin harus dari kami (Muhajirin atau para sahabat dari Makkah) dan semua mentri mentri negara (para pembantu pemimpin) dari Kamu (Anshor atau para sahabat dari Madinah), karena Kaum Quraish adalah orang2 yang terbaik di antara suku suku Arab. Kamu harus memilih Umar ibn Khattab atau Ubaida ibn Al Jarrah sebagai pemimpin kamu!”

Umar ibn Khattab berkata kepada Abu Bakr: “Tidak, tetapi kita semua harus memilih kamu (Abu Bakr) sebagai pemimpin kita; karena kamu orang yang terbaik di antara kita dan kamu memiliki hubungan yang baik dengan Rasulullah!”

Kemudian Umar ibn Khattab mengangkat tangan Abu Bakr dan memilih Abu Bakr sebagai pemimpinnya; dan orang2 dari Makkah mulai memilih Abu Bakr sebagai pemimpin mereka.

Ketika Musa pergi dan/atau wafat maka Harun menggantikan Musa. Jika Nabi Muhammad wafat maka Ali ibn Abu Tholib wajib menggantikan Nabi Muhammad berdasarkan Hadith tersebut.

Kita mengetahui bahwa Rasulullah telah memilih Ali ibn Abu Tholib sebagai pengganti Rasulullah berdasarkan Hadith t; tetapi Abu Bakr hendak menjadi pengganti Rasulullah (Khalifah Rasulullah) dan Umar ibn Khattab hendak menjadi pengganti Khalifah (Khalifah Khalifah).

Maka Abu Bakr dan Umar ibn Khattab mencegah Rasulullah untuk membuat Surat Wasiat; ketika Rasulullah masih hidub.

Abu Bakr dan Umar ibn Khattab juga melakukan kecurangan2 dengan cara melakukan Pemilihan Umum rahasia di Saqifa (beranda, ruang tamu) di dalam rumah Bani Saidah; dan di dalam Masjid beberapa hari setelah Rasulullah wafat; tanpa dihadiri oleh mayoritas sahabat dan tanpa dihadiri oleh Ahlul Bait (anggota2 keluarga nabi Muhammad).
Setelah Rasulullah wafat; terjadi perbedaan pendapat (perselisihan) antara Ahlul Bait (Ali, Fatimah binti Muhammad) dengan Abu Bakr & Umar ibn Khattab; sehingga hubungan antara Ahlul Bait dengan Abu Bakr & Umar ibn Khattab menjadi tidak baik (kaku, tegang, tidak harmonis dll) selama 6 bulan setelah Rasulullah wafat.

Marilah kita menggunakan kepala dinggin untuk mengerti; sehingga kita semua dapat mengambil pelajaran dan manfaat dari perdebatan pendapat (perselisihan) di antara Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka) dengan Abu Bakr dan Umar ibn Khattab; dan supaya kita dapat mengerti Islam dengan baik dan benar.

SHOHiH BUKHARI, Kitab 59 no 546

Aisyah binti Abu Bakr melaporkan:

“Fatimah binti Muhammad datang ke Abu Bakr untuk meminta harta warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah sebagai KHUMUS dan FAI (rampasan perang) di Madinah, di Fadak dan Khaibar.

Abu Bakr berkata: “Rasulullah tidak mewarisan hartanya; karena semua harta yang ditinggalkan oleh Rasulullah menjadi Sodaqoh dan Zakat. Ahlul Bait dapat makan dari Sodaqoh dan Zakat.

Demi ALLAH, saya tidak akan mengubah Sodaqoh dan Zakat yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah; sehingga saya menolak mengembalikannya kepada Fatimah binti Muhammad.

Fatimah binti Muhammad sangat marah kepada Abu Bakr dan dia tidak berbicara kepada Abu Bakr sampai dia wafat. Fatimah binti Muhammad wafat 6 bulan setelah Rasulullah wafat. Ketika Fatimah wafat; Ali ibn Abu Tholib menguburkannya di malam hari supaya Abu Bakr tidak mengetahuinya.

Beberapa hari setelah penguburan Fatimah binti Muhammad; Ali ibn Tholib berusah memperbaiki hubungan antara Ahlul Bait dengan Abu Bakr dan Umar ibn Khattab untuk menjaga persatuan ummat Islam.

Ali ibn Abu Tholib mengirimkan anaknya kepada Abu Bakr untuk memanggil Abu Bakr datang ke rumah Ali ibn Abu Tholib.

Ali ibn Abu Tholib menulis: “Datanglah ke rumah kami sediri, karena Ali ibn Abu Tholib tidak menghendaki Umar ibn Khattab datang ke rumahnya!”

Umar ibn Khattab berkata (kepada Abu Bakr): “Tidak, demi Tuhan, kamu tidak boleh datang sendiri kesana!”

Abu Bakr berakta: “Jangalah kamu berburuk sangka, apakah yang akan mereka lalukan kepada saya? Demi Tuhan, saya akan datang sendiri kesana!”

Abu Bakr datang ke rumah Ali ibn Abu Tholib dan Ali ibn Abu Tholib menyambut Abu Bakr dengan baik, sopan-santun dan ramah tamah.

Ali ibn Abu Tholib membacakan Sholawat dan berkata: “Kami menghormati kekuasaan yang berada di tangan kamu; kami tidak cemburu kepada kekuasaan yang telah diberikan oleh ALLAH kepada kamu; tetapi kami kecewa karena kamu tidak melakukan musyawarah kepada kami sebelum kamu mengambil kekuasaan tersebut. Padahal kami lebih berkah berkuasa sesuai dengan kehendak Rasulullah sendiri!”

Abu Bakr sangat menyesali perbuatannya dan memohon maaf kepada Ali ibn Abu Tholib dan menangis dengan sungguh sungguh.

Abu Bakr berkata: “Kedudukan Ahlul Bait (Ali, Fatimah dan keturunan mereka) lebih dekat di dalam hati saya dari pada kedudukan keluarga saya sendiri.

Permasalahan yang timbul di antara saya dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) tentang harta warisan dan tentang kekuasaan disebabkan oleh keputusan saya sendiri. Saya berusaha membagikan Sodaqoh dan Zakat sesuai dengan Rasululalh membagikan Sodaqoh dan Zakat!”

Setelah selesai Sholat Zuhur di dalam Masjid; Ali ibn Abu Tholib naik ke atas mimbar dan memberikan keterangan.

Ali ibn Abu Tholib berkata setelah mengucapkan Sholawat: “Ali ibn Abu Tholib menerangkan bahwa Ahlul Bait tidak mendukung Abu Bakr setelah Rasulullah wafat; bukan kerana kecemburuan; tetapi karena tidak ada musyawarah ketika Abu Bakr mengambil kekuasaan sebagai Pemimpin Negara. Padahal Rasulullah sendiri menghendaki Ahlul Bait yang menggantikannya!”
Mayoritas sahabat dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) sedang sibuk mengurus penguburan Rasulullah; tetapi minoritas sahabat memperebutkan kekuasaan dengan cara KECURANGAN (Kolusi, Nepotism dan Kolusi) untuk menjadi IMAM (pemimpin) sebagai Khalifah Rasulullah (Pengganti Utusan Tuhan).
SHOHIH MUSLIM, Kitab keutamaan para sahabat; terutama keutamaan Ali ibn Abu Tholib
Rasulullah berkata: “Saya akan meninggalkan 2 perkara untuk kamu semua; supaya kamu semua tidak tersesat setelah kepergianku. Pertama adalah AlQuran dan ke dua adalah Ahlul Baitku (Ali, Fatimah dan keturunan mereka)!”

Kesalahan antum sangat fatal; karena antum menolak ALLAH (AlQuran) dan menolak RASUL (Hadith/Sunnah); tetapi antum menerima BIDAH (IJMA’ SAHABAT) yang diciptakan oleh para sahabat tertentu.

Ketika Abu Bakr dan Umar ibn Khattab membuat BIDAH yang bernama Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam), mayoritas sahabat termasuk Ali ibn Abu Tholib sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah. BIDAH yang diciptakan dan yang dipelopori oleh Abu Bakr dan Umar ibn Khattab

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.”

Walaupun Imami Ali membai’at ABUBAKAR SECARA THE FACTO, Bukan berarti menyetujui SECARA YURiDIS kekhalifahan non ahlul bait

Khalifah = Pengganti.

Khalifah Rasulullah = Pengganti Utusan Tuhan, ini hak yuridis Imam Ali.

Beberapa sahabat terus menolak Abu Bakr sebagai Khalifah walaupun Ali ibn Abu Tholib telah mengakui Abu Bakr sebagai Khalifah (raja yang beragama Islam); sehingga sahabat tersebut menolak membayar zakat untuk Abu Bakr.

Abu Bakr mengeluarkan Fatawa untuk mengkafirkan para sahabat yang menolak membayar zakat kepada Abu Bakr dan memutuskan untuk membunuh para sahabat di dalam perang Riddah dan perang Yamamah.

Para sahabat banyak yang menolak bentuk negara Khalifah Islamiyyah (Kerajaan Islam) yang dipimpin oleh Abu Bakr, Umar ibn Khattab dan Uthman ibn Affan; karena bentuk negara berdasarkan AlQuran dan Hadith/Sunnah adalah IMAMAH

.
ALQURAN 4:93
Barangsiapa yang membunuh Mukmin (orang yang beriman) dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam. Pembunuhnya akan kekal berada di dalamnya; karena ALLAH sangat murka kepadanya; dan menyediakan sisksaan yang sangat pedih

SHOHIH BUKHARI, Kitab 23 no 428
Rasulullah berkata: “Demi Tuhan, saya tidak takut kamu akan menyembah Tuhan Tuhan lain selain ALLAH; tetapi saya takut kamu akan membunuh satu dengan lainya untuk mendapatkan dunia ini (Harta atau Kekuasaan)!”

.
SHOHIH MUSLIM, Kitab Iman no 160
Ubaidullah ibn Abu Bakr melaporkan bahwa Rasulullah berkata: “Janganlah kamu membunuh seorang muslim dengan sengaja; kecuali menuntut keadilan; supaya kamu tidak dikafirkan oleh ALLAH!”
.

Mayoritas sahabat dan Ahlul Bait (anggota2 keluarga Rasulullah) sedang sibuk mengurus penguburan Rasulullah; tetapi minoritas sahabat memperebutkan kekuasaan dengan cara KECURANGAN (Kolusi, Nepotism dan Kolusi) untuk menjadi IMAM (pemimpin) sebagai Khalifah Rasulullah (Pengganti Utusan Tuhan)

.

‘Ali tetap berkeyakinan bahwa “Imamah adalah haknya”. Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun.. Inilah akidah syi’ah !! Baladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.”

Sebagian sejarawan menyebutkan: “Pada suatu hari Umar bin Khatthab mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Mengapa sampai saat ini engkau belum mengambil baiat dari si pembangkang, Ali bin Abi Thalib Wahai Abu Bakar? Kau tidak akan dapat melakukan apapun bila Ali belum melakukan baiat kepadamu! Utus pasukan kepadanya sehingga ia berbaiat kepadamu”.

Abu Bakar dan kroninya sepakat untuk memaksa Ali agar berbaiat kepadanya. Mereka mengirim sebuah pasukan berkekuatan penuh mengepung rumahnya dan masuk ke dalam rumah Ali secara paksa.[43] Mereka menyeretnya keluar dengan cara yang tidak pantas. Nabi menyifatinya sebagai pembantu utamanya seperti dalam hadis, “Engkau di sisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya tidak ada nabi sepeninggalku”.

Mereka membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berteriak dengan suara keras sambil memaksanya: “Lakukan baiat kepada Abu Bakar!” Ali menjawab dengan logika yang kokoh dan penuh keberanian: “Aku lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan kalian. Aku tidak akan berbaiat kepada kalian. Lebih tepat kalian berbaiat kepadaku. Kalian telah merampas kekhalifahan dari kaum Anshar dengan argumentasi kedekatan kekeluargaan kalian dengan Rasulullah saw. Apakah kalian ingin mengambilnya pula secara paksa dari kami Ahlul Bait Nabi dengan argumentasi yang sama?! Apakah kalian tidak berdalil di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak untuk memimpin dibandingkan mereka, karena Muhammad saw. adalah dari kalian dan karenanya mereka menyerahkan kepemimpinan kepada kalian? Sekarang aku juga ingin berargumentasi dengan cara yang telah kalian lakukan terhadap kaum Anshar. Kami lebih layak dan dekat kepada Rasulullah saw; baik semasa ia hidup atau sepeninggalnya. Bersikaplah adil bila kalian masih beriman! Bila tidak, lakukan kezaliman yang kalian inginkan sementara kalian tahu apa balasannya nanti!”[44]

Penjelasan tegas yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib a.s. akan kebenaran sebagai kendaraan politiknya tidak begitu saja diterima oleh penguasa waktu itu, sekalipun sudah tidak berdaya untuk menjawab tantangan argumentasinya. Untuk sesaat, semua terdiam. Namun setelah itu, Umar bin Khatthab bangkit dan terpaksa menggunakan jalan kekerasan sambil berkata kepada Ali: “Engkau tidak akan kami biarkan hidup sampai melakukan baiat kepada Abu Bakar”. Ali a.s. tetap tidak bergeming dengan pendiriannya dan menjawab: “Wahai Umar! Engkau telah memeras dengan sungguh-sungguh segala kecerdikan yang kau miliki. Mulai hari ini persiapkan masalah ini (kekhalifahan) untuk dirimu, karena mungkin masalah kekhalifahan menjadi bagianmu kelak. Demi Allah! Wahai Umar, aku tidak mengikuti omonganmu dan tidak akan membaiat Abu Bakar”.[45]

Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menyingkap kedok rahasia perjuangan Umar dan semangatnya untuk mendapat baiat dari Ali. Sikapnya selama ini ialah setelah Abu Bakar, kekhalifahan akan jatuh ke tangannya.

Abu Bakar sendiri khawatir kejadian akan berkembang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Ia takut akan kemarahan Ali. Akhirnya ia berkata: “Bila engkau tidak ingin membaiatku, aku tidak akan memaksamu”. Namun pada saat itu, Abu Ubaidah bin Al-Harraj berusaha untuk tetap menundukkan Ali sebagai caranya untuk merebut hati Abu Bakar dengan perkataanya:

“Wahai anak pamanku! usiamu masih belum seberapa dibandingkan dengan mereka yang telah berumur. Engkau masih muda dan belum punya banyak pengalaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan. Yang kutahu, dalam masalah ini Abu Bakar lebih baik dibandingkan engkau. Di samping itu, Abu Bakar lebih luas pengetahuannya dibanding denganmu. Serahkan saja urusan pemerintahan ini kepada Abu Bakar! Bila engkau masih hidup dan diberi umur panjang, pada waktu itu engkau yang lebih tepat untuk memerintah karena keutamaan, agama, ilmu, pemahaman, pengalaman, keturunan dan hubungan dekatmu berkat perkawinan”.[46]

Puncaknya ungkapan-ungkapan politis semacam ini hanya untuk mengelabui orang lain. Namun tentunya, ini tidak akan berpengaruh bila diucapkan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali tidak kehilangan kesadarannya, bahkan jiwanya merasa tertusuk dengan penyimpangan yang telah terjadi ini. Akhirnya ia berdiri dan berpidato di hadapan kelompok Abu Bakar untuk mengingatkan mereka akan kesalahan yang telah diperbuat.

Ali berkata: “Takutlah kepada Allah wahai kaum Muhajirin! Jangan kalian keluarkan kekuasaan Muhammad di Arab dari dalam rumahnya ke rumah kalian. Jangan kalian hempaskan keluarga Muhammad dari posisinya yang sah dan dari manusia. Demi Allah! Wahai kaum Muhajirin, kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan manusia yang lain, karena kami adalah Ahlul Bait Nabi. Kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan dengan kalian. Kami adalah orang yang membaca Kitab Allah. Kami adalah orang yang memahami dengan benar agama Allah. Kami adalah orang yang mengenal betul sunah-sunah Nabi Muhammad saw. Kami lebih faham masalah kemasyarakatan. Kami adalah orang yang akan menjauhkan keburukan dari kalian. Kami adalah pemutus yang adil. Demi Allah! Semua ini ada pada kami. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membuat kalian sesat dan celaka dari jalan Allah, dan semakin kalian berjalan akan semakin jauh dari kebenaran”.[47]

Diriwayatkan bahwa Fathimah, putri Nabi, keluar mengikuti Ali bin Abi Thalib dari belakang. Ia khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Fathimah a.s. keluar sambil menggandeng kedua tangan anaknya; Hasan dan Husein a.s. Melihat itu, Bani Hasyim keluar bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia menantang mereka dan akan menyumpahi mereka bila tidak meninggalkan Ali. Fathimah a.s. berkata: “Lepaskan anak pamanku! Bebaskan suamiku! Demi Allah! Aku akan membuka kain penutup kepalaku dan membiarkan rambutku tergerai dan akan kuletakkan pakaian ayahku di atas kepalaku dan aku akan menyumpahi kalian! Unta Nabi Saleh tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding denganku. Anaknya tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding anakku”.[48]

Ali dan Kesulitan-kesulitan Pasca Saqifah

Bila sikap dan posisi Ali bin Abi Thalib membuat semua orang merasa takut, maka sikap dan posisinya terhadap kekhalifahan setelah Rasulullah saw. adalah yang paling menakutkan. Inayah ilahiyah menginginkan di setiap zaman ada pahlawan yang mengorbankan jiwanya untuk menegakkan dan memuliakan prinsipnya. Hal inilah yang mendorong Ali untuk tidur di atas pembaringan maut dan untuk berhijrah mengikuti Nabi ke Madinah. Ujian yang masih belum dilakukannya adalah mengorbankan kedua anak laki-lakinya; Hasan dan Husein.

Ali tidak mengorbankan kedua anaknya dalam peristiwa kekhalifahan agar kembali kepada arahnya yang tepat dan benar, karena ia tahu betul bahwa itu tidak lagi menyisakan seseorang yang melanjutkan pesan wahyu dari sisi yang lain. Kedua cucu Nabi adalah anak kecil yang belum disiapkan untuk masalah khilafah saat ini.

Ali bin Abi Thalib memiliki kesiapan penuh untuk menjadikan dirinya sebagai korban demi prinsip Islam di setiap periode kehidupannya, sejak dilahirkan di dalam Ka’bah hingga menjadi syahid di masjid Kufah. Ia telah mengorbankan dirinya demi posisi yang telah disahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan menerima kenyataan untuk tidak berkuasa sebagai khalifah zhahir dalam rangka kemaslahatan utama umat Islam. Hal itu juga lantaran Rasulullah telah menyebutnya sebagai pengemban wasiat dan penjaga umat dan agama.

Ali bin Abi Thalib berada di persimpangan jalan yang semua arahnya menyulitkan dirinya:

1. Ali harus membaiat Abu Bakar. Kondisi Ali dalam masalah pembaiatan tidak berbeda jauh dengan sebagian kaum muslimin yang lain. Dan pada saat yang sama, ia harus melindungi diri, kepentingan pribadi, masa depan yang baik dan dihormati oleh aparat pemerintah. Namun, ini tentu tidak mungkin; di mana kedua-duanya bakal diraihnya. Membaiat Abu Bakar dan mengakui kekuasaannya artinya menyimpang dan meninggalkan perintah Rasullah saw. yang pada gilirannya, berakibat penyimpangan khilafah dan kepemimpinan dari jalannya yang sah dan dari makna hakikinya hingga akhir zaman. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan dirinya sendiri untuk menguatkan sendi-sendi Islam dan khilafah islamiyah menjadi sia-sia, yang pada akhirnya terjadi penyimpangan peradaban Islam yang telah dibangun selama ini secara seksama dan merata.

2. Ali mengambil sikap diam, sekalipun dari kecil mengganggu matanya dan tenggorokannya. Ia harus berusaha untuk bersikap arif dan bijaksana agar tetap dapat menjaga eksistensi Islam sekaligus melindungi kaum muslimin, sekalipun ia harus rela menunggu hasil usahanya lebih lambat.

3. Ali mengumumkan pemberontakan bersenjata terhadap kepemimpinan Abu Bakar dengan mengajak kaum muslimin untuk membantunya menghadapi khalifah yang berkuasa.

Seandainya opsi ketiga dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu melakukan gerakan bersenjata, apa yang bakal didapatkannya? Kondisi inilah yang ingin dicoba untuk dianalisa sesuai dengan kondisi sejarah yang sulit waktu itu.

Tidak sesederhana itu bila para penguasa langsung turun dari tahtanya dengan sedikit pemberontakan yang dihadapi, apa lagi dengan melihat kenyataan bahwa mereka sangat rakus dengan yang namanya kekuasaan. Artinya, mereka pasti dengan sekuat tenaga berusaha untuk membela dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Pada saat seperti itu, sangat logis bila Saad bin Ubadah akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk juga mengumumkan perang lainnya guna memenuhi hawa nafsunya untuk menguasai kekuasaan.

Analisa ini muncul ketika Saad mengancam kelompok terpilih sebagai penguasa, Abu Bakar, untuk memerangi mereka bila ia dituntut untuk memberikan baiat. Ia sempat berkata: “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan memberikan baiat hingga aku memerangi kalian dengan panah-panahku yang kucat ujungnya dengan darah kalian. Aku akan memerangi kalian dengan pedangku dan membunuh kalian satu persatu bersama keluargaku dan mereka yang masih taat kepadaku. Seandainya Semua manusia dan jin berkumpul dan membela kalian aku tidak akan melakukan baiat”.[49]

Kemungkinan yang paling bisa dilakukan oleh Sa’ad bin Ubadah ialah menyiapkan diri untuk melakukan kudeta. Hanya saja, ia tidak berani menjadi orang pertama yang mengangkat senjata. Ia merasa cukup dengan ancaman kerasnya sebagai pewrnyataan perang. Ia menanti buruknya kondisi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menentang khalifah terpilih. Ia bebas kapan saja melakukan kudeta saat melihat kelompok penguasa menjadi lemah dan ada kelompok kuat lainnya yang ingin juga mengkudeta pemerintah. Pada saat itu, ia berharap dapat mengusir kaum Muhajirin dari Madinah atau menghabisi mereka di sana,[50] sebagaimana diungkapkan di Saqifah.

Perlu dicatat bahwa masih ada kelompok Bani Umayyah yang menanti posisi dan kekuasaan. Mereka masih punya pengaruh yang besar di Mekkah sejak tahun-tahun Jahiliyah terakhir; bagaimana Abu Sufyan sebagai pemimpin mereka menentang dan ingin menghancurkan Islam. Di sisinya, ada wakil yang benar-benar taat kepadanya. Ia bernama Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah.

Bila direnungkan kejadian di hari-hari itu,[51] kabar wafatnya Rasulullah saw. telah sampai ke Mekkah di bawah pemerintahan Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah. Ia menyembunyikan kabar tersebut sementara di Madinah terjadi kegelisahan, dan itu hampir membuat penduduk Mekkah menjadi murtad. Tentunya, tidak ada yang rela terhadap penyebab kemurtadan mereka. Kemurtadan itu berawal dari kemenangan Abu Bakar yang sekaligus menunjukkan kemenangan mereka atas penduduk kota Madinah sebagaimana sebagian peneliti menjelaskan hal itu, karena Abu bakar menjadi khalifah pada hari Rasulullah wafat.

Kemungkinan besar, kabar Abu Bakar menjadi khalifah datang bersamaan dengan kabar wafatnya Nabi. Sebab kejadian itu dapat disebutkan dengan penjelasan ini: Gubernur yang diangkat oleh dinasti Umaiyah ‘Itab bin Usaid berusaha untuk menjelaskan sikap politis yang diyakini oleh Bani Umayyah waktu itu. Ia menyembunyikan kabar kemenangan Abu Bakar dan menyebarkan kematian Rasulullah saw. Pada awalnya ia berusaha menyembunyikan kabar ini karena tahu bahwa Abu Sufyan kecewa dengan sikap dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Kabar itu kemudian disebarkan setelah tahu kerelaan Abu Sufya setelah terjadi pertemuan yang menghasilkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan dinasti Umayah. [52]

Dengan demikian, hubungan politis antara tokoh-tokoh Umawiyah dengan pemerintahan terpilih mulai terbangun sejak saat itu. Ini memberikan penafsiran adanya sebuah kekuatan yang tersimpan di balik ucapan-ucapan Abu Sufyan, yaitu ketika ia kecewa kepada Abu Bakar dan teman-temannya. Abu Sufyan berkata: “Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Dan ia berkata tentang Ali bin Abi Thalib dan Abbas: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, akan kuangkat tangan keduanya menjadi pemimpin”.[53]

Bani Umayyah telah mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta, dan Ali bin Abi Thalib a.s. mengetahui niat mereka yang diungkapkan dalam kejadian Saqifah. Di samping itu, Ali tahu bahwa mereka orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Yang mereka inginkan adalah kepentingan pribadi. Oleh karenanya, Ali menolak permintaan Bani Umayyah. Sejak saat itu Bani Umayyah menanti perpecahan; ketika kelompok-kelompok bersenjata melakukan peperangan. Mereka tidak pernah yakin akan kemampuan pemerintah untuk menjamin kepentingan mereka. Dan makna pemisahan mereka dari jamaah pada waktu itu adalah sebuah pengumuman keluarnya mereka dari agama dan memisahkan Mekkah dari Madinah.

Dengan demikian, bila pada masa itu kelompok Ali bin Abi Thalib melakukan pemberontakan menentang penguasa yang mengambilnya haknya, akan terjadi pertumpahan darah yang diikuti oleh banyak kepentingan, dan pada saat yang sama, memberikan peluang kepada mereka yang menghendaki terjadinya fitnah dan kaum munafikin akan memanfaatkan situasi.

Kondisi yang sulit ini tidak memberikan kesempatan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengangkat suaranya melawan penguasa, karena yang akan terjadi adalah pertumpahan darah dan pembunuhan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Akibatnya eksistensi Islam akan lenyap pada saat-saat kaum muslimin perlu berlindung di balik satu kepemimpinan. Kaum muslimin perlu memusatkan kekuatannya untuk mencegah terjadinya fitnah dan kudeta.[54]

Mempertimbangkan kondisi demikian ini, Ali harus memilih jalan tengah yang dapat mewujudkan sebesar mungkin tujuan risalah yang diembannya.

Dari sini dapat diketahui bahwa Rasulullah saw. telah menyiapkan dua garis acuan atau sebuah acuan yang memiliki dua tahap.

Tahap pertama, pengangkatan Ali sebagai imam dan khalifah secara resmi dengan pengumuman resmi dan pengambilan baiat dari kaum muslimin di hari Ghadir Khum. Rasul sebagai pemimpin politik diakui sepanjang sejarah oleh orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Nabi memiliki pandangan yang tajam dan jauh ke depan. Keinginannya akan kebaikan umatnya dan hubungannya yang terus menerus dengan alam gaib dan ilmu ilahi yang berwujud syariat Islam sebagai penutup segala syariat, merupakan tujuan risalah ilahi yang dapat terwujudkan secara keseluruhan.

Dari sini dan dari sisi pengetahuannya akan seberapa besar kesadaran umat Islam akan risalah Islam di zamannya dan seberapa besar peleburan sikap mereka dengan nilai-nilai risalah Islam, serta kondisi masyarakat yang menerima atau terpaksa menerima negara yang didirikan oleh Nabi yang mencakup kabilah-kabilah dan nilai-nilai Jahiliyah, tidaklah mudah untuk menghilangkannya dengan cepat dan dengan langkah-langkah pendidikan jangka pendek. Semua ini dapat diketahui oleh orang yang merenungi kondisi yang meliputi kehidupan Nabi dan negara. Orang akan merasakan keharusan adanya rencana jangka panjang yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan besar risalah Islam setelah ketidakmungkinan mewujudkannya pada waktu hidup Nabi dan dalam kondisi masyarakat yang seperti ini dalam waktu singkat.

Dengan demikian, tahap kedua adalah setelah umat Islam berpaling dari ajaran-ajaran Nabi. Dan langkah yang harus diambil oleh Ali bin Abi Thalib adalah sabar, waspada dan kembali menggariskan secara praktis proses pembinaan yang lebih mengakar di bawah pemerintahan Islam yang baru dengan harapan, bahwa suatu saat kondisi memungkinkan untuk menguasai pemerintahan dan mewujudkan ajaran-ajaran Nabi. Pada saat itu, semua tujuan-tujuan dapat diwujudkan dan umat Islam dapat mempraktekkan syariat Islam secara benar.

Ali dan Pengumpulan Al-Qur’an

Semua riwayat yang sahih sepakat bahwa setelah melakukan prosesi penguburan jasad Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib tinggal di rumahnya dan menyibukkan dirinya mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali bin Abi Thalib mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tulisan-tulisan yang berserakan.

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq a.s. bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali! Al-Qur’an berada di balik pembaringanku, masih berada dalam mushaf, kain sutera dan kertas. Ambillah dan kumpulkan Al-Qur’an itu! Dan jangan biarkan ia hilang sebagaimana orang-orang yahudi menghilangkan Taurat” kitab asli. Kemudian Ali pergi mengambil dan mengumpulkannya lalu meletakkannya dalam sebuah pakaian kuning.[55]

Diriwayatkan pula, bahwa Ali bin Abi Thalib melihat orang-orang dalam kondisi kebingungan ketika Nabi wafat. Kemudian ia bersumpah untuk tidak menyelempangkan surbannya sampai selesai mengumpulkan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan Al-Qur’an selama tiga hari tanpa keluar rumah.[56]

Diriwayatkan pula, Ali bin Abi Thalib tidak melakukan kontak dengan orang-orang untuk beberapa waktu sampai ia mengumpulkan Al-Qur’an. Kemudian ia keluar menemui orang-orang dengan memakai gamis, sementara orang-orang sedang berkumpul di masjid. Setelah berada di tengah-tengah mereka, Ali meletakkan Al-Qur’an di hadapan mereka sambil berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “Kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang bila kalian berpegang padanya, niscaya kalian tidak akan sesat; kitab Allah dan itrahku, Ahlul Baitku. Ini adalah kitab Allah dan aku adalah itrah Ahlul Bait”.[57]kemudian ia menambahkan: “Aku menjelaskan hal ini agar kelak kalian tidak berkata: “Kami lupa tentang masalah ini”.

Ali menambahkan: “Jangan sampai pada Hari Kiamat, kalian berkata bahwa aku belum mengajak kalian untuk membela, aku belum mengingatkan kalian tentang hakku, dan aku belum mengajak kalian kepada kitab Allah dari pembukaannya hingga akhir”.[58]

Umar bin Khatthab berkata kepada Ali: “Bila engkau memiliki Al-Qur’an, kami memiliki yang sama. Oleh karenanya, kami tidak membutuhkan Al-Qur’an yang berada di tanganmu dan dirimu”.

Tampaknya, Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali juga menjelaskan mana ayat yang umum dan khusus, mutlak dan muqayyad, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, surat-surat yang wajib sujud dan yang tidak, dan sunah-sunah dan adab yang berkaitan dengan Al-Qur’an. begitu juga Ali bin Abi Thalib menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul). Ia juga mendiktekan penulisan enam puluh macam prinsip yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an; setiap satu prinsip dibawakan contoh khusus yang berkaitan dengannya.

Pekerjaan besar yang dilakukan Ali mengangkatnya pelindung prinsip-prinsip utama Islam. Ali mengarahkan akal seorang muslim untuk mengkaji lebih dalam tentang ilmu-ilmu yang dikandung oleh Al-Qur’an. Tujuannya tidak lain agar Al-Qur’an menjadi sumber utama pemikiran manusia yang dibutuhkan dalam kehidupannya.

Apa yang dikerjakan oleh Ali bin Abi Thalib perlu mendapat apresiasi yang besar. Ia sendiri pernah berkata: “Setiap ayat yang turun kepada Rasulullah saw. pasti dibacakan kepadaku, kemudian aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Nabi mengajarkanku takwil ayat tersebut, tafsir, nasikh dan mansukhnya dan muhkam dan mutasyabihnya. Kemudian Nabi berdoa kepada Allah swt. agar aku dapat memahami apa yang diajarkannya. Aku tidak pernah lupa sebuah ayat dari Al-Qur’an, bahkan sebuah ilmu yang kutulis lewat ajaran Nabi. Allah telah mengajarkan kepada Nabi segala sesuatu baik halal dan haram, perintah dan larangan, dan apa yang telah terjadi atau yang akan terjadi yang berkaitan dengan ketaatan atau kemaksiatan, pasti Nabi mengajarkannya kepadaku, dan aku menghafalkannya. Aku tidak pernah lupa walaupun satu huruf”.[59]

Sikap Ali di Zaman Abu Bakar

Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Demi Allah! Tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa Arab akan mengambil kekhalifahan sepeninggal Nabi dari Ahlul Baitnya, atau aku akan dicegah untuk memerintah. Satu hal yang membuatku gusar adalah orang-orang yang berduyun-duyun membaiat Abu Bakar. Aku tetap pada posisiku, sampai suatu saat aku melihat bahwa masyarakat Islam tidak lagi berpegang pada Islam, atau mereka ingin menghancurkan agama Muhammad saw. Pada saat itu, aku khawatir bila tetap tinggal diam menyaksikan hal itu terjadi. Aku harus maju menolong Islam dan pengikutnya. Kondisi ini buatku lebih sulit dari sekadar melepaskan kekuasaan yang menjadi hakku atas kalian. Kekuasaan yang menurutku tidak lebih dari sebuah barang yang pada akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana, atau bagaikan awan yang cepat berlalu. Oleh karenanya, aku harus berdiri di tengah-tengah kekacauan ini sampai kebatilan lenyap dan agama tetap tegak.[60]

Semua kejadian yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw. dan sistem yang berkuasa berusaha menjauhkan masyarakat dari kebenaran. Seluruhnya belum melupakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengemban wasiat; menuntun umat Islam dan mempraktekkan risalah Islam.

Baiat yang dilakukan kepada Abu Bakar telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib dari mengatur kehidupan umat Islam secara langsung. Kondisi ini pula memaksanya untuk meminggirkan dirinya dari dunia politik, sementara wasiat Nabi adalah untuknya sebagai sebuah kewajiban ilahi untuk melindungi umat Islam. Keinginannya yang kuat dan dalam akan risalah Islam sementara masyarakat Islam yang terkoyak-koyak selama ini telah menjadikanya sebagai pemimpin sekaligus panutan yang membela Islam di setiap medan.

Berdasarkan hal-hal di atas, Ali bin Abi Thalib mulai menyampaikan pandangan-pandangannya, menjelaskan prinsip-prinsip agama yang benar di setiap kondisi yang sulit, di mana orang-orang mengikuti kepemimpinan yang ada di zaman yang sulit dan pada umat yang akidah Islamnya masih belum kuat dan mengkristal dalam jiwanya. Ali adalah tolok ukur dalam masalah-masalah peradilan dan fatwa dalam kehidupan masyarakat Islam, mulai dari peradilan, sosial dan manajemen, di zaman Abu Bakar hingga Utsman bin Affan.

Posisi penting lain Ali adalah melindungi Madinah sebagai benteng di hadapan serangan kaum yang murtad bersama-sama beberapa sahabat setianya yang siap setiap saat di sisinya.

Wasiat Abu Bakar kepada Umar

Ali bin Abi Thalib senantiasa dizalimi. Ia mempertahankan haknya yang dirampas. Hatinya pedih melihat kondisi kekhalifahan dan Islam. Yang bisa dilakukannya hanyalah sabar dan membuka mata lebar-lebar untuk memahami apa yang terjadi. Ia mengungkapkan kepedihan dan kesedihannya dalam pidato terkenalnya yang bernama Syiqsyiqiah. Ali bin Abi Thalib berkata:

“Demi Allah! Ketahuilah, Abu Bakar bin Abi Quhafah telah memakai jubah kekhalifahan. Padahal, ia tahu bagaimana posisiku dalam kekhalifahan. Aku laksana poros penggilingan yang senantiasa berputar mengelilingku. Ia tahu bahwa ilmu-ilmu tersebar melaluiku. Setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan tidak akan dapat melebihiku. Aku kemudian berusaha meminggirkan diriku dari usaha perebutan kekhalifahan yang menjadi hakku. Aku senantiasa berpikir, apakah mungkin seorang diri aku menuntut hakku? Ataukah dalam situasi yang tidak menentu aku perlu mengambil sikap sabar? Kondisi ini memaksa orang-orang tua musnah sementara para pemuda menjadi tua. Mereka yang beriman sampai kiamat dan bertemu dengan Allah dalam situasi sedih. Melihat kondisi yang semacam ini, aku merasa sikap yang paling tepat adalah sabar. Oleh karenanya aku bersabar melihat semua ini seakan menahan duri yang menusuk mata dan tulang yang tersangkut di tenggorokkan. Dalam pandanganku, warisanku dirampok oleh mereka! Semua terjadi sampai Abu Bakar mati dan menyerahkan masalah kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab. Sangat aneh! Abu Bakar meminta maaf kepada kaum muslimin selagi masih hidup.[61] Bagaimana mungkin menjelang kematiannya ia memberikan hak kekhalifahan kepada orang lain (Umar bin Khatthab)? Keduanya telah bersusah payah memeras unta kekhalifahan dan bersenang-senang dengan perasannya. Pada akhirnya, khalifah pertama (Abu Bakar) memberikan hak kekhalifahan dan pemerintahan kepada seseorang yang terkenal dengan setumpuk kebobrokannya. Ia orang yang menyukai kekerasan, mempersulit orang lain dan sering melakukan kesalahan yang akhirnya menyesal dan meminta maaf”.[62]

Masa hidup Abu Bakar tidak panjang. Ia mulai lemah karena penyakit dan mulai mendekati ajalnya. Ia mengambil keputusan untuk menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab sepeninggalnya. Keputusan ini ditentang oleh mayoritas Muhajirin dan Anshar. Mereka mengumumkan kebencian terhadap keputusan itu, karena tahu sifat keras Umar dan perilakunya yang buruk terhadap orang lain.[63]

Abu Bakar tidak menanggapi bahkan bersikeras dengan pendapatnya.

Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan menghadapnya untuk menuliskan surat keputusan pengangkatan Umar. Abu Bakar berkata kepada Utsman bin Affan: “Tuliskan: Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar bin Abi Quhafah kepada kaum muslimin. Amma ba’du” Kemudian Abu Bakar pingsan. Utsman menulis lanjutannya: “Sesungguhnya aku telah menjadikan Umar bin Khatthab sebagai penggantiku, aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lalu Abu bakar tersadar dari pingsannya. Ia berkata kepada Utsman: “Bacakan untukku! Utsman membaca apa yang ditulisnya. Setelah mendengar itu, Abu Bakar lantas mengucapkan takbir lalu berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman bin Affan menjawab: “Ya”. Abu Bakar berkata: “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan untukmu”.[64]

Keberatan terhadap Wasiat Abu Bakar

Ali bin Abi Thalib a.s. tidak dapat menerima apa yang diperbuat oleh Abu Bakar dengan alasan-alasan berikut:

1. Abu Bakar tidak melakukan musyawarah dengan satupun dari kaum muslimin untuk meletakkan kendali kekhalifahan kecuali dengan Abdurrahman bin ‘Auf dan Utsman bin Affan. Kedua orang ini adalah yang paling tahu kecenderungannya untuk menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pengganti setelahnya. Sikap Abu Bakar itu muncul dari rasa kekhawatiran para sahabat yang ikhlas yang akan menolak Umar bin Khatthab sebagai penggantinya kelak.

2. Penegasan untuk menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari peta politik dan dari penentuan arah kekhalifahan. Oleh karenanya, dalam masalah ini Abu Bakar tidak pernah melakukan konsultasi dengan Ali. Padahal Abu Bakar selalu membutuhkan Ali untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau sekurang-kurangnya, menurut Abu Bakar, pandangan dan sikap Ali selalu benar dibandingkan pandangan selainnya.

3. Abu Bakar menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pemimpin dan mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menaatinya, seakan-akan Abu Bakar pengemban wasiat kaum muslimin, demikian ini merujuk ucapannya: “Aku telah mengangkat Umar menjadi khalifah bagi kalian sepeninggalku. Dengar dan taatilah dia!” Ucapan ini selalu diungkapkan Abu Bakar meskipun ia melihat tanda kemarahan di wajah mayoritas sahabat Nabi.

4. Abu Bakar melanggar keyakinannya selama ini; bahwa ia berjalan dan memerintah sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia mengklaim bahwa ketika Nabi meninggal dunia, beliau tidak menetapkan seorang pun sebagai penggantinya. Sementara sekarang ia malah mewasiatkan temannya sendiri, Umar bin Khatthab, sebagai khalifah setelahnya.[65]

5. Abu Bakar tengah mempersiapkan kerajaan Bani Umayyah yang telah menyengsarakan kaum muslimin dan Islam. Dan itu terjadi karena ketamakan-ketamakan mereka akan kekuasaan, di samping keberanian mereka untuk menguasainya. Hal ini tersirat dari ucapan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan: “Seandainya Umar tidak ada, aku pasti akan memilihmu”.[66] Abu Bakar tahu benar bahwa Utsman secara emosional lemah dan condong ke Bani Umayyah dan mereka pasti akan menguasainya.

[43] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 30. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 443.

[44] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.

[45] . Ansab Al-Asyraf, jilid1, hal 587. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5.

[46] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 2, hal 2-5 dan jilid 1, hal 134.

[47] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 28.

[48] . Ath-thabarsi, Al-Ihtijaj, jilid 1, hal 222.

[49] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459.

[50] .Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 459. cerita Saqifah, Al-Hubbab bin Al-Mundzir berkata: “Demi Allah! Ketahuilah bila kalian menginginkan, kami akan mengembalikan segala sesuatu seperti semula (Muhajirin kembali ke Mekah).

[51] . Ibnu Al-Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 3, hal 123: Kabar kematian Rasulullah sampai ke Mekkah dan Itab bin Usaid bin Al-‘Ash adalah gubernur di sana.

[52] . Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 449. Kekcewaan Abu Sufyan menjadi reda setelah Abu Bakar menjadikan Muawiyah anak Abu Sufyan sebagai gubernur di Syam. Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku akan melakukan silaturahmi dengannya”.

[53] . Ibid.

[54] . As-Syahid Muhammad Baqir As-Sadr, Fadak fi At-Tarikh, hal 102-105.

[55] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41. Fath Al-Bari, jilid 10, hal 386. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 1, hal 51.

[56] . Ibnu An-Nadim, Al-Fihrist, hal 30.

[57] . Ibnu Syahr Asyub, Al-Manaqib, jilid 2, hal 41.

[58] . Kitab Sulaim bin Qais, hal 32, cetakan muassasah Al-Bi’tsah.

[59] . Al-Kanji, Kifayah Ath-thalib, hal 199. As-Suyuthi, Al-Itqan, jilid 2, hal 187, Bihar Al-Anwar, jilid 92, hal 99.

[60] . Nahjul Balaghah, surat ke 62.

[61] . Lihat Tadzkirah Al-Khawash, hal 62, sekaitan dengan ucapan Abu Bakar: “Ganti aku! Aku bukan yang terbaik di antara kalian.”

[62] . Nahjul Balaghah, khutbah ketiga.

[63] . Al-Imamah wa As-Siyasah, hal 36. Tarikh Ath-thabari, jilid 2, hal 618-619. Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.

[64] . Al-Kamil fi At-Tarikh, jilid 2, hal 425.

[65] . Ini tampak aneh ketika ia sadar dari pingsannya dan mendengarkan apa yang ditulis oleh Utsman tentang penetapan khalifah setelahnya, lalu ia berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman menjawab: “Ya”. Bagaimana mungkin ia dan Utsman khawatir akan timbulnya perselisihan di antara kaum muslimin; sementara Rasulullah saw. tidak khawatir munculnya perselisihan di antara umatnya?! Bukankah mereka secara jelas mengatakan bahwa Nabi meninggal tanpa menetapkan seorang pun sebagai penggantinya?! Celakalah! Bagaimana mereka memiliki kesimpulan seperti ini.

Lebih dari itu, Umar sempat melarang Nabi untuk menuliskan wasiat di akhir masa hidupnya, sementara ia duduk dan di hadapannya ada kertas dan bersamanya budak Abu Bakar yang di tangannya surat keputusan pengangkatan Umar. Pada saat yang sama, Umar juga berkata: “Wahai kaum muslimin! Dengarkan dan taatilah ucapan khalifah Rasulullah, bahwa ia berkata: “Aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lihat Ath-thabari, jilid 1, hal 2138, cetakan Eropa. Tampak dua sikap Abu Bakar yang kontradiksi satu dengan lainnya! Apakah ada tafsir lain selain adanya persekongkolan untuk menghancurkan rencana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah?!

[66] . Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jilid 1, hal 164.

Kapan Ali Baiat Abu Bakar

Ali membaiat Abu Bakar enam bulan kemudian, sesudah Fathimah meninggal dunia. Mu’ammar meriwayatkan dari az-Zuhri dari Aisyah, tatkala Aisyah berbicara tentang kejadian antara Fathimah dan Abu Bakar mengenai warisan Nabi saw:

‘Fathimah meninggalkan Abu Bakar dan tidak berbicara dengannya sampai ia meninggal enam bulan setelah Rasul saw wafat, dan tatkala ia meninggal suaminyalah yang menguburkannya. Fathimah tidak mengizinkan Abu Bakar menyembahyangkan jenazahnya.

Orang memandang Ali karena Fathimah, tetapi setelah Fathimah meninggal orang berpaling dari Ali. Fathimah hidup enam bulan lagi setelah Rasul saw wafat502. Mu’ammar berkata:

Seorang laki-laki bertanya kepada az-Zuhri: ‘Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar dalam enam bulan itu? Zuhri menjawab: ‘Tidak, dan tidak seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai ‘Ali membaiatnya’. Tatkala Ali melibat orang-orang berpaling dari dirinya, ia lalu bergabung dengan Abu Bakar.503

Ibnu ‘Abdil Barr dalam Usdu’l-Ghabah menulis:

‘Kaum oposan menyetujui menerima Abu Bakar enam bulan setelah baiat umum kepadanya’.504

Ya’qubi: ‘Ali membaiat Abu Bakar 6 bulan setelah baiat umum.505 Dalam Isti’ab dan Tanbih wa’l-Asyraf: ” ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal dunia.”506

Dalam Tafsir al-Wushul, Az-Zuhri berkata: ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai 6 bulan.’507

Baladzuri dalam Ansab al-Asyraf berkata: “Tatkala, orang-orang Arab menolak Islam dan menjadi murtad, Utsman mendatangi ‘Ali dan membujuknya membaiat Abu Bakar untuk membesarkan hati kaum Muslimin memerangi kaum ‘murtad’ di zaman Abu Bakar. ‘Ali membaiat Abu Bakar dan keresahan umat Islam terselesaikan. Kaum Muslimin lalu mempersiapkan diri memerangi apa yang dinamakan kaum ‘murtad’.508

Marilah kita ikuti dialog antara ‘Ali dan Abu Bakar tatkala ‘Ali akan membaiat Abu Bakar menurut Ibnu Qutaibah:

Ibnu Qutaibah menulis: “Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal, yaitu tujuh puluh lima hari setelah Rasul wafat. Dan ‘Ali mengirim utusan kepada Abu Bakar agar Abu Bakar datang ke rumah ‘Ali. Maka Abu Bakar pun datang dan masuk ke rumah ‘Ali dan dirumah itu telah berkumpul Banu Hasyim. Kemudian setelah memuji Allah dan Rasul Allah sebagaimana lazimnya, ‘Ali berkata: “Amma ba’du, wahai Abu Bakar, kami tidak membaiat Anda karena mengingkari keutamaan Anda melainkan kami benar-benar yakin bahwa kekhalifahan itu adalah hak kami dan Anda telah merampasnya dari kami.

Kemudian ia menyampaikan kedekatannya dengan Rasul Allah. Ia terus menyebut kedekatannya dengan Rasul sampai Abu Bakar menangis. Abu Bakar lalu berkata: ‘Kerabat Rasul Allah lebih aku cintai dari kerabatku sendiri. Aku akan menuruti apa yang dilakukan Rasul insya Allah. ‘Ali lalu berkata: Aku berjanji akan membaiatmu besok di masjid, insya Allah.” Besoknya ‘Ali datang ke masjid dan membaiat Abu Bakar..Sayang sekali Ibnu Qutaibah tidak menyebut pidato ‘Ali itu secara lengkap, karena ‘Ali tentu menyampaikan hadis-hadis Rasul mengenai keutamaannya.

Baiat ‘Ali Berdasarkan Ketaatan, Bukan Pengakuan
Dari petikan tulisan Ibnu Qutaibah tersebut jelas bahwa pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan khliafah Abu Bakar. Dan ‘Ali mengatakannya secara terus terang.

‘Ali membaiat Abu Bakar, seperti nanti akan di bicarakan pada bab Sikap ‘Ali Terhadap Peristiwa Saqifah dan bab Nas bagi Ali jelas seperti dilaporkan Baladzuri adalah untuk membesarkan hati kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagaian kabilah Arab.

Sejak awal ‘Ali tidak punya ambisi akan kekuasaan, tetapi ‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya.

Ia selalu menghindarkan diri dari perlawanan fisik Pada saat rumahnya hendak dibakar bersama anak istrinya dan teman-temannya ia tidak melawan. Ini mungkin untuk sebagian ia lalukan demi keselamatan keluarganya sebagaimana pernah diucapkannya. Ketakutannya akan keselamatan anak-anaknya menjadi kenyataan bertahun-tahun kemudian tatkala Mu’awiyah meracuni Hasan, dan Yazid bin Muawiyah membantai Husain serta keluarganya di Karbala yang semuanya menyatakan bahwa mereka hanyalah meniru apa yang dilakukan oleh ‘Umar. Ia barangkali juga sadar bahwa sekarang ia menghadapi ‘politik kekuasaan’.

Tiga hari sesudah itu Abu Sufyan menawarkan bantuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan tapi ditolaknya.

Dengan kata lain, membaiat atau tidak, bagi ‘Ali adalah sama saja. Ia tidak punya pikiran untuk ‘memberontak’ terhadap Abu Bakar.

Untuk menenteramkan Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah, ‘Umar mengangkat Mu’awiyah sebagai gubernur di Syam. Di Syam Mu’awiyah bergabung dengan keturunan ‘Abdu Syams lainnya yang sejak seratus tahun yang lalu menyingkir dari Makkah dalam perselisihannya dengan Banu Hasyim, ‘yang kelak menjadi kasak-kusuk terbesar dalam sejarah Islam; perebutan kekuasaan atas ‘Ali’.509

Tetapi ‘Umar tetap tidak hendak mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai gubernur.

Tatkala ‘Umar sedang mencari seorang yang pantas jadi gubernur di Himsh, ia telah berkata pada Ibnu ‘Abbas bahwa bila ia menunjuk Ibnu ‘Abbas sebagai gubernur ia khawatir Ibnu ‘Abbas akan menghimpun kekuatan untuk Banu Hasyim dengan mengajak orang berkumpul pada mereka. ‘Rasul sendiri tidak pernah mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai pejabat’.510 Demikian ‘Umar berkata.

“Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asy-Syiqsyiqiyyah:

“Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya’.511

‘Umar Mengakui ‘Ali Sebagai Imam Atau Faqih
Meskipun mencegah ‘Ali jadi khalifah, ‘Umar mengakui ‘Ali sebagai imam atau faqih dan paling pantas untuk kedudukan khilafat. ‘Umar mencegahnya jadi khalifah dengan alasan ‘Ali masih muda, ‘Ali cinta pada keluarga Abu Thalib, suka bergurau dan lain-lain.

‘Ali sendiri yakin bahwa ia adalah imam dan faqih, paling sedikit di kalangan keluarga, dan Syiahnya.

Pada kenyataannya ‘Umar sendiri sering bertanya kepada ‘Ali dalam masalah-masalah keagamaan yang sulit sebagaimana sering dikatakannya. Pengakuan ‘Umar bahwa ‘Ali adalah faqih umat, dapat disimak dari cerita berikut.

Abu Bakar al-Anbari meriwayatkan dalam Amaliah:

“Pada suatu ketika ‘Ali duduk dekat ‘Umar di Masjid. Setelah ‘Ali pergi, seseorang mengatakan kepada ‘Umar bahwa ‘lelaki itu’ tampak bangga akan dirinya. Umar menjawab:

‘Orang seperti dia berhak bangga! Demi Allah kalau tidak oleh pedangnya tidak akan tegak tonggak Islam. Ia juga faqih dari umat ini512, terdahulu dalam Islam dan agung’. Orang tersebut lalu berkata: ‘Dan apa yang menyebabkan engkau menghalanginya, ya Amiru’l-mu’minin untuk memegang jabatan kekhalifahan?’ ‘Umar menjawab: ‘Kami menghalanginya karena umurnya yang muda dan cintanya kepada Banu Abdul Muththalib.’513

Karena keyakinannya ini, Sa’d bin Abi Waqqash pernah berkata kepada ‘Ali pada pertemuan Syura setelah ‘Umar terbunuh: ‘Wahai ‘Ali, engkau amat rakus akan kekhalifahan ini’. ‘Ali menjawab: ‘Orang menuntut haknya tidak dapat dikatakan rakus, tetapi yang dapat dikatakan rakus justru orang yang mencegah orang lain untuk mendapatkan hak dan berusaha merampasnya meskipun ia tidak cocok untuk itu.’514 Sa’d bin Abi Waqqash diam. Setelah ‘Ali meninggal dikemudian hari, Sa’d sering membela ‘Ali dalam perdebatan dengan Mu’awiyah dengan menyebut hadis manzilah dan lain-lain.515 Kemampuan ‘Ali dalam bidang ilmu agama ini telah disabdakan Rasul Allah saw:

“Aku adalah gudang ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Mereka yang ingin mendapatkan ilmu(ku), hendaknya datang melalui pintu-nya”.516

Rasul Allah saw juga bersabda: ‘Yang paling berilmu dari umat-ku, sesudahku, adalah ‘Ali bin Abi Thalib’.517′Yang paling bisa membuat keputusan hukum dari umatku adalah ‘Ali’.518

‘Ali adalah paling bisa membuat keputusan dari kamu sekalian’.519

Orang meragukan sampai di mana ketulusan ‘Umar tatkala ia mengatakan bahwa ‘kalau tiada ‘Ali maka celakalah ‘Umar’. Hal ini dapat dipahami dengan jelas tatkala ‘Ali dengan tegas menolak keputusan-keputusan hukum Abu Bakar dan ‘Umar sebagaimana akan dibicarakan pada bab berikut. Dan orang mengetahui ijtihad-ijtihad ‘Umar yang kontroversial itu.

Banyak sahabat yang menunda pembaiatan kepada Abu Bakar, karena kesetiaan kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Di antara mereka dapat disebutkan:

1. Abu Dzarr al-Ghifari, salah seorang di antara pemeluk Islam yang pertama, terkenal karena kesalehannya, pembela fakir miskin dan kaum tertindas, penentang penindasan yang ulet.

2. Ammar bin Yasir, salah seorang pemeluk Islam yang pertama. Ayah bundanya mati syahid teraniaya oleh kalangan jahiliah Quraisy di Makkah. Dalam usia tuanya, ‘Ammar berperang bersama ‘Ali melawan Mu’awiyah dalam peperangan Shiffin. Di sana ‘Ammar gugur. Rasul Allah telah meramalkan bahwa ‘Ammar akan mati terbunuh oleh kalangan pendurhaka.

3. Salman al-Farisi, orang Persia, Iran, yang oleh Rasul dianggap sebagai anggota keluarga beliau. Ia juga disebut sebagai teknikus Muslim yang pertama.

4. Bilal, seorang Habsyi berkulit hitam, bekas budak yang kemudian menjadi Sahabat dan terkenal sebagai Mu’azzinur-Rasul.

5. ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, paman Nabi.

6. Zubair bin ‘Awwam, Sahabat dan sepupu Nabi.

7. Abu Ayyub al-Anshari, Sahabat Rasul yang paling utama di kalangan kaum Anshar. Rumahnya ditempati Rasul tatkala beliau hijrah ke Madinah. Di kemudian hari ia berjuang bersama khalifah ‘Ali di peperangan Jamal, Shiffin dan Nahrawan.

8. Hudzaifah bin al-Yaman. Meskipun membaiat Abu Bakar, ia berpesan kepada kedua orang putranya untuk menyokong ‘Ali. Kedua putranya meninggal dalam peperangan Shiffin di pihak ‘Ali.

9. Khuzaimah bin Tsabit, yang oleh Rasul diberi gelar Dzusysyahadatain, yang kesaksiannya sama dengan kesaksian dua orang. Ia gugur dalam peperangan Shiffin melawan Mu’awiyah.

10. ‘Utsman bin Hunaif, saudara Sahl.

11. Sahl bin Hunaif, yang kemudian diangkat ‘Ali sebagai gubernur di Iran.

12. Al-Bara’a bin ‘Azib al-Anshari; ia turu berperang bersama ‘Ali dalam perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawan.

13. Ubay bin Ka’b, seorang ahli fiqih dan ahli baca Al-Qur’an, dari kaum Anshar.

14. Al-Miqdad bin ‘Amr, Sahabat yang termasuk di antara tujuh pemeluk Islam yang pertama.

.

Tatkala Imam Ali As mengetahui bahwa Allah Swt telah mengangkatnya sebagai khalifah lalu mengapa ia memberikan baiat kepada Abu Bakar, Umar dan Usman? Apabila Anda katakan bahwa ia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan, sementara kita tahu bahwa barangsiapa yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan maka sesungguhnya ia tidak memiliki kelayakan untuk menjadi imam, karena seseorang dapat menjadi imam tatkala ia memiliki kemampuan. Apabila Anda katakan bahwa Imam Ali memiliki kemampuan namun beliau tidak memanfaatkannya maka hal ini merupakan sebuah pengkhianatan dan seorang pengkhianat tidak dapat menjadi seorang imam! Ia tidak dapat menjadi pemimpin yang dipercaya oleh masyarakat. Sementara Imam Ali As tidak mungkin berbuat khianat. Ia suci dari segala macam pengkhianatan. Lalu apa jawaban Anda atas keberatan ini? Apa Anda memiliki jawaban benar atas kritikan dan isykalan ini?

Pertama: Imam Ali As, sejumlah sahabatnya dan sebagian sahabat Rasulullah Saw pada mulanya tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala memberikan baiat hal itu dilakukan semata-mata untuk menjaga Islam dan kemaslahatan pemerintahan Islam.

Kedua, seluruh problema yang ada tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan keberanian. Tidak setiap saat otot dan kekuatan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan perantara media-media tertentu.

Ketiga, apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada beberapa orang tertentu lantaran kemaslahatan yang bernilai seperti menjaga agama Tuhan dan segala jerih payah Rasulullah Saw maka hal itu tidak bermakna bahwa beliau lebih menguatirkan kekuasaan mereka ketimbang jiwanya atau mereka lebih memiliki kemampuan dan kekuasaan dalam masalah kepemimpinan dan leadership umat Islam.

Keempat, yang dapat disimpulkan dari sejarah dan tuturan Imam Ali bahwa beliau berulang kali menyampaikan protes terhadap situasi dan kondisi di masa tiga khalifah namun upaya maksimal beliau dikerahkan untuk menjaga dan menguatkan pemerintahan Islam di hadapan musuh-musuhnya.

Dengan menyimak sejarah masa awal-awal kemunculan Islam maka menjadi jelas bahwa Pertama, Rasulullah Saw belum lagi dikebumikan orang-orang berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah dan sebagian orang memberikan baiat kepada orang selain Ali As sementara Ali As sedang sibuk mengurus pemakaman Rasulullah Saw, mengafani dan mengebumikan Rasulullah Saw.[1] Sebagaian kecil sahabat beserta pemuka kabilah seperti Abbas bin Abdul Muththalib, Fadhl bin Abbas, Zubair bin Awwam, Khalid bin Sa’id, Miqdad bin Amr, Salman Parsi, Abu Dzar Ghiffari, Ammar bin Yasir, Bara’a bin ‘Azib, Ubay bin Ka’ab tidak memberikan baiat kepada segelintir orang yang berkumpul di Saqifah dan berpihak pada Imam Ali As.[2] Sesuai dengan nukilan lugas dari Ahmad bin Hanbal dalam Musnad 1/55 dan Thabari 2/466 sebagian orang ini berkumpul di rumah Fatimah Zahra As dan menolak memberikan baiat kepada Abu Bakar.[3]

Disebutkan dalam kitab sejarah bahwa Baginda Ali As dalam menjawab mereka yang berkumpul di rumahnya dan permintaan mereka untuk memberikan baiat kepadanya, “Besok pagi datanglah (kemari) dan cukurlah rambut kalian!” Akan tetapi keesokan harinya hanya tiga orang yang datang.[4]

Demikian juga dalam sejarah diriwayatkan bahwa Ali As tidak memberikan baiat selama Fatimah Zahra masih hidup namun tatkala melihat orang-orang mengabaikannya maka beliau terpaksa berdamai dengan Abu Bakar.[5]

Karena itu, Imam Ali As dan sebagian sahabatnya demikian juga sebagian sahabat Rasulullah Saw mula-mula dan hingga masa tertentu pasca wafatnya Rasulullah Saw tidak memberikan baiat kepada Abu Bakar dan tatkala mereka memberikan baiat hal itu dilakukan untuk kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan Islam.

Beladzuri dalam menjelaskan sebab mengapa Imam Ali memberikan baiat berkata, “Pasca wafatnya Rasulullah Saw dimana sebagian suku Arab telah murtad, Usman datang ke hadapan Ali dan berkata, “Wahai Putra Paman! Selama Anda tidak memberikan baiat tiada seorang pun yang akan pergi berperang melawan musuh.” Usman senantiasa membicarakan hal ini dengan Ali hingga pada akhirnya Baginda Ali As memberikan baiat kepada Abu Bakar.”[6] Akan tetapi Baginda Ali As sendiri senantiasa menyampaikan keluhan dan protes (terhadap proses perampasan khilafah ini) pada masa Abu Bakar dan setelahnya.

Terkait dengan hal ini, Imam Ali As bersabda, “Ketahuilah! Demi Allah putra Abu Quhafah (Abu Bakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia tahu pasti bahwa kedudukanku sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada penggiling. Air bah mengalir (menjauh) dariku dan burung tak dapat terbang sampai kepadaku. Aku memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian aku mulai berpikir, apakah aku harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah (saat matinya). Aku dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka aku mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik di kerongkongan.”[7]

Adapun terkait mengapa Imam Ali As dengan keberanian yang dimilikinya namun tidak angkat senjata? Maka jawabannya adalah bahwa seluruh problema yang terjadi tidak dapat diselesaikan dengan pedang dan perang. Tidak setiap saat otot dan kekerasan fisik harus digunakan. Manusia bijak dan cendekia memecahkan setiap persoalan dengan media-media tertentu. Memiliki kekuasaan dan kemampuan serta keberaninan di medan perang sekali-kali tidak dapat menjadi dalih untuk melakukan pelbagai perbuatan yang tidak mendatangkan kemasalahatan.

Sebagaimana Nabi Harun As tatkala melihat kaum Musa berpaling menjadi penyembah sapi meski beliau adalah seorang elokuen (fasih) dan merupakan washi (penyampai wasiat) Nabi Musa As akan tetapi beliau tidak melakukan apa pun kecuali menyampaikan kebenaran dan peringatan kepada mereka. Al-Qur’an menandaskan tuturan Harun sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa As atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94)

Ihwal Nabi Ibrahim, al-Qur’an memberitakan bahwa Nabi Ibrahim menjauhkan diri dari penyembah berhala, “Maka ketika Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka” (Qs. Maryam [19]:49) Demikian juga terkait dengan tindakan para pemuda Ashabul Kahf yang menarik diri dari kaum zalim, “(Kami berkata kepada mereka), “Apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu dan menghamparkan ketenangan bagimu dalam urusan kamu ini.” (Qs. Al-Kahf [18]:16) Apakah benar kita memandang mereka dalam proses toleransi dan menahan diri ini atau takut atau pengkhianat? Padahal dalam kondisi seperti ini jalan toleransi dan menahan diri merupakan jalan terbaik.

Apabila Imam Ali As memberikan baiat kepada sebagian orang karena kemaslahatan seperti menjaga agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw hal ini tidak bermakna bahwa beliau takut dari kekuatan dan kekuasaan mereka atau lebih kurang kekuasaan dan kekuatannya dalam masalah kepemimpinan umat Islam dimana apabila kepemimpinan diserahkan kepadanya maka pada masa-masa tersebut kekuasaan kepemimpinannya dapat dibuktikan.

Baginda Ali As menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata. Hal itu disebabkan karena beliau sendiri, sebagaimana yang dijelaskan, “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.”[8]

Pada kesempatan lain, Baginda Ali menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata sedemikian, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya. “[9]

Kesimpulannya bahwa alasan mengapa Baginda Ali As memberikan baiat kepada para khalifah hal itu bukan lantaran takut (karena semua orang, kawan dan lawan tahu tentang keberaniaan tiada tara yang dimiliki Baginda Ali As) melainkan kurangnya pendukung di jalan kebenaran dan juga didorong oleh kemaslahatan untuk menjaga kesatuan, keutuhan dan kemaslahatan Islam. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh setiap pemimpin sejati bahkan Rasulullah Saw sendiri, dimana lantaran kurangnya pendukung dan untuk menjaga pendukung yang sedikit itu dan menjaga kemaslahatan Islam, terpaksa menarik diri dari kaumnya dan berhijrah ke Madinah hingga beliau mendapatkan banyak pengikut yang berujung pada peristiwa Fathu Makkah. Atau pada masa lainnya, Rasulullah Saw terpaksa memilih berdamai dengan orang-orang Musyrik. Apakah tindakan seperti ini dapat disebut sebagai tindakan pengecut bahwa apabila Rasulullah Saw memandang dirinya sebagai Rasululullah lantas mengapa berdamai dengan orang-orang musyrik? Dimana apabila beliau tidak memiliki kekuataan yang dapat menandingi lantas ia tidak memiliki kelayakan untuk menjabat sebagai seorang nabi dan pemimpin?!

Karena itu, Baginda Ali As, meski beliau adalah khalifah Rasulullah Saw, lebih memilih bersabar dan menahan diri. Hal itu didorong oleh keinginan yang luhur untuk menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Karena beliau dengan baik memahami bahwa bukan tempatnya untuk angkat senjata, menghunus pedang dan memamerkan keberanian dan adu otot di jalan Allah. Akan tetapi kondisi masyarakat Islam pasca wafatnya Rasulullah menuntut kesabaran lebih tinggi nilainya ketimbang keberanian. Beliau mengetahui bahwa dalam kondisi seperti ini bahwa menghunus pedang akan lebih banyak dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk melenyapkan dan mencerabut Islam hingga ke akar-akarnya. Karena itu, kemaslahatan pribadi dikorbankan untuk kemaslahatan yang lebih penting yaitu asas Islam.

Catatan Kaki:
[1]. Kanz al-‘Ummâl, 5/652.

[2]. Suyuthi, Târikh al-Khulâfah, hal. 62, Dar al-Fikr, Libanon. Târikh Ya’qubi, 124/125-2. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, jil. 2, hal. 443, Istiqamat, Kairo. Musnad Ahmad, jil. 3, hal. 165, Dar al-Shadir.

[3]. Ibid.

[4]. Ma’âlim al-Madrasatain, Allamah ‘Askari, jil. 1, hal. 162.

[5]. Thabari, Târikh al-Umam wa al-Muluk, 2/448, Istiqamat, Kairo.

[6]. Ansab al-Asyrâf, 1/587.

[7]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 3, hal. 45.

[8]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73.

[9]. Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51.

.
pembaiatan oleh imam ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan k Abu Bakar …Baiat ‘Ali terhadap Abubakar karena Kaum Muslimin Meminta Hal Tersebut Sebagai Syarat Agar Mereka Mau memerangi sebagian kabilah Arab yang MURTAD.. Abubakar dan Umar Tidak Memberi peluang Kelompok Imam Ali menghimpun kekuatan

Ali membaiat Abu Bakar enam bulan kemudian, sesudah Fathimah meninggal dunia. Mu’ammar meriwayatkan dari azZuhri dari Aisyah, tatkala Aisyah berbicara tentang kejadian antara Fathimah dan Abu Bakar mengenai warisan Nabi saw: “Fathimah meninggalkan Abu Bakar dan tidak berbicara dengannya sampai ia meninggal enam bulan setelah Rasul saw wafat, dan tatkala ia meninggal suaminya lah yang mengubur kannya. Fathimah tidak mengizinkan Abu Bakar menyembahyangkan jenazahnya. Orang memandang Ali karena Fathimah, tetapi setelah Fathimah meninggal orang berpaling dari Ali. Fathimah hidup enam bulan lagi setelah Rasul saw wafat ( 1 ) .

Mu’ammar berkata: Seorang laki laki bertanya kepada azZuhri: ‘Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar dalam enam bulan itu? Zuhri menjawab: ‘Tidak, dan

tidak seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai ‘Ali membaiatnya’. Tatkala Ali melibat orangorang berpaling dari dirinya, ia lalu bergabung dengan Abu Bakar. ( 2)

Ibnu ‘Abdil Barr dalam Usdu’l Ghabah menulis: ‘Kaum oposan menyetujui menerima Abu Bakar enam bulan setelah baiat umum kepadanya’. ( 3 )

Ya’qubi: ‘Ali membaiat Abu Bakar 6 bulan setelah baiat umum. ( 4 )

Dalam Isti’ab dan Tanbih wa’lAsyraf: “ ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal dunia.” ( 5 )

Dalam Tafsir alWushul, AzZuhri berkata: ‘Demi Allah, tidak ada seorang pun dari Banu Hasyim membaiat Abu Bakar sampai 6 bulan.’ ( 6 )

Baladzuri dalam Ansab alAsyraf berkata: “Tatkala, orang orang Arab menolak Islam dan menjadi murtad, Utsman mendatangi ‘Ali dan membujuknya membaiat Abu Bakar untuk membesarkan hati kaum Muslimin memerangi kaum ‘murtad’ di zaman Abu Bakar. ‘Ali membaiat Abu Bakar dan keresahan umat Islam terselesaikan. Kaum Muslimin lalu mempersiapkan diri memerangi apa yang dinamakan kaum ‘murtad’. (7)

Marilah kita ikuti dialog antara ‘Ali dan Abu Bakar tatkala ‘Ali akan membaiat Abu Bakar menurut Ibnu Qutaibah:

Ibnu Qutaibah menulis: “Dan ‘Ali tidak membaiat Abu Bakar sampai Fathimah meninggal, yaitu tujuh puluh lima hari setelah Rasul wafat. Dan ‘Ali mengirim utusan kepada Abu Bakar agar Abu Bakar datang ke rumah ‘Ali. Maka Abu Bakar pun datang dan masuk ke rumah ‘Ali dan dirumah itu telah berkumpul Banu Hasyim. Kemudian setelah memuji Allah dan Rasul Allah sebagaimana lazimnya, ‘Ali berkata: “Amma ba’du, wahai Abu Bakar, kami tidak membaiat Anda karena mengingkari keutamaan Anda melainkan kami benar benar yakin bahwa kekhalifahan itu adalah hak kami dan Anda telah merampasnya dari kami. Kemudian ia menyampaikan kedekatannya dengan Rasul Allah. Ia terus menyebut kedekatannya dengan Rasul sampai Abu Bakar menangis.

Abu Bakar lalu berkata: ‘Kerabat Rasul Allah lebih aku cintai dari kerabatku sendiri. Aku akan menuruti apa yang dilakukan Rasul insya Allah. ‘Ali lalu berkata: Aku berjanji akan membaiatmu besok di masjid, insya Allah.” Besoknya ‘Ali datang ke masjid dan membaiat Abu Bakar..Sayang sekali Ibnu Qutaibah tidak menyebut pidato ‘Ali itu secara lengkap, karena ‘Ali tentu menyampaikan hadishadis

Rasul mengenai keutamaannya.

Dari petikan tulisan Ibnu Qutaibah tersebut jelas bahwa pembaiatan ‘Ali bukanlah pengakuan akan keabsahan khliafah Abu Bakar. Dan ‘Ali mengatakannya secara terus terang.

‘Ali membaiat Abu Bakar, seperti dilaporkan Baladzuri adalah untuk membesarkan hati

kaum Muslimin dan menyelesaikan keresahan kaum Muslimin yang sedang menghadapi musibah murtadnya sebagaian kabilah Arab.

‘Ali tetap berkeyakinan bahwa Imamah adalah haknya. Ia selalu menghindarkan diri dari perlawanan fisik Pada saat rumahnya hendak dibakar bersama anak istrinya dan teman temannya ia tidak melawan. Ini mungkin untuk sebagian ia lalukan demi

keselamatan keluarganya sebagaimana pernah diucapkannya. Ketakutannya akan keselamatan anak anaknya menjadi kenyataan bertahun tahun kemudian tatkala Mu’awiyah meracuni Hasan, dan Yazid bin Muawiyah membantai Husain serta keluarganya di Karbala yang semuanya menyatakan bahwa mereka hanyalah meniru apa yang dilakukan oleh ‘Umar. Ia barangkali juga sadar bahwa sekarang ia menghadapi ‘politik kekuasaan’. Tiga hari sesudah itu Abu Sufyan menawarkan bantuan untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan tapi ditolaknya.

Untuk menenteramkan Abu Sufyan, pemimpin Banu ‘Umayyah, ‘Umar mengangkat Mu’awiyah sebagai gubernur di Syam. Di Syam Mu’awiyah bergabung dengan keturunan ‘Abdu Syams lainnya yang sejak seratus tahun yang lalu menyingkir dari Makkah dalam perselisihannya dengan Banu Hasyim, ‘yang kelak menjadi kasak kusuk terbesar dalam sejarah Islam; perebutan kekuasaan atas ‘Ali’. ( 8 )

Tetapi ‘Umar tetap tidak hendak mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai gubernur.

Tatkala ‘Umar sedang mencari seorang yang pantas jadi gubernur di Himsh, ia telah berkata pada Ibnu ‘Abbas bahwa bila ia menunjuk Ibnu ‘Abbas sebagai gubernur ia khawatir Ibnu ‘Abbas akan menghimpun kekuatan untuk Banu Hasyim dengan mengajak orang berkumpul pada mereka. ‘Rasul sendiri tidak pernah mengangkat keluarga Banu Hasyim sebagai pejabat’. ( 9 ) Demikian ‘Umar berkata.

“Ali tetap berkeyakinan bahwa jabatan kekhalifahan adalah haknya. Hal ini dapat dilihat setelah ia dibaiat 25 tahun kemudian dalam sebuah pidatonya yang terkenal dengan asySyiqsyiqiyyah: “Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan busana (kekhalifahan) itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahwa kedudukan saya sehubungan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan sumbu dengan roda ..Saya menyaksikan perampasan akan warisan saya. Tatkala yang pertama (Abu Bakar) meninggal ia menyodorkan kekhalifahan itu kepada Ibnu Khaththab sendiri.”

Ia juga mengingatkan para sahabat, yang ia kumpulkan di pekarangan mesjid, akan pidato Rasulullah di Ghadir Khumm yang berbunyi: ‘Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ‘Ali juga adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya’. Abu Bakar dan ‘Umar pada waktu itu datang memberi selamat kepadanya’. ( 10 )

sumber :

1 = Aisyah, puteri khalifah pertama, Abu Bakar ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsaman bin ‘Amir bin Ka’ab bin Sa’d bin Tail, dari Bani Quraisy. Dilahirkan 4 tahun sesudah bi’tsah. Sembilan tahun sebelum tahun 1 Hijriah. Wanita pertama yang dikawini Rasul sesudah wafatnya Khadijah, dua tahun sebelum Hijrah, tatkala ia berumur 6 tahun. Rasul berkumpul dengannya bulan Syawal 18 bulan setelah Hijrah ke Madinah, setelah Perang Badar Besar, Ghazwah Badr AlKubra. Tatkala Rasul wafat, ia berumur 18 tahun. Berkumpul dengan Rasul selama 8 tahun 5 bulan. Ia hidup tenteram di zaman khalifah Abu Bakar, ‘Umar dan bagian awal khalifah ‘Utsman dan kemudian mulai bertengkar dengan khalifah Utsman yang berakhir dengan meninggalnya Utsman. Tatkala ‘Ali dibaiat, ‘A’isyah memerangi ‘Ali dalam perang Unta atau Perang Jamal. Dinamakan demikian karena dalam perang tersebut ‘A’isyah menunggangi unta yang berlangsung di Bashrah dan setelah kalah perang ia dihantar ke Madinah atas perintah khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Ummu’lmu’minin ‘A’isyah tidak dapat menahan diri untuk memasukkan perasaan pribadinya yang keterlaluan dalam laporan ini. Bacalah Bab 1: “Pengantar” sub bab “Mengapa ‘Aisyah Benci Fathimah dan ‘Ali.”

2 = Thabari, Tarikh, jilid 2, hlm. 448; Ibnu Qutaibah, alImamah was Siyasah, jilid 1, hlm. 18: Mas’udi, Muruj adzDzahab, jilid 2, hlm. 414; Ibnu ‘Abd Rabbih, alIqd

alFarid, jilid 3, hlm. 64; Shahih Bukhari dan Kitab Maghazi bab Ghazwah Khaibar, jilid 3, hlm. 37; Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 72, jilid 5, hlm. 153 bab Rasul

bersabda ‘Kami para Nabi tidak mewariskan, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah’; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 285286; Ibnu Atsir, Tarikh, jilid 2, hlm. 126; Ibn AbilHadid, Syarh Nahju’lBalaghah, jilid 2, hlm. 122; Shawaiq, jilid 1, hlm. 12; Tarikh alKhamis, jilid 1, hlm. 1933.

3 = Ibnu ‘Abdil Barr, Usdu’IGhabah, jilid 3, hlm. 222.

4 = Ya’qubi, Tarikh, jilid 2, hlm. 105.

5= Isti’ab, jilid 2, hlm. 244; Tanbih walAsyraf, hlm. 250.

6 = Tafsir alWushul, jilid 2, hlm. 46.

7 = Ansab alAsyraf, jilid 1, hlm. 587.

8 = Lihat Fuad Hashem, ibid. hlm 48.

9 = Mas’udi, Muruj adzDzahab, jilid 1, hlm. 427.

10 = Lihat bab Nas Bagi ‘Ali.

.

Dalam sejarah Islam, masalah imamah (imâmah) telah memicu konflik yang berkepanjangan. Asy-Syahrastani, pengarang al-Milal wa an-Nihal, menyatakan bahwa tidak ada faktor pertikaian di kalangan umat Islam yang lebih besar daripada masalah imamah.[1] Mazhab Syiah dan Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) berbeda pandangan dalam definisi imamah, kriteria seorang imam, metode penentuan imam, legitimasi imam, individu-individu imam, dan lain sebagainya. Secara umum, mazhab Aswaja memandang imamah identik dengan khilafah dan membatasi skopnya pada ranah politik, sementara Syiah memberikan peran yang jauh lebih besar kepada imamah.

Menurut mazhab Aswaja, seorang imam pertama-tama dan terutama adalah seorang pemimpin politik yang bertugas memerintah dan mengatur tatanan sosial-politik. Karena itu, logis kiranya bilamana pemimpin politik yang biasa disebut dengan khalîfah ini tidak perlu terlalu tinggi dalam hal keilmuan atau ketakwaan, melainkan cukup memiliki sifat adil (‘adâlah). Sebagai pemimpin politik suatu masyarakat sudah sepatutnya imam ini dipilih secara demokratis melalui musyawarah. Musyawarah menyangkut urusan “sosial-politik” ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi: “…dan urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah di antara mereka.” (QS 42: 38). Singkat kata, karena imam tidak lebih daripada khalifah yang dipahami sebagai “pemegang kekuasaan politik”, maka syarat “adil” dan “dipilih secara musyawarah” sudah cukup untuk membuat siapa saja mengajukan diri sebagai calon imam.

Benar saja, selain dari empat khalifah pertama yang digelari dengan al-khulafâ` ar-râsyidun, umat Islam hampir tidak pernah lagi mempunyai pemimpin atau khalifah yang adil dan bijak. Lembaran-lembaran hitam mengisi sejarah Islam justru karena kezaliman dan kekejian penguasa-penguasa yang oleh sebagian umat Islam disebut sebagai khalifah atau amîr al-mu`minîin. Yazid yang terkenal zalim dan bengis dapat berkuasa di tengah-tengah umat Islam. Pada masa kekuasaannya, bermacam-macam kejadian tragis terjadi. Puncaknya, Yazid memaksa Imam Al-Husein, cucunda Nabi Muhammad, untuk tunduk dan berbaiat kepadanya. Manakala Al-Husein menolak paksaan baiat itu, beliau dan sebagian besar anggota keluarga dan sahabatnya dibantai secara biadab oleh kaki tangan Yazid.

Berbeda dengan itu, menurut mazhab Syiah, imamah memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih penting dibandingkan dengan dimensi politiknya. Dimensi spiritual ini adalah dasar, sedangkan dimensi politik adalah cabangnya. Dengan kata lain, seorang imam menjadi imam pertama dan terutama karena maqâm spiritualnya yang tinggi di sisi Allah dan kualitas-kualitas jiwanya yang sempurna. Karena itu, untuk mengetahui imam dalam pengertian ini, mau tidak mau, kita mesti mengacu kepada nash dan petunjuk Allah. Legitimasi seorang imam juga tidak diperoleh lewat musyawarah atau baiat. Imam dalam arti yang demikian menjadi imam bukan karena pengakuan atau kesepakatan orang, melainkan karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.

Dengan demikian, persoalan ini tidak bisa dikait-kaitkan dengan musyawarah atau kesepakatan publik. Para nabi dan rasul tidak mendapatkan kedudukan mereka melalui musyawarah atau pemungutan suara, melainkan melalui penunjukan dari Allah dan ketinggian spiritualnya. Para pakar dalam bidang-bidang keilmuan juga tidak mendapatkan kepakaran mereka melalui kesepakatan dan pengakuan publik, melainkan melalui proses belajar dan penelitian. Jadi, wilayah imamah secara primer bukanlah wilayah publik dimana kesepakatan dan pengakuan memiliki peran esensial, melainkan termasuk dalam wilayah agama yang meliputi wilayah publik.

Dalam perspektif seperti ini, imam bukan hanya khalifah yang hanya berperan menggantikan tampuk kekuasaan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad, melainkan juga¾seperti tercantum dalam pelbagai hadis Nabi¾mereka adalah para pemberi syafa’at, wasilah menuju Allah, pendamping Al-Quran, penjaga agama, pintu menuju Allah, pilar kehidupan di bumi, penopang kebenaran, dan tidak dapat dibandingkan dengan manusia biasa.[2] Mereka ini adalah wali-wali Allah yang berperan sebagai pintu-pintu dan perantara-perantara menuju Allah. Itulah sebabnya konsep tawassul dalam Syiah merupakan ajaran yang fundamental.

Menurut pandangan Syiah, hubungan antara nubuwah (nubuwwah) dan imamah bersifat irisan (intersection). Yakni, sebagian nabi sekaligus juga imam, tapi tidak semua imam menerima wahyu layaknya seorang nabi. Nubuwah berakhir dengan Baginda Muhammad saww, tetapi imamah tidak berakhir dengan beliau. Puluhan hadis yang berkaitan dengan kedudukan Ali sebagai pengganti (washy) Nabi merujuk pada fungsi imamah yang terus berlanjut meskipun nubuwah dalam pengertian turunnya wahyu berakhir dengan nabi Muhammad saaw.

Salah satu nash yang secara jelas berbicara mengenai imamah terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 124: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menyempurnakannya. Allah berfirman: Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi manusia. Ibrahim berkata: (Dan aku memohon juga) dan dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Menurut para mufasir, Nabi Ibrahim ditetapkan Allah sebagai imam setelah beliau menjadi nabi, sehingga status imamah dan nubuwah bergabung pada diri Ibrahim a.s.[3]

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menyebutkan bahwa imamah Nabi Ibrahim as diperoleh setelah beliau melewati pelbagai cobaan dan ujian. Selain menunjukkan ketinggian status imamah, ayat 124 itu juga menunjukkan bahwa seseorang tidak menjadi imam kecuali dengan bersabar menghadapi pelbagai ujian. Dan masalah kesabaran menghadapi ujian ini ditegaskan juga dalam ayat lain: “Dan kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) imam-imam yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka adalah orang-orang yang meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32: 24).

Dalam ayat yang disebut belakangan, selain masalah kesabaran, Al-Qur’an juga menyebutkan keyakinan sebagai syarat lain seseorang mencapai maqam imamah. Masalah keyakinan ini secara khusus pernah diminta oleh Nabi Ibrahim dalam upayanya mencapai maqam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku sudah percaya, namun agar semakin tentram hatiku.’…” (QS 2: 260). Keinginan mendapat ketentraman batin ini kemudian diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim. Allah berfirman: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin.” (QS 6: 75).

Melalui kualitas kesabaran dan keyakinan itulah seorang imam memperoleh kemaksuman (’ishmah), kesucian dan penyucian dari Allah (QS 33: 33). Kemaksuman adalah keadaan terbebas dari segala dosa dan kezaliman dalam pelbagai tingkatannya seperti disiratkan dalam surah al-Baqarah ayat 124 di atas “…janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Tentu saja, kemaksuman ini tidak diperoleh oleh sembarang orang lewat sembarang cara. Kemaksuman diperoleh lewat kesabaran seorang hamba dalam menyongsong pelbagai ujian dalam menuju Allah dan lewat keyakinannya yang mendalam.

Sejujurnya, apabila imam itu kita pahami hanya sebagai seorang pemimpin atau penguasa politik, maka akidah Syiah mengenai kemaksuman para imam ini jelas berlebih-lebihan. Dengan mudah orang akan menunjukkan bukti-bukti rasional maupun pragmatis bahwa seorang penguasa atau kepala pemerintahan tidak harus maksum, melainkan cukuplah baginya sifat adil. Namun, masalahnya berbeda bilamana imam ini kita pahami sebagaimana yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang menuturkan mengenai imam dan imamah.

Selain soal kemaksuman, berdasarkan hadis-hadis yang sedemikian banyak, Syiah juga meyakini bahwa alam semesta tidak akan pernah kosong dari imam, baik ia tampak secara indrawi maupun gaib. Puluhan hadis seperti ini sejalan juga dengan hadis-hadis yang menyatakan bahwa para imam bagaikan perahu Nabi Nuh, bintang-bintang yang menerangi bumi, tiang-tiang alam raya dan lain sebagainya.[4] Lantaran kedudukan yang sedemikian penting itu, kita tidak bisa menganggap imamah ibarat lembaga-lembaga sosial-politik yang tercipta berdasarkan kesepakatan dan dapat berakhir juga bersadarkan kesepakatan. Berbeda dengan presiden yang bisa naik dan bisa turun, seorang imam tidak bisa turun atau diturunkan oleh masyarakat.

Dalam konteks seperti itulah kita bisa mengerti mengapa Rasulullah saw bersabda bahwa siapa yang mati tanpa (memiliki atau mengenali) imam zamannya, maka matinya bagaikan mati dalam keadaan jahiliah.[5] Dalam versi lain, Rasul bersabda: “Siapa yang mati tanpa memberikan baiat kepada imam, maka ia akan mati dalam keadaan jahiliah.” Begitu juga halnya dengan penekanan yang diberikan Rasulullah saaw untuk mecintai para imam dari Ahlul Baitnya. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, Rasulullah saaw bersabda:

“من اراد التوكّل على الله فليحبّ اهل بيتي، و من اراد أن ينجو من عذاب القبر فليحبّ اهل بيتي،

و من اراد الحكمة فليحبّ اهل بيتي، و من اراد دخول الجنّة بغير حساب فليحبّ اهل بيتي، فو الله ما احبّهم احد الاّ ربح الدنيا و الاخرة“

“Barangsiapa ingin bertawakal (mewakilkan urusannya) kepada Allah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin selamat dari siksa kubur, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin memperoleh hikmah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; dan barangsiapa ingin masuk surga tanpa hisab, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku. Demi Allah, tak seorangpun mencintai mereka kecuali dia beruntung di dunia dan akhirat.”[6]

Hadis-hadis seperti di atas tercantum dalam pelbagai kitab hadis secara berlimpah-ruah, sedemikian sehingga membuat kita bertanya-tanya: Gerangan apa yang mendorong Allah melalui Nabi-Nya mengulang-ulang manfaat-besar kecintaan kepada mereka? Apakah ini semacam “agenda politik” yang dirancang oleh Nabi Muhammad untuk mengangkat Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai penguasa-penguasa politik sepeninggal beliau? Ataukah penekanan itu untuk menunjukkan kepada manusia bahwa kebergantungan mereka pada imam tidak berhenti pada kehidupan fisik dan wilayah sosial politik semata-mata, melainkan terus berlanjut pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya di alam-alam yang lain?

Jelas, bahwa kebergantungan dan kebutuhan manusia kepada para imam yang suci itu terus berlanjut secara abadi. Kecintaan kita kepada Rasul dan para imam itu menjadi ikatan yang akan terus menjaga kita walaupun tubuh kita telah hancur berkalang tanah. Ikatan inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai asas Islam.[7] Dalam hadis lain disebutkan bahwa kecintaan kepada mereka adalah sebaik-baik ibadah dan menyebabkan orang masuk surga.[8] Dalam kaitan dengan Imam Ali, Rasul bersabda:

يا علي ، لا يحبّك الاّ مؤمن ولايبغضك الاّ كافر او منافق

(Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.)[9]

Hanya saja, ironisnya, para imam yang suci dan ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia kembali kepada-Nya tidak selalu diterima oleh masyarakat sebagai penguasa dan pemimpin politik mereka. Bahkan, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang suci ini sering kali tersingkirkan dan dipermainkan oleh para avonturir yang dengan licik memanipulasi opini masyarakat, sehingga pada gilirannya imam-imam yang secara niscaya berkedudukan tinggi di mata Allah ini sering kali ditindas oleh Umat Muhammad persis seperti perlakuan Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka.

Dari urain singkat di atas, kita bisa memetik beberapa kesimpulan berikut: pertama, imamah adalah kedudukan yang ditetapkan oleh Allah dengan nash dan bukan hasil pilihan suatu musyawarah, sebagaimana nubuwah juga langsung ditetapkan oleh Allah; kedua, berbeda dengan khalifah, imam harus maksum (ma‘shûm) dan suci; ketiga, imam belum tentu mendapatkan kekuasaan dan legitimasi politik. Mungkin saja ada seorang imam yang tidak “diakui” sebagai penguasa politik, meskipun status imamah tidak mungkin dicabut oleh masyarakat lantaran status itu adalah pemberian Allah dan konsekuensi dari ketinggian kedudukannya di sisi Allah; dan keempat, kebutuhan manusia kepada imamah bersifat permanen sebagaimana kebutuhan manusia kepada nubuwah. Dengan berakhir serta sempurnanya nubuwah pada diri Nabi Muhammad, maka fungsi nubuwah untuk seterusnya dilanjutkan dengan imamah.

Musa Kazhim

20 Shafar 1424

(Hari Arba’in Imam Al-Husein)

[1] Al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal , Kairo, 1968, jilid I, hal. 99

[2] Lebih jauh, rujuk Muhammad Ar-Raysyahri, Ahlul Bait fil al-Kitab wa as-Sunnah, Muassasah Dar Al-Hadits, tanpa tahun.

[3] Sayyid Kamal Al-Haydari, Bahtsun Haul Al-Imâmah, Dar Al-Shadiqin, Qum, 1999, hal. 93.

[4] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal 140-168.

[5] Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad, Dar Al-Fikr, Beirut, 1414 H., jilid 6, hal 22.

[6] Muwaffaq Al-Khawarizmi, Maqtal Al-Husein, Maktabah Al-Mufid, Qum, t.t., jilid 1, hal. 59; Al-Juwayni, Faraid Al-Simthayn, Muassasah Al-Mahmudi, Beirut, jilid 2, hal. 294; dan Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’ Al-Mawaddah, Dar Al-Uswah, Teheran, jilid 2, hal. 332.

[7] Alauddin Al-Hindi, Kanz Al-‘Ummal, Maktabah Al-Turats Al-Islami, Beirut, 1397 H., jilid 1, hal. 645.

[8] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal. 393.

[9] Ibn Asakir Al-Damasyqi, Târîkh Damasyq, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, 1395 H., jilid 2, berkenaan dengan “Biografi Imam Ali”.

Para Pembaca …

Imam Ali as berkata :

“Ketika aku tidak mendapatkan yang membantuku, maka akupun memberi bai’at kepada mereka. Tetapi bai’atku terhadap mereka bukanlah membenarkan kebatilan mereka dan tidak pula mewajibkan kebenaran untuk mereka”.

Ref. syi’ah :

Sulaim bin Qais, dalam “Kitabus Sulaim”, hal. 216

—————————

Keterpaksaan beliau itulah yang oleh sebagian orang dianggap sebagai sikap “taqiyyah” beliau as. Di saat lain, Imam Ali juga mengecam keras Abubakar, Umar dan Utsman dalam khutbah beliau yang dikenal dengan “khutbah syiqsyiqiyyah”. Akan saya kutipkan khutbah tersebut pada sub bab tersendiri. Dalam khutbah ini, beliau juga mengatakan bahwa beliau dengan terpaksa bersabar dengan membiarkan imamah beliau dirampas oleh Abubakar, walaupun hal itu menusuk di mata dan mencekik kerongkongan.

Sehingga akhirnya, beliau as memilih untuk berkonsentrasi melakukan syi’ar Islam yang hakiki, demi tetap terjaganya ajaran Islam yang haq di setiap generasi sampai hari kiamat nanti.

Berikut kalimat Imam Ali as yang lain :

“Demi hidupku, apabila masalah imamah tidak harus diputuskan kecuali semua orang hadir, maka tak akan ada hal seperti itu (peristiwa Saqifah). Tetapi orang-orang yang menyetujuinya memaksakan keputusan kepada yang tidak hadir, sedemikian rupa sehingga orang yang hadir tak dapat menolak dan orang yang tak hadir tak dapat memilih. Ketahuilah bahwa saya akan memerangi dua orang : yang mengakui apa yang bukan miliknya, dan  yang mengabaikan apa yang wajib baginya”.

Ref. Syi’ah : Nahjul Balaghah, khutbah 173. [Lihat Catatan Kaki no.  30]

————————————————————

Dalam surat beliau as kepada rakyat Mesir, Imam Ali as berkata :

“Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad saww sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua Nabi. Ketika Nabi saww wafat, kaum muslimin bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal beliau. Sepeninggal Nabi, orang-orang Arab merebut kekhalifahan dari Ahlul Bait, dan mengambilnya dari saya setelah beliau. Secara mendadak saya melihat orang mengelilingi lelaki itu (Abubakar) untuk membai’at”.

Ref. Syi’ah :

Nahjul Balaghah, surat 62. [Lihat Catatan Kaki no.  31]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s