Kontroversi Dipangkuan Siapa Rasulullah SAW wafat… Apa motif pemalsuan sejarah ???

Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu keyakinan Syi’ah yang paling esensial adalah mereka meyakini adanya rentetan imamah (kepemimpinan) yang dimulai dari Ali bin Abi Thalib dan seterusnya turun temurun kepada anak-anak keturunannya yang semuanya berjumlah dua belas  imam berikut ditunjuk oleh imam pendahulunya dan begitu seterusnya, dan penunjukan Ali sendiri sebagai imam menurut mereka dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam, selanjutnya Ali menunjuk penggantinya yaitu Al-Hasan bin Ali dan begitu seterusnya.

Setelah  peristiwa ghadir kum tentang Imamah Ali,
Hadis berikut ini membuktikan bahwa Abbas mengajak Imam Ali 
meminta wasiat tertulis berupa DOKUMEN TERTULiS dari Nabi.

Wasiat lisan sudah diberikan oleh Nabi di Ghadir Kum,

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?”

wasiat tertulis ingin diminta Abbas karena dia mengetahui ada desas desus bahwa kelompok Abubakar Umar dan kelompok Saad bin Ubadah juga mengincar kekhalifahan. Hadis ini berkaitan dengan permintaan dokumen tertulis, jadi sinkron dengan wasiat Ghadir Kum yang cuma secara lisan !

Bukhari :: Book 5 :: Volume 59 :: Hadith 728  , (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447; Tarikh Ibnu Hisyam 2/654; Tarikh at-Tabari, jil 9, hal 175-176)

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه البخاري

Narrated ‘Abdullah bin Abbas:

Ali bin Abu Talib came out of the house of Allah’s Apostle during his fatal illness. The people asked, “O Abu Hasan (i.e. Ali)! How is the health of Allah’s Apostle this morning?” ‘Ali replied, “He has recovered with the Grace of Allah.” ‘Abbas bin ‘Abdul Muttalib held him by the hand and said to him, “In three days you, by Allah, will be ruled  by ‘abdun  al ‘aashaa*, And by Allah, I feel that Allah’s Apostle will die from this ailment of his, for I know how the faces of the offspring of ‘Abdul Muttalib look at the time of their death. So let us go to Allah’s Apostle and ask him who will take over the Caliphate. If it is given to us we will know as to it, and if it is given to somebody else, we will inform him so that he may tell the new ruler to take care of us.” ‘Ali said, “By Allah, if we asked Allah’s Apostle for it (i.e. the Caliphate) and he denied it us, the people will never give it to us after that. And by Allah, I will not ask Allah’s Apostle for it.”

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah telah  sembuh  dengan  izin Allah”.. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Demi  Allah, dalam  tiga hari kedepan anda  akan  dipimpin  oleh hamba yang bermaksiat/durhaka/otoriter* .. Demi  Allah, aku  merasa  bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali bagaimana  wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada nya  siapa yang  akan mengambil alih  kekhalifahan.. Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. Kita  akan melaporkan kepadanya  maka  mungkin  Nabi akan memberitahukan penguasa baru  yang akan memerintah.. Ali bin Abi Thalib berkata : “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakan kepada Rasulullah (tentang kekhalifahan), lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka orang orang tidak akan pernah memberikannnya kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan menanyakan nya  kepada Rasulullah (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

Teks   arabnya  : faqaala  anta  wallahi   ba’da   tsalaasin  tahta  ‘abdun  al ‘aashaa, kata abdun ‘aashaa bermakna hamba yang  bermaksiat/ durhaka/ otoriter atau (orang hina rendahan atau orang yang diperintah oleh seseorang).

 Percakapan antara Ali dan Abbas di atas terjadi pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam sedang sakit menjelang wafat beliau. Beberapa waktu setelah peristiwa Ghadir Khum yang menurut kaum syi’ah adalah moment penunjukkan teRhadap Ali,

Nabi SAW  jauh lebih memahami tentang wasiat tertulis daripada Abbas, tidak lama setelah peristiwa ini pada hari kamis  Nabi  mencoba mewasiat kan 3  hal  secara tertulis  tapi  di gagal kan oleh  Umar

 

Shahih Bukhari | No. 2911 | KITAB JIHAD DAN PERJALANAN (PERANG)

Ibnu Abbas berkata: “Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, ‘Pergilah kalian dari sisiku!’ Ibnu Abbas berkata: ‘Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.’   ( Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil. 3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.)

 

penggagalan wasiat TERTULiS  NAbi  SAW  oleh  Umar bin Khattab untuk menjegal Imam Ali menjadi khalifah…

setelah  mereka  diusir  Nabi  mewasiatkan  3  hal  secara  lisan.. Wasiat  ketiga disembunyikan  Aswaja  sehingga  Aswaja  bisa  tegak

Setelah wasiat tertulis di gagalkan Umar : Rasulullah  SAW mengeluarkan 3 wasiat  secara lisan !!!  Aswaja Sunni menyembunyikan  wasiat  nomor  3  Nabi  SAW… keterlaluan  banget.. ini  kudeta dan pemalsuan agama bukan ???

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW berwasiat tiga hal saat menjelang wafatnya: Pertama, keluarkan kaum musyrikin dari Jazirah Arab. Kedua, berikan hadiah kepada delegasi seperti yang biasa kulakukan. Kemudian si perawi berkata, aku lupa isi wasiat yang ketiga ( Shahih Bukhari jil. 7 hal. 121; Shahih Muslim jil. 5 hal. 75.)

Hadis mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengatakan tiga perkara tetapi ia lupa perkara ketiga yang berharga bagi kaum muslimin. Aneh sekali, bahwa perawi yang biasanya ingat akan ribuan hadis, lupa wasiat ketiga Nabi.

Perhatikan dua perkara yang disebutkan oleh kedua perawi tersebut;

1) Mengusir penyembah berhala dari semenanjung Arabia;

2) Menghormati utusan-utusan asing. Dapat kita lihat bahwa kedua perkara tersebut bukan perkara yang jika dilakukan kaum Muslimin, mereka tidak akan pernah tersesat sepeninggal Nabi Muhammad.

Perkara ketiga pasti lebih penting yang akan menjamin keselamatan kaum Muslimin, dan tidak mungkin tidak lebih penting daripada kepemimpinan

.

Tidak syak lagi bahwa isi wasiat yang Terlupa  itu adalah wasiat Nabi akan pelantikan Ali sebagai khalifah dan imam sepeninggalnya. Namun si perawi enggan menyebutkannya

Aisyah berdusta menyatakan Nabi wafat dipangkuan nya, seolah olah Nabi wafat dipangkuan seorang wanita ! Aisyah jelas membela Abubakar ! Menurut Aisyah sejumlah orang telah mengklaim bahwa Nabi SAW telah mewasiatkan Imamah kepada Ali, tapi Aisyah menolak mentah mentah klaim tersebut . Orang yang menyatakan Nabi telah memberi wasiat pada Ali termasuk Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Fadhil, Salman, Abu Zarr sementara Aisyah tidak berada di kamar Nabi sehingga Aisyah tidak tau wasiat Nabi

 

Mungkin bagi netter yang suka gugling menemukan dua versi sekitar kewafatan Nabi Muhammad saw. Versi pertama yang dianut Sunni dan versi terakhir yaang diyakini Shi’i. Masing-masing mempunyai hadith utama yang sahih yaitu yang berasal dari para Ummu al-Mukminin. Kaum Sunni mendukung riwayat yang dilaporkan oleh Aisyah sedangkan Shi’i berdasarkan dari Ummu Salamah, dan berbagai riwayat dari jalur Ali, Ibn Abbas, Jabir bin Abdullah, bahkan dari Aisyah sendiri (lih. Ibn Asakir dalam tarikhnya J. 3: 15). Dalam versi Sunni Aisyah disebutkan bahwa Nabi wafat ketika berada di pangkuannya. Sedangkan versi Ummu Salamah menunjukkan bahwa sahabat terakhir yang tinggal bersama Rasulullah saw adalah Ali.


Dalam peristiwa ini tidak mungkin untuk membenarkan semuanya, pasti salah satunya bohong atau dipalsukan. Namun sebagian ulama mengkompromikan kedua hadith tersebut, misalnya di dalam kitab Fathul Bari, Ibn Hajar berkata: Kompromi (antara dua hadits tersebut) dapat dilakukan dengan menerangkan bahwa ‘Ali adalah orang yang terakhir bersama Nabi, dan ia tidak meninggalkan Nabi, sampai Nabi pingsan. Ketika Nabi pingsan, ia mengira beliau telah wafat. Karena itu, ‘Ali dari pihak laki-laki adalah orang terakhir yang menunggui Nabi. Namun kemudian Rasulullah saw sadar kembali ketika ‘A’isyah datang. Lalu ‘A’isyah menyandarkan Nabi di atas dadanya, dan Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits melalui saluran Yazid ibn Babanus: “Pada suatu hari kepala Rasulullah berada di atas pundakku tatkala beliau memiringkan kepalanya ke arah kepalaku. Aku kira beliau memerlukan kepalaku. Lalu terpercik setetes (ludah) dingin dari mulut beliau yang menimpa rongga dadaku. Aku gemetar, kukira beliau pingsan. Maka akupun menutupnya dengan baju”. (Lihat Fathul Bari, jilid 8, hal. 139)


Menurut saya pengkompromian hadith tersebut tidak sepenuhnya benar karena bagaimana bisa Ali salah dalam mengira Nabi saw wafat atau pingsan? karena hampir semua sahabat tatkala menjenguk dan melihat Nabi -yang sudah wafat-, mengetahui bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Kecuali Umar (sebagian ulama mengatakan Umar berakting) dengan mengatakan bahwa Nabi tidak wafat tetapi Nabi pergi dan akan kembali seperti Musa meninggalkan kaumnya, yang kemudian percaya bahwa Nabi saw benar-benar wafat tatkala Abu Bakar datang, padahal sebagian sahabat telah menyakinkan akan kewafatan Nabi saw.


Untuk mengetahui riwayat mana yang tertuduh palsu, direkayasa mungkin analisa rawi serta hubungannya dengan pelaku dalam riwayat tersebut. misalnya bagaimana hubungan Aisyah dengan Ummu Salamah, dst. Secara garis besar hubungan antara Nabi saw, Ali, serta para Ummu al-Mukminin, masing-masing tidaklah begitu berseberangan, meski ada sedikit masalah antara Nabi saw dengan kecemburuan Aisyah pada Sayyidah Khadijah. Setidaknya yang patut dicurigai adalah ketidaksukaan Aisyah kepada Ali karena sikap tersebut sudah ada sejak Nabi saw masih hidup. beberapa riwayat menceritakan bagaimana sikap Aisyah terhadap Ali, mis:

Imam Ahmad menceritakan yang berasal dari Nu’man bin Basyir, lihat dalam musnad penduduk Kufah: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah saw dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!’, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’. kemudian Abu Bakar menasehati putrinya tersebut karena berkata lantang keras melebihi suara Nabi saw.

Tatkala sakit Rasul Allah bertambah berat, beliau dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang, yaitu Fadhl bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib,
dan seorang lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Aisyah. Ubaidillah kemudian berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh Aisyah kepadaku, kusampaikan kepada Abdullah bin Abbas, yang mengembalikan pertanyaan kepadaku: “Tahukah engkau siapa gerangan orang yang tidak disebutkan namanya oleh Aisyah?’ ‘Tidak’, jawabku. Dan kemudian menambahkan: ‘Sungguh, Aisyah tidak pernah merasa senang dengan segala berita baik mengenai Ali’.(Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad­nya, jilid VI, hlm. 23 dan 238; Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 2, bab 2, hlm. 29; Thabari, dalam Tarikh­nya, (edisi Leiden) jilid 2, hlm. 1800­1801; Baladzuri, Ansab al­Asyraf, jilid 1, hlm. 544­545; Baihaqi, Sunan, jilid 2. hlm. 396 dll)

Imam Ahmad, dalam Musnad­nya, mengatakan bahwa tatkala orang datang kepada Aisyah dengan mencaci Ali bin Abi Thalib dan ‘Ammar bin Yasir, Aisyah berkata: ‘Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai Ali, sedang mengenai ‘Ammar aku telah mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Ia tidak akan memilih akan dua urusan kecuali ia akan memilih yang lurus’

Dengan kebencian seperti itu tidak mustahil Aisyah memanipulasi -atau kemungkinan dijadikan sandaran- riwayat seputar kewafatan Nabi saw dengan dirinya, bukan dengan sahabat terbaik Nabi, Ali bin Abi Thalib. Wa Allah A’lam

Selanjutnya dalam proses pemakaman Nabi saw yang hampir tidak dihadiri mayoritas sahabatnya, termasuk Abu Bakar dan Umar karena “perebutan” kekuasaan. Hanya keluarga Rasul, termasuk Ali -yang tidak pernah meninggalkan Nabi saw ketika sakit karena menerima wasiat untuk mengurus jenazahnya- dan sebagian kecil sahabat yang mengebumikan jasad Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan berikut:

Aisyah berkata: ‘Kami tidak mengetahui penguburan Rasul sampai kami mendengar suara­suara gesekan di tengah malam Rabu’. (Ibnu Hisyam, Sirah, jilid 4, hlm. 344; Thabari, Tarikh, jilid 2, hlm. 452, 455 (terbitan Leiden, jilid 1, hlm. 1833, 1837); Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 270; Ibnu Atsir, Usdu’l­Ghabah, jilid 1, hlm. 34, dalam membicarakan Ar­Rasul disebut juga riwayat lain, bahwa terdengarnya suara gesekan dan bunyi keriak keriuk adalah pada malam Selasa, seperti dalam Thabaqat Ibnu Sa’d, jilid 2, Bab 2, hlm. 78 dan Tarikh Khamis, jilid 1, hlm. 191; sedang Dzahabi dalam Tarikh­nya, jilid 1, hlm. 327 menguatkan bahwa penguburan dilakukan pada akhir malam Rabu juga Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 62 dan pada hlm. 242 dan 274: “Kami tidak mengetahui di mana ia dikuburkan sampai kami mendengar..”)

Yang melakukan penguburan hanyalah keluarga Rasul, yaitu orang­orang yang memandikannya seperti Abbas, Ali, Fadhl dan Shalih (maula Rasul Allah) tiada orang lain.
‘Dan tiada yang mengurus (penguburan Rasul) kecuali keluarga dekatnya dan Banu Ghanm yang berada di rumah mereka telah mendengar suara keriat­keriut’.
Seorang tua kaum Anshar dari Banu Ghanm berkata: ‘Aku mendengar bunyi sesuatu yang bergesek pada akhir malam’. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 2, Bab 2, hlm. 78)

‘Yang masuk ke liang kubur adalah Ali, Fadhl bin Abbas dan Qutsam bin Abbas serta Syuqran, (maula Qutsam). Dan ada yang menyebutkan juga Usamah bin Zaid. Merekalah yang membalikkan jenazah Rasul Allah saw, memandikan dan mengafaninya serta mengurus segala sesuatunya. Abu Bakar dan Umar tidak menghadirinya’. (Alauddin Muttaqi al­Hindi, Kanzu’l­Ummal, jilid 3, hlm. 14)

 .

Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. Kemudian dia berhujjah dengan sebuah hadits :

عن زيد بن ثابت قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن تارك فيكم الخليفتين من بعدي كتاب الله وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754].

Demikian juga ternyata Ali bin Abi Thalib tidak menunjuk pengganti sebelum dia wafat SECARA TERTULiS  dalam rangka mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam yang juga tidak sempat menunjuk pengganti sebelum beliau wafat SECARA TERTULiS karena digagalkan Umar.. Namun Nabi SAW dan Imam Ali menunjuk pengganti secara lisan saja !!!

Hadis Imam Ali Mengakui Khalifah Peninggalan Rasulullah SAW : Studi Kritis Hujjah Salafy

Oknum salafiyun itu ternyata tidak mau berhenti untuk menunjukkan kekeliruannya dalam berhujjah. Ia membawakan dua buah hadis yang dikatakannya sebagai penguat hadis Syu’aib bin Maimun. Mari kita analisis dengan seksama kedua hadis tersebut.

Hadis Pertama diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/130 no 1078

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salim bin Abi Al Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Aku mendengar Ali berkata “sesungguhnya ini akan dilumuri (darah) dari sini, sehingga tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan. Mereka berkata “wahai Amirul Mukminin beritahukanlah kepada kami siapa dia, kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “kalau demikian demi Allah kalian akan membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Maka angkatlah seseorang sebagai penggantimu. Ali berkata “tidak, akan tetapi aku akan meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Mereka berkata “Apa yang akan Engkau katakan kepada TuhanMu jika Engkau mendatanginya -Waki terkadang berkata– Jika Engkau bertemu denganNya”. Ali berkata “Ya Allah Engkau membiarkanku di antara mereka dengan kehendakMu lalu Engkau mengambilku ke sisiMu sedang Engkau berada di antara mereka. Jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kebaikan pada mereka dan jika Engkau menghendaki Engkau dapat memberikan kehancuran pada mereka”.

Hadis Kedua diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/156 no 1339

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami, dia berkata “Demi Yang memecahkan biji dan menciptakan Ruh sungguh ini akan dilumuri dari sini. Orang-orangpun berkata “beritahukanlah kepada kami siapa dia? Demi Allah kami akan membunuh keluarganya. Ali berkata “Demi Allah itu berarti orang yang tidak membunuhku akan dibunuh. Mereka berkata “Jika Engkau mengetahui hal itu maka angkatlah seseorang sebagai pengganti. Ali berkata “Tidak, akan tetapi aku meninggalkan kalian pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan kalian”. Manhaj Syaikh Syu’aib Al Arnauth

 

Kedua hadis ini sanadnya dhaif dimana hadis kedua lebih dhaif dari hadis pertama. Kedua hadis tersebut bersumber dari Abdullah bin Sabu’ dia adalah perawi yang tidak ada satu ulama pun yang menyatakan ta’dil padanya kecuali Ibnu Hibban sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 397. Disebutkan pula hanya Salim bin Abil Ja’d yang meriwayatkan hadis darinya. Oleh karena itu dalam Tahrir At Taqrib no 3340 Abdullah bin Sabu’ dinyatakan majhul. Sedangkan hadis kedua selain kemajhulan Abdullah bin Sabu’ hadis ini memiliki illat idhthirab. Yang meriwayatkan dari Abdullah bin Sabu’ bukanlah Salamah bin Kuhail tetapi Salim bin Abil Ja’d. Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 telah membawakan sanad hadis ini dimana Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Salamah bin Kuhail tidak mendengar dari Abdullah bin Sabu’.

Jadi kedua hadis tersebut kedudukannya dhaif dan jika kita gabungkan dengan hadis Syu’aib bin Maimun maka didapati

  • Hadis pertama dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul
  • Hadis kedua dhaif karena Abdullah bin Sabu’ majhul dan sanadnya mudhtharib
  • Hadis Syu’aib bin Maimun dhaif karena Syu’aib bin Maimun perawi dhaif majhul dan hadisnya mungkar

Ketiga hadis ini sudah jelas cacatnya sama-sama parah dan tidak mungkin bisa saling menguatkan sehingga sungguh tidak benar jika Syaikh Syu’aib menyatakan bahwa hadisnya terangkat menjadi hasan lighairihi.

Apalagi jika dilihat bahwa matan hadis Syu’aib bin Maimun tidaklah sama dengan matan hadis Abdullah bin Sabu’

  • Hadis Syu’aib bin Maimun memuat lafaz Imam Ali mengakui Rasulullah SAW tidak memilih penggantinya dan lafaz bahwa Allah SWT yang mengumpulkan mereka di bawah orang yang terbaik dari kaum muslimin
  • Hadis Abdullah bin Sabu’ tidak mengandung lafaz seperti hadis Syu’aib, matannya hanya berupa Imam Ali meninggalkan mereka pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan mereka.

Kedua lafaz ini memiliki perbedaan yang nyata. Tertera dalam hadis shahih bahwa Rasulullah SAW meninggalkan Ahlul Bait sebagai khalifah untuk kaum muslimin dan jika dikembalikan pada kedua hadis di atas maka hadis Abdullah bin Sabu’ justru mengandung makna bahwa Imam Ali mengakui khalifah itu ada pada Ahlul Bait sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW oleh karena itu Beliau tidak perlu menunjuk pengganti karena Rasulullah SAW telah menetapkan. Sedangkan hadis Syu’aib lafaznya mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih. Manhaj Syaikh Ahmad Syakir

Salafy cukup dikenal dengan sikap mereka yang merendahkan tautsiq Ibnu Hibban. Mereka tidak menganggap penta’dilan Ibnu Hibban karena Ibnu Hibban suka menyatakan tsiqah kepada perawi-perawi majhul. Kalau begitu sudah seharusnya salafy tidak menggunakan hadis Abdullah bin Sabu’ sebagai hujjah. Tapi ternyata sekarang kita melihat inkonsistensi salafy. Ketika hadis tersebut mau mereka menjadikan hujjah maka tidak ada masalah bagi mereka untuk berhujjah dengan perawi majhul.

Berbeda halnya dengan manhaj Syaikh Ahmad Syakir dalam menilai tautsiq Ibnu Hibban. Menurut syaikh Ahmad Syakir jika seorang perawi disebutkan biografinya oleh Bukhari atau Abu Hatim tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil kemudian Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat maka perawi tersebut layak untuk dinyatakan tsiqah walaupun tidak ada ta’dil dari ulama lain.

Abdullah bin Sabu’ disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 3646. Al Bukhari menyebutkan biografinya dalam Tarikh Al Kabir juz 5 no 283 dan Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 5/68 no 322, keduanya tidak menyebutkan jarh dan ta’dil pada Abdullah bin Sabu’. Maka menurut Syaikh Ahmad Syakir Abdullah bin Sabu’ seorang yang tsiqah sehingga dalam tahqiqnya terhadap hadis tersebut Syaikh menyatakan kedua hadis tersebut shahih.

Tanggapan Kami

Tentu saja kami tidak mau seperti salafy yang berhujjah dengan cara-cara seenaknya bahkan terkesan inkonsisten atau kontradiktif. Tidak ada celah sedikitpun bagi salafy untuk berhujjah dengan hadis Abdullah bin Sabu’ perawi yang majhul menurut metode salafy.

Pendapat yang benar dalam pandangan kami adalah seperti yang dikatakan Syaikh Ahmad Syakir tetapi kami tidak akan membabi-buta mengikuti Syaikh Ahmad Syakir. Hadis pertama tersebut bersanad hasan dan hadis kedua tersebut dhaif karena idhthirab. Dan sebagai penjelas hadis Abdullah bin Sabu’ adalah hadis Rasulullah SAW berikut

Dari Zaid bin Tsabit yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian dua khalifah (penggantiku) setelahKu yaitu Kitab Allah dan ItrahKu Ahlul BaitKu dan sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah sampai kembali kepadaku di Al Haudh. [hadis shahih riwayat Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 754].

Jadi mengapa dalam hadis Abdullah bin Sabu’ dikatakan Imam Ali tidak mau menunjuk penggantinya. Hal itu disebabkan Imam Ali menginginkan agar mereka kaum muslimin kembali pada apa yang Rasulullah SAW meninggalkan untuk mereka yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah SAW

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s., para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Rasulullah SAWW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Rasulullah SAWW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAWW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali a.s. yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Rasulullah SAWW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali a.s. seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali a.s. setelah Rasulullah SAWW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali a.s. untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali a.s. tampil aktif dalam memecahkannya.

 

Mayoritas Quraisy tidak suka dengan Ali, karena beliau adalah yang paling muda, yang pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan membunuh pahlawan pahlawannya.

 .

Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali

Sebelumnya saya pernah berjanji dengan seseorang untuk membahas hadis ini. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun [you know lah siapa dia], hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) thread disini, orang tersebut membawakan hadis berikut

Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”,“Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Orang itu mengatakan bahwa Imam Ali tidak merasa mendapat wasiat jadi hadis-hadis tentang kepemimpinan Imam Ali itu tertolak. Dengan berat hati kami katakan orang itu benar-benar keliru [kalau tidak mau dikatakan berdusta]. Ia keliru memahami hadis tersebut dan [entah sengaja atau tidak] ia mendistorsi teks hadis yang dijadikan hujjah olehnya. Kami akan membawakan teks asli hadis tersebut dalam kitab Shahih Muslim dan Musnad Ahmad

وحدثنا أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم أن عندنا شيئا نقرأه إلى كتاب الله وهذه الصحيفة ( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله عليه و سلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya bahwa Ali bin Abi Thalib berkhutbah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah (lembaran) ini [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. [Shahih Muslim 2/994 no 1370 dan Shahih Muslim 2/1146 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]

Maka perhatikanlah hadis Shahih Muslim di atas dan hadis yang dibawakan oleh orang itu

  • Orang itu membawa hadis dengan lafaz “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah”
  • Sedangkan lafaz hadis yang benar adalah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah”.

Ada perbedaan yang krusial dari kedua lafaz yang berbeda ini. Lafaz hadis yang asli tidaklah menafikan bahwa Rasulullah SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pemimpin atau khalifah setelah Beliau sebagaimana yang tertera dalam hadis shahih. Sedangkan lafaz yang dibawa orang itu hanyalah angan-angannya semata yang berkeras ingin membantah hadis shahih. Kemudian perhatikan hadis riwayat Ahmad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن سليمان عن إبراهيم التيمي عن الحرث بن سويد قال قيل لعلي رضي الله عنه أن رسولكم كان يخصكم بشيء دون الناس عامة قال ما خصنا رسول الله صلى الله عليه و سلم بشيء لم يخص به الناس إلا بشيء في قراب سيفى هذا فاخرج صحيفة فيها شيء من أسنان الإبل وفيها ان المدينة حرم من بين ثور إلى عائر من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فإن عليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل وذمة المسلمين واحدة فمن أخفر مسلما فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل ومن تولى مولى بغير أذنهم فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Al Harts bin Suwaid bahwa dia berkata “Ditanyakan kepada Ali,Apakah Rasul kalian pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kalian dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada seluruh manusia?. Ali menjawab Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kami dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada manusia kecuali sesuatu yang ada dalam sarung pedangku ini. Ali pun mengeluarkan lembaran yang berisi sesuatu dari umur unta. Dalam lembaran tersebut tertulis “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan barang siapa melanggarnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Barang siapa memperbudak seorang budak tanpa seizinnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak.[Musnad Ahmad 1/151 no 1297 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan ia berkata “hadis shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 1297 menyatakan bahwa sanad ini merupakan sanad yang paling shahih]

Hadis di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk menentang hadis shahih bahwa Imam Ali pemimpin atau khalifah setelah Nabi SAW karena pernyataan bahwa Imam Ali sebagai pemimpin telah diucapkan Rasulullah SAW kepada para sahabat. Bukankah sangat masuk akal kalau Rasulullah SAW ingin menetapkan seseorang sebagai pemimpin maka Rasulullah SAW akan mengatakannya kepada manusia, Rasulullah SAW jelas tidak akan hanya berbicara kepada Imam Ali saja. Beliau seperti yang tertera dalam hadis shahih telah mengucapkan hadis-hadis kepemimpinan Imam Ali kepada para sahabat. Dan sebagaimana yang juga tertera dalam kabar shahih bahwa Imam Ali telah meminta kesaksian para sahabat mengenai hadis kepemimpinan Beliau. Mana mungkin ucapan tersebut hanya khusus disampaikan kepada Imam Ali saja karena terbukti Imam Ali justru meminta kesaksian mereka yang mendengar hadis tersebut.

Akhir kata kami katakan betapa lucunya para oknum salafiyun itu berhujjah, mereka seolah tidak memahami hadis yang mereka jadikan hujjah dan mereka bahkan tidak memahami apa yang ingin mereka bantah :mrgreen:

.

Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abu Bakar RA

وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata ”Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Penjelasan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al Muwatta. Dari hadis di atas diketahui bahwa

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW.

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s