Kudeta Pasca Nabi SAW membuktikan kebenaran hadis : “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”.

Dari Abdullah ibn Mas’ud radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya”. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim di atas, ada tiga kelompok yang merupakan sebaik-baik manusia, yang hidup sezaman dengan Nabi saww yakni para sahabat, zaman setelahnya yakni tabi’in dan zaman setelahnya lagi, yakni generasi tabi’ut tabi’in. Inilah di antara hadits yang biasa digunakan kaum salafiyun dalam mendakwahkan pemahaman dan keyakinan Islam mereka. Dengan berlandaskan hadits ini pula dibuatlah teori baru mengenai bid’ah, bahwa bid’ah adalah apa-apa yang tidak ada pada tiga kurun setelah wafatnya Nabiullah Muhammad saww. Mereka senantiasa berargumentasi, bahwa apapun yang dianggap baik bagi agama ini, maka tiga generasi tersebut niscaya akan lebih dahulu melakukannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia, mereka memiliki pemahaman agama yang hanif, bersih dan lebih mendalam dibanding generas-generasi Islam setelahnya. Karenanya suatu kewajiban, pemahaman dan pendapat apapun mengenai agama ini harus merujuk kepada pemahaman ketiga generasi terbaik tersebut.

Sebagai bentuk kecintaan kepada agama ini yang telah disampaikan dan didakwahkan oleh Nabiullah Muhammad saww, adalah suatu keharusan sejarah untuk senantiasa kritis dan tak berhenti melakukan tahqiq (penelitian) yang serius dan mendalam terhadap apapun yang dianggap bagian dari agama ini, termasuk terhadap hadits-hadits yang dikatakan dari Nabi yang merupakan diantara rujukan umat Islam dalam beraqidah dan beramal. Menelusuri keshahihan sebuah hadits melalui penelusuran sanad dan kejujuran para perawi adalah salah satu di antara metode yang digunakan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari anasir-anasir yang ingin mencemarinya. Namun tidak pula bisa diabaikan kenyataan sejarah menjadi salah satu tolok ukur keshahihan dan kebenaran sebuah hadits, bahwa Nabiullah saww tidak berbicara dan bersabda berdasarkan hawa nafsu belaka, apa yang beliau sabdakan berasal dari petunjuk Allah swt yang Maha Mengetahui keadaan. Karenanya bisa ditetapkan, bahwa apapun yang disampaikan dan dinubuatkan oleh Nabi akan terbukti dan dipersembahkan oleh kenyataan sejarah. Dengan metode ini kita akan melakukan peninjauan kembali terhadap hadits di atas, benarkah tiga kurun generasi yang katanya disebutkan oleh Nabi saww tersebut adalah generasi terbaik?.

Kriteria Generasi Terbaik

Permasalahan mendasar yang mesti kita ajukan sebagai pertanyaan, adalah apa yang dijadikan standar dan kriteria sebuah generasi dikatakan terbaik atau terburuk?. Ada tiga tolok ukur asumtif yang biasa diajukan kaum salaf dalam memberikan atribut baik buruknya sebuah generasi.

Pertama, sebuah generasi disebut terbaik karena tidak adanya perselisihan di antara mereka dalam masalah ushuluddin dan aqidah. Kedua, karena mereka hidup dalam kondisi yang aman, tentram, sejahtera dan penuh dengan rasa persaudaraan. Ketiga, karena mereka menunjukkan loyalitas terbaik terhadap cita-cita agama dan merealisasikannya dalam tataran implementasi. Mereka gigih menuntut ilmu, berdakwah dan berjihad demi bertumbuh dan tersebarnya ajaran agama ini.

Namun ketika ketiga kriteria asumtif tersebut kita gunakan untuk membuktikan terbaiknya tiga generasi pasca wafatnya Rasulullah saww, sayangnya tidak satupun dari ketiganya yang membenarkan hadits tersebut, bahkan oleh Al-Qur’an sendiri dan kontradiktif dengan hadits Nabi lainnya.

Jika tolok ukurnya adalah akidah yang shahih dan bersih, maka sebuah keniscayaan ketiga generasi yang dikatakan terbaik, orang-orang muslim semuanya akan berpegang teguh pada satu akidah yang benar sebagaimana yang disampaikan Rasulullah saww, dan akidah yang batil dan menyimpang baru akan muncul dan lahir setelah tiga generasi terbaik tersebut. Namun sejarah lahirnya beragam sekte, firqah dan mazhab dalam masyarakat Islam menyangkal klaim tersebut. Khawarij muncul dipenghujung tahun ke-30 H, mereka memiliki akidah yang batil mengenai keimanan, mereka membunuhi kaum muslimin yang berselisih paham dengan keyakinan mereka, dengan mudah mereka menyematkan kekafiran kepada banyak kaum muslimin, sehingga hamparan bumi bersimbah darah karenanya. Belum berakhir satu abad pertama, kembali muncul Murjiah, mereka mengajak umat Islam untuk berlepas dari tatanan dan komitmen syariat dengan slogan yang terkesan humanis dan elegan, “Selama seseorang masih beriman, maksiat apapun yang dilakukan tidak tercatat sebagai dosa”. Iman bagi paham ini cukup dengan ucapan, sehingga berbagai kewajiban agama, moralitas dan berbagai kode etik diremehkan dan ditinggalkan. Tidak lama berselang setelah itu, muncul kembali Mu’tazilah pada tahun 105 H dengan jarak yang singkat sebelum wafatnya Hasan al Bashri. Kehadiran paham baru ini semakin membuat jurang perselisihan dan perpecahan kaum muslimin semakin menganga dan melebar dan bahkan terkadang perselisihan yang ada mesti diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Jika ukurannya adalah terpeliharanya keamanan, ketentraman dan seluruh kaum muslimin menyatu dan bersaudara dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang erat dan mapan maka fakta sejarahpun secara tegas menampiknya. Sketsa politik generasi awal Islam menjadi lembaran sejarah paling hitam dalam sejarah perjalanan umat Islam. Kurun generasi awal disertai serangkaian peristiwa tragik yang menorehkan tinta hitam di kening umat Islam. Khalifah kedua sampai keempat mati bersimbah darah karena fitnah yang dipicu kaum muslimin sendiri. Kecuali khalifah kedua, khalifah ketiga dan keempat gugur terbunuh di tangan kaum muslimin sendiri. Meletusnya perang saudara, diantaranya perang Jamal dan Shiffin, pemberontakan Muawiyah dan kaum Khawarij terhadap khalifah yang dibaiat mayoritas kaum muslimin jelas merupakan penyimpangan dan kesalahan besar yang mengoyak-ngoyak persaudaraan dan persatuan kaum muslimin. Tidak bisa dilupakan pula terbantainya Imam Husain as, cucu kesayangan Rasulullah saww yang disebutkannya sebagai penghulu pemuda surga dimasa pemerintahan rezim Yazid bin Muawiyah. Imam Husain as beserta ahlul bait nabi lainnya syahid dibantai secara kejam dan bengis di padang Karbala, tanpa pembelaan, tanpa pertolongan dari mayoritas kaum muslimin yang tersebar di semenanjung Arab, Makah, Madinah, Syam, Thaif dan Kufah serta daerah-daerah Islam lainnya, sementara masih segar dalam ingatan mereka Rasulullah saww pernah bersabda dan mengingatkan agar Ahlul Bait dan itrah suci beliau dijaga dan senantiasa berpegang teguh dengan pemahaman mereka sebagaimana telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan dan pedoman hidup. Tidak cukup puas dengan membantai keluarga Nabi, Yazid bin  Muawiyah, atas perintahnya kehormatan kota Madinah telah tercemari, pembunuhan sejumlah sahabat Nabi dan Tabi’in, perampasan harta dan pembakaran rumah-rumah penduduk, bahkan Ka’bahpun dirusak dan diserang. Tragedi ini dikenal dikalangan ulama dan sejarahwan sebagai tragedi Al-Harrah.

Semua peristiwa dan tragedi yang memilukan hati ini terjadi sebelum genap abad pertama Hijriyah, lalu bagaimana mungkin generasi tersebut disebut dan diklaim sebagai generasi terbaik dan utama?. Sangat sulit melakukan penalaran secara sehat, bahwa Rasulullah saww telah menetapkan bahwa generasi yang kaum musliminnya saling bunuh sesamanya disebut sebagai generasi terbaik. Kalau masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah sebaik-baik masa tentu tidak akan terjadi fitnah dan perpecahan umat. Kalau mereka semuanya adalah orang-orang terbaik dan pilihan tentu tidak akan terjadi pertumpahan darah di antara mereka, tentu tidak akan ada sahabat yang membunuh sahabat lainnya. Sebab orang adil tidak akan membunuh orang lain yang diharamkan Allah SWT untuk dibunuh. Seandainya seluruh sahabat adil dan masa mereka adalah masa terbaik tentu tidak akan terjadi pembunuhan kepada Imam Ali as dan kedua putranya yang merupakan buah kecintaan Rasulullah, dan juga pembantaian atas ratusan sahabat pada tragedi Al-Harrah. Kalau masa mereka adalah masa terbaik tentu kekhalifaan diserahkan kepada yang terbaik diantara mereka, bukan diserahkan kepada orang yang menyalahgunahkan kekhalifaan dan merubahnya menjadi kerajaan untuk kepentingan keluarganya.

Jika tolok ukur yang digunakan adalah sikap konsisten dan berpegang teguh terhadap nilai-nilai luhur yang dibawa Rasulullah saww maka sulit bagi kita membenarkan hadits yang diriwayatkan Syaikhain (Bukhari dan Muslim) tersebut mengenai khairu ummah. Bagaimana kita dapat mengimani keshahihan hadits tersebut sementara Al-Qur’an lebih banyak menyematkan atribut dan sifat-sifat negatif terhadap kebanyakan kaum muslimin yang sezaman dengan Nabiullah Muhammad saww?. Al-Qur’an menginformasikan kepada kita kebanyakan dari mereka yang sezaman dengan Nabi sebagai orang-orang munafik, yang keterlaluan dalam kemunafikannya (Qs. At-Taubah: 101), masih berpenyakit dalam hatinya, tidak memiliki keteguhan iman, dan berprsangka jahiliyah terhadap Allah swt (Qs. Ali-Imran: 154), sangat enggan berjihad (Qs. An-Nisa’: 71-72 dan At-Taubah ayat 38), melakukan kekacauan dalam barisan (Qs. At-Taubah: 47), lari tunggang langgang ketika berhadapan dengan musuh (Qs. Ali-Imran: 153 dan At-Taubah : 25), bahkan kebanyakan mereka lebih memilih perdagangan dan permainan daripada mendengarkan Nabiullah Muhammad saww berkhutbah, “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (Qs. Al-Jumu’ah: 11).

Tolok ukur kebenaran hadits adalah tidak mungkin hadits yang disampaikan Rasulullah saww bertentangan dengan realita yang terjadi. Karenanya secara pribadi, saya menyangsikan keshahihan hadits ‘khairuh ummah’ ini,  hatta diriwayatkan dan ditulis oleh yang diklaim sebagai Amirul Mu’minin fil hadith sekalipun.. Kalau disuruh memilih saya lebih memilih hadits yang menyatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia yang lain.” Ataupun firman Allah SWT, “Sungguh sebaik-baiknya diantara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (Qs. Al-Hujurat: 13). 

Akh, maafkan saya, kalau lebih memilih firman Allah SWT yang suci dari pada ucapan yang belum terjamin kemutlakannya pernah disabdakan oleh Nabi-Nya. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam  kesabaran.” (Qs. Al-’Asr: 1-3). Ayat ini menegaskan manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Allah SWT tidak mempersyaratkan masa dan zaman di mana seorang hambanya hidup dan bermukim. Seorang manusia tidak pernah memilih dan tidak punya ikhtiar mengenai kapan dan dimana ia dilahirkan, sebab telah menjadi hak mutlak Allah swt untuk menetapkannya. Karenanya berdasarkan falsafah keadilan Ilahi adalah keniscayaan tidak menjadikan semata-mata masa dan tempat lahir sebagai persyaratan seseorang disebut memiliki kebaikan dan kemuliaan, melainkan berdasarkan kekuatan iman, kedalaman ilmu dan keikhlasan amal.   

Saya menemukan sebuah hadits dalam kitab Shahih Muslim no. 578 Jilid I pada Bab Jenazah (Mayyit), dari Abbad bin Abdullah bin Zubair ra, katanya, bahwa Aisyah memerintahkan supaya jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash dimasukkan ke dalam masjid untuk dishalatkan. Perintah itu diingkari oleh banyak orang. Berkata Aisyah, “Alangkah lekasnya orang-orang telah lupa, bahwa Rasulullah saw telah menyembahyangkan jenazah Suhail bin Albaidha’ di dalam Masjid”. Kita bisa mengambil kesimpulan sendiri mengenai inti dari riwayat ini, dari sisi mana generasi mereka dikatakan terbaik di antara generasi Islam jika mereka sebagaimana kesaksian Ummul Mukminin Aisyah Radiallahu anha begitu lekas lupa dengan sunnah Nabi-Nya yang mereka menyaksikan sendiri Rasulullah saww mempraktikannya?.

Sebagai penutup, saya menyertakan sebuah hadits lainnya yang justru menafikan hadits ‘khairu ummah’ yang diriwayatkan Bukhari-Muslim yang kita bicarakan. Diriwayatkan dari Abu Jum’ah ra yang berkata “Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah saww dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah ra yang berkata “Wahai Rasulullah saww adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau”. Beliau saww menjawab “Ya ada, yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnauth dimana beliau berkata hadis ini shahih.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744 dengan sanad yang shahih. Dan diriwayatkan pula oleh Al Hakim dalam kitabnya Mustadrak Ash Shahihain juz 4 hal 85 hadis no 6992 dimana Beliau berkata hadis tersebut shahih dan disepakati oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak .

Saya tidak akan banyak bercerita soal hadis tersebut karena kata demi kata dalam hadis tersebut sudah sangat jelas. Kata-kata Abu Ubaidah bin Jarrah ra adakah orang yang lebih baik dari kami? Itu merujuk pada para Sahabat Nabi . Rasulullah saww menjawab bahwa ada yang lebih baik yaitu kaum setelah Sahabat, yang beriman kepada Rasulullah saww walaupun mereka tidak melihat Beliau saww. Lantas ketika ada riwayat lain menyatakan bahwa sahabat-sahabat nabi adalah generasi terbaik tidakkah ini kontradiktif dan memancing kita untuk tidak begitu saja menerima?. Islam adalah perjuangan mencari, bukan kepasrahan menerima.

“Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Qs. Ali-Imran: 54). 

===============================================================================

Kecemasan  Nabi  SAW  Sebelum  Penyampaian Wasiat  imamah  Ali di Ghadir KUm….

saudaraku…

 Al-Quran dari lisan Nabi (s) menyatakan:

Sesungguhnya saya manusia seperti kamu semua, telah diwahyu kepada saya.”  Al-Kahfi   ayat 11

Namun mengapa Tuhan berfirman dan Allah menjagamu dari manusia? Apakah yang ditakuti dalam urusan kekhalifahan Ali?

Ibnu Abbas menukilkan: “Di zaman tibanya arahan kepada Rasul dan disampaikan kepada orang ramai, Rasul bersabda: Hingga kini kabilahku dipengaruhi kesan-kesan Jahiliyah, mereka bersaing dan berbangga dengannya, ramainya individu-individu dari seluruh kabilah ini terbunuh dalam peperangan berlainan di tangan Ali. Mereka menyimpan kebencian dan dendam pada Ali. Dan saya takut. Maka turunlah ayat wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan daripada Tuhanmu, jika engkau tidak melaksanakannya maka engkau tidak menyampaikan risalahnya, dan Allah menjagamu dari manusia.” Syawahid al-Tanzil 1/225

Suyuthi juga menulis saat Rasulullah menyampaikan urusan Wilayah: “Saya tahu ramai orang ingin menyangkali saya, Allah juga telah memerintahkan saya menyampaikannya atau diazabkan saya.” Ad-Durrul Manthur; 2/298

Orang ramai pernah bangkit berdepan dengan dengan nabi hanya kerana satu urusan kecil berkait dengan ibadah dan Fiqah sehingga Aisyah mengatakan: Siapa memarahimu Allah akan murka kepadanya, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.

Apakah dengan urusan penting ini dapat mereka bertahan dan tidak bangun berdepan dengan baginda?

Subjek ini menunjukkan kelangsungan kekhalifahan Abu Bakar sebuah masalah yang telah direncana sebelumnya. Sebelum kewafatan Nabi seluruh persiapan telah disiapkan dan akhirnya memberi keputusan di Saqifah Bani Sa’adah.

            Kerap kali sebagian besar para analis dan kaum intelektual mempelajari Syi’ahisme atau Tasyayyu” dengan didasari kesan subyektif dan kesimpulan yang agak rapuh. Mereka beranggapan bahwa Syi’ahisme merupakan pemandangan yang ganjil dalam tubuh masyarakat Islam yang lebih dominan.

 

Anggapan ini mereka simpulkan bertolak darl kenyataan yang ada dimana Syi’ah hanya terdiri dari beberapa individu yang muncul dengan corak tertentu dl tengah-tengah masyarakat Islam yang jauh lebih besar jumlah serta pengaruhnya. Selanjutnya kelompok minoritas tersebut berkembang biak sebagai akibat dan efek darl pada serangkaian perkembangan politik-sosial yang terjadi pada saat itu. Dengan kata lain, mereka telah menjadi bayi yang dilahirkan oleh kondisi labil saat itu.

 

Kejadian dan perkembangan-perkembangan Itu secara otomatis telah mengakibatkan munculnya haluan yang bercorak unik dan lain dari pada yang lain di tengah masyarakat Islam yang jelas berbeda dengan mereka, lam-bat laun aliran pemikiran baru ini makin membengkak dan sempat melebarkan sayap pengaruh radikalnya beberapa sent! di hati sebahagian Muslimin atau kebanyakan dari mereka.

 

Para penganalisa itu – setelah beranggapan demikian secara serentak saling berselisih pendapat mengenai faktor utama aliran tersebut dan gejala perkembangan tertentu yang jelas telah melahirkan kelompok kecil itu. Sebagian mereka berpendapat bahwa Syi’ahisme adalah pendapat yang dicetuskan oleh seorang yang konon bernama Abdullah bin Saba’. Ada juga yang mengatakan demikian: Bahwa timbulnya Syi’ahisme merupakan pengaruh dari pada kebijaksanaan politik Ali bin Abi Thalib, mengingat pada zaman pemerintahan beliau telah terjadi perkembangan-perkembangan yang amat seru dan mendebarkan. Sebagian lain beranggapan bahwa munculnya Syi’ahisme adalah akibat alami yang tak terelakkan dari perkemban-gan-perkembangan politik yang terjadi pada masa terakhir dalam serangkaian dan rentetan sejarah Umat Islam.

 

Berdasarkan logika yang saya pijak, pendapat-pen-dapat yang dilontarkan para sarjana itu adalah kesimpulan dari penjabaran yang tidak argumentatif dan kurang rasionil, yaitu dengan berkesimpulan bahwa Syi’ahisme merupakan fenomena yang ganjil dan aneh. Kesimpulan ini mereka serap dari dasar kenyataan sebelumnya yaitu kenyataan Syi’ahisme hanyalah segolongan masyarakat kecil yang tumbuh segar di tengah-tengah masyarakat lain yang lebih dominan dan besar jumlahnya.

 

Kenyataan inilah yang menyeret mereka ke suatu lembah sehingga beranggapan bahwa Non Syi’ah adalah tolok ukur yang harus dijadikan sebagai satu-satunya cara dalam membagi dan membedakan antara kelompok mana yang orisinil dan lebih dahulu muncul? Disamping itu semua, penjabaran semacam ini bertentangan dengan kenyataan adanya perbedaan dan terbaginya aliran-aliran yang kita temukan selama ini. Kadang-kadang kita mengklalm suatu aliran sebagai yang paling benar bukan atas dasar jumlah pengikut aliran tersebut atau dari segi banyak dan sedikitnya, demikian juga sebaliknya kita terkadang menganggap suatu akidah sebagai akidah yang keliru dan sesat tanpa mempertimbangkan jumlah penganut akidah tersebut. Lagi pula mungkin masa timbulnya akidah atau aliran yang kita anggap sesat atau sebaliknya akidah yang kita anggap benar berbarengan dalam satu tempo dan waktu. Perlu digaris-bawahi bahwa terkadang kedua aliran menyuarakan satu misi dan konsep yang sama; misalnya kedua aliran itu sama mengaku sebagai islam Yang Murni dan pengikut-penglkutnya merasa bagian dari Umat Muhammad S.A.W. Sama halnya dengan Syi’ah dan Non Syi’ah, prosentase dan jumlah pengikut kedua garis pemikiran yang kurang seimbang itu tidak patut dijadikan sebagai bukti akan keotentikan dan kemurnian salah satunya.

 

Perlu dicamkan baik-baik bahwa kita tidak dibenarkan berdasarkan hukum logika – beranggapan masa timbulnya dan populernya istilah dan nama Syi’ah atau Tasyayyu” berbarengan dengan masa munculnya golongan serta konsep Tasyayyu’ Itu sendlrl; sebagai Istilah populer dan akrab bagi suatu aliran dan golongan tertentu di tengah masyarakat yang tampak-tampaknya mengakul eksistensi dan keberadaan mereka selaku oposan dan bagian dari mereka yang memiliki hak bersuara dan bernafas, sebab munculnya nama serta lahirnya golongan yang menyandang nama itu tidak mesti bersamaan dalam satu waktu (seperti lahirnya seorang bayl janin yang belum diberi nama atau sebaliknya seperti blla ktta telah member! nama kepada janin yang belum lahir. Hal in! sering kali terjadi).

 

Kita mungkin belum pernah menemukan kallmat dan sebutan “Syi’ah” dalam percakapan sehari-hari pada zaman Nabi berikut setelah wafatnya namun kenyataan inl tidak menjamin dan dapat membuktikan bahwa golongan Syi’ah inl belum pernah ada pada zaman Nabi baik secara praktis operasionil maupun secara teoritis dan konsepsional.

 

Jika kita sudah memperhatikan dan memahami dengan jelas pokok-pokok di atas maka Insya Aliah kita akan mampu mengambil gambaran yang jelas serta kesimpulan yang gamblang dan rasionil. Tentunya itu semua tidak akan kita dapatkan sebelum menemukan jawaban yang jitu dan mengena atas dua pertanyaan pokok berikut ini: Bagaimana proses timbulnya Syi’ahisme? Bagaimana proses lahirnya golongan Syi’ah itu sebenarnya?

 

 

PEMBAHASAN PERTAMA Bagaimana Timbulnya Syi’ahisme

 

Secara keseluruhan dan global dapat kita pastlkan bahwa Tasyayyu’ adalah, “Hasil produksi pengelola motor dakwah Nabi” sejak beliau memulai karir dan menjalankan tugas sucinya sebagai Duta Luar Biasa Allah S.W.T. Syi’ahisme merupakan formula yang berkwalitas tinggi dengan khasiat yang tak dapat diragukan lagi dan diramu seteliti mungkin sebagai Konsep Istimewa yang dipaparkan guna menjaga kesinambungan dan kelangsungan program kerja penyebaran dakwah Rasul dan guna mewujudkan cita-cita luhur beliau untuk menciptakan masyarakat yang sadar sepenuhnya akan pditik, sosial, dan budaya serta maju seiring dengan proses naturalls evolusi dan perkem-bangan yang lumrah dan normal. Hal ini bisa kita simpulkan secara rasionil bila memantau dengan seksamadan jeli ke arah dakwah yang merupakan proyek besar yang dicanangkan oleh Rasul dalam lingkar batas sttuasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Langkah dan kebijaksanaan pertama yang diambil Nabi dalam upaya menjaga kelan-caran dan memobilisasikan masyarakat ke arah dakwah ialah mengendalikan tali pemerintahan dan kekuasaan den­gan tangan beliau sendiri dan secara langsung menan-ganinya dengan melibatkan diri secara total dalam aksi dan operasi politis yang beliau galakkan sendiri demi kesuk- sesan proyek. Langkah kedua ialah becusaha sekuat mungkin dengan persiapan yang matang agar program ini tidak mandek dengan melancarkan aksi perombakkan dan pembenahan total dalam tubuh masyarakat; moral, mental, pola tindak, cara berfikir, watak dan seluruh aspek yang bertalian erat dengan mereka.

 

Patut diingat bahwa operasi perombakan dan pem-bersihan total serta menyeluruh itu tentunya memerlukan jangka’waktu yang tidak sebentar serta menuntut adanya kekuatan yang dapat diandalkan untuk mengawal per-jalanan dakwah dalam mencapai kesuksesannya yang gemllang dan besar sekaligus untuk menepis dan menyingkirkan segala macam hambatan dan gejala-gejala kelesuan yang bisa mengganggu kelancaran proyek penyebaran. Mengingat perbedaan antara Islam dan kultur jahiliyah sangat jauh dan berslfat fundamental, maka tugas berat beliau ialah merintis dari awal mula menclptakan manusia muslim seutuhnya dari manusia yang sama sekali asing tentang nilai kesopanan dan telah menjadi bagian dari kepandiran jahiliyah yang luar biasa, membenahi manusia Jahilis dengan membersihkannya dari segala jenis noda dan pengaruh kotor serta membebaskannya dari jeratan dan belenggu moral kultur jahiliyah.

 

Dalam memulai langkah baru ini, Rasul telah men-gambi! sikap yang mencengangkan dengan mempelopori aksi Sapu Bersih secara total terhadap dasar-dasar jahiliyah dalam tempo waktu yang relatif singkat sekaligus membuahkan hasil-hasil yang gemilang dan mengagumkan. Semestinya operasi perombakan itu harus dilanjutkan dan tidak berhenti begitu diketahui bahwa Rasul meninggal dunia. Perlu diketahui bahwa beliau seringkali mem-beritahukan tentang saat meninggalnya yang makin dekat. Itu sering dikatakannya baik tidak secara terang-terangan maupun secara implisit sebagaimana dalam peristlwa Haj-jatul-Wada yang mana Itu memberi kesan kepada kita bahwa beliau tidak wafat secara tiba-tiba. Jadi, berarti beliau mempunyai kesempatan luang untuk memikirkan langkah-langkah berikut yang semestlnya diambil dengan memper-siapkan rancangan dan konsep yang sempurna dan jelas demi terwujudnya semboyan Proyek dakwah yang telah dirintisnya, apalagi – selaku Muslimin – kita yakin bahwa adalah tugas dan kebljaksanaan Allah melalul sifat belas kasih dan keiembutan-Nya untuk melestarlkan dakwah hingga menggapai kesuksesan yang diincarnya melalul Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian kita sadari bahwa hanya ada tiga macam alternatif jalan yang mungkin salah satunya telah ditempuh Rasul demi masa depan dan keberhasilan program pengemban-gan dakwah beliau.

 

 

 

ALTERNATIF PERTAMA :

Sikap Yang Mungkin Diambil Rasul

Berslkap pasif terhadap masa depan dan kelanjutan misi dakwah. Cukup hanya menyelesaikan tugas pemiliharaan dakwah selama masa hidupnya. Adapun kelanjutannya maka nasibnya tergantung pada kondisi mendatang dan kemungkinan serta kejutan yang timbul kelak.

 

Alternatif dan interpretasi ini tidak layak bag! Rasul. Mustahil beliau tidak peduli akan kelangsungan dakwah selanjutnya, sebab alternatif dan anggapan “Rasul bersikap masa bodoh” ini hanya berdasarkan dan kemungkinan yang tidak rasionil dan tidak realistis.

Dasar Pertama:

Bahwa kemungkinan sikap dingin yang diambil dan cHpertihatkan Nabi tidak akan mengganggu kelancaran dak­wah setelah wafatnya, sebaliknya masyarakat kelak dengan sendirl berandalkan kreatifitas mereka akan sadar pada tanggung jawab mengembannya serta mampu bertindak selaras dengan kebijaksanaan dan langkah yang pernah diambil oleh Nabi dan seiring dengan apa yang telah digariskannya.

 

Dasar kemungkinan Ini kurang realistis, bankan kebanyakan segala sesuatu selalu memantulkan kebalikan-nya, mengingat dakwah yang telah dirintis Itu merupakan serangkaian upaya perombakan total secara tuntas dan mengakar. Operasi tersebut digalakkan dengan dasar tujuan dan cita-cita membina masyarakat baru dan segar sekaligus mencabut segala macam akar yang lama sekali bercokol dan melepaskan segala macam tali kotorjahiliyah yang selama ini menjerat mereka sejak berabad-abad dan menjadi sistem sosial mereka satu-satunya dan menjadi cermin bagi pola hidup mereka sehari-hari. Operasi penyapuan sisa-sisa kanker jahiliah ini akan terbentur den­gan kemungkinan-kemungkinan bahaya yang akan timbul sebagai akibat negatif dari kevakuman dan ketladaan seorang pemimpin atau akibat psikis dari kematian seorang pemimpin (Nabi) tanpa meninggalkan pesan atau mewarls-kan konsep bagi program pemerataan dakwah setelah sebagai efek dari pada tindakan spontan dan upaya penyelamatan sekonyong-konyong dalam rangka menanggulangi dan mengisi lapangan yang hampa dari seorang pemimpin. Secara alami kehampaan itu menuntut adanya tindakan penyelamatan darurat secara kilat guna mengisinya dengan tindakan dan sikap yang cepat dan spontan juga. Dengan kata lain keadaan tidak peduli akan kehampaan dan kesulitan. Keadaan hanya meminta pemimpin dan pengisi lubang. Hal ini akan lebih jelas lag! kalau kita memantau lebih dekat dan seksama, masyarakat pada saat itu sedang dilanda kegelisahan dantidak tahu apa yang sernestinya mereka perbuat, mengalami depresi yang amat kuat karena ditinggal wafat seorang pemimpin yang kharismatik dan sangat berpengaruh.

 

Bila kita beranggapan bahwa Nabi telah meninggalkan masyarakat dan arenanya tanpa terlebih

 

dahulu mempersiapkan rancangan dan jadwal kerja yang matang serta tajuk demi menyongsong masa depan yang memprihatinkan, maka sebagai dampaknya, akan timbul tindakan dari pihak masa secara gegabah dan tidak sis-tematis yang “kebetulan” merasa bertanggung jawab dan berkepentingan menangani masalah untuk pertama kali. Hal mana, masalah-masalah tersebut sangat tabu dan sulit ditangani bila tanpa bimbingan pemimpin sebelumnya, apalagi bila ditangani oleh orang yang bukan profesional, sedangkan rakyat pada saat itu tidak mengerti dan tidak mempunyal gambaran yang cukup menjamin kemampuan mereka tentang hal itu. Namun sisi lain, kevakuman itu menuntut tindakan secepatnya dan segera dilaksanakan tepat pada saat masyarakat sedang dicekam duka dan dirundung kegelisahan karena Sang Pemimpin Besar pergi menemui Kekasih Sejati Allah S.W.T. tanpa permisi.

Adalah logis, kebingungan ini sedikit banyak men-ghambat dan mengganggu konsentrasi dan menimbulkan stress dan kepincangan dalam tindakan, sampai-sampal salah seorang sahabat senior berteriak-teriak histeris

“Rasulullah belum mati! Rasulullah tidak akan mati! Siapa yang mengatakan mati !”. 

Pertanda bahwa kebingungan telah melanda seluruh lapisan masyarakat. Sikap lepas kontrol sahabat kawakan ini cermin dari pada opini masa yang ketegangannya belum reda karena ditinggal mati “Pengasuh”, “Ayah”, “Pemimpin” dan kebanggaan mereka Muhammad S.A.W dan karena tidak ada pengganti yang sesuai.

 

Disamping itu semua, terdapat beberapa bahaya yang mengancam dan timbul akibat dari krisis integritas dan intelektualitas serta kenaifan tentang seluk-beluk serta perjalanan dakwah selanjutnya, yang mana pada saat genting dan mencekam Itu dibutuhkan seorang pemimpin prima dan arif seperti Nabi. Bahaya lain yang akan timbul ialah akibat buruk dari tindakan mendadak dan gerak reflek masyarakat dalam menanganinya, yang mana itu pasti tidak senada dan sealur dengan cara yang ditempuh Rasul sekallgus bertentangan dengan tuntutan misi serta konsek-wenslnya sebagai misi yang ditegakkan guna melenyapkan pertentangan spiritual antara masyarakat yang kala itu ter-pecah menjadi puak-puak dan blok seperti antara kelompok Muhajirin dan Anshar (masyarakat pendatang dan pen-duduk asli), antara suku besar Quralsy dengan suku-suku lain begitu juga antara penduduk kota Mekkah dan pen-duduk kota Medinah.

 

Bahaya-bahaya tersebut akan lebih menakutkan bfla kita sisipkan faktor oknum-oknum (Kaum Munafiqin) apalagi setelah ktta ketahul bahwa jumlah mereka bertam-bah banyak setelah kota Mekkah ditaklukkan, yang mana penaklukan itu membuat orang-orang Quraisy ketakutan dan mengucapkan secara terpaksa dua kalimat Syahadat atas dasar kepuasaan hati dan kemantapan iman.

 

Bahaya-bahaya ini tidak hanya menlmpa masyarakat dan mengancam ekslstensi Islam saja tap! ini semua merupakan refleksi alami dari tidak-adanya seorang yang dapat menggantikan pemimpin agungnya yang wafat. Dan masyarakat pada saat itu tidak hanya kehilangan seorang pemimpin tapi kehilangan pengasuh berkharisma tinggi yang bergelar “Khatamu-Anbiya”‘ pelengkap semua ajaran para Nabi.

 

Abu Bakar dengan alasan hendak menyelamatkan Umat telah mengambil allh tampuk kekuasaan dengan gesit. Tindakan positif ini ia lakukan – katanya – demi masa depan dakwah dan kesinambungannya.

Kekhawatiran dan kecemasan itu juga teriihat ketika beberapa orang berbondong-bondong menuju Umar bin Khatab sambil berteriak-teriak:

“Sudikah anda memimpin? Masyarakat sangat cemas akan kekosongan seorang pemimpin padahal saat Itu situasi kondisi kembali stabil se/ak upacara pelantikan dan penobatan Abu Bakar sebagai Khalifah ysa/.”(Tarikh Ath-Thabari juz 5 him. 26).

Kekhawatiran demikian juga melanda hati Umar, hal ini teriihat dalam penunjukkannya kepada enam orang dari rekan- rekannya sebagai kandidat-kandidat terbatas jabatan Khalifah. Ini pertanda bahwa betapa besar kek-hawatiran sahabat senior ini melihat dan membayangkan bahaya-bahaya yang timbul akibat kekosongan seorang pemimpin dan tidak-adanya pengganti berikutnya.

 

Umar sadar akan bahaya-bahaya dan gawatnya situasi jlka tidak ada seorang yang mengendatikan segera di nari sidang darurat Saqifah dan sadar akan efek negatif dari cara pembai’atan dan pemilihan Abu Bakar yang dilangsungkan secara mendadak itu. Kekecewaan tersebut tercermin dalam kesaksiannya pada detik terakhir dari sisa hidupnya. Kesaksian itu demikian bunyinya:

“Pembai’atan Abu Bakar sebenarnya adalah ser-plhan api (penyelewengan), hanya saja Allah telah menjaga Muslimin dari pengaruh buruk pembai’atan tersebut!” (Tarikn Ath-Thabari juz ketiga him. 42).

Abu Bakar sendiri pernah mengemukakan penyesalannya atas tindakannya yang tergesa-gesa menerima tawaran untuk memimpin.la mengutarakan alasan penerimaan hanya karena ingin menyelamatkan keadaan yang kritfs dan karena ia dapat membayangkan betapa bahayanya jika tidak ada seorang yang menggan-tikan Nabi. Itu tergambar dalam keterangan yang diberikan-nya: Rasulullah meninggal pada saat masyarakat masih baru menanggalkan busana pengaruh jahiliyah mereka dan memasuki hidup baru. Aku khawatir masyarakat akan kacau balau dan sesat, sedangkan sahabat-sahabatku tak peduli yang sebaliknya menggantungkan tanggung jawab ini kepadaku saja. (Syarah Nahjil-Balaghah Juz keenam hlm.42).

 

Jadi, apabila hal-hal diatas semua benar dan terbuktl maka tak ayal lag! bahwa Rasulullah akan lebih arif memikirkan dan merasakan efek dan bahaya yang akan timbul akibat dari sikap pasif tersebut. Beliau tentu lebih mengerti tuntutan dan langkah apa yang harus diambil demi upaya pembenahan dan operas! perombakan yang dirintis-nya sendiri terhadap masyarakat Islam yang baru kemarin meninggalkan jahiliyah yang sejak berabad-abad menjadi sistem hidup mereka sebagaimana diutarakan oleh Khalifah Abu Bakar bin Abu Quhafah ra.

Dasar Kedua:

Bahwa Rasul mengambil sikap pasif demikian atas dasar bahwa tugas utama beliau adalah mengawal Dakwah Islamiah dan berhenti pada masawafatnya. Maka sekalipun beliau menyadari akan efek negatif dari sikap pasif Itu tap! beliau tidak merasa bertanggung jawab memikirkan masa depan dan prospek misi yang diembannya. Yang penting baginya adalah menjaga dakwah pada masa hidupnya dan telah dapat memetik keuntungan bagi pribadinya.

Dasar kemungkinan dan interpretasi sikap pasif den-gan keterangan demikian tidak relevan dan tidak sesuai dengan kriteria sebagai pribadi pemimpin ideologi dan bijaksana. Apalagi kita memandangnya sebagai Nabi ter-mulia yang mempunyai hubungan super- natural dan halus dengan Allah S.W.T. secara langsung dalam mengatasi segala urusan yang berkaitan dengan misi Risalah selaku pemimpin unggul yang merupakan manifestasi sempurna bagi seluruh kriteria dan wadah yang berisikan segala macam sifat dan syarat-syarat seorang pemimpin yang handal dalam ketulusan, loyalitas, kesetiaan, pengorbanan-nya yang tak terhingga dalam mensukseskan dakwah. Ter-bukti dalam buku-buku sejarah bahwa ketika Rasulullah hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir diatas ran-jang dan pada saat yang paling kritis dan pada saat rasa sakitnya mencapai klimaks beliau masih merasa ber-tanggung jawab untuk menyiapkan satuan perang yang memang sejak sebelumnya telah direncanakannya untuk segera diberangkatkan di bawah pimpinan komandan Usamah bin Zaid yang telah ditunjuknya meninggalkan kota Medinah menuju medan tempur. Berulang-ulang beliau berteriak sambil menyeru dengan nada jengkel dan marah:

Siapkan pasukan Usamah! Satuan tempur Usamah harus segera bertolak! (Tarikh AI-Kamil karya Ibnu Atsir).

Betapa besar perhatian Nabi pada masalah-masalah mHiter sedangkan pada saat itu, agar segera bertemu den­gan Kekasihnya dan meninggalkan masyarakat yang telah dibinanya untuk selamanya. Beliau tahu bahwa beberapa saat lagi beliau akan meninggal dunia, namun detik-detik terakhir dari sisa hidup itu tidak menghalangi atau mengurungkan tekad dan tanggung-jawabnya meskipun beliau tahu hasll dan akhir darl pertempuran yang diserukannya Itu menang atau kalah. Jlka demikian perhatian beliau pada masalah mlllter, bukankah suatu anggapan yang ttdak relevan dan nihil sekali bila dikatakan bahwa Nabi Muham­mad S.A.W. tidak memlkirkan masa depan dakwah secara keseluruhan, yang mana urusan mlllter merupakan salah satu dari aspek-aspek dan penunjangnya Memalukan sekali bila krta beranggapan bahwa beliau tidak memper-hitungkan dan mengukur bahaya-bahaya yang kemungkinan dapat menggangu kelangsungan dakwah.

 

Sebenarnya apa yang dllakukan oleh Rasul pada detik-detik yang paling mendebarkan dl akhir hidupnya sudah cukup akurat untuk memberlkan bukti konkrtt yang menolak mentah-mentah alternatif jalan pertama sekallgus merupakan gambaran yang cukup jelas bahwa Rasul tidak seplclk dan senalf apa yang mereka bayangkan dan perklrakan bahwa Nabi tidak peduli akan prospek dan naslb dakwah. DIsamping itu terdapat sebuah teks hadlts yang disepakati oleh kalangan Syl’ah dan Ahlussunnah, demikian terjemahan rlwayat Itu: Ketika Rasulullah hampir menghem­buskan nafasnya yang terakhir dan segera menemul Kekasihnya Yang Maha Kuasa, sedang pada saat Itu ada beberapa orang yang berada dalam rumah beliau termasuk sahabat Umar bin Khatab, beliau memlnta dengan suara parau tersendat-sendat sambil menahan rasa sakit dan nyeri:

 

“Berlkan padaku selembar kertas dan tintal Aku tullskan untuk kalian semua sebuah pusaka tulisan yang mana Jika kalian mematuhl isinya maka pasti kalian tidak sesat setelah aku tinggal pergl.” (Musnad Ahmad bin Hambal juz pertama halaman 300, Shahlh Muslim An-Niayaburi Juz kedua Bab AI-Washoya dan Shahih juz kesatu Kitab An-Nikah).

Usaha yang dilakukan Rasulullah ini dengan jelas menunjukkan bahwa beliau memikirkan dan prihatin akan bahaya-bahaya yang mengancam masa depan dakwah serta menyadari sepenuhnya akan betapa pentingnya menggariskan suatu konsep dan tajuk rencana kerja guna menyelamatkan Umat dari penyimpangan sekaligus guna mellndungi proyek tersebut dari kemandekan dan kegagalan. Bertolak dari sini kita dapat berkesimpulan bahwa tidak mungkin Rasul bersikap pasif dan dingin ter-hadap prospek dakwah.

 

 

ALTERNATIF KEDUA Jalan Kedua Yang Mungkin Ditempuh Rasul

Rasulullah merencanakan beberapa langkah dan terobosan demi masa depan dan pengembangan dakwah setelah wafatnya dengan bersikap positif dan tanggap ter-hadap prospek misinya, yaitu dengan menclptakan sistem negara dan pemerintahan atas dasar syura (musyawarah) yang diperankan oleh generasi Muhajirin dan Anshar. Kedua kelompok revolusioner tersebut dijadikan sebagai tulang punggung pemerintahan dan bertindak selaku motor dakwah dan pembangunan dakwah ftu sendiri dalam setiap proses perkembangannya.

 

Untuk lebih jelasnya, kita bawakan beberapa alasan dalam keterangan sebagai berikut:

 

Seandainya Nabi menaruh perhatian dan bersikap tanggap terhadap masa depan dakwah dengan beriandas-kan konsep pemerintahan syura setelah wafatnya dan men-jadikan syura sebagai dinding pellndung proyek pemblnaan dakwah itu semuanya benar maka semestinya Rasul menggalakkan upaya pengkaderan secara intensif tentang konsep syura dengan segala batas-batas dan garis-garis-nya sekaligus mengesahkannya sebagai sistem tunggal yang dibenarkan dan sangat luhur dalam Islam sebab masyarakat pada saat itu merupakan masyarakat yang sejak berabad-abad hidup di bawah pengaruh Sukuisme, raslalis dan tidak mengenal sama sekall sistem per-musyawaratan. Mereka telah tumbuh mekar di bawah pen­garuh Qabilisme yang memprioritaskan faktor kekuatan flslk, kekayaan dan faktor warisan leluhur.

 

Dengan mudah kita dapat menyadari bahwa Nabi belum pernah terbukti dalam sejarah hidupnya telah men-gadakan operas! penataran sistem syura secara lengkap dengan segala batas-batas dan kerangkanya, sebab kalau memang bellau melakukan hal itu, maka Itu pasti tercermin dalam sabda-sabda dan prilaku dan pola pikir masyarakat atau sedlkttnya terpantui pada tingkah laku dan cara berfikir generasi senior Muhajirin dan Anshar selaku pengawal Revdusl elite, tegas dan bertanggung jawab menerapkan sistem tersebut sebagai sistem negara yang konon dicetus-kan dan disahkan oleh Nabi sebagai pemerintahan. Namun Itu semua tidak terbukti dalam kenyataan hidupnya serta tidak terkesan dalam hadits dan sabda-sabda beliau. Hadist-hadits Nabi tidak pernah berbicara dan menerangkan secara lengkap dan serius tentang sistem syura, disamping itu secara keseluruhan tindakan Muhajirin dan Anshar tidak member! kesan bahwa mereka memahami seluk-beluk sistem syura yang mereka katakan dan elu-elukan. Masyarakat sahabat saat itu terbagi menjadi dua partal yang saling bertentangan :

 

- Golongan yang berkiblat kepada Ahli-Bait (Keluarga Rasul).

- Golongan yang dipelopori oleh beberapa tokoh sahabat yang turut menghadiri Sidang Darurat Saqifah.

 

Prinsip dan garis pemikiran golongan pertama lalah: Berpegang teguh pada konsep “Wishayah” dan “Imamah”, memprioritaskan faktor kerabat sebagai salah satu dasar (karena penghuni rumah lebih mengetahul isi rumah dari pada orang lain. penerj.). Dan syura bukanlah sistem utama dalam Islam dan kenegaraan.

 

Prinsip dan garis pemikiran golongan kedua lalah:

Bersikeras bahwa syura adalah sistem pemerintahan Islam setelah Nabi meninggal dunia, tapi pola pikir dan tingkah laku serta semua kebijaksanaan politik golongan berkuasa ini tidak senada dengan syura yang mereka dengungkan sebagai sistem tunggal dalam pembentukkan suatu pemerintahan dalam Islam. Terbukti bahwa mereka sendiri tidak konsekwen dengan prinsip syura tersebut sekaligus kurang konsisten dengan sumpah setia Saqifah balk pada masa hidup Nabi maupun setelah beliau wafat. Abu Bakar pada detik-detik terakhir dari sisa hidupnya diatas pem-baringan menunjuk rekannya Umar bin Khatab sebagai penggantinya memangku jabatan kekhalifahan dalam selembar surat Kenegaraan yang ditulls oleh Utsman bin Affan (selaku Sekretaris Negara). Demikianlah maksud dari pada isi surat itu:

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Berikut ini Abu Bakar selaku Pengganti Rasulullah berpesan kepada Para Mukminin dan Muslimin. Salam sejahtera bagi kalian. Saya haturkan puji syukur ke Hadirat Allah demi kalian semua.

 

Bersama ini, saya dengan resmi telah menunjuk rakan saya yang bernama Umar putra Khatab sebagai pemimpin. Maka harapan dan himbauan saya ialah semoga hendaknya kalian mendengar dan mematuhinya. Sekian”.

 

Setelah penulisan itu selesai, Abdurrahman bin Auf masuk dan begitu ia mendengar berita penunjukkan telah dilaksanakan ia langsung protes sambil berkata kepada Abu Bakar:

Hai Khalifahl Bagaimana anda ini sebenarnya? Abu Bakar menjawab dengan nada bertanya:

Kenapa kalian semua meprotes penunjukkan itu dan menambah berat bebanku lalu masing-masing menuntut jabatan itu (Tarikh Al-Yaqubi Juz kedua him. 126-27).

 

Pengangkatan yang dilakukan Abu Bakar dan sikap protes Abdurrahman bin Auf ini membuktikan bahwa sang Khallfah sendiri tidak memahami secara mendalam tentang logika sistem syura, juga menunjukkan bahwa la sendiri tidak merasa berhak menunjuk atau mengangkat seseorang sebagai pemimpin secara absolut diantara seklan banyak sahabat lainnya. Sang khalifah tidak mem-punyal pemahaman bahwa pengangkatan demikian semestinya secara otomatis menuntut konsekwensi dan loyalltas masyarakat Muslim agar taat dan mematuhinya tidak periu sampai Abu Bakar menghimbau rakyat agar mematuhi pemimpin baru mereka. Surat pengangkatan resmi yang dikeluarkan Abu Bakar itu bukan hanya sekedar usul atau buah pendapat biasa namun surat tersebut bernada perintah dan ketetapan yang bersifat absolut dan tak dapat diralat atau diganggu-gugat.

 

Terbukti, Umar juga merasa berhak mengangkat secara individu seorang pengganti dengan cara menunjuk enam rekannya sebagai calon-calon tetap dan terbatas dan orang-orang yang diluar enam anggota calon itu hanya berhak mendengar, menonton dan puas dengan hasil saja. Suara orang ketujuh disitu tidak akan digubris.

 

Pengangkatan versi Umar ini jelas tidak berdasarkan syura yang pada dasarnya mengutamakan faktor pengam-bilan suara terbanyak. Penunjukkan yang dilakukan Umar tidak terialu berbeda dengan gaya penunjukkan Abu Bakar kepadanya pada masa akhir hidupnya diatas ranjang. Kedua-duanya tidak konsekwen pada nilai dan tuntutan Permusyawaratan yang ideal, yang mana sebelumnya selalu mereka gunakan sebagai alat dan alasan dalam berkampanye pada sidang Saqtfah. Ketika ditawarl jabatan kekuasaan oleh masyarakat Umar pernah bergumam:

/a harus jadi pemimpin sekallpun Muhajirin menolaki Para Muhajirin tak kalah gertak sambil berteriak lantang:“KamI adalah orang-orang diantara sekian banyak Muslimin yang pertama kali memeluk Islam kemudlan jejak kami ditiru oleh orang-orang lain. Kami juga kerabat Rasul dan golongan nIngrat Arab!”

Dan ketlka kelompok Anshar mengajukan usul pemerintahan kwalisi dengan dua pemimpin yang bergan-tian dalam jangka masa jabatan tertentu dari pihak Muhajirin dan Anshar, Abu Bakar segera menolak seraya berkata:

 

Tatkala Rasulullah diutus saat Itu kebanyakan masyarakat Arab merasa berat sekali untuk mencampakkan ajaran nenek moyang mereka sedangkan kami saat itu (Muhajirin maksudnya) diplllh oleh Allah dan dllstimewakan dari pada seluruh orang karena kami berani membenarkan semua ajaran yang dibawa dan disebarkannya. Kami adalah orang-orang dekat dan kerabat bellau sekaligus orang-orang yang berhak dan pantas memegang kekuasaan setelah wafatnya darlpada selain kami. Dan yang berani membantah atau memprotes atau merebut maka mereka adalah orang-orang yang zalimi.

 

 

AI-Khabbab bin AI-Mudzlr dalam pesannya kepada kubu Anshar telah berkata:

Bersatulah! Orang-orang lain sedang menganlaya dan hendak merampas hak kallan. Jlka mereka tetap ber-sikeras untuk menolak, maka kita akan menuntuk dua pemimpin dari pihak kita dan pihak mereka.

 

Sikap AI-Khabbab tidak mendapatkan respon dan tanggapan positif dan gagasannya langsung d’rtolak men-tah-mentah oleh Umar dengan ucapannya:

“Tidak mungkin satu negara dikendalikan oleh dua pemimpin ibarat dua pedang dalam satu sarung katanya). Siapa yang berani merebut kepemimpinan Muhammad dari tangan ahli-ahli warisnya! Sedangkan kami adalah orang-orang terdekat dan kerabatnya! Bagi kami orang yang masih berniat merebut adalah orang-orang yang siap musnah dan celakal”

 

Cara penunjukan yang dilakukan oleh Khalifah Per-tama dan Khalifah Kedua, kemudian sikap pasif masyarakat terhadap cara tersebut dan pda pikir generasi Anshar dan Muhajirin berikut ungkapan-ungkapan dan strategi yang digunakan Muhajirin dalam upaya memonopoli kekuasaan dan wewenang terbatas bagi kalangan mereka sendiri sekaligus langkah-langkah Muhajirin sendiri dalam men-diskriditkan Anshar dan tidak mengikut-sertakan mereka dalam Pesta kekuasaan lalu faktor propaganda dan luapan-luapan sentimentil berbau kesukuan dan kesombongan yang dikampanyekan dan disuarakan di Gedung Per-temuan Tertutup Saqifah Bani Sa’idah seperti: Kami semua adalah masyarakat elite dan ningrat bangsa Arab dan kami adalah kerabat Rasulullah! juga kesediaan dan kebulatan tekad kedua belah pihak; Anshar dan Muhajirin dan penyesalan Abu Bakar yang telah memenangkan kompetisi khilafah pada detik-detikterakhir dari masa hidupnya bahwa sangat menyesal sekali “Mengapa dulu tak pernah kutanyakan pada beliau mengenai siapa yang sebenarnya berhak dan pantas mengaku jabatan khalifah” Itu semua membuktikan dengan jelas bahwa generasi Muhajirin dan Anshar termasuk pribadi-pribadi yang berhasil mengambll alih tampuk kekuasaan belum memiliki gambaran yang luas dan pengetahuan yang mendasar tentang konsep dan seluk beluk syura secara sistematis. Bagaimana mungkin kita beranggapan bahwa Rasulullah telah menggalakkan penataran syura secara konsepsional dan bahwa beliau telah mempersiapkan dengan matang generasi Muhajirin dan Anshar untuk mengendalikan pemerintahan dan men-gemban tugas penyebaran missi dalam konteks sistem syura, sedangkan kita sendiri belum pernah menemukan realfta daripada sistem tersebut dalam sepak terjang dan corak berfikir masyarakat Islam waktu itu.

 

Kita Juga tidak beranggapan bahwa Rasul telah menggariskan konsep syura secara sempurna dalam batas hukum dan pemahamannya. Juga tidak terbukti beliau mengkader dan mengajarkannya secara sistematis dan sempuma kepada masyarakat Muslimin.

 

Dan semua yang telah dilaksanakan Nabi dalam segala aspek kehidupannya telah menunjukkan kepada kita bahwa beliau belum pernah memaparkan syura sebagai konsep dan sistem yang baru kepada masyarakat, sebab tidak mungkin konsep itu lenyap begitu saja dalam realitanya bila memang benar-benar telah dihidangkan sebagai konsep yang harus diterapkan dan dijadikan sebagai cara untuk membentuk pemerintahan baru.

 

Kenyataan tersebut dapat kita lihat dengan jelas mdalul keterangan sebagai berikut:

1.  Sistem pemerintahan syura adalah sistem yang serba baru dan mengejutkan bagi lingkungan dan kondisi Muslimin pada awal kebangkitan Islam. Jika Rasul hendak membangun sistem baru, maka konsekwen-sinya adalah semestinya menyodorkannya secara mendalam. Dan hingga saat ini belum terbukti Rasul mengajarkannya kepada masyarakat dengan konsep syura tersebut.

2.   Syura sebagai konsep yang peka dan prinslpil tidak cukup hanya dibeberkan dengan begitu saja. Sebab jika hanya demikian halnya, mungkin saja syura itu pernah dipaparkan tidak secara sempurna dan men-detail tanpa batas-batas yang jelas dan perincian yang sempurna tentang kriteria-kretria calon khalitah yang akan dipillh, dan syarat serta tolok ukur pemilihan; apakah pemilihan tersebut berdasarkan pada jumlah dan kwantitas ataukah berdasarkan mutu kepandaian dan kriteria-kriteria lainnya yang dapat dijadikan gam­baran dan batas-batas konsep-konsep tersebut sehingga dapat dengan mudah diterapkan dan direalisasikan begitu Rasulullah wafat.

 

a.                         Pada hakekatnya syura itu dapat dikategorikan seba­gai tindakan masyarakat yang bertujuan membangun pemerintahan yang berdasarkan pada sistem per-musyawaratan dan berusaha bertindak menentukan nasib sendiri. Ini merupakantanggung-jawab bersama setiap orang yang tergolong sebagai anggota tetap Sidang permusyawaratan. Dan ini berarti jika konsep dan sistem negara semacam ini sah dan dibenarkan Syari’at, maka tugas para sahabat dan masyarakat pada saat itu meyakini bahwa konsep tersebut sebagai sistem pemerintahan dan segera dijalankan tepat pada saat Rasul menghembuskan nafas harumnya yangterakhir. Dan perlu diketahui, pemilihan demikian tidak terbatas bagi beberapa gelintir orang saja (sebagaimana yang terjadi dalam sidang terbatas (Saqifah), sebab masyarakat semuanya harus dilikut-sertakan dan setiap Muslim memiliki hak suara. Usul mereka sangat penting dan dibutuhkan sekali demi suksesnya pemilihan umum, dan sebaliknya masyarakat harus merasa berkepentingan dan bertanggungjawab mensukseskannya.

Atribut-atribut di atas telah menjabarkan bahwa jika nabi telah dengan resmi memprakarsai syura sebagai kon-sep dan cara yang sebenarnya bagi pembentukan sebuah pemerirrtahan baru setelah beliau, maka semestinya beliau – selaku pemimpin dan pembina masyarakat yang arif dan bijaksana – memaparkan konsep tersebut dengan mendetail dan bukan hanya membeberkannya, bahkan harus mempersiapkan dan memupuk mental dan jiwa yang kokoh serta menutupi setiap lubang, celah dan menatar mereka sedemikian rapih dan sempurna dalam aspek; segi kwantitas dan kwalitas serta mutu pemahamannya. Tidak mungkin konsep penting itu hilang dan cair begitu saja di tengah-tengah masyarakat sejak Pemimpin Mulia mereka menlnggal dunia.

 

Mungkin juga bisa dianggap bahwa Nabi pernah menyodorkan konsep syura secara wajar dan sesuai den­gan bentuk dan kadar yang dibutuhkan oleh kondisi, kwalitas dan kwantitas, sehingga masyarakat muslim dapat mencerna dan menjangkaunya, hanya saja faktor-faktor politik secara tiba-tiba telah menutupi kenyataan yang sebenarnya. Faktor-faktor tersebut telah memaksa masyarakat untuk menyimpan dan merahasiakan apa yang mereka dengar dari Nabi tentang konsep syura serta hukum dan perinciannya.          .

 

Tapi anggapan semacam ini tidak praktis, sebab faktor tersebut bagaimanapun kandungannya tidak berkaitan secara langsung dengan Muslimin kelas bawah yang terdiri dari lapisan masyarakat sahabat yang tidak diberi bagian dan peran dalam percaturan serta kejadian-kejadian politik yang timbul pada hari-hari setelah Nabi wafat dan tidak ikut menghadiri SIdang darurat Saqifah atau tidak berperan dalam sidang tersebut. Sikap mereka adalah sikap penonton yang tenang dan menerima apa yang ada. Perlu dicamkan baik-baik bahwa mereka adalah kelompok masyarakat mayoritas.

 

Seandainya syura itu dipaparkan oleh Rasul sesuai dengan kerangka dan bentuk yang diharapkan, maka konsep tersebut tidak hanya didengar oleh beberapa orang dari pada sahabat tapi juga didengar dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan tentu terpantul secara alamiah dalam cara dan tindakan kelompok biasa dari para sahabat tepat seperti terpantui dari sabda dan hadist-hadist Rasul tentang keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib dalam cara dan tindakan para sahabat, sekalipun itu bertentangan dengan garis pemikiran dan kondisi pada saat itu. Begitu juga halnya dengan konsep syura, yang tidak terefleksl dalam cara berfikir mereka bahkan mereka sendiri saling berselisih pendapat tentang berbagai sikap politik, yang kemudlan perselisihan tersebut disusul dengan terpecahnya orang-orang yang selalu mengelu-elukan syura menjadi beberapa golongan, yang mana setiap golongan meneriakkan syura dan mengaku golongannya sebagai golongan yang kon-sekwen dengan nilai dan konsep tersebut. Mereka jadlkan syura sebagai alibi dan senjata guna mencapai kepentlngan polttis masing-masing. Sekalipun demikian halnya, mereka semuanya tidak konsekwen dan setia dengan konsep yang mereka obral dan gembor-gemborkan dan mereka sendiri tidak merealisasikannya sebagai sistem dalam membentuk sebuah negara dan pemerintahan, sebagai konsep yang

 

memang telah dicanangkan Nabi. Kenyataan Inl terlihat dengan jelas dalam sikap sahabat Thalhah terhadap penun-jukkan Khaltfah Abu Bakar dan kekesalannya terhadap penunjukkan tersebut dengan menggunakan syura sebagai senjata untuk menolak dan memprotes aksi penunjukkan itu. Talhah mengecam sikap dan tindakan Abu Bakar itu sebagai tindakan gegagah yang bertentangan dengan pesan dan konsep serta cara bermusyawarah yang telah digariskan oleh Rasulullah S.A.W.

Jika memang benar, Nabi telah memupuk dan merubah generasi pertama Muhajirin dan Anshar menjadi penegak dan penyebar-penyebar dakwah dan sebagai generasi yang bertanggung jawab mengembangkan proyek perombakkan, maka sebagai konsekwensinya Rasul seharusnya memobilisasikan dan mempersiapkan secara matang generasi tersebut dalam intelektualitas dan loyalitas agama, sehingga dapat memegang erat-erat teori Ini kemudian menerapkannya dengan penuh kesadaran dan pengetahuan yang dalam serta menjadikan pedoman-pedoman petunjuk Rasul sebagai satu-satunya penyelesaian kesulitan-kesulitan yang dapat menghambat kelancaran dan gerak lajunya program penyebaran dakwah setelahnya. Apalagi telah kita ketahui bahwa beliau sudah seringkali memberi kabar gembira akan tiba saat tum-bangnya Monarki KIsra dan Kaisar. Itu semua pertanda bahwa proyek dakwah kelak setelah beliau wafat akan menghadapi kesuksesan yang gemilang dan isyarat bagi masyarakat bahwa jumlah Ummat Islam akan bertambah banyak dan tanah kekuasaan mereka akan meluas dan membentang ke beberapa penjuru dunia dan pada saat -sebagai akibatnya – Ummat Muslimin akan menghadapi dan memikul beban mengajari dan mengenalkan Islam kepada bangsa-bangsa lain yang baru memeluk agama Islam.

 

Kabar gembira itu adalah merupakan peringatan bahwa Muslimin akan menghadapi bahaya- bahaya dan pengaruh buruk yang timbul akibat dari meluasnya tanah-tanah dan daerah kekuasaan Islam. Masyarakat juga akan mengem-ban tugas berat mempraktekkan hukum dan memenuhl tuntutan penerapan syari’at diatas daerah-daerah yang telah ditaklukkan dan bertugas menghlmbau penduduk-penduduk daerah setempat agar mematuhi dan men-jalankannya. Kita maslh beranggapan – hingga saat Inl -bahwa generasi awal kebangkitan Islam Muhajirin dan An­shar adalah generasi yang terberslh dan yang paling mampu mengemban tugas menjaga proyek dakwah serta lebih loyal dan slap untuk berkorban. Tap! gambaran ten-tang adanya upaya memoblllsasi dan pemerslapan yang matang tentang cara dan konsep yang jelas guna menjaga kelancaran dan mensukseskan program penyebaran dak­wah Itu tidak terlihat pada tingkah laku dan cara bertiktr mereka. Dan tidak terlihat juga tentang adanya suatu operasi penataran dan Indoktrinasi yang intenstf tentang konsep syura. Dan kertas sederhana inl tidak cukup untuk memuat semua pembuktian-pembuktian tersebut, terialu banyak untuk dijelaskan.

 

Terbukti, bahwa sabda-sabda Rasul yang dibawakan oleh para sahabat tidak lebih jumlahnya dari pada beberapa hadith saja. Padahal jumlah mereka meleblhl dua belas ribu orang sebagaimana yang termaktub dan tercatat dalam buku-buku hadith dan sejarah. Padahal Nabi sempat hidup bermasyarakat bersama sekitar ribuan dari mereka dl satu tempat dan di satu masjid setlap pagi dan sore. Apakah dalam fenomena Ini teriihat adanya tanda atau gejala per-siapan dan pengkaderan konsep syura secara matang!?

 

Yang jelas adalah bahwa kebanyakan para sahabat merasa risi dan enggan memulal membuka dan mengajukan sebuah pertanyaan kepada Nabi, sampai-sampai – karena malasnya – salah satu dari mereka betah menunggu berjam-jam saat kedatangan seorang Badui yang hidup diluar kota Madlnah lalu menanyakan suatu masalah kepada beliau. Sehingga dengan begini sahabat malas ini dapat mendengarjawabannya. Adalah suatu tindakan yang arogan – dalam tradisi mereka – bila seseorang menanyakan suatu tentang hukum masalah yang belum pernah mereka temukan dan terjadi!

 

Umar bin Khattab pernah berkata diatas mimbar:

“Deml Allah! Saya kesal terhadap orang yang menanyakan sesuatu yang belum terjadi. Tugas Nabi adalah menjelaskan hukum masalah yang sudah terjadi.” (Sunan Ad-Darimi 1/50).

Abdullah bin Umar ketika ditanya sesuatu perkara yang belum pernah terjadi berkata:

“Janganlah sesekali menanyakan masalah yang belum pernah terjadi, sebab saya pernah dengar rasulullah mengutuk sesiapa yang suka menanyakan sesuatu hal yang belum pernah dtalami.” (Sunan Ad-Darimi 1/50)

Ubay bin Ka’ab pernah berkata kepada seorang yang menanyakan sebuah masalah kepadanya:

 

“Hai anakku! Adakah masalah yang kau tanyakan padaku Itu sudah terjadi? Orang itu menjawab: BelumI Lalu Ubay berkata: Jika belum pernah terjadi, maka jangan tanya kan dulu sampai jika hal itu terjadi.” (Sunan Ad-Darimi 1/56)

 

Pada suatu harl Umar mengaji AI-Qur’an sampal terhenti pada ayat yang berbunyl:

 

“Anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun- kebun lebat dan buah-buahan serta abb (rumput-rumputan) untuk kesenangan dan untuk bmatang-binatang ternakmu.”[ Q.S; 80:28-32)

Lalu la berkelakar:

“Semua arti ayat Inl saya tahu. Tapi apa arti “abb” disini? Kemudian ia berkata’ Demi Tuhan ini berarti mencari kesulitan sendiri (dengan mencari arti) sebenarnya kalimat “abb”. Jlka anda tidak tahu akan arti kallmat “abb” yang sebenarnya, maka tinggalkan dan tkutllah kalimat lain yang sudah anda ketahui dalam KItab ini. Adapun kalimat yang tidak anda ketahui artinya maka serahkan saja kepada Tuhan.

 

Tampak sekali betapa malas dan beratnya hati mereka menanyakan masalah-masalah yang tida benar-benar berkaitan dengan mereka seharl-hari. SIkap demikianlah yang menyebabkan garis pemikiran ini akhir-nya kehabisan dalil dan hukum yang jelas. Itulah sebabnya mereka membutuhkan sumber-sumber lain – disamping Sunnah Rasul dan AI-Qur’an – seperti Qiyas, Istihsan dan lainnya, yang mana kesemuanya Itu merupakan faktor dan dasar-dasar utama seorang Mujtahid, yang mana hal ini sedikit banyak telah menyihir seorang untuk bertlndak nekad dan ceroboh mengambil keslmpulan sebuah hukum baru.

 

Sikap dan cara berfikir golongan kedua ini sama sekali tidak memantulkan adanya upaya penggemblengan

dan penataran yang cukup tentang konsep syura bagi generasi perintis Islam dan membuktikan dengan jelas bahwa mereka tidak tahu menahu tentang batas-batas syarl’at yang dapat menangani kesulitan-kesulitan yang akan menlmpa generasi pertama tersebut.

 

Para sahabat tidak hanya malas dan enggan memulai membuka pertanyaan kepada Rasul tapi mereka juga enggan membukukan hadits-hadits beliau, yang merupakan sebagai sumber kedua setelah AI-Qur’an. Padahal pembukuan itu adalah cara satu-satunya untuk menjaga dan melestarikan peninggalan dan hadist Rasul dari pada segala macam penyelewengan letak, jumlah, pengertian harafiah dan lain-lainnya dan agar tidak punah danlenyap. AI-Harawy pernah membawakan sebuah had Its (yang mencela berbicara melalui) Yahya bin Sa’ad dari Abdullah bin Dinar, la berkata: Para sahabat begitu juga para tabi’in tidak pemah mencatat hadits-hadits mereka tetapi mereka dapat mengutarakan secara harafiah. Bahkan Khallfah Umar – sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam bukunya Ath-Thabaqath – dilanda kebin-gungan memikirkan sikap bagaimana yang paling balk untuk menghadapi Rasul. Keblngungan tersebut menyibuk-kan piklran sang Khalifah hampir selama satu bulan, kemudian la mengumumkan keputusan resmi melarang siapapun membukukan sabda dan sunnah Nabi. Kemudian – yang merupakan sumber terpenting kedua dalam agama Islam – menjadi tak jelas nasibnya, ada yang dilupakan, ada yang dl nonfungsikan, ada yang dihapus, ada yang menjadi korban kepentingan pditik dan ada yang dirubah penaf-siran, jumlah materi, letak dan perawihnya. Akhirul hikayah hadtts-hadlts tersebut ikut wafat tertanam di kepala orang-orang yang hafal dan merahasiakannya di liang lahat setelah dia wafat.

 

Sebaliknya, aliran yang berorientasi kepada Ahlul Bait serta ajarannya tetap tekun membukukan hadits-hadits dari pertama. Itulah sebabnya mengapa buku-buku rlwayat golongan Syi’ah menjadi berlimpah ruah dan berjilld-jilid serta penuh dengan riwayat dan hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam-Imam dari keluarga sucl Rasul yang ditulis Imam Ali dengan didikte Rasul. Dalam buku-buku tersebut anda akan temukan ribuan riwayat dari Ahlul Bait dan Sunnah-sunnah Rasulullah S.A.W.

 

Apakah generasi yang malas menanyakan hal-hal yang mereka tidak ketahui dan enggan membukukan hadits-hadits pemlmpin mereka Itu pantas dan mampu mernimpin dan mengemban RIsalah dalam segala proses perkembangannya yang amat sulit dan mengkhawatirkan! Lalu apakah logis dan pantas kita beranggapan bahwa Nabi telah meninggalkan sunnah-sunnahnya berserakan dan terbengkalai begitu saja tak tertulis, padahal kita semua tahu beliau selalu mengajarkan umatnya menjalankan sunnah-sunnah tersebut!?

 

Apa mungkin Ini dapat dipraktekkan tanpa dibukukan? Atau jika memang benar Rasul memprakarsal konsep syura, maka semestinya beliau menggambarkan dengan jelas undang-undang dan semua masalah yang berhubungan dengan konsep tersebut dan mengatur serta menjuruskan sunnahnya sedemikan rupa, sehingga den­gan mudah konsep tersebut dtterapkan dan berjalan sesual dengan metode dan strategi yang telah digariskan sehingga tak dapat disalah-gunakan dan disetir atas kehendak setiap orang.

 

Bukankah anggapan satu-satunya yang rasionil adalah Rasul bersikap positip-aktif terhadap prospek dan kelangsungan proyek pengembangan dakwah setelahnya dan mempersiapkan seorang kader istimewa dan berbobot.

 

All bin Abi Thallb sebagai tempat kembali dan rujukan serta pemimpin setelah beliau dan mengajarkannya dengan segala nilai serta isi sunnah beliau. Seorang tokoh muda andaian yang mana tingkat intelektualnya dan kepandaian-nya – sebagaimana yang disebutkan Nabi – mengupas ilmu dalam setiap bab menjadi seribu macam ilmu.

 

Kejadlan dan perkembangan yang terjadi setelah Nabi wafat telah membuktikan bahwa generasi yang terdiri dad kelompok Muhajirin dan Anshar tidak mempunyai pen-getahuan yang luas dan pemahaman yang cukup dan dapat diandalkan dalam mengatasi problema-problema yang menganggu gerak majunya program penyebaran dakwah, sampal-sampai penaklukan dan pembebasan yag men-ghasllkan tanah-tanah yang sangat luas sempat membin-gungkan pikiran sang Khalifah tentang gambaran dan hukum yang jelas untuk menangani pembagian tanah-tanah penaklukan tersebut; apakah dibagikan antar pasukan yang ikut menaklukan atau dibagikan sama rata antar kaum Muslimin semua.

 

Apakah logis kita beranggapan bahwa Rasul yang menegaskan bahwa kaum Muslimin akan membuka tanah-tanah disekttar Jazlrah Arabia menaklukan Qisra dan Kaisar, dan menjadikan generasi Muhajirin dan Anshar selaku plhak-plhak yang kompeten dan bertanggung-jawab atas penaklukan-penaklukan tersebut yang akan membuka tanah dan daerah-daerah luas yang merupakan ladang baru dan subur bag! benih dan bibit-bibit unggul Islam!

 

Bahkan kita berkesimpulan lebih jauh dari semua ini. Kita berkesimpulan bahwa generasi yang pernah hidup bersama Rasul tidak mempunyai pengetahuan yang men-dalam tentang masalah-masalah agama yang ringan yang sering beliau lakukan dihadapan mereka.

 

Sebagai contohnya, kita ambll “Tragedi Shalat Maytt yang menyedihkan”. Shalat jenazah adalah Ibadah yang ratusan kali Rasul kerjakan secara terang-terangan dihadapan dan di tengah- tengah para sahabat yang ikut mengerjakannya. Meskipun demikian, para sahabat itu dulu tidak merasa periu menghayati dan mengingat ibadah demikian, sebab (menurut mereka) selama Rasul melakukannya mereka akan selalu mengikuti gerak-geriknya dari belakang punggung beliau. Itulah sebabnya mengapa mereka ributtak karuan memperdebatkanjumlah takbir yang sebenarnya dalam shalat jenazah begttu Rasulullah wafat.

 

Ath-thahawi membawakan sebuah riwayat daripada Ibrahim, yang demikian isinya: la berkata:

 

Rasulullah wafat sedangkan rakyat pada saat Itu sedang sibuk memperselisihkan jumlah sebenarnya takblr dalam shalat jenazah. Mereka menolak kesakslan seseorang yang berkata di tengah-tengah mereka: saya pernah dengar Rasulullah bertakbir tujuh kail. Sebagian berkata: Saya pernah dengar beliau metakukan lima kali takbir. Lainnya bersuara: Saya dengar beliau mengerjakan shalat jenazah dengan empat takbir. Maka kemudlan semuanya sama-sama mempertahankan pendapat masing-masing dan suasana diskusi tiba-tiba makin tegang hingga berjalan terus pada saat Khalifah Abu Bakar putra Abu Quhafah hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan ketika Umar mengambll allh tampuk kekuasaan, la meninjau kembali masalah shalat maylt ter­sebut dan mengutus beberapa orang dari sahabat Rasul dan berpesan kepada mereka:

“Kalian adalah sahabat-sahabat Rasulullah. Jlka kallan berselisih pendapat, masyarakat akan berselisih pula. Tap! apablla kalian bersepakat terhadap suatu masalah, maka masyarakat lain akan sependapat dan pasti menglkuti. Maka dari itu lihatlah dan perhatlkan apa yang kalian sepakati, usahakan itu seolah-olah membangkitkan mereka. Para sahabat itu menjawab: Ya, benar apa yang anda piklrkan wahai Amirul Mukminin!” (UmdatuI-Qarly,4/129).

Begitulah adanya. Para sahabat pada masa hidup NabI menggantungkan semua urusan yang berkaitan den-gan mereka kepada Nabi sendiri, dan tidak merasa berkepentlngan menyerap hukum-hukum dan faham-faham baru semasa beliau masih hidup.

 

Mungkin sebagian orang menolak gambaran bahwa para sahabat ttu adalah tidak mampu menyerap dan mencernak hukum dan pemahaman-pemahaman baru dengan alasan bahwa hal ini bertentangan dengan keyakinan kita semua bahwa pendidikan Rasul telah membuahkan kesukseskan yang gemilang dan telah berhasil menciptakan sepasukan generasi ideolog dan revolusioner yang hebat dan dapat dibanggakan.

 

Sebagai jawabannya: KIta katakan bahwa sebelum kita mengambil kesimpulan dan gambaran di atas, kita telah mempelajari dan melihat kenyataan yang sebenarnya dari generasi besar tersebut yang ikut hidup bersosial bersama NabI itu – kenyataan ini – tidak bertentangan sama sekali dengan kenyataan bahwa Rasul telah melakukan Operasi Pendidlkan yang hebat dan mencengangkan semasa hidupnya, sebab kita juga tidak menutup mata menolak kenyataan bahwa cara yang dilakukan Rasul dalam upaya mendidik itu adalah langkah yang terhebat sepanjang sejarah nabi-nabi. Dan kehebatan cara serta penerapan operasi pendidikan beliau tidak harus tercerminkan dan tertakar dalam hasil dan ekses serta pengaruhnya dalam cara berfikir dan cara bertindak para sahabat. Itu harus kita pisah dan bedakan, sebab keduanya mempunyai subyek yang berbeda, disamping kita juga harus memasukkan dan mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi serta kesamaran-kesamaran tertentu – yang maslh belum bisa diungkapkan – mungkin merupakan faktor utama dart tidak terpantulnya cara pendidikan lewat Rasul dalam kehldupan sosial para sahabat. Dan kehebatan cara pendidlkan Rasul serta hasilnya tidak bisa diukur atau dttakar dengan angka dan kwantitas kesuksesannya dalam realita tanpa memasukkan faktor-faktor kwalitas. Sebagai contohnya:

 

Bila seorang guru mengajar beberapa murid mengenal pelajaran bahasa dan sastra Inggris dan kita Ingin men-gukur kemampuan guru itu dalam mengajar, maka kita tidak dapat hanya dengan melihat kemampuan dan sejauh mana para siswa itu memahami bahasa dan sastra Inggris. Tapl kita harus memasukkan faktor tempo, berapa lama guru tersebut mengajarkan bahasa Inggris dan dengan memper-hatlkan latar belakang pemahaman para siswa – sebelum diajar sang guru – terhadap bahasa Inggris. Disamping kita juga harus mempelajari kesulitan dan hambatan-hambatan yang mungkin telah sedikit banyak mengganggu kelan-caran dan kelangsungan pengajaran bahasa Inggris ter­sebut. Mungkin kita juga periu meneliti niat dan kadar semangat guru tersebut dalam mengajar bahasa Inggris: mengapa ia sampai terdorong mengajar bahasa dan sastra Inggris. Kemudian dengan melihat hasil total terakhir pada ujian mereka dibandingkan dengan hasil ujian dan pdajaran tahun sebelumnya serta sistem, situasi, dan kondisi yang mungkin berbeda.

 

Dalam masalah penjabaran tentang operasi dan upaya pendldikan yang digalakkan Rasul, kita harus men-Jadikan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan:

Pertama:

Jangka waktu yang relatif singkat dalam melakukan usaha pendidlkan, sebab itu melampaui dua batas waktu pergaulan beberapa orang yang ikut bersama Rasul dalam menempuh jalan pertama. Dan itu tidak lebih dari satu periods yang hidup pada saat itu masyarakat kebanyakan dari kelompok Anshar, dan itu berjalan tidak lebih dari tiga atau empat tahun daripada jumlah yang besar orang-orang yang masuk Islam, dimulai dengan pakta perdamaian Hudaibiah dan berlanjut hingga penaklukkan kota Mekkah.

Kedua:

SItuasi dan kondisi para sahabat sebelumnya balk dari segl Intelektual atau spiritual, agama dan operasional di samping kebodohan dan krisis intelektualitas serta kevakuman dalam segala atau kebanyakan aspek kehldupan mereka. Dan kiranya tidak diperlukan lagi pem-buktian dan informasi tambahan untuk mendukung kenyataan ini, menglngat hal Inl sangat jelas dan gamblang bila kita memandang Islam sebagai serangkaian upaya dan aksl perombakan-perombakan total dan mendasar ternadap masyarakat, bahkan Islam itu dapat kita inden-ttfikasikan sebagai perombakan dari bawah dan pembinaan Umat baru yang mendasar dan bersifat menyeluruh. Dan ini semua menggambarkan betapa jauh jarak moral dan kultural yang memisahkan antara Peradaban sebelumnya dengan situasi baru pada zaman Nabi dengan memulai menggalakkan operasi pembersihan masyarakat dari pengaruh budaya Jahiliyah mereka.

 

Ketlga:

Perkembangan-perkembangan polltik yang muncul akibat konflik politik dan pertentangan fislk (millter) di setiap front pertempuran Itu merupakan ciri khas kondisi dan corak istimewa hubungan yang sejalan antara Rasul dan sahabat-sahabatnya yang berbeda dengan corak hubun­gan Isa as. dan Hawariyyinnya. Hubungan antara Nabi dan sahabat-sahabatnya bukanlah seperti hubungan yang terjalin antara seorang guru dengan siswa-slswanya, tapl hubungan yang terjalln antar keduanya adalah hubungan yang selaras dengan status dan derajat terhormat beliau sebagai seorang Rasul, selaku Pendidik Utama, selaku Panglima Perang dan selaku Pemimpin Negara.

Keempat:

Pertentangan dengan kelompok Ahlul-kitab serta kontradiksi yang terjadi antara Islam dengan kebudayaan agama yang beraneka warna yang merupakan baglan dari rentetan pertentangan dan pertlkaian ideologi dan soslal yang selama ini dihadapl masyarakat Muslim itu merupakan penyebab kegelisahan dan keresahan yang tak pemah kunjung reda. Dan kita tahu bahwa iu – dalam tahap perkem-bangan – telah menciptakan suatu aliran pemikiran israllisme (Israiliyyat) yang terserap secara diam-dtam ke berbagal corak pemikiran Islam yang murni atau masuk dengan didasari oleh tujuan jahat berkonspirasi dan kemudian niat buruk inl sedikit banyak telah berhasil menyusupkan pandangannya yang sesat ke pelbagai pemikiran Islam. Dan dengan mengkaji dan menelaah AI-Qur’an secara seksama kita akan dapat dengan mudah mengukur besar kecilnya pen­garuh aliran pemikiran kelompok Kontra Revolusi (Penyebar Israiliat) dan seberapa besar perhatian dan perlindungan Allah S.W.T. melalul wahyu-Nya memantau dan

membatalkan secara eksplisit maupun secara implisit pemikiran-pemikiran rusak yang diproduksi oleh kelompok AntI Revcdusl tersebut.

Kelima:

Cita-cita yang hendak dicapai Rasul secara universal dalam dekade itu adalah menciptakan sebuah pangkalan dan tonggak masa yang kokoh dan dapat diandalkan sehingga dengan sendlrinya mereka mampu mengkoor-dinir proyek pengembangan dakwah Risalah – semasa htdup bellau dan seterusnya – dengan meningkatkan kerja sama dan melanjutkan program pengembangan tersebut melalul jalan yang telah digariskan sebelumnya. Tujuan dan ctta-cita bellau itu meningkatkan dan memupuk masyarakat sedemiklan rupa sehingga mampu memimpin dengan sen­dlrinya secara langsung, sebab konsekwensi tugas berat ini – kalau memang benar – adalah menuntut adanya pemahaman yang sempuma dan menyeluruh tentang kandungan dan esensi Risalah Rasul dengan segala aspek hukum dan nilai-nilainya yang tidak sedikit. Penentuan dan penggarlsan tujuan pada tahap itu adalah merupakan akibat pasti dari tindakan dan aksi perombakan, sebab adalah tidak rasionil bila seandainya Rasul hanya menggambarkan tujuan tanpa mempertimbangkan hal-hal negatif yang terjadi sebagai efek dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dl tengah perjalanan kelak. Dan kemungkinan tentu terjadi pada situasi dan kondisi seperti yang dialami Islam. Hal ini tidak mungkin dilakukan kecuali bila dilakukan dalam ruang lingkup yang telah kami sebutkan diatas. Sebab jarak perbedaan moril, spirituil, intelektual dan sosial yang memlsahkan antara Islam (Risalah Baru) dan kondlsl yang serba rusak saat itu sangat fundamental sehingga tidak memungkinkan kesadaran dan kemampuan politik sosial Umat berkembang sampai tingkat kemampuan guna memimpin dan mengemban tugas misi Risalah secara langsung. Ini akan terbukti pada pembuktian keenam. DIsana kita akan membuktikan bahwa kelanjutan Wishayah – atas dasar pengalaman aksi perombakan yang baru – adalah tertampung dalam Imamah dan kepemimpinan Ahli-Bait. Dan khilafah Ali adalah suatu hal pasti yang dituntut oleh logika kamus perombakan dan pembaharuan sepanjang sejarah.

Keenam:

Orang-orang yang masuk Islam setelah penaklukan Mekkah merupakan mayorttas masyarakat Muslim yang ditinggal Rasul menlnggal. Yakni. mereka ttu masuk Islam setelah penaklukan Mekkah dan setelah Risalah menyebar ke berbagai pelosok Jazlrah Arabia dan menjadi kekuatan polttik dan millter yang sangat besar, sedangkan mereka tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk leblh lama bergaul dengan Rasul hanya dalam tempo yang sangat singkat di hari-hari setelah penaklukan kota Mekkah usai. Mereka melihat Rasul tidak lebih dari seorang pemimpin saja, mengingat periode Itu bisa dikatakan sebagaj masa kejayaan yang nyata bag! ekslstensi Negara yang dibentuk Rasul. Dalam periode Itulah muncul konsep grasi bagi orang-orang yang dikenal dengan sebutan “Almuallafah Qulubuhum” yang kemudian setelah melalui beberapa proses asimilasi menjadi bagian masyarakat Islam lalnnya dan mereka mendapat perhatian dan prioritas dalam hal zakat dan hukum-hukum lain. Mereka menjadi bagian dari selayaknya Umat Muslim yang terkadang berpengaruh dan terkadang pula mempengaruhi masyarakat besar tersebut.

 

Dengan memahami keenam hal di atas, kita dapat menyimpulkan dengan hati lega bahwa pendidikan Nabawiah telah membuahkan keberhasilan dan kesuksesan yang sangat gemilang dan tak ada duanya. Beliau telah berhasil menciptakan perubahan yang unik dan mencengangkan. Nabi telah melahirkan generasi kawakan yang mampu dan siaga. Generasi-generasi andalan Itu adalah kenyataan dan manifestasi dari impian dan cita-cita luhur beliau membangun suatu pangkalan dan tonggak masa yang mampu mengemban tugas menuntun perjalanan dakwah selanjutnya. Generasi yang siap mengarungi pengalaman baru yang belum pernah digelutinya. Itulah sebabnya mengapa generasi hebat tersebut berfungsl sebagai pangkalan dan pondasi masa yang dapat dibanggakan selama Nabi sendiri memimpin. Seandainya kepemlmpinan setelah Rasul itu berjalan terus sesuai den-gan misi dan garis beliau dan beriandaskan agama yang sebenamya, maka pasti pangkalan dan tonggak masa ter-sebut akan dapat memainkan peranan pentingnya yang telah ditentukan. Tapi yang harus diingat penjabaran ini sama sekali tidak memberi pengertian bahwa pangkalan dan pengawal RIsalah Itu dibentuk untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan secara langsung dan bertanggung jawab menuntun perjalanan baru yang akan ditempuh oleh misi RIsalah dan dakwah setelah Nabi wafat. Sebab pembentukan dan mobilisasi generasi tersebut sebagai panitia penerap dakwah dengan sendirinya menuntut adanya keutuhan loyalitas dan iman yang sempurna terhadap Risalah Itu sendiri serta memerlukan adanya kearifan yang betul-betui menyeluruh dan mendasar tentang hukum dan ide-ide penyelesaiannya yang banyak dan saling berbeda terhadap kenidupan. Dan pembentukan tim (pasukan) dengan tugas berat Itu harus dimulai dengan membersihkan tubuh tim atau generasi tersebut dari segala macam unsur dan oknum-oknum Munafiqin, para penyusup dan segerombolan dari orang-orang Islam kemarin (Almu’allafah Qulubuhum) yang masih merupakan bagian yang tkjak bisa disepelekan dan dipisahkan dari generasi tersebut, menglngat jumlah dan prosentasi mereka itu cukup besar dan Nabi harus membuka-buka lembaran hidup masa lalu dan latar belakang mereka satu persatu dan dengan mempertlmbangkan pengaruh-pengaruh negatif dan kebladaban Kaum Munafiqin sebagalmana yang telah sering digambarkan dalam AI-Qur’an tentang tipu dan makar serta sikap-sikap mereka yang sudah dikenal. Dan adanya beberapa orang yang terpercaya dan dapat diandalkan dalam tubuh generasi tersebut telah sedikit banyak membantu kelangsungan program pemupukan Ideologi yang kokoh dan projek pengkaderan itu telah menghasilkan tokoh-tokoh revolusioner yang tangguh seperti Salman Al-Farasl. Abu Dzar AI-Ghifari, Ammar bin Yasir  dan lain- lain.

 

Saya berani katakan bahwa adanya beberapa orang seperti yang tersebut diatas dl tengah-tengah generasi besar itu juga tidak membuktikan bahwa generasi secara keseluruhan telah mencapal tingkat yang dapat menjamin mereka mampu memikul tanggung jawab membina masyarakat dan menuntun perjalanan dakwah atas dasar konsep dan sistem syura.

 

Dan orang-orang yang kita jadikan sebagai contoh dari keberhasilan program pendldikan Nabi itupun tidak ada yang menampakkan dan merasa mampu mengemban tugas dan telah slap dalam segi intelektual dan kultural memimpin masyarakat dalam mengarungi perjalanan baru mereka meskipun ketulusan dan loyalitas mereka tidak kita sangsikan dan pertanyakan lagi, tetapi ada suatu titik rahasia yang harus kita ketahui bersama bahwa Islam bukahlah suatu teorl atau sebuah pendapat yang dicetuskan oleh seorang ideolog atau seorang ahli hukum yang jenius siapapun, sehingga tergaris dan menjadi jelas setelah diterapkan dengan benar-benar tepat dengan esensi ajaran Islam itu sendiri. Islam adalah misi luhur Allah S.W.T. yang sejak semula sudah sempurna dan baku dengan segala macam batas-batas dan nilai-nilai pemikirannya. Sebuah misi sempurna yang telah diramu dengan rapi dan diperlengkapi dengan batas-batas serta penetapan hukum yang merupakan kebutuhan dan syarat past! bagi aksi penerapan.

 

Maka memahami secara mendalam dan menghayati kandungan Risalah seutuhnya adalah syarat yang tak bisa ditawaw-tawar lagi begitu juga mengetahui semua hukum dan nilai serta ide-ide yang bersumber pada Risalah suci tersebut. Sebab jika hal penting ini tidak dijadikan sebagai syarat maka sebagai jalan keluarnya, generasi yang belum terdidlk secara matang itu akan mengenang kembali masa kejayaan jahiliyah dan kemudian mengambil pengaruh pemikiran jahiliyah kuno mereka sebagai penyelesaian dalam menghadapi dan mengatasi problema-problema serius mereka. Dan ini jelas akan membawa bencana dan mengkeruhkan suasana dan sekaligus akan mengotori citra Risalah Allah yang sudah disempurnakan itu. Lagi pula itu akan menimbulkan kesenjangan dan kemacetan dalam gerak maju aksi penerapan yang diidam-idamkan Pemim-pin Agung Muhammad S.A.W. Bencana besar itu akan lebih tragis dan menakutkan bila kita hubungkan misi Risalah Nabi dengan risalah-risalah para Nabi sebelumnya.

 

Kita semua tahu bahwa Risalah yang dibawa Nabi Muhammad adalah merupakan penutup sekaligus pelengkap misi-misi sebelumnya yang dibawakan oleh Nabi-Nabi sejak Adam as. Sebuah misi universal yang semestinya berjalan terus seiring dengan perjalanan zaman kemudian menerobos bagaikan bah melenyapkan segala macam batas waktu. teritorial dan ras. Hal-hal diatas menuntut agar kepemlmplnan ini dijalankan dengan rapl oleh pihak yang kompeten dan mengerti sehingga kepemimpinan tersebut berjalan sesuai dengan garis strateginya dan tidak terbentur dengan kesalahan-kesalahan fatal yang akibatnya bila kesalahan itu berulang-ulang terjadi dan menumpuk, maka akan menimbulkan bahaya besar yang dapat mengancam keutuhan dan kesuk-sesan program dalam proses perjalanan dan perkembangannya.

 

Itu semua menunjukkan bahwa penataran dan upaya mendldlk yang dilakukan Nabi secara umum dikalangan Muhajirin dan Anshar tidak seukuran dengan kebutuhan yang besar bagi penyiapan pimpinan yang sadar Intelektual sosial politik demi masa depan dakwah dan kesuksesan aksi perombakan. Tapi yang bellau lakukan hanya mendldik dan mengadakan penataran semacam penataran yang sengaja dilakukan guna membangun pangkalan dan pondasi rakyat yang kokoh dan sadar akan tanggung jawab memimpin dan menuntun jalan dakwah dewasa ini dan di masa mendatang.

 

Dan setiap anggapan yang kesimpulannya bahwa Nabi telah berencana menciptakan kader profestonal untuk memegang kekuasaan dan menjadi pengawal pengawas tangguh projek dakwah dl jajaran Muhajirin dan Anshar adalah anggapan yang mengandung tuduhan yang sama sekaii tak berdasar bagi pribadi seorang pemimpin IdeologI berpengaruh manapun dalam sejarah dan kamus aksi perombakan dan revolusi ideologi, dengan menuduh bahwa Rasul tidak dapat membedakan antara kesadaran yang dibutuhkan bagi sebuah pondasi dan pangkalan masa demi dakwah dengan kelangsungannya dan kesadaran yang dibutuhkan bagi pemimpin dan penggiring dakwah dalam segala aspek kehidupan politik, sosial, kebudayaan, dan lain sebagainya.

 

Dakwah dapat dirasakan sebagai operasi perom-bakan dan merupakan “Way of life” yang serba baru yang dengan sendirlnya menyodorkan konsep dan rencana kerja bagi pembentukan kerangka awal dalam masyarakat dan mencabut setiap akar dan pengaruh jahiliyah serta membasmi semua sisa-sisanya yang berkarat.

 

Dan Umat Islam secara umum tidak pernah hidup bersosial dibawah proyek operasi perombakan hanya dalam satu dekade saja (dan inipun menurut perkiraan makslmal). Dan masa singkat tidak memadai – menurut logika dan tradisi sejarah kebangkltan ajaran- ajaran baru -untuk menlngkatkan dan mengangkat generasi yang hanya sepuluh tahun bersama Rasul sampai mampu mencapai kebebasan dan pembersihan total dan segala rnacam pen­garuh kemarin jahiliyah dan sekaligus dapat menampung segala nilai dan ide-ide baru yang menjadikan mereka mampu meluruskan jalannya Risalah dan mengemban tugas dakwah serta menyempurnakan projek perombakan tanpa bimbingan seorang arkitek ulung dan pemimpin kallber. Logika dan kamus sejarah ajaran dan ideologi manapun telah menunjukkan betapa pentingnya menatar masyarakat dengan tataran dan pendidikan ideologi secara Intensif dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga dapat mengangkat masyarakat ke tingkat kesadaran yang sempurna.

 

Inl bukan hanya sekedar hasil atau sebuah kesimpulan belaka, bahkan telah menggambarkan kenyataan yang terrefleksi dalam kejadian-kejadian yang timbul sejak setelah Nabi wafat dan kenyataan tersebut makin jelas setelah kurang lebih setengah abad yang terjelma dalam tindakan dan pada hidup generasi Muhajirin dan Anshar dalam menjalankan tugas membawa misi dakwah sepanjang perjalanannya, sebab pelancaran tersebut telah berlangsung selama tidak lebih dari seperempat abad yang berakhir secara tragis dan menyedihkan dengan timbulnya gejala kehancuran khilafah Arrasyidah yang telah dimotori oleh generasi Muhajirin dan Anshar. Khilafah tersebut akhlrnya tumbang setelah mendapat beberapa pukulan beruntun dari musuh-musuh bebuyutan Islam yang mana kehancuran itu terjadi dalam ruang lingkup perjalanan Islam dan tidak terjadi di luarnya. Itulah sebabnya mereka berhasil mengambil alih dan menduduki pos-pos penting sepanjang perjalanan dakwah secara bertahap. Mereka kemudian – sebagaimana yang telah terbuktl dalam sejarah – berhasil mengelabui dan memperalat aparat-aparat pemerintah yang tidak layak menjadi kurir dan boneka-boneka yang dapat dikendalikan dari jauh. Setelah semua strategl dan rencana pertama berjalan dengan lancar mereka turun ke lapangan; merampok kekuasaan (kudeta) dengan kekerasan dan memaksa masyarakat serta generasi senior mereka agar tunduk dan mengalah mengorbankan identitias mereka (selaku sahabat) dan kekuasaan mereka. Ak-hirul hikayah khilafah mereka sihir dan robah secara dratis dalam sekejap mata menjadi kerajaan dan sistom monarki turun temurun yang absolut; tidak menghargai hak asasi. menganiaya dan membantai orang-orang yang tidak berdosa, menon-fungsikan hukum dan undang-undang dan tidak memberlakukan batas-batas hukum (had-had seperti hukuman terhadap perbuatan zina, dan lain-tain). Kedurjanaan dan kediktatoran berubah menjadi tradisi dan fenomena yang wajar dalam kehidupan sehari-hari Umat Muslimin. Dan khilafahpun tak ubahnya bagaikan bola-bola kecll yang dttendang dan dipermainkan kesana kemari oleh bocah-bocah ingusan Bani Ummayah.

 

Maka, segala kejadian dan pengalaman yang kerap kail terjadi sejak Rasul wafat dan segala akibat dan hasil-hasil yang menyedihkan daripada perkembangan-perkembangan yang timbul selama kurang lebih seperempat abad yang telah memaksa kami mengambil kesimpulan seperti diatas bahwa tuduhan memberikan hak wewenang mengendalikan tali kekuasaan dan menempati poslsl tempat kembali bag! soal politik dan langkah-langkahnya kepada generasi Muhajirin dan Anshar begitu Rasul wafat adalah tindakan yang terlalu dini dan melanggar hukum alam yang normal. Oleh karena itu, adalah anggapan yang tidak raslonal bila dikatakan bahwa Nabi telah melakukan hal semacam ini.

 

 

 

 

 

ALTERNATIF KETIGA Yang Ditempuh Rasul Demi Kelangsungan Misinya.

 

Adalah cara satu-satunya yang rasionil dan selaras dengan hukum pasti bagi kondisi yang ada pada dakwah itu sendiri, kondisi juru-juru dakwah yaitu bersikap posttif terhadap masa depan dakwah setelahnya serta memilih dari sekian banyak sahabat (berdasarkan keputusan resmi dari Allah melalui Nabi-Nya) sebagai calon utama dan tunggal pengemban dakwah dalam perjalanan setelah beliau meninggal. Dan Nabi bertugas mengisinya dan mengajarkannya segala macam ilmu dan bahan-bahan yang diperlukan bagi seorang pemimpin yang bertugas seperti Nabi sendiri memimpin Umatnya dan mempersiapkan ketahanan mental dan loyalitas serta jiwanya sehingga mampu secara utuh menjalankan tugas sucinya menuntun perjalanan dakwah dan melanjutkan program pengembangan dakwah dan menyempurnakan proyek pembangunan pangkalan dan pondasi masa yang sadar dan kokoh dalam tubuh generasi yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar selaku pengawal-pengawal dan plhak-pihak yang bertanggung jawab memimpin masyarakat di bawah bimbingan seorang pemimpin kharismatik dan berbobot sekaligus mereka berkewajiban memimpin umat secara operaslonal setelah mencapaitingkat kesadaran dan loyalitas yang cukup untuk menerima tugas penting tersebut.

 

Dan begitulah seterusnya. Kita temukan cara dan jalan keluar ini adalah cara dan sikap satu-satunya yang diambil Rasul dalam menanggapi masa depan dan kelanjutan dakwah yang telah dirintisnya. Ini adalah cara yang efektif dan dapat menjamin keselamatan perjalanan dak­wah setelahnya dan dapat melindungi proyek penyebaran-nya dari segala macam kelesuan dan gejala-gejala kegagalan dan penyelewengan dalam sepanjang tahap dan proses perkembangannya.

 

Dan hadits-hadits mutawatir yang kita dapatkan dari Rasul menunjukkan bahwa beliau telah melakukan per-slapan matang dalam segi dan intelektualitas dan loyalitas sebagian juru dakwah hingga mereka mencapai tingkat seorang kader dan pemikir serta tokoh polltik. Rasul telah mempersiapkan mereka sebagai calon-calon pengemban masa depan dakwah. Itu semua merupakan tindakan Rasul dan cara ketiga yang past! telah ditempuh Rasul dan mem-buktikan dengan jelas bahwa hal ini tidak bertentangan dengan hukum alam seperti yang telah kita ketahui bersama.

 

Dan All bin Abi Thalib adalah satu-satunya orang diantara beribu-ribu sahabat Nabi yang mempunyai peluang dan kemampuan serta kesempurnaan segala kriteria dan syarat-syarat penting seorang pemimpin. Dia adalah orang yang terpandai dan lebih arif dalam segala bidang daripada yang lainnya. Dia adalah Muslim pertama dan pejuang ksatria yang tidak bisa disamakan dengan siapapun yang gigih memperjuangkan misi Risalah dengan membasmi penghalang dan perintang jalannya dakwah. Dia adalah pribadi yang bersatu dan beradaptasi dengan seutuhnya dengan esensi Risalah. Dia dibesarkan di pangkuan mertua dan misannya, Nabi besar Muhammad saw. Dia adalah anak angkat yang selalu berada di sisi beliau. Hal mana pergaulan yang panjang ini menghasilkan adanya persenyawaan antar dua pribadi yang mulia itu. Ali telah lulus dengan predikat sangat dan terialu memuaskan berintegrasi secara menyeluruh terhadap nilai-nilai dan ber-bagai aspek kehidupan Rasul yang pada akhirnya mengistimewakan Ali di antara sekian banyak sahabat dan masyarakat lainnya.

 

Dan perjalanan hidup Rasul dan Imam Ali telah den­gan jelas membuktikan bahwa Nabi telah menyelesaikan tugas utamanya dengan mempersiapkan Ali dari segala kebutuhan seorang pemimpin sebagai perjalanan dan masa depan misi yang telah dibawa oleh Rasul. Beliau telah memberikannya segala macam hikmah dan rahasia-rahasia ilmu bagi seorang kandidat pemimpin agung umat Islam, hingga teriihat perhatian beliau dengan cara mengajarkan-nya dengan cara empat mata dan cara yang tertutup. Mem-berinya gambaran-gambaran tentang berbagai halangan yang mungkin akan mengganggu gerak jalan dakwah setelah beliau.

 

AI-Hakim dalam kitabnya AI-Mustadrak mem-bawakan sebuah riwayat dari Abi Ishaq yang demikian bunyinya:

“Aku pernah bertanya kepada AI-Qhastm bin At-Abbas: Bagaimana sampai Ali dapat mewarisi segala sesuatu yang Rasul miliki? la menjawab: Ya, sebab la adalah seorang muslim pertama dan yang paling teguh memegangnya.”

 

Dalam kitab HilyatuI Awliya’ tertulis sebuah riwayat yang telah dibawakan oleh Abdullah bin Abbas. la berkata:

 

“Kami dulu pernah berbicara bahwa Nabi S.A.W., memberi AH tujuh puluh wasiat (janji pusaka) yang mana tidak pernah beliau berikan kepada orang selainnya. An-Nasa’i meriwayatkan hadits melalui Ibnu Abbas yang ia dengar dari All ketika berkata: Derajat dan posisiku di sisi Rasulullah di atas semua makhluk.”

 

“Dulu aku selalu menemui Nabi di setiap malam. Bila beliau sedang melakukan shalat, maka bertasbih (isyarat kepada All agar langsung masuk kerumahnya), lalu aku masuk. Bila beliau tidak sedang melakukannya, Rasul segera menyuruhku lalu aku masuk:

Juga An-Nasa’i dari Imam All. Dalam riwayat tersebut Imam Ali berkata:

“Di sefiap hari aku mempunyai dua saat pertemuan Istimewa dengan Nabi. Yaitu pada waktu petang dan pada waktu siang. Imam Ali dalam riwayat An-Nasa’i sendiri pernah berkata: Dulu segala sesuatu yang kutanyakan dan kuminta penjelasannya, beliau pasti memberinya. Seballknya blla aku pasif dan diam tak mengajukan pertanyaan, beliau pasti memulai bertanya kepadaku.”

Hadith ini juga diriwayatkan oleh AI-Hakim dalam kitab AI-Mustadraklis Shahihain yang menurut pendapatnya bahwa riwayat ini adalah setingkat shahih Ala Syart Assyaikhain.

 

Dari Ummu Salamah dalam riwayat yang dibawakan An-Nasa’i; la berkata:

 

“Demi Zat Yang Ummu Salamah bersumpah den­gan nama-Nya. Ali adalah orang yang terdekat dengan Rasul. Di saat Rasul hampir di cabut nyawanya, beliau (Ali) mengutus beberapa orang untuk menghadap kepada Rasulullah. Aku (Ummu Salamah) kira la mengutus itu untuk suatu kepentingan tertentu. Sebelum Ali datang memenuhi panggilan Rasul tersebut, beliau bertanya: Sudah datangkah Ali? Pertanyaan itu beliau ulangi selama tiga kali. Lalu tak berapa lama Ali datang menemui beliau diwaktu matahari belum terbit. Dengan kedatangan itu kami (Ummu Salamah dan sahabat lain) tahu apa yang sebenarnya yang Rasul ingin bicarakan. Lalu kami meninggalkan rumah beliau yang pada waktu itu Rasul tinggal bersama istrinya Aisyah. Aku (Ummu Salamah) orang terakhir yang meninggalkan rumah tersebut. Kemudian aku menyelinap di belakang pintu rumah itu. Dan jarak pintu dan aku sangat dekat sekali. Kulihat Rasul merangkulnya. Dan All adalah orang yang paling terakhir mendapat pesan. la mengelilingi Rasul dan meminta bantuannya.”

Amirul Mukminin dalam sebuah ceramahnya yang sangat populer pernah berkata dan menerangkan hubungan istimewa yang terjalin antara pribadinya dengan Rasul serta perhatian beliau. Huraian Ali itu demikian bunylnya:

“Kalian sudah tahu posisi dan derajatku dislsl Rasulullah dan mengetahui hubungan kerabatku yang san­gat dekat dan istimewa dengan beliau. Sejak kecil aku dipangku beliau. Aku didekapnya lalu digendongnya dan ditidurkan diatas ranjang. Lalu mencium dan menyentuh badanku dengan penuh kasih sayang. Beliau seringkali mengunyah sesuatu makanan lalu memasukkannya ke dalam mulutku. Beliau tidak pernah dapatkan aku berdusta dalam setiap ucapan dan tindakan dan aku tak pernah melakukan suatu kesalahanpun. Aku selalu mengikuti jejak dan meniru prilakunya bagai anak itik yang selalu meniru jejak induk nya. Beliau setiap hari memupuk dan men-dewasakanku dengan segala nilai dan budi pekerti serta selalu mengimbau agar aku terus mengikuti jejak dan perintahnya. Aku selalu menemani beliau setiap tahun di gua Hira. Dimana pada saat itu aku melihatnya dan beliau tidak melihat orang lain selainku. Kami bertiga dahulu adalah anggota keluarga beragama Islam yang terdiri dari Rasul, Khadijah, dan aku sendiri yang ketiga. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan risalah. Aku sempat menghirup bau semerbak kenabian.”

Bukti-bukti ini dan lainnya banyak sekali yang dengan jelas menggambarkan adanya suatu langkah hebat yang diambil Nabi dalam upaya mengkader dan melatih loyalitas dan ketahanan jiwa mental Ali terhadap risalah serta mempersiapkannya untuk memegang tali kendali kekuasaan dan pimpinan perjalanan dakwah kelak. Sejarah dan biografi kehidupan Imam Ali sejak setelah wafatnya Rasul selalu penuh dengan titik-titik dan tanda terang yang menyingkap adanya penataran ideologi secara intensif ter-hadapnya yang dilakukan.Rasulullah. Kehidupan serta kebijaksanaannya yang telah merefleksikan adanya upaya pendidikan khusus dan rahasia. la adalah tempat kembali dan penyelesai tunggal bagi segala macam problema yang tak dapat diselesaikan oleh aparat dan pejabat pemerin-tahan Khilafah pada zaman itu. Dalam sejarah pemerin-tehan dari ketiga khalifah itu tidak ada seorangpun yang selalu diminta pendapat yang mewakili Islam dan jalan keluar dalam menangani masalah-masalah, kecuali Imam All. Meskipun sikap partai yang berkuasa pada saat itu  konservatif dan tak peduli terhadap masalah hak kekuasaan yang sebenarnya selama berpuluh-puluh tahun, tetapt para aparat dl jajaran tertlnggi partai berkuasa tidak merasa pertu memlnta nasehat dan saran Imam Ali yang merupakan wakil orisinil (tulen) Islam.

 

Jika terbukti Nabi telah mempersiapkan All secara khusus sebagal penerus pembimbing dakwah, maka ini merupakan buktl bahwa Nabi telah mengumumkan dan memproklamasikan penunjukan atas All secara resmi dan serius pada rakyat secara keseluruhan sebagai inteleklual ideolog dan pemimpin politik. Itu tercermin dalam hadlts Addar, Ats-TsaqalaIn, AI-Manzllah, AI-GhadIr serta segu dang hadlts dan nash lainnya.

 

Dan begltulah seterusnya akhirnya ktta dapat men-getahui dengan Jelas bahwa Syl’lsme (Tasyayyu’) tidak berada dl luar garls strategl program dan rencana penerusan dakwah Islamlyyah yang dirirrtis deh Rasul dimana tergambar dalam konsep nabawlyah yang telah beliau paparkan sendiri atas dasar perintah Allah S.W.T. guna menjaga kelangsungan dan kelanjutan program pen-gembangan dakwah.

 

Dengan demikian ktta dapat berkesimpulan bahwa Syi’ isme bukanlah suatu fenomena atau gejala perkembangan soslal yang ganjil. Syi’isme adalah bagian hukum sebab akibat dari kondisi serta kebutuhan yang dengan sendiri telah memproses timbulnya faham tersebut.

 

Dengan kata lain, Rasul atau pemimpin pertama harus melakukan tindak percobaan dan harus mempersiapkan untuk percobaan dan perjalanan baru kepada pemim­pin kedua yang beliau didik sedemlkian teliti sehlngga mampu mengemban tugas secara sempurna dan selaras dengan tuntutan kondisi dan situasinya. Dengan meneruskan kepemimpinan Nabi dalam menyempurnakan tujuan dalam rangka mencabut seluruh akar dan pengaruh jahillyah yang masih tersisa pada masyarakat sekaligus membimbing dan membinanya sehingga dapat diandalkan dan mampii memenuhi kebutuhan serta tuntutan dakwah dan tanggungjawabnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN KEDUA Bagaimana Lahirnya Golongan Syi’ah ?

Setelah dengan jelas kita telusuri sejarah munculnya faham Tasyayyu’ dan mendapat pemahaman yang gamblang dan rasionil tentang faham tersebut, maka ktta menginjak kepada pembahasan kedua, yaitu dengan men-cari jawaban dari pertanyaan bagalmana gdongan yang dikenal dengan nama Syi’ah dan bagaimana proses ter-belahnya Ummat Islam menjadi dua golongan sejak awal muncul masyarakat Islam itu terbentuk.

 

Sebagai jawabannya, jika kita telusuri periode pertama dari kehidupan Umat Islam pada zaman Nabi, kita akan menemukan adanya dua garis pemikiran utama yang sangat bertolak belakang dan juga muncul berbarengan dengan timbulnya masyarakat Islam. Perbedaan antara keduanya telah mengakibatkan timbulnya beberapa perbedaan ideologis saat Rasul menemui Kekasihnya. Yang mana Ideologi itu melahirkan perbedaan garls politik antara dua kubu yang kemudian cenderung membentuk dua blok atau partai politik dalam tubuh masyarakat Islam. Lalu salah satunya berhasil mengambil alih tampuk kekuasaan yang mendapat simpati dan dukungan dari mayoritas masyarakat. Sebaliknya, kubu lain yang tidak berhasil cenderung menjadi kelompok minoritas yang eksklusif dan tersudutkan di tengah-tengah masyarakat yang tidak mendukung bahkan memusuhi mereka. Kelompok minoritas tersebut adalah Syi’ah.

 

Dua kubu utama yang sama-sama menyertal masa lahirnya dan terbentuknya masyarakat Muslim pada zaman Nabi ttu sebagai berikut:

-  Haluan periama: menerima secara mutlak keputusan dan perintah agama tanpa pamrih, tanpa mengutamakan ide sendiri atas ketentuan tersebut dan menghayati serta meyakini hukum dan penyelesaian agama terhadap segala aspek kehidupan.

- Haluan kedua: beranggapan bahwa loyalitas dan iman kepada agama tidak menuntut penghayatan dan penerapan dalam bentuk praktek setiap masalah yang ber-sumber pada agama kecuali pada masalah yang bersifat ritual dan dogma. Selanjutnya lebih dari itu mereka men-gutamakan ijtihad sebagai penyelesaian yang dapat menggantikan fungsi hukum agama dengan mempertimbangkan keadaan dan ukuran kepentingan yang dibutuh-kan dalam segala segi kehidupan.

 

Para sahabat, disamping selaku generasi mukmin dan cemerlang, mereka juga merupakan generasi yang teristimewakan dan ikut berpartisipasi mensukseskan proyek pelancaran risalah. Sampai saat ini sejarah belum pernah membukukan dan membuktikan adanya sebuah generasi yang lebih handal dan hebat daripada generasi yang telah diciptakan oleh Rasulullah SAW.. Sekalipun kenyataan mereka itu demikian, akan tetapi adalah logis bila kita beranggapan bahwa sejak masa hidup Rasul, telah terlihat adanya dua garis pemikiran yang senang dengan pendapat pribadi yang mereka gunakan bila kepentingan menuntut dan memaksa mereka untuk menanggalkan hukum dan ketetapan agama yang telah tertera dalam nash-nash. Rasulullah seringkali terbentur bahkan terganggu aktifitasnya akibat ulah dan pota pemikiran ini. sampai-sampai ketika beliau sudah terbaring di atas ranjang terakhlrnya. Disamping Itu, kita juga hams mengakui ada -pada masa hidup Rasul – yang menerima dan sama sekall percaya sekaligus merealisasikan setiap ketentuan agama dalam setiap aspek kehidupan mereka. baik ibadat, dogma. politik, pemikiran dan lain sebagainya.

 

Mungkin faktor utama dari berkembang dan tersebarnya pengaruh pemikiran ijtihadi (bil ra’yu) dikalangan Muslimin adalah garis dan pola pemikiran seperti ini yang sedikit banyak bersatu dengan naluri kecenderungan setiap orang yang selalu bertindak sesuai dengan kepentingan dan kehendak pribadinya daripada bertindak atas dasar perintah dan dorongan dari luar, yang terkadang belum dimengerti maksudnya.

 

Garis pemikiran ini dipelopori dan disponsori oleh beberapa sahabat senior seperti Umar bin Khattab yang terkenal nekad menegur dan mengkritik sebaglan tindakan Rasul (yang adalah wahyu) dan mengajukan pendapat pribadinya dalam beberapa masalah yang bertentangan dengan teks ketetapan agama. atas dasar alasan dan anggapan yang tampaknya rasionil bahwa la sebagai orang berakal berhak menyelesaikan sendiri beberapa urusan yang mungkin penyelesaiannya itu tidak sama dengan penyelesaian yang telah diajarkan agama.

 

Kenyataan ini terlihat dalam sikapnya yang kontroversial dalam menanggapi fakta perdamaian Hudaibiyah dan kritiknya yang tegas terhadap resolusi per­damaian yang disepakati dan ditanda tangani deh Rasul dan langkahnya yang mengundang sensasi dengan menon-fungsikan Hayya ‘ala kholrll ‘amal dalam panggilan azan yang telah diajarkan deh Rasulullah SAW.. la Juga sempat tenar karena langkahnya mencanangkan hukum modern dan menanggalkan hukum lama Rasul dengan mengharamkan dan meniadakan Hajji Mut’ah (Tamattu) dan ratusan pikiran-pikiran pribadinya yang tak asing lagi bag! kita.

 

Dua aliran pemiklran yang sangat berbeda itu pernah bertemu dan tertumpah secara kebetulan di satu tempat dan wadah pada hari terakhir hidup Nab). Bukhori telah meriwayatkan dalam sahihnya dari Ibnu Abbas. la berkata:

“Ketika Rasulullah hampir wafat sedangkan df rumah bellau terdapat beberapa orang termasuk Umar bin Khat-tab, bellau bersuara: Mari kutullskan untuk kallan sebuah pusaka (yang fika kallan mengikutinya) maka kallan tidak akan tersesat untuk selama-lamanya.

TIba-tiba Umar berseloroh:

“Penyakit Nabi itu sudah terlalu parah sehlngga bellau menglgau, apa perlunya tulisan Itu sedangkan Al-Qur’an ada di sisi kalian. Sudahlah, AI-Qur’an itu sendiri cukup sebagal pedoman bagi kita”.

Pernyataan Umar ini akhirnya mengundang keriuhan dan perselisihan pendapat di antara orang-orang yang berkerumun menengok Rasul yang sedang terbaring sakit. Sebaglan berkata:

 

“Berlkan! Beliau hendak menuliskan sebuah pedoman untuk kallan yang akan dapat menyelamatkan kalian kelak.”

Sebagian yang lain mendukung Umar menolak memberlkan secarik kertas kepada Nabi Besar Muhammad S A.W.. Selang beberpa saat. rumah Rasul tersebut berubah menjadi ajang perang mulut antar sahabat yang berkerumun mengelilingi bellau. Akhirnya, Nabi dengan kesal mengusir mereka:

“Ayo enyahlah kallan!”

Begitu perintah Rasul.

Tragedi bersejarah ini dengan jelas membuktikan dan menggambarkan betapa Jauh dan mendasarnya perbedaan antara dua gdongan adalah perlstlwa perselisihan dan cekcok yang muncul akibat dari penunjukkan Rasul kepada Usamah bin Zaid bin Harits sebagal Pangllma devlsl perang, padahal penunjukkan itu berdasarkan perintah langsung dari Nabi yang tak dapat ditolak. Sampal-sampal beliau bangkit dari ranjang dengan memaksakan tubuhnya yang sudah lemah lunglai untuk keluar dari rumah dalam keadaan sakit bellau mengetuh kesal dl hadapan penglkut-nya:

“Wahal ummati Desas-desus apa yang aku dengar tentang penunjukkan Usamah (sebagai pang lima perang)? Tetapi mengapa dulu kalian tidak menolak penunjukkan ayahnya sebagal panglima. Demi Tuhan! la pantas dan mampu memegang jabatan pangllma!”

 

Dan kedua haluan yang memulai konflik dan persellslhan pada masa hidup Rasul telah tampak dalam sikap-nya terhadap masalah pimplnan Imam setelah Nabi

 

Orang-orang yang mewakili garis nash berpendapat bahwa adanya nash dan ketetapan Rasul berkenaan dengan hak kekhalifahan merupakan sebab dan dasar prinsip yang mengharuskan seorang Muslim agar menerima secara mutlak segala macam keputusan dan hukum agama tanpa menggantinya dengan gagasan sendiri karena beberapa pertlmbangan kepentingan disamping kondisi dan situasi yang ada (ini menurut loglka dan pola pemikiran mereka tentunya).

 

Dengan demlkian. kita dapat berkesimpulan bahwa golongan Syi’ah telah hadir dl tengah-tengah masyarakat Islam sejak pada masa hidup Rasul yang beranggotakan orang-orang Muslim yang secara praktis telah mematuhl dengan mutlak konsep dan ketetapan All bin Abi Thalib sebagai pemlmpin setelah Rasul. Dan haluan yang berfaham Syi’ah kemudlan leblh menjelma dalam kerangka bentuk yang jelas pada saat pertama dart sikap protes dan menolak keputusan yang telah diambil pada sidang darurat Saqifah Bani Saidah yang telah membekukan fungsl pim­plnan Ali dan mengambil alih serta memberikannya kepada orang lain.

 

Ath-ThabarsI dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah rlwayat darl Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadlq:

“Kujadlkan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar dl antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua betas orang, darl kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalld bin Said bin Abl Al’ash, Salman AI-FarisL Abu Dzar AI-Ghifarl, Mlqdad bln AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraldah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”.

Mungkin anda atau siapapun saja ingin mengatakan hal ini, yaitu jika memang benar haluan Syi’ah itu adalah yang teguh menerima ketetapan secara mutlak dan menerapkannya dalam bentuk praktek kehidupan mereka dan bahwa haluan yang lain lebih mengutamakan pikiran sendiri daripada menerima secara mutlak ketentuan agama, maka ini berarti haluan nash lebih picik dan tidak menggunakan akal sehat. padahal selama ini haluan dan golongan Syi’ah menggunakan ijtihad dalam syari’at amat sering.

 

Jawabannya adalah: Ijtihad yang dibenarkan bahkan terkadang wajib (kifayah) yang digunakan adalah iltlhad yang mempunyai definisi menyerap suatu hukum dari nash dan ketetapan syar’i. Tapi dalam kamus mereka ijtihad itu bukanlah menggunakan pikiran sendiri daripada menerima suatu ketetapan yang jelas dari agama. Dan ijtihad itu tidak hanya digunakan atas dasar ingin mencapai tujuan dan memperoleh keuntungan pribadi sendiri. Ijtihad demikian-lah yang tidak dibenarkan. sebab ini bertentangan dengan keputusan agama. Dan Syi’ah menolak hak wewenang ijtihad yang demikian. Dan yang kita maksudkan kandungan misi Risalah yang baru. Bertindak dari sini kita dapat ketahui bahwa garis pemikiran yang berorientasi kepada. nash itu adalah golongan yang lebih menghayati Risalah dan menerimanya secara menyeluruh. sekaligus ttdak menolak fungsi ijtihad selama ijtihad tersebut tidak berten­tangan dengan nash dan selama ijtihad itu bersumberkan hukum syari’at yang sudah ada. Patut diketahui bahwa sikap menerima sepenuhnya ketetapan nash tidak berarti picik dan kedangkalan berfikir yang tidak peduli akan perkembangan dan tuntutan-tuntutannya serta bertentangan dengan faktor-faktor yang dapat menunjang kemajuan dan program pembaharuan yang beraneka warna terhadap kehldupan manusia.

 

Maka sikap menerima nash agama mutlak, artinya bertindak atas dasar tuntutan dan ketetapan agama tanpa memilih-mllih yang kelihatan ringan. Padahal agama itu adalah selaras dengan kelembutan dan berjalan seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman serta men-cakupnya segala macam corak dan ciri kemajuan dan pem­baharuan. Maka bersikap menerima secara mutlak setiap ketetapan agama berarti bersikap menerima segala macam faktor yang dapat menunjang kemajuan. termasuk kreatifitas dalam menciptakan sesua tu yang baru, melakukan pembaharuan terhadap beberapa pemikiran dan gagasan, dan seterusnya.

 

Ini semua merupakan garis besar dari penafsiran tentang Syi’ahisme sebagai suatu fenomena dan peman-dangan yang logis dan lazim dalam ruang lingkup program dan strategi pengembangan dakwah serta penafsiran ten-tang timbulnya gdongan Syi’ah sebagai refleksi dan cermin jari fenomena yang alami tersebut.

 

Dan kepemimpinan Ahlul Bait serta Ali yang merupakan fenomena logis itu mempunyai dua fungsi utama dalam teori kepemimpinan. Fungsi pertama selaku Pemimpin dalam bidang pemikiran budaya dan intelektual. Fungsi kedua sebagai pembimbing dan arkitek projek perombakan dalam bidang sosial. Kedua fungsi kepemim­pinan itu bersatu dan tertumpah dalam satu wadah yang terjelma dalam pribadi Nabl. Kemudian setelah meneliti secara seksama situasi dan kondisi yang ada, beliau mempersiapkan seorang kader handal yang mampu berfungsi sebagai pemimpin dari keduanya secara sempurna, sehingga fungsi kepemimpinan intelektual dapat mengisi kekosongan yang ada pada pola berfikir masyarakat. Sekaligus Rasul bertugas menghidupkan suatu gambaran dari pemahaman yang cocok dan relevan sebagai jalan keluar yang mewakili Islam dalam menanggulangi problema-problema pemikiran dan kehidupan serta menerapkan satu demi satu nllai-nilai dan pikiran-pikiran yang tersirat dalam AI-Qur’an yang sangat rumit dan kurang Jelas. yang mana Kitab Sucl tersebut merupakan sumber utama dan khazanah bag! pemikiran dan intelektual Islam. Disamping agar supaya kepemimpinan sosial berfungsi meneruskan perjalanan Islam di atas garis target sosialnya.

 

Dan kedua fungsi kepemimpinan tersebut terdapat pada Ahlul Bait sesuai dengan kondisi yang telah kita pelajari atas dasar nash-nash Nabi yang telah menekankan hal tersebut berkali-kali. Contoh utamanya ialah nash-nash Nabi tentang kepemimpinan intelektual seperti hadits Tsaqalaian Rasulullah yang berbunyi demikian:

Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka penting(as-Tsaqalain); yaitu Kitab Allah yang merupakan tali yang tak terputus dart langit hingga ke bumi dan yang keduanya adalah Itrah (keturunanku) dari Ahlul Baitku. Dan bahwa keduanya tidak akan terpisah dengan kedua fungsi masing-masing sampai keduanya menjumpaiku di telaga al-Haudh alkaut’sar, oleh karena itu lihatlah kelak bagaimana sampai kalian mendurhakaiku dengan melanggarnya. (AI-Hakim dalam Al- Mustadrak, At-Tirmidzi, Annasa’i, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat).

 

Dan contoh utama dari fungsi kepemimpinan sosial adalah hadits AI-Ghadir yang dibawakan oleh Ath-Thabrani dengan sanad (rantai urutan perawi) yang shahih dari Zaid bin Al’arqam. la berkata:

“Rasulullah pernah berpidato di daerah Ghadir Khum di bawah pohon, beliau bersabda: Wahai manusia! Aku akan diminta pertanggung-fawaban dan begitu juga kalian. Lalu bagaimana kalian mengatakan dan menanggapi ini semua! Para sahabat serentak menjawab:

Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah berjuang dan telah menasehati, maka semoga Allah mem-balas jasa kebaikanmu dengan kebaikan pula. Lalu beliau meneruskan dan bersabda: Bukankah kalian bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dan bahwa surga dan neraka-Nya adalah benar dan nyata dan bahwa mati itu benar dan bahwa saat Kiamat itu pastf tiba dan bahwa Allah akan membangkitkan setiap orang yang terpendam dalam kubur! Mereka serentak menjawab: Ya! Kami bersaksi demikian. Lalu beliau melanjutkan lagi: Ya Allah! Saksikanlah. Selanjutnya bersabda kepada hadirin:

Wahai ummat! Allah adalah Pemimpin dan Kekasihku, dan aku adalah pemimpin setiap mukmin dan aku lebih utama (awla) dan lebih berhak atas diri kalian sendiri. Maka, barangsiapa yang menganggapku sebagai pemimpinnya (maulahu), maka orang Ini (Ali disebelah beliau) adalah pemimpinnya (maulahu)  juga. Ya Allah! Cintailah setiap orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya!”

(Hadits ini diriwayatkan lebih delapan puluh tabl’in. Dan dari penghafal hadiths abad kedua sekitar enam enam puluh orang. Dan juga tercatat secara rinci dalam kitab AI-Ghadir dalam sebelas jilid).

 

Dengan demikian kita dapat berkesimpulan bahwa kedua nash dan hadits Rasul tersebut telah menyerahkan dua fungsi dan wewenang kepada Ahlul bait. Dan yang berpegang teguh kepada nash dan ketetapan Rasul dalam hal dua hak wewenang kepemimpinan itu adalah termasuk golongan Muslim yang mengikuti dan menganggap Ahlul Bait bagi pemimpin dan tempat kembali mereka. Seandainya fungsi pimpinan sosial bagi setiap Imam itu mem-punyai pengertian bahwa mereka memimpin dan berkuasa dalam hidupnya, maka fungsi kepemimpinan intelektual dan pemikiran budaya adalah kenyataan yang tak dapat dibantah teriepas dari kehidupan sosial politiknya sebagai pemimpin dalam hidupnya. Dari sini kita dapat melihat kenyataan tersebut dalam setiap waktu. Karenanya, selama Umat Muslimin membutuhkan suatu pemahaman yang jelas dan sempurna tentang Islam dan ingin mengetahui hukum halal dan haram dalam setiap perkara, pasti mereka memerlukan adanya kepemimpinan intelektual yang jelas pula dan itu ditetapkan Allah sendiri melalui lidah Rasul yang terjelma dalam:

1. Kitab Suci AI-Qur’an.

2. Itrah yang bebas dari dosa dan Ahlul Bait Rasul.

Keduanya tidak dapat dipisahkan atau diambil salah satu darinya sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi.

 

Adapun garis pemikiran lain dari golongan Muslimin yang ijtihad dijadikan dasar pemikiran daripada mengikuti nash dan ketentuan agama secara mutlak, maka tokoh-tokoh senior pemikiran ini sejak Rasul wafat telah berhasil mengambil alih kekuasaan dan menyatakan berfungsi sebagai pemimpin sosial politik secara operasional dan dikelola oleh kaum Muhajirin yang bergaris politik lunak dan selalu berubah mengikuti kemajuan dan pertimbangan strategis serta memantau kondisi dan situasi yang ada.

 

Atas dasar pemikiran inilah Abu Bakar mengambll alih kekuasaan begrtu Rasul menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan menggunakan Saqifah Bani Saidah sebagai Sidang Pariemen Sementara dan ajang perebutan sengit kekuasaan antara Muhajirin dan Anshar yang ter-batas bagi beberapa gelintir orang dari kedua golongan tersebut kemudian rekan sejatinya – Umar – menggantikan-nya atas perintah mendiang Abu Bakar, lalu tongkat estafet khilafah diambil oleh pengganti ketiga Utsman bin Affan atas dasar penunjukkan tertentu dan hanya terbatas bagi enam orang yang telah ditunjuk secara pribadi oleh Umar bin Khattab.

 

Akhirnya sikap lunak ini yang lewat tiga abad sejak masa wafat Rasul telah berhasil menciptakan malapetaka terbesar sepanjang sejarah Umat Islam dengan kemballnya khilafah dan kekuasaan kepada orang-orang Islam mualaf dan para bekas musuh Rasul yang kemudian disihirnya menjadi pewarisduniawi dan kerajaan monarki yang pindah dari anak ke cucunya, dari saudara ke adiknya dan tamatlah riwayat khilafah yang selama ini dielu-elukan oleh kaum Muslimin.

 

Inilah kenyataan yang tragis dari orang-orang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak mampu menjabat sebagai pemimpin sosial politik. Lain halnya kenyataan dari fungsi kepemimpinan intelektual budaya, sebab sulit rasanya kita mengatakan bahwa mereka yang berkuasa dalam bidang politik sosial juga berfungsi secara nyata sebagai pemimpin intelektual dan pemikiran setelah kita ketahui bersama bahwa ijtihad dan kecanduan menggunakan pikiran sendiri telah mencabut hak wewenang Ahlul Bait sebagai pemimpin politik sosial secara operasional dan praktis, sebab akibat dari ttu semua adalah terciptanya kondisi obyekttf yang menunjang kepemim­pinan mereka sebagai pemimpin dan penguasa. Adapun sebab dari keberatan kita untuk beranggapan bahwa mereka yang berhasil mengambil alih kekuasaan dan pimpinan politik sosial secara operasional telah berfungsi sebagai pemimpin Intelektual dan budaya, adalah fungsi kepemimpinan Intelektual berbeda dengan fungsi kepemimpinan polttik sosial. Bila seorang khallfah merasa berhak dan mampu menjadi pemimpin intelektual dan men­jadi panutan pemikiran atas dasar AI-Qur’an dan Sunnah dalam memahami teori tersebut. Dan terbuktl bahwa para sahabat tidak mempunyai kemampuan dan tidak memenuhi syarat penting tersebut, lain halnya blla ktta melihat Ahlul Bait dengan segala kemampuan mereka dan tergambar dalam nash serta bukti-bukti yang sudah ada.

 

Oleh karena itu, fungsi kepemimpinan intelektual budaya lebih penting daripada fungsi kepemimpinan sosial politik dan lebih berperan selama beberapa dekade Dan akhlmya, para penguasa dan khallfah memberikan kepada Imam All fungsi pemimpin inte lektual – tidak dengan formal – karena mempertimbangkan satu dan sebab lalnnya. Sam-pai-sampai khalifah kedua seringkali becsumpah dengan memuji kepandaian All dalam menyelesaikan masalah-masalah intelektual. la selalu berkata:

“Seandainya Ali tiada, maka pasti Umar celaka dan binasa. Allah akan membfarkanku SQlamanya terbentur dengan kesulftan bila Abul Hasan (Alil) tidak segera menyelesaikannya.

 

Tapi setelah melalui beberapa masa sejak Rasul wafat dan kaum Muslimin luntur secara bertahap dari loyalitas dan rasa hormatnya terhadap Ahlul Bait Rasul dan tidak lagi memfungsikannya sebagai tokoh dan pemimpin dalam bidang pemikiran, dan sebaliknya mereka sedikit demi sediktt memandang Ahlul Bait sebagai orang-orang yang tidak lebih dari mereka dan bahkan menganggap mereka sebagai awam. Sikap ini telah memproses mereka menjadi tidak lagi membutuhkan pemimpin intelektual dari Ahlul Bait dan mengambil pikiran sendiri sebagai gantinya. Dan bukan sang khalifah sebagai pengganti pemimpin in­telektual Ahlul Bait secara tunggal tapi hak kepemimpinan ini mencakup seluruh sahabat. Dan selanjutnya mereka muncul sebagai pemimpin-pemimpin intelektual dan pemikiran dan mereka mengucapkan “selamat tinggal” kepada rombongan Ahlul Bait yang telah ditunjuk secara sah sebagai pemimpin intelektual disamping pemimpin sosial polltik, sebab para sahabat adalah generasi yang hidup bersama Rasul dan mengikuti setiap langkah dan perkembangan misinya serta menghayati dan mematuhi tuntutan sabda dan Sunnah beliau.

 

Secara praktis nyata bahwa Ahlul Bait kehilangan fungsi istimewa sebagai pemimpin-pemimpin intelektual dan pudar di tengah-tengah para sahabat, dan mereka berstatus tidak lebih sebagai seorang sahabat Rasul saja yang semuanya berhak dan berfungsi sebagai pemimpin-pemimpin intelektual. Dan sebagaimana yang telah terbukti dalam sejarah para sahabat, mereka selalu hidup di bawah situasi pertikalan yang terkadang meminta darah dan korban yang tidak sedikit dalam setiap peperangan yang mereka kobarkan sendiri. Masing-masing pasukan men­ganggap lebih konsekwen terhadap nilai dan kebenaran serta saling tuduh sebagai pengkhianat dan penyeleweng.

 

Saya katakan bahwa sebagai akibat dart perselisihan dan perang tuduh yang terjadi antara orang-orang yang berfungsi sebagai para pemimpin itulah timbul aneka warna pertentangan ideologi dan pemikiran dalam tubuh masyarakat Islam, yang merupakan cermin dari pelbagal pertikaian yang terjadi antar kalangan pemimpin sendiri yang berhaluan ijtihadi.

KEKELIRUAN MEMANDANG TASYAYYU’

Sebagai penutup, perlu saya jelaskan suatu hal yang sangat penting, yaitu sebagian dari cendikiawan modern ktta berusaha dengan penuh semangat membedakan dan membagi Syl’ahisme atau Tasyayyu’ menjadi dua macam:

1.   Tasyayyu’ Ruhi Maknawi (Syi’ah datam moral dan spiritual).

2.   Tasyayyu’ Siasi (Syi’ah dalam masalah soslal politik).

 

Dan mereka juga dengan susah payah ingin membuktikan bahwa Ahlul Bait sejak setelah pembantaian Imam Husain dan keluarga serta sahabatnya di padang Karbala telah menlnggalkan aktifitas politik, sebaliknya mereka menyibukkan diri dengan berkhalwat dan beribadat serta memberi wejangan dan nasehat kepada masyarakat.

 

Tasyayyu’ sejak lahir tidak pernah tergambar sebagal garis haluan spiritual saja tetapi ia lahir sebagai konsep yang telah dicanangkan Rasul demi kelancaran dakwah di bawah kepemlmplnan Ali bin Abi Thalib setelah Rasul wafat baik dalam segi intelektual ataupun dalam segl politik sosial secara sama rata, sesuai dengan kondisi yang telah memproses timbulnya faham itu.

 

Dan atas dasar yang telah kita pelajari di atas, ktta tidak menemukan adanya perbedaan antara Syi’ah spiritual dan Syi’ah politik dalam konsep Tasyayyu’ secara utuh, mengingat kedua hal penting itu tidak terpisah dari Islam secara utuh.

 

Dengan demlklan ktta dapat memastlkan bahwa Tasyayyu’ adalah konsep yang disajikan guna menjaga kelancaran dakwah setelah Nabi. Masa depan yang memerlukan adanya suatu pimpinan Intelektual dan soslal pdltik dalam rangka menelusuri perkembangan Islam secara serentak.

 

Dan sejak semula sudah terdapat orang-orang yang mendukung kepemimpinan Ali sebagal Indlvldu satu-satunya di tengah-tengah masyarakat Islam yang mampu memainkan peranan Khilafah dan melanjutkan kepemim­pinan dari ketiga orang yang telah mendahululnya. Rasa hormat dan simpati itulah yang mendorong hati masyarakat menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya setelah Utsman bin Affan tewas terbunuh. Rasa cinta mereka itu bukanlah Syi’ahis yang bersifat spiritual ataupun politik. sebab Tasyayyu’ adalah rasa yakin dan iman bahwa All adalah pengganti secara langsung kepemimpinan Rasulullah. Tasyayyu’ mempunyai ruang lingkup dan pengertian yang lebih luas dari itu semua. Tasyayyu’ adalah. sikap mendukung Ali secara menyeluruh sebagal. pemimpin setelah Rasul. Maka tidak dapat kita seenaknya membagi Tasyayyu’ menjadi dua pengertian saja secara terpisah.

 

Kita ketahui bahwa diantara para sahabat besar ada yang mendukung dan berfaham Syi’i dalam segi intelektual dan politik sosial seperti Salman AI-Farasi, Abu Dzar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir, dan lain-lain. Tapl sikap menglkuti secara mutlak atau Tasyayyu’ mereka tidak terbatas pada segi sosial politik saja. Tetapi mereka beriman secara sempurna bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengganti Rasul dan pengemban dakwah setelahnya dan berfungsi sebagal pemimpin intelektual dan politik sosial. Sikap iman mereka

datam hal intelektual dan pemikiran tercermin dalam Tasyayyu’ spirttual mereka yang telah kita jelaskan tadl.

Adapun sikap mengikuti dan iman mereka dalam soslal politik, ttu terslrat dalam sikap protes terhadap kepemimplnan dan khalifah Abu Bakar dan partai berkuasa yang telah mengambil hak kekhilafahan Ali.

Sebenamya pen^apat yang memlsahkan tasyayyu’ moril dari tasyayyu’ politik tidak timbul dan dihasilkan oleh loglka seorang yang merasa dirlnya sebagal seorang syl’i. Lorrtaran Inl mereka keluarkan akibat dari rasa putusasa dan apatis mellhat kenyataan yang ada dihadapannya dan merupakan pengamh dari jtwa dan semangat tasyayyu’ yang mulai luntur dan lenyap yang tidak lagi melihat Tasyayyu’ sebagai konsep yang dipaparkan untuk melan-jutkan kepemimplnan Islam dalam rangka membina Ummat dan menyempumakan target perombakan besar-besaran yang telah digariskan Rasul yang akhlrnya condong surut dan berubah menjadi ajaran dan bibtt Ideologi yang tersim-pan dl dalam lubuk hati dan menjadikannya sebagal tongkat dan pemblmbing dalam mencapal ctta-cita dan angan-an-gannya saja.

Dari sini kita dapat menyadari mengapa sampai para Imam dari keluarga Rasul dan Cucu Husain as. meninggalkan gelanggang soslal polltik dan memisahkan diri dari dunia dengan semua keributan dan romantikanya yang bermacam-macam. Kita llhat Tasyayyu’ yang merupakan konsep pengembangan dakwah dan pelanjut kepemimplnan Islam dan bahwa manifestasi dan misdak dari kepemimplnan Islam itu adalah aksi perombakan yang telah diprakarsai demi penyempurnaan upaya membina Umat atas dasar prinsip dan ajaran Islam. Jika itu semua kita sadari, maka tidak mungkin ktta akan beranggapan bahwa para Imam dari Ahli-Bait Rasul tidak lagi memperhatikan segi sosial politik. sebab dengan tidak memperhatikan segi ini berarti mereka tidak antusias kepada Tasyayyu’ itu sendiri. Dan ini anggapan nihil bahwa para Imam itu meninggalkan kancah sosial politik itu berdasarkan alasan bahwa para Imam tersebut tidak lagi mengangkat senjata dan tidak mengadakan aksi pemberontakan militer dalam menanggapi situasi yang ada pada saat itu. Anggapan seperti ini adalah cermin kepicikan dan keterbatasan dalam memahami dan mengartikan aktifitas polttik sebagai aksi pemberontakkan militer dan angkat senjata saja.

 

Dan kita mempunyai nash dan data otentik yang banyak dari pada Imam yang menunjukan bahwa para Imam selalu siaga dan slap terlibat dalam aksi militer bila terdapat di sisi mereka pendukung dan penglkut-penglkut yang berani dan setia disamping bila ada kekuatan yang dapat menjamin tercapainya cita-clta Islam melaiui aksi militer tersebut.

 

Jika kita selalu memantau dengan teliti perjalanan gerakan Syi’ahlsme kita akan berkeslmpulan bahwa para Imam dari Ahli-Bait Rasul berpandangan bahwa menerima tampuk kekuasaan dengan sendirinya tidak dapat menunjang dan menciptakan perombakan secara Islami, hal ini akan tercapai bila kekuasaan tersebut didukung dan dibangun atas dasar pondasi dan pangkalan yang kokoh serta sadar akan tujuan dan cita-clta kepemimpinan dan yakin akan kebenaran teori Itu serta menjelaskan sikap mereka kepada masyarakat disamping mereka harus tabah menghadapi resiko penekanan dan Intimidasi dari luar dan dalam.

 

Pada pertengahan abad pertama setelah wafatnya Rasul tokoh-tokoh yang didukung oleh masa – sejak pengambilalihan kekuasaan dari pihak yang kompeten – selalu berusaha mengambil kembali kekuasaan dengan cara yang mereka anggap benar, sebab mereka masih yakin adanya tonggak-tonggak masa yang sudah sadar atau sedang menuju kearahnya balk dan pihak Muhajirin Anshar rnaupun dari pihak tabi’in. Tap! setelah berjalan lebih dari setengah abad dan setelah rasa optimisme itu larut sendiri dikalangan mereka ditambah dengan hadirnya generasi-generasi loyo dl tengah-tengah arus penyelewengan yang melanda pada saat ttu. Setelah menjadi suatu hal yang past! bahwa apabila gerakan Syl’ah menerima kekuasaan pun itu tidak akan membuahkan hasil dan mewujudkan cita-cita yang diidamkan, karena tidak didukung dengan adanya pangkalan dan tonggak-tonggak masa yang sadar dan siap untuk berkorban. Menghadapi kenyataan ini diperiukan dua tindakan:

1.   Bertlndak demi terciptanya tonggak dan sendi-sendi rakyat yang sadar sehingga dapat menyiapkan saat yang tepat dan menguntungkan untuk mengambil kembali kekuasaan.

2.   Menggerakkan dan menghidupkan nurani dan emosi Umat Islam serta menjaga semangat dan nurani tersebut, sehingga dapat melindungi mereka dari segala macam sikap lunak yang bisa menjatuhkan harga diri dan Identitas mereka selaku Umat Islam dari pihak penguasa yang zalim.

 

Tindakan pertama adalah tugas yang telah dijalankan den para Imam dengan sendirinya. Dan tindakan kedua adalah tugas yang harus dllakukan oleh beberapa tokoh dan kader revolusioner alawi yang selalu rajin – dengan pengorbanan yang tidak sedikit – melindungi nurani dan semangat jiwa Islami. Dan sebagian orang mukhlis daripada mereka mendapat dukungan moril dari para Imam.

 

Imam All bin Musa Arredha pernah berkata kepada khalifah Ma’mun – ketika beliau mengenang jasa mulia bin Ali Zainal Abidin – la adalah termasuk dari pada cendekiawan-cendekiawan keluarga Muhammad. Beliau murka dan marah hanya karena Allah lalu berjuang melawan musuh-musuh-Nya hingga tewas dijalan-Nya. Aku pernah diberitahu Ayahku Musa bin Ja’far bahwa ia dari ayahnya Ja’far berkata: Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada pamanku Zaid. la meminta kerelaan dan restu dari pihak keluarga Muhammad kemudian ia berhasil dan Allah penuhi permohonannya. la berkata:

“Saya mengajak kalian agar rela akan keluarga Muhammad:” (Wasa’il As-Syi’ah. Kitab al-Jihad).

Akhimya kita ketahui bahwa tindakan dan sikap para Imam menlnggalkan aksl mlitter dan pemberontakan flsik secara langsung melawan penyelewengan-penyelewengan itu tidak berarti mereka menlnggalkan secara menyeluruh fungsi segi sosial politik serta memlsahkan diri dari urusan kekuasaan dan cita-clta mengambilnya kembali lalu hanya sibuk berkhalwat dan melakukan ibadah ritual, tapi sikap demikian ini menggambarkan dan menandakan perbedaan yang menyolok antara konsep tindakan yang berkenaan dengan masalah sosial politik yang dttentukan oleh kondisi objektif dan ditunjang dengan pemahaman yang mendasar tentang esensi dan kandungan yang ada pada tlndakan dan aksi perombakan serta metode dan cara mewujudkannya dalam bentuk yang hadir dan terjelma dalam realitas.

SELESAI.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s