Day: Mei 22, 2010

Al-Bada’ dan RAJ‘AH MENURUT PANDANGAN SYI‘AH IMAMIYAH ITSNA ASYARIAH

Ahlus sunnah sama sekali tidak meyakini masalah “Raj’ah”. Raj’ah itu artinya kembali hidup lagi di dunia ini. Nanti di zaman Imam Mahdi akan melihat hal itu. Musuh-musuh Ahlul Bait akan dihidupkan dan akan diberi balasan oleh Allah, kemudian mati lagi semuanya.

Kalau ada orang yang menyatakan bahwa Raj‘ah itu adalah satu faham reinkarnasi itu tidak betul, sebab reinkarnasi itu artinya roh orang yang menyusup ke tempat lain seperti  binatang atau makhluk lain, sedangkan reinkarnasi itu menurut arti kamus bermakna penjelmaan kembali makhluk yang telah mati. Sedangkan Raj’ah adalah orang-orang yang  telah mati itu dihidupkan kembali, bukan menjelma.

Raj’ah ialah: “Kebangkitan kembali sekelompok manusia dan ummah Rasulullah Saww yang memang tinggal derajat keimanannya dan kedurjanaan, untuk menenima sebagian balasan mereka di dunia ini.”

Mereka yang beriman akan mendapatkan kejayaan sedang yang  fasik akan dihinakan  dan diberi siksaan. Hal ini akan terjadi pada masa bangkitnya Imam Mahdi (Imam dari keturunan Imam Ali dan Fatimah) sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Nabi dalam Hadits-hadits yang mutawatir menurut seluruh Ulama Syi‘ah dan sebagian besar menurut Ulama Ahlus sunnah.

Setelah dibangkitkan mereka akan dimatikan kembali kemudian akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat.

Keyakinan tentang Raj’ah hanya diimani oleh orang-orang Syi’ah saja. Adapun Ahlus sunnah tidak meyakininya bahkan menganggapnya sebagai suatu i’tiqad (keyakinan) yang dapat menjadikan tercemarnya kemurnian iman seseorang dan sebagai salah satu faktor tidak  dipakainya riwayat seorang perawi (Apabila ada seorang perawi yang mempercayai atau  meyakini tentang Raj’ah ini, maka riwayatnya tidak dapat dipakat). Tentunya hat ini disebabkan tentang masalah fahaman mereka, yang menganggap Raj‘ah itu sebagal Reinkarnasi. Anggapan ini tidak benar.

Dalil-dalil Tentang Adanya Raj’ah  

Dalam masalah pembuktian tentang adanya Raj’ah (faham Raj’ah) ada dua hal yang penting yang harus dibahas:

1. Apakah kejadian Raj’ah itu adalah suatu yang  mustahil atau tidak?

2. Apakah ada ayat atau hadits yang dapal dijadikan sebagai dalil tentang adanya Raj‘ah?

Untuk menjawab pertanyaan pertama adalah sebagai berikut: Raj’ah tidak berbeda dengan kebangkitan (Al-Ba‘ats) ummat manusia pada hari kiamat kecuali dalam hal  ruang dan waktu.

Raj’ah terjadi di dunia dan sebelum hari kiamat tiba, sedangkan Al-Ba’ats (Kebangkitan sejati) terjadi setelah hari kiamat dan bertemp at di alam akhirat.

Adapun dalil-dalil aqli (akal atau rasio) yang pernah diutarakan oleh teolog-teolog Islam untuk membuktikan kebenaran Al-Ba’ats itu juga dapat digunakan untuk  membuktikan adanya Raj ‘ah secara akal.

Untuk menjawab pertanyaan kedua adalah: Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang  menegaskan bahwa pada zaman Nabi-nabi terdahulu, sering terjadi semacam Raj’ah yaitu bangkit atau hidupnya seorang atau sekelompok manusia setelah mereka mengalami kematian.

Pertama:

Dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Isa As memiliki mu‘jizat  dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Dalam ayat yang berbunyi: “…dan aku menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah…” (Q.S.3: 49).

Kedua:

Seorang dari bangsa Yahudi pernah melalui (lewat) pada suatu desa yang sudah hancur dan binasa penduduknya, lalu ia bertanya-tanya siapa gerangankah yang akan membangkitkan semuanya ini? Lalu orang ini dimatikan oleh Allah selama 100 tahun, kemudian dibangkitkan kembali untuk membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya ini. Disebutkan dalam ayat yang berbunyi: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh? Maka Allah mematikan orang itu seratus  tahun. Kemudian menghidupkannya  kembali  Allah bertanya:  “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini? la menjawab, saya telah tinggal di sini sehari atau setengah  hari, Allah berfirman: Sebenarnya  kamu  telah  tinggal  di  sini  seratus  tahun lamanya lihatlah kepada  makanan dan minumanmu yang  belum lagi berubah dan lihatlah keledai kamu (yang  telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda-tanda kekuasan Kami bagi  manusia dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya  kembali, kemudian Kami menutupnya dengan daging. Maka talkala setelah nyata kepadanya  (bagaimana Allah  menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. 2: 259).

Ketiga:

Al-Qur’an menceritakan ada sekelompok dari bani Israel yang melarikan diri dari kota mereka karena takut mati terserang oleh wabak yang tersebar luas, lalu Allah mematikan mereka semua, kemudian setelah menjadi tulang belulang dan musnah dimakan tanah mereka  dibangkitkan dan dihidupkan sebagaimana semula, untuk menjadi bukti kebenaran “Al-Ba‘ats”.

Ibnu Katsir berkomentar: “Dihidupkannya mereka itu merupakan bukti yang kuat dan nyata bahwa kebangkitan jasmani pada hari kiamat itu benar-benar akan terjadi.” Kisah di atas kami kutip dari Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal 298.

Ayat-ayat yang dipakai oleh Ulama Imamiyah sebagai dalil Raj’ah: “Dan (ingatlah) hari  (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap ummat segolongan orang-orang yang mendustakan  ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).” (Q.S .27: 83). Ayat  tersebut di atas menurut pandangan Ulama-ulama Syi‘ah jelas menunjukkan adanya Raj’ah,  sebab Allah berfirman bahwa Dia akan membangkitkan sekelompok manusia yang mendustakan ayat-ayat-Nya, hal itu dapat dipahami secara jelas dari kata  “min” yang  berarti  sebagian. Jadi yang dibangkitkan hanya sekelompok ummat saja, tidak semua ummat manusia, dan ini jelas berbeda dengan  kebangkitan  total  yang  terjadi pada hari  kiamat yang diberitakan  dalam  Al  Qur’an bahwa  tidak ada  yang  tersisa  seorang  pun dalam firman-Nya: “Dan akan Kami kumpulkan seluruh manusia  dan tidak Kami tinggalkan seorang pun  dan mereka.”  (Q.S.18: 47).  Lihat Tafsir Majma’ul  Bayan jilid 4 Juz 7, hal. 234-235 diterbitkan oleh maktabah Ayatullah  Al-Udzma Al-Mar’asi -Qum, Iran- Tahun 1403 H.

Hadits atau riwayat-riwayat Ahlul Bait yang menyatakan hal ini cukup banyak dan kuat kedudukannya dan itu merupakan hal yang diakui secara luas dalam ajaran Ahlul Bait. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikh Muhammad Ridha Al-Mudhaffar dalam bukunya  “Aqo’id Al-Imamiyah” hal. 71. Kemudian  beliau  menambahkan  bahwa  faham Raj’ah  bukan  merupakan  ajaran  pokok  (Ushul)  Madzhab  Syi’ah  Imamiyah.  Hanya  saja kita (orang-orang Syi‘ah meyakini hal itu disebabkan adanya riwayat-riwayat Shahih yang tak terbantahkan,  yang datang dari jalur Ahlul Bait dan itu termasuk perkara Ghaib (belum terjadi) yang mereka sampaikan kepada kita. Dan penjelasan di atas akan nampak jelas  kesalahan  mereka  yang  berpendapat bahwa Raj’ah adalah ajaran Yahudi yang tersisip ke dalam ajaran Syi‘ah  sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad  Amin penulis buku “Fajrul Islam”.  

Tidak semua kesamaan yang ada pada suatu ajaran dengan  ajaran lainnya itu berarti mengambil dari yang lain. Kalau memang demikian, orang dapat mengatakan bahwa beberapa pokok ajaran Islam itu diambil dan ajaran Nasrani dan Yahudi dikarenakan adanya kesamaan. Bukankah Al-Qur’an itu untuk membenarkan dan menetapkan sebagian dan ajaran Nasrani dan Yahudi dalam ayat: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya).” (Q.S.5: 48).

Kalau memang benar bahwa Raj’ah itu disadap dari ajaran Yahudi, walaupun  hal itu tidak pernah dapat  dibuktikan  berdasarkan  kajian  ilmiah.  Inilah  keterangan  singkat  tentang faham Raj’ah beserta dalil-dalilnya.  Mudah-mudahan  dapat  sedikit  memberi  penjelasan bagi  mereka yang belum mengerti (memahaminya). Adapun untuk lebih puasnya  kami persilahkan  pembaca langsung merujuk tulisan-tulisan, kajian ulama-ulama Syi’ah tentang hal ini.

Wallahu a’lam.

================================================================================

Pendapat Bada’ ini sebenarnya juga diyakini oleh Ahlussunnah Waljama’ah seperti juga Syi’ah. Namun mengapa Syi’ah yang menjadi sasaran cemoohan dan bukan Ahlussunnah yang berpendapat bahwa Allah SWT merubah hukum-hukum dan menukar ajal dan rizki?

Keyakinan Bada’ (Perobahan Takdir); Meniscayakan Allah bodoh?

Al-Bada' ialah suatu keinginan untuk melakukan sesuatu tetapi kemudian keinginan tersebut berubah kepada sesuatu yang tidak diinginkan sebelumnya, dikarenakan suatu hal lain.

Adapun pendapat Syi'ah mengenai Bada' dan usaha mengaitkannya kepada Allah Ta'ala telah dicemooh oleh Ahlussunnah, karena menurut ahlusunnah konsekuensi akan hal itu adalah menisbatkan kejahilan dan kebodohan kepada Allah SWT. Tuduhan itu suatu penafsiran yang batil dan Syi'ah tidak pernah mengatakan demikian, barangsiapa yang menuduh mereka berbuat demikian, maka ia telah melakukan suatu kebohongan, sebagai bukti inilah pendapat-pendapat mereka baik dahulu maupun sekarang :

Berkata Syaikh Muhammad Ridla Al-Muzhaffar dalam kitabnya "Aqaid Al-Imamiyah" : "Bada' dengan pengertian seperti itu adalah mustahil bagi Allah Ta'ala, karena ia termasuk dari kejahilan dan kekurangan yang mustahil bagi Allah Ta'ala dan bukan juga dari pendapat Imamiyah".

Berkata Imam Ash-Shadiq (AS) : " Barang siapa mengatakan bahwa Allah telah berkehendak melakukan sesuatu lalu menyesalinya maka menurut Kami ia telah kafir terhadap Allah yang Maha Agung". Dan beliau (AS) berkata lagi : "Barangsiapa mengatakan bahwa Allah telah berkehendak melakukan sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya maka Aku berlepas diri darinya".

Kalau begitu Bada' yang dikatakan Syi'ah tidak melebihi batas-batas Al-Quran yang menyebutkan firman Allah : " Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) ". [Q.S. Ar-Ra'd 39]

Pendapat Bada' ini sebenarnya juga diyakini oleh Ahlussunnah Waljama'ah seperti juga Syi'ah. Namun mengapa Syi'ah yang menjadi sasaran cemoohan dan bukan Ahlussunnah yang berpendapat bahwa Allah SWT merubah hukum-hukum dan menukar ajal dan rizki seperti dalam beberapa riwayat berikut ini.

Ibnu Munzir, Ibnu Abi Hatim dn Al-Baihaqy telah menyebutnya dalam As-Syu'ab dari Qais bin Ubbad, katanya : "Allah mempunyai instruksi pada setiap malam kesepuluh dari bulan-bulan suci, sementara pada 10 Rajab Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkannya.

Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya, suatu kisah yang ajaib dan aneh yang
menceriterakan peristiwa mi'raj-nya Rasul SAWW dan pertemuan beliau dengan Tuhannya, di antaranya Rasulullah SAWW bersabda : "Lalu diwajibkan padaku 50 kali shalat dan aku terima, ketika aku bertemu dengan Musa, ia bertanya : 'Apa yang kamu perbuat ?', aku jawab : 'Telah diwajibkan kepadaku 50 kali shalat'. Musa berkata : 'Aku lebih tahu tantang urusan manusia dari pada kamu, aku telah menghadapi bani Israil dengan susah payah dan sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup menunaikannya, kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan'. Maka aku kembali meminta keringanan dan dijadikannya 40 kali. Musa masih mendesakku untuk kembali, maka dijadikannya 30 kali, aku kembali lagi dan dijadikannya 20 kali, aku kembali lagi dan dijadikannya 10 kali, lalu aku mendatangi Musa dan beliau berkata hal yang sama, lalu Allah menjadikannya 5 kali. Kemudian aku mendatangi Musa lagi, Musa bertanya : 'Apa yang telah engkau perbuat?', aku katakan : 'Allah telah menjadikannya 5 kali', maka Musa mendesakku lagi, maka aku berkata aku telah mengucapkan salam dan aku diberitahu bahwa aku telah menjalankan tugasku, kemudian Allah berfirman : 'Aku telah memberi keringanan kepada hamba-hamba-Ku dan Aku akan membalas setiap kebaikan dengan sepuluh kali ganda ".

Dalam riwayat lain yang dinukil oleh Bukhori dikatakan bahwa setelah Nabi
Muhammad Saww menghadap Tuhannya beberapa kali dan setelah mendapat kewajiban 5 kali shalat, Musa AS meminta supaya Muhammad SAWW kembali lagi menemui Tuhannya untuk mendapat keringanan karena ummatnya tidak akan sanggup melakukan 5 kali shalat, akan tetapi Muhammad SAWW menjawab : "Aku malu kepada Tuhanku".

Ref.

Shohih Bukhori, bab "Mi'raj".

2   Shohih Muslim, bab "Isra' Rasulullah dan kewajiban shalat". Apakah ini bukan Bada' ?
Sungguh ajaib pengertian Bada' yang diriwayatkan oleh Ahlussunnah Wal-Jama'ah ini, namun sungguhpun demikian mereka mencemooh Syi'ah yaitu para pengikut Imam Ahlul Bait (AS) yang mempercayai Bada' seperti yang dimaksud dalam [Q.S. Ar-Ra'd 39].

Dalam kisah ini mereka mempercayai bahwa Allah SWT. Telah mewajibkan kepada Nabi Muhammad SAWW sebanyak 50 kali shalat sehari semalam, kemudian setelah kembali kepada-Nya berulah dirubah menjadi 40 kali, kamudian setelah kembali untuk kali kedua dijadikan 30 kali, kemudian untuk kali ketiga dijadikan 20 kali, kemudian untuk kali keempat dijadikan 10 kali, dan ahirnya menjadi 5 kali.

Jelas sekali terlihat bahwa riwayat tentang Mi'raj ini menyebabkan orang mengaitkan kebodohan kepada Allah 'Azza Wa Jalla, dan memperkecil kepribadian manusia paling agung yang pernah dikenal sejarah manusia, yaitu Nabi Muhammad SAWW, ketika si perawi mengatakan bahwa Musa AS berkata kepada Muhammad SAWW : "Aku lebih tahu tentang urusan manusia dari padamu ".

Dan riwayat ini juga memberikan keutamaan dan keistimewaan kepada Musa AS yang kalau tidak karenanya, Allah tidak memberi keringanan kepada ummat Muhammad SAWW.

Saya heran bagaimana Musa AS mengetahui bahwa ummat Muhammad SAWW tidak sanggup menunaikan sholat sekalipun hanya 5 kali sehari semalam sehingga menyuruh Rasulullah SAWW untuk meminta keringanan lagi, sementara Allah sendiri tidak mengetahuinya sehingga di awalnya memaksakan bagi hamba-Nya untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka dengan mewajibkan kepada mereka shalat 50 kali.

Jika Ahlussunnah Waljama'ah mencemooh Syi'ah karena mempercayai Al-Bada' (bahwasanya Allah hendak melakukan sesuatu lalu merubahnya sesuai keinginan-Nya), mengapa mereka tidak mencemooh diri mereka sendiri yang berpendapat dan meyakini (seperti yang terdapat dalam Bukhori dan Muslim) bahwa Allah SWT hendak melakukan sesuatu namun merubah dan menukar hukum-Nya sebanyak lima kali dalam satu kewajiban dan dalam satu malam, yaitu malam Mi'raj.

Barangkali ada orang yang merasa keberatan kalau dikatakan bahwa perkataan Bada' itu juga terdapat dalam Ahlussunnah seperti dalam kisah di atas, sekalipun memberi arti perobahan dan penukaran dalam perkara hukum. Karena sering kali jika kisah Mi'raj ini dikemukakan untuk membuktikan bahwa pendapat Bada' juga ada pada Ahlussunnah, maka sebagian dari mereka merasa keberatan menerimanya. Karenanya ada baiknya saya bawakan riwayat lain dari Shohih Bukhori yang menyebutkan perkataan Bada' secara persis.

Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAWW bersabda : "Sesungguhnya terdapat tiga orang dari Bani Israil yang mana mereka itu terdiri dari; seorang belang, seorang buta dan seorang lagi botak, maka Allah berkehendak merubahnya (Bada') dengan menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat kepadanya dan berkata kepada si belang : "Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?" ia menjawab : "warna dan kulit yang lebih baik karena semua orang merasa jijik terhadapku". Lalu malaikat itu mengusapnya dan pergi, maka berubahlah warna dan kulitnya menjadi baik, kemudian bertanya padanya : "Harta apakah yang paling engkau senangi ?", ia menjawab : "Unta", maka diberinya seekor unta yang sedang hamil 10 bulan. Lalu mendatangi si botak dan menanyakan : "Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?", ia menjawab : "Rambut indah yang dapat menutupi botakku karena semua orang mengejekku", maka malaikat itu mengusapnya dan menghilangkan botaknya dengan rambut yang indah, kemudian bertanya kepadanya : "Harta apakah yang paling engkau senangi ?", ia menjawab : "Sapi", maka diberinya seekor sapi yang sedang hamil. Kemudian mendatangi si buta dan bertanya : "Apakah gerangan yang paling engkau sukai ?", ia menjawab : "Aku ingin supaya Allah mengembalikan pengelihatanku", maka ia mengusapnya dan Allah kembalikan padanya pengelihatannya, ia bertanya lagi : "Harta apakah yang paling engkau senangi ?", ia menjawab : "Kambing", maka diberikan kepadanya seekor kambing yang subur. Kemudian malaikat itu kembali menemui mereka setelah masing-masing mempunyai ternak unta, sapi dan kambing yang banyak, lalu ia mendatangi si belang, si botak dan si buta untuk meminta kembali apa yang telah menjadi miliknya, tetapi si botak dan si belang menolak memberikan padanya maka Allah kembalikan mereka seperti keadaan asalnya, sementara si buta memberinya maka Allah kekalkan penglihatannya ".

Ref. :

Shohih Bukhori, juz 2, hal. 259.

Saya juga berharap agar umat Islam membuang rasa fanatik buta yang telah didoktrinkan selama ini, serta meninggalkan perasaan emosi, supaya "akal" dapat mengambil tempatnya dalam setiap penelitian sekalipun terhadap musuh-musuh mereka, dan hendaknya mereka belajar dari Al-Quran mengenai cara-cara pembahasan, diskusi dan perdebatan dengan metode yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam [Q.S. Al-Ankabut 46] : "Janganlah kalian berdebat dengan kaum ahlil kitab kecuali dengan cara yang
paling baik".

Epistemologi Islam

Pembahasan ilmu pengetahuan dalam Islam dapat ditinjau dari dua sisi: ontologi dan epistemologi. Walaupun pembahasan tersebut dalam literatur Islam tidak tersusun secara rapi dan tersendiri, kita dapat menemukan pembahasan tersebut dalam beberapa kajian filsafat seperti pembahasan yang berkaitan dengan non meterialnya ilmu, tingkatan-tingkatan ilmu, terbaginya ilmu ke dalam beberapa bagian, dll.

Secara ontologis, kita bisa membahas ilmu dari keberadaanya, apakah ia materi ataukah bukan. Kita sama sekali tidak membahas tentang gambaran atau comprehensif ilmu.

Adapun dari sisi epistemologi, kita bisa membahas ilmu dari sisi representifnya setelah kita membuktikan secara ontologis tentang keberadaan ilmu tersebut. Jadi, bisa dikatakan bahwa kajian epistemologi ini sebenarnya adalah pembahasan derajat kedua. Meskipun demikian, secara subtansial pembahasan epistemologi ini sangat berbeda dengan pembahasan pertama tadi.

Dalam kajian kedua ini kita dapat meninjau bagian-bagian ilmu seperti pembagian ilmu kepada representatif dan judgement (justifikasi); ataupun pembagian lainnya kepada empirical knowledge dan intuitif knowledge (ilmu husuli dan hudhuri); atau pada aksioma dan discursiv dan pembahasan tentang secondary intelligible (ma’kul stani).

Banyak filosof Islam mencurahkan segala kemampuan mereka untuk mengkaji pembahasan seputar epistemologi ini. Salah satu pembahasan yang menjadikan pertentangan di antara filosof muslim adalah berkaitan dengan tolok ukur benar dan salah. Para filosof Islam berpendapat bahwa antara alam understanding (dzihni) dan alam external (khariji) memiliki hubungan yang erat. Gambaran yang dimiliki oleh ilmu –alam understanding (zihn)- tidak sekedar gambaran yang tidak memiliki kenyataan. Apa saja dari gambaran yang ia tampung itu memiliki kenyataan (realitas).Akan tetapi, para filosof yang lainnya memiliki pendapat berbeda. Bagi mereka, hubungan antara alam understanding dan external bukanlah hubungan gambar dengan objeknya. Untuk memudahkan kita memahami pendapat ini ada satu pendekatan yang sangat mudah untuk kita cerna bersama. Ketika kita menggambar kuda di atas kanvas, apa yang ada di atas kanvas tersebut ingin memberikan pesan kepada kita bahwa gambar tersebut memiliki objek dan ia adalah kuda yang ada di alam realitas: bernafas, makan, minum, berjalan, dll.

Ini salah satu dari bahasan yang terdapat dalam filsafat Islam tentang ilmu. Oleh karna itu, alangkah baiknya kalau kita gambarkan beberapa masalah secara universal tentang ilmu baik dari sisi ontologis ataupun epistemilogis, walaupun pada akhirnya, kajian ini hanya difokuskan pada bahasan kedua (epistemologi)

Sumber-Sumber Ilmu

Ilmu manusia tersusun dari hal-hal yang sederhana. Contohnya, kalau kita hendak mengetahui manusia, maka kita terlebih dahulu harus mengetahui definisi manusia sehingga kita dapat membedakan antara manusia dari yang lainnya. Pengetahuan kita tentang manusia tersusun dari beberapa hal-hal yang simple yaitu bahwa manusia itu berpikir, berbadan, dan perasa. Akan tetapi, yang menjadi objek kajian para filosof Islam ialah: dari manakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dengan metode atau perangkat apakah manusia mendapatkan ilmu-ilmu simple tersebut? Dari sinilah munculnya perbedaan antara filosof-filosof dari zaman Yunani sampai sekarang: antara Plato dan Aristoteles, antara Avessina dan Syuhrawardi, antara kaum paripatetik dan intuitivis, serta antara rasionalis dan empiris.

Batasan Ilmu

Sebelum kita memasuki bagian kedua dalam rangkaian pembahasan tentang ilmu, alangkah baiknya kalau kita awali bahasan ini pada kepercayaan dan penerimaan tentang realitas alam karena ini adalah sebuah pijakan mendasar dalam segala macam pembahasan yang ada di alam jagad raya ini khususnya dalam kajian ini.Tidaklah mungkin bagi kita untuk memulai segala macam aktivitas, baik aktivitas berfikir ataupun hal-hal yang bersifat praktis, tanpa berlandaskan atau berpijak pada kenyataan realitas alam, bahwa di alam ini, ada sesuatu yang membuat kita terobsesi untuk mengetahui ataupun mendapatkannya. Kajian seperti ini murni ontologis karena pembahasan tentang keberadaan bukanlah representasi dari sesuatu itu.

Kita akan kembali sejenak melihat masa lalu perjalanan pemikiran manusia di alam ini. Pada zaman dulu, Yunani adalah pusat peradaban manusia. Dari situlah bermulanya tradisi berpikir. Muncul beberapa aliran yang menyatakan bahwa manusia tidak mungkin akan berhasil mendapatkan kebenaran, atau bahwa manusia adalah tolok ukur benar dan salah. Semua bergantung persepsi manusia terhadap sesuatu. Jika sesuatu itu menurut A benar, belum tentu bagi B juga benar.

Sampai pada akhirnya, muncullah Socrates yang membawa obor kebenaran berkaitan dengan tradisi berpikir ini (walaupun pada akhirnya harus meminum racun sebagai akibat dari “ulah”nya). Usaha keilmuannya itu kemudian diteruskan oleh Plato dan dikembangkan oleh Aristoteles sehingga tersusunlah logika aristotelian. Kemudian, bergantilah zaman. Muncullah generasi muda yang menganut paham ragu. Mereka meragukan segala yang pernah dirintis oleh generasi sebelum mereka. Mereka skeptis.

Paham skeptisisme ini, pertama kali dicetuskan oleh Protagoras (485-410 SM) Dia berpendapat bahwa persepsi manusia adalah tolok ukur benar dan salah. Kemudian, paham ini dikembangkan secara ekstrim oleh Georgias(483-375 SM) yang berpendapat bahwa hakikat itu tidak ada. Kalaupun ada, tidak mungkin bagi manusia untuk mengetahuinya. Kalaupun bisa untuk diketahui, hakikat itu tidak dapat ditransfer kepada yang lainnya (tak dapat dipahamkan kepada yang lainnya.)

Jika kita amati secara seksama, kita dapat memberikan beberapa asumsi dari pernyataan-pernyatan mereka itu. Pertama, mereka melontarkan pernyataan-pernyataan tersebut demi kepentingan politik pada zamannya. Kedua, mereka ingin meletakkan manusia pada derajat terendah (artinya. Ini adalah satu penghinaan terhadap manusia). Ketiga, mereka hanya sekadar “bermain-main” dengan bahasa. Dengan demikian segala macam tolok ukur etika, agama, politik, dan kebenaran akan rubuh. Akibatnya, segala macam bentuk pelanggaran-pelanggaran etika, agama, dan politik dapat dibenarkan dengan justifikasi-justifikasi mereka. Pada akhirnya, tidak akan tersisa tempat bagi kebenaran absolut. Statement dalam paham skeptisme –atau diistilahkan dengan sophistika– yaitu “tidak ada pengetahuan absolut yang dapat diyakini oleh manusia” dapat kita teliti secara seksama, sebagaimana akan kami uraikan berikut ini.

Kritik Terhadap Paham Sophistika

Ada beberapa premis yang harus kita pahami sebelum kita mengkitik paham ini, yaitu sebagai berikut.

1. Dengan melihat kembali sejarah munculnya paham ini, kita dapat memahami apa yang diinginkan oleh penganut paham ini dan latar belakang apakah yang menjadikan mereka berpaham demikian. Kemampuan beretorika di dalam pengadilan yang dapat “mengubah” dan memenangkan kesalahan. Tentu, ini semua mereka dapatkan dengan membuat beberapa pengelabuan dan pembohongan terhadap manusia awam ataupun orang-orang yang berkepentingan politik di zamannya. Salah satu cara yang mereka gunakan untuk mengelabui orang awam adalah dengan bahasa yang diputarbalikkan. Contohnya, pernyataan seperti: Aghre mencintai isterinya, begitu pula Agreei. Dalam kalimat ini dapat kita temukan dengan jelas penyamaran bahasa karena kalimat tersebut bisa menimbulkan pemahaman beragam. Pemahaman yang mungkin muncul adalah: 1) Aghre mencintai isterinya begitu pula Agreei mencintai isteri Aghre. 2) Aghre mencintai istrinya dan Agreei mencintai isterinya sendiri. 3) Aghre mencintai Agreei. Dengan menciptakan pemahaman yang beragam dari statement tersebut, mereka dapat menyatakan bahwa tidak kebenaran absolut bagi manusia. Alasannya, manusia untuk dapat memahami pikiran orang lainnya menggunakan alat berupa huruf-huruf yang tersusun menjadi kata-kata, dan kata-kata tersebut tersusun menjadi bahasa. Sementara itu, bahasa dapat dipahami secara beragam dan bergantung terhadap asumsi masing-masing individu. Akibatnya, kebenaran pun mengalami hal yang sama.

Jika kita memfokuskan kritikan pada masalah bahasa maka dapat kita sodorkan beberapa kritik, yaitu sebagai berikut.

a. Di dalam bahasa juga terdapat beberapa aturan yang harus dijaga oleh penggunanya. Bila aturan ini tidak dijaga, akan terjadi kesalahpahaman audien.

b. Realitas yang ada di hadapan kita tak dapat diubah dengan hanya menggunakan bahasa. Contohnya, bila kita memiliki pengetahuan bahwa api itu panas dan membakar maka siapapun tak akan dapat mengubahnya dengan bahasa sehingga kita dapat meyakini bahwa api itu dingin dan tak membakar.

Ada sebuah anekdot dalam hal ini. Dahulu kala, hidup seorang bernama Juha. Ia datang ke suatu perkampungan dan membohongi penduduk setempat dengan mengatakan bahwa di kampung A sedang dibagikan makanan secara gratis. Akibatnya, seluruh penduduk tadi berbondong-bondong meninggalkannya menuju kampung yang ia sebutkan. Melihat kenyataan demikan, dia pun akhirnya beranggapan bahwa apa yang ia katakan ada kemungkinan benarnya. Lalu, ia pun berangkat menuju ke kampung tersebut.

Anekdot tersebut terlihat pas untuk menggambarkan kaum sophis. Mereka menyebarluaskan paham “tidak ada kebenaran absolut yang dapat diyakini oleh manusia” dengan kemampuan retorika mereka. Awalnya, paham ini disebarluarkan untuk sekedar untuk mencari sesuap makanan di pengadilan dan untuk kepentingan politik. Namun akhirnya, ketika masyarakat awam meyakininya, mereka pun ikut meyakininya.

Kita dapat mengajukan kritik terhadap pendapat mereka dari sudut pandang lainnya yang lebih logis. Setiap manusia selalu merasakan adanya kebutuhan terhadap suatu objek (misalnya, kebutuhan terhadap makanan) di dalam kehidupannya sehari-hari. Dari situlah ia merasa dirinya ada dan objeknya itu pun ada. Manusia dapat saja mengatakan bahwa dirinya mengingkari keberadaan realitas secara mutlak, tetapi itu semua hanya sebatas verbal (kata-kata), bukan satu keyakinan yang ada pada lubuk hati ataupun akal budinya. Hal ini disebabkan segala macam bentuk pengingkaran terhadap realitas secara mutlak adalah keyakinan pada keberadaan realitas itu sendiri. Paling sedikit, ia telah menyadari bahwa dirinya yang telah mengingkari realitas. Artinya, tanpa disadarinya, dia telah meyakini adanya dua hal. Pertama, dirinya sendiri. Kedua, realitas yang akan ia ingkari (walaupun realitas itu dalam bentuk sebuah gambaran yang ada di akal budi).

Statement kaum sophis juga bisa kita kritik dengan cara mengajukan pertanyaan “Apakah statemen itu absolut atau tidak?” Terlihat di sini, ada kontradiktif yang terjadi. Jika jawabannya tidak, berarti masih dimungkinkan bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang absolut. Jika jawabannya ya, paling tidak mereka telah meyakini satu hal yang absolut yaitu statement tersebut. Hal ini tentu bertentangan dengan statement mereka sendiri karena dengan demikian telah terealisasi satu pengetahuan yang “absolut” dan “benar” menurut mereka.

2. Oleh karenanya, terlebih dahulu kita harus mempercayai ataupun mengimani adanya realitas sehingga kajian dari pembahasan ini lebih terarah. Semakin kita berbicara tentang realitas semakin kuat pula keimanan kita terhadapnya. Ini semua dikarenakan keberadaan realitas adalah hal yang sangat apriori. Para filosof Islam, seperti AllamahThabathabai, Molla Hadi Sabzawari, dan Molla Shadro dalam karya-karya mereka selalu memulai kajian dengan pembahasan tentang adanya realitas (wujud / being) sebelum membahas yang lainnya. Hal ini disebabkan penerimaan terhadap realitas adalah kunci dan modal bagi bahasan yang lainnya.

Pada makalah kami ini, bahasan tidak dimulai dengan kajian tentang realitas (wujud) dengan anggapan bahwa kita bukanlah kaum sophis. Oleh karena itu, kita langsung masuk pada permasalahan epistemologi yang merupakan satu bagian dari realita tersebut.

Pandangan Filosof Muslim

Sebagai pengantar dari pembahasan ini telah kita singgung bahwa kajian tentang epistemologi dalam Islam tidak tersusun secara rapi, bahkan “berserakan”dalam beberapa kajian filsafat. Oleh karena itu, seyogyanya kita telaah secara sekilas beberapa kajian tersebut agar kita mendapatkan pandangan yang universal terhadap bahasan ini. Beberapa pandangan umum terhadap kajian epistemologi di dalam literatur Islam antara lain sebagai berikut.

1. Pembahasan Filosofis Berkenaan dengan Kategori

Realitas di alam ini oleh para filosof dibagi-bagi dalam beberapa kategori. Misalnya, manusia dan hewan dikategorikan sebagai makhluk hidup. Makhluk hidup dan makhluk tak hidup dikategorikan sebagai materi. Materi dan non materi dikategorikan sebagai substansi. Substansi inilah yang menempati kategori tertinggi (jins ‘aly). Artinya, realitas di alam ini terbagi-bagi menjadi beberapa jins ‘aly, antara lain, substansi, kualitas, madah (bahan materi), dan shurah (bentuk)

Dalam makalah ini akan dibahas kategori kaif (kualitas). Kaif ini dibagi menjadi empat bagian: kaif mahsus (kualitas yang dapat diindera), kaif nafsani (kualitas yang ada pada jiwa), kaif khusus yang berhubungan dengan kuantitas dan kaif isti’dadi (kualitas potensial).Untuk kaif nafsani, mereka menyebutkan beberapa contoh antara lain: keinginan, rasa sakit, kehendak, dll. Mereka meletakkan ilmu sebagai bagian dari kaif nafsani. Ilmu yang masuk dalam bagian kaif nafsani tersebut adalah ilmu hushuli. Oleh karena itu, ilmu hushuli adalah sifat (aksidental) bagi jiwa (nafs).

Dalam pembahasan kategori, para filosof melihat dan meninjau ilmu dari kaca mata ontology. Jadi, salah satu dari sisi ilmu adalah sifat ontologisnya. Dari sudut pandang ini, mereka melihat ilmu sebagai salah satu fenomena yang ada dan nyata. Tapi, yang masih sering menjadi bahan pertanyaan adalah hal yang berkaitan dengan hakekat dan esensi ilmu tersebut. Kadang-kadang, seseorang mengetahui sesuatu ada di pikirannya sebagai fenomena yang ada di dalam dirinya. Akan tetapi, belum jelas baginya hakekat dan esensinya. Contohnya, kita telah mengetahui warna merah. Akan tetapi, pertanyaan yang mengarah kepada kita ialah apakah esensi dari warna merah itu?Apakah ia bersifat aksidensial ataukah subtansial? Apakah keberadaannya independen ataukah tidak? Berkaitan dengan pertanyaan yang mengarah pada hakekat dan esensi ilmu tadi, para filosof menjawab bahwa keberadaan ilmu bahwa bagian dari masalah aksidental bukan subtansial. Dengan kata lain, ilmu dikategorikan ke dalam kaif nafsani.

2. Kesatuan Subjek dan Objek

Masalah kesatuan objek dan subjek pengetahuan adalah salah satu kajian filosofis yang pada awalnya dimunculkan oleh Fakhr Al-Razi. Akan tetapi, kajian ini mengalami perkembangan yang cukup pesat pada zaman Mulla Shadra. Dalam kitab monumentalnya, “Al-Asfar Al-Arba’ah”, beliau menjelaskannya secara terperinci masalah-masalah yang berhubungan dengan tingkatan-tingkatan ilmu, pembagian ilmu kepada intuitif knowledge dan empirical, serta pembahasan tentang kesatuan objek dan subjek pengetahuan.

3. Wujud Dzihni (Wujud yang Ada di Dalam Pikiran)

Masalah wujud dzihni ini menjadi pembeda signifikan antara filosof dengan teolog (mutakallimin). Para teolog mengingkari masalah ini dengan memaparkan pendapat yang bertentangan dengan pendapat para filosof. Mereka memunculkan pandangan “idhafah” ataupun “syabah”. Menurut para filosof, pengingkaran terhadap masalah wujud dzihni ini akan menjadikan manusia sophistik. Yang menghubungkan antara understanding dan external hanyalah esensi. Bila ini diingkari maka tidak akan ada hubungan apapun di antara keduanya. Akibatnya, muncullah sophistika.

4. Salah satu dari masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah understanding dan external adalah tolok ukur benar dan salah. Agar ilmu kita benar harus memiliki tolok ukur yang jelas. Dengannya, kita bisa terlepas dari belenggu sophistika. Dari pembahasan ini, bercabang beberapa pembahasan, yaitu a) makna hakekat (truth), b) definisi kesamaan dengan hakekat –dengan kata lain, teori kesamaan dengan hakekat ( the correspondence theory of truth)– dan c) pembahasan tentang letak tolok ukur tersebut; apakah hanya sekedar permainan bahasa, permainan akal budi manusia ataukah memang benar-benar ada. Pembahasan ini dikenal dengan pembahasan state of affairs (nafs al-amr).

Masalah ke-4 ini sangat penting bagi kita sebagai orang yang beragama.Kita dituntut mencari kebenaran agama kita. Untuk itu, kita harus mempertanyakan di mana tolok ukur kebenaran agama, sebatas manakah asas-asas agama mengenai state of affairs, ataukah agama hanyalah buatan manusia yang sama sekali tidak memiliki tolok ukur kebenaran dan hakekat. Sebagai manusia yang berpikir, kita tidak boleh mendiamkan masalah ini berjalan begitu saja tanpa penyelesaian. Kajian terakhir ini disebut dengan epistemologi agama dan di dalamnya juga dibahas tentang dasar-dasar epistemologi agama. Ketika kita dapat membuktikan kebenaran agama maka dari situlah kita dapat membicarakan tentang pluralisme agama: apakah pluralisme agama itu benar ataukah tidak; di manakah letak benar dan salahnya pluralisme agama; sebatas manakah pluralisme agama menyentuh state of affairs atau sama sekali tidak memiliki hubungan dengannya; dan selanjutnya.

5. Setelah kita selesai melakukan kritik terhadap sophistika dan telah kita buktikan kesalahan paham ini, kita akan memasuki permasalahan baru, yaitu batasan kemampuan akal budi manusia. Kita berpijak pada satu dasar yang pasti bahwa, di dalam diri manusia ada kecondongan dan keinginan rasa tahu terhadap sesuatu. Tetapi, apakah ia mampu untuk mengetahui segala macam yang ia inginkan ataukah tidak. Dari sinilah muncul beragam pandangan mengenai hal tersebut. Dengan kata lain, apakah manusia memiliki kemampuan untuk mengetahui apa saja yang ia inginkan ataukah tidak. Sebagian dari para filosof berpendapat bahwa kemampuan manusia hanya terbatas pada hal-hal material yang dapat ia indra dan bahasan metafisik keluar dari kemampuannya. Kaum gnostic berpendapat bahwa di alam ini ada hakekat yang akal budi manusia tidak akan sampai padanya. Para filosof muslim meyakini bahwa akal budi manusia mampu mengetahui hal-hal fisik ataupun metafisik, akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah zat Tuhan mereka berhenti dan diam.

Dari beberapa pendapat yang ada di atas, ada pesan yang tersirat, yaitu bahwa ilmu manusia terbatas. “Satu dasar” tersebut adalah pijakan kita untuk memasuki ke dalam pembahasan-pembahsan selanjutnya. Dan jika kita ingin mengaji dan menggali dasar tersebut, kita akan berhenti pada satu permasalahan baru yaitu intuitiv knowledge (ilmu hudhuri). Oleh karena itu, penolakan terhadap realita seperti yang dilakukan sophistika sama sekali tidak benar dan keluar dari batas-batas akal karena pijakan kita adalah hal-hal yang kita rasakan di dalam diri kita.

Nabi Muhammad saww Adalah Penentu Para Imam Mazhab Syi’ah



Seorang peneliti tidak akan dapat meragukan pelajaran sejarah Nabi saww dan pengetahuan sejarah Islam, bahwa Nabi saww telah menentukan para Imam yang ke dua belas (12 Imam as. ) dan beliau telah menetapkan mereka sebagai khalifah-khalifah setelahnya dan menjadi penerima wasiat di tengah umatnya. Telah disebutkan jumlah mereka dalam hadis-hadis shahih Ahlussunnah bahwa mereka itu adalah dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan hal itu telah diriwataykan oleh Bukhari dan Muslim serta lainnya. Sebagaimana dalam Sunni telah menyebutkan nama-nama mereka penjelasan Nabi Muhammad saww, bahwa yang pertama adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya ialah putranya yakni al-Hasan as,kemudian saudaranya al-Husein as, sedang yang terakhir ialah al-Mahdi. Sebagaimana tersebut dalam hadis berikut ini :

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menayakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya niscaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang sijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? karena tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad, ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Aallah SWT karena petunjuk-Nya.”1

Seandainya kita mau membuka lembaran kitab-kitab Syi’ah dan apa yang terkandung di dalamnya, dari hal kebenaran khususunya tentang masalah ini niscaya kita akan mendapatkan lebih banyak dari itu. Tapi cukuplah bagi kita sebagai bukti bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah mengakui jumlah para Imam yang ke-12 itu, dan tidak terwujud para Imam itu selain ‘Ali dan anak-anaknya yang telah disucikan. Dan yang dapat menambahkan kayakinan bagi kita ialah, bahwa Imam yang ke-12 dari Ahlulbait itu tidka pernah belajar pada satu orang pun dari para ulama umat ini, tidak ada yang meriwayatkan pada kita baik para ahli tarikh maupun ahli hadis dan sejarawan, bahwa salah seorang Imam dari Ahlulbait itu mendapatkan ilmunya dari sebagian sahabat atau tabi’in sebagaimana halnya para ulama umat dan para imam mereka.

Sebagaimana Abu Hanifah belajar kepada Imam Ja’far ash -Shadiq dan Malik belajar kepada Abu Hanifah sedang Syafi’i mendapat ilmu dari Malik dan ia mengambil darinya, begitu pula Ahmad bin Hanbal. Adapun para imam Ahlulbait maka ilmu mereka adalah merupakan pemberian dari Allah SWT yang mereka mewarisi dari Bapak yang berasal dari datuk mereka, mereka itulah yang diistimewakan oleh Allah SWT dengan firmannya:

——————————-

1. Riwayat al-Qunduzi al-Hanafi dalam kitab Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 440, dan

Faraid as-Samthain oleh al-Humawaini dengan sanad dari Ibnu Abbas.

“Kemudian kami mewariskan kitab pada orang-orang yang telah kami pilih dari antara hamba-hamba Kami.” (QS.Fathir:32)

Imam Ja’far ash-Shadiq pernah menyatakan tentang hakikat tersebut sekali waktu dengan ungkapannya, “Sungguh mengherankan orang-orang itu, mereka mengatakan bahwa mereka mengambil ilmu seluruhnya dari Rasulullah saww dan mengamalkannya serta mendapat petunjuk ! Kemudian mereka mengatakan bahwa kami Ahlulbait tidak mengambil ilmu beliau dan tidak mendapat petunjuk, padahal kami adalah keluarga dan keturunan beliau, di rumah kamilah wahyu itu diturunkan dan dari sisi kami ilmu itu keluar kepada manusia, apakah Anda menganggap mereka berilmu dan mendapat petunjuk sedangkan kami bodoh dan tersesat…?”

Ya, bagaimana Imam ash-Shadiq tidak mengherankan mereka itu yang mendakwahkan diri telah mengambil ilmu dari Rasulullah saww, padahal mereka memusuhi Ahlulbait beliau dan pintu ilmunya yang melalui dirinya ilmu itu diberikan, bagaimana tidak mengherankan penempatan nama Ahlussunnah, padahal mereka sendiri penentang sunah itu. Dan bila Syi’ah sebagaimana telah disaksikan oleh sejarah, mereka itu mengistimewakan ‘Ali dan membelanya serta mereka berdiri tegak menentang musuhnya, memerangi orang yang memeranginya, dan damai dengan orang yang damai dengannya dan mereka telah mengambil seluruh ilmu darinya. Maka Ahulussunnah wal Jama’ah itu tidaklah mengikuti dan ingin membinasakannya, dan mereka telah meneruskan sikap itu terhadap anak keturunan setelahnya dengan pembunuhan, penjara, dan pengusiran. Mereka telah bertentangan dengannya dalam kebanyakan hukum dengan dasar mengikuti para pendakwah ilmu pengetahuan yang mereka itu saling berselisih sesuai dengan pendapat dan ijtihad mereka dalam perkara hukum Allah, lalu mereka menggantikannya sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan yang mereka tuju.

Dan bagaimana kita sekarang tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan mengikuti sunah Nabi saww, dan menyetakan sendiri telah meninggalkan sunah Nabi saww karena ia telah menjadi Syi’ah bagi Syi’ah,*1 bukanlah ini merupakan hal yang mengherankan?

Bagaimana kita tidak heran terhadap orang-orang yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah, sedang mereka merupakan kelompok yang banyak, seperti pengikut Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali yang mereka itu saling berselisih sebagian dengan lainnya dala hukum-hukum fiqih dan menganggap bahwa perselisihan itu adalah merupakan suatu rahmat bagi mereka, sehingga dengan demikian agama Allah SWT menjadi lampiasan hawa nafsu dan pendapat serta sasaran selera diri mereka. Memang benarlah, bahwa mereka adalah kelompok terbanyak yang saling berpecah-belah dalam hukum Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi mereka bersatu dan bersepakat dalam mengesakan kekhalifahan Saqifah yang durhaka dan bersepakat dalam meninggalkan dan menjauhkan keluarga Nabi saww, yang Suci.

Bagaimana kita tidak heran terhadap mereka itu yang membanggakan diri sebagai Ahlussunnah, padahal mereka telah meninggalkan yang berharga yakni Kitabullah dan keluarga Rasul betapapun mereka sendiri telah meriwayatkan hadis tersebut dan menshahihkannya…? Sesungguhnya mereka itu tidak berpegang baik pada Al-Qur’an maupun pada keluarga Rasul, sebab dengan meninggalkan keluarga Rasul yang suci itu berarti mereka telah meninggalkan Al-Qur’an, karena hadis yang mulia menetapkannya bahwa Al-Qur’an dan keluarga Rasul itu tidak pernah berpisah selama-lamanya, sebagaimana Rasulullah telah menyatakan hal itu dengan sabdanya:

————————————–

*1. Sesuai pernyataan Ibnu Taimiyah untuk meninggalkan sunah Nabi saww bila itu

telah menjadi syi’ar bagi Syi’ah, lihat Minhaj as-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah,II, hal.

143, dan Syarh al-Mawahib oleh Zargani,V, hal.13.

“Tuhan Yang Maha Halus lagi Maha Sadar telah memberitahukan padaku bahwa keduanya yakni Aal-Qur’an dan keluarga Rasul tidak akan pernah berpisah sehingga menemui aku di telaga surga.”1

Dan bagaimana kita tidak heran kepada kaum yang mendakwahkan diri sebagai Ahlussunnah padahal mereka bersikap menentang terhadap apa yang telah ditetapkan dalam kitab shahih mereka dari hal perbuatan Nabi saww dan perintahnya serta larangannya.2

Adapun bila kita meyakini dan membenarkan hadis, “aku tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.” Sebagaimana yang telah ditetapkan bagi sebagian Ahlussunnah sekarang ini, maka keheranan itu akan menjadi lebih besar dan kecelakaan itu akan lebih jelas. Karena justru para tokoh mereka dan imam mereka itulah orang-orang yang telah membakar sunah yang telah ditinggalkan Rasulullah saww di kalangan mereka, dan telah mencegah periwayatannya dan penulisannya sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pembahasan terdahulu.

Umar bin khatab sendiri dengan terang-terangan telah menyatakan ucapan, “Cukup bagi kami Kitabullah,” itu adalah merupakan penolakan yang nyata terhadap Rasulullah saww, sedangkan orang yang menolak Rasulullah berarti menolak Allah SWT sebagaimana hal itu tak bisa disembunyikan lagi. Ucapan Umar bin Khathab tersebut telah diriwayatkan oleh seluruh hadis-hadis shahih Ahlussunnah termasuk di dalamnya Bukhari dan Muslim. Apabila Nabi saww telah bersabda, “Aku telah tinggalkan pada kalian Kitabullah dan sunahku, dan kami tidak membutuhkan sunahmu, dan bila Umar telah berkata dihadapan Nabi saww, “Cukup bagi kami Kitabullah, maka sesungguhnya Abu Bakar telah menguatkan untuk mewujudkan pandangan temannya itu lalu ia menyatakan setelah menjadi Khalifah:

Janganlah kalian meriwayatkan suatu hadis dari Rasulullah saww, maka jika seseorang bertanya pada kalian, katakanlah di antara mereka kita dan kalian ada Kitabullah, maka halalkanlah apa yang telah dihalalkannya dan haramkanlah apa yang telah diharamkan.*1

Bagaimana kita tidak heran terhadap kaum yang telah meninggalkan sunah Nabi saww mereka dan membelakanginya lalu mereka menggantikan kedudukannya dengan suatu bid’ah yang mereka perbuat yang mana tidak diizinkan oleh Allah SWT, kemudian mereka menamakan diri dan pengikutnya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah…? Tetapi keheranan tersebut akan musnah ketika kita katahui bahwa Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebenarnya tidak mengenal pemberian nama tersebut selama-lamanya. Inilah Abu Bakar yang telah menyatakan:

Jika kalian membebani aku dengan sunah Nabi saww, niscaya aku tidak akan mampu.*2

Bagaimana mungkin Abu Bakar tidak mampu menjalankan sunah Nabi saww? Apakah sunah beliau itu suatu perkara yang mustahil dilaksanakan.

———————————–

1. Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan ia menyatakan shahih menurut syarat Bukhari Muslim.

2. Diriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya bahwa Nabi saww melarang shalat tarawih dalam bulan Ramadhan secara jama’ah dengan sabdanya, “Shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, sesungguhnya seutama-seutama shalat seseorang adalah di rumahnya selain shalat fardu.” Tetapi Ahlussunnah mengabaikan larangan Nabi saww dan mereka mengikuti bid’ah Umar bin Khathab.

*1. Tadzkirat al-Huffadz oleh Dzahabi, I, hal. 3.

*2. Lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, I, hal. 4

Sehingga Abu bakar tidak mampu? Bagaimana Ahlussunnah bisa mendakwahkan diri berpegang padanya jika tokoh mereka yang pertama dan pembina mazhab mereka itu tidak mampu melaksanakan sunah? Bukankah Allah SWT menyatakan, “Pada diri Rasulullah suatu tauladan yang baik bagi kalian .” (QS. al-Ahzab:21) dan firman-Nya, “Allah tidak membebani seseorang kecuali semampunya.” (QS. at-Thalaq:7) Dan juga firman-Nya, “Dan tidak menjadikan suatu kesulitan bagi kalian dalam agama.” (QS. al-Haj :78)

Apaakah Abu Bakar dan temannya Umar menganggap bahwa Rasulullah telah menciptakan suatu agama yang bukan diturunkan oleh Allah SWT, lalu beliau memerintah kaum Muslim ini dengan sesuatu yang tak terangkat dan membebani mereka dengan kesuliatan? Hal itu tidak mungkin, bahkan yang sering beliau katakan yakni, “Gembirakanlah dan jangan jadikan mereka lari, mudahkanlah dan jangan kalian mempersulit, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian keringanan maka jangan kalian memberatkan diri kalian sendiri.” Tetapi pengakuan Abu Bakar bahwa ia tidak mampu melaksanakan sunah Nabi saww itu adalah menguatkan apa yang menjadi pendapat kami bahwa ia telah melakukan suatu bid’ah yang mampu ia laksanakan sesuai dengan keinginannya dan sejalan dengan politik yang ia kuasai. Dan mungkin Umar bin Khathab berpandangan yang lain, bahwa hukum-hukum Al-Qur’an dan sunah itu tak mampu dilaksanakan, lalu ia sengaja meninggalkan shalat ketika ia junub sedangkan air tidak didapatinya dan ia berfatwa demikian di saat kekhalifahannya, sedang orang khusus dan yang umum telah mengetahui hal itu dan seluruh ahli hadis telah meriwayatkan itu darinya.

Hal itu dikarenakan Umar adalah orang yang gemar banyak bersetubuh dan dialah yang disinggung oleh firman Allah SWT, “Allah mengetahui bahwa kalian mengkhianati diri kalian lalu Dia mengampuni kalian.” (Qs. al-Baqarah: 187) Ini lantaran ia tidak mampu menahan diri dari bersetubuh di waktu puasa, dan dikarenakan air sangat sedikit maka Umar berpendapat bahwa yang paling mudah ialah meningalkan shalat dan bersantai-santai sampai ia mendapatkan air yang mencukupi untuk mandi, ketika itu baru ia kembali mengerjakan shalat.

Adapun Utsman maka ia benar-benar telah mengabaikan sunah Nabi saww sebagaimana yang telah dikenal, sehingga ‘Aisyah mengeluarkan baju Nabi saww dan berkata, “Sungguh Utsman telah menghancurkan sunah Nabi saww sebelum baju beliau sendiri menjadi rusak.” Sehingga ia dicela oleh para sahabat bahwa ia telah menentang sunah Nabi saww, dan sunah Abu Bakar, Umar dan mereka pun membunuhnya lantaran itu.

Mengenai Muawiyah, terserah apa yang Anda katakan, tidak mengapa, sesungguhnya ia telah meninggalkan Al-Qur’an dan sunah adalah dariku dan aku darinya, siapa yang mencaci ‘Ali sungguh telah mencaciku dan siapa yang mencaciku sungguh ia telah mencaci Allah SWT,” Kita dapati Muawiyah telah mengarahkan cacian dan kutukan padanya ia belum merasa cukup dengan itu sehingga ia memerintahkan seluruh wali-walinya dan para pegawainya untuk mencaci dan mengutuknya, siapa yang menolak di antara mereka maka ia disingkirkan dan dibunuh.

Dan kita telah mengetahui bahwa Muawiyah itu adalah orang yang telah menamakan dirinya dan pengikutnya sebagai Ahlussunnah wal jama’ah dalam rangka menentang penamaan Syi’ah sebagai pengikut kebenaran. Dan sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa tahun dimana Muawiyah memegang penuh kekuasaan umat Islam, setelah mengadakan perjanjian dengan al-Hasan bin ‘Ali Thalib bin Abi Thalib, maka tahun itu dinamakan tahun jama’ah. Dan keheranan pun akan hilang ketika kita memahami bahwa kata-kata sunah itu tidak dimaksudkan oleh Muawiyah dan pengikutnya kecuali hanyalah pengutukan ‘Ali bin Abi Thalib dari atas mimbar-mimbar Islam pada setiap hari Jumat dan hari Raya.

Apabila Ahlussunnah wal Jama’ah itu merupakan rekayasa Muawiyah bin Abi Sofyan maka kita memohon pada Allah SWT agar mematikan kita di dalam bid’ah rafidhi yang telah dibina oleh ‘Ali bin Abi Thalib dan Ahlulbait (salam atas mereka). Anda tidak usah kaget wahai pembaca yang mulia, bila Ahlul bid’ah dan kesesatan itu menjadi Ahlussunnah wal Jama’ah sedang imam-imam yang suci dari Ahlulbait itu menjadi Ahli bid’ah.

Inilah al-Allamah Ibnu Khaldun yang termasuk ulama termasyhur dari Ahlussunnah wal Jama’ah, ia menyatakannya dengan tegas setelah ia memerinci mazhab-mazhab jumhur ia mengatakan, “Ahlulbait itu menjadi terasing karena aliran faham yang mereka adakan dan fiqih yang berlainan dan mereka telah membina mazhab mereka atas dasar pencacian sebagian sahabat.”1

Wahai pembaca, bukankah saya telah katakan dari semula, seandainya Anda berbuat sebaliknya niscaya Anda benar/tepat. Maka jika orang-orang fasik dari kalangan Bani Umayah mereka itu adalah Ahlussunnah dan Ahlulbait itu adalah Ahli bid’ah seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun, maka buat Islam ucapan selamat jalan dan buat dunia ucapan selamat datang.

—————————————

1. Muqaddaimah Ibnu Khaldun, hal. 494 dalam fasal Ilmu Fiqih.

Rahasia Tersebarnya Mazhab Ahlussunnah

Orang yang meneliti kitab-kitab sejarah dan apa yang dicatat oleh para penghulu, niscaya akan mendapatkan sesuatu yang tidak dapat diragukan bahwa terbesarnya mazhab-mazhab yang empat di masa itu adalah karena kehendak penguasa yang memerintah dan pengarahannya, oleh karena itu mendapat pengikut yang banyak, sebab manusia umumnya mengikut agama penguasa. Sebagaimana yang didapati oleh peneliti bahwa di sana puluhan mazhab yang telah punah dan musnah, karena penguasa tidak berkenan padanya, seperti mazhab Auza’i, mazhab Hasan Bashri, Abu Uyainah, Ibnu Abi Dzuaib, Ssufyan as-Sauri, Ibnu Abi Daud, dan Laits bin Sa’ad serta lain-lainnya banyak sekali.

Sebagai misalnya, bahwa Laits bin Sa’ad adalah teman akrabnya Malik bin Anas dan dia lebih berilmu dan lebih faqih darinya sebagaimana yang telah diakui oleh Syafi’i.*1 Tetapi mazhabnya telah punah dan fiqihnya musnah dan lenyap karena penguasa tidak berkenan padanya. Dan Ahmad bin Hambal telah menyatakan, “Ibnu Abi Dzuaib adalah lebih utama dari Malik bin Anas, hanya saja Malik orang yang ketat pemilihannya tentang rijal.

Bila kita kembali memerinytah sejarah, maka kita dapayi Malik pemilik mazhab tersebut telah mendekat pada kekuasaan dan pemerintah dan ia menerima mereka serta berjalan dalam program mereka maka dengan demikian ia menjadi tokoh yang disegani dan ulama yang mashur, dan berkembanglah mazhabnya dengan jalan paksaan dan rayuan khususnya di Andalus yang mana muridnya Yahya bin Yahya telah bekerja di dalam perwalian penguasa Andalus, sehingga ia menjadi orang terdekat dan ia diberi oleh penguasa pertanggungan jawab dalam penentukan para hakim, dan tidak ada yang menguasai pengadilan selain kawan-kawannya dari kelompok Malikiyah.

Demikian pula kita dapati sebab-sebab tersebarnya mazhab Abu Hanifah setelah wafatnya, yakni bahwa Abu Yusuf dan Syaibani yang keduanya itu adalah pengikut Abu Hanifah dan orang yang paling setia padanya, keduanya di waktu itu termasuk orang yang paling dekat dengan Harun Rasyid, Khalifah Abasiyah. Keduanya itu mempunyai peranan besar dalam pengukuhan kekuasaan penentang dan pembelaannya, sehingga Harun tidak mengizinkan seseorang untuk menguasai pengadilan dan fatwa kecuali setelah mendapat kesepakatan keduanya.

Maka kedua orang itu tidak mau mengangkat seorang Qadhi kecuali orang yang mengikuti mazhab Hanafi, dengan demikian Abu Hanifah menjadilah ulama terbesar dan mazhabnya menjadi mazhab termasyhur yang fiqihnya diikuti, betapa pun para ulama di masanya telah mengkafirkannya dan menganggap dirirnya sebagai orang zindiq, termasuk mereka yang mengkafirkan ialah Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Begitu juga mazhab Syafi’i telah terbesar dan menjadi kuat setelah hampir musnah, yang demikian itu setelah dikuatkan oleh penguasa yang zalim, dan setelah seluruh Mesir tadinya mengikuti Syi’ah di masa Shalahuddin al-Ayubi yang telah membunuh orang-orang Syi’ah dan menyembelih mereka seperti menyembelih kambing.

Begitu juga mazhab Hambali, ia tidak akan dikenal jikalau tidak karena didukung oleh kekuasaan Abasiyah di masa al-Mu’tashim ketika Ibnu Hanbal mau menarik kembali pendapatnya bahwa Al-Qur’an itu adalah mahluk dan bintangnya menjadi cemerlang di masa al-Mutawakkil si Nashibi (pembenci Ahlulbait). Dan ia menjadi kuat dan meluas ketika penguasa penindas memberi bantuan kepada Syekh Muhammad bin Abdul Wahab di abad yang lalu, dan yang terakhir ini bekerjasama dengan keluarga Saud dan mereka menguatkannya mazhabnya di Hijaz dan jazirah Arab.

——————————————-

1. Lihat Manaqib Syaafi’i, hal. 524.

Dan menjadikan mazhab Hambali itu merujuk pada tiga Imam, yang pertama Ahmad bin Hanbal yang dia sendiri tidak pernah mengaku sebagai seorang ahli fiqih, ia hanyalah seorang ahli hadis, kemudian Ibnu Taimiyah yang digelari sebagai Syekh Islam dan Pembaru sunah yang telah dikafirkan oleh pada ulama sezamannya karena ia telah menghukumkan seluruh kaum Muslimin dengan syirik kerena mereka bertabarruq dan bertawassul pada Nabi saww, selanjutnya di abad yang lalu datanglah Muhammad bin Abdul Wahhab yang merupakan boneka ciptaan penindas/penjajah Inggris di Timur Tengah. Maka yang terakhir ini telah melakukan pembaharuan mazhab Hambali dengan dasar pengambilan dari fatwa Ibnu Taimiyah, sehingga Ahmad bin Hambal hanyalah tersebut dalam riwayat, karena mazhab mereka sekarang ini dinamakan mazhab Wahabi.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa tersebarnya mazhab-mazhab itu dan termasyhurnya serta meningginya kedudukannya adalah karena bantuan dan pengorbitan para penguasa. Dan juga tidak diragukan lagi bahwa mereka para penguasa seluruhnya tanpa kecuali adalah memusuhi para imam dari Ahlulbait karena mereka selamanya berperasangka bahwa para imam itu membahayakan kedudukan mereka dan dapat menghancurkan kekuasaan mereka. Maka mereka selamanya berusaha untuk mengucilkannya dari kalangan umat dan menghinakan kedudukannya serta memusnahkan orang yang mengikutinya.

Maka sangatlah perlu bagi para penguasa itu untuk mengangkat sebagian ulama yang mendekat pada mereka dan yang berfatwa sesuai dengan peraturan dan kebenaran mereka. Yang demikian itu demi memenuhi kebutuhan manusia yang berkelanjutan terhadap pemecahan masalah-masalah syariat. dan tatkala para penguasa di setiap zaman tersebut tidak mengenal sedikit pun tentang syariat dan tidak memahami fiqih, maka nama mereka dan mereka menamakan pandangan pada manusia bahwa politik itu sesuatu yang lain dari agama.

Maka khalifah yang berkuasa itu adalah seorang politikus sedang faqih (ahli fiqih) itu adalah tokoh agama, sebagaimana hal itu yang dilakukan sekarang ini oleh seluruh pemerintahan diseluruh negara Islam, sehingga Anda dapat lihat pemerintah menentukan Negara atau dengan lambang lain yang menyatakan hal itu. Lalu membebaninya dengan penelitian tentang masalah fatwa, ibadah dan syi’ar agama.

Akan tetapi pada kenyataannya, orang itu boleh berfatwa atau menentukan hukum kecuali yang sesuai dengan kemauan penguasa dan yang disepakati oleh pemerintah atau setidak-tidaknya yang tidak bertentangan dengan politik penguasa dan kebijaksanaan peraturannya. Kenyataan ini sebenarnya telah nampak dari masa ketiga khalifah yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka betapapun tidak memisahkan antara agama dan kekuasaan hanya saja mereka itu telah menguasakan diri mereka sendiri hak membuat syariat sejalan dengan kepentingan kekhalifahan dan jaminan pengaruhnya serta kelestariannya. Karena para khalifah yang ketiga itu telah mengalami masa Nabi saww dan persahabatan maka mereka telah mengambil daari beliau sebagian sunah yang tidak bertentangan dengan politik negara.

Sedang Muawiyah tidaklah masuk Islam kecuali pada tahun kesembilan Hijrah menurut riwayat masyhur yang tershahih. Maka ia tidak menyertai Nabi saww, kecuali hanyalah sebentar dan ia tidak mengetahui sunah sesuatu pun yang layak disebutkan. Sehingga terpaksa ia menentukan Abu Hurairah dan Amr bin Ash serta sebagian sahabat yang mereka itu dibebani tugas untuk mengelurkan fatwa sesuai dengan apa yang ia inginkan. Lalu diikuti oleh Bani Umayah dan Bani Abas setelah sunah yang baik tersebut atau bid’ah hasanah itu, maka seluruh penguasa itu selalu didampingi oleh Qadhi yang diberi tugas dalam periodenya unutk mentukan para qadhi (hakim) yang dipandang baik menurutnya bagi kekuasaan dan mereka mau bekerja untuk mengukuhkan dan membantunya.

Selanjutnya, setelah itu semua, tidak ada keperluan lain kecuali hanyalah agar Anda mengetahui kedudukan para qadhi itu yang telah mendatangkan kemurkaan Allah demi mencari keridhaan tuan mereka dan penjamin kesenangan mereka yang telah mengangkat mereka. Dan setelah itu agar Anda memahami rahasia pengucilan terhadap para imam yang maksum dari Ahlulbait yang suci, sehingga sepanjang masa-masa tersebut Anda tidak mendapatkan seorang dari mereka yang telah ditentukan dan diangkat sebagai qadhi dan diikuti fatwanya.

Dan jika menginginkan tambahan sebagai penguat tentang bagaimana terbesarnya mazhab sunah yang empat dengan perantara para penguasa tersebut, maka kita dapat mengambil satu contoh dari antara penyingkapan rahasia mazhab imam Malik yang terhitung mazhab terbesar dari yang terkenal serta paling meluas fiqihnya. Malik menjadi terkenal khususnya dengan kitab Muawatha’ yang ia tulis sendiri dan menurut Ahlussunnah dinyatakan bahwa ia itu adalah merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab Allah SWT dan ada sebagian ulama yang mengutamakannya dan menggunggulkannya di atas shahih Bukhari.

Kemasyhuran Malik itu sampai melampaui batas sehingga dikatakan, ‘Apakah boleh difatwakan sedangkan Malik masih ada di Madinah?” dan mereka menjulukinya dengan Imam Darul Hijrah. Dan kita tidak lewatkan untuk menyebutkan bahwa Malik telah berfatwah haramnya baiat secara paksa, lalu ia dipukul oleh Ja’far bin Sulaimaaan yang menjabat wali kota Madina dengan 70 kali pukulan. Inilah yang dijadikan hujah oleh pengikut Malik bahwa Malik memusuhi penguasa padahal itu adalah tidak benar, sebab orang yang meriwayatkan ketetapan tersebut adalah orang yang meriwayatkan hal berikut ini, kepada Anda saya utarakan penjelasan secara terperinci.

Ibnu Qutaibah telah berkata, “Mereka telah meriwayatkan bahwa tatkala telah sampai pada Abu Ja’far Manshur berita pemukulan terhadap Malik bin Anas dan apa yang dilakukan oleh Ja’far bin Sulaiman, ia murka dengan sangat dan menentangnya serta tidak rela, lalu ia menyingkirkan Ja’far bin Sulaiman dari Maddinah dan memerintahkan untuk dibawa ke Baqdad untuk dihardik. Kemudian ia meminta kepada Malik untuk menghadapkan kepadanya di Baghdad, tapi Malik tidak mau dan ia mengirim surat kepada Abu Ja’far agar memberikan maaf padanya tentang perkara itu dan ia mengutarakan beberapa alasan kepadanya. Maka Abu Ja’far pun mengirim surat kepadanya yang isinya, “Berilah aku kesempatan di waktu haji tahun depan insya Allah, karena aku akan menunaikan haji.”1

Jika Amirul Mukminin Abu Ja’far al-Manshur-khalifah Abasiyah itu telah mengasingkan anak pamannya Ja’far bin Sulaiman bin al-Abas dari perwalian Madinah karena memukul Malik, maka hal ini menumbuhkan suatu keraguan dan penelitian. Sebab pemukulan Ja’far bin Sulaiman terhadap Malik itu tidak lain hanyalah untuk menguatkan kekhalifahan anak pamannya dan mengukuhkan kekuasaan dan pemerintahannya, maka seharusnya bagi Abu Ja’far al-Manshur menghargai walinya itu dan memuliakannya bukan mengasingkan dan merendahkannya untuk menghadapkannya dengan cara yang hina yakni mengikatnya dengan belenggu, kemudian khalifah sendiri mengirim surat untuk menyampaikan alasan pada Malik agar mau merelakan! Sungguh ini sangat aneh!

Dari itu dapat difahami bahwa wali Madinah itu yakni Ja’far bin Sulaiman telah melakukan perbuatan orang-orang yang bodoh yang tidak mengetahui politik dan kelicikan sedikit pun. Dan ia tidak mengetahui bahwa Malik itu adalah tiangnya khalifah dan orang yang ditanamkan di Haramain (Mekah dan Madinah). Kalau tidak demikian mana mungkin ia akan mengasingkan anak pamannya dari perwalian karena telah memukul Malik yang sepantasnya mendapat hukuman itu lantaran fatwanya tentang pengharaman baiat secara paksaan.

Inilah yang terjadi disekitar kita sekarang ini sewaktu sebagian wali-wali negeri menjatuhkan martabat seseorang dan memenjarakannya demi mengkokohkan pemerintahan dan keamanannya.

—————————————————————-

1. Tarikh al-Khulafa’ oleh Ibnu qutaibah, II, hal. 149.

hal itu berlaku terhadap seseorang yang membuka pintu kejatuhannya betapapun itu dari kerabat tuan menteri atau dari kenalan istri seorang pemimpin. Maka bila terhadap seorang wali, ia dibebaskan dari jabatannya dan dipanggil untuk suatu kepentingan lain yang sering kali tidak diketahui oleh wali itu sendiri.

Hal inilah yang mengingatkan diri saya terhadap satu peristiwa yang pernah terjadi di zaman penjajahan Perancis terhadap negara Tunisia. Kala itu seorang Syeikh Thariqat Isawiyah dan jama’ahnya memukul tambur dan mengangkat tinggi suaranya dengan pujian ditengah malam melewati sebagian jalan-jalan sehingga sampai pada tempat perkumpulannya sebagaimana biasanya. Dan ketika mereka melewati pos penjagaan polisi Perancis, maka seorang polisi keluar dengan marah, lalu ia menghancurkan tambur-tambur mereka dan membubarkan jama’ah mereka lantaran mereka tidak mentaati peraturan untuk menghormati tetangga dan ketenangan setelah pukul sepuluh malam ke atas. Ketika penguasa kota mengetahui peristiwa tersebut dan ia sekedudukan wali menurut kita, maka ia pun marah dengan sangat kepada polisi itu dan memecatnya dari jabatannya serta memberi kesempatan selama tiga hari padanya untuk meninggalkan kota Qafshah. Kemudian ia memanggil Syekh Thariqah Isawiyah tersebut untuk mengemukakan alasan kepadanya atas nama pemerintahan Perancis, dan ia meminta kerelaannya dengan memberi harta yang banyak untuk membeli tabur-tabur dan peralatan baru dan ia memberikan ganti apa yang telah dirusakkan. Dan ketika ia ditanya oleh orang-orang terdekatnya, mengapa ia melakukan yang sedemikan itu? Ia menjawab, bahwa yang lebih baik bagi kita ialah membiarkan binatang-binatang liar itu memukul tambur dan sibuk dengan permainannya serta memakan kala jengiking, kalau tidak demikian niscaya mereka akan memusatkan perhatian mereka pada kita dan akan memangsa kita karena kita telah merampas hak milik mereka.

Kita kembali pada Imam Malik untuk kita perhatikan riwayatnya sendiri bagaimana pertemuannya dengan khalifah Abu Ja’far al-Manshur.

Pokok-Pokok Kesesatan Syiah ?? MEMBONGKAR KESESATAN SYI’AH « ISLAM VERSUS SYI’AH ?? Hakekat.com: Hakekat Tersembunyi Syiah Imamiyah ??? Blog Ghuroba :: Membongkar Kesesatan SYIAH ??? cara membuktikan SEMUA TUDUHAN ASWAJA SUNNi YANG KELiRU !!!

Ada beberapa poin yang sering dituduhkan para pembenci Syiah untuk memprovokasi kaum muslimin agar turut mengikuti langkah mereka dengan menyebarkan fitnah-fitnah terhadap Syiah. 

Obyek-Obyek Isu Kesesatan Syiah  Ada beberapa poin yang sering dituduhkan para pembenci Syiah untuk memprovokasi kaum muslimin agar turut mengikuti langkah mereka dengan menyebarkan fitnah-fitnah terhadap Syiah. Di sini, kita akan sebutkan beberapa obyek yang sering dijadikan bahan untuk penyesatan Syiah besrta jawaban ringkasnya;

 1. Syiah menyelewengkan al-Qur’an 

Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur’an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah.  

Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, ” Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Sunnah/Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untuk umat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka.Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif. Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbedaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9),: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an  sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.   

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAW:  “Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]   

 2. Nikah Mut’ah

Inkonsistensi salafy lainnya dapat para pembaca lihat dari diskusi atau pembahasan salafy soal nikah mut’ah. Dalam pembahasan nikah mut’ah terdapat hadis yang memuat lafaz 

قال عطاء قدم جابر بن عبدالله معتمرا فجئناه في منزله فسأله القوم عن أشياء ثم ذكروا المتعة فقال نعم استمتعنا على عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم وأبي بكر وعمر

Atha’ berkata “Jabir bin Abdullah datang untuk menunaikan ibadah umrah. Maka kami mendatangi tempatnya menginap. Beberapa orang dari kami bertanya berbagai hal sampai akhirnya mereka bertanya tentang mut’ah. Jabir menjawab “benar, memang kami melakukannya pada masa hidup Rasulullah SAW, masa Abu Bakar dan Umar”. [Shahih Muslim 2/1022 no 15 (1405) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi] 

Berhubung dengan isu hangat yaitu Nikah Mut’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini karena menyamakan Mut’ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAW pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima karena perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam dan tidak ada rokhsah dalam isu zina. 

Sejarah menunjukkan bahwa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah membolehan Nikah Mut’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAW.  

Kalau mut’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAW apakah mungkin Abdullah bin Abbas membolehkannya? 

Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya mut’ah apakah mungkin beliau berani menghalalkannya pada waktu itu? 

Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tanda tanya karena tidak mungkin beliau berani membolehkan zina [mut'ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [mut'ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman mut’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mut’ah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24) 

Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW yaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim, ” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan mut’ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya karena Amr bin khuraits.” 

Jelaslah mut’ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah mengharamkan mut’ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith dhaif.  

 Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah yaitu riwayat yang mengatakan nikah mut’ah telah dihapuskan pada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang dhaif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman mut’ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah karena seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikawini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikawini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengawini wanita Yahudi ketika itu karena mereka adalah musuh mereka. 

Riwayat kedua diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahwa nikah mut’ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Mut’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya saja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud?  

Sekiranya kita menerima pengharaman nikah mut’ah di Khaibar, ini bermakna mut’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah mut’ah telah dihalalkan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat mut’ah nikah telah diharamkan secara bertahap seperti pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahwa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman mut’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata. 

Yang jelas nikah mut’ah dihalalkan dalam al-Qur’an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain:  “Setelah turunnya ayat mut’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.”   

Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu.  

Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman mut’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari: “Kalau bukan kerana Umar melarang nikah mut’ah maka tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka.” 

Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surah al-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat mut’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah mut’ah). 

Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman mut’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAW cukup jelas bahawa nikah mut’ah halal pada zaman Nabi SAW seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi,  ” Dua jenis mut’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAW aku haramkan sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua jenis mut’ah tersebut. Pertama nikah mut’ah dan kedua haji tamattu”. 

Perlulah diingatkan bahwa keharusan nikah mut’ah yang diamalkan oleh Mazhab Syiah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah mut’ah seperti juga kehalalan kawin empat bukan bermaksud semua orang wajib kawin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah mut’ah dan kawin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah mut’ah sama dengan zina, apakah bentuk mut’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar? [catatan: Nikah muta'ah memang tidak sama dengan zina] 

 3. Syiah Kafir?  

Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada  tahun 1996, 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur’an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?   

 4. Syiah  Yahudi?  

Dakwaan Syiah adalah hasil ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sehat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Banyak yang gugur syahid. Semua orang tahu Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan  Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Saba yang dikatakan penggagas ajaran Syiah adalah kisah khayalan saja. Cerita Abdullah bin Saba hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis khayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAW yang dikatakan ajaran Abdullah bin Saba – sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Saba. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAW. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAW enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAW tetapi Umar percaya Rasulullah SAW tidak wafat sebaliknya baginda SAW pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAW hanya naik ke langit. Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAW tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh ajaran Yahudi? 

 5. Syiah memaksumkan imam-imam mereka 

Mereka berhujah dengan ayat Quran 33:33:  “Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kalian  kekotoran [rijsa] wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kalian sebersih-bersihnya.” 

Istilah Ahlul Bayt menurut Hadith Rasulullah SAW merujuk kepada lima orang iaitu Rasulullah SAW, Fatimah, Ali, Hassan dan Husayn seperti yang diriwayatkan dalam Sohih Muslim. Perkataan rijsa [kekotoran] sudah tentu bukan kotor dari segi lain seperti najis dan sebagainya tetapi merujuk kepada dosa-dosa dan apabila Allah ‘hendak secara berterusan’ [yuridu] menyucikan mereka sebersih-bersihnya tidak boleh diragukan lagi ia merujuk kepada penyucian total dari semua dosa yang dalam istilah lain bermaksud mereka adalah maksum. 

Tambahan pula banyak ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan perintah Allah SWT supaya manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan perbuatan dosa.  Apabila Allah SWT memerintah manusia berbuat ma’ruf dan meninggalkan dosa sudah tentu Allah SWT tahu bahwa manusia itu memang mampu meninggalkan dosa kerana Allah SWT tidak akan membebankan manusia dengan suatu perintah yang manusia tidak mampu buat.  

Oleh itu sekiranya Syiah mengatakan imam mereka maksum yaitu tidak berbuat dosa serta Allah SWT memelihara mereka daripada perbuatan dosa berdasarkan Surah 33:33 itu, adakah ia bertentangan dengan al-Qur’an? Adakah  mereka yang  tidak maksum layak menduduki maqam Imam ummah? 

  6. Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAW   

 Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAW dan khalifah kedua. 

Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta keluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan siapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir [Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syiah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAW tetapi menunjukkan perbuatan ‘beberapa orang’ dari mereka yang menyalahi al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan dasar al-Qur'an dan Hadith Nabi SAW.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini tidak serta-merta menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.  

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Silakan baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara [nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAW mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAW seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAW di al-Haudh. Nabi SAW memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Silakan rujuk Sahih Bukhari [Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96]; Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri? 

 Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAW pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAW bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462]. 

 Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?  

Kita ikuti ‘sahabat yang baik’ dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAW. Sejarah menunjukkan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat yang menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar karena minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari. 

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencaci Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAW? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAW wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain dari yang telah ditetapkan oleh Rasulnya? 

 Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…” 

Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard "adil"atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada siapapun dikecualikan hatta para "sahabat" sekalipun]. Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka. 

 Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAW tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida' sebanyak 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW [terjemahan]:”Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang ingkar mengikut perintah Nabi SAW terutama selepas Nabi SAW wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAW] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAW bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmatNya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku karena cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku karena cinta kepadaku.” 

Oleh sebab itu siapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAW dan Allah SWT. Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an? “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.” [Qur'an: 11: 18] 

 7. Syiah didakwa bukan mengikuti ajaran Ahlul Bayt Nabi SAW 

Imam Ja’far al-Sadiq bukan Syiah tetapi Ahlul Sunnah. Sebaliknya semenjak kita belajar Ahlul Sunnah nama Imam Ja’far al-Sadiq tidak  dikenal langsung tetapi golongan  Syiah sering mengutip hadith-hadith dari beliau dalam pelbagai aspek ajaran Islam.  Malahan semua sarjana fiqh bersepakat bahwa Jaafar al-Sadiq pengasas fiqh Madzhab Syiah Ja’fariyyah. Oleh itu dakwaan di atas dibuat atas dasar emosi dan tidak berasaskan akademik. 

 8. Syiah percaya kepada kepada al-Bada’ 

Tuduhan: Ilmu Allah Berubah-ubah Mengikut Sesuatu Peristiwa Yang Berlaku Kepada Manusia (al-Bada’). 

Ulama Syiah tidak pernah menganggap Allah tidak mengetahui seperti tuduhan-tuduhan yang sengaja menyelewengkan maksud sebenarnya. 

Al-Bada’ tidak bermaksud kejelasan yang sebelumnya samar dinisbahkan kepada Allah SWT.  

Al-Bada’ yang difahami oleh ulama Syiah ialah adalah Allah berkuasa mengubah sesuatu kejadian dengan kejadian yang lain seperti nasikh dan mansukh sesuatu hukum syariah yang tercatat dalam al-Qur’an tetapi al-Bada’ menyangkut tentang sesuatu kejadian [takwini] seperti hidup dan mati dan seumpamanya. 

Misalnya kisah penyembelihan Nabi Ismail AS tetapi kemudian Allah Azza Wa-Jalla menggantikannya dengan seekor kibas.  

Alllah SWT berfirman dalam al-Qur’an 13:39: “Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan menetapkan [apa yang Ia kehendaki] dan  di sisinya terdapat Umm al-Kitab [Lauh al-Mahfuzh].” 

 Sebuah hadith yang dipetik dari al-Kulaini dalam Kitabul Tauhid, Usul al-Kafi, hadith 373.:”Allah tidak menerbitkan [bada'] pada sesuatu melainkan ianya berada dalam ilmuNya sebelum [Allah menetapkan] berlakunya [bada' tersebut].” 

Hadith 374 menegaskan:” Sesungguhnya Allah tidak menerbitkan Bada’ dari kejahilan[Nya]“. 

Syeikh al-Mufid menulis dalam bukunya Awail Maqalat: ” Apa yang saya fatwakan tentang masalah al-bada’ ialah sama dengan pendapat yang diakui oleh kaum muslimin dalam menanggapi masalah nasakh [penghapusan] dan sebagainya seperti memiskinkan kemudian membuat kaya, mematikan kemudian menghidupkan dan menambah umur dan rezeki kerana ada sesuatu perbuatan yang dilakukan. Itu semua kami kategorikan sebagai bada’ berdasarkan beberapa ayat dan nas-nas yang kami dapatkan dari para Imam.” 

 9. Syiah mengamalkan taqiyah

Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian.

———————————-

Hakekat Taqiyah versi Syiah

Salah satu aspek dalam Syi’ah yang paling di salahfahamkan adalah, praktik taqiyah atau menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura. Di sini kami mengabaikan makna yang lebih luas dari taqiyah:”menghindari atau menjauhkan diri dari setiap jenis bahaya”. Kami lebih cenderung mendiskusikan jenis taqiyah dalam arti seorang menyembunyikan agamanya atau beberapa praktik tertentu dari agamanya dalam keadaan-keadaan yang mungkin atau pasti akan menimbulkan bahaya sebagai akibat tindakan-tindakan dari orang-orang yang menentang agamanya atau praktik-praktik keagamaan tertentu.

Di antara pengikut-pengikut berbagai mazhab dalam Islam maka kaum Syi’ah terkenal akan praktik taqiyah mereka. Dalam keadaan bahaya, mereka menyembunyikan agama mereka dan merahasiakan praktik-praktik dan upacara-upacara keagamaan yang khas terhadap lawan-lawan mereka.

Sumber-sumber yang menjadi dasar kaum Syi’ah dalam persoalan ini, termasuk ayat-ayat al-Qur’an seperti di bawah:

“Jangan sampai orang-orang yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang yang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian (agar selalu ingat) kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.”[al-Qur'an(3): 28]. (Ungkapan menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaqu minhum tuqatan, kata tattaqu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.)

Sebagaimana jelas dari ayat al-Qur’an tersebut, Allah SWT sangat melarang wilayah (yang dalam hal ini bererti persahabatan yang sedikit banyak mempengaruhi hidup seseorang) dengan orang-orang kafir yang memerintahkan agar berhati-hati dan mempunyai rasa khuwatir dalam keadaan semacam itu.

Di tempat lain Ia berfirman:

“Barangs siapa mengingkari Allah sesudah mengimaniNya (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali dia yang terpaksa untuk melakukan itu sedang hatinya masih tenteram dalam keimanan; akan tetapi barang siapa yang membuka dadanya untuk kekafiran, maka laknat Allah menimpa mereka, dan bagi mereka azab yang dahsyat.” [al-Qur'an (16): 106]

Sebagaimana disebutkan dalam kedua sumber, Sunni dan Syi’ah, ayat ini diturunkan mengenai Ammar ibn Yasir. Setelah Nabi SAWW berhijrah, kaum kafir Mekah memenjarakan beberapa orang Islam Mekah, menyiksa dan memaksa mereka untuk meninggalkan Islam dan kembali pada agama mereka semula, yakni menyembah berhala. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Ammar, berserta ayah dan ibunya. Orang tua Ammar menolak untuk mengingkari Islam dan meninggal kerana siksaan. Tetapi Ammar – untuk menghidari siksaan dan kematian – pura-pura meninggalkan Islam dan menerima penyembahan berhala, dan kerana itu ia terhindar dari bahaya. Setelah dibebaskan, dengan diam-diam ia meninggalkan Mekah pergi ke Madinah. Di Madinah ia mengadap Nabi Muhammad SAWW, dan dalam keadaan menyesal dan sedih dengan apa yang telah dilakukannya ia bertanya kepada Nabi apakah dengan berbuat demikian ia telah keluar dari wilayah kesucian agama. Nabi menjawab bahawa kewajipannya ialah apa yang telah ia lakukan. Kemudian ayat tersebut diwahyukan.

Kedua ayat yang dikutip di atas diturunkan mengenai kes-kes tertentu, akan tetapi pengertiannya begitu rupa, sehingga mencakup seluruh situasi yang menyebabkan pengungkapan kepercayaan dan amal keagamaan yang mungkin dapat membahayakan diri. Selain ayat-ayat ini, terdapat banyak hadith dari Ahlu l-Bait Nabi yang memerintahkan taqiyah jika terdapat kekhawatiran akan bahaya.

Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian. Sifat-sifat keberanian dapat diamal hanya paling sedikit ada kemungkinan untuk berhasil. Akan tetapi menghadapi suatu bahaya yang pasti atau mungkin terjadi, yang di dalamnya tidak terdapat kemungkinan untuk menang, seperti minum air yang mungkin ada racunnya, atau melemparkan diri ke muka sebuah meriam yang ditembakkan, atau berbaring di atas rel di depan keretapi yang sedang berjalan dengan cepatnya – semuanya perbuatan yang semacam itu – tidak lain daripada kegilaan yang bertentangan dengan logika dan fikiran yang waras.

Dari hal itu, dapat disimpulkan bahawa taqiyah harus dipraktikkan hanya apabila terdapat suatu bahaya yang pasti yang tidak dapat dihindari dan tidak ada harapan menang dalam menghadapinya.

Batas bahaya yang tepat yang memungkinkan dilakukan taqiyah telah diperdebatkan di antara para mujtahid Syi’ah. Dalam pandangan kami, menjalankan taqiyah dapat dibenarkan apabila terdapat bahaya yang pasti, yang mengancam hidup seseorang atau keluarganya, atau kemungkinan hilangnya kehormatan dan kesucian isteri seseorang atau anggota-anggota keluarga wanita lainnya, atau bahaya hilangnya harga benda yang sedemikian banyaknya sehingga mengakibatkan kemiskinan yang total dan tidak memungkinkan seseorang untuk seterusnya memberikan nafkah kepada keluarganya dan dirinya sendiri. Pendek kata, sifat berhati-hati dan menghindari dari bahaya yang pasti atau mungkin datang dan tidak dapat dicegah, merupakan hukum logika yang biasa dan diterima oleh semua orang dan dipraktikkan oleh orang-orang dalam seluruh tahap kesempurnaan mereka yang berbeda-beda.

(Oleh Al-Marhum Allamah Thabathaba’i – Ansariyan Publication,Qum, 1989,Shi’a, hlm. 223; PU Grafiti, 1989, Indonesia,Islam Syi’ah, hlm. 259)

Mereka mendakwa taqiyyah bermaksud berpura-pura dan sinonim dengan perbuatan golongan munafiq. Syeikh Muhammad Ridha al-Muzaffar menulis dalam bukunya Aqidah Syiah Imamiyyah: “Taqiyah merupkan motto Ahlul Bayt AS bermotifkan untuk melindungi agama, diri mereka dan pengikut mereka dari bencana dan pertumpahan darah, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta penyelarasan mereka, dan memulihkan ketertiban mereka.” 

Mengikut Alamah Tabatabai’ dalam bukunya Islam Syiah bahawa sumber amalan taqiyah ini merujuk juga kepada al-Qur’an seperti Surah 3:28,: “Jangan sampai orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka [orang-orang kafir] dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian [agar selalu ingat] kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.” 

Ungkapan menjaga diri terhadap orang-orang kafir dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaquu minhum tuqatan dan kata tattaquu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah. 

Ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan peristiwa taqiyah Amar bin Yasir yang mencari perlindungan dengan mengaku kafir di hadapan musuh-musuh Islam iaitu dalam Surah 16:106: “…kecuali orang yang terpaksa, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman…” 

Jelaslah bahwa taqiyah bukan membawa maksud berpura-pura seperti yang sering didakwa oleh orang yang berpura-pura berilmu pengetahuan tetapi sarat dengan kejahilan dan niat yang buruk.   

 10. Mengapa Syiah sujud di Tanah Karbala?   

Soal mengapa pengikut Syi’ah bersujud di atas tanah Karbala tidak bertentangan dengan hukum fiqh dari semua madzhab.  

Solat adalah perbuatan ibadah yang cara-caranya terikat kepada amalan Rasulullah SAW. Kaedah ini diterima oleh semua madzhab dan tidak ada yang berani mempertikaikannya atau dia akan keluar dari status “Muslim”. 

Hadith Nabi SAW yang mulia menjelaskan tentang cara-cara bersujud seperti yang tercatat dalam Sahih Muslim, misalnya hadith nomor 469, [terjemahan]…. Dan di mana saja kamu berada, jika waktu solat telah tiba, maka solatlah, karena bumi ialah tempat bersujud (masjid) 

Atau hadith nomor 473, [terjemahan] “….Bumi dijadikan suci bagiku [nota: misalnya debu tanah boleh digunakan untuk bertayammum] dan menjadi tempat sujud [wa ju'ilat ila-l-ardh tuhura wa-masjidan]. 

Dan memang orang-orang Syiah mengikut contoh Imam-imam mereka seperti Imam Ali Zainal Abidin AS dan seterusnya, yang meletakkan tanah Karbala sebagai tempat untuk bersujud. 

Yang patut diingatkan bahawa Syiah tidak sujud kepada tanah Karbala. [nota: perbuatan ini tentunya syirik] tetapi di atas tanah Karbala untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT.Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya perkara tersebut berkata: “….karena sujud adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah,  oleh karena itu adalah tidak wajar seseorang itu bersujud  di atas benda-benda yang dicintai oleh manusia di dunia ini.” [Wasa'il al-Syi'ah,  Juzuk III, hlm.591] 

Dalam hadith yang lain Imam Ja’far al-Sadiq AS menjelaskan bahwa: “Sujud di atas tanah lebih utama  karena lebih sempurna  dalam merendahkan diri  dan penghambaan di hadapan Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Bihar, Juzuk, 85, hlm.154]   

 11. Mengapa Syiah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah?  

As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-’Amili seorang ulama Syi’ah dengan tegas menjelaskan: ” Bila dalam kenyataannya kami kaum Syiah tidak berpegang kepada Madzhab Asy’ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari’at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para tokoh-tokoh madzhab tersebut.Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAW, pusat Nubuwwah dan Risalah, tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur’an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.Pengetahuan tentang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAW.” [As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja'at (Dialog Sunnah-Syi'ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18] 

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:  “Hadith-hadith yang aku riwayatkan  adalah dari ayahku.  Dan semua hadith tersebut  adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku  adalah dari hadith datukku al-Husayn AS.  Dan semua riwayat al-Husayn AS  adalah dari hadith al-Hasan AS.  Dan semua hadith al-Hasan AS  

dari datukku Amirul Mu’minin Ali AS;  dan semua hadith Amirul Mu’minin Ali AS  adalah dari hadith Rasulullah SAW.  Dan hadith-hadith Rasulullah SAW  adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla.” [Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14] 

Bagi Syiah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS karena perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT. 

 12. Imam Mahdi AS hidup lebih dari 1000 tahun  

Mereka mendakwa kepercayaan bahawa Imam Mahdi AS masih hidup sejak peristiwa ghaib kubra pada tahun 329H adalah sesuatu kepercayaan yang karut. Mengapa mereka lupa bahwa Allah SWT telah menghidupkan nabi-nabi terdahulu dengan umur yang panjang seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Adam AS? Malahan umat Islam percaya Nabi Isa AS masih hidup hingga kini sejak beliau diangkat ke langit oleh Allah SWT dalam peristiwa beliau diselamatkan dari pembunuhan pengikut-pengikutnya. Ini bermakna beliau as telah hidup lebih seribu tahun. Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi di bangkitkan oleh Allah SWT setelah ditidurkan dengan begitu lama. Begitu juga umat Islam percaya Nabi Khidir as masih hidup hingga kini. Malahan iblis syaitan la’natullah alahi masih hidup sejak makhluk ini engkar kepada Allah SWT. Ini bermakna iblis syaitan telah hidup lebih lama dari 1,000 tahun. Tidakkah kisah-kisah ini menunjukkan bahawa umur panjang bagi Imam Mahdi AS bukanlah sesuatu yang mustahil kerana Allah SWT Maha Berkuasa bagi perkara yang sekecil itu. 

 13. Aqidah Raja’ah  

Al-Allamah al-Safi menjawab tentang masalah rajaah seperti berikut: ” Qaul tentang raja’ah itu merupakan qaul dari itrah Rasulullah SAW yang suci. Perbahasan tentang masalah ini telah beredar dikalangan mereka dan selain dari mereka. Pedoman mereka dalam masalah ini adalah ayat-ayat Qur’an dan hadith-hadith yang mereka riwayatkan dengan sanad yang turun temurun dari datuk-datuk mereka sampai kepada datuk Rasulullah SAW. 

Kenyataan yang tidak mungkin diingkari oleh para peneliti masalah-masalah keislaman adalah bahwa sumber aqidah raja’ah itu adalah imam-imam Ahlul Bayt AS yang telah ditetapkan kewajiban berpegang teguh kepada mereka dengan keterangan dari hadith al- tsaqalain dan lain-lainnya. 

Pihak syiah mengatakan tentang raja’ah secara global. Mereka membandingkan hal ini dengan kejadian-kejadian para ummah terdahulu seperti yang diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya,: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-beribu (jumlahnya) kerana takut; maka Allah berfirman kepada mereka:” Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali)…” (Al-Baqarah:243). 

Ayat yang lain,: “Atau apakah (kamu tidak mepmerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atasnya. Dia berkata:” Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia roboh?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali….” (Al-Baqarah:259) 

Dan boleh juga mengambil teladan dari firman Allah Ta’ala dalam ayat berikut: “Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada pada dirinya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami melipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya:84) 

Mereka golongan syiah mengatakan bahawa hal itu tidak mustahil akan terjadi kepada umat ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagikan (dalam kelompok-kelompok).” (Al-Naml:83) 

Hari yang disebutkan Allah SWT dalam ayat di atas, tentu bukan Hari Qiamat, karena pada Hari Qiamat Allah membangkitkan semua umat manusia, sebagaimana yang difirmankanNya dalam ayat berikut: “Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Al-Kahfi:47) 

Dalam dua ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahawa Hari Kebangkitan itu ada dua. Kebangkitan umum dan kebangkitan khusus. Hari yang dibangkitkannya segolongan orang-orang dari tiap-tiap umat itu bukan Hari Qiamat, jadi ia tidak lain adalah Yaumul Raja’ah. 

Adapun tentang perincian Yaumul Raja’ah itu tidak ada hadith-hadtih sahih yang menyatakannya. Hadith-hadith yang menyebutkan tentang perincian Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif sama ada dari segi dalalahnya ataupun sanadnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Lutfollah Saafi Golpayegani dalam bukunya yang bertajuk “Aqidah Mahdi dalam Syiah Imamiyyah” menyatakan bahawa hadith-hadith perincian tentang Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif dan ditolak oleh ulama hadith syiah.   

Aqidah Raja’ah mempunyai asas ajaran dalam al-Qur’an dan dinyatakan oleh para Imam Ahlul Bayt AS, oleh itu apakah wajar kita menolaknya?  

 14. Isu-isu al-Qur’an, Mushaf, dan Wahyu kepada Fatimah AS  

Apabila dibicarakan tentang persamaan antara sunnah dan syiah berarti di situ pasti ada perbedaannya. 

Permasalahannya apabila ada perbedaan, apakah pegangan kepada satu mazhab menjadi penilai 

kebenaran dalam mengukur mazhab yang lain atau dikembalikan kepada Al Quran dan hadis dan 

mengukurnya secara rasional yang bebas dari ketasuban bermazhab? 

Fitnah terhadap syiah bukan satu yang baru dan sepertinya tidak akan berahkir. Setelah membaca banyak buku yang menyalahkan syiah, kami melihat hal ini disebabkan oleh beberapa perkara.  

1- Menilai kebenaran berdasarkan mazhab tertentu.   

2- Menafsir sendiri riwayat syiah tanpa melihat penfsiran ulama syiah tentang hadis tersebut, sehingga natijah yang diambil berdasarkan selera sendiri. 

3- Mengambil kata-kata ulama sebagai sandaran tanpa menilai kembali pandangan mereka dan suasana mereka mengeluarkan fatwa. 

4- Menungkilkan hadis separuh-separuh hingga menyebabkan maknanya berubah. 

5- Menanggap apa saja yang tertulis dalam kitab-kitab hadis muktabar syiah itu sahih sebagai mana 

Ahlu suunah menanggap semua yang ada dalam Bukhari itu sahih. 

 Kami berterima kasih kepada penulis ABC kerana komentarnya atas artikel ‘persamaan dan perbedaan antara sunnah dan syiah’. Izinkan kami di sini untuk mengomentar kembali tilisannya berdasarkan ukhwah islamiah dan perbahsan ilmiah tulen yang menjadi pemangkin kepada pendekatan antara mazhab2 islam untuk saling mengenali hingga tidak tibul tuduhan liar. 

 1- Al Quran  

a- makna mushaf  

Kebanyakan umat Islam menanggap bahwa perkataan ‘mushaf’ itu sinonim ‘Al Quran’. Sedangkan 

dalam lisan Al Quran dan hadis Rasul tidak demikian. Mushaf itu artinya kumpulan tulisan dan 

selepas wafat Rasul digunakan untuk ayat2 al quran dikumpulkan oleh para sahabat dan juga tulisan2 

hadis. 

Oleh karena itu jika ada perkataan mushaf dalam riwayat syiah jangan terus menanggap ia adalah Al Quran. Penulis ABC juga ada menukilkan riwayat dari Al Kafi yang menunjukan bahawa mushaf Fatimah bukan Al Quran tetapi kumpulan khabar yang di sampaikan oleh Jibril.   

b- Wahyu untuk Fatimah as  

Persoalannya di sini apakah ia mungkin atau tidak? Pertama kita perlu mengenal maqam Fatimah as terlebih dahulu. Tiada yang mengingkari bahwa ia adalah penghulu wanita, yang paling mulia antara 4 wanita yang termulia. 

Kedua apakah Jibril boleh menurunkan wahyu untuk selain nabi. Yang mengatakan tidak berarti ia jahil tentang Al Quran. Dalam surah Ali Imran ayat 42 hingga 45 menceritakan pembicaraan jibril dengan Mariam. Dan Fatimah as lebih mulia dari Mariam. Riwayat tentang turunnya Jibril pada Fatimah banyak dalam kitab-kitab syiah. Sudah tentu mereka yang menjauhinya tidak akan meriwayatkan peristiwa tersebut. 

15.  Mazhab Ahlu Sunnah  

a- Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fiqih maupun akidah secara murni. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fiqih maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAW ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAW. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.   

b- Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam2 ahlu bait dan ulama mereka. 

c- Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada mujtahid yang hidup pada setiap waktu. 

 16.  Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah dan Ahlu Bait AS  

Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakkan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakkan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka. 

Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang2 yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran. 

 17. Ilmu Para Imam AS  

Hadis dari Imam Jaffar as Sadeq itu jelas menunjukkan, ilmu yang mereka miliki adalah kurnia Allah bukan mereka memiliki dengan sendiri, karena ini akan mendatangkan syirik. 

Di dalam surah yunus ayat 20 dan an An’am jelas menunjukan bahawa yang mengetahui hal yang ghaib itu hanya Allah. Dan dalam surah az zhuruf ayat 4, al Buruj ayat 22, ar radh ayat 39, menunjuk bahwa ilmu Allah itu 

terletak di kitab almknun, kitabun mubin, umul kitab, luh mahfuz. Ia juga dipanggil Imamul mubin “kulu sha’ain ahsaina hu fi Imamul mubin” walau namanya berbeda ia memiliki hakikat yang sama yaitu khazahna ilmu Allah yang Allah berikan kepada orang2 yang tertentu (surah aj jin ayat 27) dan tidak akan menyentuhnya kecuali yang disucikan (al waqih’ah ayat 79) dan kita semua tahu yang disucikan hanya ahlu bait (al ahzab ayat 33) 

Jadi jika ada yang masih tidak faham yang ahlu bait mengetahui yang ghaib atas izin Allah dengan mengunakan dalil-dalil Al Quran yang jelas bererti orang tersebut mau meletakkan dirinya pada jalan kedegilan dan ketasuban. 

 18.  Maqam Para Imam AS  

a- Di dalam Al Quran membicarakan tugas para Rasul hanya sebagai hanya untuk menyampaikan saja (iblaq) dan tidak lebih dari itu. “ma ala Rasul ilal balaq” dan juga surah An Nissa, ayat 165 dan As Syura, ayat 3 dll. 

Selain dari itu ada ayat2 yang membicarakan satu lagi maqam selain maqam Rasul dan memiliki tugas yang lain dengan tugas rasul iaitu maqam Imam ‘kami jadikan mereka Imam untuk memberi hidayah dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat2 kami’ surah as sajadah ayat 24. 

Ayat di atas jelas menunjukkan sebagian Rasul di angkat menjadi Imam, satu maqam yang lebih tinggi dari maqam Rasul. Tugas Imam di sini berbeda dengan tugas Rasul yaitu sebagai pemberi hidayah. 

Nabi Ibrahim sebagaimana dalam surah al Baqarah ayat 124 diangkat menjadi Imam selepas ia menjadi Rasul. Jelas di sini menunjukan maqam Imam lebih tinggi dari maqam Rasul. Persoalanya sekarang apakah maqam Imam ini berterusan? Sudah tentu selagi manusia wujud di atas muka bumi ini selagi itu manusia perlu kepada hidayah dan ini tugas Imam. Dalam surah di atas Allah juga mengangkat zuriah Ibrahim sebagai Imam sebagimana Ibrahim. Dalam surah Ar Radh, ayat tujuh, Allah SWT. berfirman “Sesungguhnya kau (Muhammad) pemberi peringatan dan untuk setiap kaum ada yang memberi hidayah” 

Kami ulangi lagi bahawa tugas memberi hidayah adalah tugas Imam dan hanya Allah yang melantik Imam bukan manusia. Dan ayat ini jelas menunjukan Imam yang dilantik oleh Allah itu berterusan dan maqamnya lebih tinggi dari maqam Rasul. Apakah kita lupa pada satu hadis yang mahsyur yang bermaksud “ulama umatku lebih afdhal dari para nabi bani israel” atau kita menanggap hadis ini daif. Atau hadis yang mengatakan bahawa Nabi Isa as. akan solat dibelakang Imam Mahdi juga tidak benar. 

b- Apakah pelik apabila kita mengatakan para Imam itu lebih mulia dari Malaikat sedangkan Abu Basyar Adam as. merupakan khalifah pertama dari sekian kahlifah Allah mendapat didikan langsung dari Allah (syarat khalifah Allah) dan menjadi guru kepada para Malaikat dan menjadi sujutan Malaikat, apakah ini tidak menunjukan bahawa maqam insan lebih mulia dari maqam malaikat? apakan lagi maqam imam. Apakah ini berarti mendewakan mereka atau meletakan mereka pada tempat yang sewajarnya? 

Apakah menjadikan semua sahabat itu adil dan tidak boleh disentuh dan dikritik bukan pendewaan? Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?   

 19. Maqam Imam ‘Ali AS  

Mereka menyatakan Syiah mempercayai Saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali, mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain. 

Di dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini dilaporkan bahwa Abu Basir seorang kepercayaan 

Imam Jaafar telah datang berjumpa dengan Imam Jaafar. Abu Basir bertanya kepada Imam Jaafar berhubungan dengan ilmu dan kelebihan Saidina Ali dan imam imam syiah… didalam buku tulisan Al Kualaini tersebut Imam Jaafar telah dikatakan menjawab sedemikian.. “Kita juga ada Mushaf Fatimah dan apakah yang orang ramai tahu tentang Mushaf Fatimah ? Ianya adalah sebuah Mushaf yang tiga kali lebih besar dari Al Quraan dan tidak ada satu ayat Al Quraan mereka didalam nya. (Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 146) 

Seterusnya Imam Jaafar bila ditanya lagi oleh Abu Basir berhubung dengan Mushaf Fatima , Abu Basir menyatakan Imam Jaafar menyebut : “ Apabila Allah menaikkan Rasul Nya dari dunia (wafat) … Fatimah menjadi terlalu sedih yang teramat sangat dan berduka cita yang hanya diketahui oleh Allah saja. Allah kemudian menurunkan malaikat untuk membujuknya semasa kesedihan tersebut dan malaikat tersebut telah berbicara dengan Fatimah. Fatimah menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali dan Ali meminta Fatimah memberitahunya apabila malaikat tersebut datang. Setiap kali malaikat datang Ali telah mencatatkan segala yang disebut oleh malaikat tersebut… dan Inilah yang di panggil mushaf Fatimah. Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 147) 

Al Kulaini seterusnya di dalam kitab yang sama menyatakan bahawa Jabir Al Jufi berkata “aku telah mendengar Muhammad Al Baqir berkata “ Seseorang tidak akan mengatakan bahawa Al Quraan telah diturunkan sekelompok kecuali dia itu pendusta. Tiada seorang pun yang mengumpul dan menghafal semuanya yang di turunkan Nya kecuali Abi bin Abi Talib dan para pengikut sesudahnya. “ muka surat 228 

Komentar 

Kesimpulan dari paparan di atas… bagaimana mungkin seorang ahli sunnah tidak menyatakan keheranannya diatas isu adanya orang-orang syiah yang berpahaman ujudnya satu kitab Al Quraan yang selain nya dari mushaf Othman…. Apabila perkara sedemikian memang tertulis didalam salah sebuah kitab pokok rujukan Syiah iaitu Usul al-Kafi oleh al-Kulaini. Nota: Permasalahannya ialah pihak Ahlul Sunnah tidak dapat membedakan antara hadith yang sahih atau sebaliknya dalam kitab-kitab Syiah. Menurut Imam Ja’far al-Sadiq AS hadith yang bertentangan dengan al-Qur’an hendaklah ditolak samasekali. Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]: ” Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya dari aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang dariku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5. 

Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah siapa yang mengikut Sunnah Nabi SAW kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

Ahlussunnah dan Penghapusan Sunnah

Dalam pasal ini kami ingin menguraikan sesuatu yang terpenting yang bagi peneliti sangat perlu mencermatinya, agar terungkap tanpa kepalsuan bahwa orang-orang yang menamakan diri dengan Ahlussunnah, hakikatnya tidak memiliki layak disebut dari sunah Nabi saww. Dikarenakan mereka atau tepatnya, para pendahulu mereka dari kalangan sahabat dan Khulafah ar-Rasyidin menurut yang mereka ikuti, dan bertaqarrub pada Allah Swt, dengan jalan mencintai dan berwalikan pada mereka, telah mengambil peran sebagai perampas sunah Nabi saww, hingga pada tingkat pembakaran dan pencegahan terhadap penulisannya dan periwayatannya.

Sebagai tambahan dari uraian yang lalu, perlu dibuka tabir penutup persekongkolan tercela tersebut, yang bersikap angkuh melawan sunah Nabi saww, yang suci dalam mencegah tersebarnya dan memusnahkannya di masa itu serta menggantikannya dengan bid’ah-bid’ah para penguasa dan ijtihad mereka serta pendapat-pendapat para sahabat dan penakwilan mereka.

Para penguasa periode pertama telah berusaha :

Pertama. Membuat hadis-hadis dusta (palsu) yang menguatkan mazhab mereka dalam pencegahan terhadap penulisan seluruh sunah Nabi saww, dan hadis-hadis yang mulia. Inilah Imam Muslim telah meriwayatkan dalam shahihnya berasal dari Haddad bin Khalid al-Azdi, dari Hammam dari Zaid bin Aslam dari Atha’ bin Yasar dari Abi Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saww bersabda :

“Janganlah kalian menulis apa yang dariku, dan barangsiapa menulis dariku selain Al-Qur’an, maka hendaklah menghapusnya, dan riwayatkanlah, hal itu tidak mengapa.”1

Maksud pembuatan hadis tersebut adalah sebagai pembelaan terhadap apa yang telah diperbuat oleh Abu Bakar dan Umar atas hadis-hadis Nabi saww, yang telah ditulis oleh sebagian sahabat dan mereka telah mengumpulkannya. Dan hadis itu dibuat di zaman terakhir dari masa Khulafa ar-Rasyidin, dan para pembuat hadis palsu itu lengah dari beberapa perkara berikut ini :

1. Seandainya shahih ar-Risalah Rasulullah saww, telah mengatakan hadis tersebut niscaya para sahabat yang menulis dari beliau pasti mentaati perintah beliau dan mereka telah menghapusnya sebelum Abu Bakar dan Umar memerintahkan pembakarannya setelah beberapa tahun setelah wafat Nabi Muhammad saww.

2. Seandainya hadis tersebut shahih, niscaya Abu Bakar pada tahap pertama, pasti menjadikannya dalil, kemudian Umar pada tahap kedua, untuk menguatkan pencegahan keduanya terhadap penulis hadis-hadis dan penghapusannya, dan pasti para sahabat yang telah terlanjur menulisnya akan mengemukakan alasan tidak tahu atau lupa.

3. Seandainya hadis tersebut shahih, maka wajib atas Abu Bakar dan Umar untuk memerintahkan agar mereka menghapus hadis-hadis bukan membakarnya.

4. Seandainya hadis tersebut shahih, maka kaum Muslimin semenjak masa Umar bin Abdul Aziz sampai masa kita sekarang ini, semuanya berdosa karena mereka telah melanggar larangan Rasulullah saww, dan paling pokoknya adalah Umar bin Abdul Aziz yang telah memerintahkan para Ulama di masanya untuk mengumpulkan hadis-hadis dan penulisannya, begitu juga Bukhari Muslim yang telah mengesahkan hadis tersebut, kemudian mendurhakainya dan menulis beribu-ribu hadis dari Nabi Muhammad saww.

5. Akhirnya, seandainya hadis tersebut shahih, pasti ia tidak akan terlapaskan dari pintu kota ilmu,

—————————–

1. Muslim, VIII, hal.229.

yakni ‘Ali bin Abi Thalib yang telah mengumpulkan hadis-hadis Nabi saww, Dalam lembarannya yang panjangnya 70 hasta, dan dia menamakannya al-Jami’ah. (Pembicaraan ini akan datang pada gilirannya).

Kedua. Para penguasa Muawiyah telah berusaha menguatkan anggapan bahwa Rasulullah saww, itu tidak maksum dari kesalahan, dan beliau sebagaimana manusia biasa yang kadang salah dan kadang benar. Mereka telah meriwayatkan dalam perkara ini hadis-hadis yang banyak. Sedang tujuan pembuatan hadis-hadis tersebut ialah untuk pengukuhan terhadap paham bahwa Nabi saww, itu melakukan ijtihad dengan pendapatnya, dan beliau sering keliru yang sebagian beliau serukan pada sebagian sahabat untuk meluruskan pendapat beliau. Sebagaimana hal itu telah diriwayatkan dalam hal pengcangkokan kurma, turunnya ayat hijab memintakan ampun buat orang Munafiqin, penerimaan fidyah tawanan Badar dan lain-lainnya yang telah didakwahkan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah dalam shahih mereka dan yang mereka jadikan keyakinan terhadap shahib ar-Risalah (saww).

Kami katakan kepada Ahlussunnah wal Jama’ah, “Jika demikian itu agama dan aqidah kalian terhadap Rasulullah saww, maka bagaimana kalian menyeruhkan untuk berpegang pada sunahnya, sedang sunahnya menurut kalian dan menurut para pendahulu kalian tidaklah maksum, bahkan tidak dikenal dan tidak tertulis…! *1. Sudah tentu kami akan meolak tuduhan-tuduhan dan kedustaan-kedustaan tersebut dan membatalkannya berdasarkan dari kitab-kitab kalian sendiri da shahih kalian. *2

Bukhari telah meriwayatkan dalam shahih-nya dari kitab ilmu, bab penulis ilmu

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi saww, yang telah banyak meriwayatkan hadis dari padaku, selain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, sesungguhnya dia dapat menulis sedang aku tidak.” *3

Dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa dari kalangan sahabat Nabi saww ada yang menulis hadis-hadisnya. Apabila Abu Hurairah meriwayatkan lebih banyak dari 600 hadis dari Nabi saww secara lisan, maka sesungguhnya Abdullah bin Amr lebih banyak meriwayatkan hadis Nabi saww daripada dirinya karena dia dapat menulis, dan tidak dapat diragukan bahwa di kalangan para sahabat banyak yang menulis hadis-hadis dari Nabi saww, sedangkan Abu Hurairah tidak menyebutkan mereka, karena mereka tidak terkenal dengan periwayatan yang banyak dari Nabi saww. Apabila kita tambahkan mereka itu dengan Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang telah membentangkan dari atas mimbar satu lembaran yang dia namakan al-Jami’ah (kumpulan), yang telah terkumpul di dalamnya semua yang dibutuhkan umat manusia dari hadis Nabi saww, dan telah diwariskan kepada para Imam Ahlulbait (salam atas mereka) dan yang banyak diriwayatkan oleh mereka. Imam Ja’far ash-Shadiq telah berkata, “Sesungguhnya pada kami satu lembaran yang panjangnya 70 hasta, yang merupakan pendekatan Rasulullah saww, dan tulisan ‘Ali dengan tangannya, yang tidak ada hal yang halal dan haram, dan tidak ada sesuatu yang dibutuhkan manusia dan tidak ada satu ketentuan kecuali semuanya telah tercantum di dalamnya sehingga perkara kecurangan terhadap lalat.”1

————————————————————

*1. Karena pengumpulan sunah Nabi tertunda sampai zaman Umar bin Abdul Aziz atau setelahnya, adapun khalifah sebelumnya telah membakarnya dan mencegah penulisan dan periwayatannya.

*2. Yang anehnya, bahwa Ahlussunnah banyak meriwayatkan hadis dan juga membatalkannya dalam kitab itu sendiri, dan yang lebih aneh dari itu ialah mereka mengamalkan yang dusta dan meninggalkan yang shahih.

*3. Shahih Bukhari, I, hal, 36, bab Kitab Ilmu.

1. Ushul Kafi, I, hal. 239.

Bukhari sendiri telah mengisyaratkan dalam shahih-nya kepada lembaran yang ada pada ‘Ali itu dalam banyak bab dari kitabnya. Tetapi sebagaimana kebiasaan Bukhari bahwa ia telah memotong banyak keistimewaan dan kandungannya. Dan bab kitabatul-Ilmi, Bukhari mengatakan, “Dari Syi’bi dari dari Abu Junafah dia berkata’ Saya bertanya pada ‘Ali, apakah pada kalian ada kitab?’ Dia menjawab, Tidak, kecuali Kitab Allah Swt, atau pengertian yang saya berikan pada seorang Muslim atau apa yang ada pada lembaran ini. ‘Saya bertanya, ‘Aapa yang di dalam lembaran itu? Dia menjawab. ‘Akal dan pemecahan masalah tawanan dan tidak boleh orang Muslim dibunuh lantaran orang kafir.”1

Sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahih Bukhari di bagian lain:

Dari al-A’mas dari Ibrahim at-Taimy dari bapaknya dari ‘Ali, dia berkata, “Tidak ada pada kita sesuatu pun selain hanyalah Kitab Allah Swt, dan lembaran dari Nabi saww ini.”2

Juga dibagian lain shahih Bukhari telah diriwayatkan :

Dari Ibrahim at-Taimy dari bapaknya, dia berkata,”Tidak ada pada kami yang dibaca selain kitab Allah Swt dan apa yang ada dalam lembaran ini.”3

Bukhari telah meriwayatkan dalam bab lain dari shahih-nya yakni :

Dari ‘Ali ra, dia berkata, “Kami tidak menulis dari Rasulullah saww selain Al-Qur’an dan apa yang ada dalam lembaran ini.” 4

Sebagaimana telah diriwayatkan pula oleh Bukhari dalam bab yang lain:

Dari Ibrahim at-Taimy dari bapaknya, dia berkata, Imam ‘Ali as pernah berkotbah di atas satu mimbar yang terbuat dari tanah dan dia memegang pedang yang terkait padanya suatu lembaran lalu dia berkata, “Demi Allah Swt, tidak ada pada kita satu kitab yang dapat dibaca selain kitab Allah Swt dan apa yang ada dalam lembaran ini.” *1

Dan Bukhari tidak pernah meriwayatkan apa yang disampaikan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq bahwa lembaran tersebut dinamakan al-Jami’ah (kumpulan), sebab telah tekumpul di dalamnya seluruh keterangan yang halal dan haram, dan terkandung di dalamnya segala yang dibutuhkan oleh manusia sehingga perkara kecurangan terhadap seekor lalat, dengan pendekatan dari Rasulullah saww dan tulisan ‘Ali bin Abi Thalib. Bukhari hanyalah meringkas dengan kata-kata bahwa di dalamnya akal dan penyelesaian tawanan serta tidak boleh orang Muslim dibunuh lantaran orang kafir. Dalam kesempatan lain, dia menyatakan , ‘Ali telah menentangnya, maka di dalamnya ada gigi Unta, dan di dalamnya kota Madinah haram…. dan di dalamnya jaminal orang-orang Muslimin satu dan di dalamnya barangsiapa memerintah suatu umat tanpa seizin penguasanya….”

Sesungguhnya itu adalah merupakan pemalsuan kata-kata dan penyembunyian kebenaran, kalau tidak demikian, apakah masuk akal kalau ‘Ali menuliskan keempat bentuk kata-kata tersebut dalam lembarannya dan mengaitkannya pada pedangnya dan membiasakannya ketika berkotbah di atas mimbar dan menjadikannya sebagai rujukan kedua serelah kitab Allah Swt, dan dia berkata pada manusia,”Kami tidak menulis dari Nabi saww, selain Al-Qur’an dan apa yang ada di dalam lembaran ini…?”

—————————————–

1. Shahih Bukhari, I, hal. 36.

2. Shahih Bukhari, II, hal. 221.

3. Shahih Bukhari, IV, hal. 67. dan Shahih Muslim, IV, hal. 115.

4. Shahih Bukhari, IV, hal. 69.

*1. Shahih Bukhari, VIII, hal. 144.

Apakah akal Abu Hurairah itu lebih besar dari akal ‘Ali bin Aabi Thalib, yang mana ia dapat menghafal dari Rasulullah seratus ribu hadis tanpa tulisan …? Sungguh mengherankan, demi Allah Swt, perihal mereka itu yang mau menerima seratus ribu hadis dari Abu Hurairah yang tidak menyertai Nabi kecuali hanyalah tiga tahun, sedangkan dia dapat membaca dan menulis, dan mereka menganggap ‘Ali sebagai pintu kotanya ilmu, yang darinya para sahabat mendapatkan bermacam-macam ilmu dan pengetahuan, kemudian dia membawa lembaran yang hanya berisi empat hadis itu, yang senantiasa menyertainya dari semasa hidup Rasulullah saww sampai masa kekhalifahannya, lalu ia membawanya naik mimbar dan dikaitkan pada pedangnya…? Sungguh besar kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak berkata kecuali hanyalah kedustaan.

Atas apa yang diriwayatkan Bukhari itu, cukuplah bagi para peneliti dan cendekiawan, yaitu ketika dia menyebutkan bahwa di dalamnya akal. Ini adalah merupakan suatu dalil bahwa di dalam lembaran itu termuat banyak perkara yang mengistimewakan manusia dan pemikiran Islam. Kami tidak akan menunjukkan dalil bagi apa yang ada dalam lembaran tersebut, penduduk Mekkah itu lebih tahu terhadap kandungan garis besarnya dan Ahlulbait itu lebih tahu terhadap kandungan garis besarnya dan Ahlulbait itu lebih tahu terhadap apa yan terkandung di dalamnya, dan mereka telah mengatakan bahwa di dalamnya terkandung semua apa yang dibutuhkan umat manusia dari hal halal dan haram sampai perkara kecurangan terhadap lalat.

Tetapi yang kami menghendaki pembahasan para sahabat itu, mereka telah menulis hadis-hadis Nabi saww. Ucapan Abu Hurairah bahwa Abdullah bin Amr menulis hadis-hadis Nabi saww, dan perkataan ‘Ali bin Abi Thalib, “Kami tidak menulis dari Rasulullah selain Al-Qur’an dan apa yang ada di dalam lembaran ini, adalah merupakan dalil yang pasti, bahwa Rasulullah saww, tidak pernah melarang penulisan hadis-hadisnya selama-lamanya, bahkan sebaliknya yang benar.” Hadis yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya, “Jangan kalian menulis dariku, dan siapa yang menulis dariku selain Al-Quran, hendaklah menghapusnya,” ini adalah hadis dusta yang telah dibuat oleh para pendukung Khulafa ar-Rasyidin untuk mengkokohkan dan membenarkan apa yang telah dilakukan Abu Bakar, Umar dan Utsman dalam pembakaran hadis-hadis Nabi saww, dan pencegahan terhadap tersiarnya sunah. Perkara yang menambah kemantapan terhadap keyakinan bahwa Nabi saww, tidak pernah melarang penulisan hadis-hadisnya bahkan beliau memerintahkannya, ialah apa yang telah diucapkan oleh Imam “Ali, yakni orang yang terdekat dengan Nabi Saww, yaitu “Kami tidak menulis dari beliau selain Al-Qur’an dan apa yang ada dalam lembaran ini,” Dan juga hadis yang telah dishahihkan oleh Bukhari.

Dan bila ini ditambah dengan ucapan Imam Ja’far ash-Shadiq bahwa lembaran al-Jami’ah itu adalah merupakan pendekatan Rasulullah dan tulisan ‘Ali, maka berarti bahwa Nabi saww telah memerintah ‘Ali untuk penulisan itu. Agar tidak ada keraguan yang tersisa dalam diri Anda, wahai para pembaca yang mulia! Saya tambah dengan riwayat berikut ini : Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadrak-nya, dan Abu Daud dalam Shahih-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Daramy dalam sunah-nya, mereka semuanya telah meriwayatkan satu hadis penting sekali tentang kekhususan Abdullah bin Amr yang disebut oleh Abu Hurairah bahwa ia adalah menulis dari Nabi Saww sebagai berikut :

Abdullah bin Amr berkata, “Aaku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah saww, maka orang Quraisy mencegahku dan mereka berkata, ‘Apakah engkau menulis segala sesuatu yang engkau dapat dari Rasulullah padahal dia adalah seorang manusia yang berbicara dalam situasi marah dan senang (rela). ‘Abdullah berkata, ”Aku pun menahan diri dari penulis, lalu aku adukan hal itu kepada Rasulullah saww. Maka beliau mengisyaratkan ke mulut beliau sambil berkata, ‘Tulislah, demi zat yang diriku berada dalam tangan-Nya, tidaklah keluar darinya yakni mulut Nabi saww selain hanyalah kebenaran.”*1

Kita perhatikan dari kandungan hadis tersebut bahwa Abdullah bin Amr adalah penulis segala yang didengar dari Nabi saww, dan Nabi saww pun tidak melarangnya, dan sesungguhnya pelarangan itu hanya darang dari orang-orang Quraisy, sedang Abdullah bin Amr tidak menjelaskan nama-nama orang yang telah melarang penulis itu, sebab dalam pelarangan tersebut mengandung pencelaan terhadap Rasulullah saww, sebagaimana yang tak dapat disembunyikan lagi, maka dia pun mengarahkan ucapannya bahwa mereka adalah orang-orang Quraisy. Yang dimaksud dengan Quraisy. Yang dimaksud dengan Quraisy tersebut adalah para pemukanya dari kelompok Muhajirin, yang menjadi tokohnya Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah, Thalhah dan Zubeir serta orang-orang yang mengikuti pandangan mereka.

Sebagaimana yang dapat kita perhatikan bahwa pelarangan penulisan terhadap Abdullah adalah di masa hidup Nabi Saww. Ini adalah hal yang menguatkan dalam persekongkolan buruk tesebut dan kejahatannya. Kalau tidak begitu, mengapa mereka sengaja melarang Abdullah dari penulisan tanpa merujuk kepada Nabi saww sendiri? Seperti apa yang dapat dipahami juga dari ucapan mereka, “Sesungguhnya Rasulullah itu seorang manusia yang berbicara dalam situasi marah dan senang, “ menunjukkan akidah mereka terhadap Nabi saww, sangatlah tercela sampai pada tingkat mereka meragukan beliau dengan anggapan bahwa beliau itu berkata salah dan menetapkan hukum secara zalim khususnya ketika marah. Apa yang diucapkan Nabi saww ketika Abdullah bin Amr mengadukan pada beliau tentang pribadi beliau, lalu beliau bersabda, Tulislah, demi zat yang diriku pada tangan-Nya, tidaklah keluar darinya selain hanyalah kebenaran”– beliau sambil mengisyaratkan pada mulut beliau, ini adalah merupakan satu bukti yang lain bagi pengetahuan Rasul terhadap keraguan mereka tentang keadilan beliau dan bahwa mereka memungkinkan bagi beliau untuk berbuat salah dan berkata batil. Maka beliau pun bersumpah dengan atas nama Allah SWT, bahwa tidak pernah keluar dari mulut beliau kecuali hanyalah kebenaran. Ini adalah merupakan penafsiran yang shahih dari yang telah dinyatakan dalam firman Allah SWT, Dan dia tidak berbicara karena hawa nafsu, Kecuali wahyu yang telah diwahyukan.” (QS. Najm:3-4)

Sesungguhnya beliau Saww, adalah maksum dari segala kesalahan dan perkataan yang batil. Dengan ini maka kami menetapkan bahwa seluruh hadis dan riwayat yang telah dibuat di zaman Umawiyin dan yang menyimpulkan bahwa beliau tidak maksum adalah tidak shahih sama sekali. Sebagaimna hadis yang disebutkan, menunjukkan pada kita bahwa pengaruh mereka terhadap diri Abdullah bin Amr sangat besar sehingga dia menahan diri dari penulisan seperti yang dia nyatakan sendiri tatkala dia berkata, “Maka aku menahan diri dari penulisan.”

Dan dia tetapkan begitu sehingga datang kesempatan baginya untuk menghadap Rasul sendiri dalam rangka menghilangkan keraguan yang menyangkut sekitar kemaksuman dan keadilan beliau, dan telah banyak menjangkit sehingga di hadapan beliau, seperti ucapan mereka kepada Nabi saww secara terang-terangan, “Apakah engkau Nabi saww yang sebenarnya…?’1 Atau ucapan,”Engkaulah yang mengaku Nabi ?”2 Atau kata-kata, “Demi Allah, dia tidak karena Allah Swt, dalam pembagian ini.”3 Atau seperti ucapan ‘Aisyah pada Nabi,” Sesungguhnya Tuhanmu menguatkan hawa nafsumu.”4

————————————-

*1. Mustadak Hakim, I, hal. 105, Sunan Abu Daud, II, hal.126, Sunan Daramy, I, hal.125, dan Musnad Ahmad, II, hal.162.

Saya menggolongkan yang lainnya itu termasuk ungkapan kata-kata yang tidak layak, yang menyatakan tentang keraguan terhadap kemaksuman beliau dan tentang akidah mereka bahwa beliau berbuat durhaka, Zalim, salah dan dusta. Na’udzu billah.

Beliau adalah pemilik budi pekerti mulia yang sangat kasih sayang, yang seringkali menghapuskan perkara yang meragukan itu dengan sabdanya, “Aku ini hanyalah hamba yang diperintah.” dan di saat lain beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling taat pada Allah dan paling takwa,” dan dalam kesempatan lain beliau bersabda .”Demi zat yang diriku pada tangan-Nya, tidaklah keluar darinya–yakni mulut beliau–selain hanyalah kebenaran ,” dan kebanyakan yang beliau ucapkan adalah “Semoga Allah Swt, menghasihi saudaraku Musa, dia telah disakiti lebih banyak dari ini, tetapi ia tetap tabah.

Kalimat-kalimat yang tidak layak itu, yang menodai kemaksuman beliau dan meragukan kenabian beliau adalah bukan keluar dari orang-orang yang remeh dari orang-orang munafik, tapi justru sangat disayangkan, ia keluar dari para pemuka sahabat dan dari Ummul Mukminin dan orang-orang yang menurut Ahlussunnah wal Jama’ah berkedudukan sebagai pemimpin dan contoh teladan yang baik. La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyil azhim.

Sebagain yang dapat menguatkan keyakinan kita, bahwa hadis, “Janganlah kalian menulis dariku…,” adalah hadis palsu atau dusta, yang tidak memiliki asas-asas keshahihannya dan tidak pernah diucapkan Rasulullah secara mutlak, yakni bahwa Abu Bakar sendiri telah menulis dari Rasulullah saww sebagaian hadis-hadis, yang telah ia kumpulkan di masa Nabi kemudian setelah dia memegang kekhalifahan, segera dia membakarnya demi satu kepentingan yang tidak dapat disembunyikan lagi bagi para peneliti, Inilah putrinya ‘Aisyah telah berkata,”Bapakku telah mengumpulkan hadis Rasulullah, jumlahnya 500 hadis, kemudian dia dalam kegelisahaan, lalu saya berkata, dia gelisah karena suatu pengaduan atau karena sesuatu telah sampai padanya. Maka ketika pagi hari dia berkata, ‘Hai putriku, bawalah ke sini hadis-hadis yang ada padamu, lalu sayapun datang membawanya, kemudian dia membakarnya.”*1 Dan juga inilah Umar bin Khathab di masa kekhalifahannya, dia berkhotbah pada suatu di hadapan umat manusia, dia mengatakan , “Tidak boleh seorang pun yang masih tinggal padanya kitab kecuali harus membawanya kepadaku, aku akan memeriksanya dengan penilaianku.” Tidak boleh seorang pun yang masih tinggal padanya kitab kecuali harus membawanya kepadaku, aku akan memeriksanya dengan penilaianku.” Maka mereka –para sahabat– mengira bahwa ia akan memeriksa kandungannya untuk diluruskan agar tidak ada di dalamnya perkara yang saling bertentangan, lalu mereka menyerahkan kitab-kitab mereka kepadanya, kemudian ia membakarnya dengan api.*2

Ia pun telah mengirim utusan ke kota-kota untuk memerintahkan siapa yang memiliki sesuatu tulisan, hendaklah menghapusnya.*3 Itu adalah merupakan bukti terbesar bahwa para sahabat umumnya memiliki kitab-kitab yang di dalamnya terkumpul hadis-hadis Nabi yang ditulis di masa Nabi, kemudian semuanya dibakar dengan perintah Abu Bakar pada periode pertama, lalu Umar pada periode kedua dan dihapus sisa kitab yang masih ada di kota-kota lain dengan perintah Umar di masa kekhalifahannya.

———————————————

1. Ucapan Umar ketika perdamaian Hudaibiyah, riwayat Bukhari, II, hal.122.

2. Ucapan ‘Aisyah bin Abu Bakar dalam Ihya’ul Ulum, al-Ghazali, II, hal.29

3. Ucapan seorang sahabat Anshar, riwayat Bukhari, IV, hal. 47.

4. Shahih Bukhari, VI, hal. 24.

*1. Kanzul Umal, V, hal. 237, dan Ibnu Katsir dalam Bidayah.

*2. Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’id, V, hal. 188

*3. Jami’ul Bayan al-Ilmi, Ibnu Abd al-Bar.

Atas dasar ini, maka tidak mungkin bagi kita atau bagi siapa saja yang berakal untuk membenarkan bahwa Rasulullah telah melarang penulisan hadis setelah kita katahui bahwa kebanyakan sahabat memiliki kitab-kitab hadis, khususnya lembaran yang senantiasa bersama Imam ‘Ali yang panjangnya 70 hasta dan dia namakan al-Jami’ah, sebab ia mengumpulkan seluruhnya. Karena penguasa yang memerintah dan politik yang berjalan, kemaslahatannya menghendaki penghapusan sunah Nabi saww dan pembakarannya serta meniadakan periwayatannya, maka para sahabat yang menjadi pendukung kekhalifahan tersebut, mereka mematuhi segala perintah itu dan menjalankannya, sehingga tidak ada yang tersisa pada mereka dan tidak pula pada pengikut mereka selain hanyalah ijtihad dengan pendapat atau mengikuti sunah Abu Bakar, sunah Umar, sunah Utsman, Muawiyah, Yazid, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan, al-Walid bin Abdul Malik, dan sunah Sulaiman bin Abdul Malik, sampai datangnya masa Umar bin Abdul Aziz. Lalu ia meminta kepada Abu Bakar al-Huzami untuk menulis baginya apa yang dari hadis Rasulullah atau sunahnya atau sunah Umar bin khathab.1

Demikian itu nyata bagi kita bahwa penulisan sunah itu tertunda sampai pada situasi yang memungkinkan dan setelah berlalunya ratusan tahun dalam penghapusan dan pelarangannya, baru kita dapat melihat penguasa Umawiy yang dianggap adil dan yang digolongkan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah ke dalam Khulafa ar-Rasyidin, memerintahkan pengumpulan sunah Rasulullah saww, dan sunah Umar bin Khathab, sepertinya Umar bin Khathab itu dianggap sebagai pasangan Muhammad dalam kerasulan dan kenabiannya. Mengapa Umar bin Abdul Aziz itu tidak mau meminta kepada para Imam Ahlulbait yang hidup di zamannya untuk memeberikan padanya tulisan dari lembaran al-Jami’ah, dan mengapa dia tidak menginginkan mereka untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi saww, padahal mereka adalah orang-orang yang paling tahu tentang hadis datuk mereka daripada selain mereka…? Para pengamat dan peneliti tentunya mengetahui rahasia itu semua.

Bisakah kemantapan di dapat pada hadis-hadis yang telah dikumpulkan oleh Ahlussunnah wal Jama’ah dari Umayyah dan para pendukungnya itu, yang mereka adalah merupakan penguasa Quraisy, sedang kita telah ketahui hakikat Quraisy dan akidahnya terhadap Rasulullah saww, dan sunah beliau yang suci…? Setelah ini, menjadi jelaslah bahwa penguasa yang memerintah dalam masa-masa pemerintahannya itu telah melakukan ijtihad dan qias serta musyawarah antara sebagaian mereka. Dan karena penguasa telah memojokkan Imam ‘Ali dari kebebasan hidup dan telah mengabaikannya, maka penguasa tidak mempunyai kemampuan memerintah atas dirinya untuk membakar apa yang telah dia tulis di masa kerasulan dengan pendektean dari Nabi saww, sendiri. ‘Ali bin Abi Thalib tetap masih memelihara lembaran tersebut yang tekumpul di dalamnya segala yang dibutuhkan manusia sehingga perkara lalat, dan tatkala ia memegang tampuk kekhalifahan, ia mengaitkannya pada pedangnya dan ia naik ke atas mimbar untuk berkotbah di hadapan umat manusia dan memperkenalkan pentingnya lembaran tersebut.

Riwayat tersebut sudah mutawatir (terkenal) dari para Imam Ahlulbait alaihimussalam, bahwa mereka saling mewarisi lembaran itu, bapak dari datuk, yang besar dari yang terbesar dan mereka memberi fatwa dalam masalah-masalah yang dibutuhkan oleh umat di masanya dengannya, dari kalangan orang yang mengikuti bimbingan mereka. Oleh sebab itu Imam Ja’far ash-Shadiq dan Imam ar-Ridha serta lainnya dari para Imam, mereka selalu menyebut-nyebut kata-kata tersebut dengan keistimewaannya dan mereka berkata, “Sungguh kami tidak memberi fatwa pada manusia dengan pendapat kami, seandainya kami berfatwa pada manusia dengan pendapat kami dan keinginan nafsu kami niscaya kami termasuk orang-orang yang binasa, tetapi itu adalah peninggalan dari Rasulullah saww.

——————————————–

1. Al-Muathak, Imam Malik, I, hal. 5

Pemilik ilmu kami saling mewarisi yang besar dari yang terbesar, dan kami menjaganya sebagaimana manusia menjaga emas dan perak mereka.”1

Pada kali ini Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku, hadis bapakku adalah hadis datukku, hadis datukku adalah hadis Husein, hadis Husein adalah hadis al-Hasan, hadis al-Hasan adalah hadis Amirul Mukminin, hadis Amirul Mukminin adalah hadis Rasulullah saww, dan hadis Rasulullah adalah firman Allah Azza wajalla.”2 Dengan ini semua, maka hadis Tsaqalain yang telah Mutawatir yakni, “Aku tinggalkan pada kalian dua beban berharga yaitu Kitabullah dan keturunanku, selama kalian berpegang pada keduanya niscaya tidak akan sesat selama-lamanya setelahku,”3 Ini kebenaran yang tidak ada selainnya kecuali kesesatan, dan itu sunah Nabi saww, yang shahih tidak ada penjaga dan pemelihara serta penegak selain para Imam yang suci dari Ahlulbait al-Musthafa al-Mukhtar.

Seperti yang dapat disimpulkan dari sini, bahwa Syi’ah Ahlulbait yang berpegang pada Ahlulbait yang suci tersebut, mereka itu adalah Ahlussunnah Nabi saww yang sesungguhnya, dan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang mendakwahkan sesuatu yang tidak layak bagi mereka dan dakwaan mereka itu tidak berdasarkan hujah dan dalil.

————————————————————————–

1. Maalim al-Madrasatain, al-Allamah al-Askari, II, hal. 302.

2. Ushul al-Kafi, I, hal. 53

3. Shahih Muslim, V, hal. 122, dan Turmudzi, V, hal. 637.

Imam Mazhab yang empat dari Ahlussunnah mereka juga telah menyimpang dari Kitabullah dan sunah Nabi saww yang mewajibkan atas mereka untuk mengikuti keluarga Nabi saww

Yang menunjukkan kita bahwa para Imam Mazhab yang empat dari Ahlussunnah mereka juga telah menyimpang dari Kitabullah dan sunah Nabi saww yang mewajibkan atas mereka untuk mengikuti keluarga Nabi saww yang suci ialah kita tidak mendapati satu orang dari mereka yang memuliakan dan menumpang pada perahu Ahlulbait dan mengenal imam zamannya. Inilah Abu Hanifah yang pernah belajar pada Imam Shadiq yang telah termasyhur dengan ucapannya, “Seandainya tidak karena dua tahun (yakni belajar pada Imam Shadiq) niscaya binasalah Nu’man (Abu Hanifah).” Kita dapati dia telah menciptakan satu mazhab yang berdiri atas qias dan beramal dengan dasar pendapat yang berlawanan dengan nas-nas yang jelas.

Dan inilah Malik yang pernah belajar dari Imam Shadiq, dan ucapannya telah diriwayatkan yakni, “Tidak ada mata yang dapat melihat dan tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far ash-Shadiq.” Kita dapati ia telah menciptakan satu mazhab dalam Islam dan ia meninggalkan Imam zamannya yang ia sendiri telah menyatakan bahwa dia lebih berilmu dan lebih pandai dimasanya. Dan ia telah tergoda oleh para penguasa zhalim Abasiyah dan mereka menamakan dirinya sebagai Imam Darul Hijrah (Imam Madinah). Maka selain itu Malik menjadi orang yang memiliki kebesaran dan kekuasaan serta pengaruh dan penghormatan.

Dan juga inilah Syafi’i yang disangkakan bahwa dia mengikuti Ahlulbait, maka ia telah mengatakan tentang hak mereka dalam bait-bait syairnya yang termasyhur :

Hai Ahlulbait Rasulullah,

mencintai kalian adalah fardu dari Allah,

tersebut dalam Al-Qur’an yang telah diturunkan.

Cukuplah merupakan keagungan karunia bagi kalian,

bahwa orang yang tidak berselawat atas kalian,

tidaklah akan diterima shalatnya.

Sebagaimana pujiannya terhadap Ahlulbait as yang termasuk dalam bait berikut ini :

Tatkala aku melihat manusia binasa dengan mazhabnya

dalam lautan kedurakaan dan kejahilan, maka atas nama Allah, aku menumpang bahtera keselamatan, yakni Ahlulbait al-Musthafa, Pengulu para Rasul. Dan aku pegang erat tali Allah, yaitu mencintai mereka, sebagaimana telah diperintahkan berpegang pada tali itu.

Dan ucapannya yang termasyhur yakni. “Jika Rafidhi itu adalah mencintai keluarga Nabi Muhammad saww, maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa aku ini adalah Rafidhi.

Jika jin dan manusia menyaksikan bahwa dia Rafidhi, mengapa dia tidak menolak mazhab-mazhab yang berdiri menentang Ahlulbait, bahkan dia sendiri telah mengadakan mazhab lain yang menyangkut namanya dan dia meninggalkan para imam Ahlulbait yang sezamannya…?

Dan inilah Ahmad bin Hanbal yang telah memasukkan ‘Ali ke dalam empat Khalifah dan yang telah menggolongkan dalam kelompok Rasyidin setelah dulunya diingkari dan yang telah menulis tentangnya kitab Fadhail dan yang telah termasyhur ucapannya, “Tidak seorang dari para sahabat yang memiliki keutamaan dengan sanad yang shahih seperti Imam ‘Ali as.” Tapi dia sendiri telah menciptakan satu mazhab di dalam Islam yang namanya mazhab Hambali, tetapa pun para ulama dimasanya menyatakan bahwa dia bukan orang yang faqih. Syekh Abu Zuhrah telah menyatakan, “Sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang terkemuka tidaklah menganggap Ahmad bin Hanbal termasuk golongan fuqaha, seperti Ibnu Qutaibah padahal dia adalah orang yang sangat terdekat zamannya dan juga Ibnu Jari at-Thabari dan yang lainnya.”[1]

Kemudian datanglah Ibnu Taimiyah, dan ia mengangkat bendera mazhab Hambali dan ia memasukkan di dalamnya beberapa pandangan baru yang mengharamkan ziarah kubur dan mendirikan bangunan di atasnya, dan bertawassul dengan Nabi saww dan Ahlulbaitnya, menurutnya semuanya itu adalah syirik. Demikian itulah keempat mazhab beserta para Imam mereka dan ucapan-ucapan yang disandarkan pada mereka tentang hak keluarga suci dari Ahlulbait Nabi saww.

Adapun tentang apakah mereka telah mengatakan perkara yang mereka tidak laksanakan, dan itu adalah merupakan kemurkaan yang besar di sisi Allah, atau mereka sebenarnya tidak mengadakan mazhab-mazhab tersebut tapi para pengikutnya yang dari para pengekor Umawiyah dan Abasiyah adalah yang telah membina mazhab-mazhab itu dengan bantuan para penguasa zalim, kemudian mereka menyandarkannya kepada dirinya setelah wafat mereka. Inilah yang insya Allah akan kita ketahui dalam pembahasan mendatang.

Aapakah kalian tidak heran terhadap mereka para imam itu yang hidup sezaman dengan para Imam al-Huda dari Ahlulbait, kemudian mereka menyimpang dari jalannya yang lurus dan tidak mengambil pelita dari cahayanya serta tidak mengemukakan hadis yang berasal dari datuknya Rasulullah saww, bahkan mereka mengutamakan Ka’ab seorang pendeta Yahudi dan Abu Hurairah ad-Dausi yang pribadinya telah dikatakan oleh Amirul Mukminin Imam ‘Ali as, dengan pernyataannya, “Sesungguhnya orang yang paling dusta pada Rasulullah adalah Abu Hurairah ad-Dausi.” Sebagaimana hal itu telah dikatakan pula oleh ‘Aisyah binti Abu Bakar.

Dan mereka lebih mengutamakan Abdullah bin Umar orang Nashibi yang terkenal kebenciannya ia membaiat pemimpin kesesatan al-Hajjaj bin Yusuf. Dan mereka mengutamakan Amr bin Ash mentrinya Muawiyah dalam kedurhakaan dan kemunafikan. Apakah Anda tidak heran, bagaimana mereka para imam itu dapat melapangkan diri mereka hak dalam penentuan syariat agama Allah dengan dasar pendapat dan ijtihad mereka sendiri, sehingga mereka merusak sunah Nabi saww dengan apa yang mereka diada-adakan dengan qias dan kebijaksanaan serta penutupan pintu syafa’at dan kemaslahatan yang meluas dan yang lainnya yang merupakan bid’ah mereka yang tidak ada wewenang dari Allah SWT.

Adakah Allah dan Rasul-Nya telah melangkahkan dari penyempurnaan agama dan membolehkan bagi mereka untuk menyempurnakannya dengan ijtihad mereka sehingga mereka boleh menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana yang mereka lakukan…? Apakah Anda tidak heran terhadap sebagian kaum Muslim yang mendakwahkan berpegang pada sunah, bagaimana mereka bertaqlid pada orang-orang yang tidak menganal Nabi saww dan tidak pula dikenalnya…?

Adakah mereka mempunyai dalil dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya untuk mengikuti dan bertaqlid pada ke empat Imam pemilik mazhab-mazhab itu? Saya berani menentang pada bangsa manusia dan jin untuk mendatangkan satu dalil/bukti atas hal itu dari Kitabullah atau sunah Rasul-Nya. Demi Allah SWT, sekali-kali mereka tidak akan bisa menunjukkannya walaupun sebagian mereka saling bantu -membantu. Demi Allah, tidak ada satu dalil pun dalam Kitabullah dan sunah Rasul-Nya selain hanyalah untuk mengikuti dan bertaqlid pada para imam suci dari keluarga Nabi saww. Adapun tentang Ahlulbait banyak dalil dan hujjah yang terang serta kebenaran yang nyata.

Maka perhatikanlah wahai orang yang memiliki pandangan. (Qs. al-Hasr:2) Sesungguhnya ia tidak buta pengelihatan tetapi buta hati yang ada dalam dada. (QS. al-Haj:46).

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim.

Apabila kita kecualikan sebagian orang yang fanatik dari awamnya Syi’ah, yang menganggap seluruh Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai golongan Nawashib, maka kebanyakan ulama mereka yang dahulu dan sekarang adalah tetap meyakini nahwa saudara mereka dari Ahlussunnah wal Jama’ah itu adalah merupakan korban kedustaan dan tipu daya orang-orang Umawiyah. Sebab mereka berbaik sangka terhadap para pendahulu yang dianggap saleh dan mengikuti tanpa penelitian dan pertimbangan, sehingga mereka sesat dari jalan yang lurus dan dijauhkan dari Tsaqalain (dua peninggalan berharga)–yakni Kitabullah dan keluraga yang suci– yang keduanya dapat memelihara orang yang berpegang padanya dari kesesatan dan menjamin mereka terbimbing ke jalan yang benar.

Maka Anda lihat kebanyakan yang mereka tulis untuk mempertahankan diri dan memperkenalkan akidah mereka adalah dengan menyerukan kejujuran dan kesatuan dengan saudara mereka dari Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagaian ulama Syi’ah di beberapa negara dan kota-kota telah mempersiapkan para pembahas tentang metode yang tepat guna dalam rangka membentuk satu pengaturan dan lembaga pengajaran Islam untuk pendekatan antara mazhab-mazhab dan usaha membentuk persatuan. Sebagian mereka, telah menaruh perhatian serius terhadap pelurusan al-Azhar asy-Syarif, menara Ilmu dan pengetahuan bagi Ahlussunnah, dan mereka telah menemui para ulamanya dan mengadakan diskusi dengan mereka secara baik, seperti yang telah dilakukan oleh Imam Syarafuddin al-Musawi ketika ia bertemu dengan Imam Salimuddin al-Bisyri. Dari hasil pertemuan dan surat menyurat itu lahirlah satu kitab yang bagus yang dinamakan al-Muraja’at (Dialog Sunnah–Syi’ah-red), yang memiliki peranan besar dalam pendekatan pandangan di kalangan umat Islam. Sebagaimana kesungguhan para ulama Syi’ah telah berhasil di Mesir, maka Imam Mahmud Syaltut, Multi negara Mesir di saat itu mengeluarkan fatwanya yang sangat mengesankan dalam pembolehan ibdah dengan mazhab Syi’ah Ja’fari dan fiqih Syi’ah Ja’fari dijadikan materi pelajaran yang diajarkan di al-Azhar asy-Syarif.

Demikian itulah, kebiasaan Syi’ah dan Ulamanya, khususnya dalam memperkenalkan para imam Ahlulbait yang suci dan mazhab Ja’far yang merupakan Islam dengan seluruh maknanya. Mereka telah menulis dalam masalah tersebut berjilid-jilid dan beberapa keterangan, dan mereka telah menyelenggarakan untuk itu banyak penerbitan-penerbitan khususnya setelah revolusi Islam di Iran, telah diadakan muktamar-muktamar di Teheran dengan mengatasnamakan kesatuan Islam, dan mengatasnamakan pendekatan antara mazhab-mazhab. Semuanya merupakan seruan yang sesungguhnya untuk menghilangkan permusuhan dan kedengian serta untuk menambahkan ruh persaudaraan Islam dan penghormatan terhadap sesama umat Islam.

Setiap tahun muktamar kesatuan Islam itu mengundang para ulama dan pemikir dari golongan Syi’ah dan sunah, dan mereka hidup berminggu-minggu secara penuh dibawah naungan persaudaraan yang sebenarnya, mereka makan dan minum, mengerjakan shalat, berdoa dan saling tukar pandangan dan pemikiran, dan mereka saling memberi dan menerima. Seandainya muktamar itu tidak berperan selain melunakkan hati dan pendekatan sesama umat Islam, agar saling mengenal dan melenyapkan kedengian, niscaya hal itu mengandung kebaikan yang banyak dan keutamaan yang menyeluruh serta akan datang masanya memetik hasilnya, insya Allah.

Dan Anda bila memasuki satu rumah dari rumah orang-orang Ssyi’ah yang biasa, lebih-lebih rumah para ulama dan para pelajar, pasti Anda mendapati di dalamnya susunan kitab-kitab yang mencakup kitab tulsan Ssyi’ah berdampingan dengan kitab-kitab tulisan Ahlussunnah wal Jama’ah. Tapi sebaliknya, ahlussunnah wal Jama’ah jarang Anda dapati disisi ulama mereka kitab Syi’ah satu pun, kecuali hanya beberapa orang saja. Oleh sebab itu, mereka tidak mengetahui hakikat Syi’ah dan tidak mengetahui selain hanyalah yang dusta yang ditulis oleh para musuhnya. Sebagaimana orang Syi’ah biasa, Anda dapati kebanyakannya, mengetahui sejarah Islam dengan seluruh perputarannya dan sering ia berkumpul untuk menghidupkan peringatannya. Adapun orang Alim Sunni, Anda dapati sedikit saja yang memperhatikan sejarah, dan ia menganggapnya termasuk sumber keburukan yang tidak ia kehendaki mengungkitnya dan menampakkannya bahkan wajib mengabaikannya dan tidak mengambil perhatian padanya, karena hal itu dapat menimbulkan buruk sangka terhadap para pendahulu yang saleh. Dikarenakan ia telah memantapkan diri atau anggapannya dengan keadilan seluruh sahabat dan kesucian mereka, maka ia tidak mau menerima apa yang telah ditulis oleh sejarah tentang mereka.

Karena itu semua, Anda lihat ia tidak mau bersandar pada pembicara yang berdasarkan dalil dan bukti, Anda lihat ia, baik berusaha lari dari pembahasan karena ia lebih dahulu tahu akan kalah, atau ia akan mengalahkan perasaannya dan kecondongannya dan mendorong dirinya dalam pembahasan, lalu ia terpengaruh untuk protes terhadap akidahnya dan akhirnya mengikuti Ahlulbait Nabi saww.

Syi’ah itu adalah Ahlussunnah Nabi saww, karena Imam mereka yang pertama setelah Nabi saww adalah Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang hidup dan bernapas dengan sunah Nabi saww. Perhatikanlah sikapnya, ketika mereka (para sahabat) mendatanginya untuk membaiat dirinya sebagai khalifah dengan syarat mengikuti sunah Syaikhan (yakni Abu Bakar dan Umar) maka ia menjawab, “Aku tidak mau memerintah kecuali dengan Kitabullah dan sunah Rasulullah saww,” tidak ada kebutuhan bagi ‘Ali dalam kekhalifahan jika dengan mengabaikan sunah Nabi saww, ia telah berkata, ”Sesungguhnya kekhalifahan kalian menurutku, bagaikan kotoran kambing, kecuali jika untuk menegakkan hukum Allah Swt.”

Dan putranya yakni Imam Husein as, telah berkata dengan ucapannya yang masyhur, yang tetap bergema dalam pendengaran sepanjang zaman yakni,”Jika agama Nabi Muhammad saww, tidak akan tegak kecuali dengan kematianku, maka ambillah diriku wahai pedang-pedang!” Oleh karena itu, maka Syi’ah memandang saudara-saudaranya dari Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pandangan simpatik dan kasihan, sepertinya mereka itu menginginkan baginya agar mendapat petunjuk dan keselamatan, sebab menurut mereka nilai petunjuk sesuai dengan yang telah diriwayatkan secara saleh itu adalah lebih baik dari pada dunia beserta apa yang ada di dalamnya. Rasulullah telah bersabda kepada Imam ‘Ali ketika beliau mengutusnya untuk membuka benteng khaibar, “Perangilah mereka sehingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad saww adalah Rasulullah saww, apabila mereka telah mengucapkan itu, berarti telah terlindungi darimu diri dan hartanya dan perhitungan selanjutnya pada Allah SWT. Jika Allah SWT, memberi petunjuk satu orang dengan perantaraanmu, niscaya hal itu lebih baik bagimu dari pada engkau memiliki kuda yang terbagus.”

Sebagaimana yang menjadikan keinginan Imam ‘Ali bin Aabi Thalib hanyalah satu yakni, membimbing umat manusia dan mengembalikannya kepada Kitabullah dan sunah Rasul-Nya, maka demikian pula Syi’ahnya sekarang ini, keinginan mereka adalah untuk mempertahankan diri mereka dari segala tuduhan-tuduhan dan kedustaan, serta ingin memperkenalkan pada saudaranya Ahlussunnah tentang hakikat Ahlulbait as danselanjutnya membimbing mereka ke jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal, Al-Qur’an itu bukanlah bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf:111)

saudaraku……………………….

Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.

Syiah adalah Rafidhah?

Jika pecinta keluarga Muhammad saww disebut Rafidhah Maka, saksikanlah wahai Tsaqolan (jin dan manusia) bahwa diriku adalah Rafidhi. (Diwan imam Syafi’i ra Hal:55)

Prolog:

…dan Rafidhah, lagi-lagi sebuah julukan yang masih juga diidentikan dengan Syiah Imamiah. Istilah ini baru dikenal semenjak abad kedua Hijriyah. Itupun dipakai untuk para penentang kekuasaan tertentu yang berkuasa pada zaman itu. Para penguasa kala itu ingin menjadikan para penentangnya memiliki kesan buruk di hadapan publik, oleh karenanya melalui beragam propaganda mereka mencari julukan negatif bagi mereka yang tidak sejalan dengan pikirannya. Julukan rafidhah adalah salah satu predikat negatif yang diberikan oleh penguasa kala itu untuk para penentangnya. Mungkin pada masa itu, Rafidhah memiliki kemiripan dengan julukan ekstrimis atau teroris pada zaman sekarang ini. Julukan-julukan miring semacam itu sengaja dibikin oleh yang kuat terhadap yang lemah, yang mayoritas untuk yang minoritas, yang zalim untuk yang teraniaya (mazlum)…dsb.

Beberapa pihak yang tidak bertanggungjawab ingin memberikan julukan miring tersebut untuk rival pemikirannya. Akhirnya, julukan Rafidhah diperluas pemakaiannya terhadap aliran pemikiran yang dianggap lemah, minoritas, teraniaya… untuk dijadikan sarana pengelabuhan kesadaran publik. Yang lebih fatal dari itu, sang pemakai istilah tersebut justru menyandarkan pemakaian julukan tersebut dengan landasan hadis-hadis dza’if yang dinisbatkan kepada Rasulullah saww. Lantas, siapakah gerangan yang dapat menjadi obyek empuk untuk gelar tersebut? Ya…! Siapa lagi kalau bukan Syiah Imamiah Itsna Asyariyah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan mazhab al-Ja’fariyah, adalah sasaran empuk untuk mendapat predikat negatif itu.

Kenapa mesti Syiah al-Ja’fariyah? Salah satu penyebabnya adalah karena hanya Syiah Ja’fariyah satu-satunya mazhab yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk tidak berpangku-tangan atas setiap perbuatan zalim yang dilakukan oleh individu manapun, termasuk para penguasa. Itu terbukti, baik jika dilihat dari teks ajaran mazhabnya, maupun pemaraktekkannya dalam kehidupan mereka. Dalam sejarah didapatkan bagaimana usaha mereka untuk menegakkan keadilan yang dipelopori oleh para imam suci mereka. Para Syiah Ahlul Bait selalui berusaha mengkritisi sepak terjang para penguasa yang selalu cenderung bertentangan dengan ajaran Rasulullah saww, sementara di sisi lain mereka (imam-imam suci) juga menamakan dirinya sebagai khalifah (pengganti) Rasul. Hal inilah yang tidak disukai oleh para penguasa zalim –Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah– kala itu. Oleh karenanya, tekanan demi tekanan mereka lakukan untuk membendung tersebarnya ajaran Syiah. Mereka tak segan-segan melakukan pembantaian masal demi tercapainya tujuan mereka, dan kelangsungan dinasti mereka. Dari situlah terjawab sudah pertanyaan, kenapa Syiah selalu teraniaya dan minoritas? Namun, karena kehendak Ilahi, walau tekanan demi tekanan dari pihak musuh-musuh Islam beserta kaki-tangannya dengan gencar terus menghadangnya, mazhab ini tetap eksis di tengah-tengah umat.

Terminologi Rafidhah:

Dalam terminologi istilah Rafidhah, kata itu berasal dari kata ra-fa-dha yang berarti menolak dan meninggalkan sesuatu. Istilah ini sering diidentikkan dengan kaum Syiah Imamiah yang menolak akan kepemimpinan tiga khalifah pra-kekhalifahan Ali bin Abi Thalib as, dan hanya mengakui kepemimpinan Ali as pasca wafat Rasulullah saww.[1] Abul-Hasan al-Asy’ary dalam kitab “Maqolat al-Islamiyin” menyatakan, julukan ini pertama kali dilontarkan oleh Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atas para Syiah di kota Kufah. Masih menurut al-Asy’ary, pada mulanya, para Syiah di Kufah memberikan baiatnya kepada Zaid, namun mereka tidak konsekwen terhadap baiatnya. Mereka tidak mau mengindahkan perintah Zaid untuk tetap menghormati dan memuliakan Abu Bakar dan Umar.

Oleh karena itu, Zaid menjuluki mereka dengan sebutan Rafidhah.[2] Akan tetapi, pendapat ini memiliki banyak celah untuk dibatalkan, mengingat bahwa banyak pakar sejarah yang menyebutkan secara detail sejarah hidup terkhusus kesyahidan Zaid bin Ali, namun tidak satupun dari mereka yang menyebutkan akan hal pengungkapan Zaid di atas tadi. Selain dari itu, para ahli sejarah hanya menyebutkan bahwa para penghuni kota Kufah tidak mengindahkan kebangkitan Zaid bin Ali, dan membiarkannya bergerak sendiri tanpa bantuan penduduk Kufah.[3] Hal itu sama persis sebagaimana yang terjadi pada kakek Zaid, Husein bin Ali as, cucu Rasulullaha saww. Husein bin Ali pada tragedi Karbala, tak dapat dukungan dari penduduk kota Kufah. Dengan demikian, penisbatan istilah itu yang bermula dari Zaid bin Ali sama sekali tidak berasas pada bukti sejarah yang kuat.

Di sisi lain, telah terbukti bahwa istilah Rafidhah digunakan untuk pribadi-pribadi yang meragukan legalitas kekuasaan suatu rezim dan pemerintahan tertentu. Jadi, istilah ini lebih bermuatan politis ketimbang teologis. Nasr bin Muzahim (Wafat tahun 212 H) dalam salah satu karyanya yang berjudul Waqoatu Shiffin menyatakan bahwa Muawiyah dalam suratnya yang ditujukan kepada Amr bin ‘Ash –yang saat itu tinggal di Palestina– menyebutkan: “Perkara tentang Ali, Thalhah dan Zubair telah kamu ketahui, namun (ketahuilah bahwa) Marwan bin Hakam telah bergabung dengan para Rafidhah (penentang) dari penduduk kota Bashrah, dan Jarir bin Abdullah telah melawan kita…”[4] Dari sini ada beberapa poin yang dapat diambil pelajaran; Pertama, awal kemunculan istilah rafidhah sangat bermuatan politis, bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ihwal teologis. Muawiyah menyebut Marwan bin Hakam beserta para pendukungnya sebagai Rafidhah, karena ia telah bergabung dengan para penduduk kota Bashrah yang kala itu mayoritas tidak mengakui legalitas pemerintahan Ali as yang berpusat di kota Kufah. Kedua, istilah itu telah ada sebelum kelahiran Zaid bin Ali, bukan sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abul Hasan al-Asy’ary di atas.

Pribadi-pribadi yang Dinyatakan Rafidhi pada Kitab-kitab Ahlussunnah

Julukan Rafidhah mempunyai konotasi miring. Orang akan enggan untuk dijuluki dengan sebutan itu. Pihak ketiga pun akan menghindar di saat bertemu orang yang dianggap memiliki gelar tadi. Itulah salah satu dampak negatif propaganda yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Pada masa kekuasaan kerajaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah para pecinta Ahlul-Bait sangat ditekan. Tekanan atas Syiah yang dilancarkan oleh kedua dinasti tadi menggunakan berbagai cara, termasuk propaganda julukan Rafidhah. Tujuan propaganda tersebut adalah untuk mengisolir para Syiah dari saudara-saudaranya sesama muslim. Namun tidak sepenuhnya propaganda itu terlaksana dengan baik. Terbukti ada beberapa pribadi Syiah –yang diberi gelar Rafidhah– yang terdapat dalam kitab-kitab standar Ahlussunnah. Walau mereka terbukti Syiah namun tetap saja hadis yang mereka bawakan tercantum dalam enam kitab induk Ahlussunnah. Sebagai contoh:

1- Kendati Ibn Hajar menyatakan bahwa Ismail bin Musa al-fazazi sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Abi Dawud[5] juga Ibn Majah[6] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis yang ia bawakan.

2- Meskipun Ibn Hajar menyatakan bahwa Bakir bin Abdullah at-Tha’i sebagai pribadi yang dianggap Syiah, namun Muslim dalam kitab Shohih-nya[7] dan Ibn Majah dalam Sunan-nya[8] menukil hadis-hadis yang ia riwayatkan.

3- Begitu juga dengan Talid bin Sulaiman al-Muharibi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah) oleh Abu Dawud, dimana ia berkata: “Ia adalah Rafidhi yang keji dan jelek, dan yang memusuhi Abu Bakar serta Umar”[9] Namun, at-Turmuzi dalam kitab Sunan-nya[10] tetap menukil hadis darinya.

4- Ibn Hajar menyatakan bahwa Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah pengikut Syiah (Rafidhah)[11], namun Abu Dawud[12], Ibn Majah[13] dan at-Turmuzi[14] dalam kitab Sunan mereka tetap menukil hadis-hadis darinya.

5- Dan masih banyak lagi pribadi-pribadi yang dinyatakan Syiah (Rafidhah), namun hadis-hadisnya tetap tercantum dalam kitab-kitab standart Ahlussunnah. Seperti; Jumai’ bin Umair, Haris bin Abdullah al-Hamdani, Hamran bin A’yun, Dinar bin Umar al-Asadi…dsb.[15]

Hadis-hadis tentang Rafidhah:

Setelah kita mengetahui bahwa istilah Rafidhah dipakai untuk para rival politik sebuah kekuasaan tertentu. Istilah itu mempunyai konotasi negatif bagi khalayak umum, berkat adanya propaganda para penguasa zalim pada abad-abad permulaan awal kemunculan Islam. Namun, lama-kelamaan istilah itu dipakai oleh para musuh Syiah untuk mengganyang Syiah, bahkan tak jarang mereka pun (para musuh Syiah) menyandarkannya pada hadis-hadis yang bermasalah dari sisi sanad hadis, yang berakhir pada peraguan dari sisi kesahihannya. Sebagai contoh, ada empat hadis yang bersumber dari Ibn Abi ‘Ashim tentang pencelaan terhadap Syiah.[16] Doktor Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qoffary dalam kitab Ushul Mazhab Syi’ah menyatakan bahwa Nashiruddin al-Bani[17] sendiri mengemukakan bahwa hadis-hadis yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim tadi jika dilihat dari sanad hadisnya amat lemah. Dr. al-Qoffari dalam kitab tersebut menyatakan: “Ibn Taimiyyah menukil (membenarkan) hadis-hadis Marfu’ah[18] yang menyinggung tentang kata-kata Rafidhah di dalamnya. Padahal, sebutan Rafidhah hingga abad kedua Hijriyah masih belum dikenal”.[19]

Salah satu riwayat yang dibawakan oleh Ibn Abi ‘Ashim dalam kitab as-Sunnah adalah hadis: “Aku beri kabar gembira engkau wahai Ali, engkau beserta para sahabatmu adalah (calon) penghuni Surga. Namun, ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta-mu padahal mereka adalah penentang (penolak) Islam. Mereka disebut ar-Rafidhah. Jika engkau bertemu dengan kelompok tersebut maka perangilah mereka, karena mereka telah musyrik. Aku (Ali) berkata: Wahai Rasulullah, apakah gerangan ciri-ciri mereka? Beliau menjawab: “Mereka tidak menghadiri (shalat) Jum’at dan jama’ah, dan mencela para pendahulu (salaf)” [20] oleh as-Syaukani, hadis ini dikategorikan sebagai hadis Maudhu’ (buatan).[21]

Contoh lain dari hadis tentang Rafidhah adalah hadis yang dinukil oleh at-Tabrani bahwa Rasul bersabda: “Wahai Ali, akan datang pada umat-ku suatu kelompok yang mengaku sebagai pecinta Ahlul-Bait, bagi mereka …., mereka disebut Rafidhah. Bunuhlah mereka, karena mereka telah kafir”. Akan tetapi, dikarenakan sanad hadis ini diriwayatkan oleh orang-orang seperti Hajjaj bin Tamim yang sama sekali tidak dapat dipercaya, maka hadis ini masuk kategori hadis Dza’if (lemah).[22]

Dalam kitab ad-Dala’il disebutkan bahwa Al-Baihaqi setelah menukil hadis Marfu’ yang bersumber dari Ibn Abbas tentang celaan terhadap Rafidhah, menyatakan: “Banyak sekali hadis-hadis serupa tentang hal yang sama dari sumber-sumber yang berbeda, namun kesemua sanad-nya tergolong lemah”[23]

Dan masih banyak lagi beberapa ulama hadis dari Ahlussunnah yang menyatakan kelemahan hadis-hadis berkaitan dengan Rafidhah yang kebohongan itu disandarkan kepada Rasulullah. Bisa dilihat kembali karya-karya ulama Ahlussunnah seperti karya kepunyaan al-‘Aqili yang berjudul ad-Dhu’afa’, Ibn Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyyah ataupun al-Maudhu’aat.

Dari sini jelaslah, bahwa istilah Rafidhah adalah istilah murni politis dan tidak ada kaitannya dengan pembahasan teologis, termasuk masalah kekhilafahan pasca Rasul. Namun istilah itu dinisbatkan untuk para pecinta Ahlul-Bait (Syiah) oleh para pembenci Syiah. Mereka dalam kasus pemaksaan gelar Rafidhah untuk kelompok Syiah, tidak segan-segan menggunakan kebohongan atas nama Rasulullah saww. Bukankah kebohongan atas diri Rasul merupakan bagian dari menyakiti Rasul? Dan menyakiti Rasul termasuk dosa besar, yang pantas dilaknat oleh Allah?[24] Bukankah kebohongan atas Rasul juga berakibat kebohongan atas segenap kaum muslimin? Mengingat kaum muslimin sampai akhir zaman akan selalu mengikuti hadis-hadis Rasulullah. Bukankah pembohong layak untuk dilaknat?[25] Membenarkan, memegang erat dan mengajarkan hadis palsu –atas dasar pengetahuannya– adalah termasuk sesat dan menyesatkan. Oleh karenanya, hendaknya kita berusaha untuk menghindarinya seoptimal mungkin agar tidak termasuk orang yang sesat dan menyesatkan.

Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)…dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-oranmg yang zalim. (al-Hujuraat :11) [islamalternatif]

Catatan Kaki:

[1] Al-Asy’ary, Abul-Hasan, Maqolat al-Islamiyin, Jil:1 Hal:88-89

[2] Ibid, Hal:138

[3] Amin, Muhsin, A’yan as-Syi’ah, Jil:1 Hal:21

[4] Al-Manqory, Nasr bin Muzahim, Waqoatu Shiffin, Hal:29

[5] Sunan Abi Dawud, Jil:4 Hal:165 Hadis ke-4486

[6] Sunan Ibn Majah, Jil:1 Hal:13 Hadis ke-31

[7] Shohih Muslim, Jil:1 Hal:529, Kitab Sholat Musafirin wa Qoshruha

[8] Sunan Ibn Majah, Jil: 1 Hal:170, Kitab at-Thoharoh

[9] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:322

[10] Sunan at-Tirmizi, Jil:5 Hal:616, Kitab al-Manaqib hadis ke-3680

[11] Tahdzib al-Kamal, Jil:4 Hal:468 No:879

[12] Sunan Abu Dawud, Jil:1 Hal: 272, Kitab as-Sholat Hadis ke-1036

[13] Sunan Ibnu Majah, Jil:1 Hal:381 Hadis ke-1208

[14] Sunan at-Turmuzi, Jil:2 Hal:200, Bab: “Maa Jaa’a fi al-Imam yanhadhu fi ar-Rak’atain naasiyan”

[15] Untuk lebih detailnya, lihat kitab “al-Muraaja’aat” karya Syarafuddin al-Musawi.

[16] Lihat: Ibn Abi ‘Ashim, as-Sunnah, Jil:2 Hal:475

[17] Seorang ahli hadis terkemuka dari kalangan salafi (wahabi).

[18] Hadis marfu’ adalah hadis yang tidak jelas sanadnya.

[19] Ushul Mazhab as-Syiah, bagian Sejarah Syiah (Tarikh as-Syiah)

[20] Ibid: Jil: 2 Hal: 475

[21] Al-Ahadist al-Maudhu’ah, Hal:380

[22] Taqrib at-Tazhib, Jil:1 Hal:152

[23] ad-Dala’il, Jil:6 Hal:548

[24] Lihat Q S al-Ahzab :57

[25] Lihat Q S ali-Imran :61

Ketentuan tentang Imam Syi’ah


Syi’ah telah menetapkan untuk berimamkan dua belas dari Ahlulbait as, yang pertama ‘Ali bin Abi Thalib, kemudian putranya Hasan dan Husein, kemudian sembilan orang yang maksum dari putra keturunan Husein. Rasulullah telah menetapkan para imam tersebut berulang kali secara terang dan jelas, beliau telah menyebutkan mereka dengan nama-namanya dalam sebagian riwayat yang telah diriwayatkan Syi’ah dan juga dari ulama Sunah.

Sebagian golongan Ahlussunnah sering membantah terhadap riwayat-riwayat tersebutdengan menganggap heran bagaimana mungkin Rasul saww membicarakan tentang hal-hal yang masih gaib, belum ada…? Padahal telah disebutkan dalam firman Allah, “Seandainya aku mengetahui yang gaib niscaya aku telah memperbanyak kebaikan dan tidak akan menyentuhku keburukan.” (QS. al-A’raf: 188) Sebagai jawaban terhadap hal itu, kami katakan bahwa ayat yang mulia tersebut tidak meniadakan bagi Rasul tentang pengetahuannya terhadap yang gaib secara mutlak, itu hanyalah merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik yang meminta pada beliau untuk memberitahukan pada mereka tentang waktu terjadinya kiamat, sedang ketentuan hari kiamat itu, pengetahuannya khusus bagi Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an al-Karim telah disebutkan, “Dia yang mengetahui yang gaib dan Dia tidak menunjukkan yang gaib itu pada seseorang kecuali pada orang yang Dia ridhai dari pada Rasul…” (QS. al-Jin:26-27) Ini adalah merupakan suatu dalil bahwa Allah SWT menampakkan kegaiban-Nya kepada para Rasul yang telah dipilih. Sebagai contoh dari itu ialah ucapan Nabi Yusuf as kepada temannya dalam tahanan, “Tidak disampaikan padamu berdua makanan yang akan diberikan padamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai padamu, yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadku oleh Tuhanku…” (QS. Yusuf:37) dan juga firman-Nya, “Maka keduanya menemui seorang dari hamba-hamba Kami yang Kami berikan padanya ilmu dari sisi kami.”(QS. al-Kahfi:65) Ini adalah kisah tentang Hidhir yang bertemu dengan Nabi Musa as, yang mengajarkan ilmu gaib kepada Musa yang tak sabar.

Kaum Muslimin, Syi’ah dan Sunnah tidaklah berselisih tentang Rasulullah saww, mengetahui yang gaib dan telah dicatat perjalanan hidup beliau yang banyak dari hal pemberitahuan yang gaib, seperti sabdanya, “Kasihan Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok durhaka,” dan juga dalam sabdanya kepada Imam ‘Ali as, “Orang-orang terakhir disengsarakan oleh orang yang membunuhmu, memukul kepalamu, lalu darahnya mewarnai janggutmu,” dan sabdanya, “Sesungguhnya anakku Hasan, dengan Allah SWT, akan mendamaikan dua kelompok besar.” Juga sabda beliau kepada Abu Dzar bahwa dia akan mati sendirian dalam pengasingan dan lainnya dari pemberitaan yang banyak. Sebagiannya yang merupakan hadis termasyhur yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta seluruh periwayat hadis sebagimana telah disebutkan yakni, “Imam-imam setelahku ada dua belas orang semuanya dari Quraisy, dan dalam satu riwayat menyatakan, “Semuanya dari Bani Hasyim.”

Kami telah tetapkan dalam pembahasan terdahulu dari kitab Ma’as Shadiqin dan Kitab Fas Ali Ahl adz-Dzikr bahwa Ulama Sunnah sediri telah mengisyatkan dalam shahih mereka kepada hadis tersebut, yang menunjukkan pada keimanan dua belas dan mereka telah menshahihkannya. Bila ada orang bertanya, mengapa mereka meninggalkan para imam itu dan mengikuti selain mereka dari kalangan Imam Mazhab yang empat? Jawabannya yakni : Karena para pendahulu yang saleh seluruhnya adalah dari kalangan pendukung ketiga Khalifah yang dilahirkan oleh Shaqifah yakni Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dan sudah jelas mereka meninggalkan Ahlulbait dan memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, dan mereka telah menghapuskan sunah Nabi saww dan menggantikannya dengan ijtihad mereka. Hal itu telah menyebabkan terpecahnya umat menjadi dua golongan sepeninggal Rasul secara langsung. Maka para pendahulu yang saleh dan yang mengikuti mereka serta berpandangan dengan pandangan mereka adalah merupakan Ahlussunah wal Jama’ah, dan mereka adalah yang paling banyak di antara umat itu. Sedang kelompok yang paling sedikit adalah ‘Ali dan Syi’ahnya yang telah menentang pembaiatan dan tidak mau menerimanya, lalu mereka menjadi orang-orang yang terbuang dan dikutuk dan mereka Ahlussunnah menyebutnya dengan nama Rawafidh (para pembangkang).

Lantaran Ahlussunnah wal Jama’ah menjadi orang-orang yang menguasai perjalanan umat sepanjang beberapa abad, dan para penguasa Bani Umayah serta penguasa Bani Abbasiyah seluruhnya adalah pendukung dan pengikut ajaran kekhalifahan binaan Abu Bakar, Umar, dan Utsman serta Muawiyah dan Yazid, maka ketika kekuasaan kekhalifahan telah hancur dan hilang kehebatannya dan berpindah ke tangan raja-raja dan orang-orang ‘ajam barulah terdengar pengumpulan sunah Nabi saww, ketika itu muncullah hadis-hadis tersebut. Telah diusahakan penghapusan dan penyembunyiannya oleh orang-orang generasi pertama dan mereka tidak mampu untuk menghapus dan mendustakannya di masa-masa berikutnya, dan hadis-hadis tersebut tetap tinggal sebagai perkara yang tidak terpahami dan membingungkan menurut mereka, karena kandungannya bertentangan dengan kenyataan yang telah terjadi yang mereka percayai.

Dan sebagian mereka berusaha menyesuaikan antara hadis-hadis itu dengan apa yang telah menjadi kenyataan mereka, lalu mereka menonjolkan diri dengan kecintaan pada Ahlulbait dan kerelaan terhadap mereka. Maka Anda dapat lihat mereka itu setiap kali menyebut Imam ‘Ali as mereka mengucapkan, “Karramallahu wajhahu dan Radhiyallahu anhu,” sehingga dapat mengesankan orang-orang bahwa mereka bukanlah musuh Ahlulbait Nabi saww. Tidak mungkin bagi seorang Muslim sehingga yang munafik sekalipun untuk menampakkan permusuhannya terhadap Ahlulbait Nabi saww, sebab musuh Ahlulbait adalah merupakan musuh Rasulullah saww, dan itu akan mengelurakan mereka dari agama Islam sebagaimana yang tidak dapat disembunyikan lagi.

Dan yang dapat kami pahami dari itusemua yakni, bahwa mereka sebenarnya adalah musuh Ahlulbait Nabi, dan yang kami maksudkan mereka itu ialah para pendahulu orang shaleh yang menamakan dirinya atau dinamakan oleh para pendukungnya dengan “Ahlussunnah wal Jama’ah.” Buktinya ialah, Anda lihat mereka semua bertaqlid pada Mazhab yang empat yang telah dibentuk oleh para Sultan yang berkuasa–akan kami terangkan sebentar lagi– dan tidak ada pada mereka satu hukum agama yang bersandar pada fiqih Ahlulbait atau pada salah seorang Imam yang dua belas. Dan hakikat telah menetapkan bahwa Syi’ah Imamiyah itulah yang merupakan Ahlussunnah Muhammadiyah, sebab mereka itu telah mengikat diri dalam seluruh hukum fiqih mereka pada para Imam Ahlulbait as yang telah mewarisi sunah yang shahih dari datuk mereka Rasulullah saww dan mereka tidak pernah memasukkan ke dalamnya pendapat dan ijtihad serta ucapan-ucapan para khalifah.

Maka tetaplah Syi’ah itu sepanjang zaman melaksanakan ibadah berdasarkan nas-nas dan menolak segala ijtihad yang bertentangan dengan nas. Sebagaimana mereka meyakini kekhalifahan ‘Ali dan putra-putranya adalah karena Nabi saww telah menetapkan hal itu, dan mereka ituyang disebut Khulafa ar-Rasul, betapa pun sebagian mereka tidak mencapai kekhalifahan secara praktis selain Imam ‘Ali as. Mereka semua menolak dan tidak mau mengakui para penguasa yang saling berbagi kekhalifahan dari yang pertama kepada yang berikutnya, sebab dasarnya adalah faltah (ketetapan secara tergesa-gesa yang dipelihara oleh Allah SWT keburukannya, dan disebabkan kekhalifahan itu berdiri demi menentang dan menolak/melawan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan semua orang-orang yang datang berikutnya adalah merupakan kekeluargaan sehingga seseorang tidak menjadi khalifah kecuali dengan ditentukan oleh khalifah pendahulunya, atau secara pembunuhan dan kudeta serta pemaksaan.

Oleh karena itu Ahlussunnah wal Jama’ah terpaksa mengikuti kepemimpinan yang baik dan yang durhaka, sebab mereka menerima semua kekhalifahan para penguasa sehingga yang fasik sekalipun. Berlainan dengan Syi’ah Imamiyah yang telah menetapkan wajibnya kemaksuman Imam, maka tidak sah keimanan umat dan kepemimpinan kecuali bagi Imam yang maksum, dan tidak ada di antara umat ini orang yang maksum selain orang-orang yang telah dibersihkan dari mereka segala noda oleh Allah SWT, dan disucikan dengan sesuci-sucinya.

Ketentuan tentang Imam Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah wal Jama’ah telah memusatkan segala perhatiannya pada ke-empat Imam pemilik mazhab-mazhab yang terkenal, yakni Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Para Imam yang Empat itu adalah bukan dari kalangan sahabat Rasul saww dan bukan pula dari kalangan tabi’in. Maka mereka itu tidak dikenal oleh Rasulullah dan mereka pun tidak mengenal beliau serta tidak melihat mereka dan mereka pun tidak meliaht beliau. Orang yang tertua (terdahulu) di antara mereka ialah Abu Hanifah, jarak masa antara dia dengan Nabi saww adalah lebih dari seratus tahun, sebab kelahirannya pada tahun 80 H dan wafatnya tahun 150 H. Adapun orang yang termuda (terakhir) ialah Ahmad bin Hanbal, dia dilahirkan tahun 165 H, dan wafat tahun 241 H. Ini adalah dalam bidang Furu’uddin (cabang agama).

Adapun dalam bidang ushuluddin (pokok agama), maka Ahlussunnah wal Jama’ah itu merujuk (bersandarkan) kepada Imam Abu al-Hasan ‘Aali bin Isma’il al-Asy’ari yang dilahirkan tahun 270 H dan wafat tahun 335 H. Mereka itu semua adalah para Imam Ahlussunnah wal Jama’ah yang dijadikan rujukan mereka dalam bidang ushuluddin dan furu’uddin.

Adalah Anda lihat di antara mereka salah seorang dari kalangan para imam Ahlulbait, atau dari kalangan sahabat Rasul saww, atau salah seorang yang telah disebut-sebut oleh Rasul saww, dan beliau arahkan umat kepadanya? Tidak, sama sekali tidak ada. Dan jika Ahlussunnah wal Jama’ah telah menyeru untuk berperang pada sunah Nabi saww, mengapa mazhab-mazhab tersebut terlambat munculnya sampai zaman itu ? Di manakah Ahlussannah wal Jama’ah sebelum munculnya mazhab tersebut? Dengan mazhab apa mereka beribadah dan kepada siapa mereka bersandar…?

Kemudian bagimana mereka itu bersandar kepada orang-orang yang tidak mengalami hidup Nabi saww, dan tidak pula menenalnya dan mereka baru dilahirkan setelah terjadi fitnah dan setelah pertikaian di kalangan sahabat dan sebagian membunuh sebagiannya dan sebagian mengkafirkan yang lainnya, serta setelah berpalingnya para khulafa dari Al-Qur’an dan sunah dan mereka berijtihad dengan pendapat mereka dalam menentang keduanya. Dan setelah Yazid bin Muawiyah menguasai kekhalifahan lalu ia membebaskan bala tentaranya di Madinah al-Munawarah untuk berbuat semau hatinya, sehingga tentaranya itu melakukan kerusakan di dalamnya dan membunuh para sahabat yang terbaik yang tidak mau membaiatnya dan kehormatan wanita dirusakkan serta pemerkosaan merajalela.

Bagaimana seorang yang berakal mau condong kepada para Imam itu dari kelompok orang-orang yang dilumpuri kekotoran fitnah dan minum air susunya yang tercampur dengan bermacam-macam kejahatan sehingga tumbuh dan berkembang dalam pembentukannya yang penuh kelicukan dan kedustaan serta telah diikuti oleh sebaik-baik pengetahuan yang penuh kepalsuan, maka sebagian mereka tidak dapat muncul kecuali orang-orang yang diridhai oleh penguasa dan mereka meridhainya.

Bagaimana orang yang mendakwahkan berpegang pada sunah bisa meninggalkan Imam ‘Ali as, dan Imam Hasan as, dan Imam Husein as, yang merupakan kedua pemuda ahlisurga serta meninggalkan para imam yang suci dari putra keturunan Nabi saww yang mewarisi seluruh ilmu datuk mereka yaitu Rasulullah saww, lalu mengikuti para imam yang mereka tidak memiliki ilmu tentang sunah Nabi saww bahkan mereka adalah merupakan hasil pembentukan politik Muawiyah. Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasarkan sejarah Islam dan Al-Qur’an serta sunah, bahwa Ahlulssunnah wal Jama’ah itu adalah para pengikut Muawiyah dan Abasiyin? Adakah seorang Muslim masih meragukan, berdasaekan Al-Qur’an dan sunah serta sejarah Islam, bahwa Syi’ah yang mengikuti putra keturunan Nabi saww dan berpimpinan pada mereka, adalah merupakan pengikut sunah Nabi saww dan tidak ada seorang pun selain mereka yang layak mendakwahkan?

Wahai pembaca yang mulia, bukankah Anda telah melihat bagaimana politik telah membalikkan perkara dan menjadikan yang batil dianggap benar dan yang benar dianggap batil! Maka bila orang-orang akan kepimpinan pada Nabi saww dan keturunannya mereka disebut dengan Rawafidh (pembangkang) dan ahli bid’ah. Dan ahli bid’ah yang membuang sunah Nabi saww dan keluarganya dan mereka mengikuti ijtihad para penguasa yang durhaka, mereka disebut dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sungguh ini adalah aneh…! Adapun saya pribadi meyakini dengan kuat bahwa suku Quraisy adalah di belakang pemberian nama tersebut dan itu merupakan salah satu dari rahasianya dan merupakan tipu-dayanya.

Sebagaimana kita telah ketahui di muka bahwa orang Quraisy itulah yang telah melarang Abdullah bin Amr dari penulisan sunah Nabi saww dengan anggapan bahwa Nabi saww itu tidak maksum. Maka Quraisy itulah sebenarnya yang merupakan orang-orang yang mengarahkan kedurhakaan dan ke-ashabiyah-an serta kekuatan yang dituju/dimaksud di tengah-tengah suku-suku Arab, dan mereka dinamakan oleh sebagian sejarahwan dengan para pakar Arab. Karena mereka terkenal dengan kelicikan dan keuletan serta penguasaan dalam pengaturan urusan, dan sebagian sejarawan menyebut mereka dengan Ahl al-Halli wa al-Aqdi. Sebagian mereka ialah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abu Sofyan, Muawiyah, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah, Marwan bin Hakam, Thalhah bin Ubaidillah, Abudurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah Amir bin Jarrah, serta lainnya.

Dan mereka itu sering berkumpul untuk bermusyawarah dan menentukan suatu perkara yang mereka sepakati lalu mereka memutuskan perkara mereka itu dan menyebarkannya di kalangan umat agar nantinya menjadi keputusan yang nyata dan benar-benar diikuti tanpa diketahui oleh seluruh manusia rahasianya yang tersembunyi. Sebagian dari kelicikan yang telah mereka lakukan ialah ucapan mereka bahwa Muhammad saww itu tidak maksum dan beliau seperti kebanyakan manusia yang memungkinkan berbuat salah, sehingga mereka berani meremehkan dan menentangnya dalam kebenaran padahal mereka mengetahui. Sebagian celaan mereka terhadap ‘Ali bin Abi Thalib dan kutukan mereka terhadapnya dengan sebutan Abu Turab dan penggambaran dirinya di hadapan manusia bahwa ia sebagai musuh Aallah dan Rasul-Nya. Dan sebagian celaan dan kutukan mereka terhadap sahabat yang mulia Ammar bin Yasir dengan nama hinaan, mereka menyebutnya dengan Abdullah bin Saba’ atau dengan sebutan anak si hitam, hal itu dikarenakan ia menentang para khalifah dan menyeru manusia untuk berimamkan ‘Ali bin Abi Thalib.

Termasuk juga penambahan Syi’ah yang berkepimpinan Imam ‘Aali as, dengan nama Rawafidh (pembangkang), agar dapat mengesankan pada orang-orang bahwa mereka telah membangkang terhadap Nabi Muhammad saww dengan mengikuti Imam ‘Ali as. Dan juga penamaan diri mereka sendiri dengan Ahlussunnah wal Jama’ah, sehingga dapat mengesankan pada orang-orang mukmin yang tulus ikhlas bahwa mereka itu berpegang pada sunah Nabi saww sebagai penentang para pembangkang yang membangkang terhadapnya. Padahal sebenarnya mereka memaksudkan dengan sunah itu ialah bid’ah yang sesat, yang mereka ciptakan demi mencela dan mengutuk Amirul Mukminin dan Ahlulbait Nabi saww di atas mimbar-mimbar di setiap mesjid kaum Muslimin dan di seluruh negeri dan kota-kota serta kampung, dan berlangsung bid’ah tersebut selama 80 tahun, sehingga apabila khatib mereka turun untuk shalat sebelum mengutuk Imam ‘Ali bin Abi Thalib maka yang ada di dalam mesjid berteriak, “Engkau telah meninggalkan sunah.”

Dan ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz hendak merubah sunah itu dengan firman Allah swt, “Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik serta memberi kaum kerabat…,” (QS. an-Nahl:90) maka mereka menentang dan membunuhnya karena ia telah mematikan sunah mereka dan dengan itu ia telah memotong ucapan-ucapan para pendahulunya yang telah menghantarkan dirinya para kekhalifahan, maka mereka pun berusaha membunuhnya dengan racun, kala itu ia baru berusia 28 tahun dan kekhalifahannya tidak lebih dari dua tahun, maka dia meninggal sebagai korban dalam usaha pelurusan , karena keturunan paman-pamannya yakni Umawiyin tidak menerima-sunah mereka dimatikan (dihapuskan) yang dengan itu akan terangkat kedudukan Abu turab dan para Imam dari anak keturunannya.

Setelah jatuhnya kekuasaan Muawiyah, datanglah Abasiyin, maka mereka pada gilirannya telah mendapat pengalaman dalam bertindak terhadap para Imam Ahlulbait as, dan Syi’ah, sehingga ketika datang periode Khalifah Ja’far bin Manshur yang berjulukan al-Mutawakkil, ia adalah orang yang paling memusuhi Imam ‘Ali as, dan anak-anaknya, kebencian dan kedengkiannya itu sampai memuncak sehingga berani membongkar kuburan Imam Hasan as dan Imam Husein as di karbala dan melarang manusia dari menziarahinya dan ia tidak mau memberi suatu pemberian dan tidak pula mau membelanjakan harta kecuali kepada orang yang mau mencela Imam ‘Ali as dan anak-anaknya.

Kisah al-Mutawakkil beserta Ibnu sikkit seorang alim nahwu yang terkenal itu adalah telah diketahui, dan ia telah membunuhnya dengan cara yang sangat keji. Ia telah memerintah memotong lidahnya dari mulutnya ketika diketahui bahwa dia menjadi Syi’ah Imam ‘Ali as dan Ahlulbaitnya yang mana ketika itu dia menjadi guru bagi anak-anaknya. Kedengkian al-Mutawakkil dan permusuhannya telah memuncak sampai memerintahkan pembunuhan terhadap setiap anak yang diberi nama oleh bapaknya dengan nama ‘Ali, karena nama tersebut adalah yang sangat dibencinya. Sehingga ‘Ali bin Jahm seorang penyair tatkala berhadapan dengan al-Mutawakkil, dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, sesungguhnya keluargaku telah menghinaku,” al-Mutawakkil berkata, Mengapa?” Dia menjawab, “Karena mereka menamakanku ‘Ali, sedangkan aku tidak menyukai nama itu dan aku tidak menyukai orang yang bernama dengannya.” Maka al-Mutawakkil terawa dan memberikan hadiah baginya.

Dalam majelisnya ia memunculkan seorang lelaki yang menyerupai ‘Ali bin Abi Thalib, lalu dia ditertawakan oleh orang-orang sambil berucap mengejek, ‘Si botak yang gendut telah hadir,” maka ahli majelis itu semuanya mengejeknya dan dengan itu al-Mutawakkil merasa gembira.

Di sini jangan sampai terlewatkan dari perhatian kita, bahwa al-Mutawakkil ini dan yang menunjukkan kebenciannya terhadap ‘Ali karena kemunafikkan dan kefasikannya adalah yang disukai oleh ahli hadis dan mereka telah menjulukinya dengan penghidup sunah. Dikarenakan ahli hadis itu sendiri adalah Ahlussunnah wal Jama’ah, maka telah ditetapkan dengan dalil yang tak diragukan bahwa sunah yang dimaksudkan menurut mereka ialah membenci Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan mengutuknya serta berlepas diri darinya, itulah puncak tujuannya. Sebagian yang dapat menambah kejelasan bagi kita dalam perkara tersebut ialah bahwa al-Khawarizmi menyatakan dalam kitabnya, “Sesungguhnya Harun bin al-Khaizarah dan Ja’far al-Mutawakkil adalah dalam genggaman setan bukan pada Tuhan Yang Rahman, keduanya tidak mau memberi suatu pemberian tidak mau mengeluarkan hadiah kecuali bagi orang yang mencela keluarga Abu Thalib dan membela mazhab Nawashib (penentang Ahlulbait).”

Sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata,’Lantaran Nashr bin ‘Ali bin Shahban telah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah saww memegang tangan Hasan dan Husein dan beliau bersabda, ‘Siapa mencintai aku dan mencintai kedua anak ini beserta bapak dan ibunya niscaya ia berada dalam kekududkanku pada hari kiamat,’ lalu al-Mutawakkil memerintah untuk memukulnya dengan cambuk 1000 kali sehingga ia hampir binasa, lalu Ja’far bin Abdul Wahid mengatakan tentang dirinya dan ia berkata, ‘Hai Amirul Mukminin, orang ini adalah dari golongan Ahlussunnah, ia pun tetap menyiksanya sampai ia meninggalkannya.”[1]

Orang berakal akan dapat memahami dari ucapan Ja’far bin Abdul Wahid kepada al-Mutawakkil bahwa Nashr itu adalah dari golongan Ahlussunnah, hal itu untuk menyelamatkannya dari pembunuhan, ini merupakan bukti yang lain bahwa Ahlussunnah itu adalah musuh Ahlulbait yang dibenci oleh al-Mutawakkil dan dia berusaha untuk membunuh setiap orang yang menyebutkan keutamaan mereka betapa pun ia tidak mengikuti mereka.

Inilah Ibnu Hajar telah menyebutkan dalam kitabnya bahwa Abdullah bin Idris al-Azdi, seorang Ahlussunnah wal Jama’ah dan ia bersikap keras di dalam sunah secara-rela sedangkan ia adalah orang Utsmani. Dan juga Ibnu Hajar telah mengatakan tentang Abdullah bin Aun al-Bashari, “Sesungguhnya ia adalah orang yang terpercaya, ahli ibadah dan keras dalam sunah dan bersikap keras terhadap ahli bid’ah,” Ibnu Mas’ud telah mengatakan, “Ia adalah seorang Utsmani.” Ia telah menyebutkan pula bahwa Ibrahim bin Ya’kub al-Jauzjani adalah seorang pengikut mazhab Hariz bin Utsman ad-Damsiqi yang dikenal dengan penentang Ahlulbait, Ibu Hayyan menyatakan bahwa ia adalah orang keras dalam sunah.

Dengan ini tahulah kita bahwa penentang dan kebencian terhadap Imam ‘Ali as dan anak-anaknya, serta pencelaan keluarga Abu Thalib dan kutukkan terhadap Ahlulbait menurut mereka dianggap kekerasan/keteguhan dalam sunnah, dan kita telah mengetahui bahwa orang-orang Utsmani adalah golongan penentang dan musuh Ahlulbait dan mereka orang-orang yang bersikap keras terhadap orang yang berpimpinan pada Imam ‘Ali as, dan keturunannya. Dan mereka memaksudkan dengan Ahlu bid’ah itu adalah golongan Syi’ah yang menyatakan keimamahan Imam ‘Ali as, karena menurut mereka itu adalah merupakan suatu bid’ah, yang mana hal itu bertentangan dengan yang dianut oleh para sahabat, dan Khulafa’ ar-Rasyiddin serta para pendahulu orang shaleh yang mereka itu telah mengucilkannya dan tidak mengakui keimamahannya serta ke-washiat-annya.

Saksi sejarah bagi kekuatan dalil tersebut adalah banyak sekali, tetapi apa yang telah kami sebutkan, cukuplah bagi yang menginginkan pembahasan dan penelitian, dan kami telah bertekad untuk meringkas sebagaimana biasanya, dan bagi para pembahas hendaklah dapat mencapai lebih banyak dari itu jika mau. Firman Aallah SWT, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada kami, niscaya Kami bimbing mereka itu pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. al-Ankabut:69).