Kenapa Para Imam Syi’ah Keturunan Nabi SAW Harus Maksum ??

KEUTAMAAN BERPEGANG PADA HADiS SYi’AH !!!!!!!!!!!!!

bimbingan orag orang  maksum sangat diperlukan … Pertanyaan yg sederhana saja: Apakah Syariat Islam yang ditinggalkan Nabi Muhammad saw tdk memerlukan org2 yg maksum untuk menjaga dan melaksanakannya ? Bagaimana mungkin org2 yg tdk maksum (tdk suci) mampu menjaga syariat Islam yg suci?

Pengertian maksum jangan disalah artikan. Seseorang maksum itu tdk berarti dia tdk pernah berbuat salah. Tetapi yg dimaksud adalah bahwa dia dalam lingkup atau tataran syariat tdk pernah melanggarnya. Di luar itu dia adalah seorang makhluk yg bisa berbuat salah di hadapan Khaliknya. ho siapa yg mengatakan Nabi itu sama dg malaikat ? Secara biologis seorang Nabi sama saja dg manusia biasa. Dia kawin, dia tidur, dia makan dsb. Yang membedakannya dg manusia biasa adalah bahwa dia mempunyai maqom ruhani/nafs yg tinggi dan sempurna (Nafs Kamilah) dan selalu mendapat bimbingan Allah Swt.

Sekali lagi ketingginan maqom ruhani ini
hanya dalam wilayah syariat. Di luar itu seorang Nabi adalah seorang makhluk yg dhaif di hadapan Khalik-nya.
Allah mengaruniakan ishmah hanya kpd org yg memang dari kecilnya selalu terjaga dari perbuatan maksiat2 dan mampu mengaktualisasikan potensi2 dirinya secara sempurna dan utuh. Tak mungkin ishmah diberikan kpd seorang ahli maksiat atau mantan ahli maksiat.

Ketika dikatakan bahwa Allah Swt menjaga para nabi dari perbuatan dosa dan maksiat, hal ini tdk berarti menafikan penisbahan kehendak dan ikhtiar bebas kpd mereka.

Makanya mereka disebut “muthohharun” (orang2 yg disucikan) dan bukan “muthohhirin” (orang2 yang menyucikan dirinya). Artinya kelompok pertama lebih tinggi maqomnya dari kel. kedua.

Tp yg membuat saya heran adl sbgan sahabat saling membenci satu sama lain bahkan saling membunuh, contoh :

1. Kasus pembunuhan Malik bin Nuwairah oleh Khalid bin Walid, lalu khalifah pd saat itu mengecam dia dan mengancam hukuman rajam pada dia jika dia kembali ke Madinah. (Ma’alim al Madrasata’in, juz 2 hal 96 dari Tarikh Thabari, Tarikh al Ya’qubi, juz 2 hal 131 dll)

2. Kasus pembunuhan Abu Dzar al Ghifari. Dia diasingkan dari kota Madinah ke satu tempat yang gersang yg tdk ada mata air satu pun, di daerah Rabdzah, sampai 2x Abdullah bin Ma’sud meratapi kematiannya yg tragis seraya berkata : ” Sunguh benar ucapan Rasul yg bersabda “Engkau akan diasingkan sendiri, mati sendiri, dan kelah dibangkitkan sendiri.” (Syirah Ibnu Hisyam; al-Amini, al-Ghadir, juz 8, hal 365.

3. Kasus pembunuhan ‘Abdullah bin Ma’sud, beliau meninggal akibat luka injakan di perutnya.

4. Lihatlah siapa otak perencana pembunuhan Usman bin Affan sehingga ia terkubur di pemakaman Yahudi (Al Imamah Al Syiasah, juz 1, hal 70; tarikh Thabari, juz 5 hal 143-144).

5. Siapa pula pembunuh Thalhah dan Zubair ?

6. Ingat pula bgm mana Ammar bin Yassir dianiyaya oleh bani Umayyah cs (Al Imamah Al Syiasah, juz 1, hal 51).

7. Lalu siapa yg mempunyai gagasan agar Sayyidina Hasan bin ‘Ali dibunuh dgn racun ?
8. Dan yg terbesar adl perang Jamal dan perang Shiffin.
Apa motif mereka shg sampai melakukan pembunuhan itu ? Bgm kita bisa mencintai mereka wong sesama mereka ajah saling membenci koq ?

Kalau anda bandingkan Ali dg Abu Bakar atau Umar, maka terlihat bahwa Ali dari sejak kecilnya tdk pernah menyembah berhala dan melakukan maksiat. Sementara Abu Bakar dan Umar dan yg lainnya adalah para mantan. Itulah yg dimaksud oleh QS Al-Baqarah 124 dg kalimat:”…la yanalu ahdzadzdzaalimiin…’ (keimamahan ini) tidak akan berlaku bagi org2 yg mantan maupun sedang dzalim.” (Pola dzalimin adalah pola isim fa’il yg tdk terpengaruh waktu dulu ataupun sekarang).

Sekali lagi masalah ke-Imamahan/Khilafah. Konsep Sunni yg menganggap Imamah/Khilafah setelah Nabi adalah jabatan yg setiap orang bisa mendudukinya karena hanya mengurus keduniaan semata semata-mata bertentangan dg QS Al-Baqarah 124 yg menegaskan bahwa ke-Imamahan tdk mencakup org2 dzalim. Artinya figurnya harus maksum. Dalam suatu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Nabi saw bersabda:”Imamah tidak akan mencakup org2 yg pernah sujud kpd berhala.” Jadi jelas bahwa figur spt Abu Bakar, Umar dan Usman yg pernah sujud kpd berhala secara syar’i tdk berhak menduduki jabatan ke-imamahan/khilafah, sekalipun secara defacto mereka adalah para khalifah.

Setelah masuk Islampun, Abu Bakar bin Abi Qahafah, Umar bin Khattab dan sahabat2 lainnya masih minum miras. Ini informasinya :

. Khalifah Umar masih meminum minuman keras (arak) pada masa Rasulullah
SAWA sehingga turunnya ayat di dalam Surah al-Maidah (5):91,”Sesungguhnya
syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di
antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu
dari mengingati Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu (dari
mengerjakan pekerjaan itu).”

Di dalam keseronokan mabuknya dia membaca beberapa bait syair antaranya:
Katakan kepada Allah, adakah Dia menegahku dari minumanku?
Katakan kepada Allah, adakah Dia akan menegahku dari makananku?
Apabila sampai berita ini kepada Rasulullah SAWA, beliau keluar di dalam
keadaan marah lalu memukul Umar. Dan Umar berkata:”Aku mohon dengan
Allah dari kemurkaanNya dan kemurkaan RasulNya.” Kemudian turunlah ayat di
dalam Surah al-Maidah (5):91,”Umar berkata:”Kami telah menghentikannya,
kami telah menghentikannya.”

Sepatutnya dia telah menghentikan amalan tersebut apabila ayat kedua dalam
Surah al-Baqarah (2):219 tentang khamar (arak) diturunkan. Kerana ianya sudah
cukup sebagai peringatan kepadanya sekalipun ianya bukanlah pengharaman
sepenuhnya. Riwayat yang lain pula mengatakan bahawa Umar masih berada di
dalam majlis arak, tiba-tiba seorang lelaki memberitahukan kepadanya bahwa
ayat pengharaman arak secara Qat’i telah diturunkan. Lalu dia berkata:”Kami
telah menghentikannya. kami telah menghentikannya!” Sebenarnya majlis arak
itu berlaku di klab Abu Talhah. Ibn Hajr di dalam Fath al-Bari, X, hlm. 30, telah
menguraikan nama-nama para sahabat yang terlibat di dalam majlis arak di
klab Abu Talhah seperti berikut:

1. Abu Bakar bin Abi Qahafah pada masa itu berumur 58 tahun.
2. Umar bin al-Khattab pada masa itu berumur 45 tahun.
3. Abu Ubaidah al-Jarrah pada masa itu berumur 48 tahun.
4. Abu Talhah Zaid bin Sahal, tuan kelab pada masa itu berumur 44 tahun.
5. Suhail bin Baidha’, wafat setahun selepas peristiwa tersebut,kerana sakit tua.
6. Ubayy bin Ka’ab.
7. Abu Dujanah Samak bin Kharsyah.
8. Abu Ayyub al-Ansari.
9. Abu Bakar bin Syaghub.
10. Anas bin Malik sebagai pelayan mereka (di saqi al-Qaum) pada masa itu
berumur 18 tahun.

[al-Tabari, Tafsir, II, hlm. 203; Abu Daud,al-Sunan, II, hlm.
128; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 53; al-Nasa’i, al-Sunan, VIII, hlm.
287; al-Jassas, Ahkam al-Qur’an, II, hlm. 245; al-Hakim, al-Mustadrak, II, hlm.
278; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, I. hlm. 252; Ibn Hajr, fath al-Bari, X, hlm.30
dan lain-lain]

Nah, yg kayak begini ini apa pantas jadi pemimpin agama ?
Sementara hadis2 Bukhori yg di klaim paling sahih eh banyak yg menurunkan derajat nabi Muhammad saw dg riwayat2 yg engga masuk akal dan bertentangan dg ayat2 Al-Quran.
Contoh yg engga masuk akal adalah Nabi saw digambarkan sebagai orang yg hobi bersetubuh. bayangkan dlm sehari semalam mampu bersetubuh dg 9 org isterinya !! (HR Bukhori).Makanya kitab Bukhori itu perlu direvisi atau dibuang label “Sahih”nya biar engga malu-maluin Islam

Kalau memang benar kitab2 hadis Sunni banyak meriwayatkan hadis2 dari Ahlul Bait dan mencintai mereka serta mengamalkan ajaran2 mereka, kenapa dalam realitas sejarah para Imam Ahlul Bait, kecuali Imam Ali, tidak didudukan sebagai khalifah kaum muslimin bahkan semuanya dibunuh oleh para penguasa Sunni ? Coba kita perhatikan fakta2 sejarah yg berkaitan dg kematian keluarga Nabi saw.

1. Fatimah meninggal karena luka akibat tertimpa pintu yg didorong oleh orang2 munafik yg menuntut bay’at kpd khalifah Abu Bakar.
2. Ali dibunuh oleh org Khawarij
3. Hasan bin Ali diracun oleh org suruhan Muawiyah.
4. Husein dibantai oleh pasukan Yazid bin Muawiyah
5. Ali bin Husein diracun oleh penguasa Walid bin Abdul Malik
6. Muhammad bin Ali diracun oleh penguasa Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik
7. Ja’far bin Muhammad diracun oleh penguasa Mansur Dawanqi
8. Musa bin Ja’far diracun oleh penguasa Harun Ar Rasyid
9. Ali bin Musa diracun oleh penguasa Makmun Rasyid
10. Muhammad bin Ali diracun oleh penguasa Muhtasib Billah
11. Ali bin Muhammad diracun oleh penguasa Muhtasib Billah
12. Hasan bin Ali diracun oleh penguasa Muhtasib Billah

Apakah ini disebut mencintai Ahlul Bait apalagi mengamalkan ajarannya ?

wua kak kak kak segitu jelasnya sumber dari sejarawan Sunni yg ane kutip, eh dibilang tdk valid. Asal ente tau Sejarah Islam itu disusun berdasarkan kitab2 Tarikh yg dikarang oleh Thabari, Ibnu Ishaq, Al-Baghdadi, Ibnu Hisyam dll. termasuk para para ahli hadis Sunni spt Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Hakim, Ahmad bin Hambal dll. yg juga bisa dijadikan sumber sejarah. Bagaimana jadinya dg agama Islam ini kalau informasi dari mereka dianggap tdk valid ? Atau barangkali para ahli sejarah dan hadis Sunni tdk bisa dipercaya ?

He he he…masih ngotot terus dg Ibnu Sabanya. Ente engga tau bahwa
dalam jalur sanadnya hadis aswajs sunni ada 100 org Syi’ah ? Berarti cucu2nya embah Saba ada dlm jalur periwayatan kitab SAHIH aswaja sunni.. Nih ane sebutin sebagian nama2nya:
1. Abban bin Taghlib bin Raba al-Kufi
2. Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i al-Kufi (Al-Faqih)
3. Ahmad ibn Al-Mufadhal ibn al-Kufi al-Hafri
4. Ismail bin Abban al-Azdi al-Kufi al-Warraq
5. Ismail bin Khalifah al-Mulai al-Kufi
6. Ismail bin Zakaria al-As’adi al-Khalqani al-Kufi
7. Ismail bin Abbad bin Abbas ath-Thaliqani
8. Ismail bin Abdurahman bin Abi Karimah al-Kufi
9. Ismail bin Musa al-Fazari al-Kufi
10. Talid bin Sulaiman al-Kufi
11. Tsabit bin Dinar
12. Tsuwair bin Abi Fahithah al-Kufi
13. Jabir bin Yazid bin Harits al-Ja’fi
14. Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabi
15. Ja’far bin Ziyad al-Ahmar
16. Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i al-Basri
17. Jumai’ bin ‘Umairah bin Tsa’labah at-Taimi.
18. Al-Harits bin Husairah al-Azdi
19. Al-Harits bin Abdullah al-Hamadani
20. Habib bin Abu Tsabit al-Asadi al-Kahili
21. Hasan bin Hayy bin Saleh al_hamdani
22. Hakam bin Utaibah al-Kufi
23. Hammad bin Isa Al-Juhani
24. Hamran bin A’yan
25. Khalid bin Mukhallad al-Qawani

mas saya luruskan. 100 org Syi’ah yg ada dlm jalur periwayatan hadis2 Sunni bersumber dari informasi ulama hadis Sunni sendiri spt. Adz Dzahabi, Ibnu Mu’in, Abu Hatim, Ibnu Qutaibah, Abu Zahrah dll yang menyatakan bahwa 100 org tsb adalah Syi’ah Rafidah (Pembenci sahabat). Sementara ente mengacu kpd sumber Salafi Wahabi. Ya jelas aja engga klop.

Mau terus dg isyu Ibnu Saba ? Dari merekalah hadis shahih tentang ahlul bait MUNCUL !!!!!!!!!!!!!!

Di tataran praktek ? Coba aja buktikan. Apakah Sunni Salafi sudah melaksanakan semua wasiat2 Nabi saw ? Kalau ane selalu mengacu kpd fakta2 sejarah, itu karena apa yg ada dalam fakta sejarah merupakan pelaksanaan dari konsep Sunni Salafi yg menyimpang dari Sunnah Rasul. Contoh soal khilafah. Dalam hadis Ghadir Khum sdh jelas dikatakan “man kuntu maulahu fa ‘ali maulahu….”. Tapi Sunni Salafi mengaburkan/memalingkan maksud hadis yg sesungguhnya dg mengartikan “maula” dg penolong. Buat apa Nabi cape2 mengumpulkan ribuan sahabat menjelang kematiannya, kalau hanya mengumumkan bahwa Ali itu seorang penolong !

Mencintai sahabat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam secara tepat dan proposional adalah suatu tuntutan syar’i.

Benarkah ? Mari kita bandingkan dg dalil2 lain yg menyatakan sebaliknya, yaitu kewajiban umat Islam untuk mencintai dan berpegang teguh dg Ahlul Bait.

1. QS Al-Ahzab 33
referensi ahlu sunnah : – Sahih Muslim, Tirmidzi, Ahmad bin Hambal dll
2. QS Asy-Syura 23
referensi ahlu sunnah : Al-Hakim Al-Hanafi,Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i dll
3. QS Al-Baqarah 124
ref ahlu sunnah : Ibnu Al-Maghazili Asy-Syafi’i dll
4. QS Asy-Syua’ara
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
5. QS Ali Imran 103
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
6. QS At-Taubah 110
ref ahlu sunnah : Al_hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
7. QS Al-An’am 153
ref ahlu sunnah : Al_haidariyah, Ghayatul Maram dll
8 QS An-Nisa’ 59
ref ahlu sunnah : Syaikh Sulaiman Al-Qundusi Al-Hanafi dll
9.QS An-Nahl 43
ref ahlu sunnah :Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi dll
10. QS Ar-Ra’d 7
ref ahlu sunnah : Tafsir Ath-Thabari, Tafsir An-Naisaburi dll

dan masih ayat2 lainnya.

Sementara dari ref. hadis antara lain :

1. Hadis Tsaqalain
2. Hadis Safinah
3. Hadis Ghadir Khum
4. Hadis Manzilah
5. Hadis Ashabul Kisa
6. Hadis Madinatul ‘Ilmi

dan ratusan hadis mengenai keutamaan Ahlul Bait dalam referensi ahlu sunnah dan perintah untuk berbuat baik dan menjaga Ahlul Bait a.l. :

“Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul Baitku” (HR Thabrani). Artinya tdk boleh menyakiti mereka, karena brg siapa menyakiti Ahlul Bait sama dg menyakiti Nabi saw.

“Allah SWT mempunyai 3 kehormatan. Barang siapa yg menjaga ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya dan barang siapa yg tdk menjaga ketiganya maka Allah tdk akan menjaga dunia dan akhiratnya. Saya bertanya, Apa ketiganya itu ? Rasulullah saw menjawab:’Kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kerabatku.”

Pertanyaannya sekarang apakah berpegang teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW atau berpegang teguh pada sahabat Nabi SAW ?

Dibawah ini tulisan yg akan menjawab pertanyaan tsb diatas.
Merupakan hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sekarang terbagi dalam berbagai mahzab. Setiap mahzab menawarkan pemahaman khas tersendiri tentang bagaimana Islam sebenarnya. Dan tidak jarang antara mahzab yang satu dan mahzab yang lain terjadi perselisihan pemahaman. Hal ini membuat kesulitan bagi sebagian orang yang ingin memahami ajaran Islam dengan baik. Walaupun begitu ada suatu pemecahan awal yang dapat digunakan dalam memilah yang mana yang benar dan yang mana yang salah dari semua mahzab yang ada. Ajaran Islam sepenuhnya berlandaskan pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Oleh karena itu setiap pandangan yang ditawarkan oleh mahzab apapun hendaknya ditimbang dengan Al Quran dan Sunah Rasulullah SAW.

Jangankan di bidang agama, di bidang keduniaan saja masalah kepemimpinan ditempatkan pada inti manajemen. Kok Sunni menempatkannya di bidang furu’ ? Pantas saja sampai saat inipun kepemimpinan Sunni engga begitu jelas.

Secara garis besar Islam terbagi dalam dua mahzab besar yaitu Sunni dan Syiah. Masing-masing mahzab memiliki formulasi Islam tersendiri. Adalah tidak benar jika seseorang menuduh bahwa Syiah adalah ajaran yang tidak memiliki landasan dalam Islam atau sebaliknya menuduh Mahzab Sunni tidak memiliki landasan. Landasan selalu ada dan itulah yang membuat kedua mahzab tersebut bertahan ratusan tahun lamanya. Seseorang boleh saja mempersepsi yang mana yang benar dan yang mana yang salah menurutnya dan dengan dasar itu dia berhak untuk memilih mahzab yang akan dianutnya. Hal yang patut dihindari adalah fanatisme mahzab yang membuat seseorang begitu terpolarisasi seakan-akan setiap apapun yang bukan dari mahzabnya adalah sesat.

Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah memiliki landasan awal yang sama yaitu Berpegang pada Al Quranul Karim dan Sunah Rasulullah SAW. Perbedaannya terletak pada landasan yang lebih lanjut. Mahzab Sunni mengambil Sunah Rasulullah SAW dominan dari sahabat-sahabat Nabi SAW sedangkan Mahzab Syiah mengambil Sunnah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait.

Tulisan ini akan meninjau kedua landasan lanjut Mahzab Sunni dan Mahzab Syiah.

Mahzab Syiah adalah Mahzab Ahlul Bait
Seperti yang dijelaskan sebelumnya Syiah mengambil Sunah Rasulullah SAW dari Ahlul Bait. Dalam pandangan Syiah Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat Islam setelah Al Quran. Hal ini ternyata sesuai dengan apa yang dinyatakan Rasulullah SAW sendiri

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Catatan : hadis semacam ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim Naisaburi dg banyak jalur :

- jumlah perawi dari kalangan sahabat : 24 org
- jumlah perawi dari kalangan thabi’in : 19 org
- jumlah perawi dari abad kedua s/d keempat belas : 323 org
shg hadis ini telah mencapai derajat mutawatir !

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s