Kenapa Abu Hurairah, Ibnu Umar dan Aisyah Terlalu Banyak Merawi Hadis ???

“Hari kamis! Betapa tragis hari itu!” Kemudian Ibnu Abbas menangis keras sehingga air matanya mengalir ke pipi. Kemudian ia menambahkan (Rasulullah bersabda), “Ambikan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan pernyataan yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku.” Mereka berkata, “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau!” (HR. Muslim)

Sebagain sahabat menilai Nabi ‘yahjur” (bicara tidak karuan akibat sakit berat)…

Apakah saya harus mencintai sahabat yang menilai nabi meracau? Ami-amit. Sumpah, naudzubillahi min dzalik.

udah….jangan debat…… kita bicara kenyataannya ajah………

1. ahlu sunnah itu ngakunya pengikut sunnah…..tp sunnah bikinan sendiri. bikinan orang orang yang dengki sama nabi dan keluarga nya. bukan sunnah dari nabi. cuma belaga belaga dari nabi. makanya ceritanya semua muter muter dan kacau tabrakan melulu antara hadis ini sama itu. gak karuan.
Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadis yang didengarnya dari Nabi SAW. Di antara sahabat yang paling banyak menghapal/meriwayatkan hadis ialah Abu Hurairah. Menurut keterangan Ibnu Jauzi bahwa hadis yang diriwayatkan oleh

-Abu Hurairah sejumlah 5.374 buah hadis.
-Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
-Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
-Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
-Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
-Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
-Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.

Selain itu bagaimana mungkin Bukhori dan Muslim dg umur yg sekitar 60-70 tahun mampu menyeleksi ratusan ribu hadis dan mewawancarai ribuan org yg memiliki hadis yg domisilinya terpencar-pencar ?

Apa masih pantas kitab hadis Bukhori Muslim diberi label “Sahih” ?

Bukhori misalnya tdk mau mewawancarai Imam az-Zaki al-Askari, cucu Rasulullah saw yg sezaman dgnya dan sedikitpun tdk berhujjah dg Imam Ja’far Ash-Shadiq, Imam Kazhim, Imam Ridho, Imam al-Jawad, Hasan bin al-Hasan, Zaid bin Ali bin Husein, Yahya bin Zaid, an-Nafs Az Zakiyah, Ibrahim bin Abdullah, Muhammad bin Qasim bin Ali dan dari keturunan Ahlul Bait manapun. Sebaliknya Bukhori meriwayatkan dari banyak kaum Khawarij yg memusuhi Ahlul Bait dan tokoh2 yg terkenal jahil terhdp keluarga Rasulullah saw.

Total hadis2 yg diriwayatkan Abu Hurairah menurut Muhammad bin Hazm berjumlah 5374, jauh lebih banyak dari jumlah hadis yg diriwayatkan oleh Abu Bakar (22), Umar (50) dan Usman (9).

Bagaimana dg Ibnu Abbas ? Ternyata dalam jalur periwayatan hadis Ibnu Abbas terdpt org2 spt Abu Sahl As-Suri yg dikenal sbg pembohong, pencipta hadis palsu dan pencuri hadis dan Abdul Quddus Abu Said ad-Damasyqi juga sbg pembohong ! (Lisan al-Mizan, Tarikh al-Baghdadi dll). He he he mau ngibulin org ?

Dalam hadis aswaja sunni Memang bisa saja berbunyi “dari Ali dari Rasulullah saw” Tapi ketika diteliti sanadnya pasti ada pembohong. Itu sama saja dg hadis maudhu. Coba pikir bagaimana mungkin seorang yg dijegal menjadi khalifah, diasingkan dan diperangi oleh org spt Aisyah dan Muawiyah dan dilaknat selama 80 thn dan keturunannya dibunuh baik oleh para penguasa Bani Umayah maupun Abbasiyah, hadisnya dimasukkan kedalam kitab hadis Sunni sbg hadis sahih ?

He he he jadi macem mana kualitas kitab2 hadis Sunni itu ?

2. kalangan ahlu sunah itu sekumpulan orang yang keras kepala dalam mempertahankan tradisi dari zaman bani umayah. makanya ciri ciri kalangan ahlu sunah itu bodoh dan keras kepala. gak pernah berpikir logis. contohnya waktu dibilangin bahwa ayat yang artinya ” ikutilah allah rasulnya, dan orang yang menunaikan zakat pada saat dia rukuk”. jelas ayat ini buat ali bin abithalib, tp mereka bilang bukan. itu buat rasulallah. makanya dibilang ulama bodo. tolol dan keras kepala. masa’ allah bilang ikutilah allah, rasulnya, dam rasulnya lagi?? pasti!! orang ketiganya orang lain.

3. “kalangan ahlu sunah tidak terima kalau keluarga nabi itu di beri kelebihan oleh allah ta’ala dari semua mahluk yang lain”. ciri ini sama persis….sama yang diusir dari surga karena gak terima adam yang diberi kelebihan sama allah.

4. ahlu sunnah wal jamaah…….kata kata yang baik di gunakan buat maksud yang salah…… sama seperti waktu muawiyah perang udah kalah…. belaga belaga pakai kata “tidaka da hukum kecuali hukum allah” benar benar kata kata yang haq tapi sayang…..dipakai buat nipu……ada kepentingan politis masuk spt dlm Sahih Bukhori ? Apa bukan menipu namanya kalau ada org jual barang jelek dibilang bagus ?

He he he…makanya baca sejarah yg netral dong. Pikir dg akal yg sehat, kenapa Abu Bakar dkk mengancam mau membakar rumah Fatimah segala ? Ada apa ? Kenapa waktu mengadakan “pemilihan” khalifah di Bani Saidah, Abu Bakar, Umar dll tdk menunggu Ali yg sedang mengurus jenazah Nabi saw ? Kenapa Abu Bakar tdk memberikan Tanah Fadak milik Rasulullah kpd Fatimah sbg ahli waris ? Semua itu bukan serba kebetulan, tetapi dirancang oleh suatu konspirasi untuk menjegal atau mencegah Ali dan Ahlul Bait mememegang kekhilafahan, karena konspirasi Quraisy tdk menghendaki berkumpulnya Nubuwwah dan Khilafah dlm kekuasaan Bani Hasyim.He he engga tdk dikotak-kotak juga memang sdh terkotak-kotak sejak Nabi wafat.

Syiah merujuk segala sesuatu kepada para imam yang maksum dari kalangan keluarga Nabi SAWA.

Contoh-contoh yang aku sebutkan ini dan yang tidak aku sebutkan jumlahnya jauh berlipat ganda – sudah cukup untuk menolak hadith ini. Mengingatkan bahawa dari sunnahnya Abu Bakar, Umar dan Uthman bercanggah dengan Sunnah Nabi bahkan membatalkannya sama sekali seperti yang nampak jelas.

Mereka  juga menghormati Muawiyah bin Abi Sufian yang telah meracuni Hasan hingga syahid. Bahkan mengatakan yang Muawiyah adalah penulis wahyu sebagaimana mereka juga menghormati A’mr bin Ash seperti mereka menghormati Ali bin Abi Talib.

Sungguh ini adalah percanggahan dan percampuran antara yang hak dengan batil; suatu usaha untuk menutupi yang terang dengan kegelapan. Kalau tidak maka bagaimana mungkin hati seorang Mukmin dapat menghimpun rasa cinta kepada Allah dan cinta juga pada syaitan. Allah berfirman di dalam KitabNya:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah, dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadaNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung” (Al-Mujadalah: 22).

FirmanNya lagi:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhKu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) kerana rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu” (Al-Mumtahanah: 1).

Setelah itu aku ketahui bahawa sebahagian ulama kita berusaha bersungguh-sunguh untuk menutupi kebenaran agar tidak terungkap masalah-masalah sahabat dan para khalifah yang menjadi pemimpin dan teladan mereka. Itulah kenapa kadang-kadang mereka mentakwilkan hadith-hadith yang sahih dengan mentafsirkannya dengan makna yang tidak tepat; atau kadang-kadang mendustakan hadith-hadith yang bercanggah dengan madzhab mereka walau ianya tertulis di dalam buku-buku sahih mereka dan dibawa oleh sanad-sanad mereka. Atau kadang-kadang mereka menghapuskan setengah atau sepertiga isi hadith dan menggantikannya dengan kata-kata begitu dan begini!!! Atau kadang-kadang mereka meragukan para perawi yang dipercayai lantaran meriwayatkan hadith-hadith yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Atau kadang-kadang mereka menulis suatu hadith di dalam cetakan pertama dari suatu buku, kemudian menghapuskannya di dalam cetakan ulangan berikutnya tanpa memberikan apa-apa alasan, betapapun diketahui sebab-sebabnya oleh para pemerhati!

Semua ini telah aku saksikan sendiri ketika aku masih mengkaji dan mencari kebenaran. Dan aku mempunyai dalil-dalil yang kuat atas apa yang aku katakan ini. Aku harap mereka tidak mengulangi lagi usaha yang sia-sia ini sekadar untuk menjustifikasi tindakan para sahabat yang telah berpaling itu. Ini kerana ucapan-ucapan mereka saling bercanggah dan bahkan bercanggah dengan fakta sejarah. Cubalah mereka mengikuti yang benar (al-haq), walaupun ianya pahit. Kerananya mereka akan bahagia dan membahagiakan orang lain juga, dan bahkan menjadi sebab perpaduan ummah yang telah bercerai -berai ini.

Bahkan sebahagian sahabat generasi pertama juga tidak jujur di dalam meriwayatkan hadith-hadith Nabi SAWA. Mereka telah menafikan hadith-hadith yang tida sejalan dengan kehendak nafsu mereka khasnya jika ianya tergolong di antara hadith-hadith wasiat yang diwasiatkan oleh baginda Nabi SAWA di masa-masa sebelum wafatnya. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahawa Rasulullah SAWA berwasiat sebelum wafatnya dengan tiga perkara:1. Keluarkan kaum musyirikin dari Jazirah Arab 2. Berikan hadiah kepada para utusan (delegasi) seperti yang aku lakukan.Lalu perawi berkata: Aku lupa yang ketiga

Apakah diterima oleh akal bahawa para sahabat yang hadir yang mendengar tiga wasiat Nabi itu lupa pada wasiat yang ketiga sedangkan mereka adalah orang-orang yang menghafal syair-syair panjang setelah mendengarnya sekali sahaja? Tentu tidak sama sekali. Hanyalah politik yang memaksa mereka melupakannya dan tidak menyebutnya. Dan ini merupakan musibah lain yang ada pada sahabat-sahabat itu. Tidak ragu-ragu lagi bahawa wasiat yang dimaksudkan Nabi tersebut adalah perlantikannya kepada Ali sebagai khalifah setelahnya. Tetapi perawi itu tidak menyebutnya.

Seseorang yang mengkaji permasalahan ini merasakan yang wasiat itu sebenarnya berupa perlantikan baginda kepada Ali, walau ianya ditutup-tutupi. Bukhari dan Muslim dalam Bab al-Wasiyah meriwayatkan bahawa Nabi berwasiat untuk Ali di tengah kehadiran Aisyah ..Lihatlah betapa Allah pancarkan cahayaNya walau orang-orang zalim cuba untuk menutupinya.

Aku ulangi lagi bahawa jika para sahabat tidak thiqah di dalam meriwayatkan wasiat-wasiat Nabi SAWA, maka tidak hairan kalau itu berlaku pada Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in (generasi selepas sahabat).

Jika Aisyah, Ummul Mukminin, tidak dapat menahan dirinya mendengar nama Ali disebutkan dan tidak merasa senang, seperti yang dikatkan oleh Ibnu Saa dalam Tabaqatnya dan Bukhari dalam kitabnya Bab Nabi Sakit Dan Wafat; dan jika Aisyah sujud syukur apabila mendengar kewafatan Ali, maka bagaimana dapat diharapkan yang beliau meriwayatkan wasiat Nabi kepada Ali, sementara beliau sangat dikenal oleh kalangan khusus dan umum tentang permusuhan dan kebenciannya terhadap Ali dan anak-anaknya serta Ahlul Bayt Nabi SAWA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s