Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

 

Sumber : Secondprince

Shahihkah Atsar Ibnu ‘Abbas : Haramnya Alat Musik Duff ?

Terdapat riwayat dari Ibnu ‘Abbaas yang dijadikan hujjah oleh sebagian orang untuk mengharamkan musik.

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنبأ أبو منصور العباس بن الفضل النضروي ثنا أحمد بن نجدة ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو عوانة عن عبد الكريم الجزري عن أبي هاشم الكوفي عن بن عباس قال الدف حرام والمعازف حرام والكوبة حرام والمزمار حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nashr bin Qatadah yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Manshuur Al ‘Abbas bin Fadhl An Nadhrawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Najdah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy dari Abi Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbaas yang berkata “Duff haram, Al Ma’azif haram, Al Kuubah haram dan seruling haram” [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20789]

Riwayat Ibnu ‘Abbaas di atas tidak tsabit, ia mengandung illat [cacat]. Ibnu Hajar menyebutkan dalam Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193 riwayat tersebut

قَالَ مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ الْكُوبَةُ حَرَامٌ وَالدُّفُّ حَرَامٌ وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ وَالْمَزَامِيرُ حَرَامٌ

Musaddad berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhu] berkata “Al Kuubah haram, duff haram, Al Ma’aazif haram dan seruling haram” [Al Mathalib Al ‘Aaliyah no 2193]

.

.

Terdapat idhthirab pada sanadnya dari sisi Abu Awanah, terkadang ia meriwayatkan dari Abi Haasyim dari Ibnu ‘Abbaas dan terkadang ia meriwayatkan dari Abdul Kariim Al Jazariy dari Abu Haasyim Al Kuufiy dari Ibnu ‘Abbas.

Abu Awanah seorang yang tsiqat tsabit namun ternukil sedikit kelemahan padanya. Ahmad bin Hanbal berkata “Jika Abu Awanah menceritakan hadis dari kitabnya maka ia tsabit dan jika ia menceritakan dari selain kitabnya maka ia pernah melakukan kesalahan”. Abu Hatim berkata “kitabnya shahih dan jika ia menceritakan dari hafalannya maka terdapat banyak kekeliruan dan ia seorang yang shaduq tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 9/40-41 no 173]. Tentu saja kelemahan ini tidak melemahkan Abu Awanah secara mutlak, hanya sebagai qarinah yang menguatkan bahwa idhthirab sanad tersebut kemungkinan besar berasal darinya.

Kemudian cacat lain adalah Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak diketahui dengan pasti siapa dia?. Mereka yang menyatakan shahih atsar Ibnu ‘Abbaas di atas berhujjah bahwa Abu Haasyim yang dimaksud adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy

سعد أبو هاشم السنجاري سمع بن عباس وابن عمر روى عنه خصيف وعبد الكريم

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy mendengar dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar dan telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim [Tarikh Al Kabiir Al Bukhariy juz 4 no 1981]

سعد أَبُو هَاشم السنجاري سكن دمشق يرْوى عَن بن عَبَّاس وابْن عمر روى عَنهُ خصيف وعَبْد الْكَرِيم الجزريان

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tinggal di Dimasyiq meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Khusaif dan ‘Abdul Kariim, keduanya Al Jazariy [Ats Tsiqat 4/296 no 2987]

سعد أبو هاشم السنجارى جزرى روى عن ابن عمر و ابن عباس روى عنه على بن ذيمة وخصيف وعبد الكريم وهلال بن خباب سمعت ابى يقول ذلك. قال أبو محمد وروى عنه اسماعيل بن سالم. حدثنا عبد الرحمن انا أبو بكر بن ابى خيثمة فيما كتب إلى قال سألت يحيى بن معين عن ابى هاشم السنجارى قال اسمه سعد روى عن ابن عمر بصرى ثقة

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy Jazariy meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbaas, telah meriwayatkan darinya ‘Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim dan Hilaal bin Khabaab, aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Abu Muhammad mengatakan telah meriwayatkan darinya Isma’iil bin Saalim. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Khaitsamah dengan kitabnya dimana ia berkata aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in tentang Abi Haasyim As Sinjaariy, Ia berkata “namanya Sa’d, telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan dia orang Bashrah yang tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 4/98 no 436]

سعد أبو هاشم السنجاري حدث عن ابن عباس وابن عمر وعنه علي بن بذيمة وخصيف وعبد الكريم الجزري، وهلال بن خباب، وإسماعيل بن سالم وثقه ابن معين وقيل هو بصري نزل سنجار

Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy menceritakan hadis dari Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Badziimah, Khusaif, ‘Abdul Kariim Al Jazariy, Hilaal bin Khabaab dan Isma’iil bin Saalim, ditsiqatkan Ibnu Ma’in dan dikatakan ia orang Bashrah yang tinggal di Sinjaar [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 3/53 no 75]

Jika melihat dari perawi yang meriwayatkan dari Abu Haasyim yaitu Abdul Kariim Al Jazariy dan ia meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbaas maka terdapat kemungkinan Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Hanya saja Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy tidak dikenal sebagai Abu Haasyim Al Kuufiy. Tidak ada keterangan dalam kitab biografi perawi bahwa ia adalah orang Kufah, justru disebutkan bahwa ia adalah orang Bashrah yang tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar. Maka disini juga terdapat kemungkinan bahwa bisa saja Abu Haasyim Al Kuufiy yang dimaksud bukan Abu Haasyim As Sinjaariy.

Dua kemungkinan tersebut sama-sama memiliki qarinah yang menguatkan dan tidak bisa ditarjih maka hujjah mereka yang menshahihkan atsar Ibnu ‘Abbaas masih berdasarkan kemungkinan yang tidak menafikan kemungkinan yang lain.

.

.

Syaikh Al Albaniy dalam kitab Tahrim Alati Ath Tharb hal 92 menyatakan bahwa atsar Ibnu ‘Abbaas di atas kemungkinan sanadnya shahih dan ia menguatkan kemungkinan kalau Abu Haasyim tersebut adalah Abu Haasyim As Sinjaariy


Tahrim Alati Tharb

Tahrim Alati Tharb hal 92

قلت : و هذا إسناد صحيح إن كان ( أبو هاشم الكوفي ) هو ( أبو هاشم السنجاري ) المسمى ( سعدا ) فإنه جزري كعبد الكريم وذكروا أنه روى عنه لكن لم أر من ذكر أنه كوفي وفي ” ثقات ابن حبان ” ( 4 / 296 ) أنه سكن دمشق والله أعلم

Aku [Syaikh Al Albaniy] katakan “sanad ini shahih jika Abu Haasyim Al Kuufiy adalah Abu Haasyim As Sinjaariy yang bernama Sa’d. Ia adalah Al Jazariy sama seperti ‘Abdul Kariim dan disebutkan bahwa ia [Abdul Kariim] telah meriwayatkan darinya tetapi aku tidak melihat ada yang menyebutkan bahwa ia orang kuufah. Dalam Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/296 disebutkan bahwa ia tinggal di Dimasyiq, wallahu a’lam [Tahrim Alati Ath Tharb hal 92]

Sebenarnya pernyataan ini bisa dikatakan sesuatu yang aneh jika diteliti lebih lanjut bagaimana pandangan Syaikh Al Albani terhadap gurunya Al Baihaqi dalam sanad tersebut yaitu Abu Nashr bin Qatadah.

Silsilah Adh Dhaifah juz 8

Silsilah Adh Dhaifah juz 8 hal 337

Syaikh pernah berkomentar tentang suatu hadis dalam kitabnya yang lain, dimana ia berkata

ورجاله ثقات غير شيخ البيهقي أبي نصر بن قتادة فلم أعرفه

Dan para perawinya tsiqat selain gurunya Al Baihaqiy yaitu Abi Nashr bin Qatadah, aku tidak mengenalnya [Silsilah Al ‘Ahaadiits Adh Dhaiifah Syaikh Al Albaniy 8/337]

Kalau Syaikh Al Albaniy tidak mengenal Abu Nashr bin Qatadah maka apa yang membuatnya menyatakan shahih sanad yang di dalamnya ada Abu Nashr bin Qatadah.

Abu Nashr bin Qatadah salah seorang guru Al Baihaqiy memang tidak ditemukan biografinya dalam kitab Rijal tetapi Al Baihaqiy banyak meriwayatkan hadis darinya dan dalam sebagian hadis yang ia riwayatkan telah dinyatakan shahih sanadnya oleh Al Baihaqiy [salah satunya bisa dilihat dalam Sunan Al Kubra Baihaqiy 4/336 no 8458]. Perkataan Baihaqiy “sanadnya shahih” berarti menunjukkan tautsiq terhadap Abu Nashr bin Qatadah.

Selain Syaikh Al Albaniy, Syaikh ‘Abdullah bin Yusuuf Al Judai’ juga menguatkan atsar Ibnu ‘Abbaas ini dengan alasan yang sama bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Adapun penyebutan Al Kuufiy maka Syaikh Al Judai’ menyebutkan bahwa mungkin saja ia pernah tinggal di Kuufah atau berasal dari Kuufah. [Ahaadiits Dzam Al Ghinaa’ Wal Ma’aazif Fii Miizaan hal 151]

Hujjah Syaikh Al Judai’ tersebut tetap berdasarkan pada kemungkinan bahwa Abu Haasyim tersebut adalah Sa’d Abu Haasyim As Sinjaariy. Kemungkinan ini sama kuatnya dengan jika dikatakan Abu Haasyim Al Kuufiy seorang yang majhul tidak ditemukan biografinya dan ia bukan Abu Haasyim As Sinjaariy karena tidak ada keterangan dalam kitab Rijal yang menyebutkan kalau Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang Kuufah. Justru dengan mengumpulkan keterangan tentangnya dalam kitab-kitab Rijal dapat dinyatakan bahwa Abu Haasyim As Sinjaariy adalah orang yang berasal dari Bashrah dan tinggal di Dimasyiq dan Sinjaar.

.

.

Kemudian jika diteliti dengan baik maka matan atsar Ibnu ‘Abbas tersebut mungkar yaitu bertentangan dengan hadis shahih yang mengabarkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan seseorang memainkan duff di hadapan Beliau.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب ثنا حسين حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه ان أمة سوداء أتت رسول الله صلى الله عليه و سلم ورجع من بعض مغازيه فقالت انى كنت نذرت ان ردك الله صالحا ان أضرب عندك بالدف قال ان كنت فعلت فافعلي وان كنت لم تفعلي فلا تفعلي فضربت فدخل أبو بكر وهى تضرب ودخل غيره وهى تضرب ثم دخل عمر قال فجعلت دفها خلفها وهى مقنعة فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الشيطان ليفرق منك يا عمر أنا جالس ها هنا ودخل هؤلاء فلما ان دخلت فعلت ما فعلت

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubaab yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya seorang budak wanita hitam datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika Beliau kembali dari sebuah perperangan. Maka Budak itu berkata “sesungguhnya aku pernah bernadzar untuk memukul Duff di dekatmu jika Allah mengembalikanmu dalam keadaan selamat”. Beliau berkata “jika engkau telah bernadzar maka lakukanlah jika tidak maka tidak perlu kau lakukan”. Maka ia memukul duff, kemudian Abu Bakar masuk, ia tetap memukulnya. Masuklah sahabat yang lain maka ia tetap memukulnya kemudian ketika Umar masuk ia menyembunyikan Duff tersebut di balik punggungnya dan ia menutupinya. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya setan benar-benar takut kepadamu wahai Umar, aku duduk disini dan mereka masuk, ketika engkau masuk maka ia melakukan apa yang telah ia lakukan tadi” [Musnad Ahmad 5/353 no 23039, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

.

.

Kesimpulan

Atsar Ibnu ‘Abbaas yang mengatakan haramnya duff dari segi sanad memiliki illat [cacat] yang menjatuhkan sehingga tidak bisa dijadikan hujjah, kemudian dari segi matan hal itu mungkar bertentangan dengan kabar shahih dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membolehkan menabuh duff.

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Sumber : Secondprince

 

Takhrij Hadis Haram Al Kuubah : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Mengharamkan Musik

Pada awal mula berdirinya blog ini, kami pernah menuliskan kajian singkat mengenai hukum Musik termasuk hadis-hadis yang dijadikan hujjah untuk mengharamkan Musik. Diantara hadis-hadis tersebut terdapat hadis yang matannya menyebutkan tentang pengharaman Al Kuubah. Dan Al Kuubah ini dinyatakan oleh sebagian ulama sebagai salah satu alat musik tabuh seperti gendang.

Tulisan ini akan mengkaji lebih dalam mengenai hadis Al Kuubah dan pendapat yang rajih [di sisi penulis] berdasarkan kaidah ilmiah mengenai makna hadis tersebut.

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو أحمد ثنا سفيان عن على بن بذيمة حدثني قيس بن حبتر قال سألت بن عباس عن الجر الأبيض والجر الأخضر والجر الأحمر فقال ان أول من سأل النبي صلى الله عليه و سلم وفد عبد القيس فقالوا انا نصيب من الثفل فأي الاسقية فقال لا تشربوا في الدباء والمزفت والنقير والحنتم واشربوا في الاسقية ثم قال ان الله حرم على أو حرم الخمر والميسر والكوبة وكل مسكر حرام قال سفيان قلت لعلي بن بذيمة ما الكوبة قال الطبل

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Aliy bin Badziimah yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Habtar yang berkata aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbaas tentang Al Jarr [wadah air minum dari tembikar] putih, Al Jarr hijau dan Al Jarr merah. Maka Beliau berkata “sesungguhnya yang pertama kali bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang hal itu adalah delegasi [utusan] ‘Abdul Qais, mereka berkata “sesungguhnya kami memperoleh peralatan, maka tempat-tempat air mana [yang boleh digunakan]?. Beliau berkata “Janganlah kalian minum dari Ad Dubaa’, Al Muzaffat, An Naqiir dan Al Hantam, tetapi minumlah dari tempat-tempat air, kemudian Beliau berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atasku atau telah mengharamkan khamr, judi, Al Kuubah dan setiap yang memabukkan adalah haram. Sufyaan berkata aku bertanya kepada Aliy bin Badziimah, apakah Al Kuubah itu?. Ia berkata “gendang”. [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan hadis di atas dalam kitabnya Al Asyribah hal 79 no 193, Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/356 no 3696, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 5/114 no 2729, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya 12/187 no 5365, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20780, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 41/273-274 semuanya dengan jalan sanad Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan yang menyebutkan lafaz haram Al Kuubah. Adapun Ath Thahawiy juga menyebutkan hadis ini dalam kitabnya Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/223 no 6487 dengan sanad yang sama tetapi tanpa menyebutkan lafaz haram Al Kuubah.

Abu Ahmad Az Zubairiy dalam periwayatan dari Sufyaan memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah sebagaimana yang disebutkan Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam Al Arba’iin hal 99 no 39 dan Ibnu Muqriy dalam Mu’jam-nya hal 375 no 1257.

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ بَذِيمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ حَبْتَرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Qabiishah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan Ats Tsawriy dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari ‘Ibnu ‘Abbaas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan semua yang memabukkan adalah haram. [Al Arba’iin Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy hal 99 no 39]

Sedikit catatan mengenai hadis Qabiishah di atas yaitu lafaz “ya’niy Ath Thabl” setelah lafaz Al Kuubah bukanlah bagian dari lafaz hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi ia adalah perkataan Ali bin Badziimah sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan. Jadi telah terjadi idraaj dalam matan hadisnya.

Al Bazzaar meriwayatkan hadis Qabiishah dari Sufyaan dengan sanad dan matan berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَارَةَ بْنِ صُبَيْحٍ ثنا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ عَنْ قَيْسِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ حَرَّمَ الْمَيْتَةَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ يَعْنِي الطَّبْلَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih yang berkata telah menceritakan kepada kami Qabiishah dari Sufyaan dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya Beliau mengharamkan bangkai, judi, Al Kuubah yaitu gendang dan Ibnu ‘Abbas berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Kasyf Al Asytaar 3/349 no 2913]

Hadis riwayat Al Bazzar ini tidak mahfuuzh karena Muhammad bin ‘Umarah bin Shubaih telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy dalam riwayat dari Sufyaan. Muhammad bin ‘Umaarah bin Shubaih disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/112 no 15474] telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat seperti Ahmad bin ‘Amru Al Bazzaar, Abdullah bin Muhammad bin Naajiyah, Ibnu Abi Dunyaa dan yang lainnya [Mu’jam Syuyuukh Ath Thabariy no 302]. Maka ia seorang yang shaduq hasanul hadis hanya saja ia telah menyelisihi Muhammad bin Aslam Ath Thuusiy seorang yang dikatakan Abu Hatim tsiqat dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/201 no 1129]. Maka riwayat Qabiishah yang tsabit adalah dari Sufyaan dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas.

Sufyaan Ats Tsawriy dalam periwayatan dari Aliy bin Badziimah memiliki mutaba’ah dari

  1. Israiil bin Yunuus sebagaimana disebutkan oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/101 no 12598 dan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 8/303 no 17208 dengan matan yang menyebutkan idraaj lafaz Ath Thabl setelah lafaz Al Kuubah.
  2. Qais bin Rabii’ sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabiir 12/102 no 12599 dengan sanad dari Muhammad bin ‘Abdullah Al Hadhramiy dari Abu Bilal Al Asy’ariy dari Qais bin Rabii’. Hanya saja sanad ini tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena Abu Bilal Al Asy’ariy seorang yang dhaif sebagaimana dikatakan Ad Daruquthniy [Sunan Daruquthniy 1/220 no 71]
  3. Muusa bin A’yaan sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 12/102 no 12600 dengan jalan sanad Muusa bin A’yaan dari Aliy bin Badziimah dari Sa’iid bin Jubair dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dengan matan hanya berupa lafaz “semua yang memabukkan adalah haram” tanpa menyebutkan Al Kuubah.

Sanad yang mahfuzh adalah riwayat Sufyaan dan Isra’iil dari Aliy bin Badziimah dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbaas [tanpa menyebutkan Sa’iid bin Jubair]. Adapun periwayatan Muusa bin A’yaan yang menambahkan Sa’iid bin Jubair antara Aliy bin Badziimah dan Qais bin Habtar mengandung illat [cacat] sebagaimana disebutkan Al Mizziy dalam Tuhfatul Asyraf 4/657-658 no 6333. Al Mizziy membawakan riwayat yang menjadi bukti idhthirab Muusa bin A’yaan dan menukil dari Al Khatib yang mengatakan kalau Muusa bin A’yaan telah tercampur dalam hadis ini dan yang shahih adalah apa yang diriwayatkan Sufyaan dari Aliy bin Badziimah.

Aliy bin Badziimah dalam periwayatan dari Qais bin Habtar memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Maliik Al Jazariy seperti nampak dalam riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبى قال ثنا أحمد بن عبد الملك وعبد الجبار بن محمد قالا ثنا عبيد الله يعنى بن عمرو عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ان الله حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وقال كل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad, keduanya berkata telah mencritakan kepada kami Ubaidillah yakni bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan semua yang memabukkan adalah haram [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/289 no 2625, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Ahmad bin ‘Abdul Malik dan ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad dalam periwayatan dari Ubaidillah bin ‘Amru memiliki mutaba’ah dari

  1. Zakaria bin ‘Adiy sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/350 no 3274 dan dalam kitabnya Al Asyribah hal 35 no 14
  2. ‘Aliy bin Ma’bad sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/216 no 6445
  3. Jandal bin Waaliq sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/213 no 20732
  4. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779 dan Kitabnya Al Adaab hal 423 no 923

Yahya bin Yuusuf Az Zammiy meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru hadis tersebut dengan lafaz berikut

أخبرنا أبو الحسين بن بشران أنبأ الحسين بن صفوان ثنا عبد الله بن محمد بن أبي الدنيا ثنا يحيى بن يوسف الزمي ثنا عبيد الله بن عمرو عن عبد الكريم هو الجزري عن قيس بن حبتر عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله تبارك وتعالى حرم عليكم الخمر والميسر والكوبة وهو الطبل وقال كل مسكر حرام

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Busyraan yang berkata telah memberitakan kepada kami Husain bin Shafwaaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Dunyaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yuusuf Az Zammiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin ‘Amru dari ‘Abdul Kariim, ia Al Jazariy dari Qais bin Habtar dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata Allah tabaraka wata’ala telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan ia adalah gendang dan berkata “segala yang memabukkan adalah haram” [Sunan Al Kubra Al Baihaqiy 10/221 no 20779]

Riwayat di atas mengandung illat [cacat] pada matan “wa huwa ath thabl” setelah lafaz Al Kuubah. Yahya bin Yusuf Az Zammiy adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/319] tetapi dengan lafaz itu ia telah menyelisihi lima perawi tsiqat shaduq yang meriwayatkan dari Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy tanpa menyebutkan lafaz tersebut. Mereka adalah

  1. Zakaria bin Adiy seorang yang tsiqat jaliil hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/313]
  2. Aliy bin Ma’bad Ar Raqiy seorang yang tsiqat faqiih [Taqrib At Tahdzib 1/703]
  3. Ahmad bin ‘Abdul Malik Al Asdiy seorang yang tsiqat, telah membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/40]
  4. ‘Abdul Jabbaar bin Muhammad Al Khaththaabiy seorang yang jaliil, dan Abu Aruubah telah memujinya dengan kebaikan [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 328]
  5. Jandal bin Waaliq seorang yang shaduq pernah melakukan kekeliruan dan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/167].

Oleh karena itu tambahan lafaz “wa huwa ath thabl” tidaklah tsabit sebagai perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena illat [cacat] tafarrud Yahya bin Yusuf yang menyelisihi riwayat jama’ah bahkan diantaranya terdapat perawi yang lebih tsiqat dan hafizh darinya.

Ubaidillah bin ‘Amru Ar Raqiy adalah perawi yang tsiqat faqih dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/637] dan dalam periwayatan dari ‘Abdul Kariim Al Jazariy, ia memiliki mutaba’ah dari Ma’qil bin ‘Ubaidillah perawi yang shaduq sering keliru [Taqrib At Tahdzib 2/201] dalam penyebutan lafaz haram Al Kuubah, yaitu hadis berikut

حدثنا أحمد بن النضر العسكري ثنا سعيدبن حفص النفيلي قال قرأنا على معقل بن عبيد الله عن عبد الكريم عن قيس بن حبتر الربعي عن عبد الله بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ثمن الخمر حرام ومهر البغي حرام وثمن الكلب حرام والكوية حرام وإن أتاك صاحب الكلب يلتمس ثمنه فأملأ يديه ترابا والخمر والميسر وكل مسكر حرام

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy yang berkata kami membacakan kepada Ma’qil bin ‘Ubaidillah dari ‘Abdul Kariim dari Qais bin Habtar Ar Rib’iy dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “hasil penjualan khamar haram, hasil melacur haram, hasil penjualan anjing haram, Al Kuubah haram, dan jika datang kepadamu pemilik anjing meminta hasil penjualan anjingnya maka ia telah memenuhi kedua tangannya dengan tanah, khamar, judi dan segala yang memabukkan adalah haram [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 12/102 no 12601]

Ahmad bin Nadhr Al ‘Askariy disebutkan Ibnu Munadiy bahwa ia termasuk orang yang tsiqat [Tarikh Baghdad 6/413-315 no 2905]. Sa’id bin Hafsh An Nufailiy adalah seorang yang shaduq tetapi berubah hafalannya di akhir umurnya [Taqrib At Tahdzib 1/350]. Sa’iid bin Hafsh An Nufailiy dalam periwayatannya dari Ma’qil bin Ubaidillah memiliki mutaba’ah dari Muhammad bin Yaziid bin Sinan Al Jazariy sebagaimana disebutkan Daruquthniy dalam Sunan-nya 3/7 no 19.

Qais bin Habtar dalam periwayatan dari Ibnu ‘Abbas memiliki mutaba’ah dari Syaibah bin Musaawir sebagaimana disebutkan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Awsath

حدثنا محمد بن أبان نا إسحاق بن وهب ثنا حفص بن عمر الإمام ثنا هشام الدستوائي عن عباد بن أبي علي عن شيبة بن المساور عن بن عباس أن النبي صلى الله عليه و سلم حرم ستة الخمر والميسر والمعازف والمزامير والدف والكوبة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Al Imaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam Ad Dustuwa’iy dari ‘Abbaad bin Abi ‘Aliy dari Syaibah bin Musaawir dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan enam hal yaitu khamar, judi, al ma’azif, seruling, duff dan Al Kuubah [Mu’jam Al Awsath 7/241 no 7388]

Riwayat Ath Thabraniy di atas sanadnya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan penguat dengan alasan sebagai berikut

  1. Hafsh bin ‘Umar Al Imam adalah perawi yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/228].
  2. ‘Abbad bin Abi ‘Aliy tidak dikenal kredibilitasnya, Adz Dzahabiy menyebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis mungkar dan Ibnu Qaththan berkata “tidak tsabit ‘adalah-nya” [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/32-33 no 4135]
  3. Syaibah bin Musaawir disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Ma’in [riwayat Ad Duuriy] bahwa ia tsiqat. Dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa riwayatnya dari Ibnu ‘Abbas mursal [Ta’jil Al Manfa’ah 1/646-647 no 461]. Tautsiq Ibnu Ma’in yang dinukil Ibnu Hajar tersebut keliru, dalam Tarikh Ad Duuriy no 4959 Yahya bin Ma’in menyebutkan tentang Syaibah bin Musaawir tetapi tidak menyebutkan tautsiq terhadapnya.

Kembali pada riwayat Aliy bin Badziimah yang dikeluarkan Ahmad bin Hanbal di atas, riwayat tersebut sanadnya shahih para perawinya tsiqat.

  1. Abu Ahmad Az Zubairiy gurunya Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja sering keliru dalam riwayat Sufyaan Ats Tsawriy [Taqrib At Tahdzib 2/95]. Ia memiliki mutaba’ah dari Qabiishah bin ‘Uqbah seorang yang shaduq terkadang keliru [Taqrib At Tahdzib 2/26]
  2. Sufyan Ats Tsawriy seorang yang tsiqat hafizh faqiih ahli ibadah imam hujjah termasuk pemimpin thabaqat ketujuh, dituduh melakukan tadlis [Taqrib At Tahdzib 1/371]. Ia memiliki mutaba’ah dari Israil bin Yunus seorang yang tsiqat dan ada yang membicarakan tentangnya tanpa hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/88]
  3. Aliy bin Badziimah seorang yang tsiqat dan dikatakan tasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/688]. Ia memiliki mutaba’ah dari ‘Abdul Kariim bin Malik Al Jazariy seorang yang tsiqat mutqin [Taqrib At Tahdzib 1/611]
  4. Qais bin Habtar yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas adalah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/32]

Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas mengenai pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbas [radiallahu ‘anahu] memiliki syahid [penguat] dari riwayat ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [radiallahu ‘anhu] dan Riwayat Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

.

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ الْخَمْرَ وَالْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ وَالْغُبَيْرَاء

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Adh Dhahhaak bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamiid bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Al Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Ghubairaa’ [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal no 207]

Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru [radiallahu ‘anhu] di atas juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 2/171 no 6591, Al Baihaqiy dalam Sunan-nya 10/221 no 20782. Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/519, biografi Walid bin ‘Abdah dan Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhiid 1/247-248 dan At Tamhiid 5/167. Semuanya dengan jalan sanad ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash.

‘Abdul Hamiid bin Ja’far dalam periwayatan dari Yaziid bin Abi Habiib memiliki mutaba’ah dari

  1. Laits bin Sa’ad sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah sebagaimana disebutkan Ibnu Wahb dengan lafaz sanad ‘Amru bin Waliid berkata telah disampaikan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash dan matan yang mengandung tambahan lafaz pengharaman Al Qinniin [Al Muwatta Ibnu Wahb no 75 dan Sunan Baihaqiy 10/222 no 20784]. Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan riwayat Yahya bin Ishaaq dari Ibnu Lahii’ah dari Yazid dari ‘Amru bin Walid dengan lafaz ‘an anah dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan matan tanpa menyebutkan lafaz Al Qiniin [Musnad Ahmad bin Hanbal 2/158 no 6478]
  3. Muhammad bin Ishaaq, telah meriwayatkan darinya tiga perawi yaitu pertama Hammaad bin Salamah sebagaimana yang disebutkan Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/353 no 3685, Ath Thahaawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsar 4/217 no 6451, Ya’qub bin Sufyaan dalam Ma’rifat Wal Tarikh 2/518, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 20781. Kedua Muhammad bin Salamah Al Harraaniy sebagaimana disebutkan Al Bazzaar dalam Al Bahr Az Zukhaar 6/424-425 no 2454. Kedua perawi ini [Hammad dan Muhammad bin Salamah] meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari Walid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash. Ketiga adalah Yaziid bin Haruun sebagaimana disebutkan Abu Ubaid Qaasim bin Salaam dalam Ghariib Al Hadiits 5/304 dengan jalan sanad dari Ibnu Ishaaq dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah atau ‘Waliid bin ‘Abdah].

Dari ketiga mutaba’ah tersebut hanya Laits bin Sa’ad yang tsabit sebagai penguat bagi ‘Abdul Hamiid bin Ja’far. Adapun riwayat Muhammad bin Ishaaq tidak mahfuzh dengan alasan sebagai berikut

  1. Adanya idhthirab pada riwayat Muhammad bin Ishaaq yaitu terkadang ia menyebutkan dari Yazid dari Waliid bin ‘Abdah dari Abdullah bin ‘Amru dan terkadang menyebutkan dari Yazid dari ‘Abdullah bin ‘Amru [tanpa menyebutkan Waliid bin ‘Abdah].
  2. Semua riwayat Muhammad bin Ishaaq, ia riwayatkan dengan lafaz ‘an anah padahal ia masyhur melakukan tadlis dari perawi dhaif dan majhul sehingga Ibnu Hajar memasukkan namanya dalam mudallis martabat keempat [Thabaqat Al Mudallisin hal 51 no 125]
  3. Muhammad bin Ishaaq telah menyelisihi riwayat Laits bin Sa’ad dan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far dimana Muhammad bin Ishaaq menyebutkan orang yang meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru adalah Waliid bin ‘Abdah. Sedangkan kedua perawi tsiqat yaitu Laits dan ‘Abdul Hamiid [yang lebih tsiqat dari Ibnu Ishaaq] menyebutkan dengan nama ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah.

Sedangkan riwayat Abdullah bin Lahii’ah terdapat pembicaraan tentangnya karena mengandung illat [cacat] yang tersembunyi yaitu idhthirab pada sisi Ibnu Lahii’ah. Terkadang ia meriwayatkan dengan sanad berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يحيى ثنا بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هبيرة الكلاعي عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال ان ربي حرم على الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui kami pada suatu hari maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku telah mengharamkan khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin” [Musnad Ahmad 2/172 no 6608]

حديث ابن لهيعة عن ابن هبيرة عن أبي هبيرة الكحلاني مولى لعبدالله بن عمرو عن عبدالله بن عمرو أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين حدثناه طلق بن السمح اللخمي

Hadiist Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah dari Abi Hubairah Al Kahlaaniy maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamar, judi, mizr, Al Kuubah dan Al Qinniin. Telah menceritakan kepada kami Thalq bin As Samh Al Lakhmiy [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu Abdul Hakam hal 169]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ أنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُبَيْرَةَ عَنْ أَبِي هُبَيْرَةَ الْكَحْلَانِيِّ عَنْ مَوْلَى لِعَبْدِ اللَّهِ بْن عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَيْهِمْ ذَاتَ يَوْمٍ وَهُمْ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ والْمَيْسِرَ وَالْكُوبَةَ والْقِنِّينَ وَالْكُوبَةُ الطَّبْلُ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kahlaaniy dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, maka Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku ‘azza wajalla telah mengharamkan khamar, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin, Al Kuubah adalah gendang [Al Muwatta Ibnu Wahb no 74]

Riwayat Ibnu Wahb di atas juga disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783 dengan jalan sanad dari Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Abdullah bin Lahii’ah adalah perawi yang shaduq hanya saja setelah kitabnya terbakar maka hafalannya berubah dan kedudukannya menjadi dhaif. Yahya yang dimaksud dalam riwayat Ahmad adalah Yahya bin Ishaaq As Sailahiiniy dan ia disebutkan Ibnu Hajar termasuk sahabat Ibnu Lahii’ah yang terdahulu [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 729 biografi Hafsh bin Haasyim]. Dan Ibnu Wahb juga termasuk yang mendengar Abdullah bin Lahii’ah sebelum ikhtilath, sehingga dikatakan bahwa riwayatnya dari Abdullah bin Lahii’ah adalah shahih [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3563].

Thalq bin As Samh disebutkan Adz Dzahabiy bahwa Abu Hatim berkata “Syaikh Mesir tidak dikenal” dan berkata selainnya “tempat kejujuran, insya Allah” [Mizan Al I’tidal 3/472 no 4030]. Di saat lain Adz Dzahabiy berkata “ada kelemahan padanya” [Diwan Adh Dhu’afa no 2023]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/453]. Dan tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.

Secara ringkas berikut sanad hadis ‘Abdullah bin ‘Amru tentang pengharaman Al Kuubah yang diriwayatkan Abdullah bin Lahii’ah

  1. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  2. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah Al Kalaa’iy dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
  3. ‘Abdullah bin Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abu Hubairah dari Maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash

Ketiga sanad ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang mendengar dari Ibnu Lahii’ah sebelum ia mengalami ikhtilath [sebelum kitabnya terbakar] maka tidak bisa dinyatakan riwayat mana yang lebih rajih. Hal ini berarti menunjukkan adanya idhthirab dan nampak bahwa idhthirab tersebut berasal dari ‘Abdullah bin Lahii’ah.

Jika dikatakan bahwa sanad pertama yaitu dari Yazid dari ‘Amru bin Waliid lebih rajih karena dikuatkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad maka ini bisa jadi benar, hanya saja perlu diperhatikan bahwa tidak semua matan riwayat ‘Abdullah bin Lahii’ah sama dengan matan riwayat Laits bin Sa’ad. Matan pengharaman lafaz Al Qinniin yang ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah tidak terdapat pada riwayat Laits bin Sa’ad maka kedudukannya tidak mafuuzh.

‘Amru bin Waliid dalam periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash memiliki mutaba’ah dari ‘Abdurrahman bin Raafi’ At Tanuukhiy, sebagaimana riwayat berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا يزيد أنا فرج بن فضالة عن إبراهيم بن عبد الرحمن بن رافع عن أبيه عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ان الله حرم على أمتي الخمر والميسر والمزر والكوبة والقنين وزادني صلاة الوتر قال يزيد القنين البرابط

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid yang berkata telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Raafi’ dari Ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amru yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas umatku khamar, judi, mizr, Al Kuubah, Al Qinniin dan menambahkan kepadaku shalat witir. Yazid berkata “Al Qinniin adalah gitar [Musnad Ahmad 2/165 no 6547]

Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan hadis ini dalam Musnad-nya 2/167 no 6564 dan Al Asyribah hal 84 no 214. Riwayat ini sanadnya dhaif karena

  1. Faraj bin Fadhalah seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 2/8]
  2. Ibrahim bin ‘Abdurrahman bin Rafi’ seorang yang majhul [Ta’jil Al Manfa’ah no 15]
  3. Abdurrahman bin Rafi’ At Tanuukhiy seorang yang dhaif [Taqrib At Tahdzib 1/568]

Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa sanad yang tsabit adalah riwayat Abdul Hamiid bin Ja’far dan Laits bin Sa’ad yang bermuara pada Yazid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari ‘Abdullah bin ‘Amru. Para perawinya tsiqat hanya saja terdapat illat [cacat] dengan memperhatikan kedua riwayat

  1. Riwayat Abdul Hamiid menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz ‘an anah
  2. Riwayat Laits bin Sa’ad menyebutkan ‘Amru bin Walid meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru dengan lafaz “telah sampai kepadaku dari”

Jika ditarjih maka riwayat Laits bin Sa’ad lebih rajih karena ia seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48] sedangkan ‘Abdul Hamiid bin Ja’far seorang yang shaduq dituduh berpehaman qadariy dan pernah melakukan kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/554]. Dan jika digabungkan maka menunjukkan bahwa lafaz ‘an anah pada riwayat Abdul Hamiid adalah mursal sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Laits bin Sa’ad. Kesimpulannya hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas ma’lul [cacat] karena mursal.

.

.

.

Hadis Qais bin Sa’ad Al Anshariy

‘Abdullah bin Wahb menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad setelah ia menyebutkan hadis Abdullah bin Lahii’ah dari Ibnu Hubairah. Berikut hadis lengkapnya

وأخبرنا أبو زكريا بن أبي إسحاق المزكي وأبو بكر أحمد بن الحسن القاضي قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أنبأ بن وهب أخبرني بن لهيعة عن عبد الله بن هبيرة عن أبي هريرة أو هبيرة العجلاني عن مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل قال وأنبأ بن وهب أخبرني الليث بن سعد وبن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام قال عمرو بن الوليد وبلغني عن عبد الله بن عمرو بن العاص مثله ولم يذكر الليث القنين

Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Zakaria bin Abi Ishaaq Al Muzakkiy dan Abu Bakar Ahmad bin Hasan Al Qaadhiy, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahii’ah dari ‘Abdullah bin Hubairah dari Abi Hurairah atau Hubairah Al ‘Ajlaaniy dari maula ‘Abdullah bin ‘Amru dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin, dan Al Kuubah adalah gendang, telah memberitakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Laits bin Sa’ad dan Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”. ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Dan Laits tidak menyebutkan Al Qinniin. [Sunan Al Kubra Baihaqiy 10/222 no 20783-20784]

Riwayat di atas juga disebutkan dalam Al Muwatta Ibnu Wahb hal 46 no 74-75. Ibnu ‘Abdul Hakam meriwayatkan dari Ayahnya dari Ibnu Lahii’ah hadis Qais bin Sa’ad di atas sebagai berikut

حديث ابن لهيعة عن يزيد بن أبي حبيب عن عمرو بن الوليد بن عبدة عن قيس بن سعد أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين وكل مسكر حرام حدثناه أبي عبدالله بن عبد الحكم وربما أدخل فيما بين عمرو بن الوليد وبين قيس أنه بلغه

Hadis Ibnu Lahii’ah dari Yaziid bin Abi Habiib dari ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dari Qais bin Sa’ad bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka di dalam masjd, maka Beliau berkata sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kuubah dan Al Qinniin dan setiap yang memabukkan adalah haram. Telah menceritakan tentangnya Ayahku ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dan sepertinya terdapat diantara ‘Amru bin Waliid dan Qais lafaz bahwasanya telah sampai kepadanya [Futuuh Mishr Wa Akhbaruha, Ibnu ‘Abdul Hakam hal 180]

Riwayat Ibnu Wahb dari Ibnu Lahii’ah telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya menunjukkan adanya idhthirab sehingga yang tersisa adalah riwayat Laits bin Sa’ad. Perhatikan matannya

عن قيس بن سعد وكان صاحب راية النبي صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ذلك قال والغبيراء وكل مسكر حرام

Dari Qais bin Sa’ad dan ia sahabat yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan demikian mengatakan “dan ghubairaa’ dan segala yang memabukkan adalah haram”.

Lafaz qaala dzalik di atas merujuk pada matan hadis sebelumnya yaitu hadis Ibnu Lahii’ah dari Ibnu Hubairah

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه و سلم خرج إليهم ذات يوم وهم في المسجد فقال إن ربي حرم علي الخمر والميسر والكوبة والقنين والكوبة الطبل

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar menemui mereka pada suatu hari dan mereka ada di dalam masjid, Beliau berkata “sesungguhnya Rabb-ku mengharamkan atasku khamr, judi, Al Kubbah dan Al Qinniin” dan Al Kuubah adalah gendang

Hanya saja perlu dipahami [berdasarkan qarinah yang kuat] bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” setelah lafaz qinniin bukan bagian dari hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Qarinahnya adalah sebagai berikut

  1. Riwayat Yahya bin Ishaaq dan Thalq bin As Samh dari Ibnu Lahii’ah menyebutkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash di atas tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”
  2. Riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah [sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abdul Hakam] menyebutkan hadis Qais bin Sa’ad tanpa menyebutkan lafaz “wal kuubah ath thabl”. Dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dikatakan tsiqat oleh Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatiim 5/105-106 no 485]. Hanya saja tidak diketahui apakah ia meriwayatkan dari Abdullah bin Lahii’ah sebelum atau sesudah kitabnya terbakar.
  3. Pada matan riwayat Baihaqiy di atas memang terdapat lafaz dimana perkataan perawi tercampur dengan hadisnya tanpa terdapat keterangan milik siapa lafaz tersebut. Seperti misalnya lafaz ولم يذكر الليث القنين lafaz ini tertulis sesudah lafaz ‘Amru bin Walid berkata “dan telah sampai kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Ash seperti itu”. Tidak mungkin lafaz ini masuk dalam perkataan ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah dan kemungkinannya lafaz ini adalah milik Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam. Maka lafaz والكوبة الطبل besar kemungkinan juga perkataan Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam terhadap tafsir Al Kuubah.

Maka dapat disimpulkan bahwa lafaz “wal kuubah ath thabl” bukan bagian dari hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Adapun lafaz qinniin, itu hanya ada pada riwayat Ibnu Lahii’ah sedangkan pada riwayat Laits tidak ada. Maka lafaz qaala dzalik itu mencakup pengharaman khamar, judi dan Al Kuubah pada riwayat sebelumnya. Secara keseluruhan matan riwayat Laits bin Sa’ad adalah pengharaman khamar, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan setiap yang memabukkan adalah haram.

Riwayat Laits bin Sa’ad sebagaimana yang diriwayatkan Al Baihaqiy kedudukan sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq.

  1. Abu Zakariya bin Abu Ishaq Al Muzakkiy seorang yang tsiqat mulia baik zuhud wara’ dan mutqin [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/295-296 no 179]
  2. Ahmad bin Hasan Abu Bakar seorang imam alim musnad khurasan. As Sam’aniy berkata “tsiqat dalam hadis” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 17/356 no 221]
  3. Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub Al ‘Asham seorang Imam muhaddis. Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah menyatakan tsiqat. Abu Nu’aim bin ‘Adiy berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Abi Hatim berkata “tsiqat shaduq” [Siyar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 15/452-458 no 258]
  4. Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam seorang yang faqih tsiqat [Taqrib At Tahdzib 2/96]
  5. ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/545]
  6. Laits bin Sa’ad Abu Harits Al Mishriy seorang yang tsiqat tsabit faqiih imam masyhur [Taqrib At Tahdzib 2/48]
  7. Yaziid bin Abi Habiib Al Mishriy seorang yang tsiqat faqih [Taqrib At Tahdzib 2/322]
  8. ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah seorang yang shaduq [Taqrib At Tahdzib 1/748]. Ibnu Yuunus menyebutkan bahwa ia temasuk seorang yang mempunyai keutamaan dan ahli fiqih [Tarikh Ibnu Yunus 1/378-379 no 1036]

Ibnu ‘Abdul Hakam yaitu ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dalam kitabnya Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180 menyebutkan riwayat dimana seolah ‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah meriwayatkan dari Qais bin Sa’ad secara mursal yaitu dengan lafaz “telah sampai kabar kepadanya dari Qais”. Seandainya saja sanadnya tsabit dan shahih maka riwayat ini bisa menjadi illat [cacat] yang menjatuhkan hadis Qais bin Sa’ad. Riwayat Ibnu ‘Abdul Hakam tersebut adalah riwayat ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam dari Ibnu Lahii’ah maka kedudukannya tidak tsabit sebagai hujjah karena tidak diketahui apakah ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam meriwayatkan sebelum atau setelah Ibnu Lahii’ah ikhtilath dan kitabnya terbakar.

‘Amru bin Waliid bin ‘Abdah dalam periwayatan dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu] memiliki mutaba’ah dari Bakr bin Sawadah yaitu riwayat berikut

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ قَال حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَحْرٍ عَنْ بَكْرِ بْنِ سَوَادَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَيَّ الْخَمْرَ  وَالْكُوبَةَ وَالْقِنِّينَ وَإِيَّاكُمْ وَالْغُبَيْرَاءَ فَإِنَّهَا ثُلُثُ خَمْرِ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ لِيَحْيَى  مَا الْكُوبَةُ ؟ قَالَ الطَّبْلُ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub dari ‘Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah [radiallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengharamkan atasku khamar, Al Kuubah dan Qinniin dan jauhilah Al Ghubairaa’ karena itu adalah sepertiga khamr di dunia. Ahmad bin Hanbal berkata aku berkata kepada Yahya “apa itu Al Kuubah?”. Ia berkata “gendang” [Al Asyribah Ahmad bin Hanbal hal 40 no 27]

Riwayat ini juga disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 3/422 no 15519, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 18/352 no 897, Ibnu ‘Abdul Hakam dalam Futuuh Mishr Wa Akhbaruha hal 180, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/141-142 no 24540 dengan tambahan lafaz Qinniin adalah Al ‘Uud, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20784 dengan tambahan lafaz, Abu Zakariyaa berkata Al Qinniin adalah Al ‘Uud [Abu Zakariyaa adalah kuniyah Yahya bin Ishaaq maka ini menjelaskan bahwa tambahan lafaz dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah adalah idraaj dari Yahya bin Ishaaq]. Semuanya dengan jalan sanad Yahya bin Ayuub dari Ubaidillah bin Zahr dari Bakr bin Sawaadah dari Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu]. Kedudukan riwayat ini dhaif karena

  1. Ubaidillah bin Zahr berdasarkan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya
  2. Bakr bin Sawaadah berdasarkan qarinah yang kuat, riwayatnya dari Qais bin Sa’ad mursal.

Ubaidillah bin Zahr Al ‘Ifrikiy, Bukhariy berkata “tsiqat” [Ilal Tirmidzi no 335]. Abu Dawud berkata aku mendengar Ahmad mengatakan Ubaidillah bin Zahr tsiqat [Su’alat Abu Ubaid Al Ajurriy no 1523]. Ibnu Hajar mengatakan bahwa Ahmad yang dimaksud disini adalah Ahmad bin Shalih Al Mishriy [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Al Hakim berkata “layyin hadisnya”. Al Khatib berkata “seorang yang shalih dan dalam hadisnya layyin [lemah]. Al Harbiy berkata “selainnya lebih terpercaya darinya”. [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 25]

Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya, Yahya bin Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Aliy bin Madiiniy berkata “munkar al hadiits”. Abu Hatim berkata “layyin [lemah] hadisnya”. Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah, shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 5/315 no 1499]

Yahya bin Ma’in dalam riwayat Ad Dariimiy berkata “semua hadisnya di sisiku dhaif” [Tarikh Ad Dariimiy no 626]. Yahya bin Ma’in berkata dalam riwayat Ibnu Junaid “dhaif dalam hadis” [Su’alat Ibnu Junaid no 549].

Abu Mushir mengatakan bahwa Ubaidillah bin Zahr pemilik riwayat-riwayat mu’dhal dan karenanya lemah hadisnya. Ibnu Adiy mengatakan bahwa hadis-hadisnya tidak memiliki mutaba’ah [Al Kamil Ibnu Adiy 5/522-5214 no 190]

Ya’qub bin Sufyaan berkata “dhaif” [Ma’rifat Wal Tariikh Ya’quub bin Sufyaan Al Fasawiy 2/424]. Daruquthniy berkata “dhaif” [Al Ilal Daruquthniy no 160]. Al Ijliy berkata “ditulis hadisnya dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1156]. Ibnu Hibban berkata “mungkar hadis jiddan, ia meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ dari para perawi tsabit” [Al Majruuhin Ibnu Hibban 2/28-29 no 603]

Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “shaduq sering keliru” [At Taqrib 1/632]. Dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib dikoreksi bahwa kedudukan Ubaidillah bin Zahr adalah dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4290]

Dengan mengumpulkan seluruh perkataan para ulama tentangnya maka pendapat yang rajih tentangnya adalah ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya karena banyak ulama mendhaifkannya dan sebagian jarh terhadapnya bersifat mufassar. Dalam kaidah ilmu hadis jarh mufassar lebih didahulukan dibanding ta’dil, maka dari itu ta’dil sebagian ulama terhadap Ubaidillah bin Zahr hanya mengangkat derajatnya sebagai perawi yang bisa dijadikan i’tibar hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah.

Bakr bin Sawaadah disebutkan oleh Ibnu Hajar yang menukil dari Ibnu Yunuus bahwa ia wafat tahun 128 H [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888] sedangkan Qais bin Sa’ad disebutkan Ibnu Hajar yang menukil dari Al Haitsam bin Adiy, Al Waqidiy, Khaliifah bin Khayyaath dan yang lainnya bahwa ia wafat pada akhir pemerintahan Mu’awiyah [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 702] berarti tahun 60 atau kurang dari itu. Maka terdapat selisih 68 tahun atau lebih antara wafatnya Qais bin Sa’ad dan Bakr bin Sawaadah, hal ini merupakan qarinah kemungkinan terputusnya sanad.

Qarinah [petunjuk] lain adalah Ibnu Hajar menukil dari An Nawawiy bahwa Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash [Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 888]. Sedangkan ‘Abdullah bin ‘Amru wafat setelah wafatnya Qais bin Sa’ad, ada yang mengatakan tahun 63 H, 65 H, 68 H, 73 H, atau 77 H [Tahdzib At Tahdzib juz 5 no 575]. Jika Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Amru maka lebih mungkin lagi Bakr bin Sawaadah tidak mendengar dari Qais bin Sa’ad.

Berdasarkan keterangan di atas maka hadis Bakr bin Sawaadah tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi ‘Amru bin Walid bin ‘Abdah karena kedhaifan Ubaidillah bin Zahr dan terputusnya sanad antara Bakr bin Sawaadah dan Qais bin Sa’ad [radiallahu ‘anhu].

.

.

Secara ringkas pembahasan di atas tentang hadis yang mengharamkan Al Kuubah dapat dilihat dalam poin berikut

  1. Hadis ‘Abdullah bin ‘Abbaas memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah dan segala yang memabukkan
  2. Hadis ‘Abdullah bin ‘Amru diriwayatkan para perawi tsiqat hanya saja mengandung illat [cacat] mursal dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’
  3. Hadis Qais bin Sa’d memiliki sanad yang shahih dengan lafaz pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan

Kesimpulan takhrij hadis di atas dan pembahasannya adalah hadis pengharaman Al Kuubah memiliki sanad yang shahih dari jalan ‘Abdullah bin ‘Abbaas dan Qais bin Sa’ad. Dan lafaz yang tsabit termasuk di dalamnya pengharaman khamr, judi, Al Kuubah, Al Ghubairaa’ dan segala yang memabukkan. Adapun lafaz Al Qinniin maka kedudukannya tidak tsabit.

.

.

.

Pembahasan Makna Al Kuubah

Terdapat perselisihan soal makna Al Kuubah di sisi para ulama. Sebagian mengatakan bahwa Al Kuubah adalah gendang dan dikatakan juga bahwa Al Kuubah adalah dadu yang dipakai pada permainan judi.

   إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ هي النَّرْدُ وقيل الطَّبْل وقيل البَرْبَطُ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah” itu maksudnya adalah dadu, dikatakan itu gendang dan dikatakan itu gitar [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsir hal 815]

وأما الكُوبة فإنّ محمد بن كثير أخبرني أن الكُوبة النرد في كلام أهل اليمن وقال غيره الطبل

Adapun Al Kuubah maka sesungguhnya Muhammad bin Katsiir mengabarkan kepadaku bahwasanya Al Kuubah adalah dadu dalam perkataan penduduk Yaman, dan berkata selainnya bahwa itu adalah gendang [Ghariib Al Hadiits Abu Ubaid Al Haraawiy 5/304]

وفي الحديث إِنَّ اللّه حَرَّم الخَمْرَ والكُوبةَ قَالَ ابْنُ الأَعْرَابِيِّ  الْكُوبَةُ النَّرْدُ  وَيُقَالُ الطَّبْلُ  وَقِيلَ الْبَرْبَطُ

Dan dalam hadis “sesungguhnya Allah mengharamkan khamar dan Al Kuubah”. Ibnu Arabiy berkata Al Kuubah adalah dadu, dan ada yang mengatakan itu adalah gendang, dan dikatakan itu adalah gitar [Al Gharibain Fii Al Qur’an Wal Hadiits Abu Ubaid juz 5 hal 1654]

Pendapat yang mengatakan Al Kuubah adalah gendang memiliki hujjah dari perkataan para perawi hadis yang mengharamkan Al Kuubah. [nampak dalam sebagian riwayat bahwa perawi-perawi tersebut menyisipkan penafsiran mereka ke dalam hadis]

  1. Aliy bin Badziimah sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1/274 no 2476
  2. Yahya bin Yuusuf Az Zammiy sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/221 no 20779
  3. Muhammad bin ‘Abdullah bin Abdul Hakam sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 10/222 no 20783
  4. Yahya bin Ishaaq sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Al Asyribah hal 40 no 27

Terdapat kaidah bahwa tafsir perawi hadis terhadap hadis yang ia riwayatkan lebih didahulukan dibanding tafsir selainnya. Sehingga dengan kaidah ini sebagian ulama merajihkan bahwa makna Al Kuubah adalah gendang.

Kaidah ini benar hanya saja ia tidak bersifat mutlak. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa makna Al Kuubah pada masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah nardu atau dadu

حدثنا عصام قال حدثنا حريز عن سلمان الإلهاني عن فضالة بن عبيد وكان بمجمع من المجامع فبلغه أن أقواما يلعبون بالكوبة فقام غضبانا ينهى عنها أشد النهي ثم قال ألا إن اللاعب بها ليأكل قمرها كآكل لحم الخنزير ومتوضىء بالدم يعني بالكوبة النرد

Telah menceritakan kepada kami ‘Ishaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Hariiz dari Salman Al ‘Alhaaniy dari Fadhalah bin ‘Ubaid dan pada saat itu ia berkumpul pada suatu perkumpulan, maka disampaikan kepadanya bahwa sekelompok orang bermain dengan Kuubah maka ia berdiri marah dan melarangnya dengan larangan yang keras kemudian berkata ketahuilah bahwa bermain dengan itu untuk memakan hasilnya maka seperti memakan daging babi dan berwudhu’ dengan darah. Yang dimaksud Kuubah adalah An Nardu [dadu] [Adabul Mufrad Al Bukhariy 1/433 no 1267]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Fadhalah bin ‘Ubaid dan ia adalah seorang sahabat Nabi [Al Jarh Wat Ta’dil 7/77 no 433].

  1. ‘Ishaam bin Khalid Al Hadhramiy termasuk salah satu guru Bukhariy dalam kitab Shahih-nya. Nasa’iy berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7 no 372]
  2. Hariiz bin ‘Utsman Al Himshiy. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariiz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat”. Duhaim menyatakan ia baik sanadnya shahih hadisnya dan tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]
  3. Salman bin Sumair Asy Syammiy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ia termasuk guru Hariiz dan Abu Dawud mengatakan bahwa semua guru Hariiz tsiqat. [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 230]. Ibnu Hajar berkata “maqbul” [Taqrib At Tahdzib 1/374]. Pendapat yang rajih ia seorang yang tsiqat berdasarkan apa yang disebutkan Abu Dawud dan Al Ijliy berkata “tabiin syam yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 651].

Lafaz “ya’niy bilkuubah annardu” [Kuubah yang dimaksud adalah dadu] bisa jadi berasal dari para perawi sanad tersebut termasuk Al Bukhariy. Hanya saja kami tidak menemukan qarinah kuat yang menunjukkan milik siapa lafaz tersebut. Tetapi riwayat tersebut sangat bersesuaian dengan hadis Nabi berikut

حدثني زهير بن حرب حدثنا عبدالرحمن بن مهدي عن سفيان عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Mahdiy dari Sufyaan dari ‘Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Ayahnya bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang bermain dadu maka ia seperti mencelupkan tangannya dalam daging babi dan darahnya” [Shahih Muslim 4/1770 no 2260]

Maka nampak bahwa makna Al Kuubah dalam riwayat Fadhalah bin ‘Ubaid tersebut adalah An Nardu yaitu dadu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir Al Kuubah sebagai dadu sudah dikenal di masa sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Berdasarkan hal ini maka kami menilai pendapat yang lebih rajih adalah yang menyatakan bahwa makna Al Kuubah adalah dadu [yang dipakai dalam perjudian]. Terbukti bahwa penafsiran tersebut sudah dikenal di masa sahabat sedangkan penafsiran Al Kuubah adalah gendang berasal dari para perawi hadis yang hidup jauh setelah masa sahabat Nabi.

.

.

.

Syubhat Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Radd ‘Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 285 dalam salah satu bantahannya kepada Syaikh Al Judai’ mengatakan bahwa An Nardu sudah termasuk dalam Judi maka ketika Al Kuubah disebutkan setelah Al Maisir [judi] maka makna Al Kuubah disana pasti bukan An Nardu [dadu] tetapi makna lain yaitu Ath Thabl [gendang]. Syaikh membawakan atsar berikut

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ أَخْبَرَنَا وَهْبُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ النَّرْدُ مِنَ الْمَيْسِرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Bayaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Shalih dari Yahya bin Sa’iid dari Naafi’ bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar berkata “an nardu [dadu] termasuk judi” [Tahriim An Nardu, Abu Bakar Al Ajurriy hal 131 hadis no 21]

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menyatakan atsar ini shahih [dan memang demikian]. Hanya saja bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa dengan atsar ini tidak tepat, bahkan justru dengan atsar ini malah menguatkan qarinah bahwa Al Kuubah yang dimaksud adalah An Nardu.

وحدثنا محمد بن المثنى ومحمد بن حاتم قالا حدثنا يحيى ( وهو القطان ) عن عبيدالله أخبرنا نافع عن ابن عمر قال ( ولا أعلمه إلا عن النبي صلى الله عليه و سلم ) قال  كل مسكر خمر وكل خمر حرام

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Haatim keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Yahya [ia Al Qaththaan] dari Ubaidillah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Nafi’ dari Ibnu ‘Umar yang berkata “aku tidak mengetahuinya kecuali dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata semua yang memabukkan adalah khamar dan semua khamar adalah haram” [Shahih Muslim 3/1587 no 2003]

Silakan perhatikan kembali hadis Ibnu ‘Abbaas tentang pengharaman Al Kuubah, dalam matan hadis tersebut ada empat perkara yang diharamkan yaitu

  1. Khamar
  2. Judi
  3. Al Kuubah
  4. Segala yang memabukkan

Telah tsabit dalam hadis shahih bahwa segala yang memabukkan adalah khamar maka pada dasarnya perkara no 4 itu adalah perkara yang sama dengan no 1. Maka wajar pula jika Al Kuubah tersebut bermakna An Nardu [dadu] dan telah tsabit bahwa An Nardu termasuk judi sehingga perkara no 3 itu adalah perkara yang sama dengan no 2. Jadi hujjah Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa menguatkan makna Al Kuubah dalam hadis tersebut sebagai Ath Thabl [gendang] dengan dasar bahwa An Nardu sudah termasuk dalam lafaz judi [maka tidak mungkin Al Kuubah disana bermakna An Nardu] adalah hujjah yang tidak tepat sasaran. Bukankah segala yang memabukkan sudah masuk dalam lafaz “khamar” tetapi tetap saja disebutkan lagi.

Atau mari kita melihat hadis Qais bin Sa’d [radiallahu ‘anhu] dimana terdapat lafaz pengharaman Al Ghubairaa’ setelah pengharaman Khamr. Dan Al Ghubairaa’ sendiri sebenarnya termasuk khamar

قَالَ مَالِك فَسَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ أَسْلَمَ مَا الْغُبَيْرَاءُ فَقَالَ هِيَ الْأُسْكَرْكَة

Maalik berkata aku bertanya kepada Zaid bin Aslam “apakah Al Ghubairaa’, maka ia berkata “ itu adalah Al ‘Uskarkah” [Muwatta Malik riwayat Yahya bin Yahya 2/413 no 2452]

Al ‘Uskarkah yang dimaksud dalam atsar di atas adalah khamar habsyah sebagaimana disebutkan oleh Al Jauhariy [An Nihaayah Fii Ghariib Al Hadiits Wal Atsar Ibnu Atsiir hal 437]

Maka hal ini sangat bersesuaian, Khamr diharamkan dan setelah itu disebutkan pula Al Ghubairaa’ kemudian Judi diharamkan dan disebutkan pula Al Kuubah yang bermakna An Nardu [dadu].

.

.

.

Kesimpulan

Hadis pengharaman Al Kuubah adalah hadis yang shahih hanya saja tidak tepat jika hadis tersebut dijadikan hujjah untuk mengharamkan musik atau alat musik [yaitu gendang]. Pendapat yang rajih adalah makna Al Kuubah tersebut adalah An Nardu yaitu dadu yang sering dipakai dalam perjudian.

Novel Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai (novel ke 7 ferizal)

Saya ( ustad husain ardilla ) penulis web syi’ahali nyata nyata mengklaim mengidolakan karya karya ferizal pelopor sastra novel dokter gigi indonesia.
.
ustad husain ardilla seorang syi’ah juga pecinta novel dokter gigi lho..
.

Cara Beli Novel ferizal
SMS ke: “081907820606″ atau “081945990097″ dengan format: “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Pemesanan”

Foto: PAKET Ke 2,1 YANG TELAH Di KiRiM ViA KANTOR POS DALAM RANGKA PROGRAM PEMBAGiAN NOVEL GRATiS UNTUK ANGGOTA FB FERiZAL : ( https://www.facebook.com/noveldoktergiginafc )</p><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<p>1. Nama penerima : Fitriana, SPd, MSi<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />
<a href=” width=”466″ height=”327″ /></div><br /><br />
<div class=” /></div><br />
<div class=” /></p>
<div class=
.
http://mentawaisurftrip.files.wordpress.com/2010/08/mentawai-surfcamp-81.jpg?w=620
.
Judul Novel ke 7 : “Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai”
Harga : Rp 35.000,-
Penulis : Ferizal
ISBN : 978-602-1203-49-1

.

Cara beli : SMS ke 081907820606
dengan format “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order”

.

Sinopsis:

Beberapa orang Dokter Gigi—Drg. Ferizal, Drg. Dairiana, Drg. Hantayudha, Drg. Made, dan Drg. Sukraeni—secara tidak sengaja harus menghadapi berbagai pertempuran berdarah di Bali, melawan teroris pimpinan Dokter Masta. Kisah laga ini, dengan latar belakang keindahan Pulau Dewata Bali dan Kepulauan Mentawai.

Drg. Ferizal bersumpah terus berjuang selamanya. Tidak akan pernah menyerah memperjuangkan program Kesgilut (Kesehatan Gigi dan Mulut), sampai waktu berakhir ketika tutup usia. Drg. Ferizal, seorang kesatria yang mengibarkan panji-panji kejayaan kesehatan gigi dan mulut, dan tidak sudi profesi Dokter Gigi dianaktirikan.

Ketika tengah berjuang demi eksistensi profesi dan kesehatan gigi di masyarakat, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana harus menghadapi dua kelompok teroris internasional. Diwarnai aksi yang penuh dengan bumbu cipratan darah, maka bermacam-macam rintangan harus dihadapi dengan gagah berani untuk melenyapkan musuh, dan harus tetap hidup dalam situasi yang sungguh sulit.

Selain di Pulau Seribu Pura, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana juga mampu menghancurkan penjahat (pengebom ikan dan terumbu karang) yang merusak alam di Kepulauan Mentawai. Menumpas penjahat dengan petualangan yang penuh aksi baku hantam, Laskar PDGI mampu hancurkan dua teroris—Dokter Masta (teroris berhati singa) dan Kolonel Dedfriadi (teroris penganut ilmu hitam).

Novel ini merupakan novel ke-7, karya Ferizal (penulis novel laga/action hero yang makin berkibar). Enam novel karya Ferizal yang telah terbit berjudul: Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta Harimau Malaya, Ayat Ayat Asmara, dan Dari PDGI Menuju Ka’bah.