Sultan: Yang Sebut Syiah Sesat Merasa Benar Sendiri

 April 20, 2014

Jokowi Presiden, Jalaluddin Rahmad Menteri Agama

Jokowi itu Syi’ah?

sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama.

Sekarang, Jalaluddin Rahmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia. Jalal terkenal ahli komunikasi dan akan sangat berpengaruh dilingkungan PDI.

Dengan masuknya Jalaluddin Rahmat di dalam kabinetnya Jokowi itu, membuat umat Islam Indonesia akan menjadi ‘letih’, energinya habis disibukkan oleh ‘PR’ (pekerjaaan rumah), berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

sebuah informasi beredar, jika Jokowi terpilih menjadi presiden dalam pemilihan presiden nanti, maka Jokowi akan mengangkat tokoh Syi’ah Indonesia, yaitu Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama.

Sekarang, Jalaluddin Rahmat menjadi salah satu calon legislatif dari PDIP, di daerah pemilihan  Jawa Barat. Betapa tokoh Syi’ah ini masuk di PDIP, dan sekarang diakomodasi oleh partai yang dipimpin Mega. Jika Jalaluddin Rahmat menjadi menteri agama, maka ini akan berarti timbulnya bencana di Indonesia. Jalal terkenal ahli komunikasi dan akan sangat berpengaruh dilingkungan PDI.

Dengan masuknya Jalaluddin Rahmat di dalam kabinetnya Jokowi itu, membuat umat Islam Indonesia akan menjadi ‘letih’, energinya habis disibukkan oleh ‘PR’ (pekerjaaan rumah), berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

berhadapan dengan masalah isu Syi’ah. Sehingga, masalah-masalah pokok yang strategisnya tidak lagi mendapatkan perhatian. – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/03/17/29529/jokowi-presiden-jalaluddin-rahmad-menteri-agama/#sthash.fxj00w7c.dpuf

Mungkin Anda akan terkaget-kaget dengan informasi ini.. Emilia Renita AZ adalah Istri dari Jalalludin Rahmat atau yang akrab dipanggil dengan Kang Jalal. Kang Jalal positif menjadi kader PDI-P dan menjadi Caleg PDI-P dengan nomor jadi sebagai perwakilan Syi’ah di DPR RI.Statemen Emilia yang bikin heboh itu adalah :

Itu lho pak Jokowi, yang saya bilang orang Syiah yang akhlaknya baik banget difitnah macam-macam. Untung dia Syiah, jadi orang intoleransinya pada gonggong, Pak Jalal-nya jalan terus. Kalo baca fitnah-fitnahnya, lucu-lucu.. tenan, pak.. hehehee..,” ungkap Emilia dalam akun Facebook-nya pada Ahad (16/03) yang diungkap media online Antiliberalnews dan Dunia Islam.

Emilia secara terang-terangan menantang  dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Apakah MUI Sesat (Berdasarkan 10 Kreteria Aliran Sesat) sebagai buku seranngan balik terhadap MUI yang sebelumnya menerbitkan “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ” dan dibagikan secara gratis kepada Aktivis Islam di seluruh Indonesia.

Dalam sebuah blog Syiah dan di google Anda bisa menemukan sebuah Artikel yang berjudul “Jokowi Presiden, Syi’ah Untung Besar”, dalam Artikel tersebut ditemukan kalimat :

” Keberpihakkan PDI-P pada minoritas sudah tidak diragukan lagi. Misalnya, jika kelompok Islam radikal menghajar syiah, eh…PDIP malah pasang tokoh syiah terkemuka–Kang Jalal—sebagai calegnya. Aksi bar-bar primitif ala Sampang tidak mungkin terulang jika Jokowi jadi Presiden”

Setahu saya, Islam Syiah itu merupakan Aliran Islam yang berani secara terbuka menentang Zionisme Amerika dan Israel.
Contohnya Iran dan sekarang Irak. Sedangkan Islam wahabi sangat menjilat kepada Zionis Amerika dan Israel seperti yang dilakukan oleh Arab Saudi. Itulah sebabnya negara – negara yang masyarakatnya menganut Islam wahabi banyak yang korup, sehingga sulit untuk berkembang.

Bagi saya memang menjadi sangat tidak jelas mengapa umat Islam wahabi  begitu membenci Umat Islam Syiah: Dikejar – kejar, di usir dan dibantai hanya karena Islam Syiah sangat militan dalam menentang Zionis Amerika dan Israel.
Islam wahabi justru sangat terkesan begitu menjilat pada kekuasaan Amerika dan Israel.

anda bilang tidak ada sejarahnya terjadi perang antara Iran dan Amerika ?

Lha Operasi Badai Gurun itu artinya apa ?

Penyanderaan warga Amerika di Teheran itu artinya apa?

Saat perang Iran – Irak, Irak dibantu oleh Amerika dan Israel, sedangkan Iran dibantu oleh Rusia.

Saat itu Iran sedang kesulitan untuk mengoperasikan peralatan perang peninggalan Syah Iran, karena semua persenjataan diimport dari Amerika dan Israel.

Bahwa kemudian ada skandal menyelundupan suku cadang perelatan tempur ke Iran dari Israel dan Amerika, itu kan merupakan hal yang biasa.Setelah itu Iran lebih banyak mendatangkan persenjataan dari Soviet dan China untuk memerangi Amerika dan Israel.

Saat ini yang menjadi simbol perlawanan negara Islam dengan Amerika dan Israel ya Iran.
Iran ngotot untuk mengembangkan Nuklir sendiri.

Alasannya: Untuk kemanusiaan.Tetapi Amerika dan Israel khawatir kalau pengembangan Nuklir yang dilakukan oleh Iran digunakan untuk mengembangkan senjata Nuklir.Negara Islam yang menentang mandirinya Iran andalah negara – negara Islam beraliran wahabi.

Arab Saudi merupakan contoh buruk bagi negara Islam yanbg begitu menjilat pada kekuasaan Amerika dan Israel yang zionist.
Bisa saja suatu saat pengelolaan haji dan pengawasan Kaabah dibawah pengawasan Israel, akibat begitu menjilatnya Pemerintah Arab Saudi terhadap para zionist.

Jadi apa yang bisa dibanggakan dari Islam wahabi, sehingga bisa begitu sombong dan congkak terhadap Islam Syiah ?

……. seperti angin….. tak terlihat bukan berarti tak ada…. Kebangkitan Syi’ah di ambang pintu… “

 

Sultan: Yang Sebut Syiah Sesat Merasa Benar Sendiri

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X menyatakan tidak mengambil posisi untuk menyatakan Syiah itu sesat atau tidak. Sultan mengatakan tudingan yang menyatakan Syiah sesat hanya dilakukan sepihak oleh kelompok organisasi massa tertentu.

“Yang mengatakan sesat kan yang merasa benar sendiri. Kalau Syiah-nya kan enggak merasa sesat,” kata Sultan saat ditemui di Kepatihan Yogyakarta, Kamis sore, 19 Desember 2013.

Pada Kamis kemarin, . Front Jihad Islam meminta MUI mengeluarkan fatwa sesat bagi kelompok Syiah.

Dalam soal kemungkinan menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Sultan mengatakan sudah ada pihak yang melakukan mediasi. Pihak itu adalah MUI DIY. Namun, saat dikemukakan perannya sebagai kepala daerah mengingat konflik horizontal tersebut terjadi di DIY, Sultan menyatakan bukan gubernur tidak punya wewenang.

“Ya, betul (di DIY). Tapi, itu kan masalah agama. Kewenangan pusat,” kata Sultan sambil buru-buru menutup pintu mobilnya.

Di sisi Sunni hadis dua belas khalifah dari Quraisy kedudukannya shahih hanya saja tidak ada hadis Sunni yang shahih menyebutkan siapa nama-nama mereka

Kedudukan Riwayat Wasiat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Kepada Aliy bin Abi Thalib Dalam Kitab Al Ghaibah Ath Thuusiy

Beberapa waktu yang lalu ada diantara para pembaca yang meminta kami membahas mengenai hadis dua belas Imam atau dua belas khalifah. Di sisi Sunni hadis dua belas khalifah dari Quraisy kedudukannya shahih hanya saja tidak ada hadis Sunni yang shahih menyebutkan siapa nama-nama mereka. Sedangkan di sisi Syi’ah hadis dua belas imam kedudukannya shahih dan terdapat hadis yang menyebutkan nama-nama siapa kedua belas imam yang dimaksud.

 

Sebenarnya sebelumnya kami pernah membahas sedikit mengenai hadis dua belas imam di sisi Syi’ah walaupun sebenarnya pokok bahasan yang kami bahas adalah kedustaan nashibiy yang menuduh Al Kulainiy mengubah sanad hadisnya.

Hadis dua belas imam yang dimaksud sudah sedikit dibahas dalam tulisan tersebut dan kedudukannya shahih berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Jadi di sisi mazhab Syi’ah telah shahih dalil Imamah dua belas imam mereka.

Seperti yang kami katakan bahwa kami bukan penganut Syi’ah oleh karena itu hadis-hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah tidak menjadi hujjah bagi kami maka dari itu sampai sekarang kami tetap meyakini keshahihan hadis dua belas khalifah tetapi tidak memiliki bukti shahih siapa nama-nama mereka.

.

.

Dalam tulisan kali ini kami akan membawakan salah satu hadis Syi’ah yang lain dan juga menyebutkan nama kedua belas Imam yaitu riwayat Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Ghaibah. Hadis ini kami bahas karena kami melihat terdapat salah seorang pembenci Syi’ah yang juga membahasnya dalam tulisan khusus. Disini kami akan berusaha membahas secara objektif bagaimana sebenarnya kedudukan hadis tersebut berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah. Berikut hadis yang dimaksud

أخبرنا جماعة عن أبي عبد الله الحسين بن علي بن سفيان البزوفري عن علي بن سنان الموصلي العدل عن علي بن الحسين عن أحمد بن محمد بن الخليل عن جعفر بن أحمد المصري عن عمه الحسن بن علي عن أبيه عن أبي عبد الله جعفر بن محمد عن أبيه الباقر عن أبيه ذي الثفنات سيد العابدين عن أبيه الحسين الزكي الشهيد عن أبيه أمير المؤمنين عليه السلام قال قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في الليلة التي كانت فيها وفاته لعلي عليه السلام يا أبا الحسن أحضر صحيفة ودواة. فأملا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم وصيته حتى انتهى إلى هذا الموضع فقال يا علي إنه سيكون بعدي اثنا عشر إماما ومن بعدهم إثنا عشر مهديا، فأنت يا علي أول الاثني عشر إماما سماك الله تعالى في سمائه عليا المرتضى، وأمير المؤمنين، والصديق الأكبر، والفاروق الأعظم، والمأمون، والمهدي، فلا تصح هذه الأسماء لاحد غيرك يا علي أنت وصيي على أهل بيتي حيهم وميتهم، وعلى نسائي: فمن ثبتها لقيتني غدا، ومن طلقتها فأنا برئ منها، لم ترني ولم أرها في عرصة القيامة، وأنت خليفتي على أمتي من بعدي فإذا حضرتك الوفاة فسلمها إلى ابني الحسن البر الوصول فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابني الحسين الشهيد الزكي المقتول فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه سيد العابدين ذي الثفنات علي، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد الباقر فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه جعفر الصادق، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه موسى الكاظم، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه علي الرضا، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد الثقة التقي، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه علي الناصح، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه الحسن الفاضل، فإذا حضرته الوفاة فليسلمها إلى ابنه محمد المستحفظ من آل محمد عليهم السلام فذلك اثنا عشر إماما، ثم يكون من بعده اثنا عشر مهديا، (فإذا حضرته الوفاة) فليسلمها إلى ابنه أول المقربين له ثلاثة أسامي: اسم كإسمي واسم أبي وهو عبد الله وأحمد، والاسم الثالث: المهدي، هو أول المؤمنين

Telah mengabarkan kepada kami jama’ah dari Abi ‘Abdullah Husain bin Aliy bin Sufyaan Al Bazuufariy dari Aliy bin Sinaan Al Maushulliy Al ‘Adl dari Aliy bin Husain dari Ahmad bin Muhammad bin Khaliil dari Ja’far bin Ahmad Al Mishriy dari pamannya Hasan bin Aliy dari Ayahnya dari Abi ‘Abdullah Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya Al Baqir dari Ayahnya [Aliy bin Husain] dziy tsafanaat sayyidul ‘aabidiin dari Ayahnya Husain Az Zakiy Asy Syahiid dari Ayahnya amirul mukminin [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam] berkata kepada Aliy [‘alaihis salaam] pada malam menjelang kewafatannya “wahai Abul Hasan ambilkan kertas dan tinta” maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam] membacakan wasiatnya sampai akhirnya Beliau berkata “wahai Aliy, akan ada setelahku dua belas Imam dan setelah mereka ada dua belas Mahdi, Allah menyebutmu dalam langit-Nya Aliy Al Murtadha, Amirul Mukminin, Shiddiq Al Akbar, Faaruuq Al A’zham, Al Ma’mun dan Al Mahdiy, dan sebutan ini tidak diberikan kepada orang lain selain engkau. Wahai Aliy engkau adalah washiy-ku atas ahlul baitku hidup dan mati mereka dan juga atas istri-istriku, barang siapa diantara mereka yang aku pertahankan maka ia akan berjumpa denganku kelak, dan barang siapa yang aku ceraikan maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar. Wahai Aliy engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku Al Hasan Al Birr Al Wushuul dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anakku Al Husain Asy Syahiid Az Zakiy yang akan terbunuh, dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad Al Baqir dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Ja’far Ash Shadiq dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muusa Al Kaazhim dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Aliy Ar Ridha dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad Ats Tsiqat At Taqiy dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Aliy An Naashih dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Al Hasan Al Fadhl dan jika telah dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya Muhammad, orang yang terpelihara dari keluarga Muhammad [‘alaihis salaam]. Mereka itulah kedua belas Imam dan setelahnya akan ada dua belas Mahdiy, maka jika dekat kewafatannya maka ia serahkan kepada anaknya yang pertama dan paling dekat, ia memiliki tiga nama yaitu nama sepertiku dan nama ayahku Abdullah dan Ahmad dan nama yang ketiga adalah Al Mahdiy dan ia adalah orang pertama yang beriman [Al Ghaibah Syaikh Ath Thuusiy 150-151 no 111]

Riwayat di atas juga disebutkan Al Majlisiy dalam Bihar Al Anwar 36/260. Hadis ini berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah kedudukannya dhaif jiddan bahkan maudhu’ karena di dalam sanadnya terdapat

  1. Aliy bin Sinaan Al Maushulliy seorang yang majhul
  2. Aliy bin Husain yang meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad bin Khalil tidak didapatkan keterangannya dari kitab Rijal Syi’ah
  3. Ahmad bin Muhammad bin Khalil seorang yang dhaif jiddan, pendusta, pemalsu hadis
  4. Ja’far bin Ahmad Al Mishriy tidak dikenal kredibilitasnya dalam kitab Rijal Syi’ah maka kedudukannya majhul
  5. Hasan bin Aliy dan Ayahnya tidak didapatkan keterangannya dari kitab Rijal Syi’ah

Jadi hanya Aliy bin Sinaan, Ahmad bin Muhammad bin Khalil, dan Ja’far bin Ahmad Al Mishriy yang disebutkan biografinya dalam kitab Rijal Syi’ah tanpa ada keterangan mengenai kredibilitas mereka

.

.

Aliy bin Sinaan Al Maushulliy disebutkan dalam kitab Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits bahwa ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits Muhammad Al Jawahiriy hal 398]

Ja’far bin Ahmad Al Mishriy disebutkan oleh Asy Syahruudiy dalam Mustadrakat Ilm Rijal dengan lafaz “mereka [para ulama] tidak menyebutkan tentangnya, ia meriwayatkan dari pamannya Hasan bin Aliy dari Ayahnya dari maula kami Ash Shadiq dan telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Muhammad bin Khalil” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 2/143 no 2533, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy]

أحمد بن محمد بن الخليل أبو عبد الله لم يذكروه، وقع في طريق الشيخ عن علي بن الموصلي، عن علي بن الحسين، عنه، عن جعفر بن محمد المصري، عن عمه الحسين بن علي، عن أبيه، عن الصادق

Ahmad bin Muhammad bin Khalil Abu ‘Abdullah, mereka [para ulama] tidak menyebutkan tentangnya, terdapat dalam jalan Syaikh [Ath Thuusiy] dari Aliy bin Al Maushulliy dari Aliy bin Husain darinya dari Ja’far bin Muhammad Al Mishriy dari pamannya Husain bin Aliy dari Ayahnya dari Ash Shaadiq [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits 1/434 no 1532, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy]

.

.

Begitulah yang disebutkan oleh Asy Syahruudiy tetapi sebenarnya kalau diteliti lebih lanjut maka Ahmad bin Muhammad bin Khalil adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy. Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan dalam kitab Al Ghaibah salah satu hadis dengan sanad berikut

وأخبرنا جماعة، عن التلعكبري، عن أبي علي أحمد بن علي الرازي الأيادي قال أخبرني الحسين بن علي، عن علي بن سنان الموصلي العدل، عن أحمد بن محمد الخليلي، عن محمد بن صالح الهمداني

Dan telah mengabarkan kepada kami Jama’ah dari At Tal’akbariy dari Abi Aliy Ahmad bin Aliy Ar Raaziy Al Iyaadiy yang berkata telah mengabarkan kepadaku Husain bin Aliy dari Aliy bin Sinaan Al Maushulliy Al ‘Adl dari Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy dari Muhammad bin Shalih Al Hamdaaniy…[Al Ghaibah Ath Thuusiy hal 147 no 109]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Aliy bin Sinaan juga meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy tanpa perantara,  kemudian disebutkan dalam riwayat berikut

حدثنا أبو الحسن علي بن سنان الموصلي المعدل، قال أخبرني أحمد بن محمد الخليلي الآملي، قال حدثنا محمد بن صالح الهمداني، قال

Telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Aliy bin Sinan Al Maushulliy Al Mu’adl yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al Aamiliy yang berkata telah menceirtakan kepada kami Muhammad bin Shalih Al Hamdaaniy yang berkata…[Muqtadhab Al ‘Atsar Ahmad bin ‘Ayaasy Al Jauhariy hal 10]

Kedua riwayat di atas membuktikan bahwa Ahmad bin Muhammad bin Khalil yang dimaksud adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy. Para ulama Rijal Syi’ah telah menyebutkan tentangnya

أحمد بن محمد أبو عبد الله الآملي الطبري ضعيف جدا، لا يلتفت إليه

Ahmad bin Muhammad Abu ‘Abdullah Al ‘Amiliy Ath Thabariy dhaif jiddan, tidak perlu dihiraukan dengannya [Rijal An Najasyiy hal 96 no 238]

أحمد بن محمد، الطبري، أبو عبد الله، الخليلي الذي يقال له غلام خليل، الآملي كذاب، وضاع للحديث، فاسد [المذهب] لا يلتفت إليه

Ahmad bin Muhammad Ath Thabariy Abu ‘Abdullah Al Khaliliy yang dikatakan padanya ghulaam Khalil Al ‘Amiliy seorang pendusta, pemalsu hadis, jelek mazhabnya tidak perlu dihiraukan dengannya [Rijal Ibnu Ghada’iriy hal 42]

أحمد بن محمد، أبو عبد الله الخليلي، الذي يقال له غلام خليل، الآملي الطبري ضعيف جدا، لا يلتفت إليه، كذاب وضاع للحديث، فاسد المذهب

Ahmad bin Muhammad Abu ‘Abdullah Al Khaliliy, dikatakan padanya ghulam Khalil, Al ‘Amiliy Ath Thabariy dhaif jiddaan tidak perlu dihiraukan dengannya, pendusta, pemalsu hadis, jelek mazhabnya [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 323-324 no 20]

Oleh karena itu pendapat yang rajih Ahmad bin Muhammad bin Khalil adalah Ahmad bin Muhammad Al Khaliliy Al ‘Amiliy seorang yang dhaif jiddaan pendusta dan pemalsu hadis.

.

.

.

Berdasarkan pembahasan di atas maka tidak diragukan kalau kedudukan hadis wasiat yang disebutkan Syaikh Ath Thuusiy dalam Al Ghaibah di atas adalah dhaif jiddaan bahkan maudhu’.

Memang jika diperhatikan dengan baik matan riwayat tersebut termasuk aneh atau gharib dalam sudut pandang mazhab Syi’ah karena riwayat di atas menyebutkan bahwa ada dua belas Imam kemudian akan ada dua belas Mahdiy. Dalam aqidah ushul mazhab Syi’ah yang pernah kami baca dalam kitab-kitab mereka terdapat keterangan mengenai Imamah kedua belas imam ahlul bait tetapi tidak ada disebutkan mengenai dua belas Mahdiy yang akan datang setelah kedua belas Imam. Bahkan yang shahih dalam mazhab Syi’ah bahwa Mahdiy yang dimaksud adalah Imam kedua belas.

Adapun Salah seorang pembenci Syi’ah yang kami sebutkan sebelumnya, ia membawakan riwayat Ath Thuusiy dalam tulisannya dan berdalil dengan riwayat tersebut untuk menunjukkan bahwa Aisyah [radiallahu ‘anha] salah seorang istri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahli surga.

Pada awalnya kami cukup gembira melihat hadis ini karena hadis ini menunjukkan bahwa dalam kitab Syi’ah terdapat dalil yang membuktikan bahwa Aisyah [radiallahu ‘anha] adalah ahli surga. Maka kami berusaha meneliti untuk membuktikan keshahihan hadis tersebut tetapi ternyata sayang sekali riwayat tersebut sangat lemah sekali di sisi mazhab Syi’ah. Hal ini membuktikan bahwa anda para pembaca harus selalu berhati-hati dengan tulisan-tulisan para pembenci Syi’ah, silakan teliti lebih lanjut dengan objektif untuk mengetahui kebenarannya karena mereka para pembenci Syi’ah pada dasarnya bukan sedang bertujuan mencari kebenaran tetapi hanya ingin menyebarkan syubhat untuk merendahkan mazhab Syi’ah.

Memang kami dapati ada ulama Syi’ah mencela Aisyah [radiallahu ‘anha] tetapi kami dapati pula sebagian ulama Syi’ah lain menahan diri bahkan mengharamkan untuk mencelanya karena Beliau adalah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Oleh karena itu tidak mungkin merendahkan keseluruhan mazhab Syi’ah hanya berdasarkan tindakan ulama Syi’ah tertentu padahal terdapat juga para ulama Syi’ah lain yang menentangnya.

Adapun dalam pandangan dan keyakinan kami, Aisyah [radiallahu ‘anha] adalah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang Mulia, istri Beliau baik di dunia dan akhirat kelak. Hanya saja kami tetap mengakui bahwa bersamaan dengan kemuliaannya ia telah melakukan kesalahan ketika memerangi Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat perang Jamal.

.

.

Note : Saya akan senang sekali jika ada para pengikut Syi’ah yang dapat menunjukkan hadis shahih dalam mazhab Syi’ah yang memuat pujian atau keutamaan Aisyah [radiallahu ‘anha].

di sisi mazhab Syi’ah, ada sahabat tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Benarkah Mazhab Syi’ah Mengkafirkan Mayoritas Sahabat Nabi?

Salah satu diantara Syubhat para pembenci Syi’ah [baik dari kalangan nashibiy atau selainnya] adalah Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi kecuali tiga orang. Mereka mengutip beberapa hadis dalam kitab Syi’ah untuk menunjukkan syubhat tersebut.

 

Dalam tulisan ini akan kami tunjukkan bahwa syubhat tersebut dusta, yang benar di sisi mazhab Syi’ah adalah para sahabat Nabi telah tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Dalam pembahasan ini akan dibahas hadis-hadis mazhab Syi’ah yang sering dijadikan hujjah untuk menunjukkan kekafiran mayoritas sahabat Nabi. Hadis-hadis tersebut terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang dengan jelas menggunakan lafaz “murtad”
  2. Hadis yang tidak menggunakan lafaz “murtad”

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Murtad

Hadis yang menggunakan lafaz murtad dalam masalah ini ada lima hadis, empat hadis kedudukannya dhaif dan satu hadis mengandung illat [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Berikut hadis-hadis yang dimaksud

Riwayat Pertama

علي بن الحكم عن سيف بن عميرة عن أبي بكر الحضرمي قال قال أبو جعفر (عليه السلام) ارتد الناس إلا ثلاثة نفر سلمان و أبو ذر و المقداد. قال قلت فعمار ؟ قال قد كان جاض جيضة ثم رجع، ثم قال إن أردت الذي لم يشك و لم يدخله شي‏ء فالمقداد، فأما سلمان فإنه عرض في قلبه عارض أن عند أمير المؤمنين (عليه السلام) اسم الله الأعظم لو تكلم به لأخذتهم الأرض و هو هكذا فلبب و وجئت عنقه حتى تركت كالسلقة فمر به أمير المؤمنين (عليه السلام) فقال له يا أبا عبد الله هذا من ذاك بايع فبايع و أما أبو ذر فأمره أمير المؤمنين (عليه السلام) بالسكوت و لم يكن يأخذه في الله لومة لائم فأبى إلا أن يتكلم فمر به عثمان فأمر به، ثم أناب الناس بعد فكان أول من أناب أبو ساسان الأنصاري و أبو عمرة و شتيرة و كانوا سبعة، فلم يكن يعرف حق أمير المؤمنين (عليه السلام) إلا هؤلاء السبعة

Aliy bin Al Hakam dari Saif bin Umairah dari Abi Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata orang-orang murtad kecuali tiga yaitu Salman, Abu Dzar dan Miqdaad. Aku berkata ‘Ammar?. Beliau berkata “sungguh ia telah berpaling kemudian kembali” kemudian Beliau berkata “sesungguhnya orang yang tidak ada keraguan didalamnya sedikitpun adalah Miqdaad, adapun Salman bahwasanya ia nampak dalam hatinya nampak bahwa di sisi Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] terdapat nama Allah yang paling agung yang seandainya ia meminta dengannya maka bumi akan menelan mereka. Dia ditangkap dan diikat lehernya sampai meninggalkan bekas, ketika Amirul mukminin melintasinya, Ia berkata kepadanya [Salman] “wahai Abu ‘Abdullah, inilah akibat perkara ini, berbaiatlah” maka ia berbaiat. Adapun Abu Dzar maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memerintahkannya untuk diam dan tidak terpengaruh dengan celaan para pencela di jalan Allah, ia menolak dan berbicara maka ketika Utsman melintasinya ia memerintahkan dengannya, kemudian orang-orang kembali setelah itudan mereka yang pertama kembali adalah Abu Saasaan Al Anshariy, Abu ‘Amrah dan Syutairah maka mereka jadi bertujuh, tidak ada yang mengenal hak Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] kecuali mereka bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/47 no 24]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif karena terputus Antara Al Kasyiy dan Aliy bin Al Hakaam. Syaikh Ja’far Syubhaaniy berkata

وكفى في ضعفها أن الكشي من أعلام القرن الرابع الهجري القمري ، فلا يصح أن يروي عن علي بن الحكم ، سواء أكان المراد منه الأنباري الراوي عن ابن عميرة المتوفى عام ( 217 ه) أو كان المراد الزبيري الذي عده الشيخ من أصحاب الرضا ( عليه السلام ) المتوفى عام 203

Dan cukup untuk melemahkannya bahwa Al Kasyiy termasuk ulama abad keempat Hijrah maka tidak shahih ia meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam, jika yang dimaksud adalah Al Anbariy yang meriwayatkan dari Ibnu Umairah maka ia wafat tahun 217 atau jika yang dimaksud adalah Az Zubairiy yang disebutkan Syaikh dalam sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam] maka ia wafat tahun 203 H [Adhwaa ‘Ala ‘Aqa’id Syi’ah Al Imamiyah, Syaikh Ja’far Syubhaaniy hal 523]

Disebutkan riwayat di atas oleh Al Mufiid dalam Al Ikhtishaash dengan sanad yang bersambung hingga Aliy bin Al Hakam, berikut sanadnya

علي بن الحسين بن يوسف، عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن إسماعيل، عن علي بن الحكم، عن سيف بن عميرة، عن أبي بكر الحضرمي قال: قال أبوجعفر عليه السلام: ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبوذر، والمقداد

Aliy bin Husain bin Yuusuf dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Isma’iil dari ‘Aliy bin Al Hakam dari Saif bin ‘Umairah dari Abu Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Salmaan, Abu Dzar dan Miqdaad…[Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 10]

Terlepas dari kontroversi mengenai kitab Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid. Riwayat Al Mufiid di atas sanadnya dhaif sampai Aliy bin Al Hakam karena Aliy bin Husain bin Yuusuf dan Muhammad bin Isma’iil majhul

  1. Aliy bin Husain bin Yusuf, Syaikh Asy Syahruudiy dalam biografinya menyatakan “mereka tidak menyebutkannya” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/359 no 9957]
  2. Muhammad bin Isma’iil Al Qummiy meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Yahya [Mu’jam Rijal Al Hadits 16/118 no 10293]. Disebutkan bahwa ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 502]

Kesimpulannya riwayat di atas dhaif tidak tsabit sanadnya sampai ke Aliy bin Al Hakam maka tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

Riwayat Kedua 

محمد بن إسماعيل، قال حدثني الفصل بن شاذان، عن ابن أبي عمير عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن أبي بصير، قال: قلت لأبي عبد الله ارتد الناس الا ثلاثة أبو ذر وسلمان والمقداد قال: فقال أبو عبد الله عليه السلام: فأين أبو ساسان وأبو عمرة الأنصاري؟

Muhammad bin Isma’iil berkata telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Syadzaan dari Ibnu Abi ‘Umair dari Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid dari Abi Bashiir yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Abu Dzar, Salmaan dan Miqdaad”. Maka Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “maka dimana Abu Saasaan dan Abu ‘Amrah Al Anshaariy?” [Rijal Al Kasyiy 1/38 no 17]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena Muhammad bin Isma’iil An Naisaburiy yang meriwayatkan dari Fadhl bin Syadzaan adalah seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 500]

.

.

Riwayat Ketiga    

عدة من أصحابنا، عن محمد بن الحسن عن محمد بن الحسن الصفار، عن أيوب بن نوح، عن صفوان بن يحيى، عن مثنى بن الوليد الحناط، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر عليه السلام قال: ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود، وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد

Sekelompok dari sahabat kami dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ayuub bin Nuuh dari Shafwaan bin Yahya dari Mutsanna bin Waliid Al Hanaath dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata “orang-orang telah murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] keucali tiga yaitu Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifaariy, dan Salman Al Faarisiy kemudian orang-orang mengenal dan mengikuti setelahnya [Al Ikhtishaas Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Al Mufiid di atas kedudukannya dhaif karena tidak dikenal siapakah “sekelompok sahabat” yang dimaksudkan dalam sanad tersebut.

.

.

Riwayat Keempat

وعنه عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين، عن موسى بن سعدان، عن عبد الله بن القاسم الحضرمي، عن عمرو بن ثابت قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول إن النبي صلى الله عليه وآله لما قبض ارتد الناس على أعقابهم كفارا ” إلا ثلاثا ” سلمان والمقداد، وأبو ذر الغفاري، إنه لما قبض رسول الله صلى الله عليه وآله جاء أربعون رجلا ” إلى علي بن أبي طالب عليه السلام فقالوا لا والله لا نعطي أحدا ” طاعة بعدك أبدا “، قال ولم؟ قالوا إنا سمعنا من رسول الله صلى الله عليه وآله فيك يوم غدير [خم]، قال وتفعلون؟ قالوا نعم قال فأتوني غدا ” محلقين، قال فما أتاه إلا هؤلاء الثلاثة، قال وجاءه عمار بن ياسر بعد الظهر فضرب يده على صدره، ثم قال له مالك أن تستيقظ من نومة الغفلة، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم أنتم لم تطيعوني في حلق الرأس فكيف تطيعوني في قتال جبال الحديد، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم

Dan darinya dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain dari Muusa bin Sa’dan dari ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy dari ‘Amru bin Tsabit yang berkata aku mendengar ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “Sesungguhnya setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, maka orang-orang murtad kecuali tiga orang yaitu Salman, Miqdad dan Abu Dzar Al Ghiffariy. Sesungguhnya setelah Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, datanglah empat puluh orang lelaki kepada Aliy bin Abi Talib. Mereka berkata “Tidak, demi Allah! Selamanya kami tidak akan mentaati sesiapapun kecuali kepadamu. Beliau berkata Mengapa?. Mereka berkata “Sesungguhnya kami telah mendengar Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menyampaikan tentangmu pada hari Ghadir [Khum]. Beliau berkata “apakah kamu semua akan melakukannya?” Mereka berkata “ya”. Beliau berkata “datanglah kamu besok dengan mencukur kepala”. [Abu ‘Abdillah] berkata “Tidak datang kepada Ali kecuali mereka bertiga. [Abu ‘Abdillah] berkata: ‘Ammar bin Yasir datang setelah Zuhur. Beliau memukul tangan ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar Mengapa kamu tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu. Jika kamu tidak mentaati aku untuk mencukur kepala, lantas bagaimana kamu akan mentaati aku untuk memerangi gunung besi, kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu” [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Syaikh Al Mufiid di atas berdasarkan Ilmu Rijal Syi’ah sanadnya dhaif jiddan karena Musa bin Sa’dan dan ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy

  1. Muusa bin Sa’dan Al Hanath ia adalah seorang yang dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 404 no 1072]
  2. ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy seorang pendusta dan ghuluw [Rijal An Najasyiy hal 226 no 594]

.

.

Riwayat Kelima

حنان، عن أبيه، عن أبي جعفر (ع) قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الاسود وأبوذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم ثم عرف اناس بعد يسير وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحا وأبوا أن يبايعوا حتى جاؤوا بأمير المؤمنين (ع) مكرها فبايع وذلك قول الله تعالى: ” وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Hannan dari ayahnya [Sudair], dari Abu Ja‘far ['alaihis salaam] yang berkata “Sesungguhnya orang-orang adalah Ahli riddah [murtad] setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wa alihi] wafat kecuali tiga orang. [Sudair] berkata ‘Siapa ketiga orang itu?’ Maka Beliau berkata ‘Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifariy dan Salman Al Farisiy [semoga Allah memberikan rahmat dan barakah kepada mereka]. Kemudian orang-orang mengetahui sesudah itu. Beliau berkata mereka itulah yang menghadapi segala kesulitan dan tidak memberikan ba’iat sampai mereka mendatangi Amirul Mukminin ['alaihissalaam] yang dipaksa mereka memberi ba’iat. Demikianlah yang difirmankan Allah SWT “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 341]

Sebagian orang mendhaifkan sanad ini dengan mengatakan bahwa riwayat Al Kulainiy terputus Antara Al Kulainiy dan Hanaan bin Sudair. Nampaknya hal ini tidak benar berdasarkan penjelasan berikut

Riwayat di atas juga disebutkan Al Kasyiy dalam kitab Rijal-nya dengan sanad Dari Hamdawaih dan Ibrahim bin Nashiir dari Muhammad bin ‘Utsman dari Hannan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [Rijal Al Kasyiy 1/26 no 12]. Al Majlisiy dalam kitabnya Bihar Al Anwar mengutip hadis Al Kasyiy tersebut kemudian mengutip sanad Al Kafiy dengan perkataan berikut

الكافي: علي عن أبيه عن حنان مثله

Al Kafiy : Aliy [bin Ibrahim] dari Ayahnya dari Hanaan seperti di atas [Bihar Al Anwar 28/237]

Al Kulainiy menyebutkan dalam Al Kafiy pada riwayat sebelumnya sanad yang sama yaitu nampak dalam riwayat berikut

علي بن ابراهيم، عن أبيه، عن حنان بن سدير، ومحمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد عن محمد بن إسماعيل، عن حنان بن سدير، عن أبيه قال: سألت أبا جعفر

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan bin Sudair dan Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Isma’iil dari Hanaan bin Sudair dari Ayahnya yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]… [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 340]

Maka disini dapat dipahami bahwa dalam pandangan Al Majlisiy sanad utuh riwayat tersebut adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam]

Sanad ini para perawinya tsiqat selain Sudair bin Hakiim Ash Shairaafiy, ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi Allamah Al Hilliy telah menyebutkannya dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sudair bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar

Dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Allamah Al Hilliy, Sudair bin Hakiim termasuk perawi yang diterima hanya saja dalam sebagian riwayatnya kacau sehingga diingkari. Kedudukan perawi seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Berikut riwayat shahih dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] yang membuktikan keislaman para sahabat pada saat itu

أبى رحمه الله قال: حدثنا سعد بن عبد الله قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن العباس بن معروف، عن حماد بن عيسى، عن حريز، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر ” ع ” قال: إن عليا ” ع ” لم يمنعه من أن يدعو الناس إلى نفسه إلا انهم ان يكونوا ضلالا لا يرجعون عن الاسلام أحب إليه من أن يدعوهم فيأبوا عليه فيصيرون كفارا كلهم

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Ma’ruuf dari Hammad bin Iisa dari Hariiz dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata sesungguhnya Aliy [‘alaihis salaam], tidak ada yang mencegahnya mengajak manusia kepadanya kecuali bahwa mereka dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam lebih ia sukai daripada ia mengajak mereka dan mereka menolaknya maka mereka menjadi kafir seluruhnya [Ilal Asy Syara’i Syaikh Ash Shaduq 1/150 no 10]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. ‘Abbaas bin Ma’ruf Abu Fadhl Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 281 no 743]
  5. Hammaad bin Iisa Abu Muhammad Al Juhaniy seorang yang tsiqat dalam hadisnya shaduq [Rijal An Najasyiy hal 142 no 370]
  6. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  7. Buraid bin Mu’awiyah meriwayatkan dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat faqiih [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 81-82]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq dengan jelas menyatakan bahwa para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat itu memang dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam.

.

.

.
Hadis Yang Tidak Ada Lafaz Murtad

Ada dua hadis yang tidak mengandung lafaz “murtad” hanya menunjukkan bahwa mereka para sahabat meninggalkan baiat atau telah tersesat dan celaka kecuali tiga orang. Dan berdasarkan hadis shahih sebelumnya [riwayat Syaikh Ash Shaduq] mereka para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy adalah orang-orang yang tersesat tetapi tidak keluar dari Islam

.

Riwayat Pertama

محمد بن مسعود، قال حدثني علي بن الحسن بن فضال، قال حدثني العباس ابن عامر، وجعفر بن محمد بن حكيم، عن أبان بن عثمان، عن الحارث النصري بن المغيرة، قال سمعت عبد الملك بن أعين، يسأل أبا عبد الله عليه السلام قال فلم يزل يسأله حتى قال له: فهلك الناس إذا؟ قال: أي والله يا ابن أعين هلك الناس أجمعون قلت من في الشرق ومن في الغرب؟ قال، فقال: انها فتحت على الضلال أي والله هلكوا الا ثلاثة ثم لحق أبو ساسان وعمار وشتيرة وأبو عمرة فصاروا سبعة

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Hasan bin Fadhl yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abbas Ibnu ‘Aamir dan Ja’far bin Muhammad bin Hukaim dari Aban bin ‘Utsman dari Al Harits An Nashriy bin Mughiirah yang berkata aku mendengar ‘Abdul Malik bin ‘A’yun bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], ia tidak henti-hentinya bertanya kepadanya sampai ia berkata kepadanya “maka orang-orang telah celaka?”. Beliau berkata “demi Allah, wahai Ibnu A’yun orang-orang telah celaka seluruhnya”. Aku berkata “orang-orang yang di Timur dan orang-orang yang di Barat?”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan, demi Allah mereka celaka kecuali tiga kemudian diikuti Abu Saasaan, ‘Ammar, Syutairah dan Abu ‘Amrah hingga mereka jadi bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/34-35 no 14]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq para perawinya tsiqat hanya saja Aliy bin Hasan bin Fadhl disebutkan bahwa ia bermazhab Fathahiy dan Aban bin ‘Utsman bermazhab menyimpang

  1. Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]
  2. Aliy bin Hasan bin Fadhl orang Kufah yang faqih, terkemuka, tsiqat dan arif dalam ilmu hadis [Rijal An Najasyiy hal 257 no 676]
  3. ‘Abbaas bin ‘Aamir bin Rabah, Abu Fadhl Ats Tsaqafiy seorang syaikh shaduq tsiqat banyak meriwayatkan hadis [Rijal An Najasyiy hal 281 no 744]
  4. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]
  5. Al Harits bin Mughiirah meriwayatkan dari Abu Ja’far, Ja’far, Musa bin Ja’far dan Zaid bin Aliy, tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 139 no 361]
  6. Abdul Malik bin A’yun termasuk sahabat Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Shadiq [‘alaihis salaam], disebutkan dalam riwayat shahih oleh Al Kasyiy mengenai kebaikannya dan istiqamah-nya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 356]. Allamah Al Hilliy memasukkannya ke dalam daftar perawi yang terpuji atau diterima di sisinya [Khulashah Al Aqwaal hal 206 no 5]

Riwayat Al Kasyiy di atas tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena dalam lafaz riwayat-nya memang tidak terdapat kata-kata kafir atau murtad. Riwayat diatas menjelaskan bahwa para sahabat telah celaka dan mengalami kesesatan [karena perkara wilayah] tetapi hal ini tidaklah mengeluarkan mereka dari Islam sebagaimana telah ditunjukkan riwayat shahih sebelumnya.
.

.

Riwayat Kedua

حمدويه، قال حدثنا أيوب عن محمد بن الفضل وصفوان، عن أبي خالد القماط، عن حمران، قال: قلت لأبي جعفر عليه السلام ما أقلنا لو اجتمعنا على شاة ما أفنيناها! قال، فقال: الا أخبرك بأعجب من ذلك؟ قال، فقلت: بلي. قال: المهاجرون والأنصار ذهبوا (وأشار بيده) الا ثلاثة

Hamdawaih berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub dari Muhammad bin Fadhl dan Shafwaan dari Abi Khalid Al Qamaath dari Hamran yang berkata aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “betapa sedikitnya jumlah kita, seandainya kita berkumpul pada hidangan kambing maka kita tidak akan menghabiskannya”. Maka Beliau berkata “maukah aku kabarkan kepadamu hal yang lebih mengherankan daripada itu?”. Aku berkata “ya”. Beliau berkata “Muhajirin dan Anshar meninggalkan [dan ia berisyarat dengan tangannya] kecuali tiga [Rijal Al Kasyiy 1/37 no 15]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ayuub bin Nuuh bin Daraaj, agung kedudukannya di sisi Abu Hasan dan Abu Muhammad [‘alaihimus salaam], ma’mun, sangat wara’, banyak beribadah dan tsiqat dalam riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 102 no 254]
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Yaziid Abu Khalid Al Qammaath seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 452 no 1223]
  5. Hamran bin A’yun termasuk diantara Syaikh-syaikh Syi’ah yang agung dan memiliki keutamaan yang tidak diragukan tentang mereka [Risalah Fii Alu A’yun Syaikh Abu Ghalib hal 2]

Riwayat Al Kasyiy di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz kafir atau murtad. Riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat meninggalkan Imam Aliy dan membaiat khalifah Abu Bakar [radiallahu 'anhu] sepeninggal Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Dan sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih sebelumnya bahwa mereka telah tersesat tetapi hal itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam.

.

.

Dalam mazhab Syi’ah, Para sahabat Nabi yang tidak membaiat Imam Aliy ['alaihis salaam] telah tersesat [kecuali tiga orang] karena menurut mazhab Syi’ah, Imamah Aliy bin Abi Thalib telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi walaupun begitu disebutkan juga dalam hadis shahih mazhab Syi’ah bahwa kesesatan para sahabat tersebut tidaklah mengeluarkan mereka dari islam

.

.


Para Sahabat Nabi Yang Dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Terdapat sebagian riwayat dalam mazhab Syi’ah yang ternyata memuji dan memuliakan para sahabat Nabi. Hal ini meruntuhkan anggapan dari para pembenci Syi’ah [baik itu dari kalangan nashibiy atau selainnya] bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi.

 

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis-salaam] “Para Sahabat Rasulullah [shallallaahu‘alaihi wa aalihi] berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaaduq hal 639-640 no 15]

Riwayat Syaikh Ash Shaaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

.

.

Riwayat Kedua

أخبرنا محمد بن محمد قال أخبرنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه القمي رحمهالله قال حدثني أبي قال حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن معروف بن خربوذ  عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهالسلام قال صلى أمير المؤمنين عليهالسلام بالناس الصبح بالعراق ، فلما انصرف وعظهم ، فبكى وأبكاهم من خوف الله ( تعالى ) ، ثم قال أما والله لقد عهدت أقواما على عهد خليلي رسول الله صلىاللهعليهوآله ، وإنهم ليصبحون ويمشون شعثاء غبراء خمصاء بين أعينهم كركب المعزى ، يبيتون لربهم سجدا وقياما ، يراوحون بين أقدامهم وجباههم ، يناجون ربهم ويسألونه فكاك رقابهم من النار ، والله لقد رأيتهم مع ذلك وهم جميع مشفقون منه خائفون

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihis salaam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] shalat bersama orang-orang di waktu shubuh di Iraq, ketika Beliau memberi nasehat kepada mereka maka Beliau menangis dan mereka juga menangis karena takut kepada Allah SWT. Kemudian Beliau berkata “Demi Allah sungguh aku telah hidup bersama kaum di masa kekasihku Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan sesungguhnya mereka di waktu pagi mereka berjalan dengan kusut dan berdebu, nampak diantara kedua mata mereka bekas seperti lutut kambing [karena sujud], dan di malam hari mereka sujud dan berdiri [menghadap Allah] bergantian antara kaki dan dahi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka, meminta Kepada-Nya agar dijauhkan dari api neraka, Demi Allah sungguh aku melihat mereka dalam keadaan demikian dan mereka selalu berhati-hati dan takut kepada-Nya [Al Amaliy Ath Thuusiy hal 102]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  8. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Imam Ali [‘alaihis salaam] memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka orang-orang beriman yang rajin beribadah.

.

.

Riwayat Ketiga

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن منصور بن حازم قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما بالي أسألك عن المسألة فتجيبني فيها بالجواب، ثم يجيئك غيري فتجيبه فيها بجواب آخر؟ فقال: إنا نجيب الناس على الزيادة والنقصان، قال: قلت: فأخبرني عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله صدقوا على محمد صلى الله عليه وآله أم كذبوا؟ قال: بل صدقوا، قال: قلت: فما بالهم اختلفوا؟ فقال: أما تعلم أن الرجل كان يأتي رسول الله صلى الله عليه وآله فيسأله عن المسألة فيجيبه فيها بالجواب ثم يجيبه بعد ذلك ما ينسخ ذلك الجواب، فنسخت الاحاديث بعضها بعضا

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Manshuur bin Haazim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “Bagaimana bisa ketika aku bertanya suatu permasalahan maka engkau menjawabku dengan suatu jawaban kemudian orang lain datang kepadamu dan engkau menjawab dengan jawaban yang lain?. Maka Beliau berkata “Sesungguhnya kami menjawab manusia dengan kalimat yang lebih dan kalimat yang kurang”. Aku berkata “maka kabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], apakah mereka seorang yang jujur atas Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] ataukah mereka berdusta?”. Beliau berkata “bahkan mereka jujur”. Aku berkata “maka mengapa mereka berselisih”. Beliau berkata “tahukah engkau bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan bertanya kepada Beliau suatu permasalahan maka Beliau menjawabnya dengan suatu jawaban kemudian setelah itu Beliau menjawab dengan jawaban yang menasakh jawaban yang pertama maka itulah sebagian hadis menasakh sebagian hadis lain [Al Kafiy Al Kulainiy 1/65 no 3]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Manshuur bin Haazim Abu Ayub Al Bajalliy seorang tsiqat shaduq meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah dan Abu Hasan Musa [‘alaihimus salaam] [Rijal An Najasyiy hal 413 no 1101]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka jujur atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja perbedaan yang terjadi di antara mereka para sahabat akibat sebagian mereka meriwayatkan hadis yang dinasakh oleh hadis sahabat lain.

.

.

Riwayat Keempat

حدثنا أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر البزنطي، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير، عن أبي جعفر عليه السلام قال: سمعته يقول: رحم الله الأخوات من أهل الجنة فسماهنأسماء بنت عميس الخثعمية وكانت تحت جعفر بن أبي طالب عليه السلام، وسلمى بنت عميس الخثعمية وكانت تحت حمزة، وخمس من بني هلال: ميمونة بنت الحارث كانت تحت النبي صلى الله عليه وآله، وأم الفضل عند العباس اسمها هند، والغميصاء أم خالد بن الوليد، وعزة كانت في ثقيف الحجاج بن غلاظ، وحميدة ولم يكن لها عقب

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy dari ‘Ashim bin Humaid dari Abi Bashiir dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Bashiir] berkata aku mendengar Beliau mengatakan semoga Allah memberikan rahmat pada saudari-saudari ahli surga. Nama-nama mereka adalah Asma’ binti Umais Al Khats’amiyyah istri Ja’far bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Salma binti Umais Al Khats’amiyyah istri Hamzah, dan lima orang dari bani Hilaal, Maimunah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], Ummu Fadhl istri ‘Abbas dan namanya adalah Hind, Al Ghamiishaa’ ibu Khaalid bin Waalid, ‘Izzah dari Tsaqiif istri Hajjaaj bin Ghalaazh, dan Hamiidah ia tidak memiliki anak [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 363 no 55]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Rijal Ath Thuusiy hal 332]
  5. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  6. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan bahwa terdapat para sahabat wanita yang dikatakan sebagai ahli surga diantaranya adalah Asma binti Umais [radiallahu ‘anha] dan Maimunah binti Al Harits Ummul Mukminin [radiallahu ‘anha]

.

.

Riwayat Kelima

علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن الحسين بن عثمان عن ذريح قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول قال علي بن الحسين عليهما السلام إن أبا سعيد الخدري كان من أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وآله) وكان مستقيما فنزع ثلاثة أيام فغسله أهله ثم حمل إلى مصلاه فمات فيه

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Husain bin ‘Utsman dari Dzuraih yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata bahwa Abu Sa’id Al Khudri termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan ia seorang yang lurus, ia menderita sakit selama tiga hari maka keluarganya memandikannya kemudian membawanya ke tempat shalat maka ia mati dalam keadaan seperti itu [Al Kafiy Al Kulainiy 3/125 no 1]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Husain bin ‘Utsman bin Syarik seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Abi ‘Umair [Rijal An Najasyiy hal 53 no 119]
  5. Dzuraih Al Muhaaribiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 127]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al Khudriy [radiallahu ‘anhu] termasuk sahabat yang terpuji kedudukannya dalam pandangan Imam Ahlul Bait.

.

.

Riwayat Keenam

قال معروف بن خربوذ فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan perkataan ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas adalah penggalan riwayat panjang dimana Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkan hadis dari Abu Thufa’il dari Huzaifah [radiallahu ‘anhu] mengenai sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Kemudian di akhir hadis Ma’ruf bin Kharrabudz menanyakan hadis yang ia dengar dari Abu Thufail [radiallahu ‘anhu] tersebut kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]. Sanad lengkap riwayat tersebut hingga Ma’ruf bin Kharrabudz adalah

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan pujian Abu Ja’far [‘alaihis salaam] kepada Abu Thufail, dan ia termasuk sahabat Nabi, Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan nama Abu Thufail dalam kitab Rijal-nya [Rijal Ath Thuusiy hal 44] dan Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan namanya tersebut dalam bab

باب من روي عن النبي صلى الله عليه وآله من الصحابة

Bab, orang-orang yang meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] termasuk kalangan sahabat-Nya

Riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya menjadi bukti yang menyatakan bahwa hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah

.

Tuduhan bahwa mazhab Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi adalah tuduhan yang tidak benar. Dalam kitab mazhab Syi’ah juga terdapat pujian terhadap para sahabat baik secara umum ataupun terkhusus sahabat tertentu. Walaupun memang terdapat juga riwayat yang memuat celaan terhadap sahabat tertentu. Perkara seperti ini juga dapat ditemukan dalam riwayat Ahlus Sunnah yaitu terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

.

.

 

 

hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah.. Dalam riwayat Ahlus Sunnah terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

Para Sahabat Nabi Yang Dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Terdapat sebagian riwayat dalam mazhab Syi’ah yang ternyata memuji dan memuliakan para sahabat Nabi. Hal ini meruntuhkan anggapan dari para pembenci Syi’ah [baik itu dari kalangan nashibiy atau selainnya] bahwa Syi’ah mengkafirkan para sahabat Nabi.

 

.

.

Riwayat Pertama

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن محمد بن أبي عمير، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله اثني عشر ألفا ثمانية آلاف من المدينة، و ألفان من مكة، وألفان من الطلقاء، ولم ير فيهم قدري ولا مرجي ولا حروري ولا معتزلي، ولا صحاب رأي، كانوا يبكون الليل والنهار ويقولون: اقبض أرواحنا من قبل أن نأكل خبز الخمير

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radliyallaahu‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibraahiim bin Haasyim dari Ayahnya, dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari Hisyaam bin Saalim, dari Abu ‘Abdillah [‘alaihis-salaam] “Para Sahabat Rasulullah [shallallaahu‘alaihi wa aalihi] berjumlah dua belas ribu orang, yaitu delapan ribu orang berasal dari Madiinah, dua ribu orang dari Makkah dan dua ribu orang dari kalangan Thulaqaa’. Tidak ada di diantara mereka yang mempunyai pemikiran Qadariy, Murji’, Haruriy, Mu’taziliy, dan Ashabur Ra’yu. Mereka senantiasa menangis pada malam dan siang hari, seraya berdoa “cabutlah nyawa kami sebelum kami sempat memakan roti adonan” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaaduq hal 639-640 no 15]

Riwayat Syaikh Ash Shaaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 369]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  5. Hisyaam bin Saalim meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] ia tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 434 no 1165]

.

.

Riwayat Kedua

أخبرنا محمد بن محمد قال أخبرنا أبو القاسم جعفر بن محمد بن قولويه القمي رحمهالله قال حدثني أبي قال حدثنا سعد بن عبد الله عن أحمد بن محمد بن عيسى عن الحسن بن محبوب عن عبد الله بن سنان عن معروف بن خربوذ  عن أبي جعفر محمد بن علي الباقر عليهالسلام قال صلى أمير المؤمنين عليهالسلام بالناس الصبح بالعراق ، فلما انصرف وعظهم ، فبكى وأبكاهم من خوف الله ( تعالى ) ، ثم قال أما والله لقد عهدت أقواما على عهد خليلي رسول الله صلىاللهعليهوآله ، وإنهم ليصبحون ويمشون شعثاء غبراء خمصاء بين أعينهم كركب المعزى ، يبيتون لربهم سجدا وقياما ، يراوحون بين أقدامهم وجباههم ، يناجون ربهم ويسألونه فكاك رقابهم من النار ، والله لقد رأيتهم مع ذلك وهم جميع مشفقون منه خائفون

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy [rahimahullah] yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Hasan bin Mahbuub dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz dari Abu Ja’far Muhammad bin Aliy Al Baaqir [‘alaihis salaam] yang berkata Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] shalat bersama orang-orang di waktu shubuh di Iraq, ketika Beliau memberi nasehat kepada mereka maka Beliau menangis dan mereka juga menangis karena takut kepada Allah SWT. Kemudian Beliau berkata “Demi Allah sungguh aku telah hidup bersama kaum di masa kekasihku Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan sesungguhnya mereka di waktu pagi mereka berjalan dengan kusut dan berdebu, nampak diantara kedua mata mereka bekas seperti lutut kambing [karena sujud], dan di malam hari mereka sujud dan berdiri [menghadap Allah] bergantian antara kaki dan dahi mereka, mereka bermunajat kepada Tuhan mereka, meminta Kepada-Nya agar dijauhkan dari api neraka, Demi Allah sungguh aku melihat mereka dalam keadaan demikian dan mereka selalu berhati-hati dan takut kepada-Nya [Al Amaliy Ath Thuusiy hal 102]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Muhammad adalah Muhammad bin Muhammad bin Nu’man Syaikh Mufid, ia termasuk diantara guru-guru Syi’ah yang mulia dan pemimpin mereka, dan orang yang paling terpercaya di zamannya, dan paling alim diantara mereka [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 248 no 46]
  2. Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih Al Qummiy termasuk orang yang tsiqat dan mulia dalam hadis dan faqih [Rijal An Najasyiy hal 123 no 318]
  3. Muhammad bin Quluwaih ayahnya Abul Qaasim Ja’far bin Muhammad bin Quluwaih seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 570]
  4. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  5. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  6. Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  7. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  8. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Ath Thuusiy di atas menunjukkan bahwa Imam Ali [‘alaihis salaam] memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka orang-orang beriman yang rajin beribadah.

.

.

Riwayat Ketiga

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي نجران، عن عاصم بن حميد، عن منصور بن حازم قال: قلت لابي عبدالله عليه السلام: ما بالي أسألك عن المسألة فتجيبني فيها بالجواب، ثم يجيئك غيري فتجيبه فيها بجواب آخر؟ فقال: إنا نجيب الناس على الزيادة والنقصان، قال: قلت: فأخبرني عن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله صدقوا على محمد صلى الله عليه وآله أم كذبوا؟ قال: بل صدقوا، قال: قلت: فما بالهم اختلفوا؟ فقال: أما تعلم أن الرجل كان يأتي رسول الله صلى الله عليه وآله فيسأله عن المسألة فيجيبه فيها بالجواب ثم يجيبه بعد ذلك ما ينسخ ذلك الجواب، فنسخت الاحاديث بعضها بعضا

‘Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi Najraan dari ‘Aashim bin Humaid dari Manshuur bin Haazim yang berkata aku bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “Bagaimana bisa ketika aku bertanya suatu permasalahan maka engkau menjawabku dengan suatu jawaban kemudian orang lain datang kepadamu dan engkau menjawab dengan jawaban yang lain?. Maka Beliau berkata “Sesungguhnya kami menjawab manusia dengan kalimat yang lebih dan kalimat yang kurang”. Aku berkata “maka kabarkanlah kepadaku tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], apakah mereka seorang yang jujur atas Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] ataukah mereka berdusta?”. Beliau berkata “bahkan mereka jujur”. Aku berkata “maka mengapa mereka berselisih”. Beliau berkata “tahukah engkau bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan bertanya kepada Beliau suatu permasalahan maka Beliau menjawabnya dengan suatu jawaban kemudian setelah itu Beliau menjawab dengan jawaban yang menasakh jawaban yang pertama maka itulah sebagian hadis menasakh sebagian hadis lain [Al Kafiy Al Kulainiy 1/65 no 3]

Riwayat Al Kafiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Abi Najraan Abu Fadhl seorang yang tsiqat tsiqat mu’tamad apa yang ia riwayatkan [Rijal An Najasyiy hal 235 no 622]
  4. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  5. Manshuur bin Haazim Abu Ayub Al Bajalliy seorang tsiqat shaduq meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah dan Abu Hasan Musa [‘alaihimus salaam] [Rijal An Najasyiy hal 413 no 1101]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] telah memuji para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka jujur atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya saja perbedaan yang terjadi di antara mereka para sahabat akibat sebagian mereka meriwayatkan hadis yang dinasakh oleh hadis sahabat lain.

.

.

Riwayat Keempat

حدثنا أبي رضي الله عنه قال: حدثنا سعد بن عبد الله، عن أحمد بن محمد ابن عيسى، عن أحمد بن محمد بن أبي نصر البزنطي، عن عاصم بن حميد، عن أبي بصير، عن أبي جعفر عليه السلام قال: سمعته يقول: رحم الله الأخوات من أهل الجنة فسماهنأسماء بنت عميس الخثعمية وكانت تحت جعفر بن أبي طالب عليه السلام، وسلمى بنت عميس الخثعمية وكانت تحت حمزة، وخمس من بني هلال: ميمونة بنت الحارث كانت تحت النبي صلى الله عليه وآله، وأم الفضل عند العباس اسمها هند، والغميصاء أم خالد بن الوليد، وعزة كانت في ثقيف الحجاج بن غلاظ، وحميدة ولم يكن لها عقب

Telah menceritakan kepada kami Ayahku [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah dari Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy dari ‘Ashim bin Humaid dari Abi Bashiir dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam], [Abu Bashiir] berkata aku mendengar Beliau mengatakan semoga Allah memberikan rahmat pada saudari-saudari ahli surga. Nama-nama mereka adalah Asma’ binti Umais Al Khats’amiyyah istri Ja’far bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Salma binti Umais Al Khats’amiyyah istri Hamzah, dan lima orang dari bani Hilaal, Maimunah binti Al Haarits istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi], Ummu Fadhl istri ‘Abbas dan namanya adalah Hind, Al Ghamiishaa’ ibu Khaalid bin Waalid, ‘Izzah dari Tsaqiif istri Hajjaaj bin Ghalaazh, dan Hamiidah ia tidak memiliki anak [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 363 no 55]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr Al Bazanthiy seorang yang tsiqat jaliil qadr [Rijal Ath Thuusiy hal 332]
  5. ‘Aashim bin Humaid Al Hanaath seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 301 no 821]
  6. Abu Bashiir adalah Laits bin Bakhtariy Al Muradiy seorang yang tsiqat meriwayatkan dari Abu Ja’far dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 476]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan bahwa terdapat para sahabat wanita yang dikatakan sebagai ahli surga diantaranya adalah Asma binti Umais [radiallahu ‘anha] dan Maimunah binti Al Harits Ummul Mukminin [radiallahu ‘anha]

.

.

Riwayat Kelima

علي بن إبراهيم عن أبيه عن ابن أبي عمير عن الحسين بن عثمان عن ذريح قال سمعت أبا عبد الله (عليه السلام) يقول قال علي بن الحسين عليهما السلام إن أبا سعيد الخدري كان من أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وآله) وكان مستقيما فنزع ثلاثة أيام فغسله أهله ثم حمل إلى مصلاه فمات فيه

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Husain bin ‘Utsman dari Dzuraih yang berkata aku mendengar Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan Aliy bin Husain [‘alaihimas salaam] berkata bahwa Abu Sa’id Al Khudri termasuk sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa ‘alihi] dan ia seorang yang lurus, ia menderita sakit selama tiga hari maka keluarganya memandikannya kemudian membawanya ke tempat shalat maka ia mati dalam keadaan seperti itu [Al Kafiy Al Kulainiy 3/125 no 1]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Husain bin ‘Utsman bin Syarik seorang yang tsiqat, meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Abi ‘Umair [Rijal An Najasyiy hal 53 no 119]
  5. Dzuraih Al Muhaaribiy seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 127]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa Abu Sa’id Al Khudriy [radiallahu ‘anhu] termasuk sahabat yang terpuji kedudukannya dalam pandangan Imam Ahlul Bait.

.

.

Riwayat Keenam

قال معروف بن خربوذ فعرضت هذا الكلام على أبي جعفر عليه السلام فقال صدق أبو الطفيل رحمه الله هذا الكلام وجدناه في كتاب علي عليه السلام وعرفناه

Ma’ruf bin Kharrabudz berkata aku memberitahukan perkataan ini kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] maka Beliau berkata “benar Abu Thufail, rahmat Allah atasnya, perkataan ini kami temukan dalam kitab Aliy [‘alaihis salaam] dan kami mengenalnya” [Al Khishaal Syaikh Ash Shaduuq hal 67 no 98]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas adalah penggalan riwayat panjang dimana Ma’ruf bin Kharrabudz meriwayatkan hadis dari Abu Thufa’il dari Huzaifah [radiallahu ‘anhu] mengenai sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Kemudian di akhir hadis Ma’ruf bin Kharrabudz menanyakan hadis yang ia dengar dari Abu Thufail [radiallahu ‘anhu] tersebut kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]. Sanad lengkap riwayat tersebut hingga Ma’ruf bin Kharrabudz adalah

حدثنا محمد بن الحسن بن أحمد بن الوليد رضي الله عنه قال حدثنا محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، ويعقوب بن يزيد جميعا، عن محمد بن أبي عمير، عن عبد الله بن سنان، عن معروف بن خربوذ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Waliid [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ya’qub bin Yaziid keduanya dari Muhammad bin Abi ‘Umair dari ‘Abdullah bin Sinaan dari Ma’ruf bin Kharrabudz

Riwayat ini sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar ia terkemuka di Qum, tsiqat, agung kedudukannya [Rijal An Najasyiy hal 354 no 948]
  3. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Ya’qub bin Yazid bin Hammaad Al Anbariy seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 450 no 1215]
  5. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  6. ‘Abdullah bin Sinaan seorang yang tsiqat jaliil tidak ada celaan sedikitpun terhadapnya, ia meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 214 no 558]
  7. Ma’ruf bin Kharrabudz, Al Kasyiy menyebutkan bahwa ia termasuk ashabul ijma’ [enam orang yang paling faqih] diantara para fuqaha dari kalangan sahabat Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal Al Kasyiy 2/507]. Al Majlisiy menyatakan Ma’ruf bin Kharrabudz tsiqat [Al Wajiizah no 1897]

Riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas menunjukkan pujian Abu Ja’far [‘alaihis salaam] kepada Abu Thufail, dan ia termasuk sahabat Nabi, Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan nama Abu Thufail dalam kitab Rijal-nya [Rijal Ath Thuusiy hal 44] dan Syaikh Ath Thuusiy menyebutkan namanya tersebut dalam bab

باب من روي عن النبي صلى الله عليه وآله من الصحابة

Bab, orang-orang yang meriwayatkan dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wa’alihi] termasuk kalangan sahabat-Nya

Riwayat ini dan riwayat-riwayat sebelumnya menjadi bukti yang menyatakan bahwa hadis semua sahabat murtad kecuali tiga adalah hadis mungkar karena bertentangan dengan hadis shahih di sisi mazhab Syi’ah

.

Tuduhan bahwa mazhab Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi adalah tuduhan yang tidak benar. Dalam kitab mazhab Syi’ah juga terdapat pujian terhadap para sahabat baik secara umum ataupun terkhusus sahabat tertentu. Walaupun memang terdapat juga riwayat yang memuat celaan terhadap sahabat tertentu. Perkara seperti ini juga dapat ditemukan dalam riwayat Ahlus Sunnah yaitu terdapat berbagai hadis shahih yang juga mencela sebagian sahabat.

.

.

Benarkah Mazhab Syi’ah Mengkafirkan Mayoritas Sahabat Nabi?

Salah satu diantara Syubhat para pembenci Syi’ah [baik dari kalangan nashibiy atau selainnya] adalah Syi’ah mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi kecuali tiga orang. Mereka mengutip beberapa hadis dalam kitab Syi’ah untuk menunjukkan syubhat tersebut.

 

Dalam tulisan ini akan kami tunjukkan bahwa syubhat tersebut dusta, yang benar di sisi mazhab Syi’ah adalah para sahabat Nabi telah tersesat dalam perkara Imamah Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] tetapi itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam dan terlepas dari perkara Imamah cukup banyak para sahabat Nabi yang dipuji oleh Imam Ahlul Bait [‘alaihis salaam]

Dalam pembahasan ini akan dibahas hadis-hadis mazhab Syi’ah yang sering dijadikan hujjah untuk menunjukkan kekafiran mayoritas sahabat Nabi. Hadis-hadis tersebut terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang dengan jelas menggunakan lafaz “murtad”
  2. Hadis yang tidak menggunakan lafaz “murtad”

.

.

.

Hadis Dengan Lafaz Murtad

Hadis yang menggunakan lafaz murtad dalam masalah ini ada lima hadis, empat hadis kedudukannya dhaif dan satu hadis mengandung illat [cacat] sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Berikut hadis-hadis yang dimaksud

Riwayat Pertama

علي بن الحكم عن سيف بن عميرة عن أبي بكر الحضرمي قال قال أبو جعفر (عليه السلام) ارتد الناس إلا ثلاثة نفر سلمان و أبو ذر و المقداد. قال قلت فعمار ؟ قال قد كان جاض جيضة ثم رجع، ثم قال إن أردت الذي لم يشك و لم يدخله شي‏ء فالمقداد، فأما سلمان فإنه عرض في قلبه عارض أن عند أمير المؤمنين (عليه السلام) اسم الله الأعظم لو تكلم به لأخذتهم الأرض و هو هكذا فلبب و وجئت عنقه حتى تركت كالسلقة فمر به أمير المؤمنين (عليه السلام) فقال له يا أبا عبد الله هذا من ذاك بايع فبايع و أما أبو ذر فأمره أمير المؤمنين (عليه السلام) بالسكوت و لم يكن يأخذه في الله لومة لائم فأبى إلا أن يتكلم فمر به عثمان فأمر به، ثم أناب الناس بعد فكان أول من أناب أبو ساسان الأنصاري و أبو عمرة و شتيرة و كانوا سبعة، فلم يكن يعرف حق أمير المؤمنين (عليه السلام) إلا هؤلاء السبعة

Aliy bin Al Hakam dari Saif bin Umairah dari Abi Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata orang-orang murtad kecuali tiga yaitu Salman, Abu Dzar dan Miqdaad. Aku berkata ‘Ammar?. Beliau berkata “sungguh ia telah berpaling kemudian kembali” kemudian Beliau berkata “sesungguhnya orang yang tidak ada keraguan didalamnya sedikitpun adalah Miqdaad, adapun Salman bahwasanya ia nampak dalam hatinya nampak bahwa di sisi Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] terdapat nama Allah yang paling agung yang seandainya ia meminta dengannya maka bumi akan menelan mereka. Dia ditangkap dan diikat lehernya sampai meninggalkan bekas, ketika Amirul mukminin melintasinya, Ia berkata kepadanya [Salman] “wahai Abu ‘Abdullah, inilah akibat perkara ini, berbaiatlah” maka ia berbaiat. Adapun Abu Dzar maka Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] memerintahkannya untuk diam dan tidak terpengaruh dengan celaan para pencela di jalan Allah, ia menolak dan berbicara maka ketika Utsman melintasinya ia memerintahkan dengannya, kemudian orang-orang kembali setelah itudan mereka yang pertama kembali adalah Abu Saasaan Al Anshariy, Abu ‘Amrah dan Syutairah maka mereka jadi bertujuh, tidak ada yang mengenal hak Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] kecuali mereka bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/47 no 24]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya dhaif karena terputus Antara Al Kasyiy dan Aliy bin Al Hakaam. Syaikh Ja’far Syubhaaniy berkata

وكفى في ضعفها أن الكشي من أعلام القرن الرابع الهجري القمري ، فلا يصح أن يروي عن علي بن الحكم ، سواء أكان المراد منه الأنباري الراوي عن ابن عميرة المتوفى عام ( 217 ه) أو كان المراد الزبيري الذي عده الشيخ من أصحاب الرضا ( عليه السلام ) المتوفى عام 203

Dan cukup untuk melemahkannya bahwa Al Kasyiy termasuk ulama abad keempat Hijrah maka tidak shahih ia meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam, jika yang dimaksud adalah Al Anbariy yang meriwayatkan dari Ibnu Umairah maka ia wafat tahun 217 atau jika yang dimaksud adalah Az Zubairiy yang disebutkan Syaikh dalam sahabat Imam Ar Ridha [‘alaihis salaam] maka ia wafat tahun 203 H [Adhwaa ‘Ala ‘Aqa’id Syi’ah Al Imamiyah, Syaikh Ja’far Syubhaaniy hal 523]

Disebutkan riwayat di atas oleh Al Mufiid dalam Al Ikhtishaash dengan sanad yang bersambung hingga Aliy bin Al Hakam, berikut sanadnya

علي بن الحسين بن يوسف، عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن إسماعيل، عن علي بن الحكم، عن سيف بن عميرة، عن أبي بكر الحضرمي قال: قال أبوجعفر عليه السلام: ارتد الناس إلا ثلاثة نفر: سلمان وأبوذر، والمقداد

Aliy bin Husain bin Yuusuf dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Isma’iil dari ‘Aliy bin Al Hakam dari Saif bin ‘Umairah dari Abu Bakar Al Hadhramiy yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Salmaan, Abu Dzar dan Miqdaad…[Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 10]

Terlepas dari kontroversi mengenai kitab Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid. Riwayat Al Mufiid di atas sanadnya dhaif sampai Aliy bin Al Hakam karena Aliy bin Husain bin Yuusuf dan Muhammad bin Isma’iil majhul

  1. Aliy bin Husain bin Yusuf, Syaikh Asy Syahruudiy dalam biografinya menyatakan “mereka tidak menyebutkannya” [Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadits, Syaikh Aliy Asy Syahruudiy 5/359 no 9957]
  2. Muhammad bin Isma’iil Al Qummiy meriwayatkan dari Aliy bin Al Hakam dan telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Yahya [Mu’jam Rijal Al Hadits 16/118 no 10293]. Disebutkan bahwa ia majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 502]

Kesimpulannya riwayat di atas dhaif tidak tsabit sanadnya sampai ke Aliy bin Al Hakam maka tidak bisa dijadikan hujjah

.

.

Riwayat Kedua 

محمد بن إسماعيل، قال حدثني الفصل بن شاذان، عن ابن أبي عمير عن إبراهيم بن عبد الحميد، عن أبي بصير، قال: قلت لأبي عبد الله ارتد الناس الا ثلاثة أبو ذر وسلمان والمقداد قال: فقال أبو عبد الله عليه السلام: فأين أبو ساسان وأبو عمرة الأنصاري؟

Muhammad bin Isma’iil berkata telah menceritakan kepadaku Al Fadhl bin Syadzaan dari Ibnu Abi ‘Umair dari Ibrahiim bin ‘Abdul Hamiid dari Abi Bashiir yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah “orang-orang telah murtad kecuali tiga yaitu Abu Dzar, Salmaan dan Miqdaad”. Maka Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] berkata “maka dimana Abu Saasaan dan Abu ‘Amrah Al Anshaariy?” [Rijal Al Kasyiy 1/38 no 17]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena Muhammad bin Isma’iil An Naisaburiy yang meriwayatkan dari Fadhl bin Syadzaan adalah seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 500]

.

.

Riwayat Ketiga    

عدة من أصحابنا، عن محمد بن الحسن عن محمد بن الحسن الصفار، عن أيوب بن نوح، عن صفوان بن يحيى، عن مثنى بن الوليد الحناط، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر عليه السلام قال: ارتد الناس بعد النبي صلى الله عليه وآله إلا ثلاثة نفر: المقداد بن الأسود، وأبو ذر الغفاري وسلمان الفارسي، ثم إن الناس عرفوا ولحقوا بعد

Sekelompok dari sahabat kami dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ayuub bin Nuuh dari Shafwaan bin Yahya dari Mutsanna bin Waliid Al Hanaath dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata “orang-orang telah murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] keucali tiga yaitu Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifaariy, dan Salman Al Faarisiy kemudian orang-orang mengenal dan mengikuti setelahnya [Al Ikhtishaas Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Al Mufiid di atas kedudukannya dhaif karena tidak dikenal siapakah “sekelompok sahabat” yang dimaksudkan dalam sanad tersebut.

.

.

Riwayat Keempat

وعنه عن محمد بن الحسن، عن محمد بن الحسن الصفار، عن محمد بن الحسين، عن موسى بن سعدان، عن عبد الله بن القاسم الحضرمي، عن عمرو بن ثابت قال سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول إن النبي صلى الله عليه وآله لما قبض ارتد الناس على أعقابهم كفارا ” إلا ثلاثا ” سلمان والمقداد، وأبو ذر الغفاري، إنه لما قبض رسول الله صلى الله عليه وآله جاء أربعون رجلا ” إلى علي بن أبي طالب عليه السلام فقالوا لا والله لا نعطي أحدا ” طاعة بعدك أبدا “، قال ولم؟ قالوا إنا سمعنا من رسول الله صلى الله عليه وآله فيك يوم غدير [خم]، قال وتفعلون؟ قالوا نعم قال فأتوني غدا ” محلقين، قال فما أتاه إلا هؤلاء الثلاثة، قال وجاءه عمار بن ياسر بعد الظهر فضرب يده على صدره، ثم قال له مالك أن تستيقظ من نومة الغفلة، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم أنتم لم تطيعوني في حلق الرأس فكيف تطيعوني في قتال جبال الحديد، ارجعوا فلا حاجة لي فيكم

Dan darinya dari Muhammad bin Hasan dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Muhammad bin Husain dari Muusa bin Sa’dan dari ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy dari ‘Amru bin Tsabit yang berkata aku mendengar ‘Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] mengatakan “Sesungguhnya setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, maka orang-orang murtad kecuali tiga orang yaitu Salman, Miqdad dan Abu Dzar Al Ghiffariy. Sesungguhnya setelah Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] wafat, datanglah empat puluh orang lelaki kepada Aliy bin Abi Talib. Mereka berkata “Tidak, demi Allah! Selamanya kami tidak akan mentaati sesiapapun kecuali kepadamu. Beliau berkata Mengapa?. Mereka berkata “Sesungguhnya kami telah mendengar Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] menyampaikan tentangmu pada hari Ghadir [Khum]. Beliau berkata “apakah kamu semua akan melakukannya?” Mereka berkata “ya”. Beliau berkata “datanglah kamu besok dengan mencukur kepala”. [Abu ‘Abdillah] berkata “Tidak datang kepada Ali kecuali mereka bertiga. [Abu ‘Abdillah] berkata: ‘Ammar bin Yasir datang setelah Zuhur. Beliau memukul tangan ke atas dadanya dan berkata kepada Ammar Mengapa kamu tidak bangkit daripada tidur kelalaian? Kembalilah kamu, kerana aku tidak memerlukan kamu. Jika kamu tidak mentaati aku untuk mencukur kepala, lantas bagaimana kamu akan mentaati aku untuk memerangi gunung besi, kembalilah kamu, aku tidak memerlukan kamu” [Al Ikhtishaash Syaikh Mufiid hal 6]

Riwayat Syaikh Al Mufiid di atas berdasarkan Ilmu Rijal Syi’ah sanadnya dhaif jiddan karena Musa bin Sa’dan dan ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy

  1. Muusa bin Sa’dan Al Hanath ia adalah seorang yang dhaif dalam hadis [Rijal An Najasyiy hal 404 no 1072]
  2. ‘Abdullah bin Qaasim Al Hadhramiy seorang pendusta dan ghuluw [Rijal An Najasyiy hal 226 no 594]

.

.

Riwayat Kelima

حنان، عن أبيه، عن أبي جعفر (ع) قال: كان الناس أهل ردة بعد النبي (صلى الله عليه وآله) إلا ثلاثة فقلت: ومن الثلاثة؟ فقال: المقداد بن الاسود وأبوذر الغفاري و سلمان الفارسي رحمة الله وبركاته عليهم ثم عرف اناس بعد يسير وقال: هؤلاء الذين دارت عليهم الرحا وأبوا أن يبايعوا حتى جاؤوا بأمير المؤمنين (ع) مكرها فبايع وذلك قول الله تعالى: ” وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Hannan dari ayahnya [Sudair], dari Abu Ja‘far ['alaihis salaam] yang berkata “Sesungguhnya orang-orang adalah Ahli riddah [murtad] setelah Nabi [shallallahu 'alaihi wa alihi] wafat kecuali tiga orang. [Sudair] berkata ‘Siapa ketiga orang itu?’ Maka Beliau berkata ‘Miqdaad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifariy dan Salman Al Farisiy [semoga Allah memberikan rahmat dan barakah kepada mereka]. Kemudian orang-orang mengetahui sesudah itu. Beliau berkata mereka itulah yang menghadapi segala kesulitan dan tidak memberikan ba’iat sampai mereka mendatangi Amirul Mukminin ['alaihissalaam] yang dipaksa mereka memberi ba’iat. Demikianlah yang difirmankan Allah SWT “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang, barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 341]

Sebagian orang mendhaifkan sanad ini dengan mengatakan bahwa riwayat Al Kulainiy terputus Antara Al Kulainiy dan Hanaan bin Sudair. Nampaknya hal ini tidak benar berdasarkan penjelasan berikut

Riwayat di atas juga disebutkan Al Kasyiy dalam kitab Rijal-nya dengan sanad Dari Hamdawaih dan Ibrahim bin Nashiir dari Muhammad bin ‘Utsman dari Hannan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [Rijal Al Kasyiy 1/26 no 12]. Al Majlisiy dalam kitabnya Bihar Al Anwar mengutip hadis Al Kasyiy tersebut kemudian mengutip sanad Al Kafiy dengan perkataan berikut

الكافي: علي عن أبيه عن حنان مثله

Al Kafiy : Aliy [bin Ibrahim] dari Ayahnya dari Hanaan seperti di atas [Bihar Al Anwar 28/237]

Al Kulainiy menyebutkan dalam Al Kafiy pada riwayat sebelumnya sanad yang sama yaitu nampak dalam riwayat berikut

علي بن ابراهيم، عن أبيه، عن حنان بن سدير، ومحمد بن يحيى، عن أحمد بن محمد عن محمد بن إسماعيل، عن حنان بن سدير، عن أبيه قال: سألت أبا جعفر

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan bin Sudair dan Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari Muhammad bin Isma’iil dari Hanaan bin Sudair dari Ayahnya yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam]… [Al Kafiy Al Kulainiy 8/246 no 340]

Maka disini dapat dipahami bahwa dalam pandangan Al Majlisiy sanad utuh riwayat tersebut adalah Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Hanaan dari Ayahnya dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam]

Sanad ini para perawinya tsiqat selain Sudair bin Hakiim Ash Shairaafiy, ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi Allamah Al Hilliy telah menyebutkannya dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sudair bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar

Dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Allamah Al Hilliy, Sudair bin Hakiim termasuk perawi yang diterima hanya saja dalam sebagian riwayatnya kacau sehingga diingkari. Kedudukan perawi seperti ini tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Berikut riwayat shahih dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] yang membuktikan keislaman para sahabat pada saat itu

أبى رحمه الله قال: حدثنا سعد بن عبد الله قال: حدثنا أحمد بن محمد ابن عيسى، عن العباس بن معروف، عن حماد بن عيسى، عن حريز، عن بريد بن معاوية، عن أبي جعفر ” ع ” قال: إن عليا ” ع ” لم يمنعه من أن يدعو الناس إلى نفسه إلا انهم ان يكونوا ضلالا لا يرجعون عن الاسلام أحب إليه من أن يدعوهم فيأبوا عليه فيصيرون كفارا كلهم

Ayahku [rahimahullah] berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Ma’ruuf dari Hammad bin Iisa dari Hariiz dari Buraid bin Mu’awiyah dari Abi Ja’far [‘alaihis salaam] yang berkata sesungguhnya Aliy [‘alaihis salaam], tidak ada yang mencegahnya mengajak manusia kepadanya kecuali bahwa mereka dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam lebih ia sukai daripada ia mengajak mereka dan mereka menolaknya maka mereka menjadi kafir seluruhnya [Ilal Asy Syara’i Syaikh Ash Shaduq 1/150 no 10]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq di atas sanadnya shahih berdasarkan standar Ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan para perawinya

  1. Ayah Syaikh Shaduq adalah ‘Aliy bin Husain bin Musa bn Babawaih Al Qummiy disebutkan oleh An Najasyiy Syaikh yang faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]
  4. ‘Abbaas bin Ma’ruf Abu Fadhl Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 281 no 743]
  5. Hammaad bin Iisa Abu Muhammad Al Juhaniy seorang yang tsiqat dalam hadisnya shaduq [Rijal An Najasyiy hal 142 no 370]
  6. Hariiz bin ‘Abdullah As Sijistaniy orang kufah yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 118]
  7. Buraid bin Mu’awiyah meriwayatkan dari Abu Ja’far [‘alaihis salaam] dan Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat faqiih [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 81-82]

Riwayat Syaikh Ash Shaduq dengan jelas menyatakan bahwa para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy [‘alaihis salaam] pada saat itu memang dalam keadaan tersesat tetapi tidak keluar dari Islam.

.

.

.
Hadis Yang Tidak Ada Lafaz Murtad

Ada dua hadis yang tidak mengandung lafaz “murtad” hanya menunjukkan bahwa mereka para sahabat meninggalkan baiat atau telah tersesat dan celaka kecuali tiga orang. Dan berdasarkan hadis shahih sebelumnya [riwayat Syaikh Ash Shaduq] mereka para sahabat yang tidak membaiat Imam Aliy adalah orang-orang yang tersesat tetapi tidak keluar dari Islam

.

Riwayat Pertama

محمد بن مسعود، قال حدثني علي بن الحسن بن فضال، قال حدثني العباس ابن عامر، وجعفر بن محمد بن حكيم، عن أبان بن عثمان، عن الحارث النصري بن المغيرة، قال سمعت عبد الملك بن أعين، يسأل أبا عبد الله عليه السلام قال فلم يزل يسأله حتى قال له: فهلك الناس إذا؟ قال: أي والله يا ابن أعين هلك الناس أجمعون قلت من في الشرق ومن في الغرب؟ قال، فقال: انها فتحت على الضلال أي والله هلكوا الا ثلاثة ثم لحق أبو ساسان وعمار وشتيرة وأبو عمرة فصاروا سبعة

Muhammad bin Mas’ud berkata telah menceritakan kepadaku Aliy bin Hasan bin Fadhl yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abbas Ibnu ‘Aamir dan Ja’far bin Muhammad bin Hukaim dari Aban bin ‘Utsman dari Al Harits An Nashriy bin Mughiirah yang berkata aku mendengar ‘Abdul Malik bin ‘A’yun bertanya kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam], ia tidak henti-hentinya bertanya kepadanya sampai ia berkata kepadanya “maka orang-orang telah celaka?”. Beliau berkata “demi Allah, wahai Ibnu A’yun orang-orang telah celaka seluruhnya”. Aku berkata “orang-orang yang di Timur dan orang-orang yang di Barat?”. Beliau berkata “sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan, demi Allah mereka celaka kecuali tiga kemudian diikuti Abu Saasaan, ‘Ammar, Syutairah dan Abu ‘Amrah hingga mereka jadi bertujuh [Rijal Al Kasyiy 1/34-35 no 14]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya muwatstsaq para perawinya tsiqat hanya saja Aliy bin Hasan bin Fadhl disebutkan bahwa ia bermazhab Fathahiy dan Aban bin ‘Utsman bermazhab menyimpang

  1. Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]
  2. Aliy bin Hasan bin Fadhl orang Kufah yang faqih, terkemuka, tsiqat dan arif dalam ilmu hadis [Rijal An Najasyiy hal 257 no 676]
  3. ‘Abbaas bin ‘Aamir bin Rabah, Abu Fadhl Ats Tsaqafiy seorang syaikh shaduq tsiqat banyak meriwayatkan hadis [Rijal An Najasyiy hal 281 no 744]
  4. Abaan bin ‘Utsman Al Ahmar, Al Hilliy menukil dari Al Kasyiy bahwa terdapat ijma’ menshahihkan apa yang shahih dari Aban bin ‘Utsman, dan Al Hilliy berkata “di sisiku riwayatnya diterima dan ia jelek mazhabnya” [Khulashah Al ‘Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 74 no 3]
  5. Al Harits bin Mughiirah meriwayatkan dari Abu Ja’far, Ja’far, Musa bin Ja’far dan Zaid bin Aliy, tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 139 no 361]
  6. Abdul Malik bin A’yun termasuk sahabat Imam Baqir [‘alaihis salaam] dan Imam Shadiq [‘alaihis salaam], disebutkan dalam riwayat shahih oleh Al Kasyiy mengenai kebaikannya dan istiqamah-nya [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadits hal 356]. Allamah Al Hilliy memasukkannya ke dalam daftar perawi yang terpuji atau diterima di sisinya [Khulashah Al Aqwaal hal 206 no 5]

Riwayat Al Kasyiy di atas tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena dalam lafaz riwayat-nya memang tidak terdapat kata-kata kafir atau murtad. Riwayat diatas menjelaskan bahwa para sahabat telah celaka dan mengalami kesesatan [karena perkara wilayah] tetapi hal ini tidaklah mengeluarkan mereka dari Islam sebagaimana telah ditunjukkan riwayat shahih sebelumnya.
.

.

Riwayat Kedua

حمدويه، قال حدثنا أيوب عن محمد بن الفضل وصفوان، عن أبي خالد القماط، عن حمران، قال: قلت لأبي جعفر عليه السلام ما أقلنا لو اجتمعنا على شاة ما أفنيناها! قال، فقال: الا أخبرك بأعجب من ذلك؟ قال، فقلت: بلي. قال: المهاجرون والأنصار ذهبوا (وأشار بيده) الا ثلاثة

Hamdawaih berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub dari Muhammad bin Fadhl dan Shafwaan dari Abi Khalid Al Qamaath dari Hamran yang berkata aku berkata kepada Abu Ja’far [‘alaihis salaam] “betapa sedikitnya jumlah kita, seandainya kita berkumpul pada hidangan kambing maka kita tidak akan menghabiskannya”. Maka Beliau berkata “maukah aku kabarkan kepadamu hal yang lebih mengherankan daripada itu?”. Aku berkata “ya”. Beliau berkata “Muhajirin dan Anshar meninggalkan [dan ia berisyarat dengan tangannya] kecuali tiga [Rijal Al Kasyiy 1/37 no 15]

Riwayat Al Kasyiy di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu Rijal Syi’ah berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Hamdawaih bin Nashiir dia seorang yang memiliki banyak ilmu dan riwayat, tsiqat baik mazhabnya [Rijal Ath Thuusiy hal 421]
  2. Ayuub bin Nuuh bin Daraaj, agung kedudukannya di sisi Abu Hasan dan Abu Muhammad [‘alaihimus salaam], ma’mun, sangat wara’, banyak beribadah dan tsiqat dalam riwayatnya [Rijal An Najasyiy hal 102 no 254]
  3. Shafwaan bin Yahya Abu Muhammad Al Bajalliy seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 197 no 524]
  4. Yaziid Abu Khalid Al Qammaath seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 452 no 1223]
  5. Hamran bin A’yun termasuk diantara Syaikh-syaikh Syi’ah yang agung dan memiliki keutamaan yang tidak diragukan tentang mereka [Risalah Fii Alu A’yun Syaikh Abu Ghalib hal 2]

Riwayat Al Kasyiy di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi karena tidak ada dalam riwayat tersebut lafaz kafir atau murtad. Riwayat ini menunjukkan bahwa para sahabat meninggalkan Imam Aliy dan membaiat khalifah Abu Bakar [radiallahu 'anhu] sepeninggal Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Dan sebagaimana disebutkan dalam riwayat shahih sebelumnya bahwa mereka telah tersesat tetapi hal itu tidak mengeluarkan mereka dari Islam.

.

.

Kesimpulan

Dalam mazhab Syi’ah, Para sahabat Nabi yang tidak membaiat Imam Aliy ['alaihis salaam] telah tersesat [kecuali tiga orang] karena menurut mazhab Syi’ah, Imamah Aliy bin Abi Thalib telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tetapi walaupun begitu disebutkan juga dalam hadis shahih mazhab Syi’ah bahwa kesesatan para sahabat tersebut tidaklah mengeluarkan mereka dari islam.

 

hadis Imam Aliy mengharamkan nikah mut’ah di sisi Syi’ah kedudukannya dhaif

Shahihkah Hadis Syi’ah : Imam Aliy Mengharamkan Mut’ah Di Khaibar?

Halalnya Nikah Mut’ah adalah perkara yang diyakini kebenarannya dalam Mazhab Syi’ah dan hal ini berdasarkan hadis-hadis shahih dari Imam Ahlul Bait di sisi mereka. Tidak menjadi masalah jika kaum sunni tidak menerima hal ini [karena terdapat hadis-hadis Sunni yang mengharamkannya].

 

Diantara kaum sunni tersebut ternyata terdapat para nashibi yang gemar memfitnah Syi’ah. Nashibi tersebut berkata bahwa dalam kitab Syi’ah Imam Aliy telah mengharamkan mut’ah, benarkah demikian. Tulisan ini berusaha menganalisis benarkah tuduhan para nashibi tersebut bahwa dalam mazhab Syi’ah Imam Aliy telah mengharamkan mut’ah. Inilah hadis yang dimaksud

محمد بن يحيى عن أبي جعفر عن أبي الجوزاء عن الحسين بن علوان عن عمرو بن خالد عن زيد بن علي عن آبائه عن علي عليهم السلام قال حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة

Muhammad bin Yahya dari Abi Ja’far dari Abul Jauzaa’ dari Husain bin ‘Ulwan dari ‘Amru bin Khalid dari Zaid bin Aliy dari Ayah-ayahnya dari Aliy [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengharamkan pada hari khaibar daging keledai jinak dan Nikah Mut’ah [Tahdzib Al Ahkam, Syaikh Ath Thuusiy 7/251].

Nashibi tersebut menyatakan bahwa para perawi hadis ini semuanya tsiqat berdasarkan standar ilmu hadis Syi’ah. Pernyataan inilah yang akan diteliti kembali berdasarkan ilmu Rijal Syi’ah. Perawi yang akan dipermasalahkan disini adalah Husain bin ‘Ulwan

Husain bin ‘Ulwan telah ditsiqatkan oleh Sayyid Al Khu’iy dalam Mu’jam Rijal Al Hadits no 3508  dan diikuti oleh Muhammad Al Jawahiriy dalam Al Mufiid

الحسين بن علوان: وثقه النجاشي على ما ذكرناه في ترجمة الحسن بن علوان وإن التوثيق راجع إلى الحسين لا إلى الحسن. على أن في كلام ابن عقدة دلالة على وثاقة الحسين بن علوان

Husain bin ‘Ulwan ditsiqatkan oleh An Najasyiy sebagaimana yang kami sebutkan dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan bahwa sesungguhnya tautsiq tersebut kembali kepada Al Husain bukan kepada Al Hasan dan sesungguhnya dalam perkataan Ibnu Uqdah terdapat dalil atas tsiqatnya Husain bin ‘Ulwan [Al Mufid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 768]

.

.

Memang terjadi perselisihan diantara ulama Syi’ah mengenai tautsiq terhadap Husain bin ‘Ulwan. Perselisihan ini disebabkan oleh perbedaan pemahaman mereka terhadap apa yang dikatakan An Najasyiy dalam biografi Husain bin ‘Ulwan. An Najasyiy berkata

الحسين بن علوان الكلبي مولاهم كوفي عامي، وأخوه الحسن يكنى أبا محمد ثقة، رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy maula mereka, seorang penduduk Kufah dari kalangan ahlus sunnah dan saudaranya Al Hasan dengan kuniyah Abu Muhammad tsiqat, keduanya meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 52 no 116]

Sebagian ulama Syi’ah memahami bahwa perkataan tsiqat An Najasyiy itu tertuju pada saudaranya Al Husain bin ‘Ulwan yaitu Al Hasan bin ‘Ulwan seperti yang dinyatakan Syaih Aliy Asy Syahruudiy dalam Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadiits 2/432 no 3681 biografi Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy. Syaikh Ja’far Syubhaniy dalam Kulliyat Fii Ilm Rijal menegaskan bahwa tautsiq yang disebutkan An Najasyiy itu tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy [Kulliyat Fii Ilm Rijal hal 65].

Ibnu Dawud Al Hilliy dalam kitab Rijal-nya ia memasukkan Hasan bin ‘Ulwan dalam Juz pertama yang memuat daftar perawi tsiqat dan terpuji menurutnya [Rijal Ibnu Dawud hal Al Hilliy 76 no 443]. Sedangkan untuk Husain bin ‘Ulwan, Ibnu Dawud memasukkan namanya dalam juz kedua yang memuat daftar perawi yang majruh dan majhul, ia berkata

الحسين بن علوان الكلبي، مولاهم ق (جش) كوفي عامي

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy, maula mereka, [kitab Najasyiy] penduduk Kufah dari kalangan ahlus sunnah [Rijal Ibnu Dawud hal 240 no 144]

Dari pernyataan Ibnu Dawud Al Hilliy tersebut didapatkan bahwa Ibnu Dawud memahami perkataan An Najasyiy kalau tautsiq tersebut tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan sehingga ia memasukkannya dalam juz pertama kitabnya. Sedangkan Husain bin ‘Ulwaan tidak ada tautsiq terhadapnya dari Najasyiy dan yang lainnya maka Ibnu Dawud memasukkannya dalam juz kedua yang memuat daftar perawi majhul dan dhaif.

Hal yang sama juga disebutkan oleh Allamah Al Hilliy dalam Khulasah Al Aqwaal Fii Ma’rifat Ar Rijal, ia memasukkan Hasan bin ‘Ulwan dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi tsiqat [Khulasah Al Aqwaal, hal 106] dan memasukkan Husain bin ‘Ulwan dalam kitab Khulasah-nya bagian kedua yang memuat daftar perawi dhaif atau yang ia bertawaqquf terhadapnya [Khulasah Al Aqwaal, hal 338]

Sayyid Al Khu’iy yang diikuti Muhammad Al Jawahiriy memahami lafaz tautsiq Najasyiy tertuju pada Husain bin ‘Ulwan karena disitu adalah biografi Husain bin ‘Ulwan. Pernyataan ini tidak menjadi hujjah, karena kalau diperhatikan secara terperinci metode penulisan An Najasyiy dalam kitab-nya maka didapatkan bahwa An Najasyiy sering mentautsiq seorang perawi dalam biografi perawi lain [misalnya saudara atau ayahnya]. Hal ini juga ditegaskan oleh Syaikh Ja’far Syubhaniy dalam Kulliyat Fii Ilm Rijal hal 64

ثم إن الشيخ النجاشي قد ترجم عدة من الرواة ووثقهم في غير تراجمهم، كما أنه لم يترجم عدة من الرواة مستقلا، ولكن وثقهم في تراجم غيرهم

Kemudian Syaikh An Najasyiy telah menulis biografi sejumlah perawi dan mentsiqatkan mereka dalam biografi selain mereka, sama seperti halnya ia tidak menulis biografi sejumlah perawi secara khusus tetapi ia mentsiqatkan mereka dalam biografi selain mereka [Kulliyat Fii Ilm Rijaal, Syaikh Ja’far Syubhaniy hal 64]

Berikut adalah contoh dimana Najasyiy mentautsiq seorang perawi dalam biografi perawi lain

مندل بن علي العنزي واسمه عمرو، وأخوه حيان، ثقتان، رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Mandal bin Aliy Al ‘Anziy namanya ‘Amru, dan saudaranya adalah Hayyaan, keduanya tsiqat, keduanya meriwayatkan dari Abu Abdullah [‘alaihis salaam] [Rijal An Najasyiy hal 422 no 1131]

.

.

Jika dilihat secara zahir lafaz perkataan An Najasyiy dalam biografi Husain bin ‘Ulwan maka diketahui bahwa ia sedang menceritakan tentang keduanya tidak hanya Husain bin ‘Ulwan tetapi juga Hasan bin ‘Ulwan, maka kalau kita penggal secara benar adalah sebagai berikut

الحسين بن علوان الكلبي مولاهم كوفي عامي،
وأخوه الحسن يكنى أبا محمد ثقة،
رويا عن أبي عبد الله عليه السلام

Al Husain bin ‘Ulwan Al Kalbiy maula mereka, penduduk Kufah dari kalangan umum [ahlus sunnah]
Dan saudaranya, Al Hasan dengan kuniyah Abu Muhammad seorang yang tsiqat
Keduanya meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam]

Lafaz rawaya ‘an yang berarti “keduanya meriwayatkan” menunjukkan bahwa Najasyiy sedang menceritakan keduanya. Sehingga susunan kalimat itu akan lebih teratur kalau dipahami bahwa lafaz “tsiqat” itu terikat pada Hasan bukan pada Husain bin ‘Ulwan. Berbeda hal-nya jika dalam biografi tersebut Najasyiy hanya bercerita tentang Husain bin ‘Ulwan saja maka tidak diragukan lafaz tsiqat itu tertuju pada Husain bin ‘Ulwan. Maka dari itu menurut kami yang rajih adalah lafaz tsiqat Najasyiy itu tertuju pada Hasan bin ‘Ulwan sebagaimana diisyaratkan oleh Allamah Al Hiliy, Ibnu Dawud dan ditegaskan oleh Syaikh Ja’far Syubhaniy dan Syaikh Ali Asy Syahruudiy.

.

.

Adapun hujjah Sayyid Al Khu’iy dan Muhammad Al Jawahiriy dengan perkataan Ibnu Uqdah seolah menunjukkan tautsiq pada Husain bin ‘Ulwan maka hujjah ini tertolak. Perkataan Ibnu Uqdah tersebut dinukil oleh Allamah Al Hilliy kemudian Sayyid Al Khu’iy sendiri dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan berkomentar sebagai berikut

ووثقه ابن عقدة أيضا، ذكره العلامة في ترجمة الحسين بن علوان في القسم الثاني، ولكن طريقه إلى ابن عقدة مجهول، فلا يمكن الاعتماد عليه

Dan ia telah ditsiqatkan Ibnu Uqdah sebagaimana yang telah disebutkan Allamah dalam biografi Husain bin ‘Ulwan dalam bagian kedua, tetapi jalannya sampai ke Ibnu Uqdah adalah majhul maka tidak mungkin berpegang dengannya [Mu’jam Rijal Al Hadits, Sayyid Al Khu’iy no 2929]

Jadi nampak bahwa Sayyid Al Khu’iy mengalami tanaqudh disini, dalam biografi Hasan bin ‘Ulwan ia melemahkan perkataan Ibnu Uqdah tersebut tetapi dalam biografi Husain bin ‘Ulwan ia malah berhujjah dengannya.

.

.

Seandainya pun jika perkataan Ibnu Uqdah tersebut shahih maka pernyataan Sayyid Al Khu’iy bahwa dalam perkataan Ibnu Uqdah terdapat tautsiq terhadap Husain bin ‘Ulwaan adalah keliru.

قال ابن عقدة: ان الحسن كان أوثق من أخيه

Ibnu Uqdah berkata bahwa Hasan ia lebih terpercaya dibanding saudaranya [Khulasah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 338]

Zhahir lafaz Ibnu Uqdah adalah tautsiq terhadap Hasan bin ‘Ulwaan dan menurut Sayyid Al Khu’iy di dalamnya terkandung tautsiq juga terhadap Husain saudaranya. Seolah-olah dari lafaz Ibnu Uqdah tersebut dipahami bahwa Husain dan Hasan keduanya tsiqat tetapi Hasan lebih tsiqat dari Husain. Tentu saja ini hanya sekedar dugaan, kami akan beri contoh dari kalangan mutaqaddimin yaitu An Najasyiy lafaz yang mirip dengan lafaz Ibnu Uqdah di atas

الحسن بن محمد بن جمهور العمي أبو محمد بصري ثقة في نفسه، ينسب إلى بني العم من تميم، يروي عن الضعفاء ويعتمد على المراسيل. ذكره أصحابنا بذلك وقالوا: كان أوثق من أبيه

Hasan bin Muhammad bin Jumhuur Al ‘Ammiy Abu Muhammad penduduk Basrah yang pada dasarnya tsiqat, dinasabkan kepada bani ‘Amm dari Tamim, meriwayatkan dari perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat-riwayat mursal, demikianlah disebutkan oleh sahabat kami dan mereka berkata “ia lebih terpercaya dibanding ayahnya” [Rijal An Najasyiy hal 62 no 144].

Kemudian apakah dalam lafaz “ia lebih terpercaya dibanding ayahnya” terdapat isyarat tautsiq terhadap ayahnya. Maka perhatikan perkataan An Najasyiy terhadap Muhammad bin Jumhuur

محمد بن جمهورأبو عبد الله العمي ضعيف في الحديث، فاسد المذهب

Muhammad bin Jumhuur Abu ‘Abdullah Al ‘Ammiy dhaif dalam hadis rusak mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 337 no 901]

Dari sini dapat diambil faedah bahwa lafaz “ia lebih terpercaya dari saudaranya” tidak mesti menunjukkan saudaranya juga tsiqat. Jadi pendalilan tautsiq Husain bin ‘Ulwan dengan berlandaskan hujjah perkataan Ibnu Uqdah bukanlah hujjah yang kuat.

.

.

Sejauh ini apa yang dapat kita ambil?. Tautsiq Najasyiy sebenarnya ditujukan untuk Hasan bin ‘Ulwan Al Kalbiy bukan Husain kemudian perkataan Ibnu Uqdah bukan hujjah kuat yang membuktikan tautsiq Husain bin ‘Ulwan. Selain Najasyiy dan Ibnu Uqdah, tidak ada ulama lain yang dapat dijadikan sandaran tautsiq bagi Husain bin ‘Ulwan maka pendapat yang rajih tentang Husain bin ‘Ulwan adalah tidak ada lafaz tautsiq yang jelas padanya. Hal ini telah dinyatakan oleh sebagian ulama Syi’ah muta’akhirin

  1. Sayyid Mustafa Khumaini dalam Al Khalal Fii Shalah hal 108
  2. Abdullah Al Mamaqaniy dalam Nata’ij At Tanqiih 1/41 no 2979
  3. Muhaqqiq Al Ardabiliy dalam Majma’ Al Faidah 11/121
  4. Syahid Ats Tsaniy dalam Al Istiqshaa’ Al I’tibaar  3/274
  5. Sayyid Al Khu’iy dalam Kitab Ath Thaharah 8/161

Nampak bahwa Sayyid Al Khu’iy mengalami tanaqudh mengenai pendapatnya terhadap Husain bin ‘Ulwaan Al Kalbiy, dalam salah satu kitabnya ia menyatakan Husain tsiqat tetapi dalam kitabnya yang lain ia menyatakan Husain tidak ada yang mentautsiq-nya.

.

.

Sedikit tambahan mengenai Husain bin ‘Ulwan yaitu telah ditekankan oleh An Najasyiy dan diikuti oleh banyak ulama lainnya bahwa Husain bin ‘Ulwan adalah dari kalangan umum atau ahlus sunnah. Maka bagaimanakah hakikat dirinya dalam pandangan ahlus sunnah?.

Abu Hatim berkata tentang Husain bin ‘Ulwan bahwa ia lemah dhaif matruk al hadits. Ibnu Ma’in berkata “pendusta” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/61 no 277]. Ibnu Ghulabiy berkata “tidak tsiqat”. Ali bin Madini mendhaifkannya. Abu Yahya Muhammad bin ‘Abdurrahiim berkata “Husain bin ‘Ulwan meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah dan Ibnu ‘Ajlan hadis-hadis maudhu’. Shalih bin Muhammad Al Baghdadiy berkata “pemalsu hadis”. Nasa’i dan Daruquthni berkata “matruk al hadits” [Tarikh Baghdad 8/62 no 4138]. Tentu saja kitab ahlus sunnah tidaklah menjadi pegangan di sisi Syi’ah. Kami disini hanya ingin menunjukkan bahwa Husain bin ‘Ulwan dalam pandangan ulama ahlus sunnah dikenal sebagai pendusta dan pemalsu hadis.

.

.

Kesimpulan : hadis Imam Aliy mengharamkan nikah mut’ah di sisi Syi’ah kedudukannya dhaif karena Husain bin ‘Ulwan berdasarkan pendapat yang rajih adalah perawi dari kalangan ahlus sunnah dan di sisi Syi’ah tidak ada lafaz tautsiq yang jelas untuknya.

baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah semata-mata untuk mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin lebih banyak lagi

Hakikat Baiat Hasan bin Aliy Kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Peristiwa baiatnya Imam Hasan bin Aliy [‘alaihis salaam] kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyaan sering dijadikan hujjah para nashibiy untuk membenarkan dan memuliakan Mu’awiyah. Padahal hakikatnya tidak demikian, di sisi Imam Hasan baiat tersebut adalah untuk meredakan perpecahan dan menyelamatkan darah kaum muslimin.Tidak sedikitpun baiat tersebut memandang kemuliaan Mu’awiyah karena hakikat Mu’awiyah dalam perkara ini adalah pemimpin kelompok baaghiyah yang menyeru kepada neraka. Sebagaimana yang dinyatakan dalam riwayat shahih

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” [Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Jadi betapa kelirunya orang-orang bodoh yang mengira bahwa baiat Imam Hasan tersebut berarti membenarkan Mu’awiyah atau memuliakannya. Bahkan pada saat baiat tersebut terjadi, Imam Hasan sudah mengisyaratkan celaannya kepada Mu’awiyah dan para sahabatnya, seperti nampak dalam riwayat berikut

أخبرنا يزيد بن هارون قال أخبرنا حريز بن عثمان قال حدثنا عبد الرحمن بن أبي عوف الجرشي قاللما بايع الحسن بن علي معاوية قال له عمرو بن العاص وأبو الأعور السلمي عمرو بن سفيان لو أمرت الحسن فصعد المنبر فتكلم عيي عن المنطق فيزهد فيه الناس فقال معاوية لا تفعلوا فوالله لقد رأيت رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يمص لسانه وشفته ولن يعيا لسان مصه النبي ( صلى الله عليه وسلم ) أو شفتان فأبوا على معاوية فصعد معاوية المنبر ثم أمر الحسن فصعد وأمره أن يخبر الناس إني قد بايعت معاوية فصعد الحسن المنبر فحمد الله وأثنى عليه ثم قال أيها الناس إن الله هداكم بأولنا وحقن دماءكم بآخرنا وإني قد أخذت لكم على معاوية أن يعدل فيكم وأن يوفر عليكم غنائمكم وأن يقسم فيكم فيئكم ثم أقبل على معاوية فقال كذاك قال نعم ثم هبط من المنبر وهو يقول ويشير بإصبعه إلى معاوية ” وإن أدري لعله فتنة لكم ومتاع إلى حين ” فاشتد ذلك على معاوية فقالا لو دعوته فاستنطقته فقال مهلا فأبوا فدعوه فأجابهم فأقبل عليه عمرو بن العاص فقال له الحسن أما أنت فقد اختلف فيك رجلان رجل من قريش وجزار أهل المدينة فادعياك فلا أدري أيهما أبوك وأقبل عليه أبو الأعور السلمي فقال له الحسن ألم يلعن رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) رعلا وذكوان وعمرو بن سفيان ثم أقبل معاوية يعين القوم فقال له الحسن أما علمت أن رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) لعن قائد الأحزاب وسائقهم وكان أحدهما أبو سفيان والآخر أبو الأعور السلمي

Telah mengabarkan kepada kami Yaziid bin Haruun yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hariiz bin ‘Utsman yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy yang berkata ketika Hasan bin Aliy membaiat Mu’awiyah, ‘Amru bin Ash dan Abul A’war As Sulaamiy ‘Amru bin Sufyaan telah berkata kepadanya [Mu’awiyah] “sekiranya engkau memerintahkan Hasan naik mimbar dan ia akan mengatakan ucapan yang lemah sehingga orang-orang akan berpaling darinya”. Mu’awiyah berkata “aku tidak akan melakukannya, demi Allah sungguh aku telah melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menghisap lidah dan bibirnya maka tidak akan lemah lisan atau mulut yang telah dihisap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Mereka mengingkari Mu’awiyah maka akhirnya Mu’awiyah naik mimbar kemudian memerintahkan Hasan untuk naik mimbar dan memerintahkannya untuk mengabarkan kepada orang-orang “sungguh aku telah membaiat Mu’awiyah”. Maka Hasan naik mimbar mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan memuji-Nya kemudian berkata “wahai manusia sesungguhnya Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada kalian dengan orang yang pertama dari kami dan mencegah tertumpahnya darah kalian dengan orang yang terakhir dari kami dan aku telah menjadikan kalian ke atas Mu’awiyah bahwa ia akan berlaku adil kepada kalian, memberikan ghanimah kalian dan membagi fa’iy kalian”. Kemudian ia menghadap Mu’awiyah dan berkata “beginikah?”. Mu’awiyah berkata “benar” kemudian Hasan turun dari mimbar dan ia mengatakan seraya menunjuk kearah Mu’awiyah “dan aku tidak tahu bisa jadi hal itu menjadi fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu” [QS Al Anbiya ; 111] Ia meninggikan suaranya tentang hal itu kepada Mu’awiyah. Maka keduanya [‘Amru dan Abul A’war] berkata “sekiranya kita panggil dia dan menjelaskan apa yang ia maksudkan dengannya”. Mu’awiyah berkata “berhati-hatilah”. Mereka menolak, maka mereka memanggilnya untuk menjawab mereka. ‘Amru bin ‘Ash menghadap kepada Hasan maka Hasan berkata kepadanya “adapun engkau, sungguh telah berselisih tentangmu dua orang yaitu lelaki dari quraisy dan tukang sembelih dari penduduk Madinah, keduanya mengaku berhak terhadapmu dan tidak diketahui siapa diantara keduanya adalah ayahmu”. Dan Abul A’war As Sulaamiy menghadap kepada Hasan maka Hasan berkata kepadanya “bukankah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melaknat Ri’l, Dzakwan dan ‘Amru bin Sufyaan” kemudian Mu’awiyah menghadap kepada mereka, maka Hasan berkata kepadanya “tahukah engkau bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melaknat pemimpin pasukan ahzab dan penuntun mereka yaitu Abu Sufyaan dan Abul A’war As Sulaamiy”. [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/383]

Kisah baiat Imam Hasan dan celaannya terhadap Mu’awiyah dan para sahabatnya di atas diriwayatkan dengan sanad yang shahih, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 612].
  2. Hariiz bin Utsman adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Mu’adz bin Mu’adz berkata “tidak aku ketahui di Syam ada orang yang lebih utama daripadanya”. Abu Dawud berkata “guru-guru Haariz semuanya tsiqat”. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Duhaim mengatakan ia orang Himsh yang baik sanadnya dan shahih hadisnya. Abu Hatim berkata “tsiqat mutqin” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 436]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit dan dikatakan nashibi” [Taqrib At Tahdzib 1/156 no 1184]
  3. Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy adalah perawi Abu Dawud dan Nasa’i. Abu Dawud berkata “guru-guru Hariz tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Mandah menyatakan ia sahabat. Abu Nu’aim berkata “dia termasuk tabiin penduduk syam”. Al Ijli berkata “tabiin Syam yang tsiqat”. Ibnu Qaththan berkata “majhul hal” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 494]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat dan menemui masa Nabi [SAW]” [TaqribAt Tahdzib 1/348 no 3974].Daruquthniy berkata “tsiqat” [Su’alat As Sulaamiy no 398]. Adz Dzahabiy berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 3284]

‘Abdurrahman bin Abi ‘Auf Al Jurasyiy memiliki mutaba’ah yaitu Muhammad bin Sirin sebagaimana yang nampak dalam riwayat berikut

أخبرنا هوذة بن خليفة قال حدثنا عوف عن محمد قال لما كان زمن ورد معاوية الكوفة واجتمع الناس عليه وبايعه الحسن بن علي، قالقال أصحاب معاوية لمعاوية عمرو بن العاص والوليد بن عقبة وأمثالهما من أصحابه إن الحسن بن علي مرتفع في أنفس الناس لقرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنه حديث السن عيي! فمره فليخطب، فإنه سيعيا في الخطبة فيسقط من أنفس الناس! فأبى عليهم فلم يزالوا به حتى أمره، فقام الحسن بن علي على المنبر دون معاوية فحمد الله وأثنى عليه ثم قال والله لو ابتغيتم بين جابلق وجابلص رجلا جده نبي غير ي وغير أخي لم تجدوه، وإنا قد أعطينا بيعتنا معاوية ورأينا أن ما حقن دماء المسلمين خير مما أهراقها، والله ما أدري لعله فتنة لكم ومتاع إلى حين وأشار بيده إلى معاويةقال فغضب معاوية فخطب بعده خطبة عيية فاحشة ثم نزل، وقال لهما أردت بقولك فتنة لكم ومتاع إلى حين؟! قال أردت بها ما أراد الله

Telah mengabarkan kepada kami Hawdzah bin Khaliifah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Auf dari Muhammad yang berkata ketika masanya Mu’awiyah di Kufah, orang-orang berkumpul atasnya dan Hasan bin Aliy membaiat-nya. Maka berkata para sahabat Mu’awiyah kepada Mu’awiyah yaitu ‘Amru bin Ash, Walid bin ‘Uqbah dan semisal keduanya dari sahabat-sahabatnya bahwa Hasan bin Aliy masih tinggi kedudukannya di mata orang-orang karena kekerabatannya dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], dan bahwasanya ia seorang yang masih muda dan lemah dalam berbicara maka perintahkanlah ia untuk berkhutbah maka ia akan mengucapkan ucapan yang lemah dalam khutbahnya sehingga kedudukannya akan jatuh di mata orang-orang. Mu’awiyah menolak permintaan mereka dan mereka berulang-ulang meminta sehingga akhirnya Mu’awiyah memerintahkannya. Maka Hasan bin Aliy berdiri di atas mimbar di dekat Mu’awiyah maka ia memuji Allah SWT kemudian berkata demi Allah seandainya kalian mencari diantara timur dan barat laki-laki yang kakeknya adalah Nabi maka kalian tidak akan menemukannya selain aku dan saudaraku, dan kami telah memberikan baiat kami kepada Mu’awiyah dan kami berpandangan bahwa mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin adalah lebih baik daripada menumpahkannya, demi Allah dan aku tidak tahu bisa jadi hal itu menjadi fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu dan ia mengisyaratkan tangannya kepada Mu’awiyah. Maka Mu’awiyah menjadi marah dan ia berkhutbah setelah Hasan dengan khutbah yang penuh kelemahan dan kekejian kemudian ia turun dan berkata “apa yang engkau maksud dengan perkataanmu “fitnah bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu”. Hasan berkata “aku memaksudkan dengannya apa yang dimaksudkan oleh Allah SWT” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/383-384]

Riwayat Ibnu Sa’ad di atas sanadnya jayyid diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq maka, berikut rincian perawinya

  1. Hawdzah bin Khaliifah termasuk perawi Abu Dawud, telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim. Ahmad bin Hanbal berkata “aku berharap dia shaduq, insya Allah”. Abu Hatim berkata “shaduq”. Yahya bin Ma’in berkata “dhaif”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 116]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [Taqrib At Tahdzib 1/575 no 7327]. Adz Dzahabiy berkata “shaduq” [Al Kasyf no 5991]
  2. ‘Auf bin Abi Jamilah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Abu Hatim, Marwan bin Mu’awiyah dan Muhammad bin Abdullah Al Anshari berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 302]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [Taqrib At Tahdzib 1/433 no 5215]
  3. Muhammad bin Sirin Al Anshari adalah tabiin perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli berkata “tsiqat”. Ibnu Sa’ad berkata “seorang yang tsiqat ma’mun, tinggi kedudukannya, seorang faqih, Imam yang wara’ dan memiliki banyak ilmu” [Tahdzib At Tahdzib juz 9 no 338]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [Taqrib At Tahdzib 1/483 no 5947]

Sebenarnya perkara kepemimpinan Mu’awiyah telah dikabarkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada Imam Hasan, walaupun Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak menyukainya tetapi ketetapan Allah SWT itu akan tetap terjadi. Sebagaimana yang nampak dalam riwayat berikut

حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود الطيالسي حدثنا القاسم بن الفضل الحداني عن يوسف بن سعد قال قام رجل إلى الحسن بن علي بعد ما بايع معاوية فقال سودت وجوه المؤمنين أو يا مسود وجوه المؤمنين فقال لا تؤنبني رحمك الله فإن النبي صلى الله عليه و سلم أري بني أمية على منبره فساءه ذلك فنزلت { إنا أعطيناك الكوثر } يا محمد يعني نهرا في الجنة ونزلت { إنا أنزلناه في ليلة القدر وما أدراك ما ليلة القدر ليلة القدر خير من ألف شهر } يملكها بنو أمية يا محمد قال القاسم فعددناها فإذا هي ألف يوم لا يزيد يوم ولا ينقص

Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Fadhl Al Huddaniy dari Yusuf bin Sa’ad yang berkata Seorang laki-laki datang kepada Hasan bin Aliy setelah Muawiyah dibaiat. Ia berkata “Engkau telah mencoreng wajah kaum mukminin” atau ia berkata “Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin”. Maka Hasan berkata kepadanya “Janganlah mencelaku, semoga Allah SWT merahmatimu, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di dalam mimpi telah diperlihatkan kepada Beliau bahwa Bani Umayyah di atas Mimbarnya. Beliau tidak suka melihatnya dan turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu nikmat yang banyak”. Wahai Muhammad yaitu sungai di dalam surga. Kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Bani Umayyah akan menguasainya wahai Muhammad. Al Qasim berkata “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih” [Sunan Tirmidzi 5/444 no 3350].

Riwayat Tirmidzi di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berikut keterangan rinci mengenai para perawinya

  1. Mahmud bin Ghailan termasuk perawi Bukhari Muslim, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan pula bahwa ia meriwayatkan hadis dari Abu Daud Ath Thayalisi dan dinyatakan tsiqat oleh Maslamah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 109]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/522 no 6516]
  2. Abu Daud At Thayalisiy. Namanya adalah Sulaiman bin Daud, termasuk perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Sulaiman bin Daud telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Amru bin Ali, An Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad Al Khatib dan Al Fallas [Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 316]. Ibnu Hajar menyatakan bahwa ia seorang hafiz yang tsiqat memiliki beberapa kekelriuan [Taqrib At Tahdzib 1/250 no 2550]
  3. Al Qasim bin Fadhl termasuk perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Al Qasim bin Fadhl meriwayatkan hadis dari Yusuf bin Sa’ad dan telah meriwayatkan darinya Abu Daud Ath Thayalisi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Ma’in, Ahmad, An Nasa’i, Ibnu Sa’ad, At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin [Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 596]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/451 no 5482]
  4. Yusuf bin Sa’ad atau Yusuf bin Mazin Ar Rasibiy termasuk perawi Tirmidzi dan Nasa’i telah meriwayatkan hadis dari Hasan bin Aliy dan telah meriwayatkan darinya Qasim bin Fadhl. Yahya bin Main telah menyatakan ia tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 707]. Ibnu Hajar menyatakan bahwa Yusuf bin Sa’ad Al Jumahi atau Yusuf bin Mazin tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/611 no 7865]. Adz Dzahabi berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 6434].

Kesimpulan dari berbagai riwayat shahih di atas adalah baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah semata-mata untuk mencegah tertumpahnya darah kaum muslimin lebih banyak lagi, tidak sedikitpun karena keutamaan atau kemuliaan kedudukan Mu’awiyah bahkan nampak dalam riwayat shahih bahwa Imam Hasan mencela Mu’awiyah dan para sahabatnya.

.

Sebagian orang menjadikan baiat Imam Hasan ini sebagai bukti bahwa Mu’awiyah tidak kafir. Tentu dalam perperangan Mu’awiyah terhadap Imam Aliy dan Imam Hasan, ia tidak dikatakan kafir melainkan dikatakan sebagai kelompok baaghiyah yang mengajak ke neraka. Adapun jika setelah pembaiatan ini Mu’awiyah menjadi kafir maka itu tidak bertentangan dengan baiat Imam Hasan tersebut. Pada saat itu Imam Hasan tidak membaiat seorang kafir melainkan membaiat seorang muslim yang tercela atau secara zahir ia mengaku muslim, seandainya Mu’awiyah bin Abu Sufyaan menyatakan kekafirannya niscaya tidak ada satupun orang islam yang akan mengikutinya.

Hikmah baiat Imam Hasan terhadap Mu’awiyah tidak akan pernah dimengerti oleh para nashibiy, dan akan mudah dipahami oleh mereka yang berpegang teguh pada ahlul bait. Mereka yang menganggap ahlul bait sebagai pedoman tidak akan bingung dalam menempatkan diri, ketika Imam Aliy memerangi Mu’awiyah maka mereka mengikutinya dan ketika Imam Hasan membaiat Mu’awiyah maka merekapun mengikutinya. Kebenaran akan selalu bersama mereka ahlul bait dan kebenaran tersebut tidak akan pudar oleh kebathilan para pembangkang yang menyeru kepada neraka

Mu’awiyah bin Abu Sufyaan Berdusta Atas Rasulullah.. Artinya hadis sunni riwayat sahabat harus di verivikasi ulang

sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu ‘Abbaas [radiallahu ‘anhum]. Kali ini kami akan menunjukkan bukti lain dimana Mu’awiyah berdusta atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

Mu’awiyah bin Abu Sufyaan pernah menisbatkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengenai larangan mut’ah haji padahal ma’ruf dalam hadis shahih bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya telah membolehkan mut’ah haji. Ternyata untuk mendukung kedustaan tersebut Mu’awiyah bin Abu Sufyaan membuat kedustaan lain bahwa ia pada saat haji wada’ telah memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah. Berikut hadis yang dimaksud

حدثنا عمرو الناقد حدثنا سفيان بن عيينة عن هشام بن حجير عن طاوس قال قال ابن عباس قال لي معاوية أعلمت أني قصرت من رأس رسول الله صلى الله عليه و سلم عند المروة بمشقص فقلت له لا أعلم هذا إلاحجة عليك

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Naaqid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah dari Hisyaam bin Hujair dari Thaawus yang berkata Ibnu ‘Abbaas berkata Mu’awiyah berkata kepadaku “tahukah engkau bahwa aku telah memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah dengan potongan anak panah?”. Maka aku berkata kepadanya “aku tidak tahu hal ini kecuali akan menjadi hujjah atasmu” [Shahih Muslim 2/913 no 1246, tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy]

.

.

Takhrij Riwayat

Riwayat Hisyaam bin Hujair dalam Shahih Muslim di atas disebutkan pula dalam Musnad Ahmad 4/97 no 16930, Mustakhraj Abu Nu’aim no 2885, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16048, dan Musnad Al Humaidiy no 616. Hisyaam bin Hujair dalam periwayatan dari Thawus memiliki mutaba’ah yaitu

  1. Hasan bin Muslim sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhariy no 1730. Sunan Abu Dawud 2/94 no 1804, Sunan An Nasa’iy 5/270 no 2987, Musnad Ahmad 4/96 no 16916, Musnad Ahmad 4/98 no 16941, Mustakhraj Abu Awanah no 2572, Mustakhraj Abu Nu’aim no 2886, Ma’rifat Ash Shahabah Abu Nu’aim no 5478, Sunan Baihaqiy no 9662 & 9663, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16049
  2. Abdullah bin Thawus sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud 2/94 no 1805,Sunan An Nasa’iy 5/271 no 2988,Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16050, Al Amaliy Fi Atsar Ash Shahabah ‘Abdurrazaaq no 141, Hajjatul Wada’ Ibnu Hazm 1/402 no 457, Akhbarul Makkah Al Faakihiy no 1437
  3. La’its bin Abi Sulaim sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/292 no 2664.

Thawus dalam periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas memiliki mutaba’ah yaitu

  1. Aliy bin Husain bin Aliy bin Abi Thalib sebagaimana diriwayatkan dalam Mustakhraj Abu Awanah no 2570 & 2571, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16051 & 16052. Semuanya meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu Juraij dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Aliy bin Husain dari Ibnu ‘Abbas. Sanadnya shahih hingga Ibnu ‘Abbas.
  2. Muhammad bin Aliy bin Husain sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4/97 no 16931 & 16932, Al Ahaad Wal Matsaaniy Ibnu Abi ‘Aashim 1/433 no 530, Ahkam Al Qur’an Ath Thahawiy 2/190 no 1535. Semuanya meriwayatkan dengan jalan sanad dari Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyaan dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Ibnu ‘Abbas. Dalam hal ini Sufyaan menyelisihi Ibnu Juraij dan riwayat Ibnu Juraij didahulukan karena sanadnya tsabit sedangkan riwayat Sufyan memiliki illat [cacat] dimana Abu Ahmad Az Zubairiy dikatakan terkadang salah dalam riwayatnya dari Sufyaan.
  3. Mujahid bin Jabr sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4/95 no 16909, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16053, As Sunnah Al Khallaal 2/439 no 674 dengan jalan sanad dari Khusaif dari Mujahid dan Atha’ dari Ibnu ‘Abbaas. Sanad ini lemah karena Khusaif ia seorang yang shaduq tetapi jelek hafalannya dan sering salah. Kemudian dalam Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16054 dan Al Ahaad Al Matsaaniy Ibnu Abi ‘Aashim 1/433 no 531 diriwayatkan dengan jalan sanad Ibnu Ishaaq dari Al Harits bin ‘Abdurrahman dari Mujahid dari Ibnu ‘Abbas. Sanad ini tidak tsabit hingga Mujahid karena Ibnu Ishaaq mudallis dan riwayatnya dengan ‘an anah.
  4. ‘Atha’ bin Abi Rabah sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4/95 no 16909, Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16053, As Sunnah Al Khallaal 2/439 no 674. Semuanya dengan jalan sanad dari Khusaif dari Mujahid dan Atha’ dari Ibnu ‘Abbaas. Sanad ini lemah karena Khusaif ia seorang yang shaduq tetapi jelek hafalannya dan sering salah.

Mengenai riwayat Mujahid dan Atha’ bin Abi Rabah maka jalan sanadnya tidak tsabit hingga Mujahid dan Atha’ bin Abi Rabah kemudian disebutkan bahwa Atha’ bin Abi Rabah meriwayatkan secara langsung kisah Mu’awiyah tanpa menyebutkan Ibnu ‘Abbas sebagaimana diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4/92 no 16882. Riwayat yang lebih kuat sanadnya dari Atha’ bin Abi Rabah adalah ia meriwayatkan langsung hadis ini dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan bukan dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana disebutkan dalam Sunan An Nasa’iy 5/271 no 2989 dan Hajjatul Wada’ Ibnu Hazm 1/403 no 458.

.

.

.

Kajian Sanad dan Matan

Secara keseluruhan sanad riwayat tersebut shahih, Mu’awiyah memang mengatakan kepada Ibnu ‘Abbaas dan Atha’ bin Abi Rabah bahwa ia memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah pada saat haji wada’.

Hadis ini tergolong musykil [akan kami jelaskan kemusykilannya nanti] sehingga sebagian ulama menolak menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada haji wada’. Mereka menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Umrah Ji’raanah bukan Haji wada’. Diantara yang mengatakan demikian adalah Ibnu Katsiir [Sirah An Nabawiyah Ibnu Katsiir 3/697].

Pembelaan sebagian ulama ini keliru, yang benar adalah Mu’awiyah memang bermaksud menyatakan kesaksiannya tersebut pada haji wada’. Bukti akan hal ini adalah dengan mengumpulkan semua matan riwayat tersebut dengan jalan sanad yang shahih.

.

Qarinah pertama adalah matan riwayat menunjukkan bahwa Mu’awiyah menunjukkan bahwa ia memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada saat Beliau melakukan umrah bersamaan dengan haji.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُسْلِمٍ أَنَّ طَاوُسًا أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ عَنْ مُعَاوِيَةَ أَنَّهُ قَصَّرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ فِي عُمْرَةٍ عَلَى الْمَرْوَةِ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Mutsanna dari Yahya bin Sa’iid dari Ibnu Juraij yang berkata telah mengabarkan kepadaku Hasan bin Muslim bahwa Thawus mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbaas mengabarkan kepadanya dari Mu’awiyah bahwa ia memotong rambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan bagian anak panah di Marwah pada saat ‘Umrah [Sunan Nasa’iy no 2987]

Sanadnya shahih hingga Ibnu ‘Abbas. Muhammad bin Mutsanna bin ‘Ubaid Al ‘Anziy seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 1/505 no 6264]. Yahya bin Sa’id Al Qaththan seorang yang tsiqat mutqin hafizh imam qudwah [Taqrib At Tahdzib 1/591 no 7557]. ‘Abdul Malik bin ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Juraij seorang yang tsiqat faqiih fadhl melakukan tadlis dan irsal [Taqrib At Tahdzib 1/363 no 4193]. Riwayat Ibnu Juraij di atas dengan penyimakan maka shahih. Hasan bin Muslim Al Makkiy seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/164 no 1286]. Thawus bin Kaisan Al Yamaniy seorang yang tsiqat faqiih fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/281 no 3009].

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن أَحْمَدَ بن حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ بن طَاوُوسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ بن عَبَّاسٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ، قَالَ:”قَصَّرْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ الْمَرْوَةِ بِمِشْقَصٍ فِي حَجَّتِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thaawus dari Ayahnya dari Ibnu ‘Abbaas dari Mu’awiyah yang berkata aku memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah dengan bagian anak panah pada saat haji Beliau [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16050]

Sanadnya shahih hingga Ibnu ‘Abbaas. ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/295 no 3205]. Ahmad bin Hanbal salah seorang imam tsiqat hafizh faqiih hujjah [Taqrib At Tahdzib 1/84 no 96]. ‘Abdurrazzaaq bin Hamaam Ash Shan’aniy seorang tsiqat hafizh, penulis kitab, buta di akhir umurnya bercampur hafalannya dan ia bertasyayyu’ [Taqrib At Tahdzib 1/354 no 4064]. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaaq sebelum ia buta dan bercampur hafalannya. Ma’mar bin Rasyiid Al ‘Azdiy seorang tsiqat tsabit fadhl kecuali riwayatnya dari Tsaabit, A’masyiy, Hisyam bin ‘Urwah dan hadisnya di Bashrah [Taqrib At Tahdzib 1/541 no 6809]. Ini adalah riwayatnya dari ‘Abdullah bin Thawus Al Yamaniy yang dijadikan hujjah oleh Bukhariy Muslim. ‘Abdullah bin Thawus Al Yamaniy seorang yang tsiqat fadhl ahli ibadah [Taqrib At Tahdzib 1/308 no 3397]. Thawus bin Kaisan Al Yamaniy seorang yang tsiqat faqiih fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/281 no 3009].

Riwayat Hasan bin Muslim dari Thawus menyebutkan Umrah kemudian riwayat Ibnu Thawus dari ayahnya Thawus menyebutkan Haji. Kedua riwayat shahih dan penjamakan terhadap keduanya adalah kisah tersebut terjadi pada saat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melaksanakan umrah bersamaan dengan haji yaitu pada saat haji wada’.

حدثنا هداب بن خالد حدثنا همام حدثنا قتادة أن أنسا رضي الله عنه أخبرهأن رسول الله صلى الله عليه و سلم اعتمر أربع عمر كلهن في ذي القعدة إلا التي مع حجته عمرة من الحديبية أو من زمن الحديبية في ذي القعدة وعمرة من العام المقبل في ذي القعدة وعمرة من جعرانة حيث قسم غنائم حنين في ذي القعدة وعمرة مع حجته حدثنا محمد بن المثنى حدثني عبدالصمد حدثنا همام حدثنا قتادة قال سألت أنسا كم حج رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قالحجة واحدة واعتمر أربع عمر ثم ذكر بمثل حديث هداب

Telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah bahwa Anas radiallahu ‘anhu mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengerjakan umrah sebanyak empat kali dan semuanya pada bulan Dzul Qa’dah kecuali umrah yang beliau kerjakan bersama haji Beliau. Yaitu umrah hudaibiyyah di bulan Dzul Qa’dah, umrah pada tahun berikutnya di bulan Dzul Qa’dah dan umrah Al Ji’ranah saat Beliau membagikan ghanimah perang Hunain di bulan Dzul Qa’dah dan umrah saat Beliau mengerjakan haji. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdushshamad yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Qatadah yang berkata aku bertanya kepada Anas “berapa kali Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan haji?. Ia berkata satu kali haji dan empat kali umrah kemudian ia menyebutkan seperti hadis Haddab. [Shahih Muslim 2/916 no 1253]

.

Qarinah kedua Mu’awiyah telah berhujjah dengan hadisnya ini untuk mendukung pernyataannya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mut’ah haji. Hal ini menunjukkan bahwa Mu’awiyah bermaksud menyatakan bahwa ia ikut dalam haji wada’ dan memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah sehingga lebih mengetahui bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mut’ah haji. Kalau memang yang dimaksudkan Mu’awiyah adalah peristiwa Umrah Ji’ranah maka tidak ada faedahnya ia menjadikannya hujjah ketika menyatakan bahwa mut’ah haji telah dilarang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حَدَّثَنَا يُوسُفُ وَأَبُو حُمَيْدٍ قَالا نَا حَجَّاجٌ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ، أَنَّهُ لَمَّا حَجَّ فَطَافَ بَيْنَ الصَّفَا، وَالْمَرْوَةِ قَالَ إِيهِ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ مَا تَقُولُ فِي التَّمَتُّعِ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ؟ فَقَالَ أَقُولُ مَا قَالَ اللَّهُ وَعَمِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَقُرَيْشٌ عِنْدَهُ قَالَ مُعَاوِيَةُ أَمَا إِنِّي مَعَهُ وَقَصَّرْتُ عِنْدَهُ بِمِشْقَصِ أَعْرَابِيٍّ،

Telah menceritakan kepada kami Yuusuf dan Abu Humaid, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Hajjaaj dari ‘Ibnu Juraij yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Aliy bin Husain dari Ibnu ‘Abbaas dari Mu’awiyah bahwasanya ia ketika haji melakukan tawaf diantara Shafa dan Marwah, ia berkata “wahai Ibnu ‘Abbas apa yang engkau katakan tentang menggabungkan umrah ke dalam haji?”. Maka Ibnu ‘Abbaas berkata “aku mengatakan sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, diamalkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan orang-orang Quraisy di sisi Beliau. Mu’awiyah berkata “adapun aku telah bersamanya dan memotong rambutnya di sisinya dengan bagian anak panah milik arab badui”…[Mustakhraj Abu ‘Awanah no 2570]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Ibnu ‘Abbas. Yuusuf bin Sa’id bin Muslim Al Mashiishiy seorang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib 1/611 no 7866]. Abdullah bin Muhammad bin Tamiim Abu Humaid Al Mashiishiy seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/320 no 3580]. Hajjaaj bin Muhammad Al A’waar seorang yang tsiqat tsabit tetapi mengalami ikhtilath di akhir umurnya ketika datang ke Baghdad sebelum wafatnya [Taqrib At Tahdzib 1/153 no 1135]. Disebutkan bahwa ikhtilatnya Hajjaaj bin Muhammad Al Mashiishiy tidak membahayakan karena tidak ada yang meriwayatkan darinya setelah ikhtilath [Muqaddimah Fath Al Bariy hal 393]. ‘Abdul Malik bin ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Juraij seorang yang tsiqat faqiih fadhl melakukan tadlis dan irsal [Taqrib At Tahdzib 1/363 no 4193]. Riwayat Ibnu Juraij di atas dengan penyimakan bukan dengan ‘an anah maka statusnya shahih. Ja’far bin Muhammad bin Aliy bin Husain seorang yang shaduq faqiih imam [Taqrib At Tahdzib 1/141 no 950]. Muhammad bin Aliy bin Husain seorang tsiqat fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/497 no 6151]. Aliy bin Husain seorang yang tsiqat tsabit ahli ibadah faqiih fadhl masyhur, Ibnu Uyainah berkata dari Az Zuhriy “aku tidak pernah melihat orang quraisy yang lebih utama darinya” [Taqrib At Tahdzib 1/400 no 4715].

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ ثنا سُفْيَانُ، قَالَ ثنا هِشَامُ بْنُ حُجَيْرٍ عَنْ طَاوُسٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ ” هَذِهِ حُجَّةٌ عَلَى مُعَاوِيَةَ، قَوْلُهُ: قَصَّرْتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصِ أَعْرَابِيٍّ عِنْدَ الْمَرْوَةِ ” يَقُولُ ابْنُ عَبَّاسٍ حِينَ نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Hisyaam bin Hujair dari Thawus yang berkata aku mendengar Ibnu ‘Abbaas mengatakan “hal ini akan menjadi hujjah terhadap Mu’awiyah yaitu perkataannya aku memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan potongan anak panah milik arab badui di Marwah”. Ibnu ‘Abbas mengatakan “ketika ia melarang mut’ah [haji]” [Musnad Al Humaidiy no 616]

Para perawi sanad ini tsiqat kecuali Hisyam bin Hujair, ia termasuk perawi Bukhari dan Muslim termasuk seorang yang diperselisihkan kedudukannya, hadisnya hasan dengan adanya penguat. Maka hadis di atas hasan dengan dikuatkan oleh riwayat Abu ‘Awanah sebelumnya. ‘Abdullah bin Zubair Al Humaidiy seorang tsiqat hafizh faqiih [Taqrib At Tahdzib 1/303 no 3320]. Sufyan bin ‘Uyainah seorang tsiqat hafizh faqih imam hujjah kecuali berubah hafalannya di akhir umurnya dan melakukan tadlis tetapi dari perawi tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/245 no 2451]. Hisyaam bin Hujair seorang yang shaduq tetapi mempunyai beberapa kesalahan [Taqrib At Tahdzib 1/572 no 7288]. Thawus bin Kaisan Al Yamaniy seorang yang tsiqat faqiih fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/281 no 3009].

.

Qarinah ketiga dan paling kuat penunjukkannya adalah riwayat Atha’ bin Abi Rabah yang menyebutkan bahwa peristiwa itu dikatakan Mu’awiyah terjadi pada bulan Dzulhijjah yaitu bulan haji.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَبِيعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُثْمَانَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ الْمِنْهَالِ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَرْبَعٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، فَطَافَ بِالْبَيْتِ، وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ، فَأَخَذْتُ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ بِمِشْقَصٍ مَعِي، قَالَ عَطَاءٌ: وَالنَّاسُ يُنْكِرُونَ ذَلِكَ عَلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Rabi’ yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Utsman yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khaalid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin ‘Abdul ‘Aziiz yang berkata telah menceritakan kepada kami Hajjaaj bin Minhaal yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qais bin Sa’d dari ‘Atha’ bin Abi Rabah dari Mu’awiyah bin Abu Sufyaan yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang pada hari keempat dari bulan Dzulhijjah Beliau bertawaf di Ka’bah dan antara Shafa dan Marwah maka saya mengambil ujung rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan bagian anak panah yang ada padaku. ‘Atha’ berkata “orang-orang mengingkari apa yang dikatakan Mu’awiyah tersebut” [Hajjatul Wadaa’ Ibnu Hazm no 458].

Riwayat ini para perawinya tsiqat dan Atha’ bin Abi Rabah menemui masa Mu’awiyah dan termasuk yang meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. ‘Abdullah bin Rabi’ bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Rabi’ bin Shalih. Adz Dzahabi menyebutkan bahwa diantara yang meriwayatkan darinya adalah Ibnu Hazm dan ia seorang yang tsabit shalih [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 28/374]
  2. ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Utsman Al Asadiy, ia mendengar dari Ahmad bin Khalid, seorang yang dhabit kitabnya, shaduq dalam riwayatnya dan tsiqat dalam penukilannya [Tarikh Ulama’ Al Andalus, Ibnul Fardhiy 1/314 no 707]
  3. Ahmad bin Khalid bin Yaziid Abu ‘Amru Al Qurthubiy mendengar dari Aliy bin ‘Abdul ‘Aziz, ia seorang imam dalam fiqih dan hadis di andalus, seorang yang dhabit mutqin memiliki kebaikan dan keutamaan, seorang yang wara’ [Ad Diibaj Al Madzhab Ibnu Farhuun 1/159-160 no 27]. Abu Abdullah Al Humaidiy menyebutnya hafizh mutqin [Jadzwah Al Muqtabis hal 121 no 205]. Ibnu Makula juga menyebutnya hafizh mutqin [Ikmal Al Kamal Ibnu Makula 2/138]
  4. Aliy bin ‘Abdul Aziiz, Abul Hasan Al Baghawiy, Ibnu Abi Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 6/196 no 1076]. Daruquthniy berkata tentangnya “tsiqat ma’mun” [Su’alat Hamzah As Sahmiy no 389]
  5. Hajjaaj bin Minhal Al Anmathiy termasuk perawi Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Abu Dawud, seorang yang tsiqat lagi fadhl [Taqrib At Tahdzib 1/153 no 1137]
  6. Hammad bin Salamah bin Diinar Al Bashriy termasuk perawi Muslim, Tirmidzi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Abu Dawud, seorang yang tsiqat ahli ibadah, orang yang paling tsabit dalam riwayat Tsabit, berubah hafalannya diakhir umurnya. [Taqrib At Tahdzib 1/178 no 1499]. Periwayatan Hajjaaj bin Minhaal dari Hammaad bin Saalamah telah diambil Muslim dalam kitab Shahih-nya.
  7. Qais bin Sa’d Al Makkiy termasuk perawi Bukhariy dalam At Ta’liq, Muslim, Abu Dawud, Nasa’iy, Ibnu Majah. Ia seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/457 no 5577]
  8. Atha’ bin Abi Rabah termasuk perawi Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Abu Dawud seorang yang tsiqat faqiih fadhl tetapi banyak melakukan irsal [Taqrib At Tahdzib 1/391 no 4591]

Atha’ bin Abi Rabah dikatakan lahir pada masa ‘Utsman bin ‘Affan maka ia menemui masa Mu’awiyah. Adapun dikatakan ia banyak melakukan irsal maka itu tidak ada masalah karena tidak ada ulama yang menyatakan bahwa riwayatnya dari Mu’awiyah mursal. Jadi riwayat di atas para perawinya tsiqat hanya saja dikatakan bahwa riwayat Hammad bin Salamah dari Qais bin Sa’d tidak kuat sebagaimana dikatakan Yahya bin Sa’id Al Qaththaan [Al Kamil Ibnu Adiy 2/253]

Ahmad bin Hanbal menyebutkan riwayat Atha’ dalam Musnad Ahmad 4/92 no 16882 dengan lafaz berikut

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عفان ثنا حماد يعني بن سلمة انا قيس عن عطاء : ان معاوية بن أبي سفيان بن حرب أخذ من أطراف يعني شعر النبي صلى الله عليه و سلم في أيام العشر بمشقص معي وهو محرم والناس ينكرون ذلك

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Affan yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad yakni bin Salamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Qais dari Atha’ bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyaan bin Harb mengambil ujung rambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada sepuluh hari pertama bulan dzulhijjah sedang Beliau dalam keadaan ihram, dan orang-orang mengingkari perkataan Mu’awiyah itu. [Musnad Ahmad 4/92 no 16882]

Nampak bahwa dalam riwayat Ahmad tidak disebutkan bahwa Atha’ mengambil riwayat tersebut dari Mu’awiyah tetapi hal ini dinyatakan dengan jelas dalam riwayat Ibnu Hazm sebelumnya dan dikuatkan oleh riwayat Nasa’iy berikut

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَأَخَذْتُ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِشْقَصٍ كَانَ مَعِي بَعْدَ مَا طَافَ بِالْبَيْتِ وَبِالصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِقَالَ قَيْسٌ وَالنَّاسُ يُنْكِرُونَ هَذَا عَلَى مُعَاوِيَةَ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Manshuur yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qais bin Sa’ad dari Atha’ dari Mu’awiyah yang berkata aku mengambil ujung rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan potongan anak panah yang ada padaku setelah melakukan tawaf di Ka’bah dan di Shafa dan Marwah pada sepuluh hari yang pertama bulan dzulhijjah. Qais berkata “orang-orang mengingkari perkataan Mu’awiyah ini” [Sunan Nasa’iy no 2989]

Terdapat sedikit perbedaan lafaz dalam riwayat Ibnu Hazm, Ahmad dan Nasa’iy dan perbedaan tersebut bisa dijamak

  1. Dalam riwayat Ibnu Hazm disebutkan pada hari keempat bulan dzulhijjah sedangkan pada riwayat Ahmad dan Nasa’iy disebutkan pada sepuluh hari yang pertama bulan dzulhijjah. Kedua lafaz tersebut benar hanya saja riwayat Ibnu Hazm menyebutkan dengan lebih spesifik bahwa kisahnya terjadi di hari keempat di bulan dzulhijjah dan itu masih termasuk dalam sepuluh hari yang pertama bulan dzulhijjah.
  2. Dalam riwayat Nasa’iy disebutkan bahwa lafaz “orang-orang mengingkari perkataan Mu’awiyah” adalah lafaz perkataan Qais bin Sa’d tetapi dalam riwayat Ibnu Hazm dan Ahmad disebutkan bahwa lafaz perkataan tersebut adalah milik ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kedua lafaz tersebut benar, Atha’ menyebutkan bahwa orang-orang pada masanya mengingkari perkataan Mu’awiyah tersebut kemudian begitu pula Qais menyebutkan bahwa orang-orang di masanya juga mengingkari perkataan Mu’awiyah tersebut.

Faedah yang didapatkan dari riwayat Atha’ bin Abi Rabah dari Mu’awiyah tersebut adalah kisah itu terjadi pada bulan dzulhijjah atau bulan haji sehingga pernyataan sebagian ulama bahwa kisah itu terjadi saat Umrah Ji’ranah adalah keliru karena umrah ji’ranah terjadi di bulan dzulqa’dah bukan di bulan haji.

.

.

.

Kemusykilan Hadis

Setelah dibuktikan bahwa Mu’awiyah memang mengatakan kalau ia memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah pada saat haji wadaa’ maka akan kami tunjukkan dimana letak kemusykilannya.

Dalam haji wadaa’ Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan para sahabatnya melakukan haji tamattu’ bagi yang tidak membawa hewan qurban dan melakukan haji qiran bagi yang membawa hewan qurban. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membawa hewan qurban dan menyatakan dengan jelas bahwa Beliau tidak akan tahallul [mencukur rambut] sampai menyembelih hewan qurban di hari nahar [hari Id].

حدثنا أبو نعيم حدثنا أبو شهاب قال قدمت متمتعا مكة بعمرة فدخلنا قبل التروية بثلاثة أيام فقال لي أناس من أهل مكة تصير الآن حجتك مكية فدخلت على عطاء أستفتيه فقال حدثني جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أنه حج مع النبي صلى الله عليه و سلم يوم ساق البدن معه وقد أهلوا بالحج مفردا فقال لهم أحلوا من إحرامكم بطواف البيت وبين الصفا والمروة وقصروا ثم أقيموا حلالا حتى إذا كان يوم التروية فأهلوا بالحج واجعلوا التي قدمتم بها متعة فقالوا كيف نجعلها متعة وقد سمينا الحج ؟ فقال افعلوا ما أمرتكم فلولا أني سقت الهدي لفعلت مثل الذي أمرتكم ولكن لا يحل مني حرام حتى يبلغ الهدي محله ففعلوا

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Abu Syihaab yang berkata “Aku datang ke Makkah dengan berihram untuk ‘umrah sebagai pelaksanaan haji dengan tamattu’. Maka kami tiba tiga hari sebelum hari Tarwiyah. Orang-orang dari penduduk Makkah berkata kepadaku“maka hajimu sekarang sebagai orang Makkah”. Kemudian aku menemui ‘Atha’ untuk meminta fatwa darinya. Maka dia berkata telah menceritakan kepadaku Jabir bin ‘Abdullah [radliallahu ‘anhu] bahwa dia pernah melaksanakan haji bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika Beliau menggiring hewan qurbannya dan sungguh orang-orang sudah berihram untuk haji secara ifrad, maka Beliau berkata kepada mereka “halalkanlah ihram kalian ketika sudah thawaf di Ka’bah dan Antara Shafa dan Marwah dan potonglah rambut kalian tinggalah dalam keadaan halal hingga apabila tiba hari Tarwiyah berihramlah untuk haji dan jadikan apa yang sudah kalian lakukan dari manasik ini sebagai pelaksanaan haji dengan tamattu’. Mereka bertanya “Bagaimana kami menjadikannya sebagai tamattu’ sedang kami sudah meniatkannya sebagai ihram haji?”. Maka Beliau berkata “laksanakanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian. Seandainya aku tidak membawa hewan sembelihan tentu aku akan melaksanakan seperti yang aku perintahkan kepada kalian. Akan tetapi tidak halal bagiku apa-apa yang diharamkan selama ihram ini hingga hewan sembelihan sudah sampai pada tempat sembelihannya [pada hari nahar]”. Maka orang-orang melaksanakannya [Shahih Bukhariy 2/568 no 1493]

حدثنا إسحاق بن إبراهيم أخبرنا محمد بن بكر أخبرنا ابن جريج ح وحدثني زهير بن حرب ( واللفظ له ) حدثنا روح بن عبادة حدثنا ابن جريج حدثني منصور بن عبدالرحمن عن أمه صفية بنت شيبة عن أسماء بنت أبي بكر رضي الله عنهما قالت خرجنا محرمين فقال رسول الله صلى الله عليه و سلممن كان معه هدي فليقم على إحرامه ومن لم يكن معه هدي فليحلل فلم يكن معي هدي فحللت وكان مع الزبير هدي فلم يحللقالت فلبست ثيابي ثم خرجت فجلست إلى الزبير فقال قومي عني فقلت أتخشى أن أثب عليك؟

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Ibrahiim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Bakar yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij. Dan telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb [dan ini lafaznya] telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubadah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij yang berkata telah menceritakan kepadaku Manshuur bin ‘Abdurrahman dari ibunya Shafiyah binti Syaibah dari Asmaa’ binti Abu Bakar [radiallahu’ anhuma] yang berkata ketika kami keluar untuk ihram maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang membawa hewan kurban maka tetaplah ia dalam keadaan ihram dan barang siapa yang tidak membawa hewan kurban maka lakukanlah tahallul”. Aku tidak membawa hewan kurban maka aku bertahallul sedangkan Zubair membawa hewan kurban maka ia tidak bertahallul. Aku berkata aku memakai pakaianku kemudian keluar dan duduk di dekat Zubair.Makai a berkata “menjauhlah dariku”. Aku berkata “apakah engkau takut aku melompat kepadamu?”. [Shahih Muslim 2/907 no 1236]

حدثنا إسماعيل قال حدثني مالك . وحدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن نافع عن ابن عمر عن حفصة رضي الله عنهم زوج النبي صلى الله عليه و سلم أنها قالت يا رسول الله ما شأن الناس حلوا بعمرة ولم تحلل أنت من عمرتك ؟ قال إني لبدت رأسي وقلدت هديي فلا أحل حتى أنحر

Telah menceritakan kepada kami Isma’iil yang berkata telah menceritakan kepadaku Malik. Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Hafshah [radiallahu ‘anhum] istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwasanya ia berkata “wahai Rasulullah orang-orang telah bertahallul dari umrah sedangkan anda tidak bertahallul dari umrah anda?. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku telah mengikat rambutku dan telah menandai hewan kurbanku maka aku tidak akan bertahallul sampai setelah menyembelih hewan kurban” [Shahih Bukhariy 2/568 no 1491]

حدثنا يحيى بن بكير قال حدثنا الليث عن عقيل عن ابن شهاب عن عروة عن عائشة قالتخرجنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في حجة الوداع فمنا من أهل بعمرة ومنا من أهل بحج فقدمنا مكة فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من أحرم بعمرة ولم يهد فليحلل ومن أحرم بعمرة وأهدي فلا يحل حتى يحل بنحر هديه ومن أهل بحج فليتم حجه

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Uqail dari Ibnu Syihaab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah berkata Kami keluar bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada saat haji Wada’. Di antara kami ada yang bertalbiah dengan Umrah dan ada pula yang bertalbiah dengan haji. Ketika kami sudah sampai di Makkah, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Barangsiapa yang berihram dengan Umrah dan tidak membawa hewan sembelihan, maka hendaklah dia bertahallul. Dan barangsiapa berihram dengan Umrah dan membawa hewan sembelihan, maka janganlah bertahallul kecuali setelah menyembelih hewan pada hari nahar [hari Id]. Dan barangsiapa bertalbiah dengan haji, hendaklah menyempurnakan hajinya…[Shahih Bukhariy 1/121 no 313]

حدثنا موسى بن إسماعيل قال حدثنا وهيب قال حدثنا أيوب عن أبي العالية البراء عن ابن عباس رضي الله عنهما قام النبي صلى الله عليه و سلم وأصحابه لصبح رابعة يلبون بالحج فأمرهم أن يجعلوها عمرة إلا من معه الهدي

Telah menceritakan kepada kami Muusa bin Isma’iil yang berkata telah menceritakan kepada kami Wuhaib yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub dari Abul ‘Aliyyah Al Barra’ dari Ibnu ‘Abbaas [radiallhu’anhuma] Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan para sahabatnya pernah datang pada shubuh keempat [dari bulan haji] dimana mereka berniat haji maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan menjadikannya Umrah kecuali bagi mereka yang membawa hewan sembelihan [Shahih Bukhariy 1/368 no 1035]

Maksud hadis Ibnu ‘Abbaas menjadikannya umrah adalah melakukan tahallul [memotong rambut] kemudian pada saatnya tiba melakukan ihram haji atau dengan kata lain melakukan haji tamattu. Hal ini berlaku untuk mereka yang tidak membawa hewan sembelihan, sedangkan bagi mereka yang membawa hewan sembelihan termasuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak bertahallul sampai hari nahar [hari Id] setelah hewan qurban disembelih.

Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada saat haji wada’ tidaklah bertahallul sampai hewan qurban disembelih sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah [radiallahu ‘anhu], Asma’ binti Abu Bakar [radiallahu’anha], Hafshah [radiallahu’anha], Aisyah [radiallahu ‘anha] dan Ibnu Abbas [radiallahu’anhu].

Jadi bagaimana mungkin Mu’awiyah bisa mengaku atau bersaksi bahwa ia memotong rambut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah pada hari keempat bulan dzulhijjah saat haji wada’ padahal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan bahwa Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak akan bertahallul sampai hari Id tiba. Itulah kemusykilan hadis di atas oleh karena itu sebagian ulama bersikeras untuk menolak menyatakan kisah Mu’awiyah tersebut terjadi pada haji wada’ tetapi sebenarnya terjadi pada umrah Ji’ranah. Telah kami tunjukkan bahwa pernyataan sebagian ulama tersebut keliru karena bertentangan dengan fakta riwayat sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

.

.

.

Lafaz Jawaban Ibnu ‘Abbas

Berbeda hal-nya dengan riwayat shahih dimana Ibnu ‘Abbas mengisyaratkan dusta pada Mu’awiyah ketika Mu’awiyah melarang mut’ah haji dan menyandarkannya pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka disini kami tidak menemukan adanya riwayat shahih dari Ibnu ‘Abbas yang mendustakan Mu’awiyah yang mengaku memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah. Lafaz yang ada dalam Shahih Muslim yaitu

فقلت له لا أعلم هذا إلاحجة عليك

Maka Aku [Ibnu ‘Abbas] berkata kepadanya “aku tidak tahu hal ini kecuali akan menjadi hujjah terhadapmu” [Shahih Muslim 2/913 no 1246]

Lafaz ini hanya diriwayatkan oleh Hisyaam bin Hujair dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas. Ia menyendiri dengan lafaz tersebut dan mutaba’ah baginya yaitu Hasan bin Muslim dan Abdullah bin Thawus tidak menyebutkan lafaz Ibnu ‘Abbas tersebut. Hisyaam bin Hujair adalah seorang yang diperselisihkan kedudukannya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib memberikan predikat shaduq memiliki beberapa kekeliruan [Taqrib At Tahdzib 1/572 no 7288]. Berikut keterangan rinci tentangnya

  1. Hisyaam bin Hujair termasuk perawi Bukhariy dan Muslim bahkan Adz Dzahabiy menyatakan bahwa Bukhariy dan Muslim telah berhujjah dengan Hisyaam bin Hujair [Mizan Al I’tidal 4/295 no 9219]
  2. Yahya bin Sa’id Al Qaththan tidak meriwayatkan darinya, tidak meridhainya dan meninggalkan hadisnya. ‘Abdullah bin Ahmad bertanya kepada Ibnu Ma’in tentangnya dan Yahya bin Ma’in sangat melemahkannya. Abdullah bin Ahmad berkata “aku bertanya kepada ayahku tentang Hisyaam bin Hujair maka ia berkata “tidak kuat”. Aku berkata “apakah ia dhaif?”.Ia berkata “ia tidaklah demikian”. Abdullah bin Ahmad juga berkata “aku mendengar ayahku mengatakan Hisyaam bin Hujair Al Makkiy dhaif al hadits”. Sufyan bin Uyainah berkata “kami tidak mengambil dari Hisyaam apa yang tidak kami temukan pada selainnya” [Adh Dhu’afa Al Uqailiy 4/337 no 1943].
  3. Ahmad bin Hanbal berkata dari Ibnu Uyainah dari Ibnu Syubrumah yang berkata “tidak ada di Makkah yang sepertinya yaitu seperti Hisyaam bin Hujair. Ishaq bin Manshuur meriwayatkan dari Yahya bin Ma’in yang berkata Hisyaam bin Hujair shalih. Ibnu Abi Hatim berkata aku bertanya pada ayahku tentang Hisyaam bin Hujair maka ia berkata “orang Makkah ditulis hadisnya” [Al Jarh Wat Ta’dil 9/53-54 no 228].
  4. Al Ijliy menyatakan ia tsiqat berpegang pada sunnah, Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat memiliki hadis-hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. As Sajiy berkata “shaduq” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar 11/32 no 74]. Ibnu Syahiin memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tarikh Asma’ Ats Tsiqaat no 1536]. Adz Dzahabiy berkata “orang Makkah yang tsiqat” [Al Kasyf no 6058]

Lafaz Hisyaam bin Hujair dikuatkan secara makna dengan lafaz riwayat Laits bin Abi Sulaim dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad bin Hanbal

قال بن عباس فعجبت منه وقد حدثني انه قصر عن رسول الله صلى الله عليه و سلم بمشقص

Ibnu ‘Abbas berkata “maka aku heran terhadapnya dan sungguh ia telah menceritakan kepadaku bahwa ia memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan potongan anak panah” [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/292 no 2664]

Riwayat dengan lafaz ini dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Para perawinya tsiqat kecuali Laits bin Abi Sulaim, ia termasuk perawi Muslim seorang yang shaduq dan mengalami ikhtilath yang berat [Taqrib At Tahdzib 1/464 no 5685].

Lafaz Hisyaam bin Hujair dan Laits bin Abi Sulaim menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbaas heran terhadap perkataan Mu’awiyah tersebut dan hal itu akan menjadi hujjah terhadap Mu’awiyah. Hal ini bersesuaian dengan riwayat yang menunjukkan bahwa saat haji wada’ Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak bertahallul sampai hewan kurban disembelih. Abdullah bin ‘Abbas mengetahui bahwa perkataan Mu’awiyah bertentangan dengan fakta sehingga ia menunjukkan keheranannya.

Terdapat riwayat yang menunjukkan seolah-olah Ibnu ‘Abbas membenarkan apa yang dikatakan Mu’awiyah, berikut riwayat yang dimaksud

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا أبو عمرو مروان بن شجاع الجزري قال ثنا خصيف عن مجاهد وعطاء عن بن عباس ان معاوية أخبره انه : رأى رسول الله صلى الله عليه و سلم قصر من شعره بمشقص فقلنا لابن عباس ما بلغنا هذا الا عن معاوية فقال ما كان معاوية على رسول الله صلى الله عليه و سلم متهما

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru Marwaan bin Syujaa’ Al Jazaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khushaif dari Mujahid dan ‘Atha’ dari Ibnu ‘Abbas bahwa Mu’awiyah mengabarkan kepadanya bahwasanya ia melihat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memotong rambutnya dengan potongan anak panah. Maka kami berkata kepada Ibnu ‘Abbaas “tidaklah itu sampai kepada kami kecuali dari Mu’awiyah”. Maka Ibnu ‘Abbaas berkata “bukanlah Mu’awiyah seorang yang tertuduh atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” [Musnad Ahmad bin Hanbal 4/95 no 16909]

Riwayat ini kedudukannya dhaif mungkar. Khushaif bin ‘Abdurrahman Al Jazariy seorang yang shaduq tetapi buruk hafalannya mengalami ikhtilath di akhir umurnya dan dituduh menganut irja’ [Taqrib At Tahdzib 1/193 no 1718]. Berikut keterangan rinci tentangnya

  1. Abu Thalib berkata dari Ahmad bahwa ia dhaif al hadits. Abdullah bin Ahmad berkata ayahnya berkata “tidak kuat dalam hadis”. Abu Dawud berkata aku mendengar Ahmad bin Hanbal berkata “Khushaif mudhtharib al hadist” [Mausu’ah Aqwaal Ahmad 2/310]
  2. Aliy bin Madiiniy mengatakan Yahya bin Sa’iid mendhaifkan Khusaif. Ishaq bin Manshuur dari Yahya bin Ma’in berkata Khusaif shalih. Ibnu Abi Hatim berkata aku mendengar ayahku berkata “Khusaif shalih mengalami ikhtilath, dibicarakan karena jelek hafalannya”. Ibnu Abi Hatim berkata aku bertanya kepada Abu Zur’ah tentang Khusaif bin ‘Abdurrahman maka ia berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/404 no 1848]
  3. Nasa’iy berkata “tidak kuat” terkadang berkata “shalih”. Ibnu Adiy berkata “jika yang menceritakan hadis dari Khusaif perawi tsiqat maka tidak ada masalah pada hadisnya”. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat”. Daruquthniy berkata “dapat dijadikan i’tibar terkadang keliru”. As Sajiy berkata “shaduq”. Ibnu Khuzaimah berkata “tidak dapat dijadikan hujjah hadisnya”. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “tidak kuat” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar 3/123-124 no 275]
  4. Ibnu Hibban mengatakan Khusaif syaikh shalih faqiih ahli ibadah kecuali ia melakukan banyak kesalahan dari apa yang ia riwayatkan menyendiri atau yang tidak memiliki mutaba’ah atasnya, ia seorang yang shaduq dalam riwayatnya, diterima riwayatnya yang bersesuaian dengan perawi tsiqat dan ditinggalkan riwayatnya yang tidak memiliki mutaba’ah [Al Majruuhin Ibnu Hibban 1/287]. Adz Dzahabiy berkata “shaduq buruk hafalannya, Ahmad mendhaifkannya [Al Kasyf no 1389].

Riwayat Khusaif di atas sanadnya ma’lul [cacat] karena riwayat Khusaif dari ‘Atha’ bin Abi Rabah dari Abdullah bin ‘Abbas menyelisihi riwayat Qa’is bin Sa’d Al Makkiy yang meriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah dari Mu’awiyah. Qa’is bin Sa’d perawi tsiqat sedangkan Khusaif seorang yang shaduq tetapi jelek hafalannya. Maka riwayat Qais lebih didahulukan dibanding riwayat Khusaif.

Dari segi matan lafaz riwayat Khusaif bahwa Mu’awiyah bukanlah yang tertuduh atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mungkar bertentangan dengan

  1. Perkataan Ibnu ‘Abbas yang mendustakan Mu’awiyah ketika ia melarang mut’ah haji atas nama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagaimana pernah kami tunjukkan dalam tulisan sebelumnya bahwa sanadnya shahih hingga Ibnu ‘Abbaas. Artinya Ibnu ‘Abbas pernah menuduh Mu’awiyah berdusta atas Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka riwayat Khusaif dimana Ibnu ‘Abbas menyebutkan Mu’awiyah bukan seorang yang tertuduh bertentangan dengan fakta ini.
  2. Lafaz riwayat Hisyaam bin Hujair dan Laits bin Abi Sulaim sebelumnya yang secara makna bertentangan dengan lafaz riwayat Khusaif. Kalau memang Ibnu ‘Abbas mengakui bahwa Mu’awiyah bukan seorang tertuduh maka tidak ada yang patut diherankan atas perkataannya tersebut sebagaimana nampak dalam riwayat Hisyaam bin Hujair dan Laits bin Abi Sulaim
  3. Ibnu ‘Abbas termasuk sahabat yang meyakini bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada haji wada’ tidaklah bertahallul sampai hewan kurban disembelih. Maka lafaz riwayat Hisyaam bin Hujair dan Laits bin Abi Sulaim bersesuaian dengan keyakinan Ibnu ‘Abbaas sedangkan lafaz riwayat Khusaif justru bertentangan dengan keyakinan Ibnu ‘Abbas.

Jadi riwayat Khusaif bin ‘Abdurrahman di atas lemah mengandung illat [cacat] pada sanad maupun matannya sehingga tidak bisa dijadikan hujjah. Pendapat yang rajih mengenai jawaban Ibnu ‘Abbaas terhadap kesaksian Mu’awiyah yang memotong rambut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Marwah adalah ia menunjukkan keheranannya dan mengatakan bahwa hal itu akan menjadi hujjah atas Mu’awiyah.

.

.

Kesimpulan

Mu’awiyah bin Abu Sufyan telah menyatakan bahwa ia telah memotong rambut Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] di Marwah pada saat haji wada padahal Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] pada saat haji wada tidaklah memotong rambut sampai hewan kurban Beliau [shallallahu 'alaihi wasallam] disembelih yaitu pada hari Id. Perkataan Mu’awiyah ini sangat mengherankan Ibnu ‘Abbas sehingga ia mengatakan bahwa hal itu akan menjadi hujjah terhadap Mu’awiyah.

Muawiyah bin Abu Sufyan Berdusta Atas Nama Rasulullah [Shallallahu 'Alaihi Wasallam]

Tulisan ini adalah kritikan terhadap para nashibi yang dengan semangat membela Muawiyah dan gemar membawakan hadis-hadis keutamaan Muawiyah. Diantaranya adalah hadis kebanggaan salafy nashibi bahwa Muawiyah adalah seorang yang diberi petunjuk dan pemberi petunjuk. Berikut akan kami bawakan kabar shahih bahwa Muawiyah telah berdusta atas Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam].

أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا معمر عن قتادة عن أبي شيخ الهنائي أن معاوية قال لنفر من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم تعلمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن جلود النمور أن تركب عليها قالوا اللهم نعم قال وتعلمون أنه نهى عن لباس الذهب إلا مقطعا قالوا اللهم نعم قال وتعلمون أنه نهى عن الشرب في آنية الذهب والفضة فقالوا اللهم نعم قال وتعلمون أنه نهى عن المتعة – يعني متعة الحج – قالوا اللهم لا قال بلى إنه في هذا الحديث قالوا لا

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Qatadah dari Abu Syaikh Al Hunaa’iy bahwa Muawiyah berkata kepada sekelompok sahabat Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam] tahukah kalian bahwa Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] melarang kulit harimau yaitu menungganginya, Mereka berkata “benar”. Muawiyah berkata “tahukah kalian bahwa Beliau melarang memakai emas kecuali sepotong kecil”, Mereka berkata “benar”. Muawiyah berkata “tahukah kalian bahwa Beliau melarang minum dari bejana emas dan perak”, Mereka berkata “benar”. Muawiyah berkata lagi “tahukah kalian bahwa Beliau telah melarang mut’ah yaitu mut’ah haji”. Mereka berkata “tidak”. Muawiyah berkata ” hal itu benar, sesungguhnya hal itu ada dalam hadis ini” Mereka berkata “tidak” [Mushannaf 'Abdurrazaaq no 19927]

Kisah di atas diriwayatkan oleh para perawi tsiqat, hadis ini kedudukannya shahih jika selamat dari tadlis Qatadah. Sebagian ulama memperbincangkan riwayatnya dengan ‘an anah karena ia sering melakukan tadlis. Sebagian ulama yang lain telah menshahihkan ‘an anah Qatadah karena hal itu banyak ditemukan dalam kitab Shahih.

  • Abdurrazaaq bin Hammaam termasuk perawi Bukhari dan Muslim seorang hafizh yang tsiqat sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar [At Taqrib 1/599]. Abu Zur’ah berkata “Abdurrazaaq salah seorang yang tsabit hadisnya”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat tsabit”. Ahmad bin Shalih berkata kepada Ahmad bin Hanbal “adakah kau lihat orang yang lebih baik hadisnya dari ‘Abdurrazaaq” . Ia menjawab “tidak” [Tahdzib Al Kamal 18/56 no 3415].
  • Ma’mar bin Raasyid termasuk perawi Bukhari dan Muslim telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ijliy, Yaqub bin Syaibah dan An Nasa’i. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 441]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 2/202].
  • Qatadah bin Di’amah termasuk perawi Bukhari dan Muslim, Ibnu Hajar menyatakan ia seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/453]. Ia masyhur dengan tadlis, Ibnu Hajar memasukkannya dalam mudallis thabaqat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin Ibnu Hajar no 92].
  • Abu Syaikh Al Hunaa’iy adalah tabi’in yang tsiqat, Ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Sa’ad dan Al Ijliy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 604]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/416] dan Adz Dzahabiy berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 6682].

Seandainya pun hadis dengan sanad di atas dikatakan lemah karena tadlis Qatadah maka ia memiliki syawahid yang menguatkan kedudukannya menjadi Shahih lighairihi.

خْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ ، عَنْ أَبِي فَرْوَةَ ، عَنِ الْحَسَنِ قَالَ : خَطَبَ مُعَاوِيَةُ النَّاسَ فَقَالَ : إِنِّي مُحَدِّثُكُمْ بِحَدِيثٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَا سَمِعْتُمْ مِنْهُ فَصَدِّقُونِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لاَ تَلْبَسُوا الذَّهَبَ إِلاَّ مُقَطَّعًا ، قَالُوا : سَمِعْنَا قَالَ : وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : مَنْ رَكِبَ النُّمُورَ لَمْ تَصْحَبْهُ الْمَلاَئِكَةُ ، قَالُوا : سَمِعْنَا قَالَ : وَسَمِعْتُهُ يَنْهَى عَنِ الْمُتْعَةِ ، قَالُوا : لَمْ نَسْمَعْ فَقَالَ : بَلَى ، وَإِلاَّ فَصَمَتَا

Telah mengabarkan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Haruun yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syariik dari Abi Farwah dari Al Hasan yang berkata “Mu’awiyah berkhutbah di hadapan manusia, ia berkata “aku akan menceritakan kepada kalian hadis yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam], maka siapa diantara kalian yang juga mendengarnya hendaknya membenarkanku. Aku mendengar Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] berkata “Janganlah kalian mengenakan emas kecuali sepotong kecil”. Mereka berkata “kami mendengarnya”. Muawiyah berkata “dan aku mendengar Beliau berkata ” barang siapa yang menunggangi kulit harimau maka para malaikat tidak akan menyertainya”. Mereka berkata “kami mendengarnya”. Mu’awiyah berkata “dan aku mendengar Beliau melarang mut’ah”. Mereka berkata “kami tidak mendengarnya”. Maka Mu’awiyah berkata ” hal itu adalah benar”, kemudian ia pun diam. [Sunan Al Kubra An Nasa'i  no 9738]

Kisah di atas juga diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Hanya saja Syarik diperselisihkan keadaannya, sebagian ulama memperbincangkan hafalannya yang buruk. Pendapat yang rajih adalah ia buruk hafalannya setelah menjabat qadhi di kufah tetapi sebelum ia menjabat qadhi maka ia seorang yang tsiqat shaduq. Riwayat Syarik di atas adalah hafalannya sebelum ia menjabat sebagai qadhi di Kufah karena Yazid bin Harun termasuk perawi yang meriwayatkan dari Syarik di Wasith sebelum ia menjabat sebagai qadhi di kufah.

  • Abu Dawud Al Harraniy adalah Sulaiman bin Saif bin Yahya termasuk perawi Nasa’i. Nasa’i berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 337]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/387].
  • Yazid bin Harun Abu Khalid Al Wasithiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang lebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612].
  • Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Shahih Bukhari secara ta’liq, dan termasuk perawi Muslim . Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507].
  • Muslim bin Salim An Nahdiy Abu Farwah termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Sufyan berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 10 no 232]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 2/178].
  • Hasan bin Yasar Al Bashri termasuk tabiin perawi Bukhari dan Muslim yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat faqih memiliki keutamaan masyhur melakukan irsal dan banyak melakukan tadlis” [At Taqrib 1/202]. Ibnu Hajar telah memasukkannya dalam mudallis thabaqat kedua [Thabaqat Al Mudallisin no 40] yaitu mudalis yang riwayat ‘an anah-nya diterima dan dijadikan hujjah dalam kitab Shahih.

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بن الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ سَالِمِ بن عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ مُعَاوِيَةَ جَعَلَ يَقُولُ لِبَعْضِ مَنْ حَضَرَ: أَتَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ فِي كَذَا كَذَا قَالُوا: بَلَى، قَالَ:”أَفَلَمْ يَقُلْ فِي شَأْنِ التَّمَتُّعِ بِالْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَنَهَى عَنْهَا”قَالَ الَّذِينَ يُصَدِّقُونَ فِي الْحَدِيثِ الأَوَّلِ:”لا وَاللَّهِ مَا قَالَ هَذَا، وَمَا عَلِمْنَاهُ قَالَ

Telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muta’mar dari Ayahnya dari Al Hadhramiy dari Salim bin ‘Abdullah bahwa Mu’awiyah berkata kepada sebagian yang hadir “tahukah kalian bahwa Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] berkata begini begitu, Mereka berkata “benar”. Mu’awiyah kemudian berkata “bukankah Beliau telah mengatakan tentang menggabungkan Haji dan Umrah maka Beliau telah melarangnya”. Berkatalah yang membenarkannya dalam hadis sebelumnya “tidak, demi Allah Beliau tidak mengatakan hal ini, kami tidak mengetahuinya” [Mu'jam Al Kabir Ath Thabraniy no 16119]

Riwayat di atas sanadnya shahih para perawinya tsiqat dan Salim bin ‘Abdullah bin Umar hidup di masa Mu’awiyah. Mu’adz bin Mutsanna Al ‘Anbariy adalah syaikh [guru] Thabrani yang tsiqat. Adz Dzahabi berkata “tsiqat mutqin” [As Siyar 13/527 no 259]. Al Khatib menyatakan ia tsiqat [Tarikh Baghdad 15/173 no 7073]. Musaddad bin Musarhad termasuk perawi Bukhari, Ibnu Hajar berkata ia seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/175]. Mu’tamar bin Sulaiman At Taimiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim, Ibnu Hajar menyatakan bahwa ia tsiqat [At Taqrib 2/539]. Sulaiman At Taimiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia seorang yang tsiqat dan ahli ibadah [At Taqrib 1/252]. Salim bin ‘Abdullah bin Umar tabiin  termasuk perawi Bukhari dan Muslim, ia salah satu dari Fuqaha Sab’ah, ia seorang yang tsabit, ahli ibadah dan memiliki keutamaan [At Taqrib 1/335]. Adapun Al Hadhramiy yang telah meriwayatkan darinya Sulaiman At Taimiy maka Ibnu Ma’in telah menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Lafaz ini di sisi Ibnu Ma’in bermakna tsiqat

وقال عبد الله : سألت يحيى . قلت : التيمي , عن الحضرمي ؟ فقال : شيخ روى عنه معتمر , عن أبيه , عن الحضرمي . قلت ليحيى : ثقة ؟ قال : ليس به بأس

Telah berkata ‘Abdullah “aku bertanya kepada Yahya, aku berkata “At Taimiy meriwayatkan dari Al Hadhramiy?”. Ia berkata “Syaikh telah diriwayatkan darinya Mu’tamar dari ayahnya dari Al Hadhramiy”. Aku berkata kepada Yahya ” apakah ia tsiqat?”. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada masalah padanya” [Al Ilal Ma'rifat Ar Rijal no 3971].

Ketiga riwayat di atas bersama-sama menguatkan keshahihan kabar bahwa Muawiyah telah meriwayatkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mut’ah haji. Hadis Mu’awiyah ini bisa dikatakan tidak ada dasarnya karena perkara mut’ah haji telah dibolehkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai hari kiamat. Tidak ada yang meriwayatkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melarang mut’ah haji selain Muawiyah. Kemudian Baihaqiy meriwayatkan atsar berikut

أخبرنا أبو طاهر الفقيه قال : أخبرنا أبو بكر محمد بن الحسين القطان قال : حدثنا أحمد بن يوسف السلمي قال : حدثنا عبد الرزاق قال : أخبرنا سفيان بن عيينة ، عن عمرو بن دينار قال : سمعت ابن عباس وأنا قائم على رأسه وقيل له : إن معاوية « ينهى عن متعة الحج » قال : فقال ابن عباس : انظروا فإن وجدتموه في كتاب الله ، وإلا فاعلموا أنه كذب على الله وعلى رسوله

Telah mengabarkan kepada kami Abu Thaahir Al Faqiih yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Husain Al Qaththaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yusuf As Sulamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari ‘Amru bin Diinar yang berkata aku mendengar Ibnu ‘Abbas dan aku berdiri di atas kepalanya dan dikatakan kepadanya bahwa Mu’awiyah melarang mut’ah haji. Ibnu ‘Abbas berkata “perhatikanlah, jika kalian menemukan hal itu dalam kitab Allah dan jika tidak maka ketahuilah bahwasanya ia telah berdusta atas Allah dan Rasul-Nya” [Ma’rifat As Sunan Wal Atsar Baihaqiy no 1467]

Riwayat Baihaqiy di atas kedudukannya shahih, para perawinya tsiqat. Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu Abbas menyatakan dengan jelas bahwa Mu’awiyah berdusta atas Allah dan Rasul-Nya.

  • Abu Thaahir Al Faqiih adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmasy Az Zayaadiy. Adz Dzahabiy berkata “faqih allamah qudwah syaikh khurasan” [As Siyaar 17/276]. Abu Ya’la Al Khaliliy berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih” [Al Irsyad no 774]
  • Abu Bakar Muhammad bin Husain Al Qaththaan, Adz Dzahabiy menyebutnya “syaikh ‘alim shalih musnad khurasan” [As Siyar 15/319]. Abu Ya’la Al Khaliliy menyatakan ia tsiqat [Al Irsyad Al Khaliliy no 744]
  • Ahmad bin Yusuf As Sulaamiy termasuk perawi Muslim. Muslim berkata “tsiqat”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Daruquthniy menyatakan tsiqat. Al Khaliliy berkata “tsiqat ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 161]. Ibnu Hajar berkata “hafizh tsiqat” [At Taqrib 1/86].
  • ‘Abdurrazaaq bin Hammaam termasuk perawi Bukhari dan Muslim seorang hafizh yang tsiqat sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar [At Taqrib 1/599]. Ia dikatakan mengalami perubahan hafalan atau ikhtilath setelah ia buta. Dalam riwayat ini, yang meriwayatkan darinya adalah Ahmad bin Yusuf As Sulamiy yang periwayatannya dari Abdurrazaaq diambil Muslim dalam kitab Shahih-nya maka riwayat Ahmad bin Yusuf dari ‘Abdurrazaaq adalah sebelum ia mengalami ikhtilath dan kedudukannya shahih.
  • Sufyan bin Uyainah adalah seorang imam tsiqat, termasuk sahabat Az Zuhriy yang paling tsabit dan ia lebih alim dalam riwayat ‘Amru bin Diinar daripada Syu’bah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Hatim [Al Jarh Wat Ta’dil 1/35]
  • ‘Amru bin Diinar Al Makkiy termasuk perawi Bukhari dan Muslim. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang yang tsiqat lagi tsabit  [At Taqrib 1/734]

Dalam riwayat Ibnu Abbas di atas juga terdapat isyarat yang menguatkan keshahihan kabar bahwa Muawiyah memarfu’kan hadis larangan mut’ah haji itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mu’awiyah melarang mut’ah haji dengan menisbatkan larangan itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi Ibnu Abbas mengingkari Mu’awiyah dan dengan jelas menyatakan bahwa ia berdusta atas Allah dan Rasul-Nya. Karena kebolehan haji tamattu telah tetap dalilnya sampai hari kiamat dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melarangnya.

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْحَكَمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ هَذِهِ عُمْرَةٌ اسْتَمْتَعْنَا بِهَا فَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ الْهَدْىُ فَلْيَحِلَّ الْحِلَّ كُلَّهُ فَإِنَّ الْعُمْرَةَ قَدْ دَخَلَتْ فِي الْحَجِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyaar, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah. Dan telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’adz dan lafaz ini adalah miliknya, yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Hakam dari Mujahid dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhuma yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “ini adalah Umrah yang kita bersenang-senang dengannya. Maka barang siapa yang tidak memiliki hadyu [hewan sembelihan] maka hendaknya ia bertahalul seluruhnya. Sesungguhnya Umrah telah masuk ke dalam Haji sampai hari kiamat [Shahih Muslim no 1241]

 

Pengorbanan Imam Husain demi terjaganya agama dan hukum-hukum Allah swt

imam husein tidak bunuh diri

Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri

Berangkatnya Imam Husain as ke Karbala, padahal beliau sendiri tahu bahwa ia, keluarga dan kerabatnya akan mati, apakah tidak bertentangan dengan ayat yang berbunyi: “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”[1]?

imam husein tidak bunuh diriPenjelasan: berdasarkan ayat di atas, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan. Perjuangan Imam Husain as adalah apa yang dilarang oleh ayat di atas. Dengan demikian, apakah perjuangan beliau bertentangan dengan ayat tersebut?

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini:

A. Jawaban yang satu ini akan menjadi jelas dengan beberapa pengantar di bawah ini:

1. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran tidak diharamkan secara total. Dalam keadaan-keadaan tertentu justru wajib hukumnya. Misalnya jika agama Islam berada dalam bahaya dan terancam hancur, dan tidak ada cara lain selain mengorbankan diri, maka pengorbanan itu wajib bagi kita. Namun jika tujuan pengorbanan itu bukanlah hal penting atau bahkan tidak syar’i dan masuk akal, jelas kita dilarang untuk menjatuhkan diri ke dalam kehancuran.

2. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran itu diharamkan jika tidak ada tujuan yang jauh lebih penting di baliknya. Namun jika pengorbanan diri dilakukan demi tujuan yang sangat penting, akal pun juga membenarkannya.

3. Kehancuran yang sebenarnya adalah kehancuran yang diakibatkan mengikuti langkah-langkah setan dan hawa nafsu. Namun seorang yang syahid dan gugur di jalan Allah bukanlah orang yang jatuh ke dalam kehancuran. Kesyahidan Imam Husain as dalam membela agama Islam dan menjaganya bukanlah kehancuran yang dimaksud ayat di atas.

Dengan demikian, maka:

Pertama: jika meskipun kita anggap Imam Husain as telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran, namun dengan melihat kondisi di saat itu, perbuatan Imam Husain as adalah suatu kewajiban. Karena beliau memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih penting dari nyawa, yaitu terjaganya agama dan hukum-hukum Allah swt. Perjuangan Imam Husain as bukan saja dibenarkan syari’at, namun akal pun juga mengakui kebenarannya.

Kedua: jihad Imam Husain as melawan Yazid bukanlah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Karena gugurnya Imam Husain as dalam melawan Yazid, yakni kesyahidannya, bukanlah kehancuran; kesyahidan dan kehancuran adalah dua perkara yang jauh bertentangan. Kehancuran adalah mati sia-sia. Adapun kesyahidan adalah mati di jalan Allah swt dan penggapaian kebahagiaan sejati.[2] Oleh karena itu sebagian ahli tafsir memaknai ayat tersebut begini: “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam kehancuran karena menghindar dari kesyahidan yang merupakan hayat abadi.”[3] Yakni jika kalian melarikan diri dari jihad yang diwajibkan Allah swt, berarti kalian telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Namun jika kalian menjalankan kewajiban tersebut, maka kalian telah memilih kehidupan abadi dan terselamatkan dari kehancuran. Jadi, orang yang memilih kesyahidan di jalan Allah swt telah menyelamatkan diri dari kehancuran dan mendapatkan kehidupan suci dan bahagia abadi.

Selama perjalanan Imam Husain as ke Karbala, beliau sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam khutbah-khutbahnya untuk menyampaikan pesannya. Suatu saat sekelompok jin menawarkan diri untuk membantu Imam Husain as memenangkan peperangan dengan cara menghancurkan musuh-musuh beliau sebelum perang dimulai. Namun Imam Husain as menolak dan berkata bahwa jika mau menggunakan kekuatan ghaib, beliau lebih kuat dari pada jin-jin.[4] Lalu beliau membaca ayat ini:

“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” (QS. Al-Anfaal [8]:42)

Dengan menyampaikan ayat tersebut Imam Husain as menjelaskan bahwa tragedi Asyura adalah tragedi kemenangan dan kehancuran yang harus berlangsung dengan sempurnanya hujjah.

Penjelasannya begini: Imam Husain as ingin orang-orang yang memusuhinya benar-benar menyadari apa yang sedang mereka lakukan, begitu pula sahabat-sahabat beliau. Yang mana dengan demikian mereka memilih kehancuran dan kemenangan dengan pilihannya sendiri lalu hancur dan hidup dengan usahanya sendiri. Di Asyura musuh-musuh Imam Husain as memilih kehancuran atas keinginanya sendiri dan sahabat-sahabat beliau memilih kehidupan abadi bersama pemimpinnya atas kehendaknya sendiri pula. Kebahagiaan di akherat bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah swt adalah kebahagiaan abadi. Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah [2]:154)

Dalam peristiwa Karbala telah sempurna hujjah Allah bagi kedua kelompok. Oleh karena itu kebahagiaan abadi kelompok Imam Husain as dan kehancuran nyata musuh-musuh beliau telah dipilih berdasarkan hujjah yang sempurna dan jelas. Jadi, jangankan Imam Husain as, sahabat-sahabat dan kerabat beliau tidak ada yang jatuh ke dalam kehancuran.

B. Perjuangan yang dilakukan Imam Husain as adalah atas perintah Allah swt dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan Rasulullah saw. Fakta ini dapat difahami dengan menengok tujuan-tujuan yang beliau jelaskan sendiri dan juga riwayat-riwayat yang mejelaskan bahwa nabi dan Imam Husain as sendiri benar-benar tahu akan peristiwa Asyura:

1. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an[5] dan juga riwayat-riwayat[6] dijelaskan bahwa memerangi kebatilan adalah suatu kewajiban. Karena tegaknya agama menuntut ditumpaskannya kebatilan dan perjuangan di jalan Allah swt. Perjuangan Imam Husain as tidak lepas dari perkara penting ini.

2. Rasulullah saw sering kali mengkabarkan tentang peristiwa tragis yang akan menimpa cucunya, Imam Husain as. Riwayat-riwayat tentang hal ini tidak hanya disebutkan dalam buku-buku Syiah saja, namun juga dapat ditemukan dalam referensi-referensi hadits Suni. Bahkan tidak hanya jelas sekali makna riwayat itu, namun juga mutawatir.[7]

Rasulullah saw bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengkabarkan bahwa kelak cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah tandus Karbala, lalu ia membawakan segenggam tanah itu untukku, lalu berkata bahwa di tanah itu ia akan dikuburkan.”[8]

Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw berkata kepada Imam Husain as: “Sesungguhnya bagimu ada suatu tempat di surga yang tak akan tergapai kecuali dengan kesyahidan.”[9]

Diriwayatkan dari Anas bin Harits (orang yang menyertai Imam Husain as hingga meninggal) bahwa Rasulullah saw bersabda: “Cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah Karbala. Barang siapa melihatnya, maka ia harus menolongnya.”[10]

Oleh karenanya, orang yang tidak menolong Imam Husain as, apa lagi orang yang memeranginya, adalah orang yang memerangi Allah swt dan nabinya.

3. Perkataan dan sikap Imam Husain as sejak awal membuktikan bahwa beliau memilih keputusannya dengan penuh kesadaran. Ia pun yakin perjuangannya adalah perintah Allah swt dan rasul-Nya. Misalnya, saat menjawab perkataan saudaranya Muhammad Hanafiah, beliau berkata: “Setelah engkau pergi aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: “Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Allah swt berkehendak untuk melihatmu gugur di jalan-Nya.””[11]

Sanggahan untuk jawaban ini

Apakah jika Imam Husain as tahu bahwa perjuangannya adalah perintah Allah swt berarti ia dipaksa?

Jawaban

Tentang kehendak Tuhan dalam perkataan Rasulullah saw di mimpi Imam Husain as, kebanyakan ulama menyatakan bahwa kehendak tersebut adalah kehendak tasyri’i, bukan takwini.[12] Kehendak tasyri’i tidak bersifat paksaan dan tiadanya ikhtiar. Maksud dari kehendak tersebut adalah keridhaan Allah swt akan terbunuhnya Imam Husain as dan pengetahuan-Nya tentang bahwa peristiwa itu akan terjadi.[13] Oleh karena itu, kehendak Ilahi yang berarti pengetahuan pasti-Nya akan terjadinya sesuatu bukan berarti paksaan. Karena segala sesuatu yang terjadi pada hambanya dan yang telah Ia ketahui sebelumnya bergantung pada ikhtiar dan kehendak manusia sebagai pelaku itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia “atas kehendaknya masing-masing” telah diketahui Allah swt sebelum semua itu dilakukan, dan dengan demikian disebut dengan kehendak Ilahi.

Meskipun Imam Husain as telah diberitahu tentang apa yang akan terjadi padanya, namun beliau sendiri berusaha agar apa yang diberitahukan kepadanya itu terwujud dengan cara mengumpulkan pasukan dan segala persiapan perjalanannya. Oleh karena itu beliau berikhitiar dan berkehendak dalam keputusan dan perbuatannya.

Kesimpulan

Jika agama Islam terancam, maka kita wajib melakukan segalanya demi terjaganya Islam, termasuk mengorbankan jiwa sendiri. Seperti itu perjuangan Imam Husain as di Karbala.

Perjuangan beliau bertujuan untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran, yang mana Tuhan dan Rasulullah saw juga menginginkannya. Imam pun berjuang atas kehendak nya sendiri dan beliau melakukannya dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu beliau tidak termasuk orang yang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehancuran.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Ayatullah Shafi Gulpaygani, Partooee az Azamat e Hosain.

2. Ali Asghar Rezvani, Pasokh be Syobahat.

3. Daftar Tablighat e Eslami, Pasokh ha ye Bargozide.

Hadits akhir:

Barra’ bin ‘Azib berkata: “Aku melihat Rasulullah saw menggendong Husain as di atas pundaknya seraya berkata: “Ya Allah! Aku sangat mencintainya, maka cintailah ia pula.”[14]


[1] QS. Al-Baqarah: 195.

[2] Nashir Makarim Syirazi, Al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah Al-Munzal, jil. 2, hal. 38.

[3] Ruhul Bayan, jil. 1, hal. 310; Tabyin Al-Qur’an, hal. 42; Tafsir Jalalain, hal. 34.

[4] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 331)

[5] QS. At-Taubah: 29.

[6] Mustadrak Al-Wasail, jil. 11, hal. 17; Al-Kafi, jil. 5, hal. 3.

[7] Luthfullah Shafi Gulpaygani, Partoee az Azamat e Hosain, hal. 50.

[8] Biharul Anwar, jil. 18, hal. 114; Ash Shawaiqul Muhriqah, hal. 190; Maqtal Khwarazmi, pasal 7, hal. 156.

[9] Maqtal Khwarazmi, pasal 8, hal. 170.

[10] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 247.

[11] Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf, hal. 94; Biharul Anwar, jil. 44, hal. 364.

[12] Murtadha Muthahari, Homase e Husaini, jil. 3, hal. 86.

[13] Imam Husain wa Quran, hal. 128.

[14] Biharul Anwar, jil. 43, hal. 264.

Syi’ah Ali adalah pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

surga atau neraka

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka?

surga atau neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga.

Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah paslu.

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman:“Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim, Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

meyakini wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

dosa besar

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20] Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islami Tehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr (keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.