Ulama NU Minta Masyarakat Waspadai Gaya Dakwah Aliran Wahabi Yang Berlindung Dibalik dakwah ‘Ahlusunnah Wal Jamaah’

Ulama NU Minta Masyarakat Waspadai Gaya Dakwah Aliran Wahabi
Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah © nu.or.id

Banyak cara dilakukan aliran Wahabi saat memperkenalkan diri. Agar ajakannya bisa mengena kepada warga, tidak jarang mereka mengubah format dan nama agar tidak mudah dikenali.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Idrus Romli ketika menjadi pembicara pada acara Daurah Kader Aswaja di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah Pacet Mojokerto, Jawa Timur . Kegiatan ini atas prakarsa Aswaja Center PCNU Kabupaten Mojokerto

Idrus menandaskan bahwa untuk efektifitas dakwah yang dilakukan Wahabi yakni dengan mengubah format bahkan namanya sendiri. Dengan perubahan ini diharapkan akan banyak pihak yang akhirnya tertarik dan melupakan sama sekali kata “wahabi” yang di tanah air terlanjur dimusuhi.

“Yang mudah dideteksi adalah mereka gemar melakukan dikotomi terhadap kalangan yang tidak sepaham,” katanya. “Di antaranya mengatakan diri mereka sebagai Al Muslimun (orang-orang Islam-red), sedangkan kalangan yang tidak setuju dengan pendapat dan gerakan mereka disebut Al Kafirun (orang-orang kafir-red). Demikian juga menyebut orang lain dengan Al Musyrikun (orang-orang musyrik-red), sedangkan mereka mengklaim dirinya sebagai Al Muwahhidun (orang-orang yang mengesakan Allah Ta’ala-red),” lanjutnya seperti dilansir NU Online.

Aktifis PW Aswaja Center NU Jawa Timur ini juga mengingatkan bahwa sekarang kelompok Wahabi menamakan dirinya dengan Salafi untuk melawan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. “Mereka hanya mengubah nama, sedangkan isi, gerakan yang dibawa dan diajarkan sama saja dengan Wahabi jaman dulu,” sergahnya.

“Metamorfosis ini hendaknya dipahami secara baik oleh seluruh warga NU, khususnya mereka yang terlibat aktif di kepengurusan di berbagai tingkatan,” katanya mengingatkan.

 Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj menyatakan bahwa ajaran Salafi Wahabi tidak cocok dengan tradisi dan budaya Islam di Indonesia. Sebab aliran ini mengajarkan kekerasan dan intoleransi,  dia mengecam sikap aliran Wahabi yang mengharamkan tahlilan dan amalan-amalan dengan bertawasul kepada Nabi Muhammad.

Aqil menilai aliran Wahabi cukup berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup Islam. Sebab aliran ini banyak menjalakan amalan-amalan yang justru tidak sejalan dengan ajaran Islam.

“Kalau Islam tetap toleran, maka Islam akan hidup selamanya. Tapi kalau mengedepankan ajaran-ajaran yang ekstrim dan kekerasan, sebentar lagi Islam bisa bubar,” katanya.

Sebelumnya, buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya” mendapat kritik dari berbagai kalangan. Buku karangan Syaikh Idahram ini dituding membela Syi”ah

syiah semakin berkembang

wahabi dinilai mengajarkan rasisme dan menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim. Sementara syi’ah justru membela NU dari berbagai laknat dan caci maki wahabi.

Syiah adalah kaum yang mengikuti ajaran kebenaran Nabi Muhammad Saw, yang diteruskan oleh para Imam yaitu para keturunan yang terjaga Kesuciannya.. jadi tiada keraguan atas setiap kebenaran yang disampaikan oleh para Imamah dengan ilmu-ilmunya yang berdasar pada logika. sebagaimana manusia diciptakan dengan akal, sehingga sebaik-baik manusia adalah manusia yang mampu menggunakan akal-nya dengan baik dan dapat berlogika atas kebenaran ajaran-ajaran islam sebenarnya

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei atau Rahbar menyinggung upaya musuh untuk memanfaatkan titik kelemahan negara dan mengatakan, “Jalan Kesempurnaan Spiritual yang Ditentukan Ahlul Bait Harus Ditempuh
.

Awas, Wahabi Mengancam Kita ! Densus 88 ingin dibubarkan wahabi

DUKUNGAN Jokowi dan Ahok terhadap keberadaan Densus 88 adalah bagian dari cara keduanya untuk memberantas radikalisme wahabi teroris.Contoh, Assunah dibangun oleh Yusuf Ba’isa di Cirebon, di Kali Tanjung, Kraksan. Sekarang ketuanya Prof. Salim Badjri, muridnya adalah Syarifuddin yang ngebom Polresta Cirebon beberapa waktu lalu. Dan satu lagi yang ngebom gereja Bethel di Solo namanya Ahmad Yusuf. Jadi, sebenarnya, Wahabi   bisa mencetak orang jadi teroris karena menganggap ini itu bid’ah, musyrik, lama-lama bagi orang yang diajari punya keyakinan radikal

baca juga:  wahabi menantang densus 88 ! Wahabi ingin hidupkan ajaran terorisme 

baca juga :  wahabi melaknat Densus 88 sebagai Kumpulan Para Banci Yang Keder menghadapi Mujahidin Indonesia Timur di Poso

Jokowi-Ahok Tolak Pembubaran Densus 88

DESAKAN ormas Islam untuk membubarkan Densus 88 semakin deras mengalir. Namun tidak bagi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Jokowi-Ahok justru meminta jika Densus 88 tetap dipertahankan.

“Kami sebagai pimpinan daerah di sini dengan jelas mendukung Densus 88,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok), dalam sambutannya di acara penanggulangan terorisme dan narkoba di Jakarta, di Balaikota Jakarta, Rabu (22/5/2013) malam seperti dikutip Metrotvnews.com.

Politisi Gerindra tersebut tak peduli dengan anggapan partai atau pihak lain tentang sikapnya dan Joko ‘Jokowi’ Widodo. Dia menilai Jakarta masih membutuhkan Densus 88 untuk memberangus kejahatan tak biasa (extra ordinary crime) itu. Dia pun tak peduli jika tidak dipilih kembali ketika mengikuti kembali dalam bursa pencalonan kepala daerah atau negara.

“Gubernur dan saya berkomitmen, kami akan taat pada konstitusi di Indonesia, kepada UUD’45, Pancasila dan Indonesia. Kita mempertahankan, kita tidak peduli orang tidak pilih kami lagi nanti karena tindakan yang tidak populer semacam ini. Jadi malam ini kami tegaskan, kami mendukung Densus 88 untuk tidak dibubarkan. Itu komitmen kita,” tandasnya.

Menurut dia, Bangsa Indonesia seharusnya bangga terhadap Densus 88. Dia menilai Densus mampu melakukan tindakan pencegahan, bukan penyelesaian setelah kejadian. “Jadi kalau ada yang ingin membubarkan Densus 88 tentunya perlu dipertanyakan motifnya apa sebetulnya,” tukas pria yang akrab disapa Ahok itu.

1360752281207749718

MAYORITAS kaum muslimin menilai bahwa menentukan sikap terhadap wahabi  adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Kesulitan ini terpulang kepada banyak hal. Di antaranya karena kurangnya informasi tentang wahabi. Wahabi menurut mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas. Tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana ia berkembang, tidak melihat bagaimana masa lalunya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari.

Berangkat dari sini, sangat banyak di antara kaum muslimin yang meyakini wahabi tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.Ia tidak memandang bahwa perbedaan antara Sunni dan wahabi bukan pada masalah furu’ (parsial) saja, akan tetapi banyak juga menyinggung masalah ushul (fundamental).

Hal lain yang menyulitkan untuk menentukan sikap terhadap wahabi  adalah; bahwa mayoritas kaum muslimin tidak bersikap realistis dan praktis. Mereka sekedar berangan-angan dan berharap tanpa mengkaji…

Dengan bahasa yang sok logis, sebagian kaum muslimin mengatakan: “Lho, mengapa harus terjadi perselisihan? Ayolah kita duduk bersama dan melupakan perselisihan di antara kita… yang Sunni meletakkan tangannya di atas yang wahabi dan berjalan sama-sama. Toh kita semua juga beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari kiamat?”

Orang ini lalai bahwa masalah yang sesungguhnya jauh lebih rumit dari ini…

Sebagai contoh, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir namun menghalalkan khamr (miras) atau zina misalnya, hukumnya kafir. Menghalalkan maksudnya memandang bahwa hal tersebut boleh-boleh saja, dan mengingkari pengharamannya dalam Al Qur’an atau Sunnah Nabi.

Nah berangkat dari asumsi ini, kita akan melihat hal-hal yang sangat berbahaya dalam sejarah kaum wahabi, yang mengharuskan para ulama Islam untuk merenung kembali dan menentukan sudut pandang Islam terhadap bid’ah-bid’ah kaum wahabi yang demikian besar.

Hal lain yang turut merumitkan masalah ini adalah; banyaknya luka Islam di mayoritas negeri kaum muslimin, di samping banyaknya yang memusuhi mereka dari kalangan Yahudi, Nasrani, kaum salibis, komunis, Hindu dan sebagainya.

Dari sini, sebagian mereka yang ‘intelek’ memandang agar kita jangan membuka front permusuhan baru. Hal ini bisa saja dibenarkan jika front tersebut mulanya tertutup lalu kita berusaha membukanya. Namun jika sejak semula telah terbuka lebar dan serangan mereka datang siang dan malam, maka mendiamkan hal tersebut berarti suatu kehinaan…

Kita tidak perlu lagi mengulang pertanyaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang: “Apakah mereka (wahabi) lebih berbahaya dari Yahudi?”

Sebab hakikat dari pertanyaan ini adalah untuk membungkam lisan mereka yang sadar akan penderitaan umat, sekaligus membikin kikuk mereka yang berusaha menjaga dan melindungi kaum muslimin.

Saya akan menyanggah mereka dan mengatakan kepada mereka: “Memang apa salahnya kalau umat Islam menghadapi dua bahaya yang mengintai secara bersamaan? Apakah muslimin Ahlussunnah yang mencari-cari alasan untuk menyerang wahabi, ataukah realita di lapangan membuktikan berulang kali bahwa merekalah yang memulai serangan?”

Kita menyaksikan gencarnya serangan wahabi  terhadap umat Islam NU, dan saya rasa realita kita saat ini tak jauh berbeda dengan masa lampau. Bahkan saya bersaksi bahwa sejarah akan mengulangi dirinya, dan generasi muda akan mewarisi dendam kesumat nenek moyang mereka.

Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa 99% warga NU adalah bejat karena suka melakukan amalan bid’ah

Ustadz Fauzan: Densus Keder atau cuma Kumpulan Para Banci ?

Ciri ciri khawarij adalah sangat membenci pendukung mazhab ahlulbait. Padahal syi’ah adalah pendukung 12 khalifah ahlulbait. Paham radikal wahabi terus melaknat sana sini, mengkafirkan ini itu dan membawa perpecahan serta bom

Aktivis Masyarakat Peduli Syariah (MPS), ustadz Fauzan Al-Anshari mempertanyakan operasi Densus 88 yang tak berani melawan Mujahidin Indonesia Timur di Poso namun hanya menangkapi para aktivis yang tak bersenjata.

“Kok Densus ngga berani lawan mujahidin di Poso sih?” ujar ustadz Fauzan kepada voa-islam.com, Jum’at (27/10/2012).

Ia pun mengaku heran, padahal Mujahidin Poso sudah menantang Densus 88 untuk berperang sampai mati.

“Saya heran kenapa densus tidak menjawab tantangan mujahidin Poso yang jelas-jelas menantang perang sampai mati, kok malah nangkepin terduga ‘teroris’ yang tidak bersenjata? Apakah Densus keder? Atau cuma kumpulan para banci seperti kata mereka?” kata pengasuh Pondok Pesantren Anshorullah Ciamis itu.

…kok malah nangkepin terduga ‘teroris’ yang tidak bersenjata? Apakah Densus keder? Atau cuma kumpulan para banci seperti kata mereka?

Selain itu, ia menilai jika operasi Densus 88 yang melakukan penangkapan serentak di 4 kota berbeda; Madiun, Solo, Bogor dan Jakarta merupakan pengalihan opini lantaran panik menghadapi tantangan mujahidin Poso.

“Densus sudah panik menghadapi tantangan mujahidin Poso sehingga mengalihkan opini dengan membangun poros baru terorisme Madiun sampa dengan Bogor,” pungkasnya.

Anggotanya Ditangkapi, Mujahidin Tim Hisbah Solo Siaga Satu!!

Solo mulai bergolak, penangkapan para aktivis dari Tim HISBAH sudah mulai dilakukan oleh aparat  mulai dilancarkan yang merupakan program BNPT dan wali kota Solo FX. Rudi dalam membrangus laskar Islam di kota Solo.

Kantong-kantong aktivis Tim Hisbah Solo pun sudah mulai di obok-obok. Sabtu, 27 Oktober 2012, masjid At-Taqwa di Mojosongo yang letaknya hanya 50 meter dari rumah kontrakan Abu Hanifah ikut digerebek. Dalam laporan yang tersiar di media sekuler bahwa dalam penggeledahan Masjid At-Taqwa di sita:

  1. Serbuk putih
  2. Pistol Bareta
  3. Timbangan
  4. Tempat latihan militer
  5. Bom Rakitan

Dalam penggerebekan tersebut di atas ada hal yang tidak diungkap ke media yakni penyitaan uang sekitar 5 jutaan milik tuan rumah, bapak Bahrun yang dalam kondisi lumpuh akibat stroke.

Selanjutnya, Penggrebekan di Pondok Pesantren Al-Furqon di daerah Karang Lo, Matesih, Karang Anyar pada Selasa, 30 Oktober 2012. Dalam penggerebekan tersebut ditangkap ustadz Dul Kholik bersama 7 santrinya yang masih sangat muda dan penyitaan beberapa motor yang terdapat di Ponpes tersebut. Penggrebekan dan penangkapan di Ponpes Al-Furqon ini juga tidak diberitakan dengan sebenar-benarnya oleh media.

Untuk diketahui bahwa Masjid At-Taqwa yang terletak 50 meter dari rumah kontrakan Abu Hanifah di Jl. Lawu Timur IV, Marengan, Mojosongo adalah masjid kecil yang digunakan Laskar Tim Hisbah Kafilah Mojosongo untuk kegiatan kajian rutin dan tempat untuk koordinasi sebelum dan sesudah melakukan kegiatan nahimunkar di kota Solo dan sekitarnya.

Dalam pemberitaan bebarapa media yang mengatakan bahwa Laskar Hisbah sering mengadakan latihan perang di halaman belakang rumah bapak Bahrun.Kemudian mengenai penggerebekan dan penangkapan di Ponpes Al-Furqon, sangat berkaitan erat dengan penggrebekan dan penyegelan oleh Laskar Umat Islam Solo (LUIS) terhadap sejumlah tempat kajian dari aliran sesat “Inkarus Sunah” beberapa hari yang lalu.

Ponpes Al-Furqon adalah ponpes yang baru dirintis mulai 1 Oktober 2012 oleh ustadz Dul Kholiq, beliau adalah salah satu ustadz yang di percayakan Tim Hisbah Solo untuk memberi kajian seputar syariat Nahi Mungkar.

Dan dari pengamatan lapangan di daerah Semanggi yang merupakan kantong pusat Tim Hisbah, di beberapa titik tertentu terlihat penjagaan ketat tidak seperti biasanya oleh pihak aparat Polisi. Polisi belum melakukan penggrebekan di Semanggi kemunginan besar karena Semanggi adalah basis Tim Hisbah yang saat ini sudah dalam Siaga I untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan dilakukan aparat kepolisian

Said Agil Tuding Jafar Umar Thalib Salafi Wahabi Penebar Benih Radikal

Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siraj saat ditemui voa-islam usai pembukaan workshop “Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren” yang digelar Muslimat NU di Park Hotel, Jakarta, menyebut ada 12 yayasan diyakini sebagai kelompok Salafi-Wahabi yang selama ini menebar benih radikal dan teror.

Ketika ditanya voa-islam, siapakah dan kelompok mana yang disebut sebagai Salafi Wahabi yang dimaksud? KH.  Said Agil Siraj menegaskan, salahsatunya adalah Salafi-Wahabinya Ustadz Ja’far Umar Thalib, mantan Panglima Laskar Jihad.

Wahabi Tidak Laku Dijual?

Menurut KH. Said Agil Siraj, mulanya kelompok Ustadz Ja’far Umar Thalib ini bernama Wahabi. Kemudian tahun 1980-an diganti namanya menjadi Salafi. Yang mengganti istilah Wahabi menjadi Salafi adalah  adalah Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani dari Madinah dan Syaikh Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i dari Yaman, gurunya Ustadz Ja’far Umar Thalib. “Memang Salafi ya Wahabi. Karena Wahabi tidak lagi laku dijual lalu diganti Salafi. Salafi Wahabi tidak hanya mengancam NU, tapi juga NKRI,”  tukasnya.

Soal Sayyid Quthb yang sering disebut BNPT sebagai gurunya kaum teroris, justru tidak diamini oleh Said Agil. “Sayyid Qutb dari Ikhwanul Muslimin tidak mentolerir kekerasan dan membunuh seenaknya. Quthb adalah seorang yang memberi inspirasi para aktivis Islam untuk memperjuangakan syariat islam,” kata Kiai Said.

Saat voa-islam mengkonfirmasi lebih lanjut, bukankah kelompok salafi wahabi seperti Ustadz Ja’far Umar Thalib anti Sayyid Qutb, dan dalam media propagandanya justru anti kekerasan dan anti terhadap Salafi Jihadi? Bahkan, dalam situs Salafi, ada yang mengucapkan Jazakallah kepada Densus 88 yang telah menangkap pelaku pengeboman di Tanah Air. Lalu apa jawab Kiai Said Agil Siraj? “Semua Salafi Wahabi itu ekstrem, tidak ada yang moderat. Mereka kerap menebar benih kekerasan dan radikalisme,” ujarnya.

Hingga saat ini kelompok Salafi Wahabi yang disebut Ketua Umum PBNU itu, belum menanggapi ketiga buku Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Salafi Wahabi. Padahal, kelompok Salafi ini selalu bereaksi cepat jika manhajnya diserang dan dikuliti oleh pihak lain. Ada apa gerangan?

Taklim Ustadz Farid Oqbah: Hidup Hanya Sekali, Jangan Salah Langkah!

Mencermati fenomena umat yang hidup di tegah karut marut bangsa dan maraknya kemungkaran. Sementara penyeru kebatilan lebih berani dibandingkan penyeru dakwah. Taklim Bulanan LDF Bekasi Raya.

Sabtu, 12 May 2012

Hadirilah!!! Diskusi Ilmiah Buku Tegar di Atas Tauhid di UIN Ciputat

Buku terbaru berjudul “Tegar di Atas Tauhid, Uraian Aplikasi Tauhid Dalam Kehidupan”  tulisan ustadz Aman Abdurrahman akan kembali di bedah di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Buku ini merupakan kumpulan dari tulisan-tulisan ustadz Aman Abdurrahman dai berbagai judul yang berkaitan dengan permasalahan ‘aqidah yang dibukukan.

Selain itu, buku tersebut juga diberi pengantar oleh ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Karya ilmiah ini layak menjadi referensi kaum muslimin apalagi zaman ini begitu merebak fitnatusy syubuhat di tengah umat.

Informasi lengkap diskusi ilmiah dan bedah buku “Tegar Di Atas Tauhid”, karya Ust Amman Abdurrahman ini sebagai berikut:

Pembicara:

  1. Ustadz Fuad Al Hazimi (Staff pengajar Islamic Society, Australia)
  2. Ustadz Son Hadi (Direktur JAT Media Center)
  3. Roni Kiat, S.E. (Pengaman Masyarakat Islam)

kesimpulan :
wahabi menantang densus 88 ! Wahabi ingin hidupkan ajaran terorisme ?

Wahabi Melecehkan NU. Belajar ke Saudi, Pulangnya Bisa Jadi Teroris !!

Wahabi Melecehkan NU. Belajar ke Saudi, Pulangnya Bisa Jadi Teroris !! Gelombang pengiriman pelajar ke Saudi membawa ‘oleh-oleh’ militansi di Indonesia. Di antaranya membenci Ahl al-Sunnah wal Jamaah dengan melecehkan amalan warga NU dan mengadu domba NU – Syiah di Sampang Madura. Apa anda mau warga NU ramai ramai jadi wahabi setelah nonton RODJA TV dan Insan TV ? Kalau setiap hari radio MTA, TV Rodja ngantemin maulid nabi, ziarah kubur, lama-lama orang terpengaruh juga.

Titik problem antara wahabi dan NU bukan terletak pada dimensi ukhuwah, namun prinsip ushul atau pokok dalam ajaran agama Islam. Ketika ajaran wahabi dan NU dibawa ke masalah akidah, maka saat itu pula wahabi dan NUterlihat bagai minyak dan air.

Berbagai upaya mewahabikan NU biasanya dilakukan lewat berbagai cara, namun cara yang cukup ampuh ditempuh lewat jalur pendidikan. Jika seseorang belajar ke Amerika, belum tentu murtad. Akan tetapi, jika kita belajar ke Saudi, pulangnya bisa menjadi seorang wahabi teroris atau melecehkan NU.

Jalaludin Rahmat Ajak kaum Syiah  Bersatu

JALALUDDIN Rahkmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), secara tegas mengajak bahwa pihak Syiah akan berusaha bersatu

Belum tentu orang yang ikut wahabi karena percaya Iho! Artinya kan semata-mata karena dapat uang. Uangnya luar biasa.

Opini KH. Ma’ruf Amin Al Wahabi di Harian Nasional Republika tentang pengesahan MUI Pusat terhadap fatwa MUI Jatim kamis, 8 Nov 2012, mendapat balasan yang sangat pedas

Ketua Dewan Syuro Ikatan Ahlu Bait Indonesia, Jalaluddin Rakhmat. Tokoh Syiah Indonesia tersebut menulis opini   pada Harian Republika dengan judul “Menyikapi Fatwa tentang Fatwa” pada hari sabtu, 10 Nov 2012.

“Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh. Di antara fatwa yang telah ikut serta atau menyertai terbunuhnya seorang Muslim (Baca: Orang Syiah) di Sampang adalah fatwa MUI Sampang.”

Jalaluddin Rakhmat mempertanyakan strata kelimuan mereka, “Apakah anda lebih berilmu dari mereka?”

 Ia melanjutkan, “Sebelum mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, apakah menurut Bapak-bapak tidak perlu mengkaji fatwa para ulama internasional itu, apalagi menyetujuinya, karena mereka tidak lebih alim dari Bapak-bapak?”

Tokoh Syiah dari Bandung tersebut terus melanjutkan, “Cukupkah bagi Bapak-bapak mengumpulkan anggota-anggota MUI se-Jatim plus beberapa orang ulama dari MUI Pusat, lalu mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat? Apakah para ulama di MUI Sampang dan para ulama MUI Jatim yang berkumpul di Surabaya itu memang lebih berilmu ketimbang ulama internasional yang berkumpul di Amman, Makkah dan Bogor?”

Harian Republika Kamis 8 Nopember 2012 memuat opini bertajuk “Menyikapi fatwa MUI Jatim’. Tanpa bermaksud merendahkan penulisnya, banyak kejanggalan dalam artikel tersebut, yang bila tidak ditanggapi bisa dianggap sebagai pandangan yang menjustifikasi aksi kekerasan terhadap sesama warga negara.

Tulisan ini tidak ditujukan kepada penulis artikel tersebut maupun pihak-pihak yang secara sadar menganggap pensesatan dan pengkafiran Muslim Syiah sebagai cara mengais pahala Amar Makruf dan Nahi Munkar, namun ditulis semata-mata sebagai sebuah pertanggungjawawaban moral menggunakan hak jawab.

Namun karena terbatasnya jumlah karakter dalam kolom, artikel ini hanya menanggapi paragraf pertama dalam opini tersebut.

Artikel yang ditulis DR. (Honoris Causa), Ma’ruf Amin, dibuka dengan paragraf sebagai berikut: “

“Di antara wewenang Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah menetapkan fatwa terkait masalah akidah yang menyangkut kebenaran dan kemurnian keimanan umat Islam Indonesia (lihat Pedoman dan Prosedur Penetapan Fatwa MUI)”

Mari kita urai paragraph tersebut secara silogistik demi mengukur validitasnya.

1. Di antara wewenang Majelis Ulama Indonesia

Bila wewenang tersebut diperoleh dari MUI sendiri, maka itu berarti MUI memberikan wewenang kepada dirinya sendiri. Bila subjek pemberi wewenang adalah objek penerima wewenang itu sendiri, maka hal itu meniscayakan paradoks.

Bila wewenang tersebut diperoleh dari luar MUI, maka wewenang tersbut haruslah diberikan oleh lembaga yang lebih tinggi. Sedangkan MUI bukan bagian dari setruktur negara, sehingga wewenang yang diklaimnya tidak valid.

Bila MUI memperoleh wewenang dari Negara dan menjadi bagian dari strukur negara, maka konskuensinya adalah agama Islam menjadi bagian dari konstitusi negara. Bila agama Islam menjadi bagian dari konstitusi, maka Negara menafikan Pancasila sebagai dasarnya.

2. Menetapkan Fatwa

Dalam konstitusi dan UUD, fatwa adalah produk hukum yurisprudensi yang menjadi wewenang lembaga yudikatif, yaitu Mahkamah Agung dan lembaga-lembaga peradilan di bawahnya, sebagaimana disebutkan dalam undang-undang no 4 tahun 2004 atau yang lebih purba lagi dalam Staatsblad 1847 no 23, pasal 22 AB. Dengan demikian, produk hukum apapun yang tidak dikeluarkan oleh lembaga yudikatif tidak memiliki asas, bahkan bisa dianggap sebagai inkonstitusional.

DR (HC) KH MA’RUF AMIN  menulis artikel “panas” berjudul : “Menyikapi Fatwa MUI Jatim “  . Penulis tsb adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Bidang Fatwa. Tulisan ini diambil dari rubrik opini Harian Republika, Kamis, (08/11/2012) juga dari  web http://www.syiahindonesia.com/index.php/sajian-umum/kolom-analisa/984-menyikapi-fatwa-mui-jatim-

.
BAGAiMANA BANTAHAN pihak syi’ah ??

Ocehan kiai Ma’ruf tidak perlu didengar karena dia punya motif politik !!!

Demi Pemilu 2014 maka apapun dilakukan !! Namun dia lupa bahwa 2,5 juta jiwa penganut mazhab syi’ah di Indonesia juga ber KTP merah putih !!!

Apakah mbah kiai mau menyeret nyeret NU kedalam dunia politik ?? Kalau sampeyan mau berpolitik maka lebih baik mbah kiai tidak usah menggunakan syi’ah sebagai alat mencari sensasi !! Cari saja batu loncatan lain agar menang pemilu ya mbah…

baca juga : Ulama Anti Syi’ah di MUI ada yang bermotif politik dan ada yang bermotif separatis ! Fatwa anti syi’ah tidak layak keluar dari orang seperti ini

baca juga : Cholil Ridwan ulama wahabi di MUI ingin dirikan negara Islam dan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan
http://forum.tribunnews.com/showthread.php?466353-Ma-ruf-Amin-Ajak-Kaum-Nahdiyyin-ke-PKB

Ma’ruf Amin Ajak Kaum Nahdiyyin ke PKB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -

Kiai kharismatik KH Ma’ruf Amin secara terang-terangan mengajak para nahdliyin kembali ke Partai Kebangkitan Bangsa, karena PKB merupakan satu-satunya partai yang dilahirkan oleh Nahdatul Ulama (NU).

“Kini tibalah saatnya bagi kita, kaum nahdliyyin, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, umat Islam dan rakyat Indonesia dari berbagai latar belakang yang berbhineka untuk kembali ke PKB demi mengutamakan kemaslahatan publik yang jauh lebih besar,” ujar KH Ma’ruf Amin dalam siaran persnya, Senin, (6/8/2012), lalu.

Ketua Komisi Fatwa MUI itu menjelaskan, NU dan PKB memiliki hubungan yang tidak hanya bersifat idiologis, namun juga biologis. Hubungan NU dan PKB telah terpatri kuat secara lahir-batin, layaknya orangtua dan anak yang saling membutuhkan, saling menyayangi, dan saling menghargai.

Dalam kaitan ini, warga nahdliyin membutuhkan PKB sebagai wadah penyaluran aspirasi politik dan PKB membutuhkan dukungan dan partisipasi warga nahdliyin untuk bersama-sama memperjuangkan dan mewujudkan aspirasi politik mereka demi tercapainya kemaslahatan publik dalam konteks bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Secara sederhana, imbauan KH Ma’ruf Amin kepada nahdliyin dan rakyat Indonesia untuk kembali membesarkan PKB dilandasi beberapa alasan. Pertama, PKB merupakan satu-satunya partai yang dilahirkan dari rahim NU.

Bukankah  raja Arab Saudi, Abdullah, memperkenankan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang bermadzhab Syiah untuk menunaikan ibadah hajinya ketanah suci Mekkah dan Madinah ??

 Pada tanggal 27/11/2012, Harian Republika memuat artikel Haidar Bagir dengan tema “Proporsional Menyikapi Fatwa”. Pada intinya Haidar menganggap bahwa tulisan KH. Dr. Ma’ruf Amin yang memperkuat fatwa MUI Sampang dan MUI Jatim kurang tepat. Anggapan Haidar ini didasarkan karena fatwa MUI Jatim menyatakan Syiah sebagai aliran sesat seharusnya dibatasi pada kasus Sampang, bukan semua Syiah.

Haidar menyebutkan bahwa mainstream Syiah mengharuskan bersikap hormat terhadap Sahabat Nabi. Bahkan untuk meyakinkan klaimnya ini, ia menyatakan: “Sekadar ilustrasi, dalam buku-buku yang ditulis para ulama Syiah, kita tak dapat menemui periwayatan “peristiwa al-ifk” yang melibatkan dakwaan perselingkuhan kepada Siti Aisyah”. Benarkah demikian? Artikel ini bermaksud menguraikan pandangan beberapa ulama Syiah terkemuka tentang istri-istri dan Sahabat Nabi yang terabadikan dalam kitab-kitab Syiah. Dengan demikian diharapkan artikel ini bisa membantu memahami ajaran Syiah dari sisi yang lebih lengkap, tanpa harus memutuskan hal-hal yang bersifat mu’amalah.

 

Penghargaan Toleransi SBY oleh ACF; hasil adu domba wahabi plus Yahudi

Wahabi di Indonesia didukung NGO/Lembaga Yahudi bernama Appeal of Conscience Foundation (ACF). Akibat provokasi wahabi kepada MUI Jawa Timur dan Yayasan Al Bayyinat maka meletuslah konflik Sampang Madura. Atas jasa wahabi maka ACF memberi gelar kepada SBY. 

Tokoh Syiah Indonesia, Hasan Daliel justru menuding adanya tangan-tangan Zionis Israel bermain dalam konflik Sampang. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ahlul Bait Indonesia, itu menilai Israel memiliki kepentingan untuk memecah Syiah-Sunni Indonesia. Sebab, kata Habib Hasan, Syiah dan Sunni punya potensi menjadi kekuatan besar yang ditakuti dunia. “Jika dua sayap ini bersatu maka bisa menghadang kekuatan-kekuatan jahat dunia,” terangnya

syiah-leader

syiahindo

KELOMPOK Syiah menuding pemerintah telah melakukan pelanggaran HAM terkait sikap diskriminasi terhadap warga Syiah di Sampang. Bahkan Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI), Umar Shahab, mengancam akan melakukan internasionalisasi kasus ini.

 

Zur_Person_Franz_Magnis_Suseno_z

DIPO Alam kembali menjadi pembicaraan. Ucapannya kembali menjadi pemberitaan. Kali ini sasarannya bukan para lawan politik SBY, tapi Franz Magnis Suseno. Pasalnya tokoh Kristen Jesuit itu melakukan protes atas penghargaan negarawan dunia 2013 kepada Presiden SBY oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF).

Dipo balik protes kepada Profesor Filsafat Driyarkara itu yang menilai SBY tidak layak menerima penghargaan karena abai membela kaum minoritas di Indonesia. Franz mengambil sample Syiah, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin.

Dipo mengingatkan bahwa rakyat Indonesia berjumlah 250 juta orang. Ia meminta agar jangan hanya melihat Indonesia dari media yang memberitakan masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah, Syiah, umat Kristiani, dan lainnya.

“Jangan masalahnya andai kata Ahmadiyah, Syiah, Gereja GKI Yasmin dibawa-bawa. Kita 250 juta orang. Jangan hanya melihat yang ada di televisi, misalnya bakar-bakaran. Jadi kata-kata Pak Magnis, dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-olah hanya ada di TV,” kata Dipo.

“Kan, Ahmadiyah konfliknya dari dulu, sejak zaman Bung Karno sudah ada. Bahkan sejak zaman Jepang. Masalah mayoritas-minoritas janganlah diperdebatkan. Kita negara demokrasi, tidak mudah misalnya mayoritas di suatu daerah, ada pendirian rumah ibadah (minoritas). Di beberapa negara juga begitu,” kata Dipo

Meski seorang Pastor, Franz sangat sering ikut urusan persoalan umat Islam, terutama dalam pembelaaanya kepada Syiah dan Ahmadiyah. Tanpa melihat perasaan umat Islam yang berang akidahnya dicatut oleh kedua aliran itu, tokoh yang pernah mengikuti sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah itu tetap menerjang membela kedua aliran sesat yang difatwa sesat oleh MUI dan para tokohnya.

Pria kelahiran 1926 itu menuturkan ratusan orang Ahmadiyah dan Syiah yang dianggap sesat diusir dari tempat tinggal mereka. Akibatnya, mereka mengungsi ke tempat-tempat seperti ruang olahraga. Bahkan, ada beberapa kasus terbunuhnya orang Ahmadiyah dan Syiah. “Sehingga muncul pertanyaan apakah Indonesia akan memburuk kondisinya seperti Pakistan dan Irak di mana setiap bulan orang Syiah dibunuh karena motivasi agama?” tulis Franz Magnis. Dalam surat protesnya.

Bila hadiah ini tetap diberikan kepada SBY, kata Franz, hal tersebut sungguh akan memalukan. “Ini mendiskreditkan seluruh klaim Anda sebagai lembaga yang bertujuan moral,” katanya.

Menarik memang dalam situsnya, ACF justru didirikan oleh Rabbi Arthur Schneier pada 1965. Lembaga menyebut diri sebagai organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Ya, organisasi yang justru punya concern sama dengan Franz Magnis Soeseno.

Hendardi_8433852345

PENGHARGAAN World Statement Award untuk Presiden SBY dari lembaga asing digugat oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) dan Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (Sobat KBB).

Koalisi ini terdiri dari para tokoh agama, aktivis, dan tokoh masyarakat, di antaranya Romo Benny Soesatyo (Pemuka Agama Kristiani), Jalaluddin Rachmat (Tokoh Syiah) Siti Musdah Mulia (Feminis), Hendardi (Setara Institute), Todung Mulya Lubis (Praktisi Hukum), Alissa Wahid (Ketua Wahid Institute), Adnan Buyung Nasution (Praktisi Hukum), dan lain sebagainya.

Ketua Setara Institute Hendardi dalam pernyataan resminya mengatakan tampaknya ACF tidak mengetahui kondisi Tanah Air yang penuh tragedi diskriminasi dan kekerasan.

“Indonesia tengah mendapat ancaman dengan hadirnya kelompok berpandangan sempit dan ekstrim. Jumlahnya memang tidak seberapa tapi pembiaran atas kelakuan mereka membuat mereka jadi kebal hukum,” kata Hendardi di Jakarta, Kamis (23/5).

Menurut Hendardi, sejak 2007 sampai 2012 terjadi kenaikan eskalasi kejahatan HAM. Catatannya, ada 135 kasus kekerasan dengan 185 tindak kekerasan. Melonjak menjadi 264 kasus dan 371 tindak kekerasan.

“Apakah AFC itu buta dengan kenyataan ini? Penghargaan ini, sangat menyakiti korban kekerasan HAM di Indonesia. Termasuk kami,” tegasnya.

Seperti diketahui, The Appeal of Conscience Foundation (TACF) yang didirikan Rabbi Arthur Schneier pada 1965 akan memberikan World Statesman Award untuk Presiden SBY pada akhir Mei ini. SBY dinilai berjasa mempromosikan toleransi, perdamaian, dan resolusi konflik.

Wallahu A’lam. []

Ucapan Ustadz Tengku Azhar agar “Hati-Hati pada Taring Syiah!” dibantah Teungku Ferizal dari MPTTSS

Ustadz Tengku: ‘Hati-Hati Taring Syiah!’

May 21, 2013

Foto0724

SABTU, 18 Mei 2013  Ustadz Tengku Azhar, LC Mahasiswa Pascasarjana Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) asal Nangroe Aceh Darusalam yang sekarang bermukim di Solo

Bahaya Syiah di Indonesia

Ustadz Tengku Azhar dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa Syiah lebih berbahaya dari orang kafir seperti Yahudi dan Nasrani karena Syiah memakai topeng Islam.  “Kalau orang Yahudi, Kristen, Majusi, Hindu jelas wajahnya kafir, hukumnya jelas, tapi Syiah secara lahiriyahnya sama dengan kita, bajunya sama seperti kita, cara ibadahnya sama,” jelasnya.

Ustadz Tengku juga menjelaskan bahwa dibandingkan 300-an aliran sesat lain yang ada di Indonesia seperti LDII dan Ahmadiyah, Syiah jauh lebih berbahaya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal sebagaimana yang beliau jelaskan. Pertama, Syiah mempunyai negara sendiri yaitu Republik Islam Iran sebagai negara utama. Kedua, Syiah mempunyai angkatan bersenjata yang militan yaitu Hizbullah pimpinan Hasan Nasrullah di Libanon. Ketiga, Kitab rujukan Syiah jauh lebih banyak dari aliran sesat yang lain.

Dalam hal ini beliau menunjukkan salah satu software kitab-kitab orang Syiah bernama Makatabah Ahlulbait yang berisi lebih dari 4000 kitab rujukan orang Syiah.

“Kalau Ahmadiyah kitab rujukannnya cuma satu, Tadzkirah. Itu dibantah, selesai. Tapi Syiah punya lebih dari 4000 kitab rujukan, silakan bisa antum lihat sendiri. Ini adalah Maktabah Ahlulbait, software kumpulan kitab-kitab rujukan orang Syiah. Banyak sekali kan,” terangnya.

 

Syiah mulai unjuk taring

Pada sesi penutup Ustadz Tengku menyampaikan tentang kekuatan Syiah di Indonesia. Nama beberapa yayasan Syiah beserta tokoh-tokohnya. Juga indikasi masuknya tokoh Syiah pada MUI Pusat karena sampai sekarang belum mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah. Beliau menyebutkan juga bahwa salah satu gembong Syiah Indonesia yaitu Jalaluddin Rahmat atau yang akrab dipanggil Kang Jalal memiliki strategi baru untuk mengamankan Syiah di Indonesia dengan mendaftar sebagai anggota legislatif pusat dari PDIP.

Beliau juga menyebutkan beberapa yayasan dan jamaah pengajian di Solo yang terindikasi ajaran Syiah. “Ciri-ciri orang Syiah atau minimal pendukung Syiah yang paling kelihatan itu satu, mereka tidak mau menyebut Sunni dan Syiah, tetapi hanya Islam saja,” terangnya.

Syiah di Indonesia juga sudah berani mengancam Ustadz maupun Da’i yang gencar mengkampanyekan anti Syiah seperti Ustadz Farid Ahmad Okbah, M.A dari Yayasan Al Islam dan KH. Syuhada Bahri, Lc Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII). Bahkan Ustadz Tengku pun juga tidak lepas dari ancaman orang-orang Syiah di Solo.

“Dalam sejarah Islam Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zahir juga tewas ditangan orang Syiah karena banyaknya karya dan ceramah-ceramah beliau yang menjelaskan kesesatan orang-orang Syiah,” kisahnya.

Ucapan Ustadz Tengku: ‘Hati-Hati Taring Syiah!’ dibantah Teungku Ferizal dari MPTTSS

Majelis Persatuan Tauhid Tasawuf  Sunni Syi’ah (MPTTSS) melancarkan protes keras atas ucapan Ustadz Tengku Azhar, LC. Melalui Teungku Ferizal di Lhokseumawe ; MPTTSS menyatakan bahwa Ustadz Tengku Azhar, LC bukan hanya malu bangsa Aceh saja karena syi’ah lah pendiri Kerajaan Islam Jeumpa dan Kerajaan Peureulak

syiahindo

KELOMPOK Syiah menuding pemerintah telah melakukan pelanggaran HAM terkait sikap diskriminasi terhadap warga Syiah di Sampang. Bahkan Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia (ABI), Umar Shahab, mengancam akan melakukan internasionalisasi kasus ini.

Jalaludin Rahmat Ajak Komunitas Syiah untuk Bersatu

JALALUDDIN Rahkmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), secara tegas  mengatakan pada hakikatnya dalam ajaran Syiah dibenarkan melakukan balas dendam jika terlebih dulu diperangi dan dizalimi. Ia menyatakan bahwa kaum Syiah adalah pemberani dan merasa bangga jika bisa mengalirkan darah bersama Imam Husein.

“Saya kira kelompok Syiah tidak sebagus dalam tanda kutip kelompok Ahmadiyah, kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus menerus terjadi.

“Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Iraq ke Indonesia? Semua itu berpulang pada pemerintah,” ucapnya.

Wahabi – NU, Minyak – Air

syiah-leader

Oleh: Ustad Husain Ardilla, membantah islampos.com dan Lppi Indonesia Timur

POLEMIK Wahabi – NU adalah problem masa lalu yang tetap aktual hingga akhir zaman, keduanya tidak akan mungkin bersatu sebagaimana minyak dan air. Bersatunya Wahabi – NU dengan para pengkut agama lain jauh lebih mudah dibanding menyatukan kedua aliran yang memiliki Tuhan dan Nabi yang sama ini. Di Saudi, terutama di Riyadh dengan mudah kita temui pemerkosa TKW, namun tak satu pun masjid milik pengikut asy’ariyyah yang bisa diguna pakai melakukan salat Jumat, sebagaimana di Mesir dan Malaysia yang tidak membolehkan kepada para penganut Syiah mendirikan masjid sendiri.

Satu-satunya jalan untuk melerai polemik Suni-Syiah dalam pandangan ulama kontemporer masa kini, M. Qurasih Shihab sebagaimana yang tertuang dalam bukunya “Sunni-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah?” adalah melaksanakan Keputusan Muktamar Doha tentang dialog antara mazhab-mazhab Islam pada tgl. 20-22 Januari 2007

Kita tidak bisa pungkiri jika wahabi di Indonesia telah berkembang pesat pada satu dasawarsa terakhir ini, dan merupakan hal yang naif jika melakukan kekerasan terhadap mereka dengan dalih bahwa mereka bertentangan dengan NU  sebagai anutan mayoritas umat Islam Indonesia. Yang kita harus lakukan bersama-sama adalah mencegah penyebaran paham wahabi  yang telah ditetapkan oleh NU dan syi’ah sebagai aliran sesat dan harus diwaspadai dengan cara yang bijak (bil hikmah).

Wahabi di Indonesia didukung NGO/Lembaga Yahudi bernama Appeal of Conscience Foundation (ACF). Akibat provokasi wahabi kepada MUI Jawa Timur dan Yayasan Al Bayyinat maka meletuslah konflik Sampang Madura. Atas jasa wahabi maka ACF memberi gelar kepada SBY. Tokoh Syiah Indonesia, Hasan Daliel justru menuding adanya tangan-tangan Zionis Israel bermain dalam konflik Sampang. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ahlul Bait Indonesia, itu menilai Israel memiliki kepentingan untuk memecah Syiah-Sunni Indonesia. Sebab, kata Habib Hasan, Syiah dan Sunni punya potensi menjadi kekuatan besar yang ditakuti dunia. “Jika dua sayap ini bersatu maka bisa menghadang kekuatan-kekuatan jahat dunia,” terangnya

Zur_Person_Franz_Magnis_Suseno_z

DIPO Alam kembali menjadi pembicaraan. Ucapannya kembali menjadi pemberitaan. Kali ini sasarannya bukan para lawan politik SBY, tapi Franz Magnis Suseno. Pasalnya tokoh Kristen Jesuit itu melakukan protes atas penghargaan negarawan dunia 2013 kepada Presiden SBY oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF).

Dipo balik protes kepada Profesor Filsafat Driyarkara itu yang menilai SBY tidak layak menerima penghargaan karena abai membela kaum minoritas di Indonesia. Franz mengambil sample Syiah, Ahmadiyah, dan GKI Yasmin.

Dipo mengingatkan bahwa rakyat Indonesia berjumlah 250 juta orang. Ia meminta agar jangan hanya melihat Indonesia dari media yang memberitakan masalah kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah, Syiah, umat Kristiani, dan lainnya.

“Jangan masalahnya andai kata Ahmadiyah, Syiah, Gereja GKI Yasmin dibawa-bawa. Kita 250 juta orang. Jangan hanya melihat yang ada di televisi, misalnya bakar-bakaran. Jadi kata-kata Pak Magnis, dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-olah hanya ada di TV,” kata Dipo.

“Kan, Ahmadiyah konfliknya dari dulu, sejak zaman Bung Karno sudah ada. Bahkan sejak zaman Jepang. Masalah mayoritas-minoritas janganlah diperdebatkan. Kita negara demokrasi, tidak mudah misalnya mayoritas di suatu daerah, ada pendirian rumah ibadah (minoritas). Di beberapa negara juga begitu,” kata Dipo

Meski seorang Pastor, Franz sangat sering ikut urusan persoalan umat Islam, terutama dalam pembelaaanya kepada Syiah dan Ahmadiyah. Tanpa melihat perasaan umat Islam yang berang akidahnya dicatut oleh kedua aliran itu, tokoh yang pernah mengikuti sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah itu tetap menerjang membela kedua aliran sesat yang difatwa sesat oleh MUI dan para tokohnya.

Pria kelahiran 1926 itu menuturkan ratusan orang Ahmadiyah dan Syiah yang dianggap sesat diusir dari tempat tinggal mereka. Akibatnya, mereka mengungsi ke tempat-tempat seperti ruang olahraga. Bahkan, ada beberapa kasus terbunuhnya orang Ahmadiyah dan Syiah. “Sehingga muncul pertanyaan apakah Indonesia akan memburuk kondisinya seperti Pakistan dan Irak di mana setiap bulan orang Syiah dibunuh karena motivasi agama?” tulis Franz Magnis. Dalam surat protesnya.

Bila hadiah ini tetap diberikan kepada SBY, kata Franz, hal tersebut sungguh akan memalukan. “Ini mendiskreditkan seluruh klaim Anda sebagai lembaga yang bertujuan moral,” katanya.

Menarik memang dalam situsnya, ACF justru didirikan oleh Rabbi Arthur Schneier pada 1965. Lembaga menyebut diri sebagai organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Ya, organisasi yang justru punya concern sama dengan Franz Magnis Soeseno.

Hendardi_8433852345

PENGHARGAAN World Statement Award untuk Presiden SBY dari lembaga asing digugat oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) dan Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (Sobat KBB).

Koalisi ini terdiri dari para tokoh agama, aktivis, dan tokoh masyarakat, di antaranya Romo Benny Soesatyo (Pemuka Agama Kristiani), Jalaluddin Rachmat (Tokoh Syiah) Siti Musdah Mulia (Feminis), Hendardi (Setara Institute), Todung Mulya Lubis (Praktisi Hukum), Alissa Wahid (Ketua Wahid Institute), Adnan Buyung Nasution (Praktisi Hukum), dan lain sebagainya.

Ketua Setara Institute Hendardi dalam pernyataan resminya mengatakan tampaknya ACF tidak mengetahui kondisi Tanah Air yang penuh tragedi diskriminasi dan kekerasan.

“Indonesia tengah mendapat ancaman dengan hadirnya kelompok berpandangan sempit dan ekstrim. Jumlahnya memang tidak seberapa tapi pembiaran atas kelakuan mereka membuat mereka jadi kebal hukum,” kata Hendardi di Jakarta, Kamis (23/5).

Menurut Hendardi, sejak 2007 sampai 2012 terjadi kenaikan eskalasi kejahatan HAM. Catatannya, ada 135 kasus kekerasan dengan 185 tindak kekerasan. Melonjak menjadi 264 kasus dan 371 tindak kekerasan.

“Apakah AFC itu buta dengan kenyataan ini? Penghargaan ini, sangat menyakiti korban kekerasan HAM di Indonesia. Termasuk kami,” tegasnya.

Seperti diketahui, The Appeal of Conscience Foundation (TACF) yang didirikan Rabbi Arthur Schneier pada 1965 akan memberikan World Statesman Award untuk Presiden SBY pada akhir Mei ini. SBY dinilai berjasa mempromosikan toleransi, perdamaian, dan resolusi konflik.

Wallahu A’lam. []

wahabi mencaci maki NU semata-mata karena dapat uang, padahal Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara

wahabi mencaci maki NU semata-mata karena dapat uang, padahal Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara

Perbincangan Ibnu Saud dengan Presiden Franklin D.Roosevelt di atas kapal USS Quincy

13552817901721645484Insya Allah ajaran yang di sampaikan oleh baginda Muhammad SAWW kepada Ahlul Baitnya dan terus kepada imam yg ke 12 ( al Mahdi afs ) akan terus terjaga…sekalipun WAHABI terus menggonggong dan menyebarkan propaganda, kami tetap dalam barisan Syi’ah Imamiya Itsna’asariyah…

.

Umar beberapa kali membangkang perintah nabi, bahkan dia dan abu bakar termasuk orang2 yang lari dari medan perang badar, uhud, khandaq serta hunain. Umar pun pernah meragukan kenabian nabi muhammad saat perjanjian hudaybiyah. Belum lagi peristiwa saqifah dan penyerangan rumah saidah fatimah.

Nusron: Orang NU Bukan “Indekost” di Bumi Nusantara
Rabu, 22/05/2013 09:04

Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menegaskan umat Islam terutama warga NU menjadi pemilik sah bangsa Indonesia. Sebab, berdirinya bangsa ini adalah atas perjuangan para ulama pendahulu yang mengorbankan darah dan nyawa.

“Jadi kita (orang NU) bukan orang kos-kosan di bumi nusantara tetapi pemilik sah Indonesia,” katanya dalam acara Ansor bersholawat yang diadakan PC GP Ansor Kudus di Gedung Graha Mustika Getas Pejaten, Senin (20/5) kemarin.

Nusron mengatakan semangat nasionalisme NU dan Ansor sangat tinggi sebelum organisasi  terbesar  ini berdiri. Ketika bangsa ini belum berdiri, tuturnya , para ulama terutama  KH. Wahab Hasbullah sudah mengakui indonesia negaraku yang dituangkan pada syair-syair ya ahlal  wathan karangannya  pada tahun 1924.

“Kalau ada yang mengganggu Indonesia dengan berbagai cara fitnah maupun pakai bom berarti mengganggu warisan para ulama,” tandas mantan ketua umum PB PMII ini.

Ansor ke depan, menurut Nusron,  perlu mempersiapkan seorang kader  pemimpin yang siap berjuang untuk kebaikan bangsa dan kepentingan masyarakat. Dalam konteks kebangsaan,  Ansor memperhatikan petunjuk bahwa seorang pemimpin negara harus menyatu dengan ulama, adanya para pengambil kebijakan dari kalangan teknokrat  maupun insinyur.

“Begitu juga Ansor harus mempersiapkan kader politisi kenegarawanan atau politik kebangsaan. Karena politik itu menurut imam almawardi adalah usaha manusia untuk derajat yang lebih ti serta politisi kenegarawan,” tandas pria asli Kudus ini.

Terkait peringatan Harlah, Nusron menegaskan usia 79 tahun menjadi bukti bahwa Ansor  ini  memberikan kemanfaatan bagi masyarakat. Sebab, organisasi bisa  tetap  bertahan manakala memberikan kemanfaatan.

“Muhammadiyah, NU maupun lainnya termasuk GP Ansor masih eksis bertahan sampai sekarang karena keberadaannya sangat bermanfaat bagi masyarakat,” tandasnya lagi.

Kegiatan diselenggarakan dalam rangka peringatan Harlah ke-79 Ansor ini, dihadiri juga Habib Luthfi bin Yahya, para kiai dan habaib Kudus serta ribuan jamaah nahdliyyin.

Hanya NU Yang Mampu Bendung Wahabi

 
Apa dan Bagaimana langkah Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren mencegah pergerakan Wahabi Salafi di Indonesia yang masuk ke kampong-kampung dan desa? Untuk menjawab kegelisahan ini, Majalah Risalah NU melakukan wawancara dengan Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj. Berikut petikan wawancaranya:
.
Bagaimana sebenarnya Wahabi di Indonesia?
Itu sebenarnya sudah lama, tapi eksisnya sejak tahun 80-an setelah Arab Saudi membuka LIPIA (Lembaga llmu Pengetahuan Islam dan Arab). Ketika itu direkturnya masih bujangan yang kawin dengan orang Bogor. Kemudian menampakkan kekuatannya, bahkan mereka membuka yayasan-yayasan. Setahu saya ada 12 yayasan yang pertama kali dibentuk. Antara lain As-Shafwah, Assunnah, Annida, Al-Fitrah, Ulil Albab, yang semuanya didanai oleh masyarakat Saudi, bukan oleh negaranya. Contoh, Assunah dibangun oleh Yusuf Ba’isa di Cirebon, di Kali Tanjung, Kraksan. Sekarang ketuanya Prof. Salim Badjri, muridnya adalah Syarifuddin yang ngebom Polresta Cirebon beberapa waktu lalu. Dan satu lagi yang ngebom gereja Bethel di Solo namanya Ahmad Yusuf. Jadi, sebenarnya, Wahabi ajarannya bukan teroris, tapi bisa mencetak orang jadi teroris karena menganggap ini itu bid’ah, musyrik, lama-lama bagi orang yang diajari punya keyakinan,”Kalau begitu orang NU boleh dibunuh dong, kalau ada maulid nabi boleh di bom,” dan seterusnya.
.
Soal pemalsuan kitab-kitab Sunni, khususnya kitab yang jadi referensi NU, bagaimana?
Kita sudah berjuang sekuat tenaga untuk mengkounter pendapat mereka. Kita jangan minder dan merasa kalah. Kalau hanya dihujat maulid nabi gak ada dalilnya, atau ziarah kubur gak ada dalilnya, sudah banyak buku yang ditulis untuk membantahnya. Misalnya yang ditulis pak Munawir-Yogya, Abdul Manan-Ketua PP LTM NU, Idrus santri Situbondo, Muhyiddin Abdus Somad dari Jember, dan lain sebagainya. Banyak yang menulis buku tentang dalil-dalil amaliah kita. Ziarah kubur dalilnya ini, maulid nabi dalilnya ini, tawassul dalilnya ini. Seperti saya sering mengatakan maulid nabi itu memuji-muji nabi Muhammad, semua sahabat juga memuji nabi Muhammad, setinggi langit bahkan. Nabi Muhammad diam saja tidak melarang. Tawassul, semua sahabat juga tawassul dengan Rasulullah. Tawassul dengan manusia, Rasulullah lho! Bukan Allahumma langsung, tapi saya minta tolong Rasullulah.sampai begitu! Litarhamna,rahmatilah kami. Labid bin Rabiah mengatakan, kami datang kepadamu wahai manusia yang paling mulia di atas bumi, agar engkau merahmati kami. Coba, minta rahmat kepada Rasulullah, kalau itu dilarang, kalau itu salah, Rasulullah pasti melarang, “jangan minta ke saya, musrik”. Tapi Enggak tuh!
.
Dalam Al-Quran juga ada dalil, walau annahum idz dzalamu anfusahum jauka fastaghfarullaha wastaghfara lahumurrasul lawajadullaha tawabarrahima (surat Ahzab). Seandainya mereka yang zalim datang kepada Muhammad, mereka istigfar, dan kamu pun (Muhammad) memintakan istighfar untuk mereka, pasti Allah mengampuni.
.
Ya kan sudah banyak yang diterjemah, bahkan kalau ada orang pergi haji pulang dapat terjemahan. Itu dari kitab-kitab Wahabi semua.
.
Begini, Muhammad bin Abd Wahab, pendiri Wahabi itu mengaku bermazhab Hambali, tapi Hambali versi ibn Taimiyah. Ibnu Taimiyah adalah pengikut Hambali yang ekstrim. Imam Hambali itu imam ahli sunnah yang empat yang selalu mendahulukan nash atau teks daripada akal, jadi banyak sekali menggunakan hadist ahad. Kalau Imam Hanafi kebalikannya, dekat dengan akal. Murid Imam Hambali lebih ekstrim, lahirlah Ibnu Taimiyah yang kemudian punya pengikut Muhammad bin Abd Wahab. Di sini menjadi luar biasa, malah dipraktekkan menjadi tindakan, bongkar kuburan. Sementara Ibnu Taimiyah masih teori dan wacana.
.
Bukan dari Mekkah, dari Najd, Riyadh. Orang Makkah asli, Madinah asli, Jiddah asli gak ada yang Wahabi, hanya tidak berani terang- terangan.Dulu hampir saja terjadi fitnah, ketika mahkamah Syar’iyyah al ‘ulya (mahkamah tinggi syar’i) menghukumi Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki harus dibunuh karena melakukan kemusyrikan. Keputusannya sudah ditandatangani oleh Raja Khalid, tapi dimasukkan laci oleh Raja Fahd.waktu itu putera mahkota, katakanlah dibekukan! Kalau terjadi, gempar itu!
.
Saya yakin kalau yang keluaran pesantren gak terpengaruh. Saya di sana 13 tahun, sedikitpun, malah berbalik benci. Semua yang keluaran dari NU ke sana, seperti pak Agil Munawar, Masyhuri Na’im, gak ada yang Wahabi. Semua keluaran sana gak ada yang Wahabi kalau dari sini bekalnya kuat. Atau bukan NU, seperti Muslim Nasution dari Wasliyah, pak Satria Efendi dari PERTI, gak Wahabi meskipun di sana belasan tahun sampai doktor. Pak Maghfur Usman, Muchit Abdul Fattah, pulang malah sangat anti, Wahabinya.
.
Insya Allah Selama pesantren- NU masih eksis, Wahabi gak akan masuk. Wahabi pertama kali dibawa Tuanku Imam Bonjol yang tokoh Padri. Padri itu pasukan berjubah putih yang anti tahlil. Hanya waktu itu kekerasannya Imam Bonjol untuk menyerang Belanda. Padahal ke internal juga keras. Imam Bonjol itu anti ziarah kubur. Kuburannya di Manado. Waktu saya ke Menado ditawari, “mau ziarah kubur gak?” Ya waktu hidupnya gak seneng ziarah kubur, masak saya ziarahin?
.
Tentang pengikut Wahabi yang banyak dari kalangan Eksekutif?
Orang kalau sudah punya status sosiai, direktur, sudah dapat kedudukan, terhormat, kaya, yang kurang satu, ingin mendapatkan legitimasi sebagai orang soleh dan orang baik-baik. Nah, mereka kemudian mencari guru agama. Guru agama yang paling gampang ya mereka, ngajarinya gampang. Kalau ngaji sama orang NU kan sulit, detil. Kalau sama mereka yang penting ini Islam, ini kafir, ini halal, ini haram, doktrin hitam putih. Sehingga di antara orang-orang terdidik terbawa oleh aliran mereka. Karena masih instan faham agamanya. Kaiau kita gak, kita faham agamanya sejak kecil.
.
Inti gerakan Wahabi itu di semua lini ya?
Harus diingat bahwa berdirinya NU itu adalah karena perilaku Wahabi. Wahabi mau bongkar kuburan Nabi Muhammad, KH Hasyim bikin komite Hijaz yang berangkat Kiai Wahab, Haji Hasan Dipo (ketua PBNU pertama), KH Zainul Arifin membawa suratnya kiai Hasyim ketemu Raja Abdul Azis mohon, mengharap, atas nama umat Islam Jawi, mohon jangan dibongkar kuburan Nabi Muhammad. Pulang dari sana baru mendirikan Nahdlatul Ulama. Jadi memang dari awal kita ini sudah bentrok dengan Wahabi. Lahirnya NU didorong oleh gerakan Wahabi yang bongkar-bongkar kuburan, situs sejarah, mengkafir- kafirkan, membid’ah-bid’ahkan perilaku kita, amaliah kita. Tadinya diam saja, begitu yang mau dibongkar makam Nabi Muhammad, baru KH Hasyim perintah bentuk komite tersebut.
.
Seberapa Kuat Wahabi Sekarang?
Sebetulnya tidak kuat, sedikit. Tapi dananya itu yang luar biasa. Dan belum tentu orang yang ikut karena percaya Iho! Artinya kan semata-mata karena dapat uang. Uangnya luar biasa. Si Arab-arab itu, kan kebanyakan Arab bukan Habib. Jadi pada dasarnya mereka juga cari uang.
.
Ancamannya seberapa besar?
Yah, Kalau kita biarkan ya terancam. Kalau setiap hari radio MTA, TV Rodja ngantemin maulid nabi, ziarah kubur, lama-lama orang terpengaruh juga.
.
Dikutip dari Majalah Risalah NU No. 38/Tahun VI/1434H/2013

wahabi (di bawah kepentingan imperialisme Inggris dan USA) musuh berbahaya bagi NU

 Tentu kita penasaran, siapakah sesungguhnya Syaikh Idahram, penulis buku Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Salafi Wahabi (Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik, dan Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi) yang kata pengatarnya ditulis oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul (PBNU) Prof. Dr. KH. Said Agil Siraj, MA.

Saat kami menanyakan jatidiri Syaikh Idahram kepada KH. Said Agil Siraj yang ditemui usai Wokshop Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren yang digelar oleh Muslimat NU di Park Hotel, Jakarta, tidak mau menjawab secara jelas, siapa sesungguhnya Syaikh Idahram.  Kiai NU itu hanya menjawab ringkas, “Yang jelas, dia adalah bimbingan saya. Saya lah yang membimbing penulis buku itu,” kata Said Agil.

Di dalam biodata penulis buku Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, Syaikh Idahram adalah sosok pemerhati gerakan-gerakan Islam, lahir di Tanah Jawa, pada tahun 1970-an. Ketertarikannya terhadap fenomena Salafi Wahabi terpupuk sejak ia melanglang buana dan belajar ke Timur Tengah, bertalaqqi kepada para masyayikh di sana dan berdiskusi dengan para ustadz.

Dalam upaya pencariannya itu, Syaikh Idahram pernah menjadi anggota organisasi Muhammadiyah beberapa tahun, aktif dalam liqa’ PKS (Partai Keadilan Sejahtera) selama 4 tahun, pengurus kajian Hizbut Tahrir selama 2 tahun, pejabat teras ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), hingga akhirnya berlabuh dan basah kuyub dalam tasawuf dengan berba’iat kepada seorang syaikh.

Maraknya gerakan Islam garis keras di Indonesia, serta dorongan dari berbagai pihak, membuat Idahram memutuskan untuk menuliskan apa yang diamatinya selama ini tentang Salafi Wahabi. Ia sempat ragu ketika beberapa kawan mengingatkannya tentang terror yang kerap kali terjadi terhadap para pengkritik faham ini. Akan tetapi atas rekomendasi dari para masyayikh, penulis akhirnya memutuskan utnuk tetap menuliskan penelitiannya dengan menyiasati penggunaan nama pena, yaitu Syaikh Idahram.

Menurut pengakuannya, buku Trilogi data dan Fakta Penyimpangan sekte Salafi Wahabi ini lahir sebagai titik kulminasi dari rasa prihatin penulis terhadap persatuan dan ukhuwah umat Islam yang saat ini sangat meradang dan hanya tinggal wacana. Hingga akhirnya, pencarian dan penelitian yang dilakukannya selama 9 tahun, mulai 2001-2010, membuahkan hasil ketiga buku trilogi penyimpangan salafi wahabi tersebut. Sang Penulis, Syaikh Idahram secara terbuka membuka ruang dialog melaui e-mail: salafiasli@yahoo.com.
AM Waskito dalam bukunya “Bersikap Adil kepada Wahabi” (Pustaka Al Kautsar), juga mencurigai, sosok Syaikh Idahram, penulis buku Trilogi Penyimpangan Salafi Wahabi tersebut adalah seorang penganut akidah Syiah atau minimal pendukung Syiah. Meskipun dia tidak mengucapkan pengakuan atas akidahnya, tetapi hal itu bisa dibuktikan dari perkataan-perkataan dia sendiri dalam bukunya. Bukan hanya itu, Waskito mencium aroma, ketiga buku tulisan Syaikh Idahram ditunggangi oleh kepentingan kaum Syiah dan Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme).

Bukti kesyiahan Syaikh Idahram, menurut pengamatan Waskito diantaraya: Si penulis menyebut Kota Najaf di Irak sebagai Najaf Al-Asyraf. Sebutan semacam ini hanya dikenal di kalangan Syiah, bukan Ahlu Sunnah.

Kemudian, Syaikh Idahram juga menyebutkan bahwa dalam Islam setidaknya ada tujuh madzhab, yaitu: Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali; ditambah dua madzhab: Syiah, Ja’fari dan Imamiyah; ditambah 1 madzhab Zhahiri. Perkataan seperti ini tidak dikenal dikalangan Ahlu Sunnah. Yang jelas, tidak sedikit, Syaikh Idahram menggunakan referensi dari kaum Syiah.

Sejak awal, AM Waskito menduga posisi Said Agil Siraj bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. “Bisa jadi, dia terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda itu,” ungkapnya curiga.

Dan benar saja, KH. Said Agil Siraj kepada voa-Islam mengakui, bahwa buku yang ditulis Syaikh Idahram adalah atas bimbingannya. “Saya lah yang membimbing penulisnya,” kata Said Agil terus terang.

Senin, 05 Dec 2011

BNPT Jadikan Buku Sejarah Berdarah Salafi Wahabi sebagai Referensi

Ketua Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbai yang asli Buton, Sulawesi Tenggara ini mengatakan, akan menjadikan buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram sebagai pegangan sekaligus referensi BNPT dalam menangkal paham radikalisme dan penanggulangan terorisme di Tanah Air.

“Setelah mendengar penjelasan dari KH. Said Agil Siraj, saya baru tahu gerakan Salafi Wahabi ini. Karena itu saya akan jadikan buku tersebut sebagai referensi kami,” kata Ansyaad Mbai saat menjadi narasumber dalam Workshop Deradikalisasi Agama Berbasis Kyai/Nyai dan Pesantren: Mengejawantahkan Islam Rahmatan Lil Alamin di Park Hotel (Jl. DI Panjaitan Kav 5 Jakarta Timur), Sabtu (3/11) sore. Hadir sebagai narasumber Ketua Umum PBNU (Nahdlatul Ulama) KH. Said Agil Siraj dan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyaad Mbay.

Seperti diketahui, buku yang diberi pengantar oleh Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siraj ini, adalah buku yang laku di kalangan NU, pengikut majelis-majelis tarekat Sufi, dan di kalangan Syiah. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Pesantren juga menerbitkan dua buku dengan tema dan penulis yang sama, yakni: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi dan Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik.


Abu Muhammad (AM) Waskito yang menanggapi buku trilogi data dan fakta penyimpangan salafi tulisan Syaikh Idahram itu mengatakan(baca buku Bersikap Adil kepada Wahabi: penerbit Pustaka Al-Kautsar), ketiga buku Syaikh Idahram penuh dengan fitnah dan adu domba yang justru menyenangkan musuh-musuh Islam. Idahram membuat criteria-kriteria sepihak tentang siapa saja yang masuk dalam kategori Salafi Wahabi., kemudian memusuhinya secara membabi buta.

Workshop Radikalisme

Dalam workshop itu, KH. Said Agil Siraj kembali menjelaskan definisi radikalisme. Menurutnya, kata radikal berasal dari kata radiks yang artinya akar yang paling dasar. Fenomena radikalisme, lanjut kiai NU, bukanlah barang baru. Radikalisme sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw masih ada.

KH. Said Agil Siraj mengatakan, Rasullah Saw selama 13 tahun, saat berada di Makkah, membiarkan 360 berhala di Masjidil Haram. Artinya, Nabi Saw ketika itu mengutamakan stabilitas keamanan terlebih dahulu. Setelah aman, baru bicara iman. “Kalau waktu itu, Nabi sudah menghancurkan berhala, maka bunuh diri namanya,” kata sang kiai.

Delapan tahun kemudian, Rasulullah dan kaum muslimin hijrah ke Madinah. Pada saat peristiwa Fathul Makkah, Nabi dan sekitar 15.000 umat Islam berhasil memasuki kota Makkah. Ketika itulah Nabi mengumumkan amnesty umum, semua orang Makkah oleh Nabi dimaafkan. Hanya 16 orang yang ketakutan, tidak percaya dengan janji Nabi Saw, salahsatunya adalah ikrimah (anak Abu Jahal).

“Saat Fathul Makkah, penduduk Makkah berbondong-bondong  masuk Islam. Lalu, dengan kesadaran sendiri, ramai-ramai menghancurkan berhala dari Masjidil haram. Jadi bukan karena terpaksa atau doktrin,” kata kiai Said.

Dalam bagian lain, KH Said Agil menjelaskan, “Khalifah Ali bin Abi Thalib dibunuh ketika usai shalat berjamaah di masjid. Sebenarnya ada tiga orang sahabat yang hendak dibunuh, tapi hanya Ali yang shalat Subuh di masjid, dua sahabat lainnya tidak ke masjid, mungkin karena  Subuhnya kesiangan,” kata kiai guyon yang tidak pantas menyebut sahabat Nabi subuhnya kesiangan.

Lalu, Ali dibunuh oleh seseorang bernama Abdurahman bin Muljam. Orang yang membunuh ini adalah seseorang yang alim, setiap malam tahajud, selalu berpuasa, bahkan hafal Al-Qur’an. “Kenapa Ali dibunuh? Karena Ali oleh Abdurrahman bin Muljam dianggap kafir. Dicap kafir, disebabkan Ali menggunakan hukum hasil dari rapat dan musyawarah manusia. Ali pun dianggap tidak menjalankan hukum Allah. Ali yang dianggap kafir, maka menjadi halal darahnya, dan harus dibunuh.”

“Prediksi Nabi terbukti. Ada orang yang mentang-mentang jenggotnya panjang, lalu mengkafirkan Ali yang merupakan sepupu Rasulullah, menantu Nabi saw, termasuk Sabiqul Awwalun, remaja yang pertama kali masuk Islam, dan pintu gerbangnya ilmu, serta sahabat yang dijamin masuk surga. Bahkan Ali berhasil menguasai Khaibar saat melawan Yahudi. Jadi, aneh jika ada anak kemaren sore, tamatan liqo atau tarbiyah, jebolan pesantren kilat, tiba-tiba mengkafirkan Ali ra,” kata Kiai Said.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 177 pengikut lainnya.