Dokter yang Ingin Bumikan Al-Qur’an, Terinspirasi Ucapan Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (alm).  

PROFIL
Ingin Bumikan Al-Qur’an, Terinspirasi Ucapan Gus Dur
 
Kamis, 10/07/2014 10:06
 
 
Belum banyak yang mengenal sosok dokter muda dr. Mirrah Samiyah di Kabupaten Probolinggo. Namun sudah banyak yang mengenal Namira School di Kota Kraksaan, sebuah sekolah untuk anak dimana dr. Mirrah menjadi pendirinya. Mia, demikian ia disapa, memang punya latar belakang pendidikan kedokteran.
.
Saat ini dia bahkan menjabat posisi strategis di bidang kesehatan.Yakni, Wakil Direktur RS Rizani Paiton. Namun di luar posisinya itu, Mia adalah sosok yang sangat peduli pada dunia pendidikan. Khususnya pendidikan keagamaan bagi anak-anak.Tak heran, di luar kesibukannya sebagai dokter, perempuan kelahiran 15 September 1983 itu banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Kontributor NU Online berkesempatan menemui Mia di rumahnya tengah santai dengan putranya Muhammad Adziqo Syah Kamil yang masih berusia 4 bulan.
.
Istri dari dr. Rizki Habibie itu menceritakan setelah lulus S-1 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya pada tahun 2007 silam, dirinya mulai bertugas di bidang kesehatan. Awalnya Mia membuka klinik sosial kaum dhuafa di Surabaya. Selama 4 (empat) tahun, dirinya menjalani kegiatan itu secara gratis, hingga lulus S-2 tahun 2012.
.
“Melalui klinik sosial ini, Allah SWT memberi banyak rezeki yang tidak disangka-sangka. Saya bisa mengikuti haji plus gratis dari salah satu travel haji di Surabaya.Jadi jangan pernag takut harta habis untuk bersedekah,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara ini.
.
Setelah lulus S-2, dia pindah ke kampung halamannya di Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.
.
“Awalnya sempat ada pikiran malas untuk balik ke rumah. Karena Probolinggo kota kecil. Apa yang bisa dikerjakan di kota kecil? Beda dengan kota besar,” kenangnya.
.
Namun pikiran itu dengan cepat hilang dari benaknya. Begitu pulang ke Dringu, Mia bergabung dengan RS Rizani Paiton. Namun kegiatannya di rumah sakit itu tidak membuatnya puas. Dia merasa kegiatannya sangat kurang, tanpa diimbangi kegiatan sosial dan keagamaan. Saat haus aktivitas menyerang, dia langsung terinspirasi oleh kegiatan ibu mertuanya Hj. Malik yang menyibukkan diri dengan Pondok Pesantren Darul Qur’an (PPDAQU) Yusuf Mansyur di Lamongan. Pada awal tahun 2013, dirinya pun membuka rumah Tahfidz PPDAQU Yusuf Mansyur di rumahnya Dringu. Mia pun langsung menikmati kegiatan rumah tahfidz tersebut.
.
 
“Rumah tahfidz ini gratis. Saya terinspirasi kata Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid). Hidup itu terima kasih. Jadi hidup itu menerima rezeki dan harus memberi pada yang lain. Dan Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk itu,” tegasnya.
.
Beberapa bulan setelah rumah tahfidz berdiri, Mia pun berkeinginan meluaskan kegiatan Al Qur’an itu. Kebetulan rumah tahfidz di rumahnya khusus untuk anak-anak. Niat ikhlas Mia langsung diijabah Allah. Tidak lama kemudian, ada kesempatan untuk memperluas rumah tahfidz di SLB Permata Bentar Kecamatan Gending untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Lalu rumah tahfidz di SPBU Brumbungan Lor Kecamatan Gending untuk ibu-ibu dan rumah tahfidz Namira Scholl Kraksaan untuk anak-anak dan ibu-ibu, hingga kini kegiatan tahfidz Al Qur’an itu berjalan tiap hari.
.
“Saya ingin membumikan Al Qur’an. Jadi saat ada tempat dan kesempatan, saya langsung buka rumah tahfidz di wilayah lain,” ungkap putri pasangan H. Sholeh Aminuddin-Hj. Siti Khodijah itu.
.
Saat ini menurut Mia, masih banyak cita-cita yang ingin dia kerjakan. Pada intinya, Mia mengaku ingin mengembangkan pendidikan berkualitas tanpa mengesampingkan pendidikan agama. Termasuk memperluas rumah tahfidz. “Orang tua menjadi guru besar kehidupan saya untuk tidak pernak takut berkarya, berbagi dan mendorong saya menjadi manusia yang lebih bermanfaat buat ummat,” tambahnya.
.
Tidak heran, pada tahun 2013 Mia bersama dua saudara perempuannya mempunyai gagasan mengembangkan pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan untuk anak yang tidak hanya mengedepankan akademik, namun juga mengutamakan pendidikan keagamaan. Maka terbentuklah Namira School (Playgroup, Kindergarten dan Daycare/TPA) di Kota Kraksaan.
.
Sebuah lembaga pendidikan untuk anak usia 0-5 tahun. Namira sendiri akronim dari namanya dan dua saudaranya. Yakni, Nabilah Faza, Mirrah Samiyah dan Fara Nadhia. “Saya dan saudara ingin memberikan pendidikan yang menyenangkan dan berkualitas untuk anak-anak. Tidak kalah dengan kota besar. Jadi, saya sinergikan pendidikan agama dengan akademis. Sebab dua hal itu harus berjalan seimbang.
.
Sehingga terlahir generasi yang hebat dan berakhlakul karimah dari sekolah kami,” pungkasnya.
.

Takhrij Hadis Dua Suara Yang Dilaknat : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Untuk Mengharamkan Musik

Sumber :  Secondprince

Takhrij Hadis Dua Suara Yang Dilaknat : Hadis Yang Dijadikan Hujjah Untuk Mengharamkan Musik

Hadis ini termasuk salah satu hadis yang dijadikan hujjah oleh sebagian ulama untuk mengharamkan musik. Kedudukan hadis ini berdasarkan pendapat yang rajih [sesuai dengan kaidah ilmu hadis] adalah dhaif. Berikut pembahasan rinci tentangnya.

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ  ثنا أَبُو عَاصِمٍ  ثنا شَبِيبُ بْنُ بِشْرٍ الْبَجَلِيُّ  قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ، وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَة

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabiib bin Bisyr Al Bajalliy yang berkata aku mendengar Anas bin Malik mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat, yaitu suara seruling ketika mendapat nikmat dan suara jeritan ketika mendapat musibah” [Musnad Al Bazzar 14/62 no 7513]

Riwayat ini juga disebutkan dalam Kasyf Al Astaar 1/377 no 795, Al Ahaadiits Al Mukhtaarah Dhiyaa’ Al Maqdisiy no 2200 dan 2201, At Targhiib Wat Tarhiib Abul Qaasim Al Ashbahaniy 3/238-239 no 2433. Semuanya dengan jalan sanad dari Syabiib bin Bisyr dari Anas bin Malik secara marfu’.

Riwayat ini sanadny dhaif karena Syabiib bin Bisyr Al Bajalliy, pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat” [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 3265]. Al Bukhariy berkata “munkar al hadiits” [Tartib Ilal Tirmidzi no 106]. Abu Hatim berkata “[layyin] lemah hadisnya dan hadisnya adalah hadis syuyukh [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 4/357 no 1564]. Ibnu Hibban berkata

شَبيب بْن بشر البَجلِيّ يَرْوِي عَن أنس بن مَالك يخطىء كثيرا رَوَى عَنْهُ أَبُو عَاصِم النَّبِيل وَإِسْرَائِيل

Syabiib bin Bisyr Al Bajalliy meriwayatkan dari Anas bin Maalik, banyak melakukan kesalahan, telah meriwayatkan darinya Abu ‘Aashim An Nabiil dan Israiil [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/359 no 3343]

Ibnu Syahiin memasukkan namanya dalam perawi tsiqat dengan mengutip tautsiq Yahya bin Ma’in [Tarikh Asmaa’ Ats Tsiqat no 540]. Ibnu Khalfuun memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ikmal Tahdzib Al Kamal Al Mughlathay 6/211 no 2342]. Ibnu Jauziy memasukkannya ke dalam perawi dhaif dengan mengutip jarh Abu Hatim [Adh Dhu’afa Ibnu Jauziy no 1610]. Adz Dzahabiy memasukkannya dalam kitabnya Diiwaan Adh Dhu’afa Wal Matruukin dengan mengutip jarh Abu Hatim [Diiwan Adh Dhu’afa Wal Matruukin no 1861].

Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib bahwa ia shaduq sering keliru tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Syabiib bin Bisyr dhaif, tidak ada yang menyatakan tsiqat selain Ibnu Ma’in. Kemudian penulis menyebutkan jarh Bukhariy, Abu Hatim dan Ibnu Hibban [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 2738].

.

.

Syaikh Abdullah Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Mizan Al Islam hal 407-409 menyatakan hadis di atas dhaif karena Syabiib bin Bisyr perawi yang dhaif jika tafarrud. Apa yang dikatakan Syaikh tersebut benar dan sesuai dengan pembahasan di atas.

Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa membantah Syaikh Al Judai’ dalam kitabnya Ar Radd Ala Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 329-333 dimana Syaikh berhujjah dengan tautsiq Yahya bin Ma’in, Ibnu Syahiin dan Ibnu Khalfun kemudian menyatakan bahwa Abu Hatim dan Ibnu Hibban termasuk ulama yang terlalu ketat dalam jarh. Sehingga Syaikh menyimpulkan sanad Al Bazzaar di atas hasan.

Bantahan Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa tersebut keliru. Ulama yang menyatakan jarh [celaan] terhadap Syabiib bin Bisyr tidak hanya Abu Hatim dan Ibnu Hibban [yang keduanya dikenal ketat dalam jarh] tetapi juga Al Bukhariy dengan lafaz jarh “munkar al hadiits”. Ibnu Hajar menjelaskan soal lafaz jarh Bukhariy ini dalam biografi Aban bin Jabalah Al Kuufiy

وقال البخاري منكر الحديث ونقل بن القطان ان البخاري قال كل من قلت فيه منكر الحديث فلا تحل الرواية عنه انتهى وهذا القول مروي بإسناد صحيح عن عبد السلام بن أحمد الخفاف عن البخاري

Dan Bukhariy berkata “munkar al hadiits” dan Ibnu Qaththan menukil bahwa Bukhariy berkata “semua yang aku katakan tentangnya munkar al hadiits maka tidak halal meriwayatkan darinya”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ‘Abdus Salaam bin Ahmad Al Khaffaaf dari Bukhariy [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar juz 1 no 6]

Imam Bukhariy termasuk ulama yang tergolong mu’tadil [pertengahan] dalam jarh tidak terlalu mudah menjarh dan tidak pula tasahul. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Adz Dzahabiy

و المعتدل فيهم أحمد بن حنبل و البخاري و أبو زرعة

Dan golongan mu’tadil diantara mereka adalah Ahmad bin Hanbal, Bukhariy dan Abu Zur’ah [Al Muuqidzhah Fi Musthalah Al Hadiits Adz Dzahabiy hal 63]

Selain itu apa yang dikatakan Abu Hatim terhadap Syabiib bin Bisyr adalah jarh atau kelemahan pada dhabit-nya yaitu dengan lafaz jarh “layyin al hadiits”. Dan hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Ibnu Hibban bahwa Syabiib banyak melakukan kesalahan. Jika kita menggabungkan fakta ini dengan jarh Al Bukhariy dan tautsiq Ibnu Ma’in maka pendapat yang rajih adalah Syabiib bin Bisyr perawi yang dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa juga mengutip tautsiq dari Ibnu Syahiin dan Ibnu Khalfun terhadap Syabiib tetapi hal ini tidak berpengaruh untuk mengangkat derajat Syabiib. Tautsiq Ibnu Syahiin pada dasarnya adalah berpegang pada tautsiq Yahya bin Ma’in sebagaimana dengan jelas disebutkan Ibnu Syahiin dalam kitabnya Tarikh Asmaa’ Ats Tsiqat.

Sedangkan Ibnu Khalfun dan kitabnya Ats Tsiqat tidak lagi ditemukan di masa sekarang dan biasanya tautsiq Ibnu Khalfun dikutip oleh Al Hafizh Al Mughlathay dan Ibnu Hajar dalam kitab mereka. Ibnu Khalfun termasuk ulama muta’akhirin dan ia sering menukil tautsiq dari ulama terdahulu maka kemungkinan tautsiqnya disini berdasarkan ulama terdahulu yang mentautsiq Syabiib [dalam hal ini adalah Yahya bin Ma’in].

Kalau kita juga mengandalkan ulama muta’akhirin maka ternukil pula ulama muta’akhirin yang melemahkan Syabiib bin Bisyr seperti Ibnu Jauziy dan Adz Dzahabiy, dimana keduanya juga berpegang pada jarh ulama mutaqaddimin yaitu jarh Abu Hatim. Maka dengan mengumpulkan perkataan ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin tentang Syabiib bin Bisyr tetap akan menghasilkan kesimpulan bahwa ia perawi dhaif jika tafarrud.

.

.

.

Hadis Anas di atas dengan matan yang sama memiliki syahid dari hadis Ibnu ‘Abbaas. Hanya saja sanad hadis Ibnu ‘Abbaas ini maudhu’

حدثنا بن ياسين ثنا محمد بن معاوية ثنا محمد بن زياد ثنا ميمون عن بن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال صوتان ملعونان في الدنيا والاخره صوت مزمار عند نعمه وصوت رنة عند مصيبة

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Yasiin yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyaad yang berkata telah menceritakan kepada kami Maimun dari Ibnu ‘Abbaas dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berkata dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat adalah suara seruling ketika mendapat nikmat dan suara jeritan ketika mendapat musibah [Al Kamil Ibnu Adiy 7/298-299]

Riwayat ini maudhu’ [palsu] karena Muhammad bin Ziyaad Ath Thahhaan Al Yasykuriy. Yahya bin Ma’in mengatakan ia pendusta. Ahmad bin Hanbal mengatakan ia pendusta pemalsu hadis. Al Bukhariy berkata “matruk al hadiits”. ‘Amru bin ‘Aliy berkata “matruk al hadiits munkar al hadiits” [Al Kamil Ibnu Adiy 7/296-298 no 1632]

.

.

.

Ada hadis lain yang dijadikan hujjah untuk menguatkan hadis Anas bin Malik di atas yaitu hadis berikut

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ حَّدَثَنَا الحُسَيْنُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْعِجْلِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبَى لَيْلَى , عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنِّي نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ صَوْتٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَمَزَامِيرُ شَيْطَانٍ وَصَوْتٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ  خَمْشُ وُجُوهٍ  وَشَقُّ جُيُوبٍ  وَرَنَّةُ شَيْطَانٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Utsman Al Ijliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Numair yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Laila dari ‘Atha’ dari Jabir bin ‘Abdullah dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “aku melarang dua suara yang bodoh lagi fajir yaitu suara ketika mendapat nikmat hiburan permainan seruling-seruling syaithan dan suara ketika mendapat musibah, mencakar wajah, merobek pakaian dan jeritan syaithan [Dzammul Malaahiy Ibnu Abi Dunyaa hal 59-60 no 64]

Riwayat ‘Abdullah bin Numair Al Hamdaaniy dari Ibnu Abi Laila di atas juga disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 1/114-115, dan Al Ajurriy dalam Tahrim An Nardu hal 201 hadis 63. Abdullah bin Numair memiliki mutaba’ah dari

  1. Nadhr bin Ismaiil sebagaimana disebutkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 1/114-115, Al Bazzar dalam Musnad-nya 3/214 no 1001, Al Ajurriy dalam Tahrim An Nardu hal 201 hadis 63, Ahmad bin Mani’ dalam Musnad-nya sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Mathalib Al ‘Aliyyah hal 359 no 844
  2. Isra’iil bin Yunuus sebagaimana disebutkan Ath Thahawiy dalam Syarh Ma’aaniy Al Atsaar 4/293 no 6975, Abu Ya’la dalam Al Maqshad Al ‘Aliy Fii Zawaid Abu Ya’la Al Haitsamiy no 441 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak 4/43 no 6825
  3. Yunuss bin Bukair sebagaimana disebutkan Al Baihaqiy dalam Syu’aab Al Iimaan 7/241 no 10163 dan Al Ajurriy dalam Tahrim An Nardu hal 201 hadis 63
  4. Aliy bin Mushir sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhiid 24/442-443
  5. ‘Imraan bin Muhammad bin ‘Abi Laila sebagaimana disebutkan Al Baghawiy dalam Syarh As Sunnah 5/437-438 no 1535 dengan matan ringkas tanpa menyebutkan lafaz “dua suara yang bodoh lagi fajir”.

Mereka semua meriwayatkan dengan jalan sanad dari Ibnu ‘Abi Laila dari Atha’ bin Abi Rabah dari Jabir dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf secara marfu’. Dan mereka diselisihi oleh sebagian perawi lain yang meriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dari Atha’ dari Jabir [tanpa menyebutkan dalam sanadnya ‘Abdurrahman bin ‘Auf] yaitu

  1. Abu ‘Awanah Al Yasykuriy sebagaimana disebutkan Abu Dawud Ath Thayalisiy dalam Musnad-nya 3/262-263 no 1788, Al Baihaqiy dalam Sunan Al Kubra 4/69 no 6943, Syu’ab Al Iimaan 7/242 no 10164, dan Al ‘Adaab hal 472 no 1068, Al Baghawiy dalam Syarh As Sunnah 5/430-431 no 1530.
  2. Ubaidillah bin Muusa sebagaimana disebutkan Abdu bin Humaid dalam Al Muntakhab Min Musnad ‘Abdu bin Humaid 2/129-130 no 1004
  3. ‘Aliy bin Haasyim sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 4/569 no 12243
  4. Iisa bin Yunus sebagaimana disebutkan At Tirmidzi dalam Sunan-nya 3/328 no 1005 hanya saja matannya tidak menyebutkan lafaz “suara ketika mendapat nikmat hiburan permainan seruling-seruling syaithan”. Tetapi lafaz ini disebutkan dalam riwayat lain Iisa bin Yunus oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin 2/253

Maka nampak bahwa terjadi idhthirab pada sanad tersebut yaitu pada Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Laila dimana terkadang ia menjadikan hadis ini sebagai hadis Jabir dan terkadang ia menjadikan hadis ini sebagai hadis’Abdurrahman bin ‘Auf.

Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Laila berdasarkan pendapat yang rajih adalah perawi dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar hadisnya, sebagian ulama khususnya telah melemahkan hadisnya dari Atha’ bin Abi Rabah.

Ahmad bin Hanbal berkata “buruk hafalannya”. Ahmad mengatakan bahwa Yahya bin Sa’id menyerupakannya dengan Mathar Al Warraaq yaitu dalam buruk hafalannya. Ahmad bin Hanbal berkata “mudhtharib al hadiits”. Ahmad bin Hanbal juga berkata “fiqih Ibnu Abi Laila lebih aku sukai daripada hadisnya, di dalam hadisnya terdapat idhthirab”. Terkadang Ahmad menyatakan ia dhaif dan terkadang berkata “tidak bisa berhujjah dengannya”. Ahmad bin Hanbal juga pernah berkata “Ibnu Abi Laila dhaif dan dalam riwayat Atha’ ia banyak melakukan kesalahan”. Ahmad bin Hanbal juga mengatakan Yahya telah mendhaifkan Ibnu Abi Laila dan Mathar dalam riwayatnya dari Atha’ [Mausu’ah Aqwaal Ahmad hal 285-287 no 2373]

Yahya bin Ma’in berkata “bukan seorang yang tsabit dalam hadis”. Yahya bin Ma’in juga pernah berkata “Ibnu Abi Laila dhaif”. Yahya bin Ma’in mengatakan bahwa Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan hadis dari Ibnu Abi Laila yaitu apa yang diriwayatkannya dari Atha’. [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in hal 218-219 no 3501].

Daruquthniy berkata “buruk hafalannya” terkadang berkata “ia tsiqat terdapat sesuatu dalam hafalannya” terkadang berkata “ia banyak melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “bukan seorang hafizh” [Mausu’ah Aqwaal Daruquthniy hal 596 no 3198]

Al Ijliy berkata “orang kufah shaduq tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat hal 243 no 1618]. Syu’bah berkata “aku tidak pernah melihat orang yang lebih jelek hafalannya dari Ibnu Abi Laila”. Abu Hatim mengatakan bahwa Ibnu Abi Laila tempat kejujuran jelek hafalannya tetapi tidak dituduh dengan dusta, ia diingkari karena banyak melakukan kesalahan, ditulis hadisnya tetapi tidak bisa dijadikan hujjah. Abu Zur’ah berkata “shalih tidak kuat” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/322-323 no 1739]. Nasa’iy berkata “tidak kuat dalam hadis” [Adh Dhu’afa An Nasa’iy hal 214 no 550]. Ibnu Hibban mengatakan bahwa Ibnu Abi Laila buruk hafalannya banyak melakukan kesalahan dan banyak hal-hal mungkar dalam riwayatnya sehingga selayaknya ditinggalkan, Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in meninggalkannya [Al Majruhin Ibnu Hibban 2/251 no 918]

Ibnu Jarir Ath Thabariy berkata “tidak berhujjah dengannya”. Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat terdapat pembicaraan pada sebagian hadisnya dan ia layyin al hadiits di sisi para ulama. Ibnu Madiniy berkata “buruk hafalannya dan lemah hadisnya”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “sebagian besar hadis-hadisnya terbalik”. As Sajiy mengatakan bahwa ia jelek hafalannya tetapi bukan pendusta, ia terpuji dalam keputusannya, adapun dalam hadis maka tidak menjadi hujjah. Ibnu Khuzaimah mengatakan ia bukan seorang yang hafizh tetapi faqih lagi alim [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar juz 9 no 503]

Dengan mengumpulkan semua perkataan ulama tentangnya maka Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Laila adalah perawi yang dhaif tidak bisa dijadikan hujjah karena hafalannya yang sangat buruk dan banyaknya kesalahan serta riwayat-riwayat mungkarnya. Tetapi ia bisa dijadikan i’tibar hadisnya dengan dasar pernyataan sebagian ulama bahwa ia tsiqat atau shaduq. Khusus untuk riwayatnya dari Atha’ bin Abi Rabah maka kedudukannya dhaif sebagaimana dinyatakan oleh Yahya bin Sa’id dan ditegaskan oleh Ahmad bin Hanbal bahwa riwayatnya dari Athaa’ banyak terdapat kesalahan. Ibnu Hibbaan dalam Al Majruuhin memasukkan hadis Ibnu Abi Laila dari Atha’ di atas sebagai bagian dari riwayat mungkarnya.

Hadis Ibnu Abi Laila di atas dhaif dan tidak bisa dijadikan i’tibar karena termasuk bagian dari kemungkaran atau kesalahan Ibnu Abi Laila. Hadis Ibnu Abi Laila tidak bisa dikuatkan dengan hadis Syabib bin Bisyr sebelumnya, begitu pula sebaliknya hadis Syabib bin Bisyr tidak pula dikuatkan oleh hadis Ibnu Abi Laila. Apalagi tidak ada bukti atau qarinah yang menunjukkan bahwa hadis Syabib bin Bisyr tersebut adalah hadis yang sama dengan hadis Ibnu Abi Laila atau ringkasan dari hadis Ibnu Abi Laila karena dari segi matan lafaz kedua hadis tersebut tidak sama.

.

.

.

Hadis riwayat Anas bin Malik yang matannya lebih tepat sebagai syahid bagi hadis Ibnu Abi Laila adalah hadis yang disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy dan Syaikh Al Judai’. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadiits Ash Shahihah hal 190 no 2157 mengatakan

Silsilah Shahihah 2157

“Aku menemukan jalan lain tentangnya, Ibnu As Sammaak berkata dalam Al ‘Awwal Min Hadiits-nya 2/87 telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaid bin ‘Abdurrahman At Tamiimiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Iisa bin Thahmaan dari Anas seperti hadis Ibnu Abi Laila di atas”

Syaikh Al Judai’ dalam Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Mizan Al Islam hal 410 juga menyebutkan hadis Anas ini dan menyebutkan sebagian matannya

Al Musiiq Syaikh Judai' hal 410

“Aku menyebutkan mutaba’ah yaitu apa yang diriwayatkan oleh Abu ‘Amru Utsman bin Ahmad Ibnu As Sammaak dalam Al ‘Awwaal Min Hadiits-nya 2/87 dari Jalan Ubaid bin ‘Abdurrahman At Taimmiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Iisa bin Thahmaan dari Anas yang berkata [maka ia menyebutkan kisah wafatnya Ibrahim putra Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam] dan di dalamnya terdapat lafaz “maka meneteslah air matanya, sahabatnya berkata kepadanya “wahai Nabi Allah bukankah engkau telah melarannangis?. Maka Beliau berkata “aku tidak melarangnya, sesungguhnya aku hanya melarang dua suara bodoh lagi fajir yaitu suara ketika mendapat musibah ratapan dan nyanyian, kami sangat bersedih atasmu wahai Ibrahim”

Perkataan Syaikh Al Judai’ bahwa hadis ini mutaba’ah bagi hadis Syabiib bin Bisyr keliru karena matannya tidak sama, yang benar adalah ia menjadi syahid bagi hadis Ibnu Abi Laila sebelumnya. Dan hadis ini tidaklah tsabit sebagai syahid karena sanadnya dhaif [Syaikh Al Judai' juga melemahkan hadis ini dan menyatakan tidak baik sebagai mutaba'ah]. Ubaid bin ‘Abdurrahman yang meriwayatkan dari Iisa bin Thahmaan adalah perawi majhul. Abu Hatim berkata “aku tidak mengenalnya dan hadis riwayatnya dusta” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/410 no 1905]

.

.

Syaikh Al Judai’ dalam kitabnya Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Mizan Al Islam hal 402-407 menjelaskan secara detail takhrij hadis Ibnu Abi Laila di atas dan penjelasan akan kelemahannya. Hal ini sesuai dengan pembahasan kami di atas bahwa hadis Ibnu Abi Laila dhaif dan tidak bisa dijadikan mutaba’ah bagi hadis Anas bin Malik.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam Ar Radd Al Qaradhawiy Wal Judai’ hal 333-335 ketika membantah Syaikh Al Judai’, ia menyatakan bahwa idhthirab Ibnu Abi Laila di atas tidak bersifat menjatuhkan karena perselisihan sanad itu hanya seputar sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut yaitu dari Jabir yang menyebutkan kisah ‘Abdurrahman bin ‘Auf atau Jabir dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang menceritakan kisahnya sendiri. Kesimpulannya menurut Syaikh Abdullah Ramadhan bin Muusa kedua sanad tersebut benar.

Apa yang dikatakan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa soal idhthirab tersebut memang benar dengan catatan idhthirab tersebut bukanlah menjadi sebab yang melemahkan sanad tersebut. Kelemahan riwayat Ibnu Abi Laila di atas bukan terletak pada sebab sanadnya yang terbukti idhthirab tetapi pada kelemahan hafalan atau dhabit Ibnu Abi Laila.

Adapun idhthirab sanad tersebut hanya menjadi qarinah yang menunjukkan bahwa dhabit [hafalan] Ibnu Abi Laila dalam hadis ini bermasalah. Sehingga dengan statusnya yang buruk hafalannya dan mudhtharib hadisnya serta ia banyak melakukan kesalahan [khususnya riwayat dari Atha’] maka menjadi lengkaplah bahwa hadis Ibnu Abi Laila disini dhaif dan bagian dari kesalahan atau kemungkarannya. Seandainya Ibnu Abi Laila ini seorang yang tsiqat tsabit maka tidak ada celah untuk mengatakan bahwa idhthirab tersebut adalah kelemahan dalam dhabitnya tetapi faktnya Ibnu Abi Laila memang seorang yang buruk hafalannya maka idhthirab tersebut menjadi qarinah kuat akan kelemahan dhabitnya.

Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawi Wal Judai’ hal 339-340 mengutip pernyataan Tirmidzi dan Al Baghawiy yang menyatakan hadis ini hasan kemudian Beliau mengatakan sekelompok ulama hadis menyebutkan hadis ini tanpa menyatakan mungkar.

Bantahan Syaikh tersebut tidak memiliki hujjah yang kuat. Ulama hadis mengutip suatu hadis dalam kitabnya tanpa menyebutkan kelemahan atau kemungkaran hadis tersebut adalah fenomena yang wajar, tidak ada hujjah yang bisa diambil dari sini. Hujjah hanya bisa diambil dari pernyataan sharih [jelas] ulama terhadap hadis yang dikutipnya, apakah hadis tersebut shahih, dhaif atau mungkar. Adapun penghasanan Tirmidzi dan Al Baghawiy telah diselisihi oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Thahir [sebagaimana dikutip Syaikh Al Judai’ dalam Al Muusiiq Wal Ghinaa’ Fii Mizan Al Islam hal 407].

Anehnya Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa dalam kitabnya Ar Radd ‘Ala Al Qaradhawi Wal Judai’ hal 346 seolah ingin membantah Ibnu Hibban dengan menyatakan bahwa ia termasuk ulama yang terlalu mudah dalam menjarh perawi. Pernyataan ini benar tetapi keliru jika menjadikan seolah-olah semua perkataan jarh Ibnu Hibban terhadap perawi tertolak karena ia dikenal mudah dalam menjarh. Harus ada qarinah yang menunjukkan bahwa Ibnu Hibban memang berlebihan dalam mencela perawi tertentu.

Misalkan jika perawi yang bersangkutan adalah perawi kitab Shahih yang dikenal tsiqat kemudian Ibnu Hibban mencela dengan mengatakan ia meriwayatkan hadis palsu. Maka sudah jelas jarh Ibnu Hibban bertentangan dengan para ulama hadis lain yang lebih mu’tabar darinya.

Dalam kasus hadis Ibnu Abi Laila di atas apa yang dikatakan Ibnu Hibban sudah sesuai dengan pendapat para ulama hadis bahwa Ibnu Abi Laila termasuk perawi yang lemah dalam dhabitnya [buruk hafalannya] dan banyak melakukan kesalahan bahkan Yahya bin Sa’id dan Ahmad bin Hanbal secara khusus melemahkan hadis Ibnu Abi Laila dari Atha’. Jadi tidak ada alasan menuduh Ibnu Hibban disini terlalu mudah menjarh.

Justru yang nampak adalah At Tirmidzi yang menghasankan hadis Ibnu Abi Laila di atas menunjukkan sikap tasahul-nya dalam menguatkan hadis. Dan At Tirmidzi memang dikenal ulama yang tasahul dalam tashih dan tahsin hadis dalam kitab Sunan-nya. Bagaimana mungkin dikatakan hasan jika Ibnu Abi Laila adalah perawi yang buruk hafalannya dan banyak melakukan kesalahan. Jika yang dimaksudkan Tirmidzi dengan hasan dalam hadis Ibnu Abi Laila itu adalah hasan lighairihi maka mengapa ia tidak menyebutkan syahid bagi hadis Ibnu Abi Laila yang ia kutip. Bukankah At Tirmidzi seringkali menyebutkan syahid pada sebagian hadis yang ia sebutkan dalam kitab Sunan-nya.

Kesimpulannya disini adalah apa yang dikatakan Syaikh Al Judai’ bahwa hadis ini dhaif adalah pendapat yang benar, adapun pembelaan dan bantahan Syaikh ‘Abdullah Ramadhan bin Muusa tersebut keliru.

Kedudukan Atsar Imam Aliy bin Abi Thalib Tentang Bendera Hitam

Sumber :  Secondprince

Kedudukan Atsar Imam Aliy bin Abi Thalib Tentang Bendera Hitam

Atsar ini nampaknya menjadi bahan pembicaraan terkait dengan pendapat sebagian orang yang menyatakan bahwa mereka yang dibicarakan oleh Imam Aliy dalam atsar tersebut adalah orang-orang yang di zaman sekarang menyebut diri mereka ISIS.

Kami tidak sedikitpun membela ISIS dan tidak pula kami merendahkan siapapun yang berhujjah dengan atsar Imam Aliy tersebut. Tulisan ini kami buat sebagai jawaban dari salah satu pembaca blog ini yang menanyakan shahih tidaknya atsar tersebut dimana ia menukil dari kitab Kanz Al ‘Ummaal Muttaqiy Al Hindiy no 31530.



Al Kanz

Al Kanz no 31530

عن علي قال إذا رأيتم الرايات السود فالزموا الأرض ولا تحركوا أيديكم ولا أرجلكم! ثم يظهر قوم ضعفاء لا يوبه لهم، قلوبهم كزبر الحديد، هم أصحاب الدولة، لا يفون بعهد ولا ميثاق، يدعون إلى الحق وليسوا من أهله، أسماؤهم الكنى ونسبتهم القرى، وشعورهم مرخاة كشعور النساء حتى يختلفوا فيها بينهم ثم يؤتي الله الحق من يشاء. (نعيم

Dari ‘Aliy yang berkata “jika kamu melihat bendera-bendera hitam, maka tetaplah di tanah [mu] dan janganlah menggerakkan tangan dan kakimu, kemudian muncul kaum yang lemah, tidak ada yang menghiraukan mereka, hati mereka seperti potongan besi, mereka adalah shahibul daulah, mereka tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, mereka mengajak kepada kebenaran tetapi mereka bukan termasuk ahlinya, nama mereka adalah kuniyah dan nisbat mereka kepada desa, rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita hingga akhirnya mereka berselisih di antara mereka kemudian Allah akan mendatangkan kebenaran kepada orang yang Dia kehendaki [riwayat Nu’aim]

Asal riwayat ini sebagaimana yang tertulis dalam kitab Kanz Al ‘Ummaal adalah riwayat Nu’aim bin Hammaad. Nu’aim bin Hammaad menyebutkan dalam kitabnya Al Fitan riwayat di atas dengan sanad berikut

Al Fitan

Al Fitan no 573

حدثنا الوليد ورشدين عن ابن لهيعة عن أبي قبيل عن أبي رومان عن علي بن أبي طالب قال إذا رايتم الرايات السود فالزموا الأرض ولا تحركوا أيديكم ولا أرجلكم ثم يظهر قوم ضعفاء لا يؤبه لهم قلوبهم كزُبَرِ الحديد هم أصحاب الدولة لا يفون بعهد ولا ميثاق يدعون إلى الحق وليسوا من أهله، أسماؤهم الكنى ونسبتهم القرى وشعورهم مرخاة كشعور النساء حتى يختلفوا فيما بينهم ثم يؤتي الله الحق من يشاء

Telah menceritakan kepada kami Al Waliid dan Risydiin dari Ibnu Lahii’ah dari Abi Qabiil dari Abi Ruuman dari ‘Aliy bin Abi Thalib yang berkata “jika kamu melihat bendera-bendera hitam, maka tetaplah di tanah [mu] dan janganlah menggerakkan tangan dan kakimu, kemudian muncul kaum yang lemah, tidak ada yang menghiraukan mereka, hati mereka seperti potongan besi, mereka adalah shahibul daulah, mereka tidak menepati perjanjian dan kesepakatan, mereka mengajak kepada kebenaran tetapi mereka bukan termasuk ahlinya, nama mereka adalah kuniyah dan nisbat mereka kepada desa, rambut mereka terjuntai seperti rambut wanita hingga akhirnya mereka berselisih di antara mereka kemudian Allah akan mendatangkan kebenaran kepada orang yang Dia kehendaki [Al Fitan Nu’aim bin Hammaad hal 210 no 573]

Atsar Imam Aliy bin Abi Thalib di atas sanadnya dhaif dengan beberapa kelemahan berikut

  1. Nu’aim bin Hammaad ia seorang yang dhaif tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud
  2. Walid bin Musliim seorang mudallis dengan tadlis taswiyah dan riwayatnya disini dengan ‘an anah. Ia memiliki mutaba’ah dari Risydiin bin Sa’d seorang yang dhaif [berdasarkan pendapat yang rajih].
  3. Ibnu Lahii’ah diperbincangkan hafalannya setelah kitabnya terbakar, riwayatnya jayyid jika yang meriwayatkan darinya adalah para perawi yang mendengar darinya sebelum kitabnya terbakar seperti ‘Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Mubarak dan yang lainnya. Disini yang meriwayatkan darinya adalah Waliid bin Muslim dan Risydiin bin Sa’d. Keduanya tidak diketahui kapan mereka meriwayatkan dari Ibnu Lahii’ah maka riwayatnya dhaif
  4. Abu Ruuman yang meriwayatkan dari ‘Aliy bin Abi Thalib adalah perawi yang majhul dan ternukil hanya Abu Qabiil yang meriwayatkan darinya maka kedudukannya majhul ‘ain.

Berikut pembahasan rinci tentang kelemahan-kelemahan tersebut. Nu’aim bin Hammaad termasuk salah satu dari guru Imam Bukhariy. Sebagian ulama memujinya dan sebagian yang lain telah mencelanya.

.

.

.

Kelemahan Pertama Nu’aim bin Hammaad

Ahmad bin Hanbal berkata tentang Nu’aim bin Hammaad “sungguh dia termasuk orang-orang tsiqat”. Dan ia juga berkata “orang pertama yang kami kenal menulis musnad adalah Nu’aim bin Hammaad” [Mausu’ah Aqwaal Ahmaad 4/23-24 no 3332]

Yahya bin Ma’in berkata tentang Nu’aim bin Hammad “tsiqat”. Ia juga berkata bahwa Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari orang-orang yang tidak tsiqat. Yahya bin Ma’in pernah mengingkari hadis Nu’aim bin Hammaad dan menyatakan tidak ada asalnya tetapi ia tetap menyatakan Nu’aim tsiqat. Yahya bin Ma’in pernah berkata “hadisnya tidak ada apa-apanya tetapi ia shahibus sunnah” [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in no 4024]

Al Ijliy berkata “Nu’aim bin Hammaad Al Marwaziy tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 2/316 no 1858]. Abu Hatim berkata “tempat kejujuran” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/463-464 no 2125]. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “ia melakukan kesalahan dan kekeliruan” [Ats Tsiqat 9/219 no 16099]

An Nasa’iy berkata “dhaif” [Adh Dhu’afa Wal Matrukin no 217]. Terkadang Nasa’iy juga berkata “tidak tsiqat” [Tarikh Baghdad 15/428 no 7237]. Al Mizziy mengutip Abu ‘Aliy An Naisaburiy Al Hafizh yang mendengar Nasa’iy menyebutkan keutamaan Nu’aim bin Hammaad dan ia mendahulukannya dalam ilmu dan sunnah hanya saja dalam hal hadis, An Nasa’iy menyatakan bahwa Nu’aim banyak meriwayatkan secara tafarrud hadis-hadis yang tidak bisa dijadikan hujjah [Tahdzib Al Kamal 29/476 no 6451]

Abu Zur’ah Ad Dimasyiq mengatakan “ia menyambungkan hadis-hadis yang dimauqufkan oleh orang-orang”. Shalih bin Muhammad pernah menyatakan suatu hadis Nu’aim dari Ibnu Mubarak sebagai tidak ada asalnya dan ia berkata “Nu’aim menceritakan hadis dari hafalannya dan di sisinya banyak terdapat riwayat-riwayat mungkar yang tidak ada mutaba’ah atasnya”. Abu Ubaid Al ‘Ajurriy berkata dari Abu Daud “di sisi Nu’aim terdapat dua puluh hadis dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang tidak ada asalnya” [Tahdzib Al Kamal 29/471 & 475 no 6451]

Daruquthniy berkata tentang Nu’aim bin Hammaad “imam dalam sunnah banyak melakukan kesalahan” [Su’alat Al Hakim no 503]. Ibnu Hammaad berkata bahwa An Nasa’iy mendhaifkannya dan Ibnu Hammad berkata bahwa selainnya berkata bahwa ia [Nu’aim] pamalsu hadis dalam berpegang pada Sunnah dan hikayat para ulama tentang Abu Hanifah. [Al Kamil Ibnu Adiy 8/251 no 1959]. Ibnu Adiy dalam Al Kamil menyebutkan berbagai hadis mungkar Nu’aim bin Hammaad kemudian ia mengatakan “sebagian besar apa yang diingkari atasnya adalah apa yang telah aku sebutkan, dan aku harap hadis-hadisnya yang lain lurus” [Al Kamil Ibnu Adiy 8/256 no 1959]

Ibnu Yunus berkata “ia memiliki kefahaman dalam hadis dan meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi tsiqat” Abu Ahmad Al Hakim berkata “melakukan kesalahan dalam sebagian hadisnya”. Maslamah bin Qasim berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan dan memiliki hadis-hadis mungkar”. Al Azdiy mengatakan bahwa ia pemalsu hadis dalam berpegang pada Sunnah dan hikayat para ulama tentang Abu Hanifah [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 833]. Ibnu Hajar berkata “adapun Nu’aim sungguh telah tsabit keadilan dan kejujurannya akan tetapi dalam hadisnya terdapat kekeliruan-kekeliruan yang telah dikenal” [Tahdzib At Tahdzib juz 10 no 833]. Ibnu Hajar juga berkata “shaduq banyak melakukan kesalahan, faqih arif dalam ilmu faraidh” [Taqrib At Tahdzib 2/250]. Dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Nu’aim adalah perawi yang dhaif [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 7166]

Dengan mengumpulkan semua pendapat para ulama tentang Nu’aim bin Hammaad maka dapat disimpulkan bahwa ia seorang yang tsiqat atau shaduq tetapi lemah dalam dhabitnya [hafalannya] sehingga banyak hadis-hadisnya yang mungkar bahkan karena kemungkarannya ada yang menyatakan bahwa ia memalsukan hadis. Nampaknya disini adalah ia mengambil hadis dari para perawi dhaif kemudian hafalannya tercampur sehingga ia sering meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari perawi tsiqat padahal hadis tersebut ia ambil dari perawi dhaif. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Al Mu’allimiy ketika menjelaskan jarh Shalih bin Muhammad terhadap Nu’aim

وقال صالح بن محمد كان نعيم يحدث من حفظه وعنده مناكير كثيرة لا يتابع عليها فلكثرة حديث نعيم عن الثقات وعن الضعفاء واعتماده على حفظه كان ربما اشتبه عليه ما سمعه من بعض الضعفاء بما سمع من بعض الثقات فيظن أنه سمع الأول بسند الثاني فيرويه كذلك

Dan Shalih bin Muhammad berkata “Nu’aim menceritakan hadis dari hafalannya dan di sisinya banyak terdapat riwayat-riwayat mungkar yang tidak ada mutaba’ah atasnya”. Maka Nu’aim banyak menceritakan hadis dari para perawi tsiqat dan dari para perawi dhaif, dan ia berpegang pada hafalannya. Mungkin terjadi kekacauan padanya mengenai apa yang ia dengar dari sebagian perawi dhaif dengan apa yang ia dengar dari sebagian perawi tsiqat, ia mengira bahwa ia mendengar hadis golongan pertama [perawi dhaif] dengan sanad golongan kedua [perawi tsiqat], maka ia meriwayatkannya seperti itu [At Tankiil Al Mu’allimiy 2/733]

Oleh karena itu kedudukan perawi seperti ini walaupun ia seorang yang dinyatakan tsiqat atau shaduq oleh sebagian ulama tetap tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud maka hadisnya dhaif tetapi bisa dijadikan i’tibar. Adapun kitabnya Al Fitan telah dikatakan oleh Adz Dzahabiy bahwa ia mengandung riwayat-riwayat mungkar. Adz Dzahabiy berkata tentang Nu’aim bin Hammaad

لا يجوز لأحد أن يحتج به وقد صنف كتاب الفتن فأتى فيه بعجائب ومناكير

Tidak diperbolehkan seorangpun untuk berhujjah dengannya dan sungguh ia telah menulis kitab Al Fitan maka ia mendatangkan di dalamnya riwayat-riwayat yang mengherankan dan riwayat-riwayat mungkar [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 10/609]

Dalam meriwayatkan atsar Aliy bin Abi Thalib di atas, Nu’aim bin Hammaad tidak memiliki mutaba’ah sehingga kedudukannya dhaif.

.

.

.

Kelemahan Kedua Waliid bin Muslim dan Risydiin bin Sa’d

Waliid yaitu Syaikh [guru] Nu’aim bin Hammaad dalam atsar di atas adalah Waliid bin Muslim Al Qurasyiy Abul ‘Abbaas Ad Dimasyiqiy. Dan ia meriwayatkan atsar di atas dari Ibnu Lahii’ah dengan lafaz ‘an anah, padahal ia seorang mudallis. Ibnu Hajar memasukkannya dalam mudalis thabaqat keempat

الوليد بن مسلم الدمشقي معروف موصوف بالتدليس الشديد مع الصدق

Al Waliid bin Muslim Ad Dimasyiqiy ma’ruf disifatkan dengan tadlis yang parah bersamaan dengan kejujurannya [Thabaqat Al Mudallisin Ibnu Hajar hal 51 no 127]

Adz Dzahabiy dalam biografi Waliid bin Muslim menukil dari Abu Mushir tentang sifat tadlis tersebut

وقال أبو مسهر ربما دلس الوليد بن مسلم عن كذابين

Dan Abu Mushir berkata “Walid bin Muslim terkadang melakukan tadlis dari para pendusta” [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 9/216]

Selain itu Waliid bin Muslim disifatkan dengan tadlis taswiyah, yaitu jenis tadlis dimana Walid meriwayatkan dari gurunya kemudian gurunya meriwayatkan dari perawi dhaif dari perawi tsiqat [yang dikenal sebagai syaikh dari gurunya Waliid], kemudian Walid menghilangkan nama perawi dhaif diantara gurunya dan perawi tsiqat tersebut. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Daruquthniy dan dinyatakan oleh Ibnu Hajar

الوليد بن مسلم يرسل، يروي عن الأوزاعي أحاديث الأوزاعي عن شيوخ ضعفاء عن شيوخ قد أدرکهم الأوزاعي مثل نافع وعطاء والزهري فيسقط أسماء الضعفاء ويجعلها عن الأوزاعي عن عطاء يعني مثل عبد الله بن عامر الأسلمي وإسماعيل بن مسلم

Al Waliid bin Muslim sering melakukan irsal, ia meriwayatkan dari Al ‘Auza’iy hadis-hadis Al ‘Auza’iy dari guru-guru yang dhaif dari guru-guru yang biasa ditemui Al ‘Auza’iy seperti Naafi’, Athaa’ dan Az Zuhriy. Maka ia menghilangkan nama-nama perawi dhaif tersebut kemudian menjadikan sanadnya sebagai dari Al ‘Auza’iy dari ‘Athaa’. [nama para perawi dhaif] yaitu seperti ‘Abdullah bin ‘Aamir Al Aslamiy dan Isma’iil bin Muslim [Adh Dhu’afa Wal Matruukin Daruquthniy hal 415 no 631]

الوليد بن مسلم القرشي مولاهم أبو العباس الدمشقي ثقة لكنه كثير التدليس والتسوية

Al Waliid bin Muslim Al Qurasyiy maula mereka Abul ‘Abbaas Ad Dimasyiqiy seorang yang tsiqat akan tetapi ia banyak melakukan tadlis dan taswiyah [Taqrib At Tahdzib 2/289]

Kedudukan perawi seperti Waliid bin Muslim diterima hadisnya jika ia menjelaskan penyimakan terhadap hadis tersebut dari Syaikh [guru]-nya kemudian Syaikh-nya juga menjelaskan penyimakan hadis itu dari Syaikh-nya pula. Dan syarat tersebut tidak terpenuhi dalam atsar Aliy bin Abi Thalib di atas. Waliid meriwayatkan dengan lafaz ‘an anah dari Ibnu Lahii’ah dan Ibnu Lahii’ah meriwayatkan dengan lafaz ‘an anah dari Abu Qabiil. Maka sanad Waliid dhaif

Waliid bin Muslim dalam periwayatannya dari ‘Abdullah bin Lahii’ah memiliki mutaba’ah yaitu Risydiin bin Sa’d Abul Hajjaaj Al Mishriy hanya saja Risydiin bin Sa’d berdasarkan pendapat yang rajih ia seorang yang dhaif.

  1. Ahmad bin Hanbal dalam satu riwayat mendhaifkannya, kemudian ia juga pernah berkata “aku harap ia shalih al hadiits” dan disaat lain ia berkata “seorang yang shalih dan telah ditsiqatkan oleh Haitsam bin Kharijah” [Mausu’ah Aqwaal Ahmad 1/375-376 no 793]
  2. Yahya bin Ma’in pernah berkata tentang Risydiin bin Sa’d “tidak ada apa-apanya”. Di saat lain ia berkata “tidak ditulis hadisnya” dan di saat lain berkata “dhaif” [Mausu’ah Aqwaal Yahya bin Ma’in no 1148]
  3. Daruquthniy berkata “dhaif” [Adh Dhu’afaa Wal Matruukin hal 209 no 220]. Ibnu Numair berkata “tidak ditulis hadisnya”. ‘Amru bin ‘Aliy berkata “dhaif al hadiits”. Abu Hatim mengatakan munkar al hadiits meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari perawi tsiqat dan dhaif al hadiits. Abu Zur’ah berkata “dhaif al hadiits” [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/513 no 2320]
  4. Ibnu Yunus berkata “seorang yang shalih, tidak diragukan keshalihan dan keutamaannya”. Ibnu Sa’ad berkata “dhaif”. Ibnu Qaani’ berkata “dhaif al hadiits”. Al Ajurriy dari Abu Dawud berkata “dhaif al hadiist” [Tahdzib At Tahdzib juz 3 no 526]. Ibnu Hajar berkata “dhaif” [Taqrib At Tahdzib 1/301].

Sanad Risydiin bin Sa’d dan sanad Waliid bin Muslim tidaklah saling menguatkan satu sama lain karena Risydiin bin Sa’d adalah perawi yang dhaif dan sanad Waliid bin Muslim dhaif karena tadlis bahkan dikatakan bahwa Waliid kadang melakukan tadlis dari para pendusta maka bisa saja lafaz ‘an anah Waliid disini berasal dari seorang pendusta. Maka jika benar demikian tidak mungkin riwayat pendusta bisa menguatkan riwayat Risydiin yang dikenal dhaif.

.

.

Kelemahan Ketiga ‘Abdullah bin Lahii’ah

Kelemahan lain atsar di atas adalah pada sisi Abdullah bin Lahii’ah. Ia seorang yang shaduq sebelum kitabnya terbakar adapun setelah kitabnya terbakar maka ia mengalami ikhtilath sehingga kedudukannya menjadi dhaif jika tafarrud. Ibnu Hajar berkata tentangnya

عبد الله بن لهيعة بفتح اللام وكسر بن عقبة الحضرمي أبو عبد الرحمن المصري القاضي صدوق من السابعة خلط بعد احتراق كتبه ورواية بن المبارك وابن وهب عنه أعدل من غيرهما

’Abdullah bin Lahii’ah [fathah pada huruf laam, dan kasrah] bin ‘Uqbah Al Hadhramiy Abu ‘Abdurrahman Al Mishriy Al Qaadhiy seorang yang shaduq termasuk thabaqat ketujuh, mengalami ikhtilath setelah kitabnya terbakar, riwayat Ibnu Wahb dan Ibnu Mubarak darinya lebih adil daripada riwayat selain keduanya [Taqrib At Tahdzib 1/526]

Kemudian dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib disebutkan bahwa Abdullah bin Lahii’ah seorang yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar hadisnya, dan hadisnya shahih jika yang meriwayatkan darinya Al ‘Abadillah yaitu ‘Abdullah bin Mubarak, Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Yazid Al Muqriiy dan ‘Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabiy [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 3563]

Atsar di atas adalah riwayat Waliid bin Muslim dan Risydiin bin Sa’d dari ‘Abdullah bin Lahii’ah dan tidak diketahui apakah keduanya termasuk yang mengambil hadis dari Ibnu Lahii’ah sebelum kitabnya terbakar atau setelah kitabnya terbakar. Maka riwayat ‘Abdullah bin Lahii’ah disini dhaif dan ia tidak memiliki mutaba’ah.

.

.

.

Kelemahan Keempat Abu Ruumaan

Kelemahan terakhir atsar Imam Aliy di atas adalah Abu Ruumaan, tidak ditemukan keterangan tentangnya kecuali dari apa yang disebutkan Ibnu Mandah dalam Fath Al Baab Fii Al Kunaa Wal ‘Alqaab

Al Fath Ibnu Mandah no 2882

Abu Ruumaan, menceritakan hadis dari Aliy bin Abi Thalib dalam Al Fitan, dan telah meriwayatkan hadisnya ‘Abdullah bin Lahii’ah dari Abu Qabiil dari Abu Ruumaan [Fath Al Baab Fii Al Kunaa Wal ‘Alqaab hal 328 no 2882]

Tidak ada jarh dan ta’dil terhadapnya dan hanya diketahui seorang perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Abu Qabiil maka Abu Ruumaan adalah perawi yang majhul ‘ain.

.

.

.

Kesimpulan

Atsar Imam Aliy bin Abi Thalib di atas kedudukannya dhaif, tidak bisa dijadikan hujjah maka mereka yang telah berhujjah dengan atsar di atas telah jatuh dalam kekeliruan.

Sikap Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia terhadap Rekomendasi Mukernas Majelis Ulama Indonesia [MUI] tanggal 14 Agustus 201

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah merampungkan rakernas yang berlangsung selama 3 hari di Hotel Sultan, Jakarta. Rakernas itu menghasilkan 15 rekomendasi yang ditujukan bagi internal MUI maupun umat Islam secara umum.

 

Berikut pernyataan Sikap Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia terhadap Rekomendasi Mukernas Majelis Ulama Indonesia [MUI] tanggal 14 Agustus 2014:

Menanggapi Rekomendasi Mukernas Majlis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 14 agustus 2014, DPP Ahlulbait Indonesia (ABI) dengan ini menyatakan bahwa:

  1. Memberikan apresiasi kepada MUI atas sikap tanggapnya dalam merespon berbagai persoalan umat dan bangsa Indnesia.
  2. Mendukung pernyataan  MUI agar umat Islam Indonesia mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRi dan Bhinneka Tunggal Ika.
  3. Mendukung langkah-langkah MUI bagi penguatan posisi umat Islam Indonesia dalam kancah pembangunan masyarakat Indonesia .
  4. Mendukung seruan MUI agar bangsa Indonesia senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kerukunan beragama dan agar  pemerintah dan DPR segera menyususn dan membahas RUU Kerukunan Beragama.
  5. Mendukung sikap MUI yang mengutuk keras agresi Israel atas Palestina dan menuntut dunia internasional agar memberikan sangsi berat kepada Israel atas kebiadabannya terhadap rakyat Palestina.
  6. Mendukung seruan MUI kepada umat Islam Indonesia agar mewaspadai ideologi dan gerakan ISIS/ISIL yang bertentangan dengan norma-norma Islam.
  7. Menolak  dengan tegas Rekomendasi nomor 6 (enam) Mukernas MUI yang memasukkan ajaran Syi’ah sebagai salah satu ajaran Islam yang menyimpang walapun dengan embel-embel  nama Syi’ah Rafidhah, karena: [1] Istilah  rafidhah adalah stigma negatif yang dialamatkan kepada  penganut Syi’ah, seakan-akan mereka adalah kelompok ekstrim yang menganut ajaran pengkafiran  dan caci maki terutama terhadap tokoh-tokoh Sahabat seperti Khulafa al-Rasyidin (ra), padahal masyarakat Syi’ah (Imamiyah), khususnya di Indonesia jauh dari segala tuduhan tersebut bahkan termasuk kategori pelanggaran, sebagaimana fatwa Imam Besar Syi’ah dewasa ini, Sayyid Ali Khamenei. [2] Istilah itu pasti disalahpahami sebagai predikat umum bagi seluruh pengikut syiah, padahal penganut Syiah di Indonesia adalah Syiah Imamiyah Moderat, walaupun mungkin  Syi’ah Rafhidah dalam rekomendasi tersebut dimaksudkan sebagai kalangan ekstrimis Syi’ah.
  8. Menuntut  MUI agar segera mencabut  Rekomendasi nomor 6 (enam) tersebut) yang memasukkan ajaran Syi’ah sebagai salah satua jaran Islam yang menyimpang  yang harus diwaspadai oleh semua pihak karena dapat disalahgunakan oleh anasir yang tidak bertanggungjawab  yang dapat menimbulkan perpecahan dan pertikaian di tubuh umat Islam, sesuatu yang tidak dikehendaki oleh MUI sendiri.
  9. Mendesak MUI agar segera merehabilitasi mazhab Syi’ah (Imamiyah) yang merupakan mazhab Islam yang benar dan sah seperti halnya mazhab Ahlussunnah wa al-Jamaah, sebagaimana  Resolusi Amman yang ditandangani oleh ulama terkemuka dunia, termasuk pimpinan MUI Pusat.
  10. Mengingatkan MUI untuk dapat mengayomi dan menampung aspirasi semua pihak tanpa kecuali dan tanpa membeda-bedakan aliran, paham, dan mazhab, karena posisi MUI sebagai Tenda Besar bagi seluruh umat Islam Indonesia.
  11. Mengingatkan MUI agar berhati-hati dalam memberikan label menyimpang, sesat, kafir dan sebagainya terhadap sesama Ahlul  Kiblah sehingga MUI tidak terjebak dalam perangkap politik adu domba terhadap sesame umat yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam.
  12. Mengingatkan MUI agar waspada terhadap penyusupan pihak-pihak radikal dan intoleran yang tanpa disadari dapat merubah wajah MUI menjadi sangar dan tidak ramah.

Jakarta,  15 Agustus 2014

Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia

Ketua Umum                                                                                     Mengetahui

                                                                                                       Ketua Dewan Syura

K.H Hasan Alaydrus                                                                           DR. Umar Shahab, MA

Imam Ja’far Shadiq Penggagas Ilmu-ilmu Modern

Biografi Singkat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

 

Namanya adalah Ja’far, julukannya adalah Ash-Shadiq dan panggilannya adalah Abu Abdillah.

Ia syahid di Madinah diracun oleh Manshur Ad-Dawaniqi pada tanggal 25 Syawal 148 H. dalam usianya yang ke-65 tahun. Ia dikuburkan di pekuburan Baqi’.

Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabi’ul Awal 83 H. Ayahnya adalah Imam Muhammad Baqir a.s. dan ibunya adalah Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar.

Namanya adalah Ja’far, julukannya adalah Ash-Shadiq dan panggilannya adalah Abu Abdillah.

Ia syahid di Madinah diracun oleh Manshur Ad-Dawaniqi pada tanggal 25 Syawal 148 H. dalam usianya yang ke-65 tahun. Ia dikuburkan di pekuburan Baqi’.

Akivitas Imam Shadiq dalam Menyebarkan Islam

Imam Shadiq a.s. telah memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam bidang keilmuan, dan hasilnya, ia berhasil membentuk sebuah “hauzah” pemikiran yang telah berhasil mendidik fuqaha` dan para pemikir kaliber dunia. Dengan demikian, ia telah meninggalkan warisan ilmu yang sangat berharga bagi umat manusia. Di antara murid-muridnya yang ternama adalah Hisyam bin Hakam, Mukmin Ath-Thaaq, Muhammad bin Muslim, Zurarah bin A’yan dan lain sebagainya.

Gebrakan ilmiah Imam Shadiq a.s. telah berhasil menguasai seluruh penjuru negeri Islam sehingga keluasan ilmunya dikenal di seluruh penjuru negara dan menjadi buah bibir masyarakat.

Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: “Imam Shadiq telah berhasil menyingkap sumber-sumber ilmu di muka bumi ini dan membuka pintu ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia yang sebelumnya belum pernah terjadi. Dengan ini, ilmu pengetahuannya menguasai seluruh dunia”.

Tujuan utama kegiatan ilmiah dan budaya Imam Shadiq a.s. adalah menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan, menguatkan keyakinan mereka terhadap Islam, mempersiapkan mereka untuk melawan arus kafir dan syubhah yang menyesatkan dan menangani segala problema yang muncul dari ulah penguasa waktu itu.

Usaha Imam Shadiq a.s. tersebut –dari satu sisi– adalah untuk melawan arus rusak akibat situasi politik yang terjadi pada masa dinasti Bani Umaiyah dan Bani Abasiyah. Penyelewengan akidah yang terjadi pada masa itu banyak difaktori oleh penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India, dan bermunculannya aliran-aliran berbahaya seperti Ghulat, kaum zindiq, pemalsu hadis, ahlur raiy dan tasawuf. Aliran-aliran inilah yang telah menyiapkan lapangan bagi tumbuhnya banyak penyelewengan saat itu. Imam Shadiq a.s. melawan mereka, dan dalam bidang keilmuan, ia mengadakan dialog terbuka dengan mereka sehingga alur pemikiran mereka diketahui oleh khalayak ramai.

Dan dari sisi lain, ia juga –dengan usahanya tang tak kenal lelah– telah berhasil menyebarkan akidah yang benar dan hukum-hukum syariat, memasyarakatkan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan para ilmuwan guna mendidik masyarakat.

Imam Shadiq a.s. menjadikan masjid Rasulullah SAWW di Madinah sebagai pusat kegiatan. Masyarakat datang berbondong-bondong  dari berbagai penjuru untuk menanyakan berbagai masalah dan mereka tidak pulang dengan tangan kosong.

Di antara “figur-figur” yang pernah menimba ilmu dari Imam Shadiq a.s. adalah Malik bin Anas, Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan Asa-Syaibani, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Yahya bin Sa’id, Ayub As-Sijistani, Syu’bah bin Hajjaj, Abdul Malik bin Juraij dan lain-lain.

Imam Shadiq a.s. memerintahkan kepada para pengikutnya untuk tidak berlindung kepada penguasa zalim dan melarang mereka untuk mengadakan kerja sama dalam bentuk apa pun dengannya. Ia juga mewasiatkan kepada mereka untuk melakukan taqiyah supaya para musuh tidak menyoroti gerak-gerik mereka.

Imam Shadiq a.s. menganjurkan kepada semua masyarakat untuk mendukung perlawanan yang dipelopori oleh Zaid bin Ali melawan dinasti Bani Umaiyah. Ketika berita kematian Zaid bin Ali sampai ke telinganya, ia sangat terpukul dan sedih. Ia memberikan santunan kepada setiap keluarga yang suaminya ikut berperang bersama Zaid bin Ali sebesar 1000 Dinar. Begitu juga, ketika pemberontakan Banil Hasan a.s. mengalami kekalahan total, ia sangat sedih dan menyayangkan ketidakikutsertaan masyarakat dalam pemberontakan tersebut. Meskipun demikian, ia enggan untuk merebut kekuasaan. Hal ini ditangguhkannya sehingga umat betul-betul siap untuk mengadakan sebuah perombakan besar-besaran, ia dapat menyetir alur pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan dapat memperbaiki realita politik dan sosial yang sudah betul-betul bobrok.

Imam Sahdiq dalam Pandangan para Tokoh

Fuqaha` dan para ilmuwan yang hidup pada masa Imam Shadiq a.s. serta mereka yang hidup sesudah itu memujinya dengan penuh keagungan dan keluasan ilmu pengetahuan. Mereka antara lain:

  1. Abu Hanifah, pemimpin dan imam mazhab Hanafiah. Ia berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih alim dari Ja’far bin Muhammad”. Dalam kesempatan lain ia juga berkata: “Jika tidak ada dua tahun (belajar kepada Ja’far bin Muhammad), niscaya Nu’man akan celaka”. Nama asli Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit.
  2. Malik, pemimpin dan imam mazhab Malikiah. Ia pernah berkata: “Beberapa waktu aku selalu pulang pergi ke rumah Ja’far bin Muhammad. Aku melihatnya selalu mengerjakan salah satu dari tiga hal berikut ini: mengerjakan shalat, berpuasa atau membaca Al Quran. Dan aku tidak pernah melihatnya ia menukil hadis tanpa wudhu`”.
  3. Ibnu Hajar Al-Haitsami berkata: “Karena ilmunya sering dinukil oleh para ilmuwan, akhirnya ia menjadi buah bibir masyarakat dan namanya dikenal di seluruh penjuru negeri. Para pakar (fiqih dan hadis) seperti Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Syu’bah dan Ayub As-Sijistani banyak menukil hadis darinya”.
  4. Abu Bahar Al-Jaahizh berkata: “Ilmu pengetahuan Ja’far bin Muhammad telah menguasai seluruh dunia. Dapat dikatakan bahwa Abu Hanifah dan Sufyan Ats-Tsauri adalah muridnya, dan hal ini cukup untuk membuktikan keagungannya”.
  5. Ibnu Khalakan, seorang sejarawan terkenal menulis: “Dia adalah salah seorang imam dua belas mazhab Imamiah dan termasuk salah seorang pembesar keluarga Rasulullah yang karena kejujurannya ia dijuluki dengan ash-shadiq. Keutamaan dan keagungannya sudah dikenal khalayak ramai sehingga tidak perlu untuk dijelaskan. Abu Musa Jabir bin Hayyan Ath-Thurthursi adalah muridnya. Ia menulis sebuah buku sebanyak seribu halaman yang berisi ajaran-ajaran Ja’far Ash-Shadiq dan memuat lima ratus pembahasan”.

Masa Imam Shadiq a.s. adalah masa melemahnya pemerintahan Bani Umaiyah dan menguatnya kekuatan Bani Abasiyah. Dua kelompok ini saling tarik-menarik kekuatan dan berperang demi merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Sejak Hisyam bin Abdul Malik berkuasa, perang politik Bani Abasiyah sudah dimulai. Pada tahun 129 H. mereka mulai mengadakan pemberontakan bersenjata, dan akhirnya, pada tahun 132 H. mereka mencapai kemenangan. Pada masa-masa itu Bani Umaiyah sedang menghadapi berbagai problema politik sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan penekanan serius terhadap Syi’ah. Bani Abasiyah pun karena mereka ingin merebut kekuasaan atas nama membela keluarga Rasulullah SAWW dan membalas dendam atas darah mereka yang sudah terteteskan, mereka tidak berani mengadakan penekanan terhadap para pengikut Ahlul Bayt a.s.

Atas dasar ini, periode tersebut adalah sebuah periode tenang bagi Imam Shadiq a.s. dan para pengikutnya meskipun sangat relatif. Ia menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya dengan memulai sebuah gebrakan kebudayaan yang tidak tanggung-tanggung. Karena ia yang berhasil menyebarkan fiqih dan ilmu Ahlul Bayt a.s. dengan pesat serta mempermantap hukum dan teologi Syi’ah, akhirnya mazhab Syi’ah dikenal dengan nama mazhab Ja’fari.

Imam Shadiq a.s. menghadapi segala aliran pemikiran dan akidah yang berkembang pada waktu itu. Dengan segala upaya ia telah menjelaskan Islam dan tasyayyu’ di hadapan mereka dan berhasil membuktikan keunggulan pemikiran Syi’ah dibandingkan dengan aliran-aliran pemikiran tersebut.

Imam Shadiq a.s. mendidik murid-muridnya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasilnya, setiap orang dari mereka memiliki spesialisasi dalam ilmu-ilmu tertentu, seperti hadis, tafsir, fiqih dan kalam.

Hisyam bin Salim bercerita bahwa pada suatu hari kami duduk di hadapan Imam Shadiq a.s. Tidak lama kemudian seseorang yang berkewarganegaraan Syam minta izin untuk masuk. Setelah ia masuk, Imam berkata kepadanya: “Duduklah! Apa yang kau inginkan?”.

Ia menjawab: “Saya mendengar bahwa engkau menjawab semua pertanyaan orang. Aku datang untuk berdebat denganmu”.

“Dalam bidang apa?”, tanya Imam kembali.

“Dalam bidang bacaan Al Quran”, jawabnya pendek.

Imam Shadiq a.s. menoleh kepada Hamran seraya berkata: “Hamran, orang ini adalah milikmu!”

Orang Syam itu kembali berkata: “Aku ingin berdebat denganmu, bukan dengan Hamran”.

“Jika engkau dapat mengalahkan Hamran, berarti engkau telah mengalahkanku”, ia menimpali.

Dengan terpaksa ia menerima untuk berdebat dengan Hamran. Setiap pertanyaan yang dilontarkan dijawab dengan tegas dan berdalil oleh Hamran hingga akhirnya ia merasa kalah dan kecapaian.

“Bagaimana engkau melihat Hamran?”, tanya Imam a.s.

“Sungguh Hamran sangat cerdik. Setiap pertanyaan yang kulontarkan, dijawabnya dengan tepat”, jawabnya.

Setelah itu ia berkata kembali: “Saya ingin berdebat denganmu berkenaan dengan bahasa dan sastra Arab”.

Imam a.s. menoleh kepada Aban bin Taghlib seraya berkata: “Berdebatlah dengannya!”

Aban pun tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengelak dan berdalih serta akhirnya ia menyerah.

“Aku ingin berdebat mengenai fiqih denganmu”, lanjutnya.

Imam a.s. menoleh kepada Zurarah seraya berkata: “Berdebatlah dengannya!” Ia pun mengalami nasib yang sama.

“Aku ingin berdebat denganmu berkenaan dengan ilmu kalam”, katanya lagi.

Imam a.s. menunjuk Mukmin Ath-Thaaq untuk melayaninya. Dan tidak lama kemudian ia pun mengalami nasib yang sama.

Begitulah seterusnya ketika ia meminta untuk berdebat berkenaan dengan masalah kemampuan (seseorang) untuk melakukan kebaikan dan keburukan, tauhid dan imamah, Imam a.s. menunjuk Hamzah Ath-Thayyar, Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Hakam untuk melayaninya. Dan mereka dapat melaksanakan tugas mereka masing-masing dengan baik.

Melihat peristiwa yang sangat menyenangkan itu Imam Shadiq a.s. tersenyum bahagia.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

“Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan  keburukan, maka beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat”.

“Jika Syi’ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya”.

“Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi  saudaranya (seiman), maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh sebagaimana garam meleleh (di dalam air)”

“Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk Syi’ah kami orang yang menzalimi orang lain”

“Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan”.

“Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh dan bersalah?”.

“Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan sebelum kalian meminta kepada-Nya”.

“Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan surga dan nerakalah yang akan kekal”.

Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`. Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlul Bayt”.

“Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau  harapkan di akhirat”.

“Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab”.

“Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan menjauhkanmu dari Allah”.

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah kalimat yang akan mempermudah segala urusannya”.

“Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu”.

“Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan (doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga”.

“Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW pernah bersabda: “Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai orang-orang miskin yang muslim”.

“Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki”.

“Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak”.

“Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan”.

“Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali ketika (kita) membutuhkan”.

Ayatullah Shafi Gulpaigani:

Imam Ja’far Shadiq Penggagas Ilmu-ilmu Modern

Ayatullah al-Uzma Shafi Gulpaigani dalam salah satu tulisannya menyatakan bahwa Imam Jaafar al-Sodiq telah mengambil kesempatan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya.

Beliau mendapat peluang emas sehingga dapat memimpin gerakan ilmu terbesar denngan mendirikan madrasah di mana para ulama termasyhur menjadi murid beliau, mengambil hadis serta ilmu dari majelis-majelis beliau.

Menurut Kantor Berita ABNA,  Ayatullah al-Uzma Shafi Gulpaigani dalam salah  satu tulisannya menyatakan bahwa Imam Jaafar al-Sodiq telah mengambil kesempatan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya. Beliau mendapat peluang emas sehingga dapat memimpin gerakan ilmu terbesar denngan mendirikan madrasah di mana para ulama termasyhur menjadi murid beliau, mengambil hadis serta ilmu dari majelis-majelis beliau.

Terjemahan tulisan Ayatullah Shafi  adalah seperti berikut:

Imam Ja’far al-Sodiq (a.s) telah meresmikan sebuah madrasah pada kurun kedua hijrah yang tiada bandingannya dalam sejarah Islam sebelum itu dan masa sesudahnya masih belum kelihatan madrasah sepertinya. Ajaran dan madrasah beliau sentiasa dicari oleh para ulama besar Ulum al-Qur’an, Fikih, Kalam, Kimia dan lain-lain.

Fikah Syiah yang tergolong dalam ribuan pasal undang-undang dan pengajaran, program ilmu dan akhlak Islam dalam berbagai masalah, (bahkan boleh dikatakan hampir semua perkara) telah terhutang budi dengan limpahan ilmu Imam Ja’afar al-Sodiq yang sulit dihitung.

Misalnya berbicara mengenai huku haji yang merupakan salah satu kewajiban Islam yang utama, mengandungi falsafah tertinggi dan nilai yang ulung dari keluasan samudera ilmu Imam Ja’far al-Sodiq (a.s). Bak kata Abu Hanifah, semua itu adalah keluarga didikan Imam Ja’far al-Sodiq (a.s) dan hadis dalam kitab Ahli Sunnah yaitu Sahih Muslim telah diriwayatkan dari beliau yang menyampaikan hampir empat ratus pasal berkenaan dengan hukum pelaksanaan haji di mana Ahlus Sunnahpun mengikuti hukum tersebut.

Memang benar, Imam Ja’far al-Sodiq telah menggunakan peluang keemasan dalam situasi politik negara-negara Islam pada masanya, sehingga beliau memimpin gerakan ilmu paling besar dan meresmikan sebuah madrasah dimana para ulama terkenal telah menjadi murid dan mengambil hadis serta ilmu beliau.

Popularitas ilmu Imam Ja’far al-Sodiq as menyebabkan para ulama dari Hijaz, Khorasan dan Sham telah belajar dari beliau dan hanya beliau saja satu-satunya jalan penyelesaian masalah ilmu dimasanya.

Apa yang perlu diberi perhatian dan diamati adalah kepempinan beliau tidak terbatas dalam ilmu pengetahuan Islam semata-mata, bahkan beliau juga memiliki ilmu pengetahuan yang lain seperti astronomi, falak, matematika, pengobatan, metafizika, kimia, biotani dan banyak lagi. Beliau turut mendidik murid-muridnya yang masyhur sehingga lestari dalam lembaran-lembaran hari ini dan menghiasi buku-buku kaum muslimin seperti Tauhid Mufdal, dan Risalah Ahlijah serta dialog-dialog beliau dengan kelompok Atheis. Semuanya menjadi saksi pernyataan ini yaitu ajaran beliau bagaikan sebuah universitas yang mana fakultas-fakultas dominannya telah diasaskan dalam berbagai ilmu. Dalam setiap ajaran dan fakultas terdapat perbahasan, pelajaran dan penyelidikan berkenaan dengan ilmu kepakaran yang sentiasa dicari dan dikejar.

Sebagai contoh, salah satu dari ilmu yang telah diajar oleh Imam Ja’far al-Sodiq kepada umat Islam adalah Kimia yang mana seorang yang pandai bernama Jabir bin Hayyan menjadi murid yang paling termasyhur dari alumni madrasah beliau. Sekiranya kita telah mengambil manfaat dari tokoh yang belajar dengan Imam ke-enam ini dan menitik beratkan beberapa ilmu lain yang menjadi keperluan masyarakat yang berperadaban dan maju, maka hari ini di lapangan materilistik, kita tidak akan memerlukan Barat, Eropa dan Amerika, walau apapun yang mereka miliki. Kemajuan yang dicapai Barat, prinsip-prinsip tertingginya adalah hasil dari usaha ulama-ulama Islam.

Murid tersebut mempunyai kepakaran dalam kebanyakan ilmu pengetahuan Islam, perobatan, astronomi, falak, alam sekitar, matematika, kimia, falsafah, mantik, akhlak, sejarah, sastera, syair, vaterinar, botani, pembuatan senjata dan lain-lain lagi.

Homu merupakan orang pertama yang menggunakan neraca sebagai pengalaman ilmu dan menentukan kadar sesuatu benda dalam setiap eksprimennya. Beliau dapat mengukur jarim kecil yang tidak dapat ditimbang secara tepat di masanya melainkan sekedar menebak. Selepas enam ratus tahun, ahli kimia di Barat sudah menggunakan neraca dalam eksperimen masing-masing.

Setelah 10 kurun cendekiawan tersebut berterus terang dalam bukunya yang berjudul “al-ma’rifah bi al-sifat al-ilahiyah wal hikmah al-falsafah” bahwa pandangan masyhur ahli fizika, kimia dan ilmu alam sekitar Inggris, John Dalton mengenai ‘penyatuan antara dua unsur’ dalam kitabnya adalah karena jasa Jabir bin Hayyan, bukannya John Dalton.

Memang benar, setiap seorang dari murid ajaran ini hanyalah menunjukkan keagungan tanpa batas aliran ini. Walau bagaimanapun sekolah pemikiran dan universitas besar ini, bukan saja para tokoh Syiah saja yang mengaku secara terus terang mengenai ketinggian ilmu Imam Ja’far as, malah para tokoh dari aliran Ahli Sunnah seperti Abu Hanifah berkata:

مَا رَأَيتُ أفقَه مِنْ جَعْفَر بْنِ مُحَمَّد؛

Aku tidak melihat orang yang lebih berpengetahuan dan memahami daripada Ja’far bin Muhammad.

Ataupun Najashi di dalam kitab rijalnya menukil dari Ahmad bin Isa Asha’ari yang berkata, “Aku pergi ke Kufah untuk menuntut ilmu dan di sana aku menemui Hasan bin Ali Wassha. Aku berkata kepadanya, “Berikan kepadaku kitab Ala bin Zarrin dan Aban bin Uthman Ahmar supaya aku dapat menyalinnya. Beliau memberikan kedua-dua kitab tersebut dan aku berkata, “Izinkan aku meriwayatkannya.” Jawab beliau, “Semoga Allah merahmatimu, betapa tergesa-gesanya engkau, bawakan ia pergi dan tulislah, kemudian bawa ke mari dan bacakan supaya aku mendengarnya, ketika itu aku akan memberikan izin.”

Aku berkata, “Aku tidak pasti dapat mengingatnya.”

Jawab Hasan bin Wassha, “Aneh! Sekiranya aku tahu bahwa terdapat pemburu hadis seperti ini, maka aku akan mengumpul dengan lebih banyak. Aku kenal 900 sheikh di masjid Kufah dan semua berkata, “Telah diriwayatkan daripada Imam Ja’far al-Sodiq.”

Madrasah dan universitas besar apakah ini sehingga para muwaqif dan mukhalif merasa heran dan sepanjang sejarah menunjukkan Nabi saw telah besabda berkali-kali bahwa, “Itrahku dan Ahlul Baitku; mempunyai kedudukan, ilmu dan derajat ini, namun sayangnya percaturan politik justru meninggalkan rujukan Ahlul Bait as sehingga sampai ke tahap al-Bukhari tidak menukilkan satu pun hadis dari Imam Ja’far al-Sodiq (a.s) sebagaimana kata penyair:

قَــــضِیــةٌ أشْـــبَهَ بِالمرْزِئَــةِ * هــذا البُخــاری إمــامُ الفِــئَـةِ بِالصَّادِقِ الــصِّدِّیقِ مـــا إحـتجَ فی * صَــحیــحِهِ وَ احــتـجّ بِـالمرجِئَة إنَّ الإمَــــامَ الصَّادِقَ المجْـــتَـبى * بِــفَــضْلِهِ الآی أتَــت منـــبئة أجَـلّ مِنْ فی عَـــــصْرِه رُتْـــبَة * لم یقْـــتَرِفْ فی عُــــمْرِه سَــیئَة قَــــلامة مِـــنْ ظــفـر إبهَـامِه * تَعْـــدِلُ مِنْ مِثْـــلِ البُخاری مِـئَة

Khazanah yang amat bernilai ini perlu diambil tahu dan semua orang menuntut ilmu dalam universitas besar ini. Dalam hari-hari peringatan kesyahidan Imam as, orang banyak hendaklah bergabung dalam majelis kedukaan dengan segala keluh kesah serta membesarkan dan menghormatinya.

Wahabi menghancurkan dan meratakan tanah makam keluarga Nabi Saw dan para sahabat di pemakaman Baqi, Madinah

Pada tanggal 8 Syawal 1344 Hijriyah (1926 M), Wahabi menghancurkan dan meratakan tanah makam keluarga Nabi Saw dan para sahabat di pemakaman Baqi, Madinah. Peristiwa itu melukai perasaan ratusan juta Muslim pecinta Ahlul Bait Nabi Saw di seluruh dunia.

Dewasa ini tidak banyak warisan budaya Islam yang tersisa di wilayah Hijaz. Padahal begitu banyak peninggalan berharga yang berada di daerah itu, terutama berkaitan dengan jejak awal kedatangan Islam. Tapi fanatisme Wahabi menyebabkan berbagai warisan budaya itu nyaris tanpa bekas. Contoh paling jelas adalah pemakaman Baqi. Padahal ini adalah buku besar sejarah umat Islam dunia. Betapa tidak, pemakaman Baqi bukan hanya sebuah kuburan semata. Tapi lebih dari itu merupakan warisan sejarah Islam yang perlu dilestarikan dari generasi ke generasi Muslim. Di pemakaman Baqi pula dikebumikan empat Ahlul Bait Rasulullah Saw. Tidak hanya itu, para istri Nabi Muhammad Saw dan sejumlah sahabat serta tabiin Rasulullah yang diperkirakan mencapai 10 ribu orang juga dimakamkan di sekitarnya. Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah Saw atas perintah Allah swt berada di sekitar tanah yang menjadi pemakaman Baqi dan menyampaikan salam serta mendoakan mereka.

Sejak dinasti Saud menguasai Hijaz, Wahabi melakukan penghancuran berbagai warisan budaya Islam, termasuk merusak pemakaman Baqi. Pada tanggal 8 Syawal 1344 Hijriyah (1926 M), Wahabi menghancurkan dan meratakan tanah makam keluarga Nabi Saw dan para sahabat di pemakaman Baqi, Madinah. Peristiwa itu melukai perasaan ratusan juta Muslim pecinta Ahlul Bait Nabi Saw di seluruh dunia.

Wahabi tidak hanya menghancurkan makam keluarga Nabi, tapi juga seluruh warisan bersejarah di Kota Mekah dan Madinah, yang merupakan bukti otentik keagungan Islam. Padahal, semua agama dan peradaban berusaha melindungi peninggalan-peninggalan sejarah mereka sebagai sebuah identitas meski harus mengeluarkan biaya besar. Akan tetapi, Wahabi justru menghancurkan warisan-warisan penting sejarah dan peradaban Islam dengan tindakan-tindakan yang tidak rasional dan memalukan. Mereka membuat dunia Islam kehilangan mutiara berharga dan dampak kerugiannya tidak akan pernah bisa ditebus dengan apapun.

Pada abad ke-12 Hijriyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan dukungan Dinasti Saudi mempromosikan pemikiran Ibnu Taimiyyah, dan menganggap ibadah murni Islam seperti, ziarah kubur, tawassul kepada para auliya, dan berdoa di kuburan sebagai perbuatan syirik. Muhammad ibn Saud dengan pendukungnya menyerang berbagai wilayah untuk meneror masyarakat agar mengikuti paham Wahabi. Pada masa itu, mereka melakukan aksi perusakan besar-besaran dan pembantaian luas dalam lembaran hitam sejarah Wahabi.

Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan pemikiran sesatnya mengharamkan ziarah kubur dan membuka jalan bagi penghancuran makam dan situs-situs suci lainnya. Namun, dosa-dosanya tidak berakhir di situ, ia juga mencap kafir dan halal untuk dibunuh orang-orang yang menentang paham Wahabi. Jika membaca fakta sejarah, Rasul Saw sendiri melakukan ziarah kubur, khususnya makam ibunya Sayidah Aminah dan menangis di samping pusaranya. (Al Mustadrak, Juz 1, Hal 357. Tarikh al-Madinah, Juz 1, Hal 118)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Ziarahilah kubur, karena ia dapat mengingatkan kamu kepada akhirat.” Di hadis lain, beliau bersabda, “Ziarahilah kuburan karena di sana kalian akan memperoleh pelajaran.” Dengan berziarah orang akan menyadari kelemahan diri serta tidak kekalnya kekuatan dan kekuasaan materi yang ia miliki. Dengan melihat kubur, seorang Muslim akan cepat menyadari bahwa ia tidak semestinya menyia-nyiakan kehidupan dunia yang fana ini dengan kelalaian. Dia mesti membangun kehidupan akhirat dan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di alam baka nanti.

Perusakan makam keluarga Nabi Saw di Baqi terjadi dua kali dalam sejarah kelam Wahabi. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1221 Hijriyah setelah runtuhnya pemerintahan pertama Saudi oleh Dinasti Usmaniyah. Setelah 1,5 tahun pengepungan, mereka berhasil menaklukkan Kota Madinah dan kemudian menjarah peninggalan-peninggalan berharga di Makam Nabi Saw dan merusak pemakaman Baqi. Setelah kejadian itu, Muslim Syiah dan Sunni sepakat untuk merekonstruksi tempat-tempat yang dirusak oleh Wahabi.

Peristiwa kedua terjadi pada tanggal 8 Syawal 1344 Hijriyah oleh kelompok Wahabi Arab Saudi. Seorang ulama Wahabi, Ibnu Qayyim al-Jauzi mengatakan, “Penghancuran bangunan yang didirikan di atas kubur adalah keharusan yang tidak boleh ditunda meskipun hanya untuk satu hari.” Fatwa ini kemudian diimplementasikan dalam bentuk aksi-aksi brutal oleh pengikut Wahabi. Setiap kali menyerang tempat-tempat suci, kelompok Wahabi selalu melakukan penghancuran situs-situs penting yang dihormati oleh umat Islam. Salah satu tindakan paling biadab yang mereka lakukan adalah penghancuran makam keluarga Nabi Saw dan para sahabat di pemakaman Baqi.

Dalam serangan ke Madinah, Wahabi membongkar dan menjarah pagar baja yang memagari makam-makam keturunan Nabi Saw yaitu, Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as, Imam Jakfar Shadiq as, dan Imam Muhammad al-Baqir as. Tidak hanya itu, Wahabi juga meratakan dengan tanah semua kuburan yang ada di Baqi termasuk, makam ayah Nabi, Abdullah dan makam putra beliau, Ibrahim. Umat Islam mengenang peristiwa memilukan ini sebagai “Yaum al-Hadm” atau Hari Penghancuran.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, Wahabi Saudi telah berkali-kali berusaha merusak makam Nabi Saw, yang menuai reaksi keras Muslim dunia. Kelompok Internasional Warisan Sejarah Hijaz yang bermarkas di London, mengumumkan bahwa peninggalan Rasul Saw, para sahabat, dan tabiin di Arab Saudi hanya tersisa lima persen. Dengan kata lain, kelompok Wahabi hingga sekarang telah memusnahkan 95 persen dari peninggalan-peninggalan Islam di Kota Makkah dan Madinah. Anehnya, peninggalan-peninggalan Yahudi dan Nasrani di Arab Saudi malah tidak disentuh oleh Wahabi.

Situs-situs bersejarah Islam adalah bukti akan kebenaran risalah kenabian yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Jika warisan-warisan bersejarah itu dilestarikan, umat Islam bisa dengan bangga mengatakan kepada dunia, inilah rumah sederhana tempat Nabi Saw dulu tinggal bersama keluarganya. Sayangnya, kelompok Wahabi tidak lagi menyisakan situs bersejarah itu dan tidak menghormatinya. Padahal, sebelum munculnya aliran Wahabi, umat Islam berlomba-lomba menjaga dan melestarikan apa saja yang berhubungan dengan Nabi Saw dan para auliya Ilahi. Sekarang dari semua benda yang sangat bernilai itu, hanya sedikit yang masih tersisa.

Kini sepak terjang Wahabi Saudi diikuti oleh para pendukungnya di berbagai negara dunia. Kelompok takfiri menghancurkan berbagai warisan budaya dan peradaban Islam di sejumlah negara Muslim seperti Suriah, Libya dan Irak. Tidak hanya itu, mereka juga merusak makam Nabi dan para sahabat Rasulullah Saw. Dengan pemikiran fanatismenya yang buta, kelompok takfiri saat ini berupaya membumihanguskan makam Ahlul Bait Rasulullah Saw seperti makam Imam Ali bin Abu Thalib di Najaf, makam Imam Husein di Karbala dan makam Sayidah Zainab di Suriah. Tapi kelompok takfiri itu lupa, umat Islam yang mencintai Ahlul Bait Rasulullah swt tidak akan membiarkan sepak terjang mereka menghancurkan makam orang-orang suci yang berada dalam hati setiap Muslim.

Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah

Pertemuan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di Qom Iran

Pertemuan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di Qom Iran

Pertemuan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di Qom Iran

Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas.

Ayatullah Sayyid Milani Mengatakan bahwa Alquran adalah penjelas segala sesuatu dan juga penjelas bagi dirinya (quran). Ayatullah Ja’far Subhani mengatakan Alquran adalah asas bagi syariat Islam, dan sunnah nabawiah yang menjadi qarinah baginya, Alquran adalah cahaya yang jelas untuk dirinya dan menerangi selainnya dan Alquran seperti Matahari yang menyinari sekelilingnya. Allah SWT berfirman didalam surat Al-Isra 9 :

إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدي لِلَّتي‏ هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنينَ الَّذينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبيراً

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka memiliki pahala yang besar.

Allah berfirman didalam surat Annahl ayat 89:

وَ نَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ وَ هُدىً وَ رَحْمَةً وَ بُشْرى‏ لِلْمُسْلِمينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan juga secara jelas Allah menjadikan Quran sebagai pembeda antara Haq dan Bathil surat Al-Furqan ayat pertama:

تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى‏ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمينَ نَذيراً

Maha Agung nan Abadi Dzat yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas, berikut ini penjelasan dan pengenalan mengenai apa itu tahrif dan penjelasan ulama syiah dalam menolak keberadaan tahrif didalam Alquran.

A. Makna Takhrif dan Pembagiannya

Tahrif secara lughawi : Tafsirulkalam ‘alagheiri wajhin /harrafa assyai ‘an wajhi (menyelewengkan sesuatu pada arah tertentu) Seperti dalam al-Qur’an ayat Annisa : 46

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَواضِعِهِ

Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya

Attabarsi mengatakan : Yufassiruunaha ‘ala gheiri ma unzilat ( menafsirkan sesuatu selain apa yang diturunkan)

Secara Istilah ada beberapa bentuk dalam memahami tahrif :

Tahrif maknawi : tahrif madlul kalam atau yufassiru ‘ala wajhin yuwafiqu ra’yu almufassir sawaun awafiqu alwaqi’ am la ( menafsirkan pada bentuk tertentu yang sesuai dengan Ra’yu mufassir baik itu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak) .

Bentuk tahrif ini banyak dilakukan oleh sebagian mufassir sehingga jauh dari makna yang sebenarnya. Mazhab Syiah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan ayat tidak sendiri atau tidak telanjang tanpa penjelasan, akan tetapi berikut takwil dan tafsir ayat tersebut secara terperinci, seperti didalam hadits dan qaul para ulama Syiah. Sehingga seperti yang dikatakan Syeikh Mufid bahwa tangan-tangan orang dzalim inilah yang hendak menghapus dan menyembunyikan keterangan yang jelas berupa tafsir dan takwil alquran tersebut, bukan menghilangkan ayat Alquran, tetapi penjelasannya.

Tahrif Qira’ah:

Perubahan Harakat , huruf dengan masih terjaga keutuhan Quran , seperti membaca Yathhuran atau yathhuranna , yang satu menggunakan nun khafifah yang lain menggunakan tsaqilah.

Perubahan Lahjah/dialek , seperti lahjah Hijaz berbeda dengan lahjah iraq dan iran bahkan dengan libanon dan di daerah sekitarnya, semisal : Qaf , sebagian mengucapkan dengan Gaf.

Tahrif Perubahan Kata:

Seperti kata “asra’u” dengan “Amdhu” , dan “Alhakim” dengan “Al’adil” Tahrif seperti ini tidak terjadi di dalam Alquran. Walaupun sebagian hadits didalam mazhab Suni menceritakan perubahan itu.

Tahrif penambahan, pengurangan kalimat dan ayat:

Tahrif sejenis inipun tidak terjadi didalam Alquran, walaupun ada keterangan hadits dhaif baik itu dalam literatur mazhab Suni ataupun Syiah. tahrif perubahan kata dan penambahan serta pengurangan kalimat atau ayat inilah yang akan dibahas pada pembahasan kita kali ini.

Dalil Ketiadaan Tahrif Al-Qur’an

a) Dalil dari ayat Alquran

  1. Ayat al Hifdz

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Alquran.

Dan dilam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Alquran itu sendiri.

  1. Ayat Nafi al Bathil

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيزٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Alquran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran. Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Alquran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Alquran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Alquran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

  1. Ayat Jam’ul Qur’an dan Qiraatnya

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah Bahwa Wahyu itu bukan hanya Ayat alquran yang ada di tangan kita tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada nabi saww yang bukan termasuk ayat seperti Alquran yang ada pada tangan kita, sehingga dalam hal ini Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam Qurannnya yang makruf dikenal sebagai Quran Ali yang diperintahkan oleh Rasulullah saww. Sehingga banyak yang keliru memahami Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi bukan ayat seperti yang ada didepan kita, tetapi ayat-ayat penjelasan secara terperinci, meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang dinamakan didalam sebagai riwayat sebagai ayat sehingga berjumlah 17000 ayat. Tetapi bukanlah ayat Alquran secara asas, hanya ayat penjelasan, tafsir, takwilnya.

b). Dalil riwayat dari orang-orang Maksum as

  1. Hadits Ghadir

Semisal dalam kitab Alihtijaj 1/60 Syeikh Attabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه، فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه، وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang makruf pada tanggal 18 Julhijjah

Nabi saww bersabda : Wahai kaum manusia sekalian, pelajarilah Alquran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamah janganlah mengikuti yang mutasyabihah, dan Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali aku yang mengangkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang menunjukkan kamu sesungguhnya barangsiapa yang Aku Maulanya maka ali Maulanya juga dan dia Ali ibn Abi thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits fauqu mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamah bukan mutasyabihah melazimkan bahwa Alquran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

  1. Hadits Tsaqalain

Hadits Ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua pusaka yang berat yang pertama Kitabullah dan kedua itrati Ahlulbaiti , yang berpegangteguh padanya maka tidak akan tersesatkan selama-lamanya setelahku…

Keterangan :

- Perintah Tamassuk (berpegang teguh) adalah far’u (bagian) dari wujud Alquran di tangan almutamassikin (orang yang berpegang teguh), jadi sesuatu yang mustahil perintah berpegang teguh kepada Quran yang tidak wujud atau tidak diyakini keutuhannya dari kurang atau lebihnya ayat atau surat dalam Alquran.

  1. Hadits yang menjelaskan bahwa Qur’an kuat rukunnya

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan kitabullah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

  1. Hadits Perintah untuk merujuk kepada al-Qur’an

Perintah untuk merujuk pada quran ,dan hadits yang sesuai dengannya telah dipakai dan yang tidak sesuai dengan quran harus ditinggalkan, merupakan bukti yang sangat jelas tentang ketiadaan tahrif dalam alquran. Hal ini melazimkan Alquran sebagai pokok asas untuk merujuk, dan asas melazimkan keaslian dan keutuhannya, Karena bagaimana mungkin memerintahkan untuk merujuk kepada Quran sedangkan yang menjadi sumber nya diragukan keasliaannya, hal ini mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata : dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda : Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya dari segala hal yang benar adalah sebuah hakikah kebenaran, dan dari segala pahala adalah cahaya, dan apa-apa yang sesuai dengan kitabullah maka ambillah dan yang bertolak belakang dengan kitabullah tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

“Perkataan Imam As-Sâdiq as : Jikalau datang kepadamu dua hadits yang berbeda maka rujuklah kepada kitabullah , mana yang sesuai dengan Quran maka ambillah dan yang tidak sesuai tolaklah”.

Isi dari hadits tersebut tidak lain dari perintah merujuk kepada Alquran maka hadits yang tidak sesuai dengan Quran maka tinggalkanlah dan yang sesuai ambillah, bahkan ditegaskan bahwa yang sesuai dengan Quran itu dariku (Maksumin as) dan yang tidak sesuai itu bukan dariku.

Hadits semodel ini banyak di dalam literatur Syiah, saya menuliskan sebagian hanya sebagai sebuah gambaran saja.

  1. Anjuran Imam Maksum as untuk mengkhatamkan Qur’an

من ختم القرآن بمكة من جمعة إلى جمعة و أقل من ذلك ، و خنمه في يوم الجمعة، كتب الله له الأجر و الحسنات من أوّل جمعة كانت إلى آخر جمعة تكون فيها، و إن ختم في سائر الأيام فكذلك.

Imam Baqir as berkata : Barangsiapa yang mengkhatam Alquran di Mekkah dari hari Jumat ke hari Jumat lagi atau lebih sedikit dari itu, dan mengkhatamnya di hari Jumat, Allah SWT menuliskannya pahala (yang banyak) dan kebaikan ( yang berlimpah) dari awal jum’at sampai akhir Jum’at. Dan yang mengkhatam di hari lainnyapun seperti demikian (pahalanya) juga.

Khatam Quran menunjukkan Alquran telah ada dan terkumpul seperti yang ada sekarang. Karena Khatam melazimkan membaca dari awalnya sampai akhirnya, karena kalau adanya tahrif berupa kurang ayat maka tidak bisa dikatakan “khatam” kalau dikatakan adanya penambahan ayat, maka tidak ada wujudnya dan yang wujud di tangan syiah dari zaman Imam Ali as ataupun di zaman Imam Baqir as sekalipun sama dengan muslimin lainnya, lalu bagaimana bisa dikatakan adanya tahrif kurang dan tambah di dalam mazhab Syiah?

  1. Dalil kitab yang ada ditangan kaum muslimin sudah lengkap

كتاب ربكم فيكم، مبيناً حلالح و حرامه و فرائضه و فضائله و ناسخه و منسوخه….

Kitab yang ada di tanganmu (kaum Muslim), penjelas halal dan haramnya , fardhu dan fadhailnya, nasikh dan mansukhnya…

Menjelaskan kesempurnaan alquran yang ada di tangan muslimin

(Nahjulbalaghah , khutbah 1:23)

  1. Surat Imam Ridha as

Perlu kita ketahui bahwa Imam Ridha as adalah Imam ke delapan di zaman kekhalifahan zalim Abbasiah Al-makmun yang bukan syiahnya.

وأن جميع ما جاء به محمد بن الله هو الحق المبين والتصديق به وبجميع من مضى قبله من رسل الله وأنبيائه وحججه والتصديق بكتابه الصادق العزيز الذي (لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل حكيم حميد) وأنه المهيمن على الكتب كلها، وأنه حق من فاتحته إلى خاتمته نؤمن بمحكمه ومتشابهه وخاصه وعامه ووعده ووعيده وناسخه ومنسوخه وقصصه وأخباره لا يقدر أحد من المخلوقين، أن يأتي بمثله وأن الدليل بعده والحجة على المؤمنين

Imam Ridha as berkata : Sesungguhnya Jami’ (seluruh) apa yang diturunkan Muhammad ibn abdillah adalah Haqqul mubin, dan membenarkan dengannya seluruh (kitab ) sebelumnya dari utusan Allah SWT dan para nabi-Nya, dan yang menjadi hujjah (keasliannya) dan membenarkannya adalah Kitabullah Assadiq alaziz ayat- Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Hujjah ayat tersebut menjaga seluruh kitab ( quran) seluruhnya (kandungannya), dan Alquran benar dari mulai Fatihahnya sampai akhirnya , kami mengimani Almuhkamah dan mutasyabihah, alkhashah dan ‘amah , janji dan ancamannya, nasikh dan mansukhnya, kisah dan akhbarnya, tidak ada seorangpun dari makhluk yang mampu membuat sepertinya, dan dalil setelahnya serta Hujjah bagi orang Mukmin.

-sangat jelas pernyataan Imam Ridha as membenarkan Quran yang ada di tangan Makmun yang bukan syiahnya.

  1. Peintah mengumpulkan Qur’an di masa Nabi Saw

Perlu diketahui para Ulama syiah dengan analisa yang terperinci dan detail berkesimpulan bahwa Quran telah tersusun di jaman Nabi saww seperti sekarang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan hal itu, baik itu di dalam kitab-kitab mazhab Syiah ataupun Suni. Dan yang setelahnya adalah ikhtilaf dalam masalah qiraah, seperti yang dilakukan penyatuan qiraah di zaman Utsman bin Affan – jadi Khalifah Utsman bukanlah menyusun al-quran tetapi menyatukan qiraahnya dan kesepakatan tulisan dalam huruf seperti titik dan harakat, sebagian berpendapat urutan suratnya-,walaupun setelahnya masih terjadi perbedaan yang mencapai qiraah tujuh sebagian mengatakan sampai sepuluh.

علي بن الحسين، عن أحمد بن أبي عبد الله، عن علي بن الحكم عن سيف، عن

أبي بكر الحضرمي، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن رسول الله صلى الله عليه

وآله قال لعلي: يا علي القرآن خلف فراشي في المصحف والحرير والقراطيس فخذوه واجمعوه ولا تضيعوه كما ضيعت اليهود التوراة، فانطلق علي فجمعه في ثوب أصفر، ثم ختم عليه في بيته ….dari Abi Abdillah as, Rasul saww bersabda kepada Ali as : Wahai Ali Alquran yang ada dibalik tilam/kasur, didalam mushhaf dan kain serta kertas, ambillah dan kumpulkanlah janganlah kau telantarkannya /menghilangkannya seperti orang-orang Yahudi menelantarkan/menghilangkan tauratnya, maka bersegeralah Ali untuk mengumpulkannya dan menyusunnya di dalam kain yang kuat (dijilid) yang kuning, kemudian menyelesaikannya di rumahnya. (Alamah majlisi -Biharulanwar 89/48)

Penyusunan dan pengumpulan Quran di zaman rasulullah saww banyak tertulis di dalam kitab rujukan umat Islam, sebagian dari hadits Suni seperti yang dinukil Al-khawarizmi di dalam kitab Al-manaqib dari Ali ibn Ribah sesungguhnya Ali ibn Abi thalib as dan ibn Ka’ab mengumpulkan dan menyusun Alquran Alkarim di zaman rasulullah saww.

c). Pernyataan para ulama Syiah Syeikh Shaduq (wafat-318 H)

Kitab Ali’tiqad 59-60

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب “

Keyakinan Kami bahwa Quran yang diturunkan Allah kepada nabinya Muhammad saww dan quran itu diantara dua sisi, dan dia yang ada di tangan manusia (sekarang) yang tidak ada lebih dari hal itu yaitu yang berjumlah 114 surat, dan di kita(syiah) , surat dhuha dan alam nasyrah dianggap satu surah, dan alilaf dengan alam tara kaifa dianggap satu surah, dan yang menuduh kita lebih dari demikian maka hal itu bohong.

Syeikh Mufid ( wafat 413 H)

Kitab Awailul Almaqalat , hal 54 – 56

وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..) الخ .. لتعلم مدى كذبه ودجله

Dan berkata ulama Jamaah dari Ahli Imamah (Syiah) : bahwa sesungghunya Quran tidak ada kurang dari kalimat dan tidak pula dari ayat dan tidak pula dari surah ….sampai kamu tahu siapa yang membohonginya dan menipunya. (orang yang mengatakan adanya tahrif)

Syeikh Murtadha ( wafat 436 H)

Risalah aljwabiah alula

لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو

منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه

الآن ..)

… Sesungguhnya Quran sebuah mukjizah , yang meliputi ilmu-ilmu Syar’iyyah dan Ahkam diniyyah, dan Ulama Muslimin telah banyak menghapalnya dan menjaganya sampai dimana mereka mengetahui segala kekeliruan ( kalau terjadi) didalamnya pada i’rabnya dan bacaannya, dan bagaimana bisa Quran itu terdapat perubahan atau kekurangan sedangkan banyak yang menjaganya dan menghapalnya dengan sangat banyaknya , maka dia berkata : sesungguhnya Quran di zaman rasulullah saww telah terkumpul , ditulis seperti sekarang ini.

Syeikh Thaifah -Syeikh Thusi ( 460 H)-syeikh thaifah adalah ulama ijma’ yang penting didalam mazhab Syiah.

Albayan fi tafsir Quran juz 1 hal 3

أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه

مجمع على بطلانها’

Dan pernyataan dalam ziadah ( lebih ) dan kurang dari quran tidak layak karena kelebihan (ziadah) adalah secara sepakat merupakan sebuah kebathilan.

Syeikh Tabarsi (548 H)

(اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .

Ziadah (kelebihan) dan kekurangan ayat (didalam Alquran) secara ijma adalah bathil maka yang betul dalam mazhab Imamiah (syiah) adalah tidak sependapat dengannya (dengan kekurangan dan kelebihan)

( Majma Al-bayan juz 1 hal 15) Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H)

إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف

Sesungguhnya pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif Quran ( Sa’du AsSu’ud 144) Alamah Hilli (728 H)

جعل القول بالتحريف متنافياً مع ضرورة تواتر القرآن بين المسلمين

Anggapan Tahrif berlawanan dengan dharuriyat tawatur Alquran diantara muslimin

( Ajwibah Al-Masail Al-Muhawiah 121) Almaula Muhaqiq Ahmad Ardabili (993 H)

جعل العلم بنفي التحريف ضرورياً من المذهب .

Telah sampai tinggkatan al-‘ilm (qath’i) terhadap penafian tahrif adalah kedaruriatan Mazhab (syiah)

(Majma Alfaidah jilid 2 hal 218) Sayyid Nurullah Tastari Al-Mustasyhid (1029 H)

ما نسب الى الشيعة الامامية من القول بوقوع التغيير في القرآن ليس مما قال به جمهور الامامية’ انما قال به شرذمة قليلة منهم لااعتداد بهم فيما بينهم

Barangsiapa yang menisbatkan kepada syiah mengenai pendapat adanya perubahan dalam Quran bukanlah pendapat Jumhur Imamiah (syiah) ,mereka yang mengatakan perubahan hanyalah segolongan kecil dari mereka dikarenakan keyakinan mereka dengan apa yang ada diantara mereka ( Akhbariun)

(Kitab Mashaib An-Nashaib atau Al-Ala’ Arrahman 1/25) Al-Maula Muhaddits Muhammad ibn Hasan Feidz Al-kasyani (1090 H)

: (على هذا لم يبق لنا اعتماد بالنص الموجود’ وقد قال تعالى :{ وَاِنهُ لكتاب عَزيز لا يَأتيهِ الباطل من بين يديه ولا من خَلفه} وقال :{ وإنا نَحنُ نَزلنَا الذِكرَ وإنا لهُ لَحافِظون}. وأيضاً يتنافى مع روايات العرض على القرآن . فما دل على وقوع التحريف مخالف لكتاب الله وتكذيب له فيجب رده والحكم بفساده أو تأويله .

Setelah meriwayatkan sebuah hadits mengenai tahrif…. terhadap hal itu tidak ada bagi kita keyakinan (taharif) dikarenakan adanya nash Quran, Allah berfirman :

sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya

dan firman allah Ta’ala :

Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kamilah yang menjaganya.

Dan juga berlawanan dengan riwayat-riwayat mengenai Quran , oleh sebab hadits apa saja saja yang menunjukkan tahrif quran berlawanan dengan Kitabullah dan merupakan suatu kedustaan dan maka wajib bagi kita untuk menolaknya dan menghukuminya dengan kefasidan, atau dengan menak’wilnya.

(tafsir Shâfi jilid 1 hal 33)

Syeikh Muhammad Ibn Hasan Hurr Al-Amili (1104 H)

: إن من تتبع الاخبار وتفحص التواريخ والآثار علم -علماً قطعياً- بأن القرآن قد بلغ أعلى درجات التواتر’ وأن آلآلف الصحابة كانوا يحفظونه ويتلونه’ وأنه كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً

Sesungguhnya barangsiapa yang menelusuri akhbar (rwiayat) dan meneliti Tarikh , dan atsar , telah diketahui – dengan ilmu Qath’i-sesungguhnya Quran telah mencapai yang paling tinggi derajatnya pada tingkatan mutawatir dan ribuan dari shahabat menghapal quran dan membacanya dan hal itu pada zaman rasulullah saww telah terkumpul dan tertulis quran tersebut ( Al-fushul Al-Muhimmah fi ta’lif Al-Ummah hal 166) Syeikh Ja’far kabir Kasyiful Ghitha (1228 H)

كذلك جعله من ضرورة المذهب بل الدين واجماع المسلمن واخبار النبي والأئمة الطاهرين .

…oleh sebab itu menjadikannya (penolakan tahrif) dari daruriat Mazhab (syiah) bahkan agama (Islam umumnya) dan Ijma Muslimin serta Akhbar dari Nabi saww dan Imam suci as.

( Kasyifulghtha , kitabulquran min Ashalat hal 298)

Syeikh Muhammad ibn Husein Kasyiful ghitha ( 1373 H)

جعل رفض احتمال التحريف أصلاً من اصول المذهب .اصل الشيعة واصولها

Penolakan terhadap kemungkinan Tahrif adalah bagian dari Ushul Mazhab , hal itu merupakan keaslian Syiah dan ushulnya.

Dan masih banyak lagi pernyataan ulama mutaqaddimin (terdahulu) ….

Ulama Mutaakkhirin sudah jelas dengan ijma’ nya menolak tahrif quran diantaranya :

Sayyid Khui

إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل

(sesungguhnya yang beranggapan adanya tahrif maka berlawanan dengan kebadihiahan aqal ) (Al-Bayan fi tafsir Al-quran : 220)

Imam Khumaeni

…والآن وبعد أن أصبحت صورته الكتبية في متناولنا بعد أن نزلت بلسان الوحي على مراحل ومراتب من دون زيادة أو نقصان وحتى لو حرف واحد.

Dan sekarang setelah menjadi bentuk secara kitabiah dan kita menerimanya setelah turun dengan lisan wahyu para tahapan dan susunan tanpa adanya lebih dan kurang walalupun satu huruf pun. Alquran annaql akbar 1/66 dan puluhan para maraji mutaakhirin dalam kitabnya dan fatwanya masing-masing.

Kesimpulan : Alquran merupakan Kitab Tsiql Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya Dengan dalil yang mutawatir dan kuat Alquran yang sekarang sama dengan di zaman nabi saww, bahkan ditegaskan bahwa Alquran telah tersusun dan terkumpul sejak zaman Nabi saw. Hadits-hadits yang mengandung tahrif adalah hadits dhaif (lemah) dan sangat jarang. Hadits-hadits lemah tersebut terdapat didalam litelatur Suni dan Syiah dan para ulama telah sepakat dalam penolakan hadits tersebut. Hadits-hadits yang mengandung tahrif bertolak belakang dengan dhahir kitab Alquran Quran Ali bukanlah quran yang berbeda dengan Quran yang ada ditangan muslimin sekarang, akan tetapi perbedaan terletak pada adanya keterangan penjelasan, takwil dan tafsir didalam Quran Ali. Alquran syiah sama dengan alquran muslimin umumnya.

Novel Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai (novel ke 7 ferizal)

Novel Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai (novel ke 7 ferizal)

Cara Beli Novel ferizal
SMS ke: “081907820606″ atau “081945990097″ dengan format: “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Pemesanan”

.
http://mentawaisurftrip.files.wordpress.com/2010/08/mentawai-surfcamp-81.jpg?w=620
.
Judul Novel ke 7 : “Laskar PDGI Bali Pelangi Mentawai”
Harga : Rp 35.000,-
Penulis : Ferizal
ISBN : 978-602-1203-49-1

.

Cara beli : SMS ke 081907820606
dengan format “Judul Buku-Nama-Alamat-Jumlah Order”

.

Sinopsis:

Beberapa orang Dokter Gigi—Drg. Ferizal, Drg. Dairiana, Drg. Hantayudha, Drg. Made, dan Drg. Sukraeni—secara tidak sengaja harus menghadapi berbagai pertempuran berdarah di Bali, melawan teroris pimpinan Dokter Masta. Kisah laga ini, dengan latar belakang keindahan Pulau Dewata Bali dan Kepulauan Mentawai.

Drg. Ferizal bersumpah terus berjuang selamanya. Tidak akan pernah menyerah memperjuangkan program Kesgilut (Kesehatan Gigi dan Mulut), sampai waktu berakhir ketika tutup usia. Drg. Ferizal, seorang kesatria yang mengibarkan panji-panji kejayaan kesehatan gigi dan mulut, dan tidak sudi profesi Dokter Gigi dianaktirikan.

Ketika tengah berjuang demi eksistensi profesi dan kesehatan gigi di masyarakat, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana harus menghadapi dua kelompok teroris internasional. Diwarnai aksi yang penuh dengan bumbu cipratan darah, maka bermacam-macam rintangan harus dihadapi dengan gagah berani untuk melenyapkan musuh, dan harus tetap hidup dalam situasi yang sungguh sulit.

Selain di Pulau Seribu Pura, Drg. Ferizal dan Drg. Dairiana juga mampu menghancurkan penjahat (pengebom ikan dan terumbu karang) yang merusak alam di Kepulauan Mentawai. Menumpas penjahat dengan petualangan yang penuh aksi baku hantam, Laskar PDGI mampu hancurkan dua teroris—Dokter Masta (teroris berhati singa) dan Kolonel Dedfriadi (teroris penganut ilmu hitam).

Novel ini merupakan novel ke-7, karya Ferizal (penulis novel laga/action hero yang makin berkibar). Enam novel karya Ferizal yang telah terbit berjudul: Pertarungan Maut di Malaysia, Ninja Malaysia Bidadari Indonesia, Superhero Malaysia Indonesia, Garuda Cinta Harimau Malaya, Ayat Ayat Asmara, dan Dari PDGI Menuju Ka’bah.

 

web : http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

facebook : http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

Sumber : Secondprince

Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

Kepemimpinan Imam Ali telah ditetapkan dalam hadis-hadis shahih, dibenarkan oleh mereka yang mengetahuinya dan diingkari oleh para pengingkar. Di antara pengingkaran mereka adalah mengait-ngaitkan “kepemimpinan Imam Ali” dengan ciri khas kaum Syiah. Sehingga siapapun yang menetapkan kepemimpinan Imam Ali maka ia adalah Syiah Rafidhah dan kafir. Sebagian pengingkar yang sok mengaku-ngaku ahlus sunnah, mengutip atsar dimana Imam Aliy mengakui bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepemimpinan kepada dirinya. Atsar tersebut dhaif sebagaimana yang telah kami bahas sebelumnya. Tulisan kali ini hanya pembahasan ulang yang lebih rinci untuk membuktikan bahwa atsar Imam Aliy tersebut dhaif sekaligus bantahan terhadap orang yang menguatkan atsar ini .

.

.

.

Riwayat Abdullah bin Sabu’

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: لَتُخْضَبَنَّ هَذِهِ مِنْ هَذَا، فَمَا يَنْتَظِرُ بِي الْأَشْقَى؟ ! قَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، فَأَخْبِرْنَا بِهِ نُبِيرُ عِتْرَتَهُ، قَالَ: إِذًا تَالَلَّهِ تَقْتُلُونَ بِي غَيْرَ قَاتِلِي، قَالُوا: فَاسْتَخْلِفْ عَلَيْنَا، قَالَ: لَا، وَلَكِنْ أَتْرُكُكُمْ إِلَى مَا تَرَكَكُمْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا: فَمَا تَقُولُ لِرَبِّكَ إِذَا أَتَيْتَهُ؟ وَقَالَ وَكِيعٌ مَرَّةً: إِذَا لَقِيتَهُ؟ قَالَ: أَقُولُ: ” اللَّهُمَّ تَرَكْتَنِي فِيهِمْ مَا بَدَا لَكَ، ثُمَّ قَبَضْتَنِي إِلَيْكَ وَأَنْتَ فِيهِمْ، فَإِنْ شِئْتَ أَصْلَحْتَهُمْ، وَإِنْ شِئْتَ أَفْسَدْتَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Aliy [radiallahu ‘anhu] mengatakan Sungguh akan diwarnai dari sini hingga sini, dan tidak menungguku selain kesengsaraan.” Para shahabat bertanya “Wahai Amirul-Mukminiin beritahukan kepada kami orang itu, agar kami bunuh keluarganya”. Ali berkata “Kalau begitu demi Allah, kalian akan membunuh orang selain pembunuhku.” Mereka berkata “Angkatlah khalifah pengganti untuk memimpin kami”. ‘Aliy menjawab “Tidak, tapi aku tinggalkan kepada kalian apa yang telah Rasulullah [shallallaahu 'alaihi wasallam] tinggalkan untuk kalian”. Mereka bertanya “Apa yang akan kamu katakan kepada Rabbmu jika kamu menghadap-Nya?”. Dalam kesempatan lain Wakii’ berkata “Jika kamu bertemu dengan-Nya?” ‘Aliy berkata “Aku akan berkata Ya Allah, Engkau tinggalkan aku bersama mereka sebagaimana tampak bagi-Mu, kemudian Engkau cabut nyawaku dan Engkau bersama mereka. Jika Engkau berkehendak, perbaikilah mereka dan jika Engkau berkehendak maka hancurkanlah mereka [Musnad Ahmad 1/30]

Hadis dengan jalan ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 3/20, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 14/596 & 15/118, Abu Ya’la dalam Musnad-nya no 341, Al Khallaal dalam As Sunnah no 332, Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Mukhtarah no 594 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/538. Semuanya dengan jalan sanad dari Waki’ dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’

.

.

Waki’ mempunyai mutaba’ah dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy sebagaimana disebutkan Al Laalikaa’iy dalam Syarh Ushul Al I’tiqaad 1/664-665 no 1209 dan Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq 42/538-539 dengan jalan Ishaaq bin Ibrahim dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’. Ishaq bin Ibrahim berkata

سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ بْنَ عَيَّاشٍ، يَقُولُ: عِنْدِي فِي هَذَا الْحَدِيثِ إِسْنَادٌ جَيِّدٌ أَخْبَرَنِي الأَعْمَشُ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، أَنَّ عَلِيًّا خَطَبَهُمْ بِهَذِهِ الْخُطْبَةِ

Aku mendengar Abu Bakar bin ‘Ayyasy mengatakan “disisiku hadis ini sanadnya jayyid, telah mengabarkan kepadaku Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ bahwa Aliy berkhutbah kepada mereka dengan khutbah ini

Orang itu setelah membawakan hadis ini berkata bahwa tashih Abu Bakar bin ‘Ayyasy terhadap sanad ini menunjukkan tautsiq terhadap para perawinya termasuk Abdullah bin Sabu’. Sehingga menurutnya terangkatlah jahatul ‘ainnya Abdullah bin Sabu’. Hujjah ini tertolak dengan alasan tashih tersebut tidaklah benar.

Abu Bakar bin ‘Ayyasy adalah perawi yang diperbincangkan keadaannya sebagian menta’dilkannya dan sebagian menjarh-nya karena terdapat kelemahan pada hafalannya bahkan Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkan hadisnya dari Al A’masy dan selainnya. Abu Bakar buruk hafalannya ketika beranjak tua. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, buruk hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].

Ishaq bin Ibrahim yang meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy wafat pada tahun 257 H sedangkan Abu Bakar bin ‘Ayyasy wafat tahun 194 H. Jadi ada selang waktu sekitar 63 tahun, tidak diketahui apakah Ishaq bin Ibrahim meriwayatkan dari Abu Bakar sebelum atau setelah hafalannya berubah, berdasarkan tahun wafat mereka berdua besar kemungkinan ia mendengar hadis ini dari Abu Bakar setelah ia beranjak tua dan hafalannya berubah. Bagaimana mungkin tashih dari perawi seperti ini dijadikan hujjah?. Selain itu yang menguatkan bahwa tashih Abu Bakar bin ‘Ayyasy ini berasal dari hafalannya yang buruk adalah tadlis Al A’masy merupakan perkara ma’ruf di sisi Abu Bakar maka bagaimana mungkin ia mengatakan hadis tersebut sanadnya jayyid padahal di dalamnya ada ‘an anah dari Al A’masy

وقال عبد الله بن أحمد عن أبيه في أحاديث الأعمش عن مجاهد قال أبو بكر بن عياش عنه حدثنيه ليث عن مجاهد

Abdullah bin Ahmad berkata dari ayahnya tentang hadis-hadis Al A’masy dari Mujahid, Abu Bakar bin Ayyasy yang meriwayatkan darinya [A’masy] berkata “telah menceritakan kepadanya dari Laits dari Mujahid” [At Tahdzib juz 4 no 386]

Apalagi hadis ini juga diriwayatkan oleh Aswad bin ‘Amir dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dengan sanad yang berbeda yaitu dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dan tanpa penyebutan tashih sanad yaitu sebagaimana disebutkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya 1/156 dan Fadha’il Ash Shahabah no 1211

نا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ  عَبْدِ  اللَّهِ  بْنِ  سَبُعٍ ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيٌّ

Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar dan ia adalah Ibnu ‘Ayyasy dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata “Ali berkhutbah kepada kami”

Aswad bin ‘Aamir wafat tahun 208 H yang berdekatan dengan wafatnya Abu Bakar bin ‘Ayyasy tahun 194 H. Walaupun tidak diketahui apakah Aswad bin ‘Aamir meriwayatkan sebelum atau sesudah Abu Bakar berubah hafalannya tetapi dilihat dari tahun wafat mereka maka Aswad bin ‘Aamir memiliki kemungkinan yang lebih besar meriwayatkan dari Abu Bakar sebelum hafalannya buruk. Maka riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang lebih rajih adalah riwayat ‘Aswad bin ‘Aamir darinya yaitu riwayat  Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’

.

.

Khutbah Imam Ali riwayat Abdullah bin Sabu’ ini juga diriwayatkan oleh Jarir bin ‘Abdul Hamiid dari Al A’masy yaitu sebagaimana disebutkan Abu Ya’la

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jariir dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Saalim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata Aliy bin Abi Thalib berkhutbah kepada kami [Musnad Abu Ya’la no 590]

Riwayat Jarir ini juga disebutkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Mukhtarah no 595, Al Muhaamiliy dalam Al Amaaliy no 198 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/540. Jarir memiliki mutaba’ah dari Abdullah bin Dawuud Al Khuraibiy sebagai mana disebutkan Ajjuriy dalam Asy Syari’ah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْوَاسِطِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، قَالَ: سَمِعْتُ الأَعْمَشَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Hamiid Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud yang berkata aku mendengar Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Ali [radiallahu ‘anhu] di atas mimbar [Asy Syari’ah 3/267-268]

Riwayat Abdullah bin Dawud juga disebutkan Al Muhaamiliy dalam Al Amaaliy no 150 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 42/541

Kalau kita melihat dengan baik maka riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud dari Al A’masy tidaklah sama dengan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy. Keduanya [Jarir dan 'Abdullah bin Dawud] menyebutkan dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ sedangkan Abu Bakar menyebutkan dari Al A’masy dari Salamah dari Abdullah bin Sabu’ tanpa menyebutkan Salim bin Abil Ja’d. Maka sungguh yang mengatakan bahwa riwayat tersebut sama adalah orang yang dibutakan matanya setelah dibutakan hatinya. Bagaimana tidak dikatakan buta, jika ia sendiri telah menuliskan riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud tersebut!.

Yahya bin Yaman meriwayatkan dari Ats Tsawriy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d tanpa menyebutkan ‘Abdullah bin Sabu’

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، قَالَ: قِيلَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yamaan dari Sufyaan Ats Tsawriy dari Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d yang berkata dikatakan kepada Ali [radiallahu ‘anhu] [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1249 & 1317]

Setelah mengutip riwayat ini orang itu berkata “sanad riwayat ini lemah”. Kami katakan Yahya bin Yamaan ini kedudukannya tidak jauh berbeda dengan Abu Bakar bin ‘Ayyasy, Ibnu Hajar berkata tentang Yahya bin Yaman Al Ijliy shaduq ahli ibadah, banyak melakukan kesalahan, hafalannya berubah ketika beranjak tua [At Taqrib 2/319]. Lantas mengapa sebelumnya ia berhujjah dengan Abu Bakar bin ‘Ayyasy dan melemahkan Yahya bin Yamaan. Tidak lain itu karena akal-akalan nafsunya, dengan melemahkan riwayat Yahya bin Yamaan maka berkuranglah riwayat Al A’masy yang idhthirab.

Dan selanjutnya ia akan lebih gampangan mencari qarinah tarjih atas riwayat idhthirab Al A’masy. Orang itu membawakan riwayat tanpa jalur Al A’masy sebagai qarinah tarjih untuk membatalkan hujjah idhthirab Al A’masy dan menguatkan salah satu jalur yang ia inginkan. Berikut riwayat yang ia katakan sebagai qarinah tarjih

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَكِيمٍ، قال: ثنا أَبِي، قال: ثنا بَكْرُ بْنُ بَكَّارٍ، قال: ثنا حَمْزَةُ الزَّيَّاتُ، عَنْ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَلِيٌّ،

Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Muhammad bin Ibrahiim bin Hakiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Bakr bin Bakkaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Hamzah Az Zayyaat dari Hakiim bin Jubair dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy  [Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/29]

Riwayat ini lemah karena Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair telah didhaifkan oleh sebagian ulama. Mengenai Bakr bin Bakkaar, Abu Ashim An Nabiil menyatakan ia tsiqat. Ibnu Abi Hatim berkata “dhaif al hadits, buruk hafalannya dan mengalami ikhtilath”. Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”. Nasa’i terkadang berkata “tidak kuat” dan terkadang berkata “tidak tsiqat”. Abu Hatim berkata “tidak kuat”. Al Uqailiy, Ibnu Jaruud dan As Saajiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [At Tahdzib juz 1 no 882]. Mengenai Hakim bin Jubair, Ahmad berkata “dhaif al hadits mudhtharib”, Ibnu Ma’in berkata “tidak ada apa-apanya”, Yaqub bin Syaibah berkata “dhaif al hadits”. Abu Zur’ah berkata “shaduq insya Allah”. Abu Hatim berkata “dhaif al hadits mungkar al hadits”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Daruquthni berkata “matruk”. Abu Dawud berkata “tidak ada apa-apanya” [At Tahdzib juz 2 no 773]

Aneh bagaimana mungkin riwayat yang kedudukannya dhaif seperti ini dijadikan qarinah tarjih. Sungguh kami dibuat terheran-heran dengan caranyaberhujjah. Hal ini membuktikan bahwa ilmu hadis itu memang unik bisa diutak atik seenaknya demi kepentingan hawa nafsunya. Seandainya pun riwayat ini dijadikan tarjih riwayat A’masy maka itu menguatkan riwayat Yahya bin Yaman dari Ats Tsawriy dari A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu‘.

Kemudian orang itu mengutip pernyataan Ibnu Asakir bahwa Salim tidak mendengar dari Aliy dan ia hanyalah meriwayatkannya melalui perantara Abdullah bin Sabu’. Tentu saja pernyataan Ibnu Asakir adalah berlandaskan pada  riwayat-riwayat lain sedangkan zhahir riwayat Bakr bin Bakaar di atas adalah tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu’. Jika riwayat Bakr mau dijadikan qarinah tarjih idhthirab A’masy maka berhujjahlah dengan zhahir riwayat Bakr bukan dengan andai-andai riwayat lain. Hal ini menunjukkan bahwa cara berhujjah orang itu benar-benar sembarangan dan seenaknya saja.

Ada satu lagi riwayat Aban bin Taghlib dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang dikutipnya yaitu riwayat dalam Tarikh Ibnu Asakir 42/541, yaitu dengan sanad sebagai berikut

أَنْبَأناهُ أَبُو بَكْرٍ الشِّيرُوِيُّ، وَحَدَّثَنَا أَبُو الْمَحَاسِنِ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْهُ.ح وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ الْوَاسِطِيُّ، أنا أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ، قَالا: أنا الْقَاضِي أَبُو بَكْرٍ الْحِيرِيُّ، نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ الأَصَمُّ، نا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبَةَ الْقُرَشِيُّ، نا يَحْيَى بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الْفُرَاتِ الْعِرَارُ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ، عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy Syiiruwiy dan telah menceritakan kepada kami Abu Mahaasin Abdurrazaq bin Muhammad darinya. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Khatib. Keduanya berkata telah mengabarkan kepada kami Al Qaadhiy Abu Bakar Al Hirriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Abbaas Muhammad bin Ya’qub Al Ashaam yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan Aliy bin Muhammad bin Habiibah Al Qurasyiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan bin Furaat Al ‘Iraar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Umar dari Abaan bin Taghlib dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ yang berkata Aliy bin Abi Thalib berkata [Tarikh Ibnu Asakir 42/541].

Riwayat ini dhaif sanadnya sampai Aban bin Taghlib karena diriwayatkan oleh para perawi majhul sehingga juga tidak bisa dijadikan qarinah tarjih.

  1. Abu Hasan Aliy bin Muhammad bin Habiibah Al Qurasyiy disebutkan Ibnu Makula biografinya dalam Al Ikmal tanpa menyebutkan jarh dan ta’dil [Al Ikmal Ibnu Makula 3/120]
  2. Yahya bin Hasan bin Furaat Al ‘Iraar tidak ditemukan biografinya maka ia majhul tidak dikenal kredibilitasnya
  3. Muhammad bin Umar, tidak jelas siapa dirinya tetapi kemungkinan ia adalah Muhammad bin Abi Hafsh Al Athaar sebagaimana disebutkan Al Khatib bahwa ia meriwayatkn dari Aban bin Taghlib dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hasan bin Furaat [Taliy Talkhiis Al Mutasyaabih 2/534]. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ia adalah Muhammad bin Umar Al Anshariy dan mengutip jarh Al Azdiy yang berkata “dibicarakan tentangnya” [Lisan Al Mizan juz 5 no 489].

Seandainya pun riwayat ini dijadikan qarinah tarjih sanad A’masy maka riwayat ini menguatkan riwayat Abu Bakar bin A’yasy dimana A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’. Maka tetap saja dua riwayat yang dijadikan qarinah tarjih oleh orang itu malah semakin menguatkan adanya idhthirab pada sanad A’masy. Kedudukan sebenarnya adalah tidak ada qarinah tarjih yang menguatkan salah satu sanad dalam idhthirab Al Amasy di atas.

  1. Al A’masy meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’  dari Aliy [riwayat Waki’]
  2. Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy [riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy]
  3.  Al A’masy meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail dari Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy [riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawuud]
  4. Al A’masy meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d dari Aliy tanpa menyebutkan Abdullah bin Sabu’ [riwayat Yahya bin Yamaan dari Ats Tsawriy]

Tidak diragukan lagi kalau hadis ini mudhtharib dan sumbernya adalah Al A’masy dan dalam semua riwayatnya ia meriwayatkan dengan ‘an anah. Abdullah bin Sabu’ hanya dikenal melalui satu hadis ini saja dan ternyata sanadnya mudhtharib maka ia seorang yang statusnya majhul ‘ain dan hadisnya mudhtharib. Kedudukan riwayat Abdullah bin Sabu’ ini sudah jelas dhaif dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Kemudian orang itu mengutip riwayat Tsa’labah bin Yazid Al Himmany yang ia katakan sebagai syahid perkataan Abdullah bin Sabu’. Riwayat ini disebutkan dalam Musnad Al Bazzar no 871, Kasyf Al Astaar no 2572, Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/439, dan Tarikh Ibnu Asakir 42/542 semuanya dengan jalan sanad dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yaziid. Berikut riwayat Al Bazzar

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ الْجَوْهَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْجُنَيْدِ، قَالا: ثنا أَبُو الْجَوَابِ، قَالَ: ثنا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ يَزِيدَ الْحِمَّانِيِّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: ” وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ، لَتُخْضَبَنَّ هَذِهِ مِنْ هَذِهِ لِلِحْيَتِهِ مِنْ رَأْسِهِ فَمَا يُحْبَسُ أَشْقَاهَا، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سُبَيْعٍ: وَاللَّهِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، لَوْ أَنَّ رَجُلا فَعَلَ ذَلِكَ أَبَرْنَا عِتْرَتَهُ، قَالَ: قَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللَّهِ، أَنْ تَقْتُلَ بِي غَيْرَ قَاتِلِي، قَالُوا: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَلا تَسْتَخْلِفُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: لا، وَلَكِنِّي أَتْرُكُكُمْ كَمَا تَرَكَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَمَاذَا تَقُولُ لِرَبِّكَ إِذَا أَتَيْتَهُ وَقَدْ تَرَكْتَنَا هَمَلا، قَالَ: أَقُولُ لَهُمُ اسْتَخْلَفْتَنِي فِيهِمْ مَا بَدَا لَكَ ثُمَّ قَبَضْتَنِي وَتَرَكْتُكَ فِيهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’iid Al Jawhariy dan Muhammad bin Ahmad bin Al Junaid yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul Jawaab yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ammaar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yazid Al Himmaniy yang berkata Aliy berkata “Demi Dzat yang menumbuhkan biji-bijian dan menciptakan semua jiwa. Sungguh akan diwarnai darah dari sini hingga sini, yaitu dari kepala hingga jenggot. dan tidak menungguku selain kesengsaraan”. ‘Abdullah bin Subai’ berkata “Demi Allah wahai Amiirul-mukminiin, seandainya ada seorang laki-laki yang melakukan hal itu, sungguh akan kami  binasakan keluarganya”. Aliy berkata “Aku bersumpah kepada Allah bahwasannya engkau membunuh orang yang tidak membunuhku”. Mereka berkata “Wahai Amiirul-mukminiin, tidakkah engkau mengangkat khalifah pengganti untuk kami?”. ‘Aliy menjawab “Tidak. Akan tetapi aku akan meninggalkan kalian sebagaimana Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] telah meninggalkan kalian”. ‘Abdullah bin Subai’ berkata “Lalu, apakah yang akan engkau katakan kepada Rabbmu apabila engkau menemui-Nya dimana engkau meninggalkan kami mengurus keadaan kami sendiri?”. Aliy menjawab “Aku berkata Engkau telah mengangkat aku sebagai khalifah di tengah-tengah mereka sesuai kehendak-Mu, kemudian engkau mematikanku dan aku tinggalkan Engkau di tengah-tengah mereka [Musnad Al Bazzaar no 871]

Riwayat ini sanadnya dhaif karena ‘an anah Al A’masy dan Habib bin Abi Tsabit, keduanya dikenal sebagai mudallis. Ad Daruquthni memasukkan riwayat ini sebagai bagian dari idhthirab Al A’masy dan mengatakan tidak dhabit sanadnya [Al Ilal no 396]. Disebutkan oleh Adz Dzahabiy dalam Tarikh Al Islam 3/647 dan Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab 3/1125 yang mengutip riwayat Tsa’labah bin Yazid yaitu sampai lafaz “tidak ada yang menungguku selain kesengsaraan” tanpa menyebutkan lafaz Abdullah bin Sabu’ berkata. Disini terdapat qarinah yang menunjukkan illat [cacat] bahwa Al A’masy menampuradukkan antara hadis Tsa’labah bin Yazid dan hadis Abdullah bin Sabu’. Maka riwayat Tsa’labah bin Yazid tidak bisa dijadikan syahid riwayat Abdullah bin Sabu’ karena keduanya berasal dari idhthirab Al A’masy.

.

.

.

Riwayat Syu’aib bin Maimun

Riwayat ini disebutkan dalam Musnad Al Bazzar no 565, Mustadrak Al Hakim 3/79, As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim no 1158 & 1221, Sunan Baihaqy 8/149, Ad Dalaa’il Baihaqiy 7/223, Al I’tiqaad Baihaqiy 502, Amaliy Ibnu Bakhtariy no 42 dan Tarikh Ibnu Asakir 42/536-537 dengan sanad dari Syabaabah bin Sawwar dari Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Syaqiiq Abu Waiil dari Aliy [radiallahu ‘anhu]. Berikut riwayat Al Bazzar

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْحَارِثِ، قَالَ: نا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، قَالَ: نا شُعَيْبُ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ شَقِيقٍ، قَالَ: قِيلَ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَلا تَسْتَخْلِفُ عَلَيْنَا؟ قَالَ: ” مَا اسْتَخْلَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْتَخْلِفَ عَلَيْكُمْ، وَإِنْ يُرِدِ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِالنَّاسِ خَيْرًا، فَسَيَجْمَعُهُمْ عَلَى خَيْرِهِمْ كَمَا جَمَعَهُمْ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خَيْرِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Ismaiil bin Abil Haarits yang berkata telah menceritakan kepada kami Syabaabah bin Sawwaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Asy Sya’biy dari Syaqiiq yang berkata Dikatakan kepada Aliy “Tidakkah engkau mengangkat pengganti?”. Ia menjawab “Rasululah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] tidak mengangkat pengganti maka haruskah aku mengangkat pengganti. Seandainya Allah tabaaraka wa ta’ala menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka sebagaimana Ia telah menghimpun mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik di antara mereka [Musnad Al Bazzaar no 565].

Riwayat ini dhaif karena Syu’aib bin Maimun. Abu Hatim dan Al Ijliy berkata “majhul”. Bukhari berkata “fiihi nazhar”. Ibnu Hibban menyatakan ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur tidak bisa dijadikan hujjah jika menyendiri. [At Tahdzib juz 4 no 68]. Ibnu Hajar berkata “dhaif ahli ibadah” [At Taqrib 1/420]. Daruquthni berkata “tidak kuat” [Al Ilal no 493]. Al Uqailiy memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa 2/182-183 no 703]. Ibnu Jauzi memasukkannya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Ibnu Jauzi no 74]

Selain itu riwayat Syu’aib bin Maimun ini lemah karena idhthirab. Amru bin ‘Aun meriwayatkan hadis ini dari Syu’aib bin Maimun dari Abu Janaab Al Kalbiy dari Abu Wail dari Aliy sebagaimana disebutkan Al Uqaili dalam Adh Dhu’afa 2/182-183 no 703. Abu Janaab seorang yang diperbincangkan termasuk mudallis thabaqat ketiga dan membawakan riwayat ini dengan ‘an anah.

Ibnu Hajar mengutip perkataan Muhammad bin Abaan Al Washithiy bahwa hadis Syu’aib ini termasuk hadis mungkarnya karena ma’ruf bahwa hadis ini diriwayatkan Hasan bin Umarah dari Washil bin Hayyaan dari Syaqiiq [At Tahdzib juz 4 no 608]. Kemudian orang itu berusaha membuat syubhat dengan mengutip pernyataan Al Bazzar “kami tidak mengetahui hadis tersebut diriwayatkan dari Syaqiiq dari Aliy kecuali dengan sanad ini” [Kasyf Al Astaar no 2484]. Artinya menurut Al Bazzar riwayat Syaqiiq dari Aliy hanya berasal dari jalur Syu’aib bin Maimun bukan dari jalur lain.

Perkataan ini tidak ada artinya karena yang mengetahui menjadi hujjah bagi yang tidak mengetahui. Muhammad bin Aban Al Wasithiy jelas lebih mengetahui dibanding Al Bazzar karena ia meriwayatkan langsung dari Syu’aib bin Maimun dan sezaman dengan Hasan bin Umarah. Apalagi riwayat Hasan bin Umaarah ini telah disebutkan Daruquthni dalam kitabnya Al Ilal [Al Ilal no 493]. Diantara riwayat Hasan bin Umarah telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Fadha’il Ash Shahabah no 622

حدثنا الحسين نا عقبة بن مكرم الضبي قثنا يونس بن بكير عن الحسن بن عمارة عن الحكم وواصل عن شقيق بن سلمة قال قيل لعلي الا توصي قال ما أوصى رسول الله صلى الله عليه وسلم فاوصى ولكن ان يرد الله بالناس خيرا فسيجمعهم على خيرهم كما جمعهم بعد نبيهم على خيرهم

Telah menceritakan kepada kami Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Makram Adh Dhabbiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari Hasan bin Umarah dari Al Hakam dan Washil dari Syaqiiq bin Salamah yang berkata dikatakan kepada Aliy “tidak engkau berwasiat?”. Aliy berkata “Rasulullah tidak berwasiat maka mengapa aku berwasiat?” tetapi jika Allah menghendaki kebaikan bagi manusia maka ia akan menghimpun mereka di atas orang yang paling baik diantara mereka sebagaimana Allah menghimpun atas mereka sepeninggal Nabi mereka di atas orang yang paling baik diantara mereka [Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 622]

Yunus bin Bukair dalam periwayatannya dari Hasan bin Umarah memiliki mutaba’ah dari Ja’far bin ‘Aun sebagaimana yang disebutkan Abu Thalib Al Harbiy dalam Fadha’il Abu Bakar no 19. Hasan bin Umaarah adalah seorang yang disepakati dhaif matruk bahkan ia dinyatakan pendusta dan meriwayatkan hadis maudhu’. Maka benarlah apa yang dinukil Ibnu Hajar bahwa hadis Syu’aib bin Maimun ini termasuk diantara hadis-hadis mungkarnya

.

.

.

Riwayat ‘Amru bin Sufyan

Riwayat ‘Amru bin Sufyan ini memiliki banyak jalur periwayatan yang jika dikumpulkan akan nampak idhthirab pada sanad-sanadnya. Orang itu berusaha menguatkan hadis ini dengan menafikan idhthirab pada sanad-sanad riwayat ‘Amru bin Sufyan. Iaberusaha menerapkan metode tarjih untuk menguatkan hujjahnya tapi sayang sekali terlihat jelas bahwa apa yang ia lakukan hanya akal-akalan basi demi membela hadis yang sesuai dengan hawa nafsunya.

Diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 1/114, Fadha’il Ash Shahabah Ahmad bin Hanbal no 477, As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1333, Al Ilal Daruquthni no 442 dengan jalan sanad dari ‘Abdurrazaaq dari Sufyan dari Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy. Berikut riwayat Ahmad dalam Musnad-nya

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ يَوْمَ الْجَمَلِ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لَمْ يَعْهَدْ إِلَيْنَا عَهْدًا نَأْخُذُ بِهِ فِي إِمَارَةِ، وَلَكِنَّهُ شَيْءٌ رَأَيْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنْفُسِنَا، ثُمَّ اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ، رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى أَبِي بَكْرٍ، فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ، ثُمَّ اسْتُخْلِفَ عُمَرُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى عُمَرَ، فَأَقَامَ وَاسْتَقَامَ، حَتَّى ضَرَبَ الدِّينُ بِجِرَانِهِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq yang memberitakan kepada kami Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy [radiallahu ‘anhu] bahwa ia berkata pada saat perang Jamal “Sesungguhnya Rasulullah [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] tidak pernah berwasiat kepada kami satu wasiatpun yang mesti kami ambil dalam masalah kepemimpinan. Akan tetapi hal itu adalah sesuatu yang kami pandang menurut pendapat kami, kemudian diangkatlah Abu Bakar menjadi Khalifah, semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada Abu Bakar. Ia menjalankan dan istiqamah di dalam menjalankannya, kemudian diangkatlah Umar menjadi Khalifah semoga Allah mencurahkan rahmatnya kepada Umar maka dia menjalankan dan istiqamah di dalam menjalankannya sampai agama ini berdiri kokoh karenanya [Musnad Ahmad 1/114]

Abdurrazzaq dalam periwayatannya dari Sufyan memiliki mutaba’ah yaitu Zaid bin Hubaab sebagaimana yang disebutkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad bin Hanbal no 1327 dan Abul Yahya Al Himmaniy sebagaimana disebutkan dalam Al Ilal Daruquthniy no 442. Riwayat ini sanadnya shahih sampai Aswad bin Qais. Tidak diketahui laki-laki yang meriwayatkan dari Aliy maka hadis tersebut kedudukannya dhaif.

Kemudian diriwayatkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1334, Al Ilal Daruquthniy no 442, Ad Dalaa’il Baihaqiy 6/439, Al I’tiqaad Baihaqiy hal 502-503 dan Tarikh Al Khatib 4/276-277 dengan jalan sanad dari Sufyan dari Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sufyan dari Aliy. Berikut sanadnya dalam riwayat Abdullah bin Ahmad bin Hanbal

حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، نا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ، عَنْ عِصَامِ بْنِ النُّعْمَانِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ، قَالَ: ” خَطَبَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ الْجَمَلِ

Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Al Hafariy dari ‘Ishaam bin Nu’maan dari Sufyaan dari Al Aswad bin Qais dari ‘Amru bin Sufyan yang berkata “Ali berkhutbah pada saat perang Jamal [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1334]

Dalam riwayat Baihaqiy yaitu dalam Ad Dalaa’il dan Al I’tiqaad disebutkan bahwa Syu’aib bin Ayuub meriwayatkan dari Abu Dawud Al Hafariy dari Sufyan tanpa menyebutkan ‘Ishaam bin Nu’man. Hal ini keliru, karena dalam riwayat Daruquthni disebutkan dari Syu’aib bin Ayuub dari Abu Dawud Al Hafariy dari ‘Ishaam bin Nu’maan dari Sufyan. Kemudian dalam riwayat Al Khatib disebutkan dari Al Hafariy dari ‘Aashim bin Nu’maan dari Sufyan.

Riwayat ini sanadnya dhaif atau tidak tsabit sampai Aswad bin Qais karena ‘Ishaam bin Nu’man atau ‘Aashim bin Nu’man adalah seorang yang majhul tidak diketahui kredibilitasnya bahkan namanya pun tidak jelas apakah ‘Ishaam ataukah ‘Aashim dan yang meriwayatkan darinya hanya satu orang yaitu Abu Dawud Al Hafariy.

‘Ishaam bin Nu’maan dalam periwayatannya dari Sufyaan memiliki mutaba’ah yaitu dari Husain bin Walid sebagaimana disebutkan dalam Amaliy Al Jurjaniy no 13 yaitu dengan jalan sanad berikut

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ الْحَسَنِ، ثَنا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ السُّلَمِيُّ، ثنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْوَلِيدِ، ثنا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ الْعَبْدِيِّ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Husain bin Al Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid As Sulamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsawriy dari Aswad bin Qais Al ‘Abdiy dari ‘Amru bin Sufyan Ats Tsaqafiy [Amaliy Al Jurjaniy no 13]

Sanad ini dhaif jiddan atau tidak tsabit sanadnya sampai Aswad bin Qais karena Muhammad bin Yazid As Sulamiy, Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 15677]. Daruquthni berkata “dhaif” [Ma’usuah Qaul Daruquthni no 3424]. Daruquthni juga berkata “ia memalsukan hadis dari para perawi tsiqat” [Ta’liqat Daruquthni ‘Ala Al Majruuhiin Ibnu Hibban 1/277]. Al Khatib berkata “matruk al hadits” [Tarikh Baghdad 2/289].

Kemudian disebutkan dalam As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1336, Al Ilal Daruquthni no 442, Al I’tiqaad Baihaqiy hal 503-504, Adh Dhu’afa Al Uqailiy 1/165, Al Mukhtaran Al Maqdisiy no 470 & 471, dengan jalan sanad dari Abu Ashim An Nabiil dari Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari Ayahnya dari Aliy. Berikut sanadnya dalam riwayat Abdullah bin Ahmad

حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ ثِقَةٌ، وَأَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Muhammad bin ‘Abdurrahiim tsiqat menceritakan kepada kami Abu ‘Aashim dari Sufyaan dari Al Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya [As Sunnah Abdullah bin Ahmad no 1336]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai Al Aswad bin Qais dan Abu Ashim An Nabiil adalah Dhahhak bin Makhlaad Asy Syaibaniy termasuk perawi Bukhari Muslim yang dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ijliy dan Ibnu Sa’ad. Umar bin Syabbah berkata “demi Allah aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya”. Al Khaliliy berkata disepakati atasnya zuhud, alim, agamanya dan keteguhannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 4 no 793]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat lagi tsabit” [At Taqrib 1/444].

Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul, yang meriwayatkan darinya hanya Al Aswad bin Qais yaitu dalam hadis ini. Ibnu Abi Hatim dalam biografi Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan berkata

سعيد بن عمرو بن سفيان روى عن ابيه عمرو بن سفيان روى عنه الاسود بن قيس في حديث تفرد أبو عاصم النبيل في ادخاله سعيدا في الاسناد فيما رواه عن الثوري عن الاسود ولا يتابع عليه

Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari ayahnya ‘Amru bin Sufyan, telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais dalam hadis dimana Abu ‘Aashim An Nabiil bersendirian dalam memasukkan Sa’id dalam sanad yang ia riwayatkan dari Sufyan dari Al Aswad, ia tidak memiliki mutaba’ah [Al Jarh Wat Ta’dil 4/53 no 230]

Kemudian orang itu berkata perkataan Ibnu Abi Hatim ini dapat bermakna penta’lilan menurut ulama mutaqaddimin terutama jika terdapat perselisihan. Perkataan ini tidak ada nilainya, pernyataan Ibnu Abi Hatim “tidak memiliki mutaba’ah” tidak sedikitpun memudharatkan riwayat Abu ‘Aashim An Nabiil karena ia seorang yang tsiqat tsabit. Seandainya pun ada perselisihan maka dilihat siapa yang berselisih dengan Abu ‘Aashim An Nabiil tersebut bukannya sembarangan berkata ma’lul [cacat].

قال قتيبة حدثنا جرير عن سفيان عن الأسود بن قيس عن أبيه عن علي رضى الله تعالى عنهم لم يعهد إلينا النبي صلى الله عليه وسلم في الإمرة شيئا

Qutaibah berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Sufyaan dari Al Aswaad bin Qais dari ayahnya dari Ali radiallahu ta’ala ‘anhum “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada kami sedikitpun tentang kepemimpinan” [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]

Orang itu setelah mengutip hadis ini berkata sanad riwayat ini lemah karena tidak diketahui apakah Qutaibah mendengar dari Jarir sebelum atau sesudah masa ikhtilathnya. Pernyataan ini patut diberikan catatan karena riwayat Qutaibah dari Jarir telah disebutkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Maka disini terdapat qarinah yang menguatkan bahwa Qutaibah mendengar dari Jarir sebelum masa ikhtilathnya itu pun jika memang benar Jarir bin Abdul Hamiid mengalami ikhtilath. Sanad riwayat Bukhari ini shahih sampai Al Aswad bin Qais [setidaknya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim]

Yang perlu diperhatikan adalah Bukhari tidak memasukkan hadis ini dalam biografi Qais Al Abdiy ayah Aswad bin Qais sebagaimana bisa dilihat dalam biografi Qais [Tarikh Al Kabir juz 7 no 663]. Bukhari malah memasukkan hadis di atas dalam biografi ‘Amru bin Sufyan [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]. Hal ini menunjukkan bahwa hadis di atas adalah bagian dari idhthirab riwayat ‘Amru bin Sufyan.

Hal ini telah disinyalir oleh Ibnu Hajar. Dalam biografi Qais Al Abdiy ia mengutip riwayatnya dalam Musnad Ali yang dikeluarkan Nasa’i dari Ali tentang kepemimpinan kemudian mengutip berbagai riwayat ‘Amru bin Sufyan [At Tahdzib juz 8 no 733]. Setelah itu dalam At Taqrib ia berkata

قيس العبدي والد الأسود مقبول من الثانية وفي الحديث الذي أخرجه له النسائي اضطراب

Qais Al Abdiy ayahnya Al Aswad maqbul termasuk thabaqat kedua dan hadisnya yang dikeluarkan oleh Nasa’i idhthirab [At Taqrib 2/36]

Dengan kata lain tidak tsabit periwayatannya dari Ali tentang hadis ini karena hadis ini sendiri idhthirab pada sanadnya. Benarkah demikian? Tentu jika mengumpulkan riwayat yang shahih, yang dhaif dan yang tidak ternukil sanad lengkapnya maka akan banyak sekali bukti bahwa hadis tersebut idhthirab. Dan seandainya kita hanya mengumpulkan riwayat yang sanadnya shahih hingga Al Aswad bin Qais [sebagaimana yang telah dibahas di atas] maka idhthirab itu pun juga nampak jelas

  1. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari seorang laki-laki dari Aliy
  2. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya dari Aliy
  3. Riwayat Sufyan dari Al Aswad bin Qais dari ayahnya dari Aliy

Daruquthni dan Al Khatib menyatakan bahwa hadis ‘Amru bin Sufyan tersebut idhthirab dan menisbatkan hal itu pada Ats Tsawriy. Menurut kami diantara Sufyan Ats Tsawriy dan Al Aswad bin Qais, yang lebih mungkin mengalami idhthirab adalah Al Aswad bin Qais karena tingkat ketsiqatan dan dhabit Sufyan Ats Tsawriy lebih tinggi dari Al Aswad bin Qais.

.

.

Ada riwayat ‘Amru bin Sufyan yang lain tentang hadis ini yang sanadnya tidak melalui jalur Al Aswad bin Qais Al Abdiy yaitu riwayat dengan sanad berikut

وَحَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي دَاوُدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَزَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُسَاوِرٌ الْوَرَّاقُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ سُفْيَانَ

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwan yang berkata telah menceritakan kepada kami Musawwir Al Warraaq dari ‘Amru bin Sufyaan [Asy Syari’ah Al Ajjuriy 2/441]

Riwayat ini mengandung illat [cacat] yaitu Marwan bin Mu’awiyah Al Fazaariy ia seorang tsiqat hafizh tetapi sering melakukan tadlis dalam penyebutan nama-nama gurunya [At Taqrib 2/172]. Penyifatan Ibnu Hajar terhadap Marwan ini berdasarkan pernyataan ulama mutaqaddimin seperti Ibnu Ma’in yang menyatakan bahwa ia sering mengubah nama gurunya sebagai bentuk tadlisnya dan pernyataan Abu Dawud bahwa ia sering membolak balik nama, dan Marwan dikenal sering meriwayatkan dari syaikhnya para perawi majhul [At Tahdzib juz 10 no 178].

Apa yang dilakukan Marwan bin Mu’awiyah itu dalam ilmu hadis dikenal dengan istilah tadlis syuyukh yaitu mengubah nama syaikh [gurunya] untuk menutupi kelemahan hadis yang dibawakan. Hadis di atas termasuk dalam tadlis Marwan bin Muawiyah dengan berbagai qarinah berikut

  1. Tidak dikenal Marwan meriwayatkan dari Musawwir Al Warraaq atau tidak dikenal Marwan sebagai murid Musawwir Al Warraaq, tidak ditemukan baik dalam biografi Marwan bin Muawiyah dan biografi Musawwir Al Warraaq bahwa mereka memiliki hubungan guru dan murid.
  2.  Disebutkan dalam biografi perawi bahwa riwayat di atas adalah milik Musawwir yang tidak dikenal nasabnya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dan Al Mizziy. Ibnu Hajar berkata ia adalah syaikh [guru] Marwan bin Mu’awiyah yang majhul [At Taqrib 2/174]. Adz Dzahabiy juga menyatakan ia majhul [Al Mizan no 8448 & Al Mughni no 6183]
  3. Disebutkan dalam riwayat lain bahwa Marwan bin Mu’awiyah meriwayatkan hadis ini dari Sawwaar perawi yang majhul sebagaimana disebutkan Al Qaasim bin Tsabit dalam Ad Dalaa’il Fii Gharibil Hadits 2/586 no 307 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/104.

Jadi hadis ini sebenarnya diriwayatkan oleh Marwan dari salah satu syaikhnya yang majhul yaitu Musawwir atau Sawwaar [tidak jelas siapa namanya] kemudian Marwan dalam salah satu periwayatannya mengubahnya menjadi Musawwir Al Warraaq sebagai salah satu bentuk tadlis syuyukh-nya.

Terdapat Illat [cacat] lain dalam riwayat Marwan bin Mu’awiyah di atas, Al Mu’allimiy menyebutkan bahwa Marwan bin Mu’awiyah pernah melakukan tadlis taswiyah selain tadlis suyukh [At Tankiil hal 431]. Hal ini juga diisyaratkan Abu Dawud dalam Su’alat Al Ajjury bahwa Marwan pernah meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayasy dari Abu Shalih dan menghilangkan nama seorang perawi di antara keduanya [Su'alat Abu Dawud Al Ajjuriy no 204]. Pentahqiq kitab Su’alat Abu Dawud tersebut berkomentar bahwa Marwan bin Muawiyah melakukan tadlis taswiyah dan tadlis syuyukh. Ibnu Ma’in menyebutkan bahwa perawi yang dihilangkan namanya itu adalah Al Kalbiy [Tarikh Ibnu Ma'in riwayat Ad Duuriy no 2241].

Perawi yang melakukan tadlis taswiyah maka hadisnya diterima jika ia menyebutkan sima’ hadisnya dari Syaikh [gurunya] dan gurunya tersebut juga menyebutkan sima’-nya dari gurunya. Intinya terdapat lafaz tahdits atau sima’ hadis pada dua thabaqat dari perawi yang tertuduh tadlis taswiyah. Bahkan beberapa ulama mensyaratkan bahwa lafaz tahdits atau sima’ itu harus ada pada setiap thabaqat sanad sampai ke sahabat. Dalam riwayat di atas Marwan bin Mu’awiyah memang menyebutkan lafaz sima’ dari syaikh-nya Musawwir tetapi ia tidak menyebutkan lafaz sima’ Musawwir dari ‘Amru bin Sufyan, maka hadisnya tidak bisa diterima. Bisa saja diantara Musawwir dan ‘Amru bin Sufyan terdapat perawi dhaif atau majhul yang dihilangkan namanya oleh Marwan bin Mu’awiyah.

Secara keseluruhan hadis ‘Amru bin Sufyan yang melalui jalan Al Aswad bin Qais dan yang melalui jalan Musawwir kedudukannya dhaif dan bisa dikatakan tidak ada asalnya atau berasal dari perawi majhul. Riwayat Al Aswad bin Qais tersebut mudhtharib dan sumber idhthirabnya adalah Al Aswad bin Qais. Disebutkan bahwa Ali bin Madini menyatakan Al Aswad bin Qais meriwayatkan dari beberapa perawi majhul yang tidak dikenal [At Tahdzib juz 1 no 622]. Jadi sangat mungkin bahwa riwayat ini diambil Aswad dari perawi yang majhul kemudian Al Aswad mengalami kekacauan dalam periwayatannya. Hal ini bersesuaian dengan kelemahan hadis ‘Amru bin Sufyan yang diriwayatkan Marwan bin Mu’awiyah yaitu berasal dari perawi majhul.

.

.

‘Amru bin Sufyan dalam hadis Aliy ini pun juga seorang yang majhul. Orang itu melakukan dalih akrobatik untuk menyatakan ‘Amru bin Sufyan ini tsiqat atau minimal shaduq. Sebelumnya kami pernah menyatakan bahwa ‘Amru bin Sufyan dalam hadis ini yang meriwayatkan dari Aliy berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Hal ini telah dinyatakan oleh Bukhari dan Ibnu Hibban.

عمرو بن سفيان سمع بن عباس رضى الله تعالى عنهما قوله روى عنه الأسود بن قيس

‘Amru bin Sufyan mendengar dari Ibnu Abbas radiallahu ta’ala ‘anhuma dan meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2564]

Disini Bukhari menetapkan bahwa ‘Amru bin Sufyan mendengar dari Ibnu ‘Abbas dan meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais. Sedangkan untuk ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ali, Bukhari berkata

عمرو بن سفيان أن عليا رضى الله تعالى عنه قاله أبو داود الحفري عن الثوري عن الأسود بن قيس وقال أبو عاصم عن سفيان عن الأسود عن سعيد بن عمرو بن سفيان عن أبيه عن علي قال قتيبة حدثنا جرير عن سفيان عن الأسود بن قيس عن أبيه عن علي رضى الله تعالى عنهم لم يعهد إلينا النبي صلى الله عليه وسلم في الإمرة شيئا

‘Amru bin Sufyaan bahwa Aliy [radiallahu ta’ala anhu], dikatakan Abu Dawud Al Hafariy dari Ats Tsawriy dari Al Aswad bin Qais dan berkata Abu ‘Aashim dari Sufyan dari Al Aswad dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dari ayahnya dari Aliy . Qutaibah berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Sufyaan dari Al Aswaad bin Qais dari ayahnya dari Ali radiallahu ta’ala ‘anhum “Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada kami sedikitpun tentang kepemimpinan” [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 6 no 2565]

Jadi terlihat jelas bahwa hujjah Bukhari membedakan keduanya adalah berdasarkan fakta bahwa ‘Amru bin Sufyan dalam hadis Aliy itu berasal dari hadis yang idhthirab. Maka disini Bukhari tidak menetapkan bahwa yang meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyan adalah Al Aswad bin Qais. Tentu saja hujjah Bukhari jelas lebih kuat dibandingkan dengan hujjah orang itu yaitu riwayat yang hanya menunjukkan bahwa kedua ‘Amru bin Sufyan [baik dari Ibnu Abbas atau Aliy] telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais.

Hujjah orang itu keliru karena ia menafikan fakta bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy muncul atau ditetapkan keberadaannya dari hadis yang idhthirab. Penerapan metode tarjih olehnya itu bisa dibilang hanya akal-akalan semata. Karena pentarjihannya itu tidak sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Bagaimana tidak dikatakan akal-akalan kalau hasil akhir tarjihnya malah menetapkan riwayat dhaif bahwa Aswad meriwayatkan dari ‘Amru bin Sufyan dari Aliy sebagai riwayat yang tsabit. Riwayat dhaif inilah yang dijadikan sandaran oleh orang itu untuk menetapkan bahwa Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas itu adalah orang yang sama.

عمرو بن سفيان يروى عن بن عباس روى عنه الأسود بن قيس

Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4419]

Disini Ibnu Hibban menetapkan bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas itu telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qais. Hal ini berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy, Ibnu Hibban berkata tentangnya

عمرو بن سفيان يروى عن على روى عنه سعيد بن عمرو بن سفيان

‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari Aliy dan telah meriwayatkan darinya Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4480]

Hujjah Ibnu Hibban membedakan kedua ‘Amru bin Sufyan tersebut karena berbeda periwayatan keduanya  dan perawi yang meriwayatkan dari keduanya. Hujjah Ibnu Hibban ini terbukti dari riwayat yang telah dibahas di atas. Sebenarnya jika kita memaksakan diri untuk menerapkan metode tarjih maka riwayat yang paling shahih sanadnya sampai Aswad bin Qais dan menetapkan dari mana Aswad bin Qais mengambil riwayat adalah riwayat Abu ‘Aashim An Nabiil yang menetapkan bahwa Aswad meriwayatkan dari Sa’id bin ‘Amru bin Sufyan dan Sa’id bin ‘Amru meriwayatkan dari ayahnya ‘Amru bin Sufyan. Maka baik dengan metode tarjih atau jamak berbagai riwayat ‘Amru bin Sufyan didapatkan kesimpulan bahwa ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas.

.

.
Orang itu mengutip bahwa Ibnu Abi Hatim menyatukan kedua ‘Amru bin Sufyan tersebut dalam kitabnya Al Jarh Wat Ta’dil dan mengoreksi Bukhari yang membedakan kedua perawi tersebut. Pernyataannya ini patut ditinjau kembali, inilah yang ditulis Ibnu Abi Hatim

عمرو بن سفيان روى عن ابن عباس قوله عزوجل (تتخذون منه سكرا ورزقا حسنا) روى عنه الاسود بن قيس، سمعت ابى يقول ذلك

‘Amru bin Sufyan meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas firman Allah ‘azza wajalla “kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik” telah meriwayatkan darinya Al Aswad bin Qais, aku mendengar ayahku berkata demikian [Al Jarh Wat Ta’dil 6/234 no 1297]

Apa yang ditulis oleh Ibnu Abi Hatim adalah biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas. Tidak ada tanda-tanda bahwa Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua perawi ‘Amru bin Sufyan tersebut. Jadi pernyataan bahwa Ibnu Abi Hatim mengoreksi apa yang ditulis Bukhari itu adalah asumsi orang itu sendiri.

Kalau memang Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua ‘Amru bin Sufyan maka ia akan menyebutkan dalam biografinya bahwa ‘Amru bin Sufyan itu meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qais. Itulah yang namanya menggabungkan. Atau mungkin Ibnu Abi Hatim akan menyatakan secara langsung bahwa Bukhari keliru karena membedakan keduanya, hal ini yang sering dilakukan Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya, ia pernah berkata

وفرق البخاري بين موسى الشوعبى وموسى ابى عمر الذي يروى عن القاسم بن مخيمرة روى عنه معاوية بن صالح فسمعت ابى يقول: هما واحد

Dan Bukhari telah membedakan antara Musa Asy Syar’abiy dan Musa Abi Umar yang meriwayatkan dari Qaasim bin Mukhaimarah yang meriwayatkan darinya Muawiyah bin Shalih, maka aku mendengar ayahku berkata “keduanya adalah orang yang sama” [Al Jarh Wat Ta’dil 8/169 no 750]

Bukhari memang membedakan keduanya dalam Tarikh Al Kabir. Bukhari menyebutkan Musa Asy Syar’abiy dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1218 &  dan menyebutkan Musa Abi Umar dalam Tarikh Al Kabir juz 7 no 1239.

الوليد بن ابى الوليد مولى عبد الله بن عمر أبو عثمان المدنى، ويقال مولى لآل عثمان بن عفان روى عن ابن عمر وعثمان بن عبد الله بن سراقة وعبد الله بن ديناروعقبة بن مسلم روى عنه بكير بن الاشج وابن الهاد والليث بن سعد وحيوة بن شريح سمعت ابى يقول ذلك. نا عبد الرحمن قال سئل أبو زرعة عنه فقال: ثقة. قال أبو محمد جعله البخاري اسمين فسمعت ابى يقول هو واحد

Walid bin Abi Walid maula ‘Abdullah bin Umar Abu Utsman Al Madaniy, dikatakan ia maula keluarga Utsman bin ‘Affan, meriwayatkan dari Ibnu Umar, Utsman bin ‘Abdullah bin Suraaqah, Abdullah bin Diinar, dan Uqbah bin Muslim. Telah meriwayatkan darinya Bukair bin Al Asyaj, Ibnu Haad, Laits bin Sa’ad dan Haywah bin Syuraih, aku mendengar ayahku mengatakan demikian. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata Abu Zur’ah ditanya tentangnya, ia berkata “tsiqat”. Abu Muhammad berkata Bukhari menjadikannya sebagai dua nama maka aku mendengar ayahku mengatakan sebenarnya dia adalah satu orang yang sama [Al Jarh Wat Ta’dil 9/19-20 no 83]

Bukhari menyebutkan biografi Walid maula keluarga Utsman dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2545 & menyebutkan biografi Walid bin Abi Walid dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2546. Dengan contoh-contoh di atas maka dapat dipahami bahwa jika memang Ibnu Abi Hatim ingin mengoreksi Bukhari dengan menggabungkan kedua perawi yang dipisahkan Bukhari maka Ibnu Abi Hatim akan menyebutkan dengan jelas penggabungannya [misalnya dalam kasus ‘Amru bin Sufyan, jika memang Ibnu Abi Hatim menggabungkan kedua ‘Amru bin Sufyan maka Ibnu Abi Hatim akan menyebutkan bahwa ‘Amru meriwayatkan dari Aliy dan Ibnu Abbas atau menyatakan dengan jelas bahwa Bukhari keliru.

Dalam kitabnya Al Jarh Wat Ta’dil, Ibnu Abi Hatim hanya menyebutkan biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan telah meriwayatkan darinya Aswad bin Qaais tanpa menyebutkan kalau ‘Amru bin Sufyan tersebut meriwayatkan dari Aliy. Ibnu Abi Hatim tidak menyebutkan biografi ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy bin Abi Thalib. Hal ini bisa saja dipahami bahwa Ibnu Abi Hatim bertawaqquf tentang Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy.

Pendapat yang rajih adalah ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas berbeda dengan ‘Amru bin Sufyan yang meriwayatkan dari Aliy. Yang pertama telah tsabit bahwa Aswad bin Qais meriwayatkan darinya sedangkan yang kedua tidak tsabit Aswad bin Qais meriwayatkan darinya karena hadisnya mudhtharib.

.

.

.

Telah shahih Riwayat dimana Imam Ali mengakui bahwa dirinya adalah pemimpin atau berhak akan khilafah.

حدثني روح بن عبد المؤمن عن أبي عوانة عن خالد الحذاء عن عبد الرحمن بن أبي بكرة أن علياً أتاهم عائداً فقال ما لقي أحد من هذه الأمة ما لقيت توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا أحق الناس بهذا الأمر فبايع الناس أبا بكر فاستخلف عمر فبايعت ورضيت وسلمت ثم بايع الناس عثمان فبايعت وسلمت ورضيت وهم الآن يميلون بيني وبين معاوية

Telah menceritakan kepadaku Rawh bin Abdul Mu’min dari Abi Awanah dari Khalid Al Hadzdza’ dari Abdurrahman bin Abi Bakrah bahwa Ali mendatangi mereka dan berkata Tidak ada satupun dari umat ini yang mengalami seperti yang saya alami. Rasulullah SAW wafat dan akulah yang paling berhak dalam urusan ini. Kemudian orang-orang membaiat Abu Bakar terus Umar menggantikannya, maka akupun ikut membaiat, pasrah dan menerima. Kemudian orang-orangpun membaiat Utsman maka akupun ikut membaiat, pasrah dan menerima. Dan sekarang mereka cenderung antara aku dan Muawiyah” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 1/294 dengan sanad shahih]

وعن ابن عباس أن عليا كان يقول في حياة رسول الله صلى الله عليه و سلم  إن الله عز و جل يقول { أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم } والله لا ننقلب على أعقابنا بعد إذ هدانا الله تعالى والله لئن مات أو قتل لأقاتلن على ما قاتل عليه حتى أموت والله إني لأخوه ووليه وابن عمه ووارثه فمن أحق به مني رواه الطبراني ورجاله رجال الصحيح

Dan dari Ibnu Abbas bahwa Aliy berkata ketika semasa hidup Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] bahwa Allah ‘azza wajalla berfirman “maka apakah jika dia mati atau terbunuh kalian berbalik kebelakang”. Demi Allah kami tidak akan berbalik ke belakang setelah Allah memberikan hidayah kepada kami. Demi Allah jika Beliau wafat atau terbunuh maka aku akan berperang di atas jalan yang Beliau berperang sampai aku wafat. Demi Allah aku adalah Saudaranya, Waliy-nya, anak pamannya, dan pewarisnya maka siapakah yang lebih berhak terhadapnya daripada aku. Diriwayatkan Ath Thabraniy dan para perawinya perawi shahih [Majma' Az Zawaid Al Haitsamiy 9/134]

Riwayat Ath Thabrani memang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat atau shaduq hanya saja riwayat tersebut mengandung illat [cacat]. Riwayat tersebut dibawakan oleh Simmak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Simmak telah diperbincangkan oleh sebagian ulama karena buruk hafalannya dan sebagian ulama telah memperbincangkan riwayatnya dari Ikrimah. Maka riwayat Ibnu Abbas tersebut sanadnya lemah tetapi bisa dijadikan i’tibar. Matan riwayat Ibnu Abbas juga mengandung makna yang jelas diantaranya bahwa Aliy merasa lebih berhak atas Nabi karena Beliau adalah Wali-nya. Makna Waliy disini tidak tepat dikatakan sebagai penolong atau teman karena jika memang begitu maka semua kaum mukminin adalah Waliy bagi Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam]. Padahal penyebutan Waliy disana oleh Imam Aliy adalah keutamaan dan kekhususan dirinya atas yang lain sehingga Beliau lebih berhak atas Nabi [shallallahu 'alaihi wasallam]. Maka tidak lain makna Waliy tersebut adalah kedudukan Waliy yang diberikan oleh Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] sebagaimana nampak dalam beberapa hadis diantaranya hadis berikut

حدثنا يوسف بن موسى ، قال : ثنا عبيد الله بن موسى ، عن فطر بن خليفة ، عن أبي إسحاق ، عن عمرو ذي مر ، وعن سعيد بن وهب ، وعن زيد بن يثيع ، قالوا : سمعنا عليا ، يقول : نشدت الله رجلا سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول يوم غدير خم لما قام ، فقام إليه ثلاثة عشر رجلا ، فشهدوا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم ، قالوا : بلى يا رسول الله ، قال : فأخذ بيد علي ، فقال : من كنت مولاه فهذا مولاه ، اللهم وال من والاه ، وعاد من عاداه ، وأحب من أحبه ، وأبغض من أبغضه ، وانصر من نصره ، واخذل من خذله

Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa dari Fithr bin Khaliifah dari Abu Ishaaq dari ‘Amru Dziy Murr dan dari Sa’id bin Wahb dan dari Zaid bin Yutsai’, mereka berkata “kami mendengar Ali mengatakan aku meminta dengan nama Allah agar laki-laki yang mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata pada hari ghadir kum untuk berdiri, maka berdirilah tiga belas orang, mereka bersaksi bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “bukankah aku lebih berhak atas kaum muslimin lebih dari diri mereka sendiri”, mereka menjawab “benar wahai Rasulullah” [perawi] berkata maka Beliau memegang tangan Aliy dan berkata “barang siapa yang aku adalah maulanya maka dia ini adalah maulanya, ya Allah belalah orang yang membelanya, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya, bencilah yang membencinya, tolonglah yang menolongnya dan hinakanlah yang menghinakannya. [Musnad Al Bazzar 1/460 no 786]

أخبرنا احمد بن شعيب ، قال : اخبرنا الحسين بن حريث المروزي ، قال : اخبرنا الفضل بن موسى ، عن الاعمش ، عن ابي اسحاق عن سعيد بن وهب قال : قال علي كرم الله وجهه في الرحبة : أنشد بالله من سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم غدير خم يقول : ان الله ورسوله ولي المؤمنين ، ومن كنت وليه فهذا وليه ، اللهم وال من والاه وعاد من عاداه ، وانصر من نصره

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Syu’aib yang berkata telah mengabarkan kepada kami Husain bin Huraits Al Marwaziy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Fadhl bin Muusa dari Al A’masy dari Abu Ishaaq dari Sa’id bin Wahb yang berkata Ali [karamallahu wajhah] berkata di tanah lapang “aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah waliy [pemimpin] bagi kaum mukminin dan siapa yang menganggap aku sebagai waliy [pemimpinnya] maka dia ini [Aliy] menjadi pemimpinnya, ya Allah  belalah orang yang membelanya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan tolonglah orang yang menolongnya [Tahdzib Al Khasa’ais no 93]

Hadis ghadir kum adalah hujjah kepemimpinan Imam Aliy, terlepas apakah itu ditafsirkan kepemimpinan dalam agama ataupun pemerintahan, hadis tersebut menyatakan dengan jelas dimana Imam Ali sebagai maula bagi kaum muslimin. Perselisihan mengenai hadis ini terletak pada makna dari lafaz “maula”. Mereka para pengingkar menolak makna maula atau waliy disana sebagai pemimpin, menurut mereka maula disana bermakna penolong.

Memang benar bahwa lafaz “maula” memiliki banyak makna tetapi tentu tidak boleh seseorang seenaknya menolak satu makna dan beralih pada makna lain yang sesuai dengan hawa nafsunya. Makna “maula” dalam hadis Ghadir kum harus dipahami sesuai dengan konteks kalimat yang digunakan bukan dengan konteks asal-asalan atau dibuat-buat untuk menyebarkan syubhat. Maula atau Waliy pada hadis ghadir kum di atas bermakna orang yang berhak atau memegang urusan orang banyak, hal ini nampak dari kalimat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم

“bukankah aku lebih berhak atas kaum muslimin lebih dari diri mereka sendiri”

Kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melanjutkan “maka barang siapa yang aku adalah maulanya maka Aliy adalah maulanya”. Lafaz ini jelas terikat dengan pernyataan Beliau sebelumnya bahwa Beliau lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Dan siapa yang menganggap Nabi sebagai maulanya yaitu sebagai orang yang berhak atas dirinya maka ia hendaknya menganggap Aliy juga sebagai maulanya. Artinya sebagaimana Nabi lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka maka Aliy pun lebih berhak atas kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Tentu saja makna “maula” atau “waliy” yang sesuai dengan makna ini adalah pemimpin bukan penolong.

Hal ini dikuatkankan pula oleh hadis marfu’ Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Imam Ali adalah waliy atau khalifah bagi setiap muslim sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ ، عَنْ أَبِي بَلْجٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ لِعَلِيٍّ : ” أَنْتَ وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ بَعْدِي

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah dari Abi Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda kepada Aliy “engkau Waliy setiap mukmin sepeninggalku” [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisi 1/360 no 2752]

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Kedudukanmu di sisiku sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai khalifahku untuk setiap mukmin sepeninggalku [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1188]

Ini adalah hadis yang jelas menyatakan bahwa Imam Aliy adalah khalifah atau waliy [pemimpin] bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Bisa dimaklumi kalau para pengingkar akan berusaha keras menolak hadis ini dan menyebarkan syubhat untuk mentakwilkan hadis ini karena tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Silakan saja, memang sudah menjadi tingkahpara pengingkar, jika ada hadis Ibnu Abbas yang matannya tidak jelas tentang khalifah dan sesuai dengan hawa nafsunya maka ia akan mengambilnya tetapi jika hadis Ibnu Abbas yang jelas-jelas menyatakan khalifah dan menentang hawa nafsunya maka ia akan mencari-cari cara untuk menolak atau menyebarkan syubhat. Orang seperti ini tidak pantas bicara sok soal dalil karena hakikat sebenarnya dirinya hanya berpegang pada hawa nafsunya.

Diantara orang yang kami maksud ada yang berpegang pada atsar Imam Aliy yang sebenarnya tidak sedang membicarakan soal khilafah atau wasiat khilafah.

حَدَّثَنَا يَحْيَى، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ، قَالَ: انْطَلَقْتُ أَنَا وَالْأَشْتَرُ إِلَى عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقُلْنَا: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً؟ قَالَ: لَا، إِلَّا مَا فِي كِتَابِي هَذَا، قَالَ: وَكِتَابٌ فِي قِرَابِ سَيْفِهِ، فَإِذَا فِيهِ: ” الْمُؤْمِنُونَ تَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، أَلَا لَا يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ، وَلَا ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ، مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Yahyaa telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah, dari Qataadah, dari Al-Hasan, dari Qais bin ‘Ubaad, ia berkata Aku pergi bersama Al-Asytar menuju ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Kami bertanya “Apakah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat sesuatu kepadamu yang tidak beliau wasiatkan kepada kebanyakan manusia?”. Ia berkata “Tidak, kecuali apa-apa yang terdapat dalam kitabku ini”. Perawi berkata “dan kitab yang terdapat dalam sarung pedangnya dimana padanya bertuliskan ‘Orang-orang mukmin sederajat dalam darah mereka. Mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dimana orang-orang yang paling rendah dari kalangan mereka berjalan dengan jaminan keamanan mereka. Ketahuilah, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir. Tidak pula karena membunuh orang kafir yang punya perjanjian dengan kaum muslimin. Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru atau melindungi orang yang jahat, maka laknat Allah atasnya, laknat para malaikat dan manusia seluruhnya” [Musnad Ahmad bin Hanbal 1/122]

Pertanyaan Qais bin ‘Ubaad di atas bukan tentang wasiat khilafah atau imamah melainkan tentang perjalanan Imam Aliy dalam perang Jamal tersebut. Hal ini nampak dalam riwayat Yunuus dari Hasan Al Bashriy dari Qais bin ‘Ubaad berikut

حدثنا عبد الله حدثني إسماعيل أبو معمر ثنا بن علية عن يونس عن الحسن عن قيس بن عباد قال قلت لعلي أرأيت مسيرك هذا عهد عهده إليك رسول الله صلى الله عليه و سلم أم رأى رأيته قال ما تريد إلى هذا قلت ديننا ديننا قال ما عهد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فيه شيئا ولكن رأى رأيته

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Isma’iil Abu Ma’mar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah dari Yunus dari Al Hasan dari Qais bin ‘Ubaad yang berkata aku berkata kepada Aliy “apakah keberangkatanmu ini adalah wasiat dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terhadapmu ataukah berasal dari pendapatmu?. Aliy berkata “apa yang kamu inginkan dengan hal ini?”. Aku berkata “agama kami, agama kami”. Aliy berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak berwasiat sesuatu tentangnya tetapi ini adalah pendapat dariku” [Musnad Ahmad 1/148 no 1270]

Jadi maksud dari Hadis Hasan Bashriy  dari Qais bin ‘Ubaad di atas adalah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak mewasiatkan kepada Imam Ali tentang keberangkatannya dalam perang Jamal. Hal itu berasal dari pendapat Imam Ali sendiri. Tidak ada hadis ini bicara soal khalifah atau imamah, orang itu [baca : Abul Jauzaa'] yang berhujjah dengan hadis ini hanya menunjukkan kelemahan akalnya saja. Sebagai informasi saja, riwayat Yunus dari Hasan itu lebih tsabit dibanding riwayat Qatadah dari Hasan dengan dua alasan

  1. Para ulama telah menguatkan riwayat Yunus dari Hasan sebagaimana Abu Zur’ah berkata Yunus lebih aku sukai dari Qatadah dalam riwayat dari Hasan
  2. Qatadah telah disifatkan sebagian ulama dengan tadlis maka riwayatnya disini mengandung illat [cacat] karena ia membawakannya dengan ‘an anah apalagi jika terdapat perselisihan.

Kemudian orang itu mengutip pula riwayat Abu Juhaifah yang sebenarnya juga tidak berbicara soal khalifah atau imamah.

أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرُ مَا فِي أَيْدِي النَّاسِ؟ قَالَ: لَا، إلَّا أَنْ يُؤْتِيَ اللَّهُ عَبْدًا فَهْمًا فِي الْقُرْآنِ وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ، قُلْتُ: وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ؟ قَالَ: الْعَقْلُ وَفِكَاكُ الْأَسِيرِ، وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ

Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan, dari Mutharrif, dari Sya’biy, dari Abu Juhaifah, ia berkata Aku bertanya kepada ‘Aliy [radliyallaahu ‘anhu] “Apakah di sisimu ada sesuatu dari Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam] yang tidak diketahui oleh orang-orang?”. Tidak, kecuali Allah memberikan kepada seorang hamba pemahaman dalam Al-Qur’an dan apa yang terdapat dalam shahiifah”. Aku bertanya  “Apakah yang terdapat dalam shahiifah tersebut?”. Aliy menjawab “Pembayaran diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuhnya orang mukmin karena membunuh orang kafir” [Al Umm Syafi’i 7/195]

حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، قَالَ: نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ: هَلْ عَهِدَ إِلَيْكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا لَمْ يَعْهَدْهُ إِلَى النَّاسِ؟ قَالَ: ” لا، إِلا مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ فَإِذَا فِيهَا: فِكَاكُ الأَسِيرِ، وَلا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ، الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Khaliifah, ia berkata telah mengkhabarkan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Ismaa’iil, dari Asy-Sya’biy, dari Abu Juhaifah, ia berkata Aku bertanya kepada ‘Aliy bin Abi Thaalib “Apakah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berwasiat kepadamu sesuatu yang tidak beliau wasiatkan kepada orang-orang?”. Ia menjawab “Tidak, kecuali yang ada dalam shahiifah ini”. Dalam shahiifah itu tertulis ‘pembebasan tawanan, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir, dan kaum muslimin sederajat dalam darah-darah mereka” [Musnad Al Bazzar no 486]

Maksud pertanyaan Abu Juhaifah kepada Aliy [radiallahu ‘anhu] adalah apakah di sisi Aliy ada wasiat berupa wahyu atau catatan tertulis yang tidak diketahui dan tidak diwasiatkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada orang-orang. Hal ini nampak lebih jelas dalam riwayat Abu Juhaifah berikut

حدثنا أحمد بن منيع حدثنا هشيم أنبأنا مطرف عن الشعبي حدثنا ابو حجيفة قال قلت لعلي يا أمير المؤمنين هل عندكم سوداء في بيضاء ليس في كتاب الله ؟ قال لا والذي فلق الحبة وبرأ النسمة ما علمته إلا فهما يعطيه الله رجلا في القرآن وما في الصحيفة قلت وما في الصحيفة ؟ قال العقل فكاك الأسير وأن لا يقتل مؤمن بكافر

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah memberitakan kepada kami Mutharrif dari Asy Sya’bi yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Juhaifah yang berkata aku berkata kepada Aliy “wahai amirul mukminin apakah disisimu ada catatan hitam diatas putih yang tidak ada dalam kitab Allah?” Aliy berkata “tidak, demi Yang menciptakan biji-bijian dan menciptakan jiwa, aku tidak mengetahui kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seseorang tentang Al Qur’an dan shahifah. Aku berkata “apa yang ada dalam shahifah?”. Aliy menjawab “diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuh seorang mu’min karena membunuh orang kafir” [Sunan Tirmidzi 4/24 no 1412, shahih]

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا مُطَرِّفٌ أَنَّ عَامِرًا حَدَّثَهُمْ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِنْ الْوَحْيِ إِلَّا مَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ لَا وَالَّذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ مَا أَعْلَمُهُ إِلَّا فَهْمًا يُعْطِيهِ اللَّهُ رَجُلًا فِي الْقُرْآنِ وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ قُلْتُ وَمَا فِي الصَّحِيفَةِ قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيرِ وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Zuhair yang berkata telah menceritakan kepada kami Mutharrif bahwa ‘Aamir menceritakan kepada mereka dari Abi Juhaifah [radiallahu ‘anhu] yang berkata aku berkata kepada Aliy [radiallahu ‘anhu] “apakah di sisimu ada wahyu selain apa yang ada dalam kitab Allah?”. Aliy berkata “tidak demi Yang menciptakan biji-bijian dan menciptakan jiwa, aku tidak mengetahui kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seseorang tentang Al Qur’an dan shahifah. Aku berkata “apa yang ada dalam shahifah?”. Aliy menjawab “diyat, pembebasan tawanan, dan tidak dibunuh seorang mu’min karena membunuh orang kafir” [Shahih Bukhari 4/69 no 3047]

Jadi kalau kita mengumpulkan keseluruhan riwayat Abu Juhaifah dari Aliy maka didapatkan bahwa Abu Juhaifah sebenarnya tidak sedang menanyakan wasiat khalifah atau Imamah tetapi wasiat berupa wahyu yang tidak disampaikan kepada orang-orang. Hal ini dikuatkan pula oleh hadis selain riwayat Abu Juhaifah

وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب وأبو كريب جميعا عن أبي معاوية قال أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم أن عندنا شيئا نقرأه إلا كتاب الله وهذه الصحيفة ( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله تعالى عليه وسلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى بها أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb dan Abu Kuraib, semuanya dari Abu Mu’awiyah. Abu Kuraib berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim At Taimiy dari ayahnya yang berkata Ali bin Abi Thalib berkhutbah kepada kami “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki sesuatu yang kami baca selain Kitab Allah dan Shahifah ini [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungankaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak [Shahih Muslim 2/994 no 1370]

Jadi yang diingkari Imam Aliy dalam hadis Muslim di atas adalah anggapan bahwa Beliau memiliki kitab lain yang Beliau baca selain Kitab Allah dan shahifah yang dimaksud. Lagi-lagi tidak ada dalam hadis Muslim di atas keterangan soal khilafah atau imamah.

.

.

Dari semua ini kita dapatkan kesimpulan yang pasti bahwa Imam Ali mengakui kepemimpinannya dan tidak pernah mengingkari kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah menetapkan kepemimpinannya. Disini terbukti pula bahwa para pengingkar hanya mencari syubhat basa basi kemudian membungkusnya dengan slogan ilmiah palsu untuk mengecoh kaum awam mereka. Sungguh mereka berharap bahwa seandainya semua orang bodoh seperti pengikut mereka sehingga bisa tertipu oleh dalil-dalil palsu yang mereka buat. Pembahasan di atas tidak lain untuk membuktikan kedustaan mereka dan tentu saja akan menambah kedongkolan hati mereka para. Ada baiknya kita mengingat firman Allah SWT yang sangat sesuai untuk mereka

هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah [kepada mereka] “Matilah kamu karena kemarahanmu itu” [QS. Aali ‘Imraan : 119].

Sebelum kami menutup pembahasan kali ini maka kami akan menyatakan dengan jelas pandangan kami dalam perkara ini untuk menutup syubhat pengingkar dan pendengki. Tidak dipungkiri kalau keyakinan Imamah Aliy bin Abi Thalib adalah bagian dari Aqidah Syiah tetapi kami bukanlah penganut Syiah. Pandangan kami berdasarkan analisis kami sendiri terhadap hadis-hadis yang kami pelajari sebagaimana dalam pembahasan di atas.

Kami tidak pula menetapkan Kepemimpinan dua belas Imam Syiah seperti yang telah dikenal menjadi dasar bagi Aqidah Syiah, karena kami belum menemukan dalil shahih tentang nama dua belas Imam yang dimaksud. Kami tidak pula berpandangan bahwa para sahabat yang membaiat Abu Bakr, Umar dan Utsman sebagai kafir, cukuplah kami berpandangan sebagaimana Imam Aliy yang walaupun mengakui bahwa dirinya yang paling berhak dalam masalah khalifah tetapi Beliau tidak mengkafirkan para sahabat yang menerima kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Inilah pandangan kami dan kami tidak peduli dengan lisan busuk para pengingkar yang gemar menuduh kami sebagai Syiah Rafidhah. Jika kami yang membela Ahlul Bait dikatakan Syiah Rafidhah maka mereka para penuduh itu hakikatnya adalah Nashibi.

.

.

Note : Tulisan ini merevisi tulisan sebelumnya dengan pokok bahasan yang sama. Secara keseluruhan kesimpulan tulisan di atas tidak jauh berbeda dengan tulisan sebelumnya hanya saja ada beberapa perincian yang ditambahkan.

Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Sumber : Secondprince

Benarkah Imam Bukhariy Mengambil Hadis Dari Perawi Rafidhah?

Salah satu isu yang sering dilontarkan penganut Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah adalah ulama Ahlus Sunnah diantaranya Imam Bukhariy juga meriwayatkan dari perawi Syi’ah.

Dan jawaban dari sebagian Ahlus Sunnah biasanya berupa bantahan yaitu Imam Bukhariy memang meriwayatkan dari Syi’ah tetapi Syi’ah yang dimaksud bukan Syi’ah Rafidhah tetapi Syi’ah dalam arti lebih mengutamakan Aliy bin Abi Thalib dari Utsman atau sahabat lainnya, Syi’ah yang tetap memuliakan para sahabat bukan seperti Syi’ah Rafidhah yang mencela para sahabat. Salah satu bantahan yang dimaksud dapat para pembaca lihat disini.

Benarkah demikian?. Tentu saja cara sederhana untuk membuktikan hal itu adalah tinggal menunjukkan adakah perawi Bukhariy yang dikatakan Rafidhah atau dituduh Syiah yang mencela sahabat Nabi. Akan diambil beberapa perawi Bukhariy sebagai contoh yaitu

  1. ‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy
  2. ‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawajiniy
  3. Auf bin Abi Jamiilah Al Arabiy
  4. Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

.

.

‘Abdul Malik bin A’yan Al Kuufiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi dalam Taqrib At Tahdzib hal 621 no 4192 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Abdul Malik bin A'yan

[perawi kutubus sittah] ‘Abdul Maaalik bin A’yaan Al Kuufiy maula bani Syaibaan, seorang Syi’ah yang shaduq, memiliki riwayat dalam Shahihain satu hadis sebagai mutaba’ah, ia termasuk thabaqat keenam

Dari keterangan di atas maka ‘Abdul Maalik bin A’yaan termasuk perawi Bukhariy dalam Shahih-nya. Adapun soal hadisnya yang hanya satu sebagai mutaba’ah maka itu tidak menjadi soal disini. Lantas Syi’ah seperti apakah dia? Apakah dia seorang rafidhah?. Jawabannya ada pada apa yang disebutkan Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa Al Kabiir hal 792 no 990 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid]

Abdul Malik bin A'yan2

Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Humaidiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin A’yan, seorang syi’ah ia di sisi kami rafidhah shaahib ra’yu

Atsar di atas sanadnya shahih sampai Sufyan dan ia adalah Ibnu Uyainah. Dalam atsar tersebut ia menyatakan bahwa Abdul Malik bin A’yan seorang rafidhah

  1. Bisyr bin Muusa seorang imam hafizh tsiqat [Siyar A’lam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 13/352 no 170]
  2. Al Humaidiy yaitu Abdullah bin Zubair bin Iisa seorang tsiqat hafizh faqih [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 506 no 3340]
  3. Sufyan bin Uyainah seorang tsiqat hafizh faqiih imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar hal 395 no 2464]

.

.

.

‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy

Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal 14/175 no 3104 [tahqiiq Basyaar Awwaad Ma’ruuf] menyebutkan salah satu biografi perawi yang termasuk perawi Bukhariy

Abbad bin Ya'qub4

[perawi Bukhariy, Tirmidzi dan Ibnu Majah] ‘Abbaad bin Ya’quub Al Asadiy Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid Al Kuufiy, seorang Syi’ah

Lantas Syiah yang bagaimanakah dia?. Jawabannya bisa dilihat dari pernyataan Shalih bin Muhammad yang dinukil oleh Al Mizziy dalam Tahdzib Al Kamal

'Abbad bin Ya'qub2

Aliy bin Muhammad Al Marwaziy berkata Shalih bin Muhammad ditanya tentang ‘Abbaad bin Ya’quub Ar Rawaajiniy, Maka ia berkata “ia telah mencaci Utsman”

Ibnu Hibban dalam kitabnya Al Majruuhin 2/163 no 794 [tahqiiq Hamdiy bin ‘Abdul Majiid] menyatakan dengan jelas bahwa ia rafidhah

'Abbad bin Ya'qub

‘Abbaad bin Ya’qub Ar Rawaajiniy Abu Sa’iid termasuk penduduk Kuufah, meriwayatkan dari Syariik, telah meriwayatkan darinya guru-guru kami, wafat pada tahun 250 H di bulan syawal, ia seorang Rafidhah yang mengajak ke paham rafadh, dan bersamaan dengan itu ia meriwayatkan hadis-hadis mungkar dari para perawi masyhur maka selayaknya ditinggalkan

Bukhariy meriwayatkan darinya dan memasukkannya dalam kitab Shahih-nya. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah salah satu dari guru Imam Bukhariy. Bukhariy hanya meriwayatkan satu hadis darinya dan itu pun sebagai mutaba’ah. Tidak jadi soal berapa jumlah hadis yang diriwayatkan Bukhariy darinya, yang penting telah dibuktikan bahwa ia termasuk perawi Bukhariy yang dikatakan rafidhah.

.

.

.

‘Auf bin Abi Jamiilah Al A’rabiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 757 no 5250 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Auf bin Abi Jamilah

[perawi kutubus sittah] Auf bin Abi Jamiilah [dengan fathah pada huruf jiim] Al A’rabiy, Al ‘Abdiy, Al Bashriy, seorang yang tsiqat dituduh dengan faham qadariy dan tasyayyu’ termasuk thabaqat keenam wafat pada tahun 146 atau 147 H pada umur 86 tahun

Bagaimanakah tuduhan tasyayyu’ yang dimaksud?. Adz Dzahabiy menukil dalam kitabnya Mizan Al I’tidal 5/368 no 6536 [tahqiq Syaikh 'Aliy Al Mu'awwadh, Syaikh 'Adil Ahmad dan Ustadz Dr 'Abdul Fattah]

Auf bin Abi Jamilah2

Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshaariy berkata aku melihat Dawud bin Abi Hind memukul Auf Al Arabiy dan mengatakan “celaka engkau wahai qadariy”. Dan Bundaar berkata dan ia membacakan kepada mereka hadis Auf “demi Allah sungguh Auf seorang qadariy rafidhah syaithan”

.

.

.

‘Aliy bin Ja’d Al Baghdadiy

Ibnu Hajar menyebutkan salah satu perawi Bukhariy dalam Taqrib At Tahdzib hal 691 no 4732 [tahqiiq Abul ‘Asybal Al Baakistaaniy]

Aliy bin Ja'd

[perawi Bukhariy dan Abu Dawud] Aliy bin Ja’d bin Ubaid Al Jauhariy, Al Baghdadiy seorang tsiqat tsabit dituduh dengan tasyyayyu’, termasuk thabaqat kesembilan dari kalangan sighar, wafat pada tahun 230 H

Aliy bin Ja’d termasuk salah satu guru Bukhariy, tidak ada yang menuduhnya rafidhah tetapi ia pernah menyatakan Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam. Dalam Masa’il Ahmad bin Hanbal riwayat Ishaaq bin Ibrahim bin Haani’ An Naisaburiy 2/154 no 1866 [tahqiiq Zuhair Asy Syaawiisy], ia [Ishaaq] berkata

Aliy bin Ja'd2

Dan aku mendengar Abu ‘Abdullah [Ahmad bin Hanbal], telah berkata kepadanya Dalluwaih “aku mendengar Aliy bin Ja’d mengatakan demi Allah, Mu’awiyah mati tidak dalam agama islam”

Dalluwaih yang dimaksud adalah Ziyaad bin Ayuub Abu Haasyim juga termasuk perawi Bukhariy, seorang yang tsiqat hafizh [Taqrib At Tahdzib hal 343 no 2067]

.

.

.

Ulasan Singkat

Fakta-fakta di atas adalah bukti yang cukup untuk membatalkan pernyataan bahwa Bukhariy tidak mengambil hadis dari perawi Rafidhah atau perawi Syi’ah yang mencela sahabat.

Yang kami sajikan disini hanyalah apa yang tertera dan ternukil dalam kitab Rijal Ahlus Sunnah, kami sendiri pada akhirnya [setelah mempelajari lebih dalam] memutuskan untuk tidak mempermasalahkan hal ini. Pengalaman kami dalam menelaah kitab Rijal menunjukkan bahwa perawi dengan mazhab menyimpang [di sisi ahlus sunnah] seperti khawarij, syiah, qadariy, bahkan nashibiy tetap ada yang dikatakan tsiqat atau shaduq sehingga mazhab-mazhab menyimpang tersebut tidak otomatis menjadi hujjah yang membatalkan keadilan perawi.

Hal ini adalah fenomena yang sudah dikenal dalam mazhab Ahlus Sunnah dan tidak ada yang bisa diperbuat dengan itu, memang kalau dipikirkan secara kritis bisa saja dipermasalahkan [sebagaimana kami dulu pernah mempermasalahkannya] tetapi sekeras apapun dipikirkan tidak akan ada solusinya, tidak ada gunanya berkutat pada masalah yang tidak ada solusinya. Lebih baik menerima kenyataan bahwa memang begitulah adanya.

  1. Silakan dipikirkan berapa banyak hadis shahih Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mencela khawarij tetapi tetap saja dalam kitab Rijal ditemukan para perawi yang dikatakan khawarij tetapi tsiqat dan shaduq.
  2. Atau jika ada orang yang mau mengatakan bahwa mencela sahabat dapat menjatuhkan keadilan perawi maka ia akan terbentur dengan para perawi tsiqat dari golongan rafidhah yang mencela sahabat tertentu seperti Utsman dan dari golongan nashibiy yang mencela Aliy bin Abi Thalib.
  3. Bukankah ada hadis shahih bahwa tidak membenci Aliy kecuali munafik tetapi dalam kitab Rijal banyak perawi nashibiy yang tetap dinyatakan tsiqat.

Mungkin akan ada yang berpikir, bisa saja perawi yang dikatakan atau dituduh bermazhab menyimpang [rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij] tidak mesti memang benar seperti yang dituduhkan. Jawabannya ya memang mungkin, tetapi apa gunanya berandai-andai, kalau memang begitu maka silakan dipikirkan bagaimana memastikan tuduhan tersebut benar atau keliru. Dalam kitab Rijal secara umum hanya ternukil ucapan ulama yang menyatakan perawi tertentu sebagai rafidhah, nashibiy, qadariy, khawarij tanpa membawakan bukti atau hujjah. Perkara ini sama halnya dengan pernyataan tautsiq terhadap perawi. Kita tidak memiliki cara untuk membuktikan benarkah ucapan ulama bahwa perawi tertentu tsiqat atau shaduq atau dhaif. Yang bisa dilakukan hanyalah menerimanya atau merajihkan atau mengkompromikan perkataan berbagai ulama tentang perawi tersebut.

Lantas mengapa isu ini dibahas kembali disini?. Isu ini menjadi penting ketika ada sebagian pihak yang mengkafirkan orang-orang Syi’ah maka orang-orang Syi’ah melontarkan syubhat bahwa dalam kitab Ahlus Sunnah termasuk kitab Bukhariy banyak terdapat perawi Syi’ah. Kemudian pihak yang mengkafirkan itu membuat bantahan yang mengandung syubhat pula bahwa perawi Syi’ah dalam kitab Shahih bukanlah Rafidhah. Kami katakan bantahan ini mengandung syubhat karena faktanya terdapat sebagian perawi syiah dalam kitab Shahih yang ternyata dikatakan Rafidhah [contohnya sudah disebutkan di atas].