Sunni-Syiah hanyalah perkembangan pasca Rasulullah Saw

Dien Syamsudin :

Ana La Syi’i, La Sunni, Bal Islami

 

(Transkrip lengkap, sambutan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Dien Syamsudin dalam peluncuran buku Kapita Selekta Mozaik Islam, karya Prof. Dr. Umar Shihab di Hotel Pan Pasific pada Jumat 17 Oktober 2014)

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillahi haqqa hamdih, wa syukrulillahi haqqa syukrih, wa la hawla wala quwwata illa billahil aliyil adhim, al Mukaromun yang saya muliakan para ulama, zu’ama, sesepuh dan pinisepuh serta semua tamu undangan.

Al Mukarromun ashabul fadhilah al-sufara’ min al-duwal al Islamiyah al syafiqah, Yang Mulia para Duta Besar negara-negara sahabat, hadirin dan hadirat khususnya “sang pengantin,” penulis buku, Prof. Dr. Umar Shihab yang berbahagia.

Atas nama pribadi dan atas nama dewan pimpinan  Majelis Ulama Indonesia saya ingin mengungkapkan rasa syukur dan rasa bahagia atas peluncuran buku Kapita Selekta dan Mozaik Islam karya prof Dr. Umar Shihab, seorang dari Ketua Majelis Ulama Indonesia yang kebetulan termasuk yang tertua yang telah mencapai usai 75 tahun, terpaut hampir 20 tahun dari saya, seorang yang kalau boleh saya katakan sebagai mozaik dalam dirinya, karena selain sebagai seorang ulama dan juga Muslim, guru besar, tapi juga seorang pendidik dan banyak juga pengalaman dalam bidang politik.

Judul buku ini, Kapita Selekta yang tadi dibicarakan terpengaruh oleh Pak Natsir yang juga menuliskan Kapita Selekta tapi juga karena, meskipun saya belum membaca secara tuntas, buku ini mengangkat isu-isu, persoalan-persoalan dalam rentangan disiplin ilmu keislaman yang luas dari akidah, fikih, hukum, kalau tidak salah juga tasawuf dan juga diskusi kontemporer termasuk isu-isu politik, maka dia menjadi bunga rampai yang sangat kaya dan ketika dinyatakan sebagai mozaik Islam, ini mengandung pesan bahwa Islam bisa dikatakan sebagai sebuah entitas keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang satu sama lain terjalin dalam tali temali yang erat sekali dan menjadikan Islam sebagai Die Wende dan sekaligus sebagai mozaik yang indah.

Ini menegaskan bahwa ada persoalan kemajemukan, ta’addudat, termasuk di dalamnya persoalan ikhtilaf dan juga keragaman yang sesungguhnya merupakan sunnatullah karena begitu banyak ayat suci menegaskan bahwa Allah menciptakan semua yang ada di bumi, langit, alam semesta ini dalam keragaman, ikhtilafu alwanikum wa alsinatikum, syu’uban wa qabaila, dan seterusnya yang di akhir ayat itu, Allah mengatakan semuanya adalah tanda-tanda lil ‘alimin bagi orang-orang yang berilmu yang mengetahui, yang menggunakan akal pikiran.

  1. ikhtilafu ummati rahmah dan banyak disebut tadi, perbedaan di antara umatku itu adalah rahmat, ini dalam arti secara esensial perbedaan itu sebagai rahmat tetapi juga ada pesan, ada imperatif dalam ungkapan itu bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita perlu kita sikapi dengan rahmah dan penuh kasih sayang di antara kita.

Inilah yang menjadi pesan Islam yang kemajemukan umat dalam pemikiran, dalam mazhab, dalam orientasi politik dan di Indonesia juga dalam instrumen perjuangan di organisasi-organisasi kemasyarakatan, sesungguhnya adalah sunnatullah itu sendiri. Maka oleh karena itu pesan Islam yang ingin disampaikan oleh Prof. Dr. Umar Shihab adalah pesan Islam agar dialog di antara kita perlu kita tingkatkan dan agar kita tidak mudah terjebak kepada yang beliau sampaikan tadi itu, takfir dan tadhlil, yaitu pengkafiran dan penyesatan yang memang akhir-akhir ini menjadi salah satu fenomena di dunia Islam, di kalangan dunia Islam, takfir yaitu ada gerakan takfiri dan gerakan tadhlil, yang walaupun di dalam Islam dibandingkan dengan agama-agama lain relatif memiliki kriteria keyakinan kepercayaan keagamaan yang sangat ketat sekali, best marking of Islamic faith, yang mungkin bagi agama-agama lain yang terlalu longgar dalam hal keyakinan sehingga memungkinkan dan memang secara empiris terdapat sekte-sekte yang berbeda satu sama lain, tapi Islam sangat ketat sekali menyangkut al-aqidah al-Islamiyah, namun sangat tergantung pada kita apakah kita membawanya pada kriteria maksimal ataukah menurunkannya pada kriteria minimal. Kalau saya pribadi ingin kriteria minimal lah yang kita pakai, yaitu syahadatain, maka semua yang bertumpu pada syahadatain, keyakinan terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad sebagai rasul terakhir, semuanya berada di dalam wilayah keislaman.

Maka tidak salah dalam hadis man qala la ilaha ilallah dakhalal jannah, didahului la ilaha ilallah saja ini, kalau kita berangkat dari kriteria yang minimal ini, maka perbedaan-perbedaan yang ada itu sesungguhnya berada pada wilayah cabang-cabang, furu’iyyah bukan pada ushul, dasar agama, dan ketika ada percabangan-percabangan, kemajemukan dan keragaman dalam banyak hal lain yang menurut sejarah yang bisa kita baca itu semuanya adalah perkembangan pasca Rasulullah Saw, Sunni-Syiah, mazhab-mazhab, adalah dinamika perkembangan pasca Rasulullan Saw.

Sehingga itu adalah produk sejarah, produk budaya yang memang mengacu kepada dasar-dasar agama dan bahkan tidak sedikit dalam perkembangan perbedaan itu sendiri ada faktor politik yang kemudian ditarik ke teologi seolah-olah perbedaan teologis, padahal pada pangkalnya adalah perbedaan politik, kalau ini kita sikapi secara jernih, tenang dan sedikit santai maka kita mungkin bisa berlapang dada, dan inilah pesan Rasulullah Saw yang sangat senang saya kutip, yaitu hadis yang berbunyi ahabbuddin lillah atau ilallah al-hanafiyyatu as-samhah, bahwa agama yang paling dicintai di sisi Allah, pada Allah adalah keberagaman yang bertumpu pada kehanifan, al-hanafiyyah dan memang agama-agama samawi termasuk Islam, sangat mengacu kepada pengikut Ibrahimi, Ibrahim as yang menyatakan dirinya dan dinyatakan sebagai hanifan musliman.

Sebagai muslim yang hanif yang menampilkan al-hanafiyyah dan ini pulalah sedikit kita lakukan konteks analisis terhadap doa-doa dalam shalat betapa shalat yang merupakan tiang agama itu diawali dengan komitmen Ibrahimi, hanifan musliman menukilkan pernyataan Ibrahim as tapi di ujung shalat dalam tahiyat kita ulang kembali kama barakta ‘ala Ibrahim, Ibrahim kita munculkan kembali seolah-olah komitmen Ibrahimi ini meliputi shalat yang merupakan tiang agama itu, dan itulah kehanifan, al-hanafiyyah, kalau pesan Rasul tadi itu al-hanafiyyatu as-samhah, yang berlapang dada, yang bertoleransi, yang terbuka untuk tidak mengklaim absolute truth dalam pemikiran kita yang absoluteal-haq itu dari Allah, tapi apa yang kita pahami, apa yang kita pikirkan adalah wilayah dengan kenisbian manusia.

Nah, dengan demikian maka umat Islam akan tergerak untuk melakukan komunikasi, dialog, silaturahim,silatulfikri,  hubungan kasih sayang dalam hal pemikiran dan ini akan menjadi modal bagi persatuan umat Islam.

Terakhir khususnya di Indonesia, saya kira agenda mendesak untuk kita dorong bersama-sama adanya as-samhah sesama umat Islam untuk kita hadapi fenomena takfiri, pengkafiran, tadhlil, penyesatan, yang kurang berdasarkan al-hanafiyyatu as-samhah tadi itu, yang hanya akan menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Terus terang, saya ingin secara terus terang, terbuka, persoalan besar dunia Islam sekarang, persoalan Sunni-Syiah, bagi yang belajar Islam semua perkembangan pasca Rasulullah Saw hanyalah perbedaan tafsir terhadap hadis yang mungkin juga terhadap Al-Quran, muncullah perbedaan ini maka saya lebih senang mengutip ulama-ulama, mufti-mufti sebagian di Timur Tengah sana, yang mengatakan walaupun banyak yang tidak setuju bahwa ana la Syi’i la Sunni bal Islami, tidak Sunni-tidak Syiah tapi Islam.

Bahkan ada ulama mufti dari Suriah kalau tidak salah, dengan kata-kata ana syi’iyyun fi mahabbati aali Rasulillah, wa ana sunniyyun fi mahabbati ashhabi Rasulillah, mungkin di situ titik temu. Nah, upaya kecenderungan kita untuk bicara titik temu inilah, adalah sebuah perjuangan besar, sebuah jihad yang perlu kita lakukan, maka Majelis Ulama Indonesia diharapkan dapat menjadi tenda besar bagi seluruh kekuatan umat Islam termasuk yang mungkin, yang kita anggap jauh dari Islam tapi mereka sendiri mengaku Islam dan oleh karena itu perlu ada sebuah tenda besar yang semua pihak merasa nyaman untuk bernaung di bawah tenda itu. Ini tidak mudah, ini tantangan kita bersama tapi dengan bangkitnya kekuatan umat Islam tengahan yang moderat, yang toleran, yang penuh dengan al-hanafiyyatu as-samhah ini, ada keyakinan itu akan menjadi kenyataan dan kita akan terhindarkan dari silang sengketa, perselisihan, bahkan permusuhan, apalagi jika terjadi al-fitnatul kubra pada era modern ini, na’udzu billahi min dzalik.

Oleh karena itulah buku Prof. Dr. Umar Shihab ini, walaupun saya sudah baca sepintas saja antara lain memesankan itu, maka oleh karena itulah mari kita ciptakan mozaik Islam yang indah, keragaman sebagai sebuah keindahan.

Selamat terhadap Prof. Dr. Umar Shihab atas bukunya yang kesekian kalinya ini, dan selamat atas usia 75 tahun, semoga dapat terus berkiprah, bagi umat, bagi bangsa dan negara, dan tetap aktif menjadi salah satu tulang punggung Majelis Ulama Indonesia untuk menjadi tenda besar bagi Umat Islam dan bagi Indonesia.

Wa billahit taufiq wal hidayah wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kyai NU Luruskan Kejanggalan Buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia

Kyai NU Luruskan Kejanggalan Buku MUI dan DDII

IMG_0049Beredarnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” dari MUI dan buku “Kesesatan Syiah di Indonesia” terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) membuat kyai NU tak tinggal diam. Salah satunya adalah KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani, ulama muda sekaligus penulis buku dari Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU. Dia mencoba meluruskan isi buku yang ditulis oknum MUI dan DDII tersebut dengan menulis sebuah buku berjudul “Kyai NU Meluruskan Fatwa-fatwa Merah MUI & DDII.”

KH. Alawi menilai, buku oknum MUI dan DDII berisi pengkafiran terhadap Syiah itu tidak menggunakan referensi lengkap. Akibatnya orang-orang yang awam terhadap agama sangat terancam ikut-ikutan mengkafirkan tanpa pengetahuan jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. “Ini sangat potensial menjadi sumber perpecahan di antara umat Islam,” ungkapnya kepada ABI Press.

KH. Alawi sangat menyayangkan, orang-orang MUI yang menulis buku itu dan menyandang gelar begitu banyak; Professor, Doktor, Lc, MH, ternyata tidak paham soal ilmu fikih secara mendalam.

“Silakan cek dalam kitab-kitab fikih apapun, ketika seorang ‘tersangka’ dinyatakan oleh pengadilan bersalah, Islam memberikan kepadanya hak jawab,” ujarnya. Tapi menurut KH. Alawi, oknum-oknum MUI dan DDII itu belum pernah memberikan hak jawab dan tak pernah mengundang Ulama Syiah untuk duduk bersama dalam membahas beberapa permasalahan agama yang mereka hujat dan mereka persoalkan.

Sebab itulah KH. Alawi merasa terpanggil untuk meluruskan isi buku yang dianggapnya tidak lurus itu demi meredam dampak negatif perpecahan di tengah umat.

Buku MUI dan DDII Picu Konflik dan Pembodohan

Buku MUI dan DDII Picu Konflik dan Pembodohan

Tak henti menyerang Syiah melalui penyebaran buku hasil tulisan oknum MUI, kini Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) menambah daftar gerakan anti Syiah melalui bukunya yang berjudul “Kesesatan Syiah di Indonesia.”

Tidak hanya memicu konflik, menurut tokoh NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani, buku-buku itu juga dapat menjadi sumber pembodohan bagi umat.

Berbagai cara dilakukan oleh kelompok anti Syiah ini untuk memberangus Syiah di Indonesia. Terakhir, tersiar kabar akan diadakannya Deklarasi Nasional Anti Syiah di Bandung Jawa Barat. Entah apa yang membuat mereka begitu benci terhadap Syiah, sehingga Syiah harus diberangus.

Apakah Syiah boleh berkembang di Indonesia?“Jelas boleh! Tidak hanya di Indonesia, di seluruh dunia pun juga boleh,” ungkap KH. Alawi.

Pernyataan KH. Alawi bukan tanpa alasan, mengingat Syiah merupakan salah satu mazhab Islam yang diakui di seluruh dunia.

Ketidaktahuan orang banyak tentang sejarah Syiah lah yang sebenarnya menjadi masalah. Akibatnya menurut KH. Alawi mereka yang minim pengetahuan itu dapat dengan mudah diadu domba oleh kelompok-kelompok yang membenci Syiah.

“Misalnya begini, kalau ada 100 orang Sunni sebelum shalat minum arak, apa yang akan anda katakan? Sunni sesat atau oknum Sunni sesat? Pasti oknum Sunni yang sesat. Nah, ketika ada saudara kita Syiah yang berbuat salah, yang jadi masalah adalah jika kita menghukumi semua Syiah juga salah. Nah, orang-orang yang tidak tahu kaidah inilah yang biasanya akan terseret menjadi korban fitnah dan pada akhirnya secara serampangan menganggap semua Syiah salah,” terang KH. Alawi memberi contoh.

Nah, buku keluaran MUI dan DDII ini pun menurut KH. Alawi juga memicu kaum Muslim masuk dalam kubangan fitnah yang sangat berbahaya. Apalagi bila ditelisik dan dipelajari lebih jauh, kedua buku itu tak lebih hanya berisi penghakiman sepihak sekelompok orang yang dialamatkan ke kelompok lain, tanpa menerapkan prinsip keadilan dalam Islam, yaitu terkait perlunya pemberian hak jawab terhadap pihak yang dituduh, dalam hal ini pihak Syiah.

Kyai NU: Konflik Sunni-Syiah Kerjaan Musuh Islam

DSC_0013Untuk mempererat jalinan ukhuwah, KH. Alawi Nurul Alam Albantani, tokoh NU datang bersilaturahmi ke Yayasan Syiah, Husainiyah Azzahra, Gerlong Girang, Bandung pada hari Selasa (20/5).

Dalam kunjungan singkatnya, Kyai kharismatik ini bermaksud mengikuti pembacaan Tawassul yang diadakan rutin setiap malam Rabu di tempat itu, namun akibat terjebak macet, beliau akhirnya datang terlambat. Sekitar 50-an jamaah Syiah ikut hadir menyambut kedatangannya. Tepat pukul 19.00 acara dibuka pembina Husainiyah, Ustad Husain Alkaff.

Selesai Tawassul, seperti lazimnya di setiap majelis taklim, Kyai Alawi memberikan tausiyah.

Dalam sambutannya, penulis buku Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII ini mengatakan bahwa konflik sektarian dalam tubuh umat sengaja disulut musuh-musuh dari luar Islam.

“Sampai kapanpun kaum Nasoro dan Yahudi tidak akan senang dengan kemajuan Islam. Makanya mereka masukkan antek-anteknya agar sesama Muslim selalu bertengkar. Dan yang paling mudah dijadikan pemicu adalah isu sektarian antara Sunni dengan Syiah.”

“Kalo ada Sunni yang ikut-ikutan, berarti tidak mengerti Sunni. Kalo ada Syiah yang ikutan, berarti gak mengerti Syiah,” tambahnya.

“Coba kalo Sunni dan Syiah mampu bersatu, kemudian kita pikirkan langkah-langkah untuk menghadapi takfiri, yakinlah mereka bakal takut setakut-takutnya. Bohong kalo ada yang bilang takfiri di Indonesia itu berani. Sudah 125 masjid kami ambil kembali dari tangan mereka, gak ada perlawanan,” kisahnya.

“Perbedaan tata cara ibadah adalah soal furu’ (cabang) dalam Islam. Bapak-bapak, Ibu-ibu pernah gak lihat cabang pohon yang sama persis? Tidak kan? Nah, kaum takfiri itu tidak mengerti soal ini. Kenapa? Karena otak mereka dangkal. Kedangkalan ini yang menyebabkan mereka berperilaku radikal, dan perilaku radikal inilah yang berbahaya bagi bangsa Indonesia,” lanjut Kyai Alawi.

Dia juga meragukan pengikut Syiah mencaci sahabat lantaran mengikuti titah Imamnya. “Saya gak percaya kalo orang-orang seperti Imam Ja’far Sadiq, Imam Muhammad Al Baqir, Kakeknya Imam Husain, memerintahkan penghinaan. Apalagi menjatuhkan kemuliaanya dengan mengeluarkan fatwa untuk menghina,” tegasnya.

Tanpa pakaian kebesaran khas Kyai pada umumnya, Kyai Alawi bertutur dengan gaya khas Sunda. Tausiyah diwarnai plesetan itu pun sesekali disambut gelak tawa jamaah.

“Makanya Ibu-ibu, mau gak liat anak setan? Liat tuh takfiri. Mereka mah gabakal marah, da bener-bener ngarasa,” selorohnya, yang disambut tawa jamaah.

KH. Alawi Albantani adalah anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia telah menulis sekitar 55 judul buku, di antaranya  Allah pun Bershalawat Mengapa Kita Tidak (40 Keajaiban Shalawat),  Ustad Salafi Wahabi (Persis) Bertanya Al Bantani Menjawab, dan  Kyai NU Meluruskan Fatwa-Fatwa “Merah” MUI & DDII.

“Acara-acara solidaritas seperti ini harus lebih sering diadakan, agar masyarakat tahu, Sunni-Syiah teh balad geuningan (ternyata Sunni-Syiah temenan),” anjur Kyai Alawi di akhir tausiyahnya.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

Syi’ah Di fatwa sesat oleh Produk Sejarah.. Sejarah Khilafah Sunni tak lepas dari cerita kelam dan kejam ..!!

Sejarah Khilafah Sunni tak lepas dari cerita kelam dan kejam ..!!

Islam Sunni Sebagai Bagian dari Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian.

Ada ungkapan Ulama Klasik bahwa Islam itu cocok untuk segala tempat dan zaman (Al-Islâmu shâlihun li kulli makân wa zamân).. Ternyata Syi’ah yang dulu dituduh sesat, kini berbalik banyak orang mengesahkan nya !

keterpautan antara bahasa, pemikiran dan sejarah, sekaligus dalam hubungannya dengan nilai-nilai etis yang hendak diraih, maka akan dimungkinkan pengembangan pemikiran Islam.

hubungan antara pemikiran (keislaman), budaya dan sejarah, yang melatarbelakanginya (sejarah penetapan hukum-hukum agama, sejarah terbentuknya pranata sosial  Islam, bahkan sejarah sosial-politik dan perkembangan kontemporer pemikiran Islam dan sebagainya). Pemikiran tidak terlepas dari historisitasnya

Perlu ditegaskan, ternyata ada bagian dari islam Sunni yang merupakan produk sejarah, teologi Sunni adalah bagian dari wajah islam produk sejarah. Konsep Khulafa al-Rasyidin adalah produk sejarah, karena istilah ini muncul belakangan. Sejumlah  bangunan islam klasik , tengah dan modern YANG  MENUDUH  SYIAH  SESAT  adalah produk sejarah.

Andaikata khalifah Al-Mansur tidak meminta Imam Malik menulis Al-Mawatta’, kitab hadis semacam ini mungkin tidak ada, karena itu al-muwatta, sebagai kumpulan hadist juga merupakan produk sejarah.

Jadi ada faktor kekuasaan yang melingkupi  perjalanan aliran Sunni

Kita mengetahui dalam sejarah adanya upaya untuk pemalsuan hadis. Imam Bukhari, Imam Muslim atau Imam Malik mengumpulkan dan melakukan mencatat hadis dengan upaya hati-hati. Imam Muslim, dalam pengantarnya mengatakan bahwa tadinya hadis yang dikumpulkan ada 300.000 (tiga ratus ribu) buah, tetapi setelah selesai menjadi 6.000 buah hadis.

Pertanyaannya, dari mana Hadis sebanyak itu dan sudah meresap kemana saja sisanya itu, sehingga tinggal 6.000 ?

Ketika Raja Dinasti  Abbasiyah berkuasa yaitu Al Ma’mun (198 – 218 H / 813 – 833 M)lalu Al Mu’tashim (218 – 228 H / 833 – 842 M) lalu Al Watsiq ( 228 – 233 H / 842 – 847 M) paham kerajaan Abbasiyah adalah Mu’tazilah ! Terjadilah  pertarungan antara Mu’tazilah  melawan  Ahlulhadis :

Tatkala Raja al-Mutawakil (847-864 M) berkuasa, ia melihat bahwa posisinya sebagai khalifah perlu mendapatkan dukungan mayoritas. Sementara, setelah peristiwa mihnah terjadi mayoritas masyarakat adalah pendukung dan simpatisan Ibn Hanbal. Oleh karenanya al-Mutawakil membatalkan paham Mu’tazilah sebagai paham negara dan menggantinya dengan paham Sunni.

Sunni mulai merumuskan ajaran-ajarannya. Salah seorang tokohnya, Syafi’i menyusun ‘Ushul al-Fiqh. Dalam bidang Hadis muncul tokoh Bukhari dan Muslim. Dalam bidang Tafsir, muncul al-Tabbari. Pada masa inilah kaum Sunni menegaskan sikapnya terhadap posisi terhadap 4 khalifah dengan mengatakan bahwa yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Uthman dan ‘Ali

untuk memperoleh pengakuan dari penguasa, pemikiran politik  ulama Sunni menekankan pada ketaatan absolut terhadap khalifah yang sedang berkuasa, mereka  berhasil mempengaruhi Khalifah Al Mutawakil (847-861 M), sekaligus merubah haluan aliran resmi pemerintahan menjadi sunni

Ini menjadi contoh betapa label selamat dan sesat dengan mudah dialihkan, tergantung ‘selera’ rezim yang berkuasa. Apa yang dikenal dengan ‘tragedi mihnah’ ini menjadi contoh tak terbantahkan bahwa antara keselamatan dan kesesatan yang semata dipagari dengan apa yang disebut kekuasaan. Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah (Aswaja) selama ini difahami sebagai sebagai suatu sekte keagamaan terbesar dalam Islam…Pada masa Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Wasiq, kelompok yang dianggap sesat adalah ahlul hadis dengan ikon intelektualnya Ahmad ibn Hanbal. Sebaliknya pada masa Al Mutawakkil, kelompok yang dianggap sesat adalah ahlu ar-ra’yi atau lebih populer disebut mu’tazilah.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati” (Al-Baqarah: 159)

Menurut kita As-Sirah Nabawiyyah, Syilbi bag I hal.13-17 dikabarkan bahwa:

Zuhri Sejarahwan pertama yang menulis sejarah Islam pada masa pemerintahan Bani Umayah yakni Raja Abdul Malik 65 H..Zuhri adalah bekas budak Zubair yang sangat dekat dengan keluarga bangsawan Abdul Malik

Zuhri ditugaskan dengan biaya Abdul Malik untuk menyusun Sejarah Islam dan menyusun Hadis  hadis  seluruh sejarah Kitab kitab suni ditulis setelahnya oleh orang  orang  yang berpengaruh dalam karya ini…

Dan Bukhari  banyak  hadis dalam shahihnya berasal dari hasi kumpulan Zuhri..Jadi tidak heran hadis hadis   sekarang ini banyak REKAYASA.. Cerita seperti cerita Bukhari, bahwa Nabi Musa MENAMPAR Malikul Maut sampai matanya pecah kemudian mengadu pada Allah.

Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.

Bagaimana “rekaman” sejarah soal ini? Ini daftar tahun berkuasanya khilafah yang sempat saya catat:

1. Ummayyah (661-750)

2. Abbasiyah (750-1258)

3. Umayyah II (780-1031)

4. Buyids (945-1055)

5. Fatimiyah (909-1171)

6. Saljuk (1055-1194)

7. Ayyubid (1169-1260)

8. Mamluks (1250-1517)

9. Ottoman (1280-1922)

10. Safavid (1501-1722)

11. Mughal (1526-1857)

Pendekatan Sejarah dalam Kajian Islam

Salah satu sudut pandang yang dapat dikembangkankan bagi pengkajian Islam itu adalah pendekatan sejarah.Berdasarkan sudut pandang tersebut, Islam dapat dipahami dalam berbagai dimensinya.Betapa banyak persoalan umat Islam hingga dalam perkembangannya sekarang, bisa dipelajari dengan berkaca kepada peristiwa-peristiwa masa lampau, sehingga segala kearifan masa lalu itu memungkinkan untuk dijadikan alternatif rujukan di dalam menjawab persoalan-persoalan masa kini. Di sinilah arti pentingnya sejarah bagi umat Islam pada khususnya, apakah sejarah sebagai pengetahuan ataukah ia dijadikan pendekatan didalam mempelajari agama.

Ketika Bani Abbasiyah merebut khilafah, darah tertumpah di mana-mana. Ini “rekaman” kejadiannya:Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya.

Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian menghamparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagiannya masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamanannya.” Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqh terkenal di Khurasn bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani. Namun ketika ia, setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu, menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Cerita di atas bukan karangan orientalis tapi bisa dibaca di Ibn Atsir, jilid 4, h. 333-340, al-Bidayah, jilid 10, h. 345; Ibn Khaldun, jilid 3, h. 132-133; al-Bidayah, jilid 10, h. 68; al-Thabari, jilid 6, h. 107-109. Buku-buku ini yang menjadi rujukan Abul A’la al-Maududi ketika menceritakan ulang kisah di atas dalam al-Khilafah wa al-Mulk.

Semua aspek kehidupan tidak lepas dari faktor sejarah, sejarah merupakan bukti yang nyata untuk melangkah lebih maju, karena dengan sejarah, manusia bisa belajar kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan mengetahui data-data yang bisa di pertanggung jawabkan. Dalam metologi islam, diperlukan sejarah untuk mengetahui kebenaran yang valid yang tidak dicampuri oleh orang-orang terdahulu, untuk itu sangatlah urgan dalam penelitian sejarah.

Sementara itu, agama atau keagamaan sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang.Islam khususnya, sebagai agama yang telah berkembang selama empatbelas abad lebih menyimpan banyak banyak masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran kegamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya

Sayyidina Al Husain ibn ‘Ali RA. adalah cucu sang Nabi yang amat dikasihi. Abu Hurairah meriwayatkan: “Aku pernah melihat Rasulullah saw. sedang menggendong Husain, seraya berkata, ‘Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah dia.’
 .
Ya’lâ bin Murrah meriwayatkan: “Kami pergi bersama Rasulullah untuk menghadiri undangan makan. Di suatu gang, kami melihat Husain sedang bermain-main. Ia mendekatinya seraya membentangkan kedua tangannya. Husain berlari kesana kemari hingga membuatnya tertawa, sampainya berhasil menangkapnya. Kemudian Rasulullah meletakkan satu tangannya di bawah dagu Husain dan tangan yang lain di atas kepalanya. Rasulullah mencium-ciumnya. Ia bersabda, ‘Husain dariku dan aku darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Husain. Husain adalah salah satu cucuku.”
 .
Yazîd bin Abi Ziyâd meriwayatkan: “Rasulullah saw. keluar dari rumah ‘Aisyah dan melewati rumah Fathimah. Ketika itu Rasulullah saw. mendengar tangisan Husain. Rasulullah merasa gusar. Lalu berkata kepada Fathimah, ‘Tidakkah kau tahu bahwa tangisannya itu menyayat hatiku?”
Rasulullah mencintai al-Husain, sang cucu yang penuh kelembutan, meskipun fajar ‘Asyura di tahun 61 H menjadi akhir dari perjalanan hidup al-Husain, terbantai oleh penguasa-penguasa zhalim yang juga mengaku umat sang nabi.
 .
Peristiwa Karbala adalah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati siapa pun yang masih memiliki hati, bukan milik segelintir orang apalagi kelompok-kelompok tertentu. Karbala adalah medan syahid ahlu baitil musthofa.
 .
Sayyidina Al-Husain adalah keturunan langsung sang nabi, putra dari Khalifah ke-4 Amirul Mu’minin Ali ibn Abi Thalib. Beliau tidak segera menerima paksaan untuk membai’at Yazid ibn Mu’awiyah; sang raja baru pada era Dinasti Umayyah.
 .
Sayyidina Al-Husein memegang amanat agung, tapi kelembutannya tak membuatnya gila kekuasaan. Hari ini tanggal 9 Muharram beliau sudah berada di Karbala menerima pengkhianatan dalam sejarah Islam. Dan esok, tanggal 10 Muharram, padang Karbala menjadi saksi kesyahidan sang imam yang dibunuh oleh pasukan yang dipimpin Ubaidillah bin Ziyad atas perintah Yazid ibn Mu’awiyah.
Karbala banjir darah. Kekasih sang Nabi dari darah dagingnya sendiri berkalang tanah, kepalanya disembelih dan dicucuk di atas tombak, al-Husain berpulang bersama tiga putranya dan puluhan sahabat.

Ahlussunnah belakangan berhadapan dengan Syi’ah.. Label Aswaja kini  menjadi identitas yang diperebutkan (contested identity).. Buku yang ditulis Muhammad At-Tijani As-Samawi, doktor filsafat Universitas Sorbone, yang berjudul Asy-Syi’ah Hum Ahlu as-Sunnah [1993] menjadi contoh dari perebutan ini. Buku itu hendak menegaskan bahwa Syi’ah adalah Ahlussunnah, bahkan dinilai lebih Ahlussunnah ketimbang kelompok yang selama ini mendakwa dirinya Ahlussunnah

.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533,

Syi’ah Benar karena Hadis Tsaqalain, Wahabi dusta karena menolak tsaqalain

Wahabi Ketahuan Berdusta ! Syiah Tidak Berdusta

“Kutinggalkan sepeninggalku Kitab Allah (Al-Quran) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis Tsaqalain (حدیث ثقلین) adalah sebuah hadis yang sangat masyhur dan mutawatir dari Nabi Muhammad Saw yang bersabda, “Kutinggalkan sepeninggalku Kitab Allah (Al-Quran) dan itrahku (Ahlulbait). Keduanya tidak akan terpisah sampai hari kiamat.”

Hadis ini diterima oleh seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, dan termaktub dalam kitab-kitab hadis dari kedua mazhab besar tersebut.

Bagi muslim Syiah, hadis ini merupakan pegangan utama untuk menguatkan doktrin pentingnya keimamahan, menguatkan dalil kemaksuman para Imam As dan juga sebagai dalil yang menetapkan keharusan adanya imam di setiap zaman.

Matan Hadis

Hadis ini meski diriwayatkan dengan jalur yang berbeda, dan dengan bunyi teks yang beragam namun tetap mengandung muatan pesan yang sama. Dalam Ushul Kāfi, yang merupakan salah satu dari empat kitab utama mazhab Syiah menyebutkan:

«…إِنِّی تَارِک فِیکمْ أَمْرَینِ إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا- کتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ أَهْلَ بَیتِی عِتْرَتِی أَیهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَ قَدْ بَلَّغْتُ إِنَّکمْ سَتَرِدُونَ عَلَی الْحَوْضَ فَأَسْأَلُکمْ عَمَّا فَعَلْتُمْ فِی الثَّقَلَینِ وَ الثَّقَلَانِ کتَابُ اللَّهِ جَلَّ ذِکرُهُ وَ أَهْلُ بَیتِی‏…».

 “Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua pusaka yang jika kalian mengikuti keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, (yaitu) Kitab Allah dan Itrahku dari Ahlulbaitku. Wahai manusia, dengarkanlah, aku sampaikan kepada kalian, kalian akan menemuiku di tepi telaga al-Haudh. Aku akan mempertanyakan kepada kalian, apa yang telah kalian perbuat terhadap dua pusaka berharga ini, yaitu Kitab Allah dan Ahlulbaitku.” [1]

Sunan Nasai, salah satu dari enam kitab sahih Ahlusunnah, meriwayatkan”

«… کأنی قد دعیت فاجبت، انی قد ترکت فیکم الثقلین احدهما اکبر من الآخر، کتاب الله و عترتی اهل بیتی، فانظروا کیف تخلفونی فیهما، فانهما لن یفترقا حتی یردا علی الحوض…».

“Ajalku sudah mendekat. Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua sesuatu yang sangat berharga, yang salah satu dari yang lainnya lebih besar, (yaitu) Kitab Allah dan Itrah Ahlulbaitku. Karenanya perhatikan bagaimana kalian memperlakukan keduanya. Keduanya tidak akan terpisah sampai kalian menemuiku di tepi telaga al-Haudh.” [2]

Sumber  dan Sanad Hadis

Hadis ini termasuk dalam riwayat yang diterima oleh semua ulama Islam baik dari kalangan Syiah maupun Sunni, yang dari sisi sanad tidak seorangpun yang mampu melemahkan dan mengkritiknya.

Sumber dari Literatur Ahlusunnah

Menurut kitab Hadits al-Tsaqalain wa Maqāmāt Ahl al-Bait [3], hadis Tsaqalain ini diriwayatkan lebih dari 25 orang perawi dari kalangan sahabat yang mendengarkan langsung dari Nabi Muhammad Saw.

Berikut di antara nama-nama sahabat yang meriwayatkan hadis Tsaqalain:

*Zaid bin Arqam. Darinya terdapat 6 jalur periwayatan sebagaimana yang tertulis dalam kitab Sunan Nasai [4], al-Mu’jam al-Kabir Thabrani [5], Sunan Tirmidzi [6], Mustadrak Hākim [7], Musnad Ahmad [8] dan sejumlah kitab yang lain.

*Zaid bin Tsabit. Dimuat dalam Musnad Ahmad [9] dan al-Mu’jam al-Kabir Thabrani. [10]

*Jabir bin Abdullah. Dimuat dalam kitab Sunan Tirmidzi [11], al-Mu’jam al-Kabir [12], dan al-Mu’jam al-Ausath [13] Thabrani.

*Huzaifah bin Asid. Dalam kitab al-Mu’jam al Kabir Thabrani. [14].

*Abu Sa’id Khudri. Dalam empat bab dari Musnad Ahmad [15] dan Dhua’fa al-Kabir al-Aqili. [16].

*Imam Ali As, dengan dua jalur periwayatan yang terdapat dalam Dar al-Bahr al-Zakhār atau juga dikenal dengan kitab Musnad al-Bazāz [17] dan Kanz al-‘Ummāl. [18]

*Abudzar Ghifari. Dalam kitab al-Mu’talaf wa al-Mukhtalaf Dāruqutni. [19]

*Abu Huraira. Dalam kitab Kasyf al-Atsār ‘an  Zawaid al-Bazār. [20]

*Abdullah bin Hanthab. Dalam Usd al-Ghabah. [21]

*Jubair bin Math’am. Dalam Dhalāl al-Jannah. [22]

Dan sejumlah dari sahabat Anshar, di antaranya: Khuzaimah bin Tsabit, Sahl bin Sa’ad, ‘Adi bin Hatim, Uqbah bin ‘Amir, Abu Ayyub Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Abu Syarih al-Khaza’i, Abu Qadamah Anshari, Abu Laila, Abu al-Haitam bin al-Taihan, dan sebagian lagi dari Bani Qurays yang menghendaki Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As untuk bangkit dengan menukilkan hadis Tsaqalain tersebut. [23]

Bahrani, penulis kitab Ghāyah al-Marām wa Hujjat al-Khishām  juga menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan melalui 39 jalur yang terdapat dalam banyak kitab Ahlusunnah.

Jadi sebagaimana yang telah disebutkan, hadis ini terdapat setidaknya dalam kitab Musnad Ahmad, Sahih Muslim, Manāqib ibn al-Maghāzali, Sunan Tirmidzi, al-‘Umdah Tsa’labi, Musnad Abi Ya’la, al-Mu’jam al-Ausath Thabrani, al-‘Umdah ibn al-Bathriq, Yanābih al-Mawaddah Qunduzi, al-Tharaif ibn al-Maghāzali, Faraid al-Simthain dan Syarah Nahj al-Balāgah Ibn Abi al-Hadid. [24]

Sumber dari Literatur Syiah

Bahrani, penulis kitab Ghāyah al-Marām wa Hujjat al-Khishām menyebutkan dalam sumber periwayatan Syiah terdapat 82 hadis yang mengandung muatan sebagaimana hadis Tsaqalain, diantaranya terdapat dalam kitab al-Kāfi, Kamāl al-Din, Amāli Shaduq, Amāli Mufid, Amāli Thusi, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, al-Ghaibat Nu’māni, Bashāir al-Darajāt dan banyak lagi dari kitab yang lain. [25]

Ulama-ulama Syiah yang secara khusus membahas hadis Tsaqalain dalam karyanya diantaranya terdapat dalam kitab-kitab berikut:

Kitab berbahasa Persia: Hadits Tsaqalain, karya Qawam al-Din Muhammad Wasynawi Qumi, Sa’ādat al-Dārin fi Syarah Hadits Tsaqalain buah karya Abdul Aziz Dahlawi.

Kitab berbahasa Arab: Hadits Tsaqalain karya Najm al-Din Askari, Hadits Tsaqalain karya Sayyid Ali Milani dan Hadits Tsaqalain wa Maqāmāt Ahl al-Bait karya Ahmad al-Mahuzi.

Waktu dan Tempat Keluarnya Hadis

Mengenai kapan dan dimana hadis Tsaqalain disampaikan oleh Rasulullah Saw, terdapat perbedaan pendapat. Misalnya, Ibnu Hajar Haitami [26] menyebutkan bahwa hadis Tsaqalain disebutkan Nabi Muhammad Saw sekembalinya dari Fathu Mekah di Thaif, namun yang lain menyebutkan waktu dan tempat yang berbeda dari pendapat tersebut.

Perbedaan pendapat yang terjadi tidak bisa ditinggalkan begitu saja, namun setidaknya bisa diambil kesimpulan bahwa terjadinya perbedaan pendapat tersebut disebabkan karena memang Nabi Muhammad Saw telah menyampaikan hadis tersebut diberbagai tempat dan waktu yang berbeda-beda. Terutama di waktu-waktu terakhir dari kehidupannya, ia sering mengingatkan kaum muslimin akan keutamaan Tsaqalain (dua pusaka berharga) yang ditinggalkannya, yaitu Al-Quran dan Ahlulbait. [27]

Berikut riwayat-riwayat yang menyebutkan tempat dan waktu keluarnya hadis ini:

*Pada hari Arafah, disaat menunggangi unta [28], pada saat penyelenggaran haji wada’ [29]

*Di persimpangan jalan, di sekitar wilayah Ghadir Khum, sebelum para jemaah haji terpisah satu sama lain. [30].

*Disampaikan saat khutbah di hari Jum’at bersamaan dengan disampaikannya hadis Ghadir. [32]

*Sehabis shalat berjama’ah di masjid Khaif, dihari terakhir hari Tasyrik. [33]

*Di atas mimbar. [34]

*Di penghujung khutbah yang dibacakan untuk seluruh jama’ah. [35]

*Di dalam khubah setiap selesai shalat berjamaah. [36]

*Di ranjang, saat Nabi Saw terbujur sakit, sementara para sahabat berdiri mengelilinginya. [37]

Sunnah atau Itrah?

Sebagian literatur Ahlusunnah menyebutkan “sunnati” sebagai pengganti “itrahti” dalam hadis Tsaqalain. [38] Namun teks tersebut jarang ditemukan, bahkan tidak terdapat sama sekali dalam kitab-kitab muktabar Ahlusunnah. Para ulama Ahlusunnah sendiri tidak memberikan perhatian yang cukup besar terhadap hadis yang memuat teks “sunnati” termasuk dari kalangan ahli kalam khususnya dalam pembahasan ikhtilaf antar mazhab.

Siapakah yang Dimaksud Itrah?

Dalam banyak periwayatan, kata ‘Ahlulbait’ mucul sebagai penjelas dari ‘Itrahti’, namun sebagian riwayat hanya menyebutkan ‘Itrat’ [39] dan sebagian lainnya hanya menyebut ‘Ahlulbait’ [40] yang kemudian terulang lagi ketika Nabi Saw menyampaikan pesannya. [41]

Pada sebagian periwayatan-periwayatan Syiah dari hadis Tsaqalain, mengenai penjelasan Ahlulbait Nabi Saw mengisyaratkan keberadaan 12 Imam maksum. [42]

Keutamaan Hadis

Para ulama Syiah meriwayatkan hadis ini dalam banyak kitab-kitab mereka. Yang dengan keberadaan hadis tersebut, mereka menggunakannya sebagai dalil yang menguatkan aqidah Syiah mereka. Mirhamad Husain Kunturi Hindi (w. 1306 H) dalam kitab ‘Abaqāt al-Anwar, jilid 1 sampai 3 menukilkan hadis ini dengan menyandarkan pada periwayatan Ahlusunnah, dan menyebutkan betapa penting dan tingginya posisi hadis ini di sisi mereka. Dalam pembahasan mengenai imamah, hadis ini ia dahulukan sebagai hujjah dibandingkan hadis yang lain.

Dari hadis ini, dapat diambil beberapa poin penting yang dapat menetapkan dan membuktikan kesahihan ajaran Syiah:

Kewajiban Mengikuti Ahlulbait

Dalam riwayat ini, Ahlulbait diposisikan berdampingan dengan Al-Quran. Sebagaimana kaum muslimin diwajibkan untuk menataati Al-Quran, maka menaati Ahlulbait juga wajib hukumnya.

Kemaksuman Ahlulbait

Ada dua poin yang terdapat dalam hadis Tsaqalain yang menguatkan bukti kemaksuman Ahlulbait:

*Menegaskan jika Al-Quran dan Ahlulbait dijadikan pedoman dan petunjuk, maka tidak akan terjadi penyimpangan dan penyelewengan. Hal ini menunjukkan dalam bimbingan dan ajaran Ahlulbait tidak terdapat kesalahan sedikitpun.

*Ketidakterpisahan Al-Quran dan Ahlulbait, Posisi keduanya sama sebagai pusaka Nabi Saw yang sangat berharga dan menjadi pedoman bagi umat manusia. Sebagimana telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwa dalam kitab Al-Quran tidak terdapat kesalahan, maka tsaqal lainnya yaitu Ahlulbait, sudah tentu juga tidak terdapat kesalahan padanya.

Sebagian dari muhakik/peneliti Ahlusunnah juga menjadikan hadis Tsaqalain sebagai dalil yang menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Ahlulbait dan hujjah atas kesucian mereka dari kotoran dan kesalahan. [43]

Keharusan Adanya Imam

Pada matan hadis, juga terdapat poin penting yang menguatkan dalil akan keharusan adanya imam sampai akhir zaman.

*Ketidakterpisahan Ahlulbait dengan Al-Quran menunjukan bukti akan keniscayaan imam dari kalangan Ahlulbait Nabi Saw yang akan terus bersama Al-Quran. Sebagaimana diyakini, al-Quran adalah sumber abadi pedoman dalam berislam, maka meniscayakan akan selalu ada dari kalangan Ahlulbait yang akan mendampingi Al-Quran untuk memberikan penjelasan dan sebagai sumber rujukan.

*Nabi Saw menegaskan bahwa kedua pusaka berharga yang diwariskannya, tidak akan terpisah sampai Nabi Muhammad Saw ditemui di tepi telaga Kautsar.

*Nabi Saw menjamin, barangsiapa mengikuti keduanya, tanpa memisahkannya, maka tidak akan tersesat selama-lamanya.

Imam Zarqani Maliki, salah seorang ulama Ahlusunnah, dalam kitab Syarah a-Mawāhib [44] menukil Allamah Samhudi yang menyatakan, “Dari hadis ini dapat dipahami bahwa, sampai kiamat akan tetap ada dari kalangan Itrah Nabi Saw yang ia layak untuk dijadikan pegangan. Jadi sebagaimana yang tersurat, maka hadis ini menjadi dalil akan keberadaannya. Sebagaimana kitab (yaitu Al-Quran) tetap ada, maka mereka (yaitu Itrah) juga tetap ada di muka bumi.” [45]

Ilmu Ahlulbait Sebagai Narasumber

Sebagaimana diketahui bahwa Al-Quran adalah rujukan utama aqidah dan ahkam amali semua kaum muslimin, sementara hadis ini menyebutkan bahwa Ahlulbait tidak akan pernah terpisah dengan Al-Quran, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Ahlulbait adalah juga sumber rujukan keilmuan Islam yang tidak terdapat di dalamnya kesalahan.

Sayid Abdul -Husain Syaraf al-Din dalam dialognya dengan Syaikh Sulaim Busyra –sebagaimana dimuat dalam kitab al-Murāja’āt- menjelaskan dengan sangat baik mengenai kemarjaan ilmu para Aimmah As dan wajibnya untuk mengikuti petunjuk dan ajaran-ajaran mereka. [46]

Hadis Tsaqalain dan Pendekatan antar Mazhab

Sebagaimana telah disebutkan bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis mutawatir yang diakui kesahihannya oleh Syiah dan Sunni, maka sepatutnya keberadaan hadis ini menjadi penyebab dan pendorong upaya persatuan Islam dan upaya pendekatan antar mazhab. Sebagaimana misalnya, yang pernah diupayakan oleh Sayid Abdul Husain Syarafuddin, salah seorang ulama Syiah dengan Syaikh Sulaim Busyra dari ulama Ahlusunnah. Dialog keduanya yang penuh semangat ukhuwah dan persaudaraan Islami dapat dirujuk dalam kitab al-Murājā’at. Atau sebagaimana upaya keras dan konsisten dari Ayatullah Burujerdi untuk menggalakkan aktivitas pendekatan antar mazhab yang tersinpirasi dari pesan hadis Tsaqalain ini. [47]

Sumber: http://id.wikishia.net

Catatan Kaki

[1] Kulaini, Kāfi, jld. 1, hlm. 294.

[2] Nasai, al-Sunan al-Kubra, hadis 8148.

[3] Atsar Ahmad Mahauzi.

[4] Nasai, al-Sunan al-Kubra, hadis 8148.

[5] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 5, hlm. 186.

[6] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, hadis 3876.

[7] Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 110.

[8] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 371.

[9] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 5, hlm. 183, 189.

[10] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 5, hlm. 166.

[11] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jld. 5, hlm. 328.

[12] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 3, hlm. 66.

[13] Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, jld. 5, hlm. 89.

[14] Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jld. 3, hlm. 180.

[15] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 3, hlm. 13, 17, 26, 59.

[16] Al-‘Aqili, Dhu’afa al-Kabir, jld. 4, hlm. 362.

[17] Al-Bazzar, al-Bahr al-Zakhār, hlm. 88, hadis 864.

[18] Mutqi Hindi, Kanz al-‘Ummāl, jld. 14, hlm. 77, hadis 37981.

[19] Daruquthni, al-Mutalaf wal Mukhtalaf, jld. 2, hlm. 1046.

[20] Al-Haitami, Kasyf al-Astār, jld. 3, hlm. 223, hadis 2617.

[21] Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld. 3, hlm. 219, no. 2907.

[22] Al-Bani, Dzhalāl al-Jannah, hadis 1465.

[23] Teks lengkap hadis ini terdapat dalam Istijlāb Irtiqā al-Ghraf karya Syams al-Din Sakhawi hlm. 23. Juga terdapat dalam kitab Yanābi’ al-Mawaddah Qunduzi, jld. 1, hlm. 106-107 dan al-Ashābah Ibnu Hajar ‘Asqalani, jld. 7, hlm. 284-245.

[24] Bahrani, Ghāyat al-Marām wa Hujat al-Khishām, jld. 2, hlm. 304-320.

[25] Bahrani, Ghāyat al-Marām wa Hujat al-Khishām, jld. 2, hlm. 320-367.

[26] Al-Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150.

[27] Mufid, al-Irsyād, jld. 1, hlm. 180; Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150; Syaraf al-Din, al-Murājā’at, hlm. 74.

[28] Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jld. 5, hlm. 662, hadis 3786.

[29] Ahmad bin Ali Tabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 391.

[30] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 371; Naisyaburi, Shahih Muslim, jld. 2, hlm. 1873.

[31] Shaduq, Kamāl al-Din wa Tamām al-Ni’mah, jld. 1, hlm. 234, hadis 45 dan hlm. 268, hadis 55; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 109; Syamhudi, Jawāhir al-‘Aqidain, hlm. 236.

[32] Ayyasyi, Kitāb al-Tafsir, jld. 1, hlm. 4, hadis 3.

[33] Shafar Qumi, Bashāir al-Darajāt, hlm. 412-414.

[34] Shaduq al-Amāli, hlm. 62; Juwaini Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 268.

[35] Ayyasyi, Kitāb al-Tafsir, jld. 1, hlm. 5, hadis 9; Ahmad bin Ali Thabarsi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 216.

[36] Dailami, Irsyād al-Qulub, jld. 2, hlm. 340.

[37] Al-Haitami, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 150.

[38] Rujuk ke: Muttaqi Hindi, Kanz al-‘Ummāl, jld. 1, hlm. 187, hadis 948.

[39] Rujuk ke: Shaduq, ‘Uyun Akhbār al-Ridhā, jld. 2, hlm. 92, hadis 259; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 3, hlm. 109.[40] Rujuk ke: Juwaini Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 268; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 23, hlm. 131, hadis 64.

[41] Rujuk ke: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 4, hlm. 367; Darami, Sunan al-Darami, hlm. 828; Naisyaburi, Shahih Muslim, jld. 2, hlm. 1873, hadis 36; Jauni Khurasani, Faraid al-Simthain, jld. 2, hlm. 250, 268.

[42] Rujuk ke: Shaduq, Kamāl al-Din, jld. 1, hlm. 278, hadis 25; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 36, hlm. 317.

[43] Manawi, Faidh al-Qadir, jld. 3, hlm. 18-19; Zarqani, Syarah al-Mawāhib al-Diniyah, jld. 8, hlm. 2; Sanadi, Dirāsāt al-Labaib, hlm. 233, sebagaimana dinukil oleh Husaini Milani dalam Nafahāt al-Azhār, jld. 2, hlm. 266-269.

[44] Jilid 8, hlm. 7.

[45] Sebagaimana yang dinukil oleh Amini dalam kitabnya al-Ghadir, jld. 3, hlm. 118.

[46] Silahkan merujuk ke kitab al-Murājāt oleh Syaraf al-Din, hlm. 71-76.

[47] Rujuk ke: Wa’idzhazadeh Khurasani, Hadits Tsaqalain, hlm. 39-40.

Saya jadi teringat sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْراً لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَة
 “ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda lagi lemah akalnya, berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Imam Bukhari : 3342)

Nabi mensifati mereka pada umumnya masih berusia muda  tetapi lemah akalnya, atau itu adalah sebuah kalimat majaz yang bermakna orang-orang yang kurang berpengalaman atau kurang berkompetensi dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah bahkan kalam ulama.Subyektivitas dengan daya dukung pemahaman yang lemah dalam memahaminya, bahkan menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an dan nash hadits dengan mengedepankan fanatik dan emosional golongan mereka sendiri

Secara formal kelompok ini pertama kali dipimpin oleh Abdullah ibnu Wahab al-Rasibi sebagai hasil pemilihan di rumah Zaid ibnu Husein oleh Abdullah ibnu Kawwa’, Urwah Ibnu Djarir, dan Yazid ibnu ‘Ashim. Kepemimpinan ini menandai awal gerakan militer Khawarij yang kemudian melahirkan Perang Nahrawan (daerah yang terletak antara kota Wasith dan Baghdad), yaitu perang antara Khawarij dan Khalifah Ali. Perang ini melahirkan implikasi penyebaran pengikut Khawarij di berbagai tempat di luar Irak sebagai konsekuensi logis dari pelarian sejumlah kader Khawarij dari kekalahan Perang Nahrawan. (Muhammad bin Abdul Karim al-Syahrastani –w. 548 H-al-Milal wa al-Nihal. Cet. 3, Beirut: Dar al-Ma’arif, 1993).

Sebagai sebuah entitas Khawarij memiliki sejumlah karakter. Pertama, memiliki sifat zuhud, wara’,gemar dan berlebih-lebihan dalam beribadah. Ibn Abbas ketika datang pada Khawarij saat diutus Ali berkata: “kening mereka luka-luka karena terlalu lama sujud, dan tangan mereka seperti kaki unta lantaran terlalu banyak sujud.” (Ibn Abd Rabbih –w. 328 H.-al-‘Iqdul Farid, Jilid 2, hal. 389).

Kedua, suka berperang dan menggunakan cara kekerasan, yaitu seperti memaklumkan perang terhadap setiap orang di luar golongan mereka, mengkafirkan orang: “kalau imam telah kafir, maka kafir pulalah rakyat seluruhnya.” (A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jilid II, terj. Muchtar Yahya, dan Sanusi Latief. Jakarta: Jayamurni, 1971, hal. 115).

Ketiga, memiliki kesetiaan yang tinggi. Misalnya dalam kasus perang di Asak antara Ubaidillah ibn Ziyad dengan tentara 2000 orang dari pihak Umayyah versus Mirdaz Abu Bila dengan tentara 40 orang dari pihak Khawarij. Ubaidillah ibn Ziyad tidak jadi membunuh Mirdaz, sebagai gantinya diserahkan pada petugas penjara, tetapi petugas penjara memberi kesempatan tinggal di rumahnya pada siang hari, sedangkan pada malam hari kembali ke penjara. (Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari –w. 310 H-, Tarikh al-TabariJuz. V, hal. 232).

Keempat, kesederhanaan dan kedangkalan kognitif. Al-Qur’an dijadikan dasar halalnya membunuh. Mereka selalu mengeluarkan dalil surat al-An’am: 57, bahwa tidak ada hukum selain kepunyaan Allah, dan surat al-Maidah: 33, bahwa barang siapa tidak menghukum menurut hukum Allah, maka mereka adalah kafir. Dan bagi siapa saja yang dianggap kafir maka boleh dibunuh, bahkan wanita dan anak-anak boleh dibunuh. Lebih-lebih ketika menyangkut wilayah kepentingan politik. Pembunuhan terhadap Abdullah Ibnu Khabbab karena mengakui kekhalifahan Ali adalah contoh paling awal dari sketsa sejarah kekerasan Khawarij. (Ibn Abd Rabbih –w. 328 H.-al-‘Iqdul Farid, Jilid 2, hal. 390). Bukti lainnya adalah keluar dari koalisi Ibnu Zubair karena dia tidak mau mengakui kekafiran Utsman, Ali, Zubair, dan kepemimpinan Aisyah ketika berseteru dengan Ali. (Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari –w. , Tarikh al-Thabari, juz. IV, hal. 437).

Khawarij kemudian berkembang menjadi beberapa kelompok seperti al-Zariqah, al-Ibadiyah, al-Najdat, dan al-Shufriyah. Lalu apa hubungannya dengan berdirinya dinasti Saud di Arab Saudi dan juga kelompok yang terkenal dengan sebutan Salafi Wahabi? Buku ini tidak terlalu banyak mengeksplor benang merah antara keduanya. Sebenarnya banyak penelitian lainnya yang menjelaskan hal tersebut, seperti David Commins, The Wahabi Mission and Saudi Arabia, London: I.B. Tauris, 2006. Olivier Roy, Globalized Islam: The Search for a New Ummah. Sa’id Ramadhan al-Buthi, al-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islami, Damaskus: Dar al-Fikr, 1996.

Sebenarnya istilah Salafi sudah dikenal dalam literatur kitab-kitab klasik. Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada generasi awal pada tiga abad pertama sepeninggal Rasulullah. Namun demikian, saat ini penggunaan istilah Salafi tercemar oleh propaganda kelompok yang gencar melakukan klaim sebagai satu-satunya kelompok pewaris kaum Salaf. Karena itu Olivier Roy menyebut kelompok-kelompok yang mengusung tema atau mengenakan istilah Salaf belakangan ini, disebut sebagai neo-Salafisme. Hasan Ibn Ali al-Segaf dalam bukunya al-Tandid bi Man ‘Addad at-Tauhid menyebut gerakan-gerakan tersebut sebagai Mutamaslif (Meniru-niru seolah Salaf). Lalu keterkaitan antara Salafi dengan Wahabi, terletak pada tataran praksis di mana kelompok Wahabi merasa tersudutkan oleh penisbatan Barat dan kalangan muslim lainnya yang melekatkan gerakan dakwah mereka kepada Muhammad Ibn Abdul Wahab. Oleh karena itu mereka menggunakan istilah Salaf dalam berdakwah, maka kemudian terkenal istilah dakwah Salaf yang kini kian menjamur di Indonesia sebagai tren baru.

Dalam pandangan penulis buku ini, Salafi Wahabi bukanlah khawarij, namun memiliki karakteristik yang tidak jauh berbeda, alias mempunyai sisi kesamaan. Seperti sikap tanpa tedeng aling yang kerap ditunjukkan dalam memerangi hal-hal yang mereka anggap sesat, syirik, dan sebagainya. Propaganda mereka tidak hanya melalui buku, dan radio, tapi juga secara aktif di masyarakat, seperti masjid-masjid dan sarana pendidikan. Demikian pula dengan mengeluarkan fatwa-fatwa atau pernyataan sesat terhadap sesama muslim yang bertentangan dan berbeda dengan pemahaman mereka. Di antara fatwa-fatwa mereka adalah;

1. Haram memotong jenggot apalagi mencukurnya.

2. Haram wanita mengendarai mobil.

3. Haram wanita berbicara di sisi lelaki.

4. Zikir La ilaaha illallah seribu kali sesat dan musyrik.

5. Shalawat setelah azan dosanya sama dengan perzinaan.

6. Kalimat Shadaqallahu al-Azhim Bid’ah dan sesat.

7. Lelaki haram mengajar anak perempuan, dan perempuan haram mengajar anak lelaki.

8. Orang yang meninggalkan shalat berjama’ah tak boleh dinikahi.

9. Haram membangun menara masjid.

10. Ucapan selamat pagi, selamat siang, dan seterusnya berdosa.

11. Ucapan selamat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha seperti Kullu ‘Amin wa Antum Bi Khair(semoga setiap tahun anda berada dalam kebaikan) adalah sesat.

12. Haram wanita berpergian sendiri walaupun dalam kondisi aman.

13. Haram menggunakan Tasbih.

Selain itu masih banyak fatwa lainnya yang berada pada tataran mu’amalat dan tidak dicantumkan dalam buku tersebut, seperti fatwa dua orang ulama Saudi, Sheikh Othman Al-Khamees dan Sa’adal-Ghamidi yang melarang kaum perempuan memakai internet atau mendatangi tempat-tempat penyewaan jasa internet kecuali disertai mahramnya. Kemudian fatwa yang dikeluarkanGeneral Association of Saudi Senior Ulama tentang keharaman memberikan bunga saat menjenguk orang yang terbaring sakit karena perilaku itu menyerupai tradisi dan budaya umat non-muslim.

Ada pula fatwa bernuansa kepentingan dan motif ekonomi dari ulama Saudi Arabia yang mengharamkan penggunaan bahan bakar bio fuel dikarenakan dalam bio fuel tersebut terdapat zat ethanol yang dijumpai pada minum beralkohol, oleh karena itu mereka mengharamkan penggunaan bio fuel meskipun industri otomotif mulai beralih untuk memproduksi kendaraan-kendaraan berbahan bakar bio fuel dalam rangka mendukung gerakan ramah lingkungan dan mengantisipasi pemanasan global. Fatwa ini dikeluarkan oleh Sheikh Muhammad al-Najimi, seorang anggota dari Islamic Jurisprudence Academy, berdasarkan dalil ayat tentang keharaman arak atau minuman beralkohol, dan hadis Nabi yang melarang segala jenis transaksi yang mengandung alkohol tersebut. Akan tetapi fatwa ini dikatakan sebagai pendapat pribadi, bukan merupakan fatwa resmi (Official Fatwa) lembaga fatwa negara.

Di Indonesia sendiri, fenomena gerakan dakwah ormas-ormas Islam banyak yang memiliki karakteristik serupa, mereka sering dilabeli berbagai macam sebutan, dari konservatif, skriptural, tekstual, literal, fundamentalisme, revivalisme, dan sebagainya. Melimpahnya kategorisasi ini setimpal dengan penolakan-penolakan atas labelisasi tersebut. Tetapi secara empirik, keberadaan tipikal dakwah puritanisme ala Salafi Wahabi, benar-benar ada di Indonesia. Oleh karena itu penulis buku ini turut melansir beberapa nama, baik tokoh maupun lembaga yang menaungi propaganda atau seide dengan paham Salafi Wahabi tersebut.

Fatwa – fatwa aneh, nyeleneh, dan tidak masuk akal

Para ulama Wahabi memiliki ajaran dan pendapat yang bertentangan dengan ajaran Rasulullah Saw, para sahabat, dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Misalnya;
1. Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid, ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi al-Anbiya’i Jumlatan (Beriman Kepada Semua Kitab) disebutkan kalau Adam a,s. bukanlah nabi dan juga bukan rasul Allah.
2. Dalam buku al-Qaulu al-Mukhtar li Fana’i an-Nar karangan Abdul Karim al-Humaid, ulama Wahabi, disebutkan bahwa neraka tidak kekal dan orang-orang kafir tidak diazab selamanya di neraka karena akan dipindahkan ke surga.
3. Dalam buku kaum Wahabi yang berjudul Fatawa al-Mar’ah disebutkan bahwa menceraikan istri ketika haid tidak menyebabkan jatuhnya talak (padahal ‘ijma ulama mengatakan, seorang suami yang menceraikan istrinya ketika sang istri sedang haid, maka talaknya tetap sah dan si istri menjadi haram bagi suaminya).
4. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil (‘Ijma ulama mengatakan, perempuan boleh mengendarai mobil selagi tidak ada fitnah dan tetap terjaga aurat serta kehormatannya).
5. Dalam buku berjudul Fatawa al-Mar’ah juga disebutkan bahwa suara wanita di sisi lelaki ajnabi (bukan mahram atau orang yang boleh dinikahi) adalah aurat yang haram untuk didengar suaranya. Dengan kata lain, wanita haram berbicara di sisi laki-laki (di zaman Rasulullah Saw, perempuan dapat bertanya langsung kepada beliau tentang urusan agama. Ini berarti, dalam Islam, tak apa-apa perempuan berbicara di sisi laki-laki).
6. Dalam buku Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad, ulama Wahabi, disebutkan bahwa mengucap zikir la illaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal dalam Al Qur’an surah al-Azhab ayat 41 Allah berfirman; “Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”)
7. Ibnu Utsaimin, ulama Wahabi, berkata; “Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, termasuk dosa besar, meskipun ziarah ke makam Rasulullah.” (padahal dalam ajaran Islam tak ada larangan wanita melakukan ziarah kubur, termasuk menziarahi makam Rasulullah Saw).
8. Dalam buku at-Tahqiq wa al-Idhah li Katsirin min Masa’il al-Haj wa al-Umrah karangan Abdul Aziz ibnu Abdullah ibnu Baz disebutkan bahwa memotong jenggot, apalagi mencukurnya, hukumnya haram (padahal Islam tidak melarang memendekkan jenggot agar kelihatan rapih, bahkan dianjurkan, karena Allah SWT mencintai keindahan)
9. Ibnu Baz dalam majalah ad-Dakwah edisi 1493 Hijriyah (1995 Masehi) yang diterbitkan Saudi Arabiah menyatakan, haram bagi perempuan muslim mengenakan celana panjang, meskipun di depan suami dan celana panjang itu lebar serta tidak ketat (Islam tidak melarang wanita memakai celana panjang. Apalagi di hadapan suami).
10. Dalam kitab al-Ishabah, al-Juwaijati, imam Masjid Jami’ ar-Raudhah, Damaskus, Syiria, disebutkan, ketika berada di Masjid ad-Daqqaq, Damaskus, salah seorang ulama Wahabi mengatakan, shalawat kepada Rasulullah Saw dengan suara nyaring setelah adzan hukumnya sama seperti seorang anak yang menikahi ibu kandungnya (Islam tidak melarang umatnya bershalawat setelah adzan).

11. Ibnu Baz mengatakan, mengucapkan kalimat shadaqallahu al-adzim (maha Benar Allah dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca Al Qur’an adalah bid’ah sesat dan haram hukumnya (Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu karena mengandung pujian kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah Ali-Imran ayat 95 yang bunyinya; “Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah (dengan segala firman-Nya).”)

Dari beberapa contoh di atas jelas sekali terlihat kalau ajaran Wahabi telah keluar dari Islam karena terlalu banyak fatwa para ulama dan ajarannya yang tidak sejalan, bahkan bertolak belakang, dengan ajaran Islam. Maka benar pula lah sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Az-Zakah bab al-Qismah yang penggalan sabdanya berbunyi; “ … Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya …” Subhanallah.Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula dengan kejayaan Wahabi. Karena menganggap umat Islam selain pengikut ajarannya adalah kafir dan selalu memerangi, bahkan membunuhi umat Islam dengan dalih jihad fisabilillah, lambat laun antipati terhadap sekte ini meluas di seluruh wilayah Jazirah Arab, sehingga pada akhir abad 19 dakwah para ulama Wahabi tak laku lagi. Bahkan selalu dicerca dan dikecam.

Sadar kalau sektenya dalam bahaya, dengan didukung pemerintah Arab Saudi dan Inggris tentu saja, para ulama penerus Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan jurus baru untuk tetap mengeksiskan sekte ini di muka bumi. Apalagi karena sejarah Wahabi yang kelam dan kotor membuat tak sedikit pengikutnya yang menjadi risih setiap kali berhadapan dengan pengikut sekte Islam yang lain, terutama jika berhadapan dengan pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.Dalam bukunya yang berjudul as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu ataumutamaslif.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi, sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi. Hal ini diketahui berdasarkan dialog Albani dengan salah seorang pengikutnya, Abdul Halim Abu Syuqqah, pada Juli 1999 atau pada Rabiul Akhir 1420 Hijriyah.

Selain mengganti nama, sekte ini juga mengubah strategi dakwahnya dengan mengusung platform dakwah yang sekilas, jika tidak dipahami benar maksud dan tujuannya, terkesan sangat indah, terpuji dan agung, yakni “kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah”. Apa yang salah dengan platform ini? Gampang dijawab.

Wahabi adalah sekte dengan ajaran yang bahkan oleh para ulama pengikut mazhab yang empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dianggap sebagai AJARAN SESAT. Pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab, adalah seorang pria arogan, kasar, dan telah dicuci otak oleh Kementerian Persemakmuran melalui salah seorang agen mata-matanya, Hempher, sehingga telah menyimpang jauh dari ajaran Islam. Ulama-ulamanya pun, termasuk Ibnu Taimiyah, mengeluarkan fatwa-fatwa yang ganjil, nyeleneh dan juga tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lalu, bagaimana mereka dapat mengajak setiap Mukmin kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw yang dijabarkan dan dijelaskan para ulama dalam hadist? Al Qur’an dan Sunnah yang mana yang mereka maksud? Ibnu Taimiyah sendiri, karena fatwa-fatwanya yang nyeleneh dan menyimpang dari Islam, ditangkap, disidang, di penjara di Damaskus, dan meninggal di penjara itu. Sejarah mencatat, sedikitnya ada 60 ulama, baik yang hidup di zaman Ibnu Taimiyah maupun yang sesudahnya, yang mengungkap kejanggalan dan kekeliruan fatwa-fatwa ulama Wahabi itu dan juga ajaran Wahabi.

Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Sedang dari segi terminologi, as-salaf adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah Saw dalam hadistnya; “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, berdasarkan hadist ini, as-salaf adalah para sahabat Rasulullah Saw, tabi’in(pengikut Nabi setelah masa sahabat) dan tabi at-tabi’in (pengukut Nabi setelah masa tabi’in, termasuk di dalamnya para imam mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat). Maka jangan heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Yang juga perlu diwaspadai, kadangkala penganut ajaran Wahabi juga menyebut diri merekaAhlus Sunnah, namun biasanya tidak diikuti dengan wal Jama’ah untuk mengkamuflasekan diri agar umat Islam yang awam tentang aliran-aliran/sekte-sekte/golongan-golongan dalam Islam, masuk ke dalam golongannya tanpa tahu sekte ini menyimpang, dan mengamini ajarannya sebagai ajaran yang benar. Karena itu penting bagi setiap Muslim untuk mempelajari sejarah agamanya, dan sekte-sekte yang berada di dalamnya.Faham Salafi Wahabi masuk Indonesia pada awal abad 19 Masehi. Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, faham sesat ini dibawa oleh segelintir ulama dari Sumatera Barat yang bersinggungan dengan sekte ini ketika sedang menunaikan ibadah haji di Mekah.

Namun demikian, para ulama ini tidak menelan mentah-mentah ajaran Wahabi, melainkan hanya mengambil spirit pembaharuannya saja. Buku karya Syaikh Idahram itu bahkan menyebut, spirit yang diambil ulama Sumatera Barat dari faham Wahabi kemudian menjelma menjadi gerakan untuk melawan penjajah Belanda yang berlangsung pada 1803 hingga sekitar 1832 yang kita kenal dengan nama gerakan Kaum Padri dimana salah satu tokohnya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini tidak sekeras dan sekaku Wahabi karena dikulturisasi dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.Keberadaan Wahabi di Indonesia semakin nyata ketika pada awal 1980-an berdatangan elemen-elemen pergerakan dakwah Islam dari luar negeri, sehingga muncul kelompok-kelompok dakwah seperti Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin), Hizbut Tahrir, dan Jama’ah Islamiyah (JI). BahkanJI, menurut Polri, adalah pelaku serangkaian aksi teror bom di Tanah Air, termasuk Bom Bali I dan II, dimana Noor Din M TopDR. Azahari, dan Imam Samudera cs berada di dalamnya. Pemimpin JI, menurut Polri, salah satunya adalah Abu Bakar Ba’asyir.

Masih menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, pada 1995 Wahabi mulai memiliki media cetak di Indonesia dengan terbitnya Majalah Salafi yang dibidani Ja’far Umar Thalib dan kawan-kawan. Ja’far Umar Thalib juga kita ketahui sebagai Panglima Laskar Jihad.

Saat ini Wahabi telah terpecah menjadi dua faksi, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. Selain berjenggot dan mengenakan celana yang menggantung di atas tumit, para pengikut Wahabi dapat dikenali dari ciri-ciri sebagai berikut.

1. Selalu menggerak-gerakkan telunjuk naik turun saat tasyahhud awal maupun akhir (padahal Rasulullah Saw tidak pernah melakukan hal ini, karena seperti dijelaskan para ahli fikih, yang dimaksud menggerakkan telunjuk saat tasyahhud adalah dari kondisi tanggan menggenggam, telunjuk digerakkan hingga menunjuk ke depan (isyarah). Hanya itu, dan tidak digerak-gerakkan. Apa yang dilakukan pengikut Wahabi adalah bid’ah)
2. Sesuai doktrin sekte ini, pengikutnya diberikan penggambaran bahwa seperti halnya manusia, Allah SWT juga memiliki wajah, dua mata, mulut, gigi, dua tangan lengkap dengan telapak tangan dan jari-jemari, dada, bahu, dan dua kaki yang lengkap dengan telapak kaki dan betis. Allah berupa seorang pemuda berambut gelombang dan berpakaian merah. Allah duduk di atasArasy seperti layaknya manusia duduk di kursi. Dia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dan turun dari langit yang satu ke langit yang lain. Jika Allah duduk di Arasy, maka akan terdengar suara mengiuk seperti bunyi pelana kursi unta yang baru diduduki (doktrin ini mirip doktrin dalam Kristen, dimana Isa a.s yang dianggap sebagai anak Tuhan merupakan seorang pemuda dengan rambut bergelombang dan berselendang merah).
3. Pengikut sekte ini memiliki doktrin bahwa tauhid dibagi tiga, yakni tauhid rububiyahuluhiyahdan asma was sifat, sehingga diyakini bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab lebih baik, lebih bertauhid, dan lebih ikhlas dalam beriman kepada Allah SWT daripada umat Islam (padahal dalam Al Qur’an kedua tokoh ini justru dilaknat Allah SWT).
4. Selalu berbeda dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya, berpuasa hanya 28 hari di bulan Ramadhan (Ahlus Sunnah wal Jama’ah 29 atau 30 hari), dan pada 1419 Hijriyah (1999 Masehi) menetapkan bahwa waktu wukuf di Arafah bagi jemaah haji pada 17 Maret, padahal para ahli falak berdasarkan hilal menetapkan bahwa waktu wikuf pada 18 Maret.
5. Sangat kaku dan sangat letterlijk (terlalu harfiah) dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an dan hadist (padahal Islam sangat fleksibel. Apalagi karena Islam diturunkan Allah sebagai rahmatan lil alamin).

6. Mengkafirkan umat Islam yang tidak sepaham, dan mudah menuding apa yang dilakukan umat Islam sebagai bid’ah dan musyrik, seperti misalnya melakukan ziarah kubur dan mengucapkan “shadaqallahu al-adzim” setelah membaca Al Qur’an

Wahabi Memalsukan Kitab Para Ulama Salaf

Buku ini bagus sekali untuk membentengi aqidah ASWAJA dari virus-virus wahabi, merupakan kelanjutan dari jilid pertamanya yang berjudul Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Mungkin ada yang beranggapan bahwa isu wahabi merupakan isu jadul yang sengaja dihembuskan kembali. Tetapi kesimpulan seperti itu tidak berhenti di situ saja jika melihat perkembangan dan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Artinya wahabi bukan cuma sekedar isu, tetapi juga fenomena sosial yang berkaitan dengan politik, ekonomi dan akademik. Sama seperti jika kita membicarakan ideologi, agama, dan sebagainya. Ada berbagai macam isu yang terus berkembang dan tidak pernah stagnan.

Menguatnya pembicaraan tentang Wahabi tidak urung lagi berkaitan erat dengan kian banyaknya pemberitaan dan literatur penelitian yang membahas hal ini. Seperti yang dikatakan Azyumardi Azra dalam pengantar buku jilid ke-2, mengenai penelitian terbaru seputar Wahabi, yakni buku karya Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad (Oxford-Cairo: Oxford University Press, 2005). Wahabi merupakan aliran pemikiran dan gerakan politik yang paling tidak toleran dalam Islam, yang berusaha dengan cara apapun –termasuk jalan kekerasan- untuk menerapkan apa yang dianggap oleh mereka sebagai “Islam Murni”. Ini bisa terlihat dari pemikiran dan kiprah Muhammad Ibn Abd al-Wahab di tanah Hijaz sejak abad ke-18, yang menguasai lanskap keagamaan di Saudi Arabia setelah menduduki Mekkah dan Madinah bersama dengan trah Saud.

Semua golongan yang dianggap telah melakukan Bid’ah atau kesesatan dibasmi dengan menggunakan segala cara termasuk dengan kekerasan. Sampai kini Wahabi tetap dianut dan diterapkan dalam sistem pemerintah Saudi Arabia, demikian pula dengan penyebaran atau mengimpor ajaran itu ke seluruh dunia Islam juga terus digencarkan, seperti melalui pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok-kelompok dalam komunitas muslim. Dalam bidang akademis, salah satu caranya dengan membagikan literatur karangan Muhammad Ibn Abd al-Wahab agar proses transmisi keilmuan, pola pikir, dan gerakan mereka terealisasi dengan baik.

Pada buku kedua ini, sang penulis buku membeberkan bagaimana kelompok Wahabi berupaya memalsukan buku-buku karya ulama klasik dan sejumlah ajaran-ajaran yang menjadi pondasi dasar keyakinan mereka. Misalkan pemalsuan kitab Diwan Imam al-Syafi’i. Kelompok Wahabi sangat membenci kaum sufi yang mereka tuding sesat, karena itu mereka menghilangkan beberapa bagian nasihat Imam Syafi’I tentang sufistik dalam buku versi terbitan mereka. Padahal di buku-buku lainnya versi penerbit lain yang berasal dari Beirut, Damaskus, dan Kairo.

Imam Syafi’I berujar: “Jadilah ahli Fikih dan Sufi Sekaligus, jangan hanya salah satunya. Sungguh demi Allah, saya benar-benar ingin memberi nasihat kepadamu. Orang yang hanya memelajari ilmu fikih tetapi tidak memelajari ilmu tasawuf, maka hatinya keras dan tidak dapat merasakan nikmatnya takwa, sebaliknya orang yang hanya memelajari tasawuf saja akan menjadi bodoh, tidak tahu yang benar.”

Bait ini kemudian dihilangkan oleh penerbit-penerbit buku di Saudi. Selanjutnya demikian pula dengan kitab hadis Shahih Bukhari, seperti penghilangan pasal al-Ma’rifah pada Bab al-Mazhalim, padahal dalam kitabFath al-bari karya Ibn Hajar al-Asqalani yang menjadi Syarh atau berfungsi untuk menjelaskan kitab Shahih Bukhari, di situ ditulis jelas mengenai komentar Ibn Hajar mengenai hadis-hadis yang terdapat di dalam pasalal-Ma’rifah. Kemudian pada kitab Shahih Muslim ada sebuah hadis tentang keutamaan empat perempuan terbaik di dunia yakni; Siti Maryam (Ibunda Nabi Isa), Siti Asiah (Istri Firaun, ibunda angkat Nabi Musa), Siti Khadijah, dan Siti Fatimah. Tetapi dalam cetakan penerbit Saudi, Masykul, justru hadis yang tercantum dalam bab Fadhail Khadijah (keutamaan Khadijah) itu dihilangkan. Malah yang dicantumkan adalah hadis tentang keutamaan istri Nabi yang bernama Aisyah. Mengapa hal ini terjadi, disinyalir hadis tersebut jika dicantumkan maka kaum Syi’ah dapat menemukan justifikasi tentang keutamaan Khadijah yang melahirkan Fatimah sebagai keluarga (Ahl Bait) Nabi, sebaliknya Aisyah dalam Perang Unta pernah berperang melawan Ali yang menantu Nabi serta suami Fatimah. Oleh karena itu mereka menghapus hadis itu dan mengganti dengan hadis tentang Aisyah namun malah memasukkannya di bab Fadhail Khadijah. Padahal hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Katsir dan diriwayatkan dalam kitab Ibn Katsir yang notabene dibilang termasuk dari kalangan Sunni.

Selain membeberkan beberapa penghilangan teks tulisan dari naskah-naskah klasik. Kelompok Wahabi juga mempunyai beberapa ajaran lain yang menjadi pondasi dasar. Salah satunya yaitu membenci ilmu sains yang dikatakan sebagai ilmu orang-orang kafir. Makanya ketika kita menghadiri pengajian kaum Salafi Wahabi, biasanya apa yang disebut ilmu hanya dalam kerangka ilmu ketuhanan yang meliputi tauhid, al-Qur’an dan Sunnah, dan cara-cara beribadah ritual belaka. Sementara ilmu lainnya tidak dapat disejajarkan dengan hal itu apalagi digunakan sebagai pendekatan untuk meneliti teks-teks utama Islam seperti al-Qur’an dan Sunnah.

Semisal dalam karangan salah satu ulama Saudi Abd al-Karim Ibn Shalih al-Humaid yang mengarang bukuHidayah al-Hairan fi Mas’alati al-Dauran, dikatakan bahwa keyakinan tentang bumi berputar merusak akidah mereka. Mereka keberatan jika bumi dikatakan berputar dan mengelilingi matahari. Karena menurut akidah mereka, Allah turun ke langit bumi ini setiap sepertiga malam yang terakhir sebagaimana dikatakan oleh teks utama. Namun mereka memahami secara literal-tekstual benar-benar turun ke bumi dari kursi Arasy. Maka jika bumi berputar berarti Allah tidak akan naik ke Arasy, sebab dengan adanya perputaran bumi setiap bagian bumi mengalami siang dan malam secara bergantian. Lantas kalau Allah tidak bisa naik kembali keArasy, kursi Arasy pun akan menjadi kosong. Dengan demikian mereka menolak pengetahuan yang mengajarkan tentang bumi yang berputar ini.

Dalam buku itu dikatakan: “Sesungguhnya di antara musibah yang merata terjadi di zaman sekarang ini adalah masuknya ilmu-ilmu kontemporer kepada umat Islam dari yang sesungguhnya menjadi musuh-musuh mereka, yaitu golongan Dahriyah dan Mu’aththalah (golongan orang yang tidak mengartikan teks agama secara tekstual), dan adanya dominasi ilmu-ilmu tersebut atas ilmu-ilmu agama. Ilmu kontemporer ini ada dua macam: pertama, ilmu mafdhulah yang mendominasi syariat Islam dan melemahkannya, maka ilmu itu diharamkan. Kedua, ilmu yang merusak akidah, seperti ilmu yang mengatakan bumi itu berputar dan yang lainnya dari ilmu-ilmu kafir.”

Dalam halaman lain Ibn Shalih al-Humaid juga menyatakan: “keyakinan bumi berputar jauh lebih berbahaya dari keyakinan manusia berasal dari kera… Semua dalil dari al-Qur’an dan Sunnah tentang bumi itu berputar adalah takwilan yang sesat.”

Syaikh Ibn Baz juga mengatakan hal yang sama tentang sesatnya keyakinan bumi berputar. Bahkan dia menyatakan bahwa orang yang bersikeras mengatakan bumi itu berputar maka orang itu murtad, halal nyawanya dan hartanya. Pendapat Ibn Baz ini terekam dalam kitab karangannya, al-Adillah al-Naqliyah wa al-Hissiyyah ‘ala Jaryan al-Syams wa Sukun al-Ardh (Dalil-Dalil Naqli dan Inderawi tentang Berputarnya Matahari dan Diamnya Bumi). Pada tahun 1976 melalui Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, fatwa serupa juga dikeluarkan bahwa, “Sesungguhnya keyakinan yang mengatakan bahwa matahari tetap dan bumi berputar adalah perkataan yang sangat keji dan munkar. Siapa saja yang mengatakan bumi berputar dan matahari tidak berjalan, maka dia telah kafir dan sesat. Dia wajib diminta bertaubat. Itu jika dia mau bertaubat, jika tidak maka dia dibunuh sebagai kafir murtad, dan harta yang ditinggalkannya menjadi milikBaitul Mal kaum muslimin.” (Fatwa ini dikeluarkan oleh lembaga fatwa Saudi Arabia, Idarat al-Buhuts al-Amah wa al-Ifta’ wa al-Da’wah wa al-Irsyad dengan nomor fatwa 1/2925 tertanggal 7/22/1397 H).

Membaca  beberapa fatwa lain dari para ulama Saudi dalam buku ini, menandakan bahwa fenomena-fenomena yang terjadi dalam kondisi keragaman komunitas muslim dewasa ini, termasuk isu mengenai Wahabi yang tentunya tidak mungkin direduksi pada tataran isu semata. Maka perlu kiranya dalam penelusuran mengenai Wahabi tidak berhenti dengan mencantumkan aspek normatif, tetapi juga tidak kalah penting menelusuri bagaimana fenomena penyebaran ajaran Wahabi di Indonesia, semisal melalui media televisi berupa sinetron dan film bertema-tema keagamaan, serta beberapa media cetak dan radio. Mungkin hal itu dapat diteliti oleh si penulis pada buku jilid selanjutnya yang katanya akan segera terbit dalam waktu dekat. Hal tersebut dimaksudkan agar dinamika pergolakan di tengah umat akan terpetakan semakin jelas dan kentara, sehingga tidak bisa dengan gampang dimatikan begitu saja dengan atas nama kesatuan dan keseragaman, karena dalam melihat fenomena pasti ada perdebatan dan beragam cara baca untuk menelaahnya.

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang.

peringatan Asyura dalam memperingati kesyahidan Imam Husain As dengan melakukan arak-arakan dan berkumpul di tanah lapang sembari menyanyikan sajak-sajak duka telah menjadi upacara atau tradisi yang telah dilekatkan pada umat muslim Syiah. Dalam tradisi tersebut tidak sedikit disertai dengan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama, misalnya melakukan perbuatan melukai diri dengan senjata-senjata tajam dengan dalih agar turut menghayati perihnya luka yang dialami Imam Husain As. Ulama-ulama Maraji Syiah sejak dulu telah memfatwakan akan keharaman perbuatan tersebut. Namun tetap saja perbuatan tersebut dilestarikan oleh sejumlah orang, meskipun setiap tahunnya sudah semakin tidak populer.

Berikut fatwa-fatwa ulama besar Syiah akan keharaman perbuatan menyiksa dan melukai diri pada peringatan Asyura:

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Hakim: Qamezani (pisau yang dipukul pada badan) bukanlah termasuk dalam amalan agama, apalagi dihukumi mustahab. Amalan ini memberi kesan buruk kepada Islam, umatnya dan Ahlul Bait (as).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Qasim al-Khui: Tidak ada satupun dalil Syar’i yang membolehkan Qamezani; tidak ada jalur periwayatan yang menghukumkan amalan itu sebagai mustahab (sunnah).

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Abul Hasan Esfahani: Penggunaan pisau, gendang, rantai dan Bouq (sejenis trompet dari tanduk) adalah haram dan bukan dari Syariat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Muhsin Amin Jabal ‘Amili: Qamezani dan apa saja peralatan penyambutan Asyura (yang dapat menciderai) adalah haram menurut hukum akal dan syar’i. Mencederai dan melukai kepala bukan saja tidak memberi manfaat di dunia dan pahala di akhirat, bahkan ia menyakiti jiwa serta haram menurut hukum syar’i. Amalan ini juga menyebabkan Syiah dan Ahlul Bait menjadi jelek dalam pandangan orang. Mereka akan menganggap amalan ini sebagai tindakan biadab dan sadis. Tiada syak lagi bahwa amalan ini berasal dari bisikan Syaitan dan tidak mendatangkan keridhaan Allah, Rasulnya dan Ahlul Bait.

Ayatullah Al-Udzma As-Syahid Sayyid Muhammad Baqir Sadr: Amalan ini adalah pekerjaan insan yang jahil dan para ulama sentiasa menghalangi dan mengharamkannya.

Ayatullah Al-Udzma Fadhil Lankarani: Masalah Qamezani bukan saja tidak mendatangkan lebih banyak kesedihan dan kecintaan terhadap Imam Husain (as) dan matlamat suci beliau. Namun ia tidak diterima, bahkan ia memberikan hasil yang negatif secara rasional.

Ayatullah Al-Udzma Shalehi Mazandarani: Dalam sumber Fiqh, Qamezani sama sekali tidak memberikan faedah apapun dalam Azadari Imam Husain (as).

Ayatullah As-Syahid Murtadha Mutahhari: Upacara ini meniru budaya Kristian Ortodok Caucasus.

Ayatullah Muhammad Jawad Mughniah: Upacara ini tidak sesuai dan Bid’ah menurut agama dan Mazhab.

Ayatullah Misykini: Perkara ini menimbulkan masalah menurut Syariat Islam. Bahkan ia mengandungi unsur-unsur haram dan umat Islam tidak boleh sekali-kali memasukkannya sebagai ibadah dalam berdukacita atas Imam Husain (as).

- FATWA ULAMA YANG MASIH HIDUP -

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ketika Komunis menjajah Azerbaijan-Soviet dahulu, semua peninggalan-peninggaln dan tradisi Islam di sana telah dihapuskan seperti masjid diubah fungsinya menjadi gudang. Majelis-majelis pertemuan dan Husainiyah ditukar menjadi gedung lain dan tidak ada satupun simbol agama Islam dan Syiah yang berbekas; kecuali Qamezani sahaja yang dibenarkan…. mengapa? Ini adalah cara mereka memerangi agama Islam dan Syiah. Kadang-kadang musuh menggunakan alasan seperti ini untuk menentang agama. Setiap unsur khurafat dimasukkan kedalam Islam supaya kemurnian Islam tercemar.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Ayatullah Al-Udzma Mazaheri Esfahani: Memukul badan dengan pisau dan semisalnya adalah haram.

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Kazim Haeri: Perkara khurafat seperti Qamezani menyebabkan Islam dan Syiah mendapat pencitraan buruk.

Ayatullah Nuri Hamdani: Peserta Azadari hendaklah sentiasa menyedari keburukan Qamezani di mana pihak musuh sentiasa memikirkan cara menjajah dan melemahkan umat Islam serta merusak Islam dari dalam. Semoga Allah membantu umat Islam.

Ayatullah Al-Udzma Syaikh Muhammad Yaqubi: Tidak boleh melakukan amalan-amalan yang tidak logis, membahayakan diri, menyebabkan penghinaan terhadap agama dan Maktab Ahlul Bait (as). Oleh itu wajiblah kita menjauhi amalan-amalan seperti Qamezani atau yang mencederai tubuh dengan alat-alat tajam.

Ayatullah Muhammad Mahdi Asfahi: Amalan-amalan ini memberi kesan negatif dalam penyampaian pesanan Asyura kepada khayalak ramai dan ia menyebabkan acara Husaini diremehkan.

Buku Syi’ah yang disambut baik oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Judul Buku : Syiah Menurut Syiah
Penulis : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga : Rp. 75.000,-
Cetakan : Cetakan 1, Agustus 2014

.

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

Resensi Buku: Syiah Menurut Syiah

IMG_5690Judul Buku   : Syiah Menurut Syiah
Penulis           : Tim Ahlulbait Indonesia (ABI)
Penerbit         : Dewan Pengurus Pusat Ahlulbait Indonesia
Ukuran Buku: 23×15 cm, 411 halaman
Harga       : Rp. 75.000,-
Cetakan   : Cetakan 1, Agustus 2014

Buku Syiah Menurut Syiah (SMS) ini diterbitkan oleh Ahlulbait Indonesia (ABI) sebagai salah satu ormas Islam di Indonesia. Berbeda dengan ormas Islam NU dan Muhammadiyah yang berpaham Islam Ahlusunnah (Sunni), ABI merupakan ormas Islam bermazhab Syiah. Walau hakikatnya, sama-sama lahir dari tubuh utama Islam, perbedaan-perbedaan penafsiran dalam beragama di kalangan Sunni dan Syiah ini kerap dimanfaatkan sebagian orang untuk mengadu-domba keduanya.

Berbagai fitnah pun bermunculan; mulai dari media sosial yang gencar mengkafirkan dan mensesatkan Muslim Syiah, membenturkan keyakinannya dengan Muslim Sunni, bahkan buku-buku tentang kesesatan Syiah banyak beredar, dari yang dijual, hingga disebar gratis. Tak hanya individu, bahkan lembaga sekelas MUI pun dicatut namanya sebagi legitimasi atas usaha menyingkirkan Muslim Syiah dari Nusantara ini. Mulai dari fatwa sesat terhadap Muslim Syiah di Jawa Timur, hingga terbitnya buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” yang diedarkan secara luas oleh beberapa oknum intoleran dengan mengatas namakan MUI.

Di tengah maraknya aksi pengkafiran dan penyesatan yang dialamatkan kepada Muslim Syiah tersebut, ABI merumuskan dan menerbitkan buku ini, sebagai upaya mengenalkan kepada masyarakat bahwa Muslim Syiah yang telah hadir sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia ini, tak seperti apa yang mereka tuduhkan secara sepihak, dengan beragam informasi yang tidak berimbang. Buku ini tidak serta merta ditujukan untuk membantah buku berlogo MUI yang telah disebar ke penjuru Nusantara dengan jumlah yang tidak sedikit tentunya. Sebab, di dalam prolog buku SMS ini disebutkan beberapa hal yang menerangkan bahwa buku berlogo MUI itu terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi.

Upaya ABI menerbitkan buku ini disambut baik oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin. Bahkan, Lukman Hakim bersedia menyempatkan diri untuk memberikan pandangannya mengenai buku ini, yang kemudian tertuang menjadi sambutan atau pengantar dalam buku SMS tersebut. Menag menilai, perbedaan pandangan di kalangan umat Islam adalah suatu hal yang wajar dan harus disikapi secara adil, bukan saling menyalahkan namun justru saling melengkapi khazanah pengetahuan tentang Islam dan keindonesiaan yang mengusung Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menguatkan tali persatuan dan persaudaraan melalui perbedaan-perbedaan itu.

Buku ini menjelaskan beragam jawaban atas isu-isu yang ditujukan kepada Muslim Syiah secara lengkap, mulai dari yang bersifat pokok, hingga cabang-cabangnya. Selain menampilkan sumber-sumber dalil dari kalangan Syiah, buku ini juga menampilkan berbagai sumber dalil yang ada di kalangan Sunni.

Di bagian tertentu, pada sub judul “Budaya Syiah di Indonesia” (hal: 333), juga dijelaskan beberapa sumber fakta yang menyebutkan Syiah sebagai salah satu mazhab Islam yang pertama kali masuk ke Indonesia. Selain itu, kesamaan tradisi Islam Syiah dan NU seperti tahlilan, peringatan meninggalnya seseorang, haul, serta maulid dan sebagainya, juga dijelaskan di bab ini.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, dengan berbagai analogi dan contoh, untuk memudahkan pembaca memahaminya. Di Bab Pertama (hal: 7) misalnya, sebelum masuk ke pembahasan inti, buku ini mengajak pembaca untuk menata konsep berfikir secara logis dan rasional sebelum menilai sesuatu.

Buku ini menarik dibaca, tidak hanya bagi kalangan Muslim Syiah saja, melainkan umat Islam seluruhnya. Sebab, penting memahami satu sama lain untuk dapat menemukan kesepahaman demi tercipta perdamaian. Terlebih bagi anda yang getol membenci Syiah hanya karena mendapat informasi sepihak tentang Syiah. Buku ini hadir untuk mengimbangi cara berfikir anda dalam menilai Muslim Syiah di Indonesia bahkan di  dunia. Selain itu, buku ini juga menampilkan sudut pandang lain dalam memahami lebih dalam tentang Islam, yang mungkin dapat memuaskan anda yang haus akan pengetahuan.

Bedah Buku SMS di P3M

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3MKlaim Sunni dan Syiah selalu saling bertikai ternyata tidak terbukti di Cililitan, Jakarta Timur. Hari itu, tepatnya Kamis (16/10) bertempat di Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Muslim Sunni dan Syiah duduk bersama dalam sebuah diskusi bedah buku Syiah Menurut Syiah (SMS) yang ditulis oleh Tim Ahlulbait Indonesia.

Musa Kazhim, selaku perwakilan dari tim penulis buku SMS menjelaskan bahwa tuduhan terhadap Syiah selama ini pembuktiannya tidak pernah ada sebab, selalu saja ketika tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang ditujukan kepada Muslim Syiah dibantah, mereka kemudian akan menghakimi bahwa Muslim Syiah itu sedang bertaqiyyah.

Hal ini, menurut Musa disebabkan karena konsep taqiyyah telah disalahpahami oleh mereka yang tidak menyukai Syiah. Konsep Taqiyyah di dalam Syiah menurut Musa adalah tidak mengutarakan kebenaran demi kemaslahatan yang lebih besar. Dalam prinsip beragama pun juga diajarkan almaslaha al ammah, menjadi sendi paling utama.

“Tetapi sayangnya kemudian taqiyyah ini disalahtafsirkan oleh para penuduh sebagai cara berbohong dan berkelit,” ujar Musa.

Selain itu, dalam buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ada juga tuduhan bahwa Syiah menuhankan Ali bin Abi Thalib. Terkait hal ini, Musa menegaskan bahwa tidak satu pun dari Muslim Syiah yang menyakini hal itu. Kalau ada yang mengaku Muslim Syiah dan menyatakan bahwa Syiah menuhankan Ali, maka otomatis dia menjadi kafir.

Sebab semua umat Islam tahu siapa Tuhannya, dan yang mengikat kita selama ini adalah La ila ha illallah. Tidak ada perbedaan terkait ketuhanan itu dan tidak boleh berbeda pendapat tentang hal itu. Dan itu, hal yang tidak mungkin akan dilakukan oleh Muslim Syiah.

“Lha ini kok ada orang yang mengatakan bahwa ada Syiah yang menyatakan Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan,” kata Musa.

Dalam acara di P3M sore itu, masih banyak tuduhan yang diklarifikasi langsung oleh Musa berdasarkan sumber primer pihak Syiah sendiri, sebagaimana yang ada dalam buku Syiah Menurut Syiah. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi mis-informasi dan kesalah pahaman di kalangan masyarakat, sebab tulisan yang ada selama ini dan berisi tuduhan miring tentang Syiah selalu saja ditulis oleh orang-orang yang berada di luar Syiah.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, KH. Masdar  F  Mas’udi, Khatib  Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mencoba memberikan analisa tentang kondisi agama saat ini dengan membaginya menjadi 3 bagian besar dari agama Islam yang ada.

Bedah Buku Syiah Menurut Syiah di P3M

Pertama, adalah kelompok yang lebih mengedepankan teks yaitu kelompok Wahabi  atau Khawarij. Kedua, adalah kelompok yang berpegang kepada Ahlulbait Nabi yaitu kelompok Syiah. Ketiga, adalah Sunni yang menempatkan posisi berada di tengah-tengah antara Wahabi dan Syiah untuk menjaga keseimbangan keberagamaan.

“Tentu saja masing-masing pihak boleh saja mengklaim benar. Tapi jika sekaligus pada saat yang sama mengklaim yang lain sepenuhnya salah, saya kira itulah yang akan menjadi masalah,” terang Masdar. “Namun ketika ketiganya itu bisa berkembang secara seimbang dan dewasa saya kira akan memberikan output yang hebat bagi kehidupan semua agama dan keyakinan itu,” tambahnya.

“Kita boleh mengaku benar tapi menuduh yang lain salah itu ya nanti dulu,” tegas Masdar.

Bagi Masdar, adanya dialektika ini akan menjadikan masing-masing pihak lebih dewasa apabila yang di tengah itu cukup kokoh. Kalau yang di tengah ini lembek, maka yang akan terjadi adalah konflik, bukan lagi dialog karena tidak ada yang menjadi penjaga keseimbangan itu.

“Ini soal kedewasaan, dan kedewasan ini akan lebih dipacu kalau yang di posisi tengah cukup solid,” kata Masdar terkait posisi Sunni yang dikatakannya sebagai pihak penengah atau penyeimbang.

Sebelum menutup pembicaraan, Masdar mengatakan bahwa politik dakwah itu penting, supaya tidak merusak tatanan, supaya tidak merusak keseimbangan.

“Yang paling penting dakwahnya harus mendewasakan,“ pungkas Masdar.

MUSLIM SYIAH VS MUSLIM SUNNI MANA YANG BENAR..? Sunni- syiah siapa yang benar ??

MUSLIM SYIAH VS MUSLIM SUNNI MANA YANG BENAR..?

Kawan, Keyakinan hanya bisa dikalahkan dengan argumen bukan militer. Jepang dihancurkan dengan bom nuklir, tapi kejepangan kan nggak hilang. Keyakinankan tidak hanya di Iran, kalau dibom nuklir, tidak akan menghilangkan keyakinan, dan keyakinan itu ada di mana-mana.

ISLAM  SUNNI  GAGAL  DIBIDANG  FILSAFAT  ISLAM

Filsafat bagi saya pergulatan hidup bukan sekedar tempelan.

Anda termasuk orang yang konsisten memperhatikan bidang Sains dan Filsafat, juga logika, Epistemologi, Agama dan Sains, Kosmologi, Filsafat Lingkungan, Filsafat Agama, perbandingan Filsafat Islam dan Barat, apa kaitan antara satu dengan lainya, dan apa benang merahnya?

“Penguasaan sains menjadi elemen niscaya bagi bangsa yang mandiri. Tuntutan agama Islam itu kan menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya semangat jihad khilafah, tapi tidak ada jihad ilmu dan Sains”

Fukuyama yakin dengan bukunya, “The End of History and The Last Man” bahwa demokrasi liberal adalah akhir evolusi sosial budaya manusia dan bentuk final pemerintahan. Ternyata Iran menganut sistem Republik Islam Iran. Politik, sosial dan hukum di Iran tunduk pada prinsip Islam dan yang mengejutkan terjadi lompatan saintifik. Islam ternyata mampu berevolusi dengan masyarakat Iran.

telah terjadi Revolusi Saintifik di Iran. Artinya, pertama, terjadi lompatan besar perkembangan sains dan teknologi di Iran selama hanya 30 tahun dari posisi yang tidak diperhitungkan. Kedua, terjadi lompatan kemajuan sains di tengah sanksi AS dan Eropa, kemajuan sains menjadi kedaulatan dan kebanggaan nasional.

Revolusi Saintifik Iran adalah antitesa Sekulerisme, menggugurkan klaim bahwa agama dan sains tidak mungkin bekerjasama.

logika diajarkan di S1 semua Fakultas  UIN / IAIN , tapi karena keterbatasan pengajar jadi gagal.

Kemudian Filsafat Sains, dulu saya banyak memperhatikan program Islamisasi Sains mazhab Sunni, tokohnya Ismail Faruqi, problemnya adalah agenda Islamisasi Sains saya lihat kekurangan basis Filsafat, lebih banyak tambal sulam. Kalau ada sains lalu ditambah Al-Quran, lalu sunni bilang itu Islami.

Indonesia saya lihat kekurangan nalar diskursif, kalau saya tinggal di Amerika, mungkin saya kembangkan tasawuf Mulla Sadra. Tabatabai dan Taqi Misbah lebih menekankan Filsafat Mula Sadra dibandingkan tasawufnya. Nah di Indonesia, butuh nalar diskursifnya. Seperti ACCROS kan kita menjadikan Ibu Sina, sebagai wakil Saintis, Filsafat di dunia muslim. Bangsa Indonesia butuh budaya Sains. Seperti kata George Sarton, perkembangan sains tidak pernah kosong dari budaya, di Indonesia banyak orang mengembangkan Sains tanpa budaya Ilmiah. Salah satu budaya ilmiah, suka logika, tetapi masyarakat lebih suka budaya konsumtif.

Relasi agama dan sains itu bahasa Filsafat. Bagaimana membangun Agama dan Sains dalam satu tarikan nafas, bukan dua digabung jadi satu. Konteksnya bagaimana maju secara sains dan agama dalam sebuah negara. Yang punya kepentingan tentunya para saintis dan ulama. Signifikansinya sangat penting relasi itu. Tidak ada ulama di Iran reaksioner terhadap sains. Isu Agama dan Sains itu konteknya dalam kehidupan modern. Integrasi agama dan sains itu efek konsisten dari pandangan tauhid Islam. Maka jika dibicarakan zaman Ibnu Sina, tidak relevan karena dia pelaku integrasi. Dunia itu satu (Tauhid) bukan ada dunia; dunia agama dan dunia sains. Isu Agama dan Sains tidak hanya terjadi  di Iran, tapi ada di Malaysia, Turki, Arab Saudi, Indonesia tapi hanya wacana dan harapan, kalau di Iran minimal treknya sudah ke sana.

Kita harus mendefinisikan maju itu apa, maju itu Independen, dengan kepala, otak kita sendiri. Qatar, Uni Emirat Arab tidak bisa dikatakan negara maju. Negara kaya iya, tapi hanya beli, jangankan produksi, mengoperasionalkan alat teknologi canggih saja tidak bisa, harus orang Amerika. Maju itu keberhasilan melawan hegemoni dunia yang ingin menguras kekayaan alam. Maju itu kemampuan  mengambil jarak dan indepen sebagai bangsa. Dalam konteks Iran, Iran itu maju dalam mengambil jarak dan independen dari jebakan Amerika, dan perjuangan itu mempunyai nilai kemanusiaan.  Maju itu menurut saya menciptakan barang-barang sendiri bukan membeli. Etos ilmiah dan petualangan imiah itu penting buat kemanusiaan. Ada masa Sains sebagai proses, dan sains pada lini terakhir sebagai produk. Kita harus mencetak ilmuan bukan membeli hasil sains.

Banyak negara-negara Timur tengah suka membeli produk teknologi, tetapi pertanyaanya, apa dengan bisa membeli produk canggih otomatis menjadi negara maju secara teknologi, apalagi maju secara kemanusiaan dan peradaban. Justru sebaliknya saya melihat malah uangnya buat membiayai terorisme.

Tidak ada negara maju dengan syariat Islam
Islam Sunni  Bingung  Soal  Politik  Islam
Negara-negara Islam Sunni melawan kodrat manusia, jadi tidak akan bisa maju.
 .
.
Islam Sunni  Gagal  Islamisasi  IPTEK

Dalam 30 tahun paska Revolusi Iran tahun 1979, menurut laporan Royal Society Report tahun 2011,  Thomas Reuters, Social Sciences Citation Index (SCI), Science-Metrix, dan MoSRT, perkembangan Sains di Iran tercepat di dunia dan menempati  peringkat 16 di level negara maju. Iran mengalahkan negara-negara maju seperti Swiss, Rusia, Austria, Denmark.  Iran berada pada posisi kelima setelah China, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Iran juga  mengungguli semua negara regional termasuk Turki dan teratas di dunia Islam dalam capaian Ilmiah.

Islamkan berpandangan tauhid, Sains tidak bisa lepas dari pandangan tauhid termasuk etika. Akan terjadi split personality pada seorang muslim Saintis jika masih melihat konflik relasi agama dengan sains, agama menjadi sekuler, seakan harus memilih Sains atau agama. Nah.. dibutuhkan bingkai cara berpikir bahwa mengembangkan sains bagian dari tugas agama. Ibnu Khaitam, Arrazi memandang tugas Sains itu tugas agama. Mengkaji alam, membaca kemauan Tuhan. Kita lihat di Iran, setidaknya ada indikasinya kuat mengarah ke sana. Sains berkembang di Iran. Biasanya kita hanya mendapat informasi tentang  Iran dari sisi Revolusi dan Teologi, kita jarang melihat dari sisi Sainsnya.

Kita melihat dari sisi holistik, pengembangan sains itu menjadi bagian dari perjuangan mandiri sebagai bangsa. Penguasaan Sains menjadi elemen niscaya menjadi bangsa yang mandiri. Tuntutan agama Islam itu kan menjadi bangsa yang mandiri, tidak hanya semangat jihad khilafah, tapi tidak ada jihad ilmu dan sains. Sains menjadi elemen penting. Penguasaan sains itu tuntutan agama. Islam secara fitrah menuntut mengembangkan semua potensi termasuk Sains. Cara berpikir monokausal itu melihat, hanya karena faktor kejepit Iran maju, atau hanya karena faktor Revolusi, Sains berkembang pesat, atau hanya melihat faktor Iran punya modal budaya sejarah Sains.

Harusnya kita pakai berpikir both and, menerima banyak faktor kondisional, contohnya: kertas, udara, api itu elemen-elemen penyebab kertas kebakar. Sains maju di Iran, karena kombinasi, faktor Revolusi, faktor “kejepit”, faktor modal sejarah Sains, faktor tersedianya infrastruktur budaya dan sosio religi.  Pesan jihad ilmu oleh Rahbar itu penting. Fatwa ulama Iran tentang kloning, menjadikan ilmu kloning berkembang pesat di Iran. Kalau teologinya tidak rasional itu nanti jadi penghambat kemajuan Sains.

Islam  Syi’ah  Solid  Dibidang  Kepemimpinan
Sulit membayangkan pengembangan sains di Iran tanpa stabilitas politik. Terciptanya stabilitas dalam suasana ditekan itu karena peran kepemimpinan Rahbar (pemimpi tertinggi).

Umat itukan ada kesatuan tradisi, ada kesadaran bersama, pandangan ulama itu di dengar baik di dunia Sunni dan Syiah. Nah di Iran, pandangan itu diinstitusionalkan dalam negara. Ulama tidak sekedar jabatan, ulama juga mengemban tugas ilmiah, Wilayatul Faqih itu institusionalisasi peran ulama dalam membimbing dan memajukan umat dan bangsanya, baik dalam kontek politik, budaya dan Sains, dan itu sebenarnya ciri khas Islam.

Bahkan Rahbarpun mencanangkan jihad ilmiah dan ekonomi. Perhatianya sampai detil, jangan sampai jual bahan-bahan mentah yang murah yang belum diolah secara teknologi, itukan ekonomi berbasis Sains. Turunan itu berupa kebijakan eksekutif, ada Wakil Presiden khusus menangani sains. Zaman Ahmadinejad dipimpin seorang wanita, Dr. Nasrin Soltankhah.  Ada juga menteri  kordinator yang terkait dengan semua kementrian yang terkait dengan Sains. Etos cinta ilmu (jihad Ilmu) dilembagakan dalam banyak institusi penelitian di Iran. Cinta ilmiah tidak sekedar diceramahkan. Banyak berdiri Research Center ilmu apa saja di Iran dan itu di dukung negara.

Iran diperintah oleh ulama dan Filsuf. Pemimpin itu kan ada 3 model menurut Plato,  negara dipimpin manusia kepala (filsuf), negara dipimpin manusia dada (prajurit), ini berbahaya, karena  maunya perang saja, negara juga dipimpin manusia kaki (pedagang) nah ini juga bahaya, negara bisa dijual. Idealnya negara dipimpin manusia kepala. Kalau masyarakat dipimpin hawa nafsu maka hancur. Dalam konteks ini, negara dipimpin oleh filsuf (ulama) itu real dan aktual di Iran sehingga Iran masuk dalam perputaran sejarah membalikan tesis Fukuyama bahwa demokrasi liberal adalah evolusi akhir manusia. Negara dipimpin wali itu mungkin dan sedang terjadi.

Kita lihat, negara dipimpin Taliban sudah, dan gagal di Afganistan, menyebabkan citra Islam malah jadi jelek. Ikhwanul Muslimin gagal di Mesir, jangankan rakyat muslim lain, sebagian besar rakyat di Mesir sendiri tidak mendukung Ikhwanul Muslimin termasuk Al-Azhar. Di saat negara-negara Islam lain sedang mencari kestabilan, setiap saat di Iran sudah mencanangkan kemajuan Iptek. Salah satu contoh, perkembangan nanoteknologi (medis, pangan, informatika, komunikasi, lingkungan pertanian, rekayasa materi, industri manufaktur)  tahun 2013 menempati urutan ke-8, padahal tahun 2011, saat saya meneliti baru urutan ke 10, .. cepet sekali kan.

Artinya apa, jadi kesuksesan dalam mengembangkan sains dan teknologi di Iran memperkuat justifikasi eksistensi negara Republik Islam Iran. Premisnya, kemajuan sains penting bagi kemajuan bangsa dan martabat kemanusiaan, sedang pengembangan martabat kemanusiaan adalah tuntutan Islam. Republik Islam Iran telah terbukti mendorong kemajuan sains, berarti eksistensi Republik Islam Iran selaras dengan martabat kemanusiaan. Kemajuan sains memperkuat legitimasi eksistensi berdirinya Republik Islam Iran.

Orang-orang yang mengaku sebagai pecinta Ahlul Bait ini mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak menjadi khalifah dibanding Abu Bakr Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang Syi’ah. Uraian berikut mencoba membongkar berbagai kebenaran yang menjadi pijakan sikap mereka.

Pertanyaan dari  http://asysyariah.com  ke web ini :

Imam Ali membai’at Abubakar, Imam Hasan berdamai dengan Mu’awiyah, makaitu artinya Nabi tidak mewasiatkan kekhalifahan kepada mereka !

Jawaban kami :

Rasulullah n menyatakan bahwa  khalifah itu seluruhnya dari kaum Quraisy, sebagaimana dalam hadits: “Dari Jabir bin Samurah z, ia berkata: Aku masuk bersama ayahku menemui Rasulullah n, maka aku mendengar beliau berkata: “Sesungguhnya urusan ini tidak akan lenyap hingga berakhir di antara mereka dua belas khalifah”. Kemudian beliau berbicara dengan ucapan yang tersamar atasku. Maka aku bertanya kepada ayahku: “Apa yang dikatakan oleh beliau?” Ia menjawab: “Seluruhnya dari kalangan Quraisy.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

sunni sangat mengagungkan Muawiyah yang Bani Umayah yang notabene membenci bani Hasyim (lucu juga ya).

Andaikan ada seorang perampok masuk ke rumah mas. Kemudian ia mengancam akan menyakiti keluarga mas jika mas tidak bersedia menyerahkan harta-harta mas

.
Maka, apa tindakan yang akan mas ambil?

.
Saya percaya, karena ingin melindungi keluarga mas, maka mas dengan terpaksa mengikuti permintaan si perampok untuk menyerahkan harta kekayaan mas. Begitu kan?

.
Pertanyaannya:
(1) Benarkah tindakan mas melindungi keluarga mas dengan menyerahkan harta kekayaan mas?
(2) Hak milik siapakah sesungguhnya harta yang sekarang di tangan si Perampok yang telah dirampas dengan zalim? Punya mas kah atau si perampok kah?
(3) Dipebolehkankah orang-orang yang cinta kepada mas untuk membela mas dan menyalahkan si perampok serta mengatakan bahwa harta kekayaan itu sesungguhnya adalah milik mas?

Ada ayat2 Alqur’an dan Hadis dimana Allah menunjuk pemimpin utk melanjutkan misi Rasul. Dibawa ini saya tunjukkan 2 ayat saja dimana Allah menunjuk pimpinan utk melanjukan misi Rasul :

.
1.

AL ANBIYAA’ ayat 73 tentang kepemimpinan

 

[21:73] Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

.

2.

surah / surat : As-Sajdah Ayat : 24
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar [1196]. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

[1196] yang dimaksud dengan “sabar” ialah sabar dalam menegakkan kebenaran.

Imam atau Khalifah adalah berdasarkan penunjukan atau nash dari Nabi SAW, jadi walaupun Imam Ali secara terpaksa membai’at Abubakar dan Imam Hasan terpaksa berdamai dengan Mu’awiyah, maka hal tsb tidak menggugurkan nash !

“Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw”

.

Ashabiyah atau fanatisme kesukuan muncul kembali menjelang dan pasca Nabi wafat !
.
khalifah yang 12 artinya wakil (pengganti) Nabi Muhammad saw  setelah Nabi wafat (dl urusan negara dan agama) yg melaksanakan syariat (hukum) Islam dl kehidupan negara;
 
Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awalKitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhahdan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:
.
Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. “
.
Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s

Argumen wahabi :

Pihak majalah asysyariah melontarkan dalil dalil palsu sbb:

a. Aisyah berkata dalam riwayat Muslim: “Rasulullah n  tidak meninggalkan dirham; tidak pula dinar, tidak seekor kambing, tidak pula seekor unta dan tidak mewasiatkan dengan apa pun.” (HR. Muslim, dalam Kitabul Washiyyah, juz 3, hal. 256, hadits ke 18)

.

b. dari Aswad bin Yazid, dia berkata: “Mereka menyebutkan di sisi ‘Aisyah bahwa Ali adalah seorang yang mendapatkan wasiat. Maka beliau (Aisyah) berkata: “Kapan Rasulullah n berwasiat kepadanya, padahal aku adalah sandaran beliau ketika beliau bersandar di dadaku -atau ia berkata:  pangkuanku- kemudian beliau meminta segelas air, tiba-tiba beliau terkulai di pangkuanku, dan aku tidak merasa ternyata beliau sudah meninggal, maka kapan dia berwasiat kepadanya?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

.

c. “Dari ‘Aisyah x, ia berkata; Rasulullah n berkata kepadaku: “Panggillah Abu Bakr, ayahmu dan saudaramu, sehingga aku tulis satu tulisan (wasiat). Sungguh aku khawatir akan ada seseorang yang menginginkan (kepemimpinan, -pent.), kemudian seseorang berkata: “Aku lebih utama.” Kemudian beliau bersabda: “Allah dan orang-orang beriman tidak meridhai kecuali Abu Bakr.” (HR. Muslim 7/110 dan Ahmad (6/144); Lihat Ash-Shahihah, juz 2, hal. 304, hadits no. 690)

jawaban kami :

dalil dali diatas hanyalah dalil dalil yang diakui pihak Sunni namun ditolak pihak Syi’ah !

Hadis yang disepakati sunni – syi’ah MUTLAK BENAR, namun hadis yang hanya diakui pihak sunni sendirian maka MUTLAK SALAH !

Diriwayatkan  bahwa di antara keluarga Rasulullah n yaitu Ibnu Abbas c menyatakan pula kekecewaannya, karena Rasulullah n tidak sempat berwasiat disebabkan ulah keji Umar, hingga datanglah ajal beliau dalam keadaan belum sempat memberikan wasiat.

Maka Ibnu Abbas c berkata: “Sesungguhnya kerugian dari segala kerugian adalah terhalangnya Rasulullah n untuk menulis wasiat kepada mereka, karena perselisihan dan silang pendapat mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Kitabul Maghazi, bab Maradhun Nabi; Fathul Bari, juz 8, hal. 132 no. hadits 4432; Muslim dalam Kitabul Washiyyah, bab Tarkul Wasiat Liman Laisa Lahu Syai`un Yuushi bihi, juz 3 hal. 1259, no. 22)

Tidak ada negara maju dengan syariat Islam

WAFATNYA Rasulullah saw membuat sebagian umat Islam goyah iman dan pudar ketaatan. Meskipun sudah disebutkan di Ghadir Khum bahwa yang berhak menjadi pemimpin Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, tetap menyelenggarakan pemilihan khalifah di Saqifah.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw sendiri dalam hadis-hadis telah menyebutkan dua belas khalifah yang berhak memimpin dan membimbing umat Islam. Misalnya riwayat Said bin Jubair dari Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah sawbersabda,“Sesungguhnya khalifah-khalifahku dan wasi-wasiku, hujah-hujah Allah di atas makhluk-Nya selepasku ialah dua belas orang; yang pertama Ali dan yang akhirnya cicitku Al-Mahdi; maka itulah Isa putra Maryam shalat di belakang Al-Mahdi.”

Bahkan, dalam hadis yang dikeluarkan Abu Al-Mu’ayyid Ibn Ahmad Al-Khawarizmi dengan sanad dari Abu Sulaiman secara rinci disebutkan nama-namanya: Ali, Fathimah, Hasan, Husain, Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali, dan Muhammad Al-Mahdi bin Hasan.

Muslim dalam kitab Shahih Muslimmeriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa, “Aku bersama bapakku berjumpa Nabi Muhammad saw. Maka aku mendengar Nabi saw bersabda, “Urusan ini tidak akan selesai sehingga berlaku pada mereka dua belas khalifah.” Dia berkata: kemudian beliau berbicara dengan perlahan kepadaku. Akupun bertanya kepada ayahku, apakah yang diucapkan oleh beliau? Dia menjawab, “Semuanya dari Quraisy.”

Dalam bagian kitab fadhl ahlulbait, Muslim menyebut dua belas orang dari kalangan Bani Hasyim. Juga Bukhari dalam Shahih Bukhari bagian kitab al-ahkam meriwayatkandari Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Selepasku adalah dua belas amir (pemimpin).”Bukhari menyebutkannya dengan tiga riwayat dan Muslim sembilan riwayat serta Abu Daud tiga riwayat. Sedangkan Al-Turmudzi satu riwayat dan Al-Humaidi tiga riwayat.

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah bab 95meriwayatkan bahwa Jabir bin ‘Abdullah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Wahai Jabir! Sesungguhnya para wasiku dan para imam selepasku pertamanya Ali kemudian Hasan kemudian Husain kemudian Ali bin Husain kemudian Muhammad bin Ali Al-Baqir. Anda akan menemuinya wahai Jabir sekiranya Anda mendapatinya; maka sampailah salamku kepadanya. Kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali. Kemudian Al-Qa’im, namanya sama dengan namaku dan kunyahnya sama dengan kunyahku, anak Hasan bin Ali. Dengan beliaulah Allah akan ‘membuka’ seluruh pelosok bumi di Timur dan di Barat, dialah yang ghaib dari penglihatan. Tidak akan percaya kepada imamahnya melainkan orang yang telah diuji hatinya oleh Allah Swt.” Kemudian Jabir berkata,“Wahai Rasulullah.apakah orang-orang bisa mengambil manfaat darinya ketika ghaibnya?” Beliau menjawab,“Ya! Demi yang mengutuskan aku dengan kenabian sesungguhnya mereka mengambil cahaya daripada wilayahnya ketika ghaibnya, seperti orang mengambil faedah dari matahari sekalipun ianya ditutupi awan.”

Para muhadis dan perawi yang disebutkan tersebut orang-orang ternama dan banyak dirujuk oleh ulama-ulama. Karena itu, kebenarannya layak untuk dipegang sebelum benar-benar dipastikan terdapat kekeliruan. Sudah banyak kajian hadis dan sejarah yang membuktikan kebenaran dari riwayat-riwayat tentang adanya khalifah-khalifah Islam setelah Rasulullah saw. Namun, untuk umat Islam Indonesia kajian berkaitan dengan hadis atau riwayat tersebut belum banyak diketahui sehingga tidak jarang ada orang yang berani menolaknya.

 Tidak ada negara maju dengan syariat Islam
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:
  1. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)
  2. ….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)
  3. ….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)
  4. Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)
  5. ….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
    kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)
  6. ….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)
  7. (Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)
  8. ….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
  9. Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
  10. …… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
  11. Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
  12. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)
     Tidak ada negara maju dengan syariat Islam
    Ayat Keduabelas
    Saya berpendapat bahwa jumlah para Imam itu sama dengan jumlah para Nuqaba Bani Israil, yaitu sebanyak 12 orangnaqib. Di antara yang menarik perhatian ialah ketika Nuqaba itu ber jumlah 12, ia pun disebutkan pada ayat keduabelas dari surat Al-Maidah, yaitu ketika Allah berfirman:
    Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani lsrail dan telah Kami angkat di antara mereka 12 orang pemimpin (naqib) ….. (AI-Maidah: 12)
     Tidak ada negara maju dengan syariat Islam
    Duabelas Khalifah Rasul saw.
    Kata khalifah dan turunan kata isim-nya, yang digunakan untuk memuji, disebutkan sebanyak 12 kali. Di dalamnya dijelas kan mengenai khilafah dari Allah SWT, yaitu pada ayat-ayat berikut ini:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi ….. ” (Al-Baqarah: 30)
  1. Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu ….. (Shad: 26)
  2. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalaif) di bumi ….. (Al-An’am: 165)
  3. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti mereka (khalaif) sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat ….. (Yunus: 73).
  4. ….. Dan Kami jadikan mereka pemegang kekuasaan (khalaif) dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat ayat kami ….. (Yunus: 73)
  5. Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri ….. (Fathir: 39)
  6. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) yan,q berkuasa setelah lenyapnya Nuh ….. (Al-A’raf: 69)
  7. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (khulafa) setelah lenyapnya kaum ‘Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi ….. (AIA’raf; 74)
  8. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah-khalifah (khulafa) di muka burni …..” (Al-Nur: 55)
  9. Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa (layastakhlifannahum) di muka bumi ….. (Al-Nur: 55)
  10. ….. Sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa (istakhlafa) orang-orang sebelum mereka ….. (Al-Nur: 55)
  11. ….. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi  ….. ” (AI­A’raf: 129)
     Tidak ada negara maju dengan syariat Islam
    Duabelas Washi
    Termasuk yang ditegaskan oleh jumlah ini (12) ialah wasiat Rasulullah saw. bahwasanya Imam sesudah beliau itu berjumlah 12 Imam, sama dengan jumlah wasiat Allah kepada para makhluk, yaitu sebanyak kata wasiat dan bentuk turunannya dari Allah kepada makhluknya sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan yang telah diwahyukan kepadamu ….. (Al-Syura: 13)
  1. …..  Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan (washsha) ini bagimu  …… (Al-An’am: 144)
  2. ….. Demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu (washshakum) supaya kamu memahami(nya) ….. (Al-An’am: 151)
  3. …. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu supaya kamu ingat ….. (AI-An’am: 152)
  4. Yang demikian itu diperintahkan Allah (washshakum) kepadamu agar kamu bertakwa ….. (Al-An’am: 153)
  5. ….. Dan sesungguhnya      Kami telah memerintahkan         (wash shaina) kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan (juga) kepadamu: “Bertakwalah kepada Allah.” (An-Nisa: 131)
  6. Dan Kami wajibkan (washshaina) manusia untuk (berbuat) kebaikan kepada kedua ibu-bapaknya … (Al-Ankabut: 8)
  7. Dan Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah ….. (Luqman: 14)
  8. …..  Dan apa yang telah Kami wasiatkan (washshaina) kepada Ibrahim, Musa dan lsa, yaitu: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya …..  (Al-Syura: 13)
  9. Kami perintahkan (washshaina) kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya …..  (Al-Ahqaf: 15)
  10. …… Dan Dia memerintahkan (ausha) kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup ….. (Maryam: 31)
  11. ….. Syariat (washiyyatan) dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 12)

Masalah Kekhalifahan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Masalah ini adalah dasar penting dalam penerapan kehidupan keislaman, setidaknya begitu yang saya tahu :mrgreen: . Kata Khalifah sendiri menyiratkan makna yang beragam, bisa sesuatu dimana yang lain tunduk kepadanya, sesuatu yang menjadi panutan, sesuatu yang layak diikuti, sesuatu yang menjadi pemimpin, sesuatu yang memiliki kekuasaan dan mungkin masih ada banyak lagi ;)

Saat Sang Rasulullah SAW yang mulia masih hidup maka tidak ada alasan untuk Pribadi Selain Beliau SAW untuk menjadi khalifah bagi umat Islam. Hal ini cukup jelas kiranya karena sebagai sang Utusan Tuhan maka Sang Rasul SAW lebih layak menjadi seorang Khalifah. Sang Rasul SAW adalah Pribadi yang Mulia, Pribadi yang selalu dalam kebenaran, dan Pribadi yang selalu dalam keadilan. Semua ini sudah jelas merupakan konsekuensi dasar yang logis bahwa Sang Rasulullah SAW adalah Khalifah bagi umat Islam.

Lantas bagaimana kiranya jika Sang Rasul SAW wafat? siapakah Sang Khalifah pengganti Beliau SAW? Atau justru kekhalifahan itu sendiri menjadi tidak penting. Pembicaraan ini bisa sangat panjang dan bagi sebagian orang akan sangat menjemukan. Dengan asumsi bahwa kekhalifahan akan terus ada maka Sang khalifah setelah Rasulullah SAW bisa berupa

  • Khalifah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW
  • Khalifah yang diangkat oleh Umat Islam

Kedua Premis di atas masih mungkin terjadi dan tulisan ini belum akan membahas secara rasional premis mana yang benar atau lebih benar. Tulisan kali ini hanya akan menunjukkan adanya suatu riwayat dimana Sang Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa Ahlul Bait adalah Khalifah bagi Umat Islam. Bagaimana sikap orang terhadap riwayat ini maka itu jelas bukan urusan penulis :mrgreen:

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan :mrgreen:

 

Benarkah Ada Orang Mati Yang Bisa Bicara?

 

 

 

 

 

sumber : Secondprince

Benarkah Ada Orang Mati Yang Bisa Bicara?

Benar, paling tidak begitulah yang dikatakan dalam sebagian kitab Rijal di sisi Ahlus Sunnah. Terdapat perawi hadis yang dikatakan “bisa berbicara setelah wafat”. Bahkan terdapat ulama ahlus sunnah yang membuat kitab khusus berkaitan dengan hal ini yaitu Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Man ‘Asya Ba’dal Maut. Tulisan ini hanya membawakan sedikit contoh sebagai bukti bahwa fenomena ini diyakini kebenarannya oleh ulama ahlus sunnah.

زَيْدُ بْنُ خَارِجَةَ بْنِ أَبِي زُهَيْرٍ الْخَزْرَجِيُّ الأَنْصَارِيُّ، شَهِدَ بَدْرًا، تُوُفِّي زَمَانَ عُثْمَانَ، هُوَ الَّذِي تَكَلَّمَ بَعْدَ الْمَوْتِ،

Zaid bin Khaarijah bin Abi Zuhair Al Khazrajiy Al Anshaariy, termasuk yang ikut perang Badar, wafat di masa Utsman dan ia adalah orang yang berbicara setelah wafat [Tarikh Al Kabir Al Bukhariy 3/383 no 1281]

زيد بن خارجة بن أبي زهير الخزرجي أحد ابني الحارث ابن الخزرج الأنصاري مديني له صحبة شهد بدرا توفي زمن عثمان رضي الله عنه وهو الذي تكلم بعد الموت روى عنه موسى بن طلحة حدثنا عبد الرحمن قال سمعت أبي يقول ذلك

Zaid bin Khaarijah bin Abi Zuhair Al Khazraajiy salah seorang dari bani Al Haarits bin Khazraaj Al Anshaariy Al Madiiniy, seorang sahabat Nabi, ikut serta dalam perang Badar, wafat pada masa Utsman [radiallahu ‘anhu] dan ia adalah orang yang berbicara setelah wafat, telah meriwayatkan darinya Muusa bin Thalhah. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata aku mendengar ayahku mengatakan demikian. [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/562 no 2541]

Fenomena Zaid bin Khaarijah bicara setelah ia wafat telah disebutkan dalam salah satu riwayat Baihaqiy dan dishahihkannya dalam kitabnya Dala’il An Nubuwah

أخبرنا أبو صالح بن أبي طاهر العنبري ، أنبأنا جدي يحيى بن منصور القاضي ، حدثنا أبو علي محمد بن عمرو كشمرد ، أنبأنا القعنبي ، حدثنا سليمان بن بلال ، عن يحيى بن سعيد ، عن سعيد بن المسيب ، أن زيد بن خارجة الأنصاري ، ثم من بني الحارث بن الخزرج توفي زمن عثمان بن عفان ، فسجى في ثوبه ، ثم أنهم سمعوا جلجلة ، في صدره ، ثم تكلم ، ثم قال : أحمد أحمد في الكتاب الأول ، صدق صدق أبو بكر الصديق الضعيف في نفسه القوي في أمر الله في الكتاب الأول ، صدق صدق عمر بن الخطاب القوي الأمين في الكتاب الأول ، صدق صدق عثمان بن عفان على منهاجهم مضت أربع وبقيت اثنتان ، أتت الفتن وأكل الشديد الضعيف ، وقامت الساعة وسيأتيكم من جيشكم خبر بئر أريس وما بئر أريس . قال يحيى : قال سعيد : ثم هلك رجل من خطمة فسجي بثوبه فسمع جلجلة في صدره ثم تكلم ، فقال : إن أخا بني الحارث بن الخزرج صدق صدق وأخبرنا أبو عبد الله الحافظ ، حدثنا أبو بكر بن إسحاق الفقيه ، أنبأنا قريش بن الحسن ، حدثنا القعنبي ، فذكره بإسناده نحوه وهذا إسناد صحيح وله شواهد

Telah mengabarkan kepada kami Abu Shalih bin Abi Thaahir Al ‘Anbariy yang berkata telah memberitakan kepada kami kakekku Yahya bin Manshuur Al Qaadhiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Aliy Muhammad bin ‘Amru yang berkata telah memberitakan kepada kami Al Qa’nabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilaal dari Yahya bin Sa’iid dari Sa’iid bin Al Musayyab bahwa Zaid bin Khaarijah Al Anshaariy dari Bani Harits bin Khazraj wafat pada masa ‘Utsman bin ‘Affan maka jasadnya ditutupi dengan kain, kemudian orang-orang mendengar suara dari dadanya kemudian ia berbicara, ia berkata “Ahmad Ahmad ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Abu Bakar Ash Shiddiq yang lemah terhadap dirinya tetapi kuat dalam menjalankan perintah Allah juga ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Umar bin Khaththab yang kuat lagi terpercaya juga ada dalam kitab yang pertama, benarlah benarlah Utsman bin ‘Affan yang berada di atas manhaj mereka pada empat tahun pertama dan dua tahun yang tersisa akan datang fitnah, hari kiamat akan datang, dan akan datang kepada kalian pasukan kalian yang membawa kabar tentang sumur Ariis”. Yahya berkata Sa’iid berkata kemudian seorang laki-laki dari bani Khathmah meninggal lalu jasadnya ditutupi kain maka terdengar suara dari dadanya kemudian ia berbicara, ia berkata “sesungguhnya saudara dari Bani Harits bin Khazraaj benar, benar”. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaaq Al Faaqih yang berkata telah memberitakan kepada kami Quraisy bin Hasaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabiy dan ia menyebutkan dengan sanad di atas. Sanad ini shahih dan memiliki syawaahid [Dala’il An Nubuwah Baihaqiy 6/195]

Selain Zaid bin Kharijah, hal yang sama terjadi juga pada perawi hadis lain yaitu dari golongan tabiin yang bernama Rabi’ bin Hiraasy. Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat ketika menuliskan biografi Rib’i bin Hiraasy ia menyebutkan

وأخوهما ربيع بن حراش الذي تكلم بعد موته

Dan saudara keduanya yaitu Rabii’ bin Hiraasy telah berbicara setelah kematiannya [Ath Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/127]

ربيع بن حراش أخو ربعي بن حراش الذي تكلم بعد الموت وذكر أمره لعائشة فقالت سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: انه يتكلم رجل من أمتي بعد الموت من خير التابعين

Rabii’ bin Hiraasy saudara dari Rib’i bin Hiraasy, ia adalah orang yang berbicara setelah wafat dan disebutkan perkaranya kepada Aisyah maka ia berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan bahwa akan berbicara seseorang dari umatku setelah wafat yaitu yang paling baik dari kalangan tabiin [Al Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim 3/456 no 2062]

رَبِيعُ بْنُ حِرَاشٍ مِنْ عُبَّادِ أَهْلِ الْكُوفَةِ وَقُرَّائِهِمْ يَرْوِي عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَوَى عَنْهُ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ وَأَخُوهُ رِبْعِيٌّ آلَى أَنْ لَا تَفْتُرَ أَسْنَانُهُ ضَاحِكًا حَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ مَصِيرُهُ فَمَا ضَحِكَ إِلا بَعْدَ مَوْتِهِ

Rabii’ bin Hiraasy termasuk ahli ibadah dari penduduk Kuufah dan qari’ mereka, ia meriwayatkan dari jama’ah sahabat Nabi dan telah meriwayatkan darinya ‘Abdul Malik bin ‘Umair dan saudaranya Rib’i. Disebutkan bahwa ia tidak akan tertawa sampai ia mengetahui nasibnya kelak [surga atau neraka], maka ia tidak pernah tertawa kecuali setelah ia wafat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 4/226 no 2633]

Aneh memang tetapi begitulah yang diyakini oleh para ulama ahlus sunnah dan dinyatakan dalam riwayat shahih. Memang tidak ada yang tidak mungkin jika Allah SWT berkehendak. Kami hanya ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa hal-hal yang aneh memang terdapat dalam kitab Ahlus Sunnah dan kitab Syi’ah. Terdapat sekelompok orang yang berwatak buruk begitu bersemangat mencari hal-hal aneh dalam kitab Syi’ah dan menjadikan hal itu sebagai bahan tertawaan padahal di sisi Ahlus Sunnah hal-hal aneh pun juga banyak.

Tidak jarang hal-hal aneh itu dibungkus dengan bahasa yang sensasional sehingga jika disajikan pada pembaca awam [apalagi yang akalnya rendah] maka mereka akan berlezat-lezat dalam menghina Syi’ah. Contohnya bukankah belum lama ini ada Pembenci Syi’ah yang membungkus sajian dengan judul “Keledai Menjadi Perawi Hadis” dan “Alien Menceritakan Hadis Dalam Kitab Syi’ah”. Padahal duduk perkara sebenarnya jauh sekali dari bahasanya yang sensasional. Seandainya kita menuruti kerendahan akal para pembenci Syi’ah tersebut maka riwayat atau nukilan di atas bisa saja disajikan dalam bahasa yang sensasional pula seperti “Ternyata Ada Zombie Yang Jadi Perawi Hadis” atau “Mayat Hidup Menceritakan Hadis Dalam Kitab Ahlus Sunnah”. Tetapi kami tidak akan merendahkan akal kami seperti itu, kami tidak akan menjadikan riwayat ini sebagai bahan tertawaan.

Kami hanya ingin menunjukkan bahwa hal-hal yang musykil dalam mazhab Ahlus Sunnah juga banyak, kalau hal-hal musykil seperti itu dijadikan dasar mencela dan merendahkan suatu mazhab maka mazhab mana yang akan selamat dari celaan tersebut.

Syi’ah atau Sunni yang memisahkan Islam dari politik serta membatasi Islam dengan urusan individu serta tertentu ???

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Setiap langkah provokatif dan friksi Sunni-Syiah membantu Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis Israel dengan memunculkan gerakan dungu, kolot serta berafiliasi dengan takfiri.,

.

Ayatullah Khamenei Senin (13/10/2014) dalam acara peringatan Hari Raya Ghadir dihadapan ribuan elemen masyarakat mengisyaratkan propaganda sistematis musuh umat Islam untuk memisahkan Islam dari politik serta membatasi Islam dengan urusan individu serta tertentu.

“Peristiwa Ghadir Khum merupakan rasio transparan dan kokoh Islam dalam menolak pandangan sekular, karena Ghadir Khum manifestasi penekanan dan perhatian Islam terhadap pemerintahan dan politik,” tegas Rahbar.

Ayatullah Khamenei menyebut upaya menghadapi ideologi menarik serta Republik Islam Iran sebagai faktor utama kubu arogan berinvestasi lebih besar dalam mengobarkan friksi di antara umat Muslim.

“AS, Zionisme dan Inggris, pasca kemenangan Revolusi Islam Iran berupaya meningkatkan perpecahan serta menyelewengkan opini Syiah dan Sunni dari musuh utama mereka,” papar Rahbar.

Dalam kesempatan tersebut, Rahbar menilai munculnya gerakan takfiri di Irak, Suriah dan sejumlah negara lain adalah hasil dari program yang dilancarkan kubu imperialis untuk mengobarkan friksi di antara umat Muslim.

“Mereka menciptakan al-Qaeda dan ISIS untuk mengobarkan perpecahan dan menghadapi Republik Islam, namun kini mereka justru terlilit boneka ciptaan mereka tersebut,” ungkap Rahbar.

Seraya mengisyaratkan transformasi yang terjadi di kawasan Rahbar menambahkan, “Kajian intensif dan analisis terkait peristiwa ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat bersama sekutunya dengan dalih palsu menghadapi ISIS lebih memprioritaskan untuk menciptakan perpecahan dan permusuhan di antara umat Muslim ketimbang menghancurkan benih-benih ISIS.”

Ayatullah Khamenei menekankan, “Siapa saja yang komitmen dengan Islam dan menerima hukum al-Quran, baik itu Sunni maupun Syiah, harus waspada bahwa strategi AS-Israel adalah musuh sejati umat Islam serta umat Muslim.”

 

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Kamis (16/10) pagi dalam pertemuannya dengan Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina, Ramadhan Abdullah bersama rombongan menyebut perang 51 hari dan resistensi Jalur Gaza dengan keterbatasan fasilitas serta populasi dalam menghadapi sebuah rezim sadis dan pasukan bersenjata lengkap sebagai masalah penting dan mencengangkan.

Ayatullah Khamenei seraya mengisyaratkan kelemahan Israel dalam menghadapi resistensi bangsa Palestina menambahkan, berdasarkan analisa dan prediksi yang wajar, Israel dengan kemampuan serta perlengkapan militernya yang canggih sebenarnya harus mampu mengakhiri perang di hari-hari pertama, namun pada akhirnya mereka mengaku tidak mampu menggapai ambisinya dan menyerah pada tuntutan muqawama.

Perang Gaza adalah perang total dan menjadi pentas kejahatan perang dalam sejarah umat manusia. Dari satu sisi, perang tak seimbang ini adalah sebuah bangsa tertindas yang berjuang membela diri dari musuh dan penjajah. Sementara dari sisi lain terdapat rezim penjajah dan penjahat yang dengan sadis melakukan pembantaian terhadap warga tak berdosa serta selama 50 hari melakukan serangan udara yang mengakibatkan lebih dari 2000 orang meninggal. Mayoritas korban kekejaman Israel ini adalah perempuan dan anak-anak. Patut dicatat, ulah kejam Israel ini karena Tel Aviv mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan memanfaatkan sikap pasif Dewan Keamanan PBB serta bungkamnya para pengklaim pembela Hak Asasi Manusia (HAM).

Sementara warga Gaza dengan semangat tinggi terus berjuang melawan tekanan dan represi. Menurut ungkapan Rahbar, kesabaran ini, resistensi dan kemenangan adalah bukti terealisasinya janji Ilahi yang termanifestasikan di Gaza. Pastinya janji ini akan terwujud dalam skala yang lebih luas lagi.

Ada dua faktor utama dan vital bagi kemenangan ini. Pertama kewaspadaan dalam menghadapi konspirasi rumit musuh terhadap muqawama dan kedua menjaga persatuan dan rekonsiliasi nasional. Bangsa Palestina selama lebih dari setengah abad silam terus dirundung perpecahan dan tidak adanya rekonsiliasi nasional sehingga bangsa ini mengalami kerusakan yang serius. Kondisi ini muncul semenjak penjajahan Inggris di kawasan hingga terbentuknya rezil ilegal Israel.

Oleh karena itu, Rahbar mengingatkan dua strategi penting untuk mensukseskan muqamawa bangsa Palestina dan meraih kemenangan penuh dalam menghadapi rezim agresor dan penjajah Israel. Pertama adalah kesiapan yang diperlukan untuk menghadapi agresi Israel. Khusus dalam masalah ini beliau mengingatkan bahwa gerakan muqawama harus memupuk lebih besar lagi kekuatan di Gaza. Strategi kedua menurut Rahbar untuk menggapai kemenangan final adalah manajemen dan penyusunan program untuk melibatkan Tepi Barat Sungai Jordan dalam melawan rezim Zionis Israel.

Rahbar menyebut dan menekankan bahwa kedua strategi ini sebuah proyek dasar di mana perang melawan Israel adalah sebuah perang yang menentukan. Oleh karena itu, dalam pandangan Rahbar, taklif dan kewajiban haurs difinalkan dan musuh juga harus dibuat khawatir terkait Tepi Barat sama seperti mereka khawatir menghadapi Jalur Gaza.

Untuk saat ini, kondisi politik dan tekad dalam masalah ini semakin terbuka dengan terealisasinya rekonsiliasi nasional dua kubu utama Palestina, Fatah dan Hamas. Dari satu sisi, kondisi regional dengan beragam kerumitannya, membuat pandangan terhadap isu Palestina berubah dan rezim Zionis Israel semakin terkucil.

Meluasnya gerakan spontan di negara-negara Eropa dalam memboikot produk Israel, kutukan dunia terhadap pembangunan distrik Zionis serta dukungan atas pembentukan negara independen Palestina di PBB dan penekankan terhadap pencabutan blokade Jalur Gaza mengindikasikan perubahan konstelasi yang menguntungkan muqawama Palestina.

Perubahan konstelasi yang dihasilkan kesabaran dan muqawama di Gaza telah menciptakan iklim baru di kawasan yang tepatnya menurut Rahbar, prospek transformasi akan semakin jelas dan menjanjikan.

Khatib Jumat Tehran mengecam statemen lemah dan tidak benar Menteri Luar Negeri Arab Saudi anti-Iran.

Ayatullah Sayid Ahmad Khatami, Khatib Jumat Tehran mereaksi statemen Saud Al Faisal, Menlu Saudi yang menyebut Iran sebagai bagian dari masalah kawasan. Ia mengatakan, “Siapa yang tidak tahu kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah, ISIS dibentuk dari dolar-dolar minyak Saudi, dan setiap teror yang terjadi di Dunia Islam dilakukan dengan anggaran pemerintah Saudi.”

Ayatullah Khatami menerangkan bahwa Saudi adalah sumber seluruh masalah kawasan. “Akan tetapi kemarahan pemerintah Saudi juga dapat dipahami, pasalnya kerja keras mereka dengan mengeluarkan jutaan dolar untuk menggulingkan pemerintah Suriah dan Irak, tidak berhasil,” katanya.

Khatib Jumat Tehran juga mengecam dijatuhkannya vonis mati terhadap Syeikh Nimr Baqir Al Nimr, ulama Syiah Saudi karena dukungannya atas revolusi Bahrain, Wilayatul Fakih dan hak hidup Syiah di Saudi. Ia menjelaskan, “Pada saat yang sama pejabat-pejabat lembaga hak asasi manusia internasional memprotes hukuman mati para penjahat di Iran, tapi mereka diam menyaksikan vonis mati atas seorang ulama Syiah di Saudi.”

Ayatullah Khatami menilai hukuman mati atas Syeikh Nimr menindas dan memperingatkan pemerintah Saudi atas dampak-dampak pelaksanaan hukuman yang berbiaya besar tersebut.

Menjelang tibanya bula Muharam 1435 H, Khatib Jumat Tehran juga menyinggung persiapan masyarakat menyambut hari-hari ini dan mengatakan, “Semua orang berhutang kepada Karbala dan Asyura, api cinta kepada Imam Husein as terus membara di hati setiap Muslim.”

Ia mengingatkan peringatan Asyura tahun 2009 dan insiden yang terjadi bersamaan dengan pemilu presiden di Iran. Menurutnya itu adalah luka lama dalam lembaran sejarah Revolusi Islam. “Insiden ini adalah sebuah fitnah yang di satu sisinya ada munafikin dan pendukung monarki, dan di sisi yang lain ada rakyat dan wilayah,” tegasnya.

Khatib Jumat Tehran menilai peristiwa pilpres Iran tahun 2009 sebagai penentangan terhadap republik dan pemerintahan Islam. Pihak-pihak yang kalah dalam pilpres tidak mau menerima kekalahan dan menyerang para peserta acara peringatan kesyahidan Imam Husein as.

Sehubungan dengan tibanya hari berdirinya Kementerian Intelijen Iran, Khatami mengatakan, “Kementerian Intelijen Iran sejak hari pertama berdiri sampai detik ini memberikan pelayanan-pelayanan berharga bagi Republik Islam Iran dan menggagalkan upaya-upaya jahat musuh yang ingin menggulingkan Revolusi Islam.”

kebangkitan Imam Husain As adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar

Dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam. Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

sumber : http://www.abna.ir/indonesian/service/indonesia/archive/2014/09/26/640369/story.html

Menurut Kantor Berita ABNA, sejumlah ulama Indonesia berkunjung ke kota Qom Republik Islam Iran dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam Iran sebagai pembicara dalam Dialog antar Mazhab yang diselenggarakan selama 3 hari, senin-rabu (22-24/9) yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh Islam dari dua mazhab, Sunni dan Syiah.

KH. Dr. Mustamin Arsyad, MA, salah seorang pembicara selaku Ketua Umum MUI Makassar saat diwawancarai  media setempat menyampaikan rasa bahagianya bisa berkunjung ke Iran dan bersilaturahmi dengan para ulama setempat. Ia turut menegaskan pentingnya silaturahmi yang dalam pandangannya adalah langkah paling strategis dalam mengupayakan terwujudnya persatuan kaum muslimin.

Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Silahkan memperkenalkan diri dan tanggapan anda mengenai kedatangan di Iran ini.

Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya, Mustamin Arsyad, Ketua Umum MUI Makassar, dan pimpinan Tarekat Al-Syadzilia Makassar.

Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan untuk bisa mengunjungi Iran, karena saya sudah lama memendam keinginan untuk bisa kembali mengunjungi Negara ini, khususnya ke kota Qom. Pada tahun 1987 saya pernah ke Iran, hanya saja tidak sempat ke Qom, dan hanya di Tehran saja. Sehingga tidak sempat bersilaturahmi kepada para ulama, maraji termasuk berziarah kemakam-makam Wali Allah yang berada di kota ini. Karenanya dengan adanya kesempatan yang diberikan ini, saya sangat berterimakasih. Dan dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam.  Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Apa peran ulama dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan semangat persatuan dan persaudaraan?

Sebelumnya saya perkenalkan, bahwa mayoritas muslim Indonesia adalah pengikut mazhab Imam Syafi’i, bahkan bisa dikatakan hampir 100 persen. Hanya saja banyak yang belum tahu, bahwa Imam Syafi’i itu berasal dari keturunan Imam Husain, yang otomatis termasuk dari keturunan Rasulullah Saw juga. Karena tidak ada yang menyampaikan hal ini, umat Islam di Indonesia sangat fanatik terhadap mazhab ini. Ketika kembali dari Mesir, setelah menimba ilmu 20 tahun lamanya disana, saya diperhadapkan dengan masyarakat yang memperbesar-besarkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam besar di Indonesia.  Setelah melakukan banyak pengkajian, saya akhirnya berkesimpulan bahwa setelah Rasulullah Saw, semua aliran Islam yang ada titik puncaknya bermuara dari Imam Ali bin Abi Thalib, khususnya aliran Islam yang bersifat spiritual atau tarekat-tarekat sufi. Jadi semua pada hakekatnya sama saja.

Namun betapa realitas yang kita temukan, pertentangan dan perselisihan terjadi  di tengah-tengah kaum muslimin. Untuk konteks di Indonesia, perselisihan yang terjadi adalah antara NU dan Muhammadiyah. Di awal-awal terbentuknya, pengikut kedua ormas ini gampang untuk terprovokasi untuk saling berselisih satu sama lain. Padahal perpecahan tersebut adalah akibat dari konspirasi musuh Islam. Ada seorang Belanda yang bernama Snouck Hurgenje, yang pura-pura masuk Islam dan menyulut pepecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.  Karenanya ulama berperan besar dalam hal ini, untuk mengajak masyarakat mengenal Islam dengan lebih baik sehingga tidak mudah termakan hasutan musuh-musuh Islam.

Menurut anda, apa penyebab terjadinya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh umat Islam?

Menurut saya ada pihak ketiga yang tidak menginginkan Indonesia secara khusus untuk bangkit. Karena Indonesia yang mayoritas muslim jika bangkit bisa membahayakan eksistensi Negara-negara yang tidak senang dengan Islam.

Menurut anda apakah gerakan-gerakan anti Syiah di Indonesia memang semestinya harus ada dan dasarnya apa? Serta bagaimana dengan informasi yang anda dapatkan yang sebenarnya mengenai Syiah?

Saya sudah lama tahu mengenai perjuangan saudara-saudara kami di Iran untuk kejayaan Islam, sehingga ketika ada informasi-informasi yang miring yang bersumber dari manapun mengenai Iran saya secara pribadi tahu bahwa itu sesuatu yang tidak berdasar. Karenanya saya termasuk aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia yang sudah termakan provokasi itu. Dan setelah saya mendapat kehormatan untuk berkunjung ke Negara Iran dan melihat langsung secara dekat, saya pribadi  lebih keras lagi akan memahamkan masyarakat Indonesia mengenai hal ini. Karenanya saya berharap, ini tidak berhenti sampai disini. Tapi berkelanjutan sampai pada tingkat kerjasama yang lebih erat. Dan saya yakin, setelah melihat kekuatan Iran dan jika dipadukan dengan Indonesia, maka itu akan membuat gentar Amerika. Insya Allah.

Syiah adalah mazhab yang tetap diakui sebagai bagian dari umat Islam. Di Universitas al Azhar, kami diperkenalkan prinsip tersebut, tidak ada pengajar disana yang menganggap Syiah itu kafir dan bukan Islam, meskipun tetap ada person-person yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Perbedaan memang ada, tapi bukan hal prinsip yang harus dipertentangkan. Saya sudah mengenal Iran dari teman-teman mahasiswa di Al Azhar yang berasal dari Iran. Meskipun Syiah, mereka tetap bisa menimba ilmu dengan tenang di Al Azhar karena memang Al Azhar moderat dalam hal ini. Saya punya teman sekelas asal Indonesia, namanya Muhsin Alatas, sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Dia pengikut Syiah yang fanatik. Bahkan hampir tidak lulus dari Al Azhar karena tetap memberikan jawaban-jawaban ujian dengan keyakinan Syiahnya.

Saya kemudian mengatakan kepada dia, “Bukankah kamu bisa bertaqiyah?. Kamu menjawab ujian dengan jawaban yang diinginkan dosen, tidak akan merusak keyakinan Syiahmu.”

Diapun kemudian menjalankan saran itu, dan akhirnya lulus ujian. Tapi meskipun berbeda, kami tetap bisa menjalin keakraban dengan baik, karena yang kami kedepankan adalah ukhuwah dan akhlak Islam. Dan itu yang diajarkan di Al Azhar. Baru beberapa tahun belakangan ini, setelah masuk pemahaman Salafi dan Wahabi di Al Azhar sudah ada person-person yang suka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bisa menyulut perpecahan umat.

Karena itu harapan saya kepada masyarakat Indonesia, untuk tidak mudah terpedaya pada isu-isu yang tidak benar. Kebutuhan umat Islam saat ini adalah persatuan. Dan itu yang seharusnya lebih dikedepankan dibandingkan prasangkaan-prasangkaan yang tidak berdasar.

Dalam mazhab Syiah, salah satu alasan kebangkitan Imam Husain As adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar.  Bagaimana dalam pandangan mazhab anda mengenai kebangkitan Imam Husain itu dan seberapa penting penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam ajaran Islam?

Penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, adalah salah satu kewajiban setiap muslim yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Hanya saja dalam menegakkannya ada mekanismenya, ada akhlaknya ketika menyampaikan.  Yaitu kita kembali pada prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan metode amar ma’ruf. Misalnya ketika menengok pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125) b

egitupun pada beberapa ayat yang lain. Di Indonesia secara khusus Islam berkembang secara pesat dan cepat karena dalam mendakwahkan Islam dengan menggunakan prinsip Al-Qur’an ini. Beda dengan kelompok yang menggunakan kekerasan dalam berdakwah, yang sayangnya di Indonesia gerakan seperti itu juga sudah cukup banyak. Mereka malah membalik ayat, yang seharusnya amar ma’ruf lebih dulu dari nahi mungkar, mereka lebih mengutamakan nahi mungkar itu juga dengan cara-cara yang kasar. Mereka tidak segan-segan menggunakan senjata tajam, bahkan ada masjid yang didalamnya digunakan untuk merakit bom. Inilah yang sangat memprihatinkan, jika amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan ajaran luhur dari Islam justru dipraktikkan dengan cara yang salah. Karenanya saya berharap ada kerjasama yang kelak bisa terjalin, terutama dengan yayasan yang saya dirikan dan pimpin di Indonesia khususnya dalam penyediaan literatur-literatur Syiah, sehingga kesalahpahaman akibat informasi-informasi yang tidak tepat bisa diminimalisir.

Berkenaan dengan Imam Husain, saya sudah mengenalnya justru sebelum saya lahir. Karena ayahnya saya, Kiyai Arsyad adalah salah seorang pecinta Ahlulbait, pecinta al Husain dan mempetkenalkannya disaat saya masih dalam kandungan. Beliau seorang penghafal al-Qur’an, dan disaat usia saya 9 tahun, ia mengatakan harapannya kepada saya, untuk bisa menyekolahkan saya ke Mesir, karena di Mesir ada makam Imam Husain. Dan di Mesir saya belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman selama 20 tahun. Dan sekembali dari sana saya mendirikan tarekat al-Syadzilia di Indonesia. Dalam riwayat yang diakui kesahihannya dalam Syiah maupun Ahlusunnah, Imam Husain adalah penghulu pemuda di surga. Dan riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi dalam sabdanya menyebutkan Imam Husain kelak akan meraih syahadah dalam perjuangannya. Ini menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Imam Husain.

Mengenai kebangkitan Imam Husain, ia melakukan hal tersebut dalam rangka melawan kezaliman dan penindasan. Pemerintahan saat itu adalah kekuasaan yang cinta dunia, dan tidak lagi mementingkan kepentingan umat Islam. Karenanya Imam Husain bangkit untuk menyerukan perlawanan terhadap itu. Imam Husain kemudian syahid di Karbala, tanpa pertolongan, karena penduduk setempat saat itu, juga lebih mementingkan kepentingan duniawinya daripada memperjuangkan Islam. Dari kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain itu, umat Islam harus menjadikannya pelajaran dan menarik hikmah, bahwa perjuangan membela Islam harus lebih diutamakan diatas segala-galanya.

Terimakasih atas waktunya.

Sama-sama.